Sanr iprajab3
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Sanr iprajab3

on

  • 823 views

Kkkkk

Kkkkk

Statistics

Views

Total Views
823
Views on SlideShare
823
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
8
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Sanr iprajab3 Sanr iprajab3 Presentation Transcript

  • MODUL PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PRAJABATAN GOLONGAN III Drs. Salamoen Soeharyo, MPA Dra. Nasri Effendy, M.Sc Lembaga Administrasi Negara - Republik Indonesia 2006
  • Hak Cipta © Pada : Lembaga Administrasi NegaraEdisi Tahun 2006 LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIALembaga Administrasi Negara Republik IndonesiaJl. Veteran No. 10 Jakarta 10110 KATA PENGANTARTelp. (62 21) 3868201, Fax. (62 21) 3800188 Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional 2005 – 2009 telah menetapkan bahwa visi pembangunan nasional adalah: (1) terwujudnya kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang aman, bersatu, rukun dan damai; (2) terwujudnya masyarakat, bangsa, danSistem Penyelenggaraan Pemerintahan negara yang menjunjung tinggi hukum, kesetaraan dan hak asasiNegara Kesatuan Republik Indonesia manusia; serta (3) terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan visi ini, mutlak diperlukan peningkatan kompetensi Pegawai Negeri Sipil (PNS), khususnya para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang akan menjadi PNS. PNS memainkan peran dan tanggungjawabnya yang sangat strategis dalam mendorong dan mempercepat perwujudan visi tersebut.Jakarta – LAN – 2006 Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang142 hlm: 15 x 21 cm Pendidikan dan Pelatihan Jabatan PNS mengamanatkan bahwa Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Prajabatan dilaksanakan untukISBN: 979 – 8619 – 83 – 8 memberikan pengetahuan dalam rangka pembentukan wawasan kebangsaan, kepribadian dan etika PNS, disamping pengetahuan dasar tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara, bidang tugas, dan budaya organisasi agar mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pelayan masyarakat. Untuk mewujudkan PNS yang memiliki kompetensi sesuai dengan amanat PP 101 Tahun 2000 maka seorang CPNS harus mengikuti dan lulus Diklat Prajabatan sebagai syarat untuk dapat diangkat menjadi PNS. iii
  • iv Untuk mempercepat upaya meningkatkan kompetensi tersebut,Lembaga Administrasi Negara (LAN) telah menetapkan kebijakan DAFTAR ISIdesentralisasi dengan pengendalian kualitas dengan standar tertentudalam penyelenggaraan Diklat Prajabatan. Dengan kebijakan ini,jumlah penyelenggaraan dapat lebih menyebar disamping jumlah KATA PENGANTAR .................................................................. iiialumni yang berkualitas dapat meningkat pula. Standarisasi meliputikeseluruhan aspek penyelenggaraan Diklat, mulai dari aspek DAFTAR ISI................................................................................. vkurikulum yang meliputi rumusan kompetensi, mata Diklat dan BAB I PENDAHULUAN ..................................................... 1strukturnya, metode dan skenario pembelajaran dan lain-lain sampaipada aspek administrasi seperti persyaratan peserta, administrasi A. Deskripsi Singkat................................................. 1penyelenggaraan, dan sebagainya. Dengan standarisasi ini, maka B. Manfaat Pembelajaran ......................................... 1kualitas penyelenggaraan dan alumni diharapkan dapat lebihterjamin. C. Tujuan Pembelajaran ........................................... 1 Salah satu unsur Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan yangmengalami penyempurnaan antara lain modul atau bahan ajar untukpara peserta. Oleh karena itu, kami menyambut baik penerbitan BAB II SISTEM PENYELENGGARAANmodul yang telah disempurnakan ini, sebagai antisipasi dari PEMERINTAHAN NEGARA .................................. 3perubahan lingkungan stratejik yang cepat dan luas diberbagai sektor.Dengan kehadiran modul ini, kami mengharapkan agar peserta Diklat A. Pengertian ............................................................ 3dapat memanfaatkannya secara optimal, bahkan dapat menggali B. Penyelenggaraan Kekuasaankeluasan dan kedalaman substansinya bersama melalui diskusisesama dan antar peserta dengan fasilitator para Widyaiswara dalam Pemerintahan Negara........................................... 4proses kegiatan pembelajaran selama Diklat berlangsung. C. Rangkuman.......................................................... 6 Kepada penulis dan seluruh anggota Tim yang telahberpartisipasi, kami haturkan terima kasih. Semoga buku hasil D. Latihan/Diskusi.................................................... 6perbaikan ini dapat dipergunakan sebaik-baiknya. BAB III PENYELENGGARAAN TATA Jakarta, Desember 2006 KEPEMERINTAHAN YANG BAIK KEPALA (GOOD GOVERNANCE) .......................................... 7 LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA A. Pengertian dan Pemahaman REPUBLIK INDONESIA Tata Kepemerintahan Yang Baik (Good Governance) ............................................. 7 SUNARNO B. Upaya Mewujudkan Tata Kepemerintahan v
  • vi vii Yang Baik (Good Governance) ........................... 10 D. Rangkuman.......................................................... 85 C. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah .......... 18 D. Latihan................................................................. 87 D. Peradilan Tata Usaha Negara............................... 24 E. Rangkuman .......................................................... 26 BAB VI HUBUNGAN PRESIDEN DENGAN F. Latihan ................................................................. 28 LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA LAINNYA DALAM RANGKA PENYELENGGARAANBAB IV PEMBENTUKAN PERATURAN PEMERINTAHAN NEGARA ................................. 88 PERUNDANG-UNDANGAN................................... 29 A. Hubungan Presiden Dengan MPR....................... 88 A. Asas Peraturan Perundang-undangan .................. 29 B. Hubungan Presiden Dengan DPR........................ 89 B. Jenis dan Hierarki Peraturan C. Hubungan Presiden Dengan DPD ....................... 90 Perundang-undangan ........................................... 33 D. Hubungan Presiden Dengan BPK........................ 90 C. Tata Cara Mempersiapkan E. Hubungan Presiden Dengan MA......................... 91 Rancangan Undang-Undang ................................ 36 F. Hubungan Presiden Dengan MK......................... 91 D. Kerangka Peraturan Perundang-undangan........... 41 G. Hubungan Presiden Dengan Bank Indonesia............. 92 E. Rangkuman .......................................................... 42 H. Rangkuman.......................................................... 93 F. Latihan ................................................................. 43 I. Latihan................................................................. 93BAB V LEMBAGA-LEMBAGA PEMERINTAH ................ 44 BAB VII PROSES MANAJEMEN PEMERINTAHAN .......... 95 A. Urusan Pemerintahan Yang Menjadi A. Perencanaan ......................................................... 95 Kewenangan Pemerintah ..................................... 45 B. Pengorganisasian ................................................. 98 B. Urusan Pemerintah Yang Menjadi C. Pelaksanaan ......................................................... 102 Kewenangan Daerah ............................................ 48 D. Pengawasan ......................................................... 114 C. Lembaga Pemerintah Tingkat Pusat .................... 51 E. Rangkuman.......................................................... 126 D. Lembaga Pemerintah Tingkat Daerah ................. 74 F. Latihan................................................................. 128 E. Lembaga Perekonomian Negara.......................... 81
  • viiiBAB VIII PENUTUP.................................................................. 130 A. Tes........................................................................ 130 B. Tindak Lanjut....................................................... 131REFERENSI ............................................................................. 132
  • BAB I PENDAHULUANA. Deskripsi Singkat Mata Diklat Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia membahas pengertian sistem penyelenggaraan pemerintahan negara RI, penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance), pembentukan peraturan perundang-undangan, lembaga-lembaga pemerintah, hubungan Presiden dengan lembaga-lembaga negara lainnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara, dan proses manajemen pemerintahan dengan mengacu kepada UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku.B. Manfaat Pembelajaran Dengan mempelajari mata Diklat ini peserta Diklat akan memperoleh pengetahuan tentang Pelaksanaan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan RI yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas peserta.C. Tujuan Pembelajaran 1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu memahami hal ikhwal tentang sistem 1
  • 2 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI penyelenggaraan pemerintahan negara kesatuan Republik BAB II Indonesia. SISTEM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA 2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu: a. Menjelaskan sistem penyelenggaraan pemerintahan A. Pengertian negara; Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara pada hakikatnya b. Menjelaskan tata kepemerintahan yang baik (good merupakan uraian tentang bagaimana mekanisme pemerintahan governance); negara dijalankan oleh Presiden sebagai pemegang kekuasaan c. Menjelaskan pembentukan peraturan perundangan; Pemerintahan Negara. Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan d. Menjelaskan lembaga-lembaga pemerintah; Negara ialah sistem bekerjanya Pemerintahan sebagai fungsi e. Menjelaskan hubungan Presiden dengan lembaga- yang ada pada Presiden. lembaga negara lainnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara; Pada dasarnya Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara f. Menjelaskan proses manajemen pemerintahan. tidak membicarakan Sistem Penyelenggaraan Negara oleh Lembaga-lembaga Negara secara keseluruhan. Dalam arti sempit, istilah Penyelenggaraan Negara tidak mencakup lembaga-lembaga Negara yang tercantum dalam UUD 1945. Sedangkan dalam arti luas, istilah penyelenggaraan negara mengacu pada tataran supra struktur politik (lembaga negara dan lembaga pemerintah), maupun pada tataran infrastruktur politik (organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan). Dengan demikian, yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara sebenarnya adalah mekanisme bekerjanya lembaga eksekutif, yang dipimpin oleh Presiden baik selaku Kepala Pemerintahan maupun sebagai Kepala Negara. 3
  • 4 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 5B. Penyelenggaraan Kekuasaan Pemerintahan perubahan atau pembentukan Undang-undang harus dengan persetujuan DPR ; Negara 4. Menyatakan keadaan bahaya. Syarat-syarat dan akibat Menurut UUD 1945, Presiden adalah sebagai penyelenggara keadaan bahaya ditetapkan dengan Undang-undang ; atau pemegang kekuasaan Pemerintahan Negara. Dalam 5. Mengangkat Duta dan Konsul. Dalam mengangkat Duta, melakukan kewajibannya, Presiden dibantu oleh satu orang memperhatikan pertimbangan DPR ; Wakil Presiden. Selain itu, dalam menjalankan fungsinya 6. Menerima penempatan duta negara lain dengan Presiden dibantu oleh Menteri-Menteri Negara, dimana setiap memperhatikan pertimbangan DPR ; Menteri Negara membidangi urusan tertentu dalam 7. Memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pemerintahan. Menteri-menteri Negara ini diangkat dan pertimbangan Mahkamah Agung (MA) ; diberhentikan oleh Presiden. 8. Memberi abolisi dan amnesti dengan memperhatikan pertimbangan DPR ; Sebagai Kepala Lembaga Eksekutif atau Kepala Pemerintahan, 9. Memberi gelar, tanda jasa dan lain-lain tanda kehormatan Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang dan yang diatur dengan Undang-undang ; menetapkan Peraturan Pemerintah untuk melaksanakan 10. Membentuk Dewan Pertimbangan yang bertugas memberi Undang-undang sebagaimana mestinya. Presiden tidak dapat nasehat dan pertimbangan kepada Presiden, yang selanjutnya membekukan dan atau membubarkan Dewan Perwakilan diatur dengan Undang-undang; Rakyat (DPR). 11. Membahas rancangan Undang-undang untuk mendapatkan persetujuan bersama DPR; Dalam penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan Negara 12. Mengesahkan Rancangan Undang-undang yang telah Kesatuan Republik Indonesia, sebagai Kepala Negara, Presiden: disetujui bersama DPR untuk menjadi Undang-undang. 1. Memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat, 13. Dalam hal ikhwal kegentingan memaksa, Presiden berhak Angkatan Udara, dan Angkatan Laut; menetapkan Peraturan Pemerintah sebagai pengganti 2. Menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian Undang-undang; dengan negara lain dengan persetujuan DPR; 14. Mengajukan Rancangan Undang-undang APBN untuk 3. Dalam membuat perjanjian lainnya yang menimbulkan dibahas bersama DPR dengan memperhatikan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait pertimbangan DPD (Dewan Perwakilan Daerah); dengan beban keuangan negara, dan/atau mengharuskan
  • 6 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI 15. Meresmikan anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang telah BAB III dipilih oleh DPR atas dasar pertimbangan DPD; PENYELENGGARAAN TATA 16. Menetapkan Calon Hakim Agung yang diusulkan Komisi Yudisial dan telah mendapat persetujuan DPR untuk KEPEMERINTAHAN YANG BAIK menjadi Hakim Agung ; (GOOD GOVERNANCE) 17. Mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR ; 18. Menetapkan dan mengajukan anggota hakim konstitusi. A. Pengertian dan Pemahaman Tata Kepemerintahan Yang Baik (GOOD GOVERNANCE)C. Rangkuman Sejalan dengan kemajuan masyarakat dengan peningkatan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara tidak permasalahannya, birokrasi cenderung terus semakin besar. membicarakan sistem penyelenggaraan negara oleh lembaga- Akibatnya adalah timbul masalah kuantitas dan kualitas lembaga negara secara keseluruhan akan tetapi adalah birokrasi yang semakin lama semakin serius, termasuk beban membicarakan mekanisme bekerjanya lembaga-lembaga negara menjadi terus bertambah berat. Keadaan ini diperparah eksekutif yang dipimpin oleh Presiden baik selaku Kepala dengan datangnya era globalisasi, yang merupakan era semakin Pemerintahan maupun sebagai Kepala Negara. luas dan tajamnya kompetisi antar bangsa. Globalisasi menimbulkan masalah yang harus di atasi agar kepentinganD. Latihan/Diskusi nasional tidak dirugikan, di lain pihak menimbulkan pula 1. Apakah yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan peluang yang perlu dimanfaatkan untuk kemajuan dan Pemerintahan Negara? kepentingan nasional. Namun hal itu tidak mungkin mampu 2. Apa saja tugas Presiden sebagai Kepala Pemerintahan dan dihadapi dan ditanggulangi lagi oleh pemerintah sendiri. sebagai Kepala Negara? 3. Mengapa Menteri-menteri tidak bertanggung jawab kepada ESCAP mengartikan governance sebagai proses pengambilan DPR? keputusan dan proses diimplementasikan atau tidak diimplementasikannya keputusan: “the process of decision making and the process by which the decision are implemented (or not implemented)”. Istilah governance menurut ESCAP 7
  • 8 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 9 dapat digunakan dalam beberapa konteks, seperti “corporate 1. Partisipasi, bahwa setiap warga negara baik langsung mau governance”, “international governance”, “national pun melalui perwakilan, mempunyai suara dalam pembuatan governance” dan “local governance”. keputusan dalam pemerintahan; 2. Aturan hukum (rule of law), kerangka hukum harus adil Osborn dan Gaebler (1992: 24) mendefinisikan governance dan dilaksanakan tanpa pandang bulu, terutama untuk hak sebagai proses dimana kita memecahkan masalah kita asasi manusia; bersama dan memenuhi kebutuhan masyarakat “the process 3. Transparansi, yang dibangun atas dasar kebebasan arus in which we solve our problem collectivelly and meet the society informasi. Informasi dapat diperoleh oleh mereka yang needs”. Meuthia Ganie – Rahman (Jakarta Post 26-10-1999: 2), membutuhkan serta dapat dipahami dan dimonitor; mendefinisikan governance sebagai “pengelolaan sumber daya 4. Ketanggapan (responsiviness), yang berarti bahwa berbagai ekonomi dan sosial yang melibatkan negara dan sektor non upaya lembaga dan prosedur-prosedur harus berupaya untuk pemerintah dalam suatu usaha kolektif”. melayani setiap stakeholder dengan baik, aspiratif; 5. Orientasi pada konsensus. Governance yang baik menjadi Governance melibatkan berbagai pelaku, pelaku-pelaku yang perantara kepentingan-kepentingan yang berbeda untuk berkepentingan atau stakeholder, yang pada dasarnya terdiri atas memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih negara atau pemerintah dan non pemerintah atau masyarakat, luas; yang tergantung dari permasalahan dan peringkat 6. Kesetaraan (equity). Semua warga negara, mempunyai pemerintahannya dapat meliputi kalangan yang sangat luas dan kesempatan yang sama untuk meningkatkan atau beraneka ragam seperti organisasi politik, LSM, organisasi mempertahankan kesejahteraannya; profesi, dunia usaha/swasta, koperasi, individu dan bahkan 7. Efektifitas dan efisiensi, penggunaan sumber-sumber daya lembaga internasional. Oleh karena itu, UNDP (PT. Wahana…, secara berhasilguna dan berdayaguna. 1999: 14) juga menyebutkan bahwa governance yang baik sebagai hubungan yang sinergis dan konstruktif diantara Demikianlah kini istilah “good governance” telah menjadi negara, sektor swasta dan masyarakat. perhatian orang dimana-mana. Berhubung dengan keterlibatan berbagai pihak: negara, dunia Dalam bahasa Indonesia telah ada tiga terjemahan untuk usaha dan masyarakat tersebut, maka antara lain UNDP (ibid) governance: kepemimpinan (Sofyan Effendi, lihat Bintoro), mengemukakan ciri governance yang baik adalah: pengelolaan (Sofyan Wanandi; Meuthia Ganie Rachman) dan
  • 10 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 11 penyelenggaraan (Bondan Gunawan). Mengingat istilah tidak singkat karena diperlukan pembelajaran, pemahaman, governance dapat digunakan dalam beberapa konteks seperti serta implementasi nilai-nilai tata kepemerintahan yang baik dikemukakan oleh ESCAP di atas, dan untuk negara/pemerintah secara utuh oleh seluruh komponen bangsa termasuk oleh mestinya public governance, maka istilah pengelolaan dan aparatur pemerintah dan masyarakat luas. Di samping itu, penyelenggaraan nampaknya lebih tepat. Akan tetapi perlu adanya kesepakatan bersama serta rasa optimistik yang dikaitkan dengan istilah yang ada dalam UUD 1945 tinggi dari seluruh komponen bangsa bahwa penyelenggaraan penyelenggara negara dan penyelenggara pemerintahan negara tata kepemerintahan yang baik dapat diwujudkan demi nampaknya untuk kita, dalam penyelenggaraan negara/ pencapaian masa depan bangsa dan negara yang lebih baik. pemerintahan, lebih baik governance diterjemahkan sebagai penyelenggaraan. Untuk itu, Bappenas melalui Tim Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan Yang Baik, menyatakan bahwa BAPPENAS, melalui Tim Pengembangan Kebijakan Nasional dalam upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik perlu menyatakan bahwa “istilah tata kepemerintahan yang baik mulai diperhatikan prinsip-prinsip Tata Kepemerintahan Yang banyak dikenal di tanah air sejak tahun 1997, ketika krisis Baik dengan indikator minimal dan perangkat pendukung ekonomi terjadi di Indonesia. Tata kepemerintahan yang baik indikatornya sebagai berikut: merupakan suatu konsepsi tentang penyelenggaraan 1. Wawasan Kedepan (Visionary): pemerintahan yang bersih, demokratis, dan efektif sesuai a. Indikator Minimal: dengan cita-cita terbentuknya suatu masyarakat madani. 1) Adanya visi dan strategi yang jelas dan mapan Selain sebagai suatu konsepsi tentang penyelenggaraan peme dengan menjaga kepastian hukum; rintahan, tata kepemerintahan yang baik juga merupakan suatu 2) Adanya kejelasan setiap tujuan kebijakan dan gagasan dan nilai untuk mengatur pola hubungan antara program; pemerintah, dunia usaha/swasta, dan masyarakat”. 3) Adanya dukungan dari pelaku untuk mewujudkan visi. b. Perangkat Pendukung Indikator:B. Upaya Mewujudkan Tata Kepemerintahan 1) Peraturan/kebijakan yang memberikan kekuatan Yang Baik (Good Governance) hukum pada visi dan strategi; Upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik 2) Proses penentuan visi dan strategi secara membutuhkan komitmen kuat, daya tahan, dan waktu yang partisipatif.
  • 12 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 13 2. Keterbukaan dan Transparansi (Openness and 4) Mekanisme/peraturan untuk mengakomodasi Transparancy) kepentingan yang beragam. a. Indikator Minimal: 4. Tanggung Gugat (Accountability): 1) Tersedianya informasi yang memadai pada setiap a. Indikator Minimal: proses penyusunan dan implementasi kebijakan 1) Adanya kesesuaian antara pelaksanaan dengan publik; standar prosedur pelaksanaan; 2) Adanya akses pada informasi yang siap, mudah 2) Adanya sanksi yang ditetapkan atas kesalahan atau dijangkau, bebas diperoleh, dan tepat waktu. kelalaian dalam pelaksanaan kegiatan. b. Perangkat Pendukung Indikator: b. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan yang menjamin hak untuk mendapatkan 1) Mekanisme pertanggungjawaban; informasi; 2) Laporan tahunan; 2) Pusat/balai informasi ; 3) Laporan pertanggungjawaban; 3) Website (e-government, e-procurement, dsb); 4) Sistem pemantauan kinerja penyelenggara negara; 4) Iklan layanan masyarakat ; 5) Sistem pengawasan; 5) Media cetak ; 6) Mekanisme reward and punishment. 6) Papan pengumuman. 5. Supremasi Hukum (Rule of Law): 3. Partisipasi masyarakat (Participation): a. Indikator Minimal: a. Indikator Minimal: 1) Adanya kepastian dan penegakkan hukum; 1) Adanya pemahaman penyelenggara negara tentang 2) Adanya penindakan setiap pelanggar hukum; proses/metode partisipatif; 3) Adanya pemahaman mengenai pentingnya 2) Adanya pengambilan keputusan yang didasarkan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan. atas konsensus bersama. b. Perangkat Pendukung Indikator: b. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Sistem yuridis yang terpadu/terintegrasi 1) Pedoman pelaksanaan proses partisipatif; (kepolisian, kejaksaan, pengadilan); 2) Forum konsultasi dan temu publik, termasuk forum 2) Reward and punishment yang jelas bagi aparat stakeholder ; penegak hukum (kepolisian, kejaksaan, 3) Media massa nasional maupun media lokal sebagai kehakiman); sarana penyaluran aspirasi masyarakat;
  • 14 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 15 3) Sistem pemantauan lembaga peradilan yang objektif, 8. Daya Tanggap (Responsiveness): independen, dan mudah diakses publik (ombudsman); a. Indikator Minimal: 4) Sosialisasi mengenai kesadaran hukum. 1) Tersedianya layanan pengaduan dengan prosedur 6. Demokrasi (Democracy): yang mudah dipahami oleh masyarakat; a. Indikator Minimal: 2) Adanya tindak lanjut cepat dari laporan dan 1) Adanya kebebasan dalam menyampaikan aspirasi pengaduan. dan berorganisasi; b. Perangkat Pendukung Indikator: 2) Adanya kesempatan yang sama bagi setiap anggota 1) Standar pelayanan publik; masyarakat untuk memilih dan membangun 2) Prosedur dan layanan pengaduan hotlin ; konsensus dalam pengambilan keputusan kebijakan 3) Fasilitas komunikasi dan informasi. publik. 9. Keefesienan dan Keefektifan (Efficiency and b. Perangkat Pendukung Indikator: Effectiveness): Peraturan yang menjamin adanya hak dan kewajiban a. Indikator Minimal: yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk turut 1) Terlaksananya administrasi penyelenggaraan serta dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. negara yang berkualitas dan tepat sasaran dengan 7. Profesionalisme dan Kompetensi (Profesionalism and penggunaan sumber daya yang optimal; Competency): 2) Adanya perbaikan berkelanjutan; a. Indikator Minimal: 3) Berkurangnya tumpang tindih penyelenggaraan 1) Berkinerja tinggi; fungsi organisasi/unit kerja. 2) Taat asas; b. Perangkat Pendukung Indikator: 3) Kreatif dan inovatif; 1) Standar dan indikator kinerja untuk menilai 4) Memiliki kualifikasi di bidangnya. efisiensi dan efektifitas pelayanan; b. Perangkat Pendukung Indikator: 2) Survei-survei kepuasan stakeholders. 1) Standar kompetensi yang sesuai dengan fungsinya; 10. Desentralisasi (Decentralization): 2) Kode etik profesi; a. Indikator Minimal: 3) Sistem reward and punishment yang jelas; Adanya kejelasan pembagian tugas dan wewenang 4) Sistem pengembangan SDM; dalam berbagai tingkatan jabatan. 5) Standar dan indikator kinerja.
  • 16 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 17 b. Perangkat Pendukung Indikator: 12. Komitmen pada Pengurangan Kesenjangan Peraturan perundang-undangan mengenai: (Commitment to Reduce Inequality): 1) Struktur organisasi yang tepat dan jelas; a. Indikator Minimal: 2) Job description (uraian tugas) yang jelas. 1) Adanya langkah-langkah atau kebijakan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar bagi 11. Kemitraan Dengan Dunia Usaha Swasta dan masyarakat yang kurang mampu (subsidi silang, Masyarakat (Private Sector and Civil Society affirmative action, dan sebagainya); Partnership): 2) Tersedianya layanan-layanan/fasilitas-fasilitas a. Indikator Minimal: khusus bagi masyarakat tidak mampu; 1) Adanya pemahaman aparat pemerintah tentang pola 3) Adanya kesetaraan dan keadilan gender; kemitraan; 4) Adanya pemberdayaan kawasan tertinggal. 2) Adanya lingkungan yang kondusif bagi masyarakat b. Perangkat Pendukung Indikator: kurang mampu (powerless) untuk berkarya; 1) Peraturan-peraturan yang berpihak pada pember 3) Terbukanya kesempatan bagi masyarakat/dunia dayaan gender, masyarakat kurang mampu, dan usaha swasta untuk turut berperan dalam kawasan tertinggal; penyediaan pelayanan umum; 2) Program-program pemberdayaan gender, masyara 4) Adanya pemberdayaan institusi ekonomi kat kurang mampu, dan kawasan tertinggal. lokal/usaha mikro, kecil, dan menengah, serta 13. Komitmen pada Lingkungan Hidup (Commitment to koperasi. Environmental Protection): b. Perangkat Pendukung Indikator: a. Indikator Minimal: 1) Peraturan-peraturan dan pedoman yang mendorong 1) Adanya keseimbangan antara pemanfaatan sumber kemitraan pemerintah-dunia usaha swasta- daya alam dan perlindungan/konservasinya; masyarakat; 2) Penegakan prinsip-prinsip pembangunan 2) Peraturan-peraturan yang berpihak pada masyarakat berkelanjutan; kurang mampu; 3) Rendahnya tingkat pencemaran dan kerusakan 3) Program-program pemberdayaan. lingkungan; 4) Rendahnya tingkat pelanggaran perusakan lingkungan.
  • 18 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 19 b. Perangkat Pendukung Indikator: Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah perwujudan 1) Peraturan dan kebijakan yang menjamin kewajiban suatu instansi pemerintah untuk perlindungan dan pelestarian sumber daya alam dan mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan ling kungan hidup; misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah 2) Forum kegiatan peduli lingkungan ; ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. 3) Reward and punishment dalam pemanfaatan 1. Pengertian Akuntabilitas sumber daya dan perlindungan lingkungan hidup. Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan 14. Komitmen pada Pasar Yang Fair (Commitment to pertanggung jawaban atau menjawab dan menerangkan Fair Market): kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan suatu a. Indikator Minimal: organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau 1) Tidak ada monopoli; berkewenangan untuk meminta keterangan atau 2) Berkembangnya ekonomi masyarakat; pertanggungjawaban. Berdasarkan pengertian ini, maka 3) Terjaminnya iklim kompetisi yang sehat. semua instansi pemerintah, badan dan lembaga negara di b. Perangkat Pendukung Indikator: pusat dan daerah sesuai dengan tugas pokok masing-masing Peraturan-peraturan mengenai persaingan usaha yang harus memahami lingkup akuntabilitasnya masing-masing, menjamin iklim kompetisi yang sehat. karena akuntabilitas yang diminta meliputi keberhasilan dan juga kegagalan pelaksanaan misi instansi yang bersangkutan. 2. Prinsip-Prinsip AkuntabilitasC. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Dalam pelaksanaan akuntabilitas di lingkungan instansi Dalam rangka meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang pemerintah, perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berdayaguna, berhasilguna, bersih dan bertanggung jawab, telah berikut: diterbitkan Instruksi Presiden No. 7 Tahun 1999 tentang a. Harus ada komitmen dari pimpinan dan seluruh staf Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). instansi untuk melakukan pengelolaan pelaksanaan misi Pelaksanaannya lebih lanjut didasarkan atas Pedoman agar akuntabel; Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi b. Harus merupakan suatu sistem yang dapat menjamin Pemerintah yang diterbitkan oleh Lembaga Administrasi Negara penggunaan sumber-sumber daya secara konsisten (Keputusan Kepala LAN No. 589/ IX/6/4/1999 dan telah dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dirubah dengan Keputusan Kepala LAN No. 239/IX/6/8/2003).
  • 20 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 21 c. Harus dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan dan tuntutan perkembangan lingkungan strategis, nasional dan sasaran yang telah ditetapkan; global. Analisis terhadap lingkungan organisasi, baik internal d. Harus berorientasi pada pencapaian visi dan misi serta maupun eksternal merupakan langkah yang sangat penting hasil dan manfaat yang diperoleh; dalam memperhitungkan kekuataan (strengths), kelemahan e. Harus jujur, objektif, transparan, dan inovatif sebagai (weaknesses), peluang (opportunities), dan tantangan/kendala katalisator perubahan manajemen instansi pemerintah (threats) yang ada. Analisis terhadap unsur-unsur tersebut dalam bentuk pemutakhiran metode dan teknik sangat penting dan merupakan dasar bagi perwujudan visi pengukuran kinerja dan penyusunan laporan dan misi serta strategi instansi pemerintah. akuntabilitas. Dengan perkataan lain, perencanaan strategis yang disusun Di samping itu, akuntabilitas kinerja harus pula menyajikan oleh suatu instansi pemerintah harus mencakup: (1) penjelasan tentang deviasi antara realisasi kegiatan dengan pernyatan visi, misi, strategi, dan faktor-faktor keberhasil an rencana serta keberhasilan dan kegagalan dalam pencapaian organisasi; (2) rumusan tentang tujuan, sasaran dan uraian sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, aktivitas organisasi; dan (3) uraian tentang cara mencapai pengukuran kinerja dimulai dari perencanaan strategis dan tujuan dan sasaran tersebut. Dengan visi, misi, dan strategi berakhir dengan penyerahan laporan akuntabilitas kepada yang jelas maka diharapkan instansi pemerintah akan dapat pemberi mandat (wewenang). Dalam pelaksanaan menyelaraskan dengan potensi, peluang dan kendala yang akuntabilitas ini, diperlukan pula perhatian dan komitmen dihadapi. Perencanaan strategis bersama dengan yang kuat dari atasan langsung instansi yang pengukuran kinerja serta evaluasinya merupakan memberikan akuntabilitasnya, lembaga perwakilan dan rangkaian sistem pengukuran kinerja yang penting. lembaga pengawasan, untuk mengevaluasi akuntabilitas 4. Pengukuran Kinerja kinerja instansi yang bersangkutan. Pengukuran kinerja merupakan suatu alat manajemen untuk 3. Perencanaan Strategis meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan Dalam sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah akuntabilitas. Sebenarnya pengukuran kinerja punya makna perencanaan strategis merupakan langkah awal untuk ganda, yaitu pengukuran kinerja sendiri dan evaluasi kinerja. melaksanakan mandat. Perencanaan strategis instansi Untuk melaksanakan kedua hal tersebut, terlebih dahulu pemerintah memerlukan integrasi antara keahlian sumber harus ditentukan tujuan dari suatu program secara daya manusia dan sumber daya lain agar mampu menjawab keseluruhan. Setelah program didesain, haruslah sudah
  • 22 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 23 termasuk penciptaan indikator kinerja atau pengukuran 5. Evaluasi Kinerja keberhasilan pelaksanaan program, sehingga dengan Setelah tahap pengukuran kinerja dilalui, berikutnya adalah demikian dapat diukur dan dievaluasi tingkat keberhasilan tahap evaluasi kinerja. Tahapan ini dimulai dengan nya. menghitung nilai capaian dari pelaksanaan perkegiatan. Kemudian dilanjutkan dengan menghitung capaian kinerja Pengukuran kinerja merupakan jembatan antara perencanaan dari pelaksanaan program didasarkan pembobotan dari setiap strategis dengan akuntabilitas. Suatu instansi pemerintah kegiatan yang ada di dalam suatu program. dapat dikatakan berhasil jika terdapat bukti-bukti atau 6. Pelaporan indikator-indikator atau ukuran-ukuran pencapaian yang Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) mengarah pada perencanaan misi. Tanpa adanya pengukuran harus disampaikan oleh instansi-instansi dari Pemerintah kinerja sangat sulit dicari pembenaran yang logis atau Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah pencapaian misi organisasi instansi. Sebaliknya dengan Kabupaten/Kota. Penyusunan laporan harus mengikuti disusunnya perencanaan strategis yang jelas, perencanaan prinsip-prinsip yang lazim, suatu laporan harus disusun operasional yang terukur, maka dapat diharapkan tersedia secara jujur, objektif dan transparan. Di samping itu perlu pembenaran yang logis dan argumentasi yang memadai pula diperhatikan prinsip-prinsip: untuk mengatakan suatu pelaksanan program berhasil atau a. Prinsip pertanggungjawaban, sehingga harus cukup tidak. Dalam pengukuran kinerja perlu adanya: jelas hal–hal yang dikendalikan maupun yang tidak a. Penetapan Indikator Kinerja dikendalikan oleh pihak yang melaporkan harus dapat Penetapan indikator kinerja merupakan proses identifi di mengerti pembaca laporan; kasi dan klasifikasi indikator kinerja melalui sistem b. Prinsip pengecualian, yang dilaporkan yang penting pengumpulan dan pengolahan data/informasi untuk dan terdepan bagi pengambilan keputusan dan menentukan capaian tingkat kinerja kegiatan/program. pertanggungjawaban instansi yang bersangkutan b. Penetapan Capaian Kinerja instansi yang bersangkutan seperti keberhasilan dan Penetapan capaian kinerja dimaksudkan untuk kegagalan, perbedaan realisasi dan target; mengetahui dan menilai capaian indikator kinerja c. Prinsip manfaat yaitu manfaat laporan harus lebih pelaksanaan kegiatan/program dan kebijakan yang telah besar daripada biaya penyusunan. ditetapkan oleh suatu instansi pemerintah.
  • 24 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 25 Selanjutnya, perlu pula diperhatikan beberapa ciri laporan pemerintahan negara yang dianut dalam UUD 1945, melalui yang baik seperti relevan, tepat waktu, dapat aparaturnya di bidang Tata Usaha Negara, Pemerintah dipercaya/diandalkan, mudah dimengerti (jelas dan diharuskan berperan aktif dan positif. cermat), dalam bentuk yang menarik (tegas dan konsisten, tidak kontradiktif), berdaya banding tinggi, berdayasaing, Pemerintah wajib secara terus menerus membina, lengkap, netral, padat dan terstandarisasi. Agar LAKIP menyempurnakan, dan menertibkan aparatur tersebut agar dapat lebih berguna sebagai umpan balik bagi pihak-pihak menjadi aparatur yang efisien, efektif, bersih dan yang berkepentingan, maka bentuk dan isinya diseragamkan berwibawa yang dalam melaksanakan tugasnya selalu tanpa mengabaikan keunikan masing-masing instansi berdasarkan hukum dengan dilandasi semangat dan sikap pemerintah. Penyeragaman ini paling tidak dapat mengurangi pengabdian bagi masyarakat. perbedaan cara pengkajian yang cenderung menjauhkan pemenuhan prasyarat minimal akan informasi yang Sadar terhadap peran aktif dan positif tersebut di atas, seharusnya dimuat dalam LAKIP. Penyeragaman juga Pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah untuk dimaksudkan untuk pelaporan yang bersifat rutin, sehingga menghadapi timbulnya benturan kepentingan, perselisihan atau perbandingan atau evaluasi dapat dilakukan secara memadai. sengketa antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan LAKIP dapat dimasukkan dalam ketegori laporan rutin, warga masyarakat. Sengketa yang terjadi antara Badan atau karena paling tidak disusun dan disampaikan kepada pihak- Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga negara ini pihak yang berkepentingan setahun sekali. disebut sengketa Tata Usaha Negara. Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) dibentuk berdasarkanD. Peradilan Tata Usaha Negara Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaku Usaha Negara dan Undang-Undang No. 9 Tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap Perubahan atas Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 tentang sengketa Tata Usaha Negara. Negara Republik Indonesia adalah Peradilan Tata Usaha Negara. Peradilan Tata Usaha Negara negara hukum yang dinamis, bertujuan mewujudkan tata melengkapi 3 peradilan lain yang sudah lama ada di bawah kehidupan negara dan bangsa yang sejahtera, aman, tentram, Mahkamah Agung yaitu Peradilan Umum, Peradilan Agama dan serta tertib. Dalam tata kehidupan yang demikian itu, dijamin Peradilan Militer, sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman persamaan warga negara di dalam hukum. Dalam usaha berdasarkan UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan mewujudkan tujuan tersebut di atas, sesuai dengan sistem
  • 26 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 27 Kehakiman. PTUN diciptakan untuk menyelesaikan sengketa Indonesia baik dalam era reformasi maupun sebelum reformasi. antara Pemerintah dengan warga Negaranya. Dalam hal ini Kebijakan atau peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan sengketa timbul sebagai akibat dari adanya tindakan-tindakan dalam era reformasi seperti TAP MPR No. XI/MPR/1998 Pemerintah yang melanggar hak warga negaranya. Dengan tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas demikian dapat dikatakan bahwa PTUN diadakan dalam rangka Korupsi, Kolusi dan Nepotisme; UU No. 28 Tahun 1999 yang memberi perlindungan kepada rakyat. Dengan kata lain tujuan juga tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas PTUN sebenarnya tidak semata-mata untuk memberikan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme; Instruksi Presiden No. 7 Tahun perlindungan terhadap hak-hak perseorangan, melainkan juga 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). untuk melindungi hak-hak masyarakat. Adapun peraturan perundangan yang dikeluarkan pemerintah sebelum era reformasi yang berkaitan dengan upaya perwujudan Di samping itu dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik adalah UU No. 8 Tahun 1986 pemerintahan negara yang bersih, efisien dan efektif telah tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang diubah dengan UU dikembangkan pula berbagai pengawasan. Keseluruhan sistem No. 9 Tahun 2004. pengawasan tersebut akan diuraikan dalam Bab VII. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untukE. Rangkuman mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan Penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik sudah menjadi pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran suatu tuntutan dan kebutuhan universal yang tidak dapat yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara ditunda-tunda lagi. Upaya mewujudkan tata kepemerintahan periodik. yang baik membutuhkan komitmen kuat, daya tahan, waktu yang relatif panjang. Karena itu diperlukan pembelajaran, Sedangkan Peradilan Tata Usaha Negara ini dimaksudkan untuk pemahaman, serta implementasi nilai-nilai tata kepemerintahan menyelesaikan sengketa antara Pemerintah dengan warga yang baik secara utuh oleh seluruh komponen bangsa termasuk negaranya yang mencari keadilan terhadap sengketa tata usaha oleh aparatur pemerintah dan masyarakat luas. negara. Jadi PTUN dibentuk sebenarnya untuk memberi perlindungan kepada hak warga negara dan masyarakat. Berbagai kebijakan pendukung untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang baik telah dikeluarkan pemerintah
  • 28 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRIF. Latihan BAB IV 1. Penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good PEMBENTUKAN PERATURAN governance) perlu melibatkan semua pihak yang terkait PERUNDANG-UNDANGAN (stakeholder) yang pada dasarnya terdiri dari 3 sektor. Apa saja sektor-sektor itu dan jelaskan peranan masing-masing sektor tersebut! Peraturan Perundang-undangan merupakan peraturan tertulis yang 2. Apakah prinsip-prinsip penyelenggaraan tata kepemerintahan dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan yang baik (good governance) ini menurut UNDP? mengikat secara umum. Keseluruhan aspek penyelenggaraan 3. Menurut Bappenas apa saja upaya yang diperlukan untuk pemerintahan negara dalam pelaksanaannya diatur dengan dan mewujudkan tata kepemerintahan yang baik di Indonesia? berdasarkan pada peraturan perundang-undangan. Sebutkan pula prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan beserta Hal ini dimaksudkan untuk: indikator-indikator minimal dan perangkat pendukung 1. Menjamin kepastian hukum, karena Indonesia adalah negara indikatornya! hukum; 4. Apa pengertian akuntabilitas yang resmi dianut pemerintah 2. Melindungi masyarakat dari tindakan aparatur dan pihak lain yang dan apa prinsip-prinsipnya? sewenang-wenang; 5. Mengapa Peradilan Tata Usaha Negara juga merupakan 3. Melindungi aparatur dari tindakan masyarakat yang melawan upaya yang diperlukan dalam mewujudkan tata hukum. kepemerintahan yang baik? A. Asas Peraturan Perundang-Undangan Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundang- undangan yang baik yang meliputi: 1. Kejelasan Tujuan Setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. 29
  • 30 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 31 2. Kelembagaan atau Organisasi Pembentuk yang 7. Keterbukaan Tepat Dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan Setiap jenis peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh mulai dari perencanaan, persiapan, penyusunan, dan lembaga/pejabat pembentuk peraturan perundang-undangan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. Dengan demi yang berwenang. Peraturan perundang-undangan tersebut kian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan dapat dibatalkan atau batal demi hukum, apabila dibuat oleh yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam lembaga/pejabat yang tidak berwenang. proses pembuatan peraturan perundang-undangan. 3. Kesesuaian antara Jenis dan Materi Muatan Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan harus Sedangkan materi muatan Peraturan perundang-undangan benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat mengandung asas: dengan jenis peraturan perundang-undangannya. 1. Pengayoman 4. Dapat Dilaksanakan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus Setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka memperhitungkan efektifitas peraturan perundang-undangan menciptakan ketentraman masyarakat. tersebut di dalam masyarakat, baik secara filosofis, yuridis 2. Kemanusiaan maupun sosiologis. Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus 5. Kedayagunaan dan Kehasilgunaan mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak Setiap peraturan perundang-undangan dibuat karena memang asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur dan penduduk Indonesia secara proporsional. kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 3. Kebangsaan 6. Kejelasan Rumusan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus Setiap peraturan perundang-undangan harus memenuhi mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang persyaratan teknis penyusunan peraturan perundang- pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip undangan, sistematika dan pilihan kata atau terminologi, negara kesatuan Republik Indonesia. serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti, 4. Kekeluargaan sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus dalam pelaksanaannya. mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan.
  • 32 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 33 5. Kenusantaraan 10. Keseimbangan, Keserasian, dan Keselarasan. Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah mencerminkan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan, Indonesia dan materi muatan peraturan perundang-undangan antara kepentingan individu dan masyarakat dengan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum kepentingan bangsa dan negara. nasional yang berdasarkan Pancasila. 6. Bhinneka Tunggal Ika B. Jenis Dan Hierarkhi Peraturan Perundang- Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus Undangan memperhatikan keragaman penduduk, agama, suku dan golongan, kondisi khusus daerah, dan budaya khususnya 1. Jenis yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam Dalam ketentuan Pasal 7 Undang-undang No. 10 Tahun 2004 kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, jenis 7. Keadilan peraturan perundang-undangan meliputi: UUD Negara RI Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus 1945; Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap Undang-Undang, Peraturan Pemerintah; Peraturan Presiden; warga negara tanpa kecuali. dan Peraturan Daerah. 8. Kesamaan Kedudukan Dalam Hukum dan Pemerintahan Jenis peraturan perundang-undangan selain sebagaimana tersebut di atas, diakui keberadaannya dan mempunyai Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. latar belakang, antara lain; agama, suku, ras, golongan, gender, atau status sosial. Adapun jenis peraturan perundang-undangan selain 9. Ketertiban dan Kepastian Hukum sebagimana tersebut di atas, antara lain adalah peraturan- Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus peraturan yang dikeluarkan oleh MPR; DPR; DPD; MA; dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui MK; BPK; Gubernur BI; Menteri; DPRD Provinsi; DPRD jaminan adanya kepastian hukum. Kabupaten/Kota; Gubernur; Bupati/Walikota; Kepala Lembaga atau Komisi yang setingkat yang dibentuk oleh
  • 34 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 35 Undang-undang atau Pemerintah atas perintah Undang- asasi manusia, hak dan kewajiban warga negara; undang; Kepala Desa atau yang setingkat. pelaksanaan dan penegakkan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara; wilayah negara dan 2. Hierarki pembagian daerah; kewarganegaraan dan kependudukan; Yang dimaksud hierarki adalah penjenjangan setiap jenis dan keuangan negara. peraturan perundang-undangan yang didasarkan pada c. Peraturan Pemerintah asas bahwa peraturan perundang-undangan yang lebih Peraturan Pemerintah adalah peraturan perundang rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan undangan yang ditetapkan oleh Presiden berisi materi perundang-undangan yang lebih tinggi. Kekuatan hukum untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mesti peraturan perundang-undangan adalah sesuai dengan nya. hierarkinya. d. Peraturan Presiden Hierarki peraturan perundang-undangan sesuai dengan Pasal Peraturan Presiden adalah peraturan perundang-undangan 7 Undang-undang No. 10 Tahun 2004 adalah: yang dibuat oleh Presiden berisi materi yang a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia diperintahkan oleh UU atau materi untuk melaksanakan Tahun 1945 Peraturan Pemerintah. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun e. Peraturan Daerah 1945 merupakan hukum dasar dalam Peraturan Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan Perundang-undangan. yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti dengan persetujuan bersama Kepala Daerah. Materi Undang-Undang (Perpu) muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan Undang-Undang adalah peraturan perundang-undangan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah serta persetujuan bersama Presiden. Sedangkan Peraturan penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan yang lebih tinggi. Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden Peraturan Daerah yang dimaksud meliputi: dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa. Materi 1) Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh Dewan muatan yang harus diatur dengan UU atau peraturan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi bersama dengan pemerintah pengganti undang-undang adalah: hak-hak Gubernur. Termasuk dalam Peraturan Daerah
  • 36 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 37 Provinsi adalah Qanun yang berlaku di Daerah lingkup atau obyek yang akan diatur, dan jangkauan dan arah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Perdasus pengaturan. serta Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua; 2) Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh Dewan Untuk pengharmonisan, pembulatan, dan pemantapan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota bersama yang akan dituangkan dalam RUU, Menteri atau Pimpinan Bupati/Walikota; Lembaga pemrakarsa penyusunan UU wajib 3) Peraturan Desa/peraturan yang setingkat, dibuat oleh mengkonsultasikan terlebih dahulu konsep tersebut dengan badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama Menteri Kehakiman (dalam Kabinet Indonesia Bersatu: dengan kepala desa atau nama lainnya. Menteri Hukum dan HAM) dan Pimpinan lembaga lainnya yang terkait.C. Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang- Apabila keharmonisan, kebulatan dan kemantapan konsepsi Undang tidak dapat dihasilkan dalam forum konsultasi, maka Menteri Tata cara mempersiapkan RUU diatur dalam Keputusan Kehakiman dengan Menteri atau Pimpinan Lembaga Presiden No. 188 Tahun 1998. Dalam Keppres ini diatur tentang pemrakarsa bersama-sama Menteri Sekretaris Negara Prakarsa Penyusunan RUU; Panitia Antar Departemen dan melaporkannya kepada Presiden untuk mendapatkan Lembaga; Konsultasi RUU; Penyampaian RUU kepada DPR; keputusan. Tata Cara Pembahasan RUU yang disusun oleh DPR; Pengesahan, Pengundangan dan Penyebarluasan Undang- Sebaliknya dalam hal telah diperoleh keharmonisan, Undang. kebulatan dan kemantapan konsepsi, Menteri atau Pimpinan 1. Prakarsa Penyusunan RUU Lembaga pemrakarsa secara resmi mengajukan permintaan Menteri atau pimpinan LPND selanjutnya disebut Pimpinan persetujuan prakarsa penyusunan RUU kepada Presiden. Lembaga dapat mengambil prakarsa penyusunan RUU untuk mengatur masalah yang menyangkut bidang tugasnya. 2. Panitia Antar Departemen dan Lembaga Prakarsa ini wajib dimintakan persetujuan lebih dahulu Berdasarkan persetujuan dari Presiden atas prakarsa kepada Presiden dengan dilengkapi penjelasan mengenai penyusunan RUU, Menteri atau Pimpinan Lembaga konsepsi pengaturan yang meliputi: latar belakang dan tujuan pemrakarsa membentuk Panitia Antar Departemen dan penyusunan; sasaran yang ingin diwujudkan; pokok pikiran,
  • 38 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 39 Lembaga yang diketuai pejabat yang ditunjuk untuk Penyampaian pendapat dan pertimbangan dilakukan paling menyusun RUU tersebut. lambat 30 hari kerja sejak diterimanya pemintaan pendapat dan pertimbangan tersebut. Permintaan keanggotan Panitia dilakukan langsung oleh Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa kepada Menteri Apabila RUU tersebut telah memperoleh kesepakatan, Sekretaris Negara, Menteri Kehakiman, Menteri atau Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa mengajukan Pimpinan Lembaga yang terkait dengan materi yang akan RUU tersebut kepada Presiden. Kemudian Menteri Sekretaris diatur. Negara melaporkan RUU kepada Presiden dan sekaligus mempersiapkan Amanat Presiden bagi penyampaiannya Surat keputusan Pembentukan Panitia Antar Departemen dan kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Lembaga ditetapkan paling lambat 30 hari kerja sejak tanggal diterimanya surat Menteri Sekretaris Negara mengenai 4. Penyampaian RUU kepada DPR persetujuan pemrakarsa. Kepala Biro Hukum atau Kepala Dalam Amanat Presiden kepada pimpinan DPR ditegaskan Satuan Kerja yang menyelenggarakan fungsi di bidang hal-hal yang dianggap perlu, antara lain: perundang-undangan pada Departemen atau Lembaga a. Sifat penyelesaian RUU yang dikehendaki ; pemrakarsa, secara fungsional bertindak sebagai b. Cara penanganan atau pembahasannya, dalam hal RUU Sekretaris Panitia Antar Departemen. yang disampaikan lebih dari satu ; c. Menteri yang ditugasi untuk mewakili Presiden dalam 3. Konsultasi RUU pembahasan RUU di DPR. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa menyampaikan RUU yang dihasilkan Panitia kepada Menteri Kehakiman Amanat Presiden disampaikan juga kepada Wakil Presiden, dan Menteri atau Pimpinan Lembaga lainnya yang terkait, para Menteri Koordinator, Menteri atau Pimpinan Lembaga untuk memperoleh pendapat dan pertimbangan terlebih Pemrakarsa dan Menteri Kehakiman (dalam Kabinet dahulu. Pendapat dan pertimbangan dapat pula dimintakan Indonesia Bersatu, 2004-2009 disebut Menteri Hukum dan kepada Perguruan Tinggi dan organisasi di bidang sosial, HAM). politik, profesi atau kemasyarakatan lainnya sesuai kebutuhan. Apabila dalam pembahasan di DPR terdapat masalah yang bersifat prinsipil dan arah pembahasannya akan mengubah isi
  • 40 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 41 serta arah RUU, Menteri yang mewakili Presiden wajib 7. Ketentuan Lain-Lain terlebih dahulu melaporkannya kepada Presiden dengan Persetujuan pemrakarsa penyusunan RUU juga merupakan disertai saran pemecahan yang diperlukan untuk memperoleh persetujuan bagi penyusunan Rancangan Peraturan keputusan. Pemerintah, Rancangan Keputusan Presiden (Perpres) dan 5. Tata Cara Pembahasan RUU Yang Disusun dan peraturan lainnya, yang pelaksanaannya dilakukan sebagai Disampaikan Oleh DPR. satu kesatuan kegiatan. RUU yang disusun oleh DPR dan disampaikan kepada Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya Presiden dilaporkan oleh Menteri Sekretaris Negara diselesaikan paling lambat satu tahun setelah pengundangan disertai saran mengenai Menteri yang akan ditugasi untuk UU yang bersangkutan. mengkoordinasikan pembahasannya dengan Menteri atau Pimpinan Lembaga lain yang terkait. Tata cara selanjutnya D. Kerangka Peraturan Perundang-Undangan sama seperti tata cara yang telah disebutkan pada butir 2, 3, Kerangka peraturan perundang-undangan terdiri atas: judul, dan 4. pembukaan, batang tubuh, penutup, penjelasan (jika diperlukan) 6. Pengesahan, Pengundangan & Penyebarluasan UU dan lampiran (jika diperlukan). Menteri Sekretaris Negara menyiapkan naskah RUU yang 1. Judul telah disetujui DPR dan selanjutnya diajukan kepada a. Judul memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun Presiden guna memperoleh pengesahan (persetujuan pengundangan atau penetapan dan nama Peraturan bersama). Bila RUU yang telah disetujui tersebut tidak Perundang-undangan ; ditanda-tangani Presiden dalam jangka waktu paling lambat b. Nama peraturan perundang-undangan dibuat secara 30 hari sejak RUU tersebut disetujui bersama, maka RUU singkat dan mencerminkan isi peraturan perundang- tersebut tetap sah dan menjadi UU dan wajib diundangkan. undangan; Kemudian Menteri Sekretaris Negara mengundangkan UU c. Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang tersebut dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara. diletakkan ditengah marjin tanpa diakhiri tanda baca. Sedangkan Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa 2. Pembukaan berkewajiban secepatnya menyebar luaskan jiwa, semangat a. Frase Dengan Rahmat Tuhan YME; dan substansi UU tersebut kepada masyarakat. b. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan; c. Konsiderans;
  • 42 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 43 d. Dasar Hukum; hierarkinya, dan tata cara mempersiapkan rancangan undang- e. Diktum. undangnya. 3. Batang Tubuh a. Ketentuan Umum; F. Latihan b. Materi Pokok Yang Diatur; 1. Apakah konsekuensi bahwa Indonesia adalah negara hukum c. Ketentuan Pidana (jika diperlukan); dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan negara? d. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan); 2. Apa perlunya ada ketetapan tentang Hierarki Peraturan e. Ketentuan Penutup. Perundang-undangan? 4. Penutup 3. Dalam strata kebijakan publik, kebijakan Menteri adalah a. Penjelasan (jika diperlukan); kebijakan pelaksanaan, sebagai penjabaran kebijakan umum b. Lampiran (jika diperlukan). yang ditetapkan oleh Presiden. Bagaimana dalam hubungannya dengan UU No. 10 Tahun 2004 tentangE. Rangkuman Pembentukan Peraturan Perundang-undangan? 4. Mengapa dalam penyusunan RUU dan RPP semua instansi Keseluruhan aspek penyelenggaraan pemerintahan negara dalam terkait perlu diikutsertakan? pelaksanaannya diatur dengan dan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang dimaksudkan agar ada jaminan kepastian hukum, ada perlindungan masyarakat dari tindakan aparatur dan pihak lain yang sewenang-wenang dan juga agar aparatur terlindungi dari tindakan masyarakat yang melawan hukum. Oleh karena itu, agar setiap peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh lembaga-lembaga negara atau pejabat yang berwenang berkualitas dan tidak bertentangan satu sama lain maka dalam pembentukannya perlu memperhatikan asas pembentukan, asas tentang materi muatannya, jenis dan
  • Modul Diklat Prajabatan Golongan III 45 BAB V A. Urusan Pemerintahan Yang Menjadi LEMBAGA-LEMBAGA PEMERINTAH Kewenangan Pemerintah Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah adalah urusan-urusan yang menyangkutDalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara, pemerintah terjaminnya kelangsungan hidup bangsa dan negara secaramembentuk lembaga-lembaga pemerintahan seperti Departemen, keseluruhan.Lembaga Pemerintah Non Departemen, dan Lembaga-Lembaga Urusan pemerintahan yang menjadi Urusan Pemerintah tersebutlainnya. Pada dasarnya lembaga-lembaga pemerintah ini dapat dibagi adalah:dua, yaitu lembaga-lembaga pemerintah tingkat Pusat dan 1. Politik Luar Negeri, antara lain meliputi:lembaga-lembaga pemerintah tingkat Daerah. Lembaga-lembaga a. Mengangkat pejabat politik dan menunjuk warga negarapenyelengara pemerintahan negara tersebut merupakan aparatur untuk duduk dalam jabatan lembaga internasional;pemerintah atau disebut juga sebagai birokrasi pemerintah. Presiden b. Menetapkan kebijakan luar negeri;bersama-sama lembaga-lembaga pemerintah menyelenggarakan c. Melaksanakan perjanjian dengan negara lain;tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan dalam rangka d. Menetapkan kebijakan perdagangan luar negeri.mewujudkan tujuan nasional. 2. Pertahanan, antara lain meliputi: a. Mendirikan dan membentuk angkatan bersenjata;Tugas umum pemerintahan adalah tugas-tugas atau urusan-urusan b. Menyatakan damai dan perang;pemerintahan yang sejak dahulu dilaksanakan oleh pemerintah c. Menyatakan negara atau sebagai wilayah negara dalamdimana saja dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kepentingan keadaan bahaya;masyarakat, seperti pemeliharaan keamanan dan ketertiban, d. Membangun dan mengembangkan sistem pertahananpenyelenggaraan pendidikan, pelayanan kesehatan dan lain-lain. negara dan persenjataan;Sedangkan tugas pembangunan adalah tugas-tugas atau urusan- e. Menetapkan kebijakan untuk wajib militer, bela negaraurusan dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan. bagi setiap warga negara. 3. Keamanan, antara lain meliputi:Dengan adanya lembaga-lembaga pemerintah ini, maka urusan- a. Mendirikan dan membentuk kepolisian negara;urusan pemerintahan akan terbagi habis ke dalam lembaga lembaga b. Menetapkan kebijakan keamanan nasional;pemerintahan yang ada. Akan tetapi tidak harus setiap urusan c. Menindak setiap orang yang melanggar hukum negara;pemerintahan diwadahi dalam satu lembaga pemerintahan. 44
  • 46 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 47 d. Menindak kelompok atau setiap organisasi yang urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah, ada bagian kegiatannya melanggar keamanan negara. urusan yang diserahkan kepada Provinsi, dan ada bagian 4. Moneter dan Fiskal, antara lain: urusan yang diserahkan kepada Kabupaten/Kota. a. Mencetak uang dan menentukan nilai mata uang; b. Menetapkan kebijakan moneter; Dengan kata lain bahwa Pemerintah dapat: c. Mengendalikan peredaran uang. a. Menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan; 5. Yustisi, antara lain: b. Melimpahkan sebagai urusan pemerintahan kepada Gubernur a. Mendirikan lembaga peradilan; selaku Wakil Pemerintah; atau b. Mengangkat hakim dan jaksa; c. Menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah c. Mendirikan lembaga permasyarakatan; dan/atau pemerintahan dengan berdasarkan asas tugas d. Menetapkan kebijakan kehakiman dan keimigrasian, pembantuan. memberi grasi, amnesti, abolisi, membentuk Undang- Undang, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang concurrent Undang, Peraturan Pemerintah, dan peraturan lain yang secara proporsional antara Pemerintah, Daerah Provinsi, Daerah berskala nasional. Kabupaten dan Kota, maka disusun kriteria yang meliputi: 6. Agama, antara lain: eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi dengan a. Menetapkan hari libur keagamaan yang berlaku secara mempertimbangkan keserasian hubungan pengelolaan urusan nasional; pemerintahan antar tingkat pemerintahan. b. Memberikan pengakuan terhadap keberadaan suatu agama; Kriteria Eksternalitas adalah pendekatan dalam pembagian c. Menetapkan kebijakan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/akibat kehidupan keagamaan. yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. Apabila dampak yang ditimbulkan bersifat lokal, maka Di samping itu terdapat bagian urusan pemerintah yang bersifat urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan concurrent, artinya urusan pemerintahan yang penanganannya Kabupaten/Kota, apabila regional menjadi kewenangan dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama Provinsi, dan apabila nasional menjadi kewenangan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Dengan demikian Pemerintah. setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian
  • 48 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 49 Kriteria Akuntabilitas adalah pendekatan dalam pembagian 2. Perencanaan, pemanfataan, dan pengawasan tata ruang; urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tingkat 3. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah masyarakat; tingkat pemerintahan yang lebih langsung/dekat dengan 4. Penyediaan sarana dan prasarana umum; dampak/akibat dari urusan yang ditangani tersebut. Dengan 5. Penanganan bidang kesehatan; demikian akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan 6. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin. manusia potensial; 7. Penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/ kota; Kriteria Efisiensi adalah pendekatan dalam pembagian urusan 8. Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/ kota; pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber 9. Fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil, dan daya (personil, dana, dan peralatan) untuk mendapatkan menengah termasuk lintas kabupaten/kota; ketepatan, kepastian, dan kecepatan hasil yang harus dicapai 10. Pengendalian lingkungan hidup; dalam penyelenggaraan bagian urusan. 11. Pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/ kota; 12. Pelayanan kependudukan, dan catatan sipil;B. Urusan Pemerintahan Yang Menjadi 13. Pelayanan administrasi umum pemerintahan; Kewenangan Daerah 14. Pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas Urusan yang menjadi kewenangan daerah, meliputi urusan kabupaten/kota; wajib dan urusan pilihan. Urusan pemerintahan wajib adalah 15. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar dilaksanakan oleh kabupaten/kota; dan seperti pendidikan dasar, kesehatan, pemenuhan kebutuhan 16. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan hidup minimal, prasarana lingkungan dasar. Sedangkan perundang-undangan. urusan pemerintahan yang bersifat pilihan terkait erat dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang dengan kondisi, kekhasan dan potensi unggulan daerah yang meliputi: bersangkutan. 1. Perencanaan dan pengendalian pembangunan;
  • 50 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 51 Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah Kabupaten/Kota merupakan urusan yang berskala Gambar V.1: Pembagian Urusan Pemerintahan Provinsi, kabupaten/kota meliputi: Kabupaten/Kota 1. Perencanaan dan pengendalian pembangunan; 2. Perencanaan, pemanfataan, dan pengawasan tata ruang; 3. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat; 4. Penyediaan sarana dan prasarana umum; 5. Penanganan bidang kesehatan; 6. Penyelenggaraan pendidikan; 7. Penanggulangan masalah sosial; 8. Pelayanan bidang ketenagakerjaan; 9. Fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil, dan menengah; 10. Pengendalian lingkungan hidup; 11. Pelayanan pertanahan; 12. Pelayanan kependudukan, dan catatan sipil; 13. Pelayanan administrasi umum pemerintahan; 14. Pelayanan administrasi penanaman modal; 15. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; dan 16. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan Sumber: Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 perundang-undangan. C. Lembaga Pemerintah Tingkat Pusat Urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan Dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 dikatakan bahwa meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan Pemerintah Pusat atau Pemerintah adalah Presiden RI yang berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat memegang kekuasaan pemerintahan negara RI. Dalam sesuai dengan kondisi, kekhasan dan potensi unggulan penyelenggaraan pemerintahan, lembaga-lembaga pemerintah daerah yang bersangkutan. tingkat pusat meliputi: Kementerian Negara, Lembaga
  • 52 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 53 Pemerintah Non Departemen (LPND), Kesekretariatan yang 1) Koordinasi perencanaan dan penyusunan kebijakan membantu Presiden; Kejaksaan Agung; Perwakilan RI di Luar di bidangnya; Negeri; Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara 2) Sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidangnya; RI (Polri); Badan/Lembaga Ekstra Struktural. 3) Pengendalian penyelenggaraan kebijakan, sebagai mana dimaksud pada huruf 1) dan 2); 1. Kementerian Negara 4) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 2005 tentang menjadi tanggung jawabnya; Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata 5) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya; Kerja Kementerian Negara, disebutkan bahwa Kementerian 6) Pelaksanaan tugas tertentu yang diberikan oleh Negara terdiri dari Kementerian Koordinator, Kementerian Presiden; Negara yang berbentuk Departemen dan Kementerian 7) Penyampaian laporan hasil evaluasi, saran, dan Negara. pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. a. Kementerian Koordinator Dalam Kabinet Indonesia Bersatu di bawah pimpinan Kedudukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ada tiga Kementerian Koordinator adalah unsur pelaksana Kementerian Koordinator, yaitu: Kementerian Pemerintah yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan; yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Presiden. dan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Tugas Rakyat. Kementerian Koordinator mempunyai tugas membantu a). Kementerian Koordinator Bidang Politik, Presiden dalam mengkoordinasikan perencanaan dan Hukum, dan Keamanan mengkoordinasikan: penyusunan kebijakan, serta mensikronkan pelaksanaan Departemen Dalam Negeri, Departemen Luar kebijakan di bidangnya. Negeri, Departemen Pertahanan; Departemen Hukum Fungsi dan HAM; Kejaksaan Agung; BIN; TNI; POLRI; Dalam melaksanakan tugasnya, Kementerian dan Instansi yang dianggap perlu. Koordinator menyelenggarakan fungsi: b). Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengkoordinasikan: Departemen Keuangan; Depar
  • 54 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 55 temen Energi dan SDM; Departemen Perindustrian; b. Departemen Departemen Perdagangan; Departemen Pertanian; Kedudukan Departemen Kehutanan; Departemen Perhubungan; Departemen adalah unsur pelaksana Pemerintah yang Departemen Kelautan dan Perikanan; Departemen dipimpin oleh Menteri yang berada di bawah dan Tenaga Kerja dan Transmigrasi; Departemen bertanggung jawab kepada Presiden. Pekerjaan Umum; Departemen Kominfo; Tugas Kementerian Negara Ristek; Kementerian Negara Departemen mempunyai tugas membantu Presiden Koperasi dan UKM; Kementerian Negara dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan. Pembangunan Daerah Tertinggal; dan Instansi yang Fungsi dianggap perlu. Dalam pelaksanaan tugasnya, Departemen c). Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan menyelenggarakan fungsi: Rakyat mengkoordinasikan: Departemen Kesehatan; 1) Perumusan kebijakan nasional, kebijakan Departemen Diknas; Departemen Sosial; pelaksanaan dan kebijakan teknis di bidangnya; Departemen Agama; Departemen Kebudayaan dan 2) Pelaksanaan urusan pemerintahan sesuai dengan Pariwisata; Kementerian Negara Lingkungan Hidup; bidang tugasnya; Kementerian Negara PP; Kementerian Negara PAN; 3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang Kementerian Negara Perumahan Rakyat; Kementeri menjadi tanggung jawabnya; an Negara Pemuda dan Olah Raga; dan Intansi lain 4) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya; yang dianggap perlu. 5) Penyampaian laporan hasil evaluasi, saran, dan Susunan Organisasi pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Kementerian Koordinator dibantu oleh: Presiden. 1) Sekretariat Kementerian Koordinator; Dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009) ada 20 2) Deputi; (dua puluh) Departemen, yaitu: 3) Staf Ahli; 1) Departemen Dalam Negeri; 4) Di lingkungan Kementerian Koordinator dapat 2) Departemen Luar Negeri; diangkat tiga orang Staf Khusus Menteri (Perpres 3) Departemen Pertahanan; No.62 Tahun 2005). 4) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia; 5) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral;
  • 56 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 57 6) Departemen Perindustrian; 6) Staf Ahli; 7) Departemen Perdagangan; 7) Di lingkungan Departemen dapat diangkat 3 (tiga) 8) Departemen Pertanian; orang Staf Khusus Menteri (Perpres No.62 Tahun 9) Departemen Kehutanan; 2005). 10) Departemen Perhubungan; 11) Departemen Kelautan dan Perikanan; Departemen yang menyelenggarakan urusan 12) Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi; pemerintahan yang tidak diserahkan kepada Daerah 13) Departemen Pekerjaan Umum; dapat membentuk Instansi Vertikal yang ditetapkan 14) Departemen Kesehatan; dengan Peraturan Presiden. Departemen secara selektif 15) Departemen Pendidikan Nasional; dapat membentuk UPT sebagai pelaksana tugas teknis 16) Departemen Sosial; operasional dan/atau tugas teknis penunjang. 17) Departemen Agama; 18) Departemen Kebudayaan dan Pariwisata; c. Kementerian Negara 19) Departemen Komunikasi dan Informatika; Kedudukan 20) Departemen Keuangan. Kementerian Negara adalah unsur pelaksana pemerintah yang dipimpin oleh Menteri Negara yang berada di Susunan Organisasi bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Departemen terdiri dari: Tugas 1) Menteri; Kementerian Negara mempunyai tugas membantu 2) Sekretariat Jenderal, bertugas melaksanakan Presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di pembinaan dan koordinasi pelaksanan tugas dan bidang tertentu dalam kegiatan pemerintahan negara. administrasi Departemen; Fungsi 3) Direktorat Jenderal, bertugas melaksanakan Dalam melaksanakan tugasnya, Kementerian Negara rumusan dan pelaksanaan kebijakan serta menyelenggarakan fungsi: standardisasi teknis di bidangnya; 1) Perumusan kebijakan nasional di bidangnya; 4) Inspektorat Jenderal, bertugas melaksanakan 2) Koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidangnya; pengawasan fungsional; 3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang 5) Badan dan/atau Pusat; mengabdi tanggung jawabnya;
  • 58 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 59 4) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya; 9) Kementerian Negara Perumahan Rakyat; 5) Penyampaian laporan hasil evaluasi, saran, dan 10) Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga. perimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. Susunan Organisasi Kementerian Negara dibantu oleh: Berdasarkan Perpres No. 62 Tahun 2005, Kementerian 1) Sekretariat Kementerian Negara; Negara Koperasi dan UKM, Kementerian Negara 2) Deputi; Perumahan Rakyat, dan Kementerian Negara Pemuda 3) Staf Ahli; dan Olah Raga, di samping melaksanakan fungsi-fungsi 4) Dilingkungan Kementerian Negara dapat diangkat 3 sebagaimana tersebut di atas, juga melaksanakan fungsi (tiga) orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. 62 teknis pelaksanaan/fungsi operasionalisasi kebijakan di Tahun 2005). bidang masing-masing. d. Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) Dalam Kabinet Indonesia Bersatu, Kementerian Negara LPND diatur dengan Keppres No. 103 Tahun 2001 yang terdiri dari: telah enam kali mengalami perubahan terakhir 1) Kementerian Negara Riset dan Teknologi; perubahannya dengan Peraturan Presiden No. 64 Tahun 2) Kementerian Negara Koperasi dan UKM; 2005. 3) Kementerian Negara Lingkungan Hidup; Kedudukan 4) Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan; LPND dalam Pemerintahan Negara RI adalah lembaga 5) Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur pemerintah pusat yang dibentuk untuk melaksanakan Negara; tugas pemerintahan tertentu dari Presiden. LPND berada 6) Kementerian Negara Pembangunan Daerah di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Tertinggal; Tugas 7) Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan LPND mempunyai tugas melaksanakan tugas Nasional/Kepala Bappenas (Kepres No. 171/M/ pemerintahan tertentu dari Presiden sesuai dengan Tahun 2005 tentang Perubahan Kedua Kepres No. ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 187/M/Tahun 2005); Dalam Perpres No. 11 Tahun 2005 tentang Perubahan 8) Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara; Kelima atas Keppres No. 103 Tahun 2001 tentang
  • 60 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 61 Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan 22) Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). Organisasi dan Tata Kerja LPND, pada Pasal 3 menyebutkan bahwa LPND terdiri dari: Sesuai dengan Perpres No. 64 Tahun 2005, masing- 1) Lembaga Administrasi Negara (LAN); masing LPND melaksanakan tugasnya dikoordinasikan 2) Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI); oleh Menteri, yang meliputi: 3) Badan Kepegawaian Negara (BKN); 1) Menteri Dalam Negeri bagi BPN; 4) Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas); 2) Menteri Pertahanan bagi LEMHANAS dan 5) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional LEMSANEG; (Bappenas); 3) Menteri Perdagangan bagi BKPM; 6) Badan Pusat Statistik (BPS); 4) Menteri Kesehatan bagi BPOM dan BKKBN; 7) Badan Standarisasi Nasional (BSN); 5) Menteri Pendidikan Nasional bagi PERPUSNAS; 8) Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN); 6) Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara 9) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN); bagi LAN, BKN, BPKP, dan ANRI; 10) Badan Intelijen Negara (BIN); 7) Menteri Negara Riset dan Teknologi bagi LIPI, 11) Lembaga Sandi Negara (LEMSANEG); LAPAN, BPPT, BATAN, BAPETEN, BAKOSUR 12) Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN); TANAL, dan BSN; 13) Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional 8) Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (LAPAN); bagi BPS; 14) Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional 9) Menteri Perhubungan bagi BMG. (BAKOSURTANAL); 15) Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Dalam Keppres No. 103 Tahun 2001, Susunan Organisasi (BPKP); LPND diatur sebagai berikut: 16) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI); 1) Kepala; 17) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT); 2) Bila dipandang perlu Kepala dapat dibantu oleh 18) Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM); seorang Wakil Kepala; 19) Badan Pertanahan Nasional (BPN); 3) Sekretariat Utama, sebagai pelaksana fungsi 20) Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM); staf/penunjang dan mengkoordinasikan perencanaan, 21) Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS); pembinaan dan pengendalian terhadap program
  • 62 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 63 administrasi dan sumber daya yang dipimpin oleh administrasi kepada Presiden selaku Kepala seorang Sekretaris Utama; Pemerintahan dalam menyelenggarakan kekuasaan 4) Deputi, pelaksana fungsi lini dan membawahi pemerintahan negara. Sekretariat Kabinet dipimpin direktorat dan/atau pusat. Direktorat digunakan oleh Sekretaris Kabinet. sebagai nomenklatur unit yang fungsinya Pembinaan. Sedangkan Pusat untuk unit yang fungsinya f. Kejaksaan Agung pelaksanaan; Berdasarkan Undang-Undang No. 16 Tahun 2004 5) Unit pengawasan dapat berbentuk Inspektorat tentang Kejaksaan Republik Indonesia yang selanjutnya Utama atau Inspektur, dan bertugas untuk disebut Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan pengawasan fungsional. melaksanakan kekuasaan negara secara merdeka di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan e. Kesekretariatan Yang Membantu Presiden Undang-Undang. Kejaksaan adalah satu dan tidak 1) Sekretariat Negara terpisahkan. Berdasarkan Kepres No. 117 Tahun 2000, Sekre Pelaksanaan kekuasaan negara bidang penuntutan ini tariat negara adalah lembaga pemerintah yang diselenggarakan oleh Kejaksaaan Agung, Kejaksaan berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab Tinggi, dan Kejaksaan Negeri. langsung kepada Presiden dan mempunyai tugas Kejaksaan Agung berkedudukan di Ibukota Negara RI untuk memberikan dukungan staf dan pelayanan dan daerah hukumnya meliputi wilayah kekuasaan administrasi kepada Presiden selaku Kepala Negara negara RI. dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan Kejaksaan Tinggi berkedudukan di Ibukota Provinsi negara. Sekretariat Negara dipimpin oleh Sekretaris dan dasar hukumnya meliputi wilayah Provinsi. Negara. Kejaksaan Negeri berkedudukan di Ibukota Kabupa 2) Sekretariat Kabinet ten/Kota yang dasar hukumnya meliputi wilayah daerah Berdasarkan Kepres No. 111 Tahun 2000, Sekretariat kabupaten/kota yang dasar hukumnya meliputi wilayah Kabinet adalah lembaga pemerintah yang daerah kabupaten/kota. berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab Dalam hal tertentu di daerah hukum kejaksaan negeri langsung kepada Presiden dan mempunyai tugas dapat dibentuk cabang Kejaksaan Negeri. memberikan dukungan staf dan pelayanan
  • 64 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 65 a. Tugas dan Wewenang d) Pengawasan aksi kepercayaan yang dapat Umum membahayakan masyarakat dan Negara; 1) Di bidang pidana, kejaksaan mempunyai tugas e) Pencegahan penyalahgunaan dan/atau dan wewenang: penodaan agama; a) Melakukan penuntutan; f) Penelitian dan pengembangan hukum serta b) Melaksanakan penetapan hakim dan putusan statistik kriminal. pengadilan yang telah memperoleh kekuatan 4) Kejaksaan dapat diserahi tugas dan wewenang hukum tetap; lain berdasarkan Undang-Undang. c) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan 5) Kejaksaan berwenang menangani perkara pidana putusan pidana bersyarat, putusan pidana yang diatur dalam Qanun sebagaimana dimaksud pengawasan, dan putusan lepas bersyarat; dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 2001 d) Melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah tertentu berdasarkan UU; Istimewa Aceh sebagai Provinsi NAD sesuai e) Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan Hukum Acara Pidana. sebelum dilimpahkan kepengadilan yang Khusus dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan Jaksa Agung mempunyai tugas dan wewenang: penyidik. 1) Menetapkan serta mengendalikan kebijakan 2) Di bidang perdata dan tata usaha negara, penegakkan hukum dan keadilan dalam ruang kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak lingkup tugas dan wewenang kejaksaan. baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk 2) Mengefektifkan proses penegakkan hukum yang dan atas nama negara atau pemerintah. diberikan oleh Undang-undang. 3) Dalam bidang ketertiban dan ketenteraman 3) Mengesampingkan perkara demi kepentingan umum, kejaksaan turut menyelenggarakan umum. kegiatan: 4) Mengajukan kasasi demi kepentingan hukum a) Peningkatan kesadaran hukum; kepada Mahkamah Agung dalam perkara pidana, b) Pengamanan kebijakan penegakkan hukum; perdata, dan tata usaha negara. c) Pengawasan peredaran barang cetakan;
  • 66 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 67 5) Mengajukan pertimbangan teknis hukum kepada Presiden selaku Kepala Negara melalui Menteri Mahkamah Agung dalam pemeriksaan kasasi Luar Negeri. perkara pidana. 6) Mencegah atau menangkal orang tertentu untuk Tugas Pokok Perwakilan Diplomatik adalah masuk atau keluar wilayah NKRI karena mewakili Negara RI dalam melaksanakan hubungan keterlibatannya dalam perkara pidana sesuai diplomatik dengan negara penerima atau Organisasi dengan peraturan perundang-undangan. Internasional serta melindungi segenap kepentingan g. Perwakilan RI di Luar Negeri negara dan warga negara RI di negara penerima Perwakilan RI di luar negeri adalah satu-satunya sesuai dengan kebijakan pemerintah yang ditetapkan Aparatur yang mewakili kepentingan Negara RI secara dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang keseluruhan di negara lain atau pada Organisasi berlaku termasuk hukum dan tata cara hubungan Internasional, dan dapat berupa Kedutaan Besar RI internasional. (KBRI), Konsulat Jenderal RI (KONJENRI), Konsulat RI, Perutusan Tetap RI (PTRI) pada PBB maupun 2) Perwakilan Konsuler Perwakilan RI tertentu yang bersifat sementara. Kegiatan Perwakilan Konsuler meliputi semua Perwakilan RI terdiri atas Perwakilan Diplomatik dan kepentingan negara RI di bidang konsuler dan Perwakilan Konsulat. mempunyai wilayah kerja tertentu dalam wilayah 1) Perwakilan Diplomatik negara penerima. Cakupan kegiatan Perwakilan Diplomatik Perwakilan Konsuler terdiri atas Konsulat menyangkut semua kepentingan Negara RI dan Jenderal RI dan Konsulat RI yang dipimpin oleh wilayah kerjanya meliputi seluruh wilayah negara Konsul Jenderal dan Konsul, yang bertanggung penerima atau yang bidang kegiatannya meliputi jawab kepada Duta Besar Luar Biasa dan bidang kegiatan suatu Organisasi Internasional. Berkuasa Penuh, bertanggung jawab langsung kepada Menteri Luar Negeri. Perwakilan Diplomatik terdiri atas Kedutaan Tugas Pokok Perwakilan Konsuler adalah mewakili Besar RI dan Perwakilan Tetap RI yang dipimpin negara RI dalam melaksanakan hubungan konsuler oleh seorang Duta Besar Luar Biasa dan dengan negara penerima di bidang perekonomian, Berkuasa Penuh dan bertanggung jawab kepada perdagangan, perhubungan, kebudayaan dan ilmu
  • 68 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 69 pengetahuan serta mengeluarkan izin prinsip pimpinan Panglima. Tiap-tiap angkatan (AD, AL, dan penanaman modal asing di Indonesia untuk Menteri AU) mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat. Luar Negeri atas nama Menteri yang bertanggung Peran jawab di bidang investasi sesuai dengan kebijakan TNI berperan sebagai alat negara di bidang pertahanan pemerintah yang ditetapkan berdasarkan peraturan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. kebijakan dan keputusan politik negara. Fungsi h. Tentara Nasional Indonesia (TNI) Sebagai alat pertahanan negara, TNI berfungsi sebagai: Peran, tugas, susunan dan kedudukan TNI secara pokok- 1) penangkal terhadap setiap bentuk ancaman militer pokoknya diatur dalam TAP No. VI/MPR/2000 tentang dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah, dan Negara Republik Indonesia; TAP No. VII/ MPR/2000 keselamatan bangsa. tentang Peran Tentara Nasional Indonesia dan Peran 2) penindak terhadap setiap bentuk ancaman sebagai Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan kemudian mana tersebut butir 1. diatur dengan Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 3) pemulih terhadap kondisi keamanan negara yang tentang Tentara Nasional Indonesia. terganggu akibat kekacauan keamanan. Kedudukan Dalam melaksanakan fungsi tersebut, TNI merupakan Sesuai dengan Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 komponen utama Sistem Pertahanan Negara. kedudukan TNI diatur sebagai berikut: Tugas Pokok 1) Dalam pengesahan dan penggunaan kekuatan TNI mempunyai tugas pokok untuk: militer, TNI berkedudukan di bawah Presiden. 1) menegakkan kedaulatan Negara; 2) Dalam kebijakan dan strategi pertahanan serta 2) mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang dukungan administrasi; TNI di bawah koordinasi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945; Departemen Pertahanan. 3) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan TNI terdiri dari TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan terhadap keutuhan bangsa dan negara. Laut, dan TNI Angkatan Udara yang melaksanakan tugasnya secara merata atau gabungan di bawah
  • 70 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 71 Susunan Organisasi Peran dan Tugas POLRI Organisasi TNI terdiri dari: POLRI merupakan alat negara yang berperan dalam 1) Markas Besar TNI yang membawahkan: Markas memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, Besar TNI Angkatan Darat, Markas Besar TNI menegakkan hukum, memberikan pengayoman dan Angkatan Laut, dan Markas Besar TNI Angkatan pelayanan kepada masyarakat. Udara; 2) Markas Besar TNI terdiri dari: Unsur Pimpinan, Selain tugas pokok tersebut di atas, POLRI juga Unsur Pembantu Pimpinan, Unsur Pelayanan, Badan melaksanakan tugas bantuan: Pelaksana Pusat, dan Komando Utama Operasi; 1) dalam keadaan darurat memberikan bantuan kepada 3) Markas Besar Angkatan terdiri atas Unsur Pimpinan, TNI yang diatur dengan undang-undang; Unsur Pembantu Pimpinan, Unsur Pelayanan, Badan 2) turut secara aktif dalam tugas-tugas penanggulangan Pelaksana Pusat, dan Komando Utama Pembinaan. kejahatan internasional sebagai anggota TNI dipimpin oleh seorang Panglima yang diangkat International Criminal Police Organization – dan diberhentikan oleh Presiden setelah mendapat Interpol; persetujuan DPR. 3) membantu secara aktif tugas pemeliharaan Angkatan dipimpin oleh seorang Kepala Staf perdamaian dunia (peace keeping operation) di Angkatan dan berkedudukan di bawah Panglima serta bawah bendera PBB. bertanggung jawab kepada Panglima. Kepala Staf Angkatan diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas Susunan dan Kedudukan POLRI: usul Panglima. 1) POLRI merupakan Kepolisian Nasional yang i. Kepolisian Negara RI (POLRI) organisasinya disusun secara berjenjang dari tingkat Peran, tugas, susunan dan kedudukan POLRI, pusat sampai tingkat daerah; sebagaimana TNI secara pokok-pokoknya diatur dalam TAP No. VI/MPR/2000 dan TAP No. VII/MPR/2000. 2) POLRI berada di bawah Presiden; Kemudian diatur dalam UU No. 2 Tahun 2002 tentang 3) POLRI dipimpin oleh Kepala Kepolisian Negara RI Kepolisian Negara Republik Indonesia. (KAPOLRI) yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan DPR;
  • 72 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 73 4) Anggota POLRI tunduk pada kekuasaan peradilan Struktural dapat dipimpin atau di Ketuai oleh Menteri, umum. bahkan Presiden atau Wakil Presiden. j. Lembaga Kepolisian Nasional Badan/Lembaga ini mempunyai karakteristik yang 1) Presiden dalam menetapkan arah kebijakan berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan yang Kepolisian Negara RI dibantu oleh Lembaga signifikan terletak pada dasar hukum pembentukannya. Kepolisian Nasional, yang dibentuk oleh Presiden Nomenklatur yang digunakan juga beragam seperti: yang diatur dengan undang-undang. Dewan, Badan, Komisi, Komite, Lembaga, dan Tim. 2) Lembaga Kepolisian Nasional memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam Badan/Lembaga Ekstra Struktural yang terbentuk: pengangkatan dan pemberhentian KAPOLRI. 1) Dewan, antara lain: Dewan Ekonomi Nasional, Keikutsertaan POLRI dalam penyelenggaraan negara: Dewan Ketahanan Pangan, Dewan Maritim 1) POLRI bersikap netral dalam politik dan tidak Nasional, Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. melibatkan diri pada kegiatan politis praktis; 2) Badan, antara lain: Badan Koordinasi Nasional 2) Anggota POLRI dapat menduduki jabatan diluar Penanggulangan Bencana dan Penanganan kepolisian setelah mengundurkan diri atau pensiun Pengungsi (BAKORNAS PBP), Badan Koordinasi dari dinas kepolisian. Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BKPTKI), Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan k. Badan / Lembaga Ekstra Struktural Kehidupan Masyarakat Provinsi NAD dan Badan/Lembaga Ekstra Struktural pada dasarnya adalah Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara, Badan badan/lembaga yang bersifat penunjang dan/atau Pertimbangan dan Pendidikan Nasional. pelengkap tatanan organisasi pemerintahan yang 3) Komisi, antara lain: Komisi Nasional Hak Asasi melaksanakan fungsi-fungsi khusus di bidang tertentu Manusia (Komnas HAM), Komisi Pemberantasan untuk menunjang pelaksanaan urusan pemerintahan. Tindak Pidana Korupsi (KPK), Komisi Pemilihan Badan/ Lembaga ini secara organik tidak termasuk Umum (KPU), Komisi Ombudsman, Komisi dalam struktur organisasi Kementrian Negara Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). (Kementerian Koordinator, Departemen, Kementerian 4) Komite, antara lain: Komite Kebijakan Sektor Negara) dan atau LPND. Badan/Lembaga Ekstra Keuangan, Komite Nasional Keselamatan
  • 74 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 75 Transportasi, Komite Olah Raga Nasional, Komite 2. Sekretariat DPRD; Standar Nasional Untuk Satuan Ukuran. 3. Dinas Daerah; dan 5) Lembaga, antara lain: Lembaga Sensor Film, 4. Lembaga Teknis Daerah. Lembaga Koordinasi Pangan Dalam Peningkatan Perangkat Daerah Kabupaten / Kota, terdiri atas: Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat. 1. Sekretariat Daerah; 2. Sekretariat DPRD; 3. Dinas Daerah;D. Lembaga Pemerintah Tingkat Daerah 4. Lembaga Teknis Daerah; Penyelenggara Pemerintahan Daerah adalah Pemerintah 5. Kecamatan; dan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). 6. Kelurahan. Sedangkan Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Sekretariat Daerah pemerintahan daerah. Dengan demikian lembaga pemerintah Sekretariat Daerah dipimpin oleh Sekretaris Daerah. Sekretaris tingkat daerah disebut perangkat daerah sebagaimana tercantum Daerah Provinsi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2004. Dalam usul Gubernur sesuai dengan peraturan perundang-undangan. penyelenggaraan pemerintahan daerah, Kepala Daerah dibantu Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota diangkat dan diberhentikan oleh perangkat daerah. oleh Gubernur atas usul Bupati/ Walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Secara umum perangkat daerah terdiri dari: 1. Unsur staf yang membantu penyusunan kebijakan dan Sekretaris Daerah diangkat dari pegawai negeri sipil yang koordinasi, diwadahi dalam Lembaga Sekretariat. memenuhi persyaratan dan karena kedudukannya Sekretaris 2. Unsur pendukung tugas Kepala Daerah dalam Daerah sebagai pembina Pegawai Negeri Sipil di daerahnya. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat Sekretaris Daerah mempunyai tugas dan kewajiban spesifik, diwadahi dalam Lembaga Teknis Daerah. membantu kepala daerah dalam menyusun kebijakan dan 3. Unsur pelaksana urusan daerah, diwadahi dalam mengkoordinasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah. Lembaga Dinas Daerah. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya, Sekretaris Daerah Perangkat Daerah Provinsi terdiri dari: bertanggung jawab kepada kepala daerah. 1. Sekretariat Daerah;
  • 76 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 77 Sekretariat DPRD daerah yang bersifat spesifik. Lembaga teknis daerah berbentuk Sekretariat DPRD dipimpin oleh Sekretaris DPRD. Sekretaris badan, kantor, atau rumah sakit umum daerah. DPRD diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur/Bupati/Walikota dengan persetujuan DPRD. Badan, Kantor, atau Rumah Sakit Umum Daerah masing-masing Tugas Sekretaris DPRD adalah: dipimpin oleh Kepala yang diangkat oleh Kepala Daerah dari 1. Menyelenggarakan administrasi kesekretariatan DPRD; pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul 2. Menyelenggarakan administrasi keuangan DPRD; Sekretaris Daerah. 3. Mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD; 4. Menyediakan dan mengkoordinasi tenaga ahli yang Kepala Badan, Kepala Kantor, atau Kepala Rumah Sakit Umum diperlukan oleh DPRD dalam melaksanakan fungsinya sesuai Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui dengan kemampuan keuangan daerah. Sekretaris Daerah. Dalam melaksanakan tugasnya, Sekretariat DPRD secara teknis Kecamatan operasional berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kecamatan dibentuk di wilayah Kebupaten/Kota dengan pimpinan DPRD dan secara administratif bertanggung jawab peraturan daerah (Perda) dengan berpedoman pada peraturan kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. pemerintah. Dinas Kecamatan dipimpin oleh Camat yang dalam pelaksanaan Dinas daerah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang Bupati yang dipimpin oleh Kepala Dinas. Kepala Dinas diangkat dan atau Walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. diberhentikan oleh Kepala Daerah dari pegawai negeri sipil Di samping itu, Camat juga menyelenggarakan tugas umum yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. pemerintahan yang meliputi: 1. Mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat; 2. Mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentuan dan Lembaga Teknis Daerah ketertiban umum; Lembaga teknis daerah merupakan unsur pendukung tugas 3. Mengkoordinasikan penerapan dan penegakkan peraturan kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan perundang-undangan;
  • 78 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 79 4. Mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas 3. Pelayanan masyarakat; pelayanan umum; 4. Penyelenggaraan ketentuan dan ketertiban umum; 5. Mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan 5. Pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. di tingkat kecamatan; 6. Membina penyelenggaraan pemerintahan dasar dan/atau Lurah diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Camat dari kelurahan; pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis 7. Melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan peraturan perundang-undangan. pemerintahan daerah atau kelurahan. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya, Lurah dibantu oleh Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris perangkat kelurahan dan bertanggung jawab kepada Daerah Kabupaten/Kota dari pegawai negeri sipil yang Bupati/Walikota melalui Camat. Perangkat kelurahan menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi bertanggung jawab kepada Lurah. Untuk kelancaran pelaksanaan persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. tugas lurah, pada kelurahan dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dengan Peraturan Dalam melaksanakan tugas-tugasnya, Camat dibantu oleh Daerah. Perangkat Kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota. Dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk Perangkat kecamatan bertanggung jawab kepada Camat. suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang perlu ditangani. Akan tetapi tidak berarti bahwa setiap Kelurahan penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk atau Kelurahan dibentuk di wilayah kecamatan dengan peraturan diwadahi dalam organisasi tersendiri. daerah (Perda) pada Peraturan Pemerintah. Kelurahan dipimpin oleh Lurah yang dalam pelaksanaan Besaran organisasi atau susunan organisasi perangkat tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati/ Walikota. daerah sekurang-kurangnya mempertimbangkan faktor: Di samping itu, Lurah mempunyai tugas: 1. Kemampuan keuangan; 1. Pelaksanaan kegiatan pemerintahan kelurahan; 2. Kebutuhan daerah; 2. Pemberdayaan masyarakat;
  • 80 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 81 3. Cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang harus E. Lembaga Perekonomian Negara diwujudkan; Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara juga 4. Jenis dan banyaknya tugas; dikenal adanya lembaga perekonomian negara yang disebut 5. Luas wilayah kerja dan kondisi geografis; dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha 6. Jumlah dan kepadatan penduduk; Milik Daerah (BUMD). 7. Potensi daerah yang bertahan dengan urusan yang akan 1. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ditangani; BUMN saat ini diatur dengan UU No.19 Tahun 2003. 8. Sarana dan prasarana penunjang tugas. BUMN yang seluruh atau sebagian besar modalnya berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan, Dengan demikian kebutuhan organisasi perangkat daerah bagi merupakan salah satu pelaku ekonomi dalam Sistem masing-masing daerah tidak selalu sama. Perekonomian Nasional, di samping usaha swasta dan koperasi. Dalam menjalankan kegiatan usahanya, BUMN, Susunan organisasi perangkat daerah ditetapkan dalam Swasta dan Koperasi melaksanakan peran saling mendukung Peraturan Daerah dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu berdasarkan demokrasi ekonomi. Dalam sistem (beban tugas, cakupan wilayah, jumlah pegawai) dan perekonomian nasional, BUMN ikut berperan menghasilkan berpedoman pada Peraturan Pemerintah tentang Pedoman barang dan/atau jasa yang dipasarkan dalam rangka Organisasi Perangkat Daerah (catatan: pada waktu penulisan mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat. modul ini Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah adalah PP No. 8 Tahun 2003 dalam proses Peran BUMN dirasakan semakin penting sebagai pelopor Revisi karena akan disesuaikan dengan makna Undang-Undang dan/atau perintis dalam sektor-sektor usaha yang belum No. 32 Tahun 2004 dan kondisi obyektif lainnya). diminati usaha swasta. Di samping itu, BUMN juga Pengendalian penataan organisasi perangkat daerah dalam mempunyai peran strategis sebagai pelaksana pelayanan arti: penerapan prinsip koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan publik, penyeimbang kekuatan-kekuatan swasta besar, simplifikasi dilakukan oleh: dan turut membantu pengembangan usaha kecil/ 1. Pemerintah untuk perangkat daerah provinsi, dan koperasi. 2. Gubernur untuk perangkat daerah Kabupaten/ Kota. Dengan tetap berpedoman pada Peraturan pemerintah.
  • 82 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 83 BUMN juga merupakan salah satu sumber penerimaan Negara Republik Indonesia yang tujuan utamanya negara yang signifikan dalam bentuk berbagai jenis mengejar keuntungan. pajak, dividen dan hasil privatisasi. b. Perusahaan Perseroan Terbuka yang selanjutnya disebut Persero Terbuka, adalah Persero yang modal 2. Maksud dan Tujuan Pendirian BUMN dan jumlah pemegang sahamnya memenuhi kriteria Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 UU No. 19 Tahun tertentu atau Persero yang melakukan penawaran 2003, maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah: umum yang sesuai dengan peraturan perundang- a. Memberikan sumbangan bagi perkembangan undangan di bidang pasar modal. perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan Terhadap Persero Terbuka berlaku segala ketentuan dan negara pada khususnya; prinsip-prinsip yang berlaku bagi perseroan terbatas b. Mengejar keuntungan; sebagaimana diatur dalam UU No. 1 Tahun 1995 c. Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa tentang Perseroan Terbatas. pengendalian barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi Maksud dan Tujuan Pendirian Persero adalah dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang 1) Menyediakan barang dan/atau jasa yang bermutu banyak; tinggi dan berdaya saing kuat; d. Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum 2) Mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai dapat diselesaikan oleh sektor swasta dan koperasi; perusahaan. e. Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada Organ Persero adalah: Rapat Umum Pemegang Saham pengusaha golangan ekonomi lemah, koperasi dan (RUPS), Direksi, dan Komisaris. masyarakat. c. Perusahaan Umum (Perum) adalah BUMN yang 3. Jenis BUMN seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi BUMN terdiri dari: Perusahaan Perseroan (Persero) dan atas saham, yang bertujuan untuk kemanfaatan Perusahaan Umum (Perum). umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa a. Perusahaan Perseroan (Persero) adalah BUMN yang yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi keuntungan berdasarkan prinsip pengolahan dalam saham yang seluruh atau paling sedikit 51 % perusahaan. (lima puluh satu persen). Sahamnya dimiliki oleh
  • 84 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 85 Maksud dan Tujuan pendirian Perum adalah untuk Agar pengelolaan Perusahaan Daerah dapat kemanfaatan umum berupa pengendalian barang diselenggarakan secara efisien, efektif dan produktif, dan/atau jasa yang berkualitas dengan harga yang sehingga benar-benar dapat menunjang perwujudan terjangkau oleh masyarakat berdasarkan prinsip otonomi seluas-luasnya, maka sambil menunggu pengolahan perusahaan yang sehat. berlakunya undang-undang yang baru tentang Perusahaan Daerah, sudah diterbitkan Instruksi Menteri Organ Perum adalah: Menteri, Direksi, dan Dewan Dalam Negeri No. 5 Tahun 1990 tentang Perubahan Pengawas. Bentuk Badan Usaha Milik Daerah kedalam dua bentuk, yaitu Perumda dan Perseroda. d. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) a. Perumda (Perusahaan Umum Daerah – Public Dalam Undang-undang No. 32 Tahun 2004; Pasal 177 Corporation/Service) disebutkan bahwa Pemerintah Daerah dapat memiliki Didirikan dengan maksud, tujuan dan sifat usahanya BUMD yang pembentukan penggabungan, pelepasan adalah mengutamakan penyelenggaraan pelayanan kepemilikan, dan/atau pembubarannya ditetapkan umum (public service) di samping mencari dengan Peraturan Daerah yang berpedoman pada keuntungan sebagai sumber pendapatan asli daerah, peraturan perundang-undangan. dengan tetap berpegang teguh pada: (1) syarat-syarat efisiensi dan efektivitas, (2) prinsip-prinsip ekonomi Perusahaan Daerah dibentuk berdasarkan Undang perusahaan dan (3) pelayanan yang baik pada undang No. 5 Tahun 1992 tentang Perusahaan Daerah masyarakat. dan yang dimaksud adalah semua perusahaan yang b. Perseroda (Perusahaan Perseroan Daerah) modal seluruhnya atau sebagian merupakan kekayaan Maksud dan tujuan usaha Perseroda adalah untuk daerah yang dipisahkan, kecuali jika ditentukan lain memupuk keuntungan dalam arti baik pelayanan dan dengan atau berdasarkan undang-undang. Perusahaan pembinaan organisasinya harus secara efektif dan Daerah didirikan dengan Peraturan Daerah. efisien dengan orientasi bisnis. Pembinaan umum terhadap Perusahaan Daerah dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. F. Rangkuman Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara pemerintah membentuk lembaga-lembaga pemerintah baik di
  • 86 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 87 tingkat pusat maupun di tingkat daerah dengan memperhatikan G. Latihan peraturan perundang-undangan yang terkait. 1. Sebutkan urusan-urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat? Setiap lembaga-lembaga pemerintah melaksanakan urusan 2. Sebutkan urusan-urusan pemerintahan yang menjadi pemerintahan tertentu. Urusan-urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah? kewenangan pemerintah pusat adalah politik luar negeri, 3. Apa saja yang termasuk lembaga-lembaga pemerintah pertahanan, keamanan, moneter dan fiskal, yustisi, dan agama. tingkat Pusat? Sedangkan urusan-urusan yang menjadi kewenangan daerah 4. Apa saja yang termasuk lembaga-lembaga pemerintah terbagi kedalam dua pula, yaitu: urusan wajib dan urusan tingkat Daerah? pilihan. 5. Apa tujuan dibentuknya Lembaga Perekonomian Negara? Lembaga pemerintah tingkat pusat meliputi: Kementerian Koordinator, Departemen, Kementerian Negara, LPND, Kesekretariatan yang membantu Presiden, Kejaksaan Agung, Perwakilan RI di Luar Negeri, TNI, POLRI, Lembaga Ekstra Struktural. Lembaga pemerintah tingkat daerah meliputi: Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD, Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah, Kecamatan, dan Kelurahan. Lembaga Perekonomian Negara meliputi: Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Derah. BUMN berbentuk Persero dan Perum. Sedangkan BUMD berbentuk Persero dan Perumda. Dasar utama penyusunan lembaga-lembaga pemerintah dalam bentuk organisasi baik di tingkat pusat maupun di daerah adalah adanya urusan pemerintahan yang harus ditangani. Namun tidak semua urusan-urusan pemerintahan tersebut dibentuk dalam organisasi tersendiri.
  • Modul Diklat Prajabatan Golongan III 89 BAB VI 4. Presiden dan Wakil Presiden dapat diberhentikan oleh MPR sebelum habis masa jabatannya, baik apabila telah terbukti HUBUNGAN PRESIDEN DENGAN telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatanLEMBAGA-LEMBAGA NEGARA LAINNYA terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila tidak lagi PEMERINTAHAN NEGARA memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden; 5. Dalam hal terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden, MPR memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan olehDalam penyelenggaraan pemerintahan negara terjadi hubungan Presiden;antara Presiden dengan Lembaga-Lembaga Negara yang lain. 6. Presiden dan Wakil Presiden menyampaikan penjelasanHubungan tersebut diatur dalam UUD 1945, UU No. 22 Tahun 2003 dalam sidang paripurna MPR sebelum MPR memutuskantentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD; UU usul DPR mengenai pemberhentian Presiden dan/atau WakilNo. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi; UU No. 5 Tahun Presiden;2004 tentang MA, UU No. 5 Tahun 1973 tentang BPK; UU No. 23 7. Presiden meresmikan keanggotaan MPR dengan KeputusanTahun 1999 tentang Bank Indonesia; dan peraturan perundang- Presiden.undangan lain yang terkait. B. Hubungan Presiden Dengan DPRA. Hubungan Presiden Dengan MPR 1. Presiden bekerjasama dengan DPR, tetapi tidak 1. Presiden dan wakil Presiden dilantik oleh MPR; bertanggungjawab kepada DPR dan tidak dapat membekukan 2. Sebelum memangku jabatannya, Presiden dan Wakil dan/atau membubarkan DPR, sebaliknya DPR tidak dapat Presiden bersumpah menurut agama, atau berjanji dengan memberhentikan Presiden; sungguh-sungguh di hadapan MPR atau DPR; 2. DPR berkewajiban mengawasi tindakan-tindakan Presiden Jika MPR dan DPR tidak dapat mengadakan sidang, Presiden dalam menjalankan UU; dan Wakil Presiden bersumpah atau berjanji di hadapan 3. Sebelum memangku jabatannya Presiden dan wakil Presiden Pimpinan MPR disaksikan oleh Pimpinan MA; bersumpah menurut agama atau berjanji dengan sungguh- 3. Apabila Wakil Presiden berhalangan, Presiden dan/atau DPR sungguh di hadapan MPR atau DPR; dapat meminta MPR mengadakan Sidang Istimewa untuk 4. DPR bersama Presiden menjalankan fungsi legislatif; memilih Wakil Presiden; 88
  • 90 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 91 5. Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang, E. Hubungan Presiden Dengan MA membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain; 1. MA dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan hukum 6. Presiden mengangkat duta dan menerima penempatan duta kepada Presiden, baik diminta maupun tidak; dari negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR; 2. MA memberikan nasehat hukum kepada Presiden/ Kepala 7. Presiden memberi amnesti, abolisi dengan memperhatikan Negara untuk pemberian/penolakan grasi dan rehabilitasi; pertimbangan DPR; 3. Hakim agung ditetapkan oleh Presiden atas calon yang 8. Presiden menetapkan Hakim Agung dan meresmikan diusulkan oleh Komisi Yudisial dan telah disetujui DPR; anggota BPK yang telah diplih dan disetujui DPR dan 3 4. MA mengajukan tiga calon untuk ditetapkan sebagai Hakim orang hakim konstitusi yang diajukan DPR serta mengangkat Konstitusi oleh Presiden. dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR. F. Hubungan Presiden Dengan MKC. Hubungan Presiden Dengan DPD 1. MK memberikan putusan tentang dugaan pelanggaran oleh 1. DPD dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang- Presiden dan/atau Wakil Presiden; undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran 2. Presiden menetapkan hakim konstitusi; dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, 3. Putusan MK mengenai pengujian Undang-Undang terhadap pengelolaan sumber daya dan belanja negara, pajak, UUD 1945 disampaikan kepada Presiden; pendidikan dan agama yang dilaksanakan oleh Presiden; 4. Putusan MK mengenai sengketa kewenangan lembaga 2. Presiden meresmikan keanggotaan DPD; negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 3. Pimpinan DPD berkonsultasi dengan Presiden sesuai putusan disampaikan kepada Presiden; DPD. 5. Putusan MK mengenai perselisihan hasil Pemilu disampaikan kepada Presiden.D. Hubungan Presiden Dengan BPK 1. BPK memeriksa semua pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara; 2. Presiden meresmikan Anggota BPK dari calon-calon yang telah dipilih dan disetujui oleh DPR.
  • 92 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 93G. Hubungan Presiden Dengan Bank Indonesia 9. Gubernur dan Deputi Gubernur Senior diusulkan dan (BI) diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Sedangkan 1. BI bertindak sebagai pemegang Kas Pemerintah; Deputi Gubernur diusulkan oleh Gubernur dan diangkat oleh 2. Untuk dan atas nama Pemerintah, BI dapat menerima Presiden dengan persetujuan DPR; pinjaman luar negeri, menatausahakan serta menyelesaikan 10. Selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sebelum tahun tagihan dan kewajiban keuangan pemerintah terhadap pihak anggaran, Dewan Gubernur menyampaikan anggaran BI luar negeri; yang telah ditetapkan Pemerintah dan DPR. 3. Pemerintah wajib meminta pendapat BI dan atau mengundangnya dalam sidang kabinet yang membahas H. Rangkuman masalah ekonomi, perbankan dan keuangan yang berkaitan Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara, Presiden/ dengan tugas BI, atau masalah lain yang termasuk Pemerintah mengadakan hubungan dengan lembaga-lembaga kewenangan BI; negara lain, sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945, dan 4. Di samping wajib berkonsultasi dengan DPR, dalam hal berbagai Undang-Undang yang terkait. pemerintah akan menerbitkan surat-surat utang negara, Pemerintah wajib terlebih dahulu berkonsultasi dengan BI; 5. BI dapat membantu penerbitan surat-surat utang negara yang I. Latihan diterbitkan Pemerintah; 1. Dalam UUD 1945, dimana fungsi pengawasan oleh DPR 6. BI dilarang membeli untuk diri sendiri surat-surat utang terhadap Presiden/Pemerintah, itu disebutkan? Dan negara, kecuali di pasar sekunder dinyatakan batal demi pengawasan apakah yang dilakukan oleh DPR itu? hukum; 2. Mengapa dikatakan bahwa DPR bersama Presiden 7. BI dilarang memberikan kredit kepada Pemerintah. Dalam mengajukan fungsi legislatif? hal BI melanggar ketentuan tersebut, perjanjian pemberian 3. Apakah MPR dapat memberhentikan Presiden dan Wakil kredit kepada Pemerintah itu batal demi hukum; Presiden? 8. Rapat Dewan Gubernur untuk menetapkan kebijakan Umum 4. Apa peran Mahkamah Konstitusi dalam hal pemberhentian di bidang moneter dapat dihadiri oleh seorang menteri atau Presiden? lebih yang mewakili Pemerintah dengan hak bicara tanpa hak suara;
  • 94 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI 5. Apakah DPD dapat melakukan pengawasan pelaksan an UU BAB VII yang dilakukan Presiden selain pelaksanaan UU mengenai PROSES MANAJEMEN Otonomi Daerah? Pengawasan apa saja selain pelaksanaaan UU mengenai Otonomi Daerah yang dapat dilakukan oleh PEMERINTAHAN DPD terhadap Presiden? 6. Mengapa BI dikatakan sebagai pemegang kas pemerintah? Dalam modul ini uraian tentang proses manajemen pemerintahan mencakup empat aspek, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. A. Perencanaan Landasan hukum di bidang perencanaan pembangunan baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah adalah Undang- Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Dalam Undang-Undang ini ditetapkan bahwa Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara pemerintahan di pusat dan daerah dengan melibatkan masyarakat. Perencanaan Pembangunan Nasional terdiri dari atas perencanaan pembangunan yang disusun secara terpadu oleh Kementerian/Lembaga dan perencanaan pembangunan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. 95
  • 96 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 97 Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bertujuan untuk: Tahap-Tahap Perencanaan Pembangunan: 1. Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan; 1. Penyusunan Rencana 2. Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik Dilaksanakan untuk menghasilkan rancangan lengkap suatu antar daerah, antar ruang, antar waktu, antar fungsi sistem rencana yang siap untuk ditetapkan, yang terdiri dari 4 pemerintah maupun antar Pusat dan Derah; (empat) langkah yaitu: 3. Menjamin keterkaitan dan konstitusi antara perencanaan, a. Penyiapan rancangan rencana pembangunan yang bersifat penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan; teknokratik, menyeluruh, dan terukur; 4. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat; b. Masing-masing instansi pemerintah menyiapkan 5. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara rancangan rencana kerja dengan berpedoman pada efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan. rancangan rencana pembangunan yang telah disiapkan; c. Melibatkan masyarakat (stakeholders) dan menyelaraskan Sebagai tindak lanjut dari UU No. 25 Tahun 2004 ini, Presiden rencana pembangunan yang dihasilkan masing-masing mengeluarkan Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang jenjang pemerintahan melalui musyawarah perencanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional pembangunan; Tahun 2004 – 2009. d. Penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan. 2. Penetapan Rencana RPJM Nasional Tahun 2004 – 2009 merupakan penjabaran dari Menjadi produk hukum sehingga mengikat semua pihak visi, misi, dan program Presiden hasil Pemilihan Umum yang untuk melaksanakannya. dilaksanakan secara langsung pada tahun 2004. Menurut UU No. 25 Tahun 2004, Rencana Pembangunan RPJM Nasional ini menjadi pedoman bagi: Jangka Panjang Nasional/Daerah (20 Tahun) ditetapkan 1. Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis sebagai UU/Perda, Rencana Pembangunan Jangka Kementerian/Lembaga; Menengah Nasional/Daerah (5 Tahun) ditetapkan sebagai 2. Pemerintah Daerah dalam menyusun RPJM Daerah; Perpres/Kepala Daerah, dan Rencana Pembangunan 3. Pemerintah dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah. Tahunan Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Perpres/ Kepala Daerah. 3. Pengendalian Pelaksanaan Rencana Dimaksudkan untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam rencana
  • 98 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 99 melalui kegiatan-kegiatan koreksi dan penyesuaian pengorganisasian dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional selama pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan lainnya seperti ketentuan peraturan perundang-undangan yang Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah. berlaku dari hasil analisis jabatan. Selanjutnya, Menteri/Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana Dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. pembangunan dari masing-masing pimpinan 21 Tahun 1990 tentang Pedoman dan Proses Pembentukan atau Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah Penyempurnaan Kelembagaan di lingkungan Instansi Pemerintah sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Pusat, Perwakilan RI diluar negeri dan pemerintah di Daerah, 4. Evaluasi Pelaksanaan Rencana disebutkan prinsip-prinsip pengorganisasian sebagai berikut: Bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan 1. Prinsip Pembagian Habis Tugas informasi untuk menilai pencapaian sasaran, tujuan dan Prinsip ini dimaksudkan agar supaya tugas pokok dan fungsi kinerja pembangunan. Evaluasi ini dilaksanakan pemerintah terbagi habis dalam Departemen-Departemen dan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang tercantum Lembaga-Lembaga Non Departemen, sehingga dalam dokumen rencana pembangunan. bagaimanapun cara yang dipergunakan untuk menyusun organisasi aparatur pemerintah secara fungsional, ada yangB. Pengorganisasian mengurus dan bertanggung jawab atas setiap fungsi. Fungsi pengorganisasian sangat erat kaitannya dengan fungsi 2. Prinsip Perumusan Tugas Pokok dan Fungsi Yang perencanaan. Pengorganisasan dapat diartikan sebagai Jelas penetapan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan, Usaha yang sungguh-sungguh harus dilaksanakan untuk pengelompokkan tugas-tugas dan pembagian pekerjaan menjamin bahwa tugas pokok dan fungsi instansi pemerintah kepada setiap pegawai dan penetapan hubungan-hubungan adalah jelas, sehingga dapat dihindarkan timbulnya duplikasi, kerja. Misalnya jika pengorganisasian dilaksanakan dengan baik, ataupun overlapping atau paling tidak dapat dikurangi. maka organisasi yang dihasilkannyapun akan lebih baik dan 3. Prinsip Fungsionalisasi tujuan organisasi relatif akan mudah dicapai. Prinsip fungsionalisasi dimaksudkan di dalam penyelenggaraan pemerintahan ada organisasi yang secara Untuk membentuk atau menyempurnakan fungsional bertanggung jawab atas sesuatu bidang dan tugas organisasi/kelembagaan perlu diperhatikan prinsip pemerintahan dan prinsip ini juga menentukan batas-batas
  • 100 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 101 kewenangannya. Dalam kerjasama dengan instansi lain unit-unit organisasi yang bertanggung jawab untuk fungsionalisasi menentukan instansi mana yang harus melaksanakan kegiatan yang bersifat penunjang. memprakarsai kerjasama tersebut. 7. Prinsip Kesederhanaan 4. Prinsip Koordinasi, Integrasi dan Sinkronisasi Organisasi yang efektif adalah organisasi yang bentuknya Mengingat bahwa tidak ada satupun kegiatan pemerintahan, sederhana dalam arti bahwa bentuknya disesuaikan dengan baik tugas umum pemerintahan maupun pembangunan yang tugas pokok dan fungsi, besar kecilnya organisasi itu sepenuhnya dapat dilaksanakan hanya oleh satu instansi ditentukan oleh beban kerja yang harus dilaksanakan. pemerintah saja, maka mutlak diperlukan organisasi yang 8. Prinsip Fleksibilitas benar-benar sadar terhadap kerjasama dengan instansi lain. Fleksibilitas menghendaki agar organisasi dapat mengikuti Lebih-lebih kegiatan pembangunan pada dasarnya harus dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan ditangani secara multi fungsional dan interdisipliner, baik di keadaaan sehingga dapat dihindari kekacauan dalam dalam perumusan kebijakan maupun pelaksanaannya. pelaksanaan tugasnya. Kebijakan-kebijakan yang dirumuskan oleh berbagai instansi 9. Prinsip Pendelegasian Wewenang Yang Jelas harus serasi satu sama lainnya (mutually consistent policies). Mengingat luasnya wilayah Republik Indonesia dan 5. Prinsip Kontinuitas mengingat pula kondisi geografisnya, maka perlu ada Pelaksanaan kegiatan pemerintah yang efektif dan efisien pendelegasian wewenang pelaksanaan tugas-tugas umum akan lebih terjamin apabila ada kontinuitas dalam perumus pemerintahan maupun pembangunan kepada unit organisasi an kebijakan, perencanaan penyusunan program dan atau pejabat pada eselon ditingkat bawah untuk bertindak pelaksanaan kegiatan-kegiatan operasional. Aparatur secara efektif tanpa setiap kali memerlukan petunjuk dari pemerintah tidak seharusnya menggantungkan diri pada pusat. individu pejabat tetapi kepada kelangsungan kelembagaan. 10. Prinsip Pengelompokkan Yang Homogen 6. Prinsip Lini dan Staf Karena sedemikian luasnya tugas-tugas yang harus dilakukan Bentuk organisasi yang dipandang baik yaitu apabila oleh pemerintah baik tugas umum pemerintahan maupun menggunakan bentuk lini dan staf. Bentuk ini dipandang pembangunan, maka sudah barang tentu tidak semua tugas cocok untuk digunakan di Indonesia terutama karena dengan tersebut dapat dituangkan kedalam bentuk Departemen bentuk lini dan staf terdapat pembagian tugas dan fungsi pemerintahan atau Lembaga Pemerintah Non Departemen. yang jelas antara unit-unit organisasi yang bertanggung Oleh karena itu, sesuai pula dengan prinsip kesederhanaan jawab untuk melaksanakan tugas pokok organisasi dengan maka pengelompokkan tugas-tugas harus diusahakan
  • 102 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 103 sehomogen mungkin, karena dengan demikian maka prinsip pembangunan mau tidak mau melibatkan berbagai aparatur KIS akan dapat diterapkan dengan lebih mudah. pemerintah yang terkait sebagaimana dimaksud di atas. 11. Prinsip Rentang/Jenjang Pengendalian Mengingat terbatasnya kemampuan seseorang Sehubungan dengan itu baik dalam rangka pelaksanaan tugas- pimpinan/atasan untuk mengadakan pengendalian terhadap tugas umum pemerintahan maupun dalam rangka menggerakkan bawahannya, maka perlu diperhitungkan secara rasional dan memperlancar pelaksanaan pembangunan, kegiatan aparatur dalam menentukan jumlah unit atau orang yang di bawahkan pemerintah perlu dipadukan, diserasikan dan diselaraskan untuk oleh seorang pejabat pimpinan. mencegah timbulnya tumpang tindih, perbenturan, 12. Prinsip Akordion kesimpangsiuran dan atau kekacauan. Oleh karena itu, dalam Pada prinsipnya kegiatan pemerintah baik berupa tugas pelaksanaan kegiatan-kegiatan pemerintahan, koordinasi umum pemerintahan maupun pembangunan dapat diperluas antar kegiatan aparatur pemerintah harus dilakukan. atau dipersempit sesuai dengan beban kerja/kondisi dan situasi, demikian pula susunan organisasinya. Atas dasar hal tersebut maka koordinasi dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan pada hakekatnya merupakan upaya memadukan (mengintegrasikan), menyerasikan danC. Pelaksanaan menyelaraskan berbagai kepentingan dan kegiatan yang Dalam penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan saling berkaitan, beserta segenap gerak, langkah dan pembangunan, setiap aparatur pemerintah atau lembaga-lembaga waktunya dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran pemerintah bertugas melaksanakan sebagian tugas-tugas umum bersama. Koordinasi perlu dilaksanakan mulai dari proses pemerintahan dan pembangunan di bidang masing-masing. perumusan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan sampai pada Namun demikian tujuan dan sasaran yang harus dicapai oleh pengawasan dan pengendaliannya. pemerintah selalu menyangkut kegiatan-kegiatan atau tugas lebih 1. Jenis Koordinasi dari satu aparatur pemerintah. Oleh karena itu dalam pencapaian Koordinasi dalam kegiatan pemerintahan dan pembangunan tujuan atau sasaran tersebut perlu dilakukan pendekatan multi dapat dibedakan atas: fungsional. Artinya bahwa setiap persoalan harus ditinjau dari a. Koordinasi hierarkis (vertical) yang dilakukan oleh berbagai fungsi aparatur pemerintah yang terkait, baik antar dan seorang pejabat pimpinan dalam suatu instansi antara instansi ditingkat pusat maupun daerah. Dengan demikian pemerintah terhadap pejabat (pegawai) atau instansi setiap pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan dan bawahannya. Misalnya Kepala Biro terhadap Kepala
  • 104 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 105 Bagian dalam lingkungannya, Direktur Jenderal terhadap kegiatan Bagian Keuangan dari Sekretariat Kepala Direktorat dan sebagainya. Direktorat Jenderal dalam lingkungan departemen b. Koordinasi fungsional, yang dilakukan oleh seorang yang bersangkutan, Badan Kepegawaian Negara pejabat atau suatu instansi terhadap pejabat atau instansi mengkoordinasikan Biro-Biro Kepegawaian pada lainnya yang tugasnya saling berkaitan berdasar kan asas Departemen atau Instansi Pemerintah lainnya dalam fungsionalisasi. Dalam Peraturan Pemerintah No. 6 bidang Kepegawaian; Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi 3) Koordinasi fungsional teritorial, dilakukan oleh Vertikal di Daerah, koordinasi ini disebut dengan seorang pejabat pimpinan atau instansi lainnya yang koordinasi instansional. Koordinasi ini dapat dibedakan berada dalam suatu wilayah (teritorial) tertentu atas koordinasi fungsional horizontal, koordinasi dimana semua urusan yang ada dalam wilayah fungsional diagonal dan koordinasi fungsional terito (teritorial) tersebut menjadi wewenang atau tanggung rial. jawab pejabat/pimpinan yang bersangkutan. 1) Koordinasi fungsional horizontal, dilakukan oleh Misalnya, koordinasi yang dilakukan oleh seorang pejabat atau suatu unit/instansi terhadap Administrator Pelabuhan, koordinasi oleh Pembina pejabat atau unit/instansi lain yang setingkat. Lokasi Transmigrasi yang belum diserahkan kepada Misalnya Sekretaris Jenderal mengkoordinasikan pemerintah daerah, koordinasi oleh Gubernur selaku para Direktur Jenderal, Inspektur Jenderal dan kepala wilayah, wakil Pemerintah Pusat terhadap Kepala Badan dalam menyusun rencana instansi-instansi vertikal yang ada diwilayahnya. dilingkungan departemennya. Dinas Kesehatan mengkoordinasikan kegiatan Dinas Pendidikan dan 2. Pedoman Koordinasi Pengajaran, Dinas Kebersihan dan lain-lain yang Beberapa hal yang perlu diperhatikan atau dipedomani dalam mempunyai kaitan tugas dengan pelaksanaan koordinasi antara lain: program kesehatan. a. Koordinasi sudah harus dimulai pada saat perumusan 2) Koordinasi fungsional diagonal, dilakukan oleh kebijakan; seorang pejabat atau instansi terhadap pejabat atau b. Perlu ditentukan secara jelas siapa atau satuan kerja instansi lain yang lebih rendah tingkatannya tetapi mana yang secara fungsional berwenang dan bukan bawahannya. Misalnya Biro Keuangan pada bertanggungjawab atas sesuatu masalah; Sekretariat Jenderal mengkoordinasikan kegiatan-
  • 106 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 107 c. Pejabat atau instansi yang secara fungsional berwenang b. Rencana dan bertanggungjawab menangani sesuatu masalah, Rencana dapat digunakan sebagai alat koordinasi karena berkewajiban memprakarsai penyelenggaraan di dalam rencana yang baik tertuang secara jelas, koordinasi; sasaran, cara melakukan, waktu pelaksanaan, orang yang d. Perlu kejelasan wewenang, tanggung jawab dan tugas melaksanakan dan alokasi. unit/instansi yang terkait; c. Prosedur dan Tata Kerja e. Perlu dirumuskan program kerja organisasi secara jelas Prosedur dan tata kerja pada prinsipnya dapat digunakan yang memperlihatkan keserasian kegiatan di antara sebagai alat untuk kegiatan yang sifatnya berulang- satuan-satuan kerja; ulang. Prosedur dan tata kerja dapat digunakan sebagai f. Perlu ditetapkan prosedur dan tata cara melaksanakan alat koordinasi karena di dalamnya memuat ketentuan koordinasi; siapa melakukan apa, kapan dilaksanakan dan dengan g. Perlu dikembangkan komunikasi dan konsultasi timbal- siapa harus berhubungan. Untuk itu prosedur perlu balik untuk menciptakan kesatuan bahasa dan dituangkan dalam manual, petunjuk pelaksanaan kerjasama; (juklak), petunjuk teknis (juknis) atau pedoman kerja h. Koordinasi akan lebih efektif apabila pejabat yang agar mudah diikuti oleh semua pihak-pihak yang berkewajiban mengkoordinasikan mempunyai berkepentingan. kemampuan kepemimpinan dan kredibilitas yang tinggi; d. Rapat (Briefing) i. Dalam pelaksanaan koordinasi perlu dipilih sarana Untuk menyatukan bahasa dan saling pengertian koordinasi yang paling tepat. mengenai sesuatu masalah, rapat dapat digunakan sebagai sarana koordinasi. Rapat sabagai sarana 3. Sarana atau Mekanisme Koordinasi koordinasi digunakan uuntuk memberikan pengarahan, a. Kebijakan memperjelas atau menegaskan kebijakan sesuatu Kebijakan sebagai alat koordinasi memberikan arah masalah. tujuan yang harus dicapai oleh segenap organisasi atau e. Surat Keputusan Bersama (SKB)/Surat Edaran instansi sebagai pedoman, pegangan atau bimbingan Bersama (SEB) untuk mencapai kesepakatan sehingga tercapai Untuk memperlancar penyelesaian sesuatu kegiatan keterpaduan, keselarasan dan keserasian dalam yang tidak dapat dilaksanakan hanya oleh satu instansi, pencapaian tujuan. dapat diterbitkan Surat Keputusan Bersama atau Surat
  • 108 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 109 Edaran Bersama. Sarana koordinasi ini sangat efektif h. Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap dalam mewujudkan kesepakatan dan kesatuan gerak (SAMSAT atau One Roof System) dan Sistem dalam pelaksanaan tugas antara dua atau lebih instansi Pelayanan Satu Pintu (One Door Service): yang terkait. Namun demikian, SKB/SEB perlu 1) SAMSAT dibentuk untuk memperlancar dan ditindaklanjuti dengan petunjuk pelaksanaan dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat petunjuk teknis yang disusun oleh masing-masing yang kegiatannya diselenggarakan dalam satu atap. instansi secara serasi dan saling menunjang. Misalnya dalam pengurusan surat-surat kendaraan f. Tim, Panitia, Kelompok Kerja, Gugus Tugas atau bermotor, pelayanan pembayaran pajak kendaran Satuan Tugas bermotor dan bea balik nama diberikan oleh Dinas Apabila sesuatu kegiatan yang dilakukan bersifat Pendapatan Daerah, asuransi kecelakaan lalu lintas kompleks, mendesak, multisektor, multidisiplin, oleh Perum Asuransi Jasa Raharja, sedangkan multifungsi sehingga asas fungsionalisasi secara teknis pengurusan surat-surat kendaraan bermotor seperti operasional sulit dilaksanakan, maka untuk lebih BPKB dan plat nomor serta STNK diberikan memantapkan koordinasi dapat dibentuk Tim, Panitia, kepolisian, yang semuanya dilakukan pada satu Kelompok Kerja, Gugus Tugas atau Satuan Tugas yang tempat; bersifat sementara dengan anggota-anggota dari 2) Sistem pelayanan satu pintu diselenggarakan untuk berbagai instansi terkait. memperlancar dan mempercepat pelayanan g. Dewan atau Badan kepentingan masyarakat oleh satu instansi yang Dewan atau Badan sebagai sarana koordinasi, untuk mewakili berbagai instansi lain yang masing-masing menangani masalah yang sifatnya kompleks, sulit dan mempunyai kewenangan tertentu atas sebagian terus menerus, serta belum ada sesuatu instansi yang urusan yang harus diselesaikan. Misalnya dalam secara fungsional menangani atau tidak mungkin proses penanaman modal yang dilakukan oleh Badan dilaksanakan oleh sesuatu instansi fungsional yang Koordinasi Penanaman Modal; sudah ada. Misalnya, Dewan Ketahanan Pangan, Dewan 3) Baik pelayanan satu atap maupun satu pintu Maritim Nasional, Badan Pertimbangan Pendidikan dimaksudkan juga untuk mempermudah masyarakat Nasional, Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan dalam mengurus kepentingannya yang melibatkan Bencana dan Penanganan Pengungsi (BAKORNAS berbagai instansi. PBP).
  • 110 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 111 4. Pelaksanaan Koordinasi dalam Sistem bidang permasalahan yang sedang dibahas. Hasil rapat- Penyelenggaraan Pemerintahan Negara rapat Menteri Koordinator yang dipimpin oleh Menteri a. Sidang Kabinet Koordinator ini dilaporkan kepada Presiden. Sidang Kabinet adalah suatu forum koordinasi tertinggi yang dipimpin langsung oleh Presiden. Sidang Kabinet c. Koordinasi antara Departemen/Instansi pemerintah itu ada dua macam: Tingkat Pusat 1) Sidang Kabinet Paripurna yaitu Sidang Kabinet Dilaksanakan antara Departemen/Instansi Pemerintah lengkap yang dihadiri oleh seluruh anggota Kabinet Tingkat Pusat yang satu dengan Departemen/Instansi dan pejabat-pejabat lain yang dianggap perlu oleh Pemerintah Tingkat Pusat lainnya, yang dalam pelaksa Presiden. naannya dapat terjadi baik tanpa wadah tertentu, 2) Sidang Kabinet Terbatas yaitu Sidang Kabinet maupun dengan menggunakan suatu wadah seperti yang dihadiri oleh Menteri-menteri tertentu sesuai Rapat Koordinasi Sektor-sektor, Panitia-panitia Antar- dengan bidang yang akan dibahas. Sidang Kabinet Departemen dan lain-lain. ini dihadiri pula oleh pejabat lainnya yang bukan Pola koordinasi tersebut berlaku pula untuk koordinasi Menteri yang ditunjuk oleh Presiden. antara suatu satuan organisasi dalam suatu Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat dengan b. Rapat di Lingkungan Menteri Koordinator satuan organisasi Departemen/Instansi Pemerintah Oleh karena menteri-menteri yang harus Tingkat Pusat lainnya. Peningkatan koordinasi tersebut dikoordinasikan oleh Presiden jumlahnya banyak, merupakan suatu keharusan dalam pelaksanaan dengan beraneka ragam permasalahan, maka Presiden pembangunan nasional. mengangkat Menteri Koordinator, seperti dalam Kabinet Indonesia Bersatu sekarang ini ada Menteri Koordinator d. Koordinasi Aparatur Pemerintah Pusat di Luar Politik, Hukum dan Keamanan; Menteri Koordinator Negeri Perkonomian; dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Untuk melaksanakan kebijakan hubungan Luar Negeri Rakyat. Rapat-rapat Menteri Koordinator sesuai dengan antara lain dibentuk perwakilan Pemerintah Republik bidangnya dipimpin oleh Menko yang bersangkutan Indonesia di Luar Negeri yang pembinaannya dilakukan dengan dihadiri oleh Menteri dan pejabat-pejabat lain oleh Departemen Luar Negeri. bukan Menteri yang tugasnya berkaitan erat dengan
  • 112 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 113 Sebagai wakil dari Pemerintah Republik Indonesia, fungsional diagonal) sepanjang mengenai bidang perwakilan-perwakilan di luar negeri itu mempunyai tugas pokoknya. hubungan fungsional dengan instansi-instansi Pemerintah Tingkat Pusat. Jika dipandang perlu instansi- f. Koordinasi Tingkat Daerah instansi tersebut dapat mempunyai Atase di dalam 1) Gubernur selaku Wakil Pemerintah Pusat Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri di melakukan koordinasi fungsional teritorial di Negara-negara tertentu sesuai dengan kebutuhan, seperti samping terhadap instansi vertikal, juga terhadap Atase Kebudayaan, Atase Pertahanan, setelah Bupati dan Walikota; berkonsultasi dengan Departemen Luar Negeri. Dalam 2) Kepala Daerah, di samping mengkoordinasikan pelaksanaan tugasnya di Luar Negeri, para Atase aparatur daerahnya sendiri (koordinasi hierarkis), tersebut dikoordinasikan oleh Kepala Perwakilan RI berwenang pula secara operasional setempat. mengkoordinasikan instansi-instansi lain yang berada di daerahnya (koordinasi fungsional e. Koordinasi Pemerintah Pusat terhadap Pemerintah teritorial). Daerah 1) Selaku aparatur pusat yang secara fungsional 5. Koordinasi dan Hubungan Kerja membantu Presiden dalam urusan-urusan daerah Koordinasi dan hubungan kerja merupakan dua hal yang pada umumnya, Menteri Dalam Negeri tidak identik, namun sulit untuk dibedakan secara tegas, a) Secara fungsional horizontal mengkoordinasikan apalagi dipisahkan. Untuk mengefektifkan koordinasi departemen dan instansi tingkat pusat lainnya mutlak diperlukan adanya hubungan kerja, baik formal sepanjang mengenai masalah-masalah umum di maupun informal. daerah; b) Secara fungsional diagonal mengkoordinasikan Koordinasi selalu bersifat hubungan kerja, namun provinsi, kabupaten dan kota. demikian, hubungan kerja tidak selalu bersifat 2) Menteri/Departemen dan instansi teknis koordinatif, karena hubungan kerja dapat pula bersifat melakukan koordinasi baik terhadap instansi pusat konsultatif dan informatif saja. lainnya (koordinasi fungsional horizontal) maupun terhadap provinsi, kabupaten dan kota (koordinasi
  • 114 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 115D. Pengawasan dan mungkin akan dihadapi, termasuk bagaimana Pengawasan adalah salah satu fungsi organik manajemen, yang kualitas orang-orang yang ada dalam organisasi merupakan proses kegiatan pimpinan untuk memastikan dan semuanya menjadi tanggungjawab pimpinan untuk menjamin bahwa tujuan dan sasaran serta tugas-tugas menyelesaikan dan membinanya sebaik mungkin. organisasi akan dan telah terlaksana dengan baik sesuai dengan rencana, kebijakan, instruksi dan ketentuan- Setiap pimpinan instansi pemerintah ataupun pimpinan ketentuan yang telah ditetapkan. Pengawasan sebagai fungsi satuan/unit kerja termasuk pimpinan proyek, pimpinan manajemen sepenuhnya adalah tanggung jawab setiap kelompok kerja yang ada dalam organisasi tersebut pimpinan pada tingkat manapun. Hakekat pengawasan adalah memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang melekat untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan, pada dirinya mengawasi pelaksanaan kegiatan diorgani pemborosan, penyelewengan, hambatan, kesalahan dan sasinya. Untuk itu pimpinan harus selalu berusaha sedini kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta mungkin dapat memonitor dan mengetahui kemungkinan pelaksanaan tugas-tugas organisasi. akan terjadinya penyimpangan, hambatan, kesalahan dan atau kegagalan dari pelaksanaan tugas-tugas satuan kerja Jenis-Jenis Pengawasan yang dipimpinnya dalam rangka pencapaian tujuan a. Pengawasan Melekat (Waskat) organisasi secara keseluruhan. Waskat menurut Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1989 adalah serangkaian kegiatan yang bersifat sebagai Selanjutnya pimpinan berkewajiban pula untuk secepat pengendalian yang terus menerus dilakukan oleh atasan mungkin mengadakan langkah-langkah tindak lanjut langsung terhadap bawahannya, secara preventif atau (follow up) guna dapat meniadakan dan mencegah represif agar pelaksanaan tugas bawahan tersebut terjadinya atau berlanjutnya keadaan tersebut. Pimpinan berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan rencana juga perlu berusaha untuk mempertahankan hal-hal yang kegiatan dan peraturan perundangan yang berlaku. sudah baik, dan bahkan bila masih mungkin juga Berhasil tidaknya pencapaian tujuan dan pelaksanaan meningkatkannya. Semuanya itu hanya dapat tugas-tugas suatu organisasi, atau baik buruknya citra diwujudkan dengan baik, kalau pimpinan melakukan suatu organisasi dalam pandangan masyarakat adalah pengawasan sendiri dengan sebaik-baiknya atas kegiatan merupakan tanggung jawab atasan langsung/pimpinan organisasi dan bawahan yang dipimpinnya. nya. Demikian pula, masalah-masalah yang telah, sedang
  • 116 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 117 Sasaran Waskat: 3) Pencegahan 1) Meningkatkan disiplin, prestasi kerja, pencapaian Waskat lebih diarahkan pada usaha pencegahan sasaran pelaksanaan tugas; terhadap penyimpangan, karena itu perlu ada sistem 2) Menekan hingga sekecil mungkin penyalahgunaan yang jelas yang dapat mencegah terjadinya wewenang; penyimpangan. Dalam setiap fungsi manajemen 3) Menekan hingga sekecil mungkin kebocoran, perlu dilakukan Waskat untuk menjamin agar tujuan pemborosan keuangan negara dan segala bentuk dapat dicapai secara efisien dan efektif. pungutan liar; 4) Pembinaan 4) Mempercepat penyelesaian perizinan dan Waskat harus bersifat membina, karena itu peningkatan pelayanan kepada masyarakat; penentuan adanya suatu penyimpangan harus 5) Mempercepat penyusunan kepegawaian sesuai didasarkan pada kriteria yang jelas dan ketentuan perundangan yang berlaku. penyimpangan tersebut harus dapat dideteksi sedini mungkin. Prinsip-Prinsip Pokok Waskat 5) Obyektif Agar pelaksanaan Waskat dapat tercapai dengan baik, Tindak lanjut terhadap temuan-temuan dalam maka perlu diperhatikan prinsip-prinsip pokoknya, yaitu: Waskat harus dilakukan secara tepat dan tertib, didasarkan pada penilaian yang obyektif melalui 1) Berjenjang analisis yang cermat sesuai dengan kebijakan dan Pada prinsipnya Waskat dilakukan secara berjenjang. peraturan perundangan yang berlaku termasuk tindak Namun demikian setiap pimpinan pada saat-saat lanjut berupa penghargaan bagi pegawai yang tertentu dapat melakukan Waskat pada setiap jenjang berprestasi baik. yang ada di bawahnya. 6) Terus Menerus 2) Kesadaran dan Kewajiban Waskat harus merupakan kegiatan yang dilakukan Waskat harus dilaksanakan oleh setiap pimpinan secara terus menerus dan berkesinambungan sebagai secara sadar dan wajar sebagai salah satu fungsi kegiatan rutin sehari-hari dalam rangka pelaksanaan manajemen yang penting dan tak terpisahkan dari tugas umum pemerintahan dan pembangunan. perencanaan, pengorganisasian dan pelaksanaan.
  • 118 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 119 7) Sistematis Wasnal pada dasarnya bersifat intern. Oleh karena itu, Waskat harus dilaksanakan secara tertib dan teratur, aparat Wasnal dalam suatu instansi secara umum disebut mengikuti prosedur dan ketentuan-ketentuan yang Satuan Pengawasan Intern (SPI). berlaku. 8) Diterministik Pada dasarnya peranan SPI atau aparat wasnal hanyalah Waskat merupakan pengawasan yang pokok dan membantu pimpinan agar dapat melakukan menentukan, sedangkan pengawasan-pengawasan manajemennya, melakukan Waskat atau lainnya menunjukkan keberhasilan Waskat. pengendaliannya dengan baik. Dengan demikian, SPI melaksanakan pengawasan atas nama pimpinan. Di samping memperhatikan prinsip-prinsip Waskat, dalam pelaksanaan Waskat baik pimpinan manapun Beda dengan Waskat, aparat Wasnal tidak berwenang bawahan harus pula berpedoman pada Sarana Waskat mengambil tindak lanjut sendiri. Untuk hal-hal yang (Sarwaskat), yaitu: struktur organisasi, kebijakan bersifat teknis dan tidak prinsipil, aparat wasnal dapat pelaksanaan, rencana kerja, prosedur kerja dan langsung memberikan petunjuk-petunjuk perbaikan. pencatatan hasil kerja dan pelaporan. Tetapi untuk hal-hal yang prinsipil, aparat Wasnal hanya berkewajiban melaporkan temuannya kepada pimpinan Dengan berpedoman pada Sarwaskat ini, pimpinan dapat disertai saran-saran tindak lanjutnya. Tindak lanjut dengan mudah memastikan: merupakan wewenang pimpinan, Oleh karena itu Wasnal 1) Apakah bawahan telah bekerja sesuai dengan bidang bukan pengendalian. Walaupun Waskat ditingkatkan, pekerjaan, wewenang dan tanggung jawabnya; Wasnal tetap masih diperlukan. 2) Apakah bawahan telah melaksanakan tugas/pekerjaan, wewenang dan tanggung jawab Dilingkungan instansi pemerintah, aparat Wasnal dapat dengan hasil yang baik. dibedakan, sebagai berikut: 1) Aparat Wasnal Intern Instansi, meliputi: b. Pengawasan Fungsional (Wasnal) a) Inspektorat Jenderal di Departemen; Wasnal adalah pengawasan yang dilakukan oleh b) Inspektorat/Inspektorat Utama di LPND; aparat/pegawai yang tugas pokoknya khusus membantu c) Badan Pengawas Daerah Provinsi, pimpinan untuk melaksanakan tugasnya masing-masing Kabupaten/Kota;
  • 120 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 121 d) Satuan Pengawas Intern di berbagai 5) Bappenas, di bidang perencanaan pembangunan BUMN/BUMD. nasional. 2) Aparat Wasnal Ekstern Instansi/Intern b. Pengawasan yang ditujukan kepada masyarakat dan Pemerintah aparatur, yaitu instansi-instansi pemerintah yang BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan secara keseluruhan berkewajiban melaksanakan Pembangunan). fungsi pengayoman, pelayanan dan pemberdayaan kepada masyarakat, yang pada dasarnya juga c. Pengawasan Teknis Fungsional mencakup Aparatur Pemerintah sendiri. Misalnya Setiap instansi berkewajiban untuk melakukan yang dilakukan oleh: pengawasan agar kebijakan-kebijakan a) Dinas Tata Kota, mengenai bangunan; Negara/Pemerintah, sesuai dengan bidang tugas b) BPN, mengenai pertanahan; pokoknya masing-masing, ditaati oleh masyarakat c) Depdikbud, mengenai pendidikan sekolah, baik dan/atau aparatur. Pengawasan ini merupakan sekolah negeri/swasta, termasuk kedinasan; konsekwensi dari pelaksanaan asas fungsionalisasi dan d) Kepolisian, mengenai keamanan dan ketertiban. merupakan fungsi lini/operasional, dari instansi tersebut. Sesuai dengan bidang tugas pokoknya, berkaitan dengan d. Pengawasan Legislatif (Wasleg) atau Pengawasan pengawasan dalam rangka asas fungsionalisasi, instansi Politik (Waspol) Pemerintah dapat dibedakan menjadi: Berdasarkan Pasal 20A ayat (1) UUD 1945, DPR a. Pengawasan yang ditujukan kepada aparatur saja, memiliki fungsi legislatif, fungsi anggaran, dan fungsi yaitu pengawasan yang dilakukan oleh instansi- pengawasan. instansi pemerintah yang secara keseluruhan Dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 2003 tentang melaksanakan fungsi staf, misalnya: Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD dan DPRD, 1) Kantor MENPAN, di bidang pendayagunaan masing-masing fungsi ini dijelaskan sebagai berikut: aparatur; Fungsi Legislatif adalah fungsi membentuk Undang- 2) BKN, di bidang kepegawaian; Undang yang dibahas dengan Presiden untuk 3) LAN, di bidang Diklat Pegawai Negeri dan mendapatkan persetujuan bersama. Litbang Administrasi Negara; 4) Ditjen Anggaran, di bidang anggaran;
  • 122 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 123 Fungsi Anggaran adalah fungsi menyusun dan dugaan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden menetapkan APBN bersama Presiden dengan melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan memperhatikan pertimbangan DPD. terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat Fungsi Pengawasan adalah fungsi melakukan lainnya atau perbuatan tercela maupun tidak lagi pengawasan terhadap pelaksanaan UUD Republik memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang dan peraturan Presiden. pelaksanannya. Dalam Pasal 20A ayat (2), dikatakan bahwa dalam Setiap pejabat/instansi berkewajiban memberi tanggapan melaksanakan fungsinya, DPR mempunyai hak terhadap pandangan, kritik, saran ataupun pertanyaan interpelasi, hak angket, dan hak menyatakan dari DPR/DPRD, dengan sebaik-baiknya. Pandangan, pendapat. kritik, saran ataupun pertanyaan itu harus dimanfaatkan Dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 2003, masing- sebagai masukan baik bagi pelaksanaan waskat maupun masing hak ini dijelaskan sebagai berikut: wasnal, termasuk dalam rangka mengambil langkah- Hak Interpelasi adalah hak DPR untuk meminta langkah tindak lanjut. Pandangan, kritik, saran, temuan, keterangan kepada pemerintah mengenai kebijakan pertanyaan dari DPR/DPRD harus dijadikan salah satu pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak indikator keberhasilan Waskat dan Wasnal pada luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. khususnya, dan pelaksanaan tugas pemerintahan dan Hak Angket adalah hak DPR untuk melakukan pembangunan pada umumnya. penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada e. Pengawasan Masyarakat (Wasmas) kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang diduga Pengawasan masyarakat (Wasmas) atau kontrol sosial bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. adalah pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat Hak Menyatakan Pendapat adalah hak DPR untuk sendiri atas penyelenggaraan pemerintahan dan pemba menyatakan pendapat terhadap kebijakan pemerintah ngunan. Wasmas perlu sekali ditumbuh kembangkan, atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi ditanah air sehingga merupakan pengawasan yang efisien dan atau situasi dunia internasional disertai dengan efektif. Adapun alasan-alasannya, antara lain adalah rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut seperti berikut: pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket atau terhadap
  • 124 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 125 1) Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan dihargai pula. Surat kaleng sekalipun misalnya, perlu demokrasi, dimana kedaulatan ditangan rakyat. mendapat perhatian, karena seringkali informasi Pegawai Negeri bukan saja unsur aparatur negara yang disampaikan ternyata memang benar dan sangat dan abdi negara, tetapi sekaligus juga abdi berharga. masyarakat; 2) Keberhasilan penyelenggaraan negara antara lain Kriteria Wasmas yang baik tergantung kepada partisipasi seluruh rakyat. Wasmas yang baik antara lain memiliki kriteria Wasmas merupakan suatu bentuk partipasi berikut: masyarakat tersebut; 1) Obyektif tidak bersifat memfitnah; 3) Salah satu arah kebijakan bidang penyelenggara 2) Dimaksudkan untuk adanya perbaikan; negara adalah membersihkan penyelenggara negara 3) Memberitahukan faktanya dengan jelas dan dari praktek KKN dengan memberikan sanksi lengkap dengan bukti-buktinya; seberat-beratnya sesuai dengan ketentuan hukum 4) Memberitahukan bentuk-bentuk pelanggaran, yang berlaku, meningkatkan efektivitas pengawasan penyimpangan, penyelewenangan, intern dan fungsional serta pengawasan masyarakat penyalahgunaaan wewenang, kesalahan atau dan mengembangkan etika dan moral. kelemahan yang terjadi; 4) Wasmas diperlukan karena keterbatasan kemampuan 5) Menjelaskan patokan-patokan yang dilanggar; Waskat dan Wasnal. Wasmas mendukung 6) Memuat saran-saran; keberhasilan Waskat dan Wasnal. 7) Jelas identitas yang menyampaikannya. 5) Tujuan pengembangan Wasmas yang sehat dan Memang tidak dapat selalu diharapkan, Wasmas positif adalah makin tumbuh dan meningkatnya memenuhi kriteria tersebut. Adalah kewajiban tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam instansi untuk berusaha melengkapi, memperjelas, penyelenggaraan negara. Oleh karena itu aparatur memastikan kebenaran serta mengungkapnya lebih pemerintah berkewajiban untuk selalu memberikan lanjut, sehingga dapat diambil langkah-langkah kesempatan agar masyarakat mampu melaksanakan tindak lanjut yang tepat. Wasmas atau kontrol sosial dengan sebaik-baiknya. Bagaimanapun kecilnya nilai informasi yang disampaikan, Wasmas harus diperhatikan dan
  • 126 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 127 f. Pengawasan Yudikatif Perencanaan pembangunanan Nasional dasar hukumnya adalah Salah satu fungsi Mahkamah Agung adalah mengawasi UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan peraturan perundangan yang antara lain dilaksanakan Pembangunan Nasional. Sistem perencanaan pembangunan dengan: nasional bertujuan untuk; mendukung koordinasi antar pelaku 1) Menguji secara material terhadap peraturan pembangunan; menjamin terciptanya integrasi; sinkronisasi dan perundangan di bawah Undang-Undang; sinergi baik antar daerah, antar ruang, antar waktu, antar fungsi 2) Menyatakan tidak sah semua peraturan perundangan pemerintah maupun antara pusat dan daerah; menjamin di bawah Undang-Undang apabila bertentangan keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi. pelaksanaan dan pengawasan; mengoptimalkan partisipasi masyarakat; tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, Mahkamah Konstitusi mempunyai kewenangan efektif, berkeadilan dan berkelanjutan. bersifat formal untuk menguji UU terhadap UUD 1945. Dengan demikian, Mahkamah Agung dan Mahkamah Pengorganisasian dapat diartikan sebagai penetapan pekerjaan- Konstitusi memiliki wewenang sekaligus kewajiban pekerjaan yang harus dilaksanakan, pengelompokkan tugas dan untuk melakukan pengawasan ekstern terhadap pembangunan pekerjaan kepada setiap pegawai dan penetapan pemerintah. Pengawasan ini sangat penting, karena hubungan kerja. Agar pengorganisasian dapat dilaksanakan negara Indonesia adalah negara hukum, sehingga: dengan baik perlu diperhatikan prinsip-prinsip pengorganisasian. 1) Dapat dicegah penyalahgunaan wewenang baik yang disengaja maupun tidak; Pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan pada 2) Kepastian dan tertib hukum dapat diwujudkan dasarnya terbagi habis kepada setiap aparat pemerintah atau dengan baik. lembaga-lembaga pemerintah. Dengan kata lain bahwa setiap aparat pemerintah atau masing-masing lembaga-lembagaE. Rangkuman pemerintah melaksanakan sebagian urusan-urusan pemerintahan Proses manajemen pemerintahan negara pada dasarnya meliputi di bidangnya masing-masing. Agar pelaksanaan tugas-tugas empat aspek, yaitu: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan pemerintahan tersebut berjalan dengan baik maka sangat dan pengawasan. diperlukan koordinasi yang baik pula.
  • 128 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 129 Koordinasi sudah harus dimulai sejak penyusunan kebijakan dan 2. Mengapa pengorganisasian diperlukan dalam perencanaan. Pada dasarnya koordinasi ada dua jenis, yaitu penyelenggaraan pemerintahan negara? Sebutkan pula koordinasi vertikal dan koordinasi fungsional. Koordinasi prinsip-prinsip pengorganisasian. fungsional dapat dibedakan atas koordinasi fungsional horizontal, 3. Mengapa koordinasi sangat diperlukan dalam pelaksanaan koordinasi fungsional diagonal, dan koordinasi fungsional tugas-tugas pemerintahan? teritorial. 4. Apa saja fungsi DPR dan apa saja hak yang dimiliki DPR dalam rangka pelaksanaan pengawasan bagi pemerintah? Dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan negara secara 5. Mengapa Waskat merupakan pengawasan intern yang paling menyeluruh koordinasi dapat dilaksanakan melalui: sidang pokok? kabinet; rapat-rapat koordinasi oleh Menko; rapat-rapat 6. Bagaimana sikap aparat pemerintah sebaiknya dalam koordinasi antar Departemen ditingkat pusat dan daerah, rapat menghadapi Wasmas? koordinasi antara aparat pusat dan aparat daerah, dan lain-lain. Pengawasan, yang pada dasarnya adalah kegiatan pimpinan yang berupaya agar tugas-tugas terlaksana sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan atau dapat mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan. Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara terdapat berbagai jenis pengawasan seperti: pengawasan melekat; pengawasan fungsional; pengawasan teknis fungsional; pengawasan legislatif; pengawasan masyarakat; dan pengawasan yudikatif.F. Latihan 1. Apa yang dimaksud dengan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional? Dan apa pula yang dimaksud dengan RPJM Nasional?
  • Modul Diklat Prajabatan Golongan III 131 BAB VIII 9. Apakah perbedaan antara BPK dan BPKP, baik dari segi kelembagaan maupun fungsinya? PENUTUP B. Tindak LanjutA. Tes Sistem penyelenggaraan pemerintahan negara mencakup bahasan Dari uraian yang telah disajikan dalam Bab II sampai dengan yang sangat luas. Apa yang telah diuraikan dalam Bab II sampai Bab VII, diharapkan peserta dapat memahami pengertian dari dengan Bab VII di muka, baru memberikan pengertian tentang beberapa hal penting dalam sistem penyelenggaraan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara dan beberapa hal pemerintahan negara. yang penting saja. Masih banyak lagi hal-hal penting yang tidak disampaikan dalam modul ini. Ada diantaranya yang telah Sebagai salah satu sarana untuk mengukur keberhasilan menjadi mata pelajaran tersendiri dalam Diklat ini. Di samping pembangunan tersebut, di bawah ini disiapkan bahan tes yang itu ada pula bagian-bagian lain yang menjadi mata Diklat pada dapat membantu peserta. Program Diklat jenjang yang lebih tinggi. 1. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara berdasarkan UUD Oleh karena itu untuk lebih memahami tentang sistem 1945? penyelenggaraan pemerintahan negara ini, peserta dianjurkan 2. Berdasarkan sistem pemerintahan negara tersebut, apakah untuk mempelajari, antara lain: kedudukan Presiden itu kuat? bahan bacaan yang telah digunakan untuk menulis modul ini, 3. Apakah arti pentingnya UU No. 28 Tahun 1999 dalam pene sebagaimana tersebut dalam referensi. rapan Tata Kepemerintahan Yang Baik (good governance)? Modul mata pelajaran lain seperti tentang kepegawaian, 4. Apakah akuntabilitas kinerja aparatur pemerintah itu? administrasi keuangan dan lain-lain. 5. Apakah yang dimaksud dengan hukum dasar dalam ketatanegaraan RI? Mengapa? 6. Jelaskan persamaan dan perbedaan antara Departemen dan Lembaga Pemerintah Non Departemen! 7. Apakah “Presiden dapat diberhentikan oleh MPR”? 8. Mengapa pengawasan melekat merupakan pengawasan yang paling pokok dalam penyelenggaraan pemerintahan negara? 130
  • Modul Diklat Prajabatan Golongan III 133 REFERENSI Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945. TAP MPR No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan NegaraUndang-undang No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Negara. Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang RencanaUndang-undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 – Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan 2009. Nepotisme. Peraturan Presiden No. 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas,Undang-undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Indonesia. Negara.Undang-undang No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Peraturan Presiden No. 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Negara. Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia.Undang-undang No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan Peraturan Presiden No. 11 Tahun 2005 tentang Perubahan Kelima MPR, DPR, DPD dan DPRD. Atas Keputusan Presiden No. 103 Tahun 2001 tentangUndang-undang No. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang- Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 1999 tentang Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Bank Indonesia. Departemen.Undang-undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Peraturan Presiden No. 12 Tahun 2005 tentang Perubahan KeenamUndang-undang No. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. Atas Keputusan Presiden Nomor 110 Tahun 2001 tentangUndang-undang No. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Peradilan Unit Organisasi dan Tugas eselon I Lembaga Pemerintah Tata Usaha Negara. Non Departemen.Undang-undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Peraturan Presiden No. 62 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Perundang-undangan. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentangUndang-undang No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan. Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan TataUndang-undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia. Nasional. Peraturan Presiden No. 64 Tahun 2005 tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang 132
  • 134 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Kedududkan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Oraganisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen.Keputusan Presiden No. 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang.Keputusan Presiden No. 111 Tahun 2000 tentang Sekretariat Kabinet.Keputusan Presiden No. 117 Tahun 2000 tentang Sekretariat Negara.Keputusan Presiden No. 103 tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen.Instruksi Presiden No. 15 Tahun 1983 tentang Pengawasan.Instruksi Presiden No. 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1989 tentang Pengawasan Melekat.Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 20 Tahun 1990 tentang Pedoman dan Proses Pembentukan Kelembagaan di Lingkungan Instansi Pusat, Perwakilan, Republik Indonesia di Luar Negeri dan Pemerintah Daerah.Bappenas, Tim Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan Yang Baik.Lembaga Administrasi Negara RI, Modul Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.