Asal usul kitab suci

3,129 views
3,005 views

Published on

... bacaan lama... dulu punya hardcopynya, tapi sudah lenyap ditelan masa...

Published in: Spiritual
0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
3,129
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
212
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Asal usul kitab suci

  1. 1. MencariAsal-usulKitab Suci(The Bible Came from Arabia) Dr. Kamal Salibi 1985
  2. 2. Tulisan ini diambil dari ‘Pustaka Online Media ISNET’ (media.isnet.org) tanpa seijin dari pengelola situs tersebut. Tulisan ini juga pernah diterbitkan oleh: Penerbit Pustaka Litera AntarNusa— Bogor, entah tahun berapa? Oleh karena itu, apabila pengelola dan penerbit merasa keberatan dengan digitalisasi tulisan ini, bisa melayangkan keberatan ke alamat: idul.choliq@atheist.com. Dengan segala hormat, kami akan segera menyedia-sempatkan waktu guna menanggapi dengan segera dan mencukupi.Gambar sampul muka, diambil dari peta wilyah Jazirah Arabia yang ditampilkan oleh aplikasi Google® Earth v. 6.2 for Mac® OS X Lion®, sedangkan digitalisasi dengan menggunakan Adobe®InDesign® CS6 for Mac® OS X. Typeface yang dipergunakan adalah: Myriad Pro, Adobe® Garamond Pro dan Minion Pro yang dibuat oleh Adobe® Systems Inc.Besar harapan kami, digitalisasi tulisan ini bisa meningkatkan manfaatnya dan bagi para pembaca.... selamat membaca.
  3. 3. — ii —
  4. 4. Daftar Isi Kata Pengantar vii Pendahuluan 11 Dunia Yahudi Kuno 92 Masalah Metode 353 Tanah Asir 494 Mencari Gerar 575 Non-Temuan di Palestina 736 Bermula Dari Tehom 917 Masalah Yordan 1018 Yudah Arabia 119 a. Wilayah Jizan 131 b. Wilayah Rijal Alma’ 132 c. Wilayah Bahr dan Birk 132 d. Wilayah Muhayil 133 e. Wilayah Ballahmar-Ballasmar 133 f. Wilayah Bariq 133 g. Wilayah Majaridah 133 h. Wilayah Qunfudhah 134 i. Wilayah Wadi Adam 134 j. Daerah pedalaman Lith yang lebih luas 135 — iii —
  5. 5. k. Wilayah Taif 136 9 Yerusalem dan Kota Daud 139 10 Israil dan Samaria 157 11 Rencana Perjalanan Ekspedisi Sheshonk 169 12 Melchizedek: Petunjuk-petunjuk Pada Sebuah Panteon 183 13 Orang-orang Ibrani Hutan Asir 195 14 Orang-orang Filistin Arabia 203 15 Tanah Harapan 215 16 Kunjungan Ke Eden 225 17 Nyanyian Dari Pegunungan Jizan 233 Epilog 245 Lampiran 1. Bukti-bukti Onomastik Yang Berkenaan Dengan Keduabelas Suku Israil di Arabia Barat 249 Cabang-cabang suku Yoseph (Yusuf ): 252 ‘Induk’ suku-suku Israil: 253 Lampiran 2: Peta-peta 257 Tentang Penulis 269— iv —
  6. 6. —v—
  7. 7. — vi —
  8. 8. Kata PengantarK etika mula-mula saya mengira bahwa tempat asal Kitab Bibel itu Arabia Barat dan bukan Palestina, saya merasa memerlukan dukungan untuk memperdalampenyelidikan ini, atau lebih tepat lagi untuk memberanikanmenulis sebuah buku tentang ini. Dukungan ini diberikanoleh sejumlah teman dan rekan saya, dan saya banggamenyatakan bahwa saya berutang budi kepada mereka. Diantara mereka, Dr. Wolfgang Koehler dan Prof. GernotRotter yang telah memberi kesempatan pertama kepada sayauntuk mengemukakan penemuan-penemuan saya yang awalkepada para pendengar yang amat kritis di Deutche OrientInstitut di Beirut. Prof. Rotter jugalah yang membawa hasilpenelitian saya kepada penerbit-penerbit Jerman. Merekalahyang kemudian mempersiapkan penerjemahan buku ini,yang aslinya ditulis dalam bahasa Inggris, ke dalam beberapabahasa. Joseph Munro, Profesor Sastra Inggris di AmericanUniversity of Beirut, banyak membantu saya sejak awalberjalannya penyelidikan ini. Dia pula yang mempersiapkannaskah saya untuk diterbitkan, serta melonggarkan jalan
  9. 9. pemikiran saya yang terkadang sangat ingin menonjolkan keilmuan. Ia pun memperlembut sifat tegas saya yang sering dogmatis dengan bentuk-bentuk perumpamaan. Rasa gembira karena penemuan ini memaksa saya untuk mengabaikan sikap berhati-hati. Sebagai pendatang baru dalam bidang studi Semit dan Keinjilan, dalam tahap-tahap awal penyelidikan ini saya mendapatkan bimbingan dari dua orang rekan saya, Ramzi Baalbaki, yang membantu saya dalam memperlancar bahasa Ibrani saya, dan William Ward, yang menyisihkan waktunya untuk memperkenalkan saya pada literatur bidang keilmuan yang relevan dan memperingatkan saya akan adanya ke sulitan-kesulitan yang akan saya hadapi. Yang seorang rekan lagi, yaitu Charles Abu Chaar, yang telah memberi pengarahan kepada saya dalam hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan flora Arabia. Profesor Otto Jastrow dari the University of Erlangen, sangat berbaik hati terhadap saya dalam memberi dukungan dan pengarahan mengenai studi ini, dan secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepadanya. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga saya tujukan kepada Volkhard Windfuhr dari Der Spiegel, atas perhatiannya yang besar terhadap buku saya ini, dari awal sampai akhir. Peta-peta di dalam buku ini digambar oleh Ahmad Shah Durranai, Dr. Elfried Soker dan Klaus Carstens, sedangkan naskah terakhir yang diketik dipersiapkan oleh Mufida Yacoub, Sayidah Ni’mah, Leila Salibi dan Margo Matta. Karena studi yang saya lakukan ini bersifat revolusioner, saya yakin segenap penasihat saya akan gembira mendengar bahwa saya membebaskan mereka dari segala tanggung jawab dan dari apa pun kesalahan serta kesalahpahaman yang didapati oleh para pembaca kritis. Meskipun demikian, saya menghargai dukungan mereka selama buku ini ditulis. Saya hanya dapat berharap antusiasme mereka yang tak kunjung padam itu telah diterjemahkan menjadi sebuah buku yang patut mendapatkan kerjasama yang begitu besar itu dari mereka. Akhirnya, saya harus berterima kasih kepada sumber-— viii —
  10. 10. sumber informasi yang tercetak yang menjadi studi sayaini sangat bergantung. Selain sebuah versi standar dari tekskonsonan Injil Ibrani, saya telah memanfaatkan katalognama-nama tempat Arabia yang diterbitkan oleh SheikhHamad al-Jasir dari Riyad, Arab Saudi, yang berjudul Al-Mu’jam al-Jiughrafi li’l-Bilad’l ‘Arbiyyah as-Sa’udiyyah (Riyad,1977). Selain itu, saya telah memanfaatkan juga beberapa petaJazirah Arabia yang lain: ‘Atiq al-Baladi Mu’jam Ma’alim’l-Hijaz (Taif, 1978). Muhammad al-’Aqili: Al-Almu’jam al-Jiughrafi li’l-Bilad’l ‘Arabiyyah as-Sa’udiyyah; Muqata’at Jizan(Riyad, 1979); ‘Ali ibn Salih as-Siluk az-Zahrani, Al-Mu’jamal-Jiughrafi ...; Bilad Ghamid wa Zahran (Riyad, 1978);Hamad al-Jasir, Mu’jam, Qaba’il’l-Mamlakah al ‘Arabiyyahas-Sa’udiyyah (Riyad, 1981); ‘Atiq al-Baladi, Mu’jam Qaba’il’l-Hijaz (Mekah, 1979). Karya-karya ahli ilmu bumi Arab klasik,terutama Mu’jam’l-Buldan karya Yaqut dan Sifat Jazirat’l-Arab karya al-Hamdani, juga membantu saya. Sebagianbesar sumber-sumber lain tempat saya mendapatkan segalaketerangan itu tertera dalam catatan teks. Guna membantu pembaca yang bukan spesialis, sayatelah, menyediakan beberapa catatan mengenai transliterasiIbrani dan Arab, dan mengenai perubahan bentuk konsonanyang sering dijumpai antara kedua bahasa itu, yang terdapattepat sebelum kata pengantar ini. Beirut‚ 24 April 1985 Kamal Salibi — ix —
  11. 11. —x—
  12. 12. PendahuluanS aya akan berbicara langsung mengenai pokok persoalan. Saya yakin bahwa saya telah mendapatkan suatu penemuan penting yang seharusnya akan dapat mengubahpengertian kita tentang Bibel Ibrani, atau apa yang disebutoleh kebanyakan orang sebagai Perjanjian Lama. Penemuanini berupa dugaan kuat bahwa Kitab Bibel itu berasal dariArabia Barat, dan bukan dari Palestina, seperti yang sampaikini diduga oleh para ahli, berdasarkan pada perkiraangeografis. Bukti yang saya dapati untuk menentang pernyataanini akan dibahas pada bab-bab yang berikut. Dugaan saya inididasarkan pada analisa linguistik dari nama-nama tempatyang tertera di dalam Kitab Bibel, yang menurut pendapatsaya sampai sekarang terus menerus telah diterjemahkansecara tidak benar. Prosedur ini secara teknis disebut analisaonomastik, atau barangkali lebih tepat analisa toponimik. Saya
  13. 13. terus-terang mengakui bahwa penemuan ini masih bersifat teoritis, sebelum diperkuat oleh penyelidikan-penyelidikan arkeologis. Akan tetapi bukti-bukti yang saya dapati sangatlah besar sehingga hanya akan disangsikan oleh orang-orang kolot saja, dan saya yakin kesangsian itu pun akan lenyap setelah adanya dukungan selanjutnya oleh para ahli. Tidak mengherankan, dalam membuka jalan baru, jika saya melakukan beberapa kesalahan yang mungkin akan dijadikan kesempatan oleh para kritikus untuk menodai hasil- hasil penemuan saya ini. Tetapi saya yakin bahwa kesalahan itu tidak akan begitu besar sehingga dapat mempengaruhi hasil penemuan ini. Tidak diragukan lagi, banyak orang akan mengeluh bahwa referensi saya terhadap kepustakaan yang luas mengenai geografi Bibel Ibrani itu hanya sepintas saja. Jawaban yang akan saya berikan singkat saja, yaitu bahwa saya samasekali tidak setuju dengan apa yang telah tertulis dan merasa tidak perlu membebani para pembaca dengan sanggahan-sanggahan mengenai penemuan-penemuan yang lalu satu persatu. Sebenarnya saya khawatir juga bahwa daftar nama-nama tempat yang menjadi dasar pokok argumentasi buku ini akan menimbulkan kesulitan kepada pembaca yang tidak begitu biasa dengan transliterasi abjad Ibrani dan Arab. Sementara saya harapkan para spesialis akan ikut bersabar bersama saya, saya sarankan pembaca biasa melewati saja bagian-bagian itu, dan memusatkan perhatian pada kesimpulan yang telah saya usahakan seringkas dan sejelas mungkin, dengan harapan hal ini dapat saya kemukakan dengan sebaik-baiknya. Untuk membantu pembaca umum, beberapa pengetahuan dasar baik mengenai bahasa dalam Bibel Ibrani ataupun perbandingannya secara linguistik yang berhubungan dengan bahasa-bahasa Semit, barangkali masih diperlukan. Ringkasnya, Kitab Bibel Ibrani kanonik itu terdiri dari tiga puluh sembilan kitab yang dahulunya disusun dalam dua puluh empat buah gulungan. Lima kitab pertama, yaitu Pentateuch (atau Torah dalam bahasa Ibrani, yang berarti ‘pelajaran’) terdiri dari Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Selanjutnya, dua puluh satu kitab Kisah—2—
  14. 14. para Rasul: empat karya bersejarah Yosua, Hakim-hakim,Samuel (2 kitab), Raja-raja (2 kitab); kitab-kitab Tiga Rasulutama Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel; kemudian dua belaskitab mengenai para nabi-nabi, yaitu: Hosea, Yoel, Amos,Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai,Zakharia dan Maleakhi. Dan akhirnya tiga belas kitab puisi-puisi keagamaan dan kesusastraan mengenai kebijaksanaan,Tulisan-tulisan, yang terdiri dari Mazmur, Amsal, Yob,Kidung Agung, Rut, Ratapan, Pengkhotbah, Ester, Daniel,Ezra, Nehemia dan Tawarikh (2 kitab). Kecuali bagian-bagianAramaik dari kitab Daniel (2:4b - 7:28) dan kitab Ezra (4:8- 6:18), semua karangan orisinalnya yang sampai kepada kitatertulis dalam bahasa Ibrani. Hal-hal yang bersangkutan dengan penanggalan danpenyusunan kitab-kitab Bibel Ibrani itu terlalu rumit untukdibahas secara rinci, dan tidaklah penting dalam argumentasisaya ini. Sejumlah kitab-kitab itu, misalnya, sudah dapatdipastikan sebagai karya-karya baru yang disusun berdasarkannaskah-naskah yang lebih tua, sehingga dapat diperkirakanbaru tersusun pada sekitar abad ke-4 S.M., setelah runtuhnyakerajaan Israil kuno. Yang sudah pasti ialah bahwa bahasa Ibrani dalam Bibelsecara keseluruhan mempunyai bentuk bahasa sehari-hari,tidak seperti halnya bahasa Ibrani yang dipakai oleh pararabbi (pendeta Yahudi) yang berfungsi khusus sebagai bahasakesarjanaan. Dengan kata lain, naskah-naskah Bibel Ibraniyang kita kenal telah ada sebelum abad ke-5 S.M., pada waktuKerajaan Israil kuno mengalami kehancurannya dan sewaktubahasa Ibrani dan berbagai bentuk bahasa Kanaan sudah tidakdipakai lagi. Ini berarti kita dapat mempergunakan BibelIbrani itu, paling tidak dalam penelitian ini, sebagai dokumenyang berhubungan langsung dengan sejarah Israil, lepas darisoal-soal penanggalan, komposisi, atau siapa penulisnya. Karena hampir seluruh argumentasi ini dititikberatkanpada perkiraan saya bahwa Bibel Ibrani terus-menerusditerjemahkan dengan tidak benar, maka patut diadakansuatu pembetulan. Singkatnya, seperti yang akan sayajelaskan secara lebih mendalam pada Bab 2, bahasa Ibrani —3—
  15. 15. itu tidak lagi dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari pada sekitar abad ke-5 atau ke-6 S.M. Oleh sebab itu, jika ingin memahami Bibel Ibrani kita harus memilih satu di antara dua metode. Cara yang pertama ialah menerima saja terjemahan naskah-naskah yang diterjemahkan secara tradisional itu dalam bahasa Ibrani, atau menyelidiki bahasa-bahasa Semit yang masih berhubungan erat dengan bahasa Ibrani, seperti bahasa Arab dan bahasa Suryani. Bahasa Suryani merupakan peninggalan dari suatu bentuk bahasa Aram kuno. Saya tidak menggunakan penterjemahan secara tradisional dalam bahasa Ibrani, karena para ahli Yahudi yang menterjemahkan dan memberi bunyi vokal pada Bibel Ibrani antara abad ke-6 dan ke-10 M. itu tidak dapat berbahasa Ibrani secara lisan dan mungkin mendasarkan rekonstruksi mereka pada dugaan-dugaan saja. Jika memakai metode kedua, untuk menafsirkan bahasa Ibrani yang dipergunakan di dalam Bibel Ibrani, kita harus melakukannya berkenaan dengan fonologi dan morfologi perbandingan dari bahasa-bahasa Semit. Mengingat banyak pembaca yang belum terbiasa dengan hal-hal seperti ini, sekali lagi saya akan memberikan informasi dasar mengenai hal ini. Bahasa Semit pada umumnya dianggap sebagai anggota keluarga besar bahasa-bahasa Afro-Asia yang meliputi bahasa Mesir kuno dan bahasa Berber serta Hausa modern. Dari bahasa-bahasa ini, yang termasuk dalam cabang bahasa Semit ialah bahasa Akkadia (bahasa kuno Babilonia dan Asiria), bahasa Kanaan (bahasa Funisia kuno dan bahasa Ibrani kuno adalah suatu varian dari bahasa ini), bahasa Aram (bahasa Suryani) dan bahasa Arab. Salah satu ciri khas yang dimiliki bahasa-bahasa ini adalah sistem mendapatkan akar suatu kata yang biasanya terdiri dari tiga konsonan. Akar-akar kata ini biasanya dipahami sebagai kata kerja, dan ada seperangkat pola asal mula kata kerja ini yang telah membentuk kata kerja lain, dan juga kata benda dan kata sifat yang beraneka ragam. Ini melibatkan beberapa cara pemberian tanda vokal pada akar kata dengan menambahkan huruf-huruf hidup, dan juga penambahan satu atau lebih konsonan pada akar kata yang asli. Dalam kamus-kamus standar bahasa-bahasa Semit,—4—
  16. 16. kita biasanya mencari akar kata tertentu, yang kemudiandiikuti oleh serangkaian kata jadian yang berasal dari akarkata itu. Sejumlah akar kata yang sama terdapat di beberapabahasa Semit, dengan arti yang sama atau dengan arti yangberdekatan. Kalau kita telah menguasai sebuah bahasa Semit,akan lebih mudah mempelajari yang lain. Terkadang, sebuah akar kata yang ada pada dua ataulebih bahasa Semit tidak mudah dikenali sebagai akar katayang sama oleh seseorang yang tidak berbahasa Semit sebagaibahasa ibu. Ini disebabkan karena satu atau lebih konsonandalam akar kata itu dapat berubah dari satu bahasa ke bahasayang lain. Dalam bahasa Ibrani, contohnya, akar kata yangberarti ‘mendiami’ adalah hsr, sedangkan dalam bahasa Arabakar kata itu adalah hdr. Penjelasannya adalah bahwa pemakaibahasa Semit secara naluriah mengenai hubungan fonologisantara pelbagai konsonan, yang dapat ditukar tempatnya diantara berbagai bahasa-bahasa Semit. Misalnya, ‘g’ di dalamsatu bahasa atau dialek (yang dapat diucapkan seperti huruf ‘g’atau sebagai huruf ‘j’) dapat berubah menjadi huruf ‘q’ (qaf)atau ‘g’ (ghayn) dalam bahasa atau dialek yang lain. Maka kataNegeb dalam bahasa Ibrani (sebagai sebuah nama tempat)berubah menjadi Naqab atau Nagab dalam bahasa Arab. Perubahan konsonan di antara bahasa-bahasa Semit ininampaknya mengikuti peraturan-peraturan tertentu, danuntuk mudahnya saya telah tabulasikan perubahan-perubahantersebut dari bahasa Ibrani ke bahasa Arab di bagian tepatsebelum Kata Pengantar buku ini. Ada pula masalah metatesis,atau perubahan dalam penempatan konsonan-konsonan dalamakar kata yang sama antara pelbagai bahasa Semit, misalnyaakar kata acb, dapat berubah menjadi cab atau bca. Metatesisbukanlah suatu fenomena linguistik yang hanya ditemuidalam bahasa-bahasa Semit. Kita dapat juga menjumpainyadalam bahasa-bahasa yang lain , walaupun metatesis sangatbiasa terjadi di antara bahasa-bahasa Semit yang sama. Dalamsebuah dialek Arab, contohnya, zwg (diucapkan zawj), yangberarti ‘sepasang’ dapat berubah menjadi gwz (diucapkanjawz), yang terakhir adalah bentuk yang biasa terdapat padadialek Libanon yang saya pakai. —5—
  17. 17. Sama pentingnya, kalau tidak lebih, untuk mengingat bahwa bahasa-bahasa Semit ditulis dalam bentuk konsonan tanpa huruf hidup. Namun, pada terjemahan-terjemahan Kitab Bibel dalam bahasa Inggris dan dalam bahasa-bahasa lainnya, nama-nama menurut Bibel itu dikemukakan dalam bentuk yang telah diberi huruf vokal, yang berasal dari penyuaraan kaum ‘Masoret’ atau dari tradisi Kitab Bibel Ibrani, yang seperti telah saya katakan, mungkin salah, sepanjang ahli-ahli Masoret itu perlu menyusun kembali bahasa Ibrani, yang sudah dipergunakan lagi secara umum. Agar membantu para pembaca, yang telah saya lakukan adalah memberikan baik kata Ibrani yang diberi vokal secara tradisional maupun yang belum diberi vokal, dan saya berusaha untuk menunjukkan bagaimana kata yang sama itu, jika diberi vokal dengan cara yang berbeda, dapat mempunyai arti selain yang telah ditentukan menurut tradisi kaum Masoret. Mengenai kata-kata — terutama nama-nama tempat yang berasal dari catatan-catatan kuno Mesir, mustahil untuk mengetahui bagaimana semua itu disuarakan. Maka dari itu, apa yang telah saya lakukan dalam contoh-contoh yang seperti itu adalah mengemukakannya dalam bentuk konsonan mereka dan juga membuat agar mereka dapat dibandingkan dengan bentuk-bentuk konsonan Ibrani. Seperti itu pula, jika saya mengutip kalimat-kalimat lengkap dari Bibel Ibrani, saya telah menuliskan kata-kata Ibrani yang tidak diberi vokal ke dalam bentuk Latin yang belum diberi tanda vokal pula. Ini agaknya tidak banyak membantu dalam pembacaannya, tetapi berkenaan dengan argumentasi saya, saya tidak melihat adanya alternatif lain yang lebih baik. Untuk meringkaskan: apa yang sama dalam perbendaharaan kata dari berbagai bahasa Semit adalah sejumlah besar akar kata konsonan dan bentuk-bentuk kata yang berasal dari situ; yang terakhir ini tidak mempunyai perbedaan yang besar antara satu bahasa dengan bahasa yang lain. Guna membandingkan kata-kata dalam berbagai bahasa Semit, kita perlu mengeja kata-kata itu hanya dalam bentuk konsonannya, kalau tidak demikian maka seluruh maknanya akan hilang. Maka dari itu saya harus memohon kepada—6—
  18. 18. pembaca agar mereka bersabar jika terdapat perbandingan-perbandingan seperti itu, dan agar mereka percaya bahwaperbandingan-perbandingan ini dibuat menurut peraturanyang pantas bagi ilmu bahasa perbandingan. Berpaling pada metodologi, karena alasan-alasan yangkini telah jelas, saya mendasarkan studi saya ini pada tekskonsonan Bibel Ibrani, membanding-bandingkan sebutantertentu dengan nama-nama tempat di Arabia Barat gunamemberikan alternatif bagi penterjemah tradisional. Kitatidak perlu membahasnya lebih jauh dari itu, karenamasalah-masalah yang seperti ini akan saya bahas dalam Bab2. Namun, saya hanya ingin menambahkan bahwa selainmeneliti buku-buku dan peta-peta, saya telah pula melakukansebuah perjalanan ke Arabia Barat, yang saya yakin adalahtanah asal Kitab Bibel, guna menjadi lebih akrab denganlokasi-lokasi utama yang disebutkan di dalam studi ini dansecara langsung mengamati bagaimana pelbagai lokasi yangtelah saya sebutkan tadi itu berhubungan, baik secara geografismaupun secara topografis. Di atas dasar-dasar inilah argumentasi buku saya iniberdiri. Apakah saya berhasil atau tidak meyakinkan para ahliBibel Ibrani itu masih harus disangsikan dahulu. Yang dapatsaya katakan adalah bahwa saya yakin sepenuhnya atas hasil-hasil penemuan yang dihasilkan oleh analisa toponimis saya,dan saya menanti-nanti datangnya saat para arkeolog menggalibeberapa tempat peninggalan zaman purbakala yang telahsaya sebutkan, dan semoga menghasilkan bukti-bukti yanglebih lanjut bahwa tanah asal Kitab Bibel Ibrani adalah Arabia,Barat, bukan Palestina. —7—
  19. 19. —8—
  20. 20. 1 Dunia Yahudi KunoA sal mula penyelidikan ini datang secara tidak sengaja. Pada suatu hari saya menerima sebuah copy cetakan indeks ilmu bumi Arab Saudi, diterbitkan di Riyadpada tahun 1977, dan ketika saya sedang memeriksanyauntuk nama-nama tempat yang tidak berasal dari bahasa Arabyang terletak di Arabia Barat, ketika itulah saya menyadaribahwa nama-nama tempat di Arabia Barat juga merupakannama-nama tempat yang tertera di dalam Kitab PerjanjianLama, atau yang saya sebut Bibel Ibrani. Pada mulanyasaya meragukan persamaan ini, tetapi setelah bukti-buktiyang memperkuat itu terkumpul, saya merasa yakin bahwapersamaan antara nama-nama itu bukanlah suatu kebetulanbelaka. Hampir semua nama tempat kuno yang saya dapatidi dalam Bibel berpusat pada daerah dengan panjang sekitar600 kilometer dan selebar 200 kilometer, yang pada zamanini meliputi Asir (bahasa Arabnya ‘Asir) dan bagian selatanHijaz (al-Higaz). Semua koordinat tempat-tempat yangdisebutkan di dalam Kitab Bibel Ibrani dapat dicocokkandengan sebuah tempat di wilayah ini, suatu fakta yang sangatpenting, sedangkan belum ada bukti-bukti yang mencocokkan
  21. 21. koordinat-koordinat tersebut dengan lokasi tempat-tempat di Palestina, tempat yang diduga sebagai tanah asal Kitab Bibel. Saya tidak menemukan sekelompok nama tempat kuno, dalam bentuk Ibraninya yang masih asli di daerah- daerah lain di Timur Dekat. Saya merasa berkewajiban untuk memikirkan adanya sebuah kemungkinan yang sangat menakjubkan: yaitu bahwa Yudaisme bukan berasal dari Palestina, melainkan dari Arabia Barat, dan bahwa seluruh sejarah bangsa Israil kuno berlangsung di daerah ini, bukan di tempat lain. Sudah tentu, jika menganggap bahwa dugaan saya ini benar, bukan berarti bahwa tidak ada orang Yahudi yang tinggal menetap di Palestina pada zaman Bibel itu atau di negara lain di luar wilayah ini. Yang dimaksud ialah bahwa Kitab Bibel Ibrani itu pada dasarnya ialah suatu catatan mengenai sejarah pengalaman bangsa Yahudi di Arabia Barat. Sayangnya tidak ada catatan sejarah yang dapat menjelaskan bagaimana Yudaisme dapat didirikan di Palestina pada zaman dahulu itu. Tetapi kita dapat saja memberikan suatu perkiraan berdasarkan bukti-bukti yang ada. Di antara agama-agama Timur Dekat yang diketahui, agama Yahudi berada dalam golongan tersendiri; belum ada usaha-usaha yang berhasil menjelaskan asal usulnya dalam pengertian agama-agama kuno Mesopotamia, Suria atau Mesir, kecuali dalam tingkat bayangan mitos-mitos. Salah satu contoh yang demikian ini ialah kisah air bah, yang mungkin juga terdapat dalam kitab ‘Epik Gilgamesh’ dari mesopotamia kuno, dan mitos-mitos kuno lainnya, bahkan salah satu di antaranya berasal dari Cina. Walaupun dengan adanya contoh-contoh ini, kita tidak dapat memastikan asal-mulanya mitos-mitos ini serta apa yang dibawa dan dari siapa. Tetapi, seperti yang akan kita lihat dalam Bab 12, sangat masuk di akal untuk mengandaikan bahwasanya asal mula agama Yahudi mungkin terbentuk karena adanya kecenderungan terhadap monoteisme di Asir kuno tempat sejumlah dewa-dewa gunung seperti Yahweh, El Sabaoth, El Shalom, El Shaddai, El Elyon dan yang lain entah bagaimana yang akhirnya diakui sebagai dewa tertinggi, mungkin— 10 —
  22. 22. dengan adanya pembauran di antara suku-suku setempat.Karena kemudian diadopsi oleh suku Israil, sebuah suku lokal,monoteisme dasar Arabia Barat ini lambat-laun berkembangmenjadi sebuah agama dengan jalan pemikiran yang tinggi,yang mempunyai sebuah kitab keagamaan tetap, yangmengandung gagasan yang rumit tentang sifat ketuhanan danmempunyai tema kemasyarakatan dan etika tersendiri. Agamaitu dengan mudah menarik peminat-peminat dari luar daerahasalnya, khususnya dari daerah-daerah yang telah mengenalketatasusilaan dan yang telah mempunyai tingkat pemikiranyang cukup tinggi. Karena agama itu mempunyai kitab dandikembangkan oleh orang-orang yang dapat menulis danmembaca, agama itu mudah untuk disebarluaskan. Bahasa yang dipakai dalam kitab-kitab Yahudi inibiasanya disebut Ibrani, dan agaknya merupakan dialek sebuahbahasa Semit yang dahulunya merupakan bahasa sehari-hariyang dipakai di pelbagai daerah di Arabia Selatan, Barat danSuria (termasuk Palestina)1. Seseorang dapat menyimpulkanhal ini melalui penyelidikan etimologis dan dari nama-nama tempat di wilayah Timur Dekat, mempertimbangkanpula distribusi geografis mereka. Karena memerlukan katayang lebih tepat, maka bahasa kuno ini kini disebut bahasaKanaan, menurut nama sebuah bangsa menurut Bibel yangmenggunakan bahasa ini.2 Di samping bahasa Kanaan, ada satu lagi bahasa yangdipakai di jazirah Arab dan Suria, bahasa ini adalah bahasaAram, diberi nama ini menurut nama bangsa Aram dari Bibel.Tanpa memperdulikan siapa itu sebenarnya bangsa Kanaandan Aram, suatu topik yang akan saya bicarakan dalam Bab 4,3 1 Istilah Semit, dipakai untuk menggambarkan bangsa yang berhubungan dengan bangsa Ibrani dan bahasa-bahasa mereka, pertama kali diperkenalkan oleh A. L. Schlozer dalam tahun 1781. Istilah ini berasal dari kata Shem (sm) dalam Bibel, putra Nabi Nuh dan yang dianggap sebagai leluhur orang-orang Israil dan bangsa-bangsa lain menurut Bibel. Bibel Ibrani berbicara mengenai bangsa-bangsa keturunan Shem tanpa menggambarkan mereka sebagai orang-orang Semit. 2 Bahasa tersebut mungkin disebut dengan nama ini pada masa silam. Sebuah sebutan Bibel, yaitu Yesaya 19:18, menyebutkan ‘bahasa Kanaan’ (spt kn’n), agaknya berarti bahasa Ibrani. 3 Kemudian akan ditunjukkan melalui analisa toponimis bahwa tanah Kanaan menurut Bibel terletak di sisi maritim Asir, bukan di Palestina dan pesisir Suria, seperti yang biasanya diduga. Mendasarkan hampir sebagian besar argumentasi mereka pada bukti-bukti dalam Bibel, yang ditafsirkan dengan salah, para ahli telah menganggap bahwa bangsa Aramaea (Aram) pada mulanya merupakan penghuni daerah Suria bagian utara di sebelah barat sungai Efrat. Namun, sebuah penelitian kembali atas bukti- — 11 —
  23. 23. dapat dipastikan bahwa bahasa Kanaan (atau bahasa Ibrani) dan bahasa Aram pernah dalam waktu yang bersamaan digunakan oleh berbagai masyarakat Arab dari wilayah Barat, seperti halnya di Suria. Sebuah ayat pendek dari Kitab Bibel, jika dilihat kembali dari segi nama-nama tempat di Arabia Barat yang masih ada sejak dari zaman kuno, jelas mengungkapkan hal ini. Sebutan ini adalah Kejadian 31:47-49. Di sini dapat kita baca mengenai sebuah timbunan tanah yang disebut ‘timbunan batu’, didirikan untuk menjadi saksi atas persetujuan antara Yakub, seorang Yahudi, dengan paman dari pihak ibunya, seorang bangsa Aram dan ayah mertuanya, yaitu Laban. Laban menyebutnya ‘Yegar-sahadutha’ (dalam bahasa Aram adalah ygr shdwt’), tetapi Yakub menyebutnya ‘Galed’ (dalam bahasa Ibraninya gl’d) dan ‘Mizpah’ (Ibraninya hmsph), yang berarti menara penjagaan. Ketiga nama ini kini masih dipakai oleh tiga buah desa yang tidak begitu terkenal, yang letaknya berdekatan, di daerah maritim Asir, di kawasan Rijal Alma’ (Rigal Alma’), di sebelah barat Abha (Abha). Nama-namanya adalah: Far’at Al-Shahda (‘l shd’), yang berarti ‘Tuhan adalah saksi’ atau ‘Tuhan dari saksi’, dalam bahasa Arabnya pr’t atau pr’h, yang berarti bukit atau timbunan, sama artinya dengan kata Aram ygr; al-Ja’d (‘l-g’d), yang merupakan sebuah metatesis yang telah diarabkan dari kata gl’d; dan al-Madhaf (mdp; bandingkan dengan msph). Begitulah persamaan antara pemakai bahasa Kanaan dengan pemakai bahasa Aram di Arabia Barat menurut bukti menurut Bibel menunjukkan kepada kita bahwa yang disebut oleh Bibel Ibrani sebagai Aram (konsonan ‘rm) sebenarnya adalah Arabia Barat. Aram Naharim (‘rm nhrym, Kejadian 28:2 dan sebagainya), contohnya, jelas bukan Mesopotamia, tetapi merupakan Naharin (nhryn) kini di dekat Taif (al-Ta’if), di Hijaz bagian selatan. Maka dari itu, kita harus menyimpulkan bahwa Paddan-aram (pdn ‘rm, Kejadian 28:2 dan sebagainya) adalah Dafinah (dpn) di dekatnya, di daerah sekitar Mekah, bukan Mesopotamia. Begitu pula beberapa nama yang lain yang oleh Bibel Ibrani diasosiasikan dengan Aram Beth-rehob, Aram Zobah dan bahkan Damaskus (Dha Misk di Arabia Barat, atau d msk, bandingkan dengan kata Ibrani dmsq) - mungkin kini dapat ditemui namanya di Hijaz dan Asir. Wadi Waram (wrm) juga memakai nama Aram kuno di sana. Kebetulan juga, Iram (‘rm, Qur’an 89:7) di dalam Qur’an, sebagai nama tempat, secara konsonan sama dengan Aram dalam Bibel, yang juga adalah ‘rm. Qur’an menghubungkan tempat ini dengan Dhat al-’Imad. Al-’Imad kini merupakan sebuah desa di dataran tinggi Zahran (Zahran), sebuah daerah di sebelah selatan Taif, dan di sini sebuah daerah Aram setempat bertahan sebagai desa Aryamah (‘rym). Terus-terang saja, kita tidak dapat mengatakan dengan pasti sampai seberapa jauh luas tanah di Arabia Barat menurut Bibel itu, tetapi tanah ini jelas mencakup daerah-daerah selatan Hijaz..— 12 —
  24. 24. Bibel, sehingga menurut hemat saya orang-orang Israilitu bingung dari kelompok mana mereka berasal. Walaumereka menganggap sebagai bangsa Ibrani (lihat Bab 13),tetapi menurut Ulangan 26:5 leluhur mereka adalah seorangyang berasal dari suku Aram. Pertentangan ini telah lamamembingungkan para ahli, tetapi jika anggapan saya benar,hal itu memang masuk akal. Kemungkinan besar awal tersebarnya agama Yahudi daritanah asalnya di Arabia Barat ke Palestina dan ke daerah-daerah lain itu ialah dengan mengikuti jalur (route) kafilahperdagangan antar Arabia. Pada zaman kuno, wilayah Asir diArabia Barat merupakan tempat pertemuan kafilah-kafilahyang membawa barang-barang dagangan dari berbagai negaradi kawasan teluk Samudera Hindia seperti India, ArabiaSelatan serta Afrika Timur, dari satu arah, dan dari Persia-Mesopotamia, dan negara-negara di Laut Tengah bagianTimur, terutama Suria, Mesir dan dunia Aegea, dari arah yanglain (lihat Peta 1). Palestina, yang terletak di sudut Selatan Suria, dekatMesir, merupakan ujung penghabisan dari jalur perdagangankuno Arabia Barat pertama yang bertolak menuju arah ini.Penduduk Yahudi yang pertama mestinya adalah pedagang-pedagang dan kafilah-kafilah dari Arabi Barat yang terlibatdalam perdagangan ini. Penduduk baru ini kemudian denganmudah menarik penduduk lokal untuk memasuki agamamereka, yang dalam hal kecanggihan intelektualnya jauh lebihtinggi dibandingkan dengan cara-cara pemujaan setempat danbahkan agama-agama tinggi kerajaan Mesir dan Mesopotamia.Cara yang persis seperti inilah yang dipergunakan olehpedagang-pedagang Islam di berbagai tempat di Asia danAfrika Timur pada waktu-waktu yang kemudian. Merekamenarik umat baru untuk memeluk agama Islam di manapun mereka singgah di antara penduduk itu yang memandangagama Islam sebagai suatu agama yang lebih baik daripadaagama mereka sendiri. Bukan maksud saya untuk mengatakan bahwa orang-orang Yahudi itulah yang merupakan penduduk pertamaArabia Barat di Palestina. Mestinya bangsa Filistin yang — 13 —
  25. 25. menurut Bibel (lihat Bab 14) dari Arabia Barat itulah yang terlebih dahulu menetap di daerah itu sebelum mereka, mengingat bahwa merekalah yang memberi nama kepada negara ini. Begitupun halnya dengan bangsa Kanaan dari Arabia Barat (lihat catatan 3) yang tampaknya telah ‘tersebar’ (Kejadian 10:18) sejak dahulu, dan memberi nama pada tanah Kanaan (kn’n) yang terletak di sepanjang pantai Suria, di sebelah utara Palestina. Daerah ini disebut Phoenicia oleh bangsa Yunani (mengenai Faniqa atau ‘Phoenicia’ di Asir, lihat Bab 14 ). Bahwasanya Phoenicia sebenarnya disebut Kanaan oleh penduduknya dapat diketahui dari sekeping uang logam Yunani dari Beirut yang menceritakan dalam bahasa Funisia (Phoenicia), bahwa kota ini terletak ‘di Kanaan’ (b-kn’n), dan dalam bahasa Yunani bahwa kota ini terletak ‘di Phoenicia’.4 Menulis mengenai ‘bangsa Phoenicia’ dan ‘bangsa Suria dari Palestina’ pada abad ke-5 S.M., sejarawan Yunani Herodotus yakin bahwa mereka berasal dari Arabia Barat. Ia menulis tentang kedua bangsa itu: ‘Negara ini, menurut cerita mereka sendiri, dahulunya terletak di Laut Merah, tetapi dari sana mereka menyeberang dan menetapkan diri di pesisir Suria, dan di sana mereka masih menetap’ (7:89; lihat juga ibid. 1:1).5 Berapa pun umurnya perkampungan orang-orang dari Arabia Barat yang tertua di daerah pesisir Suria,6 migrasi orang-orang Filistin dan Kanaan ke sana mestinya bertambah besar. Menurut kitab-kitab dalam Bibel Ibrani, kerajaan Israil sudah dipastikan berdiri di Arabia Barat, yang dihuni antara lain oleh bangsa Filistin dan Kanaan, antara akhir abad ke-11 dan awal abad ke-10 S.M., yang sebagian 4 Zellig S. Harris, A Grammar of the Phoenician Language (New Haven, Conn., 1936), halaman 7, catatan 29. Harris menyebutkan bukti-bukti selanjutnya yang menandakan bahwa bangsa Funisia (Phoenicia), di sepanjang pantai Suria dan di tempat-tempat lain, sebenarnya menyebut diri mereka bangsa Kanaan. 5 Bukti Herodotus mengenai hal ini, seperti mengenai hal-hal lain yang berkenaan dengan sejarah Timur Dekat kuno, biasanya tidak ditanggapi dan dianggap tidak berharga oleh para sejarawan dan para ahli purbakala modern di daerah itu. Tentunya mereka secara sombong memperlakukannya dengan demikian, karena bukti-bukti ini tidak cocok dengan anggapan-anggapan mereka yang sebagian besar berdasarkan pada penafsiran yang salah atas bahan-bahan geografis dan topografis Bibel Ibrani. Gagasan bahwa Laut Merah Herodotus bukanlah Laut Merah, melainkan Teluk Parsi tidak perlu dipercaya, karena hanya sedikit sekali bukti yang ada guna mendukungnya. 6 Herodotus (2:44) melaporkan, mengenai kekuasaan pendeta-pendeta kota Funisia Tyre pada zamannya, bahwa kota ini didirikan 2.300 tahun sebelumnya.— 14 —
  26. 26. besar merugikan bangsa Filistin dan Kanaan. Karena patahsemangat dan berturut-turut dikalahkan oleh bangsa Israil,maka orang-orang Filistin dan Kanaan ini kemungkinanmemperderas arus migrasi mereka ke daerah pesisir Suria padawaktu yang sama. Di Palestina, nampaknya bangsa Filistinmenamakan perkampungan-perkampungan mereka (sepertiGaza dan Askalon) menurut kota-kota di Arabia Barat yangmereka tinggalkan. Dusun Bayt Dajan di Palestina (‘kuil’dgn, atau ‘dagon’) di Palestina, dekat Jaffa, masih memakainama dewa agama yang mereka anut sewaktu di Arabia Barat(lihat Bab 14). Di sebelah utara Palestina, bangsa Kanaan jugamemberi nama-nama yang berasal dari Arabia Barat kepadaperkampungan-perkampungan mereka - nama-nama sepertiSur (Tyre), Sidon, Gebal (dalam bahasa Yunani = Byblos),Arwad (dalam bahasa Yunani = Arados), atau Libanon.7 Padasaat orang-orang Israil dari Arabia Barat (dan mungkin kaumYahudi dari Arabia Barat lainnya) memulai migrasi merekake arah Utara untuk menetap di Palestina, yang tak dapatditentukan tahunnya, mereka juga memberikan nama-namayang berasal dari daerah mereka yang dahulu kepada tempat-tempat pemukiman mereka atau kepada tempat-tempatpemujaan penduduk setempat yang diambil alih oleh merekadan menggabungkannya dengan kuil-kuil Yahudi mereka. Diantara yang paling kentara dan yang paling terkenal adalah:Yerusalem (yrwslm, lihat Bab 9), Bethlehem (byt lhm, lihatBab 8), Hebron (hbrwn, lihat Bab 13? Carmel (krml),8 dan 7 Tyre menurut Bibel (bahasa Ibrani sr) bukanlah sebuah kota di tepi ‘laut’ (bahasa Ibrani ym), tetapi apa yang kini merupakan oase utama Zur (zr), yang bernama Zur al-Wadi’ah, di wilayah Najran, berdiri di ujung daerah Yam (ym), berbatasan dengan gurun Arabia Tengah. ‘Kapal-kapal’-nya (bahasa Ibraninya ialah ‘wnywt) sebenarnya adalah kafilah-kafilah binatang beban (bahasa Arabnya ‘nyt, ‘kantung- kantung pelana’), dan tempat-tempat mereka berdagang dapat dikenali melalui nama- nama mereka di pelbagai bagian Arabia. Kitab Bibel berbicara mengenai Raja Hiram (hyrm) dari sr, atau ‘Tyre’; tidak ada raja kuno dengan nama ini yang diakui untuk kota Tyre di Libanon, karena nama Phoenicia Ahiram (hrm bukan hyrm) adalah seorang raja Byblos, yang merupakan tempat yang lain samasekali Gebal (gbl atau qbl) termasuk dalam nama-nama tempat yang sering dipakai di Arabia Barat, sebuah Gebal tertentu, dekat Tyre Bibel, adalah Al-Qabil (qbl), di wilayah Najran. Arwad di Arabia Barat kini adalah Riwad (rwd), di dataran tinggi Asir; Sidon dalam Bibel dibahas dalam Bab 4. Menurut para ahli Geografi Arab, Lubaynan (lbynn, tanpa vokal lbnn, atau ‘Libanon’) adalah nama dataran tinggi yang kini berada di tengah-tengah perbatasan antara Asir dan Yaman. Di kaki perbukitan pantai daerah ini, sebuah desa yang bernama Lubayni (lbyny) masih tetap ada. Pohon-pohon araz (cedar) Libanon yang tertulis dalam Bibel mestinya adalah tumbuhan jenever raksasa Lubaynan di Arabia Barat, dan salju Libanon yang dikatakan dalam Kitab itu, tidak disangkal lagi adalah salju setempat (lihat Bab 2). 8 Carmel di Arabia Barat adalah Kirmil (juga krml), yang disebutkan dalam — 15 —
  27. 27. kemungkinan Galilee (glyl),9 Hermon (hrmwn)10 dan Yordan (h-yrdn, lihat Bab 7), semuanya membenarkan hal ini. Di kebanyakan tempat di dunia, pada suatu waktu, imigran- imigran yang rindu sering menamakan kota-kota, daerah- daerah, pegunungan, sungai-sungai, atau bahkan suatu negara atau pulau-pulau dengan nama-nama yang mereka bawa dari tanah yang mereka tinggalkan. Mengingat pada zaman dahulu bahasa yang dipergunakan di daerah Suria dan Arabia Barat adalah sama, kita tidak dapat meniadakan adanya kemungkinan besar bahwa beberapa tempat di kedua wilayah itu dahulunya mempunyai nama-nama yang sama, terutama jika berkenaan dengan ciri-ciri topografis, hidrologis atau ekologis tertentu, atau berkenaan dengan pemujaan terhadap dewa yang sama. Dalam corak kebudayaan tradisional, seperti dalam halnya bahasa, Suria dan Palestina tidak pernah jauh berbeda. Dalam setiap tahap, emigrasi dari Arabia Barat menuju Suria dan Palestina (dan mungkin juga daerah-daerah lain) didukung oleh faktor-faktor luar. Sebagai daerah yang kaya akan bahan baku alam, dan lagi pula sebagai daerah yang menguasai salah satu bandar perdagangan pada zaman kuno (lihat Bab 3), Arabia Barat sudah semestinya merupakan sebuah target untuk penjajahan ke kerajaan sejak masa lampau. Dalam Bab 11, akan dibuktikan, melalu bukti- bukti toponimik, bahwa ekspedisi yang dilakukan oleh raja Mesir Sheshonk I terhadap Yudah, pada akhir abad ke- 10 S.M., seperti yang dikisahkan dalam Bibel Ibrani dan didukung oleh bukti-bukti dari catatan-catatan kuno Mesir, ditujukan kepada Arabia Barat, bukan terhadap Suria dan Palestina seperti yang sampai kini diperkirakan. Sebuah kamus geografi Arab Yaqut (4:448) sebagai sebuah punggung bukit pesisir di ujung selatan Asir, berbatasan dengan Yaman, sehingga terletak tepat di sebelah barat Libanon Arabia Barat (lihat Catatan 7). Ini menjelaskan mengapa Gunung Carmel kadang-kadang disebutkan sehubungan dengan Gunung Libanon dalam teks-teks Bibel, salah satu di antaranya yang tidak terduga adalah Yesaya 29:17, sb lbnwn l-krml, yang dianggap berarti ‘Libanon akan diubah menjadi ladang yang subur’, tetapi sebenarnya berarti ‘Libanon akan berubah (atau kembali) menjadi Carmel’. 9 Nama-nama tempat yang sepadan dengan kata Ibrani glyl (berarti ‘lerengan yang berteras-teras’) adalah biasa di dataran tinggi Arabia Barat. Salah satu di antaranya adalah Wadi Jalil (glyl) di Hijaz Selatan, di sebelah Tenggara Taif. 10 Hrmwn dalam Bibel (dalam metatesis dari hrmn atau hmrn) bertahan sebagai nama tidak kurang dari lima tempat di Hijaz bagian selatan dan Asir yang bernama Hamran atau Khamran.— 16 —
  28. 28. penyelidikan yang dilakukan secara mendalam atas sebuahlagi ekspedisi kerajaan Mesir yang disebut dalam Bibel Ibrani,yaitu ekspedisi Raja Necho II pada akhir abad ke-7 S.M.,mengungkapkan bahwa ekspedisi yang melibatkan seorangRaja Yudah dan orang-orang Babilonia, juga diarahkan keArabia Barat. Pertempuran Karchemis (krkmys, Tawarikh 2 -35:20; Yesaya 10:9; Yeremia 46:2), antara pasukan Mesir danBabilonia, terjadi di dekat Taif, di sebelah Selatan Hijaz, ditempat itu dua buah pedesaan yang berdekatan, Qarr (qr) danQamashah (qms), masih berdiri. Dengan demikian, saya yakin ‘Karchemis’ yang tertulisdalam Bibel itu bukanlah Kargamesa bangsa Hittit, yangsekarang merupakan Jerablus di tepi sungai Furat (Efrat)seperti yang sampai kini diperkirakan.11 Ekspedisi-ekspedisi militer pertama kerajaan Mesirsejak 2000 tahun S.M., yang selama ini diketahui sebagaipenyerangan terhadap Suria dan Palestina, jika kita telitikembali melalui catatan-catatan kuno Mesir dengan bantuannama-nama tempat dari Arabia Barat yang masih terdapat disana12, akan terlihat bahwa tindakan-tindakan militer itu lebih 11 Wadi Adam, yang bersumber di dataran tinggi mengalir ke arah Laut Merah, kadang-kadang disebut di dalam Bibel Ibrani sebagai nhr prt, yang membuatnya mudah dikelirukan dengan Furat (Efrat) Mesopotamia. Kebingungan ini diperbesar oleh deskripsi nhr prt sebagai h-nhr h-gdwl, ‘sungai besar’ dalam Kitab Bibel, dan Wadi Adam merupakan salah satu wadi yang mengalir ke laut yang terbesar di Arabia Barat. Sebenarnya nama menurut Bibel Wadi ini berasal dari nama desa yang kini adalah Firt (prt), di wilayah yang sama. Seperti halnya pertempuran Karchemis, pertempuran Karkara (atau lebih tepatnya Qarqara), yang dilakukan oleh bangsa Assyria melawan raja-raja Amat dan Imerisu dan sekutu mereka Gindibu’ dari Aribi dan Ahab dari Israil (Ahabu Sir’ila) di pertengahan abad kesembilan S.M., sebenarnya terjadi di Arabia Barat, bukan di sepanjang sungai Orontes di Suria seperti yang biasanya diduga. Amat, yang hingga kini dianggap merupakan sebuah referensi kepada Hamah di lembah Orontes, di utara Suria, sebenarnya kini adalah desa Amt (‘mt), dekat Taif, dan tidak jauh dari Karchemis dalam Bibel. Imerisu bukanlah Damaskus Suria, seperti yang diduga tanpa berdasarkan pada alasan apa pun. Di antara beberapa alternatif lainnya di Arabia Barat, diperkirakan Marasha (mrs), di dataran tinggi selatan Asir lah (wilayah Dhahran al-Janub, lihat Bab 3) yang paling besar kemungkinannya. Gindibu’ dari Aribi biasanya dianggap sebagai seorang kepala suku Arab dari gurun pasir Suria. Sebenarnya sebuah suku yang bernama Banu Jundub (gndb) masih menempati dataran tinggi Asir Tengah, dan Aribi mestinya kini merupakan ‘Arabah (‘rbh), sebuah desa di dataran tinggi tempat Banu Jundub masih dapat dijumpai. Karkara sendiri, dalam hal ini, mestinya adalah Qarqarah atau Qarqara (qrqr) masa ini, di pesisir Asir, di pedalaman Qunfudhah, di sebelah Selatan Lith. Ada tiga tempat lainnya yang bernama Qarqar (qrqr) juga di Arabia Barat, dan tidak satu pun yang terletak di wilayah Orontes di Suria. Jika ada kesangsian sehubungan dengan onomastics (ilmu asal kata dan nama) yang berkenaan dengan Pertempuran Karkara, seperti yang telah ditafsirkan secara geografis, lihat catatan-catatan dalam James B. Pritchard, ed., Ancient Near Eastern Texts Relating to the Old Testament (Princeton, 1969; dari sini disebut Pritchard), hal 278-279. 12 Penterjemahan catatan-catatan Mesir (seperti catatan-catatan dalam Pritchard) — 17 —
  29. 29. cenderung ditujukan kepada Arabia Barat. Sebagai bangsa kerajaan, orang-orang Mesir kuno benar-benar tertarik untuk menguasai Arabia Barat dan jalur-jalur perdagangannya,13 seperti halnya bangsa Assyria dan Babilonia pada masa kejayaan mereka. Mestinya, setelah setiap penjajahan kerajaan atas tanah mereka, dari arah mana pun, sebuah gelombang migrasi baru bertolak dari Arabia Barat ke daerah-daerah seperti Palestina. Persis pada saat kerajaan Mesir menyudahi masa penghematan antara akhir abad ke-11 dan awal abad ke-10 S.M., kerajaan Israil berdiri di bukit-bukit daerah pesisir Asir (lihat Bab 8-10), di bawah pimpinan Saul, kemudian dikembangkan oleh Daud dan mencapai puncak kejayaan dan kemakmurannya di bawah raja Sulaiman (Salomo). Andaikata Daud dan Sulaiman pada masa mereka benar- benar memimpin sebuah kerajaan Suria yang menguasai daerah strategis yang memisahkan Mesir dan Mesopotamia, seperti yang diduga (lihat 1 Raja-raja 4:21 dalam terjemahan standar mana pun), maka catatan-catatan Mesir dan Mesopotamia sudah semestinya paling tidak menyinggung nama-nama mereka, tetapi hal ini tidak terlihat. Sewaktu kerajaan Mesir bangkit kembali pada abad ke-10, intervensi baru yang dilakukannya di Arabia Barat menyebabkan terpecahnya kerajaan Israil menjadi dinasti ‘Yudah’ dan dinasti ‘Israil’ yang saling bersaingan (lihat Bab 10). Perang saudara antara Israil ini, yang berkobar pada dasawarsa terakhir abad itu, kemungkinan besar mengakibatkan migrasi secara besar-besaran yang pertama ke negara-negara lain, terutama Palestina. Penjajahan yang dilangsungkan oleh bangsa Mesopotamia atas Arabia Barat antara abad ke-9 dan ke-6 S.M., pertama-tama oleh bangsa Assyria dan kemudian membingungkan masalah ini dengan jalan mengenali secara tidak teliti nama-nama yang disebutkan dengan nama-nama tempat Palestina dan Suria yang telah diketahui, dan bukan menterjemahkan aslinya, seperti yang seharusnya dilakukan. Sama halnya (seperti dalam Pritchard) dengan catatan-catatan Mesopotamia dan yang lain-lain. Pencarian tempat-tempat yang dibicarakan harus dilakukan dengan bantuan catatan- catatan asli, bukan terjemahannya. 13 Bangsa Mesir juga tertarik untuk menggunakan kayu jenever Asir (bukan kayu jenis cemara (cedar) Libanon) sebagai bahan bangunan, dan guna membangun kapal-kapal mereka, karena kayu cemara (cedar) tidak begitu cocok untuk pekerjaan ini. Untuk melihat kebingungan antara cedar dan jenever, lihat sebutan-sebutan yang relevan dalam Alessandra Nibbi, Ancient Egypt and Some Eastern Neighbours (ParkRidge, N.J. 1981).— 18 —
  30. 30. oleh orang-orang Babilonia (yang sudah merupakan bangsaNeo-Babilonia), hanya memperbesar arus migrasi ini. Pada tahun 721 S.M. kerajaan ‘Israil’ di Arabia Barat itudihancurkan oleh Raja Assyria, Sargon II, yang mendudukiibukotanya, yaitu Samaria, (smrwn, yang kini masih berdiridengan nama Shimran, lihat Bab 10) dan membawapenduduk terkemukanya ke Persia sebagai tawanan.14Kemudian, pada tahun 586 S.M., penguasa Babilonia,Nebuchadnezzar, memusnahkan kerajaan ‘Yudah’ di ArabiaBarat dan membawa ribuan penduduknya kembali keBabilonia sebagai tawanan. Begitu besar hasrat orang-orangBabilonia untuk menjaga kekuasaan mereka atas Arabia Baratdan untuk mempertahankan tanah jajahan mereka itu dariusaha-usaha perebutan kembali kekuasaan atas koloni ituoleh kerajaan Mesir (seperti yang pernah dicoba oleh NechoII, seperempat abad sebelumnya), sampai-sampai penggantiNebuchadnezzar, yaitu Nabodinus, memindahkan ibukotanyadari Babilonia ke Teima (Tayma’) di Hijaz Utara dan sepertiyang kita ketahui, ia lebih lama menjalankan pemerintahannyadi daerah itu. Sampai pada waktu itu, kemungkinan kehadiran orang-orang Yahudi di Palestina telah bersifat permanen. Keadaanorang-orang Israil yang menyedihkan di Arabia Barat mungkinmendatangkan harapan kaum Yahudi di sana akan hidup lebihbaik di koloni Yahudi yang baru - di ‘putri Zion’ dan ‘putriYerusalem’ (dengan kata lain, Zion dan Yerusalem baru diArabia Barat, lihat Bab 9) seperti halnya orang-orang Eropayang pada abad ke-17 dan ke-18 kecewa akan kehidupanmereka di daratan Eropa, dan mengharapkan akan kehidupanyang lebih baik di koloni mereka yang baru, yaitu Amerika.Pengharapan orang-orang Eropa pada waktu itu dikemukakanoleh Goethe dalam kalimat-kalimatnya yang sering dikutip: Amerika, engkau memiliki yang lebih baik Daripada yang dimiliki benua kami, yang lama. Jauh sebelumnya, mungkin orang-orang Yahudi diArabia Barat menyuarakan pengharapan yang serupa, pada 14 Perlu dicatat di sini bahwa para sejarawan Arab pada zaman permulaan Islam, yang karya-karya mereka mengabadikan tradisi-tradisi Arab yang berhak menerima perhatian serius, menegaskan bahwa Nebuchadnezzar adalah penakluk Arabia dan menceritakan kisah-kisah penaklukannya di sana. — 19 —
  31. 31. suatu waktu antara abad ke-8 dan ke-5 S.M., membicarakan, barangkali, tentang dunia baru mereka di Palestina, seperti yang berikut ini: Dan engkau, wahai Menara Kawanan Domba, Hai Bukit putri Zion, Kepadamu akan datang Dan akan kembali pemerintahan Yang dahulu, Kerajaan putri Yerusalem. (Mikha 4:9)15 Dan juga dalam kata-kata ini: Putri gadis Zion Membencimu,16 memperolok-olokkan engkau Dan putri Yerusalem Menggeleng-gelengkan kepala di belakangmu Dan orang-orang yang terluput di antara kaum Yudah Yaitu orang-orang yang tertinggal, Akan berakar ke bawah, Dan menghasilkan buah ke atas; Sebab dari Yerusalem akan keluar orang-orang yang tertinggal, Dan dari Gunung Zion orang-orang yang terluput; Semangat Penguasa Sabaoth,17 akan melakukan hal ini. (Yesaya 37:22b, 31-32; juga 2 Raja-raja 19:21b, 30-31) Dan mungkin dalam ini pula: Bergembiralah, wahai putri Zion; Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai putri Yerusalem Lihat, rajamu datang kepadamu; Ia jaya dan menang, 15 Dinilai melalui Mikha 1:1, ungkapan harapan di ‘putri Yerusalem’ bertanggalkan abad kedelapan S.M. Sampai kini, ahli-ahli Bibel telah menganggap ungkapan-ungkapan puitis pada Zion dan Yerusalem, sehingga meniadakan keharusan adanya informasi bersejarah yang lebih jauh lagi. 16 Kata-kata itu ditujukan kepada Sennacherib, raja Assyria (704-681 S.M.). 17 Mengenai Sabaoth menurut Bibel sebagai kuil pemujaan Yahweh utama di dataran tinggi Asir (kini desa al-Sabayat, bandingkan dengan ‘lhy sb’wt atau yhwh sb’wt dalam bahasa Ibrani), lihat Bab 12.— 20 —
  32. 32. Ia rendah hati dan mengendarai seekor keledai, Seekor keledai beban yang muda.18 (Zakharia 9:9) Jika ada harapan yang tertinggal untuk mendirikankembali sebuah pemerintahan Israil yang mampu bertahanseusainya penjajahan oleh bangsa-bangsa Assyria danBabilonia, maka harapan ini pudar secara tidak langsungdengan munculnya kerajaan Persia, Achaemenes, padaakhir abad ke-6 S.M. Pada tahun 538 S.M., bangsa Persiamenaklukkan Babilonia; dan pada tahun 525, mereka telahmengalahkan Suria dan menduduki Mesir dan untuk pertamakalinya mempersatukan semua negara yang terletak dikawasan Timur Dekat kuno, di bawah sebuah pemerintahankekerajaan yang efisien. Kekuasaan bangsa Persia ini jugakemudian meliputi hampir seluruh, bahkan mungkin semua,daerah Semenanjung Arabia, tetapi aksi-aksi penjajahanmereka di Utara sangat merugikan perdagangan kafilahantar-Arabia yang merupakan aliran utama komunitas Israildan komunitas-komunitas kuno lainnya di Arabia Barat.Jalan-jalan besar yang diawasi, dibuat oleh Achaemenes gunamenghubungkan Persia dan Mesopotamia dengan Mesirmelalui Suria, berakibatkan secara langsung tergesernyajalur-jalur utama perdagangan menjauhi Arabia, hinggamenyebabkan kemacetan ekonomi wilayah Jazirah Arabbeserta jaringan perdagangannya. Pada awal abad berikutnya,didirikannya sebuah terusan oleh orang-orang Persia gunamenghubungkan Laut Merah dengan sungai Nil, membantuperdagangan maritim secara merugikan perdagangan kafilahArabia yang menuju ke arah sana. Akibat kesemuanya ini, 18 Karir kenabian Zakaria bertepatan dengan awal kekuasaan raja Achaemenid Darius I (522-486 S.M.), ini jelas diketahui dengan disebutnya Darius dan tahun-tahun kekuasaannya dalam teks ramalan-ramalan Zakaria. Karena Zakaria 9:13 berbicara mengenai ywn, yang dianggap sebagai suatu referensi pada Yunani (bahasa Yunani laones), bab ini dan bab-bab berikutnya dalam Zakaria dihubungkan oleh para kritikus dengan seorang penulis lain dari zaman yang lebih baru (akhir zaman Achaemenid atau awal zaman Hellenis). Sebenarnya, kata Ibrani ywn hanya dapat merupakan sebuah referensi pada Yunani dalam Daniel. Di tempat lain dalam Bibel Ibrani, kata ini berkenaan dengan apa yang kini adalah desa-desa Yanah (yn), dekat Taif, di sebelah selatan Hijaz. atau desa Waynah (wyn) di lereng barat Asir, di wilayah Bani Shahr. Zakaria tampaknya adalah salah seorang Israil yang kembali dari Persia atau Babilon ke Arabia Barat pada awal zaman Achaemenid (lihat teks). Kecewa dengan apa yang ia temukan di sana, mungkin menyebabkan ia mengalihkan perhatiannya dari Zion dan Yerusalem lama di Arabia Barat ke suatu impian sebuah Zion dan Yerusalem yang baru di Palestina yang lebih menguntungkan. — 21 —
  33. 33. secara menyeluruh, berkenaan dengan Arabia Barat, mestinya sangat merusak. Agaknya bangsa Persia sama sekali tidak bersifat memusuhi kaum Yahudi; malah kita mengetahui bahwa mereka membela kaum itu. Maka dari itu, dengan mendapatkan izin dari pemerintah Persia, sekitar 40.000 orang keturunan tawanan-tawanan Israil di Persia dan Mesopotamia kembali ke Arabia Barat dengan membawa perabot rumah tangga mereka, dengan tujuan untuk membangun kembali perkampungan mereka di sana. Tetapi malang bagi mereka, orang-orang Israil ini kecewa dengan apa yang mereka temukan di sana, di mana-mana sekeliling mereka terdapat kemiskinan dan kehancuran yang menyedihkan. Yang terjadi selanjutnya hanya dapat menurut perkiraan saja, karena sampai di sini Kitab Bibel Ibrani itu tidak melanjutkan lagi kisah-kisah yang bersejarah. Tetapi ada suatu hal yang dapat dipastikan, yaitu belum ada perkampungan Israil yang berhasil didirikan kembali di tanah asal mereka di Arabia Barat, meskipun agama Yahudi tetap ada di sana dan di Arabia Selatan, bahkan sampai kini. Sebagian besar orang-orang Israil yang kembali pada periode Achaemenid mestinya berhasil kembali ke Mesopotamia dan Suria, atau berpencar. Sejak saat itu sampai dengan dihancurkannya Yerusalem di Palestina oleh bangsa Rumawi pada tahun 70 M., arus utama sejarah kaum Yahudi terpusatkan di sekitar Palestina. Mengenai asal mulanya Yudaisme di Arabia Barat agaknya telah dilupakan. Kemungkinan besar terhapusnya kenangan mengenai sejarah mereka di Arabia Barat dalam jangka waktu yang relatif singkat — mungkin tak lebih dari dua atau tiga abad— disebabkan oleh adanya suatu perubahan bahasa, yang pada abad ke-6 S.M. telah menguasai Arabia, Suria dan Mesopotamia. Seperti kita ketahui, dialek-dialek bahasa Kanaan sebagai bahasa Bibel Ibrani, telah banyak dipakai di Arabia Barat dan Suria masa itu bersama-sama dengan dialek-dialek bahasa Aram. Kitab-kitab suci Yahudi, kecuali beberapa bagian kitab-kitab karangan nabi-nabi yang kemudian, ditulis dalam bahasa Ibrani, bukan bahasa Aram.— 22 —
  34. 34. Tetapi, setelah kira-kira tahun 500 S.M., bahasa Kanaantelah jarang dipergunakan, bahkan mungkin telah punahdi Arabia dan Suria; tergeser oleh ballasa Aram yang telahmenyebar sampai ke Mesopotamia. Di bawah Achaemenesbahasa Aram bahasa resmi pemerintahan kerajaan Persiadan menjadi lingua franca wilayah Timur Dekat. Pergantianbahasa di kawasan ini terus berlanjut sampai pada abad-abadberikutnya, yang sebegitu jauh sebagai logat bahasa Semityang mulai bersaing dengan bahasa Aram di berbagai kawasandi Timur Dekat.19 Sampai pada abad-abad permulaan zamanpenyebaran agama Nasrani, bahasa Arab, yang pada mulanyamerupakan bahasa suku-suku penggembala padang pasirSyro-Arabia, telah menggantikan bahasa Aram di sebagianbesar Arabia dan Suria serta Mesopotamia, dan pada abadke-7 atau ke-8 M. hanya tinggal beberapa tempat saja yangmasih memakai bahasa di daerah itu. Di Arabia Barat keduapenggeseran bahasa itu dapat dilihat melalui beberapa namatempat, terutama kota kuno Zeboiim (sbym atau sbyym,bentuk jamak sby, dalam bahasa Ibrani, yang berarti ‘gazelle’(semacam kijang), tergantung pada penyuaraannya). KotaZeboiim, seperti yang akan dibahas pada Bab 4, menandakandua kota kembar di daerah pesisir Jizan (Gizan) di daerahpantai sebelah Asir selatan. Kedua kota ini kini masih adadengan nama Sabya (sby) dan Al-Zabyah (zby). Sabya adalahbentuk bahasa Aram yang telah ditambah akhiran. SedangkanAl-Zabyah adalah bentuk bahasa Arab dari kata yang sama(sby) dengan kata sandang tertentu bahasa Arab yang telahdiberi akhiran. Dengan demikian itulah nama-nama tempatitu menghentikan segala proses sejarah. Suatu hal yang sama pentingnya dengan kesimpulan yangtelah saya tarik mengenai identitas nama-nama tempat di 19 Pergeseran bahasa yang berturut-turut, yang mempengaruhi negara-negara di Timur Dekat yang mengelilingi gurun Suria-Arabia yang luas itu, mestinya berhubungan dengan serangkaian gelombang pendudukan oleh suku-suku pengembara dari gurun tengah di daerah-daerah tetap di sekelilingnya. Bahasa Kanaan, tampaknya, adalah bahasa populasi kesukuan dan tetap yang asli di dataran tinggi Barat di tepian gurun Suria-Arabia, di Suria, seperti halnya di Arabia. Penduduk baru gurun, sejak dahulu, memperkenalkan bahasa Aram di sana, dan juga di Mesopotamia. Perkampungan-perkampungan yang menyusul di daerah-daerah sama yang didirikan oleh berbagai suku gurun yang berbahasa Arab memperkenalkan bahasa Arab. Sebagai sebuah bentuk bahasa induk Semit, bahasa Kanaan, bahasa Aram dan bahasa Arab dapat dipandang sebagai bahasa-bahasa yang sama tuanya, walaupun secara linguistik bahasa Arab dipandang sebagai yang tertua di antara ketiganya. — 23 —
  35. 35. Arabia Barat dan di negeri-negeri yang dijangkau Bibel ialah dengan punahnya bahasa Bibel Ibrani sebagai bahasa lisan maka pembacaan kitab-kitab suci Yahudi itu menjadi suatu problema. Bahasa Ibrani, seperti kebanyakan bahasa Semit, ditulis dalam bentuk konsonan dan harus diberi tanda-tanda vokal jika kita hendak memahaminya, seperti sudah saya sebutkan. Suatu kekecualian adalah bahasa Akkadia, yaitu bahasa Mesopotamia kuno, yang tulisan kuneiformnya ditulis menurut suku kata bukan menurut alfabet. Perlu diingatkan bahwa bahasa Ibrani kuno harus dimengerti terlebih dahulu sebelum diberi vokal menggunakan tanda-tanda vokal yang tepat dan dengan menggunakan konsonan-konsonan ganda. Oleh sebab itu, pada permulaan era Achaemenid orang- orang Yahudi Palestina dan Babilonia, karena mereka tidak mengetahui bagaimana tulisan-tulisan Ibrani itu seharusnya dibaca, tampaknya mereka mendasarkan penambahan- penambahan vokal terhadap tulisan-tulisan itu kepada bahasa Aram yang mereka pakai.20 Di dalam teks-teks yang mereka akui terdapat banyak nama tempat yang berhubungan dengan lokasi-lokasi di Arabia Barat yang asing bagi mereka. Terlebih lagi, di Arabia Barat sendiri, kaum Yahudi pada sekitar tahun 500 S.M. telah mengalami kemunduran, sehingga tidak ada lagi orang-orang yang cukup terpelajar di antara mereka untuk membenarkan sesama kaum Yahudi dari Palestina dan Babilonia dalam tafsiran geografis mereka. Pula, orang-orang Yahudi dari Arabia Barat ini hanya beragama Yahudi saja dan tidak merupakan kelompok etnis ataupun mempunyai pandangan politik orang-orang Israil; dan mereka tidak lagi berbahasa Ibrani kuno, dan dalam waktu yang singkat bahasa mereka berubah menjadi bahasa Arab. Sudah pasti orang-orang Yahudi di Arabia Barat masih mempunyai kenangan mengenai kehidupan mereka yang dahulu sebagai bangsa Israil;21 akan tetapi menjelang akhir era 20 Sebuah tanda dari ini (di samping bunyi-bunyi vokal) adalah pemakaian pelunakan dari k tidak bersuara dalam bahasa Aram, jika didahului oleh sebuah vokal, menjadi bunyi desahan h (dgn topi bawah) tidak bersuara, yang tidak pernah diakui kebenarannya oleh penyuaraan yang sebenarnya dari nama-nama tempat menurut Bibel di Arabia Barat yang bertahan, yang menempatkan h (dgn topi bawah) selalu merupakan suatu pengucapan alternatif dari bunyi desahan yang lain, yaitu h (dgn titik bawah). 21 Sejumlah suku Arabia Barat, yang kini bukan merupakan kaum Yahudi, menegaskan bahwa kemungkinan kecil mereka pada mulanya merupakan orang-orang— 24 —
  36. 36. Achaemenid, hubungan mereka dengan kaum Yahudi lainnyadi luar Arabia tidak teratur dan mereka mengalami kesulitandalam menyampaikan secara efisien apa yang mereka ingat.Pada waktu umat-umat Yahudi Palestina dan Babiloniamenetapkan bentuk-bentuk pembacaan Kitab Bibel Ibranidengan mempergunakan tanda-tanda vokal, yang dimulaipada sekitar abad ke-16 M. (lihat Bab 2), telah lama orangmeninggalkan pemakaian bahasa Ibrani atau dialek-dialekbahasa Kanaan lainnya, dan asal mula Yudaisme di Arabia puntelah lama dilupakan. Faktor lain yang mungkin menyebabkan kaum Yahudimelupakan sejarah mereka di Arabia Barat bersangkutandengan perkembangan politik di Arabia Barat dan juga diPalestina setelah runtuhnya kerajaan Israil kuno. Di ArabiaBarat, kemunduran yang dialami kerajaan Achaemenid yangsudah mulai terlihat pada tahun 400 S.M., mendorongmunculnya perkumpulan-perkumpulan politik baru, terutamaperkumpulan politik bangsa Minaean (Ma’in), di daerahtempat kerajaan Israil pernah berjaya. Karena tersebar diantara perkumpulan-perkumpulan politik baru ini, yangbeberapa di antaranya dibentuk secara politis sebagai kerajaan-kerajaan, kaum-kaum Yahudi Arabia Barat kehilangan sifatnasionalisme mereka. Perkembangan di Palestina agaknyaberbeda dengan yang terjadi di Arabia Barat. Sampaipada tahun 330 S.M., penjajahan Alexander Agung telahmenghancurkan kerajaan Persia; setelah wafatnya Alexanderpanglima-panglimanya mendirikan kerajaan-kerajaan baru didaerah yang dahulunya merupakan wilayah-wilayah kekuasaankerajaan Achaemenid. Salah satu dari kerajaan Hellenis iniadalah kerajaan Ptolemi dengan pusatnya di Mesir yangberibukotakan Alexandria. Satu lagi kerajaan yang terbentukadalah kerajaan Seleucid, yang akhirnya berpusatkan di daerahSuria dan ibukotanya di Antioch. Penguasaan atas Palestinapada mulanya diperebutkan antara, kerajaan Ptolemi danSeleucid, dan akhirnya jatuh ke tangan kerajaan Seleucid; Yahudi, dan ada keyakinan setempat bahwa tanah Bibel para nabi terletak di sana. Adat dan pengetahuan kesukuan Arab mengingatkan bahwa kaum Yahudi menempati pegunungan Hijaz (sic) sewaktu bangsa Arab masih berada di gurun pasir, dan bahwa kaum Yahudi-lah yang pertama kali memelihara unta. Lihat Alois Musil, The Manners and Customs of the Rwala Bedouins (New York, 1928), hal. 329-330. — 25 —
  37. 37. akan tetapi kerajaan Ptolemi tidak putus harapan dalam tekadnya untuk menguasai kembali atau mempengaruhi negara itu. Pada abad ke-2 S.M., orang-orang Yahudi Palestina mempergunakan kesempatan yang ada selagi adanya pertikaian atas tanah mereka, dan mereka mengadakan suatu pemberontakan (yang dimulai pada tahun 167 S.M.) dan berhasil memerdekakan negara mereka dari kekuasaan pemerintahan kerajaan Seleucid pada tahun 142 atau 141 S.M. Para pemimpin pemberontakan ini, yang berasal dari perkumpulan kependetaan Hasmonia (Hasmonaean), mengambil alih kekuasaan atas Yerusalem Palestina; di tempat ini terdapat kuil yang pada waktu itu mungkin sudah dianggap kaum Yahudi sedunia sebagai tempat perlindungan yang tersuci. Dengan bergerak melalui serangkaian aksi- aksi militer yang sukses, orang-orang Hasmonia ini juga memperluas wilayah kekuasaan kaum Yahudi di Palestina, sehingga akhirnya tidak hanya seluruh negeri itu saja yang dikuasainya, bahkan juga bagian Selatan Galilee di Utara dan daerah perbukitan sebelah Timur sungai Yordan dan Laut Mati. Orang-orang Hasmonia ini, pada era mereka, menganggap diri mereka sebagai keturunan sah bangsa Israil kuno, dan kerajaan mereka bertahan sampai pada kedatangan bangsa Rumawi pada tahun 37 S.M., yang menyusun kembali daerah kekuasaan mereka sebagai ‘client-kingdomnya’ kerajaan Rumawi dengan nama ‘Judaea’ yang artinya ‘tanah kaum Yahudi’, dengan Herod Agung (wafat pada tahun 4 S.M.) sebagai raja. Herod ini kemudian memperbaiki kuil Yerusalem Palestina, yang kemudian dihancurkan oleh bangsa Rumawi sewaktu mereka merampok kota itu pada tahun 70 M., dan mengakibatkan tersebarnya penduduk Judaea. Tak lama kemudian, bangsa Rumawi, di bawah pimpinan Hadrian, membangun kembali kota ini dan menamakannya Aelia Capitolina, nama Aelius diambil dari salah satu nama Hadrian. Akan tetapi ada pula kemungkinan bahwa nama ini adalah bentuk Semit dari nama Aelia, yang merupakan nama asli tempat ini sebelum diberi nama Yerusalem, untuk mengingatkan kembali pada kota Yerusalem di Arabia Barat.— 26 —
  38. 38. Aelia, dalam bentuk Semit aslinya dapat berarti ‘benteng’(bandingkan dengan kata ‘yl dalam bahasa Ibrani, yangberarti kekuatan), walaupun ini belum dapat dipastikan.Namun, yang dapat dipastikan adalah bahwa orang-orangArab pada zaman dahulu mengenal kota ini bukan dengannama Yerusalem, melainkan Iliya (‘yly’) sebelum merekamemanggilnya ‘tempat suci’, Bayt al-Muqqadas, Bayt al-Maqdis ataupun hanya al-Quds. Tanpa mempermasalahkan nama asli kota YerusalemPalestina, kota ini kemudian telah dikenal sebagai kotaYerusalem Daud dan Sulaiman yang asli pada era Hasmoniadan bahkan mungkin jauh sebelumnya. Sama halnya denganPalestina yang pada waktu yang sama telah dikenal sebagaitanah asal Bibel Ibrani. Dan pada saat itu pun sudah adaanggapan yang kuat bahwa lokasi-lokasi geografis dari cerita-cerita bersejarah dalam Kitab Bibel sebagian besar hanyamencakup bagian Utara dari daerah Timur Dekat, yaituMesopotamia Suria dan Mesir, bukan Arabia Barat. Ada kemungkinan sebuah kerajaan Yahudi di Arabiapada era orang-orang Hasmonia, yaitu kerajaan Himyardi Yaman yang mengalami kemakmuran dari tahun 115S.M. sampai abad ke-6 M. Dua orang raja Himyar terakhirdiketahui sebagai penganut-penganut agama Yahudi, tetapikesalahan mereka sampai kini belum dapat dijelaskan secarameyakinkan. Tidak ada bukti-bukti bahwa mereka adalahumat Yahudi, seperti apa yang dikatakan oleh tradisi kunoArab. Sejarawan Flavius Josephus, akan kita bicarakan nanti,sadar akan adanya orang-orang Yahudi kuno di Arabia, tetapiia tidak memberi penjelasan mengenai hal ini. Orang-orangHasmonia mungkin sengaja menafsirkan kembali lokasi-lokasi geografis dalam Bibel berkenaan dengan Palestina gunamengesahkan status mereka sebagai orang Yahudi, jika statusmereka diragukan oleh para raja Yahudi Arabia di Himyar.Tentu saja ini hanya merupakan sebuah dugaan saja, akantetapi berkenaan dengan argumentasi saya, hal ini sangatmungkin terjadi. Apakah adanya sebuah kerajaan Yahudi di Yaman atautidak, bukanlah hal yang amat penting, tetapi dari kitab — 27 —
  39. 39. Septuaginta, yaitu terjemahan kitab-kitab Yahudi ke dalam bahasa Yunani yang dibuat pada era kerajaan Yunani Kuno dan pada awal era kerajaan Rumawi, jelas terbukli bahwa pada zaman Hasmonia itu Arabia Barat tidak lagi dipandang sebagai tanah asal Kitab Bibel Ibrani. Ini jelas terlihat dalam bagaimana nama-nama topografis Arabia Barat seperti ksdym, nhrym, prt dan msrym, berubah masing-masing menjadi Kaldia (Chaldaean), Mesopotamia, Efrat dan Mesir.22 Lebih lagi, kita dapat mendapatkan bukti-bukti tambahan untuk memperkuat dugaan ini melalui gulungan-gulungan kertas dari Laut Mati (Dead Sea scrolls). Di sini kita menemukan suatu karya orang Aram yang mendetil dari sebuah tulisan di dalam Kitab Bibel yang menyebutkan nama-nama tempat di sebelah Utara daerah Timur Dekat. Karena begitu besar kesuksesan politik kaum Yahudi di Palestina, yang berlangsung selama 200 tahun, maka dalam waktu yang singkat saja telah terhapus semua kenangan mengenai tanah Arabia Barat sebagai tanah asal Israil. Josephus, dalam karyanya The Antiquities of the Jews — yang merupakan bangsanya sendiri— tidak lama setelah tahun 70 M., menganggap Palestina adalah tanah asal mereka, dan sejak waktu itu tidak ada yang menyimpang dari dugaan ini yang agaknya memang masuk akal. Berabad- abad kaum Yahudi dan Kristen yang berziarah mengikuti jejak pengembaraan para nabi dan nenek moyang Israil mereka melintasi tanah bagian Utara Timur Dekat, antara sungai Furat dan sungai Nil, dan mengenali lokasi-lokasi bersejarah menurut Bibel dengan kota-kota atau reruntuhan di Palestina. Saat ini arkeologi Bibel didasarkan pada daerah yang sama, dan para sejarawan masih melanjutkan penelitian mereka terhadap sejarah dunia Bibel pada zaman Bibel — yang bertentangan dengan sejarah kaum Yahudi, di Palestina dan bukan di Arabia Barat. Sebagai akibat, jika seseorang meneliti kembali kepustakaan yang telah dibuat oleh para sarjana dan ahli- ahli purbakala dalam 100 tahun belakangan ini, kita sadar 22 Mengenai nhrym dan prt, lihat di atas, Catatan 3 dan 11. Mengenai ksdym, lihat Bab 13. Walaupun msrym dalam Bibel kadang-kadang menunjukkan Mesir, lebih sering kata ini menandakan sebuah kota atau wilayah di Arabia Barat, di pedalaman Asir, lihat Bab 4, 13 dan 14.— 28 —
  40. 40. akan adanya suatu ironi: beberapa teks Bibel Ibrani tetapdiperdebatkan, namun geografinya tidak diganggu gugat lagi.Jadi kenyataannya, biarpun daerah Utara wilayah TimurDekat telah diselidiki dengan seksama oleh serangkaiangenerasi ahli-ahli purbakala, dan setelah adanya penemuan,penelitian dan penanggalan atas peninggalan-peninggalan dariberbagai peradaban yang telah dilupakan, belum ada buktiyang jelas yang diketemukan yang berhubungan langsungdengan sejarah dunia Bibel.23 Lagi pula dari ribuan namatempat yang tertera dalam Kitab Bibel Ibrani, hanya beberapadi antaranya yang secara linguistik dapat diidentifikasikan. Inisangatlah luar biasa, mengingat nama-nama tempat di sana,seperti di seluruh Suria, selama sebagian besar zaman kunoadalah dalam bentuk bahasa Kanaan dan Aram dan bukandalam bentuk bahasa Arab. Bahkan dalam beberapa kasustempat-tempat di Palestina memakai nama-nama menurutBibel, koordinat tempat-tempat tersebut menurut perhitunganjarak atau letaknya pun tidak cocok dengan lokasi-lokasi diPalestina. Sebuah kejadian yang patut diperhatikan berkenaandengan Beersheba di Palestina (lihat Bab 4), sebuah kota yangnamanya terkemuka di dalam kisah-kisah kitab Kejadian, dankarena itu asal mula kota ini mestinya paling tidak dari akhirZaman Perunggu, tempat penggalian arkeologis menemukanpersis di tempat itu barang-barang kuno yang bertanggalpaling tidak dari akhir periode kerajaan Rumawi. Karena seluruh sejarah Timur Dekat kuno sebagianbesar diselidiki berhubungan dengan penelitian atas BibelIbrani, maka sejarah ini sampai sekarang masih banyakmengandung ketidakpastian, seperti halnya dengan ‘IlmuPengetahuan Bibel’ modern. Catatan-catatan kuno Mesir danMesopotamia, jika dibaca dengan bantuan teks-teks KitabBibel yang kiasan-kiasan topografisnya dianggap berhubungandengan Palestina, Suria, Mesir atau Mesopotamia, telah secarateliti disesuaikan dengan prasangka-prasangka para ahli sejarah 23 Pekerjaan para ahli purbakala Keinjilan di Palestina sebenarnya menjadi sasaran kecaman-kecaman keras. Menulis pada tahun 1965, Frederick V. Winnet mengatakan bahwa ‘fondasi dari beberapa gedung besar yang didirikan oleh para sarjana Perjanjian Lama baru-baru ini ... berada dalam keadaan yang buruk dan memerlukan reparasi yang ekstensif’. (Journal of Biblical Literature, 84 (1965); halaman 1-19). Pandangan Profesor Winnet didukung oleh beberapa ahli Keinjilan ternama lainnya seperti J. Maxwell Miller dan H.J. Franken. — 29 —
  41. 41. Kitab Bibel. Cara yang sama seperti itu juga diterapkan dalam penterjemahan catatan-catatan kuno (seperti catatan- catatan kuno dari Ibla, di sebelah utara Suria), yang oleh para arkeolog masih ditemukan di negara-negara di Timur Dekat. Bangsa-bangsa kuno Timur Dekat seperti bangsa Filistin, bangsa Kanaan, bangsa Aram, bangsa Amorite, bangsa Horite, bangsa Hittit (berbeda dengan bangsa kuno dari Suria Utara dengan nama yang sama) dan bangsa-bangsa lainnya, tanpa adanya bukti-bukti yang kuat telah ditentukan secara geografis pada daerah-daerah yang bukan merupakan wilayah-wilayah mereka. Lebih lagi, sejumlah bangsa ini, yang namanya berasal dari teks-teks Bibel, di tentukan secara tidak benar sebagai pemakai bahasa-bahasa yang sebenarnya tidak mereka pakai, atau sebaliknya. Sarjana-sarjana modern tetap bersikeras, misalnya, bahwa bangsa Filistin dalam Bibel merupakan orang-orang laut ‘non-Semit’ yang misterius, dan hal ini sangatlah aneh mengingat bahwa nama-nama kepala suku dan bahwa dewa mereka, Dagon, (dgn, yang berarti ‘jagung, padi’) di dalam teks-teks Bibel adalah nama-nama ‘Semit’ (yang jelas merupakan nama-nama Ibrani). Walaupun banyak masalah seperti di atas yang masih kurang jelas dan masih dapat diperdebatkan, namun ada dua hal yang sudah dapat dipastikan. Pertama, belum diketemukan bukti-bukti mengenai asal mulanya orang-orang Iberani di Mesopotamia dan dugaan mengenai adanya migrasi orang-orang ini dari Mesopotamia menuju ke Palestina dengan jalan melewati Suria Utara. Kedua, sampai kini belum ada tanda-tanda yang ditemukan mengenai adanya tawanan orang-orang Israil di Mesir, walaupun pernah adanya dalam sejarah, suatu emigrasi besar-besaran orang-orang Israil dari Mesir.24 Kita juga dapat mencatat, secara sepintas, bahwa 24 Goshen (gsn), Pithon (ptm), dan Raamses (r’mss) yang disebut dalam kitab Kejadian dan kitab Keluaran sehubungan dengan menetapnya masyarakat Israil di tanah msrym belum pernah ditempatkan secara memuaskan di Mesir (lihat catatan dalam J. Simons, The Geographical annd Topographical Texts of the Old Testament... (Leiden, 1959; seterusnya disebut Simons), yang melakukan beberapa pengenalan percobaan). Ada dua kemungkinan untuk Goshen (Ghatan, gtn, dan Qashanin, qsnn, jamak dari qsn), sebuah Pithom (Al Futaymah, ptym, tanpa vokal ptm) dan sebuah Raamses (Masas, mss) masih dapat dijumpai di pedalaman Asir, di wilayah msrym Arabia Barat. R’ yang pertama dalam r’mss (Raamses) mungkin adalah nama seorang dewa. Dalam bentuk Ra’ atau Ra’i, r’ itu tampil sebagai bagian pertama dari sejumlah nama tempat Arabia Barat.— 30 —
  42. 42. para ahli Bibel itu masih memperdebatkan masalah keluarnyakaum Israil dari Mesir menuju ke Palestina melewati Sinaiyang belum terbukti secara memuaskan (mengenai hal ini,lihat observasi terhadap Gunung Horeb, Bab 2). Dengan penemuan-penemuan yang telah saya dapati,ini bukanlah suatu hal yang mengagetkan. Para ahli Bibeltelah mencari bukti-bukti di tempat yang salah. Merekamenganggap geografi Bibel Ibrani benar dan meragukankebenarannya sebagai kitab sejarah. Menurut hemat saya, carayang lebih produktif ialah dengan membenarkan isi sejarahBibel Ibrani dan meragukan isi geografinya, seperti yangtelah saya lakukan pada halaman-halaman yang berikut. Diantara golongan-golongan orang Timur Dekat, nampaknyahanya kaum Israil saja yang mempunyai kesadaran tajamakan sejarah, atau setidak-tidaknya merupakan satu-satunyayang memahami dan menceritakan sejarah mereka secaralengkap dan mudah dimengerti. Kitab-kitab suci mereka,pada hakekatnya merupakan potret diri bersejarah yangdigambarkan secara jelas dan mendetil. Memang benarbahwa kisah-kisah dalam kitab Kejadian lebih bersifat proto-historikal daripada historikal, dan lebih merupakan catatan-catatan tentang orang Israil dan anggapan mereka sebagaibangsa itu daripada tentang asal mula mereka. Tapi tidaklahmustahil bahwa leluhur Ibrani orang-orang Israil itu padasuatu waktu berasal dari sebuah suku yang terperangkap dandipaksa kerja di suatu tempat yang bernama msrym — yangmungkin bukan Mesir; kalau mereka mengadakan migrasibesar-besaran dari tempat itu, di bawah seorang pemimpinyang bernama Musa yang mengatur mereka dalam suatukelompok keagamaan dan memberi mereka hukum-hukumyang harus diperhatikan oleh mereka; kalau mereka melintasisebuah tempat yang bernama h-yrdn — yang mungkinbukan sungai Yordan— di bawah pimpinan seseorang yangbernama Yosua, untuk menetap di suatu tempat dan di situmereka akhirnya mencapai suatu penguasaan politik atasdaerah itu; kalau mereka tinggal di sana untuk beberapa waktusebagai suatu konfederasi yang longgar dari suku-suku dibawah pimpinan kepala-kepala suku yang disebut ‘Hakim- — 31 —
  43. 43. hakim’, dan terus menerus berperang dengan suku-suku dan kelompok-kelompok lain yang tinggal di antara mereka, kalau mereka pada akhirnya tersusun secara politis menjadi sebuah ‘kerajaan’ di bawah pimpinan Saul; kalau kerajaan ini dikembangkan dan diberi suatu penyusunan dasar oleh Daud, yang selain seorang prajurit yang ulung juga merupakan seorang penyair, dan mencapai puncak kejayaannya di bawah Sulaiman anak Daud, seseorang yang terkenal akan kearifan dan kepandaiannya. Memang semestinya jika tidak ada orang yang meragukan bahwa seluruh sejarah Israil, setelah wafatnya Sulaiman, berjalan seperti yang tertulis dalam Kitab Bibel Ibrani. Tetapi jika kita menganggap bahwa segenap kejadian dalam sejarah ini berlangsung di Palestina, dan mempelajari Bibel menurut anggapan ini, maka akan timbul kebingungan dan sejumlah pertanyaan yang tak mampu terjawab akan tak terhitung lagi banyaknya. Kalau saja kita menggeser geografi dalam Bibel dari Palestina ke Arabia Barat, maka tidak banyak kesukaran yang akan tersisa. Kalau kita menimbang kembali catatan-catatan kuno Mesir, Babilonia dan Suria menurut konteks geografi ini, maka semuanya akan cocok pada tempat mereka. Panorama sejarah dalam Bibel Ibrani yang sendirinya menceritakan kisah lengkap sebuah bangsa Timur Dekat, menjadi petunjuk terhadap penyelesaian teka-teki rumit sejarah Timur Dekat kuno,25 dan bukan panorama sejarah itu sendiri yang merupakan sebuah teka teki yang rumit. Seluruh argumentasi dalam bab pengenalan ini berpusat pada dalil yang menyatakan bahwa tanah asal Israil dan tanah kelahiran Yudaisme adalah Arabia Barat, bukan Palestina. Dalam buku ini contoh teks-teks dari Kitab Bibel akan diuraikan dengan cara menyelidiki nama-nama tempat secara toponimis guna membuktikan kebenaran dalil ini — suatu fakta yang semoga sewaktu-waktu akan dapat diperkuat oleh penemuan-penemuan arkeologis pada lokasi-lokasi tersebut. Secara ideal, seluruh teks Bibel Ibrani seharusnya 25 Lain dari Bibel Ibrani, yang mengisahkan cerita lengkap kaum Israil kuno dari asal mulanya yang legendaris sampai pada abad ke-5 S.M., catatan-catatan bersejarah lainnya dari pelbagai negara di Timur Dekat hanya menceritakan potongan-potongan sejarah — daftar-daftar para raja, kisah-kisah ekspedisi militer tertentu, perjanjian- perjanjian perdamaian dan hal-hal yang seperti itu— dan tak pernah mengisahkan cerita-cerita lengkap mengenai suatu bangsa, negara atau kerajaan tertentu.— 32 —
  44. 44. diuraikan dengan cara yang sama seperti di atas, akan tetapiini memerlukan jangka waktu yang sangat lama sekali.Andaikata para pembaca bingung dengan apa yang dikatakanoleh buku ini, perlu dijelaskan bahwa walaupun Bibel Ibranimenceritakan sejarah orang-orang Israil kuno di Arabia Barat,bukan berarti agama Yahudi tidak mempunyai dasarnyadi Palestina, karena sebenarnya dasarnya adalah di sana.Kitab Bibel Ibrani yang ditulis di Arabia Barat lebih banyakberkenaan dengan urusan-urusan kaum Israil di daerah itu,dan bukan dengan kaum Yahudi di tempat-tempat lain. Seperti yang telah dikatakan tadi, ada petunjuk-petunjukdari Kitab Bibel mengenai tumbuhnya sebuah pemukimanYahudi yang kuat di Palestina yang dimulai pada sekitar abadke-10 S.M. Ada pula bukti-bukti yang berupa dokumentasi-dokumentasi yang didapat dari luar Bibel Ibrani yangmembuktikan adanya orang-orang Yahudi di negara-negaraTimur Dekat — seperti daerah Utara Mesir26 — sejakzaman kuno. Teks-teks kanonik Bibel Ibrani, yang merekamembicarakan cukup mendetil tentang orang-orang Yahudidi luar Arabia Barat, hanya melakukannya sehubungandengan penawanan orang-orang Israil oleh kerajaan Babilonia.Rekonstruksi sejarah Yahudi yang mula-mula di Palestinatidak mungkin didapat melalui teks-teks ini, ataupun melaluicatatan-catatan lain yang ada sampai sekarang. 26 Lihat terjemahan papirus-papirus Aram dari abad ke-5 S.M. yang berkenaan dengan masyarakat Yahudi Elephantine (nampaknya sebuah koloni militer dari zaman Achaemenid) dalam Pritchard, hal. 491-493, 548-549. Sejumlah papirus tersebut menyinggung masalah orang-orang Yahudi yang berbahasa Aram yang menetap di sana pada zaman purbakala. Yang menarik adalah bahwasanya papirus-papirus ini berbicara mengenai orang-orang Yahudi, bukan orang-orang Israil. — 33 —
  45. 45. — 34 —
  46. 46. 2 Masalah MetodeD alam mempelajari sesuatu kita harus belajar melupakan; didalam bidang penyelidikan Kitab Bibel ini sangat mutlak. Karena bahasa yang dipakai dalam BibelIbrani telah lama tidak dipergunakan lagi, beberapa waktusetelah abad ke-6 atau ke-5 S.M., maka tidak mungkin kitamengetahui pengucapan serta pemberian tanda vokal aslinyaseperti yang dipergunakan orang-orang dahulu itu. Kita puntidak mengetahui apa-apa tentang orthografi, tatabahasa,sintaksis serta langgam suaranya. Perbendaharaan kata diKitab Bibel Ibrani yang kita ketahui sangat terbatas pada kata-kata yang tertera dalam teks-teks Kitab Bibel itu. Memang benar, bahasa Ibrani para rabbi (pendetaYahudi) telah memperlengkapi kita dengan perbendaharaankata dari Bibel Ibrani yang sebagian didasarkan padaperbendaharaan kata kuno Kitab Bibel dan sebagian lagidipinjam dari bahasa Aram dan bahasa-bahasa lain. Akantetapi kita harus mengingat bahwa bahasa Ibrani para rabbiYahudi itu bukanlah suatu bahasa lisan; bahasa ini merupakansuatu bahasa kesarjanaan saja. Lagi pula, banyak kata di
  47. 47. dalam Kitab Bibel yang hanya timbul sekali atau dua kali saja sehingga arti kata-kata itu masih dapat diperdebatkan.1 Oleh sebab itu, untuk membaca dan mengerti Bibel Ibrani kita harus melakukannya menurut tradisi para pendeta Yahudi atau dengan cara mempelajari bahasa-bahasa Semit lainnya yang masih dipakai. Saya telah memakai cara yang kedua, mendasarkan penafsiran saya pada bahasa Arab, dan dalam beberapa hal pada bahasa Suryani, yang merupakan bentuk modern bahasa Aram kuno. Pendeknya, saya telah memperlakukan bahasa Ibrani sebagai bahasa yang sebenarnya sudah tak dikenal lagi dan yang perlu diungkapkan kembali, bukan lagi sebagai bahasa yang teka-teki dasarnya telah dipecahkan. Berkat kejujuran kesarjanaan kaum Masoret atau tradisional Yahudi, teks-teks dalam bentuk konsonan Bibel Ibrani itu telah diturunkan kepada kita dari zaman kuno dalam keadaan yang hampir dalam keadaan utuh. Sayang, sarjana-sarjana modern jarang yang menghargai hal ini. Seringkali, bila mereka gagal dalam memahami sebuah kutipan dari Kitab Bibel, karena prasangka-prasangka terhadap konteks geografisnya, mereka dengan salah menganggap bahwa teks-teks itu telah diubah, seperti halnya seorang pekerja yang tidak terampil menyalahkan alat- alatnya. Memang benar, beberapa kitab dalam Bibel Ibrani itu merupakan kumpulan sumber naskah yang lebih tua dan yang telah disusun kembali. Ini tidak diragukan lagi. Tetapi mungkin saja berbagai kitab teks Bibel kanonik yang ada pada kita, telah dalam bentuknya yang sekarang ini sebelum runtuhnya kerajaan Israil, yaitu paling lambat pada abad ke-5 atau ke-6 S.M. Dugaan ini timbul dengan adanya kenyataan bahwa Bibel Ibrani telah diterjemahkan secara keseluruhan 1 Slg dalam Bibel contohnya, yang timbul tidak kurang dari 18 kali dalam pelbagai teks Bibel, biasanya dianggap berarti ‘salju’, kecuali dalam Ayub 9:30, kata ini tidak jarang diterjemahkan sebagai bahan pembersih atau obat pemutih, mungkin sejenis tanaman (soapwort). Yang terakhir ini kemungkinan adalah konotasi dari slg dalam sebutan-sebutan Bibel yang lain, terutama dalam Mazmur 51:9. Dalam konteks ini, ‘Bersihkanlah aku dengan Hyssop, dan aku akan menjadi lebih putih dari salju (tkbsny w-m-slg ‘lbyn)’ mungkin seharusnya secara lebih tepat diterjemahkan menjadi: ‘Engkau akan membersihkan aku dengan hyssop, dan aku akan menjadi bersih; engkau akan memandikan aku, dan dari tanaman ‘soapwort’ aku akan menjadi putih’. Dua buah pembersih --pembersih hyssop dan akar-akar pencuci dari tanaman ‘soapwort’-- jelas adalah apa yang dibicarakan baris ini. Mengenai tanaman ‘soapwort’ Arab, lihat di bawah.— 36 —
  48. 48. ke dalam bahasa Aram (kitab-kitab Targum) pada zamanAchaemenid, dan ke dalam bahasa Yunani (kitab Septuaginta)pada awal periode Hellenis. Gulungan kertas Laut Mati,yang telah begitu banyak menarik perhatian dalam dasawarsabelakangan ini, jauh lebih muda dibandingkan dengan keduaterjemahan itu. Oleh sebab itu gulungan kertas Laut Matimungkin dapat berguna dalam studi mengenai agama YahudiPalestina pada zaman Rumawi; akan tetapi tidak akan dapatbanyak menolong dalam pemecahan teka-teki Kitab BibelIbrani. Kita kini mengetahui bahwa Bibel Ibrani yang mula-mula ditulis dalam bentuk konsonan. Kemudian diberivokal, dengan mempergunakan tanda-tanda vokal khusus,oleh kaum Masoret Palestina dan Babilonia antara abadke-6 dan ke-9 atau ke-10 tahun Masehi. Dengan kata lain,mereka yang melakukan ini sebenarnya menyusun kembalisebuah bahasa yang telah tidak dipergunakan lagi selamaseribu tahun atau lebih. Kaum Masoret ini apakah merekaberbahasa Aram atau tidak, melakukan tugas mereka denganseluruh pengetahuan yang mereka miliki. Karena merekamenghormati Bibel sebagai kitab suci, maka dapat dipastikanbahwa mereka berhati-hati agar tidak mengubahnya, danmembiarkan teks konsonannya seperti apa adanya, sekalipunmereka menemukan sebuah kutipan yang menurut merekatidak masuk akal. Mereka hanya mencatat bilamana ada atausepertinya ada kejanggalan-kejanggalan dalam ejaan atau tatabahasa, dan tampaknya tidak ada usaha-usaha yang disengajauntuk membetulkan kejanggalan-kejanggalan itu. Ironisnya,jika para ahli Bibel modern berhati-hati seperti halnya paraleluhur Masoret mereka, maka Ilmu Pengetahuan Bibelmodern tidak akan membingungkan seperti sekarang ini, danproses mempelajari yang sebenarnya bidang ini tidak perlubegitu banyak melupakan apa yang telah diketahui. Teks-teks suci, pada umumnya, dipelihara dalam bentukaslinya oleh mereka yang taat dan setia dalam agama apa pun,sehingga hampir tidak berubah. Diturunkan melalui tradisi,seperti halnya teks-teks suci, nama-nama tempat juga jarangberubah, paling tidak dalam struktur dasarnya, beberapa pun — 37 —
  49. 49. lamanya proses penurunan ini berlangsung. Jarang sekali nama-nama itu diubah, akan tetapi jika ini terjadi, nama- nama tua itu tetap dikenang oleh masyarakat, dan lebih sering dipergunakan kembali pada suatu saat. Bertahannya nama-nama tempat inilah yang memungkinkan saya untuk melakukan suatu analisa toponimis, dan terkadang memberi lebih banyak informasi mengenai geografi Bibel Ibrani daripada yang dapat kita peroleh melalui arkeologi. Dalam hal-hal tertentu, studi mengenai nama-nama tempat dan arkeologi mempunyai tujuan yang sama kecuali dalam satu perbedaan yang penting. Kalau penemuan-penemuan arkeologis itu bisu, jika terdapat inskripsi-inskripsi apa pun adanya, maka nama-nama tempat dapat berbicara dengan jelas. Maksud saya, bukan hanya memberitahu kita apa sebenarnya nama-nama tempat itu, bagaimana diucapkan, apa arti dan dari bahasa atau jenis bahasa mana asalnya. Tanpa adanya inskripsi, penemuan- penemuan arkeologi sangatlah sulit untuk ditafsirkan, begitu sulitnya sampai-sampai pertengkaran di antara para arkeolog, mengenai arti sejarah suatu penemuan tertentu, seringkali memburuk menjadi permusuhan pribadi. Walaupun nama- nama tempat tidak memberikan informasi sebanyak yang dihasilkan oleh penggalian-penggalian arkeologis, namun apa yang diberikan paling tidak merupakan suatu kepastian yang relatif atau mutlak. Saya akan mengemukakan sebuah contoh. Kalau seseorang menemukan sekelompok nama-nama tempat di Arabia Barat yang berasal dari sebuah bahasa yang bentuk konsonannya sama dengan bahasa Yahudi yang dipakai dalam Bibel atau bahasa Aram yang dipakai dalam Bibel, maka orang itu dapat menyimpulkan bahwa bahasa-bahasa yang sama atau serupa dengan bahasa Aram atau Yahudi Bibel pernah dipergunakan di Arabia Barat, meskipun bahasa Arablah yang merupakan bahasa sehari-hari di sana selama 2000 tahun. Kalau dapat lebih jauh lagi dibuktikan bahwa nama-nama tempat menurut Bibel, apa pun asal linguistiknya, terdapat pula di Arabia Barat yang sampai kini masih ada, sedangkan hanya sedikit yang tertinggal— 38 —

×