Habiburrahman El Shirazy - Dalam Mihrab Cinta (III)
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Habiburrahman El Shirazy - Dalam Mihrab Cinta (III)

on

  • 1,358 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,358
Slideshare-icon Views on SlideShare
1,348
Embed Views
10

Actions

Likes
1
Downloads
30
Comments
0

1 Embed 10

http://yms-ignoramus.blogspot.com 10

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Habiburrahman El Shirazy - Dalam Mihrab Cinta (III) Habiburrahman El Shirazy - Dalam Mihrab Cinta (III) Document Transcript

    • Dalam Mihrab CintaHABIBURRAHMAN EL SHIRAZY eBook by MR.
    • Katalog Dalam Terbitan (KDT) Dalam Mihrab Cinta/ Habiburrahman EI Shirazy Tentang Penulis Jakarta, Penerbit Republika halaman 20,5 x 13,5 cm Dalam Mihrab Cinta 813 ISBN : HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY adalah sarjana Diterbitkan oleh: Penerbit: Al Azhar University Cairo. Founder dan Pengasuh Utama 1. Penerbit Republika Pesantren Karya dan Wirausaha BASMALA INDO- Jl. Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan NESIA, yang berkedudukan di Semarang, Jawa Tengah. Telp. (021) 7892845. Fax. (021) 7892842 Anggota IKAPI DKI Jakarta la dikenal secara nasional sebagai dai, novelis, dan penyair. Beberapa penghargaan bergengsi berhasil 2. Pesantren Basmala Indonesia Jl. Raya Patemon No. 18.A Gunungpati, diraihnya, antara lain, Pena Award 2005, The Most Semarang, Jawa Tengah. Telp.: (024) 703.41.703 Favorite Book and Writer 2005, dan IBF Award 2006. Tak Email: basmala_indo@yahoo.com jarang ia diundang untuk berbicara di forum-forum Hak Cipta © Habiburrahman El Shirazy (Hak Cipta dilindungi Undang- nasional maupun internasional, baik dalam kapasitasnya Undang Republik Indonesia No.19 Tahun 2002 Pasal 72) sebagai dai, novelis, maupun penyair. Seperti di Cairo, Cetakan ke-1, Juni 2007 Cetakan ke-2, Juni 2007 Kuala Lumpur, Hongkong, dan Iain-lain. Karya-karyanya Cetakan ke-3, Juni 2007 selalu dinanti khalayak karena dinilai membangun jiwa Cetakan ke-4, Juli 2007 dan menumbuhkan semangat berprestasi. Penulis Habiburrahman El Shirazy Editor Anif Sirsaeba, MBQ. Di antara karya-karyanya yang telah beredar di Proof Reader Lord Ahmad, Muhammad Kasmijan pasar adalah Ayat Ayat Cinta (novel fenomenal yang akan Desain Sampul dan 1st Abdul Basith El Qudsy dilayarlebarkan, 2004), Pudarnya Pesona Cleopatra Percetakan Tamaprinter Indonesia (novelet, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (kumpulan kisahOPTIMALISASI DAN EFEKTIVITAS MEMBACA teladan yang telah disinetronkan di Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (kumpulan kisah teladan, Jenis huruf/fontase, ukuran, lebar kolom, dan spasi 2005), Ketika Cinta Bertasbih (novel fenomenal yangbaris yang dipakai dalam buku ini telah melalui belum genap sebulan beredar telah terjual 30.000serangkaian penelitian panjang, dan terbukti paling eksemplar, 2007). Karyanya yang siap dirampungkan:efektif untuk kecepatan/optimalisasi membaca dan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermatamemahami, dan efektif bagi semua usia: tua-muda. Bening dan Bulan Madu di Yerusalem.
    • Sekapur Sirih dari Penulis Assalamualaikum Wr. Wb. Bismillaah, alhamdulillaah, wash shalaatu was-salaamu ala rasuulillaah! Dalam hidup ini tak ada yang lebih saya cintai dariAllah dan Rasul-Nya. Lakal hamdu wasy syukru yaRabb. Duhai Tuhanku, kepada-Mu hamba bersimpuh,hamba sangat bersyukur telah Engkau anugerahi rasacinta yang indah ini. Rasa cinta yang indah inilah yang membuat sayamerasa hidup ini—dengan segala suka dan dukanya—terasa indah. Saya merasa bahwa Allah begitu menyayangi danmencintai saya dengan segala nikmat yang telah diberi-kan kepada saya. Nikmat yang saya sadari maupun yangtidak saya sadari. Selain nikmat rasa cinta kepada Allahdan Rasul-Nya, nikmat yang rasakan sangat agungadalah nikmat indahnya mengenal Islam. Islam, yangruhnya adalah ruh cinta kepada semesta alam. 5
    • Saya merasa bahwa Allah begitu menyayangi dan ketika Amerika melakukan pembantaian yang sama dimencintai saya dengan segala anugerah yang telah Baghdad. Saya bisa merasakan perasaan hancur seorangdiberikan kepada saya. Di antara anugerah yang ayah di Palestina yang anak kesayangannya ditembakmembuat saya merasa begitu disayang Allah adalah mati di pangkuannya oleh Tentara Israel, seperti yanganugerah suka membaca dan menulis. Dengan banyak dialami ayah Muhammad Al Dorrah. Saya bisa merasa-membaca saya semakin mengenal Allah, semakin kan ketegangan hidup bergelut dengan laut dan ikan hiumengenal Rasul-Nya, semakin mengenal sifat dan jati sendirian berhari-hari dan bermalam-malam seperti yangdiri orang-orang besar yang saleh dan mulia. dialami Pak Tua dalam The Old Man and The Sea. Saya Dengan membaca saya merasakan bisa melipat bisa merasakan rasa patriot tiada tara yang dirasakanruang dan waktu. Saya bisa merasakan hidup di pelbagai oleh Soekarno dan Hatta saat memproklamirkantempat dan saat. Saya bisa menghayati pelbagai macam kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.perasaan jiwa. Saya bisa merasakan ketulusan Abu Bakar Itulah setetes perasaan yang saya dapat dari membaca.saat m e n e m a n i hijrah Baginda Rasul. Saya bisa Masih ada ribuan perasaan dan pengalaman darimerasakan dahsyatnya doa Baginda Nabi saat berdoa membaca yang tidak mungkin saya ceritakan di sini.sambil menangis menjelang Perang Badar. Saya bisa Inilah satu anugerah yang saya rasakan sangat indah,merasakan kesedihan kota Madinah saat Rasulullah saya rasakan betapa Tuhan sangat mencintai saya.wafat. Saya bisa merasakan rasa pilu tiada tara saat Dan dengan menulis saya merasakan kenikmatanSayyidina Husein, cucu Rasulullah Saw. dibantai di yang tidak kalah dengan kenikmatan membaca. DenganKarbala. Saya bisa merasakan semangat Imam Bukhari menulis saya bisa menciptakan perasaan saya sendiri.saat bertahun-tahun mengembara mengumpulkan hadis- Saya bisa mengajak jiwa saya semangat, bahagia, sedih,hadis sahih. Saya bisa merasakan kobaran keberanian haru, bergetar dan lain sebagainya. Dan saya bisatiada tara saat mendengarkan pidato Thariq bin Ziyad mengajak orang lain merasakan apa yang saya rasakan.saat membakar kapal-kapal tentaranya begitu menginjak Dengan menulis saya bisa mengajak jiwa saya semangattanah Andalusia. ketika sedang melemah. Saya bisa mengajak jiwa saya Dengan membaca saya bisa merasakan indahnya optimis memandang terang cahaya ketika sedang merasamusim semi di Istana Al Hamra. Saya bisa merasakan sedih dan redup. Dengan menulis saya seolah bisadahsyatnya rasa rindu Majnun pada Laela. Saya bisa mengobati diri saya sendiri ketika saya sedang sakit. Danmencium aroma darah yang menggenang di Kota dengan menulis saya merasa lebih berdaya. Saya merasaBaghdad karena pembantaian yang dilakukan oleh menemukan ruang yang pas untuk mengajak diri sendiriTentara Tartar. Saya juga merasakan aroma yang sama dan orang lain berusaha menjadi lebih baik dan berdaya. 6 7
    • Dan dengan menulis saya merasakan betapa Tuhan begitu "Dalam Mihrab Cinta" yang sedang saya siapkan.mencintai saya. Allahu akbar! Sengaja saya kenalkan setengah dari alurnya kepada Kali ini saya menulis tiga novelet yang terkodifikasi pembaca agar nanti lebih familiar dan lebih mantapdalam tajuk Dalam Mihrab Cinta ini. Perlu sidang dalam membaca roman "Dalam Mihrab Cinta."pembaca ketahui bahwa sesungguhnya novelet Dalam Meskipun berbentuk petikan atau ringkasan, namunMihrab Cinta ini ingin saya luncurkan bersamaan dengan roman "Dalam Mihrab Cinta" ini insya Allah sudahdwilogi Ketika Cinta Bertasbih 1. Namun karena alasan menyuguhkan jalinan cerita yang utuh. Dengan noveletmarketing, akhirnya Penerbit Republika baru bisa ini saya mencoba menguraikan pepatah yang sangatmeluncurkannya sekarang. Tentu, setelah dwilogi Ketika terkenal di tanah Jawa yaitu, "Becik ketitik olo kethoro"Cinta Bertasbih 1 menggelinding ke pasar. Padahal (kebaikan akan tampak dan kejahatan akan kelihatan).sejatinya novelet Dalam Mihrab Cinta ini telah siap terbit Saya juga mencoba mengajak para generasi muda untukjauh sebelum dwilogi Ketika Cinta Bertasbih 1 tersebut. optimis menatap masa depan. Memang belum detilBegitulah. Saya hanya bisa merencanakan, tapi hasilnya, dalam novelet ini. Karena sekali lagi, ini adalahAllah jualah yang menentukan. Baiklah! Tiga novelet ringkasannya. Lebih detilnya insya Allah ada dalam novelyang saya maksud adalah sebagai berikut: sesungguhnya yang masih dalam proses pematangan. Novelet pertama berjudul "Takbir Cinta Zahrana".Dalam novelet yang sebagian isinya saya angkat dari kisah Novelet ketiga berjudul "Mahkota Cinta". Se-nyata ini saya mencoba menulis tentang indahnya sungguhnya, novelet ketiga ini merupakan hasil riset kecilketegaran dan ketulusan di jalan Allah. Saya juga mencoba saya terhadap beberapa kehidupan mahasiswa pasca-me-muhasabah-i tindakan orang seperti Zahrana yang sarjana Indonesia yang tengah menempuh studi di negerilebih lebih mementingkan karier akademik daripada karier Jiran Malaysia, terutama di universitas tertuanya, yaitumembangun rumah tangga dan membina generasi. Universiti Malaya. Saya terketuk menyajikannya dalamAkademik dan karier bagi siapa pun, memang penting, bentuk novelet karena banyak kisah menarik daritapi membangun rumah tangga dan membina generasi perjalanan mereka yang bisa kita ambil hikmahnya.juga tak kalah pentingnya. Alangkah baiknya jika kedua- Subhanallah!duanya berjalan seiring seirama. Itulah yang saya Akhirnya, lazimnya sebuah "Sekapur Sirih", rasanyaharapkan dari hasil me-muhasabah-i "Takbir Cinta tidak bijak kalau saya tidak mengucapkan terima kasihZahrana", dengan menyajikan "kasus" Zahrana. kepada mereka yang berjasa bagi lahimya karya saya ini. Novelet kedua berjudul "Dalam Mihrab Cinta". Pertama dengan rasa cinta mendalam saya sampai-Novelet ini adalah ringkasan atau petikan dari roman kan rasa terima kasih kepada Ummi, ibu yang melahir- kan, merawat, mendidik dan mendoakan diriku setiap 8 9
    • saat. Juga kepada Bapak, yang selama ini memberikanketeladanan untuk hidup bersahaja dan ikhlas berjuangdijalan Allah. Juga kepada isteriku tercinta Muyasarotun Saidahyang sedemikian tulus menemani hidup ini dalam sukadan duka. Terima kasih juga kepada buah hatiku:Muhammad Neil Author, yang celoteh dan tawanyasangat mengkayakan jiwa dan menyalakan api semangatberkarya. Tak lupa kepada adik-adikku tercinta; AnifSirsaeba, Ahmad Mujib, Ali Imron, Faridarul Ulya danM. Ulinnuha. Mereka semua selalu menyemangatikakaknya untuk terus menulis karya terbaik. Juga terima kasih kepada Pak Ahmadun Y. Herfandayang sangat tulus memberikan masukan-masukan yangsangat berguna bagi kemajuan saya menulis. Kepada PakTommy, Pak Awod, Mbak Hanik, Mas Arif dan teman-teman di Republika. Kepada A. Basith El Qudsy, Sadullah,Kasmijan dan santri-santri Basmala semuanya. Tak lupakepada Mbak Helvi, Mbak Asma, Mbak Intan, Mas Irfan,Mas Gola Gong, Mas Ekky Mbak Dee, Mas Haekal, dansegenap teman-teman seperjuangan di FLP Pusat. Juga kepada siapa saja, yang dengan tulus telahmendoakan saya dan mengapresiasi karya-karya saya. Takbir Cinta ZahranaKepada mereka semua saya sampaikan jazakumullah (Sebuah Novelet Pembangun Jiwa)khairal jaza. Wassalamualaikum. Pesantren Basmala Semarang, 15 Januari-20 Mei 2007 Habiburrahman El Shirazy 10
    • Satu Matanya berkaca-kaca. Kalau tidak ada kekuataniman dalam dada ia mungkin telah memilih sirna daridunia. Ujian yang ia derita sangat berbeda denganorang-orang seusianya. Banyak yang memandangnyasukses. Hidup berkecukupan. Punya pekerjaan yangterhormat dan bisa dibanggakan. Bagaimana tidak, iamampu meraih gelar master teknik dari sebuah institutteknologi paling bergengsi di negeri ini. Dan kini iadipercaya d u d u k dalam jajaran pengajar tetap diuniversitas swasta terkemuka di ibukota Propinsi JawaTengah: Semarang. 13
    • Tidak hanya itu, ia juga pernah mendapatkan Yuyun menawarkan kakaknya yang sudah buka kiospenghargaan sebagai dosen paling berdedikasi di pakaian dalam di Pasar Bringharjo Jogja. Saat itu kenapakampusnya. Ia sangat disegani oleh sesama dosen dan ia begitu tinggi hati. Ia masih memandang rendahdicintai oleh mahasiswanya. Ia juga disayang oleh pekerjaan jualan pakaian dalam. Sekarang kakaknyakeluarga dan para tetangganya. Bagi p e r e m p u a n Yuyun sudah punya toko pakaian dan sepatu yangseusianya, nyaris tidak ada yang kurang pada dirinya. lumayan besar di Jogja. Akhirnya ia menikah denganSudah berapa kali ia m e n d e n g a r pujian tentang seorang santriwati dari Pesantren Al Munawwir, Krapyak.kesuksesannya. Hanya ia seorang yang tahu bahwa Dan sekarang telah membuka SDIT di Sleman. Apasejatinya ia sangat menderita. sebetulnya yang ia kejar? Kenapa waktu itu ia tidak juga Ada satu hal yang ia tangisi setiap malam. Setiap kali cepat dewasa dan menyadari bahwa hidup ini berproses.bermunajat kepada Sang Pencipta siang dan malam. Ia Ia meneteskan airmata.menangisi takdirnya yang belum juga berubah. Takdir Dulu banyak mutiara yang datang kepadanya iasebagai perawan tua yang belum juga menemukan tolak tanpa pertimbangan. Dan kini mutiara itu tidakjodohnya. Dalam keseharian ia tampak biasa dan ceria. lagi datang. Kalau pun ada seolah-olah sudah tidak lagiIa bisa menyembunyikan derita dan sedihnya dengan tersedia untuknya. Hanya bebatuan dan sampah yangsikap tenangnya. kini banyak datang dan membuatnya menderita batin Ia terkadang menyalahkan dirinya sendir kenapa yang cukup dalam.tidak menikah sejak masih duduk di S.l dahulu? Kenapa Matanya berkaca-kaca. Ketika ia sadar harus rendahtidak berani menikah ketika si Gugun yang mati-matian hati. Ketika ia sadar prestasi sejati tidaklah semata-matamencintainya sejak d u d u k di b a n g k u kuliah itu prestasi akademik. Ketika ia sadar dan ingin mencarimengajaknya menikah? Ia dulu memandang remeh pendamping hidup yang baik. Baik bagi dirinya dan jugaGugun. Ia menganggap Gugun itu tidak cerdas dan tipe bagi anak-anaknya kelak. Ketika ia sadar dan inginlelaki kerdil. Sekarang si Gugun itu sudah sukses jadi menjadi Muslimah seutuhnya. Ketika ia menyadari,pengusaha cor logam dan baja di Klaten. Karyawannya semua yang ia temui kini, adalah jalan terjal yang panjangbanyak dan anaknya sudah tiga. Gugun sekarang juga yang menguji kesabarannya.punya usaha Travel Umroh di Jakarta. Setiap kali Umurnya sudah tidak muda lagi. Tiga puluh empatbertemu, nyaris ia tidak berani mengangkat muka. tahun. Teman-teman seusianya sudah ada yang memiliki Kenapa juga ketika selesai S.l ia tidak langsung anak dua, tiga, empat, bahkan ada yang lima. Adik-adikmenikah? Kenapa ia lebih tertantang masuk S.2 di ITB tingkatnya, b a h k a n m a h a s i s w i yang ia b i m b i n gBandung? Padahal saat itu, temannya satu angkatan si skripsinya sudah banyak yang nikah. Sudah tidak 14 15
    • terhitung berapa kali ia menghadiri pernikahan diinginkan perempuan. Dia sungguh-sungguh berkenanmahasiswinya. Dan ia selalu hanya bisa menangis iri menginginkanmu."menyaksikan mereka berhasil menyempurnakan separo "Iya Bu Merlin, semoga keputusan yang terbaikagamanya. nanti bisa saya berikan." Hari ini ia kembali diuji. Seseorang akan datang. "Baguslah kalau begitu. Gitu dulu ya. O ya janganDatang kepada orangtuanya untuk meminangnya. Ia lupa dandan yang cantik."masih bimbang harus memutuskan apa nanti. Ia sudah Klik. Tanpa salam.sangat tahu siapa yang akan datang. Dan sebenarnya ia Kali ini yang datang melamarnya bukan orangjuga sudah tahu apa yang harus ia putuskan. Meskipun sembarangan. Pak H. Sukarman, M.Sc., Dekan Fakultaspahit ia merasa masih akan bersabar meniti jalan terjal Teknik, orang nomor satu di fakultas tempat diadan panjang sampai ia menemukan mutiara yang ia mengajar. Duda berumur lima puluh lima tahun. Statusharapkan. Tapi bagaimana ia harus kembali memberikan dan umur baginya tidak masalah. Sudah bertitel haji.pemahaman kepada ayah-ibunya yang sudah mulai Kredibilitas intelektualnya tidak diragukan. Materi takrenta? usah ditanyakan. Di Semarang saja ia punya tiga pom Hand phone-nya berdering. Dengan berat ia angkat, bensin. Namun soal kredibilitas moralnya, susah Zahrana "Zahrana?" Suara yang sangat ia kenal. Suara Bu untuk memaafkannya. Repotnya, jika ia menolak iaMerlin, atasannya di kampus. Bu Merlin, atau lengkap- sangat susah untuk menjelaskan. Ia harus berkatanya Ir. Merlin Siregar M.T., adalah Pembantu Dekan I. bagaimana.Ia orang kepercayaan Pak Karman. Sejak SMA ia di Ia telah membicarakan hal ini pada kedua sahabatSemarang, jadi logat Bataknya nyaris hilang. Bahasa karibnya. Si Lina, yang kini jualan buku-buku Islami diJawanya bisa dibilang halus. Tembalang. Dan si Wati yang kini jadi isteri lurah "Iya Bu Merlin." Jawabnya dengan airmata menetes Tlogosari Kulon. Lina berpendapat untuk tidak mengam-di pipinya. bil risiko dengan menerima orang amoral seperti Pak "Saya dan rombongan Pak Karman sudah sampai Karman itu. Apapun titel dan jabatannya. Moral adalahPedurungan. Dua puluh menit lagi sampai." nyawa orang hidup. Jika moral itu hilang dari seseorang, "Iya Bu Merlin." Jawabnya hambar, dengan suara ia ibarat mayat yang bergentayangan. Itu pendapat Lina.serak. Sedangkan Wati lain lagi, menurutnya sudah saatnya "Suaramu kok sepertinya serak. Sudahlah Rana, ia tidak melangit. Mencari manusia setengah malaikatbukalah hatimu kali ini. Pak Karman memiliki apa yang itu hal yang mustahil. Selama Pak Karman masih shalat dan puasa ya terima saja. Apalagi ia orang terpandang. 16 17
    • Dan juga kesempatan seperti ini tidak selalu datang. la meneguhkan jiwa, menata hati. la juga mem-Terakhir Wati bilang, "Siapa tahu dengan menikah prediksi gaya bahasa yang akan disampaikan pihak Pakdenganmu, Pak Karman berubah. Dan di hari tuanya ia Karman. Dan menyiapkan bahasa yang tepat untuksepenuhnya membaktikan umurnya untuk kebaikan. menjawab. la juga tidak lupa menyiapkan hidangan yangBukankah itu bagian dari dakwah yang agung pahala- pantas untuk menghormati tamu. Ruang tamu telah ianya?" rapikan. Bunga-bunga ia tata, dan sarung bantal ia ganti Ia belum bisa mengambil keputusan. Kata-kata Wati dengan yang baru. Tuan rumah harus bisa menjagaselalu terngiang-ngiang di telinganya. Ia nyaris kehormatan. Dan ia kembali meneguhkan prinsipnyamemutuskan untuk menerima saja lamaran Pak Karman. dalam menghadapi siapapun: harus tenang, bicara yangNamun jika ia teringat apa yang dilakukan Pak Karman tepat, rendah hati dan santun. Itulah senjata parapada beberapa mahasiswi yang dikencaninya diam-diam, pemenang. Dan ia harus menang. Ia teringat perkataania tak mungkin memaafkan. Jika sudah demikian tiba- Napoleon Hill,tiba wajah keriput kedua orangtuanya muncul dengan "Kebijakan yang sesungguhnya, biasanya tampaksebuah pertanyaan, "Kowe mikir opo Nduk? Kowe melalui kerendahan hati dan tidak banyak cakap."ngenteni opo? Dadine kapan kowe kawin, Nduk?"1 Ia kini tampak tegar. Tak ada lagi airmata. Mental *** yang ia siapkan adalah mental seorang dosen pem- Lima menit sebelum rombongan Pak Karman bimbing yang siap maju sidang membela mahasiswanya mempertahankan skripsinya. Ia sangat yakin akandatang, Zahrana berbicara kepada kedua orangtuanya. kekuatannya.Ia minta kepada mereka pengertiannya jika ia nantimengambil keputusan yang mungkin tidak melegakan Ia berdandan secukupnya. Ia pakai jilbab hijaumereka berdua. Diberitahu seperti itu kedua orangtuanya muda kesayangannya. Sangat serasi dengan gamismenangkap apa yang akan terjadi. Dan mereka kembali bordir hijau tua bermotif bunga melati putih kecil-kecil.pasrah dalam kekecewaan. N a m u n mereka tetap Hanya dirinya dan kedua orangtuanya yang akanberharap akan terjadi hal yang membahagiakan. Mereka menyambut. Ia merasa tak perlu mengundang paraberdoa, kali ini semoga keputusan putri semata wayang kerabat. Sebab seperti yang telah lalu, jika terjadi halmereka lain dari sebelum-sebelumnya. Semoga hatinya yang tidak memuaskan hanya akan jadi gunjinganterbuka. Segera menikah. Dan segera lahir cucu yang panjang tak berkesudahan. Ia tak ingin itu terjadi lagi.jadi penerus keturunan. Ia ingin para kerabat diundang hanya untuk yang sudah jadi. Yang tak ada ruang bagi mereka berbincang 1 Kamu mikir apa, Anakku? Kamu menunggu apa? Kapan kamu menikah,Anakku? kecuali kebaikan. Kali ini yang ia undang justru dua 18 19
    • orang ibu-ibu yang biasa membantu keluarganyaselama ini. suasana. Makanan dan minuman dikeluarkan oleh dua orang ibu-ibu yang rapi berkerudung. Rombongan Pak Karman datang tepat jam setengahlima sore. Tidak main-main. Empat mobil. la harus "Tape ketan ini dibuat oleh anakku, si Zahrana inimengakui kehebatan Bu Merlin mengorganisir ini semua. dengan penuh cinta. Siapa yang memakannya insyaJuga keberhasilan Bu Merlin memprovokasi Pak Karman Allah awet muda." Ibunya melucu sambil mempersilakanuntuk nekat seperti ini. Ayah ibunya tampak kaget. Tidak tamu-tamunya menikmati hidangan seadanya. Men-menduga yang datang akan sebanyak ini dan seserius dengar hal itu spontan Pak Karman berkomentar denganini. Untung ruang tamu rumah orangtuanya cukup luas. gaya lucu,Hanya tiga orang yang tidak dapat tempat duduk. "Sebelum yang lain mengambil saya dulu yang harusTerpaksa duduk di beranda. mencicipi. Agar awet m u d a dan bisa menyunting la yakin tujuan Bu Merlin baik, hanya saja Bu Merlin bidadari."tidak tahu visi hidupnya saat ini. Bukan sekadar materi Spontan perkataan itu disambut tertawa semua yangdan kedudukan yang ia harapkan dari calon suaminya. hadir, kecuali dirinya. Entah kenapa perkataan itula mencari calon suami yang bisa dijadikan imam. Imam menurutnya tidak lucu. Perkataan itu seperti sampahyang menjadi bagian tak terpisahkan dalam ibadahnya yang hendak dijejalkan ke telinganya. Bagaimanakala mengarungi kehidupan. Karena itulah posisinya mungkin ia hidup bersama orang yang suaranya sajabenar-benar sulit kali ini. Bu Merlinlah yang selama ini tidak mau ia dengar.banyak membantunya di kampus. Dia jugalah yang dulu Lima belas menit basa-basi akhirnya Pak Darmanto,memberi bocoran adanya lowongan dosen di kampusnya. juru bicara Pak Karman, masuk pada inti kedatangan, Rombongan telah d u d u k tenang. Pak Karman "...dan maksud kedatangan kami adalah untukmenyukur bersih kumis dan cambangnya. Ia tampak menyambung persaudaraan dan kekeluargaan denganlebih muda dari biasanya. Koko biru muda dan peci hitam keluarga Bapak Munajat. Kami bermaksud menyuntingmembuatnya tampak alim. Seorang lelaki setengah baya, putri Bapak Munajat, yaitu Dewi Zahrana untuk saudaramengaku sebagai adiknya Pak Karman, namanya Pak kami Bapak H. Sukarman, M.Sc. Alangkah bahagianyaDarmanto mengawali pembicaraan. Unggah-ungguh jika maksud dan tujuan kami dikabulkan."dan basa-basi berjalan. Ia sendiri lebih banyak diam. Tak Ayahnya menjawab dengan suara rentanya yangbicara jika tidak perlu bicara. Ibunya yang biasanya terbata-bata,memang cerewet yang banyak mengimbangi bicara. "Pertama....tama, ka...kami sekeluarga menyam-Sesekali ada lelucon-lelucon yang menghangatkan paikan rasa terima kasih atas silaturrahminya. Kami juga 20 21
    • bahagia. Bagi ka..kami lamaran ini adalah suatu bentuk disampaikan pada Pak Karman. Ia tersenyum, denganpenghormatan. Dan jika bisa kami akan membalasnya senyum yang susah diartikan.dengan penghormatan yang le..lebih baik. Namun ***masalah jodoh hanya Allahlah yang mengatur. Putri kamisudah sangat dewasa. Dia lebih berpendidikan daripada "Kamu masih nunggu yang bagaimana lagi, Nduk?kami berdua. Dia bisa memutuskan sendiri mana yang Pak Karman memang agak tua, tapi ia berpendidikanbaik baginya. Itu yang bisa kami sampaikan." dan kaya. Dia juga bisa tampak muda." Kata ibunya yang sudah tahu keputusannya. Masalah sudah jelas. Semua tamu melihat kearahnya. la tahu bola sekarang ada di tangannya. Dialah "Saya tidak menunggu yang bagaimana-bagaimanasekarang yang paling berkuasa di majelis itu. la berusaha Bu. Saya menunggu lelaki saleh yang pas di hati saya.untuk tenang. Setenang ketika ia membantu argumen Itu saja." Jawab Zahrana.mahasiswa yang dibelanya dalam sidang skripsi, "Lha Pak Karman itu apa masih kurang saleh. Dia "Saya pernah mendengar Baginda Nabi Muham- sudah haji. Sudah menyempurnakan rukun Islam. Kitamad Saw., pernah bersabda, Al ajalatu minasy syaithan. saja belum." Bantah ibunya.Tergesa-gega itu datangnya dari setanl Saya tidak mau Ia merasa, memang agak susah m e m a h a m k a ntergesa-gesa. Saya tidak mau mengecewakan siapapun. ibunya bahwa kesalehan tidak dilihat dari sudah haji atauTermasuk diri saya sendiri. Maka perkenankan saya belum. Tidak dilihat dari pakai baju koko atau tidak.untuk menjawabnya tiga hari ke depan. Saya akan Tidak bisa dilihat dari pakai peci putih atau peci yanglangsung sampaikan kepada Pak Karman yang saya lainnya. Betapa banyak penjahat di negeri ini yanghormati. Maafkan jika saya tidak bisa menjawab bertitel haji. Setiap tahun haji justru untuk menutupisekarang." kejahatannya. Atau malah berhaji untuk melakukan Ada sedikit gurat kekecewaan di wajah Pak Dar- kejahatan di musim haji. Ibunya tidak akan nyambungmanto dan Pak Karman. Namun keduanya tidak bisa dia ajak dialog masalah itu.bersikap apapun kecuali setuju. Bu Merlin tersenyum "Pokoknya menurutku Pak Karman masih kurang.tanda setuju. Yang lain bisa memahami dan memaklumi. Saya sangat tahu siapa dia, soalnya saya satu kampusHanya Pak Munajat, ayahnya yang meneteskan airmata dengannya. Nanti kalau ada yang cocok pasti sayamendengar jawaban putrinya itu. Ia sudah tahu ke mana menikah Bu."arah perkataan putrinya itu. Begitu mendengar dari jawabannya ada perkataan Menjelang Maghrib rombongan itu pamit. Zahrana "pokoknya", sang ibu langsung diam dengan raut mukalangsung ke kamarnya mengatur kata yang tepat untuk sedih. Dalam hati ia istighfar jika telah melukai ibunya. 22 23
    • Karman besok pagi. Dan ia sudah berketetapan akanTapi ia tidak mau asal menikah. Menikah adalah ibadah, mengambil cuti satu minggu. Sebab jawaban itu pastitidak boleh asal-asalan. Harus dikuati benar syarat tidak diinginkan oleh Pak Karman. Bahkan pasti sangatrukunnya. Meskipun ia tahu ia sudah jadi perawan tua mengecewakan Pak Karman. Untuk menjaga hal yangyang sangat terlambat menikah, namun ia tidak mau tidak baik, lebih baik ia tidak masuk kampus. Dangegabah dalam memilih ayah untuk anak-anaknya kembali masuk jika suasana kembali seperti sediakala.kelak. Apa yang ia rencanakan berjalan. Dan apa yang ia Zahrana masuk kamar dan menulis surat jawaban prediksi terjadi.untuk Pak Karman dengan komputernya. Bahasanya Dua hari kemudian ia mendapatkan SMS dari Paktegas dan lugas: Karman: "Suratmu sudah aku terima. Kamu pasti tahu bahwa j a w a b a n m u sangat mengecewakan a k u ! " Kepada Ia membaca jawaban itu dengan hati tidak enak. Yth. Bpk. H. Sukarman, M.S.c Entah kenapa ia merasakan ada aroma jahat dalam setiap huruf-hurufnya dan susunan kalimatnya. Di Semarang Lalu ia mendapat SMS dari Bu Merlin: Assalamualaikum Wr. Wb. " H a r i ini saya d i c a c i m a k i Pak K a r m a n g a r a - g a r a Semoga Bapak senantiasa sehat dan berada dalam j a w a b a n m u . Saya sungguh kecewa dengan k a m u ! " naungan hidayah-Nya. Airmatanya meleleh. To the point saja, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Bapak, saya ingin menyampaikan bahwa saya "Maafkan aku Bu Merlin," lirihnya dengan hati perih. belum bisa menerima pinangan Bapak. Semoga Bapak Ia merasakan dunia ini begitu sempit. Dinding-dinding mendapatkan yang lebih baik dari saya. Mohon maklum dan mohon maaf jika tidak berkenan. kamarnya seakan hendak menggenjetnya. Atap kamar- nya seakan mau rubuh menimpanya. Ia hanya bisa Wassalam, pasrah kepada-Nya dan memohon kekuatan untuk tetap Dewi Zahrana kuat dan tegar di jalan-Nya. * * * la lalu menge-print surat itu dan memasukkannyake dalam amplop putih. Ia akan minta bantuan seorangmahasiswanya untuk menyampaikan hal itu kepada Pak 25 24
    • Dua Firasatnya benar. Lima hari setelah ia mengirimjawaban itu, Bu Merlin datang ke rumahnya. Saat itu iamasih mengambil cuti. Bu Merlin datang dengan mimikserius. Mimik yang ditakuti oleh para bawahannya,apalagi para mahasiswa. Pembantu Dekan I di kampus-nya itu berkata, "Zahrana, k a m u m e m a n g bebas m e n e n t u k a npilihanmu. Namun terus terang saya tidak mengerti apamaumu. Saya tak perlu berdusta padamu, saya sangatkecewa padamu. Padahal saya telah berusaha melaku- 27
    • kan yang terbaik, untukmu dan juga untuk Pak Karman. "Tidak Bu. Jika terjadi ketidakadilan, akan saya lawanNamun agaknya ini semua berantakan karena ke- sampai titik darah penghabisan!"angkuhanmu." "Zahrana, kamu ternyata tidak tahu benar peta "Bu tolong ibu juga mengerti saya. Saya telah politik kampus. Tidak tahu benar siapa Pak Karman. Jikaberusaha menata hati dan jiwa untuk menerima Pak kau nekat itu ibarat ulo marani gitik. Ibarat ular mendekatKarman. Saya tidak mau karena saya sudah terlambat untuk dipukul sampai mati. Mundurlah dulu. Ber-menikah, lantas saya menikah untuk seolah-olah bahagia. tiaraplah sementara waktu. Ini yang kulihat baikSaya tidak mau batin saya justru menderita. Karena saya untukmu. Saya berjanji suatu saat nanti jika saya adabenar-benar tidak bisa menerima Pak Karman. Saya kemampuan, kamu akan saya tarik lagi ke kampus. Kalitidak mau, setelah menikah sosok Pak Karman justru jadi ini percayalah padaku. Saya tidak rela orang sebaik kamumonster yang menghantui saya setiap saat. Saya sama jadi bulan-bulanan kesewenang-wenangan yang sudahsekali tidak bisa mencintainya Bu. Meskipun sebutir saya cium dari sekarang."zarrah. Ibu kan juga seorang perempuan. Saya mohon Zahrana akhirnya paham dengan apa yang di-ibu bisa memaklumi." Zahrana menjawab panjang lebar sampaikan Bu Merlin. Dari nada dan tuturkata yangdengan mengajak bicara dari hati ke hati. disampaikan ia melihat ada kesungguhan dan ketulusan. "Kalau masalahnya sudah cinta. Tak ada orang di Namun ia belum bisa mengambil sikap dengan cepat.muka bumi ini yang bisa memaksa. Meskipun saya kecewa Sekali lagi ia harus tenang dan tidak gegabah,saya tetap menginginkan yang terbaik untukmu. Sejak "Baiklah Bu. Saya mengerti. Akan saya pikirkanmengenalmu aku tahu kau orang baik. Begini Zahrana, matang-matang saran Ibu. Saya sangat berterima kasih."saya lihat gelagat Pak Karman berniat memecatmu "Saya harap begitu. Kalau begitu saya pamit dulu.dengan satu tuduhan serius yang akan sangat memper- Masih ada urusan yang harus saya kerjakan." Kata Bumalukanmu. Ia mengisyaratkan hal itu kemarin setelah Merlin.membaca suratmu. Sekadar saran dariku lebih baik kaumundur dengan terhormat daripada dipecat! Jika marah * **Pak Karman bisa lupa bumi di mana ia berpijak." Zahrana sadar Bu Merlin masih tetap menyimpan "Apa Bu? Mundur?" Jawab Zahrana dengan nada rasa sayang padanya, meskipun ia telah mengecewakan-kaget. nya. Bu Merlin juga tetap setia pada prinsip hidupnya: "Iya Zahrana. Sebaiknya kau mengundurkan diri Memaksimalkan manfaat meminimalisir konflik. Jikasaja. Itu saranku sebagai orang yang sangat paham peta masih ada jalan menghindari konflik, maka jalan itulahpolitik di kampus." yang harus ditempuh. 28 29
    • Setelah Bu Merlin pergi Zahrana langsung mengen- "Kau kayak anak kecil aja. Cari pekerjaan baru.darai sepeda motornya ke rumah Lina, temannya paling Dengan begitu kau bisa berdalih degan seribu alasanakrab sejak di SMP sampai Perguruan Tinggi. la perlu yang menyejukkan mereka. Bisa kaukatakan tidakorang yang bisa diajak bicara m e m u t u s k a n ma- kerasan lagi di kampus. Cari pengalaman baru dan lainsalahnya. sebagainya." "Apa sejahat itu Pak Karman?" tanya Lina pada Akhirnya ia mantap untuk mengundurkan diri.Zahrana. "Kau benar Lin. Besok aku akan mengundurkan "Aku tak ingin membicarakan kejahatannya. Yang diri."jelas apa yang sebaiknya kulakukan setelah mendengar "Nanti kubantu cari pekerjaan yang cocok untukmu."saran Bu Merlin." "Kau memang sahabatku yang baik Lin." "Yang paling penting m e n u r u t k u adalah, apa ***kaupercaya dengan apa yang disampaikan Bu Merlin?" Zahrana menjawab dengan memandang lekat-lekat Pagi itu Zahrana d a t a n g ke k a m p u s d e n g a nteman karibnya itu, membawa dua pucuk surat pengunduran dirinya. Satu untuk rektor dan satu untuk dekan. Pak Karman sedang "Sampai saat ini saya belum pernah dibohongi Bu rapat dengan rektor. Itu kesempatan baginya untukMerlin. Saya percaya padanya." mengemasi barang-barangnya. Teman-temannya "Kalau begitu masalahnya jelas. Pak Karman itu sesama dosen banyak yang kaget.sedang sangat tersinggung dan marah besar karena kamu "Kami tahu dari Ibu Merlin bahwa kamu menolaktolak. Dia merasa tidak nyaman berada satu atap lamaran Pak Karman. Apa karena itu terus kamu jugadenganmu di kampus. Dan Bu Merlin melihat dia akan harus mundur dari kampus?" tanya Pak Didik, dosenmembuat perhitungan denganmu." mata kuliah struktur beton yang meja kerjanya paling "Jadi?" dekat dengannya. "Kalau aku jadi kau, aku memilih mengundurkan "Saya hanya ingin cari suasana baru dan penga-diri dengan baik-baik, d a r i p a d a dipecat dengan laman baru. Mungkin saya akan mencoba kerja di sebuahmembawa nama tercemar. Pak Karman tentu lebih kuat perusahaan." Jawab Zahrana sekenanya sambil me-posisinya daripada kamu. Ingat dia orang nomor satu di rapikan berkas-berkasnya.Fakultas tempat kamu mengajar." "Apa ini benar-benar sudah keputusan final?" "Aku tahu. Tetapi jika aku keluar, lantas nanti apayang harus aku katakan pada ayah dan ibu?" "Ya. Final." 30 31
    • "Kami tak berhak menahanmu. Meskipun kami Lima menit kemudian tiga orang mahasiswi ber-sangat kehilangan kamu jika kamu keluar. Tidak banyak jilbab, dan dua orang mahasiswa datang. Kepada merekapengajar yang seahli kamu. Jika nanti kamu ingin Zahrana menjelaskan bahwa dirinya akan mengundur-kembali ke kampus ini jangan segan-segan. Kami para kan diri dari kampus itu.dosen akan men-support-mu." "Kenapa Bu?" tanya Nina, mahasiswinya yang aktif "Terima kasih Pak Didik. Maafkan saya jika selama di Lembaga Pers Kampus.ini banyak berbuat salah." "Tidak apa-apa. Hanya ingin cari suasana baru saja." "Sama-sama." "Tidak karena tekanan seseorang kan Bu?" tanya Setelah barang-barangnya rapi. la meletakkan surat mahasiswa berbaju biru tua kotak-kotak.pengunduran dirinya di meja kerja Pak Karman. Lalu "Tidak. Ini murni keinginan Ibu. Mana ada yangmencari mahasiswi yang bisa membantunya mengang- berani menekan Ibu tho San." Jawab Zahrana padakat barang. Di koridor ia bertemu dengan mahasiswi mahasiswa bernama Hasan.berjilbab hitam. "Kalau ibu mundur, skripsi saya bagaimana Bu?" "Nina!" tanya mahasiswa itu lagi. "Ya Bu Rana." "O tenang San. Nanti kamu menghubungi Bu "Bisa bantu saya sebentar?" Merlin dan Pak Didik ya. Mereka akan membantumu, insya Allah." "Bisa Bu." "Kalau begitu cari tiga teman, dan segera ke ruang "Saya masih boleh konsultasi pada ibu tho. Meskipunkerja saya. Saya minta bantuannya sedikit." ibu tidak di kampus ini lagi?" "Baik Bu." "Boleh San. Kalian semua ibu persilakan dolan ke rumah ibu kapan saja." Kata Zahrana sambil meman- Ia lalu balik ke ruang kerjanya. dang wajah mahasiswanya satu per satu. "Pak Didik?" Zahrana lalu meminta mereka mengangkat barang- "Ya Bu Rana." barangnya ke luar gedung. Tak lama taksi datang. "Saya minta tolong, surat pengunduran ini disampai- Zahrana p u n meninggalkan k a m p u s itu d e n g a nkan ke Pak Rektor begitu saya pergi. Data-data saya di membawa seluruh barang-barangnya.komputer ini nanti diselamatkan ya Pak. Trus saya minta Begitu selesai rapat, Pak Karman kembali ke ruangtolong dicarikan taksi." kerjanya. Keputusannya sudah mantap yaitu memecat "O bisa Bu." Zahrana dengan beberapa tuduhan serius, di antaranya: 32 33
    • tidak disiplin. "Perawan tua itu harus diberi pelajaran!" yang masih banyak menganggap ilmu eksak tidakGeramnya dalam hati. Ketika ia duduk di kursinya ia penting, yang menganggap "ilmu umum" lainnya jugamenangkap sepucuk surat tergeletak di atas meja tidak penting.kerjanya. Ia baca surat itu. Kemarahannya seketika Dianggap tidak penting, karena para santri ber-meluap, "Kurang ajar!" pikiran bahwa ilmu eksak dan "ilmu umum", kelak tidak Ia seperti petinju yang nyaris meng-KO lawan, tiba- akan ditanyakan di akhirat. Bagi mereka, yang terpen-tiba malah dipukul KO. Ia sama sekali tidak memper- ting adalah "ilmu agama", karena ilmu itulah yang akanhitungkan Zahrana akan membuat keputusan nekat itu. dibawa hingga akhirat nanti. Pikiran yang perlu dilu-Namun ia tetap akan membuat perhitungan dengan satu- ruskan. Dan Zahrana tertantang untuk meluruskannya.satunya dosen Fakultas Teknik yang masih gadis itu. la merasa mengajar di lingkungan pesantren lebih * ** menenteramkan. Entah kenapa? Apa karena dekat Tak perlu waktu lama bagi Zahrana untuk men- dengan banyak ulama? Atau karena m e m a n g didapatkan pekerjaan baru. Dari seorang teman ia pesantren tempat ia mengajar tidak ada manusia sepertimendapatkan informasi bahwa STM Al Fatah Mranggen, Pak Karman yang dalam pandangannya sangat-sangatDemak, sedang membutuhkan seorang guru baru yang durjana. Hari-harinya ia lalui dengan lebih tenang danprofesional untuk mendongkrak prestasi. STM Al Fatah tenteram. Ilmu S.2-nya ia rasa tidak benar-benar hilangberada di payung Yayasan Pesantran Al Fatah. Pesantren tanpa guna. Sebab ia juga diterima sebagai konsultanbesar yang terkenal di Mranggen. Ia mengajukan sebuah perusahaan properti. Ia juga masih seringlamaran dan hari itu juga ia diterima. didatangi mahasiswanya. Kepala sekolahnya yang masih keturunan pendiri Yang masih sering datang adalah mahasiswanyaPesantren Al Fatah sangat senang. Pengalaman mengajar yang bernama Hasan. Tugas Akhir Hasan memang diZahrana ketika mengajar di FT universitas swasta bawah bimbingannya. Namun setelah ia keluar, tugasterkemuka di Semarang adalah jaminan kualitas. pembimbingan diambil alih oleh Bu Merlin. Hasan dan teman-temannya masih suka datang untuk konsultasi Sejak hari itu Zahrana mengajar siswa-siswa yang dan meminjam referensi. Ia merasa senang dengan keda-sebagian besar adalah santri. Ia berusaha mendalami tangan mereka. Ia merasa mereka seperti adiknya sendiri.kultur dan budaya santri. Sebab sejak kecil ia belumpernah menjadi santri sama sekali. Ia merasakan nuansa Suatu siang ayahnya bertanya, mengapa ia me-yang berbeda antara mengajar santri dan mengajar ninggalkan kampus dan memilih mengajar di STM Almahasiswa. Ada tantangan tersendiri mengajar santri Fatah yang gajinya jauh lebih kecil. Ia menjawab, 34 35
    • "Ingin mencari ketenangan dengan dekat kiai dan "Jangan-jangan jilbabmu itu kedok untuk menutupi daging tuamu yang sudah busuk di kerubung lalat!"para santri." Zahrana tersentak dan geram. Sebuah teror. Teror Ayahnya hanya mendesah tanda tidak setuju. paling primitif, dengan kata-kata yang merendahkan danNamun ia kemudian berusaha menghibur, menyakitkan. la periksa nomornya. Nomor yang tidak "Yang kedua Yah, Zahrana berharap mengajar di ia kenal. la nyaris membalas SMS itu dengan kata-katalingkungan pesantren jadi jalan bagi Zahrana menemu- yang sama pedasnya. Tapi ia urungkan. Ia sudah bisakan jodoh Zahrana. Bertahun-tahun di kampus jodoh menduga kira-kira dan mana SMS itu berasal. Akhirnyayang Zahrana harap tidak juga datang." ia memilih diam. Diam tanpa pernah menganggap SMS Wajah ayahnya itu sedikit cerah, itu ada. Ia merasa diam adalah senjata paling ampuh. "Semoga harapanmu terkabul. Kalau perlu kamu Menanggapi omongan orang gila berarti ikut jadi gila.harus berani minta tolong pada Pak Kiai. Siapa tahu Menanggapi sikap orang dungu berarti ikut jadi dungu.beliau bisa membantu menemukan jodohmu." Internetnya sudah konek. Lima email dari teman- "Iya Yah. Mohon doanya terus." temannya sesama dosen. Semuanya menyayangkan "Tanpa kamu minta pun kami terus mendoakanmu keputusannya meninggalkan kampus. Dan semuanyasiang dan malam, Anakku." mendoakan semoga sukses dengan pilihannya. "Terima kasih Ayah." Hp-nya kembali berdering. Dua kali. Ia buka, *** "Apa kabar Perawan Tua?" "Kelapa itu semakin tua semakin banyak santannya. Malam itu setelah memeriksa tugas-tugas anak Banggalah jadi perawan t u a ! "didiknya Zahrana membuka komputer. Ia hendak Ia meneteskan airmata. Tubuhnya bergetar. Hatinyaberselancar di dunia maya internet. Ia ingin melihat sakit. Tapi ia harus menang. Diam adalah senjataapakah ada email yang masuk. Apakah ada berita yang pamungkasnya untuk menang. Ia tidak akan meladenimenarik. Dan ia mau membuat blog. Siapa tahu dengan kata-kata yang tidak mencerminkan datang dari orangmembuat blog ia bisa menemukan jodohnya. terdidik itu. Akhirnya, ia matikan hp-nya. Ia memilih Baru saja menyalakan komputer hp-nya berdering asyik berselancar di dunia maya.beberapa kali. Ada tiga SMS yang masuk. Ia mem- Ia buka alamat emailnya yang lain. Ada dua email.bukanya: Yang satu dari sebuah komunitas milis, memanggilnya "Sedang apa perawan t u a ? " untuk ikut milis. Dan satunya dari Pak Didik. Ia jadi "Ternyata jadi perawan tua itu indah." bertanya ada apa dengan Pak Didik. Baru kali ini Pak 36 37
    • Didik mengirim email kepadanya. la buka email itu:Subjeknya: SEBUAH TAWARAN, JIKA BERKENAN. dan memaksimalkan potensi. Ini harapan saya. Semoga Baru dikirim beberapa jam yang lalu. ibu berkenan dengan harapan ini. la lalu membacanya dengan sedikit rasa penasaran. Saya kira cukup sekian dulu surat ini. Jika ada salahTawaran apa yang dimaksud Pak Didik, yang celananya kata motion maaf. Tawaran saya ini mohon tidak diartikanselalu di atas mata kaki itu? sebagai pelecehan. Sama sekali saya tidak bermaksud s e p e r t i i t u . Saya b e r m a k s u d k i t a s a l i n g m e m b e r i manfaat. Itu saja. Akhirul kalam, Wassalamualaikum Wr. Wb. Assalamualaikum Wr. Wb. Hormat saya, Semoga Ibu Zahrana sukses dan berbahagia selalu. Didik Hamdani, M.T. A m i n . Sebelumnya m o h o n m a a f j i k a email saya ini m e n g g a n g g u . S e b e n a r n y a s u d a h l a m a saya i n g i n m e n g i r i m email ini tapi t e r h a m b a t karena beberapa sebab. Hari ini saya m e r a s a hari y a n g t e p a t saya mengirim email ini untuk memberikan sebuah tawaran Zahrana membaca email itu dengan tubuh bergetar, kepada Ibu Zahrana. Maaf terpaksa saya sampaikan lewat email, sebab jika saya sampaikan langsung secara mata berkaca-kaca. la tidak tahu apa yang ia rasakan. lisan takut terjadi salah paham. Karena bahasa tulisan Yang jelas bukan bahagia. Ia merasa betapa tidak mudah bisa diedit sementara bahasa lisan tidak. menjadi gadis yang terlambat menikah. Dan betapa susah Bu Zahrana, setelah mengetahui lebih detil tentang menjadi wanita. I b u . Juga apa yang I b u cari selama ini saya m e m - beranikan diri mengajukan diri. Mengajukan diri untuk Jika Pak Didik itu tidak memiliki isteri, katakanlah menjadi suami ibu. Maaf, to the point saja Bu. Saya duda sekalipun, tawaran itu mungkin akan sedikit menawarkan kepada ibu, sekali lagi maaf jika dianggap lancang, untuk menjadi isteri kedua saya. Saya yakin menjadi jendela harapan di hatinya. Tapi ia harus isteri saya bisa menerimanya nanti. dijadikan yang kedua. Ia tidak tega. Ia tidak tega pada Saya akan berusaha adil sebagai suami. Terus terang perasaan yang akan dialami isteri Pak Didik. Dan ia juga sebenarnya yang saya harapkan adalah seorang isteri tidak tega pada perasaan kedua orangtuanya. Mereka yang educated dan cerdas seperti Bu Zahrana. Bukan yang bisanya cuma arisan seperti isteri saya saat ini. semua tidak siap untuk itu. Bahkan jika mau jujur, ia Tapi karena sudah punya dua anak, tidak mungkin saya sendiri "belum siap", atau lebih tegasnya "tidak siap" meninggalkan dia. menjadi isteri kedua. Sakit rasanya. Bagaimanapun ia Saya y a k i n dengan kita m e m b i n a r u m a h t a n g g a adalah wanita biasa. Ia adalah perempuan Jawa pada bersama, kita bisa bersinergi. Kita bisa saling memberi umumnya, yang benar-benar "tidak siap", atau lebih 38 39
    • tepatnya "tidak mau" dijadikan istri kedua. Atau "tidakmau" dimadu. la membayangkan, alangkah tersiksanya, misalnya,bila ia menerima tawaran Pak Didik itu, ternyata isterinyatidak setuju. Isterinya itu lantas melabraknya danmengatakan kepadanya, "Hai perawan tua tengik, memang di dunia ini sudahtidak ada lelaki sehingga kamu tega merampas suamiorang! Dasar perawan tua! Suka merusak pager ayuorang saja!" Ia tidak tahu akan menjawab apa. Maka begitu ia selesai membaca email itu, yang ialakukan adalah men-delete-nya tanpa me-reply samasekali. Ia menganggap email itu tak pernah ada.Matanya masih berkaca-kaca. * ** 40
    • Tiga eBook by MR. Bumi terus berputar pada porosnya. Detik berkumpulmenjadi menit. Menit berkumpul menjadi jam. Jamberkumpul menjadi hari. Minggu berkumpul menjadibulan. Ternyata sudah enam bulan Zahrana mengajardi STM. Namun masalah utamanya belum juga selesai.la belum juga mendapatkan jodohnya. Setelah mendapattawaran dari Pak Didik, sudah ada dua orang yang maju.Tapi entah kenapa ia tidak sreg. Hatinya belum cocok. Yang pertama dibawa oleh teman ayahnya. Seorangsatpam di sebuah Bank BUMN. Ia tidak lagi melihat 41
    • status. Satpam atau apapun tak jadi masalah. la tidak maaf jika belum bisa menjadi anak yang membahagiakan sreg karena satpam itu tidak bisa membaca Al-Quran orangtua. Ibunya, akhirnya luluh dalam tangis. Ayahnya sama sekali. Sekali lagi, tidak bisa membaca Al-Quran yang melihat hal itu juga menangis. Sang ayah berkatasama sekali. Shalat juga dengan jujur diakuinya tidak sambil terisak,pernah lengkap. la hanya membayangkan akan jadi apa "Saat pindah ke STM Al Fatah kamu bilang siapaanak-anaknya kelak jika ayahnya sama sekali tidak tahu jodohmu di pesantren. Coba datanglah ke Pak Kiai.mengenal Al-Quran. Dalam bahasa dia, buta Al-Quran. Coba kamu minta pada Pak Kiai untuk membantuDan alangkah beratnya mengajari ngaji suaminya dari mencarikan. Mungkin kamu akan ditemukan dengannol. Juga mendisiplinkan shalatnya dari nol. Akhirnya santrinya!"tanpa berpikir panjang ia lebih memilih menunggu yang "Baiklah ayah, tak kurang ikhtiar saya. Untuklain. menemukan yang saya idamkan baiklah saya akan Orang yang kedua, yang maju melamarnya dibawa sowan ke tempat Bu Nyai dan Pak Kiai secepatnya."oleh temannya sendiri, Wati. Seorang pemilik bengkel Jawab Zahrana sambil mengusap airmatanya.sepeda motor. Duda beranak tiga. Status duda dengan Esoknya ia nekat mengajak Lina, menghadap Buberapa anak juga sebenarnya tidak masalah baginya. Ia Nyai dan Pak Kiai. Ia mengajak Lina sahabatnya itu,tidak mungkin cocok dengan duda itu, karena ia telah karena Lina dulu pernah nyatri di Pesantren ARISkawin cerai sebanyak tiga kali dalam waktu tiga tahun. Kaliwungu selama satu bulan saja, yaitu selama bulanTiga anak itu adalah hasil kawin cerainya dengan tiga Ramadhan. Lina tentu lebih tahu berdiplomasi denganperempuan berbeda. Ia tidak mau jadi korban yang Bu Nyai daripada dirinya yang sama sekali tidak pernahkeempat. Meskipun Wati mengatakan bahwa lelaki itu nyantri.telah insyaf. Ia ingin menikahi Zahrana sebagai isteriyang terakhir. Karena ia tidak juga bisa menenangkan Kedatangannya diterima Bu Nyai dengan wajahbatinya. Akhirnya ia tolak juga pemilik bengkel itu. menyejukkan. Bu Nyai Saadah Al Hafidhah adalah isteri K.H. Amir Arselan, pengasuh utama Pesantren Al Fatah. Datangnya lamaran silih berganti yang semuanya Bu Nyai ini u m u r n y a lima p u l u h a n tahun. Duluditolak oleh Zahrana itu membuat ibunya sempat marah. menghafal Al-Quran di Kudus. Dan di tangannya kini "Kamu itu masih tinggi hati Rana! Perempuan tinggi telah lahir ratusan santriwati yang hafal Al-Quran. Saathati tak akan mendapatkan jodohnya!" itu kebetulan Pak Kiai sedang pergi ke Rembang. Hanya Ia menangis dimarahi ibunya begitu. Ia merasa Bu Nyai yang menemui.penolakannya itu ada landasan logika dan syariatnya Apa yang bisa Ummi bantu, Anakku? Oh ya siapayang kuat. Ia menangis di pangkuan ibunya, dan minta namamu, Anakku?" tanya Bu Nyai. 42 43
    • " N a m a saya Rana, Ummi. Lengkapnya Dewi harus tinggi seperti kamu juga saleh. Kalau boleh tahu,Zahrana. Kedatangan saya ke sini pertama untuk kalau strata p e n d i d i k a n n y a tidak setinggi k a m usilaturrahmi. Kedua untuk mohon tambahan doa dari bagaimana?"Ummi. Kebetulan saya ikut mengajar di STM Al Fatah. Zahrana mengerti maksud Bu Nyai. Segera iaBaru enam bulan ini Ummi." Terang Zahrana dengan menjawab,kepala menunduk. "Saat ini status, strata, kedudukan sosial, pendidikan "O begitu. Ya. Jadi kau guru baru di STM Al Fatah?" dan lain sebagainya tidak jadi pertimbangan saya Bu "Iya, Ummi." Nyai. Saya hanya ingin suami yang baik agamanya. Baik "Dulu nyantri di mana?" imannya dan bisa jadi teladan untuk anak-anak kelak. Belum sempat Zahrana menjawab, Lina memotong, Itu saja." "Oo, baiklah kalau begitu. Besok kautelpon aku ya. "Zahrana ini belum pernah nyantri, Ummi. Tapi diahariannya seperti santri. Zahrana ini dari SMA. Terus Nanti malam aku akan rembugan dengan Pak Kiai.kuliah S.l di UGM dan S.2 di ITB Bandung, Ummi." Semoga ada pandangan." "Kalau begitu kamu hebat ya Zahrana. Bisa S.2 di "Baik Bu Nyai."ITB. Jurusan apa?" Keduanya lalu pamitan setelah dipaksa Bu Nyai "Teknik Sipil, Ummi." menghabiskan minuman yang ada di gelas. "Harus dihabiskan. Kalau tidak habis itu namanya Bu Nyai hanya manggut-manggut. mubazir. Dan orang yang suka mubazir itu teman Lina tahu bahwa Zahrana tidak berani mengung- akrabnya setan." Kata Bu Nyai serius.kapkan maksud sebenarnya. Maka dengan tanpa Rana dan Lina hanya bisa manut saja. Mereka pulangdiminta ia lalu menjelaskan dengan sehalus mungkinmaksud utama kedatangan Zahrana ke pesantren. Bu dengan hati diliputi rasa gembira. Bu Nyai Dah, atauNyai menjawab, Ummi Dah, begitu para santri memanggilnya, ternyata sangat halus tuturbahasanya, begitu perhatian dan begitu "Saya yakin tidak m u d a h mencari yang selevel menyenangkan. Wajar jika banyak santri yang men-denganmu, Anakku. Jujur saja kalau misalnya ada cintainya. Pak Kiai pasti bahagia punya isteri sebaik dia.yang selesai S.2 umurnya sama denganmu dia akan ***memilih yang lebih muda darimu. Lelaki itu umumnyapunya ego, tidak mau isterinya lebih pinter dan lebih Zahrana baru saja masuk kelas, ketika kepalatua darinya. Tapi ya tidak semua lelaki lho. Sekali lagi sekolah memanggilnya. Ia bertanya-tanya dalam hati,tidak mudah mencarikan jodoh yang pendidikannya "Ada apa sepagi ini kepala sekolah memanggilnya." Ia 44 45
    • bergegas ke ruang kepala sekolah dengan kepala berisi "Ya. Semoga barakah, Anakku!"tanda tanya. Zahrana berjalan ke kelas dengan telinga yang "Bu Rana, saya baru saja ditelpon sama Bu Nyai Dah. mendengungkan apa yang disampaikan Bu Nyai:Beliau minta kau menghadap beliau sekarang juga." "...Ia dari keluarga pas-pasan. Anak kedua dari tujuhBegitu kata kepala sekolah begitu ia sampai di ruang kerja bersaudara. Pekerjaannya sekarang jualan kerupukbeliau. Zahrana langsung tahu kenapa Bu Nyai memang- keliling. Dia duda tanpa anak. Isterinya meninggal satugilnya. Ia langsung bergegas ke ndalem Bu Nyai Dah. tahun yang lalu karena demam berdarah...!" Bu Nyai Dah ternyata sudah menunggunya sambil Sambil berjalan ia menirukan ucapan Bu Nyai,membaca Al-Quran. Begitu Zahrana sampai beliau "Pekerjaannya sekarang jualan kerupuk keliling. Diamenghentikan bacaannya. duda tanpa anak. Isterinya meninggal satu tahun!" "Duduklah, Anakku." "Hmm penjual kerupuk keliling. Apakah memang Ia duduk dengan kepala menunduk. takdirku jadi isteri seorang penjual kerupuk keliling?" "Begini, Anakku. Pak Kiai punya seorang santri yang gumamnya sendiri. sudah tiga tahun ini meninggalkan pesantren. Dia santri Ada dialog yang cukup serius dalam dirinya.yang dulu sangat diandalkan Pak Kiai. Namanya Rah- "Tapi meskipun penjual kerupuk keliling. Ia adalahmad. Pendidikannya tidak tinggi. Ia hanya tamat Madra- orang yang baik akhlak dan ibadahnya. Tanggungsah Aliyah. Tidak kuliah. Karena setelah itu dia mengabdi jawabnya bisa diandalkan. Toh aku sudah bilang padadi pesantren ini. Baik akhlak dan ibadahnya. Tanggung Bu Nyai b a h w a status, strata, k e d u d u k a n sosial,jawabnya bisa diandalkan. Ia dari keluarga pas-pasan. pendidikan dan lain sebagainya tidak jadi pertimbanganAnak kedua dari tujuh bersaudara. Pekerjaannya sekarang lagi. Yang aku inginkan adalah suami yang baikjualan kerupuk keliling. Dia duda tanpa anak. Isterinya agamanya. Baik imannya dan bisa jadi teladan untukmeninggal satu tahun yang lalu karena demam berdarah. anak-anak kelak. Apakah aku harus mempersoalkanItulah informasi yang bisa aku berikan. Musyawarah- pekerjaannya yang cuma penjual kerupuk keliling?"kanlah dengan kedua orangtuamu dan kerjakanlah shalat Sampai di kelas ia tidak konsentrasi mengajar.Istikharah. Jika kamu ingin dan tertarik, beritahukanUmmi. Nanti kita carikan jalan terbaik." Akhirnya ia memberi pekerjaan kepada para siswa. Jam ketiga ia ijin pulang ke rumah dengan alasan ada "Baiklah, Ummi. Terima kasih. Saya akan musya- kepentingan yang sangat penting berkaitan denganwarah dan Istikharah dulu. Saya pamit dulu Ummi, permintaan Bu Nyai. Jika alasannya Bu Nyai, tidak adakarena tadi kelas saya tinggalkan." Jawab Zahrana. yang berani membantah. 46 47
    • Sampai di rumah ia mengajak musyawarah ayah dan dan kau boleh bertanya apa saja padanya. Biasa saja. Diaibunya. Keduanya mendorongnya untuk maju. tidak tahu apa-apa masalah ini. Dengan begitu kau bisa "Kemuliaan h i d u p seseorang itu tidak karena tahu dengan jelas calon suamimu itu. Jika kau masih jugapendidikannya atau pekerjaannya. Seseorang jika mantap, maka bisa diteruskan. Jika tidak ya tidak apa-dimuliakan oleh Allah akan juga mulia di mata manusia." apa."Demikian kata ibunya. "Baik Bu Nyai." Jawabnya. Ia mulai man tap. Dari situ ia tahu betapa demokratisnya Bu Nyai. Namun merasa masih belum cukup. Ia lalu menelpon Betapa bijaksananya Bu Nyai. Betapa Bu Nyai memangLina. Dari jauh Lina menjawab, tidak mau memaksa. Ia kemudian jadi takut. Jangan- jangan ia yang nanti mau, tapi si penjual kerupuk itu "Dia kan lulusan aliyah. Nanti jika kalian sudah justru yang tidak mau dengan alasan minder dan lainmenikah dan hidup mapan. Minta saja dia kuliah. sebagainya. Ia mendesah nafas panjang. Biarlah waktuDengan begitu dia akan selesai S.l dan jarak pendidikan yang menjawabnya, desahnya.tidak terlalu jauh. Dan sebenarnya dengan dia mengabdidi Pesantren bertahun-tahun dia telah mendapatkan * * *pelajaran hidup yang lebih matang dari mata kuliah di Hari berikutnya Zahrana benar-benar tidak ke mana-Program Pascasarjana sekalipun. Sudah mantaplah Ran. mana sejak pagi. Hari itu ia ijin tidak mengajar demiPak Kiai dan Bu Nyai pasti berusaha mengarahkan yang mengejar takdir. Ia menunggu di ruang tamu. Terkadangterbaik." juga di beranda. Sesekali ke jalan. Penjual kerupuk itu Mantap sudah hatinya. Niatnya sudah bulat. Untuk tidak juga datang.semakin m e m a n t a p k a n ia p u n Istikharah. Setelah Jam sebelas siang seorang penjual kerupuk datang.Istikharah rasa mantapnya semakin besar. Hari itu juga "Puk Kerupuk! Puk Kerupuk!" Suara penjualia menelpon Bu Nyai dan menjelaskan kemantapannya. kerupuk itu membahana. Hari Zahrana sedikit lega. Ia Bu Nyai menjawab, menunggu. Suara itu semakin mendekat. Semakin "Baiklah coba jelaskan alamat rumahmu!" mendekat. Ia keluar ke beranda. Begitu penjual kerupuk "Saya tinggal di Perumahan Klipang Asri. Jalan sampai di depannya, ia berteriak,Madukara B-15." "Kerupuk Pak!" "Besok satu hari penuh jangan ke mana-mana. Pak Penjual kerupuk itu menghentikan langkah. TempatKiai akan meminta si Rahmad itu berjualan ke peruma- k e r u p u k y a n g dipikulnya ia t u r u n k a n . Z a h r a n ahan di mana kau tinggal. Kau belilah kerupuk darinya, terperanjat. Sudah tua. Ia memperkirakan umurnya 48 49
    • mendekati lima puluh tahun. Kulitnya hitam legam "Tidak terpikir Lin. Sama sekali tidak terpikir bertanyatersengat matahari. la hampir menangis. namanya tadi. Aku sudah shock duluan tahu penjual itu "Iya Bu, beli berapa?" sudah tua. Tidak seperti yang aku bayangkan." "Tiga ribu Pak." "Ya sudah. Kalau begitu kau sabar saja. Yang jelas, tidak mungkin Pak Kiai dan Bu Nyai tega menjerumus- "Baik Bu." kanmu. Ini kan masih siang. Kau tunggu saja. Aku yakin Penjual kerupuk itu mengambil kerupuk dan yang dikirim Pak Kiai pasti baik. Pokoknya kamu janganmemasukkan ke dalam plastik lalu menyerahkan ke mana-mana ya. Tunggu sampai malam datang. Maukepada Zahrana. Zahrana mengeluarkan uang dua dapat suami saleh harus sabar ya." Lina berusahapuluh ribu. menenangkan dan menguatkan. "Ada yang kecilBu?" "Terima kasih Lin. Semoga yang kaukatakan benar." "Aduh tak ada Pak." Zahrana kembali menunggu. Nyaris satu hari penuh "Aduh gimana ya Bu. Saya tak ada kembalian. Udah Zahrana menunggu dengan perasaan sedih, jengkel,ibu bawa dulu saja kerupuknya. Kapan-kapan kalau saya marah juga berharap. Belum pernah ia sepegal itu. lalewat ibu bayar." yang dulu pernah mendapatkan predikat mahasiswa "E jangan Pak. Udah bapak bawa saja. Itu sedekah teladan UGM kini menunggu datangnya seorang penjualsaya untuk Bapak." kerupuk keliling. Begitu pentingnya penjual kerupuk itu. "Baik Bu kalau begitu. Matur nuwun ya Bu. Semoga Tapi inilah takdir hidupnya. Ia merasa ia harus sabar.keinginan ibu dikabulkan Allah." Sampai senja tiba, tukang kerupuk selain yang "Amin." Dalam hati Zahrana berdoa ingin suami pertama belum datang. Ia menangis. Jika benar, yangyang saleh dan pantas bagi dirinya. dikirim Pak Kiai adalah Pak Tua tadi, maka ia merasa Begitu penjual kerupuk itu pergi, Zahrana langsung menjadi perempuan paling menderita di dunia. Sampaimenghubungi Lina sambil menangis. la menceritakan Pak Kiai dan Bu Nyai yang dia anggap orang yangpenjual kerupuk yang baru ditemuinya. sangat arif pun, berpendapat bahwa ia pantasnya dengan lelaki berkepala lima. Sudah sedemikian tidak ber- "Apakah dalam pandangan Pak Kiai dan Bu Nyai harganya dirinya.saya memang pantasnya untuk penjual kerupuk yangtua itu?" Nada Zahrana terdengar sedih. Ia masuk rumah. Lima belas menit lagi azan Maghrib berkumandang. Ia cemas dan galau. Tak ada "Tenanglah Rana. Kau sudah tanya sama Pak Tua penjual kerupuk yang datang kecuali Pak Tua tadi. Iaitu siapa namanya?" bingung. Ia lemas. Ia keluar lagi. Berharap ada penjual 50 51
    • kerupuk lain yang datang. Penjual kerupuk seperti yang telah senja. Zahrana terperanjat. Masih m u d a dania bayangkan. Ia duduk di kursi beranda. Airmatanya ganteng. Keringat yang mengalir, lengan yang kekarbercucuran, terbakar matahari menambah pesona tersendiri. Sesaat "Ya Ilahi jika aku punya dosa, ampunilah dosaku. lamanya ia memandangi penjual kerupuk itu.Cukupkanlah ujian-Mu. Aku mohon mudahkanlah "Iya Bu, beli berapa?"jalanku menyempurnakan separo agamaku sesuai Ia tersadar.syariat-Mu. Mudahkan diriku menyempurnakan ibadah "E...lima ribu."kepada-Mu." Penjual kerupuk itu mengambil plastik hitam besar Ia lalu bangkit masuk rumah lagi. Tak ada siapa- dan memenuhinya dengan kerupuk.siapa di rumah. Ayah dan ibunya sedang ke rumahsepupunya yang memiliki hajat sunatan di Pucang "Ini Bu"Gading. Ia mengambil kerupuk dan mengulurkan uang lima Baru saja masuk, ia mendengar suara nyaring, puluh ribu. "Kerupuk-kerupuk! Kerupuk Paak! Kerupuk Buu!" Penjual kerupuk itu menerima uang itu dan meng- hitung uang kembalinya. Ia terperanjat dan bergegas keluar. Suaranya lebihtegas dan lantang. Ia lari. Penjual kerupuk itu telah "Ini kembalinya Bu. Empat puluh lima ribu rupiah."melewati rumahnya. Ia melongok dari pagar. Penjual Zahrana menerima dengan tangan kanannya.kerupuk itu hanya tampak punggungnya. Ia naik sepeda Sementara tangan kirinya memegang kantong plastikdan mengayuh sepedanya dengan cukup kencang. berisi kerupuk. Penjual bersiap melanjutkan per-Zahrana jadi penasaran. Dengan cepat ia nyalakan jalanan.sepeda motornya yang berdiri di beranda. Lalu melesat "E, Sebentar, Mas." Zahrana menghentikan.mengejar. Tak perlu waktu lama agar penjual kerupuk "Ya Bu, ada apa? Apa uang kembalinya kurang?"itu terkejar. Apa susahnya bagi sepeda motor untuk "Tidak kok Mas. Mau tanya, sudah lama jualanmengejar sepeda. Ketika sudah dekat ia berteriak, kerupuk ya Mas? Kok kayaknya baru ke daerah ini." "Kerupuk, Mas!" "Iya Bu. Sudah lama. Saya memang baru kali ini Penjual kerupuk itu menepi menghentikan sepeda- ke daerah ini. Biasanya saya beroperasi di daerahnya. Ia melakukan hal yang sama. Penjual kerupuk itu Mranggen, Plamongan Indah, Pucang Gading danmembuka topi lebarnya dan mengipas-ngipaskannya ke Penggaron saja,"tubuhnya. Semarang memang panas, meskipun hari "O. Ini cari langganan baru ya?" 52 53
    • "Bisa ya, bisa tidak." "Bagaimana orangnya? Ganteng? Kau cocok?" "Kok begitu." "Ah ibu itu lho semangat banget. Yang jelas orangnya "Biasanya dagangan saya sudah laku di timur, tidak baik. Yang lain nanti kita musyawarahkan!"perlu sampai ke kampung ini. Saya jualan ke sini hanya "Iya. Iya. Baik."karena sendiko dawuh saja sama Pak Kiai. Pak Kiai saya Zahrana lalu masuk kamarnya untuk siap-siap shalatitu aneh, tiba-tiba saya diminta jualan di daerah ini, di Maghrib. Sebelum ia mengambil air w u d h u hpnyaperumahan ini. Dan anehnya Pak Kiai bilang hari ini saja. berdering. Sebuah SMS masuk. Ia buka,Besok-besok terserah." "Ass wr wb. Bu ini Hasan. Alhmdulillah tadi sy sdh Jantung Zahrana berdegup kencang. Azan Maghrib w i s u d a . Dan a l h m d u l i l l a h sy d i n o b a t k a n sbg m h s w terbaik. Ini jg berkat doa dan bimbingan Ibu. Trm kshmengalun. sdh mmnjami referensi dll. Mhn doanya. Wassalam." "Boleh tahu, siapa nama Mas?" Ia t e r s e n y u m . Ia b a h a g i a membaca SMS itu. "Nama saya Rahmad Bu. Sudah ya Bu saya jalan Bagaimana tidak bahagia jika ada seorang murid yangdulu. Sudah Maghrib, saya harus cari masjid." berhasil tidak lupa pada gurunya. Ia teringat saat dulu Penjual kerupuk itu mengayuh sepedanya ke arah diwisuda di UGM dan menjadi lulusan terbaik disuara azan b e r k u m a n d a n g . Zahrana m e m a n d a n g Fakultasnya. Saat itu ia sangat bahagia. Dan itu pulapunggungnya sampai hilang di kejauhan. yang saat ini sedang dirasakan mahasiswanya, Hasan. "Diakah jodoh yang ditakdirkan Allah untukku?" Ia teringat Nina. Bagaimana dengan Nina? Ninatanyanya dalam hari. tak kalah h e b a t n y a d e n g a n H a s a n . Tiba-tiba ia Ia lalu kembali ke rumahnya. Sampai di rumah ayah tersenyum simpul. Hasan dan Nina itu cocok. Kalauibunya sudah ad a di rumah. mereka menikah itu pas. Hasan ganteng, Nina cantik. "Dari mana Rana? Ini rumah ditinggal pergi tapi Sama-sama aktivis. Sama-sama cerdas d a n bisapintu terbuka tak dikunci? Jangan sembrono kamu!" diandalkan.tegur ibunya serius. * ** "Dari mengejar penjual kerupuk Bu. Wong cuma Setelah Zahrana melakukan kroscek pada Bu Nyai,sebentar kok." Jawab Zahrana tenang. memang penjual kerupuk yang masih muda itulah yang "Penjual kerupuk yang dikirim Bu Nyai itu?" tanya dimaksud Pak Kiai. Umurnya 29 tahun. Jadi lebih mudaibunya dengan mata berbinar. empat tahun dari Zahrana. Setelah memikir dan "Iya Bu." menimbang tiga hari lamanya Zahrana merasa cocok. Ayah dan ibu Zahrana pun cocok. 54 55
    • Barulah setelah itu Pak Kiai dan Bu Nyai mem- nada sangat gembira dan memastikan mereka datang.pertemukan dua keluarga. Mulanya si Rahmad merasa Namun dua orang mahasiswa yang ia harapkan datang,minder. Tapi Pak Kiai berhasil meyakinkan Rahmad yaitu Nina dan Hasan malah tidak bisa datang.untuk tidak minder. Pada Rahmad Pak Kiai berkata, Nina mengirim balasan: "Zahrana ini, meskipun berpendidikan tinggi tapi ia "Trm ksh Bu atas u n d a n g a n n y a . Smg prnikhnnyarendah hati. Yang jadi pertimbangan Zahrana dalam barakah. Maaf sy tdak bisa datang sbb pada hari yang sama saya jg akan melangsungkn akad nikah di Jkt.mencari suami bukan materi, status, strata, kedudukan Saling mendoakan ya Bu. Nina."sosial, pendidikan dan lain sebagainya. Yang jadi Ia bahagia, Nina langsung menikah begitu selesai S.l.pertimbangan Zahrana adalah agama, iman dan akhlak. Tapi sedikit kecewa karena Nina tidak menikah denganInsya Allah, ia gadis salehah yang mampu menghormati Hasan. Seperti yang ia idealkan. Ia langsung sadar, idealsuaminya. Jadi kamu jangan minder!" di mata manusia itu berbeda dengan ideal di mata Allah Akhirnya Rahmad juga menyatakan cocok. Jadilah Swt.dua keluarga itu cocok. Saat musyawarah dua keluarga Sementara Hasan mengirim balasan,itu, Zahrana m e n g u t a r a k a n keinginannya u n t u kmempercepat pernikahannya. Usul Zahrana diterima " S m g p r n k h a n Ibu pnh b a r a k a h . Maaf sy t d k bs datang Bu. Sbb hari itu saya hams mengurus beasiswadengan penuh semangat oleh dua keluarga. S.2 USM (Universiti Sains Malaysia). Motion doanya." "Semakin cepat semakin baik. Insya Allah semakin Kabar yang membuatnya bahagia. Mahasiswacepat juga semakin barakah!" Demikian Pak Kiai penuh dedikasi seperti Hasan memang pantas mendapat-berkomentar. kan beasiswa. Dalam hati ia berdoa semoga semua Dan ditetapkanlah hari H pernikahan Rahmad mahasiswanya berhasil dan sukses.dengan Zahrana dua minggu setelah pertemuan itu. Dua Tak ketinggalan ia juga m e n g u n d a n g teman-keluarga itu langsung didera kesibukan menyiapkan temannya sesama dosen waktu mengajar di kampuspesta pernikahan itu. Karena Zahrana anak tunggal, Pak Fakultas Teknik. Semua ia undang termasuk Bu Merlin.Munajat ingin semua teman lama dan saudara diundang. Hanya Pak Karman yang tidak. Ia tak ingin hari Dengan kerja keras, dalam waktu relatif singkat bahagianya rusak dengan melihat bandot tua yang tidakundangan pernikahan tersebar. Zahrana mengundang ia suka itu.semua temannya. Yang tidak bisa dikirimi undangan Namun mau tidak mau Pak Karman tahu juga kabardiberitahu lewat email dan SMS . Ia juga mengundang itu. Dan ia juga tahu bahwa hanya ia seorang di kampusmahasiswanya yang ia kenal. Mereka ia undang lewat yang tidak diundang. Hal itu membuatnya marah danSMS. Para mahasiswanya mengirim balasan dengan geram. 56 57
    • "Jangan sebut aku ini Karman jika tidak bisamemberi pelajaran pahit pada perempuan tengik itu!"Geramnya sambil memukul meja di ruang kerjanya. Empat Hari pernikahan Zahrana semakin dekat. Zahrana telah memilih gaun pengantinnya. Gaun pengantin Muslimah hijau muda yang sangat anggun. la memang suka warna hijau muda. Gaun pengantin itu ia beli dari butik Muslimah terkemuka di Solo. Sore itu, ia mencoba gaun itu di kamarnya. Sambil memandang wajahnya ke cermin ia berkata, "Akhirnya aku akan jadi pengantin juga. Aku akan punya suami. Aku akan hidup membina rumah tangga layaknya yang lain." 58 59
    • Hatinya berbunga-bunga. la bahagia. Jika boleh pesta pernikahan dinyalakan. Sore itu syair lagu darimeminta ia masih ingin meminta akad nikah dan group kasidah Nasyida Ria berkumandang,walimatul ursy-nya. dipercepat lagi saja. Ia ingin segera Duhai senangnya pengantin baru.mengatakan pada dunia bahwa ia juga berhak hidup Duduk bersanding bersenda gurau.wajar seperti yang lainnya. Hidup berkeluarga. Memilikisuami yang baik dan setia. Dan kelak memiliki anak-anak yang menjadi penyejuk jiwa. Zahrana tersenyum. Besok ia akan mengalaminya. Duduk bersanding dengan suaminya. Zahrana ingin Tiba-tiba hp-nya. berdering. Satu SMS masuk, membantu kaum ibu di dapur menyiapkan segala "Apa kabar perawan tua? Jika kau telah beli gaun pengantin. Sebaiknya kaukembalikan saja. Kau tak akan sesuatu. Tapi mereka meminta Zahrana istirahat saja. memakainya di hari pernikahan yang telah kautentukan. Maka setelah shalat Isya ia langsung tidur, agar besok ia Kau masih akan lama menyandang statusmu sebagai perawan tua. Bukankah jadi perawan tua itu indah. Tiap benar-benar fresh dan segar. saat dilamar banyak orang dan bisa dengan semena- Lagu-lagu bahagia masih mengalun. Di luar mena menolaknya. Kenapa kau tidak menikmatinya saja? Kenapa t e r g e s a - g e s a ? D e m i k e b a i k a n m u s e n d i r i , kamarnya kesibukan terus berjalan sebagaimana sebaiknya kaukembalikan saja gaun pengantinmu itu. mestinya. Anak-anak kecil tertawa-tertawa bahagia. Jadilah perawan tua selamanya." Mereka berlarian sambil memegang kue di tangannya. Ia kaget. SMS berisi kata-kata teror itu muncul lagi. Zahrana tidur dalam kebahagiaan tiada terkira. LaguEntah kenapa, kali ini ia tidak setenang dulu meng- yang terakhir ia dengar adalah alunan suara Nasyidahadapai SMS teror itu. Kali ini ia sangat marah. Rasanya Ria,ia ingin membunuh orang yang mengirim SMS kurang Duhai senangnya pengantin baru.ajar itu. Dengan sangat geram ia membalas, Duduk bersanding bersenda gurau. " S e m o g a laknat Allah m e n g e n a i m u hai iblis t u a ! Semoga kau menemui ajalmu dalam keadaan hina di mata manusia!" Ia benar-benar tidur pulas dan nyenyak. Jam * * * setengah tiga malam ia dibangunkan. Tidur bahagianya hilang. Ia kaget ada keributan. Ibunya menangis Persiapan perhelatan akad nikah dan walimatul ursy menjerit-jerit seperti orang kesurupan. Bapaknya terpekurdi rumah Zahrana nyaris sempurna. Besok acara di kursi seperti patung. Linalah yang membangun-pernikahan itu akan berlangsung. Rumah itu kini ramai kannya.dengan orang. Anak-anak kecil berlarian main kejar- "Ada apa ini Lin?" tanyanya heran. Ada kecemasankejaran. Pengeras suara telah dipasang. Lagu-lagu khas luar biasa yang tiba-tiba masuk dalam hatinya. 60 61
    • Lina yang ia tanya malah menangis. rumah saja. Tapi temannya itu mengatakan tidak bisa. "Rahmad Rana? Rahmad calon suamimu Rana!" Temannya itu memaksa Rahmad pergi menemuinya. "Ada apa dengan Rahmad?" Karena berkaitan dengan bisnis yang sangat pen ting. Dan Rahmad akan diajak sedikit mengetahui prospeknya. Lina tidak menjawab malah semakin keras terisak-isak. Akhirnya Rahmad pergi. Sekalian beli peci baru. Sebenarnya keluarga melarang, tapi Rahmad memaksa Paman Rahmad yang ternyata ada di situ menjawab, pergi. Ia memaksa pergi sendirian. Saudara sepupunya "Rahmad telah tiada, Anakku! Rahmad meninggal mau ikut bersamanya tapi dilarangnya dengan alasandunia!" tenaga saudara sepupunya itu sangat dibutuhkan di "Apa!!?" Ia kaget bagai tersengat listrik beribu-ribu rumah.volt. Sampai jam sepuluh malam Rahmad belum juga "Rahmad mati tertabrak kereta api!" lanjut Paman pulang. Sebagian orang cemas, sebagian yang lainRahmad. marah, Rahmad tidak segera pulang malah begadang "Oh tidak! Tidak! Tidaaak!" Zahrana menjerit dengan temannya yang tak dijelaskan siapa.histeris. Jeritannya menyayat hati siapa saja yang Tepat tengah malam tadi dua orang polisi datang.mendengarnya. Setelah itu ia pingsan seketika. Mereka memberitahu ada mayat tertabrak kereta api, Semua yang ada di r u m a h itu terpukul. Para dan dari KTP di dompetnya diketahui bernama Rahmad.tetangga Zahrana yang mengetahui apa yang se- Sebagian orang memastikan ke tempat kecelakaan. Dansungguhnya terjadi ikut sedih dan meneteskan airmata. benar mayat yang berlumuran darah itu memangPara tetangga itu lalu bertanya satu-sama-lain, Rahmad." "Kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana Rahmad bisa Mendengar cerita itu semua diam. Semua membisu.tertabrak kereta api? Di malam menjelang akad nikah, Semua larut dalam kesedihan yang dalam. Zahranabukankah sebaiknya ia di rumah saja istirahat? Kenapa masih pingsan.bisa sampai tertabrak kereta api? Apa yang ia lakukan ***sebenarnya?" Pagi harinya bukan pesta pernikahan yang digelar Paman Rahmad menjelaskan, tapi upacara belasungkawa kematian. Tak ada lagu "Habis shalat Maghrib tadi ada yang menelpon bahagia. Tak ada senyum dan canda. Tak ada gelak tawa.hpnya. Katanya teman lama ingin bertemu di Pasar Yang ada adalah mata yang berkaca-kaca dan rinai tangisMranggen. Rahmad minta temannya itu datang ke dalam jiwa. 62 63
    • Zahrana belum bisa menerima apa yang terjadi. la "Anakmu bagaimana Lin, kalau kau di sini?" tanyamasih pingsan berkali-kali. Lina berinisiatif membawa Zahrana.Zahrana ke rumah sakit. Zahrana harus dijauhkan dari "Tenang sudah ada yang mengurus. Anakku sedangsuasana yang masih diselimuti sedih itu. Zahrana harus bersama kakek dan neneknya di Ungaran."dijauhkan dari rumahnya, di mana ia siap melangsung- Tiba-tiba airmata Zahrana kembali keluar.kan akad nikah, namun tiba-tiba menciptakan traumabaginya. "Bahagianya punya anak. Kau beruntung Lin. Punya suami baik. Anak lucu-lucu. Keluarga besar yang Lina membawa Zahrana yang masih pingsan ke RS. penuh kasih sayang. Sementara aku. Jangankan anak.Roemani. Lina memilihkan kamar VIP agar Zahrana bisa Suami saja tidak punya. Baru mau punya sudah pergi...."beristirahat dengan nyaman. Menjelang Zuhur Zahrana Kata Zahrana sambil menangis memandang langit-langitsiuman. Lina ada di sampingnya menenangkan. Setelah kamar rumah sakit.minum air putih tiga teguk Zahrana menangis. "Sudahlah Rana. Sudahlah. Hanya belum tiba "Lebih baik aku mati saja Lin. Aku nyaris tidak saatnya saja. Nanti kalau tiba saatnya kau insya Allahkuat!" katanya dalam pelukan Lina dengan terisak-isak. akan memiliki yang lebih baik dari yang aku miliki." "Sebut nama Allah ya Rana! Sebut nama Allah! "Entahlah Lin, harapanku sudah pupus. Aku merasaIngatlah Allah! Bersabarlah! Mintalah kepada Allah agar tidak bergairah hidup lagi."musibah ini diberi ganti yang lebih baik." Lina mencobamenguatkan. "Tidak Rana. Kau tidak boleh p u p u s harapan. Ingatlah Allah Mahaluas kasih sayang-Nya. Per- "Tapi aku bisa gila Lin. Aku bisa gila! Aku shock! cayalah ini cuma ujian kecil. Masih banyak hambaDaripada aku gila lebih baik aku mati saja!" Allah di muka bumi ini yang diuji dengan ujian yang "Tidak, kau tidak akan gila. Kau akan baik-baik saja. jauh lebih besar dari yang kaualami. Ayolah Rana,Percayalah ini ujian dari Allah untuk memilihmu menjadi kau harus tabah! Kau harus tegar! Kau harus kuat!kekasih-Nya." Kau harus terus maju! Kau tak boleh menyerah. Putus "Tak tahu aku harus bagaimana Lin." asa berarti kau m e n y e r a h k a n dirimu dalam pe- "Sudahlah kau istirahat dulu. Tubuhmu sangat rangkap setan!"lemah. Banyaklah berzikir. Dengan banyak berzikir hati "Yah doakan aku ya Lin. Semoga aku kuat. Tapiakan tenang!" bagiku ini sangat berat!" Dengan setia Lina menemani Zahrana. Segala usaha "Aku tahu ini berat, tapi aku yakin kau mampuia kerahkan untuk menghibur teman karibnya itu. menghadapinya Rana. Aku yakin." 64 65
    • "Aku beruntung punya teman sepertimu Lina. dengan Zahrana. Bu dokter bernama Zulaikha, biasaTerima kasih ya Lin...Kau baik sekali!" Lirih Zahrana dipanggil Bu Dokter Zul itu ternyata juga menikah dalamdengan mata berlinang-linang. usia yang sangat terlambat. "Aku juga sangat beruntung punya teman sepertimu "Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Diratapi sepertiRana. Aku banyak belajar kesabaran dan ketegaran justru apapun tak akan kembali. Jodoh itu terkadang dikejar-darimu. Aku selalu berdoa agar kau bahagia." kejar tidak tertangkap. Tapi terkadang tanpa dikejar Pintu diketuk. Seorang dokter berjilbab masuk. datang sendiri. Yang paling penting adalah dekat denganDengan ramah dokter setengah baya itu memeriksa Allah dalam keadaan susah dan bahagia. Senang dankondisi Zahrana. Semua keluhan Zahrana ia dengarkan sedih."dengan penuh perhatian. Sesekali dokter itu meng- Zahrana seperti mendapatkan suntikan darah segar.hiburnya dengan perkataan yang lembut dan menyejuk- Daya hidupnya tumbuh kembali. Dalam hati dia berkata,kan. Senyumnya mengalirkan kesembuhan. "Ya benar. Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Diratapi "Jadi, ibu ini Ibu Zahrana yang pengajar di Fakultas seperti apapun tak akan kembali."Teknik Universitas Mangunkarsa itu?" Sebelum pergi Bu Dokter itu berkata, "Ada nasihat Zahrana mengangguk. sangat bagus sekali dari Anton Chekov." "Berarti ibu kenal dengan anak saya ya?" "Apa itu Bu?" tanya Zahrana pelan. "Siapa nama anak Bu Dokter?" "Anton Chekov pernah menulis, Suatu saat kamu perlu untuk tidak memikirkan kesuksesan dan kegagalan. "Namanya Hasan. Hasan Baktinusa." Jangan biarkan hal itu mengganggu dirimu! ." "O kenal. Bahkan sangat kenal. Selamat ya Bu atas "Nasihat yang baik sekali Bu."diwisudanya Hasan sebagai wisudawan terbaik. Salambuat Hasan. Semoga urusan beasiswanya lancar." "Ya. Tidak ada salahnya untuk memperkaya jiwa kaubaca juga karya-karya sastra." "Ya nanti saya sampaikan. Hasan sering sekali ceritatentang Bu Zahrana. Terima kasih telah banyak "Terima kasih Bu atas semuanya."membantu anak saya." * ** "Sama-sama, Bu." Derita Zahrana ternyata tidak cukup sampai di situ. Pertemuan dengan dokter berjilbab yang ternyata Tanpa sepengetahuannya, di rumahnya terjadi musibahibundanya Hasan itu membuatnya seolah bisa bernafas. kedua. Pak Munajat, ayahnya, yang memang telah rentaDokter berjilbab itu juga bisa menyegarkannya dengan tidak kuat menahan tekanan batin. Ia terkena serangansedikit cerita masa mudanya yang sebenarnya mirip jantung. Dengan cepat ia dilarikan ke rumah sakit. 66 67
    • Namun tak tertolong. Nyawanya melayang di per- Tiba-tiba firasatnya m e n g a t a k a n kematian calonjalanan. Hari itu ia meninggal menyusul calon me- suaminya ada hubunganya dengan SMS terakhir Paknantunya. Karman. Dan pada hakikatnya, kata-kata Pak Karman Berita kematian Pak Munajat tidak disampaikan yang baru saja ia dengar adalah satu bentuk teror dahsyatkepada Zahrana. Zahrana baru tahu setelah ia pulang yang hendak melumpuhkannya saat itu. Tiba-tibadari rumah sakit dengan jiwa yang telah kukuh. kekuatannya bangkit. Ia merasa tidak boleh terpancing.Mengetahui ayahnya telah tiada ia menangis, namun Ia harus bisa mengendalikan diri. Ia harus menang. Iatidak sampai pingsan. Lengkap sudah penderitaan harus tenang.Zahrana. "Terima kasih berkenan datang Pak." Jawabnya Berita pernikahan yang tidak jadi karena pengantin dengan pura-pura tidak memperhatikan perkataan Paklelakinya tertabrak kereta api itu d i m u a t koran Karman.terkemuka Jawa Tengah, Suara Mahardika. KematianRahmad yang mengenaskan masih diselidiki polisi. Polisimenyelidiki saksi-saksi. Polisi mencurigai orang yangmenelpon Rahmad. Orang itu belum juga ditemukandan masih dalam pencarian. Beberapa hari setelah itu teman-temannya ber-datangan mengucapkan bela sungkawa. Juga teman-teman dosen Fakultas Teknik. Hampir semuanya datang.Termasuk Bu Merlin dan Pak Karman. Zahrana sangatkaget ketika Pak Karman datang. Di hadapan ZahranaPak Karman berkata pelan sekali, "Saya ikut berduka. Semoga almarhum berduaditerima di sisi-Nya. Saya berharap semoga gaunpengantinmu benar-benar telah kaukembalikan ke Solo!" Zahrana tersentak. Kata-kata Pak Karman bagaialiran listrik yang m e n y e n g a t n y a . Kata-kata itumenguatkan keyakinannya bahwa yang menterornyaselama ini adalah Pak Karman. Dan bagaimana bisa PakKarman tahu ia membeli gaun pengantin itu dari Solo. 68 69
    • Lima Entah kenapa firasat Zahrana terus mengatakanbahwa Pak Karman ada di balik kematian calonsuaminya. la ingin lapor polisi, jangan-jangan orangmisterius yang menelpon calon suaminya sebelumkecelakaan itu adalah Pak Karman, atau suruhannya.Tapi ia tidak punya bukti. la bingung harus berbuat apa.la diskusikan kebingungannya itu pada Lina. Hanya Linayang kini bisa diajaknya bicara. "Aku yakin sekali Lin. Iblis tua itu ada di balikkematian Mas Rahmad. Aku yakin!" kata Zahrana 71
    • berapi-api. Lantas ia menunjukkan data-data yang "Sebaiknya kautenangkan diri. Nanti ikhtiar lagi."menguatkan dugaannya itu. Lina menanggapinya Zahrana mengangguk. Dalam hati Zahrana ber-dengan kepala dingin, tekad untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. "Sudahlah Rana. Jangan menambah rumit masalah. Ja- Ia teringat perkataan Bu Nyai saat memberikan ucapanngan merepotkan diri sendiri. Jangan menuduh tanpa bukti! bela sungkawa,Salah-salah kau sendiri yang tertuduh nanti!" "Kita semua milik Allah dan akan kembali kepada "Data-data tadi. SMS saat aku mencoba gaun Allah. Kita semua tunduk pada takdir-Nya. Yang Palingpengantin. Perkataannya saat mengucapkan bela sung- berkuasa di atas segalanya adalah Allah Swt."kawa. Dan dendamnya kepadaku sehingga ingin meme- Sejak itu, Z a h r a n a n y a r i s tidak p e r n a h m e -catku, tidak bisa dianggap sebagai bukti?" seru Zahrana. ninggalkan shalat malam. Ia labuhkan segala keluh- "Aku bukan pakar hukum Rana. Tapi sebaiknya kau kesah dan deritanya kepada Yang Maha Menciptakan.fokus pada yang lain saja. Diikhlaskan saja. Orang yang Ia pasrahkan dirinya secara total kepada Allah. Dalamikhlas itu pasti menang. Karena orang yang ikhlas itu keheningan malam ia berdoa,selalu disertai Allah." Sahut Lina pelan. Ia lalu mengambil "Ya Rabbi, ikhtiar s u d a h h a m b a lakukan, se-koran dari tasnya. karang kepada-Mu hamba kembalikan semua "Apalagi polisi s u d a h m e n g u m u m k a n bahwa urusan. Ya Rabbi, aku berlindung kepada-Mu darikematian Rahmad murni karena kecelakaan. Coba semua jenis kejahatan yang terjadi di atas muka bumikaubaca ini baca!" lanjut Lina sambil menyodorkan ini. Ya Rabbi, aku m e m o h o n kepada-Mu segalakoran Suara Mahardika. kebaikan yang Engkau ketahui. Dan aku berlindung Zahrana mengambil koran dari tangan Lina. Dan k e p a d a - M u dari segala hal b u r u k yang Engkaumembaca berita yang dimaksud Lina. Ia menghela nafas ketahui."panjang. Ada rasa kecewa dalam tarikan nafasnya. Lina * **menangkapnya. Lina berusaha menghibur, Bulan Ramadhan datang. Zahrana semakin menik- "Sudahlah Rana, sabarkan dirimu. Kuatkan iman- mati ibadahnya. Selesai Tahajjud, Zahrana menyiapkanmu. Ini ujian bagimu dari Allah, apakah kau jadi hamba- sahur. Ibunya masih tidur. Begitu semua siap, ZahranaNya yang pilihan apa tidak. Kata Rasulullah, semua membangunkan ibunya dengan penuh kelembutan.perkara bagi orang Mukmin itu baik. Jika dapat nikmat Sang ibu lalu cuci muka, kemudian makan sahur.bersyukur, dan jika dapat musibah bersabar. Semoga Rumah itu terasa begitu sunyi. Hanya Zahrana danmusibah ini jadi pahala." Lanjut Lina. ibunya yang duduk di meja makan itu. 72 73
    • "Ramadhan tahun lalu, kita masih makan sahur Teknik yang marah karena isterinya bernama M (24 tahun) diperlakukan tidak senonoh oleh dekan jebolanbersama ayahmu ya Nak." universitas t e r k e m u k a dari Amerika Serikat i t u . Dua "Iya Bu. Sudahlah Bu jangan diingat itu lagi." mahasiswa suami isteri itu, H dan M kini ditahan pihak berwajib untuk penyelidikan lebih lanjut...." "Apakah aku masih berkesampatan melihat kaududuk di pelaminan ya Nak." Zahrana berkata pelan dalam hati, "Becik ketitik olo kethoro!"2 Ia lalu bertakbir dalam hati. Ia merasa doanya "Sudahlah Bu. Kita serahkan semuanya kepada Allah. dikabulkan oleh Allah. Yang jahat itu akhirnya men-Jika Allah menghendaki apapun bisa terjadi." dapatkan balasannya sendiri. Selesai sahur Zahrana membaca Al-Quran sementara Setelah itu ia masuk kelas dengan penuh semangat.ibunya shalat. Begitu azan Subuh berkumandang Anak-anak didiknya ia ajak ke perpustakaan. Iamereka berdua pergi ke masjid. Selain untuk shalat menugaskan kepada mereka untuk membaca buku yangSubuh berjamaah mereka juga ingin mendengarkan berkenaan dengan puasa. Puasa dan hubungannyaKuliah Subuh yang d i a d a k a n selama Bulan Suci dengan kesabaran. Seorang siswa yang kritis protes,Ramadhan. "Kok tugasnya membaca buku tentang puasa Bu. Habis dari masjid Z a h r a n a mengajak ibunya Memang pelajaran kita ini pelajaran agama. Pelajaranberjalan-jalan menghirup udara pagi keliling komplek kita kan tentang menggambar teknik listrik Bu?"perumahan. Mereka berdua masuk r u m a h ketikamatahari sudah terang bersinar di ufuk. Zahrana Dengan tersenyum Zahrana menjawab,langsung mandi dan bersiap-siap mengajar. "Justru itulah karena dalam menggambar teknik Jam tujuh kurang sepuluh menit ia sudah sampai di listrik memerlukan kesabaran yang tinggi. Maka ibukantor STM Al Fatah. Waktu sepuluh menit sebelum bel ingin kalian memiliki ruh kesabaran itu. Mumpung kitaberbunyi ia gunakan untuk membaca koran. Ia penasaran masuk bulan puasa. Ayo kita kaji hubungan puasapada sebuah judul berita: KARENABERBUAT CABUL, dengan kesabaran. Dan h u b u n g a n puasa denganSEORANG DEKAN MATI DIBUNUH DI RUANG penghematan. Dan juga hubungan puasa dengan prestasiKERJANYA. umat Islam. Kita ke perpustakaan selama dua jam pelajaran. Kalian membaca yang serius. Hasil bacaan " S e m a r a n g - S e p a n d a i - p a n d a i orang m e n y i m p a n bangkai, akhirnya kecium juga. Peribahasa ini agaknya kalian, kalian presentasikan satu per satu minggu depan." layak u n t u k S ( 5 5 t a h u n ) , D e k a n Fakultas Teknik Anak-anak siswa kelas satu itu sangat gembira. Universitas Mangunkarsa Semarang. Perilaku cabulnya kepada mahasiswi yang selama ini disembunyikannya Sebab diajak oleh guru masuk ke perpustakaan yang a k h i r n y a t e r k u a k . Ia t e w a s m e n g e n a s k a n di ruang 2 Peribahasa Jawa, artinya: perbuatan baik akan diketahui, perbuatan buruk kerjanya ditikam oleh H (26 tahun) mahasiswa Fakultas juga akan tampak. 74 75
    • jarang mereka dapatkan. Bagi mereka, cara Bu Zahrana Ibunda Zahrana yang sedari tadi diam menyela,mengajar itu berbeda dengan guru-guru yang lain. Selalu "Nak, Bu Zul ini datang karena ada keperluanada hal yang baru. Mata pelajaran menggambar teknik penting denganmu. Katanya ada hal serius yang inginlistrik di tangan Bu Zahrana jadi pelajaran yang sangat beliau konsultasikan denganmu. Sini biar ibu yang bikinmengasyikkan. Bisa masuk ke banyak hal tanpa kolak, kau bisa bincang-bincang dengan beliau."kehilangan fokus utama pelajaran. Bu Zul langsung menimpal, "Maaf jika kedatangan saya mengganggu." Sore itu setelah shalat Ashar Zahrana pergi ke warung "O nggak apa-apa Bu," sahut Ibunda Zahrana cepat,untuk membeli kelapa, gula merah, dan tepung terigu. "saya tinggal ke belakang dulu ya Bu. Silakan bicarala ingin membuat kolak u n t u k buka puasa. Juga dengan Zahrana," lanjutnya lalu pergi ke arah dapur.membuat mendoan dan bakwan. Ibunya ternyata sudah Zahrana diam, Bu Zul pun diam. Suasana heningmenyiapkan es degan. Sudah dimasukkan di lemari es sesaat.sejak siang. "Eh..konsultasi apa ya Bu?" Zahrana memecah Pulang dari warung ia agak terkejut, sebab ada mobil keheningan.sedan tepat di depan rumahnya. Ia menduga-duga siapa "Eh ini. Tentang Hasan, anak saya."yang datang. Setelah masuk ia tahu kalau yang datang "Ada apa dengan Hasan, Bu?"ternyata Bu Dokter Zulaikha, ibundanya Hasan. "Sebelumnya maaf ya Bu, saya tidak bermaksud "Dari mana Bu Zahrana?" tanya Bu Zul. menyinggung siapa-siapa lho. Karena saya tahu, ibu "Dari warung Bu Zul, ini beli bahan-bahan untuk termasuk yang didengar omongannya oleh Hasan,bikin kolak. Sendirian ya Bu?" maka saya konsultasi sama Bu Zahrana. Begini, dua Iya. hari yang lalu Hasan minta nikah Bu. Menurut ibu "Hasan apa kabarnya? Urusan beasiswanya ke bagaimana? Padahal dia kan mau kuliah di MalaysiaMalaysia beres semua?" Bu." "Alhamdulillah Hasan baik-baik saja. Dia titip salam. Zahrana mengerutkan dahi,Dia tadi masih sibuk nulis-nulis entah nulis apa." "Kalau menurut saya pribadi tidak ada salahnya "Senang ibu berkenan dolan ke sini. Ini mampir atau Hasan menikah baru ke Malaysia. Kalau bisa isterinyamemang menyengaja ke sini?" tanya Zahrana santai. dibawa, kalau tidak bisa ya tidak apa-apa isterinya ditinggal di Indonesia. Toh Malaysia-Indonesia itu dekat. "Menyengaja ke sini em..." Sekarang tiket pesawat juga murah." 76 77
    • "Apa menurut Ibu, Hasan sudah layak menikah? la kuatir jika Bu Zul itu datang u n t u k m e m b u a tSudah layak punya isteri? Dan bisa bertanggung jawab perhitungan dengannya. Takut kalau ia dianggapmenghidupi anak jika punya anak?" berhubungan dengan Hasan. "Pendapat saya ini sangat subjektif dari saya Bu. "Nggak Bu, Hasan tidak bercanda. Anakku sangatMenurut saya Hasan sudah sangat layak menikah. serius dalam hal ini."Selama saya tahu dia di kampus, dia bisa diandalkan "Kalau begitu Hasan salah pilih, Bu."tanggung jawab dan kepemimpinannya. Kenapa Ibu Bu Zul malah tersenyum,masih ragu dengan anak sendiri?" "Bu Zahrana kok kelihatannya takut ada apa tho, Bu?" "Saya tidak ragu Bu. Tapi saya mencari kemantapan. "Ibu harus percaya pada saya Bu. Saya tidak punyaBiar mantap jika saya melepas Hasan ke dunia baru yang hubungan apapun dengan Hasan kecuali dosen denganpenuh perjuangan dan aral melintang." muridnya Bu. Sungguh Bu!?" "Mantap saja Bu. Menikah dini bagi orang seperti Bu Dokter Zul itu geleng-geleng kepala d a nHasan itu baik. Saya saja menyesal tidak menikah dini tersenyum. Dia langsung paham maksud Zahrana.dulu." "Bu Zahrana, saya tidak pernah menuduh begitu. "Itulah kenapa saya kemari. Selain tentang diri Saya percaya pada ibu. Juga percaya pada anak saya.Hasan, saya ingin berdiskusi pada ibu tentang calon yang Saya datang kemari untuk menunaikan janji saya padadiajukan Hasan." anak saya itu. Saya berjanji akan m e m b a n t u n y a "Semoga saja saya kenal dengan calon Hasan itu. menyunting gadis manapun yang ingin dinikahinyaDia kuliah sama dengan Hasan di Fakultas Teknik?" selama akhlak dan agamanya bagus. Dan ketika Hasan "Tidak Bu. Saya l a n g s u n g saja ya Bu. Maaf ingin menyunting Bu Zahrana, saya langsung setuju.sebelumnya, Hasan meminta kepada saya untuk Sebab saya sudah tahu semuanya tentang ibu dari temanmelamar Bu Zahrana. Calon yang diajukan Hasan, anak ibu, yaitu Bu Lina. Saya berharap. Dan sangat berharapsaya itu Ibu." Bu Zahrana tidak menolak pinangan ini. Ini pinangan Zahrana kaget bagai disambar Halilintar. serius tapi belum resmi. Jika Bu Zahrana serius nanti saya akan meminang secara resmi dengan membawa Hasan "S...saya Bu?!" dan ayahnya juga beberapa anggota keluarga." "Iya. Ibu. Anak saya ingin menikahi ibu!" Zahrana tidak tahu harus menjawab apa. Apa yang "Maaf, Bu. Mungkin Hasan cuma bercanda. Saya disampaikan Bu Zul itu sangat jelas ia dengar dan sangattidak pernah berlaku yang tidak-tidak sama Hasan Bu, jelas maksudnya. Tak ada yang tersembunyi lagi.sungguh." Jawab Zahrana dengan nada takut dan kuatir. 78 79
    • "Ibu sudah tahu say a tapi Hasan belum tahu saya Bu." "Diam berarti menerima. Saya pamit Bu, mana "Dia lebih tahu dari saya tentang diri Bu Zahrana. ibunda tadi?" Apa yang masih membuat Bu Zahrana ragu." Zahrana tersentak mendengar Bu Zul mau pamit. Ia "Saya masih belum bisa percaya Bu. Ini hal gila. berdiri mengikuti Bu Zul yang sudah berdiri. Mahasiswa melamar dosennya. Apa kata dunia?" "Ibu benar-benar serius?" "Harus bagaimana saya agar ibu percaya. Sumpah "Iya."demi Allah? Baiklah saya bersumpah demi Allah semua "Hasan juga benar-benar serius?"yang saya sampaikan benar. Apa lagi? Hal gila? Tidak "Iya."Bu, tidak gila. Melangkah untuk mengikuti sunah Rasulitu bukan ide gila. Itu ide baik. Dan mahasiswa meminang "Kalian sudah tahu kekuranganku dan mau me-dosen, apakah ada dalil yang mengharamkannya?" nerimaku?" "Saya tidak tahu harus bicara apa lagi." "Iya. Tak ada manusia yang sempurna." "Berarti menerima. Tidak bicara berarti diam. Diam "Kalau begitu saya terima, tapi dengan syarat."tanda menerima." "Apa syaratnya?" "Saya ini lebih tua dari Hasan Bu. Dia cocoknya jadi "Akad nikahnya nanti malam bakda shalat Tarawihadik saya." di masjid. Biar disaksikan oleh seluruh jamaah masjid. "Syariat tidak menentukan batasan umur. Ibu Maharnya seadanya saja." memang lebih tua. Tapi tidak terpaut jauh. Cuma empat Kini gantian Bu Zul yang tersentak kaget. Ia tidak tahun. Hasan umurnya 29. Mukanya memang baby menduga Bu Zahrana akan mensyaratkan begitu.face. Bagi saya sendiri tidak masalah. Toh suami saya "Apa nggak sebaiknya akadnya setelah Idul Fitrijuga lebih muda dua tahun dari saya." saja." "Saya belum bisa menerima Bu?" "Tidak. Ibu sudah tahu kan cerita saya selama ini. "Kenapa? Kata ibu tadi Hasan sudah pantas menikah Apa ibu ingin saya mati kaku gara-gara saya tidak jadidan memiliki isteri. Apa lagi? Apa ada dalam diri Hasan nikah lagi. Saya tidak ragu dengan keseriusan ini. Sayasuatu cacat yang menurut ibu layak ditolak lamarannya?" hanya kuatir ada hal-hal di luar kekuasaan kita yang Zahrana diam. la tidak tahu harus bagaimana. la membatalkan rencana itu. Bagi saya lebih baik ya nantimasih belum tahu apa yang terjadi. Hasan melamarnya? malam, atau tidak sama sekali."Bagaimana mungkin? Tapi ibunya sedemikian serius. Apa Bu Zulaikha memandang wajah Zahrana lekat-lekat.yang harus ia putuskan. Zahrana tetap diam. Wajah yang teduh, namun sangat berkarakter. 80 81
    • "Baiklah. Dalam hal ini saya tidak memutuskan maharnya dan penghulunya. Kami sekeluarga insyasendiri. Saya akan bicara sama anak dan keluarga. Saya Allah berangkat sekarang, dan kami shalat Isya di masjidpamit dulu. Setelah Maghrib nanti saya telpon." dekat rumah Ibu." Dokter berjilbab itu pulang setelah bersalaman "Kau serius Hasan?"dengan Zahrana dan ibunya. Zahrana memandang "Iya Bu."sedan dokter itu hingga hilang di tikungan. Ada "Kau bisa mencintaiku?"kebahagiaan menyusup dalam hatinya. Tapi juga adakecemasan. la memang lagi bahagia. Namun untuk "Iya Bu."membentengi diri agar tidak kecewa lagi setelah "Kalau begitu jangan lagi kaupanggil aku Ibu.kebahagiaan di depan mata, ia menganggap dialognya Panggil aku, Dik. Dik Zahrana. Coba kau bisa nggak?"dengan Bu Zul tadi hanya main-main. Dialog latihan Zahrana merasa tak perlu malu.orang bermain drama atau sandiwara. "Saya coba...Dik Zahrana, tunggu aku di masjid." * * * Mata Zahrana berkaca-kaca mendengarnya. Ribuan hamdalah menyesak dalam dada. Azan Maghrib berkumandang. Tanda waktu bukapuasa tiba. Zahrana m e n e g u k kolak d a n makan "Te..terima kasih. Kita bertemu di masjid, insyamendoan. Ada kenikmatan luar biasa saat buka. Allah."Kenikmatan yang susah diungkapkan dengan kata-kata. Sambungan ditutup.Hanya orang-orang yang berpuasa saja yang bisa Zahrana menangis tersedu-sedu. Melihat hal itu sangmerasakannya. Pembicaraan dengan Bu Zul itu tidak ibu bingung dan bertanya-tanya pada Zahrana. DenganZahrana sampaikan kepada ibunya. Ia tak ingin ibunya terisak-isak Zahrana menjelaskan apa yang terjadi. Sangkecewa jika yang diharapkan tak terjadi lagi. ibu turut menangis. Zahrana lalu sujud syukur. Dalam Setelah shalat Maghrib Zahrana mendapat telpon sujudnya Zahrana memohon kepada Allah agar akaddari Bu Zul, nikah itu benar-benar terjadi. Tidak sekadar angan-angan "Bu Zahrana. Mengenai keputusan syarat yang Bu dan mimpi.Zahrana ajukan, ini ibu langsung dengar sendiri suara Dan pada malam kedua di Bulan Suci RamadhanHasan ya.." itu, apa yang diharapkan Zahrana terjadi. Akad nikah Suara di hand phone Zahrana lalu berubah, setelah shalat tarawih disaksikan oleh jamaah yang membludak. Sebagian besar adalah tetangga Zahrana. "Bu Zahrana ini Hasan. Saya setuju dengan syarat Mereka turut terharu. Saat akad nikah ibu Zahranaibu. Ibu siapkan wali dan saksinya saya akan siapkan menangis tersedu-sedu. Beberapa ibu-ibu juga menangis. 82 83
    • Malam itu Zahrana sangat bahagia. Hasan jugamerasakan hal yang sama. Usai akad nikah Hasanmengajak Zahrana naik mobilnya menuju hoteltermewah di tengah Kota Semarang. Di dalam hotel,dengan penuh kekhusyukan Zahrana menunaikanibadahnya sebagai seorang isteri. Ibadah yang sudahlama ia tunggu-tunggu bersama seorang suami. Di mata Hasan, Zahrana yang tampak manisdengan jilbab putihnya ternyata jauh lebih manis ketikarambutnya terurai. Hanya dia yang tahu seperti apamanisnya Zahrana. Mereka berdua saling mengagumi,saling mencintai dan saling menghormati. Kebahagiaan Zahrana malam itu menghapus semuaderita yang dialaminya. Tasbih selalu mengiringi tarikannaf asnya. Ia semakin yakin, bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar dan ihsan. Malam itu, benar-benarmalam kesaksian Zahrana atas Tasbih, Tahmid dan TakbirCinta yang didendangkan Allah Azza wa Jalla kepada-nya. Subhaanallaah wal hamdulillaah, wa laailaaha-illallaahu wallaahu akbar! Candiwesi-Salatiga-Pesantren Basmala-Semarang, Ahad 30 Juli 2006 Pukul 15:51 84
    • Dalam Mihrab Cinta(Sebuah "Petikan" R o m a n P e m b a n g u n Jiwa) eBook by MR.
    • Satu Siang itu Pesantren Al Furqon yang terletak di daerahPagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus BagianKeamanan menyeret seorang santri yang diyakinimencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santriberambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan mintaampun. "Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidakmencuri!" Santri yang mukanya sudahberdarah-darahitu mengiba. 87
    • "Ayo mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!" Lampu gudang dinyalakan. Pintu gudang laluTeriak seorang santri berkopiah hitam dengan wajah ditutup oleh Lurah Pondok. Pak Kiai berdiri tepat disangat geram. hadapannya. Empat pengurus dan Lurah Pondok "Sungguh, bukan saya pelakunya." Si Rambut mengambil posisi mengelilingi si Gondrong.Gondrong itu tetap tidak mau mengaku. "Ini Pak Kiai pencuri yang selama ini menjarah Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. barang-barang para santri. Baru tadi siang ditangkap"Nich rasain pencuri!" teriak Ketua Bagian Keamanan basah oleh Bagian Keamanan." Ketua Bagian Keamananyang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong membuka pengadilan.mengaduh lalu pingsan. "Siapa namamu?" tanya Pak Kiai. Karena jumlah *** santri putra ada seribu lima ratus santri, Pak Kiai tidak hafal nama semua santrinya. Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. ladikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Si Rambut Gondrong menjawab pelan, "Syamsul...Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Syamsul Hadi, Pak Kiai."la meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. la merasa "Nama yang sangat bagus. Benar kamu yangkematian telah berada di depan mata. mencuri?" Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka Syamsul menggelengkan kepala. Ketua Keamananmeneriakkan kemarahan dan kegeraman. marah, "Maling jangan diberi ampun!" "Dia,memang orangnya sangat bandel Pak Kiai. Dia tidak mau mengaku, tapi kami menangkap basah "Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!" dia sedang membuka lemari si Burhan di kamar 17 "Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang Pak Kiai. Di kamar 17 sudah dua orang kehilanganajar. Tak bisa diampuni!" u a n g . Saat itu k a m a r sepi, kami yang m e m a n g la menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit memasang orang di atas eternit melihatnya membukakemudian pintu gudang terbuka. la sangat ketakutan. lemari Burhan."Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. "Benarkah kau membuka lemari Burhan?" tanya PakPara santri yang didera kemarahan meluap hendak Kiai pelan.menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan merekadengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren "Benar Pak Kiai. Tapi tidak untuk mencuri."masuk dengan wajah dingin. Beliau diikuti empat "Lantas untuk apa?!!" bentak Ketua Bagian Ke-pengurus. Satu di antaranya Ketua Bagian Keamanan. amanan garang. 88 89
    • "Karena saya diminta untuk mengambilkan uang Burhan mendekat.oleh Burhan Pak Kiai." Jawab Syamsul. "Kau sudah tahu apa yang terjadi? Kenapa Syamsul " H m m . . . B u r h a n ada?" tanya Pak Kiai sambil diadili dan kenapa kau dibawa kemari?" lanjut Pak Kiai.melihat Ketua Bagian Keamanan. "Iya Pak Kiai." Ada, Pak Kiai." "Kau harus jujur. Karena kejujuran mendatangkan "Dia tahu kalau si Syamsul tertangkap karena kebaikan. Dan kedustaan m e n d a t a n g k a n petaka.membuka lemarinya?" Syamsul ini mengaku bahwa kau memintanya mengam- "Tahu Pak Kiai." bilkan uangmu di lemarimu, apa benar?" Pak Kiai manggut-manggut dan mengerutkan dahi. Syamsul menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut temannya itu. Ia berharap temannya itu jujur, "Panggil Burhan kemari!" pinta Pak Kiai. mengatakan yang sebenarnya. Dengan suara bergetar "Baik Pak Kiai." Burhan menjawab, "Ti...tidak benar Pak Kiai!" Ketua Bagian Keamanan lalu bergegas keluar. Syamsul kaget bagai disambar geledek. Dengan *** penuh amarah dia berteriak, Syamsul berharap Burhan mau menjelaskan semua- "Teganya kau Bur... Kau santri atau bajingan?!nya. Namun dalam hati ia bertanya-tanya, Burhan tahu Dancok kau Bur!"kalau dirinya tertangkap kenapa tidak menjelaskan "Diam kau maling! Kau yang jelas bajingan bukansemuanya. Apa karena Burhan takut pada amarah para Burhan!" bentak Bagian Keamanan.santri. Atau...? Ia tidak bisa banyak memprediksi. "Demi Allah yang menciptakan langit dan bumi PakSeluruh tubuhnya terasa ngilu. Ia berharap di hadapan Kiai. Saya tidak mencuri. Burhan yang tadi memintaPak Kiai, Burhan menjelaskan bahwa ia memang diminta saya mengambilkan uangnya untuk beli baju danBurhan mengambilkan uangnya. Dengan penjelasan mentraktir saya. Biarlah seluruh laknat Allah menimpaBurhan itu ia berharap namanya dibersihkan dan semua saya jika saya berdusta!" Syamsul bersumpah dengansantri yang telah berlaku aniaya p a d a n y a diberi suara lantang. Kedua matanya menyala seperti matahukuman, paling tidak harus minta maaf. elang. Burhan datang dengan wajah sedikit pucat. Namun Pak Kiai agak kaget. Beliau langsung memandangmasih tampak tenang. Ia sama sekali tidak memandang Burhan,Syamsul yang sedang berdarah-darah kesakitan. "Burhan karena Syamsul sudah berani bersumpah. "Burhan ke sini!" pinta Pak Kiai. Kau harus berani juga bersumpah bahwa apa yang 90 91
    • kaukatakan benar. Jika tidak maka kau bersalah. Kau Burhan lalu pergi. Para pengurus juga meninggalkanakan d a p a t h u k u m a n atas k e d u s t a a n m u . Sebab gudang. Mereka menuju kantor untuk rapat. Akhirnyakedustaanmu itu telah mencelakakan orang lain." diputuskan, Syamsul dihukum gundul dan kemudian Dengan tenang Burhan menjawab, "Penjahat akan dikeluarkan dari pesantren.melakukan apa saja untuk menutupi kejahatannya Pak Pengurus bergerak cepat. Lurah Pondok menelponKiai. Baiklah, saya bersumpah bahwa apa yang baru saja ayah Syamsul, seorang pengusaha batik sukses disaya katakan benar. Jika saya berdusta maka semoga Pekalongan. Yang lain menyiapkan acara eksekusisegala laknat Allah menimpa saya." penggundulan. Keputusan rapat pengurus itu ditulis Saat mengucapkan sumpah itu, dalam hati Burhan resmi. Diketik rapi. Ditandatangani oleh Lurah Pondok,mengatakan yang dimaksud dengan kata-katanya Sekretaris Pondok, Ketua Bagian Keamanan, dan"bahwa yang baru saja saya katakan benar" adalah Pengasuh Pondok Pesantren.perkataannya "penjahat akan melakukan apa saja untuk Sore itu juga Syamsul diambil dari gudang. Dimenutupi kejahatannya" bukan yang lain. Tak ada yang halaman pondok telah disiapkan kursi yang diletakkantahu hal itu kecuali Burhan. Syamsul meneteskan di tengah garis melingkar. Syamsul digiring d a nairmata. Hatinya sangat sakit. Rasa sakit hatinya melebihi didudukkan di kursi itu. Para santri menyaksikanseluruh sakit di sekujur tubuhnya yang berdarah-darah. eksekusi penggundulan itu dari luar garis. Bagian "Baiklah, semuanya lebih jelas. Untuk memutuskan Keamanan membacakan hasil keputusan:siapa yang sesungguhnya harus dihukum, silakan "...dengan ini diputuskan bahwa Saudara Syamsulpengurus bermusyawarah. Dan sekalian tentukan Hadi terbukti bersalah melakukan kejahatan pencurianhukuman yang paling bijak." Kata Pak Kiai sambil yang dilarang agama dan melanggar tata tertib pesantren.memandang wajah para pengurus. Lalu beliau pergi. Karenanya ia dikeluarkan dengan tidak hormat dari Setelah Pak Kiai pergi, Syamsul berteriak-teriak pesantren, dengan sebelumnya dihukum takzir yaitumarah. Andai kedua tangan dan kakinya tidak diikat digundul untuk dijadikan pelajaran bagi santri yang lain."tentu ia akan mengamuk. Para santri bersorak sorai. Kata-kata sumpah serapah "Burhan, kaulah bajingan paling jahat! Kau tega keluar menghujat Syamsul. Syamsul benar-benar sangatmemfitnah temanmu! Ingat Burhan, Allah tidak tuli! Allah terpukul. Ketika gunting bagian keamanan mulaitidak tidur!" mencowel-cowel rambut kepalanya ia menangis. Sepuluh menit kemudian eksekusi itu selesai. Syamsul dibawa lagi Burhan menjawab tenang sambil memandang keLurah Pondok, "Penjahat ulung itu bisa berakting yang ke dalam gudang. Dua orang pengurus membawacanggih!" seember air dan menyuruhnya mandi. Ikatan di tangan 92 93
    • dan di kakinya dilepas. Semua barang Syamsul telah Ia benar-benar hancur di pesantren itu. Tapi ia berharapdikemas rapi dan diletakkan di gudang. tidak hancur di tempat lain. Jam sebelas malam orangtua Syamsul datang. Pak Sebelum ia meninggalkan ruangan itu ia tegakkanKiai menemui di ruang tamu pesantren. Syamsul berikut kepala dan berkata setenang mungkin, "Pak Kiai,barang-barangnya dihadirkan. Pak Kiai dan Lurah Panjenengan sudah melakukan tindakan zalim denganPondok menjelaskan semuanya. memperlakukan saya seperti ini. Panjenengan belum "Maafkan kami, Pak. Inilah tata tertib yang telah kita melakukan tabayun yang sesungguhnya. Dan kaliansepakati bersama. Syamsul terbukti mencuri maka harus para pengurus yang memutuskan hukuman untuk sayadikeluarkan." Kata Lurah Pondok santun. dengan semena-mena, dengar baik-baik, kalian telah "Kita mengenal wejangan orangtua kita dulu, jika melakukan dosa besar! Kesalahan besar! Ini hak adami.ada satu rayap di kapal maka harus segera dibuang. Kalau Suatu saat kalian akan tahu siapa yang benar dan siapatidak rayap itu bisa menjadi banyak, menggerogoti kapal yang salah. Kalian akan tahu kelak siapa sebenarnyadan bisa menenggelamkan kapal serta membinasakan rayap itu. Dan aku tidak akan memaafkan dosa kalianseluruh penumpangnya. Itulah yang saat ini kami semua kecuali kalian mencium telapak kakiku!"lakukan. Rayap itu harus dibuang..." Ketua Bagian Mendengar hal itu Ketua Bagian Keamanan hanyaKeamanan menimpal. geleng-geleng kepala. Pak Kiai tersentak, ada keraguan "Saya berharap, ini jadi pelajaran bagi Syamsul. Dan berbalut kekuatiran menyusup dalam hatinya, namunsetelah ini Syamsul berubah. Saya melihat Syamsul ini diam saja.punya potensi untuk baik dan maju." Kata Pak Kiai * * *bijaksana. Sampai di rumah ia ternyata juga menemukan hal Ayah Syamsul, Pak Bambang, sangat malu dan yang sama. Ia menegaskan bahwa ia terfitnah. Ia tidakmarah. Di ruang itu juga ia menampar anaknya berkali- pernah mencuri di pesantren. Namun penjelasannya itukali, "Anak tak tahu diri! Apa masih kurang Papa tidak bisa diterima oleh seluruh anggota keluarganya.memberimu uang saku dan lain sebagainya. Kurang Kemarahan ayahnya juga tidak reda. Kedua kakak danuang tinggal minta, kenapa malah maling!" ibunya lebih percaya pada keputusan pesantren. Plak! Plak! Plak! "Sudah lebih baik kau mengakui dosamu itu dan Syamsul meringis. Ia diam saja. Ia merasa tak ada bertaubat. Sesali perbuatanmu itu dan jangan kerasgunanya membela. Ia akan menjelaskan semuanya jika kepala!" Kakak sulungnya yang sudah punya dua anaksampai di rumah nanti. Namanya memang telah rusak. itu marah. 94 95
    • Hanya adiknya, Nadia, yang tidak berkomentar. "Itu tidak penting, Kak. Saya ingin kakak berubahNadia lebih merasa iba pada kondisi kakaknya. lebih baik. Dan Nadia akan selalu menganggap Kak "Apa tidak sebaiknya dibawa ke dokter untuk Syamsul adalah kakak Nadia."diobatkan Ma. Kasihan Kak Syamsul." Kata Nadia. Syamsul kecewa. Nadia p u n tidak juga mem- Pak Bambang langsung menyahut garang, "Kita percayainya.tidak perlu kasihan sama maling. Biar dia rasakan akibatkejahatannya!" Tak ada yang berani membantah. Bu Bambangmasih tampak marah. Rasa marahnya saat itu mengalah-kan rasa kasihan pada anaknya itu. Syamsul istirahat di k a m a r n y a d e n g a n mataberkaca-kaca. Jika keluarga sudah tidak lagi percayapadanya. Apalah arti hidup di dunia ini. Nadia masuk ke kamarnya membawa peralatanP3K. la bersihkan luka-luka kakaknya dengan airmineral, lalu dengan rivanol. Setelah itu ia oleskanBetadine. "Apakah kau juga tidak percaya bahwa aku tidakmencuri, Nadia?" Tanya Syamsul. Nadia diam. Tidak menjawab. "Jawab Nadia, aku butuh seseorang yang menguat-kan aku. Aku bisa gila!" Seru Syamsul serak. "Sudahlah, Kak. Jangan bahas itu lagi. Yang pentingkakak sembuh dulu. Nadia akan rawat kakak. Kakakjangan kecil hati, selama Allah bersama kakak, makakakak jangan takut bahwa semua manusia memusuhikakak." "Jadi kau percaya bahwa bukan aku pencurinya?Kau percaya penjelasanku, Nadia." 96 97
    • "Kalian ini, dasar perempuan, baru membaca surat gombal kayak gitu saja berubah. Itu hanya akting si Syamsul. Aku sudah tidak percaya lagi sama anak brengsek itu!" Jawab Pak Bambang marah. "Kita lihat saja dulu perkembangannya. Paling dua hari lagi Syamsul juga pulang." Sahut kakak pertama. "Iya Syamsul telah memilih jalannya. Dia sudah dewasa. Sudah lulus SMA. Biarkan ini semua jadi pembelajaran baginya." Imbuh kakak kedua. Jika sudah demikian Bu Bambang dan Nadia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya saja dalam hati Bu Bambang berdoa semoga Syamsul anaknya baik-baik saja, dan mau pulang kembali. *** Sudah satu minggu Syamsul pergi. la mengelana di Kota Semarang. Tidur dari masjid ke masjid. Makan seadanya. Dengan berbekal ijazah SMA ia melamar Nadia membaca surat dari kakaknya itu dengan pekerjaan dari kantor ke kantor, pabrik ke pabrik, tapi belum juga diterima. Sebab semua pabrik mensyaratkanairmata bercucuran. la langsung berteriak-teriak ada keterangan surat kelakuan baik dari kelurahan.memanggil Mamanya. Sang Mama datang tergopoh- Berarti ia harus pulang. Dan itu yang tidak mau iagopoh, begitu membaca surat itu rasa keibuannya terbit. lakukan.la pun menangis. Namun Sang Ayah dan kedua kakakNadia malah geram dan marah. Ia sudah berusaha mencari kerja, tapi tak juga dapat. "Kita harus cari Syamsul, Pa. Kelihatannya dia Akhirnya timbul dalam pikirannya, mungkin jalannyamemang tidak bersalah. Kita harus berdiri bersama anak untuk makan adalah dengan mencuri, mencopet dankita, Pa." Kata Bu Bambang. menjambret. Ia masih maju mundur melakukan hal itu. Akhirnya ia nekat. Ia naik bus mini warna kuning jurusan "Iya, Pa. Kita bisa minta polisi mengusut kasus di Mangkang-Penggaron. Sampai di Jrakah ia melakukanpesantren itu. Kalau Kak Syamsul tidak bersalah kan aksi perdananya. Mencopet.berarti dia dianiaya." Tambah Nadia. 98 99
    • Dan.. .naas! Korbannya waspada. la ketahuan. la langsunglompat dari bus. Bus berhenti. Semua orang berterik-teriak, "Copet, copet!" Orang yang mendengar hal itulangsung berlarian mengejarnya. la lari ke arah Ngaliyan.Terus berlari. Sampai dekatkampus dua IAIN Walisongo,ia tertangkap. la babak belur dihakimi massa. Untung Duaada patroli polisi. Nyawanya diselamatkan oleh polisi. Berita tertangkapnya dirinya di Ngaliyan masukkoran terkemuka di Jawa Tengah, Suara Mahardika. Jugamasuk berita televisi. Untung ia tidak bawa KTP. KTPdan semua barangnya ia titipkan pada seorang takmirmasjid tua di dekat Pasar Bulu. Ia mengaku bernamaBurhan. Dari Jakarta. Keluarganya di Pekalongan membaca isi koran danmelihat berita itu. Mereka tersentak. Bu Bambangmenangis, "Ia benar-benar jadi pencuri!" Pak Bambang dan kedua kakaknya mengatakan,"Sudahlah ia kita ikhlaskan. Untung dia memakai namasamaran, jadi tidak mencemarkan nama keluarga." Sejak itu ia mendekam di penjara Polsek Semarang Hanya Nadia yang tidak percaya. Tugu. Ia satu sel dengan dua orang narapida yang "Saya yakin copet itu bukan Kak Syamsul. Itu orang tertangkap karena mencuri sepeda motor. Dua nara-lain yang mirip Kak Syamsul," kata Nadia. pidana itu mengajaknya u n t u k bergabung dalam "Kamu itu masih bau kencur. Tahu apa masalah komplotannya. Ia pura-pura mengiyakan, sebab ia takutdunia kriminal, Nadia!" Sengit kakak kedua. jadi bulan-bulanan mereka. Ia diberi tahu trik-trik Nadia tidak bisa menjawab. Dalam hati ia ingin mencuri sepeda motor yang canggih. Juga trik-trikmembuktikan bahwa anggapannya benar. mencuri rumah orang kaya. * * * "Di daerah Papandayan dan Candi, Semarang atas, banyak rumah mewah. Jika kita berhasil menggasak satu 100 101
    • rumah saja. Kita bisa kaya mendadak." Kata napi Siang itu ia baru saja menyantap jatahnya makanberkumis tebal. siang. Seorang polisi datang dan membawanya keluar. Ia lalu diberi tahu peta daerah-daerah strategis untuk Di ruang tamu ia melihat seorang gadis berjilbab. Hatinyaberoperasi. Ia masihbimbangbagaimana meneruskan berdesir. Nadia. Antara gembira dan sedih terbit dalamhidup. Ia teringat cita-citanya. Ingin jadi mubaligh hatinya. Gembira bertemu adiknya, sedih karena kiniternama sekaligus pengusaha Muslim yang berhasil. adiknya tahu ia benar-benar seorang kriminil.Maka setelah lulus SMA ia minta masuk pesantren sambil "Nadia!" Serunya pada adiknya.kuliah. Ia memilih pesantren di Kediri. Waktu di SMA Nadia menoleh ke arahnya. Kaget. Tidak percaya.memang ia agak nakal. Tapi dalam hati terkecil, cita-citanya adalah jadi mubaligh. "Kau.. .kaubukanKakSs.. .s..." Nadia gagap tidak percaya. Dan kejadian di pesantren itu mengubah segalanya.Ia teringat Burhan. Anak pengusaha dari Jakarta itulah "Tenang. Aku kakakmu, Nadia."sumber petakanya. Ia dijebak Burhan, saat pesantren Nadia menggeleng-gelengkan kepala dan menangis.sedang panas oleh kejadian beberapa pencurian. Uang "Tidak.. .tidak.. .tidak, Kak!"santri hilang. Ia jadi kambing hitam. Dan kini ia benar- "Tenang Nadia, beri kesempatan aku bercerita. Maribenar mendekam jadi pencuri. kitabicara dengan tenang." Sudah satu minggu ia dipenjara. Ia mulai bosan. Nadia duduk tenang. Airmatanya bercucuran.Napi berkumis tebal berkata padanya, "Kau sendirian, Nadia?" "Kau tenang saja Bur. Minggu depan bos kami akan Nadia mengangguk.datang. Dia akan menebus kami. Kau akan kami "Keluarga semua baik?"usahakan ikut ditebus. Tapi konsekuensinya, kau harusikut memperkuat kami." Nadia kembali mengangguk. Ia mengangguk. Jika itu benar-benar terjadi, ia "Apa mereka sudah tahu aku disel?"memang benar-benar akan masuk di dunia hitam. Ia "Begitu membaca koran Suara Mahardika danberdoa semoga ada mukjizat yang mengeluarkannya menonton berita di televisi mereka semua yakin yangdari penjara. Tapi ia tidak bisa mengelak dari kejahatan- tertangkap adalah kakak, meskipun memakai namanya mencopet. Ia diputuskan mendekam di sel selama Burhan. Hanya aku yang tidak percaya, maka akuenam bulan. Satu bulan pertama ia akan menjalaninya kemari. Ternyata dugaanku salah. Kakak memangdi Polsek Tugu. Dan ada kemungkinan dipindah ke seorang penjahat!"Penjara Kedungpane. Syamsul menangis. 102 103
    • "Maafkan aku Nadia. Demi Allah ini yang pertama "Tenang, Kak. Mereka akan Nadia yakinkan bahwakali aku lakukan. Dan aku berharap yang terakhir yang dipenjara itu bukan kakak. Tapi Burhan. Orangkalinya." Syamsul lalu menjelaskan perjalanan hidupnya yang mirip kakak. Mereka kan tidak tahu kalau kakaksejak pergi dari rumah sampai kehabisan uang. Dan sudahbebas. Kakak bilang saja tidak pernah dipenjara.kejadian di Ngaliyan itu. Nadia tidak akan membocorkan hal ini pada mereka. "Tolonglah aku, Adikku." la tetap tidak mau. Nadia memberinya uang lima Nadia diam. Rasa kasihannya keluar setelah ratus ribu, lalu kembali ke Pekalongan dengan perasaan sedih. Syamsulberharap akan menemukan cahaya yangmendengar cerita kakaknya. terang dalam hidupnya. "Hanya kau yang kuharapkan, Adikku.Tolonglah!" "Bagaimana aku bisa menolongmu Kak?" "Tebuslah aku biar aku bisa keluar dari sini." Syamsul merasa tidak bisa bertahan di Semarang. "Berapa Kak?" la ingin mengadu nasib yang lebih baik di tempat lain. Maka dengan bus ekonomi ia nekat pergi ke Jakarta "Kau bawa kartu ATM?" setelah mengambil barang-barangnya di masjid dekat "Iya." PasarBulu. "Isinya berapa?" Sampai di Jakarta ia tak tahu harus berbuat apa. Ia "Tiga juta." tiba di Lebak Bulus pagi buta. Bingung mau ke mana. "Baik. Biar aku negosiasi dengan polisi dulu. Baru Setelah shalat Subuh ia berjalan-jalan di terminal melihat-kauambil uang di ATM ya." lihat. Ia merasa karena terlanjur nekat maka ia harus "Baik Kak." nekat. Akhirnya ia nekat naik angkot jurusan Parung. Ia ingin mencari masjid. Ia ingin tinggal di masjid. la lalu bernegosiasi dengan polisi. Karena ia sudahbelajar cara negosiasi dengan polisi, maka urusannya Sampai di Parung ia turun, lalu berjalan kaki mencarimudah. Apalagi ia menyebut seorang nama yang ia masjid. Bertemu dengan sebuah masjid ia utarakandapat dari kedua napi itu. Nama itu dikenal sebagai keinginannya untuk tinggal.beking para kriminal. Akhirnya ia bisa keluar dari penjara "Mungkin saya bisa bantu-bantu menjaga dandengan menebus cuma duajuta lima ratus. membersihkan masjid. Kebetulan saya dulu dari Ia berterima kasih kepada adiknya. Dan ketika pesantren." Katanya pada orang yang ada di masjid.adiknya mengajaknya pulang, ia tidak mau. "Maaf Dik, kebetulan sudah ada yang tinggal di sini. "Mereka pasti sudah tidak sudi melihat mukaku." Dua orang malah. Juga dari pesantren. Sekarang sedang 104 105
    • kuliah di UIN Syarif Hidayatullah. Maaf kami tidak "Saya pinjam tiga ratus ya Pak. Biar saya adanambah orang." pegangan bulan ini." la kecewa. Berkali-kali ia temukan masjid. la "Oboleh."u t a r a k a n niatnya. Dan j a w a b a n n y a mirip: tidak Jadilah ia menyewa rumah. Sejak hari itu ia tinggalmenerima tambahan orang. Di masjid yang terakhir, saat di sebuah perumahan tak jauh dari Parung. Ia mulai kenalitu menjelang Ashar, dan dia sangat kelelahan, takmir dengan masyarakat. Namun sudah satu bulan ia belummasjid menyarankan agar dia mengontrak rumah saja. juga dapat kerjaan. Uang pegangannya tinggal lima kali "Adik kan bisa mencari kerja. Tidak harus tinggal di makan. Ia bingung. Ia hams berbuat apa. Cicilan rumahmasjid. Adik cari saja kontrakan di dekat masjid ini. Kalau bulan depan juga belum ada. Akhirnya ia berkata padakami perlu bantuan, Adik, kami bisa panggil Adik. Kalau diri sendiri, "Aku haras nekat. Minta belas kasihan orangtinggal di masjid tidak bisa. Kamarnya cuma satu dan itu mental pecundang!"telah ditempati Pak Ali, imam masjid ini, bersama isteri Hari itu ia naik anggot ke Lebak Bulus. Lalu naikdan anaknya. Gimana Dik? Nanti saya bantu cari yang Kopaja yang sesak penumpang. Ia nekat mengamalkanmurah. Oh ya siapa tadi nama Adik?" ilmu yang didapat dari dua napi saat ia dipenjara. Pada bapak yang halus budi itu, ia tidak berani Berhasil! Seorang cewekberambutkeriting jadi korban.berdusta, Ia lalu beroperasi di bus yang lain. Berhasil! Seorang ibu- "Nama saya Syamsul Pak." ibu setengah baya berpakaian modis jadi korban. "Ya jadi begitu saran saya Dik Syamsul. Oh ya nama "Kalau mencopet jangan terlalu tamak. Sehari dapatsaya Abbas. Panggil saja Pak Abbas. Kebetulan saya dua itu bagus. Yang ketiga dan keempat biasanya hilangKetua RT 2 di perumahan ini." konsentrasi." Ia teringat kata-kata napi berkumis tebal. Akhirnya ia ikut saran Bapak itu. Ia mendapatkan Ia merasa harus pulang. Sampai di kontrakan ia Wrungrumah satu kamar. Sewa per tahunnya dua juta. Ia hasil jarahannya.menggigitbibir. Dari dompet cewek keriting cuma lima puluh ribu. "Saya cuma punya empat ratus ribu, Pak." Tapi ada kartu ATM-nya. Dari dompet ibu-ibu setengah "Baik. Pemilik rumah ini mengatakan katanya bisa baya modis, lumayan, enam ratus ribu. Semuanyadicicil empat kali. Sekali cicil berarti lima ratus ribu. Kamu serarus ribuan, enam. Ada KTP dan SIM-nya. Ia ambilada empat ratus, bagaimana kalau yang seratus ribu saya uang itu, ia masukkan ke dalam dompetnya. Sementarausahakan. Adik bisa bayar kapan saja adik ada. Tapi dompet korbannya ia simpan di laci almari.cicilan selanjutnya adik usaha sendiri." Meskipun diliputi rasa berdosa ia merasa lebih tenang. Malam harinya ia pergi ke pemilik rumah nyicil 106 107
    • kontrakan. Hari berikutnya ia melakukan hal yang sama. mencurigakan. Ia teringat di ranselnya ada kopiah putihDapat cuma satu korban. Ia pulang. Ia tak mau ambil yang biasa ia pakai kalau shalat. Ia pakai kopiah itu barurisiko. Korbannya kali ini seorang cewek berjilbab modis, pakai helm. Ia lihat alamat r u m a h cewek itu. Jl.kelihatannya mahasiswi. Ya, mahasiswi setelah ia lihat Flamboyan 19. Ia tersenyum. Ia sudah mantap meng-ada kartu mahasiswanya. Cantik juga, katanya dalam hadapi satpam. Ia kembali ke Villa Gratia.hati ketika melihat fotonya. Ada foto yang lain. Foto Ketika mau masuk satpam menghentikannya. Iamahasiswi itu dengan seorang pria. Mungkin pacarnya, lepas helmnya, sehingga tampak ia pakai kopiah.gumamnya. Ia terkesiap. Seketika satpam bersikap lebih ramah. "Tunggu, agaknya aku kenal dengan lelaki ini." "Mau ke mana Pak Ustadz? Ke rumah siapa?" tanyaKatanya. Ia amati dengan seksama, "Benar. Ini si Bajingan satpam itu.Burhan itu. 0 jadi ini pacar atau calon isterinya yang Ia tersenyum dalam hati. "Baru pakai kopiah sajalain." Ia semakin yakin ketika membaca tulisan di balik langsung dipanggil ustadz. Wah boleh juga ini, akufoto berukuran 6 x 8 itu. ternyata bakat jadi ustadz juga." Batinnya. "Silvie bersama Mas Burhan di Sby." "Mm. Saya mau ke Flamboyan 17." Jawabnya Ia tersenyum. Ia penasaran. Ia lihat KTP cewek itu. mantap. Sengaja ia tidak bilang Flamboyan 19. Ia teringat"Ini saatnya perhitunganku berlaku." Ia ingat Burhan pada nasihat napi berkumis tebal, "Jangan pernahsudah serius dengan Dalmayanti, santriwati dari mengatakan sasaran kita sebenarnya kepada siapapunTulungagung. Putri seorang kepala KUA. "Burhan ini saat observasi! Termasuk ketika bertanya atau menjawabbenar-benar buaya! Tidak bisa dibiarkan!" pertanyaan." Setelah mengambil uang dan KTP dari dompet "O mau ke rumah Pak Broto ya. Jadi si Kecil Dela itukorbannya ia melangkah keluar sambil menenteng tas sudah mau ngaji ya Ustadz. Cepat sekali Pak Broto dapatranselnya. Sekalian shalat Ashar ia hendak pinjam ustadz, padahal baru kemarin sore bilang ke saya." Katakendaraan pada Pak Abbas. Ia ingin mencari alamat yang satpam itu.ada di KTP itu yang kelihatannya tidak jauh dari tempat "Iya. Alhamdulillah. Nanti kalau dengar ada yangia tinggal. Cewek itu ringgal di Villa Gratia, Parung bagian mencari guru ngaji bisa bilang saya ya." Ia tersenyum.timur. Sementara dirinya ada di Parung bagian barat. "Ya, insya Allah, Ustadz, tapi komisinynya, Ustadz." Bakda Ashar ia meluncur dengan sepeda motor Pak "Beres, Pak."Abbas. Tak lama ia temukan Villa Gratia itu. Perumahanelite. Pintu masuknya dijaga satpam. Ia tak jadi masuk. Ia lalu masuk dengan tenang. Rumah-rumah diIa terus saja jalan. Ia harus berpenampilan yang tidak perumahan itu mewah semua. Seperti istana. Ia masuk 108 109
    • Jalan Flamboyan. Rumah bernomor 19, luar biasa besar. tidak ada background pesantrennya. Saya ingin guruDalam hati ia berkata, "Si Burhan bajingan itu beruntung ngaji yang pemah belajar di pesantren."punya mertua tajir begird." Ia lalu mencari masjid. "Kebetulan saya dulu pernah nyantri di Kediri. AsliKetemu masjidnya juga mewah dan bagus. Ia teringat saya dari Pekalongan Pak Broto. Sekarang saya tinggalkata-kata satpam tadi, "Jadi si Kecil Dela itu sudah mau di perumahan di Parung bagian barat."ngaji ya Ustadz. Cepat sekali Pak Broto dapat ustadz, "O ya...ya...ya. A l h a m d u l i l l a h kalau begitu.padahal baru kemarin sore bilang ke saya." Ia ter- Semoga si Delia mau. Sekarang tinggal Della-nya mi. Ohsenyum. Ia berharap Pak Broto belum menemukan guru ya nama Pak Ustadz siapa ya? Saya lupa?"ngaji. Ia merasa harus nekat. "Mau nyopet aja perlu Syamsul ingin tertawa. Belum pernah bertemu tapinekat, masak mau ngajar ngaji tidak nekat. Tak ada merasa sudah kenal. Kadang orang kaya itu aneh.salahnya tho copet ngajar ngaji biar dosanya terhapus "Nama saya Syamsul, Pak Broto."dikit-dikit." Batinnya dalam hati. "O ya..ya...ya. Saya panggilkan Delia dulu. Biar Lalu dengan mantap ia memarkir sepeda motornya segera clear urusannya."di depan rumah di Jalan Flamboyan no. 17. Ia pencetbel.Seorang pembantu wanita agak tua membuka pintu. Pak Broto lalu masuk memanggil-manggil anaknya. Tak lama, ia kembali keluar bersama anak putri berumur "Oh, Pak Ustadz. Mau ketemu siapa?" enam tahun. "Pak Broto ada, Bu?" "Ini Dik Delia ya?" sapa Syamsul dengan ramah. "Ada. Silakan masuk Pak Ustadz." "Iya." Jawab Delia acuh tak acuh. Dengan tenang ia masuk. Tak lama seorang lelaki "Kenalkan nama kakak Syamsul, panggil Kakgemuk bersarung dan berbaju koko keluar. Syamsul." "Oh Ustadz. Di mana kita pernah bertemu ya Pak "Kak Syamsul mau jadi ustadz Delia ngaji ya?"Ustadz?" Pak Broto merasa kenal. "Iya. Itu jika Delia mau berteman dengan Kak "Mungkin di suatu masjid. Saya juga lupa Pak Broto. Syamsul."Gini Pak Broto langsung saja, ada yang memberitahusaya, katanya Pak Broto perlu guru pri vat ngaji untuk si "Kak Syamsul bisa nyanyi nggak. Soalnya DeliaKecil Delia. Apa betul?" Syamsul menjawab dengan inginnya tuh ustadz Delia juga yang pinter nyanyi."sangat tenang. "Uda Delia ingin, Kak Syamsul nyanyi apa?" "Benar Pak Ustadz. Sudah ada seorang guru ngaji "Coba Kak Syamsul nyanyi lagu daerah dariyang datang tadi pagi tapi saya tidak cocok, sebab dia Kalimantan!" 110 111
    • "Wah kalau itu mah kecil. Nih dengerin baik-baik enam ratus ribu. Dan satu bulannya dua juta empat ratusya Delia: ribu. Kalau ada jam tambahan maka harga per jamnya Ampar-ampar pisang pisangku belum masak. seratus ribu. Begitu Ustadz, bagaimana?" Masak bigi dihubung bari-bari. "Sepakat." Mangga lepak mangga lepak "Terus pengaturan jamnya bagaimana, Ustadz?" Patah kayu bengkok.. "Begini saja. Pak Broto saja yang bikin dengan melihat jam kegiatan Delia. Insya Allah habis ini saya ke masjid. Saya shalat Maghrib di masjid perumahan ini, Syamsul lalu menyanyi dengan semangat. Delia lalu Insya Allah. Setelah shalat kita bicarakan di masjidikut bernyanyi. Begitu lagu selesai, Delia langsung iadwalnya. Bagaimana Pak?"berkata pada ayahnya, "Baik Pak Ustadz. Baik." "Saya mau ayah. Kak Syamsul pinter." "Kalau begitu saya pamit dulu." Pak Broto tersenyum, "Ya sudah kalau begitu. Ayahmau bicara sama Kak Syamsul dulu ya. Kamu masuk Syamsul meninggalkan rumah itu dan pergi kesana!" masjid. Sambil menunggu ia berbincang-bincang dengan penjaga masjid. Ia banyak mendapatkan info yang Delia lalu masuk dengan berlari dan berteriak, "Hore berharga. Termasuk tentang penghuni rumah no.19 Jalanaku puny a ustadz pinter nyanyi...!" Flamboyan. Silvie ternyata mahasiswi jurusan ekonomi "Alhamdulillah Pak Ustadz. Seperti yang Ustadz UI. Silvie anak tunggal. Ayahnya seorang pengusaha didengar sendiri. Delia mau. Terus kontrak kita bagai- bidang travel dan pariwisata. Namanya Pak Heru.mana?" "Pak Heru itu bisa dikatakan yang paling kaya di "Saya ikut aturan bapak saja. Saya tidak meragukan perumahan ini. Ia punya travel yang sudah punyaprofesionalitas Pak Broto." cabang di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Cabang Kening Pak Broto berkerut. travel-nya juga ada di Singapura, Malaysia dan Arab " H m m baiklah. Saya samakan dengan privat Saudi." Begitulah penjaga masjid itu menerangkan.pianonya Delia saja ya Ustadz?" "Hanya saja Pak Heru sedikit pelit. Kalau membantu "Saya ikut. Tolong dijelaskan detilnya." masjid sedikit. Masihbagusan Pak Broto yang tak pernah "Satu minggu empat kali pertemuan. Satu pertemuan hitungan kalau membantu."satu setengah jam. Sehingga satu minggu ada enam jam. Waktu M a g h r i b tiba. J a m a a h b e r d a t a n g a n .Satu jamnya saya hargai seratus ribu. Jadi satu minggu Penjaga itu yang azan dan iqamat. Saat shalat mau 112 113
    • didirikan penjaga masjid itu mempersilakan Syamsul Pak Heru terdiam. Syamsul harus minta diri pulang.jadi imam. Syamsul ragu dan tidak mau. Tapi Pak Broto Sebab ia pinjam kendaraan Pak Abbas hanya sampai jamyang sudah hadir memaksanya agar ia mau. Akhirnya delapan malam. Dalam perjalanan ia berniat untukia p u n jadi imam. Dalam hati ia beristighfar sebelum taubat dan jadi manusia baik sungguhan.maju d a n berkata, "Ya Rabbi a p a k a h kau m a umenerima shalat hamba-hamba-Mu yang diimamiseorang pencopet?" Ia shalat dengan membaca surat-surat pendek.Bacaannya tartil. Satu tahun di pesantren cukup baginyauntuk membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Usaishalat ia berbincang-bincang d e n g a n Pak Broto.Kesepakatan-kesepakatan ten tang hari dan jam dengancepat tercapai. Di tengah asyiknya berbincang, Pak Heruikut nimbrung. Pak Heru bercerita tentang musibah yangmenimpa putrinya semata wayang, "Sekali ini dia naik bus kota langsung kecopetan.SIM, STNK, KTP, Kartu Mahasiswa hilang. Untung pastidak bawa ATM. Ia juga kehilangan empat ratus ribu." Pak Broto diam mendengarkan. Demikian jugaSyamsul. Dalam hati Syamsul berkata, "Pak, si Copetyang mencopet putri Bapak ada di depan Bapak." Seorang jamaah yang mendengar dari kejauhanmendekat sambil berkata, "Mungkin karena kurangzakat kali, Pak." "Masak? Kan tiap tahun harta saya sudah saya zakati2,5 persen." "Mungkin yang kurang infak shadaqahnya. Sha-daqah kan tolak balak. Bener nggak, Ustadz?" Syamsul mengangguk. 114 115
    • Tiga eBook by MR. Sejak itu Syamsul mulai menata hidupnya. la merasajika gaji privat ngajinya cukup, maka tidak perlu lagimencopet. Dan ia berjanji dalam hati akan mengem-balikan dompet korban-korbannya ke alamatnyamasing-masing. Seminggu empat kali ia mengajar Delia. Dan agartidak mengecewakan kala mengajar, ia pergi ke toko bukuuntuk membeli beberapa buku cerita anak Islami.Dongeng-dongeng anak. Buku-buku permainan anak.Juga psikologi anak. Syamsul berusaha sebisa mungkin 117
    • menjadikan Delia keranjingan mengaji. Tempat ngajinya "Sama keluarganya Pak?"tidak melulu di ruang belajar Delia. Kadang di taman. "Ya baru bicara bilateral dengan saya. Belum denganKadang di masjid. Bahkan terkadang ia ajak jalan pakai orangtuanya. Tapi dia sudah kasih cincin sama Silvie."kendaraan dan mencari daerah yang enak untuk mengaji. "Agak aneh, yang Bapak maksud Burhan yang adaPak Broto senang sekali d e n g a n kemajuan putri tahi lalatnya di jfdatnya?"bungsunya itu. "Iya benar." Dari mulut Delia, Syamsul banyak tahu tentang "Aneh."Silvie. Sebab Delia diajar matematika oleh Silvie. Dan "Aneh apa Ustadz?"akhirnya Silvie pun kenal Syamsul. Selain mengajarDelia, Syamsul mulai mendapat tawaran mengajar anak "Saya akan memberikan informasi penting. Tapiyang lain. Ia merasa bisa hidup mandiri dari uang yang Bapak mau bersumpah untuk tidak memberitahukanhalal. Saat ia merasa ada u a n g lebih ia langsung jatidiri saya kepada Burhan Pak? Ini demi kebaikanmenabung. Dan untuk menambah ilmu serta menguat- keluarga Bapak dan keluarga Burhan?"kan statusnya, Syamsul masuk kuliah di Institut Ilmu "Info apa Ustadz?"Al-Quran (IIQ) Jakarta. Dengan begitu statusnya adalah "Info penting. Kalau Bapak tidak mau bersumpahmahasiswa. Ia juga berani kredit kendaraan. Karena tanpa tidak akan saya beritahu."kendaraan ia tidak bisa ke mana-mana. Pak Heru penasaran. Akhirnya ia mau bersumpah Suatu ketika selesai mengajar Delia ia bertemu Pak menuruti syarat Syamsul.Heru di masjid. Ayah Silvie itu mengajaknya berbincang- "Baik Pak. Tolong d e n g a r baik-baik. Burhanbincang. memang santri yang cerdas. Tapi menurut saya tidak "O jadi Ustadz Syamsul kenal dengan Burhan cocok, maaf, jadi menantu Bapak. Kasihan SilvieFaishal yang sekarang masih di Pesantren Al Furqon? nantinya."Burhan itu calon menantu saya. Dia putra Pak Anwar "Kenapa bisa begitu Ustadz? Ustadz jangan lancangpemilik percetakan besar di Pasar Rebo lho nak." ya!" "O ya Pak. Saya kenal sekali dengan dia. Kebetulan "Sabar dulu Pak. Tunggu saya selesai berbicara.saya dan dia satu pesantren. Tapi benar, Burhan itu calon Setahu saya Burhan Faishal itu sudah serius bertunanganmenantu Bapak?" dengan seorang santriwati namanya Damayanti binti "Benar Ustadz. Malah Nak Burhan sendiri sudah Ustman. Santriwati asal Tulungagung. Saya tahu persis.melamar Silvie." Sayang saya tidak punya foto mereka berdua." 118 119
    • "Ustadz jangan memfitnah dong. Ustadz jangan tinggalnya untuk menyambut Ramadhan. Pak Herumain-main ya." datang. Syamsul kaget. Jangan-jangan terjadi hal-hal "Begini Pak Heru. Alamat tinggal saya saat ini jelas. yang tidak diinginkan, hal-hal di luar yang ia per-Pak Broto tahu siapa saya. Jadi kalau saya macam- hitungkan. Syamsul minta waktu pada Pak Abbas untukmacam Bapak bisa menindak saya. Saya sarankan Pak menemui Pak Heru.Heru langsung membuktikan sendiri. Jangan beritahu "Assalamualaikum." Sapa Pak Heru.Silvie. Kalau Silvie diberitahu pasti akan telpon atau SMS "Waalaikumussalam. Ada apa Pak Heru?" JawabBurhan. Dan Burhan akan berusaha menutupi kebe- Syamsul.naran. Saya sarankan Bapak langsung ke Tulungagung. Pak Heru malah menangis, "Terima kasih Ustadz.Ke rumah tunangan Burhan. Saya punya alamatnya. Terima kasih. Kalau tidak karena info Ustadz mungkinBaru setelah itu Bapak boleh mengambil keputusan." saya akan menanggung malu besar. Dan anak saya akan "Baik Ustadz. Kata-kata Ustadz saya pegang. Mana tidak jelas masa depannya."alamatnya." "Ada apa sebenarnya Pak Heru?" Syamsul menulis alamat kantor di mana ayah "Saya sudah ke Tulungagung Ustadz. Saya sudahDamayanti kerja. bertemu d e n g a n Pak U t s m a n . Apa yang Ustadz "Pak Utsman, ayah Damayanti itu kepala KUA, jadi sampaikan benar. Pak Utsman bercerita panjang lebarmudah mencarinya. Saya juga akan pegang sumpah tentang hubungan putrinya dengan Burhan. SampaiBapak. Ini hanya Bapak yang tahu." akhirnya, di akhir cerita Pak Utsman menangis. Karena "Baik. Saya akan ke sana secepatnya. Kebetulan saya pertunangan putrinya dengan Burhan itu harus dia putusharus melihat travel saya di Surabaya." karena akhlak Burhan yang ternyata sangat buruk. Akhir Dalam hati Syamsul berkata, "Saya tidak memfitnah bulan kemarin Burhan dikeluarkan dari pesantren karenaBurhan. Saya hanya ingin menyelamatkan Silvie dari terbukti mencuri. Burhan sekarang sedang disel di Polresorang licik seperti Burhan. Ampuni saya jika ini salah Kediri karena melukai pengurus pesantren dengan senjatawahai Tuhan." Meskipun dia juga mengakui ia melaku- tajam. Saya benar-benar menyesal percaya pada anakkan ini juga karena didorong dendam. itu. Oleh anak itu saya dirugikan empat puluh juta. Dia *** bilang pinjam buat modal usaha buka toko buku di Kediri. Setelah saya cek toko itu fiktif." Hari terus berjalan. Satu minggu kemudian, di suatu "Saya tidak mengira sejauh itu Burhan tergelincir.Ahad pagi, Syamsul sedang bincang-bincang dengan Pak Terus Silvie gimana Pak? Apa dia sudah tahu?"Abbas mengenai kegiatan remaja masjid di dekat tempat 120 121
    • "Ya. Silvie sudah tahu semuanya. Sebab saya ke "Waalaikumussalam." Tulungagung langsung mengajak dia. Dia bersyukur tahu Begitu Pak Heru pergi, Syamsul langsung lari ke semuanya. Dan Silvie ingin pura-pura tidak tahu. Tidak wartel u n t u k memastikan kabar itu. la langsungusah berkata apa-apa pada Burhan. Dalam waktu cepat menelpon ke Kediri, ke kantor pengurus pesantren. YangBurhan pasti bebas dan pasti akan langsung datang. menerima agaknya Lurah Pondok.Setelah keluarga Damayanti memutuskan hubungan, "Ini siapa ya?" tanya Lurah Pondok.jelas Burhan akan langsung mengejar Silvie. Saat Burhan Syamsul malah gantian bertanya,datang itulah Silvie ingin memberinya pelajaran atas "Ini Lurah Pondok Pesantren Al Furqon Pagu ya?"kedustaannya selama ini." "Iya benar. Ini siapa?" Syamsul hanya manggut-manggut. la merasa dalam "Ini alumni pesantren tahun kemarin, Kang. Akuhal itu tidak berhak turut campur. Sekarang dia merasalega. la berharap berita yang dibawa Pak Heru benar. dengar kabar ada sanrri yang disel di Polres apa benar?"Dengan demikian namanya yang telah hitam di mata "Ya benar. Karena dia mencuri dan menyerangpesantren dan keluarganya kembali pulih. pengurus yang akan meringkusnya." "Meskipun Burhan itu temanku. Dalam masalah ini "Dia itu yang namanya siapa itu, yang berambutsaya tidak bisa ikut campur. Dan saya tidak berhak gondrong yang dicurigai banyak orang. Saya kok lupa?"berbicara apa-apa. Saya hanya berdoa semoga semuanya Syamsul menyelidik.jadi baik." Pelan Syamsul. "O yang berambut gondrong itu namanya Syamsul. "Iya Ustadz benar. Oh ya Ustadz, sekali lagi kami Yang disel bukan dia. Aduh kalau teringat dia kami jadisekeluarga mengucapkan terima kasih atas informasinya. merasa sangat berdosa. Dia korban fitnah. Kami masihKalau Ustadz ada waktu kapan-kapan setelah mengajar ceroboh dulu. Yang dipenjara itu Burhan."Delia, Ustadz bisa mampir ke rumah. Sebab ibunya Silvie "O ya yang berambut gondrong itu Syamsul ya. Sayaingin memberikan sesuatu pada Ustadz sebagai tanda kok lupa. Dia korban fitnah maksudnya bagaimana?"terima kasih." "Dia korban fitnah perangkap si Burhan. Kami semua "Sama-sama Pak. Sudah menjadi kewajiban seorang berdosa padanya. Kami ingin minta maaf padanya. TapiMuslim untuk saling menjaga dan mengingatkan." tidak tahu dia di mana sekarang?" "Saya pamit dulu Ustadz." "Sudah ke keluarganya?" "Mari Pak Heru." "Sudah. Kami minta maaf pada mereka. Keluarga- "Assalamu alaikum." nya sangat m a r a h p a d a kami. Dan k e l u a r g a n y a 122 123
    • menyesal, karena Syamsul sudah lama minggat dari "Ini Nadia ya?" rumah." Adiknya itu menjawab "Ini siapa ya?" "Minggat dari rumah?" "Nadia ini aku. Syamsul kakakmu. Kakak memberi "Ya. A d u h saya jadi ingin menangis. Betapa tahu bahwa kakak masih hidup. Kau belajar yang rajinkecerobohan kami telah menyengsarakannya." ya. Agar h i d u p mulia dan bahagia. Itu saja ya. "Masya Allah, betapa dahsyat ya dampak fitnah itu." Wassalam." "Iya benar. Sangatbesar. Makanya fitnah lebih kejam Langsung ia tutup.dari pembunuhan. Oh ya siapa namamu?" *** "Namaku Adi, Kang. Gitu dulu Kang ya. Assa- Jam lima sore usai mengajar Delia, Syamsullamualaikum. Salam buat Pak Kiai." menyempatkan diri bertandang ke rumah Pak Heru. Ia la tidak bohong. Nama lengkapnya Syamsul Hadi. ingin m e n g h o r m a t i t a w a r a n Pak Heru. SyamsulDan dia mengambil tiga huruf terakhir dari namanya, disambut ramah oleh anggota keluarga itu. Bu Heruyaitu Adi. Padahal ada banyak nama Adi di pesantrennya. menyampaikan banyak terima kasih. Dan banyakLurah Pondok itu pasti tidak mengira kalau dia yang bertanya kepada Syamsul. Di antaranya mengenai asal-nelpon. "Biarlah mereka mencariku. Dan akan aku usul Syamsul.maafkan jika mau mencium telapak kakiku." Gumam- "Saya dari Pekalongan Bu. Dari keluarga yang biasa-nya sambil matanya berkaca-kaca mengingat ketika ia biasa saja. Tidak ada yang istimewa dari saya dandipukul hingga berdarah-darah. Tangan dan kaki diikat. keluarga saya. Saya termasuk orang yang terlambatDicacimaki. Digunduli. Dan dikeluarkan dengan sangat kuliah. Baru tahun ini saya kuliah. Setelah lulus SMAtidak hormat. saya masuk pesantren." Terang Syamsul. Ia tidak mau Ia juga ingat keluarganya. Nadia pasti sangat membuka lebih dari itu. Tidak juga bagaimana ia pernahbahagia mendengarnya. Ibu dan ayahnya juga. Tidak difitnah Burhan. Juga tidak tentang dompet Silvie yangtahu kedua kakaknya. Namun ia tidak akan menelpon ia copet. Hanya dompet Silvie yang belum ia kembalikan.mereka. Ia akan pulang jika telah sukses dan jadi orang. Ia berniat secepatnya mengembalikan.Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa mandiri. Dan "Ini Ustadz sebagai tanda terima kasih. Saya inginbisa berhasil. Namun tidak memungkiri ia sangat rindu memberikan hadiah untuk Ustadz. Karena bisnis kamipada adiknya itu. Sore itu juga ia memberi kabar singkat ini di bidang travel. Kami punyanya tiket. Kami inginpada adiknya lewat telpon. Begitu adiknya mengangkat memberikan hadiah tiket dan akomodasi umroh kepadahp ia bertanya, Ustadz, Ramadhan ini." 124 125
    • Syamsul senang sekali mendengarnya. Tapi iateringat dengan program Ramadhan untuk remaja masjidyang telah ia rancang bersama Pak Abbas. Ia tidak maumeninggalkannya. Dengan hati berat ia menjawab, "Bukannya saya menolak, Bu. Sungguh saya inginumroh. Namun Ramadhan ini saya punya tanggung ja-wab penuh mengorganisir kegiatan remaja masjid di peru- Empatmahan tempat saya tinggal. Jadi maaf saya tidak bisa." Bu Heru kelihatan agak kecewa. Namun segeratersenyum, "Sebenarnya kami ingin Ustadz berangkatbersama kami. Kalau memang begitu ya tidak apa-apa.Nanti kami ganti lain kali yang lebih baik, insya Allah." "Ibu tidak usah memaksakan diri. Sudah menjadikewajiban kita saling menjaga. Sudah kewajiban sayauntuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkansemampu saya. Jadi ibu tidak usah repot-repot." Pembicaraan berlanjut hingga azan Maghribberkumandang. Bakda Maghrib ia pulang. Dan ia kembali teringatadik dan ibunya di Pekalongan. Ia berdoa semoga mereka Keesokan harinya, ia ke Pasar Ciputat. Mencari duasemua dalam keadaan baik. Ia berusaha memaafkan apa jilbab model terbaru. Satu untuk ibunya dan yang satuyang telah dilakukan keluarganya padanya. Termasuk untuk Nadia. Ia juga beli kertas kado. Ia bungkus dengankedua kakaknya yang memperlihatkan rasa tidak rapi. Di dalam bungkusan itu ia sertakan sepucuk suratsukanya kepadanya. Ia berharap semuanya jadi baik danbahagia. Ia yakin ibunya sekarang pasti ingin bertemu yane isinya,dengannya. Namun sekali lagi ia menegaskan dalam hati,ia belum ingin pulang. Karenanya, agar ibunya tenangia akan kirim paket hadiah kejutan. *** 126 127
    • Ia merasa lega. Hutang-hutangnya terasa telah terlunasi. Ia merasa siap memasuki Bulan Suci Ramadhan dengan jiwa yang lebih mantap dan dada yang lapang. Besok adalah hari terakhir bulan Syaban. Lusanya sudah puasa. Selesai mengirim hadiah itu ia kuliah. Dan pulang ke kontrakan menjelang Ashar. Ia langsung merebahkan tubuhnya ke kasur tipis yang ia gelar di atas karpet. Ia pasang beker. Ia pejamkan mata sebentar. Beberapa detik sebelum azan ia bangun dan ke masjid. Setelah shalat ia langsung meluncur ke Flamboyan 17, mengajar ngaji Delia. Selesai member! privat, ia ingin langsung pulang. Tapi ia dicegat penjaga masjid di jalan. "Ustadz Syamsul maaf mengganggu. Saya mau minta tolong. Begini, nanti malam kan pengajian rutin. Kebetulan temanya menyambut Bulan Suci Ramadhan. Lha sayangnya Ustadz Farid yang menjadi pembicara Lalu ia paketkan kilat tercatat di kantor pos. la tidak bisa hadir. Tolong Ustadz gantikan ya?" Jelasmerasa bahagia bisa mengirim hadiah itu. Pada waktu penjaga masjid perumahan mewah itu.yang sama ia juga mengirim paket untuk Silvie. Isinya "Aduh mendadak banget ya?"adalah dompet Silvie, persis seperti saat ia copet dulu.Tak kurang malah ia tambahi lima puluh ribu. Ia juga "Tolonglah Ustadz. Kasihan jamaah jika tak ada yangtulis surat singkat, ngisi." Ia mengerutkan dahi. Ia sebenarnya sangat capek dan letih. Juga belum persiapan. Tapi ia teringat bahwa copet untuk berbuat jahat saja berani nekat, masak untuk berbuat baik tidak berani nekat. Akhirnya ia menjawab, "Baiklah saya coba." Ia tidak jadi pulang. Ia lebih baik langsung ke masjid saja. Sampai di masjid ia dibuatkan teh hangat oleh 128 129
    • penjaga masjid. Malam itu jadilah ia mengisi ceraman di "Yang menilai kan orang lain Ustadz. Ceramahmasjid yang dihadiri oleh empat ratus orang jamaah. Di Ustadz bagus kok. Kita deal Ustadz ya. Jadwalnya besokantara jamaah itu ada Pak Broto, Bu Broto, Pak Heru, sayaberitahu sekaligus temanya. Bagaimana Ustadz?"Bu Heru, Silvie dan orang-orang penting penghuni Ia kembali teringatbahwa copet untuk berbuat jahatperumahan mewah itu. Syamsul menjelaskan bagaimana saja berani nekat masak untuk berbuat baik tidak beraniRasulullah menyambut Ramadhan dengan persiapan nekat. Akhirnya ia menjawab,prima. "Baiklah saya coba." "Kita semua juga harus menyambut Ramadhan " Alhamdulillah."dengan penuh rasa cinta, bahagia. Seperti rasanya "Nama saya Doddy Alfad. Ini kartu nama saya."seorang kekasih menyambut datangnya kekasihnya."Katanya memberi perumpamaan. Syamsul menerima kartu nama itu. Para jamaah p u a s . Di antara j a m a a h itu ada ***seorang Direktur Program Religius sebuah televisi Sore hari berikutnya, Syamsul kembali ke Peruma-swasta t e r k e m u k a Jakarta. Isi c e r a m a h y a n g ia han Villa Gracia. Untuk mengajar Delia dan untuks a m p a i k a n agaknya m e n g e t u k k a l b u n y a . Bapak menemui Pak Doddy berkenaan dengan ceramah pagiDirektur itu mengajaknya berbincang-bincang setelah di stasiun televisi swasta terkemuka. Seperti biasaceramah. Syamsul menunggu di masjid. Sebab janji dengan Pak "Gaya bahasa Ustadz enak. Diksinya enak. Timbre- Doddy adalah selepas shalat Isya.nya pas. Bumbunya pas. Isinya mengena. Joke-joke-nya Ketika Syamsul sedang berbincang dengan penjagaberkualitas. Ustadz lulusan universitas mana?" tanya masjid, Pak Heru datang. Wajahnya serius.Bapak Direktur. "Ustadz, keluarga Burhan mau datang ke rumah "Saya masih kuliah Pak. Ini kan karena Ustadz Farid setelah Maghrib. Apa Ustadz ikut menemui mereka?"tidak datang, maka saya dipaksa menggantikan." Pak Heru memberitahu. Mau tidak mau hati Syamsul "Tapi bagus kok." bergetar. Bagaimana tidak, ia diminta untuk menemui Direktur itu lalu menawarkan kepada Syamsul untuk orang yang pernah memfitnahnya.jadi ustadz di acara ceramah pagi. "Saya lihat Ustadz "Tidak usah Pak. Ikut menemui dalam kapasitas sayacocok. Ya satu dua kali saja selama Bulan Suci Ramadhan. sebagai apa? Kan tidak jelas. Bapak dan keluarga yangGimana Ustadz?" menemui kan sudah cukup." Jawab Syamsul berusaha "Saya kuatir kalau saya belum pantas Pak." tenang. 130 131
    • "Oh ya Ustadz benar. Ya sudah itu saja Ustadz yang Di rakaat pertama ia membaca Asy Syams dan diingin saya sampaikan." Pak Heru lalu kembali pulang. rakaat kedua membaca Az Zilzalah. Ia meneteskanSyamsul berkata, a i r m a t a ketika m e m b a c a faman yamal mitsqala "Lho Pak tidak shalat Maghrib berjamaah di dzarratin khairan yarah wa man yamal mitsqalamasjid?" dzarratin syarran yarah. "Sebentar saya ganti baju dan ambil peci." Sahut Pak Selesai shalat dan zikir, Syamsul memberikanHeru sambil tersenyum. kultum. Ia mengulas dua ayat terakhir surat Az Zilzalah yang baru saja ia baca. Burhan yang jadi makmum dan Syamsul memandang pemilik perusahaan travel itu jadi pendengar nyaris tidak percaya dengan yang iadengan tersenyum pula. Syamsul kembali ke ruang dengar. Dalam hati ia berkata, "Bagaimana mungkin sitakmir melanjutkan perbincangan dengan penjaga Syamsul yang telah hancur itu bisa jadi penceramah?masjid. Bagaimana ceritanya ia sampai di sini? Apakah dia sudah "Kenapa Pak Heru kok sekarang berubah sejak tahu perkembangan terbaru yang terjadi di pesantren?"bertemu dengan Ustadz?" kata penjaga masjid. Ada sedikit kekuatiran dan kecemasan yang menyusup "Berubah bagaimana?" dalam hatinya. "Kalau ia sudah tahu bisa bikin masalah." "Berubah lebih rendah hati. Lebih sering ke masjid. Tapi ia menghibur hatinya bahwa pasti Syamsul tidakDan sif at pelitnya sedikit berkurang." tahu. Dan Syamsul tidak mungkin bertindak bodoh, "Itu bukan karena bertemu dengan saya Pak. Tapi sebab ia sedang jadi imam. Kalaupun Syamsul sudah tahumemang sudah saatnya berubah. Manusia kan ber- apa yang terjadi di pesantren, anggapannya, Syamsulproses. Umar bin Khattab saja untuk jadi baik kan juga pasti tidak tahu hubungan dirinya dengan Silvie. Putriada prosesnya." Pak Heru yang kaya raya itu. Penjaga masjid itu manggut-manggut. Selesai kultum Syamsul langsung keluar masjid "Ustadz benar." dengan tenang. Ia melangkah di samping Burhan. Ia pura-pura tidak tahu. Burhan berdiri mendekatinya dan Azan Maghrib dikumandangkan dan Syamsul berjalan di sampingnya, membisikkan sesuatu untukkembali didaulat jadi imam. Ketika ia meluruskan memancing emosi Syamsul. Bisikan itu hanya Syamsulbarisan ia kaget. Sepintas ia melihat Burhan masuk yang dengar,masjid diikuti keluarganya. Ia tetap mengendalikan hati.Setelah istighfar tiga kali u n t u k menyucikan dan "Hai maling, gimana ceritanya kau bisa jadi imammenyejukkan hati, barulah ia takbiratul ikhram. di sini? Apa sah shalatnya makmum yang diimami seorang penjahat? Nanti kalau aku jadi orang sini 132 133
    • sebaiknya kauangkat kaki sebelum diusir dengan tidak "Itu lho Ustadz, Mbak Silvie putrinya Pak Heru.terhormat kedua kali!?" Yang biasa kasih privat matematika." Bergemuruh dada Syamsul mendengarnya. Amarah- Lalu sambil berjongkok, seolah ingin memperhatikannya membara. Emosinya sudah di ubun-ubun kepala. la pesan dengan serius Syamsul melirihkan suara, dengansiap membalas dengan serangan yang lebih dahsyat. bertanya,Belum sempat ia bicara Delia memanggilnya, "Mbak Silvie yang cantik itu?" "Ustadz Syamsul... Ustadz Syamsul?" Delia mengangguk-angguk sambil tersenyum. Suara Delia itu m e l u r u h k a n amarahnya. Me- Burhan yang mendengar hal itu hatinya terbakar luarnyejukkan hatinya. biasa. "Ada apa Delia?" Jawab Syamsul langsung me- "Pesannya apa?" tanya Syamsul sambil men-nengok ke arah Delia yang berjalan cepat ke arahnya. Ia dekatkan ke telinganya. Burhan didera rasa penasarantidak memperhatikan Syamsul. Burhan yang masih di yang luar biasa.samping Syamsul, ikut memandang Delia. Delia mendekatkan mulutnya dan membisikkan "Mau minta tanda tangan. Ini tugas dari Bu Guru beberapa kata ke telinga Syamsul. Seketika Syamsulagama." berkata, "Yang benar?" "Oyasini." "Benar. Delia berani sumpah mati!" Syamsul menerima buku tugas dan pena dari Delia "Ya ya Ustadz percaya. Sampaikan pada Mbakdan menandatanganinya. Silvie: Ustadz juga sama gitu ya?" "Sudah?" tanya Syamsul. "Baik Ustadz. Cihui... Ustadz juga sama... Ustadz "Masih ada satu lagi." Kata Delia. Burhan masih juga sama!" Delia berlari ke arah jamaah putri.belum beranjak. Masih memperhatikan. Burhan tidak bisa menyembunyikan cemburunya. "Apa?" tanya Syamsul. la langsung bertanya pada Syamsul, "Kau kenal Silvie?" "Ada pesan dari Mbak Silvie?" "Maaf itu bukan urusanmu Sobat. Maaf saya tergesa- Syamsul langsung merasa mendapat senjata unruk gesa. Saya harus ngisi di tempat lain."menjawab bisikan Burhan yang sungguh menghina. Syamsul langsung berjalan cepat ke arah sepedaUntuk lebih menyerang Burhan yang ada di sampingnya motornya. la pura-pura sibuk. la nyalakan sepedaSyamsul pura-pura tanya pada Delia, motornya. Sampai di jalan ia teringat janji dengan Pak "Silvie yang mana?" Doddy setelah Isya. Ia berpikir langsung saja ke rumah Pak Doddy. Sementara Burhan masih dibakar amarah 134 135
    • dan cemburu. la ingin cepat-cepat sampai ke rumah Pak Namun Pak Heru melanjutkan, "Sebenarnya sayaHeru. Dan melampiaskan marahnya pada Silvie. la ingin dan keluarga ingin ke rumah Pak Anwar. Hanya sajamenanyakan apa yang disampaikan pada Syamsul itu. ternyata kami didahului. Keluarga Pak Anwar lebih dulu"Awas kau Silvie!" datang. Kami senang dengan kedatangan ini. Karena *** Pak Anwar memakai bahasa transparan. Maka saya juga akan menjawab dengan bahasa transparan. Dengan Burhan dan keluarganya sampai di rumah Silvie. segala kerendahan hati saya selaku ayah Silvie menyam-Rombongan dua mobil dari Pasar Rebo itu disambut dengan paikan. Saya tidak bisa menerima lamaran Pak Anwarramah oleh Pak Heru, Bu Heru, Silvie, Pak Broto dan Mas untuk Burhan. Karena satu dan lain hal yang semogaBudi, satpam penjaga pintu gerbang perumahan yang kita sama-sama bisa memakluminya. Mohon maaf jikasedang tidak tugas. Mas Budi memakai baju takwa, sebab keputusan ini kurang berkenan."bakda shalat Maghrib langsung digandeng Pak Heru. Burhan dan keluarganya tersentak kaget bukan Silvie bersikap tenang dengan jilbab merah jambu- kepalang.nya. Dalam balutan jilbab mahasiswi ekonomi UI tampak "Apa saya tidak salah dengar Pak?!" seru Burhanbegitu anggun. Ibunda Burhan memuji kecantikan Silvie. spontan sambil berdiri. Karena yang berbicara Burhan,Dan Silvie hanya tersenyum saja. Dialog dua keluarga Silvie langsung menukas, "Tidak!"terjadi. Di tengah dialog, Burhan minta waktu pada Silvieuntuk bicara berdua. Burhan ingin melampiaskan "Apa?!" Burhan mengulang dengan sedikit lebihkemarahannya. Tapi dengan halus Silvie menolak. keras.Burhan tampak kecewa. Pembicaraan terus berlanjut, "Apa telingamu bermasalah, Bung. Ayahku cukup "Sebagaimana Pak Heru ketahui, Burhan dan Silvie berbicara satu kali. Tak perlu diulang. Ini cincin dustamusudah lama saling mengenal. Burhan juga, katanya, telah itu saya kembalikan! Dasar santri bajingan!" Darah mudamemberikan cincin pengikat kepada Silvie. Kedatangan Silvie bergolak. la yang biasanya berbicara lembut saatkeluarga kami ini ingin menguatkan ikatan itu secara itu amarahnya meledak.resmi. Dalam bahasa t r a n s p a r a n n y a kami ingin Pak Anwar yang sebenarnya marah mencobameminang Silvie untuk Burhan." Jelas Ayah Burhan meredakan suasana yang sama sekali jauh dari yang iadengan sangat tenang dan penuh keyakinan. bayangkan itu. "Inilah yang kami tunggu-tunggu." Jawab Pak Heru "Sebentar-sebentar, masalah sebenarnya apa?tenang. Burhan mendengar hal itu dengan kebahagiaan Kenapa Pak Heru menolak. Tolong bisa dijelaskan. Mariyang sulit digambarkan. kita berdialog dengan kepala dingin. Mungkin ada salah paham." 136 137
    • "Saya ingin Pak Anwar menerima dan menghargai kalian tidak percaya yang saya sampaikan! Masih inginkeputusan kami. Meskipun tanpa alasan sama sekali. Toh bukti? Ini!"sebenarnya antara Silvie dan Burhan tak ada ikatan apa- Silvie melempar Koran. Koran itu mcnggeletak diapa secara agama. Saya tidak perlu menjelaskan. Kiranya meja. Ada sebuah judul yang tertera jeas: DIPENJARAPak Anwar pasti sudah mengerti alasan kami. Kalau kami KARENA KEJAHATAN DI PESANTREN. Dan ter-menjelaskan nanti malah semakin tidak enak." Jawab pampang jelas foto Burhan yang gundul. Melihat hal ituPak Heru tenang. Pak Anwar dan isterinya langsung pucat pasi. Mereka "Tidak bisa Pak! Tidak bisa menolak tanpa alasan. sangat malu.Tolong jelaskan! Atau jangan-jangan saya tidak diterima "Hei, Maling, apa kaukira bisa menipu kami bahwakarena Silvie sudah tidak layak bagi saya!" tukas Burhan. gundulmu itu karena umroh, bukan karena digunduli di "Burhan, kalau bicara yang sopan! Silvie sudah tidak pesantren!"layak bagaimana? Apa maksudmu?" seru Pak Anwar, Kata-kata Silvie sangat mengguncang Burhan. laayah Burhan. tidak kuasa menahan amarahnya. "Ya sekarang kan zaman edan. Bisa saja tho Silvie "Kurang ajar kau! Berani menghina aku ya!"sudah hamil dengan pria lain misalnya?" Dan., plak! Jawaban Burhan itu membuat emosi Silvie tak Dengan cepat Burhan menempeleng Silvie. Kejadiantertahankan, itu sungguh tidak diduga. Burhan kembali Ingin "Tutup mulutmu, Bajingan! Aku sudah tahu siapa menghajar Silvie. Namun Mas Budi cepat bertindak. lakamu? Kau tak lebih dari sampah busuk! Dikeluarkan segera mengatasi Burhan. Burhan melawan, tapi Masdari pesantren karena mencuri dan memfitnah orang! Budi yang jago karate itu dengan mudah melum-Dipenjara karena melukai orang. Penipu ulung, mana puhkannya.modal empat puluh juta yang kaupinjam untuk toko Mulut Silvie berdarah. Sambil meringis ia berkata,bukumu itu. Toko buku fiktif. Terus bagaimana dengan "Saya tidak terima. Ini harus diproses hukum!"Dalmayanti? Setelah kau ditolak di Tulungagung kaulari ke sini. Jika sampah itu telah dibuang dari pesantren Pak Anwar, dengan berlinang airmata berkatadan tidak diterima di mana-mana apa kami harus terbata, "Nak Silvie, Pak Heru dan Bu Heru maafkanmenerima. Bukankah lebih baik sampah itu didaurulang kami. Sungguh kami sangat terpukul.Baru kali ini kamidulu agar berguna. Kalian ini ingin dihormati tapi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan anak kami.bisa menghormati. Dan kau Pak Anwar, sudah tahu Selama ini kami percaya penuh padanya. Kami memanganaknya sampah masih juga tidak tahu diri! Mungkin kurang kontrol dan terlalu memanjakannya. Saya tidak 138 139
    • tahu dengan apa yang telah diperbuatnya sampai dia Ramadhan tiba. Kaum Muslimin menyambutnya dikeluarkan dari pesantren dan dipenjara. Saya juga tidak dengan penuh bahagia. Syamsul sibuk dengan jadwal- tahu perihal penipuannya. Maafkan kami. Tapi tolong nya: mendampingi kegiatan remaja masjid, imam jangan laporkan Burhan ke polisi. Saya minta..." tarawih, privat, kuliah, ceramah, dan shooting ceramah Silvie menggeleng. di televisi. "Tindak kejahatan harus diproses oleh hukum!" Ia muncul di televisi dua kali selama Ramadhan. Silvie lalu minta Mas Budi mengamankan Burhan. Tanggal 9 Ramadhan dan tanggal 27 Ramadhan. IaBurhan langsung digelandang ke pos satpam. Di pos mempersiapkan ceramahnya dengan sungguh-sungguh.satpam, Burhan diberi pelajaran tambahan oleh dua Ia ajak remaja masjid untuk menyertainya latihan.orang satpam. Seolah-olah di studio. Mereka sebagai audiens nya. Ia minta masukan dan kritikan. Sampai menemukan Keluarga Burhan pulang dengan membawa malu bentuk dan performa terbaik.luar biasa. Seorang lelaki berjas abu-abu berkata padaPak Anwar dengan kesal bercampur marah, "Saya Tanggal 8 Ramadhan ia menelpon Nadia adiknya.sangat malu pada Pak Heru. Pak Heru itu teman baik Ia meminta untuk nonton ceramah pagidi stasiun televisisaya di SMA. Saya jadi tahu kenapa tadi Pak Heru Ajam D. "Jangan sampai tidak nonton. Kakak ikut dalampura-pura tidak kenal saya. Itu gara-gara ternyata saya pengajian itu. Ia tidak mengatakan sebagai pem-mengantar seorang penjahat ke rumahnya. Mengantar bicaranya. Beritahu ayah, ibu dan kakak ya."seorang penjahat untuk melamar anaknya. Saya malu Ia juga menelpon pesantrennya. Kepada kurahPak Anwar! Sejak sekarang h u b u n g a n bisnis kita Pesantren ia bilang,putus!" "Kang tolong besok seluruh santri nonton ceramah Ketika polisi datang mengambil Burhan dari pos pagi distasiun televisi A jam D. Pengisinya seorang Ustadzsatpam, di saat yang sama Syamsul mengambil muda alumnus pesantren kita. Jangan lupa sampaikanjadwalnya dari Pak Doddy dan ia meneken kontrak pada Pak Kiai." Ia tidak bilang itu dirinya. la masihtayang di televis. Tanda tangannya bersanding dengan mengaku sebagai Adi. Seperti di telpon sebelumnya.tanda tangan orang penting di stasiun televisi itu. Pada hari H, ia tampil dengan sangat prima di Angin yang bertiup spoi-spoi seolah mengalunkan televisi. Ceramahnya hidup. Direktur Program dan parafirman Allah, faman yamal mitsqala dzarratin khairan kru televisi memuji. Di Pekalongan, adiknya Nadia,yarah zva man yamal mitsqala dzarratin syarran yarah. ibunya, ayahnya dan kedua kakaknya menangis. Demikian juga di pesantrennya. 140 141
    • kapnya? Bagaimana sikap keluarga dan pesantrennya Di Flamboyan 19 Silvie menyaksikan dengan hati yang dulu mengusirnya? Temukan saja jawabannya dipenuh cinta. Tanpa sadar, ia berucap, "Orang seperti ini edisi romannya: DALAM MIHRAB CINTA, yang semogayang kudamba. Sederhana. Rendah hati. Namun penuh bisa segera diluncurkan. M u d a h - m u d a h a n Allahpotensi!" Kata-kata Silvie itu didengar dengan baik oleh memberikan kekuatan kepada kita semua untuk beramalPak Heru dan Bu Heru. kebaikan di dunia ini untuk bekal kelak di akhirat nanti: "Baiklah kita datangi Ustadz Syamsul nanti sore faman yamal mitsqala dzarratin khairaii yarah wa mansebelum kita terlambat. Semoga dia belum punya calon." yamal mitsqala dzarratin syarran yarah.Kata Pak Heru menukas. Silvie terkesiap mendengarnya. Lalu hatinya *** Candiwesi, Salatiga-Pesantren Basmala,berbuhga-bunga. Ia mengamini doa ayahnya. Dalam Semarang-Malaya University, Malaysia,hati ia b e r h a r a p di Bulan Suci R a m a d h a n ini ia 17 Agustus 2006 - 27 Desember 2006.mendapatkan cinta sejatinya. Sejenak pikirannyaberkelebat, teringat pada pesan sebuah buku yang pernahdibacanya, "Cinta adalah sesuatu yang menakjubkan.Kamu tidak perlu mengambilnya dari seseorang untukmemberikannya kepada orang lain. Kamu selalumemilikinya lebih dari cukup untuk diberikan kepadaorang lain." Silvie teringat pesan itu. Ia ingin memberikancintanya kepada Ustadz Syamsul. Karena ia yakin, iabenar-benar memiliki cinta untuk diberikan kepadaUstadz Syamsul, ustadz idaman yang kini memenuhiruang hatinya. *** Sidang pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt. Bagaimanakah kisah cinta Silvie dan Syamsulselanjutnya? Akankah Syamsul menerima lamaran siSilvie? Bagaimanakah kehidupan Syamsul selanjutnya?Akankah ia makin sukses di kehidupannya mendatang?Dan Bagaimanakah kelanjutan cerita Syamsul seleng- 142 143
    • Mahkota Cinta(Sebuah Novelet Pembangun Jiwa) eBook by MR. 145
    • Satu Mata pemuda itu memandang ke luar jendela. Lautanterhampar di depan mata. Ombak seolah menari-naririang. Sinar matahari memantul-mantul keperakan. Darikarcis yang ia pegang, ia tahu bahwa feri yang iatumpangi bernama Lintas Samudera. Tujuan feri yangbertolak dari pelabuhan Batam itu adalah pelabuhan JohorBahru. Ia memejamkan mata seraya meneguhkan hatinya.Ia meyakinkan dirinya harus kuat. Ya, sebagai lelaki iaharus kuat. Meskipun ia merasa kini tidak memiliki siapa- 147
    • siapa lagi. Bagi seorang lelaki cukuplah keteguhan hati "E... tidak, saya ke Malaysia mungkin untuk dua-menjadi teman dan penenteram jiwa. duanya. Ya untuk cari kerja dan untuk sekolah lagi." la kembali menegaskan niat, bahwa ia sedang "Baguslah. Sudah ada pandangan mau kerja dimelakukan pengembaraan untuk mengubah takdir. mana? Atau sudah ada agen yang mengurus semuanya."Mengubah nasib. Seperti saran Pak Hasan, ia harus berani "Belum sih Mbak. Nanti saya cari di sana saja. Mbakberhijrah dari satu takdir Allah ke takdir Allah lain yang kerja di mana?"lebih baik. Feri Lintas Samudera terus melaju ke depan. "Saya kerja di sebuah kilang di kawasan SubangSingapura semakin dekat di depan, dan Batam semakin Jaya. Kalau adik mau, saya bisa bantu. Saya punyajauh di belakang. Namun, Lintas Samudera tidak hendak banyak teman yang bisa membantu. O ya kenalkan,menuju Singapura, tapi menuju pelabuhan Johor Bahru, nama saya Siti Martini. Biasa dipanggil Mar atau Mari."Malaysia. Perempuan muda itu mengulurkan tangan kanan- "Baru pertama ke Malaysia ya Dik?" tanya perem- nya. Pemuda itu juga mengulurkan tangannya danpuan muda yang duduk di sampingnya. Perempuan itu menjabat tangan perempuan muda itu.memakai celana jin putih dan jaket ketat biru muda.R a m b u t n y a diikat kucir k u d a . Ia menaksir usia "Terima kasih. Nama saya Ahmad Zul. Oleh teman-perempuan itu sekitar tiga puluhan lebih. teman saya selama ini saya biasa dipanggil Zul Einstein." "Wah keren sekali. Memang namanya Zul Einstein?" "Iya Mbak. Mbak juga yang pertama?" jawabnyabalik bertanya. "Ya tidak Mbak. Saya diberi nama tambahan Einstein oleh teman-teman saya karena mereka melihat "Tidak. Saya sudah empat tahun di Malaysia." saya banyak melamun. Ya saya terima saja. Kalau tidak "Berarti sejak tahun 2000 ya Mbak." terima ya tetap akan dipanggil begitu. Jadi, panggil saja "Tidak. Sejak awal 2001." saya Zul Mbak." "Kerja ya Mbak?" "Ya baik. Saya panggil Dik Zul. Gitu ya," kata "Iya Dik. Kalau adik, mau kerja? Atau mau sekolah?" p e r e m p u a n m u d a itu sambil melepaskan jabatan Ia berpikir sejenak. Ia tidak tahu pasti. Ke Malaysia tangannya.mau bekerja atau mau sekolah. Sesungguhnya selama "Jadi Mbak kerja di kilang minyak ya Mbak?"ini ia merantau dari satu daerah ke daerah lain, selain Perempuan muda itu malah tertawa kecil.untuk bertahan hidup juga demi mencari takdir yang "Kamu memang masih asli Indonesia. Kilang itulebih baik. artinya pabrik. Di Indonesia disebut pabrik. Sedangkan "Kok malah bengong Dik." di Malaysia disebut kilang. Jadi bukan bermakna kilang 148 149
    • minyak. Saya kerja di kilang kertas di kawasan Subang berangkat. Petugas security itu memerintahkannyaJaya. Itu maknanya saya kerja di pabrik kertas." untuk terus jalan. Zul bergegas menuju imigrasi. Mari "Obegituya." sedang serius mengisi formulir kedatangan untuk imigrasi. "Rencananya nanti mau ke mana? Di Malaysia sudahada tempat yang dituju?" "Harus diisi semua ya Mbak?" tanya Zul. "Tempat yang dituju secara pasti tidak ada. Saya "Ya. Kecuali kolom yang khusus diisi petugashanya membawa sebuah nama dan sebuah nomor telpon. imigrasi," jawab Mari sambil tetap menulis. Sesekali iaSaya ingin sampai ke Kuala Lumpur dulu, baru setelah mencocokkan apa yang ia tulis dengan paspornya.itu saya akan telpon orang itu." "Ini kolom alamat selama di Malaysia juga harus diisi "Ya syukurlah. Saya pun nanti lewat Kuala Lumpur. Mbak."Kalau mau kita bisa jalan bersama." "Sebaiknya iya." la diam saja. Tidak menjawab apa-apa. "Wah saya belum punya alamat Mbak." Lintas Samudera terus melaju. Tidak terlalu cepat. "Pakai alamat saya juga tidak apa-apa."Dan juga tidak terlalu lambat. "Di mana Mbak?" Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, "No. 8A, Jalan USJ 1/18, Taman Subang Permai,Lintas Samudera merapat di pelabuhan Johor Bahru. Subang Jaya. Nanti kalau pihak imigrasi tanya untukBegitu pintu feri dibuka, para penumpang berebutan apa datang ke Malaysia, bilang saja untuk melancongkeluar. Zul keluar dengan membawa tas cangklong hi tarn dan mengunjungi saudara."dan tas jinjing besar biru tua. la mengiringi Mari yang "Iya Mbak."berjalan di depannya. Perempuan itu menenteng tas Keduanya lalu masuk konter imigrasi. Tak adacangklong putih dan koper kecil beroda warna hijau. masalah berarti. Petugas imigrasi sama sekali tidak Mereka berjalan menuju g e d u n g p e l a b u h a n . bertanya apapun kepada Mari. Sebab ia masih punyaPetugas security pelabuhan sibuk memeriksa barang visa multientry. Sedangkan Zul hanya ditanya untuk apab a w a a n p a r a p e n u m p a n g . Tas d a n k o p e r Mari datang ke Malaysia. Zul menjawab seperti yangdiperiksa. Setelah beberapa saat lamanya, Mari disarankan oleh Mari. Begitu keluar dari gedung, puluhandipersilakan langsung menuju imigrasi. Tas jinjing Zul sopir taksi menawarkan jasanya. Mari menjawab tegasjuga diperiksa. Isinya hanyalah pakaian, beberapa bahwa ia sudah ada yang menjemput. Zul agak bingungmakanan ringan, dan sebuah mushaf Al-Quran kecil menentukan langkah. Beberapa sopir taksi mengham-pemberian Pak Hasan kala ia berpamitan, sebelum pirinya. Ia masih ragu harus ke mana. Ia menatap ke 150 151
    • arah Mari yang melangkah dengan mantap. Mari itu membelah perkebunan kelapa sawit. Zul me-menoleh ke arahnya dan melambaikan tangan agar ikut mandang ke kanan dan ke kiri yang tampak hanyalahdengannya. Zul merasa tidak ada salahnya pergi ke rimbunan pohon kelapa sawit yang bagai berlarian keKuala Lumpur bersama Mari. Apalagi ia benar-benar belakang.asing di negeri Jiran ini. "Dari logat adik bicara, sepertinya adik orang Jawa." "Kita tunggu bus di sini. Kita akan menuju ke Stesyen Mari membuka pembicaraan sambil menaikkan resletingLarkin. Dari Larkin kita naik bus ke Purduraya KL." Jelas jaketnya sehingga benar-benar rapat sampai ke leher. IaMari. tampaknya agak kedinginan. Sepuluh menit kemudian bus datang. Mari, Zul dan "Iya Mbak benar. Saya asli Demak Mbak. Kalaupuluhan penumpang berebutan naik. Bus itu mengantar Mbak?"mereka ke Stesyen Larkin. Dari Larkin Mari mengajak "Saya juga Jawa Dik. Saya asli Sragen."Zul ke loketbus Trans Nasional. "Maaf, e... Mbak sudah berumah tangga?" "Biar saya yang bayar Dik." "Sudah." "Jangan begitu Mbak, saya jadi tidak enak." "Sudah punya anak dong Mbak?" "Anggap saja kita bersaudara. Jadi santai saja." "Belum. Bagaimana mau punya anak lha wong "Satu orangnya berapa Mbak?" rumah tangga saya hanya berumur dua minggu." "Dua puluh empat ringgit. Kita pakai bus yang ada "Cuma dua minggu?"toiletnya. Biar nyaman di perjalanan. Yuk kita segera "Iya bisa dikatakan demikian."naik. Sepuluh menit lagi bus akan berangkat." "Suami Mbak meninggal?" Mereka berdua naik bus Trans Nasional. Zul dan Mari "Tidak. Saya minta cerai. Sejak itu saya trauma danduduk di kursi yang berdekatan. Selain wajah Indonesia, rasanya susah sekali untuk membina rumah tangga lagi."tampaklah wajah-wajah China, India dan Melayumenjadi penumpang bus cepat itu. Sopirnya berwajah "Maafkan saya Mbak, jadi mengingatkan pada hal-Indonesia, dan tampaknya ia seorang Muslim, sebab hal yang tidak Mbak sukai."sebelum menjalankan bus ia membaca basmalah. "Ah tidak apa-apa. Walau bagaimanapun kejadian Bus berjalan keluar stesyen. Lalu melaju membelah itu telah menjadi bagian dalam sejarah hidup saya.kota Johor Bahru dengan kecepatan sedang. Setengah Memang menyakitkan jika diingat." Kata Mari sambiljam kemudian bus itu sudah meninggalkan Johor mengambil nafas dalam-dalam. Seperti ada yangBahru, dan mulai melaju dengan kecepatan tinggi. Bus menyesak dalam dadanya. 152 153
    • Zul diam saja. la merasa tidak saatnya ia bicara. la Ibu saya sebenarnya tidak setuju saya kawin dengan W,kuatir jika salah bicara justru akan memperburuk suasana. karena ibu saya ingin saya menikah dengan putra Pak "Mungkin ada baiknya juga ya saya cerita. Ya untuk Modin yang sedang kuliah di IAIN Walisongo Semarang.sekadar melepas beban yang menyesak di dada. Dan Saya sama sekali tidak mempedulikan keberatan ibu sayadaripada selama perjalan diam saja/ Mari kembali itu. Itulah mungkin dosa besar saya pada ibu yangmembuka percakapan. "Tidak apa-apa kan? Kau mau membuat saya menderita dan menanggung nestapa.mendengarkan kan Dik?" lanjutnya sambil meman- "Ringkas cerita, kami pun menikah. Kami menikahdangi Zul. Zul jadi menoleh. Pandangan mereka bertemu. tahun 1998. Ia langsung memboyong saya ke Solo Baru.Zul mengangguk pelan, lalu kembali memandang lurus Ternyata ia sudah punya rumah cukup mewah di sana.ke depan. Mari mulai bercerita, Itu adalah hari yang sangat indah bagi saya. Seminggu "Saat itu saya masih kuliah di UNS Solo. Saya setelah menikah, W pamit untuk pergi ke Jakarta. Diaberkenalan dengan orang yang kemudian jadi suami saya bilang untuk urusan bisnis dengan temannya. Beberapaitu, ya saat kuliah itu. Sebut saja namanya W. Saya tidak hari setelah itu kiamat seolah datang. Langit sepertimau mengingat nama lengkapnya. Saya sudah meng- runtuh menimpaku. W tertangkap polisi dalam keadaanharamkan diri saya untuk menyebut namanya. Saya over dosis dengan seorang pelacur Jakarta. Ia masuk bui.sangat membencinya hingga tujuh turunan. Keluarganya tidak peduli. "Baik saya lanjutkan ceritanya. Saat itu saya adalah "Kakak perempuannya bahkan terang-terangangadis yang masih lugu. Sekaligus gadis desa yang mudah mengatakan sangat membenci W. Dari kakak pe-terpikat dengan gemerlap duniawi. Agaknya W mengerti rempuannya itulah saya tahu bahwa W sesungguhnyabenar karakter diri saya. Sehingga dia bisa begitu mudah lelaki yang sangat bejat. Bahkan lebih bejat daripadamasuk dalam kehidupan saya. Ia begitu lihai memikat makhluk paling bejat sedunia sekalipun. Saya nyarisdan menawan hati saya. Jika ke kampus dia selalu muntah ketika kakak perempuannya itu bercerita bahwamemakai mobil mengkilat. Orangtua W adalah saudagar dirinya pernah diperkosa oleh W saat W sedang sakau.kaya di Klewer dan Tanah Abang Jakarta. Dia sering Ia tidak berdaya karena W mengancam akan mem-datang ke kost saya. Dan sering menyenangkan hati saya bunuhnya. W itu tega memperkosa kakak kandungnyadengan limpahan hadiahnya. sendiri, apa tidak menjijikkan? Apa tidak melampaui batas? Seketika itu, tanpa bisa ditawar lagi saya langsung "Sampai akhirnya W mengatakan bahwa dia sangat mengajukan gugatan cerai. Dan sejak itu saya benar-mencintai saya. Dia ingin sekali menikahi saya. Saya benar jijik dengan kaum lelaki dan saya bersumpah tidakseperti terbang di angkasa saat itu, karena sangat akan menikah lagi!"gembira. Saya benar-benar sudah tergila-gila padanya. 154 155
    • Ada nada amarah dalam kata-kata Mari. Ada "Prosesnya sangat panjang. Sampai saya bertemukebencian yang luar biasa di sana. Zul merasa ngeri dengan seorang Ustadzah. Dia lulusan pesantren. Dia ikutmendengarnya. Ia merasa bingung harus bersikap suaminya yang sedang mengambil program doktor.bagaimana. Bus terus melaju dengan kecepatan di atas Ustadzah itu begitu sabar menyempatkan waktu untukseratus kilometer per jam. Mari diam tidak melanjutkan memberikan pencerahan kepada kami, para tenaga kerjaceritanya. Pandangannya lurus ke depart. Jika diamati wanita. Dan ia begitu sabar mendengarkan semualebih seksama kedua mata itu sesungguhnya berkaca- keluhan saya. Saya pernah diajak oleh Ustadzah itu tidurkaca. Sesaat lamanya keduanya dijaga oleh diam. di rumahnya. Untuk melihat bagaimana keadaan rumahAkhirnya Zul memberanikan untuk membuka suara, tangganya. Dan saya melihat sendiri betapa besar kasih Apa Mbak sampai sekarang masih jijik dengan sayang suami Ustadzah itu kepada keempat anaknyakaum lelaki. Termasuk saya?" yang semuanya perempuan. Sejak itulah saya tahu bahwa ada juga lelaki baik di dunia ini." Mari mengambil nafas dalam-dalam, "Bukankah Mbak memiliki seorang ayah?" "Saat ini tidak lagi. Saya berusaha bersikap adil. Sayatidak boleh menimpakan dosa seorang W pada semua "Ya tentu saja punya. Namun ayah saya sudah tidakkaum lelaki. Tapi jujur saya perlu proses yang sangat ada sejak saya berusia dua tahun. Jadi saya tidak ingatpanjang untuk bisa bersikap adil dan tidak jijik pada apa-apa tentang ayah. Dan ibu tidak menikah lagi. Kakakkaum lelaki. Dan disebabkan rasa jijik dan trauma pada tertua saya lelaki. Tapi ia tidak begitu peduli pada saya."lelaki saya pernah punya keinginan untuk h i d u p Bus terus melaju. Sejauh mata memandang adalahberumah tangga dengan kaum perempuan saja." rerimbunan kebun kelapa sawit yang tampak hijau tua. "Sampai seperti itu Mbak." "Bagaimana ceritanya Mbak bisa s a m p a i ke "Iya. Gila bukan? Tapi jangan takut. Saya katakan, Malaysia. Dan apa sebenarnya yang Mbak cari?"saya pernah punya keinginan. Hanya p a d a taraf "Kalau diceritakan semuanya panjang. Singkat sajakeinginan. Dan itu pun dulu. Sekarang sudah tidak ya. Setelah suami dipenjara dan saya tahu siapa dialagi." sebenarnya, saya mengajukan gugatan cerai. Rumah di "Sejak kapan Mbak bisa kembali normal meman- Solo Baru disita polisi karena ternyata suami punyadang dunia. Maaf, untuk mudahnya saya katakan piutang di beberapa bank yang cukup besar jumlahnya.kembali normal memandang dunia, termasuk kaum Saya tidak punya apa-apa. Ibu sudah renta. Saya anaklelakinya. Sebab menurut saya sikap jijik dan trauma ragil. Saudara-saudara saya sudah berkeluarga. Merekapada lelaki itu sikap tidak normal." juga hidup susah. Saya tidak berani meminta bantuan mereka. 156 157
    • "Saya nekat merantau ke Jakarta untuk mencari Indonesia. Walau bagaimanapun saya punya saudarakerja. Kebetulan ada teman yang mengajak. Alham- dan saya sangat rindu pada mereka. Saya pun ingin hidupdulillah sebelum menikah saya sudah selasai D.3 berkeluarga dan tenang di hari tua. Saya tidak akanAkuntansi. Dan dengan berbekal ijazah D.3, saya menyerah. Saya akan terus berusaha dan bertahanditerima bekerja di sebuah supermarket di Jakarta Selatan. sampai Tuhan memutuskan takdir finalnya untuk saya.Saya sudah cukup nyaman saat itu. Saya hidup damai Semenderita dan sesengsaranya saya, saya masih percayakurang lebih dua tahun. Saya bahkan sempat nyambung bahwa Tuhan itu ada. Tuhan itu adil dan Dia juga Mahakuliah, dan menyelesaikan S.l di sebuah Sekolah Tinggi Penyayang. Saya masih percaya itu Dik."Ilmu Ekonomi di Jakarta. Zul hanya diam mendengarnya. Ternyata tidak ha- Tapi tiba-tiba entah bagaimana, mantan suami saya nya dia yang menghadapi perjalanan hidup yang rumititu bisa tahu nomor telpon saya dan menelpon saya. Dia dan sulit. Perempuan muda yang duduk di sampingnyasudah keluar dari penjara dan meminta saya agar bisa jadi sebenarnya menjalani hidup yang lebih rumitkembali kepadanya. Saya takut. Saya langsung pergi yang tidak sampai untuk dikisahkan kepada siapa pun.meninggalkan Jakarta hari itu juga. Saya bersembunyi "Kalau adik, bagaimana? Bagaimana bisa sampaike Bandung. Di Bandung ada agen pengiriman tenaga harus ke negeri Jiran ini? Adakah cerita yang bisa dibagikerja ke Malaysia. Saya ikut agen. Akhirnya saya dan didengar?" Mari balik bertanya. la merasa selamamengadu nasib dan terbang ke Malaysia. Sampai ini dia yang banyak bercerita. la ingin gantian men-sekarang saudara-saudara saya tidak saya beritahu kalau dengarkan cerita dari Zul.saya di Malaysia. Terakhir saya nelpon mereka saat saya "Perjalanan saya bisa sampai di dalam bus ini takmasih di Bandung. Saya kuatir mantan suami saya itu kalah berlikunya dari apa yang Mbak ceritakan. Hanyaakan mengejar saya." saja saya merasa tidak harus sekarang saya men- "Kenapa mesti takut Mbak. Bukankah Mbak adalah ceritakannya. Saya janji saya akan gantian membagiperempuan yang merdeka. Dan Mbak akan dilindungi cerita saya pada Mbak. Saya yakin kita masih bisaoleh hukum?" bertemu di negeri Jiran ini. Itu p u n kalau Mbak benar- Ah kamu ini Dik. Apa selama ini kamu hanya hidup benar masih sudi menemui saya."di dalam kamar dan tidur, sehingga membuka jendela "Masak tidak sudi. Memang saya ini siapa?"pun tidak!? Dunia mantan suami saya adalah dunia "Kuatir, Mbak masih menyisakan rasa jijik itu."mafia. Dan dunia mafia tidak mengenal hukum. Lebih "Ah, kamu ini. Ya saya akan merasa jijik sama kamubaik saya di Malaysia dulu, baru kalau saya sudah jika kelakuan kamu ternyata tidak berbeda dengan simendengar si W itu telah mampus, saya akan balik ke W, mantan suami saya itu." 158 159
    • "Mbak kok seolah yakin benar kalau kelakuan saya perlahan dan memandang ke arah wajah Mari. Mariberbeda dengan mantan suami Mbak. Kenapa Mbak ternyata sedang memandang ke arahnya. Mata kedua-tidak waspada? Kenapa Mbak justru malah mengajak nya bertemu sesaat. Ada getaran halus masuk ke dalamsaya jalan bersama?" hati Zul. Wajah Mari tampak kurus, tapi ada aura Mari tersenyum, lalu menjawab, ketulusan yang memancar darinya. Dan ada pesona yang "Dengar ya Dik. Orang yang sudah pernah terluka mampu membuat hati Zul merasakan getaran halusseperti saya ini bisa membaca bahasa tubuh orang yang masuk begitu saja.brengsek seperti mantan suami saya dan yang sejenisnya. "Apakah ada kilatan binar serigala dalam matakuDari cara lelaki memandang dan menatap saja saya sudah Mbak?"tahu dia itu sebenarnya serigala atau tidak. Saya tahu Mari tersenyum, dan menjawab,mana mata yang jelalatan dan yang tidak jelalatan. Saya "Jujur saja Dik ya hampir di semua mata lelaki adabisa meraba watak seseorang dari gerak dan binar binar liar serigala ketika melihat perempuan. Untuk itulahmatanya. Tidak hanya mata kaum lelaki. Bahkan mata menurut saya kenapa kaum lelaki diminta oleh Tuhankaum perempuan pun saya bisa membedakan mana untuk menjaga pandangan."mata pelacur dan bukan pelacur. Mana mata perempuan Mendengar jawaban Mari, Zul diam dan tidakbaik-baik dan perempuan tidak baik!" berkata apa-apa. Ia mengalihkan pandangannya ke luar "Jadi Mbak yakin saya ini orang baik?" sahutnya jendela. Ia memandang rerimbunan pohon kelapa sawitsambil melihat ke luar jendela. yang seperti berlomba-lomba lari ke belakang. Dalam "Sejauh ini saya yakin. Tidak tahu satu dua jam ke hati Zul membenarkan perkataan Mari. Sebab saat iadepan. Bisa jadi kepercayaan saya padamu berubah." memandang wajah dan mata Mari dengan seksama, iaJawab Mari tegas. Zul merasakan ketegasan itu. Kalimat menemukan sihir yang m a m p u mengubah dirinyadan intonasi perempuan itu seolah juga memberitahukan menjadi serigala. Tiba-tiba ia merasa menemukankepadanya agar ia jangan mencoba bersikap mere- kalimat untuk menjawab perkataan Mari,mehkannya. Dari ketegasan itu, Zul mengerti bahwa "Dan hampir semua wajah dan mata perempuan ituperempuan muda di sampingnya adalah perempuan memiliki sihir yang mampu mengubah lelaki jadi serigala.yang memiliki karakter kuat. Dan tidak mau di- Maka sebaiknya memang keduanya saling menjaga.remehkan. Agar tetap menjadi manusia yang mulia dan tidak Entah kenapa ia ingin memandang perempuan di berubah menjadi manusia serigala."sampingnya itu dengan lebih dalam. Keinginan itu tidak Mari tersenyum mendengarnya.dapat dilawannya. Ia p u n memalingkan wajahnya *** 160 161
    • Dua Menjelang Maghrib bus Trans Nasional memasukikota Kuala Lumpur. Zul menikmati pemandangan senjadi Kuala Lumpur dengan seksama. Jalan tol yang lebardan melingkar. Gedung-gedung tinggi. Hutan kota yangmasih terjaga. la harus mengakui, Kuala Lumpur jauhlebih rapi dari Jakarta. la mencari-cari gedung yangmenjadi simbol Kuala Lumpur. la melongok-longok,mencari-cari Menara Kembar. la tidak melihatnya. "Menara Kembarnya mana ya Mbak, kok tidakkelihatan?" tanyanya pada Mari. 163
    • "Kamu jangan memandang ke arah situ. Pandang- ditangguhkan beberapa tahun lagi. Ia tidak bisa memberilah ke arah sana. Di sela gedung menjulang itu. Itulah jawaban pasti. Dan Najibah merasa tidak bisa bergantungMenara Kembar," jawab Mari sambil menunjuk ke arah pada ketidakpastian.Menara Kembar. "Maaf, Mas Zul, bukan saya tidak cinta sama Mas. "Wah iya. Saya penasaran ingin lihat dari dekat." Orang tua saya minta saya segera menikah. Tahun ini. "Jangan tergesa-gesa. Nanti kau akan punya waktu Jika Mas mau ya tahun ini. Jika tidak ya anggap sajayang cukup untuk melihatnya. Kau bahkan bisa makan kita tidak berjodoh. Ini demi kebaikan saya dan Mas."di sana. Kau juga bisa refreshing di sana. Di bawah Itulah kata-kata Najibah yang masih ia ingat terus. Kata-menara itu ada tamannya yang rapi dan indah. Namanya kata yang tidak mungkin ia lupakan, karena saat itu iataman KLCC. Taman itu terbuka untuk u m u m dan tidak berdaya apa-apa sebagai seorang lelaki. Ia samagratis." sekali tidak bisa m e m e n u h i h a r a p a n orang yang dicintainya. Jangankan biaya untuk menikah, biaya Zul langsung membayangkan nyamannya berjalan- untuk makan sehari-hari saja ia sering tidak punya. Iajalan di bawah Menara Kembar dan nyantai di taman benar-benar merasakan betapa susah jadi orang tidak KLCC. Tiba-tiba ia teringat Najibah. Gadis satu desa punya. Sampai untuk menikahi orang yang dicintai saja dengannya yang pernah menjadi tambatan hatinya. tidak bisa. Ia benar-benar sedih dan menderita jika Najibah pernah minta padanya untuk rekreasi ke Taman mengingatnya.Kiai Langgeng. Dan ia berjanji pada gadis itu akanmengajaknya ke Taman Kiai Langgeng suatu kali. Sesungguhnya Najibah itu bukanlah gadis yangNamun sampai saat ini ia tidak bisa memenuhi janji itu. materialistis, ia tidak minta apa-apa, selain akad nikah.Dan tidak mungkin rasanya memenuhi janjinya itu. Namun akad nikah itu ada biayanya. Dan itu yang iaSebab, gadis yang punya lesung pipi indah itu, kini telah tidak punya saat itu. Ia benar-benar tidak punya. Iamenikah dengan orang lain. Ah, seandainya ia kaya, merasa dirinya adalah orang paling miskin papa sedunia.tentulah ia bisa menikahi gadis itu dan mengajaknya Ah, ia berusaha melupakan peristiwa itu. Namunjalan-jalan ke Taman Kiai Langgeng. Bahkan menga- belum juga bisa. Bahkan sampai ia sudah di Kualajaknya ke Kuala Lumpur dan berjalan-jalan di taman Lumpur pun peristiwa itu masih saja teringat olehnya. IaKLCC itu. yang mengalami peristiwa yang tak setragis Mari saja Karena kemiskinannyalah, akhirnya Najibah masih dibayangi oleh peristiwa itu, apalagi Mari. Wajarmemutuskan menikah dengan orang lain setelah tiga kali. jika perempuan muda itu sampai mengalami trauma.Itu pun setelah Najibah memintanya untuk segera "Heh, melamun apa! Kita sudah sampai di Pur-menikahinya dan ia merasa tidak mampu. Ia minta duraya! Ayo siap-siap turun!" 164 165
    • Zul kaget dan tersadar dari lamunannya. "Katanya kau mengantongi sebuah nama dan nomor "Kita sudah sampai Mbak?" telpon itu bagaimana?" "Iya. Ayo turun. Itu orang-orang sudah pada turun." "Ya, saya coba telpon dulu Mbak." Mereka berdua lalu turun dari bus. Lalu naik ke lantai "Pakai hp saya saja Dik, tak usah pakai telpon umum.dua. Tempat dimana para p e n u m p a n g berkumpul Tuh telpon u m u m antrenya kayak gitu," Mari mengu-menunggu bus. Tempat dimana penumpang datang dan lurkan hand phone-nya..pergi. Di lantai dualah puluhan waning penjual oleh-oleh Zul menerima hand phone itu dengan tangandan makanan dibuka. Juga di lantai dualah puluhan agen kanannya. Sementara tangan kirinya merogoh saku cela-bus membuka konter. nanya. Ia mengeluarkan sobekan kertas. Lalu memanggil "Mbak ini sudah Maghrib ya?" tanya Zul. nomor yang tertulis di kertas itu. Beberapa saat ia "Iya sudah. Gini saja. Kita shalat dulu gantian. Tempat menunggu tidak ada jawaban. Lalu ia ulangi lagi. Empatshalat dan tandas ada di lantai tiga. Kita naik ke sana." kali ia memanggil dan tidak ada yang mengangkat. "Tandas itu apa Mbak." "Bagaimana Dik?" "Toilet. Kalau bahasa orang Demak kakus." "Tidak ada yang mengangkat Mbak." "Wah kok nadanya agak menghina orang Demak "Mungkin sedang shalat. Kalau gitu ayo kita carithoMbak." makan dulu. Saya lapar. Setelah makan ditelpon lagi." "Kamu ini lelaki kok sentimentil begitu. Ayo kita naik!" "Boleh." Mereka berdua lalu naik ke lantai tiga. Mereka ke Mari berjalan di depan. Ia sangat hafal seluk beluktandas dahulu, baru ke surau. Mereka shalat bergantian. Terminal P u r d u r a y a . Dan bisa dipastikan b a h w aSelesai shalat Zul bingung. la baru sadar kalau ia tidak pekerja Indonesia yang bekerja di sekitar Kualamemiliki tujuan yang jelas. Mari hanyalah teman Lumpur sangat akrab dengan terminal bus palingbertemu di perjalanan. padat di Kuala Lumpur ini. Mari memilih makan di Kak Long Cafe. Sebuah cafe milik seorang Muslimah "Inilah Kuala Lumpur Dik Zul. Ya selamat datang keturunan China.di Kuala Lumpur. Semoga nasibmu berubah di sini.Berubah jadi baik. Tidak sebaliknya. O ya, jadi kau mau "Bisa jadi kita nanti akan sulit bertemu. Bahkanmenginap di mana?" mungkin akan tidak bertemu. Namun siapa tahu adik perlu bertemu dengan saya suatu hari nanti. Atau perlu "Wah jujur saja Mbak. Saya tidak tahu harus bantuan saya. Saya akan kasih nomor telpon saya. Bisamenginap di mana." ditulis?" kata Mari selesai makan. 166 167
    • "Bisa Mbak. Terima kasih ya atas segalanya. Berapa sobekan kertasnya pun sebenarnya tidak kenal. Nama Mbak nomornya?" jawab Zul. itu adalah nama kenalan Pak Hasan. Katanya ia adik "0176767676. Bacanya mudah 01 terus tujuh enam kelas Pak Hasan sewaktu kuliah di Jogja yang sekarang empatkali." bekerja di Kuala Lumpur. Dan jujur ia memang perlu istirahat. Perjalanan dari Batam sampai Kuala Lumpur "Wah mudah diingat Mbak." cukup membuatnya lelah. Apalagi dua hari sebelum "Coba orang yang kautuju itu dikontak lagi." berangkat ia kerja lembur di sebuah bengkel. Zul langsung menelpon nomor yang ia telpon "Bagaimana Dik? Kalau kau mau ayo kita berangkat.sebelumnya. Beberapa kali ia telpon tapi tidak juga Mumpung belum terlalu malam. Atau kau mau tidur diberhasil. bangku itu, ya tidak apa-apa. Tapi jangan kaget kalau "Tetap tidak ada yang mengangkat Mbak." nanti ada operasi polisi dan kau dianggap gelandangan. "Mmm...." g u m a m Mari sambil mengerutkan O ya bisa juga kau menginap di hotel Purduraya ini.keningnya. Tinggal kau jalan ke atas. Tapi ongkosnya ya lumayan." "Saya coba lagi Mbak." Mari menjelaskan beberapa pilihan untuk Zul. Zul kembali melakukan panggilan. Tidak juga Zul masih belum mantap menentukan salah satuberhasil. pilihan. Hati kecilnya ingin menginap di hotel. Tapi uang "Bagaimana, tidak berhasil juga?" tanyaMari. yang ia miliki benar-benar pas-pasan. Ia sebisa mungkin harus menghemat. "Iya." "Sudahlah Dik ayo ikut saya saja. Besok kau bisa "Kau di sini asing. Kalau tidak ada teman kasihan. pergi ke mana kau suka. Ayo!" Kata Mari dengan tegasKalau kau mau kau bisa ikut saya menginap di tempat seraya bergegas ke luar terminal. Ketegasan kata-katasaya." Mari membuat Zul seolah menemukan pilihan terbaik. "Menginap di tempat Mbak?" Ia p u n m e n g i k u t i langkah Mari. Mereka keluar "Iya. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Di tempat menyeberangi jalan raya. Mari berjalan dengan cepatsaya ada tiga kamar. Kau bisa menginap di salah satu meskipun ia harus menyeret tas kopornya. Zul berusahakamarnya. Paling tidak untuk sekadar melepas lelah. mengimbangi di sampingnya.Besok kau bisa mencari orang yang kautuju itu. Itu kalau "Kita mampir di supermarket sebentar. Lalu kita kekau mau." Terminal Pasar Seni cari bus Rapid KL yang ke Subang." Zul terdiam sesaat. Ia memang tidak kenal siapa- "Iya Mbak. O iya Mbak ini hand phone-nya nantisiapa di Kuala Lumpur ini. Nama yang ada dalam lupa." 168 169
    • "Ayo cepat.dikit." "Iya Mbak. Terima kasih Mbak." Mereka berjalan menyusuri trotoar. Mari masuk Rapid KL membelah kota Kuala Lumpur. Karenasebuah supermarket dan belanja makanan, sikat gigi, kelelahan Zul tertidur. Cukup pulas. Mari mengamatiodol, dan sabun mandi cair. Zul menunggu di depan dengan seksama, anak muda yang duduk di sampingnyasupermarket. Tak lama kemudian mereka kembali itu. Wajah polos khas Jawa. Wajah yang tampak begituberjalan. Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai muda. Ada guratan derita di sana. Namun ada juga guratdi Pasar Seni. Mari langsung naik Rapid KL jurusan keberanian dan kenekatan. Mari memperkirakan umurSubang. Zul ikut di belakangnya. Setelah membayar pemuda ini lima tahun lebih muda darinya. la telahkarcis mereka duduk. Bus berjalan perlahan. masuk dua puluh tujuh. la perkirakan Zul tak lebih dari "Jangan kaget, nanti kau akan tinggal di tengah- dua puluh dua.tengah tenaga kerja wanita. Artinya penghuni rumah itu Setelah satu jam berjalan akhirnya mereka sampaisemuanya wanita. Saya salah satu di antaranya. Rumah di Subang. Mari membangunkan Zul. Zul bangunsaya dihuni enam orang. Ada tiga kamar. Satu kamar dengan tergagap,berdua. Kebetulan ada dua orang yang sedang pulang "Sudah sampai tho Mbak?"ke Indonesia. Jadi saat ini dihuni empat orang. Kau nanti "Sudah Dik."bisa tidur di kamar saya saja. Kebetulan di kamar saya Mari turun diikuti Zul.ada kamar mandinya. Jadi kau tidak akan menggangguteman-teman saya yang lain." "Kita perlu jalan kira-kira dua ratus meter baru tiba di rumah. Tak apa ya?" Mari menjelaskan kondisi rumahnya. Zul men-dengarkan dengan seksama. la merasa sudah terlalu "Tidak apa Mbak."banyak berhutang budi pada perempuan muda yang Mereka berjalan memasuki kawasan Taman Subangbaru dikenalnya itu. Permai. Selama dalam perjalanan Mari bercerita tentang "Mbak baik sekali. Entah bagaimana saya harus teman-temannya.membalas budi Mbak. Saya malu pada Mbak." "Rumah saya rumah teras. Rumah teras artinya ya "Jangan berpikir begitu. Kita ini sebagai manusia rumah biasa seperti rumah-rumah di Indonesia yang adasudah semestinya saling tolong menolong. Iya tho. terasnya. Bukan rumah apartemen. Saya menyewaManusia tidak bisa hidup sendirian. Iya tho Dik. Apalagi bersama teman-teman dari orang China. Rumah itu adakita sama-sama orang Jawa, dan sama-sama orang Indo- tiga kamar. Kamar paling depan ditempati oleh Lindanesia dan sama-sama orang Islam. Sudah jadi kewajiban- dan Sumiyati. Linda asli Sukabumi, ia lahir di Amster-ku membantu adik. Ya anggap saja aku ini kakakmu." dam. Linda ini belum bersuami dan cantik. Kau hati-hati 170 171
    • jangan sampai ada apa-apa dengan dia ya. Jangan "Hei kau bawa teman ya Mar?" tanya perempuanmembuat masalah di negeri orang. Awas ya, kau harus berdaster panjang.jaga iman kalau berhadapan dengannya! Terus teman "Iya. Ini, anggap saja adik saya. Namanya Zul. Diasekamarnya adalah Sumiyati, asli Blitar. Sumiyati juga mungkin numpang cuma semalam saja/ jelas Mari.sudah bersuami. Kamar tengah saya yang menempati. "Adik apa adik?" ledek perempuan bercelana pendek.Saya sekamar dengan Iin. Kami memanggilnya Iin. Mari hanya tersenyum kecut.Nama aslinya Mutmainah. la asli Pati. Iin sudah bersuamidan punya dua anak di Pati. Kamar yang paling belakang "Kenalkan saya Zul, dari Demak."saat ini kosong. Yang tinggal di situ adalah Reni dan "Saya Sumiyati, dari Blitar." Sahut perempuanWatik. Keduanya sedang pulang kampung. Mereka bercelana pendek.berasal dari satu kampung di Kendal Jawa Tengah. "Aku Iin. Soko Pati Mas."1 Perempuan berdasterSebetulnya kau bisa tidur di kamar Reni dan Watik yang memperkenalkan diri denganbahasa Jawa. "Yo anggepkosong. Tapi di kamar itu tidak ada kamar mandinya. wae, iki ning ngomahe dewe. Anggep wae ning ngomaheLebih baik nanti kau tidur di kamar saya saja. Biar saya keluargane dewe."2dan Iin yang tidur di kamar Reni." "Inggih matur nuwun Mbak."3 Jawab Zul. "Iya Mbak." "Si Linda mana?" tanya Mari. "O ya jangan kaget ya. Jika nanti mereka itu banyak "Seperti biasa Mbak ke KL. Seperempat jam yangbicara. Mereka itu perempuan-perempuan yang paling lalu ia dijemput sama si Chong Tong," jelas Sumiyati.suka ngobrol dan banyak cerita. Jika kau tidak ingin "Tak ada kapoknya anak itu!" sahut Mari denganngobrol kau nanti langsung saja tidur." nada tidak suka. "Iya Mbak." "Yo mugo-mugo4 Gusti Allah membukakan jalan Lima belas menit berjalan akhirnya mereka sampai baginya untuk taubat," lirih Iin.di sebuah rumah, yang tak jauh berbeda dengan "Amin!"tukas Mari.perumahan di Indonesia. Hanya pintunya dirangkapi "E... Mas Zul kok berdiri di situ saja. Silakan dudukdengan pintu besi. Mari langsung membuka pintu. Danbegitu ia masuk ia langsung disambut histeris teman- Mas. Monggo5 Mas." Sumiyati mempersilakan Zul untuktemannya. duduk di kursi. Aku lin. Dari Pati Mas. "Oi, Mbak Mar pulang!" teriak seorang perempuan 2 Ya anggap saja ini di rumah sendiri. Anggap saja di rumah keluarga sendiri. 3muda yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos 4 lya, terima kasih Mbak. Semogaoblong. 5 Mari, silakan 172 173
    • "Ya Mbak terima kasih." Jawab Zul seraya duduk. "Baik. Selamat istirahat." Kata Mari dengan ter- Sumiyati lalu bergegas ke dapur membuat minuman. senyum. Ia keluar dari kamar dan menutup pintu kamarSementara Mari dan Iin masuk ke kamar mereka. Mari dengan pelan.meminta Iin membantu merapikan kamar dan tempat Zul merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk itu.tidur. Dan menjelaskan sebaiknya Zul tidur di kamar Terasa nyaman. Tapi ia merasa kulitnya seperti lengketyang ada kamar mandi di dalamnya. Iin sepakat. Dengan dengan pakaiannya. Sangat tidak nyaman. Ia lalucepat mereka merapikan dan menyimpan pakaian dan beranjak ke k a m a r m a n d i d a n m a n d i . Air yangperkakas milik kaum perempuan yang tidak sepatutnya mengguyur sekujur tubuhnya itu serasa meremajakandilihat kaum lelaki. Setelah mereka lihat rapi dan mereka seluruh syaramya. Barulah setelah mandi iabisa istirahatteliti tidak ada yang tidak patut, mereka kembali ke dengan nyaman. Sesaat sebelum tidur kilatan senyumruang tamu dan mempersilakan Zul membawa tasnya Mari yang tulus terbayang di mata. Ia tersenyum. Tiba-ke kamar. tiba ia teringat perkataan Mari tadi siang, Zul menurut. Ia membawa tasnya ke kamar. Ia masuk "Jujur saja Dik ya, hampir di semua mata lelaki adadan menutup pintu. Zul mencium bau wangi di kamar binar liar serigala ketika melihat perempuan. Untuk itulahitu. Kamar yang bersih dan rapi. Jauh sekali bedanya menurut saya kenapa kaum lelaki diminta oleh Tuhandengan kamarnya dan teman-temannya saat bekerja di untuk menjaga pandangan."Batam. Zul mencopot jaketnya. Beberapa menit Ia kembali tersenyum. Lalu terlelap tidur.kemudian kamarnya diketuk. * X- * Ternyata Mari. Membawa nampan berisi teh hangatdan satu piring roti donat yang tadi dibeli di supermarket. "Istirahat saja. Ini minumnya. Di kamar mandi adasikat gigi yang masih baru, juga sabun cair, bisa kamupakai jika mau mandi. Handuknya sudah saya siapkandi kamar mandi." Jelas Mari sambil meletakkan nampanitu di atas meja rias. "Terima kasih Mbak." "Jika perlu apa-apa bisa mengetuk kamar belakang.Saya ada di sana." "Iya Mbak." 174 175
    • Tiga eBook by MR. Pukul tujuh pagi, Zul baru bangun tidur. la kaget karenabangun terlalu siang. Sinar matahari telah menerobosjendela dan masuk ke dalam kamarnya. la langsungbangkit dan mengambil air wudhu dengan tergesa-gesa. labelum shalat Subuh. Ketika hendak shalat ia bingung arahkiblat. Terpaksa ia keluar kamar untuk menanyakan arahkiblat. Di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang santai,Sumiyati dan Iin sedang asyik nonton televisi. "Waduh arah kiblat mana ya? Waduh kok saya tidakdibangunkan. Jadi terlambat shalat Subuh!" Kata Zul 177
    • setengah menggerutu. Tidak jelas kepada siapa kata-kata "Saya mau keluar sebentar Mbak. Sekalian lihat-lihatitu ia tujukan. Pada Sumiyati atau pada Iin, atau pada lingkungan. Saya mau coba telpon orang yang harus sayakedua-duanya. hubungi itu sekali lagi," kata Zul. "Maaf Dik, kami segan mau membangunkan. Kiblat "Ya, hati-hati Dik. Jangan lupa bawa paspor ya,"ke arah jendela Dik." Jawab Iin kalem sambil meman- tukas Iindang ke arah Zul yang masih jelas bekasnya dari tidur. Zul keluar mencari telpon. Lima puluh meter dari Zul kembali ke kamar dan shalat. Setelah itu ia rumah itu ia menemukan warung kelontong, namun dikembali ke ruangan tamu. Ia tidak melihat Mari. situ tertulis kedai runcit. Di warung itu ada wartelnya. "Lha Mbak Mar ke mana? Apa masih tidur juga?" Dari wartel itu ia mencoba menelpon nomor yang ia catat "Ya tidak. Mbak Mar itu orang paling disiplin di dari Pak Hasan. Berulang-ulang ia menelpon, tapi tidakrumah ini. Ia sudah bangun sejak jam empat tadi. juga berhasil. Ia mencoba menelpon Pak Hasan yang adaBiasanya shalat Tahajjud. Terus nyuci pakaian. Tadi di Batam juga tidak berhasil. Nomor Pak Hasan sedangsetelah shalat Subuh ia langsung berangkat kerja." Jelas tidak aktif. Ia kembali ke rumah dan mendapati duaSumiyati santai sambil mengambil kacang tanah yang perempuan itu telah rapi dan siap pergi.ada di depannya. Lalu mengeluarkan isinya dan "Dik kami harus berangkat kerja. Ini kunci rumah,memasukkan ke dalam mulutnya. siapa tahu kamu mau keluar. Jika nanti kamu mau pergi "O ya sebelum berangkat tadi Mar nitip pesan. Kalau meninggalkan rumah, tolong rumah dikunci. Dankamu sudah bisa menghubungi orang yang kamu tuju kuncinya letakkan saja di bawah pot bunga itu. Oh yadan mau pergi pagi ini atau siang ini tidak apa-apa. Kalau sarapannya sudah kami siapkan di dapur. Makan sajamasih betah dan mau menginap barang satu dua hari yang banyak. Maaf seadanya." Dengan lembut Iinlagi ya tidak apa-apa. Hanya saja Mar minta kalau siang menjelaskan.ini orang itu tidak juga bisa kauhubungi kau sebaiknya "O ya Mas, kalau mau lihat film-film Malaysia.menginap semalam lagi. Siang ini dia akan mencoba Nyalakan saja DVD player itu. DVD-nya ada di rak birumencarikan informasi tentang tempat yang lebih pas, itu," sahut Sumiyati. "Kami pergi dulu ya. Yah demisekaligus informasi tentang pekerjaan jika ada/ Iin mencari sesuap nasi Mas." Imbuhnya sambil membukamenyahut. pintu. Mereka berdua lalu bergegas meninggalkan "Sebaiknya, siang ini Mas istirahat saja dulu di sini. rumah. Ketika mereka sampai di halaman hendakKan baru datang. Sambil menunggu informasi dari Mbak membuka pintu gerbang, sebuah mobil sedan ProtonMar jika nanti ia kembali," sambung Sumiyati memberi Wira berhenti tepat di h a d a p a n mereka. Seorangsaran. perempuan berpakaian sangat ketat keluar dari mobil 178 179
    • itu. la melambaikan tangan pada pengendara mobil yang "Iya," jawab Zul singkat.bermata sipit. Linda l a n g s u n g m a s u k ke dalam k a m a r n y a . "Baru pulang Lin?" sapa Iin. Sementara Zul masih berdiri di samping pintu meman- "Iya Mbak. Tadi ketiduran di hotel," jawab perem- dang lurus ke depan, ke halaman dan jalan. la mendengarpuan itu santai. dengan jelas percakapan tiga perempuan itu. Dan ia bisa meraba, kira-kira apa pekerjaan perempuan muda Zul melihat dari pintu yang masih terbuka. bernama Linda yang baru saja menyapanya itu. Dan "Kamu itu mbok ya ingat akhirat meskipun sedikit- siang itu ia bisa jadi hanya akan berdua bersama Lindasedikitlah Lin? Ingatlah hari akhir kelak Lin!" Iin di rumah yang sepi itu. Ia berpikir apa yang akan iamenasihati dengan suara lembut. kerjakan seharian di rumah itu. Apakah ia akan hanya "Aduh Mbak, kalau mau ceramah di masjid saja. tidur di kamar? Bagaimana kalau Linda mengajakSaya sedang capek nih. Sory ya Mbak. Saya harus berbincang-bincang? Apakah ia akan bersikap cuek sajaistirahat. Lha itu kok ada cowok di rumah kita. Siapa terhadap Linda? Ataukah ia akan berpura-pura bersikapdial?" ketus Linda. baik kepadanya. Sebab ia paling tidak suka dengan "Itu adik saya dari Demak," jawab Iin. perempuan yang memiliki tanda-tanda sebagai perem- "Orangnya baik kok Lin. Namanya Zul. Jangan takut puan tidak benar. Dari cara Linda berpakaian dan darisantai saja," timpal Sumiyati. pembicaraan yang baru saja ia dengar, ia memiliki firasat kuat bahwa Linda adalah jenis perempuan tidak benar. "Siapa yang takut. Saya tak pernah takut sama lelaki. Zul mengambil nafas panjang. Ia belum bisa memu-Apalagi lelaki Indonesia kurus kaya gitu. Lelaki dari tuskan akan bersikap bagaimana.Amerika, Rusia bahkan Nigeria sekalipun saya tidakpernah takut! Kenapa kalian masih mematung saja di "Mas pintunya ditutup saja. Di sini tidak lazimsini. Nanti kalian terlambat didamprat sama majikan baru membuka pintu lama-lama." Seru Linda dari ka-tahu rasa!" sengit Linda. marnya yang hanya berjarak beberapa meter dari "Ya udah kami berangkat dulu. Jaga rumah baik- tempat Zul berdiri. Secara reflek Zul menengok ke arah suara. Pintu kamar Linda terbuka lebar dan Lindabaik ya Lin." merebahkan tubuhnya begitu saja di tempat tidurnya, "Ya," jawab Linda singkat sambil beranjak masuk dengan sepatu hak tingginya masih terpasang di keduarumah. kakinya. Zul merasakan getaran dalam dadanya. Ia Ketika masuk rumah dan melewati Zul yang berdiri langsung m e n u t u p pintu dan bergegas masuk kedi samping pintu Linda menyapa datar, dalam kamarnya. "Halo Mas, baru datang dari Indonesia ya?" 180 181
    • Sementara Iin dan Sumi masih berjalan ke arah sangat tidak manusiawi di Belanda. Dan itu saat me-hentian bus. Dalam hati Iin memanjatkan doa agar Linda ngandung saya.kembali ke jalan yang benar. Ada yang meleleh dari "Ya alhamdulillah, berkat peluh dan keringat ibukedua matanya yang berkaca-kaca. la sangat sayang saya, akhirnya saya bisa selesai kuliah di Jakarta danpada gadis cantik—yang sudah tidak gadis lagi—itu. la langsung mendapat pekerjaan. Sekarang saya bisa kerjaingat bagaimana awal perjumpaannya dengan Linda di di Kuala Lumpur ini dengan gaji yang lumayan. Sayapagi yang cerah di KBRI Kuala Lumpur. Linda yang akan menabung. Kalau bisa saya akan lanjut kuliah S.2berwajah Indo itu m e m p e r k e n a l k a n diri sebagai di sini baru nanti S.3 di Belanda. Jika saya sudah sukses,karyawati sebuah kantor maskapai penerbangan di kaya dan bermartabat, saya akan ajak ibu saya menemuiKuala Lumpur. Pagi itu Linda ada sedikit urusan di ayah saya dengan kepala tegak. Bahkan saya bercita-bagian konsuler. la tidak menanyakan detil urusan Linda cita harus kaya hingga saya nanti bisa punya perusahaansebenarnya. la sendiri punya urusan yang membuatnya besar di Belanda. Harus lebih kaya dari Mr. Vanpusing, gajinya selama lima bulan tidak dibayar oleh Braskamp.majikan. la hendak melaporkan hal itu ke pihak KBRI. "Van Braskamp itulah nama ayah saya. Dia seorangDari yang tak lebih dari dua puluh menit itu ia tahu Linda Belanda. Tapi saya sama sekali tidak kenal budayamemiliki cita-cita yang tinggi. Linda bercerita tentang Belanda. Saya sejak umur dua tahun sudah di Sunda.keinginannya melanjutkan kuliah sampai S.3 di negeri Hidup bersama kakek dan nenek saya. Ayah saya tidaktempat ia dilahirkan, yaitu Belanda. meninggalkan apa-apa kepada saya kecuali warna "Saya harus cari uang dulu. Ibu saya tidak mungkin kulitnya yang membuat saya lebih putih dari ibu saya.membiayai saya kuliah. Ayah saya, saya tidak menge- Itu saja. Tapi saya akan membuktikan pada ayah sayanalnya sejak kecil. Ibu hanya cerita ia orang Belanda dan itu, suatu saat saya bisa lebih terhormat dari ayah sayasudah menikah lagi di sana. Sudah jadi orang penting di di negeri ayah saya. Itulah cita-cita saya Mbak Iin. KalauBelanda. Ibu saya tidak meridhai jika saya minta uang Mbak Iin punya cita-cita apa? Untuk apa kerja disepeser pun pada ayah saya. Kata ibu saya, saya boleh Malaysia ini?"ke Belanda, tapi tidak boleh mengemis pada ayah saya, Iin masih ingat saat itu ia hanya menggelengkanatau keluarga ayah saya. Ibu saya sangat dendam pada kepala lalu menjawab,ayah saya, dan dendamnya itu telah diwariskan padasaya. Saya tidak akan menceritakan perihal dendam itu. "Saya tidak punya cita-cita yang tinggi seperti DikPokoknya dendam yang sangat menyakitkan. Intinya Linda. Saya hanya ingin dapat uang. Bisa membiayaiayah saya pernah memperlakukan ibu saya dengan suami saya yang sedang sakit dan bisa membiayai dua anak saya yang masih kecil-kecil yang sekarang diasuh 182 183
    • oleh adik saya. Itu saja. Juga punya tabungan untuk buka kasar dan pelit. Itulah yang ia pikirkan pada waktu itu.warung di kampung. Itu saja Dik Linda." Dan ia merasa alangkah beruntungnya Linda. Cantik, Saat itu Linda tersenyum dan mengangkat kedua pintar, masih sangat muda, dan berpenghasilan tinggi.tangannya seraya berdoa, Tapi ia segera menyadari siapakah dirinya dan siapakah "Semoga cita-cita Mbak Iin dikabulkan oleh Allah. Linda. Dirinya tak lebih hanya lulusan MTs denganAmin." penampilan sangat biasa, sementara Linda sudah sarjana Dalam hati ia ikut mengamini. dan cantik pula. Pekerjaan kantor sepertinya tidak boleh dikerjakan oleh orang desa—dengan wajah pas-pasan— Di pertemuan yang singkat itu, ia sempat bertukar yang hanya lulusan MTs seperti dirinya.nomor hand phone dengan Linda. Linda yang memberinomornya dulu. Tapi jika melihat kehidupan Linda saat ini, ia yang hanya orang desa dan cuma lulusan MTs seperti dirinya "Mbak ini nomor hope saya. Siapa tahu Mbak atau merasa lebih bahagia daripada Linda. Buat apa pandai,teman Mbak ada yang ingin pulang liburan. Bisa pesan sarjana dan cantik jika hanya menjadi budak nafsu dantiketkesaya." setan. Dan hidup dalam lembah kehinaan. Sejak itulah ia sering berkomunikasi dengan Linda. Baginya, sebagai wanita, kehormatan diri danBeberapa kali ia bertemu dengan Linda tanpa sengaja di kesucian diri adalah harta paling berharga setelah imanMenara Kembar Petronas KLCC. Seringkali Linda kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Entah sudah berapamentraktirnya makan. Selesai makan biasanya mengajak kali ia berusaha mengingatkan Linda, baik dengan carashalat di surau yang ada di sana. Ia melihat Linda begitu yang paling halus maupun cara yang sangat terang-agamis. Dan dalam balutan jilbab muka Indo itu bagai terangan. Baik dengan sindiran maupun ancaman siksabidadari surga yang turun ke bumi. Ia sangat takjub pada neraka jahanam. Tapi ia melihat Linda sama sekali tidakkeelokan dan kebaikan Linda. Dari rasa takjub itulah rasa ada perubahan. Bahkan shalat pun sudah ia tinggalkan.sayangnya pada Linda terbit. Ia sudah jarang melihat wajah blesteran Sunda Belanda Sejak kenal dengan Linda, ia sering membayangkan itu berbalut mukena putih. Ia merasa bidadari surga yangalangkah enaknya bisa kerja seperti Linda. Duduk tenang turun ke bumi itu telah hilang.di kantor yang ber-AC dengan bayaran yang tinggi. Jika menghayati apa yang terjadi pada Linda,Kerjanya cuma m e n g a n g k a t telpon. Lihat layar hatinya sering miris dan merinding. Betapa berbedanyakomputer. Dan nulis nota. Tidak seperti dirinya yang Linda yang dulu dengan sekarang. Alangkah mudahnyaharus kerja di Warung Runcit6 dengan majikan yang ketakwaan itu sirna dan iman itu hilang lenyap di akhfr 6 Semacam warung kelontong. zaman seperti sekarang. Tidak sedikit orang yang dulu 184 185
    • dikenal karena ketakwaannya tiba-tiba dalam waktu tak kedua, ketiga dan seterusnya. Dan itulah yang di-lama dikenal karena kedurhakaannya. kehendaki setan. Jangan kita biarkan diri kita terpe- "Naudzubillahi min dzalik. Ya Rabbi, jauhkanlah rangkap oleh kesempatan melakukan dosa besar itu.hamba dari itu semua. Jangan Kaubiarkan iman ini lepas Sebisa mungkin kesempatan itu jangan dibiarkan ada.dari hati hamba sedetik pun." Doanya dalam hati sambil Aku sendiri Sum, aku mengakui diriku tidak cantik.mengusap airmatanya. Tetapi aku juga mengalami apa yang kaualami. Banyak yang menggoda. Tapi aku berusaha untuk kuat dan "Kenapa menangis Mbak Iin?" tanya Sumiyati. berusaha menjaga agar jangan sampai setan menciptakan "Tidak apa-apa. Aku hanya kasihan sama Linda. kesempatan melakukan perbuatan dosa besar itu. Sebab,Jauh-jauh merantau ke sini, siang malam hanya untuk jika kesempatan itu tercipta, aku kuatir imanku tidak kuatmenjual kehormatan dan bermaksiat. Kalau tidak mau untuk mencegahnya. Di antara caraku menjaga diribertaubat sungguh kasihan. Rugi di dunia, rugi di adalah dengan tidak pernah meladeni segala bentukakhirat." keisengan mereka yang menggodaku. Termasuk SMS "Iya Mbak. Aku masih ingat awal-awal Linda hidup yang hanya iseng. Aku selalu berangkat tepat waktu danbersama kita, ia masih shalat dan masih mau membaca begitu saatnya pulang aku langsung pulang. TidakYasin. Tapi sekarang sepertinya dia tidak memiliki Tuhan." berlama-lama ngobrol di tempat kerja." "Hus. Jangan bilang begitu Sum!" bentak Iin, "Gitu Mbak ya?""Semoga saja semaksiat-maksiatnya Linda, dia masih "Iya."mengakui Allah sebagai Tuhannya," lanjutnya. "Wah, u n t u n g Mbak kasih tahu. Si Karan itu "Semoga saja Mbak. Hidup di perantauan seperti kita inginnya ngajak ngobrol terus selesai kerja. Ia bahkanini memang tidak mudah. Keimanan kita benar-benar sering ngajak nonton film."dipertaruhkan. Mbak tolong doakan saya ya. Itu, si Karan "Kalau ingin selamat, jangan kautanggapi sedikit pun."kawan kerja saya di restoran sering menggoda saya. Sayatakut tergoda Mbak." "Iya Mbak." "Linda pernah cerita, ia menjadi seperti sekarang ini "Kau harus kuat Sum. Imanmu harus terus kau-pupuk. Kita harus sating menguatkan dan meng- bermula dari menanggapi SMS iseng teman kerjanya,ingatkan. Kita harus sating mengingatkan bahwa seorang pria muda asal Singapura."perzinahan itu termasuk dosa besar. Dan sekali orang "Cerita detilnya bagaimana Mbak?"berzina, orang itu akan sulit lepas dari belenggu dosa "Aku juga tidak tahu Sum. Linda hanya pernahitu. Sangat memungkinkan ia akan melakukan yang menyinggung bahwa semuanya bermula dari SMS iseng 186 187
    • seorang teman kerja asal Singapura. Seorang pria muda di Jakarta karena dikeroyok berandalan jalanan. Apa iayang menawan. Itu saja." akan mengulangi nasib yang sama. Dan jika ia nekat, "Eh Mbak itu busnya datang. Ayo cepat!" teriak berapa lama ia akan bisa bertahan? Uang yang ia bawaSumiyati. sangat pas-pasan. Tak lebih dari seratus lima puluh "Wah iya Sum, itu bus kita! Sahut Iin dengan mata ringgit. Berapa lama ia bisa bertahan dengan seratus limaberbinar. puluh ringgit? Ia lalu berpikir realistis, apa salahnya menunggu Mereka berdua langsung mempercepat langkah. Bus Mari pulang. Ia bisa dapat informasi yang lebih jelas.Rapid KL semakin mendekat, merapat di halte, lalu Mungkin informasi ada pekerjaan yang membuatnyam e n u r u n k a n dan menaikkan p e n u m p a n g . Kedua bisa bertahan bahkan bisa memperbaiki nasib. Apaperempuan itu mengejar dengan setengah berlari, takut salahnya menunggu sampai sore hari. Ia bisa tidurketinggalan. seharian di kamar itu dengan pintu terkunci. Toh di kamar * ** itu ada kamar mandi dan WC-nya. Ia tidak perlu keluar. Zul tidur di kamarnya, yang tak lain adalah kamar Juga, tidak baik rasanya meninggalkan rumah itu tanpaMari. Kedua matanya memandang langit-langit kamar terlebih dulu pamitan pada Mari, yang begitu baikyang berwarna putih bersih. Sementara pikirannya padanya. Ia akhirnya mantap untuk tetap di rumah itumelayang ke mana-mana. Melayang ke perjalanan dari siang itu, sampai Mari pulang. Jika Mari pulang dan iaBatam hingga ketemu Mari. Dan sampai di rumah yang telah m e n d a p a t k a n informasi dan petunjuk yangsama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia mungkin sangat penting baginya, maka ia bisa pergi.masih juga berpikir apa yang harus ia lakukan siang itu. Zul mencoba berkonsentrasi memejamkan keduaApakah tetap diam di rumah itu menunggu Mari pulang. matanya, ia ingin tidur lagi. Namun konsentrasinyaSehingga ia bisa mendapat informasi dari Mari. Ataukah buyar begitu telinga mendengar suara orang mandi. Iaia nekat saja pergi dari rumah itu. Kenapa ia mesti langsung yakin yang mandi itu adalah Linda. Sejurusmenunggu informasi dari Mari. Bukankah ia bisa nekat, kemudian ia mendengar televisi dinyalakan. Ia lalusebagaimana selama ini ia selalu nekat. Dan bukankah mendengar lagu-lagu India dibunyikan dengan sedikitsebenarnya ia pergi ke Malaysia juga berbekal nekat. keras. Ia benar-benar tidak bisa memejamkan kedua Kalau ia nekat pergi dari rumah itu, siang itu juga, matanya.lalu ia mau pergi ke mana? Ia tidak hafal Kuala Lumpur Ia lalu bangkit dari kasur. Ia yakin tidak bisa tidur.dan sekitarnya. Apa asal pergi saja. Yang penting jalan. Ia lalu melihat-melihat isi kamar itu, ia mencari sesuatuSeperti waktu ia dulu nekat ke Jakarta. Tapi ia nyaris mari yang bisa dibacanya. Di samping meja rias ia melihat 188 189
    • setumpuk majalah dan koran. Juga ada beberapa buku. p u n y a dan y a n g m e m b a c a b u k u - b u k u ekonomiIa lihat buku-buku itu. Buku-buku ekonomi berbahasa berbahasa Inggris itu adalah Mari atau Iin. MelihatInggris. Ia ambil satu. Judulnya International Monetary tampang dan penampilan mereka sangat meragukan,and Financial Economics. Ia buka buku itu. Di halaman dan sangat tidak meyakinkan.paling depan ia menemukan nama pemilik buku itu la lalu melihat-lihat beberapa majalah. Ada yangtertulis dengan tinta biru. Liew Su Ying. Nama China. terbitan Indonesia, Malaysia, Singapura dan bahkan Di bawah buku itu ada buku bersampul biru tua. Ia Hongkong. la mengambil yang terbitan Indonesia. laambil. Terbitan Oxford University Press. Judulnya Game bawa ke kasur. la baca sambil tiduran. Tak berapa lamaTheory with Applications to Economics. Ia menggeleng- kemudian ia merasa mengantuk. Entah kenapa setiapgelengkan kepala. Orang yang bisa memahami buku kali ia membaca rasa kantuk itu menyerang denganseperti itu pastilah bahasa Inggrisnya mantap. Ia buka cepat. Saat ia berada di antara sadar dan tidak sadarhalaman depan. N a m a pemilik b u k u dan tanda karena mulai masuk ridur, sayup-sayup ia mendengartangannya tertulis di situ. Laila Binti Abdul Majid, TTDI, pintu kamarnya diketuk beberapa kali. Ia tidak jadiKuala Lumpur. Ia yakin itu nama perempuan Melayu. memejamkan mata. Ia jadi bertanya-tanya, kenapa buku ekonomi seperti "Mas! Mas! Halloo! Buka dong!"itu bisa ada di dalam kamar Mari dan Iin? Siapakah yang Itu jelas suara Linda.selama ini membaca buku itu? Mari kah? Atau Iin kah? "Iya. Sebentar!" sahutnya sambil bangkit menujuApakah mungkin mereka berdua bisa memahami buku pintu.berbahasa Inggris? Tiba-tiba ia tersenyum, mengapa iabisa sebodoh itu. Bisa jadi orang China yang namanya Begitu pintu ia buka, tampaklah wajah Linda yangtertulis sebagai pemilik buku itu adalah orang yang sangat berbeda dengan wajah yang tadi ia lihat saatmemiliki rumah ini. Bukankah ini rumah sewa? Dan Linda baru datang. Wajah Linda yang ada di hadapan-bukankah Mari mengatakan pemiliknya adalah orang nya tampak segar, dan menawan. Linda menyunggingChina? Ia menduga pemiliknya adalah orang China yang senyum yang membuat dadanya berdesir. Ia sepertinyamenikah dengan perempuan Melayu. belum pernah melihat pesona sesegar wajah Indo yang ada di hadapannya. Sangat mungkin, pemilik rumah itu tidak mengemasi "Hallo Mas, maaf mengganggu. Tadi kita belumbukunya dan membiarkan buku-bukunya tergeletak kenalan. Kenalkan namaku Linda. Lengkapnya Lindabegitu saja di kamar itu. Lalu Mari dan Iin menatanya Van Braskamp. Aku kerja di sebuah hotel berbintang dijadi satu dengan majalah dan koran di samping meja , Kuala Lumpur." Sapa Linda sambil mengacungkanrias. Atau entahlah, yang jelas ia menafikan jika yang tangan kanannya mengajak berjabat tangan. Zul 190 191
    • langsung menjabat tangan itu sambil memperkenalkan "Ayo kalau begitu kita makan bersama. Kita makandirinya, di ruang tamu saja. Sambil ngobrol. Oh ya Mas Zul mau "E... nama saya Ahmad Zul. Saya berasal dari minum apa? Aku bikinkan."Demak. Mbak Linda orang Belanda ya?" "Teh panas boleh." "Ya. Ada darah Belanda. Tepatnya blesteran Sunda- "Baik. Mas Zul tunggu di ruang tamu saja ya, sambilBelanda. Tapi aku tetap merasa sebagai orang Indonesia. nonton televisi."O ya kapan Mas Zul sampai?" "Baik." "Tadi malam." Linda ke dapur membuat minuman dan mengambil "Berarti bareng Mbak Mar?" makanan. Zul melangkah ke ruang tamu lalu duduk di "Ya." sofa sambil membaca majalah yang tadi ia baca. Tak "Tadi Mbak Iin cerita, Mas adiknya Mbak Iin, lama kemudian Linda muncul dengan membawabenar?" nampan berisi dua piring nasi goreng dan dua gelas teh Zul tersenyum mendengarnya, ia lalu menjawab, manis. Zul mendongakkan muka dan melihat ke arah Linda yang datang. Barulah ia memperhatikan pakaian "Dikatakan adiknya Mbak Iinjuga boleh." yang dipakai Linda, yang tadi tidak ia perhatikan. Linda "Lho kok gitu. Kok ada juga bolehnya. Jadi memakai gaun yang hanya pantas dipakai di kamarsebenarnya bukan adiknya Mbak Iin?" tidurnya saja. Zul seperti terpaku dan terbelenggu di "Ah itu tidak penting. Tadi baru pulang kerja ya?" tempat duduknya. Tubuhnya terasa kaku. "Iya saat ini aku kena sif malam. Jadi manusia Linda meletakkan nampan di meja dan langsungkelelawar. Malam jadwalnya kerja, siang jadwalnya duduk di samping Zul. Bau wangi parfum Linda terciumistirahat." jelas oleh hidung Zul. Zul tidak bisa konsentrasi makan, "Jadi siang ini mau di rumah saja?" ia masih menata pikirannya yang ia rasakan mulai kacau. "Lha iya lah. Kan harus istirahat. Tapi aku lapar sekali. "Kok bengong saja Mas. Ayo dimakan. Tadi nasinyaMau keluar cari makanan rasanya malas sekali. Aku sudah saya hangatkan. Kalau dingin tidak enak."tengok di dapur ada nasi goreng. Itu pasti disedikan "E... iya Mbak."untuk Mas Zul. Boleh saya minta sedikit Mas. Atau kita Zul mengambil piring berisi nasi goreng dan mulaimakan bareng. Bagaimana? Mas Zul belum sarapan menyantapnya pelan-pelan. Ia masih terus berjuangkan?" menata kembali pikirannya yang mulai berpikir yang "Belum." 192 193
    • "Rencana siang ini Mas Zul mau ke mana? Kalau tidak nanti kalau ketemu kauamati dia baik-baik, karena iaada rencana, di rumah saja menemani aku. Aku bawa film juga terlalu serius memikirkan hidup jadi kelihatan jauhHollywood terbaru. Kita nonton berdua saja di rumah. lebih tua dari umurnya. Padahal ia hanya selisih satuKalau nonton film sendirian rasanya tidak seru." tahun saja dariku." "Saya belum ada rencana. Tidak tahulah. Saya "Benarkah?"sebenarnya ingin jalan-jalan." "Serius. Mbak Mar itu terlalu banyak mikir. "Sebenarnya aku ingin sekali nemani jalan-jalan. Tapi Semuanya dia pikir. Mau makan saja dia mikir, ini halalkurasa, aku harus istirahat dan nyantai di rumah. Kalau tidak, haram tidak. Kalau aku sih selama enak kenapaMas mau jalan-jalan sendiri tidak apa-apa. Kebetulan aku tidak? Sekarang aku menemukan agama baru. "ada kunci dobel. Sebentar ya." "Agama baru?" Linda menghentikan makannya dan beranjak ke "Ya. Aku kasih nama agama enak. Pokoknya segalakamarnya. Lalu keluar dengan membawa kunci. yang enak-enak itu jadi ajarannya. Itulah agamaku "Ini bawa saja. Yang ini kunci gembok pintu besi dan sekarang. Tuhannya adalah Tuhan yang maha mem-yang ini kunci pintu. Kalau Mas keluar dan saat pulang bebaskan manusia untuk berenak-enak."aku sedang tidur tidak perlu membangunkan aku. Bawa "Astaghfirullah. Meskipun yang kelihatannya enaksaja kunci ini selama Mas di sini." itu dilarang agama." "Terima kasih." "Agama yang mana? Kalau agamaku tadi ya jelas "O ya ngomong-ngomong Mas mau kerja di mana? tidak melarang. Kalau agama Islam seperti agamamu,Sudah ada agen yang mengatur?" aku yakin kau Islam, ya aku tidak tahu." "Belum tahu. Masih mencari." "Wah itu namanya agama hawa nafsu." "O jadi belum dapat kerja. Begini Mas, ini kalau Mas "Terserah, aku tidak peduli. Yang jelas aku merasamau. Bagaimana kalau kerja di hotel tempat aku kerja. Tapi enak, merasa bebas, merasa merdeka."kerjanya malam sih. Kalau mau, bisa aku coba hubungkan "Kalau di KTP apa agamamu?"ke pihak personalia. Aku kenal baik dengan penanggung "Ya Islam."jawabnya. Gajinya lumayan kok. Bagaimana?" "Lho kok Islam?" "Nanti saya pikirkan." "Ya untuk formalitas saja. Biar tidak membuat sedih "Sejak jumpa pertama kali tadi, kulihat Mas memang banyak orang. Termasuk kakek dan nenek saya yangbanyak berpikir dan merenung. Jangan terlalu dibuat sangat fanatik dengan agama Islamnya."serius hidup ini Mas, cepat tua nanti. Itu Mbak Mar, coba 194 195
    • "Itu berarti kamu munafik." Hanya mendengar apa yang kaukatakan nuraniku "Kalau munafik itu enak kenapa tidak?" mengatakan orang seperti kamu ini sebenarnya bukan Zul jadi pusing memikirkan makhluk di hadapannya. hidup enak dan hidup senang. Tapi hidup dalam keadaanla tidak mengira akan pernah menjumpai manusia seperti sangat memprihatinkan. Dan perlu dikasihani."itu dengan cara berpikir seperti itu. "O ya?" "Baiklah Mas, saya akan cerita sedikit tentang "Terserah. Cuma aku yakin, yang tadi bicara bukanpekerjaan saya. Daripada nanti Mas mendengar cerita nuranimu tapi nafsumu. Nanti suatu ketika saat engkauyang sinis dari orang lain. Lebih baik Mas langsung menderita sakit, coba aku ingin dengar apa yang akanmendengar dari saya. Lebih baik saya jujur daripada saya kaukatakan dan kauucapkan?"disebut munafik lagi. Sudah saya katakan agama saya "Kau ini jahat. Masak berharap aku sakit danadalah agama enak. Pokoknya yang enak-enak itulah inti menderita."ajarannya. Maka saya cari profesi adalah juga profesi yang "Kau salah sangka. Sama sekali aku tidak berharap.menurut saya paling enak. Dalam ajaran agama saya, Tapi manusia yang normal terkadang ada saatnya sakitprofesi saya tidaklah sebuah kejahatan. Tapi di agama lain juga. Saat sakit itulah manusia lebih banyak berbicarabisa jadi profesi saya disebut sebuah kejahatan bahkan dengan nuraninya daripada dengan nafsunya. Lha sayadosa besar. Aku tak peduli, aku punya agama sendiri. ingin tahu apa yang akan kaukatakan saat kau dalam "Profesi saya adalah menyenangkan orang-orang keadaan seperti itu. Apakah berarti saat kau sakit kaupenting. Orang-orang yang memerlukan hiburan. sudah tidak beragama lagi. Karena rasa enak itu sudahPekerjaan saya adalah menghiburnya. Tapi orang-orang tidak ada lagi. Atau bagaimana?"awam menyebut orang seperti saya ini sebagai pelacur. Ada "Saya akan bertahan dengan agama saya. Sayajuga yang menyebut sebagai perempuan sundal. Macam- yakin dengan temuan saya."macamlah sebutannya. Tapi saya, berpegang pada "Yah kalau begitu, bagimu agamamu dan bagikukeyakinan saya, maka saya menyebut diri saya adalah agamaku."seniwati. Saya menjual jasa. Dan jasa saya adalah seni dankeindahan. Itulah saya Mas. Bagaimana menurut Mas?" * * * "Aku hanya merasa kasihan padamu?" "Kasihan, kenapa kasihan?" "Entahlah, hanya merasa kasihan saja. Aku ini orangawam juga. Tidak tahu apa-apa. Agama juga tidak tahu. 196 197
    • Empat Selesai makan Zul memutuskan untuk jalan-jalan kepusat kota. la merasa imannya tidak kuat jika di rumahitu terus, dan berduaan dengan Linda. la menyadaridirinya hanyalah pemuda biasa yang masih lemahimannya. Yang masih sering kalah melawan hawanafsunya sendiri. Tingkat ketakwaannya belumlahsampai p a d a tingkatan Nabi Yusuf yang m a m p umenepis godaan Zulaikha. la merasa setan yang adadalam dirinya lebih kuat dari dirinya. Maka ia harusmengambil tindakan penyelamatan dan waspada. Iatidak ingin membuat dirinya celaka. Ia baru sampai di 199
    • negeri orang. Mau tinggal di mana saja belum jelas. "Baik. Terima kasih. Salam buat Mbak Mar, MbakPekerjaan juga belum jelas. Melangkahkan kaki mau ke Iin, dan Mbak Sumiyati."mana saja belum jelas. Maka ia tidak mau terjebak dalam "Baik. Kalau ada apa-apa bisa telpon kami ya. Sudahsituasi yang mengakibatkan penyesalan. Ia teringat pesan tahu nomor hp saya?"Mar saat menyebut nama Linda pertama kalinya, "Belum." "Linda ini belum bersuami dan cantik. Kau hati-hati "Kalau nomor Mbak Mar sudah tahu?"jangan sampai ada apa-apa dengan dia ya. Jangan "Sudah."membuat masalah di negeri orang. Awas ya, kau harusjaga iman kalau berhadapan dengannya!" "Ya sudah. Itu cukup." Tak ada jalan lain baginya kecuali pergi dan menjauh "Sekali lagi terima kasih. Saya pergi dulu."dari sumber petaka. Api jika tidak bisa dilawan dan "Ya, sekali lagi hati-hati di jalan. Jangan sampai tidurdipadamkan maka jalan selamat adalah lari menjauh dari di bus ya," canda Linda.api itu. Jika tidak maka api itu akan membakar dan Zul menjawab d e n g a n s e n y u m lalu beranjakmenghancurkan. meninggalkan Linda sendirian. Ia pergi hanya membawa "Maaf Mbak Linda, rasanya saya harus keluar jalan- tas cangklong hitam berisi map dokumen-dokumennya,jalan. Saya ingin melihat-lihat suasana. Bosan di rumah sepotong sarung, dan kaos panjang. Itu saja. Ia merasaterus. Nanti malam habis Maghrib mungkin saya datang mantap. Jika ia bisa menaklukkan Jakarta dan Batam,lagi. Tas danbarang-barang saya masih di kamar," kata maka ia sangat yakin ia pun bisa menaklukkan KualaZul pada Linda. Lumpur. Sepintas ketika ia tiba di Purduraya, ia melihat suasana terminal bus paling padat di Kuala Lumpur itu "O ya. Hati-hati di jalan. Sudah bawa paspornya?" tidak seganas Pulogadung dan Kampung Rambutansahut Linda Jakarta. Ia pernah berkelahi dengan preman Pulogadung "Sudah. Kalau mau ke pusat kota Kuala Lumpur dan tetap bisa hidup. Ia juga pernah ditodong premannaik apa ya?" Kampung Rambutan dan bisa lolos. Jika ia terpaksa harus "Tadi malam datang pakai apa?" bertemu dengan preman Kuala Lumpur ia merasa tak "Bus " perlu gentar. Orang Demak tidak boleh gentar ber- "Rapid KL ya?" hadapan dengan situasi apapun juga. "Iya." Dari Subang Jaya ia naik bus Rapid KL ke terminal "Kalau begitu naik saja dari tempat kau tadi malam KL Sentral. Di KL Sentral ia sempat bingung mau keturun dan naik bus yang sama." mana. Ia berinisiatif untuk mencoba menghubungi lagi 200 201
    • nama yang diberi oleh Pak Hasan sekali lagi. Setelah pesantren di Padang sebelum berdakwah di Batam. Pakbertanya kepada seorang lelaki India ia menemukan Rusli mengajaknya makan siang di restoran Saji Seleratelpon umum. Dari telpon umum ia menghubungi dan yang letaknya tak jauh dari Mad Valley Plaza.masuk. Ia sangat berbahagia seperti mendapatkan rejeki "Jadi yang mendorong adik ke Kuala Lumpur ini Paknomplok yang tiada terkira jumlahnya. Hasan?" "Ini Pak Rusli ya?" tanyanya. "Iya Pak." "Iya benar. Ini siape?" "Itu maknanya adik diminta untuk belajar. Menuntut "Saya Zul Pak. Saya mendapat nama dan nomor ilmu. Saya tahu persis siapa Pak Hasan. Tapi adik tidakBapak dari Pak Hasan Batam." akan bisa melanjutkan studi di sini, kalau tidak dengan "O ya ya. Pak Hasan sehat ya?" bekerja. Dari mana uang untuk membayar kuliah kalau tidak dicari dengan bekerja? Iya kan?" "Alhamdulillah Pak. Bagaimana caranya saya bisabertemu Bapak? Saya baru datang tadi malam dan tidak "Iya Pak."banyak tahu tentang Kuala Lumpur. Terus terang saya "Jangan kuatir. Di sini banyak kok mahasiswa yangperlu sedikit bantuan Bapak." kuliah sambil bekerja. Nanti kau akan aku temukan "Sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu dengan mereka. Insya Allah mereka akan banyakSaudara. Adik sekarang di mana?" m e m b a n t u . Terutama b e r k e n a a n d e n g a n u r u s a n pendaftaran di kampus. O ya kaubawa ijazah kan?" "Di KL Sentral Pak." "Begini saja Dik. Dari KL Sentra adik naik KTM ke "Bawa Pak."Stesyen Mad Valley. Saya jemput di sana. Baru nanti kira "Dulu kuliah di mana?"bicarakan segalanya dengan lebih leluasa." "Di IKIP PGRI Semarang Pak." "Apa tadi Pak, KTM ya?" "Jurusan apa?" "Ya KTM, atau kereta listrik. Ingat ke Mad Valley! Turun "Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Pak."di Mad Valley. Saya memakai baju koko hijau lumut." "Ya ya ya. G a m p a n g nanti bisa diatur u n t u k "Baik Pak. Terima kasih." dicarikan jurusan yang pas. Yang penting kau serius Tidak sulit baginya untuk naik KTM dan tidak sulit lanjut kuliah kan?"untuk mencapai Mad Valley. Siang itu, ia merasa "Iya Pak."bahagia, sebab disambut dengan hangat oleh Pak Rusli, "Bagus. Pak Hasan itu sebenarnya mendorongmuyang tak lain adalah seorang murid Pak Hasan saat belajar untuk memiliki modal paling mahal untuk sukses dan jaya."di Padang. Pak Hasan pernah mengajar di sebuah 202 203
    • "Apa itu Pak?" dengan keindahan dan kerapian kampus perguruan "Ilmu. Hanya orang-orang berilmulah yang akan tinggi tertua di Malaysia itu.diangkat derajatnya oleh Allah. Banyak orang tidak "Universiti ini masuk dalam jajaran 100 perguruanberilmu kaya, namun derajatnya tidak diangkat oleh tinggi terbaik dunia. Kau harus tahu itu. Semoga sajaAllah. Tidak sedikit orang kaya yang jadi hina karena kau nanti diterima lanjut S.2 di sini. Aku yakin orangkekayaannya. Sebab ia tidak memiliki ilmu bagaimana seperti kau akan meraih kecemerlangan di masa yangmenjadikan kekayaannya sebagai jalan beribadah dan akan datang." Ujar Pak Rusli menyemangati.menggapai kemuliaan. Setelah ini kau akan aku bawa "Doanya Pak."ke rumah teman-teman mahasiswa. Agar kau kembali "Allah memberkati, insya Allah."hidup dalam barakah lingkungan para penuntut ilmu." Setelah mengelilingi kampus Universiti Malaya, Pak "Iya Pak." Rusli mengajak Zul shalat Ashar di masjid Akademi Berulang kali Zul hanya menjawab: Iya Pak, iya Pak. Pengajian Islam. Setelah itu langsung memacu mobilnyaAgaknya Pak Rusli memperhatikan jawaban Zul. ke kawasan Pantai Dalam. Setelah keluar dari kawasan "Kamu ini dari tadi kok cuma bilang; Iya Pak, Iya Pak. kampus UM, di sepanjang perjalanan, tepatnya diJawa betul kamu ini. Apa tidak ada kata-kata yang lain?" samping kiri, Zul melihat rel KTM. Sesekali ia berpapasan "Mmm, aduh bagaimana Pak ya?" dengan KTM yang melaju ke arah KL Sentral. Sepuluh "Sudah jangan dipikirkan. Ini hanya gurauan saja. menit kemudian Pak Rusli memperlambat laju mobilnya.Ayo kita jalan." Mobil itu memasuki daerah yang terkesan agak kumuh. Setelah melewati jalan di bawah jembatan layang, mobil "Iya Pak." itu belok kanan. Di hadapan Zul tampak apartemen putih "Lha diulang lagi kan!" Seru Pak Rusli sambil yang tinggi dan kusam.tersenyum lebar. "Inilah Pantai Dalam, banyak mahasiswa Indonesia Zul langsung meringis. Ia jadi heran sendiri, kenapa di sini. Kita akan berkunjung ke rumah salah seorang diterus mengulang-ulang kata-kata itu pada Pak Rusli. an tar a mereka."Namun suasana jadi sangat cair. Sikap Pak Rusli yang Mereka berdua turun dari mobil dan bergegas ke arahlow profile membuatnya seolah sudah lama mengenal apartemen. Di tengah jalan mereka bertemu dengan anaklelaki berumur empat puluhan itu. Padahal belum ada muda yang gayanya khas Indonesia.tiga jam ia bertemu dengannya. "Assalamualaikum. Geng, mau ke mana?" sapa Pak Keluar dari Saji Selera, Pak Rusli membawanya Ruslimasuk kampus Universiti Malaya. Zul terkagum-kagum 204 205
    • "Anu Pak mau beli minyak goreng," jawab anak Pak Rusli dan Zul berjalan melewati samping muda itu. apartemen menuju apartemen berikutnya. Lalu masuk "Geng, kenalkan ini namanya Zul. Dari Demak. la lift yang mengantarkan mereka berdua sampai lantaibaru datang tadi malam," kata Pak Rusli memper- sepuluh. Keluar dari lift mereka berjalan ke arah kanan.kenalkan. Di pintu flat tempat tinggal Sugeng dan teman-temannya Anak muda itu langsung menyalami Zul sambil itu ada sriker bendera merah putih. Di bawahnya adamemperkenalkan diri, tulisan: "Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!" Menandakan bahwa mayoritas penghuninya adalah "Saya Sugeng, dari Purworejo Jawa Tengah. Selamatdatang di Kuala Lumpur Mas." orang Indonesia dari Jawa. "Iya Mas. Terima kasih," jawab Zul. Pak Rusli mengetuk pintu dan dibukakan oleh seorang pemuda gempal berambut tipis. la hanya memakai sarung "Namanya Zul ya? Zul siapa lengkapnya?" tanya dan kaos putih. Pemuda itu menyambut dengan senyum.Sugeng lagi. "O Pak Rusli. Silakan Pak." "Aslinya Ahmad Zul. Tapi teman-teman di SMAsering memanggil Zul Einstein." Pak Rusli dan Zul masuk. Pemuda itu memperkenal- kan diri pada Zul. Namanya Yahya. Ia berasal dari Malang. "Zul Einstein. Wah keren juga. Rencana mau masuk "Tesisnya bagaimana, Ya. Sudah selesai?" tanya PakUM?" Rusli. "Jika Allah mengijinkan." "Alhamdulillah sudah Pak. Minggu depan submit, "Nanti saya bantu, insya Allah." insya Allah," jawab Yahya dengan wajah cerah. "Terima kasih Mas Sugeng." "Langsung lanjut Ph.D., Ya?" "Pak Rusli saya jalan dulu ya. Saya cuma sebentar "Insya Allah Pak, tapi saya mesti laporan ke pihakkok. Langsung ke rumah saja Pak. Di rumah ada si Arif UIN Malang dulu. Semoga saja diijinkan untuk langsungsama si Yahya," terang Sugeng. lanjut Ph.D. Doanya." "Baik Geng. Jangan lupa beli yang segar-segar ya," "Allah memudahkan insya Allah."tukas Pak Rusli renyah. Akhirnya Zul tahu bahwa Yahya dulu kuliah di "Beres Pak. O ya Pak jangan lupa lagi. Lantai sepuluh Pakistan jurusan sejarah dan peradaban. Sepulang dariIho. Bukan lantai sembilan." Pakistan ia diterima jadi dosen di UIN Malang. Lalu "O ya terima kasih. Namanya juga sudah tua sering melanjutkan S.2 di UM, dan sebentar lagi selesai. Setelahlupa. Ayo Zul kita jalan." itu akan langsung melanjutkan S.3. 206 207
    • la juga tahu flat itu terdiri atas tiga kamar. Dua membuka usaha bekerjasama dengan orang Malaysia.kamar mandi. Dapur. Dan ruang tamu. Yang tinggal di Cukup untuk menghidupi anak dan isteri. Begitu selesaisitu lima orang; Sugeng, Yahya, Arif, Rizal, dan Pak doktor saya langsung akan pulang ke Indonesia." PakMuslim. Yahya dan Pak Muslim sudah menikah. Rusli menambahi.Sedangkan yang lainnya masih bujang. Sewa flat itu Tak lama kemudian Sugeng datang. Dan Arif yangenam ratus ringgit per bulan, atau sekitar satu juta enam tadi tidur, terbangun. Pertemuan itu jadi semakin hangat.ratus ribu per bulan. Baginya itu sangat mahal. Enam Semua memberi semangat p a d a Zul. Zul merasaratus ringgit ditanggung oleh penghuni rumah itu yang menemukan orang-orang yang baik dan tulus. Yahyaberjumlah lima. Sehingga masing-masing orang kena bahkan menawarkan agar Zul tinggal saja di flat itu danbeban 120 ringgit per bulan. Jika berjumlah enam, maka bisa tinggal satu kamar dengannya.masing-masing orang kena beban seratus ringgit. "Tapi kamar saya agak sempit. Bagi saya tidak Yahya juga bercerita, bahwa awal-awal di Kuala masalah dihuni dua orang. Jika hati dan jiwa kita lapangLumpur ia sempat bekerja mencuci piring di restoran maka semua akan jadi lapang." Ucap Yahya dengandengan gaji yang sangat mepet. Ia juga pernah kerja di wajah cerah.sebuah kedai foto copy. Bahkan ia pernah bekerja sebagai Tak ada keraguan bagi Zul untuk memutuskantukang bersih-bersih WC di Gedung Putra World Trading tinggal di flat itu bersama Yahya, Sugeng dan teman-Centre atau biasa disingkat PWTC. temannya. Sore itu ia memutuskan untuk langsung "Apa saja saya lakukan u n t u k bisa h i d u p dan menginap di situ dan tidak kembali ke Subang Jaya.membayar uang kuliah. Meskipun diterima jadi dosen, Setelah mantap bahwa Zul tidak akan terlantar, Paktapi saya belajar ini tanpa beasiswa. Saya dulu sempat Rusli mohon diri. Sebelum keluar pintu ia masih sempatmembawa isteri, tapi saya rasakan berat. Akhirnya berkata pada Zulsementara ini isteri tinggal di Malang dulu. Semoga sajananti keadaan membaik. Dan saya bisa membawa isteri "Saya akan coba mencari informasi. Jika adalagi kemari untuk menemani membuat disertasi Ph.D." lowongan nanti saya beritahukan. Yang jelas optimislah,jelas Yahya pada Zul. bahwa Allah itu Mahakaya. Allah sudah mengatur jatah rejeki hamba-Nya. Tergantung bagaimana hamba-Nya "Intinya tidak boleh malu. Tidak boleh menyerah. itu memungutnya. Jika ada apa-apa. Perlu bantuan apa-Dan harus terus bergerak. Saya dulu awal-awal kuliah apa, telpon saya saja. Tak usah sungkan ya Zul."di sini juga sama seperti Yahya. Hidup prihatin. Kerja "Iya Pak. Terima kasih atas segala kebaikannya."apa pun asal halal dan bisa membuat saya semakin kayasaya l a k u k a n . Alhamdulillah s e k a r a n g saya bisa * * * 208 209
    • Malam itu Zul bertemu dengan seluruh penghuni flat Zul mengangguk dan mengambil tas hitamnya. laitu. la tidak merasa menjadi orang asing di rumah itu. keluarkan map berisi berkas-berkas pribadinya dari tasMalam itu juga ia mendapatkan saran-saran yang sangat itu. la berikan m a p itu pada Sugeng. Sugeng lalumembantunya dalam menentukan langkah selanjutnya membuka dan meneliti dengan seksama. Ijazah SDdi Malaysia. Semua yang ada di rumah itu ingin sampai S.l ada di situ. Sugeng lalu melihat ijazah S.l itumemberikan bantuan semampunya. dengan kening berkerut. Sugeng menawarkan diri untuk membantunya "Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia ya?"mengurus pendaftaran di UM. Karena Zul masuk ke "Iya Mas." Jawab Zul pelanMalaysia tanpa single entry maka urusan imigrasi pasti "Pak Muslim, sini Pak!" Seru Sugeng pada Pakakan sedikit ada masalah. Rizal yang sudah punya Muslim yang sedang asyik menulis di depan layarpengalaman dalam masalah ini bersedia mendampingi komputer di kamarnya. Pak Muslim langsung mendekat.Zul jika nanti harus berurusan dengan masalah visa. "Iya ada apa Geng?" tanya Pak Muslim sambilYahya dan Arif akan membantu mencarikan informasi membenarkan gagang kaca matanya.kerja. Dan Pak Muslim, yang paling tua di rumah itu,menawarkan sepeda motornya jika akan digunakan Zul. "Zul ini, S.l-nya jurusan pendidikan bahasa Indo-Pak Muslim akan mengadakan penelitian di Sabah nesia. Sebaiknya kalau masuk S.2 UM di fakultas apa,selama tiga minggu. Berarti sepeda motornya bisa dipakai jurusan apa, Pak?"selama itu. Pak Muslim berpikir sejenak. Lalu berkata, "Lha Dik Zul sendiri ingin masuk fakultas apa?" "Ini masih bulan April. Awal semester bulan Juli.Masih ada waktu sekitar tiga bulan. Sebaiknya Zul daf tar "Fakultas pendidikan, Pak." Jawab Zul serayadulu saja. Selama tiga bulan bekerja sungguh-sungguh mendongakkan kepalanya ke arah Pak Muslim yangagar bisa membayar awal semester. Yang pasti jumlahnya berdiri di samping Sugeng.agak lumayan. Besok kita lengkapi syarat-syaratnya. Dan "Kalau gitu ya masuk fakultas pendidikan saja.lusa kita m a s u k k a n berkas ke IPS. 7 U n t u k u a n g Jurusannya, kalau saya boleh menyarankan sosiologipendaftaran yang 30 dollar itu biar saya talangi dulu. pendidikan saja." Sahut Pak Muslim.Jadi, dua hari kita targetkan berkas sudah masuk. Setelah "Bagaimana dengan saran Pak Muslim, Zul?" tanyaitu baru konsentrasi cari kerja. Bagaimana?" Jelas Sugeng. Sugeng. "Saya ikut saja." Lirih Zul. "Boleh. Saya sepakat." "Coba lihat, mana ijazahmu? Kau bawa kan?" Malam itu Zul merasa menemukan sctitik cahaya 7 IPS : Institute Postgraduate Studies. yang bisa dijadikan sedikit penerang bagi jalan masa 210 211
    • depannya. la kembali mendapatkan gairah hidup yang becak, kuli panggul di Pasar Genuk, satpam di LIK, danbaru. la merasakan kedamaian seperti rasa damainya saat terakhir penjaga parkir di Pasar Johar.dulu bisa melanjutkan pendidikan setelah lulus SD. la Yang ia rasakan, bedanya Yahya dengan dirinyatetap bisa lanjut ke SMP meskipun harus dengan bekerja adalah Yahya begitu mantap dan bahagia dengan apamembantu Pakdenya di Pasar Sayung sepulang sekolah. yang dilakukannya. Yahya menganggap hal itu bukanla merasa bahagia saat itu, sebab banyak teman- beban, tapi suatu kenikmatan. Yahya memasukkannyatemannya yang putus sekolah karena tidak ada biaya. sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian. Tapi diaMereka selesai SD langsung bekerja di sawah atau kerja selama ini bekerja, selalu saja menganggap sebagaidi pabrik-pabrik yang ada di Kawasan LIK Semarang. beban. Dalam hatinya selalu saja masih ada rasa kuatir Malam itu, untuk pertama kalinya ia tidur dalam dan merasa tertekan. Dan malam itu ia mendapatkankeadaan lebih nyaman dan tenteram. Dadanya terisi pencerahan yang membuatnya merasa lebih tenang.cahaya optimisme dan semangat. Bertahun-tahun Malam itu ia tidur dengan bibir menyunggingsebelumnya ia selalu tidur dalam bayang kekuatiran, rasa senyum optimis. Ia optimis telah menemukan jalan untuktakut dan ketidakpastian hidup. Ia mengalami itu sejak memperbaiki masa depan. Ia tidur dengan sama sekaliPakdenya, orang yang merawatnya sejak kecil, me- tidak mengingat Mari, Iin, Sumiyati dan Linda di Subangninggal saat ia masih di bangku kelas 3 SMA. Sejak itu Jaya.ia seperti merasakan ketidakpastian hidup. Dengan Sementara di Subang Jaya sana, Mari berangkatberusaha tetap tegar ia akhirnya berhasil juga menye- tidur dengan perasaan kehilangan. Entah kenapa ialesaikan SMA-nya bahkan bisa tetap kuliah. Dan selesai merasa ada yang hilang dari hatinya. Ia telah men-juga kuliahnya. Namun selesai kuliah ia belum juga dapatkan informasi pekerjaan untuk Zul. Dan ia pulangmantap menapakkan kakinya. Hal itulah yang mem- dengan perasaan bahagia, sebab ia yakin Zul masih adabuatnya merantau. Dari Semarang ke Jakarta. Lalu ke di rumahnya. Dan ia akan memberikan informasiBatam. Dan akhirnya ke Malaysia. pekerjaan itu pada pemuda itu. Ia akan melihat pemuda Dan malam itu, setelah ia bertemu dengan orang- itu bahagia lalu mengucapkan terima kasih padanya.orang yang b e r p e n d i d i k a n dan tulus, ia banyak Namun ia kecewa saat ia dapati Zul tidak ada. Ia masihmendapatkan pencerahan. Kisah hidup Yahya yang berharap, malam itu Zul akan kembali ke rumah itu.begitu rendah hati mau bekerja apa saja saat menuntut Namun ia kembali kecewa. Sampai pukul satu malam iailmu membuatnya kembali terlecut. Ia dulu, saat kuliah menunggu Zul tidak juga muncul. Akhirnya ia tidurdi Semarang, juga pernah mengalami apa yang Yahya dengan perasaan masygul.alami. Saat kuliah ia pernah bekerja menjadi tukang *** 212 213