PlantATree                        Publishingoqsit    Perjalanan       Menuju       Mimbar        Abdul Moqsith Ghazali    ...
oqsit    Perjalanan       Menuju       Mimbar        Abdul Moqsith Ghazali                             2011               ...
12/07/2011   Merawat Agama dengan Penafsiran                                             Oleh Ulil Abshar-Abdalla         ...
sejarah Islam juga selalu dimulai dari tindakan teoritis   teoritis semacam ini. Sialnya, memang, dalam setiapdalam bentuk...
10/07/2011          Mengantar Moqsith ke Mimbar                                               Jaringan Islam Liberal      ...
ruang pada eksplorasi pembaharuan Islam di Indonesia     yang bertumpu pada konsep mashlahah (mantaaf/yang menawarkan prod...
saya menyaksikan bagaimana bangun metodologis             Moqsith untuk melanjutkan ide-ide rintisanyang dikembangkan Moqs...
Daftar IsiMerawat Agama dengan Penafsiran	                                           iMengantar Moqsith ke Mimbar	        ...
Agama, Seni, dan Regulasi Pornografi	     60Kekenyalan Syariat	                       62Ketika Negara Mengintervensi Agama...
«                                                                                                           09/07/2011    ...
«Islam lain. Dari teologi seperti ini, maka meletuslah     kebesaran Islam adalah dimungkinkannya keberagamanmisalnya peri...
«sekiranya dikategorisasikan hanya terdiri dari dua jenis.   pengkaji Islam, upaya itu dikenal dengan istilah “tatsbitPert...
«Pertama, risalah kenabian adalah risalah tauhid,           al-Banna, pemikr Islam dari Mesir, dalam bukunya al-bukan risa...
«urusan duniawi, dengan terus terang Nabi Muhammad             relevan untuk memecahkan problem masa kini. Kitamengaku ket...
«agama cinta. Perbedaan-perbedaan di ranah eksoterik       tafsir kebencian dan menghalalkan kekerasan akanfikih ini luluh...
«termasuk salah satu pokok ajaran Islam (maqashid            dan menyeleksi hukum dalam Islam, yang dikenalal-syariah). De...
«Ibn Arabi, Dzaha’ir al-A’laq: Syarh Tarjuman al-Asywaq, Kairo: Tanpa penerbit,Tanpa Tahun.Ibn Hisyam, al-Sirah al-nabawiy...
«                                                                                                       19/06/2011        ...
«jenggot, hukum ziarah kubur, hukum bertawassul,           separuhnya adalah manusia dan separuhnya yanghukum menggunakan ...
«                                                                                                          03/05/2011Menah...
«(rasional) dan naqli (normatif-doktrinal) dari negara       Qur’an). Sedangkan Maududi dikenal sebagai oratorrepublik den...
«dengan soal penipuan, maka tindaklah para pelakunyamelalui hukum pidana yang berlaku. Hukum harustegak terhadap mereka, s...
«                                                                                                        05/04/2011      W...
«Wahabisme kini tumbuh di Indonesia. Sejumlahma’had atau pesantren yang mengusung ideologiWahabisme bermunculan. Seorang t...
«                                                                                                       27/02/2011  Kontek...
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Perjalanan menuju mimbar
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Perjalanan menuju mimbar

2,104

Published on

This paper is taken and collected based on the the search results of several writings by Abdul Moqsith Ghazali on the 'Liberal Islam Network' (JIL) site and sorted by the date of writing displayed earlier and later - because of piracy, of course, the collection of these writings without the consent of the author and the site adminstrator.

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
2,104
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
134
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Perjalanan menuju mimbar

  1. 1. PlantATree Publishingoqsit Perjalanan Menuju Mimbar Abdul Moqsith Ghazali 2011
  2. 2. oqsit Perjalanan Menuju Mimbar Abdul Moqsith Ghazali 2011 PlantATree Publishing
  3. 3. 12/07/2011 Merawat Agama dengan Penafsiran Oleh Ulil Abshar-Abdalla “Kegiatan membaca atau membaca ulang pada dasarnya adalah tindakan teoritis (al-‘amal al-nadzari). Tradisi intelektual Islam sangat kaya dengan tindakan teoritis semacam ini. Setiap pembaharuan (tajdid) dalam sejarah Islam juga selalu dimulai dari tindakan teoritis dalam bentuk membaca dan menafsir kembali tradisi tekstual yang ada. Sejarah agama menjadi menarik karena adanya tradisi membaca dan menafsir ulang seperti itu. Suatu agama di mana di dalamnya kita jumpai kehidupan menafsir yang terus-menerus tanpa henti, pertanda bahwa ia adalah agama yang hidup, bukan dead religion, agama yang mati, agama yang telah menjadi mumi.”Assalamu’alaikum, selamat malam, disertai niat yang menyokongnya. Itulah iman. Innama ‘l-a’mal bi ‘l-niyyat, sebagaimana disebutkan dalamMalam ini kita akan mendengarkan pidato kebudayaan sebuah hadis yang terkenal: tindakan haruslah dilandasiyang akan disampaikan oleh teman saya Dr. Abdul oleh niat. Jika tindakan sosial dikerjakan tanpa suatuMoqsith Ghazali, berjudul “Menegaskan Kembali landasan motivasional yang kuat di baliknya, tanpaPembaruan Pemikiran Islam”. Ini adalah acara tahunan dasar-dasar teoritis yang kokoh, ia hanyalah menjadiyang digagas oleh Forum Pluralisme Indonesia. Ini pekerjaan arbitrer: sembarang dan semena-mena, yangadalah pidato seri kedua. Saya berharap setiap tahun tak bernilai apa-apa.pidato seperti ini terus bisa diselenggarakan danmenjadi tradisi yang terawat hingga di masa depan Perkembangan sosial-politik yang cepat saat iniyang jauh. memaksa umat Islam, juga umat-umat agama lain, untuk melakukan pembacaan kembali atas tradisiApa tujuan sebuah pidato seperti ini? Bukankah yang panjang yang mereka warisi dari generasi yang lalu.dibutuhkan oleh umat Islam saat ini bukan pidato, Pembacaan ulang adalah kata kunci di sini.tetapi sebuah tindakan nyata untuk menyelesaikanmasalah? Kenapa kita memakai kata “membaca” di sini? Sebab, setiap agama, termasuk Islam, pada akhirnyaMenurut saya, baik orasi dan aksi, teori dan aksi, terlembagakan dalam sebuah tradisi, yakni tradisikeduanya sama penting. Saya kurang begitu suka penafsiran. Sementara setiap tradisi selalu berwatakuntuk memperlawankan teori dan aksi. Mengikuti tekstual. Ia pada akhirnya adalah sebuah teks, teksturpandangan para filsuf Muslim klasik seperti Ibn Sina yang terdiri dari jalinan gagasan yang terkait dengandan Al-Farabi, kebahagiaan manusia diperoleh karena situasi tertentu. Setiap teks selalu membuka diri padakombinasi yang seimbang antara teori dan aksi, antara kegiatan mental yang disebut dengan membaca.ilmu-ilmu teoritis (al-‘ulum al-nazariyyah) dan ilmu- Sementara itu, kegiatan membaca bukanlah tindakanilmu praktis (al-‘ulum al-‘amaliyyah). Baik kehidupan yang sekali terjadi sesudah itu mati dan berhenti.kontemplatif (vita contemplativa) dan kehidupan Membaca adalah tindakan mental dan intelektual yangaktif (vita activa), keduanya sama-sama penting untuk tak pernah berhenti –kegiatan yang sifatnya perenial,mencapai –meminjam istilah dalam filsafat Yunani— abadi, non-stop. Oleh karena itu, setiap teks, termasukeudemonia, kehidupan yang bahagia. teks-teks yang terbentuk melalui tradisi Islam, akan selalu terbuka terhadap pembacaan dan pembacaanGagasan tentang perkawinan antara teori dan aksi ulang secara terus-menerus.sebetulnya tak asing bagi umat Islam. Dalam al-Qur’an, kata iman kerap disebut secara berbarengan Kegiatan membaca atau membaca ulang pada dasarnyadengan amal –alladzina amanu wa ‘amilu al-shalihat. adalah tindakan teoritis (al-‘amal al-nadzari). TradisiSuatu tindakan sosial akan memiliki bobot moral yang intelektual Islam sangat kaya dengan tindakan teoritistinggi jika didorongkan oleh motivasi mendalam; jika semacam ini. Setiap pembaharuan (tajdid) dalam —i—
  4. 4. sejarah Islam juga selalu dimulai dari tindakan teoritis teoritis semacam ini. Sialnya, memang, dalam setiapdalam bentuk membaca dan menafsir kembali tradisi masyarakat, kelas yang menjalani vita contemplativatekstual yang ada. Sejarah agama menjadi menarik semacam ini akan selalu berhadapn dengan status quo.karena adanya tradisi membaca dan menafsir ulang Dan ini tampaknya memang kutukan tak terhindarkanseperti itu. Suatu agama di mana di dalamnya kita bagi setiap kelas terpelajar di manapun. Dan ini pulajumpai kehidupan menafsir yang terus-menerus tanpa tampaknya kutukan yang dihadapi para nabi di masahenti, pertanda bahwa ia adalah agama yang hidup, lampau.bukan dead religion, agama yang mati, agama yangtelah menjadi mumi. Malam ini, kita sejenak akan menikmati kehidupan kontemplatif itu. Besok, anda bisa kembali menjalaniDi sinilah letak pentingnya sebuah “pidato” seperti vita activa, kehidupan aktif yang normal, kehidupanyang akan kita dengarkan dari Sdr. Abdul Moqsith yang penuh dengan gebalau dan kebisingan.Ghazali malam ini. Pidato semacam ini adalah saranauntuk menyatakan suatu kegiatan membaca ulang Sekian.kepada publik luas.Kegiatan membaca ulang memang mengandungresiko, dan biasanya kurang disukai oleh kalanganyang menjaga tradisi atau kaum ortodoks. Sebab,setiap pembacaan ulang memang biasanya berujungpada evaluasi atas status quo. Sementara itu, evaluasiakan berujung pada perubahan. Dan setiap perubahanbiasanya kurang disukai oleh power that be, kekuasaanyang ada. Ini bukan hal yang aneh. Ini adalah hukumbesi perubahan (iron law of change) yang lazim kitajumpai di mana-mana. Dalam setiap tradisi akan selaluada dua impetus atau dorongan –dorongan ke arahperubahan dan penolakan atas perubahan itu.Saya ingin menutup pengantar saya ini denganmenegaskan kembali pentingnya usaha memperluassecara terus-menerus “ruang mental/intelektual” dalamumat. Apa yang saya sebut sebagai ruang mental di siniadalah ruang di mana tersedia kesempatan yang cukupbagi umat untuk melakukan penafsiran dan penafsiranulang. Perubahan-perubahan ke arah yang positifdalam level kehidupan riil biasanya dimungkinkankarena adanya ruang mental yang cukup dalam sebuahmasyarakat/umat untuk memperdebatkan sejumlahalternatif penafsiran dan pembacaan.Ruang mental semacam ini hanya bisa hidup jika adaorang-orang yang mau mendedikasikan dirinya padakehidupan teoritis –kelompok yang oleh al-Qur’andisebut sebagai kelas sosial yang melakukan tindakan“yatafaqqahu fi al-din”, mendalami dan merefleksikansoal-soal keagamaan. Inilah kelas kaum terpelajar yanghidupnya didedikasikan untuk menelaah dan membacaulang tradisi; kaum yang menjalani vita contemplativa.Kawan saya Abdul Moqsith Ghazali adalah contohorang yang menjalani hidup kontemplatif dan — ii —
  5. 5. 10/07/2011 Mengantar Moqsith ke Mimbar Jaringan Islam Liberal Pidato pengantar untuk Pidato Pembaruan Islam, TIM, 8 Agustus 2011 Moqsith adalah pribadi yang lahir dari pesantren namun sangat kritis dengan dunia feodal pesantren. Jadi, jangan biarkan Moqsith berada dalam feodalisme pemikirian yang menindas. Sebab feodalisme pemikiran akan menghalangi dia dari kejujuran pemikiran. Mari kita cintai Moqsith dengan membiarkannya menjadi Moqsith dari pesantren yang menemukan dan menggali rumusan pembaharuan Islam Indonesia yang bertumpu pada modernitas, keislaman dan keindonesiaan dalam konteks kekinian dan masa depan.Terimakasih kepada Forum Pluralisme Indonesia yang kerakyatan. Islam Indonesia memiliki dua sokogurutelah mempercayai saya untuk mengantarkan teman, Islam moderat (NU dan Muhammadiyah) yangsahabat kita Abdul Moqsith Gazali ke mimbar ini. mengakar jauh ke dalam tradisi Indonesia yang ragamSebentar lagi kita akan mendengarkan pikiran dan dalam budaya. Islam Indonesia tak memiliki hirarkipandangan Moqsith tentang pembaharuan pemikiran pengambilan hukum agama yang monolitik meskipunIslam yang berangkat dari, dan mengakar pada - tradisi ada MUI. Kutub optimis ini menganggap perdebatanpemikiran Islam Indonesia, terutama dari dunia tentang bentuk negara telah selesai dan Pancasilapesantren. merupakan sumbangan umat Islam yang diperas dari nilai-nilai Islam. Dan satu lagi, Islam Indonesia palingBeberapa waktu lalu saya berbincang dengan Fred ramah terhadap perempuan.Bunnell. Seperti kita tahu, Pak Fred bersama PakBen Anderson pernah penulis satu dokumen yang Sementara kutub pesimistis menganggap bahwakemudian dikenal sebagai Cornell paper “a preliminary Islam Indonesia memang pernah menjadi Islam yangAnalysis of the October 1, 1965; coup in Indonesia. toleran tapi kini jadi Islam yang gampang ngamukan.Kali ini ia datang untuk menyiapkan tulisan tentang Buku-buku keagamaan yang dijual jauh dari duniaperkembangan Islam di Indonesia; sebuah tema yang intelektual, isinya dangkal dan murahan, sepertiumum dan luas, dan sekaligus sulit untuk dipetakan. buku “malam pertama di alam kubur, keajaiban sedekah, cara pintar masuk sorga dan sejenisnya.Kepada Pak Fred saya menjelaskan, bahwa menurut Bagi kutub pesimis, Islam Indonesia tak lagi toleran,saya (dengan pengecualian beberapa orang ahli seperi mereka gemar menggunakan kekerasan dalamMartin van Bruinessen), penggambaran tentang Islam menyelesaikan perbedaan. Corak kebudayaannyadi Indonesia dewasa ini cenderung terpolarisasi ke sangat anti budaya lokal Indonesia. Islam model inidalam dua kutub yang berseberangan. Di satu pihak, kembali mempertanyakan keabsahan NKRI sembariIslam Indonesia digambarkan begitu opitimisnya: memaksakan ideologi Islamisme. Mereka dianggappaling progresif, moderen, maju dan karenanya menggunting dalam lipatan dalam berdemokrasidianggap paling cocok dengan perkembangan zaman. dengan memasukkan ideologinya melalui perda-perdaSebaliknya di kutub yang lain, Islam Indonesia syariah. Mereka rajin kampanye menolak budaya asingdigambarkan begitu pesimistisnya. Islam Indonesia sambil menyerap budaya Arab yang sebetulnya budayasedang menuju ke masa kegelapan. Kira-kira besok lusa asing juga! Mereka gemar menghakimi kelompokakan tamat, kiamat. lawan dengan propaganda kampungan seperti Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme). Dan dalamTentu saja, kedua kutub itu memiliki argumen isu perempuan, saya hanya bisa mengatakan betapayang sahih dan bisa dipertanggungjawabkan secara mereka “astaghfirullah”.metodologis. Kutub optimis misalnya menyajikandata tentang betapa tak populernya partai-partai Islam Namun menurut saya penggambaran serupa itu, baikdibandingkan dengan partai nasionalis, atau nasionalis yang optimis maupun yang pesismis, kurang memberi — iii —
  6. 6. ruang pada eksplorasi pembaharuan Islam di Indonesia yang bertumpu pada konsep mashlahah (mantaaf/yang menawarkan produk pemikiran. Dalam konteks kebaikan) untuk mengatasi persoalan-persoalanpemikiran Islam moderen di Indonesia tentu saja kita sosial. Dan karena Gus Dur tak selalu menjelaskanharus menyebut tiga tokoh penting yang terkait dengan bangunan metodologinya, bagi sebagian kalangan,upaya pembaharuan yang kini menjadi jalan lurus yang pandangan Gus Dur itu dianggap cenderung pragmatisdipilih Moqsith. Tiga orang dimaksud adalah Ahmad kompromistis.Wahib, Cak Nur dan Gus Dur. Bangunan pemikiran yang dikembangkan Moqsith,Bagi saya, Moqsith adalah contoh sempurna yang pada pendapat saya, merupakan perpaduan sempurnamemadukan model pencaharian pemikiran Islam dari tradisi filsafat yang dirintis Wahib, tradisi kalam-Wahib, Gus Dur dan Cak Nur. Meski khazanah teologi yang dikembangkan Cak Nur, dan tradisipemikiran Wahib tak berbasis ilmu-ilmu Islam klasik berfikir metodologis berbasis ushul fiqh yang bersifatyang dikembangkan di Pesantren, namun Wahib advokatif sebagaimana dikembangkan Gus Dur. Halmengajak kita untuk berpikir dan merenung tentang ini sangat jelas tercermin dalam disertasi Moqsith yangkeislaman dan keindonessaan. Sementara Cak Nur kemudian menjadi buku “Argumen Pluralisme Agama”.dan Gus Dur menawarkan pemikiran genuine Distertasi itu diajukan bukan saja untuk kepentinganIslam Indonesia yang mempertemukan tiga elemen akademis melainkan sekaligus menawarkan jalanpenting bagi perkembangan Islam di Indonesia, yaitu; keluar dari kekisruhan hubungan antar umat beragamamodernitas, keislaman dan keindonesaan. dewasa ini.Jika Wahib bersikutat pada pemikiran filsafat yang Pasca reformasi dan dengan memanfaatkan peluangmempertanyakan secara sangat subtantif tentang dari ruang demokrasi, beragam corak pemikiran Islameksistensi Tuhan yang diperhadapkan dengan bermunculan. Kita pun terheran-heran atas lahirnyakebebasan manusia untuk berikhtiar menghadapi beragam fatwa aneh yang tak pernah terbayangkannestapa yang dialami manusia, Cak Nur bersikukuh akan hadir dalam khasanah Islam Indonesia. Dimulaidengan pemikiran kalam-teologi yang bertumpu pada dengan fatwa larangan mengucapkan selamat natal,konsep tauhid. sampai munculnya “rukun Islam” baru yang khusus diberlakukan bagi perempuan dengan penambahanBagi Cak Nur, apapun persoalannya tauhid harus satu rukun lagi “kewajiban memakai jilbab”. Islammenjadi jalan keluarnya. Setiap ketimpangan yang corak ideologis ini begitu semarak sehingga bisaterjadi, menurut Cak Nur, pastilah disebabkan oleh dimengerti betapa pesimisnya para pengamat Islampengkhianatan dan pengingkaran manusia atas Indonesia dan menganggap Islam Indonesia hampirajaranan tauhid. Persoalan sosial, menurutnya, terjadi tamat.ketika manusia menyembah selain Allah: menyembahharta, jabatan, kekuasaan, kelompok, jenis kelamin Atas berbagai persoalan itu, saya melihat Moqsith takdan menuhankan dirinya sendiri. Bagi Cak Nur, jalan pernah panik. Kekuatan yang ditawarkan Moqsithkeluar untuk mengatasi persoalan ini adalah dengan adalah pada metodologi dalam memaknai teks.menegasi ilah (tuhan/berhala) serupa itu dan kembali Moqsith juga sangat percaya, umat pada dasarnyake jalan tauhid. punya kewarasan berpikir yang bisa mengedit berbagai fatwa yang aneh-aneh. Keistimewaan Moqsith bagiSementara dari Gus Dur kita menemukan bangunan saya adalah karena metodologi yang ia gunakanpemikiran yang dikonstruksikan dari logika kerja mengakar pada tradisi fiqh-ushul fiqh yang merupakanhukum fiqh dan ushul fiqh. Bagi Gus Dur, agama akar tradisi Islam Indonesia yang berbasis pesantren.hadir bukan untuk Tuhan tetapi untuk manusia dan Metodologi ini merupakan kata kunci dalamkemanusiaan. Oleh karenanya agama harus mampu membangun pemikiran keislaman, suatu wilayahmenjadi jalan keluar bagi setiap penistaan terhadap yang tak terlalu diacuhkan Gus Dur karena Gus Durmanusia. cenderung langsung menerapkannya, tapi juga tak dikembangkan oleh Cak Nur karena kecenderunganKita akan menemukan bahwa pandangan-pandangan Cak Nur yang lebih ke ranah kalam-teologi daripadaCak Nur lebih berkutat di level pemikiran yang fiqh.mengandaikan “urusan perut” telah selesai. Sementarapada Gus Dur, kita menemukan tawaran pemikiran Dalam sebuah debat di UGM beberapa tahun lalu, — iv —
  7. 7. saya menyaksikan bagaimana bangun metodologis Moqsith untuk melanjutkan ide-ide rintisanyang dikembangkan Moqsith dan berakar pada pembaharuan Islam Gus Dur dan Cak Nur yangtradisi pemikiran Islam klasik ini digunakan untuk mengakar pada keragaman Indonesia. Dan untuk itu,meng“kanfas”kan lawan debatnya. Ketika itu dia Moqsith memiliki modal besar yang boleh jadi takdisandingkan dengan seorang ustadz berhaluan dimiliki para pemikir Islam lainnya.keras (saya lupa namanya). Sang ustadz mengatakan,“ mana tawaran anda dan kelompok anda untuk Pertama, tentu penguasaan khazanah kitab klasik,mengatasi persoalan negeri ini, jalan kami kan jelas, sesuatu yang dikuasai oleh Cak Nur juga Gus Dur.orang membunuh gunakan qishah, pancung, orang Pada Moqisth, referensi itu digunakan untuk membacamencuri dipotong tangan, berzina kita rajam. Jelas persoalan-persoalan kekinian Indonesia.kan? Kalau anda tawarannya apa?” Ketika sang ustadzmenyampaikan pandangannya, para cheers leadersnya Kedua, sebagaimana Cak Nur, Moqsith memilikiterus berteriak “Allah Akbar”. kesantunan dalam berdebat dengan artikulasi yang prima. Dia tak menunjukan otot tapi pikiran, diaLalu apa jawaban Moqsith? Pertama-tama dia jatuhkan tak mengajak bertengkar tapi dialog. Di Takengonlawannya dengan mengoreksi ayat yang tadi hanya Aceh Tengah, lima jam perjalanan dari Banda Aceh,dibaca terjemahannya saja. Moqsith berkata, “Ustadz, misalnya, Moqsith datang pakai sarung dan pecikalau soal itu ayatnya bukan itu tapi yang ini ...”. dan bicara dalam khazanah klasik dengan argumen-Moqsith lalu membacakan ayatnya (saya tidak hafal argumen kukuh dalam khazanah ushul fiqh yang tetapayatnya). Dengan mengutip sejumlah teori ushul fiqh, terjaga.Moqsith menjawab tentang relativitas hukum “Kalausampeyan mau kawin tapi punya niat akan menyakiti Ketiga, dari Gus Dur, Moqsith sepertinya memilikiistri, maka kawin Anda haram hukumnya. Kalau modal keberanian. Percaya Diri (pede) luar biasa.sampeyan mau kawin karena anda sudah ngebet dantahu tidak bisa menahan diri dari perbuatan zina maka Pada akhirnya, mari kita tunjukkan kecintaan kita padawajib hukumnya. Jadi semuanya tergantung para sebab Moqsith dengan membiarkannya tumbuh berkembanghukum dan tujuan hukum, bukan asal menerapkan sebagai intelektual independen dan tak tinggal dihukum”. Kira-kira demikian jawaban Moqsith. menara gading. Mari kita tantang dia untuk menjawabJawaban Moqisth begitu bernas, cerdas, tenang dan persoalan kebangsaan dengan pemikiran keagamaan,tegas. Dan para cheers leader di pojok aula pun pembaharuan konsep dan metodologis bukan hanyabungkam. Saya bilang dalam hati “yes- Allah Akbar”! dengan istighasah atau dzikir akbar.Sering saya menyaksikan peristiwa semacam itu selama Moqsith adalah pribadi yang lahir dari pesantrensaya bekerja bersama Moqsith. Di Aceh misalnya, namun sangat kritis dengan dunia feodal pesantren.kami bekerja selama 2 tahun Mahkamah Syari’yah Jadi, jangan biarkan Moqsith berada dalam feodalisme(Peradilan agama). Pasca tsunami, banyak perkara di pemikirian yang menindas. Sebab feodalismeAceh yang tak bisa diselesaikan oleh hukum keluarga pemikiran akan menghalangi dia dari kejujuranyang ada karena tak ada preseden sebelumnya. Moqsith pemikiran. Mari kita cintai Moqsith denganmembantu mereka untuk menggunakan metode membiarkannya menjadi Moqsith dari pesantren yangushul fiqh. Dan karena referensi atas kitab klasik yang menemukan dan menggali rumusan pembaharuandimiliki Moqsith luar biasa, maka para abu-tengku Islam Indonesia yang bertumpu pada modernitas,atau kyai lokal bisa dia “tundukkan”. Biasanya dia keislaman dan keindonesiaan dalam konteks kekinianakan mengutip ayat di luar kepala, lalu dia menyitir dan masa depan.teks-teks kitab kuning lengkap dengan nomor halamandan hitungan baris atas-bawahnya. Dan jangan Hadirin sekalian, mari kita sambut pembaru pemikirandikira mereka tidak mengeceknya. Pada pertemuan Islam Indonesia penerus para pembaru Islam terdahulu,berikutnya mereka mengkonfirmasi bahwa mereka Abdul Moqsith Ghazali!telah melihat referensi yang Moqsith sebutkan itu.Saya memberi judul pengantar ini “ MengantarkanMoqsith ke Mimbar”. Bagi saya, ini sebuah ungkapanmetafora. Kita harus bersama-sama mengantarkan —v—
  8. 8. Daftar IsiMerawat Agama dengan Penafsiran iMengantar Moqsith ke Mimbar iiiMenegaskan Kembali Pembaruan Pemikiran Islam 1Kritik atas Wahabisme 9Menahan Laju Negara Islam Indonesia 11Wahabisme: Alhamdulillah atawa Innalillah? 14Kontekstualisasi Doktrin Ahmadiyah 16Siapa Pemimpin Islam Indonesia? 19SBY, Ciketing dan Perlindungan Non-Muslim 21Merayakan Idul Fitri 1431 H “Momen Penghapusan Kezaliman” 23Mistifikasi Mudik Lebaran 25Khadijah Tak Berpuasa Ramadan 27Waktu Isra-Mikraj Nabi Muhammad 28Pengertian Umat Islam Indonesia 30Sejumlah Paradoks dalam Pidato Hasyim Muzadi 31Pluralisme Agama di Indonesia: Masihkah Kita Bisa Berharap? 33Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431 H. Kelumit Sejarah PembentukanKalender Islam 35Islam dan Pluralitas(isme) Agama 37Menyambut Ultah NU ke 83 NU dan Passing Over Pemikiran 43Teologi Ramadan dan Kerukunan Antar-Umat 45Dari Kartini Sampai Feminis Islam: Menyambut Hari Kartini 21 April 2007 47Kultur Takfir 49Wahabisasi “Islam-Indonesia” 51Ismail atau Ishak? 53Stop Demo Anti-JIL 55Sesat dan Menyesatkan 57Syahrur 58 — vi —
  9. 9. Agama, Seni, dan Regulasi Pornografi 60Kekenyalan Syariat 62Ketika Negara Mengintervensi Agama 63Menilik Metode Qiyas Syafi’i 66 — vii —
  10. 10. « 09/07/2011 Menegaskan Kembali Pembaruan Pemikiran Islam Oleh Abdul Moqsith Ghazali Naskah Pidato Pembaruan Islam di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 8 Juli 2011 Darimana penegasan pembaruan pemikiran Islam ini mesti dimulai. Tentu pertama-tama dengan cara membenahi cara pandang kita terhadap al-Qur’an, mengerti pokok-pokok risalah kenabian, lalu mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi khazanah pemikiran dan karya para ulama terdahulu, serta benar dalam mendudukkan akal dan memfungsikannya dalam proses penafsiran wahyu.P ditegaskan, karena beberapa hal. Pertama, diPengantar waqi’iyyah al-Qur’an) itu, kita menjadi tahu bahwa al- Qur’an tak boleh dilucuti dari aspek kultural-sosialnya. okok-pokok pembaruan pemikiran Islam penting Di sinilah kita membutuhkan bukan hanya tafsir baru al-Qur’an, melainkan juga metodologi baru dalamtengah situasi zaman yang kian kompleks, kita tak memahami al-Qur’an.cukup hanya bersandar pada pikiran-pikiran keislamanlama yang sudah tak relevan dengan konteks zaman. Ketiga, sejumlah orang hendak menjadikan IslamSebab, apa yang dirumuskan ulama terdahulu mungkin sebagai ladang persemaian diskriminasi dantelah berhasil memecahkan sejumlah masalah di masa dehumanisasi. Kita menyaksikan kian tingginyalalu, tapi belum tentu terampil menyelesaikan masalah diskriminsi terhadap perempuan, misalnya. Padahal,di masa kini. Al-Qur’an membuat metafor menarik terang benderang bahwa diskriminasi berbasismengenai tak abadinya keberlakuan sesuatu yang lama. kelamin adalah tidak adil, karena seseorang takDikisahkan al-Qur’an mengenai perilaku Ashhabul pernah bisa memilih lahir dengan kelamin apa—laki-Kahfi (para pemuda yang tertidur lama dalam gua) laki atau perempuan. Namun, sebagian orang tetapyang harus menukar koin, karena koin lama sudah tak berpendirian bahwa perempuan adalah manusia taklaku lagi. Belajar dari semangat ijtihad para ulama salaf sempurna; separuh diri perempuan adalah manusia,seperti Imam Syafii, Imam Hanafi, dan lain-lain, kita dan separuhnya yang lain merupakan setan yangmemerlukan sejumlah pembaruan di berbagai bidang mengganggu keimanan laki-laki. Pandangan misoginiskeislaman. ini menghuni sebagian pikiran umat Islam, dulu dan sekarang.Kedua, di tengah berbagai usaha yang mengerdilkanal-Qur’an, kita membutuhkan cara pandang baru Diskriminasi dan intimidasi juga mengarah padaterhadap al-Qur’an. Jika sebagian orang memberikan kelompok minoritas; sekte minoritas dan agamatekanan yang terlampau kuat pada aspek hukum dalam minoritas. Sekelompok orang yang mengatasnamakanal-Qur’an, maka kita harus mendalaminya dengan sekte mayoritas dan agama mayoritas di negeri inipemahaman utuh tentang wawasan moral-etik al- suka menempuh jalan kekerasan. Dan kekerasanQur’an. Tak cukup membaca al-Qur’an sekedar untuk itu terus meluas dengan kecepatan api membakarmemperoleh kenikmatan kata dan bahasa, kita harus hutan. Sejauh yang bisa dipantau, kekerasan atasmelangkah untuk membuka cakrawala makna. Jika nama agama yang kerap terjadi di Indonesia bukansebagian orang hanya memposisikan al-Qur’an berupa penghukuman terhadap orang yang bersalah, tapideretan huruf dan aksara, maka kita perlu meletakkan lebih merupakan pembantaian terhadap mereka yangmakna al-Qur’an dalam konteks sejarah. Al-Qur’an tak berdaya. Bahkan, kecenderungan untuk salingbukan unit matematis yang statis, melainkan gerak mengkafirkan di internal Islam makin kuat. Di mana-sejarah yang dinamis. Melalui pemahaman terhadap mana bermunculan “teologi pemusyrikan”, “teologikonteks kesejarahan al-Qur’an (asbab nuzul wa pengkafiran”, “teologi penyesatan” terhadap umat —1—
  11. 11. «Islam lain. Dari teologi seperti ini, maka meletuslah kebesaran Islam adalah dimungkinkannya keberagamanmisalnya peristiwa Cikeusik Banten. Di Cikeusik, pemaknaan terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Satu ayatkematian datang sebagai manifestasi keberingasan tafsir ketika sampai pada orang berbeda selalu terbukaagama. Dalam kaitan itu, kita perlu menyusun teologi peluang bagi lahirnya produk tafsir yang berbeda.yang inklusif-pluralis, bukan yang diskriminatif dan Itu sebabnya dalam literatur tafsir dikenal beragamintimidatif. jenis tafsir, yaitu tafsir ‘ilmi (tafsir yang berbasis pada temuan sains), tafsir fiqhi (tafsir berbasis hukum),Keempat, “perang” telah mendominasi diskursus umat tafsir adabi (tafsir bercorak sastra), tafsir ijtima’i (tafsirIslam belakangan. Bahwa pedang harus dihunus dan berwatak sosial), dan tafsir sufi (tafsir dengan sentuhanpistol segera ditembakkan pada orang-orang yang pengalaman spiritual). Dengan perkataan lain, adasudah didefinisikan menyimpang dan memusuhi Allah. tafsir yang berfokus pada tata bahasa, latar belakangFrase “murka dan kemarahan Allah” (ghadlab Allah) sejarah, implikasi juridis, ajaran teologis, pendidikanyang ada dalam Islam digunakan untuk membenarkan moral, makna alegoris, dan seterusnya. Menariknya,metode perang seperti pembunuhan massal dan tafsir generasi yang satu bersifat independen, takterorisme. Pandangan seperti ini sekalipun digali bergantung pada tafsir generasi lainnya.dari khazanah keislaman klasik, saatnya diperbaharuikembali. Sebab, Islam sejatinya tak menghalalkan Kekayaan bahasa dan keindahan diksi al-Qur’anpembantaian. Kita tak menyalahkan kucing karena memungkinkan kita untuk menginvestigasi makna-memakan tikus, atau anjing karena menyerang kucing. makna al-Qur’an. Jika jurisprudensi hukum IslamKita mempertanyakan manusia yang memancung fokus pada elaborasi sistematis ajaran-ajaran al-manusia lain. Manusia adalah maha karya Allah. Dan Qur’an mengenai perbuatan badani manusia (af ’alAllah menghargai manusia begitu rupa (wa laqad al-mukallafin), maka tasawwuf bergerak pada wicarakarramna bani Adam). batin nurani manusia. Sementara teologi berkutat pada bagaimana merumuskan dan mengkonseptualisasikanPertanyaannya darimana penegasan pembaruan Tuhan seperti yang dipahami melalui teks-teks al-pemikiran Islam ini mesti dimulai. Tentu pertama- Qur’an. Para ulama, dari dulu hingga sekarang, terustama dengan cara membenahi cara pandang kita mencurahkan seluruh kehidupannya untuk memahamiterhadap al-Qur’an, mengerti pokok-pokok risalah al-Qur’an. Di ruangan kecil al-Qur’an itu, 30 Juz,kenabian, lalu mengambil sikap yang tepat dalam para penafsir berhimpitan untuk menembus “batas”menghadapi khazanah pemikiran dan karya para ulama pengertian al-Qur’an.terdahulu, serta benar dalam mendudukkan akal danmemfungsikannya dalam proses penafsiran wahyu. Penelusuran makna dan kerja menafsirkan al- Qur’an seperti itu merupakan cara manusia untukPokok Al-Qur’an berpartisipasi dalam Firman Tuhan. Bentuk partsipasi paling bertanggung jawab dalam memaknai al-Qur’anAl-Qur’an adalah wahyu Allah. Ia memang berbahasa adalah dengan mengkerangkakannya ke dalam sebuahArab, tapi yakinlah bahwa ia tak memiliki hubungan bangunan metodologi. Para ulama terdahulu telahkepemilikan dengan orang Arab. Al-Qur’an tak identik menyusun sejumlah metodologi untuk menafsirkandengan etnik Arab. Bahasa Arab dipinjam Allah untuk al-Qur’an. Namun, berbagai pihak menilai bahwamemudahkan percakapan antara Nabi Muhammad dan metodologi yang disuguhkan para ulama terdahuluMalaikat Jibril. Allah sudah berjanji dalam al-Qur’an terlampau rumit, sehingga tak mudah diakses banyakbahwa Ia tak akan pernah mengirimkan pesan wahyu orang. Persyaratan-persyaratan kebahasaan dankecuali dengan bahasa manusia (seorang nabi) yang kemestian-kemestian gramatikal yang ditetapkankepadanya ia diwahyukan. Melalui bahasa lokal Arab para ulama ushul fikih dalam menafsirkan al-Qur’anyang partikular itu, Nabi Muhammad bisa mengerti misalnya menimbulkan perasaan minder umat Islampesan universal al-Qur’an. Dan kita yang hidup ketika berhadapan dengan al-Qur’an.sekarang pun bisa ambil bagian dari proses pemaknaanal-Qur’an. Kita memerlukan metodologi sederhana dan ringkas dalam menafsirkan al-Qur’an, sehingga penafsiranBentuk teks al-Qur’an telah sempurna, tapi ketahuilah al-Qur’an bisa dilakukan banyak orang. Misalnya,bahwa maknanya tetap cair. Tak ada interpretasi penting diketahui bahwa Qur’an yang terdiri darifinal terhadap al-Qur’an. Bahkan, salah satu sumber ribuan ayat, ratusan surat, puluhan fokus perhatian, —2—
  12. 12. «sekiranya dikategorisasikan hanya terdiri dari dua jenis. pengkaji Islam, upaya itu dikenal dengan istilah “tatsbitPertama, ayat fondasional (ushul al-qur’an). Masuk al-tsawabit wa taghyir al-mutaghayyirat”. Dengandalam jenis kategori pertama ini adalah ayat-ayat perkataan lain, kita tak boleh mendogmakan yangyang berbicara tentang tauhid, cinta-kasih, penegakan kontekstual, dan mengkontekstualkan yang tak tetapkeadilan, dukungan terhadap pluralisme, perlindungan (tatsbit al-mutaghayyirat wa taghyir al-tsawabit).terhadap kelompok minoritas serta yang tertindas. Sayaberpendirian bahwa ayat fondasional seperti itu tak Risalah Kenabianboleh disuspendir dan dihapuskan. Meminjam sebuahperibahasa, ayat ushul tak akan lekang oleh panas Umat Islam diperintahkan membaca dua kalimahdan tak lapuk oleh hujan. Ia bersifat abadi dan lintas Syahadat. Syahadat pertama (asyhadu an la ilaha illabatas—batas etnis juga agama. Tak ada agama yang Allah) adalah syahadat primordial. Yaitu janji awal kitadatang kecuali untuk mengusung pokok-pokok ajaran untuk bertuhan hanya kepada Allah Yang Esa, bukanfondasional itu. kepada yang lain, sebagaimana dipaparkan ayat “alastu bi rabbikum qalu bala syahidna”. Sementara syahadatKedua, ayat partikular (fushul al-Qur’an). Ayat al- kedua (wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah)Qur’an yang tergabung dalam jaringan ayat partikular adalah syahadat komunal. Pada syahadat pertama,adalah ayat yang hidup dalam sebuah konteks spesifik. umat Islam dengan umat agama lain bisa berjumpa.Sejumlah pemikir Islam memasukkan ayat jilbab, aurat Sementara, pada syahadat kedua, umat Islam denganperempuan, waris, potong tangan, qisas, ke dalam umat agama lain bisa berpisah. Itu berarti kita takkategori ayat fushul. Tahu bahwa ayat itu bersifat bisa memaksa umat agama lain agar meyakini danpartikular-kontekstual, maka umat Islam seharusnya mengakui kenabian Muhammad SAW dan meyakinitak perlu bersikeras untuk memformalisasikannya detail syariat yang dibawanya. Bagi saya, soal mengakuidalam sebuah perangkat undang-undang. Sebab, yang atau tak mengakui kenabian dan detail syariatdituju dari sanksi-sanksi hukum dalam al-Qur’an Muhammad SAW lebih merupakan soal mereka, danmisalnya adalah untuk menjerakan (zawajir), bukan bukan soal kita (umat Islam).yang lain. Yang menjadi perhatian kita adalah tujuanhukum dan bukan hurufnya [al-‘ibrah bi al-maqashid Namun, ingatlah bahwa Islam adalah agama yangal-syar’iyah la bi al-huruf al-hija’iyyah]. Jika dengan sangat terbuka. Dalam hadits Nabi yang kemudianhukum penjara, tujuan hukum sudah tercapai, maka menjadi dasar penetapan rukun iman, umat Islamkita tak perlu untuk kembali ke bentuk hukum lama. diperintahkan untuk mengimani seluruh nabi-nabi dan utusan Allah. Sejumlah riwayat menuturkan bahwa takKetika belajar kitab fikih di pesantren, saya tahu bahwa kurang dari 124 ribu nabi yang dikirim Allah dan 313bab yang paling jarang dikunjungi para ustadz dan rasul yang diutus ke bumi. Jika tak bisa mengetahuisantri yang mengaji adalah bab tentang hukum pidana seluruh rasul Allah, umat Islam diperintahkan untukIslam (bab al-jinayat). Mungkin para ustadz itu telah mengimani 25 rasul yang nama-namanya sudahmenyadari bahwa sebagian besar hukum pidana Islam tercantum dalam al-Qur’an. Rasulullah diperintahkansudah tak cocok dengan kondisi sekarang. Ormas untuk berkata, “aku bukanlah yang pertama daribesar Islam Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah deretan rasul-rasul Allah” (ma kuntu bid’an min al-pun tak pernah mengusulkan pemberlakuan hukum rusul). Nabi Muhammad hanya salah satu dari ribuanpidana Islam. Mereka tahu bahwa kita sudah hidup di nabi-nabi itu.abad 21. Semangat zaman telah memaksa kita untukmeninggalkan sanksi-sanksi hukum primitif yang Sebagian ajaran yang dibawa Nabi Muhammad adabrutal seperti hukum pancung, dan lain-lain. yang baru, dan sebagiannya yang lain lebih merupakan pengembangan dan modifikasi dari ajaran para nabiKategorisasi ayat seperti itu kiranya bisa membantu sebelumnya. Allah berfirman, “inna hadza lafi al-umat Islam dalam memahami pesan dasar al-Qur’an. shuhuf al-ula shuhuf Ibrahim wa Musa” [sesungguhnyaBahwa dalam al-Qur’an, ada ayat yang tetap-tak pokok-pokok ajaran moral al-Qur’an sudah ada dalamberubah (al-tsawabit) dan ada ayat yang maknanya mushaf-mushaf yang pertama, yaitu Mushaf Nabisangat kontekstual; tidak tetap dan lentur (al- Ibrahim dan Mushaf Nabi Musa]. Jika kita ringkaskan,mutaghayyirat). Yang tetap, kita dogma-statiskan. risalah kenabian yang dibawa Nabi MuhammadSementara, terhadap yang al-mutaghayyirat, kita (mungkin juga para nabi lain) adalah sebagai berikut:dinamisasi dan kontekstualisasikan. Di lingkungan para —3—
  13. 13. «Pertama, risalah kenabian adalah risalah tauhid, al-Banna, pemikr Islam dari Mesir, dalam bukunya al-bukan risalah syirik. Semua nabi, termasuk Nabi Jihad mengatakan, anna al-jihad al-yawm laysa huwa anMuhammad, membawa ajaran tauhid. Bahwa Tuhan namuta fi sabilillah wa lakin an nahya fi sabilillah (jihadyang kita sembah adalah Allah Yang Esa. Tetapi, yang hari ini bukan untuk mati di jalan Allah, melainkanproblematik selalu pada tingkat konseptualisasinya. untuk hidup di jalan Allah). Dengan perkataan lain,Yahudi, Kristen, dan Islam berbeda dalam merumuskan jihad adalah tindakan menghidupkan dan bukansoal ke-Esa-an Allah. Di internal Islam sendiri terdapat mematikan. Al-Qur’an menegaskan bahwa barangperbedaan amat tajam antara Mu’tazilah, Asy’ariyah, siapa membunuh satu jiwa sama dengan membunuhjuga Maturidiyah dalam menjelaskan Esanya Allah. semua jiwa. Dan barang siapa menghidupkan satu jiwa,Bahkan, Imam Asy’ari (peletak dasar teologi Sunni) dan sama dengan menghidupkan semua jiwa. Itulah sendiAsya’irah (pengikut Imam Asy’ari) berbeda pandangan ajaran Islam yang menjunjung kemanusiaan. Tuhandalam menjelaskan sifat dan dzat Allah. menciptakan manusia secara berbeda-beda agar mereka saling mengakui dan memahami (li ta’arafu), bukanSaya meyakini bahwa Allah Yang Esa dan Yang untuk saling membasmi.Mutlak tak mungkin dijelaskan oleh manusia yangrelatif. Karena itu, diperlukan kerendah-hatian dari Perbedaan keyakinan dan agama pun bukan alasansetiap manusia untuk tak mengabsolutkan konsep untuk merendahkan kemanusiaan seseorang. Apalagiketuhanannya. Kita mesti belajar untuk tak jadi untuk membunuh. Sebab, soal keyakinan adalah soalmanusia yang menganggap diri selalu benar. Amat individual antara manusia dengan Tuhannya. Danberbahaya sekiranya setiap orang mengklaim bahwa Allah memberi kebebasan penuh bagi manusia untukrumus ketuhanan versi dirinya adalah yang paling memilih suatu agama atau keyakinan. La ikraha fibenar. Itu bukan hanya menunjukkan kepongahan si al-din (tak ada paksaan dalam soal agama). Denganperumus, melainkan juga telah mengecilkan kebesaran demikian, orang yang membunuh umat agama lainAllah yang tak berhingga itu. Definisi manusia tentang hanya karena soal perbedaan agama sesungguhnyaAllah Yang Esa sesungguhnya lebih merupakan fantasi telah melanggar risalah kemanusiaan yang dibawadan imajinasi manusia tentang Yang Esa, dan bukan Nabi Muhammad. Sejarah menunjukkan hubunganYang Esa itu sendiri. Bagi saya, Tuhan Yang Esa harmonis antara Nabi Muhammad dengan para tokohtetaplah Allah yang tak terungkap dan tak terjelaskan agama lain. Mulai dari kebiasaan tukar menukar(kanzan makhfiyan). Gabungan konsep ketuhanan tak hadiah antara Nabi Muhammad dan Muqauqismungkin bisa menembus tirai kegaiban ketuhanan. (raja Iskandariah Mesir) yang Kristen sampai kepada keikutsertaan Mukhairiq (tokoh Yahudi Madinah)Kedua, risalah kenabian adalah risalah kemanusiaan, dalam Perang Uhud bersama Nabi. Bahkan, dalambukan risalah pembantaian. Setiap nabi lahir untuk al-Qur’an ada pengkuan bahwa orang yang palingmenegaskan pentingnya penghargaan terhadap enak dijadikan sebagai sahabat atau teman adalahnilai-nilai kemanusiaan. Salah satu poin dalam orang-orang Nashrani. [wa latajidanna aqrabahumKhutbah Wada’ Nabi Muhammad yang terkenal itu mawaddatan li alladzina amanu alladzina qalu innaadalah penegasannya untuk menghargai manusia. nashara].Ia berkata, inna dima’akum wa amwalakum waa’radlakum haramun ‘alaikum kahurmati yawmikum Ketiga, traktat kenabian adalah traktat etik danhadza wa baladikum hadza wa syahrikum hadza. bukan traktat politik. Said al-Asmawi berkata bahwaTak boleh ada darah yang tumpah serta martabat Allah menghendaki Islam sebagai agama, tapi parayang ternoda. Karena itu, saya tak mengerti jika ada pemeluknyalah yang membelokkannya menjadisekelompok orang yang mengaku sebagai pengikut politik-siyasah [inna Allah arada al-Islam diynan waNabi Muhammad tiba-tiba membantai pengikut arada bihi al-nas an yakuna siyasatan]. Itu sebabnyaNabi Muhammad yang lain. Tak ada alasan jihad tak ada perintah eksplisit dalam al-Qur’an agar Nabifisabilillah dibalik rentetan kekerasan atas nama agama Muhammad mendirikan sebuah negara. Tak ada cetakdi Indonesia. biru pemerintahan dalam Islam. Nabi Muhammad melalui hadits-haditsnya tak juga mengintroduksi jenisJihad disyariatkan untuk merawat kehidupan bukan pemerintahan tertentu. Pengelolaan pemerintahanuntuk menyongsong kematian. Zainuddin al-Malibari Madinah adalah improvisasi politik sementara Nabimenegaskan bahwa membantu sandang, pangan, dan Muhammad ketika pengaturan jenis pemerintahanpapan orang miskin adalah bagian dari jihad. Jamal yang ideal dan efektif belum ditemukan. Sebab, untuk —4—
  14. 14. «urusan duniawi, dengan terus terang Nabi Muhammad relevan untuk memecahkan problem masa kini. Kitamengaku ketak-cakapan dirinya. Nabi bersabda, tak mungkin mengcopy pemikiran-pemikiran lampau“antum a’lamu minni bi umuri duniyakum” [engkau yang berlangsung di kawasan Timur Tengah untuklebih tahu tentang urusan duniawi kalian]. diterapkan di Indonesia, tanpa proses kontekstualisasi bahkan modifikasi. Yang bisa kita lakukan adalahDengan demikian, berdirinya negara Indonesia menangkap spiritnya dan tak melulu memperhatikanyang berjangkar pada Pancasila dan UUD 1945 tak teksnya.bertentangan dengan risalah kenabian. Indonesiamemang tak dirancang sebagai negara Islam. Tapi, Karya para ulama klasik bukan wahyu, melainkan tafsirbukankah di negara ini, umat Islam bebas menjalankan atas wahyu. Ia merupakan produk ijtihad. Persoalanajaran agama Islam. Tak pernah ada halangan bagi siapa yang merumuskannya, untuk kepentingan apa,umat Islam untuk melaksanakan syariat Islam. dalam kondisi sosial yang bagaimana dirumuskan,Umat Islam boleh melaksanakan shalat; dimana saja, serta lokus geografis seperti apa, dengan epistemologikapan saja, dan berapa saja. Mau puasa sepanjang apa akan cukup besar pengaruhnya dalam prosesmasa, tak dilarang. Umrah berkali-kali juga boleh. pembentukan sebuah karya. Karena itu seharusnyaMemakai jilbab, berjenggot lebat, bercelana di atas kita meletakkan sebuah pemikiran dalam susunantumit, pun tak ada hambatan. Kebebasan umat Islam konfigurasinya saat pemikiran itu diproduksi didalam menjalankan ajaran agama bahkan tafsir-tafsir satu sisi, dan dalam konteks epistemologisnya di sisikeagamaan ini menyebabkan tak dibutuhkannya upaya lain. Mengetahui konteks-konteks tersebut bukanformalisasi syariat Islam. Memformalisasikan ajaran hanya penting bagi pengayaan pengetahuan sejarahyang sudah hidup dan lama terpraktekkan dalam sosial suatu pemikiran, melainkan juga bergunamasyarakat adalah buang-buang energi dan tindakan untuk kebutuhan kontekstualisasi pemikiran lamasia-sia. atau bahkan penyusunan pemikiran keislaman baru, yaitu jenis pemikiran yang bertumpu pada problem-Sikap terhadap Karya Lampau problem kemanusiaan dan kondisi obyektif masyarakat Indonesia.Umat Islam selalu menunjukkan keterkaitannyapada masa lalu. Tumpukan kitab kuning peninggalan Kedua, kita mesti memilah-milih antara teksintelektual ulama terdahulu tak susut bahkan makin yang relevan dan yang tak relevan. Kita tak bisameninggi di lembaga-lembaga pendidikan Islam mengawetkan tafsir-tafsir lama yang cenderungIndonesia. Pesantren sebagai lembaga tafaqquh fi al-din menistakan perempuan dan umat agama lain. Kitadi Indonesia intensif mengajarkan, juga mendiskusikan, tak mungkin mempertahankan pandangan ulamahasil karya para ulama salaf. Kreasi intelektual para yang melarang perempuan menjadi pejabat publikulama klasik itu telah menjadi sokoguru intelektual atau menghalalkan penumpahan darah umat agamaulama Indonesia, dari dulu hingga sekarang. Bahkan, lain. Tafsir yang demikian tak boleh mendominasikeulamaan seseorang belakangan amat ditentukan percakapan intelektual kita hari ini. Betapunapakah yang bersangkutan memiliki kemampuan canggihnya sebuah pemikiran jika berujung padamengakses kitab kuning atau tidak. Secara berseloroh, tindak kekerasan, maka ia batal dengan sendirinya.sebagian teman berkata; sekiranya di rak buku Karena itu, sekiranya mungkin, kita perlu mencariseseorang kita temukan jejeran kitab kuning, maka tafsir lama lain yang lebih mengapresiasi perempuanpastilah ia seorang ulama. Sebaliknya, jika lemari buku dan menghargai umat lain. Jika tak mungkin,seseorang penuh dengan “kitab putih”, maka yang kita seharusnya memproduksi tafsir baru yangbersangkutan tak mungkin disebut ulama. memanusiakan kaum perempuan dan menghargai umat non-Muslim.Pertanyaannya, bagaimana seharusnya kitamemperlakukan khazanah keislaman klasik itu? Sementara pandangan lama yang masih relevan danPertama-tama, mestilah disadari bahwa sebuah karya masih bisa kita resepsi untuk memuluskan jalan bagiintelektual tak lahir dari ruang kosong. Ia muncul dialog dan kerja sama agama-agama di Indonesia didari sebuah konteks. Konteks keindonesiaan kita hari antaranya adalah pandangan Muhyiddin Ibn Arabi.ini tak sama dengan konteks ketika karya ulama salaf Ketika para ahli fikih bersilang-sengketa mengenaiitu disusun. Karena itu, tak bijaksana kalau kita terus kedudukan non-Muslim di negeri mayoritas Muslim,memobilisasi pandangan keislaman lama yang tak Ibn Arabi melangkah jauh dengan mengintroduksi —5—
  15. 15. «agama cinta. Perbedaan-perbedaan di ranah eksoterik tafsir kebencian dan menghalalkan kekerasan akanfikih ini luluh dalam agama cinta Ibn Arabi. Salah satu turut memerosokkan reputasi agama itu.deretan bait puisinya adalah: Islam telah berumur 1500-an tahun. Ia akan tetap abadi dan diminati sekiranya ditopang dengan tafsir- Aku pernah menyangkal sahabatku tafsir keislaman yang pro-perdamaian, bukan pro- karena agamaku tak sama dengan agamanya kekerasan. Tafsir-tafsir lama yang pro-kekerasan dan tak (Kini) hatiku telah terbuka menghargai nilai-nilai kemanusiaan tak mungkin kita Menerima semua bentuk (agama) lestarikan. Namun, tafsir-tafsir terdahulu yang pro- Padang rumput bagi rusa, perdamaian pastilah akan tetap berguna buat tegaknya Rumah untuk berhala-berhala Islam yang ramahtan lil alamin. Terhadap karya ulama Gereja bagi para pendeta, terdahulu yang pro-pluralisme dan perdamaian, berlaku Ka`bah untuk orang tawaf kaidah, ”al-Muhafadlah ’ala al-qadim al-shalih wa al- Papan-papan Taurat alkhdzu bi al-jadid al-ashlah” [memelihara yang lama Lembar-lembar Qur’an yang masih maslahat dan mengambil yang baru yang Aku mereguk agama cinta lebih maslahat]. Kemana pun dia menuju Cinta kepada-Nya Posisi Akal adalah agama dan keyakinanku Ajaran Islam tak ditujukan kepada anak-anak,Lewat tasawwuf-falsafinya, Ibn Arab membuka tirai melainkan kepada manusia dewasa yang memilikidan menghapus sekat di antara para pemeluk agama kemampuan rasional utuh. Dengan akalnya manusiayang berbeda. Sebagaimana Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi bisa menentukan yang baik dan yang tidak. Jalaluddinmenyuarakan pendapat serupa. Bahwa visi pokok Rumi dalam Matsnawi pernah berkata, “Wahaiajaran agama adalah cinta dan kasih. Kerap diceritakan saudara, engkau adalah pikiran itu sendiri, dirimubahwa di antara murid-murid Rumi terdapat orang- selebihnya bukanlah apa-apa kecuali otot dan tulang”.orang Nashrani dan Yahudi. Apa yang dirintis Ibn Menurut Ibnu Bajjah, berfikir adalah fungsi tertinggiArabi dan dilakukan Rumi adalah jalan untuk manusia. Berfikir akan mengantarkan manusiamenampilkan keramahan agama. Itu senafas dengan berjumpa dengan Tuhan sebagai Sang Akal Aktif. Ibnuteks agama yang menggambarkan ketak-terbatasan Thufail dalam novel filsafatnya, Hayy ibn Yaqzhan,rahmat dan kasing sayang Allah. Teks itu berbunyi, mengisahkan seorang anak yang dibuang ke pulang”wa rahmati wasi’at kulla sya’in” [sesungguhnya kasih kosong. Ia diasuh hewan dan dididik alam. Di tengahsayang-Ku melampaui semua hal]. rimba itu, dengan akalnya yang masih berfungsi, ia bisa berfilsafat dan berteologi, dan akhirnya bisa menyatuIntroduksi agama cinta di saat kekerasan datang dengan Tuhan. Apa yang dikatakan para filosof itubertubi-tubi adalah oasis. Kita ingin mengembalikan paralel dengan apa yang ditegaskan al-Qur’an. BahwaIslam kepada semangat dan khittah awalnya sebagai Allah telah mengilhamkan kepada manusia suatuagama cinta bukan agama prasangka. Agama yang kemampuan untuk membedakan antara yang baik danterus-menerus dikampanyekan dengan jalan teror dan yang buruk [faalhamaha fujuraha wa taqwaha].kekerasan akan kehilangan simpati dari pemeluk agamaitu, apalagi dari orang lain. Sementara agama yang Akal yang dimiliki manusia merupakan anugerahdireklamekan dengan cinta, maka ia akan mengundang Allah paling berharga. Ia tak hanya berguna untukselera. mencapai pemahaman yang mendalam tentang yang baik dan yang buruk, tapi juga untuk menafsirkanSejarah agama-agama menunjukkan perihal naik dan kitab suci. Tanpa akal, kitab suci tak mungkin bisaturunnya pamor satu agama. Bahkan, ada agama yang dipahami. Menurut Ibn Rushd, dalam agama, akaltelah ribuan tahun hidup kemudian sirna ilang kerta berfungsi untuk menakwilkan kitab suci ketika teksning bumi. Pasti ada banyak faktor kenapa agama- kitab suci tak bisa dikunyah akal sehat. Sebuah haditsagama itu tak lagi diminati dan tak dipilih masyarakat. menyebutkan, “al-din aql la dina li man la aqla lahu”Di samping karena ketidak-mampuan agama untuk [agama itu adalah akal, tak ada agama bagi orangberadaptasi dan bernegosiasi dengan lingkungan sosial yang tak berakal]. Maka benar ketika para ulamabaru, faktor para juru kampanye yang suka menebar menyepakati bahwa kebebasan berfikir (hifdzl al-‘aql) —6—
  16. 16. «termasuk salah satu pokok ajaran Islam (maqashid dan menyeleksi hukum dalam Islam, yang dikenalal-syariah). Dengan demikian seharusnya Islam lekat dengan takhsish bi al-a’ql, taqyid bi al-aql, tabyin bi al-dengan kebebasan berfikir. Imam Syafii konon pernah ‘aql. Akal diberi otoritas untuk menjelaskan ajaran yangditanya salah seorang muridnya tentang tafsir agama samar, membatasi keberlakuan hukum yang terlampauyang bertentangaan dengan akal, maka Imam Syafii umum, mengeksplisitkan sesuatu yang tersembunyimemerintahkan untuk mengikuti petunjuk akal, karena (implisit) dalam wahyu.akal punya kemampuan untuk menangkap kebenaran. Dengan demikian, wahyu dan akal mestinya salingProblemnya, kita menghadapi fenomena dan mempersyaratkan. Yang satu tak menegasi yangkecenderungan untuk mendisfungsikan peran dan lain bahkan saling mengafirmasi. Akal akan turutkemampuan akal. Fenomena ini bisa dilihat dari memperkaya wawasan etik wahyu. Sementaradua hal. Pertama, bermunculannya berbagai fatwa wahyu potensial mengafirmasi temuan kebenarankeagamaan yang membingungkan umat menunjukkan dari akal. Akal merupakan subyek yang aktif dalambetapa tak berfungsinya akal. Mulai dari haramnya mendinamisasikan gugusan ide-ide ketuhanan dalamperempuan menyetir mobil, legalisasi perbudakan wahyu. Sementara wahyu adalah tambang yang bisaperempuan, hingga tak dibolehkannya rebonding. digali terus-menerus oleh akal manusia. DenganDalam kasus-kasus seperti ini, akal tak dilibatkan perangkat akal yang dimilikinya, manusia kemudiandalam pengambilan keputusan hukum. Menurut tak hanya berfungsi sebagai hamba Allah (‘abdullah)mereka, manusia yang hanya mengandalkan akal melainkan juga sebagai khalifah Allah di bumi.sembari mengabaikan petunjuk tekstual-skripturalwahyu tak akan menjadi manusia yang baik. Sonder Kalau kita percaya pada kisah purba agama, begitupetunjuk abjad dan titik koma wahyu, tindakan pentingnya kedudukan manusia sebagai makhlukmanusia menjadi tak terkontrol, hidup permisif, yang berakal budi di sisi Allah, sampai-sampai Allahsehingga yang akan muncul adalah sejumlah kekacauan tak mempedulikan sejumlah kritik para malaikat yangdan kesemrautan di tengah masyarakat. menolak penciptaan manusia. Allah mengacuhkan keberatan malaikat atas diciptakannya Adam. AllahKedua, pada saat yang bersamaan, diciptakanlah tetap menciptakan manusia bahkan memikulkansejumlah lembaga keagamaan yang berfungsi untuk amanat kepadanya. Kepercayaan Allah dan pemberianmenghukum orang-orang yang dianggap menggunakan amanat kepada manusia ini bukan tanpa alasan.akal secara overdosis. Institusi ini diberi kewenangan Sekiranya wahyu Allah tak sampai kepada sekelompokmemvonis bahwa seseorang telah menyimpang atau manusia, maka Allah telah menyiapkan piranti lunakkeluar dari Islam. Sejumlah intelelektual Muslim berupa nurani dan akal budi yang berfungsi sebagaimendapatkan vonis sesat-menyesatkan dan kafir suluh penerang dan penunjuk jalan. Allah tak akandari lembaga-lembaga tersebut. Ujungnya adalah membebankan kewajiban syariat dan memberikan hakpenghalalan darah yang bersangkutan. Naif, jika kepada manusia jika manusia hanya berupa daging,di negeri-negeri lain orang berlomba-lomba untuk tulang, dan darah. Dengan nurani dan akal budi yangmenggunakan akal pikiran, maka di negeri-negeri melekat pada dirinya, maka manusia pantas memilikulMuslim, orang-orang masih berlomba untuk amanat dari Tuhannya.[]mengkafirkan mereka yang menggunakan pikiran.Ramainya pengafiran disaat orang lain menggunakan Jakarta, 8 Juli 2011pikirannya tampaknya mendorong Nashr Hamid AbuZaid untuk menulis buku al-Tafkir fi Zaman al-Takfir.Banyak orang yang kini tak berani menggunakan Sumber Bacaanakal pikiran ketika berhadapan dengan pemikiran Abd Moqsith Ghazali, Argumen Pluralisme Agama, Jakarta: KataKita, 2009.keagamaan. Padahal, wahyu al-Qur’an terus menantang —————(ed.), Ijtihad Islam Liberal, Jakarta: Jaringan Islam Liberal (JIL):manusia untuk mendayagukanakan akalnya dengan 2006berbagai jenis ungkapan seperti afala ta’qilun (apakah Abi Ishaq al-Syathibi, al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari’at, Beirut: Dar al-Kutubkalian tidak berfikir), afala tatadabbarun (apakah kalian al-Ilmiyah, 2005.tidak merenung), afala yandhurun (apakah mereka Fazlur Rahman, Islam, Bandung: Pustaka, 2000.tidak melihat dengan seksama), dan lain-lain. Dalam Goenawan Mohamad, Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai, Jakarta: KataKita,ushul fikih, akal diberi kesempatan untuk mensortir 2007. —7—
  17. 17. «Ibn Arabi, Dzaha’ir al-A’laq: Syarh Tarjuman al-Asywaq, Kairo: Tanpa penerbit,Tanpa Tahun.Ibn Hisyam, al-Sirah al-nabawiyah, Beirut-Libanon: Dar al-Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1997.Ibn Rushd, Fashl al-Maqal Fima Bayna al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittishal, Mesir: Dar al-Ma’arif, Tanpa Tahun.Ibn Thufail, Hayy ibn Yaqzhan, Beirut: Dar al-Fikr, Tanpa Tahun.Jamal al-Banna, al-Jihad, Kairo: Dar al-Fikr al-Islami, Tanpa Tahun.—————, al-Ta’addudiyah fi Mujtama’ Islami, Kairo: Dar al-Fikr al-Islami,Tanpa Tahun.Jawdat Said, La Ikraha fi al-Din, Damaskus: al-‘Ilm wa al-Salam li al-Diarasatwa al-Nashr, 1997.Najmuddin al-Thufi, Syarh Mukhtashar al-Rawdhah, Kairo:Mathabi’ al-Syarqal-Awshath, 1989.Nashr Hamid Abu Zaid, al-Tafkir fi Zaman al-Takfir, Kairo: Dar al-Kutub, TanpaTahun.Sachiko Murata & William C. Chittik, The Vision of Islam, Yogyakarta: SuluhPress, 2005.Said al-Asymawi, al-Islam al-Siyasi, Kairo: Siyna li al-Nasyr, 1992.Syatha al-Dimyathi, I’anah al-Thalibbin, Semarang: Thaha Putera, TanpaTahun. —8—
  18. 18. « 19/06/2011 Kritik atas Wahabisme Oleh Abdul Moqsith Ghazali .... di lingkungan keluarga Wahabi, perempuan sejak dulu diposisikan sebagai obyek (munfa’il atau maf ’ul) dan tak pernah dianggap sebagai subyek (fa’il). Ketika laki-laki tak bisa mengendalikan hawa nafsu, maka tubuh perempuanlah yang mesti ditutup rapat. Batas-batas aurat perempuan dibuat sangat kaku dan seakan sengaja diciptakan untuk menyengsarakan perempuan. Ruang gerak perempuan terus dibatasi. Perempuan tak boleh memegang jabatan publik, sebagai hakim apalagi kepala negara. Sampai sekarang taraf pendidikan kaum perempuan masih jauh di bawah laki-laki. Tak ada ulama perempuan yang lahir dari lingkungan Wahabi. Padahal, jelas istri-istri Nabi adalah perempuan-perempuan yang tangguh dan mandiri. Jika Khadijah tangguh secara ekonomi, maka Aisyah mumpuni secara intelektual bahkan cakap memimpin pasukan di medan pertempuran.W ahabisme makin gencar mengkampanyekan Wahabi justru menjadikan ayat ini sebagai argumen doktrin dan ajarannya ke masyarakat Islam. untuk memusyrikkan umat Islam yang bertawassulTak hanya di kawasan Timur Tengah, Wahabisme coba dan ziarah kubur. Dan karena orang Islam non-merambah negeri-negeri lain. Dengan topangan dana Wahabi telah musyrik, maka orang Wahabi merasakampanye yang cukup, Wahabisme mulai tumbuh berkewajiban untuk mengembalikan mereka ke dalamdi negara-negara kawasan Asia Tenggara termasuk doktrin ajaran Islam seperti yang mereka pahami.di Indonesia. Ada yang setuju, tapi tak sedikit umatIslam yang mengajukan keberatan terhadap doktrin Jika umat Islam non-Wahabi tak segera bertobat ataudan fatwa para ulama Wahabi. Bahkan, penolakan tak enggan diajak kembali kepada “ajaran Islam yanghanya pada doktrin Wahabisme, melainkan juga pada benar” (al-ruju’ ila al-haq), maka orang-orang Wahabicara orang Wahabi menyebarkan ideologinnya. tak ragu untuk melenyapkan nyawa mereka. Itu sebabnya orang Wahabi kerap terlibat dalam tindakSejumlah orang mengkritik Wahabisme, karena kekerasan dengan menyerang orang Islam lain. Sejarahbeberapa hal. Pertama, dalam mendakwahkan telah menunjukkan sejumlah keonaran orang-orangdoktrinnya, orang-orang Wahabi terlalu banyak Wahabi, dari awal kelahirannya hingga sekarang.menyerang ke dalam, ke sesama umat Islam. Terhadap Mereka tak hanya mengobrak-abrik orang-orangorang-orang Islam non Wahabi, mereka bersikap Syiah, melainkan juga para pengikut Sunni yang telahasyidda’u ‘ala al-muslimin. Tak puas dengan jenis dianggap menyimpang dari ajaran Islam atau yangkeislaman yang berkembang di lingkungan umat Islam dipandang telah terperangkap dalam kemusyrikan.non-Wahabi, mereka hendak mengislamkan kembaliorang-orang Islam. Bagi mereka, orang Islam non- Teologi pemusyrikan orang Islam lain tampaknya telahWahabi telah terjatuh ke dalam kemusyrikan sehingga lama menggelayuti pikiran orang Wahabi. Pemusyrikanperlu segera diselamatkan. seperti ini terus terang akan mengguncang hubungan sesama umat Islam. Yang satu mencaci maki yang lain.Dengan merujuk pada al-Qur’an, sebagaimana Akhirnya konflik dan ketegangan di internal umatumat Islam pada umumnya, orang-orang Wahabi Islam menjadi tak terhindarkan. Ini jelas tak produktifmemandang dosa syirik sebagai dosa tak terampuni. buat kepentingan (umat) Islam secara keseluruhan.Allah berfirman, inna Allah la yaghfiru an yusyraka Energi umat Islam akan terkuras habis karena problem-bihi wa yaghfiru ma duna dzalika liman yasya’u problem domestik umat Islam.[sesungguhnya Allah tak akan mengampuni dosa orangyang menyekutukan-Nya dan hanya mengampuni dosa Kedua, ijtihad orang-orang Wahabi hanya berputarselain syirik]. Jika kebanyakan umat Islam menjadikan di perkara-perkara receh yang partikular. Merekaayat ini sebagai dasar untuk memusyrikkan orang- berijtihad dalam soal-soal kecil seperti tentang hukumorang yang menyembah patung-berhala, maka orang perempuan menyetir mobil, hukum memelihara —9—
  19. 19. «jenggot, hukum ziarah kubur, hukum bertawassul, separuhnya adalah manusia dan separuhnya yanghukum menggunakan tasbih dalam berdzikir. Ulama lain adalah setan yang mengganggu keimananWahabi mungkin menyangka bahwa ziarah kubur, laki-laki. Cara pandang demikian menyebabkanbercelana di atas tumit, dan bertawassul adalah masalah orang-orang Wahabi punya kecenderungan untukpokok. Padahal jelas soal-soal seperti ini masuk ke memarginalisasikan perempuan. Dehumanisasidalam kategori masa’il khilafiyah yang tak akan pernah terhadap perempuan berlangsung di berbagai sisiberhasil disepakati oleh seluruh umat Islam. kehidupan.Sekarang adalah saat yang tepat bagi orang-orang Betapa perempuan tak boleh dilibatkan dalamWahabi untuk berfikir atau berijtihad tentang soal- pengambilan keputusan, tak hanya di ruang publiksoal kemasyarakatan yang lebih penting. Untuk melainkan juga di ruang domestik seperti keluarga.kepentingan berijtihad ini, orang-orang Wahabi mesti Perempuan atau istri tak boleh mencari nafkah walaumemiliki cadangan ulama yang kridibel dan memenuhi untuk menanggulangi beban perekonomian keluargastandar-kualifikasi sebagai mujtahid. Orang-orang yang tak mungkin lagi bisa diatasi oleh para suami.Wahabi tak boleh terus-menerus bertaqlid pada para Dalam konteks Indonesia misalnya, beratnya bebanpendahulunya, seperti Muhammad ibn Abdil Wahab. ekonomi keluarga menyebabkan seluruh anggotaAtau hanya sekedar mengutip pendapat-pendapat fikih keluarga tak terkecuali istri tumpah ruah bergerak keAhmad ibn Hanbal, Ibnu Taymiyah, dan Ibnu al- luar rumah untuk mengais rezeki. Saya kira karena itu,Qayyim al-Jauziyah. di antaranya, tafsir-tafsir Wahabi mengenai domestikasi perempuan tak cukup diminati umat Islam Indonesia.Bahkan, sekiranya orang Wahabi ingin konsistenmengikuti metodologi Imam Ahmad ibn Hanbal Sementara di lingkungan keluarga Wahabi, perempuanpun, buku-buku ushul fikih Hanabilah yang lebih sejak dulu diposisikan sebagai obyek (munfa’il ataubelakangan boleh dipertimbangkan sebagai rujukan maf ’ul) dan tak pernah dianggap sebagai subyek (fa’il).untuk mendinamisasi hukum Islam di lingkungan Ketika laki-laki tak bisa mengendalikan hawa nafsu,kelompok Wahabi. Najmuddin Sulaiman ibn Abdul maka tubuh perempuanlah yang mesti ditutup rapat.Qawi al-Thufi al-Hanbali misalnya menulis buku Syarh Batas-batas aurat perempuan dibuat sangat kaku danMukhtashar al-Rawdlah. Ibn Qudamah menulis buku seakan sengaja diciptakan untuk menyengsarakanRawdhah al-Nazhir wa Jannah al-Munazhir. Ibnu perempuan. Ruang gerak perempuan terus dibatasi.al-Qayyim al-Jawziyah pun tak boleh hanya dibaca Perempuan tak boleh memegang jabatan publik,melalui kitab-kitab fikih yang berhasil ditulisnya, sebagai hakim apalagi kepala negara. Sampai sekarangmelainkan juga melalui kitab-kitab ushul fikihnya taraf pendidikan kaum perempuan masih jauh diseperti I’lam al-Muwaqqi’in. bawah laki-laki. Tak ada ulama perempuan yang lahir dari lingkungan Wahabi. Padahal, jelas istri-istri NabiInilah saya kira salah satu cara untuk mendinamisasi adalah perempuan-perempuan yang tangguh danaktivitas ijtihad di lingkungan kelompok Wahabi mandiri. Jika Khadijah tangguh secara ekonomi, makasetelah sekian lama terkurung dalam ijtihad tentang Aisyah mumpuni secara intelektual bahkan cakapperkara-perkara remeh temeh dalam Islam. Dengan memimpin pasukan di medan pertempuran.perkataan lain, itu merupakan jalan yang mestiditempuh kelompok Wahabi agar terhindar dari Dalam kaitan itu, di lingkungan Wahabi kiranyakecenderungan taqlid buta terhadap argumen-argumen perlu digerakkan semangat untuk memartabatkanlama. Sebab, sungguh aneh, kelompok Wahabi dan memanusiakan perempuan. Tak zamannya lagi,menolak tradisi bermadzhab atau bertaqlid, sementara perempuan hanya disembunyikan di ruang-ruangpada saat yang bersamaan mereka melakukan hal tertutup. Sebagaimana telah diteladankan puteri-yang sama; dengan bertaqlid kepada Muhammad ibn puteri dan isteri-isteri Nabi Muhammad, perempuanAbdil Wahab. Kita memerlukan ulama Wahabi yang mesti tampil sebagai penggerak ekonomi-sosial danpemikiran-pemikirannya bisa melampaui pemikiran moral-intelektual di tengah masyarakat. Dengan caraMuhammad ibn Abdil Wahab. itu, kehadiran Wahabi niscaya tak dirasakan sebagai ancaman bagi perempuan dan umat Islam lain,Ketiga, kelompok Wahabi cenderung tak melainkan justru sebagai rahmat lil alamin. Wallahumemanusiakan kaum perempuan. Perempuan A’lam bis Shawab.selalu saja dianggap sebagai manusia tak sempurna; — 10 —
  20. 20. « 03/05/2011Menahan Laju Negara Islam Indonesia Oleh Abdul Moqsith Ghazali Dimuat di Media Indonesia, 2 Mei 2011 ..... terang perbedaan kapasitas intelektual antara Kartosuwirjo di satu pihak dan Maududi- Sayyid Quthb di pihak lain. Kartosoewirjo tak mengkriya karya-karya intelektual yang menjelaskan landasan pokok dan kerangka konsepstual NII. Sejauh pengetahuan saya, Kartosoewirjo tak mensistematisasikan pemikiran politiknya dalam buku utuh. Ketiadan rujukan ideologis dari sang proklamator NII ini menyebabkan para pelanjut gerakan NII seperti ayam kehilangan induk. Tak ada tokoh kedua apalagi ketiga yang berperan penting setelah Kartosoewirjo laksana Sayyid Quthb setelah Hasan al-Banna.K artosoewirjo memiliki kesamaan dengan Hasan yang keliru, NII. Apa hendak dikata, anak-anak itu tak al-Banna, Sayyid Quthb, dan Maududi hanya fokus pada kuliah, tapi pada NII. Prestasi akademikdalam proses kematiannya. Mereka mati karena mereka menurun drastis, sementara NII yang merekadibunuh. Pada tanggal 12 Pebruari 1949, Hasan al- perjuangkan tak realistis.Banna dibunuh oleh oleh polisi rahasia Mesir. Padatahun 1966, Sayyid Quthb dibunuh dengan tuduhan Dikisahkan, ketika menjadi anggota NII, mereka takmakar terhadap pemerintah Mesir. Hal yang sama hanya diminta melepaskan diri secara ideologis daridialami Kartosoewrijo. Pengadilan Mahadper, 16 jenis keislaman mainstream di Indonesia, melainkanAgustur l962, memutuskan bahwa Kartosoewirjo telah juga memisahkan diri secara politis dari Negaramakar terhadap NKRI. Atas dasar itu, Kartosoewirjo Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika orangdihukum mati. Islam non-NII dianggap murtad dan kafir, maka NKRI dengan Pancasila dan UUD 1945nya dianggap negaraNII (Negara Islam Indonesia) membuat ulah. Ia makin sekuler yang harus dijauhi. “Indonesia adalah negaraagresif merekrut anggota baru. Beberapa mahasiswa di kafir yang bertentangan dengan konsep negara dalamMalang, Yogyakarta, Lampung, dan Jakarta dinyatakan Islam”, tandas mereka. Bagi mereka, tak ada cara lainhilang, diculik aparatur NII. Para mahasiswa dan untuk memperbaiki sejumlah “penyimpangan” itupelajar Islam yang minim pemahaman keislamannya kecuali dengan menjadikan al-Qur’an dan Hadits Sahihditarik masuk ke dalam NII. Melalui media massa, sebagai hukum tertinggi negara, dan NII (Negara Islamkita disuguhi informasi perihal proses indoktrinasi dan Indonesia) sebagai bingkai kenegaraannya.ideologisasi kepada anggota baru NII. Setelah dibai’atsebagai anggota, mereka pun disebar ke masyarakat Kartosoewirjo dan NIIuntuk mencari dana. Para mantan anggota NII yangdiwawancara televisi mengisahkan tentang seringnya NII tak bisa dipisahkan dari Sekarmadji Maridjanmenipu orang tua untuk memperoleh dana. Mereka (SM) Kartosoewirjo. Ia yang memproklmasikandiwajibkan membayar iuran bulanan untuk mengisi berdirinya Negara Islam Indonesia (NII), pada 7lumbung keuangan NII. Agustus 1949/ 12 Syawal 1368 H, di Tasikmalaya Jawa Barat. Kartosoewirjo menghendaki berdirinya NIIKondisi ini menimbulkan keprihatinan dan kerisauan berdasarkan al-Qur’an, bukan NKRI yang berasaskandi kalangan masyarakat. Banyak orang tua histeris Pancasila. NII dalam proklamasinya menegaskankarena anak-anak mereka masuk NII. Orang tua tak bahwa hukum yang berlaku adalah hukum Islam.hanya merugi secara material karena tertipu, melainkan Dalam Qanun Asasy NII disebut, “NII adalah negarajuga defisit secara immaterial karena anak-anak yang karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada bangsamenjadi tumpuan harapan mereka terancam putus Indonesia. Sifat negara itu jumhuriyah (republik)sekolah atau kuliah. Anak-anak mereka yang bersekolah dengan sistem pemerintahan federal”.di sejumlah perguruan tinggi seperti UI, UGM, UIN,dan lain-lain ternyata jatuh pada pola pengasuhan Namun, tak terlampau jelas apa argumen ‘aqli — 11 —
  21. 21. «(rasional) dan naqli (normatif-doktrinal) dari negara Qur’an). Sedangkan Maududi dikenal sebagai oratorrepublik dengan sistem federal tersebut. Kita tak ulung dan penulis yang produktif terutama di bidangmenemukan elaborasi spesifik dari Kartosoewirjo pemikiran politik Islam. Ia menulis buku, di antaranya,berdasarkan perspektif al-Qur’an dan Hadits mengenai “Teori Politik Islam”, “Hukum Islam dan Caranegara republik itu. Ini penting dijelaskan. Sebab, pelaksanaannya”, “Prinsip-Prinsip Dasar bagi Negarasemua pelajar Islam tahu, negara Madinah yang Islam”, Hak-Hak Golongan Dzimmi dalam Negaradidirikan Nabi Muhammad bukan negara republik. Islam”, “Kodifikasi Konstitusi Islam”.Bahkan, menurut Muhammad Husain Haikal (1888-1956), Nabi Muhammad tak pernah menentukan dasar Dari sini terang perbedaan kapasitas intelektual antarasistem pemerintahan yang detail. Apalagi, menurut Kartosuwirjo di satu pihak dan Maududi-Sayyid QuthbAli Abdur Raziq (1888-1966 M.), Nabi Muhammad di pihak lain. Kartosoewirjo tak mengkriya karya-adalah seorang nabi, dan bukan kepala negara. karya intelektual yang menjelaskan landasan pokok dan kerangka konsepstual NII. Sejauh pengetahuanBegitu juga, sama problematisnya ketika disebut saya, Kartosoewirjo tak mensistematisasikan pemikiranhukum Islam dalam NII. Pertanyaannya adalah; jenis politiknya dalam buku utuh. Ketiadan rujukanhukum Islam seperti apa yang hendak diterapkan ideologis dari sang proklamator NII ini menyebabkanNII. Ini tak pernah kita temukan jawabnya dari para pelanjut gerakan NII seperti ayam kehilanganNII. Misalnya, apa yang disebut hukum Islam dan induk. Tak ada tokoh kedua apalagi ketiga yangbagaimana batas-batasnya. Bagaimana cara memahami berperan penting setelah Kartosoewirjo laksana Sayyidayat-ayat hukum dalam al-Qur’an. Kita tak pernah Quthb setelah Hasan al-Banna.mendapatkan keterangan dari NII mengenai detail-detail hukum dalam al-Qur’an dan Hadits. Kartosoewirjo memiliki kesamaan dengan Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, dan Maududi hanya dalamKetidakjelasan konsep dan argumen NII ini bisa proses kematiannya. Mereka mati karena dibunuh.dipahami karena, salah satunya, Kartosoewirjo sendiri Pada tanggal 12 Pebruari 1949, Hasan al-Bannatak dikenal sebagai pemikir politik Islam. Ia tak dibunuh oleh oleh polisi rahasia Mesir. Pada tahunmemiliki landasan ideologi yang kuat. Kartosoewirjo 1966, Sayyid Quthb dibunuh dengan tuduhan makartak kesohor sebagai ulama sebagaimana KH Hasyim terhadap pemerintah Mesir. Hal yang sama dialamiAsy’ari, KH Ahmad Dahlan, H. Agus Salim, dan lain- Kartosoewrijo. Pengadilan Mahadper, 16 Agusturlain. Ada yang berpendapat, Kartosoewirjo memiliki l962, memutuskan bahwa Kartosoewirjo telah makarpengetahuan keislaman yang minim. Ia hanya belajar terhadap NKRI. Atas dasar itu, Kartosoewirjo dihukumIslam secara otodidak. Menurut sebagian pengamat, mati.ilmu keislaman Soekarno relatif lebih baik ketimbangKartosoewirjo. Dengan kondisi ilmu keislaman seperti Tawaran Solusiini, ia tak akan memiliki argumen teologis yang cukupuntuk melawan gempuran tokoh-tokoh Islam lain yang Semenjak dideklarasikannya hingga sekarang, NII kianmenolak NII. Tak pelak lagi, NII dapat dengan mudah kehilangan relevansi. Alih-alih mendapatkan dukunganbisa dipatahkan, secara politis dan intelektual. dari umat Islam, NII justru menuai sejumlah kritik dan kecaman. NII gagal mendapatkan dukungan danInilah sebabnya kenapa NII tak pernah besar, seperti simpati umat Islam Indonesia. Bahkan, karena ulahpernah besarnya Ikhwan al-Muslimin di Mesir. Ikhwan dan tindakannya akhir-akhir ini, keberadaan NIIal-Muslimin memiliki tokoh intelektual seperti Hasan dianggap telah meresahkan masyarakat dan umat Islam.al-Banna (1906-1949) dan Sayyid Quthb (1906- Perilaku para anggota NII dalam menjalankan agenda1966 M.). Abul A’la al-Maududi (1903-1970) yang politik ekonominya tak mencerminkan akhlak Islammengkampanyekan berdirinya negara Islam adalah yang kuat. Kesukaan anggota NII yang menghalalkantokoh dan pemikir politik Islam yang disegani. Tokoh- segala cara untuk memperoleh uang jelas bertentangantokoh ini memiliki sejumlah buku monumental yang dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, menurutmenjadi referensi utama para pendukung negara sebagai tokoh Islam, mereka sebenarnya tak pantasIslam. Quthb misalnya menulis buku, mulai dari soal mengatasnamakan Islam.sistem politik Islam seperti al-‘Adalah al-Ijtima’iyah fial-Islam (Keadilan Sosial dalam Islam) hingga tafsir Dalam konteks itu, saya mengusulkan beberapaal-Qur’an Fi Zhilal al-Qur’an (Dalam Bayangan al- cara untuk mengatasi soal NII. Pertama, jika terkait — 12 —
  22. 22. «dengan soal penipuan, maka tindaklah para pelakunyamelalui hukum pidana yang berlaku. Hukum harustegak terhadap mereka, sekalipun mereka menipudengan alasan al-Qur’an dan al-Hadits. Namun, aparatpenegak hukum mesti bisa membedakan; mana yangmenjadi korban NII dan mana yang menjadi aparaturNII yang menyuruh bawahannya untuk menipu.DSaya kira, para mahasiswa yang ditarik NII untukmengumpulkan uang adalah korban belaka dari NII.Mereka bukan aktor utama.Kedua, jika berhubungan dengan ideologi keislamanNII, maka organisasi-organisasi Islam besar sepertiNU, Muhammadiyah, dan MUI perlu bahu-membahuuntuk mendakwahkan jenis keislaman yang cocokdan sesuai dengan konteks keindonesiaan. Umat IslamIndonesia tak perlu merasa sebagai anak tiri di hadapanibu kandungnya sendiri, negara Republik Indonesia.Sebab, sekalipun Indonesia tak menjadi negara Islam,terlampau banyak keistimewaan yang dimiliki umatIslam Indonesia. Sejumlah produk perundanganyang menunjukkan keistimewaan itu sudah banyakdikeluarkan negara Indonesia, misalnya UU PeradilanAgama, UU Zakat, UU Haji, dan lain-lain.Ketiga, pemerintah RI juga harus bisa menahan lajuNII. NII potensial menggerogoti persendiaan negararepublik Indonesia. Pemerintah tak boleh memandangsepele dan remeh terhadap gerakan NII. Pemerintahharus bergerak ke level bawah, misalnya melaluiperubahan kurikulum pendidikan agama di lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia mulai dari tingkatbawah hingga perguruan tinggi. Semenjak dini anak-anak di sekolah perlu diajarkan perihal bagaimanakedudukan agama (Islam) dalam konteks negaraIndonesia, kenapa Indonesia menjadi negara Pancasiladan bukan negara Islam.Itulah beberapa tawaran solusi yang bisa diajukan agargerakan NII tak makin melebar dan meluas ke seanteroIndonesia.[] — 13 —
  23. 23. « 05/04/2011 Wahabisme: Alhamdulillah atawa Innalillah? Oleh Abdul Moqsith Ghazali Wahabisme kini tumbuh di Indonesia. Sejumlah ma’had atau pesantren yang mengusung ideologi wahabisme bermunculan. Seorang teman yang sedang meriset Wahabisme di Indonesia mencatat tak kurang dari empat belas pesantren di Indonesia yang menyebarkan doktrin Wahabisme. Dibanding data statistik pesantren di Indonesia yang ribuan jumlahnya, angka empat belas memang kecil. Tapi fenomena penyebaran doktrin Wahabisme ini sudah sangat merisaukan.D dianggap mengidap penyakit TBC (takhayyul, i tengah kecenderungan masyarakat Islam yang “asli”—tentu dalam pengertian mereka. Dengan semangat purifikasi ajaran Islam, mereka menampikbid’ah, dan Khurafat), Wahabisme muncul untuk sejarah. Wahabisme menyeleksi kemodernan. Islammenghancurkannya. Dengan semboyan al-ruju’ ila al- dalam pengertian Wahabisme tak boleh dijamah tanganQur’an wa al-Sunnah (kembali kepada al-Qur’an dan ilmu pengetahuan. Itu sebabnya, tak aneh jika tahunal-Hadits) mereka berdakwah untuk mengajak umat 1920-an, Wahabisme mengharamkan telepon danIslam mengikuti ajaran Islam yang benar: Wahabisme. radio masuk Mekah. Akibatnya, pemurnian berujung di jurang kegagalan. Wahabisme tak dikehendakiBerpusat di Arab Saudi, Wahabisme yang didirikan umat Islam. Sebagian ulama Sunni tak menghendakioleh Muhammad ibn Abdul Wahab ibn Sulaiman jika Wahabisme dianggap menjadi bagian dari Ahlusal-Najdi pada abad ke-18, adalah salah satu sekte Sunnah wal Jama’ah. Kakak kandung Muhammad ibnberpaham keras dalam Islam. Muhammad ibn Abdul Abdul Wahab sendiri, Sulaiman ibn Abdul Wahab,Wahab lahir di Uyaynah, termasuk daerah Najd, menolak keras ideologi Wahabisme.bagian timur Kerajaan Saudi Arabia sekarang, tahun1111 H/1699 M dan meninggal dunia tahun 1206 Wahabisme sebenarnya tak punya teologi yangH/1791 M. Ia belajar ke sejumlah guru terutama yang unik. Ia hanya mendramatisasi doktrin-doktrinbermazhab Hanbali. Ayahandanya, Abdul Wahab, lama yang cenderung kaku dan rigid. Sebagaimanaadalah seorang hakim (qadhi) pengikut Imam Ahmad umumnya umat Islam lain, Wahabisme mendasarkanibn Hanbal. ajaran dan doktrinnya pada tauhid. Jika Mu’tazilah mengkampanyekan tauhid, itu juga yang dilakukanKelompok Wahabi mengklaim dapat mengembalikan Wahabisme. Lalu ada apa dengan konsep tauhidumat Islam kepada ajaran Islam dan akidah yang Wahabisme? Sejumlah pihak menilai bahwa tauhidmurni. Mereka ingin kembali kepada al-Qur’an dalam Wahabisme adalah tauhid ekstrem. Dengan konsepmakna yang harafiah. Al-Qur’an dianggap hanya tauhidnya, Wahabisme mudah mengirimkan vonisderetan huruf yang tak berkaitan dengan konteks kafir kepada kelompok-kelompok Islam yangdi sekitar. Dengan pendekatan ini, mereka menolak berbeda tafsir dengan dirinya. Mereka tak menyetujuisejumlah tradisi (al-‘urf ) yang tumbuh subur dalam tawassul, ziarah kubur, tradisi tahlil, dan lain-lain.masyarakat. Semua keadaan ingin dikembalikan pada Ujungnya adalah penghalalan darah orang lain untukkeadaan zaman Nabi Muhammad. Mereka tak setuju ditumpahkan. Walau tak mendaku sebagai pelanjutrasionalisme yang berkembang dalam filsafat Islam. Kelompok Khawarij, Wahabisme memiliki kesamaanDemi literalisme al-Qur’an, Ushul Fikih mereka gerakan: menyukai kekerasan. Alkisah, makam Zaidacuhkan. al-Khaththab—saudara kandung Sahabat Umar ibn Khaththab—pernah dihancurkan Kelompok Wahabi.Literalisme kaum Wahabi terus mengungkung mereka. Tahun 1802, mereka menyerang Karbala.Wahabisme menghendaki Islam yang “murni” dan — 14 —
  24. 24. «Wahabisme kini tumbuh di Indonesia. Sejumlahma’had atau pesantren yang mengusung ideologiWahabisme bermunculan. Seorang teman yangsedang meriset Wahabisme di Indonesia mencatat takkurang dari empat belas pesantren di Indonesia yangmenyebarkan doktrin Wahabisme. Dibanding datastatistik pesantren di Indonesia yang ribuan jumlahnya,angka empat belas memang kecil. Tapi fenomenapenyebaran doktrin Wahabisme ini sudah sangatmerisaukan. Atas keadaan ini, sebagian mengucapkanAlhamdulillah, dan sebagian yang lain berkataInnalillah. Wallahu A’lam bis Shawab. [] — 15 —
  25. 25. « 27/02/2011 Kontekstualisasi Doktrin Ahmadiyah Oleh Abdul Moqsith Ghazali Saya kira ada banyak pandangan-pandangan fikih-tafsir Islam Ahmadiyah yang berbeda dengan pandangan umat Islam lain. Namun, sekali lagi, hanya satu yang menjadi keberatan utama umat Islam lain, yaitu tentang adanya seorang nabi setelah Nabi Muhammad. Tak hanya keberatan verbal. Lebih dari itu, sebagian umat Islam berusaha untuk membubarkan organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Sebagian yang lain ingin memposisikan Ahmadiyah sebagai agama lain, non-Islam. Yang lain terus menuntut pembasmian orang- orang Ahmadi sampai ke akar-akarnya. Semua tawaran penyelesaian itu hanya akan menimbulkan masalah baru.AApa Ahmadiyah? Tak cukup sebagai seorang pembaharu, satu tahun kemudian, persisnya tahun 1890, Mirza mengaku hmadiyah adalah salah satu sekte baru dalam sebagai al-Masih yang dijanjikan akan turun di akhir Islam. Ia datang tak bersamaan dengan zaman. Menurutnya, Imam Mahdi atau al-Masih yangkemunculan sekte-sekte Islam lama seperti Khawarij, diujarkan sejumlah hadits akan turun itu bukan al-Muji’ah, Syiah, Mu’tazilah, dan Ahlus Sunnah. Masih al-Isra’ili (Yesus Kristus), melainkan al-Masih al-Kehadirannya lebih awal beberapa tahun dari Sarekat Muhammadi yang ditugaskan untuk melanjutkan danDagang Islam, Muhammadiyah, dan Nahdhatul menegakkan syari’at Nabi Muhammad. Al-Masih al-Ulama, di nusantara. Ahmadiyah didirikan oleh Muhammadi yang dimaksud adalah diri Mirza GhulamMirza Ghulam Ahmad, di anak benua India pada Ahmad sendiri. Pada tahun 1901, Mirza mengukuhkanakhir abad ke-19. Mirza diperkirakan lahir pada kembali perihal posisinya sebagai Nabi Zhilli (nabitanggal 13 Pebruari 1835 M. /14 Syawal 1250 H, di bayangan) yang bertugas menjalankan risalah NabiQadian India. Sebagian orang menduga bahwa nama Muhammad. Agar tak hanya menjadi kesadaran“Ahmadiyah” merupakan nisbat dari kata “Ahmad” spiritual yang individual, Mirza merancang sebuahyang berada di ujung nama Mirza Ghulam Ahmad. gerakan untuk mengkampanyekan misinya. UntukSementara yang lain berpendapat bahwa “Ahmadiyah” tujuan itu, ia menggelorakan semangat pengorbananmerupakan bentuk modifikasi dari nama lain harta terutama untuk membeayai penyebaran (tafsir)Muhammad SAW, yaitu Ahmad. Islamnya.Lepas dari itu, jauh sebelum mendirikan Ahmadiyah, Ahmadiyah belum bergerak jauh dengan merambahMirza kecil tumbuh seperti umumnya anak-anak negeri-negeri lain. Sementara Mirza sudah merasadari keluarga Islam lain. Pada usia 7 tahun, Mirza bahwa dirinya tak akan lama lagi akan meninggalsudah belajar agama kepada seorang guru bernama dunia. Tahun 1908, Mirza menulis risalah berjudulFazhl Ilahi yang bermazhab Hanafi. Ia pun belajar “al-Washiyyat” yang menyatakan bahwa masa kepergiantata bahasa Arab, ilmu hadits, dan al-Qur’an. beliau ke alam baqa sudah dekat. Dan dia menegaskanSeiring bertambahnya usia dan untuk meningkatkan agar para pengikutnya tunduk dan patuh kepadaderajat spiritualnya, tahun 1886 Mirza menempuh pimpinan atau khalifah yang akan menggantikanjalan ruhani dengan berkhalwat selama 40 hari. dirinya. Mirza meninggal dunia pada tanggal 26 MeiSelang beberapa waktu, persisnya tanggal 23 Maret 1908 di Lahore, tapi dikuburkan di Qadian. Ia wafat1889 bertepatan dengan 20 Rajab 1306 H, Mirza dengan meninggalkan 80 buah karya intelektual, kelakmengaku mendapatkan wahyu dan segera setelah itu menjadi rujukan pengikut Ahmadiyah.mendeklarasikan diri sebagai mujaddid (pembaharuIslam). Tanggal 23 Meret 1889 ini disepakati oleh Sepeninggal Mirza, kepemimpinan Ahmadiyah jatuhjemaat Ahmadiyah sebagai tanggal berdirinya pada Hakim Nuruddin. Ia berhenti menjadi khalifah,“Ahmadiyah”. karena ajal datang menjemput, tanggal 13 Maret 1914. Sepeninggal Hakim, terjadi pertentangan tentang siapa — 16 —

×