• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Membumikan al qur'an
 

Membumikan al qur'an

on

  • 9,152 views

... karangan Pak Quraish Shihab ...

... karangan Pak Quraish Shihab ...

Statistics

Views

Total Views
9,152
Views on SlideShare
9,103
Embed Views
49

Actions

Likes
7
Downloads
902
Comments
2

5 Embeds 49

http://cvrahmat.blogspot.com 34
http://cvrahmat.blogspot.com.br 12
https://twitter.com 1
http://cvrahmat.blogspot.com.es 1
http://cvrahmat.blogspot.mx 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

12 of 2 previous next

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • mantab.... alhamdulillah saya udah punya bukunya....dah lama kok
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • uda lama saya mau miliki tapi gak sanggup beli, mas boleh gak saya minta, soalnya gak bisa dicopy paste........
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Membumikan al qur'an Membumikan al qur'an Presentation Transcript

    • Membumikan Al-Quran
    • KolofonTulisan ini diambil dari artikel yang dimuat di situs media.isnet.org tanpa seijin dari pengelola dan menurut situs tersebut, tulisan ini pernah diterbitkan oleh: Penerbit Mizan Digitalisasi dengan menggunakan aplikasi Adobe® InDesign® CS6 for Mac® OS X yang dibuat oleh Adobe® Systems Inc.Typeface yang dipergunakan disini adalah: Myriad Pro, Adobe® Naskh dan Adobe® Garamond Pro yang dibuat oleh Adobe® Systems Inc.
    • Membumikan Al-QuranFungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat DR. M. Quraish Shihab Mizan 1996
    • iv
    • Pengantar Pendijitalan Tanpa bermaksud tidak menghormati Bagi para pembaca buku ini, jika anda merasakarya besar dari DR. M. Quraish Shihab ini dan mampu untuk membeli, maka belilah! Jika andamengurangi keuntungan dari Penerbit Mizan — sudah mampu memenuhi kebutuhan makanBandung yang telah menyunting dan menerbitkan malam anda diwarung sebelah tanpa menuliskanbuku ini sebelumnya, maksud dan tujuan jumlah uang yang harus anda bayarkan dibukupedijitalan tulisan ini adalah untuk menanggapi Hutang pada kolom nama anda, belilah! jika andakeluhan beberapa kalangan yang berkepentingan menggunakan buku ini sebagai bahan referensidengan adanya tulisan ini, antara lain: tulisan, disertasi, tesis anda? cobalah menghubungi 1. Susah didapatkannya buku Membumikan sang penulis atau paling tidak menghubungi Al-Quran ini. penerbit Mizan — Bandung sebagai pemegang 2. Daya beli bagi beberapa mahasiswa hak penerbitan tulisan ini atau pelajar maupun orang yang ingin Demikian, semoga bermanfaat dan selamat mengakases tulisan ini dan, membaca! 3. Pendijital berkeyakinan bahwa tulisan yang baik perlu disebarkan-luaskan ke segala Jakarta, 16 Agustus 2012 penjuru... bagaimanapun caranya! Pendijital — idul.choliq@atheist.com Dengan maksud itulah pendijital meluangkanwaktu guna membuat buku dijital ini. Tulisan asli diambil dari media.isnet.org,juga tanpa seijin dari pengelola situs tersebut...,jadi pada dasarnya, jika ditinjau dari hukumformal, pendijitalan ini merupakan pembajakan!dikarenakan dilakukan tanpa mendapatkan ijinterlebih dahulu dari pihak yang berkepentingan.
    • vi
    • Daftar Isi Kolofon ii Pengantar Pendijitalan v1. Keotentikan Al-Quran 1 Bukti-bukti dari Al-Quran Sendiri 1 Bukti-bukti Kesejarahan 3 Penulisan Mushhaf 5 Penutup 62. Kebenaran Al-Quran Bukti vii3. Sejarah Turunnya dan Tujuan Pokok Al-Quran 13 Periode Turunnya Al-Quran 14 Dakwah menurut Al-Quran 20 Tujuan Pokok Al-Quran
    • 21 4. Kebenaran Ilmiah Al-Quran 23 Sistem Penalaran menurut Al-Quran 25 Ciri Khas Ilmu Pengetahuan 27 Perkembangan Tafsir 29 5. Ayat Ilmiah Al-Quran Hikmah 35 Mengapa Tafsir Ilmiah Meluas? 36 Bagaimana Memahami Al-Quran di Masa Kini? 41 Kesimpulan 45 6. Al-Quran, Ilmu, dan Filsafat Manusia 47 Al-Quran di Tengah Perkembangan Ilmu 48 Al-Quran di Tengah Perkembangan Filsafat 53 Penutup 57 7. Sejarah Perkembangan Tafsir 59viii
    • Kodifikasi Tafsir 61 Metode Tafsir 628. Kebebasan dan Pembatasan dalam Tafsir 65 Kebebasan dalam Menafsirkan Al-Quran 67 Pembatasan dalam Menafsirkan Al-Quran 67 Perubahan Sosial 70 Perkembangan Ilmu Pengetahuan 71 Bidang Bahasa 729. Perkembangan Metodologi Tafsir 75 Corak dan Metodologi Tafsir 75 Tafsir dalam Era Globalisasi 8010. Tafsir dan Modernisasi 87 Arti Tajdid atau Modernisasi 88 Pandangan tentang Modernisasi Tafsir ix
    • 90 11. Penafsiran Ilmiah Al-Quran 97 Perkembangan Penafsiran Ilmiah 97 Korelasi antara Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan 100 Penutup 109 12. Metode Tafsir Tematik 111 Beberapa Problem Tafsir 111 Metode Mawdhuiy 114 Keistimewaan Metode Mawdhuiy 118 Penutup 121 13. Hubungan Hadis dan Al-Quran 123 Fungsi Hadis terhadap Al-Quran 124 Pemahaman atas Makna Hadis 126 14. Fungsi dan Posisi Sunah Dalam Tafsir 131x
    • 15. Ayat-ayat Kawniyyah dalam Al-Quran 137 Al-Quran dan Alam Raya 138 Pendapat Para Ulama tentang Penafsiran Ilmiah 140 Segi Bahasa Al-Quran dan Korelasi Antar Ayatnya 14116. Konsep Qathiy dan Zhanniy 145 Hakikat Qathiy dan Zhanniy 147 Yang Qathiy dalam Al-Quran 148 Catatan Akhir 15017. Soal Nasikh dan Mansukh 153 Arti Naskh 154 Siapa yang Berwenang Melakukan Naskh? 15918. Pokok-Pokok Bahasan Tafsir 163 Problematik Tafsir 163 Pengertian dan Tujuan Pengajaran Tafsir xi
    • 165 Pokok Bahasan Tafsir 167 Materi Ulum Al-Quran 168 Pengenalan terhadap Al-Quran 168 Kaidah-kaidah Tafsir 168 Metode-metode Tafsir 169 Kitab-kitab Tafsir dan Para Mufasir 169 Materi Tafsir 169 19. Penafsiran "Khalifah" dengan Metoda Tematik 171 Arti Kata Khalifah 172 Arti Kekhalifahan di Bumi 174 Sifat-sifat Terpuji Seorang Khalifah 179 Ruang Lingkup Tugas-tugas Khalifah 183xii
    • 20. Riba Menurut Al-Quran 185 Riba yang Dimaksud Al-Quran 186 Pelbagai Pandangan di Seputar Arti Adhafan Mudhaafah 189 Kesimpulan 19521. Kedudukan Perempuan dalam Islam 197 Asal Kejadian Perempuan 198 Hak-hak Perempuan 20122. Laylat Al-Qadr 21123. Makna Isra dan Miraj 21924. Selamat Natal Menurut Al-Quran 229 Adakah kacamata lain? Mungkin! 231 xiii
    • xiv
    • Keotentikan Al-Quran 1A l-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu diantaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang apa yang dibaca dan didengarnya sebagai Al- Quran tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah saw., dan yangkeotentikannya dijamin oleh Allah, dan ia adalah didengar serta dibaca oleh para sahabat Nabi saw.kitab yang selalu dipelihara. Tetapi, dapatkah kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain? Dan, dapatkah bukti-bukti itu Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu meyakinkan manusia, termasuk mereka yang tidak lahafizhun percaya akan jaminan Allah di atas? Tanpa ragu (Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al- kita mengiyakan pertanyaan di atas, karena seperti Quran dan Kamilah Pemelihara-pemelihara- yang ditulis oleh almarhum Abdul-Halim Mahmud, Nya) (QS 15:9). mantan Syaikh Al-Azhar: "Para orientalis yang dari saat ke saat berusaha menunjukkan kelemahan Al- Demikianlah Allah menjamin keotentikan Quran, tidak mendapatkan celah untuk meragukanAl-Quran, jaminan yang diberikan atas dasar keotentikannya."(1) Hal ini disebabkan oleh bukti-Kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya, serta bukti kesejarahan yang mengantarkan merekaberkat upaya-upaya yang dilakukan oleh makhluk- kepada kesimpulan tersebut.makhluk-Nya, terutama oleh manusia. Dengan 1  Abdul Halim Mahmud, Al-Tafkir Al-Falsafiy fi Al-Islam, Darjaminan ayat di atas, setiap Muslim percaya bahwa Al-Kitab Al-Lubnaniy, Beirut, t.t., h. 50. Bukti-bukti dari Al-Quran Sendiri Sebelum menguraikan bukti-bukti kesejarahan, ulama besar Syiah kontemporer, Muhammadada baiknya saya kutipkan pendapat seorang Husain Al-Thabathabaiy, yang menyatakan bahwa
    • sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka, sejak Huruf-huruf hijaiyah yang terdapat pada awal turunnya sampai masa kini. Ia dibaca oleh kaum beberapa surah dalam Al-Quran adalah jaminan Muslim sejak dahulu sampai sekarang, sehingga keutuhan Al-Quran sebagaimana diterima oleh pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan Rasulullah saw. Tidak berlebih dan atau berkurang sejarah untuk membuktikan keotentikannya. satu huruf pun dari kata-kata yang digunakan oleh Kitab Suci tersebut lanjut Thabathabaiy Al-Quran. Kesemuanya habis terbagi 19, sesuai memperkenalkan dirinya sebagai Firman-firman dengan jumlah huruf-huruf B(i)sm Ali(a)h Al-R(a) Allah dan membuktikan hal tersebut dengan hm(a)n Al-R(a)him. (Huruf a dan i dalam kurung menantang siapa pun untuk menyusun seperti tidak tertulis dalam aksara bahasa Arab). keadaannya. Ini sudah cukup menjadi bukti, Huruf (qaf) yang merupakan awal dari surah walaupun tanpa bukti-bukti kesejarahan. Salah ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 satu bukti bahwa Al-Quran yang berada di tangan X 19. kita sekarang adalah Al-Quran yang turun kepada Huruf-huruf kaf, ha, ya, ayn, shad, dalam surah Nabi saw. tanpa pergantian atau perubahan — Maryam, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 X 19. tulis Thabathabaiy lebih jauh— adalah berkaitan Huruf (nun) yang memulai surah Al-Qalam, dengan sifat dan ciri-ciri yang diperkenalkannya ditemukan sebanyak 133 atau 7 X 19. Kedua, huruf menyangkut dirinya, yang tetap dapat ditemui (ya) dan (sin) pada surah Yasin masing-masing sebagaimana keadaannya dahulu.(2) ditemukan sebanyak 285 atau 15 X 19. Kedua huruf Dr. Mustafa Mahmud, mengutip pendapat (tha) dan (ha) pada surah Thaha masing-masing Rasyad Khalifah, juga mengemukakan bahwa berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 19 X 18. dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti-bukti Huruf-huruf (ha) dan (mim) yang terdapat sekaligus jaminan akan keotentikannya.(3) pada keseluruhan surah yang dimulai dengan kedua huruf ini, ha mim, kesemuanya merupakan 2  Muhammad Husain Al-Thabathabaly, Al-Quran fi Al-Islam, Markaz Ilam Al-Dzikra Al-Khamisah li Intizhar Al-Tsawrah perkalian dari 114 X 19, yakni masing-masing Al-Islamiyah, Teheran, h. 175. berjumlah 2.166. 3  Mustafa Mahmud, Min Asrar Al-Quran, Dar Al-Maarif, Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan Mesir, 1981, h. 64-65.2
    • langsung dari celah ayat Al-Quran, oleh Rasyad dari jumlah-jumlah yang disebut itu, diambil dariKhalifah, dijadikan sebagai bukti keotentikan pernyataan Al-Quran sendiri, yakni yang termuatAl-Quran. Karena, seandainya ada ayat yang dalam surah Al-Muddatstsir ayat 30 yang turunberkurang atau berlebih atau ditukar kata dan dalam konteks ancaman terhadap seorang yangkalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain, meragukan kebenaran Al-Quran.maka tentu perkalian-perkalian tersebut akan Demikianlah sebagian bukti keotentikan yangmenjadi kacau. terdapat di celah-celah Kitab Suci tersebut. Angka 19 di atas, yang merupakan perkalian Bukti-bukti Kesejarahan Al-Quran Al-Karim turun dalam masa sekitar 22 sederhana dan bersahaja: Kesederhanaan ini,tahun atau tepatnya, menurut sementara ulama, menjadikan mereka memiliki waktu luang yangdua puluh dua tahun, dua bulan dan dua puluh cukup, disamping menambah ketajaman pikirandua hari. dan hafalan. Ada beberapa faktor yang terlebih dahulu (3) Masyarakat Arab sangat gandrung lagiharus dikemukakan dalam rangka pembicaraan membanggakan kesusastraan; mereka bahkankita ini, yang merupakan faktor-faktor pendukung melakukan perlombaan-perlombaan dalam bidangbagi pembuktian otentisitas Al-Quran. ini pada waktu-waktu tertentu. (1) Masyarakat Arab, yang hidup pada masa (4) Al-Quran mencapai tingkat tertinggiturunnya Al-Quran, adalah masyarakat yang tidak dari segi keindahan bahasanya dan sangatmengenal baca tulis. Karena itu, satu-satunya mengagumkan bukan saja bagi orang-orangandalan mereka adalah hafalan. Dalam hal hafalan, mukmin, tetapi juga orang kafir. Berbagai riwayatorang Arab —bahkan sampai kini— dikenal sangat menyatakan bahwa tokoh-tokoh kaum musyrikkuat. seringkali secara sembunyi-sembunyi berupaya (2) Masyarakat Arab —khususnya pada masa mendengarkan ayat-ayat Al-Quran yang dibacaturunnya Al-Quran— dikenal sebagai masyarakat oleh kaum Muslim. Kaum Muslim, disamping 3
    • mengagumi keindahan bahasa Al-Quran, juga sahabat Nabi saw. yang menghafalkan Al-Quran. mengagumi kandungannya, serta meyakini bahwa Bahkan dalam peperangan Yamamah, yang ayat-ayat Al-Quran adalah petunjuk kebahagiaan terjadi beberapa saat setelah wafatnya Rasul saw., dunia dan akhirat. telah gugur tidak kurang dari tujuh puluh orang (5) Al-Quran, demikian pula Rasul saw., penghafal Al-Quran.(4) menganjurkan kepada kaum Muslim untuk Walaupun Nabi saw. dan para sahabat memperbanyak membaca dan mempelajari Al- menghafal ayat-ayat Al-Quran, namun guna Quran dan anjuran tersebut mendapat sambutan menjamin terpeliharanya wahyu-wahyu Ilahi yang hangat. itu, beliau tidak hanya mengandalkan hafalan, (6) Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan tetapi juga tulisan. Sejarah menginformasikan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa- bahwa setiap ada ayat yang turun, Nabi saw. lalu peristiwa yang mereka alami, bahkan menjawab memanggil sahabat-sahabat yang dikenal pandai pertanyaan-pertanyaan mereka. Disamping itu, menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi sedikit. Hal saja diterimanya, sambil menyampaikan tempat itu lebih mempermudah pencernaan maknanya dan urutan setiap ayat dalam surahnya. Ayat- dan proses penghafalannya. ayat tersebut mereka tulis dalam pelepah kurma, (7) Dalam Al-Quran, demikian pula hadis- batu, kulit-kulit atau tulang-tulang binatang. hadis Nabi, ditemukan petunjuk-petunjuk yang Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan mendorong para sahabatnya untuk selalu bersikap ayat-ayat tersebut secara pribadi, namun karena teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita keterbatasan alat tulis dan kemampuan maka —lebih-lebih kalau berita tersebut merupakan tidak banyak yang melakukannya disamping Firman-firman Allah atau sabda Rasul-Nya. kemungkinan besar tidak mencakup seluruh Faktor-faktor di atas menjadi penunjang ayat Al-Quran. Kepingan naskah tulisan yang terpelihara dan dihafalkannya ayat-ayat Al-Quran. diperintahkan oleh Rasul itu, baru dihimpun dalam Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang 4  Abdul Azhim Al-Zarqaniy, Manahil Al-Irfan i Ulum menginformasikan bahwa terdapat ratusan Al-Quran, Al-Halabiy, Kairo, 1980, jilid 1, h. 250.4
    • bentuk "kitab" pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar r.a.(5) 5  Ibid., h. 252. Penulisan Mushhaf Dalam uraian sebelumnya dikemukakan bahwa Bakar r.a. memerintahkan kepada seluruh kaumketika terjadi peperangan Yamamah, terdapat Muslim untuk membawa naskah tulisan ayat Al-puluhan penghafal Al-Quran yang gugur. Hal Quran yang mereka miliki ke Masjid Nabawi untukini menjadikan Umar ibn Al-Khaththab menjadi kemudian diteliti oleh Zaid dan timnya. Dalamrisau tentang "masa depan Al-Quran". Karena itu, hal ini, Abu Bakar r.a. memberi petunjuk agar timbeliau mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar tersebut tidak menerima satu naskah kecuali yangagar mengumpulkan tulisan-tulisan yang pernah memenuhi dua syarat:ditulis pada masa Rasul. Walaupun pada mulanya Pertama, harus sesuai dengan hafalan paraAbu Bakar ragu menerima usul tersebut —dengan sahabat lain.alasan bahwa pengumpulan semacam itu tidak Kedua, tulisan tersebut benar-benar adalahdilakukan oleh Rasul saw.— namun pada akhirnya yang ditulis atas perintah dan di hadapan NabiUmar r.a. dapat meyakinkannya. Dan keduanya saw. Karena, seperti yang dikemukakan di atas,sepakat membentuk suatu tim yang diketuai oleh sebagian sahabat ada yang menulis atas inisiatifZaid ibn Tsabit dalam rangka melaksanakan tugas sendiri.suci dan besar itu. Untuk membuktikan syarat kedua tersebut, Zaid pun pada mulanya merasa sangat berat diharuskan adanya dua orang saksi mata.untuk menerima tugas tersebut, tetapi akhirnya Sejarah mencatat bahwa Zaid ketika ituia dapat diyakinkan —apalagi beliau termasuk menemukan kesulitan karena beliau dan sekiansalah seorang yang ditugaskan oleh Rasul pada banyak sahabat menghafal ayat Laqad jaakummasa hidup beliau untuk menuliskan wahyu Rasul min anfusikum aziz alayh ma anittun harishAl-Quran. Dengan dibantu oleh beberapa orang alaykum bi almuminina Rauf al-rahim (QS 9:128).sahabat Nabi, Zaid pun memulai tugasnya. Abu Tetapi, naskah yang ditulis di hadapan Nabi saw. 5
    • tidak ditemukan. Syukurlah pada akhirnya naskah dengan 142 X 19, sedangkan kata Al-Rahman tersebut ditemukan juga di tangan seorang sebanyak 57 kali atau sama dengan 3 X 19, dan sahabat yang bernama Abi Khuzaimah Al-Anshari. Al-Rahim sebanyak 115 kali. Di sini, ia menemukan Demikianlah, terlihat betapa Zaid menggabungkan kejanggalan, yang konon mengantarnya antara hafalan sekian banyak sahabat dan naskah mencurigai adanya satu ayat yang menggunakan yang ditulis di hadapan Nabi saw., dalam rangka kata rahim, yang pada hakikatnya bukan ayat Al- memelihara keotentikan Al-Quran. Dengan Quran. Ketika itu, pandangannya tertuju kepada demikian, dapat dibuktikan dari tata kerja dan surah Al-Tawbah ayat 128, yang pada mulanya data-data sejarah bahwa Al-Quran yang kita baca tidak ditemukan oleh Zaid. Karena, sebagaimana sekarang ini adalah otentik dan tidak berbeda terbaca di atas, ayat tersebut diakhiri dengan kata sedikit pun dengan apa yang diterima dan dibaca rahim. oleh Rasulullah saw., lima belas abad yang lalu. Sebenarnya, kejanggalan yang ditemukannya Sebelum mengakhiri tulisan ini, perlu akan sirna, seandainya ia menyadari bahwa kata dikemukakan bahwa Rasyad Khalifah, yang rahim pada ayat Al-Tawbah di atas, bukannya menemukan rahasia angka 19 yang dikemukakan menunjuk kepada sifat Tuhan, tetapi sifat Nabi di atas, mendapat kesulitan ketika menemukan Muhammad saw. Sehingga ide yang ditemukannya bahwa masing-masing kata yang menghimpun dapat saja benar tanpa meragukan satu ayat dalam Bismillahirrahmanirrahim, kesemuanya habis Al-Quran, bila dinyatakan bahwa kata rahim dalam terbagi 19, kecuali Al-Rahim. Kata Ism terulang Al-Quran yang menunjuk sifat Allah jumlahnya 114 sebanyak 19 kali, Allah sebanyak 2.698 kali, sama dan merupakan perkalian dari 6 X 19. Penutup Demikianlah sekelumit pembicaraan dan bukti- Kitab Suci ini, antara lain berkat upaya kaum bukti yang dikemukakan para ulama dan pakar, beriman. menyangkut keotentikan ayat-ayat Al-Quran. Terlihat bagaimana Allah menjamin terpeliharanya6
    • Bukti Kebenaran Al-Quran Al-Quran mempunyai sekian banyak fungsi. Seorang ahli berkomentar bahwa tantangan 2Di antaranya adalah menjadi bukti kebenaran yang sedemikian lantang ini tidak dapatNabi Muhammad saw. Bukti kebenaran tersebut dikemukakan oleh seseorang kecuali jika iadikemukakan dalam tantangan yang sifatnya memiliki satu dari dua sifat: gila atau sangatbertahap. Pertama, menantang siapa pun yang yakin. Muhammad saw. sangat yakin akan wahyu-meragukannya untuk menyusun semacam Al- wahyu Tuhan, karena "Wahyu adalah informasiQuran secara keseluruhan (baca QS 52:34). Kedua, yang diyakini dengan sebenarnya bersumber darimenantang mereka untuk menyusun sepuluh Tuhan."surah semacam Al-Quran (baca QS 11:13). Seluruh Walaupun Al-Quran menjadi bukti kebenaranAl-Quran berisikan 114 surah. Ketiga, menantang Nabi Muhammad, tapi fungsi utamanya adalahmereka untuk menyusun satu surah saja semacam menjadi "petunjuk untuk seluruh umat manusia."Al-Quran (baca QS 10:38). Keempat, menantang Petunjuk yang dimaksud adalah petunjuk agama,mereka untuk menyusun sesuatu seperti atau lebih atau yang biasa juga disebut sebagai syariat.kurang sama dengan satu surah dari Al-Quran Syariat, dari segi pengertian kebahasaan, berarti(baca QS 2:23). jalan menuju sumber air." Jasmani manusia, Dalam hal ini, Al-Quran menegaskan: bahkan seluruh makhluk hidup, membutuhkanKatakanlah (hai Muhammad) sesungguhnya jika air, demi kelangsungan hidupnya. Ruhaninya punmanusia dan jin berkumpul untuk membuat membutuhkan "air kehidupan." Di sini, syariatyang serupa Al-Quran ini, niscaya mereka tidak mengantarkan seseorang menuju air kehidupanakan mampu membuat yang serupa dengannya, itu.sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu Dalam syariat ditemukan sekian banyak rambu-bagi sebagian yang lain. (QS 17 :88). rambu jalan: ada yang berwarna merah, yang
    • berarti larangan; ada pula yang berwarna kuning, kematian. yang memerlukan kehati-hatian; dan ada yang Jika demikian, yang harus menyusunnya adalah hijau warnanya, yang melambangkan kebolehan "Sesuatu" yang tidak bersifat egoistis, yang tidak melanjutkan perjalanan. Ini semua, persis sama mempunyai sedikit kepentingan pun, sekaligus dengan lampu-lampu lalulintas. Lampu merah memiliki pengetahuan yang Mahaluas. "Sesuatu" tidak memperlambat seseorang sampai ke tujuan. itu adalah Tuhan Yang Mahaesa, dan peraturan Bahkan ia merupakan salah satu faktor utama yang yang dibuatnya itu dinamai "agama". memelihara pejalan dari mara bahaya. Demikian Sayang bahwa tidak semua manusia dapat juga halnya dengan "lampu-lampu merah" atau berhubungan langsung secara jelas dengan larangan-larangan agama. Tuhan, guna memperoleh informasi-Nya. Karena Kita sangat membutuhkan peraturan-peraturan itu, Tuhan memilih orang-orang tertentu, yang lalulintas demi memelihara keselamatan kita. memiliki kesucian jiwa dan kecerdasan pikiran Demikian juga dengan peraturan lalulintas menuju untuk menyampaikan informasi tersebut kepada kehidupan yang lebih jauh, kehidupan sesudah mereka. Mereka yang terpilih itu dinamai Nabi atau mati. Di sini, siapakah yang seharusnya membuat Rasul. peraturan-peraturan menuju perjalanan yang Karena sifat egoistis manusia, maka ia tidak sangat jauh itu? mempercayai informasi-informasi Tuhan yang Manusia memiliki kelemahan-kelemahan. disampaikan oleh para Nabi itu. Mereka bahkan Antara lain, ia seringkali bersifat egoistis. tidak percaya bahwa manusia-manusia terpilih itu Disamping itu, pengetahuannya sangat terbatas. adalah Nabi-nabi yang mendapat tugas khusus Lantaran itu, jika ia yang diserahi menyusun dari Tuhan. peraturan lalulintas menuju kehidupan sesudah Untuk meyakinkan manusia, para Nabi atau mati, maka diduga keras bahwa ia, di samping Rasul diberi bukti-bukti yang pasti dan terjangkau. hanya akan menguntungkan dirinya sendiri, juga Bukti-bukti tersebut merupakan hal-hal tertentu akan sangat terbatas bahkan keliru, karena ia yang tidak mungkin dapat mereka —sebagai tidak mengetahui apa yang akan terjadi setelah manusia biasa (bukan pilihan Tuhan)— lakukan.viii
    • Bukti-bukti tersebut dalam bahasa agama dinamai tengah-tengah masyarakat yang relatif telah"mukjizat". mengenal peradaban, seperti Mesir, Persia atau Para Nabi atau Rasul terdahulu memiliki Romawi. Beliau dibesarkan dan hidup di tengah-mukjizat-mukjizat yang bersifat temporal, lokal, tengah kaum yang oleh beliau sendiri dilukiskandan material. Ini disebabkan karena misi mereka sebagai "Kami adalah masyarakat yang tidakterbatas pada daerah tertentu dan waktu tertentu. pandai menulis dan berhitung." Inilah sebabnya,Ini jelas berbeda dengan misi Nabi Muhammad konon, sehingga angka yang tertinggi yangsaw. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia, di mereka ketahui adalah tujuh. Inilah latar belakang,mana dan kapan pun hingga akhir zaman. mengapa mereka mengartikan "tujuh langit" Pengutusan ini juga memerlukan mukjizat. sebagai "banyak langit." Al-Quran juga menyatakanDan karena sifat pengutusan itu, maka bukti bahwa seandainya Muhammad dapat membacakebenaran beliau juga tidak mungkin bersifat lokal, atau menulis pastilah akan ada yang meragukantemporal, dan material. Bukti itu harus bersifat kenabian beliau (baca QS 29:48).universal, kekal, dapat dipikirkan dan dibuktikan Ketiga aspek yang dimaksud di atas adalahkebenarannya oleh akal manusia. Di sinilah terletak sebagai berikut. Pertama, aspek keindahan danfungsi Al-Quran sebagai mukjizat. ketelitian redaksi-redaksinya. Tidak mudah untuk Paling tidak ada tiga aspek dalam Al-Quran menguraikan hal ini, khususnya bagi kita yangyang dapat menjadi bukti kebenaran Nabi tidak memahami dan memiliki "rasa bahasa" ArabMuhammad saw., sekaligus menjadi bukti —karena keindahan diperoleh melalui "perasaan",bahwa seluruh informasi atau petunjuk yang bukan melalui nalar. Namun demikian, ada satudisampaikannya adalah benar bersumber dari atau dua hal menyangkut redaksi Al-Quran yangAllah SWT. dapat membantu pemahaman aspek pertama ini. Ketiga aspek tersebut akan lebih meyakinkan Seperti diketahui, seringkali Al-Quran "turun"lagi, bila diketahui bahwa Nabi Muhammad secara spontan, guna menjawab pertanyaan ataubukanlah seorang yang pandai membaca dan mengomentari peristiwa. Misalnya pertanyaanmenulis. Ia juga tidak hidup dan bermukim di orang Yahudi tentang hakikat ruh. Pertanyaan ix
    • ini dijawab secara langsung, dan tentunya (keburukan), masing-masing 167 kali; spontanitas tersebut tidak memberi peluang Al-Thumaninah (kelapangan/ketenangan) dan untuk berpikir dan menyusun jawaban dengan al-dhiq (kesempitan/kekesalan), masing-masing 13 redaksi yang indah apalagi teliti. Namun demikian, kali; setelah Al-Quran rampung diturunkan dan Al-rahbah (cemas/takut) dan al-raghbah (harap/ kemudian dilakukan analisis serta perhitungan ingin), masing-masing 8 kali; tentang redaksi-redaksinya, ditemukanlah hal-hal Al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam yang sangat menakjubkan. Ditemukan adanya bentuk definite, masing-masing 17 kali; keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata Kufr (kekufuran) dan iman (iman) dalam bentuk yang digunakannya, seperti keserasian jumlah dua indifinite, masing-masing 8 kali; kata yang bertolak belakang. Al-shayf (musim panas) dan al-syita (musim Abdurrazaq Nawfal, dalam Al-Ijaz Al-Adabiy dingin), masing-masing 1 kali. li Al-Quran Al-Karim yang terdiri dari tiga jilid, B. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan mengemukakan sekian banyak contoh tentang sinonimnya/makna yang dikandungnya. keseimbangan tersebut, yang dapat kita simpulkan Al-harts dan al-ziraah (membajak/bertani), secara sangat singkat sebagai berikut. masing-masing 14 kali; A. Keseimbangan antara jumlah bilangan Al-ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/ kata dengan antonimnya. Beberapa contoh, di angkuh), masing-masing 27 kali; antaranya: Al-dhallun dan al-mawta (orang sesat/mati Al-hayah (hidup) dan al-mawt (mati), masing- [jiwanya]), masing-masing 17 kali; masing sebanyak 145 kali; Al-Quran, al-wahyu dan Al-Islam (Al-Quran, Al-naf (manfaat) dan al-madharrah (mudarat), wahyu dan Islam), masing-masing 70 kali; masing-masing sebanyak 50 kali; Al-aql dan al-nur (akal dan cahaya), masing- Al-har (panas) dan al-bard (dingin), masing- masing 49 kali; masing 4 kali; Al-jahr dan al-alaniyah (nyata), masing-masing Al-shalihat (kebajikan) dan al-sayyiat 16 kali.x
    • C. Keseimbangan antara jumlah bilangan (1) Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggalkata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalamakibatnya. setahun. Sedangkan kata hari yang menunjuk Al-infaq (infak) dengan al-ridha (kerelaan), kepada bentuk plural (ayyam) atau dua (yawmayni),masing-masing 73 kali; jumlah keseluruhannya hanya tiga puluh, sama Al-bukhl (kekikiran) dengan al-hasarah dengan jumlah hari dalam sebulan. Disisi lain,(penyesalan), masing-masing 12 kali; kata yang berarti "bulan" (syahr) hanya terdapat Al-kafirun (orang-orang kafir) dengan al-nar/ dua belas kali, sama dengan jumlah bulan dalamal-ahraq (neraka/ pembakaran), masing-masing 154 setahun.kali; (2) Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada Al-zakah (zakat/penyucian) dengan al-barakat "tujuh." Penjelasan ini diulanginya sebanyak tujuh(kebajikan yang banyak), masing-masing 32 kali; kali pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah 29, Al-fahisyah (kekejian) dengan al-ghadhb Al-Isra 44, Al-Muminun 86, Fushshilat 12, Al-Thalaq(murka), masing-masing 26 kali. 12, Al-Mulk 3, dan Nuh 15. Selain itu, penjelasannya D. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata tentang terciptanya langit dan bumi dalam enamdengan kata penyebabnya. hari dinyatakan pula dalam tujuh ayat. Al-israf (pemborosan) dengan al-surah (3) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan(ketergesa-gesaan), masing-masing 23 kali; Tuhan, baik rasul (rasul), atau nabiyy (nabi), atau Al-mawizhah (nasihat/petuah) dengan al-lisan basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir(lidah), masing-masing 25 kali; (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah Al-asra (tawanan) dengan al-harb (perang), 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlahmasing-masing 6 kali; penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa Al-salam (kedamaian) dengan al-thayyibat berita tersebut, yakni 518 kali.(kebajikan), masing-masing 60 kali. Demikianlah sebagian dari hasil penelitian yang E. Di samping keseimbangan-keseimbangan kita rangkum dan kelompokkan ke dalam bentuktersebut, ditemukan juga keseimbangan khusus. seperti terlihat di atas. xi
    • Kedua adalah pemberitaan-pemberitaan Ketiga, isyarat-isyarat ilmiahnya. Banyak sekah gaibnya. Firaun, yang mengejar-ngejar Nabi Musa., isyarat ilmiah yang ditemukan dalam Al-Quran. diceritakan dalam surah Yunus. Pada ayat 92 surah Misalnya diisyaratkannya bahwa "Cahaya matahari itu, ditegaskan bahwa "Badan Firaun tersebut bersumber dari dirinya sendiri, sedang cahaya akan diselamatkan Tuhan untuk menjadi pelajaran bulan adalah pantulan (dari cahaya matahari)" generasi berikut." Tidak seorang pun mengetahui (perhatikan QS 10:5); atau bahwa jenis kelamin hal tersebut, karena hal itu telah terjadi sekitar anak adalah hasil sperma pria, sedang wanita 1200 tahun S.M. Nanti, pada awal abad ke-19, sekadar mengandung karena mereka hanya tepatnya pada tahun 1896, ahli purbakala Loret bagaikan "ladang" (QS 2:223); dan masih banyak menemukan di Lembah Raja-raja Luxor Mesir, satu lagi lainnya yang kesemuanya belum diketahui mumi, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa manusia kecuali pada abad-abad bahkan tahun- ia adalah Firaun yang bernama Maniptah dan tahun terakhir ini. Dari manakah Muhammad yang pernah mengejar Nabi Musa a.s. Selain itu, mengetahuinya kalau bukan dari Dia, Allah Yang pada tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith mendapat Maha Mengetahui! izin dari pemerintah Mesir untuk membuka Kesemua aspek tersebut tidak dimaksudkan pembalut-pembalut Firaun tersebut. Apa yang kecuali menjadi bukti bahwa petunjuk-petunjuk ditemukannya adalah satu jasad utuh, seperti yang disampaikan oleh Al-Quran adalah benar, yang diberitakan oleh Al-Quran melalui Nabi yang sehingga dengan demikian manusia yakin serta ummiy (tak pandai membaca dan menulis itu). secara tulus mengamalkan petunjuk-petunjuknya. Mungkinkah ini? Setiap orang yang pernah berkunjung ke Museum Kairo, akan dapat melihat Firaun tersebut. Terlalu banyak ragam serta peristiwa gaib yang telah diungkapkan Al-Quran dan yang tidak mungkin dikemukakan dalam kesempatan yang terbatas ini.xii
    • Sejarah Turunnya dan Tujuan Pokok Al- 3 Quran Agama Islam, agama yang kita anut dan Disamping keterangan yang diberikan olehdianut oleh ratusan juta kaum Muslim di seluruh Rasulullah saw., Allah memerintahkan pula kepadadunia, merupakan way of life yang menjamin umat manusia seluruhnya agar memperhatikankebahagiaan hidup pemeluknya di dunia dan di dan mempelajari Al-Quran: Tidaklah merekaakhirat kelak. Ia mempunyai satu sendi utama yang memperhatikan isi Al-Quran, bahkan ataukah hatiesensial: berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang mereka tertutup (QS 47:24).sebaik-baiknya. Allah berfirman, Sesungguhnya Mempelajari Al-Quran adalah kewajiban.Al-Quran ini memberi petunjuk menuju jalan yang Berikut ini beberapa prinsip dasar untuksebaik-baiknya (QS, 17:9). memahaminya, khusus dari segi hubungan Al- Al-Quran memberikan petunjuk dalam Quran dengan ilmu pengetahuan. Atau, denganpersoalan-persoalan akidah, syariah, dan akhlak, kata lain, mengenai "memahami Al-Quran dalamdengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsip Hubungannya dengan Ilmu Pengetahuan."mengenai persoalan-persoalan tersebut; dan Allah (Persoalan ini sangat penting, terutama padaSWT menugaskan Rasul saw., untuk memberikan masa-masa sekarang ini, dimana perkembanganketerangan yang lengkap mengenai dasar-dasar ilmu pengetahuan demikian pesat dan meliputiitu: Kami telah turunkan kepadamu Al-Dzikr (Al- seluruh aspek kehidupan.Quran) untuk kamu terangkan kepada manusia Kekaburan mengenai hal ini dapatapa-apa yang diturunkan kepada mereka agar menimbulkan ekses-ekses yang mempengaruhimereka berpikir (QS 16:44). perkembangan pemikiran kita dewasa ini dan
    • generasi-generasi yang akan datang. Dalam di pihak lain, tidak dapat mencapai kata sepakat bukunya, Science and the Modern World, A.N. tentang hubungan antara Kitab Suci dan ilmu Whitehead menulis: "Bila kita menyadari betapa pengetahuan; tetapi agama yang dimaksudkannya pentingnya agama bagi manusia dan betapa dapat mencakup segenap keyakinan yang dianut pentingnya ilmu pengetahuan, maka tidaklah manusia. berlebihan bila dikatakan bahwa sejarah kita yang Demikian pula halnya bagi umat Islam, akan datang bergantung pada putusan generasi pengertian kita terhadap hubungan antara sekarang mengenai hubungan antara keduanya."(1) Al-Quran dan ilmu pengetahuan akan memberi Tulisan Whithead ini berdasarkan apa yang pengaruh yang tidak kecil terhadap perkembangan terjadi di Eropa pada abad ke-18, yang ketika itu, agama dan sejarah perkembangan manusia pada gereja/pendeta di satu pihak dan para ilmuwan generasi-generasi yang akan datang. 1  Whitehead, Science and the Modern World, hal. 180. Periode Turunnya Al-Quran Al-Quran Al-Karim yang terdiri dari 114 surah umat-umat yang lalu disatukan dengan nasihat, dan susunannya ditentukan oleh Allah SWT. ultimatum, dorongan atau tanda-tanda kebesaran dengan cara tawqifi, tidak menggunakan metode Allah yang ada di alam semesta. Terkadang pula, sebagaimana metode-metode penyusunan buku- ada suatu persoalan atau hukum yang sedang buku ilmiah. Buku-buku ilmiah yang membahas diterangkan tiba-tiba timbul persoalan lain yang satu masalah, selalu menggunakan satu metode pada pandangan pertama tidak ada hubungan tertentu dan dibagi dalam bab-bab dan pasal- antara satu dengan yang lainnya. Misalnya, apa pasal. Metode ini tidak terdapat di dalam Al-Quran yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 216- Al-Karim, yang di dalamnya banyak persoalan 221, yang mengatur hukum perang dalam asyhur induk silih-berganti diterangkan. al-hurum berurutan dengan hukum minuman Persoalan akidah terkadang bergandengan keras, perjudian, persoalan anak yatim, dan dengan persoalan hukum dan kritik; sejarah perkawinan dengan orang-orang musyrik.14
    • Yang demikian itu dimaksudkan agar pada hakikatnya periode pertama dan keduamemberikan kesan bahwa ajaran-ajaran Al-Quran dalam pembagian tersebut adalah kumpulan daridan hukum-hukum yang tercakup didalamnya ayat-ayat Makkiyah, dan periode ketiga adalahmerupakan satu kesatuan yang harus ditaati oleh ayat-ayat Madaniyyah. Pembagian demikian untukpenganut-penganutnya secara keseluruhan tanpa lebih menjelaskan tujuan-tujuan pokok Al-Quran.ada pemisahan antara satu dengan yang lainnya.Dalam menerangkan masalah-masalah filsafat dan Periode Pertamametafisika, Al-Quran tidak menggunakan istilah Diketahui bahwa Muhammad saw., padafilsafat dan logika. Juga dalam bidang politik, awal turunnya wahyu pertama (iqra), belumekonomi, sosial dan kebudayaan. Yang demikian dilantik menjadi Rasul. Dengan wahyu pertamaini membuktikan bahwa Al-Quran tidak dapat itu, beliau baru merupakan seorang nabi yangdipersamakan dengan kitab-kitab yang dikenal tidak ditugaskan untuk menyampaikan apa yangmanusia. diterima. Baru setelah turun wahyu kedualah Tujuan Al-Quran juga berbeda dengan tujuan beliau ditugaskan untuk menyampaikan wahyu-kitab-kitab ilmiah. Untuk memahaminya, terlebih wahyu yang diterimanya, dengan adanya firmandahulu harus diketahui periode turunnya Al-Quran. Allah: "Wahai yang berselimut, bangkit dan berilahDengan mengetahui periode-periode tersebut, peringatan" (QS 74:1-2).tujuan-tujuan Al-Quran akan lebih jelas. Kemudian, setelah itu, kandungan wahyu Para ulama Ulum Al-Quran membagi sejarah Ilahi berkisar dalam tiga hal. Pertama, pendidikanturunnya Al-Quran dalam dua periode: (1) Periode bagi Rasulullah saw., dalam membentuksebelum hijrah; dan (2) Periode sesudah hijrah. kepribadiannya. Perhatikan firman-Nya:Ayat-ayat yang turun pada periode pertama Wahai orang yang berselimut, bangunlah dandinamai ayat-ayat Makkiyyah, dan ayat-ayat yang sampaikanlah. Dan Tuhanmu agungkanlah.turun pada periode kedua dinamai ayat-ayat Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah kotoranMadaniyyah. Tetapi, di sini, akan dibagi sejarah (syirik). Janganlah memberikan sesuatu denganturunnya Al-Quran dalam tiga periode, meskipun mengharap menerima lebih banyak darinya, dan 15
    • sabarlah engkau melaksanakan perintah-perintah mengetahui pula persoalan-persoalan tauhid dan Tuhanmu (QS 74:1-7). tanzih (penyucian) Allah SWT. Dalam wahyu ketiga terdapat pula bimbingan Ketiga, keterangan mengenai dasar-dasar untuknya: Wahai orang yang berselimut, akhlak Islamiah, serta bantahan-bantahan secara bangkitlah, shalatlah di malam hari kecuali sedikit umum mengenai pandangan hidup masyarakat darinya, yaitu separuh malam, kuranq sedikit dari jahiliah ketika itu. Ini dapat dibaca, misalnya, dalam itu atau lebih, dan bacalah Al-Quran dengan tartil surah Al-Takatsur, satu surah yang mengecam (QS 73:1-4). mereka yang menumpuk-numpuk harta; dan surah Perintah ini disebabkan karena Sesungguhnya Al-Maun yang menerangkan kewajiban terhadap kami akan menurunkan kepadamu wahyu yang fakir miskin dan anak yatim serta pandangan sangat berat (QS 73:5). agama mengenai hidup bergotong-royong. Ada lagi ayat-ayat lain, umpamanya: Berilah Periode ini berlangsung sekitar 4-5 tahun dan peringatan kepada keluargamu yang terdekat. telah menimbulkan bermacam-macam reaksi di Rendahkanlah dirimu, janganlah bersifat kalangan masyarakat Arab ketika itu. Reaksi-reaksi sombong kepada orang-orang yang beriman tersebut nyata dalam tiga hal pokok: yang mengikutimu. Apabila mereka (keluargamu) Segolongan kecil dari mereka menerima enggan mengikutimu, katakanlah: aku berlepas dengan baik ajaran-ajaran Al-Quran. dari apa yang kalian kerjakan (QS 26:214-216). Sebagian besar dari masyarakat tersebut Demikian ayat-ayat yang merupakan menolak ajaran Al-Quran, karena kebodohan bimbingan bagi beliau demi suksesnya dakwah. mereka (QS 21:24), keteguhan mereka Kedua, pengetahuan-pengetahuan dasar mempertahankan adat istiadat dan tradisi nenek mengenai sifat dan afal Allah, misalnya surah moyang (QS 43:22), dan atau karena adanya Al-Ala (surah ketujuh yang diturunkan) atau maksud-maksud tertentu dari satu golongan surah Al-Ikhlash, yang menurut hadis Rasulullah seperti yang digambarkan oleh Abu Sufyan: "Kalau "sebanding dengan sepertiga Al-Quran", karena sekiranya Bani Hasyim memperoleh kemuliaan yang mengetahuinya dengan sebenarnya akan nubuwwah, kemuliaan apa lagi yang tinggal untuk16
    • kami." ancaman yang pedas terus mengalir kepada kaum Dakwah Al-Quran mulai melebar melampaui musyrik yang berpaling dari kebenaran, seperti:perbatasan Makkah menuju daerah-daerah Bila mereka berpaling maka katakanlah wahaisekitarnya. Muhammad: "Aku pertakuti kamu sekalian dengan siksaan, seperti siksaan yang menimpa kaum AdPeriode Kedua dan Tsamud" (QS 41:13). Periode kedua dari sejarah turunnya Al- Selain itu, turun juga ayat-ayat yangQuran berlangsung selama 8-9 tahun, dimana mengandung argumentasi-argumentasi mengenaiterjadi pertarungan hebat antara gerakan Islam keesaan Tuhan dan kepastian hari kiamatdan jahiliah. Gerakan oposisi terhadap Islam berdasarkan tanda-tanda yang dapat mereka lihatmenggunakan segala cara dan sistem untuk dalam kehidupan sehari-hari, seperti: Manusiamenghalangi kemajuan dakwah Islamiah. memberikan perumpamaan bagi kami dan lupa Dimulai dari fitnah, intimidasi dan akan kejadiannya, mereka berkata: "Siapakahpenganiayaan, yang mengakibatkan para yang dapat menghidupkan tulang-tulang yangpenganut ajaran Al-Quran ketika itu terpaksa telah lapuk dan hancur?" Katakanlah, wahaiberhijrah ke Habsyah dan para akhirnya mereka Muhammad: "Yang menghidupkannya ialahsemua —termasuk Rasulullah saw.— berhijrah ke Tuhan yang menjadikan ia pada mulanya, danMadinah. yang Maha Mengetahui semua kejadian. Dia yang Pada masa tersebut, ayat-ayat Al-Quran, di menjadikan untukmu, wahai manusia, api darisatu pihak, silih berganti turun menerangkan kayu yang hijau (basah) lalu dengannya kamukewajiban-kewajiban prinsipil penganutnya sesuai sekalian membakar." Tidaklah yang menciptakandengan kondisi dakwah ketika itu, seperti: Ajaklah langit dan bumi sanggup untuk menciptakanmereka ke jalan Tuhanmu (agama) dengan hikmah yang serupa itu? Sesungguhnya Ia Maha Penciptadan tuntunan yang baik, serta bantahlah mereka dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya bila Allahdengan cara yang sebaik-baiknya (QS 16:125). menghendaki sesuatu Ia hanya memerintahkan: Dan, di lain pihak, ayat-ayat kecaman dan "Jadilah!"Maka jadilah ia (QS 36:78-82). 17
    • Ayat ini merupakan salah satu argumentasi Al-Munawwarah). Periode ini berlangsung selama terkuat dalam membuktikan kepastian hari kiamat. sepuluh tahun, di mana timbul bermacam-macam Dalam hal ini, Al-Kindi berkata: "Siapakah di antara peristiwa, problem dan persoalan, seperti: Prinsip- manusia dan filsafat yang sanggup mengumpulkan prinsip apakah yang diterapkan dalam masyarakat dalam satu susunan kata-kata sebanyak huruf ayat- demi mencapai kebahagiaan? Bagaimanakah ayat tersebut, sebagaimana yang telah disimpulkan sikap terhadap orang-orang munafik, Ahl Al-Kitab, Tuhan kepada Rasul-Nya saw., dimana diterangkan orang-orang kafir dan lain-lain, yang semua itu bahwa tulang-tulang dapat hidup setelah menjadi diterangkan Al-Quran dengan cara yang berbeda- lapuk dan hancur; bahwa qudrah-Nya menciptakan beda? seperti langit dan bumi; dan bahwa sesuatu Dengan satu susunan kata-kata yang dapat mewujud dari sesuatu yang berlawanan membangkitkan semangat seperti berikut ini, Al- dengannya."(2) Quran menyarankan: Tidakkah sepatutnya kamu Disini terbukti bahwa ayat-ayat Al-Quran telah sekalian memerangi golongan yang mengingkari sanggup memblokade paham-paham jahiliah dari janjinya dan hendak mengusir Rasul, sedangkan segala segi sehingga mereka tidak lagi mempunyai merekalah yang memulai peperangan. Apakah arti dan kedudukan dalam rasio dan alam pikiran kamu takut kepada mereka? Sesungguhnya Allah sehat. lebih berhak untuk ditakuti jika kamu sekalian benar-benar orang yang beriman. Perangilah! Periode Ketiga Allah akan menyiksa mereka dengan perantaraan Selama masa periode ketiga ini, dakwah Al- kamu sekalian serta menghina-rendahkan mereka; Quran telah dapat mewujudkan suatu prestasi dan Allah akan menerangkan kamu semua serta besar karena penganut-penganutnya telah dapat memuaskan hati segolongan orang-orang beriman hidup bebas melaksanakan ajaran-ajaran agama (QS 9:13-14). di Yatsrib (yang kemudian diberi nama Al-Madinah Adakalanya pula merupakan perintah-perintah yang tegas disertai dengan konsiderannya, seperti: 2  Lihat Abdul Halim Mahmud, Al-Tafsir Al-Falsafiy fi Al-Islam, Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya Dar Al-Kitab Al-Lubnaniy, Beirut, 1982, h. 73-74.18
    • minuman keras, perjudian, berhala-berhala, bahagia, sengsara, aman dan takut). Dalam perangbertenung adalah perbuatan keji dari perbuatan Uhud misalnya, di mana kaum Muslim menderitasetan. Oleh karena itu hindarilah semua itu tujuh puluh orang korban, turunlah ayat-ayatagar kamu sekalian mendapat kemenangan. penenang yang berbunyi: Janganlah kamuSesungguhnya setan tiada lain yang diinginkan sekalian merasa lemah atau berduka cita. Kamukecuali menanamkan permusuhan dan kebencian adalah orang-orang yang tinggi (menang) selamadiantara kamu disebabkan oleh minuman keras kamu sekalian beriman. Jika kamu mendapatdan perjudian tersebut, serta memalingkan kamu luka, maka golongan mereka juga mendapat lukadari dzikrullah dan sembahyang, maka karenanya serupa. Demikianlah hari-hari kemenangan Kamihentikanlah pekerjaan-pekerjaan tersebut (QS perganti-gantikan di antara manusia, supaya Allah5:90-91). membuktikan orang-orang beriman dan agar Allah Disamping itu, secara silih-berganti, terdapat mengangkat dari mereka syuhada, sesungguhnyajuga ayat yang menerangkan akhlak dan suluk Allah tiada mengasihi orang-orangyang aniaya (QSyang harus diikuti oleh setiap Muslim dalam 3:139-140).kehidupannya sehari-hari, seperti: Wahai orang- Selain ayat-ayat yang turun mengajak berdialogorang yang beriman, janganlah kamu memasuki dengan orang-orang Mukmin, banyak juga ayatsatu rumah selain rumahmu kecuali setelah minta yang ditujukan kepada orang-orang munafik,izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya. Ahli Kitab dan orang-orang musyrik. Ayat-ayatDemikian ini lebih baik bagimu. Semoga kamu tersebut mengajak mereka ke jalan yang benar,sekalian mendapat peringatan (QS 24:27). sesuai dengan sikap mereka terhadap dakwah. Semua ayat ini memberikan bimbingan kepada Salah satu ayat yang ditujukan kepada ahli Kitabkaum Muslim menuju jalan yang diridhai Tuhan ialah: Katakanlah (Muhammad): "Wahai ahlidisamping mendorong mereka untuk berjihad kitab (golongan Yahudi dan Nasrani), marilahdi jalan Allah, sambil memberikan didikan akhlak kita menuju ke satu kata sepakat diantara kitadan suluk yang sesuai dengan keadaan mereka yaitu kita tidak menyembah kecuali Allah; tidakdalam bermacam-macam situasi (kalah, menang, mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, 19
    • tidak pula mengangkat sebagian dari kita tuhan katakanlah: "Saksikanlah bahwa kami adalah yang bukan Allah." Maka bila mereka berpaling orang-orang Muslim" (QS 3:64). Dakwah menurut Al-Quran Dan ringkasan sejarah turunnya Al-Quran, itu saja. Karena yang demikian itu hanya untuk tampak bahwa ayat-ayat Al-Quran sejalan dengan dijadikan argumentasi dakwah. Sejarah umat- pertimbangan dakwah: turun sedikit demi sedikit umat diungkapkan sebagai pelajaran/peringatan bergantung pada kebutuhan dan hajat, hingga bagaimana perlakuan Tuhan terhadap orang-orang mana kala dakwah telah menyeluruh, orang-orang yang mengikuti jejak-jejak mereka. berbondong-bondong memeluk agama Islam. Sebagai suatu perbandingan, Al-Quran dapat Ketika itu berakhirlah turunnya ayat-ayat Al-Quran diumpamakan dengan seseorang yang dalam dan datang pulalah penegasan dari Allah SWT: menanamkan idenya tidak dapat melepaskan diri Hari ini telah Kusempurnakan agamamu dan telah dari keadaan, situasi atau kondisi masyarakat yang Kucukupkan nikmat untukmu serta telah Kuridhai merupakan objek dakwah. Tentu saja metode Islam sebagai agamamu (QS 5:3). yang digunakannya harus sesuai dengan keadaan, Uraian di atas menunjukkan bahwa ayat-ayat perkembangan dan tingkat kecerdasan objek Al-Quran disesuaikan dengan keadaan masyarakat tersebut. Demikian pula dalam menanamkan saat itu. Sejarah yang diungkapkan adalah sejarah idenya, cita-cita itu tidak hartya sampai pada batas bangsa-bangsa yang hidup di sekitar Jazirah suatu masyarakat dan masa tertentu; tetapi masih Arab. Peristiwa-peristiwa yang dibawakan adalah mengharapkan agar idenya berkembang pada peristiwa-peristiwa mereka. Adat-istiadat dan ciri- semua tempat sepanjang masa. ciri masyarakat yang dikecam adalah yang timbul Untuk menerapkan idenya itu, seorang dai dan yang terdapat dalam masyarakat tersebut. tidak boleh bosan dan putus asa. Dan dalam Tetapi ini bukan berarti bahwa ajaran- merealisasikan cita-citanya, ia harus mampu ajaran Al-Quran hanya dapat diterapkan dalam menyatakan dan mengulangi usahanya walaupun masyarakat yang ditemuinya atau pada waktu dengan cara yang berbeda-beda. Demikian pula20
    • ayat-ayat Al-Quran yang mengulangi beberapa tanpa memberikan contoh-contoh hidup dalamkali satu persoalan. Tetapi untuk menghindari masyarakat tempat ia muncul atau berkembang.terjadinya perasaan bosan, susunan kata-katanya Cara yang demikian ini tidak mungkin akan—oleh Allah SWT— diubah dan dihiasi sehingga mewujud; kalau ada, maka ia hanya sekadarmenarik pendengarannya. Bukankah argumentasi- merupakan teori-teori belaka yang tidak dapatargumentasi Al-Quran mengenai soal-soal yang diterapkan dalam suatu masyarakat.dipaparkan dapat dipergunakan di mana, kapan Tidakkah menjadi keharusan satu gerakan yangdan bagi siapa saja, serta dalam situasi dan kondisi bersifat universal untuk memulai penyebarannyaapa pun? di forum internasional. Tapi, cara paling tepat Argumen kosmologis (cosmological argument) adalah menyebarkan ajaran-ajarannya dalam—yang oleh Immanuel Kant dikatakan sebagai masyarakat tempat timbulnya gerakan itu,suatu argumen yang sangat dikagumi dan dimana penyebar-penyebarnya mengetahuimerupakan salah satu dalil terkuat mengenai bahasa, tradisi dan adat-istiadat masyarakat tadi.wujud Pencipta (Prime Cause)— merupakan salah Kemudian, bila telah berhasil menerapkan ajaran-satu argumentasi Al-Quran untuk maksud tersebut. ajarannya dalam suatu masyarakat tertentu,Bukankah juga penolakan Al-Quran terhadap syirik maka masyarakat tersebut dapat dijadikan "pilot(politeisme) meliputi segala macam dan bentuk proyek" bagi masyarakat lainnya. Hal ini dapatpoliteisme yang telah timbul, termasuk yang kita lihat pada Fasisme, Zionisme, Komunisme,dianut oleh orang-orang Arab ketika turunnya Al- Nazisme, dan lain-lain. Dengan demikian, tidak adaQuran? alasan untuk mengatakan bahwa ajaran-ajaran Dapat diperhatikan pula, bahwa tiada satu Al-Quran itu khusus untuk masyarakat pada masafilsafat pun yang memaparkan perincian- diturunkannya saja.perinciannya dari A sampai Z dalam bentuk abstrak Tujuan Pokok Al-Quran Dari sejarah diturunkannya Al-Quran, dapat diambil kesimpulan bahwa Al-Quran mempunyai 21
    • tiga tujuan pokok: Petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan. Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif. Petunjuk mengenal syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Atau dengan kata lain yang lebih singkat, "Al-Quran adalah petunjuk bagi selunih manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat."22
    • Kebenaran Ilmiah Al-Quran 4A l-Quran adalah kitab petunjuk, demikian hasil yang kita peroleh dari mempelajari sejarahturunnya. Ini sesuai pula dengan penegasan Menurut hemat kami, membahas hubungan Al- Quran dan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang-cabang ilmu pengetahuanAl-Quran: Petunjuk bagi manusia, keterangan yang tersimpul di dalamnya, bukan pula denganmengenai petunjuk serta pemisah antara yang hak menunjukkan kebenaran teori-teori ilmiah. Tetapidan batil. (QS 2:185). pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi Jika demikian, apakah hubungan Al-Quran yang lebih tepat sesuai dengan kemurnian dandengan ilmu pengetahuan? Berkaitan dengan kesucian Al-Quran dan sesuai pula dengan logikahal ini, perselisihan pendapat para ulama sudah ilmu pengetahuan itu sendiri.lama berlangsung. Dalam kitabnya Jawahir Al- Membahas hubungan antara Al-Quran danQuran, Imam Al-Ghazali menerangkan pada bab ilmu pengetahuan bukan dengan melihat,khusus bahwa seluruh cabang ilmu pengetahuan misalnya, adakah teori relativitas atau bahasanyang terdahulu dan yang kemudian, yang telah tentang angkasa luar; ilmu komputer tercantumdiketahui maupun yang belum, semua bersumber dalam Al-Quran; tetapi yang lebih utama adalahdari Al-Quran Al-Karim. Al-Imam Al-Syathibi (w. melihat adakah jiwa ayat-ayatnya menghalangi1388 M), tidak sependapat dengan Al-Ghazali. kemajuan ilmu pengetahuan atau sebaliknya, sertaDalam kitabnya, Al-Muwafaqat, beliau —antara adakah satu ayat Al-Quran yang bertentanganlain— berpendapat bahwa para sahabat tentu dengan hasil penemuan ilmiah yang telahlebih mengetahui Al-Quran dan apa-apa yang mapan? Dengan kata lain, meletakkannya padatercantum di dalamnya, tapi tidak seorang pun di sisi "social psychology" (psikologi sosial) bukanantara mereka yang menyatakan bahwa Al-Quran pada sisi "history of scientific progress" (sejarahmencakup seluruh cabang ilmu pengetahuan. perkembangan ilmu pengetahuan). Anggaplah
    • bahwa setiap ayat dari ke-6.226 ayat yang ilmu pengetahuan atau mendorongnya lebih jauh." tercantum dalam Al-Quran (menurut perhitungan Ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu ulama Kufah)(1) mengandung suatu teori ilmiah, pengetahuan tidak hanya dinilai dengan apa yang kemudian apa hasilnya? Apakah keuntungan dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi yang diperoleh dengan mengetahui teori-teori juga diukur dengan wujudnya suatu iklim yang tersebut bila masyarakat tidak diberi "hidayah" dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan atau petunjuk guna kemajuan ilmu pengetahuan itu.(3) atau menyingkirkan hal-hal yang dapat Sejarah membuktikan bahwa Galileo, ketika menghambatnya? mengungkapkan penemuannya bahwa bumi Malik bin Nabi di dalam kitabnya Intaj Al- ini beredar, tidak mendapat counter dari suatu Mustasyriqin wa Atsaruhu fi Al-Fikriy Al-Hadits, lembaga ilmiah. Tetapi, masyarakat tempat ia menulis: "Ilmu pengetahuan adalah sekumpulan hidup malah memberikan tantangan kepadanya masalah serta sekumpulan metode yang atas dasar-dasar kepercayaan dogma, sehingga dipergunakan menuju tercapainya masalah Galileo pada akhirnya menjadi korban tantangan tersebut."(2) tersebut atau korban penemuannya sendiri. Hal Selanjutnya beliau menerangkan: "Kemajuan ini adalah akibat belum terwujudnya syarat-syarat ilmu pengetahuan bukan hanya terbatas dalam sosial dan psikologis yang disebutkan di atas. Dari bidang-bidang tersebut, tetapi bergantung pula segi inilah kita dapat menilai hubungan Al-Quran pada sekumpulan syarat-syarat psikologis dan dengan ilmu pengetahuan. sosial yang mempunyai pengaruh negatif dan Di dalam Al-Quran tersimpul ayat-ayat yang positif sehingga dapat menghambat kemajuan menganjurkan untuk mempergunakan akal pikiran 1  Jumlah yang populer dan luas dipegang adalah 6.666 ayat. dalam mencapai hasil. Allah berfirman: Katakanlah Tetapi, jumlah ini tidak diketahui dasarnya. Terdapat juga hai Muhammad: "Aku hanya menganjurkan pandangan lain. Perbedaan jumlah ini disebabkan oleh perbedaan cara menghitung basmalah di setiap awal surat kepadanya satu hal saja, yaitu berdirilah karena sebagai ayat tersendiri. Juga ayat seperti Alif lam mim, dan Allah berdua-dua atau bersendiri-sendiri, lain-lain. 2  Terbitan Dar Al-Irsyad, 1969, h. 30. 3 Ibid.24
    • kemudian berpikirlah." (QS 34:36). pikiran manusia, serta menyingkirkan hal-hal yang Demikianlah Al-Quran telah membentuk satu dapat menghalangi kemajuannya.iklim baru yang dapat mengembangkan akal Sistem Penalaran menurut Al-Quran Salah satu faktor terpenting yang dapat Sejarah menunjukkan bahwa pada masa-masamenghalangi perkembangan ilmu pengetahuan pertama dalam pembinaan masyarakat Islam,terdapat dalam diri manusia sendiri. Para psikolog pandangan atau penilaian segolongan orangmenerangkan bahwa tahap-tahap perkembangan Islam terhadap nilai al-fikrah Al-Quraniyyah (idekejiwaan dan alam pikiran manusia dalam yang dibawa oleh Al-Quran), adalah bahwa ide-idemenilai suatu ide umumnya melalui tiga fase. tersebut mempunyai hubungan yang sangat eratFase pertama, menilai baik buruknya suatu ide dengan pribadi Rasulullah saw. Dalam perangdengan ukuran yang mempunyai hubungan Uhud misalnya, sekelompok kaum Muslim cepat-dengan alam kebendaan (materi) atau berdasarkan cepat meninggalkan medan pertempuran ketikapada pancaindera yang timbul dari kebutuhan- mendengar berita wafatnya Rasulullah saw., yangkebutuhan primer. Fase kedua, menilai ide tersebut diisukan oleh kaum musyrik. Sikap keliru ini lahiratas keteladanan yang diberikan oleh seseorang; akibat pandangan mereka terhadap nilai suatu idedan atau tidak terlepas dari penjelmaan dalam baru sampai pada fase kedua, atau dengan katadiri pribadi seseorang. Ia menjadi baik, bila tokoh lain belum mencapai tingkat kedewasaannya.A yang melakukan atau menyatakannya baik dan Al-Quran tidak menginginkan masyarakat barujelek bila dinyatakannya jelek. Fase ketiga (fase yang dibentuk dengan memandang atau menilaikedewasaan), adalah suatu penilaian tentang ide suatu ide apa pun coraknya hanya terbatas sampaididasarkan atas nilai-nilai yang terdapat pada fase kedua saja, karenanya turunlah ayat-ayat:unsur-unsur ide itu sendiri, tanpa terpengaruh Muhammad tiada lain kecuali seorang Rasul.oleh faktor eksternal yang menguatkan atau Sebelum dia telah ada rasul-rasul. Apakah jikamelemahkannya (materi dan pribadi). sekiranya dia mati atau terbunuh kamu berpaling 25
    • ke agamamu yang dahulu? Siapa-siapa yang mengetahui? (QS 39:9). berpaling menjadi kafir; ia pasti tidak merugikan Ayat ini menekankan kepada masyarakat Tuhan sedikit pun, dan Allah akan memberikan betapa besar nilai ilmu pengetahuan dan ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur kedudukan cendekiawan dalam masyarakat. kepadaNya (QS 3:144). Demikian juga ayat, Inilah kamu (wahai Ahl Al- Ayat tersebut walaupun dalam bentuk istifham, Kitab), kamu ini membantah tentang hal-hal yang tetapi —sebagaimana diterangkan oleh para kamu ketahui, maka mengapakah membantah ulama Tafsir— menunjukkan "istifham taubikhi pula dalam hal-hal yang kalian tidak ketahui? (QS istinkariy"(4) yang berarti larangan menempatkan 3:66). "al-fikrah Al-Quraniyyah" hanya sampai pada Ayat ini merupakan kritik pedas terhadap fase kedua. Ayat ini merupakan dorongan kepada mereka yang berbicara atau membantah suatu masyarakat untuk lebih meningkatkan pandangan persoalan tanpa adanya data objektif lagi ilmiah dan penilaiannya atas suatu ide ke tingkat yang yang berkaitan dengan persoalan tersebut. Ayat- lebih tinggi sampai pada fase ketiga atau fase ayat semacam inilah yang kemudian membentuk kedewasaan. Ayat-ayat ini juga melepaskan iklim baru dalam masyarakat dan mewujudkan belenggu-belenggu yang dapat menghambat udara yang dapat mendorong kemajuan ilmu kemajuan ilmu pengetahuan dalam alam pikiran pengetahuan. Iklim baru inilah yang kemudian manusia. menghasilkan tokoh seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Untuk lebih menekankan kepentingan Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan ilmu pengetahuan alam masyarakat, Al-Quran sebagainya. Ia-lah yang membantu Muhammad memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976, merupakan ujian kepada mereka: Tanyakanlah yang akhirnya mendorong Muhammad bin Musa hai Muhammad! Adakah sama orang-orang Al-Khawarizmiy menemukan perhitungan Aljabar. yang mengetahui dengan mereka yang tidak Tanpa penemuan-penemuan tersebut, Ilmu Pasti akan tetap merangkak dan meraba-raba dalam 4  Pertanyaan yang mengandung kecaman, sekaligus larangan alam gelap gulita. untuk melakukannya.26
    • Mewujudkan iklim ilmu pengetahuan jauh lebih ilmu pengetahuannya sebisa mungkin. Kemudianpenting daripada menemukan teori ilmiah, karena juga menjadikan observasi atas alam semestatanpa wujudnya iklim ilmu pengetahuan, para sebagai alat untuk percaya kepada yang setiapahli yang menemukan teori itu akan mengalami penemuan baru atau teori ilmiah, sehingga merekanasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil dapat mencarikan dalilnya dalam Al-Quran untukpenemuannya. dibenarkan atau dibantahnya. Bukan saja karena Al-Quran sebagai kitab petunjuk yang tidak sejalan dengan tujuan-tujuan pokok Al-memberikan petunjuk kepada manusia untuk Quran tetapi juga tidak sejalan dengan ciri-cirikebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat khas ilmu pengetahuan. Untuk menjelaskan hal ini,dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan berikut ini kami paparkan beberapa ciri-ciri ilmuadalah mendorong manusia seluruhnya untuk pengetahuan.mempergunakan akal pikirannya serta menambah Ciri Khas Ilmu Pengetahuan Ciri khas nyata dari ilmu pengetahuan (science) sampai-sampai manusia pun hendak dikatagorikanyang tidak dapat diingkari —meskipun oleh para dalam konsep tersebut. Sekarang ini kita dapatiilmuwan— adalah bahwa ia tidak mengenal kata psikologi yang membahas mengenai jiwa, budi"kekal". Apa yang dianggap salah di masa silam dan semangat, telah mengambil tempat tersendirimisalnya, dapat diakui kebenarannya di abad dan mempunyai peranan yang sangat pentingmodern. dalam kehidupan manusia. Pandangan terhadap persoalan-persoalan Dahulu, persoalan-persoalan moral tidakilmiah silih berganti, bukan saja dalam lapangan mendapat perhatian ilmuwan, tetapi kinipembahasan satu ilmu saja, tetapi terutama juga penggunaan senjata-senjata nuklir, misalnya,dalam teori-teori setiap cabang ilmu pengetahuan. tidak dapat dilepaskan dari persoalan tersebut;Dahulu, misalnya, segala sesuatu diterangkan mereka tidak mengabaikan persoalan moral dalamdalam konsep material (istilah-istilah kebendaan) penggunaan senjata nuklir yang merupakan hasil 27
    • dari kemajuan ilmu pengetahuan. melihat ke satu bayangan dilihatnya berhenti tak Teori-teori ilmiah juga silih berganti. Qawanin bergerak sehingga dikatakanlah bahwa bayangan Al-Thabiah (Natural Law) yang dahulu dianggap tak bergerak. Tetapi dengan pengalaman pasti, tak mengizinkan suatu kebebasan pun. dan pandangan mata, setelah beberapa saat, Sekarang ini ia hanya dinilai sebagai "summary of diketahui bahwa bayangan tadi tak bergerak, statictical averages" (ikhtisar dari rerata statistik). bukan disebabkan gerakan spontan tetapi sedikit Teori bumi datar yang merupakan satu hukum demi sedikit sehingga ia sebenarnya tak pernah aksioma di suatu masa misalnya, dibatalkan berhenti; begitu juga mata memandang kepada oleh teori bumi bulat yang kemudian dibatalkan bintang, ia melihatnya kecil bagaikan uang dinar, pula oleh teori lonjong seperti lonjongnya telur. akan tetapi alat membuktikan bahwa bintang lebih Mungkin tidak sedikit orang yang yakin-bahwa besar daripada bumi."(5) pertimbangan-pertimbangan logika atau ilmiah Segala undang-undang ilmiah yang —terutama menurut Ilmu Pasti— adalah "benar", diketahui hanya menyatakan saling bergantinya sedangkan kenyataannya belum tentu demikian. "psychological states" (keadaan-keadaan jiwa) Salah satu sebab dari kesalahan ini adalah yang ditentukan pada diri kita oleh sebab-sebab karena sering kali titik tolak dari pemikiran manusia tertentu (mengambil sebab dari musabab atau berdasarkan pancaindera atau perasaan umum. dari malul kepada illah). Ini menunjukkan bahwa Perasaan umumlah yang, misalnya, menyatakan segala undang-undang ilmiah pada hakikatnya bahwa sepotong baja adalah padat, padahal sinar relatif dan subjektif. U memperlihatkan bahwa ia berpori. Dari sini jelaslah bahwa ilmu pengetahuan Karenanya, tidak heran kalau Imam Al-Ghazali hanya melihat dan menilik; bukan menetapkan. pada suatu masa hidupnya tidak mempercayai Ia melukiskan fakta-fakta, objek-objek dan indera. Beliau menulis dalam kitabnya Al- fenomena-fenomena yang dilihat dengan mata Munqidz min Al-Dhalal: "Bagaimana kita dapat seorang yang mempunyai sifat pelupa, keliru, mempercayai pancaindera, dimana mata 5  Al-Ghazali, Al-Munqidz min Al-Dhalal, komentar Abdul merupakan indera terkuat, sedangkan bila ia Halim Mahmud, Anglo Al-Mishriyyah, Kairo, 1964, h. 15.28
    • dan ataupun tidak mengetahui. Karenanya, jelas ini memberikan kesempatan kepada musuh-pulalah bahwa apa yang dikatakan orang sebagai musuh Al-Quran atau bahkan kepada kaumsesuatu yang benar (kebenaran ilmiah) sebenarnya Muslim sendiri untuk meragukan kebenaranhanya merupakan satu hal yang relatif dan Al-Quran, kitab akidah dan petunjuk, terutamamengandung arti yang sangat terbatas. setelah ternyata terdapat kesalahan suatu teori Kalau demikian ini sifat dan ciri khas ilmu ilmiah yang tadinya dibenarkan oleh Al-Quran?pengetahuan dan peraturannya, maka dapatkah Demikian juga mengingkari suatu teori ilmiahkita menguatkannya dengan ayat-ayat Tuhan berdasarkan ayat-ayat Al-Quran sangat berbahaya,yang bersifat absolut, abadi dan pasti benar? karena ekses yang ditimbulkannya tidak kurangRelakah kita mengubah arti ayat-ayat Al-Quran bahayanya dengan apa yang timbul di Eropasesuai dengan perubahan atau teori ilmiah ketika gereja mengingkari teori bulatnya bumi danyang tidak atau belum mapan itu? Tidakkah hal peredarannya mengelilingi matahari. Perkembangan Tafsir Perkembangan hidup manusia mempunyai Quran menurut pendapatku".pengaruh yang sangat mendalam terhadap Bahkan, sebagian di antara para ulama, bilaperkembangan akal-pikirannya. Ini juga berarti ditanya mengenai pengertian satu ayat, merekamempunyai pengaruh dalam pengertian terhadap tidak memberikan jawaban apa pun. Diriwayatkanayat-ayat Al-Quran. oleh Imam Malik bahwa Said Ibn Musayyab, bila Dalam abad pertama Islam, para ulama sangat ditanya mengenai tafsir suatu ayat, beliau berkata:berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. "Kami tidak berbicara mengenai Al-Quran sedikitSeorang pernah bertanya kepada Sayyidina Abu pun." Demikian juga halnya dengan Sali binBakar, apakah arti kalimat abba dalam ayat: wa Abdullah bin Umar, Al-Qasim bin Abi Bakar, Nafi,fakihah wa abba. Beliau menjawab: "Di bumi Al-Asmai, dan lain-lain.apakah aku berpijak, dengan langit apakah aku Pada abad-abad berikutnya, sebagian besarberteduh bila aku mengatakan sesuatu dalam Al- ulama berpendapat bahwa setiap orang boleh 29
    • menafsirkan ayat-ayat Al-Quran selama ia memiliki yang lebih banyak menggambarkan pendapat syarat-syarat tertentu seperti: pengetahuan bahasa Fahr Al-Razi sendiri; sementara riwayat-riwayat yang cukup, misalnya, menguasai nahw, sharaf, terdahulu tidak banyak dituliskan, kecuali dalam balaghah, dan isytiqaq; juga Ilmu Ushuluddin, Ilmu batas-batas yang sangat sempit. Qiraah, Asbab Al-Nuzul, Nasikh-Mansukh, dan lain Demikianlah, dan dari masa ke masa timbullah sebagainya. kemudian beraneka warna corak tafsir: ada yang Sejarah penafsiran Al-Quran dimulai dengan berdasarkan nalar penulisnya saja, ada pula menafsirkan ayat-ayatnya sesuai dengan hadis- berdasarkan riwayat-riwayat, ada pula yang hadis Rasulullah saw., atau pendapat para sahabat. menyatukan antara keduanya. Persoalan-persoalan Penafsiran demikian kemudian berkembang, yang dibahas pun bermacam-macam: ada yang sehingga dengan tidak disadari, bercampurlah hanya membahas arti dari kalimat-kalimat yang hadis-hadis shahih dengan Israiliyat (kisah-kisah sukar saja (Tafsir Gharib), seperti Al-Zajjaj dan Al- yang bersumber dari Ahli Kitab yang umumnya Wahidiy; ada yang menulis kisah-kisah, seperti Al- tidak sejalan dengan kesucian agama atau pikiran Tsalabiy dan Al-Khazin; ada yang memperhatikan yang sehat). Hal ini mengakibatkan sebagian persoalan balaghah (sastra bahasa) seperti Al- ulama menolak penafsiran yang menggambarkan Zamakhsyari; atau persoalan ilmu pengetahuan, pendapat-pendapat penulisnya, atau menyatukan logika dan filsafat seperti Al-Fakhr Al-Razi; atau pendapat-pendapat tersebut dengan hadis-hadis fiqih seperti Al-Qurthubiy; dan ada pula yang atau pendapat-pendapat para sahabat yang hanya merupakan "terjemahan" kalimat-kalimatnya dianggap benar. saja seperti Tafsir Al-Jalalain. Tafsir Al- Thabari, misalnya, adalah satu Agaknya benar juga pandangan sementara kitab tafsir yang menyimpulkan hadis-hadis pakar, bahwa "Sepanjang sejarah, tidak dikenal satu dan pendapat-pendapat terdahulu. Kemudian kitab apa pun yang telah ditafsirkan, diterangkan, penulisnya, Al-Thabari, men-tarjih (menguatkan) dikumpulkan interpretasi dan pendapat para ahli salah satu pendapat di antaranya. Sedangkan Tafsir terhadapnya dalam kitab yang berjilid-jilid seperti Fakhr Al-Razi (w. 606 H/1209 M) adalah satu kitab halnya Al-Quran."30
    • Penafsiran ilmiah atau menafsirkan ayat-ayat berjumlah 10 planet, disamping jutaan bintangAl-Quran sesuai dengan ilmu pengetahuan telah yang tampaknya memenuhi langit, kesepuluhlama berlangsung. Tafsir Fakhr Al-Raziy, misalnya, planet itu hanya laksana setetes air dalam lautanadalah satu contoh dari penafsiran ilmiah terhadap bila dibandingkan dengan banyaknya bintang diayat-ayat Al-Quran, sehingga sebagian ulama tidak seluruh angkasa raya.menamakan kitabnya sebagai Kitab Tafsir. Karena Setiap galaksi, menurut mereka, rata-ratapersoalan-persoalan filsafat dan logika disinggung memiliki seratus biliun bintang, sedangkan seluruhdengan sangat luas. ruang alam semesta didiami oleh berbiliun-biliun Abu Hayyan dalam tafsirnya menulis: "Al-Fakhr galaksi.Al-Razi di dalam Tafsirnya mengumpulkan banyak Jadi, yang membenarkan bahwa planet hanyapersoalan secara luas yang tidak dibutuhkan dalam tujuh berdasarkan ayat-ayat tadi, nyata-nyataIlmu Tafsir. Karenanya sebagian ulama berkata: Di telah keliru. Kekeliruan tersebut merupakan satudalam Tafsirnya terdapat segala sesuatu kecuali dosa besar bila dia memaksakan orang untuktafsir."(6) mempercayai pendapat tersebut atas nama Al- Kelanjutan dari penafsiran ilmiah ini Quran, atau dia meyakini hal tersebut sebagaiadalah penafsiran yang sesuai dengan teori- satu akidah Al-Quran. Setiap Muslim wajibteori ilmiah atau penemuan-penemuan baru. mempercayai segala sesuatu yang terdapat diDahulu ada orang yang menguatkan pendapat dalam Al-Quran. Bila seseorang membenarkan satuyang menyatakan bahwa planet hanya tujuh teori ilmiah berdasarkan Al-Quran, berarti pula dia(sebagaimana pendapat ahli-ahli Falak ketika itu) mewajibkan setiap Muslim untuk mempercayaidengan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa ada teori tersebut.tujuh langit. Teori tujuh planet tersebut ternyata Kekeliruan mereka itu serupa dengansalah. Karena planet-planet yang ditemukan kekeliruan sebagian cendekiawan Islam yangoleh ilmu pengetahuan dalam tata surya saja mengingkari teori evolusi Darwin (1804-1872) dengan beberapa ayat Al-Quran, atau mereka 6  Abu Hayyan, Al-Bahr Al-Muhith, Dar Al-Fikr, Kairo 1979, yang membenarkan dengan ayat-ayat lainnya. Jilid I, h. 13. 31
    • Memang, tak sedikit dari cendekiawan Islam yang Fase-fase ini menurut mereka bukan mengakui kebenaran teori tersebut. Bahkan lima sebagaimana apa yang kami pahami dan yang abad sebelum Charles Darwin, Abdurrahman diterangkan oleh Al-Quran dalam surah Al- Ibn Khaldun (1332-1406) menulis dalam kitabnya, Muminun ayat 11-14. Tapi mereka menafsirkannya Kitab Al-Ibar fi Daiwani Al-Mubtadai wa Al-Khabar sesuai dengan paham penganut-penganut teori (dalam mukadimah ke-6 pasal I) sebagai berikut: Darwin dalam proses kejadian manusia. Ayat, "Alam binatang meluas sehingga bermacam- Adapun buih maka akan lenyaplah ia sebagai macam golongannya dan berakhir proses sesuatu yang tak bernilai, sedangkan yang berguna kejadiannya pada masa manusia yang mempunyai bagi manusia tetap tinggal di permukaan bumi pikiran dan pandangan. Manusia meningkat dari (QS 13:17) dijadikan bukti kebenaran teori "struggle alam kera yang hanya mempunyai kecakapan for life" yang menjadi salah satu landasan teori dan dapat mengetahui tetapi belum sampai pada Darwin. Hemat penulis, ayat-ayat tadi, dan yang tingkat menilik dan berpikir." semacamnya, tidak dapat dijadikan dasar untuk Yang dimaksud dengan kera oleh beliau ialah menguatkan dan membenarkan teori Darwin, sejenis makhluk yang —oleh para penganut tetapi ini bukan berarti bahwa teori tadi salah evolusionisme— disebut Anthropoides. Ibnu menurut Al-Quran. Abbas Mahmud Al-Aqqad Khaldun dan cendekiawan-cendekiawan lainnya, menerangkan dalam bukunya Al-Falsafah Al- ketika mengatakan atau menemukan teori Quraniyyah, sebagai berikut: "Mereka yang tersebut, bukannya merujuk kepada Al-Quran, mengingkari teori evolusi dapat mengingkarinya tetapi berdasarkan penyelidikan dan penelitian dari diri mereka sendiri, karena mereka tidak puas mereka. Walaupun demikian, ada sementara terhadap kebenaran argumentasi-argumentasinya. Muslim yang kemudian berusaha membenarkan Tetapi mereka tidak boleh mengingkarinya teori evolusi dengan ayat-ayat Al-Quran seperti: berdasarkan Al-Quran Al-Karim, karena mereka Mengapakah kamu sekalian tidak memikirkan/ tidak dapat menafsirkan kejadian asal-usul manusia mempercayai kebesaran Allah, sedangkan Dia dari tanah dalam satu penafsiran saja kemudian telah menjadikan kamu berfase-fase (QS 71:13-14).32
    • menyalahkan penafsiran-penafsiran lainnya."(7) mendapat kesempatan yang sangat baik untuk Atau apa yang ditulis oleh Muhammad Rasyid menyalahkan Kitab Allah sambil mencemooh kaumRidha dalam majalah Al-Manar. "Teori Darwin tidak Muslim. Jalan yang lebih tepat guna membantahmembatalkan —bila teori tersebut benar dan cemoohan ialah dengan menghindarkan sebab-merupakan hal yang nyata— tentang satu dasar sebab cemoohan itu: Janganlah kamu mencercadari dasar-dasar Islam; tidak bertentangan dengan orang-orang yang menyembah selain Allah, karenasatu ayat dari ayat-ayat Al-Quran. Saya mengenal hal ini menjadikan mereka mencerca Allah dengandokter-dokter dan lainnya yang sependapat melampaui batas, karena kebodohan mereka (QSdengan Darwin. Mereka itu orang-orang mukmin 6:108).dengan keimanan yang benar dan Muslim dengan Ayat ini melarang kita mencemoohkan mereka,keislaman sejati; mereka menunaikan sembahyang karena cercaan kita merupakan sebab dari cercaandan kewajiban-kewajiban lainnya, meninggalkan mereka kepada Allah SWT. Begitu juga halnyakeonaran, dosa dan kekejaman yang dilarang dalam masalah Al-Quran: jangan membenarkanAllah SWT sesuai dengan ajaran-ajaran agama atau menyalahkan suatu teori dengan ayat-ayatmereka. Tetapi teori tersebut adalah ilmiah, bukan Allah (Al-Quran) yang memang pada dasarnyapersoalan agama sedikit pun."(8) tidak membahas persoalan-persoalan tersebut Kita tidak dapat membenarkan atau secara mendetil. Tidak membahas secara mendetil,menyalahkan teori-teori ilmiah dengan ayat-ayat karena tidak dapat diingkari bahwa ada ayat-ayatAl-Quran; setiap ditemukan suatu teori cepat-cepat Al-Quran yang menyinggung secara sepintaspula kita membuka lembaran-lembaran Al-Quran lalu kebenaran-kebenaran ilmiah yang belumuntuk membenarkan atau menyalahkannya, ditemukan atau diketahui oleh manusia di masakarena apabila teori yang dibenarkan itu ternyata turunnya Al-Quran, seperti firman Allah SWT:salah atau sebaliknya, maka musuh-musuh Islam Apakah orang-orang kafir tidak berpikir sehingga tidak mengetahui bahwa langit dan bumi 7  Bandingkan dengan Abbas Mahmud Al-Aqqad, Al-Insan fi tadinya bersatu/bertaut, kemudian kami ceraikan Al-Quran Al-Karim, Dar Al-Hilal, Kairo, t.t., h. 171. keduanya dan Kami jadikan segala sesuatu yang 8  Al-Manar, Syaban 1327/September 1909. 33
    • hidup dari air (QS 21:30). dengan demikian ia menjadikan pendapat tersebut Ayat ini menerangkan bahwa langit dan bumi, sebagai satu akidah dari aqidah Quraniyyah. Dan tadinya merupakan suatu gumpalan. Dan pada ia juga tidak berhak untuk menyalahkan satu teori suatu masa yang tidak diterangkan oleh Al-Quran, atas nama Al-Quran kecuali bila ia membawakan gumpalan tersebut dipecahkan atau dipisah satu nash yang membatalkannya. oleh Allah SWT. Hanya ini yang dimengerti dari ayat tersebut dan merupakan kewajiban setiap Muslim untuk mempercayainya. Seorang Muslim tidak dapat menyatakan bahwa ayat tersebut menguatkan suatu teori, atau lebih tepat dikatakan sebagai hipotesis tentang pembentukan matahari dan planet-planet lainnya, apa pun teori tersebut. Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya mengenai terjadinya planet-planet tata surya. Ia boleh berkata bahwa ia berasal bola gas yang berotasi cepat, yang lama kelamaan pecah dan terpisah-pisah menjadi planet-planet kecil akibat panas yang sangat keras. Ia juga dapat menyatakan bahwa terjadinya planet sebagai akibat tabrakan antara dua matahari, atau disebabkan karena pecahnya matahari itu sendiri, dan lain-lain. Setiap orang bebas dan berhak untuk menyatakan apa yang dianggapnya benar, tetapi ia tidak berhak untuk menguatkan pendapatnya dengan ayat tersebut dengan memahaminya lebih dari apa yang tersimpul didalamnya. Karena34
    • Hikmah Ayat Ilmiah Al-Quran Ada sekian kebenaran ilmiah yang dipaparkan bertanya kepadamu perihal bulan. Katakanlah 5oleh Al-Quran, tetapi tujuan pemaparan ayat-ayat bulan itu untuk menentukan waktu bagi manusiatersebut adalah untuk menunjukkan kebesaran dan mengerjakan haji (QS 2:189). Jawaban Al-QuranTuhan dan ke-Esa-an-Nya, serta mendorong bukan jawaban ilmiah, tetapi jawabannya sesuaimanusia seluruhnya untuk mengadakan observasi dengan tujuan-tujuan pokoknya.dan penelitian demi lebih menguatkan iman Ada juga yang bertanya mengenai "ruh", laludan kepercayaan kepada-Nya. Mengenai hal ini, Al-Quran menjawab: Mereka bertanya kepadamuMahmud Syaltut mengatakan dalam tafsirnya: tentang ruh. Katakan: "Ruh adalah urusan"Sesungguhnya Tuhan tidak menurunkan Al-Quran Tuhanku, kamu sekalian hanya diberi sedikit ilmuuntuk menjadi satu kitab yang menerangkan pengetahuan." (QS 17:85).kepada manusia mengenai teori-teori ilmiah, Al-Quran tidak menerangkan hakikatproblem-problem seni serta aneka warna ruh, karena tujuan pokok Al-Quran bukanpengetahuan."(1) menerangkan persoalan-persoalan ilmiah, tetapi Didalam asbab al-nuzul diterangkan bahwa tujuannya adalah memberikan petunjuk kepadapada suatu hari datang seseorang kepada Rasul manusia demi kebahagiaan hidupnya di dunia dandan bertanya: "Mengapakah bulan kelihatan kecil di akhirat kelak. Syaikh Mahmud Syaltut setelahbagaikan benang, kemudian membesar sampai membawakan kedua ayat tersebut, lalu menulis.menjadi sempurna pumama?" Lalu, Rasulullah "Tidakkah terdapat dalam hal ini (kedua ayatsaw., mengembalikan, jawaban pertanyaan tersebut) bukti nyata yang menerangkan bahwatersebut kepada Allah SWT yang berfirman: Mereka Al-Quran bukan satu kitab yang dikehendaki Allah untuk menerangkan haqaiq al-kawn (kebenaran- 1  Mahmud Syaltut, Tafsir Al-Quran Al-Karim, Dar Al-Qalam, kebenaran ilmiah dalam alam semesta), tetapi ia Kairo, cet. II, t.t., h. 21.
    • adalah kitab petunjuk, ishlah dan tasyri."(2) memberikan keterangan mengenai segala sesuatu Dari sini jelas pula bahwa yang dimaksud oleh yang berhubungan dengan tujuan-tujuan pokok ayat ma farrathna fi al-kitab min syay (QS 6:38) Al-Quran, yaitu masalah-masalah akidah, syariah dan ayat: wa nazzalna alayka al-kitab tibyanan dan akhlak, bukan sebagai apa yang dimengerti likulli syay QS 16:89) adalah bahwa Al-Quran tidak oleh sebagian ulama bahwa ia mencakup segala meninggalkan sedikit pun dan atau lengah dalam macam ilmu pengetahuan. 2  Ibid., h. 22. Mengapa Tafsir Ilmiah Meluas? Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam apatis, acuh tak acuh terhadap kemajuan tersebut; menghadapi tantangan hebat, bukan hanya ada pula yang dengan spontan meletakkan senjata terbatas dalam bidang politik atau militer, untuk menyerah dengan mengikuti segala sesuatu tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan yang bercorak Barat —meskipun dalam hal-hal budaya. Tantangan ini memberikan pengaruh yang menyangkut kepribadian atau adat-istiadat. yang sangat besar dalam pandangan hidup serta Adapula yang menentang haluan ini dengan pemikiran golongan besar umat Islam. Di sana- mengajak masyarakat Islam menerima dan sini mereka melihat kekuatan Barat dan kemajuan mempelajari ilmu pengetahuan dan sistem yang ilmu pengetahuan, dan di lain pihak mereka dipergunakan Barat dalam mencapai kemajuan merasakan kelemahan umat serta kemunduran tanpa meninggalkan kepribadian atau prinsip- dalam lapangan kehidupan dan ilmu pengetahuan. prinsip agama. Keadaan yang serupa ini menimbulkan perasaan Bukan tempatnya di sini membicarakan rendah diri atau inferiority complex pada sebagian sejarah perkembangan pemikiran umat Islam dari besar kaum Muslim. masa ke masa. Tetapi satu hal yang tidak dapat Para cendekiawan Islam berusaha memberi diingkari adalah bahwa sebagian umat Islam sejak reaksi walaupun dengan cara-cara yang tidak pertengahan abad ke-19 diliputi oleh perasaan tepat. Ada di antara mereka yang mengambil sifat rendah diri dan berusaha mengadakan kompensasi36
    • atau melarikan diri dengan bermacam-macam itu ia menunjukkan kelemahan umat. Memang,cara. Salah satu caranya ialah mengingat kejayaan- mengingat kejayaan lama kadang-kadang dapatkejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang, merupakan pendorong untuk maju ke depan,yang kemudian melahirkan apa yang disebut atau setidak-tidaknya dapat menjaga kepribadiandengan adab al-fakhri wa al-tamjid (sastra masyarakat. Tetapi kita juga harus waspadakebanggaan dan kejayaan). Pengaruhnya terhadap dan berhati-hati terhadap pengaruh-pengaruhperkembangan pemikiran masyarakat Islam sangat negatif dari cara demikian yang bila berlarut-larutbesar dalam menafsirkan Al-Quran. dapat membekukan pemikiran. Membanggakan Setiap ada penemuan baru, para cendekiawan kejayaan lama dapat membangkitkan emosiIslam cepat-cepat berkata: Al-Quran sejak lama, dan memberikan kepuasan, tetapi ia juga dapatsejak sekian abad, telah menyatakan hal ini; menimbulkan negatifisme dan konservatifisme;Al-Quran mendahului ilmu pengetahuan dalam sementara kedua sifat ini tidak sejalan dengan ilmupenemuannya; dan sebagainya, yang semua itu pengetahuan yang bersifat dinamis dan progresif.tiada lain adalah kompensasi perasaan inferiority Faktor kedua yang menjadikan sebagiancomplex tadi. Di lain pihak para penemu tadi hanya cendekiawan Islam membenarkan satu teori ilmiah,tersenyum mengejek melihat keadaan umat Islam, menurut hemat kami, adalah akibat pertentangandan senyuman itu terkadang disertai dengan yang hebat antara gereja dan ilmuwan sejak abadkata-kata sinis: Kalau demikian mengapa tuan- ke-18 di Eropa. Pertentangan ini disebabkan olehtuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami karena penafsir-penafsir Kitab Perjanjian Lama/menghabiskan waktu dalam penyelidikan? Baru yang menganut teori-teori tertentu yang Tidak dapat diingkari bahwa mengingat diyakini kebenaran dan kesuciannya, sehinggakejayaan lama merupakan obat bius yang siapa yang mengingkarinya dianggap kafir (keluardapat meredakan rasa sakit, meredakan untuk dari agama) dan berhak mendapat kutukan. Di lainsementara, tetapi bukan menyembuhkannya. pihak para ilmuwan mengadakan penyelidikan-Ia hanya sekadar memberikan jawaban penyelidikan ilmiah, tetapi hasil penyelidikansementara terhadap tantangan Barat. Di balik mereka bertentangan dengan kepercayaan yang 37
    • dianut oleh gereja. kepada sementara cendekiawan Muslim yang Pertentangan antara kedua belah pihak terjadi kuatir kalau-kalau penyakit pertentangan ini ketika ilmuwan menyatakan bahwa umur dunia timbul pula dalam dunia Islam, sehingga mereka —berdasarkan penelitian geologi— lebih tua senantiasa berusaha membuktikan hubungan daripada umur yang ditetapkan oleh gereja yang yang sangat erat antara ilmu pengetahuan dengan berdasarkan penafsiran Kitab Suci. Pertentangan agama (terutama Al-Quran). Dari titik tolak ini, ini memuncak dengan lahirnya teori Charles mereka sering tergelincir karena terdorong oleh Darwin (1859) tentang The Origin of Man dan emosi dan semangat yang meluap-luap untuk teori-teori lainnya, yang semua itu dihadapi membuktikan tidak adanya pertentangan tersebut gereja dengan cara penindasan dan kekejaman. di dalam agama Islam. Tetapi, sebenarnya mereka Akibatnya tidak sedikit ahli-ahli ilmu pengetahuan terlampau jauh melangkah untuk membuktikan yang menjadi korban hasil penemuannya, seperti hal itu. Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, Sejarah cukup menjadi saksi bahwa ahli-ahli dan lain-lain. Hal ini menimbulkan keyakinan Falak, Kedokteran, Kimia, Ilmu Pasti, dan lain- di kalangan umum bahwa ilmu pengetahuan lain cabang ilmu pengetahuan, telah mencapai bertentangan dengan agama. Di sini kita tidak hasil yang mengagumkan di masa kejayaan bermaksud menceritakan sejarah agama Kristen, Islam. Mereka itu adalah ahli-ahli dalam bidang tetapi pada butir terakhir ini kita ingin berhenti tersebut sedang di saat yang sama mereka juga sejenak untuk melihat bagaimana pengaruhnya menjalankan kewajiban agama Islam dengan baik. terhadap alam pikiran cendekiawan Muslim. Tiada pertentangan antara kepercayaan yang Dalam dunia Kristen timbul golongan pembela mereka anut dengan hasil penemuan mereka, yang agama yang disebut "apologetika" yang bertujuan dapat dikatakan baru ketika itu —bahkan sebagian menyucikan kembali agama dari setiap anasir yang dari hasil-hasil karya mereka masih dipelajari hendak diselewengkannya. Pertentangan antara di negara-negara modern hingga sekarang agama dengan ilmu pengetahuan ini (terutama ini. Antara agama dan ilmu pengetahuan tidak dalam dunia Kristen) memberikan pengaruh mungkin timbul pertentangan, selama keduanya38
    • menggunakan metode dan bahasa yang tepat. carikan ayat-ayat yang mungkin menguatkannya,Manusia mempunyai keinginan untuk mengabdi sehingga tidak heran kalau kita mendapatikepada Tuhan, dan keinginan mengetahui serta penafsiran-penafsiran yang amat berjauhanmenarik kesimpulan sesuai dengan akalnya. Bila dengan arti serta tujuan ayat-ayat tersebut.kita mengingat kepentingan kedua hal itu, maka Dalam kitab Al-Quran wa Al-Ilm Al-Haditstak mungkin terjadi pertentangan. karangan Al-Ustadz Abdurraziq Naufal, terdapat Richard Gregory dalam Religion in Science satu contoh yang sangat nyata mengenai apaand Civilization menulis: "Agama dan ilmu yang dipaparkan di atas, Ia membahas ayatpengetahuan adalah dua faktor utama yang yang berbunyi: Dan apabila telah dekat masamempengaruhi perkembangan insani di seluruh azab menimpa mereka. Kami keluarkan seekortaraf-taraf peradaban; agama adalah suatu binatang dari bumi yang berbicara denganreaksi kepada satu gerak batin menuju apa yang mereka bahwasanya manusia tiada menyakinidiyakini kesuciannya, sehingga menimbulkan rasa ayat-ayat/tanda-tanda kebesaran Kami (QShormat dan takzim; sedangkan ilmu pengetahuan 27:82). Ayat ini menurutnya membicarakanmerupakan tumpukan pengetahuan tentang objek tentang sputnik dan penjelajahan angkasa luar.alam yang hidup dan yang mati." Selanjutnya, dia Selanjutnya, ia mengatakan: "Sesungguhnyaberkata: "Di dalam sinar kebaktian kepada cita-cita Rusia telah meluncurkan pesawat angkasa yangtinggi, maka ilmu pengetahuan sangat perlu bagi mengangkut binatang-binatang, kemudiankehidupan kita dan agama menentukan arti hidup mereka mengembalikannya ke bumi, sehinggamanusia; kedua-duanya itu dapat menemukan binatangbinatang tersebut berbicara mengenailapangan umum untuk bekerja, tanpa ada tanda-tanda kebesaran Tuhan yang sangat nyatapertentangan antara keduanya." dan mengungkapkan sebagian dari misteri yang Dalam proses memadukan ilmu pengetahuan meliputi alam semesta yang penuh keajaiban ini."dan agama, sementara cendekiawan Muslim Di sini kita tidak mempunyai suatu komentarmembawa hasil-hasil penyelidikan ilmu lebih tepat dari apa yang pernah dilontarkan olehpengetahuan kepada Al-Quran kemudian mencari- Prof. Dr. Abdul-Wahid Wafi, salah seorang dosen 39
    • penulis pada Universitas Al-Azhar: "Mungkin dia kekuasaan dan perhitungan yang kami adakan, mengira bahwa anjing bernama Laika (yaitu maka keluarlah, larilah. Kamu sekalian tidak dapat anjing yang dikirim Rusia ke angkasa luar) telah keluar kecuali dengan kekuatan, sedang kalian berbicara dengan bahasa anjing dan mencerca tidak mempunyai kekuatan." manusia karena tidak mempercayai tanda-tanda Perintah dalam ayat tersebut menunjukkan kebesaran Tuhan yang nyata." ketidakmampuan kedua golongan manusia dan jin Di Indonesia, ayat 33 surah Al-Rahman dijadikan untuk melaksanakannya. Ayat tersebut dipahami dasar oleh sebagian cendekiawan kita untuk demikian mengingat ayat sebelumnya yang membuktikan bahwa Al-Quran membicarakan berbunyi: Kami akan menghisab (mengadakan persoalan-persoalan angkasa luar. Mereka perhitungan) khusus dengan kamu wahai manusia menyatakan bahwa sejak 14 abad yang lalu, dan jin, maka manakah di antara nikmat-nikmat Al-Quran telah menegaskan bahwa manusia Tuhanmu yang kamu ingkari? Wahai golongan jin sanggup menuju ke ruang angkasa selama dan manusia bila kamu sekalian sanggup untuk mereka mempunyai kekuatan, yaitu kekuatan keluar dari langit dan bumi ... (QS 55: 31-33). ilmu pengetahuan. Kita tidak mengingkari bahwa Perhitungan khusus atau hisab tersebut manusia mempunyai kesanggupan untuk sampai akan diadakan di hari kemudian, bukan di ke bulan dan planet-planet lainnya. Bahkan dunia. Kalaulah ayat Ya masyar al-jinni wa al-insi manusia telah mendarat di bulan. Tetapi sulit tersebut dianggap membicarakan keadaan di dimengerti hubungan ayat ini dengan persoalan dunia dan menunjukkan kesanggupan manusia tersebut. untuk melintasi angkasa luar, maka hendaknya, Menurut hemat penulis, ayat ini membicarakan anggapan tersebut tidak segera dibenarkan keadaan di akhirat kelak, yang menyampaikan setelah memperhatikan ayat berikutnya, yang tantangan Tuhan kepada manusia dan jin. Ayat berbunyi: Dikirim kepada golongan kamu berdua tersebut berarti: "Wahai sekalian manusia dan jin (wahai jin dan manusia) bunga api dan cairan bila kamu sekalian sanggup keluar dari lingkungan tembaga sehingga kamu sekalian tak dapat langit dan bumi untuk melarikan diri dari mempertahankan diri (tak dapat keluar dari40
    • lingkungan langit dan bumi) (QS 55:35). Al-Quran —dalam hal ini ayat 35— Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa bertentangan dengan kenyataan ilmiah, karenausaha manusia dan jin untuk keluar dari ayat tersebut menyatakan kegagalan manusialingkungan langit dan bumi akan gagal. Dari sini keluar dari lingkungan langit dan bumi. Sedangkanhanya ada dua alternatif dalam menafsirkan ayat- manusia abad ke-20 ini telah berhasil mendarat diayat tadi: Pertama, ayat 33 dari surah Al-Rahman luar lingkungan bumi (yaitu bulan).membicarakan persoalan dunia serta kesanggupan Tetapi jika dipilih alterantif kedua, yaitu bahwamanusia keluar dari lingkungan langit dan bumi ayat-ayat tersebut membicarakan keadaan didalam arti keluar angkasa. Dan kedua, ayat tersebut akhirat, maka tidak akan didapati sedikit punmembicarakan keadaan di akhirat serta kegagalan pertentangan. Firman Allah: Jika sekiranya Al-manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi Quran datangnya bukan dari sisi Allah, niscayauntuk melarikan diri dari hisab dan perhitungan mereka akan mendapat banyak pertentangan diTuhan. dalamnya (QS 4:82). Jika dipilih alternatif pertama, maka ini akan Dalam ayat di atas tidak ada pertentangan,mengakibatkan dua hal yang sangat berbahaya karena ayat itu menerangkan ancaman Tuhanbagi pandangan orang terhadap Al-Quran, yaitu kepada manusia dan jin, dan menyatakan Bahwa Al-Quran bertentangan satu dengan ketidaksanggupan mereka keluar dari lingkunganyang lainnya, karena ayat 34 menerangkan langit dan bumi untuk melarikan diri darikesanggupan manusia keluar dari lingkungan perhitungan yang akan terjadi kelak di akhirat;langit dan bumi, sementara ayat 35 menerangkan karena mereka tidak mempunyai kekuatan.kegagalan manusia keluar dari keduanya. Bagaimana Memahami Al-Quran di Masa Kini? Seseorang tidak dapat membenarkan satu pertanyaan: kalau demikian apakah Al-Quran harusteori ilmiah atau penemuan baru dengan ayat- dipahami sesuai dengan paham para sahabatayat Al-Quran. Dari sini mungkin akan timbul dan orang-orang tua kita dahulu? Tidak! Setiap 41
    • Muslim, bahkan setiap orang, wajib memahami zaman turunnya hingga hari kiamat kelak. dan mempelajari Kitab Suci yang dipercayainya. Mereka semua diajak berdialog oleh Al-Quran, Bahkan, dalam mukadimah Tafsir Al-Kasysyaf, diperintahkan untuk memikirkan isi Al-Quran Al-Zamakhsyari berpendapat bahwa mempelajari sesuai dengan akal pikiran mereka. Benar, akal tafsir Al-Quran merupakan "fardhu ayn". adalah anugerah dari Allah SWT, tetapi cara Setiap Muslim wajib mempelajari dan penggunaannya berbeda antara seseorang memahami Al-Quran. Tetapi ini bukan berarti dengan lainnya yang disebabkan oleh perbedaan bahwa ia harus memahaminya sesuai dengan antara mereka sendiri: latar belakang pendidikan, pemahaman orang-orang dahulu kala. Karena pelajaran, kebudayaan serta pengalaman- seorang Muslim diperintahkan oleh Al-Quran pengalainan yang dialami selama hidup untuk mempergunakan akal pikirannya serta seseorang. Abbas Mahmud Al-Aqqad menulis: mencemoohkan mereka yang hanya mengikuti "Kita berkewajiban memahami Al-Quran di masa orang-orang tua dan nenekmoyang tanpa sekarang ini sebagaimana wajibnya orang-orang memperhatikan apa yang sebenarnya mereka Arab yang hidup di masa dakwah Muhammad lakukan; adakah mereka ala hudan (dalam saw."(3) kebenaran) atau ala dhalal (dalam kesesatan). Tetapi berpikir secara kontemporer tidak Tetapi ini bukan berarti bahwa setiap Muslim berarti menafsirkan Al-Quran sesuai dengan (siapa saja) dapat mengeluarkan pendapatnya teori-teori ilmiah atau penemuan-penemuan mengenai ayat-ayat Al-Quran tanpa memenuhi baru. Kita dapat menggunakan pendapat para syarat-syarat yang dibutuhkan untuk itu. Setiap cendekiawan dan ulama, hasil percobaan dan Muslim yang memenuhi syarat, wajib memahami pengalaman para ilmuwan, mengasah otak dalam Al-Quran, karena ayat-ayatnya tidak diturunkan membantu mengadakan taammul dan tadabbur hanya khusus untuk orang-orang Arab di zaman dalam membantu memahami arti ayat-ayat Al- Rasulullah dahulu, dan bukan juga khusus untuk Quran tanpa mempercayai setiap hipotesis atau mereka yang hidup di abad keduapuluh ini. Tetapi 3  Abbas Mahmud Al-Aqqad, Al-Falsafah Al-Quraniyyah, Al-Quran adalah untuk seluruh manusia sejak dari Dar Al-Kitab Al-Lubnaniy, Beirut, 1974, h. 197.42
    • pantangan. kejadian manusia terdiri atas lima periode: (1) Al- Contohnya, dahulu dan bahkan hingga kini, Nuthfah; (2) Al-Alaq; (3) Al-Mudhghah; (4) Al-Idzam;ulama-ulama menafsirkan arti kata al-alaq dalam dan (5) Al-Lahm.ayat-ayat yang menerangkan proses kejadian janin Apabila seseorang mempelajari embriologidengan al-dam al-jamid atau segumpal darah yang dan percaya akan kebenaran Al-Quran, maka diabeku. Penafsiran ini didapati di seluruh kitab- sulit menafsirkan kalimat al-alaq tersebut dengankitab tafsir terdahulu. Bahkan terjemahan dalam segumpal darah yang beku. Menurut embriologi,bahasa Inggrisnya pun adalah the clot: darah proses kejadian manusia terbagi dalam tigayang setengah beku. Al-alaq yang diterangkan periode:di atas merupakan periode kedua dari kejadianjanin. Firman Allah dalam surah Al-Muminun 1. Periode Ovumayat 12-14 diterjemahkan oleh Prof. M. Hasby Periode ini dimulai dari fertilisasi (pembuahan)Ashiddieqi dalam tafsirnya, An-Nur, demikian: "Dan karena adanya pertemuan antara set kelaminsesungguhnya telah Kami jadikan manusia dari bapak (sperma) dengan sel ibu (ovum), yang keduatanah yang bersih, kemudian Kami jadikannya air intinya bersatu dan membentuk struktur ataumani yang disimpan dalam tempat yang kukuh, zat baru yang disebut zygote. Setelah fertilisasikemudian Kami jadikan air mani itu segumpal berlangsung, zygote membelah menjadi dua,darah, lalu Kami jadikannya sepotong daging; dari empat, delapan, enam belas sel, dan seterusnya.daging itu Kami jadikan tulang, tulang itu Kami Selama pembelahan ini, zygote bergerak menujubungkus dengan daging, dan kemudian Kami ke kantong kehamilan, kemudian melekat danmenjadikannya makhluk yang baru (manusia akhirnya masuk ke dinding rahim. Peristiwa iniyang sempurna). Maha berbahagia Allah Tuhan dikenal dengan nama implantasi.sepandai-pandai yang menjadikan sesuatu." Memperhatikan ayat ini, jelaslah bahwa periode 2. Periode Embriokedua dari kejadian manusia adalah al-alaq setelah Periode ini adalah periode pembentukanal-nuthfah. Dan dapat disimpulkan bahwa proses organ-organ. Terkadang organ tidak terbentuk 43
    • dengan sempurna atau sama sekali tidak periode keempat dan kelima menurut Al-Quran terbentuk, misalnya jika hasil pembelahan zygote sama dengan periode ketiga atau foetus. tidak bergantung atau berdempet pada dinding Dalam membicarakan al-alaq —yang oleh para rahim. Ini dapat mengakibatkan keguguran atau mufassirin diartikan dengan segumpal darah— kelahiran dengan cacat bawaan. didapati pertentangan antara penafsiran tersebut dengan hasil penyelidikan ilmiah. Karena periode 3. Periode Foetus ovum terdiri atas ektoderm, endoderm dan Periode ini adalah periode perkembangan dan rongga amnion, yang terdapat di dalamnya cairan penyempumaan dari organ-organ tadi, dengan amnion. Unsur-unsur tersebut tidak mengandung perkembangan yang amat cepat dan berakhir pada komponen darah. waktu kelahiran. Dari titik tolak ini mereka menolak penafsiran Kembali kepada ayat di atas, kita melihat al-alaq dengan segumpal darah, cair atau beku. bahwa periode pertama menurut Al-Quran adalah Mereka berpendapat bahwa al-alaq adalah sesuatu al-nuthfah, periode kedua al-alaq dan periode yang bergantung atau berdempet. Penafsiran ini ketiga al-mudhghah. Al-mudhghah —yang berarti sejalan dengan pengertian bahasa Arab, dan sesuai sepotong daging— menurut Al-Quran (surah pula dengan embriologi yang dinamai implantasi. Al-Hajj ayat 5) terbagi dalam dua kemungkinan: Bahasa Arab tidak menjadikan arti al-alaq khusus mukhallaqah (sempurna kejadiannya) dan ghayru untuk darah beku, tetapi salah satu dari artinya mukhallaqah (tidak sempurna). adalah bergantungan atau berdempetan. Dari sini bila diadakan penyesuaian antara Al-Raghib Al-Ashfahaniy, menerangkan embriologi dengan Al-Quran dalam proses beberapa arti al-alaq menurut bahasa Arab, di kejadian manusia, nyata bahwa periode ketiga antaranya: bergantung dan berdempetan. Dalam yang disebut Al-Quran sebagai al-mudhghah kamus Al-Mishbah Al-Munir, arti al-alaq adalah merupakan periode kedua menurut embriologi "sesuatu yang hitam seperti cacing di dalam air, (periode embrio). Dalam periode inilah bila diminum oleh binatang ia akan bergantung terbentuknya organ-organ terpenting. Sedangkan44
    • atau terhalang di kerongkongannya".(4) taqallubihi.(5) Di samping itu, dalam bahasa Arab sesuatudapat dinamakan sesuai dengan keadaan 5  Qalb dalam bahasa Arab berarti "berbolak-balik", karena sifatnya yang berbolak-balik: sekali senang, sekali susah, sekalidan sifatnya, seperti: Innama sumiya al-qalb li cinta, sekali benci. Yang berdempet/bergantung di dinding 4  Lihat Mujam Mufradat li Alfazh Al-Quran, diedit oleh rahim dinamai alaq (bergantung), karena keadaannya ketika Nadim Marasyli, Dar Al-Fikr, Beirut t.t., h. 355. itu "bergantung"/berdempet. Kesimpulan Kesimpulan dari uraian di atas adalah: pula dengan ciri khas ilmu pengetahuan. Al-Quran adalah kitab hidayah yang Sebab-sebab meluasnya penafsiran ilmiahmemberikan petunjuk kepada manusia seluruhnya (pembenaran teori-teori ilmiah berdasarkan Al-dalam persoalan-persoalan akidah, tasyri, dan Quran) adalah akibat perasaan rendah diri dariakhlak demi kebahagiaan hidup di dunia dan di masyarakat Islam dan akibat pertentangan antaraakhirat. golongan gereja (agama) dengan ilmuwan yang Tiada pertentangan antara Al-Quran dengan diragukan akan terjadi pula dalam lingkunganilmu pengetahuan. Islam, sehingga cendekiawan Islam berusaha Memahami hubungan Al-Quran dengan ilmu menampakkan hubungan antara Al-Quran denganpengetahuan bukan dengan melihat adakah ilmu pengetahuan.teori-teori ilmiah atau penemuan-penemuan Memahami ayat-ayat Al-Quran sesuaibaru tersimpul di dalamnya, tetapi dengan dengan penemuan-penemuan baru adalahmelihat adakah Al-Quran atau jiwa ayat-ayatnya ijtihad yang baik, selama paham tersebut tidakmenghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau dipercayai sebagai aqidah Quraniyyah danmendorong lebih maju. tidak bertentangan dengan prinsip-prinsp atau Membenarkan atau menyalahkan teori-teori ketentuan bahasa.ilmiah berdasarkan Al-Quran bertentangan dengantujuan pokok atau sifat Al-Quran dan bertentangan 45
    • 46
    • Al-Quran, Ilmu, dan Filsafat Manusia Al-Quran Al-Karim dalam kaitannya dengan Menganjurkan manusia untuk memperhatikan 6perkembangan ilmu dan filsafat manusia, dapat alam raya, langit, bumi, bintang-bintang, udara,disimpulkan mengandung tiga hal pokok: darat, lautan dan sebagainya, agar manusia —melalui perhatiannya tersebut— mendapatPertama, tujuan. manfaat berganda: (a) menyadari kebesaran dan Akidah atau kepercayaan, yang mencakup keagungan Tuhan; dan (b) memanfaatkan segalakepercayaan kepada (a) Tuhan dengan segala sesuatu untuk membangun dan memakmurkansifat-sifat-Nya; (b) Wahyu, dan segala kaitannya bumi di mana ia hidup.dengan, antara lain, Kitab-kitab Suci, Malaikat, dan Menceritakan peristiwa-peristiwa sejarah untukpara Nabi; serta (c) Hari Kemudian bersama dengan memetik pelajaran dari pengalaman masa lalu.balasan dan ganjaran Tuhan. Membangkitkan rasa yang terpendam dalam Budi pekerti, yang bertujuan mewujudkan jiwa, yang dapat mendorong manusia untukkeserasian hidup bermasyarakat, dalam bentuk mempertanyakan dari mana ia datang, bagaimanaantara lain gotong-royong, amanat, kebenaran, unsur-unsur dirinya, apa arti hidupnya dan kekasih sayang, tanggung jawab, dan lain-lain. mana akhir hayatnya (yang jawaban-jawabannya Hukum-hukum yang mengatur hubungan diberikan oleh Al-Quran).manusia dengan Tuhan, sesamanya, dirinya, dan Janji dan ancaman baik di dunia (yaknialam sekitarnya. kepuasan batin dan kebahagiaan hidup bahkan kekuasaan bagi yang taat, dan sebaliknya bagiKedua, cara. yang durhaka) maupun di akhirat dengan surga Ketiga hal tersebut diusahakan pencapaiannya atau neraka.oleh Al-Quran melalui empat cara:
    • sebagian telah terbukti kebenarannya. Ketiga, pembuktian. Melihat kandungan Al-Quran seperti yang Untuk membuktikan apa yang disampaikan dikemukakan secara selayang pandang tersebut, oleh Al-Quran seperti yang disebut di atas, maka di tidak diragukan lagi bahwa Al-Quran berbicara celah-celah redaksi mengenai butir-butir tersebut, tentang ilmu pengetahuan. Kitab Suci itu juga ditemukan mukjizat Al-Quran seperti yang pada berbicara tentang filsafat dalam segala bidang garis besarnya dapat terlihat dalam tiga hal pokok: pembahasan, dengan memberikan jawaban- Susunan redaksinya yang mencapai puncak jawaban yang konkret menyangkut hal-hal yang tertinggi dari sastra bahasa Arab. dibicarakan itu, sesuai dengan fungsinya: memberi Ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin yang petunjuk bagi umat manusia (QS 2:2) dan memberi diisyaratkannya. jalan keluar bagi persoalan-persoalan yang mereka Ramalan-ramalan yang diungkapkan, yang perselisihkan (QS 2:213). Al-Quran di Tengah Perkembangan Ilmu Sebelum berbicara tentang masalah tersebut, macam pengetahuan yang berguna bagi manusia terlebih dahulu perlu diperjelas pengertian ilmu dalam kehidupannya, baik masa kini maupun masa yang dimaksud dalam tulisan ini. depan; fisika atau metafisika. Al-Quran menggunakan kata ilm dalam Berbeda dengan klasifikasi ilmu yang berbagai bentuk dan artinya sebanyak 854 digunakan oleh para filosof —Muslim atau non- kali. Antara lain sebagai "proses pencapaian Muslim— pada masa-masa silam, atau klasifikasi pengetahuan dan objek pengetahuan" (QS 2:31- yang belakangan ini dikenal seperti, antara 32). Pembicaraan tentang ilmu mengantarkan kita lain, ilmu-ilmu sosial, maka pemikir Islam abad kepada pembicaraan tentang sumber-sumber ilmu XX, khususnya setelah Seminar Internasional di samping klasifikasi dan ragam disiplinnya. Pendidikan Islam di Makkah pada tahun 1977, Sementara ini, ahli keislaman berpendapat mengklasifikasikan ilmu menjadi dua katagori: bahwa ilmu menurut Al-Quran mencakup segala Ilmu abadi (perennial knowledge) yang48
    • berdasarkan wahyu Ilahi yang tertera dalam Al- Hal ini terbukti karena, menurut Al-Quran,Quran dan Hadis serta segala yang dapat diambil ada realitas lain yang tidak dapat dijangkau olehdari keduanya. pancaindera, sehingga terhadapnya tidak dapat Ilmu yang dicari (acquired knowledge) dilakukan observasi atau eksperimen seperti yangtermasuk sains kealaman dan terapannya ditegaskan oleh firman-Nya: Maka Aku bersumpahyang dapat berkembang secara kualitatif dan dengan apa-apa yang dapat kamu lihat dan apa-penggandaan, variasi terbatas dan pengalihan apa yang tidak dapat kamu lihat (QS 69:38-39). Dan,antarbudaya selama tidak bertentangan dengan Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnyaSyariah sebagai sumber nilai. melihat kamu dari satu tempat yang tidak dapat Dewasa ini diakui oleh ahli-ahli sejarah dan kamu melihat mereka (QS 7:27).ahli-ahli filsafat sains bahwa sejumlah gejala "Apa-apa" tersebut sebenarnya ada danyang dipilih untuk dikaji oleh komunitas ilmuwan merupakan satu realitas, tapi tidak ada dalam duniasebenarnya ditentukan oleh pandangan terhadap empiris. Ilmuwan tidak boleh mengatasnamakanrealitas atau kebenaran yang telah diterima oleh ilmu untuk menolaknya, karena wilayah merekakomunitas tersebut. Dalam hal ini, satu-satunya hanyalah wilayah empiris. Bahkan pada hakikatnyayang menjadi tumpuan perhatian sains mutakhir alangkah banyaknya konsep abstrak yang merekaadalah alam materi. gunakan, yang justru tidak ada dalam dunia materi Di sinilah terletak salah satu perbedaan antara seperti misalnya berat jenis benda, atau akar-akarajaran Al-Quran dengan sains tersebut. Al-Quran dalam matematika, dan alangkah banyak pula halmenyatakan bahwa objek ilmu meliputi batas- yang dapat terlihat potensinya namun tidak dapatbatas alam materi (physical world), karena itu dijangkau hakikatnya seperti cahaya.dapat dipahami mengapa Al-Quran di samping Hal ini membuktikan keterbatasan ilmumenganjurkan untuk mengadakan observasi dan manusia (QS 17:85). Kebanyakan manusia hanyaeksperimen (QS 29:20), juga menganjurkan untuk mengetahui fenomena. Mereka tidak mampumenggunakan akal dan intuisi (antara lain, QS menjangkau nomena (QS 30:7). Dari sini dapat16:78). dimengerti adanya pembatasan-pembatasan yang 49
    • dilakukan oleh Al-Quran dan yang —di sadari atau dan penelitian manusia, sebagai bukti kebenaran tidak— telah diakui dan dipraktekkan oleh para Al-Quran (QS 41:53). ilmuwan, seperti yang diungkapkan di atas. Dengan demikian, sebagaimana Al- Pengertian ilmu dalam tulisan ini hanya Quran merupakan wahyu-wahyu Tuhan akan terbatas pada pengertian sempit dan untuk menjelaskan hakikat wujud ini dengan terbatas tersebut. Atau dengan kata lain dalam mengaitkannya dengan tujuan akhir, yaitu pengertian science yang meliputi pengungkapan pengabdian kepada-Nya (QS 51-56), maka alam sunnatullah tentang alam raya (hukum-hukum raya ini —yang merupakan ciptaan-Nya— harus alam) dan perumusan hipotesis-hipotesis yang berfungsi sebagaimana fungsi Al-Quran dalam memungkinkan seseorang dapat mempersaksi menjelaskan hakikat wujud ini dan mengaitkannya peristiwa-peristiwa alamiah dalam kondisi tertentu. dengan tujuan yang sama. Dan dengan demikian, Seperti telah dikemukakan dalam pendahuluan ilmu dalam pengertian yang sempit ini sekalipun, ketika berbicara tentang kandungan Al-Quran, harus berarti: "Pengenalan dan pengakuan atas bahwa Kitab Suci ini antara lain menganjurkan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di untuk mengamati alam raya, melakukan dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing eksperimen dan menggunakan akal untuk manusia ke arah pengenalan dan pengakuan akan memahami fenomenanya, yang dalam hal ini tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud ditemukan persamaan dengan para ilmuwan, dan keperluan." namun di lain segi terdapat pula perbedaan yang Dalam definisi ini kita lihat bahwa konsep sangat berarti antara pandangan atau penerapan tentang "tempat yang tepat" berhubungan dengan keduanya. dua wilayah penerapan. Di satu pihak, ia mengacu Sejak semula Al-Quran menyatakan bahwa kepada wilayah ontologis yang mencakup manusia di balik alam raya ini ada Tuhan yang wujud-Nya dan benda-benda empiris, dan di pihak lain kepada dirasakan di dalam diri manusia (antara lain QS wilayah teologis yang mencakup aspek-aspek 2:164; 51:20-21), dan bahwa tanda-tanda wujud-Nya keagamaan dan etis. itu akan diperlihatkan-Nya melalui pengamatan Hal ini dapat dibuktikan dengan50
    • memperhatikan bagaimana Al-Quran selalu demikian, ayat-ayat sebelumnya dan ayat inimengaitkan perintah-perintahnya yang memberikan tekanan yang sama pada sasaranberhubungan dengan alam raya dengan perintah ganda: tafakkur yang menghasilkan sains, danpengenalan dan pengakuan atas kebesaran tashkhir yang menghasilkan teknologi gunadan kekuasaan-Nya. Bahkan, ilmu —dalam kemudahan dan kemanfaatan manusia. Danpengertiannya yang umum sekalipun— oleh dengan demikian pula, kita dapat menyatakanwahyu pertama Al-Quran (iqra), telah dikaitkan tanpa ragu bahwa "Al-Quran" membenarkandengan bismi rabbika. Maka ini berarti bahwa —bahkan mewajibkan— usaha-usaha"ilmu tidak dijadikan untuk kepentingan pribadi, pengembangan ilmu dan teknologi, selamaregional atau nasional, dengan mengurbankan ia membawa manfaat untuk manusia sertakepentingan-kepentingan lainnya". Ilmu pada memberikan kemudahan bagi mereka.saat —dikaitkan dengan bismi rabbika— kata Prof. Tuhan, sebagaimana diungkapkan Al-Quran,Dr. Abdul Halim Mahmud, Syaikh Jami Al-Azhar, "menginginkan kemudahan untuk kamu dan tidakmenjadi "demi karena (Tuhan) Pemeliharamu, menginginkan kesukaran" (QS 2:85). Dan Tuhansehingga harus dapat memberikan manfaat "tidak ingin menjadikan sedikit kesulitan pun untukkepada pemiliknya, warga masyarakat dan kamu" (QS 5:6). Ini berarti bahwa segala produkbangsanya. Juga kepada manusia secara umum. perkembangan ilmu diakui dan dibenarkan olehIa harus membawa kebahagiaan dan cahaya ke Al-Quran selama dampak negatif darinya dapatseluruh penjuru dan sepanjang masa." dihindari. Ayat-ayat Al-Quran seperti antara lain dikutip Saat ini, secara umum dapat dibuktikan bahwadi atas, disamping menggambarkan bahwa alam ilmu tidak mampu menciptakan kebahagiaanraya dan seluruh isinya adalah intelligible (dapat manusia. Ia hanya dapat menciptakan pribadi-dijangkau oleh akal dan daya manusia), juga pribadi manusia yang bersifat satu dimensi,menggarisbawahi bahwa segala sesuatu yang sehingga walaupun manusia itu mampu berbuatada di alam raya ini telah dimudahkan untuk segala sesuatu, namun sering bertindak tidakdimanfaatkan manusia (QS 43:13). Dan dengan bijaksana, bagaikan seorang pemabuk yang 51
    • memegang sebilah pedang, atau seorang pencuri Apa yang diungkapkan itu adalah sebagian dari yang memperoleh secercah cahaya di tengah ajaran Al-Quran menyangkut kehidupan manusia gelapnya malam. di alam raya ini, termasuk perkembangan ilmu Bersyukur kita bahwa akhir-akhir ini telah pengetahuan. terdengar suara-suara yang menggambarkan Segi lain yang tidak kurang pentingnya kesadaran tentang keharusan mengaitkan sains untuk dibahas dalam masalah Al-Quran dan ilmu dengan nilai-nilai moral keagamaan. pengetahuan adalah kandungan ayat-ayatnya di Beberapa tahun lalu di Italia diadakan suatu tengah-tengah perkembangan ilmu. permusyawaratan ilmiah tentang "cultural Seperti yang dikemukakan di atas bahwa salah relations for the future" (hubungan kebudayaan di satu pembuktian tentang kebenaran Al-Quran kemudian hari) dan ditemukan dalam laporannya adalah ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin tentang "reconstituting the human community" yang diisyaratkan. Memang terbukti, bahwa sekian yang kesimpulannya, antara lain, sebagai berikut: banyak ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang "Untuk menetralkan pengaruh teknologi yang hakikat-hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada menghilangkan kepribadian, kita harus menggali masa turunnya, namun terbukti kebenarannya di nilai-nilai keagamaan dan spiritual." tengah-tengah perkembangan ilmu, seperti: Apa yang diungkapkan ini sebelumnya telah Teori tentang expanding universe (kosmos diungkapkan oleh filosof Muhammad Iqbal, yang mengembang) (QS 51:47). yang ketika itu menyadari dampak negatif Matahari adalah planet yang bercahaya perkembangan ilmu dan teknologi. Beliau sedangkan bulan adalah pantulan dari cahaya menulis: "Kemanusiaan saat ini membutuhkan matahari (QS 10:5). tiga hal, yaitu penafsiran spiritual atas alam Pergerakan bumi mengelilingi matahari, raya, emansipasi spiritual atas individu, dan satu gerakan lapisan-lapisan yang berasal dari perut himpunan asas yang dianut secara universal yang bumi, serta bergeraknya gunung sama dengan akan menjelaskan evolusi masyarakat manusia atas pergerakan awan (QS 27:88). dasar spiritual." Zat hijau daun (klorofil) yang berperanan52
    • dalam mengubah tenaga radiasi matahari menjadi Quran yang bertentangan dengan perkembangantenaga kimia melalui proses fotosintesis sehingga ilmu pengetahuan.menghasilkan energi (QS 36:80). Bahkan, istilah Dari sini ungkapan "agama dimulai dariAl-Quran, al-syajar al-akhdhar (pohon yang hijau) sikap percaya dan iman", oleh Al-Quran, tidakjustru lebih tepat dari istilah klorofil (hijau daun), diterima secara penuh. Bukan saja karena iakarena zat-zat tersebut bukan hanya terdapat selalu menganjurkan untuk berpikir, bukan puladalam daun saja tapi di semua bagian pohon, hanya disebabkan karena ada dari ajaran-ajarandahan dan ranting yang warnanya hijau. agama yang tidak dapat diyakini kecuali dengan Bahwa manusia diciptakan dari sebagian pembuktian logika atau bukan pula disebabkankecil sperma pria dan yang setelah fertilisasi oleh keyakinan seseorang yang berdasarkan(pembuahan) berdempet di dinding rahim (QS 86:6 "taqlid" tidak luput dari kekurangan, tapi jugadan 7; 96:2). karena Al-Quran memberi kesempatan kepada Demikian seterusnya, sehingga amat tepatlah siapa saja secara sendirian atau bersama-samakesimpulan yang dikemukakan oleh Dr. Maurice dan kapan saja, untuk membuktikan kekeliruanBucaille dalam bukunya Al-Quran, Bible dan Sains Al-Quran dengan menandinginya walaupun hanyaModern, bahwa tidak satu ayat pun dalam Al- semisal satu surah sekalipun (QS 2:23). Al-Quran di Tengah Perkembangan Filsafat Apakah filsafat itu, dan bagaimana pengujian kritis terhadap dasar-dasar keputusan,perkembangannya? Adalah satu pertanyaan prasangka-prasangka dan kepercayaan. Hal iniyang memerlukan jawaban singkat sebelum disebabkan karena pemikiran filsafat bersifatpermasalahan yang diketengahkan ini diuraikan. mengakar (radikal) yang mencoba memberikan jawaban menyeluruh dari A-Z, mencari yang Bertrand Russel menjelaskan bahwa filsafat sedalam-dalamnya sehingga melintasi dimensi fisikmerupakan jenis pengetahuan yang memberikan dan teknik.kesatuan dan sistem ilmu pengetahuan melalui Objek penelitiannya ialah segala yang ada 53
    • dan yang mungkin ada, baik "ada yang umum" hidup merupakan pusat dari alam semesta. Tapi (ontologi ilm al-kainat) maupun "ada yang khusus pandangan ini digoyahkan oleh Galileo yang atau mutlak" (Tuhan). Atau, dengan kata lain, membuktikan bahwa bumi tempat tinggal objek penelitian filsafat mencakup pembahasan- manusia, tidak merupakan pusat alam raya. pembahasan logika, estetika, etika, politik dan Ia hanya bagian kecil dari planet-planet yang metafisika. mengitari matahari. Pandangan yang didukung Melihat demikian luasnya pembahasan filsafat oleh penelitian ilmiah ini, bertentangan dengan tersebut, maka pembahasan kita kali ini dibatasi penafsiran Kitab Suci (Kristen) dan membuka satu pada bagian "ada yang umum". Itu pun hanya lembaran baru dalam sejarah manusia Barat yang dalam masalah yang menjadi pusat perhatian menimbulkan krisis keimanan dan krisis lainnya. pemikir dewasa ini dan yang merupakan penentu Disusul kemudian dengan teori evolusi yang jalannya sejarah kemanusiaan, yakni "manusia". dikemukakan oleh Darwin. Segi-segi negatif Karena, memang, dewasa ini orang tidak banyak dari teori ini bukannya hanya diakibatkan oleh lagi berbicara tentang bukti wujud Tuhan atau teori tersebut, tapi lebih banyak lagi diakibatkan kebenaran wahyu, tidak pula menyangkut oleh kesan-kesan yang ditimbulkannya dalam pertentangan agama dengan aliran-aliran pikiran masyarakat serta para ahli pada masanya materialisme, tapi topik pembicaraan adalah dan masa sesudahnya. Dari Darwin perjalanan "manusia" karena pandangan tentang hakikat dilanjutkan oleh Sigmund Freud yang mengadakan manusia akan memberikan arah dari seluruh sikap pengamatan terhadap sekelompok orang- dan memberikan penafsiran terhadap semua orang sakit (abnormal) dan yang pada akhimya gejala. berkesimpulan, bahwa manusia pada hakikatnya Dalam abad pertengahan, manusia dipandang adalah "makhluk bumi" yang segala aktivitasnya sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang bertumpu dan terdorong oleh libido, sedangkan melebihi makhluk-makhluk lainnya, pandangan agama -menurutnya— berpangkal dari Oedipus yang sejalan dengan keyakinan agama serta complex dan, dengan demikian, Tuhan tidak lain menganggap bahwa bumi tempat manusia kecuali ilusi belaka.54
    • Kemajuan yang dicapai Eropa di bidang industri —untuk memberikan rasa takut— neraka yangdan ilmu pengetahuan sejak masa renaissance, bahan bakarnya adalah manusia dan batu."mengantarkan masyarakat untuk lebih jauh Demikian antara lain pandangan Sartre, salah satumenolak kekuasaan agama secara total yang tokoh aliran ini.mengakibatkan pula kekaguman yang berlebihan Sebelum kita sampai pada pandangan Al-kepada otoritas sains yang terlepas dari nilai-nilai Quran, ada baiknya kita mengutip pendapat Alexisspiritual keagamaan, dan yang pada akhirnya Carrel, seorang ahli bedah dan fisika, kelahiranmencapai puncaknya pada peristiwa pemboman di Prancis yang mendapat hadiah Nobel. BeliauHiroshima dan Nagasaki pada waktu Perang Dunia menulis dalam buku kenamaannya, Man theII. Setelah itu terjadi beberapa hal yang mendasar: Unknown, antara lain: "Pengetahuan manusiaagama, antara lain, mulai disebut-sebut walaupun tentang makhluk hidup dan manusia khususnyadengan suara yang sayup-sayup. Pretensi sains belum lagi mencapai kemajuan seperti yang telahdipermasalahkan. dicapai dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan Eksistensialisme mulai berbicara lagi: lainnya. Manusia adalah makhluk yang kompleks,"Sebenarnya tak ada arah yang harus dituju, sehingga tidaklah mudah untuk mendapatkanpergilah ke mana engkau sukai. Engkau satu gambaran untuknya, tidak ada satu cara untukmempunyai kemampuan untuk menyelesaikan memahami makhluk ini dalam keadaan secarasegala sesuatu. Mari kita berpegang erat-eras pada utuh, maupun dalam bagian-bagiannya, tidak jugakebebasan kita. Sosialisme telah merebut segala- dalam memahami hubungannya dengan alamgalanya dan menyerahkan kepada negara. Agama sekitarnya."juga mengembalikan segala sesuatu kepada Selanjutnya, ia mengatakan: "KebanyakanTuhan, sedangkan Tuhan di luar esensi manusia. pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh paraJadi agama juga menghalangi kebebasan manusia. ahli yang mempelajari manusia hingga kini masihAgama menipu para pengecut sehingga ia — tetap tanpa jawaban, karena terdapat daerah-demi mengalihkan manusia dari eksistensinya— daerah yang tidak terbatas dalam diri (batin) kitamenciptakan surga yang kekal di langit, dan yang tidak diketahui". 55
    • Keterbatasan pengetahuan, menurutnya, kepada Tuhan melalui kesadarannya tentang disebabkan karena keterlambatan pembahasan kehadiran Tuhan yang terdapat jauh di bawah tentang manusia, sifat akal manusia dan alam sadarnya (QS 30:43). Ia diberi kebebasan dan kompleksnya hakikat manusia. Kedua faktor kemerdekaan serta kepercayaan penuh untuk terakhir adalah faktor permanen, sehingga tidaklah memilih jalannya masing-masing (QS 33:72; 76:2-3). berlebihan menurutnya "jika kita mengambil Ia diberi kesabaran moral untuk memilih mana kesimpulan bahwa setiap orang dari kita terdiri dari yang baik dan mana yang buruk, sesuai dengan iring-iringan bayangan yang berjalan di tengah- nurani mereka atas bimbingan wahyu (QS 91:7- tengah hakikat yang tidak diketahui." 8). Ia adalah makhluk yang dimuliakan Tuhan Dari segi pandangan seorang beragama, dan diberi kesempurnaan dibandingkan dengan kiranya dapat dikatakan bahwa untuk mengetahui makhluk lainnya (QS 17:70) serta ia pula yang telah hal tersebut dibutuhkan pengetahuan dari diciptakan Tuhan dalam bentuk yang sebaik- pencipta Yang Maha Mengetahui melalui wahyu- baiknya (QS 95:4). wahyu-Nya, karena memang manusia adalah Namun di lain segi, manusia ini juga yang satu-satunya makhluk yang diciptakan atas mendapat cercaan Tuhan. Ia amat aniaya dan peta gambaran Tuhan dan yang dihembuskan mengingkari nikmat (QS 14:34), dan sangat banyak kepadanya Ruh ciptaanNya. membantah (QS 22:67). Ini bukan berarti bahwa Nah, apa yang dikatakan Al-Quran tentang ayat-ayat Al-Quran bertentangan satu sama manusia? Tidak sedikit ayat Al-Quran yang lain, tetapi hal tersebut menunjukkan potensi berbicara tentang manusia; bahkan manusia manusiawi untuk menempati tempat terpuji, atau adalah makhluk pertama yang telah disebut meluncur ke tempat yang rendah sehingga tercela. dua kali dalam rangkaian Wahyu Pertama (QS Al-Quran menjelaskan bahwa manusia 96:1-5). Manusia sering mendapat pujian Tuhan. diciptakan dari tanah, kemudian setelah sempurna Dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain, kejadiannya, Tuhan menghembuskan kepadanya ia mempunyai kapasitas yang paling tinggi (QS Ruh ciptaan-Nya (QS 38:71-72). Dengan "tanah" 11:3), mempunyai kecenderungan untuk dekat manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam seperti56
    • makhluk-makhluk lain, sehingga ia butuh makan, bermakna, serta tak terbatas, yang dimensinyaminum, hubungan seks, dan sebagainya, dan melebar keluar melampaui dimensi "tanah",dengan "Ruh" ia diantar ke arah tujuan non-materi dimensi material itu.yang tak berbobot dan tak bersubstansi dan yang Al-Quran tidak memandang manusia sebagaitak dapat diukur di laboratorium atau bahkan makhluk yang tercipta secara kebetulan, ataudikenal oleh alam material. tercipta dari kumpulan atom, tapi ia diciptakan Dimensi spiritual inilah yang mengantar setelah sebelumnya direncanakan untukmereka untuk cenderung kepada keindahan, mengemban satu tugas, Sesungguhnya akupengorbanan, kesetiaan, pemujaan, dan hendak menjadikan seorang khalifah di bumisebagainya. Ia mengantarkan mereka kepada (QS 2:30). Ia dibekali Tuhan dengan potensi dansuatu realitas yang Maha Sempurna, tanpa cacat, kekuatan positif untuk mengubah corak kehidupantanpa batas dan tanpa Akhir: wa anna ila rabbika di dunia ke arah yang lebih baik (QS 13:11), sertaAl-Muntaha — dan sesungguhnya kepada Tuhan- ditundukkan dan dimudahkan kepadanya alamMu-lah berakhirnya segala sesuatu (QS 53:42). Hai raya untuk dikelola dan dimanfaatkan (QS 45:12-13).manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja Antara lain, ditetapkan arah yang harus ia tuju (QSdengan penuh kesungguhan menuju Tuhanmu 51:56) serta dianugerahkan kepadanya petunjukdan pasti akan kamu menemui-Nya" (QS 84:6). untuk menjadi pelita dalam perjalanan itu (QS Dengan berpegang kepada pandangan ini, 2:38).manusia akan berada dalam satu alam yang hidup, Penutup Demikian filsafat materialisme dengan aneka yang pertama berusaha untuk menyeretnya keragam panoramanya berbicara tentang manusia. debu tanah dari Ruh Tuhan, sedangkan Al-QuranDan demikian pula Al-Quran. Keduanya telah mengajaknya untuk meningkat dari debu tanahmenjelaskan pandangannya. Keduanya telah menuju Tuhan Yang Mahaesa.mengajak manusia untuk menemukan dirinya, tapi 57
    • 58
    • Sejarah Perkembangan Tafsir Pada saat Al-Quran diturunkan, Rasul saw., yang memeluk agama Islam, seperti Abdullah bin 7berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan), Salam, Kaab Al-Ahbar, dan lain-lain. Inilah yangmenjelaskan kepada sahabat-sahabatnya merupakan benih lahirnya Israiliyat.tentang arti dan kandungan Al-Quran, khususnya Di samping itu, para tokoh tafsir dari kalanganmenyangkut ayat-ayat yang tidak dipahami atau sahabat yang disebutkan di atas mempunyaisamar artinya. Keadaan ini berlangsung sampai murid-murid dari para tabiin, khususnya di kota-dengan wafatnya Rasul saw., walaupun harus kota tempat mereka tinggal. Sehingga lahirlahdiakui bahwa penjelasan tersebut tidak semua kita tokoh-tokoh tafsir baru dari kalangan tabiin diketahui akibat tidak sampainya riwayat-riwayat kota-kota tersebut, seperti: (a) Said bin Jubair,tentangnya atau karena memang Rasul saw. sendiri Mujahid bin Jabr, di Makkah, yang ketika itutidak menjelaskan semua kandungan Al-Quran. berguru kepada Ibnu Abbas; (b) Muhammad bin Kalau pada masa Rasul saw. para sahabat Kaab, Zaid bin Aslam, di Madinah, yang ketika itumenanyakan persoalan-persoalan yang tidak jelas berguru kepada Ubay bin Kaab; dan (c) Al-Hasankepada beliau, maka setelah wafatnya, mereka Al-Bashriy, Amir Al-Syabi, di Irak, yang ketika ituterpaksa melakukan ijtihad, khususnya mereka berguru kepada Abdullah bin Masud.yang mempunyai kemampuan semacam Ali bin Gabungan dari tiga sumber di atas, yaituAbi Thalib, Ibnu Abbas, Ubay bin Kaab, dan Ibnu penafsiran Rasul saw., penafsiran sahabat-sahabat,Masud. serta penafsiran tabiin, dikelompokkan menjadi Sementara sahabat ada pula yang menanyakan satu kelompok yang dinamai Tafsir bi Al-Matsur.beberapa masalah, khususnya sejarah nabi-nabi Dan masa ini dapat dijadikan periode pertama dariatau kisah-kisah yang tercantum dalam Al-Quran perkembangan tafsir.kepada tokoh-tokoh Ahlul-Kitab yang telah Berlakunya periode pertama tersebut
    • dengan berakhirnya masa tabiin, sekitar tahun sudut yang lain, dan tidak mustahil jika anda 150 H, merupakan periode kedua dari sejarah mempersilakan orang lain memandangnya., maka perkembangan tafsir. ia akan melihat lebih banyak dari apa yang anda Pada periode kedua ini, hadis-hadis telah lihat."(1) beredar sedemikian pesatnya, dan bermunculanlah Muhammad Arkoun, seorang pemikir hadis-hadis palsu dan lemah di tengah-tengah Aljazair kontemporer, menulis bahwa: "Al-Quran masyarakat. Sementara itu perubahan sosial memberikan kemungkinan-kemungkinan arti semakin menonjol, dan timbullah beberapa yang tak terbatas. Kesan yang diberikan oleh ayat- persoalan yang belum pernah terjadi atau ayatnya mengenai pemikiran dan penjelasan pada dipersoalkan pada masa Nabi Muhammad saw., tingkat wujud adalah mutlak. Dengan demikian para sahabat, dan tabiin. ayat selalu terbuka (untuk interpretasi) baru, tidak Pada mulanya usaha penafsiran ayat-ayat Al- pernah pasti dan tertutup dalam interpretasi Quran berdasarkan ijtihad masih sangat terbatas tunggal."(2) dan terikat dengan kaidah-kaidah bahasa serta Corak-corak penafsiran yang dikenal selama arti-arti yang dikandung oleh satu kosakata. ini antara lain: (a) Corak sastra bahasa, yang timbul Namun sejalan dengan lajunya perkembangan akibat banyaknya orang non-Arab yang memeluk masyarakat, berkembang dan bertambah agama Islam, serta akibat kelemahan-kelemahan besar pula porsi peranan akal atau ijtihad orang Arab sendiri di bidang sastra, sehingga dalam penafsiran ayat-ayat Al-Quran, sehingga dirasakan kebutuhan untuk menjelaskan kepada bermunculanlah berbagai kitab atau penafsiran mereka tentang keistimewaan dan kedalaman arti yang beraneka ragam coraknya. Keragaman 1  Abd Allah Darraz, Al-Naba Al-Azhim, Dar Al-Urubah, tersebut ditunjang pula oleh Al-Quran, yang Mesir, 1960, h. 111. keadaannya seperti dikatakan oleh Abdullah 2  Lihat makalah Martin van Bruinessen, "Mohammed Arkoun tentang Al-Quran," disampaikan dalam diskusi Yayasan Darraz dalam Al-NabaAl-Azhim: "Bagaikan intan Empati. Pada h. 2. ia mengutip Mohammed Arkoun, yang setiap sudutnya memancarkan cahaya yang "Algeria," dalam Shireen T. Hunter (ed.), The Politics of Islamic Revivalism, Bloomington: Indiana University Press, berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut- 1988, h. 182-183.60
    • kandungan Al-Quran di bidang ini. (b) Corak filsafat Corak tasawuf, akibat timbulnya gerakan-gerakandan teologi, akibat penerjemahan kitab filsafat sufi sebagai reaksi dari kecenderungan berbagaiyang mempengaruhi sementara pihak, serta akibat pihak terhadap materi, atau sebagai kompensasimasuknya penganut agama; agama lain ke dalam terhadap kelemahan yang dirasakan. (f) BermulaIslam yang dengan sadar atau tanpa sadar masih pada masa Syaikh Muhammad Abduh (1849-mempercayai beberapa hal dari kepercayaan lama 1905 M), corak-corak tersebut mulai berkurangmereka. Kesemuanya menimbulkan pendapat dan perhatian lebih banyak tertuju kepada coraksetuju atau tidak setuju yang tecermin dalam sastra budaya kemasyarakatan. Yakni satu corakpenafsiran mereka. (c) Corak penafsiran ilmiah, tafsir yang menjelaskan petunjuk-petunjuk ayat-akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan usaha ayat Al-Quran yang berkaitan langsung denganpenafsir untuk memahami ayat-ayat Al-Quran kehidupan masyarakat, serta usaha-usaha untuksejalan dengan perkembangan ilmu. (d) Corak menanggulangi penyakit-penyakit atau masalah-fiqih atau hukum, akibat berkembangnya ilmu masalah mereka berdasarkan petunjuk ayat-ayat,fiqih, dan terbentuknya mazhab-mazhab fiqih, dengan mengemukakan petunjuk-petunjukyang setiap golongan berusaha membuktikan tersebut dalam bahasa yang mudah dimengertikebenaran pendapatnya berdasarkan penafsiran- tapi indah didengar.penafsiran mereka terhadap ayat-ayat hukum. (e) Kodifikasi Tafsir Kalau yang digambarkan di atas tentang sejarah ketika itu tersebar secara lisan. Periode II, bermulaperkembangan Tafsir dari segi corak penafsiran, dengan kodifikasi hadis secara resmi pada masamaka perkembangan dapat pula ditinjau dari pemerintahan Umar bin Abdul Aziz (99-101segi kodifikasi (penulisan), hal mana dapat dilihat H). Tafsir ketika itu ditulis bergabung dengandalam tiga periode: Periode I, yaitu masa Rasul penulisan hadis-hadis, dan dihimpun dalam satusaw., sahabat, dan permulaan masa tabiin, di mana bab seperti bab-bab hadis, walaupun tentunyaTafsir belum tertulis dan secara umum periwayatan penafsiran yang ditulis itu umumnya adalah Tafsir 61
    • bi Al-Matsur. Dan periode III, dimulai dengan dimulai oleh Al-Farra (w. 207 H) dengan kitabnya penyusunan kitab-kitab Tafsir secara khusus dan yang berjudul Maani Al-Quran. berdiri sendiri, yang oleh sementara ahli diduga Metode Tafsir Di lain segi, sejarah perkembangan Tafsir ayat tersebut dalam surat yang berbeda-beda itu. dapat pula ditinjau dari sudut metode penafsiran. Disadari pula oleh para ulama, khususnya Al- Walaupun disadari bahwa setiap mufassir Syathibi (w. 1388 M), bahwa setiap surat, walaupun mempunyai metode yang berbeda dalam masalah-masalah yang dikemukakan berbeda- perinciannya dengan mufassir lain. Namun secara beda, namun ada satu sentral yang mengikat dan umum dapat diamati bahwa sejak periode ketiga menghubungkan masalah-masalah yang berbeda- dari penulisan Kitab-kitab Tafsir sampai tahun beda tersebut. 1960, para mufassir menafsirkan ayat-ayat Al-Quran Pada bulan Januari 1960, Syaikh Mahmud secara ayat demi ayat, sesuai dengan susunannya Syaltut menyusun kitab tafsirnya, Tafsir Al-Quran dalam mushhaf Al-Karim, dalam bentuk penerapan ide yang Penafsiran yang berdasar perurutan mushaf dikemukakan oleh Al-Syathibi tersebut. Syaltut ini dapat menjadikan petunjuk-petunjuk Al-Quran tidak lagi menafsirkan ayat-demi-ayat, tetapi terpisah-pisah, serta tidak disodorkan kepada membahas surat demi surat, atau bagian-bagian pembacanya secara utuh dan menyeluruh. tertentu dalam satu surat, kemudian merangkainya Memang satu masalah dalam Al-Quran sering dengan tema sentral yang terdapat dalam satu dikemukakan secara terpisah dan dalam beberapa surat tersebut. Metode ini kemudian dinamai surat. Ambillah misalnya masalah riba, yang metode mawdhuiy. dikemukakan dalam surat-surat Al-Baqarah, Ali Namun apa yang ditempuh oleh Syaltut belum Imran, dan Al-Rum, sehingga untuk mengetahui menjadikan pembahasan tentang petunjuk Al- pandangan Al-Quran secara menycluruh Quran dipaparkan dalam bentuk menyeluruh, dibutuhkan pembahasan yang mencakup ayat- karena seperti dikemukakan di atas, satu masalah62
    • dapat ditemukan dalam berbagai surat. Atas dasar menghimpun ayat-ayat Al-Quran yang membahasini timbul ide untuk menghimpun semua ayat satu masalah tertentu dari berbagai ayat atau suratyang berbicara tentang satu masalah tertentu, Al-Quran dan yang sedapat mungkin diurut sesuaikemudian mengaitkan satu dengan yang lain, dan dengan urutan turunnya, kemudian menjelaskanmenafsirkan secara utuh dan menyeluruh. Ide pengertian menyeluruh dari ayat-ayat tersebut,ini di Mesir dikembangkan oleh Prof. Dr. Ahmad guna menarik petunjuk Al-Quran secara utuhSayyid Al-Kumiy pada akhir tahun enam puluhan. tentang masalah yang dibahas itu.Ide ini pada hakikatnya merupakan kelanjutan dari Demikian perkembangan penafsiran Al-Quranmetode mawdhuiy gaya Mahmud Syaltut di atas.(3) dari segi metode, yang dalam hal ini ditekankan Dengan demikian, metode mawdhuiy menyangkut pandangan terhadap pemilihanmempunyai dua pengertian: Pertama, penafsiran ayat-ayat yang ditafsirkan (yaitu menurut urut-menyangkut satu surat dalam Al-Quran dengan urutannya).menjelaskan tujuan-tujuannya secara umumdan yang merupakan tema sentralnya, sertamenghubungkan persoalan-persoalan yangberaneka ragam dalam surat tersebut antara satudengan lainnya dan juga dengan tema tersebut,sehingga satu surat tersebut dengan berbagaimasalahnya merupakan satu kesatuan yang tidakterpisahkan. Kedua, penafsiran yang bermula dari 3  Di beberapa negara Islam selain Mesir, para pakarnya juga melakukan upaya-upaya penafsiran Al-Quran dengan menggunakan metode ini. Di Irak, misalnya, Muhammad Baqir Al-Shadr menulis uraian menyangkut tafsir tentang hukum-hukum sejarah dalam Al-Quran dengan menggunakan metode yang mirip dengan metode ini, dan menamakannya dengan metode tawhidiy (kesatuan). 63
    • 64
    • Kebebasan dan Pembatasan dalam Tafsir Al-Quran yang merupakan bukti kebenaran mereka baca itu.(1) Dari sini kemudian para ulama 8Nabi Muhammad saw, sekaligus petunjuk untuk menggarisbawahi bahwa tafsir adalah "penjelasanumat manusia kapan dan di mana pun, memiliki tentang arti atau maksud firman-firman Allahpelbagai macam keistimewaan. Keistimewaan sesuai dengan kemampuan manusia (mufasir)",(2)tersebut, antara lain, susunan bahasanya yang dan bahwa "kepastian arti satu kosakata atau ayatunik mempesonakan, dan pada saat yang sama tidak mungkin atau hampir tidak mungkin dicapaimengandung makna-makna yang dapat dipahami kalau pandangan hanya tertuju kepada kosakataoleh siapa pun yang memahami bahasanya, atau ayat tersebut secara berdiri sendiri."(3)walaupun tentunya tingkat pemahaman mereka Rasulullah Muhammad saw. mendapat tugasakan berbeda-beda akibat berbagai faktor. untuk menjelaskan maksud firman-firman Allah Redaksi ayat-ayat Al-Quran, sebagaimana (QS 16:44). Tugas ini memberi petunjuk bahwasetiap redaksi yang diucapkan atau ditulis, tidak penjelasan-penjelasan beliau pasti benar. Hal inidapat dijangkau maksudnya secara pasti, kecuali didukung oleh bukti-bukti, antara lain, adanyaoleh pemilik redaksi tersebut. Hal ini kemudian teguran-teguran yang ditemukan dalam Al-Quranmenimbulkan keanekaragaman penafsiran. Dalam menyangkut sikap atau ucapan beliau yang dinilaihal Al-Quran, para sahabat Nabi sekalipun, yang Tuhan "kurang tepat", misalnya QS 9:42; 3:128, 80:1,secara umum menyaksikan turunnya wahyu, dan sebagainya, yang kesemuanya mengandungmengetahui konteksnya, serta memahami secara 1  Lihat Muhammad Husain Al-Zahabiy, Al-Tafsir wa Al-alamiah struktur bahasa dan arti kosakatanya, Mufassirun, Dar Al-Kutub Al-Haditsah, Mesir, 1961, jilid 1,tidak jarang berbeda pendapat, atau bahkan h. 59.keliru dalam pemahaman mereka tentang maksud 2  Ibid., h. 15. 3  Abu Ishaq Al-Syathibi, Al-Muwafaqat, Dar Al-Marifah,firman-firman Allah yang mereka dengar atau Beirut, t.t., jilid II, h. 35.
    • arti bahwa beliau mashum (terpelihara dari adalah penafsiran muthabiq dalam arti sama dan melakukan suatu kesalahan atau dosa). sepadan dengan yang ditafsirkan. Sedangkan Dari sini mutlak perlu untuk memperhatikan ketika menafsirkan QS 40;60, tentang arti perintah penjelasan-penjelasan Nabi tersebut dalam rangka berdoa, beliau menafsirkannya dengan beribadah.(7) memahami atau menafsirkan firman-firman Penafsiran ini adalah penafsiran yang dinamai Allah, sehingga tidak terjadi penafsiran yang talazum. Artinya, setiap doa pasti ibadah, dan bertentangan dengannya, walaupun tentunya setiap ibadah mengandung doa. Berbeda dengan sebagian dari penafsiran Nabi tersebut ada yang ketika beliau menafsirkan QS 14:27. Di sana hanya sekadar merupakan contoh-contoh konkret beliau menafsirkan kata akhirat dengan "kubur".(8) yang beliau angkat dari masyarakat beliau, Penafsiran semacam ini dinamakan penafsiran sehingga dapat dikembangkan atau dijabarkan tadhamun, karena kubur adalah sebagian dari lebih jauh oleh masyarakat-masyarakat berikutnya. akhirat. Misalnya ketika menafsirkan al-maghdhub alayhim Harus digarisbawahi pula bahwa penjelasan- (QS 1:7) sebagai "orang-orang Yahudi",(4) atau penjelasan Nabi tentang arti ayat-ayat Al-Quran "quwwah" dalam QS 8:60 yang memerintahkan tidak banyak yang kita ketahui dewasa ini, bukan mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi saja karena riwayat-riwayat yang diterima oleh musuh, sebagai "panah".(5) generasi-generasi setelah beliau tidak banyak dan Memang, menurut para ulama, penafsiran sebagiannya tidak dapat dipertanggungjawabkan Nabi saw. bermacam-macam, baik dari segi cara, otentisitasnya, tetapi juga "karena Nabi saw. motif, maupun hubungan antara penafsiran sendiri tidak menafsirkan semua ayat Al-Quran".(9) beliau dengan ayat yang ditafsirkan. Misalnya, Sehingga tidak ada jalan lain kecuali berusaha ketika menafsirkan shalah al-wustha dalam QS untuk memahami ayat-ayat Al-Quran berdasarkan 2:238 dengan "shalat Ashar",(6) penafsiran itu kaidah-kaidah disiplin ilmu tafsir, serta berdasarkan 4  Ismail Ibn Katsir, Tafsir Al-Quran Al-Azhim, Sulaiman Mariy, Singapura, t.t. jilid I, h. 29. 7  Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi. 5  Ibid., h. 321. 8 Ibid. 6  Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya. 9  Al-Zahabiy, op.cit. h. 53.66
    • kemampuan, setelah masing-masing memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Kebebasan dalam Menafsirkan Al-Quran Jlka kita perhatikan perintah Al-Quran yang Al-Quran. Karena hal ini merupakan perintah Al-memerintahkan kita untuk merenungkan ayat- Quran sendiri, sebagaimana setiap pendapat yangayatnya dan kecamannya terhadap mereka yang diajukan seseorang, walaupun berbeda dengansekadar mengikuti pendapat atau tradisi lama pendapat-pendapat lain, harus ditampung. Initanpa suatu dasar, dan bila kita perhatikan pula adalah konsekuensi logis dari perintah di atas,bahwa Al-Quran diturunkan untuk setiap manusia selama pemahaman dan penafsiran tersebutdan masyarakat kapan dan di mana pun, maka dilakukan secara sadar dan penuh tanggungdapat ditarik kesimpulan bahwa setiap manusia jawab.pada abad ke-20 serta generasi berikutnya dituntut Dalam kebebasan yang bertanggung jawabpula untuk memahami Al-Quran sebagaimana inilah timbul pembatasan-pembatasan dalamtuntutan yang pernah ditujukan kepada menafsirkan Al-Quran, sebagaimana pembatasan-masyarakat yang menyaksikan turunnya Al-Quran. pembatasan yang dikemukakan dalam setiap Kemudian, bila disadari bahwa hasil pemikiran disiplin ilmu. Mengabaikan pembatasan tersebutseseorang dipengaruhi bukan saja oleh tingkat dapat menimbulkan polusi dalam pemikirankecerdasannya, tetapi juga oleh disiplin ilmu bahkan malapetaka dalam kehidupan.yang ditekuninya, oleh pengalaman, penemuan- Dapat dibayangkan apa yang terjadi bila setiappenemuan ilmiah, oleh kondisi sosial, politik, orang bebas berbicara atau melakukan praktek-dan sebagainya, maka tentunya hasil pemikiran praktek dalam bidang kedokteran atau melakukanseseorang akan berbeda satu dengan lainnya. analisis-analisis statistik tanpa mempunyai Dari sini seseorang tidak dapat dihalangi untuk pengetahuan tentang ilmu tersebut.merenungkan, memahami, dan menafsirkan Pembatasan dalam Menafsirkan Al-Quran 67
    • Telah dikemukakan di atas bahwa Al- Quran yang tak dapat diketahui kecuali oleh Allah Quran mengecam orang-orang yang tidak atau oleh Rasul bila beliau menerima penjelasan memperhatikan kandungannya, dan bahwa dari Allah. Pengecualian ini mengandung para sahabat sendiri seringkali tidak mengetahui beberapa kemungkinan arti, antara lain: (a) ada atau berbeda pendapat atau keliru dalam ayat-ayat yang memang tidak mungkin dijangkau memahami maksud firman-firman Allah, sehingga pengertiannya oleh seseorang, seperti ya sin, alif dari kalangan mereka sejak dini telah timbul lam mim, dan sebagainya. Pendapat ini didasarkan pembatasan-pembatasan dalam penafsiran Al- pada firman Allah yang membagi ayat-ayat Al- Quran. Quran kepada muhkam (jelas) dan mutasyabih Ibn Abbas, yang dinilai sebagai salah seorang (samar), dan bahwa tidak ada yang mengetahui sahabat Nabi yang paling mengetahui maksud tawil (arti)-nya kecuali Allah, sedang orang-orang firman-firman Allah, menyatakan bahwa tafsir yang dalam lmunya berkata kami beriman kepada terdiri dari empat bagian: pertama, yang dapat ayat-ayat yang mutasyabih (QS 3:7).(11) Atau (b) dimengerti secara umum oleh orang-orang Arab ada ayat-ayat yang hanya diketahui secara umum berdasarkan pengetahuan bahasa mereka; kedua, artinya, atau sesuai dengan bentuk luar redaksinya, yang tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak tetapi tidak dapat didalami maksudnya, seperti mengetahuinya; ketiga, yang tidak diketahui masalah-masalah metafisika, perincian ibadah an kecuali oleh ulama; dan keempat, yang tidak sich, dan sebagainya, yang tidak termasuk dalam diketahui kecuali oleh Allah.(10) wilayah pemikiran atau jangkauan akal manusia. Dari pembagian di atas ditemukan dua jenis Apa pun yang dimaksud dari ungkapan sahabat pembatasan, yaitu (a) menyangkut materi ayat-ayat tersebut, telah disepakati oleh para ulama bahwa (bagian keempat), dan (b) menyangkut syarat- tidak seorang pun berwenang untuk memberikan syarat penafsir (bagian ketiga). penafsiran-penafsiran terhadap ayat-ayat yang Dari segi materi terlihat bahwa ada ayat-ayat Al- materinya berkaitan dengan masalah-masalah 10  Lihat lebih jauh Al-Zarkasyi, Al-Burhan to Ulum 11  Lihat Al-Sayuthi, Al-Itqan fi Ulum Al-Quran, Al-Azhar, Al-Quran, Al-Halabiy, Mesir, 1957, jilid II, h. 164. Mesir, cet. 11, h. 3.68
    • metafisika atau yang tidak dapat dijangkau oleh kita menyerahkan permasalahannya kepada Allahakal pikiran manusia. Penjelasan-penjelasan SWT atas dasar keimanan."(14) Bahkan, Abduhsahabat pun dalam bidang ini hanya dapat terkadang tidak menguraikan arti satu kosakataditerima apabila penjelasan tersebut diduga yang tidak jelas, dan menganjurkan untuk tidakbersumber dari Nabi saw.(12) perlu membahasnya, sebagaimana sikap yang Karena itu, seorang ahli hadis kenamaan, Al- ditempuh oleh sahabat Umar bin Khaththab ketikaHakim Al-Naisaburi, menolak penafsiran sahabat membaca abba dalam surat Abasa (QS 80:32) yangNabi, Abu Hurairah, tentang ayat "neraka saqar berbicara tentang aneka ragam nikmat Tuhanadalah pembakar kulit manusia" (QS 74:29) untuk kepada makhluk-makhluk-Nya.(15)dinisbatkan kepada Rasul saw.(13) Dari segi syarat penafsir, khusus bagi penafsiran Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905), salah yang mendalam dan menyeluruh, ditemukanseorang ahli Tafsir yang paling mengandalkan banyak syarat. Secara umum dan pokok dapatakal, menganut prinsip "tidak menafsirkan ayat- disimpulkan sebagai berikut: (a) pengetahuanayat yang kandungannya tidak terjangkau oleh tentang bahasa Arab dalam berbagai bidangnya;pikiran manusia, tidak pula ayat-ayat yang samar (b) pengetahuan tentang ilmu-ilmu Al-Quran,atau tidak terperinci oleh Al-Quran." Ketika sejarah turunnya, hadis-hadis Nabi, dan ushul fiqh;menafsirkan firman Allah dalam QS 101:6-7 tentang (c) pengetahuan tentang prinsip-prinsip pokok"timbangan amal perbuatan di Hari Kemudian", keagamaan; dan (d) pengetahuan tentang disiplinAbduh menulis: "Cara Tuhan dalam menimbang ilmu yang menjadi materi bahasan ayat. Bagiamal perbuatan, dan apa yang wajar diterima mereka yang tidak memenuhi syarat-syarat di atassebagai balasan pada hari itu, tiada lain kecuali tidak dibenarkan untuk menafsirkan Al-Quran.atas dasar apa yang diketahui oleh-Nya, bukan Dalam hal ini ada dua hal yang perluatas dasar apa yang kita ketahui; maka hendaklah digarisbawahi: 12  Lihat Al-Zahabiy, op.cit., h. 59. 14  Syaikh Muhammad Abduh, Tafsir Juz Amma, Dar Al-Hilal, 13  Al-Hakim Al-Naisaburi, Marifat Ulum Al-Hadits, Dar Al- Mesir, 1962, h. 139. Afaq, Beirut, 1980, h. 20. 15  Ibid., h. 26. 69
    • (1) Menafsirkan berbeda dengan berdakwah (b) Kekeliruan dalam menerapkan metode atau atau berceramah berkaitan dengan tafsir ayat kaidah; Al-Quran. Seseorang yang tidak memenuhi (c) Kedangkalan dalam ilmu-ilmu alat; syarat-syarat di atas, tidak berarti terlarang untuk (d) Kedangkalan pengetahuan tentang materi menyampaikan uraian tafsir, selama uraian yang uraian (pembicaraan) ayat; dikemukakannya berdasarkan pemahaman para (e) Tidak memperhatikan konteks, baik asbab ahli tafsir yang telah memenuhi syarat di atas. al-nuzul, hubungan antar ayat, maupun kondisi Seorang mahasiswa yang membaca kitab tafsir sosial masyarakat; semacam Tafsir An-Nur karya Prof. Hasby As- (f) Tidak memperhatikan siapa pembicara dan Shiddiqie, atau Al-Azhar karya Hamka, kemudian terhadap siapa pembicaraan ditujukan. berdiri menyampaikan kesimpulan tentang apa Karena itu, dewasa ini, akibat semakin luasnya yang dibacanya, tidaklah berfungsi menafsirkan ilmu pengetahuan, dibutuhkan kerja sama para ayat. Dengan demikian, syarat yang dimaksud pakar dalam berbagai disiplin ilmu untuk bersama- di atas tidak harus dipenuhinya. Tetapi, apabila sama menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. ia berdiri untuk mengemukakan pendapat- Di samping apa yang telah dikemukakan di pendapatnya dalam bidang tafsir,. maka apa atas, yang mengakibatkan adanya pembatasan- yang dilakukannya tidak dapat direstui, karena pembatasan dalam penafsiran Al-Quran, besar kemungkinan ia akan terjerumus ke dalam masih ditemukan pula beberapa pembatasan kesalahan-kesalahan yang menyesatkan. menyangkut perincian penafsiran, khususnya (2) Faktor-faktor yang mengakibatkan dalam tiga bidang, yaitu perubahan sosial, kekeliruan dalam penafsiran antara lain adalah: perkembangan ilmu pengetahuan, dan bahasa. (a) Subjektivitas mufasir; Perubahan Sosial Ditemukan banyak ayat Al-Quran yang masyarakat ideal yang sifatnya adalah masyarakat berbicara tentang hal ini, antara lain tentang yang terus berkembang ke arah yang positif (QS70
    • 48:29), juga bahwa setiap masyarakat mempunyai sosial dapat dijadikan dasar pertimbanganbatas-batas usia (QS 10:49; 15:5, dan lain-lain), dalam menarik kesimpulan pemahaman ataudan bahwa masyarakat dalam perkembangannya penafsiran ayat-ayat Al-Quran. Walaupun telahmengikuti satu pola yang tetap (hukum disepakati bahwa pada dasarnya dalam masalah-kemasyarakatan) yang tidak berubah (QS 35:43; masalah ibadah (yang tidak terjangkau oleh48:23, dan lain-lain). pikiran/manusia) perintah agama harus diterima Perubahan-perubahan atau perkembangan- sebagaimana adanya, tanpa mempertimbangkanperkembangan yang terjadi tersebut terutama makna kandungan perintah tersebut. Sedangdiakibatkan oleh potensi manusia baik yang dalam masalah sosial (muamalah), perintahpositif maupun yang negatif. Karena adanya dua agama terlebih dahulu harus diperhatikan artikemungkinan ini, maka tidak setiap perubahan kandungannya atau maksudnya.(16) 16  Abu Ishaq Al-Syathibi, op. cit., jilid II, h. 300. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Sementara ulama berpendapat bahwa "syariat" bahwa Al-Quran diturunkan untuk semua(Al-Quran dan hadis) harus dipahami berdasarkan manusia pada setiap waktu dan tempat. Adalahpemahaman masyarakat pada masa turunnya.(17)Ini mustahil untuk menjadikan semua orang berpikirmengakibatkan antara lain pembatasan dalam dengan pola yang sama. Dan karena Al-Quranmemahami teks-teks ayat Al-Quran berdasarkan memerintahkan setiap orang berpikir, makapemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan tentunya setiap orang akan menggunakanmasyarakat pada masa turunnya Al-Quran yang pikirannya antara lain berdasarkan perkembanganjauh terbelakang dibanding perkembangan ilmu ilmu pengetahuan. Atas dasar ini, pendapat-dewasa ini. pendapat yang dikemukakan di atas mengenai Pembatasan di atas tentunya tidak dapat pembatasan dalam penafsiran Al-Quran amat sulitditerima, apalagi setelah memperhatikan prinsip diterima. Selanjutnya perlu dibedakan antara pemikiran 17  Ibid., hal. 82. 71
    • ilmiah kontemporer dengan pembenaran Karena kata "apa" dalam istilah Al-Quran dapat setiap teori ilmiah. Ketika ilmu pengetahuan mencakup segala sesuatu. Di sisi lain, kalimat "Allah membuktikan secara pasti dan mapan bahwa mengetahui" bukan dalam arti "hanya Allah yang bumi kita ini bulat, maka mufasir masa kini akan mengetahui", bila yang dimaksud dengan "apa"- memahami dan menafsirkan firman Allah "Dan nya adalah jenis kelamin janin. Allah jadikan untuk kamu bumi ini terhampar" Pemahaman dan penafsiran ayat-ayat Al- (QS 71:19) bahwa keterhamparan yang dimaksud Quran seperti yang dikemukakan di atas tentunya tidak bertentangan dengan kebulatannya, tidak dapat ditempuh bila pembatasan yang karena keterhamparan ini terlihat dan disaksikan dikemukakan oleh sementara ulama di atas oleh siapa pun dan ke mana pun seseorang diterapkan. Namun ini tidak berarti bahwa setiap melangkahkan kakinya, apalagi redaksi ayat teori ilmiah walaupun yang belum mapan dan tersebut tidak menyatakan "Allah ciptakan" pasti dapat dijadikan dasar dalam pemahaman tetapi "jadikan untuk kamu". Demikian juga dan penafsiran ayat-ayat Al-Quran, apalagi bila ketika eksperimen membuktikan bahwa para ahli membenarkannya atas nama Al-Quran. Karena itu, telah dapat mendeteksi jenis janin (bayi dalam pemakaian teori ilmiah yang belum mapan dalam perut), maka pemahaman kita terhadap ayat penafsiran ayat-ayat Al-Quran, harus dibatasi. "Allah mengetahui apa yang dikandung oleh Karena hal ini akan mengakibatkan bahaya yang setiap perempuan (hamil)" (QS 13:8), pemahaman tidak kecil, sebagaimana yang pernah dialami oleh kata "apa" beralih dari yang tadinya dipahami bangsa Eropa terhadap penafsiran Kitab Suci yang sebagai jenis kelamin bayi menjadi lebih umum kemudian terbukti bertentangan dengan hasil- dari sekadar jenisnya, sehingga mencakup masa hasil penemuan ilmiah yang sejati. depan, bakat, jiwa, dan segala perinciannya. Bidang Bahasa Perlu digarisbawahi bahwa walaupun Al-Quran orang-orang Arab pada masa turunnya, namun menggunakan kosakata yang digunakan oleh pengertian kosakata tersebut tidak selalu sama72
    • dengan pengertian-pengertian yang populer atau terdapat petunjuk bahwa pengertian Quranidi kalangan mereka. Al-Quran dalam hal ini tersebut bukan itu yang dimaksud oleh ayat, makamenggunakan kosakata tersebut, tetapi bukan dalam hal ini seseorang mempunyai kebebasanlagi dalam bidang-bidang semantik yang mereka memilih arti yang dimungkinkan menurutkenal.(18) pemikirannya dari sekian arti yang dimungkinkan Di sisi lain, perkembangan bahasa Arab dewasa oleh penggunaan bahasa.ini telah memberikan pengertian-pengertian baru Kata alaq dalam wahyu pertama "Dia (Tuhan)bagi kosakata-kosakata yang juga digunakan oleh menciptakan manusia dari alaq" (QS 96:2)Al-Quran. mempunyai banyak arti, antara lain: segumpal Dalam hal ini seseorang tidak bebas untuk darah, sejenis cacing (lintah), sesuatu yangmemilih pengertian yang dikehendakinya atas berdempet dan bergantung, kebergantungan,dasar pengertian satu kosakata pada masa pra- dan sebagainya. Di sini seseorang mempunyaiIslam, atau yang kemudian berkembang. Seorang kebebasan untuk memilih salah satu dari arti-artimufasir, disamping harus memperhatikan struktur tersebut, dengan mengemukakan alasannya.serta kaidah-kaidah kebahasaan serta konteks Perbedaan-perbedaan pendapat akibatpembicaraan ayat, juga harus memperhatikan pemilihan arti-arti tersebut harus dapat ditoleransipenggunaan Al-Quran terhadap setiap kosakata, dan ditampung, selama ia dikemukakan dalamdan mendahulukannya dalam memahami kosakata batas-batas tanggung jawab dan kesadaran.tersebut daripada pengertian yang dikenal pada Bahkan agama menilai bahwa mengemukakannyamasa pra-Islam. Bahkan secara umum tidak pada saat itu memperoleh pahala dari Tuhan,dibenarkan untuk menggunakan pengertian walaupun seandainya ia kemudian terbukti keliru.pengertian baru yang berkembang kemudian. Apabila tidak ditemukan pengertian-pengertian khusus Qurani bagi satu kosakata 18  Lihat Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, Penerbit Mizan, Bandung, 1984, h. 28. 73
    • 74
    • Perkembangan Metodologi Tafsir Al-Quran adalah sumber ajaran Islam. Kitab penafsirannya, mempunyai peranan yang sangat 9Suci itu, menempati posisi sentral, bukan saja besar bagi maju-mundurnya umat. Sekaligus,dalam perkembangan dan pengembangan penafsiran-penafsiran itu dapat mencerminkanilmu-ilmu keislaman, tetapi juga merupakan perkembangan serta corak pemikiran mereka.inspirator, pemandu dan pemadu gerakan-gerakan Berikut ini, akan dikemukakan selayangumat Islam sepanjang empat belas abad sejarah pandang tentang perkembangan metodepergerakan umat ini.(1) penafsiran, keistimewaan dan kelemahannya, Jika demikian itu halnya, maka pemahaman menurut tinjauan kacamata kita yang hidup padaterhadap ayat-ayat Al-Quran, melalui penafsiran- abad ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), 1  Prof. Dr. Hasan Hanafi, Al-Yamin wa Al Yasar Fi Al-Fikr Al- serta era globalisasi dan informasi. Diniy, Madbuliy, Mesir, 1989, h. 77. Corak dan Metodologi Tafsir1. Corak Matsur (Riwayat) syair Arab. Cukup banyak contoh yang dapat Bermacam-macam metodologi tafsir dan dikemukakan tentang hal ini. Misalnya, Umarcoraknya telah diperkenalkan dan diterapkan ibn Al-Khaththab, pernah bertanya tentang artioleh pakar-pakar Al-Quran. Kalau kita mengamati takhawwuf dalam firman Allah: Auw yakhuzahummetode penafsiran sahabat-sahabat Nabi saw., ala takhawwuf (QS 16:47). Seorang Arab dariditemukan bahwa pada dasarnya —setelah gagal kabilah Huzail menjelaskan bahwa artinya adalahmenemukan penjelasan Nabi saw.— mereka "pengurangan". Arti ini berdasarkan penggunaanmerujuk kepada penggunaan bahasa dan syair- bahasa yang dibuktikan dengan syair pra-Islam.
    • Umar ketika itu puas dan menganjurkan untuk subjektivitas berlebihan. mempelajari syair-syair tersebut dalam rangka Di sisi lain, kelemahan yang terlihat dalam memahami Al-Quran.(2) kitab-kitab tafsir yang mengandalkan metode ini Setelah masa sahabat pun, para tabiin dan adalah: atba at-tabiin, masih mengandalkan metode (a) Terjerumusnya sang mufasir dalam uraian periwayatan dan kebahasaan seperti sebelumnya. kebahasaan dan kesusasteraan yang bertele-tele Kalaulah kita berpendapat bahwa Al-Farra sehingga pesan-pokok Al-Quran menjadi kabur (w. 207 H) merupakan orang pertama yang dicelah uraian itu. mendiktekan tafsirnya Maaniy Al-Quran,(3) maka (b) Seringkah konteks turunnya ayat (uraian dari tafsirnya kita dapat melihat bahwa faktor asbab al-nuzul atau sisi kronologis turunnya ayat- kebahasaan menjadi landasan yang sangat ayat hukum yang dipahami dari uraian nasikh/ kokoh. Demikian pula Al-Thabari (w. 310 H) yang mansukh) hampir dapat dikatakan terabaikan sama memadukan antara riwayat dan bahasa. sekali, sehingga ayat-ayat tersebut bagaikan turun Mengandalkan metode ini, jelas memiliki bukan dalam satu masa atau berada di tengah- keistimewaan, namun juga mempunyai tengah masyarakat tanpa budaya. kelemahan-kelemahan. Bahwa mereka mengandalkan bahasa, Keistimewaannya, antara lain, adalah: serta menguraikan ketelitiannya adalah wajar. (a) Menekankan pentingnya bahasa dalam Karena, di samping penguasaan dan rasa bahasa memahami Al-Quran. mereka masih baik, juga karena mereka ingin (b) Memaparkan ketelitian redaksi ayat ketika membuktikan kemukjizatan Al-Quran dari segi menyampaikan pesan-pesannya. bahasanya. Namun, menerapkan metode ini serta (c) Mengikat mufasir dalam bingkai teks ayat- membuktikan kemukjizatan itu untuk masa kini, ayat, sehingga membatasinya terjerumus dalam agaknya sangat sulit karena —jangankan kita di 2  Lihat Al-Syathibiy, Al-Muwafaqat, Dar Al-Marifah, Beirut, tp. Indonesia ini— orang-orang Arab sendiri sudah th., Jilid II, h. 18. kehilangan kemampuan dan rasa bahasa itu. 3  Muhammad Husain Al-Zahabiy, Al-Tafsir wa Al-Mufassirun, Metode periwayatan yang mereka terapkan Dar Al-Kutub Al-Haditsah, Kairo, 1961, Jilid 1, h. 142.76
    • juga cukup beralasan dan mempunyai si A dan si B, yang tidak jarang berbeda bahkankeistimewaan dan kelemahannya. bertentangan satu dengan lainnya sehingga Metode ini istimewa bila ditinjau dari sudut pesan-pesan ayat terlupakan.informasi kesejarahannya yang luas, serta Cukup beralasan sikap generasi lalu ketikaobjektivitas mereka dalam menguraikan riwayat mengandalkan riwayat dalam penafsiran Al-itu, sampai-sampai ada di antara mereka yang Quran. Karena, ketika itu, masa antara generasimenyampaikan riwayat-riwayat tanpa melakukan mereka dengan generasi para sahabat dan tabiinpenyeleksian yang ketat. Imam Ahmad menilai masih cukup dekat dan laju perubahan sosial danbahwa tafsir yang berdasarkan riwayat, seperti perkembangan ilmu belum sepesat masa kini,halnya riwayat-riwayat tentang peperangan dan sehingga tidak terlalu jauh jurang antara mereka.kepahlawanan, kesemuanya tidak mempunyai Di samping itu, penghormatan kepada sahabat,dasar (yang kokoh).(4) Karena itu, agaknya dalam kedudukan mereka sebagai murid-muridpara pakar riwayat menekankan bahwa "Kami Nabi dan orang-orang berjasa, dan demikian pulahanya menyampaikan dan silakan meneliti terhadap tabiin sebagai generasi peringkat keduakebenarannya".(5) khair al-qurun (sebaik-baik generasi),(6) masih Pegangan ini, secara umum, melemahkan sangat berkesan dalam jiwa mereka. Denganmetode riwayat, walaupun diakui bahwa sanad dari kata lain, pengakuan akan keistimewaan generasisuatu riwayat seringkali dapat ditemukan. Namun, terdahulu atas generasi berikut masih cukupsebagian lainnya tanpa sanad. Yang ditemui mantap.sanadnya pun membutuhkan penelitian yang Kesemua itu sedikit atau banyak berbedacukup panjang untuk menetapkan kelemahan dan dengan keadaan masa sesudahnya apalagi masakesahihannya. Kelemahan lainnya adalah bahwa kini, sehingga menggunakan metode riwayatmufasir seringkali disibukkan dengan pendapat membutuhkan pengembangan, di samping seleksi 4  Lihat Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar, Percetakan 6  Dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa: "Sebaik-baik generasi Al-Manar, 1367 H, Jilid 1, h. 8. adalah generasiku, kemudian disusul oleh sesudahnya (tabiin), 5  Mahmud Al-Syarif, Al-Thabariy Manhajuhu fi Al-Tafsir, Dar lalu disusul lagi oleh sesudahnya, dan sesudah mereka tidak Ukaz, Jeddah, 1984, h. 62. lagi dinamai generasi terbaik." 77
    • yang cukup ketat. satu metode tafsir yang "Mufasirnya berusaha Pengembangan ini tentunya dengan menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Quran dari menggunakan nalar dan dari penalaran lahir berbagai seginya dengan memperhatikan runtutan metode tafsir bi al-ray. ayat-ayat Al-Quran sebagaimana tercantum di 2. Metode Penalaran: Pendekatan dan Corak- dalam mushaf." coraknya Segala segi yang dianggap perlu oleh seorang mufasir tajziiy/tahliliy diuraikan, bermula dari arti a. Metode Tahliliy kosakata, asbab al-nuzul, munasabah, dan lain-lain Banyak cara pendekatan dan corak tafsir yang berkaitan dengan teks atau kandungan ayat. yang mengandalkan nalar, sehingga akan Metode ini, walaupun dinilai sangat luas, namun sangat luas pembahasan apabila kita bermaksud tidak menyelesaikan satu pokok bahasan, karena menelusurinya satu demi satu. Untuk itu, agaknya seringkali satu pokok bahasan diuraikan sisinya akan lebih mudah dan efisien, bila bertitik tolak atau kelanjutannya, pada ayat lain. dari pandangan Al-Farmawi yang membagi Pemikir Aljazair kontemporer, Malik bin Nabi, metode tafsir menjadi empat macam metode, menilai bahwa upaya para ulama menafsirkan Al- yaitu tahliliy, ijmaliy, muqaran dan mawdhuiy.(7) Quran dengan metode tahliliy itu, tidak lain kecuali Terlepas dari catatan-catatan yang dikemukakan dalam rangka upaya mereka meletakkan dasar- menyangkut istilah dan kategorisasinya. dasar rasional bagi pemahaman akan kemukjizatan Yang paling populer dari keempat metode yang Al-Quran.(9) disebutkan itu, adalah metode tahliliy, dan metode Terlepas dari benar tidaknya pendapat Malik mawdhuiy. Metode tahliliy, atau yang dinamai oleh di atas, namun yang jelas, kemukjizatan Al-Quran Baqir Al-Shadr sebagai metode tajziiy,(8) adalah tidak ditujukan kecuali kepada mereka yang tidak 7  Dr. Abdul Hay Al-Farmawiy, Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al- Mathbuat, Beirut, 1980, h. 10. Maudhuiy, Al-Hadharah AlArabiyah, Kairo, Cetakan II, 9  Malik bin Nabi, Le Phenomena Quranique, diterjemahkan ke 1977, h. 23. dalam bahasa Arab oleh Prof. Dr. Abdussabur Syahin dengan 8  Muhammad Baqir Al-Shadr, Al-Tafsir Al-Maudhuiy wa judul Al-Zahirah Al-Quraniyah, Dar Al-Fikr, Lebanon, t.t., Al-Tafsir Al-Tajziiy fi Al-Quran Al-Karim, Dar Al-Tatuf lil h. 58.78
    • percaya. Ia tidak ditujukan kepada umat Islam. atau lebih tepat dalih pembenaran pendapatnyaHal ini dapat dibuktikan dengan memperhatikan dengan ayat-ayat Al-Quran. Selain itu, terasarumusan definisi mukjizat dimana terkandung di sekali bahwa metode ini tidak mampu memberidalamnya unsur tahaddiy (tantangan), sedangkan jawaban tuntas terhadap persoalan-persoalanseorang Muslim tidak perlu ditantang karena yang dihadapi sekaligus tidak banyak memberidengan keislamannya ia telah menerima. Bukti pagar-pagar metodologis yang dapat mengurangikedua dapat dilihat dari teks ayat-ayat yang subjektivitas mufasirnya.berbicara tentang keluarbiasaan Al-Quran yang Kelemahan lain yang dirasakan dalam tafsir-selalu dimulai dengan kalimat "Inkuntum fi raib" tafsir yang menggunakan metode tahliliy dan yangatau "Inkuntum shadiqin". masih perlu dicari penyebabnya —apakah pada Kalau tujuan penggunaan metode tahliliy diri kita atau metode mereka— adalah bahwaseperti yang diungkapkan Malik di atas, maka bahasan-bahasannya dirasakan sebagai "mengikat"terlepas dari keberhasilan atau kegagalan mereka, generasi berikut. Hal ini mungkin karena sifatyang jelas untuk masyarakat Muslim dewasa penafsirannya amat teoretis, tidak sepenuhnyaini, paling tidak persoalan tersebut bukan lagi mengacu kepada penafsiran persoalan-persoalanmerupakan persoalan yang mendesak. Karenanya, khusus yang mereka alami dalam masyarakatuntuk masa kini, pengembangan metode mereka, sehingga uraian yang bersifat teoretis danpenafsiran menjadi amat dibutuhkan, apalagi umum itu mengesankan bahwa itulah pandanganjika kita sependapat dengan Baqir Al-Shadr Al-Quran untuk setiap waktu dan tempat.—ulama Syiah Irak itu— yang menilai bahwametode tersebut telah menghasilkan pandangan- b. Metode Mawdhuiypandangan parsial serta kontradiktif dalam "Istanthiq Al-Quran" ("Ajaklah Al-Qurankehidupan umat Islam.(10) Dapat ditambahkan berbicara" atau "Biarkan ia menguraikanbahwa para penafsir yang menggunakan metode maksudnya") — konon itu pesan Ali ibn Abi Thalib.itu tidak jarang hanya berusaha menemukan dalil Pesan ini, antara lain mengharuskan penafsir untuk merujuk kepada Al-Quran dalam rangka 10  Muhammad Baqir Al-Shadr, op.cit., h. 12. 79
    • memahami kandungannya. Dari sini lahir metode topik yang ditetapkan sebelumnya. Kemudian, mawdhuiy di mana mufasirnya berupaya penafsir membahas dan menganalisis kandungan menghimpun ayat-ayat Al-Quran dari berbagai ayat-ayat tersebut sehingga menjadi satu kesatuan surah dan yang berkaitan dengan persoalan atau yang utuh. Tafsir dalam Era Globalisasi Dr. Abdul Aziz Kamil, mantan Menteri Waqaf sebagai berdialog dengan seluruh manusia dan Urusan Al-Azhar Mesir, dalam bukunya Al- sepanjang masa. Dan tentunya, pemahaman Islam wa Al-Mustaqbal menyinggung tentang manusia —termasuk terhadap Al-Quran— hal-hal yang menjadi penekanan sementara akan banyak dipengaruhi oleh budaya dan penulis Islam baik Muslim maupun non-Muslim perkembangan masyarakatnya. Bahkan lebih tentang apa yang dinamai "Al-Islam Al-Iqlimiy". jauh dari itu, dalam Al-Quran sendiri terdapat Hal itu berarti bahwa setiap wilayah (kawasan perbedaan-perbedaan, akibat perbedaan atau lokasi) mengambil corak dan bentuk yang masyarakat yang ditemuinya. Hal ini dapat berbeda dengan lainnya, akibat perbedaan agama dirasakan dari adanya apa yang dinamai Al-Ahruf dan peradaban yang pernah hidup dan dianut Al-Sabah yang oleh sementara ulama dipahami oleh penduduk kawasan tersebut, sehingga sebagai adanya perbedaan bahasa atau dialek pemahamannya terhadap Islam dipengaruhi yang dibenarkan Allah akibat kesulitan-kesulitan sedikit atau banyak dengan budaya setempat. masyarakat (suku) tertentu dalam membacanya Kalau pendapat di atas dapat diterima, itu bila hanya terbatas dalam satu bahasa (dialek) saja. berarti bahwa Islam Indonesia dapat berbeda Demikian juga halnya dengan perbedaan qiraat dengan Islam di negara-negara lain, akibat yang dikenal luas dewasa ini. perbedaan budaya dan peradaban. Namun demikian, hemat penulis, tidaklah Dari satu sisi, apa yang ditekankan di atas ada wajar untuk menonjolkan segi-segi perbedaan benarnya dan dapat diperkuat dengan kenyataan tersebut, yang pada akhirnya menciptakan tafsir yang berkaitan dengan Al-Quran yang diyakini Al-Quran ala Indonesia, Mesir, atau kawasan lain.80
    • Ketidakwajaran ini bukan saja disebabkan oleh untuk membumikan Al-Quran, menjadikannyaadanya sekian banyak persamaan dalam bidang menyentuh realitas kehidupan. Kita semuapandangan hidup umat Islam —akidah, syariah, berkewajiban memelihara Al-Quran dandan akhlak— yang tentunya harus mempengaruhi salah satu bentuk pemeliharaannya adalahpemikiran-pemikiran mereka sehingga dapat memfungsikannya dalam kehidupan kontemporermelahirkan persamaan pandangan dalam banyak yakni dengan memberinya interpretasi yangbidang. Tetapi juga, dan yang tidak kurang sesuai tanpa mengorbankan teks sekaligus tanpapentingnya, adalah karena kita semua hidup dalam mengorbankan kepribadian, budaya bangsa, danera informasi dan globalisasi yang menjadikan perkembangan positif masyarakat.dunia kita semakin menyempit dan penduduknya Dalam kesempatan yang sangat terbatas ini,saling mempengaruhi. penulis ingin menggarisbawahi dua persoalan Diakui bahwa setiap masyarakat mempunyai pokok, yang berkaitan dengan dasar penafsiran,kekhususan-kekhususan. Nah, apakah ciri tanpa menutup mata terhadap dasar-dasar lain.masyarakat Indonesia, yang membedakannya darimasyarakat-masyarakat lain dan yang mungkin 1. Asbab Al-Nuzulakan menjadi bahan pertimbangan untuk Al-Quran tidak turun dalam satu masyarakatmeletakkan dasar-dasar penafsiran itu? yang hampa budaya. Sekian banyak ayatnya Ada yang berpendapat bahwa kekhususan oleh ulama dinyatakan sebagai harus dipahamitersebut adalah keberadaannya sebagai dalam konteks sebab nuzul-nya. Hal ini berartimasyarakat plural. Tetapi, walaupun hal tersebut bahwa arti "sebab" dalam rumusan di atas —benar, hal ini bukan merupakan sesuatu yang walaupun tidak dipahami dalam arti kausalitas,khas Indonesia. Masyarakat Mesir, Syria, dan sebagaimana yang diinginkan oleh mereka yangIndia, misalnya, juga merupakan masyarakat berpaham bahwa "Al-Quran qadim"— tetapiplural di mana berbagai etnis dan agama hidup paling tidak ia menggambarkan bahwa ayat yangberdampingan dengan segala suka-dukanya. turun itu berinteraksi dengan kenyataan yang ada Menjadi kewajiban semua umat Islam dan dengan demikian dapat dikatakan bahwa 81
    • "kenyataan" tersebut mendahului atau paling tidak asbab al-nuzul dan pemahaman ayat seringkali bersamaan dengan keberadaan ayat yang turun di hanya menekankan kepada peristiwanya dan pentas bumi itu. mengabaikan "waktu" terjadinya —setelah terlebih Dalam kaitannya dengan asbab al-nuzul, dahulu mengabaikan pelakunya— berdasarkan mayoritas ulama mengemukakan kaidah al-ibrah kaidah yang dianut oleh mayoritas tersebut. bi umum al-lafzh la bi khushush al-sabab (patokan Para penganut paham al-ibrah bi khushush dalam memahami ayat adalah redaksinya yang al-sabab, menekankan perlunya analogi (qiyas) bersifat umum, bukan khusus terhadap (pelaku) untuk menarik makna dari ayat-ayat yang memiliki kasus yang menjadi sebab turunnya); sedangkan latar belakang asbab al-nuzul itu, tetapi dengan sebagian kecil dari mereka mengemukakan kaidah catatan apabila qiyas tersebut memenuhi syarat- sebaliknya, al-ibrah bi khushush al-sabab la bi syaratnya.(11) Pandangan mereka ini, hendaknya umum al-lafzh (patokan dalam memahami ayat dapat diterapkan tetapi dengan memperhatikan adalah kasus yang menjadi sebab turunnya, bukan faktor waktu, karena kalau tidak, ia menjadi tidak redaksinya yang bersifat umum). relevan untuk dianalogikan. Bukankah, seperti Di sini perlu kiranya dipertanyakan: "Bukankah dikemukakan di atas, ayat Al-Quran tidak turun akan lebih mendukung pengembangan tafsir jika dalam masyarakat hampa budaya dan bahwa pandangan minoritas di atas yang ditekankan?" "kenyataan mendahului/ bersamaan dengan Tentunya, jika demikian, maka perlu diberikan turunnya ayat"? beberapa catatan penjelasan sebagai berikut: Analogi yang dilakukan hendaknya tidak Seperti diketahui setiap asbab al-nuzul terbatas oleh analogi yang dipengaruhi oleh logika pasti mencakup: (a) peristiwa, (b) pelaku, dan formal (al-manthiq, al-shuriy) yang selama ini (c) waktu. Tidak mungkin benak akan mampu banyak mempengaruhi para fuqaha kita. Tetapi, menggambarkan adanya suatu peristiwa yang analogi Yang lebih luas dari itu, yang meletakkan tidak terjadi dalam kurun waktu tertentu dan tanpa di pelupuk mata al-mashalih al-mursalah dan pelaku. 11  Muhammad Abdul Azhim Al-Zarqaniy, Manahil Al-Irfan, Sayang, selama ini pandangan menyangkut Al-Halabiy, Mesir, Cet. III, 1980 Jilid I h. 125.82
    • yang mengantar kepada kemudahan pemahaman ganjalan-ganjalan dalam pemikiran, apalagiagama, sebagaimana halnya pada masa Rasul dan ketika pemahaman tersebut dihadapkan denganpara sahabat."(12) kenyataan sosial, hakikat ilmiah, atau keagamaan. Qiyas yang selama ini dilakukan menurut Dahulu, sebagian ulama merasa puas denganRidwan Al-Sayyid adalah berdasarkan rumusan menyatakan bahwa "Allahu alam bi muradihi"Imam Al-Syafii, yaitu "Ilhaq fari bi ashl li ittihad (Allah yang mengetahui maksud-Nya). Tetapi, inial-illah", yang pada hakikatnya tidak merupakan tentunya tidak memuaskan banyak pihak, apalagiupaya untuk mengantisipasi masa depan, dewasa ini. Karena itu, sedikit demi sedikit sikaptetapi sekadar membahas fakta yang ada untuk seperti itu berubah dan para mufasir akhirnyadiberi jawaban agama terhadapnya dengan beralih pandangan dengan jalan menggunakanmembandingkan fakta itu dengan apa yang tawil, tamsil, atau metafora. Memang, literalismepernah ada.(13) seringkali mempersempit makna, berbeda dengan Pengertian asbab al-nuzul dengan demikian pen-tawil-an yang memperluas makna sekaligusdapat diperluas sehingga mencakup kondisi sosial tidak menyimpang darinya.pada masa turunnya Al-Quran dan pemahamannya Al-Jahiz (w. 225 H/868 M), seorang ulamapun dapat dikembangkan melalui kaidah yang beraliran rasional dalam bidang teologi, dinilaipernah dicetuskan oleh ulama terdahulu, dengan sebagai tokoh pertama dalam bidang penafsiranmengembangkan pengertian qiyas. metaforis. Ia tampil dengan gigih memperkenalkan makna-makna metaforis pada ayat-ayat Al-Quran.2. Tawil Dan, dalam hal ini, harus diakui bahwa dia telah Pemahaman literal terhadap teks ayat Al- menghasilkan pemikiran-pemikiran yang sangatQuran tidak jarang menimbulkan problem atau mengagumkan, sehingga mampu menyelesaikan sekian banyak problem pemahaman keagamaan 12  Yusuf Kamil, Al-Ashriyun Mutazilat Al-Yawm, Al-Wafa Al-Mansurah, Mesir, 1985, h. 22. atau ganjalan-ganjalan yang sebelumnya dihadapi 13  Ridhwan Al-Sayyid, Al-Islam Al-Muashir, Nazat fi Al- itu. Hadhir wa Al-Mustaqbal, Dar .Al-Ulum Al-Arabiyah, Beirut, Tokoh lain dalam bidang ini adalah murid Al- 1986, h. 90. 83
    • Jahiz, yakni Ibnu Qutaibah (w. 276 H/889 M). Tokoh (mempunyai lebih dari satu makna) yang kesemua ini bukanlah penganut aliran rasional (Mutazilah) maknanya dapat digunakan bagi pengertian teks dan bahkan dinilai sebagai "juru bicara Ahl Al- tersebut selama tidak bertentangan satu dengan Sunnah".(14) Namun, dia menempuh cara-cara lainnya. gurunya dan mengembangkannya dalam rangka Aliran tafsir Muhammad Abduh memahami teks-teks keagamaan. mengembangkan lagi syarat pen-tawil-an, Tentunya kita tidak dapat menggunakan tawil sehingga ia lebih banyak mengandalkan akal, tanpa didukung oleh syarat-syarat tertentu. Al- sedangkan faktor kebahasaan dicukupkannya Syathibi mengemukakan dua syarat pokok bagi selama ada kaitan makna pentawil-an dengan kata pen-tawil-an ayat-ayat Al-Quran: yang di-tawil-kan. Karena itu, kata Jin yang berarti Pertama, makna yang dipilih sesuai dengan "sesuatu yang tertutup", diartikan oleh muridnya hakikat kebenaran yang diakui oleh mereka yang Rasyid Ridha sebagai kuman yang tertutup (tidak memiliki otoritas. terlihat oleh pandangan mata).(15) Pendapat ini Kedua, arti yang dipilih dikenal oleh bahasa mirip dengan pendapat Bint Al-Syathi yang secara Arab klasik. tegas menyatakan bahwa "Pengertian kata Jin Syarat yang dikemukakan ini, lebih longgar dari tidak harus dipahami terbatas pada apa yang biasa syarat kelompok Al-Zhahiriyah yang menyatakan dipahami tentang makhluk-makhluk halus yang bahwa arti yang dipilih tersebut harus telah dikenal tampak pada saat ketakutan seseorang di waktu secara populer oleh masyarakat Arab pada masa malam atau dalam ilusinya. Tetapi, pengertiannya awal. dapat mencakup segala jenis yang bukan manusia Dalam syarat Al-Syathibi di atas, terbaca yang hidup di alam-alam yang tidak terlihat, tidak bahwa popularitas arti kosakata tidak disinggung terjangkau, dan yang berada di luar alam manusia lagi. Bahkan lebih jauh Al-Syathibi menegaskan di mana kita berada."(16) bahwa kata-kata yang bersifat ambigus/musytarak 15  Muhammad Rasyid Ridha, op.cit., Jilid III, h. 95. 16  Aisyah Abdurrahman (Bint Al-Syathi) Al-Quran wa 14  Prof. Dr. Muhammad Rajab Al-Bayyumi, Khathawat Al- Qadhaya Al-Insan, Dar Al-Ilm li Al-Malayin, Beirut, 1982, Tafsir Al-Bayaiy, Majma Al-Buhuts, Kairo, 1971, h. 92. h. 887.84
    • Tawil, sebagaimana dikemukakan di atas,akan sangat membantu dalam memahami danmembumikan Al-Quran di tengah kehidupanmodern dewasa ini dan masa-masa yang akandatang. Sebelum menutup persoalan ini, perlu kitagarisbawahi bahwa tidaklah tepat men-tawil-kan suatu ayat, semata-mata berdasarkanpertimbangan akal dan mengabaikan faktorkebahasaan yang terdapat dalam teks ayat,lebih-lebih bila bertentangan dengan prinsip-prinsip kaidah kebahasaan. Karena, hal ini berartimengabaikan ayat itu sendiri. 85
    • 86
    • Tafsir dan Modernisasi Al-Quran memperkenalkan dirinya antara lain apa yang dapat mengantar mereka menuju terang 10sebagai hudan li al-nas dan sebagai Kitab yang benderang.diturunkan agar manusia keluar dari kegelapan Di sisi lain, Al-Quran menggambarkanmenuju terang benderang (QS 14:1). Salah satu masyarakat ideal sebagai: tanaman yangayatnya menjelaskan bahwa manusia tadinya mengeluarkan tunasnya, maka tunas itumerupakan satu kesatuan (ummatan wahidah), menjadikan tanaman tadi kuat, lalu menjaditetapi sebagai akibat lajunya pertumbuhan besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya.penduduk serta pesatnya perkembangan Tanaman itu menyenangkan hati penanam-masyarakat, maka timbullah persoalan-persoalan penanamnya ... (QS 48:29).baru yang menimbulkan perselisihan dan silang Penggalan ayat ini menggambarkan betapapendapat. Sejak itu, Allah mengutus nabi-nabi dan masyarakat ideal tersebut terus-menerus berubahmenurunkan Kitab Suci, agar mereka —melalui dan berkembang menuju kesempurnaannya.Kitab Suci tersebut— dapat menyelesaikan Kalau gambaran di atas dikaitkan dengan hakikatperselisihan mereka serta menemukan jalan keluar kemodernan yang —antara lain— bercirikanbagi penyelesaian problem-problem mereka (QS dinamika dan perubahan terus-menerus, serta2:213). dikaitkan dengan fungsi Kitab Suci seperti Agar Al-Quran berguna sesuai dengan fungsi- yang dijelaskan sebelumnya, maka kita dapatfungsi yang digambarkan di atas, Al-Quran berkesimpulan bahwa Al-Quran menganjurkanmemerintahkan umat manusia untuk mempelajari pembaruan atau —dalam bahasa hadis Rasulullahdan memahaminya (baca antara lain QS 38:29), saw.— tajdid, atau istilah lainnya "modernisasi"sehingga mereka dapat menemukan —melalui atau "reaktualisasi".petunjuk-petunjuknya yang tersurat dan tersirat—
    • Arti Tajdid atau Modernisasi Walaupun semua ulama mengakui dan menghidupkan kembali ajaran agama seperti menyadari perlunya tajdid, terlepas apakah mereka yang dipahami dan diterapkan pada masa al-salaf menilai sahih atau tidak hadis yang diriwayatkan al-awwal." Abu Daud dari sahabat Abu Hurairah,(1) namun Sebaliknya, ada pula yang memahami tajdid —dalam pengertiannya serta pengalamannya— sebagai "usaha untuk menyesuaikan ajaran agama telah terjadi perbedaan-perbedaan yang tidak dengan kehidupan kontemporer dengan jalan kecil. men-tawil-kan atau menafsirkannya sesuai dengan Busthami Muhammad Said(2) misalnya, perkembangan ilmu pengetahuan serta kondisi menyimpulkan pengertian tajdid seperti yang sosial masyarakat."(4) dikemukakan oleh Sahl Al-Shaluki (w. 387 Hemat kita, memahami ajaran-ajaran agama H) sebagai "Mengembalikan ajaran agama atau menafsirkan Al-Quran sebagaimana sebagaimana keadaannya pada masa salaf dipahami dan ditafsirkan al-salaf tidak sepenuhnya pertama" (iadah al-din ila ma kana alayhi ahd benar. Ini bukan saja karena Al-Quran harus al-salaf al-shalih). Sementara itu, Ahmad ibn diyakini berdialog dengan setiap generasi serta Hanbal memahami pengertian tajdid sebagai memerintahkan mereka untuk mempelajari dan "penyebarluasan ilmu".(3) Dengan menggabungkan memikirkannya. Sementara itu, hasil pemikiran keduanya, diperoleh suatu rumusan bahwa pasti dipengaruhi oleh sekian faktor, antara lain tajdid tidak lain kecuali "menyebarluaskan dan pengalaman, pengetahuan, kecenderungan, serta latar belakang pendidikan yang berbeda antara 1  Hadis tersebut berbunyi: Inna Allah yabatsu lihadzihi al- generasi dan generasi lainnya, bahkan antara ummah ala rasi kulli miah sanah man yujaddidu laha dinaha. Lihat Sunan Abi Daud tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul pemikir dan pemikir lainnya pada suatu generasi. Hamid, Al-Tijariyah Al-Kubra, Kairo, 1953; jilid IV, h. 109. Tapi juga karena memaksa satu generasi untuk 2  Lihat Busthami Muhammad Said, Mafhum Tajdid Al-Din, 4  Abu Al-Hasan Al-Nadawi, Al-Syura Bayn Al-Fikrah Dar Al-Dawah, Kuwait, cet. 1, 1984. Al-Islamiyyah wa Al-Fikrah Al-Gharbiyyah, Maktabah Al- 3  Ibid., h. 25. Taqaddum, Kairo, cet.III, 1977, h. 71.88
    • mengikuti "keseluruhan" hasil pemikiran generasi Sebagai contoh dikemukakan berikutmasa lampau mengakibatkan kesulitan bagi ini pandangan Al-Maududi: "Tidak dapatmereka. Ini tidak sejalan dengan ciri agama serta disangkal bahwa manusia, dengan kedalamantidak sejalan pula dengan hakikat masyarakat yang pengetahuannya tentang alam dan hakikat-senantiasa mengalami perubahan. hakikat ilmiah, menyebabkan bertambah dalam Di pihak lain, melakukan tajdid dengan jalan pula pemahamannya tentang makna-makna Al-menghapus atau membatalkan ajarannya, pada Quran. Tetapi, hal ini bukan berarti bahwa ia telahhakikatnya menghilangkan ciri ajaran Al-Quran memahami Al-Quran melebihi pemahaman Nabiyang dinilai "selalu sesuai dengan setiap masa dan dan murid-muridnya (sahabat) yang memperolehtempat." Selain itu, menafsirkan dan men-tawil- pemahaman tersebut dari Nabi saw."(5)kannya sejalan dengan perkembangan masyarakat Pendapat Al-Maududi di atas, walaupunatau penemuan ilmiah tanpa seleksi mengandung kelihatannya berbeda dengan pendapat Al-bahaya yang tidak kecil. Ini karena perkembangan Syathibi (1143-1194), namun hakikatnya sama.masyarakat dapat merupakan akibat potensi positif Menurut Al-Syathibi, "Syariat bersifat ummiyah,manusia dan dapat juga sebaliknya. Demikian tidak boleh dipahami kecuali sebagaimanapula dengan penemuan ilmiah: ada yang bersifat pemahaman para sahabat Nabi saw."(6)objektif dan telah mapan dan ada pula yang Kita tidak menolak bahwa para sahabatsebaliknya. adalah "murid-murid" Nabi, tetapi tidak semua Atas dasar ini, diperlukan beberapa catatan pendapat mereka bersumber dari Nabi. Ini terbuktiterhadap ide-ide sementara pemikir atau ulama dengan adanya perbedaan pendapat di antarakontemporer. Mereka, walaupun semuanya mereka, bahkan di antara mereka ada yang keliruberbicara tentang tajdid atau modernisasi, berbeda memahami arti ayat-ayat Al-Quran. Adi ibn Hatim,pendapat mengenai batas-batasnya: di satu pihak 5  Abu Al-Ala Al-Maududi, Al-Islam fi Muwajahat Al-ada yang membatasinya sehingga tidak mencapai Tahaddiyat Al-Muashirah, Dar Al-Qalam, Kuwait, 1974, h.apa yang diharapkan, dan di pihak lain ada yang 187. 6  Abu Ishaq Al-Syathibi, Al-Muwafaqat, tahqiq Syaikh Abdullahmelampaui batas sehingga menyerempet bahaya. Darraz, Al-Tijariyah Al-Kubra, Kairo, t.t. jilid II h. 82. 89
    • misalnya, memahami arti al-khaith al-abyadh min ayat yang menggunakan redaksi-redaksi majazi al-khaith al-aswad (QS 2:187), dengan arti hakiki (metaforis) dan mempunyai makna-makna (benang).(7) simbolis. Al-Quran —katanya lebih jauh— memiliki Kalau pendapat Al-Maududi tidak sepenuhnya banyak ayat mutasyabih, sehingga bila redaksinya diterima, maka demikian pula pendapat aliran lain tidak dipahami secara metaforis, maka akan terjadi semacam pandangan Muhammad Asad. Menurut kekeliruan dalam memahami jiwa ajaran Al-Quran.(8) Asad, kunci utama memahami Al-Quran adalah Tetapi, apakah benar dalam Al-Quran ayat ketujuh surah Ali Imran, Huwa alladzi anzala terdapat "banyak" ayat mutasyabih? Dan apakah alaika al-kitab minhu ayat muhkamat hunna umm mutasyabih dapat di-tawil-kan sebagaimana al-kitab wa ukharu mutasyabihat. Menurut Asad, cara yang ditempuh itu, sehingga pada akhirnya ayat inilah yang menjadikan risalah Al-Quran hilanglah supra rasionalitas dalam ajaran agama mudah dicerna bagi mereka yang menggunakan (mukjizat tidak menjadi mukjizat lagi, malaikat pikirannya, karena al-mutasyabih adalah ayat- di-tawil-kan menjadi "hukum alam" atau bisikan 7  Dalam riwayat Bukhari dinyatakan bahwa Adi meletakkan hati nurani, dan sebagainya)? Tidak, ini yang tali (benang) hitam dan putih di bawah bantalnya. Lihat Shahih Al-Bukhari Kitab Al-Shaum, Sulaiman Mariy, melampaui batas, tidak pula yang sebelumnya Singapura t.t., jilid I, h. 328. Dalam riwayat lain Nabi yang sangat terbatas, yang kita pahami sebagai bersabda kepadanya: Inna wisadataka izan laaridh (kalau demikian bantalmu panjang sekali). Lihat Muhammad bin tajdid atau modernisasi dalam bidang tafsir. Muhammad bin Sulaiman dalam Jam Al-Fawaid min Jami 8  Lihat Muhammad Asad dalam The Message of Quran, II, Al-Ushul wa MajmaAl-Zawaid, Abdullah Hasyim Al-Yamani, sebagaimana dikutip oleh Busthami Muhammad Said, op. cit., Madinah, 1961, jilid II, h. 178. h. 178. Pandangan tentang Modernisasi Tafsir Berikut ini beberapa pokok pandangan yang Sahabat dapat dijadikan pegangan dalam rangka tajdid Seorang mufasir tidak dapat mengabaikan atau modernisasi dalam bidang tafsir. hadis-hadis Rasulullah dan pendapat sahabat. Penafsiran yang paling ideal adalah tafsir bi 1. Hadis-hadis dan Pendapat-pendapat almatsur, yakni yang berlandaskan ayat, hadis, dan90
    • pendapat sahabat dalam menafsirkan Al-Quran. (b) Hubungan kelaziman (talazum) seperti Hanya saja, ini bukan berarti bahwa penafsiran penafsiran uduni (dalam QS 40:60) denganmereka tidak dapat dikembangkan maknanya. "beribadat";Penafsiran Nabi saw., demikian pula sahabat, dapat (c) Hubungan cakupan (tadhamun), sepertidibagi dalam dua kategori: (1) la majala li al-aql penafsiran al-akhirat (dalam QS 14:27) denganfihi (masalah yang diungkapkan bukan dalam "kubur";wilayah nalar), seperti masalah-masalah metafisika, (d) Hubungan percontohan (tamtsil), sepertiperincian ibadah, dan sebagainya; dan (2) fi majal penafsiran al-maghdhub alayhim (dalam surahal-aql (dalam wilayah nalar), seperti masalah- Al-Fatihah) dengan "orang-orang Yahudi", dalammasalah kemasyarakatan. arti bahwa beliau menafsirkannya dengan orang Yang pertama, apabila nilai riwayatnya Yahudi sebagai contoh yang beliau angkat darisahih, diterima sebagaimana adanya tanpa masyarakat ketika itu, sehingga tidak menutuppengembangan, karena sifatnya yang berada kemungkinan untuk diberikan penafsiran laindi luar jangkauan akal. Adapun yang kedua, dalam bentuk contoh-contoh yang mungkinwalaupun harus diakui bahwa penafsiran Nabi ditemukan dalam masyarakat-masyarakat lain.saw. adalah benar adanya, namun penafsiran Di samping keragaman penafsiran sepertitersebut harus didudukkan pada proporsinya yang yang dikemukakan di atas, hadis-hadis Nabi puntepat. Ini karena sifat penafsiran beliau sangat dapat ditinjau dari berbagai segi, sejalan denganbervariasi, baik dari segi motif penafsiran, yang kedudukan beliau ketika mengucapkan ataudapat berbentuk tarif atau irsyad atau tashhih, dan memperagakannya.sebagainya, maupun hubungan antara ayat yang Al-Qarafi(9) membagi sikap atau ucapan Nabiditafsirkan dengan penafsiran yang juga beraneka saw. dalam empat kategori, yaitu dalam kedudukanragam. Hubungan itu terkadang berbentuk: beliau sebagai: (1) Rasul; (2) Mufti; (3) Qadhi; dan (a) Hubungan padanan (tathabuq), seperti 9  Al-Qarafi, Al-Ahkam fi Tamyiz Al-Fatawa an Al-Ahkam wapenafsiran al-shalat al-wustha dengan "shalat Tasharrufat Al-Qadhi wa Al-Imam, tahqiq Abdul Fattah Abu Ghuddah, Al-Mathbaat Al-Islamiyyah, Halab, Suria, 1967, h.Ashar"; 86, dan seterusnya. 91
    • (4) Imam (pemimpin negara atau masyarakat). yang bersifat qathiy al-dalalah, namun yang jelas Pembagian di atas dapat ditambah dengan (5) apabila satu ayat telah dinilai demikian, maka sebagai pribadi. tidak ada lagi tempat bagi suatu interpretasi baru Hadis-hadis yang berkaitan dengan kedudukan baginya. Adapun yang sifatnya zhanniy, maka ia beliau sebagai pemimpin masyarakat tentunya merupakan lahan garapan para ulama dan pemikir berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat beliau, hingga akhir zaman dan dari sinilah kemudian sehingga pemahamannya harus dikaitkan dengan timbul ide pembedaan antara Syariat dan fiqih. kondisi sosial ketika itu. Ahmad Abu Al-Majd menulis, "Kita harus Adapun pendapat-pendapat sahabat, maka menekankan keharusan pembedaan antara Syariat apabila permasalahan yang dikemukakannya dan fiqih: Syariat adalah sesuatu yang langgeng termasuk fi ma la majal li al-aql fih (bukan dan ditetapkan berdasarkan nash-nash qathiy kalam wilayah nalar), maka ia fi hukm al-murfu baik dari segi wurud-nya (keaslian sumbernya) (bersumber dari Nabi saw.) sehingga ia diterima maupun dari segi dilalah-nya (pengertiannya); sebagaimana adanya. Sedangkan bila sifatnya tidak sedangkan fiqih adalah penafsiran terhadap nash- demikian, maka ia hanya dipertimbangkan, dipilah, nash."(11) Selanjutnya ia menekankan: "Kelirulah dan dipilih mana yang sesuai dan mana yang tidak. mereka yang berkata bahwa generasi lampau 2. Pembedaan antara yang Qathiy dan yang tidak lagi menyisihkan bagi generasi berikutnya Zhanniy sesuatu apa pun ... Sesungguhnya mereka telah Menurut Al-Syathibi, tidak ada atau sedikit menyisihkan bagi generasi sesudahnya suatu alam/ sekali yang bersifat qathiy dalam dalil-dalil Syariat dunia yang berbeda dengan alam/dunia mereka bila yang dimaksud dengannya adalah tidak ... Pengalaman-pengalaman baru tidak dapat adanya kemungkinan arti lain bagi satu lafal pada diabaikan dengan alasan bahwa pengalaman lama saat ia berdiri sendiri.(10) dapat mencukupi dan menempati tempatnya."(12) Betapapun terdapat perbedaan pendapat 11  Lihat Artikelnya dengan judul "Muwajahat Maa Anashir tentang batas pengertian dan bilangan ayat-ayat Al-Jumud fi Al-Fikr Al-Islamiy Al-Muashir,"dalam majalah Al-Arabiy, Kuwait, no. 222, Mei 1977, h. 22. 10  Al-Syathibi, op. cit., jilid I, h. 35. 12 Ibid.92
    • Nah, dalam pengalaman-pengalaman baru enggan menggunakan tawil atau memberi artiinilah dapat timbul penafsiran-penafsiran baru, metaforis bagi teks-teks keagamaan. Imam Malikbahkan kaidah-kaidah baru yang belum dikenal (w. 795 M), misalnya, enggan membenarkanoleh para pendahulu. Pengalaman masa kini seseorang berkata "langit menurunkan hujan."(13)menunjukkan antara lain: Harus diyakini bahwa sesungguhnya yang (a) Angka kematian dapat ditekan dan rata-rata menurunkannya adalah Allah SWT. Keenggananumur manusia meningkat dibanding tahun-tahun menggunakan tawil ini menjadikan sementarasebelumnya. ulama salaf menduga bahwa batu adalah (b) Janin telah dapat diketahui jenis kelaminnya, makhluk hidup yang berakal, berdasarkan firmanbahkan manusia telah berada dalam pintu gerbang Allah dalam QS 2: 74. Juga ada yang mendugapemilihan jenis kelamin dan genetics engineering bahwa Allah mengutus Nabi-nabi kepada lebah(rekayasa genetis). berdasarkan QS 16:68.(14) Dua contoh di atas menjadikan seseorang Setelah masa al-salaf al-awwal, keadaan telahyang percaya kepada Al-Quran terpaksa meninjau berubah. Hampir seluruh ulama telah mengakuipenafsiran ayat-ayat yang berbicara tentang perlunya tawil dalam berbagai bentuknya. Al-penciptaan Tuhan terhadap manusia serta mafatih Sayuthi; misalnya, menilai majaz sebagai salah satual ghayb yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. bentuk keindahan bahasa.(15) Namun, walaupun Tentunya bukan yang dimaksud di sini mereka telah sepakat menerimanya, perbedaanmengabaikan semua hasil penelitian atau pendapat timbul dalam menetapkan syarat-syaratpendapat para pendahulu, tetapi prinsip yang bagi penggunaannya.sewajarnya dipegang adalah al-muhafazhah ala Kini, sementara orang yang menganggapal-qadim al-shalih wa al-akhdz bi al-jadid al-ashlah 13  Syarif Al-Radhi, Talkhish Al-Bayan, tahqiq Muhammad(berpegang kepada yang lama yang baik, dan Abdul Ghani Hassan, Al-Halabi, Mesir, 1955, h. 11.kepada yang baru yang lebih baik). 14  Al jahiz, Al-Hayawan, tahqiq Abdussalam Harun. Kairo, 3. Penggunaan Tawil dan Metafora 1964, jilid II, h. 128. 15  Al-Sayuthi, Al-Itqan fi Ulum Al-Quran, Al-Azhar, Kairo, Pada masa al-salaf al-awwal, ulama-ulama 1318 H, jilid II, h. 36. 93
    • dirinya sebagai pembaru dalam bidang tafsir, Apa yang dikemukakan ini jelas bertentangan menggunakan pen-tawil-an semata-mata dengan teks ayat dan bertentangan pula berdasarkan penalaran tanpa mengabaikan dengan kaidah kebahasaan. Karena, bahasa kaidah-kaidah kebahasaan. Dr. Mustafa Mahmud, tidak menjadikan janin yang dikandung sebagai misalnya, men-tawil-kan larangan Tuhan wujud penuh, tetapi mengikut kepada ibu yang kepada Adam dan Hawa "mendekati pohon" mengandungnya dan karenanya walaupun sebagai larangan melakukan hubungan seksual.(16) seorang ibu mengandung —berapa pun bayi yang Walaupun salah satu argumentasinya adalah dikandungnya— ia tetap dianggap sebagai wujud argumentasi kebahasaan, namun penafsiran ini tunggal. sangat menggelikan pakar bahasa. Contoh di atas membuktikan kekeliruan pen- Menurut Mustafa, redaksi firman Allah sebelum tawil-an yang dilakukan semata-mata dengan mereka mendekati pohon adalah dalam bentuk menggunakan nalar tanpa pertimbangan kaidah mutsanna (dual), yakni jangan kamu berdua kebahasaan. mendekati pohon ini (QS 2:35). Tetapi, setelah Al-Syathibi mengemukakan dua syarat pokok mereka memakannya (dalam arti melakukan bagi setiap pentawil-an: hubungan seksual), redaksi berikutnya berbentuk (a) Makna yang dipilih sesuai dengan hakikat jamak, yakni Turunlah kamu semua dari surga ... kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian otoritas dalam bidangnya; lainnya (QS 2:36). Hal ini menurutnya, adalah (b) Makna yang dipilih telah dikenal oleh bahwa tadinya Adam dan Hawa hanya berdua, bahasa Arab klasik.(18) tetapi setelah istrinya mengandung janin maka Sementara pembaru dinilai sangat memperluas mereka menjadi bertiga sehingga wajar bila penggunaan tawil, tanpa suatu alasan yang redaksi beralih menjadi bentuk jamak.(17) mendukungnya. Kita dapat memahami motivasi 16  Lihat lebih jauh Abdul Mutaal Muhammad Al-Jabri, sebagian mereka —seperti motivasi Muhammad Syathahat Mushthafa Mahmud, Dar Al-Itisham, Kairo, 1967, Abduh yang menggunakan akal seluas-luasnya h. 119. 17 Ibid. 18  Al-Syathibiy, op. cit., h. 100.94
    • dalam memahami ajaran-ajaran agama, sambil yang dihasilkan oleh potensi positifnya,mempersempit sedapat mungkin wilayah gaib. hasil-hasil penemuan ilmiah yang dapatNamun bila hal ini diperturutkan tanpa batas, dipertanggungjawabkan, kesemuanya harusmaka ia dapat mengakibatkan pengingkaran menjadi pegangan pokok dalam memahamihal-hal yang bersifat supra-rasional, sebagaimana atau menafsirkan ayat-ayat Al-Quran, sehingga,ditemukan dalam pemikiran sementara pembaru. bila pada lahirnya teks bertentangan denganMenggunakan akal sebagai tolok ukur satu- perkembangan dan penemuan ilmiah, maka tidaksatunya dalam memahami teks-teks keagamaan, ada jalan lain kecuali menempuh pen-tawil-an. Halkhususnya tentang peristiwa-peristiwa alam, demikian tentunya lebih baik daripada pengabaiansejarah kemanusiaan dan hal-hal gaib, berarti teks, sebagaimana ia tentunya masih dalammenggunakan sesuatu yang terbatas untuk batas-batas yang dibenarkan Al-Quran dan ulama.menafsirkan perbuatan Tuhan (Zat Yang Mutlak Karena, bukanlah Al-Quran mengenal redaksi yangitu). demikian itu dan ulama pun telah sepakat untuk Tetapi, tentunya ini bukan berarti kita menggunakannya?menerima begitu saja penafsiran-penafsiran yangtidak logis. Apa yang dikemukakan di atas hanyaberarti apabila suatu redaksi sudah cukup jelasserta pemahamannya tidak bertentangan denganakal —walaupun belum dipahami hakikatnya—maka redaksi .tersebut tidak perlu di-tawil-kandengan memaksakan suatu makna yang dianggaplogis. Apa yang dikemukakan di atas juga bukanberarti hanya menggunakan tawil pada ayat-ayat yang telah pernah di-tawil-kan olehpara pendahulu. Perkembangan masyarakat 95
    • 96
    • Penafsiran Ilmiah Al-Quran Al-Quran Al-Karim, yang merupakan sumber mengorbankan prinsip-prinsip pokok ajarannya 11utama ajaran Islam, berfungsi sebagai "Petunjuk (Al-Ushul Al-Ammah) atau mengabaikan perincian-ke jalan yang sebaik-baiknya" (QS 17:9) demi perincian yang tidak termasuk dalam wewenangkebahagiaan hidup manusia di dunia dan ijtihad. Dengan demikian, akan ditemukanakhirat. Petunjuk-petunjuk tersebut banyak yang kebenaran-kebenaran penegasan Al-Quran,bersifat umum dan global, sehingga penjelasan bahwa:dan penjabarannya dibebankan kepada Nabi a. Allah akan memperlihatkan tanda-tandaMuhammad saw. (QS 16:44; 4:105, dan sebagainya). kebesaran-Nya di seluruh ufuk dan pada diri Di samping itu, Al-Quran juga memerintahkan manusia, sehingga terbukti bahwa ia (Al-Quran)umat manusia untuk memperhatikan ayat-ayat adalah benar (baca QS 41:53).Al-Quran (QS 39:18; 47:24), dengan perhatian b. Fungsi diturunkannya Kitab Suci kepadayang, di samping dapat mengantar mereka para Nabi (tentunya terutama Al-Quran), adalahkepada keyakinan dan kebenaran Ilahi, juga untuk memberikan jawaban atau jalan keluar bagiuntuk menemukan alternatif-alternatif baru perselisihan dan problem-problem yang dihadapimelalui pengintegrasian ayat-ayat tersebut masyarakat (baca QS 2:213).dengan perkembangan situasi masyarakat tanpa Perkembangan Penafsiran Ilmiah Dalam rangka pembuktian tentang kebenaran tersebut datang secara bertahap:Al-Quran, wahyu Ilahi ini telah mengajukan a. Seluruh Al-Quran (QS 17:88; 52:34).tantangan kepada siapa pun yang meragukannya b. Sepuluh surah saja dari 114 surahnya (QSuntuk menyusun "semisal" Al-Quran. Tantangan 11:13).
    • c. Satu surah saja (QS 10:38). paling gigih mendukung ide tersebut adalah Al- d. Lebih kurang semisal satu surah saja (QS Ghazali (w. 1059 - 1111 M)(3) yang secara panjang 2:23).(1) lebar dalam kitabnya, Ihya Ulum Al-Din dan Arti semisal mencakup segala macam aspek Jawahir Al-Quran mengemukakan alasan-alasan yang terdapat dalam Al-Quran,(2) salah satu di untuk membuktikan pendapatnya itu. Al-Ghazali antaranya adalah kandungannya yang antara lain mengatakan bahwa: "Segala macam ilmu berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang pengetahuan, baik yang terdahulu (masih ada atau belum dikenal pada masa turunnya. telah punah), maupun yang kemudian; baik yang Dari sini tidaklah mengherankan jika telah diketahui maupun belum, semua bersumber sementara pihak dari kaum Muslim berusaha dari Al-Quran Al-Karim."(4) untuk membuktikan kemukjizatan Al-Quran, atau Hal ini, menurut Al-Ghazali, karena segala kebenaran-kebenarannya sebagai wahyu Ilahi macam ilmu termasuk dalam afal (perbuatan- melalui penafsiran, sesuai dengan perkembangan perbuatan) Allah dan sifat-sifat-Nya. Sedangkan ilmu pengetahuan, walaupun tidak jarang Al-Quran menjelaskan tentang Zat, afal dan sifat- dirasakan adanya "pemaksaan-pemaksaan" dalam Nya. Pengetahuan tersebut tidak terbatas. Dalam penafsiran tersebut yang antara lain diakibatkan Al-Quran terdapat isyarat-isyarat menyangkut oleh keinginan untuk membuktikan kebenaran prinsip-prinsip pokoknya.(5) Hal terakhir ini, antara ilmiah melalui Al-Quran, dan bukan sebaliknya. lain, dibuktikan dengan mengemukakan ayat, Corak penafsiran ilmiah ini telah lama dikenal. "Apabila aku sakit maka Dialah yang mengobatiku" Benihnya bermula pada masa Dinasti Abbasiyah, (QS 26:80). khususnya pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mamun (w. 853 M), akibat penerjemahan 3  Bandingkan dengan Husain Al-Zahabiy, dalam Al-Tafsir wa Al-Mufassirun, Dar Al-Kitab Al-Arabiy, Kairo, 1963, jilid II, kitab-kitab ilmiah. Namun, agaknya, tokoh yang h. 140. 1  Lihat, Abdullah Darraz, Al-Naba Al-Azhim, Tatbhaah Al- 4  Al-Ghazaliy, Ihya Ulum Al-Din, Al-Tsaqafah Al-Islamiyah, Saadah, Mesir 1960, h. 77. Kairo, 1356 H, jilid I, h. 301. 2  Abdul Halim Mahmud, Al-Tafkir Al-Falsafiy fi Al-Islam, Dar 5  Al-Ghazaliy, Jawahir Al-Quran, Percetakan Kurdistan, cet. I, Al-Kitab Al-Lubnaniy, Beirut 1982, h. 57. Mesir, t.t., h. 31-32.98
    • "Obat" dan "penyakit", menurut Al-Ghazali, (1870-1940). Bahkan, sebelumnya, Muhammadtidak dapat diketahui kecuali oleh yang Rasyid Ridha (1865-1935) dengan Tafsir Al-Manar-berkecimpung di bidang kedokteran. Dengan nya, dinilai berusaha juga membuktikan haldemikian, ayat di atas merupakan isyarat tentang tersebut. Ia, menurut penilaian Goldziher, berusahailmu kedokteran. membuktikan bahwa: "Al-Quran mencakup segala Agaknya, ulasan yang dikemukakan ini sukar hakikat ilmiah yang diungkapkan oleh pendapat-untuk dipahami, karena, walaupun diyakini ilmu pendapat kontemporer (pada masanya), khususnyaTuhan tidak terbatas, namun apakah seluruh ilmu- di bidang filsafat dan sosiologi."(7)Nya telah dituangkan dalam Al-Quran? Dan apakah Di lain sisi, Al-Syathibi (w. 1388) merupakansetiap kata yang menyangkut disiplin ilmu telah tokoh yang paling gigih menentang sikap dimerupakan bukti kecakupan pokok disiplin ilmu atas secara berlebih-lebihan pula, sehingga iatersebut di dalamnya? Tentulah berbeda antara mengatakan bahwa "Al-Quran tidak diturunkanilmu dan "kalam". Karenanya, tidak semua yang untuk maksud tersebut,"(8) dan bahwa "Seseorang,diketahui itu diucapkan. dalam rangka memahami Al-Quran, harus Fakhruddin Al-Raziy (1209 M), walaupun tidak membatasi diri menggunakan ilmu-ilmu bantusepenuhnya, sependapat dengan Al-Ghazali. pada ilmu-ilmu yang dikenal oleh masyarakatNamun, kitab tafsirnya, Mafatih Al-Ghayb, dipenuhi Arab pada masa turunnya Al-Quran. Siapa yangdengan pembahasan ilmiah menyangkut filsafat, berusaha memahaminya dengan menggunakanteologi, ilmu alam, astronomi, kedokteran, dan ilmu-ilmu bantu selainnya, maka ia akan sesatsebagainya. Sampai-sampai, kitab tafsirnya atau keliru dan mengatasnamakan Allah dantersebut dinilai secara berlebihan sebagai Rasul-Nya dalam hal-hal yang tidak pernahmengandung segala sesuatu kecuali tafsir.(6) Penilaian yang mirip dengan ini juga diberikan 7  Ignaz Goldziher, Mazahib Al-Tafsir Al-Islamiy, terjemahanoleh Tafsir Al-Jawahir karangan Thantawi jauhari ke dalam bahasa Arab oleh Dr. Abdul Munim Al-Najjar, Al- Sunnah Al-Muhammadiyah, Kairo, 1955, h. 375. 6  Fakhruddin Al-Raziy, Tafsir Mafatih Al-Ghayb, Dar Al-Kutub 8  Al-Syathibiy, Al-Muwafaqat, Dar Al-Marifah, Beirut, tt., jilid Al-Ilmiyyah, Teheran, cet. III, jilid II, h. 215. II, h. 80. 99
    • dimaksudkannya."(9) ilmu-ilmu tersebut yang jelas belum dikenal dan Namun, apa yang dikemukakan oleh Al-Syathibi berkembang dengan pesat sebagaimana yang kita tersebut, juga sukar untuk dipahami, karena alami dewasa ini? kita berkewajiban memahami Al-Quran sesuai Pendapat kedua tokoh yang memiliki reputasi dengan masa sekarang ini sebagaimana wajibnya tinggi di bidang ilmu keislaman dan yang bertolak orang-orang Arab yang hidup di masa dakwah belakang itu, masing-masing mempunyai Muhammad saw.(10) pendukung sejak masa mereka hingga dewasa Di samping itu, bagaimana kita dapat ini, walaupun pendapat yang dipelopori oleh Al- melaksanakan maksud ayat seperti "Apakah Ghazali lebih tersebar akibat faktor-faktor ekstern, mereka tak berpikir", dan sebagainya, yang baik menyangkut konflik yang terjadi di Eropa pada biasanya menjadi fashilah (penutup) ayat-ayat yang abad kedelapanbelas, antara pemuka Kristen dan berbicara tentang biologi, astronomi, dan lainnya, ilmuwan-ilmuwan, maupun kondisi sosial umat apabila kita tidak memahaminya melalui bantuan Islam serta pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan. Untuk mendudukkan persoalan di atas pada 9  Ibid., h. 81-82. 10  Abbas Mahmud Al-Aqqad, Al-Falsafah Al-Quraniyyah, proporsinya yang benar, perlu kiranya ditinjau Dar Al-Hilal, Cairo,tt., h. 180 korelasi antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan. Korelasi antara Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan Hemat penulis, membahas hubungan antara melalui sumbangan yang diberikan kepada Al-Quran dan ilmu pengetahuan bukan dinilai masyarakat atau kumpulan ide dan metode dari banyak atau tidaknya cabang-cabang yang dikembangkannya, tetapi juga pada ilmu pengetahuan yang dikandungnya, tetapi sekumpulan syarat-syarat psikologis dan sosial yang lebih utama adalah melihat: adakah Al- yang diwujudkan, sehingga mempunyai pengaruh Quran atau jiwa ayat-ayatnya menghalangi (positif ataupun negatif) terhadap kemajuan ilmu ilmu pengetahuan atau mendorongnya, karena pengetahuan.(11) kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya diukur 11  Malik bin Nabi, Intaj Al-Mustasyriqin wa Atsaruhu fi Al-Fikr100
    • Sejarah membuktikan bahwa Galileo —ketika Di samping itu, terdapat tuntutan-tuntutanmengungkapkan penemuan ilmiahnya— tidak antara lain:mendapat tantangan dari satu lembaga ilmiah, Jangan bersikap terhadap sesuatu tanpakecuali dari masyarakat di mana ia hidup. Mereka dasar pengetahuan (QS 17:36), dalam arti tidakmemberikan tantangan kepadanya atas dasar menetapkan sesuatu kecuali benar-benar telahkepercayaan agama. Akibatnya, Galileo pada mengetahui duduk persoalan (baca, antara lain, QSakhirnya menjadi korban penemuannya sendiri. 36:17), atau menolaknya sebelum ada pengetahuan Dalam Al-Quran ditemukan kata-kata "ilmu" (baca, antara lain, QS 10:39).—dalam berbagai bentuknya— yang terulang Jangan menilai sesuatu karena faktor eksternalsebanyak 854 kali. Di samping itu, banyak pula apa pun —walaupun dalam pribadi tokoh yangayat-ayat Al-Quran yang menganjurkan untuk paling diagungkan seperti Muhammad saw.menggunakan akal pikiran, penalaran, dan Ayat-ayat semacam inilah yang mewujudkansebagainya, sebagaimana dikemukakan oleh ayat- iklim ilmu pengetahuan dan yang telah melahirkanayat yang menjelaskan hambatan kemajuan ilmu pemikir-pemikir dan ilmuwan-ilmuwan Islampengetahuan, antara lain: dalam berbagai disiplin ilmu. "Tiada yang lebih Subjektivitas: (a) Suka dan tidak suka (baca baik dituntun dari suatu kitab akidah (agama)antara lain, QS 43:78; 7:79); (b) Taqlid atau menyangkut bidang ilmu kecuali anjuranmengikuti tanpa alasan (baca antara lain, QS 33:67; untuk berpikir, ... serta tidak menetapkan suatu2:170). ketetapan yang menghalangi umatnya untuk Angan-angan dan dugaan yang tak beralasan menggunakan akalnya atau membatasinya(baca antara lain, QS 10:36). menambah pengetahuan selama dan di mana saja Bergegas-gegas dalam mengambil keputusan ia kehendaki."(12) Inilah korelasi pertama dan utamaatau kesimpulan (baca, antara lain QS 21:37). antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan. Sikap angkuh (enggan untuk mencari atau Korelasi kedua dapat ditemukan pada isyarat-menerima kebenaran) (baca antara lain QS 7:146). isyarat ilmiah yang tersebar dalam sekian banyak Al-Islamiy Al-Hadits, Dar Al-Marifah, Beirut, cet. VI, h. 123. 12  Al-Aqqad op cit., h. 12. 101
    • ayat Al-Quran yang berbicara tentang alam disembah; (b) manusia dapat menarik kesimpulan raya dan fenomenanya. Isyarat-isyarat tersebut tentang adanya ketepatan-ketepatan yang bersifat sebagiannya telah diketahui oleh masyarakat Arab umum dan mengikat yang mengatur alam raya ini ketika itu.(13) Namun, apa yang mereka ketahui itu (hukum-hukum alam). masih sangat terbatas dalam perinciannya. Redaksi yang digunakan oleh Al-Quran dalam Di lain segi, paling sedikit ada tiga hal yang uraiannya tentang alam raya dan fenomenanya dapat disimpulkan dari pembicaraan Al-Quran itu, bersifat singkat, teliti dan padat, sehingga tentang alam raya dan fenomenanya: pemahaman atau penafsiran tentang maksud Al-Quran memerintahkan atau menganjurkan redaksi-redaksi tersebut sangat bervariasi sesuai manusia untuk memperhatikan dan dengan tingkat kecerdasan dan pengetahuan mempelajarinya dalam rangka meyakini ke-Esa-an masing-masing."(14) dan kekuasaan Tuhan. Dari perintah ini, tersirat Dalam kaitannya dengan butir ketiga ini, kita pengertian bahwa manusia memiliki potensi perlu menggarisbawahi beberapa prinsip pokok: untuk mengetahui dan memanfaatkan hukum- a. Setiap Muslim, bahkan setiap orang, hukum yang mengatur fenomena alam tersebut, berkewajiban untuk mempelajari dan memahami namun pengetahuan dan pemanfaatan ini bukan kitab suci yang dipercayainya. Namun, walaupun merupakan tujuan puncak (ultimate goal). demikian, hal tersebut bukan berarti bahwa Alam raya beserta hukum-hukum yang setiap orang bebas untuk menafsirkan atau diisyaratkannya itu diciptakan, dimiliki, dan menyebarluaskan pendapatnya tanpa memenuhi diatur oleh ketetapan-ketetapan Tuhan yang syarat-syarat yang dibutuhkan guna mencapai sangat teliti. Ia tidak dapat melepaskan diri dari maksud tersebut. ketetapan-ketetapan tersebut kecuali bila Tuhan b. Al-Quran diturunkan bukan hanya khusus menghendakinya. Dari sini, tersirat bahwa: (a) untuk orang-orang Arab ummiyin yang hidup alam raya atau elemen-elemennya tidak boleh pada masa Rasul saw., tidak pula untuk generasi 13  Wahiduddin Khan, Ilme Jadid Ka Challenge, terjemahan 14  Bandingkan dengan, Abdul Azhim Al-Zarqaniy dalam bahasa Arab oleh Dr. Abdussabur Syahin, Al-Mukhtar Al- Manahil Al-Irfan, Al-Halabiy, Kairo 1980, jilid II, h. 356- Islamiy, Kairo 1976, cet. VI, h. 123. 558.102
    • abad keduapuluh ini, tetapi juga untuk seluruh tepat setelah memperhatikan segala aspek yangmanusia hingga akhir zaman. Mereka semua berhubungan dengan ayat tadi.diajak berdialog oleh Al-Quran dan dituntut untuk Dahulu Al-Thabariy (251-310 H), misalnya,menggunakan akalnya. menjadikan syair-syair Arab pra-Islam (jahiliah) c. Berpikir secara modern, sesuai dengan sebagai salah satu referensi dalam menetapkankeadaan zaman dan tingkat pengetahuan arti kata-kata dalam ayat-ayat Al-Quran.(16) Bilaseseorang; tidak berarti menafsirkan Al-Quran apa yang ditempuh Al-Thabariy ini dikaitkansecara spekulatif(15) atau terlepas dari kaidah-kaidah dengan perkembangan ilmu pengetahuan, makapenafsiran yang telah disepakati oleh para ahli di penafsiran tentang ayat Al-Quran dapat saja sesuaibidang ini. dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Atau Nah, kaitan prinsip ini dengan penafsiran dengan kata lain, kita —yang hidup pada masailmiah terhadap ayat-ayat Al-Quran, membawa kini— tidak terikat dengan penafsiran merekakita kepada, paling tidak, tiga hal pula yang perlu yang belum mengenal perkembangan ilmudigarisbawahi, yaitu (1) Bahasa; (2) Konteks ayat- pengetahuan.ayat; dan (3) Sifat penemuan ilmiah. Sebagai contoh, kata alaq (terdapat dalam QS 96:2) tidak mutlak dipahami dengan "darah1. Bahasa yang membeku", karena arti tersebut bukan satu- Disepakati oleh semua pihak bahwa untuk satunya arti yang dikenal oleh masyarakat Arabmemahami kandungan Al-Quran dibutuhkan pada masa pra-Islam atau masa turunnya Al-Quran.pengetahuan bahasa Arab. Untuk memahami Masih ada lagi arti-arti lain seperti "sesuatu yangarti suatu kata dalam rangkaian redaksi suatu bergantung atau berdempet".(17)ayat, seorang terlebih dahulu harus meneliti Dari sini, penafsiran kata itu dengan implantasi,apa saja pengertian yang dikandung oleh kata seperti apa yang dikemukakan oleh embriologtersebut. Kemudian menetapkan arti yang paling 15  Lihat Al-Aqqad, op cit., h. 174, dan Abdul Lathif Al-Subki 16  Lihat Al-Zahabiy, op cit., jilid I, h. 217. dalam Nafahat Al-Quran, Al-Majlis Al-Alahisyyun Al- 17  Al-Raghib Al-Asfahaniy, Mufradat Gharib Al-Quran, Al- Islamiyyah, Kairo, 1964, h. 17. Halabiy, Mesir, 1961, h. 347. 103
    • ketika membicarakan proses kejadian manusia, Disamping kedua metode di atas, perlu pula tidak dapat ditolak. kiranya dipertimbangkan tentang perkembangan Muhammad Abduh berpendapat bahwa arti dari suatu kata. Karena disadari bahwa ketika adalah lebih baik memahami arti kata-kata mendengar atau mengucapkan suatu kata, dalam redaksi satu ayat, dengan memperhatikan maka yang tergambar dalam benak kita adalah penggunaan Al-Quran terhadap kata tersebut bentuk material atau yang berhubungan dengan dalam berbagai ayat dan kemudian menetapkan materinya. Namun, dilain segi, bentuk materi arti yang paling tepat dari arti-arti yang digunakan tadi dapat mengalami perubahan sesuai dengan Al-Quran itu.(18) perkembangan masyarakat dan ilmu pengetahuan. Metode ini, antara lain, ditempuh oleh Hanafi Sebagai contoh, kata "lampu" bagi masyarakat Ahmad dalam tafsirnya ketika memahami bahwa tertentu berarti suatu alat penerang yang terdiri penggunaan kata dhiya untuk matahari dan dari wadah yang berisi minyak dan sumbu nur untuk bulan (QS 10:5). Ini mengandung arti yang dinyalakan dengan api. Namun apa yang bahwa sumber sinar matahari adalah dari dirinya tergambar dalam benak kita dewasa ini tentang sendiri, sedangkan cahaya bulan bersumber dari gambaran material tersebut telah berubah. Yang sesuatu selain dari dirinya (matahari). Pemahaman tergambar dalam benak kita kini adalah listrik. ini ditarik dari penelitian terhadap penggunaan Kita tidak dapat membenarkan seseorang kata dhiya yang terulang —dalam berbagai menafsirkan arti sayyarah (QS 12:10 dan 19; dan bentuknya— sebanyak enam kali dan nur 5: 96) dengan mobil. Walaupun demikian, itulah sebanyak lebih kurang 50 kali.(19) terjemahannya yang secara umum dipakai dewasa ini, karena pada masa lalu, mobil —dalam 18  Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar, Dar Al-Manar, cet. III 1367 H, h. 22. pengertian kita sekarang— belum ada. Namun, 19  Hanafi Ahmad, Al-Tafsir Al-Ilmiy li Al-Ayat Al-Kawniyyah kita dapat membenarkan penafsiran zarrah dalam fi Al-Quran, Dar Al-Maarif, Kairo, cet. II, tt. h. 140-141. Kata dhiya digunakan untuk api, kilat, minyak zaitun, ayat-ayat Al-Quran, dengan atom karena kata ini matahari, Taurat (sebelum diberikan kepada Nabi Musa a.s.), menurut Al-Biqaiy (885 H/ 1480 M), "digunakan dan cahaya. Kesemuanya itu bersumber dari dirinya sendiri dan bukan pantulan cahaya. Jika demikian, cahaya matahari bukan pantulan sebagaimana bulan104
    • untuk menggambarkan sesuatu yang amat kecil menggunakan bentuk muannats (feminin) untukatau ketiadaan."(20) kata al-ankabut (laba-laba), sebagaimana halnya Selain aspek yang dikemukakan di atas, aspek- dengan bentuk-bentuk mufrad (tunggal) dari kata-aspek kebahasaan lainnya pun perlu mendapat kata: namlah, nihlah, dan dawdah (semut, lebah,perhatian. Dr. Mustafa Mahmud, misalnya, dan ulat)".ketika menafsirkan surah Al-Ankabut, ayat 41, Dengan demikian, menurutnya, bentukmengatakan bahwa yang membuat sarang laba- muannats untuk kata al-ankabut dalam ayatlaba adalah betina laba-laba bukan jantannya. ini adalah atas pertimbangan bahasa dan takKarena, katanya, ayat tersebut menggunakan kata ada hubungannya sedikit pun dengan biologi.(22)kerja muannats "ittakhadzat" bukan "ittakhadza" Demikian pula, menetapkan ayat di atas dengan Menurutnya, Al-Quran telah mengisyaratkan berpendapat bahwa sarang laba-laba lebih kuatbahwa tali-temali yang dihasilkan oleh laba-laba daripada baja atau sutera-sutera alam, akandalam membuat sarangnya bukanlah sesuatu yang mengakibatkan runtuhnya ungkapan yang dikenalrapuh, karena penelitian ilmiah membuktikan oleh bahasa Al-Quran, bagi sesuatu Yang sangatbahwa tali-temali tersebut, dalam kadar yang rapuh yakni sarang laba-laba, sehingga jikasama, lebih kuat daripada baja atau sutera-sutera penafsiran yang diungkapkan itu benar, maka akanalam.(21) kelirulah redaksi Al-Quran dan kandungannya yang Prof. Dr. Aisyah Abdurrahman binti Al-Syathi, mengatakan bahwa (serapuh-rapuh rumah tempatGuru Besar Studi Ilmu-ilmu Al-Quran Universitas berlindung adalah sarang laba laba)."(23)Qarawiyin di Maroko, serta Sastra Bahasa Arab Dari sini dapat dipahami mengapa ulama-di Universitas Kairo, menanggapi pendapat di ulama Tafsir berkesimpulan bahwa "tidak wajaratas. Ia menyatakan: "Para pelajar bahasa Arab kita beralih dari pengertian hakiki suatu katatingkat pertama mengetahui bahwa bahasa ini kepada pengertian kiasan (majazi), kecuali bila 20  Ibrahim bin Umar Al-Biqaiy, Nazm Al-Durar, Dar Al- Salafiah, Bombay, 1976, jilid V, h. 281. 22  Aisyah Abdurrahman, Al-Quran wa Qadhaya Al-Insan, 21  Mustafa Mahmud, Al-Quran Muhawalah li Fahmi Ashriy, Dar Al-Ilmi li Al-Malayin, Beirut, 1982, cet. V, h. 329. Dar Al-Maarif, Kairo, 1970, h. 211-212. 23  Ibid., h. 361. 105
    • terdapat tanda-tanda yang jelas yang menghalangi akan menerjemahkan dan memahami arti lawaqi pengertian hakiki tersebut".(24) dengan "mengawinkan (tumbuh-tumbuhan)".(25) Dengan demikian, kita dapat mentoleransi Namun, bila diperhatikan dengan seksama bahwa (walaupun tidak sependapat dengan) para ahli kata tersebut berhubungan dengan kalimat yang memahami ayat 37 surah Fushshilat, atau berikutnya, maka hubungan sebab dan akibat ayat 33 surah Al-Anbiya; yang berbicara tentang atau hubungan kronologis yang dipahami dari matahari dan bulan, malam dan siang, kemudian huruf fa pada fa anzalna tentunya pengertian menggunakan kata ganti hunna yang berbentuk "mengawinkan tumbuh-tumbuhan", melalui jamak (plural), bahwa terdapat sekian banyak argumentasi tersebut, tidak akan dibenarkan. matahari dan bulan di alam raya. Tetapi, adalah Karena, tidak ada hubungan sebab dan akibat tidak wajar jika kita menetapkan suatu pengertian antara perkawinan tumbuh-tumbuhan dengan terhadap satu kata atau ayat terlepas dari turunnya hujan —juga "jika pengertian itu yang konteks kata tersebut dengan redaksi ayat secara dikandung oleh arti fa anzalna min al-sama keseluruhan dan dengan konteksnya dengan ayat- maa", maka tentunya lanjutan ayat tadi adalah ayat yang lain. "maka tumbuhlah tumbuh-tumbuhan dan siaplah buahnya untuk dimakan manusia".(26) 2. Konteks antara Kata atau Ayat Demikian pula hubungan antara satu ayat Memahami pengertian satu kata dalam dengan ayat yang lain. rangkaian satu ayat tidak dapat dilepaskan dari Sebelum dinyatakan bahwa ayat 88 surah konteks kata tersebut dengan keseluruhan kata- Al-Naml, ... dan engkau lihat gunung-gunung kata dalam redaksi ayat tadi. Seseorang yang tidak itu kamu sangka tetap pada tempatnya, padahal memperhatikan hubungan antara arsalna al-riyah ia berjalan sebagaimana jalannya awan ..., lawaqi dengan fa anzalna min aisama maa (QS mengemukakan tentang "teori gerakan bumi, 15:22), yakni hubungan antara lawaqi dan maa 25  Lihat Al-Quran dan Terjemahannya, Departemen 24  Muhammad Ahmad Al-Gamrawiy, Al-Islam fi Ashr Al- Agama,Yayasan Penyelenggara Penerjemahan/Penafsir Al- Ilmiy, Dar Al-Kutub Al-Haditsah Al-Saadah Kairo 1978, h. Quran, 1967, h. 392. 375. 26  Al-Gamrawiy, op cit., h. 405.106
    • baik mengenai peredarannya mengelilingi dari segi kata demi kata, ayat demi ayat, makamatahari maupun gerakan lapisan pada perut pemahaman atau penafsiran ayat-ayat Al-bumi",(27) terlebih dahulu harus dipahami konteks Quran yang berhubungan dengan satu cabangayat ini dengan ayat-ayat sebelum dan ayat-ayat ilmu pengetahuan —bahkan semua ayat yangsesudahnya dan dibuktikan bahwa keadaan yang berbicara tentang suatu masalah dari berbagaidibicarakan adalah keadaan di bumi kita sekarang disiplin ilmu— hendaknya ditinjau dengan metodeini, bukan kelak di hari kemudian.(28) mawdhuiy, yaitu dengan jalan menghimpun Ada yang menyatakan bahwa ayat 33 surah ayat-ayat Al-Quran yang membahas masalahAl-Rahman telah mengisyaratkan kemampuan yang sama, kemudian merangkaikan satu denganmanusia menjelajahi angkasa luar. Tapi dengan yang lainnya, hingga pada akhirnya dapat diambilmemperhatikan konteksnya dengan ayat-ayat kesimpulan-kesimpulan yang jelas tentangsebelum dan sesudahnya, khususnya dengan pandangan atau pendapat Al-Quran tentangayat 35, Kepada kamu (Jin dan Manusia) masalah yang dibahas itu.(29)dilepaskan nyala api dan cairan tembaga, makakamu tidak akan dapat menyelamatkan diri, 3. Sifat Penemuan Ilmiahmaka pemahamannya itu hendaknya ditinjau Seperti telah dikemukakan di atas bahwakembali agar ia tidak terperangkap oleh suatu hasil pemikiran seseorang dipengaruhi olehkemungkinan tuduhan adanya kontradiksi antara banyak faktor, antara lain, perkembangan ilmudua ayat: ayat 33, berbicara tentang kemampuan pengetahuan dan pengalaman-pengalamannya.manusia menjelajahi angkasa luar, sedangkan ayat Perkembangan ilmu pengetahuan sudah35, menegaskan ketidakmampuannya. sedemikian pesatnya, sehingga dari faktor ini saja Disamping memperhatikan konteks ayat pemahaman terhadap redaksi Al-Quran dapat berbeda-beda. 27  A. Amiruddin "Penyelenggara Pemahaman Ajaran Islam, Menghadapi Kemajuan Ilmu dan Teknologi", PHBI, Namun perlu kiranya digarisbawahi bahwa Departemen Agama, 1984, h. 19. 28  Lihat Al-Qasimiy, Mahasin Al-Tawil, Al-Halabiy, cet. I, 29  Lihat lebih lanjut tentang uraian tafsir ini, di Bab "Metode 1959, jilid XIII, h. 4689, dan seterusnya. Tafsir Tematik" dalam buku ini. 107
    • apa yang dipersembahkan oleh para ahli dari mengatasnamakan Al-Quran dalam kaitannya berbagai disiplin ilmu, sangat bervariasi dari segi dengan pendapatnya jika pendapat tadi melebihi kebenarannya. Nah, bertitik tolak dari prinsip kandungan redaksi ayat-ayat tersebut. Tetapi, "larangan menafsirkan Al-Quran secara spekulatif", hal ini bukan berarti bahwa seseorang dihalangi maka penemuan-penemuan ilmiah yang belum untuk memahami arti suatu ayat sesuai dengan mapan tidak dapat dijadikan dasar dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Hanya selama menafsirkan Al-Quran. pemahaman tersebut sejalan dengan prinsip Seseorang bahkan tidak dapat ilmu tafsir yang telah disepakati, maka tak ada mengatasnamakan Al-Quran terhadap perincian persoalan.(30) penemuan ilmiah yang tidak dikandung oleh Dahulu, misalnya, ada ulama yang memahami redaksi ayat-ayatnya, karena Al-Quran —seperti arti sab samawat (tujuh langit) dengan tujuh yang telah dikemukakan dalam pembahasan planet yang mengedari tata surya sesuai dengan semula— tidak memerinci seluruh ilmu perkembangan ilmu pengetahuan ketika itu. pengetahuan, walaupun ada yang berpendapat Pemahaman semacam ini, ketika itu, dapat bahwa Al-Quran mengandung pokok-pokok segala diterima. "Ini adalah suatu ijtihad yang baik yang macam ilmu pengetahuan. merupakan pendapat seseorang, selama dia tidak Ayat 30 surat Al-Anbiya, yang menjelaskan mewajibkan dirinya mempercayai hal tersebut bahwa langit dan bumi pada suatu ketika sebagai suatu itiqad (kepercayaan) dan tidak pula merupakan suatu gumpalan kemudian dipisahkan mewajibkan kepercayaan tersebut kepada orang Tuhan, merupakan suatu hakikat ilmiah yang tidak lain."(31) diketahui pada masa turunnya Al-Quran oleh Pemahaman semacam ini tidak dapat masyarakatnya. Tetapi ayat ini tidak memerinci dinamakan "tafsir", tetapi lebih mirip untuk kapan dan bagaimana terjadinya hal tersebut. dinamai tathbiq (penerapan).(32) Setiap orang bebas dan berhak untuk 30  Aisyah Abdurrahman, op cit., h. 61-62. menyatakan pendapatnya tentang "kapan 31  Al-Aqqad, op cit., h. 182. 32  Muhammad Husain Al-Thabathabaiy, Tafsir Al-Mizan, Dar dan bagaimana", tetapi ia tidak berhak untuk Al-Kutub Al-Islamiyah, cet. III, 1397 H.K., jilid I, h. 6.108
    • Penutup Melihat kompleksnya permasalahan Al-Qurandan ilmu pengetahuan, dimana dibutuhkanpengetahuan bahasa dengan segala cabang-cabangnya serta pengetahuan menyangkutberbagai bidang ilmu pengetahuan yangdiungkapkan oleh ayat-ayat Al-Quran, makasudah pada tempatnya jika pemahaman danpenafsirannya tidak hanya dimonopoli olehsekelompok atau seorang ahli dalam suatu bidangtertentu saja. Tetapi hendaknya merupakan usahabersama dari berbagai ahli dalam pelbagai bidanglain. 109
    • 110
    • Metode Tafsir Tematik Disepakati oleh para ulama, kecuali beberapa fitri (alamiah) oleh orang-orang Arab sekalipun. Ini 12gelintir di antara mereka, bahwa mukjizat utama akhirnya menimbulkan pendapat bahwa redaksiAl-Quran yang diperhadapkan kepada masyarakat Al-Quran bukanlah sesuatu yang luar biasa, sepertiyang ditemui Rasul adalah dari segi bahasa dan teori Al-Shirfah(1) yang dikemukakan oleh Al-Nazamsastranya yang mengungguli sastra bahasa (w. 835 H). Tetapi harus diakui bahwa usaha-yang dikenal masyarakat Arab ketika itu. Hal ini usaha ulama untuk menafsirkan Al-Quran denganmempunyai pengaruh yang tidak kecil terhadap metode analisis-redaksi tersebut, bahkan denganmetode penafsiran Al-Quran. Jika kita telusuri metode komparasi yang kemudian dikembangkantafsir-tafsir Al-Quran sejak masa Muhammad bin Abu Bakar Al-Baqillani (w. 403 H) dalam rangkaJarir Al-Thabari (251-310 H) sampai kepada masa kemukjizatannya, juga tidak dapat bertahan lamaMuhammad Rasyid Ridha (1865-1935 M), kita akan setelah semakin mundurnya penguasaan sastramenemui ciri utama yang menghimpun kitab-kitab dan kaidah-kaidah bahasa orang Arab sendiri.tafsir tersebut adalah analisis redaksi. Agaknya hal 1  Teori ini menyatakan bahwa orang-orang Arab sebenarnya mampu untuk menyusun kalimat-kalimat semacam Al-ini merupakan salah satu usaha untuk meletakkan Quran. Tetapi, hal tersebut tidak terlaksana, karena Allahdasar-dasar ilmiah bagi pemahaman umat Islam SWT melakukan campur tangan, dengan jalan mencabut pengetahuan dan rasa bahasa yang mereka miliki, atau denganterhadap kemukjizatan tersebut, setelah ketinggian jalan melemahkan semangat dan keinginan mereka untuknilai sastranya tidak lagi dipahami secara instink- menandingi Al-Quran. Beberapa Problem Tafsir Setelah Tafsir Al-Thabari, dapat dikatakan "memaksakan sesuatu terhadap Al-Quran".(2) Kalaubahwa kitab-kitab tafsir sesudahnya memiliki 2  Lihat Pengantar Muhammad Al-Bahiy, dalam Tafsir Al-Quran Al-Karim, karya Mahmud Syaltut, Dar Al-Qalam, Mesir, cet.corak tertentu yang dirasakan bahwa penulisnya II, tt, h. 7.
    • hal tersebut bukan suatu paham akidah, fiqih, atau untuk mencurahkan perhatian kepada hal itu, tasawuf, maka paling tidak salah satu aliran kaidah namun dia sendiri dalam kedua kitab tafsirnya bahasa. Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada tidak menyinggung banyak tentangnya. Karena Tafsir Al-Kasysyaf karya Al-Zamakhsyari (467-538 H), perhatiannya tercurah kepada pembahasan- atau Anwar Al-Tanzil karya Al-Baidhawi (w. 791 H), pembahasan filsafat (teologi) dan ilmu falak. atau Ruh Al-Maani karya Al-Alusi (w. 1270 H), atau Pembahasan masalah seperti ini mencapai Al-Bahr Al-Muhith karya Abu Hayyan (w. 745 H), puncaknya di bawah usaha Ibrahim bin Umar dan sebagainya. Cara-cara yang mereka tempuh Al-Biqai (809-885 H). Tetapi korelasi di sini ternyata itu menjadikan petunjuk-petunjuk Al-Quran, menyangkut sistematika penyusunan ayat dan yang tadinya dipahami secara mudah, menjadi surat Al-Quran sesuai dengan urutan-urutannya semacam disiplin ilmu yang sukar untuk dicerna. dalam mush-haf, bukan dari segi korelasi ayat- Hal ini dikarenakan kitab-kitab tafsir itu berisikan ayatnya yang membahas masalah-masalah pembahasan-pembahasan yang mendalam, yang sama dan terkadang bagian-bagiannya namun gersang dari petunjuk-petunjuk yang terpencar dalam sekian surat. Di lain segi, maksud menyentuh jiwa serta menalarkan akal. pembahasan Al-Biqai ini adalah untuk menjelaskan Metode yang selama ini digunakan para kemukjizatan Al-Quran dari segi sistematika mufasir sejak masa kodifikasi Tafsir, yang oleh penyusunan ayat-ayat dan surat-suratnya, serta sementara ahli diduga dimulai oleh Al-Farra (w. sebab pemilihan suatu redaksi terhadap redaksi 207 H), sampai tahun 1960 adalah menafsirkan Al- lainnya,(3) bukan untuk menggambarkan segi- Quran ayat demi ayat sesuai dengan susunannya segi petunjuk Al-Quran yang dapat dipetik dan dalam mush-haf. Bentuk demikian menjadikan dimanfaatkan masyarakat dalam kehidupan sehari- petunjuk-petunjuk Al-Quran terpisah-pisah dan hari. tidak disodorkan kepada pembacanya secara 3  Bukunya, berjudut Nazhm Al-Durar fi Tanasub Al-Ayat wa menyeluruh. Fakhruddin Al-Razi (w. 606 H/1210 M) Al-Suwar, telah dicetak di Bombay, India, sebanyak 13 jilid misalnya, walaupun menyadari betapa pentingnya sampai dengan surah Al-Furqan. Sisanya masih berbentuk manuskrip yang antara lain terdapat di perpustakaan korelasi antara ayat, dan dia mengajak para mufasir Universitas Al-Azhar, Mesir.112
    • Al-Syathibi menjelaskan bahwa satu surat, utama serta petunjuk-petunjuk yang dapat dipetikwalaupun dapat mengandung banyak masalah, darinya. Walaupun ide tentang kesatuan dan isinamun masalah-masalah tersebut berkaitan petunjuk surat demi surat telah pernah dilontarkanantara satu dengan lainnya. Sehingga seseorang oleh Al-Syathibi (w. 1388 M), tapi perwujudanhendaknya jangan hanya mengarahkan ide itu dalam satu kitab Tafsir baru dimulai olehpandangan pada awal surat, tetapi hendaknya Mahmud Syaltut. Metode ini, walaupun telahmemperhatikan pula akhir surat, atau sebaliknya. banyak menghindari kekurangan-kekuranganKarena bila tidak demikian, akan terabaikan metode lama, masih menjadikan pembahasanmaksud ayat-ayat yang diturunkan itu. mengenai petunjuk Al-Quran secara terpisah- "Tidak dibenarkan seseorang hanya pisah, karena tidak kurang satu petunjuk yangmemperhatikan bagian-bagian dari satu saling berhubungan tercantum dalam sekianpembicaraan, kecuali pada saat ia bermaksud banyak surat yang terpisah-pisah. Sepertiuntuk memahami arti lahiriah dari satu kosakata dikemukakan semula bahwa pendapat seseorangmenurut tinjauan etimologis, bukan maksud si tentang sesuatu masalah ditentukan oleh banyakpembicara. Kalau arti tersebut tidak dipahaminya, faktor. Nah, kalau kita mengesampingkanmaka ia harus segera memperhatikan seluruh sementara pendapat yang keliru yang tidak kurangpembicaraan dari awal hingga akhir," demikian ditemui dalam sekian banyak kitab tafsir lama,kata Al-Syathibi.(4) dan karena ketuaannya telah mendapat semacam Pada bulan Januari 1960, Syaikh Al-Azhar, pengkultusan, dan kita melihat pendapat-Mahmud Syaltut, menerbitkan Tafsirnya, Tafsir pendapat lainnya, maka kita temui pendapat-Al-Quran Al-Karim. Di situ beliau menafsirkan pendapat yang dapat diterima "pada masanya".Al-Quran bukan ayat demi ayat, tetapi dengan Tetapi karena faktor yang dikemukakan di atas,jalan membahas surat demi surat atau bagian maka pendapat tersebut kini sudah "out of date",suatu surat, dengan menjelaskan tujuan-tujuan dan tidak lagi dapat diterima. Misalnya, penafsiran tentang datarnya bumi, berdasarkan firman Allah 4  Al-Syathibi, Al-Muwafaqat, Dar Al-Marufah, Beirut, 1975, pada surat Nuh ayat 19, sebelum ditemukan benua jilid III, h. 144. 113
    • Amerika dan sebelum dibuktikan bumi kita bulat; Ridha agaknya sudah tidak relevan dengan atau penafsiran tujuh tingkat langit dengan tujuh keadaan masa kini, atau paling tidak sudah tidak planet yang mengitari tata surya, yang ternyata menduduki prioritas pertama dalam perhatian tidak hanya tujuh. atau kepentingan masyarakat sekarang. Sementara itu, berbarengan dengan Dapat dibayangkan bagaimana kiranya jika perkembangan masyarakat, berbagai problem yang disodorkan kepada masyarakat umum adalah dan pandangan baru timbul dan perlu ditanggapi masalah-masalah yang menjadi pembahasan secara serius, yang tentunya berbeda dengan ulama Tafsir pada masa sebelum Rasyid Ridha. problem yang dihadapi oleh masyarakat Tidak syak lagi bahwa manusia yang dibentuk sebelum kita. Problem dan pemecahan masalah pikirannya dengan uraian-uraian tersebut adalah yang dikemukakan oleh Muhammad Rasyid manusia-manusia abad lalu yang "terlambat lahir". Metode Mawdhuiy Dari sini pula para ahli keislaman mengarahkan bukan sebagai pembahasan Tafsir. Di sini ulama pandangan mereka kepada problem-problem Tafsir kemudian mendapat inspirasi baru, dari baru dan berusaha untuk memberikan jawaban- bermunculan karya-karya Tafsir yang menetapkan jawabannya melalui petunjuk-petunjuk Al-Quran, satu topik tertentu, dengan jalan menghimpun sambil memperhatikan hasil-hasil pemikiran atau seluruh atau sebagian ayat-ayat, dari beberapa penemuan manusia, baik yang positif maupun surat, yang berbicara tentang topik tersebut, untuk yang negatif, sehingga bermunculanlah banyak kemudian dikaitkan satu dengan lainnya, sehingga karya ilmiah yang berbicara tentang satu topik pada akhirnya diambil kesimpulan menyeluruh tertentu menurut pandangan Al-Quran, misalnya tentang masalah tersebut menurut pandangan Al- Al-Insan fi Al-Quran, dan Al-Marah fi Al-Quran Quran. Metode ini di Mesir pertama kali dicetuskan karya Abbas Mahmud Al-Aqqad, atau Al-Riba fi Al- oleh Prof. Dr. Ahmad Sayyid Al-Kumiy, Ketua Quran karya Al-Maududi, dan sebagainya. Jurusan Tafsir pada Fakultas Ushuluddin Universitas Namun karya-karya ilmiah tersebut disusun Al-Azhar sampai tahun 1981.114
    • Beberapa dosen Tafsir di universitas tersebut » Menetapkan masalah yang akan dibahastelah berhasil menyusun banyak karya ilmiah (topik);dengan menggunakan metode tersebut. Antara » Menghimpun ayat-ayat yang berkaitanlain Prof. Dr. Al-Husaini Abu Farhah menulis Al- dengan masalah tersebut;Futuhat Al-Rabbaniyyah fi Al-Tafsir Al-Mawdhui » Menyusun runtutan ayat sesuai denganli Al-Ayat Al-Quraniyyah dalam dua jilid, dengan masa turunnya, disertai pengetahuanmemilih banyak topik yang dibicarakan Al-Quran. tentang asbab al-nuzul-nya; Dalam menghimpun ayat-ayat yang » Memahami korelasi ayat-ayat tersebutditafsirkannya secara mawdhui (tematik) itu, dalam surahnya masing-masing;Al-Husaini tidak mencantumkan seluruh ayat dari » Menyusun pembahasan dalam kerangkaseluruh surat, walaupun seringkali menyebutkan yang sempurna (outline);jumlah ayat-ayatnya dengan memberikan » Melengkapi pembahasan dengan hadis-beberapa contoh, sebagaimana tidak juga hadis yang relevan dengan pokok bahasan;dikemukakannya perincian ayat-ayat yang turun » Mempelajari ayat-ayat tersebut secarapada periode Makkah sambil membedakannya keseluruhan dengan jalan menghimpundengan periode Madinah, sehingga terasa bahwa ayat-ayatnya yang mempunyai pengertianapa yang ditempuhnya itu masih mengandung yang sama, atau mengkompromikan antarabeberapa kelemahan. yang am (umum) dan yang khash (khusus), Pada tahun 1977, Prof. Dr. Abdul Hay Al- mutlak dan muqayyad (terikat), atau yangFarmawiy, yang juga menjabat guru besar pada pada lahirnya bertentangan, sehinggaFakultas Ushuluddin Al-Azhar, menerbitkan kesemuanya bertemu dalam satu muara,buku Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al-Mawdhui dengan tanpa perbedaan atau pemaksaan.(5)mengemukakan secara terinci langkah-langkah Penulis mempunyai beberapa catatan dalamyang hendaknya ditempuh untuk menerapkan rangka pengembangan metode tafsir Mawdhuiymetode mawdhuiy. Langkah-langkah tersebut 5  Abdul Hay Al-Farmawiy, Al-Bidayah fi Tafsir Al-Mawdhuiy,adalah: Al-Hadharah Al-Arabiyah, Kairo, cetakan II, 1977, h. 62. 115
    • dan langkah-langkah yang diusulkan di atas. Antara lain: (2) Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya (1) Penetapan masalah yang dibahas Yaitu hanya dibutuhkan dalam upaya Walaupun metode ini dapat menampung mengetahui perkembangan petunjuk Al-Quran semua persoalan yang diajukan, terlepas apakah menyangkut persoalan yang dibahas, apalagi jawabannya ada atau tidak, namun untuk bagi mereka yang berpendapat ada nasikh dan menghindari kesan keterikatan yang dihasilkan mansukh dalam Al-Quran. Bagi mereka yang oleh metode tahliliy akibat pembahasan- bermaksud menguraikan satu kisah, atau kejadian, pembahasannya terlalu bersifat sangat teoretis, maka runtutan yang dibutuhkan adalah runtutan maka akan lebih baik bila permasalahan yang kronologis peristiwa. dibahas itu diprioritaskan pada persoalan yang menyentuh masyarakat dan dirasakan langsung (3) Kosakata ayat dengan merujuk kepada oleh mereka. penggunaan Al-Quran Ini berarti, mufasir Mawdhuiy diharapkan Walaupun metode ini tidak mengharuskan agar terlebih dahulu mempelajari problem- uraian tentang pengertian kosakata, namun problem masyarakat, atau ganjalan-ganjalan kesempurnaannya dapat dicapai apabila sejak dini pemikiran yang dirasakan sangat membutuhkan sang mufasir berusaha memahami arti kosakata jawaban Al-Quran, misalnya petunjuk Al-Quran ayat dengan merujuk kepada penggunaan menyangkut kemiskinan, keterbelakangan, Al-Quran sendiri. Hal ini dapat dinilai sebagai penyakit dan sebagainya. Dengan demikian, corak pengembangan dari tafsir bi al-matsur, yang pada dan metode penafsiran semacam ini memberi hakikatnya merupakan benih awal dari metode jawaban terhadap problem masyarakat tertentu di mawdhuiy. lokasi tertentu dan tidak harus memberi jawaban Pengamatan terhadap pengertian kosakata, terhadap mereka yang hidup sesudah generasinya, demikian juga pesan-pesan yang dikandung atau yang tinggal di luar wilayahnya. oleh satu ayat, hendaknya diarahkan antara116
    • lain kepada bentuk dan timbangan kata yang langkah-langkah tersebut tidak dikemukakandigunakan, subjek dan objeknya, serta konteks menyangkut sebab nuzul, namun tentunya halpembicaraannya. Bentuk kata dan kedudukan irab, ini tidak dapat diabaikan, karena sebab nuzulmisalnya, mempunyai makna tersendiri. Bentuk mempunyai peranan yang sangat besar dalamism memberi kesan kemantapan, fil mengandung memahami ayat-ayat Al-Quran. Hanya saja halarti pergerakan, bentuk rafa menunjukkan subjek ini tidak dicantumkan di sana karena ia tidakatau upaya, nashb yang menjadi objek dapat harus dicantumkan dalam uraian, tetapi harusmengandung arti ketiadaan upaya, sedang al-jar dipertimbangkan ketika memahami arti ayat-memberi kesan keterkaitan dalam keikutan.(6) ayatnya masing-masing. Bahkan hubungan antara Untuk menetapkan masalah yang akan dibahas, ayat yang biasanya dicantumkan dalam kitab-kitabbeberapa kitab dapat menjadi rujukan, antara lain tafsir yang menggunakan metode analisis, tidakTafshil Ayat Al-Quran karya sekelompok orientalis pula harus dicantumkan dalam pembahasan,dan yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa selama ia tidak mempengaruhi pengertian yangArab oleh Muhammad Fuad Abdul Baqiy. Demikian akan ditonjolkan.pula Kitab Al-Hayat karya Muhammad Reza Hakimi Dapat digarisbawahi pula bahwa langkah-dan kawan-kawan, atau juga dapat ditempuh langkah yang dijelaskan di atas menempatkandengan menggunakan Al-Mujam Al-Mufahras Ii penyusunan "pembahasan dalam satu kerangkaAlfazh Al-Quran karya Muhammad Fuad Abdul yang sempurna" pada tahap yang kelima agarBaqiy, dengan memperhatikan kosakata dan kerangka tersebut tersusun atas dasar bahan-sinonimnya yang berhubungan dengan suatu bahan yang telah diperoleh dari langkah-langkahmasalah yang dibahas itu. sebelumnya. Hal ini untuk menghindari sedapat mungkin pra-konsepsi yang mungkin dapat(4) Azbab al-Nuzul mempengaruhi mufasir dalam penafsirannya. Perlu digarisbawahi bahwa, walaupun dalam Dengan tersusunnya langkah-langkah tersebut, bahkan dengan penerapan yang dicontohkan oleh 6  Lihat lebih jauh Hassan Hanafi, Al-Yamin wa Al-Yasar fi Al- Al-Farmawiy dalam karyanya dengan menafsirkan Fikr Al-Diniy, Madbuliy, Mesir, 1989, h. 105. 117
    • ayat-ayat yang berkaitan dengan: (a) pemeliharaan tersebut antara satu dengan lainnya, sehingga anak yatim dalam Al-Quran; (b) arti ummiyatAl- kesemua persoalan tersebut kait-mengait bagaikan Arab (kebuta-hurufan orang Arab) dalam Al-Quran; satu persoalan saja, sebagaimana ditempuh oleh (c) etika meminta izin dalam Al-Quran; dan (d) Mahmud Syaltut dalam kitab Tafsirnya. menundukkan mata dan memelihara alat kelamin Kedua, menghimpun ayat-ayat Al-Quran yang dalam Al-Quran, maka lahirlah bentuk kedua dari membahas masalah tertentu dari berbagai surat metode tafsir mawdhuiy. Bentuk pertama, ialah Al-Quran, kemudian menjelaskan pengertian penafsiran menyangkut satu surat dalam Al-Quran menyeluruh ayat-ayat tersebut, sebagai dengan menjelaskan tujuan-tujuannya secara jawaban terhadap masalah yang menjadi pokok umum dan khusus, serta hubungan persoalan- pembahasannya. persoalan yang beraneka ragam dalam surat Keistimewaan Metode Mawdhuiy Beberapa keistimewaan metode ini antara lain, kehidupan masyarakat. Dengan begitu ia dapat (a) menghindari problem atau kelemahan metode membawa kita kepada pendapat Al-Quran tentang lain yang digambarkan dalam uraian di atas; berbagai problem hidup disertai dengan jawaban (b) menafsirkan ayat dengan ayat atau dengan jawabannya. Ia dapat memperjelas kembali fungsi hadis Nabi, satu cara terbaik dalam menafsirkan Al-Quran sebagai Kitab Suci. Dan terakhir dapat Al-Quran; (c) kesimpulan yang dihasilkan mudah membuktikan keistimewaan Al-Quran. Selain dipahami. Hal ini disebabkan karena ia membawa itu, (d) metode ini memungkinkan seseorang pembaca kepada petunjuk Al-Quran tanpa untuk menolak anggapan adanya ayat-ayat yang mengemukakan berbagai pembahasan terperinci bertentangan dalam Al-Quran. Ia sekaligus dapat dalam satu disiplin ilmu. Juga dengan metode dijadikan bukti bahwa ayat-ayat Al-Quran sejalan ini, dapat dibuktikan bahwa persoalan yang dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan disentuh Al-Quran bukan bersifat teoretis semata- masyarakat. mata dan atau tidak dapat diterapkan dalam Perbedaan Metode Mawdhuiy dengan Metode118
    • Analisis Sementara para mufasir analisis berusaha untuk Yang dimaksud dengan metode analisis adalah berbicara menyangkut segala sesuatu yang"penjelasan tentang arti dan maksud ayat-ayat Al- ditemukannya dalam setiap ayat. Dengan demikianQuran dari sekian banyak seginya yang ditempuh mufasir Mawdhui, dalam pembahasannya, tidakoleh mufasir dengan menjelaskan ayat demi mencantumkan arti kosakata, sebab nuzul,ayat sesuai urutannya di dalam mush-haf melalui munasabah ayat dari segi sistematika perurutan,penafsiran kosakata, penjelasan sebab nuzul, kecuali dalam batas-batas yang dibutuhkanmunasabah, serta kandungan ayat-ayat tersebut oleh pokok bahasannya. Mufasir analisis berbuatsesuai dengan keahlian dan kecenderungan sebaliknya.mufasir itu". Ketiga, mufasir mawdhui berusaha untuk Metode tersebut jelas berbeda dengan menuntaskan permasalahan-permasalahan yangmetode Mawdhuiy yang telah digambarkan menjadi pokok bahasannya. Mufasir analisislangkah-langkahnya di atas. Perbedaan itu biasanya hanya mengemukakan penafsiran ayat-antara lain, pertama, mufasir mawdhuiy, dalam ayat secara berdiri sendiri, sehingga persoalanpenafsirannya, tidak terikat dengan susunan. ayat yang dibahas menjadi tidak tuntas, karena ayatdalam mush-haf, tetapi lebih terikat dengan urutan yang ditafsirkan seringkali ditemukan kaitannyamasa turunnya ayat atau kronologi kejadian, dalam ayat lain pada bagian lain surat tersebut,sedang mufasir analisis memperhatikan susunan atau dalam surat yang lain.sebagaimana tercantum dalam mush-haf. Perbedaan Metode Mawdhuiy dengan Metode Kedua, mufasir Mawdhui tidak membahas Komparasisegala segi permasalahan yang dikandung oleh Yang dimaksud dengan metode komparasisatu ayat, tapi hanya yang berkaitan dengan adalah "membandingkan ayat-ayat Al-Quranpokok bahasan atau judul yang ditetapkannya.(7) yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi, 7  Ayat 90 surah Al-Maidah, misalnya, yang berbicara tentang yang berbicara tentang masalah atau kasus yang minuman keras, perjudian, dan berhala-berhala sesembahan, saja. Jika pokok bahasan yang dipilihnya tentang "minuman keseluruhannya menjadi bahasan penafsir "analisis". Tetapi keras", maka ia tidak akan menyinggung persoalan judi dan penafsir maudhuiy, hanya membahas pokok bahasannya berhala-berhala. 119
    • ْ ُ ُ‫نَّ ْ ُ ْ ُ ق‬ َ َ ْ َ ُْ َ َ ُ َْ َ berbeda, dan yang memiliki redaksi yang berbeda ‫َول ت ق ُت ل وا أ ْول َدك خ ش َي ة ِإ ْم لق  ۖ � ن نَ�ز� م‬ ٍ bagi masalah atau kasus yang sama atau diduga ً َ ً ْ ِ َ َ ْ َ َ َّ ْ ُ ‫َّي‬ ]١٣:٧١[ ‫َو ِإ� ك  ۚ ِإن ق ْت ل ُه م كن خ ط ئ ا ك ِب ي�ا‬ sama. Termasuk dalam objek bahasan metode ini adalah membandingkan ayat-ayat Al-Quran dalam surat Al-Isra ayat 31, atau perbedaan dengan hadis-hadis Nabi saw., yang tampaknya antara: َ َ َ ُ ُ bertentangan, serta membandingkan pendapat- َ َ َ ََ َ ْ ْ َ َ َ �‫ق ال ف اه ِب ط ِم نْ� ا ف� ا َي ك ون ل ك أن ت َت ك َّب‬ pendapat ulama tafsir menyangkut penafsiran َ‫َّ ِ ن‬ َ َّ ْ ْ َ َ ayat-ayat Al-Quran. ]٣١:٧[ �‫ِف ي� ا ف اخ ُرج ِإن ك ِم ن الص اغ ِري‬ َ Dalam metode ini, khususnya yang dalam surat Al-Araf ayat 12, dengan َ َ َ َ membandingkan antara ayat dengan ayat seperti َ ُ َْ ‫ق ال � ِإ ْب ِل يس َم ا َم َن َع ك أن ت س ج َد ِل ا‬ ُ ‫َي‬ dikemukakan di atas, sang mufasir biasanya hanya َ ُ َ َ َْ َ َْ ُ َْ َ menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan ‫خ ل ق ت ِب َي َد ي  ۖ أس ت ك ب�ت أ ْم ك نت‬ ْ َّ ْ َ perbedaan kandungan yang dimaksud oleh ]٥٧:٨٣[ �‫ِم ن ال َع ا ِل ي‬ َ‫ن‬ masing-masing ayat atau perbedaan kasus atau dalam surat Shad ayat 75. masalah itu sendiri, seperti misalnya perbedaan Demikian juga antara Al-Anfal ayat 10 dengan antara: Ali Imran ayat 126. ُ ْ‫ُ ْ َ َ ُ ْ َ َّ ُ ش‬ ُ َْ َ َ ْ ُ ‫۞ ق ل ت َع ال ْوا أ ت ل َم ا ح َّر َم َر ُّب ك ع ل ْي ك  ۖ أ ل ت �ك وا‬ ِ َ َ Mufasir yang menempuh metode ini, seperti ُ َ ُ ْ َ َ ً‫ْ َ ن‬ ْ ً َ misalnya Al-Khatib Al-Iskafi dalam kitabnya Durrah ‫ِب ِه ش ْي ئ ا  ۖ َو ِب�ل َوا ِل َد يْ� ِإح س ا�  ۖ َول ت ق ُت ل وا أ ْول َدك‬ ِ‫نَّ ن‬ Al-Tanzil wa Ghurrah Al-Tawil, tidak mengarahkan ْ َ َ ْ ُ َّ ْ ُ ُ ُ ْ ُ ْ َ ‫ِّم ن ِإ ْم لق  ۖ � ن نَ�زق ك َو ِإ�ه  ۖ َول ت ق َر ُب وا‬ ‫ي‬ ٍ ْ pandangannya kepada petunjuk-petunjuk yang ُ ُ ْ َ َ َ َ َ َ َ َ َ ْ‫َ ظَ َ َ ن‬ َ ََْ ‫ال ف واح ش م ا � ر ِم � ا وم ا ب ط ن  ۖ ول ت ق ت ل وا‬ ِ dikandung oleh ayat-ayat yang dibandingkannya ُ َٰ َْ ْ‫الن ْف س ال ِ ت� ح َّر َم الل ِإ َّل ِب�ل ّق  ۚ ذ ِل ك‬ ُ َّ َ َّ َ َّ itu, kecuali dalam rangka penjelasan sebab- ِ َ ُ ْ َ ‫َ َّ ُ َ َ َّ ُ ْ ي‬ sebab perbedaan redaksional. Sementara dalam ]١٥١:٦[ ‫وص اك ِب ِه ل ع ل ك ت ع ِق ل ون‬ metode Mawdhui, seorang mufasir, disamping dalam surat Al-Anam ayat 151, dan menghimpun semua ayat yang berkaitan dengan masalah yang dibahas, ia juga mencari120
    • persamaan-persamaan, serta segala petunjuk yang mengkompromikan ayat dan hadis tersebut,dikandungnya, selama berkaitan dengan pokok khususnya jika sanad hadis tersebut sahih.bahasan yang ditetapkan. Dalam membandingkan berbagai pendapat Di sini kita melihat bahwa jangkauan ulama tafsir menyangkut ayat Al-Quran, adabahasan metode komparasi lebih sempit dari beberapa hal yang perlu mendapat sorotan:metode Mawdhui, karena yang pertama hanya 1. Kondisi sosial politik pada masa seorangterbatas dalam perbedaan redaksi semata- mufasir hidup;mata. Membandingkan ayat dengan hadis, yang 2. Kecenderungannya dan latar belakangkelihatannya bertentangan, dilakukan juga oleh pendidikannya;ulama hadis, khususnya dalam bidang yang 3. Pendapat yang dikemukakannya —apakahdinamakan mukhtalif al-hadits. Sikap ulama pendapat pribadi, ataupun pengembangandalam hal ini berbeda-beda. Abu Hanifah dan pendapat sebelumnya, atau jugapenganut mazhabnya menolak sejak dini hadis pengulangannya;yang bertentangan atau tidak sejalan dengan 4. Setelah menjelaskan hal-hal di atas,ayat Al-Quran. Sementara itu, Imam Malik dan pembanding melakukan analisis untukpenganut mazhabnya dapat menerima hadis mengemukakan penilaiannya tentangyang tidak sejalan dengan ayat, apabila ada pendapat tersebut —baik menguatkanqarinah (pendukung bagi hadis tersebut) berupa atau melemahkan pendapat-pendapatpengalaman penduduk Madinah atau ijma mufasir yang diperbandingkannya.ulama. Lainnya, Imam Syafii, berupaya untuk Penutup Sebelum mengakhiri tulisan ini, perlu metode tersebut tidak terjerumus kedalamdigarisbawahi beberapa masalah, agar seorang kesalahan atau kesalahpahaman.yang bermaksud menempuh metode Mawdhui Hal-hal tersebut adalah:atau membaca penafsiran yang menempuh 1. (Metode Mawdhui pada hakikatnya 121
    • tidak atau belum mengemukakan dikemukakan menjadi terbatas. seluruh kandungan ayat Al-Quran yang ditafsirkannya itu. Harus diingat bahwa pembahasan yang diuraikan atau ditemukan hanya menyangkut judul yang ditetapkan oleh mufasirnya, sehingga dengan demikian mufasir pun harus selalu mengingat hal ini agar ia tidak dipengaruhi oleh kandungan atau isyarat- isyarat yang ditemukannya dalam ayat-ayat tersebut yang tidak sejalan dengan pokok bahasannya. 2. Mufasir yang menggunakan metode ini hendaknya memperhatikan dengan seksama urutan ayat-ayat dari segi masa turunnya, atau perincian khususnya. Karena kalau tidak, ia dapat terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan baik di bidang hukum maupun dalam perincian kasus atau peristiwa. 3. Mufasir juga hendaknya memperhatikan benar seluruh ayat yang berkaitan dengan pokok bahasan yang telah ditetapkannya itu. Sebab kalau tidak, pembahasan yang dikemukakannya tidak akan tuntas, atau paling tidak, jawaban Al-Quran yang122
    • Hubungan Hadis dan Al-Quran Al-hadits didefinisikan oleh pada umumnya wa al-rasul, dan kedua adalah Athiu Allah wa athiu 13ulama —seperti definisi Al-Sunnah— sebagai al-rasul. Perintah pertama mencakup kewajiban"Segala sesuatu yang dinisbahkan kepada taat kepada beliau dalam hal-hal yang sejalanMuhammad saw., baik ucapan, perbuatan dan dengan perintah Allah SWT; karena itu, redaksitaqrir (ketetapan), maupun sifat fisik dan psikis, tersebut mencukupkan sekali saja penggunaanbaik sebelum beliau menjadi nabi maupun kata athiu. Perintah kedua mencakup kewajibansesudahnya." Ulama ushul fiqh, membatasi taat kepada beliau walaupun dalam hal-hal yangpengertian hadis hanya pada "ucapan-ucapan tidak disebut secara eksplisit oleh Allah SWTNabi Muhammad saw. yang berkaitan dengan dalam Al-Quran, bahkan kewajiban taat kepadahukum"; sedangkan bila mencakup pula perbuatan Nabi tersebut mungkin harus dilakukan terlebihdan taqrir beliau yang berkaitan dengan hukum, dahulu —dalam kondisi tertentu— walaupunmaka ketiga hal ini mereka namai Al-Sunnah. ketika sedang melaksanakan perintah Allah SWT,Pengertian hadis seperti yang dikemukakan oleh sebagaimana diisyaratkan oleh kasus Ubay ibnulama ushul tersebut, dapat dikatakan sebagai Kaab yang ketika sedang shalat dipanggil olehbagian dari wahyu Allah SWT yang tidak berbeda Rasul saw. Itu sebabnya dalam redaksi kedua didari segi kewajiban menaatinya dengan ketetapan- atas, kata athiu diulang dua kali, dan atas dasarketetapan hukum yang bersumber dari wahyu ini pula perintah taat kepada Ulu Al-Amr tidakAl-Quran. dibarengi dengan kata athiu karena ketaatan Sementara itu, ulama tafsir mengamati bahwa terhadap mereka tidak berdiri sendiri, tetapiperintah taat kepada Allah dan Rasul-Nya yang bersyarat dengan sejalannya perintah merekaditemukan dalam Al-Quran dikemukakan dengan dengan ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya.dua redaksi berbeda. Pertama adalah Athiu Allah (Perhatikan Firman Allah dalam QS 4:59). Menerima
    • ketetapan Rasul saw. dengan penuh kesadaran berbohong. Atas dasar ini, wahyu-wahyu Al-Quran dan kerelaan tanpa sedikit pun rasa enggan dan menjadi qathiy al-wurud. Ini, berbeda dengan pembangkangan, baik pada saat ditetapkannya hadis, yang pada umumnya disampaikan oleh hukum maupun setelah itu, merupakan syarat orang per orang dan itu pun seringkali dengan keabsahan iman seseorang, demikian Allah redaksi yang sedikit berbeda dengan redaksi yang bersumpah dalam Al-Quran Surah Al-Nisa ayat 65. diucapkan oleh Nabi saw. Di samping itu, diakui Tetapi, di sisi lain, harus diakui bahwa terdapat pula oleh ulama hadis bahwa walaupun pada perbedaan yang menonjol antara hadis dan Al- masa sahabat sudah ada yang menulis teks-teks Quran dari segi redaksi dan cara penyampaian hadis, namun pada umumnya penyampaian atau atau penerimaannya. Dari segi redaksi, diyakini penerimaan kebanyakan hadis-hadis yang ada bahwa wahyu Al-Quran disusun langsung sekarang hanya berdasarkan hafalan para sahabat oleh Allah SWT. Malaikat Jibril hanya sekadar dan tabiin. Ini menjadikan kedudukan hadis dari menyampaikan kepada Nabi Muhammad saw., segi otensititasnya adalah zhanniy al-wurud. dan beliau pun langsung menyampaikannya Walaupun demikian, itu tidak berarti terdapat kepada umat, dan demikian seterusnya generasi keraguan terhadap keabsahan hadis karena demi generasi. Redaksi wahyu-wahyu Al-Quran sekian banyak faktor — baik pada diri Nabi itu, dapat dipastikan tidak mengalami perubahan, maupun sahabat beliau, di samping kondisi sosial karena sejak diterimanya oleh Nabi, ia ditulis dan masyarakat ketika itu, yang topang-menopang dihafal oleh sekian banyak sahabat dan kemudian sehingga mengantarkan generasi berikut untuk disampaikan secara tawatur oleh sejumlah orang merasa tenang dan yakin akan terpeliharanya yang —menurut adat— mustahil akan sepakat hadis-hadis Nabi saw. Fungsi Hadis terhadap Al-Quran Al-Quran menekankan bahwa Rasul saw. pandangan sekian banyak ulama beraneka ragam berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah bentuk dan sifat serta fungsinya. (QS 16:44). Penjelasan atau bayan tersebut dalam Abdul Halim Mahmud, mantan Syaikh Al-124
    • Azhar, dalam bukunya Al-Sunnah fi Makanatiha wa merujuk kepada Allah SWT (dalam hal ini Al-Quran),fi Tarikhiha menulis bahwa Sunnah mempunyai ketika hendak menetapkan hukum.fungsi yang berhubungan dengan Al-Quran Kalau persoalannya hanya terbatas seperti apadan fungsi sehubungan dengan pembinaan yang dikemukakan di atas, maka jalan keluarnyahukum syara. Dengan menunjuk kepada mungkin tidak terlalu sulit, apabila fungsi Al-pendapat Al-Syafii dalam Al-Risalah, Abdul Halim Sunnah terhadap Al-Quran didefinisikan sebagaimenegaskan bahwa, dalam kaitannya dengan bayan murad Allah (penjelasan tentang maksudAl-Quran, ada dua fungsi Al-Sunnah yang tidak Allah) sehingga apakah ia merupakan penjelasandiperselisihkan, yaitu apa yang diistilahkan oleh penguat, atau rinci, pembatas dan bahkansementara ulama dengan bayan takid dan bayan maupun tambahan, kesemuanya bersumber daritafsir. Yang pertama sekadar menguatkan atau Allah SWT. Ketika Rasul saw. melarang seorangmenggarisbawahi kembali apa yang terdapat suami memadu istrinya dengan bibi dari pihakdi dalam Al-Quran, sedangkan yang kedua ibu atau bapak sang istri, yang pada zhahir-nyamemperjelas, merinci, bahkan membatasi, berbeda dengan nash ayat Al-Nisa ayat 24, makapengertian lahir dari ayat-ayat Al-Quran. pada hakikatnya penambahan tersebut adalah Persoalan yang diperselisihkan adalah, apakah penjelasan dari apa yang dimaksud oleh Allah SWThadis atau Sunnah dapat berfungsi menetapkan dalam firman tersebut.hukum baru yang belum ditetapkan dalam Al- Tentu, jalan keluar ini tidak disepakati, bahkanQuran? Kelompok yang menyetujui mendasarkan persoalan akan semakin sulit jika Al-Quran yangpendapatnya pada ishmah (keterpeliharaan bersifat qathiiy al-wurud itu diperhadapkanNabi dari dosa dan kesalahan, khususnya dalam dengan hadis yang berbeda atau bertentangan,bidang syariat) apalagi sekian banyak ayat yang sedangkan yang terakhir ini yang bersifat zhanniymenunjukkan adanya wewenang kemandirian Nabi al-wurud. Disini, pandangan para pakar sangatsaw. untuk ditaati. Kelompok yang menolaknya beragam. Muhammad Al-Ghazali dalam bukunyaberpendapat bahwa sumber hukum hanya Allah, Al-Sunnah Al-Nabawiyyah Baina Ahl Al-Fiqh waInn al-hukm illa lillah, sehingga Rasul pun harus Ahl Al-Hadits, menyatakan bahwa "Para imam fiqih 125
    • menetapkan hukum-hukum dengan ijtihad yang itu, dalam pandangan mereka, hadis yang luas berdasarkan pada Al-Quran terlebih dahulu. melarang memadu seorang wanita dengan Sehingga, apabila mereka menemukan dalam bibinya, haram hukumnya, walaupun tidak sejalan tumpukan riwayat (hadits) yang sejalan dengan dengan lahir teks ayat Al-Nisa ayat 24. Al-Quran, mereka menerimanya, tetapi kalau tidak Imam Syafii, yang mendapat gelar Nashir Al- sejalan, mereka menolaknya karena Al-Quran lebih Sunnah (Pembela Al-Sunnah), bukan saja menolak utama untuk diikuti." pandangan Abu Hanifah yang sangat ketat itu, Pendapat di atas, tidak sepenuhnya diterapkan tetapi juga pandangan Imam Malik yang lebih oleh ulama-ulama fiqih. Yang menerapkan moderat. Menurutnya, Al-Sunnah, dalam berbagai secara utuh hanya Imam Abu Hanifah dan ragamnya, boleh saja berbeda dengan Al-Quran, pengikut-pengikutnya. Menurut mereka, baik dalam bentuk pengecualian maupun jangankan membatalkan kandungan satu ayat, penambahan terhadap kandungan Al-Quran. mengecualikan sebagian kandungannya pun Bukankah Allah sendiri telah mewajibkan umat tidak dapat dilakukan oleh hadis. Pendapat manusia untuk mengikuti perintah Nabi-Nya? yang demikian ketat tersebut, tidak disetujui Harus digarisbawahi bahwa penolakan satu oleh Imam Malik dan pengikut-pengikutnya. hadis yang sanadnya sahih, tidak dilakukan oleh Mereka berpendapat bahwa al-hadits dapat ulama kecuali dengan sangat cermat dan setelah saja diamalkan, walaupun tidak sejalan dengan menganalisis dan membolak-balik segala seginya. Al-Quran, selama terdapat indikator yang Bila masih juga ditemukan pertentangan, maka menguatkan hadis tersebut, seperti adanya tidak ada jalan kecuali mempertahankan wahyu pengamalan penduduk Madinah yang sejalan yang diterima secara meyakinkan (Al-Quran) dan dengan kandungan hadis dimaksud, atau adanya mengabaikan yang tidak meyakinkan (hadis). ijma ulama menyangkut kandungannya. Karena Pemahaman atas Makna Hadis Seperti dikemukakan di atas, hadis, dalam arti ucapan-ucapan yang dinisbahkan kepada126
    • Nabi Muhammad saw., pada umumnya diterima hadis dan Sunnah harus didudukkan dalamberdasarkan riwayat dengan makna, dalam arti konteks tersebut.teks hadis tersebut, tidak sepenuhnya persis Al-Syathibi, dalam pasal ketiga karyanya, Al-sama dengan apa yang diucapkan oleh Nabi saw. Muwafaqat, tentang perintah dan larangan padaWalaupun diakui bahwa cukup banyak persyaratan masalah ketujuh, menguraikan tentang perintahyang harus diterapkan oleh para perawi hadis, dan larangan syara. Menurutnya, perintah tersebutsebelum mereka diperkenankan meriwayatkan ada yang jelas dan ada yang tidak jelas. Sikap paradengan makna; namun demikian, problem sahabat menyangkut perintah Nabi yang jelas punmenyangkut teks sebuah hadis masih dapat saja berbeda. Ada yang memahaminya secara tekstualmuncul. Apakah pemahaman makna sebuah dan ada pula yang secara kontekstual.hadis harus dikaitkan dengan konteksnya atau Suatu ketika, Ubay ibn Kaab, yang sedangtidak. Apakah konteks tersebut berkaitan dengan dalam perjalanan menuju masjid, mendengarpribadi pengucapnya saja, atau mencakup pula Nabi saw. bersabda, "Ijlisu (duduklah kalian)," danmitra bicara dan kondisi sosial ketika diucapkan seketika itu juga Ubay duduk di jalan. Melihat halatau diperagakan? Itulah sebagian persoalan itu, Nabi yang mengetahui hal ini lalu bersabdayang dapat muncul dalam pembahasan tentang kepadanya, "Zadaka Allah thaatan." Di sini, Ubaypemahaman makna hadis. memahami hadis tersebut secara tekstual. Al-Qarafiy, misalnya, memilah Al-Sunnah Dalam peperangan Al-Ahzab, Nabi bersabda,dalam kaitannya dengan pribadi Muhammad saw. "Jangan ada yang shalat Ashar kecuali diDalam hal ini, manusia teladan tersebut suatu kali perkampungan Bani Quraizhah." Sebagianbertindak sebagai Rasul, di kali lain sebagai mufti, memahami teks hadis tersebut secara tekstual,dan kali ketiga sebagai qadhi (hakim penetap sehingga tidak shalat Ashar walaupun waktunyahukum) atau pemimpin satu masyarakat atau telah berlalu —kecuali di tempat itu. Sebagianbahkan sebagai pribadi dengan kekhususan dan lainnya memahaminya secara kontekstual,keistimewaan manusiawi atau kenabian yang sehingga mereka melaksanakan shalat Ashar,membedakannya dengan manusia lainnya. Setiap sebelum tiba di perkampungan yang dituju. Nabi, 127
    • dalam kasus terakhir ini, tidak mempersalahkan bunyi hadis Nabi saw. menyatakan, "Istahlaltum kedua kelompok sahabat yang menggunakan furujahunna bi kalimat Allah (Kalian memperoleh pendekatan berbeda dalam memahami teks hadis. kehalalan melakukan hubungan seksual dengan Imam Syafii dinilai sangat ketat dalam wanita-wanita karena menggunakan kalimat memahami teks hadis, tidak terkecuali dalam Allah)", sedangkan kalimat (lafal) yang digunakan bidang muamalat. Dalam hal ini, Al-Syafii oleh Allah dalam Al-Quran untuk keabsahan berpendapat bahwa pada dasarnya ayat-ayat hubungan tersebut hanya lafal zawaj dan nikah. Al-Quran dan hadis-hadis Nabi saw., harus Imam Abu Hanifah lain pula pendapatnya. dipertahankan bunyi teksnya, walaupun dalam Beliau sependapat dengan ulama-ulama lain bidang muamalat, karena bentuk hukum dan bunyi yang menetapkan bahwa teks-teks keagamaan teks-teksnya adalah taabbudiy, sehingga tidak dalam bidang ibadah harus dipertahankan, boleh diubah. Maksud syariat sebagai maslahat tetapi dalam bidang muamalat, tidak demikian. harus dipahami secara terpadu dengan bunyi teks, Bidang ini menurutnya adalah maqul al-mana, kecuali jika ada petunjuk yang mengalihkan arti dapat dijangkau oleh nalar. Kecuali apabila ia lahiriah teks. merupakan ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan Kajian illat, dalam pandangan Al-Syafii, dengan perincian, maka ketika itu ia bersifat dikembangkan bukan untuk mengabaikan teks, taabbudiy juga. Teks-teks itu, menurutnya, harus tetapi untuk pengembangan hukum. Karena itu, dipertahankan, bukan saja karena akal tidak dapat kaidah al-hukm yaduru maa illatih wujud wa memastikan mengapa teks tersebut yang dipilih, adam,(1) hanya dapat diterapkan olehnya terhadap tetapi juga karena teks tersebut diterima atas hasil qiyas, bukan terhadap bunyi teks Al-Quran dasar qathiy al-wurud. Dengan alasan terakhir ini, dan hadis. Itu sebabnya Al-Syafii berpendapat sikapnya terhadap teks-teks hadis menjadi longgar. bahwa lafal yang mengesahkan hubungan dua Karena, seperti dikemukakan di atas, periwayatan jenis kelamin, hanya lafal nikah dan zawaj, karena lafalnya dengan makna dan penerimaannya 1  Ketetapan hukum selalu berkaitan dengan illat (motifnya). bersifat zhanniy. Bila motifnya ada, hukumnya bertahan; dan bila motif nya Berpijak pada hal tersebut di atas, Imam Abu gugur, hukumnya pun gugur.128
    • Hanifah tidak segan-segan mengubah ketentuanyang tersurat dalam teks hadis, dengan alasankemaslahatan. Fatwanya yang membolehkanmembayar zakat fitrah dengan nilai, ataumembenarkan keabsahan hubungan perkawinandengan lafal hibah atau jual beli, adalahpenjabaran dari pandangan di atas. Walaupundemikian, beliau tidak membenarkan pembayarandam tamattu dalam haji, atau qurban dengan nilai(uang) karena kedua hal tersebut bernilai taabudiy,yakni pada penyembelihannya. Demikianlah beberapa pandangan ulama yangsempat dikemukakan tentang hadis. 129
    • 130
    • Fungsi dan Posisi Sunah Dalam Tafsir 14W a anzalna ilayka al-dzikra litubayyina li al- nas ma nuzzila ilayhim (Dan Kami turunkankepadamu Al-Quran agar kamu menerangkan oleh kaum Muslim: surat demi surat, ayat demi ayat, kata demi kata, bahkan huruf demi huruf. Semuanya telah disampaikan secara utuhkepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., yang kemudiankepada mereka) (QS 16:46). memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk Wama anzalna alayka al-kitab illa litubayyina menuliskan, menghapalkan dan mempelajarinya.lahum alladzina ikhtalafu fihi wa hudan wa Beberapa saat setelah Nabi wafat, pararahmatan liqawmin yuminun (Dan kami tidaklah sahabat mengumpulkan naskah-naskah Al-menurunkan kepadamu Al-Kitab [Al-Quran] ini Quran yang ditulis itu, kemudian menyalin dankecuali agar kamu dapat menjelaskan kepada menyebarluaskannya ke seluruh penjuru duniamereka apa yang mereka perselisihkan dan untuk Islam. Hingga kini, apa yang mereka lakukanmenjadi petunjuk dan rahmat bagi orang yang itu diterima dan dipelihara oleh generasi demiberiman) (QS (QS 16:64). generasi. Dengan demikian, dapat dipastikan Uraian yang singkat ini bukan merupakan bahwa apa yang dibaca dalam mushaf dewasa inipembahasan yang menyeluruh tentang Al- tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernahSunnah, baik dari segi kedudukan dan fungsinya dibaca oleh Nabi Muhammad saw., dan paraterhadap Al-Quran, maupun dari segi sejarah pengikutnya lima belas abad yang lalu.perkembangan dan metode penelitiannya. Uraian Nabi Muhammad ditugaskan untukini hanya merupakan gambaran umum tentang menjelaskan kandungan ayat-ayatnya. Hal inibeberapa masalah yang telah menimbulkan terbukti, antara lain, dalam ayat-ayat yang dikutipkesalahpahaman. di awal uraian ini. Dengan demikian, penjelasan- Al-Quran Al-Karim telah diyakini kebenarannya penjelasan Nabi Muhammad saw. tidak dapat
    • dipisahkan dari pemahaman maksud ayat-ayat Allah dengan, sekaligus, kepada Rasul: Athiu Allah Al-Quran. Beliau adalah satu-satunya manusia yang wa al-rasul (QS 3:32, 132; 8:1, 46; dan sebagainya). mendapat wewenang penuh untuk menjelaskan Tetapi juga, terkadang antara keduanya dipisah Al-Quran (QS 4:105). Penjelasan beliau dapat dengan kata "athiu": Athi u Allah wa athiu al-rasul dipastikan kebenarannya. Tidak seorang Muslim (QS 4:59; 24:54; 4:23; dan sebagainya). pun yang dapat menggantikan penjelasan Penggabungan dan pemisahan di atas Rasul dengan penjelasan manusia lain, apa pun bukanlah tidak mempunyai arti; ia mengisyaratkan kedudukannya. bahwa perintah-perintah Nabi Muhammad saw., Penjelasan-penjelasan atas arti dan maksud harus diikuti, baik yang bersumber langsung ayat Al-Quran yang diberikan oleh Nabi dari Allah (Al-Quran) —sebagaimana ayat yang Muhammad saw. bermacam-macam bentuknya. Ia menggambarkan ketaatan kepada Allah dan Rasul dapat berupa ucapan, perbuatan, tulisan ataupun di atas— maupun perintah-perintahnya berupa taqrir (pembenaran berupa diamnya beliau kebijaksanaan —seperti ayat-ayat kelompok kedua terhadap perbuatan yang dilakukan oleh orang di atas. lain).(1) Nabi Muhammad saw. telah diberi oleh Allah Itulah sebabnya mengapa Al-Quran SWT —melalui Al-Quran— hak dan wewenang menegaskan bahwa hendaknya dilaksanakan apa tersebut. Segala ketetapannya harus diikuti. yang diperintahkan oleh Rasul dan meninggalkan Tingkah lakunya merupakan panutan terbaik bagi apa yang dilarangnya (QS 59:7). Dan bahwa mereka yang mengharapkan rahmat Allah dan barangsiapa taat kepada Rasul maka ia telah keselamatan di hari kiamat. (QS 33: 21). taat kepada Allah (QS 4:80), sebagaimana telah Perintah untuk taat (athiu) telah disebut dalam dijelaskan pula bahwa Muhammad saw. tiada lain Al-Quran sebanyak sembilan belas kali. Terkadang, adalah seorang Rasul (QS 3:144). perintah tersebut digabungkan antara taat kepada Al-Quran juga mengancam orang-orang yang 1  Lihat lebih lanjut Muhammad Idris Al-Syafiiy, Al-Risalah, menentang perintahnya (QS 24:62). Bahkan, ia Al-Halabiy, Kairo, 1969, h. 18, dan seterusnya; Al-Baghdadi, menyatakan bahwa mereka (pada hakikatnya) Al-Uddah fi Ushul Al-Din, Jilid I, Mesir, Al-Risalah, 1980, tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu h. 112-13.132
    • (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara hadis yang, secara resmi, diperintahkan langsungyang mereka perselisihkan, kemudian mereka oleh penguasa untuk disebarluaskan ke seluruhtidak merasa dalam hati sesuatu keberatan pelosok, dengan penulisan hadis yang dilakukanterhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka atas prakarsa perorangan yang telah dimulai sejakmenerima sepenuhnya (QS 4:65). masa Rasulullah saw. Dari beberapa ayat di atas, jelaslah bahwa Penulisan bentuk kedua ini sedemikianmereka yang menduga bahwa Nabi Muhammad banyaknya, sehingga banyak pula dikenal naskah-saw. tidak mempunyai wewenang dalam urusan naskah hadis, antara lain:agama, adalah keliru. Ayat laysa laka min al- 1. Al-Shahifah Al-Shahihah (Shahifah Humam),amri syaiun (QS 3:128), diterjemahkan oleh yang berisikan hadis-hadis Abu Hurairahsementara orang dengan tidak ada wewenang yang ditulis langsung oleh muridnya,bagimu tentang urusan (agama) sedikit pun. Ini Humam bin Munabbih. Naskah ini telahtidaklah benar, karena yang dimaksud dengan ditemukan oleh Prof. Dr. Hamidullah dalam"urusan" dalam ayat ini adalah urusan diterima bentuk manuskrip, masing-masing di Berlinatau ditolaknya tobat orang-orang tertentu, (Jerman) dan Damaskus (Syria).sebagaimana bunyi lanjutan ayat tersebut.(2) 2. Al-Shahifah Al-Shadziqah, yang ditulis Sementara orang ada yang meragukan langsung oleh sahabat Abdullah bin Amirotentisitas penjelasan-penjelasan Nabi yang bin Ash —seorang sahabat yang, olehmerupakan bagian dari Sunnah (hadits). Hal ini Abu Hurairah, dinilai banyak mengetahuidisebabkan, antara lain, karena mereka menduga hadis— dan sahabat yang mendapat izinbahwa hadis-hadis baru ditulis pada masa langsung untuk menulis apa saja yangpemerintahan Umar bin Abdul Aziz (99-101 didengar dari Rasul, baik di saat Nabi ridhaH). Dugaan yang sangat keliru ini timbul karena maupun marah.mereka tidak dapat membedakan antara penulisan 3. Shahifah Sumarah Ibn Jundub, yang 2  Hal yang sama juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari beredar di kalangan ulama yang —oleh Ibn mengenai asbab al-nuzul ayat tersebut. Lihat Al-Bukhari, Al- Sirin— dinilai banyak mengandung ilmu Syaib, Jilid V, Kairo, tt., h. 247. 133
    • pengetahuan. hadis, yang dinyatakan ratusan ribu tersebut, 4. Shafifah Jabir bin Abdullah, seorang bukanlah matan-nya, tetapi jalur-jalur (thuruq) sahabat yang, antara lain, mencatat hadis. Karena satu matan hadis dapat memiliki masalah-masalah ibadah haji dan khutbah puluhan jalur.(4) Rasul yang disampaikan pada Haji Wada, Ada pula yang menduga bahwa hadis- dan lain-lain.(3) hadis Nabi yang terdapat dalam kitab-kitab Naskah-naskah tersebut membuktikan bahwa hadis telah dinukilkan oleh para pengarangnya hadis-hadis Rasulullah saw., telah ditulis atas melalui "penghapal-penghapal hadis", yang prakarsa para sahabat dan tabiin jauh sebelum hanya mampu menghapal tetapi tidak memiliki penulisannya yang secara resmi diperintahkan oleh kemampuan ilmiah. Dugaan ini timbul karena Umar bin Abdul Aziz. kedangkalan pengetahuan mereka tentang ilmu Selanjutnya, ada pula yang meragukan hadis. Jika mereka mengetahui dan menyadari penulisan hadis (pada masa Rasul) yang syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang disebabkan kekeliruan mereka dalam memahami penghapal hadis (antara lain, seperti tepercaya, riwayat (yang terdapat dalam kitab-kitab hadis) kuat ingatan, identitasnya dikenal sebagai orang yang menyatakan bahwa para ulama menghapal yang berkecimpung dalam bidang ilmiah, dan sekian ratus ribu hadis. Mereka menduga bahwa sebagainya), maka mereka pasti menolak hadis- jumlah yang ratusan ribu itu adalah jumlah hadis yang diriwayatkan oleh orang-orang yang matan (teks redaksi hadis), sehingga —dengan dinilai majhul al-hal aw al-ayn (tidak dikenal demikian— mereka menganggap mustahil 4  Apabila dihimpun seluruh matan hadis dari seluruh kitab- penulisannya secara keseluruhan sejak awal sejarah kitab hadis yang mutabar, maka jumlahnya tidak lebih dari 50.000 matan hadis, termasuk di dalamnya hadis-hadis Islam. Mereka tidak menyadari bahwa jumlah shahih, hasan dan dhaif. Dalam hal ini, ahli hadis, Al-Hakim, dinilai berlebihan ketika menyatakan bahwa jumlah hadis 3  Lihat lebih lanjut Subhi Al-Shalih, Ulum Al-Hadits wa shahih tidak lebih dari 10.000 hadis. Lihat Abdul Halim Mushthalahuhu, Beirut, Dar Al-Ilm li Al-Malayin, 1977, Mahmud, Al-Sunnah fi Makanatiha wa fi Tarikhiha, Kairo, cet. IX, h. 23, dan seterusnya; Muhammad Ajjaj Al-Khatib, Al-Maktabah Al-Tsaqafiyah, 1967, h. 59. Walaupun demikian, Al-Sunnah qabla Al-Tadwin Wahdah, Kairo, 1963, cet. I, h. harus diakui bahwa sebagian besar hadis Nabi direkam bukan 346, dan seterusnya. dalam bentuk tulisan, tetapi hapalan.134
    • kemampuan ilmiahnya atau juga identitaspribadinya). Ada pula yang menduga bahwa para ahlihadis hanya sekadar melakukan kritik sanad(kritik ekstern), bukan kritik matan (kritik intern).Dugaan ini juga keliru, karena dua dari limasyarat penilaian hadis shahih (yaitu tidak syadzdan tidak mengandung illah) justru menyangkutteks (matan) hadis-hadis tersebut. Sedang tigasyarat lainnya, walaupun sepintas lalu berkaitandengan sanad hadis, bertujuan untuk memberikankeyakinan akan kebenaran hadis-hadis tersebut.(5) Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa di satupihak, kekeliruan pemahaman tentang kedudukan,fungsi dan sejarah perkembangan hadis timbulakibat dangkalnya pengetahuan (agama). Dandi pihak lain, ia terjadi akibat pendangkalanagama yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam(khususnya para orientalis yang tidak bertanggungjawab) yang mengatasnamakan penelitian ilmiahuntuk tujuan-tujuan tertentu. 5  Tiga syarat lainnya adalah: Pertama, perawi hadis tersebut tepercaya dari segi pandangan agama, tidak berbohong. Kedua, kuat hapalannya. Dan ketiga, bersambung sanadnya dalam pengertian bahwa rentetan para perawinya pernah saling bertemu atau diduga pernah bertemu. 135
    • 136
    • Ayat-ayat Kawniyyah dalam Al-Quran Al-Quran Al-Karim, yang terdiri atas 6.236 ayat segala pokok petunjuk menyangkut kebahagiaan 15itu,(1) menguraikan berbagai persoalan hidup dan hidup duniawi dan ukhrawi.(3)kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan Al-Ghazali dinilai sangat berlebihan ketikafenomenanya. Uraian-uraian sekitar persoalan berpendapat bahwa "segala macam ilmutersebut sering disebut ayat-ayat kawniyyah. pengetahuan baik yang telah, sedang dan akanTidak kurang dari 750 ayat yang secara tegas ada, kesemuanya terdapat dalam Al-Quran". Dasarmenguraikan hal-hal di atas.(2) Jumlah ini tidak pendapatnya ini antara lain adalah ayat yangtermasuk ayat-ayat yang menyinggungnya secara berbunyi, Pengetahuan Tuhan kami mencakuptersirat. segala sesuatu (QS 7:89). Dan bila aku sakit Dialah Tetapi, kendatipun terdapat sekian banyak Yang Menyembuhkan aku (QS 26:80). Tuhan tidakayat tersebut, bukan berarti bahwa Al-Quran sama mungkin dapat mengobati kalau Dia tidak tahudengan Kitab Ilmu Pengetahuan, atau bertujuan penyakit dan obatnya. Dari ayat ini disimpulkanuntuk menguraikan hakikat-hakikat ilmiah. Ketika bahwa pasti Al-Quran, yang merupakan Kalam/Al-Quran memperkenalkan dirinya sebagai Firman Allah, juga mengandung misalnyatibyanan likulli syayi (QS 16:89), bukan maksudnya disiplin ilmu kedokteran. Demikian pendapatmenegaskan bahwa ia mengandung segala Al-Ghazali dalam Jawahir Al-Quran.(4) Di sini, diasesuatu, tetapi bahwa dalam Al-Quran terdapat mempersamakan antara ilmu dan kalam, dua hal yang pada hakikatnya tidak selalu seiring. 1  Jumlah ini adalah yang populer di samping jumlah 6.666 ayat. Bukankah tidak semua apa yang diketahui Tetapi, masih ada pendapat-pendapat lain. Lebih jauh dapat dilihat dalam Al-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulum Al-Quran, 3  Lihat Mahmud Syaltut, Tafsir Al-Quran Al-Azhim, Dar Al- Al-Halabiy, Kairo 1957, jilid I, h. 249. Qalam, Mesir, Cetakan II, t.t., h. 13, dan seterusnya. 2  Lihat, antara lain, Thanthawi Jauhari, Al-Jawahir fi Tafsir 4  Al-Ghazali, Jawahir Al-Quran, Percetakan Kurdistan, Mesir, Al-Quran, Kairo, 1350 H, jilid I, h. 3. Cetakan I, t.t., h. 31.
    • dan diucapkan?! Bukankah ucapan tidak selalu dipahami oleh para sahabat dan setingkat dengan menggambarkan (seluruh) pengetahuan? pengetahuan mereka."(5) Ulama ini seakan-akan Al-Syathibi, yang bertolak belakang dengan lupa bahwa perintah Al-Quran untuk memikirkan Al-Ghazali, juga melampaui batas kewajaran ayat-ayatnya tidak hanya tertuju kepada para ketika berpendapat bahwa "Para sahabat tentu sahabat, tetapi juga kepada generasi-generasi lebih mengetahui tentang kandungan Al-Quran" sesudahnya yang tentunya harus berpikir sesuai —tetapi dalam kenyataan tidak seorang pun dengan perkembangan pemikiran pada masanya di antara mereka yang berpendapat seperti di masing-masing. atas. "Kita," kata Al-Syathibi lebih jauh, "tidak 5  Abu Ishaq Al-Syathibi, Al-Muwafaqat, Dar Al-Marifah, boleh memahami Al-Quran kecuali sebagaimana Mesir, t.t., jilid 1, h. 46. Al-Quran dan Alam Raya Seperti dikemukakan di atas bahwa Al-Quran fenomena alam tersebut. Namun, pengetahuan berbicara tentang alam dan fenomenanya. Paling dan pemanfaatan ini bukan merupakan tujuan sedikit ada tiga hal yang dapat dikemukakan puncak (ultimate goal). menyangkut hal tersebut: (2) Alam dan segala isinya beserta hukum- (1) Al-Quran memerintahkan atau hukum yang mengaturnya, diciptakan, dimiliki, dan menganjurkan kepada manusia untuk di bawah kekuasaan Allah SWT serta diatur dengan memperhatikan dan mempelajari alam raya dalam sangat teliti. rangka memperoleh manfaat dan kemudahan- Alam raya tidak dapat melepaskan diri dari kemudahan bagi kehidupannya, serta untuk — ketetapan-ketetapan tersebut —kecuali jika mengantarkannya kepada kesadaran akan Keesaan dikehendaki oleh Tuhan. Dari sini tersirat bahwa: dan Kemahakuasaan Allah SWT. (a) Alam raya atau elemen-elemennya tidak Dari perintah ini tersirat pengertian bahwa boleh disembah, dipertuhankan atau dikultuskan. manusia memiliki potensi untuk mengetahui dan (b) Manusia dapat menarik kesimpulan- memanfaatkan hukum-hukum yang mengatur kesimpulan tentang adanya ketetapan-ketetapan138
    • yang bersifat umum dan mengikat bagi alam raya diajak berdialog oleh Al-Quran serta dituntutdan fenomenanya (hukum-hukum alam). menggunakan akalnya dalam rangka memahami (3) Redaksi ayat-ayat kawniyyah bersifat petunjuk-petunjuk-Nya. Dan kalau disadari bahwaringkas, teliti lagi padat, sehingga pemahaman akal manusia dan hasil penalarannya dapatatau penafsiran terhadap ayat-ayat tersebut dapat berbeda-beda akibat latar belakang pendidikan,menjadi sangat bervariasi, sesuai dengan tingkat kebudayaan, pengalaman, kondisi sosial, dankecerdasan dan pengetahuan masing-masing perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologipenafsir. (iptek), maka adalah wajar apabila pemahaman Dalam kaitan dengan butir ketiga di atas, perlu atau penafsiran seseorang dengan yang lainnya,digarisbawahi beberapa prinsip dasar yang dapat, baik dalam satu generasi atau tidak, berbeda-bedaatau bahkan seharusnya, diperhatikan dalam usaha pula.memahami atau menafsirkan ayat-ayat Al-Quran (3) Berpikir secara kontemporer sesuai denganyang mengambil corak ilmiah. Prinsip-prinsip dasar perkembangan zaman dan iptek dalam kaitannyatersebut adalah dengan pemahaman Al-Quran tidak berarti (1) Setiap Muslim, bahkan setiap orang, menafsirkan Al-Quran secara spekulatif atauberkewajiban untuk mempelajari dan memahami terlepas dari kaidah-kaidah penafsiran yang telahKitab Suci yang dipercayainya, walaupun hal ini disepakati oleh para ahli yang memiliki otoritasbukan berarti bahwa setiap orang bebas untuk dalam bidang ini.menafsirkan atau menyebarluaskan pendapat- (4) Salah satu sebab pokok kekeliruan dalampendapatnya tanpa memenuhi seperangkat syarat- memahami dan menafsirkan Al-Quran adalahsyarat tertentu. keterbatasan pengetahuan seseorang menyangkut (2) Al-Quran diturunkan bukan hanya khusus subjek bahasan ayat-ayat Al-Quran. Seorangditujukan untuk orang-orang Arab ummiyyin yang mufasir mungkin sekali terjerumus kedalamhidup pada masa Rasul saw. dan tidak pula hanya kesalahan apabila ia menafsirkan ayat-ayatuntuk masyarakat abad ke-20, tetapi untuk seluruh kawniyyah tanpa memiliki pengetahuan yangmanusia hingga akhir zaman. Mereka semua memadai tentang astronomi, demikian pula 139
    • dengan pokok-pokok bahasan ayat yang lain. penafsiran ilmiah— untuk menyadari sepenuhnya Dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip pokok sifat penemuan-penemuan ilmiah, serta di atas, ulama-ulama tafsir memperingatkan memperhatikan secara khusus bahasa dan konteks perlunya para mufasir —khususnya dalam ayat-ayat Al-Quran. menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan Pendapat Para Ulama tentang Penafsiran Ilmiah Disepakati oleh semua pihak bahwa "Kita berkewajiban menjelaskan Al-Quran secara penemuan-penemuan ilmiah, di samping ada yang ilmiah dan biarlah generasi berikut membuka tabir telah menjadi hakikat-hakikat ilmiah yang dapat kesalahan kita dan mengumumkannya."(8) dinilai telah memiliki kemapanan, ada pula yang Abbas Mahmud Al-Aqqad memberikan masih sangat relatif atau diperselisihkan sehingga jalan tengah. Seseorang hendaknya jangan tidak dapat dijamin kebenarannya. mengatasnamakan Al-Quran dalam pendapat- Atas dasar larangan menafsirkan Al-Quran pendapatnya, apalagi dalam perincian penemuan- secara spekulatif, maka sementara ulama Al- penemuan ilmiah yang tidak dikandung oleh Quran tidak membenarkan penafsiran ayat-ayat redaksi ayat-ayat Al-Quran. Dalam hal ini, AlAqqad berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah memberikan contoh menyangkut ayat 30 Surah yang sifatnya belum mapan.(6) Seorang ulama Al-Anbiya yang oleh sementara ilmuwan Muslim berpendapat bahwa "Kita tidak ingin terulang apa dipahami sebagai berbicara tentang kejadian yang terjadi atas Perjanjian Lama ketika gereja alam raya, yang pada satu ketika merupakan satu menafsirkannya dengan penafsiran yang kemudian gumpalan kemudian dipisahkan Tuhan. ternyata bertentangan dengan penemuan para Setiap orang bebas memahami kapan dan ilmuwan."(7) Ada Pula yang berpendapat bahwa bagaimana terjadinya pemisahan itu, tetapi ia 6  Muhammad Ridha Al-Hakimi, Al-Quran Yasbiqu Al-Ilm tidak dibenarkan mengatasnamakan Al-Quran Al-Hadits, Dar Al-Qabas, Kuwait, 1977, h. 71. menyangkut pendapatnya, karena Al-Quran tidak 7  Abdul Mutaal Muhammad Al-Jabri, Syathahat Mushthafa Mahmud, Dar Al-Ithisham, Kairo, 1976, h. 12. 8  Muhammad Ridha Al-Hakimi, loc cit.140
    • menguraikannya.(9) Pemahaman semacam ini merupakan ijtihad yang Setiap Muslim berkewajiban mempercayai baik sebagai pemahamannya (selama) ia tidaksegala sesuatu yang dikandung oleh Al-Quran, mewajibkan atas dirinya untuk mempercayainyasehingga bila seseorang mengatasnamakan Al- sebagai akidah dan atau mewajibkan yangQuran untuk membenarkan satu penemuan atau demikian itu terhadap orang lain."(10)hakikat ilmiah yang tidak dicakup oleh kandungan Bint Al-Syathi dalam bukunya, Al-Quran wa Al-redaksi ayat-ayat Al-Quran, maka hal ini dapat Qadhaya Al-Washirah, secara tegas membedakanberarti bahwa ia mewajibkan setiap Muslim antara pemahaman dan penafsiran.(11) Sedangkanuntuk mempercayai apa yang dibenarkannya itu, Al-Thabathabai, mufasir besar Syiah kontemporer,sedangkan hal tersebut belum tentu demikian. lebih senang menamai penjelasan makna ayat- Pendapat yang disimpulkan dari uraian ayat Al-Quran secara ilmiah dengan nama tathbiqAl-Aqqad di atas, bukan berarti bahwa (penerapan).(12) Pendapat-pendapat di atas agaknyaulama dan cendekiawan Mesir terkemuka ini semata-mata bertujuan untuk menghindari janganmenghalangi pemahaman suatu ayat berdasarkan sampai Al-Quran dipersalahkan bila di kemudianperkembangan ilmu pengetahuan. Tidak! Sebab, hari terbukti teori atau penemuan ilmiah tersebutmenurut Al-Aqqad lebih lanjut, "Dahulu ada keliru.ulama yang memahami arti tujuh langit sebagai 10 Ibid.tujuh planet yang mengitari tata surya —sesuai 11  Bint Al-Syathi, Al-Quran wa Al-Qadhaya Al-Muashirah, Dar Al-Ilmu li Al-Malayin, Beirut, 1982, h. 313.dengan perkembangan pengetahuan ketika itu. 12  Muhammad Husain Al-Thabathabai, Tafsir Al-Mizan, Dar 9  Abbas Mahmud Al-Aqqad, Al-Falsafah Al-Quraniyyah, Dar Al-Kutub Al-Islamiyyah, Teheran, 1397 H., cet. III, jilid I, h. Al-Hilal, Kairo, t.t., h. 182. 6. Segi Bahasa Al-Quran dan Korelasi Antar Ayatnya Seperti yang telah dikemukakan di atas, para berkaitan dengan penafsiran ilmiah— seseorangmufasir mengingatkan agar dalam memahami atau dituntut untuk memperhatikan segi-segi bahasamenafsirkan ayat-ayat Al-Quran —khususnya yang Al-Quran serta korelasi antar ayat. 141
    • Sebelum menetapkan bahwa ayat 88 Surah Terjemahan ini, di samping mengabaikan arti huruf Al-Naml (yang berbunyi, Dan kamu lihat gunung- fa; juga menambahkan kata tumbuh-tumbuhan gunung itu, kamu sangka ia tetap di tempatnya, sebagai penjelasan sehingga terjemahan tersebut padahal ia berjalan sebagai jalannya awan), menginformasikan bahwa angin berfungsi ini menginformasikan pergerakan gunung- mengawinkan tumbuh-tumbuhan. gunung, atau peredaran bumi, terlebih dahulu Hemat penulis, terjemahan dan pandangan di harus dipahami kaitan ayat ini dengan ayat-ayat atas tidak didukung oleh fa anzalna min al-sama sebelumnya. Apakah ia berbicara tentang keadaan maa yang seharusnya diterjemahkan dengan maka gunung dalam kehidupan duniawi kita dewasa ini kami turunkan hujan. Huruf fa yang berarti "maka" atau keadaannya kelak di hari kemudian. Karena, menunjukkan adanya kaitan sebab dan akibat seperti diketahui, penyusunan ayat-ayat Al-Quran antara fungsi angin dan turunnya hujan, atau tidak didasarkan pada kronologis masa turunnya, perurutan logis antara keduanya sehingga tidak tetapi pada korelasi makna ayat-ayatnya, sehingga tepat huruf tersebut diterjemahkan dengan dan kandungan ayat terdahulu selalu berkaitan dengan sebagaimana tidak tepat penyisipan kata tumbuh- kandungan ayat kemudian. tumbuhan dalam terjemahan tersebut. Bahkan Demikian pula halnya dengan segi tidak keliru jika dikatakan bahwa menterjemahkan kebahasaan. Ada sementara orang yang berusaha lawaqiha dengan meniupkan juga kurang tepat. memberikan legitimasi dari ayat-ayat Al-Quran Kamus-kamus bahasa mengisyaratkan bahwa terhadap penemuan-penemuan ilmiah dengan kata tersebut digunakan antara lain untuk mengabaikan kaidah kebahasaan. menggambarkan inseminasi. Sehingga, atas Ayat 22 Surah Al-Hijr, diterjemahkan oleh Tim dasar ini, Hanafi Ahmad menjadikan ayat tersebut Departemen Agama dengan, "Dan Kami telah sebagai informasi tentang fungsi angin dalam meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh- menghasilkan atau mengantarkan turunnya tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit ..."(13) hujan, semakna dengan Firman Allah dalam surah Al-Nur ayat 43: Tidakkah kamu lihat bahwa Allah 13  Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Quran Depag, Al-Quran mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara dan Terjemahannya, Percetakan PT. Seraya Santra, 1989.142
    • (bagian-bagian)-nya, kemudian dijadikannyabertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujankeluar dari celah-celahnya ...(14) Memang, seperti yang dikemukakan di atas,sebab-sebab kekeliruan dalam memahami ataumenafsirkan ayat-ayat Al-Quran antara lain adalahkelemahan dalam bidang bahasa Al-Quran,serta kedangkalan pengetahuan menyangkutobjek bahasan ayat. Karena itu, walaupun sudahterlambat, kita masih tetap menganjurkankerja sama antardisiplin ilmu demi mencapaipemahaman atau penafsiran yang tepat dariayat-ayat Al-Quran dan demi membuktikan bahwaKitab Suci tersebut benar-benar bersumber dariAllah Yang Maha Mengetahui lagi Mahaesa itu. 14  Hanafi Ahmad, Al-Tafsir Al-Ilmiy lil Ayat Al-Kawniyyah, Dar Al-Maarif Mesir, 1960, h. 363, dan seterusnya. 143
    • 144
    • Konsep Qathiy dan Zhanniy Istilah qathiy dan zhanniy —sebagaimana lazim redaksi ayat-ayat Al-Quran. 16diketahui— masing-masing terdiri atas dua bagian, Sebelum menguraikan masalah di atas, terlebihyaitu yang menyangkut al-tsubut (kebenaran dahulu perlu digarisbawahi bahwa masalah inisumber) dan al-dalalah (kandungan makna). Tidak tidak menjadi salah satu pokok bahasan ulama-terdapat perbedaan pendapat di kalangan umat ulama tafsir. Secara mudah hal tersebut dapatIslam menyangkut kebenaran sumber Al-Quran. dibuktikan dengan membuka lembaran kitab-Semua bersepakat untuk meyakini bahwa redaksi kitab Ulum Al-Quran. Lihat misalnya Al-Burhanayat-ayat Al-Quran yang terhimpun dalam mushaf karangan Al-Zarkasyi, atau Al-Itqan oleh Al-Sayuthi.dan dibaca oleh kaum Muslim di seluruh penjuru Keduanya tidak membahas persoalan tersebut.dunia dewasa ini adalah sama tanpa sedikit Ini, antara lain, disebabkan ulama-ulama tafsirperbedaan pun dengan yang diterima oleh Nabi menekankan bahwa Al-Quran hammalat li al-Muhammad saw. dari Allah SWT melalui malaikat wujuh.(2) Sehingga, dari segi penggalian makna,Jibril a.s. mereka mengenal ungkapan: "Seorang tidak Al-Quran jelas qathiy al-tsubut. Hakikatnya dinamai mufasir kecuali jika ia mampu memberimerupakan salah satu dari apa yang dikenal interpretasi beragam terhadap ayat-ayat Al-Quran."dengan istilah malum min al-din bi al-dharurah.(1) Sikap ini tentunya tidak sejalan dengan konsepKarena itu, di sini tidak akan dibicarakan masalah qathiy at-dalalah yang hakikatnya, menurut Abdulqathiy dari segi al-tsubut atau kebenaran sumber Wahhab Khallaf, adalah: "Yang menunjuk kepadatersebut. Yang menjadi persoalan adalah bagian makna tertentu yang harus dipahami darinya (teks);kedua, yakni yang menyangkut kandungan makna tidak mengandung kemungkinan tawil serta tidak ada tempat atau peluang untuk memahami makna 1  Sesuatu yang sudah sangat jelas, aksiomatik, dalam ajaran agama. 2  Al-Quran (mampu) mengandung banyak interpretasi.
    • selain makna tersebut darinya (teks tersebut)."(3) Anda (dapat) menemukan kalimat atau kata yang Mohammad Arkoun, seorang pemikir mempunyai arti bermacam-macam. Semuanya kontemporer kelahiran Aljazair, menulis tentang benar atau mungkin benar ... (Ayat-ayat Al-Quran) ayat-ayat Al-Quran sebagai berikut: "Kitab Suci bagaikan intan. Setiap sudutnya memancarkan itu mengandung kemungkinan makna yang tak cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar terbatas. Ia menghadirkan berbagai pemikiran dan dari sudut-sudut lain. Dan tidak mustahil, jika Anda penjelasan pada tingkat yang dasariah, eksistensi mempersilakan orang lain memandangnya, maka yang absolut. Ia, dengan demikian, selalu terbuka, dia akan melihat lebih banyak dari apa yang Anda tak pernah tetap dan tertutup hanya pada satu lihat."(5) penafsir.an makna."(4) Di sisi lain, kita dapat berkata bahwa setiap Pendapat di atas sejalan dengan tulisan nash atau redaksi mengandung dua dalalah Abdullah Darraz, salah seorang ulama besar Al- (kemungkinan arti). Bagi pengucapnya, redaksi Azhar yang antara lain mengedit, menjelaskan tersebut hanya mengandung satu arti saja, yakni dan mengkritik kitab Al-Muwafaqat karya Abu arti yang dimaksudkan olehnya. Inilah yang Ishaq Al-Syathibi. Syaikh Darraz menulis: "Apabila disebut dalalah haqiqiyyah. Tetapi, bagi para Anda membaca Al-Quran, maknanya akan jelas pendengar atau pembaca, dalalah-nya bersifat di hadapan Anda. Tetapi bila Anda membaca relatif. Mereka tidak dapat memastikan maksud sekali lagi, maka Anda akan menemukan pula pembicara. Pemahaman mereka terhadap nash makna-makna lain yang berbeda dengan makna atau redaksi tersebut dipengaruhi oleh banyak hal. terdahulu. Demikian seterusnya, sampai-sampai Mereka dapat berbeda pendapat. Yang kedua ini dinamai dalalah nishbiyyah. 3  Abdul Wahhab Khallaf, Ilm Ushul Al-Fiqh, Al-Dar Al- Kuwaitiyyah, Kuwait, 1968, cetakan Vlll, h. 35. Atas dasar titik pandang yang demikian inilah 4  Lihat makalah Martin van Bruinessen, "Mohammad Arkoun agaknya mengapa pembahasan mengenai qathiy tentang Al-Quran," disampaikan dalam diskusi Yayasan EMPATI. Pada h. 2, ia mengutip Mohammad Arkoun, al-dalalah tidak diuraikan secara khusus dalam "Algeria," dalam Shireen T. Hunter (ed.), The Politics of Islamic Revivalism, Bloomington: Indiana University Press 5  Abdullah Darraz, Annaba Al-Azhim, Dar Al-Urubah, Mesir, 1988, h. 182-183. 1966, h. 111.146
    • kitab-kitab Ulum Al-Quran. Persoalan ini dibahas masalah yang dibicarakan di atas tidak menjadioleh ulama-ulama ushul al-fiqh. Para pakar disiplin pokok bahasan ulama tafsir, namun merekailmu ini pada umumnya menjadikan masalah- menekankan perlunya seorang mufasir untukmasalah ushul al-fiqh sebagai masalah yang pasti mengetahui ushul al-fiqh, khususnya dalam rangkaatau qathiy.(6) Perlu juga dicatat bahwa walaupun menggali ayat-ayat hukum. 6  Abu Ishaq Al-Syathibiy, Al-Muwafaqat fi Ushul Al-Syariah, disunting oleh SyaikhAbdullah Darraz, Al-Maktabah Al- Tijariyyah Al-Kubra, Mesir, tanpa tahun, Jilid 1, h. 29. Hakikat Qathiy dan Zhanniy Tetapi, apakah yang dinamai qathiy dan apa populer."(8) Yang dimaksudkan adalah istilah yangatau bagaimana proses yang dilaluinya sehingga dinukil di atas, atau yang semakna dengannyasuatu ayat dinilai qathiy al-dalalah? Di atas telah seperti dijelaskan oleh Ali Abdul Wahhab. Merekadinukil pendapat Abdul Wahhab Khallaf yang merumuskan "definisi populer" tersebut dengankelihatannya merupakan pendapat yang populer "tidak adanya kemungkinan untuk memahami daritentang difinisi qathiy al-dalalah. suatu lafal kecuali maknanya yang dasar itu."(9) Definisi serupa dikemukakan juga oleh Syaikh "Tidak atau jarang sekali ada sesuatu yangAbu Al-Ainain Badran Abu Al-Ainain: "Sesuatu pasti dalam dalil-dalil syara", (jika berdiri sendiri)yang menunjuk kepada hukum dan tidak ini, menurut Al-Syathibi, karena apabila dalil-mengandung kemungkinan (makna) selainnya."(7) dalil syara tersebut bersifat ahad, maka jelas ia Sementara itu, Al-Syathibi, dalam Al- tidak dapat memberi kepastian. Bukankah ahadMuwafaqat, menulis demikian: "Tidak atau jarang sifatnya zhanniy? Sedangkan bila dalil tersebutsekali ada sesuatu yang pasti dalam dalil-dalil syara bersifat mutawatir lafalnya, maka untuk menarikyang sesuai dengan penggunaan (istilah) yang makna yang pasti dibutuhkan premis-premis 8  Al-Syathibi, op cit., h. 35. 9  Ali Abduttawab dan Thaha Abdullah Addasuqy, Mabahits fi 7  Abu Al-Ainain Badran Abu Al-Ainain, Ushul Al-Fiqh Al- Tarikh Al-Fiqh Al-Islamiy, Lajnah Al-Bayan Al-Arabiy, Mesir, Islamiy, tanpa tahun, h. 63. 1962, h. 50. 147
    • (muqaddimat) yang tentunya harus bersifat (5) redaksi yang dimaksud bukan kata metaforis pasti (qathiy) pula. Dalam hal ini, premis-premis (majaz); (6) tidak mengandung peralihan makna; tersebut harus bersifat mutawatir. Ini tidak mudah atau (7) sisipan (idhmar); atau (8) "pendahuluan ditemukan, karena kenyataan membuktikan bahwa dan pengakhiran" (taqdim wa takhir); atau premis-premis tersebut kesemuanya atau sebagian (9) pembatalan hukum (naskh); dan (10) tidak besarnya bersifat ahad dalam arti zhanniy (tidak mengandung penolakan yang logis (adam al- pasti). Sesuatu yang bersandar kepada zhanniy, muaridh al-aqliy). tentu tidak menghasilkan sesuatu kecuali yang Tiga yang pertama kesemuanya bersifat zhanniy pula. zhanniy, karena riwayat-riwayat yang menyangkut Muqaddimat yang dimaksud Al-Syathibi di atas hal-hal tersebut kesemuanya ahad. Tujuh sisanya adalah apa yang dikenal dengan al-ihtimalat al- hanya dapat diketahui melalui al-istiqra al-tam asyrah,(10) yakni: (1) riwayat-riwayat kebahasaan; (2) (metode induktif yang sempurna), dan hal ini riwayat-riwayat yang berkaitan dengan gramatika mustahil. Yang dapat dilakukan hanyalah al-istiqra (nahw); (3) riwayat-riwayat yang berkaitan dengan al-naqish (metode induktif yang tidak sempurna), perubahan kata (sharaf); (4) redaksi yang dimaksud dan ini tidak menghasilkan kepastian. Dengan kata bukan kata bertimbal (ambigu, musytarak); atau lain, yang dihasilkan adalah sesuatu yang bersifat 10  Sepuluh kemungkinan. zhanniy. Yang Qathiy dalam Al-Quran Apakah pendapat Al-Syathibi di atas pada akhirnya dinamai qathiy. mengantarkan kita untuk berkesimpulan bahwa Menurut Al-Syathibi lebih jauh, "kepastian tidak ada yang qathiy dalam Al-Quran? Memang makna" (qathiyyah al-dalalah) suatu nash muncul demikian jika ditinjau dari sudut ayat-ayat dari sekumpulan dalil zhanniy yang kesemuanya tersebut secara berdiri sendiri. Tetapi lebih jauh ia mengandung kemungkinan makna yang sama. menjelaskan bagaimana proses yang dilalui oleh Terhimpunnya makna yang sama dari dalil-dalil suatu hukum yang diangkat dari nash sehingga ia yang beraneka ragam itu memberi "kekuatan"148
    • tersendiri. Ini pada akhirnya berbeda dari keadaan damai atau perang, dalam keadaan berdiri ataumasing-masing dalil tersebut ketika berdiri sendiri. —bila uzur— duduk atau berbaring atau bahkanKekuatan dari himpunan tersebut menjadikannya dengan isyarat sekalipun;tidak bersifat zhanniy lagi. Ia telah meningkat (d) Pengalaman-pengalaman yang diketahuimenjadi semacam mutawatir manawiy, dan secara turun-temurun dari Nabi saw., sahabatdengan demikian dinamailah ia sebagai qathiy beliau, dan generasi sesudahnya, yang tidakal-dalalah.(11) pernah meninggalkannya. Jika perhatian hanya ditujukan kepada Kumpulan nash yang memberikan makna-nash Al-Quran yang berbunyi aqimu al-shalah makna tersebut, yang kemudian disepakati olehmisalnya, maka nash ini tidak pasti menunjuk umat, melahirkan pendapat bahwa penggalankepada wajibnya shalat, walaupun redaksinya ayat aqimu al-shalah secara pasti atau qathiyberbentuk perintah, sebab, banyak ayat Al-Quran mengandung makna wajibnya shalat. Jugayang menggunakan redaksi perintah tapi dinilai disepakati bahwa tidak ada kemungkinan arti lainbukan sebagai perintah wajib. Kepastian tersebut yang dapat ditarik darinya. Di sini, kewajiban shalatdatang dari pemahaman terhadap nash-nash lain yang ditarik dari aqimu al-shalat, menjadi aksioma.yang, walaupun dengan redaksi atau konteks Di sini berlaku malum min al-din bi al-dharurah.berbeda-beda, disepakati bahwa kesemuanya Biasanya, ulama-ulama ushul al-fiqh menunjukmengandung makna yang sama. Dalam contoh kepada ijma untuk menetapkan sesuatu yangdi atas, ditemukan sekian banyak ayat atau hadis bersifat qathiy. Sebab, jika mereka menunjukyang menjelaskan antara lain hal-hal berikut: kepada nash (dalil naqli) secara berdiri sendiri, (a) Pujian kepada orang-orang yang shalat; maka akan dapat terbuka peluang —bagi (b) Celaan dan ancaman bagi yang mereka yang tidak mengetahui ijma itu— untukmeremehkan atau meninggalkannya; mengalihkan makna yang dimaksud dan telah (c) Perintah kepada mukallaf untuk disepakati itu ke makna yang lain. Nah, gunamelaksanakannya dalam keadaan sehat atau sakit, menghindari hal inilah mereka langsung menunjuk kepada ijma. 11  Lebih jauh lihat Al-Syathibi, op cit., h. 96-37 149
    • Perlu ditambahkan bahwa suatu ayat atau ijma (sepakat) menyatakan kewajiban membasuh hadis mutawatir dapat menjadi qathiy dan kepala dalam berwudhu berdasarkan berbagai zhanniy pada saat yang sama. Firman Allah yang argumentasi. Namun, mereka berbeda pendapat berbunyi Wa imsahu bi ruusikum adalah qathiy tentang arti dan kedudukan ba pada lafal bi al-dalalah menyangkut wajibnya membasuh ruusikum. Dengan demikian, kedudukan ayat kepala dalam ber-wudhu : Tetapi ia zhanniy al- tersebut menjadi qathiy bi itibar wa zhanniy bi dalalah dalam hal batas atau kadar kepala yang itibar akhar.(12) Di satu sisi ia menunjuk kepada harus dibasuh. Keqathiy-an dan ke-zhanniy-an makna yang pasti, dan di sisi lain ia memberi tersebut disebabkan karena seluruh ulama ber- berbagai alternatif makna. 12  Dari satu sisi qathiy dan sisi lain zhanniy. Catatan Akhir Dari sini jelas bahwa masalah qathiy dan banyak alasan untuk sepakat menetapkan zhanniy bermuara kepada sejumlah argumentasi arti suatu ayat sehingga pada akhirnya ia yang maknanya disepakati oleh ulama (mujma menjadi qathiy al-dalalah. "Mengabaikan alayh), sehingga tidak mungkin lagi timbul persepakatan mereka dapat menimbulkan makna yang lain darinya kecuali makna yang kebingunan dan kesimpangsiuran di telah disepakati itu. Bukankah ia telah disepakati kalangan umat," tulis Yusuf Qardhawi.(13) bersama? » Harus disadari bahwa di dalam banyak Dalam hal kesepakatan tersebut, kita perlu kitab seringkali ditemukan pernyataan- mencatat beberapa butir masalah: pernyataan ijma menyangkut berbagai » Walaupun para ulama berbeda pendapat masalah —aqidah atau syari ah. Namun, tentang kedudukan ijma sebagai dalil, pada hakikatnya, masalah tersebut tidak namun agaknya tidak diragukan bahwa memiliki ciri ijma. Mahmud Syaltut, para pendahulu (salaf) yang hidup pada 13  Yusuf Al-Qardhawiy, Fiqh Al-Zakah, Muassasat Al-Risalah, abad-abad pertama tentu mempunyai Beirut, Cet. IV, jilid I, h. 25.150
    • mengutip tulisan Imam Syafii dalam riwayat-riwayat."(16) Al-Risalah, menulis demikian: "Saya tidak » Umat Islam, termasuk sebagian ulamanya, berkata, dan tidak pula seseorang dari kerap kali beranggapan bahwa suatu kalangan yang berilmu, bahwa Ini mujma masalah telah menjadi kesepakatan para alayh (disepakati), sampai suatu saat Anda ulama. Padahal sesungguhnya hal tersebut tidak bertemu dengan seorang alim pun baru merupakan kesepakatan antar ulama kecuali semuanya berpendapat sedemikian, mazhabnya. Hal ini sekali lagi berarti bahwa yang disampaikan (sumbernya) adalah yang disepakati ke-qathiy-annya haruslah orang-orang sebelumnya —seperti bahwa diteliti dengan cermat. shalat zhuhur adalah empat rakaat, bahwa Demikianlah beberapa pokok pikiran khamr haram, dan yang semacamnya."(14) menyangkut masalah qathiy. Adapun persoalan » Tidak semua alim atau pakar dapat dijadikan zhanniy, agaknya sudah menjadi jelas dengan rujukan dalam menetapkan kesepakatan memahami istilah qathiy yang diuraikan di atas. (ijma) tersebut. Ibrahim bin Umar Al-Biqaiy (809-885 H) misalnya,(15) tidak mengakui Fakhruddin Al-Raziy sebagai salah seorang yang dapat diterima otoritasnya dalam menetapkan "kesepakatan". Ia menulis demikian: "Tidak dirujuk untuk mengetahui ijma kecuali para pakar yang mendalami14  Mahmud Syaltut, Al-Islam Aqidah wa Syariah, Dar Al- Qalam, Mesir, 1966, Cet. III, h. 72.15  Ibrahim bin Umar Al-Biqaiy adalah salah seorang pakar tafsir yang karyanya, Nazhm Al-Dhurar fi Tanasub Al-Ayat wa 16  Lihat Ibrahim bin Umar Al-Biqaiy, Nazhm Al-Dhurar, Al-Suwar, dinilai sebagai ensiklopedi dalam bidang sistematika manuskrip di Perpustakaan Al-Azhar, Kairo, Mesir, no. runtutan ayat-ayat Al-Quran. 590-Tafsir, Jilid II, h. 197. 151
    • 152
    • Soal Nasikh dan Mansukh Seandainya (Al-Quran ini) datangnya bukan dari Allah, niscaya mereka akan 17 menemukan di dalam (kandungan)-nya ikhtilaf (kontradiksi) yang banyak (QS 4:82).A yat Al-Quran tersebut di atas merupakan prinsip yang di yakini kebenarannyaoleh setiap Muslim. Namun demikian, para Sebelum menguraikan arti nasikh dan mansukh dari segi terminologi, perlu digarisbawahi bahwa para ulama sepakat tentang tidak ditemukannyaulama berbeda pendapat tentang bagaimana ikhtilaf dalam arti kontradiksi dalam kandunganmenghadapi ayat-ayat yang sepintas lalu ayat-ayat Al-Quran. Dalam menghadapi ayat-menunjukkan adanya gejala kontradiksi. Dari ayat yang sepintas lalu dinilai —memiliki gejalasinilah kemudian timbul pembahasan tentang kontradiksi, mereka mengkompromikannya.nasikh dan mansukh. Pengkompromian tersebut ditempuh oleh satu Di dalam Al-Quran, kata naskh dalam berbagai pihak tanpa menyatakan adanya ayat yang telahbentuknya, ditemukan sebanyak empat kali, yaitu dibatalkan, dihapus, atau tak berlaku lagi, den adadalam QS 2:106, 7:154, 22:52, dan 45:29. Dari segi pula dengan menyatakan bahwa ayat yang turunetimologi, kata tersebut dipakai dalam beberapa kemudian telah membatalkan kandungan ayatarti, antara lain pembatalan, penghapusan, sebelumnya, akibat perubahan kondisi sosial.(1)pemindahan dari satu wadah ke wadah lain, Apa pun cara rekonsiliasi tersebut, padapengubahan, dan sebagainya. Sesuatu yang akhirnya mereka sependapat bahwa tidak adamembatalkan, menghapus, memindahkan, dan kontradiksi dalam ayat-ayat Al-Quran. Karenasebagainya, dinamai nasikh. Sedangkan yang 1  Lihat antara lain Al-Fairuzzabadiy dalam Al-Qamus Al-dibatalkan, dihapus, dipindahkan, dan sebagainya, Muhith, Al-Halabiy, Mesir, cet. II, 1952, Jilid I, h. 281. Lihat juga Al-Zarkasyi dalam Al-Burhan fi Ulum Al-Quran, Al-dinamai mansukh. Halabiy, Mesir, 1957, cet. I, jilid III, h. 28.
    • disepakati bahwa syarat kontradiksi, antara lain, lain-lain. adalah persamaan subjek, objek, waktu, syarat, dan Arti Naskh Terdapat perbedaan pengertian tentang ada yang beranggapan bahwa ketetapan hukum terminologi naskh. Para ulama mutaqaddimin Islam yang membatalkan hukum yang berlaku (abad I hingga abad III H) memperluas arti naskh pada masa pra-Islam merupakan bagian dari sehingga mencakup: (a) pembatalan hukum yang pengertian naskh.(3) ditetapkan terdahulu oleh hukum yang ditetapkan Pengertian yang demikian luas dipersempit kemudian; (b) pengecualian hukum yang bersifat oleh para ulama yang datang kemudian umum oleh hukum yang bersifat khusus yang (mutaakhirin). Menurut mereka naskh terbatas datang kemudian; (c) penjelasan yang datang pada ketentuan hukum yang datang kemudian, kemudian terhadap hukum yang bersifat samar; (d) guna membatalkan atau mencabut atau penetapan syarat terhadap hukum terdahulu yang menyatakan berakhirnya masa pemberlakuan belum bersyarat.(2) hukum yang terdahulu, sehingga ketentuan Bahkan ada di antara mereka yang hukum yang berlaku adalah yang ditetapkan beranggapan bahwa suatu ketetapan hukum yang terakhir. ditetapkan oleh satu kondisi tertentu telah menjadi Para ulama tidak berselisih pendapat tentang mansukh apabila ada ketentuan lain yang berbeda adanya ayat-ayat Al-Quran mencakup butir-butir akibat adanya kondisi lain, seperti misalnya b, c, dan d, yang dikemukakan oleh para ulama perintah untuk bersabar atau menahan diri pada mutaqaddimin tersebut. Namun istilah yang periode Makkah di saat kaum Muslim lemah, diberikan untuk hal-hal tersebut bukannya naskh dianggap telah di-naskh oleh perintah atau izin tetapi takhshish (pengkhususan). berperang pada periode Madinah, sebagaimana Yang kemudian menjadi bahan perselisihan 2  Al-Syatibi, Al-Muwafaqat fi Ushul Al-Syariat, Dar Al-Maarif, 3  Abdul Azim Al-Zarqani, Manahil A-Irfan fi Ulum Beirut, 1975, jilid III, h. 108. Al-Quran, Al-Halabiy, Mesir 1980, Jilid II, h. 254.154
    • adalah butir a, dalam arti adakah ayat yang maka merupakan suatu tindakan bijaksana apabiladibatalkan hukumnya atau tidak? Para ulama yang ia di-naskh (dibatalkan) dan diganti dengan hukummenyatakan adanya naskh dalam pengertian yang sesuai dengan waktu, sehingga dengantersebut mengemukakan alasan-alasan demikian ia menjadi lebih baik dari hukum semulaberdasarkan aql dan naql (Al-Quran). atau sama dari segi manfaatnya untuk hamba- Ibn Katsir, dalam rangka membuktikan hamba Allah."(5)kekeliruan orang-orang Yahudi yang Lebih jauh dikatakannya bahwa hal ini samamempertahankan ajaran agama mereka dan dengan obat-obat yang diberikan kepada pasien.menolak ajaran Islam dengan dalih tidak mungkin Para nabi dalam hal ini berfungsi sebagai dokter,Tuhan membatalkan ketetapan-ketetapannya yang dan hukum-hukum yang diubahnya sama dengantermaktub dalam Taurat, menyatakan: "Tidak ada obat-obat yang diberikan oleh dokter.(6)alasan yang menunjukkan kemustahilan adanya Ada dua butir yang harus digarisbawahinaskh atau pembatalan dalam hukum-hukum dari pernyataan AlMaraghi di atas. Pertama,Allah, karena Dia (Tuhan) menetapkan hukum mempersamakan nabi sebagai dokter dan hukum-sesuai kehendak-Nya dan melakukan apa saja yang hukum sebagai obat memberikan kesan bahwadiinginkanNya."(4) nabi dapat mengubah atau mengganti hukum- Al-Maraghi menjelaskan hikmah adanya naskh hukum tersebut, sebagaimana dokter menggantidengan menyatakan bahwa: "Hukum-hukum obat-obatnya. Kedua, mempersamakan hukumtidak diundangkan kecuali untuk kemaslahatan yang ditetapkan dengan obat tentunya tidakmanusia dan hal ini berubah atau berbeda akibat mengharuskan dibuangnya obat-obat tersebut,perbedaan waktu dan tempat, sehingga apabila walaupun telah tidak sesuai dengan pasienada satu hukum yang diundangkan pada suatu tertentu, karena mungkin masih ada pasien lainwaktu karena adanya kebutuhan yang mendesak yang membutuhkannya.(ketika itu) kemudian kebutuhan tersebut berakhir, 5  Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghiy, Al-Halabiy, 4  Ismail Ibn Katsir, Tafsir Al-Quran Al-Azhim, Sulaiman Mesir, 1946, jilid I, h. 187. Mariy, Singapura, t.t.h., jilid I, h. 151. 6 Ibid. 155
    • Pada hakikatnya tidak ada perselisihan tersebut dengan menyatakan bahwa "ayat" yang pendapat di kalangan para ulama tentang dimaksud adalah mukjizat para nabi.(7) Mereka juga dapatnya diadakan perubahan-perubahan mengemukakan ayat 101 Surat Al-Nahl: hukum, antara lain atas dasar pertimbangan yang dikemukakan oleh Al-Maraghi di atas. Tetapi yang Apabila Kami mengganti satu ayat di tempat mereka maksudkan dan yang disepakati itu adalah ayat yang lain dan Tuhan mengetahui apa perubahan-perubahan hukum yang dihasilkan yang diturunkannya, maka mereka berkata oleh ijtihad mereka sendiri atau perubahan- sesungguhnya engkau hanyalah pembohong. perubahan yang dilakukan oleh Tuhan bagi mereka yang berpendapat adanya naskh dalam Al-Quran. Disisi lain, mereka yang menolak adanya naskh Pendukung-pendukung naskh juga dalam Al-Quran, beranggapan bahwa pembatalan mengemukakan ayat Al-Baqarah 106, yang hukum dari Allah mengakibatkan satu dari dua terjemahan harfiahnya adalah; kemustahilan-Nya, yaitu (a) ketidaktahuan, sehingga Dia perlu mengganti atau membatalkan Kami tidak me-naskh-kan satu ayat atau Kami satu hukum dengan hukum yang lain; dan (b) menjadikan manusia lupa kepadanya kecuali kesia-siaan dan permainan belaka. Kami mendatangkan yang lebih baik darinya Argumentasi ini jelas tertolak dengan atau yang sebanding. Apakah Kamu tidak memperhatikan argumentasi logis pendukung mengetahui sesungguhnya Allah berkuasa atas naskh. segala sesuatu. Alasan lain yang dapat dianggap terkuat adalah firman Allah QS 41:42, Tidak datang kepadanya Menurut mereka, "ayat" yang di naskh (Al-Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari itu adalah ayat Al-Quran yang mengandung belakangnya. ketentuan-ketentuan hukum. Penafsiran ini Ayat tersebut di atas menurut Abu Muslim berbeda dengan penafsiran mereka yang menolak 7  Lihat antara lain Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar, Dar Al-Manar, Mesir, 1367 H, cet. III, jilid 1, h. adanya naskh dalam pengertian terminologi 415-416.156
    • Al-Isfahani menegaskan bahwa Al-Quran tidak dapat dikompromikan, dan (b) harus diketahuidisentuh oleh "pembatalan", dan dengan demikian secara meyakinkan perurutan turunnya ayat-ayatbila naskh diartikan sebagai pembatalan, maka tersebut, sehingga yang lebih dahulu ditetapkanjelas ia tidak terdapat dalam Al-Quran. sebagai mansukh, dan yang kemudian sebagai Pendapat Abu Muslim di atas ditangkis oleh nasikh.(9)para pendukung naskh dengan menyatakan Di sini para penolak adanya naskh dalam Al-bahwa ayat tersebut tidak berbicara tentang Quran dari saat ke saat membuktikan kemampuanpembatalan tetapi "kebatilan" yang berarti lawan mereka mengkompromikan ayat-ayat Al-Qurandari kebenaran. Hukum Tuhan yang dibatalkannya yang tadinya dinilai kontradiktif. Sebagian daribukan berarti batil, karena sesuatu yang dibatalkan usaha mereka itu telah diterima secara baik olehpenggunaannya karena adanya perkembangan para pendukung naskh sendiri, sehingga jumlahdan kemaslahatan pada suatu waktu bukan berarti ayat-ayat yang masih dinilai kontradiktif olehbahwa yang dibatalkan itu ketika berlakunya para pendukung naskh dari hari ke hari semakinmerupakan sesuatu yang tidak benar, dan dengan berkurang.demikian yang dibatalkan dan membatalkan Dalam hal ini agaknya dibutuhkan usahakeduanya adalah hak dan benar, bukan batil.(8) rekonsiliasi antara kedua kelompok ulama Agaknya kita dapat berkesimpulan bahwa tersebut, misalnya dengan jalan meninjau kembaliargumentasi yang dikemukakan oleh penolak pengertian istilah naskh yang dikemukakan olehadanya naskh dalam Al-Quran telah dibuktikan para ulama mutaakhir, sebagaimana usaha merekakelemahan-kelemahannya oleh para pendukung meninjau istilah yang dikemukakan oleh paranaskh. Namun demikian masalah kontradiksi ulama mutaqaddim.belum juga terselesaikan. Untuk maksud tersebut, kita cenderung Para pendukung naskh mengakui bahwa menjadikan pemikiran Muhammad Abduh dalamnaskh baru dilakukan apabila, (a) terdapat dua ayat penafsirannya tentang ayat-ayat Al-Quran sebagaihukum yang saling bertolak belakang dan tidak titik tolak. 8  Lihat Abdul Azim Al-Zarqani, op cit., h. 208. 9  Ibid., h. 209. 157
    • Muhammad Abduh —walaupun tidak tentang siapa yang membawanya "turun" serta mendukung pengertian kata "ayat" dalam Al- tuduhan kaum musyrik terhadapnya (Al-Quran). Baqarah ayat 106 sebagai "ayat-ayat hukum Kembali kepada Abduh, di sana terlihat bahwa dalam Al-Quran", dengan alasan bahwa penutup dia menolak adanya naskh dalam arti pembatalan, ayat tersebut menyatakan "Sesungguhnya tetapi menyetujui adanya tabdil (pergantian, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu" yang pengalihan, pemindahan ayat hukum di tempat menurutnya mengisyaratkan bahwa "ayat" yang ayat hukum yang lain). dimaksud adalah mukjizat— tetap berpendapat Dengan demikian kita cenderung memahami bahwa dicantumkannya kata-kata "Ilmu Tuhan", pengertian naskh dengan "pergantian atau "diturunkan", "tuduhan kebohongan", adalah pemindahan dari satu wadah ke wadah yang lain" isyarat yang menunjukkan bahwa kata "ayat" (lihat pengertian etimologis kata naskh). Dalam dalam surat Al-Nahl ayat 101 adalah ayat-ayat arti bahwa kesemua ayat Al-Quran tetap berlaku, hukum dalam Al-Quran.(10) tidak ada kontradiksi. Yang ada hanya pergantian Apa yang dikemukakan oleh Abduh di atas hukum bagi masyarakat atau orang tertentu, lebih dikuatkan lagi dengan adanya kata "Ruh karena kondisi yang berbeda. Dengan demikian Al-Quds" yakni Jibril yang mengantarkan turunnya ayat hukum yang tidak berlaku lagi baginya, Al-Quran. Bahkan lebih dikuatkan lagi dengan tetap dapat berlaku bagi orang-orang lain yang memperhatikan konteks ayat tersebut, baik kondisinya sama dengan kondisi mereka semula. ayat-ayat sebelum maupun sesudahnya. Ayat 98 Pemahaman semacam ini akan sangat sampai 100 berbicara tentang cara mengucapkan membantu dakwah Islamiyah, sehingga ayat-ayat taawwudz (audzu billah) apabila membaca Al- hukum yang bertahap tetap dapat dijalankan oleh Quran serta sebab perintah tersebut. Ayat 101 mereka yang kondisinya sama atau mirip dengan berbicara tentang "pergantian ayat-ayat (yang kondisi umat Islam pada awal masa Islam. tentunya harus dipahami sebagai ayat-ayat Al- Quran)". Kemudian ayat 102 dan 103 berbicara 10  Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, op cit., h. 237.158
    • Siapa yang Berwenang Melakukan Naskh? Pertanyaan di atas tentunya hanya ditujukan Walaupun terjadi perbedaan pendapat di atas,kepada mereka yang mengakui adanya naskh namun secara umum dapat dikatakan bahwadalam Al-Quran, baik dalam pengertian yang mereka semua bersepakat menyatakan bahwadikemukakan oleh para ulama mutaakhir maupun yang dapat me-naskh Al-Quran hanyalah wahyu-dalam pengertian yang kita kemukakan di atas. wahyu Ilahi yang bersifat mutawatir (diyakini Pengarang buku Manahil Al-Irfan kebenaran nisbahnya kepada Nabi saw.). Walaupunmengemukakan bahwa Para ulama berselisih demikian, mereka berselisih tentang cakupan katapaham tentang boleh-tidaknya Nabi saw. me- "wahyu Ilahi" tersebut, apakah Sunnah termasuknaskh ayat-ayat Al-Quran. Selanjutnya mereka yang wahyu atau bukan.membolehkannya secara teoretis berbeda paham Syarat bahwa wahyu tersebut harus bersifatpula tentang apakah dalam kenyataan faktual ada mutawatir, disebabkan karena sebagaimanahadis Nabi yang me-naskh ayat atau tidak?(11) dikatakan oleh Al-Syathibi: "Hukum-hukum apabila Menurutnya, Al-Syafii, Ahmad (dalam satu telah terbukti secara pasti ketetapannya terhadapriwayat yang dinisbahkan kepadanya), dan Ahl mukallaf, maka tidak mungkin me-naskh-nyaAl-Zhahir, menolak —walaupun secara teoretis— kecuali atas pembuktian yang pasti pula."(12) Sebabdapatnya Sunnah me-naskh Al-Quran. Sebaliknya adalah sangat riskan untuk membatalkan sesuatuImam Malik, para pengikut mazhab Abu Hanifah, yang pasti berdasarkan hal yang belum pasti.dan mayoritas para teolog baik dari Asyariah Atas dasar hal tersebut di atas, kita dapatmaupun Mutazilah, memandang bahwa tidak ada berkata bahwa persoalan kini telah beralih darihalangan logis bagi kemungkinan adanya naskh pembahasan teoretis kepada pembahasan praktis.tersebut. Hanya saja mereka kemudian berbeda Pertanyaan yang muncul di sini adalah "apakahpendapat tentang ada tidaknya Sunnah Nabi yang ada Sunnah Nabi yang mutawatir yang telahme-naskh Al-Quran. membatalkan ayat-ayat Al-Quran?" 11  Abdul Azim Al-Zarqani, op cit., h. 237. 12  Al-Syatibi, op cit., h. 105. 159
    • Dalam hal ini pengarang Manahil Al-Irfan Adapun jika yang dimaksud dengan naskh mengemukakan empat hadis yang kesemuanya adalah "pergantian" seperti yang dikemukakan di bersifat ahad (tidak mutawatir), namun dinilai atas, maka agaknya di sini terdapat keterlibatan oleh sebagian ulama telah me-naskh ayat-ayat para ahli untuk menentukan pilihannya dari Al-Quran. Apakah ini berarti bahwa tidak ada hadis sekian banyak alternatif ayat hukum yang telah mutawatir yang me-naskh Al-Quran? Agaknya ditetapkan oleh Allah dalam Al-Quran menyangkut memang demikian. Di sisi lain, keempat hadis kasus yang dihadapi. Satu pilihan yang didasarkan tersebut, setelah diteliti keseluruhan teksnya, atas kondisi sosial atau kenyataan objektif dari menunjukkan bahwa yang me-naskh ayat —kalau masing-masing orang. Ada tiga ayat hukum hal tersebut dinamai naskh— bukannya hadis tadi, yang berbeda menyangkut khamr (minuman melainkan ayat yang ditunjuk oleh hadis tersebut. keras). Ketiganya tidak batal, melainkan berubah Hadis "La washiyyata li warits" (tidak dibenarkan sesuai dengan perubahan kondisi. Para ahli dapat adanya wasiat untuk penerima warisan), yang oleh memilih salah satu di antaranya, sesuai dengan sementara ulama dinyatakan sebagai me-naskh kondisi yang dihadapinya. ayat "kewajiban berwasiat" (QS 2:180), ternyata Hal ini agaknya dapat dikuatkan dengan setelah diteliti keseluruhan teksnya berbunyi: memperhatikan bentuk plural pada ayat Al-Nahl Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada tersebut, "apabila Kami mengganti suatu ayat setiap yang berhak haknya, dengan demikian tidak ...", kata "kami" di sini menurut hemat penulis, ada (tidak dibenarkan) wasiat kepada penerima sebagaimana halnya secara umum kata "Kami" warisan. yang menjadi pengganti nama Tuhan dalam Kata-kata "sesungguhnya Allah telah ayat-ayat lain, menunjukkan adanya keterlibatan memberikan" dan seterusnya menunjuk kepada selain Tuhan (manusia) dalam perbuatan yang ayat waris. Dan atas dasar itu, hadis tersebut digambarkan oleh kata kerja pada masing-masing menyatakan bahwa yang me-naskh adalah ayat- ayat. Ini berarti ada keterlibatan manusia (yakni ayat waris tersebut, bukan hadis Nabi saw. yang para ahli) untuk menetapkan alternatifnya dari bersifat ahad tersebut. sekian banyak alternatif yang ditawarkan oleh ayat-160
    • ayat Al-Quran yang mansukh atau diganti itu. 161
    • 162
    • Pokok-Pokok Bahasan Tafsir 18 Problematik Tafsir Al-Quran pada hakikatnya menempati posisi Di sisi lain, terdapat kaum terpelajar Muslimsentral dalam studi-studi keislaman. Di samping yang mempelajari berbagai disiplin ilmu. Iniberfungsi sebagai huda (petunjuk), Al-Quran juga antara lain didorong keinginan untuk memahamiberfungsi sebagai furqan (pembeda). Ia menjadi petunjuk; informasi dan mukjizat Al-Quran. Karenatolok ukur dan pembeda antara kebenaran dan Al-Quran berbicara tentang berbagai aspekkebatilan, termasuk dalam penerimaan dan kehidupan serta mengemukakan beraneka ragampenolakan setiap berita yang disandarkan kepada masalah, yang merupakan pokok-pokok bahasanNabi Muhammad saw. berbagai disiplin ilmu, maka kandungannya tidak Keberadaan Al-Quran di tengah-tengah umat dapat dipahami secara baik dan benar tanpaIslam, ditambah dengan keinginan mereka untuk mengetahui hasil-hasil penelitian dan studi padamemahami petunjuk dan mukjizat-mukjizatnya, bidang-bidang yang dipaparkan oleh Al-Quran.telah melahirkan sekian banyak disiplin ilmu Syaikh Muhammad Abduh menegaskankeislaman dan metode-metode penelitian. Ini —sebagaimana ditulis oleh muridnya, Rasyiddimulai dengan disusunnya kaidah-kaidah ilmu Ridha— dalam Muqaddimah Tafsir Al-Manar: "Sayanahwu oleh Abu Al-Aswad Al-Dualiy, atas petunjuk tidak mengetahui bagaimana seseorang dapatAli ibn Abi Thalib (w. 661 M), sampai dengan menafsirkan firman Allah SWT, yang berbunyilahirnya ushul al fiqh oleh Imam Al-Syafii (767-820 Kana al-nas ummah wahidah (QS 2:213), kalauM), bahkan hingga kini, dengan lahirnya berbagai dia tidak mengetahui keadaan umat manusiametode penafsiran Al-Quran (yang terakhir adalah dan sejarahnya (sejarah dan sosiologi)." Tentunyametode mawdhuiy atau tawhidiy). pernyataan ini berlaku pula dalam hubungannya
    • dengan ayat yang berbicara tentang astronomi, Islam, selalu merujuk kepada Al-Quran (dan embriologi, ekonomi, dan sebagainya. hadis), baik ketika menarik ide-ide maupun ketika Begitu juga dengan pembuktian tentang mempertahankannya. Semua itu membuktikan mukjizat Al-Quran. Dalam hal ini, sungguh tepat bahwa Al-Quran menempati posisi sentral dalam penegasan Malik bin Nabi, pemikir Muslim studi-studi keislaman. kontemporer asal Aljazair itu, bahwa "Tidak Baiklah kita mengemukakan satu contoh. seorang Muslim pun dewasa ini —lebih-lebih yang Dewasa ini tidak seorang pakar atau ulama pun bukan dari negara-negara berbahasa Arab— yang menolak ide dasar pendapat yang menyatakan dapat memahami kemukjizatan Al-Quran dengan bahwa metode matsur, yakni memahami atau membandingkan satu ayat dengan sepenggal menafsirkan ayat Al-Quran dengan ayat yang kalimat berbentuk prosa atau puisi pra-Islam." lain atau dengan hadis-hadis Nabi Muhammad Penegasan tersebut berarti tidak seorang pun saw. dan pendapat para sahabat sebagai metode dewasa ini yang dapat merasakan secara sempurna tafsir terbaik. Masalahnya, yang dikandung oleh keindahan bahasa Al-Quran —yang merupakan pendapat di atas tidak luput dari kekurangan yang salah satu mukjizatnya— sejak lunturnya masih memerlukan pemikiran yang serius. kemampuan dan rasa kebahasaan orang-orang Pertanyaan-pertanyaan yang dapat muncul, Arab sendiri. Dan karena itu, kata Malik lebih jauh, sehubungan dengan metode tafsir ini, antara lain harus diupayakan untuk mencari pembuktian adalah: Siapa yang berwewenang menetapkan lain yang sesuai. Untuk maksud tersebut, ia telah bahwa ayat A ditafsirkan oleh ayat B? Apakah mencoba dalam bukunya, Le Phenomena Quranic, hanya Rasulullah saw. sendiri, atau para sahabat, melalui pendekatan sejarah agama. bahkan atau juga ulama-ulama sesudahnya, Apa yang dilukiskan di atas menjadi salah misalnya Al-Thabari dan Ibnu Katsir? Apa kriteria satu bukti betapa pentingnya. studi tentang yang harus dikandung oleh masing-masing ayat Al-Quran. Akhirnya, walaupun bukan yang untuk maksud tersebut? Dan banyak pertanyaan terakhir, kenyataan menunjukkan bahwa seluruh lain. Kesemuanya masih memerlukan jawaban kelompok dan atau aliran yang berpredikat atau penjelasan yang konkret, karena —kalau164
    • tidak— dapat saja terjadi penafsiran ulama yang Dewasa ini, cukup banyak tantangan yangmenggunakan ayat Al-Quran menempati posisi dihadapi masyarakat Islam, bahkan umat manusia,yang lebih tinggi daripada penafsiran Rasul saw. yang menanti petunjuk pemecahannya. Ini harusIni menjadi masalah, sebab, bukankah para ulama diantisipasi. Sebab, bukankah kitab-kitab suci yangterdahulu menyatakan bahwa peringkat tertinggi diturunkan oleh Allah berfungsi "memberi jalandari penafsiran adalah penafsiran ayat dengan keluar bagi perselisihan dan problem-problemayat, baru kemudian disusul dengan penafsiran masyarakat" (QS 2:213)? Umat Islam, melalui paraRasulullah saw. (hadis), dan terakhir adalah pakarnya, dituntut untuk memfungsikan Al-Quranpenafsiran para sahabat? Ini merupakan salah satu sebagaimana ditunjuk di atas; dan hal ini tidakcontoh permasalahan masa lampau yang perlu mungkin dapat terlaksana tanpa pemahamandiselesaikan. secara baik atas petunjuk-petunjuk kitab suci itu. Pengertian dan Tujuan Pengajaran Tafsir Berbagai definisi yang berbeda dikemukakan firman-firman Allah; atau apa yang menjelaskanoleh para ahli tentang tafsir. Perbedaan tersebut arti dan maksud lafal-lafal Al-Quran". Bagi mereka,pada dasarnya timbul akibat perbedaan mereka tafsir bukan suatu cabang ilmu.tentang ada tidaknya kaidah-kaidah yang dapat Pihak lainnya yang berpendapat bahwadijadikan patokan dalam memahami firman-firman terdapat kaidah-kaidah tafsir, mengemukakanAllah dalam Al-Quran. Satu pihak beranggapan definisi yang dapat disimpulkan dalam formulasibahwa kemampuan menjelaskan atau memahami berikut bahwa tafsir adalah "suatu ilmu yangfirman-firman Allah itu bukanlah berdasarkan membahas tentang maksud firman-firman Allahkaidah-kaidah tertentu yang bersumber dari SWT, sesuai dengan kemampuan manusia".ilmu-ilmu bantu, tetapi harus digali langsung Terdapat beberapa faktor yang menyebabkandari Al-Quran berdasarkan petunjuk-petunjuk perbedaan pendapat tersebut. Namun, yangNabi saw., dan sahabat-sahabat beliau. Pihak ini jelas, pendapat pihak pertama memperberatmendefinisikan tafsir sebagai "penjelasan tentang tugas-tugas mufasir dalam menjelaskan atau 165
    • menemukan tuntunan-tuntunan Al-Quran dahulu tujuan pengajaran tafsir di IAIN. yang bersifat dinamis, disamping mempersulit Tujuan yang dimaksud di atas bukannya seseorang yang ingin memperdalam tujuan akhir yang ideal dari suatu pendidikan pengetahuannya tentang Al-Quran dalam waktu yang kemudian diturunkan menjadi tujuan yang relatif singkat. Inilah agaknya yang menjadi kurikuler sampai kepada tujuan instruksional, sebab mengapa definisi kedua lebih populer dan tetapi terbatas hanya pada bidang kognitif tanpa luas diterima oleh para pakar Al-Quran daripada mempermasalahkan segi afektif dan psikomotorik definisi pertama. kehidupan peserta didik. Diakui oleh semua pihak bahwa materi-materi Hemat penulis, pengajaran tafsir di perguruan Tafsir dan ilmunya sedemikian luas, sehingga tidak tinggi seyogianya tidak ditekankan pada mungkin akan dapat tercakup berapa pun jumlah pemahaman kandungan makna suatu ayat, atau alokasi waktu yang diberikan. "Al-Shinaah thawilah pemberian ide tentang suatu masalah dalam wa al-umr, gashir, " demikian kata Al-Zarkasyi bidang disiplin ilmu, tetapi melampaui hal dalam Al-Burhan fi Ulum Al-Quran.(1) tersebut, yaitu dengan memberi mereka kunci- Di sisi lain, perkembangan ilmu ini dan kunci yang kelak dapat mengantarkannya untuk keanekaragaman disiplinnya, menuntut para memahami Al-Quran serta kandungannya secara ahli agar bersikap sangat selektif dalam memilih mandiri. matakuliah-matakuliah yang ditampung Jika itu yang menjadi tujuan pengajaran tafsir, dalam satu kurikulum, suatu hal yang sering maka materi ayat-ayat yang dipilih, atau masalah- mengakibatkan pengasuh matakuliah tertentu masalah ilmu tafsir yang diajarkan, (mesti) tidak merasa dirugikan atau disepelekan oleh penyusun lagi menitikberatkan pada kandungan arti suatu kurikulum tersebut. ayat atau masalah tertentu, satu hal yang selama Kenyataan di atas mengantarkan kita untuk ini telah mengakibatkan tumpang-tindihnya menekankan perlunya menetapkan terlebih permasalahan tersebut dengan disiplin ilmu lain 1  Badruddin Al-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulum Al-Quran, yang juga memilih masalah yang sama. Pemilihan Al-Halabi, Mesir, 1957, Jilid 1, h. 12. Artinya, "ilmu hendaknya lebih banyak didasarkan pada pengetahuan amat luas, sedangkan usia itu pendek".166
    • cakupan kunci-kunci pemahaman yang dapat dimaksud.mengantarkan peserta didik kepada tujuan yang Pokok Bahasan Tafsir Kalau kita menoleh kepada materi Ilmu Tafsir Al-Quran sebagai petunjuk dan mukjizat; (e)atau Ulum Al-Quran sebagaimana dipaparkan otentisitas Al-Quran (tinjauan historis); (f) batas-oleh Al-Zarkasyi dalam Al-Burhan, maka akan batas keterlibatan peranan Nabi Muhammadditemukan 47 pokok bahasan, tidak termasuk di dalam Al-Quran; dan (g) sistematika perurutan ayatdalamnya materi tafsir dan pengenalan terhadap dan surat-suratnya.kitab-kitab tafsir, yang sebagian uraian tentangnya, Dengan mengetahui masalah-masalah di atas,sebagaimana diakui oleh Al-Zarkasyi sendiri, belum peserta didik diharapkan dapat mengenal Al-memadai. Quran secara sederhana tetapi utuh. Hemat penulis, secara garis besar, terdapatsekian banyak pokok bahasan tafsir yang harus 2. Pengenalan terhadap Beberapa Pokokdiketahui oleh seluruh mahasiswa IAIN, apa pun Bahasan Ilmu Tafsirnama komponen matakuliahnya. Pokok bahasan Pokok bahasan ini mencakup: (a) arti tafsir danitu antara lain: tawil; (b) tafsir, sejarah dan kepentingannya; (c) asbab al-nuzul; (d) al-munasabat (korelasi antar1. Pengenalan terhadap Al-Quran ayat); (e) al-muhkam dan al-mutasyabih; (f) sebab- Pokok bahasan ini hendaknya mencakup: sebab kekeliruan dalam menafsirkan Al-Quran; (g)(a) persoalan wahyu, pembuktian adanya corak dan aliran-aliran tafsir yang populer; dan (h)serta macam-macamnya; (b) Al-Quran dan sebab-sebab perbedaan corak penafsiran.kedudukannya dalam syariat (agama) Islam; Dengan mengetahui masalah-masalah di(c) garis-garis besar kandungannya (dengan atas, peserta didik diharapkan dapat mengetahui,penekanan bahwa Al-Quran tidak mencakup secara umum, permasalahan tafsir, kesukaranseluruh persoalan ilmu maupun agama); (d) dan kemudahannya, serta syarat-syarat yang 167
    • dibutuhkan untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Atas dasar pertimbangan tersebut, dapat kiranya Selanjutnya, sebagaimana dikemukakan di atas, dikemukakan di sini beberapa pokok bahasan pemilihan materi pengajaran hendaknya lebih yang dapat menunjang tercapainya tujuan yang ditekankan pada cakupan materi tersebut pada dimaksud. Materi-materi yang disebutkan berikut kunci-kunci yang dapat mengantarkannya secara dapat dibagi sesuai dengan alokasi waktu yang mandiri untuk memahami kandungan Al-Quran. tersedia. Materi Ulum Al-Quran Materi-materi ulum Al-Quran dapat dibagi metode tafsir; dan (4) kitab-kitab tafsir dan para dalam empat komponen: (1) pengenalan terhadap mufasir. Al-Quran; (2) kaidah-kaidah tafsir; (3) metode- Pengenalan terhadap Al-Quran Komponen ini mencakup, (a) sejarah Al-Quran, (g) aqsam Al-Quran, (h) amtsal Al-Quran, (i) naskh (b) rasm Al-Quran, (c) ijaz Al-Quran, (d) munasabat dan mansukh, (j) muhkam dan mutasyabih, dan (k) Al-Quran, (e) qishash Al-Quran, (f) jadal Al-Quran, al-qiraah. Kaidah-kaidah Tafsir Komponen ini mencakup: (a) ketentuan- Al-Quran. Sebagai contoh dapat dikemukakan ketentuan yang harus diperhatikan dalam kaidah-kaidah berikut: (1) kaidah ism dan fiil, (2) menafsirkan Al-Quran, (b) sistematika yang kaidah tarif dan tankir, (3) kaidah istifham dan hendaknya ditempuh dalam menguraikan macam-macamnya, (4) maani al-huruf seperti asa, penafsiran, dan (c) patokan-patokan khusus yang laalla, in, idza, dan lain-lain, (5) kaidah sual dan membantu pemahaman ayat-ayat Al-Quran, baik jawab, (6) kaidah pengulangan, (7) kaidah perintah dari ilmu-ilmu bantu seperti bahasa dan ushul fiqh, sesudah larangan, (8) kaidah penyebutan nama maupun yang ditarik langsung dari penggunaan dalam kisab, (9) kaidah penggunaan kata dan uslub168
    • Al-Quran, dan lain-lain. Metode-metode Tafsir Komponen ini mencakup metode-metode tafsir syarat diterimanya suatu penafsiran serta metodeyang dikemukakan oleh para ulama mutaqaddim pengembangannya; dan mencakup juga metode-dengan ketiga coraknya: al-rayu, al-matsur, metode mutaakhir dengan keempat macamnya:dan al-isyari, disertai penjelasan tentang syarat- tahliliy, ijmaliy, muqarin, dan mawdhuiy. Kitab-kitab Tafsir dan Para Mufasir Komponen ini mencakup pembahasan keistimewaan dan kelemahannya.tentang kitab-kitab tafsir baik yang lama maupun Pemilihan kitab atau pengarang disesuaikanyang baru, yang berbahasa Arab, Inggris, atau dengan berbagai corak atau aliran tafsir yangIndonesia, dengan mempelajari biografi, latar selama ini dikenal, seperti corak fiqhiy, shufiy, ilmiy,belakang, dan kecenderungan pengarangnya, bayan, falsafiy, adabiy, ijtimaiy, dan lain-lain.metode dan prinsip-prinsip yang digunakan, serta Materi Tafsir Sebagaimana dikemukakan di atas, pemilihan ayat-ayat berikut, yang mendukung berbagaimateri ayat-ayat di samping berdasarkan materi ulum Al-Quran: (1) Kisah: Al-Kahfi ayat 9-26kandungannya, juga, dan yang terutama, (ashhab al-kahfi), 83-101 (Dzu Al-Qarnain); Al-Qalamperanannya dalam menunjang pemahaman ayat 18-33 (ashhab Al-Jannah); (2) Jidal: Saba ayatmateri-materi ulum Al-Quran, baik untuk 24-7; Al-Hajj ayat 8-10 (etika berdiskusi); (3) Amtsal:pemahaman lebih dalam tentang Al-Quran, Al-Nur ayat 45; Al-Baqarah ayat 261-5; (4) Aqsam:maupun contoh-contoh penerapan kaidah-kaidah Al-Ashr dan Al-Dhuha, (5) pengulangan ism: Al-tafsir dan metode-metodenya. Insyirah ayat 5-6; (6) Al-Nakirah fi Siyaq Al-Nafi: Sebagai contoh dapat dikemukakan materi Yunus ayat 107; dan lain-lain. 169
    • 170
    • Penafsiran "Khalifah" dengan Metoda 19 Tematik Ada dua bentuk metode penafsiran tematik: satu kesatuan pembahasan sampai ditemukan (1) Penafsiran satu surah dalam Al-Quran jawaban-jawaban Al-Quran menyangkut temadengan menjelaskan tujuan-tujuannya secara (persoalan) yang dibahas.umum dan khusus atau tema sentral surah Dalam hal menghimpun ayat-ayat yangtersebut, kemudian menghubungkan ayat-ayat berkaitan dengan satu tema, beberapa ulamayang beraneka ragam itu satu dengan lain dengan menekankan bahwa tidak selalu keseluruhantema sentral tersebut. ayat yang berbicara tentang tema tertentu harus Metode ini diterapkan pertama kali oleh Al- dikumpulkan. Boleh saja —kata mereka— ayat-Syathibi dan dan dikembangkan juga antara lain ayat yang diduga keras telah dapat diwakili oleholeh Mahmud Syaltut. ayat-ayat lain, tidak lagi diangkat. (2) Menghimpun ayat-ayat Al-Quran yang Tulisan ini akan mencoba melihat beberapamembahas masalah tertentu dari berbagai surah aspek dari ayat-ayat yang berbicara tentangAl-Quran (sedapat mungkin diurut sesuai dengan khalifah dengan menggunakan metode tematikmasa turunnya, apalagi jika yang dibahas adalah dalam bentuknya yang kedua di atas. Namun,masalah hukum) sambil memperhatikan sebab tidak dengan mengangkat seluruh ayat-ayat yangnuzul, munasabah masing-masing ayat, kemudian berbicara tentang persoalan ini dalam berbagaimenjelaskan pengertian ayat-ayat tersebut yang redaksinya, karena hal tersebut memerlukanmempunyai kaitan dengan tema atau pertanyaan- penelitian yang sangat rumit dan waktu yangpertanyaan yang diajukan oleh penafsiran dalam cukup lama.
    • Arti Kata Khalifah Kata khalifah dalam bentuk tunggal terulang dapat juga akibat penghormatan yang diberikan dua kali dalam Al-Quran, yaitu dalam Al-Baqarah kepada yang menggantikan. ayat 30 dan Shad ayat 26. Tidak dapat disangkal oleh para mufasir bahwa Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh perbedaan bentuk-bentuk kata di atas (khalifah, Al-Quran, yaitu: khalaif, khulafa) masing-masing mempunyai (a) Khalaif yang terulang sebanyak empat kali, konteks makna tersendiri, yang sedikit atau banyak yakni pada surah Al-Anam 165, Yunus 14, 73, dan berbeda degan yang lain. Fathir 39. Kalau kita bermaksud merujuk kepada Al- (b) Khulafa terulang sebanyak tiga kali pada Quran untuk mengetahui kandungan makna kata surah-surah. Al-Araf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62. khalifah (karena ayat Al-Quran berfungsi pula Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata sebagai penjelas terhadap ayat-ayat lainnya), maka khulafa yang pada mulanya berarti "di belakang". dari kata khalifah yang hanya terulang dua kali itu Dari sini, kata khalifah seringkali diartikan sebagai serta konteks-konteks pembicaraannya, kita dapat "pengganti" (karena yang menggantikan selalu menarik beberapa kesimpulan makna —khususnya berada atau datang di belakang, sesudah yang dengan memperhatikan ayat-ayat surah Shad yang digantikannya). menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Al-Raghib Al-Isfahani, dalam Mufradat fi Gharib Nabi Daud. Al-Quran, menjelaskan bahwa menggantikan Nabi Daud a.s. sebagaimana diceritakan oleh yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama Al-Quran, berhasil membunuh jalut: yang digantikan, baik bersama yang digantikannya maupun sesudahnya. Lebih lanjut, Al-Isfahani Dan Daud membunuh jalut. Allah memberinya menjelaskan bahwa kekhalifahan tersebut dapat kekuasaan/kerajaan dan hikmah serta terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, mengajarkannya apa yang Dia kehendaki ... atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan172
    • Jika demikian, kekhalifahan yang Kalau kita kembali kepada ayat Al-Baqarah 30,dianugerahkan kepada Daud a.s. bertalian yang menggunakan kata khalifah untuk Adamdengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. as., maka ditemukan persamaan-persamaanHal ini diperolehnya berkat anugerah Ilahi yang dengan ayat yang membicarakan Daud a.s., baikmengajarkan kepadanya al-hikmah dan ilmu persamaan dalam redaksi maupun dalam maknapengetahuan. dan konteks uraian. Makna "pengelolaan wilayah tertentu", Adam juga dinamai khalifah. Beliau,atau katakanlah bahwa pengelolaan tersebut sebagaimana Daud, juga diberi pengetahuan —Waberkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami allama Adam al-asma kullaha— yang kekhalifahanpula pada ayat-ayat yang menggunakan bentuk keduanya berkaitan dengan Al-Ardha:khulafa : (Perhatikan ketiga ayat yang ditunjuk Inni jail fi al-ardhi khalifah (Adam) dan Ya Dauddi atas). Ini, berbeda dengan kata khalaif, yang inna Jaalnaka khalifatan fi al-ardh (Daud).tidak mengesankan adanya kekuasaan semacam Adam dan Daud keduanya digambarkanitu, sehingga pada akhirnya kita dapat berkata oleh Al-Quran sebagai pernah tergelincir tetapibahwa sejumlah orang yang tidak memiliki diampuni Tuhan. (Baca masing-masing QS 2: 36, 37,kekuasaan politik dinamai oleh Al-Quran khalaif; dan QS 38:22-25).tanpa menggunakan bentuk mufrad (tunggal). Sampai di sini, kita dapat mengambilTidak digunakannya bentuk mufrad untuk kesimpulan sementara, yaitu:makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa (1) Kata khalifah digunakan oleh Al-Qurankekhalifahan yang diemban oleh setiap orang untuk siapa yang diberi kekuasaan mengelolatidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang wilayah, baik luas maupun terbatas. Dalam hal inilain, berbeda dengan khalifah yang bermakna Daud (947-1000 S.M.) mengelola wilayah Palestina,penguasa dalam bidang politik itu. Hal ini dapat sedangkan Adam secara potensial atau aktualmewujud dalam diri pribadi seseorang atau diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya padadiwujudkannya dalam bentuk otoriter atau awal masa sejarah kemanusiaan.diktator. (2) Bahwa seorang khalifah berpotensi, bahkan 173
    • secara aktual, dapat melakukan kekeliruan dan tidak mengikuti hawa nafsu. (Baca QS 20:16, dan QS kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Karena itu, 38:261. baik Adam maupun Daud diberi peringatan agar Arti Kekhalifahan di Bumi Muhammad Baqir Al-Shadr, dalam bukunya, adalah yang digambarkan oleh ayat tersebut Al-Sunan Al-Tarikhiyah fi Al-Quran, yang antara dengan kata inni jail/inna jaalnaka khalifat yaitu lain mengupas ayat 30 Surah Al-Baqarah dengan yang memberi penugasan, yakni Allah SWT. menggunakan metode tematik, mengemukakan Dialah yang memberi penugasan itu dan dengan bahwa kekhalifahan mempunyai tiga unsur yang demikian yang ditugasi harus memperhatikan saling kait-berkait. Kemudian, ditambahkannya kehendak yang menugasinya. unsur keempat yang berada di luar, namun amat Menarik untuk diperbandingkan bahwa menentukan arti kekhalifahan dalam pandangan pengangkatan Adam sebagai khalifah Al-Quran. dijelaskan oleh Allah dalam bentuk tunggal Ketiga unsur pertama adalah: inni (sesungguhnya Aku) dan dengan kata jail Manusia, yang dalam hal ini dinamai khalifah. yang berarti akan mengangkat. Sedangkan Alam raya, yang ditunjuk oleh ayat Al-Baqarah pengangkatan Daud dijelaskan dengan sebagai ardh. menggunakan kata inna (sesungguhnya Kami) dan Hubungan antara manusia dengan alam dan dengan bentuk kata kerja masa lampau jaalnaka segala isinya, termasuk dengan manusia. (Kami telah menjadikan kamu). Hubungan ini, walaupun tidak disebutkan Kalau kita dapat menerima kaidah yang secara tersurat dalam ayat di atas, tersirat karena menyatakan bahwa penggunaan bentuk plural penunjukan sebagai khalifah tidak akan ada artinya untuk menunjuk kepada Allah mengandung jika tidak disertai dengan penugasan atau istikhlaf. makna keterlibatan pihak lain bersama Allah dalam Itulah ketiga unsur yang saling kait-berkait, pekerjaan yang ditunjuk-Nya, maka ini berarti sedangkan unsur keempat yang berada di luar bahwa dalam pengangkatan Daud sebagai khalifah174
    • terdapat keterlibatan pihak lain selain Allah, yakni hubungan manusia dengan sesamanya, bukanmasyarakat (pengikut-pengikutnya). Adapun merupakan hubungan antara Penakluk dan yangAdam, maka di sini wajar apabila pengangkatannya ditaklukkan, atau antara Tuan dengan hamba,dilukiskan dalam bentuk tunggal, bukan saja tetapi hubungan kebersamaan dalam ketundukandisebabkan karena ketika itu kekhalifahan kepada Allah SWT. Karena, kalaupun manusiayang dimaksud baru berupa rencana (Aku akan mampu mengelola (menguasai), namun halmengangkat) tetapi juga karena ketika peristiwa tersebut bukan akibat kekuatan yang dimilikinya,ini terjadi tidak ada pihak lain bersama Allah yang tetapi akibat Tuhan menundukkannya untukterlibat dalam pengangkatan tersebut. manusia. Ini berarti bahwa Daud —dan semua Ini tergambar antara lain dalam firman-Nya,khalifah— yang terlibat dengan masyarakat dalam pada surah Ibrahim ayat 32 dan Al-Zukhruf ayat 13.pengangkatannya, dituntut untuk memperhatikan Demikian itu, sehingga kekhalifahan menuntutkehendak masyarakat tersebut, karena mereka adanya interaksi antara manusia denganketika itu termasuk pula sebagai mustakhlif. sesamanya dan manusia dengan alam sesuai Tidak dikuatirkan adanya perlakuan dengan petunjuk-petunjuk Ilahi yang terterasewenang-wenang dari khalifah yang diangkat dalam wahyu-wahyu-Nya. Semua itu harusTuhan itu, selama ia benar-benar menyadari ditemukan kandungannya oleh manusia sambilarti kekhalifahannya. Karena, Tuhan sendiri memperhatikan perkembangan dan situasimemerintahkan kepada para khalifah-Nya untuk lingkungannya.selalu bermusyawarah serta berlaku adil. Dalam ayat 32 surah Al-Zukhruf ditegaskan Memang, dalam sejarah, terdapat khalifah- bahwa,khalifah yang berlaku sewenang-wenang denganalasan bahwa ia adalah wakil Tuhan di bumi. Apakah mereka yang membagi-bagi rahmatNamun, di sini ia sangat keliru dalam memahami Tuhan? Kami telah menentukan antara merekadan mempraktekkan kekhalifahan itu. penghidupan mereka dalam kehidupan dunia Hubungan antara manusia dengan alam atau dan kami telah meninggikan sebagian mereka 175
    • atas sebagian yang lain beberapa derajat, kuat terhadap kelompok lain yang dinamai oleh agar sebagian mereka dapat mempergunakan Al-Quran mustadhafin. Ayat yang menjelaskan sebagian yang lain (agar mereka dapat saling hubungan interaksi yang diridhai Allah adalah ayat mempergunakan). Dan rahmat Tuhanmu lebih yang menggunakan kata sukhriya. baik dari apa yang mereka kumpulkan. Al-Baydhawi menafsirkan ayat Al-Zukhruf di atas dengan menyatakan bahwa "Sebagian Adalah keliru, menurut hemat penulis, manusia menjadikan sebagian yang lain secara memahami arti sukhriya sebagai menundukkan. timbal-balik sebagai sarana guna memenuhi Tetapi, hubungan satu sama lain adalah hubungan kebutuhan-kebutuhan mereka." al-taskhir, dalam arti semua dalam kedudukan Inilah prinsip pokok yang merupakan landasan yang sama dan yang membedakan mereka interaksi antar sesama manusia dan keharmonisan hanyalah partisipasi dan kemampuan masing- hubungan itu pulalah yang menjadi tujuan dari masing. Adalah logis apabila yang "kuat" lebih segala etika agama. Keharmonisan hubungan mampu untuk memperoleh bagian yang melebihi inilah yang menghasilkan etika itsar, sehingga perolehan yang lemah. etika agama tidak mengenal prinsip "Anda boleh Ayat di atas mengisyaratkan bahwa melakukan apa saja selama tidak melanggar hak keistimewaan tidak dimonopoli oleh suatu orang lain", tetapi memperkenalkan "Mereka lapisan atau bahwa ada lapisan masyarakat yang mendahulukan pihak lain atas diri mereka ditundukkan oleh lapisan yang lain. Karena, jika walaupun mereka sendiri dalam kebutuhan." (QS demikian maknanya, maka ayat tersebut di atas 59:9) tidak akan menyatakan agar mereka dapat saling Di atas juga telah dikemukakan bahwa hanya mempergunakan. kemampuan (kekuatan) yang dapat membedakan Ayat di atas menggunakan kata sukhriya seseorang dari yang lain, dan dari keistimewaan bukannya sikhriya, seperti antara lain dalam surah inilah segala sifat terpuji dapat lahir. Al-Muminun yang menggambarkan ejekan dan Kesabaran dan ketabahan merupakan etika tekanan yang dilakukan oleh satu kelompok atau sikap terpuji, karena ia adalah kekuatan,176
    • yaitu kekuatan seseorang dalam menanggung antara lain melalui surah Al-Jin ayat 16:beban atau menahan gejolak keinginan negatif.Keberanian merupakan kekuatan karena Dan bahwasanya, jika mereka tetap berjalan luruspemiliknya mampu melawan dan menundukkan di jalan itu (petunjuk petunjuk Ilahi), niscaya pastikejahatan. Dan kasih sayang dan uluran tangan Kami akan memberi mereka air segar (rezeki yangadalah juga kekuatan; bukankah ia ditujukan melimpah).kepada orang-orang yang membutuhkan danlemah? Demikian itu dua dari hukum-hukum Demikianlah segala macam sikap terpuji atau kemasyarakatan (kekhalifahan) dari sekian banyaketika agama. hukum kemasyarakatan yang dikemukakan Benar bahwa semakin kokoh hubungan Al-Quran sebagai petunjuk pelaksanaan fungsimanusia dengan alam raya dan semakin dalam kekhalifahan, yang sekaligus menjadi etikapengenalannya terhadapnya, akan semakin pembangunan.banyak yang dapat diperolehnya melalui alam itu. Keharmonisan hubungan melahirkan kemajuanNamun, bila hubungan itu sampai disitu, pastilah dan perkembangan masyarakat, demikianhasil lain yang dicapai hanyalah penderitaan dan kandungan ayat di atas. Perkembangan inilahpenindasan manusia atas manusia. Inilah antara yang merupakan arah yang dituju oleh masyarakatlain kandungan pesan Tuhan yang diletakkan religius yang Islami sebagaimana digambarkandalam rangkaian wahyu pertama. oleh Al-Quran pada akhir surah Al-Fath, yang Sebaliknya, semakin baik interaksi manusia mengibaratkan masyarakat Islam yang ideal:dengan manusia, dan interaksi manusia denganTuhan, serta interaksinya dengan alam, pasti akan ... sebagai tanaman yang tumbuh berkembangsemakin banyak yang dapat diman faatkan dari sehingga mengeluarkan tunasnya dan tunas itualam raya ini. Karena, ketika itu mereka semua akan menjadikan tanaman tersebut kuat lalu menjadisaling membantu dan bekerjasama dan Tuhan besar dan tegak lurus di atas pokoknya . . . (QSdi atas mereka akan merestui. Hal ini terungkap 48:29) 177
    • Keharmonisan tidak mungkin tercipta kecuali masyarakat dan tujuan pembangunan sebagai jika dilandasi oleh rasa aman. Karena itu pula, pertambahan barang atau kecepatan pelayanan. setiap aktivitas istikhlaf (pembangunan) baru Dalam hal ini Nabi saw. bersabda: dapat dinilai sesuai dengan etika agama apabila rasa aman dan sejahtera menghiasi setiap anggota Barangsiapa yang tidak berpendapat bahwa masyarakat. Dengan kata lain, pembangunan yang Tuhan memiliki anugerah untuknya selain dari dihiasi oleh etika agama adalah "yang mengantar makanan, minuman dan kendaraan, maka manusia menjadi lebih bebas dari penderitaan dan sesungguhnya ia telah membatasi usahanya dan rasa takut". mempercepat kehadiran ajalnya. Kalau hal ini dikaitkan dengan kisah kejadian manusia, maka dapat pula dikatakan bahwa Arah yang dituju oleh istikhlaf adalah keberhasilan pembangunan dalam pandangan kebebasan manusia dari rasa takut, baik dalam agama adalah pada saat manusia berhasil kehidupan dunia ini atau yang berkaitan dengan mewujudkan bayang-bayang surga di persada persoalan sandang, pangan dan papan, maupun bumi ini. ketakutan-ketakutan lainnya yang berkaitan Adam dan Hawa sebelum diperintahkan dengan masa depannya yang dekat atau yang jauh turun ke bumi, hidup dalam ketenteraman dan di akhirat kelak. Ayat-ayat yang berbicara tentang kesejahteraan. Tersedia bagi mereka sandang, la khawf alayhim wa la hum yahzanun tidak harus pangan, dan papan; dan ketika itu mereka selalu dikaitkan dengan ketakutan dan kesedihan diperingatkan agar jangan sampai terusir dari di akhirat, tetapi dapat pula mencakup ketakutan surga karena akibatnya mereka akan bersusah dan kesedihan dalam kehidupan dunia ini. payah memperolehnya (QS 20:117-119). Mereka Untuk mencapai rasa aman tersebut, ada sekian juga diharapkan agar mengikuti petunjuk-petunjuk banyak sikap yang dituntut oleh agama dari para Ilahi, karena dengan demikian mereka tidak akan pemeluknya. Prof. Mubyarto mengemukakan lima merasa takut atau merasa sedih. hal pokok untuk mencapai hal tersebut: Agama tidak mendefinisikan perkembangan Kebutuhan dasar setiap masyarakat harus178
    • terpenuhi dan ia harus bebas dari ancaman dan Sesungguhnya kami menawarkan al-amanahbahaya pemerkosaan. kepada langit, bumi dan gunung-gunung, namun Manusia terjamin dalam mencari nafkah, tanpa mereka semua enggan dan kuatir, lalu (Kamiharus keterlaluan menghabiskan tenaganya. tawarkan kepada manusia) maka mereka pun Manusia bebas untuk memilih bagaimana menerimanya, sesungguhnya mereka sangatmewujudkan hidupnya sesuai dengan cita-citanya. aniaya lagi bodoh. Ada kemungkinan untuk mengembangkanbakat-bakat dan kemampuannya. Tentu yang dimaksud dengan kecaman di atas Partisipasi dalam kehidupan sosial politik, adalah sebagian manusia, dan dengan demikiansehingga seseorang tidak semata-mata menjadi kita dapat menyimpulkan bahwa dalam tugasobjek penentuan orang lain. kekhalifahan ada yang berhasil dengan baik dan Di sisi lain harus pula diingat bahwa ada pula yang gagal. Kesimpulan ini diperkuat pulakekhalifahan seperti telah dikemukakan di atas oleh isyarat yang tersirat dari jawaban Allah atasmengandung arti bimbingan agar setiap makhluk pertanyaan malaikat:mencapai tujuan penciptaannya. Lebih jauh dapat ditambahkan bahwa unsur Apakah engkau akan menjadikan di sana (bumi)keempat yang disebut di atas, digambarkan oleh siapa yang merusak dan menumpahkan darahAl-Quran dalam dua bentuk: sedang kami bertasbih dan memuji engkau? (1) Penganugerahan dari Allah (Inni jail fi al-ardh Tuhan berfirman (menjawab): "Aku tahu apa yangkhalifah). kalian tidak ketahui." (QS 2:30). (2) Penawaran dari-Nya yang disambut denganpenerimaan dari manusia, sebagaimana yang Dari sini kita dapat beralih untuk melihat lebihtergambar dalam surah Al-Ahzab ayat 72: jauh apa saja sifat-sifat khalifah yang terpuji dan apa pula ruang lingkup tugas-tugas mereka. Sifat-sifat Terpuji Seorang Khalifah 179
    • Al-Tabrasi, dalam tafsirnya, mengemukakan dua ayat yang dapat dijadikan rujukan dalam bahwa kata Imam mempunyai makna yang sama persoalan yang sedang dicari jawabannya ini, yaitu dengan khalifah. Hanya saja -katanya lebih lanjut— ayat Al-Baqarah 124 yang berbunyi: َ kata Imam digunakan untuk keteladanan, karena ia َّ َّ َ ٍ َ ِ َ َ ِ ٰ ْ َ ۖ  ‫۞ َو ِإ ِذ اب َت ل ِإ ْ َب�اه ي� َر ُّب ُه ِب ك ات ف أ تَ� ُه ن‬ terambil dari kata yang mengandung arti "depan" َ َ ً َّ َ ُ َ ّ َ َ yang berbeda dengan khalifah yang terambil dari ‫ق ال ِإ ِ ن� ج اع ل ك ِل لن اس ِإ َم ام ا ۖ  ق ال َو ِم ن‬ ِ ِ ‫ي‬ َ‫َّ ِ ِ ن‬ َْ ُ َ َ َ ُ kata "belakang". ]٤٢١:٢[ �‫ذ ِّر َّي ِ ت� ۖ  ق ال ل َي َن ال ع ِد ي الظ ال ي‬ ‫ي‬ Ini berarti bahwa kita dapat memperoleh dan ayat Al-Furqan 74, yang berbunyi: َ ْ َ َ ُ ُ َ‫َّ ن‬ informasi tentang sifat-sifat terpuji dari seorang ‫َوال ِذ ي� َي ق ول ون َر َّب َن ا ه ب ل َن ا ِم ن‬ ْ khalifah dengan menelusuri ayat-ayat yang ُْ ْ ْ َْ َ ُ ُ َْ �‫أز َواج َن ا َوذ ِّر� ِت َن ا ق َّرة أع ي ُ� َواج َع ل َن ا ِل ل َّت ِق ي‬ َ‫ن‬ ‫َّي‬ menggunakan kata Imam. ٍ‫ن‬ ِ Dalam Al-Quran, kata Imam terulang sebanyak ]٤٧:٥٢[ ‫ِإ َم ام ا‬ ً tujuh kali dengan makna yang berbeda-beda. Ayat yang terakhir ini, sebagaimana terlihat, Namun, kesemuanya bertumpu pada arti "sesuatu hanya mengandung permohonan untuk dijadikan yang dituju dan atau diteladani" Arti-arti tersebut Imam (teladan) bagi orang-orang yang bertakwa adalah: sehingga tinggal ayat Al-Baqarah yang diharapkan (a) Pemimpin dalam kebajikan, yaitu pada Al- dapat memberikan informasi. Baqarah ayat 124 dan Al-Furqan ayat 74. Pada ayat tersebut, Nabi Ibrahim a.s. dijanjikan (b) Kitab amalan manusia, yaitu pada Al-Isra Allah untuk dijadikan Imam (Inni jailuka li al- ayat 71. nas Imama), dan ketika beliau bermohon agar (c) Al-Lawh Al-Mafhuzh, yaitu pada Yasin ayat kehormatan ini diperoleh pula oleh anak cucunya, 12. Allah SWT menggarisbawahi suatu syarat, yaitu (d) Taurat, yaitu pada Hud ayat 17 dan Al-Ahqaf la yanalu ahdiya al-zhalimin (Janji-Ku ini tidak ayat 12. diperoleh oleh orang-orang yang berlaku aniaya). (e) Jalan yang jelas, yaitu pada Al-Hijr ayat 79. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan. Dari makna-makna di atas terlihat bahwa hanya Dengan demikian, dari ayat di atas dapat ditarik180
    • satu sifat, yaitu sifat adil, baik terhadap diri, pentingnya keadilan sampai-sampai permintaankeluarga, manusia dan lingkungan, maupun untuk memberi putusan yang hak diikuti lagiterhadap Allah. dengan peringatan agar tidak menyimpang dari Perlu sekali lagi diingatkan bahwa para khalifah kebenaran yang pada dasarnya mengandungyang disebut namanya dalam Al-Quran (Adam makna yang sama dengan permintaan pertamadan Daud a.s.) keduanya pernah melakukan —bahkan walaupun Daud telah bertobat danpenganiayaan, baik terhadap diri maupun diterima tobatnya (QS 38:24-25). Namun, perintahterhadap orang lain. Namun, mereka berdua untuk berlaku adil yang dikaitkan dengan tidakbertobat dan mendapat pengampunan. mengikuti hawa nafsu masih tetap ditekankan: Peristiwa Adam dan penyesalannya cukuppopuler (baca antara lain QS 7:23), sedangkan Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu"penganiayaan" yang dilakukan oleh Daud dapat khalifah di bumi, maka berilah putusan antaraterlihat pada kisah dua orang yang bertikai dan manusia dengan hak dan janganlah mengikutidatang kepadanya meminta putusan (QS 38:22, hawa nafsu ... (QS 38:26)dan seterusnya). Menarik untuk dianalisis bahwa kedua orang Memberi keputusan yang adil saja dan tidakyang bertikai itu berkata kepada Daud: mengikuti hawa nafsu, belum memadai bagi seorang khalifah. Tetapi, ia harus mampu pula Berilah keputusan antara kami dengan hak/adil untuk merealisasikan kandungan permintaan dan janganlah menyimpang dari kebenaran dan kedua orang yang berselisih itu, yakni Wa ihdina ila tunjukilah kami ke jalan lurus. sawa al-shirath. Memahami penggalan ayat ini, dalam kaitannya Dari ucapan kedua orang yang bertikai itu dengan sifat-sifat terpuji seorang khalifah, baru(yang pada hakikatnya tidak bertikai tetapi cara akan menjadi jelas bila dikaitkan dengan ayat-ayatyang dilakukan Tuhan untuk memperingatkan yang berbicara tentang Imam/aimmah, dalamDaud), terlihat betapa Tuhan menekankan kaitannya dengan pemimpin-pemimpin yang 181
    • menjadi teladan dalam kebaikan. Untuk maksud dan ketabahan), dijadikan Tuhan sebagai tersebut, terlebih dahulu, kita akan membuka konsideran pengangkatan Wa jaalnahum aimmat lembaran-lembaran Al-Quran untuk melihat ayat- lamma shabaru. Seakan-akan inilah sifat yang ayat yang dimaksud. amat pokok bagi seorang khalifah, sedangkan Kata aimmah terdapat dalam lima ayat sifat-sifat lainnya menggambarkan sifat mental Al-Quran. Dua di antaranya dalam konteks yang melekat pada diri mereka dan sifat-sifat yang pembicaraan tentang pemimpin-pemimpin yang mereka peragakan dalam kenyataan. diteladani orang-orang kafir, yakni Al-Taubah ayat Di atas telah dijanjikan untuk membicarakan 9, dan Al-Qashash ayat 4. Sedangkan tiga lainnya arti wa ihdina ila sawa al-shirath (QS 38:26), berkaitan dengan pemimpin-pemimpin yang yang merupakan salah satu sikap yang dituntut terpuji, yaitu Al-Anbiya ayat 73, Al-Qashash ayat 5, dari seorang khalifah, setelah memperhatikan dan Al-Sajdah ayat 24. kandungan ayat-ayat yang berbicara tentang Kalau ayat-ayat di atas diamati, nyatalah bahwa aimmat. Dalam surah Shad tersebut, redaksinya QS 28:5 tidak mengandung informasi tentang sifat- berbunyi Wa ihdina ila ..., sedang dalam ayat-ayat sifat pemimpin. Dan ini berbeda dengan kedua yang berbicara tentang aimmat yang dikutip di ayat lainnya yang saling melengkapi. atas, redaksinya berbunyi Yahduna bi amrina. Ada lima sifat pemimpin terpuji yang Salah satu perbedaan pokoknya adalah pada diinformasikan oleh gabungan kedua ayat kata yahdi. Yang pertama menggunakan huruf tersebut, yaitu: ila, sedang yang kedua tanpa ila. Al-Raghib Al- 1. Yahduna bi amrina. Isfahani menjelaskan bahwa kata hidayat apabila 2. Wa awhayna dayhim fila al-khayrat. menggunakan ila, maka ia berarti sekadar memberi 3. Abidin (termasuk Iqam Al-Shalat dan ItaAl- petunjuk; sedang bila tanpa ila, maka maknanya Zakat). lebih dalam lagi, yakni "memberi petunjuk dan 4. Yuqinun. mengantar sekuat kemampuan menuju apa 5. Shabaru. yang dikehendaki oleh yang diberi petunjuk". Ini Dari kelima sifat tersebut al-shabr (ketekunan berarti bahwa seorang khalifah minimal mampu182
    • menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umatnya bila dikatakan, "Yujibuni qiyamuka", maka redaksidan yang lebih terpuji adalah mereka yang yang tidak menggunakan an ini mengandungdapat mengantarkan umatnya ke pintu gerbang arti bahwa lawan bicaranya sudah berdirikebahagiaan. Atau, dengan kata lain, seorang dan si pembicara menyampaikan kepadanyakhalifah tidak sekadar menunjukkan tetapi mampu kekagumannya atas berdirinya itu. Demikian uraianpula memberi contoh sosialisasinya. Abdul-Qadir Al-Jurjani yang disederhanakan dari Hal ini mereka capai karena kebajikan telah Dalail Al-Ijaz.mendarah daging dalam diri mereka. Atau, Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulandengan kata lain, mereka memiliki akhlak luhur bahwa seorang khalifah yang ideal haruslahsebagaimana yang dapat dipahami dari sifat kedua memiliki sifat-sifat luhur yang telah membudayayang disebutkan di atas, yakni Wa awhayna ilayhim pada dirinya.fila al-khayrat. Yuqinun dan abidin merupakan dua sifat yang Jika seorang berkata, "Yujibuni an taqum", berbeda. Yang pertama menggambarkan tingkatmaka ini berarti bahwa lawan bicaranya ketika keimanan yang bersemi di dalam dada mereka,itu belum berdiri dan ia akan senang melihatnya sedangkan yang kedua menggambarkan keadaanberdiri. Pengertian ini dipahami dari adanya huruf nyata mereka. Kedua sifat ini sedemikian jelasnyaan pada susunan redaksi tersebut. Sedangkan sehingga tidak perlu untuk diuraikan lebih jauh. Ruang Lingkup Tugas-tugas Khalifah Di atas telah diuraikan bahwa seorang khalifah yaitu:adalah siapa yang diberi kekuasaan mengelolasuatu wilayah, baik besar atau kecil. Cukup banyak Orang-orang yang jika Kami teguhkanayat yang menggambarkan tugas-tugas seorang kedudukan mereka di muka bumi ini, niscayakhalifah. Namun, ada suatu ayat yang bersifat mereka mendirikan shalat dan menunaikanumum dan dianggap dapat mewakili sebagian zakat, menyuruh berbuat yang maruf danbesar ayat lain yang berbicara tentang hal di atas, mencegah dari perbuatan yang munkar ... (QS 183
    • 22:41) Mendirikan shalat merupakan gambaran dari hubungan yang baik dengan Allah, sedangkan menunaikan zakat merupakan gambaran dari keharmonisan hubungan dengan sesama manusia. Maruf adalah suatu istilah yang berkaitan dengan segala sesuatu yang dianggap baik oleh agama, akal dan budaya, dan sebaliknya dari munkar. Dari gabungan itu semua, seseorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya dengan Allah baik, kehidupan masyarakatnya harmonis, dan agama, akal dan budayanya terpelihara.184
    • Riba Menurut Al-Quran Tulisan berikut tidak akan membahas kehalalan Perbedaan-perbedaan ini antara lain 20atau keharaman riba, karena keharamannya telah disebabkan oleh wahyu mengenai riba yangdisepakati oleh setiap Muslim berdasarkan ayat- terakhir turun kepada Rasul saw. beberapa waktuayat Al-Quran serta ijma seluruh ulama Islam, apa sebelum beliau wafat, sampai-sampai Umar binpun mazhab atau alirannya. Yang dibahas adalah Khaththab r.a. sangat mendambakan kejelasanapa yang di maksud sesungguhnya oleh Al-Quran masalah riba ini.(1) Beliau berkata: "Sesungguhnyadengan riba yang diharamkannya itu? termasuk dalam bagian akhir Al-Quran yang turun, Para ulama sejak dahulu hingga kini, ketika adalah ayat-ayat riba. Rasulullah wafat sebelummembahas masalah ini, tidak melihat esensi riba beliau menjelaskannya. Maka tinggalkanlah apaguna sekadar mengetahuinya, tetapi mereka yang meragukan kamu kepada apa yang tidakmelihat dan membahasnya sambil meletakkan meragukan kamu."(2)di pelupuk mata hati mereka beberapa praktek Keragu-raguan terjerumus ke dalam ribatransaksi ekonomi guna mengetahui dan yang diharamkan itu menjadikan para sahabat,menetapkan apakah praktek-praktek tersebut sebagaimana dikatakan Umar r.a., "meninggalkansama dengan riba yang diharamkan itu sehingga ia sembilan per sepuluh yang halal".(3)pun menjadi haram, ataukah tidak sama. Sebelum membuka lembaran-lembaran Perbedaan pendapat dalam penerapan Al-Quran yang ayat-ayatnya berbicara tentangpengertian pada praktek-praktek transaksi riba, terlebih dahulu akan dikemukakan selayangekonomi telah berlangsung sejak masa sahabat 1  Dalam beberapa riwayat dinyatakan bahwa ayat terakhir turundan diduga akan terus berlangsung selama masih sembilan hari sebelum Rasulullah saw. wafat.terus muncul bentuk-bentuk baru transaksi 2  Lihat Ibn Hazm, Al-Muhalla, Percetakan Al-Munir, Mesir, 1350 H, Jilid VH1, h. 477.ekonomi. 3 Ibid.
    • pandang tentang kehidupan ekonomi masyarakat 106. Di sana pun mereka telah mengenal prktek- Arab semasa turunnya Al-Quran. praktek riba. Terbukti bahwa sebagian dari Sejarah menjelaskan bahwa Thaif, tempat tokoh-tokoh sahabat Nabi, seperti Abbas bin pemukiman suku Tsaqif yang terletak sekitar Abdul Muththalib (paman Nabi saw.), Khalid bin 75 mil sebelah tenggara Makkah, merupakan Walid, dan lain-lain, mempraktekkannya sampai daerah subur dan menjadi salah satu pusat dengan turunnya larangan tersebut. Dan terbukti perdagangan antar suku, terutama suku Quraisy pula dengan keheranan kaum musyrik terhadap yang bermukim di Makkah. Di Thaif bermukim larangan praktek riba yang mereka anggap sama orang-orang Yahudi yang telah mengenal praktek- dengan jual beli (QS 2:275). Dalam arti mereka praktek riba, sehingga keberadaan mereka di sana beranggapan bahwa kelebihan yang diperoleh dari menumbuhsuburkan praktek tersebut. modal yang dipinjamkan tidak lain kecuali sama Suku Quraisy yang ada di Makkah juga terkenal dengan keuntungan (kelebihan yang diperoleh dengan aktivitas perdagangan, bahkan Al-Quran dari) hasil perdagangan. mengabarkan tentang hal tersebut dalam QS Riba yang Dimaksud Al-Quran Kata riba dari segi bahasa berarti "kelebihan". keharamannya. Sehingga bila kita hanya berhenti kepada arti Dalam Al-Quran ditemukan kata riba terulang "kelebihan" tersebut, logika yang dikemukakan sebanyak delapan kali, terdapat dalam empat kaum musyrik di atas cukup beralasan. Walaupun surat, yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Nisa, dan Al-Quran hanya menjawab pertanyaan mereka Al-Rum. Tiga surat pertama adalah "Madaniyyah" dengan menyatakan "Tuhan menghalalkan jual beli (turun setelah Nabi hijrah ke Madinah), sedang dan mengharamkan riba" (QS 2:275), pengharaman surat Al-Rum adalah "Makiyyah" (turun sebelum dan penghalalan tersebut tentunya tidak dilakukan beliau hijrah). Ini berarti ayat pertama yang tanpa adanya "sesuatu" yang membedakannya, berbicara tentang riba adalah Al-Rum ayat 39: Dan dan "sesuatu" itulah yang menjadi penyebab sesuatu riba (kelebihan) yang kamu berikan agar186
    • ia menambah kelebihan pads harts manusia, maka Al-Quran tentang riba.riba itu tidak menambah pads sisi Allah ... Menurut Al-Maraghi(6) dan Al-Shabuni,(7) tahap- Selanjutnya Al-Sayuthi, mengutip riwayat- tahap pembicaraan Al-Quran tentang riba samariwayat Bukhari, Ahmad, Ibn Majah, Ibn Mardawaih, dengan tahapan pembicaraan tentang khamrdan Al-Baihaqi, berpendapat bahwa ayat yang (minuman keras), yang pada tahap pertamaterakhir turun kepada Rasulullah saw. adalah ayat- sekadar menggambarkan adanya unsur negatif diayat yang dalam rangkaiannya terdapat penjelasan dalamnya (Al-Rum: 39), kemudian disusul denganterakhir tentang riba,(4) yaitu ayat 278-281 surat isyarat tentang keharamannya (Al-Nisa: 161).Al-Baqarah: Hai orang-orang yang beriman, Selanjutnya pada tahap ketiga, secara eksplisit,bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa dinyatakan keharaman salah satu bentuknya (Aliriba, jika kamu orang-orang yang beriman. Imran: 130), dan pada tahap terakhir, diharamkan Selanjutnya Al-Zanjani,(5) berdasarkan beberapa secara total dalam berbagai bentuknya (Al-riwayat antara lain dari Ibn Al-Nadim dan Baqarah: 278).kesimpulan yang dikemukakan oleh Al-Biqai serta Dalam menetapkan tuntutan pada tahapanorientalis Noldeke, mengemukakan bahwa surat Ali tersebut di atas, kedua mufassir tersebutImran lebih dahulu turun dari surat Al-Nisa. Kalau tidak mengemukakan suatu riwayat yangkesimpulan mereka diterima, maka berarti ayat mendukungnya, sementara para ulama sepakat130 surat Ali Imran yang secara tegas melarang bahwa mustahil mengetahui urutan turunnya ayatmemakan riba secara berlipat ganda, merupakan tanpa berdasarkan suatu riwayat yang shahih,ayat kedua yang diterima Nabi, sedangkan ayat 161 dan bahwa turunnya satu surat mendahuluiAl-Nisa yang mengandung kecaman atas orang- surat yang lain tidak secara otomatis menjadikanorang Yahudi yang memakan riba merupakan seluruh ayat pada surat yang dinyatakan terlebihwahyu tahap ketiga dalam rangkaian pembicaraan dahulu turun itu mendahului seluruh ayat dalam 4  Lihat Jalaluddin Al-Suyuthiy, Al-Itqan fi Ulum Al-Quran, 6  Ahmad Mushthafa Al-Maraghiy, Tafsir Al-Maraghiy, Percetakan Al-Azhar, Mesir, 1318, H, Jilid I, h. 27. Mushthafa Al-Halabiy, Mesir, 1946, jilid III, h. 59 dst. 5  Abdullah Al-Zanjaniy, Tarikh Al-Quran, Al-Alamiy, Beirut, 7  Muhammad Ali Al-Shabuniy, Tafsir Ayat Al-Ahkam, Dar Al- 1969, h. 60. Qalam, Beirut, 1971, jilid I, h. 389. 187
    • surat yang dinyatakan turun kemudian. Atas yang diharamkan. Al-Qurthubi(8) dan Ibn Al-Arabi(9) dasar pertimbangan tersebut, kita cenderung menamakan riba yang dibicarakan ayat tersebut untuk hanya menetapkan dan membahas ayat sebagai riba halal. Sedang Ibn Katsir menamainya pertama dan terakhir menyangkut riba, kemudian riba mubah.(10) Mereka semua merujuk kepada menjadikan kedua ayat yang tidak jelas kedudukan sahabat Nabi, terutama Ibnu Abbas dan beberapa tahapan turunnya sebagai tahapan pertengahan. tabiin yang menafsirkan riba dalam ayat tersebut Hal ini tidak akan banyak pengaruhnya sebagai "hadiah" yang dilakukan oleh orang-orang dalam memahami pengertian atau esensi yang mengharapkan imbalan berlebih. riba yang diharamkan Al-Quran, karena Atas dasar perbedaan arti kata riba dalam ayat sebagaimana dikemukakan di atas, ayat Al-Nisa Al-Rum di atas dengan kata riba pada ayat-ayat 161 merupakan kecaman kepada orang-orang lain, Al-Zarkasyi dalam Al-Burhan(11) menafsirkan Yahudi yang melakukan praktek-praktek riba. sebab perbedaan penulisannya dalam mush-haf, Berbeda halnya dengan ayat 130 surat Ali Imran yakni kata riba pada surat Al-Rum ditulis tanpa yang menggunakan redaksi larangan secara menggunakan huruf waw [huruf Arab], dan dalam tegas terhadap orang-orang Mukmin agar surat-surat lainnya menggunakannya [huruf Arab]. tidak melakukan praktek riba secara adhafan Dari sini, Rasyid Ridha menjadikan titik tolak mudhaafah. Ayat Ali Imran ini, baik dijadikan ayat uraiannya tentang riba yang diharamkan dalam Al- tahapan kedua maupun tahapan ketiga, jelas sekali mendahului turunnya ayat Al-Baqarah ayat 278, 8  Muhammad bin Ahmad Al-Anshariy Al-Qurthubiy, Al-Jami li Ahkam Al-Quran, Dar Al-Kitab, Kairo, 1967, jilid XIV, h. serta dalam saat yang sama turun setelah turunnya 36. ayat Al-Rum 39. 9  Abu Bakar Muhammad bin Abdillah (Ibn Al-Arabiy), Ahkam Di sisi lain, ayat Al-Rum 39 yang merupakan Al-Quran, tahqiq Muhammad Ali Al-Bajawi, Isa Al-Halabiy, 1957, Jilid III, h. 1479. ayat pertama yang berbicara tentang riba, dinilai 10  Ismail Ibn Katsir, Tafsir Al-Quran Al-Azhim, Perc. Sulaiman oleh para ulama Tafsir tidak berbicara tentang riba Mariy, Singapura, t.t., jilid III, h. 434. 11  Lihat Badruddin Al-Zarkasyiy, Al-Burhan Ulum Al-Quran, Tahqiq Muhammad Abu Al-Fadhil, Isa Al-Halabiy, Mesir, 1957, jilid I., h. 409.188
    • Quran bermula dari ayat Ali Imran 131.(12) mudhaafah; (b) ma baqiya mi al-riba; dan (c) fa Kalau demikian, pembahasan secara singkat lakum ruusu amwalikum, la tazhlimuna wa latentang riba yang diharamkan Al-Quran dapat tuzhlamun.dikemukakan dengan menganalisis kandungan Dengan memahami kata-kata kunci tersebut,ayat-ayat Ali Imran 130 dan Al-Baqarah 278, atau diharapkan dapat ditemukan jawaban tentanglebih khusus lagi dengan memahami kata-kata riba yang diharamkan Al-Quran. Dengan katakunci pada ayat-ayat tersebut, yaitu (a) adhafan lain, "apakah sesuatu yang menjadikan kelebihan 12  Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar, Dar Al-Manar, tersebut haram". Mesir, 1376 H., jilid III, h. 113. Pelbagai Pandangan di Seputar Arti Adhafan Mudhaafah Dari segi bahasa, kata adhaf adalah bentuk ditemui oleh debitor dan berkata kepadanya,jamak (plural) dari kata dhaif yang diartikan "Bayarlah atau kamu tambah untukku." Makasebagai "sesuatu bersama dengan sesuatu yang apabila kreditor memiliki sesuatu (untuklain yang sama dengannya (ganda)". Sehingga pembayarannya), ia melunasi utangnya, dan bilaadhafan mudhaafah adalah pelipatgandaan tidak ia menjadikan utangnya (bila seekor hewan)yang berkali-kali. Al-Thabraniy dalam Tafsirnya seekor hewan yang lebih tua usianya (dari yangmengemukakan sekitar riwayat yang dapat pernah dipinjamnya). Apabila yang dipinjamnyamengantar kita kepada pengertian adhafan berumur setahun dan telah memasuki tahun keduamudhaafah atau riba yang berlaku pada masa (binti makhadh), dijadikannya pembayarannyaturunnya Al-Quran. Riwayat-riwayat tersebut kemudian binti labun yang berumur dua tahun danantara lain: telah memasuki tahun ketiga. Kemudian menjadi Dari Ibn Zaid bahwa ayahnya mengutarakan hiqqah (yang memasuki tahun keempat), danbahwa "riba pada masa jahiliyah adalah dalam seterusnya menjadi jazah (yang memasuki tahunpelipatgandaan dan umur (hewan). Seseorang kelima), demikian berlanjut. Sedangkan jika yangyang berutang, bila tiba masa pembayarannya, dipinjamnya materi (uang), debitor mendatanginya 189
    • untuk menagih, bila ia tidak mampu, ia bersedia ketika membahas ayat 130 surat Ali Imran. melipatgandakannya sehingga menjadi 100, di Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi tahun berikutnya menjadi 200 dan bila belum lagi menyangkut riwayat-riwayat yang dikemukakan terbayar dijadikannya 400. Demikian setiap tahun tersebut. Pertama, penambahan dari jumlah sampai ia mampu membayar.(13) piutang yang digambarkan oleh ketiga riwayat Mujahid meriwayatkan bahwa riba yang tidak dilakukan pada saat transaksi, tetapi dilarang oleh Allah SWT adalah yang dipraktekkan dikemukakan oleh kreditor (riwayat ke-2) atau pada masa jahiliyah, yaitu bahwa seseorang debitor (riwayat ke-3) pada saat jatuhnya masa mempunyai piutang kepada orang lain, kemudian pembayaran. Dalam hal ini, Ahmad Mustafa Al- peminjam berkata kepadanya "untukmu Maraghi (1883-1951) berkomentar dalam Tafsirnya: (tambahan) sekian sebagai imbalan penundaan "Riba pada masa jahiliyah adalah riba yang pembayaran", maka ditundalah pembayaran dinamai pada masa kita sekarang dengan riba tersebut untuknya.(14) fahisy (riba yang keji atau berlebih-lebihan), yakni Sementara itu, Qatadah menyatakan bahwa keuntungan berganda. Tambahan yang fahisy riba pada masa jahiliyah adalah penjualan (berlebih-lebihan) ini terjadi setelah tiba masa seseorang kepada orang lain (dengan pembayaran) pelunasan, dan tidak ada dari penambahan itu sampai pada masa tertentu. Bila telah tiba masa (yang bersifat keji atau berlebihan itu) dalam tersebut, sedang yang bersangkutan tidak memiliki transaksi pertama, seperti memberikan kepadanya kemampuan untuk membayar, ditambahlah 100 dengan (mengembalikan) 110 ataukah lebih (jumlah utangnya) dan ditangguhkan masa atau kurang (dari jumlah tersebut). Rupanya pembayarannya.(15) mereka itu merasa berkecukupan dengan Riwayat-riwayat di atas dan yang senada keuntungan yang sedikit (sedikit penambahan dengannya dikemukakan oleh para ulama Tafsir pada transaksi pertama). Tetapi, apabila telah 13  Lihat Muhammad Ibn Jarir Al-Thabariy, JamiAl-Bayan fi tiba masa pelunasan dan belum lagi dilunasi, Tafsir Al-Quran, Isa Al-Halabiy, Mesir 1954, Jilid IV, h. 90. sedangkan peminjam ketika itu telah berada dalam 14  Ibid, Jilid III, h. 101. genggaman mereka, maka mereka memaksa untuk 15 Ibid.190
    • mengadakan pelipatgandaan sebagai imbalan mudhaafah adalah penambahan dari jumlahpenundaan. Dan inilah yang dinamai riba al-nasiah kredit akibat penundaan pembayaran atau apa(riba akibat penundaan). Ibn Abbas berpendapat yang dinamai dengan riba al-nasiah. Menurutbahwa nash Al-Quran menunjuk kepada riba al- Al-Thabari, seseorang yang mempraktekkan ribanasiah yang dikenal (ketika itu).(16) dinamai murbin karena ia melipatgandakan harta Kedua, pelipatgandaan yang disebutkan yang dimilikinya atas beban pengorbanan debitorpada riwayat pertama adalah perkalian dua baik secara langsung atau penambahan akibatkali, sedangkan pada riwayat kedua dan ketiga penangguhan waktu pembayaran.(17)pelipatgandaan tersebut tidak disebutkan, tetapi Kesimpulan Al-Thabari di atas didukung olehsekadar penambahan dari jumlah kredit. Hal ini Muhammad Rasyid Ridha yang menurutnya jugamengantar kepada satu dari dua kemungkinan: (1) merupakan kesimpulan Ibn Qayyim.(18)memahami masing-masing riwayat secara berdiri Abdul Munin Al-Namir, salah seorang anggotasendiri, sehingga memahami bahwa "riba yang Dewan Ulama-ulama terkemuka Al-Azhar danterlarang adalah penambahan dari jumlah utang wakil Syaikh Al-Azhar, menyimpulkan bahwa: "Ribadalam kondisi tertentu, baik penambahan tersebut yang diharamkan tergambar pada seorang debitorberlipat ganda maupun tidak berlipat ganda; (2) yang memiliki harta kekayaan yang didatangi olehmemadukan riwayat-riwayat tersebut, sehingga seorang yang butuh, kemudian ia menawarkanmemahami bahwa penambahan yang dimaksud kepadanya tambahan pada jumlah kewajibanoleh riwayat-riwayat yang tidak menyebutkan membayar utangnya sebagai imbalan penundaanpelipatgandaan adalah penambahan berlipat pembayaran setahun atau sebulan, dan padaganda. Pendapat kedua ini secara lahir didukung akhirnya yang bersangkutan (peminjam) terpaksaoleh redaksi syah. tunduk dan menerima tawaran tersebut secara Dalam menguraikan riwayat-riwayat yang tidak rela."(19)dikemukakan di atas, dan riwayat-riwayat lainnya, 17  Al-Thabariy, op. cit., Jilid III, h. 101.Al-Thabari menyimpulkan bahwa riba adhafan 18  Rasyid Ridha, op. cit., Jilid II, h. 113-114. 19  Abdul Munim Al-Nandr, Al-Ijtihad, Dar Al-Suruq, Kairo, 16  Ahmad Mushthafa Al-Maraghiy, op. cit., Jilid IV, h. 65. 1986, h. 351. 191
    • Di atas telah dikemukakan bahwa kata Di sini yang pertama dijadikan kunci adalah adhafan mudhaafah berarti berlipat ganda. firman Allah wa dzaru ma bagiya min al-riba. Sedangkan riwayat-riwayat yang dikemukakan Pertanyaan yang timbul adalah: Apakah kata al- ada yang menjelaskan pelipatgandaan dan ada riba yang berbentuk marifah (definite) ini merujuk pula yang sekadar penambahan. Kini kita kembali kepada riba adhafan mudhaafah ataukah tidak? bertanya: Apakah yang diharamkan itu hanya yang Rasyid Ridha dalam hal ini mengemukakan penambahan yang berlipat ganda ataukah segala tiga alasan untuk membuktikan bahwa kata bentuk penambahan dalam kondisi tertentu? al-riba pada ayat Al-Baqarah ini merujuk kepada Yang pasti adalah bahwa teks ayat berarti kata al-riba yang berbentuk adhafan mudhaafah "berlipat ganda". Mereka yang berpegang pada itu.(20) Pertama, kaidah kebahasaan, yaitu kaidah teks tersebut menyatakan bahwa ini merupakan pengulangan kosakata yang berbentuk marifah. syarat keharaman. Artinya bila tidak berlipat Yang dimaksud oleh Rasyid Ridha adalah kaidah ganda, maka ia tidak haram. Sedangkan pihak yang menyatakan apabila ada suatu kosakata lain menyatakan bahwa teks tersebut bukan berbentuk marifah berulang, maka pengertian merupakan syarat tetapi penjelasan tentang kosakata kedua (yang diulang) sama dengan bentuk riba yang sering dipraktekkan pada masa kosakata pertama. Kata al-riba pada Ali Imran 130 turunnya ayat-ayat Al-Quran. Sehingga, kata dalam bentuk marifah, demikian pula halnya pada mereka lebih lanjut, penambahan walaupun tanpa Al-Baqarah 278. Sehingga hal ini berarti bahwa riba pelipatgandaan adalah haram. yang dimaksud pada ayat tahapan terakhir sama Hemat kami, untuk menyelesaikan hal ini perlu dengan riba yang dimaksud pada tahapan kedua diperhatikan ayat terakhir yang turun menyangkut yaitu yang berbentuk adhafan mudhaafah. riba, khususnya kata-kata kunci yang terdapat di Kedua, kaidah memahami ayat yang tidak sana. Karena, sekalipun teks adhafan mudhaafah bersyarat berdasarkan ayat yang sama tetapi merupakan syarat, namun pada akhirnya yang bersyarat. Penerapan kaidah ini pada ayat-ayat menentukan esensi riba yang diharamkan adalah riba adalah memahami arti al-riba pada ayat ayat-ayat pada tahapan ketiga. 20  Rasyid Ridha, loc. cit.192
    • Al-Baqarah yang tidak bersyarat itu berdasarkan dibenarkan. Pembenaran ini berdasarkan riwayat-kata al-riba yang bersyarat adhafan mudhaafah riwayat yang jelas dan banyak tentang sebab nuzulpada Ali Imran. Sehingga, yang dimaksud dengan ayat Al-Baqarah tersebut.al-riba pada ayat tahapan terakhir adalah riba yang Kesimpulan riwayat-riwayat tersebut antara lain:berlipat ganda itu. » Al-Abbas (paman Nabi) dan seorang Ketiga, diamati oleh Rasyid Ridha bahwa dari keluarga Bani Al-Mughirah bekerjapembicaraan Al-Quran tentang riba selalu sama memberikan utang secara ribadigandengkan atau dihadapkan dengan kepada orang-orang dari kabilah Tsaqif.pembicaraan tentang sedekah, dan riba Kemudian dengan datangnya Islam (dandinamainya sebagai zhulm (penganiayaan atau diharamkannya riba) mereka masih memilikipenindasan). (pada para debitor) sisa harta benda Apa yang dikemukakan oleh Rasyid Ridha di yang banyak, maka diturunkan ayat iniatas tentang arti riba yang dimaksud oleh Al-Quran (Al-Baqarah 278 untuk melarang merekapada ayat tahapan terakhir dalam Al-Baqarah memungut sisa harta mereka yang berupatersebut, masih dapat ditolak oleh sementara riba yang mereka praktekkan ala jahiliyahulama —antara lain dengan menyatakan bahwa itu.(21)kaidah kebahasaan yang diungkapkannya itu » Ayat tersebut turun menyangkut kabilahtidak dapat diterapkan kecuali pada rangkaian Tsaqif yang melakukan praktek riba,satu susunan redaksi, bukan dalam redaksi yang kemudian (mereka masuk Islam) danberjauhan sejauh Al-Baqarah dengan Ali Imran, bersepakat dengan Nabi untuk tidakserta dengan menyatakan bahwa kata adhafan melakukan riba lagi. Tetapi pada waktumudhaafah bukan syarat tetapi sekadar penjelasan pembukaan kota Makkah, mereka masihtentang keadaan yang lumrah ketika itu, sehingga ingin memungut sisa uang hasil riba yangdengan demikian kaidah kedua pun tidak dapat belum sempat mereka pungut yang merekaditerapkan. Walaupun demikian, menurut hemat lakukan sebelum turunnya larangan riba,penulis, kesimpulan Rasyid Ridha tersebut dapat 21  Al-Thabariy, op. cit., Jilid III, h. 106-107. 193
    • seakan mereka beranggapan bahwa berarti bahwa bila penambahan atau kelebihan larangan tersebut tidak berlaku surut. Maka tidak bersifat "berlipatganda" menjadi tidak turunlah ayat tersebut untuk menegaskan diharamkan Al-Quran? larangan memungut sisa riba tersebut.(22) Jawabannya,menurut hemat kami, terdapat Atas dasar riwayat-riwayat tersebut dan riwayat- pada kata kunci berikutnya, yaitu fa lakum ruusu riwayat lainnya, Ibn jarir menyatakan bahwa amwalikum (bagimu modal-modal kamu) (QS ayat-ayat tersebut berarti: "Tinggalkanlah tuntutan 2:279). Dalam arti bahwa yang berhak mereka apa yang tersisa dari riba, yakni yang berlebih dari peroleh kembali hanyalah modal-modal mereka. modal kamu..."(23) jika demikian, setiap penambahan atau kelebihan Karena itu, sungguh tepat terjemahan yang dari modal tersebut yang dipungut dalam kondisi ditemukan dalam Al-Quran dan Terjemahnya, yang sama dengan apa yang terjadi pada masa terbitan Departemen Agama, yakni "Tinggalkanlah turunnya ayat-ayat riba ini tidak dapat dibenarkan. sisa riba yang belum dipungut." Dan dengan demikian kata kunci ini menetapkan Atas dasar ini, tidak tepat untuk menjadikan bahwa segala bentuk penambahan atau kelebihan pengertian riba pada ayat terakhir yang turun itu baik berlipat ganda atau tidak, telah diharamkan melebihi pengertian riba dalam ayat Ali Imran Al-Quran dengan turunnya ayat tersebut. Dan ini yang lalu (adhafan mudhaafah). Karena riba yang berarti bahwa kata adhafan mudhaafah bukan dimaksud adalah riba yang mereka lakukan pada syarat tetapi sekadar penjelasan tentang riba yang masa yang lalu (jahiliyah). Sehingga pada akhirnya sudah lumrah mereka praktekkan. dapat disimpulkan bahwa riba yang diharamkan Kesimpulan yang diperoleh ini menjadikan Al-Quran adalah yang disebutkannya sebagai persoalan kata adhafan mudhaafah tidak penting adhafan mudhaafah atau yang diistilahkan lagi, karena apakah ia syarat atau bukan, apakah dengan riba al-nasiah. yang dimaksud dengannya pelipatgandaan Kembali kepada masalah awal. Apakah hal ini atau bukan, pada akhirnya yang diharamkan adalah segala bentuk kelebihan. Namun perlu 22 Ibid. digarisbawahi bahwa kelebihan yang dimaksud 23 Ibid.194
    • adalah dalam kondisi yang sama seperti yang menunjukkan bahwa kebutuhan si peminjamterjadi pada masa turunnya Al-Quran dan yang sedemikian mendesaknya dan keadaannyadiisyaratkan oleh penutup ayat Al-Baqarah 279 sedemikian parah, sehingga sewajarnya ia diberitersebut, yaitu la tazhlimun wa la tuzhlamun (kamu bantuan sedekah, bukan pinjaman, atau palingtidak menganiaya dan tidak pula dianiaya). tidak diberi pinjaman tanpa menguburkan Kesimpulan yang diperoleh dari riwayat- sedekah. Kemudian pada ayat 280 ditegaskanriwayat tentang praktek riba pada masa turunnya bahwa, Dan jika orang yang berutang itu dalamAl-Quran, sebagaimana telah dikemukakan di kesulitan (sehingga tidak mampu membayaratas, menunjukkan bahwa praktek tersebut pada waktu yang ditetapkan) maka berilahmengandung penganiayaan dan penindasan tangguh sampai ia berkelapangan, dan kamuterhadap orang-orang yang membutuhkan menyedekahkan (sebagian atau semua utang itu)dan yang seharusnya mendapat uluran lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.tangan. Kesimpulan tersebut dikonfirmasikan Ayat-ayat di atas lebih memperkuat kesimpulanoleh penutup ayat Al-Baqarah 279 di atas, bahwa kelebihan yang dipungut, apalagisebagaimana sebelumnya ia diperkuat dengan bila berbentuk pelipatgandaan, merupakandiperhadapkannya uraian tentang riba dengan penganiayaan bagi si peminjam.sedekah, seperti dikemukakan Rasyid Ridha, yang Kesimpulan Kesimpulan terakhir yang dapat kita Kesimpulan di atas diperkuat pula dengangarisbawahi adalah bahwa riba pada masa paktek Nabi saw. yang membayar utangnyaturunnya Al-Quran adalah kelebihan yang dengan penambahan atau nilai lebih. Sahabatdipungut bersama jumlah utang yang Nabi, Abu Hurairah, memberitahukan bahwamengandung unsur penganiayaan dan Nabi saw. pernah meminjam seekor unta denganpenindasan, bukan sekadar kelebihan atau usia tertentu kepada seseorang, kemudian orangpenambahan jumlah utang. tersebut datang kepada Nabi untuk menagihnya. 195
    • Dan ketika itu dicarikan unta yang sesuai umurnya dalam Tafsir Al-Manar, setelah. menjelaskan arti dengan unta yang dipinjamnya itu tetapi Nabi riba yang dimaksud Al-Quran: tidak mendapatkan kecuali yang lebih tua. Maka beliau memerintahkan untuk memberikan unta "Tidak pula termasuk dalam pengertian riba, tersebut kepada orang yang meminjamkannya jika seseorang yang memberikan kepada kepadanya, sambil bersabda, "Inna khayrakum orang lain harta (uang) untuk diinvestasikan ahsanukum qadhaan" (Sebaik-baik kamu adalah sambil menetapkan baginya dari hasil usaha yang sebaik-baiknya membayar utang). tersebut kadar tertentu. Karena transaksi ini Jabir, sahabat Nabi, memberitahukan pula menguntungkan bagi pengelola dan bagi bahwa ia pernah mengutangi Nabi saw. Dan pemilik harta, sedangkan riba yang diharamkan ketika ia mendatangi beliau, dibayarnya utangnya merugikan salah seorang tanpa satu dosa (sebab) dan dilebihkannya. Hadis di atas kemudian kecuali keterpaksaannya, serta menguntungkan diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.(24) pihak lain tanpa usaha kecuali penganiayaan Benar bahwa ada pula riwayat yang dan kelobaan. Dengan demikian, tidak mungkin menyatakan bahwa kullu qardin jarra manfaatan ketetapan hukumnya menjadi sama dalam fahuwa haram (setiap piutang yang menarik pandangan keadilan Tuhan dan tidak pula atau menghasilkan manfaat, maka ia adalah kemudian dalam pandangan seorang yang haram). Tetapi hadis ini dinilai oleh para berakal atau berlaku adil."(26) ulama hadis sebagai hadis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya, sehingga ia tidak dapat dijadikan dasar hukum.(25) Sebagai penutup, ada baiknya dikutip apa yang telah ditulis oleh Syaikh Muhammad Rasyid Ridha 24  Muhammad bin Ali Al-Syawkaniy, Nayl Al-Authar, Mushthafa Al-Halabiy, Mesir, 1952, Jilid V, h. 245. 25  Muhammad bin Ismail Al-Kahlaniy Al-Shananiy, Subul Alssalam, Mushthafa Al-Halabiy, Mesir, 1950, Jilid III, h. 53. 26  Rasyid Ridha, loc. cit.196
    • Kedudukan Perempuan dalam Islam 21S alah satu tema utama sekaligus prinsip pokok dalam ajaran Islam adalah persamaanantara manusia, baik antara lelaki dan perempuan Muhammad Al-Ghazali, salah seorang ulama besar Islam kontemporer berkebangsaan Mesir, menulis: "Kalau kita mengembalikan pandanganmaupun antar bangsa, suku dan keturunan. ke masa sebelum seribu tahun, maka kita akanPerbedaan yang digarisbawahi dan yang kemudian menemukan perempuan menikmati keistimewaanmeninggikan atau merendahkan seseorang dalam bidang materi dan sosial yang tidak dikenalhanyalah nilai pengabdian dan ketakwaannya oleh perempuan-perempuan di kelima benua.kepada Tuhan Yang Mahaesa. Keadaan mereka ketika itu lebih baik dibandingkan dengan keadaan perempuan-perempuan Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami Barat dewasa ini, asal saja kebebasan dalam telah menciptakan kamu (terdiri) dari lelaki dan berpakaian serta pergaulan tidak dijadikan bahan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa- perbandingan."(1) bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling Almarhum Mahmud Syaltut, mantan Syaikh mengenal, sesungguhnya yang termulia di antara (pemimpin tertinggi) lembaga-lembaga Al-Azhar kamu adalah yang paling bertakwa (QS 49: 13). di Mesir, menulis: "Tabiat kemanusiaan antara lelaki dan perempuan hampir dapat (dikatakan) sama. Kedudukan perempuan dalam pandangan Allah telah menganugerahkan kepada perempuanajaran Islam tidak sebagaimana diduga atau sebagaimana menganugerahkan kepada lelaki.dipraktekkan sementara masyarakat. Ajaran Islam Kepada mereka berdua dianugerahkan Tuhanpada hakikatnya memberikan perhatian yang potensi dan kemampuan yang cukup untuksangat besar serta kedudukan terhormat kepada 1  Muhammad Al-Ghazali, Al-Islam wa Al-Thaqat Al-Muattalat,perempuan. Kairo, Dar Al-Kutub Al-Haditsah, 1964, h. 138.
    • memikul tanggung jawab dan yang menjadikan Banyak faktor yang telah mengaburkan kedua jenis kelamin ini dapat melaksanakan keistimewaan serta memerosotkan kedudukan aktivitas-aktivitas yang bersifat umum maupun tersebut. Salah satu di antaranya adalah khusus. Karena itu, hukum-hukum Syariat pun kedangkalan pengetahuan keagamaan, sehingga meletakkan keduanya dalam satu kerangka. Yang tidak jarang agama (Islam) diatasnamakan untuk ini (lelaki) menjual dan membeli, mengawinkan pandangan dan tujuan yang tidak dibenarkan itu. dan kawin, melanggar dan dihukum, menuntut Berikut ini akan dikemukakan pandangan dan menyaksikan, dan yang itu (perempuan) sekilas yang bersumber dari pemahaman ajaran juga demikian, dapat menjual dan membeli, Islam menyangkut perempuan, dari segi (1) asal mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum kejadiannya, dan (2) hak-haknya dalam berbagai serta menuntut dan menyaksikan."(2) bidang. 2  Mahmud Syaltut, Prof. Dr., Min Taujihat Al-Islam, Kairo, Al-Idarat Al-Amat lil Azhar, 1959, h. 193 Asal Kejadian Perempuan Berbedakah asal kejadian perempuan dari pandangan beberapa masyarakat abad ke-20 ini. lelaki? Apakah perempuan diciptakan oleh tuhan Pandangan-pandangan tersebut secara tegas kejahatan ataukah mereka merupakan salah satu dibantah oleh Al-Quran, antara lain melalui ayat najis (kotoran) akibat ulah setan? Benarkah yang pertama surah Al-Nisa: digoda dan diperalat oleh setan hanya perempuan dan benarkah mereka yang menjadi penyebab Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada terusirnya manusia dari surga? Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari Demikian sebagian pertanyaan yang jenis yang sama dan darinya Allah menciptakan dijawab dengan pembenaran oleh sementara pasangannya dan dari keduanya Allah pihak sehingga menimbulkan pandangan atau memperkembangbiakkan lelaki dan perempuan keyakinan yang tersebar pada masa pra-Islam dan yang banyak. yang sedikit atau banyak masih berbekas dalam198
    • Demikian Al-Quran menolak pandangan- Manar, menulis: "Seandainya tidak tercantumpandangan yang membedakan (lelaki dan kisah kejadian Adam dan Hawa dalam Kitabperempuan) dengan menegaskan bahwa Perjanjian Lama (Kejadian II;21) dengan redaksikeduanya berasal dari satu jenis yang sama dan yang mengarah kepada pemahaman di atas,bahwa dari keduanya secara bersama-sama Tuhan niscaya pendapat yang keliru itu tidak pernah akanmengembangbiakkan keturunannya baik yang terlintas dalam benak seorang Muslim."(3)lelaki maupun yang perempuan. Tulang rusuk yang bengkok harus dipahami Benar bahwa ada suatu hadis Nabi yang dalam pengertian majazi (kiasan), dalam arti bahwadinilai shahih (dapat dipertanggungjawabkan hadis tersebut memperingatkan para lelaki agarkebenarannya) yang berbunyi: menghadapi perempuan dengan bijaksana. Karena ada sifat, karakter, dan kecenderungan mereka Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik yang tidak sama dengan lelaki, hal mana bila tidak kepada perempuan, karena mereka diciptakan disadari akan dapat mengantar kaum lelaki untuk dari tulang rusuk yang bengkok. (Diriwayatkan bersikap tidak wajar. Mereka tidak akan mampu oleh Bukhari, Muslim dan Tirmidzi dari sahabat mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan. Abu Hurairah). Kalaupun mereka berusaha akibatnya akan fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk Benar ada hadis yang berbunyi demikian yang bengkok.dan yang dipahami secara keliru bahwa Memahami hadis di atas seperti yang telahperempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam, dikemukakan di atas, justru mengakui kepribadianyang kemudian mengesankan kerendahan perempuan yang telah menjadi kodrat (bawaan)-derajat kemanusiaannya dibandingkan dengan nya sejak lahir.lelaki. Namun, cukup banyak ulama yang telah Dalam Surah Al-Isra ayat 70 ditegaskan bahwa:menjelaskan makna sesungguhnya dari hadistersebut. 3  Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar, Kairo, Dar Al- Muhammad Rasyid Ridha, dalam Tafsir Al- Manar, 1367 H jilid IV, h. 330. 199
    • Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak- orang-orang yang beramal, baik lelaki maupun anak Adam. Kami angkut mereka di daratan perempuan (QS 3:195). dan di lautan (untuk memudahkan mencari kehidupan). Kami beri mereka rezeki yang baik- Pandangan masyarakat yang mengantar baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan kepada perbedaan antara lelaki dan perempuan yang sempurna atas kebanyakan makhluk- dikikis oleh Al-Quran. Karena itu, dikecamnya makhluk yang Kami ciptakan. mereka yang bergembira dengan kelahiran seorang anak lelaki tetapi bersedih bila Tentu, kalimat anak-anak Adam mencakup lelaki memperoleh anak perempuan: dan perempuan, demikian pula penghormatan Tuhan yang diberikan-Nya itu, mencakup anak- Dan apabila seorang dari mereka diberi kabar anak Adam seluruhnya, baik perempuan maupun dengan kelahiran anak perempuan, hitam-merah lelaki. Pemahaman ini dipertegas oleh ayat 195 padamlah wajahnya dan dia sangat bersedih surah AliImran yang menyatakan: Sebagian kamu (marah). Ia menyembunyikan dirinya dari orang adalah bagian dari sebagian yang lain, dalam arti banyak disebabkan "buruk"-nya berita yang bahwa "sebagian kamu (hai umat manusia yakni disampaikan kepadanya itu. (Ia berpikir) apakah lelaki) berasal dari pertemuan ovum perempuan ia akan memeliharanya dengan menanggung dan sperma lelaki dan sebagian yang lain (yakni kehinaan ataukah menguburkannya ke dalam perempuan) demikian juga halnya." Kedua tanah (hidup-hidup). Ketahuilah! Alangkah buruk jenis kelamin ini sama-sama manusia. Tak ada apa yang mereka tetapkan itu (QS 16:58-59). perbedaan antara mereka dari segi asal kejadian dan kemanusiaannya. Ayat ini dan semacamnya diturunkan dalam Dengan konsideran ini, Tuhan mempertegas rangka usaha Al-Quran untuk mengikis habis bahwa: segala macam pandangan yang membedakan lelaki dengan perempuan, khususnya dalam Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal bidang kemanusiaan.200
    • Dari ayat-ayat Al-Quran juga ditemukan bahwa itu justru menunjuk kepada kaum lelaki (Adam),godaan dan rayuan Iblis tidak hanya tertuju kepada yang bertindak sebagai pemimpin terhadapperempuan (Hawa) tetapi juga kepada lelaki. Ayat- istrinya, seperti dalam firman Allah:ayat yang membicarakan godaan, rayuan setan Kemudian setan membisikkan pikiran jahatserta ketergelinciran Adam dan Hawa dibentuk kepadanya (Adam) dan berkata:dalam kata yang menunjukkan kebersamaankeduanya tanpa perbedaan, seperti: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada punah?" (QS 20:120). keduanya ... (QS 7:20). Demikian terlihat bahwa Al-Quran Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga mendudukkan perempuan pada tempat yang itu dan keduanya dikeluarkan dari keadaan yang sewajarnya serta meluruskan segala pandangan mereka (nikmati) sebelumnya ... (QS 2:36). yang salah dan keliru yang berkaitan dengan kedudukan dan asal kejadiannya. Kalaupun ada yang berbentuk tunggal, maka Hak-hak Perempuan Al-Quran berbicara tentang perempuan kepada hak-hak perempuan:dalam berbagai ayatnya. Pembicaraan tersebut Bagi lelaki hak (bagian) dari apa yangmenyangkut berbagai sisi kehidupan. Ada ayat dianugerahkan kepadanya dan bagi perempuanyang berbicara tentang hak dan kewajibannya, hak (bagian) dari apa yang dianugerahkanada pula yang menguraikan keistimewaan- kepadanya.keistimewaan tokoh-tokoh perempuan dalam Berikut ini akan dikemukakan beberapa haksejarah agama atau kemanusiaan. yang dimiliki oleh kaum perempuan menurut Secara umum surah Al-Nisa ayat 32, menunjuk pandangan ajaran Islam. 201
    • mengerjakan yang maruf" mencakup segala segi Hak-hak Perempuan dalam Bidang Politik kebaikan atau perbaikan kehidupan, termasuk Salah satu ayat yang seringkali dikemukakan memberi nasihat (kritik) kepada penguasa. Dengan oleh para pemikir Islam dalam kaitan dengan hak- demikian, setiap lelaki dan perempuan Muslimah hak politik kaum perempuan adalah yang tertera hendaknya mampu mengikuti perkembangan dalam surah Al-Tawbah ayat 71: masyarakat agar masing-masing mereka mampu melihat dan memberi saran (nasihat) dalam Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan berbagai bidang kehidupan.(4) perempuan, sebagian mereka adalah awliya Keikutsertaan perempuan bersama dengan bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh lelaki dalam kandungan ayat di atas tidak untuk mengerjakan yang maruf, mencegah dapat disangkal, sebagaimana tidak pula dapat yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan dipisahkan kepentingan perempuan dari zakat, dan mereka taat kepada Allah dan kandungan sabda Nabi Muhamad saw.: Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Barangsiapa yang tidak memperhatikan Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi kepentingan (urusan) kaum Muslim, maka ia tidak Mahabijaksana. termasuk golongan mereka. Kepentingan (urusan) kaum Muslim mencakup Secara umum, ayat di atas dipahami sebagai banyak sisi yang dapat menyempit atau meluas gambaran tentang kewajiban melakukan kerja sesuai dengan latar belakang pendidikan sama antarlelaki dan perempuan dalam berbagai seseorang, tingkat pendidikannya. Dengan bidang kehidupan yang dilukiskan dengan demikian, kalimat ini mencakup segala bidang kalimat menyuruh mengerjakan yang maruf dan kehidupan termasuk bidang kehidupan politik.(5) mencegah yang munkar. Di sisi lain, Al-Quran juga mengajak umatnya Kata awliya, dalam pengertiannya, mencakup 4  Amin Al-Khuli, Prof. Dr., Al-Marat baina Al-Bayt wa kerja sama, bantuan dan penguasaan, sedang Al-Muitama, dalam Al-Marat Al-Muslimah fi Al-Ashr Al- Muashir, Baqhdad, t.t., h. 13. pengertian yang dikandung oleh "menyuruh 5 Ibid202
    • (lelaki dan perempuan) untuk bermusyawarah, perempuan pada zaman Nabi untuk melakukanmelalui pujian Tuhan kepada mereka yang selalu bayat (janji setia kepada Nabi dan ajarannya),melakukannya. sebagaimana disebutkan dalam surah Al- Mumtahanah ayat 12. Urusan mereka (selalu) diputuskan dengan Sementara, pakar agama Islam menjadikan musyawarah (QS 42:38). bayat para perempuan itu sebagai bukti kebebasan perempuan untuk menentukan pilihan Ayat ini dijadikan pula dasar oleh banyak ulama atau pandangannya yang berkaitan denganuntuk membuktikan adanya hak berpolitik bagi kehidupan serta hak mereka. Dengan begitu,setiap lelaki dan perempuan. mereka dibebaskan untuk mempunyai pilihan Syura (musyawarah) telah merupakan salah satu yang berbeda dengan pandangan kelompok-prinsip pengelolaan bidang-bidang kehidupan kelompok lain dalam masyarakat, bahkanbersama menurut Al-Quran, termasuk kehidupan terkadang berbeda dengan pandangan suami danpolitik, dalam arti setiap warga masyarakat dalam ayah mereka sendiri.(6)kehidupan bersamanya dituntut untuk senantiasa Harus diakui bahwa ada sementara ulama yangmengadakan musyawarah. menjadikan firman Allah dalam surah Al-Nisa ayat Atas dasar ini, dapat dikatakan bahwa setiap 34, Lelaki-lelaki adalah pemimpin perempuan-lelaki maupun perempuan memiliki hak tersebut, perempuan... sebagai bukti tidak bolehnyakarena tidak ditemukan satu ketentuan agama perempuan terlibat dalam persoalan politik. Karenapun yang dapat dipahami sebagai melarang —kata mereka— kepemimpinan berada di tanganketerlibatan perempuan dalam bidang kehidupan lelaki, sehingga hak-hak berpolitik perempuanbermasyarakat —termasuk dalam bidang politik. pun telah berada di tangan mereka. PandanganBahkan sebaliknya, sejarah Islam menunjukkan ini bukan saja tidak sejalan dengan ayat-ayat yangbetapa kaum perempuan terlibat dalam berbagai dikutip di atas, tetapi juga tidak sejalan denganbidang kemasyarakatan, tanpa kecuali. 6  Jamaluddin Muhammad Mahmud, Prof. Dr., Huquq Al-Marat fi Al-Mujtama Al-Islamiy, Kairo, Al-Haiat Al- Al-Quran juga menguraikan permintaan para Mishriyat Al-Amat, 1986, h. 60. 203
    • makna sebenarnya yang diamanatkan oleh ayat dan kepemimpinannya dalam peperangan yang disebutkan itu. itu, menunjukkan bahwa beliau bersama para Ayat Al-Nisa 34 itu berbicara tentang pengikutnya itu menganut paham kebolehan kepemimpinan lelaki (dalam hal ini suami) keterlibatan perempuan dalam politik praktis terhadap seluruh keluarganya dalam bidang sekalipun. kehidupan rumah tangga. Kepemimpinan ini pun tidak mencabut hak-hak istri dalam berbagai segi, Hak-hak Perempuan dalam Memilih termasuk dalam hak pemilikan harta pribadi dan Pekerjaan hak pengelolaannya walaupun tanpa persetujuan Kalau kita kembali menelaah keterlibatan suami. perempuan dalam pekerjaan pada masa awal Kenyataan sejarah menunjukkan sekian banyak Islam, maka tidaklah berlebihan jika dikatakan di antara kaum wanita yang terlibat dalam soal-soal bahwa Islam membenarkan mereka aktif dalam politik praktis. Ummu Hani misalnya, dibenarkan berbagai aktivitas. Para wanita boleh bekerja sikapnya oleh Nabi Muhammad saw. ketika dalam berbagai bidang, di dalam ataupun di luar memberi jaminan keamanan kepada sementara rumahnya, baik secara mandiri atau bersama orang musyrik (jaminan keamanan merupakan orang lain, dengan lembaga pemerintah maupun salah satu aspek bidang politik). Bahkan istri swasta, selama pekerjaan tersebut dilakukannya Nabi Muhammad saw. sendiri, yakni Aisyah r.a., dalam suasana terhormat, sopan, serta selama memimpin langsung peperangan melawan Ali mereka dapat memelihara agamanya, serta ibn Abi Thalib yang ketika itu menduduki jabatan dapat pula menghindari dampak-dampak Kepala Negara. Isu terbesar dalam peperangan negatif dari pekerjaan tersebut terhadap diri dan tersebut adalah soal suksesi setelah terbunuhnya lingkungannya. Khalifah Ketiga, Utsman r.a. Secara singkat, dapat dikemukakan rumusan Peperangan itu dikenal dalam sejarah Islam menyangkut pekerjaan perempuan yaitu bahwa dengan nama Perang Unta (656 M). Keterlibatan "perempuan mempunyai hak untuk bekerja, Aisyah r.a. bersama sekian banyak sahabat Nabi selama pekerjaan tersebut membutuhkannya dan204
    • atau selama mereka membutuhkan pekerjaan Dalam bidang perdagangan, nama istri Nabitersebut". yang pertama, Khadijah binti Khuwailid, tercatat Pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan oleh sebagai seorang yang sangat sukses. Demikianperempuan pada masa Nabi cukup beraneka juga Qilat Ummi Bani Anmar yang tercatat sebagairagam, sampai-sampai mereka terlibat secara seorang perempuan yang pernah datang kepadalangsung dalam peperangan-peperangan, bahu- Nabi untuk meminta petunjuk-petunjuk dalammembahu dengan kaum lelaki. Nama-nama bidang jual-beli. Dalam kitab Thabaqat Ibnu Saad,seperti Ummu Salamah (istri Nabi), Shafiyah, Laila kisah perempuan tersebut diuraikan, di manaAl-Ghaffariyah, Ummu Sinam Al-Aslamiyah, dan ditemukan antara lain pesan Nabi kepadanyalain-lain, tercatat sebagai tokoh-tokoh yang terlibat menyangkut penetapan harga jual-beli. Nabidalam peperangan. Ahli hadis, Imam Bukhari, memberi petunjuk kepada perempuan ini denganmembukukan bab-bab dalam kitab Shahih-nya, sabdanya:yang menginformasikan kegiatan-kegiatan kaum Apabila Anda akan membeli atau menjualwanita, seperti Bab Keterlibatan Perempuan dalam sesuatu, maka tetapkanlah harga yang AndaJihad, Bab Peperangan Perempuan di Lautan, Bab inginkan untuk membeli atau menjualnya,Keterlibatan Perempuan Merawat Korban, dan baik kemudian Anda diberi atau tidak. (Maksudlain-lain. beliau jangan bertele-tele dalam menawar atau Di samping itu, para perempuan pada masa menawarkan sesuatu).Nabi saw. aktif pula dalam berbagai bidang Istri Nabi saw., Zainab binti Jahsy, juga aktifpekerjaan. Ada yang bekerja sebagai perias bekerja sampai pada menyamak kulit binatang,pengantin, seperti Ummu Salim binti Malhan yang dan hasil usahanya itu beliau sedekahkan. Raithah,merias, antara lain, Shafiyah bin Huyay(7) —istri istri sahabat Nabi Abdullah ibn Masud, sangat aktifNabi Muhammad saw. Ada juga yang menjadi bekerja, karena suami dan anaknya ketika itu tidakperawat atau bidan, dan sebagainya. mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga ini.(8) 7  Ibrahim bin Ali Al-wazir, Dr., Ala Masyarif Al-Qarn. Al- 8  Lihat biografi para sahabat tersebut dalam Al-Ishabat fi Asma Khamis Asyar, Kairo, Dar Al-Syuruq 1979, h. 76. Al-Shahabat, karya Ibnu Hajar, jilid IV. 205
    • Al-Syifa, seorang perempuan yang pandai menulis, akhirnya menyimpulkan bahwa perempuan ditugaskan oleh Khalifah Umar r.a. sebagai petugas dapat melakukan pekerjaan apa pun selama yang menangani pasar kota Madinah.(9) ia membutuhkannya atau pekerjaan itu Demikian sedikit dari banyak contoh yang membutuhkannya dan selama norma-norma terjadi pada masa Rasul saw. dan sahabat agama dan susila tetap terpelihara. beliau menyangkut keikutsertaan perempuan Dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai bidang usaha dan pekerjaan. yang dimiliki oleh setiap orang, termasuk kaum Di samping yang disebutkan di atas, perlu juga wanita, mereka mempunyai hak untuk bekerja dan digarisbawahi bahwa Rasul saw. banyak memberi menduduki jabatan jabatan tertinggi. Hanya ada perhatian serta pengarahan kepada perempuan jabatan yang oleh sementara ulama dianggap tidak agar menggunakan waktu sebaik-baiknya dan dapat diduduki oleh kaum wanita, yaitu jabatan mengisinya dengan pekerjaan-pekerjaan yang Kepala Negara (Al-Imamah Al-Uzhma) dan Hakim. bermanfaat. Dalam hal ini, antara lain, beliau Namun, perkembangan masyarakat dari saat ke bersabda: saat mengurangi pendukung larangan tersebut, Sebaik-baik "permainan" seorang perempuan khususnya menyangkut persoalan kedudukan Muslimah di dalam rumahnya adalah memintal/ perempuan sebagai hakim. menenun. (Hadis diriwayatkan oleh Abu Nuaim Dalam beberapa kitab hukum Islam, seperti dari Abdullah bin Rabi Al-Anshari). Al-Mughni, ditegaskan bahwa "setiap orang yang Aisyah r.a. diriwayatkan pernah berkata: "Alat memiliki hak untuk melakukan sesuatu, maka pemintal di tangan perempuan lebih baik daripada sesuatu itu dapat diwakilkannya kepada orang tombak di tangan lelaki." lain, atau menerima perwakilan dari orang lain". Tentu saja tidak semua bentuk dan Atas dasar kaidah itu, Dr. Jamaluddin Muhammad ragam pekerjaan yang terdapat pada masa Mahmud berpendapat bahwa berdasarkan kitab kini telah ada pada masa Nabi saw. Namun, fiqih, bukan sekadar pertimbangan perkembangan sebagaimana telah diuraikan di atas, ulama pada masyarakat kita jika kita menyatakan bahwa perempuan dapat bertindak sebagai pembela dan 9  Muhammad Al-Ghazali, op.cit., h. 134.206
    • penuntut dalam berbagai bidang.(10) al-albab, yang berzikir dan memikirkan tentang kejadian langit dan bumi. Zikir dan pemikiranHak dan Kewajiban Belajar menyangkut hal tersebut akan mengantar Terlalu banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi manusia untuk mengetahui rahasia-rahasiasaw. yang berbicara tentang kewajiban belajar, alam raya ini, dan hal tersebut tidak lain daribaik kewajiban tersebut ditujukan kepada lelaki pengetahuan. Mereka yang dinamai ulu al-albabmaupun perempuan. Wahyu pertama dari Al- tidak terbatas pada kaum lelaki saja, tetapi jugaQuran adalah perintah membaca atau belajar, kaum perempuan. Hal ini terbukti dari ayat yang Bacalah demi Tuhanmu yang telah berbicara tentang ulu al-albab yang dikemukakanmenciptakan... Keistimewaan manusia yang di atas. Setelah Al-Quran menguraikan tentangmenjadikan para malaikat diperintahkan sujud sifat-sifat mereka, ditegaskannya bahwa:kepadanya adalah karena makhluk ini memiliki Maka Tuhan mereka mengabulkanpengetahuan (QS 2:31-34). permohonan mereka dengan berfirman: Baik lelaki maupun perempuan diperintahkan "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amaluntuk menimba ilmu sebanyak mungkin, mereka orang-orang yang beramal di antara kamu, baiksemua dituntut untuk belajar: lelaki maupun perempuan..." (QS 3:195). Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim Ini berarti bahwa kaum perempuan dapat(dan Muslimah). berpikir, mempelajari dan kemudian mengamalkan Para perempuan di zaman Nabi saw. menyadari apa yang mereka hayati dari zikir kepada Allahbenar kewajiban ini, sehingga mereka memohon serta apa yang mereka ketahui dari alam raya ini.kepada Nabi agar beliau bersedia menyisihkan Pengetahuan menyangkut alam raya tentunyawaktu tertentu dan khusus untuk mereka dalam berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu, sehinggarangka menuntut ilmu pengetahuan. Permohonan dari ayat ini dapat dipahami bahwa perempuanini tentu saja dikabulkan oleh Nabi saw. bebas untuk mempelajari apa saja, sesuai dengan Al-Quran memberikan pujian kepada ulu keinginan dan kecenderungan mereka masing- masing. 10  Jamaluddin Muhammad Mahmud, Prof. Dr., op.cit., h. 71. 207
    • Banyak wanita yang sangat menonjol sejarahwan Abdul-Latif Al-Baghdadi.(12) Kemudian pengetahuannya dalam berbagai bidang ilmu contoh wanita-wanita yang mempunyai pengetahuan dan yang menjadi rujukan sekian kedudukan ilmiah yang sangat terhormat adalah banyak tokoh lelaki. Istri Nabi, Aisyah r.a., adalah Al-Khansa, Rabiah Al-Adawiyah, dan lain-lain. seorang yang sangat dalam pengetahuannya Rasul saw. tidak membatasi anjuran atau serta dikenal pula sebagai kritikus. Sampai- kewajiban belajar hanya terhadap perempuan- sampai dikenal secara sangat luas ungkapan perempuan merdeka (yang memiliki status sosial yang dinisbahkan oleh sementara ulama sebagai yang tinggi), tetapi juga para budak belian dan pernyataan Nabi Muhammad saw.: mereka yang berstatus sosial rendah. Karena itu, Ambillah setengah pengetahuan agama kalian sejarah mencatat sekian banyak perempuan yang dari Al-Humaira (Aisyah). tadinya budak belian mencapai tingkat pendidikan Demikian juga Sayyidah Sakinah putri yang sangat tinggi. Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Kemudian Al-Muqarri, dalam bukunya Nafhu Al-Thib, Al-Syaikhah Syuhrah yang digelari Fakhr Al- sebagaimana dikutip oleh Dr. Abdul Wahid Wafi, Nisa (Kebanggaan Perempuan) adalah salah memberitakan bahwa Ibnu Al-Mutharraf, seorang seorang guru Imam Syafii(11) (tokoh mazhab yang pakar bahasa pada masanya, pernah mengajarkan pandangan-pandangannya menjadi anutan seorang perempuan liku-liku bahasa Arab. banyak umat Islam di seluruh dunia), dan masih Sehingga sang wanita pada akhirnya memiliki banyak lagi lainnya. kemampuan yang melebihi gurunya sendiri, Imam Abu Hayyan mencatat tiga nama khususnya dalam bidang puisi, sampai ia dikenal perempuan yang menjadi guru-guru tokoh dengan nama Al-Arudhiyat karena keahliannya mazhab tersebut, yaitu Munisat Al-Ayyubiyah dalam bidang ini.(13) (putri Al-Malik Al-Adil saudara Salahuddin Al- Harus diakui bahwa pembidangan ilmu Ayyubi), Syamiyat Al-Taimiyah, dan Zainab putri 12  Abdul Wahid Wafi, Prof. Dr., Al-Musawat fi Al-Islam, Kairo, Dar Al-Maarif, 1965, h. 47. 11  Ibid., h. 77. 13 Ibid208
    • pada masa awal Islam belum lagi sebanyak dan Syaqaiq Al-Rijal (saudara-saudara sekandung kaumseluas masa kita dewasa ini. Namun, Islam tidak lelaki) sehingga kedudukannya serta hak-haknyamembedakan antara satu disiplin ilmu dengan hampir dapat dikatakan sama. Kalaupun ada yangdisiplin ilmu lainnya, sehingga seandainya mereka membedakan, maka itu hanyalah akibat fungsiyang disebut namanya di atas hidup pada masa dan tugas-tugas utama yang dibebankan Tuhankita ini, maka tidak mustahil mereka akan tekun kepada masing-masing jenis kelamin itu, sehinggapula mempelajari disiplin-disiplin ilmu yang perbedaan yang ada tidak mengakibatkan yangberkembang dewasa ini. satu merasa memiliki kelebihan atas yang lain: Dalam hal ini, Syaikh Muhammad Abduh Dan janganlah kamu iri hati terhadap apamenulis: "Kalaulah kewajiban perempuan yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamumempelajari hukum-hukum agama kelihatannya lebih banyak dari sebagian yang lain, karena bagiamat terbatas, maka sesungguhnya kewajiban lelaki ada bagian dari apa yang mereka perolehmereka untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan (usahakan) dan bagi perempuan juga ada bagiandengan rumah tangga, pendidikan anak, dan dari apa yang mereka peroleh (usahakan) dansebagainya yang merupakan persoalan-persoalan bermohonlah kepada Allah dari karunia-Nya.duniawi (dan yang berbeda sesuai dengan Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segalaperbedaan waktu, tempat dan kondisi) jauh lebih sesuatu (QS 4:32).banyak daripada soal-soal keagamaan."(14) Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya. Demikian sekilas menyangkut hak dankewajiban perempuan dalam bidang pendidikan. Tentunya masih banyak lagi yang dapatdikemukakan menyangkut hak-hak kaumperempuan dalam berbagai bidang. Namun,kesimpulan akhir yang dapat ditarik adalah bahwamereka, sebagaimana sabda Rasul saw., adalah 14  Jamaluddin Muhammad Mahmud, Prof. Dr., op.cit., h. 79. 209
    • 210
    • Laylat Al-Qadr 22S urah Al-Qadr adalah surah ke-97 menurut urutannya di dalam Mushaf. Ia ditempatkansesudah surah Iqra. Para ulama Al-Quran Tetapi, apa dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali saja yakni pada malam ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu ataumenyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya terjadi setiap bulan Ramadhan sepanjang sejarah?surah Iqra. Bahkan, sebagian diantara mereka, Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orangmenyatakan bahwa surah Al-Qadr turun setelah yang menantinya pasti akan mendapatkannya?Nabi Muhammad saw. berhijrah ke Madinah. Benarkah ada tanda-tanda fisik material yang Penempatan dan perurutan surah dalam menyertai kehadirannya (seperti membekunya air,Al-Quran dilakukan langsung atas perintah Allah heningnya malam dan menunduknya pepohonan,SWT, dan dari perurutannya ditemukan keserasian- dan sebagainya)? Masih banyak lagi pertanyaankeserasian yang mengagumkan. yang dapat dan sering muncul berkaitan dengan Kalau dalam surah Iqra, Nabi saw. diperintahkan malam Al-Qadr itu.(demikian pula kaum Muslim) untuk membaca Yang pasti, dan ini harus diimani oleh setiapdan yang dibaca itu antara lain adalah Al-Quran, Muslim berdasarkan pernyataan Al-Quran, bahwamaka wajarlah jika surah sesudahnya —yakni surah "Ada suatu malam yang bernama Laylat Al-Qadr"Al-Qadr ini— berbicara tentang turunnya Al-Quran (QS 97:1) dan bahwa malam itu adalah "malam yangdan kemuliaan malam yang terpilih sebagai malam penuh berkah di mana dijelaskan atau ditetapkanNuzul Al-Quran (turunnya Al-Quran). segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan" Bulan Ramadhan memiliki sekian banyak (QS 44:3).keistimewaan. Salah satu di antaranya adalah Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan,Laylat Al-Qadr — satu malam yang oleh Al-Quran karena Kitab Suci menginformasikan bahwa iadinamai "lebih baik daripada seribu bulan". diturunkan oleh Allah pada bulan Ramadhan
    • (QS 2:185) serta pada malam Al-Qadr (QS 97:1). membedakan antara pertanyaan ma adraka dan Malam tersebut adalah malam mulia, tidak ma yudrika yang juga digunakan oleh Al-Quran mudah diketahui betapa besar kemuliaannya. dalam tiga ayat. Ini diisyaratkan oleh adanya "pertanyaan" dalam bentuk pengagungan, yaitu Wa ma adraka ma Wa ma yudrika la alla al-saata takunu qariba laylat Al-Qadr. (Al-Ahzab: 63) Tiga belas kali kalimat ma adraka terulang dalam Al-Quran. Sepuluh di antaranya Wa ma yudrika laalla al-saata qarib ... (Al- mempertanyakan tentang kehebatan yang Syura:17) terkait dengan hari kemudian, seperti Ma adraka ma Yawm Al-Fashl, ... Al-Haqqah .. illiyyun, dan Wa ma yudrika la allahu yazzakka (Abasa: 3). sebagainya. Kesemuanya itu merupakan hal yang tidak mudah dijangkau oleh akal pikiran manusia, Dua hal yang dipertanyakan dengan wa ma kalau enggan berkata mustahil dijangkaunya. Dari yudrika adalah pertama menyangkut waktu ketiga belas kali ma adraka itu terdapat tiga kali kedatangan hari kiamat dan kedua apa yang yang mengatakan: Ma adraka ma al-thariq, Ma berkaitan dengan kesucian jiwa manusia. adraka ma al-aqabah, dan Ma adraka ma laylat Secara gamblang, Al-Quran —demikian pula al-qadr. Al-Sunnah— menyatakan bahwa Nabi saw. tidak Kalau dilihat pemakaian Al-Quran tentang mengetahui kapan datangnya hari kiamat, dan hal-hal yang menjadi objek pertanyaan, maka tidak pula mengetahui tentang yang gaib. Ini kesemuanya adalah hal-hal yang sangat hebat dan berarti bahwa ma yudrika digunakan oleh Al- sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh Quran untuk hal-hal yang tidak mungkin diketahui akal pikiran manusia. Hal ini tentunya termasuk walaupun oleh Nabi saw. sendiri. Sedangkan wa Laylat Al-Qadr yang menjadi pokok bahasan kita, ma adraka, walaupun berupa pertanyaan, namun kali ini. pada akhirnya Allah SWT menyampaikannya Walaupun demikian, sementara ulama kepada Nabi saw., sehingga informasi lanjutan212
    • dapat diperoleh dari beliau. mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena Itu semua berarti bahwa persoalan Laylat Al- terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran sertaQadr harus dirujuk kepada Al-Quran dan Sunnah karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaanRasulullah saw., karena di sanalah dapat diperoleh yang dapat diraih. Kata qadr yang berarti muliainformasinya. ditemukan dalam ayat ke-91 surah Al-Anam yang Kembali kepada pertanyaan semula, bagaimana berbicara tentang kaum musyrik: Ma qadarutentang malam itu? Apa arti malam Al-Qadr dan Allaha haqqa qadrihi idz qalu ma anzala Allahu alamengapa malam itu dinamai demikian? Di sini basyarin min syayi (Mereka itu tidak memuliakanditemukan berbagai jawaban. Allah sebagaimana kemuliaan yang semestinya, Kata qadr sendiri paling tidak digunakan untuk tatkala mereka berkata bahwa Allah tidaktiga arti: menurunkan sesuatu pun kepada manusia). Penetapan dan pengaturan sehingga Laylat Sempit. Malam tersebut adalah malam yangAl-Qadr dipahami sebagai malam penetapan sempit, karena banyaknya malaikat yang turunAllah bagi perjalanan hidup manusia. Pendapat ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surah Al-ini dikuatkan oleh penganutnya dengan firman Qadr: Pada malam itu turun malaikat-malaikat danAllah pada surah 44:3 yang disebut di atas. Ada Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengaturulama yang memahami penetapan itu dalam batas segala urusan. Kata qadr yang berarti sempitsetahun. Al-Quran yang turun pada malam Laylat digunakan oleh Al-Quran antara lain dalam ayatAl-Qadr diartikan bahwa pada malam itu Allah SWT ke-26 surah Al-Rad: Allah yabsuthu al-rizqa limanmengatur dan menetapkan khiththah dan strategi yasya wa yaqdiru (Allah melapangkan rezeki bagibagi Nabi-Nya, Muhammad saw., guna mengajak yang dikehendaki dan mempersempitnya [bagimanusia kepada agama yang benar yang pada yang dikehendaki-Nya]).akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah Ketiga arti tersebut, pada hakikatnya, dapatumat manusia, baik sebagai individu maupun menjadi benar, karena bukankah malam tersebutkelompok. adalah malam mulia, yang bila dapat diraih maka Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam ia menetapkan masa depan manusia, dan bahwa 213
    • pada malam itu malaikat-malaikat turun ke bumi Ramadha.n. Bahkan, Rasul saw. menganjurkan membawa kedamaian dan ketenangan? Namun umatnya untuk mempersiapkan jiwa menyambut demikian, sebelum melanjutkan pembahasan malam mulia itu secara khusus pada malam-malam tentang hakikat dan hikmah Laylat Al-Qadr, gazal setelah berlalu dua puluh hari Ramadhan. terlebih dahulu akan dijawab pertanyaan tentang Memang, turunnya Al-Quran lima belas abad kehadirannya, apakah setiap tahun atau hanya yang lalu terjadi pada malam Laylat Al-Qadr, sekali, yakni ketika turunnya Al-Quran lima belas tetapi itu bukan berarti bahwa malam mulia itu abad yang lalu. hadir pada saat itu saja. Ini juga berarti bahwa Dari Al-Quran kita menemukan penjelasan kemuliaannya bukan hanya disebabkan karena Al- bahwa wahyu-wahyu Allah itu diturunkan pada Quran ketika itu turun, tetapi karena adanya faktor Laylat Al-Qadr, tetapi karena umat sepakat intern pada malam itu sendiri. Pendapat tersebut mempercayai bahwa Al-Quran telah sempurna dikuatkan juga dengan penggunaan bentuk kata dan tidak ada lagi wahyu setelah wafatnya Nabi kerja mudhari (present tense) pada ayat, Tanazzal Muhammad saw., maka atas dasar logika itu, al-malaikat wa al-ruh, kata Tanazzal adalah ada yang berpendapat bahwa malam mulia itu bentuk yang mengandung arti kesinambungan, sudah tidak akan hadir lagi. Kemuliaan yang atau terjadinya sesuatu pada masa kini dan masa diperoleh oleh malam tersebut adalah karena ia datang. terpilih menjadi waktu turunnya Al-Quran. Pakar Nah, apakah bila ia hadir, ia akan menemui hadis, Ibnu Hajar, menyebutkan satu riwayat dari setiap orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam penganut paham di atas yang menyatakan bahwa kehadirannya itu? Tidak sedikit umat Islam yang Nabi saw. pernah bersabda bahwa malam qadr menduganya demikian. Namun, dugaan itu — sudah tidak akan datang lagi. hemat penulis— keliru, karena itu dapat berarti Pendapat tersebut ditolak oleh mayoritas bahwa yang memperoleh keistimewaan adalah ulama dengan berpegang pada teks ayat Al-Quran yang terjaga baik untuk menyambutnya maupun serta sekian banyak teks hadis yang menunjukkan tidak. Di sisi lain, ini berarti bahwa kehadirannya bahwa Laylat Al-Qadr terjadi pada setiap bulan ditandai oleh hal-hal yang bersifat fisik material,214
    • sedangkan riwayat-riwayat demikian tidak dapat saw. menganjurkan sekaligus mempraktekkandipertanggungjawabkan kesahihannya. Dan itikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) padaseandainya, sekali lagi seandainya, ada tanda-tanda sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.fisik material, maka itu pun tidak akan ditemui oleh Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah mulaiorang-orang yang tidak mempersiapkan diri dan bersemi, dan Laylat Al-Qadr datang menemuimenyucikan jiwa guna menyambutnya. Air dan seseorang, ketika itu malam kehadirannya menjadiminyak tidak mungkin akan menyatu dan bertemu. saat qadr —dalam arti, saat menentukan bagiKebaikan dan kemuliaan yang dihadirkan oleh perjalanan sejarah hidupnya pada masa-masaLaylat Al-Qadr tidak mungkin akan diraih kecuali mendatang. Saat itu, bagi yang bersangkutanoleh orang-orang tertentu saja. Tamu agung yang adalah saat titik tolak guna meraih kemuliaan danberkunjung ke satu tempat, tidak akan datang kejayaan hidup di dunia dan di akhirat kelak, danmenemui setiap orang di lokasi itu, walaupun sejak saat itu, malaikat akan turun guna menyertaisetiap orang di tempat itu mendambakannya. dan membimbingnya menuju kebaikan sampaiBukankah ada orang yang sangat rindu atas terbit fajar kehidupannya yang baru kelak di harikedatangan kekasih, namun ternyata sang kekasih kemudian. (Perhatikan kembali makna-makna Al-tidak sudi mampir menemuinya? Demikian Qadr yang dikemukakan di atas!).juga dengan Laylat Al-Qadr. Itu sebabnya bulan Syaikh Muhammad Abduh pernah menjelaskanRamadhan menjadi bulan kehadirannya, karena pandangan Imam Al-Ghazali tentang kehadiranbulan ini adalah bulan penyucian jiwa, dan itu pula malaikat dalam diri manusia. Abduh memberikansebabnya sehingga ia diduga oleh Rasul datang ilustrasi berikut:pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. "Setiap orang dapat merasakan bahwa dalamKarena, ketika itu, diharapkan jiwa manusia yang jiwanya ada dua macam bisikan, yaitu bisikanberpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah baik dan buruk. Manusia seringkali merasakanmencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian pertarungan antara keduanya, seakan apa yangyang memungkinkan malam mulia itu berkenan terlintas dalam pikirannya ketika itu sedangmampir menemuinya. Dan itu pula sebabnya Rasul diajukan ke satu sidang pengadilan. Yang ini 215
    • menerima dan yang itu menolak, atau yang ini pengetahuan dan pengayaan iman. Itulah berkata lakukan dan yang itu mencegah, demikian sebabnya ketika melakukan itikaf, seseorang halnya sampai pada akhirnya sidang memutuskan dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bacaan sesuatu. Al-Quran, atau bahkan bacaan-bacaan lain yang Yang membisikkan kebaikan adalah malaikat, dapat memperkaya iman dan ketakwaan. sedangkan yang membisikkan keburukan adalah Malam Al-Qadr, yang ditemui atau yang setan atau paling tidak penyebab adanya bisikan menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau tersebut adalah malaikat atau setan. Nah, turunnya menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri malaikat, pada malam Laylat Al-Qadr, menemui beliau dan masyarakat. Ketika jiwa beliau telah orang yang mempersiapkan diri menyambutnya mencapai kesuciannya, turunlah Al-Ruh (Jibril) berarti bahwa ia akan selalu disertai oleh malaikat membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga jiwanya selalu terdorong untuk sehingga terjadilah perubahan total dalam melakukan kebaikan-kebaikan. Jiwanya akan selalu perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup merasakan salam (rasa aman dan damai) yang tidak umat manusia. terbatas sampai fajar malam Laylat Al-Qadr, tetapi Dalam rangka menyambut kehadiran Laylat sampai akhir hayat menuju fajar kehidupan baru di Al-Qadr itu yang beliau ajarkan kepada umatnya, hari kemudian kelak." antara lain, adalah melakukan itikaf. Walaupun Di atas telah dikemukakan bahwa Nabi itikaf dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu saw., menganjurkan sambil mengamalkan i berapa lama saja —bahkan dalam pandangan tikaf di masjid dalam rangka perenungan dan Imam Syafii, walaupun hanya sesaat selama penyucian jiwa. Masjid adalah tempat suci, tempat dibarengi oleh niat yang suci— namun, Nabi saw. segala aktivitas kebajikan bermula. Di masjid, selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam seseorang diharapkan merenung tentang diri dan terakhir bulan puasa. Di sanalah beliau bertadarus masyarakatnya. Juga, di masjid, seseorang dapat dan merenung sambil berdoa. menghindar dari hiruk-pikuk yang menyesakkan Salah satu doa yang paling sering beliau baca jiwa dan pikiran guna memperoleh tambahan dan hayati maknanya adalah: Rabbana atina216
    • fi al-dunya hasanah, wa fi al-akhirah hasanahwa qina adzab al-nar (Wahai Tuhan kami,anugerahkanlah kepada kami kebajikan di duniadan kebajikan di akhirat dan peliharalah kamidari siksa neraka). Doa ini bukan sekadar berartipermohonan untuk memperoleh kebajikan duniadan kebajikan akhirat, tetapi lebih-lebih lagibertujuan untuk memantapkan langkah dalamberupaya meraih kebajikan yang dimaksud, karenadoa mengandung arti permohonan yang disertaiusaha. Permohonan itu juga berarti upaya untukmenjadikan kebajikan dan kebahagiaan yangdiperoleh dalam kehidupan dunia ini, tidak hanyaterbatas dampaknya di dunia, tetapi berlanjuthingga hari kemudian kelak. Kalau yang demikian itu diraih oleh manusia,maka jelaslah ia telah memperoleh kemuliaandunia dan akhirat. Karena itu, tidak heran jika kitamendengar jawaban Rasul saw. yang menunjukkepada doa tersebut, ketika istri beliau Aisyahmenanyakan doa apa yang harus dibaca jika iamerasakan kehadiran Laylat-Al-Qadr? 217
    • 218
    • Makna Isra dan Miraj 23P erjalanan Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Bayt Al-Maqdis, kemudian naik ke Sidrat Al-Muntaha, bahkan melampauinya, serta kembalinya hukum-hukum alam, tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, bahkan tidak dapat dibuktikan oleh patokan-patokan logika. Demikian kira-kira kilahke Makkah dalam waktu sangat singkat, mereka yang menolak peristiwa ini.merupakan tantangan terbesar sesudah Al-Quran Memang, pendekatan yang paling tepat untukdisodorkan oleh Tuhan kepada umat manusia. memahaminya adalah pendekatan imaniy. InilahPeristiwa ini membuktikan bahwa ilm dan yang ditempuh oleh Abu Bakar AlShiddiq, sepertiqudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan tergambar dalam ucapannya: "Apabila Muhammadmengatasi, segala yang finite (terbatas) dan infinite yang memberitakannya, pasti benarlah adanya."(tak terbatas) tanpa terbatas waktu atau ruang. Oleh sebab itu, uraian ini berusaha untuk Kaum empirisis dan rasionalis, yang melepaskan memahami peristiwa tersebut melalui apa yangdiri dari bimbingan wahyu, dapat saja menggugat: kita percayai kebenarannya berdasarkan bukti-Bagaimana mungkin kecepatan, yang bahkan bukti ilmiah yang dikemukakan oleh Al-Quran.melebihi kecepatan cahaya, kecepatan yang Salah satu hal yang menjadi pusat pembahasanmerupakan batas kecepatan tertinggi dalam Al-Quran adalah masa depan ruhani manusiacontinuum empat dimensi ini, dapat terjadi? demi mewujudkan keutuhannya. Uraian Al-QuranBagaimana mungkin lingkungan material yang tentang Isra dan Miraj merupakan salah satu caradilalui oleh Muhammad saw. tidak mengakibatkan pembuatan skema ruhani tersebut. Hal ini terbuktigesekan-gesekan panas yang merusak tubuh jelas melalui pengamatan terhadap sistematikabeliau sendiri? Bagaimana mungkin beliau dapat dan kandungan Al-Quran, baik dalam bagian-melepaskan diri dari daya tarik bumi? Ini tidak bagiannya yang terbesar maupun dalam ayat-mungkin terjadi, karena ia tidak sesuai dengan ayatnya yang terinci.
    • Tujuh bagian pertama Al-Quran membahas adalah uraian yang terdapat dalam surat pertumbuhan jiwa manusia sebagai pribadi- sebelumnya.(1) Sedangkan inti uraian satu surat pribadi yang secara kolektif membentuk umat. dipahami dari nama surat tersebut, seperti Dalam bagian kedelapan sampai keempat dikatakan oleh Al-Biqaii.(2) Dengan demikian, maka belas, Al-Quran menekankan pembangunan pengantar uraian peristiwa Isra adalah surat yang manusia seutuhnya serta pembangunan dinamai Tuhan dengan sebutan Al-Nahl, yang masyarakat dan konsolidasinya. Tema bagian berarti lebah. kelima belas mencapai klimaksnya dan tergambar Mengapa lebah? Karena makhluk ini memiliki pada pribadi yang telah mencapai tingkat tertinggi banyak keajaiban. Keajaibannya itu bukan hanya dari manusia seutuhnya, yakni al-insan al-kamil. terlihat pada jenisnya, yang jantan dan betina, Dan karena itu, peristiwa Isra dan Miraj merupakan tetapi juga jenis yang bukan jantan dan bukan awal bagian ini, dan berkelanjutan hingga bagian betina. Keajaibannya juga tidak hanya terlihat kedua puluh satu, di mana kisah para rasul pada sarang-sarangnya yang tersusun dalam diuraikan dari sisi pandangan tersebut. Kemudian, bentuk lubang-lubang yang sama bersegi enam masalah perkembangan ruhani manusia secara dan diselubungi oleh selaput yang sangat halus orang per orang diuraikan lebih lanjut sampai menghalangi udara atau bakteri menyusup ke bagian ketiga puluh, dengan penjelasan tentang dalamnya, juga tidak hanya terletak pada khasiat hubungan perkembangan tersebut dengan madu yang dihasilkannya, yang menjadi makanan kehidupan masyarakat secara timbal-balik. dan obat bagi sekian banyak penyakit. Keajaiban Kemudian, kalau kita melihat cakupan lebah mencakup itu semua, dan mencakup pula lebih kecil, maka ilmuwan-ilmuwan Al-Quran, sistem kehidupannya yang penuh disiplin dan sebagaimana ilmuwan-ilmuwan pelbagai dedikasi di bawah pimpinan seekor "ratu". Lebah disiplin ilmu, menyatakan bahwa segala sesuatu yang berstatus ratu ini pun memiliki keajaiban memiliki pendahuluan yang mengantar atau menyebabkannya. Imam Al-Suyuthi berpendapat 1  Lihat bukunya, Asrar Tartib Al-Quran. 2  Lihat dalam pengantar untuk bukunya, Nazhm Al-Durar fi bahwa pengantar satu uraian dalam Al-Quran Tanasub Al-Ayat wa Al-Suwar.220
    • dan keistimewaan. Misalnya, bahwa sang ratu ini, disegerakan datangnya.karena rasa "malu" yang dimiliki dan dipeliharanya, Dunia belum kiamat, mengapa Allahtelah menjadikannya enggan untuk mengadakan mengatakan kiamat telah datang? Al-Quranhubungan seksual dengan salah satu anggota menyatakan "telah datang ketetapan Allah,"masyarakatnya yang jumlahnya dapat mencapai mengapa dinyatakan-Nya juga "jangan memintasekitar tiga puluh ribu ekor. Di samping itu, agar disegerakan datangnya"? Ini untuk memberikeajaiban lebah juga tampak pada bentuk bahasa isyarat sekaligus pengantar bahwa Tuhan tidakdan cara mereka berkomunikasi, yang dalam hal mengenal waktu untuk mewujudkan sesuatu.ini telah dipelajari secara mendalam oleh seorang Hari ini, esok, juga kemarin, adalah perhitunganilmuwan Austria, Karl Van Fritch. manusia, perhitungan makhluk. Tuhan sama Lebah dipilih Tuhan untuk menggambarkan sekali tidak terikat kepadanya, sebab adalahkeajaiban ciptaan-Nya agar menjadi pengantar Dia yang menguasai masa. Karenanya Dia tidakkeajaiban perbuatan-Nya dalam peristiwa Isra dan membutuhkan batasan untuk mewujudkanMiraj. Lebah juga dipilih sebagai pengantar bagi sesuatu. Dan hal ini ditegaskan-Nya dalambagian yang menjelaskan manusia seutuhnya. surat pengantar ini dengan kalimat: MakaKarena manusia seutuhnya, manusia mukmin, perkataan Kami kepada sesuatu, apabila Kamimenurut Rasul, adalah "bagaikan lebah, tidak menghendakinya, Kami hanya menyatakanmakan kecuali yang baik dan indah, seperti kepadanya "kun" (jadilah), maka jadilah ia (QSkembang yang semerbak; tidak menghasilkan 16:40).sesuatu kecuali yang baik dan berguna, seperti Di sini terdapat dua hal yang perlumadu yang dihasilkan lebah itu." digarisbawahi. Pertama, kenyataan ilmiah Dalam cakupan yang lebih kecil lagi, kita menunjukkan bahwa setiap sistem gerakmelontarkan pandangan kepada ayat pertama mempunyai perhitungan waktu yang berbedasurat pengantar tersebut. Di sini Allah berfirman: dengan sistem gerak yang lain. Benda padatTelah datang ketetapan Allah (Hari Kiamat). membutuhkan waktu yang lebih lamaOleh sebab itu janganlah kamu meminta agar dibandingkan dengan suara. Suara pun 221
    • membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan terbit fajar bukanlah penyebab terbitnya fajar," dengan cahaya. Hal ini mengantarkan para kata Al-Ghazali jauh sebelum David Hume lahir. ilmuwan, filosof, dan agamawan untuk "Bergeraknya sesuatu dari A ke B, kemudian dari berkesimpulan bahwa, pada akhirnya, ada sesuatu B ke C, dan dari C ke D, tidaklah dapat dijadikan yang tidak membutuhkan waktu untuk mencapai dasar untuk menyatakan bahwa pergerakannya sasaran apa pun yang dikehendaki-Nya. Sesuatu dari B ke C adalah akibat pergerakannya dari A ke itulah yang kita namakan Allah SWT, Tuhan Yang B," demikian kata Isaac Newton, sang penemu gaya Mahaesa. gravitasi. Kedua, segala sesuatu, menurut ilmuwan, Kalau demikian, apa yang dinamakan hukum- juga menurut Al-Quran, mempunyai sebab- hukum alam tiada lain kecuali "a summary o f sebab. Tetapi, apakah sebab-sebab tersebut yang statistical averages" (ikhtisar dari rerata statistik). mewujudkan sesuatu itu? Menurut ilmuwan, Sehingga, sebagaimana dinyatakan oleh Pierce, tidak. Demikian juga menurut Al-Quran. Apa yang ahli ilmu alam, apa yang kita namakan "kebetulan" diketahui oleh ilmuwan secara pasti hanyalah dewasa ini, adalah mungkin merupakan suatu sebab yang mendahului atau berbarengan proses terjadinya suatu kebiasaan atau hukum dengan terjadinya sesuatu. Bila dinyatakan bahwa alam. Bahkan Einstein, lebih tegas lagi, menyatakan sebab itulah yang mewujudkan dan menciptakan bahwa semua apa yang terjadi diwujudkan oleh sesuatu, muncul sederet keberatan ilmiah dan "superior reasoning power" (kekuatan nalar filosofis. yang superior). Atau, menurut bahasa Al-Quran, Bahwa sebab mendahului sesuatu, itu benar. "Al-Aziz Al-Alim", Allah Yang Mahaperkasa lagi Namun kedahuluan ini tidaklah dapat dijadikan Maha Mengetahui. Inilah yang ditegaskan oleh dasar bahwa ialah yang mewujudkannya. "Cahaya Tuhan dalam surat pengantar peristiwa Isra dan yang terlihat sebelum terdengar suatu dentuman Miraj itu dengan firman-Nya: Kepada Allah saja meriam bukanlah penyebab suara tersebut dan tunduk segala apa yang di langit dan di bumi, bukan pula penyebab telontarnya peluru," kata termasuk binatang-binatang melata, juga malaikat, David Hume. "Ayam yang selalu berkokok sebelum sedangkan mereka tidak menyombongkan diri.222
    • Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa kecuali sedikit (QS 17:85); dan banyak lagi lainnya.atas mereka dan mereka melaksanakan apa yang Itulah sebabnya, ditegaskan oleh Allah dengandiperintahkan (kepada mereka) (QS 16:49-50). firman-Nya: Dan janganlah kamu mengambil satu Pengantar berikutnya yang Tuhan berikan sikap (baik berupa ucapan maupun tindakan) yangadalah: Janganlah meminta untuk tergesa-gesa. kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangSayangnya, manusia bertabiat tergesa-gesa, hal tersebut; karena sesungguhnya pendengaran,seperti ditegaskan Tuhan ketika menceritakan mata, dan hati, kesemuanya itu kelak akan dimintaiperistiwa Isra ini, Adalah manusia bertabiat pertanggungjawaban (QS 17:36).tergesa-gesa (QS 17:11). Ketergesa-gesaan inilah Apa yang ditegaskan oleh Al-Quran tentangyang antara lain menjadikannya tidak dapat keterbatasan pengetahuan manusia ini diakui olehmembedakan antara: (a) yang mustahil menurut para ilmuwan pada abad ke-20. Schwart, seorangakal dengan yang mustahil menurut kebiasaan, pakar matematika kenamaan Prancis, menyatakan:(b) yang bertentangan dengan akal dengan yang "Fisika abad ke-19 berbangga diri dengantidak atau belum dimengerti oleh akal, dan (c) yang kemampuannya menghakimi segenap problemrasional dan irasional dengan yang suprarasional. kehidupan, bahkan sampai kepada sajak pun. Dari segi lain, dalam kumpulan ayat-ayat Sedangkan fisika abad ke-20 ini yakin benar bahwayang mengantarkan uraian Al-Quran tentang ia tidak sepenuhnya tahu segalanya, walaupunperistiwa Isra dan Miraj ini, dalam surat Isra yang disebut materi sekalipun." Sementarasendiri, berulang kali ditegaskan tentang itu, teori Black Holes menyatakan bahwaketerbatasan pengetahuan manusia serta sikap "pengetahuan manusia tentang alam hanyalahyang harus diambilnya menyangkut keterbatasan mencapai 3% saja, sedang 97% selebihnya di luartersebut. Simaklah ayat-ayat berikut: Dia (Allah) kemampuan manusia."menciptakan apa-apa (makhluk) yang kamu tidak Kalau demikian, seandainya, sekali lagimengetahuinya (QS 16:8); Sesungguhnya Allah seandainya, pengetahuan seseorang belum ataumengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS tidak sampai pada pemahaman secara ilmiah atas16:74); dan Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan peristiwa Isra dan Miraj ini; kalau betul demikian 223
    • adanya dan sampai saat ini masih juga demikian, kekuasaan dan pengaturan Tuhan Yang Mahaesa. maka tentunya usaha atau tuntutan untuk Sebelum Al-Quran mengakhiri pengantarnya membuktikannya secara "ilmiah" menjadi tidak tentang peristiwa ini, dan sebelum diungkapnya ilmiah lagi. Ini tampak semakin jelas jika diingat peristiwa ini, digambarkannya bagaimana kelak bahwa asas filosofis dari ilmu pengetahuan adalah orang-orang yang tidak mempercayainya dan trial and error, yakni observasi dan eksperimentasi bagaimana pula sikap yang harus diambilnya. Allah terhadap fenomena-fenomena alam yang berlaku berfirman: Bersabarlah wahai Muhammad; tiadalah di setiap tempat dan waktu, oleh siapa saja. kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Padahal, peristiwa Isra dan Miraj hanya terjadi Allah. Janganlah kamu bersedih hati terhadap sekali saja. Artinya, terhadapnya tidak dapat (keingkaran) mereka. Jangan pula kamu bersempit dicoba, diamati dan dilakukan eksperimentasi. dada terhadap apa-apa yang mereka tipudayakan. Itulah sebabnya mengapa Kierkegaard, tokoh Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan eksistensialisme, menyatakan: "Seseorang harus orang orang yang berbuat kebajikan. (QS 16:127- percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak 128). Inilah pengantar Al-Quran yang disampaikan tahu." Dan itu pula sebabnya, mengapa Immanuel sebelum diceritakannya peristiwa Isra dan Miraj. Kant berkata: "Saya terpaksa menghentikan Agaknya, yang lebih wajar untuk dipertanyakan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi bukannya bagaimana Isra dan Mi raj terjadi, tetapi hatiku untuk percaya." Dan itu pulalah sebabnya mengapa Isra dan Mi raj. mengapa "oleh-oleh" yang dibawa Rasul dari Seperti yang telah dikemukakan pada perjalanan Isra dan Miraj ini adalah kewajiban awal uraian, Al-Quran, pada bagian kedelapan shalat; sebab shalat merupakan sarana terpenting sampai bagian kelima belas, menguraikan dan guna menyucikan jiwa dan memelihara ruhani. menekankan pentingnya pembangunan manusia Kita percaya kepada Isra dan Miraj, karena seutuhnya dan pembangunan masyarakat beserta tiada perbedaan antara peristiwa yang terjadi konsolidasinya. Ini mencapai klimaksnya pada sekali dan peristiwa yang terjadi berulang kali bagian kelima belas atau surat ketujuh belas, yang selama semua itu diciptakan serta berada di bawah tergambar pada pribadi hamba Allah yang di-isra-224
    • kan ini, yaitu Muhammad saw., serta nilai-nilai yang pengetahuan seseorang tentang tata kerja alamditerapkannya dalam masyarakat beliau. Karena raya ini, akan semakin tekun dan khusyuk pula iaitu, dalam kelompok ayat yang menceritakan melaksanakan shalatnya.peristiwa ini (dalam surat Al-Isra), ditemukan Shalat juga merupakan kebutuhan jiwa. Karena,sekian banyak petunjuk untuk membina diri dan tidak seorang pun dalam perjalanan hidupnyamembangun masyarakat. yang tidak pernah mengharap atau merasa Pertama, ditemukan petunjuk untuk cemas. Hingga, pada akhirnya, sadar atau tidak, iamelaksanakan shalat lima waktu (pada ayat 78). menyampaikan harapan dan keluhannya kepadaDan shalat ini pulalah yang merupakan inti dari Dia Yang Mahakuasa. Dan tentunya merupakanperistiwa Isra dan Miraj ini, karena shalat pada tanda kebejatan akhlak dan kerendahan moral,hakikatnya merupakan kebutuhan mutlak untuk apabila seseorang datang menghadapkan dirinyamewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan kepada Tuhan hanya pada saat dirinya didesak olehakal pikiran dan jiwa manusia, sebagaimana kebutuhannya.ia merupakan kebutuhan untuk mewujudkan Shalat juga dibutuhkan oleh masyarakatmasyarakat yang diharapkan oleh manusia manusia, karena shalat, dalam pengertiannyaseutuhnya. Shalat dibutuhkan oleh pikiran dan akal yang luas, merupakan dasar-dasar pembangunan.manusia, karena ia merupakan pengejawantahan Orang Romawi Kuno mencapai puncak keahliandari hubungannya dengan Tuhan, hubungan yang dalam bidang arsitektur, yang hingga kini tetapmenggambarkan pengetahuannya tentang tata mengagumkan para ahli, juga karena adanyakerja alam raya ini, yang berjalan di bawah satu dorongan tersebut. Karena itu, Alexis Carrelkesatuan sistem. Shalat juga menggambarkan tata menyatakan: "Apabila pengabdian, shalat, daninteligensia semesta yang total, yang sepenuhnya doa yang tulus kepada Sang Maha Penciptadiawasi dan dikendalikan oleh suatu kekuatan disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat,Yang Mahadahsyat dan Maha Mengetahui, Tuhan maka hal itu berarti kita telah menandatanganiYang Mahaesa. Dan bila demikian, maka tidaklah kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut."keliru bila dikatakan bahwa semakin mendalam Dan, untuk diingat, Alexis Carrel bukanlah 225
    • seorang yang memiliki latar belakang pendidikan perintahkan kepada orang-orang yang hidup agama. Ia adalah seorang dokter yang telah mewah di negeri itu (supaya mereka menaati dua kali menerima hadiah Nobel atas hasil Allah untuk hidup dalam kesederhanaan), tetapi penelitiannya terhadap jantung burung gereja mereka durhaka; maka sudah sepantasnyalah serta pencangkokannya. Dan, menurut Larouse berlaku terhadap mereka ketetapan Kami dan Dictionary, Alexis Carrel dinyatakan sebagai satu Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (QS pribadi yang pemikiran-pemikirannya secara 17:16). mendasar akan berpengaruh pada penghujung Ditekankan dalam surat ini bahwa abad XX ini. "Sesungguhnya orang yang hidup berlebihan Apa yang dinyatakan ilmuwan ini sejalan adalah saudara-saudara setan" (QS 17:27). dengan penegasan Al-Quran yang ditemukan Dan karenanya, hendaklah setiap orang hidup dalam pengantar uraiannya tentang peristiwa Isra dalam kesederhanaan dan keseimbangan: Dan dalam surat Al-Nahl ayat 26. Di situ digambarkan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pembangkangan satu kelompok masyarakat (pada lehermu dan sebaliknya), jangan pula kamu terhadap petunjuk Tuhan dan nasib mereka terlalu mengulurkannya, agar kamu tidak menjadi menurut ayat tersebut: Allah menghancurkan tercela dan menyesal (QS 17:29). bangunan-bangunan mereka dari fondasinya, lalu Bahkan, kesederhanaan yang dituntut bukan atap bangunan itu menimpa mereka dari atas; dan hanya dalam bidang ekonomi saja, tetapi juga datanglah siksaan kepada mereka dari arah yang dalam bidang ibadah. Kesederhanaan dalam mereka tidak duga (QS 16:26). ibadah shalat misalnya, tidak hanya tergambar dari Kedua, petunjuk-petunjuk lain yang ditemukan adanya pengurangan jumlah shalat dari lima puluh dalam rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan menjadi lima kali sehari, tetapi juga tergambar peristiwa Isra dan Miraj, dalam rangka dalam petunjuk yang ditemukan di surat Al-Isra pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat ini juga, yakni yang berkenaan dengan suara adil dan makmur, antara lain adalah: Jika kami ketika dilaksanakan shalat: Janganlah engkau hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan226
    • pula merendahkannya, tetapi carilah jalan tengah Akhirnya, sebelum uraian ini disudahi, adadi antara keduanya (QS 17: 110). baiknya dibacakan ayat terakhir dalam surat Jalan tengah di antara keduanya ini berguna yang menceritakan peristiwa Isra dan Miraj ini:untuk dapat mencapai konsentrasi, pemahaman Katakanlah wahai Muhammad: "Percayalah kamubacaan dan kekhusyukan. Di saat yang sama, shalat atau tidak usah percaya (keduanya sama bagiyang dilaksanakan dengan "jalan tengah" itu tidak Tuhan)." Tetapi sesungguhnya mereka yang diberimengakibatkan gangguan atau mengundang pengetahuan sebelumnya, apabila disampaikangangguan, baik gangguan tersebut kepada kepada mereka, maka mereka menyungkur atassaudara sesama Muslim atau non-Muslim, yang muka mereka, sambil bersujud (QS 17: 107).mungkin sedang belajar, berzikir, atau mungkin Itulah sebagian kecil dari petunjuk dan kesansedang sakit, ataupun bayi-bayi yang sedang yang dapat kami pahami, masing-masing daritidur nyenyak. Mengapa demikian? Karena, dalam surat pengantar uraian peristiwa Isra ; yakni suratkandungan ayat yang menceritakan peristiwa Al-Nahl, dan surat Al-Isra sendiri. Khusus dalamini, Tuhan menekankan pentingnya persatuan pemahaman tentang peristiwa Isra dan Mirajmasyarakat seluruhnya. Dengan demikian, ini, semoga kita mampu menangkap gejala danmasing-masing orang dapat melaksanakan tugas menyuarakan keyakinan tentang adanya ruhsebaik-baiknya, sesuai dengan kemampuan intelektualitas Yang Mahaagung, Tuhan Yangdan bidangnya, tanpa mempersoalkan agama, Mahaesa di alam semesta ini, serta mampukeyakinan, dan keimanan orang lain. Ini sesuai merumuskan kebutuhan umat manusia untukdengan firman Allah: memujaNya sekaligus mengabdi kepada-Nya. Katakanlah wahai Muhammad, "Hendaklah tiap-tiap orang berkarya menurut bidang dan kemampuannya masing-masing." Tuhan lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS 17:84). 227
    • 228
    • Selamat Natal Menurut Al-Quran Sakit perut menjelang persalinan, memaksa mengabadikan dan merestui ucapan selamat Natal 24Maryam bersandar ke pohon kurma. Ingin rasanya pertama dari dan untuk Nabi mulia itu, Isa a.s.beliau mati, bahkan tidak pernah hidup sama Terlarangkah mengucapkan salam semacamsekali. Tetapi Malaikat Jibril datang menghibur: itu? Bukankah Al-Quran telah memberikan"Ada anak sungai di bawahmu, goyanghan contoh? Bukankah ada juga salam yang tertujupangkal pohon kurma ke arahmu, makan, kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, keluargaminum dan senangkan hatimu. Kalau ada yang Ilyas, serta para nabi lainnya? Setiap Muslim harusdatang katakan: Aku bernazar tidak bicara." "Hai percaya kepada Isa a.s. seperti penjelasan ayatMaryam, engkau melakukan yang amat buruk. di atas, juga harus percaya kepada MuhammadAyahmu bukan penjahat, ibumu pun bukan saw., karena keduanya adalah hamba dan utusanpenzina," demikian kecaman kaumnya, ketika Allah. Kita mohonkan curahan shalawat dan salammelihat bayi di gendongannya. Tetapi Maryam untuk. mereka berdua sebagaimana kitaterdiam. Beliau hanya menunjuk bayinya. Dan mohonkan untuk seluruh nabi dan rasul. Tidakketika itu bercakaplah sang bayi menjelaskan jati bolehkah kita merayakan hari lahir (natal) Isadirinya sebagai hamba Allah yang diberi Al-Kitab, a.s.? Bukankah Nabi saw. juga merayakan harishalat, berzakat serta mengabdi kepada ibunya. keselamatan Musa a.s. dari gangguan FiraunKemudian sang bayi berdoa: "Salam sejahtera dengan berpuasa Asyura, seraya bersabda, "Kita(semoga) dilimpahkan kepadaku pada hari lebih wajar merayakannya daripada orang Yahudikelahiranku, hari wafatku, dan pada hari ketika aku pengikut Musa a.s."dibangkitkan hidup kembali." Bukankah, "Para Nabi bersaudara hanya Itu cuplikan kisah Natal dari Al-Quran Surah ibunya yang berbeda?" seperti disabdakanMaryam ayat 34. Dengan demikian, Al-Quran Nabi Muhammad saw.? Bukankah seluruh umat
    • bersaudara? Apa salahnya kita bergembira dan mati, tetapi tidur." Dan ketika terjadi gerhana menyambut kegembiraan saudara kita dalam batas pada hari wafatnya putra Muhammad, orang kemampuan kita, atau batas yang digariskan berkata: "Matahari mengalami gerhana karena oleh anutan kita? Demikian lebih kurang kematiannya." Muhammad saw. lalu menegur, pandangan satu pendapat. "Matahari tidak mengalami gerhana karena Banyak persoalan yang berkaitan dengan kematian atau kehahiran seorang." Keduanya kehidupan Al-Masih yang dijelaskan oleh sejarah datang membebaskan maanusia baik yang kecil, atau agama dan telah disepakati, sehingga lemah dan tertindas -dhuafa dan al-mustadhaffin harus diterima. Tetapi, ada juga yang tidak dalam istilah Al-Quran. Bukankah ini satu dari dibenarkan atau diperselisihkan. Disini, kita sekian titik temu antara Muhammad dan Al-Masih? berhenti untuk merujuk kepercayaan kita. Isa a.s. Bukankah ini sebagian dari kandungan Kalimat datang mermbawa kasih, "Kasihilah seterumu Sawa (Kata Sepakat) yang ditawarkan Al-Quran dan doakan yang menganiayamu." Muhammad kepada penganut Kristen (dan Yahudi (QS 3:64)? saw. datang membawa rahmat, "Rahmatilah yang Kalau demikian, apa salahnya mengucapkan di dunia, niscaya yang di langit merahmatimu." selamat natal, selama akidah masih dapat Manusia adalah fokus ajaran keduanya; karena itu, dipelihara dan selama ucapan itu sejalan dengan keduanya bangga dengan kemanusiaan. apa yang dimaksud oleh Al-Quran sendiri yang Isa menunjuk dirinya sebagai "anak manusia," telah mengabadikan selamat natal itu? sedangkan Muhammad saw. diperintah:kan oleh Itulah antara lain alasan yang membenarkan Allah untuk berkata: "Aku manusia seperti kamu." seorang Muslim mengucapkan selamat atau Keduanya datang membebaskan manusia dari menghadiri upacara Natal yang bukan ritual . Di sisi kemiskinan ruhani, kebodohan, dan belenggu lain, marilah kita menggunakan kacamata yang penindasan. Ketika orang-orang mengira melarangnya. bahwa anak Jailrus yang sakit telah mati, Al- Agama, sebelum negara, menuntut agar Masih yang menyembuhkannya meluruskan kerukunan umat dipelihara. Karenanya salah, kekeliruan mereka dengan berkata, "Dia tidak bahkan dosa, bila kerukunan dikorbankan atas230
    • nama agama. Tetapi, juga salah serta dosa pula, pada satu tempat, hal yang mustahil bagi-Nyabila kesucian akidah ternodai oleh atau atas dan mustahil pula diucapkan oleh Nabi. Dengannama kerukunan. alasan serupa, para ulama bangsa kita enggan Teks keagamaan yang berkaitan dengan menggunakan kata "ada" bagi Tuhan, tetapiakidah sangat jelas, dan tidak juga rinci. Itu "wujud Tuhan."semula untuk menghindari kerancuan dan Natalan, walaupun berkaitan dengan Isa Al-kesalahpahaman. Bahkan Al-Q!uran tidak Masih, manusia agung lagi suci itu, namun iamenggunakan satu kata yang mungkin dapat dirayakan oleh umat Kristen yang pandangannyamenimbulkan kesalahpahaman, sampai dapat terhadap Al-Masih berbeda dengan pandanganterjamin bahwa kata atau kalimat itu, tidak Islam. Nah, mengucapkan "Selamat Natal" ataudisalahpahami. Kata "Allah," misalnya, tidak menghadiri perayaannya dapat menimbulkandigunakan oleh Al-Quran, ketika pengertian kesalahpahaman dan dapat mengantar kepadasemantiknya yang dipahami masyarakat jahiliah pengaburan akidah. Ini dapat dipahami sebagaibelum sesuai dengan yang dikehendaki Islam. pengakuan akan ketuhanan Al-Masih, satuKata yang digunakan sebagai ganti ketika itu keyakinan yang secara mutlak bertentanganadalah Rabbuka (Tuhanmu, hai Muhammad) dengan akidah Islam. Dengan kacamata itu, lahirDemikian terlihat pada wahlyu pertama hingga larangan dan fatwa haram itu, sampai-sampai adasurah Al-Ikhlas. Nabi saw. sering menguji yang beranggapan jangankan ucapan selamat,pemahaman umat tentang Tuhan. Beliau tidak aktivitas apa pun yang berkaitan dengan Natalsekalipun bertanya, "Dimana Tuhan?" Tertolak tidak dibenarkan, sampai pada jual beli untukriwayat sang menggunakan redaksi itu karena keperluann Natal.ia menimbulkan kesan keberadaan Tuhan Adakah kacamata lain? Mungkin! Seperti terlihat, larangan ini muncul dalam kekhawatiran kerancuan pemahaman, agaknyarangka upaya memelihara akidah. Karena, lebih banyak ditujukan kepada mereka yang 231
    • dikhawatirkan kabur akidahnya. Nah, kalau akan mengucapkannya sesuai dengan garis demikian, jika ada seseorang yang ketika keyakinannya. Memang, kearifan dibutuhkan mengucapkannya tetap murni akidahnya dalam rangka interaksi sosial. atau mengucapkannya sesuai dengan Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan kandungan "Selamat Natal" Qurani, kemudian larangan itu, bila ia ditujukan kepada mereka mempertimbangkan kondisi dan situasi dimana yang dikhawatirkan ternodai akidahnya. Tetapi, hal itu diucapkan, sehingga tidak menimbulkan tidak juga salah mereka yang membolehkannya, kerancuan akidah baik bagi dirinya ataupun selama pengucapnya bersikap arif bijaksana dan Muslim yang lain, maka agaknya tidak beralasan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika adanya larangan itu. Adakah yang berwewenang hal tersebut merupakan tuntunan keharmonisan melarang seorang membaca atau mengucapkan hubungan. dan menghayati satu ayat Al-Quran? Dostojeivsky (1821-1881), pengarang Dalam rangka interaksi sosial dan Rusia kenamaan, pernah berimajinasi tentang keharmonisan hubungan, Al-Quran kedatangan kembali Al-Masih. Sebagian umat memperkenalkan satu bentuk redaksi, dimana Islam pun percaya akan kedatangannya kembali. lawan bicara memahaminya sesuai dengan Terlepas dari penilaian terhadap imajinasi pandangan atau keyakinannya, tetapi bukan dan kepercayaan itu, kita dapat memastikan seperti yang dimaksud oleh pengucapnya. bahwa jika benar beliau datang, seluruh umat Karena, si pengucap sendiri mengucapkan dan berkewajiban menyambut dan mendukungnya, memahami redaksi itu sesuai dengan pandangan dan pada saat kehadirannya itu pasti banyak hal dan keyakinannya. Salah satu contoh yang yang akan beliau luruskan. dikemukakan adalah ayat-ayat yang tercantum Bukan saja sikap dan ucapan umatnya, tetapi dalam QS 34:24-25. Kalaupun non-Muslim juga sikap dan ucapan umat Muhammad memahami ucapan "Selamat Natal" sesuai saw. Salam sejahtera semoga tercurah kepada dengan keyakinannya, maka biarlah demikian, beliau, pada hari Natalnya, hari wafat dan hari karena Muslim yang memahami akidahnya kebangkitannya nanti.232
    • 233
    • digitized by:PlantATree — Publishing