Konseling untuk masa dewasa

7,245 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
7,245
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
34
Actions
Shares
0
Downloads
99
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Konseling untuk masa dewasa

  1. 1. KONSELING UNTUK MASA DEWASA1. Karakteristik a. Periode Usia ; Masa dewasa dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira umur 60 tahun, yakni disaat berubahnya dan menurunnya kemampuan fisik dan psikologis yang Nampak pada seria1 p orang serta berkurangnya kemampuan reproduktif. b. Perkembangan Fisik ; Dilihat dari aspek perkembangan fisik, pada awal masa dewasa kemampuan fisik mencapai puncaknya, dan sekaligus mengalami penurunan selama periode ini. a). Kesehatan Badan; Pada usia ini ditandai dengan memuncaknya kemampuan dan kesehatan fisik. Mulai dari usia 18 tahun individu memiliki kekuatan yang tersebar. Tetapi juga pada usia ini penurunan keadaan fisik juga menurun. Sejak usia 25 tahun, sudah mulai terlihat perubahan-perubahan fisik c. Perkembangan Motorik Orang-orang muda mencapai puncak kekuatannya antara usia duapuluh dan tigapuluh. Kecepatan respon maksimal terdapat antara usia 20 dan 25 tahun dan sesudah itu kemampuan ini sedikit demi sedikit menurun. Dalam belajar menguasai ketrampilan-ketrampilan motor yang baru, orang-orang muda usia 20 lebih mampu daripada mereka yang mendekati usia setengah umur. Selain itu orang-orang muda dapat mengandalkan kemampuan motorik ini dalam situasi-situasi tertentu, hal mana tidak dapat mereka lakukan semasa remaja karena pertumbuhan yang cepat serta tidak seimbang saat itu menyebabkan mereka kurang luwes dan kaku. d. Perkembangan Kognitif Pertanyaan yang paling banyak menimbulkan kontroversi dalam studi tentang perkembangan rentang hidup manusia adalah apakah kemampuan kognitif orang dewasa paralel dengan penurunan kemampuan fisik. Pada umumnya, orang percaya bahwa proses kognitif -- belajar, memori, dan inteligensi -- mengalami kemerosotan bersamaan dengan terus berkembangnya usia. Bahkan, ada yang menyimpulkan
  2. 2. bahwa usia terkait dengan penurunan proses kognitif ini juga tercermin dalammasyarakat ilmiah. Akan tetapi, belakangan ini sejumlah hasil penelitianmenunjukkan bahwa kepercayaan tentang terjadinya kemerosotan proses kognitifbersamaan dengan penurunan kemampuan fisik, sebenarnya hanyalah salah satustereotip budaya yang meresap dalam diri kita. 1. Perkembangan pemikiran postformal. Sejumlah ahli perkembangan percaya bahwa pada masa dewasa, individu- individu menata pemikiran operasional mereka. Mereka mungkin merencanakan dan membuat hipotesis tentang masalah-masalah seperti remaja, tetapi mereka menjadi sistematis ketika mendekati masalah sebagai orang dewasa. D.P. Keating, penulis buku "Adolescent Thinking", mengatakan bahwa ketika orang dewasa lebih mampu menyusun hipotesis daripada remaja dan menurunkan suatu pemecahan masalah dari suatu permasalahan, banyak orang dewasa yang tidak menggunakan pemikiran operasional formal sama sekali. Sementara itu, Gisela Labouvie-Vief (dalam buku "Understanding Human Behavior", karya McConnell dan Philipchalk), menyatakan bahwa pemikiran dewasa muda menunjukkan suatu perubahan yang signifikan. Pemikiran orang dewasa muda menjadi lebih konkret dan pragmatis. Secara umum, orang dewasa lebih maju dalam penggunaan intelektualitas. Pada masa dewasa awal misalnya, orang biasanya berubah dari mencari pengetahuan menjadi menerapkan pengetahuan, yakni menerapkan apa yang diketahuinya untuk mencapai jenjang karier dan membentuk keluarga. Akan tetapi, tidak semua perubahan kognitif pada masa dewasa mengarah pada peningkatan potensi. Bahkan, kadang-kadang beberapa kemampuan kognitif mengalami kemerosotan seiring dengan pertambahan usia. Meskipun demikian, sejumlah ahli percaya bahwa kemunduran keterampilan kognitif yang terjadi, terutama pada masa dewasa akhir, dapat ditingkatkan kembali melalui serangkaian pelatihan.
  3. 3. 2. Perkembangan memori. Salah satu karakteristik yang paling sering dihubungkan dengan orang dewasa dan usia tua adalah penurunan dalam daya ingat. Namun, sejumlah bukti menunjukkan bahwa perubahan memori bukanlah sesuatu yang pasti terjadi sebagai bagian dari proses penuaan, melainkan lebih merupakan stereotip budaya.3. Perkembangan inteligensi. Suatu mitos yang bertahan hingga sekarang adalah bahwa menjadi tua berarti mengalami kemunduran intelektual. Mitos ini diperkuat oleh sejumlah peneliti awal yang berpendapat bahwa seiring dengan proses penuaan selama masa dewasa, terjadi kemunduran dalam inteligensi umum. Hampir semua studi menunjukkan bahwa setelah mencapai puncaknya pada usia 18 dan 25 tahun, kebanyakan kemampuan manusia terus-menerus mengalami kemunduran. Witherington dalam bukunya, "Educational Psychology", menyebutkan 3 faktor penyebab terjadinya kemunduran kemampuan belajar dewasa. a. Ketiadaan kapasitas dasar. Orang dewasa tidak akan memiliki kemampuan belajar bila pada usia mudanya juga tidak memiliki kemampuan belajar yang memadai. b. Terlampau lamanya tidak melakukan aktivitas-aktivitas yang bersifat intelektual. Orang-orang yang sudah berhenti membaca bacaan-bacaan yang "berat" dan berhenti melakukan pekerjaan intelektual, akan terlihat bodoh dan tidak mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan semacam itu. c. Faktor budaya. Faktor yang dimaksud terutama dengan cara-cara seseorang memberikan sambutan, seperti kebiasaan, cita-cita, sikap, dan prasangka-prasangka yang telah mengakar, sehingga setiap usaha
  4. 4. untuk mempelajari cara sambutan yang baru akan mendapat tantangan yang kuat. e. Perkembangan Psikososial Selama masa dewasa, dunia sosial dan personal dari individu menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Pada masa dewasa, individu memasuki peran kehidupan yang lebih luas. Pola dan tingkah laku sosial orang dewasa berbeda dalam beberapa hal dari orang yang lebih muda. Perbedaan- perbedaan tersebut tidak disebabkan oleh peristiwa-peristiwa kehidupan yang dihubungkan dengan keluarga dan pekerjaan. Selama periode ini, orang melibatkan diri secara khusus dalam karier, pernikahan, dan hidup berkeluarga. f. Perkembangan mental. Keseahtan mental tidak hanya dilihat dari ketidakhadiran gangguan-gangguan mental, berbagai kesulitan dan frustasi, tetapi juga merefleksikan kemampuan seseorang untuk menghadapi masalah-masalah kehidupan dengan cara efektif dan memuaskan. g. Perkembangan Psikoseksual Pola kehidupan wanita dewasa sangat berb eda dengan pola kehidupan pria dewasa. Oleh sebab itu perbedaan minat berdasarkan seks menjadi semakin besar dibandingkan masa remaja. h. Perkembangan Agama Orang dewasa lebih memperhatikan hal-hal keagamaan jika tetangga-tetangga dan teman-temannya aktif dalam organisasi-organisasi keagamaan daripada teman- temannya yang kurang peduli.2. Tugas-Tugas Perkembangan a. Mendapatkan suatu pekerjaan b. Memilih seorang teman hidup c. Belajar hidup dengan suami atau istri membentuk suatu keluarga d. Membesarkan anak-anak e. Mengelola sebuah rumah tangga
  5. 5. f. Menerima tanggung hawab sebagai warga g. Bergabung dalam suatu kelompok sosial yang cocok3. Masalah-masalah yang dihadapi a. Masalah yang Umumnya di alami Kurangnya persiapan untuk menghadapi masalah-masalah yang diatasi oleh orang dewasa Kesulitan dalam menerima dua peran sekaligus di dalam kehidupannya Tidak memperoleh bantuan dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya b. Masalah yang Khusus dialami Merasa asing dengan dunia baarunya Mempunyai tanggungjawab yang besar Belum bisa menyelesaikan masalah orang dewasa4. Fungsi Pelayanan a. Fungsi umum Fungsi Preventif ; agar konselor dapat mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya,agar tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan kepada yang membahayakan dirinya. Fungsi Pemeliharaan ; membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya Fungsi Pemahaman ; memberikan pemahaman terhadap konseli khususnya pada masa remaja awal agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan,pekerjaan,dan norma agama). Fungsi Penuntasan ; upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah baik aspek pribadi, sosial, belajar maupun karir
  6. 6. b. Fungsi Khusus Fungsi Pemahaman Fungsi Preventif5. Tujuan Pelayanan a. Tujuan Umum Mengatasi hambatan, kesulitan dan mengevauasi masalah selama hidupnya. Penyesuaian dengan lingkungan atau keluarga baru Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin b. Tujuan Khusus Memberikan pamahaman terhadap kehidupan barunya Dapat memahami dan menjalankan semua tugas barunya Dapat menyesuaikan diri dengan semua keadaan barunya6. Tahap-tahap Konseling 1. konselor harus mengidentifikasi diri konseli 2. mengidentifikasi bidang dan tempat konseli (kondisi) 3. menganalisis antara keinginan dengan potensi konseli 4. menetapkan langkah yang harus diambil konselor 5. menempatkan konseli pada tempat yang sesuai 6. momonitor perkembangan konseli 7. konselor melakukan evaluasi7. Tekhik-Teknik Konseling a. Perilaku Attending;Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan. b. Empati ; Empati primer, yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan, pikiran dan keinginan klien, dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana
  7. 7. perasaan Anda”. Empati tingkat tinggi, yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan, pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam, berupa perasaan, pikiran, pengalaman termasuk penderitaannya. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan,c. Refleksi ; Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran, dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya.d. Eksplorasi ; Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan, pikiran, dan pengalaman klien. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin, menutup diri, atau tidak mampu mengemukakan pendapatnyae. Menangkap Pesan ; Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien, mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana, biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya, dan mengamati respons klien terhadap konselor.f. Pertanyaan terbuka ; Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan, pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question)g. Pertanyaan tertutup; Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka, dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup, yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkath. Dorongan Minimal; Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…, ya…., lalu…, terus….dan…i. Interpretasi ; Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran, perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori, bukan pandangan subyektif konselor, dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut.
  8. 8. j. Mengarahkan ; Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu. k. Menyimpulkan Sementara ; Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas.8. Daftar Pustaka Hurlock,E.B. 1993. Psikologi Perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan (edisi kelima). Jakarta: Erlangga Mar’at, Samsunuwiyanti. 2007. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

×