Potensi Social Media Lebih Besar dari Yang Selama Ini Digunakan - sebagai Media Agitasi

840 views
747 views

Published on

Social media selama ini digunakan layaknya iklan baris - cara ringkas menampilkan informasi. Padahal dengan sifatnya yang sosial, dapat menjadi media agitasi atau agenda setting. Bagaimana aplikasinya dalam pengelolaan branding?

Dipresentasikan di Bincang Kreatif Periklanan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 30 November 2013 - dengan perubahan layout dan penekanan (Dec 21 2013)

Published in: Marketing, Technology, Business
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
840
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Potensi Social Media Lebih Besar dari Yang Selama Ini Digunakan - sebagai Media Agitasi

  1. 1. SOCIAL MEDIA AS AGITATION MEDIA
  2. 2. Antusiasme pelaku dan pengguna social media untuk marketing sangat besar, namun jangan-jangan kita belum benar-benar tahu seperti apa memanfaatkan potensi tersebut. Menggunakan social media layaknya Iklan Baris bisa saja dilakukan, tapi itu tidak memanfaatkan potensi yang sebenarnya. Jadi seperti apa sebenarnya potensi sosial media? Pertama saya ingin memaparkan latar belakang situasinya.
  3. 3. Salah satu kekuatan media adalah ‘shared experience’. Karena itulah amphitheater dibuat melingkar: penonton tidak hanya menikmati pertunjukan, tapi juga menikmati situasi berada di tengah penonton lain.
  4. 4. Social Media Presence Symbolizes Social Mobility Indonesia GDP percapita* increases Continuously positive GDP trend over the year Break USD 2000 Break USD 3000 Break USD 3500 Break USD 1000 Indonesia is on top 5 in almost every social media and messaging platform, even though the internet penetration is only 24% and although mobile penetration at 115%, smartphone is only 23% Source: On Device Report 2013
  5. 5. Siapapun boleh bersuara di Twitter, tapi kenyataannya sekarang ada kesenjangan yang sangat besar: segelintir akun memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibanding mayoritas akun lain. Ini fenomena yang disebut Power Law Distribution.
  6. 6. Siapapun boleh datang dengan topik, tapi kenyataannya para pengguna twitter terbawa dari satu topik ke topik lain dengan cepat. Topik yang homogen, intens, namun cepat berganti.
  7. 7. Dengan jumlah karakter yang terbatas, para peserta diskusi tidak punya banyak kesempatan untuk mengelaborasi argumen. Yang lebih menontjol hanya sentimen dan pemihakannya saja.
  8. 8. Dengan beberapa karakteristik itu, bagaimanapun twitter tetap dianggap sebagai sumber informasi yang cepat, beragam, dan menggambarkan apa yang jadi perhatian masyarakat. Tidak jarang perbincangan di twitter kemudian diangkat oleh media lain hingga menjadi pertahian khayalak yang lebih luas.
  9. 9. Kata Om @awemany iklan seharusnya fokus pada feeling. Lalu feeling seperti apa yang bisa dieksploitasi dan apa yang bisa dituju dari sana?
  10. 10. Salah satu perasaan terhebat adalah perasaan ingin diterima tdan diakui.
  11. 11. Ini mungkin klaim yang besar, tapi saya lihat social media dapat digunakan secara sistematis untuk mengarahkan dan memperkuat agenda apa yang penting, norma-norma seperti estetika, persetujuan, dukungan, bahkan nilai-nilai kebenaran.
  12. 12. Dengan pandangan ini, pengukuran yang biasa diukur seperti impresi dan jumlah klik juga tidak cukup lagi untuk menggambarkan kesuksesan sebuah kampanye di social media.
  13. 13. Sebuah brand tidak lagi cukup punya point of difference sebagai sebuah produk, tapi harus memiliki point of view

×