Workshop Papua Tm 24 03 09

  • 594 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
594
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
16
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide
  • Slide: Status Quo Scenario Many studies and commentators in recent years have described the current situation in Indonesian forestry. The over exploitation of the forests, together with the industry's and inefficient processing technologies leads to illegal logging, forest degradation, losses in tax earnings, underperforming plantations, declining output and international competitiveness. 51% LOA – 13 juta ha posisi th 2001) – hasil padu serasi
  • Slide: Positive Future Vision. However, the three groups that worked on the studies believe a more positive future is possible. All three of the studies focused on a forward-looking approach. We tried to quantify and describe a more sustainable future path. It's clear that it is possible to have a more diversified and sustainable timber supply, more based on plantation grown timbe, with much less degradation and encroachment into the natural forest area. It's also possible to have a wood based industry that is efficient, competitive and growing, producing high-value products creating jobs and using forests sustainably. Our analyses show that this improved scenario is realistic and achievable, but it will not happen naturally. It requires management interventions and great effort from all stakeholders.
  • Slide. Natural Stages form logical, phased strategy These natural stages in the development of the timber supply lead to a logical phased strategy for industry restructuring. The first phase from now to the year 2012 sets the stage for all future phases. In the short run restructuring phase, it will be important to intensify timber planting, improve HTI productivity, reduce forest crime and debt, develop alternative sources, and temporarily limit processing to close the gap. Without this focus on planting, the optimistic medium run situation will not be achieved. Of course, this phase 1 restructuring concept builds on current Ministry of Forestry policy directions. This approach weaves existing actions and priorities into a longer-term strategic plan. The second phase after year 2012 highlights the need to reengineer industrial processing plants to take advantage of sustainably grown timber supplies and meet market demands for new or higher-quality products. Of course, we recognize that some of the most progressive companies are already reengineering and retooling their plants to produce products in higher demand in foreign markets or to utilize different timber sources, available now.
  • Ex Post Evaluation PD 85/01 Rev.2(I)

Transcript

  • 1. Revitalisasi Industri Kehutanan Era Pengelolaan Hutan Berkelanjutan E. G. Togu Manurung, Ph.D. Workshop Strategi Pengelolaan Hutan Produksi Berkelanjutan Mendukung Kebijakan Baru Pengelolaan Hutan di Provinsi Papua. Jayapura, 24 Maret 2009
  • 2. Kerangka Presentasi
    • Pendahuluan: Pembelajaran dari masa lalu; kebijakan larangan ekspor kayu bulat (1980); potret pembangunan industri perkayuan di Ind.
    • Kontribusi Ekonomi Sektor Kehutanan Indonesia
    • Road map revitalisasi industri kehutanan Indonesia/ Papua?
    • Kondisi industri kayu saat ini (Indonesia/ Papua)
    • Kecendrungan pasar internasional
    • Permasalahan utama
    • Industri perkayuan Papua di masa depan
    • Sasaran, strategi, kebijakan, rencana aksi, dll.
    • Kondisi pemungkin
    • Implikasi
  • 3.
    • Gross Domestic Product:
    • Rp 14.1 tn or 4.3.0% (1993) – Rp 136.0 tn or 3.4% (2007)
    • Foreign Exchange:
    • US$ 6.24 bn or 11.7% (1997) , US$ 6.45 bn or 5.7% (2007)
    • Government Revenue:
    • Rp 0.12 tn or 1.0% (1980) –Rp 2.10 tn or 0.3% (2007)
      • Over the period 1980 to 2007:
            • Resources Royalty Provision (or PSDH; 30.6%)
            • Reforestation fund (or DR; 67.6%)
            • Other royalty charges, including Forest Utilization Business Permit Fees (or IIUPH; 1.8%)
    Economy Contribution of Forest Sector: Declining
  • 4. Sintesis 3 Studi Kondisi dan Kecenderungan s/d thn 2004: (Skenario Status Quo )
    • Berlanjutnya:
    • Penebangan, pengolahan & perdagangan kayu ilegal
    • Deforestasi & degradasi hutan (>1.8 jt ha/th + 51% LOA)
    • Realisasi penanaman & produktivitas lahan hutan tanaman yang rendah
    • Hilangnya pendapatan pajak US$ 13 Milyar dalam 25 th
    • Pabrik yg tidak efisien & sarat hutang beroperasi (2002) (110 HPH/HTI/Industri)
    • Penurunan:
    • Output industri & tenaga kerja
    • Daya Saing internasional (pasar & produk)
    • Jasa lingkungan & keanekaragaman hayati
    • Peningkatan :
    • masalah lingkungan
    • konflik akibat kelangkaan SDH
    Skenario negatif ini akan terjadi bila tidak ada intervensi Eksploitasi hutan yang berlebihan ( over-exploitation ) & inefisiensi industri Tanpa usaha Intervensi yang Terpadu
  • 5. Harapan ke Depan : Revitalisasi Industri (s/d Thn 2020)
    • Sumber Pasokan Kayu Yg
    • Beragam & Lestari:
    • Hutan tanaman menjadi andalan
    • Laju degradasi & perambahan hutan berkurang secara signifikan
    • Sumber kayu alternatif seperti hutan rakyat & HKM dimanfaatkan
    • Pasokan & kebutuhan kayu seimbang
    • Industri Kayu Yang
    • Efisien,Kompetitif & Berkembang:
    • Mesin industri kayu yang sesuai dgn perkembangan pasar & produk, adaptif thdp perubahan pasar
    • Produksi dari produk yang BERNILAI TAMBAH TINGGI meningkat, & kompetitif
    • Industri UKM kayu hilir yg menciptakan LAPANGAN KERJA BARU berkembang
    • Skenario Lebih baik : realistis & dapat dicapai, tetapi tidak akan terjadi dgn sendirinya
    • Diperlukan Intervensi kebijakan dan manajemen SEGERA!!
    • Dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh dari SEMUA PIHAK TERKAIT
  • 6. Sintesis Rekomendasi: Strategi Intervensi 3 Fase Restrukturisasi, Re-engineering, Revitalisasi
    • Fase 3: REVITALISASI
    • Sesudah 2020
    • Pertumbuhan Ind. berdasar HTI
    • Tingkatkan Ekspor
    • Legal, Lestari, Kompetitif
    • Fase 2: RE-ENGINEERING
    • 2013-2020
    • “ Retool” Industri untuk Efisiensi
    • Fokus pada ‘High Value’ Produk
    • Fase 1: RESTRUKTURISASI
    • Sekarang s/d 2012
    • Intensifkan Penanaman
    • Tingkatkan Produktivitas HTI
    • Kurangi ‘Forest Crime’ & Hutang
    • Membangun Sumber Alternatif
    • Kurangi Sementara Produksi
    Mendukung Kebijakan DepHut Jangka Pendek Jangka Menengah
  • 7. ROAD MAP Revitalisasi Industri Kehutanan Bhn baku Cukup, lestari & legal Bahan baku?? KONDISI SAAT INI KOND YG DIHARAPKAN Pasar?? Industri?? M-1 M-2 M-3 Industri efisien & prod bernilai + Pasar kompetitif Strategi WHAT ? HOW ? WHO ? WHEN ? WHERE? KONDISI PEMUNGKIN Indikator keberhasilan ?
  • 8. Pro Growth Pro Job Pro Poor 2-3% Hutan Barang Jasa HHBK Lingk Kayu Rp Rp Rp Rp PASAR INDUSTRI BAHAN BAKU Revitalisasi Industri Kehutanan di Era Pengelolaan Hutan Berkelanjutan W.Alam TRIANGLE PRINCIPLE PEMBANGUNAN KEHUTAAN
  • 9.
    • Jumlah pasokan (24.2 juta m3; Dephut 2006):
      • Hutan alam (5.7 juta m3)
      • Hutan tanaman industri (12.8 juta m3)
      • Hutan tanaman Perhutani (0.8 juta m3)
      • Hutan/kebun rakyat (1.3juta m3)
      • Areal konversi (3.6 juta m3)
    • Kapasitas terpasang industri (75,9 juta m3 RWE; Dephut 2006):
      • Industri kayu gergajian (21,0 juta m3)
      • Industri kayu lapis + vener +LVL (22,2 juta m3)
      • Blockboard +Chipwood (3.7 juta m3)
      • Industri bubur kertas (29,0 juta m3)
    • Konsumsi kayu industri (44.5 juta m3 RWE; FAO (2006), APKI (2006)):
      • Industri kayu gergajian (8.7 juta m3)
      • Industri kayu lapis + veneer (9.3 juta m3)
      • Woodworking+Blockboard+Particle (1.9 juta m3)
      • Industri bubur kertas (24.6 juta m3)
      • Belum termasuk industri: papan serat, furniture & pabrik dng kaps < 6000 m3
    Kondisi saat ini di Ind (di Prov. Papua?): Pasokan, Kapasitas, dan Konsumsi kayu tahun 2005
  • 10. Kecenderungan Pasar Internasional (FAO, 2005; ITTO dan UNCTAD/WTO, 2002)
    • Pasar hasil hutan sangat tersegmentasi
    • Persaingan akan semakin ketat akibat semakin banyaknya produsen memasuki pasar hasil hutan
    • Permintaan kayu bulat diperkirakan tetap meningkat walaupun peningkatannya tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya.
    • Perubahan signifikan dalam product mix yang memasuki pasar, seperti medium density fibreboard, oriented strand-board dan other engineered wood products (substitusi kayu gergajian); dan, furniture dan joinery (produk kayu sekunder)
  • 11. Kecenderungan Pasar Internasional (FAO, 2005; ITTO dan UNCTAD/WTO, 2002)
    • Harga internasional produk hasil hutan telah menurun dalam dekade terakhir ini, kec pulp & papers
    • Meningkatnya kualitas teknologi transportasi dan liberalisasi perdagangan menyebabkan pasar berkembang dari tingkat lokal ke tingkat nasional dan internasional
    • Pasar terhadap produk-produk bersertifikat yang didasarkan pada standar lingkungan, sosial, dan ekonomi tertentu telah muncul
    • Perdagangan internasional produk kayu tropika bersifat intra-regional
    • Elastisitas harga dari permintaan hasil hutan bersifat inelastis
  • 12. Permasalahan Utama:
    • Pasokan bahan baku kayu tidak cukup
    • Over kapasitas
    • Inefisiensi industri
    • Daya saing produk rendah
    • Pangsa pasar turun
    • Produk kayu olahan bernilai tambah rendah
  • 13.
    • Visi
      • Industri perkayuan Papua yang berkualitas dan berdaya saing tinggi, didukung oleh sumber bahan baku yang lestari dan meningkat
    • Misi:
      • Meningkatkan dan memanfaatkan ketersediaan bahan baku, terutama dari hutan tanaman serta dari sumber lain yang sah dan berkelanjutan.
      • Merestrukturisasi dan merevitalisasi industri perkayuan primer agar efisien, kompetitif dan mendukung industri pengolahan kayu lanjutan;
      • Mengembangkan produk-produk yang bernilai tambah tinggi, ramah lingkungan dan memiliki daya saing di pasar internasional;
      • Menghasilkan produk-produk industri pekayuan yang bersertifikat.
    Industri perkayuan Papua di masa depan:
  • 14.
    • Revitalisasi industri kehutanan di Papua?
    • (Periode waktu yang jelas?)
    • Strategi
    • Kebijakan
    • Rencana Aksi
    • Indikator Keberhasilan
    • Cara Verifikasi untuk Monev
    • Pelaku
  • 15. Kondisi Pemungkin ( Enabling Conditions )
    • Prasyarat
      • Kemauan politik ( political will )
      • Ketersediaan kelembagaan ekonomi
      • Jaminan akses terhadap lahan dan jaminan berusaha
      • Pelimpahan otoritas kepada pembuat kebijakan di lapangan
      • Aturan yang jelas bagi kelembagaan masyarakat dan institusi publik
      • Kapasitas sumberdaya manusia
    • Keterkaitan mikro ekonomi dan makro ekonomi
  • 16.
    • Memerlukan koordinasi dan kerjasama dari beberapa kementrian/departemen terkait
    • Mengurangi tekanan terhadap hutan alam sekaligus memberikan ruang bagi perusahaan perkayuan yang efisien untuk beroperasi
    • Membutuhkan investasi yang besar dalam memodifikasi mesin-mesin dan pembangunan infrastruktur
    • Memerlukan investasi baru untuk standardisasi produk-produk kayu yang dihasilkan agar mampu memasuki pasar yang sangat kompetitif
    • Manfaat ekonomi yg nyata bagi masyarakat (pemilik hutan) ?
    Implikasi:
  • 17. Recommended solutions
    • * Solve illegal logging:
      • Solve land tenurial right problems,
      • Solve over capacity problems,
      • Solve low domestic log price problems
      • * Expand timber products demand
        • Provide technical assistance for SME industry
        • Provide market access for SME industry
        • Provide financial assistance for SME industry,
        • Create and or support health bussiness environment
  • 18. Recommended solutions (cont’d)
    • Get the market right (get the price right)
    • Get the Institution right
    • Rules of the game: law and regulations
    • Get the law enforcement right