BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan merupakan kehidupan dalam suatu
kelas, di...
Terutama untuk materi pencemaran lingkungan perairan, pemanfaatan bahan yang
berasal dari lingkungan sekitar sebagai media...
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, ada beberapa
permasalahan yang akan menjad...
Karya tulis ini diharapkan bisa dijadikan inspirasi bagi guru untuk memanfaatkan
lingkungan sekitar sebagai media pembelaj...
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hakikat Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptaka...
menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. (Nana
Sudjana,1991:29)
2.2 Lingkungan Sekitar sebagai Media Pemb...
Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan
yang tidak dapat dipungkiri. Karena memang g...
banyaknya nilai dan manfaat yang dapat diraih dari lingkungan sebagai sumber
belajar dalam pendidikan, bahkan hampir semua...
3.1 Prosedur Pengumpulan Sumber Pustaka
Penulisan ini bersifat deskriptif dan agar penulisan karya tulis ini lebih akurat,...
4.1 Meningkatkan Minat Siswa pada Materi Pencemaran Lingkungan
Perairan dan Dasar Pemilihan Kerang Darah Sebagai Bioindika...
Pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran ini diarahkan agar siswa
dapat mengembangkan dan memadukan antara teori-...
demikian siswa menjadi lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran karena akan
timbul berbagai macam pertanyaan yang muncul. S...
menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri melalui media (kerang
darah) maka tingkat pemahaman siswa terhadap pencemaran l...
7. Media lingkungan memberikan pengalaman langsung kepada siswa.
Dengan media lingkungan, siswa dapat berinteraksi secara...
5.1 Kesimpulan
1. Penggunaan kerang darah (Anadara granosa) sebagai media
pembelajaran dapat meningkatkan minat siswa dala...
5.2 Saran
1. Guru lebih kreatif dalam menyajikan pembelajaran sehingga
meningkatkan minat siwa dalam mempelajari materi pe...
Daftar Pustaka
Anonim. 2009. Lingkungan sebagai Sumber dan Media Pembelajaran .(online).
Diunduh 29 maret 2010
Djamarah, S...
Kabupaten Boalemo, Gorontalo. Buletin Teknologi Hasil Perikanan , Vol
VIII Nomor 2 Tahun 2005
Yusma Yennie dan Jovita Tri ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

LkTi Nursiah FKIP UNtan

1,537 views
1,459 views

Published on

1 Comment
0 Likes
Statistics
Notes
  • kirim dongg file skripsinya ke email eby_eboy13@yahoo.co.id
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,537
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
31
Comments
1
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

LkTi Nursiah FKIP UNtan

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan merupakan kehidupan dalam suatu kelas, dimana guru dan siswa saling berkaitan dalam melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan oleh guru. Keberhasilan kegiatan tersebut menjadi tanggungjawab guru dan siswa secara bersama-sama. Namun guru memegang peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar karena merupakan pengelola di dalam kelas. Oleh karena itu, bila siswa kurang bisa menguasai suatu materi maka kurang berhasilnya tingkat penguasaan siswa dapat disebabkan oleh banyak faktor salah satunya adalah penyajian materi yang kurang menarik dari guru. Kebanyakan guru mengajar hanya sekedar transfer pengetahuan kepada siswa dengan hapalan-hapalan teori maupun rumus, untuk menjawab soal-soal ujian, tetapi seringkali tidak sanggup untuk menterjemahkannya ke dalam realitas yang ada di sekelilingnya. Pembelajaran yang demikian akan membosankan, hal ini mengakibatkan berkurangnya minat siswa untuk mempelajari materi tersebut sehingga akan mempengaruhi tingkat keberhasilan penguasaan materi. Khususnya dalam materi pencemaran lingkungan perairan yang merupakan salah satu materi kontekstual, metode pembelajaran yang hanya sekedar transfer pengetahuan akan sangat membosankan bagi siswa dan mereka hanya memahami atau mengetahui sekedar kata- kata, tetapi tidak mengerti maksudnya dalam kehidupan sehari – hari. Kondisi siswa yang cepat merasa bosan dan kelelahan tentu tidak dapat dihindari, disebabkan penjelasan guru yang sukar dipahami karena masih bersifat abstrak. Guru yang bijaksana tentu sadar bahwa kebosanan dan kelelahan siswa berpangkal dari penjelasan yang diberikan guru bersimpang siur, karena tidak ada fokus masalahnya. Jika ingin menyampaikan materi dengan maksimal, maka menghadirkan media sebagai alat bantu pengajaran merupakan solusi yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelum pelaksanaan pengajaran. 1
  2. 2. Terutama untuk materi pencemaran lingkungan perairan, pemanfaatan bahan yang berasal dari lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran sangat membantu guru meningkatkan minat siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dan hal ini juga akan lebih mengeksplorasi sumber daya laut sebagai penyampaian pesan dan isi materi pencemaran lingkungan berair sehingga kemungkinannya materi yang diserap oleh siswa meningkat. Sebab dengan menyajikan media pembelajaran, materi akan lebih menarik dan konkret. Salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yaitu kerang darah ( Anadara granosa ) sebagai bioindikator pada pencemaran lingkungan perairan. Dengan demikian akan memberikan pengalaman-pengalaman nyata yang merangsang aktivitas dan rasa ingin tahu siswa untuk belajar. Lingkungan perairan di Kota Pontianak yang kemungkinan mengalami pencemaran sehingga dapat dijadikan media pembelajaran adalah sungai kapuas. Pencemaran tersebut dapat berasal dari aktivitas industri yang secara tidak langsung membuang limbah cairnya ke perairan laut, terutama yang berasal dari kawasan industri kayu atau karet yang berada di dekat atau pinggir sungai kapuas. Adanya pembuangan limbah industri tersebut diduga dapat mencemari lingkungan perairan dan organisme yang hidup di dalamnya. Bioindikator yang dipilih adalah kerang darah karena merupakan biota yang potensial terkontaminasi logam berat sebab sifatnya yang filter feeder, sehingga biota ini dapat digunakan sebagai hewan uji dalam pemantauan tingkat akumulasi logam berat pada lingkungan perairan (Yennie dan Murtini ,2005) Dengan demikian pemanfaatan kerang darah sebagai bioindikator media pembelajaran dalam pencemaran lingkungan perairan diharapkan dapat memberikan pengalaman dan penyampai pesan-pesan yang akan dicapai didalam materi tersebut. Sehingga daya ingat siswa terhadap materi yang disampaikan akan lebih lama karena siswa mengalami langsung atau terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran. 2
  3. 3. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, ada beberapa permasalahan yang akan menjadi pokok bahasan dalam karya tulis ilmiah ini adalah: 1. Bagaimana cara meningkatkan minat siswa pada materi pencemaran lingkungan perairan dan dasar pemilihan kerang darah sebagai bioindikator untuk media pembelajaran? 2. Bagaimana keefektifan penggunaan kerang darah sebagai bioindikator pencemaran lingkungan perairan untuk media pembelajaran? 3. Bagaimana dampak positif dan negatif pemanfaatan kerang darah sebagai bioindikator pencemaran lingkungan perairan untuk media pembelajaran? 1.3. Tujuan Penulisan Tulisan ini bertujuan untuk : 1. Mengetahui cara meningkatkan minat siswa pada materi pencemaran lingkungan perairan dan dasar pemilihan kerang darah sebagai bioindikator untuk media pembelajaran 2. Mengkaji keefektifan penggunaan kerang darah sebagai bioindikator pencemaran lingkungan perairan untuk media pembelajaran. 3. Menganalisis dampak positif dan negatif pemanfaatan kerang darah sebagai bioindikator pencemaran lingkungan perairan untuk media pembelajaran. 1.4. Manfaat Penulisan 3
  4. 4. Karya tulis ini diharapkan bisa dijadikan inspirasi bagi guru untuk memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran. Misalnya untuk menarik minat siswa mempelajari pencemaran lingkungan perairan maka dapat dimanfaatkan kerang darah sebagai bioindikator yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran sehingga siswa akan lebih menarik dalam memahami materi dan menimbulkan pengalaman yang berkesan bagi siswa sehingga mudah memahami materi pencemaran lingkungan perairan dan daya ingat terhadap materi pembelajaran tersebut juga akan lebih lama. BAB II 4
  5. 5. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hakikat Belajar Mengajar Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan oleh guru guna membelajarkan siswanya. Guru yang mengajar dan siswa yang belajar, Perpaduan dari dua unsur menusiawi ini lahirlah interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai mediumnya. Semua komponen pengajaran diperankan secara opimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan. Sebagai guru sebaiknya dapat mencipakan kondisi belajar mengajar yang dapat mengantarkan siswa ke tujuan pembelajaran. Tugas guru adalah menciptakan suasana belajar yang menggairahkan dan menyenangkan bagi semua siswa. Suasana belajar yang tidak menggairahkan dan menyenangkan bagi siswa biasanya lebih banyak mendatangkan kegiatan belajar mengajar yang kurang harmonis. Siswa gelisah duduk berlama-lama di kursi mereka masing-masing. Kondisi ini tentu menjadi kendala yang serius bagi tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam kegiatan belajar mengajar, siswa merupakan subjek dan sebagai objek dari kegiatan pembelajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar siswa dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran tentu saja akan dapat tercapai jika siswa berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan siswa tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiawaan. Bila hanya fisik siswa yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak capai. Kegiatan mengajar bagi guru menghendaki hadirnya sejumlah siswa. Berbeda dengan belajar tidak selamanya memerlukan kehadiran seorang guru. Cukup banyak aktivitas yang dilakukan oleh siswa di luar dari keterlibatan guru .Belajar mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu suatu proses mengatur, mengorganisasi lingkunga yanga ada disekitar siswa, sehingga dapa 5
  6. 6. menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. (Nana Sudjana,1991:29) 2.2 Lingkungan Sekitar sebagai Media Pembelajaran Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan. Cukup banyak batasan yang dibuat orang. Asosiasi Teknologi Pendidikan misalnya mengatakan bahwa media adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyampaikan pesan atau informasi. Gagne (1978) mengartikan media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara Heinich dan Russell (1989) mengartikan media sebagai saluran untuk komunikasi yang berasal dari bahasa Latin yang berarti “antara” yang digunakan untuk menyalurkan informasi antara pengirim dan penerima. Dari batasan-batasan itu dapat kita rumuskan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa. Media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Media dapat mewakili kekurangan penjelasan guru yang diucapkan melalui kata-kata. Bahkan keabstrakan bahan dapat dikonkretkan dengan kehadiran media. Maka siswa lebih mudah mencerna bahan daripada tanpa bantuan media. Dengan demikian media adalah alat bantu yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran. 6
  7. 7. Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Karena memang gurulah yang menghendakinya untuk membantu tugas guru dalam menyampaikan pesan-pesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa. Sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pembelajaran. Hal ini dilandasi dengan keyakinan bahwa proses belajar mengajar dengan bantuan media mempertinggi kegiatan belajar siswa dalam tenggang waktu yang cukup lama. Itu berarti kegiatan belajar siswa dengan bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik daripada tanpa bantuan media. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) lingkungan diartikan sebagai bulatan yang melingkungi (melingkari). Pengertian lainnya yaitu sekalian yang terlingkung di suatu daerah. Dalam kamus Bahasa Inggris peristilahan lingkungan ini cukup beragam diantaranya ada istilah circle, area, surroundings, sphere, domain, range, dan environment, yang artinya kurang lebih berkaitan dengan keadaan atau segala sesuatu yang ada di sekitar atau sekeliling. Dalam literatur lain disebutkan bahwa lingkungan itu merupakan kesatuan ruang dengan semua benda dan keadaan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan itu terdiri dari unsur-unsur biotik (makhluk hidup), abiotik (benda mati) dan budaya manusia. Lingkungan yang ada di sekitar anak- anak kita merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dioptimalkan untuk pencapaian proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Jumlah sumber belajar yang tersedia di lingkungan ini tidaklah terbatas, sekalipun pada umumnya tidak dirancang secara sengaja untuk kepentingan pendidikan. Sumber belajar lingkungan ini akan semakin memperkaya wawasan dan pengetahuan siswa karena mereka belajar tidak terbatas oleh empat dinding kelas, Selain itu kebenarannya lebih akurat, sebab siswa dapat mengalami secara langsung dan dapat mengoptimalkan potensi panca inderanya untuk berkomunikasi dengan lingkungan tersebut. Kegiatan belajar dimungkinkan akan lebih menarik bagi siswa sebab lingkungan menyediakan sumber belajar yang sangat beragam dan banyak pilihan. Begitu 7
  8. 8. banyaknya nilai dan manfaat yang dapat diraih dari lingkungan sebagai sumber belajar dalam pendidikan, bahkan hampir semua tema kegiatan dapat dipelajari dari lingkungan. Namun demikian diperlukan adanya kreativitas dan jiwa inovatif dari para guru untuk dapat memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. 2.3 Kerang Darah Sebagai Bioindikator Kerang darah (Anadara granosa) merupakan biota laut yang tergolong molusca dari kelas pelecypoda. Kerang darah hidup didaerah perairan dan bisa bertahan hidup ditempat berlumpur. Kerang ini memiliki mobilitas yang rendah sehingga dapat mengakumulasi logam berat yang ada dilingkungannya. Oleh sebab itu, adanya logam berat dalam tubuhnya dipandang dapat mewakili keberadaan logam berat yang ada dihabitatnya. Kandungan logam dalam biota air, biasanya akan selalu bertambah dari waktu ke waktu karena sifatnya yang bioakumulatif, sehingga kerang darah sangat baik digunakan sebagai indikator pencemaran logam dalam lingkungan perairan. Peranan kerang darah sebagai indikator pencemaran lingkungan perairan merupakan salah satu contoh bioindikator. Karena bioindikator adalah organisme atau respon biologis yang menjadi petunjuk atau keterangan adanya polutan dengan timbulnya berbagai gejala khas dan respon yang terukur. BAB III METODE PENULISAN 8
  9. 9. 3.1 Prosedur Pengumpulan Sumber Pustaka Penulisan ini bersifat deskriptif dan agar penulisan karya tulis ini lebih akurat, maka penulis mencari sumber pustaka dari berbagai literatur yang relevan dengan masalah yang dipilih untuk digunakan sebagai referensi. Referensi yang digunakan terutama adalah jurnal ilmiah, makalah-makalah, artikel-artikel yang dimuat di koran dan internet, serta buku-buku yang sesuai dengan masalah penulisan. 3.2 Analisis Sumber Pustaka Setelah mencari, mengkaji dan menelaah berbagai data, informasi dan sumber pustaka yang ada, penulis melakukan analisa terhadap konsep dan hal-hal yang terkait dengan perumusan masalah. Setelah melakukan analisa dan sintesis terhadap fakta-fakta yang ada, maka penulis kemudian menarik simpulan yang akan menjawab perumusan masalah tersebut. BAB IV PEMBAHASAN 9
  10. 10. 4.1 Meningkatkan Minat Siswa pada Materi Pencemaran Lingkungan Perairan dan Dasar Pemilihan Kerang Darah Sebagai Bioindikator untuk Media Pembelajaran. Materi pencemaran pada lingkungan merupakan materi yang sangat berhubungan dengan lingkungan sekitar. Jika pada proses belajar mengajar, siswa hanya mendengarkan cerita dari guru maka pembelajaran akan sangat membosankan. Hal ini akan mempengaruhi minat siswa untuk mempelajari materi tersebut dan akan berimplikasi pada hasil belajar siswa. Sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai secara maksimal. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan kreatifitas dan jiwa inovatif dari guru supaya dapat meningkatkan minat siswa pada materi yang diajarkan. Salah satunya adalah dengan penggunaan media pembelajaran sebagai alat bantu penyampaian pesan dari materi akan sangat diperlukan. Media yang digunakan tidak harus berupa alat atau bahan yang mahal, tetapi media tersebut dapat diperoleh dari lingkungan sekitar yang penting dapat menunjang dan membantu proses belajar mengajar. Salah satu solusi yang ditawarkan dalam penulisan ini adalah dengan memanfaatkan kerang darah sebagai indikator untuk mempelajari materi pencemaran lingkungan perairan. Penggunaan kerang darah dikarenakan kerang darah mudah diperoleh di lingkungan perairan dan merupakan biota yang potensial terkontaminasi logam berat sebab sifatnya yang filter feeder dan tahan terhadap kandungan logam berat yang tinggi (tidak mati seperti ikan dan udang) sehingga biota ini dapat digunakan sebagai hewan uji dalam pemantauan tingkat akumulasi logam berat pada lingkungan perairan (Yennie dan Murtini ,2005) Sifat kerang darah yang filter feeder dapat mewakilkan kandungan logam pada perairan sehingga disebut sebagai bioindikator. Dengan memanfaatkan kerang darah menjadi bioindikator sebagai media pembelajaran berarti telah memanfaatkan lingkungan sekitar dalam kegiatan pembelajaran. 10
  11. 11. Pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran ini diarahkan agar siswa dapat mengembangkan dan memadukan antara teori-teori yang mereka terima di kelas dengan pengamatan langsung di alam. Pembelajaran yang hanya dilakukan di dalam kelas akan menyebabkan siswa merasa bosan karena hanya mengacu pada teori-teori. Sehingga pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran ini bisa dijadikan sebagai cara atau alternatif bagi guru untuk mendidik siswa. Jadi media pembelajaran dengan memanfaatkan bahan di lingkungan akan meningkatkan pemahaman pada siswa sesudah menerima materi karena mereka dapat membawa pengalaman dan penemuan di lingkungan mereka. Dengan adanya pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran, siswa akan lebih mudah memahami materi tersebut. 4.2 Keefektifan Penggunaan Kerang Darah Sebagai Bioindikator Pencemaran Lingkungan Perairan untuk Media Pembelajaran. Penggunaan kerang darah sebagai media pembelajaran dapat dilakukan dengan mengajak siswa langsung ke lapangan (perairan sekitar) dan diajak untuk melakukan pengamatan terhadap kerang darah yang ada di perairan. Kemudian dilakukan pengujian atau analisis terhadap kerang darah untuk mengetahui kadar logam berat pada kerang darah yang mewakili tingkat pencemaran di lingkungan perairan tersebut. Lalu dari pengamatan dan analisis yang dilakukan dapat disimpulkan besarnya kadar logam yang terdapat di lingkungan perairan tersebut, jika keberadaannya melebihi ambang batas yang diperbolehkan maka dapat membahayakan lingkungan di sekitarnya. Pemanfaatan kerang darah sebagai bioindikator pencemaran lingkungan perairan untuk media pembelajaran akan menjadi pengalaman bagi siswa karena siswa terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran sebagai subjek yang mencari fakta di lingkungan sekitar. Sehingga akan meningkatkan rasa ingin tahu di dalam diri siswa, dan sesuai dengan paham kontruktivisme, siswa akan membangun sendiri pengetahuan-pengetahuan yang diperolehnya dari lingkungan sekitar. Jadi dengan 11
  12. 12. demikian siswa menjadi lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran karena akan timbul berbagai macam pertanyaan yang muncul. Selain itu, dengan suasana belajar di luar kelas, pembelajaran akan lebih menarik dan santai. Implikasinya dengan mengamati dan melakukan analisis secara langsung, siswa dapat mengetahui kadar logam berat atau tingkat pencemaran di lingkungan sekitarnya. Sehingga akan timbul rasa tanggung jawab dan kepedulian siswa untuk menjaga lingkungan perairannya. Dan tindak lanjutnya, siswa dapat menyebarkan hasil pengamatan dan analisis mereka ke teman sebayanya atau orang terdekatnya sehingga tidak seperti pembelajaran di kelas yang berhenti saat mengisi ulangan umum. Tetapi lebih dari itu, pemanfaatan kerang menjadi bioindikator pencemaran lingkungan perairan sebagai media pembelajaran dapat menumbuhkan sikap ilmiah dalam diri siswa dan membiasakan penerapan metode ilmiah dalam memecahkan suatu masalah. 4.3 Dampak Positif dan Negatif Pemanfaatan Kerang Darah Sebagai Bioindikator Pencemaran Lingkungan Perairan Untuk Media Pembelajaran. Pemanfaatan kerang darah sebagai bioindikator pencemaran lingkungan perairan untuk media pembelajaran akan memberikan dampak positif dan dampak negatif. A. Dampak Positif Penggunaan Kerang Darah Sebagai Bioindikator Pencemaran Lingkungan Perairan Dampak positif dari pemanfaatan kerang sebagai media pembelajaran adalah untuk: 1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu verbalistis ( tahu kata – katanya, tetapi tidak tahu maksudnya). Media pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih mandalam dan utuh. Bila dengan mendengar informasi verbal dari guru saja, siswa kurang memahami pelajaran, tetapi jika diperkaya dengan kegiatan melihat, 12
  13. 13. menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri melalui media (kerang darah) maka tingkat pemahaman siswa terhadap pencemaran lingkungan perairan akan lebih baik. 2. Membuat konkret konsep yang abstrak, sering kali sesuatu yang diterangkan oleh guru diterima sebagai konsepsi yang berbeda oleh siswa yang berbeda pula. Penggunaan media yaitu menggunakan kerang darah sebagai bioindikator bisa memberikan konsep dasar yang benar dalam mempelajari pencemaran pada lingkungan perairan. 3. Memungkinkan siswa dapat berinteraksi langsung dengan lingkungannya, membangkitkan motivasi belajar dan rasa ingin tahu pada siswa. Dengan menggunakan media pembelajaran, pengalaman siswa semakin luas, persepsi semakin tajam, konsep-konsep dengan sendirinya semakin lengkap. Akibatnya keinginan dan minat untuk belajar selalu muncul sehingga terbiasa menerapkan sikap ilmiah. Sehingga mendorong kreatifitas siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk bereksperimen dan bereksplorasi (menemukan sendiri) 4. Menghemat biaya karena memanfaatkan benda-benda yang telah ada di lingkungan sekitar, misalnya kerang darah 5. Karena bahan (kerang darah) berasal dari lingkungan siswa, maka benda- benda tersebut akan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Hal ini juga sesuai dengan konsep pembelajaran kontekstual (contextual learning). 6. Pelajaran lebih aplikatif, materi belajar yang diperoleh siswa melalui media lingkungan kemungkinan besar akan dapat diaplikasikan langsung, karena siswa akan sering menemui benda-benda atau peristiwa serupa dalam kehidupannya sehari-hari. 13
  14. 14. 7. Media lingkungan memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Dengan media lingkungan, siswa dapat berinteraksi secara langsung secara alamiah. 8. Lebih komunikatif, sebab benda (kerang darah) tersedia di lingkungan siswa sehingga biasanya mudah dicerna oleh siswa, dibandingkan dengan media yang dikemas B. Dampak Negatif Penggunaan Kerang Darah Sebagai Bioindikator Pencemaran Lingkungan Perairan Dampak negatif dari pemanfaatan kerang sebagai media pembelajaran adalah untuk: 1. Kesulitan dalam mengontrol dan mengawasi siswa ketika turun ke lapangan 2. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan pembelajaran jadi lebih lama BAB V PENUTUP 14
  15. 15. 5.1 Kesimpulan 1. Penggunaan kerang darah (Anadara granosa) sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan minat siswa dalam mempelajari pencemaran pada lingkungan perairan. 2. Kerang darah ( Anadara granosa ) dapat digunakan sebagai hewan uji dalam pemantauan tingkat akumulasi logam berat pada lingkungan perairan sebab sifatnya yang filter feeder dan tahan terhadap kandungan logam berat yang tinggi. 3. Kadar logam berat pada kerang darah yang mewakili tingkat pencemaran di lingkungan perairan tersebut. 4. Pemanfaatan kerang darah sebagai media pembelajaran akan menjadi pengalaman bagi siswa karena siswa terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran sebagai subjek yang pencari fakta di lingkungan sekitar. 5. Kerang darah yang dimanfaatkan sebagai media pembelajaran dapat menumbuhkan sikap ilmiah dalam diri siswa dan membiasakan penerapan metode ilmiah dalam memecahkan suatu masalah. 6. Dampak positif dalam pemanfaatan kerang darah sebagai media pembelajaran adalah membuat penjelasan lebih konkreat, jelas, komunikatif, dan aplikatif 7. Dampak negatif pemanfaatan kerang sebagai media pembelajaran adalah kesulitan mengontrol dan mengawasi siswa serta pembelajaran membutuhkan waktu yang lebih lama. 15
  16. 16. 5.2 Saran 1. Guru lebih kreatif dalam menyajikan pembelajaran sehingga meningkatkan minat siwa dalam mempelajari materi pembelajaran. 2. Lingkungan sekitar dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai media pembelajaran yang berfungsi menyampaikan pesan dari suatu materi 3. Kerang darah (Anadara granosa) dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang dapat digunakan sebagai bioindikator tingkat pencemaran pada lingkungan perairan agar pembelajaran lebih menarik dan berkesan sebagai suatu pengalaman sehingga daya ingat siswa lebih lama 16
  17. 17. Daftar Pustaka Anonim. 2009. Lingkungan sebagai Sumber dan Media Pembelajaran .(online). Diunduh 29 maret 2010 Djamarah, S.B dan Aswan Z. 1995. Strategi Belajar Mengajar (Edisi Revisi). PT Rineka Cipta : Jakarta. Gagne. 1978. Media Pembelajaran. (online). (http://edu-articles.com/mengenal- media-pembelajaran/) diunduh 29 maret 2010 Heinich dan Russel. 1989. Manfaat Media Pembelajaran. (online). http://wijayalabs.blogspot.com/2007/11/media-pembelajaran.html diunduh 29 maret 2010 Heru , nanik. 2008. Kandungan Chromium pada Perairan , Sedimen dan Kerang Darah (Anadara granosa) di Wilayah Pantai Sekitar Muara Sungai Sayung, Desa Morosari Kabupaten Demak, Jawa Tengah. J.BIOMA, Vol. 10, No. 2, Hal. 53-56 Jovita Tri Murtini, Yusma Yennie dan Rosmawaty Peranginangin.2003. Kandungan Logam Berat Pada Kerang Darah (Anadara granosa), Air Laut dan Sedimen di Perairan Tanjung Balai dan Bagan Siapi-api. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Volume 9 Nomor 5 LIPI, 1991, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. Status Pencemaran Laut di Indonesia dan Teluk Peniantauannya. Dalam Proyek Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Air Tawar . Jakarta Nana Sudjana. 1991. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru: Bandung. Nurjanah , Zulhamsyah dan Kustiyariyah .2005. Kandungan Mineral dan Proksimat Kerang Darah (Anadara granosa) yang Diambil dari 17
  18. 18. Kabupaten Boalemo, Gorontalo. Buletin Teknologi Hasil Perikanan , Vol VIII Nomor 2 Tahun 2005 Yusma Yennie dan Jovita Tri Murtini. 2005.Kandungan Logam berat Air Laut, Sedimen dan Daging Kerang Darah (Anadara granosa) di Perairan Menthok dan Tanjung Jabung Timur. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia, 12(1):27-32.12(1):27-32 18

×