Bai Fang Li - Sebuah Kisah Manusia Sejati

798 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
798
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
13
Actions
Shares
0
Downloads
10
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bai Fang Li - Sebuah Kisah Manusia Sejati

  1. 1. Bai Fang Li,KisahPengayuhBecakTuaBerhatiMuliaBai Fang Li berbeda.Iamenjalanihidupsebagaitukangbecak.Hidupnyasederhanakarenamemanghanya tukangbecak.Namunsemangatnyatinggi.Pergipagipulangmalammengayuhbecakmencaripenumpang yang bersediamenggunakanjasanya.Iatinggal digubuksederhana di Tianjin, China.Iahampirtakpernahbelimakanankarenamakananiadapatkandengancaramemulung.Begitupunpakaiannya.Apakahhasilmembecaknyatakcukupuntukmembelimakanandanpakaian?Pendapatannyacukupmemadaidansebenarnyabisamembuatnyahiduplebihlayak. Namunialebihmemilihmenggunakanuanghasiljerihpayahnyauntukmenyumbangyayasanyatimpiatu yang mengasuh300-an anaktakmampu.Melihatsemangatnyauntukmenyumbang, Bai Fang Li memang orang yangluarbiasa.Iahiduptanpapamrihdenganmenolonganak-anak yang takberuntung.Meskihidupdarimengayuhbecak (jikadiukurjarakmengayuhbecaknyasamadengan 18 kalikelilingbumi), iapunyakepedulian yang tinggi yang takterperikan.Hidupnya habis di atas sadel becak.Ia mengayuh dan terus mengayuh,membawapelanggan kemanasajamerekamau, meskiiahanyadibayar sekedar. Tubuhnya kecil,sangatkecil untuk ukuran becaknya atau pelanggan yang memakai jasanya, namunsemangatnya sungguhgagahperkasa.Sejak jam 6 pagi, ia mulai melalang dijalanan danberakhir setelahjam 8 malam.Pribadinya ramah dengan senyum tak pernah lekang dari wajah keriputnya.Menurut orang-orang yang mengenalnya, ia tak pernah mematok harga, berapapun yangdibayarikhlasiaterima. Takmengherankanjikabanyakpelanggan yang membayar lebih, mungkinkarena tak tega, melihat tubuh ringkih bersama nafasnya yang ngos-ngosan terus mengayuhbecak tua, mengalahkan teriksiangdan jalanan mendaki.Bai Fang Li namanya, tinggal dalam gubuk reot yang nyaris rubuh di sebuah daerah kumuh,bersama kebanyakan tukang becak, penjual asongan dan pemulung. Gubukyang dihuni bukanmiliknya, ia menyewanya secara harian. Ada sebuah tikar tua rusakdipojok-pojoknya, sebuahkardus berisi beberapa baju tua, selimut tipis yang telah bertambal-tambal, juga sebuah piringseng comel, tempat minum dari kaleng yang semuanya mungkin diambilnya dari tempatsampah. Pada pojok ruangan tergantung lampu templok minyak tanah untuk menerangikegelapan gubuk bila malam menjelang.Orang mengenalnya Bai Fang Li seorangpendatang, yang tinggal sendirian.Tiadayang tahu siapa sanak dan saudaranya. Namun, Bai Fang Li tak pernah sepi, banyakyang orang menyukainya.Sebetulnya penghasilannya cukup untuk mendapatkan makan dan minuman yanglayak, membeli baju yang cukup bagus menggantikan baju tuanya yang hanyasepasang, serta sepatu bututnya yang robek. Namun ia tidak pernah melakukan itu,semua uangpenghasilannya ia sumbangkan pada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi sekitar300 anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatumelalui sekolah.
  2. 2. Suatu ketika, hatinya sangat tersentuh, ia baru saja beristirahat setelah mengantar seorangpelanggannya. Bai Fang Li, terperangahmelihat seorang anak lelaki kurus berusia 6 tahun yangmenawarkan jasa mengangkat barang milik seorang ibu yang baru saja berbelanja.Tubuh lelaki kecil itu nampak sempoyongan menggendong beban berat,namun tiadamenyerahiaselesaikan tugasnya. Kegembiraan terang terpancar saat menyambutupah beberapa uang recehan dari ibu itu dan dengan wajah menengadah ke langit bocah ituberguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Sang Pencipta untuk rejeki yangdiperolehnya hari itu.Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja danmenerima upah uang recehan. Mengikuti, ia mengamati anak itu beranjak ketempat sampah,mengais-ngais sampah, dan ketika menemukan sepotong roti kecil yangkotor, sekenanyamembersihkanlalu memasukkan kemulut, menikmatinya seolah itu roti dariSurga.Hati Bai Fang Li tercekat, ia hampiri anak lelaki itu lalu membagikan makanannya. Ia heran,mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukupbanyak dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….” jawab anak itu.“Orang tuamudimana…?” tanya Bai Fang Li.“Saya tidak tahu…, ayah ibu saya pemulung… Tapi sejak sebulan lalu, setelah mereka pergimemulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuksaya dan dua adik saya yang masih kecil…” sahut anak itu.Ia lalu membujuk Wang Fingnama anak lelaki itu untuk mengantarnya pada ke duaadiknya. Hatinya merintih, melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurusberumur 4 dan 5 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotordengan pakaian yang compang camping.Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu peduli dengankeadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalamkemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus keluargamereka saja sudahsangat kesulitan.Bai Fang Li lalu memutuskan membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampunganak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu, ia katakan bahwa ia sendiri yangsetiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin ituagar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatandan pendidikan yang layak.Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6pagi sampai jam 8 malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Seluruh uangpenghasilannya, setelah dipotong sewa gubuk dan membeli 2potong kue kismis untuk makansiangnya.Jugasetelahiamembeli sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makanmalamnya, seluruhnya uangitu ia sumbangkan ke Yayasan untuk sahabat-sahabat kecilnyayang kekurangan.Ia merasa sangat bahagia melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasandirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombengyang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlumenjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukupbagus… gumannya senang.
  3. 3. Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa peduli dengan cuaca yangsilih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panasmatahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak itu dapat makanan yang layakdan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila ditanya orang-orang, mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa peduli dengan dirinyasendiri.Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Limenggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada Yayasan yatimpiatu di Tianjin itu.Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500(sekitar 650ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya kesekolah Yao Hua. Bai Fang Li berkata, “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Sayatidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan……”katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis.Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, diatelah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000(setara 470 jutarupiah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untukmenolong kurang lebih 300 anak-anak miskin (f)

×