Your SlideShare is downloading. ×
Islam, doktrin dan peradaban
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Islam, doktrin dan peradaban

4,849

Published on

... sebuah pemikiran..., tidak suka pemikirnya? ambil hasil pemikirannya! buang pemikirnya...

... sebuah pemikiran..., tidak suka pemikirnya? ambil hasil pemikirannya! buang pemikirnya...

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
4,849
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
205
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. JurnalIslam, Doktrin dan Peradaban Yayasan Paramadina 2000
  • 2. KolofonTulisan ini diambil dari artikel yang dimuat di situs media.isnet.org tanpa seijin dari pengelola dan menurut situs tersebut, tulisan ini pernah diterbitkan oleh: Yayasan Paramadina Digitalisasi dengan menggunakan aplikasi Adobe® InDesign® CS6 for Mac® OS X yang dibuat oleh Adobe® Systems Inc.Typeface yang dipergunakan disini adalah: Myriad Pro, Adobe® Naskh dan Adobe® Garamond Pro yang dibuat oleh Adobe® Systems Inc.
  • 3. JurnalIslam, Doktrin dan Peradaban Yayasan Paramadina 2000
  • 4. iv
  • 5. Daftar Isi Kolofon ii1. Disiplin Keilmuan Tradisional Islam: Ilmu Kalam 1 (Sebuah Tinjauan Singkat Kritis Kesejarahan) Pertumbuhan Ilmu Kalam 2 Peranan Kaum Khawarij dan Mutazilah 4 Plus-Minus Ilmu Kalam 82. Falsafah Islam: Unsur-Unsur Hellenisme di Dalamnya 15 Pertumbuhan 16 Neoplatonisme 21 Aristotelianisme 22 Penutup 243. Disiplin Ilmu Keislaman Tradisional: Fiqh (Tinjauan Dari Segi Makna Kesejarahan) 29 Pangkal Pertumbuhan Fiqh 30 Masa-masa Perkembangan Formatif 33 Ushul al-Fiqh (I) 35 Hadits sebagai Sunnah 36 Ushul al-Fiqh (II) 40 Penutup 41
  • 6. 4. Kekuatan dan Kelemahan Paham Asyari Sebagai Doktrin Aqidah Islamiah 43 Imam al-Asyari 44 Beberapa Inti Pokok Paham Asyari 46 Alur Argumen Kalam Asyari 50 Masalah Perilaku Manusia 54 5. Disiplin Keilmuan Islam Tradisional: Tasawuf 59 (Letak dan Peran Mistisisme dalam Penghayatan Keagamaan Islam) Tasawuf Sebagai Gerakan Oposisi 61 Tarik-menarik Antara Syariah dan Thariqah 63 Tasawuf Sebagai Olah Ruhani 65 Masalah Keabsahan Tasawuf 68 6. Menangkap Kembali Dinamika Islam Klasik: Masyarakat Salaf Sebagai Masyarakat Etika 73 Golongan Salaf 74 Masyarakat Salaf Sebagai Masyarakat Etik 79 7. Pertimbangan Kemaslahatan Dalam Menangkap Makna dan Semangat Ketentuan Keagamaan: Kasus Ijtihad Umar Ibn Al-Khattab 87vi
  • 7. Disiplin Keilmuan Tradisional Islam: 1 Ilmu Kalam (Sebuah Tinjauan Singkat Kritis Kesejarahan)I lmu Kalam adalah salah satu dari empat disiplin keilmuan yang telah tumbuh dan menjadi bagiandari tradisi kajian tentang agama Islam. Tiga lainnya sebagai Teologia, sekalipun sebenarnya tidak seluruhnya sama dengan pengertian Teologia dalam agama Kristen, misalnya. (Dalam pengertianialah disiplin-disiplin keilmuan Fiqh, Tasawuf, dan Teologia dalam agama kristen, Ilmu Fiqh akanFalsafah. Jika Ilmu Fiqh membidangi segi-segi termasuk Teologia). Karena itu sebagian kalanganformal peribadatan dan hukum, sehingga tekanan ahli yang menghendaki pengertian yang lebihorientasinya sangat eksoteristik, mengenai hal-hal persis akan menerjemahkan Ilmu Kalam sebagailahiriah, dan Ilmu Tasawuf membidangi segi- Teologia dialektis atau Teologia Rasional, dansegi penghayatan dan pengamalan keagamaan mereka melihatnya sebagai suatu disiplin yangyang lebih bersifat pribadi, sehingga tekanan sangat khas Islam.orientasinya pun sangat esoteristik, mengenai hal- Sebagai unsur dalam studi klasik pemikiranhal batiniah, kemudian Ilmu Falsafah membidangi keislaman. Ilmu Kalam menempati posisi yanghal-hal yang bersifat perenungan spekulatif cukup terhormat dalam tradisi keilmuan kaumtentang hidup ini dan lingkupnya seluas-luasnya, Muslim. Ini terbukti dari jenis-jenis penyebutanmaka Ilmu Kalam mengarahkan pembahasannya lain ilmu itu, yaitu sebutan sebagai Ilmu Aqdidkepada segi-segi mengenai Tuhan dan berbagai (Ilmu Akidah-akidah, yakni, Simpul-simpulderivasinya. Karena itu ia sering diterjemahkan [Kepercayaan]), Ilmu Tawhid (Ilmu tentang
  • 8. Kemaha-Esaan [Tuhan]), dan Ilmu Ushul al-Din kaya dan beraneka ragam. Sedangkan kajian (Ushuluddin, yakni, Ilmu Pokok-pokok Agama). Di tentang Ilmu Kalam meliputi hanya khazanah yang negeri kita, terutama seperti yang terdapat dalam cukup terbatas, yang mencakup jenjang-jenjang sistem pengajaran madrasah dan pesantren, kajian permulaan dan menengah saja, tanpa atau sedikit tentang Ilmu Kalam merupakan suatu kegiatan sekali menginjak jenjang yang lanjut (advanced). yang tidak mungkin ditinggalkan. Ditunjukkan Berkenaan dengan hal ini dapat disebutkan oleh namanya sendiri dalam sebutan-sebutan lain contoh-contoh kitab yang banyak digunakan di tersebut di atas, Ilmu Kalam menjadi tumpuan negeri kita, khususnya di pesantren-pesantren, pemahaman tentang sendi-sendi paling pokok untuk pengajaran Ilmu Kalam. Yaitu dimulai dalam ajaran agama Islam, yaitu simpul-simpul dengan kitab Aqidat al-Awamm (Akidat Kaum kepercayaan, masalah Kemaha-Esaan Tuhan, dan Awam), diteruskan dengan Bad al-Amal (Pangkal pokok-pokok ajaran agama. Karena itu, tujuan Berbagai Cita) atau Jawharat al-Tauhid (Pertama pengajaran Ilmu Kalam di madrasah dan pesantren Tauhid), mungkin juga dengan kitab Al-Sanusiyyah ialah untuk menanamkan paham keagamaan yang (disebut demikian karena dikarang oleh seseorang benar. Maka dari itu pendekatannya pun biasanya bernama al-Sanusi). doktrin, seringkali juga dogmatis. Disamping itu, sesungguhnya Ilmu Kalam Meskipun begitu, dibanding dengan kajian tidak sama sekali bebas dari kontroversi atau tentang Ilmu Fiqh, kajian tentang Ilmu Kalam di sikap-sikap pro dan kontra, baik mengenai isinya, kalangan kaum "Santri" masih kalah mendalam dan metodologinya, maupun klaim-klaimnya. Karena meluas. Mungkin dikarenakan oleh kegunaannya itu penting sekali mengerti secukupnya ilmu yang praktis, kajian Ilmu Fiqh yang membidangi ini, agar terjadi pemahaman agama yang lebih masalah-masalah peribadatan dan hukum itu seimbang. meliputi khazanah kitab dan bahan rujukan yang2
  • 9. Pertumbuhan Ilmu Kalam 1 Sama halnya dengan disiplin-disiplin keilmuan kalam tidaklah dimaksudkan "pembicaraan"Islam lainnya, Ilmu Kalam juga tumbuh beberapa dalam pengertian sehari-hari, melainkan dalamabad setelah wafat Nabi. Tetapi lebih dari disiplin- pengertian pembicaraan yang bernalar dengandisiplin keilmuan Islam lainnya, Ilmu Kalam sangat menggunakan logika. Maka ciri utama Ilmu Kalamerat terkait dengan skisme dalam Islam. Karena ialah rasionalitas atau logika. Karena kata-kataitu dalam penelusurannya ke belakang, kita akan kalam sendiri memang dimaksudkan sebagai tersampai kepada peristiwa pembunuhan Utsman jemahan kata dan istilah Yunani logos yang jugaIbn Affan, Khalifah III. Peristiwa menyedihkan secara harfiah berarti "pembicaraan", tapi yang daridalam sejarah Islam yang sering dinamakan al- kata itulah terambil kata logika dan logis sebagaiFitnat al-Kubra (Fitnah Besar), sebagaimana telah derivasinya. Kata Yunani logos juga disalin kebanyak dibahas, merupakan pangkal pertumbuhan dalam kata Arab manthiq, sehingga ilmu logika,masyarakat (dan agama) Islam di berbagai bidang, khususnya logika formal atau silogisme ciptaankhususnya bidang-bidang politik, sosial dan paham Aristoteles dinamakan Ilmu Mantiq (Ilm al-Mantiq).keagamaan. Maka Ilmu Kalam sebagai suatu Maka kata Arab "manthiqi" berarti "logis".bentuk pengungkapan dan penalaran paham Dari penjelasan singkat itu dapat diketahuikeagamaan juga hampir secara langsung tumbuh bahwa Ilmu Kalam amat erat kaitannya dengandengan bertitik tolak dari Fitnah Besar itu. Ilmu Mantiq atau Logika. Itu, bersama dengan Sebelum pembahasan tentang proses Falsafah secara keseluruhan, mulai dikenal orang-pertumbuhan Ilmu Kalam ini dilanjutkan, orang Muslim Arab setelah mereka menaklukkandirasa perlu menyisipkan sedikit keterangan dan kemudian bergaul dengan bangsa-bangsatentang Ilmu Kalam (Ilm al-Kalam), dan akan yang berlatar-belakang peradaban Yunani danlebih memperjelas sejarah pertumbuhannya itu dunia pemikiran Yunani (Hellenisme). Hampirsendiri. Secara harfiah, kata-kata Arab kalam, semua daerah menjadi sasaran pembebasanberarti "pembicaraan". Tetapi sebagai istilah, (fath, liberation) orang-orang Muslim telah
  • 10. terlebih dahulu mengalami Hellenisasi (disamping atau harus dibunuh? Karena ia berbuat dosa Kristenisasi). Daerah-daerah itu ialah Syria, besar (berbuat tidak adil dalam menjalankan Irak, Mesir dan Anatolia, dengan pusat-pusat pemerintahan) padahal berbuat dosa besar adalah Hellenisme yang giat seperti Damaskus, Atiokia, kekafiran. Dan kekafiran, apalagi kemurtadan Harran, dan Aleksandria. Persia (Iran) pun, meski (menjadi kafir setelah Muslim), harus dibunuh. tidak mengalami Kristenisasi (tetap beragama Mengapa perbuatan dosa besar suatu kekafiran? Majusi atau Zoroastrianisme), juga sedikit banyak Karena manusia berbuat dosa besar, seperti mengalami Hellenisasi, dengan Jundisapur sebagai kekafiran, adalah sikap menentang Tuhan. Maka pusat Hellenisme Persia. harus dibunuh! Dari jalan pikiran itu, para (bekas) Adalah untuk keperluan penalaran logis itu pembunuh Utsman atau pendukung mereka bahan-bahan Yunani diperlukan. Mula-mula ialah menjadi cikal-bakal kaum Qadari, yaitu mereka untuk membuat penalaran logis oleh orang- yang berpaham Qadariyyah, suatu pandangan orang yang melakukan pembunuhan Utsman bahwa manusia mampu menentukan amal atau menyetujui pembunuhan itu. Jika urutan perbuatannya, maka manusia mutlak bertanggung penalaran itu disederhanakan, maka kira-kira jawab atas segala perbuatannya itu, yang baik dan akan berjalan seperti ini: Mengapa Utsman boleh yang buruk. Peranan Kaum Khawarij dan Mutazilah netral dari peperangan itu bukanlah orang- Para pembunuh Utsman itu, menurut beberapa orang yang membunuh Utsman. Sebaliknya, petunjuk kesejarahan, menjadi pendukung para pembunuh Utsman itu adalah sekelompok kekhalifahan Ali Ibn Abi Thalib, Khalifah IV. Ini kecil dari pasukan Ali, sedangkan umat saat disebutkan, misalnya, oleh Ibn Taymiyyah, sebagai kekhalifahan Utsman itu berjumlah dua ratus ribu berikut: orang, dan yang menyetujui pembunuhannya Sebagian besar pasukan Ali, begitu pula mereka seribu orang sekitar itu.(1) yang memerangi Ali dan mereka yang bersikap 1  Ibn Taymiyyah, Minhaj al-Sunnah, jil. 4, h. 237.4
  • 11. Tetapi mereka kemudian sangat kecewa kepada boleh dikatakan binasa. Tetapi dalam perjalananAli, karena Khalifah ini menerima usul perdamaian sejarah pemikiran Islam, pengaruh mereka tetapdengan musuh mereka, Muawiyah ibn Abu Sufyan, saja menjadi pokok problematika pemikiran Islam.dalam "Peristiwa Shiffin" di situ Ali mengalami Yang paling banyak mewarisi tradisi pemikirankekalahan di plomatis dan kehilangan kekuasaan Khawarij ialah kaum Mutazilah. Mereka inilah"de jure"-nya. Karena itu mereka memisahkan sebenarnya kelompok Islam yang paling banyakdiri dengan membentuk kelompok baru yang mengembangkan Ilmu Kalam seperti yang kitakelak terkenal dengan sebutan kaum Khawarij kenal sekarang. Berkenaan dengan Ibn Taymiyyah(al-Kahwarij, kaum Pembelot atau Pemberontak). mempunyai kutipan yang menarik dari keteranganSeperti sikap mereka terhadap Utsman, kaum salah seorang ulama yang disebutnya ImamKhawarij juga memandang Ali dan Muawiyah Abdullah ibn al-Mubarak. Menurut Ibn Taymiyyah,sebagai kafir karena mengkompromikan yang sarjana itu menyatakan demikian:benar (haqq) dengan yang palsu (bathil). Karena Agama adalah kepunyaan ahli (pengikut)itu mereka merencanakan untuk membunuh Ali Hadits, kebohongan kepunyaan kaum Rafidlah,dan Muawiyah, juga Amr ibn al-Ash, gubernur (ilmu) Kalam kepunyaan kaum Mutazilah, tipu dayaMesir yang sekeluarga membantu Muawiyah kepunyaan (pengikut) Ray (temuan rasional) ... (3)mengalahkan Ali dalam "Peristiwa Shiffin" tersebut. Karena itu ditegaskan oleh Ibn TaymiyyahTapi kaum Khawarij, melalui seseorang bernama bahwa Ilmu Kalam adalah keahlian khusus kaumIbn Muljam, berhasil membunuh hanya Ali, Mutazilah.(4) Maka salah satu ciri pemikiransedangkan Muawiyah hanya mengalami luka-luka, Mutazili ialah rasionalitas dan paham Qadariyyah.dan Amr ibn al-Ash selamat sepenuhnya (tapi Namun sangat menarik bahwa yang pertamamereka membunuh seseorang bernama Kharijah kali benar-benar menggunakan unsur-unsuryang disangka Amr, karena rupanya mirip).(2) Yunani dalam penalaran keagamaan ialah Karena sikap-sikap mereka yang sangat seseorang bernama Jahm ibn Shafwan yang justruekstrem dan eksklusifistik, kaum Khawarij akhirnya 3  Ibid, h. 110. 2  Ibid, hh. 12-13. 4 Ibid. 5
  • 12. penganut paham Jabariyyah, yaitu pandangan hendak mereka tegakkan. Golongan yang bahwa manusia tidak berdaya sedikit pun juga mengingkari adanya sifat-sifat Tuhan itu dikenal berhadapan dengan kehendak dan ketentuan sebagai al-Nufat ("pengingkar" [sifat-sifat Tuhan]) Tuhan. Jahm mendapatkan bahan untuk penalaran atau al-Muaththilah ("pembebas" [Tuhan dari sifat- Jabariyyah-nya dari Aristotelianisme, yaitu bagian sifat]).(5) dari paham Aristoteles yang mengatakan bahwa Kaum Mutazilah menolak paham Jabiriyyah- Tuhan adalah suatu kekuatan yang serupa dengan nya kaum Jahmi. Kaum Mutazilah justru menjadi kekuatan alam, yang hanya mengenal keadaan- pembela paham Qadariyyah seperti halnya keadaan umum (universal) tanpa mengenal kaum Khawarij. Maka kaum Mutazilah disebut keadaan-keadaan khusus (partikular). Maka sebagai "titisan" doktrinal (namun tanpa gerakan Tuhan tidak mungkin memberi pahala dan dosa, politik) kaum Khawarij. Tetapi kaum Mutazilah dan segala sesuatu yang terjadi, termasuk pada banyak mengambil alih sikap kaum Jahmi yang manusia, adalah seperti perjalanan hukum alam. mengingkari sifat-sifat Tuhan itu. Lebih penting Hukum alam seperti itu tidak mengenal pribadi lagi, kaum Mutazilah meminjam metologi (impersonal) dan bersifat pasti, jadi tak terlawan kaum Jahmi, yaitu penalaran rasional, meskipun oleh manusia. Aristoteles mengingkari adanya dengan berbagai premis yang berbeda, bahkan Tuhan yang berpribadi personal God. Baginya berlawanan (seperti premis kebebasan dan Tuhan adalah kekuatan maha dasyat namun tak kemampuan manusia). Hal ini ikut membawa kaum berkesadaran kecuali mengenai hal-hal universal. Mutazilah kepada penggunaan bahan-bahan Maka mengikuti Aristoteles itu Jahm dan para Yunani yang dipermudah oleh adanya kegiatan pengikutpya sampai kepada sikap mengingkari penerjemahan buku-buku Yunani, ditambah adanya sifat bagi Tuhan, seperti sifat-sifat kasib, dengan buku-buku Persi dan India, ke dalam pengampun, santun, maha tinggi, pemurah, dan bahasa Arab. Kegiatan itu memuncak di bawah seterusnya. Bagi mereka, adanya sifat-sifat itu pemerintahan al-Mamun ibn Harun al-Rasyid. membuat Tuhan menjadi ganda, jadi bertentangan Penterjemahan itu telah mendorong munculnya dengan konsep Tauhid yang mereka akui sebagai 5  Ibid., jil. 1, hh. 344 dan 345.6
  • 13. Ahli Kalam dan Falsafah.(6) Mutazilah berpendapat bahwa Kalam Allah itu Khalifah al-Mamun sendiri, di tengah-tengah hadits, sementara kaum Hadits (dalam arti Sunnah,pertikaian paham berbagai kelompok Islam, dan harap diperhatikan perbedaan antara kata-memihak kaum Mutazilah melawan kaum kata hadits [a dengan topi] dan hadits [i denganHadits yang dipimpin oleh Ahmad ibn Hanbal topi]) berpendapat al-Quran itu qadim seperti(pendiri mazhab Hanbali, salah satu dari empat Dzat Allah sendiri.(9) Pemenjaraan Ahmad ibnmazhab Fiqh). Lebih dari itu, Khalifah al-Mamun, "orang yang banyak bicara"), ialah karena bertengkar sesama mereka dengan adu argumen melalui pembicaraan kosong,dilanjutkan oleh penggantinya, Khalifah al- tidak substantif. (Lihat Ibn Taymiyyah, Naqdl al-Manthiq, hh.Mutashim, melakukan mihnah (pemeriksaan 205-206).paham pribadi, inquisition), dan menyiksa serta 9  Berkenaan dengan kontroversi ini, seorang orientalis kenamaan, Wilfred Cantwell Smith dari Institute of Islamicmenjebloskan banyak orang, termasuk Ahmad ibn Studies, McGill University, Montreal, Canada (tempat banyakHanbal, ke dalam penjara.(7) Salah satu masalah ahli keislaman Indonesia dan Dunia belajar dan mengajar, termasuk, Prof. H.M. Rasydi), membandingkan paham orangyang diperselisihkan ialah apakah Kalam atau Islam, khususnya aliran Sunni, dengan paham orang Kristen.Sabda Allah, berujud al-Quran, itu qadim (tak Kata Smith, yang sebanding dengan al-Quran dalam Islam itu bukanlah Injil dalam Kristen, melainkan diri Isa al-masih atauterciptakan karena menjadi satu dengan Hakikat Yesus Kristus. Sebab, sebagaimana orang-orang Muslim (aliranatau Dzat Ilahi) ataukah hadits (terciptakan, karena Sunni) memandang al-Quran itu qadiim seperti Dzat Ilahi,berbentuk suara yang dinyatakan dalam huruf orang-orang Kristen memandang Isa sebagai penjelmaan Allah dalam sistem teologia Trinitas, yang juga qadim, samadan bahasa Arab)?(8) Khalifah al-Mamun dan kaum dengan al-Quran. Jadi jika bagi agama Islam al-Quran itulah 6  Ibn Taymiyyah, Naqdl al-Manthiq, h. 185. wahyu Allah (Inggris: revelation, pengungkapan diri), maka bagi agama Kristen Isa al-Masih itulah wahyu, menampakkan 7  Minhaj, jil. 1, h. 344. Tuhan. Sedangkan Injil bukanlah wahyu, melainkan catatan 8  Karena dominannya isu Kalam atau Sabda Allah apakah tentang kehidupan Isa al-Masih, sehingga tidak sama qadim atau hadits sebagai pusat kontroversi itu maka ada kedudukannya dengan al-Quran, tetapi bisa dibandingkan kaum ahli yang mengatakan penalaran tentang segi ajaran dengan Hadits. Maka sejalan dengan itu Nabi Muhammad Islam yang relevan itu disebut Ilmu Kalam, seolah-olah tidaklah harus dibandingkan dengan Isa al-Masih (karena merupakan ilmu atau teori tentang Kalam Allah. Disamping dia ini "Tuhan"), tetapi dengan Paulus (karena dia ini, sama itu, seperti Ibn Taymiyyah, mengatakan bahwa ilmu dengan Nabi Muhammad, adalah "rasul"). (Lihat, W. C. itu disebut Ilmu Kalam dan para ahlinya disebut kaum Smith, Islam in Modern History [Princenton, N.J.: Princeton Mutakallim, sesuai dengan makna harfiah perkataan kalam University Press, 19771, hh. 17-18 fn). Pandangan Islam dan mutakallim (pembicaraan, hampir mengarah kepada arti tentang Isa al-Masih sudah sangat terkenal, dan tidak perlu 7
  • 14. Hanbal adalah karena masalah ini. Namun jasa al-Mamun dalam membuka pintu Mihnah itu memang tidak berlangsung terlalu kebebasan berpikir dan ilmu pengetahuan tetap lama, dan orang pun bebas kembali. Tetapi ia diakui besar sekali dalam sejarah umat manusia. telah meninggalkan luka yang cukup dalam pada Maka kekhalifahan al-Mamun (198-218 H/813-833 tubuh pemikiran Islam, yang sampai saat inipun M), dengan campuran unsur-unsur positif dan masih banyak dirasakan orang-orang Muslim. negatifnya, dipandang sebagai salah satu tonggak dikemukakan di sini. Tetapi tentang Paulus, cukup menarik sejarah perkembangan pemikiran Islam, termasuk mengetahui bahwa sudah sejak awal sekali orang-orang perkembangan Ilmu Kalam, dan juga Falsafah Muslim terlibat dalam kontroversi dan polemik sekitar tokoh ini. Menurut Ibn Taymiyyah, misalnya, Paulus (Arab: Bawlush Islam."(10) ibn Yusya) adalah scorang tokoh Yahudi yang berpura-pura 10  Disini perlu kita tegaskan bahwa mihnah Khalifah masuk agama Nasrani dengan maksud merusak agama itu al-Mamun itu, meskipun sangat buruk, tidak dapat melalui pengembangan paham bahwa Isa al-Masih adalah disamakan dengan inquisition yang terjadi di Spanyol Tuhan atau jelmaan Tuhan. Ibn Taymiyyah mengemukakan setelah reconquest. Karena mihnah itu dilancarkan dibawah bahwa peranan Paulus dalam merusak agama Nasrani sama semacam "liberalisme" Islam atau kebebasan berpikir yang dengan peranan Abdullah ibn Saba dalam tnerusak agama menjadi paham Mutazilah, melawan mereka yang dianggap Islam. Serupa dengan Paulus, Abdullah ibn Saba, kata Ibn menghalangi "liberalisme" dan kebebasan itu, khususnya Taymiyyah, adalah seorang tokoh Yahudi dari Yaman yang kaum "fundamentalis" (al-Hasywiyyun, sebuah sebutan menyelundup ke dalam Islam dengan tujuan merusak agama ejekan, yang secara harfiah berarti kurang lebih "kaum itu dari dalam, dengan mengembangkan paham yang salah sampah" karena malas berpikir dan menolak melakukan dan serba melewati batas tentang Ali ibn Abi Thalib dan interprestasi terhadap ketentuan agama yang bagi mereka tidak Anggota Keluarga Nabi (Ahl al-Bayt) sebagaimana kemudian masuk akal). Sedangkan inquisition di Spanyol kemudian dianut oleh kaum Rafidlah dan kaum Syiah pada umumnya. Eropa pada umumnya secara total kebalikannya, yaitu atas (Lihat, Minhaj, jil. 1, h. 8 dan jil. 4, h. 269). Kiranya nama paham agama yang fundamentalistik dan sempit kontroversi dan polemik serupa itu tidak perlu mengejutkan melawan pikiran bebas yang menjadi paham para pengemban kita, karena telah merupakan bagian dari sejarah pertumbuhan ilmu pengetahuan, termasuk para failasuf yang saat itu telah pemikiran keagamaan itu sendiri. belajar banyak dari warisan pemikiran Islam. Plus-Minus Ilmu Kalam Dalam perkembangan selanjutnya, Ilmu Kalam Irak, bernama Abu al-Hasan al-Asyari (260-324 tidak lagi menjadi monopoli kaum Mutazilah. H/873-935 M) yang terdidik dalam alam pikiran Adalah seorang sarjana dari kota Basrah di Mutazilah (dan kota Basrah memang pusat8
  • 15. pemikiran Mutazili). Tetapi kemudian pada usia 40 Umar Samarani (yang populer dengan sebutantahun ia meninggalkan paham Mutazilinya, dan Kiai Saleh Darat dari daerah dekat Semarang),justru mempelopori suatu jenis Ilmu Kalam yang dengan mengutip dan menafsirkan Sabda nabianti Mutazilah. Ilmu Kalam al-Asyari itu, yang dalam sebuah hadits yang amat terkenal tentangjuga sering disebut sebagai paham Asyariyyah, perpecahan umat Islam dan siapa dari mereka itukemudian tumbuh dan berkembang untuk yang bakal selamat:menjadi Ilmu Kalam yang paling berpengaruhdalam Islam sampai sekarang, karena dianggap ...Wus dadi prenca-prenca umat ingkang dihin-paling sah menurut pandangan sebagian besar dihin ing atase pitung puluh loro pontho, lankaum Sunni. Kebanyakan mereka ini kemudian mbesuk bakal pada prenca-prenca sira kabehmenegaskan bahwa "jalan keselamatan" hanya dadi pitting puluh telu pontho, setengah sakingdidapatkan seseorang yang dalam masalah Kalam pitung puluh telu namung sewiji ingkangmenganut al-Asyari. selamet, lan ingkang pitung puluh loro kabeh ing Seorang pemikir lain yang Ilmu Kalam-nya dalem neraka. Ana dene ingkang sewiji ingkangmendapat pengakuan sama dengan al-Asyari ialah selamet iku, iya iku kelakuan ingkang wus denAbu Manshur al-Maturidi (wafat di Samarkand lakoni Gusti Rasulullah s.a.w., lan iya iku aqaidepada 333 H/944 M). Meskipun terdapat sedikit Ahl al-Sunnah wa l-Jamaah Asyariyyah lanperbedaan dengan al-Asy ari, khususnya Maturidiyyah.(11)berkenaan dengan teori tentang kebebasan (...Umat yang telah lalu telah terpecah-pecahmanusia (al-Maturidi mengajarkan kebebasan menjadi tujuh puluh dua golongan, dan kelakmanusia yang lebih besar daripada al-Asyari), kamu semua akan terpecah-pecah menjadi tujuhal-Maturidi dianggap sebagai pahlawan paham puluh tiga golongan, dari antara tujuh puluhSunni, dan sistem Ilmu Kalamnya dipandang 11  Hajj Muhammad Shalih ibn Umar Samarani, Tarjamatsebagai "jalan keselamatan", bersama dengan Sabil al-Abid ala Jawharat al-Tawhid (sebuah terjemah dansistem al-Asyari. Sangat ilustratif tentang sikap uraian panjang lebar atas kitab Ilmu Kalam yang terkenal, Jawharat al-Tawhid, dalam bahasa Jawa huruf Pego, tanpa dataini adalah pernyataan Haji Muhammad Shalih ibn penerbitan), hh. 27-28. 9
  • 16. tiga itu hanya satu yang selamat, sedangkan kontroversi yang paling dini dalam pemikiran yang tujuh puluh dua semuanya dalam neraka. Islam, yaitu masalah manusia dan perbuatannya, Adapun yang satu yang selamat itu ialah apakah dia bebas menurut paham Qadariyyah mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan atau terpaksa seperti dalam paham Jabariyyah. junjungan Rasulullah s.a.w., yaitu aqa id Dengan maksud menengahi antara keduanya, al- (pokok-pokok kepercayaan) Ahl al-Sunnah wa Asyari mengajukan gagasan dan teorinya sendiri, l-Jamaah Asyariyyah dan Maturidiyyah). yang disebutnya teori Kasb (al-kasb, acquisition, Kehormatan besar yang diterima al-Asyari perolehan). Menurut teori itu, perbuatan manusia ialah karena solusi yang ditawarkannya mengenai tidaklah dilakukan dalam kebebasan dan juga pertikaian klasik antara kaum "liberal" dari tidak dalam keterpaksaan. Perbuatan manusia golongan Mutazilah dan kaum "konservatif" tetap dijadikan dan ditentukan Tuhan, yakni dari golongan Hadits (Ahl al-Hadits, seperti yang dalam keterlaksanaannya. Tetapi manusia tetap dipelopori oleh Ahmad ibn Hanbal dan sekalian bertanggung-jawab atas perbuatannya itu, sebab imam mazhab Fiqh). Kesuksesan al-Asyari ia telah melakukan kasb atau acquisition, dengan merupakan contoh klasik cara mengalahkan lawan adanya keinginan, pilihan, atau keputusan untuk dengan meminjam dan menggunakan senjata melakukan suatu perbuatan tertentu, dan bukan lawan. Dengan banyak meminjam metodologi yang lain, meskipun ia sendiri tidak menguasai dan pembahasan kaum Mutazilah, al-Asyari dinilai tidak bisa menentukan keterlaksanaan perbuatan berhasil mempertahankan dan memperkuat tertentu yang diinginkan, dipilih dan diputus paham Sunni di bidang Ketuhanan (di bidang sendiri untuk dilakukan itu. Ini diungkapkan Fiqh yang mencakup peribadatan dan hukum secara singkat dalam nadham Jawharat al-Tawhid telah diselesaikan terutama oleh para imam demikian: mazhab yang empat, sedangkan di bidang tasawuf dan filsafat terutama oleh al-Ghazali, Wa indana li l abdi kasbun kullifa, wa lam yakun 450-505 H/1058-1111 M). Salah satu solusi yang mu atstsiran fa l-tarifa. diberikan oleh al-Asyari menyangkut salah satu10
  • 17. Fa laysa majburan wa la khtiyara wa laysa kullan Tetapi tak urung konsep kasb al-Asyari itu yafalu khtiyara menjadi sasaran kritik lawan-lawannya. Dan (Bagi kita Ahl al-Sunnah manusia terbebani lawan-lawan al-Asyari tidak hanya terdiri dari oleh kasb dan ketahuilah bahwa ia tidak kaum Mutazilah dan Syiah (yang dalam Ilmu mempengaruhi tindakannya. Kalam banyak mirip dengan kaum Mutazilah), tetapi juga muncul, dari kalangan Ahl al-Sunnah Jadi manusia bukanlah terpaksa dan bukan sendiri, khususnya kaum Hanbali. Dalam hal ini bisapula bebas, namun tidak seorang pun mampu dikemukakan, sebagai contoh, yaitu pandanganberbuat sekehendaknya). Ibn Taymiyyah (661-728 H/1263-1328 M), seorang Terhadap rumus itu Kiai Saleh Darat memberi tokoh paling terkemuka dari kalangan kaumkomentar tipikal paham Sunni (menurut Ilmu Hanbali. Ibn Taymiyyah menilai bahwa denganKalam Asyari) sebagai berikut: teori kasb-nya itu alAsyari bukannya menengahi antara kaum Jabari dan Qadari, melainkan lebih ... Maka Jabariyyah lan Qadariyyah iku sasar mendekati kaum Jabari, bahkan mengarah kepada karone.Maka ana madshab Ahl al-Sunnah dukungan terhadap Jahm ibn Shafwin, teoretikus iku tengah-tengah antarane Jabariyyah lan Jabariyyah yang terkemuka. Dalam ungkapan Qadariyyah, metu antarane telethong lan getih yang menggambarkan pertikaian pendapat metu rupa labanan khalishan saghan li al- beberapa golongan di bidang ini, Ibn Taymiyyah syaribin.(12) yang nampak lebih cenderung kepada paham (... Maka Jabariyyah dan Qadariyyah itu kedua- Qadariyyah (meskipun ia tentu akan mengingkari duanya sesat. Kemudian adalah mazhab Ahl penilaian terhadap dirinya seperti itu) mengatakan al-Sunnah berada di tengah antara Jabariyyah demikian: dan Qadariyyah, keluar dari antara kotoran dan ... Sesungguhnya para pengikut paham Asyari darah susu yang murni, yang menyegarkan orang dan sebagian orang yang menganut paham yang meminumnya). Qadariyyah telah sependapat dengan al-Jahm ibn Shafwan dalam prinsip pendapatnya tentang 12  Ibid., hh. 149-151. 11
  • 18. Jabariyyah, meskipun mereka ini menentangnya aneh dalam Ilmu Kalam.(15) secara verbal dan mengemukakan hal-hal Ilmu Kalam, termasuk yang dikembangkan yang tidak masuk akal... Begitu pula mereka itu oleh al-Asyari, juga dikecam kaum Hanbali berlebihan dalam menentang kaum Mutazilah dari segi metodologinya. Persoalan yang juga dalam masalah-masalah Qadariyyah —sehingga menjadi bahan kontroversi dalam Ilmu Kalam kaum Mutazilah menuduh mereka ini pengikut khususnya dan pemahaman Islam umumnya Jabariyyah— dan mereka (kaum Asyariyyah) itu ialah kedudukan penalaran rasional (aql, akal) mengingkari bahwa pembawaan dan kemampuan terhadap keterangan tekstual (naql, "salinan" atau yang ada pada benda-benda bernyawa "kutipan"), baik dari Kitab Suci maupun Sunnah mempunyai dampak atau menjadi sebab adanya Nabi. Kaum "liberal", seperti golongan Mutazilah, kejadiankejadian (tindakan-tindakan).(13) cenderung mendahulukan akal, dan kaum Namun agaknya Ibn Taymiyyah menyadari "konservatif" khususnya kaum Hanbali, cenderung sepenuhnya betapa rumit dan tidak sederhananya mendahulukan naql. Terkait dengan persoalan ini masalah ini. Maka sementara ia mengkritik konsep ialah masalah interprestasi (tawil), sebagaimana kasb alAsyari yang ia sebutkan dirumuskan telah kita bahas.(16) Berkenaan dengan masalah ini, sebagai "sesuatu perbuatan yang terwujud metode al-Asyari cenderung mendahulukan naql pada saat adanya kemampuan yang diciptakan dengan membolehkan interprestasi dalam hal-hal (oleh Tuhan untuk seseorang) dan perbuatan itu yang memang tidak menyediakan jalan lain. Atau dibarengi dengan kemampuan tersebut"(14) Ibn mengunci dengan ungkapan "bi la kayfa" (tanpa Taymiyyah mengangkat bahwa pendapatnya itu bagaimana) untuk pensifatan Tuhan yang bernada disetujui oleh banyak tokoh Sunni, termasuk Malik, antropomorfis (tajsim) —menggambarkan Tuhan Syafii dan Ibn Hanbal. Namun Ibn Taymiyyah juga seperti manusia, misalnya, bertangan, wajah, dan mengatakan bahwa konsep kasb itu dikecam oleh lain-lain. Metode al-Asyari ini sangat dihargai, dan ahli yang lain sebagai salah satu hal yang paling 15 Ibid. 13  Minhaj, jil. 1, h. 172. 16  Lihat kajian kita tentang "Interprestasi Metaforis" yang telah 14  Ibid., h. 170. lalu.12
  • 19. merupakan unsur kesuksesan sistemnya. haqiqah fi al-ayan, la fi al-adzhan).(18) Tetapi bagian-bagian lain dari metodologi Epistemologi Ibn Taymiyyah tidakal-Asyari, juga epistemologinya, banyak dikecam mengizinkan terlalu banyak intelektualisasi,oleh kaum Hanbali. Di mata mereka, seperti halnya termasuk interprestasi. Sebab baginya dasar ilmudengan Ilmu Kalam kaum Mutazilah, Ilmu Kalam pengetahuan manusia terutama ialah fithrah-al-Asyari pun banyak menggunakan unsur- nya: dengan fithrah itu manusia mengetahuiunsur filsafat Yunani, khususnya logika (manthiq) tentang baik dan buruk, dan tentang benar danAristoteles. Dalam penglihatan Ibn Taymiyyah, salah.(19) Fithrah yang merupakan asal kejadianlogika Aritoteles bertolak dari premis yang salah, manusia, yang menjadi satu dengan dirinyayaitu premis tentang kulliyyat (universals) atau melalui intuisi, hati kecil, hati nurani, dan lain-lain,al-musytarak al-muthlaq (pengertian umum diperkuat oleh agama, yang disebut Ibn Taymiyyahmutlak), yang bagi Ibn Taymiyyah tidak ada dalam sebagai "fithrah yang diturunkan" (al-fithrahkenyataan, hanya ada dalam pikiran manusia al-munazzalah). Maka metodologi kaum Kalamsaja karena tidak lebih daripada hasil taaqqul baginya adalah sesat.(20)(intelektualisasi).(17) Demikian pula konsep-konsep Yang amat menarik ialah bahwa epistemologiAristoteles yang lain, seperti kategori-kategori Ibn Taymiyyah Yang Hanbali berdasarkan fithrahyang sepuluh (esensi, kualitas, kuantitas, relasi, itu paralel dengan epistemologi Abu Jafarlokasi, waktu, situasi, posesi, aksi, dan pasi), juga Muhammad ibn Ali ibn al-Husayn Babwayhkonsep-konsep tentang genus, spesi, aksiden, al-Qummi (wafat 381 H), seorang "ahli Ilmuproperti, dan lain-lain, ditolak oleh Ibn Taymiyyah Kalam" terkemuka kalangan Syiah. Al-Qummi,sebagai basil intelektualisasi yang tidak ada dengan mengutip berbagai hadits, memperolehkenyataannya di dunia luas. Maka terkenal sekali penegasan bahwa pengetahuan tentang Tuhanucapan Ibn Taymiyyah bahwa "hakikat ada di alam diperoleh manusia melalui fitrah-nya, dan hanyakenyataan (di luar), tidak dalam alam pikiran" (Al- 18  Minhaj, jil. 1, hh. 243 dan 245. 17  Lihat Minhaj, jil. 1, hh. 235, 243, 254, 261, dan hh. 266. 19  Ibid., hh. 281 dan 291. Juga Naqdl al-Manthiq, h. 25,164 dan 202. 20  Naqdl al-Manthiq, hh. 38, 39, 171, 160-162, dan 172. 13
  • 20. dengan adanya fitrah itulah manusia mendapat manfaat dari bukti-bukti dan dalil-dalil.(21) Maka sejalan dengan itu, Ibn Taymiyyah menegaskan, bahwa pangkal iman dan ilmu ialah ingat (dzikr) kepada Allah. "Ingat kepada Allah memberi iman, dan ia adalah pangkal iman ..... pangkal ilmu.(22) 21  Abu Jafar Muhammad ibn Ali ibn al-Husayn Babwayh al-Qummi, al-Tawhid (Qumm: Muassasat al-Nasyr al-Islami, 1398 H), hh. 22, 35, 82 dan 230. 22  Naqdl al-Manthiq, h. 34.14
  • 21. Falsafah Islam: Unsur-Unsur Hellenisme 2 di DalamnyaD i antara empat disiplin keilmuan Islam tradisional: fiqh, kalam, tasawuf dan falsafah,yang disebutkan terakhir ini barangkali adalah orang-orang yang berjiwa keagamaan (religious), sekalipun berbagai titik pandangan keagamaan mereka cukup banyak berbeda, jika tidak justruyang paling sedikit dipahami, bisa juga berarti berlawanan, dengan yang dipunyai oleh kalanganpaling banyak disalahpahami, sekaligus juga yang ortodoks.(1) Dan tidak mungkin menilai bahwapaling kontroversial. Sejarah pemikiran Islam falsafah Islam adalah carbon copy pemikiranditandai secara tajam antara lain oleh adanya Yunani atau Hellenisme.(2)polemik-polemik sekitar isi, subyek bahasan dan Meskipun begitu, kenyataannya ialah bahwasikap keagamaan falsafah dan para failasuf. Karena kata Arab "falsafah" sendiri dipinjam dari kataitu pembahasan tentang falsafah dapat diharapkan Yunani yang sangat terkenal, "philosophia", yangmenjadi pengungkapan secara padat dan mampat berarti kecintaan kepada kebenaran (wisdom).tentang peta dan perjalanan pemikiran Islam di Dengan sedikit perubahan, kata "falsafah" ituantara sekalian mereka yang terlibat. di-Indonesia-kan menjadi "filsafat" atau, akhir- Sebelum yang lain-lain, di sini harus ditegaskan akhir ini, juga "filosofi" (karena adanya pengaruhbahwa sumber dan pangkal tolak falsafah dalam ucapan Inggris, "philosophy"). Dalam ungkapanIslam adalah ajaran Islam sendiri sebagaimana Arabnya yang lebih "asli", cabang ilmu tradisionalterdapat dalam al-Quran dan Sunnah. Para failasuf 1  R.T. Wallis, Neo Platonism (London: Gerlad Duckworth &dalam lingkungan agama-agama yang lain, Company Limited, 1972), h. 164. 2  C A. Qadir, Philosophy and Science in the Islamic Worldsebagaimana ditegaskan oleh R.T. Wallis, adalah (London: Croom Helm, 1988). h. 28.
  • 22. Islam ini disebut ulum al-hikmah atau secara Disinilah pangkal kontroversi yang ada sekitar singkat "alhikmah" (padanan kata Yunani "sophia"), falsafah: sampai di mana agama Islam mengizinkan yang artinya ialah "kebijaksanaan" atau, lebih adanya masukan dari luar, khususnya jika datang tepat lagi, "kawicaksanaan" (Jawa) atau "wisdom" dari kalangan yang tidak saja bukan "ahl al-kitab" (Inggris). Maka "failasuf (ambilan dari kata Yunani seperti Yahudi dan Kristen, tetapi malahan dari "philosophos", pelaku filsafat), disebut juga "al- orang-orang Yunani kuna yang "pagan" atau hakim" (ahli hikmah atau orang bijaksana), dengan musyrik (penyembah binatang). Sesungguhnya bentuk jamak "al-hukama". beberapa ulama ortodoks, seperti Ibn Taymiyyah Dari sepintas riwayat kata "filsafah" itu kiranya dan Jalal al-Din al-Suyuthi (salah seorang menjadi jelas bahwa disiplin ilmu keislaman ini, pengarang tafsir Jalalayn), menunjuk kemusyrikan meskipun memiliki dasar yang kokoh dalam orang-orang Yunani itu sebagai salah satu alasan sumber-sumber ajaran Islam sendiri, banyak keberatan mereka terhadap falsafah. Tetapi mengandung unsur-unsur dari luar, yaitu terutama sebelum membahas lebih jauh segi-segi polemis Hellenisme atau dunia pemikiran Yunani.(3) ini, lebih dahulu dibahas pertumbuhan falsafah 3  Istilah "Hellenisme" pertama kali diperkenalkan oleh ahli dalam sejarah pemikiran Islam. sejarah dari Jerman, J. G. Droysen. Ia menggunakan perkataan "Hellenismus" sebagai sebutan untuk masa yang dianggapnya kekaisaran Romawi. Sebab dalam periode itu muncul banyak sebagai periode peralihan antara Yunani kuna dan dunia kerajaan di sekitar Laut Tengah, khususnya pesisir timur dan Kristen. Droysen lupa akan peranan Roma dalam agama selatan seperti Syria dan Mesir, yang diperintah oleh bangsa Kristen (dan membatasi seolah-olah hanya Yunani saja yang Makedonia dari Yunani. Akibatnya, mereka ini membawa berperan). Namun ia diakui telah berhasil mengidentifikasi berbagai perubahan besar dalam banyak bidang di kawasan suatu kenyataan sejarah yang amat penting. Biasanya yang itu, antara lain bahasa (daerah-daerah itu didominasi Bahasa disebut zaman Hellenik yang merupakan peralihan itu ialah Yunani) dan pemikiran (ilmu pengetahuan Yunani, terutama masa sejak tahun 323 sampai 30 S.M. atau dari saat kematian filsafatnya, diserap oleh daerah-daerah itu melalui berbagai Iskandar Agung sampai penggabungan Mesir kedalam cara). (Lihat Britannica. s.v. "Hellenic Age"). Pertumbuhan Falsafah tumbuh sebagai hasil interaksi bangsa-bangsa sekitarnya. Khususnya interaksi intelektual antara bangsa Arab Muslim dengan mereka dengan bangsa-bangsa yang ada di16
  • 23. sebelah utara Jazirah Arabia, yaitu bangsa-bangsa (keturunan suku Bani Ghassan Yang Kristen, satelitSyria, Mesir, dan Persia. Romawi). Namun berkat politik keagamaan para Interaksi itu berlangsung setelah adanya penguasa Muslim berdasarkan konsep toleransipembebasan-pembebasan (al-futuhat) atas Islam, sampai sekarang masih banyak kantong-daerah-daerah tersebut segera setelah wafat Nabi kantong minoritas Kristen dan Yahudi yang tetaps.a.w., dibawah para khalifah. Daerah-daerah yang bertahan dengan aman. Karena adanya konsepsegera dibebaskan oleh orang-orang Muslim itu Islam tentang kontinuitas agama-agama (yaitu,adalah daerah-daerah yang telah lama mengalami bahwa agama Nabi Muhammad adalah kelanjutanHellenisasi. Lebih dari itu, kecuali Persia, daerah- agama para nabi sebelumnya, khususnya Nabi-daerah yang kemudian menjadi pusat-pusat nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub atau Israil,peradaban Islam itu adalah daerah-daerah yang Musa dan Isa-Yahudi dan Kristen),(4) orang-orangtelah terlebih dahulu mengalami Kristenisasi. Muslim menyimpan rasa dekat atau afinitasBahkan sebenarnya daerah-daerah Islam sampai tertentu kepada mereka itu. Dan rasa dekat itu ikutsekarang ini, sejak dari Irak di timur sampai ke melahirkan adanya sikap-sikap toleran, simpatikSpanyol di barat, adalah praktis bekas daerah dan akomodatif terhadap mereka dan pikiran-agama Kristen, termasuk heartlandnya, yaitu pikiran mereka. (Toleransi dan sikap akomodatifPalestina. Daerah-daerah itu, dibawah kekuasaan Islam ini ternyata kelak menimbulkan situasi ironispemerintahan orang-orang Muslim, selanjutnya di zaman moderen, akibat adanya kolonialismememang mengalami proses Islamisasi. Tetapi 4  "Sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada engkauproses itu berjalan dalam jangka waktu yang (Muhammad) seperti yang telah Kami wahyukan kepadapanjang, selama berabad-abad, dan secara damai. Nuh dan para nabi sesudahnya, dan seperti yang telah Kami wahyukan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub danBahkan daerah-daerah Kristen itu tidak hanya kelompok-kelompok (para nabi), serta kepada Isa Ayyub,mengalami proses Islamisasi, tetapi juga Arabisasi, Yunus, Harun dan Sulayman. Telah pula Kami berikan kepada Dawud (kitab) Zabur. Juga kepada para rasul yangdisamping adanya daerah-daerah yang memang telah Kami kisahkan mereka itu kepadamu (Muhammad)sejak jauh sebelum Islam secara asli merupakan sebelumnya, dan para rasul yang tidak Kami kisahkan mereka itu kepadamu. Dan sungguh Allah telah berbicara (langsung)daerah suku Arab tertentu seperti Libanon kepada Musa." (Q., s. al-Nisa /4:163-165). 17
  • 24. Barat, seperti adanya hubungan tidak mudah Mesopotamia. Sebab sekalipun ilmu pengetahuan antara kaum Muslim dengan kaum Yahudi di Yunani merupakan bagian paling penting ilmu Palestina, dengan kaum Maronite di Libanon, dan pengetahuan yang diserap orang-orang Muslim dengan kaum Koptik di .Mesir). Arab, namun mereka ini juga dengan penuh Toleransi dan keterbukaan orang-orang Islam kebebasan dan kepercayaan diri menyerap dari dalam melihat kaum agama lain, khususnya orang-orang Majusi dan Sabean tersebut tadi, Ahli Kitab tersebut mendasari adanya interaksi bahkan juga dari orang-orang Hindu dan Cina. intelektual yang positif di kalangan mereka, Karena futuhat, bangsa-bangsa non-Muslim itu dengan sedikit sekali kemasukan unsur prasangka berada dibawah kekuasaan politik orang-orang yang berlebihan. Disamping itu, dan sebagaimana Arab Muslim. Tetapi biarpun orang-orang Arab telah dikemukakan dalam pembahasan kita itu memiliki keunggulan militer dan politik, tentang Islam dan pengembangan ilmu mereka tetap menunjukkan sikap-sikap penuh pengetahuan yang lalu, kelebihan orang-orang penghargaan dan pengertian kepada bangsa- Muslim Arab itu ialah kepercayaan kepada diri bangsa dan budaya-budaya (termasuk agama- sendiri yang sedemikian mantap. Kemantapan itu agama) yang mereka kuasai. Hasilnya ialah, seperti kemudian memancar pada sikap-sikap mereka dikatakan Halkin sebagai berikut (kutipan yang yang positif kepada bangsa-bangsa dan budaya- penting untuk memahami pembahasan): budaya lain, dengan kesediaan yang besar untuk menyerap dan mengadopsinya sebagai milik ...It is to the credit of the Arabs that although they sendiri. Posisi psikologis yang menguntungkan were the victors militarily and politically, they did itu berada tidak hanya dalam hubungannya not regard the civilization of the vanquished lands dengan kaum Ahli Kitab yang memang dekat with contempt. The riches of Syrian, Persian, and dengan orang-orang Muslim, tetapi juga dengan Hindu cultures were no sooner discovered than kelompok-kelompok keagamaan lain seperti they were adapted into Arabic. Caliphs, governors, kaum Majusi (orang-orang Persi pengikut ajaran and others patronized scholars who did the work Zoroaster) dan kaum Sabean dari Harran, di utara of translation, so that a vast body of non-Islamic18
  • 25. learning became accessible in Arabic. During Interaksi intelektual orang-orang Muslim the ninth and tenth centuries, a steady flow of dengan dunia pemikiran Hellenik terutama terjadi works on Greek medicine, physics, astronomy, antara lain di Iskandaria (Mesir), Damaskus, Antioch mathematics, and philosophy, Persian belles- dan Ephesus (Syria), Harran (Mesopotamia) dan lettres, and Hindu mathematics and astronomy Jundisapur (Persia). Di tempat-tempat itulah lahir poured into Arabic.(5) dorongan pertama untuk kegiatan penelitian dan (...Adalah jasa orang-orang Arab bahwa penterjemahan karya-karya kefilsafatan dan ilmu sekalipun mereka itu para pemenang secara pengetahuan Yunani kuna, yang kelak kemudian militer dan politik, mereka tidak memandang didukung dan disponsori oleh para penguasa peradaban negeri-negeri yang mereka taklukkan Muslim. dengan sikap menghina. Kekayaan budaya- Suatu hal yang patut sekali mendapat perhatian budaya Syria, Persia, dan Hindu mereka salin lebih besar di sini ialah suasana kebebasan ke bahasa Arab segera setelah diketemukan. intelektual di zaman klasik Islam itu. Interaksi Para khalifah, gubernur, dan tokoh-tokoh yang positif antara orang-orang Arab Muslim dengan lain menyantuni para sarjana yang melakukan kalangan bukan-Muslim itu dapat terjadi hanya tugas penterjemahan, sehingga kumpulan ilmu dalam suasana penuh kebebasan, toleransi dan bukan-Islam yang luas dapat diperoleh dalam bahasa Arab. Selama abad-abad kesembilan keterbukaan. Sebab meskipun orang-orang Arab dan kesepuluh, karya-karya yang terus mengalir itu mempunyai ajaran agamanya yang sangat dalam ilmu-ilmu kedokteran, fisika, astronomi, tegas dan gamblang, dengan penuh lapang dada matematika, dan filsafat dari Yunani, sastra dari membiarkan semua kegiatan intelektual di pusat- Persia, serta matematika dan astronomi dari pusat yang ada sejak sebelum kedatangan dan Hindu tercurah ke dalam bahasa Arab). pembebasan oleh mereka. Seperti dikatakan oleh C.A. Qadir:5  Abraham S, Halkin, "The Judeo-Islamic Age, The Great Fusion" dalarn Leo W. Schwarz, ed., Great Ages & Ideas of "...the centers of learning led by the Christians the Jewish People (New York: The Modern Library, 1956), hh. continued to function unmolested even after they 218-219. 19
  • 26. were subjugated by the Muslims. This indicates not yang menjadi cikal-bakal ilmu kimia moderen.(7) only the intellectual freedom that prevailed under Bahkan seorang khalifah Bani Umayyah, Marwan Muslim rule in those days, but also testifies to the ibn al-Hakam (683-685 M), memerintahkan agar Muslims love of knowledge and the respect they buku kedokteran oleh Harun, seorang dokter paid to the scholars irrespective of their religion."(6) dari Iskandaria Mesir, diterjemahkan dari bahasa (...pusat-pusat pengajaran yang dipimpin oleh Suryani (Syriac) ke bahasa Arab.(8) orang-orang Kristen terus berfungsi tanpa Harus diketahui bahwa dalam pembagian ilmu terusik bahkan setelah mereka itu ditaklukkan pengetahuan zaman itu, baik ilmu kedokteran oleh orang-orang Muslim. Ini menunjukkan maupun alkemi, sebagaimana juga metafisika, tidak saja kebebasan intelektual yang terdapat matematika, astronomi, bahkan musik dan puisi, di mana-mana di bawah pemerintahan Islam dan seterusnya, termasuk falsafah. Sebab istilah zaman itu, tetapi juga membuktikan kecintaan falsafah itu, dalam pengertiannya yang luas, orang-orang Muslim kepada ilmu dan sikap mencakup bidang-bidang yang sekarang bisa hormat yang mereka berikan kepada para disebut sebagai "ilmu-pengetahuan umum", yakni, sarjana tanpa mempedulikan agama mereka). bukan "ilmu pengetahuan agama", yaitu dunia Interaksi intelektual itu memperoleh kognitif yang dasar perolehannya bukan wahyu wujudnya yang nyata semenjak masa dini sekali tetapi akal, baik yang dari penalaran deduktif sejarah Islam. Disebut-sebut bahwa al-Harits maupun yang dari penyimpangan empiris. Ini ibn Qaladah, seorang Sahabat Nabi, sempat penting disadari, antara lain untuk dapat dengan mempelajari ilmu kedokteran di Jundisapur, tepat melihat segi-segi mana dari sistem falsafah Persia, tempat berkumpulnya beberapa failasuf itu yang kontroversial karena dipersoalkan oleh yang dikutuk gereja Kristen karena dituduh telah kalangan ortodoks. Umumnya mereka ini, seperi melakukan bidah. Disebut-sebut juga bahwa 7  Drs. Hasyim Asyari MA, Bahasa Arab dan Perkembangan Khalid ibn Yazid (ibn Muawiyah) dan Jafar al- Ilmu Pengetahuan (makalah dalam seminar tentang Bahasa Shadiq sempat mendalami alkemi (al-kimya) Arab, Fakultas Sastra, UGM, Yogyakarta, 15-16 Oktober 1988). 6  Qadir, op. cit., h. 34. 8  Qadir, op. cit., h. 34.20
  • 27. Ibn Taymiyyah dan lain-lain, menolak yang bersifat dalam banyak hal menyangkut bidang yang bagipenalaran murni dan deduktif, dalam hal ini mereka merupakan wewenang agama. Tetapikhususnya metafisika (al-falsafah al-ula), karena mereka membenarkan yang induktif dan empiris. Neoplatonisme Dari berbagai unsur pikiran Hellenik, atau "Kenyataan Mutlak."(9) Untuk memahamiPlatonisme Baru (Neoplatonisme) adalah sedikit lebih lanjut ajaran Plotinus kita perlusalah satu yang paling berpengaruh dalam memperhatikan beberapa unsur dalam ajaran-sistem falsafah Islam. Neoplatonisme sendiri ajaran Plato, Aristoteles, Pythagoras (baru) danmerupakan falsafah kaum musyrik (pagans), kaum Stoic.dan rekonsiliasinya dengan suatu agama wahyu Plato membagi kenyataan kepada yang bersifatmenimbulkan masalah besar. Tapi sebagai ajaran "akali" (ideas, intelligibles) dan yang bersifatyang berpangkal pada pemikiran Plotinus (205- "inderawi" (sensibles), dengan pengertian bahwa270 M), sebetulnya Neoplatonisme mengandung yang akali itulah yang sebenarnya ada (ousia),unsur yang memberi kesan tentang ajaran Tauhid. jadi juga yang abadi dan tak berubah. TermasukSebab Plotinus yang diperkirakan sebagai orang diantara yang akali itu ialah konsep tentangMesir hulu yang mengalami Hellenisasi di kota "Yang Baik", yang berada di atas semuanya danIskandaria itu mengajarkan konsep tentang "yang disebut sebagai berada di luar yang ada (beyondEsa" (the One) sebagai prinsip tertinggi atau being, epekeina ousias). "Yang Baik" ini kemudiansumber penyebab (sabab, cause). Lebih dari itu, diidentifikasi sebagai "Yang Esa", yang takPlotinus dapat disebut sebagai seorang mistikus, terjangkau dan tak mungkin diketahui.tidak. dalam arti "irrasionalis", "occultist" ataupun Selanjutnya, mengenai wujud inderawi,"guru ajaran esoterik", tetapi dalam artinya yang Plato menyebutkannya sebagai hasil kerja suatuterbatas kepada seseorang yang mempercayai "seniman ilahi" (divine artisan, demiurge) yangdirinya telah mengalami penyatuan dengan Tuhan menggunakan wujud kosmos yang akali sebagai 9  Wallis, op. cit., h. 3. 21
  • 28. model karyanya. Disamping membentuk dunia dengan tindakan Akal untuk menjangkau wujud fisik, demiurge juga membentuk jiwa kosmis dan itu. jiwa atau ruh individu yang tidak akan mati. Jiwa Dualisme Plato di atas kemudian diusahakan kosmis dan jiwa individu yang immaterial dan penyatuannya oleh para penganut Pythagoras substansial itu merupakan letak hakikatnya yang (baru), dan dirubahnya menjadi monisme dan bersifat ada sejak semula (pre-existence) dan akan berpuncak pada konsep tentang adanya Yang ada untuk selamanya (post-existence immortality), Esa dan serba maha (transenden). Ini melengkapi yang semuanya tunduk kepada hukum reinkarnasi. ajaran kaum Stoic yang di samping materialistik Dari Aristoteles, unsur terpenting yang diambil tapi juga immanenistik, yang mengajarkan tentang Plotinus ialah doktrin tentang Akal (nous) yang kemahaberadaan (omnipresence) Tuhan dalam lebih tinggi daripada semua jiwa. Aristoteles alam raya.(10) mengisyaratkan bahwa hanya Akal-lah yang tidak Kesemua unsur tersebut digabung dan bakal mati (immortal), sedangkan wujud lainnya diserasikan oleh Plotinus, dan menuntunnya hanyalah "bentuk" luar, sehingga tidak mungkin kepada ajaran tentang tiga hypostase atau prinsip mempunyai eksistensi terpisah. Aristoteles juga di atas materi, yaitu Yang Esa atau Yang Baik, Akal menerangkan bahwa "dewa tertinggi" (supreme atau Intelek, dan Jiwa.(11) deity) ialah Akal yang selalu merenung dan berpikir tentang dirinya. Kegiatan kognitif Akal itu 10  Paul Edwards, ed., The Encyclopedia of Philosophy, s.v. "Plotinus". berbeda dari kegiatan inderawi, karena obyeknya, 11  I.R. Netton, Muslim Neoplatonists (London: George Allen yaitu wujud akali yang immaterial, adalah identik & Unwin, 1982), h. 34. Aristotelianisme Telah dinyatakan bahwa Neoplatonisme cukup ke Eropa sebelumnya, yang telah tercampur banyak mempengaruhi falsafah Islam. Tetapi dengan unsur-unsur kuat Aristotelianisme. Bahkan sebenarnya Neoplatonisme yang sampai ke tangan sebetulnya para failasuf Muslim justru memandang orang-orang Muslim, berbeda dengan yang sampai Aristoteles sebagai "guru pertama" (al-muallim22
  • 29. al-awwal), yang menunjukkan rasa hormat berbeda-beda dari kalangan agama. Orang-orangmereka yang amat besar, dan dengan begitu juga Kristen zaman itu, dengan doktrin Trinitasnya,pengaruh Aristoteles kepada jalan pikiran para tidak mungkin luput dari memperhatikan betapafailasuf Muslim yang menonjol dalam falsafah tiga hypostase Plotinus tidak sejalan, atauIslam. bertentangan dengan Trinitas Kristen. Polemik- Neoplatonisme sendiri, sebagai gerakan, polemik yang terjadi tentu telah mendapatkantelah berhenti semenjak jatuhnya Iskandaria di jalannya ke penulisan. Maka orang-orangtangan orang-orang Arab Muslim pada tahun 642.(12) Muslim, melalui tulisan-tulisan dalam bahasaSebab sejak itu yang ada secara dominan ialah Suryani yang disalin ke Bahasa Arab, mewarisifalsafah Islam, yang daerah pengaruhnya meliputi versi neoplatonisme yang berbeda, yaitu Neo-hampir seluruh bekas daerah Hellenisme. platonisme dengan unsur kuat Aristotelianisme.(14) Tetapi sebelum gerakan Neoplatonis itu Menurut pelukisan F.E. Peters, mengutip kitab al-mandeg, ia harus terlebih dahulu bergulat Fihrist oleh Ibn al-Nadim,dan berhadapan dengan agama Kristen.Dan interaksinya dengan agama Kristen itu The Arab version of the arrival of the Aristoteliantidak mudah, dengan ciri pertentangan yang corpus in the Islamic world has to do with thecukup nyata. Salah seorang tokohnya yang discovery of manuseripts in a deserted house. Evenharus disebut di sini ialah pendeta Nestorius, if true, the story omits two very important detailspatriark Konstantinopel, yang karena menganut which may be supplied from the sequel: first, theNeoplatonisme dan melawan ajaran gereja manuseripts were certainly not written in Arabic;terpaksa lari ke Syria dan akhirnya ke Jundisapur di second, the Arabs discovered not only Aristotle butPersia.(13) a whole series of commentators as well.(15) Sebenarnya Neoplatonisme sebagai filsafat (Versi Arab tentang datangnya karya-karyamusyrik memang mendapat perlakuan yang 14  Netton, op. cit., h. 33. 12  Edwards, loc. cit. 15  F.E. Peters. Aristotle and the Arabs (New York: New York 13  Qadir, op. cit., h. 32. University Press, 1986), h. 7. 23
  • 30. Aristoteles di dunia Islam ada kaitannya Islam, tetapi Aristotelianisme. Apalagi jika dengan diketemukannya naskah-naskah di diingat bahwa orang-orang Muslim menerima suatu rumah kosong. Seandainya benarpun, pikiran Yunani itu lima ratus tahun setelah fase kisah itu menghilangkan dua rinci penting yang terakhir perkembangannya di Yunani sendiri, dan bisa melengkapi jalan cerita: pertama, naskah- setelah dua ratus tahun pikiran itu digarap dan naskah itu pastilah tidak tertulis dalam Bahasa diolah oleh para pemikir Kristen Syria. Menurut Arab; kedua, orang-orang Arab itu tidak hanya Peters lebih lanjut, paham Kristen telah mencuci menemukan Aristoteles tetapi seluruh rangkaian bersih tendensi "eksistensial" filsafat Yunani, para penafsir juga). sehingga ketika diwariskan kepada orang- Ini berarti bahwa pikiran-pikiran Aristoteles orang Arab Muslim, filsafat itu menjadi lebih yang sampai ke tangan orang-orang Muslim sudah berorientasi pedagogik, bermetode skolastik, dan tidak "asli" lagi, melainkan telah tercampur dengan berkecenderungan logik dan metafisik. Khususnya tafsiran-tafsirannya. Karena itu, meskipun orang- logika Aristoteles (al-manthiq al-aristhi) sangat orang Muslim sedemikian tinggi menghormati berpengaruh kepada pemikiran Islam melalui ilmu Aristoteles dan menamakannya "guru pertama", kalam. Karena banyak menggunakan penalaran namun yang mereka ambil dari dia bukan hanya logis menurut metodologi Aristoteles itu, maka pikiran-pikiran dia sendiri saja, melainkan justru ilmu kalam yang mulai tampak sekitar abad VIII kebanyakan adalah pikiran, pemahaman, dan dan menjadi menonjol pada abad IX itu disebut tafsiran orang lain terhadap ajaran Aristoteles. juga sebagai suatu versi teologi alamiah (natural Singkatnya, memang bukan Aristoteles sendiri theology, al-kalam al-thabii, sebagai bandingan al- yang berpengaruh besar kepada falsafah dalam kalam al-Qurani) di kalangan orang-orang Muslim.(16) 16  Ibid., h. xx-xxxi (Introduction). Penutup Sebagaimana telah diisyaratkan, orang-orang dalam bentuknya yang telah ditafsirkan dan diolah Muslim berkenalan dengan ajaran Aristoteles oleh orang-orang Syria, dan itu berarti masuknya24
  • 31. unsur-unsur Neoplatonisme. Maka cukup menarik Demikian pula, kita sepenuhnyabahwa sementara orang-orang Muslim begitu dapat berbicara tentang pengaruh besarsadar tentang Aristoteles dan apa yang mereka Aristotelianisme, yaitu dari sudut kenyataan bahwaanggap sebagai ajaran-ajarannya, namun mereka kaum Muslim banyak memanfaatkan metodetidak sadar, atau sedikit sekali mengetahui berpikir logis menurut logika formal (silogisme)adanya unsur-unsur Neoplatonis didalamnya. Ini Aristoteles. Cukup sebagai bukti betapa jauhnyamenyebabkan sulitnya membedakan antara kedua pengaruh ajaran Aristoteles ini ialah populernyaunsur Hellenisme yang paling berpengaruh kepada ilmu mantiq di kalangan orang-orang Islam.falsafah Islam itu, karena memang terkait satu Sampai sekarang masih ada dari kalangan ulamasama lainnya. kita yang menulis tentang mantiq, seperti K.H. Sekalipun begitu masih dapat dibenarkan Bishri Musthafa dari Rembang, dan ilmu mantiqmelihat adanya pengaruh khas Neoplatonisme masih diajarkan di beberapa pesantren. Memangdalam dunia pemikiran Islam, seperti yang kelak telah tampil beberapa ulama di masa lalu yangmuncul dengan jelas dalam berbagai paham mencoba meruntuhkan ilmu mantiq (seperti IbnTasauf. Ibn Sina, misalnya, dapat dikatakan seorang Taymiyyah dengan kitabnya, Naqdl al-Manthiq danNeoplatonis, disebabkan ajarannya tentang mistik al-Suyuthi dengan kitabnya, Shawn al-Mantiq waperjalanan ruhani menuju Tuhan seperti yang al-Kalam an Fann al-Manthiq wa al-Kalam). Tetapidimuat dalam kitabnya, Isharat. Dan memang bahkan al-Ghazali pun, meski telah berusahaNeoplatonisme yang spiritualistik itu banyak menghancurkan falsafah dari segi metafisikanya,mendapatkan jalan masuk ke dalam ajaran-ajaran adalah seorang pembela ilmu mantiq yang gigih,Sufi. Yang paling menonjol ialah yang ada dalam dengan kitab-kitabnya seperti Miyar al-Ilm danajaran sekelompok orang-orang Muslim yang Mihakk al-Nadhar. Bahkan kitabnya, al-Qisthasmenamakan diri mereka Ikhwan al-Shafa (secara al-Mustaqim, dinilai dan dituduh Ibn Taymiyyahlonggar: Persaudaraan Suci).(17) sebagai usaha pencampur-adukan tak sah ajaran Nabi dengan falsafah Aristoteles, karena uraian- 17  Pembahasan tentang kelompok ini yang cukup lengkap ialah uraian keagamaannya, dalam hal ini ilmu fiqh, yang yang dilakukan Netton. op. cit. 25
  • 32. menggunakan sistem ilmu mantiq. kaum Muslim tampak nyata. Seperti dikatakan Tetapi, seperti telah dikemukakan di atas, William Lane Craig, adalah mustahil melihat falsafah Islam sebagai carbon copy Hellenisme. Misalnya, meskipun ... the kalam argument as a proof for Gods terdapat variasi, tetapi semua pemikir Muslim existence originated in the minds of medieval berpandangan bahwa wahyu adalah sumber Arabic theologians, who bequeathed to the West, ilmu pengetahuan, dan, karena itu, mereka juga where it became the center of hotly disputed membangun berbagai teori tentang kenabian controversy. Great minds on both sides were raged seperti yang dilakukan Ibn Sina dengan risalahnya against each other: al-Ghazali versus Ibn Rushd, yang terkenal, Itsbat al-Nubuwwat. Mereka juga Saadia versus Maimonides, Bonaventure versus mencurahkan banyak tenaga untuk membahas Aquinas. The central issue in this entire debate was kehidupan sesudah mati, suatu hal yang tidak whether the temporal series of past events could terdapat padanannya dalam Hellenisme, kecuali be actually infinite.(19) dengan sendirinya pada kaum Hellenis Kristen. (...argumen kalam sebagai bukti adanya Tuhan Para failasuf Muslim juga membahas masalah berasal dari dalam pikiran para teolog Arab baik dan buruk, pahala dan dosa, tanggungjawab zaman pertengahan, yang menyusup ke Barat, pribadi di hadapan Allah, kebebasan dan di mana ia menjadi pusat kontroversi yang keterpaksaan (determinisme), asal usul penciptaan, diperdebatkan secara hangat. Pemikir-pemikir dan seterusnya, yang kesemuanya itu merupakan dari dua pihak berhadapan satu sama lain: al- bagian integral dari ajaran Islam, dan sedikit sekali Ghazali lawan Ibn Rusyd, Saadia lawan Musa ibn Maymun, Bonaventura lawan Aquinas. terdapat hal serupa dalam Hellenisme.(18) Persoalan pokok dalam seluruh debat itu ialah Lebih lanjut, falsafah kemudian mempengaruhi apakah rentetan zaman dari kejadian masa ilmu kalam. Meski begitu, lagi-lagi, tidaklah benar lampau itu dapat secara aktual tak terbatas). memandang ilmu kalam sebagai jiplakan belaka dari falsafah. Justru dalam ilmu kalam orisinalitas 19  William Craig, Kalam Cosmological Argument (London: 18  Qadir, op. cit., h. 28. The Macmillan Press Ltd, 1979), "preface".26
  • 33. Ilmu kalam adalah unik dalam pemikiran umat they inherited these arguments from the Arabicmanusia. Ia merupakan sumbangan Islam dalam theologians and philosophers, whom we tenddunia kefilsafatan yang paling orisinil. Argumen- unfortunately to neglect.(20)argumen yang dikembangkan dalam ilmu kalam (Para pemikir Yahudi berpartisipasi sepenuhnyamenerobos dunia pemikiran Barat, sebagaimana dalam kehidupan intelektual masyarakatbanyak pikiran-pikiran Islam yang lain, meskipun Muslim, banyak di antara mereka yang menulishanya sedikit dari orang-orang Barat yang dalam Bahasa Arab dan menterjemahkanmengakuinya. Berkenaan dengan ini, Craig karya-karya Arab ke dalam Bahasa Ibrani.mengatakan lebih lanjut: Dan orang-orang Kristen kemudian membaca dan menterjemahkan karya-karya para pemikir Yahudi itu. Argumen kalam bagi permulaan The Jewish thinkers fully participated in the adanya alam raya menjadi perdebatan yang intellectual life of the Muslim society, many of panas, karena ditentang oleh Aquinas namun them writing in Arabic and translating Arabic digunakan dan didukung oleh Bonaventure. works into Hebrew. And the Christians in turn read Argumen falsafah dari wujud pasti (wajib) dan and translated works of these Jewish thinkers. wujud mungkin (mumkin) banyak digunakan The kalam argument for the beginning of the dalam berbagai bentuk dan akhirnya menjadi universe became a subject heated debate, being kunci argumen Thomis untuk adanya Tuhan. opposed by Aquinas, but adopted and supported Begitulah, bahwa argumen kosmologis itu by Bonaventure. The falsafa argument from sampai ke para teolog berbahasa Latin, yang necessary and possible being was widely used dalam budaya Barat kita mereka itu menerima in various forms and eventually became the pengakuan untuk orisinalitas, yang mereka key Thomist argument for Gods existence. Thus sendiri tidak sepenuhnya berhak, karena mereka it was that the cosmological argument came mewarisi argumen-argumen itu dari para teolog dan failasuf Arab, yang sayangnya cenderung to the Latinspeaking theologians of the West, kita lupakan). who receive in our Western culture a credit for originality that they do not fully deserve, since 20  Ibid., h. 18. 27
  • 34. Sebagaimana telah menjadi pokok Argumen kosmologi kalam membimbing kita ke pembicaraan buku William Craig yang dikutip itu, arah adanya Khaliq yang bersifat pribadi alam argumen-argumen kosmologis kalam ternyata kini raya...) banyak mendapatkan dukungan temuan-temuan Adakah membuktikan adanya Tuhan yang ilmiah moderen. Teori big bang dari Chandrasekhar personal itu yang menjadi titik perhatian sentral (pemenang hadiah Nobel), dan dikatakan dengan falsafah dan kalam? Setelah membuktikan dengan temuan-temuan astronomi moderen, begitu pula dalil-dalil dan argumen-argumen yang mantap, konsep waktu dari Newton dan Einstein, semuanya para failasuf dan mutakallim beralih ke usaha itu, menurut Craig, mendukung argumen memahami makna wujudnya Tuhan itu bagi kosmologi ilmu kalam tentang adanya Tuhan dan manusia, kemudian dikembangkan menjadi dalil- "personal", yang telah menciptakan alam raya ini: dalil dan argumen-argumen untuk mendukung kebenaran agama. Seperti ditegaskan oleh Ibn We have thus concluded to a personal Creator Rusyd dalam Fashl al-Maqal, kegiatan berfalsafah of the universe who exists changelessly and adalah benar-benar pelaksanaan perintah Allah independently prior to creation and in time dalam Kitab Suci. Maka, kata Ibn Rusyd, falsafah subsequent to creation. This ia a central core dan agama atau syariah adalah dua saudara of what theists mean by "God"...The kalam kandung, sehingga merupakan suatu kezaliman cosmological argument leads us to a personal besar jika antara keduanya dipisahkan. Hanya Creator of the universe..."(21) memang, kata Ibn Rusyd lagi, terdapat halangan (Dengan begitu kita telah menyimpulkan adanya agama yang karena ketidak-tahuannya memusuhi Khaliq yang personal bagi alam raya, yang ada falsafah, dan terhadap kalangan falsafah yang juga tanpa berubah dan berdiri sendiri sebelum karena ketidak-tahuannya memusuhi syariah. Ibn penciptaan alam dan dalam waktu sesudah Rusyd sendiri adalah seorang failasuf yang amat penciptaan itu. Inilah inti pusat apa yang oleh mendalami syariah. kaum teist dimaksudkan dengan "Tuhan"... 21  Ibid., h. 152.28
  • 35. Disiplin Ilmu Keislaman Tradisional: 3 Fiqh (Tinjauan Dari Segi Makna Kesejarahan)D ari empat disiplin Ilmu Keislaman Tradisional yang mapan yaitu ilmu fiqh (ilm al-fiqh),ilmu kalam (ilm al-kalam), ilmu tasawuf (ilm mendominasi pemahaman orang-orang Muslim akan agama mereka sehingga, karenanya, paling banyak membentuk bagian terpenting caraal-tashawwuf) dan falsafah (al-falsafah atau berpikir mereka. Kenyataan ini dapat dikembalikanal-hikmah),(1) fiqh adalah yang paling kuat kepada berbagai proses sejarah pertumbuhan 1  Dari empat disiplin ilmu keislaman tradisional itu masing- masyarakat Muslim masa lalu, juga kepada masing dapat diidentifikasikan sebagai berikut: ilmu fiqh sebagian dari inti semangat ajaran agama Islam merupakan disiplin dengan bidang garapan segi-segi eksoteris (lahiriah) agama, yaitu terutama aspek hukum dari amalan sendiri. keagamaan. Para ahli fiqh juga disebut ahl al-dhawahir Salah satu karakteristik historis agama Islam (kelompok eksoteris). Ilmu tasawuf memperhatikan segi-segi esoteris (kedalaman, kebatinan), dan para ahli tasawuf disebut ialah kesuksesan yang cepat luar biasa dalam ahl al-bawathin (kelompok esoteris). Ilmu kalam menggarap ekspansi militer dan politik.(2) Ada indikasi bahwa segi-segi rasional, namun tetap lebih mengutamakan wahyu, sedangkan falsafah menggarap segi-segi spekulatif dengan yang dalam peradaban Islam dikenal dengan ilmu mantiq kecenderungan kuat kepada metode interprestasi metaforis (lengkapnya, ilm al-manthiq al-aristhi). Al-Ghazali pun, kepada teks-teks suci. Dari keempatnya itu falsafah adalah yang terkenal telah berusaha merubuhkan falsafah, menaruh yang paling kontroversial, disebabkan persandarannya kepada kepercayaan besar kepada ilmu mantiq ini. filsafat Yunani yang amat jauh. Namun ada bagian dari 2  Seperti halnya dengan Nabi Musa a.s. dan beberapa Nabi filsafat yang diterima hampir universal di kalangan orang- yang lain, Nabi Muhammad dikenal dalam sosiologi agama orang Muslim, yaitu logika formal (silogisme) Aristoteles, sebagai "nabi bersenjata" (armed prophet). Tapi jauh
  • 36. ekspansi militer ke luar Jazirah Arabia itu mula- "daerah beradab" (Oikoumene, menurut sebutan mula dilakukan dalam keadaan terpaksa dan orang-orang Yunani kuna), yang membentang untuk tujuan pertahanan diri.(3) Tetapi dinamika dari Lautan Atlantik di barat sampai Gurun Gobi di gerakan perluasan itu kemudian seperti tidak timur. Sebuah kemaharajaan (empire) dunia telah dapat dikekang, dan dalam tempo amat singkat lahir dengan keluasan wilayah yang tidak pernah orang-orang Muslim menguasai sepenuhnya terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia. melampaui "prestasi" Nabi Musa a.s., Nabi Muhammad s.a.w. Disebabkan oleh ciri kekuasaan itu maka berhasil merampungkan hal-hal yang berlipatganda lebih besar dari yang dirampungkan oleh Nabi Musa dan generasi sejak dari semula, khususnya dikalangan kaum berikutnya sampai Nabi Daud a.s. Ketika Rasulullah wafat, Sunni, agama Islam dengan erat terkait dengan praktis seluruh Jazirah Arabia telah tunduk kepada Madinah, dan hanya selang beberapa tahun saja sesudah itu wilayah kemapanan politik. Di antara sekian banyak kekuasaan politik Islam meluas sampai meliputi daerah inti implikasinya ialah bahwa para pemimpin Islam, peradaban manusia saat itu. baik yang berada pada lingkungan kekuasaan 3  Salah satu yang mendorong orang-orang Muslim itu keluar Jazirah Arabia dan mengadakan bcrbagai ekspedisi militer maupun yang menekuni bidang pemikiran, banyak ialah karena berita-berita yang telah beredar saat-saat terakhir sekali disibukkan oleh usaha-usaha mengatur hidup Nabi bahwa orang-orang Byzantium yang telah merasa terancam oleh munculnya gerakan Islam itu telah menyiapkan masyarakat dan negara sebaik-baiknya. Ini pasukan yang sangat besar di perbatasan utara untuk mendorong kepada curahan perhatian yang luar menghancurkan masyarakat Islam. Bahkan sebelum wafatnya, biasa besar untuk menggali dan mengembangkan Rasulullah s.a.w. telah sempat mengirim ekspedisi militer ke sana. Ekspedisi yang dikirim Nabi itu kemudian ditafsirkan unsur-unsur dalam ajaran agama Islam yang sebagai semacam wasiat yang harus dilaksanakan, dan itulah berhubungan dengan masalah pengaturan permulaan sekalian ekspedisi dan ekspansi militer yang terjadi selanjutnya. masyarakat dan negara. Pangkal Pertumbuhan Fiqh Dari suatu segi, ilmu fiqh, seperti halnya dengan sebagai "hukum" seperti yang sekarang umum ilmu-ilmu keislaman lainnya, dapat dikatakan dipahami orang, maka akar "hukum" yang amat telah tumbuh semenjak masa Nabi sendiri. Jika erat kaitannya dengan kekuasaan itu berada "fiqh" dibatasi hanya kepada pengertiannya dalam salah satu peranan Nabi sendiri selama30
  • 37. beliau mengemban tugas suci kerasulan (risalah), hirarki sosial) dan yang bersifat universal (berlakukhususnya selama periode sesudah hijrah ke untuk semua orang, di semua tempat dan waktu).Madinah, yaitu peranan sebagai pemimpin Tetapi peranan Nabi dengan tugas kerasulanmasyarakat politik (Madinah) dan sebagai hakim (risalah) yang diembannya tidaklah hanyapemutus perkara.(4) bersangkutan dengan hal-hal kemasyarakatan Peranan Nabi sebagai pemutus perkara itu semata. Dalam kesanggupan menangkap dansendiri harus dipandang sebagai tak terpisahkan memahami serta mengamalkan keseluruhandari fungsi beliau sebagai utusan Tuhan. Seperti makna agama yang serba segi itu ialahhalnya dengan semua penganjur agama dan sesungguhnya letak perbaikan dan peningkatanmoralitas, Nabi Muhammad s.a.w. membawa nilai kemanusiaan seseorang. Inilah kurang lebihajaran dengan tujuan amat penting reformasi atau yang dimaksudkan Nabi ketika beliau bersabdapembabaruan dan perbaikan (ishlah)(5) kehidupan dalam sebuah hadits yang amat terkenal bahwamasyarakat. Berada dalam inti reformasi itu ialah jika Tuhan menghendaki kebaikan untuk seseorangaspirasi keruhanian (sebagai pengimbang aspirasi maka dibuatlah ia menjadi faqih (orang yangkeduniawian semata) yang populis (cita-cita paham) akan agamanya.(6) Demikian pula sebuahkeadilan dengan semangat kuat anti elitisme dan firman Ilahi yang tidak jauh maknanya dari hadits 4  Kedudukan Nabi sebagai hakim pemutus perkara ini antara itu, yang menegaskan hendaknya dalam setiap lain dikukuhkan dalam sebuah firman, Q., s. al-Nisa/4:65, masyarakat selalu ada kelompok orang yang "Maka demi Tuhanmu, mereka tidaklah beriman sehingga mereka berhakim kepadamu berkenaan dengan hal-hal melakukan tafaqquh (usaha memahami secara yang diperselisihkan antara mereka, kemudian mereka tidak mendalam) tentang agamanya. Diharapkan agar menemui kekerabatan dalam diri mereka atas keputusan yang para "Spesialis" ini dapat menjalankan peran telah kau ambil, dan mereka pasrah sepenuh-penuhnya." Firman ini dan lain-lainnya juga sering menjadi acuan sebagai sebagai sumber kekuatan moral (moral force) penegasan kewajiban mengikuti Nabi melalui Sunnah yang masyarakat.(7) Maka suatu masyarakat tumbuh ditinggalkan beliau. 5  Ini bisa dipahami dari firman Allah, Q. s. Hud/11:88, yang 6  Hadits yang terkenal mengatakan, "Barangsiapa Allah menuturkan Nabi Syuaib dalam pernyataannya kepada menghendaki kebaikan baginya, maka ia dibuat paham (fiqh) kaumnya; "Aku hanyalah menghendaki perbaikan (ishlah, dalam agama." reformasi) sedapatdapatku." 7  Q. s. al-Tawbah/9:122," Maka hendaknyalah pada setiap 31
  • 38. menjadi masyarakat hukum (legal society), simpul kepercayaan (al-aqaid) dan peribadatan (al- namun dasar strukturnya itu ialah hakikat suatu ibadat), maka diberikan secara terinci (mufashshal) masyarakat akhlaq (ethical society).(8) dengan rincian yang sempurna, serta dijelaskan Berkenaan dengan prinsip ini al-Sayyid Sabiq, dengan nas-nas yang serba meliputi. Karena itu misalnya, mengatakan bahwa Allah mengutus tidak seorang pun dibenarkan menambah atau Muhammad s.a.w. dengan kecenderungan suci mengurangi. Sedangkan hal-hal yang berubah yang lapang (al-hanifiyyat al-samhah). Rasulullah dengan perubahan zaman dan tempat, seperti s.a.w. bersabda bahwa "Agama yang paling disukai berbagai kemaslahatan sipil (al-mashalih al- Allah ialah al-hanifiyyat al-samhah." Kemudian madaniyyah) serta berbagai perkara politik dan kecenderungan suci yang lapang itu dilengkapi perang, maka diberikan secara garis besar (mujmal) dengan tata cara hidup praktis yang serba meliputi agar bersesuaian dengan kemaslahatan manusia (al-syariat al-jamiah). Namun dalam sifatnya yang di setiap masa, dan dengan ketentuan itu para menyeluruh itu masih dapat dikenali adanya dua pemegang wewenang (ulu al-amr, jamak dari wali hal yang berbeda: hal-hal parametris keagamaan al-amr, pemegang kekuasaan, yakni, pemerintah) yang tidak berubah-ubah, dan hal-hal dinamis, dapat mencari petunjuk dalam usaha menegakkan yang berubah menurut perubahan zaman dan kebenaran dan keadilan.(9) tempat: Maka ilmu fiqh dalam makna asalnya adalah ... Adapun hal-hal yang tidak berubah karena ilmu yang berusaha memahami secara tepat perubahan zaman dan tempat, seperti simpul- ketentuan-ketentuan terinci (al-mufashshalat) dan golongan dari mereka (orang-orang yang beriman) itu ketentuan-ketentuan garis besar (al-mujmalat) ada sekelompok orang yang tidak ikut (berperang) untuk dalam ajaran agama itu. Tentang hal-hal yang telah mendalami agama (tafaqquh), dan untuk dapat memberi peringatan kepada kaumnya bila mereka itu telah kembali terinci, dengan sendirinya tidak banyak kesulitan. (dari perang) agar mereka semuanya waspada." Dan waspada Tetapi tentang hal-hal yang bersifat garis besar, dalam hal ini, seperti taqwa, mengandung arti menjunjung tinggi moralitas. perbedaan penafsiran dan penjabarannya sering 8  Sebuah Hadits yang terkenal bahwa Nabi Muhammad bersabda, "Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan budi 9  Al-Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah (Kuwait: Dar al-Bayan, 1388 pekerti luhur." H/ 1968 M), j. 1, h. 13.32
  • 39. menjadi sumber kesulitan yang menimbulkan Muslim dalam fase perkembangan historis merekaberbagai perbedaan pendapat antara para pemikir yang paling formatif. Masa-masa Perkembangan Formatif Melalui masa-masa perkembangan formatifnya, ini diperlukan penyusunan hukum-hukumilmu fiqh memperoleh batasnya yang jelas. Sejalan pembalasan, dan inilah bagian uqubat dari ilmudengan yang telah dikemukakan di atas, batasan fiqh.(10)itu kurang lebih adalah: Dari definisi dan penjelasan tentang hakikat ... Fiqh ialah ilmu tentang masalah-masalah ilmu fiqh itu nampak dengan jelas titik beratsyaraiyah secara teoritis. Masalah-masalah fiqh itu orientasi fiqh kepada masalah pengaturan hidupberkenaan dengan perkara akhirat seperti hal- bersama manusia dalam tatanan sosialnya, yanghal peribadatan (ibadat) atau berkenaan dengan inti kerangka pengaturan itu ialah masalah-perkara dunia yang terbagi menjadi munakahat masalah hukum. Bahkan meskipun masalah-(tentang pernikahan), muamalat (tentang berbagai masalah ibadat juga termasuk ke dalam ilmu fiqhtransaksi dalam masyarakat) dan uqubat (tentang —justru merupakan yang pertama-tama dibahas—hukuman) namun cara pandang ilmu fiqh terhadap ibadat ...Demi terpeliharanya keadilan dan ketertiban pun tetap bertitikberatkan orientasi hukum. Dalamantara sesama manusia serta menjaga mereka hal ini terkenal pembagian hukum yang lima: wajibdari kehancuran maka diperlukanlah ketentuan- mandub, mubah, makruh dan haram. Disampingketentuan yang diperkuat oleh syariat berkenaan itu terdapat cara penilaian kepada sesuatu sebagaidengan perkara perkawinan, dan itulah bagian sah atau batal, yaitu dilihat dari kenyataan apakahmunakahat dari ilmu fiqh; kemudian berkenaan semua syarat dan rukunnya terpenuhi atau tidak.(11)dengan perkara peradaban dalam bentuk Telah dikemukakan bahwa situasi yanggotong-royong dan kerjasama, dan itulah bagianmuamalat dari ilmu fiqh; dan untuk memelihara 10  Majallat al-Ahkam al-Adliyyah (Beirut: Mathbaat Syiarku, 1388 H/1968 M, cetakan kelima), h. 15perkara peradaban itu agar tetap pada garisnya 11  Lihat catatan 1 di atas. 33
  • 40. mendesak orang-orang Muslim untuk 415 H [750-974 M]) usaha penyusunan sistematik menjabarkan melalui penalaran unsur-unsur dalam ilmu fiqh itu dan kodifikasinya berkembang ajaran Islam yang berkaitan dengan masalah menjadi seperti yang sebagian besar bertahan pengaturan masyarakat ialah adanya kekuasaan sampai sekarang.(13) politik yang sangat riil. Kekuasaan itu tidak saja Pada masa peralihan dari dinasti Umawiyah ke secara geografis meliputi daerah oikoumene yang dinasti Abbasiyah itu hidup seorang sarjana fiqh amat luas, tetapi juga secara demografis mencakup yang terkenal, Abu Hanifah (79-148 H [699-767 berbagai bangsa dan agama yang beraneka ragam. M]). Aliran pikiran (madzhab, school of thought) Desakan kepada penalaran itu kemudian juga Abu Hanifah terbentuk dalam lingkungan Irak kodifikasinya sesungguhnya sudah ada semenjak dan suasana pemerintahan Abbasiyah. Tetapi dari masa Dinasti Umawiyah (40-131 H [661-750 M].(12) masa dinasti Abbasiyah itu yang paling formatif Tetapi para penguasa Umawiyah di Damaskus itu bagi pertumbuhan ilmu fiqh, seperti juga bagi agaknya kurang tanggap terhadap desakan itu. pertumbuhan ilmu-ilmu yang lain, ialah masa Namun masa Umawiyah telah sempat melahirkan pemerintahan Harun al-Rasyid (168-191 H [786- usaha cukup penting ke arah penyusunan 809 M]). Pada masa pemerintahannya itu hidup sistematik ilmu fiqh dan kodifikasinya, dalam seorang teman dan murid Abu Hanifah yang hebat, konteks Syria dan sistem pemerintahan Umawi, Abu Yusuf Yaqub ibn Ibrahim (113-182 H [732-798 khususnya oleh tokoh al-Awzdi (wafat 155 H [774 M]). Harun al-Rasyid meminta kepada Abu Yusuf M]). Dan baru pada masa dinasti Abbasiyah (131- untuk menulis baginya buku tentang al-kharaj 12  Di antara para khalifah Umawiyah yang terkenal sangat saleh 13  Ketidakpuasan umum kepada ketidakacuhan orang-orang ialah Umar ibn Abd al-Aziz yang salah satu usahanya ialah Umawi dalam soal-soal keagamaan telah ikut mendorong mendamaikan pertikaian keagamaan antara kaum Sunni dan meletus dan berhasilnya Revolusi Abbasiyah yang didukung kaum Syii. Disebut-sebut bahwa yang sesungguhnya untuk oleh para agamawan itu. Meskipun dalam banyak hal, seperti pertama kali mendorong pembukuan Hadits, misalnya, adalah sikap memihak kepada golongan Sunni, kaum Abbasiyah tak Khalifah ini, yang telah memerintahkan usaha itu kepada berbeda dari kaum Umawiyah, tapi yang tersebut terdahulu antara lain al-Zuhrf. Lihat M.M. Azami, Studies in Early itu menunjukkan minat yang lebih besar kepada hal-hal Hadith Literature (Indianapolis: American Trust Publications, khusus keagamaan. Ini menciptakan suasana yang baik untuk 1978), h. 18. pengembangan ilmu-ilmu keagamaan, khususnya ilmu fiqh.34
  • 41. (semacam sistem perpajakan) menurut hukum karyanya itu, Abu Yusuf dengan tegas dan tandasIslam (fiqh). Abu Yusuf memenuhinya, tetapi buku menasehati dan memperingatkan Harun al-Rasyidyang ditulisnya dengan nama Kitab al-Kharaj untuk menjalankan amanat pemerintahannyaitu menjadi lebih dari sekedar membahas soal dengan adil, seperti yang telah dilakukan olehperpajakan, melainkan telah menjelma menjadi Umar).(15)usaha penyusunan sistematik dan kodifikasi 15  Kutipan dari Kitab al-Kharaj akan memberi gambaran yang jelas tentang nuktah ini:ilmu fiqh yang banyak ditiru atau dicontoh olehahli-ahli yang datang kemudian. Lebih jauh lagi, "... Sesungguhnya Amir al-Muminin —semoga Allah Taala meneguhkannya— telah meminta kepadaku untuk menulismenyerupai jejak pemikiran al-Awzai dari Syria di sebuah buku yang komprehensif dan meminta agar akumasa Umawiyah tersebut di atas, Abu Yusuf dalam menjelaskan untuknya hal-hal yang ia tanyakan kepadaku dari perkara yang hendak ia amalkan, serta agar aku menafsirkanKitdb al-Kharaj menyajikan kembali sistem hukum dan menjabarkannya. Maka benar-benar telah aku jelaskan halyang dipraktekkan di zaman Umawiyah, khususnya itu semua dan kujabarkan.sejak kekhalifahan Abd al-Malik ibn Marwan Wahai Amir al-Muminin, sesungguhnya Allah —segala puji bagi-Nya— telah meletakkan di atas suatu perkara yang(64-85 H [685-705 M]), yang dalam memerintah besar pahalanya adalah sebesar-besar pahala, dan siksanyaberusaha meneladani praktek Khalifah Umar ibn adalah sebesar-besar siksa. Allah telah meletakkan padamu urusan umat ini, maka engkau diwaktu pagi maupun petangal-Khaththab.(14) Oleh karena itu Kitab al-Kharaj membangun untuk orang banyak yang Allah telah menitipkanbanyak mengisahkan kembali kebijaksanaan mereka itu kepadamu, mempercayakan mereka kepadamu, menguji kamu dengan mereka itu, dan menyerahkanKhalifah Umar, yang agaknya juga dikagumi oleh kepadamu urusan mereka itu. Dan suatu bangunan tetapHarun al-Rasyid sendiri. (Dalam pengantar untuk saja —jika didasarkan kepada selain taqwa— akan dirusakkan Allah dari sendi-sendinya kemudian merobohkannya 14  Mungkin karena rasa pertentangan yang laten kepada para menimpa orang yang membangunnya sendiri dan orang lain pengikut Ali (kaum Syiah), kaum Umawiyah di Damaskus yang membantunya. Maka janganlah sekali-sekali menyia- banyak menaruh simpati kepada Umar ibn al-Khaththab, nyiakan urusan umat dan rakyat yang telah dibebankan Allah dan mengaku bahwa dalam menjalankan beberapa kepadamu ini, sebab kekuatan berbuat itu terjadi hanya seizin segi pemerintahannya mereka meneruskan tradisi yang Allah ..." Abu Yusuf Yaqub ibn Ibrahim, Kitab al-Kharaj ditinggalkan oleh Khalifah Rasul yang kedua itu. (Kairo: al-Mathbaat al-Salafiyyah, 1382 H, h. 3). Ushul al-Fiqh (I) 35
  • 42. Hampir semasa dengan Abu Hanifah di Irak tema aliran pikiran Hanafi yang dipelajari dari al- (Kufah), tampil pula Anas ibn Malik (715-795) Syaibani (wafat 186 H [805 M]), yaitu penggunaan di Hijaz (Madinah). Aliran pikiran Abu Hanifah analogi, dan mengembangkannya menjadi sebuah (madzhab Hanafi) banyak menggunakan teori yang sistematika dan universal tentang analogi (qiyas) dan pertimbangan kebaikan metode memahami hukum. umum (istishlah) dan tumbuh dalam lingkungan Dengan demikian maka al-Syafii berjasa pemerintah pusat, sama halnya dengan aliran meletakkan dasar-dasar teoritis tentang dua hal, pikiran al-Awzai di Syria (Damaskus) sebelumnya. yaitu, pertama, Sunnah, khususnya yang dalam Berbeda dengan keduanya itu, aliran pikiran Anas bentuk Hadits, sebagai sumber memahami hukum ibn Malik (madzhab Maliki) terbentuk oleh suasana Islam setelah al-Quran, dan, kedua, analogi atau lingkungan Hijaz, khususnya Madinah, yang sangat qiyas sebagai metode rasional memahami dan memperhatikan tradisi (sunnah) Nabi dan para mengembangkan hukum itu. Sementara itu, sahabatnya. konsensus atau ijma yang ada dalam masyarakat, Anas ibn Malik mempunyai seorang murid, yang kebanyakan bersumber atau menjelma yaitu Muhammad ibn Idris al-Syafii (wafat 204 H menjadi sejenis kebiasaan yang berlaku umum [820 M]. Al-Syafii meneruskan tema aliran pikiran (al-urf), juga diterima oleh al-Syafii, meskipun ia gurunya dan mengembangkannya dengan tidak pernah membangun teorinya yang tuntas. membangun teori yang ketat untuk menguji Dengan begitu pangkal tolak ilmu fiqh (ushul al- kebenaran sebuah laporan tentang sunnah, fiqh), berkat al-Syafii, ada empat, yaitu Kitab Suci, terutama tentang hadits yang diriwayatkan Sunnah Nabi, ijma dan qiyas. langsung dari Nabi. Tetapi al-Syafii juga menerima Hadits sebagai Sunnah Kitab Suci al-Quran telah dibukukan dalam oleh Utsman untuk seluruh Dunia Islam sebuah buku terjilid (mushhaf) sejak masa khalifah berdasarkan mushhaf peninggalan pendahulunya Abu Bakr (atas saran Umar) dan diseragamkan itu. Dalam hal ini Hadits berbeda dari al-Quran,36
  • 43. karena kodifikasinya yang metodologis (dengan Abdullah ibn Masud, yang dihubungkan denganotentifikasi menurut teori al-Syafii) baru dimulai Abu Bakr dituturkan demikian:sekitar setengah abad setelah al-Syafii sendiri.Pelopor kodifikasi metodologi itu ialah al-Bukhari "Bahwa (abu Bakr) al-Shiddiq mengumpulkan(wafat 256 H [870 M]), kemudian disusul oleh orang banyak setelah wafat Nabi mereka,Muslim (wafat 261 H [875 M]), Ibn Majah (wafat kemudian berkata, "Kamu semuanya273 H [886 M]), Abu Dawud (wafat 275 H [888 M]), menceritakan banyak hadits dari Rasulullahal-Turmudzi (wafat 279 H [892 M]) dan, akhirnya, al- s.a.w. yang kamu perselisihkan. Padahal manusiaNasai (wafat 308 H [916 M]). Mereka ini kemudian sesudahmu lebih banyak lagi perselisihan mereka.menghasilkan kodifikasi metodologis Hadits yang Maka janganlah kamu sekalian menceritakanselanjutnya dianggap bahan referensi utama di (hadits) sesuatu apa pun dari Rasulullah. Danbidang hadits, dan secara keseluruhannya dikenal jika ada orang bertanya kepada kamu, makasebagai al-Kutub al-Sittah (Buku yang Enam). katakanlah, Antara kami dan kamu ada Kitab Masa yang cukup panjang, yang ditempuh Allah, karena itu halalkanlah yang dihalalkannyaoleh proses pembukuan hadits sehingga dan haramkanlah yang diharamkannya."(16)menghasilkan dokumentasi yang dianggap finalitu —berbeda halnya dengan masalah al-Quran— Selain itu, al-Hudlari Bek juga menuturkanadalah disebabkan adanya semacam kontroversi adanya lima kasus yang mendorong periwayatanmengenai pembukuan hadits ini hampir sejak hadits, tiga diantaranya dikaitkan dengan Umardari masa Nabi sendiri. Al-Syaikh Muhammad al- dan dua lainnya masing-masing dengan Abu BakrHudlari Bek dalam bukunya yang terkenal, Tarikh dan Utsman. Yang dikaitkan dengan Abu Bakral-Tasyri al-Islami (Sejarah Penetapan Hukum dituturkan demikian:Syariat Islam) menyebutkan adanya delapan kasustindakan menghambat pencatatan hadits, lima di " ... Seorang wanita tua datang kepada Abu Bakrantaranya dihubungkan dengan Umar, dan tiga 16  Al-Syaikh Muhammad al-Hudlarf Bek, Tarikh al-Tasyri al-lainnya dengan masing-masing Abu Bakr, Ali, dan Islami (Beirut: Dar al-Fikr, 1387 H/1967 mO, h. 90-91. 37
  • 44. meminta keputusan mengenai waris. Maka hendak menuduhmu, tetapi aku ingin menjadi dijawabnya, "Tidak kudapati sesuatu apa pun mantap."(18) untukmu dalam Kitab Allah, dan tidak kuketahui bahwa Rasulullah s.a.w. menyebutkan sesuatu Oleh karena itu sesungguhnya sejak masa amat apa pun untukmu." Kemudian dia (Abu Bakr) dini pertumbuhan umat Islam telah ada catatan- bertanya kepada orang banyak, maka berdirilah catatan pribadi tentang hadits meskipun belum al-Mughirah dan berkata, "Aku dengar Rasulullah sistematis. Disebutkan bahwa Khalifah Abu Bakr s.a.w. memberinya seperenam." Lalu Abu Bakr sendiri mempunyai koleksi sekitar 400 hadits, dan bertanya, "Adakah seseorang bersamamu?" Maka Umar sendiri pernah terpikir untuk membuat Muhammad ibn Maslamah memberi kesaksian rencana besar untuk mengumpulkan semua tentang hal yang serupa, kemudian Abu Bakr r.a. hadits, sekurang-kurangnya dalam hafalan, yang pun melaksanakannya.(17) sering dia bacakan di Masjid Agung Kufah di masa kekhalifahannya. Abdullah ibn Amr ibn al-Ash Sedangkan yang terkait dengan Umar juga dilaporkan mengumpulkan banyak hadits dituturkan demikian: atas persetujuan Rasulullah sendiri, dan dituliskan dalam sebuah buku yang diberi nama al-Shahifat " ... Diriwayatkan bahwa Umar berkata kepada al-Shadiqah. Buku ini sempat beredar selama dua Ubay, dan dia ini telah meriwayatkan sebuah abad, kemudian sebagiannya dihimpun dalam hadits untuknya, "Engkau harus memberikan Musnad Ibn Hanbal.(19) bukti atas yang kau katakan itu!" Kemudian Sebelum adanya al-Kutub al-Sittah sebenarnya Umar keluar, ternyata ada sekelompok orang dari juga telah ada berbagai koleksi Hadits yang cukup golongan Anshar, maka disampaikanlah kepada sistematik, meskipun tanpa metode otentifikasi mereka ini. Mereka menyahut,"Kami benar telah al-Syafii. Selain Musnad Ibn Hanbal yang telah mendengar hal itu dari Rasulullah s.a.w." Maka kata Umar, "Adapun sesungguhnya aku tidaklah 18  Ibid., h. 93-94. 19  Majallat Kulliyyat al-Dirasat al-Islamiyyah (Baghdad: 17  Ibid., h. 93. Mathbat al Irsyad) NO. 2, 1388 H/1968 M, h. 119-120.38
  • 45. disebutkan itu, yang paling terkenal dari banyak Nabi) tidak menemukan rekaman tertulis (shahifah)koleksi itu ialah al-Muwaththa oleh Malik ibn Anas dari para sahabat, dan mereka itu mencatatdari Madinah. Hadits hanya jika ada permintaan dari penguasa Tetapi memang harus diakui bahwa seperti khalifah.(22) Karena itu menurut Rasyid Ridlamengenai persoalan Hadits ini, disebabkan oleh berbagai Hadits yang mengisyaratkan persetujuanmasalah proses pembukuannya yang sedikit- atau apalagi anjuran menuliskan Hadits adalahbanyak problematik itu, terdapat beberapa hal lemah dan dikemukakan hanya untuk tujuankontroversial sejak dari semula. Seorang tokoh tertentu saja.(23) Teori Rasyid Ridla ini dibantah olehpembaharu Islam di abad moderen dari Mesir, Muhammad Musthafa al-Adhami (M. M. Azmi)Rasyid Ridla, misalnya, menganut pandangan dengan data-data dan analisa yang lebih lengkap.(24)bahwa penulisan Hadits memang pada mulanya Tetapi Rasyid Ridla hanya salah satu dari banyakdibenarkan (oleh Nabi atau para khalifah sarjana yang mempersoalkan kedudukan Hadits.(25)pertama), tetapi kemudian dilarang.(20) Sebabnya Telah disebutkan bahwa al-Syafii adalah sarjanaialah, menurut teori Rasyid Ridla, Nabi tidak yang paling besar jasanya dalam meletakkan teorimemaksudkan Hadits-hadits itu sebagai sumber tentang kritik dan otentifikasi catatan Hadits. Jalanhukum yang abadi atau pun sebagai bagian dari pikiran al-Syafii kemudian diikuti oleh para pemikiragama.(21) Karena itu kemudian Nabi melarang di bidang fiqh yang datang kemudian, khususnyamenuliskan Hadits, yang larangan itu, menurut Ahmad ibn Hanbal (wafat 234 H [855 M]). SebagaiRasyid Ridla ditaati oleh para sahabatnya, pengembangan lebih lanjut teori al-Syafii, alirankhususnya para khalifah empat yang pertama. pikiran Hanbali mempunyai ciri kuat sangatBahkan mereka ini katanya, dengan keras 22  Azami, h. 24, mengutip Rasyid Ridla, 768.menentang penulisan itu. Para Tabiun (orang- 23  Azami, h. 24, mengutip Rasyid Ridla, 765-6.orang Muslim dari generasi sesudah para sahabat 24  Lihat Azami, h. 25, dan bab III untuk pembahasan ini. 25  Kritik terhadap pembukuan Hadits juga dilakukan oleh antara lain Chirargh Ali dari anak benua India, juga oleh para 20  Azami, Early Hadith, h. 24, mengutip dari Rasyid Ridla, orientalis seperti Joseph Schacht yang banyak mengundang Review on Early Compilation, al-Manar, x, 767. reaksi dari para sarjana Muslim disebabkan baik metodologi 21  Azami, h. 24, mengutip Rasyid Ridla, 768. maupun kesimpulannya yang terlalu jauh. 39
  • 46. menekankan pentingnya Hadits yang dipilih Metode ijma pun mengandung persoalan. secara seksama. Tetapi, tanpa menolak metode Sekurang-kurangnya Ibn Taimiyyah berpendapat analogi atau qiyas, aliran Hanbali cenderung bahwa ijma hanyalah yang terjadi di zaman salaf, mengutamakan Hadits, biarpun lemah, atas yaitu zaman Nabi sendiri, para sahabat dan para analogi, biarpun kuat, Mazhab Hanbali mempunyai tabiun.(27) teori tersendiri tentang analogi. Sebagaimana Jawziyyah, al-Qiyas fi al-Syar al-Islami (Kairo: Mathbaat al-Salafiyyah, 1346 H). dijabarkan oleh salah seorang tokohnya yang 27  Lihat Ibn Taimiyyah, al-Muntaqa min Mintaj al-Itidal terbesar, Ibn Taimiyyah (wafat 728 H [1318 M7).(26) (ringkasan. Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah yang dibuat oleh al-Dzahabi) (Kairo: Mathbat al-Salafiyyah, 1374 H), h. 26  Lihat antara lain Ibn Taimiyyah dan Ibn Qayyim al- 66-7. Ushul al-Fiqh (II) Istilah ushul al-fiqh, selain digunakan untuk perkara tergantung kepada maksudnya. menunjuk Kitab Suci, Sunnah Nabi, Ijma dan 1. Segala perkara tergantung kepada Qiyas sebagai sumber-sumber pokok pemahaman maksudnya. hukum dalam Islam, juga digunakan untuk 2. Yang diketahui dengan pasti tidak dapat menunjuk kepada metode pemahaman hukum hilang dengan keraguan. itu seperti dikembangkan oleh al-Syafii. Ushul 3. Pada dasarnya sesuatu yang telah ada al-fiqh dalam pengertian ini dapat dipandang harus dianggap tetap ada. sebagai sejenis filsafat hukum Islam karena sifatnya 4. Pada dasarnya faktor aksidental adalah yang teoretis. Ia membentuk bagian dinamis tidak ada. dari keseluruhan ilmu fiqh, dan dibangun di atas 5. Sesuatu yang mapan dalam suatu zaman dasar prinsip rasionalitas dan logika tertentu. harus dinilai sebagai tetap ada kecuali jika Karena pentingnya ushul al-fiqh ini, maka di ada petunjuk yang menyalahi prinsip itu. sini dikemukakan beberapa rumus terpenting 6. Kesulitan membolehkan keringanan. berkenaan dengan hukum dalam Islam:Segala 7. Segala sesuatu bisa menyempit, meluas,40
  • 47. dan sebaliknya. bahayanya. 8. Keadaan darurat membolehkan hal-hal 12. Menghindari keburukan lebih utama terlarang. daripada mencari kebaikan. 9. Keadaan darurat harus diukur menurut 13. Pembuktian berdasar adat sama dengan sekadarnya. pembuktian berdasar nas. 10. Sesuatu yang dibolehkan karena suatu 14. Adat dapat dijadikan sumber hukum. alasan menjadi batal jika alasan itu hilang. 15. Sesuatu yang tidak didapat semuanya, 11. Jika dua keburukan dihadapi, maka harus tidak boleh ditinggalkan semuanya. dihindari yang lebih besar bahayanya 16. Ada-tidaknya hukum tergantung kepada dengan menempuh yang lebih kecil illat (alasan)-nya.(28) 28  Lihat Majallat al-Ahkam al-Adliyyah, h. 16-18. Penutup Telah disebutkan pada bagian permulaan hukum dan aturan di kalangan orang-orangbahwa ilmu fiqh adalah cabang disiplin Muslim. Disebutkan bahwa salah satu yangkeilmuan tradisional Islam yang paling banyak menarik pada agama Islam sehingga orang-orangmempengaruhi cara pandang orang-orang Muslim Muslim dalam pergaulan sehari-hari (muamalat)dan pemahaman mereka kepada agama mereka. sangat mementingkan kepastian hukum,Karena itu literatur dalam ilmu fiqh adalah yang sehingga terdapat keteraturan dan predictability.paling kaya dan paling canggih. Ini khususnya penting di kalangan masyarakat Disebabkan oleh kuatnya orientasi fiqh itu perdagangan.(29)maka masyarakat Islam dimana saja mempunyai 29  Banyak buku tentang ushul al-fiqh ditulis para ahli, antaraciri orientasi hukum yang amat kuat. Kesadaran lain yang amat praktis oleh Abd al-Hamid Hakim, Mabadi Awwaliyyah (Padang-Panjang). Juga bisa disebut karya yangakan hak dan kewajiban menjadi tulang punggung lebih teoritis oleh Abd al-Wahhab al-Khallaf, Ilm Ushupendidikan Islam tradisional, dan itu pada al-Fiqh (Kuwait: al-Dar al-Kuwaitiyyah, 1388 H/1968 M). Tentu saja dari masa klasik ialah karya al-Syafii, al-Risalahurutannya tercermin dalam kuatnya kepastian (lih. terjemah Indonesianya). 41
  • 48. Selanjutnya, beberapa unsur cita-cita pokok merisaukan, karena tidak jarang terjerembab ke Islam berkenaan dengan kemasyarakatan juga dalam intuisisme pribadi yang sangat subyektif. lebih nampak pada ilmu fiqh. Prinsip persamaan Maka agaknya benarlah al-Ghazali yang hendak manusia (egalitarianisme) tampil kuat sekali menyatukan itu semua dalam suatu disiplin ilmu dalam ilmu fiqh, dalam bentuk penegasan atas keagamaan yang menyeluruh dan padu. persamaan setiap orang di hadapan hukum. Maka terkait dengan itu juga prinsip keadilan. Hal ini berbeda, misalnya, dengan ilmu tasawuf, khususnya yang berbentuk gerakan tarekat atau sufisme populer, yang sering memperkenalkan susunan sosial yang hirarkis, dengan otoritas keruhanian pimpinan yang menegaskan. Ilmu fiqh juga mempunyai kelebihan atas ilmu kalam, apalagi falsafah, dalam hal bahwa orientasi alamiahnya (praxis) sangat ditekankan. Sementara kalam dan falsafah sangat teoretis, malah spekulatif. Karena itu banyak gerakan reformasi sosial dalam Islam yang bertitik tolak dari doktrin- doktrin fiqh. Tetapi, disebabkan oleh wataknya sendiri, ilmu fiqh menunjukkan kekurangan, yaitu titik beratnya yang terlalu banyak kepada segi-segi lahiriah. Di bidang keagamaan, eksoterisisme ini lebih-lebih merisaukan, sehingga muncul kritik- kritik, khususnya dari kaum Sufi. Tapi orientasi kedalaman (esoterisisme) kaum Sufi juga sering42
  • 49. Kekuatan dan Kelemahan Paham Asyari 4 Sebagai Doktrin Aqidah IslamiahP okok pembicaraan kita ialah paham Asyari dalam tinjauan segi kekuatan dankelemahannya. Tetapi meskipun pembicaraan karena Islam di Indonesia bermazhab Syafii dan seperti di mana-mana, kaum Syafii kebanyakan menganut aqidah Asyari. Ini berbeda denganini menyangkut penilaian kritis terhadap paham kaum Sunni bermazhab Hanafi (di Asia Daratan)itu, namun kritik itu an sich tidaklah menjadi yang kebanyakan menganut aqidah Maturidi, dantujuannya. Pembicaraan kita bertolak pada usaha dari kaum Sunni bermazhab Hanbali (di Arabia)untuk mengenali segi-segi positif paham itu dan yang tidak menganut Asyari maupun Maturidi,mencari jalan bagaimana mengembangkannya melainkan mempunyai aliran sendiri khas Hanbali.agar dapat menjadi suatu sumbangan kepada Pembela paling tegas paham Sunnah (lengkapnya,tantangan hidup masa kini. Juga dengan Ahl Sunnah wa al-Jamaah — baca: "Ahlusunnahsendirinya pada usaha mengenali segi-segi waljamaah") di negeri kita, yaitu Nahdlatul Ulama,negatifnya serta sedapat mungkin menemukan dalam muktamarnya di Situbondo akhir 1984jalan untuk menghindari atau menghilangkannya. yang lalu merumuskan dan menegaskan bahwa Relevansi pembicaraan ini ialah bahwa paham Sunnah ialah paham yang dalam aqidahsebagian besar kaum Muslimin Indonesia, jika menganut al-Asyari atau al-Maturidi. Sedangkantidak seluruhnya, menganut paham Asyari kelompok-kelompok lain, seperti Muhammadiyahdi bidang aqidah. Pertama, karena Islam di sebagai yang pertama-tama dan terbesar, yangIndonesia beraliran Sunni, sehingga tidak biasanya oleh Nahdlatul Ulama dipandangmenganut aqidah Syiah atau Mutazilah. Kedua, sebagai tidak tegas berpaham Ahl al-Sunnah wa
  • 50. al jamaah (namun sebenarnya dalam banyak hal ibn Abd-al-Wahhab, terhadap beberapa segi malah sangat Sunni), juga masih tetap menganut paham Asyari itu. Maka membicarakan paham al-Asyari dalam aqidah, tanpa banyak mengambil Asyari berarti membicarakan pandangan alih kritik para pemikir modernis Islam seperti kepercayaan agama yang paling kuat dan luas di Muhammad Abduh, ataupun pemikir reformis negeri kita. seperti Ibn Taymiyyah dan, apalagi, Muhammad Imam al-Asyari Jika disebut paham Asyari, kita maksudkan sudah konsolidasi paham Sunnah itu, yaitu dengan keseluruhan penjabaran simpul (aqidah) atau penalaran ortodoksnya di bidang keimanan atau simpul-simpul (aqaid) kepercayaan Islam dalam aqidah. Ilmu Kalam yang bertitik tolak dari rintisan seorang Penalaran al-Asyari disebut ortodoks karena tokoh besar pemikir Islam, Abu al-Hasan Ali lebih setia kepada sumber-sumber Islam sendiri al-Asyari dari Basrah, Iraq, yang lahir pada 260 seperti Kitab Allah dan Sunnah Nabi daripada H./873 M. dan wafat pada 324 H./935 M. Jadi dia penalaran kaum Mutazilah dan para Failasuf. tampil sekitar satu abad setelah Imam al-Syafii Meskipun mereka ini semuanya, dalam analisa (wafat pada 204 H./819 M.), atau setengah abad terakhir, harus dipandang secara sebenarnya setelah al-Bukhari (wafat pada 256 H./870 M.) dan tetap dalam lingkaran Islam, namun, dalam hidup beberapa belas tahun sezaman dengan pengembangan argumen-argumen bagi paham pembukuan hadits yang terakhir dari tokoh yang yang mereka bangun, mereka sangat banyak enam, yaitu al-Tirmidzi (wafat pada 279 H./892 M.). menggunakan bahan-bahan falsafah Yunani. Dengan kata lain, al-Asyari tampil pada saat-saat Banyaknya penggunaan bahan falsafah Yunani itu konsolidasi paham Sunnah di bidang hukum atau memberi ciri pokok pemikiran kaum Mutazilah fiqh, dengan pembukuan hadits yang menjadi dan para Failasuf sehingga mereka melakukan bagian mutlaknya, telah mendekati penyelesaian. pendekatan tawil atau interpretasi metaforis Dan penampilan al-Asyari membuat lengkap terhadap teks-teks dalam Kitab dan Sunnah yang44
  • 51. mereka anggap mutashabihat karena, misalnya, al-Asyari menggunakan argumen-argumenmengandung deskripsi tentang Tuhan yang logis dan dialektis ia peroleh dari latihan danantropomorfis (Tuhan menyerupai manusia seperti pendidikannya sendiri sebagai seorang Mutazili.punya tangan, mata, bertahta di atas Singgasana Ia memang kemudian, pada usia empat puluhatau Arasy, bersifat senang atau ridla, murka atau tahun, menyatakan diri lepas dari paham lamanya,ghadlab, dendam atau intiqam, terikat waktu dan bergabung dengan paham kaum Hadits (Ahlseperti menunggu atau intidhar, dan seterusnya). al-Hadits) yang dipelopori kaum Hanbali, yangDisebabkan kuatnya peranan dan unsur logika dan bertindak sebagai pemegang bendera ortodoksi,dialektika dalam penalaran kaum Mutazilah dan sehingga sering diisyaratkan sebagai kaum Sunnipara Failasuf ini, maka sistem mereka disebut Ilmu par excellence. Namun al-Asyari nampak tidakKalam, yakni, Ilmu Logika atau Dialektika. Maka jika mungkin melepaskan diri sepenuhnya dari metodepenalaran mereka itu merupakan sebuah teologi, logis dan dialektis, yang kali ini ia gunakan justrulebih tepat disebut Teologi Rasional, Teologi untuk mendukung dan membela paham AhlDialektis atau Teologi Spekulatif, kadang-kadang al-Hadits. Disebabkan oleh metodologinya itudisebut Teologi Skolastik, juga disebut Teologi mula-mula al-Asyari tetap mencurigakan bagiAlami (Natural Teology), bahkan Teisme Falsafati kaum Hadits pada umumnya, sehingga ia merasa(Philosophical Theism).(1) perlu membela diri melalui sebuah risalahnya Tetapi penggunaan argumen-argumen logis yang sangat penting, Istihsan al-Khawdl fi Ilmdan dialektis tidak terbatas hanya kepada kaum al-Kalam ("Anjuran untuk Mendalami Ilmu Kalam",Mutazilah dan para Failasuf saja. Kaum Asyari yakni, Ilmu Logika). Karena ilmu logika formal,juga banyak menggunakannya, meskipun metode atau silogisme, dipelajari orang-orang Muslimtawil yang menjadi salah satu akibat penggunaan dari Aristoteles (maka dalam bahasa Arab disebutitu hanya menduduki tempat sekunder dalam secara lengkap sebagai al-manthiq al-aristhi, logikasistem Asyari. Kemampuan Abu al-Hasan Ali Aristoteles), pemikiran Ilmu Kalam adalah juga dengan sendirinya bersifat Aristhi atau Aristotelian, 1  William Lane Craig, The Kalam Cosmological Argument dengan ciri utama pendekatan rasional-deduktif. (New York: Barnes & Noble, 1979), h. 4. 45
  • 52. (Segi ini pada umumnya, dan segi-segi tertentu Muslim seluruh dunia, paham Asyari adalah konsep dalam Kalam pada khususnya, merupakan identik dengan paham Sunni, dan, lebih dari alasan kritik dan penolakan oleh kaum Hanbali atas itu, bahkan Ilmu Kalam pun sekarang menjadi Kalam, termasuk yang dikembangkan oleh kaum hampir terbatas hanya kepada metode penalaran Asyari, dengan kontroversi dan polemik yang Asyari. Maka dilihat dari kadar penerimaannya masih berlangsung sampai hari ini). oleh sedemikian besar kaum Muslim, dan dari Walaupun demikian, sungguh sangat menarik bagaimana penerimaan itu melintasi batas-batas bahwa dalam pergumulan pemikiran yang sengit kemazhaban dalam fiqh, paham Asyari adalah di bidang teologi itu akhirnya Imam Abu al-Hasan paham yang paling luas menyebar dalam Dunia Ali al-Asyari dari Basrah tersebut memperoleh Islam, sehingga al-Asyari bisa disebut sebagai kemenangan besar, jika bukan terakhir atau final. pemikir Islam klasik yang paling sukses. Tidak ada Ini terutama sejak tampilnya Imam al-Ghazali tokoh pemikir dalam Islam yang dapat mengklaim sekitar dua abad setelah al-Asyari, yang dengan sedemikian banyak penganut dan sedemikian luas kekuatan argumennya yang luar biasa, disertai pengaruh buah pikirannya seperti Abu al-Hasan Ali contoh kehidupannya yang penuh zuhud, al-Asyari. Maka sebutan yang paling umum untuk mengembangkan paham Asyari menjadi standar tokoh ini ialah Syaykh Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah, paham Ortodoks atau Sunni dalam aqidah. sebagaimana senantiasa digunakan pada lembaran Karena itu, seperti telah disinggung di atas, pada judul karya-karyanya yang cukup banyak dan kini saat sekarang ini, untuk sebagian besar kaum telah diterbitkan. Beberapa Inti Pokok Paham Asyari Sesungguhnya letak keunggulan sistem Asyari tidaklah menggunakannya sebagai kerangka atas lainnya ialah segi metodologinya, yang kebenaran itu an sich (seperti terkesan hal itu ada dapat diringkaskan sebagai jalan tengah antara pada para Failasuf), melainkan sekedar alat untuk berbagai ekstremitas. Maka ketika menggunakan membuat kejelasan-kejelasan, dan itu pun hanya metodologi manthiq atau logika Aristoteles, ia dalam urutan sekunder. Sebab bagi al-Asyari,46
  • 53. sebagai seorang pendukung Ahl al-Hadits, yang dahulu al-Asyari menuturkan paham Ahl al-Haditsprimer ialah teks-teks suci sendiri, baik yang dari seperti yang ada pada kaum Hanbali, kemudianKitab maupun yang dari Sunnah, menurut makna mengakhirinya dengan penegasan bahwa iaharfiah atau literernya. Oleh karena itu kalaupun mendukung paham itu dan menganutnya. Untukia melakukan tawil, ia lakukan hanya secara memperoleh gambaran yang cukup lengkapsekunder pula, yaitu dalam keadaan tidak bisa lagi tentang hal yang amat penting ini, di sini dikutipdilakukan penafsiran harfiah. Hasilnya ialah suatu beberapa persoalan mendasar dari keterangan al-jalan tengah antara metode harfi kaum Hanbali Asyari yang dimaksud:dan metode tawili kaum Mutazili. Di tengah- Keseluruhan yang dianut para pendukungtengah berkecamuknya dengan hebat polemik dan Hadits dan Sunnah ialah: mengakui adanya Allah,kontroversi dalam dunia intelektual Islam saat itu, para malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, dan semuametode yang ditempuh al-Asyari ini merupakan yang datang dari sisi Allah dan yang dituturkanjalan keluar yang memuaskan banyak pihak. Itulah oleh para tokoh terpercaya berasal dari Rasulullahalasan utama penerimaan paham Asyari hampir s.a.w., tanpa mereka menolak sedikit pun juga darisecara universal, dan itu pula yang membuatnya itu semua. Dan Allah —Subhanahu— adalah Tuhanbegitu kukuh dan awet sampai sekarang. Yang Maha Esa, Unik (tanpa bandingan), tempat Meskipun begitu, inti pokok paham Asyari bergantung semua makhluk, tiada Tuhan selainialah Sunnisme. Hal ini ia kemukakan sendiri dalam Dia, tidak mengambil isteri, tidak juga anak; danbukunya yang sangat bagus dan sistematis, yaitu bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya;Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin dan bahwa surga itu nyata, neraka itu nyata, dan("Pendapat-pendapat Kaum Islam dan Perselisihan hari kiamat pasti datang tanpa diragukan lagi,Kaum Bersembahyang"), sebuah buku heresiografi dan bahwa Allah membangkitkan orang yang ada(catatan tentang berbagai penyimpangan atau dalam kubur.bidah) dalam Islam yang sangat dihargai karena Dan bahwa Allah —subhanahu— ada di ataskejujuran dan obyektifitas dan kelengkapannya. Arasy (Singgasana), sebagaimana difirmankanDalam meneguhkan pahamnya sendiri, terlebih (Q., 20:5), "Dia Yang Maha Kasih, bertahta di atas 47
  • 54. Singgasana"; dan bahwa Dia mempunyai dua difirmankan oleh Dia Yang Maha Tinggi dan Maha tangan tanpa bagaimana (bi la kayfa) sebagaimana Agung (Q., 81:29), "Dan kamu (manusia) tidaklah difirmankan (Q., 37:75), "Aku menciptakan dengan (mampu) menghendaki sesuatu jika tidak Allah kedua tangan-Ku", dan juga firmanNya (Q., 5:64), menghendakinya", dan sebagaimana diucapkan "Bahkan kedua tangan-Nya itu terbuka lebar"; dan oleh orang-orang Muslim, "Apa pun yang Dia itu mempunyai dua mata tanpa bagaimana, dikehendaki Allah akan terjadi, dan apa pun yang sebagaimana difirmankan (Q., 54:14), "Ia (kapal) tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi." itu berjalan dengan mata Kami"; dan Dia itu Mereka juga berpendapat bahwa tidak seorang mempunyai wajah, sebagaimana difirmankan (Q., pun mampu melakukan sesuatu sebelum Dia 55:27), "Dan tetap kekallah Wajah Tuhanmu Yang (Allah) melakukannya, juga tidak seorang pun Maha Agung dan Maha Mulia." mampu keluar dari pengetahuan Allah, atau Dan nama-nama Allah itu tidak dapat dikatakan melakukan sesuatu yang Allah mengetahui bahwa sebagai lain dari Allah sendiri seperti dikatakan ia tidak melakukannya. oleh kaum Mutazilah dan Khawarij. Mereka Mereka mengakui bahwa tidak ada Pencipta (Ahl al-Sunnah) juga mengakui bahwa pada selain Allah, dan bahwa keburukan para hamba Allah —subhanahu— ada pengetahuan (ilm), (manusia) diciptakan oleh Allah, dan bahwa sebagaimana difirmankan (Q., 4:166), "Diturunkan- semua perilaku manusia diciptakan Allah azza Nya ia (al-Quran) dengan pengetahuanNya", dan wa jalla, dan bahwa manusia itu tidak berdaya juga firman-Nya (Q., 35:11), "Dan tidaklah ia (wanita) menceritakan sedikit pun dari padanya. mengandung (bayi) perempuan, juga tidak Dan bahwa Allah memberi petunjuk kepada melahirkannya, kecuali dengan pengetahuan- kaum beriman untuk taat kepada-Nya, serta Nya."... menghinakan kaum kafir. Allah mengasihi kaum Mereka (Ahl al-Sunnah) juga berpendapat beriman, memperhatikan mereka, membuat bahwa tidak ada kebaikan atau keburukan di bumi mereka orang-orang saleh, membimbing mereka, kecuali yang dikehendaki Allah, dan segala sesuatu dan Dia tidak mengasihi kaum kafir, tidak membuat terjadi dengan kehendak Allah, sebagaimana mereka saleh, serta tidak membimbing mereka.48
  • 55. Seandainya Allah membuat mereka saleh, tentulah Selanjutnya al-Asyari menuturkan pokok-pokokmereka menjadi saleh, dan seandainya Allah pandangan Sunni lainnya seperti bahwa al-Quranmembimbing mereka tentulah mereka menjadi adalah kalam Ilahi yang bukan makhluk, bahwaberpetunjuk. kaum beriman akan melihat Allah di surga "seperti Dan Allah —subhanahu— berkuasa membuat melihat bulan purnama di waktu malam", bahwaorang-orang kafir itu saleh, mengasihi mereka Ahl al-Qiblah (orang yang melakukan sembahyangsehingga menjadi beriman; tetapi Dia berkehendak dengan menghadap kiblat di Makkah) tidak bolehuntuk tidak membuat mereka saleh dan (tidak) dikafirkan meskipun melakukan dosa besar sepertimengasihi mereka sehingga menjadi beriman, mencuri dan zina, bahwa Nabi akan memberimelainkan Dia berkehendak bahwa mereka itu kafir syafaat kepada umatnya, termasuk kepadaadanya seperti Dia ketahui, menghinakan mereka, mereka yang melakukan dosa-dosa besar, bahwamenyesatkan mereka dan memateri hati mereka. iman menyangkut ucapan dan perbuatan yang Dan bahwa baik dan buruk dengan keputusan kadarnya bisa naik dan turun, bahwa nama-nama(qadla) dan ketentuan (qadar) Allah, dan mereka Allah adalah Allah itu sendiri (bukan sesuatu(Ahl al-Sunnah) beriman kepada qadla dan qadar yang wujudnya terpisah), bahwa seseorangAllah itu, yang baik dan yang buruk, serta yang yang berdosa besar tidak mesti dihukumi masukmanis dan yang pahit. Mereka juga beriman bahwa neraka, sebagaimana seseorang yang bertauhidmereka tidak memiliki pada diri mereka sendiri tidak mesti dihukumi masuk surga sampai Allah(memberi) manfaat atau madarat, kecuali dengan sendiri yang menentukan, dan bahwa Allahyang dikehendaki Allah, sebagaimana difirmankan- memberi pahala kepada siapa yang dikehendakiNya, dan mereka (Ahl al-Sunnah) itu menyerahkan dan memberi siksaan kepada siapa saja yangsegala perkaranya kepada Allah —subhanahu— dikehendaki, bahwa apa saja yang sampai kedan mengakui adanya kebutuhan kepada Allah tangan kita dari Rasulullah s.a.w. melalui riwayatdalam setiap waktu serta keperluan kepada-Nya yang handal harus diterima, tanpa boleh bertanya:dalam setiap keadaan.(2) Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, edisi Muhammad Muhy- al-Din Abd-al Hamid 2 jilid (kairo: Maktabat al-Nahdlat 2  Abd al-Hasan Ali ibn Ismail al-Asyari, Maqalat al- al-Mishriyyah, 1969), jil, 1, hh. 345-50. 49
  • 56. "Bagaimana?" ataupun "Mengapa?", karena jahat (fajir). semuanya itu bidah. Disebutkan pula bahwa kaum Sunni Juga bahwa Allah tidak memerintahkan mempercayai akan munculnya Dajjal di kejahatan, melainkan melarangnya; dan Dia akhir zaman, dan bahwa Isa al-Masih akan memerintahkan kebaikan dengan tidak meridlai membunuhnya. Lalu ditegaskannya pula bahwa kejahatan, meskipun Dia menghendaki kejahatan Ahl al-Sunnah itu berpendapat harus menjauhi itu. setiap penyeru bidah; harus rajin membaca Dan bahwa keunggulan para sahabat Nabi al-Quran, mengkaji Sunnah dan mempelajari seperti manusia pilihan Allah harus diakui, dengan fiqh dengan rendah hati, tenang, dan budi yang menghindarkan diri dari pertengkaran tentang baik; harus berbuat banyak kebaikan dan tidak mereka, besar maupun kecil, dan bahwa urutan menyakiti orang; harus meninggalkan gunjingan, keunggulan Khalifah yang empat ialah pertama- adu domba dan umpatan, dan terlalu mencari-cari tama Abu Bakr, kemudian Umar, disusul Utsman, makan dan minum! dan diakhiri dengan Ali. Demikian kutipan sebagian dari keterangan Selanjutnya, menurut al-Asyari, paham Sunni al-Asyari yang panjang-lebar. Pada akhir juga mengharuskan taat mengikuti imam atau keterangannya itu, al-Asyari menyatakan: "Dan pemimpin, dengan bersedia bersembahyang kita pun berpendapat seperti semua pendapat sebagai mamum di belakang mereka, tidak peduli yang telah kita sebutkan itu, dan kepadanyalah kita apakah mereka itu orang baik (barr) ataupun orang bermazhab."(3) 3  Ibid., h. 350. Alur Argumen Kalam Asyari Disamping menuturkan aqidah Ahl Al-Sunnah dialektisnya sebagaimana ia pelajari dari para guru yang kemudian ia nyatakan sebagai ia ikuti sendiri Mutazilah. Dan pengembangannya oleh al-Asyari, itu, al-Asyari, seperti telah disinggung di depan, yang kemudian lebih dikembangkan lagi oleh juga mengembangkan alur argumen logis dan para pengikutnya, terutama al-Ghazali, menjadi50
  • 57. tumpuan kekuatan paham Asyari itu sebagai lain) semuanya saling berlawanan, namun kitadoktrin dalam aqidah Islamiah kaum Sunni. Praktis dapati dalam kenyataan tergabung (murakkab);semua nuktah kepercayaan dalam Islam ia dukung penggabungan itu memerlukan sebab, yaitudengan argumen-argumen logis dan dialektis, Pencipta.sebagian bahkan tidak lagi merupakan kelanjutan (2) Argumen dari pengalaman: Penciptaan dariargumen yang telah ada sebelum dia sendiri, ketiadaan (al-ijad min al-adam, creatio ex nihilo)melainkan menjadi kontribusinya yang orisinal tidaklah berbeda dari pengalaman kita, sebab,dalam pemikiran Keislaman. melalui perubahan, bentuk lama hilang dan bentuk Sebagaimana halnya dengan setiap baru muncul dari ketiadaan.pembahasan teologis, pusat argumentasi Kalam (3) Argumen dari adanya akhir untuk gerak,Asyari berada pada upayanya untuk membuktikan waktu, dan obyek-obyek temporal: gerak tidakadanya Tuhan yang menciptakan seluruh jagad mungkin berasal dari masa tak berpermulaan,raya, dan bahwa jagad raya itu ada karena sebab mustahil bagi gerak itu mundur dalamdiciptakan Tuhan "dari ketiadaan" (min al-adam, waktu secara tak terhingga (tasalsul, infinite,ex nihilo). Karena tidak mungkin memaparkan temporal regress), sebab bagian yang terhinggakeseluruhan argumen Kalam itu, maka di sini tidak mungkin ditambahkan satu sama lain untukdikutipkan penjelasan sarjana Muslim moderen, al- menghasilkan keseluruhan yang tak terhingga;Alousi, tentang argumen Kalam berkenaan dengan karena itu jagad dan gerak tentu mempunyaipenciptaan alam raya ini. Menurut al-Alousi, ada permulaan. Atau lagi, gerak tidak mungkin adaenam argumen yang digunakan para tokoh Ilmu dari awal tanpa permulaan (azal, eternity), sebabKalam untuk membuktikan tidak abadinya alam mustahil bagi gerak itu mundur dalam wakturaya: secara tak terhingga, karena sesuatu yang tak (1) Argumen dari sifat berlawanan benda- terhingga tidak dapat dilintasi. Atau lagi, jika padabenda sederhana (basith): unsur-unsur dasar suatu titik waktu mana pun, deretan tak terhingga,alam raya (tanah, air, dan lain-lain) dan sifat-sifat telah berlangsung, maka pada titik tertentudasarnya (panas, dingin, berat, ringan dan lain- sebelumnya hanya suatu deretan terhingga saja 51
  • 58. yang telah berlangsung; tetapi titik tertentu itu dari argumen itu diwarisi para pemikir Muslim terpisah dari lainnya oleh suatu sisipan yang dari falsafah Yunani. Beberapa failasuf Islam terhingga; oleh karena itu seluruh deretan waktu seperti Ibn Rusyd dan al-Suhrawardi memang itu terhingga dan diciptakan. menyebutkan nama Yahya al-Nahwi (Yahya si Ahli (4) Argumen dari keterhinggaan jagad: Tatabahasa, yaitu John Philoponus, meninggal karena jagad ini tersusun dari bagian-bagian sekitar tahun 580 M.), seorang pemikir Nasrani dari yang terhingga, maka ia pun terhingga pula; Iskandar, Mesir, telah merintis argumen "kalami" segala sesuatu yang terhingga adalah sementara; untuk adanya Tuhan dan terciptanya alam raya. oleh karena itu jagad adalah sementara, yakni, Namun di tangan kaum Muslim, khususnya para mempunyai suatu permulaan dan diciptakan. penganut paham Asyari, dan lebih khusus lagi al- (5) Argumen dari kemungkinan (imkan, Ghazali pribadi, argumen itu berkembang seperti contingency): jagad ini tidaklah (secara rasional) ringkasan al-Alousi di atas, dan menjadi salah satu pasti terwujud; oleh karena itu harus terdapat segi kontribusi alam pikiran Islam yang paling faktor penentu (mukhashshish, murajjih) yang orisinal kepada alam pikiran umat manusia. membuat jagad itu terwujud, yaitu Pencipta. Karena itu semua, maka Ilmu Kalam menjadi (6) Argumen dari kesementaraan (huduts, karakteristik pemikiran mendasar yang amat temporality): benda tidak mungkin lepas dari khas Islam, yang membuat pembahasan teologis kejadian (aradl, accident) yang bersifat sementara; dalam agama itu berbeda dari yang ada dalam apa pun yang tidak dapat terwujud kecuali agama lain mana pun, baik dari segi isi maupun dengan hal yang bersifat sementara tentu metodologi. Sungguh sangat menarik bahwa bersifat sementara pula; karena itu seluruh jagad dalam perkembangan teologis umat manusia, raya adalah sementara (hadits) dan tentu telah Ilmu Kalam seperti yang dipelopori oleh al-Asyari terciptakan (muhdats).(4) dan dikembangkan oleh al-Ghazali itu telah Sudah diisyaratkan di atas bahwa sebagian mempengaruhi banyak agama di dunia, khususnya yang bersentuhan langsung dengan Islam, yaitu 4  Al-Alousi, sebagaimana dikutip dalam Craig, op. cit., hh. Yahudi dan Kristen, sebegitu rupa. Sehingga 7-8.52
  • 59. banyak para pemikir Yahudi sendiri memandang Sekarang ini, di zaman Moderen, para pengikutbahwa agama Yahudi seperti yang ada sekarang ini paham Asyari boleh merasa lebih mantap danadalah agama Yahudi yang dalam bidang teologi berbesar hati, sebab, sepanjang pembahasantelah mengalami "pengislaman", seperti tercermin William Craig, seorang ahli filsafat moderen daridalam pembahasan buku Austryn Wolfson, Berkeley, California, ilmu pengetahuan mutakhir,Repercussion of Kalam in Jewish Philosophy khususnya teori-teori tentang asal kejadian alam("Pengaruh Kalam dalam Falsafah Yabudi").(5) raya seperti teori ledakan besar dalam Astronomi Dan William Craig mengisyaratkan bahwa moderen, sangat menunjang argumen-argumenberbagai polemik teologis dan filosofis dalam Ilmu Kalam, khususnya dalam pandangan bahwaYahudi dan Kristen adalah karena pengaruh, dan alam raya berpermulaan dalam suatu titik waktu dimerupakan kelanjutan, dari polemik teologis masa lampau, dan bahwa ia diciptakan dari tiada.dan filosofis dalam Islam. Seperti kita ketahui, Sebagai seorang failasuf non-religi, Craig tetapdalam Islam terjadi polemik antara Kalam skeptis tentang apakah Tuhan itu mempunyai sifat-(ortodoks) dengan falsafah, diwakili oleh polemik sifat seperti yang dibicarakan dalam Ilmu Kalam.posthumous antara al-Ghazali (Tahafut al-Falasifah, Namun ia menyimpulkan pembahasannya dengan"Kerancuan para Failasuf) dan Ibn Rusyd (Tahafut mengakui validitas argumen Kalam tentangal-Tahafut, "Kerancuannya Kerancuan"). Dalam adanya Tuhan:Yahudi, polemik yang paralel juga telah terjadi, Jadi telah disimpulkan tentang adanya suatuyaitu antara Saadia (pengaruh Kalam al-Ghazali) Khaliq yang personal bagi alam raya yang adadengan Maimonides (pengaruh falsafah Ibn Rusyd), tanpa berubah dan lepas sebelum penciptaan dandan dalam Kristen polemik serupa ialah antara dalam waktu sesudah penciptaan. Inilah inti pusatBonaventure (pengaruh Kalam al-Ghazali) dan apa yang oleh kaum Ketuhanan dimaksudkanThomas Aquinas (pengaruh falsafah Ibn Rusyd).(6) dengan "Tuhan". Kita tidak melangkah lebih jauh dari itu. Argumen kosmologis kalam membimbing 5  Diterbitkan oleh Harvard University Press, Cambridge, kita kepada adanya Khaliq yang personal bagi alam Mass., 1979. raya, namun perkara apakah Khaliq ini Mahakuasa, 6  Craig, op. cit., "Pengantar". 53
  • 60. baik, sempurna, dan seterusnya, kita tidak akan penggerak yang tak tergerakkan, dan bahwa Dia membahas.(7) tetap jauh dan lepas dari jagad raya yang telah Meskipun skeptis tentang sifat-sifat Tuhan, diciptakanNya.(8) namun, juga sebagai seorang failasuf non-religi, Tentu saja para ahli Ilmu Kalam menolak konsep William Craig mengisyaratkan bahwa setelah Aristoteles itu. Namun tetap bahwa kesimpulan terjadi kesimpulan mantap tentang adanya Tuhan, failasuf moderen tersebut membuktikan segi sepatutnya kita melihat apakah Tuhan itu "pernah" paling tangguh dari paham Asyari sebagai doktrin menyatakan Diri melalui wahyu-Nya seperti aqidah Islamiah. Paham Asyari dengan deretan dikatakan dalam agama-agama, ataukah tidak. Jika argumennya itu, seperti telah disebutkan, telah jawabnya afirmatif, itu berarti landasan keabsahan berjasa ikut memperkokoh konsep Ketuhanan bagi agama. Dan kalau negatif, maka barangkali dalam agama-agama besar, khususnya Islam Aristoteles benar bahwa Tuhan itu adalah sendiri, serta Yahudi dan Kristen. Dan jika Craig 7  "We have thus concluded to a personal Creator of the benar, paham Asyari juga akan berjasa ikut universe who exists changelessly and independently prior to creation and in time subsequent to creation. This is a central memperkokoh konsep Ketuhanan bagi manusia core of what theists mean by "God". Further than this we zaman mutakhir dengan ilmu-pengetahuan dan shall not go. The Kalam cosmological argument leads us to a personal Creator of the universe, but as to whether this astronomi moderennya. Creator ia omniscient, good, perfect, and so forth, we shall not inquire". (Ibid., h. 152). 8  Ibid., hh. 152-3. Masalah Perilaku Manusia Tanpa kehilangan pandangan tentang Dalam batasan ruang dan waktu, kita akan hanya segi-segi kuat di atas itu, pembicaraan tentang menyinggung satu segi saja yang paling relevan paham Asyari tidak mungkin lepas dari segi-segi dan juga paling banyak dijadikan sasaran kritik, lemahnya, baik dalam pandangan para pemikir yaitu pandangan dalam sistem paham Asyari Islam sendiri di luar kubu Kalam Asyari, maupun tentang perilaku manusia berkenaan dengan dari dalam pandangan para pemikir lainnya. masalah sampai di mana manusia mampu54
  • 61. menentukan sendiri kegiatannya dan sampai di salah satu buku teks dalam paham Asyari:mana ia tidak berdaya dalam masalah penentuankegiatan itu berhadapan dengan qudrat dan iradat Wa indana li al-abd-i kasb-un kullifaTuhan. Wa lam yakun muatstsir-an fa l-tarifa Dari kutipan tentang paham Ahl Al-Sunnah Fa laysa majbur-an wa la ikhtiyar-anyang dijabarkan al-Asyari di muka —dan yang ia Wa laysa kull-an yaf al-u ikhtiyar-andukung dan anut sepenuhnya— dapat kita baca Fa in yutsibna fa bi mahdl-i al-fadll-ipandangan tentang perilaku manusia, termasuk Wa in yuadzdzib fa bi mahdl-i al-adl-i(9)tentang kebahagiaan dan kesengsaraannya, yangbernada sikap pasrah kepada nasib (fatalisme). Artinya: Sesungguhnya al-Asyari bukanlah seorangJabari sehingga dapat disebut fatalis. Tetapi Bagi kita, hamba (manusia) dibebani kasb,ia juga bukan seorang Qadari yang berpaham Namun kasb itu, ketahuilah, tidak akantentang kemampuan penuh manusia menentukan berpengaruhperbuatannya, seperti kaum Mutazilah dan Syiah. Maka manusia tidaklah terpaksa, dan tidak pulaAl-Asyari ingin menengahi antara kedua paham bebas,yang bertentangan itu, sebagaimana dalam bidang Dan tidak pula masing-masing itu berbuatmetodologi ia telah menengahi antara kaum dengan kebebasanHanbali yang sangat naqli (hanya berdasar teks- Jika Dia (Allah) memberi pahala kita makateks suci dengan pemahaman harfiah) dan kaum semata karena murah-Nya,Mutazili yang sangat aqli (rasional). Dan jika Dia menyiksa kita maka semata karena Dalam usahanya menengahi antara jabariah adil-Nyadan qadariah itu, Abu Hasan al-Asyari tampildengan konsep kasb (perolehan, acquisition) yang 9  Tarjamah Sabil al-Abid ala Jawharat al-Tawhid (karangancukup rumit. Berikut ini tiga bait syair tentang Ibrahim al-Laqqani) oleh H. Muhammad Shalih ibn Umar Samarani, (tanpa data penerbitan), hh. 146, 149, 150 donpengertian kasb, dari kitab Jawharat al-Tawhid, 156. 55
  • 62. Jadi, jelasnya, manusia tetap dibebani Walakinnahu mukhtar-u husn-in wa sawat-i kewajiban melakukan kasb melalui ikhtiarnya, |Fa laysa bi majbur-in adim-i l-iradat-i namun hendaknya ia ketahui bahwa usaha itu tak Wa lakinnahu syaa bi khalq-i l-iradat-i(10) akan berpengaruh apa-apa kepada kegiatannya. Karena kewajiban usaha atau kasb itu maka Artinya: manusia bukanlah dalam keadaan tak berdaya Tidak ada jalan keluar bagi manusia dari seperti kata kaum Jabari, tapi karena usahanya toh ketentuan-Nya, tidak berpengaruh apa-apa kepada kegiatannya Namun manusia tetap mampu memilih yang maka ia pun bukanlah makhluk bebas yang baik dan yang buruk menentukan sendiri kegiatannya seperti kata kaum Jadi bukannya ia itu terpaksa tanpa kemauan, Qadari. Dan jika Allah memberi kita pahala (masuk melainkan ia berkehendak dengan terciptanya surga), maka itu hanyalah karena kemurahan-Nya kemauan (dalam dirinya) (bukan karena amal perbuatan kita), dan jika dia menyiksa kita (masuk neraka) maka itu hanyalah Begitulah, Ibn Taymiyyah melihat bahwa karena keadilan-Nya (juga bukan karena semata dalam proses perkembangan paham Asyari, perbuatan kita). konsep kasb yang sulit itu telah menjerumuskan Kutipan itu menggambarkan betapa sulitnya para pengikutnya kepada sikap yang lebih memahami konsep kasb dalam paham Asyari. mengarah ke Jabariah, tidak ke jalan tengah yang Maka tidak heran konsep itu menjadi sasaran dikehendakinya. Ibn Taymiyyah sendiri, karena kritik tajam para pemikir lain, termasuk Ibn menolak baik Qadariah maupun Jabariah, juga Taymiyyah yang menganggapnya sebagai salah tampil dengan konsepnya jalan tengah, yaitu, satu keanehan atau absurditas Ilmu Kalam. Ibn sebagaimana ternyata dari syair tersebut, konsep Taymiyyah malah menggubah syair yang dapat bahwa Allah telah menciptakan dalam diri manusia dipandang sebagai tandingan konsep kasb: 10  Tarjamah Sabil al-Abid ala Jawharat al-Tawhid (karangan Ibrahim al-Laqqani) oleh H. Muhammad Shalih ibn Umar Samarani, (tanpa data penerbitan), hh. 146, 149, 150 don Wa la makhraj-a li l-abd-i amma qadla, 156.56
  • 63. kehendak (iradah), yang dengan iradah itu manusiamampu memilih jalan hidupnya, baik maupunburuk. 57
  • 64. 58
  • 65. Disiplin Keilmuan Islam Tradisional: 5 Tasawuf (Letak dan Peran Mistisisme dalam Penghayatan Keagamaan Islam)D alam sebuah hadits, Rasulullah s.a.w. disebutkan sebagai bersabda bahwa masakenabian (nubuwwah) dan rahmat akan disusul adalah para pengganti (khalifah) Nabi yang kelak dikenal sebagai para khalifah yang berpetunjuk (al-khulafa al-rasyidun). Sedangkan masa paraoleh masa kekhalifahan kenabian (Khilafat khalifah yang empat itu adalah masa "kerajaannubuwwah) dan rahmat, sesudah itu masa kerajaan dan rahmat." Dari masa "kerajaan dan rahmat" itu,(mulk) dan rahmat, kemudian masa kerajaan menurut Ibn Taymiyyah, yang terbaik ialah masa(saja).(1) Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa masa "Raja" Muawiyah ibn Abi Sufyan di Damaskus. Ibn"kenabian dan rahmat" itu ialah, tentu saja, masa Taymiyyah mengatakan bahwa di antara raja-rajaNabi sendiri. Sedangkan masa "kekhalifahan tidak ada yang menjalankan kekuasaan sebaikkenabian dan rahmat" berlangsung selama tiga Muawiyah. Dialah sebaik-baik raja Islam, danpuluh tahun sesudah wafat Nabi s.a.w., yaitu tindakannya lebih baik daripada tindakan para rajasejak permulaan kekhalifahan Abu Bakr, disusul mana pun sesudahnya.(2)Umar ibn al-Khathtab, kemudian Utsman ibn Pandangan Ibn Taymiyyah itu khas pahamAffan, dan akhirnya Ali ibn Abi Thalib. Mereka Sunni, terutama dari kalangan mazhab Hanbali. 1  Hadits ini dikutip oleh Ibn Taymiyyah dalam kitabnya, Malah, sesungguhnya, apa pun yang terjadi Minhaj al Sunnah fi Naqdl kalam al-Syiah wa al-Qadariyyah, pada Muawiyah akan dianggap Ibn Taymiyyah 4 jilid, (Riyadl: Maktab al-Riyadl al-Hadits, tanpa tahun), jilid IV, h. 121. 2 Ibid
  • 66. sebagai tidak bisa dipersalahkan begitu saja, atau wasiat berdasarkan pertalian darah). Ini karena dia adalah seorang Sahabat Nabi. Lebih memang bisa disebut sistem kerajaan seperti jauh, Ibn Taymiyyah masih mempunyai alasan dimaksudkan dalam hadits, tetapi Muawiyah dan untuk memuji anak Muawiyah, yaitu "Raja" Yazid para penggantinya, begitu pula para penguasa (yang oleh kaum Syiah dituding sebagai paling Abbasiyah, menyebut diri mereka masing-masing bertanggungjawab atas pembunuhan amat keji Khalifah (dari Nabi), bukan raja. Namun tetap ada terhadap al-Husayn, cucunda Nabi), karena, kata suatu sistem yang adil telah diganti dengan sistem Ibn Taymiyyah, Yazid adalah komandan tentara yang kurang adil, jika bukannya yang zalim. Segi Islam yang pertama memerangi dan mencoba keadilan sistem kekhalifahan yang pertama tidak merebut Konstantinopel, sementara sebuah hanya ada dalam mekanisme penggantiannya hadits menyebutkan adanya sabda Nabi: "Tentara melalui pemilihan, tetapi lebih-lebih lagi pertama yang menyerbu Konstantinopel diampuni mereka itu dalam menjalankan kekuasaan dan (oleh Allah akan segala dosanya)."(3) pemerintahan. Penyebutan para pengganti Nabi Tetapi pandangan Ibn Taymiyyah itu berbeda yang pertama itu sebagai "berpetunjuk" (al- dengan yang ada pada banyak kelompok rasyidun) adalah terutama berkenaan dengan Islam yang lain, termasuk dari kalangan kaum kualitas pemerintahan mereka itu.(4) Sunni sendiri. Mereka ini berpendapat bahwa 4  Pandangan yang cukup umum di kalangan orang-orang Muawiyah tanpa mengabaikan jasa-jasa Muslim ini menjadi dasar sarjana sosiologi terkenal, yang telah diperbuatnya- adalah orang yang Robert N. Bellah, untuk membuat penilaian -sebagaimana dalam kesempatan lain telah dikemukakan- bahwa Islam pertama bertanggung-jawab merubah sistem mengajarkan sistem politik yang terbuka dan "moderen." kekhalifahan yang terbuka (pengangkatan Tetapi karena prasarana sosialnya pada bangsa Arab dan dunia saat itu belum siap, maka sistem kekhalifahan Islam itu tidak pemimpin tertinggi Islam me]alui pemilihan) bertahan lama, dan diganti dengan sistem "kerajaan Bani menjadi sistem kekhalifahan yang tertutup Umayyah yang menurut Bellah tidak lain ialah penghidupan kembali sistem tribalisme Arab yang telah ada sebelum (pengangkatan pemimpin melalui penunjukan kedatangan Islam. Maka Bellah dapat memahami mengapa 3  Sebuah hadits diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kita orang-orang Muslim moderen, dalam mencari acuan untuk shahihnya, dari Abdullah ibn Umar, dikutip dan dijabarkan cita-cita politik mereka, senantiasa merujuk kepada masa oleh Ibn Taymiyyah. (Ibid., jilid II, h. 329). kekhalifahan pertama sebagai model. (Lihat Robert N. Bellah,60
  • 67. Dalam pandangan banyak orang Muslim, rezim Damaskus, tidak saja oleh musuh tradisionalpemerintahan masa kekhalifahan yang pertama kaum Umayyah yang terdiri dari golonganadalah suatu bentuk kesalehan dan rasa Syiah dan Khawarij, tetapi juga oleh golongankeagamaan yang mendalam, sedangkan para Sunnah, yang kaum Umayyah ikut mendukungpenguasa Bani Umayyah hanya tertarik kepada dan melindungi pertumbuhan awalnya. Wujudkekuasaan itu sendiri saja. Kalaupun tidak begitu oposisi keagamaan terhadap rezim Bani Umayyahtepat untuk masa Muawiyah (dan Umar ibn Abd itu yang paling terkenal ialah yang dilakukan olehalAziz) -sebagaimana argumen untuk Muawiyah seorang tokoh yang amat saleh, yaitu Hasan dariitu telah dikutip dari Ibn Taymiyyah di atas- Basrah (Hasan al-Bashri, wafat 728 M). Pada masapenilaian serupa itu jelas dianggap berlaku untuk kekuasaan Abd al-Malik ibn Marwan (memerintahkeseluruhan rezim Bani Umayyah, khususnya sejak 685-705 M), Hasan pernah menulis surat kepadakekuasaan Marwan ibn al-Hakam (60-62 H/644-655 Khalifah, menuntut agar rakyat diberi kebebasanM). Apalagi Marwan ini pernah menjabat sebagai untuk melakukan apa yang mereka anggappembantu utama Khalifah Utsman ibn Affan (22-35 baik, sehingga dengan begitu ada tempat bagiH/644-656 M), dan diduga keras berada dibalik tanggung-jawab moral. Suratnya itu bernadabeberapa kebijakan Utsman yang mengundang menggugat praktek-praktek zalim penguasafitnah besar dalam sejarah Islam itu. Karenanya, Umawi. Namun Hasan dibiarkan bebas olehsejak saat itu tumbuh oposisi keagamaan kepada pemerintah, disebabkan wibawa kepribadiannya Beyond Belief [New York: Harper & Row, 1976], hh. 150- yang saleh dan pengaruhnya yang amat besar 51). kepada masyarakat luas. Tasawuf Sebagai Gerakan Oposisi Tidak dapat dibantah bahwa dari sekian banyak Jazirah Arabia telah menyatakan tunduk kepadapara nabi dan rasul, Nabi Muhammad s.a.w. adalah Madinah. Dan tidak lama setelah itu, di bawahyang paling sukses dalam melaksanakan tugas. pimpinan para khalifah, daerah kekuasaan politikKetika beliau wafat, boleh dikatakan seluruh Islam dengan amat cepat meluas sehingga 61
  • 68. meliputi hampir seluruh bagian dunia yang saat itu "maslak" ("suluk") dan "thariqah" yang juga merupakan pusat peradaban manusia, khususnya digunakan dalam al-Quran. Sudah tentu hal kawasan inti yang terbentang dari Sungai Nil di tersebut tidak seluruhnya salah. Dalam suatu barat sampai Sungai Amudarya (Oxus) di timur. masyarakat yang sering terancam oleh kekacauan Sukses luar biasa di bidang militer dan politik (Arab: fawdla, yakni, chaos) karena fitnah-fitnah itu membawa berbagai akibat yang sangat luas. (dimulai dengan pembunuhan Utsman), dan jika Salah satunya ialah bahwa sejak dari semula masyarakat itu meliputi daerah kekuasaan yang terdapat perhatian yang amat besar pada kaum sedemikian luas dan heterogennya, kepastian Muslim, khususnya para penguasa, pada bidang- hukum dan peraturan, serta ketertiban dan bidang yang menyangkut masalah pengaturan kemanan, adalah nilai-nilai yang jelas amat masyarakat. Maka tidaklah mengherankan bahwa berharga. Maka kesalehan pun banyak dinyatakan dari berbagai segi agama Islam, bagian yang dalam ketaatan kepada ketentuan hukum, paling awal memperoleh banyak penggarapan dan perlawanan kepada penguasa, khususnya yang serius, termasuk penyusunannya menjadi perlawanan yang bersifat keagamaan (pious sistem yang integral, ialah yang berkenaan opposition), juga selalu menyertakan tuntutan dengan hukum. Sedemikian rupa kuatnya posisi agar hukum ditegakkan. Tetapi kesalehan yang segi hukum dari ajaran agama itu, sehingga bertumpu kepada kesadaran hukum (betapapun pemahaman hukum agama menjadi identik ia tidak bisa diabaikan sama sekali karena dengan pemahaman keseluruhan agama itu mempunyai prioritas yang amat tinggi) akan sendiri, yaitu "fiqh" (yang makna asalnya ialah banyak berurusan dengan tingkah laku lahiriah "pemahaman"), dan jalan hidup berhukum manusia dan hanya secara parsial saja berurusan menjadi identik dengan ke seluruhan jalan hidup dengan hal-hai batiniah. Dengan kata-kata lain, yang benar, yaitu "syariah" (yang makna asalnya orientasi fiqh dan syariah lebih berat mengarah ialah "jalan"). Kata-kata syariah itu sebenarnya kepada eksoterisisme, dengan kemungkinan kurang lebih sama maknanya dengan katakata mengabaikan esoterisme yang lebih mendalam. "sabil," "shirath," "minhaj," "mansak" ("manasik"), Maka demikian pula gerakan oposisi terhadap62
  • 69. praktek-praktek regimenter pemerintahan kaum Sufi (Shufi), konon karena pakaian mereka yangUmawi di Damaskus. Sebagian bentuk oposisi itu terdiri dari bahan wol (Arab: shuf) yang kasarterjadi karena dorongan politik semata, seperti sebagai lambang kezuhudan mereka. Dari kata-gerakan oposisi orang-orang Arab Irak, karena para kata shuf itu pula terbentuk kata-kata tashawwufpenguasa Damaskus lebih mendahulukan orang- (tasawuf), yaitu, kurang lebih, ajaran kaum Sufi.orang Arab Syria. Tetapi sebagian lagi, justru yang Dalam perkembangannya lebih lanjut, Tasawuflebih umum, oposisi itu timbul karena pandangan tidak lagi bersifat terutama sebagai gerakanbahwa kaum Umawi kurang "relijius." Tokoh Hasan oposisi politik. Meskipun semangat melawan ataudari Basrah yang telah disebutkan di atas mewakili mengimbangi susunan mapan da]am masyarakatkelompok gerakan oposisi jenis ini. Ketokohan selalu merupakan ciri yang segera dapat dikenaliHasan cukup hebat, sehingga kelompok- dari tingkah laku kaum Sufi, tetapi itu terjadikelompok penentang rezim Umayyah banyak pada dasarnya karena dinamika perkembanganyang mengambil ilham dan semangatnya dari gagasan kesufian sendiri, yaitu setelah secara sadarHasan, yang dianggap pendiri Mutazilah (Washil sepenuhnya berkembang menjadi mistisisme.ibn Atha, yang dianggap pendiri Mutazilah, Tingkat perkembangan ini dicapai sebagai hasilasalnya adalah murid Hasan), begitu pula para pematangan dan pemuncakan rasa kesalehanulama dengan orientasi Sunni, dan orang-orang pribadi, yaitu perkembangan ketika perhatianMuslim dengan kecenderungan hidup zuhud paling utama diberikan kepada kesadaran yang(asketik). Mereka yang tersebut terakhir inilah, bersifat masalah historis dan politis umat hanyasejak munculnya di Basrah, yang disebut kaum secara minimal saja. Tarik-menarik Antara Syariah dan Thariqah Perpisahan antara kedua orientasi keagamaan dalam kedua-duanya kemudian tumbuhyang lahiri dan batini itu kemudian mewujudkan cabang ilmu Keislaman yang berbeda satu daridiri dalam divergensi sistem-sistem penalaran yang lain, bahkan dalam beberapa hal tidakmasing-masing pihak pendukungnya. Maka jarang bertentangan. Seolah-olah hendak 63
  • 70. berebut sumber legitimasi dari al-Quran, maka beribadat (melulu), akan memandang mereka sebagaimana orientasi keagamaan eksoteris yang ini tidak ada apa-apanya, dan tidak mereka bertumpu kepada masalah-masalah kehukuman perhitungkan kecuali sebagai orang-orang itu mengklaim sebagai paham keagamaan (fiqh) bodoh dan sesat, sedangkan dalam tarekat dan jalan kebenaran (syariah) par excellence, mereka itu tidak berpegang kepada ilmu serta orientasi keagamaan esoteris yang bertumpu kebenaran sedikit pun. Dan Anda juga dapatkan kepada masalah pengalaman dan kesadaran banyak dari kaum Sufi serta orang-orang ruhani pribadi itu juga mengklaim diri sebagai yang menempuh hidup sebagai faqir tidak pengetahuan keagamaan (marifah) dan jalan menganggap apa-apa kepada Syariah dan ilmu menuju kebahagiaan (thariqah) par excellence. (hukum); bahkan mereka menganggap bahwa Akibatnya, polemik dan kontroversi antara orang yang berpegang kepada Syariah dan keduanya pun tidak selamanya bisa dihindari. Ibn ilmu (hukum) itu terputus dari Allah, dan bahwa Taymiyyah, misalnya, melukiskan pertentangan para penganutnya tidak memiliki apa-apa yang antara orientasi eksoteris dari kaum fiqh dengan bermanfaat di sisi Allah."(6) orientasi esoteris dari kaum sufi sebagai serupa dengan pertentangan antara kaum Yahudi dan Ibn Taymiyyah tidak bermaksud menyalahkan kaum Kristen. Dengan terlebih dahulu mengutip salah satu dari keduanya, juga tidak hendak firman Allah yang artinya, "Kaum Yahudi berkata, merendahkan sufi, sekalipun ia, sebagai seorang Orang-orang Kristen itu tidak ada apa-apanya, penganut mazhab Hanbali, sangat berat dan kaum Kristen berkata, Orang-orang Yahudi berpegang kepada segi-segi eksoteris Islam seperti itu tidak ada apa-apanya"(5) Ibn Taymiyyah diwakili dalam Syariah. Karena itu, Ibn Taymiyyah mengatakan: mengatakan, "Anda dapatkan bahwa banyak dari kaum Fiqh, "Yang benar ialah bahwa apa pun yang jika melihat kaum Sufi dan orang-orang yang 6  Ibn Taymiyyah, Iqtidla al-Shirath al-Mustaqim (Beirut: Dar 5  Q., s. al-Baqarah/2:13. al-Fikr, tanpa tahun), h. 10.64
  • 71. berdasarkan Kitab dan Sunnah pada kedua umat dan para imam kebenaran pada umat itu. belah pihak itu adalah benar. Dan apa pun yang Sesungguhnya Allah, dengan Kitab-Nya dan bertentangan dengan Kitab Sunnah pada kedua petunjuk Nabi-Nya s.a.w. telah membuat kaum belah pihak adalah batil."(7) beriman tidak memerlukan apa yang ada dalam ajaran kesufian, yang dianggap orang mampu Tetapi terhadap pernyataan Ibn Taymiyyah melembutkan hati dan membersihkannya."(8)ini, penyunting kitab Iqtidla memberi catatan Dari kutipan-kutipan itu dapat didasarkandemikian: "Ini dengan asumsi bahwa ajaran betapa persimpangan jalan antara "kaumkesufian itu ada kebenaran. Jika tidak, maka kebatinann (ahl al-bawathin) dan "kaum kezahiran"sebenarnya ajaran kesufian itu pada dasarnya (ahl al-dhawahir) dapat meningkat kepada batas-adalah ciptaan sesudah generasi utama, yang batas yang cukup gawat. Tetapi benarkah memangdalam masa generasi itu hidup sebaik-baik antara keduanya tidak terdapat titik pertemuan? 7 Ibid. 8 Ibid. Tasawuf Sebagai Olah Ruhani Ketika Nabi muhammad s.a.w. disebut ahli yang hendak mereduksikan misi Nabisebagai seorang Rasul yang paling berhasil dalam Muhammad s.a.w. sebagai tidak lebih daripadamewujudkan misi sucinya, bukti untuk mendukung suatu gerakan reformasi sosial, dengan program-penilaian itu ialah hal-hal yang bersifat sosial- program seperti pengangkatan martabat kaumpolitis, khususnya yang dalam bentuk keberhasilan lemah (khususnya kaum wanita dan budak),ekspansi-ekspansi militer. Dan Nabi Muhammad penegakan kekuasaan hukum, usaha mewujudkans.a.w. sama dengan beberapa Nabi yang lain keadilan sosial, tekanan kepada persamaan umatseperti Musa dan Dawud a.s. adalah seorang manusia (egalitarisme), dan lain-lain. Dalam"Nabi Bersenjata" (Armed Prophet), sebagaimana pandangan serupa itu, Nabi Muhammad s.a.w.dikatakan oleh sarjana sosiologi terkenal, Max tidak bisa disamakan dengan Nabi Isa al-Masih,Weber. Karena kenyataan itu, ada sementara karena ajaran Nabi Muhammad tidak banyak 65
  • 72. mengandung kedalaman keruhanian pribadi. "Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad Tetapi Nabi Muhammad s.a.w. lebih mirip dengan dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang Nabi Musa a.s. dan para rasul dari kalangan anak berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan turun Nabi Yaqub (Israil), yang mengajarkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tentang betapa pentingnya berpegang kepada tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang hukum-hukum Taurat (Talmudic Law). Bahwa kepada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad Nabi Muhammad s.a.w membawa reformasi sosial satu-satunya manusia dalam sejarah yang yang monumental kiranya sudah jelas. Al-Qur an berhasil meraih sukses-sukses luar biasa ditilik sendiri mengaitkan keimanan serta penerimaan dari ukuran agama maupun ruang lingkup seruan Nabi dengan usaha reformasi dunia (ishlah duniawi."(10) al-ardl). Tetapi di berbagai tempat dalam al-Qur an juga disebutkan bahwa tugas reformasi dunia Namun disamping itu al-Quran juga banyak itu tidak hanya dipunyai oleh Nabi Muhammad, menegaskan tentang pentingnya orientasi melainkan juga oleh para nabi yang lain.(9) Dan keruhanian yang bersifat ke dalam dan mengarah Nabi Muhammad memang telah melaksanakannya kepada pribadi. Justru sudah menjadi kesadaran dengan sukses luar biasa. Salah satu pengakuan para sarjana Islam sejak dari masa-masa awal yang jujur dari pihak luar Islam atas sukses Nabi bahwa Islam adalah agama pertengahan (wasath) dalam membawa reformasi dunia ini ialah yang antara, di satu pihak, agama Yahudi yang legalistik diberikan oleh Michael H. Hart. Dalam bukunya dan banyak menekankan orientasi kemasyarakatan yang memuat urutan peringkat seratus orang yang dan, di pihak lain, agama Kristen yang spiritualistik paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia, dan sangat memperhatikan kedalaman olah serta Hart menempatkan Nabi Muhammad sebagai pengalaman rohani serta membuat agama itu manusia nomor satu yang paling berpengaruh. Ia lembut. Seperti dikatakan Ibn Taymiyyah, "Syariah menegaskan: 10  Michael H. Hart, The 100, a Ranking of the Most Influential Persons in History, terjemah Indonesia oleh H. Mahbub Djunaidi, "Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh 9  Lihat, a.l., Q., s. al-Araf/7:56 dan 85. dalam Sejarah",66
  • 73. Taurat didominasi oleh ketegaran, dan Syariah Injil Rasulullah s.a.w. sendiri, terdapat kelompok paradidominasi oleh kelembutan; sedangkan Syariah sahabat Nabi yang lebih tertarik kepada hal-halal-Qur an menengahi dan meliputi keduanya itu."(11) yang bersifat lebih batiniah itu. Disebut-sebut, Maka sebagai bentuk pertengahan dan misalnya, kelompok ahl al-shuffah, yaitu sejumlahsekaligus antara kedua agama pendahuluannya sahabat yang memilih hidup sebagai faqir, danitu, Islam mengandung ajaran-ajaran hukum sangat setia kepada masjid. Tidak heran bahwadengan orientasi kepada masalah-masalah tingkah kelompok ini, dalam literatur kesufian, sering diaculaku manusia secara lahiriah seperti pada agama sebagai teladan kehidupan saleh dikalangan paraYahudi, tapi juga mengandung ajaran-ajaran sahabat. Al-Quran sendiri memuat berbagaikeruhanian yang mendalam seperti pada agama firman yang merujuk kepada pengalamanKristen. Bahkan sesungguhnya antara keduanya itu spritual Nabi. Misalnya, lukisan tentang dua kalitidak bisa dipisahkan, meskipun bisa dibedakan. pengalaman Nabi bertemu dan berhadapanSebab ketika orang Muslim dituntut untuk tunduk dengan Malaikat Jibril dan Allah. Yang pertamakepada suatu hukum tingkah laku lahiriah, ia ialah pengalaman beliau ketika menerima wahyudiharapkan, malah diharuskan, menerimanya pertama di gua Hira, di atas Bukit Cahaya (Jabaldengan ketulusan yang terbit dari lubuk hatinya. Nur). Dan yang kedua ialah pengalaman beliauIa harus merasakan ketentuan hukum itu sebagai dengan perjalanan malam (isra ) dan naik ke langitsesuatu yang berakar dalam komitmen spiritualnya. (miraj) yang terkenal itu. Kedua pengalaman NabiKenyataan ini tercermin dalam susunan kitab-kitab itu dilukiskan dalam Kitab Suci demikian: Demifiqh, yang selalu dimulai dengan bab pensucian bintang ketika sedang tenggelam. Sahabatmu(thaharah) lahir, sebagai awal pensucian batin. sekalian itu tidaklah sesat ataupun menyimpang.Walaupun begitu, tetap ada kemungkinan orang Dan ia tidaklah berucap karena menurut keinginan.mengenali mana yang lebih lahiriah, dan mana Itu tidak lain adalah ajaran yang diwahyukan.pula yang batiniah. Sebenarnya, sudah sejak zaman Diajarkan kepadanya oleh Jibril yang kuat perkasa. 11  Ibn Taymiyyah, Al-Jawab al-Shahih li Man Baddala Din Yang bijaksana, dan yang telah menampakkan diri al-Masih, 4 jilid, (Beirut [?]: Mathabi al-Majd al-Tijariyyah, secara sempurna. Yaitu ketika ia berada di puncak tanpa tahun), jilid 3, h. 240. 67
  • 74. cakrawala. Kemudian ia pun mendekati, dan sepadan dengan kemampuan mereka. Sebab inti menghampiri. Hingga sejarak kedua ujung busur pengalaman itu ialah penghayatan yang pekat panah, atau lebih dekat lagi. Lalu Tuhan wahyukan akan situasi diri yang sedang berada di hadapan kepada hamba-Nya wahyu yang dikehendaki. Tuhan, dan bagaimana ia "bertemu" dengan Dzat Tidaklah jiwa (Nabi) mendustakan yang dilihatnya Yang Maha Tinggi itu. "Pertemuan" dengan Tuhan sendiri. Apakah kamu semua akan membantahnya adalah dengan sendirinya juga merupakan puncak tentang yang ia saksikan? Padahal sungguh ia telah kebahagiaan, yang dilukiskan dalam sebuah hadits menyaksikan pada lain kesempatan. Yaitu didekat sebagai "sesuatu yang tak pernah terlihat oleh Pohon Lotus, di alam penghabisan Di sebelahnya mata, tak terdengar oleh telinga, dan tak terbetik ada Surga tempat kediaman. Ketika Pohon Lotus dalam hati manusia." Sebab dalam "pertemuan" itu diliputi cahaya tak terlukiskan. Penglihatan Nabi itu, segala rahasia kebenaran "tersingkap" (kasyf) tidak bergoyah, dan tidak pula salah arah. Sungguh untuk sang hamba, dan sang hamba pun lebur ia telah menyaksikan tanda-tanda Tuhannya yang dan sirna (fana ) dalam Kebenaran. Maka Ibn Arabi, Agung tak terkira.(12) misalnya, melukiskan "metode" atau thariqah-nya Bagi kaum Sufi, pengalaman Nabi dalam sebagai perjalanan ke arah penyingkapan Cahaya Isra-Miraj itu adalah sebuah contoh puncak Ilahi, melalui pengunduran diri (khalwah) dari pengalaman ruhani. Justru ia adalah pengalaman kehidupan ramai.(13) ruhani yang tertinggi, yang bisa dipunyai oleh 13  Salah satu buku Muhy al-Din ibn Arabi berjudul, dalam bahasa Arab, Risalat al-Anwar fi ma Yumnah Shahib al- seorang Nabi. Namun kaum Sufi berusaha untuk Khalwah min al-Asrar (Risalah Cahaya tentang Berbagai meniru dan mengulanginya bagi diri mereka Rahasia yang dikaruniakan kepada orang yang melakukan pengunduran diri (khalwah), diterjemahkan ke dalam bahasa sendiri, dalam dimensi, skala dan format yang Inggris oleh Rabia Terri Harris, Journey to the Lord of Power 12  Q., s. al-Najm/53:1-18. (New York: Inner Traditions International, 1981). Masalah Keabsahan Tasawuf Membicarakan keabsahan Tasawuf dapat (judgment) dengan implikasi yang serius, karena mengisyaratkan pengambilan sikap penghakiman menyangkut masalah sampai dimana kita bisa68
  • 75. dan berhak menilai pengalaman keruhanian sudah dikenal umum, seperti al-Hallaj dan Syekhseseorang. Telah disinggung bahwa mistisisme Siti Jenar, penganut dan pengembang pandanganatau pengalaman mistis, tidak terkecuali yang itu yang paling kaya namun "liar" ialah Ibn Arabi.ada pada kaum Sufi, selalu mengarah kedalam, Dalam bukunya, Fushush al-Hikam, Ibn Arabidan dengan sendirinya bersifat pribadi. Oleh berdendang dalam sebuah syair yang bernadakarena itu pengalaman mistis hampir mustahil "gurauan" dengan Tuhan:dikomunikasikan kepada orang lain, dan selamanyaakan lebih merupakan milik pribadi si empunya Maka Ia (Tuhan)-pun memujiku, dan akusendiri. Oleh karena itu sering terjadi adanya memuji-Nya, dan Ia menyembahku, dan akutingkah laku eksentrik dan "di luar garis," dan pun menyembah-Nya. Dalam keadaan lahirorang lain, lebih-lebih sesama Sufi sendiri, akan aku menyetujui-Nya dan dalam keadaan hakikimemandangnya, dengan penuh pengertian, jika aku menentang-Nya. Maka Ia pun mengenalikutidak malah kekaguman. Berbagai cerita tentang namun aku tak mengenali-Nya lalu aku pun"wali" yang berkelakuan aneh, seperti banyak mengenali-Nya, maka aku pun menyaksikan-Nyaterdapat di berbagai negeri dan daerah Islam, Maka mana mungkin Ia tiada perlu, padahaladalah kelanjutan dari persepsi mistis ini. Karena aku menolong-Nya dan membahagiakan-itu, bagi mereka yang lebih melihat diri mereka Nya? Untuk inilah Kebenaran mewujudkan aku,sebagai pemegang ajaran standar akan cepat sebab aku mengisi ilmu-Nya dan mewujudkan-mengutuk tingkah laku aneh itu sebagai tidak Nya Begitulah, sabda telah datang kepadalebih daripada keeksentrikan yang absurd tanpa kita, dan telah dinyatakan dalam diriku segalamakna, jika bukannya kesintingan atau bahkan maksudnya.(14)tarikan syetan yang sesat. Kesesatan yang palinggawat, di mata ahl al-dhawahir, ialah yang ada Ibn Arabi memang mengaku sebagaidalam kawasan teori dan pandangan dasar, yang "kutub para wali" (quthb al-awliya), bahkanmengarah kepada paham "kesatuan eksistensial" 14  Muhy al-Din ibn Arabi, Fushush al-Hikam, h. 83. Cf terjemahan Inggris oleh R.W.J. Austin, The Bezels of Wisdom(wahdat al-wujud). Selain berbagai tokoh yang (New York: Paulist Press, 1980), h. 95. 69
  • 76. pemungkasnya. Ia dituding oleh para ulama sebagai bentuk pengalaman keagamaan yang Syariah sebagai yang paling bertanggungjawab sejati. Seperti pengalaman Nabi dalam Miraj atas penyelewengan-penyelewengan dalam yang tak terlukiskan, sehingga karenanya juga tak Islam, khususnya yang terjadi di kalangan kaum terkomunikasikan, pengalaman mistis kaum Sufi Sufi. Namun bagi para pengikutnya dia adalah pun sesungguhnya berada di luar kemampuan al-syaikh al-akbar (guru yang agung). Kesulitan rasio untuk menggambarkannya. Kaum Sufi gemar memahami literatur kesufian, seperti karya-karya mengatakan bahwa untuk bisa mengetahui apa Ibn Arabi ialah bahwa pengungkapan ide dan hakikat pengalaman itu, seseorang hanya harus ajaran didalamnya sering menggunakan kata mengalaminya sendiri. Mereka mempunyai kiasan (matsal) dan pelambang (ramz). Karena itu perbendaharaan yang kaya untuk melukiskan ungkapan-ungkapan yang ada harus dipahami kenyataan itu. Misalnya, tidak mungkinlah dalam kerangka interpretasi metaforis atau tafsir menjelaskan rasa manisnya madu jika orang tidak batini (tawil). Dan adalah tawil itu memang yang pernah mencicipinya sendiri. Pengalaman mistis menjadi metode pokok mereka dalam memahami tertinggi menghasilkan situasi kejiwaan yang teks-teks suci, baik Kitab Suci maupun Hadits Nabi. disebut ekstase. Dalam perbendaharaan kaum Maka meskipun mereka menggunakan metode Sufi, ekstase itu sering dilukiskan sebagai keadaan tawil mereka sebenarnya tetap berpegang kepada mabuk kepayang oleh minuman kebenaran. sumber-sumber suci itu. Hanya saja, sejalan dengan Kebenaran (al-haqq) digambarkan sebagai metode mereka, mereka tidak memahami sumber- minuman keras atau khamar. Bahkan untuk sumber itu menurut bunyi lahiriah tekstualnya. sebagian mereka minuman yang memabukkan itu Inilah pangkal kontroversi mereka dengan tidak lain ialah apa yang mereka namakan "dlamir kaum Syariah. Maka tidak jarang kaum Syariah al-syan," yaitu kata-kata "an" yang berarti "bahwa" mengutuk mereka sebagai sesat, seperti yang dalam kalimat syahadat pertama, Asyhadu an la dilakukan oleh Ibn Taymiyyah terhadap Ibn Arabi. ilaha illa Llah" (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan Tapi, dalam semangat empatik, mungkin justru selain Allah). Pelukisan ini untuk menunjukkan pengalaman mistis kaum Sufi harus dipandang betapa intensenya mereka menghayati Tauhid,70
  • 77. sehingga mereka tidak menyadari apa pun yang yang harus tunduk-patuh dan pasrah bulatlain selain Dia Yang Maha Ada. Karena itu, suatu (islam) kepada Sang Maha Pencipta (al-Khaliq).pengalaman mistis mungkin akan hanya sekali Maka seorang Sufi, karena kepuasannya akanterjadi dalam hidup seorang, tanpa bisa diulangi. pengetahuan tentang Kebenaran, tidak banyakInilah diumpamakan dengan turunnya "malam menuntut dalam hidup ini. Ia puas (qanaah) dankepastian" (laylat al-qadar), yang dalam al-Quran lepas dari harapan kepada sesama makhluk. Iadisebutkan sebagai lebih baik dari seribu bulan. bebas, karena ia merasa perlu (faqir) hanya kepadaArtinya, seorang yang mengalami satu momen Allah yang dapat ia temui di mana saja melaluimenentukan itu, ia akan terpengaruh oleh pesan ibadat dan dzikir. Ia menghayati kehadiran Tuhanyang dibawa seumur hidupnya, yaitu sekitar dalam hidupnya melalui apresiasi akan nama-seribu bulan atau delapan puluh tahun. Karena itu nama (kualitas-kualitas) Tuhan yang indah (al-asmameskipun suatu pengalaman mistis sebagai suatu al-husna), dan dengan apresiasi itu ia menemukankejadian hanya bersifat sesaat (transitory), namun keutuhan dan keseimbangan dirinya Hidup penuhrelevansinya bagi pembentukan budi pekerti sikap pasrah itu memang bisa mengesankanakan bersifat abadi. Sebab dalam pengamalan kepasifan dan eskapisme. Tapi sebagai doronganintense sesaat itu orang berhasil menangkap suatu hidup bermoral, pengalaman mistis kaum Sufikebenaran yang utuh. Kesadaran akan kebenaran sebetulnya merupakan suatu kedahsyatan. Karenayang utuh itulah yang menimbulkan rasa bahagia itulah ajaran Tasawuf juga disebut sebagai ajarandan tenteram yang mendalam, suatu euphoria akhlak. Dan akhlak yang hendak mereka wujudkanyang tak terlukiskan. Dan itulah kemabukan mistis. ialah yang merupakan "tiruan" akhlak Tuhan, sesuaiKemudian, suatu hal yang amat penting ialah dengan sabda Nabi yang mereka pegang teguh,bahwa euphoria itu sekaligus disertai dengan "Berakhlaqlah kamu semua dengan akhlaq Allah."kesadaran akan posisi, arti, dan peran diri sendiriyang proporsional, yaitu "tahu diri" (marifat al- bahasa Arab, "Man arafa nafsahu fa qad arafa Rabbahu"nafs)(15) yang tidak lebih daripada seorang makhluk (Barangsiapa tahu dirinya maka ia akan tahu Tuhannya). Karena pengetahuan tentang diri secara proporsional adalah 15  Karena itu di kalangan kaum Sufi terkenal ungkapan dalam indikasi pengetahuan akan Kebenaran Yang Bulat. 71
  • 78. 72
  • 79. Menangkap Kembali Dinamika Islam 6 Klasik: Masyarakat Salaf Sebagai Masyarakat EtikaD alam peralihan abad Hijri yang sering dikumandangkan sebagai Abad KebangkitanIslam sekarang ini, dan sudah pula dimulai sejak Namun sejak dari semula usaha-usaha serupa itu mengandung dan menghadapi banyak problema. Disebabkan oleh kaitannya denganmenjelang akhir abad yang lalu, kaum Muslim di usaha mendefinisikan kembali apa yang disebutseluruh dunia didorong oleh proses sejarahnya Islam atau bersifat keislaman (Islami) —dengansendiri untuk mencoba mempertegas peranannya konotasi bahwa yang ada secara riil sekarang inidalam sejarah umat manusia. Gejala-gejala terakhir tidak memadai atau malah telah mengandungseperti keputusan Ziya ul-Haqq untuk menetapkan berbagai penyimpangan— maka usaha-usahaSyariah Islam sebagai hukum Pakistan, juga tersebut menghadapkan orang-orang Muslim yangperkembangan di Bangladesh yang menghendaki serius kepada persoalan "menemukan" kembalihal yang kurang lebih serupa (juga di Mesir, Sudan, Islam dan yang bersifat keislaman. Persoalan inidan lain-lain) —jika bukan jelas-jelas merupakan tampak di permukaan seperti mudah dipecahkan,sekedar usaha mencari legitimasi politik rezim- yaitu dengan "kembali kepada al-Quran dan al-rezim bersangkutan— dapat dibaca sebagai Sunnah", suatu dalil yang sangat disenangi kaumbagian dari, dan dalam rangka, penegasan peranan reformis Islam, khususnya di kalangan Sunni. Tetapikesejarahan tersebut. lepas dari kebenaran normatif dalil itu, namun
  • 80. dalam pelaksanaan praktisnya ternyata sangat rasa keagamaan mereka— namun sebetulnya tidak mudah. Bahkan yang sudah terjadi ialah sahamnya dalam usaha umat Islam menemukan bahwa dalil itu, sebegitu jauh, baru menghasilkan peran kesejarahannya kembali tersebut di atas reformasi atau mungkin "pemurnian" hal-hal paling untung marginal saja, jika bukannya yang sesungguhnya sangat bersifat pinggiran tidak ada sama sekali. Kalau masalah ini harus (peripheral), seperti, misalnya, dicerminkan secara diungkapkan dalam sebuah jargon, barangkali mencolok oleh kontroversi takbir tambahan yang paling tepat ialah pesan almarhum Bung dalam salat Idul Fitri di Surabaya baru-baru ini.(1) Karno, salah seorang Bapak Bangsa Indonesia, agar Meskipun hal serupa itu sangat penting bagi kita berusaha menangkap "api" Islam, dan bukan banyak kalangan —sebagian kaum Muslim melihat "abu"-nya. Pembahasan ini adalah dalam rangka dan mendapati di situ terletak inti agama dan mencoba menangkap "api" itu, betapapun kecilnya 1  Lihat majalah Tempo, (Jakarta) No., 13, Tahun XVIII, 25 Mei kemungkinan hasil yang didapatkan. 1988 (rubrik "Agama", h. 75). Golongan Salaf Salah satu yang dapat kita lakukan untuk berarti "yang lampau." Biasanya ia dihadapkan menangkap "api" itu ialah mencoba memahami dengan perkataan "khalaf, yang makna harfiahnya hakikat golongan Salaf. Sesungguhnya ini ialah "yang belakangan". Kemudian, dalam sejalan saja dengan apa yang sudah terjadi, yaitu perkembangan semantiknya, perkataan "salaf kecenderungan kaum reformis dari kalangan memperoleh makna sedemikian rupa sehingga orang-orang Muslim untuk mencari model pada mengandung konotasi masa lampau yang pengalaman sejarah umat Islam klasik. Tetapi berkewenangan atau berotoritas, sesuai dengan sebelum hal itu kita lakukan, ada baiknya kita kecenderungan banyak masyarakat untuk melihat memeriksa secukupnya pengertian "salaf" dalam masa lampau sebagai masa yang berotoritas. pembahasan Islam. Ini melibatkan masalah teologis, yaitu masalah Perkataan Arab "salaf" sendiri secara harfiah mengapa masa lampau itu mempunyai otoritas,74
  • 81. dan sampai dimana kemungkinan mengidentifikasi Ali, untuk tidak mengatakan masa-masa sesudahsecara historis masa salaf itu. mereka. Dalam hal ini dapat kita kenali adanya Dalam hal ini, para pemikir Islam tidak banyak empat pendapat:menemui kesulitan. Masa lampau itu otoritatif (1) Kaum Sunni berpendapat bahwa masakarena dekat dengan masa hidup Nabi. Sedangkan keempat khalifah itu adalah benar-benar otoritatif,semuanya mengakui dan meyakini bahwa Nabi berwenang, dan benar-benar salaf. Kaum Sunnitidak saja menjadi sumber pemahaman ajaran boleh dikata kelanjutan langsung atau tidakagama Islam, tetapi sekaligus menjadi teladan langsung dari masyarakat Islam masa Dinastirealisasi ajaran itu dalam kehidupan nyata. Maka Umayyah, dengan berbagai unsur kompromisangat logis pandangan bahwa yang paling akibat usaha rekonsiliasi keseluruhan umatmengetahui dan memahami ajaran agama itu Islam, mengatasi sisa-sisa pengalaman traumatisialah mereka yang berkesempatan mendengarnya fitnah-fitnah sebelumnya. (Usaha ini mengambillangsung dari Nabi, dan yang paling baik dalam bentuknya yang paling penting dalam tindakanmelaksanakannya ialah mereka yang melihat yang telah dimulai oleh Abd al-Malik ibn Marwanpraktek-praktek Nabi dan meneladaninya. Selain untuk merehabilitasi nama Ali, musuh Muawiyah,logis, hadits-hadits pun banyak yang dapat dikutip pendiri Dinasti Bani Umayyah, dan sejak itu mulaiuntuk menopang pandangan itu: dikenal, secara historis, istilah al-Khulafa al- Demikian pula dalam mengidentifikasi secara Rasyidun yang empat).(2)historis masa salaf itu, para sarjana Islam juga 2  Penyebutan tentang "Empat Khalifah" (istilah teknisnyatidak mengalami kesulitan, meskipun terdapat dalam bahasa Arab ialah tarbi) sebetulnya melewati prosesbeberapa pendapat tertentu di dalamnya. Yang bertahap yang panjang. Mula-mula dalam khutbah-khutbah kaum Umawi menyebut tiga khalifah saja, yaitu selain Ali,disepakati oleh semuanya ialah bahwa masa salaf dan kaum Syii hanya menyebut Ali, tanpa yang lain-lain.itu, dengan sendirinya, dimulai oleh masa Nabi Tetapi kaum Umawi di Maghrib dan Andalusia terlebih dahulu dari yang lain-lain telah melakukan tarbi, hanyasendiri. Kemudian mereka mulai berbeda tentang saja khalifah yang keempat bukannya Ali, melainkan"kesalafan" (dalam arti otoritas dan kewenangan) Muawiyah. Kemudian Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz dari Bani Umayyah meneruskan usaha Khalifah Marwanmasa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman dan ibn Abd al-Malik sebelumnya untuk menyatukan umat 75
  • 82. (2) Bani Umayyah atau kaum Umawi sendiri, otoritas di bidang keagamaan itu membawa serta dalam masa-masa awalnya, mengakui hanya problema teologis. Karena itu pengkajian masalah masa-masa Abu Bakar, Umar dan Utsman, tanpa salaf ini akan dengan sendirinya melibatkan Ali, sebagai masa salaf yang berkewenangan dan kita kepada berbagai kontroversi teologis yang otoritatif. berkepanjangan, dan yang sampai sekarang praktis (3) Sedangkan kaum Khawarij, yaitu kelanjutan belum selesai secara tuntas. Dengan meletakkan dari sebagian kelompok pendukung Ali —yang kontroversi teologis itu kesamping, maka kita mereka itu menunjukkan gelagat persetujuan terpaksa melakukan pilihan. Pilihan itu pada atas pembunuhan Utsman tapi kemudian kecewa permasalahan intinya bisa dinilai sebagai arbitrer, dengan Ali dan membunuhnya— hanya mengakui namun masih bisa dibenarkan dengan melihat masa-masa Abu Bakar dan Umar saja yang segi kepraktisan pembahasan, misalnya berkenaan berwenang dan otoritatif, sehingga boleh disebut dengan konteks ruang dan waktu kita, di sini dan sebagai masa salaf. sekarang. Dalam hal ini pilihan kita lakukan untuk (4) Kemudian terdapat kaum Rafidlah dari membahas masalah salaf ini menurut pandangan kalangan Syiah yang menolak keabsahan masa- Sunni, yaitu pandangan (1) di atas, mengingat masa kekhalifahan pertama itu kecuali masa Ali. bahwa pandangan itu adalah yang paling meluas Sebagaimana telah disinggung, masalah diikuti kaum Muslim, baik di dunia maupun di definisi kesejarahan tentang siapa yang disebut tanah air. golongan Salaf dengan konotasi kewenangan dan Dalam perkembangan lebih lanjut paham Sunni, golongan Salaf tidak saja terdiri dari dengan mengakomodasi kaum Syiah dan merehabilitasi Ali, kaum Muslim masa Nabi dan empat khalifah dan menyebut Ali dalam tarbi di khutbah-khutbah, serta mengakhiri kebiasaan saling melaknat dalam khutbah-khutbah yang pertama, tetapi juga meliputi mereka yang tersebut. Maka sejak itu tumbuh kebiasaan pada umat Islam biasa dinamakan sebagai kaum Tabiun (kaum untuk menyebut al-Khulafa al-Rasyidin yang empat, dan kelak kemudian hari masjid-masjid pun dihiasi dengan nama para Pengikut, yakni, pengikut para sahabat Nabi, yang khalifah yang empat itu. (Lihat Ibn Taymiyyah, Minhaj al- merupakan generasi kedua umat Islam). Bahkan Sunnah, 4 jilid [Riyadl: Maktabat al-Riyadl al-Haditsah, tanpa bagi banyak sarjana Sunni golongan salaf itu juga tahun], jil. 2, hh. 187-8).76
  • 83. mencakup generasi ketiga, yaitu generasi Tabiit Muhajirun dan Anshar, yaitu para sahabat Nabial-Tabiin (para Pengikut dari para Pengikut). yang berasal dari Makkah dan Madinah, sertaPandangan ini digambarkan secara ringkas dalam orang-orang yang mengikuti mereka dengan baiksebuah bait dari kitab kecil ilmu kalam Jawharat al- (kaum Tabiun), telah mendapat ridla dari TuhanTawhid, yang merupakan salah satu kitab standar dan, sebaliknya, mereka pun telah pula bersikapdi pesantren-pesantren: ridla kepada-Nya. Untuk mereka itu disediakan (Para sahabat Nabi adalah generasi terbaik, oleh Tuhan balasan surga yang akan menjadimaka dengarlah! kediaman abadi mereka. Dengan kata-kata lain, Lalu menyusul para Tabiun, diiringi para Tabiu kaum Salaf itu seluruh tingkah lakunya benar danal-Tabiin)(3) mendapat perkenan di sisi Tuhan, jadi mereka Sebagai sandaran ada kewenangan dan otoritas adalah golongan yang berotoritas dan berwenang.pada ketiga generasi pertama umat Islam itu, kaum Konsep demikian itu, seperti telah disinggung,Sunni menunjuk kepada firman Allah: lebih sesuai dengan paham Sunni ketimbang Dan para perintis pertama yang terdiri dari dengan paham Syii. Paham Sunni menyandarkankaum Muhajirun dan Anshar, serta orang-orang otoritas kepada umat atau "kolektiva", sementarayang mengikuti mereka itu dengan baik, Allah kaum Syii menyandarkannya kepada keteladanantelah ridla kepada mereka, dan mereka pun telah pribadi (examplary individual), dalam hal iniridla kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka keteladanan pribadi Ali yang memang heroik,surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai- saleh dan alim (pious).sungai. Mereka kekal di dalamnya untuk selama- Namun kedua konsep sandaran otoritas itulamanya. Itulah kebahagiaan yang agung.(4) mengandung masalahnya sendiri. Masalah pada Jadi firman Ilahi itu menegaskan bahwa kaum konsep Sunni timbul ketika dihadapkan kepada tingkat pribadi-pribadi para sahabat Nabi: tidak 3  Al-Syaykh Ibrahim al-Laqqani, Jawharat al-Tawhid, dengan terjemah dan uraian dalam bahasa Jawa huruf Pego oleh K. setiap pribadi masa Salaf itu, pada lahirnya, H. Muhammad Shalih ibn Umar Samarani (Semarang), Sabil sama sekali bebas dari segi-segi kekurangan. al-Abid (tanpa data penerbitan), h. 222. Jika seandainya memang bebas dari segi-segi 4  Q., s. al-Tawbah/9:100. 77
  • 84. kekurangan, maka bagaimana kita menerangkan beliau? berbagai peristiwa pembunuhan dan peperangan Pertanyaan tersebut secara keimanan sungguh sesama para sahabat Nabi sendiri, selang hanya amat berat, namun tidak terhindari karena dari beberapa belas tahun saja dari wafat beliau? fakta-fakta sejarah yang mendorongnya untuk Padahal pembunuhan dan peperangan itu timbul. Upaya menjawab pertanyaan itu dan melibatkan banyak sahabat besar seperti Utsman, mengatasi implikasi keimanan yang diakibatkannya Ali (menantu dan kemenakan Nabi), Aisyah (isteri telah menggiring para pemikir Muslim di masa Nabi), Muawiyah (ipar Nabi dan salah seorang lalu kepada kontroversi dalam ilmu kalam (teologi penulis wahyu), Amr ibn al-Ash, Abu Musa al- dialektis) yang tidak ada habis-habisnya. Masing- Asyari, dan lain-lain?! masing kaum Sunni dan Syii, yaitu dua golongan Sedangkan pada kaum Syii, masalah yang besar Islam yang sampai sekarang bertahan, timbul dari konsep otoritas yang disandarkan mencoba memberi penyelesaian kepada problema hanya kepada keteladanan pribadi Ali dan para tersebut. Contoh "penyelesaian" yang diberikan pengikutnya yang jumlahnya kecil itu ialah oleh para pemikir Muslim Sunni klasik untuk implikasinya yang memandang bahwa para problema itu ialah seperti diungkapkan dalam sahabat Nabi yang lain itu tidak otoritatif, alias sebuah bait dari kitab Jawharat al-Tawhid yang salah, tidak mungkin mendapat ridla Allah, dan telah dikutip di atas: mereka pun —terbukti oleh adanya perbuatan (Dan lakukan interpretasi atas pertengkaran salah mereka sendiri— tidak bersikap ridla kepada (para sahabat) yang telah terjadi jika engkau harus Allah. Jadi pandangan Syii itu nampak langsung mendengarkan penuturan tentang hal itu dan bertentangan dengan gambaran dan jaminan yang jauhilah penyakit orang yang dengki).(5) disebutkan dalam firman di atas. Lebih lanjut, jika Interpretasi atas berbagai peristiwa hanya sedikit saja jumlah orang yang selamat dari pertengkaran para sahabat itu, seperti dilakukan kalangan mereka yang pernah dididik langsung oleh Ibn Taymiyyah, ialah dengan melihat bahwa oleh Nabi, apakah akhirnya tidak Nabi sendiri yang semua mereka yang terlibat dalam pertengkaran harus dinilai sebagai telah gagal dalam missi suci 5  Al-Laqqani, h. 231.78
  • 85. itu sebenarnya bertindak berdasarkan ijtihad Ini adalah solusi yang banyak mengandungmereka masing-masing dalam menghadapi kelemahan, sehingga sama sekali tidakmasalah yang timbul. Maka sebagai ijtihad, memuaskan. Namun jika dikehendaki jalansebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits keluar dari kerumitan teologis berkenaan denganyang terkenal,(6) tindakan para sahabat yang berbagai peristiwa fitnah di antara para sahabatbertengkar —bahkan saling membunuh itu— Nabi itu, maka modus solusi seperti itu agaknyatetap mendapatkan pahala, biarpun jika ternyata merupakan pilihan yang cukup baik. Dan itulahijtihad mereka itu salah.(7) salah satu inti paham ke-Sunni-an. 6  Yaitu sabda Nabi yang sering dikutip orang, "Jika seorang tokoh Mutazilah dari kota Basrah yang terdiri dari Abu hakim berijtihad dan tepat, maka baginya dua pahala; dan jika al-Hudzayl, Abu Ali, dan Abu Hasyim, serta tokoh-tokoh ia berijtihad dan keliru, maka baginya satu pahala." lain yang sepakat dengan mereka dari kalangan para pengikut 7  Berkenaan dengan hal ini cukup menarik keterangan yang Asyari seperti al-Qadli Abu Bakr (al-Baqillani) dan Abu dibuat oleh Ibn Taymiyyah, demikian: "...Ali adalah imam, Hamid (al-Ghazali), dan itu pula pendapat yang terkenal dan ia benar dalam perangnya melawan orang-orang yang dari Abu al-Hasan al-Asyari. Mereka (para ulama) itu juga memeranginya; begitu pula mereka yang memerangi Ali, memandang Muawiyah sebagai seorang yang berijtihad dan yang terdiri dari para sahabat seperti Thalhah dan al-Zubayr, benar dalam perangnya (melawan Ali), sebagaimana Ali pun semuanya adalah orang-orang yang melakukan ijtihad dan benar. Ini juga menjadi pendapat para fuqaha dari kalangan benar. Inilah pendapat mereka yang berpandangan bahwa para pengikut Ahmad (ibn Hanbal) dan lain-lain ..." (Minhaj, setiap orang yang berijtihad itu benar, yaitu pendapat para jil. 1, hh. 192-3). Masyarakat Salaf Sebagai Masyarakat Etik Hal yang dicoba kemukakan di atas itu suatu pandangan bahwa sejarah dikuasai olehmerupakan gambaran singkat pergumulan sulit hukum yang tak terelakkan) demikian: Apa punorang-orang Muslim dalam usaha memberi yang terjadi dalam sejarah dunia Islam itu, iaketerangan teologis atas peristiwa-peristiwa menyangkut masyarakat yang semestinya bersifatdalam sejarah dini agamanya yang penuh anomali. teladan, sehingga tetap harus dilihat dalam(Untuk gambaran lebih lanjut, lihat catatan no.[7] kerangka "kebenaran umum" yang serba meliputidi bawah). Pergumulan sulit itu membawa kepada semua, betapapun berbagai kejadian itu salinglogika "historisistik" (bersemangat historisisme, bertentangan, bahkan menimbulkan pertumpahan 79
  • 86. darah. Dan "kebenaran umum" yang serba meliputi mereka, jika bukannya Nabi sendiri, telah gagal?!). itu ialah yang bersangkutan dengan masalah Jika mereka paham benar agama mereka dan akhlaq atau etika, yang dari sudut penglihatan telah sungguh-sungguh melaksanakan al-islam itu setiap tindakan rinci dalam kejadian sejarah —dan memang begitulah yang semestinya telah tersebut harus dinilai sebagai timbul dari dorongan terjadi— maka tindakan penuh pasrah kepada berbuat kebaikan. Maka masuklah ke situ konsep Tuhan itu tentu telah menjiwai keseluruhan ijtihad yang tanpa risiko itu, sebab jika keliru tingkah laku mereka. Maka karena al-islam itu, masih mendapat satu pahala, sedangkan jika tepat tentunya yang ada di hadapan mereka dan yang mendapat dua pahala. menjadi tujuan tingkah laku mereka ialah perkenan Maka hal berikutnya ialah pertanyaan, sampai Tuhan, sebagaimana digambarkan dalam firman dimana etika itu benar-benar ada secara nyata yang telah dikutip tentang mereka itu di atas. pada semua pihak yang terlibat dan saling Dan pandangan ini mencocoki gambaran yang bertentangan tersebut, yang terdiri dari para diberikan Kitab Suci di tempat lain tentang mereka: sahabat Nabi dan generasi yang mengikuti jejak Dan hendaklah ada dari kamu sekalian ini mereka sesudah itu? suatu umat yang mengajak kepada keluhuran, Jawab atas pertanyaan itu, kalaupun menganjurkan kebaikan, dan mencegah kejahatan. menyangkut problema dalam berbagai fakta Mereka itulah orang-orang yang beruntung.(8) kesejarahannya di atas, dapat dibuat dengan Kamu adalah sebaik-baik umat yang bertitik tolak dari asumsi tertentu. Asumsi itu ialah diketengahkan kepada sekalian manusia: (karena) bahwa kaum Salaf itu tentunya terdiri dari pribadi- kamu menganjurkan kebaikan dan mencegah pribadi yang sangat paham akan ajaran agama kejahatan, lagi pula kamu beriman kepada Allah.(9) mereka, yaitu Islam (lebih tepatnya, al-islam, ajaran Terhadap ayat di atas, dan dalam kaitannya tentang sikap penuh pasrah kepada Tuhan), dan dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, A. sangat bersungguh-sungguh melaksanakannya. Yusuf Ali memberi komentar menarik berikut: (Dan jika tidak begitu, lalu siapa lagi selain 8  Q., s. Alu Imran/3:104. mereka?! Atau bersediakah kita melihat bahwa 9  Q., s. Alu Imran/3:110.80
  • 87. The logical conclusion to the evolution of Karena itu Islam tampil, bukannya untuk dirinyareligious history ia a non-sectarian, non-racial, sendiri, melainkan untuk seluruh umat manusia).non-doctrinal, universal religion, which Islam Karena hakikat dasarnya yang non-sektarian,claims to be. For Islam ia just submission to the Will non-rasial, non-doktrinal dan bersifat universal,of God. This implies (1) Faith, (2) doing right, being maka pada dasarnya pula agama Islam adalahan example to others to do right, and having the agama etika atau akhlaq, dan para penganutnyapower to see that the right prevails, (3) eschewing yang sejati adalah orang-orang etis atau akhlaqi,wrong, being an example to others to eschew yaitu orang-orang yang berbudi pekerti luhur.wrong, and having the power to see that wrong Ini sejalan dengan penegasan Nabi sendiri,and injustices are defeated. Islam therefore lives, bahwa beliau diutus Allah hanyalah untuknot for itself, but for mankind.(10) menyempurnakan berbagai keluhuran budi.(11) (Kesimpulan logis bagi evolusi sejarah Keinsafan orang-orang Muslim klasik akankeagamaan ialah suatu agama yang non-sektarian, gambaran diri mereka yang diberikan oleh Kitabnon-doktrinal, dan universal, yang diakui oleh Suci, yang dalam gambaran diri itu sesungguhnyaIslam. Sebab Islam tidak lain ialah sikap pasrah terkandung makna kualitas normatif, yang haruskepada Kehendak Tuhan. Hal ini mengandung diwujudkan, dan perintah, telah mendorongmakna (1) keimanan, (2) berbuat kebenaran, untuk mereka untuk berjuang membentuk sejarahmenjadi teladan bagi yang lain dalam berbuat dunia yang sejalan dengan ukuran-ukuran moralkebenaran, dan mempunyai kemampuan untuk yang tertinggi dan yang terbaik, yang terbukamemperhatikan bahwa yang benar itu unggul, (3) untuk umat manusia. Usaha itu dijanjikan akanmenghindari kesalahan, untuk menjadi teladan mendapat pahala yang besar, berupa kebahagiaanbagi yang lain dalam menghindari kesalahan, dan di dunia ini dan di akhirat nanti, namun jugamempunyai kemampuan untuk memperhatikan dengan risiko besar untuk salah dan keliru. Tetapibahwa kesalahan dan kezaliman terkalahkan. kesalahan dan kekeliruan menjadi tidak relevan 10  A. Yusuf Ali, The Holy Quran, Text, Translation and 11  Sebuah hadits Nabi yang sangat terkenal, "Sesungguhnya Commentary (Jeddah: Dar al-Qiblah, tanpa tahun), h. 151, aku diutus hanyalah agar aku menyempurnakan berbagai catatan 434. keluhuran budi." 81
  • 88. dalam kaitannya dengan tekad dan semangat keruhanian seorang individu, jauh di lubuk hatinya, Ketuhanan (rabbaniyyah, ribbiyyah)(12), dan harus ke arah kemauan dan niat yang baik, tulus dan dilihat sebagai segi kemanusiaan perjuangan itu. sejati, sebagaimana hal itu telah menjadi ajaran Maka sejarah Islam pun memperoleh keutuhannya para nabi, yang dekat sebelum Nabi Muhammad dan maknanya yang khas dari adanya pandangan ialah Nabi-nabi Isa al-Masih, Musa, dan Ibrahim. hidup dan perjuangan tersebut, yaitu pandangan Tetapi ketika al-islam yang pada intinya bersifat hidup dan perjuangan untuk pasrah kepada pribadi itu memancar keluar dalam bentuk Kehendak Tuhan. Sebab pasrah kepada Kehendak tindakan-tindakan, dan ketika tindakan-tindakan Tuhan (al-islam) itu antara lain berarti menerima dari banyak pribadi Muslim itu terkait, saling tanggungjawab pribadi untuk ukuran-ukuran menopang, dan kemudian menyatu, maka al- tingkah laku yang dipandang sebagai memiliki islam pun melandasi terbentuknya suatu kolektiva keabsahan Ilahi, yakni, diridlai-Nya. Rasa tanggung spiritual (ummah, umat), dengan ciri-ciri yang khas jawab pribadi karena semangat Ketuhanan dan sebagai pancaran cita-citanya yang khas. Maka taqwa itulah yang antara lain dicontohkan dengan sampai batas ini al-islam mendorong lahirnya baik oleh Umar, ketika ia sebagai Khalifah harus pola-pola ikatan kemasyarakatan, dan itu intinya memikul sekarung gandum untuk dibawa kepada ialah hukum. Inilah Islam historis —yaitu al-islam seorang janda dan anaknya yang kelaparan di luar yang telah mewujud-nyata sebagai pengalaman Madinah, karena ia melihat apa yang menimpa bersama banyak individu dalam dimensi waktu mereka itu sebagai berada di atas pundaknya dan ruang tertentu yang bisa diidentifikasi— suatu selaku pemimpin dan penguasa. bentuk kesatuan kemasyarakatan manusia beriman Maka agama yang mengajarkan al-islam yang disebut umat, dengan kesadaran berhukum ini adalah agama yang mengacu kepada sikap dan berperaturan bersama sebagai intinya. Karena itu salah satu karakteristik kuat umat 12  Ini adalah dua istilah dalam Kitab Suci untuk semangat Ketuhanan, yaitu semangat mencapai ridla Tuhan dalam ini ialah kesadaran hukumnya yang tinggi. wujud pola hidup penuh kesalehan dan penuh dedikasi kepada Kesadaran hukum itu merupakan kelanjutan cita-cita mewujudkan kehidupan bermoral, sebagaimana ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kepada terdapat dalam Q., s. Alu Imran/3:79 dan 146.82
  • 89. para pemegang kewenangan atau otoritas (ulu dijadikan metafor atau kiasan untuk jalan menujual-amr, wali al-amr).(13) Dengan perkataan lain, harapan, kehidupan, dan kebenaran, yang berakhirkesadaran hukum itu tumbuh akibat adanya rasa dengan ridla Allah s.w.t.iman yang melandasi orientasi etis dalam hidup Maka dalam Islam orang tetap diharapkan agarsehari-hari. Maka konsep tentang hukum dalam tidak luput dalam melihat kaitan antara hukum danIslam tidaklah seluruhnya sama dengan konsep akhlaq atau etika. Bahkan diharapkan agar merekadi Barat, misalnya, yang merupakan kelanjutan tidak luput untuk melihat keunggulan segi-segikonsep hukum zaman Romawi kuna. Hukum akhlaqi atas segi-segi bukum, sebab pada dasarnyadalam Islam tidak bisa dipisahkan dari segi-segi akhlaq mendasari hukum,. dan hukum ditegakkanakhlaq atau etika. Sehingga pengertian syariah di atas landasan akhlaq. Sangat ilustratif untukyang kemudian digunakan sebagai istilah teknis pandangan ini ialah sebuah penuturan dalamuntuk sistem hukum Islam itu mengandung hal-hal hadits tentang dua orang yang bersengketa danseperti ajaran kebersihan (thaharah) dan masalah- datang menghadap kepada Nabi untuk memohonmasalah peribadatan, yang dalam sistem Barat keputusan hukum:(Romawi) tidak termasuk hukum. Pada prinsipnya, Ummu Salamah r.a menuturkan: "Dansyariat mencakup setiap kebutuhan manusia, orang lelaki yang sedang bersengketa datangbaik pribadi maupun sosial, sejak dari lahir sampai menghadap Rasulullah s.a.w. berkenaan denganmati, yang panggilannya tertuju kepada setiap masalah pembagian waris yang telah lewatnurani yang lembut karena rasa kebenaran dan waktunya dan pada mereka tidak terdapatkeadilan. Karena perkataan syariah itu sendiri pada lagi bukti. Maka Rasulullah s.a.w. bersabdaasalnya adalah berarti "jalan setapak menuju oase" kepada keduanya itu, Kamu bertengkar dandi tengah padang pasir, yang dalam Kitab Suci menghadapku, sedangkan aku tidak lain adalah 13  Dalam Kitab Suci ada perintah agar kita taat kepada para seorang manusia, dan boleh jadi salah seorang dari pemegang kewenangan atau kekuasaan: "Wahai sekalian orang yang beriman, taatlah kamu sekalian kepada Allah, dan taat kamu lebih lancar mengemukakan argumennya pulalah kepada Rasul dan kepada para pemegang kekuasaan dari yang lain. Dan aku tidak bisa tidak akan (ula al-amr, jamak dari wali al-amr) dari antara kamu ..." (Q., memberi keputusan hukum antara kamu sesuai s. al-Nisa /4:59). 83
  • 90. dengan apa yang kudengar (dari kamu), maka di antara para sahabat Nabi, tidak termasuk yang jika telah kuputuskan untuk seorang dari kamu terkenal. Tetapi kejadian itu justru melukiskan, agar ia berhak atas sebagian dari hak saudaranya, betapa pada masyarakat zaman Nabi itu, di bawah hendaknya ia jangan mengambilnya. Aku hanyalah bimbingan beliau, sangat diwarnai oleh semangat hendak menyingkirkan seberkas api neraka yang etis yang kuat, yang membuat mereka lebih akan dibawanya sebagai beban di tengkuknya mendahulukan perbuatan baik dan kemurahan pada hari kiamat. Maka kedua orang lelaki itu hati daripada mempertahankan hak hukumnya pun menangis, dan masing-masing dari keduanya yang sah. Kejadian serupa itu cukup banyak di berkata kepada yang lain, Hakku (atas harta waris kalangan para sahabat Nabi, sampai ke masa-masa itu) kuberikan kepada saudaraku. Maka Rasulullah sesudah Nabi sendiri telah tidak lagi bersama pun bersabda kepada mereka, Jika kamu berdua mereka. Al-Quran sendiri banyak mengajarkan telah mengatakan begitu, maka pergilah, dan semangat serupa, yaitu semangat mendahulukan berbagilah antara kamu berdua (atas harta waris kemurahan hati dan kebajikan daripada menuntut itu), kemudian hendaknya kamu berdua sama- dan mempertahankan hak sendiri yang sah: sama melepaskan hak (atas harta itu), lalu undilah Jika kamu memperlihatkan suatu antara kamu berdua, lalu hendaknya masing- kebajikan (melakukan secara terbuka) ataupun masing dari kamu menghalalkan (merelakan) merahasiakannya (melakukannya secara tertutup), saudaranya (menguasai harta itu)."(14) atau menutupi suatu kesalahan (memaafkannya), Menurut Muhibb al-Din al-Khathib kedua orang maka sesungguhnya Allah itu Maha Pemaaf dan itu sampai sekarang tidak diketahui nama mereka, Maha Kuasa (untuk membuat penilaian ).(15) karena mereka dari kalangan orang kebanyakan Dan mereka (orang-orang yang beriman) itu 14  Hadits diriwayatkan oleh Ahmad (ibn Hanbal) dalam kitab ialah yang apabila menjadi sasaran kejahatan Musnad-nya oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya, dikutip (orang lain), mereka membela diri. oleh Muhibb al-Din al-Khathib dalam kata penutup untuk kitab.al-Muntaqa min Minhaj al-Itidal (ringkasan Minhaj al- Balasan bagi suatu kejahatan ialah kejahatan Sunnah oleh Ibn Taymiyyah) oleh Abu Abdullah Muhammad yang setimpal. Tetapi barangsiapa memberi ibn Utsman al-Dzahabi (Damaskus: Maktabat Dar al-Bayan, 1374 H), h. 574. 15  Q., s. al-Nisa/4:149.84
  • 91. maaf dan berdamai, maka pahalanya adalah atas keluarga sendiri, atau (3) suatu masyarakat jugatanggungan Allah. boleh jadi berdiri tegak demi hak-hak kolektif Sesungguhnya Dia tidak suka kepada mereka mereka, atau (4) demi hak orang-orang lain. No.yang zalim. 2, 3, dan 4 dianggap sangat berkebajikan untuk Tetapi orang yang membela diri setelah semua, meskipun sedikit orang yang berani dandijahati, maka atas mereka itu tidak ada jalan bersemangat untuk bangkit menuju ke nilai yang(untuk disalahkan). begitu tingginya. No. 1 terutama rawan terhadap Melainkan jalan (untuk disalahkan) adalah penyalahgunaan, mengingat sifat manusia yangtertuju kepada mereka yang berbuat jahat kepada mementingkan diri sendiri. No. 2, 3, dan 4 jugasesama manusia, dan tanpa alasan kebenaran dapat disalahgunakan oleh mereka yang berpura-membuat pelanggaran di muka bumi. Mereka pura bermotifkan kebaikan umum padahalitulah yang mendapatkan siksa yang pedih. mereka hanya melayani kepentingan pribadi atau Namun sungguh, barangsiapa bersikap pandangan sempit mereka sendiri; karena itusabar dan bersedia memberi maaf, maka itulah disebutlah nilai-nilai dalam empat ayat berikutnya .keteguhan hati dalam segala perkara (kebenaran).(16) ... Jika Anda mempertahankan hak, baik Berkenaan dengan ayat-ayat suci yang atas dasar kepentingan pribadi ataupun umum,difirmankan dalam kaitannya dengan ajaran mungkin hal itu terjadi lewat proses hukum,musyawarah, yang termaktub dalam surah al-Syura atau melalui tindakan mempertahankan diri(musyarawah) itu, baik sekali kami kemukakan sepanjang hal itu diizinkan oleh hukum. Tetapidi sini komentar panjang dari A. Yusuf Ali dalam dalam keadaan apa pun Anda tidak boleh mencaritafsirnya yang amat terkenal: balasan yang lebih besar daripada kejahatan yang ... Ada empat situasi yang mungkin timbul: Anda derita. Paling jauh yang Anda bisa lakukanseseorang boleh jadi berdiri tegak melawan ialah meminta balasan setimpal, yaitu, kerugianpenindas (1) demi haknya sendiri yang diinjak-injak, setimpal dengan kerugian yang ditimpakanatau (2) demi hak orang-orang lain dalam kalangan orang kepada Anda. Ini pun dapat memuaskan untuk menekan jiwa Anda yang cenderung untuk 16  Q., s. al-Syura/42:39-43. 85
  • 92. melakukan balas dendam. Tetapi cara yang ideal bukanlah dengan memuaskan kehausan Anda untuk membalasdendam, melainkan dengan mengikuti jalan yang lebih baik menuju kepada pendidikan kembali si penjahat kepada Anda itu atau rekonsiliasi kepadanya . ...Anda dapat mengambil langkah-langkah untuk mencegah terulangnya kejahatan, dengan cara fisik atau moral; dan cara moral yang paling baik ialah dengan mengubah kebencian menjadi persahabatan lewat sikap memaafkan dan cinta. Dalam hal ini, balasan atau ganjarannya (jika kita harus menggunakan istilah-istilah serupa itu), adalah agung secara tak terbatas, karena hal itu berarti memperoleh ridla Tuhan.(17) Begitulah kutipan firman-firman Ilahi dan komentarnya oleh seorang penafsir yang ahli dan kompeten. Semoga hal itu cukup memberi gambaran tentang ide mengenai masyarakat Salaf sebagai masyarakat etika, lebih daripada masyarakat hukum saja, yaitu masyarakat yang harus dipandang dan diasumsikan sebagai yang telah benar-benar paham akan ajaran Kitab Suci dan telah dengan sungguh-sungguh melaksanakannya. 17  A. Yusuf Ali, hh. 1317-8, catatan 4580-4581.86
  • 93. Pertimbangan Kemaslahatan Dalam 7 Menangkap Makna dan Semangat Ketentuan Keagamaan: Kasus Ijtihad Umar Ibn Al-KhattabB erkaitan erat dengan pokok pembahasan tentang reaktualisasi ajaran-ajaran agamayang dibawakan oleh Bapak Munawir Syadzali kebaikan), istislah (mencari kemaslahatan), dalam hal ini kebaikan atau kemaslahatan umum (al- maslahat al-ammah, al-maslahat al-mursalah)ialah persoalan pertimbangan kemaslahatan atau disebut juga sebagai keperluan atas kepentingankepentingan umum dalam usaha menangkap umum (umum al-balwa).makna dan semangat berbagai ketentuan Contoh klasik untuk tindakankeagamaan. Pertimbangan itu terlebih lagi mempertimbangkan kepentingan umum dalamberlaku berkenaan dengan ketentuan agama yang menangkap makna semangat agama itu ialah yangtercakup dalam pengertian istilah "syariat" sebagai dilakukan oleh Khalifah II, Umar ibn al-Khattabhal yang mengarah kepada sistem hukum dalam r.a., berkenaan dengan masalah tanah-tanahmasyarakat. pertanian berserta garapan-garapannya yang baru Dalam teori-teori dan metode baku dibebaskan oleh tentara Muslim di negeri Syampemahaman agama, hal tersebut dituangkan (Syria Raya, meliputi keseluruhan kawasan pantaidalam konsep-konsep tentang istihsan (mencari timur Laut Tengah), Irak, Persia dan Mesir.
  • 94. Pendirian Umar untuk mendahulukan Qur an. pertimbangan tentang kepentingan umum Dalam banyak hal Umar memang dikenal yang menyeluruh, baik secara ruang (meliputi sebagai tokoh yang sangat bijaksana dan kreatif, semua orang di semua tempat) maupun bahkan jenius, tetapi juga penuh kontroversi. Tidak waktu (mencakup generasi sekarang dan masa semua orang setuju dengan Umar, dari dahulu datang) mula-mula mendapat tantangan hebat sampai sekarang. Kaum Syiah, misalnya, menolak dari para sahabat Nabi, dipelopori antara lain keras ketokohan Umar, khususnya kalangan oleh Abd al-Rahman ibn Awf dan Bilal (bekas ekstrim (al-ghulat) dari mereka. Yang moderat muazin yang sangat disayangi Nabi). Mereka ini pun masih melihat pada Umar hal-hal yang berpegang teguh kepada beberapa ketentuan "menyimpang" dari agama. Atau, seperti dikatakan (lahir) di beberapa tempat dalam al-Quran dan oleh seorang tokoh ulama Syiah, Muhammad al- dalam Sunnah atau praktek Nabi pada peristiwa Husayn Al Kashif al-Ghita, banyak tindakan Umar, pembebasan Khaybar (sebuah kota oase beberapa seperti dalam kasus ia melarang nikah mutah, ratus kilometer utara Madinah), dari sekelompok adalah semata-mata tindakan sosial-politik, orang Yahudi yang berkhianat. Tetapi, sebaliknya, yang tidak ada sangkut pautnya dengan bukan sejak dari semula para sahabat Nabi yang lain, keagamaan (madaniyyan la diniyyan).(1) termasuk tokoh-tokoh seperti Utsman ibn Affan Untuk memperoleh gambaran yang hidup dan dan Ali ibn Abi Talib (kedua-duanya kelak menjadi langsung tentang ijtihad Umar dan kemelut yang Khalifah, berturut-turut yang ketiga dan keempat), ditimbulkannya di Madinah selama berhari-hari sepenuhnya menyetujui pendapat Umar dan itu, di bawah ini disajikan terjemahan dari dua sepenuhnya mendukung pelaksanaannya. penuturan oleh dua orang ahli. Tanpa membuat Pertikaian pendapat itu berlangsung panas teori yang abstrak, dari kedua penuturan itu dapat selama berhari-hari di Madinah, sampai akhirnya kita tarik inspirasi untuk melihat dan memecahkan dimenangkan oleh Umar dan kawan-kawan berbagai masalah kita sendiri sekarang, sesuai dengan argumen-argumen yang tepat, juga 1  Muhammad al-Husayn Al Kashif al-Ghitha, Ashl al-Shiah berdasarkan ketentuan-ketentuan Kitab Suci al- wa Ushuluha (Beirut: Muassasat al-Alami, 1982), h. 101.88
  • 95. dengan tuntutan ruang dan waktu, sama dengan olehmu sekalian bahwa apa pun yang kamutantangan yang dihadapi dan diselesaikan oleh peroleh sebagai rampasan perang dari sesuatuUmar. (harta kekayaan) itu maka seperlimanya adalah Yang pertama dari kedua penuturan itu untuk Allah dan untuk Rasul, kaum kerabat (dariberjudul Dari Celah Fiqh Umar di Bidang Ekonomi Nabi), anak-anak yatim, orang-orang miskin dandan Keuangan, oleh: al-Ustadh al-Bahi al-Khuli,(2) ibn al-sabil (orang terlantar di perjalanan), jikasebagai berikut: kamu sekalian benar-benar beriman kepada Berita-berita telah sampai kepada Umar r.a. Allah dan kepada apa yang telah Kami turunkandengan membawa kabar gembira tentang telah (al-Quran) atas hamba Kami (Muhammad) padaterbebaskannya Syam, Irak dan negeri Khusru hari penentuan, yaitu hari ketika kedua golongan(Persia), dan ia mendapati dirinya berhadapan manusia (Muslim dan Musyrik) bertemu (dalamdengan persoalan ekonomi yang rumit ... Harta peperangan, yakni, Perang Badar). Allah Mahabenda musuh, yang terdiri dari emas, perak, kuda Kuasa atas segala sesuatu."(3)dan ternak telah jatuh sebagai harta rampasan Tetapi berkenaan dengan tanah-tanahperang (ghanimah) di tangan bala tentara yang pertanian itu, Umar berpendapat lain...menang dengan pertolongan Allah ... Dan tanah- Pendiriannya ialah bahwa tanah-tanah itu harustanah pertanian mereka pun termasuk dalam disita, dan tidak dibagi-bagikan, lalu dibiarkanpenguasaan tentara itu. seolah-olah tanah-tanah itu kepunyaan negara di Berkenaan dengan harta (yang bergerak) tangan para pemilik (aslinya setempat) yang lama,maka Umar telah melaksanakan hukum Allah kemudian mereka ini dikenakan pajak (kharaj), danmengenainya. Dia ambil seperlimanya, dan hasil pajak itu dibagi-bagikan kepada keseluruhanmembagi-bagikan empat perlima lainnya orang-orang Muslim setelah disisihkan daripadakepada masing-masing anggota tentara sebagai gaji tentara yang ditempatkan di pos-pospelaksanaan firman Allah Taala, "Dan ketahuilah pertahanan (al-thughur, seperti Basrah dan Kufah 2  Al-Bahi al-Khuli, "Min fiqh Umar fi al-Iqtisad wa al-Mal", di Irak) dan negeri-negeri yang terbebaskan. dalam majalah al-Muslimun (Damaskus), No. 4, Jumada al- Akhirah, 1373 H/Februari, 1954, hh. 55-59. 3  Q., s. al-Anfal/8:41. 89
  • 96. Tetapi kebanyakan para sahabat menolak pihak mereka yang menentang pendapat Umar, kecuali jika tanah-tanah itu dibagikan di antara yang terdiri dari mereka yang menghendaki mereka karena tanah-tanah itu adalah harta- kekayaan yang memang halal dan telah kekayaan yang dikaruniakan Allah sebagai dikaruniakan Tuhan kepada mereka itu. rampasan (fay) kepada mereka. Mereka ini mengajukan argumen kepadanya Adapun titik pandangan Umar ialah bahwa bahwa harta kekayaan itu adalah fay (jenis harta negeri-negeri yang dibebaskan itu memerlukan yang diperoleh dari peperangan), dan tanah tentara pendudukan yang tinggal di sana, dan rampasan serupa itu telah pernah dibagi-bagikan tentara itu tentulah memerlukan ongkos. Maka jika Rasul alayhi al-salam sebelumnya, dan beliau tanah-tanah pertanian itu habis dibagi-bagi, lalu (Rasul) tidak pernah melakukan sesuatu seperti bagaimana tentara pendudukan itu mendapatkan yang ingin dilakukan Umar. Terutama Bilal r.a. logistik mereka? ... Demikian itu, ditambah lagi sangat keras terhadap Umar, dan mempelopori bahwa Allah tidak menghendaki harta kekayaan gerakan oposisi sehingga menyesakkan dada hanya berkisar atau menjadi sumber rejeki Umar dan menyusahkannya, sehingga karena kaum kaya saja. Jika habis dibagi-bagi tanah- susah dan sedihnya itu Umar mengangkat kedua tanah pertanian yang luas di Syam, Mesir, Irak tangannya kepada Tuhan dan berseru, "Oh Tuhan, dan Persia kepada beberapa ribu sahabat, maka lindungilah aku dari Bilal dan kawan-kawan." menumpuklah kekayaan di tangan mereka, Akhirnya memang Tuhan melindunginya dari Bilal dan tidak lagi tersisa sesuatu apa pun untuk dan kawan-kawan dengan paham keagamaannya mereka yang masuk Islam kelak kemudian hari yang mendalam, yang meneranginya dengan sesudah itu. Sehingga terjadilah adanya kekayaan suatu cahaya dari celah baris-baris dalam Kitab yang melimpah di satu pihak, dan kebutuhan Suci, dan dengan argumen yang unggul, yang (kemiskinan) yang mendesak di pihak lain ... semua golongan tunduk kepada kekuatannya. Itulah keadaan yang hati nurani Umar tidak bisa Begitulah Umar yang suatu saat berkata menerimanya. kepada sahabat-sahabatnya yang hadir bahwa Tetapi dalil dari Kitab dan Sunnah berada di Sad ibn Abi Waqqas menulis surat kepadanya dari90
  • 97. Irak bahwa masyarakat (tentara Muslim) yang ada turun dan para janda di negeri ini dan di tempatbersama dia telah memintanya untuk membagi- lain dari kalangan penduduk Syam dan Irak?"bagi harta rampasan di antara mereka dan tanah- Orang banyak: "Bagaimana mungkin sesuatutanah pertanian yang dikaruniakan Allah kepada yang dikaruniakan Tuhan kepada kami sebagaimereka sebagai rampasan juga. (Kemudian terjadi harta rampasan dengan perantaraan pedang-dialog berikut): pedang kami akan engkau serahkan kepada kaum Sekelompok dari mereka berkata: "Tulis surat yang belum ada dan belum bersaksi, serta kepadakepadanya dan hendaknya ia membagi-bagikan anak-cucu mereka turun-temurun yang belumtanah itu antara mereka." ada?" Umar: "Lalu bagaimana dengan orang-orang Umar (dalam keadaan bingung dan termangu):Muslim yang datang kemudian sesudah itu, yang "Ini adalah suatu pendapat."akan mendapati tanah-tanah telah habis terbagi- Orang banyak: "Bermusyawarahlah"bagikan, terwariskan dari orang-orang tua serta Maka Umar pun bermusyawarah dengantelah terkuasai?... Ini bukanlah pendapat yang kaum Muhajirin yang terkemuka, yang memilikibenar." kepeloporan dan keperintisan yang mendalam Abd al-Rahman ibn Awf: "Lalu apa pendapat dalam Islam:yang benar?... Tanah-tanah itu tidak lain daripada Abd al-Rahman ibn Awf: "Aku berpendapatsesuatu yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka hendaknya kau bagi-bagikan kepada mereka itusebagai rampasan!" Umar: "Memang seperti hak-hak mereka."yang kau katakan ... Tapi aku tidak melihatnya Ali ibn Abi Talib: "Tapi pendapat yang benarbegitu ... Demi Tuhan, tiada lagi suatu negeri ialah pendapatmu, wahai Amir al-Muminin!"akan dibebaskan sesudahku melainkan mungkin Al-Zubayr ibn al-Awwam: "Tidak! Sebaliknya,akan menjadi beban atas orang-orang Muslim apa yang dikaruniakan Tuhan kepada kita sebagai... Jika tanah-tanah pertanian di Irak dan Syam rampasan dengan pedang kita itu harus dibagi-dibagi-bagikan, maka dengan apa biaya pos-pos bagi."pertahanan ditutup, dan apa yang tersisa bagi anak Utsman ibn Affan: "Pendapat yang benar ialah 91
  • 98. yang dikemukakan Umar." orang dari suku al-Khazraj, kemudian ia berpidato Bilal: "Tidak! Demi Tuhan, sebaliknya kita harus di depan mereka dengan pernyataan yang indah melaksanakan hukum Tuhan terhadap harta yang dan bijaksana ini: (Umar membaca hamdalah dan dikaruniakan sebagai rampasan kepada hamba- memuji Tuhan sesuai dengan yang patut bagi-Nya, hambaNya yang beriman." kemudian berkata), Talhah: "Aku berpendapat bahwa yang benar "Aku tidak bermaksud mengejutkan kalian ialah yang dianut Umar." kecuali hendaknya kalian menyertaiku dalam Al-Zubayr: "Ke mana kalian, wahai kaum, amanat mengenai urusan kalian yang dibebankan hendak pergi dari Kitab Allah?" kepadaku. Sebab aku hanyalah salah seorang saja Abd Allah ibn Umar: "Teruskan, wahai Amir dari antara kalian ... Dan kalian hari ini hendaknya al-Muminin, dengan pendapatmu itu. Sebab aku membuat keputusan dengan benar-siapa saja yang harap bahwa di situ ada kebaikan bagi umat ini." hendak berbeda pendapat denganku, silakan ia Bilal (berteriak dan marah): "Demi Tuhan, berbeda, dan siapa saja yang hendak bersepakat tidak berlaku di umat ini kecuali apa yang telah denganku, silakan ia bersepakat ... Aku tidaklah ditentukan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya ingin kalian mengikuti begitu saja hal yang s.a.w." menjadi kecenderunganku ini ... Di tangan kalian Umar (dalam keadaan sesak dada dan sedih): ada Kitab Allah yang menyatakan kebenaran ... "Oh Tuhan, lindungilah aku dari Bilal dan kawan- Dan demi Tuhan, kalau aku pernah menyatakan kawan." suatu perkara yang kuinginkan, aku tidak Pertengkaran itu memuncak selama tiga hari, menginginkannya kecuali kebenaran." dan kegaduhan orang banyak sekitar masalah Kaum Ansar: "Bicaralah, dan kami semua akan itu pun menjadi-jadi. Umar berpikir untuk mendengarkan, wahai Amir al-Muminin." memperluas musyawarahnya keluar kalangan Umar: "Kalian telah mendengar pembicaraan Muhajirin sehingga mencakup para pemuka Ansar mereka, kelompok yang menuduhku berbuat zalim (Ansar), dan dipanggillah oleh Umar sepuluh orang berkenaan dengan hak-hak mereka. Aku benar- dari mereka, lima orang dari suku al-Aws dan lima benar berlindung kepada Allah dari melakukan92
  • 99. kezaliman ... Jika aku telah berbuat zalim kepada itu jika semua tanah pertanian telah habis dibagi-mereka berkenaan dengan sesuatu yang menjadi bagi?"milik mereka dan aku memberikannya kepada Semua yang hadir: "Pendapat yang benar ialahorang lain, maka benar-benar telah celakalah pendapatmu. Alangkah baiknya apa yang kaudiriku ... Tetapi aku melihat bahwa tidak ada lagi katakan dan lihat itu. Jika pos-pos pertahanan dansesuatu (negeri) yang dibebaskan sesudah negeri kota-kota itu tidak diisi dengan personil-personil,Khusru (Persia), dan Allah pun telah merampas serta disediakan bagi mereka perbekalan mereka,untuk kita harta kekayaan mereka dan tanah-tanah maka tentulah kaum kafir akan kembali ke kota-pertanian mereka. Maka aku bagi-bagikanlah kota mereka."semua kekayaan (yang bergerak) kepada mereka Kemudian terlintas dalam benak Umar suatuyang berhak, kemudian aku ambil seperlimanya, cahaya seperti biasanya jika kebenaran datang kedan aku atur menurut aturan tertentu, dan aku lisan dan hatinya, lalu berkata:sepenuhnya bertanggungjawab atas pengaturan "Sungguh telah kudapatkan argumen dalamitu ... Tetapi aku berpendapat untuk menguasai Kitab Allah,tanah-tanah pertanian dan aku kenakan pajak atas Sesuatu apa pun yang dikaruniakan Allahpara penggarapnya, dan mereka berkewajiban sebagai harta rampasan untuk Rasul-Nya darimembayar jizyah sebagai fay untuk orang-orang penduduk negeri-negeri (yang dibebaskan)Muslim, untuk tentara yang berperang serta anak adalah milik Allah, Rasul, kaum kerabat, anak-anakturun mereka, dan untuk generasi yang datang yatim, orang-orang miskin dan orang terlantarkemudian ... Tahukah kalian pos-pos pertahanan dalam perjalanan, agar supaya tidak berkisaritu? Di sana harus ada orang-orang yang tinggal diantara orang-orang kaya saja dari kamu.menetap. Tahukah kalian, negeri-negeri besar Maka apa pun yang diberikan Rasul kepadamuseperti Syam, al-Jazirah (Lembah Mesopotamia), sekalian hendaklah kamu ambil, dan apa punKufah, Basrah dan Mesir? Semuanya itu harus diisi yang Rasul melarangnya untuk kamu hendaklahdengan tentara dan disediakan perbekalan untuk kamu hentikan. Dan bertaqwalah kamu sekalianmereka. Dari mana mereka mendapat perbekalan kepada Allah, sesungguhnya Allah itu keras dalam 93
  • 100. siksaan." (dari generasi mendatang), dan berfirman, "Selanjutnya," kata Umar, "Allah berfirman, Dan orang-orang yang muncul sesudah Dan bagi orang-orang miskin dari kalangan mereka (Muhajirin dan Ansar) itu semuanya Muhajirin yang diusir dari rumah-rumah dan harta berdoa: Oh Tuhan kami, ampunilah kami dan kekayaan mereka, guna mencari kemurahan Allah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dan Ridla-Nya, serta membantu Allah dan Rasul- dalam beriman, dan janganlah ditumbuhkan dalam Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar." hati kami perasaan dengki kepada sekalian mereka "Kemudian," kata Umar lagi, "Allah tidak rela yang beriman itu. Oh Tuhan, sesungguhnya sebelum Dia mengikutsertakan orang-orang lain Engkau Maha Penyantun dan Maha Penyayang."(4) dan berfirman, "Ayat ini," kata Umar, "secara umum berlaku Dan mereka (kaum Ansar) yang telah untuk semua orang yang muncul sesudah mereka bertempattinggal di negeri (Madinah) serta (kaum Muhajirin dan Ansar) itu, sehingga harta beriman sebelum (datang) mereka (kaum rampasan (fay) adalah untuk mereka semua. Maka Muhajirin); mereka itu mencintai orang-orang yang bagaimana mungkin kita akan membagi-baginya berhijrah kepada mereka, dan tidak mendapati untuk mereka (tentara yang berperang saja), dan dalam dada mereka keinginan terhadap apa yang kita tinggalkan mereka yang datang belakangan diberikan kepada orang-orang yang berhijrah tanpa bagian? Kini menjadi jelas bagiku perkara itu, bahkan mereka lebih mementingkan orang- yang sebenarnya." (Demikian Umar). orang yang berhijrah itu daripada diri mereka Para pembahas dapat menarik kesimpulan sendiri meskipun kesusahan ada pada mereka. dari pendirian Umar itu tentang banyak hukum Barangsiapa yang terhindar dari kekikiran dirinya sosial dan ekonomi. Di situ kita dapat melihat sendiri, maka mereka itulah orang-orang yang Umar sangat cermat memperhatikan agar harta bahagia." kekayaan tidak menumpuk hanya di tangan "Firman ini," jelas Umar, adalah khusus tentang sekelompok orang-orang kaya saja. Sebab kaum Ansar. Kemudian Allah tidak rela sebelum penyerahan pemilikan atas berpuluh-puluh juta menyertakan bersama mereka itu orang-orang lain 4  Q., s. al-Hashr/59:7-10.94
  • 101. hektar tanah pertanian di Irak, Syam, Persia dan lain, berupa pandangan-pandangan finansial danMesir kepada sekelompok tentara dan bawahannya ekonomi yang menunjukkan luasnya ufuk danakan membentuk sejumlah orang kaya yang keluwesan pemikiran serta daya cakup Islam yangpada mereka terdapat harta benda melimpah hanif (secara alami selalu mencari yang benarruah, dengan peredarannya pun terpusat kepada dan baik) terhadap masalah-masalah yang pelikmereka saja. Hal itu akan membawa dampak sosial ... Semoga Allah memberi kita petunjuk untukdan moral yang akibatnya tidak terpuji. menggali dari agama kita berbagai kekayaan, hal- Di dalamnya kita melihat Umar memandang hal mendasar dan hakiki.harta sebagai hak semua orang dan menempuh Penuturan kedua berjudul "Bagaimana Parakebijaksanaan yang memperhitungkan Sahabat Nabi Menggunakan Akal Mereka untukkemaslahatan generasi mendatang. Itu adalah Memahami al-Quran", oleh: Dr Maruf al-Dawalibi:(5)pandangan yang cermat dan mendalam, yang Barangkali dari antara banyak masalah ijtihaddalam al-Quran diketemukan sandaran yang dan kejadian yang mucul di zaman para sahabatsangat kuat. setelah wafat Nabi, yang paling menonjol ialah Di dalamnya juga terdapat tindakan sejenis masalah pembagian tanah-tanah (pertanian)nasionalisasi tanah-tanah pertanian atau yang telah dibebaskan oleh tentara (Islam) melaluiyang mendekati itu, yaitu ketika ia mencegah peperangan di Irak, Syam (Syria) dan Mesir.sekelompok orang-orang Muslim sezamannya dari Telah terdapat nas al-Quran yang menyebutk.menguasai tanah-tanah yang dikaruniakan Tuhan an dengan jelas tanpa kesamaran sedikit punsebagai harta rampasan (fay), dan ia tidak bergeser di dalamnya bahwa seperlima harta rampasandari pendapatnya untuk menjadikan tanah- (perang) harus dimasukkan ke bayt al-mal, dantanah itu milik negara, yang dari hasil pajaknya ia harus diperlakukan sesuai dengan pengarahanmembuat anggaran untuk tentara, dan dengan yang ditentukan oleh ayat suci. Allah telahhasil itu pula ia menanggulangi kesulitan-kesulitan 5  Maruf al-Dawalibi, "Kayfa istamala al-sahaabah uqulahumdi masa depan. fi fahm al-Quran", dalam majalah al-Muslimun (Damaskus), No. 7, Rabi al-Thani 1375 H./Tashrin al-Thani (November) Di dalamnya juga terdapat banyak hal yang 1955, hh. 4347. 95
  • 102. berfirman dalam Surah al-Anfal, "Dan ketahuilah garapannya telah habis terbagi-bagi, dan telah olehmu sekalian bahwa apa pun yang kamu pula terwariskan turun-temurun dan terkuasai? Itu rampas (dalam perang) dari sesuatu (harta) maka bukanlah pendapat (yang baik). seperlimanya adalah untuk Allah, Rasul, kaum Abd al-Rahman ibn Awf, menyanggah Umar: kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, "Lalu apa pendapat (yang baik)? Tanah pertanian dan orang yang terlantar dalam perjalanan (ibn dan garapannya itu tidak lain adalah harta al-sabil)."(6) rampasan yang diberikan Allah kepada mereka!" Sedangkan yang empat perlima selebihnya Umar menjawab: "Itu tidak lain adalah katamu maka dibagi sama antara mereka yang merampas sendiri, dan aku tidak berpendapat begitu. Demi (dalam perang) itu, sebagai pengamalan ketentuan Tuhan, tidak akan ada lagi negeri yang dibebaskan yang bisa dipahami dari ayat suci tersebut dan sesudahku yang di situ terdapat kekayaan besar, praktek Nabi s.a.w. ketika beliau membagi (tanah bahkan mungkin akan menjadi beban atas orang- pertanian) Khaybar kepada para tentara. orang Muslim. Jika aku bagi-bagikan tanah-tanah Maka, sebagai pengamalan al-Quran dan al- di Irak beserta garapannya, tanah-tanah di Syam Sunnah, datanglah para perampas (harta rampasan beserta garapannya, maka dengan apa pos-pos perang) itu kepada Umar ibn al-Khaththab, pertahanan akan dibiayai? Dan apa yang tersisa dan meminta agar ia mengambil seperlima untuk anak cucu dan janda-janda di negeri itu dan daripadanya untuk Allah dan orang-orang yang ditempat lain dari kalangan penduduk Syam dan disebutkan dalam ayat (dimasukkan dalam bayt Irak?" al-mal), kemudian membagi sisanya kepada Orang pun banyak berkumpul sekitar Umar, mereka yang telah merampasnya dalam perang. dan mereka semua berseru; "Apakah engkau akan (Kemudian terjadi dialog berikut): memberikan sesuatu yang oleh Allah diberikan Kata Umar: "Lalu bagaimana dengan orang- untuk kami dengan perantaraan pedang-pedang orang Muslim yang datang kemudian? Mereka kami kepada kaum yang belum ada dan belum mendapati tanah-tanah pertanian beserta bersaksi? Dan kepada anak-anak mereka itu serta cucu-cucu mereka yang belum ada?" 6  Lihat catatan 3.96
  • 103. Namun Umar tak bergeming kecuali berkata: dengan aku, silakan ia berbeda, dan siapa saja"Itulah pendapatku." yang hendak bersepakat dengan aku, silakan ia Mereka menyahut: "Bermusyawarahlah!" bersepakat. Aku tidaklah ingin kalian mengikuti Maka Umar pun bermusyawarah dengan begitu saja hal yang menjadi kecenderunganku ini.kaum Muhajirin yang terkemuka, dan mereka Di tangan kalian ada Kitab Allah yang menyatakanini berselisih pendapat. Adapun Abd al-Rahman kebenaran. Dan demi Tuhan, kalau aku pernahibn Awf, maka pendapatnya ialah agar diberikan menyatakan suatu perkara yang kuinginkan, akukepada para tentara itu apa yang telah menjadi tidak menginginkannya kecuali kebenaran."hak mereka. Sedangkan pendapat Utsman, Ali, Semuanya serentak berkata: "Bicaralah, danThalhah dan Ibn Umar sama dengan pendapat kami semua akan mendengarkan, wahai Amir al-Umar. Muminin." Kemudian Umar memanggil sepuluh orang Dan mulailah Umar berbicara:dari golongan Ansar, lima orang dari suku al-Aws "Kalian telah mendengar pembicaraan mereka,dan lima orang dari suku al-Khazraj, terdiri dari kelompok yang menuduh aku berbuat zalimpara pembesar dan petinggi mereka. Setelah berkenaan dengan hak-hak mereka. Aku benar-mereka berkumpul, Umar membaca hamdalah benar berlindung kepada Allah dari melakukandan memuji Tuhan, kemudian berkata (penuturan kezaliman. Jika aku telah berbuat zalim kepadaal-Dawalibi ini tidak jauh berbeda dengan al-Khuli mereka berkenaan dengan sesuatu yang menjadidi atas): milik mereka dan aku berikan kepada orang lain, "Aku tidak bermaksud mengejutkan kalian maka benar-benar telah celakalah diriku. Tetapikecuali hendaknya kalian menyertaiku dalam aku melihat bahwa tidak ada lagi sesuatu (negeri)amanatku dan dalam urusan kalian yang yang dibebaskan sesudah negeri Khusru (Rajadibebankan kepadaku. Sebab aku hanyalah Persia), dan Allah pun telah merampas untuksalah seorang saja dari kalian, dan kalian hari kita harta kekayaan mereka dan tanah-tanahini hendaknya membuat keputusan dengan pertanian mereka, garapan-garapan mereka,benar: siapa saja yang hendak berbeda pendapat maka aku bagi-bagikanlah semua kekayaan (yang 97
  • 104. bergerak) kepada mereka yang berhak, kemudian sampai membagi-baginya, maka akan terjadilah aku ambil seperlimanya, dan aku atur menurut kekayaan yang amat besar berada di tangan aturan tertentu, dan aku sepenuhnya bertanggung kelompok orang tertentu, kemudian mereka jawab atas pengaturan itu. Tetapi aku berpendapat akan mati, lalu harta itu akan bergeser ke tangan untuk menguasai tanah-tanah pertanian beserta satu orang, baik laki-laki atau pun perempuan, garapan-garapannya, dan aku terapkan pajak dan sesudah mereka itu muncul generasi yang atas para penggarap tanah-tanah itu, dan mereka benar-benar melihat adanya kebaikan pada Islam berkewajiban membayar jizyah sebagai fay untuk —yaitu mereka mendapati dalam Islam suatu orangorang Muslim, baik yang berperang maupun keuntungan— namun mereka tidak mendapatkan anak turun mereka, dan untuk generasi yang apa-apa. Karena itu carilah sesuatu yang kemudian. Tahukah kalian pos-pos pertahanan menguntungkan baik generasi pertama maupun itu? Di sana harus ada orang-orang yang tinggal generasi akhir." menetap. Tahukah kalian, kota-kota besar seperti Sungguh menakjubkan pernyataan Muadz itu: (di) Syam, al-Jazirah (Mesopotamia), Kufah, Basrah Jika tanah-tanah pertanian itu dibagi habis, maka dan Mesir? Semuanya itu memerlukan tentara terjadilah kekayaan amat besar pada kelompok untuk mempertahankan dan biaya besar untuk tertentu, dan kalau mereka ini semuanya telah mereka. Dari mana mereka diberi biaya itu jika tiada, kekayaan itu akan pindah ke tangan satu- semua tanah pertanian dan garapannya telah dua orang, sehingga orang-orang (dari kalangan habis dibagi-bagi?" Serentak semuanya menjawab: penduduk setempat) yang muncul sesudah itu dan "Pendapat yang benar ialah pendapatmu. memeluk Islam tidak lagi mendapatkan sesuatu Alangkah baiknya apa yang kau katakan dan lihat apa pun! Alangkah cemerlang pernyataannya itu! itu. Jika pos-pos pertahanan dan kota-kota itu tidak Dengan pernyataannya itu, Muadz seolah-olah diisi dengan personil-personil, serta disediakan hendak menentang banyak orang sebagaimana bagi mereka kebutuhan-kebutuhan mereka, maka kaum sosialis sekarang menentang para tuan tanah tentulah kaum kafir akan kembali ke kota-kota agar jangan sampai tanah yang luas milik Tuhan mereka." Kata Muadz kepada Umar: "Jika engkau itu jatuh ke tangan hanya satu-dua orang, baik pria98
  • 105. maupun wanita, yang dengan pemilikan tanah itu tidak lain ialah harta yang dirampaskan oleh Tuhanorang tersebut memetik buah kerja keras sejumlah untuk mereka, yakni harta yang diberikan Tuhanbesar para pekerja petani untuk dinikmati sendiri kepada mereka dari musuh."tanpa disertai kalangan manusia lainnya. Sedangkan Umar, dalam menjawab Abd Para sahabat Nabi itu terus melakukan al-Rahman atas argumennya itu, menyatakan:pembicaraan sesama mereka selama beberapa "Itu tidak lain hanyalah pendapatmu, dan akuhari. Mereka yang berpendapat harus dibagi-bagi, tidak berpendapat begitu. Demi Tuhan, tidak adaberargumentasi dengan praktek Nabi s.a.w. dalam lagi sesudahku negeri yang dibebaskan yangmembagi-bagikan tanah Khaybar di antara para di situ terdapat kekayaan yang besar, bahkantentara yang membebaskannya, dan dengan mungkin akan menjadi beban atas orang-orangfirman Allah, "Ketahuilah bahwa apa pun dari Muslim. Maka jika aku bagi habis tanah Irak dansesuatu (kekayaan) yang kamu rampas dalam garapannya, juga tanah Syam dan garapannya,peperangan maka seperlimanya adalah untuk maka bagaimana membiayai pos-pos pertahanan?Allah, Rasul, para kerabat, anak-anak yatim, orang- Dan apa yang tersisa untuk anak turun dan janda-orang miskin, dan orang terlantar di perjalanan."(7) janda di negeri itu dan di tempat lain dari kalanganKarena ayat itu hanya mengemukakan ketentuan penduduk Syam dan Irak?"untuk menyisihkan seperlima saja dari kekuasaanpara tentara pelaksana rampasan dalam perangdan menyerahkannya kepada bayt al-maluntuk digunakan bagi keperluan pihak-pihakyang berhak yang tersebutkan dalam ayat itu,sedangkan ayat itu tidak memberi ketentuanapa-apa tentang bagian yang empat perlima lagi,maka Abd al-Rahman ibn Awf berkata kepadaUmar: "Tanah-tanah pertanian dan garapannya itu 7 Ibid. 99
  • 106. digitized by:PlantATree — Publishing

×