• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Perjalanan menuju mimbar
 

Perjalanan menuju mimbar

on

  • 1,819 views

This paper is taken and collected based on the the search results of several writings by Abdul Moqsith Ghazali on the 'Liberal Islam Network' (JIL) site and sorted by the date of writing displayed ...

This paper is taken and collected based on the the search results of several writings by Abdul Moqsith Ghazali on the 'Liberal Islam Network' (JIL) site and sorted by the date of writing displayed earlier and later - because of piracy, of course, the collection of these writings without the consent of the author and the site adminstrator.

Statistics

Views

Total Views
1,819
Views on SlideShare
1,819
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
129
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Perjalanan menuju mimbar Perjalanan menuju mimbar Document Transcript

    • PlantATree Publishingoqsit Perjalanan Menuju Mimbar Abdul Moqsith Ghazali 2011
    • oqsit Perjalanan Menuju Mimbar Abdul Moqsith Ghazali 2011 PlantATree Publishing
    • 12/07/2011 Merawat Agama dengan Penafsiran Oleh Ulil Abshar-Abdalla “Kegiatan membaca atau membaca ulang pada dasarnya adalah tindakan teoritis (al-‘amal al-nadzari). Tradisi intelektual Islam sangat kaya dengan tindakan teoritis semacam ini. Setiap pembaharuan (tajdid) dalam sejarah Islam juga selalu dimulai dari tindakan teoritis dalam bentuk membaca dan menafsir kembali tradisi tekstual yang ada. Sejarah agama menjadi menarik karena adanya tradisi membaca dan menafsir ulang seperti itu. Suatu agama di mana di dalamnya kita jumpai kehidupan menafsir yang terus-menerus tanpa henti, pertanda bahwa ia adalah agama yang hidup, bukan dead religion, agama yang mati, agama yang telah menjadi mumi.”Assalamu’alaikum, selamat malam, disertai niat yang menyokongnya. Itulah iman. Innama ‘l-a’mal bi ‘l-niyyat, sebagaimana disebutkan dalamMalam ini kita akan mendengarkan pidato kebudayaan sebuah hadis yang terkenal: tindakan haruslah dilandasiyang akan disampaikan oleh teman saya Dr. Abdul oleh niat. Jika tindakan sosial dikerjakan tanpa suatuMoqsith Ghazali, berjudul “Menegaskan Kembali landasan motivasional yang kuat di baliknya, tanpaPembaruan Pemikiran Islam”. Ini adalah acara tahunan dasar-dasar teoritis yang kokoh, ia hanyalah menjadiyang digagas oleh Forum Pluralisme Indonesia. Ini pekerjaan arbitrer: sembarang dan semena-mena, yangadalah pidato seri kedua. Saya berharap setiap tahun tak bernilai apa-apa.pidato seperti ini terus bisa diselenggarakan danmenjadi tradisi yang terawat hingga di masa depan Perkembangan sosial-politik yang cepat saat iniyang jauh. memaksa umat Islam, juga umat-umat agama lain, untuk melakukan pembacaan kembali atas tradisiApa tujuan sebuah pidato seperti ini? Bukankah yang panjang yang mereka warisi dari generasi yang lalu.dibutuhkan oleh umat Islam saat ini bukan pidato, Pembacaan ulang adalah kata kunci di sini.tetapi sebuah tindakan nyata untuk menyelesaikanmasalah? Kenapa kita memakai kata “membaca” di sini? Sebab, setiap agama, termasuk Islam, pada akhirnyaMenurut saya, baik orasi dan aksi, teori dan aksi, terlembagakan dalam sebuah tradisi, yakni tradisikeduanya sama penting. Saya kurang begitu suka penafsiran. Sementara setiap tradisi selalu berwatakuntuk memperlawankan teori dan aksi. Mengikuti tekstual. Ia pada akhirnya adalah sebuah teks, teksturpandangan para filsuf Muslim klasik seperti Ibn Sina yang terdiri dari jalinan gagasan yang terkait dengandan Al-Farabi, kebahagiaan manusia diperoleh karena situasi tertentu. Setiap teks selalu membuka diri padakombinasi yang seimbang antara teori dan aksi, antara kegiatan mental yang disebut dengan membaca.ilmu-ilmu teoritis (al-‘ulum al-nazariyyah) dan ilmu- Sementara itu, kegiatan membaca bukanlah tindakanilmu praktis (al-‘ulum al-‘amaliyyah). Baik kehidupan yang sekali terjadi sesudah itu mati dan berhenti.kontemplatif (vita contemplativa) dan kehidupan Membaca adalah tindakan mental dan intelektual yangaktif (vita activa), keduanya sama-sama penting untuk tak pernah berhenti –kegiatan yang sifatnya perenial,mencapai –meminjam istilah dalam filsafat Yunani— abadi, non-stop. Oleh karena itu, setiap teks, termasukeudemonia, kehidupan yang bahagia. teks-teks yang terbentuk melalui tradisi Islam, akan selalu terbuka terhadap pembacaan dan pembacaanGagasan tentang perkawinan antara teori dan aksi ulang secara terus-menerus.sebetulnya tak asing bagi umat Islam. Dalam al-Qur’an, kata iman kerap disebut secara berbarengan Kegiatan membaca atau membaca ulang pada dasarnyadengan amal –alladzina amanu wa ‘amilu al-shalihat. adalah tindakan teoritis (al-‘amal al-nadzari). TradisiSuatu tindakan sosial akan memiliki bobot moral yang intelektual Islam sangat kaya dengan tindakan teoritistinggi jika didorongkan oleh motivasi mendalam; jika semacam ini. Setiap pembaharuan (tajdid) dalam —i—
    • sejarah Islam juga selalu dimulai dari tindakan teoritis teoritis semacam ini. Sialnya, memang, dalam setiapdalam bentuk membaca dan menafsir kembali tradisi masyarakat, kelas yang menjalani vita contemplativatekstual yang ada. Sejarah agama menjadi menarik semacam ini akan selalu berhadapn dengan status quo.karena adanya tradisi membaca dan menafsir ulang Dan ini tampaknya memang kutukan tak terhindarkanseperti itu. Suatu agama di mana di dalamnya kita bagi setiap kelas terpelajar di manapun. Dan ini pulajumpai kehidupan menafsir yang terus-menerus tanpa tampaknya kutukan yang dihadapi para nabi di masahenti, pertanda bahwa ia adalah agama yang hidup, lampau.bukan dead religion, agama yang mati, agama yangtelah menjadi mumi. Malam ini, kita sejenak akan menikmati kehidupan kontemplatif itu. Besok, anda bisa kembali menjalaniDi sinilah letak pentingnya sebuah “pidato” seperti vita activa, kehidupan aktif yang normal, kehidupanyang akan kita dengarkan dari Sdr. Abdul Moqsith yang penuh dengan gebalau dan kebisingan.Ghazali malam ini. Pidato semacam ini adalah saranauntuk menyatakan suatu kegiatan membaca ulang Sekian.kepada publik luas.Kegiatan membaca ulang memang mengandungresiko, dan biasanya kurang disukai oleh kalanganyang menjaga tradisi atau kaum ortodoks. Sebab,setiap pembacaan ulang memang biasanya berujungpada evaluasi atas status quo. Sementara itu, evaluasiakan berujung pada perubahan. Dan setiap perubahanbiasanya kurang disukai oleh power that be, kekuasaanyang ada. Ini bukan hal yang aneh. Ini adalah hukumbesi perubahan (iron law of change) yang lazim kitajumpai di mana-mana. Dalam setiap tradisi akan selaluada dua impetus atau dorongan –dorongan ke arahperubahan dan penolakan atas perubahan itu.Saya ingin menutup pengantar saya ini denganmenegaskan kembali pentingnya usaha memperluassecara terus-menerus “ruang mental/intelektual” dalamumat. Apa yang saya sebut sebagai ruang mental di siniadalah ruang di mana tersedia kesempatan yang cukupbagi umat untuk melakukan penafsiran dan penafsiranulang. Perubahan-perubahan ke arah yang positifdalam level kehidupan riil biasanya dimungkinkankarena adanya ruang mental yang cukup dalam sebuahmasyarakat/umat untuk memperdebatkan sejumlahalternatif penafsiran dan pembacaan.Ruang mental semacam ini hanya bisa hidup jika adaorang-orang yang mau mendedikasikan dirinya padakehidupan teoritis –kelompok yang oleh al-Qur’andisebut sebagai kelas sosial yang melakukan tindakan“yatafaqqahu fi al-din”, mendalami dan merefleksikansoal-soal keagamaan. Inilah kelas kaum terpelajar yanghidupnya didedikasikan untuk menelaah dan membacaulang tradisi; kaum yang menjalani vita contemplativa.Kawan saya Abdul Moqsith Ghazali adalah contohorang yang menjalani hidup kontemplatif dan — ii —
    • 10/07/2011 Mengantar Moqsith ke Mimbar Jaringan Islam Liberal Pidato pengantar untuk Pidato Pembaruan Islam, TIM, 8 Agustus 2011 Moqsith adalah pribadi yang lahir dari pesantren namun sangat kritis dengan dunia feodal pesantren. Jadi, jangan biarkan Moqsith berada dalam feodalisme pemikirian yang menindas. Sebab feodalisme pemikiran akan menghalangi dia dari kejujuran pemikiran. Mari kita cintai Moqsith dengan membiarkannya menjadi Moqsith dari pesantren yang menemukan dan menggali rumusan pembaharuan Islam Indonesia yang bertumpu pada modernitas, keislaman dan keindonesiaan dalam konteks kekinian dan masa depan.Terimakasih kepada Forum Pluralisme Indonesia yang kerakyatan. Islam Indonesia memiliki dua sokogurutelah mempercayai saya untuk mengantarkan teman, Islam moderat (NU dan Muhammadiyah) yangsahabat kita Abdul Moqsith Gazali ke mimbar ini. mengakar jauh ke dalam tradisi Indonesia yang ragamSebentar lagi kita akan mendengarkan pikiran dan dalam budaya. Islam Indonesia tak memiliki hirarkipandangan Moqsith tentang pembaharuan pemikiran pengambilan hukum agama yang monolitik meskipunIslam yang berangkat dari, dan mengakar pada - tradisi ada MUI. Kutub optimis ini menganggap perdebatanpemikiran Islam Indonesia, terutama dari dunia tentang bentuk negara telah selesai dan Pancasilapesantren. merupakan sumbangan umat Islam yang diperas dari nilai-nilai Islam. Dan satu lagi, Islam Indonesia palingBeberapa waktu lalu saya berbincang dengan Fred ramah terhadap perempuan.Bunnell. Seperti kita tahu, Pak Fred bersama PakBen Anderson pernah penulis satu dokumen yang Sementara kutub pesimistis menganggap bahwakemudian dikenal sebagai Cornell paper “a preliminary Islam Indonesia memang pernah menjadi Islam yangAnalysis of the October 1, 1965; coup in Indonesia. toleran tapi kini jadi Islam yang gampang ngamukan.Kali ini ia datang untuk menyiapkan tulisan tentang Buku-buku keagamaan yang dijual jauh dari duniaperkembangan Islam di Indonesia; sebuah tema yang intelektual, isinya dangkal dan murahan, sepertiumum dan luas, dan sekaligus sulit untuk dipetakan. buku “malam pertama di alam kubur, keajaiban sedekah, cara pintar masuk sorga dan sejenisnya.Kepada Pak Fred saya menjelaskan, bahwa menurut Bagi kutub pesimis, Islam Indonesia tak lagi toleran,saya (dengan pengecualian beberapa orang ahli seperi mereka gemar menggunakan kekerasan dalamMartin van Bruinessen), penggambaran tentang Islam menyelesaikan perbedaan. Corak kebudayaannyadi Indonesia dewasa ini cenderung terpolarisasi ke sangat anti budaya lokal Indonesia. Islam model inidalam dua kutub yang berseberangan. Di satu pihak, kembali mempertanyakan keabsahan NKRI sembariIslam Indonesia digambarkan begitu opitimisnya: memaksakan ideologi Islamisme. Mereka dianggappaling progresif, moderen, maju dan karenanya menggunting dalam lipatan dalam berdemokrasidianggap paling cocok dengan perkembangan zaman. dengan memasukkan ideologinya melalui perda-perdaSebaliknya di kutub yang lain, Islam Indonesia syariah. Mereka rajin kampanye menolak budaya asingdigambarkan begitu pesimistisnya. Islam Indonesia sambil menyerap budaya Arab yang sebetulnya budayasedang menuju ke masa kegelapan. Kira-kira besok lusa asing juga! Mereka gemar menghakimi kelompokakan tamat, kiamat. lawan dengan propaganda kampungan seperti Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme). Dan dalamTentu saja, kedua kutub itu memiliki argumen isu perempuan, saya hanya bisa mengatakan betapayang sahih dan bisa dipertanggungjawabkan secara mereka “astaghfirullah”.metodologis. Kutub optimis misalnya menyajikandata tentang betapa tak populernya partai-partai Islam Namun menurut saya penggambaran serupa itu, baikdibandingkan dengan partai nasionalis, atau nasionalis yang optimis maupun yang pesismis, kurang memberi — iii —
    • ruang pada eksplorasi pembaharuan Islam di Indonesia yang bertumpu pada konsep mashlahah (mantaaf/yang menawarkan produk pemikiran. Dalam konteks kebaikan) untuk mengatasi persoalan-persoalanpemikiran Islam moderen di Indonesia tentu saja kita sosial. Dan karena Gus Dur tak selalu menjelaskanharus menyebut tiga tokoh penting yang terkait dengan bangunan metodologinya, bagi sebagian kalangan,upaya pembaharuan yang kini menjadi jalan lurus yang pandangan Gus Dur itu dianggap cenderung pragmatisdipilih Moqsith. Tiga orang dimaksud adalah Ahmad kompromistis.Wahib, Cak Nur dan Gus Dur. Bangunan pemikiran yang dikembangkan Moqsith,Bagi saya, Moqsith adalah contoh sempurna yang pada pendapat saya, merupakan perpaduan sempurnamemadukan model pencaharian pemikiran Islam dari tradisi filsafat yang dirintis Wahib, tradisi kalam-Wahib, Gus Dur dan Cak Nur. Meski khazanah teologi yang dikembangkan Cak Nur, dan tradisipemikiran Wahib tak berbasis ilmu-ilmu Islam klasik berfikir metodologis berbasis ushul fiqh yang bersifatyang dikembangkan di Pesantren, namun Wahib advokatif sebagaimana dikembangkan Gus Dur. Halmengajak kita untuk berpikir dan merenung tentang ini sangat jelas tercermin dalam disertasi Moqsith yangkeislaman dan keindonessaan. Sementara Cak Nur kemudian menjadi buku “Argumen Pluralisme Agama”.dan Gus Dur menawarkan pemikiran genuine Distertasi itu diajukan bukan saja untuk kepentinganIslam Indonesia yang mempertemukan tiga elemen akademis melainkan sekaligus menawarkan jalanpenting bagi perkembangan Islam di Indonesia, yaitu; keluar dari kekisruhan hubungan antar umat beragamamodernitas, keislaman dan keindonesaan. dewasa ini.Jika Wahib bersikutat pada pemikiran filsafat yang Pasca reformasi dan dengan memanfaatkan peluangmempertanyakan secara sangat subtantif tentang dari ruang demokrasi, beragam corak pemikiran Islameksistensi Tuhan yang diperhadapkan dengan bermunculan. Kita pun terheran-heran atas lahirnyakebebasan manusia untuk berikhtiar menghadapi beragam fatwa aneh yang tak pernah terbayangkannestapa yang dialami manusia, Cak Nur bersikukuh akan hadir dalam khasanah Islam Indonesia. Dimulaidengan pemikiran kalam-teologi yang bertumpu pada dengan fatwa larangan mengucapkan selamat natal,konsep tauhid. sampai munculnya “rukun Islam” baru yang khusus diberlakukan bagi perempuan dengan penambahanBagi Cak Nur, apapun persoalannya tauhid harus satu rukun lagi “kewajiban memakai jilbab”. Islammenjadi jalan keluarnya. Setiap ketimpangan yang corak ideologis ini begitu semarak sehingga bisaterjadi, menurut Cak Nur, pastilah disebabkan oleh dimengerti betapa pesimisnya para pengamat Islampengkhianatan dan pengingkaran manusia atas Indonesia dan menganggap Islam Indonesia hampirajaranan tauhid. Persoalan sosial, menurutnya, terjadi tamat.ketika manusia menyembah selain Allah: menyembahharta, jabatan, kekuasaan, kelompok, jenis kelamin Atas berbagai persoalan itu, saya melihat Moqsith takdan menuhankan dirinya sendiri. Bagi Cak Nur, jalan pernah panik. Kekuatan yang ditawarkan Moqsithkeluar untuk mengatasi persoalan ini adalah dengan adalah pada metodologi dalam memaknai teks.menegasi ilah (tuhan/berhala) serupa itu dan kembali Moqsith juga sangat percaya, umat pada dasarnyake jalan tauhid. punya kewarasan berpikir yang bisa mengedit berbagai fatwa yang aneh-aneh. Keistimewaan Moqsith bagiSementara dari Gus Dur kita menemukan bangunan saya adalah karena metodologi yang ia gunakanpemikiran yang dikonstruksikan dari logika kerja mengakar pada tradisi fiqh-ushul fiqh yang merupakanhukum fiqh dan ushul fiqh. Bagi Gus Dur, agama akar tradisi Islam Indonesia yang berbasis pesantren.hadir bukan untuk Tuhan tetapi untuk manusia dan Metodologi ini merupakan kata kunci dalamkemanusiaan. Oleh karenanya agama harus mampu membangun pemikiran keislaman, suatu wilayahmenjadi jalan keluar bagi setiap penistaan terhadap yang tak terlalu diacuhkan Gus Dur karena Gus Durmanusia. cenderung langsung menerapkannya, tapi juga tak dikembangkan oleh Cak Nur karena kecenderunganKita akan menemukan bahwa pandangan-pandangan Cak Nur yang lebih ke ranah kalam-teologi daripadaCak Nur lebih berkutat di level pemikiran yang fiqh.mengandaikan “urusan perut” telah selesai. Sementarapada Gus Dur, kita menemukan tawaran pemikiran Dalam sebuah debat di UGM beberapa tahun lalu, — iv —
    • saya menyaksikan bagaimana bangun metodologis Moqsith untuk melanjutkan ide-ide rintisanyang dikembangkan Moqsith dan berakar pada pembaharuan Islam Gus Dur dan Cak Nur yangtradisi pemikiran Islam klasik ini digunakan untuk mengakar pada keragaman Indonesia. Dan untuk itu,meng“kanfas”kan lawan debatnya. Ketika itu dia Moqsith memiliki modal besar yang boleh jadi takdisandingkan dengan seorang ustadz berhaluan dimiliki para pemikir Islam lainnya.keras (saya lupa namanya). Sang ustadz mengatakan,“ mana tawaran anda dan kelompok anda untuk Pertama, tentu penguasaan khazanah kitab klasik,mengatasi persoalan negeri ini, jalan kami kan jelas, sesuatu yang dikuasai oleh Cak Nur juga Gus Dur.orang membunuh gunakan qishah, pancung, orang Pada Moqisth, referensi itu digunakan untuk membacamencuri dipotong tangan, berzina kita rajam. Jelas persoalan-persoalan kekinian Indonesia.kan? Kalau anda tawarannya apa?” Ketika sang ustadzmenyampaikan pandangannya, para cheers leadersnya Kedua, sebagaimana Cak Nur, Moqsith memilikiterus berteriak “Allah Akbar”. kesantunan dalam berdebat dengan artikulasi yang prima. Dia tak menunjukan otot tapi pikiran, diaLalu apa jawaban Moqsith? Pertama-tama dia jatuhkan tak mengajak bertengkar tapi dialog. Di Takengonlawannya dengan mengoreksi ayat yang tadi hanya Aceh Tengah, lima jam perjalanan dari Banda Aceh,dibaca terjemahannya saja. Moqsith berkata, “Ustadz, misalnya, Moqsith datang pakai sarung dan pecikalau soal itu ayatnya bukan itu tapi yang ini ...”. dan bicara dalam khazanah klasik dengan argumen-Moqsith lalu membacakan ayatnya (saya tidak hafal argumen kukuh dalam khazanah ushul fiqh yang tetapayatnya). Dengan mengutip sejumlah teori ushul fiqh, terjaga.Moqsith menjawab tentang relativitas hukum “Kalausampeyan mau kawin tapi punya niat akan menyakiti Ketiga, dari Gus Dur, Moqsith sepertinya memilikiistri, maka kawin Anda haram hukumnya. Kalau modal keberanian. Percaya Diri (pede) luar biasa.sampeyan mau kawin karena anda sudah ngebet dantahu tidak bisa menahan diri dari perbuatan zina maka Pada akhirnya, mari kita tunjukkan kecintaan kita padawajib hukumnya. Jadi semuanya tergantung para sebab Moqsith dengan membiarkannya tumbuh berkembanghukum dan tujuan hukum, bukan asal menerapkan sebagai intelektual independen dan tak tinggal dihukum”. Kira-kira demikian jawaban Moqsith. menara gading. Mari kita tantang dia untuk menjawabJawaban Moqisth begitu bernas, cerdas, tenang dan persoalan kebangsaan dengan pemikiran keagamaan,tegas. Dan para cheers leader di pojok aula pun pembaharuan konsep dan metodologis bukan hanyabungkam. Saya bilang dalam hati “yes- Allah Akbar”! dengan istighasah atau dzikir akbar.Sering saya menyaksikan peristiwa semacam itu selama Moqsith adalah pribadi yang lahir dari pesantrensaya bekerja bersama Moqsith. Di Aceh misalnya, namun sangat kritis dengan dunia feodal pesantren.kami bekerja selama 2 tahun Mahkamah Syari’yah Jadi, jangan biarkan Moqsith berada dalam feodalisme(Peradilan agama). Pasca tsunami, banyak perkara di pemikirian yang menindas. Sebab feodalismeAceh yang tak bisa diselesaikan oleh hukum keluarga pemikiran akan menghalangi dia dari kejujuranyang ada karena tak ada preseden sebelumnya. Moqsith pemikiran. Mari kita cintai Moqsith denganmembantu mereka untuk menggunakan metode membiarkannya menjadi Moqsith dari pesantren yangushul fiqh. Dan karena referensi atas kitab klasik yang menemukan dan menggali rumusan pembaharuandimiliki Moqsith luar biasa, maka para abu-tengku Islam Indonesia yang bertumpu pada modernitas,atau kyai lokal bisa dia “tundukkan”. Biasanya dia keislaman dan keindonesiaan dalam konteks kekinianakan mengutip ayat di luar kepala, lalu dia menyitir dan masa depan.teks-teks kitab kuning lengkap dengan nomor halamandan hitungan baris atas-bawahnya. Dan jangan Hadirin sekalian, mari kita sambut pembaru pemikirandikira mereka tidak mengeceknya. Pada pertemuan Islam Indonesia penerus para pembaru Islam terdahulu,berikutnya mereka mengkonfirmasi bahwa mereka Abdul Moqsith Ghazali!telah melihat referensi yang Moqsith sebutkan itu.Saya memberi judul pengantar ini “ MengantarkanMoqsith ke Mimbar”. Bagi saya, ini sebuah ungkapanmetafora. Kita harus bersama-sama mengantarkan —v—
    • Daftar IsiMerawat Agama dengan Penafsiran iMengantar Moqsith ke Mimbar iiiMenegaskan Kembali Pembaruan Pemikiran Islam 1Kritik atas Wahabisme 9Menahan Laju Negara Islam Indonesia 11Wahabisme: Alhamdulillah atawa Innalillah? 14Kontekstualisasi Doktrin Ahmadiyah 16Siapa Pemimpin Islam Indonesia? 19SBY, Ciketing dan Perlindungan Non-Muslim 21Merayakan Idul Fitri 1431 H “Momen Penghapusan Kezaliman” 23Mistifikasi Mudik Lebaran 25Khadijah Tak Berpuasa Ramadan 27Waktu Isra-Mikraj Nabi Muhammad 28Pengertian Umat Islam Indonesia 30Sejumlah Paradoks dalam Pidato Hasyim Muzadi 31Pluralisme Agama di Indonesia: Masihkah Kita Bisa Berharap? 33Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431 H. Kelumit Sejarah PembentukanKalender Islam 35Islam dan Pluralitas(isme) Agama 37Menyambut Ultah NU ke 83 NU dan Passing Over Pemikiran 43Teologi Ramadan dan Kerukunan Antar-Umat 45Dari Kartini Sampai Feminis Islam: Menyambut Hari Kartini 21 April 2007 47Kultur Takfir 49Wahabisasi “Islam-Indonesia” 51Ismail atau Ishak? 53Stop Demo Anti-JIL 55Sesat dan Menyesatkan 57Syahrur 58 — vi —
    • Agama, Seni, dan Regulasi Pornografi 60Kekenyalan Syariat 62Ketika Negara Mengintervensi Agama 63Menilik Metode Qiyas Syafi’i 66 — vii —
    • « 09/07/2011 Menegaskan Kembali Pembaruan Pemikiran Islam Oleh Abdul Moqsith Ghazali Naskah Pidato Pembaruan Islam di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 8 Juli 2011 Darimana penegasan pembaruan pemikiran Islam ini mesti dimulai. Tentu pertama-tama dengan cara membenahi cara pandang kita terhadap al-Qur’an, mengerti pokok-pokok risalah kenabian, lalu mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi khazanah pemikiran dan karya para ulama terdahulu, serta benar dalam mendudukkan akal dan memfungsikannya dalam proses penafsiran wahyu.P ditegaskan, karena beberapa hal. Pertama, diPengantar waqi’iyyah al-Qur’an) itu, kita menjadi tahu bahwa al- Qur’an tak boleh dilucuti dari aspek kultural-sosialnya. okok-pokok pembaruan pemikiran Islam penting Di sinilah kita membutuhkan bukan hanya tafsir baru al-Qur’an, melainkan juga metodologi baru dalamtengah situasi zaman yang kian kompleks, kita tak memahami al-Qur’an.cukup hanya bersandar pada pikiran-pikiran keislamanlama yang sudah tak relevan dengan konteks zaman. Ketiga, sejumlah orang hendak menjadikan IslamSebab, apa yang dirumuskan ulama terdahulu mungkin sebagai ladang persemaian diskriminasi dantelah berhasil memecahkan sejumlah masalah di masa dehumanisasi. Kita menyaksikan kian tingginyalalu, tapi belum tentu terampil menyelesaikan masalah diskriminsi terhadap perempuan, misalnya. Padahal,di masa kini. Al-Qur’an membuat metafor menarik terang benderang bahwa diskriminasi berbasismengenai tak abadinya keberlakuan sesuatu yang lama. kelamin adalah tidak adil, karena seseorang takDikisahkan al-Qur’an mengenai perilaku Ashhabul pernah bisa memilih lahir dengan kelamin apa—laki-Kahfi (para pemuda yang tertidur lama dalam gua) laki atau perempuan. Namun, sebagian orang tetapyang harus menukar koin, karena koin lama sudah tak berpendirian bahwa perempuan adalah manusia taklaku lagi. Belajar dari semangat ijtihad para ulama salaf sempurna; separuh diri perempuan adalah manusia,seperti Imam Syafii, Imam Hanafi, dan lain-lain, kita dan separuhnya yang lain merupakan setan yangmemerlukan sejumlah pembaruan di berbagai bidang mengganggu keimanan laki-laki. Pandangan misoginiskeislaman. ini menghuni sebagian pikiran umat Islam, dulu dan sekarang.Kedua, di tengah berbagai usaha yang mengerdilkanal-Qur’an, kita membutuhkan cara pandang baru Diskriminasi dan intimidasi juga mengarah padaterhadap al-Qur’an. Jika sebagian orang memberikan kelompok minoritas; sekte minoritas dan agamatekanan yang terlampau kuat pada aspek hukum dalam minoritas. Sekelompok orang yang mengatasnamakanal-Qur’an, maka kita harus mendalaminya dengan sekte mayoritas dan agama mayoritas di negeri inipemahaman utuh tentang wawasan moral-etik al- suka menempuh jalan kekerasan. Dan kekerasanQur’an. Tak cukup membaca al-Qur’an sekedar untuk itu terus meluas dengan kecepatan api membakarmemperoleh kenikmatan kata dan bahasa, kita harus hutan. Sejauh yang bisa dipantau, kekerasan atasmelangkah untuk membuka cakrawala makna. Jika nama agama yang kerap terjadi di Indonesia bukansebagian orang hanya memposisikan al-Qur’an berupa penghukuman terhadap orang yang bersalah, tapideretan huruf dan aksara, maka kita perlu meletakkan lebih merupakan pembantaian terhadap mereka yangmakna al-Qur’an dalam konteks sejarah. Al-Qur’an tak berdaya. Bahkan, kecenderungan untuk salingbukan unit matematis yang statis, melainkan gerak mengkafirkan di internal Islam makin kuat. Di mana-sejarah yang dinamis. Melalui pemahaman terhadap mana bermunculan “teologi pemusyrikan”, “teologikonteks kesejarahan al-Qur’an (asbab nuzul wa pengkafiran”, “teologi penyesatan” terhadap umat —1—
    • «Islam lain. Dari teologi seperti ini, maka meletuslah kebesaran Islam adalah dimungkinkannya keberagamanmisalnya peristiwa Cikeusik Banten. Di Cikeusik, pemaknaan terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Satu ayatkematian datang sebagai manifestasi keberingasan tafsir ketika sampai pada orang berbeda selalu terbukaagama. Dalam kaitan itu, kita perlu menyusun teologi peluang bagi lahirnya produk tafsir yang berbeda.yang inklusif-pluralis, bukan yang diskriminatif dan Itu sebabnya dalam literatur tafsir dikenal beragamintimidatif. jenis tafsir, yaitu tafsir ‘ilmi (tafsir yang berbasis pada temuan sains), tafsir fiqhi (tafsir berbasis hukum),Keempat, “perang” telah mendominasi diskursus umat tafsir adabi (tafsir bercorak sastra), tafsir ijtima’i (tafsirIslam belakangan. Bahwa pedang harus dihunus dan berwatak sosial), dan tafsir sufi (tafsir dengan sentuhanpistol segera ditembakkan pada orang-orang yang pengalaman spiritual). Dengan perkataan lain, adasudah didefinisikan menyimpang dan memusuhi Allah. tafsir yang berfokus pada tata bahasa, latar belakangFrase “murka dan kemarahan Allah” (ghadlab Allah) sejarah, implikasi juridis, ajaran teologis, pendidikanyang ada dalam Islam digunakan untuk membenarkan moral, makna alegoris, dan seterusnya. Menariknya,metode perang seperti pembunuhan massal dan tafsir generasi yang satu bersifat independen, takterorisme. Pandangan seperti ini sekalipun digali bergantung pada tafsir generasi lainnya.dari khazanah keislaman klasik, saatnya diperbaharuikembali. Sebab, Islam sejatinya tak menghalalkan Kekayaan bahasa dan keindahan diksi al-Qur’anpembantaian. Kita tak menyalahkan kucing karena memungkinkan kita untuk menginvestigasi makna-memakan tikus, atau anjing karena menyerang kucing. makna al-Qur’an. Jika jurisprudensi hukum IslamKita mempertanyakan manusia yang memancung fokus pada elaborasi sistematis ajaran-ajaran al-manusia lain. Manusia adalah maha karya Allah. Dan Qur’an mengenai perbuatan badani manusia (af ’alAllah menghargai manusia begitu rupa (wa laqad al-mukallafin), maka tasawwuf bergerak pada wicarakarramna bani Adam). batin nurani manusia. Sementara teologi berkutat pada bagaimana merumuskan dan mengkonseptualisasikanPertanyaannya darimana penegasan pembaruan Tuhan seperti yang dipahami melalui teks-teks al-pemikiran Islam ini mesti dimulai. Tentu pertama- Qur’an. Para ulama, dari dulu hingga sekarang, terustama dengan cara membenahi cara pandang kita mencurahkan seluruh kehidupannya untuk memahamiterhadap al-Qur’an, mengerti pokok-pokok risalah al-Qur’an. Di ruangan kecil al-Qur’an itu, 30 Juz,kenabian, lalu mengambil sikap yang tepat dalam para penafsir berhimpitan untuk menembus “batas”menghadapi khazanah pemikiran dan karya para ulama pengertian al-Qur’an.terdahulu, serta benar dalam mendudukkan akal danmemfungsikannya dalam proses penafsiran wahyu. Penelusuran makna dan kerja menafsirkan al- Qur’an seperti itu merupakan cara manusia untukPokok Al-Qur’an berpartisipasi dalam Firman Tuhan. Bentuk partsipasi paling bertanggung jawab dalam memaknai al-Qur’anAl-Qur’an adalah wahyu Allah. Ia memang berbahasa adalah dengan mengkerangkakannya ke dalam sebuahArab, tapi yakinlah bahwa ia tak memiliki hubungan bangunan metodologi. Para ulama terdahulu telahkepemilikan dengan orang Arab. Al-Qur’an tak identik menyusun sejumlah metodologi untuk menafsirkandengan etnik Arab. Bahasa Arab dipinjam Allah untuk al-Qur’an. Namun, berbagai pihak menilai bahwamemudahkan percakapan antara Nabi Muhammad dan metodologi yang disuguhkan para ulama terdahuluMalaikat Jibril. Allah sudah berjanji dalam al-Qur’an terlampau rumit, sehingga tak mudah diakses banyakbahwa Ia tak akan pernah mengirimkan pesan wahyu orang. Persyaratan-persyaratan kebahasaan dankecuali dengan bahasa manusia (seorang nabi) yang kemestian-kemestian gramatikal yang ditetapkankepadanya ia diwahyukan. Melalui bahasa lokal Arab para ulama ushul fikih dalam menafsirkan al-Qur’anyang partikular itu, Nabi Muhammad bisa mengerti misalnya menimbulkan perasaan minder umat Islampesan universal al-Qur’an. Dan kita yang hidup ketika berhadapan dengan al-Qur’an.sekarang pun bisa ambil bagian dari proses pemaknaanal-Qur’an. Kita memerlukan metodologi sederhana dan ringkas dalam menafsirkan al-Qur’an, sehingga penafsiranBentuk teks al-Qur’an telah sempurna, tapi ketahuilah al-Qur’an bisa dilakukan banyak orang. Misalnya,bahwa maknanya tetap cair. Tak ada interpretasi penting diketahui bahwa Qur’an yang terdiri darifinal terhadap al-Qur’an. Bahkan, salah satu sumber ribuan ayat, ratusan surat, puluhan fokus perhatian, —2—
    • «sekiranya dikategorisasikan hanya terdiri dari dua jenis. pengkaji Islam, upaya itu dikenal dengan istilah “tatsbitPertama, ayat fondasional (ushul al-qur’an). Masuk al-tsawabit wa taghyir al-mutaghayyirat”. Dengandalam jenis kategori pertama ini adalah ayat-ayat perkataan lain, kita tak boleh mendogmakan yangyang berbicara tentang tauhid, cinta-kasih, penegakan kontekstual, dan mengkontekstualkan yang tak tetapkeadilan, dukungan terhadap pluralisme, perlindungan (tatsbit al-mutaghayyirat wa taghyir al-tsawabit).terhadap kelompok minoritas serta yang tertindas. Sayaberpendirian bahwa ayat fondasional seperti itu tak Risalah Kenabianboleh disuspendir dan dihapuskan. Meminjam sebuahperibahasa, ayat ushul tak akan lekang oleh panas Umat Islam diperintahkan membaca dua kalimahdan tak lapuk oleh hujan. Ia bersifat abadi dan lintas Syahadat. Syahadat pertama (asyhadu an la ilaha illabatas—batas etnis juga agama. Tak ada agama yang Allah) adalah syahadat primordial. Yaitu janji awal kitadatang kecuali untuk mengusung pokok-pokok ajaran untuk bertuhan hanya kepada Allah Yang Esa, bukanfondasional itu. kepada yang lain, sebagaimana dipaparkan ayat “alastu bi rabbikum qalu bala syahidna”. Sementara syahadatKedua, ayat partikular (fushul al-Qur’an). Ayat al- kedua (wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah)Qur’an yang tergabung dalam jaringan ayat partikular adalah syahadat komunal. Pada syahadat pertama,adalah ayat yang hidup dalam sebuah konteks spesifik. umat Islam dengan umat agama lain bisa berjumpa.Sejumlah pemikir Islam memasukkan ayat jilbab, aurat Sementara, pada syahadat kedua, umat Islam denganperempuan, waris, potong tangan, qisas, ke dalam umat agama lain bisa berpisah. Itu berarti kita takkategori ayat fushul. Tahu bahwa ayat itu bersifat bisa memaksa umat agama lain agar meyakini danpartikular-kontekstual, maka umat Islam seharusnya mengakui kenabian Muhammad SAW dan meyakinitak perlu bersikeras untuk memformalisasikannya detail syariat yang dibawanya. Bagi saya, soal mengakuidalam sebuah perangkat undang-undang. Sebab, yang atau tak mengakui kenabian dan detail syariatdituju dari sanksi-sanksi hukum dalam al-Qur’an Muhammad SAW lebih merupakan soal mereka, danmisalnya adalah untuk menjerakan (zawajir), bukan bukan soal kita (umat Islam).yang lain. Yang menjadi perhatian kita adalah tujuanhukum dan bukan hurufnya [al-‘ibrah bi al-maqashid Namun, ingatlah bahwa Islam adalah agama yangal-syar’iyah la bi al-huruf al-hija’iyyah]. Jika dengan sangat terbuka. Dalam hadits Nabi yang kemudianhukum penjara, tujuan hukum sudah tercapai, maka menjadi dasar penetapan rukun iman, umat Islamkita tak perlu untuk kembali ke bentuk hukum lama. diperintahkan untuk mengimani seluruh nabi-nabi dan utusan Allah. Sejumlah riwayat menuturkan bahwa takKetika belajar kitab fikih di pesantren, saya tahu bahwa kurang dari 124 ribu nabi yang dikirim Allah dan 313bab yang paling jarang dikunjungi para ustadz dan rasul yang diutus ke bumi. Jika tak bisa mengetahuisantri yang mengaji adalah bab tentang hukum pidana seluruh rasul Allah, umat Islam diperintahkan untukIslam (bab al-jinayat). Mungkin para ustadz itu telah mengimani 25 rasul yang nama-namanya sudahmenyadari bahwa sebagian besar hukum pidana Islam tercantum dalam al-Qur’an. Rasulullah diperintahkansudah tak cocok dengan kondisi sekarang. Ormas untuk berkata, “aku bukanlah yang pertama daribesar Islam Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah deretan rasul-rasul Allah” (ma kuntu bid’an min al-pun tak pernah mengusulkan pemberlakuan hukum rusul). Nabi Muhammad hanya salah satu dari ribuanpidana Islam. Mereka tahu bahwa kita sudah hidup di nabi-nabi itu.abad 21. Semangat zaman telah memaksa kita untukmeninggalkan sanksi-sanksi hukum primitif yang Sebagian ajaran yang dibawa Nabi Muhammad adabrutal seperti hukum pancung, dan lain-lain. yang baru, dan sebagiannya yang lain lebih merupakan pengembangan dan modifikasi dari ajaran para nabiKategorisasi ayat seperti itu kiranya bisa membantu sebelumnya. Allah berfirman, “inna hadza lafi al-umat Islam dalam memahami pesan dasar al-Qur’an. shuhuf al-ula shuhuf Ibrahim wa Musa” [sesungguhnyaBahwa dalam al-Qur’an, ada ayat yang tetap-tak pokok-pokok ajaran moral al-Qur’an sudah ada dalamberubah (al-tsawabit) dan ada ayat yang maknanya mushaf-mushaf yang pertama, yaitu Mushaf Nabisangat kontekstual; tidak tetap dan lentur (al- Ibrahim dan Mushaf Nabi Musa]. Jika kita ringkaskan,mutaghayyirat). Yang tetap, kita dogma-statiskan. risalah kenabian yang dibawa Nabi MuhammadSementara, terhadap yang al-mutaghayyirat, kita (mungkin juga para nabi lain) adalah sebagai berikut:dinamisasi dan kontekstualisasikan. Di lingkungan para —3—
    • «Pertama, risalah kenabian adalah risalah tauhid, al-Banna, pemikr Islam dari Mesir, dalam bukunya al-bukan risalah syirik. Semua nabi, termasuk Nabi Jihad mengatakan, anna al-jihad al-yawm laysa huwa anMuhammad, membawa ajaran tauhid. Bahwa Tuhan namuta fi sabilillah wa lakin an nahya fi sabilillah (jihadyang kita sembah adalah Allah Yang Esa. Tetapi, yang hari ini bukan untuk mati di jalan Allah, melainkanproblematik selalu pada tingkat konseptualisasinya. untuk hidup di jalan Allah). Dengan perkataan lain,Yahudi, Kristen, dan Islam berbeda dalam merumuskan jihad adalah tindakan menghidupkan dan bukansoal ke-Esa-an Allah. Di internal Islam sendiri terdapat mematikan. Al-Qur’an menegaskan bahwa barangperbedaan amat tajam antara Mu’tazilah, Asy’ariyah, siapa membunuh satu jiwa sama dengan membunuhjuga Maturidiyah dalam menjelaskan Esanya Allah. semua jiwa. Dan barang siapa menghidupkan satu jiwa,Bahkan, Imam Asy’ari (peletak dasar teologi Sunni) dan sama dengan menghidupkan semua jiwa. Itulah sendiAsya’irah (pengikut Imam Asy’ari) berbeda pandangan ajaran Islam yang menjunjung kemanusiaan. Tuhandalam menjelaskan sifat dan dzat Allah. menciptakan manusia secara berbeda-beda agar mereka saling mengakui dan memahami (li ta’arafu), bukanSaya meyakini bahwa Allah Yang Esa dan Yang untuk saling membasmi.Mutlak tak mungkin dijelaskan oleh manusia yangrelatif. Karena itu, diperlukan kerendah-hatian dari Perbedaan keyakinan dan agama pun bukan alasansetiap manusia untuk tak mengabsolutkan konsep untuk merendahkan kemanusiaan seseorang. Apalagiketuhanannya. Kita mesti belajar untuk tak jadi untuk membunuh. Sebab, soal keyakinan adalah soalmanusia yang menganggap diri selalu benar. Amat individual antara manusia dengan Tuhannya. Danberbahaya sekiranya setiap orang mengklaim bahwa Allah memberi kebebasan penuh bagi manusia untukrumus ketuhanan versi dirinya adalah yang paling memilih suatu agama atau keyakinan. La ikraha fibenar. Itu bukan hanya menunjukkan kepongahan si al-din (tak ada paksaan dalam soal agama). Denganperumus, melainkan juga telah mengecilkan kebesaran demikian, orang yang membunuh umat agama lainAllah yang tak berhingga itu. Definisi manusia tentang hanya karena soal perbedaan agama sesungguhnyaAllah Yang Esa sesungguhnya lebih merupakan fantasi telah melanggar risalah kemanusiaan yang dibawadan imajinasi manusia tentang Yang Esa, dan bukan Nabi Muhammad. Sejarah menunjukkan hubunganYang Esa itu sendiri. Bagi saya, Tuhan Yang Esa harmonis antara Nabi Muhammad dengan para tokohtetaplah Allah yang tak terungkap dan tak terjelaskan agama lain. Mulai dari kebiasaan tukar menukar(kanzan makhfiyan). Gabungan konsep ketuhanan tak hadiah antara Nabi Muhammad dan Muqauqismungkin bisa menembus tirai kegaiban ketuhanan. (raja Iskandariah Mesir) yang Kristen sampai kepada keikutsertaan Mukhairiq (tokoh Yahudi Madinah)Kedua, risalah kenabian adalah risalah kemanusiaan, dalam Perang Uhud bersama Nabi. Bahkan, dalambukan risalah pembantaian. Setiap nabi lahir untuk al-Qur’an ada pengkuan bahwa orang yang palingmenegaskan pentingnya penghargaan terhadap enak dijadikan sebagai sahabat atau teman adalahnilai-nilai kemanusiaan. Salah satu poin dalam orang-orang Nashrani. [wa latajidanna aqrabahumKhutbah Wada’ Nabi Muhammad yang terkenal itu mawaddatan li alladzina amanu alladzina qalu innaadalah penegasannya untuk menghargai manusia. nashara].Ia berkata, inna dima’akum wa amwalakum waa’radlakum haramun ‘alaikum kahurmati yawmikum Ketiga, traktat kenabian adalah traktat etik danhadza wa baladikum hadza wa syahrikum hadza. bukan traktat politik. Said al-Asmawi berkata bahwaTak boleh ada darah yang tumpah serta martabat Allah menghendaki Islam sebagai agama, tapi parayang ternoda. Karena itu, saya tak mengerti jika ada pemeluknyalah yang membelokkannya menjadisekelompok orang yang mengaku sebagai pengikut politik-siyasah [inna Allah arada al-Islam diynan waNabi Muhammad tiba-tiba membantai pengikut arada bihi al-nas an yakuna siyasatan]. Itu sebabnyaNabi Muhammad yang lain. Tak ada alasan jihad tak ada perintah eksplisit dalam al-Qur’an agar Nabifisabilillah dibalik rentetan kekerasan atas nama agama Muhammad mendirikan sebuah negara. Tak ada cetakdi Indonesia. biru pemerintahan dalam Islam. Nabi Muhammad melalui hadits-haditsnya tak juga mengintroduksi jenisJihad disyariatkan untuk merawat kehidupan bukan pemerintahan tertentu. Pengelolaan pemerintahanuntuk menyongsong kematian. Zainuddin al-Malibari Madinah adalah improvisasi politik sementara Nabimenegaskan bahwa membantu sandang, pangan, dan Muhammad ketika pengaturan jenis pemerintahanpapan orang miskin adalah bagian dari jihad. Jamal yang ideal dan efektif belum ditemukan. Sebab, untuk —4—
    • «urusan duniawi, dengan terus terang Nabi Muhammad relevan untuk memecahkan problem masa kini. Kitamengaku ketak-cakapan dirinya. Nabi bersabda, tak mungkin mengcopy pemikiran-pemikiran lampau“antum a’lamu minni bi umuri duniyakum” [engkau yang berlangsung di kawasan Timur Tengah untuklebih tahu tentang urusan duniawi kalian]. diterapkan di Indonesia, tanpa proses kontekstualisasi bahkan modifikasi. Yang bisa kita lakukan adalahDengan demikian, berdirinya negara Indonesia menangkap spiritnya dan tak melulu memperhatikanyang berjangkar pada Pancasila dan UUD 1945 tak teksnya.bertentangan dengan risalah kenabian. Indonesiamemang tak dirancang sebagai negara Islam. Tapi, Karya para ulama klasik bukan wahyu, melainkan tafsirbukankah di negara ini, umat Islam bebas menjalankan atas wahyu. Ia merupakan produk ijtihad. Persoalanajaran agama Islam. Tak pernah ada halangan bagi siapa yang merumuskannya, untuk kepentingan apa,umat Islam untuk melaksanakan syariat Islam. dalam kondisi sosial yang bagaimana dirumuskan,Umat Islam boleh melaksanakan shalat; dimana saja, serta lokus geografis seperti apa, dengan epistemologikapan saja, dan berapa saja. Mau puasa sepanjang apa akan cukup besar pengaruhnya dalam prosesmasa, tak dilarang. Umrah berkali-kali juga boleh. pembentukan sebuah karya. Karena itu seharusnyaMemakai jilbab, berjenggot lebat, bercelana di atas kita meletakkan sebuah pemikiran dalam susunantumit, pun tak ada hambatan. Kebebasan umat Islam konfigurasinya saat pemikiran itu diproduksi didalam menjalankan ajaran agama bahkan tafsir-tafsir satu sisi, dan dalam konteks epistemologisnya di sisikeagamaan ini menyebabkan tak dibutuhkannya upaya lain. Mengetahui konteks-konteks tersebut bukanformalisasi syariat Islam. Memformalisasikan ajaran hanya penting bagi pengayaan pengetahuan sejarahyang sudah hidup dan lama terpraktekkan dalam sosial suatu pemikiran, melainkan juga bergunamasyarakat adalah buang-buang energi dan tindakan untuk kebutuhan kontekstualisasi pemikiran lamasia-sia. atau bahkan penyusunan pemikiran keislaman baru, yaitu jenis pemikiran yang bertumpu pada problem-Sikap terhadap Karya Lampau problem kemanusiaan dan kondisi obyektif masyarakat Indonesia.Umat Islam selalu menunjukkan keterkaitannyapada masa lalu. Tumpukan kitab kuning peninggalan Kedua, kita mesti memilah-milih antara teksintelektual ulama terdahulu tak susut bahkan makin yang relevan dan yang tak relevan. Kita tak bisameninggi di lembaga-lembaga pendidikan Islam mengawetkan tafsir-tafsir lama yang cenderungIndonesia. Pesantren sebagai lembaga tafaqquh fi al-din menistakan perempuan dan umat agama lain. Kitadi Indonesia intensif mengajarkan, juga mendiskusikan, tak mungkin mempertahankan pandangan ulamahasil karya para ulama salaf. Kreasi intelektual para yang melarang perempuan menjadi pejabat publikulama klasik itu telah menjadi sokoguru intelektual atau menghalalkan penumpahan darah umat agamaulama Indonesia, dari dulu hingga sekarang. Bahkan, lain. Tafsir yang demikian tak boleh mendominasikeulamaan seseorang belakangan amat ditentukan percakapan intelektual kita hari ini. Betapunapakah yang bersangkutan memiliki kemampuan canggihnya sebuah pemikiran jika berujung padamengakses kitab kuning atau tidak. Secara berseloroh, tindak kekerasan, maka ia batal dengan sendirinya.sebagian teman berkata; sekiranya di rak buku Karena itu, sekiranya mungkin, kita perlu mencariseseorang kita temukan jejeran kitab kuning, maka tafsir lama lain yang lebih mengapresiasi perempuanpastilah ia seorang ulama. Sebaliknya, jika lemari buku dan menghargai umat lain. Jika tak mungkin,seseorang penuh dengan “kitab putih”, maka yang kita seharusnya memproduksi tafsir baru yangbersangkutan tak mungkin disebut ulama. memanusiakan kaum perempuan dan menghargai umat non-Muslim.Pertanyaannya, bagaimana seharusnya kitamemperlakukan khazanah keislaman klasik itu? Sementara pandangan lama yang masih relevan danPertama-tama, mestilah disadari bahwa sebuah karya masih bisa kita resepsi untuk memuluskan jalan bagiintelektual tak lahir dari ruang kosong. Ia muncul dialog dan kerja sama agama-agama di Indonesia didari sebuah konteks. Konteks keindonesiaan kita hari antaranya adalah pandangan Muhyiddin Ibn Arabi.ini tak sama dengan konteks ketika karya ulama salaf Ketika para ahli fikih bersilang-sengketa mengenaiitu disusun. Karena itu, tak bijaksana kalau kita terus kedudukan non-Muslim di negeri mayoritas Muslim,memobilisasi pandangan keislaman lama yang tak Ibn Arabi melangkah jauh dengan mengintroduksi —5—
    • «agama cinta. Perbedaan-perbedaan di ranah eksoterik tafsir kebencian dan menghalalkan kekerasan akanfikih ini luluh dalam agama cinta Ibn Arabi. Salah satu turut memerosokkan reputasi agama itu.deretan bait puisinya adalah: Islam telah berumur 1500-an tahun. Ia akan tetap abadi dan diminati sekiranya ditopang dengan tafsir- Aku pernah menyangkal sahabatku tafsir keislaman yang pro-perdamaian, bukan pro- karena agamaku tak sama dengan agamanya kekerasan. Tafsir-tafsir lama yang pro-kekerasan dan tak (Kini) hatiku telah terbuka menghargai nilai-nilai kemanusiaan tak mungkin kita Menerima semua bentuk (agama) lestarikan. Namun, tafsir-tafsir terdahulu yang pro- Padang rumput bagi rusa, perdamaian pastilah akan tetap berguna buat tegaknya Rumah untuk berhala-berhala Islam yang ramahtan lil alamin. Terhadap karya ulama Gereja bagi para pendeta, terdahulu yang pro-pluralisme dan perdamaian, berlaku Ka`bah untuk orang tawaf kaidah, ”al-Muhafadlah ’ala al-qadim al-shalih wa al- Papan-papan Taurat alkhdzu bi al-jadid al-ashlah” [memelihara yang lama Lembar-lembar Qur’an yang masih maslahat dan mengambil yang baru yang Aku mereguk agama cinta lebih maslahat]. Kemana pun dia menuju Cinta kepada-Nya Posisi Akal adalah agama dan keyakinanku Ajaran Islam tak ditujukan kepada anak-anak,Lewat tasawwuf-falsafinya, Ibn Arab membuka tirai melainkan kepada manusia dewasa yang memilikidan menghapus sekat di antara para pemeluk agama kemampuan rasional utuh. Dengan akalnya manusiayang berbeda. Sebagaimana Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi bisa menentukan yang baik dan yang tidak. Jalaluddinmenyuarakan pendapat serupa. Bahwa visi pokok Rumi dalam Matsnawi pernah berkata, “Wahaiajaran agama adalah cinta dan kasih. Kerap diceritakan saudara, engkau adalah pikiran itu sendiri, dirimubahwa di antara murid-murid Rumi terdapat orang- selebihnya bukanlah apa-apa kecuali otot dan tulang”.orang Nashrani dan Yahudi. Apa yang dirintis Ibn Menurut Ibnu Bajjah, berfikir adalah fungsi tertinggiArabi dan dilakukan Rumi adalah jalan untuk manusia. Berfikir akan mengantarkan manusiamenampilkan keramahan agama. Itu senafas dengan berjumpa dengan Tuhan sebagai Sang Akal Aktif. Ibnuteks agama yang menggambarkan ketak-terbatasan Thufail dalam novel filsafatnya, Hayy ibn Yaqzhan,rahmat dan kasing sayang Allah. Teks itu berbunyi, mengisahkan seorang anak yang dibuang ke pulang”wa rahmati wasi’at kulla sya’in” [sesungguhnya kasih kosong. Ia diasuh hewan dan dididik alam. Di tengahsayang-Ku melampaui semua hal]. rimba itu, dengan akalnya yang masih berfungsi, ia bisa berfilsafat dan berteologi, dan akhirnya bisa menyatuIntroduksi agama cinta di saat kekerasan datang dengan Tuhan. Apa yang dikatakan para filosof itubertubi-tubi adalah oasis. Kita ingin mengembalikan paralel dengan apa yang ditegaskan al-Qur’an. BahwaIslam kepada semangat dan khittah awalnya sebagai Allah telah mengilhamkan kepada manusia suatuagama cinta bukan agama prasangka. Agama yang kemampuan untuk membedakan antara yang baik danterus-menerus dikampanyekan dengan jalan teror dan yang buruk [faalhamaha fujuraha wa taqwaha].kekerasan akan kehilangan simpati dari pemeluk agamaitu, apalagi dari orang lain. Sementara agama yang Akal yang dimiliki manusia merupakan anugerahdireklamekan dengan cinta, maka ia akan mengundang Allah paling berharga. Ia tak hanya berguna untukselera. mencapai pemahaman yang mendalam tentang yang baik dan yang buruk, tapi juga untuk menafsirkanSejarah agama-agama menunjukkan perihal naik dan kitab suci. Tanpa akal, kitab suci tak mungkin bisaturunnya pamor satu agama. Bahkan, ada agama yang dipahami. Menurut Ibn Rushd, dalam agama, akaltelah ribuan tahun hidup kemudian sirna ilang kerta berfungsi untuk menakwilkan kitab suci ketika teksning bumi. Pasti ada banyak faktor kenapa agama- kitab suci tak bisa dikunyah akal sehat. Sebuah haditsagama itu tak lagi diminati dan tak dipilih masyarakat. menyebutkan, “al-din aql la dina li man la aqla lahu”Di samping karena ketidak-mampuan agama untuk [agama itu adalah akal, tak ada agama bagi orangberadaptasi dan bernegosiasi dengan lingkungan sosial yang tak berakal]. Maka benar ketika para ulamabaru, faktor para juru kampanye yang suka menebar menyepakati bahwa kebebasan berfikir (hifdzl al-‘aql) —6—
    • «termasuk salah satu pokok ajaran Islam (maqashid dan menyeleksi hukum dalam Islam, yang dikenalal-syariah). Dengan demikian seharusnya Islam lekat dengan takhsish bi al-a’ql, taqyid bi al-aql, tabyin bi al-dengan kebebasan berfikir. Imam Syafii konon pernah ‘aql. Akal diberi otoritas untuk menjelaskan ajaran yangditanya salah seorang muridnya tentang tafsir agama samar, membatasi keberlakuan hukum yang terlampauyang bertentangaan dengan akal, maka Imam Syafii umum, mengeksplisitkan sesuatu yang tersembunyimemerintahkan untuk mengikuti petunjuk akal, karena (implisit) dalam wahyu.akal punya kemampuan untuk menangkap kebenaran. Dengan demikian, wahyu dan akal mestinya salingProblemnya, kita menghadapi fenomena dan mempersyaratkan. Yang satu tak menegasi yangkecenderungan untuk mendisfungsikan peran dan lain bahkan saling mengafirmasi. Akal akan turutkemampuan akal. Fenomena ini bisa dilihat dari memperkaya wawasan etik wahyu. Sementaradua hal. Pertama, bermunculannya berbagai fatwa wahyu potensial mengafirmasi temuan kebenarankeagamaan yang membingungkan umat menunjukkan dari akal. Akal merupakan subyek yang aktif dalambetapa tak berfungsinya akal. Mulai dari haramnya mendinamisasikan gugusan ide-ide ketuhanan dalamperempuan menyetir mobil, legalisasi perbudakan wahyu. Sementara wahyu adalah tambang yang bisaperempuan, hingga tak dibolehkannya rebonding. digali terus-menerus oleh akal manusia. DenganDalam kasus-kasus seperti ini, akal tak dilibatkan perangkat akal yang dimilikinya, manusia kemudiandalam pengambilan keputusan hukum. Menurut tak hanya berfungsi sebagai hamba Allah (‘abdullah)mereka, manusia yang hanya mengandalkan akal melainkan juga sebagai khalifah Allah di bumi.sembari mengabaikan petunjuk tekstual-skripturalwahyu tak akan menjadi manusia yang baik. Sonder Kalau kita percaya pada kisah purba agama, begitupetunjuk abjad dan titik koma wahyu, tindakan pentingnya kedudukan manusia sebagai makhlukmanusia menjadi tak terkontrol, hidup permisif, yang berakal budi di sisi Allah, sampai-sampai Allahsehingga yang akan muncul adalah sejumlah kekacauan tak mempedulikan sejumlah kritik para malaikat yangdan kesemrautan di tengah masyarakat. menolak penciptaan manusia. Allah mengacuhkan keberatan malaikat atas diciptakannya Adam. AllahKedua, pada saat yang bersamaan, diciptakanlah tetap menciptakan manusia bahkan memikulkansejumlah lembaga keagamaan yang berfungsi untuk amanat kepadanya. Kepercayaan Allah dan pemberianmenghukum orang-orang yang dianggap menggunakan amanat kepada manusia ini bukan tanpa alasan.akal secara overdosis. Institusi ini diberi kewenangan Sekiranya wahyu Allah tak sampai kepada sekelompokmemvonis bahwa seseorang telah menyimpang atau manusia, maka Allah telah menyiapkan piranti lunakkeluar dari Islam. Sejumlah intelelektual Muslim berupa nurani dan akal budi yang berfungsi sebagaimendapatkan vonis sesat-menyesatkan dan kafir suluh penerang dan penunjuk jalan. Allah tak akandari lembaga-lembaga tersebut. Ujungnya adalah membebankan kewajiban syariat dan memberikan hakpenghalalan darah yang bersangkutan. Naif, jika kepada manusia jika manusia hanya berupa daging,di negeri-negeri lain orang berlomba-lomba untuk tulang, dan darah. Dengan nurani dan akal budi yangmenggunakan akal pikiran, maka di negeri-negeri melekat pada dirinya, maka manusia pantas memilikulMuslim, orang-orang masih berlomba untuk amanat dari Tuhannya.[]mengkafirkan mereka yang menggunakan pikiran.Ramainya pengafiran disaat orang lain menggunakan Jakarta, 8 Juli 2011pikirannya tampaknya mendorong Nashr Hamid AbuZaid untuk menulis buku al-Tafkir fi Zaman al-Takfir.Banyak orang yang kini tak berani menggunakan Sumber Bacaanakal pikiran ketika berhadapan dengan pemikiran Abd Moqsith Ghazali, Argumen Pluralisme Agama, Jakarta: KataKita, 2009.keagamaan. Padahal, wahyu al-Qur’an terus menantang —————(ed.), Ijtihad Islam Liberal, Jakarta: Jaringan Islam Liberal (JIL):manusia untuk mendayagukanakan akalnya dengan 2006berbagai jenis ungkapan seperti afala ta’qilun (apakah Abi Ishaq al-Syathibi, al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari’at, Beirut: Dar al-Kutubkalian tidak berfikir), afala tatadabbarun (apakah kalian al-Ilmiyah, 2005.tidak merenung), afala yandhurun (apakah mereka Fazlur Rahman, Islam, Bandung: Pustaka, 2000.tidak melihat dengan seksama), dan lain-lain. Dalam Goenawan Mohamad, Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai, Jakarta: KataKita,ushul fikih, akal diberi kesempatan untuk mensortir 2007. —7—
    • «Ibn Arabi, Dzaha’ir al-A’laq: Syarh Tarjuman al-Asywaq, Kairo: Tanpa penerbit,Tanpa Tahun.Ibn Hisyam, al-Sirah al-nabawiyah, Beirut-Libanon: Dar al-Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1997.Ibn Rushd, Fashl al-Maqal Fima Bayna al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittishal, Mesir: Dar al-Ma’arif, Tanpa Tahun.Ibn Thufail, Hayy ibn Yaqzhan, Beirut: Dar al-Fikr, Tanpa Tahun.Jamal al-Banna, al-Jihad, Kairo: Dar al-Fikr al-Islami, Tanpa Tahun.—————, al-Ta’addudiyah fi Mujtama’ Islami, Kairo: Dar al-Fikr al-Islami,Tanpa Tahun.Jawdat Said, La Ikraha fi al-Din, Damaskus: al-‘Ilm wa al-Salam li al-Diarasatwa al-Nashr, 1997.Najmuddin al-Thufi, Syarh Mukhtashar al-Rawdhah, Kairo:Mathabi’ al-Syarqal-Awshath, 1989.Nashr Hamid Abu Zaid, al-Tafkir fi Zaman al-Takfir, Kairo: Dar al-Kutub, TanpaTahun.Sachiko Murata & William C. Chittik, The Vision of Islam, Yogyakarta: SuluhPress, 2005.Said al-Asymawi, al-Islam al-Siyasi, Kairo: Siyna li al-Nasyr, 1992.Syatha al-Dimyathi, I’anah al-Thalibbin, Semarang: Thaha Putera, TanpaTahun. —8—
    • « 19/06/2011 Kritik atas Wahabisme Oleh Abdul Moqsith Ghazali .... di lingkungan keluarga Wahabi, perempuan sejak dulu diposisikan sebagai obyek (munfa’il atau maf ’ul) dan tak pernah dianggap sebagai subyek (fa’il). Ketika laki-laki tak bisa mengendalikan hawa nafsu, maka tubuh perempuanlah yang mesti ditutup rapat. Batas-batas aurat perempuan dibuat sangat kaku dan seakan sengaja diciptakan untuk menyengsarakan perempuan. Ruang gerak perempuan terus dibatasi. Perempuan tak boleh memegang jabatan publik, sebagai hakim apalagi kepala negara. Sampai sekarang taraf pendidikan kaum perempuan masih jauh di bawah laki-laki. Tak ada ulama perempuan yang lahir dari lingkungan Wahabi. Padahal, jelas istri-istri Nabi adalah perempuan-perempuan yang tangguh dan mandiri. Jika Khadijah tangguh secara ekonomi, maka Aisyah mumpuni secara intelektual bahkan cakap memimpin pasukan di medan pertempuran.W ahabisme makin gencar mengkampanyekan Wahabi justru menjadikan ayat ini sebagai argumen doktrin dan ajarannya ke masyarakat Islam. untuk memusyrikkan umat Islam yang bertawassulTak hanya di kawasan Timur Tengah, Wahabisme coba dan ziarah kubur. Dan karena orang Islam non-merambah negeri-negeri lain. Dengan topangan dana Wahabi telah musyrik, maka orang Wahabi merasakampanye yang cukup, Wahabisme mulai tumbuh berkewajiban untuk mengembalikan mereka ke dalamdi negara-negara kawasan Asia Tenggara termasuk doktrin ajaran Islam seperti yang mereka pahami.di Indonesia. Ada yang setuju, tapi tak sedikit umatIslam yang mengajukan keberatan terhadap doktrin Jika umat Islam non-Wahabi tak segera bertobat ataudan fatwa para ulama Wahabi. Bahkan, penolakan tak enggan diajak kembali kepada “ajaran Islam yanghanya pada doktrin Wahabisme, melainkan juga pada benar” (al-ruju’ ila al-haq), maka orang-orang Wahabicara orang Wahabi menyebarkan ideologinnya. tak ragu untuk melenyapkan nyawa mereka. Itu sebabnya orang Wahabi kerap terlibat dalam tindakSejumlah orang mengkritik Wahabisme, karena kekerasan dengan menyerang orang Islam lain. Sejarahbeberapa hal. Pertama, dalam mendakwahkan telah menunjukkan sejumlah keonaran orang-orangdoktrinnya, orang-orang Wahabi terlalu banyak Wahabi, dari awal kelahirannya hingga sekarang.menyerang ke dalam, ke sesama umat Islam. Terhadap Mereka tak hanya mengobrak-abrik orang-orangorang-orang Islam non Wahabi, mereka bersikap Syiah, melainkan juga para pengikut Sunni yang telahasyidda’u ‘ala al-muslimin. Tak puas dengan jenis dianggap menyimpang dari ajaran Islam atau yangkeislaman yang berkembang di lingkungan umat Islam dipandang telah terperangkap dalam kemusyrikan.non-Wahabi, mereka hendak mengislamkan kembaliorang-orang Islam. Bagi mereka, orang Islam non- Teologi pemusyrikan orang Islam lain tampaknya telahWahabi telah terjatuh ke dalam kemusyrikan sehingga lama menggelayuti pikiran orang Wahabi. Pemusyrikanperlu segera diselamatkan. seperti ini terus terang akan mengguncang hubungan sesama umat Islam. Yang satu mencaci maki yang lain.Dengan merujuk pada al-Qur’an, sebagaimana Akhirnya konflik dan ketegangan di internal umatumat Islam pada umumnya, orang-orang Wahabi Islam menjadi tak terhindarkan. Ini jelas tak produktifmemandang dosa syirik sebagai dosa tak terampuni. buat kepentingan (umat) Islam secara keseluruhan.Allah berfirman, inna Allah la yaghfiru an yusyraka Energi umat Islam akan terkuras habis karena problem-bihi wa yaghfiru ma duna dzalika liman yasya’u problem domestik umat Islam.[sesungguhnya Allah tak akan mengampuni dosa orangyang menyekutukan-Nya dan hanya mengampuni dosa Kedua, ijtihad orang-orang Wahabi hanya berputarselain syirik]. Jika kebanyakan umat Islam menjadikan di perkara-perkara receh yang partikular. Merekaayat ini sebagai dasar untuk memusyrikkan orang- berijtihad dalam soal-soal kecil seperti tentang hukumorang yang menyembah patung-berhala, maka orang perempuan menyetir mobil, hukum memelihara —9—
    • «jenggot, hukum ziarah kubur, hukum bertawassul, separuhnya adalah manusia dan separuhnya yanghukum menggunakan tasbih dalam berdzikir. Ulama lain adalah setan yang mengganggu keimananWahabi mungkin menyangka bahwa ziarah kubur, laki-laki. Cara pandang demikian menyebabkanbercelana di atas tumit, dan bertawassul adalah masalah orang-orang Wahabi punya kecenderungan untukpokok. Padahal jelas soal-soal seperti ini masuk ke memarginalisasikan perempuan. Dehumanisasidalam kategori masa’il khilafiyah yang tak akan pernah terhadap perempuan berlangsung di berbagai sisiberhasil disepakati oleh seluruh umat Islam. kehidupan.Sekarang adalah saat yang tepat bagi orang-orang Betapa perempuan tak boleh dilibatkan dalamWahabi untuk berfikir atau berijtihad tentang soal- pengambilan keputusan, tak hanya di ruang publiksoal kemasyarakatan yang lebih penting. Untuk melainkan juga di ruang domestik seperti keluarga.kepentingan berijtihad ini, orang-orang Wahabi mesti Perempuan atau istri tak boleh mencari nafkah walaumemiliki cadangan ulama yang kridibel dan memenuhi untuk menanggulangi beban perekonomian keluargastandar-kualifikasi sebagai mujtahid. Orang-orang yang tak mungkin lagi bisa diatasi oleh para suami.Wahabi tak boleh terus-menerus bertaqlid pada para Dalam konteks Indonesia misalnya, beratnya bebanpendahulunya, seperti Muhammad ibn Abdil Wahab. ekonomi keluarga menyebabkan seluruh anggotaAtau hanya sekedar mengutip pendapat-pendapat fikih keluarga tak terkecuali istri tumpah ruah bergerak keAhmad ibn Hanbal, Ibnu Taymiyah, dan Ibnu al- luar rumah untuk mengais rezeki. Saya kira karena itu,Qayyim al-Jauziyah. di antaranya, tafsir-tafsir Wahabi mengenai domestikasi perempuan tak cukup diminati umat Islam Indonesia.Bahkan, sekiranya orang Wahabi ingin konsistenmengikuti metodologi Imam Ahmad ibn Hanbal Sementara di lingkungan keluarga Wahabi, perempuanpun, buku-buku ushul fikih Hanabilah yang lebih sejak dulu diposisikan sebagai obyek (munfa’il ataubelakangan boleh dipertimbangkan sebagai rujukan maf ’ul) dan tak pernah dianggap sebagai subyek (fa’il).untuk mendinamisasi hukum Islam di lingkungan Ketika laki-laki tak bisa mengendalikan hawa nafsu,kelompok Wahabi. Najmuddin Sulaiman ibn Abdul maka tubuh perempuanlah yang mesti ditutup rapat.Qawi al-Thufi al-Hanbali misalnya menulis buku Syarh Batas-batas aurat perempuan dibuat sangat kaku danMukhtashar al-Rawdlah. Ibn Qudamah menulis buku seakan sengaja diciptakan untuk menyengsarakanRawdhah al-Nazhir wa Jannah al-Munazhir. Ibnu perempuan. Ruang gerak perempuan terus dibatasi.al-Qayyim al-Jawziyah pun tak boleh hanya dibaca Perempuan tak boleh memegang jabatan publik,melalui kitab-kitab fikih yang berhasil ditulisnya, sebagai hakim apalagi kepala negara. Sampai sekarangmelainkan juga melalui kitab-kitab ushul fikihnya taraf pendidikan kaum perempuan masih jauh diseperti I’lam al-Muwaqqi’in. bawah laki-laki. Tak ada ulama perempuan yang lahir dari lingkungan Wahabi. Padahal, jelas istri-istri NabiInilah saya kira salah satu cara untuk mendinamisasi adalah perempuan-perempuan yang tangguh danaktivitas ijtihad di lingkungan kelompok Wahabi mandiri. Jika Khadijah tangguh secara ekonomi, makasetelah sekian lama terkurung dalam ijtihad tentang Aisyah mumpuni secara intelektual bahkan cakapperkara-perkara remeh temeh dalam Islam. Dengan memimpin pasukan di medan pertempuran.perkataan lain, itu merupakan jalan yang mestiditempuh kelompok Wahabi agar terhindar dari Dalam kaitan itu, di lingkungan Wahabi kiranyakecenderungan taqlid buta terhadap argumen-argumen perlu digerakkan semangat untuk memartabatkanlama. Sebab, sungguh aneh, kelompok Wahabi dan memanusiakan perempuan. Tak zamannya lagi,menolak tradisi bermadzhab atau bertaqlid, sementara perempuan hanya disembunyikan di ruang-ruangpada saat yang bersamaan mereka melakukan hal tertutup. Sebagaimana telah diteladankan puteri-yang sama; dengan bertaqlid kepada Muhammad ibn puteri dan isteri-isteri Nabi Muhammad, perempuanAbdil Wahab. Kita memerlukan ulama Wahabi yang mesti tampil sebagai penggerak ekonomi-sosial danpemikiran-pemikirannya bisa melampaui pemikiran moral-intelektual di tengah masyarakat. Dengan caraMuhammad ibn Abdil Wahab. itu, kehadiran Wahabi niscaya tak dirasakan sebagai ancaman bagi perempuan dan umat Islam lain,Ketiga, kelompok Wahabi cenderung tak melainkan justru sebagai rahmat lil alamin. Wallahumemanusiakan kaum perempuan. Perempuan A’lam bis Shawab.selalu saja dianggap sebagai manusia tak sempurna; — 10 —
    • « 03/05/2011Menahan Laju Negara Islam Indonesia Oleh Abdul Moqsith Ghazali Dimuat di Media Indonesia, 2 Mei 2011 ..... terang perbedaan kapasitas intelektual antara Kartosuwirjo di satu pihak dan Maududi- Sayyid Quthb di pihak lain. Kartosoewirjo tak mengkriya karya-karya intelektual yang menjelaskan landasan pokok dan kerangka konsepstual NII. Sejauh pengetahuan saya, Kartosoewirjo tak mensistematisasikan pemikiran politiknya dalam buku utuh. Ketiadan rujukan ideologis dari sang proklamator NII ini menyebabkan para pelanjut gerakan NII seperti ayam kehilangan induk. Tak ada tokoh kedua apalagi ketiga yang berperan penting setelah Kartosoewirjo laksana Sayyid Quthb setelah Hasan al-Banna.K artosoewirjo memiliki kesamaan dengan Hasan yang keliru, NII. Apa hendak dikata, anak-anak itu tak al-Banna, Sayyid Quthb, dan Maududi hanya fokus pada kuliah, tapi pada NII. Prestasi akademikdalam proses kematiannya. Mereka mati karena mereka menurun drastis, sementara NII yang merekadibunuh. Pada tanggal 12 Pebruari 1949, Hasan al- perjuangkan tak realistis.Banna dibunuh oleh oleh polisi rahasia Mesir. Padatahun 1966, Sayyid Quthb dibunuh dengan tuduhan Dikisahkan, ketika menjadi anggota NII, mereka takmakar terhadap pemerintah Mesir. Hal yang sama hanya diminta melepaskan diri secara ideologis daridialami Kartosoewrijo. Pengadilan Mahadper, 16 jenis keislaman mainstream di Indonesia, melainkanAgustur l962, memutuskan bahwa Kartosoewirjo telah juga memisahkan diri secara politis dari Negaramakar terhadap NKRI. Atas dasar itu, Kartosoewirjo Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika orangdihukum mati. Islam non-NII dianggap murtad dan kafir, maka NKRI dengan Pancasila dan UUD 1945nya dianggap negaraNII (Negara Islam Indonesia) membuat ulah. Ia makin sekuler yang harus dijauhi. “Indonesia adalah negaraagresif merekrut anggota baru. Beberapa mahasiswa di kafir yang bertentangan dengan konsep negara dalamMalang, Yogyakarta, Lampung, dan Jakarta dinyatakan Islam”, tandas mereka. Bagi mereka, tak ada cara lainhilang, diculik aparatur NII. Para mahasiswa dan untuk memperbaiki sejumlah “penyimpangan” itupelajar Islam yang minim pemahaman keislamannya kecuali dengan menjadikan al-Qur’an dan Hadits Sahihditarik masuk ke dalam NII. Melalui media massa, sebagai hukum tertinggi negara, dan NII (Negara Islamkita disuguhi informasi perihal proses indoktrinasi dan Indonesia) sebagai bingkai kenegaraannya.ideologisasi kepada anggota baru NII. Setelah dibai’atsebagai anggota, mereka pun disebar ke masyarakat Kartosoewirjo dan NIIuntuk mencari dana. Para mantan anggota NII yangdiwawancara televisi mengisahkan tentang seringnya NII tak bisa dipisahkan dari Sekarmadji Maridjanmenipu orang tua untuk memperoleh dana. Mereka (SM) Kartosoewirjo. Ia yang memproklmasikandiwajibkan membayar iuran bulanan untuk mengisi berdirinya Negara Islam Indonesia (NII), pada 7lumbung keuangan NII. Agustus 1949/ 12 Syawal 1368 H, di Tasikmalaya Jawa Barat. Kartosoewirjo menghendaki berdirinya NIIKondisi ini menimbulkan keprihatinan dan kerisauan berdasarkan al-Qur’an, bukan NKRI yang berasaskandi kalangan masyarakat. Banyak orang tua histeris Pancasila. NII dalam proklamasinya menegaskankarena anak-anak mereka masuk NII. Orang tua tak bahwa hukum yang berlaku adalah hukum Islam.hanya merugi secara material karena tertipu, melainkan Dalam Qanun Asasy NII disebut, “NII adalah negarajuga defisit secara immaterial karena anak-anak yang karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada bangsamenjadi tumpuan harapan mereka terancam putus Indonesia. Sifat negara itu jumhuriyah (republik)sekolah atau kuliah. Anak-anak mereka yang bersekolah dengan sistem pemerintahan federal”.di sejumlah perguruan tinggi seperti UI, UGM, UIN,dan lain-lain ternyata jatuh pada pola pengasuhan Namun, tak terlampau jelas apa argumen ‘aqli — 11 —
    • «(rasional) dan naqli (normatif-doktrinal) dari negara Qur’an). Sedangkan Maududi dikenal sebagai oratorrepublik dengan sistem federal tersebut. Kita tak ulung dan penulis yang produktif terutama di bidangmenemukan elaborasi spesifik dari Kartosoewirjo pemikiran politik Islam. Ia menulis buku, di antaranya,berdasarkan perspektif al-Qur’an dan Hadits mengenai “Teori Politik Islam”, “Hukum Islam dan Caranegara republik itu. Ini penting dijelaskan. Sebab, pelaksanaannya”, “Prinsip-Prinsip Dasar bagi Negarasemua pelajar Islam tahu, negara Madinah yang Islam”, Hak-Hak Golongan Dzimmi dalam Negaradidirikan Nabi Muhammad bukan negara republik. Islam”, “Kodifikasi Konstitusi Islam”.Bahkan, menurut Muhammad Husain Haikal (1888-1956), Nabi Muhammad tak pernah menentukan dasar Dari sini terang perbedaan kapasitas intelektual antarasistem pemerintahan yang detail. Apalagi, menurut Kartosuwirjo di satu pihak dan Maududi-Sayyid QuthbAli Abdur Raziq (1888-1966 M.), Nabi Muhammad di pihak lain. Kartosoewirjo tak mengkriya karya-adalah seorang nabi, dan bukan kepala negara. karya intelektual yang menjelaskan landasan pokok dan kerangka konsepstual NII. Sejauh pengetahuanBegitu juga, sama problematisnya ketika disebut saya, Kartosoewirjo tak mensistematisasikan pemikiranhukum Islam dalam NII. Pertanyaannya adalah; jenis politiknya dalam buku utuh. Ketiadan rujukanhukum Islam seperti apa yang hendak diterapkan ideologis dari sang proklamator NII ini menyebabkanNII. Ini tak pernah kita temukan jawabnya dari para pelanjut gerakan NII seperti ayam kehilanganNII. Misalnya, apa yang disebut hukum Islam dan induk. Tak ada tokoh kedua apalagi ketiga yangbagaimana batas-batasnya. Bagaimana cara memahami berperan penting setelah Kartosoewirjo laksana Sayyidayat-ayat hukum dalam al-Qur’an. Kita tak pernah Quthb setelah Hasan al-Banna.mendapatkan keterangan dari NII mengenai detail-detail hukum dalam al-Qur’an dan Hadits. Kartosoewirjo memiliki kesamaan dengan Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, dan Maududi hanya dalamKetidakjelasan konsep dan argumen NII ini bisa proses kematiannya. Mereka mati karena dibunuh.dipahami karena, salah satunya, Kartosoewirjo sendiri Pada tanggal 12 Pebruari 1949, Hasan al-Bannatak dikenal sebagai pemikir politik Islam. Ia tak dibunuh oleh oleh polisi rahasia Mesir. Pada tahunmemiliki landasan ideologi yang kuat. Kartosoewirjo 1966, Sayyid Quthb dibunuh dengan tuduhan makartak kesohor sebagai ulama sebagaimana KH Hasyim terhadap pemerintah Mesir. Hal yang sama dialamiAsy’ari, KH Ahmad Dahlan, H. Agus Salim, dan lain- Kartosoewrijo. Pengadilan Mahadper, 16 Agusturlain. Ada yang berpendapat, Kartosoewirjo memiliki l962, memutuskan bahwa Kartosoewirjo telah makarpengetahuan keislaman yang minim. Ia hanya belajar terhadap NKRI. Atas dasar itu, Kartosoewirjo dihukumIslam secara otodidak. Menurut sebagian pengamat, mati.ilmu keislaman Soekarno relatif lebih baik ketimbangKartosoewirjo. Dengan kondisi ilmu keislaman seperti Tawaran Solusiini, ia tak akan memiliki argumen teologis yang cukupuntuk melawan gempuran tokoh-tokoh Islam lain yang Semenjak dideklarasikannya hingga sekarang, NII kianmenolak NII. Tak pelak lagi, NII dapat dengan mudah kehilangan relevansi. Alih-alih mendapatkan dukunganbisa dipatahkan, secara politis dan intelektual. dari umat Islam, NII justru menuai sejumlah kritik dan kecaman. NII gagal mendapatkan dukungan danInilah sebabnya kenapa NII tak pernah besar, seperti simpati umat Islam Indonesia. Bahkan, karena ulahpernah besarnya Ikhwan al-Muslimin di Mesir. Ikhwan dan tindakannya akhir-akhir ini, keberadaan NIIal-Muslimin memiliki tokoh intelektual seperti Hasan dianggap telah meresahkan masyarakat dan umat Islam.al-Banna (1906-1949) dan Sayyid Quthb (1906- Perilaku para anggota NII dalam menjalankan agenda1966 M.). Abul A’la al-Maududi (1903-1970) yang politik ekonominya tak mencerminkan akhlak Islammengkampanyekan berdirinya negara Islam adalah yang kuat. Kesukaan anggota NII yang menghalalkantokoh dan pemikir politik Islam yang disegani. Tokoh- segala cara untuk memperoleh uang jelas bertentangantokoh ini memiliki sejumlah buku monumental yang dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, menurutmenjadi referensi utama para pendukung negara sebagai tokoh Islam, mereka sebenarnya tak pantasIslam. Quthb misalnya menulis buku, mulai dari soal mengatasnamakan Islam.sistem politik Islam seperti al-‘Adalah al-Ijtima’iyah fial-Islam (Keadilan Sosial dalam Islam) hingga tafsir Dalam konteks itu, saya mengusulkan beberapaal-Qur’an Fi Zhilal al-Qur’an (Dalam Bayangan al- cara untuk mengatasi soal NII. Pertama, jika terkait — 12 —
    • «dengan soal penipuan, maka tindaklah para pelakunyamelalui hukum pidana yang berlaku. Hukum harustegak terhadap mereka, sekalipun mereka menipudengan alasan al-Qur’an dan al-Hadits. Namun, aparatpenegak hukum mesti bisa membedakan; mana yangmenjadi korban NII dan mana yang menjadi aparaturNII yang menyuruh bawahannya untuk menipu.DSaya kira, para mahasiswa yang ditarik NII untukmengumpulkan uang adalah korban belaka dari NII.Mereka bukan aktor utama.Kedua, jika berhubungan dengan ideologi keislamanNII, maka organisasi-organisasi Islam besar sepertiNU, Muhammadiyah, dan MUI perlu bahu-membahuuntuk mendakwahkan jenis keislaman yang cocokdan sesuai dengan konteks keindonesiaan. Umat IslamIndonesia tak perlu merasa sebagai anak tiri di hadapanibu kandungnya sendiri, negara Republik Indonesia.Sebab, sekalipun Indonesia tak menjadi negara Islam,terlampau banyak keistimewaan yang dimiliki umatIslam Indonesia. Sejumlah produk perundanganyang menunjukkan keistimewaan itu sudah banyakdikeluarkan negara Indonesia, misalnya UU PeradilanAgama, UU Zakat, UU Haji, dan lain-lain.Ketiga, pemerintah RI juga harus bisa menahan lajuNII. NII potensial menggerogoti persendiaan negararepublik Indonesia. Pemerintah tak boleh memandangsepele dan remeh terhadap gerakan NII. Pemerintahharus bergerak ke level bawah, misalnya melaluiperubahan kurikulum pendidikan agama di lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia mulai dari tingkatbawah hingga perguruan tinggi. Semenjak dini anak-anak di sekolah perlu diajarkan perihal bagaimanakedudukan agama (Islam) dalam konteks negaraIndonesia, kenapa Indonesia menjadi negara Pancasiladan bukan negara Islam.Itulah beberapa tawaran solusi yang bisa diajukan agargerakan NII tak makin melebar dan meluas ke seanteroIndonesia.[] — 13 —
    • « 05/04/2011 Wahabisme: Alhamdulillah atawa Innalillah? Oleh Abdul Moqsith Ghazali Wahabisme kini tumbuh di Indonesia. Sejumlah ma’had atau pesantren yang mengusung ideologi wahabisme bermunculan. Seorang teman yang sedang meriset Wahabisme di Indonesia mencatat tak kurang dari empat belas pesantren di Indonesia yang menyebarkan doktrin Wahabisme. Dibanding data statistik pesantren di Indonesia yang ribuan jumlahnya, angka empat belas memang kecil. Tapi fenomena penyebaran doktrin Wahabisme ini sudah sangat merisaukan.D dianggap mengidap penyakit TBC (takhayyul, i tengah kecenderungan masyarakat Islam yang “asli”—tentu dalam pengertian mereka. Dengan semangat purifikasi ajaran Islam, mereka menampikbid’ah, dan Khurafat), Wahabisme muncul untuk sejarah. Wahabisme menyeleksi kemodernan. Islammenghancurkannya. Dengan semboyan al-ruju’ ila al- dalam pengertian Wahabisme tak boleh dijamah tanganQur’an wa al-Sunnah (kembali kepada al-Qur’an dan ilmu pengetahuan. Itu sebabnya, tak aneh jika tahunal-Hadits) mereka berdakwah untuk mengajak umat 1920-an, Wahabisme mengharamkan telepon danIslam mengikuti ajaran Islam yang benar: Wahabisme. radio masuk Mekah. Akibatnya, pemurnian berujung di jurang kegagalan. Wahabisme tak dikehendakiBerpusat di Arab Saudi, Wahabisme yang didirikan umat Islam. Sebagian ulama Sunni tak menghendakioleh Muhammad ibn Abdul Wahab ibn Sulaiman jika Wahabisme dianggap menjadi bagian dari Ahlusal-Najdi pada abad ke-18, adalah salah satu sekte Sunnah wal Jama’ah. Kakak kandung Muhammad ibnberpaham keras dalam Islam. Muhammad ibn Abdul Abdul Wahab sendiri, Sulaiman ibn Abdul Wahab,Wahab lahir di Uyaynah, termasuk daerah Najd, menolak keras ideologi Wahabisme.bagian timur Kerajaan Saudi Arabia sekarang, tahun1111 H/1699 M dan meninggal dunia tahun 1206 Wahabisme sebenarnya tak punya teologi yangH/1791 M. Ia belajar ke sejumlah guru terutama yang unik. Ia hanya mendramatisasi doktrin-doktrinbermazhab Hanbali. Ayahandanya, Abdul Wahab, lama yang cenderung kaku dan rigid. Sebagaimanaadalah seorang hakim (qadhi) pengikut Imam Ahmad umumnya umat Islam lain, Wahabisme mendasarkanibn Hanbal. ajaran dan doktrinnya pada tauhid. Jika Mu’tazilah mengkampanyekan tauhid, itu juga yang dilakukanKelompok Wahabi mengklaim dapat mengembalikan Wahabisme. Lalu ada apa dengan konsep tauhidumat Islam kepada ajaran Islam dan akidah yang Wahabisme? Sejumlah pihak menilai bahwa tauhidmurni. Mereka ingin kembali kepada al-Qur’an dalam Wahabisme adalah tauhid ekstrem. Dengan konsepmakna yang harafiah. Al-Qur’an dianggap hanya tauhidnya, Wahabisme mudah mengirimkan vonisderetan huruf yang tak berkaitan dengan konteks kafir kepada kelompok-kelompok Islam yangdi sekitar. Dengan pendekatan ini, mereka menolak berbeda tafsir dengan dirinya. Mereka tak menyetujuisejumlah tradisi (al-‘urf ) yang tumbuh subur dalam tawassul, ziarah kubur, tradisi tahlil, dan lain-lain.masyarakat. Semua keadaan ingin dikembalikan pada Ujungnya adalah penghalalan darah orang lain untukkeadaan zaman Nabi Muhammad. Mereka tak setuju ditumpahkan. Walau tak mendaku sebagai pelanjutrasionalisme yang berkembang dalam filsafat Islam. Kelompok Khawarij, Wahabisme memiliki kesamaanDemi literalisme al-Qur’an, Ushul Fikih mereka gerakan: menyukai kekerasan. Alkisah, makam Zaidacuhkan. al-Khaththab—saudara kandung Sahabat Umar ibn Khaththab—pernah dihancurkan Kelompok Wahabi.Literalisme kaum Wahabi terus mengungkung mereka. Tahun 1802, mereka menyerang Karbala.Wahabisme menghendaki Islam yang “murni” dan — 14 —
    • «Wahabisme kini tumbuh di Indonesia. Sejumlahma’had atau pesantren yang mengusung ideologiWahabisme bermunculan. Seorang teman yangsedang meriset Wahabisme di Indonesia mencatat takkurang dari empat belas pesantren di Indonesia yangmenyebarkan doktrin Wahabisme. Dibanding datastatistik pesantren di Indonesia yang ribuan jumlahnya,angka empat belas memang kecil. Tapi fenomenapenyebaran doktrin Wahabisme ini sudah sangatmerisaukan. Atas keadaan ini, sebagian mengucapkanAlhamdulillah, dan sebagian yang lain berkataInnalillah. Wallahu A’lam bis Shawab. [] — 15 —
    • « 27/02/2011 Kontekstualisasi Doktrin Ahmadiyah Oleh Abdul Moqsith Ghazali Saya kira ada banyak pandangan-pandangan fikih-tafsir Islam Ahmadiyah yang berbeda dengan pandangan umat Islam lain. Namun, sekali lagi, hanya satu yang menjadi keberatan utama umat Islam lain, yaitu tentang adanya seorang nabi setelah Nabi Muhammad. Tak hanya keberatan verbal. Lebih dari itu, sebagian umat Islam berusaha untuk membubarkan organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Sebagian yang lain ingin memposisikan Ahmadiyah sebagai agama lain, non-Islam. Yang lain terus menuntut pembasmian orang- orang Ahmadi sampai ke akar-akarnya. Semua tawaran penyelesaian itu hanya akan menimbulkan masalah baru.AApa Ahmadiyah? Tak cukup sebagai seorang pembaharu, satu tahun kemudian, persisnya tahun 1890, Mirza mengaku hmadiyah adalah salah satu sekte baru dalam sebagai al-Masih yang dijanjikan akan turun di akhir Islam. Ia datang tak bersamaan dengan zaman. Menurutnya, Imam Mahdi atau al-Masih yangkemunculan sekte-sekte Islam lama seperti Khawarij, diujarkan sejumlah hadits akan turun itu bukan al-Muji’ah, Syiah, Mu’tazilah, dan Ahlus Sunnah. Masih al-Isra’ili (Yesus Kristus), melainkan al-Masih al-Kehadirannya lebih awal beberapa tahun dari Sarekat Muhammadi yang ditugaskan untuk melanjutkan danDagang Islam, Muhammadiyah, dan Nahdhatul menegakkan syari’at Nabi Muhammad. Al-Masih al-Ulama, di nusantara. Ahmadiyah didirikan oleh Muhammadi yang dimaksud adalah diri Mirza GhulamMirza Ghulam Ahmad, di anak benua India pada Ahmad sendiri. Pada tahun 1901, Mirza mengukuhkanakhir abad ke-19. Mirza diperkirakan lahir pada kembali perihal posisinya sebagai Nabi Zhilli (nabitanggal 13 Pebruari 1835 M. /14 Syawal 1250 H, di bayangan) yang bertugas menjalankan risalah NabiQadian India. Sebagian orang menduga bahwa nama Muhammad. Agar tak hanya menjadi kesadaran“Ahmadiyah” merupakan nisbat dari kata “Ahmad” spiritual yang individual, Mirza merancang sebuahyang berada di ujung nama Mirza Ghulam Ahmad. gerakan untuk mengkampanyekan misinya. UntukSementara yang lain berpendapat bahwa “Ahmadiyah” tujuan itu, ia menggelorakan semangat pengorbananmerupakan bentuk modifikasi dari nama lain harta terutama untuk membeayai penyebaran (tafsir)Muhammad SAW, yaitu Ahmad. Islamnya.Lepas dari itu, jauh sebelum mendirikan Ahmadiyah, Ahmadiyah belum bergerak jauh dengan merambahMirza kecil tumbuh seperti umumnya anak-anak negeri-negeri lain. Sementara Mirza sudah merasadari keluarga Islam lain. Pada usia 7 tahun, Mirza bahwa dirinya tak akan lama lagi akan meninggalsudah belajar agama kepada seorang guru bernama dunia. Tahun 1908, Mirza menulis risalah berjudulFazhl Ilahi yang bermazhab Hanafi. Ia pun belajar “al-Washiyyat” yang menyatakan bahwa masa kepergiantata bahasa Arab, ilmu hadits, dan al-Qur’an. beliau ke alam baqa sudah dekat. Dan dia menegaskanSeiring bertambahnya usia dan untuk meningkatkan agar para pengikutnya tunduk dan patuh kepadaderajat spiritualnya, tahun 1886 Mirza menempuh pimpinan atau khalifah yang akan menggantikanjalan ruhani dengan berkhalwat selama 40 hari. dirinya. Mirza meninggal dunia pada tanggal 26 MeiSelang beberapa waktu, persisnya tanggal 23 Maret 1908 di Lahore, tapi dikuburkan di Qadian. Ia wafat1889 bertepatan dengan 20 Rajab 1306 H, Mirza dengan meninggalkan 80 buah karya intelektual, kelakmengaku mendapatkan wahyu dan segera setelah itu menjadi rujukan pengikut Ahmadiyah.mendeklarasikan diri sebagai mujaddid (pembaharuIslam). Tanggal 23 Meret 1889 ini disepakati oleh Sepeninggal Mirza, kepemimpinan Ahmadiyah jatuhjemaat Ahmadiyah sebagai tanggal berdirinya pada Hakim Nuruddin. Ia berhenti menjadi khalifah,“Ahmadiyah”. karena ajal datang menjemput, tanggal 13 Maret 1914. Sepeninggal Hakim, terjadi pertentangan tentang siapa — 16 —
    • «yang berhak menjadi khalifah-pengganti. Saat itu ada ayat dalam al-Qur’an ditafsirkan secara “tak lazim”.dua calon yang diajukan, yaitu Mirza Basharuddin Ada dua yang paling kontroversial. Pertama,Mahmud Ahmad dan Maulvi Muhammad Ali. Yang adalah pandangannya tentang adanya nabi setelahterpilih adalah Basharuddin. Dengan kemenangan Nabi Muhammad. Mereka mengakui bahwa NabiBasharuddin, pengikut Muhammad Ali menyatakan Muhammad adalah khatam al-anbiya’ yang membawamenarik diri dari Ahmadiyah pimpinan Basharuddin. syariat. Dengan demikian, terbuka kemungkinan bagiMereka mendirikan organisasi lain dengan nama hadirnya seorang nabi yang berfungsi melanjutkanAnjuman Ishaat Islam yang berpusat di Lahore. dan menegakkan syariat Islam yang dibawa NabiKelompok ini kemudian dikenal dengan Ahmadiyah Muhammad. Bagi Ahmadiyah, kata “khatam”Lahore. Sementara pengikut Ahmadiyah pimpinan dalam ayat “khatam al-nabiyyin” berarti bahwaBasharuddin disebut Ahmadiyah Qadian. Nabi Muhammad adalah stempel nabi-nabi. Nabi Muhammad adalah nabi yang mencapai puncakBerbeda dengan Ahmadiyah Lahore yang tak ruhaniyah yang tak akan pernah dimiliki atau dicapaiberkembang pesat, maka Ahmadiyah Qadian oleh nabi lain. Dengan demikian, Nabi Muhammadtelah tersebar ke berbagai negara. Dalam masa bukanlah penutup fisik-jasmani kenabian sehinggakepemimpinan Mirza Masroor Ahmad (khalifah ke 5), kehadiran seorang nabi tak boleh terjadi, melainkanJemaat Ahmadiyah telah merambah ke 185 negara di penutup seluruh pencapaian puncak spiritual yangdunia. Jemaat Ahmadiyah telah menyebarkan dakwah tak mungkin digapai oleh yang lain. Artinya, masihIslam di daratan Eropa, Australia, dan Amerika dengan dimungkinkan adanya nabi setelah Nabi Muhammad,mendirikan mesjid dan pusat-pusat dakwah di tiga dengan kualitas ruhani yang lebih rendah dari Nabibenua tersebut. Bahkan, ia terus merangsek masuk ke Muhammad dan yang berfungsi untuk melanjutkansejumlah Negara di Asia seperti Jepang, China, Korea. syariat Nabi Muhammad.Bahkan, Ahmadiyah masuk ke nusantara jauh sebelumnegara bangsa Indonesia berdiri. Tafsir yang dikemukakan Ahmadiyah ini jelas berbeda dengan pandangan para ulama Ahlus Sunnah yangAlkisah, Muballig Ahmadiyah bernama Maulana berpendirian bahwa Nabi Muhammad adalah nabiRahmat Ali yang membawa Ahmadiyah ke wilayah terakhir yang menutup segala jenis kenabian. Bahwanusantara melalui kota Tapaktuan Aceh pada tanggal tak ada nabi setelah Nabi Muhammad yang juga2 Oktober 1925. Dari Tapaktuan, Jemaat Ahmadiyah menerima wahyu. Bagi Ahlus Sunnah, aliran wahyuberkembang ke wilayah Sumatera Barat dan pada tahun sudah terhenti bersamaan dengan berhentinya1931 masuk ke Batavia (sekarang Jakarta). Pada tahun kenabian. Atas dasar itu, sejumlah ulama sunni1932, Jemaat Ahmadiyah berkembang di Batavia dan menyesatkan Ahmadiyah. Bahkan tak sedikit orangBogor. Lalu masuk ke daerah-daerah sekitar seperti berpendapat bahwa darah jemaat Ahmadiyah bolehTangerang, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Garut, ditumpahkan. Maka tindak kekerasan dan pembasmianTasikmalaya, Ciamis, Karawang, dan lain-lain. terhadap jemaat Ahmadiyah menjadi tak terhindarkan.Dengan makin membesarnya Ahmadiyah, maka pada Kedua, Ahmadiyah mempunyai perbedaan tafsirtahun 1935 Jemaat Ahmadiyah Indonesia membentuk dengan umat kristiani tentang sosok Yesus Kristus.Pengurus Besar. Dan pada tanggal 12-13 Juni 1937, Misalnya, menurut Ahmadiyah, Yesus meninggal dalamdiselenggarakan kongres pertama di Masjid Hidajath usia 120 tahun, di Kashmir India. PandangannyaJln. Balikpapan I/10 Jakarta dengan dihadiri pengurus ini konon didasarkan kepada Hadits riwayatwilayah. Saat itu disepakati berdirinya AADI (Anjuman Thabrani, “Rasulullah berkata kepada Fathimah:Ahmadiyah Departemen Indonesia) hingga kemudian Jibril mengabarkan kepadaku bahwa Nabi Isa hidupdiubah menjadi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) 120 tahun lamanya” [qala Rasulullah li Fathimah:sebagai hasil dari kongres tanggal 9-11 Desember 1949. akhbarani Jibrilu an Isa ibn Maryam ‘asya ‘isyrina waDari situlah, JAI terus berkembang sebagai organisasi mi’atan sanatan]. Dan Yesus pun tak naik ke langit,sosial keagamaan yang diakui Negara. sebagaimana pandangan umum umat Islam dan umat kristiani. Bagi Ahmadiyah, sekiranya Yesus naik keBagaimana Ahmadiyah Bertafsir? langit, itu berarti Allah mempunyai tempat, yaitu langit. Jelas, mustahil bagi Allah untuk mempunyaiAhmadiyah memiliki cara pandang dan tafsir yang tempat, karena Allah tak berupa jasad. Ahmadiyahberbeda dengan kebanyakan umat Islam. Sejumlah tak menafsirkan kalimat “rafa’ahu Allah” dalam al- — 17 —
    • «Qur’an sebagai diangkatnya Yesus secara jasmaniah NU mengalami dinamisasi pemikiran keislamanke atas langit, melainkan diangkatnya derajat Yesus yang signifikan. Jika Ahmadiyah meyakini haditssecara ruhaniah. Fisik-jasmani Yesus terbaring di bahwa dalam setiap 100 tahun akan muncul seorangKashmir, sementara ruh-spiritualnya berada dekat di pembaharu, maka saatnya ulama-ulama Ahmadiyahsisi Allah. Tentang tafsirnya ini, kebanyakan para ulama berhimpun untuk segera menyepakati; mana doktrincenderung tak mempersoalkannya. Namun, pandangan yang diperlukan dan mana doktrin yang sudah takAhmadiyah ini potensial mengguncangkan bangunan seharusnya dipertahankan.teologi dan doktrin kalangan kristiani. Ketiga, jemaat Ahmadiyah perlu melakukanJalan Kontekstualisasi diversifikasi rujukan kitab. Tak melulu merujuk pada kitab-kitab karya Mirza Ghulam Ahmad, AhmadiyahSaya kira ada banyak pandangan-pandangan fikih-tafsir kiranya perlu melebarkannya pada kitab-kitab lain.Islam Ahmadiyah yang berbeda dengan pandangan Membaca buku-buku seperti ushul fikih al-Syafii,umat Islam lain. Namun, sekali lagi, hanya satu yang al-Syathibi dll, juga buku-buku filsafat Ibn Sina dllmenjadi keberatan utama umat Islam lain, yaitu menyebabkan Ahmadiyah tak berada dalam bentengtentang adanya seorang nabi setelah Nabi Muhammad. yang tertutup. Pada waktu yang bersamaan, buku-bukuTak hanya keberatan verbal. Lebih dari itu, sebagian Ahmadiyah pun harus siap dimasuki oleh kelompokumat Islam berusaha untuk membubarkan organisasi umat Islam lain. Tak boleh ada buku tertutup yangJemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Sebagian yang lain hanya boleh diakes jemaat Ahmadiyah. []ingin memposisikan Ahmadiyah sebagai agama lain,non-Islam. Yang lain terus menuntut pembasmian Surabaya, 24 Maret 2011orang-orang Ahmadi sampai ke akar-akarnya. Semuatawaran penyelesaian itu hanya akan menimbulkanmasalah baru.Lalu, dalam konteks internal umat Islam Indonesiayang terus menegang, bagaimana solusi terbaiknya.Pertama, sebagian orang mengusulkan agar Ahmadiyahmengalah dengan menggunakan kata lain selain katanabi untuk menyebut sang junjungan Mirza GhulamAhmad. Bukankah yang ditolak oleh umat Islamlain adalah penggunaan kata “nabi” kepada siapapunsetelah Nabi Muhammad. Karena kata “nabi” ituadalah bahasa Arab, apakah jemaat Ahmadiyah diIndonesia misalnya berkenan untuk menggunakannama Indonesia atau nama-nama daerah sesuai dengantempat tinggal jemaat Ahmadiyah tersebut. Misalnya,“kanjeng khalifah”, “Pangeran”, “tuan guru, “kiai”, danlain-lain.Kedua, setelah yang pertama, segera lakukanpembaharuan terhadap tafsir-tafsir keislamanAhmadiyah yang konon telah lama mengalami stagnasi.Dalam kaitan itu, dibutuhkan seorang pemikir-pembaharu dalam tubuh Ahmadiyah yang bertugasmengkontekstualisasikan pandangan-pandangan lamaatau meremajakan tafsir-tafsir tua yang mungkinsudah aus. Dalam konteks Indonesia, NU bisa menjadipelajaran. Setelah berpuluh tahun NU berada dalamkubangan konservatisme, maka muncullah kelompokpembaharu seperti KH Abdurrahman Wahid (GusDur). Dengan peran Gus Dur dan tokoh-tokoh lain, — 18 —
    • « 20/09/2010 Siapa Pemimpin Islam Indonesia? Oleh Abdul Moqsith Ghazali Setiap orang Islam sebenarnya adalah pemimpin atas dirinya sendiri. Kata Nabi, “kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an rai’iyyatihi” (setiap kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungan-jawab atas kepemimpinan kalian)P menumpuk. Soal yang satu belum terpecahkan roblem keumatan Islam Indonesia terus tak mudah untuk meng-iya-kan. Sebab, apa yang dikatakan Pak Said di Jakarta tak serta-merta diaminisudah ditindih perkara baru yang ghalibnya juga tak oleh warga nahdhiyyin di daerah. Banyak kiai-kiaiterselesaikan. Mulai dari soal masih berlangsungnya NU yang menyanggah argumen pluralisme yanggerakan terorisme berbasis Alquran-Hadits dikampanyekan Pak Said. Pidato Pak Said yang bagushingga tak rampungnya masalah relasi Islam dan tentang pentingnya menjaga harmoni dan kerukunannegara di Indonesia. Tak sedikit umat Islam yang umat Islam dengan umat agama lain dengan mudahmengembangkan teologi sempit, menyesatkan orang ditebang sejumlah ustad di pesantren.lain bahkan ketagihan menghancurkan orang yangberbeda keyakinan dengan dirinya. Sebagian umat Lalu, apakah Rizieq Shihab misalnya adalah pemimpinIslam lain gencar memperjuangkan tegaknya negara Islam karena ia adalah Ketua Umum Front PembelaIslam dan Khilafah Islamiyah di tengah negara Islam (FPI)? Jawabnya pasti “tidak”. Boro-boroPancasila yang telah menjadi konsensus para pendiri didengar dan ditaati seluruh umat Islam, apa yangnegara. Belum lagi soal Ahmadiyah. Menteri Agama diserukan Rizieq Shihab dalam banyak peristiwaRI, Suryadharma Ali, merasa punya hak dan otoritas diabaikan begitu saja oleh anggota FPI sendiri.untuk membasmi Ahmadiyah dari seluruh pemukiman Jika Pak Rizieq menyerukan agar anggota FPI takIndonesia. Begitu banyak soal yang melilit tubuh umat melakukan kekerasan dan main hakim sendiri dalamIslam. menyelesaikan suatu masalah, maka tak sedikit anggota FPI yang mengingkarinya. Selanjutnya FPI pusat segeraSemua soal itu praktis tak mudah diatasi. Ini mungkin mengatakan bahwa apa yang dilakukan anggota FPIterkait dengan rumitnya masalah kepemimpinan terkait dengan tindak penyerangan atau penyegelandi internal umat Islam Indonesia sendiri. Siapakah adalah tanggung jawab pribadi dan bukan tanggungsesungguhnya pemimpin Islam Indonesia ? Pertama, jawab organisasi. Bah!ada yang berkata bahwa pemimpin umat IslamIndonesia adalah Susilo Bambang Yudhoyono, karena Ketiga, ada yang berkata bahwa pemimpin Islamdia adalah seorang presiden dari negeri yang konon 85 adalah mereka yang memiliki penguasaan mendalam% penduduknya beragama Islam. Dahulu, Presiden terhadap ilmu-ilmu keislaman. Mereka mendalamiSoekarno mendapatkan julukan Waliyul Amri al- secara sekaligus fikih (produk pemikiran ulama klasik)Dharuri bis Syaukah dari Nahdhatul Ulama (NU). dan ushul fikih (metodologi untuk memproduksi fikihUlama NU menerima Soekarno sebagai waliyul amri Islam baru). Mereka menguasai tafsir dan qawa’idkarena darurat. Sebagaimana Bung Karno tak pernah al-tafsir (metodologi tafsir). Dari segi kompetensidianggap sebagai representasi umat Islam, maka keilmuan, mungkin orang seperti Muhammad Quraishbegitu juga dengan Pak Beye. Walau artikulasi dan Shihab bisa dimasukkan. Pertanyaannya, lalu umatpengungkapan nomenklatur Arab-Islam Pak Beye terus Islam manakah yang mendengarkan dan mengikutidibenahi, ia tak pernah dihitung sebagai pemimpin fatwa-fatwa Pak Quraish? Banyak ulama yang ilmunyaIslam. menggantung tinggi di atas awan (far’uha fis sama’), tapi kerap tak bersambung dengan massa Islam di akarKedua, yang lain berpendapat bahwa pemimpin Islam rumput. Analisa semantik-kebahasaan Arab yang selaluadalah para ketua umum ormas keislaman. Apakah menyertai analisa Pak Quraish dalam menafsirkanSaid Aqiel Siradj adalah pemimpin Islam karena yang Alquran tampaknya tak mudah dipahami umat Islambersangkutan menjabat Ketua Umum PBNU? Rasanya level bawah. Seorang ibu setengah baya pernah berkata — 19 —
    • «pada saya bahwa ceramah Pak Quraish adalah obatyang mengantarnya ke alam tidur. Tentu tak mengapa.Karena Pak Quraish, seperti juga setiap kita, tak akanbisa memuaskan semua. Itu sebabnya Quraish Shihabtak mengklaim sebagai pemimpin umat Islam.Keempat, ada yang berkata bahwa pemimpin umatIslam adalah para muballigh atau da’i. Dari sudutkeilmuan, para muballigh biasanya tak terlalu alimtapi sangat populer. Mereka bukan tipe orang yangsuka bergumul dengan timbunan teks dalam ortodoksiIslam, tapi nama mereka masyhur. Wajahnya banyakmemenuhi layar kaca. Siapa yang tak tahu Jefreyal-Bukhari yang bersuara merdu, Muhammad ArifinIlham yang meronta ketika berdoa, Mama Dedehyang tegas dalam berdakwah, dan Yusuf Manshuryang hendak menyelesaikan semua masalah dengansedekah. Dengan capaian popularitas itu, sebagianorang menyangka bahwa mereka adalah pemimpinumat. Padahal, seperti kita sadari, ketokohan yangdibangun hanya dengan topangan media laksanamembangun istana pasir yang guyah. Dengan tiba-tibaseseorang dikenal sebagai tokoh, dan tiba-tiba juga iaakan merosot menjadi orang biasa. Ketika televisi “taklagi menyukai” Aa’ Gym, maka sang Aa’ pun hilang,segera diganti muballigh lain. Begitu seterusnya, patah-tumbuh, hilang berganti.Jika demikian, maka tak ada pemimpin Islam Indonesiayang diakui dan diikuti umat Islam pada tingkatnasional. Suara Menteri Agama RI jelas tak mewakiliseluruh umat Islam Indonesia. Ia hanya mewakilisebagian kecil kelompok umat Islam. Apalagi kalaukita mengukur ketokohan SDA (Suryadharma Ali)dengan perolehan suara PPP, partai Islam pimpinansang Menteri Agama RI, yang terus melorot bahkandiprediksikan akan binasa pada pemilu 2014. Begitujuga dengan para tokoh agama Islam lain. Abu BakarBaasyir, Jakfar Umar Thalib, Hidayat Nur Wahidadalah deretan tokoh dengan jumlah pengikut takterlampau banyak.Akhirnya, setiap orang Islam sebenarnya adalahpemimpin atas dirinya sendiri. Kata Nabi, “kullukumra’in wa kullukum mas’ulun ‘an rai’iyyatihi” (setiapkalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintaipertanggungan-jawab atas kepemimpinan kalian).Wallahu A’lam bis Shawab. — 20 —
    • « 16/09/2010 SBY, Ciketing dan Perlindungan Non- Muslim Oleh Abdul Moqsith Ghazali Umat Islam yang mayoritas di negeri ini perlu memberikan perlindungan kepada kelompok minoritas. Tak boleh yang mayoritas memangsa yang minoritas, sehingga yang minoritas boleh diintimidasi dan hak-haknya dalam menjalankan ibadat juga boleh dihalang-halangi. Sebagaimana Nabi Muhammad dan Umar ibn Khattab menjadikan dirinya sebagai pelindung bagi kelompok lain, maka seharusnya demikian juga perilaku umat Islam di sini, Indonesia.C Artikel ini sebelumnya dimuat di Media Indonesia, “OPINI”, Kamis 16 September 2010 iketing, Bekasi, tiba-tiba terkenal ke seantero melakukan pembiaran demi pembiaran. negeri. Bukan karena di tempat ini ditemukanpabrik pembuat pil ekstasi, melainkan karena di Bagaimanapun kita tetap menyerahkan pengusutanpinggiran Jakarta ini ada peristiwa penusukan- peristiwa Ciketing ini pada polisi. Dan kewajiban polisipemukulan terhadap pendeta dan jemaat gereja adalah segera melakukan penyelidikan, sehingga publikHKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Alkisah, pada bisa memperoleh informasi benar tentang apa yangMinggu pagi (12/9/2010), Luspida Simanjuntak, sesungguhnya terjadi. Sebab, peristiwa Ciketing iniSintua Hasian Sihombing dan beberapa anggota jemaat rentan dimanfaatkan sebagian pihak untuk menyobekberjalan beriringan menyusuri ruas-ruas jalan menuju kain kerukunan antar-umat beragama di negeri ini.sebidang tanah untuk menjalankan ibadat Minggu. Ketidak-seriusan dan kelalaian aparat kepolisian dalamMereka menempuh jarak sekitar 2 kilometer. Tiba- menangani kasus Ciketing kiranya akan menyalakantiba dari arah berlawanan, sekelompok orang dengan api dalam beberapa sekam konflik di Indonesia.mengendarai sepeda motor datang menyerang. Parapreman itu menusuk, memukul, dan menendang Sebagai respons terhadap peristiwa Ciketing,anggota jemaat. Akibatnya, Hasian Sihombing kalangan civil society menyelenggarakan sejumlahmengalami luka tusuk parah, Luspida Simanjuntak dan konferensi pers yang berisi ungkapan keprihatinan danbeberapa anggota lain mengalami luka memar. kecaman. Para elit dan pimpinan ormas keagamaan mengutuk para pelaku kekerasan itu. PGI, KWI,Menanggapi kasus itu, Kapolres Bekasi dengan cepat NU, Muhammadiyah dan lain-lain berharap agarmenyatakan bahwa peristiwa Ciketing adalah kriminal pemerintah mengambil sikap tegas dengan menyeretbiasa. Pernyataan pihak kepolisian itu tak pelak para pelaku dan aktor Ciketing ke meja pengadilanmemantik kritik keras, terutama dari para aktivis HAM untuk diganjar dengan hukuman setimpal. Saya banggadan Pluralisme. Tidak hanya karena pernyataan itu dengan respons cepat para tokoh agama itu, sehinggatak berbasis pada penyelidikan, melainkan juga karena konflik horisontal antar-umat tak terjadi. Para tokohpihak kepolisian dianggap mengabaikan fakta-fakta agama tersebut memiliki keyakinan kuat bahwa tak adasebelumnya tentang adanya intimidasi dan pelarangan agama yang menghendaki jalan kekerasan. Agama hadiribadat jemaat HKBP Pondok Timur Indah di Ciketing membawa semangat cinta, rukun, dan damai.Bekasi. Telah lama diketahui, sebagian warga melarangdan menghalang-halangi penyelenggaraan ibadat Rahmatan lil alamindi tanah Ciketing. Tarik-menarik itu kemudianmenimbulkan ketegangan di tengah masyarakat. Sikap Islam yang pro-kerukunan dan perdamaianNamun, alih-alih pihak kepolisian sigap bertindak misalnya dapat diketahui dari konsep Islam sebagaiuntuk menjamin hak kebebasan setiap warga negara rahmatan lil alamin. Betapa untuk tujuan kerukunan,dalam beribadat. Yang terjadi justeru aparat kepolisian dalam satu paragrap bagian pertama Piagam Madinah — 21 —
    • «tercantum komitmen Nabi Muhammad untuk menjadi beragama itu, apa yang dilakukan Nabi Muhammadpelindung kelompok non-Muslim. Disebutkan, dan Khalifah Umar ibn Khattab tersebut bisa“jika seorang pendeta atau pejalan kaki berlindung bermanfaat untuk dua hal. Pertama, bisa menjadi salahdi gunung atau lembah atau gua atau bangunan atau satu inspirasi (bukan aspirasi) untuk merumuskandataran raml atau Radnah (nama sebuah desa di kebijakan publik terkait dengan hak dan kebebasanMadinah) atau gereja, maka Aku (Nabi Muhammad) beribadat seluruh warga negara Indonesia. Dalamadalah pelindung di belakang mereka dari setiap kaitan itu, sejumlah aktivis HAM dan Pluralisme telahpermusuhan terhadap mereka demi jiwaku, para mengajukan gagasan tentang perlunya menyusun UUpendukungku, para pemeluk agamaku dan para Kebebasan Beragama. Dengan UU ini diharapkanpengikutku, sebagaimana mereka (kaum Nashrani) itu tak ada lagi intimidasi dan ancaman dalam beribadat.adalah rakyatku dan anggota perlindunganku”. Itulah Kedua, bisa menjadi teladan bagi Presiden Susilopenjelmaan Islam rahmatan lil alamin dalam sebuah Bambang Yudhoyono. Bukankah sebagai kepala negarakebijakan publik di Madinah. di Madinah, Nabi Muhammad telah menggaransikan dirinya demi hak beribadat warganya, baik yangApa yang dilakukan Nabi Muhammad itu Muslim maupun non-Muslim.menginspirasi Khalifah Umar ibn Khattab untukmembuat traktat serupa di Yerusalem ketika Islam Dengan demikian, sebagai umat Islam dan sebagaimenguasai wilayah tersebut. Traktat tersebut dikenal kepala negara, Pak Beye (panggilan baru Presiden SBY)dengan “Piagam Aelia”, berisi jaminan keselamatan dari seharusnya kian mantap melindungi non-Muslim danpenguasa Islam terhadap penduduk Yerusalem yang kelompok minoritas lain. Bagi presiden Indonesiaberagama non-Islam sekalipun. Salah satu penggalan yang beragama Islam, memberikan perlindunganparagraf piagam tersebut berbunyi, “Inilah jaminan terhadap warga negara yang hendak beribadat, dikeamanan yang diberikan Umar Amirul Mukminin samping sebagai bagian dari menjalankan ajarankepada penduduk Aelia: Ia menjamin keamanan agama Islam, juga sebagai bagian dari melaksanakanmereka untuk jiwa dan harta mereka, dan untuk amanat konstitusi. Dalam UUD 1945 pasal 29 ayatgereja-gereja dan salib-salib mereka, dan dalam keadaan (2) disebutkan,”negara menjamin kemerdekaan tiap-sakit maupun sehat, dan untuk agama mereka secara tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-keseluruhan. Gereja-gereja mereka tidak akan diduduki masing dan untuk beribadat menurut agamanyadan tidak pula dirusak, dan tidak akan dikurangi dan kepercayaannya itu”. Pasal 28E ayat (1), “setiapsesuatu apa pun dari gereja-gereja itu dan tidak pula orang bebas memeluk agama dan beribadat menurutdari lingkungannya, serta tidak dari salib mereka, agamanya…..”.dan tidak sedikit pun dari harta kekayaan mereka(dalam gereja-gereja itu). Mereka tidak akan dipaksa Sebaliknya, kepala negara Indonesia yang membiarkanmeninggalkan agama mereka, dan tidak seorang pun satu kelompok warga negara menyerang kelompokdari mereka boleh diganggu”. lain yang menjalankan ibadat agama bukan hanya melanggar konstitusi, melainkan juga melanggarKisah historis itu sengaja disuguhkan agar umat pokok ajaran Islam. Artinya, presiden Indonesia yangIslam Indonesia tak ragu untuk memberikan jaminan beragama Islam yang tak melindungi warga negarakeselamatan kepada umat agama lain. Umat Islam yang dalam beribadat menanggung dosa ganda; dosa kepadamayoritas di negeri ini perlu memberikan perlindungan negara karena tak menjalankan amanat UUD 1945,kepada kelompok minoritas. Tak boleh yang mayoritas dan dosa kepada Allah karena tak melaksanakan ajaranmemangsa yang minoritas, sehingga yang minoritas agama Islam. Wallahu A’lam Bis shawab.boleh diintimidasi dan hak-haknya dalam menjalankanibadat juga boleh dihalang-halangi. SebagaimanaNabi Muhammad dan Umar ibn Khattab menjadikandirinya sebagai pelindung bagi kelompok lain, makaseharusnya demikian juga perilaku umat Islam di sini,Indonesia.InspirasiSementara bagi aparat pemerintah yang (insyaallah) — 22 —
    • « 15/09/2010 Merayakan Idul Fitri 1431 H “Momen Penghapusan Kezaliman” Oleh Abdul Moqsith Ghazali Fenomena syirk dapat kita saksikan juga dari perilaku beberapa orang atau sekelompok orang yang suka menuhankan diri sendiri. Laksana Tuhan, mereka tampil sebagai penentu; siapa ke sorga dan siapa ke neraka. Memandang orang lain sesat dan diri sendiri sebagai sentra kebenaran. Tak berhenti sampai di situ. Yang dianggap sesat pun (hendak) dihancurkan, hanya karena berbeda tafsir keagamaan dengan dirinya. Padahal, dalam ayat al-Qur’an jelas ditorehkan, “sesungguhnya Tuhanmu yang paling tahu; siapa yang sesat jalannya dan siapa pula yang mendapat petunjuk Tuhan”.S kembali menjumpai kita. Itu sebabnya, Hari Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di “KOLOM PAKAR” Media Indonesia, Senin 13 September 2010 eperti siklus tahunan, Lebaran akan datang dan pesta pora di tengah kesengsaraan hidup masyarakat. Maka, proyek pembangunan gedung parlemen denganLebaran disebut sebagai ‘Id yang dalam bahasa Arab fasilitas spa, kolam renang, ruang fitnes, dan lain-lainberarti “kembali” dan “berputar”. Tentu bukan hanya segera diusulkan. “Nurani” yang berarti “jiwa yangitu. Ia disebut “’id”, juga karena manusia diharapkan bercahaya” itu telah berganti dengan “zhulmani” yangkembali kepada “fithrah” (‘idul fithri). Dalam satu berarti “jiwa yang gelap”.tahun, selalu ada momen yang memungkinkanmanusia untuk kembali ke fithrahnya. Bagi umat Islam, Tiga Kezalimanmomen kembali ke fithrah itu adalah Bulan Ramadan.Lalu, apa fithrah (watak dasar) manusia itu? Imam Ali ibn Abi Thalib dalam kitab Nahjul Balaghah menyebut tiga jenis kezaliman. Pertama, kezalimanSejumlah literatur Islam menyebutkan bahwa setiap yang tak terampuni. Itulah syirk atau menyekutukanmanusia lahir dalam keadaan suci. Ia tak membawa Tuhan. Fenomena syirk dalam bentuk penyembahandosa. Namun, seiring waktu, manusia kerap berhala dan patung makin langka kita jumpai atauterperangkap pada dosa (itsm). Kata Nabi, dosa adalah bahkan sudah tak ada lagi. Dengan akalnya, manusiaapa yang terlintas dalam hatimu dan kamu tidak suka modern tak bisa lagi menyembah batu berhala. Kinisekiranya orang lain mengetahuinya. Kita tak suka jika syirk hadir dalam bentuk lain. Dengan satu-duaorang lain mengetahui motif negatif yang ada dalam modifikasi, seperti dulu, manusia masih menyembahhati kita. Setiap kejahatan tak meloncat dari ruang manusia yang lain. Seorang bawahan menyembahkosong. Bukankah setiap tindak kriminal bermula dari atasan. Sang Bawahan mengikuti apa yang dititahkanniat jahat dari para pelakunya. Korupsi bermula dari Sang Atasan, tanpa peduli apakah yang diperintahkanbetik hati dan mewujud menjadi tindakan nyata. itu bertentangan dengan hukum nurani atau tidak. Maka korupsi pun di negeri ini berjalan dari hulu keDalam Islam, dosa kerap disebut sebagai sebuah hilir.kezaliman. Zalim atau zhulm dalam bahasa Arabberarti gelap atau kegelapan. Dosa disebut “zhulm” Fenomena syirk dapat kita saksikan juga dari perilakukarena ia dapat membutakan hati kita sehingga tak beberapa orang atau sekelompok orang yang sukasanggup untuk membedakan antara kebaikan dan menuhankan diri sendiri. Laksana Tuhan, merekakeburukan, antara kebenaran dan kesalahan. Jika hati tampil sebagai penentu; siapa ke sorga dan siapa keseseorang sudah gelap, maka ia akan menghalalkan neraka. Memandang orang lain sesat dan diri sendirisegala cara untuk mencapai tujuan. Hati para wakil sebagai sentra kebenaran. Tak berhenti sampai di situ.rakyat yang gulita tak akan peduli terhadap penderitaan Yang dianggap sesat pun (hendak) dihancurkan, hanyarakyat yang diwakilinya. Sebagian mereka menyukai karena berbeda tafsir keagamaan dengan dirinya. — 23 —
    • «Padahal, dalam ayat al-Qur’an jelas ditorehkan, “inna kesalahan. Namun, seperti Adam kita perlu denganrabbaka huwa a’lamu biman zlalla ‘an sabilih wa huwa gegas bertobat atas dosa-dosa kita kepada Allah. Lalu,a’lamu bi al-muhtadin” (sesungguhnya Tuhanmu yang bagaimana dosa kita terhadap sesama, terhadap rakyat,paling tahu; siapa yang sesat jalannya dan siapa pula terhadap negara?yang mendapat petunjuk Tuhan). Jenis DosaKedua, kezaliman yang tak boleh diabaikan. Yaitu,kezaliman seseorang atas orang lain, atau satu Saya suka mengklasifikasikan dosa ke dalam dua jeniskelompok pada kelompok lain. Ini berarti, kita tak kategori. Pertama, dosa privat, yaitu dosa seseorangboleh membuang muka terhadap kekerasan yang pada Tuhan dan dosa satu orang dengan orang lain.dilakukan satu kelompok atas kelompok lain di Dosa kita kepada Allah bisa diselesaikan dengannegeri ini. Boleh jadi kita tak setuju terhadap teologi permintaan maaf kita kepada Allah. Dan Allah sebagaiJemaat Ahmadiyah, misalnya. Tapi, kita tak punya hak Yang Maha Pengampun dan Maha Penerima Tobatapapun untuk membasmi mereka. Tak ada Licence to akan mengampuni semua dosa manusia. SementaraKill yang kita kantongi. Islam adalah agama damai, dosa seseorang dengan orang lain dalam kehidupanbukan agama kekerasan. Sebuah hadits menyebutkan, sehari-hari biasanya ditempuh dengan permintaan maaf“al-muslim man salima al-muslimun min lisanih wa kepada orang lain itu. Sebagaimana Allah mengampuniyadihi”. Artinya, seseorang baru bisa disebut sebagai dosa-dosa manusia, maka kita sebagai makhluk danmuslim apabila orang lain bisa terselematkan dari lisan hamba-Nya perlu meneladani akhlak Allah, yaitudan tangannya. Dengan perkataan lain, seseorang tak mengampuni segala kesalahan orang lain kepada kita.boleh disebut sebagai muslim kalau melalui lisan dantindakannya banyak orang lain yang tersakiti. Kedua, dosa publik adalah dosa kita kepada banyak orang. Ia tak selesai hanya dengan meminta ampunKarena itu, kita diperintahkan mencontoh akhlak Nabi kepada Allah di bulan Ramadan. Ia juga tak rampungMuhammad. Sebagai pribadi, Nabi tak menyakiti dengan meminta maaf kepada satu-dua orang. Dosaorang lain. Lisannya berisi ungkapan kasih dan publik harus diselesaikan melalui forum publik.tangannya adalah pelaksanaan dari ajaran kasih itu. Masuk ke dalam kategori dosa publik ini adalahNabi pun tak membiarkan kezaliman terjadi dan terus dosa korupsi. Para koruptor di negeri ini tak cukupberulang. Setiap ada ketidak-adilan, Nabi selalu datang hanya meminta maaf kepada Allah atas korupsi yangsebagai pembelanya. Pemerintah Indonesia kiranya bisa telah dilakukannya. Ia seharusnya perlu memintabelajar dari kehidupan Nabi Muhammad ini. Bahwa maaf kepada publik atas kejahatannya itu. Dansegala kebijakan yang dikeluarkan harus bertumpu penerimaan maaf publik dapat diwujudkan dalampada terhapuskannya kezaliman. Politik pembiaran bentuk ditegakkannya hukum seadil-adilnya bagibukanlah politik Nabi Muhammad. Politik Nabi adalah sang koruptor. Tanpa ada penegakan hukum bagipolitik untuk menghapuskan kezaliman, satu kelompok para koruptor, maka tak ada pengampunan bagi yangpada kelompok lain. bersangkutan.Ketiga, kezaliman yang terampuni. Itulah kezaliman Penutupmanusia atas dirinya dengan melakukan serangkaiandosa-dosa kecil. Sebuah hadits menyebutkan, al- Ramadan telah berlalu. Kini Idul Fitri di depan kita.nas kulluhum khaththa’un wa khairul khattain al- Melalui momen inilah banyak orang berharap akantawwabun (semua manusia punya potensi melakukan adanya perubahan yang lebih kualitatif dan substansialkesalahan. Tapi sebaik-baik manusia yang bersalah dari wajah masyarakat Indonesia. Yaitu terciptanyaadalah mereka yang bertobat). Manusia rentan untuk orang-orang yang tak menuhankan diri-sendiri, takmelakukan keburukan, tapi dengan tobat ia bisa melakukan kezaliman, dan tak terjebak pada dosa-cepat dipulihkan. Kisah Adam yang terusir dari sorga dosa. Selama angka korupsi masih tinggi, kekerasanadalah salah satu kisah yang menunjukkan kerentanan atas nama agama terus meningkat, kezaliman masihmanusia yang berada dalam tegangan, antara “yang merajalela, maka puasa yang dilakukan kemarin takbaik” dan “yang buruk”. Pada mulanya, Adam tergoda lebih dari sekadar menahan lapar dan haus belaka. Takuntuk melakukan dosa, namun pada akhirnya ia punya ada pahala yang didapat darinya. Selamat merayakanjalan untuk kembali pada-Nya. Tobat Adam diterima Idul Fitri 1431 H, dan mohon maaf lahir dan batin.[]Allah. Sebagaimana Adam, kita juga bisa terjatuh pada — 24 —
    • « 08/09/2010 Mistifikasi Mudik Lebaran Oleh Abdul Moqsith Ghazali Masa kanak-kanak tak pernah bisa didaur ulang. Pulang ke masa kecil itu absurd. Tanah, tempat kita dulu diasuh dan dibesarkan secara kultural, sudah banyak berubah. Bukan hanya fisik desa yang berubah, melainkan juga para penghuninya. Romantisme tentang gotong royong dan ketulusan orang desa sudah mulai pupus. Akhirnya, jika hanya ingin pulang dan mendapat akar kebudayaan, kiranya tak harus pada saat Lebaran.L menggantikan Idul Fitri atau Idul Adha yang ebaran adalah kosa kata Indonesia untuk kebudayaan. Setelah memohon ampun kepada Allah sepanjang bulan Ramadan, seseorang bermaksudkental beraroma Arab. Kata “lebaran” lebih mudah meminta maaf terhadap orang tua, sanak saudara, dandiucapkan oleh umat Islam Indonesia yang sehari- tetangga di kampung. Dalam tradisi Jawa juga Madura,hari tak menggunakan bahasa Arab. Bukan hanya lebaran adalah salah satu ritus tahunan untuk sungkemkarena Idul Fitri atau juga Idul Adha tak mudah pada orang tua. Sekiranya orang tua sudah meninggaldiindonesiakan, melainkan juga karena bahasa Arab dunia, maka mudik lebaran adalah momen untukmemang dikenal sebagai bahasa paling rumit di dunia. menziarahi pusara mereka. Kuburan adalah tempatDaripada keseleo lidah, umat Islam Indonesia apalagi anak-anak merajut komunikasi dengan almarhumyang abangan lebih suka menggunakan kata “lebaran” orang tua, karena itu mereka tak rela sekiranya ziarahdaripada Idul Fitri. Sebagian besar media pun lebih kubur diharamkan.kerap menggunakan kata “lebaran”. Kedua, menghadapi kompleksitas masalah di kota,Namun, tak terlampau jelas asal-usul kata “lebaran” ini. seseorang kadang dihinggapi perasaan untuk kembaliAda yang berkata bahwa ia berasal dari bahasa Jawa, ke masa lalu saja. Ia seperti hendak melipat waktu,yaitu kata “lebar” yang berarti “selesai”. Kemudian menuju ke masa kanak-kanak dan masa remaja yangkata “lebar” diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan serba indah dan mempesona. Terekam kuat dalamdiberi akhiran “an”, sehingga menjadi kosa kata umum ingatan ketika ia bersama teman-temannya duluuntuk sebuah perayaan setelah selesai menjalankan berkejaran di pematang sawah dengan bulir-bulir padipuasa. Yang lain berkata, lebaran berasal dari bahasa yang menguning, bermain pasir di pantai, mandi diBetawi, “lebar” yang berarti “luas”, yaitu keluasan air sungai yang bening, dan sebagainya. Itu sebabnya,hati seseorang setelah melakukan puasa. Orang-orang orang-orang menyerbu dusun, tempat dahulu merekaMadura punya kata yang mirip, yaitu “lober” untuk tumbuh dan berkembang. Sekali dalam setahun,menggambarkan selesainya sebuah acara, yaitu puasa mereka akan berupaya sekuat tenaga untuk pulangRamadan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kampung. Padahal, seiring waktu, tempat bermainlebaran akhirnya dimaknai sebagai hari raya umat mereka dulu sudah banyak yang berubah menjadiIslam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai pabrik, waduk, tambak, dan lain-lain. Bukit yang indahmenjalankan ibadah puasa selama sebulan; Idul Fitri. sudah rata dengan tanah, dilumat longsor bertubi-tubi. Sumber mata air, area pemandian orang-orang desa,Terlepas dari itu, dalam konteks masyarakat Indonesia, telah lama kering akibat ganasnya penebangan hutanlebaran selalu diikuti dengan mudik atau pulang penahan air. Kini keindahan desa itu hanya ada dalamkampung. Ribuan manusia bergerak dari kota ke desa ingatan, bukan dalam realita.untuk berjumpa dengan orang-orang tercinta. Merekatak peduli dengan harga tiket yang membubung tinggi, Sebagian orang kini tak ingin terjebak pada tindakkesengsaraan di jalan karena berjubelnya manusia, mistifikasi lebaran a la kaum agraris itu. Toh, masahingga resiko kecelakaan yang kerap terjadi. Mudik kanak-kanak tak pernah bisa didaur ulang. Pulang kelebaran menghipnotis banyak orang. Pertanyaannya, masa kecil itu absurd. Tanah, tempat kita dulu diasuhmengapa orang begitu bersemangat untuk mudik. dan dibesarkan secara kultural, sudah banyak berubah.Pertama, mudik dianggap punya makna spiritual juga Bukan hanya fisik desa yang berubah, melainkan — 25 —
    • «juga para penghuninya. Romantisme tentang gotongroyong dan ketulusan orang desa sudah mulai pupus.Akhirnya, jika hanya ingin pulang dan mendapat akarkebudayaan, kiranya tak harus pada saat Lebaran.Sungkem pada orang tua dan minta maaf pada tetanggakampung tak harus menunggu sampai lebaran tiba.Selamat berlebaran 1431 H., mohon maaf lahir danbatin. — 26 —
    • « 05/08/2010 Khadijah Tak Berpuasa Ramadan Oleh Abdul Moqsith Ghazali Dari kupasan itu kita tahu bahwa sejumlah Sahabat Nabi banyak yang meninggal dunia tanpa menjalankan puasa Ramadan. Khadijah binti Khuwailid, isteri Nabi Muhammad, pun tak pernah menjalankan puasa Ramadan. Bahkan, Khadijah juga tak sempat menjalankan shalat lima waktu, juga zakat, karena semuanya disyariatkan ketika yang bersangkutan sudah meninggal dunia.S atau pantang. Ada banyak ragam puasa yang ebagian besar agama mengenal tradisi puasa pada syari’at sebelum Islam (syar’u man qablana). Al-Qur’an (al-Baqarah [2]: 183) menyebutkan, “Haidiperkenalkan agama-agama. Dalam al-Qur’an orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian(Mariam [19]: 26) disebut bahwa Bunda Maria berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum(Siti Mariam) bernazar puasa untuk tak bicara kalian, supaya kalian bertakwa”.dengan manusia manapun. “Inni nadzartu li al-rahman shawma fa lan ukallima al-yawma insiya” Sejumlah referensi menjelaskan bahwa Islam dalam(Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk fase Mekah tak mengenal puasa Ramadan. PuasaTuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan baru disyariatkan dalam periode Madinah. Menurutberbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini). al-Juzairi, puasa Ramadan diundangkan tanggal 10 Sya’ban tahun kedua Hijriyah, atau 1,5 tahun setelahPuasa juga bisa dalam bentuk tak melakukan hubungan hijrah (Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala al-seksual. Jika umat Islam pantang melakukan kontak Madzahib al-Arba’ah, Juz I, hlm. 416). Menurut Syathaseksual pada siang bulan Ramadan, maka para Romo al-Dimyathi dalam I’anah al-Thalibin (Juz II, hlm.dan Pastur Katolik berpuasa dari hubungan seksual 215), selama 10 tahun tinggal di Madinah, Rasulullahsepanjang hayat atau selama yang bersangkutan masih SAW menjalankan puasa Ramadan hanya sembilanmenjadi pastur. Bentuk-bentuk puasa kian banyak kali. Satu tahun pertama di Madinah, puasa Ramadandijumpai jika kita memperhatikan adat dan tradisi. Ada belum disyariatkan. Pada tahun itu, Nabi Muhammadpuasa dengan tidak makan dan minum selama tiga hari dan umat Islam masih menjalankan puasa Asyura,tiga malam. Sebagian masyarakat juga mengenal tradisi melanjutkan kebiasaan puasa Asyura selama 13 tahunpantang memakan “yang bernyawa”, seperti hewan, di Mekah. Dengan demikian, selama 14 tahun, Islamikan, dan lainnya. berjalan tanpa puasa Ramadan.Sebagaimana agama lain, Islam pun mensyariatkan Dari kupasan itu kita tahu bahwa sejumlah Sahabatpuasa. Bentuknya adalah dengan tak makan-minum Nabi banyak yang meninggal dunia tanpa menjalankandan menahan hubungan seksual di siang hari. Dalam puasa Ramadan. Khadijah binti Khuwailid, isteriperiode Mekah, umat Islam menjalankan puasa tiga Nabi Muhammad, pun tak pernah menjalankanhari dalam setiap bulan plus puasa Asyura. Dalam puasa Ramadan. Bahkan, Khadijah juga tak sempatShahih Bukhari (hadits ke-1893) disebutkan bahwa menjalankan shalat lima waktu, juga zakat, karenamasyarakat Arab pra-Islam sudah biasa melakukan semuanya disyariatkan ketika yang bersangkutan sudahpuasa Asyura. Orang-orang Yahudi saat itu juga meninggal dunia. Namun, kita tak perlu panik danberpuasa pada hari Asyura, karena hari itu diyakini masygul. Khadijah tetap akan masuk surga walau tanpasebagai hari diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran shalat, tanpa zakat, dan tanpa puasa Ramadan. Tuhandan ancaman bunuh Fir’aun. Begitu Islam datang, Khadijah (tentu Tuhan kita semua) adalah TuhanNabi Muhammad memerintahkan umat Islam untuk inklusif yang akan memasukkan hamba-hamba-Nyapuasa Asyura. (Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al- yang beriman dan beramal saleh seperti Khadijah keQur’an, Jilid I, hlm. 660). dalam surga. Wallahu A’lam bi al-Shawab.Dengan demikian, ibadah puasa sebetulnya didasarkan — 27 —
    • « 22/07/2010 Waktu Isra-Mikraj Nabi Muhammad Oleh Abdul Moqsith Ghazali Demikian jauhnya jarak perjalanan ini, maka Aisyah (isteri Nabi) dan Muawiyah berpendapat bahwa Isra-Mikraj merupakan perjalanan ruhani dan bukan perjalanan fisik-jasmani. Menurut Aisyah, ruh Nabi Muhammad bergerak membelah semesta untuk berjumpa dengan Tuhan, sementara tubuhnya bersemayam di bumi. Pendapat ini ditolak jumhur ulama yang mengatakan bahwa Isra-Mikraj melibatkan jasmani-ruhani Nabi Muhammad secara sekaligus.I sra-Mikraj adalah peritiwa spiritual yang dialami menjadi energi. Lalu jumhur ulama berkata, bahwa Nabi Muhammad. Ia dipahami sebagai perjalanan Isra-Mikraj bukan untuk difalsifikasi, melainkan untukNabi dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil diimani.Aqsha di Jerusalem, dan terus membubung menembusdinginnya langit menuju sebuah pucuk yang disebut Pertanyannya, kapan peristiwa Isra-Mikraj iniSidratul Muntaha. Alkisah, ketika Rasulullah sedang terjadi? Beberapa buku tarikh menjelaskan sejumlahtidur malam bersama para sahabatnya di Masjidil riwayat berbeda perihal peristiwa itu. Pertama, ulamaHaram tiba-tiba Jibril datang membangunkan dan yang berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi padamembawanya untuk Isra-Mikraj. Thabathaba’i (Tafsir (diperkirakan hari Jum’at) 27 Rajab. Inilah pandanganal-Mizan, Jilid XIII, hlm. 22) menyebut bahwa di paling populer di kalangan umat Islam. Namun,antara Sahabat yang sedang bersama Nabi saat itu sebagian yang lain berkata bahwa Isra’-Mikraj terjadi diadalah Hamzah ibn Abdul Muththalib, Ja’far ibn Abi awal (bukan di akhir) bulan Rajab. Kedua, menurut al-Thalib, dan Ali ibn Abi Thalib. Namun, sebuah riwayat Harbi, sebagaimana dikutip al-Qurthubi dalam al-Jami’seperti dikutip Fakhr al-Din al-Razi dalam Mafatih al- li Ahkam al-Qur’an (Jilid V, hlm. 551), Isra-MikrajGhaib (Jilid X, Juz XX, hlm. 148) menyatakan bahwa terjadi pada 27 Rabi’ul Awwal. Itu juga yang dikatakanIsra-Mikraj tak dimulai dari dalam Masjidil Haram, al-Zuhri dan Urwah. Ibnu Abbas berpendapat bahwamelainkan dari rumah Ummu Hani binti Abi Thalib. Isra-Mikraj terjadi pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal.Yang lain lagi mengatakan bahwa start Isra-Mikraj Sebab, pada hari, tanggal dan bulan itulah Rasullahadalah sebuah ruangan dalam rumah Abu Thalib. dilahirkan, diangkat menjadi nabi, di-Isra-Mikraj-kan, hijrah ke Madinah, dan meninggal dunia. Ketiga, al-Sejumlah literatur Islam menyebutkan bahwa Isra- Sudi berpendapat bahwa Isra-Mikraj terjadi pada bulanMikraj ditempuh hanya dalam satu malam. Perjalanan Dzul Qa’dah. (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah,panjang ini dimulai habis isya’ dan rampung begitu Juz III, hlm. 155).fajar menyingsing. Demikian jauhnya jarak perjalananini, maka Aisyah (isteri Nabi) dan Muawiyah Bukan hanya bulan yang diperselisihkan, melainkanberpendapat bahwa Isra-Mikraj merupakan perjalanan juga tahun dari peristiwa itu. Ada yang berpendapatruhani dan bukan perjalanan fisik-jasmani. Menurut bahwa Isra-Mikraj terjadi satu tahun sebelumAisyah, ruh Nabi Muhammad bergerak membelah Rasulullah hijrah ke Madinah. Yang lain berkatasemesta untuk berjumpa dengan Tuhan, sementara bahwa Isra-Mikraj diperkirakan terjadi 18 bulantubuhnya bersemayam di bumi. Pendapat ini ditolak sebelum peristiwa hijrah. Sementara yang lainjumhur ulama yang mengatakan bahwa Isra-Mikraj lagi berkesimpulan bahwa Isra-Mikraj terjadimelibatkan jasmani-ruhani Nabi Muhammad secara ketika Khadijah masih hidup. Menurut Yunus ibnsekaligus. Tentu pendapat jumhur ulama ini tak mudah Bukair, pasca Isra-Mikraj, Khadijah masih sempatdikunyah akal sehat dan tak bisa dijelaskan secara melaksanakan shalat. Ini karena Isra-Mikraj terjadisaintifik. Bagaimana mungkin benda material seperti pada tahun kelima dari kenabian, beberapa bulantubuh manusia bisa berjalan lebih cepat dari gerak sebelum Khadijah meninggal dunia. Bahkan, seperticahaya. Menurut teori Einstein, jika ada benda berjalan dikutip Thabathabai (hlm. 30), Ibnu Abbas berkatasecepat cahaya, maka benda itu akan terurai dan hancur bahwa Isra-Mikraj terjadi pada tahun kedua dari — 28 —
    • «kenabian. Intinya, ada beragam pendapat. Yang satuberkata tahun ketiga kenabian. Yang lain mengatakantahun kelima kenabian; tahun keenam kenabian; 10tahun 3 bulan dari kenabian; 12 tahun dari kenabian; 1tahun 5 bulan sebelum hijrah; 1 tahun 3 bulan sebelumhijrah; 6 bulan sebelum hijrah.Kenapa perselisihan seperti ini terjadi? Satu, ketikaIsra-Mikraj terjadi tak ada orang yang mencatat danmendokumentasikannya secara persis. Rasulullah pundikisahkan tak bisa membaca dan menulis. Soal hari,tanggal, bulan, dan tahun peristiwa Isra-Mikraj di atassepenuhnya didasarkan pada ingatan para Sahabat, danbukan pada data rekaman-tertulis yang otentik. Dua,penyusunan kalender Islam pada saat Isra-Mikraj itubelum terumuskan. Dengan demikian, semua soal disekitar Isra-Mikraj serba tak pasti, misterius, dan takmudah diverifikasi. Bagi sebagian besar umat Islam,hanya satu yang pasti; bahwa Isra-Mikraj nyata terjadidan dari situ shalat disyariatkan. Tentang bagaimanaterjadinya dan kapan berlangsungnya, para ulama dansejarawan tak melahirkan sebuah konsensus. WallahuA’lam Bis Shawab. — 29 —
    • « 08/04/2010 Pengertian Umat Islam Indonesia Oleh Abdul Moqsith Ghazali Penjelasan-penjelasan ini menunjukkan betapa tak mudahnya seseorang mengatas-namakan umat Islam Indonesia, seperti tak mudahnya mendefiniskan umat Islam Indonesia. Dengan demikian, kini jelas bahwa sekiranya ada tokoh Islam yang suka mengatas-namakan umat Islam, maka dia hakekatnya tak pernah bisa mewakili umat Islam Indonesia yang beraneka ragam itu.S mendefinisikan umat Islam Indonesia? Hemat saya atu pertanyaan sederhana, bagaimana kita STAIN. Secara keorganisasian, mereka tergabung dalam organisasi keagamaan Islam seperti Nahdlatulada empat takrif atau pengertian tentang umat Islam Ulama, Muhammadiyah, Nahdlatul Wathan, danIndonesia itu. Pertama, umat Islam adalah mereka Al-Washliyah. Dengan takrif ini, maka jumlah umatyang di KTP-nya tercantum sebagai penganut Islam. Islam di Indonesia terus menyusut hingga yang tersisaJika ini menjadi acuan pokok, maka umat Islam di sekitar puluhan juta orang.Indonesia adalah mayoritas. Data statistik yang kerapdisampaikan, 87 % penduduk negeri ini memeluk Keempat, umat Islam adalah mereka yang bukanIslam. Termasuk dalam 87 % itu saya kira adalah hanya menjalankan ritual Islam, mengerti dasar-dasarorang-orang Ahmadiyah. Tapi, kalau kita sepakat Islam, melainkan juga memperjuangkaan tegaknyamengeluarkan puluhan ribu orang Ahmadiyah dalam negara Islam, khilafah islamiyah, dan formalisasi syariatbarisan Islam, maka jumlah umat Islam itu akan Islam. Berbeda dengan NU dan Muhammadiyah yangberkurang. menerima Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar dalam berbangsa dan bernegara, kelompok terakhir iniKedua, umat Islam adalah mereka yang menjalankan hendak menjadikan al-Qur’an sebagai haluan negara.ritual peribadatan seperti shalat lima waktu, puasa Konsisten dengan pengertian ini, maka yang disebutsebulan penuh di bulan Ramadan, mengeluarkan sebagai umat Islam di Indonesia tak kurang dari limazakat (fithrah dan mal), dan berhaji bagi yang mampu. juta orang. Secara keorganisasian, mereka itu bernaungSekiranya ini menjadi standar, maka populasi umat di bawah organisasi Islam seperti Hizbut TahrirIslam akan turun sangat drastis. Terlampau banyak Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), Majelisorang yang di KTP-nya disebut Islam, tapi dalam Mujahidin Indonesia (MMI), dan beberapa ormasaktifitas sehari-harinya tak menjalankan sejumlah Islam kecil lainnya.ibadah yang diwajibkan dalam Islam. Mereka itudisebut Clifford Geertz sebagai Islam abangan atau Penjelasan-penjelasan ini menunjukkan betapa takyang oleh Gus Dur dan Cak Nur disebut Islam mudahnya seseorang mengatas-namakan umat Islamnominal. Secara politik, muslim abangan ini tak selalu Indonesia, seperti tak mudahnya mendefiniskanpunya ikatan psikologis-ideologis dengan partai-partai umat Islam Indonesia. Dengan demikian, kini jelasIslam seperti PKS, PPP bahkan juga PKB dan PAN. bahwa sekiranya ada tokoh Islam yang suka mengatas-Sebagian dari mereka kadang merasa lebih nyaman namakan umat Islam, maka dia hakekatnya takberafiliasi dengan partai-partai sekuler-nasionalis seperti pernah bisa mewakili umat Islam Indonesia yangPDI Perjuangan. beraneka ragam itu. Mandat untuk mewakili seluruh kepentingan umat Islam Indonesia pun tak pernahKetiga, umat Islam adalah mereka yang bukan hanya dikantongi oleh yang bersangkutan. Sang tokoh akanmenjalankan ritual Islam, melainkan juga mengerti lebih pas menyebut mewakili dirinya sendiri ataudasar-dasar ajaran Islam. Mereka tahu dogma, kelompok kecilnya yang terbatas. []pemikiran, dan sejarah peradaban Islam. Kelompokketiga ini lazim disebut sebagai Islam santri. Merekabiasanya alumni sebuah pesantren dan juga PerguruanTinggi Agama Islam (PTAI) seperti IAIN dan — 30 —
    • « 01/04/2010 Sejumlah Paradoks dalam Pidato Hasyim Muzadi Oleh Abdul Moqsith Ghazali Hasyim juga menolak sekularisme. Padahal, dalam waktu yang sama, dia juga menjelaskan penerimaan NU terhadap Pancasila, UUD 1945, dan negara bangsa Indonesia. Artinya, Indonesia ini bukan negara agama (Islam) melainkan negara Pancasila. Semua produk perundang-undangan di negeri ini tak diacukan pada argumen agama (Islam), melainkan pada UUD 1945. Tampaknya Hasyim tidak cukup mengerti apa yang disangkalnya, sekularisme-sekularisasi.T Makassar yang terkesima dengan pidato ak sedikit peserta muktamar NU ke-32 di seorang pengusaha di lingkungan keluarga Kerajaan Arab Saudi, bukan dari Amerika Serikat apalagi Yahudi.pertanggung-jawaban Hasyim Muzadi, Ketua Informasi ini mengagetkan peserta Muktamar NU.Umum PBNU 2004-2009, Kamis 24 Maret 2010. Alih-alih menjauhi Ulil seperti kerap dipidatokanNamun, banyak juga yang mempertanyakan dan Hasyim di pelbagai forum dan kesempatan, terlampaumempersoalkannya. Menurut kelompok kedua ini, banyak pengurus cabang NU yang simpati dengandalam pidato tersebut ada sejumlah pernyataan Hasyim Ulil. Anak-anak muda NU itu mengibaratkan Hasyimyang paradoks, bertentangan satu dengan yang lain. Muzadi sedang menepuk air di dulang, kepercik mukaBahkan juga terkesan simplistis. Beberapa hal berikut sendiri.yang digugat kelompok kedua tersebut, persis beberapamenit setelah Hasyim Muzadi berpidato. Kedua, Hasyim juga menolak sekularisme. Padahal, dalam waktu yang sama, dia juga menjelaskanPertama, Hasyim mengeluhkan anak-anak muda NU penerimaan NU terhadap Pancasila, UUD 1945, danyang sangat tergantung sama lembaga funding Barat. negara bangsa Indonesia. Artinya, Indonesia ini bukanIni, menurut Hasyim, menyebabkan anak-anak muda negara agama (Islam) melainkan negara Pancasila.itu tidak independen dalam berfikir dan bertindak. Semua produk perundang-undangan di negeri ini takPadahal, dalam waktu yang sama, dalam pidatonya diacukan pada argumen agama (Islam), melainkan padadia berkata bahwa PBNU melalui kepemimpinannya UUD 1945. Tampaknya Hasyim tidak cukup mengertimendapatkan suntikan dana dari lembaga-lembaga apa yang disangkalnya, sekularisme-sekularisasi. Diadonor, bukan hanya dari Timur Tengah melainkan juga tak tahu jenis-jenis sekularisasi. Ada model Perancis,dari Barat, seperti USAID, Patnership, dan lain-lain. Kanada, Amerika Serikat, Indonesia, dan lain-lain.Kelompok kontra-Hasyim itu mempertanyakan, kalau Himbauan mereka, tunggal; Hasyim perlu belajarHasyim bisa dan boleh menerima dana dari lembaga banyak teori-teori sekularisasi dan sekularisme.donor, mengapa anak mudanya tidak boleh. KalauPBNU halal mendapat dana dari Barat, kenapa PP Ketiga, Hasyim pun mengkritik sangat lantangFatayat NU menjadi haram menerimanya, misalnya. pemikiran liberal Islam yang tumbuh subur di kalanganIni unfair. anak muda NU. Liberalisme dianggap menyimpang dari ajaran Ahlus Sunnah Waljamaah a la NahdlatulBahkan, teman-teman muda NU di Jaringan Islam Ulama. Sementara, dalam waktu yang bersamaan, diaLiberal (JIL) menjelaskan bahwa lima tahun terakhir melaksanakan pikiran-pikiran liberal Islam itu misalnyatak ada dana dari lembaga donor dari Amerika Serikat ketika dirinya menjadi cawapres dari Capres Megawati,dan Australia yang mengalir ke rekening JIL. Ulil dalam pemilu 2004. Terang benderang dalam buku-Abshar-Abdalla (pendiri JIL dan kandidat Ketum buku Sunni dijelaskan larangan bagi perempuan untukPBNU dalam muktamar itu) menjelaskan beasiswa menjadi hakim (qadli) apalagi menjadi kepala negaradirinya studi di Harvard University AS diperoleh dari (al-mam al-a’zham). Apakah kita bisa mempertanyakan — 31 —
    • «ke-aswaja-an Hasyim Muzadi, kata mereka tandas.Keempat, dia berkata bahwa politik NU adalah politikkeumatan dan bukan politik kekuasaan. Padahal, dalamwaktu yang sama, cukup kerap Hasyim Muzadi terlibatdalam permainan politik untuk sebuah kekuasaan.Tak bisa ditutupi, Hasyim bermain dalam sejumlahPilkada; pemilihan Gubernur juga pemilihan Bupati.Hasyim pun menjadikan NU sebagai salah satumesin politik ketika dirinya maju sebagai cawapres.Antara kata dan perbuatan, demikian kelompokkontra Hasyim itu, jauh panggang dari api. Akhirnyamereka menyimpulkan bahwa Hasyim Muzadigagal menjalankan pelaksanaan Khittah 1926 yangdiamanatkan pada dirinya.Inilah beberapa poin keberatan yang saya dengar darikelompok kontra-Hasyim. Kalau ada waktu, sayajuga akan melaporkan alasan peserta muktamar yangmengelu-elukan Hasyim Muzadi. Insyaallah. — 32 —
    • « 11/03/2010 Pluralisme Agama di Indonesia: Masihkah Kita Bisa Berharap? Oleh Abdul Moqsith Ghazali Seseorang tak bisa dikriminalisasi karena yang bersangkutan memilih sekte dan tafsir tertentu dalam beragama. Kementerian Agama tak boleh mengintervensi dan menjadi hakim yang bisa memutus tentang sesat dan tidaknya suatu tafsir dan ritual peribadatan. Seseorang bisa dikriminalisasi bukan karena yang bersangkutan menjalankan ritus peribadatan tertentu, melainkan misalnya karena di dalam ritual itu terdapat tindak kriminal seperti kekerasan yang merendahkan martabat manusia.B perihal masa depan pluralisme agama di anyak orang pesimis dan putus pengharapan dan perundang-undangan yang tak toleran terhadap kelompok minoritas dan agama-agama lokal. UUIndonesia. Pesimisme ini biasanya didasarkan PNPS/I/1965 yang mengandung pasal diskriminatif itupada beberapa indikator utama. Pertama, telah hendak dipertahankan oleh beberapa tokoh agama yangberpulangnya para tokoh agama yang gigih tanpa lelah bertahta dalam organisasi keislaman besar seperti NUmemperjuangkan pluralisme, sementara tokoh baru dan Muhammadiyah dan tak sedikit juga dari kalangandengan militansi yang sama dengan para pendahulunya akademisi (perguruan tinggi). Alih-alih dihapuskan,tak segera matang dan dewasa. Meninggalnya bahkan peraturan-peraturan daerah yang bias danAbdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Eka diskriminatif terus bermunculan di beberapa wilayah diDarmaputra, TH Sumartana, Mangunwijaya, Gedong Indonesia.Bagus Oka, dan lain-lain tak jarang dianggap sebagaipertanda matinya pluralisme agama di Indonesia. Di Sebagai generasi muda Islam, saya berpendirian bahwalingkungan umat Islam, kepergian Almarhum Gus ketiga faktor tersebut tak cukup dijadikan alasan untukDur dipandang sebagai pukulan telak bagi gerakan pesimis menatap masa depan pluralisme agama dipluralisme. Mereka berpendirian, dengan wafatnya Indonesia. Ketiga pokok soal tersebut sebenarnya lebihGus Dur, maka langit pluralisme akan kian kelam dan merupakan tantangan bagi pejuang pluralisme agamaburam. untuk mensolidkan dan mensinergikan gerakan. Ada banyak hal yang menyebabkan kita boleh optimis danKedua, terjadi surplus kekerasan berbasis agama berpengharapan tentang cerahnya pluralisme agama didan teologi. Seperti dilansir the WAHID Institute, Indonesia di masa-masa yang akan datang.Setara Institute, CRCS UGM, dalam laporan akhirtahun 2009 tentang indeks kebebasan beragama dan Memang benar bahwa Gus Dur dan Pak Eka sudahkekerasan berbasis agama, ditemukan fakta tentang tidak ada, tapi pikiran-pikiran pluralis keduanyakian meratanya kekerasan dan diskriminasi terhadap sudah terlembagakan ke dalam berbagai institusi dan(umat) agama dan (pengikut) sekte tertentu. Pelakunya diterjemahkan ke dalam program-program yang lebihpun sangat beragam, mulai dari individu sampai terstruktur dan sistematis. Misalnya ada Jaringankelompok organisasi keagamaan tertentu. Mulai dari Islam Liberal (JIL) Jakarta, MADIA Jakarta, thedipersulitnya ijin pendirian rumah ibadah sampai pada WAHID Institute Jakarta, ICRP Jakarta, ICIP Jakarta,pembakaran dan penghancuran rumah ibadah. Ada ICIP Jakarta, Dian-Interfidei Yogyakarta, YPKMgereja yang dibakar. Juga ada kelompok Ahmadiyah Mataram, LK3 Banjarmasin, Pusaka Padang, LAPARyang hak-hak sipilnya sampai sekarang masih dirampas. Makasar, Jakatarup Bandung dan lain-lain. BeberapaTak sedikit dari mereka yang tinggal di tempat-tempat hari lalu baru saja terbentuk Forum Pluralismepengungsian. Indonesia, sebuah forum yang dibentuk oleh sejumlah intelektual muda lintas agama untuk memperbanyakKetiga, masih dipertahankanya sejumlah kebijakan pangkalan pendaratan pluralisme agama di Indonesia. — 33 —
    • «Kini sebenarnya tokoh-tokoh muda yang gigih kelemahan dan keterbatasan dari Perda-Perda Syariatmemperjuangkan pluralisme agama kian tersebar di itu. Bahkan di sejumlah daerah banyak masyarakatsejumlah daerah di Indonesia. Mereka bekerja biasanya sipil yang menentang Perda-Perda tersebut. Ibu-Ibutanpa sorotan kamera dan publisitas media, sehingga muslimah di Bandah Aceh marah ketika dirinyatampak kurang populer. Tapi, memperhatikan kerja- ditangkap karena menggunakan celana ketat, misalnya.kerja advokasi mereka sangat mencengangkan. Melihatmereka, saya cukup optimis prihal gerakan pluralisme Yakinlah bahwa sejauh yang bisa dipantau, Perda-Perdadi Indonesia. itu hanya proyek partai politik demi sebuah kekuasaan. Persis di situ partai-partai politik salah melakukanSelanjutnya, dalam proses transisi menuju demokrasi, diagnosa. Bahwa dengan membuat perda-perda syariatsebagian negara kerap tidak stabil dan mudah goyah. itu, partai politik akan mendulang banyak suara.Dalam konteks itu, negara biasanya tak bisa berperan Padahal, berkali-kali pemilu yang diselenggarakansecara efektif untuk melinduangi setiap warganya dari di Indonesia membutikan bahwa partai politik yangtindak ketidakadilan oleh warga yang lain. Itulah yang menjual agama ke khalayak tak pernah menang.kini terjadi di Indonesia. Sejumlah kekerasan berbasis Bukan hanya dalam periode dulu, namun juga dalamagama tak bisa segera dihentikan oleh pemerintah periode sekarang. Sejumlah partai berasas agama keok(aparat kepolisian). Pemerintah gamang untuk dalam pemilihan umum. Saya yakin bahwa ketikabertindak dan menghukum pelaku kekerasan berbasis kesadaran tentang tidak lakunya berdagang agamaagama karena khawatir dianggap anti-agama, persisnya dalam ranah politik itu nanti muncul, semua partaianti-Islam. Citra sebagai pendukung agama (Islam) akan berbalik haluan. Inilah yang kini terjadi misalnyadan sekte mayoritas inilah yang tampaknya hendak di PKS juga PPP. Sungguh warga negara Indonesiaditampilkan pemerintahan Yudhoyono, dalam dua makin cerdas. Mereka tak mendasarkan preferensiperiode pemerintahannya. Dia misalnya selalu memilih politiknya pada sentimen primordial agama. Berbagaimenteri agama yang cenderung tidak pluralis. Aparat survey menunjukkan tentang matinya politik alirankepolisian pun tak sigap menangkap para “preman di Indonesia, dan pembunuhnya adalah warga negaraberjubah” karena takut divonis sebagai pelanggar HAM Indonesia sendiri.atau pendukung kemaksiatan. Polisi tak dilengkapidengan jaminan undang-undang untuk menghukum Dengan alasan-alasan itu, kita masih berhak untukpara pelaku kekerasan agama. optimis bahwa langit-langit pluralisme agama di Indonesia akan makin cerah. Bahwa ada mendungKelak, ketika transisi demokrasi ini sudah berakhir, yang sedikit menggantung, iya. Tapi, yakinlah bahwanegara akan kembali normal. Di situ kiranya tak mendung itu akan hilang ditiup angin perubahan danada satu warga negara pun yang hak-haknya boleh pluralisme. []dirampas oleh warga lain, termasuk hak untukmemilih dan menjalankan ajaran agama dankeyakinan. Bahwa seseorang tak bisa dikriminalisasikarena yang bersangkutan memilih sekte dan tafsirtertentu dalam beragama. Kementerian Agama takboleh mengintervensi dan menjadi hakim yang bisamemutus tentang sesat dan tidaknya suatu tafsir danritual peribadatan. Seseorang bisa dikriminalisasibukan karena yang bersangkutan menjalankan ritusperibadatan tertentu, melainkan misalnya karenadi dalam ritual itu terdapat tindak kriminal sepertikekerasan yang merendahkan martabat manusia.Diakui bahwa sekarang banyak bermunculan Perda-Perda (bernuansa) syariat Islam. Namun, kita tak bolehciut nyali dan berkesimpulan bahwa diskriminasiagama yang ditopang dengan struktur negara ataupemerintah akan dengan sendirinya bisa berjalanefektif. Sejumlah riset dan penelitian menemukan — 34 —
    • « 18/12/2009 Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431 H. Kelumit Sejarah Pembentukan Kalender Islam Oleh Abd Moqsith Ghazali Hijrah adalah kelir tebal yang menandai babak baru perjuangan Islam. Di Madinah, kebajikan tak lagi menjadi dongeng pengantar tidur atau hanya ada dalam mitologi. Madinah kemudian menjadi kota dengan peradaban maju; hukum bisa dijalankan dengan adil, kesejahteraan masyarakat bisa ditingkatkan, nilai-nilai kemanusiaan sebagai sumbu ajaran Islam secara gradual bisa ditegakkan.S etiap 1 Muharram umat Islam selalu memperingati umat agama lain. tahun baru hijriyah. Yakni tahun baru dalamkalender Islam yang start penghitungannya didasarkan Sementara yang lain mengusulkan, umat Islam perlupada kepindahan (hijrah) Nabi dari Mekah ke memiliki kalender sendiri, tanpa bertaklid padaMadinah. Sudah menjadi cerita lama bahwa penetapan almanak bangsa dan umat agama lain. Pendapat initahun Islam ini baru terjadi pada zaman kekhalifahan kemudian disepakati. Hanya, umat Islam berselisihUmar ibn Khattab. Dan Umar memang dikenal sebagai tentang titik tolak penetapan dimulainya tahun Islamkhalifah yang banyak melakukan langkah-langkah itu. Ada yang berpendapat, tahun kelahiran Nabiinovatif untuk kemajuan Islam terutama di bidang Muhammad (milad atau maulid) bisa diambil sebagaisosial-politik. Di antaranya, adalah penetapan Baitul batu pijak penghitungan tahun Islam, sebagaimanaMal (Pusat Keuangan Negara), pembentukan beberapa umat Kristiani menjadikan tahun kelahiran Yesusbadan usaha milik negara (BUMN), pembuatan Kristus sebagai basis penghitungan. Ada juga yangdata kependudukan, penetapan remunerasi-gaji bagi interupsi supaya perhitungan itu mengacu pada tahunpara tentara perang, pemberian subsisi kepada kaum wafatnya Nabi Muhammad atau tahun pengangkatanmiskin hingga penyelesaian sengketa tanah-agraria di Muhammad sebagai nabi atau rasul. Yang lainYerussalem dengan ditandatanganinya Perjanjian Aelia berpendapat agar penghitungan itu mengacu pada(Mitsaq Ailiya). peristiwa hijrah. Nabi sendiri pernah bersabda bahwa dirinya diberi tiga pilihan tempat hijrah oleh AllahSebelum ditetapkan, telah bermunculan gagasan SWT, yaitu: Madinah, Bahrain, dan Qinnasrin (sebuahtentang perlu dan tidaknya umat Islam memiliki kota di Syam). Dan Nabi lebih memilih Madinahpenghitungan tahun sendiri. Sebagian Sahabat Nabi (Yatsrib) ketimbang yang lain. (Ibn Katsir, al-Bidayah,berpendirian tentang tak dibutuhkannya almanak Juz III, hlm. 212 & 246).tersendiri bagi umat Islam. Baik Alquran maupunHadits tak pernah memerintahkan untuk membuat Bersama itu, masih juga terjadi silang sengkarut tentangkalender khusus Islam. Dengan demikian, menurut bulan pertama dalam tahun Islam tersebut. Beberapamereka, umat Islam cukup mengikuti penghitungan Sahabat Nabi berpendapat, bulan pertamanya adalahtahun yang sudah ada dalam tradisi dan kebiasaan bulan Muharram. Sahabat lain mengusulkan agarbangsa-bangsa dan komunitas lain. Ada yang bulan Ramadan dijadikan bulan pertama, karena bulanberpendapat agar umat Islam mengikuti hitungan itu merupakan bulan utama (sayyid al-syuhur). Yangtahun orang-orang Persia atau bangsa Romawi. lain lagi mengusulkan, bulan Rabiul Awwal. Sebab,(Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Juz III, hlm. sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibn246). Dari sini kita tahu bahwa pada saat itu tak Abbas, hijrah Nabi Muhammad sendiri terjadi padatabu sekiranya umat Islam hendak mengambil atau hari Senin, 13 Rabiul Awwal tahun ke-13 dari kenabianmeminjam tradisi dan kebudayaan dari bangsa dan Muhammad SAW. Pendapat ini juga dikemukakan — 35 —
    • «Imam Malik sebagaimana riwayat al-Suhaili (Ibn tak mendasarkan penghitungan kalender Islam padaKatsir, al-Bidayah, Juz III, hlm. 220, 247). Argumen tahun kelahiran, kematian, dan kenabian Muhammadkelompok terakhir kalau disederhanakan kira-kira melainkan pada momen hijrah yang menyertakanadalah: kalau kita sepakat bahwa acuan penghitungan seluruh umat Islam dari Mekah ke Madinah.tahun Islam adalah peristiwa hijrah, maka mestinya kita Momen hijrah diambil, tapi bulan hijrah Nabi yangjuga sepakat menetapkan Rabiul Awal sebagai bulan diperkirakan Rabiul Awal tak otomatis dijadikanpertama dalam kalender itu. Sebab, pada bulan itulah sebagai bulan pertama dalam kalender Islam. Ini teranghijrah Nabi berlangsung. berguna, agar umat Islam tak terjebak pada kultus yang berujung pada penuhanan dan penyembahan tubuhNamun, beberapa sumber menyebutkan bahwa Muhammad SAW. Tubuh-jasad Muhammad SAW yanghijrah umat Islam sendiri berlangsung tak sekaligus; fana boleh dikuburkan, tapi roh ajaran kemanusiaannyabergelombang dan bertahap. Beberapa Sahabat Nabi saya kira harus tetap “baqa” sepanjang masa. Wallahubahkan ada yang sudah berangkat beberapa minggu A’lam bi al-Shawab. []bahkan satu hingga dua bulan sebelumnya. SahabatNabi yang pertama kali sampai ke Madinah adalah AbuSalmah ibn Abdul Asad ibn Hilal ibn Abdullah ibnUmar dari Bani Makhzum. Riwayat lain menyebut,yang pertama adalah Mush`ab ibn Umair, Ibnu UmiMaktum, baru Ammar dan Bilal. Beberapa hari danminggu berikutnya disusul oleh Umar ibn Khattabbeserta sanak saudara dan keluarganya seperti Zaid ibnKhattab. Selanjutnya, yang berhijrah adalah Thalhahibn Ubaidillah, Shuhaib ibn Sinan. (Ibn Hisyam,al-Sirah al-Nabawiyah, Juz II, hlm. 341-349). NabiMuhammad dan Sahabat Abu Bakar termasuk yangterakhir berhijrah. Setelah melakukan perjalananberliku selama 15 hari termasuk tinggal di Gua Tsaurselama 3 hari, mereka berdua akhirnya sampai diMadinah.Perbedaan pendapat boleh terjadi, tapi Umar ibnKhattab sebagai kepala negara segera memveto bahwatahun Islam dimulai dari momen hijrah denganbulan Muharram sebagai bulan pertama. Kenapabulan Muharram? Salah satunya, mungkin karenabulan itu adalah termasuk bulan diharamkannyapeperangan (anna Allah harrama al-qatla wa al-qitalfiha). Itu adalah bulan perdamaian nan suci. (Al-Razi,Mafatih al-Ghaib, Juz XV, hlm. 233). Kemungkinanlain, karena bulan Muharram adalah bulan pertamakalinya umat Islam hijrah. Tak ada alasan memadaidibalik penetapan bulan Muharram ini. Lalu, kenapamomen hijrah? Hijrah adalah kelir tebal yangmenandai babak baru perjuangan Islam. Di Madinah,kebajikan tak lagi menjadi dongeng pengantar tiduratau hanya ada dalam mitologi. Madinah kemudianmenjadi kota dengan peradaban maju; hukum bisadijalankan dengan adil, kesejahteraan masyarakat bisaditingkatkan, nilai-nilai kemanusiaan sebagai sumbuajaran Islam secara gradual bisa ditegakkan.Tampaknya dengan sengaja Khalifah Umar ibn Khattab — 36 —
    • « 15/06/2009 Islam dan Pluralitas(isme) Agama Oleh Abd Moqsith Ghazali Ini tidak berarti bahwa semua agama adalah sama. Sebab, di samping memang mengandung kesamaan tujuan untuk menyembah Allah dan berbuat baik, tak bisa dipungkiri bahwa setiap agama memiliki keunikan, kekhasan, dan syari`atnya sendiri. Sebagian mufasir berkata, al- dîn wâhid wa al-syarî`at mukhtalifat [agama itu satu, sementara syari`atnya berbeda-beda]. Detail-detail syari`at ini yang membedakan satu agama dengan agama lain.K pluralism. Kata ini diduga berasal dari bahasaPengertian Dasar kelompok lain itu atas dasar perdamaian dan saling menghormati. Allah berfirman, “Allah tidak melarang ata “pluralisme” berasal dari bahasa Inggris, kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi dalam urusanLatin, plures, yang berarti beberapa dengan implikasi agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu.perbedaan. Dari asal-usul kata ini diketahui bahwa Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yangpluralisme agama tidak menghendaki keseragaman berlaku adil”. QS, al-Mumtahanah [60]: ayat 8bentuk agama. Sebab, ketika keseragaman sudahterjadi, maka tidak ada lagi pluralitas agama (religious Paparan di atas menyampaikan pada suatu pengertianplurality). Keseragaman itu sesuatu yang mustahil. sederhana bahwa pluralisme agama adalah suatuAllah menjelaskan bahwa sekiranya Tuhanmu sistem nilai yang memandang keberagaman atauberkehendak niscaya kalian akan dijadikan dalam satu kemajemukan agama secara positif sekaligus optimisumat. Pluralisme agama tidak identik dengan model dengan menerimanya sebagai kenyataan (sunnatullâh)beragama secara eklektik, yaitu mengambil bagian- dan berupaya untuk berbuat sebaik mungkinbagian tertentu dalam suatu agama dan membuang berdasarkan kenyataan itu. Dikatakan secara positif,sebagiannya untuk kemudian mengambil bagian yang agar umat beragama tidak memandang pluralitas agamalain dalam agama lain dan membuang bagian yang tak sebagai kemungkaran yang harus dibasmi. Dinyatakanrelevan dari agama yang lain itu. secara optimis, karena kemajemukan agama itu sesungguhnya sebuah potensi agar setiap umat terusPluralisme agama tidak hendak menyatakan bahwa berlomba menciptakan kebaikan di bumi.semua agama adalah sama. Frans Magnis-Susenoberpendapat bahwa menghormati agama orang lain Sikap terhadap non-Muslimtidak ada hubungannya dengan ucapan bahwa semuaagama adalah sama. Agama-agama jelas berbeda- Pluralitas agama dan umat beragama adalah kenyataan.beda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan syari`at Sebelum Islam datang, di tanah Arab sudah munculyang menyertai agama-agama menunjukkan bahwa berbagai jenis agama, seperti Yahudi, Nashrani, Majusi,agama tidaklah sama. Setiap agama memiliki konteks Zoroaster dan Shabi’ah. Suku-suku Yahudi sudah lamapartikularitasnya sendiri sehingga tak mungkin semua terbentuk di wilayah pertanian Yatsrib (kelak disebutagama menjadi sebangun dan sama persis. Yang sebagai Madinah), Khaibar, dan Fadak. Di wilayahdikehendaki dari gagasan pluralisme agama adalah Arab ada beberapa komunitas Yahudi yang terpencar-adanya pengakuan secara aktif terhadap agama lain. pencar dan beberapa orang sekurang-kurangnya disebutAgama lain ada sebagaimana keberadaan agama yang Kristen. Pada abad ke empat sudah berdiri Gerejadipeluk diri yang bersangkutan. Setiap agama punya Suriah. Karena itu tak salah jika dinyatakan, Islam lahirhak hidup. dalam konteks agama-agama terutama agama Yahudi dan Nashrani.Nurcholish Madjid menegaskan, pluralisme tidaksaja mengisyaratkan adanya sikap bersedia mengakui Al-Qur’an memiliki pandangan sendiri dalamhak kelompok agama lain untuk ada, melainkan juga menyikapi pluralitas umat beragama tersebut.Terhadapmengandung makna kesediaan berlaku adil kepada Ahli Kitab (meliputi Yahudi, Nashrani, Majusi, dan — 37 —
    • «Shabi’ah), umat Islam diperintahkan untuk mencari yang mendapati dan kemudian mengikutinya, dantitik temu (kalimat sawa`). Kalau terjadi perselisihan celaka bagi yang mengingkarinya”.antara umat Islam dan umat agama lain, umat Islamdianjurkan untuk berdialog (wa jâdilhum billatî hiya Muhammad Husain Haikal melanjutkan kisah tentangahsan). Terhadap siapa saja yang beriman kepada Allah, Qus ibn Sâ`idah. Alkisah, utusan Bani Iyad—sukumeyakini Hari Akhir, dan melakukan amal kebajikan, Qus ibn Sa`îdah—menemui Nabi. Nabi bertanyaal-Qur`an menegaskan bahwa mereka, baik beragama keberadaan Qus. Mereka menjawab, Qus ibn Sâ`idahIslam maupun bukan, kelak di akhirat akan diberi sudah meninggal dunia. Mendengar informasi tersebut,pahala. Tak ada keraguan bahwa orang-orang seperti Nabi teringat akan khotbahnya di Pasar Ukazh; iaini akan mendapatlan kebahagiaan ukhrawi. Ini karena, menunggang unta yang berwarna keabuan sambilsebagaimana dikemukakan Muhammad Rasyid Ridla, berbicara. Tapi, aku tidak hafal detail ungkapannya.keberuntungan di akhirat tak terkait dengan jenis Seseorang (ada yang bilang Abu Bakar) berkata, “sayaagama yang dianut seseorang. hafal wahai Nabi”. Ia kemudian merapalkan isi khotbah Qus tersebut. Rasulullah berkata, “semoga TuhanAl-Qur’an mengijinkan sekiranya umat Islam memberi rahmat kepada Qus dan aku berharap agarhendak bergaul bahkan menikah dengan Ahli Kitab. ia kelak di hari kiamat dibangkitkan dalam umat yangTidak sedikit para sahabat Nabi yang memperisteri mengesakan-Nya”. `Imad al-Shabbâgh menceritakan,perempuan-perempuan dari kalangan Ahli Kitab. Nabi pada akhirnya hafal isi khutbah Qus tersebut.Utsman ibn `Affan, Thalhah ibn Abdullah, Khudzaifah Nabi bersabda, berbeda dengan kecenderungan orang-ibn Yaman, Sa`ad ibn Abi Waqash adalah di antara orang Arab yang menyembah patung, Qus salahsahabat Nabi yang menikah dengan perempuan Ahli seorang yang menyembah Allah Yang Esa.Kitab. Alkisah, Khudzaifah adalah salah seorangsahabat Nabi yang menikah dengan perempuan Pengakuan tentang kenabian Muhammad datangberagama Majusi. Nabi Muhammad juga pernah pertama kali dari pendeta Yahudi bernama Buhairamemiliki budak perempuan beragama Kristen, Maria dan tokoh Kristen bernama Waraqah ibn Nawfal.binti Syama`un al-Qibtiyah al-Mishriyah. Dari Melalui pendeta Buhaira terdengar informasi,perempuan ini, Nabi memiliki seorang anak laki-laki Muhammad akan menjadi nabi pamungkas (khâtambernama Ibrahim. Ia meninggal dalam usia balita. al-nabiyyîn). Buhairâ (kerap disebut Jirjis atauSejarah juga menuturkan, ayah kandung dari Shafiyah Sirjin) pernah mendengar hâtif (informasi spritual)binti Hayy yang menjadi isteri Nabi adalah salah bahwa ada tiga manusia paling baik di permukaanseorang pimpinan kelompok Yahudi. bumi ini, yaitu Buhaira, Rubab al-Syana, dan satu orang lagi sedang ditunggu. Menurutnya, yangNabi Muhammad dan para pengikutnya sangat intens ketiga itu adalah Muhammad ibn Abdillah. Danberkomunikasi dengan orang-orang Ahli Kitab. ketika Muhammad baru pertama kali mendapatkanMuhammad muda pernah mendengarkan khotbah wahyu, Waraqah menjelaskan bahwa sosok yangQus ibn Sâ`idah, seorang pendeta Kristen dari Thaif. datang kepada Muhammad adalah Namus yang duluMuhammad Husain Haikal, sebagaimana dikutip juga datang kepada Nabi Musa. Waraqah menciumKhalîl Abdul Karim, menjelaskan isi khotbah Qus ibn kening Muhammad sebagai simbol pengakuanSâ`idah itu sebagai berikut; terhadap kenabiannya, seraya berkata, “Berbahagialah, berbahagialah. Sesungguhnya kamu adalah orang yang“Wahai manusia, dengarkan dan sadarlah. Siapa yang dikatakan `Isa ibn Maryam sebagai kabar gembira.hidup pasti mati, dan siapa yang mati pasti musnah. Engkau seperti Musa ketika menerima wahyu. EngkauSemuanya pasti akan datang. Malam gelap gulita, langit seorang utusan”. Nabi pernah bersabda bahwa Waraqahyang beribntang, laut yang pasang, bintang-bintang akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah.yang bercahaya, cahaya dan kegelapan, kebaikan dankemaksiatan, makanan dan minuman, pakaian dan Nabi Muhammad tak menganggap ajaran agamakendaraan. Aku tidak melihat manusia pergi dan tidak sebelum Islam sebagai ancaman. Islam adalah terusankembali, menetap dan tinggal di sebuah tempat, atau dan kontinyuasi dari agama-agama sebelumnya. Allahmeninggalkannya kemudian tidur. Tuhannya Qus ibn berfirman kepada Nabi Muhammad agar ia mengikutiSa’adah tidak ada di muka bumi. Agama yang paling agama Nabi Ibrahim (millat Ibrahim). Sebagaimanamulia semakin dekat waktunya denganmu, semakin Isa al-Masih datang untuk menggenapi hukum Taurat,dekat saatnya. Maka sungguh beruntung bagi orang begitu juga Nabi Muhammad. Ia hadir bukan untuk — 38 —
    • «menghapuskan Taurat dan Injil, melainkan untuk membangun sebuah rumah. Lalu ia buat rumah itumenyempurnakan dan mengukuhkannya. Disebutkan bagus dan indah, kecuali ada tempat bagi sebuahdalam al-Qur’an, “Dia menurunkan al-Kitab (al- ubin di sebuah sudut. Orang banyak pun berkelilingQur’an) kepadamu dengan sebenarnya, membenarkan rumah itu dan mereka takjub, lalu berkata, “mengapakitab (mushaddiq) yang telah diturunkan sebelumnya ubin itu tidak dipasang. Nabi bersabda, “Akulah ubindan menurunkan Taurat dan Injil sebelum al-Qur’an itu, Aku adalah penutup para nabi”. Umat Islam punmenjadi petunjuk bagi manusia dan Dia menurunkan diperintahkan meyakini dan menghargai seluruh paraal-Furqan”. nabi plus kitab suci yang dibawanya. Jika para nabi yang membawa ajaran-ajaran ketuhanan itu dikatakanAl-Qurthubi mengutip pendapat jumhur ulama yang Muhammad sebagai bersaudara, maka para pengikutmenyatakan bahwa arti kata mushaddiq dalam ayat atau pemeluk agama-agama itu disebut sebagai Ahliitu adalah muwâfiq (cocok atau sesuai). Menurut Ibnu Kitab.`Abbâs dan al-Dlahhak, makna atau esensi dasar ajaranal-Qur’an sesungguhnya telah tercantum dalam kitab- Ketika Nabi Muhammad memasuki Mekah dengankitab sebelum al-Qur’an semisal Taurat Musa, Shuhuf kemenangan dan menyuruh menghancurkan berhalaIbrahim. Yang berbeda hanya redaksionalnya bukan dan patung, dia menemukan gambar Bunda Mariamakna atau esensinya. Ketika ragu tentang sebuah (Sang Perawan) dan Isa al-Masih (Sang Anak) diwahyu, al-Qur’an memerintahkan Nabi Muhammad dalam Ka`bah. Dengan menutupi gambar tersebutuntuk bertanya pada orang-orang yang sudah membaca dengan jubahnya, dia memerintahkan semua gambarkitab-kitab sebelum al-Qur’an. Sebab, di dalam dihancurkan kecuali gambar dua tokoh itu. Dalamkitab-kitab suci itu, ada prinsip-prinsip dasar yang riwayat lain disebutkan, yang diselamatkan itu bukanmerekatkan seluruh ajaran para nabi. hanya gambar Isa al-Masîh dan ibunya (Maryam), melainkan juga gambar Nabi Ibrahim. Patung MaryamIni tidak berarti bahwa semua agama adalah sama. yang terletak di salah satu tiang Ka`bah dan patungSebab, di samping memang mengandung kesamaan Nabi Isa di Hijirnya yang dipenuhi berbagai hiasantujuan untuk menyembah Allah dan berbuat baik, tak dibiarkan berdiri tegak. Tindakan ini diceritakanbisa dipungkiri bahwa setiap agama memiliki keunikan, berbagai sumber sebagai penghargaan Muhammadkekhasan, dan syari`atnya sendiri. Sebagian mufasir terhadap Isa, Maryam (Bunda Maria), dan Ibrahim.berkata, al-dîn wâhid wa al-syarî`at mukhtalifat [agama Ini menunjukkan, sikap saling menghargai telahitu satu, sementara syari`atnya berbeda-beda]. Detail- dikukuhkan Nabi semenjak awal kehadiran Islam.detail syari`at ini yang membedakan satu agama denganagama lain. Sebab, tidaklah mustahil bahwa sesuatu Itulah sikap teologis al-Qur’an dalam meresponsyang bernilai maslahat dalam suatu tempat dan waktu pluralitas agama dan umat beragama. Sementaratertentu, kemudian berubah menjadi mafsadat dalam sikap sosial-politisnya berjalan dinamis dan fluktuatifsuatu ruang dan waktu yang lain. Bila kemaslahatan Adakalanya tampak mesra. Di kala yang lain, sangatdapat berubah karena perubahan konteks, maka dapat tegang. Ketika Romawi yang Kristen kalah perangsaja Allah menyuruh berbuat sesuatu karena diketahui melawan Persia, umat Islam ikut bersedih. Satumengandung maslahat, kemudian Allah melarangnya ayat al-Qur’an turun menghibur kesedihan umatpada waktu lain karena diketahui ternyata aturan Islam tersebut. Disebutkan pula, ketika Muhammadtersebut tidak lagi menyuarakan kemaslahatan. SAW mengadakan perjalanan ke Thaif, ia bertemu seorang budak pemeluk agama Kristen bernamaNamun, perbedaan syari`at itu tak menyebabkan Islam `Uddâs di Ninawi Irak (kota asal Nabi Yunus). Ketikakehilangan apresiasinya terhadap para nabi. Dalam Muhammad dikejar-kejar, `Uddâs yang memberikanpandangan Islam, semua nabi adalah bersaudara. setangkai anggur untuk dimakan.Nabi Muhammad bersabda, “tak ada orang yangpaling dekat hubungan kekerabatannya dengan Isa Diceritakan, ketika Muhammad dan pengikutnyaal-Masih ketimbang aku”. Ia bersabda, umat Islam mendapatkan intimidasi dan ancaman dari kaumyang mengimani Nabi Isa dan Muhammad SAW Musyrik Mekah, perlindungan diberikan raja Abisiniaakan mendapatkan dua pahala. Nabi Muhammad yang Kristen. Puluhan sahabat Nabi hijrah ke Abisiniajuga bersabda, sebagaimana dalam Shahih Bukhari, untuk menyelamatkan diri, seperti `Utsman ibn `Affân”sesungguhnya perumpamaan antara aku dengan dan istrinya (Ruqayah, puteri Nabi), Abû Hudzaifahpara nabi sebelumnya adalah ibarat seseorang yang ibn `Utbah, Zubair ibn `Awwâm, Abdurrahman — 39 —
    • «ibn `Auf, Ja`far ibn Abî Thâlib, hijrah ke Abesinia seluruh penduduk Madinah, apapun latar belakanguntuk menghindari ancaman pembunuhan kafir etnis dan agamanya, harus saling melindungi tatkalaQuraisy. Disaat kafir Quraisy memaksa sang raja salah satu di antara mereka mendapatkan serangan darimengembalikan umat Islam ke Mekah, ia tetap luar. Sekiranya kaum Yahudi mendapatkan seranganpada pendiriannya; pengikut Muhammad harus dari luar, maka umat Islam membantu menyelamatkandilindungi dan diberikan haknya memeluk agama. nyawa dan harta benda mereka. Begitu juga, tatkalaSebuah ayat al-Qur`an menyebutkan, “kalian (umat umat Islam diserang pihak luar, maka kaum YahudiIslam) pasti mendapati orang-orang yang paling dekat ikut melindungi dan menyelamatkan. Pada paragrafpersahabatannya dengan orang-orang Islam adalah awal Piagam itu tercantum “Jika seorang pendetaorang-orang yang berkata, “sesungguhnya kami atau pejalan berlindung di gunung atau lembah atauorang Kristen”. Disebutkan pula, waktu raja Najasyi gua atau bangunan atau dataran raml atau Radnahmeninggal dunia, Muhammad SAW pun melaksanakan (nama sebuah desa di Madinah) atau gereja, makashalat jenazah dan memohonkan ampun atasnya. aku (Nabi) adalah pelindung di belakang mereka dari setiap permusuhan terhadap mereka demi jiwaku,Alkisah, Nabi pernah menerima kunjungan para tokoh para pendukungku, para pemeluk agamaku dan paraKristen Najran yang berjumlah 60 orang. Rombongan pengikutku, sebagaimana mereka (kaum Nashrani) itudipimpin Abdul Masih, al-Ayham dan Abu Haritsah adalah rakyatku dan anggota perlindunganku”.ibn Alqama. Abu Haritsah adalah seorang tokohyang disegani karena kedalaman ilmunya dan konon Apa yang dilakukan Nabi Muhammad di Madinahkarena beberapa karomah yang dimilikinya. Menurut ini menginspirasi Umar ibn Khattab untuk membuatMuhammad ibn Ja’far ibn al-Zubair, ketika rombongan traktat serupa di Yerusalem, dikenal dengan “Piagamitu sampai di Madinah, mereka langsung menuju Aelia”, ketika Islam menguasai wilayah ini. Piagammesjid tatkala Nabi melaksanakan shalat ashar bersama ini berisi jaminan keselamatan dari penguasa Islampara sahabatnya. Mereka datang dengan memakai terhadap penduduk Yerusalem, yang beragama non-jubah dan surban, pakaian yang juga lazim dikenakan Islam sekalipun. Salah satu penggalan paragrafnyaMuhammad SAW. Ketika waktu kebaktian telah tiba, berbunyi:mereka pun tak mencari gereja. Nabi Muhammadmemperkenankan rombongan melakukan kebaktian “Inilah jaminan keamanan yang diberikan Abdullah,atau sembahyang di dalam mesjid. Umar, Amirul Mukminin kepada penduduk Aelia: Ia menjamin keamanan mereka untuk jiwa dan hartaHal yang sama juga dilakukan Nabi pada kalangan mereka, dan untuk gereja-gereja dan salib-salib mereka,Yahudi. Ketika pertama sampai di Madinah, Nabi dalam keadaan sakit maupun sehat, dan untuk agamamembuat konsensus untuk mengatur tata hubungan mereka secara keseluruhan. Gereja-gereja mereka tidakantara kaum Yahudi, Musyrik Madinah, dan Islam. akan diduduki dan tidak pula dirusak, dan tidak akanTraktat politik itu dikenal dengan “Piagam Madinah” dikurangi sesuatu apapun dari gereja-gereja itu danatau “Miytsâq al-Madînah”, dibuat pada tahun pertama tidak pula dari lingkungannya, serta tidak dari salibhijriyah. Sebagian ahli berpendapat bahwa Piagam mereka, dan tidak sedikitpun dari harta kekayaanMadinah itu dibuat sebelum terjadinya perang Badar. mereka (dalam gereja-gereja itu). Mereka tidak akanSedang yang lain berpendapat bahwa Piagam itu dibuat dipaksa meninggalkan agama mereka, dan tidaksetelah meletusnya perang Badar. Piagam ini memuat seorang pun dari mereka boleh diganggu”.47 pasal. Pasal-pasal ini tak diputuskan sekaligus.Menurut Ali Bulac, 23 pasal yang pertama diputuskan Muhammad Rasyîd Ridlâ menuturkan bahwa Umarketika Nabi baru beberapa bulan sampai di Madinah. ibn Khattab pernah mengangkat salah seorang stafnyaPada saat itu, Islam belum menjadi agama mayoritas. dari Romawi. Ini juga dilakukan Utsman ibn Affan,Berdasarkan sensus yang dilakukan ketika pertama Ali ibn Abi Thalid, raja-raja Bani Umayyah hinggakali Nabi berada di Madinah itu, diketahui bahwa suatu waktu Abdul Malik ibn Marwan menggantikanjumlah umat Islam hanya 1.500 dari 10.000 penduduk staf orang Romawi ke orang Arab. Daulah AbbasiyahMadinah. Sementara orang Yahudi berjumlah 4000 juga banyak mengangkat staf dari kalangan Yahudi,orang dan orang-orang Musyrik berjumlah 4.500 Nashrani, dan Shabiun. Daulah Utsmaniyah jugaorang. mengangkat duta besar di negara-negara asing dari kalangan NashraniDikatakan dalam piagam tersebut misalnya bahwa — 40 —
    • «Di kala yang lain, hubungan umat Islam dengan kediamannya, maka umat Islam diijinkan membela diriumat agama lain itu tegang bahkan keras. Islam dan melawan. Setelah kurang lebih 13 tahun lamanyapernah berkonflik dengan Yahudi, juga dengan Nabi dan umatnya bersabar menghadapi ketidakadilanKristen. Sejauh yang bisa dipantau, sikap tegas dan dan penyiksaan di Mekah, maka baru pada tahun ke 15keras yang ditunjukkan al-Qur`an lebih merupakan ketika Nabi sudah berada di Madinah perlawanan danreaksi terhadap pelbagai penyerangan orang-orang pembelaan diri dilakukan. Dalam konteks itulah, ayat-non-Muslim dan orang-orang Musyrik Mekah. ayat perang dan jihad militer diperintahkan.Islam bukanlah agama yang memerintahkan umatIslam untuk menyerahkan pipi kiri ketika pipi kanan Oleh karena itu, jelas bahwa pandangan al-Qur’anditampar. Membela diri dan melawan ketidakadilan terhadap umat agama lain dalam soal ekonomi-politikdibenarkan. Dalam konteks itulah, ayat jihad dan bersifat kondisional dan situasional sehingga tak bisaperang dalam al-Qur`an diturunkan. Jihad melawan diuniversalisasikan dan diberlakukan dalam semuakeganasan orang-orang Musyrik dan Kafir Mekah tak keadaan. Ayat demikian bisa disebut sebagai ayat-ayatdilarang, bahkan diperintahkan. Sebab, orang-orang fushul (fushûl al-Qur’ân), ayat juz’iyyât, atau fiqhMusyrik Mekah bukan hanya telah mengintimidasi al-Qur’an. Ayat-ayat kontekstual seperti itu, dalamumat Islam, tetapi juga mengusir umat Islam dari pandangan para mufasir, tak bisa membatalkan ayat-kediamannya. ayat yang memuat prinsip-prinsip umum ajaran Islam, seperti ayat yang menjamin kebebasan beragama danFakta ini membenarkan sebuah pandangan bahwa berkeyakinan. Tambahan pula, ayat lâ ikrâha fî al-dînpeperangan pada zaman Nabi dipicu karena persoalan adalah termasuk lafzh `âm (pernyataan umum) yangekonomi-politik daripada soal agama atau keyakinan. menurut ushul fikih Hanafi adalah tegas dan pastiIni bisa dimaklumi karena al-Qur’an sejak awal (qath`i), sehingga tak bisa dihapuskan (takhshish,mendorong terwujudnya kebebasan beragama dan naskh) oleh ayat-ayat kontekstual apalagi hadits ahâdberkeyakinan. Al-Qur’an tak memaksa seseorang (seperti hadits yang memerintahkan membunuh orangmemeluk Islam. Allah berfirman (QS, al-Baqarah pindah agama) yang dalâlahnya adalah zhanni (relatif ).[2]: 256), lâ ikrâha fî al-dîn (tak ada paksaan dalam Ayat lâ ikrâha fî al-dîn bersifat universal, melintasisoal agama). Di ayat lain (QS, al-Kafirun [106]: 6) ruang dan waktu. Ayat yang berisi nilai-nilai umumdisebutkan, lakum dinukum wa liya dini [untukmulah ajaran disebut sebagai ayat ushûl (ushûl al-Qur’ân) atauagamamu, dan untukkulah agamaku]. Al-Qur’an ayat kulliyât.memberikan kebebasan kepada manusia untuk berimandan kafir [Faman syâ’a falyu’min waman syâ’a falyakfur] Dalam masyarakat plural seperti Indonesia, saatnya(QS, al-Kahfi [18]: 29). Al-Qur’an melarang umat umat Islam lebih memperhatikan ayat-ayat universal,Islam untuk mencerca patung-patung sesembahan setelah sekian lama memfokuskan diri pada ayat-ayatorang-orang Musyrik. Al-Qur’an tak memberikan partikular. Ayat-ayat partikular pun kerap dibacasanksi hukum apapun terhadap orang Islam yang dengan dilepaskan dari konteks umum yang melatar-murtad. Seakan al-Qur’an hendak menegaskan bahwa belakangi kehadirannya. Berbeda dengan ayat-ayatsoal pindah agama merupakan soal yang bersangkutan partikular, ayat-ayat universal mengandung pesan-dengan Allah. Tuhan yang akan memberikan keputusan pesan dan prinsip-prinsip umum yang berguna untukhukum terhadap orang yang pindah agama, kelak membangun tata kehidupan Indonesia yang damai.di akhirat. Sejarah mencatat, Rasulullah tak pernahmenghukum bunuh orang yang pindah agama. Untuk membangun Indonesia yang damai tersebut, maka beberapa langkah berikut perlu dilakukan.Penutup Pertama, harus dibangun pengertian bersama dan mencari titik temu (kalimat sawa`) antar umatBisa dikatakan, relasi sosial-politik umat Islam beragama. Ini untuk membantu meringankandengan umat agama lain sangat dinamis. Sikap Islam ketegangan yang kerap mewarnai kehidupan umatterhadap umat lain sangat tergantung pada penyikapan beragama di Indonesia. Dalam konteks Islam,mereka terhadap umat Islam. Jika umat non-Islam membangun kerukunan antar-umat beragama jelasmemperlakukan umat Islam dengan baik, maka tak membutuhkan tafsir al-Qur’an yang lebih menghargaiada larangan bagi umat Islam berteman dan bersahabat umat agama lain. Tafsir keagamaan eksklusif yangdengan mereka. Sebaliknya, sekiranya mereka bersikap cenderung mendiskriminasi umat agama lain tak cocokkeras bahkan hingga mengusir umat Islam dari tempat buat cita-cita kehidupan damai, terlebih di Indonesia. — 41 —
    • «Sebab, sudah maklum, Indonesia adalah negarabangsa yang didirikan bukan hanya oleh umat Islam,tetapi juga oleh umat lain seperti Hindu, Budha, danKristen. Dengan demikian, di Indonesia tak dikenalwarga negara kelas dua (kafir dzimmi) sebagaimanadikemukakan sebagian ulama. Menerapkan tafsir-tafsir keagamaan eksklusif tak cukup menolong bagiterciptanya kerukunan dan kedamaianKedua, setiap orang perlu menghindari stigmatisasidan generalisasi menyesatkan tentang umat agama lain.Generalisasi merupakan simplifikasi (penyederhanaan)dan stigmatisasi adalah merugikan orang lain. Al-Qur’an berusaha untuk menjauhi generalisasi. Al-Qur’an menyatakan, tak seluruh Ahli Kitab memilikiperilaku dan tindakan sama. Di samping ada yangberperilaku jahat, tak sedikit di antara mereka yangkonsisten melakukan amal saleh dan beriman kepadaAllah.Ketiga, sebagaimana diperintahkan al-Qur’an danditeladankan Nabi Muhammad, umat Islam seharusnyamemberikan perlindungan dan jaminan terhadapimplementasi kebebasan beragama dan berkeyakinan.Sebagaimana orang Islam bebas menjalankanajaran agamanya, begitu juga dengan umat dansekte lain. Seseorang tak boleh didiskriminasi dandiekskomunikasi berdasarkan agama yang dipilihdan diyakininya. Dalam kaitan ini, umat Islam perlumengembangkan sikap toleran, simpati dan empatiterhadap kelompok atau umat agama lain.[] — 42 —
    • « 26/01/2009 Menyambut Ultah NU ke 83 NU dan Passing Over Pemikiran Oleh Abd Moqsith Ghazali Gerakan purifikasi itu dikeluhkan dan ditentang para kiai pesantren karena potensial merubuhkan jenis-jenis keislaman lokal nusantara. Bagi para kiai, tak ada Islam murni dan tak murni. Islam selalu berwatak lokal dan pribumi. Dengan memodifikasi pernyataan Junaid al-Baghdadi (w. 297 H.), para kiai berpendirian bahwa Islam itu warna-warni.Yang menjadi perekat dari berbagai ekspresi keislaman itu, menurut para kiai, adalah nilai-nilai dasar dari agama itu (maqashid al-syari`at).8 sebagai organisasi sosial keagamaan (jam`iyah 3 tahun lalu (31/1/1926), Nahdlatul Ulama berdiri Di Indonesia juga sama. Ada Islam Aceh, Islam Minangkabau, di samping Islam Sasak dan Islam Jawa.diniyah ijtima`iyah). Kehadirannya saat itu memiliki Di Jawa pun, ekspresi keislaman bisa dibedakan antarabeberapa tujuan pokok, di antaranya: Pertama, pesisir utara Jawa yang cenderung ortodoks dan pesisirmenahan laju purifikasi Islam yang digelorakan selatan Jawa yang lebih heterodoks. Kita bisa melihatbeberapa tokoh Wahabi Indonesia. Gerakan purifikasi tampilan keislaman di utara Jawa mulai dari Banten,itu dikeluhkan dan ditentang para kiai pesantren Cirebon, Pekalongan, Rembang, Tuban, Surabaya,karena potensial merubuhkan jenis-jenis keislaman Pasuruan, hingga Situbondo yang berbeda denganlokal nusantara. Bagi para kiai, tak ada Islam murni dan karakter keislaman selatan Jawa mulai dari Yogyakarta,tak murni. Islam selalu berwatak lokal dan pribumi. Kebumen, Magelang, Ngawi, Blitar, Pacitan, LumajangDengan memodifikasi pernyataan Junaid al-Baghdadi hingga Banyuwangi. Sadar akan pluralitas itu, NU tak(w. 297 H.), para kiai berpendirian bahwa Islam itu punya ambisi untuk merangkum kaum nahdliyyinwarna-warni. La lawna lahu. Walawnuhu lawna ina’ihi. ke dalam satu cluster pemikiran yang ekslusif.Yang menjadi perekat dari berbagai ekspresi keislaman Warga NU hingga hari ini dibiarkan dengan segalaitu, menurut para kiai, adalah nilai-nilai dasar dari keanekaragamannya. Sekali lagi, yang menjadi semenagama itu (maqashid al-syari`at). perekatnya adalah maqashid al-syari`at.Fakta antropologis, sosiologis, dan intelektual Kedua, NU berdiri untuk mengedukasi masyarakatmenunjukkan bahwa pernah ada Islam Hijaz dan agar tak fanatik pada salah satu mazhab pemikiran.Islam Persia. Jika Islam Hijaz bersandar pada kekuatan Dalam Statuten Perkoempoelan Nahdlatul Ulama pasaldalil normatif al-Qur’an dan Hadits (dalil naqli), 2 disebutkan tentang tujuan berdirinya NU, “Adapoenmaka Islam Persia secara umum bertunjang pada maksoed perkoempoelan ini jaitoe memegang dengankekuatan akal (dalil aqli). Sejumlah pengamat masih tegoeh satoe dari mazhabnja imam empat jaitoe Imammengkategorikan Islam Persia ke dalam dua corak; Moehammad bin Idris asj-Sjafi’i, Imam Malik binIslam Kufah dan Islam Bashrah Sekiranya Islam Anas, Imam Aboe Hanifah An-Ne’man, atoe ImamKufah berparadigma formalistik-rasionalistik dengan Ahmad bin Hanbal, dan mengedjakan apa saja yangtokohnya misalnya Ibrahim al-Nakha`i (w. 95 H.), mendjadikan kemaslahatan agama Islam”. Artinya, diMasruq al-Hamdani (w. 63 H.), maka Islam Bashrah tengah masyarakat yang hanya bersandar pada mazhabberaroma sufitik-spiritual dengan tokohnya Hasan Syafi’i saat itu, NU membuka ruang bagi diikutinyaal-Bashri (w. 110 H.) dan Rabi`ah al-Adawiyah (w. mazhab lain bahkan yang dikenal rasional sekalipun185 H.). Jika rasionalisme para ulama di Kufah seperti Imam Abu Hanifah.dipandang sebagai respons positif atas filsafat Yunaniyang berkembang di sana, maka asketisme Hasan al- Kini sejumlah kiai NU melakukan passing overBashri dan eskapisme Rabi`ah ditempuh sebagai kritik pemikiran. Dalam berbagai kegiatan ilmiah danterhadap hedonisme yang menghunjam di Bashrah. bahtsul masa’il, mereka tak hanya mengutip para imam — 43 —
    • «mazhab dari rumpun keislaman Sunni, melainkanjuga dari kelompok lain seperti Mu`tazilah dan Syi`ah.Sejumlah kiai merujuk pada tafsir al-Zamakhsyari yangberhaluan Mu`tazilah dan fikih Ja`fari yang Syi`ah.Di beberapa pesantren, tafsir al-Kasysyaf yang ditulisal-Zamakhsyari dipelajari secara khusus oleh parasantri. Saya juga berjumpa dan kenal dengan beberapakiai NU yang secara diam-diam melahap buku-bukukeislaman progresif yang ditulis misalnya oleh HassanHanafi, Mohamed Arkoen, Nashr Hamid Abu Zaid,Muhammad Syahrur, dan Khalil Abdul Karim. Dalamsoal pemikiran keislaman, sikap para kiai NU clear-cut; “lihat apa yang dikatakan bukan siapa yangmengatakan” (unzhur ma qala wa la tanzhur man qala).Kesahihan sebuah pemikiran tak diukur dari siapa yangmengatakannya, tapi apa yang dikatakannya—sepertiapa argumennya dan bagaimana kemanfaatannya.Seperti disebutkan di ujung terakhir pasal 2 StatutenPerkoempoelan NU itu, kemasalahatan adalahjangkar dari seluruh diskursus keislaman dalam NU.Pandangan ini tak asing. Sebab, mayoritas ulamaIslam memang berpendirian demikian. Izz al-Din IbnAbdi al-Salam (w. 660 H.) misalnya berkata, “seluruhketentuan dan ajaran di dalam Islam dikembalikansepenuhnya kepada kemaslahatan” (innama al-takalifkulluha raji`atun ila mashalih al-`ibad fi dunyahum waukhrahum). Akhirnya, basis kemaslahtan inilah yangmenjadi parameter keabsahan sebuah pemikiran dalamIslam dan ini juga yang terus mendinamisasi pemikirandalam tubuh Nahdlatul Ulama, dari dulu hinggasekarang. Selamat Ulang Tahun NU yang ke 83. [] — 44 —
    • « 02/09/2008 Teologi Ramadan dan Kerukunan Antar-Umat Oleh Abdul Moqsith Ghazali Orang yang gagal dalam puasa adalah mereka yang telah menjalankan ibadah puasa tapi tetap melakukan kekerasan sekalipun dengan basis dan argumen agama. Saya percaya, semakin banyak umat Islam yang khusuk dalam berpuasa, maka semakin berkurang jumlah kekerasan dan konflik yang menyertakan umat beragama. Ramadan adalah titik terpenting bagi upaya peningkatan toleransi dan kerukunan intra dan antar-umat beragama.H pertama puasa Ramadan. Sebagaimana tahun- Artikel ini sebelumnya telah dimuat di Media Indonesia, tanggal 1 September 2008 ari ini umat Islam Indonesia memasuki hari menetapkannya sebagai salah satu sunnahku. Maka, barangsiapa yang menjalankan ibadah puasa dengantahun sebelumnya, mereka menyambut bulan suci itu keimanan penuh, maka Allah akan menghapus dosa-dengan beragam cara; mulai dari sekedar mengirim sms dosanya seperti seorang anak yang baru keluar dari(layanan pesan cepat) permintaan maaf ke sejumlah rahim ibundanya”.kolega hingga membentang spanduk dan poster yangberisi ucapan selamat atas datangnya bulan yang sarat Hadits lain menyebutkan bahwa minggu pertamaberkah itu (syahr mubarak). Bahkan, perempuan bulan Ramadhan adalah minggu ampunan atas dosa-yang tak lazim menggunakan jilbab pun mengisi dosa. Tentu saja, dosa yang akan diampuni itu hanyalahRamadan dengan busana yang membalut seluruh dosa yang terkait antaranya dirinya dengan Allahtubuh. Di mana-mana kita menyaksikan orang-orang (hablun min Allah). Sementara dosa privat terhadapmemakai baju koko sehingga tampak lebih islami dan sesama manusia tak bisa diampuni kecuali terlebihreligius. Tabung televisi yang semula mengandung dahulu meminta maaf kepada yang bersangkutan. Itupertunjukan dangkal makna tiba-tiba berubah dengan sebabnya, ketika mau memasuki Ramadan, maka SMSspiritualisme. Layar kaca penuh dengan siraman dan surat permintaan maaf itu banyak dilakukan umatruhani. Mesjid-mesjid serta mushalla semarak dengan Islam. Namun, penting ditekankan, dosa publik sepertikultum (kuliah tujuh menit) dari para ustadz. Suasana korupsi bisa terampunkan sekiranya sebuah sanksiitu kian menebalkan kesan bahwa umat Islam sedang hukum telah dijatuhkan untuk si koruptur tersebut.berada dalam “peristiwa spiritual” yang dahsyat. Menurut para ahli fikih Islam, tindakan korupsi takTampaknya mereka sedang meresapi sebuah hadits diampuni hanya dengan menjalankan ibadah puasayang menyebutkan, “barang siapa yang bersuka cita Ramadhan.dengan kehadiran bulan Ramadan, maka Allah akanmengharamkan tubuh yang bersangkutan tersentuh Kedua, bahwa Ramadhan juga membakar perut yangapi neraka” (man fariha bi dukhuli Ramadlan harrama sedang berpuasa. Selama berpuasa umat Islam takAllah jasadahu `ala al-niyran). diperbolehkan makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkan puasa semenjak terbit fajar hinggaBagi umat Islam, puasa yang wajib adalah puasa terbenam matahari. Dengan berpuasa, orang kayasepanjang bulan Ramadan. Secara etimologis, yang tak pernah lapar ikut merasakan kelaparan yangRamadhan sendiri berarti terik, panas, terbakar. Ini senantiasa mendera hari demi hari orang miskin dimengandung beberapa pengertian. Pertama, bahwa luar Ramadhan. Karena itu, di bulan Ramadhan umatRamadhan akan membakar dosa seseorang pada Tuhan. Islam diperintahkan untuk mengeluarkan zakat fitrahItu sebabnya, bulan Ramadhan disebut sebagai bulan yang diperuntukkan terutama buat kaum fakir danampunan (syahrul maghfirah). Nabi Muhammad miskin. Menurut Abu Hanifah, zakat fitrah tak harusbersabda, “sesungguhnya Allah telah mewajibkan diberikan kepada sesama muslim, melainkan jugaumat Islam berpuasa di bulan Ramadan, dan saya bisa diberikan kepada orang-orang non-muslim yang — 45 —
    • «fakir dan miskin. Bahkan, al-Mahdawi berpendapat berpuasa pada hari Asyura hingga turun perintahbahwa dibolehkan bagi umat Islam untuk memberikan yang mewajibkan umat Islam berpuasa di bulanzakat kepada orang Musyrik yang miskin. Inilah saya Ramadan. Dikisahkan, puasa pada hari Asyura inikira salah satu makna dari Islam sebagai rahmatan lil dilakukan Nabi sebagai bukti penghargaan terhadapalamin. kaum Yahudi dan terhadap Nabi Musa. Itu berarti bahwa puasa merupakan ibadah lintas agama. PuasaKetiga, bahwa Ramadhan potensial membakar juga mengandung makna penghargaan terhadap umathawa nafsu duniawi orang yang berpuasa. Dengan agama lain.demikian, orang yang menjalankan ibadah puasabukan orang yang rakus dan tamak. Ia bisa menahan Dengan demikian, umat Islam yang sukses dalamdiri dari kecenderungan hedonistik. Sebab, kita semua menjalankan ibadah puasa adalah mereka yang kianmengerti bahwa makin tingginya angka korupsi toleran dan respek terhadap umat agama lain. Orangdan penyelewengan di negeri ini bukan karena para yang berpuasa tak akan membakar rumah ibadah umatpelakunya lapar dan miskin, melainkan karena rakus agama lain dan tak menghancurkan mesjid orang-orangdan tamak. Para pejabat tinggi masih korupsi walau Islam yang dianggap menyimpang. Jika dieksplisitkan,gajinya berpuluh juta rupiah. Ramadan mendidik kita orang yang gagal dalam puasa adalah mereka yanguntuk tak terus memperturunkan keserakahan dan telah menjalankan ibadah puasa tapi tetap melakukanketamakan. Orang bijak nan arif berkata, kekayaan kekerasan sekalipun dengan basis dan argumen agama.bumi Indonesia cukup untuk memenuhi kebutuhan Saya percaya, semakin banyak umat Islam yangseluruh warganya, tapi tak memadai untuk menuruti khusuk dalam berpuasa, maka semakin berkurangkeinginan dan nafsu satu orang penghuninya. jumlah kekerasan dan konflik yang menyertakan umat beragama. Ramadan adalah titik terpenting bagi upayaPuasa dan Kerukunan peningkatan toleransi dan kerukunan intra dan antar- umat beragama.Apa sebenarnya makna puasa bagi umat IslamIndonesia dan negeri Indonesia yang plural ini? Semua Akhirnya, walau yang melakukan ibadah puasapelajar Islam tahu, al-Qur’an menegaskan bahwa Ramadhan itu hanya umat Islam, sudah semestinyaibadah puasa tak murni dari Islam. Para ulama ushul yang ikut merasakan efek positif dari puasa Ramadanfikih memasukkan puasa ke dalam salah satu ajaran adalah seluruh warga bangsa di Indonesia ini. Selamatyang didasarkan pada syariat pra-Islam (syar`u man menunaikan ibadah puasa Ramadan 1429 H. []qablana). Sebab, umat-umat sebelumnya memangsudah biasa menjalankan puasa untuk mencapai derajatketakwaan. Allah berfirman dalam al-Qur’an, “Haiorang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalianberpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orangsebelum kalian, agar kalian bertakwa”. Imam Al-Quthubi dalam bukunya al-Jami` li Ahkam al-Qur’an(Juz I, hlm. 672) menyatakan bahwa umat NabiNuh, Nabi Musa, dan Nabi Isa telah mempraktekkanibadah puasa, walau dengan waktu dan tata cara yangmungkin berbeda dengan yang dilaksanakan umatIslam. Satu bukti, dalam Perjanjian Baru misalnyadisebutkan, “Dan apabila kamu berpuasa, janganlahmuram mukamu seperti orang munafik..” (Matius:6:16).Sebuah hadits sahih menyebutkan, ketika pertamakali datang ke Madinah, Nabi mendapati orang-orangYahudi berpuasa pada hari Asyura. (Shahih Bukhari,hadits ke 3942 dan 3943). Hadits lain menyebutkan,orang-orang Quraisy sebelum Islam terbiasa melakukanpuasa Asyura. Dan Nabi memerintahkan umat Islam — 46 —
    • « 16/04/2007 Dari Kartini Sampai Feminis Islam:Menyambut Hari Kartini 21 April 2007 Oleh Abd Moqsith Ghazali Yang tak kalah spektakuler adalah gerakan sekelompok feminis Muslim yang merumuskan Counter Legal Draft (CLD) terhadap Kompilasi Hukum Islam (KHI) hasil produk Inpres No.1 tahun 1991. Bagi mereka, KHI masih mengidap cara pandang dan filosofi patriakrhi. Karena itu, perlu revisi agar selaras dengan semangat Islam yang menuntut keadilan dan kesetaraan.P erjuangan keadilan dan kesetaraan gender di Aisyi’ah Muhammadiyah, dan Muslimat NU. Ini negeri ini telah berlangsung lama, sejak sebelum berlangsung antara akhir 1920-an hingga akhirIndonesia merdeka hingga era reformasi. Tokoh-tokoh 1950-an. Isu yang berkembang masih sama dengandan isunya pun beragam. Jika dikategorisasi secara sebelumnya, yaitu emansipasi perempuan di pelbagaiperiodik, gerakan feminisme Indonesia punya empat bidang, termasuk penolakan poligami, pembenahangelombang. pendidikan, dan sebagainya.Pertama, dirintis oleh individu-individu yang tak Organisasi perempuan Muhammadiyah, Aisyi’ah,terlembaga dan terorganisasi secara sistemik. Mereka cukup gencar menyuarakan pentingnya perempuanbergerak sendiri-sendiri. Mungkin karena hambatan mengambil bagian di ruang publik, karena merekadan keterbatasan, perempuan sekuler seperti RA punya hak yang setara dengan laki-laki untukKartini, tak bersinergi dengan perempuan Muslim meningkatkan kualitas diri. Cukup mengagetkan,dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Muslimat NU—yang dikenal tradisional—dalam sebuah konferensi di Surabaya (1930-an) mulaiPeriode ini berlangsung senjak akhir abad ke-19 dan mendesak agar perempuan dibolehkan memasukiawal abad ke-20. Tokoh-tokoh perempuan Muslim lembaga-lembaga politik.yang muncul pada periode ini, antara lain RohanaKuddus (Minangkabau), Rahmah el-Yunusiyah, dan Desakan Muslimat NU ini dikukuhkan konferensilain-lain. Mereka telah mendirikan pesantren khusus besar Syuriah NU (1957) di Solo yang membolehkanperempuan (ma’had li al-banat). Di pesantren, remaja- perempuan menjadi anggora parlemen. Pada perioderemaja puteri diajari baca-tulis. Telah disadari, belajar ini, undang-undang keluarga pertama lahir: UU No.membaca dan menulis bukan hanya hak khusus kaum 22 tahun 1946. Salah satu pasalnya menyebut bahwalaki-laki. perkawinan, perceraian, dan rujuk harus dicatatkan. Penubuhan gagasan ke dalam sebuah undang-Tokoh-tokoh perempuan saat itu bukan hanya undang, sungguh terobosan baru. Ketiga, emansipasimenuntut perbaikan pendidikan perempuan, tapi perempuan dalam pembangunan nasional yangjuga telah menggugat praktek poligami, pernikahan berlangsung sejak 1960-an hingga 1980-an. Dengandini, dan perceraian yang sewenang-wenang. Gerakan makin baiknya pendidikan perempuan, sejumlahindividual yang baru dalam tahap rintisan ini tak bisa perempuan mulai terlibat dalam proses pembangunandiharapkan punya pengaruh signifikan. Perjuangan yang digalakkan Orde Baru. Perempuan bukan hanyamereka seperti berteriak di tengah belantara dunia diakui kemampuannya, tapi juga diajak aktif dalampatriakhi. mengisi pembangunan.Kedua, institusionalisasi gerakan dengan munculannya Ada banyak tokoh perempuan Islam yang lahir padaorganisasi-organisasi perempuan seperti Persaudaraan periode ini, misalnya Zakiah Drajat. Ormas keagamaanIsteri, Wanita Sejati, Persatuan Ibu, Puteri Indonesia, tradisonal seperti NU memasukkan perempuan dalam — 47 —
    • «komposisi Syuriah NU, seperti Nyai Fatimah, Nyai Yang menarik, tak seperti periode sebelumnya,Mahmudah Mawardi, Nyai Khoriyah Hasyim. Ini tak gelombang terakhir ini tak lagi diurus kaumlazim dan tak ada presedennya dalam sejarah NU. perempuan per se, tapi juga disokong secara moral- intelektual oleh feminis laki-laki, seperti (alm.)Hanya saja, gerakan perempuan pada periode ini belum Mansoer Fakih, Nasaruddin Umar, Budhy Munawar-maksimal. Perempuan cenderung tidak proaktif dalam Rachman, dan KH Husein Muhammad. Kehadiranproses-proses tersebut. Ini mungkin karena jumlah mereka ikut menambah amunisi bagi kokohnyayang terlibat masih terbatas. Namun yang perlu dicatat, gerakan perempuan di Indonesia.pada periode ini telah lahir Undang-Undang No. 1tahun 1974 tentang Hukum Perkawinan. Kiai Husein yang datang dari lingkungan pesantren, sebuah institusi yang selama ini dianggap sebagaiDi dalam Undang-Undang ini, poligami makin lumbung konservasi teologi patriakhi, menulisdibatasi. Laki-laki tak bisa mempraktekkan poligami sejumlah buku penguatan dan advokasi perempuantanpa mendapat ijin isteri. Pengetatan poligami ini dari perspektif fikih.sempat mengundang polemik tajam dalam tubuh umatIslam. Keempat, diversifikasi gerakan hingga ke level Kini generasi di bawah mereka sudah siap menyanggaterbawah seperti pesantren. Ini berlangsung antara dengan perlengkapan intelektual yang mumpuni dan1990-an hingga sekarang. Pada era ini terjadi sinergi integritas diakui, seperti Faqihuddin Abdul Kodir,antara feminis sekular dan feminis Islam. Feminis Marzuki Wahid, Syafiq Hasyim, Badriyah Fayumi,sekular seperti Saparinah Sadli, Wardah Hafidz, Masruchah, dan lain-lain. Tokoh-tokoh muda yangNursyahbani Katjasungkana, Yanti Mukhtar dan Gadis rata-rata lahir tahun 1970-an ini punya dedikasi tinggiArivia, yang punya hambatan teologis dalam gerakan, bagi tegaknya keadilan dan punahnya diskriminasi dimendapat injeksi moral- keagamaan dari para feminis negeri ini.[]Muslim.Begitu juga sebaliknya; para feminis Muslimmendapat pengayaan wacana dari tokoh-tokoh feminissekuler. Mereka berjejaring dan bersinergi dalammemperjuangkan hak-hak perempuan. Muara yanghendak dituju sama, yaitu penguatan civil society,demokratisasi, dan penegakan HAM, termasukkeadilan dan kesetaraan gender.Prestasi yang perlu dicatat pada periode ini adalahlahirnya UU No.23 tahun 2004 tentang PenghapusanKekerasan dalam Rumah Tangga. UU ini menegaskanbahwa kekerasan bukan hanya fisik, tapi juga psikis,seksual, atau penelantaran (Bab III pasal 5).Yang tak kalah spektakuler adalah gerakan sekelompokfeminis Muslim yang merumuskan Counter LegalDraft (CLD) terhadap Kompilasi Hukum Islam(KHI) hasil produk Inpres No.1 tahun 1991. Bagimereka, KHI masih mengidap cara pandang danfilosofi patriakrhi. Karena itu, perlu revisi agar selarasdengan semangat Islam yang menuntut keadilan dankesetaraan.Para feminis Muslim yang fenomenal dalam gelombangini, antara lain Sinta Nuriyah Wahid, Lies Marcoes-Natsir, Farha Cicik, Siti Musdah Mulia, Maria UlfaAnshar, dan Ruhainy Dzuhayatin. — 48 —
    • « 01/10/2006 Kultur Takfir Oleh Abd Moqsith Ghazali Rupanya mentalitas arkaik dengan mengkafirkan dan menghujat orang lain itu tak surut dalam fenomena keberislaman kita kontemporer. Bahkan ia tampak cenderung menaik. Keberislaman Indonesia juga kian terkotori kabut kelam pengkafiran.I perbedaan di dalam memahami agama dan khtilaf lazim diartikan sebagai perbedaan, termasuk bermadzhab Hanafi menulis kitab al-Mabsuth-nya di ruang penjara. Orang sealim al-Nu’man bin Tsabitmenafsirkan kitab suci. Dan Islam adalah salah satu Abu Hanifah (w. 150 H./767 M.) yang kini pendapat-agama yang menghargai perbedaan. Sebuah pernyataan pendapatnya diikuti banyak orang, dulu oleh sebagianpopuler menyebutkan bahwa perbedaan adalah rahmat ulama dipandang menyesatkan.(ikhtilâf al-a`immah rahmah). Khalifah Umar binAbdul Aziz pernah berkata, “ma yasurruni lau anna Ibnu Hibban al-Busti dalam al-Majruhin minummata muhammadin lam yakhtalifû (saya senang al-Muhaddisin wa al-Dhu’afa` wa al-Matrukinkalau umat Muhammad berbeda pendapat).” menyatakan bahwa Abu Hanifah tak lebih dari seorang penyeru bid’ah dan kafir. Abu Hanifah pernahIndahnya perbedaan pendapat itu menginspirasi Abi didesak untuk mencabut sejumlah pendapatnya danAbdillah Muhammad bin Abdirrahman al-Dimasyqi segera bertobat dari kekufuran. Bukan hanya Abuuntuk memberi judul bukunya dengan Rahmatul Hanifah, Al-Busti pun mengkafirkan ulama-ulama lain;Ummah fiy Ikhtilâf al-A`immah (Keuntungan Umat Muhammad bin Hasan al-Syaibani (189 H./802 M.)dari Perbedaan Para Imam). dianggap sebagai penyebar kebohongan dan bukan seorang ahli fikih. Muqatil bin Sulaiman al-BalkhiNamun, lain yang diidealkan lain pula yang (w. 150H./767M.) dianggap sebagai orang fasiq dandilaksanakan. Perbedaan kerap berakhir dengan fajir. Padahal, kata Imam Syafi’ie (w. 204 H./820 M.),kekerasan. Sebagian ulama yang menyampaikan sejauh menyangkut soal tafsir, kita ini adalah anak-anaktafsir keagamaan berbeda dipersonanongratakan, yang bergantung pada Muqatil.dipenjarakan, dipukul, disiksa, dicaci-maki, dan buku-bukunya dibakar. Ibnu Jarir Al-Thabari (w. 310 H./923 Rupanya mentalitas arkaik dengan mengkafirkan danM.) menjalani sebagian hidupnya dalam penderitaan menghujat orang lain itu tak surut dalam fenomenakarena disiksa oleh pengikut fanatik Ahmad bin keberislaman kita kontemporer. Bahkan ia tampakHanbal. cenderung menaik. Keberislaman Indonesia juga kian terkotori kabut kelam pengkafiran. Cak Nur terusOrang yang mau mengunjungi kediaman Thabari dihujat dan dikafirkan sekalipun ia sudah meninggaldiancam. Buku-bukunya dihanguskan. Kitab tafsir satu tahun yang lalu.buah karyanya, Jâmi’ al-Bayân fiy Ta`wil al-Qur`an,dianggap sebagai sampah karena dinilai mengandung Gus Dur jelas; di sejumlah tempat ia dihujat dancerita-cerita israiliyat. Kitab tafsir tersebut lalu dibakar darahnya dihalalkan. Tapi, biasanya ia melawanbersamaan dengan buku-bukunya yang lain. Tak puas kemudian tak peduli. Gus Dur adalah tipe kyai yang lasampai di situ, kuburan Thabari pun kerap dilempari yakhafu lawmata la`im (tak gentar dengan cemoohankotoran. Namun, kini semua umat Islam tahu bahwa orang lain ketika menyatakan pendapat).tafsir al-Thabari adalah tafsir yang sahih. Apa yangdahulu dipandang sebagai sampah telah dipandang Saya mulai mendengar, sekelompok orang gencarsebagai sesuatu yang penting. menghujat para kiai yang menolak perda syari’at dan bentuk-bentuk formalisasi syari’at Islam lainnya.Abu Hayyan al-Tawhidi (w. 414 H./1023 M.) Memang, bagi para kiai itu, fikih cukup dijadikanjuga pernah disiksa sepanjang hayat. Abu Bakar al- sebagai etika sosial dan bukan sebagai hukumSarakhshi (w. 483 H./1090 M.) salah seorang ahli fikih positif negara. Atas pandangannya itu sejumlah kiay — 49 —
    • «menuai caci maki. Di mata para pemaki itu, menolakformalisasi syari’at Islam sama saja dengan mengapkirsyari’at Islam.Betapa merisaukannya kultur takfir ini. Ia telahmenjadi benalu yang mengganggu tumbuh-suburnyasemangat Islam yang rahmatan lil alamin. Benalu itutentu tak menyehatkan. Karenanya, pada hemat saya,tradisi pengkafiran tersebut sudah waktunya segeradihentikan dan dicabut dari tubuh umat Islam. [] — 50 —
    • « 05/02/2006 Wahabisasi “Islam-Indonesia” Oleh Abd Moqsith Ghazali Gerakan untuk mewahabikan umat Islam Indonesia tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Para aktivis wahabisme cukup agresif dalam mengkampanyekan pikiran-pikiran dan ideologi para imamnya. Mereka bukan hanya memekikkan khotbah wahabisme dari dalam mesjid- mesjid mewah di kota-kota besar seperti Jakarta, melainkan juga blusukan ke pedalaman dan dusun-dusun di Indonesia.G Indonesia tidak bisa ditutup-tutupi lagi. erakan untuk mewahabikan umat Islam wahabisasi itu. Pertama, mereka mempersoalkan dasar negara Indonesia dan UUD 1945. Mereka Para aktivis wahabisme cukup agresif dalam tidak setuju, Indonesia yang mayoritas penduduknya mengkampanyekan pikiran-pikiran dan ideologi para beragama Islam ini dipandu oleh sebuah pakem imamnya. Mereka bukan hanya memekikkan khotbah sekular, hasil reka cipta manusia yang relatif, bernama wahabisme dari dalam mesjid-mesjid mewah di kota- Pancasila. Menurut mereka, Pancasila adalah ijtihad kota besar seperti Jakarta, melainkan juga blusukan ke manusia dan bukan ijtihad Tuhan. Semboyan mereka pedalaman dan dusun-dusun di Indonesia. Ada tengara cukup gamblang bahwa hanya dengan mengubah dasar bahwa orang-orang yang berhimpun dalam ormas negara, dari Pancasila ke Islam, Indonesia akan terbebas keagamaan Islam moderat pelan tapi pasti kini mulai dari murka Allah. Mereka lupa bahwa Pancasila terpengaruh dan terpesona dengan gagasan-gagasan mengandung nilai-nilai yang sangat islami. Tak tampak wahabisme yang sebagian besar berjangkar pada di dalamnya hal-hal yang bertentangan dengan Islam. pemikiran tokoh-tokohnya seperti Muhammad ibn Abdul Wahhab al-Tamimi al-Najdi (1115-1206 H), Kedua, mereka menolak demokrasi, karena demokrasi Ibnu Taymiyah (661-728 H), Ibnul Qayim al-Jauziyah dianggap sebagai sistem kafir. Ini misalnya dapat (691-751H), terus sampai pada Ahmad ibn Hanbal kita ketahui dari buah karya Abdul Qadir Zallum, (164-241 H). tokoh yang sangat berpengaruh di lingkungan gerakan fundamentalis Islam, yang berjudul al- Memang, pada awalnya wahabisme berdiri untuk Dimuqrathiyah Nizham Kufr. Bukan hanya itu, mereka merampingkan Islam yang sarat beban kesejarahan. pun menolak dasar-dasar hak asasi manusia (HAM) Ia ingin membersihkan Islam dari beban historisnya yang sesungguhnya berpondasikan ajaran Islam yang yang kelam, yaitu dengan cara mengembalikan kukuh. Mereka mengajukan keberatan terhadap konsep umat Islam kepada induk ajarannya, Alquran dan kebebasan beragama (hifdz al-din), kebebasan berpikir Alsunnah. Seruan ini mestinya sangat positif bagi (hifdz al-‘aql), dan sebagainya. Menurut mereka tidak kerja perampingan dan pembersihan (purifikasi) ada hak asasi manusia (HAM), karena yang ada adalah itu. Tapi, ternyata wahabisme tidaklah seindah yang hak asasi Allah (HAA). dibayangkan. Di tangan para pengikut Muhammad ibn Abdul Wahab yang fanatik dan militan, implementasi Ketiga, mereka berusaha bagi tegaknnya partikular- ideologi wahabisme kemudian terjatuh pada tindakan partikular syari’at dan biasanya agak abai terhadap kontra produktif. Di mana-mana mereka menyebarkan syari’at universal, seperti pemberantakan korupsi- tuduhan bid’ah kepada umat Islam yang tidak kolusi-nepotisme, dan sebagainya. Ini misalnya seideologi dengan mereka. Bahkan, tidak jarang mereka tampak dari sikap tidak kritis kelompok wahabi mengkafirkan dan memusyrikkan umat Islam lain. terhadap ketidakberesan yang telah lama berlangsung di lingkungan kerajaan Saudi sendiri—sistem Kini mereka mulai merambah kawasan Indonesia, pemerintahan yang disokong demikian kuat oleh melakukan wahabisasi di pelbagai daerah. Mereka kelompok Wahabi. Kelompok Wahabi cukup puas mencicil ajaran-ajarannya untuk disampaikan kepada ketika salat berjemaah diformalisasikan. Sementara, umat Islam Indonesia. Ada beberapa ciri cukup bersamaan dengan itu, kejahatan terhadap menonjol yang penting diketahui dari gerakan kemanusiaan terus berlangsung, tanpa interupsi dari — 51 —
    • «mereka. Keempat, mereka juga intensif menggelorakansemangat penyangkalan atas segala sesuatu yang berbautradisi. Kreasi-kreasi kebudayaan lokal dipandangbid’ah, takhayul, dan khurafat yang mesti diberantas.Dahulu orang-orang NU mendapat serangan bertubi-tubi dari para pengikut wahabisme itu.Empat hal itu adalah refrain yang kini rajin diulang-ulang oleh kelompok Wahabi Indonesia. Pokok-pokoktersebut adalah sebagian dari juklak wahabisme yangtelah lama disusun di Saudi, dan kemudian dipaketkansecara berangsur dan satu arah ke Indonesia. Ke depanjika semuanya sudah berhasil diwahabikan, makasangat boleh jadi Indonesia akan menjadi repetisi SaudiArabia; di mana kreasi-kreasi lokal dibid’ahkan. Betapakeringnya cara berislam yang demikian itu; berislamtanpa inovasi dan improvisasi. [] — 52 —
    • « 15/01/2006 Ismail atau Ishak? Oleh Abd Moqsith Ghazali Seluruh kitab suci yang berada dalam rumpun tradisi abrahamik mengisahkan peristiwa penyembelihan Ibrahim terhadap puteranya. Karena itu, umat Islam, kristiani, dan kaum Yahudi mengimani bahwa penyembelihan itu bukan mitos yang perlu dijebol, tapi fakta yang harus diimani. Begitulah.S eluruh kitab suci yang berada dalam rumpun Sementara yang lain berpendapat bahwa anak yang tradisi abrahamik mengisahkan peristiwa diminta untuk disembelih, tidak lain, adalah Ishak binpenyembelihan Ibrahim terhadap puteranya. Karena Ibrahim. Pendapat ini diikuti oleh sejumlah sahabatitu, umat Islam, kristiani, dan kaum Yahudi mengimani dan tabiin. Dari kalangan sahabat tercatat nama-namabahwa penyembelihan itu bukan mitos yang perlu seperti Abdullah ibn Abbas, Abdullah bin Mas’ud,dijebol, tapi fakta yang harus diimani. Begitulah. Umar bin Khaththab, Jabir, Abdullah bin Umar,Hanya para ulama Islam berbeda pandangan tentang dan Ali bin Abi Thalib. Dari kalangan tabi’in yangsiapa yang hendak disembelih di antara putera-putera berpendapat demikian di antaranya, Alqamah, Sya’biy,Ibrahim. Ada yang menyebut Ismail, anak Ibrahim Mujahid, Sa’id bin Jubair, Ka’ab al-Ahbar, Qatadah,dari hasil perkawinannya dengan Hajar (Perjanjian Masruq, Ikrimah, Qasim bin Abi Bazzah, Atha`,Lama [PL] menyebutnya Hagar), isteri kedua. Dan Abdurrahman bin Sabith, al-Zuhry, al-Sadiy, Abdullahada pula yang menyatakan Ishak, anak Ibrahim dari bin Abi al-Hudzail, dan Malik bin Anas. Pendapat inihasil perkawinannya dengan Sarah (PL menyebutnya bukan hanya didasarkan pada hadits, tapi juga asumsiSarai atau Sara), isteri pertama. Perlu diketahui bahwa kesejarahan. Kelompok kedua ini mengakui bahwaIsmail lebih tua dari Ishak. Ibnu Katsir dalam kitab tanduk domba yang disembelih itu digantung ditafsirnya, Tafsir al-Qur`an al-Karim (Juz IV hlm. 16) Ka’bah, tapi—menurut mereka—itu dibawa Ibrahimmenjelaskan bahwa Ismail lahir saat Ibrahim berumur dari negeri Kan’an, tempat tingal Ishak.86 tahun. Sementara Ishak lahir ketika Ibrahimberumur 99 tahun—menurut PL 100 tahun. Sayangngnya, sekalipun pendapat kedua ini memiliki argumentasi yang kuat, tetap saja ia kalah populerAl-Qurthubiy dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an dengan pendapat pertama. Jangan-jangan, pendapat(Jilid VIII, hlm. 87) mengemukakan perihal perbedaan yang kedua ini tertolak hanya karena ia didukung ataupandangan itu. Ada yang menyatakan bahwa yang (malah) merujuk pada Perjanjian Lama. Di dalamdiperintahkan untuk dikurbankan adalah Ismail. Perjanjian Lama disebut bahwa Ishak lah yang akanPendapat ini dikemukakan oleh sejumlah sahabat dikurbankan, dan bukan Ismail. Tuhan berfirmanNabi dan tabi’in, seperti Abu Hurairah, Abu Thufail, kepada Ibrahim, “Ambillah anakmu yang tunggal itu,Amir bin Watsilah, Sa’id ibn al-Musayyab, Yusuf bin yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanahMihran, Rabi’ bin Anas, dan Muhammad ibn Ka’b al- Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korbanQuradhiy. Pendapat ini konon didasarkan pada sebuah bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakandata historis yang menjelaskan bahwa penyembelihan kepadamu” (Kejadian, 22: 2]. Pada sumber inilah,tersebut berlangsung di Mekah (dahulu bernama seluruh umat Yahudi dan Nashrani mengacu, sehinggaBakkah), sehingga yang hendak disembelih tersebut tak terlalu tampak perselisihan pendapat di antarapasti Ismail, karena Ishak sepanjang hidupnya tidak mereka.pernah sampai ke sana. Mereka mengajukan buktitambahan. Tanduk hewan kurban, pengganti Ismail, Berbeda dengan Perjanjian Lama, Alquran tidakdi gantung di Ka’bah. Sekiranya Ishak yang mau menuturkan dengan tegas tentang siapa yang hendakdisembelih, maka tanduk itu kiranya tak digantung di disembelih Ibrahim tersebut. Dari sinilah kiranyaKa’bah, mungkin di tempat lain seperti Baytul Maqdis. perbedaan pendapat itu bermula. Mungkin adaLepas dari argumen yang disodorkannya, terang bahwa yang meng-copy PL bahwa Ishak lah yang hendakpendapat pertama ini yang paling banyak dipercaya. disembelih. Ada yang menyangkal bahwa yang mau — 53 —
    • «disembelih itu Ismail, bukan Ishak. Anehnya, haditsyang menjelaskan hal ini pun cukup beragam. Suatuwaktu Nabi menyebut Ismail. Kala yang lain berkataIshaq. Pada hemat saya, ini merupakan bukti betapatidak mudahnya melakukan verifikasi terhadapsejumlah peristiwa yang terjadi pada zaman lampau.Sejumlah kisah yang disajikan Alquran tak sepenuhnyabisa dan boleh di cek secara ilmiah, menyangkutakurasi dan validitas datanya. Sebab, terlalu banyakorang yang berkeberatan jika Alquran diperlakukansecara demikian. [] — 54 —
    • « 14/09/2005 Stop Demo Anti-JIL Oleh Abd Moqsith Ghazali Sekelompok orang yang mengatasnamakan diri Forum Umat Islam Utan Kayu mendemonstrasi kantor Jaringan Islam Liberal (JIL) di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur, pada 4 September. Mereka menuntut agar kantor JIL ditutup sembari membawa poster-poster yang berisi caci- maki terhadap tokoh-tokoh JIL. Seorang ustad yang terlibat dalam unjuk rasa mengatakan bahwa kehadiran massa tersebut aksi spontan belaka, tanpa ada rekayasa dari pihak mana pun.S ekelompok orang yang mengatasnamakan diri atas nama membela dan mendukung fatwa MUI? Forum Umat Islam Utan Kayu mendemonstrasi Pilihan bagi MUI amat terbatas, yaitu mencabut fatwakantor Jaringan Islam Liberal (JIL) di Jalan Utan yang mengharamkan liberalisme, pluralisme, danKayu, Jakarta Timur, pada 4 September. Mereka sekularisme sehingga keragaman tafsir atas Islam tetapmenuntut agar kantor JIL ditutup sembari membawa hidup, atau membiarkan fatwa MUI itu ada sehinggaposter-poster yang berisi caci-maki terhadap tokoh- kekerasan atas nama mendukung fatwa itu terustokoh JIL. Seorang ustad yang terlibat dalam unjuk berlanjut.rasa mengatakan bahwa kehadiran massa tersebut aksispontan belaka, tanpa ada rekayasa dari pihak mana Kedua, benarkah demonstrasi itu terjadi secarapun. spontan? Tentu saya tidak terlampau percaya dengan suatu peristiwa yang disebut spontanitas. Tak adaKemudian si ustad menegaskan bahwa dia dan demonstrasi yang spontan. Selalu saja ada aktormassa tersebut mendukung fatwa Majelis Ulama intelektual yang merumuskan tujuan, arah, dan sasaranIndonesia (MUI) bahwa pluralisme, liberalisme, dan demonstrasi. Ada panitia yang bertugas memobilisasisekularisme bertentangan dengan Islam dan umat massa, membuat poster, dan sebagainya. Dan janganIslam diharamkan mengikuti ketiga paham tersebut. lupa, demonstrasi yang terjadi malam itu—karenaMereka menyokong fatwa itu dan dengan demikian dilangsungkan malam hari, jelas melanggar aturan—merasa tidak nyaman dengan keberadaan JIL di Utan adalah demonstrasi yang bersifat ideologis terhadapKayu, yang dinilai telah menyebarkan liberalisme ke Jaringan Islam Liberal.masyarakat. JIL memang sering menafsir ulang Al-Quran -harapDari peristiwa itu, ada beberapa hal yang bisa diingat, bukan mengubah Al-Quran. Wajar biladibaca. Pertama, fatwa MUI yang mengharamkan serangan terhadap JIL itu tanda bahwa orang-orangliberalisme, pluralisme, dan sekularisme telah menjadi tersebut tak mengerti benar paham liberalisme. Sepertibola liar yang tak mudah dikontrol hatta oleh MUI yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif (Koransendiri sebagai lembaga yang memproduksi fatwa. Tempo, 6/9), mereka mengkritik Islam liberal, tapi apaDalam kaitan itu, MUI memang pantas dimintai benar mereka paham Islam liberal sebenarnya? Buyapertanggungjawaban. Syafi’i pun mempertanyakan kapasitas pengetahuan mereka tentang Islam liberal.Alih-alih fatwa itu akan melahirkan solusi bagi sebuahproblem, yang terjadi malah memunculkan problem Lebih jauh, Syafi’i menilai aksi itu tak wajar. “Takbaru atau justru menjadi problem itu sendiri. Karena mungkin kegiatan itu dilakukan rakyat biasa,” kataitu, selayaknya ada upaya yang lebih elegan dari para Syafi’i. Sebagaimana Buya Syafi’i, saya ragu kegiatan ituulama MUI untuk mengevaluasi fatwa-fatwanya yang dirancang oleh rakyat biasa. Dan keraguan itu ternyataternyata berjalan secara kontraproduktif di tengah menemukan pembenaran dari penjelasan beberapaumat. Apakah MUI akan membiarkan umat Islam anggota masyarakat Utan Kayu sendiri. Merekabertengkar dan berseteru hanya karena fatwa mereka? menyatakan bahwa beberapa minggu ini pendudukApakah MUI akan menoleransi tindakan kekerasan Utan Kayu telah dibombardir oleh kehadiran — 55 —
    • «para mubalig yang radikal—maaf, terpaksa sayamenggunakan istilah ini—yang terus memprovokasimasyarakat Utan Kayu. Dengan provokasi dari paramubalig itu, Utan Kayu yang selama ini tampak tenangdan damai berubah menjadi panas.Dan saya kira Utan Kayu tidak khas. Coba perhatikan,daerah-daerah yang pada awalnya tampak pluralis dantoleran terhadap berbagai kelompok, agama, etnis, danorganisasi yang ada di lingkungannya bisa berubahmenjadi keras dan beringas karena ulah para mubaligradikal. Tanpa memahami konteks lokal sebuahdaerah, para mubalig itu lazimnya berceramah secaraagitatif yang menyulut emosi massa. Ceramah para daikondang yang teduh dan toleran di televisi seperti yangditampakkan KH Abdullah Gymnastiar, Prof QuraishShihab, Ustad Arifin Ilham, Ustad Tuty Alawiyah,Ustad Luthfiyah Sungkar, dan lain-lain dengan cepatterhapuskan oleh khotbah-khotbah panas para dairadikal itu. Hanya dengan mengantongi satu-dua ayatdan hadis, mereka menyampaikan seruan-seruan panasuntuk “menghancurkan” kelompok-kelompok lain.Saya kira sudah saatnya kelompok-kelompok moderatIslam, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah,mulai melebarkan wilayah dakwahnya hingga ketingkat paling bawah dalam masyarakat. Para kiaipesantren yang memiliki kedalaman ilmu dan kearifanharus keluar dari tempurung pesantren untuk segeramenguasai mimbar-mimbar dakwah yang beberapatahun terakhir telah jatuh ke tangan kelompok radikalmuslim—yang menurut KH Hasyim Muzadi, KetuaUmum PB Nahdlatul Ulama, telah merusak citraIslam Indonesia di luar negeri. Dan para dai kita mestidikader dan dididik dengan visi kebangsaan yangkukuh serta sikap toleran yang militan.(Koran Tempo 8 September 2005) — 56 —
    • « 01/08/2005 Sesat dan Menyesatkan Oleh Abd Moqsith Ghazali Pertanyaannya, siapa sih yang sebenarnya punya otoritas atau kewenangan untuk menyatakan bahwa sebuah pandangan disebut sesat dan menyesatkan. Apakah MUI, NU, Muhammadiyah, atau justru Allah SWT. Di sinilah saya hendak menegaskan sebuah pendirian bahwa yang memiliki otoritas untuk itu tidak lain adalah Allah sendiri. Allah lah yang akan memutuskan di akhirat kelak tentang ajaran-ajaran yang dianggap menyimpang atau tidak.K disuarakan oleh sejumlah aparatur agama osa kata “sesat” dan “menyesatkan” kian ramai yang paling tahu perihal seseorang yang tersesat dari jalanya dan yang mendapatkan petunjuk).di negeri ini, terutama untuk mencap kelompokdalam umat yang berbeda pandangan dengan Dengan ayat-ayat tadi, cukup jelas bahwa tidak adamainstream. Tidak kurang dari beberapa ulama di seseorang atau lembaga manapun yang bisa mengambilMUI Pusat menyatakan bahwa kelompok A, B, kedudukan Tuhan sebagai hakim atas pelbagai jenisC, dan lain-lain bukan sekedar sesat, tapi bahkan pandangan atau tafsir yang muncul di tengah umatmenyesatkan. Tersebutlah ormas-ormas keagamaan Islam. Itu adalah hak prerogatif Allah yang tidak bisaseperti Ahmadiyah dan beberapa lagi yang diputuskan dirampas oleh para fungsionaris agama yang tersebarberdasarkan fatwa MUI sebagai lembaga yang di pelbagai lembaga atau ormas keagamaan manapun.menyebarkan aliran sesat dan menyesatkan. Dien Mungkin, Tuhan sengaja tidak menyerahkan peranSyamsuddin, ketua umum PP Muhammadiyah dan kehakiman tersebut kepada manusia atau ulamanyawakil ketua MUI Pusat, menganjurkan agar kelompok karena terlampau rentan untuk disalahgunakan untukAhmadiyah membuat agama baru saja jika masih tujuan-tujuan politis, ekonomis, dan lainnya. Sehingga,ngotot dengan keyakinannya bahwa Mirza Ghulam tugas untuk menjatuhkan hukum atas para penafsirAhmad adalah seorang nabi. Beberapa kiai terus agama yang menyimpang itu tetap berada dalammendorong agar MUI dan PBNU segera mengambil genggaman Allah, dan tidak pernah didelegasikansikap tegas terhadap Jaringan Islam Liberal (JIL) hanya kepada para ulama.karena institusi itu mengembangkan tafsir keagamaanyang kritis-liberal-progresif, menentang oligarki dan Tambahan pula, Islam adalah salah satu agama yangotoritarianisme penafsiran dalam agama. tidak mengenal hirarki, termasuk menyangkut perkara pemaknaan ajaran Islam. Nabi Muhammad SAWPertanyaannya, siapa sih yang sebenarnya punya pernah bersabda la rahbaniyyata fi al-Islam (tidakotoritas atau kewenangan untuk menyatakan bahwa ada [hirarki] kependetaan di dalam Islam). Salahsebuah pandangan disebut sesat dan menyesatkan. satu pengertian dari hadits ini adalah bahwa tafsirApakah MUI, NU, Muhammadiyah, atau justru yang dikeluarkan oleh kelompok minoritas tak bisaAllah SWT. Di sinilah saya hendak menegaskan dibatalkan oleh tafsir mayoritas. Tafsir mayoritassebuah pendirian bahwa yang memiliki otoritas untuk tidak berada dalam posisi yang lebih tinggi ketimbangitu tidak lain adalah Allah sendiri. Allah lah yang minoritas. Dalam dunia penafsiran, keduanya adalahakan memutuskan di akhirat kelak tentang ajaran- setara. Kaidah fikih yang amat populer mengatakanajaran yang dianggap menyimpang atau tidak. Allah al-ijtihad la yunqadhu bi al-ijtihad (ijtihad tidak bisaSWT berfirman di dalam Alquran, inna rabbaka dibatalkan dengan ijtihad yang lain). Sebuah tafsirhuwa yafshilu baynahum yawmal qiyamah fi ma adalah sah selama tidak memerintahkan seseorangkanu fihi yakhtalifun (sesungguhnya Tuhanmu yang untuk melakukan tindak kekerasan. Akhirnya,akan mengambil kata putus atas perselisihan yang janganlah gampang menjatuhkan vonis sesat-berlangsung di antara mereka, kelak pada hari kiamat). menyesatkan kepada orang lain, karena itu adalahDi tempat yang lain, Allah SWT berfirman, inna hak Allah dan bukan hak manusia. (Abdul Moqsithrabbaka huwa a’lamu biman dlalla ‘an sabilihi wa huwa Ghazali)a’lamu biman ihtadza (sesungguhnya Tuhanmu adalah — 57 —
    • « 24/04/2005 Syahrur Oleh Abd Moqsith Ghazali Sekiranya Anda sedang membuka peta pemikiran keislaman kontemporer, Anda pasti menemukan nama Muhammad Syahrur. Ia adalah doktor bidang mekanika pertanahan dan fondasi, yang belakangan lebih kesohor sebagai pemikir muslim progresif. Ia cukup disegani. Walau tidak memiliki daya ledak dan hentakan tinggi sebagaimana Nashr Hamid Abu Zaid, pikiran-pikiran Syahrur turut meramaikan diskursus pemikiran keislaman.S keislaman kontemporer, Anda pasti menemukan ekiranya Anda sedang membuka peta pemikiran tertentu sehingga tidak bisa disinonimkan dengan kata lain. Kata hanya dimungkinkan untuk memilikinama Muhammad Syahrur. Ia adalah doktor bidang satu makna atau beragam makna. Apa yang disebutmekanika pertanahan dan fondasi, yang belakangan sebagai mutaradif, menurut Syahrur, tak ubahnyalebih kesohor sebagai pemikir muslim progresif. Ia sebuah kepalsuan belaka. Betapa konsep sinonimitascukup disegani. Walau tidak memiliki daya ledak dan akan meringkus sejumlah kata ke dalam singularitashentakan tinggi sebagaimana Nashr Hamid Abu Zaid, makna dan menutup semua keboleh-jadian semantispikiran-pikiran Syahrur turut meramaikan diskursus masing-masing. Dengan alasan itu, Syahrur kemudianpemikiran keislaman. Pernyataannya kerap dikutip oleh mengartikan ulang sejumlah kata yang oleh mayoritaspara sarjana dan pemikir muslim. Sebagian kalangan dipandang sebagai sinonim, seperti imra’ah-untsa-nisa`,bahkan telah menyejajarkan Syahrur dengan intelektual walad-ibn, al insan-al basyar, fu`ad-qalb, al Qur`an-muslim liberal lain seperti Mohamed Arkoun, Hassan alKitab-al Dzikr, dan lain-lain.Hanafi, dan lain-lain. Dari tangan Syahrur kini telahlahir beberapa karya intelektual yang monumental Kedua, penolakan Syahrur terhadap konsep nasikh-seperti al-Kitab wa al-Qur`an: Qira`ah Mu’ashirah dan mansukh (abrogasi) dalam Islam, teori mana telahNahw Ushul Jadidah li al-Fiqh al-Islamy. Dua bukunya umum diterima oleh jumhur ulama ushul fikih,itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia baik yang klasik seperti Imam Syafi’i dan Imamdengan mutu terjemahan yang bagus. Malik, maupun yang kontemporer seperti Mahmud Muhammad Thaha dan Abdullahi Ahmed al-Na’im.Pada hemat saya, bagaimanapun, Syahrur tetap Sebab, demikian Syahrur menyusun argumen,berbeda dengan Nashr Hamid Abu Zaid, Mohamed setiap ayat atau kalimat memiliki ruang ekspresi danArkoun, Hassan Hanafi, apalagi Farid Essack. Di penampakannya sendiri-sendiri. Dengan demikian,dalam bertafsir, pendekatan tokoh asal Syria itu agak sebuah ayat yang turun dalam konteks spasial danlain. Dengan bersandar pada metode semantik Abu dalam pengungkapan kata tertentu tidak bisa dianulirAli al-Farisi, mungkin juga Ibn Jinni dan Abdul Qadir dan diamandemen begitu saja oleh ayat lain yangal-Jurjani, Muhammad Syahrur cukup bersemangat muncul dalam konteks yang tertentu pula. Artinya,untuk mengeja kata, struktur dan substruktur bahasa suatu ayat selalu menyatakan kehendak dan maknanyaal-Qur`an. Ia lebih banyak menelaah seluk beluk sendiri-sendiri dan bukan untuk menyampaikansemantik-kebahasaan al-Qur`an ketimbang konteks kehendak ayat lain.sosio-politik yang mengitari kitab suci itu. Syahrurlebih asyik berbincang tentang proses pengorganisasian Dengan pendekatannya yang cenderung semantis inikata dan kalimat daripada penelitian tajam terhadap Syahrur kiranya hendak menunjukkan kepada publikstruktur masyarakat Arab yang menyungkupi kehadiran intelektual bahwa penghampiran melalui gramatikaal-Qur`an. bahasa cukup potensial untuk mendinamisasikan kata dan kalimat dalam al-Qur`an. PendekatanPenilaian seperti itu menjadi benar jika diacukan kebahasaan tetap bisa dipakai untuk melahirkanpada dua hal berikut. Pertama, penampikan Syahrur tafsir-tafsir keislaman yang progresif, liberatif, danterhadap konsep sinonimitas (al-taraduf ) dalam bahasa. humanis. Menelusuri kata tidaklah tabu bagi hadirnyaSebuah kata, demikian Syahrur, selalu memiliki makna sejenis tafsir Islam yang liberal. Dan Syahrur telah — 58 —
    • «membuktikan untuk itu. Bukankah dari modelpendekatan yang semantis-linguistis tersebut, Syahrurberani menata ulang dan mereposisi beberapa hukumkanonik yang baku seperti potong tangan, rajam, waris,kepemimpinan perempuan, dan sebagainya? Nah! [AbdMoqsith Ghazali] — 59 —
    • « 26/08/2004 Agama, Seni, dan Regulasi Pornografi Oleh Abd Moqsith Ghazali Pro-kontra seperti ini memang tidak kunjung selesai. Tarik-menarik antara argumen agama- moralitas vis a vis kebebasan berekspresi-berkesenian terus berlangsung, tanpa ada titik temu. Di satu pihak ada kaum agamawan yang hendak mengontrol ruang publik secara ketat dan kadang-kadang juga kaku. Sementara di lain pihak, terdapat sekelompok masyarakat yang hendak melabuhkan kebebasan berekspresi dan berkesenian dalam ranah publik secara totalistis, tanpa hambatan.S AAT ini, publik Indonesia terutama Jakarta Pro-kontra seperti ini memang tidak kunjung selesai. dihebohkan oleh kehadiran sebuah film komedi Tarik-menarik antara argumen agama-moralitasremaja Buruan Cium Gue! Dari judulnya saja, film ini vis a vis kebebasan berekspresi-berkesenian terustelah mengundang kontroversi, antara yang pro dan berlangsung, tanpa ada titik temu. Di satu pihakkontra. MUI misalnya, telah melancarkan kritik cukup ada kaum agamawan yang hendak mengontrolkeras atas kemunculan film tersebut. KH Amidhan, ruang publik secara ketat dan kadang-kadang jugaKetua MUI Pusat, menyatakan bahwa film ini kaku. Sementara di lain pihak, terdapat sekelompokberpotensi merusak moral dan budaya bangsa. Adegan masyarakat yang hendak melabuhkan kebebasanciuman panas, menurutnya, hanya dimungkinkan di berekspresi dan berkesenian dalam ranah publik secaradalam ruang kesendirian oleh pasangan legal suami- totalistis, tanpa hambatan.istri, bukan di ruang publik oleh lelaki-perempuanyang tidak memiliki hubungan legal. Kegelisahan Menghadirkan agamadan keprihatinan yang sama juga dialami oleh KHAbdullah Gimnastiar, seorang dai yang kini sedang Menghadirkan agama—apalagi hanya satu tafsirkondang. Menurut Aa Gym, panggilan akrab KH tertentu dalam agama—ke dalam dunia film, sungguhAbdullah Gimnastiar, film tersebut tak ubahnya sebuah sangat musykil. Di antara dua entitas ini, agamapengantar yang mengarah pada tindak perzinaan. MUI, dan film, terdapat jurang pemisah yang amat dalam.Aa Gym, dan beberapa elemen lain, akhirnya berujung Agama sebagaimana dikemukakan di dalam fikihpada tuntutan yang paralel agar peredaran film tersebut Islam memiliki perhatian yang rendah terdapat duniasegera dihentikan. perfilman ini, karena di dalamnya selalu dimungkinkan terjadinya sejumlah kemaksiatan. Agama mengaturSementara di pihak lain terdapat kalangan yang pro secara amat ketat menyangkut hubungan laki dansembari menolak pelbagai keberatan yang diajukan para perempuan yang bukan mahram. Tidak boleh adaulama di atas. Mereka menilai karya itu bukanlah film persentuhan fisik. Sementara film meniscayakanporno. Tidak ada pornografi di sana. Tidak ada norma adanya perjumpaan dan persentuhan fisikal. Jika filmsusila dan batas kesopanan yang dilanggar. Terlebih, menuntut keseriusan dan totalitas dalam berakting,tandas para pendukung ini, batas-batas moralitas maka agama melalui fikih Islam justru hadir untukitu tidak statis, melainkah bergerak secara dinamis membatasi totalitas itu.mengikuti capaian peradaban umat manusia. Danbukankah film itu tak lebih dari sebuah rekaman dari Sebagai misal, adegan ciuman yang dilakukan orangrealitas pergaulan anak muda Jakarta masa kini. Secara yang bukan mahram dan berbeda jenis kelamin, baiklebih jauh, mereka juga berpendirian bahwa pelarangan karena tuntutan naskah film maupun karena telahterhadap film itu merupakan sebentuk pelanggaran menjadi kelaziman sosial, jika ditanyakan pada agama,dan penodaan terhadap kebebasan berekspresi dan maka tidak banyak yang dikatakan oleh agama, kecualiberkesenian. Dan kebebasan berekspresi itu adalah hak bahwa itu merupakan kawasan terlarang. Agama hanyaasasi manusia yang dilindungi dan dijamin undang- datang dengan khotbah yang standar, tindakan ituundang. merupakan perkara haram yang harus dihindari. Islam termasuk dalam deretan agama yang amat restriktif — 60 —
    • «dalam perkara yang satu itu. Ciuman yang dilakukan ditutupnya Kramat Tunggak Jakarta, para pekerja seksoleh orang yang bukan mahram dan berbeda jenis komersial (PSK) terus berhamburan ke jalanan. Sebuahkelamin, baik dilakukan dengan nafsu maupun tidak, pemandangan yang kian mengkhawatirkan.dalam pandangan agama adalah memiliki derajatkeharaman yang sama. Menghadapi fenomena tersebut, maka saya bisa bersetuju terhadap gagasan untuk melokalisasiIni, jika melulu berpatokan kepada Islam. Namun, gelombang pornografi tersebut. Artinya, pornografi,bukankah masyarakat Indonesia hidup dengan pornoaksi, dan aktivitas erotisme yang lain mestikeragaman patokan dan parameter. Keanekaragaman ditampung dalam ruang khusus yang tersembunyi.agama, budaya, dan etnis, kiranya akan membentuk Dengan ini, ada kegunaan ganda yang bisa dicapai.penilaian yang berbeda menyangkut satu pokok Bahwa di samping agar pornografi dan erotisme tidaksoal seperti adegan-adegan di dalam film itu. Oleh diakses oleh orang-orang yang belum cukup umur,karenanya, pada hemat saya, Islam harus diletakkan ia juga berguna supaya erotisme bisa benar-benarsebagai salah satu anasir saja dari keseluruhan norma dinikmati sebagai tindakan privat yang menyenangkan.yang hidup di tengah masyarakat. Islam tidak bisa Sebab, erotisme adalah perkara yang tak dapatdijadikan sebagai parameter tunggal untuk menilai diekspose dan ditayangkan kepada semua orangsebuah karya film. Islam harus didudukkan secara dari pelbagai level umur dan pelbagai ruang. Maka,setara dengan norma-norma lain. Islam mesti kehadiran sebuah regulasi yang mengatur menjadibertanding dan berkontestasi dengan norma-norma sangat penting, karena dengan itulah pornografi,lain. pornoaksi, dan erotisme menjadi lebih teratur dan nyaman untuk dirayakan.Sebab, dalam masyarakat yang pluralistik sepertiIndonesia, larangan terhadap ketidaksopanan hanya Bahwa kebutuhan seseorang terhadap erotisme, itubisa dilakukan sejauh melalui mekanisme yang perkara yang diakui. Sebagaimana orang butuh makandemokratis, bukan semata-mata hasil pemaksaan dari dan minum, mempunyai rasa aman dan kebebasansatu kelompok agama atau segmen masyarakat tertentu bergerak, orang juga butuh terhadap erotisme. Tidaksaja. Tidak ada hegemoni dari satu komunitas atas ada seseorang yang seluruh detik kesehariannya diisikomunitas yang lain. Setiap orang memiliki status yang dengan doa. Selalu saja ada saat tertentu seseorangsetara di dalam berdiskusi menyangkut batas kesopanan membutuhkan erotisme. Erotisme mesti digerakkan.itu. Diskusi adalah ruang untuk melakukan negosiasi Tapi menggerakkan erotisme secara liar di ruang-ruangdan tawar menawar mengenai perkara bermoral-tidak publik, tanpa ada regulasi yang mengaturnya, kiranyabermoral tersebut. Dari diskusi inilah diharapkan dapat akan menimbulkan petaka tersendiri. Oleh karenadilahirkan sebuah kesepakatan dalam wujud regulasi itu, kehadiran sebuah regulasi yang dalam prosesmengenai pornografi dan bukan pornografi, pornoaksi penyusunannya mesti melibatkan partisipasi dan debatdan bukan pornoaksi. publik yang demokratis, bukan hanya perlu melainkan sungguh amat mendesak. ***Regulasi pornografiSungguh, adegan ciuman di dalam film Buruan CiumGue! tidaklah seberapa sekiranya diukur dari aruspornografi, pornoaksi, yang berlangsung secara gegantisdi luar gedung bioskop. Betapa ruas-ruas jalan di kota-kota besar seperti Jakarta kini terus dihiasi dengangambar-gambar perempuan dalam pose telanjang,baik di majalah maupun tabloid. Gambar-gambaritu bukan hanya menjadi konsumsi kalangan laki-laki dewasa, melainkan juga telah menjadi tontonanABG, bahkan anak bawah usia. Buku-buku yangmendeskripsikan secara terang adegan-adegan ranjangdemikian menjamur di kalangan para pelajar. Film-filmbiru dengan mudah dapat dijumpai dan diperoleh dipinggir-pinggir jalan dan trotoar Ibu Kota. Semenjak — 61 —
    • « 16/08/2004 Kekenyalan Syariat Oleh Abd Moqsith Ghazali Berbarengan dengan surutnya konstalasi politik mutakhir Indonesia, surut pula perbincangan dan kontroversi seputar syariat Islam. Namun, bukan berarti ia hilang, melainkan bergeser ke tingkat yang lebih lokal, provinsi, kabupaten, dan instansi-instansi negara yang lebih kecil.B mutakhir Indonesia, surut pula perbincangan erbarengan dengan surutnya konstalasi politik bekerja di ranah publik akan di-PHK karena dalam syariat klasik konvensional-Timur Tengah, tidakdan kontroversi seputar syariat Islam. Namun, bukan dibolehkan keluar rumah tanpa mahram, dan tidakberarti ia hilang, melainkan bergeser ke tingkat diperkenankan keluar malam. Non-Muslim, apalagiyang lebih lokal, provinsi, kabupaten, dan instansi- ketika divonis secara sepihak sebagai kafir harbiyinstansi negara yang lebih kecil. Meski kontroversi (non-Muslim yang memusihi Islam), akan mendapatseputar isu ini pada akhirnya terbukti hanya sebagai ancaman penafian bahkan pembumihangusan.komoditas politik, sebagian kalangan masih yakinperan formalisasi syariat Islam sebagai nostrum bagi Pada hemat saya, syariat harus segera dikembalikanpenyelesaian semua persoalan di negeri ini. Oleh pada posisinya awalnya sebagai jalan (wasilah-sarana)kalangan ini, syariat Islam dipahami sebagai hukum yang dhanniy (relatif ), bukan sebagai tujuan (ghayat)yang tak akan pernah aus karena hujan dan tak lekang yang qath’iy (pasti). Sebagai jalan, syariat tidak bisakarena panas. Sakralisasi dan idealisasi terhadap model tunggal. Ibnu ‘Aqil yang dikutip Thabari pernahsyariat klasik menjadi langgam dominan dalam benak mengatakan al-din wâhid was syari’ah mukhtalifahpara tokoh fundamentalis ortodoks Islam. (agama itu tunggal, sementara syariat sangat beragam). Maka, sebagai sarana untuk mengantarkanTentu tidak akan ada masalah jika implementasi syariat umat manusia kepada tujuan keadilan, kesetaraan,Islam bersendikan prinsip-prinsip utama Islam, seperti kemaslahatan, penegakan hak asasi manusia (termasukkeadilan, persamaan, kemaslahatan, kesejahteraan, hak asasi perempuan), maka syariat Islam akandan hikmah-kebijaksanaan. Penerapan syariat Islam mengambil pola dan coraknya yang beragam.cukup problematis jika hanya memuat daftar hukum-hukum syariat zaman lampau yang belum tentu cocok Dengan keberagamannya, syariat tidak bisauntuk diterapkan di Indonesia, seperti ketentuan aurat ditunggalkan untuk kemudian diformalisasi dalamyang strict, perempuan tidak boleh bekerja di dunia bentuk perundang-undangan. Jalan penunggalan danpublik, dan sebagainya. Dalam ranah itu, penerapan formalisasi syariat bukan hanya akan bertentangansyariat Islam lebih bersifat simbolis ketimbang dengan watak dasar syariat yang kenyal dan relatif,substantif. Imbasnya, syariat Islam bertiup pada upaya melainkan juga akan membunuh kehadiranmemperkecil universalitas Islam. Eksperimentasi syariat-syariat lain yang divergen pada format danformalisasi syariat Islam yang sedang berlangsung di mekanismenya. Konon, Imam Malik pernah menolakAceh, dan beberapa daerah lain, merupakan etalase permintaan seorang Khalifah untuk menjadikantelanjang dari simplifikasi dan pembanalan tersebut. karya monumentalnya, al-Muwaththa`, sebagaiDari penerapan syariat yang demikian, yang akan kitab undang-undang yang mengikat seluruh warga.menjadi korban pokoknya, di samping perempuan, Kiranya, Imam Malik menyadari sepenuh hati bahwa,adalah warga negara non-Muslim. Non-Muslim cukup formalisasi al-Muwaththa` hanya akan memberangusrentan terhadap ketidakadilan dan diskrimnasi, mulai karya-karya lain yang tidak sejalan dengannya. [Abduldari diskriminasi teologis hingga eks-komunikasi sosial. Moqsith Ghazali]Model syariat yang demikian, alih-alih hendakmenyelesaikan masalah, justru merupakan problemyang juga harus dipecahkan. Dalam konteks Indonesia,betapa banyak perempuan-perempuan yang selama ini — 62 —
    • « 19/02/2004Ketika Negara Mengintervensi Agama Oleh Abd Moqsith Ghazali Sekiranya RUU KUB jadi diundangkan, maka sejumlah orang yang memiliki pemikiran yang berada di luar pemikiran dominan mainstream akan bernasib sial, karena mereka bisa- bisa mendapatkan sanksi pidana. Perselisihan tafsir atas agama selalu berakhir dengan eks- komunikasi, penghancuran, dan pembunuhan. Luar biasa mengerikan. Padahal, bertafsir dan berijtihad bukanlah tindak kriminal yang harus dipidanakan. Jika ini terjadi, maka kita telah kembali ke abad pertengahan. Adalah Khalifah al-Qadir yang pernah melakukan inkuisisi terhadap orang-orang yang berada di luar cetak biru ideologi Mu’tazilah, ideologi yang telah menjadi pilihan negara Abbasiyah saat lampau. Sejarah mencatat, Abdullah bin Khabab, Abu Manshur al-Hallaj, Ahmad ibn Hanbal, Ibnu Rusyd, merupakan deretan orang yang menjadi korban dari kesewenang- wenangan negara hegemonik.E ra reformasi tampaknya belum benar-benar saja amat bertentangan dengan prinsip ajaran Islam berhasil menghapus karakter dan kebiasaan yang memberikan kebebasan kepada umat manusiaburuk Orde Baru yang hegemonik dan intervensionis. untuk memilih suatu agama bahkan untuk tidakSebagaimana rezim Soeharto, rezim Megawati kini beragama. Nabi Muhammad sekalipun pernah ditegurjuga suka mengatur dan mengintervensi aktivitas oleh Allah atas upaanya untuk memaksa seseorangkeberagamaan umat di Indonesia. Segala gerak langkah agar masuk Islam. “Apakah kamu akan membenciumat beragama selalui diawasi, dikontrol, dan dipantau manusia hingga mereka beriman (Afa anta tukrihusehingga tidak mengganggu stabilitas dan keamanan al-nas hatta yakunu mu`minin)”. Allah SW melaluikawasan. Indikator yang paling telanjang menyangkut firman-Nya, faman sya`a falyukmin wa man sya`apokok soal ini adalah dikeluarkannya RUU Kerukunan falyakfur, telah memberikan kebebasan mutlak bagiUmat Beragama oleh Pemerintah Indonesia melalui manusia untuk bertuhan atau tidak bertuhan. DenganBadan Litbang Departemen Agama. meminjam terminologi ushul fikih, RUU KUB ini jelas berpunggungan dengan prinsip dasar Islam palingRUU KUB ini tergolong sangat tipis, karena hanya puncak, hifdz al-din (kebebasan dalam beragama).terdiri dari 15 bab dan 21 pasal. Hakikatnya, RUU inimemiliki tujuan adilihung, yaitu untuk memelihara Kedua, RUU KUB ini telah bertindak amat angkuhkerukunan dan keharmonisan di kalangan umat ketika memposisikan diri sebagai penentu bagi sah danberagama. Tidak tanggung-tanggung, RUU KUB ini tidaknya sebuah agama. Telah diputuskan, misalnya,memikul asas toleransi, pluralisme, dan kebebasan bahwa agama yang sah di Indonesia hanya ada lima,beragama (Pasal 2). Namun, tujuan adiluhung RUU yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan BudhaKUB itu menjadi tawar kembali ketika kita membaca [Pasal 1 Ayat (1)]. Selain yang lima itu adalah batal dandetail pasal-pasalnya. Batang tubuh RUU KUB niscaya tidak memenuhi persyaratan sebagai sebuah agama.mengandung bahaya dan problem yang cukup serius. Padahal, secara faktual, agama dan keyakinan yang bersemai di bumi Indonesia ini bukan hanya lima,Memaksa? melainkan banyak-tak terkira. Dulu, melalui UU No 1/ PNPS/1965, Konghucu pernah diakui sebagai agamaPertama, melalui rancangan perundang-undangan, resmi yang dapat secara sah tumbuh di Indonesia.pemerintah Indonesia hendak memaksa warganya Namun, sejak diterbitkannya keputusan Mendagriuntuk mengikuti dan menganut agama-agama No 221a 1975 yang mengacu pada Tap MPR No. IV/yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Warga MPR/1978, maka agama Konghucu kembali dianggapnegara yang menganut agama di luar agama-agama sebagai agama liar, seperti keliaran agama Bahai, Sikh,yang ditetapkan itu (Islam, Katolik, Protestan, Adat Karuhun Kuningan dan lain-lain. Karena tidakHindu dan Buddha) tentu akan kehilangan hak- diakui sebagai sebuah agama, sebagai konsekuensinyahak keberagamaannya. Tindakan seperti ini tentu maka Bahai, Konghucu, Sikh, dan sebagainya tidak — 63 —
    • «berhak memperoleh perlindungan dalam melaksanakan Islam yang senantiasa mengobarkan semangatajaran-ajaran-nya. Perlindungan hanya diberikan kebebasan berpikir (hifdz al-‘aql).kepada agama-agama yang diresmikan oleh ne- gara.(Lihat Pasal 4 RUU KUB). Tegasnya, sekiranya RUU KUB jadi diundangkan, maka sejumlah orang yang memiliki pemikiran yangKetiga, RUU itu memiliki ambisi untuk mengatur dan berada di luar pemikiran dominan mainstream akanmengawasi segala aktivitas keberagamaan di Indonesia. bernasib sial, karena mereka bisa-bisa mendapatkanAktivitas keberagamaan yang selama ini telah sanksi pidana. Perselisihan tafsir atas agama selaluberlangsung di tengah masyarakat, tiba-tiba hendak berakhir dengan eks-komunikasi, penghancuran,diatur dan ditertibkan oleh negara melalui perundang- dan pembunuhan. Luar biasa mengerikan. Padahal,undangan. Padahal agama dan negara adalah dua bertafsir dan berijtihad bukanlah tindak kriminalentitas yang berbeda. Masing-masing tidak boleh saling yang harus dipidanakan. Jika ini terjadi, maka kitamengintervensi. Sejarah Indonesia telah menunjukkan telah kembali ke abad pertengahan. Adalah Khalifahbetapa kehadiran negara dalam panggung agama al-Qadir yang pernah melakukan inkuisisi terhadapseringkali justru menjadi petaka daripada menjadi orang-orang yang berada di luar cetak biru ideologirahmat. Umat beragama yang plural yang sudah Mu’tazilah, ideologi yang telah menjadi pilihan negaraterbiasa saling bekerja sama, saling memahami, hidup Abbasiyah saat lampau. Sejarah mencatat, Abdullah binrukun, maka dengan intervensi negara melalui RUU Khabab, Abu Manshur al-Hallaj, Ahmad ibn Hanbal,KUB ini bisa menjadi cerai berai. Ibnu Rusyd, merupakan deretan orang yang menjadi korban dari kesewenang- wenangan negara hegemo-Terus terang, pokok soal ini bermula dari kekeliruan nik.negara di dalam mempersepsikan agama. Agama telahdiletakkan sebagai sumber konflik, setangkup dengan Bahkan, dalam jangka panjang, sekali lagi kalau RUUetnis, suku, dan sebagainya. Sebagaimana tertera KUB ini positif menjadi undang-undang, maka tidakdalam naskah akademik RUU KUB ini, agama dinilai tertutup kemungkinan sejumlah tradisi dan kearifan-mengandung magma konflik yang luar biasa, dengan kearifan lokal sekiranya oleh penguasa yang menganutdemikian ekspresi keberagamaan perlu diatur. ideologi tertentu dipandang sebagai aliran sesat yang menyimpang dari Islam maka akan dilarang hadir diPluralitas agama akan menjadi malapetaka dan bumi Indonesia. Tradisi ziarah kubur orang NU, waktuketidakrukunan sekiranya tidak ada peraturan semacam telu Orang Sasak, amalan tarekat para mistikus, danUU KUB. Dengan argumen ini, tampak dengan jelas sebagainya akan dibumihanguskan. Di sinilah bahayaarogansi negara untuk menghakimi agama-agama. dari negara jika terlibat sebagai hakim yang memegangPadahal, mestinya negara cukuplah menjadi fasilitator palu godam untuk menentukan sah-tidaknya sebuahdari agama dan bukan menjadi hakim dari agama. jenis penafsiran dalam agama.Kekeliruan rezim Soeharto di dalam memperlakukanagama dan para pemeluknya tidak selayaknya terulang Kelima, RUU KUB itu tampak sangat diskriminatifkembali pada era reformasi ini. terhadap agama minoritas dan meng-anak emas-kan agama mayoritas. Mayoritas yang dimaksudkan adalahHegemoni dan Monopoli kelompok terbesar dari umat agama tertentu yang terletak pada suatu daerah atau wilayah. Tentu saja,Keempat, RUU KUB ini berupaya untuk melakukan mayoritas yang diuntungkan oleh RUU KUB ini bukanhegemoni dan monopoli tafsir atas agama (Pasal 17 hanya Islam, seperti halnya di Jawa. Melainkan jugaAyat 1 RUU KUB). Segala jenis tafsir atas agama umat non-Islam, sebagaimana Hindu yang mayoritas(Islam) yang tidak sejalan dengan tafsir resmi, karuan di Bali, atau Kristen yang mayoritas di Ambon, dansaja akan diberangus. Implikasinya, kegiatan ijtihad sebagainya. Kita tidak bisa membayangkan bagaimanadan bertafsir oleh setiap umat beragama akan terhenti, nasib umat Islam yang minoritas di Kawasan Timurkarena tafsir atas agama telah dikuasai dan dimonopoli Indonesia, dan bagaimana nasib umat agama non-Islamoleh sekelompok orang. Segala pemikiran akan yang minoritas di Jawa.diseragamkan. Tindakan pemberangusan terhadappemahaman yang tidak bersejalan dengan tafsir resmi Sindrom mayoritas-minoritas sungguh amat berbahayaakan terus dilakukan. Pola pemberangusan seperti itu di tengah kondisi negara Indonesia yang tidaktentu saja sangat problematis di tengah antusiasme sepenuhnya normal. Dalam konteks demikian, maka — 64 —
    • «mayoritas merupakan monster bagi yang minoritas.Begitu juga sebaliknya, yang minoritas adalah mangsamayoritas. Keresahan akan timbul di mana-mana,terutama di kalangan minoritas.Jika RUU KUB tidak segera dicegah-tangkal, makatak ayal lagi akan terjadi gelombang konflik danperkelahian massal antar umat beragama di pelbagairuas wilayah Indonesia. Alih-alih untuk menciptakankerukunan, yang terjadi justru RUU KUB akanmenjadi bumbu dan penyulut konflik di tengahmasyarakat..Akhirnya, sebagai wujud partisipasi publik di dalamproses penentuan fondasi perundang-undangan,maka umat beragama kiranya tidak bisa berdiamdiri menghadapi RUU KUB yang nyata-nyata akanmengganggu komunikasi internal umat suatu agamadan antar umat beragama di Indonesia. Melauimedium ini pula, perlu kita serukan bagi seluruh umatberagama di Indonesia untuk bangkit agar negaratidak bertindak intervensionis terhadap aktivitaskeberagamaan di Indonesia.Penulis adalah aktivis Jaringan Islam Liberal Jakarta. — 65 —
    • « 15/12/2003 Menilik Metode Qiyas Syafi’i Oleh Abd Moqsith Ghazali Sekian banyak metodologi telah disusun untuk menafsirkan al-Qur`an dimaksud. Dalam lanskap itu, Imam Syafi’i dipandang sebagai orang pertama yang memancangkan fondasi metodologi pembacan teks melalui masterpiecenya, al-Risalah. Akan tetapi, dalam perkembangan kontemporer, kitab-kitab ushul fikih lama itu diduga keras sedang mengidap sejumlah persoalan yang kronis. Kelemahan epistemologis ini, saya kira, merupakan utang intelektual yang mesti ditebus oleh ushul fikih (qiyas) model Syafi’i ini.A l-Qur`an terus dikunjungi oleh umat manusia kitab ushul fikih Syafi’iyah “al-‘ibrah bi ‘umum untuk dibaca dan ditafsirkan. Menafsirkan al-lafdz la bi khushush al-sabab” terkesan terlalual-Qur`an berarti upaya untuk menjelaskan dan memberhalakan teks dan mengabaikan konteks.mengungkapkan maksud dan kandungan al- Pembahasan tentang lafdz (kata) dengan porsi yangQur`an. Proses pembacaan dan penafsiran yang lama demikian luas merupakan indikasi kuat betapaberlangsung telah menghasilkan beratus-ratus kitab ushul fikih lama sangat menekankan teks dantafsir sejak masa lampau hingga sekarang. Banyak kitab nyaris menafikan konteks. Pendeknya, ushul fikihtafsir dengan corak dan ragamnya yang berbeda itu, konvensional lebih menitikberatkan pada lafdz (kata)di samping sebagai bukti prihal ketidakberhinggaan dan bukan pada maqashid (ideal moral).kerja penafsiran, juga di dalam kerangka untukmembunyikan aksara al-Qur`an dalam tataran Ketiga, menyangkut konsep qiyas (analogi) yangmasyarakat yang terus berubah. terutama diusung oleh Syafi’ i.. Per definisi, qiyas dikatakan sebagai menganalogikan sesuatu yangSekian banyak metodologi telah disusun untuk belum jelas ketentuan hukumnya (furu’) denganmenafsirkan al-Qur`an dimaksud. Dalam lanskap itu, yang sudah jelas hukumnya dalam al-Qur`an danImam Syafi’i dipandang sebagai orang pertama yang al-Sunnah (ashal) karena ada kesamaan illat. Modelmemancangkan fondasi metodologi pembacan teks qiyas seperti ini bermasalah setidaknya karena dua halmelalui masterpiecenya, al-Risalah. Bangunan ushul berikut. [a] bahwa tidak ada dua peristiwa yang persisfikih Syafi’i kemudian mencapai fase kematangannya sama, sehingga hukum keduanya bisa diparalelkan.dari para pengikut Syafi’i, di antaranya adalah al- Persamaan illat yang menjadi alasan pengoperasianSubki dengan bukunya Jam’u al-Jawami’. Di situ qiyas sesungguhnya merupakan tindakan simplifikasi.al-Subki berbicara sangat detail tentang teori lafzd. menyangkut hal-hal yang bersifat sosial, qiyas Syafi’iDari kalangan madzhab Maliki, al-Syathibi menyusun tampak mengabaikan konteks yang melandasisebuah buku monumental yang bertitel al-Muwafaqat kehadiran hukum ashal. Betapa, pengetahuan terhadapfiy ushul al-Syari’ah. Dalam buku tersebut, al-Syathibi konteks hukum ashal tidak pernah menjadi rukun daribanyak mengelaborasi konsep maqashid al-syari’ah. qiyas.Kitab-kitab ushul fikih itu berdiri demikian kokohdan mapan sehingga mayoritas para ahli ushul Kelemahan epistemologis ini, saya kira, merupakanbelakangan tidak bisa keluar dari jeratan metodologi utang intelektual yang mesti ditebus oleh ushulal-salaf al-shalih. Ushul fikih purba begitu dimanja dan fikih (qiyas) model Syafi’i ini. Apa yang dilakukandisakralkan oleh para pembacanya. oleh pemikir-pemikir muslim kontemporer dengan kerangka dan metodologi barunya, seperti NashrAkan tetapi, dalam perkembangan kontemporer, Hamid Abu Zaid, Arkoun, Adonis, Hasan Turabi,kitab-kitab ushul fikih lama itu diduga keras sedang Masdar F. Mas’udi, dan lain-lain kiranya untukmengidap sejumlah persoalan yang kronis. Pertama, melengkapiushul fikih Syafi’i beraroma Arab-sentris. Arabismemerupakan ideologi yang lekat dalam tembok ushul kekurangan-kekurangan tadi. Mengubah ushul fikihfikih lama. Kedua, kaidah yang banyak dilansir oleh lama tentu saja teramat absah dari sudut akademis- — 66 —
    • «intelektual, karena ia seutuhnya merupakan kreasi paraulama. Ushul fikih memiliki status epistemologis yangrelatif, tidak mutlak. (Abdul Moqsith Ghazali) — 67 —
    • PlantATree Publishing