Asal usul kitab suci
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share

Asal usul kitab suci

  • 2,501 views
Uploaded on

... bacaan lama... dulu punya hardcopynya, tapi sudah lenyap ditelan masa...

... bacaan lama... dulu punya hardcopynya, tapi sudah lenyap ditelan masa...

More in: Spiritual
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
2,501
On Slideshare
2,501
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
162
Comments
0
Likes
2

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. MencariAsal-usulKitab Suci(The Bible Came from Arabia) Dr. Kamal Salibi 1985
  • 2. Tulisan ini diambil dari ‘Pustaka Online Media ISNET’ (media.isnet.org) tanpa seijin dari pengelola situs tersebut. Tulisan ini juga pernah diterbitkan oleh: Penerbit Pustaka Litera AntarNusa— Bogor, entah tahun berapa? Oleh karena itu, apabila pengelola dan penerbit merasa keberatan dengan digitalisasi tulisan ini, bisa melayangkan keberatan ke alamat: idul.choliq@atheist.com. Dengan segala hormat, kami akan segera menyedia-sempatkan waktu guna menanggapi dengan segera dan mencukupi.Gambar sampul muka, diambil dari peta wilyah Jazirah Arabia yang ditampilkan oleh aplikasi Google® Earth v. 6.2 for Mac® OS X Lion®, sedangkan digitalisasi dengan menggunakan Adobe®InDesign® CS6 for Mac® OS X. Typeface yang dipergunakan adalah: Myriad Pro, Adobe® Garamond Pro dan Minion Pro yang dibuat oleh Adobe® Systems Inc.Besar harapan kami, digitalisasi tulisan ini bisa meningkatkan manfaatnya dan bagi para pembaca.... selamat membaca.
  • 3. — ii —
  • 4. Daftar Isi Kata Pengantar vii Pendahuluan 11 Dunia Yahudi Kuno 92 Masalah Metode 353 Tanah Asir 494 Mencari Gerar 575 Non-Temuan di Palestina 736 Bermula Dari Tehom 917 Masalah Yordan 1018 Yudah Arabia 119 a. Wilayah Jizan 131 b. Wilayah Rijal Alma’ 132 c. Wilayah Bahr dan Birk 132 d. Wilayah Muhayil 133 e. Wilayah Ballahmar-Ballasmar 133 f. Wilayah Bariq 133 g. Wilayah Majaridah 133 h. Wilayah Qunfudhah 134 i. Wilayah Wadi Adam 134 j. Daerah pedalaman Lith yang lebih luas 135 — iii —
  • 5. k. Wilayah Taif 136 9 Yerusalem dan Kota Daud 139 10 Israil dan Samaria 157 11 Rencana Perjalanan Ekspedisi Sheshonk 169 12 Melchizedek: Petunjuk-petunjuk Pada Sebuah Panteon 183 13 Orang-orang Ibrani Hutan Asir 195 14 Orang-orang Filistin Arabia 203 15 Tanah Harapan 215 16 Kunjungan Ke Eden 225 17 Nyanyian Dari Pegunungan Jizan 233 Epilog 245 Lampiran 1. Bukti-bukti Onomastik Yang Berkenaan Dengan Keduabelas Suku Israil di Arabia Barat 249 Cabang-cabang suku Yoseph (Yusuf ): 252 ‘Induk’ suku-suku Israil: 253 Lampiran 2: Peta-peta 257 Tentang Penulis 269— iv —
  • 6. —v—
  • 7. — vi —
  • 8. Kata PengantarK etika mula-mula saya mengira bahwa tempat asal Kitab Bibel itu Arabia Barat dan bukan Palestina, saya merasa memerlukan dukungan untuk memperdalampenyelidikan ini, atau lebih tepat lagi untuk memberanikanmenulis sebuah buku tentang ini. Dukungan ini diberikanoleh sejumlah teman dan rekan saya, dan saya banggamenyatakan bahwa saya berutang budi kepada mereka. Diantara mereka, Dr. Wolfgang Koehler dan Prof. GernotRotter yang telah memberi kesempatan pertama kepada sayauntuk mengemukakan penemuan-penemuan saya yang awalkepada para pendengar yang amat kritis di Deutche OrientInstitut di Beirut. Prof. Rotter jugalah yang membawa hasilpenelitian saya kepada penerbit-penerbit Jerman. Merekalahyang kemudian mempersiapkan penerjemahan buku ini,yang aslinya ditulis dalam bahasa Inggris, ke dalam beberapabahasa. Joseph Munro, Profesor Sastra Inggris di AmericanUniversity of Beirut, banyak membantu saya sejak awalberjalannya penyelidikan ini. Dia pula yang mempersiapkannaskah saya untuk diterbitkan, serta melonggarkan jalan
  • 9. pemikiran saya yang terkadang sangat ingin menonjolkan keilmuan. Ia pun memperlembut sifat tegas saya yang sering dogmatis dengan bentuk-bentuk perumpamaan. Rasa gembira karena penemuan ini memaksa saya untuk mengabaikan sikap berhati-hati. Sebagai pendatang baru dalam bidang studi Semit dan Keinjilan, dalam tahap-tahap awal penyelidikan ini saya mendapatkan bimbingan dari dua orang rekan saya, Ramzi Baalbaki, yang membantu saya dalam memperlancar bahasa Ibrani saya, dan William Ward, yang menyisihkan waktunya untuk memperkenalkan saya pada literatur bidang keilmuan yang relevan dan memperingatkan saya akan adanya ke sulitan-kesulitan yang akan saya hadapi. Yang seorang rekan lagi, yaitu Charles Abu Chaar, yang telah memberi pengarahan kepada saya dalam hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan flora Arabia. Profesor Otto Jastrow dari the University of Erlangen, sangat berbaik hati terhadap saya dalam memberi dukungan dan pengarahan mengenai studi ini, dan secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepadanya. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga saya tujukan kepada Volkhard Windfuhr dari Der Spiegel, atas perhatiannya yang besar terhadap buku saya ini, dari awal sampai akhir. Peta-peta di dalam buku ini digambar oleh Ahmad Shah Durranai, Dr. Elfried Soker dan Klaus Carstens, sedangkan naskah terakhir yang diketik dipersiapkan oleh Mufida Yacoub, Sayidah Ni’mah, Leila Salibi dan Margo Matta. Karena studi yang saya lakukan ini bersifat revolusioner, saya yakin segenap penasihat saya akan gembira mendengar bahwa saya membebaskan mereka dari segala tanggung jawab dan dari apa pun kesalahan serta kesalahpahaman yang didapati oleh para pembaca kritis. Meskipun demikian, saya menghargai dukungan mereka selama buku ini ditulis. Saya hanya dapat berharap antusiasme mereka yang tak kunjung padam itu telah diterjemahkan menjadi sebuah buku yang patut mendapatkan kerjasama yang begitu besar itu dari mereka. Akhirnya, saya harus berterima kasih kepada sumber-— viii —
  • 10. sumber informasi yang tercetak yang menjadi studi sayaini sangat bergantung. Selain sebuah versi standar dari tekskonsonan Injil Ibrani, saya telah memanfaatkan katalognama-nama tempat Arabia yang diterbitkan oleh SheikhHamad al-Jasir dari Riyad, Arab Saudi, yang berjudul Al-Mu’jam al-Jiughrafi li’l-Bilad’l ‘Arbiyyah as-Sa’udiyyah (Riyad,1977). Selain itu, saya telah memanfaatkan juga beberapa petaJazirah Arabia yang lain: ‘Atiq al-Baladi Mu’jam Ma’alim’l-Hijaz (Taif, 1978). Muhammad al-’Aqili: Al-Almu’jam al-Jiughrafi li’l-Bilad’l ‘Arabiyyah as-Sa’udiyyah; Muqata’at Jizan(Riyad, 1979); ‘Ali ibn Salih as-Siluk az-Zahrani, Al-Mu’jamal-Jiughrafi ...; Bilad Ghamid wa Zahran (Riyad, 1978);Hamad al-Jasir, Mu’jam, Qaba’il’l-Mamlakah al ‘Arabiyyahas-Sa’udiyyah (Riyad, 1981); ‘Atiq al-Baladi, Mu’jam Qaba’il’l-Hijaz (Mekah, 1979). Karya-karya ahli ilmu bumi Arab klasik,terutama Mu’jam’l-Buldan karya Yaqut dan Sifat Jazirat’l-Arab karya al-Hamdani, juga membantu saya. Sebagianbesar sumber-sumber lain tempat saya mendapatkan segalaketerangan itu tertera dalam catatan teks. Guna membantu pembaca yang bukan spesialis, sayatelah, menyediakan beberapa catatan mengenai transliterasiIbrani dan Arab, dan mengenai perubahan bentuk konsonanyang sering dijumpai antara kedua bahasa itu, yang terdapattepat sebelum kata pengantar ini. Beirut‚ 24 April 1985 Kamal Salibi — ix —
  • 11. —x—
  • 12. PendahuluanS aya akan berbicara langsung mengenai pokok persoalan. Saya yakin bahwa saya telah mendapatkan suatu penemuan penting yang seharusnya akan dapat mengubahpengertian kita tentang Bibel Ibrani, atau apa yang disebutoleh kebanyakan orang sebagai Perjanjian Lama. Penemuanini berupa dugaan kuat bahwa Kitab Bibel itu berasal dariArabia Barat, dan bukan dari Palestina, seperti yang sampaikini diduga oleh para ahli, berdasarkan pada perkiraangeografis. Bukti yang saya dapati untuk menentang pernyataanini akan dibahas pada bab-bab yang berikut. Dugaan saya inididasarkan pada analisa linguistik dari nama-nama tempatyang tertera di dalam Kitab Bibel, yang menurut pendapatsaya sampai sekarang terus menerus telah diterjemahkansecara tidak benar. Prosedur ini secara teknis disebut analisaonomastik, atau barangkali lebih tepat analisa toponimik. Saya
  • 13. terus-terang mengakui bahwa penemuan ini masih bersifat teoritis, sebelum diperkuat oleh penyelidikan-penyelidikan arkeologis. Akan tetapi bukti-bukti yang saya dapati sangatlah besar sehingga hanya akan disangsikan oleh orang-orang kolot saja, dan saya yakin kesangsian itu pun akan lenyap setelah adanya dukungan selanjutnya oleh para ahli. Tidak mengherankan, dalam membuka jalan baru, jika saya melakukan beberapa kesalahan yang mungkin akan dijadikan kesempatan oleh para kritikus untuk menodai hasil- hasil penemuan saya ini. Tetapi saya yakin bahwa kesalahan itu tidak akan begitu besar sehingga dapat mempengaruhi hasil penemuan ini. Tidak diragukan lagi, banyak orang akan mengeluh bahwa referensi saya terhadap kepustakaan yang luas mengenai geografi Bibel Ibrani itu hanya sepintas saja. Jawaban yang akan saya berikan singkat saja, yaitu bahwa saya samasekali tidak setuju dengan apa yang telah tertulis dan merasa tidak perlu membebani para pembaca dengan sanggahan-sanggahan mengenai penemuan-penemuan yang lalu satu persatu. Sebenarnya saya khawatir juga bahwa daftar nama-nama tempat yang menjadi dasar pokok argumentasi buku ini akan menimbulkan kesulitan kepada pembaca yang tidak begitu biasa dengan transliterasi abjad Ibrani dan Arab. Sementara saya harapkan para spesialis akan ikut bersabar bersama saya, saya sarankan pembaca biasa melewati saja bagian-bagian itu, dan memusatkan perhatian pada kesimpulan yang telah saya usahakan seringkas dan sejelas mungkin, dengan harapan hal ini dapat saya kemukakan dengan sebaik-baiknya. Untuk membantu pembaca umum, beberapa pengetahuan dasar baik mengenai bahasa dalam Bibel Ibrani ataupun perbandingannya secara linguistik yang berhubungan dengan bahasa-bahasa Semit, barangkali masih diperlukan. Ringkasnya, Kitab Bibel Ibrani kanonik itu terdiri dari tiga puluh sembilan kitab yang dahulunya disusun dalam dua puluh empat buah gulungan. Lima kitab pertama, yaitu Pentateuch (atau Torah dalam bahasa Ibrani, yang berarti ‘pelajaran’) terdiri dari Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Selanjutnya, dua puluh satu kitab Kisah—2—
  • 14. para Rasul: empat karya bersejarah Yosua, Hakim-hakim,Samuel (2 kitab), Raja-raja (2 kitab); kitab-kitab Tiga Rasulutama Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel; kemudian dua belaskitab mengenai para nabi-nabi, yaitu: Hosea, Yoel, Amos,Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai,Zakharia dan Maleakhi. Dan akhirnya tiga belas kitab puisi-puisi keagamaan dan kesusastraan mengenai kebijaksanaan,Tulisan-tulisan, yang terdiri dari Mazmur, Amsal, Yob,Kidung Agung, Rut, Ratapan, Pengkhotbah, Ester, Daniel,Ezra, Nehemia dan Tawarikh (2 kitab). Kecuali bagian-bagianAramaik dari kitab Daniel (2:4b - 7:28) dan kitab Ezra (4:8- 6:18), semua karangan orisinalnya yang sampai kepada kitatertulis dalam bahasa Ibrani. Hal-hal yang bersangkutan dengan penanggalan danpenyusunan kitab-kitab Bibel Ibrani itu terlalu rumit untukdibahas secara rinci, dan tidaklah penting dalam argumentasisaya ini. Sejumlah kitab-kitab itu, misalnya, sudah dapatdipastikan sebagai karya-karya baru yang disusun berdasarkannaskah-naskah yang lebih tua, sehingga dapat diperkirakanbaru tersusun pada sekitar abad ke-4 S.M., setelah runtuhnyakerajaan Israil kuno. Yang sudah pasti ialah bahwa bahasa Ibrani dalam Bibelsecara keseluruhan mempunyai bentuk bahasa sehari-hari,tidak seperti halnya bahasa Ibrani yang dipakai oleh pararabbi (pendeta Yahudi) yang berfungsi khusus sebagai bahasakesarjanaan. Dengan kata lain, naskah-naskah Bibel Ibraniyang kita kenal telah ada sebelum abad ke-5 S.M., pada waktuKerajaan Israil kuno mengalami kehancurannya dan sewaktubahasa Ibrani dan berbagai bentuk bahasa Kanaan sudah tidakdipakai lagi. Ini berarti kita dapat mempergunakan BibelIbrani itu, paling tidak dalam penelitian ini, sebagai dokumenyang berhubungan langsung dengan sejarah Israil, lepas darisoal-soal penanggalan, komposisi, atau siapa penulisnya. Karena hampir seluruh argumentasi ini dititikberatkanpada perkiraan saya bahwa Bibel Ibrani terus-menerusditerjemahkan dengan tidak benar, maka patut diadakansuatu pembetulan. Singkatnya, seperti yang akan sayajelaskan secara lebih mendalam pada Bab 2, bahasa Ibrani —3—
  • 15. itu tidak lagi dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari pada sekitar abad ke-5 atau ke-6 S.M. Oleh sebab itu, jika ingin memahami Bibel Ibrani kita harus memilih satu di antara dua metode. Cara yang pertama ialah menerima saja terjemahan naskah-naskah yang diterjemahkan secara tradisional itu dalam bahasa Ibrani, atau menyelidiki bahasa-bahasa Semit yang masih berhubungan erat dengan bahasa Ibrani, seperti bahasa Arab dan bahasa Suryani. Bahasa Suryani merupakan peninggalan dari suatu bentuk bahasa Aram kuno. Saya tidak menggunakan penterjemahan secara tradisional dalam bahasa Ibrani, karena para ahli Yahudi yang menterjemahkan dan memberi bunyi vokal pada Bibel Ibrani antara abad ke-6 dan ke-10 M. itu tidak dapat berbahasa Ibrani secara lisan dan mungkin mendasarkan rekonstruksi mereka pada dugaan-dugaan saja. Jika memakai metode kedua, untuk menafsirkan bahasa Ibrani yang dipergunakan di dalam Bibel Ibrani, kita harus melakukannya berkenaan dengan fonologi dan morfologi perbandingan dari bahasa-bahasa Semit. Mengingat banyak pembaca yang belum terbiasa dengan hal-hal seperti ini, sekali lagi saya akan memberikan informasi dasar mengenai hal ini. Bahasa Semit pada umumnya dianggap sebagai anggota keluarga besar bahasa-bahasa Afro-Asia yang meliputi bahasa Mesir kuno dan bahasa Berber serta Hausa modern. Dari bahasa-bahasa ini, yang termasuk dalam cabang bahasa Semit ialah bahasa Akkadia (bahasa kuno Babilonia dan Asiria), bahasa Kanaan (bahasa Funisia kuno dan bahasa Ibrani kuno adalah suatu varian dari bahasa ini), bahasa Aram (bahasa Suryani) dan bahasa Arab. Salah satu ciri khas yang dimiliki bahasa-bahasa ini adalah sistem mendapatkan akar suatu kata yang biasanya terdiri dari tiga konsonan. Akar-akar kata ini biasanya dipahami sebagai kata kerja, dan ada seperangkat pola asal mula kata kerja ini yang telah membentuk kata kerja lain, dan juga kata benda dan kata sifat yang beraneka ragam. Ini melibatkan beberapa cara pemberian tanda vokal pada akar kata dengan menambahkan huruf-huruf hidup, dan juga penambahan satu atau lebih konsonan pada akar kata yang asli. Dalam kamus-kamus standar bahasa-bahasa Semit,—4—
  • 16. kita biasanya mencari akar kata tertentu, yang kemudiandiikuti oleh serangkaian kata jadian yang berasal dari akarkata itu. Sejumlah akar kata yang sama terdapat di beberapabahasa Semit, dengan arti yang sama atau dengan arti yangberdekatan. Kalau kita telah menguasai sebuah bahasa Semit,akan lebih mudah mempelajari yang lain. Terkadang, sebuah akar kata yang ada pada dua ataulebih bahasa Semit tidak mudah dikenali sebagai akar katayang sama oleh seseorang yang tidak berbahasa Semit sebagaibahasa ibu. Ini disebabkan karena satu atau lebih konsonandalam akar kata itu dapat berubah dari satu bahasa ke bahasayang lain. Dalam bahasa Ibrani, contohnya, akar kata yangberarti ‘mendiami’ adalah hsr, sedangkan dalam bahasa Arabakar kata itu adalah hdr. Penjelasannya adalah bahwa pemakaibahasa Semit secara naluriah mengenai hubungan fonologisantara pelbagai konsonan, yang dapat ditukar tempatnya diantara berbagai bahasa-bahasa Semit. Misalnya, ‘g’ di dalamsatu bahasa atau dialek (yang dapat diucapkan seperti huruf ‘g’atau sebagai huruf ‘j’) dapat berubah menjadi huruf ‘q’ (qaf)atau ‘g’ (ghayn) dalam bahasa atau dialek yang lain. Maka kataNegeb dalam bahasa Ibrani (sebagai sebuah nama tempat)berubah menjadi Naqab atau Nagab dalam bahasa Arab. Perubahan konsonan di antara bahasa-bahasa Semit ininampaknya mengikuti peraturan-peraturan tertentu, danuntuk mudahnya saya telah tabulasikan perubahan-perubahantersebut dari bahasa Ibrani ke bahasa Arab di bagian tepatsebelum Kata Pengantar buku ini. Ada pula masalah metatesis,atau perubahan dalam penempatan konsonan-konsonan dalamakar kata yang sama antara pelbagai bahasa Semit, misalnyaakar kata acb, dapat berubah menjadi cab atau bca. Metatesisbukanlah suatu fenomena linguistik yang hanya ditemuidalam bahasa-bahasa Semit. Kita dapat juga menjumpainyadalam bahasa-bahasa yang lain , walaupun metatesis sangatbiasa terjadi di antara bahasa-bahasa Semit yang sama. Dalamsebuah dialek Arab, contohnya, zwg (diucapkan zawj), yangberarti ‘sepasang’ dapat berubah menjadi gwz (diucapkanjawz), yang terakhir adalah bentuk yang biasa terdapat padadialek Libanon yang saya pakai. —5—
  • 17. Sama pentingnya, kalau tidak lebih, untuk mengingat bahwa bahasa-bahasa Semit ditulis dalam bentuk konsonan tanpa huruf hidup. Namun, pada terjemahan-terjemahan Kitab Bibel dalam bahasa Inggris dan dalam bahasa-bahasa lainnya, nama-nama menurut Bibel itu dikemukakan dalam bentuk yang telah diberi huruf vokal, yang berasal dari penyuaraan kaum ‘Masoret’ atau dari tradisi Kitab Bibel Ibrani, yang seperti telah saya katakan, mungkin salah, sepanjang ahli-ahli Masoret itu perlu menyusun kembali bahasa Ibrani, yang sudah dipergunakan lagi secara umum. Agar membantu para pembaca, yang telah saya lakukan adalah memberikan baik kata Ibrani yang diberi vokal secara tradisional maupun yang belum diberi vokal, dan saya berusaha untuk menunjukkan bagaimana kata yang sama itu, jika diberi vokal dengan cara yang berbeda, dapat mempunyai arti selain yang telah ditentukan menurut tradisi kaum Masoret. Mengenai kata-kata — terutama nama-nama tempat yang berasal dari catatan-catatan kuno Mesir, mustahil untuk mengetahui bagaimana semua itu disuarakan. Maka dari itu, apa yang telah saya lakukan dalam contoh-contoh yang seperti itu adalah mengemukakannya dalam bentuk konsonan mereka dan juga membuat agar mereka dapat dibandingkan dengan bentuk-bentuk konsonan Ibrani. Seperti itu pula, jika saya mengutip kalimat-kalimat lengkap dari Bibel Ibrani, saya telah menuliskan kata-kata Ibrani yang tidak diberi vokal ke dalam bentuk Latin yang belum diberi tanda vokal pula. Ini agaknya tidak banyak membantu dalam pembacaannya, tetapi berkenaan dengan argumentasi saya, saya tidak melihat adanya alternatif lain yang lebih baik. Untuk meringkaskan: apa yang sama dalam perbendaharaan kata dari berbagai bahasa Semit adalah sejumlah besar akar kata konsonan dan bentuk-bentuk kata yang berasal dari situ; yang terakhir ini tidak mempunyai perbedaan yang besar antara satu bahasa dengan bahasa yang lain. Guna membandingkan kata-kata dalam berbagai bahasa Semit, kita perlu mengeja kata-kata itu hanya dalam bentuk konsonannya, kalau tidak demikian maka seluruh maknanya akan hilang. Maka dari itu saya harus memohon kepada—6—
  • 18. pembaca agar mereka bersabar jika terdapat perbandingan-perbandingan seperti itu, dan agar mereka percaya bahwaperbandingan-perbandingan ini dibuat menurut peraturanyang pantas bagi ilmu bahasa perbandingan. Berpaling pada metodologi, karena alasan-alasan yangkini telah jelas, saya mendasarkan studi saya ini pada tekskonsonan Bibel Ibrani, membanding-bandingkan sebutantertentu dengan nama-nama tempat di Arabia Barat gunamemberikan alternatif bagi penterjemah tradisional. Kitatidak perlu membahasnya lebih jauh dari itu, karenamasalah-masalah yang seperti ini akan saya bahas dalam Bab2. Namun, saya hanya ingin menambahkan bahwa selainmeneliti buku-buku dan peta-peta, saya telah pula melakukansebuah perjalanan ke Arabia Barat, yang saya yakin adalahtanah asal Kitab Bibel, guna menjadi lebih akrab denganlokasi-lokasi utama yang disebutkan di dalam studi ini dansecara langsung mengamati bagaimana pelbagai lokasi yangtelah saya sebutkan tadi itu berhubungan, baik secara geografismaupun secara topografis. Di atas dasar-dasar inilah argumentasi buku saya iniberdiri. Apakah saya berhasil atau tidak meyakinkan para ahliBibel Ibrani itu masih harus disangsikan dahulu. Yang dapatsaya katakan adalah bahwa saya yakin sepenuhnya atas hasil-hasil penemuan yang dihasilkan oleh analisa toponimis saya,dan saya menanti-nanti datangnya saat para arkeolog menggalibeberapa tempat peninggalan zaman purbakala yang telahsaya sebutkan, dan semoga menghasilkan bukti-bukti yanglebih lanjut bahwa tanah asal Kitab Bibel Ibrani adalah Arabia,Barat, bukan Palestina. —7—
  • 19. —8—
  • 20. 1 Dunia Yahudi KunoA sal mula penyelidikan ini datang secara tidak sengaja. Pada suatu hari saya menerima sebuah copy cetakan indeks ilmu bumi Arab Saudi, diterbitkan di Riyadpada tahun 1977, dan ketika saya sedang memeriksanyauntuk nama-nama tempat yang tidak berasal dari bahasa Arabyang terletak di Arabia Barat, ketika itulah saya menyadaribahwa nama-nama tempat di Arabia Barat juga merupakannama-nama tempat yang tertera di dalam Kitab PerjanjianLama, atau yang saya sebut Bibel Ibrani. Pada mulanyasaya meragukan persamaan ini, tetapi setelah bukti-buktiyang memperkuat itu terkumpul, saya merasa yakin bahwapersamaan antara nama-nama itu bukanlah suatu kebetulanbelaka. Hampir semua nama tempat kuno yang saya dapatidi dalam Bibel berpusat pada daerah dengan panjang sekitar600 kilometer dan selebar 200 kilometer, yang pada zamanini meliputi Asir (bahasa Arabnya ‘Asir) dan bagian selatanHijaz (al-Higaz). Semua koordinat tempat-tempat yangdisebutkan di dalam Kitab Bibel Ibrani dapat dicocokkandengan sebuah tempat di wilayah ini, suatu fakta yang sangatpenting, sedangkan belum ada bukti-bukti yang mencocokkan
  • 21. koordinat-koordinat tersebut dengan lokasi tempat-tempat di Palestina, tempat yang diduga sebagai tanah asal Kitab Bibel. Saya tidak menemukan sekelompok nama tempat kuno, dalam bentuk Ibraninya yang masih asli di daerah- daerah lain di Timur Dekat. Saya merasa berkewajiban untuk memikirkan adanya sebuah kemungkinan yang sangat menakjubkan: yaitu bahwa Yudaisme bukan berasal dari Palestina, melainkan dari Arabia Barat, dan bahwa seluruh sejarah bangsa Israil kuno berlangsung di daerah ini, bukan di tempat lain. Sudah tentu, jika menganggap bahwa dugaan saya ini benar, bukan berarti bahwa tidak ada orang Yahudi yang tinggal menetap di Palestina pada zaman Bibel itu atau di negara lain di luar wilayah ini. Yang dimaksud ialah bahwa Kitab Bibel Ibrani itu pada dasarnya ialah suatu catatan mengenai sejarah pengalaman bangsa Yahudi di Arabia Barat. Sayangnya tidak ada catatan sejarah yang dapat menjelaskan bagaimana Yudaisme dapat didirikan di Palestina pada zaman dahulu itu. Tetapi kita dapat saja memberikan suatu perkiraan berdasarkan bukti-bukti yang ada. Di antara agama-agama Timur Dekat yang diketahui, agama Yahudi berada dalam golongan tersendiri; belum ada usaha-usaha yang berhasil menjelaskan asal usulnya dalam pengertian agama-agama kuno Mesopotamia, Suria atau Mesir, kecuali dalam tingkat bayangan mitos-mitos. Salah satu contoh yang demikian ini ialah kisah air bah, yang mungkin juga terdapat dalam kitab ‘Epik Gilgamesh’ dari mesopotamia kuno, dan mitos-mitos kuno lainnya, bahkan salah satu di antaranya berasal dari Cina. Walaupun dengan adanya contoh-contoh ini, kita tidak dapat memastikan asal-mulanya mitos-mitos ini serta apa yang dibawa dan dari siapa. Tetapi, seperti yang akan kita lihat dalam Bab 12, sangat masuk di akal untuk mengandaikan bahwasanya asal mula agama Yahudi mungkin terbentuk karena adanya kecenderungan terhadap monoteisme di Asir kuno tempat sejumlah dewa-dewa gunung seperti Yahweh, El Sabaoth, El Shalom, El Shaddai, El Elyon dan yang lain entah bagaimana yang akhirnya diakui sebagai dewa tertinggi, mungkin— 10 —
  • 22. dengan adanya pembauran di antara suku-suku setempat.Karena kemudian diadopsi oleh suku Israil, sebuah suku lokal,monoteisme dasar Arabia Barat ini lambat-laun berkembangmenjadi sebuah agama dengan jalan pemikiran yang tinggi,yang mempunyai sebuah kitab keagamaan tetap, yangmengandung gagasan yang rumit tentang sifat ketuhanan danmempunyai tema kemasyarakatan dan etika tersendiri. Agamaitu dengan mudah menarik peminat-peminat dari luar daerahasalnya, khususnya dari daerah-daerah yang telah mengenalketatasusilaan dan yang telah mempunyai tingkat pemikiranyang cukup tinggi. Karena agama itu mempunyai kitab dandikembangkan oleh orang-orang yang dapat menulis danmembaca, agama itu mudah untuk disebarluaskan. Bahasa yang dipakai dalam kitab-kitab Yahudi inibiasanya disebut Ibrani, dan agaknya merupakan dialek sebuahbahasa Semit yang dahulunya merupakan bahasa sehari-hariyang dipakai di pelbagai daerah di Arabia Selatan, Barat danSuria (termasuk Palestina)1. Seseorang dapat menyimpulkanhal ini melalui penyelidikan etimologis dan dari nama-nama tempat di wilayah Timur Dekat, mempertimbangkanpula distribusi geografis mereka. Karena memerlukan katayang lebih tepat, maka bahasa kuno ini kini disebut bahasaKanaan, menurut nama sebuah bangsa menurut Bibel yangmenggunakan bahasa ini.2 Di samping bahasa Kanaan, ada satu lagi bahasa yangdipakai di jazirah Arab dan Suria, bahasa ini adalah bahasaAram, diberi nama ini menurut nama bangsa Aram dari Bibel.Tanpa memperdulikan siapa itu sebenarnya bangsa Kanaandan Aram, suatu topik yang akan saya bicarakan dalam Bab 4,3 1 Istilah Semit, dipakai untuk menggambarkan bangsa yang berhubungan dengan bangsa Ibrani dan bahasa-bahasa mereka, pertama kali diperkenalkan oleh A. L. Schlozer dalam tahun 1781. Istilah ini berasal dari kata Shem (sm) dalam Bibel, putra Nabi Nuh dan yang dianggap sebagai leluhur orang-orang Israil dan bangsa-bangsa lain menurut Bibel. Bibel Ibrani berbicara mengenai bangsa-bangsa keturunan Shem tanpa menggambarkan mereka sebagai orang-orang Semit. 2 Bahasa tersebut mungkin disebut dengan nama ini pada masa silam. Sebuah sebutan Bibel, yaitu Yesaya 19:18, menyebutkan ‘bahasa Kanaan’ (spt kn’n), agaknya berarti bahasa Ibrani. 3 Kemudian akan ditunjukkan melalui analisa toponimis bahwa tanah Kanaan menurut Bibel terletak di sisi maritim Asir, bukan di Palestina dan pesisir Suria, seperti yang biasanya diduga. Mendasarkan hampir sebagian besar argumentasi mereka pada bukti-bukti dalam Bibel, yang ditafsirkan dengan salah, para ahli telah menganggap bahwa bangsa Aramaea (Aram) pada mulanya merupakan penghuni daerah Suria bagian utara di sebelah barat sungai Efrat. Namun, sebuah penelitian kembali atas bukti- — 11 —
  • 23. dapat dipastikan bahwa bahasa Kanaan (atau bahasa Ibrani) dan bahasa Aram pernah dalam waktu yang bersamaan digunakan oleh berbagai masyarakat Arab dari wilayah Barat, seperti halnya di Suria. Sebuah ayat pendek dari Kitab Bibel, jika dilihat kembali dari segi nama-nama tempat di Arabia Barat yang masih ada sejak dari zaman kuno, jelas mengungkapkan hal ini. Sebutan ini adalah Kejadian 31:47-49. Di sini dapat kita baca mengenai sebuah timbunan tanah yang disebut ‘timbunan batu’, didirikan untuk menjadi saksi atas persetujuan antara Yakub, seorang Yahudi, dengan paman dari pihak ibunya, seorang bangsa Aram dan ayah mertuanya, yaitu Laban. Laban menyebutnya ‘Yegar-sahadutha’ (dalam bahasa Aram adalah ygr shdwt’), tetapi Yakub menyebutnya ‘Galed’ (dalam bahasa Ibraninya gl’d) dan ‘Mizpah’ (Ibraninya hmsph), yang berarti menara penjagaan. Ketiga nama ini kini masih dipakai oleh tiga buah desa yang tidak begitu terkenal, yang letaknya berdekatan, di daerah maritim Asir, di kawasan Rijal Alma’ (Rigal Alma’), di sebelah barat Abha (Abha). Nama-namanya adalah: Far’at Al-Shahda (‘l shd’), yang berarti ‘Tuhan adalah saksi’ atau ‘Tuhan dari saksi’, dalam bahasa Arabnya pr’t atau pr’h, yang berarti bukit atau timbunan, sama artinya dengan kata Aram ygr; al-Ja’d (‘l-g’d), yang merupakan sebuah metatesis yang telah diarabkan dari kata gl’d; dan al-Madhaf (mdp; bandingkan dengan msph). Begitulah persamaan antara pemakai bahasa Kanaan dengan pemakai bahasa Aram di Arabia Barat menurut bukti menurut Bibel menunjukkan kepada kita bahwa yang disebut oleh Bibel Ibrani sebagai Aram (konsonan ‘rm) sebenarnya adalah Arabia Barat. Aram Naharim (‘rm nhrym, Kejadian 28:2 dan sebagainya), contohnya, jelas bukan Mesopotamia, tetapi merupakan Naharin (nhryn) kini di dekat Taif (al-Ta’if), di Hijaz bagian selatan. Maka dari itu, kita harus menyimpulkan bahwa Paddan-aram (pdn ‘rm, Kejadian 28:2 dan sebagainya) adalah Dafinah (dpn) di dekatnya, di daerah sekitar Mekah, bukan Mesopotamia. Begitu pula beberapa nama yang lain yang oleh Bibel Ibrani diasosiasikan dengan Aram Beth-rehob, Aram Zobah dan bahkan Damaskus (Dha Misk di Arabia Barat, atau d msk, bandingkan dengan kata Ibrani dmsq) - mungkin kini dapat ditemui namanya di Hijaz dan Asir. Wadi Waram (wrm) juga memakai nama Aram kuno di sana. Kebetulan juga, Iram (‘rm, Qur’an 89:7) di dalam Qur’an, sebagai nama tempat, secara konsonan sama dengan Aram dalam Bibel, yang juga adalah ‘rm. Qur’an menghubungkan tempat ini dengan Dhat al-’Imad. Al-’Imad kini merupakan sebuah desa di dataran tinggi Zahran (Zahran), sebuah daerah di sebelah selatan Taif, dan di sini sebuah daerah Aram setempat bertahan sebagai desa Aryamah (‘rym). Terus-terang saja, kita tidak dapat mengatakan dengan pasti sampai seberapa jauh luas tanah di Arabia Barat menurut Bibel itu, tetapi tanah ini jelas mencakup daerah-daerah selatan Hijaz..— 12 —
  • 24. Bibel, sehingga menurut hemat saya orang-orang Israilitu bingung dari kelompok mana mereka berasal. Walaumereka menganggap sebagai bangsa Ibrani (lihat Bab 13),tetapi menurut Ulangan 26:5 leluhur mereka adalah seorangyang berasal dari suku Aram. Pertentangan ini telah lamamembingungkan para ahli, tetapi jika anggapan saya benar,hal itu memang masuk akal. Kemungkinan besar awal tersebarnya agama Yahudi daritanah asalnya di Arabia Barat ke Palestina dan ke daerah-daerah lain itu ialah dengan mengikuti jalur (route) kafilahperdagangan antar Arabia. Pada zaman kuno, wilayah Asir diArabia Barat merupakan tempat pertemuan kafilah-kafilahyang membawa barang-barang dagangan dari berbagai negaradi kawasan teluk Samudera Hindia seperti India, ArabiaSelatan serta Afrika Timur, dari satu arah, dan dari Persia-Mesopotamia, dan negara-negara di Laut Tengah bagianTimur, terutama Suria, Mesir dan dunia Aegea, dari arah yanglain (lihat Peta 1). Palestina, yang terletak di sudut Selatan Suria, dekatMesir, merupakan ujung penghabisan dari jalur perdagangankuno Arabia Barat pertama yang bertolak menuju arah ini.Penduduk Yahudi yang pertama mestinya adalah pedagang-pedagang dan kafilah-kafilah dari Arabi Barat yang terlibatdalam perdagangan ini. Penduduk baru ini kemudian denganmudah menarik penduduk lokal untuk memasuki agamamereka, yang dalam hal kecanggihan intelektualnya jauh lebihtinggi dibandingkan dengan cara-cara pemujaan setempat danbahkan agama-agama tinggi kerajaan Mesir dan Mesopotamia.Cara yang persis seperti inilah yang dipergunakan olehpedagang-pedagang Islam di berbagai tempat di Asia danAfrika Timur pada waktu-waktu yang kemudian. Merekamenarik umat baru untuk memeluk agama Islam di manapun mereka singgah di antara penduduk itu yang memandangagama Islam sebagai suatu agama yang lebih baik daripadaagama mereka sendiri. Bukan maksud saya untuk mengatakan bahwa orang-orang Yahudi itulah yang merupakan penduduk pertamaArabia Barat di Palestina. Mestinya bangsa Filistin yang — 13 —
  • 25. menurut Bibel (lihat Bab 14) dari Arabia Barat itulah yang terlebih dahulu menetap di daerah itu sebelum mereka, mengingat bahwa merekalah yang memberi nama kepada negara ini. Begitupun halnya dengan bangsa Kanaan dari Arabia Barat (lihat catatan 3) yang tampaknya telah ‘tersebar’ (Kejadian 10:18) sejak dahulu, dan memberi nama pada tanah Kanaan (kn’n) yang terletak di sepanjang pantai Suria, di sebelah utara Palestina. Daerah ini disebut Phoenicia oleh bangsa Yunani (mengenai Faniqa atau ‘Phoenicia’ di Asir, lihat Bab 14 ). Bahwasanya Phoenicia sebenarnya disebut Kanaan oleh penduduknya dapat diketahui dari sekeping uang logam Yunani dari Beirut yang menceritakan dalam bahasa Funisia (Phoenicia), bahwa kota ini terletak ‘di Kanaan’ (b-kn’n), dan dalam bahasa Yunani bahwa kota ini terletak ‘di Phoenicia’.4 Menulis mengenai ‘bangsa Phoenicia’ dan ‘bangsa Suria dari Palestina’ pada abad ke-5 S.M., sejarawan Yunani Herodotus yakin bahwa mereka berasal dari Arabia Barat. Ia menulis tentang kedua bangsa itu: ‘Negara ini, menurut cerita mereka sendiri, dahulunya terletak di Laut Merah, tetapi dari sana mereka menyeberang dan menetapkan diri di pesisir Suria, dan di sana mereka masih menetap’ (7:89; lihat juga ibid. 1:1).5 Berapa pun umurnya perkampungan orang-orang dari Arabia Barat yang tertua di daerah pesisir Suria,6 migrasi orang-orang Filistin dan Kanaan ke sana mestinya bertambah besar. Menurut kitab-kitab dalam Bibel Ibrani, kerajaan Israil sudah dipastikan berdiri di Arabia Barat, yang dihuni antara lain oleh bangsa Filistin dan Kanaan, antara akhir abad ke-11 dan awal abad ke-10 S.M., yang sebagian 4 Zellig S. Harris, A Grammar of the Phoenician Language (New Haven, Conn., 1936), halaman 7, catatan 29. Harris menyebutkan bukti-bukti selanjutnya yang menandakan bahwa bangsa Funisia (Phoenicia), di sepanjang pantai Suria dan di tempat-tempat lain, sebenarnya menyebut diri mereka bangsa Kanaan. 5 Bukti Herodotus mengenai hal ini, seperti mengenai hal-hal lain yang berkenaan dengan sejarah Timur Dekat kuno, biasanya tidak ditanggapi dan dianggap tidak berharga oleh para sejarawan dan para ahli purbakala modern di daerah itu. Tentunya mereka secara sombong memperlakukannya dengan demikian, karena bukti-bukti ini tidak cocok dengan anggapan-anggapan mereka yang sebagian besar berdasarkan pada penafsiran yang salah atas bahan-bahan geografis dan topografis Bibel Ibrani. Gagasan bahwa Laut Merah Herodotus bukanlah Laut Merah, melainkan Teluk Parsi tidak perlu dipercaya, karena hanya sedikit sekali bukti yang ada guna mendukungnya. 6 Herodotus (2:44) melaporkan, mengenai kekuasaan pendeta-pendeta kota Funisia Tyre pada zamannya, bahwa kota ini didirikan 2.300 tahun sebelumnya.— 14 —
  • 26. besar merugikan bangsa Filistin dan Kanaan. Karena patahsemangat dan berturut-turut dikalahkan oleh bangsa Israil,maka orang-orang Filistin dan Kanaan ini kemungkinanmemperderas arus migrasi mereka ke daerah pesisir Suria padawaktu yang sama. Di Palestina, nampaknya bangsa Filistinmenamakan perkampungan-perkampungan mereka (sepertiGaza dan Askalon) menurut kota-kota di Arabia Barat yangmereka tinggalkan. Dusun Bayt Dajan di Palestina (‘kuil’dgn, atau ‘dagon’) di Palestina, dekat Jaffa, masih memakainama dewa agama yang mereka anut sewaktu di Arabia Barat(lihat Bab 14). Di sebelah utara Palestina, bangsa Kanaan jugamemberi nama-nama yang berasal dari Arabia Barat kepadaperkampungan-perkampungan mereka - nama-nama sepertiSur (Tyre), Sidon, Gebal (dalam bahasa Yunani = Byblos),Arwad (dalam bahasa Yunani = Arados), atau Libanon.7 Padasaat orang-orang Israil dari Arabia Barat (dan mungkin kaumYahudi dari Arabia Barat lainnya) memulai migrasi merekake arah Utara untuk menetap di Palestina, yang tak dapatditentukan tahunnya, mereka juga memberikan nama-namayang berasal dari daerah mereka yang dahulu kepada tempat-tempat pemukiman mereka atau kepada tempat-tempatpemujaan penduduk setempat yang diambil alih oleh merekadan menggabungkannya dengan kuil-kuil Yahudi mereka. Diantara yang paling kentara dan yang paling terkenal adalah:Yerusalem (yrwslm, lihat Bab 9), Bethlehem (byt lhm, lihatBab 8), Hebron (hbrwn, lihat Bab 13? Carmel (krml),8 dan 7 Tyre menurut Bibel (bahasa Ibrani sr) bukanlah sebuah kota di tepi ‘laut’ (bahasa Ibrani ym), tetapi apa yang kini merupakan oase utama Zur (zr), yang bernama Zur al-Wadi’ah, di wilayah Najran, berdiri di ujung daerah Yam (ym), berbatasan dengan gurun Arabia Tengah. ‘Kapal-kapal’-nya (bahasa Ibraninya ialah ‘wnywt) sebenarnya adalah kafilah-kafilah binatang beban (bahasa Arabnya ‘nyt, ‘kantung- kantung pelana’), dan tempat-tempat mereka berdagang dapat dikenali melalui nama- nama mereka di pelbagai bagian Arabia. Kitab Bibel berbicara mengenai Raja Hiram (hyrm) dari sr, atau ‘Tyre’; tidak ada raja kuno dengan nama ini yang diakui untuk kota Tyre di Libanon, karena nama Phoenicia Ahiram (hrm bukan hyrm) adalah seorang raja Byblos, yang merupakan tempat yang lain samasekali Gebal (gbl atau qbl) termasuk dalam nama-nama tempat yang sering dipakai di Arabia Barat, sebuah Gebal tertentu, dekat Tyre Bibel, adalah Al-Qabil (qbl), di wilayah Najran. Arwad di Arabia Barat kini adalah Riwad (rwd), di dataran tinggi Asir; Sidon dalam Bibel dibahas dalam Bab 4. Menurut para ahli Geografi Arab, Lubaynan (lbynn, tanpa vokal lbnn, atau ‘Libanon’) adalah nama dataran tinggi yang kini berada di tengah-tengah perbatasan antara Asir dan Yaman. Di kaki perbukitan pantai daerah ini, sebuah desa yang bernama Lubayni (lbyny) masih tetap ada. Pohon-pohon araz (cedar) Libanon yang tertulis dalam Bibel mestinya adalah tumbuhan jenever raksasa Lubaynan di Arabia Barat, dan salju Libanon yang dikatakan dalam Kitab itu, tidak disangkal lagi adalah salju setempat (lihat Bab 2). 8 Carmel di Arabia Barat adalah Kirmil (juga krml), yang disebutkan dalam — 15 —
  • 27. kemungkinan Galilee (glyl),9 Hermon (hrmwn)10 dan Yordan (h-yrdn, lihat Bab 7), semuanya membenarkan hal ini. Di kebanyakan tempat di dunia, pada suatu waktu, imigran- imigran yang rindu sering menamakan kota-kota, daerah- daerah, pegunungan, sungai-sungai, atau bahkan suatu negara atau pulau-pulau dengan nama-nama yang mereka bawa dari tanah yang mereka tinggalkan. Mengingat pada zaman dahulu bahasa yang dipergunakan di daerah Suria dan Arabia Barat adalah sama, kita tidak dapat meniadakan adanya kemungkinan besar bahwa beberapa tempat di kedua wilayah itu dahulunya mempunyai nama-nama yang sama, terutama jika berkenaan dengan ciri-ciri topografis, hidrologis atau ekologis tertentu, atau berkenaan dengan pemujaan terhadap dewa yang sama. Dalam corak kebudayaan tradisional, seperti dalam halnya bahasa, Suria dan Palestina tidak pernah jauh berbeda. Dalam setiap tahap, emigrasi dari Arabia Barat menuju Suria dan Palestina (dan mungkin juga daerah-daerah lain) didukung oleh faktor-faktor luar. Sebagai daerah yang kaya akan bahan baku alam, dan lagi pula sebagai daerah yang menguasai salah satu bandar perdagangan pada zaman kuno (lihat Bab 3), Arabia Barat sudah semestinya merupakan sebuah target untuk penjajahan ke kerajaan sejak masa lampau. Dalam Bab 11, akan dibuktikan, melalu bukti- bukti toponimik, bahwa ekspedisi yang dilakukan oleh raja Mesir Sheshonk I terhadap Yudah, pada akhir abad ke- 10 S.M., seperti yang dikisahkan dalam Bibel Ibrani dan didukung oleh bukti-bukti dari catatan-catatan kuno Mesir, ditujukan kepada Arabia Barat, bukan terhadap Suria dan Palestina seperti yang sampai kini diperkirakan. Sebuah kamus geografi Arab Yaqut (4:448) sebagai sebuah punggung bukit pesisir di ujung selatan Asir, berbatasan dengan Yaman, sehingga terletak tepat di sebelah barat Libanon Arabia Barat (lihat Catatan 7). Ini menjelaskan mengapa Gunung Carmel kadang-kadang disebutkan sehubungan dengan Gunung Libanon dalam teks-teks Bibel, salah satu di antaranya yang tidak terduga adalah Yesaya 29:17, sb lbnwn l-krml, yang dianggap berarti ‘Libanon akan diubah menjadi ladang yang subur’, tetapi sebenarnya berarti ‘Libanon akan berubah (atau kembali) menjadi Carmel’. 9 Nama-nama tempat yang sepadan dengan kata Ibrani glyl (berarti ‘lerengan yang berteras-teras’) adalah biasa di dataran tinggi Arabia Barat. Salah satu di antaranya adalah Wadi Jalil (glyl) di Hijaz Selatan, di sebelah Tenggara Taif. 10 Hrmwn dalam Bibel (dalam metatesis dari hrmn atau hmrn) bertahan sebagai nama tidak kurang dari lima tempat di Hijaz bagian selatan dan Asir yang bernama Hamran atau Khamran.— 16 —
  • 28. penyelidikan yang dilakukan secara mendalam atas sebuahlagi ekspedisi kerajaan Mesir yang disebut dalam Bibel Ibrani,yaitu ekspedisi Raja Necho II pada akhir abad ke-7 S.M.,mengungkapkan bahwa ekspedisi yang melibatkan seorangRaja Yudah dan orang-orang Babilonia, juga diarahkan keArabia Barat. Pertempuran Karchemis (krkmys, Tawarikh 2 -35:20; Yesaya 10:9; Yeremia 46:2), antara pasukan Mesir danBabilonia, terjadi di dekat Taif, di sebelah Selatan Hijaz, ditempat itu dua buah pedesaan yang berdekatan, Qarr (qr) danQamashah (qms), masih berdiri. Dengan demikian, saya yakin ‘Karchemis’ yang tertulisdalam Bibel itu bukanlah Kargamesa bangsa Hittit, yangsekarang merupakan Jerablus di tepi sungai Furat (Efrat)seperti yang sampai kini diperkirakan.11 Ekspedisi-ekspedisi militer pertama kerajaan Mesirsejak 2000 tahun S.M., yang selama ini diketahui sebagaipenyerangan terhadap Suria dan Palestina, jika kita telitikembali melalui catatan-catatan kuno Mesir dengan bantuannama-nama tempat dari Arabia Barat yang masih terdapat disana12, akan terlihat bahwa tindakan-tindakan militer itu lebih 11 Wadi Adam, yang bersumber di dataran tinggi mengalir ke arah Laut Merah, kadang-kadang disebut di dalam Bibel Ibrani sebagai nhr prt, yang membuatnya mudah dikelirukan dengan Furat (Efrat) Mesopotamia. Kebingungan ini diperbesar oleh deskripsi nhr prt sebagai h-nhr h-gdwl, ‘sungai besar’ dalam Kitab Bibel, dan Wadi Adam merupakan salah satu wadi yang mengalir ke laut yang terbesar di Arabia Barat. Sebenarnya nama menurut Bibel Wadi ini berasal dari nama desa yang kini adalah Firt (prt), di wilayah yang sama. Seperti halnya pertempuran Karchemis, pertempuran Karkara (atau lebih tepatnya Qarqara), yang dilakukan oleh bangsa Assyria melawan raja-raja Amat dan Imerisu dan sekutu mereka Gindibu’ dari Aribi dan Ahab dari Israil (Ahabu Sir’ila) di pertengahan abad kesembilan S.M., sebenarnya terjadi di Arabia Barat, bukan di sepanjang sungai Orontes di Suria seperti yang biasanya diduga. Amat, yang hingga kini dianggap merupakan sebuah referensi kepada Hamah di lembah Orontes, di utara Suria, sebenarnya kini adalah desa Amt (‘mt), dekat Taif, dan tidak jauh dari Karchemis dalam Bibel. Imerisu bukanlah Damaskus Suria, seperti yang diduga tanpa berdasarkan pada alasan apa pun. Di antara beberapa alternatif lainnya di Arabia Barat, diperkirakan Marasha (mrs), di dataran tinggi selatan Asir lah (wilayah Dhahran al-Janub, lihat Bab 3) yang paling besar kemungkinannya. Gindibu’ dari Aribi biasanya dianggap sebagai seorang kepala suku Arab dari gurun pasir Suria. Sebenarnya sebuah suku yang bernama Banu Jundub (gndb) masih menempati dataran tinggi Asir Tengah, dan Aribi mestinya kini merupakan ‘Arabah (‘rbh), sebuah desa di dataran tinggi tempat Banu Jundub masih dapat dijumpai. Karkara sendiri, dalam hal ini, mestinya adalah Qarqarah atau Qarqara (qrqr) masa ini, di pesisir Asir, di pedalaman Qunfudhah, di sebelah Selatan Lith. Ada tiga tempat lainnya yang bernama Qarqar (qrqr) juga di Arabia Barat, dan tidak satu pun yang terletak di wilayah Orontes di Suria. Jika ada kesangsian sehubungan dengan onomastics (ilmu asal kata dan nama) yang berkenaan dengan Pertempuran Karkara, seperti yang telah ditafsirkan secara geografis, lihat catatan-catatan dalam James B. Pritchard, ed., Ancient Near Eastern Texts Relating to the Old Testament (Princeton, 1969; dari sini disebut Pritchard), hal 278-279. 12 Penterjemahan catatan-catatan Mesir (seperti catatan-catatan dalam Pritchard) — 17 —
  • 29. cenderung ditujukan kepada Arabia Barat. Sebagai bangsa kerajaan, orang-orang Mesir kuno benar-benar tertarik untuk menguasai Arabia Barat dan jalur-jalur perdagangannya,13 seperti halnya bangsa Assyria dan Babilonia pada masa kejayaan mereka. Mestinya, setelah setiap penjajahan kerajaan atas tanah mereka, dari arah mana pun, sebuah gelombang migrasi baru bertolak dari Arabia Barat ke daerah-daerah seperti Palestina. Persis pada saat kerajaan Mesir menyudahi masa penghematan antara akhir abad ke-11 dan awal abad ke-10 S.M., kerajaan Israil berdiri di bukit-bukit daerah pesisir Asir (lihat Bab 8-10), di bawah pimpinan Saul, kemudian dikembangkan oleh Daud dan mencapai puncak kejayaan dan kemakmurannya di bawah raja Sulaiman (Salomo). Andaikata Daud dan Sulaiman pada masa mereka benar- benar memimpin sebuah kerajaan Suria yang menguasai daerah strategis yang memisahkan Mesir dan Mesopotamia, seperti yang diduga (lihat 1 Raja-raja 4:21 dalam terjemahan standar mana pun), maka catatan-catatan Mesir dan Mesopotamia sudah semestinya paling tidak menyinggung nama-nama mereka, tetapi hal ini tidak terlihat. Sewaktu kerajaan Mesir bangkit kembali pada abad ke-10, intervensi baru yang dilakukannya di Arabia Barat menyebabkan terpecahnya kerajaan Israil menjadi dinasti ‘Yudah’ dan dinasti ‘Israil’ yang saling bersaingan (lihat Bab 10). Perang saudara antara Israil ini, yang berkobar pada dasawarsa terakhir abad itu, kemungkinan besar mengakibatkan migrasi secara besar-besaran yang pertama ke negara-negara lain, terutama Palestina. Penjajahan yang dilangsungkan oleh bangsa Mesopotamia atas Arabia Barat antara abad ke-9 dan ke-6 S.M., pertama-tama oleh bangsa Assyria dan kemudian membingungkan masalah ini dengan jalan mengenali secara tidak teliti nama-nama yang disebutkan dengan nama-nama tempat Palestina dan Suria yang telah diketahui, dan bukan menterjemahkan aslinya, seperti yang seharusnya dilakukan. Sama halnya (seperti dalam Pritchard) dengan catatan-catatan Mesopotamia dan yang lain-lain. Pencarian tempat-tempat yang dibicarakan harus dilakukan dengan bantuan catatan- catatan asli, bukan terjemahannya. 13 Bangsa Mesir juga tertarik untuk menggunakan kayu jenever Asir (bukan kayu jenis cemara (cedar) Libanon) sebagai bahan bangunan, dan guna membangun kapal-kapal mereka, karena kayu cemara (cedar) tidak begitu cocok untuk pekerjaan ini. Untuk melihat kebingungan antara cedar dan jenever, lihat sebutan-sebutan yang relevan dalam Alessandra Nibbi, Ancient Egypt and Some Eastern Neighbours (ParkRidge, N.J. 1981).— 18 —
  • 30. oleh orang-orang Babilonia (yang sudah merupakan bangsaNeo-Babilonia), hanya memperbesar arus migrasi ini. Pada tahun 721 S.M. kerajaan ‘Israil’ di Arabia Barat itudihancurkan oleh Raja Assyria, Sargon II, yang mendudukiibukotanya, yaitu Samaria, (smrwn, yang kini masih berdiridengan nama Shimran, lihat Bab 10) dan membawapenduduk terkemukanya ke Persia sebagai tawanan.14Kemudian, pada tahun 586 S.M., penguasa Babilonia,Nebuchadnezzar, memusnahkan kerajaan ‘Yudah’ di ArabiaBarat dan membawa ribuan penduduknya kembali keBabilonia sebagai tawanan. Begitu besar hasrat orang-orangBabilonia untuk menjaga kekuasaan mereka atas Arabia Baratdan untuk mempertahankan tanah jajahan mereka itu dariusaha-usaha perebutan kembali kekuasaan atas koloni ituoleh kerajaan Mesir (seperti yang pernah dicoba oleh NechoII, seperempat abad sebelumnya), sampai-sampai penggantiNebuchadnezzar, yaitu Nabodinus, memindahkan ibukotanyadari Babilonia ke Teima (Tayma’) di Hijaz Utara dan sepertiyang kita ketahui, ia lebih lama menjalankan pemerintahannyadi daerah itu. Sampai pada waktu itu, kemungkinan kehadiran orang-orang Yahudi di Palestina telah bersifat permanen. Keadaanorang-orang Israil yang menyedihkan di Arabia Barat mungkinmendatangkan harapan kaum Yahudi di sana akan hidup lebihbaik di koloni Yahudi yang baru - di ‘putri Zion’ dan ‘putriYerusalem’ (dengan kata lain, Zion dan Yerusalem baru diArabia Barat, lihat Bab 9) seperti halnya orang-orang Eropayang pada abad ke-17 dan ke-18 kecewa akan kehidupanmereka di daratan Eropa, dan mengharapkan akan kehidupanyang lebih baik di koloni mereka yang baru, yaitu Amerika.Pengharapan orang-orang Eropa pada waktu itu dikemukakanoleh Goethe dalam kalimat-kalimatnya yang sering dikutip: Amerika, engkau memiliki yang lebih baik Daripada yang dimiliki benua kami, yang lama. Jauh sebelumnya, mungkin orang-orang Yahudi diArabia Barat menyuarakan pengharapan yang serupa, pada 14 Perlu dicatat di sini bahwa para sejarawan Arab pada zaman permulaan Islam, yang karya-karya mereka mengabadikan tradisi-tradisi Arab yang berhak menerima perhatian serius, menegaskan bahwa Nebuchadnezzar adalah penakluk Arabia dan menceritakan kisah-kisah penaklukannya di sana. — 19 —
  • 31. suatu waktu antara abad ke-8 dan ke-5 S.M., membicarakan, barangkali, tentang dunia baru mereka di Palestina, seperti yang berikut ini: Dan engkau, wahai Menara Kawanan Domba, Hai Bukit putri Zion, Kepadamu akan datang Dan akan kembali pemerintahan Yang dahulu, Kerajaan putri Yerusalem. (Mikha 4:9)15 Dan juga dalam kata-kata ini: Putri gadis Zion Membencimu,16 memperolok-olokkan engkau Dan putri Yerusalem Menggeleng-gelengkan kepala di belakangmu Dan orang-orang yang terluput di antara kaum Yudah Yaitu orang-orang yang tertinggal, Akan berakar ke bawah, Dan menghasilkan buah ke atas; Sebab dari Yerusalem akan keluar orang-orang yang tertinggal, Dan dari Gunung Zion orang-orang yang terluput; Semangat Penguasa Sabaoth,17 akan melakukan hal ini. (Yesaya 37:22b, 31-32; juga 2 Raja-raja 19:21b, 30-31) Dan mungkin dalam ini pula: Bergembiralah, wahai putri Zion; Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai putri Yerusalem Lihat, rajamu datang kepadamu; Ia jaya dan menang, 15 Dinilai melalui Mikha 1:1, ungkapan harapan di ‘putri Yerusalem’ bertanggalkan abad kedelapan S.M. Sampai kini, ahli-ahli Bibel telah menganggap ungkapan-ungkapan puitis pada Zion dan Yerusalem, sehingga meniadakan keharusan adanya informasi bersejarah yang lebih jauh lagi. 16 Kata-kata itu ditujukan kepada Sennacherib, raja Assyria (704-681 S.M.). 17 Mengenai Sabaoth menurut Bibel sebagai kuil pemujaan Yahweh utama di dataran tinggi Asir (kini desa al-Sabayat, bandingkan dengan ‘lhy sb’wt atau yhwh sb’wt dalam bahasa Ibrani), lihat Bab 12.— 20 —
  • 32. Ia rendah hati dan mengendarai seekor keledai, Seekor keledai beban yang muda.18 (Zakharia 9:9) Jika ada harapan yang tertinggal untuk mendirikankembali sebuah pemerintahan Israil yang mampu bertahanseusainya penjajahan oleh bangsa-bangsa Assyria danBabilonia, maka harapan ini pudar secara tidak langsungdengan munculnya kerajaan Persia, Achaemenes, padaakhir abad ke-6 S.M. Pada tahun 538 S.M., bangsa Persiamenaklukkan Babilonia; dan pada tahun 525, mereka telahmengalahkan Suria dan menduduki Mesir dan untuk pertamakalinya mempersatukan semua negara yang terletak dikawasan Timur Dekat kuno, di bawah sebuah pemerintahankekerajaan yang efisien. Kekuasaan bangsa Persia ini jugakemudian meliputi hampir seluruh, bahkan mungkin semua,daerah Semenanjung Arabia, tetapi aksi-aksi penjajahanmereka di Utara sangat merugikan perdagangan kafilahantar-Arabia yang merupakan aliran utama komunitas Israildan komunitas-komunitas kuno lainnya di Arabia Barat.Jalan-jalan besar yang diawasi, dibuat oleh Achaemenes gunamenghubungkan Persia dan Mesopotamia dengan Mesirmelalui Suria, berakibatkan secara langsung tergesernyajalur-jalur utama perdagangan menjauhi Arabia, hinggamenyebabkan kemacetan ekonomi wilayah Jazirah Arabbeserta jaringan perdagangannya. Pada awal abad berikutnya,didirikannya sebuah terusan oleh orang-orang Persia gunamenghubungkan Laut Merah dengan sungai Nil, membantuperdagangan maritim secara merugikan perdagangan kafilahArabia yang menuju ke arah sana. Akibat kesemuanya ini, 18 Karir kenabian Zakaria bertepatan dengan awal kekuasaan raja Achaemenid Darius I (522-486 S.M.), ini jelas diketahui dengan disebutnya Darius dan tahun-tahun kekuasaannya dalam teks ramalan-ramalan Zakaria. Karena Zakaria 9:13 berbicara mengenai ywn, yang dianggap sebagai suatu referensi pada Yunani (bahasa Yunani laones), bab ini dan bab-bab berikutnya dalam Zakaria dihubungkan oleh para kritikus dengan seorang penulis lain dari zaman yang lebih baru (akhir zaman Achaemenid atau awal zaman Hellenis). Sebenarnya, kata Ibrani ywn hanya dapat merupakan sebuah referensi pada Yunani dalam Daniel. Di tempat lain dalam Bibel Ibrani, kata ini berkenaan dengan apa yang kini adalah desa-desa Yanah (yn), dekat Taif, di sebelah selatan Hijaz. atau desa Waynah (wyn) di lereng barat Asir, di wilayah Bani Shahr. Zakaria tampaknya adalah salah seorang Israil yang kembali dari Persia atau Babilon ke Arabia Barat pada awal zaman Achaemenid (lihat teks). Kecewa dengan apa yang ia temukan di sana, mungkin menyebabkan ia mengalihkan perhatiannya dari Zion dan Yerusalem lama di Arabia Barat ke suatu impian sebuah Zion dan Yerusalem yang baru di Palestina yang lebih menguntungkan. — 21 —
  • 33. secara menyeluruh, berkenaan dengan Arabia Barat, mestinya sangat merusak. Agaknya bangsa Persia sama sekali tidak bersifat memusuhi kaum Yahudi; malah kita mengetahui bahwa mereka membela kaum itu. Maka dari itu, dengan mendapatkan izin dari pemerintah Persia, sekitar 40.000 orang keturunan tawanan-tawanan Israil di Persia dan Mesopotamia kembali ke Arabia Barat dengan membawa perabot rumah tangga mereka, dengan tujuan untuk membangun kembali perkampungan mereka di sana. Tetapi malang bagi mereka, orang-orang Israil ini kecewa dengan apa yang mereka temukan di sana, di mana-mana sekeliling mereka terdapat kemiskinan dan kehancuran yang menyedihkan. Yang terjadi selanjutnya hanya dapat menurut perkiraan saja, karena sampai di sini Kitab Bibel Ibrani itu tidak melanjutkan lagi kisah-kisah yang bersejarah. Tetapi ada suatu hal yang dapat dipastikan, yaitu belum ada perkampungan Israil yang berhasil didirikan kembali di tanah asal mereka di Arabia Barat, meskipun agama Yahudi tetap ada di sana dan di Arabia Selatan, bahkan sampai kini. Sebagian besar orang-orang Israil yang kembali pada periode Achaemenid mestinya berhasil kembali ke Mesopotamia dan Suria, atau berpencar. Sejak saat itu sampai dengan dihancurkannya Yerusalem di Palestina oleh bangsa Rumawi pada tahun 70 M., arus utama sejarah kaum Yahudi terpusatkan di sekitar Palestina. Mengenai asal mulanya Yudaisme di Arabia Barat agaknya telah dilupakan. Kemungkinan besar terhapusnya kenangan mengenai sejarah mereka di Arabia Barat dalam jangka waktu yang relatif singkat — mungkin tak lebih dari dua atau tiga abad— disebabkan oleh adanya suatu perubahan bahasa, yang pada abad ke-6 S.M. telah menguasai Arabia, Suria dan Mesopotamia. Seperti kita ketahui, dialek-dialek bahasa Kanaan sebagai bahasa Bibel Ibrani, telah banyak dipakai di Arabia Barat dan Suria masa itu bersama-sama dengan dialek-dialek bahasa Aram. Kitab-kitab suci Yahudi, kecuali beberapa bagian kitab-kitab karangan nabi-nabi yang kemudian, ditulis dalam bahasa Ibrani, bukan bahasa Aram.— 22 —
  • 34. Tetapi, setelah kira-kira tahun 500 S.M., bahasa Kanaantelah jarang dipergunakan, bahkan mungkin telah punahdi Arabia dan Suria; tergeser oleh ballasa Aram yang telahmenyebar sampai ke Mesopotamia. Di bawah Achaemenesbahasa Aram bahasa resmi pemerintahan kerajaan Persiadan menjadi lingua franca wilayah Timur Dekat. Pergantianbahasa di kawasan ini terus berlanjut sampai pada abad-abadberikutnya, yang sebegitu jauh sebagai logat bahasa Semityang mulai bersaing dengan bahasa Aram di berbagai kawasandi Timur Dekat.19 Sampai pada abad-abad permulaan zamanpenyebaran agama Nasrani, bahasa Arab, yang pada mulanyamerupakan bahasa suku-suku penggembala padang pasirSyro-Arabia, telah menggantikan bahasa Aram di sebagianbesar Arabia dan Suria serta Mesopotamia, dan pada abadke-7 atau ke-8 M. hanya tinggal beberapa tempat saja yangmasih memakai bahasa di daerah itu. Di Arabia Barat keduapenggeseran bahasa itu dapat dilihat melalui beberapa namatempat, terutama kota kuno Zeboiim (sbym atau sbyym,bentuk jamak sby, dalam bahasa Ibrani, yang berarti ‘gazelle’(semacam kijang), tergantung pada penyuaraannya). KotaZeboiim, seperti yang akan dibahas pada Bab 4, menandakandua kota kembar di daerah pesisir Jizan (Gizan) di daerahpantai sebelah Asir selatan. Kedua kota ini kini masih adadengan nama Sabya (sby) dan Al-Zabyah (zby). Sabya adalahbentuk bahasa Aram yang telah ditambah akhiran. SedangkanAl-Zabyah adalah bentuk bahasa Arab dari kata yang sama(sby) dengan kata sandang tertentu bahasa Arab yang telahdiberi akhiran. Dengan demikian itulah nama-nama tempatitu menghentikan segala proses sejarah. Suatu hal yang sama pentingnya dengan kesimpulan yangtelah saya tarik mengenai identitas nama-nama tempat di 19 Pergeseran bahasa yang berturut-turut, yang mempengaruhi negara-negara di Timur Dekat yang mengelilingi gurun Suria-Arabia yang luas itu, mestinya berhubungan dengan serangkaian gelombang pendudukan oleh suku-suku pengembara dari gurun tengah di daerah-daerah tetap di sekelilingnya. Bahasa Kanaan, tampaknya, adalah bahasa populasi kesukuan dan tetap yang asli di dataran tinggi Barat di tepian gurun Suria-Arabia, di Suria, seperti halnya di Arabia. Penduduk baru gurun, sejak dahulu, memperkenalkan bahasa Aram di sana, dan juga di Mesopotamia. Perkampungan-perkampungan yang menyusul di daerah-daerah sama yang didirikan oleh berbagai suku gurun yang berbahasa Arab memperkenalkan bahasa Arab. Sebagai sebuah bentuk bahasa induk Semit, bahasa Kanaan, bahasa Aram dan bahasa Arab dapat dipandang sebagai bahasa-bahasa yang sama tuanya, walaupun secara linguistik bahasa Arab dipandang sebagai yang tertua di antara ketiganya. — 23 —
  • 35. Arabia Barat dan di negeri-negeri yang dijangkau Bibel ialah dengan punahnya bahasa Bibel Ibrani sebagai bahasa lisan maka pembacaan kitab-kitab suci Yahudi itu menjadi suatu problema. Bahasa Ibrani, seperti kebanyakan bahasa Semit, ditulis dalam bentuk konsonan dan harus diberi tanda-tanda vokal jika kita hendak memahaminya, seperti sudah saya sebutkan. Suatu kekecualian adalah bahasa Akkadia, yaitu bahasa Mesopotamia kuno, yang tulisan kuneiformnya ditulis menurut suku kata bukan menurut alfabet. Perlu diingatkan bahwa bahasa Ibrani kuno harus dimengerti terlebih dahulu sebelum diberi vokal menggunakan tanda-tanda vokal yang tepat dan dengan menggunakan konsonan-konsonan ganda. Oleh sebab itu, pada permulaan era Achaemenid orang- orang Yahudi Palestina dan Babilonia, karena mereka tidak mengetahui bagaimana tulisan-tulisan Ibrani itu seharusnya dibaca, tampaknya mereka mendasarkan penambahan- penambahan vokal terhadap tulisan-tulisan itu kepada bahasa Aram yang mereka pakai.20 Di dalam teks-teks yang mereka akui terdapat banyak nama tempat yang berhubungan dengan lokasi-lokasi di Arabia Barat yang asing bagi mereka. Terlebih lagi, di Arabia Barat sendiri, kaum Yahudi pada sekitar tahun 500 S.M. telah mengalami kemunduran, sehingga tidak ada lagi orang-orang yang cukup terpelajar di antara mereka untuk membenarkan sesama kaum Yahudi dari Palestina dan Babilonia dalam tafsiran geografis mereka. Pula, orang-orang Yahudi dari Arabia Barat ini hanya beragama Yahudi saja dan tidak merupakan kelompok etnis ataupun mempunyai pandangan politik orang-orang Israil; dan mereka tidak lagi berbahasa Ibrani kuno, dan dalam waktu yang singkat bahasa mereka berubah menjadi bahasa Arab. Sudah pasti orang-orang Yahudi di Arabia Barat masih mempunyai kenangan mengenai kehidupan mereka yang dahulu sebagai bangsa Israil;21 akan tetapi menjelang akhir era 20 Sebuah tanda dari ini (di samping bunyi-bunyi vokal) adalah pemakaian pelunakan dari k tidak bersuara dalam bahasa Aram, jika didahului oleh sebuah vokal, menjadi bunyi desahan h (dgn topi bawah) tidak bersuara, yang tidak pernah diakui kebenarannya oleh penyuaraan yang sebenarnya dari nama-nama tempat menurut Bibel di Arabia Barat yang bertahan, yang menempatkan h (dgn topi bawah) selalu merupakan suatu pengucapan alternatif dari bunyi desahan yang lain, yaitu h (dgn titik bawah). 21 Sejumlah suku Arabia Barat, yang kini bukan merupakan kaum Yahudi, menegaskan bahwa kemungkinan kecil mereka pada mulanya merupakan orang-orang— 24 —
  • 36. Achaemenid, hubungan mereka dengan kaum Yahudi lainnyadi luar Arabia tidak teratur dan mereka mengalami kesulitandalam menyampaikan secara efisien apa yang mereka ingat.Pada waktu umat-umat Yahudi Palestina dan Babiloniamenetapkan bentuk-bentuk pembacaan Kitab Bibel Ibranidengan mempergunakan tanda-tanda vokal, yang dimulaipada sekitar abad ke-16 M. (lihat Bab 2), telah lama orangmeninggalkan pemakaian bahasa Ibrani atau dialek-dialekbahasa Kanaan lainnya, dan asal mula Yudaisme di Arabia puntelah lama dilupakan. Faktor lain yang mungkin menyebabkan kaum Yahudimelupakan sejarah mereka di Arabia Barat bersangkutandengan perkembangan politik di Arabia Barat dan juga diPalestina setelah runtuhnya kerajaan Israil kuno. Di ArabiaBarat, kemunduran yang dialami kerajaan Achaemenid yangsudah mulai terlihat pada tahun 400 S.M., mendorongmunculnya perkumpulan-perkumpulan politik baru, terutamaperkumpulan politik bangsa Minaean (Ma’in), di daerahtempat kerajaan Israil pernah berjaya. Karena tersebar diantara perkumpulan-perkumpulan politik baru ini, yangbeberapa di antaranya dibentuk secara politis sebagai kerajaan-kerajaan, kaum-kaum Yahudi Arabia Barat kehilangan sifatnasionalisme mereka. Perkembangan di Palestina agaknyaberbeda dengan yang terjadi di Arabia Barat. Sampaipada tahun 330 S.M., penjajahan Alexander Agung telahmenghancurkan kerajaan Persia; setelah wafatnya Alexanderpanglima-panglimanya mendirikan kerajaan-kerajaan baru didaerah yang dahulunya merupakan wilayah-wilayah kekuasaankerajaan Achaemenid. Salah satu dari kerajaan Hellenis iniadalah kerajaan Ptolemi dengan pusatnya di Mesir yangberibukotakan Alexandria. Satu lagi kerajaan yang terbentukadalah kerajaan Seleucid, yang akhirnya berpusatkan di daerahSuria dan ibukotanya di Antioch. Penguasaan atas Palestinapada mulanya diperebutkan antara, kerajaan Ptolemi danSeleucid, dan akhirnya jatuh ke tangan kerajaan Seleucid; Yahudi, dan ada keyakinan setempat bahwa tanah Bibel para nabi terletak di sana. Adat dan pengetahuan kesukuan Arab mengingatkan bahwa kaum Yahudi menempati pegunungan Hijaz (sic) sewaktu bangsa Arab masih berada di gurun pasir, dan bahwa kaum Yahudi-lah yang pertama kali memelihara unta. Lihat Alois Musil, The Manners and Customs of the Rwala Bedouins (New York, 1928), hal. 329-330. — 25 —
  • 37. akan tetapi kerajaan Ptolemi tidak putus harapan dalam tekadnya untuk menguasai kembali atau mempengaruhi negara itu. Pada abad ke-2 S.M., orang-orang Yahudi Palestina mempergunakan kesempatan yang ada selagi adanya pertikaian atas tanah mereka, dan mereka mengadakan suatu pemberontakan (yang dimulai pada tahun 167 S.M.) dan berhasil memerdekakan negara mereka dari kekuasaan pemerintahan kerajaan Seleucid pada tahun 142 atau 141 S.M. Para pemimpin pemberontakan ini, yang berasal dari perkumpulan kependetaan Hasmonia (Hasmonaean), mengambil alih kekuasaan atas Yerusalem Palestina; di tempat ini terdapat kuil yang pada waktu itu mungkin sudah dianggap kaum Yahudi sedunia sebagai tempat perlindungan yang tersuci. Dengan bergerak melalui serangkaian aksi- aksi militer yang sukses, orang-orang Hasmonia ini juga memperluas wilayah kekuasaan kaum Yahudi di Palestina, sehingga akhirnya tidak hanya seluruh negeri itu saja yang dikuasainya, bahkan juga bagian Selatan Galilee di Utara dan daerah perbukitan sebelah Timur sungai Yordan dan Laut Mati. Orang-orang Hasmonia ini, pada era mereka, menganggap diri mereka sebagai keturunan sah bangsa Israil kuno, dan kerajaan mereka bertahan sampai pada kedatangan bangsa Rumawi pada tahun 37 S.M., yang menyusun kembali daerah kekuasaan mereka sebagai ‘client-kingdomnya’ kerajaan Rumawi dengan nama ‘Judaea’ yang artinya ‘tanah kaum Yahudi’, dengan Herod Agung (wafat pada tahun 4 S.M.) sebagai raja. Herod ini kemudian memperbaiki kuil Yerusalem Palestina, yang kemudian dihancurkan oleh bangsa Rumawi sewaktu mereka merampok kota itu pada tahun 70 M., dan mengakibatkan tersebarnya penduduk Judaea. Tak lama kemudian, bangsa Rumawi, di bawah pimpinan Hadrian, membangun kembali kota ini dan menamakannya Aelia Capitolina, nama Aelius diambil dari salah satu nama Hadrian. Akan tetapi ada pula kemungkinan bahwa nama ini adalah bentuk Semit dari nama Aelia, yang merupakan nama asli tempat ini sebelum diberi nama Yerusalem, untuk mengingatkan kembali pada kota Yerusalem di Arabia Barat.— 26 —
  • 38. Aelia, dalam bentuk Semit aslinya dapat berarti ‘benteng’(bandingkan dengan kata ‘yl dalam bahasa Ibrani, yangberarti kekuatan), walaupun ini belum dapat dipastikan.Namun, yang dapat dipastikan adalah bahwa orang-orangArab pada zaman dahulu mengenal kota ini bukan dengannama Yerusalem, melainkan Iliya (‘yly’) sebelum merekamemanggilnya ‘tempat suci’, Bayt al-Muqqadas, Bayt al-Maqdis ataupun hanya al-Quds. Tanpa mempermasalahkan nama asli kota YerusalemPalestina, kota ini kemudian telah dikenal sebagai kotaYerusalem Daud dan Sulaiman yang asli pada era Hasmoniadan bahkan mungkin jauh sebelumnya. Sama halnya denganPalestina yang pada waktu yang sama telah dikenal sebagaitanah asal Bibel Ibrani. Dan pada saat itu pun sudah adaanggapan yang kuat bahwa lokasi-lokasi geografis dari cerita-cerita bersejarah dalam Kitab Bibel sebagian besar hanyamencakup bagian Utara dari daerah Timur Dekat, yaituMesopotamia Suria dan Mesir, bukan Arabia Barat. Ada kemungkinan sebuah kerajaan Yahudi di Arabiapada era orang-orang Hasmonia, yaitu kerajaan Himyardi Yaman yang mengalami kemakmuran dari tahun 115S.M. sampai abad ke-6 M. Dua orang raja Himyar terakhirdiketahui sebagai penganut-penganut agama Yahudi, tetapikesalahan mereka sampai kini belum dapat dijelaskan secarameyakinkan. Tidak ada bukti-bukti bahwa mereka adalahumat Yahudi, seperti apa yang dikatakan oleh tradisi kunoArab. Sejarawan Flavius Josephus, akan kita bicarakan nanti,sadar akan adanya orang-orang Yahudi kuno di Arabia, tetapiia tidak memberi penjelasan mengenai hal ini. Orang-orangHasmonia mungkin sengaja menafsirkan kembali lokasi-lokasi geografis dalam Bibel berkenaan dengan Palestina gunamengesahkan status mereka sebagai orang Yahudi, jika statusmereka diragukan oleh para raja Yahudi Arabia di Himyar.Tentu saja ini hanya merupakan sebuah dugaan saja, akantetapi berkenaan dengan argumentasi saya, hal ini sangatmungkin terjadi. Apakah adanya sebuah kerajaan Yahudi di Yaman atautidak, bukanlah hal yang amat penting, tetapi dari kitab — 27 —
  • 39. Septuaginta, yaitu terjemahan kitab-kitab Yahudi ke dalam bahasa Yunani yang dibuat pada era kerajaan Yunani Kuno dan pada awal era kerajaan Rumawi, jelas terbukli bahwa pada zaman Hasmonia itu Arabia Barat tidak lagi dipandang sebagai tanah asal Kitab Bibel Ibrani. Ini jelas terlihat dalam bagaimana nama-nama topografis Arabia Barat seperti ksdym, nhrym, prt dan msrym, berubah masing-masing menjadi Kaldia (Chaldaean), Mesopotamia, Efrat dan Mesir.22 Lebih lagi, kita dapat mendapatkan bukti-bukti tambahan untuk memperkuat dugaan ini melalui gulungan-gulungan kertas dari Laut Mati (Dead Sea scrolls). Di sini kita menemukan suatu karya orang Aram yang mendetil dari sebuah tulisan di dalam Kitab Bibel yang menyebutkan nama-nama tempat di sebelah Utara daerah Timur Dekat. Karena begitu besar kesuksesan politik kaum Yahudi di Palestina, yang berlangsung selama 200 tahun, maka dalam waktu yang singkat saja telah terhapus semua kenangan mengenai tanah Arabia Barat sebagai tanah asal Israil. Josephus, dalam karyanya The Antiquities of the Jews — yang merupakan bangsanya sendiri— tidak lama setelah tahun 70 M., menganggap Palestina adalah tanah asal mereka, dan sejak waktu itu tidak ada yang menyimpang dari dugaan ini yang agaknya memang masuk akal. Berabad- abad kaum Yahudi dan Kristen yang berziarah mengikuti jejak pengembaraan para nabi dan nenek moyang Israil mereka melintasi tanah bagian Utara Timur Dekat, antara sungai Furat dan sungai Nil, dan mengenali lokasi-lokasi bersejarah menurut Bibel dengan kota-kota atau reruntuhan di Palestina. Saat ini arkeologi Bibel didasarkan pada daerah yang sama, dan para sejarawan masih melanjutkan penelitian mereka terhadap sejarah dunia Bibel pada zaman Bibel — yang bertentangan dengan sejarah kaum Yahudi, di Palestina dan bukan di Arabia Barat. Sebagai akibat, jika seseorang meneliti kembali kepustakaan yang telah dibuat oleh para sarjana dan ahli- ahli purbakala dalam 100 tahun belakangan ini, kita sadar 22 Mengenai nhrym dan prt, lihat di atas, Catatan 3 dan 11. Mengenai ksdym, lihat Bab 13. Walaupun msrym dalam Bibel kadang-kadang menunjukkan Mesir, lebih sering kata ini menandakan sebuah kota atau wilayah di Arabia Barat, di pedalaman Asir, lihat Bab 4, 13 dan 14.— 28 —
  • 40. akan adanya suatu ironi: beberapa teks Bibel Ibrani tetapdiperdebatkan, namun geografinya tidak diganggu gugat lagi.Jadi kenyataannya, biarpun daerah Utara wilayah TimurDekat telah diselidiki dengan seksama oleh serangkaiangenerasi ahli-ahli purbakala, dan setelah adanya penemuan,penelitian dan penanggalan atas peninggalan-peninggalan dariberbagai peradaban yang telah dilupakan, belum ada buktiyang jelas yang diketemukan yang berhubungan langsungdengan sejarah dunia Bibel.23 Lagi pula dari ribuan namatempat yang tertera dalam Kitab Bibel Ibrani, hanya beberapadi antaranya yang secara linguistik dapat diidentifikasikan. Inisangatlah luar biasa, mengingat nama-nama tempat di sana,seperti di seluruh Suria, selama sebagian besar zaman kunoadalah dalam bentuk bahasa Kanaan dan Aram dan bukandalam bentuk bahasa Arab. Bahkan dalam beberapa kasustempat-tempat di Palestina memakai nama-nama menurutBibel, koordinat tempat-tempat tersebut menurut perhitunganjarak atau letaknya pun tidak cocok dengan lokasi-lokasi diPalestina. Sebuah kejadian yang patut diperhatikan berkenaandengan Beersheba di Palestina (lihat Bab 4), sebuah kota yangnamanya terkemuka di dalam kisah-kisah kitab Kejadian, dankarena itu asal mula kota ini mestinya paling tidak dari akhirZaman Perunggu, tempat penggalian arkeologis menemukanpersis di tempat itu barang-barang kuno yang bertanggalpaling tidak dari akhir periode kerajaan Rumawi. Karena seluruh sejarah Timur Dekat kuno sebagianbesar diselidiki berhubungan dengan penelitian atas BibelIbrani, maka sejarah ini sampai sekarang masih banyakmengandung ketidakpastian, seperti halnya dengan ‘IlmuPengetahuan Bibel’ modern. Catatan-catatan kuno Mesir danMesopotamia, jika dibaca dengan bantuan teks-teks KitabBibel yang kiasan-kiasan topografisnya dianggap berhubungandengan Palestina, Suria, Mesir atau Mesopotamia, telah secarateliti disesuaikan dengan prasangka-prasangka para ahli sejarah 23 Pekerjaan para ahli purbakala Keinjilan di Palestina sebenarnya menjadi sasaran kecaman-kecaman keras. Menulis pada tahun 1965, Frederick V. Winnet mengatakan bahwa ‘fondasi dari beberapa gedung besar yang didirikan oleh para sarjana Perjanjian Lama baru-baru ini ... berada dalam keadaan yang buruk dan memerlukan reparasi yang ekstensif’. (Journal of Biblical Literature, 84 (1965); halaman 1-19). Pandangan Profesor Winnet didukung oleh beberapa ahli Keinjilan ternama lainnya seperti J. Maxwell Miller dan H.J. Franken. — 29 —
  • 41. Kitab Bibel. Cara yang sama seperti itu juga diterapkan dalam penterjemahan catatan-catatan kuno (seperti catatan- catatan kuno dari Ibla, di sebelah utara Suria), yang oleh para arkeolog masih ditemukan di negara-negara di Timur Dekat. Bangsa-bangsa kuno Timur Dekat seperti bangsa Filistin, bangsa Kanaan, bangsa Aram, bangsa Amorite, bangsa Horite, bangsa Hittit (berbeda dengan bangsa kuno dari Suria Utara dengan nama yang sama) dan bangsa-bangsa lainnya, tanpa adanya bukti-bukti yang kuat telah ditentukan secara geografis pada daerah-daerah yang bukan merupakan wilayah-wilayah mereka. Lebih lagi, sejumlah bangsa ini, yang namanya berasal dari teks-teks Bibel, di tentukan secara tidak benar sebagai pemakai bahasa-bahasa yang sebenarnya tidak mereka pakai, atau sebaliknya. Sarjana-sarjana modern tetap bersikeras, misalnya, bahwa bangsa Filistin dalam Bibel merupakan orang-orang laut ‘non-Semit’ yang misterius, dan hal ini sangatlah aneh mengingat bahwa nama-nama kepala suku dan bahwa dewa mereka, Dagon, (dgn, yang berarti ‘jagung, padi’) di dalam teks-teks Bibel adalah nama-nama ‘Semit’ (yang jelas merupakan nama-nama Ibrani). Walaupun banyak masalah seperti di atas yang masih kurang jelas dan masih dapat diperdebatkan, namun ada dua hal yang sudah dapat dipastikan. Pertama, belum diketemukan bukti-bukti mengenai asal mulanya orang-orang Iberani di Mesopotamia dan dugaan mengenai adanya migrasi orang-orang ini dari Mesopotamia menuju ke Palestina dengan jalan melewati Suria Utara. Kedua, sampai kini belum ada tanda-tanda yang ditemukan mengenai adanya tawanan orang-orang Israil di Mesir, walaupun pernah adanya dalam sejarah, suatu emigrasi besar-besaran orang-orang Israil dari Mesir.24 Kita juga dapat mencatat, secara sepintas, bahwa 24 Goshen (gsn), Pithon (ptm), dan Raamses (r’mss) yang disebut dalam kitab Kejadian dan kitab Keluaran sehubungan dengan menetapnya masyarakat Israil di tanah msrym belum pernah ditempatkan secara memuaskan di Mesir (lihat catatan dalam J. Simons, The Geographical annd Topographical Texts of the Old Testament... (Leiden, 1959; seterusnya disebut Simons), yang melakukan beberapa pengenalan percobaan). Ada dua kemungkinan untuk Goshen (Ghatan, gtn, dan Qashanin, qsnn, jamak dari qsn), sebuah Pithom (Al Futaymah, ptym, tanpa vokal ptm) dan sebuah Raamses (Masas, mss) masih dapat dijumpai di pedalaman Asir, di wilayah msrym Arabia Barat. R’ yang pertama dalam r’mss (Raamses) mungkin adalah nama seorang dewa. Dalam bentuk Ra’ atau Ra’i, r’ itu tampil sebagai bagian pertama dari sejumlah nama tempat Arabia Barat.— 30 —
  • 42. para ahli Bibel itu masih memperdebatkan masalah keluarnyakaum Israil dari Mesir menuju ke Palestina melewati Sinaiyang belum terbukti secara memuaskan (mengenai hal ini,lihat observasi terhadap Gunung Horeb, Bab 2). Dengan penemuan-penemuan yang telah saya dapati,ini bukanlah suatu hal yang mengagetkan. Para ahli Bibeltelah mencari bukti-bukti di tempat yang salah. Merekamenganggap geografi Bibel Ibrani benar dan meragukankebenarannya sebagai kitab sejarah. Menurut hemat saya, carayang lebih produktif ialah dengan membenarkan isi sejarahBibel Ibrani dan meragukan isi geografinya, seperti yangtelah saya lakukan pada halaman-halaman yang berikut. Diantara golongan-golongan orang Timur Dekat, nampaknyahanya kaum Israil saja yang mempunyai kesadaran tajamakan sejarah, atau setidak-tidaknya merupakan satu-satunyayang memahami dan menceritakan sejarah mereka secaralengkap dan mudah dimengerti. Kitab-kitab suci mereka,pada hakekatnya merupakan potret diri bersejarah yangdigambarkan secara jelas dan mendetil. Memang benarbahwa kisah-kisah dalam kitab Kejadian lebih bersifat proto-historikal daripada historikal, dan lebih merupakan catatan-catatan tentang orang Israil dan anggapan mereka sebagaibangsa itu daripada tentang asal mula mereka. Tapi tidaklahmustahil bahwa leluhur Ibrani orang-orang Israil itu padasuatu waktu berasal dari sebuah suku yang terperangkap dandipaksa kerja di suatu tempat yang bernama msrym — yangmungkin bukan Mesir; kalau mereka mengadakan migrasibesar-besaran dari tempat itu, di bawah seorang pemimpinyang bernama Musa yang mengatur mereka dalam suatukelompok keagamaan dan memberi mereka hukum-hukumyang harus diperhatikan oleh mereka; kalau mereka melintasisebuah tempat yang bernama h-yrdn — yang mungkinbukan sungai Yordan— di bawah pimpinan seseorang yangbernama Yosua, untuk menetap di suatu tempat dan di situmereka akhirnya mencapai suatu penguasaan politik atasdaerah itu; kalau mereka tinggal di sana untuk beberapa waktusebagai suatu konfederasi yang longgar dari suku-suku dibawah pimpinan kepala-kepala suku yang disebut ‘Hakim- — 31 —
  • 43. hakim’, dan terus menerus berperang dengan suku-suku dan kelompok-kelompok lain yang tinggal di antara mereka, kalau mereka pada akhirnya tersusun secara politis menjadi sebuah ‘kerajaan’ di bawah pimpinan Saul; kalau kerajaan ini dikembangkan dan diberi suatu penyusunan dasar oleh Daud, yang selain seorang prajurit yang ulung juga merupakan seorang penyair, dan mencapai puncak kejayaannya di bawah Sulaiman anak Daud, seseorang yang terkenal akan kearifan dan kepandaiannya. Memang semestinya jika tidak ada orang yang meragukan bahwa seluruh sejarah Israil, setelah wafatnya Sulaiman, berjalan seperti yang tertulis dalam Kitab Bibel Ibrani. Tetapi jika kita menganggap bahwa segenap kejadian dalam sejarah ini berlangsung di Palestina, dan mempelajari Bibel menurut anggapan ini, maka akan timbul kebingungan dan sejumlah pertanyaan yang tak mampu terjawab akan tak terhitung lagi banyaknya. Kalau saja kita menggeser geografi dalam Bibel dari Palestina ke Arabia Barat, maka tidak banyak kesukaran yang akan tersisa. Kalau kita menimbang kembali catatan-catatan kuno Mesir, Babilonia dan Suria menurut konteks geografi ini, maka semuanya akan cocok pada tempat mereka. Panorama sejarah dalam Bibel Ibrani yang sendirinya menceritakan kisah lengkap sebuah bangsa Timur Dekat, menjadi petunjuk terhadap penyelesaian teka-teki rumit sejarah Timur Dekat kuno,25 dan bukan panorama sejarah itu sendiri yang merupakan sebuah teka teki yang rumit. Seluruh argumentasi dalam bab pengenalan ini berpusat pada dalil yang menyatakan bahwa tanah asal Israil dan tanah kelahiran Yudaisme adalah Arabia Barat, bukan Palestina. Dalam buku ini contoh teks-teks dari Kitab Bibel akan diuraikan dengan cara menyelidiki nama-nama tempat secara toponimis guna membuktikan kebenaran dalil ini — suatu fakta yang semoga sewaktu-waktu akan dapat diperkuat oleh penemuan-penemuan arkeologis pada lokasi-lokasi tersebut. Secara ideal, seluruh teks Bibel Ibrani seharusnya 25 Lain dari Bibel Ibrani, yang mengisahkan cerita lengkap kaum Israil kuno dari asal mulanya yang legendaris sampai pada abad ke-5 S.M., catatan-catatan bersejarah lainnya dari pelbagai negara di Timur Dekat hanya menceritakan potongan-potongan sejarah — daftar-daftar para raja, kisah-kisah ekspedisi militer tertentu, perjanjian- perjanjian perdamaian dan hal-hal yang seperti itu— dan tak pernah mengisahkan cerita-cerita lengkap mengenai suatu bangsa, negara atau kerajaan tertentu.— 32 —
  • 44. diuraikan dengan cara yang sama seperti di atas, akan tetapiini memerlukan jangka waktu yang sangat lama sekali.Andaikata para pembaca bingung dengan apa yang dikatakanoleh buku ini, perlu dijelaskan bahwa walaupun Bibel Ibranimenceritakan sejarah orang-orang Israil kuno di Arabia Barat,bukan berarti agama Yahudi tidak mempunyai dasarnyadi Palestina, karena sebenarnya dasarnya adalah di sana.Kitab Bibel Ibrani yang ditulis di Arabia Barat lebih banyakberkenaan dengan urusan-urusan kaum Israil di daerah itu,dan bukan dengan kaum Yahudi di tempat-tempat lain. Seperti yang telah dikatakan tadi, ada petunjuk-petunjukdari Kitab Bibel mengenai tumbuhnya sebuah pemukimanYahudi yang kuat di Palestina yang dimulai pada sekitar abadke-10 S.M. Ada pula bukti-bukti yang berupa dokumentasi-dokumentasi yang didapat dari luar Bibel Ibrani yangmembuktikan adanya orang-orang Yahudi di negara-negaraTimur Dekat — seperti daerah Utara Mesir26 — sejakzaman kuno. Teks-teks kanonik Bibel Ibrani, yang merekamembicarakan cukup mendetil tentang orang-orang Yahudidi luar Arabia Barat, hanya melakukannya sehubungandengan penawanan orang-orang Israil oleh kerajaan Babilonia.Rekonstruksi sejarah Yahudi yang mula-mula di Palestinatidak mungkin didapat melalui teks-teks ini, ataupun melaluicatatan-catatan lain yang ada sampai sekarang. 26 Lihat terjemahan papirus-papirus Aram dari abad ke-5 S.M. yang berkenaan dengan masyarakat Yahudi Elephantine (nampaknya sebuah koloni militer dari zaman Achaemenid) dalam Pritchard, hal. 491-493, 548-549. Sejumlah papirus tersebut menyinggung masalah orang-orang Yahudi yang berbahasa Aram yang menetap di sana pada zaman purbakala. Yang menarik adalah bahwasanya papirus-papirus ini berbicara mengenai orang-orang Yahudi, bukan orang-orang Israil. — 33 —
  • 45. — 34 —
  • 46. 2 Masalah MetodeD alam mempelajari sesuatu kita harus belajar melupakan; didalam bidang penyelidikan Kitab Bibel ini sangat mutlak. Karena bahasa yang dipakai dalam BibelIbrani telah lama tidak dipergunakan lagi, beberapa waktusetelah abad ke-6 atau ke-5 S.M., maka tidak mungkin kitamengetahui pengucapan serta pemberian tanda vokal aslinyaseperti yang dipergunakan orang-orang dahulu itu. Kita puntidak mengetahui apa-apa tentang orthografi, tatabahasa,sintaksis serta langgam suaranya. Perbendaharaan kata diKitab Bibel Ibrani yang kita ketahui sangat terbatas pada kata-kata yang tertera dalam teks-teks Kitab Bibel itu. Memang benar, bahasa Ibrani para rabbi (pendetaYahudi) telah memperlengkapi kita dengan perbendaharaankata dari Bibel Ibrani yang sebagian didasarkan padaperbendaharaan kata kuno Kitab Bibel dan sebagian lagidipinjam dari bahasa Aram dan bahasa-bahasa lain. Akantetapi kita harus mengingat bahwa bahasa Ibrani para rabbiYahudi itu bukanlah suatu bahasa lisan; bahasa ini merupakansuatu bahasa kesarjanaan saja. Lagi pula, banyak kata di
  • 47. dalam Kitab Bibel yang hanya timbul sekali atau dua kali saja sehingga arti kata-kata itu masih dapat diperdebatkan.1 Oleh sebab itu, untuk membaca dan mengerti Bibel Ibrani kita harus melakukannya menurut tradisi para pendeta Yahudi atau dengan cara mempelajari bahasa-bahasa Semit lainnya yang masih dipakai. Saya telah memakai cara yang kedua, mendasarkan penafsiran saya pada bahasa Arab, dan dalam beberapa hal pada bahasa Suryani, yang merupakan bentuk modern bahasa Aram kuno. Pendeknya, saya telah memperlakukan bahasa Ibrani sebagai bahasa yang sebenarnya sudah tak dikenal lagi dan yang perlu diungkapkan kembali, bukan lagi sebagai bahasa yang teka-teki dasarnya telah dipecahkan. Berkat kejujuran kesarjanaan kaum Masoret atau tradisional Yahudi, teks-teks dalam bentuk konsonan Bibel Ibrani itu telah diturunkan kepada kita dari zaman kuno dalam keadaan yang hampir dalam keadaan utuh. Sayang, sarjana-sarjana modern jarang yang menghargai hal ini. Seringkali, bila mereka gagal dalam memahami sebuah kutipan dari Kitab Bibel, karena prasangka-prasangka terhadap konteks geografisnya, mereka dengan salah menganggap bahwa teks-teks itu telah diubah, seperti halnya seorang pekerja yang tidak terampil menyalahkan alat- alatnya. Memang benar, beberapa kitab dalam Bibel Ibrani itu merupakan kumpulan sumber naskah yang lebih tua dan yang telah disusun kembali. Ini tidak diragukan lagi. Tetapi mungkin saja berbagai kitab teks Bibel kanonik yang ada pada kita, telah dalam bentuknya yang sekarang ini sebelum runtuhnya kerajaan Israil, yaitu paling lambat pada abad ke-5 atau ke-6 S.M. Dugaan ini timbul dengan adanya kenyataan bahwa Bibel Ibrani telah diterjemahkan secara keseluruhan 1 Slg dalam Bibel contohnya, yang timbul tidak kurang dari 18 kali dalam pelbagai teks Bibel, biasanya dianggap berarti ‘salju’, kecuali dalam Ayub 9:30, kata ini tidak jarang diterjemahkan sebagai bahan pembersih atau obat pemutih, mungkin sejenis tanaman (soapwort). Yang terakhir ini kemungkinan adalah konotasi dari slg dalam sebutan-sebutan Bibel yang lain, terutama dalam Mazmur 51:9. Dalam konteks ini, ‘Bersihkanlah aku dengan Hyssop, dan aku akan menjadi lebih putih dari salju (tkbsny w-m-slg ‘lbyn)’ mungkin seharusnya secara lebih tepat diterjemahkan menjadi: ‘Engkau akan membersihkan aku dengan hyssop, dan aku akan menjadi bersih; engkau akan memandikan aku, dan dari tanaman ‘soapwort’ aku akan menjadi putih’. Dua buah pembersih --pembersih hyssop dan akar-akar pencuci dari tanaman ‘soapwort’-- jelas adalah apa yang dibicarakan baris ini. Mengenai tanaman ‘soapwort’ Arab, lihat di bawah.— 36 —
  • 48. ke dalam bahasa Aram (kitab-kitab Targum) pada zamanAchaemenid, dan ke dalam bahasa Yunani (kitab Septuaginta)pada awal periode Hellenis. Gulungan kertas Laut Mati,yang telah begitu banyak menarik perhatian dalam dasawarsabelakangan ini, jauh lebih muda dibandingkan dengan keduaterjemahan itu. Oleh sebab itu gulungan kertas Laut Matimungkin dapat berguna dalam studi mengenai agama YahudiPalestina pada zaman Rumawi; akan tetapi tidak akan dapatbanyak menolong dalam pemecahan teka-teki Kitab BibelIbrani. Kita kini mengetahui bahwa Bibel Ibrani yang mula-mula ditulis dalam bentuk konsonan. Kemudian diberivokal, dengan mempergunakan tanda-tanda vokal khusus,oleh kaum Masoret Palestina dan Babilonia antara abadke-6 dan ke-9 atau ke-10 tahun Masehi. Dengan kata lain,mereka yang melakukan ini sebenarnya menyusun kembalisebuah bahasa yang telah tidak dipergunakan lagi selamaseribu tahun atau lebih. Kaum Masoret ini apakah merekaberbahasa Aram atau tidak, melakukan tugas mereka denganseluruh pengetahuan yang mereka miliki. Karena merekamenghormati Bibel sebagai kitab suci, maka dapat dipastikanbahwa mereka berhati-hati agar tidak mengubahnya, danmembiarkan teks konsonannya seperti apa adanya, sekalipunmereka menemukan sebuah kutipan yang menurut merekatidak masuk akal. Mereka hanya mencatat bilamana ada atausepertinya ada kejanggalan-kejanggalan dalam ejaan atau tatabahasa, dan tampaknya tidak ada usaha-usaha yang disengajauntuk membetulkan kejanggalan-kejanggalan itu. Ironisnya,jika para ahli Bibel modern berhati-hati seperti halnya paraleluhur Masoret mereka, maka Ilmu Pengetahuan Bibelmodern tidak akan membingungkan seperti sekarang ini, danproses mempelajari yang sebenarnya bidang ini tidak perlubegitu banyak melupakan apa yang telah diketahui. Teks-teks suci, pada umumnya, dipelihara dalam bentukaslinya oleh mereka yang taat dan setia dalam agama apa pun,sehingga hampir tidak berubah. Diturunkan melalui tradisi,seperti halnya teks-teks suci, nama-nama tempat juga jarangberubah, paling tidak dalam struktur dasarnya, beberapa pun — 37 —
  • 49. lamanya proses penurunan ini berlangsung. Jarang sekali nama-nama itu diubah, akan tetapi jika ini terjadi, nama- nama tua itu tetap dikenang oleh masyarakat, dan lebih sering dipergunakan kembali pada suatu saat. Bertahannya nama-nama tempat inilah yang memungkinkan saya untuk melakukan suatu analisa toponimis, dan terkadang memberi lebih banyak informasi mengenai geografi Bibel Ibrani daripada yang dapat kita peroleh melalui arkeologi. Dalam hal-hal tertentu, studi mengenai nama-nama tempat dan arkeologi mempunyai tujuan yang sama kecuali dalam satu perbedaan yang penting. Kalau penemuan-penemuan arkeologis itu bisu, jika terdapat inskripsi-inskripsi apa pun adanya, maka nama-nama tempat dapat berbicara dengan jelas. Maksud saya, bukan hanya memberitahu kita apa sebenarnya nama-nama tempat itu, bagaimana diucapkan, apa arti dan dari bahasa atau jenis bahasa mana asalnya. Tanpa adanya inskripsi, penemuan- penemuan arkeologi sangatlah sulit untuk ditafsirkan, begitu sulitnya sampai-sampai pertengkaran di antara para arkeolog, mengenai arti sejarah suatu penemuan tertentu, seringkali memburuk menjadi permusuhan pribadi. Walaupun nama- nama tempat tidak memberikan informasi sebanyak yang dihasilkan oleh penggalian-penggalian arkeologis, namun apa yang diberikan paling tidak merupakan suatu kepastian yang relatif atau mutlak. Saya akan mengemukakan sebuah contoh. Kalau seseorang menemukan sekelompok nama-nama tempat di Arabia Barat yang berasal dari sebuah bahasa yang bentuk konsonannya sama dengan bahasa Yahudi yang dipakai dalam Bibel atau bahasa Aram yang dipakai dalam Bibel, maka orang itu dapat menyimpulkan bahwa bahasa-bahasa yang sama atau serupa dengan bahasa Aram atau Yahudi Bibel pernah dipergunakan di Arabia Barat, meskipun bahasa Arablah yang merupakan bahasa sehari-hari di sana selama 2000 tahun. Kalau dapat lebih jauh lagi dibuktikan bahwa nama-nama tempat menurut Bibel, apa pun asal linguistiknya, terdapat pula di Arabia Barat yang sampai kini masih ada, sedangkan hanya sedikit yang tertinggal— 38 —
  • 50. di Palestina, maka dapat dimaklumi jika kita bertanya:apakah Bibel Ibrani lebih merupakan catatan mengenaiperkembangan sejarah di Arabia Barat daripada di Palestina? Dalam suatu usaha untuk menjawab pertanyaan itu,strategi yang saya pergunakan pada halaman-halamanberikutnya adalah dengan membandingkan sekelompoknama-nama tempat Semit kuno, yang dalam Kitab Bibelditulis dalam ejaan Ibrani, dengan nama-nama tempat yangbenar-benar ada di Asir dan selatan Hijaz, yang oleh kamus-kamus geografi Arab Saudi modern ditulis dalam ejaan Arab.Kira-kira sudah 3000 tahun waktu yang memisahkan bentukBibel itu dari nama-nama tempat ini dengan persamaannyayang kini masih ada. Ini merupakan jangka waktu yangsangat lama, lebih dari satu pergeseran bahasa yang mestinyaterjadi di daerah-daerah di Timur Dekat, apalagi denganadanya peralihan dialek-dialek pada setiap tahap. Maka dariitu, bagi saya yang mengherankan adalah bukan kenyataanbahwa nama-nama tempat menurut Bibel telah mengalamiperubahan; tetapi bahwasanya nama-nama itu tetap ada dalambentuk Arab yang mudah dikenali. Adalah wajar jika nama-nama tempat menurut Bibel diArabia Barat telah mengalami perubahan pada fonologi danmorfologinya, setelah hampir 3000 tahun. Pada awal buku ini,sebuah catatan yang berjudul ‘Perubahan bentuk Konsonan,menunjukkan bagaimana konsonan-konsonan tertentudalam bahasa Ibrani dapat menjadi konsonan-konsonanlain dalam bahasa Arab dan sebaliknya. Catatan yang samamemperlihatkan pula seringnya terjadi metatesis (pindahnyahuruf-huruf konsonan dalam suatu kata) antara bahasa-bahasaSemit dan bahkan antara dialek-dialek dalam bahasa yangsama. Sebagai tambahan dari perubahan yang disebabkan olehperalihan-peralihan bahasa dan dialek-dialek ini, kita perlumemperhatikan pula distorsi yang disebabkan oleh ditulisnyanama-nama tempat tersebut dalam bahasa Ibrani Bibel dandalam bahasa Arab modern. Bahasa tulisan (dengan cara menggunakan huruf-hurufabjad atau dengan cara lain) hanya dapat mengira-ngira sajafonetik dari sebuah percakapan saja. Inilah sebabnya mengapa — 39 —
  • 51. para ahli bahasa berpaling pada penggunaan begitu banyak simbol-simbol yang bukan abjad dalam pekerjaan mereka, karena mereka tahu benar bahwa simbol-simbol yang ruwet ini pun tidak dapat mewakili dengan akurat bunyi-bunyi yang sebenarnya. Bagaimana nama-nama tempat, yang ada dalam bab ini dan ditempat lain sebenarnya diucapkan pada zaman Bibel, tidak dapat diketahui. Untuk mengetahui persis bagaimana diucapkan sekarang akan memerlukan penelitian lapangan yang sangat luas. Akan tetapi dalam memperbandingkan bentuk-bentuk tertulis nama-nama ini, baik dalam bahasa Ibrani Bibel maupun dalam bahasa Arab modern, kita harus mengingat tabiat abjad Semit itu. Pada mulanya abjad ini mengenal tidak lebih dari 22 konsonan (termasuk glottal stop yang menurut bahasa-bahasa Semit merupakan sebuah konsonan, dan dua buah semi-vokal, yaitu w dan y), walaupun bahasa lisan Semit yang sebenarnya sejak dahulu memakai lebih dari ini. Dalam bahasa Ibrani yang dipakai para rabbi Yahudi, sebuah konsonan tambahan ditambahkan pada abjad aslinya dengan cara memberi titik pada huruf sin, yang dapat disuarakan sebagai s atau s (dengan topi atas). Maka (s) mewakili huruf s, dan v menandakan s (dengan topi atas). Bahasa Arab, yang meminjam tulisannya dari bahasa Semit lainnya, menggunakan 22 abjad dasar mereka, pada awalnya. Tetapi lama kelamaan enam huruf lagi ditambahkan pada huruf-huruf yang telah ada. Maka t (ta’) diberi satu lagi titik menjadi huruf t (tsa’); h (ha) diberi titik menjadi huruf h (kho’); d (dal) diberi titik menjadi huruf d (dzal); s (shod) diberi titik menjadi huruf s (dlod); t (tho’) diberi titik menjadi huruf z (dho’); dan ‘ayn (ain) diberi titik menjadi huruf g (ghoin) (lihat ‘Kunci Transliterasi bahasa Ibrani dan Arab’ pada awal buku ini). Dalam keenam contoh di atas, huruf-huruf baru yang ditambahkan ini mewakili konsonan- konsonan yang secara fonologis berhubungan dengan konsonan-konsonan yang diwakili oleh huruf-huruf yang lama. Maka, dalam bahasa Arab, seperti yang tertulis aslinya, tidak semua konsonan yang terdengar dalam percakapan— 40 —
  • 52. mempunyai huruf tersendiri dalam abjad untuk mewakilimereka. Saya yakin bahwa begitu juga halnya denganbahasa Ibrani Bibel, yang dalam bahasa lisan dalam berbagaidialeknya mestinya terdapat konsonan-konsonan yang dalamtulisan diwakili oleh huruf-huruf yang mewakili konsonanlain. Contohnya, tidak ada alasan untuk menganggap pemakaibahasa Ibrani di Arabia Barat atau ditempat lain untuk tidakmengucapkan h maupun h yang masih saling berhubungan,sambil menggunakan h untuk mewakili kedua konsonan itu didalam tulisan. Dalam pengucapan bahasa Ibrani rabbi (yangmencerminkan pengaruh bahasa Aram), b dapat diucapkansebagai b dan v; g sebagai g dan g (dengan titik di atas); ksebagai k dan h; sebagai p dan p (atau f); t sebagai t dan t. Adakemungkinan besar para pemakai bahasa Ibrani kuno (palingtidak dalam beberapa dialek) juga mengucapkan konsonan-konsonan seperti d, d dan z yang tidak mempunyai huruf-huruf yang mewakili mereka dalam abjad Ibrani. Bagaimana pemakai-pemakai bahasa Ibrani kuno dapatmembedakan dalam percakapan antara s (s, atau sin) dan s(j, atau samek) adalah suatu pernyataan yang bagus sekali.Kemungkinan, s mewakili sebuah gabungan bunyi s, s dan z. Mengingat semua ini, persamaan antara pengucapannama-nama tempat di Arabia Barat dalam bahasa Ibrani kunodan bentuk Arab modern mungkin lebih dekat daripada yangkita duga. Sebuah studi lapangan secara mendalam mengenaibagaimana nama-nama Arab itu sebenarnya diucapkansekarang ini pasti akan dapat membantu memecahkanpersoalan ini. Namun yang sudah pasti ialah bahwa abjadArab, dengan enam buah huruf tambahannya, telahdiperlengkapi untuk menghasilkan perkiraan yang lebih dekatkepada bentuk asli konsonan nama-nama itu daripada abjadIbrani. Sudah tentu, suatu persesuaian yang dapat diperlihatkanantara nama-nama tempat Bibel dengan nama-nama tempat diArabia sendiri tidak akan cukup untuk membuktikan bahwaArabia Barat adalah tanah asal Kitab Bibel Ibrani. Pertama-tama kita harus memastikan bahwa persetujuan toponimisyang sama tidak terdapat di daerah-daerah lain di jazirah — 41 —
  • 53. Arabia atau di bagian-bagian lain di Timur Dekat. Kalau hal ini sudah dapat dipastikan, kita harus mencoba untuk mengetahui benar tidaknya koordinat-koordinat dalam Bibel yang diberikan kepada tempat-tempat yang kini masih ada, atau yang sepertinya masih ada di Arabia, cocok dengan tempat-tempat pasangannya di Arabia Barat. Dengan kata lain, jika kita mengenali sebuah tempat di Arabia Barat yang namanya sepertinya cocok dengan Beer-lahai-roi (b’r lhy r’y) dalam Bibel, kita harus kemudian menentukan apakah tempat ini terletak di sebuah jalan yang menuju ke suatu tempat yang bernama Shur (swr), antara sebuah tempat yang bernama Kadesh (qds) dan sebuah lagi yang bernama Bered (brd) (lihat Kejadian 16:7, 14).2 Dari sini, kita dapat menyerahkan prosedur selanjutnya pada arkeologi, yang akan mencoba untuk menentukan apakah lokasi di Arabia Barat yang namanya diambil dari Kitab Bibel itu mungkin dihuni pada periode Bibel itu layak, dan dengan kebudayaan materi apa tempat ini diasosiasikan. Karya yang sekarang ini hampir seluruhnya berdasarkan toponimik. Tetapi sebelum tesis ini kemajuan-kemajuannya dapat dipandang sebagai pasti, kita harus dapat menganggap bahwa arkeologi perlu memastikan penemuan-penemuan itu yang telah dijadikan dasar arkeologi itu. Sebagai tambahan pada arkeologi, ada cara-cara lain untuk memastikan benar tidaknya sejarah Bibel itu berlangsung di Arabia Barat dan bukan di Palestina. Hal-hal yang berhubungan dengan topografi, geologi dan mineral, hidrologi, flora dan fauna perlu diperhatikan. Dengan kata 2 Nama b’r lhy r’y dalam Bibel berarti ‘sumur jurang r’y’, bukan ‘sumur dia yang hidup yang melihatku’ (l-hy r’y), seperti nama ini biasanya ditafsirkan. Walaupun lhy dalam nama itu dibaca l-hy, ini akan berarti ‘kepada dia yang hidup’, bukan ‘dia yang hidup’ Sebenarnya lhy dalam bentuk bahasa Arab yang diberi vokal, yaitu lahi, berarti ‘jurang’. Nama jurang yang dibicarakan tersebut adalah r’y; diberi vokal sehingga terbaca seperti kata bahasa Arab rawi (rwy), kata ini akan mempunyai arti ‘dia yang diairi’, bukan ‘dia yang melihat’ ataupun ‘yang melihatku’, yaitu arti yang diberikan oleh bentuk bahasa Ibrani dari kata tersebut. Rwy ini mungkin adalah tidak lain dari apa yang kini merupakan oase Rawiyyah (rwy) di Wadi Bishah (Bishah), di pedalaman Asir. Oase yang memakai nama ini sebenarnya terletak di sepanjang jalan yang menuju ke Shur --Al Abu Thawr (twr, bandingkan dengan twr dalam bahasa Ibrani). Oase ini juga terletak di antara satu dari dua buah tempat yang bernama Kadas (kds, bandingkan dengan kata Ibrani qds) di lerengan barat Asir, dan sebuah oase Wadi Bishah lagi yang bernama al-Baridah (brd). Mengenai usaha yang dipaksakan guna menempatkan Beerlahai-roi di Palestina Selatan, lihat Simons, alinea 367, 368; juga Kraeling, hal. 69-70.— 42 —
  • 54. lain, jika seseorang menemukan sebuah sungai atau anaksungai di Arabia Barat yang bernama Pishon, misalnyakemungkinan besar sungai itu bukan sungai Pishon dalamKitab Bibel kecuali jika mengelilingi suatu daerah tempatemas dapat diketemukan, atau yang pada zaman dahuluterdapat emas (lihat Kejadian 2:11-12). Suatu tanda kepastianbahwa kota-kota dalam Bibel Sodom dan Gomorrah tidakmungkin merupakan kota-kota kuno di kawasan Laut Mati,karena di daerah itu tidak terdapat sebuah gunung berapiyang dahulunya menghancurkan kota-kota tersebut (lihatKejadian 19:24-28). Jika seseorang menemukan sebuahkota yang bernama Sodom dan Gomorrah di Arabia Barat,orang itu harus mencari sebuah gunung berapi atau mencaripuing-puing vulkanis di sekitar daerah itu. Begitu pula,jika istana Sulaiman terbuat dari ‘batu-batu mahal’ yang‘dipahat menurut ukuran, digergaji dengan menggunakangergaji, dari depan dan belakang’, dan ada pula ‘batu-batubesar, batu-batu yang besarnya delapan sampai sepuluhhasta’ (1 Raja-raja 7:9-10), bahan bangunan tersebut tidakmungkin batu kapur Palestina biasa. Batu itu kemungkinanadalah batu granit, yang masih dapat ditemukan dan digalidi Arabia Barat. Bahan yang sama mestinya dipergunakanuntuk mendirikan bangunan di sekeliling tembok-tembokkuil Sulaiman, mengingat bahwa bangunan ini terbuat daribatu ‘yang telah disiapkan di penggalian’, sehingga ‘takkedengaran palu atau kapak selama masa pembangunannya’(1 Raja-raja 6:7).3 Walaupun kata ‘salju’ atau slg dalam BibelIbrani kadang-kadang berarti tumbuhan soapwort (bukantumbuhan Saponaria officinalis, tetapi mungkin tumbuhanGypsophila arabica, lihat Catatan 1),4 dan terkadang berartisalju yang sebenarnya. Jika keadaannya begitu, maka kitaharus memastikan adanya salju yang turun dan menetap dipegunungan Arabia Barat — dan kenyataannya memangdemikian— sebelum memulai menduga bahwa tanah asal 3 Perhatian saya dialihkan kepada hal ini oleh Dr. Ahmad Chalabi, seorang ahli matematika dan seorang bankir, yang juga merupakan seorang amatir dalam bidang studi geologi dan Kitab Bibel. 4 Lihat Ahmad Khattab et alias, ‘Hasil-hasil ekspedisi botani ke Arabia pada tahun 1944-1945’ (‘Result of a Botanic Expedition to Arabia in 1944-1945’) (Publication of the Cairo University Herbarium, no. 4, 1971), hal. 27. — 43 —
  • 55. Bibel Ibrani itu terletak di sana.5 Minyak yang disebutkan dalam Kitab Bibel mungkin saja minyak wijen dan bukan minyak zaitun, mengingat bahwa wijen sampai kini merupakan produk utama daerah Asir. Namun kenyataan bahwa tumbuhan zaitun liar masih tumbuh di Arabia Barat, menunjukkan bahwa buah zaitun yang tertera di dalam Kitab Bibel mungkin saja dibudidayakan di sana pada zaman dahulu, bersamaan dengan tumbuhan tin, buah badam, delima dan anggur, yang semua tertulis dalam Bibel Ibrani dan masih tetap dibudidayakan di sana sampai kini. Pula, buah zaitun masih dapat ditemukan pada dua bagian jazirah Arab, di sebelah Utara Hijaz dan di Oman. Oleh sebab itu, agaknya masih masuk di akal jika kita menganggap bahwa minyak yang disebut-sebut di dalam Kitab Bibel adalah minyak Zaitun, bukan minyak wijen. Dalam Imamat 11:29, ‘kadal besar’ (sb) termasuk dalam kelompok reptil-reptil yang diharamkan untuk dimakan. ‘Kadal monitor’ atau bengkarung dari Palestina dan Sinai disebut waral (wrl) atau waran (wrn). Sb yang tertera dalam Kitab Bibel sudah pasti adalah biawak gurun pasir Arabia atau dabb (db).6 Namun walaupun Bibel Ibrani berbicara mengenai berbagai jenis burung, kitab ini samasekali tidak pernah menyebut-nyebut tentang ayam maupun angsa. Menurut ahli geografi kuno Strabo (16:4:2), daerah-daerah Arabia di seberang Laut Merah dari Etiopia aneh karena di sana terdapat ‘burung- burung ... dari semua jenis, kecuali angsa dan keluarga gallinaceous’. Semua ini membuktikan perlunya untuk mempertimbangkan kembali lokasi geografis tanah asal Kitab Bibel, terlebih lagi karena semuanya mendukung bukti-bukti lain yang relevan. 5 Salju jarang turun di pegunungan Yaman, di baratdaya Arabia, yang musim hujannya terjadi pada musim panas, yaitu pada waktu musim hujan dari baratdaya. Namun di Asir, pegunungan di sana menadah curah hujan musim hujan dari baratdaya pada musim panas maupun curah hujan angin baratlaut pada musim dingin, sehingga elevasi yang lebih tinggi di sana mendapatkan dan terkadang menyimpan salju musim dingin (lihat Bab 3). 6 Salju jarang turun di pegunungan Yaman, di baratdaya Arabia, yang musim hujannya terjadi pada musim panas, yaitu pada waktu musim hujan dari baratdaya. Namun di Asir, pegunungan di sana menadah curah hujan musim hujan dari baratdaya pada musim panas maupun curah hujan angin baratlaut pada musim dingin, sehingga elevasi yang lebih tinggi di sana mendapatkan dan terkadang menyimpan salju musim dingin (lihat Bab 3).— 44 —
  • 56. Kembali pada ilmu toponimik, yang menjadi dasar bukuini, perlu diperhatikan bahwa sebuah pengenalan secara benaratas nama-nama tempat menurut Bibel dapat memperdalamdan terkadang mengubah samasekali pengetahuan yang adatentang bahasa Ibrani. Bagi bahasa Ibrani Bibel, nama-namatempat, jika diperlakukan sebagai sebuah bahasa yang hendakdibaca dan dimengerti, sifatnya mirip dengan nama-namakeningratan atau kedewaan pada tulisan-tulisan pajangan padazaman Mesir kuno, yang memberi petunjuk untuk membacadan mengerti sebuah bahasa yang telah mati.7 Kalau kitanmengakui nama-nama tempat menurut Bibel dalam bentukyang telah ada, maka seluruh sebutan yang membawa namatersebut akan mengungkapkan misterinya sehingga dapatdimengerti. Kenyataannya adalah bahwa banyak kata biasa(kata-kata kerja, nama-nama benda, kata-kata tambahan dankata-kata sifat, terkadang dengan kata depan b, l atau m) yangsecara tradisional telah dibaca dengan salah dalam konteksBibel mereka sebagai nama-nama tempat. Sebaliknya, sudahtidak terhitung lagi banyaknya nama-nama tempat menurutBibel, yang tidak diduga sebagai nama-nama tempat, dianggapsebagai kata-kata kerja, kata-kata benda, kata-kata tambahanatau sebagai kata-kata sifat. Perbedaan yang benar antarasesuatu yang sebenarnya merupakan sebuah nama tempatdan yang bukan dalam teks Bibel dapat membuat banyakpembacaan tradisional (dan tentunya juga penterjemahan-penterjemahan standar) kacau. Catatan-catatan Mesir dan Mesopotamia kuno, jikapembacaan atas mereka dipertimbangkan kembali (sepertiyang seharusnya, lihat Bab 1), dapat banyak membantudalam mengungkapkan letak geografi Bibel. Dalam catatan-catatan itu, nama-nama tempat lainnya masih ada di ArabiaBarat. Yang juga sangat membantu adalah karya-karya parasejarawan dan ahli-ahli geografi dari zaman Klasik. Dalam Bab 7 Contohnya, kita dapat menyimpulkan dari bagaimana nama-nama tempat Arabia yang tertera dalam bentuk Ibrani sebenarnya diucapkan, bahwa bunyi k umumnya tidak diperhalus menjadi h (dgn topi bawah), sedangkan h sering diucapkan sebagai h (dgn topi bawah). Begitu pula, t diperhalus menjadi t (dgn strip bawah), namun tampaknya juga merupakan bentuk dialek lain dari s. ‘Ayn (‘) sering tidak diucapkan sebagai g, dan hamzah (‘) seringkali disuarakan sebagai semi-vokal w atau y, dan sebaliknya kedua semi-vokal ini dapat saling dipertukarkan, dan seringkali disuarakan sebagai vokal terbuka â. — 45 —
  • 57. sebelumnya, bukti-bukti yang didapat dari karya Herodotus disebutkan berhubungan dengan emigrasi orang-orang Filistin dan Kanaan dari Arabia Barat menuju ke pantai Suria; dalam Bab 4, bukti-bukti dari geografi Strabo akan dipergunakan untuk mengenali lokasi persis kota Beersheba di Arabia Barat, yang berbeda dengan kota Beersheba di Palestina. Apa yang terdapat di dalam Qur’an mengenai hal-hal yang berhubungan dengan geografi dan sejarah dalam Bibel, yang ternyata sangat banyak, harus benar-benar diperhatikan pula, tetapi kenyataannya belum begitu sampai sekarang. Teks Qur’an dikumpulkan pada waktu yang hampir bersamaan dengan saat kaum Masoret memulai memberi vokal dan membanding-bandingkan secara teliti teks-teks Kitab Bibel Ibrani. Menurut tradisi Islam, edisi Qur’an yang terakhir, yang seperti ada pada kita sekarang, dibuat pada zaman kekuasaan Khalifah Usman, atau antara tahun 644 dan 655 M. Bilamana kitab suci ini membicarakan mengenai para leluhur Ibrani, tentang Israil, atau mengenai para nabi kaum Yahudi, Qur’an menyebut beberapa nama tempat yang dapat dipastikan berasal dari Arabia Barat. Persamaan antara nama-nama tempat di dalam Qur’an pada suatu konteks, dengan nama-nama tempat di dalam Bibel dalam konteks yang sama, kadang-kadang sangat menarik. Contohnya, bilamana Bibel menyebut nama sebuah gunung di Arabia Barat, Qur’an sebaliknya tidak, tetapi menurut Qur’an nama itu merupakan nama sebuah lembah, kota atau suatu lokasi lain di daerah yang sama. Maka Nabi Musa, menurut Kitab Injil (Keluaran 3:1f), dipanggil oleh malaikat Yahweh dari sebuah belukar yang bernyala-nyala di Gunung Horeb (hrb). Menurut Qur’an (20:12, 79:16), panggilan terhadap Nabi Musa tersebut terjadi di ‘lembah suci’ Tuwa (tw). Sampai saat ini Gunung Horeb dalam Bibel ini telah dicari-cari di Sinai, namun namanya belum berhasil ditemukan. ‘Belukar yang bernyala-nyala, namun tidak musnah terbakar’ telah diperkirakan oleh para ahli sebagai suatu referensi terhadap sebuah gunung berapi, akan tetapi belum ada tanda-tanda kegiatan vulkanis yang dapat dijumpai di Sinai. Hal ini telah— 46 —
  • 58. membuat sejumlah penyelidik berpaling dari Sinai gunamencari Horeb di daerah-daerah vulkanis di bagian UtaraHijaz (lihat Kraeling pada halaman-halaman 108-110), tetapisekali lagi tanpa hasil. Namun Qur’an memberitahukan kitaletak persis Horeb: sebuah punggung bukit yang terasingkandi daerah pantai Asir, suatu tempat yang bernama Jabal Hadi.Di Jabal Hadi sampai kini masih berdiri sebuah dusun yangbernama Tiwa (tw), yang mestinya memberikan namanyakepada sebuah anak lembah Wadi Baqarah yang berdekatandengannya - yaitu ‘lembah suci’ dalam Qur’an tempat NabiMusa menerima panggilannya. Di Wadi Baqarah sampaikini masih berdiri sebuah desa yang bernama Harib (hrb), dimana punggung bukit Jabal Hadi yang berdekatan mestinyamendapatkan nama Bibelnya. Seluruh daerah tersebutdipenuhi oleh ladang-ladang lahar dan di sana gunung-gunung berapi mungkin pernah aktif.8 Yang berkenaan dengan kisah-kisah dalam Bibel, Qur’antidak sekadar mengulang bahan-bahan Bibel itu dalam bentukyang berlainan, yang pada saat ini pandangan yang umumnyadipegang oleh para ahli. Isinya, yang sejalan dengan KitabBibel Ibrani (di sini tidak termasuk kitab-kitab Injil PerjanjianBaru Kristen) saya yakin merupakan versi yang berdiri sendirimenurut tradisi kuno Arab Barat yang sama, dan memangharus diperlakukan demikian. Kalau Bibel mewakili versibahasa Ibrani Israil menurut tradisi di atas, yang bertarikhsejak sebelum abad ke-4 Pra-Masehi, maka Qur’an yang jugamemperlakukan tradisi serupa, mewakili versi bahasa Arabmenurut tradisi itu juga, berasal dari periode ketika bahasa 8 Ada pula bukti-bukti Bibel bagi pengenalan atas Jabal Hadi di pesisir Asir sebagai Horeb dalam Bibel. Menurut Ulangan 1:1, Nabi Musa ‘berbicara kepada seluruh Israil’ di ‘hutan, di Arabah (‘rbh) di atas Suph (swp), antara Paran (p’rn) dan Tophel (tpl), Laban (lbn), Hazeroth (hsrt) dan Dizahab (dy zhb)’. Lokasi itu adalah dataran rendah Wadi Ghurabah (grbh) yang memisahkan wilayah-wilayah Ghamid dan Zahran. Sebuah desa yang bernama al-Safa (sp, bandingkan dengan swp) melihat ke bawah Wadi Ghurabah dari arah utara. Wadi ini juga terletak di antara sebuah p’rn (Jabal Faran, atau prn) ke arah timur; sebuah tpl (Wadi Tufalah, atau tpl) ke arah selatan, sebuah lbn, kini desa al-Bunn (‘l-bn) ke arah utara; sebuah desa yang bernama dy zhb (Al Dhuhayb, atau dhyb) juga ke arah utara; dan sebuah hsrt, kini al-Hazirah (hzrt) ke arah barat (kecuali kalau ini Jabal Khudayrah, atau hdrt, yang juga terletak ke arah utara). Nama Nabi Musa dalam Bibel sebenarnya bertahan di sekitar daerah yang sama sebagai nama desa al-Musa. Ulangan 1:2 mengatakan bahwa tempat ini terletak sejauh ‘sebelas hari’ perjalanan dari Horeb. Jarak melalui jalan darat antara Jabal Hadi dan Wadi Ghurabah adalah sekitar 200-250 kilometer, dan dengan mudah dapat ditempuh dalam sebelas hari berjalan kaki dengan berjalan sejauh 20 kilometer sehari. — 47 —
  • 59. Arab telah menggantikan bahasa Aram dan bahasa Ibrani sebagai bahasa lisan yang dipakai di Arabia Barat. Sepintas lalu, perbedaan-perbedaan antara kedua versi tersebut mungkin kelihatannya membingungkan; tetapi setelah penyelidikan yang lebih mendalam, kitab-kitab itu akan menjadi lebih informatif. Sampai kini, yang telah kita peroleh adalah sebagai berikut: sebuah teks konsonan Ibrani yang dapat kita anggap akurat, yang harus dibaca kembali dengan teliti tanpa memikirkan tentang pengucapan tradisionalnya; catatan- catatan Mesir kuno, Mesopotamia kuno dan catatan-catatan lainnya yang menyebutkan nama-nama tempat menurut Bibel dan harus dibaca kembali tanpa berkonsultasi dengan penafsiran geografis ataupun topografisnya yang ada; karya- karya para sejarawan dan ahli geografi zaman Klasik yang dapat membantu; teks-teks konsonan Qur’an yang tidak beruhah sejak pertama kalinya dikumpulkan dan disusun; dan akhirnya suatu gambaran tentang Arabia Barat yang penuh dengan nama-nama menurut Bibel yang sebagian besar bentuk Bibelnya belum berubah, atau paling tidak masih dapat dikenali dengan mudah dalam bentuk-bentuk yang ada sekarang. Pada bab berikutnya, bagian dari Arabia Barat tempat nama-nama menurut Bibel berpusat akan digambarkan secara lebih mendetil lagi. Kemudian, saya akan meneliti teks-teks Bibel tertentu untuk memperlihatkan betapa cocoknya geografi teks itu dengan geografi Arabia Barat. Para pembaca akan dapat menilai sendiri adakan argumentasi utama buku ini cukup meyakinkan atau tidak. Tetapi kita perlu mengingat, apa pun kesimpulannya, Bibel tetap Bibel, tanpa peduli di mana letak tanah asalnya.— 48 —
  • 60. 3 Tanah AsirT anah asal Bibel Ibrani, seperti yang telah saya tegaskan, ialah Asir. Sebenarnya, pemakaian nama itu berlangsung belum lama, yaitu sejak abad ke-19 untuk menandakantanah dataran tinggi Arabia Barat yang membentang dariutara ke selatan, dari Nimas (al-Nimas, 19¬∞ Lintang Utaradan 42¬∞ Bujur Timur) sampai Najran (nagran, 17¬∞Lintang Utara dan 44¬∞10’’ Bujur Timur) dan juga daerahperbukitan dan gurun pasir pesisir daerah yang disebutTihamah (Tihamah) antara kota pesisir Qahmah (al-Qahmah,18¬∞ Lintang Utara dan 41¬∞ Bujur Timur) dan perbatasansekarang dengan Yaman (16¬∞25” dan 42¬∞45” BujurTimur.1 Kini Asir merupakan sebuah propinsi di KerajaanArab Saudi, yang ibukotanya merupakan sebuah kota datarantinggi, yaitu Abha (18¬∞15” Lintang Utara dan 42¬∞30” 1 Sebenarnya nama Asir (‘sr atau ‘syr) menandakan dataran tinggi kesukuan di sekitar Abha, walaupun kemudian nama ini diterapkan oleh pemakaian administratif untuk daerah yang lebih luas seperti yang telah saya tunjukkan. Nama tersebut tampaknya adalah metatesis dari ‘Seir’ dalam Bibel, atau ‘Gunung Seir’ (s’yr, Kejadian 14:6, 36:8f, dan sebagainya). Mengenai korelasi antara nama Tihamah dan ‘Tehom’ dalam Bibel, lihat Bab 6.
  • 61. Bujur Timur). Dari timur ke barat, Asir membentang dari ujung Gurun Pasir Arabia Tengah sampai ke Laut Merah (lihat Peta 3). Ciri-ciri nyata Asir ialah bentangan dataran tinggi yang bernama Sarat (al-Sarat, bentuk jamak sari, yang berarti ‘gunung’ atau ‘ketinggian’,2 ketinggiannya berkisar antara 1700 sampai 3200 meter, membentuk ujung barat dataran tinggi Arabia yang bernama Najd (Nagd) antara Taif dan perbatasan Yaman. Di sebelah utara Taif, dataran tinggi Arania berakhir dengan pegunungan rendah dan perbukitan Hijaz, dengan ketinggian antara 1200 sampai dengan 1500 meter. Namun, di sebelah selatan Taif, dataran tinggi ini tiba-tiba berakhir pada apa yang disebut Ngarai Arabia Barat. Ini merupakan jurang curam yang jatuh sedalam 100 meter, 80-120 kilometer dari pantai Laut Merah yang membentang sepanjang 700 kilometer dari Taif di utara, dan bergabung dengan pegunungan tinggi Yaman di selatan. Di atas tebing curam ini dataran tinggi Sarat mencapai puncak ketinggiannya dekat Abha; lebih jauh ke arah selatan, ngarai ini berakhir beberapa kilometer dari kota Dhahran (disebut Dhahran Selatan, Zahran al-Ganub, 17¬∞40’’ Lintang Utara dan 43¬∞30” Bujur Timur). Di sebelah utara, dataran tinggi Sarat berakhir di Taif, di sebelah timur kota Mekah, bergabung pada sekitar 21¬∞ Lintang Utara dengan punggung Taif. Maka dari itu, nama Asir itu sendiri dapat dipergunakan dalam pengertian geografi yang luas, untuk menandakan seluruh kawasan bentangan Sarat, dari Taif di utara sampai ke Dhahran dan perbatasan Yaman di selatan, mengingat bahwa bagian-bagian kawasan ini di sebelah utara wilayah Nimas biasanya dianggap sebagai bagian Hijaz. Sepanjang bentangan Sarat, wilayah Nimas membentuk sebuah pelana antara daerah-daerah yang lebih tinggi, wilayah Abha di sebelah selatan, dan wilayah-wilayah Bahah (al-Bahah) yang meliputi daerah-daerah Ghamid (Bilad Gamid) dan Zahran (Bilad Zahran) di sebelah utara. Sebuah daerah yang lebih rendah yang memisahkan ketinggian Zahran dari punggung bukit 2 Mengenai korelasi antara nama Sarat dan ‘Israil’ dalam Bibel, lihat Bab 10.— 50 —
  • 62. Taif, di tempat itu Sarat (dan begitupun daerah geografis Asir)dapat dikatakan berakhir. Sepanjang pesisir Tihamah di Asir menurut geografisterdapat sejumlah kota dan pelabuhan, yang sampai sekarangpaling jelas, di utara dan di selatan, ialah Lith (al-Lit),Qunfudhah (al-Qunfudhah); Birk (al-Birk); Qahmah (lihat diatas); Shuqayq (al-Suqayq) dan Jizan. Dataran itu timbul tiba-tiba di tepi padang pasir pesisir Tihamah, di sejumlah jalanbertangga di pegunungan yang terjal, hingga mencapai lerengyang curam dan saluran Sarat yang membelah di depannya.Tepi pantai Asir ini sebenarnya merupakan daratan yangsangat berbukit-bukit dan depresi-depresinya (dalam bahasaArab wahd atau wahdah, dengan bentuk konsonannya whdatau whdh; bandingkan dengan yhwdh di dalam Bibel untuk‘Yudah’), yang tentunya adalah sebab mengapa nama ‘Yudah’diberikan kepada daerah pada zaman Bibel dahulu (lihat Bab8). Beberapa tempat di sana sampai kini benar-benar bernamaWahdah, memakai nama-nama yang berasal dari akar katayang sama (kata whd, ‘merendah, tertekan’). Sampai kini,lembah-lembah dan jurang-jurang di bagian Asir ini, telahmenjadi tempat perkembangbiakan belalang-belalang, yangmungkin merupakan penyebab ‘kelaparan di tanah ini’ padazaman Bibel (lihat Bab 13). Kalau bagian-bagian Asir di sebelah barat tebing curamitu penuh dengan lembah-lembah dan jurang-jurang yangletaknya malang-melintang, sebaliknya, dari atas tebingcuram, Sarat tebingnya landai dan menurun menuju kedaerah pedalaman. Di propinsi Asir, di sebelah selatan Nimas,tebing-tebing di sana menuruti zona-zona pecahan alamimenuju ke arah selatan, dan tanah di sini didominasi, dariselatan sampai ke utara, oleh dua sistem pengaliran yaitu WadiTathlith (tatlit) dan Wadi Bishah, masing-masing dengancabang-cabangnya tersendiri. Aliran-aliran utama keduawadi ini akhirnya berubah haluan menuju ke timur untukmenuangkan air bah di Wadi Dawasir (al-Dawasir), yangmengalir menuju ke pedalaman padang pasir. Namun daridataran tinggi Ghamid dan Zahran, daratannya menurun kearah timur, didominasi oleh sistem pengaliran Wadi Ranyah. — 51 —
  • 63. Aliran utama Wadi ini bergabung dengan aliran Wadi Bishah, sebelum aliran Wadi Bishah ini menuju ke timur untuk bergabung dengan Wadi Tathlith di dekat tepian gurun pasir. Dari semua wilayah jaziran Arabia, Asir menerima curah hujan terbanyak. Bertempat tidak jauh di sebelah selatan garis balik sartan (utara), dataran tinggi Sarat menampung curah hujan dari dua iklim: angin barat daya pada musim hujan Monsoon dari barat daya pada musim panas. Jatuhnya hujan di wilayah itu berkisar antara 300 dan 500 mm per tahun, cukup untuk tetap memenuhi persediaan permukaan air di bawah tanah di daerah-daerah ketinggian yang lebih gersang di sekelilingnya. Di daerah ketinggian yang lebih tinggi, hujan musim dingin terkadang turun, untuk jangka waktu yang singkat sebagai salju. Tidak jarang terdapat air terjun pada bagian-bagian tertentu Sarat dan sungai-sungai kecil yang musiman maupun abadi yang berasal dari ketinggiannya mengalir di wadi-wadi ini pada bagian-bagian pedalaman dan pesisirnya. Hutan-hutan tanaman jenever yang lebat adalah ciri khas Sarat dan bagian-bagian yang lebih tinggi daerah pedalaman pantai Tihamah, sedangkan hutan-hutan pohon butun, tamarisk, akasia, saru dan pohon-pohon hutan lainnya terdapat di banyak tempat di daerah itu. Di mana tidak terdapat hutan, dataram tinggi Asir secara tradisional diteraskan untuk membudidayakan padi dan berbagai kacang-kacangan (terutama buah badam) dan juga buah- buahan, termasuk anggur. Padi dan sayuran dibudidayakan di tanah-tanah yang luas dan dapat ditanami di lembah- lembah dan dataran rendah daerah pesisir; padi dan buah kurma dibudidayakan di daerah-daerah pedalaman, terutama di daerah-daerah oase lembah sungai Wadi Bishah. Gradasi iklim di daerah ini antara daerah pesisir yang panas, dataran tinggi yang sedang dan gurun pasir di pedalaman, tercermin pada kekayaan akan banyaknya macam dan jenis flora; oleh karena itu madu dari Asir berkwalitas tinggi. Di sekitar daerah-daerah yang dibudidayakan, di mana-mana terdapat padang rumput yang luas dan di sana bangsa Badui bertahun- tahun secara tradisional menggembalakan ternak mereka— 52 —
  • 64. berupa sapi, biri-biri, kambing, keledai, himar dan unta.3 Bagian pedalaman Asir sejak dahulu diketahuimempunyai sejumlah kekayaan mincral. Emas, timah hitamdan bcsi pernah ditambang pada zaman dahulu - terutamaemas di daerah Wadi Ranyah - dan pencarian mineral-mineralmasih tetap dilakukan di sana, begitu juga di bagian utara diMahd al-Dhahab (yang harfiahnya berarti ‘Buaian Emas’),d; sebelah timur laut Taif. Ada sebuah cabang Wadi Bishahyang kenyataannya bernama Wadi Dhahab (harfiahnyaberarti ‘Lembah Emas’), yang menandakan bahwa daerah itumungkin salah satu daerah tempat emas pernah diketemukanpada zaman dahulu.4 Di sebelah selatan Asir, ketinggian Dhahran terbelahmenjadi dua daerah yang mempunyai ciri-ciri yang berbeda.Satu di antaranya berisi lembah-lembah subur daerah pesisirJizan, ke arah barat dan barat daya; dan yang satu lagimerupakan daerah oase Najran, ke arah timur. Dari seluruhwilayah di Asir, daerah Wadi Najran-lah yang terbentangke arah timur dan berakhir di Bilad Yam (Bilad Yam) disepanjang pinggiran gurun pasir luas Al-Rub’al Hali, mungkinyang paling subur. Di sana sebuah perkampungan masyarakatYahudi berkembang sampai kini, sebuah bangsa yang menurutkeyakinan saya merupakan sisa-sisa terakhir dari agamaYahudi di tanah asalnya. Membentang sejajar dengan WadiNajran di utara, adalah cabang-cabang lembah yang kurangsubur, yaitu Wadi Habuna (Habuna) dan Wadi Idimah(Idimah)5 dengan perkampungan oase mereka. Kedua lembah 3 Mengenai sebuah studi modern dari geografi dan ekologi Asir, lihat Kamal Abdul-Fattah, Mountain Farmer and Fellah in ... (Erlangen, 1981). Mengenai kehidupan flora Asir, lihat Western Arabia and the Red Sea (London, H.M.S.O., 1946), Lampiran D, halaman 590-602. Telah dilakukan referensi atas kemungkinan bahwa unta pertama kali dipelihara sebagai binatang beban di Asir. Lihat Michael Ripinsky, ‘Camel Ancestry and Domestication in Egypt and the Sahara’, dalam Archeology, 36:3 (1983), halaman 21-27. 4 Strabo berbicara mengenai emas Arabia Barat, yang digambarkannya negeri itu terletak antara Hijaz dan Yaman (16:4:18): ‘Di dekat orang-orang ini terdapat sebuah negeri yang lebih tinggi peradabannya, menempati sebuah distrik dengan iklim yang lebih sedang; karena negara ini diairi dengan baik, dan sering mendapatkan hujan. Emas fosil ditemukan di sana, bukan dalam bentuk debu, namun dalam bongkahan, yang tidak memerlukan banyak proses pemurnian lagi. Potongan-potongan yang terkecil adalah sebesar kacang, yang sedang sebesar buah apel kecil, dan yang terbesar sebesar sebuah kenari ...’. Referensi Strabo kepada ‘iklim sedang’ dan ‘sering mendapat hujan’ di negara Arabia yang ia gambarkan jelas menunjukkan bahwa ia sedang membicarakan Asir. 5 Idimah ini (‘dm) adalah sebuah lokasi Arabia Barat yang mungkin disebut dalam Bibel sebagai Edom (‘dm). Sebuah lagi, yang biasa disebut-sebut adalah Wadi — 53 —
  • 65. ini seperti halnya Wadi Najran, berakhir di daerah Yam. Padang pesisir Jizan di seberang ketinggian Dhahran dari Wadi Najran juga sangat subur, karena diairi oleh air dari berbagai lembah seperti Wadi Khulab (Hulab), Wadi Jizan, Wadi Dhamad (Damad), Wadi Sabya (Sabya) dan Wadi Baysh (Bays). Akan tetapi yang menjadi ciri khas wilayah Jizan ialah lingkaran punggung bukit yang indah, yang memisahkan gurun pasir dari daerah tinggi Dhahran. Juga ada tiga kelompok kerucut-kerucut vulkanis (yaitu Umm al- Qumam, Al-Qari’ah dan ‘Ukwah) yang mengelilingi padang pesisir dn bagian daratan. Letusan terakhir salah satu gunung berapi ini - yaitu al-Qariah diduga terjadi pada tahun 1820.6 Di bagian-bagian Asir lainnya juga terdapat daerah-daerah vulkanis, terutama lebih jauh ke arah selatan di Yaman. Di antara punggung bukit yang terpencil yang mengelilingi daerah Jizan ini adalah Jabal Harub (Harub), Jabal Faifa (Fayfa) dan Jabal Bani Malik (Bani Malik). Sejak zaman lahirnya Islam, Asir secara menyeluruh, walaupun dengan kesuburan dan kekayaan alaminya, bukan merupakan daerah yang penting dalam sejarah tanah Arabia. Akan tetapi, pada zaman kuno, seperti yang telah saya katakan pada Bab 1, mestinya tanah ini sangat penting, karena terletak pada persimpangan jalur-jalur utama perdagangan dunia kuno. Di seberang Laut Merah, kapal- kapal dapat saja pulang-pergi antara bandar-bandar Asir dan bandar-bandar Abisinia, Nubia dan Mesir. Jalan-jalan raya kafilah bertolak ke arah utara dari pesisir dan pedalaman Asir, melalui Hijaz menuju Suria, atau melalui Wilayah Tengah dan utara Arabia menuju Mesopotamia. Jalan-jalan raya kafilah lainnya membentang ke selatan menuju Yaman, dan berakhir di bandar-bandar Arabia bagian selatan; atau ke timur menuju pesisir Arabia di teluk Persi melalui Yamamah (al-Yamamah). Ini merupakan bentangan oase yang panjang, yang meneruskan arah aliran Wadi Al-Dawasir dan berjalan Iddam (‘dm), di sebelah selatan Mekah. Yang ketiga yang diwakili oleh desa Admah (‘dm) di wilayah Wadi Bishah. 6 Mengenai kegiatan gunung-gunung berapi di wilayah Jizan di Asir, lihat M. Neumann Van Padang, Catalogue of the Active Volcanoes and Solfatara Fields of Arabia and the Indian Ocean (Napoli, International Association of Vulcanology, 1963), halaman 12-13.— 54 —
  • 66. di sebelah utara al-Rub’al Hali, yang bermula dari pinggirangurun pasir Asir bagian selatan. Oleh sebab itu sejak bermulanya perdagangan antaranegara-negara di Samudera Hindia dan bagian timur lembahLaut Tengah, seperti halnya perdagangan antara negara-negara di Teluk Persi dan lembah-lembah Laut Merah, Asirkuno mestinya berkembang sebagai pusat terpenting untukperdagangan perantara, dan pelayanan-pelayanan perdagangandan transaksi. Kota-kota pedalamannya tumbuh dengansubur menjadi stasiun-stasiun kafilah; pedagang-pedagangberdatangan dari berbagai penjuru untuk menjajakan barang-barang mereka. Kota-kota yang terpenting di antara kota-kotapedalaman itu terletak di sepanjang jalan raya kafilah utamayang mengikuti puncak pegunungan Sarat, antara Dhahranal-Janub dan Taif. Di antara kota-kota dan bandar-bandar ini,jalan-jalan yang tidak rata menyeberangi jalan-jalan punggungpegunungan Sarat, menghubungkan perdagangan maritimdengan perdagangan yang menuju ke daerah pedalaman (lihatPeta 5). Pendeknya, tidak diragukan kalau Asir dahulunyamerupakan daerah perdagangan yang makmur yang jugakaya akan produksi pertanian, peternakan dan hasil mineral.Walaupun kota-kota perdagangan besarnya mestinyamenonjol sebagai pusat-pusat peradaban kota yang cukupcanggih, namun peradaban Asir kuno berpusatkan padakelompok- kelompok oase, yang terpisah dari oase-oase laindan juga dari bagian-bagian lain Arabia oleh daerah hutanbelantara atau gurun pasir yang sangat luas. Walaupun adahubungan dengan negara-negara lain melalui perdagangandara dan maritim, negara ini secara geografis terisolasi.Dalam pemerintahannya tidak terdapat kesatuan, danbagian-bagiannya memilih jalan yang berbeda-beda, tidaksaja dalam hal-hal politis, tetapi juga dalam hal-hal yang lainjuga demikian. Di Asir kuno, bangsa-bangsa yang berbeda-beda tinggal di daerah-daerah yang berbeda pula, berbicaramenggunakan berbagai dialek yang berlainan, bahkan kadang-kadang memakai bahasa yang berbeda pula, dan menyembahdewa-dewa yang berbeda dengan cara yang berbeda-beda. — 55 —
  • 67. Beberapa bangsa ini nanti akan kita kenali melalui nama- nama seperti yang tertera dalam Bibel Ibrani. Namun perhatian utama saya tertuju pada sebuah bangsa Asir kuno yang dikenal sebagai orang-orang Israil, bangsa yang mengalami sebuah pengalaman sejarah yang kaya di dataran tinggi Sarat dan di lereng bagian baratnya - tanah Yudah - pada suatu waktu antara abad ke-10 dan ke-5 S.M. Kita beruntung mempunyai catatan di dalam Bibel Ibrani yang kaya dan tajam mengenai sejarah mereka yang penuh dengan kejadian-kejadian, sebuah teks yang menggambarkan dengan jelas harapan-harapan dan kekhawatiran mereka, kemenangan dan kesialan mereka, yang terjadi tidak hanya di Palestina tetapi juga di Arabia Barat.— 56 —
  • 68. 4 Mencari GerarS ebelum beranjak pada sebuah penyajian bukti-bukti secara sistematis untuk mendukung argumentasi saya bahwa Kitab Bibel berasal dari Arabia, saya ingin menunjukkankesesuaian yang sempurna antara geografi Bibel Ibrani dengangeografi Arabia Barat, dan kesesuaian yang meragukan antarageografi Bibel Ibrani dengan Palestina. Yang paling membukapikiran berkenaan dengan masalah ini ialah pertanyaanmengenai Gerar (grr), sebuah tempat yang menurutkebanyakan ahli Bibel pernah mengalami kemakmuran sebagaisebuah kota di daerah pedalaman Gaza, di pesisir Palestina,tidak jauh dari Bir al-Sab’ (atau ‘Beersheba’), walaupun di sananamanya tidak bertahan. Dalam mempertimbangkan lokasiGerar, perhatian kita terpusat pada beberapa pertanyaan,termasuk yang berhubungan dengan tanah Kanaan danBeersheba menurut Bibel, yang berbeda dengan Beersheba diPalestina (lihat Peta 6). Ada empat buah bagian yang berbeda dalam Kitab Bibelyang berhubungan dengan Gerar. Dalam penggambarannyamengenai luas daerah kekuasaan orang-orang Kanaan pada
  • 69. mulanya, (h-kn’ny), Kejadian 10:19 menyebut tempat itu sehubungan dengan sydn (biasanya dimengerti sebagai Sidon di Phoenicia) dan ‘zh (umumnya dimengerti sebagai Gaza di Palestina). Dalam hal ini teks ini mengatakan bahwa perbatasan tanah orang-orang Kanaan, di satu bagian, membentang dari sydn sampai ke ‘zh, dan menambahkan bahwa ‘zh terletak searah dengan Gerar, walaupun tidak memperinci lebih lanjut ke arah mana persisnya. Teks ini juga tidak mengatakan apakah Gerar terletak antara sydn dan ‘zh, atau apakah tempat ini terletak melewati ‘zh dari sydn, dan tidak pula terdapat tanda-tanda yang jelas mengenai jarak antara Gerar dan sydn. Sebaliknya, Kejadian menjelaskan apa bentuk perbatasan tanah Kanaan di bagian yang lain, bermula dari sydn, akan tetapi ini pun tidak menjelaskan ke arah mana (lihat di bawah). Dalam Kejadian 20:1f, Gerar disebut sehubungan dengan ‘rs h-ngb; yang dapat diartikan sebagai ‘tanah ngb’, yang biasanya ditafsirkan sebagai Naqab di Palestina atau gurun pasir ‘Negeb’, atau ‘tanah selatan’ (bandingkan dengan kata Arab gnb, disuarakan sebagai ganub), juga ditafsirkan sebagai Palestina bagian selatan, dan di sana terletak gurun pasir Negeb. Di sini, Gerar dilukiskan sebagai terletak di antara qds (ditulis Kadesh) dan swr (ditulis Shur) dan mempunyai seorang ‘raja’ yang bernama, ‘bymlk (by mlk, ditulis sebagai Abimelech). Dalam konteks ini tidak ada referensi terhadap kota ‘zh. Dan lagi, dalam Kejadian 26:1f, Abimelech dari Gerar digambarkan sebagai seorang ‘raja’ plstym (ditulis sebagai orang-orang Filistin), sebuah deskripsi yang dihilangkan dalam Kejadian 20. Sebuah nhl grr (diterjemahkan sebagai ‘lembah Gerar’) juga disebutkan dalam Kejadian 26, berhubungan dengan lokasi empat buah sumur yang dikenal sebagai ‘sq (ditulis sebagai Esek), stnh (ditulis sebagai Sitnah), rhbwt (ditulis Rehoboth) dan sb’h atau b’r sb’ (ditulis Shibah atau Beersheba). Di sini kota ‘zh tidak disebut-sebut. Berpaling pada Tawarikh II (14:8f, atau 14:9f dalam kitab Septuaginta dan terjemahan-terjemahan standar), Gerar disebutkan berhubungan dengan peperangan antara ‘Zerah dari Cushite’ atau ‘Zerah dari Etiopia’ (zrh h-kwsy) dan Raja— 58 —
  • 70. Asa dari Yudah (pada sekitar tahun 908-867 S.M.).1 Dalampertempuran tersebut orang-orang ‘Cushite’ atau ‘Etiopia’(h-kwsym) konon menyerbu Yudah dan berhasil maju sampaike mrsh (ditulis Mareshah), sebelum terkalahkan oleh RajaAsa di gy’ spth (lembah Zephathah) di dekat Mareshah.Setelah mendapat kemenangan ini, Raja Asa mengejarpara penyerbunya yang telah terpukul mundur ke Gerar,merampoki kota ini dan sekeliling tanah-tanah pertanianbeserta ternaknya. Kita kemudian dapat menganggap bahwaGerar dan daerah sekelilingnya merupakan bagian tanahkekuasaan orang-orang ‘Cushite’. Dalam upaya mereka mencari Gerar, para ahli Bibel danpara arkeolog tidak memiliki petunjuk-petunjuk lain yangdapat diselidiki selain dari referensi-referensi dari Bibel ini;mereka pun hanya memiliki bahan-bahan dari Bibel untukmengenali daerah kekuasaan bangsa Kanaan atau daerahkekuasaan bangsa Filistin ataupun bangsa Cushite. Nama-nama tempat sydn dan ‘zh, yang muncul dalam Kejadian 10,selalu dianggap menunjuk pada Sidon dan Gaza di Suria.Dengan sendirinya ini mengakibatkan timbulnya prasangkabahwa ‘tanah bangsa Kanaan’ dalam Kitab Bibel tertera padabagian-bagian lain di dalam Kitab Bibel Ibrani sebagai sebuahkota bangsa Filistin (lihat Bab 14), maka para ahli Bibel jugatelah menganggap bahwa tanah bangsa Filistin ini terdiri daridaerah pesisir Gaza. Mereka menerima selaku benar bahwatanah ini tidak meliputi kawasan lainnya diluar daerah pesisirPalestina, terutama sekali karena daerah ini dengan jelasmenyandang nama mereka (mengenai nama Palestina, Suriadan Kanaan lihat Bab 1). Disebutnya Gerar dalam Kejadian26 berhubungan dengan plstym (yang selalu dianggap berarti‘bangsa Filistin’), ditambah dengan disebutnya Gerar dalamKejadian 10 berhubungan dengan ‘zh atau Gaza bagi merekanampaknya cukup untuk membuktikan bahwa tempat ituhanya dapat terletak di daerah pesisir Palestina. Selanjutnya, selain dari kenyataan bahwa sydn dan‘zh dalam Kejadian 10 tampaknya dapat dengan mudah 1 Penanggalan atas sejarah menurut Bibel didasarkan pada sinkronisme- sinkronisme bersejarah, seperti halnya yang melibatkan ekspedisi raja Mesir Sheshonk I melawan Yudah pada zaman kekuasaan putra Sulaiman, Rehoboam (lihat Bab 11). Maka ini dapat dianggap kurang lebih tepat. — 59 —
  • 71. disamakan dengan Sidon Suria dan Gaza, kebanyakan dari para ahli juga menganggap bahwa h-ngb dalam Bibel tidak lain adalah gurun pasir Negeb di Palestina (bahasa Arabnya al-Naqab, atau nqb), walau terkadang mengakui bahwa ungkapan Ibrani ‘rs h-nqb mungkin hanya berarti ‘negara selatan’, yang meskipun demikian, mereka tetap saja menganggapnya sebagai Palestina bagian selatan. Beersheba, atau b’r sb’ (alias sb’h, atau ‘Shibah’) rupa-rupanya hanya menunjuk pada Bir al-Sab’, di daerah yang sama. Namun sewaktu para arkeolog Bibel menggali Bir al-Sab’ di Paletina - yang sudah jelas merupakan nama Arab - penemuan yang paling kuno yang mereka temukan, seperti yang telah diketahui, berasal dari akhir periode Rumawi atau Bizantin, yang sebagian pedusunannya di Suria telah mulai diarabkan dengan pesat. Benteng-benteng yang dengan lemah diduga sebagai benteng-benteng Israil, dan mungkin berasal dari zaman Bibel baru-baru ini ditemukan di daerah itu beberapa kilometer dari kota itu. Dalam bahasa Arab, Bir al-Sab’ berarti ‘Sumur Binatang Buas’, walaupun dapat pula diartikan sebagai ‘Sumur Tujuh’. Arti yang terakhir dapat diperkirakan sebagai terjemahan bahasa Arab dari kata Ibrani b’r sb’, yang dengan janggal berarti ‘Tujuh Sumur’ (bukan ‘Sumur Tujuh’ atau b’r h-sb’). Lebih mungkin lagi, nama Ibrani itu berarti ‘Sumur Kelimpahan’. Nama alternatif yang diberikan kepada tempat yang sama di Kejadian 26, yaitu sb’h (dalam bentuk feminin) dapat juga berarti ‘Kelimpahan, kekenyangan’. Untuk memberi arti ‘Sumur Kelimpahan’, bentuk Arab dari b’r sb’ harus diubah menjadi Bir Shaba’ (b’r sb’) atau Bir Shaba’ah (b’r sb’h) dan bukan Bir al-Sab’ (b’r sb’). Hal ini, ditambah dengan bukti negatif penemuan arkeologi itu, menentang prasangka bahwa Bir al-Sab’ Palestina itulah yang merupakan Beersheba yang tertera dalam Bibel Ibrani. Namun untuk lebih adilnya, kebanyakan para ahli Bibel mengakui bahwa menempatkan Gerar antara Gaza Palestina dan Bir al- Sab’ merupakan suatu persoalan. Suatu karya standar geografi menurut Bibel (Kraeling, halaman 80) melukiskan keadaannya sebagai berikut:— 60 —
  • 72. Di mana persisnya Gerar terletak masih belum dapatdipastikan dan masih tergantung pada bagaimana seseorangmenempatkan kota-kota lain di kawasan daerah ini.... Padaakhir zaman Rumawi ada sebuah distrik, yaitu Geraritike,jelas dinamakan demikian karena sebagian besar terdiri dariwilayah lama Gerar, dan pada waktu itu Beersheba termasukdalam wilayahnya. Tell Jemeh, sebuah bukit penting disebelah selatan Gaza, yang sebagian besar telah digali olehFlinders Petrie pada tahun 1927, olehnya dikenali sebagaiGerar. Sejumlah ahli meragukan akan hal ini.... dan lebih sukamemilih Tell esh-Sheri’a di barat laut Beersheba sebagai Gerar.Namun menurut sebuah laporan pada tahun 1961, arkeolog-arkeolog Israil telah menemukan sebuah bukit tidak jauhdari tempat itu, di jalan antara Beersheba dan Gaza, Tell AbuHureira, dengan peninggalan-peninggalan pra-Hyksos, lebihpenting dari kedua tell itu, dan mempunyai persamaan denganGerar (bandingkan dengan Simons, alinea 369). Suatu problema dalam pencarian Gerar antara Beershebadan Gaza timbul dari kenyataan bahwa kota ini digambarkanpada Kejadian 20 sebagai terletak antara Kadesh (qds) danShur (swr). Tetapi tidak ada tempat yang menyandang nama-nama seperti itu yang dapat dikenali di daerah Gaza-Beershebapada masa ini, kalau kita menganggap daerah ini mungkinmerupakan Geraritike dari zaman Rumawi. Sebenarnya,pengenalan terhadap kedua tempat yang disamakan denganlokasi-lokasi di Palestina bagian selatan dan di semenanjungSinai sangat lemah. Kraeling menyimpulkan: Titik Kadesh mungkin merupakan sebuah titik tetap (hal.69)... Kadesh terletak di segitiga el ‘Arish - Raphia - Qoseimeh,yang jelas merupakan suatu distrik tunggal di seluruh daerahSinai. Di sini sebuah kelompok suku pengembara yang besarpun dapat menetap untuk waktu yang tak terbatas. Surveiterhadap daerah Negeb di Israil oleh Nelson Glueck... sejaktahun 1951, telah membuktikan kenyataan bahwa tempat inipernah dihuni oleh orang-orang dalam jumlah yang cukupbesar pada pertengahan Zaman Perunggu dan lagi padaZaman Besi II, dan kemudian pada Zaman Nabataea dan padaakhir zaman Rumawi... Sebuah tempat yang bernama ‘Ain — 61 —
  • 73. Qedeis telah ditemukan pada tempat yang layak pada tahun 1842, oleh J. Rowlands... Tempat itu kemudian ditemukan kembali oleh H.C. Trumbull yang mengumumkannya pada tahun 1884. Di dekatnya, sebuah tempat yang bernama ‘Ain el-Qhudeirat, yang merupakan sebuah mata air yang lebih melimpah, terdapat sebuah bukit yang menandakan sebuah perkampungan dengan pecahan-pecahan barang tanah dari Zaman Besi. Menurut Glueck, ini merupakan lokasi utama dari Zaman Besi di seluruh daerah itu (hal. 117)... Shur dianggap sebagai kata Ibrani untuk garis pertahanan Mesir di Genting Tanah Suez, meskipun kata itu, yang berarti ‘tembok’, tidak menggambarkan pertahanan ini secara tepat. Menurut arkeolog Perancis Cledat, yang menyelidiki daerah itu, tampaknya terdiri dari pos-pos pertahanan yang tidak saling menyambung. Bagaimanapun juga, jalan menuju Shur (drk _wr, Kejadian 16:7) mungkin merupakan jalur transportasi kuno ke Mesir dari Beersheba, dinamakan Darb el Shur oleh Wooley dan Lawrence, dan melewati Khalasa, Ruheibeh, Bir Birein’, Muweileh ke arah selatan (hal. 69). Pendeknya, terletaknya Kadesh dan Shur di selatan Palestina dan Sinai merupakan tidak lebih dari suatu dugaan saja, hanya sebuah dugaan yang mengasal. Perlu pula dicatat bahwa tidak ada Gerar yang dapat ditemukan antara ‘Ayn Qudays dan daerah genting Suez. Kalaupun Gerar terletak di sana, bagaimanapun juga letaknya mestinya jauh dari Gaza dan bir al-Sab’, yang samasekali tidak menolong kita. Kesulitan dalam menempatkan Gerar di Palestina dilipatgandakan oleh referensi mengenai tempat ini dalam Tawarikh II 14. Di sini kota ini nampaknya dimiliki oleh bangsa Kusy (h-kwsym), yang biasanya disamakan dengan bangsa ‘Etiopia’, terutama karena teks-teks Bibel sering menghubungkan Kusy, atau kws dengan msrym, yang selama ini dianggap berarti ‘Mesir’ (mengingat bahwa Etiopia adalah tetangga Mesir di sebelah selatan). Dalam Septuaginta Yunani kata Ibrani kws terkadang diubah melalui transliterasi, dan terkadang diterjemahkan secara bebas sebagai Aithiopia atau Aithiopes, dan hal ini mendorong para ahli Bibel modern untuk menyamakan tempat ini dengan Etiopia. Andaikata— 62 —
  • 74. bangsa Kusy benar-benar adalah bangsa Etiopia, adalah lazimbila seseorang bertanya bagaimana mereka dapat menguasaisuatu daerah di Palestina yang jauh itu? Mungkinkah bangsaEtiopia tersebut merupakan bangsa Mesir pada abad ke-duapuluhlima atau dinasti ‘Etiopia’ (716-656 S.M.)? Rasanyaini tak boleh jadi, mengingat bahwa mereka memerangi Asa,yang kekuasaannya sebagai raja telah berakhir sekitar satusetengah abad sebelumnya. Di sini Kraeling lagi (hal. 217)menggambarkan bagaimana kesulitan ini yang sejauh kinitelah terpecahkan: Kisah dalam Tawarikh... menegaskankan pengetahuan(sic) tentang sebuah pendudukan pada zaman pemerintahanAsa oleh Zerah dari Kusy atau Zerah dari Etiopia... BangsaEtiopia tidak memegang kekuasaan di Mesir sebelum adaberikutnya, maka orang Kusy ini tentunya bukan seorangFir’aun, namun mungkin ia adalah seorang gubernurMesir dari kerajaan ‘Sungai kecil Mesir’2 dan daerah dalamkekuasaan Mesir di sebelah utaranya sampai sejauh Gerar.Kita juga mendengar dari tempat lain bahwa ‘putra-putriHam’ (dengan kata lain, Kusy) tinggal bersebelahan dengansuku Simeon3 di daerah selatan. (Tawarikh I 4:3a) dan Gedor(mengenai penyangkalan hal yang belakangan ini, lihatSimons, alinea 322). Perlu ditambahkan pula di sini bahwa Mareshah(atau mrsh) dan dari sini ‘Zerah dari Etiopia’ mencapaiserangannya terhadap Yudah, telah dikenali dengan sebuahTall Sandahannah di Palestina bagian selatan, ‘yang jugamenandakan Maris Greco Rumawi... di sebelah timur hirbetmer’ash, yang nama kunonya masih ada’ (Simons, alinea 318).Sebenarnya ‘Mer’ash’ (mr’s) dan ‘Mareshah’ (mrsh) samasekalitidak merupakan nama yang sama, dan hanya mungkinterlihat sama oleh mereka yang bukan pemakai bahasa Semit,yang mengabaikan desahan tekak yang disuarakan pada namayang pertama, karena mereka tidak dapat mengucapkannya.‘Lembah Zephathah’ (gy’ spth) telah membuat pengenalanatasnya begitu sulit sampai-sampai tidak ada yang mencoba 2 Pengenalan yang biasa dari nama Ibrani nhl msrym adalah Wadi al-’Arish, yang memisahkan Palestina dari Sinai. Mengenai pengenalan nhl msrym, lihat Bab 15. 3 Mengenai suku Simeon dan wilayah mereka di Arabia Barat, lihat Lampiran. — 63 —
  • 75. untuk menerka lokasinya — betapa pun ngawur terkaan itu. Salah satu penjelasan mengenai hal ini ialah bahwa bentuk Ibrani dari nama yang sama mungkin tidak lebih dari suatu ketidak jelasan teks (Simons, alinea 254), penjelasan yang bukan merupakan pemecahan yang memuaskan bagi problema ini. Untuk meringkaskan, kita dapat menyimpulkan yang berikut ini: Pengenalan terhadap Gerar menurut Injil di Palestina belum memberikan hasil yang memuaskan, dan tidak ada tempat-tempat di sana yang masih memakai nama itu. Telah ada dugaan bahwasanya mestinya Gerar terletak di Palestina bagian selatan, karena Kejadian 10 menyebutkan tempat itu berhubungan dengan sebuah ‘zh, yang diperkirakan adalah Gaza di Palestina, sedangkan Kejadian 26 menyebutnya berhubungan dengan sebuah sb’h atau b’r sb’, yang diperkirakan adalah Bir al-Sab’ di Palestina, yang sekarang biasa disebut Beersheba. Kalau kita menganggap bahwa Kadesh menurut Bibel adalah oase ‘Ayn Qudays di dekat Wadi Al-’Arish, dan bahwa Shur metinya terletak lebih jauh ke arah barat Sinai, di dekat genting tanah Suez, maka Gerar tidak mungkin terletak di antara Beersheba dan Gaza, dan juga antara Kadesh dan Shur, sebagaimana ditegaskan dalam Kejadian 20. Kalau bangsa Kusy benar-benar adalah orang-orang Etiopia, dan Gerar terletak di selatan Palestina, maka kekuasaan atas Gerar oleh bangsa ‘Kusy’ sebagaimana dijelaskan dalam Tawarikh II 14, tidak dapat dijelaskan dengan mudah. Guna membongkar misteri Gerar, mungkin paling baik jika kita memulai dengan bukti-bukti yang diberikan oleh Tawarikh II 14, dengan cara memastikan siapa sebenarnya bangsa Kusy itu. ‘Kusy’ seperti telah dikatakan tadi dihubungkan dengan msrym, yang jelas berarti Mesir dalam beberapa sebutan menurut Bibel (contohnya Raja- raja I 14:25f; Tawarikh II 12:2f; dan juga Raja-raja II 23:29; Tawarikh II 35:20f; Yeremia 46:2). Di tempat-tempat lain dalam Bibel, seperti yang akan kita lihat (pada Bab 13 dan— 64 —
  • 76. 14), nama msrym dapat menandakan satu di antara lokasi diArabia Barat, termasuk dusun Misramah (msrm) di datarantinggi Asir, antara Abha dan Khamis Mushait, atau dusunMasr (msr) di Wadi Bishah, di pedalaman Asir. Jika mencarikws (atau ‘Kusy’) di daerah itu, seseorang dapat dengan mudahmenemukannya sebagai Kuthah (kwt), dekat Khamis Mushait.Ini merupakan sebuah oase yang terletak di hulu Wadi Bishah,dan oleh karena itu di daerah itu Masr dapat dijumpai. Didaerah Khamis Mushait yang sama terdapat oase Qararah (qrr)dan Ghurayrah (gryr, atau grr) salah satu dari Gerar-gerardalam Bibel. Di dekatnya terdapat pula oase Shaba’ah (sb’hatau sb’), yang mestinya adalah ‘Shibah’ atau ‘Beersheba’ yangtertera dalam Bibel. Kalau pembaca menganggap bahwa halini sukar untuk dipercaya, pertimbangkanlah hal yang berikutini, yang tampaknya membereskan argumentasi saya. Seperti yang telah saya sebutkan, kata Ibrani b’r sb’mungkin berarti ‘Sumur Kelimpahan’,4 ¬∑ tetapi dapatjuga dengan salah diartikan sebagai ‘Sumur Tujuh’. Dalamlaporannya mengenai perjalanan balik jenderal Rumawi,Aelius Gallus, dari ekspedisinya ke Arabia pada tahun245 S.M., Strabo (16:4:24) secara rinci menggambarkantahap-tahap yang diambil oleh Gallus sewaktu ia keluardari ‘Negrana’ (Najran) untuk mencapai pelabuhan ‘Negra’(Nujayrah dekat bandar Umm Lajj masa ini) di Laut Merah.Di sana, pasukan-pasukan Rumawi menaiki kapal-kapal Y.;g membawa mereka kembali ke Mesir. Strabo melaporkanbahwa sebelas hari setelah meninggalkan Najran, Gallussampai pada sebuah tempat yang bernama ‘Tujuh Sumur,’jelas suatu upaya untuk menterjemahkan b’r sb’ atau b’rsb’h. Dalam mempelajari teks-teks Strabo yang berkenaandengan eksplorasi Arabia yang dilakukannya, H.St.J.B.Philby (Arabian Highlands, Ithaca, N.Y., 1952, hal. 257;selanjutnya disebut Philby) menafsirkan bahwa ‘Tujuh Sumur’itu mestinya adalah Khamis Mushait yang terletak sejauh 4 Dari ketiga sumur (bentuk tunggalnya adalah b’r) yang disebutkan bersamaan dengan Shibah (alias Beersheba atau b’r šb’) dalam Kejadian 26, Esek (‘sq) bertahan sampai kini sebagai Akas (‘ks) dekat Abha, di sebelah barat Khamis Mushait. Dua sumur lainnya nampaknya terletak di seberang ngarai, di sisi maritim Asir. Di sana kita sampai kini dapat menemukan Rehoboth (rhbwt) yaitu Rahabat (rhbwt), di wilayah Bani Shahr; juga Sitnah (stnh) yaitu Umm Shatan (stn, kata Arab yang berarti ‘tali sebuah sumur air’) di wilayah Majaridah yang terletak di dekatnya. — 65 —
  • 77. 260 kilometer dari Najran. Philby mengamati adanya desa Shaba’ah di antara pedusunan di hilir Khamis Mushait, di daerah ‘yang sebagian mendapat pengairan dari luapan air sungai, dan sebagian lagi dari sumur-sumur yang kebanyakan bermulut lebar...’ (hal. 132). Namun, yang luput dari pengamatannya ialah bahwa nama Shaba’ah merupakan sb’h di dalam Bibel, yang dikenali dalam Kejadian 26 sebagai tempat yang sama dengan b’r sb’. Dugaannya ialah bahwa Khamis Mushait itu sendiri pernah bernama ‘Bir saba’’ (hal. 257). Menurut Strabo, Gallus memerlukan waktu 40 hari untuk menyelesaikan perjalanan dari ‘Tujuh Sumur’ ke ‘Negra’, yang ia lukiskan terletak dengan laut; jalan yang ia ambil melewati ‘Chaalla’ dan ‘Malothas’, yang terakhir ini terletak di sebuah ‘sungai’. Tanpa mempertimbangkan kenyataan bahwa ‘Negra’ hanya dapat terletak di sepanjang pesisir Laut Merah, mengingat bahwa pasukan-pasukan Rumawi menaiki kapal-kapal mereka di sana, Philby sementara mengenalinya dengan daerah pedalaman di Mada’in Salih di sebelah utara Medinah, dan melakukan identifikasi yang tidak tepat terhadap ‘Chaalla’ dan ‘Malothas’. Ia menduga ‘Chaalla’ adalah Qal’at Bishah, di Wadi Bishah, dan menduga ‘Malothas’ adalah Turabath atau Khurma, di pedalaman Hijaz (hal. 257). Sebenarnya, jalan dari Khamis Mushait menuju ke pesisir mengikuti aliran ‘sungai, Wadi al-Dila’, di daerah Rijal Alma’, dan dua buah pedesaan bernama Qal’ah (Chaalla) dan Maladah (Malothas) masih terdapat di sana. Jalan ini kemudian menuruni bukit menuju Darb; dan di sana menyambung dengan sebuah jalan lagi yang menuju ke utara melewati gurun pasir pesisir Arabia Barat sejauh Umm Lajj dan Nujayrah (Negra). Inilah yang persis dikatakan oleh Strabo: ‘Jalannya (Aelius) dari sini melewati padang pasir, yang hanya terdapat beberapa tempat pengambilan air’. Sepanjang jalan yang disebutkan tadi, jarak total dari wilayah Khamis Mushait sampai pada Umm Lajj atau Nuiayrah kira-kira adalah 1.100 kilometer, yang dapat dengan mudah ditempuh dalam waktu 40 hari berjalan kaki. Pendeknya, bangsa ‘Kusy’ (yang pasti mereka dalam— 66 —
  • 78. Tawarikh II 14) bukanlah orang-orang ‘Etiopia,’ melainkanorang-orang suku daerah sekitar Kuthah (dengan kata lain,orang-orang dataran tinggi Khamis Mushait), di ketinggianWadi Bishah, tidak jauh di hulu Shaba’ah, kota dalam Bibelb’r sb’ atau Beersheba. ‘Yudah’ yang mereka jajah, sepertiyang akan kita saksikan pada Bab 8, meliputi lereng-lerengsebelah barat Asir. Sewaktu mereka menuju ‘Yudah’ ini,Zerah dari Kuthah mencapai ‘Mareshah’ atau mrsh yang kinimerupakan satu di antara dua buah desa: Mashar (msr) atauMashari (msr), di pedalaman Qunfudhah. Di daerah yangsama terdapat lembah Wadi Hali, dan di sana sedikitnyaterdapat sebuah desa yang bernama Sifah (dengan akhiranfeminin, spt), sebuah kamus ilmu bumi menyebutkan duabuah pedesaan, mungkin secara tidak disengaja. Maka dariitu, ‘lembah Zephathah, yang ada dalam Bibel (gy’ spth),merupakan referensi kepada aliran utama Wadi Hali, ataukepada anak lembah ini tempat dua buah Sifah kini berada.Zerah harus menyeberangi tebing utama Asir dari WadiBishah guna mencapai Mashar (atau Mashari) dan wadi Halidi pedalaman Qunfudhah. Setelah menderita kekalahan disana, ia mundur menyeberangi tebing curam itu menuju keWadi Bishah, dikejar oleh Raja Asa dan pasukannya: merekamelakukan perampokan terhadap kota Gerar dan daerahsekitarnya yang makmur itu. Menurut Kejadian 20, seperti yang telah diketahui, Gerarterletak antara Kadesh dan Shur. Gerar ini (yang tampaknyasama dengan Gerar yang tertera di dalam Kejadian 26 danTawarikh II 14) mestinya dahulu adalah Qararah, bukanGhurayrah, di daerah sekitar Khamis Mushait, karena Qararahini sebenarnya terletak di jalan utama antara Kadas (kds,bandingkan dengan kata Ibrani qds), di Rijal Alma’, danAl Abu Thawr (twr, bandingkan dengan kata Ibrani sur),di Wadi Bishah. Di sini tidak ada kebingungan mengenaikoordinat, atau setidaknya kesulitan dalam mengenaliKadesh dan Shur dengan nama mereka masing-masing.Tentunya, seseorang tidak harus terpaksa menduga-duga ataumemaksakan sebuah penafsiran atas penemuan-penemuanarkeologi yang belum mencukupi dalam usahanya untuk — 67 —
  • 79. membuktikan sesuatu. Lebih lagi, baik dalam Kejadian 20 maupun 26, seorang ‘raja’ Gerar disebut sebagai bernama Abimelech (‘by mlk), yang dilukiskan dalam Kejadian 26 sebagai seorang raja dari orang-orang ‘Filistin’ (plstym, tunggal plsty, bentuk genitif dari plst). Di sini ada dua pengamatan yang perlu dilakukan. Pertama, seluruh daerah yang terletak di atas pembagi perairan di sebelah barat laut Khamis Mushait, termasuk daerah Wadi Bishah tempat Qararah terletak, memakai nama kesukuan Bani Malik (mlk). Begitu pula halnya dengan sebuah desa di daerah yang sama. Ini dapat berarti bahwa ‘Abimelech’ (secara harfiahnya ‘Ayah dari Malik’) dalam Kejadian 20 dan 26 belum tentu merupakan namanya, tetapi mungkin adalah sebuah referensi terhadap serangkaian kepala-kepala suku Malik di daerah itu, yang juga merupakan ‘raja-raja’ Qararah. Mengingat akan celah-celah generasi antara kisah-kisah yang diceritakan dalam Kejadian 20 dan 26, ‘Abimelech’ dalam kedua kisah itu agaknya tidak mungkin orang yang sama. Pengamatan saya yang kedua ialah mengenai Gerar (atau Qararah) dan bangsa Filistin (lihat Bab 14). Di utara Qararah, di lembah sungai Wadi Bishah, masih ada sebuah desa yang bernama Falsah (plst), yang jika memang demikian, penduduknya tentunya disebut plstym dalam bahasa Ibrani. Desa Falsah ini mudah saja merupakan bagian wilayah Qararah pada suatu waktu, yang dapat menjelaskan mengapa nama-nama ‘Abimelech’ yang tertera dalam Kejadian digambarkan sebagai ‘raja-raja’ Gerar dan juga sebagai raja-raja bangsa ‘Filistin.’ Berpaling pada Kejadian 10, kita dapat melihat bahwa koordinat-koordinat yang diberikan untuk Gerar di sana sama sekali berbeda dengan koordinat-koordinat untuk Gerar dalam Kejadian 20, Kejadian 26 dan Tawarikh II 14. Di sini Gerar disebutkan scarah dengan salah satu perbatasan tanah bangsa Kanaan atau kn’ny, membentang dari sydn sampai pada ‘zh, sedangkan sebuah perbatasan lagi yang juga bertolak dari sydn, dan membentang ke arah sdm (Sodom), ‘mrh (Gomorrah), ‘dmh (Admah) dan sbym (Zeboiim) sampai pada ls’ (Lasha). Sydn yang dimaksud di sini jelas bukan bandar Sidon,— 68 —
  • 80. Libanon (sekarang Sayda, atau syd’ di Libanon). Dari keempatSidon yang bernama Zaydan atau Al Zaydan (zydn) yangmasih ada sampai saat ini di berbagai daerah Asir yang terteradalam Kejadian 10 mestinya Al Zaydan, di ketinggian JabalShahdan - sebuah puncak Jabal Bani Malik, di pedalamanJizan yang menguasai sebuah jalan gunung yang strategis disepanjang perbatasan antara daerah Jizan dan Yaman. DariAl Zaydan ini, perbatasan kedua tanah Kanaan yang disebutdalam Kejadian 10 membentang ke barat ke arah pesisir LautMerah berakhir di deretan pedesaan terakhir di tepi gurunpasir pesisir, antar Wadi Sabya dan daerah Bahr di sebelahutara Wadi ‘Itwad. Seperti yang akan kita lihat pada Bab 7,nama suatu kota yang hilang, yaitu Sodom (sdm), masih adasampai kini sebagai Wadi Damis (dms), sebuah cabang WadiSabya, yang mengalir tepat di sebelah utara gunung berapikembar Jabal ‘Akwah, dan masih terletak di dalam ladanglahar itu. Gomorrah (‘mrh) mungkin merupakan sebuah kotayang hilang di Wadi Damis yang terkubur, seperti halnyaSodom, di bawah lahar yang disemburkan oleh gunungberapi setempat, atau mungkin Ghamr (gmr) masa ini, yangterletak di lerengan Jabal Harub, di atas Wadi Damis. Salingberhadapan, masing-masing di tepian yang berbeda darialiran utama Wadi Sabya, kota kembar Sabya (sby’, dalambahasa Ibrani sby, ‘gazelle,’ dengan kata sandang tertentu yangberakhiran) dan al-Zabyah (zby, bentuk Arab dari kata yangsama dengan kata sandang tertentu yang berawalan) mestinyakota Zeboiim menurut Bibel (sbym, bentuk ganda atau jamakdari sby) jauh di sebelah utaranya adalah Lasha (ls’) di lembahsungai Wadi Bishah, yang namanya telah diubah dalambentuk Arab masa ini, yaitu al-’Ashshah (‘l-’s, dengan l yangdiucapkan sebagai kata sandang tertentu Arab). Lebih jauh lagidi utara, Admah (‘dmh) terletak di seberang Wadi ‘Itwad diwilayah Bahr, dan namanya masih bertahan sebagai al-Dumahdengan akhiran feminin (dmh, dengan hamzah pertamapada bentuk asli nama itu dibuang, seperti yang biasanyadilakukan). Kalau perbatasan tanah Kanaan kedua, seperti yangdigambarkan dalam Kejadian 10, membentang dari Al Zaydan — 69 —
  • 81. sampai ke gurun pasir pesisir Laut Merah di sebelah barat, perbatasan yang pertama membentang ke utara, mengikuti garis pembagi perairan, dan sampai pada ‘zh — bukan ‘Gaza’ tetapi Al ‘Azzah (‘zh). Ini merupakan sebuah dusun indah yang bertengger terasing di puncak sebuah punggung bukit di daerah Ballahmar di Sarat, di selatan Nimas. Sesungguhnya, di Asir ada sejumlah tempat lain yang memakai nama yang sama, tetapi hanya ada satu di pesisir Palestina, yaitu Gaza, atau gzh. Ini membawa kita pada permasalahan Gerar (grr) dalam Kejadian 10, yang disebutkan di sana untuk menunjukkan arah terbentangnya perbatasan Kanaan dari sydn ke ‘zh. Gerar pertama yang kita jumpai di sana ialah Ghurar (grr), di Jabal Bani Malik. Yang kedua, lebih jauh di utara, ialah al-Jarar (grr), di Jabal Harub. Yang ketiga, masih lebih jauh lagi di utara, ialah Ghirar (grr) di seberang Wadi ‘Itwad, di Rijal Alma’. Yang keempat, masih lebih jauh lagi di utara dan lebih dekat pada Al ‘Azzah, ialah al Qararah (qrr), yang terletak di sepanjang puncak Sarat di daerah sekitar Tanumah. Meskipun tidak ada Gerar di Libanon ataupun di Palestina, antara Sidon dan Gaza, atau melewati Gaza dari Sidon, terdapat tidak kurang dari empat buah Gerar di dataran tinggi Asir, antara Al Zaydan dengan Al ‘Azzah, yang membuat kita bertanya-tanya yang mana di antara mereka adalah Gerar sebenarnya yang dimaksudkan itu, dan Gerar yang mana yang terletak di sepanjang perbatasan Kanaan itu. Mengingat yang tertera di atas, tanah bangsa Kanaan dalam Bibel di Arabia Barat mestinya meliputi lereng-lereng pesisir Asir dari daerah sekitar wilayah Ballahmar di utara sampai pada sebagian wilayah Jizan di Selatan. Di sini kita menjumpai dua buah pedusunan yang bernama Qina’ (qn’, bandingkan dengan kn’, asal kata kn’n) di Majaridah bagian utara, wilayah Ballahmar, yang terdapat pula sebuah dusun yang bernama ‘Azzah. Di samping itu, ada sebuah desa yang bernama Al-Qina’; yang satu disebut Dhi al-Qina’, dan satu lagi bernama al-Qana’at (qn’t, bentuk jamak feminin dari qnn’). Dua desa yang bernama Qan’ah (qn’t, bentuk jamak feminin qn’) terletak di wilayah Jizan, belum lagi tiga buah— 70 —
  • 82. nama tempat dengan akar kata yang sama di bagian-bagianlain Asir dan Hijaz bagian selatan. Yang terakhir adalah sebuahdesa yang bernama Al Kun’an (‘l kn’n, secara harfiahnyaberarti ‘dewa Kanaan’) di Wadi Bishah, di seberang pembagiperairan dari wilayah Majaridah. Pendeknya, bukti toponimismengenai penempatan bangsa Kanaan (yang berbeda denganbangsa Kanaan di Suria) di Arabia Barat menghendaki agarkita mempertimbangkan kembali dengan cermat prasangka-prasangka yang umumnya dipegang mengenai masalah ini(lihat Bab 14 dan 15; mengenai bangsa Kanaan Suria, lihatBab 1). Yang jelas terlihat adalah bahwa Gerar dalam Kejadian10 tidak mungkin sama dengan Gerar yang tertera dalamKejadian 20, Kejadian 26 ataupun dalam Tawarikh II 14.Inilah sebabnya mengapa hanya Kejadian 10 saja yangmenyebutkan grr berhubungan dengan ‘zh — Al ‘Azzah diwilayah Ballahmar, dan bukan ‘Azzah di wilayah Majaridahataupun ‘Azzah lainnya yang terletak lebih jauh di utara diWadi Adam (lihat Bab 14). Sedangkan Gedor (gdr) dalamTawarikh I 4:39f, namanya jelas bukan merupakan suatukesalahan dalam membaca Gerar (grr). Terletak di wilayahselatan Simeon (lihat Lampiran), mestinya Gedor merupakanapa yang kini adalah desa Ghadr (gdr) di pedalaman Jizan,walaupun masih ada beberapa kemungkinan lain. Mengingat akan semua ini, lokasi ‘rs h-nqb menurutBibel antara Kadesh dan Shur, yang disebut dalam Kejadian20 berhubungan dengan Gerar, hanya dapat berarti wilayahsekitar al-Naqb (nqb, dengan kata sandang tertentu Arab), diRijal Alma’, jauh di seberang pembagi perairan dari Qararah. Seharusnya sampai di sini duduk perkaranya sudahjelas: tidak ada tempat yang bernama Gerar di dekat Gaza, diPalestina. Namun di antara sejumlah tempat yang dijumpaidi Asir, sebuah, yaitu al-Qararah ialah Gerar yang disebutkandalam Kejadian 20, 26 dan Tawarikh II 15, dan yang satu lagi(salah satu dari empat buah tempat yang bernama Ghurar,al-Jarar, Ghirar atau al-Qararah) ialah Gerar dalam Kejadian10 (lihat Peta 7). Akhirnya, perlu dicatat bahwa pengenalanterhadap Gerar yang pertama dengan menggunakan bukti- — 71 —
  • 83. bukti toponimis dan Bibel berjalan sejajar dengan pengenalan terhadap Kusy, Filistin, Beersheba, Esek, Sitnah, Rehoboth, Kadesh, Shur, Mareshah, Zepathah dan Nageb di sekitar daerah yang sama, antara wilayah Khamis Mushait dan bagian-bagian Asir di seberang pembagi perairan ke arah barat. Pengenalan terhadap Gerar yang kedua berjalan sejajar dengan pengenalan atas kota-kota dalam Bibel Sodom, Gomorrah, Admah, Zeboiim, dan Lasha di satu arah, dan dua buah tempat yang sampai kini diperkirakan sebagai ‘Sidon’ dan ‘Gaza’ di arah yang lain. Di samping itu, perlu dicatat pula mengenai adanya bukti-bukti untuk mengenali Kanaan menurut Bibel di lereng-lereng maritim Asir, antara daerah- daerah Majaridah dan Jizan. Para arkeolog belum menggali daerah-daerah tersebut, ataupun daerah-daerah lain di Asir; jika mereka melakukannya, mereka akan menemukan banyak hal yang menakjubkan. Sebagaimana dikatakan Gerald de Gaury, salah seorang Inggris-Arab yang terakhir (Arabia Phoenix ... London, 1964, halaman 119): Di lembah-lembah Asir, Yaman, dan Hijaz, terdapat reruntukan-reruntukan yang pada suatu hari akan mengungkapkan kepada para sejarawan dan kepada dunia lebih banyak mengenai negeri-negeri tua ... dan ... kerajaan- kerajaan Arabia yang lebih awal, dan akan menunjukkan dengan jelas arti-arti yang terkandung dalam kitab-kitab Bibel yang lebih awal serta mengenai kiasan-kiasan bersejarah dalam Qur’an. Siapa yang mengetahui akan adanya harta karun yang terpendam di antara kekusutan puing-puing Asir? Yang akan menyusul adalah sebuah upaya yang sederhana guna menggali beberapa di antaranya.— 72 —
  • 84. 5 Non- Temuan di PalestinaU mumnya kita menerima selaku benar bahwa para arkeolog melakukan pekerjaan mereka dengan sebaik- baiknya. Dalam lapangan studi seperti sejarah kuno,tidak banyak di antara kita yang mempunyai wewenanguntuk memeriksa. Di antara kita hanya beberapa saja yangmerupakan arkeolog, dan bahasa-bahasa dunia kuno dengantulisan-tulisan aneh mereka merupakan sebuah teka-teki bagikebanyakan orang. Maka dari itu, jika para ahli berbicaramengenai suatu pokok persoalan kita biasanya menerimasaja apa yang mereka katakan berdasarkan kepercayaan, danmemberi wewenang pada mereka untuk berselisih pendapatmengenai pasal-pasal yang dapat diperdebatkan. Dalampersoalan-persoalan bila mereka bersepakat untuk menyetujuipemecahannya, mereka dapat mengesahkan apa saja yangtampaknya layak di mata mereka. Maka jelaslah kalau dalamlapangan studi arkeologi Bibel dan dalam lapangan studipaleografi, yang masih saling berhubungan, terdapat banyak
  • 85. kesempatan untuk membuat tidak hanya kesalahan-kesalahan saja, bahkan mengabadikannya untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Batu-batu tua dapat ditemukan di mana saja di Timur Dekat; hampir di setiap tempat diadakan penggalian akan dijumpai batu-batu tersebut. Namun menggali dan menafsirkan apa yang telah ditemukan adalah dua hal yang berbeda. Di sinilah letak perbedaan antara arkeologi ilmiah mengenai Timur Dekat, yang dilaksanakan secara ilmiah, dengan apa yang disebut arkeologi menurut Bibel. Yang pertama adalah sebuah upaya yang obyektif dan sistematis untuk mempelajari kebudayaan-kebudayaan dan peradaban-peradaban kuno di suatu daerah dan menyusun perkembangannya tahap demi tahap berdasarkan benda- benda peninggalannya, tentu dengan memperhatikan limitasi penyelidikan itu serta metode yang dipergunakan. Yang kedua adalah tidak lebih dari suatu pencarian terhadap barang-barang peninggalan di daerah-daerah yang telah ditandai sesuai dengan pendapat yang telah terbentuk sebelumnya mengenai geografi menurut Bibel yang berusaha mendapatkan dukungan arkeologis dan peleografis bagi dugaan-dugaan mengenai sejarah menurut Bibel. Maka dari itu, jika seseorang menemukan puing-puing benteng tua di dekat kota Beersheba di Palestina (lihat Bab 4), maka ia akan menyatakan telah menemukan suatu bentuk bangsa Israil, tanpa memikirkan adanya kemungkinan-kemungkinan lain. Kalau ia menemukan bekas-bekas sebuah tambang tembaga dekat kota modern Elath, dan sebuah cincin cap dengan bertulisan lytm di sekitar daerah yang sama, ia gegabah menyimpulkan bahwa cincin tersebut tentunya kepunyaan Yotham (l-ytm), seorang raja Yudah. Kemudian ia langsung mengumumkan pada dunia mengenai penemuan lokasi persisnya tambang-tambang tembaga Raja Sulaiman dan kota Ezion-Geber menurut Bibel itu. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa prinsip yang dipergunakan dalam pencarian arkeologis terhadap lokasi- lokasi menurut Bibel itu salah. Saya hanya mengatakan bahwa tidak benar jika kita mengambil kesimpulan— 74 —
  • 86. bersejarah berdasarkan penemuan-penemuan arkeologisyang tidak meyakinkan. Di sini inskripsi menjadi penting.Contohnya, Nelson Glueck mungkin dapat dibenarkandalam mengumumkan penemuannya atas sebuah tempatmenurut Bibel di daerah sekitar kota modern Elath, jika sajainskripsi pada cincin cap yang ia temukan di sana berbunyilytm mlk yhwdh (Yotham, Raja Yudah). Setelah di sanamenemukan inskripsi lytm, ia tidak mempertimbangkanadanya kemungkinan-kemungkinan lain. Walaupun jika kataitu dibaca sebagai l-ytm, mungkin saja berkenaan denganseseorang yang bernama ‘Yotham’ yang bukan seorang rajaYudah, dan bahkan mungkin bukan orang Yahudi. Inskripsi pada cincin tersebut mungkin juga merupakansuatu referensi kepada seorang dewa yang bernama ytm —mungkin dewa Atum dari Mesir, yang namanya menurutorisinilnya ialah itwm. Di seberang Wadi Arabah dari Elathsampai kini masih terdapat sebuah lembah yang bernamaWadi Yutm (ytm). Apakah nama wadi ini, seperti yang adapada inskripsi, berkenaan dengan nama ‘Yotham’ yang sama,siapa pun gerangan orangnya, ataukah kepada nama DewaAtum Mesir yang sama? Ambillah sebuah contoh yang lain. Pada tahun 1880,sebuah batu prasasti ditemukan di Siloam, dekat Yerusalem,menggambarkan bagaimana sebuah terowongan air dibuat disana oleh orang-orang yang menggali dari kedua ujungnya.Inskripsi tersebut kini berada di Museum of the AncientOrient di Istambul. Kalau saja inskripsi itu berbunyi‘terowongan ini digali pada zaman pemerintahan RajaHezekiah’, ini jelas akan mendukung teks-teks Raja-raja II20:20 dan Tawarikh II 32:30, yang membicarakan mengenaisebuah kolam dan terowongan air yang didirikan oleh RajaHezekiah dari Yudah. Namun kenyataannya, inskripsi initidak menyebutkan nama-nama orang maupun nama-namatempat. Maka, jika hendak menghubungkannya denganzaman pemerintahan Hezekiah, seperti yang telah dilakukanoleh para ahli Bibel, itu merupakan tidak lebih dari suatuterkaan yang asal saja. Terowongan-terowongan air telahdidirikan selama berabad-abad, di mana saja dan bilamana ada — 75 —
  • 87. keperluan untuk menggunakannya. Inskripsi Siloam bahkan tidak menunjukkan bahwa Yerusalem modern sebenarnya adalah Yerusalem menurut Bibel, karena inskripsi tersebut tidak menamakan lokasinya. Inskripsi-inskripsi Elath dan Siloam, dan juga semua inskripsi yang disebut inskripsi ‘Ibrani’ — atau lebih tepat lagi Kanaan — dari Palestina, telah dipaksa oleh Ilmu Pengetahuan Bibel modern untuk menghasilkan lebih banyak kandungan informasi daripada yang sebenarnya terdapat pada mereka. Satu contoh yang perlu dibicarakan ialah mengenai sejumlah pecahan barang-barang tanah yang ditemukan di daerah sekitar Nablus pada tahun 1910 dan diberi nama Ostraca Samaria, walaupun mereka samasekali tidak membicarakan ‘Samaria’ (dalam bahasa Ibrani smrwn). Pecahan barang tanah ini yang telah dibubuhi tanggal 778-770 S.M. (sebenarnya penanggalan ini sendiri sangat mencurigakan), mengandung catatan-catatan mengenai transaksi-transaksi perdagangan antara individu-individu, beberapa di antara mereka mungkin orang Yahudi, menaksir dari nama-nama perorangan yang tertera di dalamnya. Catatan-catatan ini sama sekali tidak menyebutkan nama- nama tempat dan juga tidak mengandung satu pun referensi mengenai tokoh-tokoh Bibel ataupun kejadian-kejadian yang tertera dalam Bibel. Walaupun penanggalannya benar, yang terbukti oleh pecahan barang-barang tanah tersebut hanyalah bahwa orang-orang Yahudi mungkin pernah menetap di daerah Nablus di Palestina pada abad ke-8 S.M. Tidak ada kesimpulan dari mereka mengenai masalah-masalah sejarah maupun geografi menurut Bibel yang dapat dibenarkan. Jelas mereka tidak membuktikan bahwa tempat barang-barang itu ditemukan adalah Samaria menurut Bibel, yang berarti nama- nama yang diberikan pada mereka oleh para ahli Bibel pun perlu dipertimbangkam kembali. Yang lebih mencolok lagi adalah contoh apa yang disebut Ostraca Lachis, yang ditemukan di Tall al-Duwayr di Palestina bagian selatan pada tahun 1935 dan 1938. Sudah biasa ditegaskan bahwa pecahan barang tanah yang berinskripsi ini memberi bukti yang ‘tak diragukan lagi’— 76 —
  • 88. bahwa Tall al-Duwayr dahulunya merupakan Lachish (lkys)menurut Bibel. Sebenarnya, kenyataannya sama sekali tidakdemikian, seperti yang akan ditunjukkan nanti. Ostraca Tall al-Duwayr (harus disebut dengan nama ini)merupakan sekumpulan laporan dan keluhan-keluhan yangdikirim oleh seseorang yang bernama Hoshaiah (hws’ywh),komandan sebuah pasukan Yahudi yang kita tak ketahui dimana mereka ditempatkan, kepada atasannya yang bernamaYaosh (y’ws), seseorang yang ia panggil dengan sebutan‘tuanku,’ dan mestinya ditugaskan di Tall al-Duwayr,mengingai ostraca (jenis kerang-kerangan) yang dikirimkepadanya ditemukan di sana. Membaca inskripsi-inskripsiini, ahli-ahli Bibel seperti W.F. Albright yakin bahwa merekamengenali dengan jelas disebutkannya nama Lachish dariKitab Bibel dalam Ostracon IV; sebuah penyebutan yang jelasmengenai kota Azekah Bibel pada pecahan yang sama, dansebuah referensi yang pasti kepada Yerusalem dalam OstraconVI membawa para ahli ini menuju suatu kesimpulan yangsama. Dalam halnya Ostracon IV, pembacaan inskripsi yangtelah diakui harus ditantang secara serius. Sampai saatini, pembacaan ini dianggap berbunyi sebagai berikut:‘Hendaknya tuanku mengetahui bahwa kami sedangmenunggu isyarat-isyarat Lachish...’ Sebuah terjemahan yanglebih teliti menghasilkan pesan yang berbeda: ‘Hendaknyatuanku mengetahui bahwa kami sedang menunggu muatan-muatan makanan...’ Dalam halnya Ostracon VI, pembacaanatas nama ‘Yerusalem’ sangatlah tidak jujur. Pada sebuahkepingan dari pecahan bahan tanah ini, dapat dilihat huruf-huruf slm. Karena merupakan sebuah kata Ibrani, kata inidapat dibaca dengan menggunakan berbagai cara untukmenghasilkan makna yang berbeda-beda pula, misalnya‘bunga api’, ‘kedamaian’, ‘kesehatan yang baik’, ‘persetujuan’,‘kesempurnaan’, atau ‘ganjaran,. Dapat juga merupakankata sambutan dalam bahasa Semit (dalam bahasa Ibraninyashalom) atau salah satu di antara sejumlah nama peroranganatau nama-nama tempat. Sebaliknya, tak ada pembenaranterhadap pembacaan slm sebagai nama ‘Yerusalem’. — 77 —
  • 89. Bagi mereka yang tertarik akan detil-detil mengenai masalah ini, dapat melihat yang berikut: dalam Ostracon IV, kalimat yang dianggap menyebut nama Lachish (lkys) dan Azekah (‘zqh) dalam bentuk aslinya berbunyi sebagai berikut: wyd’ky ‘l ms’t lks nhnw smrm kkl h’tt ‘sr ntn ‘dny ky l’ nr’h ‘t ‘zqh. Kalimat ini telah dibaca dan ditafsirkan sebagai berikut: ‘Dan hendaknya (tuanku) mengetahui (wyd’) bahwa kami sedang menunggu (ky ... nhnw smrm) isyarat-isyarat Lachish (ls ms’t lks), sesuai dengan semua petunjuk yang telah diberikan oleh tuanku (k-kl h’tt ‘sr ntn ‘dny), karena kami tidak dapat melihat Azekah (ky l’ nr’h ‘t ‘zqh)’. Penterjemahan ini berdasarkan perkiraan berikut ini, yang akan saya sangkal satu demi satu: 1. Bahwa ms’t, sebagai bentuk jamak dari ms’h, berasal dari akar kata kerja ns’ yang berarti ‘naik’ dan oleh sebab itu mungkin berkenaan dengan ‘naiknya’ asap, sehingga ada dugaan mengenai adanya suatu isyarat militer. Namun kata kerja ns’ juga dapat berarti ‘membawa’. Maka sebuah ms’h bukan berarti ‘naiknya’ asap, melainkan dimengerti sebagai sebuah ‘bawaan’, dengan kata lain, sebuah ‘muatan’. 2. Bahwa lks dibaca sebagai satu kata yang merupakan nama kota menurut Bibel Lachish (lkys). Jika seseorang membaca lks sebagai l-ks, dengan l yang pertama sebagai preposisi, artinya akan berubah menjadi ‘untuk makanan’, kalau ks ditafsirkan sebagai kata benda jadian dari ksh, kata ini akan berarti ‘kenyang atau puas dengan makanan’ (bandingkan dengan kata Arab ks’, ‘merebut dengan menggigit’). 3. Bahwa smrm, sebagai bentuk jamak smr, berarti ‘melihat’, namun dapat juga berarti ‘menunggu’. 4. Bahwa ‘tt, sebagai bentuk jamak ‘th berarti ‘petunjuk- petunjuk’ (berasal dari kata kerja ‘th, bandingkan dengan kata Arab ‘ty, ‘datang’). Dalam bahasa Arab, sebuah kata— 78 —
  • 90. benda jadian dari asal kata yang sama, ‘yt’, berkenaan dengan tindakan ‘memberi’, yang kedua berarti ‘hadiah- hadiah’, ‘kemurahan hati’; yang ketiga berarti ‘hasil panen’. Dalam ketiga contoh ini, pengertiannya adalah persediaan. Dalam hal ‘tt di sini, pengertian ini didukung kuat oleh kata kerja yang berikutnya yaitu ntn, atau ‘memberi’.5. Bahwa l’ nr’h ‘zqh berarti ‘kami tak dapat melihat Azekah’. Kemampuan untuk melihat Azekah bukanlah persoalannya di sini. Yang dikatakan oleh aslinya hanyalah suatu kenyataan: ‘kami tidak melihat Azekah’.6. Bahwa Azekah (‘zqh) hanya suatu pengenalan terhadap kota Bibel dengan nama yang sama. Dalam konteks ini, lebih masuk akal jika menganggapnya sebagai nama seseorang. Maka kalimat sepenuhnya dapat diterjemahkan kembalisebagai berikut: ‘Hendaknya tuanku mengetahui bahwa kamimenunggu muatan makanan, semua makanan yang telahtuanku berikan, karena kami tidak melihat Azekah.’ Ini berartibahwa Hoshaiah dan anak buahnya rupanya telah dijanjikanpersediaan makanan dan perlengkapan lainnya oleh Yaosh,yang akan diberikan kepada mereka oleh seseorang yangbernama Azekah. Di sini Hoshaiah mengatakan bahwa diadan anak buahnya masih menunggu datangnya persediaan-persediaan ini, karena Azekah belum sampai pada mereka.Jelas tidak ada ‘isyarat-isyarat Lachish’ yang tertera di dalampernyataan ini. Ini membuat bukti yang telah dianggap ‘takmeragukan lagi’ mengenai pengenalan terhadap kota BibelLachish sangat meragukan dan tidak dapat dipertahankan. Ahli-ahli dapat dimaafkan atas perbuatan mereka dalammengira lks dan ‘zqh yang terdapat dalam Ostraca Tallal-Duwayr IV sebagai referensi terhadap kota-kota BibelLachish dan Azekah. Namun mereka seharusnya tidak dapatdimaafkan dalam anggapan mereka bahwa Ostracon VImembicarakan Yerusalem. Dalam ostracon ini, yang telahrusak berat, sisa-sisa dari suatu kalimat yang berbunyi: ‘dnyhl’ tktb’ tktb’... ht’sw kz’t ... slm. Sebuah penterjemahan yang — 79 —
  • 91. jujur dari pecahan kalimat ini (jika kita menganggap bahwa aslinya benar-benar merupakan satu kalimat) hanya dapat menghasilkan: ‘Tuanku, apakah engkau tidak akan menulis ... engkau maka, ... slm.’ Namun terjemahan yang diakui saat ini dengan bebas mengisi tempat-tempat kosong tersebut dengan mengambil sikap untuk membenarkan pembacaan atas slm yang terakhir sebagai tiga konsonan terakhir dalam kata Ibrani yrwslym, yaitu ‘Yerusalem’. Terjemahannya, lagi-lagi oleh W.F. Albright, sangat dogmatis: ‘(Dan sekarang) tuanku, apakah engkau tidak akan menulis pada mereka dan berkata, “mengapa engkau pergi (bahkan) ke Yerusalem?”’ Terjemahan seperti ini yang bahkan tidak menunjukkan interpolasi penterjemahnya secara benar, tidak dapat diterima yang secara integritas kesarjanaan dijunjung tinggi. Kenyataannya adalah bahwa ostracon yang dipermasalahkan, ataupun inskripsi-inskripsi ‘Ibrani’ lainnya yang sampai kini ditemukan di Palestina, sedikit pun tidak mengandung referensi terhadap tokoh-tokoh dan tempat-tempat menurut Bibel yang lain. Bagaimana Ostraca Tall al-Duwayr sebenarnya mempunyai tempat dalam sejarah Palestina, atau dalam sejarah kaum Yahudi di Palestina, bukanlah masalah yang akan dibahas di sini. Seperti yang telah saya kemukakan sebelumnya, saya tak menyangkal adanya dugaan yang mengatakan bahwa ada orang-orang Yahudi yang menetap di Palestina pada zaman Bibel itu; yang saya katakan adalah bahwa agama Yahudi berasal dari Arabia Barat, dan tanah bangsa Israil menurut Bibel terletak di sana dan bukan di Palestina. Ada satu inskripsi yang dapat digolongkan sebagai inskripsi Palestina yang agaknya menyangkal tesis ini. Inskripsi ini adalah apa yang disebut Batu Moab, pertama kali ditemukan di daerah perbukitan di sebelah timur Laut Mati pada tahun 1868, dan kini disimpan di Louvre. Inskripsi yang panjang pada batu ini bersangkutan langsung dengan sejarah menurut Bibel, karena padanya terdapat uraian mengenai kejadian-kejadian yang berhubungan dengan teks-teks dalam Raja-raja II 3:4. Namun pembacaan dan penafsirannya sampai saat ini telah menimbulkan kesulitan-kesulitan,— 80 —
  • 92. terutama karena sekali lagi para pembacanya mengadakanpendekatan dengan referensi geografi yang salah. ‘Batu Moab’ (namanya saja sudah merupakan istilahyang tidak cocok) diletakkan di Qarhoh (qrhh) oleh Mesha,raja Moab (ms’ mlk m’b) - begitulah ungkapan inskripsi yangtertera padanya. Semula Mesha berkuasa di Moab, namunwilayahnya di sana mengalami serangkaian penyerangan yangdilancarkan oleh para tetangganya yang agresif, oleh Omri rajaIsrail (‘mry mlk ysr’l), dan oleh putra-putranya sesudahnya(Ahab, yang dibiarkan tanpa nama). Setelah mengalamibeberapa kali kemalangan di tangan penyerangnya, dan jugadi tangan para sekutu mereka, akhirnya Mesha lari ke Qarhoh,dan ditempat ini ia mendirikan ibukotanya yang baru. Makadari itu, ‘Batu Moab’ sebenarnya adalah Batu Qarhoh, karenaMesha tidak lagi menetap di Moab sewaktu ia meletakkannya.Qarhoh yang dipermasalahkan rupanya adalah kota Jahra(ghr) masa ini, di daerah tempat batu itu ditemukan. Samasekali tidak ada sesuatu pada inskripsi ‘Batu Moab’yang menunjukkan bahwa Moab adalah nama tua untukdaerah perbukitan di sebelah timur Laut Mati (atau Biladal-Sharat, menurut orang Arab), dan bahwa kerajaan Israilberpusatkan di Palestina. Sebenarnya jika inskripsi itu dibacadengan teliti dalam bentuk aslinya, bukan terjemahannya,seperti yang terdapat dalam bahasa Inggris yang diterjemahkanoleh W.F. Albright, maka akan terlihat dengan jelas bahwapeperangan antara Israil dengan Moab, yang dibicarakan,tidak terjadi di Transyordania, melainkan di Hijaz. Ini berartibahwa Israil dan Moab mestinya bertetangga di Arabia Barat,bukan di Suria. Para pembaca yang berhasrat mengikutiargumentasi ini dan yang mengerti persis alasan-alasan yangakan dijadikan dasar argumentasi tersebut mungkin inginmempertimbangkan hal-hal yang berikut ini:1. Berbicara mengenai penyerangan pertama terhadap Moab oleh ‘para bawahan’ (sn’y(m), tunggal sn’, bandingkan dengan kata Arab tnwy, diucapkan tanawi, ‘anggota suku dengan pangkat di bawah para kepala suku’) Raja Omri dari Israil, inskripsi tersebut melukiskan kota itu sebagai — 81 —
  • 93. ymn’ rbn. Jika kita baca ymn sebagai bentuk jamak ym dalam arti kata ‘hari’, dan rbn sebagai bentuk jamak sifat rb dalam pengertian ‘banyak’, para penterjemah sampai kini telah menganggap ucapan tersebut berarti ‘banyak hari’ atau ‘berhari-hari’. Ini tidak masuk dalam konteks yang dibicarakan. Sebenarnya, ucapan itu hanya menunjukkan bahwa Moab terletak ‘di sebelah selatan rbn’. Satu-satunya tempat yang memakai nama rbn ialah sebuah desa yang bernama Rabin di Hijaz, di sekitar daerah Mekah. Seperti yang akan ditunjukkan dalam Bab 7, Catatan 5, kota menurut Bibel, Moab, kini dapat dikenali dengan nama sebagai Umm al-Yab (‘m yb) di Wadi Adam. Umm al-Yab ini sebenarnya terletak di selatan Mekah dan oleh sebab itu namanya adalah ymn rbn atau ‘di selatan Rabin’. 2. Pada inskripsi tersebut Mesha melukiskan dirinya tidak hanya sebagai Raja Moab, namun juga sebagai orang dybny, dengan kata lain seorang penduduk asli dybn. Dibyan (dbyn) kini merupakan sebuah desa di Wadi Adam, tak jauh dari Umm al-Yab. Sampai kini, para pembaca ‘Batu Moab’ menganggap dybn adalah desa Dhiban (dbn) zaman ini, di Transyordania, di sebelah utara tempat ditemukannya batu itu. Tetapi anggapan saya adalah bahwa Dhiban ini dinamakan menurut Dibyan yang lama di Hijaz setelah Mesha bersama para pengikutnya menetap di sana. 3. Ada sebuah kalimat dalam inskripsi tersebut yang berbunyi: wyrs ‘mry k... s mhdb’. Kalimat ini sampai kini dianggap menunjukkan pada pendudukan atas kota Medeba di Transyordania oleh Raja Omri dari Israil. Andaikata Medeba (bahasa Arabnya Madaba atau mdb’) benar-benar yang dimaksudkan di sini, saya sangsi kalau kota tersebut dituliskan sebagai mhdb’, karena huruf h yang berada di tengah dalam bahasa Semit tidak pernah ditanggalkan dari pengucapan. Kalimat tersebut mungkin berbunyi: ‘dan Omri menduduki (seluruh wilayah kl h-’rs)— 82 —
  • 94. dari hdb’ ini kini merupakan desa al-Hudabah (hdb) di sebelah utara Umm al-Yab, di dataran tinggi Taif yang memandang ke bawah Wadi Adam.4. Pada bagian-bagian dari inskripsi tersebut, qr timbul sebagai kata untuk ‘desa’, dan kms untuk Chemosh, nama dewa Moab. Namun pada bagian-bagian lain, qr dan kms jelas menunjuk pada nama-nama kota dan desa yang terletak di sekitar wilayah Moab. Desa-desa Qarr (qr) dan Qamashah (qms) kini dapat dijumpai di bagian yang sama, di dataran tinggi Taif tempat al-Hudabah terletak.5. Di antara nama-nama tempat lainnya yang tertera pada inskripsi tersebut, srn dapat dikenali sebagai Shayran (srn); mhrt sebagai al-Mahrath (mhrt); nbh sebagai Nabah (nbh); yhs (kota menurut Bibel ‘Yahaz’) sebagai al-Wahasah (whs). Semua pedesaan ini terletak di Wadi Adam, di wilayah Taif, atau di dataran tinggi Zahran di Hijaz bagian selatan. Secara geografis agaknya jelas bagi saya bahwa peperanganantara Mesha dengan raja-raja Israil, seperti yang dikisahkandalam ‘Batu Moab’, tidak dapat ditatsirkan dengan pengertianPalestina dan Transyordania. Mereka hanya dapat dikaitkandengan Arabia Barat, yang jelas mendukung argumentasiyang dipersembahkan dalam buku ini. Hanya setelah Meshaberulang kali dikalahkan dalam peperangan oleh Omri danAhab dari Israil, ia akhirnya meninggalkan kerajaan Moabmiliknya di Hijaz, dan memutuskan untuk mendirikansebuah kerajaan baru di Transyordania, yang wilayahnyatidak bernama Moab - paling tidak, tidak pada inskripsi yangmenceritakan kisah ini. Di sini, jauh dari musuh-musuhIsrailnya, Raja ‘gembala’ - seperti yang dilukiskan oleh KitabBibel - dapat makmur kembali, menyediakan tanah gembalaanyang baik bagi bqrn-nya (sapi), m’(z) (kambing) dan s’n (biri-biri). Sampai kini, para pembaca inskripsi-inskripsi Meshatelah kebingungan mengenai penterjemahannya sampai-sampai mereka tidak memperhatikan arti sebenarnya dari — 83 —
  • 95. ketiga kata terakhir ini. Walaupun kata bqrn jelas merupakan kata bqr atau ‘sapi’ dalam bentuk jamak maskulin, mereka membacanya sebagai bqrn dan menganggap artinya adalah ‘di desa-desa’. Dalam terjemahannya kata-kata m’z dan s’n dilupakan, karena mereka salah menafsirkan secara umum konteks yang menimbulkan konotasi-konotasi yang terus- terang seperti ‘kambing-kambing’ dan ‘biri-biri’ itu. Adanya pra-anggapan bahwa tanah asal Kitab Bibel Ibrani ialah Palestina telah tidak hanya mengacaukan masalah ini dalam lapangan studi arkeologi Palestina, dan dalam pembacaan dan penafsiran inskripsi-inskripsi Kanaan dan inskripsi kuno lainnya yang ditemukan di Palestina; namun juga telah meninmbulkan prasangka dalam studi mengenai teks-teks kuno dari Timur Dekat lainnya yang didasarkan, secara langsung atau tidah langsung, pada sejarah menurut Bibel. Salah satu contoh dari ini adalah daftar topografis Mesir untuk ‘Asia Barat’. Pada Bab 11, isi daftar yang serupa akan kita tinjau, yang saya harapkan akan dapat meyakinkan pembacanya bahwa daftar ini sebenarnya berkenaan dengan Arabia Barat dan bukan dengan Palestina, Suria maupun Mesopotamia, seperti yang telah dianggap selaku benar sampai saat ini. Daftar-daftar topografis Mesir yang lain yang menyebut nama-nama tempat menurut Bibel itu bukanlah satu-satunya yang memberi catatan mengenai-pendudukan atau penjajahan atas Arabia Barat, daftar-daftar topografis Mesopotamia seperti kepunyaan Ashurbanipal II (883-859 S.M.), Shalmaneser III (859-824 S.M.) dan Sargon II (721- 705 S.M.) juga memberi catatan-catatan serupa. Mereka samasekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Suria. Pada baris-baris pembukaan daftar Sargon II, dengan memberi sebuah contoh saja, Raja Assyria ini melukiskan dirinya sebagai ‘penakluk Sa-mi-ri-na (smrn) dan seluruh Bit-Hu-um-ri-a (hmry)’. Ini bukanlah ‘Samaria’ (dalam bahasa Ibrani smrwm) dan rumah kerajaan Omri (dalam bahasa Ibrani ‘mry), walaupun kerajaan Omri Israil sudah tentu terletak di Asir, seperti yang akan ditunjukkan pada Bab 10, dan ‘Samaria’ masih terdapat di sana dengan namanya masih dalam bentuk Bibel aslinya tidak diubah (lihat Bab— 84 —
  • 96. 10). Sesungguhnya di sini referensinya ialah kepada daerahJizan, dan di sana terdapat sebuah desa yang bernamaHimrayah (hmry) di distrik Abu ‘Arish. Teks berikutnya yangmenyebutkan banyak lagi nama-nama tempat, menandakanbahwa Sargon II tentunya telah menaklukkan seluruh daerahgeografi Asir, dengan kata lain, seluruh daerah Arabia Baratantara Taif dengan perbatasan Yaman. Di daerah Jizan,misalnya, ia ‘mengusir Mi-ta-a, Raja Mus-ku (msk)’. Disini referensinya ialah pada desa Musqu (msq), di daerahperbukitan ‘Aridah, sebelah timur Abu ‘Arish. Di Rijal Alma’,ia ‘merampok As-du-du (‘sdd)’, kini merupakan desa al-Sudud(sdd). Di ujung timur Wadi Najran, ia ‘menangkap la-ma-nu (ymn) bagaikan menangkap ikan’. Di sini referensinyaadalah pada ‘orang-orang dari Selatan’ (bangsa menurut Bibel‘Benyaminite’, atau Banu Yamin (ymn) dari puisi Arab kuno)yang bukan tinggal di ‘laut’ (ym), tetapi di wilayah Yam (jugaym), antara Wadi Najran dan gurun pasir terbuka. Di wilayahTaif ia ‘mengalahkan’ Mu-su-ri (msr) dan Ra-pi-hu (rph),yang kini merupakan Al Masri (msr) dan al-Rafkhah (rph), iajuga ‘membasmi seluruh Ta-ba-li (tbl)’, yang kini adalah WadiTabalah (tbl), bersamaan dengan Hi-lak-hu (hlk) yang kiniadalah al-Khaliq (hlq). Di dekatnya, ia ‘menyatakan Han-no, Raja Ha-za-at-a-a (hzt atau hz’t), sebagai rampasannya’.Sampai kini Ha-za-at-a-a dianggap menunjuk pada ‘Gaza’(dalam bahasa Ibrani ‘zh). Namun ini tak dapat dipertahankanseperti halnya menganggap bahwa Hu-um-ri-a sebagai Omri(‘mry). Sebenarnya referensi tersebut mestinya adalah sukuArabia kuno, yaitu suku Khuza’ah (hz’t) yang peninggalan-peninggalannya masih dapat dijumpai di wilayah pangkalanmereka yang asli di Hijaz bagian selatan (daerah sekitar Mekahdan Taif). Kasarnya 200 km ke arah selatan dari wilayahKhuza’ah ini (dengan kata lain, terletak ‘di ujung 7 hariperjalanan’, seperti yang tertera pada inskripsinya), SargonII ‘menundukkan ketujuh raja negara I-a’ (‘y’ atau ‘y’)’, yangkini merupakan Wadi ‘Iya’ (‘y’) di sisi maritim Asir. Denganbertahannya nama-nama dalam daftar topografi ini tanpamengalami perubahan mengapa para ahli Bibel bersikeras padaanggapan mereka bahwa daftar itu berkenaan dengan sebuah — 85 —
  • 97. penjajahan bangsa Assyria di Suria dan Palestina, yang tidak ada nama-nama mereka yang dapat ditemukan? Di samping daftar-daftar topografi Mesir dan Mesopotamia, ada pula catatan-catatan dari Timur Dekat lainnya yang menyebutkan nama-nama tempat menurut Bibel, dan yang paling penting di antaranya adalah apa yang disebut ‘Surat-surat Amarna’. Ini merupakan satu set lembaran tanah liat yang bertulisk an huruf-huruf paku (Kuneiform) yang bertanggal dari abad ke-14 S.M., pertama kali ditemukan di Mesir pada tahun 1887. Ditulis dalam bahasa Akkadia yang telah menyimpang dari bahasa standar, dan terkadang dalam bahasa Kanaan, lembaran-lembaran tanah liat tersebut melaporkan bahwa agen-agen pemerintah Mesir menghadapi kesukaran-kesukaran dengan kepala suku setempat dari beberapa propinsi Asia yang telah lama diperkirakan terletak di Suria dan Palestina. Sebenarnya beberapa nama tempat individu yang disebut dalam Surat- surat Amarna cocok dengan nama-nama tempat, baik di Palestina maupun dengan beberapa di Arabia Barat. Di antara yang paling menonjol adalah Akka (‘Akka, atau ‘Acre’) dan Yapu (Yafa, atau ‘Jaffa’). Tetapi secara keseluruhan nama- nama tempat Amarna hanya secara bersama cocok dengan tempat-tempat di Arabia Barat. Para pembaca yang tertarik mungkin berhasrat untuk meneliti sebuah tabel yang mengandung 30 buah nama seperti itu, yang dikenali satu persatu melalui lokasinya, pada akhir Bab ini. Tentu mereka bukan merupakan satu-satunya nama tempat Amarna yang masih dapat dijumpai di Arabia Barat sampai saat ini. Yang saya catat hanyalah nama-nama yang secara konsonan masih memiliki ejaan-ejaan persis seperti yang tertera dalam lembaran-lembaran tanah liat Amarna. Di samping nama-nama itu sendiri, bagaimana pelbagai Surat-surat Amarna itu berbicara mengenai pelbagai wilayah Arabia Barat, mengesampingkan hal-hal lainnya. Yang demikian itu, secara geografis sepenuhnya masuk di akal. Semua inskripsi dan catatan-catatan tersebut telah dianggap berhubungan dengan Palestina hanya karena— 86 —
  • 98. mereka menyebutkan nama-nama menurut Bibel. Memangbenar nama-nama tempat yang mereka sebutkan adalahnama-nama menurut Bibel, namun seperti yang telah sayabuktikan, ini tidak berarti mereka terletak di Palestina. Dalamsetiap contoh yang diberikan, jika kita periksa dengan teliti,teks-teks tersebut ternyata hubungannya dengan Arabia Barat,seperti halnya teks-teks Bibel Ibrani. Saya yakin benar kalauteks-teks selain Bibel ini, jika diteliti kembali bersamaandengan Bibel Ibrani, dipandang dari segi Arabia Barat, kitaakan dapat menjelaskan banyak aspek kedua teks tersebutyang sampai kini dianggap kurang jelas oleh para ahli Bibel. Tabel 1. Nama-nama tempat Amarna di Arabia BaratAduru (‘dr atau ‘dr): al-’Adhra (dr), di Rijal Alma’; al- ’Adharah (dr), di Bani Shahr.Akka (‘k atau ‘k): al-’Akkah (‘k), dekat Nimas; ‘Ukwah (‘kw), di wilayah Jizan.Aksaf (ksp): al-Kashafah (ksp), dekat Jedah; al-Kashf (ksp), di Rijal Alma’.Apiru (‘pr atau ‘pr): al-’Afra (‘pr), dekat Nimas; ‘Afra’ di Wadi Adam; ‘Afra’, dekat Taif; juga suku Arab al-’Afir (‘pr) atau al-’Afariyah (‘pry).Araru (‘rr atau ‘rr): ‘Arar (‘rr) di wilayah Jizan; al-’Ararah (‘rr) di dekat Dhahran al-Janub.Azzati (‘zt atau ‘zt): Al ‘Azzah (‘zt), di Ballahmar; al-’Azzah di Majaridah.Burquna (brqn): al-Burqan (brqn) dekat Khamis Mushait; al- Burqan di Bani Shahr; Al Burqan di wilayah Jizan.Buruzilim (brzlm), (tampaknya adalah br zlm): Bara’ (br) di Rijal Alma’, dikenal sebagai yang terletak di wilayah — 87 —
  • 99. kesukuan Zalim (zlm) di daerah yang sama, bukan br yang lain (kini Dhi Barr) yang terletak lebih jauh di utara. Garu (gr): al-Jaru (gr) di Sarat ‘Abidah; Jara’ (gr) di Rijal Alma’; Al al-Jarr (gr) salah satu di antara dua buah desa dengan nama yang sama di Rijal Alma’. Gazri (gzr, bandingkan dengan kota menurut Bibel ‘Gezer’): al-Ghazar (gzr) di Wadi Adam; al-Ghazarah (gzr) di wilayah Jizan; Ghazir (gzr) di dataran tinggi Ghamid. Gi-im-ti (gmt): al-Gamat (gmt) di wilayah Jizan; al-Jammah (gmt) di Bani Shahr; Jammah, dekat Ghumayqah, di pedalaman Lith. Ginti Kirmil (gnt krml): Janat (gnt), dikenali berkenaan dengan puncak Kirmil (krml) yang bersebelahan dengannya di wilayah Jizan. Gubla (gbl): dihubungkan dengan Buruzilim (no. 8) dalam laporan yang sama, Gubla ini tentunya adalah Qublah (qbl) di Rijal Alma’ dan bukan Qublah di distrik Bahr, yang bagaimanapun juga terletak tak jauh dari tempat ini. Harabu (hrb): Harub (Harub al-Malqa, hrb) di wilayah Jizan. Hazati (hzt atau hz’t, yang sampai kini dianggap dengan salah sebagai berlainan dengan Azzati, yang jelas kenyataannya tidak demikian): nama kesukuan Arabia Barat yaitu Khuza’ah (hz’t) sama dengan Ha-za-t-a-a dalam daftar topografis Sargon II (lihat di atas). Magdalu (mgdl, nama tempat yang banyak digunakan di Suria dan Arabia): pada konteks ini referensinya tentunya adalah pada desa zaman ini, yang bernama al- Magdal (mgdl) dekat Tanumah, di sebelah utara Rijal— 88 —
  • 100. Alma’, dan bukan pada beberapa tempat-tempat lain dengan nama yang sama.Maggidu (mgd, bandingkan dengan nama kota dalam Bibel ‘Meggido’ yang namanya belum pernah ditemukan di Palestina, berlawanan dengan anggapan umum yang ada): konteks ini memberi kesan bahwa Maggidu ini ialah Maqdi atau Maqaddi (mqd) zaman ini, di pedalaman Qunfudhah, bukan Mughadah (mgd) dekat Taif, yang juga bernama ‘Meggido’.Mesqu (msq): konteks ini menunjuk pada al-Mashqa (msq) di Rijal Alma’, bukan pada al-Mashqa (msq) di Wadi Adam.Muhazzu (mhz): al-Mahzi (mhz) dekat Dhahran al-Janub, atau satu di antara dua buah pedesaan yang bernama Mahdah (mhd) di wilayah Najran; namun konteks ini menunjuk pada desa Al Muzah (mzh, metatesis dari mhz) di Rijal Alma’.Pella (pl atau pll): al-Falal (pll) di Wadi Adam; al-Fil (pl) di pedalaman Qunfudhah; al Fil di Ballasmar-Ballahmar.Qanu (qn): Qana (qn) di distrik Bahr.Rimuni (rmn): al-Riman (rmn) di Ballahmar; al-Riman di dekat Taif.Se-e-ri (s’r): al-Sha’ra, (s’r) di wilayah Jizan.Sile (sl): konteks menunjuk pada al-Siyul (syl) di distrik Bahr, bukan pada Siyal (syl) di pedalaman Qunfudhah.Sunama (snm): Sanumah (snm) di Rijal Alma’.Sutu (st): Al Sut (st) di wilayah Jizan; kecuali kalau referensi ini adalah pada sebuah suku Arabia Barat, yaitu suku — 89 —
  • 101. Sawati (tunggal Sati) dari daerah sekitar Mekah, atau suku Sutah dari wilayah Taif. Udumu (‘dm): di sini agaknya adalah Adamah (‘dm) di Wadi Bishah, bukan Wadi Iddam (‘dm) di sebelah selatan Mekah, ataupun Wadi Idimah (‘dm) di utara Wadi Najran. Urusalim (‘rslm atau ‘r slm): untuk pengenalan yang benar atas ‘Yerusalem’ menurut Bibel atau yrwslym, seperti Al Sharim yang sekarang, di dekat Nimas, lihat Bab 9. Namun Urusalim yang ini mungkin ada hubungannya dengan desa kembar Arwa (‘rw) dan Al-Salam (slm) dekat Tanumah, di sebelah selatan Nimas. Di sini Arwa dikenali berhubungan dengan tetangganya yaitu Al-Salam, yang membuatnya berbeda dengan sebuah tempat lain di Asir dengan nama yang sama. Yapu (yp): Wafiyah (wpy) di wilayah Jizan; al-Wafiyah dekat Khamis Mushait. Zarqu (zrq): al-Zarqa atau al-Zurqah (keduanya zrq) di wilayah Jizan.— 90 —
  • 102. 6 Bermula Dari TehomS ampai sejauh ini, saya berharap para pembaca sudi menerima bahwa bukti yang cukup untuk paling tidak menafsir kembali kepercayaan universal bahwa kejadian-kejadian yang tertera dalam Bibel Ibrani itu bertalian sebagianbesar dengan Palestina. Tugas berikut saya ialah untukmenetapkan lingkungan Arab yang ada dalam Kitab BibelIbrani secara keseluruhan, dengan harapan dapat meyakinkanpara pembaca lebih jauh lagi. Di mana seseorang memulaitidak menjadi persoalan, maupun topografi Bibel mana yangia pilih untuk diteliti. Semua bukti yang ada dari Kejadiansampai pada Maleakhi menunjuk kepada arah yang sama.Pada bab-bab yang sebelumnya saya mengusulkan bahwatanah menurut Bibel itu Yudah terdiri dari daerah perbukitanyang tanahnya tidak rata di bagian maritim jejeran Asir, yangberakhir di suatu gurun pasir pesisir yang bernama Tihamah.1Yang akan saya lakukan sekarang adalah menunjukkanbagaimana Tihamah ini sebenarnya merupakan Tehom yangdisebut-sebut dalam lebih dari tigapuluh bagian pada teks didalam Bibel Ibrani. Kalau ini telah dibuktikan, maka akan 1 Mengenai diskusi tentang masalah Yudah dalam Bibel, lihat Bab 8.
  • 103. ada suatu konteks yang telah ditetapkan yang dapat menjadi kerangka untuk geografi menurut Bibel secara keseluruhan. Dari sudut pembentukannya, nama Tihama (Tihamah, bentuk konsonannya thm atau thmh) bukan merupakan sebuah kata Arab. Kata ini berasal dari sebuah akar kata yang bertahan dalam bahasa Arab sebagai hama (hym), dengan arti ‘haus’, ‘menjadi haus’, atau mungkin perpanjangan secara kiasannya ‘berkelana tanpa tujuan di hutan atau padang pasir’, atau ‘hilang’. Sebuah kata Arab yang berasal mula dari akar kata ini adalah kata benda hayam (hym), yang merupakan tanah yang menyerap, berpasir dan tidak dapat menyimpan air, yaitu tanah yang terus-menerus ‘haus’ dan yang tidak dapat ditanami. Daerah pesisir Tihamah yang membentang di sepanjang Arabia Barat, memiliki tanah hayam yang persis seperti ini. Apakah itu di Hijaz, Asir atau Yaman, air bah dari dataran tinggi yang terbawa menuju pantai oleh sungai-sungai kecil wadi yang abadi atau yang musiman yang jumlahnya tak terhitung lagi, hilang terserap oleh tanah pantai yang berpasir ini sebelum mencapai laut, meninggalkan jejak-jejaknya di delta kering yang khas di daerah itu. Dalam bahasa Arab, nama padang pasir di Arabia Barat seharusnya adalah Hayam. Nama sebenarnya, yaitu Tihamah, adalah peninggalan yang masih bertahan dari nama menurut Bibel Tehom (thwm).2 Sebagaimana kata ini tertulis dalam Bibel, thwm adalah kata benda feminin dari hym (atau varian dari kata itu, hwm3), t yang pertama dalam kata benda ini merupakan bentuk orang ketiga kata ganti tunggal feminin. Kata ganti ini, seperti kata ganti bentuk orang ketiga tunggal maskulin y, masuk dalam golongan kata benda kuno yang (sebagian besar) tampaknya topografis, dan banyak (contohnya Tadmur, Taghlib, Tanuk, Yathrib, Yanbu’, Yakrub) yang masih bertahan sebagai nama-nama kesukuan dan nama-nama topografis Arab. Sebenarnya sulit untuk membedakan antara nama-nama geografis dan nama-nama kesukuan, karena biasanya suku-suku itu memakai nama- 2 Penyuaraan thwm sebagai tehom adalah suatu tradisi Masoret; kata ini mungkin pada mulanya disuarakan secara lain. 3 Semi-vokal y dan w dalam bahasa-bahasa Semit dapat dipertukarkan.— 92 —
  • 104. nama daerah di sekeliling mereka. Walau ahli-ahli Bibel Ibrani telah selalu mengenalikata Arab thmh sebagai sama dengan thwm dalam Bibel,4biasanya ditegaskan bahwa kata itu, baik dalam bentuk Arabmaupun Ibraninya, berdasarkan pada asal kata thm dan ituberarti ‘samudera’, ‘samudera purbakala’, atau ‘perairan bawahtanah.’5 Seperti halnya kata Arab thmh, yang merupakansebuah nama geografis yang tidak memakai kata sandangArab yang berawalan, yaitu ‘l (diucapkan al), thwm-nyabahasa Ibrani tidak dibuktikan dalam teks-teks Bibel denganmemakai kata sandang tertentu Ibrani h (secara tradisionaldiucapkan ha). Kenyataan ini, walaupun dicatat dalam kamus-kamus standar Bibel Ibrani, telah dibiarkan tanpa penjelasan— seperti banyak yang lain, karena tidak ada pengetahuanyang cukup untuk menjelaskannya. Sudah tentu penjelasannyaadalah bahwa kata menurut Bibel Tehom seperti halnyaTihamah Arab, bukanlah suatu kata benda yang umum yangdapat atau tidak dapat memakai kata sandang tententu. Kataitu merupakan suatu nama geografis yang terbentuk tanpakata sandang tertentu ini. Sebenarnya, tidak ada nama-namageografis dan nama-nama kesukuan yang merupakan katabenda kuno yang terbentuk dengan menggunakan kataganti berawalan, seperti halnya t atau y (lihat di atas), yangmenggunakan kata sandang tertentu. Kalau Tehom benar-benar merupakan kata benda yang berarti ‘samudera’ atauarti-arti apapun yang tidak benar lainnya, maka seharusnyakata itu ditulis tidak hanya sebagai thwm tetapi juga sebagaih-thwm, sesuai dengan konteksnya, dan kenyataannya tidakdemikian. Sebenarnya paling masuk akal jika Tehom, di manapun timbul dalam Bibel Ibrani, merupakan nama kunoSemit untuk daerah pesisir yang sekarang bernama Tihamah.Kenyataan bahwa nama ini tertulis dalam beberapasebutan menurut Bibel dengan bentuk jamak feminin 4 Akhiran feminin h (t tanpa suara) dalam kata Arab thmh (yang selalu diucapkan sebagai thm) menekankan jenis kelamin feminin dari thwm dalam Bibel. 5 Para ahli tampaknya mempunyai anggapan yang salah mengenai hal ini karena mereka terpengaruh oleh kenyataan bahwa kata thwm’ (tehoma) dalam bahasa Suryani (Syriac) berarti ‘kekacauan, jurang yang dalam, lubang yang tak mempunyai dasar’ dan sebagainya, kemungkinan besar berasal dari kata hwm dalam pengertian ‘hilang’. — 93 —
  • 105. (secara konsonannya sebagai thwmwt, thmwt atau thmt),6 menandakan dua hal: pertama, bahwa Tehom dianggap sebagai sebuah nama dalam bentuk feminin (t yang pertama, seperti yang telah dicatat, merupakan kata ganti feminin); kedua, bahwa kata dalam Bibel Tehom, seperti Tihamah Arab, bukan berkenaan dengan sebuah bentangan padang pasir pesisir yang terus-menerus di Arabia Barat, akan tetapi dengan gabungan padang pasir-padang pasir itu yang masing- masing dikenal dengan nama-nama yang sesuai dengan letak tempatnya. Kini, pembedaan yang luas dapat dilakukan antara Tihamah di Hijaz., Tihamah di Asir dan Tihamah di Yaman. Pembedaan nama yang lebih jauh berkenaan dengan ketiga Tihamah ini dilakukan melalui penyelidikan atas penghuni-penghuni masing-masing wilayah tersebut. Pada zaman Israil kuno, mestinya demikian pula. Karena Tehom, seperti yang tertera dalam Bibel Ibrani, sampai kini belum dikenali sebagaimana mestinya, (yaitu sebagai sebuah nama geografis) maka di mana-mana nama itu disebutkan dalam Kitab Bibel, dalam bentuk tunggal maupun jamak, telah dibaca dengan salah, dan akibatnya diterjemahkan dengan salah pula. Contohnya, inilah terjemahan konvensional dari ‘berkah-berkah, terhadap suku Israil Yusuf yang diberikan oleh Israil dan Nabi Musa’ dua sebutan dari teks dalam Bibel yang terkemuka [kesalahan dalam menterjemahkan teks-teks ini adalah dari Revised Standard Version (Versi Standar yang telah diperbaiki), selanjutnya RSV]: Ia akan memberkahi engkau (ybrkk) dengan keberkahan surga di atas (brkt smym m-’l), keberkahan dari samudera yang berbaring di bawah (brkt thwm rbst tht), berkah payudara dan rahim (brkt sdym w-rhm) (Kejadian 49:25b). Diberkahilah oleh Tuhan (atau oleh Yahweh) tanahnya (mbrkt yhwh ‘rsw), dengan hadiah-hadiah pilihan dari surga di atas (m-mgd smym m-’l), dan dari samudera yang terletak di bawah (m-thwm rbst tht) (Ulangan 33:13b)7 6 Dalam kata thmt, t ini dapat juga merupakan akhiran tunggal feminin. 7 M, yang merupakan preposisi ‘dari’ dalam m-mgd dan m-thwm, dengan baik sekali dihapuskan dalam terjemahannya di sini, tentunya karena preposisi tersebut membingungkan penterjemahnya. Sebuah catatan dalam RSV mengakui bahwa m-tl berarti ‘dengan embun’ (sebenarnya, ‘dari embun’) dan bukan ‘di atas’. Di sini tl (kata— 94 —
  • 106. Suku Yusuf tampaknya menempati sebuah wilayah diWadi Adam, di pedalaman yang berbukit-bukit di padangpasir pesisir Tihamah dekat kota Lith (kota menurut Bibel‘Laish’, atau lys; lihat Lampiran tambahan). Di sini, sampaikini, terletak pedesaan yang bernama Rakkah (rkt); Rabidah(rbdt, bandingkan dengan rbst); Thadyayn (tdynn, dalambahasa Arab berarti ‘dua payudara’, bandingkan dengan kataIbrani sdym, ‘payudara’ atau ‘dua buah payudara’, tergantungpemberian tanda vokalnya); Rahm (rhm); Barakah (brkt);dan Miqaddah (mqd, bandingkan dengan mgd); juga duapasang puncak kembar, masing-masing bernama Samayin(smyn, bandingkan dengan kata Ibrani smym, diucapkansamayim), mengingat nama-nama tempat ini, dan membacakembali kedua ‘berkah’ suku Yusuf dengan sudut pandanganberkenaan dengan mereka, dan meninggalkan tandapemberian vokal secara Masoret, kita dapat melihat bahwamereka bukan membicarakan tentang ‘berkah’, melainkanmengenai definisi-definisi wilayah atau pernyataan hak ataswilayah suku ini: Ia akan menempatkan engkau (ybrkk),8 pada Rakkahdi Samayin dari atas (b-rkt smym m-’l), di Rakkah TihamahRabidah di bawah (b-rkt thwm rbst tht), pada Rakkah diThadyayn dan Rahm (b-rkt sdym w-rhm). Dari Barakah akan menjadi tanahnya (m-brk yhwh ‘rsw),dari Miqaddah di Samayin (m-mgd smym); dari puncak (m-tl); dan dari Tihamah di Rabidah di bawah (w-m-thwm rbsttht). Kini dusun kecil Rakkah, yang tampaknya merupakanpemukiman utama suku Yusuf di Wadi Adam pada zamanBibel itu dikenali dalam ‘berkah’ yang pertama berhubungandengan puncak-puncak Samayin dan pedusunan Rabidah,Thadyayn dan Rahm. Ada pula gagasan yang mengatakanbahwa Samayin dan Rabidah masing-masing terletak dipuncak dan di kaki bukit dusun itu, dan Rabidah masihterletak dalam wilayah Tihamah. Dalam ‘berkah’ yang kedua benda tll, ‘menutupi, langit-langit’, atau sebuah salah-eja dari kata tl, ‘bukit, puncak’) agaknya berkenaan dengan salah satu punggung bukit Samayin. 8 Akar kata brk, yang berarti ‘memberkahi’, juga merupakan sebuah kata Ibrani untuk ‘berlutut’; secara figuratif berarti ‘menetap’. Dalam bahasa Arab, pengertian utama brk adalah ‘menetap’. — 95 —
  • 107. batas-batas wilayah suku Yusuf disebutkan sebagai pedesaan Barakah, Miqaddah di dekat Samayin karena ada pula pedusunan lain dengan nama yang sama di Arabia Barat, dan gurun pasir pesisir Tihamah di dekat Rabidah. Saya mengakui bahwa mungkin ada permainan kata dalam kedua definisi wilayah kekuasaan suku Yusuf. Permainan-permain kata menghasilkan etimologi bagi nama- nama geografis, kesukuan dan nama-nama perorangan yang banyak sekali terdapat dalam teks-teks Bibel, terutama teks- teks dari buku-buku yang diberi nama ‘Hexateuch’ (‘Enam buku, dari Kejadian sampai pada Yosua) yang membahas prasejarah Israil. Maka dari itu, ada kemungkinan pada kedua bagian tersebut, kata Ibrani ybrkk (lihat Catatan 8) dapat berarti baik ‘ia akan menempatkan engkau’, maupun ‘ia akan memberkahi engkau’. Dengan pemberian vokal yang berbeda, b-rkt, ‘di Rakkah’, dapat dibaca sebagai brkt, yang berarti ‘berkah’ atau ‘berkah-berkah’. Walau smym, sama dengan diberi vokal secara tradisional sesuai benar dengan nama-nama puncak Samayin, dengan akhiran jamak m Ibraninya diubah menjadi akhiran jamak Arab n, kata itu juga mempunyai arti ‘surga’, atau ‘langit’. Kata Ibrani rbs, seperti halnya kata Arab rbd dalam Rabidah, berarti ‘berbaring, duduk menunggu’, maka rbst dapat berarti ‘meringkuk’. Telah ditunjukkan bahwa sdym, seperti halnya nama tempat yang telah diarabkan, Thadyayn, berarti ‘payudara’, atau ‘dua payudara’, sekali lagi tergantung pada pemberian vokalnya. Kata Ibrani rhm dan mgd (untuk Rahm dan Miqaddah) sebenarnya masing-masing berarti ‘rahim’ dan ‘karunia’ atau ‘hadiah-hadiah pilihan’. Kata Ibrani yhwh diketahui sebagai bentuk kuno dari bentuk orang ketiga tunggal maskulin imperfek dari kata kerja hyh, dalam bahasa Inggris ‘be’, yang merupakan satu bentuk yhyh, dalam arti yang samasekali lain (lihat Bab 12), kata itu juga merupakan Yahweh, nama Tuhan bangsa Israil, biasanya diterjemahkan sebagai ‘Tuhan’ (sesuai dengan tradisi Yahudi yang tidak pernah menyebutkan nama sebenarnya Tuhan).9 Semua ini benar, tetapi 9 Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan dalam pembacaan tradisional dari Bibel melibatkan kekeliruan atas kata yhwh dalam pengertian ‘ia adalah’, atau ‘ia akan’ (juga ‘akan’) dengan yhwh sebagai nama Tuhan orang-orang Israil, yaitu Yahweh. Contohnya, sebuah ungkapan yang tidak masuk akal yang— 96 —
  • 108. kenyataannya tetap adalah batwa kedua ‘berkah’ suku Yusufdalam Kejadian dan Ulangan benar-benar menyebutkannama-nama tempat, dan oleh sebab itu memberi arti yangkonkrit. Apa pun arti figuratif yang dikehendaki melaluipermainan kata, harus dipandang sebagai hal yang tidakpenting. Di sini kita perlu kembali pada masalah utama yangdibahas Bab ini; pada kedua ‘berkah’ ini, seperti yang disini diterjemahkan kembali dari bahasa Bibel Ibrani yangasli, jelaslah bahwa kawasan Tehom, sebagai sebuah jalurmemanjang di Tihamah Arabia Barat yang sekarang dikenalsebagai desa Rabidah di pedalaman Lith. Jika kita bersikerasmembaca kata Ibrani thwm, paling tidak sehubungan denganini, sebagai kata benda biasa yang berarti ‘samudera’ akanmengabadikan sebuah kesalahan yang mungkin dihargai darimasa ke masa, namun meskipun demikian tetap saja salah. Sejumlah sebutan menurut Bibel, seperti halnya keduayang baru saja dibahas, menyebutkan Tehom berhubungandengan tempat-tempat yang masih ada dengan nama-namayang sama di suatu tempat di Tihamah Asir dan di Hijazbagian selatan. Lalu tampaknya jelas, jika semua bagiantersebut perlu keseluruhannya ditafsirkan kembaIi. Keluaran15:5, contohnya, berbicara mengenai Tehom (thmt, denganakhiran tunggal feminin atau dengan akhiran jamak feminin)berhubungan dengan dua tempat di Wadi Madrakah, disebelah selatan Lith, yaitu pedusunan Tihamah lokal Mislatdan Binayah (mslt dan bny, bandingkan dengan kota menurutBibel mslwt dan ‘bn). Mazmur 33:7 berbicara tentang ‘wsrwt thwmwt (‘wsrwt,jamak ‘wsrh, di Tihamah); referensinya di sini mestinya ialahpada Wadhrah (wdrh), di Qunfudhah di sekitar Tihamah,dan pada sebuah lagi ‘wsrh, Wazra’ (wzr’), tidak jauh ke arahselatan, di sekitar Tihamah yaitu di Hali (Hali). Dalam Yunus(Jonah) 2:6, nps thwm jelas menunjukkan desa Tihamah yaitu berbunyi: ‘Tuhan (yhwh) menghujani Sodom dan Gomorrah dengan batu belerang dan api dari Tuhan (‘s m-’t yhwh) dari surga’ (Kejadian 19:24), sebenarnya berbunyi: ‘Tuhan (yhwh) menghujani Sodom dan Gomorrah dengan batu belerang, dan ini merupakan api kematian (‘s m-’t yhwh) dari surga’. Kata Ibrani m’t di sini seharusnya dibaca sebagai suatu varian dari kata mwt, sehingga berarti ‘kematian’. Dalam bahasa- bahasa Semit, ‘ayn dan semi-vokal w dan y dapat dipertukarkan. — 97 —
  • 109. Nifsh (nps) pada zaman sekarang di sekitar Jizan. Amos 7:4 membicarakan ‘api’nya Tuhan Yahweh yang memusnahkan thwn rbh dan h-hlq - bukan ‘samudera’ dan ‘tanah’ (RSV)¬∑, melainkan pada Tihamahnya Rabbah (rbh), di wilayah Bahr, dan desa al-Huqlah (hql, dengan kata sandang tertentu Arab, bukan Ibrani), di wilayah Jizan. ‘Api’ Yahweh tidak diragukan lagi merupakan api vulkanis. Di sebelah barat Rabbah, di wilayah Bahr, terletak padang lahar terbesar di pesisir Asir. Al- Huqlah terletak dekat gunung berapi besar al-Qari’ah (lihat Bab 2). Mestinya gempa dari daerah yang sangat vulkanis di pesisir Asir inilah yang disebut dalam Mazmur 77:17 dalam kalimat ‘p yrgzw thmwt. Maka, ini seharusnya diterjemahkan sebagai ‘ya, Tihamah itu berguncang’, bukan terjemahan yang berarti ganda ‘ya, samudera itu bergetar’ (RSV). Di samping sebutan-sebutan menurut Bibel yang menyebutkan nama-nama dan tempat-tempat di sepanjang pantai Tihamah di Hijaz bagian selatan dan Asir, ada dua sebutan yang menyebut ungkapan ‘l pny (‘menghadap’ atau ‘memandang ke bawah’) thwn. Salah satu sebutan ini, dalam Kejadian 1:2, berbicara mengenai hsk ‘l pny thwn. Di sini, bahasa Ibrani mestinya berarti ‘kegelapan di permukaan Tihamah’, dan bukan ‘kegelapan berada di permukaan samudera’ (RSV). Sebuah lagi sebutan yang menarik (Surat Amsal Sulaiman 8:27) menyebutkan sebuah hqw hwq ‘l pny thwm - Haqu (hqw) di Hiyaj (hyg) ‘memandang ke bawah Tihamah’. Haqu dan Hiyaj kini merupakan dua pedesaan di distrik Jabal Harub, di sebelah timur laut Jizan, yang kenyataannya memang memandang ke bawah Tihamah. Dalam teks Ibrani, Haqu dikenali sehubungan dengan tetangganya yaitu Hiyaj, tidak salah lagi agar membedakannya dari pedesaan lainnya yang bernama Haqu, yang masih ada di sana di pelbagai wilayah lebih jauh di utara. Ayat berikutnya dalam teks yang sama (Surat Amsal Sulaiman 8:28) menyebutkan nama-nama tempat lainnya di pelbagai bagian Asir, di antaranya ‘zwz ‘ynwt thwm - ‘Azizah (‘zyz) ‘Uyaynat (‘yynt) di Tihamah; keduanya, ‘Azizah dan ‘Uyaynat, masih ada sebagai pedesaan Tihamah di daerah sekitarnya yang paling— 98 —
  • 110. dekat, yaitu Lith. Dalam terjemahan tetap b-hqw hwq ‘lpny thwm diterjemahkan sebagai ‘sewaktu ia menggambarsebuah lingkaran pada permukaan samudera’, yang belum jelasartinya. Tidaklah begitu mengherankan jika para redakturmemandang perlu untuk menambahkan sebuah catatan dibawah halaman, ‘arti ungkapan itu dalam bahasa Ibrani tidakdapat ditentukan’, yang efektif dalam melepas segala tanggungjawab terjemahan ini. Maksud bab ini, seperti juga maksud bab-bab yang adadalam buku ini, adalah untuk mengemukakan pendapat.Untuk mendalami masalah ini secara mendetil akanmenakutkan bagi para pembaca yang bukan spesialis (ahli),di samping akan melibatkan sebuah karya yang memakanwaktu yang terlalu lama. Tetapi yang jelas adalah bahwaTehom dalam Bibel Ibrani sekarang merupakan gurun pasirpesisir Tihamah di Arabia Barat, bukan suatu ‘samudera’yang misterius. Bukti-bukti toponimis tanpa diragukanlagi mendukung gagasan ini. Lagi pula, penterjemahan atassebutan-sebutan mengenai Tehom ini secara geografis masukakal. — 99 —
  • 111. — 100 —
  • 112. 7 Masalah YordanD engan menyatakan bahwa Yordan (h-yrdn) dalam Kitab Bibel Ibrani samasekali bukan merupakan sebuah sungai (bahasa Ibrani dan Arabnya nhr) tentu nampaknyaseperti perbuatan yang semena-mena bahkan mungkinmenghina Tuhan. Tetapi seperti yang diketahui oleh semuaahli Bibel, tidak ada sebutan dalam Bibel yang sebenarnyamenyatakan bahwa Yordan adalah sebuah sungai.1 Bagaimanasungai Palestina yang termasyhur itu mendapatkan namaitu sendiri merupakan suatu pertanyaan, namun bukanpertanyaan tersebut yang akan dibahas di sini.2 Tujuan sayaadalah untuk menentukan apa sebenarnya Yordan dalamBibel Ibrani itu, kalau bukan sebuah sungai, dan untuk 1 Lihat Simons, alinea 137. Sambil mengingat bahwa ‘Sungai terbesar di Palestina’ tidak pernah disebut dalam Bibel Ibrani sebagai sebuah nhr, Simons menambahkan dalam sebuah catatan bawah bahwa ‘masalah asal mula dan arti “Yordan”, yang menimbulkan pendapat-pendapat yang berlainan telah dikemukakan mengenainya, sampai kini belum terpecahkan’. 2 Para ahli geografi Arab pada mulanya memakai nama Urdun (‘rdn) guna menandakan wilayah Galilee dan bagian-bagian lembah sungai Yordan yang bersebelahan dengannya, bukan sungai Yordan itu sendiri. Nama ini dapat merupakan padanan kata Ibrani yrdn tetapi tidak mutlak demikian. Kamus-kamus Arab mengambil nama itu dari akar kata rdn ‘mengisut, mengerut, mengeras’, yang menandakan bahwa kata tersebut berarti ‘kasar, kuat’. Mengenai asal mula kata yrdn, lihat di bawah.
  • 113. menunjukkan bagaimana kebingungan itu timbul. Secara etimologis, yrdn menurut Bibel ini merupakan kata benda jadian dari asal kata yrd (kata Arab rdy, disuarakan rada), yang berarti ‘turun, jatuh, jatuh ke bawah’. Dari asal kata yang sama ini terbentuk pula kata benda Arab yrd (rayd) dan bentuk femininnya rydh atau rydt (raydah), yang pertama merupakan istilah umum yang menunjukkan ‘bayangan sebuah gunung, lereng gunung yang curam’, dan yang kedua sebuah istilah khusus yang menunjukkan sebuah ‘tonjolan gunung atau punggung bukit’. Pemakaian kedua istilah ini berhubungan dengan daerah pegunungan, meskipun secara teoritis merupakan umum, penggunaannya terbatas pada wilayah barat dan selatan Arabia. Di sini Raydah dan Raydan (rydn, yaitu ryd dengan kata sandang kuno yang berakhiran, yaitu n, bandingkan dengan kata menurut Bibel, yrdn) merupakan nama-nama tempat yang umum, atau istilah-istilah topografis yang masuk dalam pembentukan nama-nama tempat gabungan. Di Asir sendiri, sedikitnya ada lima desa pegunungan di pelbagai wilayah yang bernama Raydah (atau Raydat dengan nama lain sesudahnya); sedikitnya ada dua pedesaan yang bernama Raydan; dan sedikitnya ada satu dengan nama Ridan (rdn, kemungkinan adalah sebuah kependekan yrdn). Dalam penggunaan Bibel, h-yrdn yang secara tradisional dianggap sebagai nama sebuah sungai tertentu di Palestina, tidak selalu merupakan sebuah nama tetapi (seperti dalam bahasa Arab) sebuah istilah topografis yang berarti ‘lereng yang curam’ atau ‘punggung bukit’. Dalam pembentukan ‘br h-yrdn (‘di seberang’ atau ‘melewati’ yrdn), sampai kini dianggap berarti ‘Trans-jordania’ (dengan kata lain, wilayah di sebelah timur Yordan Palestina), h-yrdn selalu menunjukkan pada tebing curam Sarat (lihat Bab 3), yang membentang dari Taif di Hijaz sebelah selatan, sampai pada wilayah Dhahran, dekat perbatasan Yaman. Dalam kebanyakan hal, ‘br h-yrdn berkenaan dengan daerah pedalaman Asir yang berbeda dengan daerah pesisir Asir, yang dulu merupakan tanah Yudah bangsa Israil (lihat Bab 8). Namun, tanpa kata ‘br, h-yrdn’ dapat dikaitkan dengan— 102 —
  • 114. daerah mana saja di tebing curam Asir; sering pula h-yrdnmenunjuk pada salah satu di antara punggung-punggungbukit terpencil yang tidak terhitung jumlahnya di sisi maritimpegunungan curam di tempat lain, (contohnya, seperti diJabal Abu Hamdan di wilayah Najran; lihat Bab 15). Inijelas diketahui dari pembentukan kata seperti yrdn yrhw,bukan ‘Yordan di Yericho’ (RSV), (melainkan) ‘punggungbukit di yrhw, yrhw ini kini merupakan desa Warakh (wrh)di dataran tinggi Zahran (lihat di bawah). Kenyataan bahwaada lebih dari satu yrdn (bukan ‘Yordan’) yang dibicarakan,ditandai pula oleh ungkapan h-yrdn hzh (‘tebing curam ini’,bukan ‘Yordan ini’), yang timbul tidak kurang dari enamkali pada Hexateuch (Kejadian 32:11; Ulangan 3:27, 32:2;Yosua 1:2, 11, 4:22). Kalau h-yrdn benar-benar merupakansebuah sungai tertentu atau sebuah tebing curam tertentu,agaknya bagi kita sulit untuk menemukan suatu alasan yangmenjelaskan mengapa h-yrdn seringkali dikhususkan sebagai‘yrdn ini’, terkecuali kalau ada sungai-sungai dan tebing-tebing curam lainnya dengan nama yang sama.3 Sebenarnya,ungkapan h-yrdn hzh hanya berarti ‘tebing curam ini’ atau‘punggung bukit ini’, guna membedakannya dari punggungbukit atau punggung-punggung bukit yang lain. Untuk menunjukkan kenyataun bahwa ‘Yordan’ menurutBibel bukan merupakan sebuah sungai dengan nama ini,melainkan hanya sebuah istilah geografis yang berkenaandengan tebing-tebing curam dan punggung-punggung bukitpegunungan di Hijaz bagian selatan dan Asir, marilah kitasaksikan, bagaimana istilah ini timbul bersama pelbagaikelompok nama tempat. Arabia Barat dalam pelbagai sebutandalam Bibel. Contoh pertama yang saya ambil ialah darilaporan mendetil mengenai penyeberangan ‘Yordan’ tersebutoleh orang-orang Israil di bawah pimpinan Yosua, dari saatorang-orang Israil berangkat untuk penyeberangan itu dariShittim sampai pada pengkhitanan masal ‘orang-orang Israil’ 3 Sungai-sungai musiman dan tetap yang tak terhitung lagi banyaknya, bermata air di pelbagai bagian ngarai Asir, yang menjelaskan istilah menurut Bibel my h-yrdn, atau mymy h-yrdn (‘air’ atau ‘perairan’ yrdn, lihat di bawah). Namun dalam beberapa contoh, istilah yrdn timbul dalam Bibel sebagai mempunyai arti ‘kali’ atau ‘kolam’. Dalam pengertian ini, kata tersebut bermula dari yrd dalam pengertian Arab ‘pergi ke air’. Lihat kisah Naaman pada akhir bab ini. — 103 —
  • 115. di Gibeath-Haaraloth (Yosua 3:15:3). Pertama-tama, marilah kita tetapkan tempat persis pemberangkatan dan kedatangan mereka. Tempat pemberangkatan mereka yaitu Shittim (ejaan Bibel h-stym), tampaknya merupakan sebuah punggung bukit di sekitar daerah Wadi Wajj (mungkin sekarang Jabal Suwayqah, tepat di sebelah utara Taif), yang namanya diperlihatkan dalam kesusastraan Arab kuno sebagai Jabal Shatan (stn).4 Lokasi Shittim di sana dapat didukung lebih jauh lagi dengan pengenalan atas daerah itu, tempat orang- orang Israil telah tiba di bawah pimpinan Nabi Musa, yang jelas termasuk bagian-bagian wilayah Taif, di sebelah timur pembagi perairan.5 Tempat kedatangan mereka, di tempat dilaksanakan sebuah pengkhitanan masal terhadap kaum pria Israil yang belum dikhitankan, sekarang merupakan desa Dhi Ghulf (bahasa Arabnya d glp) secara harfah berarti ‘kepunyaan kulit khatan’. Nama menurut Bibel tempat itu, Gibeath Haaraloth (bahasa Ibraninya gb’t h-’rlwt), berarti ‘bukit kulit khatan’. Kalau Jabal Shatan terletak di sebelah timur pembagi perairan Arabia Barat, Dhi Ghulf terletak 4 Menurut para sejarawan Arab, Nabi Muhammad pergi dari Madinah ke Mekah pada ibadah hajinya yang terakhir melalui Jabal Shatan dan desa Kada’ yang bertetangga dengannya, kini masih terdapat di sana. 5 Menurut Bilangan 33:41-49, Nabi Musa memimpin orang-orang Israil pada tahap terakhir pengembaraan mereka dari Gunung Hor (hr h-hr) menuju Zalmonah (slmnh); kemudian ke Punon (pwnn), Oboth (‘bt); Iye-abarim (‘yy h-’brym) di wilayah Moab (mw’b); Dibon-gad (dbyn gd); Almon-diblathaim (‘lmn dbltym); pegunungan Abarim (hry ‘brym), menghadap ke Nebo (nbw); ‘padang’ Moab (‘rbt mw’b), ‘di samping Yordan di Yericho’ (‘l yrdn yrhw, harfiahnya ‘di atas’ yrdn), antara Beth-Yeshimoth (byt ysmt) dan Abel-shittim (‘bl h-stym), di ‘padang’ Moab (‘rbt mw’b). Delapan tempat pertama yang disebut di sini terletak di wilayah Ghamid dan Zahran. Mereka kini disebut ‘tanjung’ (Ibraninya hr) al-Harrah (hr dengan kata sandang tertentu Arab menggantikan kata sandang tertentu Ibrani dalam namanya yang sekarang); Salaman (slmn); Jabal al-Nawf (nwp); Wadi Bat (bt); ‘tumpukan bebatuan’ (‘yym) al-’Arba’ (‘rb, bandingkan dengan ‘brym, jamak genitif ‘br), di Jabal Shada, masih ada di sana sebagai sebongkah batu datar berbentuk segitiga yang terletak di atas tiga buah batu yang lebih besar dan dipuja sebagai kuil Abraham; pedesaan Badwan (bdwn) dan al-Ghadhi (gd) yang bertetangga dengannya; dekat kota Qilwah; dua buah pedesaan lainnya di sekitar daerah Qilwah, yang bernama ‘Amlah (‘ml, bandingkan dengan ‘lmn) dan al-Badlah (bdlt, bandingkan dengan dbltym sebagai jamak nama itu atau jamak genitifnya); dan akhirnya ketinggian Jabal Gharib (grb), di Sarat Zahran, yang sebenarnya menghadap Nabah (nb), yaitu Nebo dalam Bibel di tonjolan paling selatan pundak bukit Taif ke arah utara. Sedangkan ‘rbt mw’b bukanlah ‘padang’ Moab, melainkan desa Ghurabah (grbt, atau grbh, lihat teks), kini terletak tepat di sebelah timur pembagi perairan antara wilayah Zahran dan Taif, di seberang yrdn, atau ‘ngarai’ Umm al-Yab (‘m yb) atau Moab dalam Bibel. Ghurabah ini sebenarnya terletak di bentangan yrdn yang sama, atau ‘ngarai’, tempat terdapat desa Warakh, atau wrh (‘Yericho’ dalam Bibel, lihat teks). Daerah tempat bangsa Israil, di bawah Nabi Musa, akhirnya menetap adalah bentangan dataran tinggi antara al- Athimah (‘tm) di wilayah Zahran, dan ‘aliran air’ (‘bl) Jabal Shatan (stn), kini bernama Wadi Wajj di wilayah Taif. Mengenai upaya yang lemah untuk menjelaskan geografi Bilangan 33:41-49 dalam pengertian Transyordania, lihat Kraeling, halaman 124-125.— 104 —
  • 116. di sebelah baratnya, di lembah Wadi Adam yang terletakdi daerah-daerah tinggi wiIayah Lith. Untuk mencapaiDhi Ghulf dari Jabal Shatan, seseorang harus menuju kearah selatan dan kemudian menuju ke arah barat gunamenyeberangi pembagi perairan di daerah rendah WadiBuqran di sebelah selatan Taif. Dari Jabal Shatan menuju Dhi Ghulf, penyeberanganYordan, oleh orang-orang Israil ini, seperti yang dilukiskandalam Kitab Yosua, dapat ditelusuri kembali sampai detil-detil yang terakhir dalam lingkungan Arabia Barat-nya.Kita harus pula mengingat bahwa ini belum pernah berhasildiikuti kembali sehubungan dengan lingkungan yang secaratradisional dianggap sebagai Palestina (lihat Kraeling, halaman132-134). Orang-orang Israil itu dikabarkan bertolak untukpenyeberangan itu pada musim panen (mestinya akhirmusim semi), sewaktu wadi-wadi di kanan kiri yrdn, atau‘tebing curam’ mengalir dengan amat deras (3:15).6 Waktumereka sampai di tempat mereka dapat menyeberang, air itumenyusut (atau disusutkan dengan cara yang bijaksana, yaitudengan cara membuat sebuah bendungan) agar orang-orangIsrail dapat menyeberanginya (3:16). Dari bahasa Ibrani,kejadian itu dilaporkan dalam terjemahan-terjemahan standarsebagai berikut: Air yang mengalir dari atas (m-l-m’lh) terdiam danbangkit membentuk suatu timbunan jauh (nd ‘hd h-rhqm’d) di Adam (‘dm) kota yang terletak di sebelah Zarethan(srtn), dan yang mengalir menuju lautan Arabah (‘l ym ‘rbh),Laut Garam (ym h-mlh) sama sekali terputus hubungan; danorang-orang pun melintas di hadapan Yericho (yryhw) (RSV). Secara tradisional ungkapan Ibrani ym ‘rbh ym h-mlhyang diterjemahkan dengan salah sebagai ‘Laut Arabah, LautGaram’ dianggap menunjuk pada Laut Mati Palestina. Tetapidalam bahasa Ibrani ym dapat berarti baik ‘laut’ maupun‘barat’. Maka dari itu penterjemahan yang benar atas seluruhucapan ym ‘rbh ym h-mlh seharusnya adalah ‘di sebelah barat‘rbh (sebuah tempat), di sebelah barat h-mlh (sebuah tempat 6 Sungai Yordan di Palestina tidak meluap pada musim panas. Namun di Asir Geografis, ini merupakan musim hujan yang sangat lebat yang dapat mengakibatkan banjir besar. Saya telah mengunjungi daerah ini pada akhir bulan Mei dan telah membuktikan hal ini, yang memuaskan bagi saya. — 105 —
  • 117. pula). Lokasi-lokasi yang bersangkutan adalah Ghurabah (grbh) di Wadi Buqran, sedikit ke timur pembagi perairan dan sebuah desa di dekatnya, yaitu al-Milhah (mlh, dengan kata sandang tertentu Arab). Terjemahan-terjemahan yang salah lainnya dalam sebutan yang baru saja dikutip adalah sebagai berikut: Ungkapan Ibrani m-l-m ‘lh merupakan suatu cara yang sangat janggal untuk mengatakan ‘dari atas’, karena secara harfiah itu mempunyai arti ‘dari atas’. Secara benar seharusnya ia berbunyi m-lm’lh, yang berarti ‘dari lm’lh’, nama sebuah tempat yang sekarang merupakan al-Ma’lah (‘l-m’lh), di wilayah Taif, dekat Ghurabah dan al-Milhah. Ungkapan Ibrani nd ‘hd, menurut konteks seharusnya diterjemahkan sebagai ‘satu bendungan’ dan bukan ‘suatu timbunan’. Sebenarnya di sini ungkapan itu timbul sebagai suatu susunan kata-kata keterangan yang berarti ‘dalam satu bendungan’. Ungkapan Ibrani h-rhq m’d, jika dibaca seperti itu, berarti ‘jarak banyak’, itulah sebabnya ungkapan tersebut diterjemahkan sebagai ‘jauh’. Tetapi kalau dibaca h-rhq m-’d, akan berarti ‘yang membentang dari ‘d’, nama sebuah tempat yang kini merupakan Wadd (wd), di bagian sama pada wilayah Taif seperti halnya Ghurabah, al-Milhah dan al-Ma’lah. Tempat-tempat yang masih perlu dikenali adalah Adam, Zarethan dan Yericho, mengingat jarak yang dilaporkan antara kedua kota yang pertama itu. Seharusnya Adam sekarang merupakan Adam (‘dm, bentuk ubahan dari ‘dm dalam Bibel), desa yang terletak di sebelah barat pembagi perairan Taif, yang memberi namanya pada lembah Wadi Adam. Zarethan (srtn) mestinya kini merupakan desa Raznah (rznt), juga di Wadi Adam. Sedangkan Yericho (di sini yryhw bukan yrhw), tidak diragukan lagi kini adalah desa Rakhyah (rhy), di Wadi Adam. Mengingat semua ini, Yosua 3:16 seharusnya diterjemahkan seperti berikut: Air yang mengalir dari al-Ma’lah terdiam, mereka bangkit dalam satu bendungan yang terbentang dari Wadd, di Adam, kota yang letaknya di sebelah Raznah, dan mereka— 106 —
  • 118. yang mengalir di sebelah barat Ghurabah di sebelah barat al-Milhah sama sekali terputus hubungan; dan orang-orang punmelintas di hadapan Rakhyah. Jelas, air yang surut (agaknya karena dibendung) yangmemungkinkan orang-orang Israil menyeberangi tebingcuram di daerah Buqran itu berasal dari Wadi Adam yangmengalir dari pembagi perairan ke arah barat, dari ketinggianwilayah Taif menuju ke laut. Dengan diterjemahkan secaraini, titik penyeberangan ditetapkan dengan ketepatan yangmengagumkan. Sewaktu mereka menyeberangi daerah rendah Buqranantara Ghurabah dan Adam, kaum pria Israil (jika teks Ibranidibaca dengan benar) ‘mengambil dua belas buah batu’ daritebing curam itu (h-yrdn), ‘sesuai dengan jumlah suku-sukubangsa Israil’ (4:18). Ketika mereka sampai di Gilgal (glgl),Yosua mengambil keduabelas batu itu dan mendirikan sebuahtanda peringatan penyeberangan h-yrdn hzh (‘tebing curamini’, atau ‘punggung bukit ini’). Anekdot ini, seperti yangdilaporkan, pasti merupakan suatu usaha untuk menjelaskanberdirinya bukit kecil Jabal Juljul (glgl) di padang SahlJuljul (juga glgl), di Wadi Adam. Padang dan bukit kecil itukeduanya sampai kini masih ada di sana, dengan ciri-ciri namaBibelnya yang serupa tidak berubah. Agar dapat mencapai padang Juljul, atau ‘Gilgal’, orang-orang Israil menuruni Wadi Adam ‘di hadapan Yericho(yryhw)’ (3:16), dengan kata lain di hadapan desa Rakhyahyang secara geografis adalah benar. Juljul (atau ‘Gilgal’) tempatmereka berkemah terletak di perbatasan timur Yericho, sepertiyang ditegaskan oleh terjemahan tetap dari ungkapan Ibranib-qsh m-zrh yryhw (4:19). Di sini kata Ibrani qsh yangdianggap berarti ‘perbatasan’ dan zrh yang dianggap berarti‘timur’, sebenarnya merupakan dua buah nama desa di WadiAdam: Qasyah (qsy) dan Sarhah (srh). Desa yang kedua yaituSarhah dikenali sehubungan dengan desa Rakhyah (sepertizrh yryhw) di dekatnya, guna membedakannya dari sebuahdesa lain yang bernama Sarhah di daerah yang sama. Makaterjemahan ayat tersebut yang benar seharusnya adalah:‘mereka berkemah di Juljul, di Qasyah, dari Sarhah Rakhyah’. — 107 —
  • 119. Maka luas perkemahan tersebut telah ditandai. Serupa dengan cerita mengenai keduabelas batu Juljul atau ‘Gilgal’ itu, kisah mengenai pengkhitanan masal terhadap semua pria Israil yang belum dikhitankan di Gibeath- Haaraloth (sekarang Dhi Ghulf, lihat di atas) haruslah menandakan suatu usaha untuk menjelaskan suatu fenomena yang aneh — dalam hal ini nama aneh sebuah tempat yang bernama ‘bukit kulit khatan’. Mengapa tempat ini sebenarnya diberi nama ini bukanlah hal yang penting di sini.7 Yang penting adalah kini bahwa desa Dhi Ghulf di Arabia Barat — seperti halnya Rakhyah (atau ‘Yericho’), Juljul (atau ‘Gilgal’), Qasyah dan Sarhah— terletak di Wadi Adam, yang cocok sekali dengan tafsiran geografis dari penyeberangan ‘Yordan’ orang-orang Israil di bawah pimpinan Yosua. Kebetulan, koordinat-koordinat tempat penyeberangan itu di sepanjang daerah rendah Wadi Buqran di sebelah selatan Taif adalah 21¬∞ LU dan 40¬∞30” BT. Kalau ‘Yordan’nya Yosua merupakan sebuah daerah rendah pegunungan di Hijaz bagian selatan di sepanjang tebing curam utama Arabia Barat, ‘Yordan’nya Lot (Kejadian 13:10-12) merupakan punggung bukit Jabal Harub, kira-kira 450 km ke arah selatan-barat daya di wilayah pesisir Jizan, dan di tempat ini masih terdapat desa Raydan (bandingkan dengan h-yrdn Ibrani). Dari titik tolaknya di ‘Negeb’ (h-ngb), antara ‘Bethel’ (byt ‘l) dan ‘Ai’ (h-’y) (Kejadian 13:2), Lut kabarnya berpisah dengan pamannya, yaitu Abram orang Ibrani (lihat Bab 12, 13, dan 15) dan pergi untuk menetap di sebuah daerah yang dilukiskan sebagai kkr h-yrdn, biasanya diartikan dalam terjemahan-terjemahan sebagai ‘lingkaran Yordan’, atau ‘Lembah Yordan’. Kalau kkr berarti ‘lingkaran’, yang nampaknya memang demikian, maka kkr h-yrdn mestinya menunjuk pada lembah-lembah subur yang diairi dengan cukup menyebar dari punggung bukit Harub yang nama aslinya adalah h-yrdn, nampaknya masih bertahan 7 Para pengunjung yang datang ke pesisir Asir, sampai akhir abad ini pun, mengabarkan bahwa pemuda-pemuda dibawa ke sebuah bukit kecil di luar desa mereka untuk dikhitankan di depan umum. Istilah ‘khitan’ dalam pemakaian setempat adalah ‘alla (‘l’), yang harfiahnya berarti berarti ‘mengangkat, membawa ke sebuah tempat yang tinggi’. Dhi Ghulf, yang pernah disebut Gibeath-haarloth, mungkin lokasi sebuah bukit kecil dan di tempat itu upacara pengkhitanan dahulunya dilaksanakan terhadap para pemuda setempat.— 108 —
  • 120. dalam nama desa Raydan. Bahwasanya kkr h-yrdn meliputi lembah-lembah dikaki Jabal Harub, di wilayah Jizan di Asir bagian selatan,dan bukan ‘lembah Yordan’ di Palestina, dibuktikan olehrencana perjalanan Lut seperti diceritakan dalam Kejadian.‘Negeb’ (ngb) tempat Lut bertolak menuju kkr h-yrdn sudahjelas bukan gurun pasir Negeb di Palestina bagian selatanmelainkan ‘Negeb’ itu adalah desa al-Naqb (nqb), yang sampaikini masih berdiri di lerengan Rijal Alma’ di sebelah baratkota Abha (lihat Bab 4). Di sini sampai kini masih terdapatpedesaan Batilah (btl); kota dalam Bibel Bethel, dan al-Ghayy(gy), dengan kata sandang Arab, bandingkan dengan h’y-nya Ibrani) yaitu kota dalam Bibel Ai.8 Untuk sampai padakkr h-yrdn, Lut pertama-tama harus pergi ke Jabal Harub,dan dari sana menurun menuju ke lembah-lembah. DalamKejadian 13:11, sebenarnya disebutkan bahwa Lut melakukanperjalanan ‘dari qdm’ (Ibraninya m-qdm) guna mencapaitujuannya, qdm kini merupakan tempat pengambilan air yangbernama Ghamad (gmd) dekat Raydan di punggung bukitHarub. Kini Ghamad merupakan tempat Pengambilan airutama suku lokal Raydan (atau ‘Yordan’). Para penterjemahKitab Bibel tidak mungkin mengetahui bahwasanya qdmialah sebuah nama tempat dan oleh sebab itu beralasan kuatuntuk menterjemahkannya secara harfiah sebagai ‘timur’.Akan tetapi kalau kita anggap Lut bertolak dari Palestina danbahwa ia harus menuju ke timur untuk mencapai sebuah kkrh-yrdn, yang kiranya adalah lembah Yordan, para penterjemahini tampaknya salah menanggapi kata Ibrani m-qdmsebagai ‘ke arah timur’ atau ‘timur’ (RSV), waktu merekamengetahui bahwa ‘m-qdm’ hanya dapat berarti ‘dari timur’,kalau memang benar qdm itu berarti ‘timur’. Bukan karenaketidakjujuran namun hanya karena ketidaktahuan sajalahmereka menterjemahkan kisah dalam Kejadian 13:10-12sedikit banyak seperti berikut: Dan Lut pun mengangkat matanya dan melihat betapa 8 Para ahli Bibel telah pula dengan salah mengenali ‘Bethel’ dalam Bibel sebagai desa Baytin (bytn), di Palestina, berdasarkan persamaan-persamaan yang kurang jelas antara kedua nama ini, tak lebih dari itu. Mereka mengusulkan bahwa ‘Ai’ mungkin kini adalah al-Tall, di dekat Baytin. Mengenai diskusi yang lebih mendalam, lihat Bab 13, Catatan 3. — 109 —
  • 121. Lembah Yordan (kkr h-yrdn) di mana-mana mendapatkan pengairan yang baik (klh msqh) seperti Taman Tuhan (k- gn yhwh), seperti tanah Mesir ke arah Zoar (k-’rs msrym b-’kh s’r); ini sebelum Tuhan menghancurkan Sodom dan Gomorrah (l-pny sht yhwh ‘t sdm w-’t ‘mrh). Maka Lut memilih untuk dirinya Lembah Yordan, dan Lut pun melakukan perjalanan ke timur (m-qdm) ... Lut tinggal di kota-kota di lembah itu (ry h-kkr) dan memindahkan tendanya sampai sejauh Sodom (w-y’hl ‘d sdm) (RSV). Di samping secara sewenang-wenang menganggap kkr h-yrdn sebagai lembah Yordan, dan menterjemahkan m-qdm dengan salah sebagai ‘timur’ dan bukan ‘dari timur’ (m-qdm sebenarnya berarti ‘dari Ghamad’) para penterjemah ayat ini sebagai bentuk imperfek kuno dari kata kerja ‘be’ (dalam bahasa Inggris) (lihat Bab 6, Catatan 9), sebagai nama Tuhan Israil (Yahweh, biasanya diterjemahkan sebagai ‘Tuhan’). Demikian pula, mereka telah menganggap kata Ibrani sht sebagai sebuah kata kerja dalam bentuk yang menunjukkan bahwa pekerjaan itu sudah dilakukan (perfect tense), yang berarti ‘telah dimusnahkan’, padahal kata itu sebenarnya timbul dalam konteks sebagai sebuah nama tempat (lihat di bawah). Walaupun orisinalnya yang tertulis dalam bahasa Ibrani masuk di akal dalam bentuk itu, para ahli Bibel yang bekerja di dalam kerangka struktur geografis yang telah dibentuk sebelumnya telah memindahkan ungkapan l-pny sht yhwh ‘t sdm w-’t ‘mrh dari tempatnya yang benar. Dalam ungkapan yang asli ungkapan itu terletak persis sesudah klh msqh atau ‘seluruhnya mendapat pengairan’, tetapi mereka telah mengubah urutannya dan menempati ungkapan tersebut sesudah k-’rs msrym b-’kh s’r, yang bukan pada tempatnya. Selanjutnya, mereka telah menganggap selaku benar bahwa ‘rs msrym berarti ‘tanah Mesir’. Pada ayat terakhir, mereka telah selalu menganggap bahwa ‘ry h-kkr berarti ‘kota-kota di lembah, lingkaran, padang, distrik’. Akan tetapi, orisinalnya dalam bahasa Ibrani menunjukkan pada ‘gua-gua’ (Arabnya gr, diucapkan gar, ‘gua’) atau ‘lembah-lembah’ (dalam bahasa Arab gwr, diucapkan gawr, ‘kedalaman, lembah’) pada tempat tersebut. ‘Gua-— 110 —
  • 122. gua’ agaknya lebih cocok di dalam konteks ini, karena Lutdigambarkan bermukim di sebuah gua, dalam hal ini sebuahm’rh,9 pada Kejadian 19:30. Inilah penterjemahan kembaliyang saya buat dari teks yang sama, dengan membiarkannama-nama tempat yang disebut dalam bentuk Ibrani, aslinyauntuk pengenalan selanjutnya. Dan Lut pun mengangkat matanya dan melihat bahwakkr h-yrdn diairi dari arah sht (l-pny sht); ia terletak disamping sdm dan mrh (yhwh ‘t sdm w-’t ‘mrh). Tampaknyaseperti sebuah taman (k-gn yhwh); seperti tanah msrym kearah s’r. Maka Lut memilih untuk dirinya seluruh kkr h-yrdndan Lut melakukan perjalanan dari qdm ... Lut tinggal di gua-gua kkr, dan mendirikan kemahnya sampai sejauh sdm. Yang dikemukakan oleh terjemahan baru teks konsonanIbrani ini adalah dua buah kelompok nama tempat, yangsebuah berkenaan dengan tiga buah lokasi dalam ‘lingkaranRaydan’ (kkr h-yrdn dengan kata lain di lembah-lembahsekitar punggung bukit Jabal Harub) yaitu sht, sdm dan ‘mrh,dan yang sebuah lagi berkenaan dengan dua lokasi di tempatlain, msrym dan s’r, lokasi-lokasi yang ada pada kelompokpertama dengan baik dibandingkan dengan msrym dalamhal kesuburannya. Kelima tempat lokasi itu namanya masihbertahan di Asir modern: ketiga tempat pertama terletakdi wilayah Jizan, tempat yang memang disangka sebagailokasinya, dan yang dua lainnya terletak di daerah yang sangatsubur di sekitar wilayah Abha yaitu bagian dari Sarat yangdiberkahi dengan curah hujan terbesar. Ini adalah kelimanama tempat yang dikenali melalui nama mereka sekarang:Sht, kini Shakit (sht) di Jabal Bani Malik, di sebelah timur tenggara Jabal Harub, dan persis di sebelah timur tenggara Jabal Harub, dan persis di sebelah timur Wadi Sabya.Sdm, atau ‘Sodom’: namanya tetap bertahan dalam bentuk 9 Sebenarnya ‘r (bukan ‘yr, ‘kota’), tunggal dari ‘ry, (atau ‘rym) di dalam teks, dan m’rh berasal dari kata yang sama, tak diakui dalam bahasa Ibrani, tetapi padanan kata Arabnya merupakan gwr, yang berarti ‘tenggelam, memasuki, bersembunyi, menepis di tanah’. Padanan kata Arab m’rh adalah mgrh, disuarakan magarah, dan seperti gar (lihat teks) berarti ‘gua’ dan berasal dari akar kata yang sama, yaitu gwr. — 111 —
  • 123. metatesis, yaitu Wadi Damis (dms), cabang Wadi Sabya yang paling jauh di barat (lihat Bab 4) ‘Mrh, atau ‘Gomorrah’: Ghamr (gmr), di lerengan Jabal Harub di atas Wadi Damis. Msrym: di sini jelas bukan ‘Mesir’, melainkan Misramah (msrm) desa yang kini terletak di dekat Abha (lihat Bab 4). S’r, atau ‘Zoar’: tidak diragukan lagi adalah al-Sa’ra’ (s’r), juga dekat Abha, ada pula ‘Zoar’ lainnya di Asir. Guna mendukung pengalihan tempat kejadian cerita Lut dalam Kejadian, saya memberi bukti yang jenisnya berbeda. Sodom dan Gomorrah dalam daftar itu menurut Kejadian 19:24 dimusnahkan pada zaman Lut masih hidup oleh suatu hujan ‘batu belerang’ sebuah ‘api kematian dari surga’ (lihat Bab 6, Catatan 9). Ini seperti menunjukkan pada sebuah letusan gunung berapi. Ada beberapa Sodom di Asir yang kemungkinannya merupakan Sodom dalam Bibel. Salah satu diantaranya adalah Sudumah (persis sdm), di wilayah Bani Shahr; namun tidak satu pun yang terletak di dekat sebuah gunung berapi. Tidak begitu halnya dengan Wadi Damis yang aliran rendahnya mengalir di tengah-tengah padang lahar gunung berapi ‘Akwah. Para ahli Bibel yang masih mencari-cari peninggalan-peninggalan Sodom (atau peninggalan-peninggalan Gomorrah) di daerah sekitar Laut Mati di Palestina perlu mengingat bahwa belum pernah ditemukan sisa-sisa kegiatan-kegiatan vulkanis kuno di daerah itu. Kedua kota itu mestinya terpendam dibawah lahar Wadi Damis di wilayah Jizan dibawah Jabal Harub, walaupun ada sebuah desa yang bernama Ghamr (gmr) yang mungkin dahulunya merupakan kota menurut Bibel adalah Gomorrah di lerengan Jabal Harub.10 Yrdn atau ‘Yordan’, dua tempat yang diasosiasikan dengannya dalam kisah migrasi Lut, tidak 10 Ghamr ini kemungkinan besar terletak di luar jangkauan jatuhan vulkanis ‘Akwah; dan juga sebuah ‘Gomorrah’ lagi di wilayah Jizan, yaitu Ghamrah (gmrh, dengan akhiran feminin seperti dalam ‘mrh), di Jabal Bani Malik. Berbagai ‘Gomorrah’ Asir (sebagai gmr atau ‘mr, gmrh atau ‘mrh) berjumlah terlalu besar untuk dihitung.— 112 —
  • 124. mungkin kalau bukan punggung bukit Harub yang namaBibelnya (yang artinya ‘punggung bukit’) masih digunakanoleh desa Raydan. ‘Lingkaran’ (kkr) mestinya merupakanistilah kolektif yang dipakai guna menunjukkan lembah-lembah yang menyebar dari pelbagai sisi punggung bukitHarub, membentuk lembah-lembah (sungai) Wadi Sabya danWadi Baysh; juga qdm Lut bukanlah ‘timur’, melainkan anaksungai Ghamad di dekat Raydan.11 Mengenai nama tempat msrym, harus ditegaskanbahwa kota ini jarang digunakan didalam Bibel Ibrani untukmenunjuk pada Mesir, seperti yang biasa diduga.12 Dimanamsrym tidak berkenaan dengan Misramah dekat Abha (lihatBab 4 dan 13), ia berkenaan dengan Masr di Wadi Bishahatau dengan Madrum (mdrm) di dataran tinggi Ghamid(lihat Bab 14). ‘Pharaoh’ (pr’h) dalam Bibel, seperti yang akandikemukakan kemudian, bukanlah Fir’aun Mesir, melainkanseorang dewa orang-orang Arabia Barat yang diasosiasikandengan Misramah dan Masr disamping beberapa tempatlainnya,13 dan mungkin juga tanda pangkat kepala-kepalasebuah suku di daerah itu. Kata menurut Bible msr dapatjuga merupakan nama sebuah suku di Arabia Barat yangdalam bahasa Arabnya bernama Mudar (mdr, ‘susu yangdiasamkan’). Kenyataan menunjukkan bahwa sebuah suku‘Pharaoh’ yang bernama Far’a (pr’), kini masih ada di WadiBishah, memakai nama dewa kuno atau kepala-kepala sukudaerah itu. Kalau sudah dikenali h-yrdn dalam Bibel ini, atau‘Yordan’ bukanlah sebuah sungai, melainkan sebuah istilahyang berarti ‘punggung bukit, tebing curam’, atau sebuah 11 Para ahli Bibel telah menciptakan istilah ‘Pentapolis’ untuk menunjukkan ‘lima kota’ di ‘padang Yordan’, yang terdiri dari ‘Sodom’ dan ‘Gomorrah’ dan juga ‘Admah’ dan ‘Zeboiim’ (lihat Bab 4) dan ‘Bela-Zoar’ (Kejadian 15), walaupun mereka belum dapat menemukan ke ‘lima kota’ tersebut di lembah Yordan Palestina. Lihat Simons, alinea 271. 12 Mengenai kesangsian yang lebih awal atas msrym dalam Bibel yang selalu merupakan sebuah referensi terhadap Mesir, lihat Zeitschrift fur Assyriologie, 37:76, Reallexikon der Assyriologie (ed. E. Ebelling dan B. Meissner, Berlin 1928), I, 255a; Harry Torczyner, Die Bundeslade und die Anfange der Religion Israils (Berlin, 1930), halaman 67f. 13 Dewa ini jelas adalah ‘l msry (harfiahnya, ‘dewa rakyat msr’), yang namanya bertahan sebagai nama desa Al Masri, di wilayah Taif. Menilai distribusi nama-nama tempat yang berkenaan dengan akar kata msr di Arabia Barat, kita dapat menegaskan bahwa ‘rs msrym dalam Bibel membentang dari hulu Wadi Bishah, dekat Abha, sampai hulu Wadi Ranyah, di sebelah tenggara Taif. — 113 —
  • 125. nama tempat seperti Raydan yang mempunyai arti sama, maka mudahlah untuk memahami ungkapan-ungkapan gabungan menurut Bibel lainnya yang menggunakan istilah itu. Telah diamati bahwa yrdn yrhw (Bilangan 26:3, 63; 31:12; 33:48, 50; 35:1; 36:13) bukanlah ‘Yordan di Yericho’ (RSV), melainkan ‘punggung bukit Warakh’ di dataran tinggi Dhahran. Disamping yrdn yrhw adapula ungkapan-ungkapan menurut Bibel lainnya yang menonjolkan istilah yrdn yang perlu diperhatikan. M’brwt h-yrdn, misalnya, bukanlah ‘benteng-benteng Yordan’ (RSV), melainkan ‘jurang-jurang tebing curam’.14 Spt h-yrdn (Raja-raja II 2:13) bukanlah ‘tepian sungai Yordan’ (RSV), melainkan ‘tepi tebing curam’ (bandingkan dengan kata Arab sph atau sp’, ‘tepi jurang’). Bahkan orang-orang Arab yang tinggal di Arabia Barat masih menunjuk pada tebing curam Arabia Barat dengan cara ini. Glylwt h-yrdn (Yosua 22:11) bukanlah ‘wilayah sekitar Yordan’, melainkan ‘sisi yang bertingkat-tingkat (dalam bahasa Arab gl, ‘tingkat’, dari kata gll) dari tebing curam’, kecuali kalau referensinya kepada beberapa pedesaan yang kini bernama al-Jallah (gl) di bagian tebing curam Asir. Akhirnya, g’wn h-yrdn (Yeremia 12:5, 49:19; 50:44; Zakaria 11:3) jelas bukan ‘rimba Yordan’. Kata Ibrani g’wn dibuktikan berarti ‘tinggi’. Hanya suatu daya khayal yang tinggi saja yang dapat mengartikannya sebagai ‘pohon- pohon tinggi’, sehingga ditafsirkan sebagai ‘rimba’. Sebagai sebuah istilah, g’wn h-yrdn dapat berarti ‘ketinggian, tebing curam’. Tetapi secara kebetulan ada dua buah lembah yang bernama Wadi Ghawwan (gwn) di wilayah Jizan di Asir. Yang pertama adalah sebuah lembah pesisir yang menuju ke laut ke kota pelabuhan Shuqayq. Namun yang kedua, lebih jauh ke selatan, merupakan sebuah di antara hulu Wadi Baysh yang bermula di ujung utara tebing curam Harub atau jaringan yrdn (yrdn atau Raydan-nya Lut) dan bergabung dengan hulu-hulu lainnya di sana. Guna membedakan antara ‘Ghawwan tebing curam’ ini atau ‘Ghawwan Raydan’ dengan Wadi Ghawwan di daerah pesisir ke arah utara, teks-teks 14 Fu’ad Hamzah, yang mengunjungi Asir pada tahun 1934, menghitung 24 barisan semacam itu yang menyeberangi ngarai tersebut dari Nimas ke arah selatan, di samping barisan-barisan antara Nimas dan Taif. Lihat Fi Bilad ‘Asir (Riyadh, 1968), halaman 91-93.— 114 —
  • 126. Bibel tersebut menyebutnya g’wn h-yrdn. Jika kita mempertimbangkan kembali sebuah teks Bibelyang berkenaan dengan g’wn h-yrdn ini, maka kita akanmenemukan suatu alternatif yang menarik dari pembacaanstandar. Dalam terjemahan-terjemahan konvensional dariZakaria 11:1-3 (di sini RSV) kita dapat membaca yang berikutini: Bukalah pintu-pintumu, wahai Libanon (lbnwn), agarapi itu dapat melahap pohon-pohon arasmu (w-t’kl ‘s b’rzyk):Merataplah, wahai pohon saru, karena pohon aras (‘rz) telahtumbang, karena pohon-pohon agung itu telah rusak (sr drymsddw): Merataplah, pohon-pohon ek (tunggalnya ‘lwn) dariBashan (bsn), karena hutan yang lebat telah ditebangi (ky yrdy’r h-bswr): Dengarlah (qwl) ratapan gembala-gembala itu(‘llt h-r’ym) karena keagungan mereka (‘drtym) telah dirusak(sddh): Dengarlah qwl auman singa-singa itu (s’gt kpyrym),karena rimba Yordan (g’wn h-yrdn) dirusak (sdd). Ini jelas indah; namun sayangnya samasekali tidak akurat.Yang terkandung dalam teks Ibrani ini bukanlah dua buahtetapi sedikitnya tujuh buah nama tempat. Lbnwn yangdimaksudkan bukanlah Gunung Libanon, tetapi datarantinggi dan lembah Lubaynan (lbynn) yang membatasi wilayahJizan dari arah tenggara dan kini jatuh di wilayah Yaman(lihat Bab 1). Tumbuhan ‘rz dari Lubaynan tidak mungkinpohon aras, melainkan tanaman jenever raksasa setempat. Bsnyang diterjemahkan sebagai Bashan bukan al-Bathaniyyah,yaitu wilayah dataran tinggi di sebelah timur Sungai Yordan,seperti yang telah lama diduga, melainkan al-Bathanah (btn)di Jabal Faifa yang memandang ke bawah lembah-lembahwilayah Jizan. Tumbuhan ‘lwn di Bathanah bukan pohonek tetapi tumbuhan lokal, yaitu pohon butun. Terjemahanstandar yang telah saya kutip tadi mengenali lbnwn dan bsndalam Zakaria sebagai nama-nama tempat, namun tidak dapatmengenali nama-nama yang lain. Salah satu di antaranya ialahg’wn (g’wn h-yrdn) yang disebut sebagai Wadi Ghawwanzaman sekarang, di yrdn yang kini merupakan Jabal Harub.Dan inilah keempat nama-nama lainnya: — 115 —
  • 127. ‘Drym: bukan ‘pohon-pohon yang agung’, tetapi bentuk jamak kata ‘dr, di sini berarti ‘puncak’ (bandingkan dengan kata Arab drw; dalam dialek daerah pedalaman wilayah Jizan adalah dry, dalam maskulinnya diucapkan sebagai dari). Di sini referensinya adalah kepada kerucut-kerucut vulkanis atau ‘puncak- puncak’ Jabal Hattab di utara Yaman, di sebelah timur dataran tinggi Lubaynan.15 Di ujung selatan Jabal Hattab sampai kini berdiri sebuah desa yang bernama Darwan (drwn, bandingkan dengan kata Ibrani ‘drym, ‘puncak-puncak’). Ini mungkin merupakan nama lama ‘puncak-puncak’ di daerah tersebut. Bswr: bukan berarti ‘ditebangi’ (dari kata bsr, ‘mengiris’), namun kini merupakan desa Sabir (sbr) di distrik Bani Ghazi, di pedalaman Jizan, di kaki Jabal Harub. R’ym: belum tentu berarti ‘gembala-gembala’ (seperti dalam bentuk jamaknya r’y), namun lebih tepat kalau berkenaan dengan para penghuni Ri’ (r’ym, seperti dalam bentuk jamaknya genitif r’) di distrik Bani Ghazi wilayah Jizan, di lerengan jabal Masidah. ‘Dr (‘drtm) atau ‘puncak’ ‘mereka’ (bukan ‘keagungan mereka’) tentunya adalah Jabal Masidah tersebut. Kpyrym: belum tentu berarti ‘singa-singa’ (jamak kpyr), namun lebih tepat kalau merupakan sebuah nama tempat dalam bentuk maskulin jamak yang menandakan desa al-Rafaqat (bentuk feminin jamak rpq, bandingkan dengan kpyr-nya bahasa Ibrani) kini terletak di lerengan Jabal Harub; dengan kata lain di sekitar daerah Wadi Ghawwan (atau g’wn h-yrdn) yang 15 Seperti yang dilukiskan dalam Van Padang, halaman 14-16, gunung-gunung berapi ini terdapat pada ketinggian sekitar 2.900 m di atas permukaan laut, dan kini terdiri dari kira-kira enampuluh kerucut yang sebagian besar belum berumur tua. Kawah-kawah dan padang-padang lahar itu menyebar ke sekeliling Jabal Hattab ke segala penjuru. Van Padang menunjukkan, atas wewenang para ahli geografi Arab klasik, bahwa letusan gunung berapi yang dilukiskan dalam Qur’an 68:17-33 terjadi di distrik ini, yang memang benar demikian kenyataannya. Dalam teks Qur’an, yang musnah oleh letusan ini digambarkan sebagai sebuah ‘tanaman’ (68:17) dan penghuni- penghuni ‘taman’ ini, menurut penafsiran yang berwenang atas Qur’an oleh al-Fakhr ar-Razi, ‘disebut sebagai orang-orang Israil’.— 116 —
  • 128. sama. Maka dari itu, dalam mempertimbangkan kembali teksZakaria sehubungan dengan gagasan-gagasan baru ini, sayamengusulkan Penterjemahan kembali teks tersebut sebagai berikut: Bukalah pintu-pintumu, wahai Lubaynan, dan api ituakan memakan pohon-pohon jenever-mu;16 Merataplah,wahai pohon saru, karena pohon jenewer yang dirusakDarwan telah tumbang; Merataplah, wahai pohon-pohonbutun Bathanah, karena hutan Sabir telah tumbang;17Dengarlah ratapan orang-orang Ri’, karena puncak merekatelah hancur; Dengarlah auman al-Rafaqat, karena GhawwanRaydan telah hancur. Para pembaca bersedia atau tidak menerimapenterjemahan kembali yang diusulkan di atas, ada satu halyang sudah dapat dipastikan: Bibel Ibrani tidak mengatakansesuatu pun mengenai ‘rimba Yordan’ di daerah tempatkelimpahan pepohonan ini diduga keras berada. Inimerupakan suatu salah penterjemahan yang seharusnyaakan membuat ragu para pengunjung yang kurang cermatsekalipun. Bagaimana dengan Yordan (juga h-yrdn) tempatNaaman dari Aram ‘menyelam sebanyak tujuh kali’ untukmenyembuhkan dirinya dari penyakit kusta (Raja-raja II5:14)? Mungkinkah seseorang menyelam tidak ke dalam air,melainkan ke dalam bebatuan tebing curam atau punggungbukit? Jelas tidak. Tempat yang disebut yrdn tempat Naaman‘menyelam sebanyak tujuh kali’ tersebut mustahil kalaubukan merupakan sebuah sungai kecil atau kolam air. Jikahalnya demikian, maka istilah yrdn berasal dari akar kataSemit yang sama yaitu yrd — di sini bukan berarti ‘turun,jatuh ke bawah’, namun dalam pengertian kata Arab wrdyang berarti ‘pergi ke air’. Sambil mengingat bahwa Naamanmelakukan penyembuhan ‘Yordan’-nya di dekat ‘Samaria,(swrwn) yang kini adalah desa Shimran (smm) di pedalaman 16 Ini yang sebenarnya adalah terjemahan dari ungkapan Ibrani w-t’kl’s b-rzyk, yang bagaimanapun juga tak dapat berarti ‘bahwa api itu dapat memusnahkan tanaman-tanaman jenevermu’. 17 Bahasa Ibraninya yrd — 117 —
  • 129. Qunfudhah di pesisir Asir (lihat Bab 10), ‘Yordan’ yang satu ini sebagai sebuah ‘sungai kecil’ atau ‘kolam air’, tentunya merupakan bagian anak sungai Wadi Nu’s yang mengalir di daerah ini. Tanah asal Naaman yang bernama Aram ‘rm kini mestinya adalah Wadi Waram wrm di daerah-daerah rendah Rijal Alma’ di sebelah selatan Shimran atau ‘Samaria’. Di tempat itu ‘Damaskus’-nya dmsq atau d-msq) jelas tidak mungkin Damaskus yang terletak di Suria, Damaskus ini kini adalah desa lokal yang bernama Dhat Misk (dt msk). Tidak ada sungai-sungai yang bernama Pharphar prpr dan Abana (bn’) yang mengalir di daerah sekitar Damaskus Suria. ‘Sungai-sungai’ di tanah asal Naaman yang ia bandingkan secara yakin dengan ‘Yordan’ atau yrdn tempat ia melakukan penyembuhannya (Raja-raja II 5:12), memakai nama-nama yang kini dipergunakan pedesaan Rafrafah (rprp) dan al-Bana (bn). Jalan air utama di wilayah tersebut adalah lembah Wadi Hali. Oleh sebab itu kita dapat menganggap bahwa Pharphar dan Abana menurut Bibel merupakan dua di antara sejumlah anak sungai Wadi Hali yang sama ini.— 118 —
  • 130. 8 Yudah ArabiaK alau para pembaca sudi mengakui bahwa Yordan menurut Bibel itu mungkin saja merupakan sebuah tebing curam pegunungan yang penting di Arabia Barat,maka mereka akan mendapatkan sedikit kesulitan dalammenerima pra-anggapan bahwa Yudah menurut Bibel paling-paling adalah daerah perbukitan yang mengapit sisi maritimAsir. Lebih jelasnya saya mempunyai pendapat bahwa Yudahmilik orang-orang Israil kuno terletak di sebuah daerah yangterbentang dari pembagi perairan di pegunungan Sarat (yrdnyang utama, atau ‘Yordan’ dalam Bibel Ibrani) sampai padagurun pasir Tihamah di daerah pesisir (Tehom dalam Bibel). Menurut Bibel Ibrani Yudah adalah salah satu nama diantara keduabelas suku Israil. Yudah juga merupakan namayang dipakai untuk menandakan wilayah yang dihuni olehsuku tersebut dan juga untuk menandakan salah satu di antaradua kerajaan pecahan dari ‘Seluruh Israil’ yang pecah setelahwafatnya Sulaiman. Pada zaman Achaemenid, nama ini lebihumum dipakai guna menunjukkan seluruh tanah bangsa Israilyang pada saat itu telah tidak merdeka lagi.
  • 131. Tanah suku Yudah tampaknya terletak di Wadi Adam di Hijaz bagian selatan (lihat Lampiran). Daud, pendiri kerajaan ‘Seluruh Israil’, berasal dari Yudah, dan kota asalnya adalah ‘Bethlehem’ (byt lhm), sebuah desa yang kini dikenal sebagai Umm Lahm (‘m lhm). Tidak mengherankan apabila dinasti yang ia dirikan dikenal sebagai ‘Keluarga Kerajaan Yudah’, mencerminkan asal-usulnya, mungkin yang lebih penting lagi adalah apa yang kita kenal sebagai agama atau adat istiadat Yahudi (Yudaisme) kemungkinan besar mengambil namanya dari kerajaan — bukan dari suku atau tanah kesukuan— Yudah yang bertahan terus di bawah keluarga kerajaan Daud sampai kerajaan itu dihancurkan oleh orang-orang Babilonia pada tahun 586 S.M. Yang kita kenal sebagai Yudaisme yang dikembangkan oleh para nabi, atau nby’ym yang hidup di bawah perlindungan raja-raja Yudah (lihat Bab 1), dan Kitab Bibel Ibrani yang kita ketahui pada hakekatnya merupakan hasil karya kerajaan Yudah dan bukan kerajaan saingannya, yaitu Israil. Setelah hancurnya kedua kerajaan itu, Yudahlah yang lebih banyak menetap dalam ingatan orang. Paling tidak agar kita dapat menganggap dari kenyataan itu bahwa nama Yudah diberikan kepada seluruh bekas wilayah kekuasaan orang-orang Israil pada zaman Achaemenid. Kaum Yahudi sebagai suatu masyarakat keagamaan mendapatkan namanya dari Yudah (Yehudim dalam Bibel, tunggalnya Yehudi, dari Yehudah), bukan Israil yang masih kita kenal sampai saat ini. Hampir sudah dapat dipastikan bahwa Yudah merupakan sebuah nama geografis sebelum menjadi nama sebuah suku Israil. Bentuk Ibraninya, yhwdh, adalah kata benda jadian dari yhd — yaitu padanan kata Arab whd yang berarti ‘terletak rendah, tertekan’, yang tidak berkenaan dengan orang, melainkan dengan tanah. Dalam bahasa Arab, whd menghasilkan kata benda wahd (whd) dan wahdah (whdh, dengan akhiran feminin) yang berarti ‘daerah tanah datar, tanah yang berbaring rendah; jurang’, sedangkan yhwdh dalam Kitab Bibel, berasal dari kata yhd, yang mestinya merupakan suatu istilah topografis Semit kuno yang kira-kira mempunyai arti yang sama.— 120 —
  • 132. Sebenarnya daerah perbukitan yang mengapit sisimaritim Asir ini, yang menurut keyakinan saya adalah Yudah,ialah suatu bentangan daratan yang bukan hanya terdiri daripunggung-punggung bukit yang saling terjalin yang beberapadi antaranya menonjol keluar dari barisan utamanya danyang lain berdiri terasingkan di sana sini, namun juga terdiridari tanah wahd atau wahdah yang letaknya rendah. AgaknyaYudah kuno mendapatkan namanya dari kata yang terakhirini.1 Dalam teks-teks Bibel tak terhitung lagi jumlah referensipada Yudah yang mendukung pernyataan saya bahwa Yudahadalah wilayah kekuasaan Israil sebagai suatu bangsa danbukan wilayah kekuasaan sebuah suku Israil tertentu (lihatLampiran). Sebagian besar juga memperkuat pernyataansaya bahwa sebagian besar tanah mereka terdiri dari lerenganmaritim Asir geografis, di samping Hijaz bagian selatansampai sejauh punggung bukit Taif. Sebuah contoh yang baikdidapati dari dua buah kisah yang menceritakan kembalinyaketurunan-keturunan orang Israil buangan dari Babiloniake Yudah pada zaman Achaemenid, ditemukan dalam Ezra2:3-63 dan Nehemia 7:8-65. Kedua teks tersebut, denganvariasi-variasi yang tidak jauh berbeda, menuliskan kelompokatau masyarakat Israil menurut kota-kota dan desa-desa asalmereka, bukan menurut suku-suku atau keluarganya, sepertiyang sampai kini diduga.2 Jika meneliti kedua teks tersebutdengan menggunakan sebuah peta Jazirah Arab yang baik dansebuah kamus nama-nama tempat di Arabia guna memberibimbingan yang lebih jauh — serta lebih dari satu kamus 1 Menurut Kejadian 29:35; 49:8, nama yhwdh, seperti nama leluhur pemberi nama dari suku Yudah (salah satu di antara keduabelas suku Israil, lihat Lampiran), berarti ‘puja dan puji bagi Yahweh’ (yhwdh ydh). Ini jelas adalah etimologi rakyat, dan hanya menarik jika ditanggapi sebagai itu saja. Sampai sejauh ini, nama tersebut belum berhasil dijelaskan dan biasanya dianggap, pada mulanya, sebagai nama sebuah suku dan bukan nama suatu wilayah. Umumya suku-suku diberi nama menurut wilayah- wilayah mereka, meskipun ada kasus-kasus wilayah-wilayah itu memakai nama-nama suku yang menempatinya. 2 Sampai sejauh ini, para ahli Bibel lebih condong untuk mengira bahwa nama dalam kedua daftar yang didahului oleh bny, atau ‘putra dari’, umumnya merupakan nama-nama kesukuan atau nama-nama keluarga, sedangkan nama-nama yang didahului oleh ‘nswy, atau ‘rakyat dari’, sebagian besar adalah nama-nama tempat. Dalam bahasa Ibrani kuno, seperti dalam pemakaian bahasa Arab modern, kita dapat saja berbicara baik mengenai ‘putra-putra’ dari suatu tempat, maupun mengenai ‘rakyat’ dari suatu tempat. Pemakaian kedua istilah ini dalam teks yang sama, jelas untuk memberikan variasi yang anggun saja. — 121 —
  • 133. tersebut agar memudahkan pekerjaan ini sehingga tak dapat terjadi kesalahan-kesalahan— seseorang dengan mudah dapat menempatkan hampir semua kota dan pedesaan yang disebutkan dalam Ezra dan Nehemia. Terkadang itu merupakan daerah-daerah yang masih memakai nama yang sama. Dan terkadang berada dalam bentuk-bentuk yang sama yang dapat dikenali. Semuanya selalu dapat dijumpai di bagian-bagian kira-kira dari wilayah Taif dan daerah pedalaman Luth di sebelah utara, sampai ke daerah pedalaman Jizan di sebelah selatan. Bahkan istilah- istilah yang sampai kini diperkirakan menandakan ‘para pendeta’, ‘para Levit’, ‘para penyanyi’, ‘para penjaga gerbang’, ‘para pelayan kuil’, atau ‘para pelayan Sulaiman’ jika diteliti kembali dengan lebih cermat nampaknya lebih berkenaan dengan kelompok-kelompok yang berasal dari daerah-daerah tertentu di wilayah umum yang sama dan dari lingkungan Arabia yang lebih luas (terutama wilayah Najran; lihat bawah). Untuk menetapkan fakta-fakta mengenai hal ini, baiklah saya memulainya dengan meneliti kelompok yang terakhir. Mengingat kemustahilan dalam jumlah ‘para pendeta’ yang sangat besar tersebut, adalah aneh juga penafsiran secara tradisional atas kelompok ini dan juga kelompok-kelompok lainnya tidak diperiksa selama ini. Bagaimanapun juga, pertimbangkanlah yang berikut ini: a. ‘Para pendeta’ (h-khnym) konon berjumlah 4.289 orang (kira-kira sepersepuluh dari jumlah orang-orang Israil yang kembali, yang berjumlah sekitar 40.000 orang), dan dibagi seperti berikut ini (Ezra 2:36-39; Nehemia 7:39-42): ‘Putra-putra’ Yedaiah (yd’yh) ‘Putra-putra’ Immer (‘mr) ‘Putra-putra’ Pashhur (pshwr) ‘Putra-putra’ Harim (hrm) Kata menurut Bibel khnym tidak dapat ditafsirkan sebagai bentuk jamak kata Ibrani khn, atau ‘Pendeta’ karena itu akan berarti bahwa setiap satu orang di antara sepuluh— 122 —
  • 134. orang Israil yang kembali merupakan seorang pendeta. Khnymlebih tepat dianggap sebagai bentuk jamak khny, genitif khnsebagai sebuah nama tempat, sehingga berarti ‘orang-orangkhn’. Tanah asal khnym tampaknya kini berupa oase Qahwan(qhwn, pada hakekatnya qhn, bentuk kata dalam Bibel khnyang telah diarabkan) di Wadi Najran di sekitar oase Salwah.Anggapan ini didukung oleh distribusi geografis khnymyang kota-kota asalnya atau wilayah-wilayah asalnya (bukankeluarga-keluarganya) tertulis dalam Ezra dan Nehemia sepertiberikut: Yedaiah (yd’yh) yang kini jelas merupakan daerahkesukuan Wadi’ah (wd’h) di Wadi Najran. Ezra (2:36) danNehemia (7:39) berbicara mengenai bny yd’yh l-byt ysw’biasanya diterjemahkan sebagai ‘putra-putra Yedaiah dariKeluarga Kerajaan Yosua’, namun sebenarnya berarti ‘orang-orang Wadi’ah ke byt ysw’ (sebuah nama tempat)’, karenal yang berpreposisi dalam bahasa Ibrani berarti ‘ke’, bukan‘dari’. Masyarakat yang dibicarakan mestinya jelas ialahpenghuni-penghuni sebuah daerah yang membentang dariWadi’ah ditengah-tengah Wadi Najran, sampai (bukan ‘dari’)oase Wasi’ (wsy’, bandingkan ysw’ dalam Bibel) di selatanRiyadh, dan di ujung timur wilayah Yamamah di ArabiaTengah. Immer (‘mr), kini merupakan oase Al-Amar (‘mr) diwilayah Yamamah di Arabia Tengah, di sebelah timur lautdaerah Wadi Najran yang lebih luas. Pashhur (pshwr), kini jelas merupakan oase Wadi Harshaf(hrsp) di Wadi Habuna, di sebelah utara Wadi Najran. Harim (hrm), kini bentangan oase Wadi Harim (hrm) diujung barat wilayah Yamamah di Arabia Tengah. Dari semua ini jelas bahwa khnym tentunya merupakansebuah masyarakat yang mempunyai tanah asal yangmembentang dari Wadi Najran ke arah utara sampai ke WadiHabuna, dan ke arah timur laut memasuki wilayah Yamamahdi Arabia Tengah. Luas wilayah tersebut mungkin dapatmenjelaskan mengapa para khnym yang kembali itu, menurutEzra dan Nehemia, berjumlah sangat besar. Karena terletak dipedalaman, tanah khnym merupakan tambahan tanah Yudah — 123 —
  • 135. dan bukan suatu bagian integral darinya. b. ‘Para Levit’ (h-lwym) dibagi sebagai berikut (Ezra 2:40; Nehemia 7:43): ‘Putra-putra’ Yeshua (ysw’). ‘Putra-putra’ Kadmiel (qdmy’l atau qdmy ‘l). ‘Putra-putra’ Hodaviah (hwdwyh dalam Ezra; hwdwh, atau ‘Hodevah’ dalam Nehemia. Para lwym (jamak lwy, genitif lw atau lwh) bukanlah orang-orang ulama ‘Levit’, melainkan mereka mestinya merupakan sebuah masyarakat yang berasal dari Lawah (lw atau lwh) di Wadi Adam. Di Wadi Adam yang sama kini masih terdapat sebuah desa yang bernama Hudayyah (hdyh) yang tak lain adalah Hodaviah dalam Ezra dan Hodevah dalam Nehemia. Dalam teks-teks Ezra dan Nehemia orang- orang Hudayyah di Wadi Adam dibedakan dari kedua kelompok lwym lainnya yang secara bersamaan disebut ‘putra-putra Yeshua dan Kadmiel’. Ini dikarenakan ‘Yeshua’ dan ‘Kadmiel’ merupakan tempat-tempat yang terletak saling berdekatan di pedalaman Lith tak jauh dari daerah yang terletak lebih rendah dari Wadi Adam di sekitar daerah yang kini bernama Ghumayqah. Di sini ‘Yeshua’ kini ditandakan oleh desa Sha’yah (s’y, bandingkan dengan ysw’ dalam Bibel), sedangkan ‘Kadmiel’ ditandakan oleh desa Al-Qadamah (‘l-qdm, tampaknya ‘l qdm, ‘dewa’ qdm, bandingkan dengan qdmy ‘l dalam Bibel). c. ‘Para penyanyi’ (h-msrrym, termasuk penyanyi-penyanyi ‘Asaph’ (‘sp) (Ezra 2:41; Nehemia 7:44). Jelas mereka mestinya merupakan sebuah masyarakat yang berasal dari desa Masarrah (msr, atau msrr), di wilayah Bariq (Bariq): di sebelah barat wilayah Majaridah. Di sebelah timur Masarra di wilayah Ballasmar terdapat desa Al-Yusuf (ysp) yang sampai kini memakai nama menurut Bibel ‘Asaph’. d. ‘Para penjaga gerbang’ (h-s’rym) dibagi sebagai berikut— 124 —
  • 136. (Ezra 2:42; Nehemia 7:45): ‘Putra-Putra’ Shallum (slwm). ‘Putra-Putra’ Ater (‘tr). ‘Putra-Putra’ Talmon (tlmn). ‘Putra-Putra’ Akkub (‘qwb). ‘Putra-Putra’ Hatita (htyt’). ‘Putra-Putra’ Shobai (sby). Para s’rym tersebut samasekali bukan ‘para penjagagerbang’, melainkan mereka adalah sebuah masyarakat diwilayah Taif yang berasal dari sebuah tempat yang kinimerupakan Sha’ariyah (s’ry). Seluruh kampung halamans’rym, seperti yang tertera dalam Ezra dan Nehemia masihdapat dijumpai di sekitar daerah yang sama. Kampung-kampung halaman tersebut adalah Shumul (smwl, dalamBibel slwm, ‘Shallum’); Watrah (wtr, dalam Bibel ‘tr, ‘Atter,);Mantalah (mntl, dalam Bibel tlmn, ‘Talmon’); ‘Uqub(‘qwb dalam Bibel ‘qwb juga, ‘Akkub’); al-Huwayyit (hwyt,tampaknya merupakan bentuk Arab dari htyt’ yang ada dalamBibel, ‘Hatita’); dan Thawabiyah (twby, bandingkan dengansby dalam Bibel).e. ‘Para pelayan kuil’ (ntynym) ditulis sebagai ‘putra-putra’ atau orang-orang dari 35 tempat yang berbeda (bukan keluarga-keluarga; Ezra 2:43-45; Nehemia 7:46-56). Tentunya mereka bukanlah ‘para pelayan kuil’. Sayayakin mereka adalah sebuah masyarakat di wilayah Jizan danwilayah-wilayah Bahr dan Birk di Rijal Alma’ yang salingberdekatan. Tempat asal mereka adalah satu di antara duabuah pedesaan yang kini bernama Tanatin (tntn) di wilayahJizan. Inilah ketigapuluhlima pedesaan yang merupakantempat asal mereka:Ziha (syh’ dalam Ezra; sh’ dalam Nehemia): Sakhyah (shy) atau Sakhi (shy) di Rijal Alma’.Hashupa (hswp’): Hashafah (hsp) di wilayah Birk. — 125 —
  • 137. Tabbaoth (tb’wt): ‘Atiyyah (tbyt) di wilayah Jizan. Keros (qrs): Kirs (krs) satu di antara sembilan pedesaan yang memakai nama yang sama di wilayah Jizan; kecuali kalau itu adalah Kurus (krs) di wilayah yang sama. Siaha (sy’h’ dalam Ezra; sy’, dalam Nehemia; keduanya memakai kata sandang tertentu Arab yang berakhiran dan membiarkan nama itu sebagai sy’h atau sy’): al-Sa’i (s’y, dengan kata sandang tertentu Arab yang berakhiran) di wilayah Jizan. Padon (pdwn): Fadanah (pdn) di wilayah Jizan. Lebanah (lbnh): Lubanah (lbnh) di wilayah Jizan. Hagabah (hgbh): Huqbah (h) di wilayah Jizan. Akkub (‘qwb): Al ‘Aqibah (‘qb) di wilayah Jizan, (berbeda dengan ‘Uqub di wilayah Taif, lihat di atas). Haqab (hqb): Huqbah (hqb) di wilayah Jizan, kecuali kalau itu Huqbah di Rijal Alma’ yang terletak di dekatnya. Shamlai (smly): Shamula’ (sml’) satu di antara dua pedesaan dengan nama yang sama di wilayah Jizan. Hanan (hnn): Haninah (hnn), atau mungkin Hanini (hnn), di wilayah Jizan. Giddel (gdl): Jadal (gdl) di wilayah Bahr. Gahar (ghr): Juhr (ghr) atau mungkin Juhrah (ghr) di wilayah Jizan. Reaiah (r’yh): Rayah (ryh’, harus ditulis sebagai r’yh) di wilayah Jizan.— 126 —
  • 138. Rezin (rsyn): dari beberapa alternatif, yang paling besar kemungkinannya adalah Radwan (rdwn) di wilayah Jizan; kecuali kalau itu adalah Razinah (rzn) di Rijal Alma’.Nekoda (nqwd’ atau nqwd kalau kata sandang tertentu Arab yang berakhiran diabaikan): Najid (ngd) di wilayah Jizan.Gazzam (gzm): Jazayim (gzym) di wilayah Jizan, kecuali kalau merupakan nama Jizan itu sendiri.Uzza (‘z’): Ghazawah (gzw) di wilayah Jizan; kecuali kalau itu ‘Uzz (‘z) di wilayah Jizan.Pasea (psh): Safah (sph), satu di antara dua pedesaan yang bernama Safah di wilayah Jizan.Besai (bsy): Baswah (bsw) di wilayah Jizan.Asnah (‘snh): Wasan (wsn) di wilayah Bahr.Meunim (m’wnym, umumnya diberi vokal sebagai sebuah kata jamak, namun mungkin saja sebagai bentuk ganda m’wn atau m’wny): Ma’ani (m’n) dua pedesaan dengan nama yang sama di Rijal Alma’; kecuali kalau referensinya adalah pada lembah Wadi Ma’ayin (bentuk jamak Arab m’yn, disuarakan ma’yan) di wilayah Jizan yang kemungkinannya lebih kecil.Nephisim (npysym bentuk jamak genitif npys): Nasifan (nspn, bentuk tunggal Arabnya nsp) di Wadi Adam. Penghuni-penghuni Israil desa ini tentunya dahulu berasal dari sebuah tempat di wilayah Jizan yang kini telah tiada lagi.Bakbuk (bqbwq): Jubjub (gbgb) di wilayah Jizan — 127 —
  • 139. Hakupha (hqpw’, dengan kata sandang tertentu Arab berakhiran): al-Hajfah (hgp, dengan kata sandang tertentu Arab berawalan) di wilayah Jizan.3 Harhur (hrhwr): tidak dapat dikenali sebagai suatu nama tempat tertentu, namun ada kemungkinan kalau tempat itu adalah Kharr (hr) menurut Bibel yang dikenali sehubumgan dengan Khirah (hr) di dekatnya, di Rijal Alma. Bazluth (bslwt): mungkin sebuah nama kesukuan dari tipe feminin jamak, sangat umum dipergunakan dalam bahasa Arab, berasal dari nama tempat bsl; bandingkan dengan al-Balas (bls) di Rijal Alma. Ada pula wilayah suku Sulab (slb) di Rijal Alma. Atau ada juga Sulbiyah (slbyt) di wilayah Jizan. Mehida (mhyd’): Hamidah (hmyd, mungkin asalnya sebagai Hamida, atau hmyd’, dengan kata sandang tertentu Arab yang berakhiran, seperti nama menurut Bibel, di wilayah Jizan. Harsha (hrs dengan kata sandang tertentu Arab yang berawalan); al-Khursh (hrs, dengan kata sandang tertentu Arab yang berakhiran), di wilayah Jizan. Barkos (brqws): satu di antara Kirbas (krbs) atau Karbus (krbs) di wilayah Jizan. Sisera (sysr): paling-paling ialah Sirr Zahra (sr zhr’, suatu pengubahan dari nama aslinya, namun dengan membiarkan kata sandang tertentu Aram yang berakhiran) di wilayah Jizan. Tamah (tmh): Tamahah (tmh) di wilayah Jizan. 3 Hajfah ini, bersamaan dengan Qihafah (qhp) dan Qihf (qhp) di wilayah Rijal Alma’, di sebelahnya, mestinya adalah Ahqaf (jamak dari hqp) dalam Qur’an 46:21, biasanya dianggap sebagai gurun pasir di wilayah Hadramut, di Arabia selatan.— 128 —
  • 140. Neziah (nsyh): Naduh (ndh) di Rijal Alma’.Hatipha (htyp’): Khatfa (htp’, membiarkan kata sandang tertentu bahasa Aram di wilayah Jizan. Menilai dari pengenalan terhadap kampung halamanpara ntynym ini, yang terpusat pada suatu daerah di Asirbagian selatan dan sebagian besar di Jizan, jelaslah bahwamereka bukanlah ‘para pelayan kuil’, melainkan mereka adalahsuatu masyarakat yang namanya berasal dari suatu lokasi didaerah sekitar itu (lihat di atas). Hal yang sama berlaku padamasyarakat-masyarakat yang berikut ini.f. ‘Para pelayan Sulaiman’ (‘bdy slmh), ditulis sebagai ‘putra- putra’, atau orang-orang dari 10 tempat yang berbeda (bukan keluarga-keluarga).Bny’ ‘bdy slmh atau ‘putra-putra ‘bdy(m) slmh bukanlah ‘para pelayan Sulaiman’ tetapi mereka adalah sebuah masyarakat yang berasal dari sebuah desa yang kini merupakan desa Abdan (‘bdn) di wilayah Jizan, dalam Bibel desa ini dikenali berkenaan dengan desa Silamah (slmh) di dekatnya. Yang berikut ini adalah tempat- tempat asal mereka:Sotai (sty): Al Sut (st) di wilayah Jizan.Hassophereth (h-sprt): Rasafah (rspt) di wilayah Jizan, yang berkenaan dengan teks, nampaknya dikelirukan dengan Al-Safarah (sprt) di wilayah Ballasmar.Peruda (prwd’, dengan kata sandang tertentu bahasa Aram yang berakhiran): mungkin adalah al-Fardah (prd dengan kata sandang tertentu Arab yang berawalan) di Rijal Alma; lebih besar kemungkinan kalau itu adalah al-Rafda (rpd, juga membiarkan kata sandang tertentu bahasa Aram yang berakhiran) di wilayah Ballasmar. — 129 —
  • 141. Jaalah (y’lh): mungkin ‘Aliyah (‘lyh) satu di antara dua buah pedesaan dengan nama yang sama di wilayah Jizan; sangat mungkin kalau tempat ini adalah al-Wa’lah (w’lh) di daerah pedalaman Qunfudhah Darkon (drqwn): paling-paling adalah al-Darq (drq) di wilayah Jizan, yang berkenaan dengan teks, dikelirukan dengan Qardan (qrdn) di wilayah Taif. Giddel (gdl): Jadal (gdl) di wilayah Bahr (lihat di atas). Shephatiah (sptyh): Shutayfiah (stypyh) satu di antara tiga buah pedesaan di dekatnya dengan nama yang sama di wilayah Jizan. Hattil (htyl): tampaknya Sahil Al-Huluti (hlt) ditulis sebagai nama varian dari Sahil Abi ‘Allut di wilayah Jizan. Pocheret-hazebaim (pkrt h-sbym, sbym secara tradisional diberi vokal sebagai bentuk ganda sby, ‘gazelle’ (semacam rusa), lihat Bab 4): Faqarah (pqrt), dikenali sehubungan dengan kota kembar Sabya (sby’, bentuk h-sby yang telah diaramkan dan al-Zabyah (zby, bentuk h-sby yang telah diarabkan), ketiga tempat tersebut berdekatan di wilayah Jizan). Ami (‘my dalam Ezra; ‘mwn dalam Nehemia): kekeliruan terjadi antara Yamiyah (ymy) dan Yamani al- Marwa (ymn) keduanya di wilayah Jizan. Menurut hemat saya pengenalan terhadap kota-kota atau pedesaan asal orang-orang yang sampai kini dianggap sebagai ‘putra-putra’ ‘para pendeta’, ‘para Levit’, ‘para penyanyi’, ‘para penjaga gerbang’, ‘para pelayan kuil’ dan ‘para pelayan Sulaiman’, namun sebenarnya merupakan enam buah kelompok kesukuan yang dikenali menurut tempat asal masing-masing, sudah cukup untuk menunjukkan di mana sebenarnya terletak Yudah menurut Bibel itu. Meskipun— 130 —
  • 142. demikian, bukti-bukti yang lebih jauh telah diberikan melaluipengenalan-pengenalan terhadap tempat-tempat yang masihtersisa dalam Ezra 2 dan Nehemia 7 sebagai tempat-tempatasal orang-orang Israil yang kembali dari Babilonia, seluruhnyaterletak di Arabia Barat. Untuk mudahnya, tempat-tempattersebut akan dikenali menurut wilayah, dari selatan ke utara:a. Wilayah JizanArah (‘rh): Rah (rh); kecuali kalau ini adalah Raha (rh) atau Warkhah (wrh) di wilayah Taif.Zattu (ztw’, dengan kata sandang tertentu bahasa Aram yang berakhiran): mungkin adalah al-Zawiyah (metatesis dari ztw’, dengan kata sandang tertentu Arab yang berawalan).Ater (‘tr, hanya terdapat dalam Ezra): watar (wtr); kecuali kalau ini adalah Watrah (wrt) atau Watirah (wtr) di wilayah Taif.Bezai (bsy): Baswah (bsw), Basah (bs) atau Buzah (bz, satu diantara dua pedesaan dengan nama yang sama); kecuali kalau itu adalah Bada (bd’) di wilayah Taif.Harim (hrm): Khurm (hrm); kecuali kalau itu adalah ‘Arabat Harim (‘anak sungai’ hrm), di distrik Muhayil.Tel-harsha (tl hrsh, ‘bukit’nya hrsh) dan Tel-melah (tl mlh): Jabal al-Hashr (‘gunung’nya hsr) dan tanjung (tl) Hamil (hml) yang terakhir ini di daerah perbukitan Hurrath.Adan (‘dn, dalam Ezra) atau Addon (‘dwn, dalam Nehemia): kebingungan tampaknya terjadi antara dua buah pedesaan di distrik-distrik yang berdekatan yang bernama Udhn (‘dn) dan yang sebuah lagi bernama Wadanah (wdn). — 131 —
  • 143. Hariph (hryp, hanya dalam Nehemia): Harf (hrp), satu di antara lima buah pedesaan dengan nama yang sama. Ada pula sebuah Harf di Rijal Alma’; sebuah lagi di wilayah Ballasmar; dan masih ada sebuah lagi di wilayah Qunfudhah. Juga merupakan kemungkinan adalah Kharfa (hrp) di wilayah Taif. Anathoth (‘ntwt): ‘Antutah (‘ntwt). Azmaveth (‘zmwt, dalam Ezra) atau Beth-azmaveth (byt ‘zmwt, ‘kuil’ ‘zmwt, dalam Nehemia): al-’Usaymat (‘smt, atau ‘smyt) di daerah perbukitan Hurrath. Adonikam (‘dnyqm, tampaknya ‘dny qm, ‘tuanku’ dari qm): satu di antara sejumlah pedesaan di wilayah yang bernama al-Qa’im (q’m) agaknya nama seorang dewa kuno. b. Wilayah Rijal Alma’ Netophah (ntph): Qa’wat Al Natif (‘bukit’ ‘dewa’ ntp). Bethel (byt ‘l): Batilah (btl), telah dikenali dalam Bab 7. Ai (h-’y): Al-Ghayy (gy), telah dikenali dalam Bab 7. Barzillai dari Gileadit (brzly h-gl’dy, keduanya dalam bentuk genitif, nama-namanya yang ada dalam nominatif adalah brzl dan gl’d): al-Barsah (nampaknya ‘l brs, yaitu metatesis dari brzl), dikenali sehubungan dengan al-Ja’d yang terletak di dekatnya (‘l-g’d, yaitu gl’d; lihat Bab 1). c. Wilayah Bahr dan Birk Azgad (‘zgd, nampaknya ‘z gd): kemungkinan besar adalah ‘Azz (‘z), di wilayah Birk, dikenali sehubungan dengan Habis al-Qad (qd) di dekatnya, yang terletak di— 132 —
  • 144. wilayah kuno Muhayil, sebuah daerah yang letaknya berdekatan.Hebaiah (dalam Ezra atau Hobaiah dalam Nehemia, keduanya tertulis sebagai hbyh): Habwah (hbwh) di wilayah Bahry kecuali kalau itu adalah sebuah desa yang memakai nama yang sama di wilayah Bani Shahr, atau Khabyah (hbyh) di wilayah Jizan. Habwa (hbw) dan Khabwa (hbw) di Wadi Adam kemungkinannya kecil sebagai tempat-tempat asal orang-orang tersebut.d. Wilayah MuhayilAdin (‘dyn): ‘Adinah (‘dyn).Elam (‘ylm): ‘Alamah (‘lm); kecuali kalau itu adalah Al ‘Alam (‘lm) di wilayah Tanumah pegunungan Sarat.e. Wilayah Ballahmar-BallasmarCherub (krwb): Kharbah (krb); kecuali kalau tempat itu adalah al-Qaribah (qrb) di wilayah Jizan, atau sebuah Qaribah lagi di wilayah Taif.Bebai (bby): Bab (bb), di punggung bukit Jabal Dirim.Thummim (tmym): Al Tammam (tmm).f. Wilayah BariqParosh (pr’s), mungkin al-Ja’afir (g’pr, metatesis dari pr’s, menyuarakan bunyi desah s menjadi g); kecuali kalau itu adalah al-Ja’afir di wilayah Qunfudhah di dekatnya; ‘Ajrafah (‘grp) di wilayah Bahr; atau al-’Arafijah (rpg) di dataran tinggi Ghamid.g. Wilayah Majaridah — 133 —
  • 145. Gibeon (gb’wn, hanya dalam Nehemia): Al Jab’an (gb’n). Nebo (nbw): Nibah (nb); kecuali kalau itu adalah Nabah (nb), yaitu Nebo-nya Nabi Musa (Gunung Nebo) di wilayah Taif (lihat Bab 7, Catatan 5), atau sebuah Nabah lagi di punggung bukit yang terasingkan di Jabal Dirim di wilayah Ballasmar. h. Wilayah Qunfudhah Gibbar (gbr, hanya dalam Ezra): Qabar (qbr); kecuali kalau itu adalah Jubar (gbr) di wilayah yanug sama, atau satu di antara beberapa tempat-tempat dengan nama yang sama atau berbagai bentuk dari nama ini di bagian- bagian lain di Arabia Barat. Hadid (hdyd): Hadhidh (hdd, harus ditulis sebagai hdyd); kecuali itu juga Hadad (hdd), di daerah Taif, atau Wadi Hadid (hdd, harus ditulis sebagai hdyd), di wilayah Jizan. Urim (‘wrym): al-Riyam (rym); kecuali kalau itu adalah Al- Riyamah (rym) di wilayah Bani Shahr. Kiriath-Jearim (qryt y’rym), Chephirah (kpyrh) dan Beeroth (b’rwt): konteks Yosua 9:17 yang menyebut ketiga nama tempat tersebut secara bersamaan dan berhubungan dengan Gibeon (lihat di atas, di bawah Wilayah Majaridah), jelas menunjuk pada wilayah pedalaman Qunfudhah yang lebih luas. Di sekitar daerah ini terdapat Kiriath-Jearim (Qaryat ‘Amir, atau qryt ‘mr) dan Chephirah (Qifarah, atau qprh) dan Rabthah (rbt) yang mungkin adalah Beeroth. i. Wilayah Wadi Adam Pahath-moab (pht mw’b): Fatih (pth) dikenali sehubungan dengan Umm al-Yab (‘m yb) di dekatnya, yaitu Moab— 134 —
  • 146. yang tertera dalam Bibel (lihat Bab 5).Yeshua (ysw’, ditulis dalam Ezra dan Nehemia sebagai tanah jajahan Pahath-moab): Sha’yah (s’y) (mengenai tanah jajahan yang lain, yaitu ‘Joab’, lihat di bawah wilayah Taif).Yorah (ywrh, hanya dalam Ezra): Waryah (wryh).Bethlehem (byt lhm, atau ‘kuil’ lhm, secara harfiah berarti ‘roti, makanan, perbekalan’; nampaknya nama dewa perbekalan): Umm Lahm (‘m lhm) yang berarti ‘ibu’, dengan kata lain ‘dewi’ ‘roti, makanan, perbekalan’).4Ramah (h-rmh, dengan kata sandang tertentu): Dha al- Ramah (yang ‘satu’ dari rmh, di sini dengan kata sandang tertentu Arab yang berarti ‘dewa’ ‘bukit’).5Geba (gb’, ditulis dalam Ezra dan Nehemia sehubungan dengan ‘Ramah’): Jab’ (gb’).Michmas (mkms): Maqmas (mqms).6Magbish (mgbys, hanya terdapat dalam Ezra): Mashajib (msgb).j. Daerah pedalaman Lith yang lebih luasTobiah (twbyh): mungkin Buwayt (bwyt) di Wadi al-Jayizah.Ono (‘wnw): Awan (‘wn); kecuali kalau itu adalah Waynah 4 Yang membuat pengenalan atas Bethlehem menurut Bibel dengan Umm Lahm di Wadi Adam mutlak dapat dipastikan adalah hubungannya dalam pelbagai sebutan menurut Bibel dengan nama tempat ‘Ephrathah’ (‘prth), yang kini adalah Firt (prt), dekat Umm Lahm, di Wadi Adam yang sama. Pertimbangkanlah, misalnya, Mikha 5:2: ‘Tetapi kalian, wahai Bethlehem dari Ephrathah, yang kecil di antara marga-marga Yudah ...’ Lihat pula Bab 9. 5 Ini adalah Ramah, dekat Bethlehem, tempat Rachel dimakamkan, yang disebut oleh para nabi, contohnya Yeremia 31:35: ‘Sebuah suara terdengar di Ramah, ratapan dan isak tangis. Rachel meratapi putra-putranya...’ Mengenai Rachel, lihat Lampiran. 6 Perhatikan asosiasi Geba dan Michmas dengan Ramah (lihat Catatan 5) dalam Yesaya 10:28-29). — 135 —
  • 147. (wyn) di wilayah Bani Shahr. Joab (yw’b): al-Yab (yb) di wilayah Ghamid, di dekat Baljurshi. Tertulis dalam Ezra dan Nehemia sebagai sebuah tanah jajahan dari Pahath-moab (lihat di bawah Wadi Adam), al-Yab terletak di dataran tinggi di sebelah timur Wadi Adam. Sebuah Joab lagi terletak lebih dekat di Pohath-moab, yaitu Buwa’ (bw’), di wilayah Taif. Namun nama-nama Joab (yw’b) dan al- Yab jelas adalah sama. Elam ‘yang lain’ (ylm ‘hr): referensinya adalah kepada dua buah lembah yang berdekatan di dataran rendah Zahran yang bernama Wadi al-’Alma’ (‘lm) dan Wadi Yahar (yhr). Tidak ada Elam ‘yang lain’ yang dipermasalahkan. k. Wilayah Taif Zaccai (zky): Qasya (qsy); kecuali kalau itu adalah Wadi Qisi (qsy) di wilayah Jizan. Bani (bny, dalam Ezra) atau Binnui (bnwy dalam Nehemia): kekeliruannya adalah antara kedua buah tempat di wilayah Taif, yaitu pedesaan Binni (bny) dan Banya’ (bny’). Lod (ld): Lidd (ld); kecuali kalau itu adalah Liddah (ld) di Wadi al-Ja’izah di pedalaman Lith. Yericho (yrhw): Warkhakh (wrh); kecuali kalau itu sama dengan Yericho (yrhw) yang dibahas dalam Bab 7, yang merupakan Warakh (juga wrh) di dataran tinggi Zahran. Keseluruhannya, dari 130 nama tempat yang dikenali dalam daftar-daftar Ezra dan Nehemia yang telah saya hubungkan dengan kota-kota di Arabia Barat yang disebutkan— 136 —
  • 148. di atas, hanya pengenalan terhadap beberapa saja yang masihdiragukan. Namun yang mungkin lebih penting adalah bahwahanya sedikit di antara nama-nama yang telah dikenali denganlokasi-lokasi di Palestina (dalam Simons hanya ada 10); lagipula hanya dalam beberapa kasus saja (terutama Bethlehem,Lod, Nebo dan Yericho) nama-nama Palestinanya cocokdengan nama-nama menurut Bibel mereka yang asli tanpamenimbulkan pertanyaan-perlanyaan yang belum dapatterjawab (lihat Simons, alinea 1011f). Ini saja seharusnyasudah cukup untuk membawa kita pada suatu kesimpulanbahwa tanah menurut Bibel Yudah, yang berbeda denganYudaea di Palestina (atau ‘tanah kaum Yahudi’) pada zamanRumawi, dapat ditemui di Arabia Barat dan bukan di tempat-tempat lain. Sebenarnya Yudah menurut Bibel adalah wilayahyang terdiri dari lereng-lereng maritim Hijaz bagian selatandan Asir, dari pedalaman Lith di utara sampai pada wilayahJizan di selatan, bersamaan dengan wilayah Taif, di seberangpembagi perairan dari pedalaman Lith. Memang saya dapatmemberikan bukti-bukti yang mendukung pendapat sayadengan jalan mengidentifikasikan nama-nama tempat yangtertera sebagai terletak di Yudah dalam teks-teks yang lain,namun saya kira maksud saya telah dimengerti. Lagi pula, sayatidak ingin lebih jauh mengganggu kesabaran para pembaca. Kalau teks-teks Bibel yang relevan dibaca sebagaimanamestinya, yaitu dalam bentuk konsonan Ibraninya, tanpamemandang pada tradisi-tradisi yang menyesatkan tentangitu, samasekali tidak ada bukti-bukti yang menyatakanbahwa Yudah kuno tidak terletak di lokasi lain di luar yangsudah saya simpulkan. Bukti-bukti onomastiknya begituhebat, sampai-sampai agaknya tidak perlu lagi dukungan-dukungan arkeologis. Meskipun demikian, seperti yang telahsaya kemukakan sebelumnya, persoalan ini tidak mungkinterpecahkan dengan memuaskan semua pihak sehelum adanyabukti-bukti arkeologis untuk mendukung gagasan saya. Dalampada itu, agaknya patut untuk mengusulkan bahwasanyadengan berdasarkan informasi yang telah saya sebutkan,Yudah paling tidak jauh lebih besar kemungkinannya jikaterletak di Arabia Barat daripada di Palestina. — 137 —
  • 149. — 138 —
  • 150. 9Yerusalem dan Kota DaudM engatakan bahwa Yerusalem yang suci bagi umat- umat Yahudi, Kristen dan juga umat Islam sebenarnya bukanlah tempat yang dikira oleh kebanyakan orang,nampaknya seperti sebuah pernyataan yang lancang danpasti akan membakar hati segenap penganut yang taat dariketiga agama besar tersebut. Saya tentunya tidak menyangkalbahwa kota Yerusalem seperti yang kita ketahui sekarang iniberhak mempunyai reputasi sebagai Kota Suci. Namun sayaingin mengemukakan bahwa ada sebuah Yerusalem lagi yangterletak di Arabia Barat, yang keberadaannya mendahuluiYerusalem yang terdapat di Palestina, dan bahwa sejarah‘Yerusalem’ sudah selayaknya bermula dari sini. Kitab Bibel Ibrani mengatakan pada kita bahwa kerajaan‘Seluruh Israil’ pada zaman Raja Sulaiman membentang ‘dari
  • 151. Dan, bahkan sampai pada Beersheba’ (Raja-raja I 4:25). Sudah nmenjadi anggapan umum bahwa Beersheba kini sebenarnya merupakan kota Bir Sab’ di Palestina bagian selatan, dan kota Dan telah dikenali terletak di lokasi yang sama dengan reruntukan Tall al-Qadi, dekat hulu sungai Yordan yang sebagian besar berdasarkan pendapat bahwa kata qadi dalam bahasa Arab berarti ‘hakim’ (bahasa Ibraninya dn). Namun seperti yang telah saya tunjukkan pada Bab 4, Beersheba kemungkinan besar terletak di lokasi yang sama dengan desa Shaba’ah, kini di dataran tinggi Asir, di dekat kota Khamis Mushait. Mengenai kota Dan yang tertera dalam Bibel, paling-paling namanya bertahan di Arabia Barat dalam bentuk desa Danadinah (bentuk jamak dn dalam bahasa Arab) di dataran rendah Zahran dan di sebelah selatan Wadi Adam, seperti yang akan saya tunjukkan lebih jauh lagi pada Bab 10 dan 14. Ibukota Sulaiman, yaitu Yerusalem, mestinya terletak antara kedua pemukiman tersebut, kemungkinan besar sebuah desa yang kurang dikenal, dengan nama Al Sharim (‘l srym), di dekat kota Nimas, di sepanjang puncak Sarat Arabia Barat. Kemungkinan lain tempat tersebut juga dapat terletak beberapa kilometer lebih jauh ke arah selatan, di sekitar daerah Tanumah. ‘Yerusalem’ mungkin dapat bertahan terus sebagai nama desa Arwa (‘rw) yang dikenali sehubungan dengan desa Al Salam (slm) di dekatnya, yang menghasilkan nama gabungan Arwa-Salam (‘rw slm); bandingkan dengan yrwslm dalam Bibel, yang dimaksud sebagai Yerusalem). Setelah Sulaiman wafat, kerajaan ‘Seluruh Israil’-nya. Dibagi-bagikan kepada para keturunannya yang terus berkuasa di Al Sharim sebagai raja-raja ‘Yudah’; serangkaian penguasa-penguasa lainnya dengan jelas menyebut diri mereka sebagai raja-raja ‘Israil’. Akhirnya raja-raja ‘Israil’ tersebut mendirikan ibukota mereka di Samaria (dalam Bibel adalah Shomeron, atau smrwn) yang telah saya kenali sebagai desa Shimran (smrn) di dataran rendah wilayah Qunfudhah, dekat kaki Sarat. Dari ibukota mereka raja-raja ‘Israil’ itu menguasai sebuah wilayah yang mencakup bagian utara wilayah ‘Yudah’ sampai sejauh Taif.— 140 —
  • 152. Tetapi untuk sementara waktu perhatian saya terpusatpada Yerusalem; masalah yang lebih rumit mengenaipenempatan ‘Yudah’ dan ‘Israil’ akan dibahas dalam babberikutnya. Kitab Bibel Ibrani mengatakan bahwa Daudmerampas Yerusalem dan ‘benteng’ Zion dari orang-orangYebusit, dan memindahkan ibukotanya ke sana dari Hebronpada tahun kedelapan kekuasaannya sebagai raja Yudah(Samuel II 5:5-10). Dari kelima Hebron (hbrwn) yang kinimasih ada dengan nama Khirban (hbrn, secara metatesis) dilerengan maritim Asir, saya kira ibukota Daud yang pertamakemungkinan besar adalah Khirban di wilayah Majaridahyang sekali waktu pernah merupakan Hebron-nya Abram,atau Abraham (lihat Bab 13). Hebron-nya Daud tak mungkinterletak di Palestina, karena di sana tampaknya tak terdapattempat semacam itu. Memang benar umat Yahudi dan Kristen secara tradionaltelah menempatkan Hebron menurut Bibel pada kota al-Khalil di daerah perbukitan di sebelah selatan YerusalemPalestina. Apalagi karena tempat tersebut dihubungkandengan karir Ibrahim (Abraham) yang disebut di dalamQur’an (4:25) sebagai teman (bahasa Arabnya hlyl, disuarakanhalil, atau ‘Khalil) Tuhan, kaum Muslimin juga telahmenerima penyamaan kalangan Yahudi dan Kristen terhadapal-Khalil dengan Hebron Ibrahim. Bagaimanapun juga,sama sekali tidak mungkin jika nama tempat al-Khalil berarti‘teman’. Kemungkinan besar al-Khalil adalah sebuah bentuknama tempat Semit yang lebih tua yang telah diarabkan, yaituhlyl (dari kata Ibrani hll, ‘melubangi’, bandingkan dengankata Arab hll, ‘menembus, melubangi, masuk ke dalam’) yangberarti ‘gua’. Dengan demikian kota di Palestina tersebutmestinya mengambil namanya dari sebuah gua yang terkenaldi sekitar daerah itu (disebut oleh para ahli geografi Arab)yang ditahbiskan oleh tradisi-tradisi yang mendatang sebagaimakam keramat Ibrahim. Namun di Asir kita menjumpaidukungan yang lebih jauh bahwasanya Khirban di wilayahMajaridah, di daerah pedalaman Qunfudhah, merupakanibukota pertama Daud karena di sana kita menjumpaisejumlah nama tempat yang berhubungan dengannya. Nama- — 141 —
  • 153. nama itu adalah: Gibeon (gb’wn), kini al-Jib’an (gb’n) dan Helkath-hazzurim (hlqt h-srym), kini al-Halq (hlq) dan al- Siram (srm’), semuanya terletak di sekitar daerah yang sama (lihat Samuel II 2:16). Semua persamaan di atas dengan tepat mendukung pendapat saya bahwa Yerusalem mestinya adalah Al-Sharim yang terletak cukup jauh dari Khirban menuju puncak bukit ke arah timur di ketinggian Nimas, hanya terletak di seberang tebing curam Asir. Dalam halnya orang-orang Yebusit (h-ybw sy, genitif ybws) yang semula memegang kota tersebut, kemungkinan besar mereka adalah satu di antara sejumlah suku yang menghuni Arabia Barat kuno (lihat Bab 15). Tiga buah tempat di sana, di antara yang lain, jelas terus memakai nama-nama itu: desa Yabasah (ybsh) di Wadi Adam; lembah Wadi Yabs (ybs) atau Yubays (ybs) di sisi maritim wilayah Ghamid; dan desa Yabs (ybs) di wilayah Qunfudhah. Jika saya telah berhasil membawa para pembaca sampai sejauh ini dalam masalah perubahan tempat menurut Bibel Ibrani dari Palestina ke Arabia Barat, ini sebagian besar karena saya telah dapat mengenali tidak hanya satu tetapi beberapa tempat yang disebutkan dalam sebutan-sebutan tertentu dalam Bibel sebagai terletak saling berdekatan di wilayah yang sama dengan tempat yang menurut keyakinan saya adalah lokasi berlangsungnya sejarah menurut Bibel. Namun mengenai masalah Yerusalem pembaca mungkin akan menuntut lebih banyak bukti-bukti yang lebih meyakinkan daripada yang dapat dihasilkan oleh studi toponimik. Maka dari itu, marilah kita memulai dengan pedudukan oleh Daud atas Yerusalem seperti yang dikisahkan dalam teks Ibrani Samuel II 5:6-10. Sampai kini para ahli Bibel belum puas dengan informasi yang diberikan oleh teks tersebut yang mereka anggap terlalu terbatas, mengingat bahwa teks tersebut membicarakan suatu kejadian sepenting sejarah bangsa Israil (contohnya, lihat Kraeling, hal 195-197). Namun kesalahannya bukan terletak pada cara yang secara tradisional dipergunakan guna membaca dan menafsirkannya. RSV, misalnya, menterjemahkannya sebagai berikut: Dan raja itu beserta pasukannya pergi ke Yerusalem— 142 —
  • 154. melawan orang-orang Yebusit (‘l h-ybwsy), penghuni-penghuni tanah itu, yang berkata kepada Daud, ‘Engkau takakan masuk ke dalam, hanya mereka yang buta dan pincangsaja yang akan mengusirmu’ - sambil berpikir, ‘Daud tidakdapat masuk ke dalam’ (l’ tbw’ hnh ‘m hsyrk h-’wrym w-h-pshym l-’mr l’ ybw’ dwd hnh). Walaupun demikian, Daudmerebut benteng Zion (w-ylkd dwd ‘t msdt sywn), yaitu KotaDaud. Dan Daud pun berkata pada hari itu ‘Barangsiapa yangakan memukul orang-orang Yebusit, hendaklah ia menaikiterowongan air untuk menyerang mereka yang buta dan yangpincang, yang dibenci oleh jiwa Daud’ (w-y’mr dwd b-ywmh-hw’ kl mkh ybwsy w-yg b-snwr w-’t h-pshym w-’t h-’wrymsn’w nps dwd). Maka konon, ‘mereka yang buta dan yangpincang tidak akan masuk ke dalam rumah’ (‘l kn y’mrw ‘wrw-psh l’ ybw’ ‘l h-byt). Dan Daud pun menempati benteng itu(b-msdh), dan menamakannya Kota Daud. Dan Daud punmendirikan kota itu (sbyb) secara berputar dari Millo menujuke dalam (mn hmlw’ w-byth, secara konvensional dibaca mnh-mlw’ w-byth). Dan Daud pun menjadi lebih besar, karenaTuhan, Dewa dari semua tuan rumah berada bersamanya(w-yhwh ‘lhy sb’wt ‘mw). Berbeda dengan terjemahannya, versi Ibrani yang orisinaltidak menyebutkan bahwa Daud dan pasukannya pergi keYerusalem ‘melawan’ orang-orang yang ada di sana; versiini hanya mengatakan bahwa mereka pergi ‘ke’ orang-orangYebusit (‘l h-ybwsy). Ini mungkin menunjukkan bahwa Daudbelum tentu menaklukkan Yerusalem; karena kota tersebuttelah ditundukkan oleh orang-orang Israil sebelumnya, padazaman ‘Hakim-hakim’. Pada waktu penjajahan, orang-orangYebusit yang tinggal di Yerusalem diperbolehkan menetap disana, dan mereka masih tetap berada di tempat itu sewaktukitab Hakim-hakim ditulis, yang terjadi lama sesudah zamanDaud (lihat Hakim-hakim 1:8, 21, 21:25). Maka yangditaklukkan oleh Daud setelah ia pergi ‘ke’ (bukan ‘melawan’)Yerusalem samasekali bukan Yerusalem. Tempat tersebutmerupakan tempat lain, sebuah tempat yang dalam bahasaIbrani bernama msdt sywn, biasanya diterjemahkan sebagai‘benteng’ Zion. Kota msdh inilah, dan bukan Yerusalem, — 143 —
  • 155. yang namanya diganti menjadi Kota Daud. Kini jelaslah bahwa msdh ini merupakan bagian wilayah kekuasaan Yebusit. Setelah ia mendudukinya Daud berkata, ‘pada hari ini pendudukan atas orang-orang Yebusit telah dilaksanakan’ (harfiahnya ‘pada hari ini semua orang-orang Yebusit kalah’). Ini jelas merupakan arti teks Ibrani yang orisinal: w-ylkd dwd ‘t msdt sywn w-ymr dwd b-ywm h-hw’kl mkh ybwsy). Sebenarnya orang-orang Israil sebelum zaman Daud, setelah menduduki Yerusalem, telah mencoba untuk menundukkan daerah ‘Selatan’ (h-nqb), dan juga ‘daerah perbukitan’ (h-hr) dan ‘dataran rendah’ (h-splh) milik orang-orang Kanaan (Hakim-hakim 1:9), namun tanpa hasil. Dalam teks tersebut samasekali tidak dibahas mengenai penaklukkan atas daerah-daerah ini pada waktu itu. Inilah sebabnya mengapa Daud, sewaktu ia menduduki msdh, dapat mengumumkan ‘pada hari ini pendudukan atas orang-orang Yebusit telah dilaksanakan’. Msdh yang dipermasalahkan ini timbul dalam teks-teks Bibel lainnya sebagai hr sywn (Gunung Zion, atau ‘bukit’ Zion). Menurut pendapat saya tempat tersebut tidak mungkin kalau bukan punggung bukit wilayah Rijal Alma’, di sebelah barat Abha dan di sebelah selatan Nimas, yang namanya sampai kini masih dipakai oleh satu di antara sejumlah pedesaannya, yaitu Qa’wat Siyan (‘bukit’ syn, dieja pada hakekatnya seperti dalam bentuk Bibelnya). Pada punggung bukit yang sama tersebut kini terdapat dua buah pedesaan, sebuah bernama Samad (smd) dan sebuah lagi bernama Umm Samdah (‘m smdh, ‘m yang pertama adalah kata sandang tertentu yang telah disahkan dari dialek Arab setempat). Msdh-nya sywn yang kemudian menjadi Kota Daud kemungkinan besar adalah desa yang kedua. Pada punggung bukit itu pula terdapat sebuah desa lagi yang kini bernama al-Hamil (hml). Ini tentunya adalah ‘Millo’ (hmlw’) dalam teks yang sedang kita bahas ini, dengan kata sandang tertentu bahasa Aram yang berakhiran dari nama menurut Bibel tempat tersebut diarabkan menjadi kata sandang tertentu yang berawalan, dari bentuk nama yang sama sekarang. Dalam terjemahan RSV yang disebutkan di atas,— 144 —
  • 156. ungkapan Ibrani w-ybn dwd sbyb mn hmlw’ w-bythditerjemahkan sebagai ‘dan Daud pun mendirikan kota itusecara berputar dari Millo menuju ke dalam’. Millo biasanyadimengerti sebagai ‘Akropolis’-nya Yerusalem Palestina,seperti halnya Zion secara umum dimengerti sebagai ‘benteng’Yerusalem yang sama tersebut, ‘benteng’ di sini adalahterjemahan standar msdh. Namun kata Ibrani sbyb sebenarnyaberarti ‘tembok’, bukan ‘kota itu secara berputar’. Yangdidirikan Daud, setelah menduduki apa yang kini merupakanUmm Samdah di punggung bukit Siyan di Rijal Alma’,adalah ‘sebuah tembok hmlw’’, dengan perkataan lain sebuahtembok yang membentang menuju ‘ke dalam’ (w-byth) daridesa yang kini adalah al-Hamil. Mungkin juga tembok itudidirikan ‘dari al-Hamil dan byth’, dan byth merupakansebuah tempat lain di dekat al-Hamil yang namanya kinitidak ada lagi (bandingkan dengan al-Ba’thah, atau b’th, diwilayah Madinah; al-Batah, atau b’th di Wadi Adam; Bathyahatau btyh di sebelah timur laut Lith); seraya menantikanbukti-bukti yang lebih jauh, mustahil untuk lebih tepat dariini. Jelaslah bahwa Daud bermaksud menjadikan desa UmmSamdah yang kini terletak di punggung gunung Qa’wat Siyan(atau Gunung Zion), sebagai ibukota kedua yang merupakancabang Yerusalem — sebuah kompleks pertahanan yangmeliputi Umm Samdah dan al-Hamil guna mempertahankankerajaannya dari selatan. Inilah gambaran mengenai tempattersebut dalam Mazmur 4S:13-14: Kelilingilah Zion dan edarilah dia, hitunglah menaranya,perhatikanlah temboknya, jalanilah puri-purinya, supayakamu dapat menceritakannya kepada angkatan yangkemudian.1 Di sini saya perlu menegaskan bahwa berlawanan dengankesan yang telah ada, Kitab Bibel Ibrani samasekali tidakmengatakan bahwa Zion atau Kota Daud, yang jelas terdapatdi sana, merupakan bagian dari Yerusalem. Disebutkannya Zion secara bersamaan dengan Yerusalem 1 Mazmur ini berhubungan dengan ‘putra-putra Korah’ (bny qrh) yang namanya bertahan dengan utuh sebagai nama pedesaan al-Qarhah (qrh) di Jabal Faifa, dan al-Qarhan (qrhn) di Jabal Bani Malik, keduanya di wilayah Jizan, jauh ke arah selatan Rijal Alma’. Dalam baris yang lebih awal dari Mazmur yang sama (48:2), ‘Gunung Zion’ sebenarnya digambarkan sebagai terletak ‘jauh di utara’. — 145 —
  • 157. dalam sejumlah sebutan menurut Bibel (contohnya Mazmur 102:21; 125:1, 2; 135:21; 147:12) tidak berarti menunjukkan jarak ataupun persamaan identitas geografis antara mereka. Dari teks-teks Mazmur yang berbeda-beda (misalnya 65:1; 74:2; 76:2; 132: 13, 135:21) kita dapat menyimpulkan bahwa Zion atau ‘Gunung Zion’ di samping terletak pada punggung bukit yang sama dengan kota Daud, juga ditetapkan oleh Daud sebagai tempat suci, agaknya untuk menggantikan tempat suci ‘Salem’ (slm, lihat Bab 12, bukan ‘Yerusalem’; lihat Mazmur 76:2). Maka dari itu lokasi tempat suci Zion, berbeda dengan kota Daud, mestinya ada pada ketinggian desa Qa’wat Siyan kini terdapat. Akhirnya saya ingin mempertimbangkan sebuah alternatif dari pembacaan ‘wr dan ‘wrym pada Samuel 5:6-10 yang biasanya diartikan sebagai ‘buta’ dan psh dan pshym sebagai ‘pincang’. Menurut terjemahan standar Bibel, orang- orang Yebusit mengejek Daud dengan sesumbar mengatakan bahwa mereka akan menyerahkan pertahanan Yerusalem pada mereka yang buta dan yang pincang di antara mereka; yang memberi kesan seolah-oleh Yerusalem benar-benar dipertahankan oleh orang-orang cacat saja. Kemudian Daud memerintahkan sebuah penyerangan terhadap mereka melalui terowongan air (b-snwr) dan kita diberitahu lebih jauh bahwa Daud menaruh kebencian terhadap orang-orang buta dan pincang, yang merupakan penyebab mengapa mereka dilarang masuk ke dalam ‘rumah’ (dianggap berarti tempat pemujaan Yerusalem) — sebuah regulasi yang tidak disahkan dalam teks-teks Bibel Ibrani lainnya. Akal pikiran yang sehat sendiri akan membuat kita ragu terhadap pembacaan tersebut, maka tidak mengherankan jika teks Ibrani yang bersangkutan menceritakan hal ini dengan cara yang lain. ‘Wrym dan pshym paling tidak di dalam konteks ini bukanlah orang-orang ‘buta’ dan orang-orang ‘pincang’, melainkan mereka merupakan penghuni-penghuni suku di dua distrik pegunungan di bagian utara wilayah Jizan di sebelah selatan Rijal Alma’ — nampaknya mereka adalah suku-suku yang sama yang gagal ditaklukkan oleh orang- orang Israil setelah pendudukan mereka atas Yerusalem— 146 —
  • 158. sebelum zaman Daud (lihat di atas). Selanjutnya di wilayahorang-orang ‘wrym, yang tentunya bernama ‘wr, yang kinimerupakan punggung bukit Jabal ‘Awara, (‘wr), di sebelahutara Jabal Harub, kini terdapat sebuah desa yang bernamaSarran (srn, yaitu metatesis dari kata Bibel snwr) sebuah katayang dengan salah diartikan sebagai ‘terowongan air’ oleh parapenterjemah. Selanjutnya wilayah orang-orang pshym yangmestinya bernama psh adalah daerah di sekitar desa yang kinibernama Suhayf (shyp) di punggung Jabal al-Hashr, di sebelahselatan Jabal Harub. Dengan demikian kita harus menafsirkankejadian-kejadian yang berlangsung setelah datangnya Daudke Yerusalem sebagai berikut: Sewaktu Daud datang ke Yerusalem, orang-orang Yebusitsetempat mengatakan padanya agar ia tidak menetapkan diridi sana sebelum ia menaklukkan suku-suku wilayah ‘Awra’dan Suhayf di Rijal Alma’. Yang mereka berikan kepadanyaadalah sebuah nasihat yang bijaksana, dan bentuk orisinalnya,yang tertulis dalam bahasa Ibrani tampaknya dituliskan dalambentuk syair: Mereka mengatakan pada Daud, ‘Jangan datang ke mari;Jika engkau tidak mengenyahkan orang-orang wrym danpshym, Daud tidak diperbolehkan datang ke mari’.2 Ini mendorong Daud untuk bergerak ke arah selatanguna melengkapi pendudukan atas wilayah Yebusit denganjalan menduduki tempat yang kini bernama Umm Samdah dipunggung Siyan di Rijal Alma’. Dari sana ia terus menuju keselatan ‘dan sampai di Sarran (w-yg’ b-snwr) berdampingandengan pshym dan ‘wrym (w-’t h-pshym w-’t h-’wrym)’.Dari kedua suku pengacau ini tampaknya ada sebuahungkapan populer yang bersifat mencela yang mengatakanbahwa mereka ‘tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah’(harfiahnya, ‘wr dan psh tidak akan memasuki rumah’: dalambahasa Ibraninya ‘wr w-psh l’ ybw’ ‘l h-byt). Menurut teksIbrani, agaknya mereka tidak menyenangi Daud: ‘Mereka membenci orang yang bernama Daud itu (s’nwnps dwd); Oleh sebab itu itu konon (‘l kn y’mrw) ‘wr dan psh 2 Ini hanyalah satu di antara beberapa terjemahan yang mungkin, dari kalimat aslinya dalam bahasa Ibrani: w-ywmr l-dwd l-’mr l’ tbw hnh ky ‘m hsyrk h-’wrym w-h- pshym l-’mr l’ ybw dwd hnh. — 147 —
  • 159. tidak diperkenankan masuk rumah’. Sehubungan dengan itu, teks tersebut juga berbicara mengenai pendirian Kota Daud dan pembangunan kubu- kubu pertahanan Kota itu di Gunung Zion tepat setelah menceritakan ekspedisi Daud melawan orang-orang ‘wrym dan orang-orang pshym, dengan kata lain melawan suku- suku daerah perbukitan Jabal ‘Awra’ dan Suhayf di selatan Rijal Alma’. Ini menunjukkan bahwa ekspedisinya ke daerah tersebut merupakan suatu unjuk kekuatan yang tidak langsung berakhir dengan penjajahan atas daerah mereka. Tak disangkal lagi, Daud mendirikan ibukota yang kedua di Rijal Alma’ untuk dirinya sendiri guna membuat waspada suku- suku yang keras kepala dari daerah selatan. Kini kekuatan Daud menjadi ‘lebih besar’. Tuhannya sb’wt (bukan ‘semua tuan rumah’, melainkan sebuah desa yang kini bernama Sabayat atau sbyt di wilayah Nimas, lihat Bab 12) ‘berada bersamanya’ [w-yhwh (di sini ‘berada’ bukan ‘Yahweh’ atau ‘Tuhan’) ... ‘mw]. Sehubungan dengan penafsiran ini, kita perlu mencari Yerusalem yang tertera dalam Bibel (Ibraninya yrwslm, diuraikan menjadi yrw slym)3 di daerah ke arah utara punggung Siyan (Gunung Zion) di Rijal Alma’. Kemungkinan besar Yerusalem ini (berbeda dengan Yerusalem Palestina, lihat Bab I) merupakan suatu pemukiman kira-kira 35 kilometer di utara kota Nimas, di sepanjang puncak pegunungan Asir dan di sebelah utara Abha. Bahkan menurut hemat saya Yerusalem adalah sebuah desa yang kini bernama Al Sharim (‘l srym) yang namanya mengalami perubahan kecil ke dalam bahasa Arab dari bentuk aslinya, yaitu yrw slym (pengalihan r dan l antara kedua bagian nama gabungan tersebut).4 Pada ketinggian kira-kira 3 Nama yrwslm sejak itu dianggap membingungkan. Lebih besar kemungkinannya jika nama itu berarti ‘tempat tinggal’ (substantif yrw, bandingkan dengan akar kata kerja Arab ‘ry, ‘menempati’) slym (bandingkan dengan nama kesukuan Arab yang bertahan, yaitu Sulaym, atau slym di dataran tinggi Asir). Akar kata ‘ry diakui kebenarannya pada nama-nama tempat lainnya di Arabia Barat, seperti Arwa, (‘rw) dan Arwa (‘rw). Jika ini bukan merupakan nama sebuah suku (mungkin sebuah cabang dari suku Yebusit), slym mungkin merupakan nama seorang dewa setempat --mungkin sebuah bentuk dari slm (lihat Bab 12). 4 Ada pula kemungkinan bahwa nama yrwslym menggabungkan nama-nama sekarang dari dua buah pedesaan, yaitu Arwa (‘rw) dan Al Salam (slm) di wilayah Tanumah Sarat, tak jauh ke arah selatan wilayah Nimas (lihat di atas).— 148 —
  • 160. 2,500 meter, wilayah Nimas sebagai lokasi yang diperkirakanmerupakan Yerusalem menurut Bibel, terletak pada posisiyang strategis, baik untuk menguasai lerengan di sisi daratanmaupun di sisi laut Asir. Lebih lagi, sebuah jalan raya kunoyang terbentang di atas tebing curam sepanjang pembagi airSarat menghubungkannya dengan Abha Khamis Mushait diselatan, dan dengan Ghamid, Zahran serta wilayah-wilayahTaif di utara, dengan kata lain sepanjang tanah Israil danYudah. Sebagai tambahan, daerah ini sangat kaya akanpeninggalan-peninggalan arkeologis yang masih perlu diteliti.Di tempat ini pada zaman Bibel berdiri kuil-kuil pemujaanyang tak terhitung lagi jumlahnya (lihat Bab 12), di antaramereka ada tempat pemujaan yang dikenal sebagai ‘Tuhandari semua tuan rumah’ (Tuhannya Sabayat, lihat di atas).Untuk mencapai Yerusalem tersebut di wilayah Nimas dariibukota aslinya Hebron di wilayah Majaridah (lihat di atas),Daud tidak perlu berjalan jauh mendaki bukit di sepanjanglembah Wadi Khat. Sebagai sebuah ibukota kerajaan yangmencakup sebagian besar Asir, Yerusalem secara strategismerupakan tempat yang jauh lebih baik daripada Hebron. Walaupun Daud tampaknya menganggap Yerusalemyang terletak dekat tempat pemujaan Sabaoth yangdimuliakan itu (kini Sabayat lihat di atas) sebagai ibukotayang resmi, mungkin ia lebih banyak menetap di ibukotanyayang kedua, yaitu Kota Daud, dan benar-benar menjagaperbatasan-perbatasannya di sebelah selatan dengan teliti.Ia wafat di tempat tersebut, atau paling tidak di sanalah iadimakamkan (Raja-raja I 2:10). Putranya dan penggantinya,yaitu Sulaiman, yang nampaknya mendampinginya pada saatia wafat, tetap tinggal di Kota Daud (dengan perkataan lainUmm Samdah di Rijal Alma’) ‘sampai ia selesai mendirikanrumahnya sendiri dan rumah Tuhan dan tembok-tembok disekeliling Yerusalem’ (Raja-raja I 3:1). Hanya kemudianlah iapergi untuk memberi pengorbanan-pengorbanan di Gibeon(kini Al Jib’an, atau gb’n di wilayah Majaridah) dan setelahitu dia memasuki Yerusalem (Raja-raja I 3:4, 15). Kebetulansaja perjalanan Sulaiman dari Kota Daud menuju Yerusalemdengan jalan melewati Gibeon secara geografis masuk di — 149 —
  • 161. akal. Sebuah jalan yang bertolak dari Rijal Alma’ menuju ke wilayah Nimas memang melewati wilayah Majaridah yang kini terdapat desa Al Jib’an. Lagi pula kisah mengenai kenaikan tahta Sulaiman jelas menandakan bahwa Kota Daud dan Yerusalem merupakan dua buah tempat yang berbeda yang berjarak agak jauh antara satu dengan lainnya. Sebenarnya jarak antara Umm Samdah di Rijal Alma’ dan Al Sharim di wilayah Nimas dengan pesawat terbang adalah 80 atau 90 km, dan jarak perjalanan melalui pelbagai jalan pegunungan antara kedua kota tersebut sangat lebih-jauh. Berbeda dengan ayahnya, yaitu Daud, Sulaiman menghiasi dan memperkuat pertahanan Yerusalem dan membuat kota itu tempat kediamannya. Berkenaan dengan kenyataan bahwa Kota Daud dan Yerusalem merupakan dua buah tempat yang berbeda, ‘tangga-tangga’ di Yerusalem yang ‘turun dari Kota Daud’ (h-m’lwt h-ywrdwt m-’yr dwd) tidak boleh mengacaukan masalah ini karena ‘tangga-tangga’ tersebut sebenarnya adalah ‘altar-altar’ atau ‘mimbar-mimbar’ (m’lwt) yang telah ‘diangkut, dipindahkan’ (ywrdwt) dari Kota Daud ke Yerusalem (Nehemia 3:15) kemungkinan pada zaman pemerintahan Sulaiman. Maka dari itu jika kita menganggap bahwa Yerusalem menurut Bibel tersebut bukanlah Yerusalem yang terletak di Palestina tetapi kemungkinan besar adalah desa Al Sharim yang kini terletak di wilayah Nimas di Asir atau tempat lain di dekat daerah itu (lihat Catatan 4), maka ini akan memungkinkan kita untuk mengenali dengan kadar kepastian yang berbeda- beda banyak hal-hal yang berhubungan dengan Yerusalem yang ada dalam teks-teks Bibel. ‘Gerbang-gerbang’ (dalam bahasa Ibrani, tunggalnya adalah s’r) Yerusalem adalah sebuah contoh dari masalah ini; gerbang-gerbang tersebut dapat dikenali melalui tempat-tempat yang memberi namanya pada mereka, yang tentunya menunjukkan arah-arah ke mana gerbang-gerbang tersebut dibuka: Gerbang ‘Benyamin’ (bn ymn) (Yeremia 37:13; 38:7; Zakaria 14:10): di antara beberapa kemungkinan yang ada, mungkin ini adalah Dhat Yumn (ymn) di wilayah Ballasmar-Ballahmar.— 150 —
  • 162. Gerbang ‘Sudut’ (h-pnh) (Raja-raja II 14:13, bandingkan dengan Tawarikh II 15:23; 26:9; Yeremia 31:38; Zakaria 14:10): nampaknya ini adalah al-Nayafah (nyph, dengan kata sandang tertentu Arab) di wilayah Banu ‘Amr di Sarat.Gerbang ‘Kotoran’ (h-’spt) (Nehemia 2:13; 3:13, 14; 13:1): di antara beberapa kemungkinan yang ada, tempat ini mungkin adalah Fatish (pts) di Wadi Adam atau Shatfah (stp) di wilayah Taif.Gerbang ‘Timur’ (mzrh, dibaca m-zrh, ‘dari tempat kebangkitan’) (Nehemia 3:29): Al Muhriz (mhrz), satu di antara dua buah pedesaan yang memakai nama ini di wilayah Bani Shahr dan Ballahmar di sebelah barat Nimas.Gerbang ‘Ephraim’ (‘prym) (Raja-raja II 14:13, bandingkan dengan Tawarikh II 25:23; Nehemia 8:16; 12:39): Wafrayn (wpryn, seperti ‘prym dalam bentuk ganda) di wilayah Bani Shahr.Gerbang ‘Ikan’ (h-dgym) (Tawarikh II 33:14; Nehemia 3:3; Zefanya 1:10): diantara beberapa kemungkinan yang ada, kemungkinan besar Al Qadim (qdm) di sisi barat Wadi Bishah tepat di sebelah timur Sarat.Gerbang ‘Air Mancur’ (h-’yn) (Nehemia 2:14; 3:15; 12:37): referensi ini mungkin adalah kepada mata air setempat di sana; atau pada desa yang kini adalah al-’Ayn (‘yn, dengan kata sandang tertentu) di Sarat, di wilayah Ballasmar yang merupakan desa terdekat dengan Nimas yang memakai nama ini.Gerbang ‘Kuda’ (h-swsym) (Nehemia 3:26; Yeremia 31:40): referensi ini mungkin adalah pada desa al-Susiyyah (bentuk jamak Arab sws) kini di wilayah Zahran; lebih cocok dengan al-Masus (mss, metatesis dari swsym, juga dengan kata sandang tertentu) di Rijal Alma’.Gerbang ‘Inspeksi’ (h-mpqd) (Nehemia 3:31): kemungkinan besar adalah pelabuhan al-Qunfudhah (qnpd, dengan kata sandang tertentu) yang kini merupakan pelabuhan terdekat di wilayah Nimas dan sekitarnya, — 151 —
  • 163. yang namanya agaknya merupakan bentuk h-mpqd yang telah diubah ke dalam bahasa Arab. Gerbang ‘Tengah’ (h-twk) (Yeremia 39:3): al-Tuq (tq, dengan kata sandang tertentu) di Rijal Alma’. Gerbang ‘Yeshanah’ (h-ysnh) (Nehemia 3:6; 12:39): Yasinah (ysnh) di daerah pedalaman Qunfudhah, di sebelah barat wilayah Nimas. Gerbang ‘Penjara’ atau ‘Penjaga’ (h-mtrh) (Nehemia 3:1, 32; 12:39): nampaknya Matir (mtr) di wilayah Muhayil. Gerbang ‘Biri-biri’ (h-swn) (Nehemia 3:1, 32; 12:39): Al Zayyan (zyn, secara fonologis sama dengan swn) di wilayah Ballahmar. Gerbang ‘Benyamin Atas’ (bn ymn h-’lywn) (Yeremia 20:2): tak diragukan lagi adalah Al Yamani (ymn) di wilayah Balqran, di sebelah utara Nimas yang dikenali sehubungan dengan ‘Alyan (‘lyn) yang terletak di dekatnya. Gerbang ‘Lembah’ (h-qy’) (Tawarikh II 26:9; Nehemia 2:13, 15; 3:13): di antara beberapa kemungkinan yang ada, kemungkinan besar al-Jiyah (gy, dengan kata sandang tertentu) di wilayah Nimas; kecuali kalau itu adalah al-Jaww (gy, dengan kata sandang tertentu), di wilayah Ballasmar di sebelah Nimas. Gerbang ‘Air’ (h-mym) (Ezra 8:1; Nehemia 3:26; 8:1, 3, 16; 12:37): ada kemungkinan kalau itu merupakan al-Mumiyah (mmy, dengan kata sandang tertentu) di wilayah Bahr, di kaki bukit Rijal Alma’; mungkin juga al-Mayayn (myyn, ganda dari kata Arab my, ‘Air’) di wilayah Madinah di sepanjang jalan besar kafilah utama Arabia Barat yang menuju ke Suria; kecuali kalau referensinya sebenarnya adalah pada sebuah ‘perairan’ lokal. Gerbang ‘di belakang para penjaga akan menjaga tempat ini’ (‘hr h-rsym w-smrm ‘t msmrt h-byt msh, Raja- raja II 11:6): kalau diterjemahkan dengan lebih tepat sebagai hr-nya h-rsym dan smrtm di sebelah menara penjagaan byt msh, akan diperoleh suatu referensi mengenai empat buah tempat. Mereka— 152 —
  • 164. adalah sebagai berikut, yang semuanya terletak di pedalaman Qunfudhah: Yuhur (yhr); Sarum (srm, metatesis dari rsym); Samarah ‘mereka’ (smrt, m yang terakhir dalam smrtm yang tertera dalam Bibel adalah kata ganti kepunyaan orang ketiga jamak); dan Hillat Maswa (‘pemukiman’, dan karena itu ada kata Ibrani byt, atau ‘rumah’, msw, bandingkan dengan kata dalam Bibel msh).Gerbang ‘di belakang dua tembok’ (byn h-hmtym, Raja- raja II 25:4, bandingkan dengan Yeremia 39:4; 52:7): referensinya adalah pada ‘wilayah’ (terbukti sebagai arti kuno kata Arab byn, disuarakan btn) Al Hamatan (hmtn), di dataran tinggi Zahran (seperti kata Ibrani hmtym, tunggalnya adalah hmt, bentuk dari nama itu yang telah diarabkan adalah dalam bentuk ganda).5Gerbang ‘Shallecheth’ (slkt, Tawarikh I 26:16): Shaqlah (sqlt’ di pedalaman Qunfudhah.Gerbang ‘Sur’ (h-yswr, Raja-raja II 11:6; Tawarikh II 23:5): Al Yasir (‘l ysr) di wilayah Tanumah, di sebelah selatan Nimas menuju Abha.Gerbang ‘Yosua gubernur kota’ (yhws’ sr h-’yr, Raja-raja II 23:8): di sini kini desa Shu’ah (sw’) di wilayah Bahr tampaknya dikenali sehubungan dengan pedesaan al-Sirr (sr) dan al-Ghar (gr, secara fonologis sama dengan ‘yr) di Rijal Alma’ di dekatnya (baca ‘Shu’ah dari Sirr ‘al-Ghar’).Gerbang ‘Pecahan barang tanah’ (h-hsrwt, Yeremia 19:2): al-Kharizat (hrzt, metatesis dari hsrwt, juga dalam bentuk feminin jamak) di daerah sekitar Hali di wilayah Qunfudhah.‘Gerbang baru Yahweh’ (s’r yhwh h-hds, Yeremia 26:10) atau ‘gerbang baru rumah Yahweh’ (s’r byt yhwh h-hds, 5 Bentuk tunggal nama ini, yaitu hmt (seperti dalam Bilangan 13:21 dan dalam duapuluhsembilan tempat lainnya di Bibel Ibrani), juga bertahan di Hijaz bagian selatan dan Asir sebagai nama sebuah desa yang bernama Dhawi Hamal dan enam buah pedesaan yang bernama Hamatah (hmh atau hmt). Kacaunya nama tempat menurut Bibel dengan Hamah (hmh atau hmt) yang terletak di lembah Orontes di Suria telah membuat pengertian atas geografi Bibel tidak tepat. Konotasi nama yang sama, seperti yang muncul pada catatan-catatan kuno Mesir dan Mesopotamia, perlu dipertimbangkan kembali secara cermat. — 153 —
  • 165. Yeremia 36:10): referensinya tampaknya adalah kepada sebuah tempat pemujaan Yahweh kuno di desa al-Hadithah (hdt dengan kata sandang tertentu yang merupakan terjemahan bahasa Arab dari kata Ibrani h-hds, ‘baru’), kini di wilayah Qunfudhah. ‘Gerbang atas rumah Yahweh, (s’r byt yhwh h-’lwyn, Tawarikh II 27:3, terjemahan yang lebih baik adalah ‘gerbang rumah Yahweh h-’lwyn’): tempat pemujaan yang dibicarakan adalah Al ‘Alyan (‘l ‘lyn, ‘Tuhan’- nya ‘lyn) di wilayah Nimas (lihat Bab 12). Gerbang ‘Lama’ (s’r h-r’swn, Zakaria 14:10): kemungkinan besar adalah Rawshan (rwsn) di Wadi Bishah; kemungkinannya kecil kalau itu adalah Rishan (rsn) atau Rusan (rsn) di wilayah Taif.6 Kita dapat meneruskan lebih jauh lagi mengenali banyak tempat yang namanya tertera dalam Bibel Ibrani sehubungan dengan Yerusalem (bagian-bagian tembok, menara-menara, sejumlah mata air, ladang-ladang, bangunan-bangunan atau tempat-tempat pemakaman) berkenaan dengan nama-nama lokasi yang masih terdapat di sana yang sebagian terletak dekat Al Sharim di wilayah Nimas di Asir. Namun saya tidak ingin mengganggu para pembaca dengan tambahan- tambahan yang nampaknya adalah informasi yang berlebihan dan tak bermanfaat. Dengan demikian, hanya ada sebuah tempat yang tidak dapat saya tempatkan melalui namanya, dan tempat tersebut adalah ‘Gunung Zaitun’ (hr h-zytym) yang terletak di sebelah timur Yerusalem (Zakaria 14:4, yang merupakan tafsiran tradisionalnya). Sebaliknya, ada dua buah tempat lain yang namanya diasosiasikan dalam teks Bibel dengan Yerusalem yang letaknya tidak di sekitar ibukota itu, akan tetapi perlu diperhatikan bahwa teks-teks tersebut yang menyebutkan mereka pun tidak mengatakan bahwa mereka terletak di sekitar kota: 1. Lembah Hinnom atau lembah ‘anak’ Hinnom (gy’bn hnm). Jika membaca nama itu sebagai h-nm, dengan h 6 Bandingkan pengenalan nama-nama gerbang Yerusalem di sini dengan nama- nama gerbang dalam J. Simons, Yerusalem in the Old Testament (Leiden, 1952), yang didasarkan pada penemuan-penemuan purbakala di Yerusalem Palestina, tanpa bukti-bukti toponimis yang mendukungnya.— 154 —
  • 166. yang pertama sebagai kata sandang tertentu, dan nama ‘lembah’ (dalam bahasa Ibrani gy’) ini pun dapat dikenali sebagai al-Namah (nm, dengan kata sandang tertentu Arab), di wilayah Ballahmar antara wilayah Bani Shahr dan Rijal Alma’. Tepat di sinilah teks Yosua 15:8 menempatkan tempat tersebut; ‘di puncak sebelah selatan Yebusit (yaitu Yerusalem)’ (RSV). Menurut Raja-raja II 23:10, di lembah ini ada sebuah tempat yang bernama Topheth (htpt, dibaca dengan salah menjadi h-tpt). Kini tempat tersebut tidak lain adalah desa al-Hatafah (htpt), di sekitar daerah yang sama (bandingkan dengan Simons, alinea 36).2. Kali kecil Kidron (nhl qdrwn): ini tentunya adalah lembah Bani al-Asha’ib di lerengan maritim wilayah Zahran yang sampai kini masih berdiri sebuah desa yang bernama Qidran (qdrn). Dalam Raja-raja II 23:4, 6, ungkapan dalam bahasa Ibrani yang berbunyi m-hws l-yrwslym b-sdmwt qdrwn, dan m-hws l-yrwslym ‘l nhl qdrwn, secara tradisional diterjemahkan menjadi ‘di luar Yerusalem di ladang-ladang Kidron’, dan ‘di luar Yerusalem sampai pada kali kecil Qidran’. Namun di sini hws adalah nama sebuah tempat yang kini merupakan desa Hawwaz (hwz) di lembah yang sama, di wilayah Zahran letak Qidran dapat dijumpai. Jika dipertimbangkan kembali berkenaan dengan ini, kutipan Ibrani dari Raja-raja II 23 yang tertera di atas akan berbunyi: ‘dari Hawwaz sampai ke Yerusalem, di ladang-ladang Qidran’, dan ‘dari Hawwaz sampai ke Yerusalem, sampai ke kali kecil Qidran’. Terjemahan yang dipertimbangkan kembali ini cocok dengan konteksnya: atas perintah Raja Yosiah, semua jimat-jimat yang musyrik, tidak hanya Yerusalem, tetapi dari seluruh daerah Hawwaz dan Yerusalem dikumpulkan dan dibawa ke ladang-ladang di Qidran, atau ke kali kecil Qidran, di sana semua itu dibakar (untuk pengenalan tradisional atas Kidron di luar Yerusalem Palestina, lihat Simons, alinea 139). Suatu hari arkeologi akan dapat memperkuat pengenalanyang dikemukakan bahwa Yerusalem menurut Bibel adalah — 155 —
  • 167. desa Al Sharim yang kini terletak di dataran tinggi Nimas. Namun yang jelas adalah bahwa Kota Daud yang kini adalah Umm Samdah di Rijal Alma’ bukanlah Yerusalem yang kita sangka tetapi sebuah tempat lain samasekali. Seperti yang telah saya katakan tadi, Kota Daud didirikan sebagai sebuah kota-kubu guna menjaga perbatasan selatan kerajaan Daud. Di samping sebuah benteng pegunungan, Al Sharim, yaitu Yerusalem-nya Daud menduduki posisi di tengah antara Wadi Adam dan wilayah Taif di utara, dan Rijal Alma’ di selatan, karena wilayah kekuasaan kerajaan tersebut membentang di antara kedua daerah ini. Maka dari itu kota tersebut sangat cocok sebagai ibukota Daud. Harus pula dicatat bahwa lokasi kota itu di sepanjang jalan raya pegunungan utama di sebelah timur tebing curam Asir di beberapa tempat menghubungkannya dengan jalur-jalur pedalaman kafilah, baik yang menuju ke timur maupun yang menuju ke jalur pesisir di sebelah barat. Jalan raya ini kini masih ada sebagai saluran perhubungan utama wilayah itu. Setelah ia menetapkan dirinya di ‘Yerusalem’ tersebut, Daud tidak hanya berkuasa atas Yudah saja namun juga atas ‘Seluruh Israil’ (Samuel II 5:5 , seperti halnya anaknya, Sulaiman, sesudahnya.— 156 —
  • 168. 10 Israil dan SamariaK alau Yudah atau yhwdh, benar-benar adalah tanah yang mengandung jurang-jurang di sepanjang sisi maritim Hijaz selatan dan Asir, maka Israil (ysr’l) tentumulanya adalah tanah di dataran yang lebih tinggi padadaerah yang sama. Sudah banyak yang ditulis orang mengenaietimologi ysr’l, atau ‘Israil’ namun hasilnya lebih banyakmembingungkan daripada menjelaskan. Gagasan dalamKejadian 32:28 bahwa kata itu berarti ‘dia bergumul melawanTuhan’, atau ‘Tuhan berjuang’ (ysrh ‘l), adalah etimologirakyat yang khas. Bahwa nama itu merupakan kependekanysrh ‘l sudah jelas; tetapi di sini ysrh bukanlah bentukimperfek srh dalam pengertian bahasa Ibrani ‘bergumul,berkelahi’ yang telah disahkan, tetapi merupakan kata bendakuno dari kata kerja yang sama dalam pengertian kata Arabsrw atau sry (disuarakan sara), ‘tinggi, ditinggikan, diletakkantinggi-tinggi,. Maka nama itu, yang berarti ‘ketinggianTuhan’, berhubungan langsung dengan Sarat (bentuk jamak
  • 169. gabungan srw atau sry, disuarakan saru atau sari, (‘ketinggian gunung’), yang sampai kini masih bertahan sebagai nama daratan tinggi Arabia Barat, terutama di tempat yang kini adalah Asir (lihat Bab 3). Sebagai ungkapan yang berarti ‘ketinggian Tuhan’, nama ysr’l atau ‘Israil’, mestinya merupakan nama geografis sebelum kata tersebut menjadi nama sebuah bangsa, dan akhirnya menjadi nama sebuah kerajaan Arabia Barat yang berbeda dengan kerajaan dengan nama yang sama di Yudah.1 Sebenarnya ysrh ‘l yang sebagian besar ada dalam pelbagai varian dari bentuk ‘l ysrh yang terbalik, ‘dewa ketinggian’, masih bertahan sebagai nama tempat, tidak hanya di Asir tetapi di pelbagai tempat di Hijaz. Inilah daftarnya: Al-Yasr (l-ysr) di distrik Muhayil. Al-Yasra (‘l-ysr) di wilayah Nimas. Al-Yasra (juga l-ysr) di wilayah Taif. Yasrah (ysrh) di daerah sekitar Abha. Al Yasir (‘l ysr) di daerah sekitar Tanumah. Al-Yasirah (‘l-ysrh) di wilayah Madinah (al-Madinah) sebagai nama dua buah pedesaan. Yasir (ysr) di wilayah Mekah. Al Yasir (‘l ysr) di wilayah Qunfudhah. Al Sirah (‘lsrh, mempertahankan bentuk Ibrani dari asal katanya) di wilayah Abha. Al-Saryah (‘l-sry) di Khamis Mushait, di sebelah timur Abha 1 Saya pribadi yakin bahwa t’ntr (atau ‘Tanah Tuhan’) milik bangsa Mesir tidak lain adalah ysr’l (atau ‘Dataran Tinggi Tuhan’) dalam Bibel dengan kata lain, Sarat di Asir geografis dengan hutannya yang lebat, kekayaan mineralnya dan lain- lainnya. Namun sebuah penelitian yang lebih mendalam jelas perlu dilakukan guna mendukung gagasan tersebut.— 158 —
  • 170. Abu Saryah (‘b sry) di wilayah Taif.Al-Sari (‘l-sry), lokasinya belum dipastikan/ditentukan. Nama-nama yang lain yang berasal dari srw sebagaibentuk sry, dapat ditambahkan pada daftar di atas dalampengertian yang hampir sama persis dengan kata Ibrani ysr’l(dengan ‘l-nya yang berakhiran) dapat diwakili oleh Suraywil(srywyl tampaknya sebuah pengubahan dari sry ‘l), namasebuah desa Arab di Najd (Nagd) yang pernah menjadi bagianwilayah Yamamah.2 ‘Bani Israil’ menurut Bibel (bny ysr’l) mestinya padamulanya merupakan sebuah konfederasi suku-suku di datarantinggi Arabia Barat. Konon, suku-suku ini berjumlah duabelasbuah: Reuben (r’bwn), Simeon (sm’wn), Levi (lwy), Yudah(yhwdh), Gad (gd), Asher (‘sr), Issachar (ysskr), Zebulun(zblwn, pada hakekatnya adalah zbl), Dan (dn), Naphtali(nptly), Yosef (ywsp) dan Benyamin (bn ymyn, padahakekatnya ymyn). Dua nama di antaranya terdapat dalambentuk Arab yang dapat dikenali, menandakan dua buah sukuArabia Barat kuno yang bernama Lu’ayy (l’y, bandingkandengan lwy, atau Levi) dan Yashkur (yskr, bandingkan denganysskr, atau Issachar). Sepuluh suku lainnya masih dapatdikenali sebagai nama-nama suku Arabia bagian selatan yangsampai kini masih bertahan. Mereka adalah: Rawabin (rwbn,atau Reuben); Sama’inah (sm’n, atau Simeon);3 Wahadin(tunggalnya adalah Wahadi, atau whd, yaitu Yudah); Zabbalahatau Zubalah (keduanya zbl, yaitu Zebulun); Duwaniyah,Danaywi atau Dandan (ketiganya pada hakekatnya dn, yaituDan); Falatin (pltn, yaitu Naphtali); Judan (tunggalnya Judi),Judah, Judi atau Jadi (keempatnya gd, yaitu Gad); DhawiShari (orang-orang Shari, atau sr; yaitu Asher); Banu Yusuf 2 Nama ini secara lokal ditafsirkan sebagai kependekan nama Arab sirwal, ‘celana panjang’, yang merupakan suatu penafsiran yang sangat tidak meyakinkan. Najd merupakan nama tradisional dataran tinggi Arabia Tengah. Mengenai bukti tentang adanya Bani Israil pada zaman Bibel, lihat identifikasi atas khnym sebagai pemukiman orang-orang Israil di Wadi Najran dan wilayah Yamamah (Bab 8). 3 Sama’inah (atau Sama’in, juga sm’n) kini terdapat di Palestina bagian selatan. Namun pada mulanya mereka nampaknya berasal dari sebuah tempat yang bernama al-Sim’aniyyah (sm’n) di Yaman, dari mana suku mereka mendapatkan namanya. Menurut kisah Bibel mengenai suku mereka, orang-orang Simeonit adalah sebuah suku ‘selatan’ di tanah Bibel orang-orang Israil. — 159 —
  • 171. (ysp, yaitu Yusuf); Yamna, Yamanah atau Yamani (ketiganya ymn, yaitu Benyamin). Selain itu, di antara keduabelas suku Israil tersebut suku Yusuf (Yoseph) konon mempunyai dua cabang: (Ephraim (‘prym) dan Manasseh (mnsh). Anehnya kini suku Arabia Barat Banu Yusuf sebenarnya bernama ‘dua cabang (ranting)’ (bahasa Arabnya al-Far’ayn). Nama kesukuan Ephraim bertahan di Arabia Barat sebagai Firan (prn) dan Manasseh sebagai Mansi (mns). Bukti onomastik yang lebih mendetil berkenaan dengan asal mula keduabelas suku itu di Arabia Barat disajikan pada lampiran. Bibel Ibrani mengatakan bahwa keduabelas suku ini akhirnya menetap di Yudah, di sisi maritim Asir geografis, dan pada akhir abad kesebelas dan permulaan abad kesepuluh S.M., mereka telah mendirikan sebuah kerajaan di daerah itu. Situasi politik dan ekonomi pada waktu itu sangat mendukung timbulnya kerajaan semacam itu di Arabia Barat. Setelah sekitar tahun 1200 terjadilah sebuah penurunan pada jumlah pendudukan kerajaan di Arabia dari arah Mesopotamia, Suria utara dan Mesir, yang menyebabkan timbulnya negara-negara bagian di jazirah Arabia itu. Suatu waktu antara tahun 1300 dan 100 S.M., terjadilah pula suatu peningkatan yang drastis atas perdagangan dengan kafilah di Arabia, yang tampak dengan adanya gejala diperkenalkannya secara besar-besaran unta untuk mengganti keledai sebagai binatang beban. Tetapi kerajaan ‘seluruh Israil’ (lihat Bab 9) tidak sanggup mempertahankan persatuan poliliknya untuk lebih lama lagi. Sampai pada akhir abad ke sepuluh S.M., wilayah kekuasaannya telah berada di bawah pimpinan sederetan raja-raja saingan: yaitu raja-raja ‘Yudah’, dengan ibukota mereka di Al Sharim (yang dianggap sebagai lokasi ‘Yerusalem’ menurut Bibel), dan raja-raja (Israil). Usaha- usaha baru untuk memperebutkan kekuasaan atas Arabia Barat, pertama kali oleh Mesir, kemudian oleh Mesopotamia, sudah pasti mengambil peranan penting dalam menimbulkan dan mengabadikan perpecahan ini (lihat Bab 1). Ahli-ahli Bibel yang berpikir dalam konteks Palestina, secara tradisional mengatakan bahwa mereka kerajaan-— 160 —
  • 172. kerajaan yang bersaingan yaitu ‘Yudah’ dan ‘Israil’, masing-masing terletak di selatan dan utara, dan yang terakhirdiperkirakan berpusat di sekitar kota Nablus di Palestina.Sebenarnya, seperti yang akan kita lihat nanti, di ArabiaBarat pusat kekuatan ‘Israil’ memang terletak di sebelahutara ‘Judah’. Akan tetapi wilayah-wilayah mereka bukanlahwilayah-wilayah yang mempunyai batas-batas yang jelas diantara keduanya. Melainkan mereka terpisah melalui suatuperbedaan politik dalam wilayah yang sama, berdasarkankesetiaan-kesetiaan yang bersaingan yang diperdalam olehperpecahan keagamaan. Raja-raja ‘Yudah’ dan ‘Israil’,tampaknya menguasai kota-kota dan pedesaan pada wilayah-wilayah yang sama, terkadang letaknya saling berdekatan. Diwilayah-wilayah tengah Yudah, yaitu di daerah pedalamanQunfudhah sudah jelas begini keadaannya. Lebih jauh keutara di wilayah Lith dan Taif begitu pula keadaannya (lihatdi bawah). Orang pertama yang menetapkan dirinya sebagai raja‘Israil’ setelah wafatnya Sulaiman, adalah ‘Yeroboam putraNebat’ yang digambarkan sebagai seorang ‘prty mn h-srdh,yang secara tradisional di anggap berarti ‘seorang Ephraimdari Zaredah’ (Raja-raja I 11:26). Begitu pula Daud, pendiridinasti itu, yang terus menguasai ‘Yudah’, juga digambarkansebagai putra seorang ‘prty dari ‘Bethlehem’. Bahwasanya ‘prtyitu bukan berarti ‘orang Ephraim’ itu sudah jelas; seorang‘Ephraim’ dalam bahasa Ibraninya adalah ‘prymy, dari kata‘prym (bentuk ganda ‘pr), kini Wafrayn (wpryn, bentuk gandawpr) di Bani Shahr. Sebenarnya ‘prth (yang bentuk genitifnyaadalah ‘prty) kini masih bertahan sebagai nama desa Firt (prt),di Wadi Adam, di wilayah Lith. Bethlehem, seperti yang telahdikatakan, adalah sebuah desa lain di Wadi Adam itu pula,yang kini adalah Umm Lahm (dihubungkan dengan ‘prth,juga dalam Mikha 5:2; Rut 1:2; 4:11). ‘Zaredah’, kota asalYeroboam di daerah sekitar Firt, kini adalah al-Sadrah (sdrh,dengan kata sandang tertentu seperti dalam bahasa Ibraninya),juga di wilayah Lith. Pertengkaran antara Yeroboam dankeluarga kerajaan Daud tidak diragukan lagi berasal darikecemburuan yang telah lama ada antara keluarga-keluarga — 161 —
  • 173. kepala Firt di Wadi Adam yang bersaingan, yang kemudian dilakukan dalam skala politik yang lebih besar. Yeroboam memulai karir politiknya dengan bertugas di bawah Salomo dan kemudian memberontak sebelum dipaksa lari ke Mesir, tempat ia mencari perlindungan di bawah Raja Sheshonk I (lihat Bab 11). Setelah wafatnya Sulaiman, ia kembali ke Yudah untuk menantang pengganti Sulaiman, yaitu Rehoboam, anaknya dan menetapkan diri sebagai saingan raja ‘Israil’ (lihat Raja-raja I 11:26; 12:30). Setelah mengangkat dirinya sebagai raja, Yeroboam mendirikan Schechem (skm) di daerah perbukitan Ephraim (‘prym) dan menetap di sana (Raja-raja I 12:25). Mengingat bahwa ‘Ephraim’ menurut Bibel, seperti yang telah dibahas tadi kini adalah Wafrayn, di distrik Bani Shahr pedalaman Qunfudhah, kota ‘sechem’ yang ia dirikan dan dijadikan ibukota (Sechem-sechem menurut Bibel) mungkin kini adalah kota Suqamah (sqm), di Wadi Suqamah (sqm), di Wadi Suqamah di barat daya lerengan wilayah Zahran dan tidak jauh di utara dari Bani Shahr. Tetapi kemungkinan besar ‘Shechem’ itu adalah al-Qasim (qsm) di pedalaman Qunfudhah. Tidak lama setelah itu, Yeroboam kemudian ‘memperkuat’ kota ‘Penuel’ (pnw’l) seperti yang digambarkan dalam Raja-raja I 12:25, dan kemungkinan besar adalah al-Naflah (npl) di wilayah Taif, atau mungkin al-Nawf (‘l-nwp) yang namanya kini diberikan pada sebuah hutan yang terletak di punggung bukit di dataran tinggi Zahran. Untuk mencegah pengikut-pengikutnya pergi beribadah ke ‘Yerusalem’, maka ia mendirikan tempat-tempat suci yang baru di ‘Bethel’ dan di ‘Dan’ (Raja-raja I 12:29f). ‘Bethel’ hampir dapat dipastikan tempat yang sekarang dikenal sebagai Butaylah (btyl) di dataran tinggi Zahran (lihat di bawah). ‘Dan’ tidak diragukan lagi kini adalah Danadinah di dataran rendah maritim wilayah Zahran yang bentuk Arab dari namanya adalah jamak dny genitif dn (lihat Bab 14). Walaupun ibukotanya terletak di ‘Shechem’, tampaknya Yeroboam terkadang menetap di ‘Tirzah’ (Raja-raja I 14:7) yang terletak di atas bukit sebuah tempat yang bernama— 162 —
  • 174. ‘Gibbethon’ (Raja-raja I 16:15f). ‘Gibbethon’ (gbtwn)mestinya adalah salah satu di antara pedesaan yang terletakdi tempat yang kini adalah pegunungan al-Naqabat (nqbt),di dataran tinggi Ghamid. Pada ketinggian yang lebih jauhlagi ke arah utara, ada sebuah dusun kecil yang bernamaal-Zir (zr) yang mungkin dahulunya adalah Tirzah. Daerahdisana sangat kaya akan peninggalan-peninggalan sejarah/arkeologi. Raja-raja ‘Israil’ yang menggantikan Yeroboam,mendirikan ibukota-ibukota bagi mereka sendiri pertama kalidi ‘Tirzah’, yang kemudian ‘Yezreel’ (‘Esdraelon’ dalam bahasaSeptuaginta Yunani), kemudian di ‘Samaria’ (Raja-raja I15:33f; 18:45f; 20:43f) — yang terakhir, ‘Samaria’ merupakansebuah kota yang didirikan oleh mereka sendiri di sebuahbukit dekat ‘Yizreel’ (kalau diuraikan menjadi yzr’ ‘l, ‘semogaTuhan menaburkan’, atau ‘pentaburan Tuhan’) kini mestinyaadalah Al al-Zar’i (‘l zr’) di daerah rendah di Wadi al-Ghayl,tidak jauh di sebelah timur tenggara Qunfudhah. Maka‘Padang Esdraelon’ yang terkenal itu, yang jelas bukan daerahrendah yang memisahkan Palestina dari Galilee di Suria,tidak mungkin kalau bukan merupakan nama kuno Wadial-Ghayl. ‘Shemer’ (smr), pemilik asli bukit di mana ‘Samaria’(Ibraninya Shomeron, atau smrwn), didirikan, kemungkinanbesar bukanlah nama seseorang melainkan sebuah suku yangnamanya hidup terus di Arabia bagian selatan sebagai Shimran(tepatnya smrn). Kini wilayah Shimran meliputi pedalamanQunfudhah dan membentang menyeberangi tebing curamdan pembagi perairan sampai pada Wadi Bishah. ‘Samaria’dahulunya sudah dapat dipastikan adalah desa yang kinibernama Shimran di daerah pedalaman Qunfudhah, agak jauhdi atas bukit dari Al al-Zar’i, atau ‘Yizreel’. Dan kenyataannyamemang Shimran kini dengan jelas terletak di sebuah bukit. Kita tidak perlu mengamati semua nama tempat-tempatmenurut Bibel itu yang disebut sebagai kepunyaan Raja-raja ‘Israil’. Untuk menggambarkan bagaimana raja-raja inidan para saingan mereka dari ‘Yudah’ menguasai kota-kotadan pedesaan di wilayah yang sama, kiranya cukup kalaumenunjukkan saja bagaimana kebanyakan nama-nama kotayang konon diperkuat Rehoboam guna mempertahankan — 163 —
  • 175. kerajaan ‘Yudah’nya, bertahan di daerah pedalaman Qunfudhah sampai ke utara, yang terdapat pusat-pusat utama raja-raja ‘Israil’ itu (lihat Tawarikh 11:6-9). Nama-nama tersebut adalah sebagai berikut: ‘Bethlehem’, telah dikenali sebagai Umm Lahm di Wadi Adam, wilayah Lith (lihat di atas). ‘Etam’ (‘ytm), sangat mungkin Ghutmah (gtm) di wilayah Lith. Tetapi ada beberapa ‘Etam’ lainnya sebagai kemungkinan di Asir geografis. ‘Tekoa’ (tqw’, bentuk kata benda kuno qw’): Waq’ah (wq’t) di Wadi Adam; Yaq’ah (yq’t) atau Qa’wah (q’wt) di Rijal Alma’. ‘Beth-zur’ (byt swr, ‘rumah’ atau ‘kuil’ swr): sangat mungkin Al Zuhayr (‘l zhyr)-nya Rijal Alma’, atau Al Zuhayr- nya wilayah Ballasmar; mungkin juga al-Sar (sr) atau al-Sur (sr) di wilayah Lith; al-Sur atau al-Sura (keduanya sr) di wilayah Qunfudhah; atau al-Surah (juga sr) di sekitar daerah Bahr. ‘Soco’ (swkw): Sikah (sk), di wilayah Taif. Kemungkinan- kemungkinan lain adalah Saq (sq), Shaqah (sq) dan Suqah (sq), di wilayah Lith, yang terakhir terletak di Wadi Adam; juga Shaqah dan Shaqiyah (sqy), di wilayah Jizan. ‘Adullam’ (‘dlm): Da’alimah (d’lm), di wilayah Taif. ‘Gath’ (gt): al-Ghat (gt), di wilayah Jizan. ‘Mareshah’ (mrsh): Mashar (msr), di wilayah Bani Shahr; Masharah (msrh) di Rijal Alma’; atau Mashar satu lagi di pedalaman Qunfudhah, tidak jauh dari Shimran. ‘Ziph’ (zpy): sangat mungkin Sifa (syp), di wilayah— 164 —
  • 176. Qunfudhah; kemungkinan adalah Siyafah (juga syp), di wilayah Nimas.‘Adoraim’ (‘dwrym, secara tradisional disuarakan sebagai ganda dari ‘dwr): al-Darayn (dryn bentuk ganda Arab dr), nama tiga buah pedesaan di wilayah Taif, dan nama sebuah desa di dataran tinggi Zahran.‘Lachish’ (lkys): Jelas bukan Tall al-Duwayr Palestina (lihat Bab 5). Asosiasi tempat ini dengan gb’wn, mqdh, hbrwn, dan ‘glwn (‘Gibeon’, ‘Makkedah’, ‘Hebron’, dan ‘Eglon’, dalam Yosua 10 adalah passim), yang kini adalah Al Jib’an (gb’n), Maqdi (mqd), Khirban (hrbn) dan ‘Ajlan (‘gln), di pedalaman Qunfudhah (keempatnya adalah penyalinan huruf Ibrani ke dalam huruf abjad Latin yang tepat), menunjuk dengan jelas pada Al Qayas (‘l qys) di daerah yang sanma.‘Azekah’ (‘zqh): ‘Azkah (‘zqh), di wilayah Qunfudhah.‘Zorah’ (sr’h): di antara beberapa alternatif, paling besar kemungkinannya adalah Zar’ah (zr’h), di lerengan maritim wilayah Zahran.‘Aijalon’ (‘ylwn): Alyan (‘lyn), di wilayah Lith, atau Ayla (‘yl), di wilayah Qunfudhah.‘Hebron’ (hbrwn): Khirban (hrbn), di wilayah Majaridah (lihat Bab 9 dan 13). Jelas, kerajaan-kerajaan ‘Israil’ dan ‘Yudah’ meliputisampai tingkat tertentu sebuah wilayah kekuasaan. Merekajuga terdiri dari satu bangsa, terpisah karena kesetiaan merekayang berbeda terhadap raja-raja keluarga kerajaan Dauddi Al Sharim (atau ‘Yerusalem’) dan serangkaian dinastiyang bersaingan yang terdapat di daerah-daerah lain yangkadang-kadang terletak dekat Al Sharim, ketika pemimpin-pemimpin mereka menentang legitimasi keluarga kerajaan — 165 —
  • 177. Daud dengan menyebut diri mereka raja-raja ‘Israil’. Seiring dengan perpecahan politik ini, seperti yang telah dikatakan, tampaknya terdapat perpecahan keagamaan yang mengadu ortodoksi ‘Yudah’, yang bertahan sebagai agama Yahudi, dan heterodoksi agama ‘Israil’ yang diabadikan oleh sektarianisme kaum ‘Samaritan’. Di antara kaum Yahudi ‘Yudah’, kultus pemujaan atas Tuhan Yahweh dikembangkan menjadi sebuah agama dunia yang canggih oleh serangkaian nabi (nby’ym). Namun, kekuasaan keagamaan nabi-nabi ini umumnya ditentang oleh raja-raja ‘Israil’ dan para pengikutnya, yang gambarannya terhadap agama Israil tampaknya tetap berpandangan kesukuan. Oleh karena itu mereka kabarnya selalu bersedia untuk menerima kedewaan beberapa dewa suku-suku dan bangsa-bangsa lain yang hidup bersama-sama mereka. Bagaimana heterodoksi kaum ‘Israil’ dapat berkembang menjadi ‘Samaritanisme’ di Yaman yang mendatang bukanlah masalah yang akan dibahas di sini. Cukup dikatakan bahwa orang-orang Samaritan, sebagai suatu sekte, terus menyebut diri mereka bn ysr’l, ‘orang-orang (bani) Israil’ atau h-smrym (disuarakan Shomerim). Ini biasanya dianggap berarti (orang-orang smr), referensinya di sini adalah kepada wilayah kesukuan Arabia Barat kuno (yang kini masih ada), yaitu Shimran. Di antara kaum Yahudi ortodoks, mereka dikenal sebagai h-smrwnym (disuarakan Shomeronim), ‘mereka dari Shomeron’ atau ‘Samaria’, yang pernah menjadi ibukota raja-raja ‘Israil’ yang kini ada sebagai desa Shimran di Arabia Barat. Sewaktu agama Yahudi menyebar dari Arabia Barat ke Palestina dan tempat-tempat lain, agama tersebut baik dalam bentuk ortodoks maupun bentuk Samaritannya. Di Palestina, kaum Samaritan mendirikan bagi mereka sebuah ‘Samaria’ yang baru di daerah yang kini bernama Sabastiyah (Sabastiyah, dalam bahasa klasiknya Sebaste) dekat Nablus sekarang; di sana mereka mengakui dua buah bukit di daerah itu sebagai Gunung Gerizim (grzym) menurut Bibel dan Gunung Ebal (‘ybl), yang mereka anggap suci. Dari teks-teks Bibel yang membicarakan kedua bukit ini kita mendapat— 166 —
  • 178. kesan bahwa kedua bukit itu saling berdekatan. Gunung Gerizim dan Gunung Ebal dibicarakan di dalamYosua 8:33f setelah kisah pendudukan orang-orang Israil atasyryhw dan h-’y (‘Yericho’ yang kini adalah Rakhyah, di WadiAdam (lihat Bab 7); dan ‘Ai’ yang kini adalah ‘Uya’ (‘y), didataran tinggi antara wilayah Zahran dan wilayah Taif, bukanal-Ghayy di Rijal Alma’ (lihat Bab 7 dan 13). By’t ‘l atau‘Bethel’, yang dengan h’y dalam pertalian ini adalah Butaylah(bytl) di dataran tinggi Zahran dan bukan Batilah yang ada diRijal Alma’. Butaylah ini menguasai salah satu penyeberanganutama tebing curam (atau yrdn) di daerah itu. MenurutUlangan 11:30, Gunung Gerizim dan Gunung Ebal terletak‘di luar yrdn, di sebelah barat jalan (kini jalan raya Taif-Abha),menuju terbenamnya matahari’. Turun bukit dari Butaylahdi lerengan Barat wilayah Zahran, berdiri punggung bukitkembar Jabal Shada. Punggung yang tertinggi, ke arah utara,mestinya adalah Gerizim menurut Bibel, yang namanya masihdipakai oleh desa Suqran yang terletak tinggi pada lerengannya(sqrn adalah metatesis dari grzym, yang telah mengalamiperubahan, dengan akhiran jamak Ibrani yang telah diarabkandi dalam bentuk masa kini nama itu). Punggung bukit yanglebih rendah, ke arah selatan, mestinya adalah Ebal — sebuahnama yang sebenarnya tidak diketemukan di sana, akan tetapiyang hidup terus di sekitar daerah Zahran seperti halnya Wadi‘Ilyab (‘lyb); juga pedesaan ‘Abalah (‘bl), ‘Abla (‘bl) dan ‘Ablah(‘bl), dan desa dan punggung bukit berpasir Bil’ala’ (bl’l), dimana di sana terdapat pula sebuah desa yang bernama La’ba’(l’b). Punggung bukit berpasir Bil’ala’ (bl’l) tidak mungkinGunung Ebal menurut Bibel, karena ia terletak lebih ke arahtimur daripada ke arah barat dari tebing curam dan jalan itu. Menurut Ulangan 11:29, Gunung Gerizim adalahgunung yang diberkahi oleh orang-orang Israil, dan GunungEbal adalah gunung yang dikutuk oleh mereka. Sebenarnyapunggung bukit utara Jabal Shada lebat ditumbuhipepohonan dan secara tradisional biasanya dibuat bertingkat-tingkat agar dapat ditanami, sedangkan punggung bukitselatannya gersang. Hakim-hakim 9:7 menghubungkanGunung Gerizim dengan Shechem (skm). Kini adalah desa — 167 —
  • 179. Suqamah (sqm), di Wadi Suqamah yang mengalir di kaki sebelah timur punggung utara Jabal Shada. Pada punggung bukit yang sama ini (lihat Bab 7, Catatan 5) kita dapat menjumpai ‘sebuah altar yang terbuat dari batu-batu yang masih utuh, yang belum pernah tersentuh perkakas besi manusia’ (Yosua 9:31; bandingkan dengan Ulangan 27:2-8). Altar-altar yang seperti ini juga ditemukan di bagian-bagian lain wilayah Zahran, dan paling tidak ada satu di antaranya yang terdapat inskripsi yang belum terpecahkan (bandingkan dengan Yosua 8:32). Orang-orang Asir dan Yaman secara tradisional telah menganggap altar yang terletak di punggung bukit Shada Utara (dengan perkataan lain, punggung bukit Gerizim menurut Bibel) sebagai altar pemujaan yang mempunyai kesucian tersendiri. Dahulu mereka pergi ke sana untuk suatu ziarah khusus dan sengaja tidak berhenti di desa-desa yang ada di sepanjang perjalanan. Akan tetapi pada abad ini kebiasaan tersebut telah berkurang. Apa pun sebenarnya kedua bukit suci kaum Samaritan Palestina dari Nablus tersebut, mereka jelas bukanlah Gunung Gerizim dan Gunung Ebal yang sebenarnya.— 168 —
  • 180. 11 Rencana Perjalanan Ekspedisi SheshonkB egitu pentingnya Bibel Ibrani bagi manusia modern sampai-sampai seluruh Timur Dekat telah diselidiki guna membuktikan kebenaran sejarahnya. Akan tetapiseperti yang telah saya kemukakan, penafsiran tradisional yangsalah mengenai geografi menurut Bibel, telah menimbulkansalah pengertian atas sejarah geografi Timur Dekat kunopada umumnya. Sebuah contoh yang layak dari kebingunganyang timbul akibat kesalahan dalam penempatan yang kritisini, diberikan oleh sebuah analisa atas catatan-catatan Mesiryang telah banyak diteliti berkenaan dengan ekspedisi RajaSheshonk I.1 1 Mengenai catatan-catatan ini, lihat J. Simons, Handbook for the Study of Egyptian Topographical Lists Relating to Western Asia (Leiden, 1973), halaman 178-187; bandingkan dengan K.A. Kitchen, The Third Intermediate Period in Egypt, 1100-650 S.M. (Warminster, 1973), halaman 293-300, 432-447, yang memiliki resensi lengkap kepustakaan yang relevan sampai kini. Dalam penelitian yang sekarang ini, saya
  • 181. Sheshonk I ialah seorang raja Mesir dari dinasti ke-22 yang berkuasa dari sekitar tahun 945 sampai tahun 924 S.M., dan memimpin sebuah kampanye militer melawan kota- kota Yudah yang disebutkan secara singkat dalam Raja-raja I 14:25-26; Tawarikh II 12:2-9. Sampai sejauh ini daftar nama-nama tempat yang telah ia taklukkan atau kunjungi telah dipelajari dengan berdasarkan anggapan bahwa mereka adalah kota-kota Palestina (lihat Peta 9). Secara sepintas lalu ini bukanlah suatu hal yang tidak masuk di akal, karena Sheshonk, seperti halnya para penguasa Mesir kuno lainnya tentunya banyak berurusan dengan Palestina dan Suria. Sebuah pecahan dari sebuah stela (pilar tegak yang biasanya berinskripsi dan bergambar) Mesir yang ditemukan di pesisir Palestina memuat namanya, atau apa yang dianggap para ahli adalah namanya, tetapi bukti seperti ini tidak harus berarti bahwa ia benar-benar berada di sana pada waktu ekspedisinya melawan Yudah, yang tercatat ini, dilakukan. Inskripsi- inskripsi Mesir kuno dan barang-barang hasil kecerdasan manusia yang memuat nama raja-raja Mesir kuno telah ditemukan di pelbagai daerah di Timur Dekat, namun hanya beberapa ahli saja yang memandang bahwa dengan adanya barang-barang tersebut di sana mutlak menunjukkan bahwa raja-raja itu pernah sekali waktu melewati sekitar daerah barang-barang tersebut ditemukan. Terus-terang saja, pendapat saya adalah bahwa pada ekspedisinya melawan Yudah, Sheshonk tidak pergi ke Palestina. Bertolak untuk ekspedisinya dari satu pelabuhan laut Mesir di sepanjang pantai Laut Merah, Sheshonk mendarat di suatu tempat di sepanjang pantai Hijaz, nampaknya di dekat Lith. Tujuannya di sana agaknya adalah untuk melakukan suatu unjuk kekuatan militer besar-besaran guna mengingatkan raja-raja Yudah dan para penguasa Arabia Barat lainnya bahwasanya wilayah mereka masih terletak dalam jangkauan kerajaan Mesir yang kuat itu. akan mentransliterasikan ejaan konsonan Mesir dari nama-nama tempat dalam daftar Sheshonk menurut sistem sama seperti yang telah saya pergunakan berkenaan dengan transliterasi nama-nama tempat Ibrani dan Arab, atau paling tidak sedekat mungkin dengan itu. Guna memudahkan hal ini bagi pembaca umum, saya telah membiarkan perbedaan antara berbagai semi-vokal yang biasanya dibedakan antara satu dengan yang lain melalui transliterasi dalam bahasa Mesir kuno sebagai sebuah i dan sebuah y.— 170 —
  • 182. Setelah mendapat tempat berpijak di pedalaman Lith, Fir’aunMesir ini meneruskan perjalanannya ke arah selatan menujuke pusat Yudah, mungkin dengan melalui jalan pesisir ataudengan mengambil jalan lain lebih jauh di pedalaman yangmenyusuri barisan perbukitan pertama. Dalam perjalanannyamenuju tempat itu sekali-kali melakukan serangan-serangantiba-tiba ke wilayah pegunungan dan sekali waktu ia berhasilmenembus tebing curam Sarat sampai sejauh Al Sharim yangmenurut hemat saya mungkin adalah lokasi ‘Yerusalem’-nyaBibel Ibrani. Mungkin tergejolak dengan keberhasilannya didaerah tersebut, ia memberanikan diri untuk bergerak lebihjauh ke selatan memasuki wilayah Jizan, yang operasi-operasimiliternya tampaknya agak terbatas, mungkin disebabkanoleh perlawanan berat yang ia dapatkan dari suku-sukupegunungan di wilayah itu. Dari tempat itu Sheshonkkembali ke daerah sekitar Lith, dan ia menundukkan tidaksaja pelbagai tempat di sisi maritim tebing curam, tetapi jugabanyak tempat lain di wilayah Taif, dan terus melakukanpenaklukan-penaklukannya ke arah pedalaman sampai bataspadang pasir. Begitulah kira-kira dugaan saya, berdasarkan penafsirankembali ekspedisi Sheshonk seperti yang tertera dalamKitab Bibel Ibrani dan dalam catatan topografis Sheshonksendiri. Tak perlu saya katakan lagi bahwa rencana perjalananekspedisi yang telah saya selidiki tersebut tidak cocokdengan apa yang telah dikemukakan oleh para ahli Bibeltradisional, yang menurut hemat saya telah melakukansuatu tipu daya yang membingungkan dalam upaya merekauntuk memaksakan suatu logika atas kisah Sheshonk gunamenempatkannya di dalam kawasan perbatasan Palestina.Namun versi mereka tidak dapat ditanggapi secarabersungguh-sungguh karena versi tersebut berdasarkan padadugaan yang aneh, yaitu bahwa ahli-ahli penulis Mesir yangbertanggung jawab dalam merekam kisah-kisah tersebuttidak tahu bagaimana cara menterjemahkan nama-namatempat dalam kisah-kisah tersebut ke dalam bahasa dantulisan mereka. Mengingat bahwa bahasa Mesir kuno masihberhubungan dekat dengan bahasa-bahasa Semit lainnya, ini — 171 —
  • 183. nampaknya tidak mungkin terjadi. Kalaupun kita menerima hipotesa yang begitu meragukan, yaitu menempatkan nama- nama semua tempat yang ada dalam daftar-daftar Sheshonk di Palestina, ini hanya dapat dilakukan dengan sikap acuh tak acuh samasekali terhadap teks-teks Mesir yang orisinal. Maka dari itu tidaklah mengherankan jika ada perselisihan pendapat di antara para ahli Bibel mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam ekspedisi Sheshonk. Namun kalau kita membaca kisah ini sambil memikirkan tetapi geografi Arabia Barat, banyak — atau bahwa mungkin semua— kesulitan yang ada dapat terpecahkan, sehingga apa yang tertinggal hanyalah rencana perjalanan yang jelas ekspedisi raja Mesir tersebut. Saya menegaskan kalau daftar-daftar topografi Mesir lainnya dan juga daftar-daftar topografi Mesopotamia yang seperti ini diteliti dengan cara yang sama, maka hasilnya akan mengejutkan (lihat, contohnya, komentar saya mengenai Charchemish dan Karkara dalam Bab 1, Catatan 11, dan mengenai penaklukan-penaklukan Sargon II dan Surat-surat Amarna, dalam Bab 5). Memang benar bahwa kisah-kisah menurut Bibel mengenai ekspedisi Sheshonk (dalam Bibel swsq atau sysq, ‘Shishak’) melawan Yudah tidak diceritakan secara mendalam. Yang terpanjang di antara keduanya — yaitu dalam Tawarikh II 12:2-9— hanya mengabarkan bahwa raja Mesir itu datang dengan sebuah pasukan yang besar, ‘menduduki kota-kota kubu Yudah dan maju sampai sejauh Yerusalem’, tanpa merampasnya. Raja ‘Yudah’, yaitu Rehoboam, putra Sulaiman, tampaknya berhasil menyuap para penjajah itu dengan ‘harta karun dari Rumah Tuhan (dengan kata lain ‘kuil’) dan harta karun dari rumah raja’. Mungkin inilah sebabnya mengapa ‘Yerusalem’ tidak terdapat di antara nama- nama yang dapat terbaca di dalam daftar-daftar Sheshonk. Mungkin juga, tentunya, nama kota tersebut ada dalam bagian-bagian yang telah hilang dari daftar tersebut, atau yang ada dalam bentuk pecahan-pecahan yang tak dapat terbaca dan diuraikan. Seperti yang telah saya katakan, Sheshonk mestinya menyeberangi Laut Merah dan mendarat di pantai Hijaz— 172 —
  • 184. bagian selatan di dekat Lith. Dari sana ia meneruskanperjalanannya mendaki bukit dan menaklukkan enam tempatdi pedalaman Lith (nomor 10-15 dalam daftar besar Sheshonkdi kuil Amon di Karnak), empat di antaranya masih dapatterbaca. Tempat-tempat ini adalah, seperti yang diberi nomorpada daftar topografi Sheshonk yang orisinal:10. mtt’: Muti’ (mt’) di Wadi Adam, atau al-Mat’ah (mt’) di Wadi al-Ja’izah lebih jauh di selatan.13. rbt: Ribat (rbt) di dataran rendah Zahran, atau Ribat yang lain, lebih jauh di selatan di Wadi al-Shaqqah.14. t’kni’,2 Taanach dalam Bibel, atau t’nk; kini Ka’nah (k’nt) di dataran rendah Zahran.315. snmi:4 al-Mashniyyah (msny) di dataran tinggi Zahran. Dalam serangan pertamanya menuju ke pedalaman,Sheshonk tampaknya berhasil menaklukkan sebuah tempat diWadi Ranyah, yang hulunya terdapat di wilayah Zahran:16. snri’:5 Sharyaniyyah (sryny): 2 Di sini i’ yang terakhir, seperti yang tertera dalam nama-nama lain yang berikut, nampaknya terkadang menggantikan akhiran feminin h Ibrani dan Arab (yang merupakan t tanpa suara). Seperti yang telah diketahui, sejumlah nama tempat menurut Bibel yang memakai akhiran ini kini bertahan di Arabia Barat tampaknya, sedangkan nama-nama tempat menurut Bibel yang berada dalam bentuk maskulin sering bertahan di Arabia Barat kini dalam bentuk feminin, dengan tambahan akhiran h (t tanpa suara). 3 Dalam Hakim-hakim 1:27; 5:19-21, ‘Taanach’ ini secara geografis diasosiasikan dengan Beth-shean (byt s’n), Dor (dwr), Ibleam (‘bl’m), Meggido (mgdw), dan ‘aliran air yang deras’ Kishon (nhl qyswn). Dari kelima tempat ini, hanya Ibleam-lah yang belum dapat dikenali dengan sebuah desa di Hijaz selatan. Mungkin ini adalah Bil’um (bl’m) kini sebuah oase di wilayah Qasim, agak jauh dari Taif ke arah timur laut. Mungkin juga ini adalah Bani Walibah (wlb) di wilayah Ghamid, dikenali sehubungan dengan al-Amiyah (‘my) di wilayah Zahran yang berdekatan dengannya. Keempat tempat lainnya, semuanya di wilayah Taif, kini adalah desa Shanyah (sny), satu di antara beberapa pedesaan yang bernama Dar (dr), Maghdah (mgd), dan Qaysan (qysn). Ta’nuq yang disebut dalam kepustakaan geografis Arab tidak mungkin merupakan ‘Taanach’ yang dimaksud di sini, karena tempat ini terletak di utara dan bukan di selatan Hijaz. 4 Bukan apa yang sampai kini dianggap sebagai ‘Shunem’ dalam Bibel (swnm), yang kini mungkin adalah Sanumah (snm) di Rijal Alma’; kemungkinan-kemungkinan lain adalah Nasham (nsm) atau Nashim (nsm) di wilayah Jizan dan Dhi Nisham (nsm) di wilayah Ballasmar. 5 Bukan apa yang sampai kini dianggap sebagai ‘Beth-shean’ dalam Bibel, yang telah dikenali dalam Catatan 3. Bt (Ibraninya byt, ‘rumah’) di sini, seperti dalam nama- nama lain dalam daftar-daftar Sheshonk, berarti ‘kuil’, yang sering ditanggalkan dalam — 173 —
  • 185. Ia kemudian kembali ke pedalaman Lith tempat ia merampas sebuah tempat lagi: 17. rhbi’: Wadi Rahabah (rhb), suatu kelompok pedesaan di dataran rendah Zahran; atau Ruhbah (rhb) di Wadi Adam. Kemudian Sheshonk melanjutkan perjalanannya ke arah selatan menuju ke daerah-daerah tengah Yudah, di pedalaman Qunfudhah dan Birk. Ia dapat saja mengambil jalan pantai atau jalan yang terletak lebih jauh di pedalaman yang menyusuri barisan bukit pertama. Dalam perjalanannya menuju tempat itu ia berhenti di berbagai tempat untuk melakukan serangan-serangan ke dalam wilayah-wilayah pegunungan (lihat Bab 10). Di antara ketujuhbelas tempat yang ia serang nama-nama limabelas tempat dapat dikenali dengan tingkat kepastian yang berbeda: 18. hprmi’ (diuraikan sebagai hpr mi’): Hafar (hpr), dikenali sehubungan dengan Muwayh (mwy) yang terletak di dekatnya di sekitar daerah Qunfudhah guna membedakannya dari Hfar yang lain yang terletak di daerah yang sama dan di daerah-daerah yang lain.6 Hafar kini adalah desa di distrik administratif Muwayh. 19. idrm, juga dibaca ‘drm: al-Marda (mrd’) di wilayah Majaridah. 21. swd: al Dish (dys) di pedalaman Hali. 22. mhnm: jelas sebuah metatesis kota dalam Bibel ‘Mahanaim’ (mhnym) yang kini mestinya adalah Umm Manahi (jamak Arab dari mnh, metatesis mhn yang bentuk jamak Ibraninya adalah mhny) di wilayah varian-varian dari nama-nama ini yang telah diarabkan. 6 Bukan apa yang sampai kini dianggap sebagai ‘Haphraim’ dalam Bibel (hprym, Yosua 19:19), yang kini mestinya adalah al-Harfan (bentuk ganda hrp, karena hprym Ibrani adalah bentuk ganda hpr) di Rijal Alma’.— 174 —
  • 186. Qunfudhah.723. qb’n: Al Jub’an (gb’n), dalam Bibel adalah ‘Gibeon’ (gb’wn) di wilayah Majaridah.24. bt h(w)rn: al-Rawhan (rwhn), dalam Bibel adalah ‘Beth- horon (byt hwrwn) di wilayah Qunfudhah; kecuali kalau yang terakhir itu adalah Khayran (hyrn) di Wadi Adam.25. qdtm: mungkin makdah (mkdt) di wilayah Bahr.26. iyrn: al-Rawn (rwn) di pedalaman Hali.827. mkdi’: Maqdi (mqd) di wilayah Qunfudhah, satu di antara tiga ‘Meggido’ (mgdw) yang tertera di dalam Bibel, yang dua lainnya adalah Maghdah (mgd) di wilayah Taif (lihat Catatan 3), dan Shu’ayb Maqdah (‘lembah mqd) di Wadi Adam.28. idr: Wadhrah (wdr) di wilayah Bahr.29. id hmrk (diuraikan sebagai h-mrk): id dalam nama ini (Ibraninya adalah yd) adalah padanan kata dari kata Arab wadi (wd) atau ‘lembah’; h-mrk, dengan kata sandang tertentu Arab) di wilayah Qunfudhah. Desa al-Marakah sebenarnya terletak di salah satu wadi atau lembah utama daerah tersebut.31. hinm, juga dibaca h’y’nm: Hawman (hwmn) di wilayah Qunfudhah; Al-Hawman di wilayah Ballasmar; atau Hawman di wilayah Muhayil.32. ‘rn: ‘Arin (‘rn), ‘Eran’ (‘rn) yang tertera dalam Bibel di 7 Nama Ibrani ini berarti ‘dua perkemahan’ atau (dengan pemberian vokal yang lain) ‘perkemahan-perkemahan’. Nama Arabnya mungkin bukanlah suatu pengubahan melainkan suatu usaha untuk menterjemahkan nama itu, karena kata Arab manahi adalah sebuah bentuk manha, yang berarti ‘perkemahan’. 8 Bukan apa yang sampai kini dianggap sebagai ‘Aijalon’ (‘ylwn) yang telah dikenali dalam Bab 10. — 175 —
  • 187. wilayah Qunfudhah; kecuali kalau yang terakhir ini adalah Al Ghurran (grn) wilayah Bani Shahr. 33. brn, juga dibaca brm: Barmah (brm) di wilayah Qunfudhah; kecuali kalau itu adalah Burran (brn) di dataran rendah Zahran. 34. dt ptr, juga dibaca d dptr:9 mungkin al-Fatrah (‘l-ptr) di Rijal Alma’, atau al-Dafrah (‘l-dprt) di wilayah Bahr; kecuali kalau referensinya adalah kepada al-Dafrah yang lain di distrik Faifa di wilayah Jizan (lihat di bawah). Mestinya pada tahap ini, dari kampanye militernya, Sheshonk menyeberangi tebing curam dan menggempur Al Sharim, dengan kata lain kota yang dianggap Yerusalem di wilayah Nimas, tanpa memasuki kota itu. Tetapi setibanya ia di dt ptr atau d dptr, Sheshonk telah jalan menuju ke arah selatan untuk melakukan penyerangan-penyerangan yang cepat di pedalaman Jizan atau mungkin ia telah berada di sana pada waktu itu (lihat no. 34). Keempat tempat yang mestinya ditaklukkannya di daerah tersebut adalah yang berikut ini: 35. ihm: Wahm (whm) di distrik Masarihah. 36. bt’rm: ‘Umar (‘mr), nama lengkapnya Qaryat ‘Umar Maqbul (harfiahnya berarti ‘desa ‘Umar yang kepadanya doa, atau ziarah ditujukan’, yang menjelaskan makna kata bt, atau ‘kuil’ pada nama yang tertera dalam daftar Sheshonk) di distrik Madaya. 37. kgri: Gharqah (grq) di distrik Abu ‘Arish; tampaknya merupakan tempat asal orang-orang ‘Arki’ (‘rqy, genitif 9 Kata dt (Arabnya d’t, disuarakan dat) atau d (nominatif Arab dw, disuarakan du) dalam nama ini seperti dalam nama-nama yang lain berarti ‘dia yang berasal dari’, dengan kata lain ‘dewi’ (bentuk feminin dt) atau ‘dewa’ (bentuk maskulin d); dalam bentuk nama tersebut yang telah diarabkan, biasanya nama ini timbul sebagai ‘l, yang terakhir ini dalam hal ini tak dapat dibaca sebagai suatu kata yang dapat berdiri sendiri yang, seperti juga Al (juga ‘l), berarti ‘Tuhan’ atau ‘dewa’.— 176 —
  • 188. ‘rq atau ‘rqh) dalam Kejadian 10:17, yang sampai kini dianggap sebagai ‘Arqa di Libanon bagian utara, di pedalaman Tripoli.38. sik: Kus (kws) di distrik Masarihah atau Kis (kys) di distrik ‘Aridah. Sepulangnya dari wilayah Jizan, Sheshonk singgah dibt tpw(h) (‘Beth-Tappuah’ atau dalam Bibelnya byt tpwh,Yosua 15:33), kini al-Fatih (pth) di wilayah Bahr. Dari sanaia langsung kembali menuju pedalaman Lith dan melakukanpenaklukan-penaklukan baru di sana (terutama di WadiAdam), ia kemudian melanjutkan serangan-serangannya, kaliini menyeberangi daerah rendah Buqran guna menaklukkantempat-tempat di wilayah Taif. Di antara tempat-tempat baruyang ia jajah di Wadi Adam adalah yang sebagai berikut:40. ibri’: Wabir (wbr).55. p’ktt: Qatit (qtt).1056. idmi’: Wadmah (wdm).58. (m)qdr: Maqdhar (mqdr).67. inmr: Namirah (nmr); kecuali kalau itu adalah Namirah lain, atau Namir (nmr) di luar Wadi Adam, tetapi dekat dengan pedalaman Lith.69. ftisi’: Fatish (pts).74. (h)bri: Khabirah (hbr).78. ‘dit: Adyah (‘dyt).112 dan 119. irhm: al-Rahm (rhm), nampaknya dua kali 10 P’ di sini, seperti dalam nama-nama lain pada daftar-daftar Sheshonk, adalah kata Arab fay’ (py’), yang berarti ‘distrik’, ‘daerah sekitar’; bandingkan dengan kata Ibrani ph, ‘di sini, ke mari, bagian ini’. — 177 —
  • 189. diserang. 113. ir (i’): Waryah (wryh), ‘Yorah’-nya Bibel (ywrh, lihat Bab 8). Di luar Wadi Adam tampaknya Sheshonk berhasil menduduki Yarar (‘l yrr) di wilayah Banu ‘Amr di Sarat. Nama ini ditulis dalam daftar (no. 70) sebagai irhrr atau ‘r hrr (diuraikan sebagai h-rr), ‘r bahasa Mesir mewakili ‘l bahasa Semit (Arabnya Al), karena orang-orang Mesir kuno menulis l sebagai r (dan terkadang sebagai n). Di daerah pedalaman Lith yang lebih luas tempat-tempat berikut ini juga diserang: 45. bt dbi: Umm Zabyah (‘m zby). 54. (q)dst: Kadisah (kdst). 57. dmrm (diuraikan sebagai d mrm): Al Maryam (‘l mrym, dalam Bibel adalah ‘Merom’, atau mrwm Yosua 11:5, 7). 59. yrdi’: Yaridah (yrd). 89. hq(q) (diuraikan sebagai h-qq): al-Quqa’ (qq, dengan kata sandang tertentu Arab). Di seberang daerah rendah Buqran Sheshonk melakukan penyerangan-penyerangan terhadap 14 buah tempat di wilayah Taif, yang namanya tertulis dalam daftar besar Sheshonk: 60. p’ ‘mq: lembah Wadi ‘Amq (‘mq). 72. ibrm: Barmah (brm), sebuah desa di dekat Wadi Turabah dan gurun basal Harrat al Buqum. 76. wrkyt: al-Wiraq (wr’q, bentuk jamak Arab dari wrq; bandingkan dengan wrkyt sebagai bentuk jamak— 178 —
  • 190. feminin dari wrk).80. dpki’ (diuraikan sebagai d pki’), juga dibaca dpk (d pk): Al Faqih (‘l pqh) kecuali kalau itu adalah al-Faqih (‘l pqh) di Wadi Adam.86. tsdn(w): Shadanah (sdnt), kecuali kalau itu adalah Dashnah (dsnt) di pedalaman Lith.91. wht wrki’: Wahat (wht), dikenali sehubungan dengan Dar al-Arakah (‘rk) yang terlelak di dekatnya, disebut dalam kesusastraan Arab sebagai terletak di wilayah Taif guna membedakannya dari Wahat di wilayah Ballasmar di Asir.93. ysht: Shuhut (sht), nama dari sebuah wadi kecil di wilayah Taif.95 dan 99. hnmi, dan hnni: bukan satu tempat, tetapi dua tempat yang berlainan, Al Human (hmn) dan Hananah (hnn).107. hqrm: al-Mihraq (mhrq), satu di antara dua pedesaan yang memakai nama ini di sekitar daerah yang sama.108 dan 110. ‘rdi’: ‘Aradah (‘rd).111. nbt: Nabah (nb, dengan akhiran feminin nbt).11118. (p’?) byy’: Buwa’ (bw’).150. irdn: al-Darayn (dryn; bukan ‘Yordan’, lihat Bab 7): satu di antara tiga buah pedesaan dengan nama ini; kecuali kalau itu adalah al-Darayn di dataran tinggi Zahran 11 Ini sudah pasti ‘Nebaioth’ dalam Bibel (nbywt, atau nbyt) yang tertera di antara ‘putra-putra’ Ismail dalam Kejadian 25:13 bersamaan dengan ‘Kedar’, dan dikenali sebagai ‘Nebaioth dari Kedar’ dalam Yesaya 60:7. Nabah dapat dijumpai di distrik Bajilah di wilayah Taif; begitu pula desa al-Qidarah (qdr), ‘Kedar’ dalam Bibel. Maka ‘Nebaioth’ bukanlah orang-orang Nabataea dari Petra, seperti yang sampai kini diduga Nabah agaknya juga ‘Nebo’ menurut Bibel. — 179 —
  • 191. lebih jauh ke arah selatan. Kita dapat saja mengenali tempat-tempat lain yang diserang oleh Sheshonk di Asir utara dan Hijaz selatan, tetapi saya kira masalahnya sudah jelas: kampanye militernya dilakukannya di Arabia Barat dan bukan di Palestina. Tepatnya, tampaknya penjajah dari Mesir itu mendesak ke arah pedalaman dalam penyerangan-penyerangannya sampai sejauh gurun basal Harrat al-Buqum, dan ia menyerang oase Barmah (lihat no. 72), dan juga ibr (no. 122) yang kini merupakan oase Wabr (wbr). Ia tampaknya juga melanjutkan perjalanannya ke arah selatan menyeberangi hulu Wadi Ranyah (srnri’, no. 104, diuraikan sebagai srnri’: Al Siyar (syr), di dataran tinggi Ghamid dan di sini terdapat sumber air Wadi Ranyah (rny) untuk menjajah Wadi Bishah. Di sini rupanya dalam dua peristiwa yang berbeda ia menggempur irqd (no. 97) yang kini mungkin adalah Al Qirad (qrd); idmn (no. 98 dan 128) mungkin adalah Wadi Adamah (‘dm); dan inn (no. 140) yang kini adalah Wanan (wnn). Dalam kata pendahuluan daftar besarnya di Karnak, Sheshonk mengatakan bahwa ia telah menaklukkan ‘bala tentara Mitanni’ — mungkin kini desa Mathani (mtny), atau lebih mungkin lagi daerah sekitar Wadi Mathan (mtn) di wilayah Taif di mana ia merampas begitu banyak pedesaan, seperti yang telah saya katakan. Jelas Mitanni yang dibicarakan ini bukanlah sebuah kerajaan di Mesopotamia utara; misalkan Mitanni adalah sebuah kerajaan di Mesopotamia utara maka akan melibatkan suatu anakronisme yang menyolok.12 Dalam daftar Sheshonk yang lebih pendek di kuil Amon di El Hibeh, nhrn (no.4) jelas bukanlah ‘Mesopotamia’, seperti yang sampai kini diduga, melainkan kini adalah desa Naharin (nhrn), dekat dengan Wadi Mathan atau desa Mathani di wilayah Taif. Tak diragukan lagi 12 Karena catatan-catatan mengenai penjajahan-penjajahan Mesir telah dibaca sehubungan dengan geografi yang keliru, para ahli mengambil kesimpulan bahwa ada sejumlah pembualan di dalam catatan-catatan tersebut. Mengingat bahwa kerajaan Mesopotamia (Mitanni) telah runtuh sekitar empat abad sebelum zaman Sheshonk, pernyataan penguasa Mesir ini bahwa ia berhasil menaklukan Mitanni telah dipandang sebagai salah satu bualan tersebut, yang tentunya tidak demikian kenyataannya, karena Mitanni merupakan nama sebuah tempat di Arabia Barat. Bandingkan dengan Pritchard, halaman 263-264, berkenaan dengan literaturnya.— 180 —
  • 192. tempat ini mestinya adalah ‘Naharaim’ dalam Kitab Bibel(nhrym) (Kejadian 24:10; Ulangan 23:5; Hakim-hakim3:8; Mazmur 60:2; Tawarikh I 19:6) yang kemudian olehSeptuaginta (diikuti oleh kesarjanaan Bibel) dikenali sebagai‘Mesopotamia, (lihat Bab 1). Demikian juga, iss(wr) dalamdaftar yang sama (no. 9) bukanlah ‘Assyria’ tetapi di antarapelbagai kemungkinan, yang masuk akal adalah Yasir (ysr) didaerah Mekah, dekat pelabuhan laut Rabigh. Menghiraukan ketidaktentuan semacam itu, yangtampaknya jelas adalah bahwa tidak hanya sejarah menurutBibel saja yang harus dinilai kembali, tetapi juga sejarahkuno seluruh wilayah Timur Dekat. Daftar-daftar namatempat dalam Kitab Perjanjian Lama Ibrani yang sepertinyamenarik itu, saya yakin akan sangat bermanfaut bagi suatugenerasi ahli-ahli yang, jika mereka dapat membuang gagasantradisional bahwa nama-nama tersebut terdapat di Palestina,mungkin dapat menjelaskan sebagian besar dari sejarah kunoyang sampai kini masih diselimuti ketidakpastian. — 181 —
  • 193. — 182 —
  • 194. 12 Melchizedek: Petunjuk-petunjuk Pada Sebuah PanteonD engan adanya referensi yang tegas mengenai seorang pendeta raja yang bernama Melchizedek (Melkisedek) dalam versi Inggris standar Kitab Perjanjian Lama,maka agaknya tidak senonoh jika seseorang menanyakanapa benar ia pernah hidup. Namun kalau memang benar-benar ada orang tersebut, Kitab Bibel Ibrani samasekali tidakmengatakan apa-apa mengenai dirinya. Memang benar, suatususunan dari konsonan-konsonan yang terbaca sebagai mlky
  • 195. sdq tertera dalam dua buah teks Bibel (Kejadian 14:18 dan Mazmur 110:4) dan telah diterjemahkan sebagai ‘Rajaku adalah kebenaran’. Akan tetapi dalam keduanya nampaknya tidak mungkin mlky sdq adalah nama seseorang. Dalam Kejadian 14:18 mlky sdq tampaknya merupakan istilah ungkapan. Dalam Mazmur 110:4 mlky sdq sudah hampir dapat dipastikan sebagai suatu referensi terhadap ‘raja-raja’ (mlkym, dengan m yang terakhir merupakan jamak yang dibuang dalam struktur genitifnya) suatu tempat tertentu. Marilah kita pertimbangkan seluruh teks Kejadian 14:18. Dalam bentuk konsonan, ia terbaca sebagai berikut: w-mlky sdq slm hwsy’ lhm w-yyn w-hw khn l-’l ‘lywn. Secara tradisional ini diberi vokal sehingga menghasilkan pengertian yang berikut ini: ‘dan Melchizedek raja Salem (slm) mengeluarkan roti dan anggur dan ia adalah pendeta El ‘Elyon atau (“Tuhan Maha Tinggi’’, RSV)’. Namun dalam konteksnya mlk dalam kata mlky tidak mungkin merupakan sebuah kata Ibrani untuk ‘raja’ guna membuat mlky sdq sebuah nama perorangan yang berarti ‘Rajaku adalah Kebenaran’. Lebih mungkin kalau kata itu merupakan bentuk jamak mlk sebagai bentuk singkat mlwk yang berarti ‘sesuap’ — suatu partisip sebuah kata kerja yang diakui dalam bahasa Arab (tetapi dalam bahasa Ibrani tidak) sebagai ‘lk, ‘kunyah’. Kamus-kamus Arab menyebutkan ‘lwk sdq (diucapkan aluk sidq, secara harfiah berarti ‘sesuap sajian’) sebagai sebuah ungkapan pelembutan untuk ‘makanan’, terutama makanan yang disuguhkan kepada seorang tamu. Maka pengertian yang sebenarnya Kejadian 14:18 tampaknya adalah: ‘dan raja Salem mengeluarkan makanan (secara harfiahnya, ‘beberapa suap sajian’), roti dan anggur dan ia adalah pendeta El ‘Elyon’. Sintaksis aneh teks Ibrani yang asli dalam halnya Kejadian 14 secara menyeluruh memberi kesan bahwa ini tertulis dalam bentuk sajak sebagai kisah epik mengenai prestasi militer gemilang Abram orang Ibrani (lihat Bab 13). Kata demi kata, ungkapan ini kalau diterjemahkan akan berbunyi: ‘dan makanan oleh raja Salem dikeluarkan, roti dan anggur; dan ia adalah pendetanya El ‘Elyon’. Dalam konteks kisah yang diceritakan dalam Kejadian— 184 —
  • 196. 14 raja Salem menghormati ‘Abram orang Ibrani’ yang sedangdalam perjalanannya kembali dari sebuah tugas militer yangberbahaya dengan membawa keberhasilan, membawa barang-barang rampasan yang banyak. Setelah mengeluarkan ‘rotidan anggur’-nya, raja Salem mempersilakan Abram makan;berkenaan dengan idiom, ia ‘memberinya sepotong makanan’(w-ytn lw m’sr mkl, Kejadian 14:20). Ini semakin menjelaskanbahwa mlky sdq dalam Kejadian 14:18, seperti halnya mkl(Arabnya m’kl, disuarakan ma’kal) dalam Kejadian 14:20berkenaan dengan makanan dan bukanlah sebuah namaperorangan, ‘Melchizedek’. Menurut tradisi, ungkapan m’srmkl dibaca sebagai m’sr mkl, yang berarti ‘sepersepuluhdari semuanya’, karena m’sr dapat berarti ‘sepersepuluh’ dan‘sepersepuluh bagian’ dan juga ‘sebagian’. Lebih lagi, pokokkalimat w-ytn lw, ‘dan ia memberinya’, secara tradisionaldianggap sebagai Abram dan bukan raja Salem, meskipun rajaSalem adalah pokok kalimat dua kalimat sebelumnya. Makadari itu secara menyeluruh ayat itu telah dimengerti bukanbahwa raja Salem mengundang makan Abram, tetapi bahwaAbram memberinya sepersepuluh barang-barang rampasannyayang ia bawa — sebuah anggapan palsu dari pembenaran atasecclesiastical tithing (pemberian sepersepuluh penghasilanseseorang kepada gereja), mengingat bahwa raja Salem jugamerupakan pendeta ‘Tuhan Maha Tinggi’. Di sini menurutpendapat saya menunjukkan betapa tidak tepatnya pembacaanterhadap Bibel Ibrani yang telah diperlakukan sampai kini. Kembali pada teks konsonan Mazmur 110:4, kitamenjumpai yang berikut ini: ‘th khn l-’wlm ‘l dbrty mlky sdq,secara tradisional diberi vokal sehingga dapat diterjemahkanmenjadi: ‘engkau adalah pendeta untuk selamanya darigolongan Melchizedek’, orang yang dibicarakan mestinyaadalah raja Daud. Namun pertimbangkanlah yang berikut ini: Kata Ibrani l-’wlm tentu dapat berarti ‘selamanya’,tetapi dapat juga berarti ‘kepada ‘Olam’ — dewa atau tempatpemujaan, atau sebuah julukan bagi Yahweh, yaitu TuhanIsrail (lihat di bawah), yang berarti ‘abadi’ atau ‘kekal’.Mengingat bahwa tak ada manusia yang dapat menjadipendeta atau apa pun untuk selamanya, maka penafsiran yang — 185 —
  • 197. kedua dari kata Ibrani l-’wlm dilihat dalam hubungannya dengan kalimatnya lebih masuk di akal. Kata Ibrani dbrty tidak mungkin berarti ‘golongan’ karena kata ini bukanlah sebuah kata dalam bentuk tunggal. Kata ini hanya mungkin merupakan bentuk ganda kata dbrh (dbrtym, berbeda dengan bentuk feminin jamaknya, yaitu dbrwt) dengan m yang terakhir dalam akhiran ganda ditanggalkan dalam struktur genitifnya dbrty(m) mlky(m) sdq. Kata Ibrani dbrh adalah kata benda feminin yang merupakan kata benda lisan (verbal noun) dari kata dbr, di sini jelas dalam pengertian kata Arab yang telah diberi vokal, yaitu dabara (juga dbr) yang berarti ‘mengikuti’. Oleh karena itu kata ini harus diterjemahkan sebagai ‘pengikut’ (dengan kata lain, ‘daerah yurisdiksi’, atau lebih tepat lagi ‘jemaah’) sehingga dbrty(m) berarti ‘kedua pengikut’ atau ‘kedua jemaah’. Kenyataan bahwa ada tempat-tempat yang bernama sdq di dua bagian Arabia Barat yang berlainan juga perlu dipertimbangkan di sini (lihat di bawah). Kata Ibrani mlky(m) sdq dalam konteks berdiri sebagai sebuah susunan genitif yang berarti ‘raja-raja Sedeq’. Tentunya kata ini dapat pula dibaca sebagai nama perorangan, yaitu ‘Melchizedek’. Namun dua buah referensi dari Kitab Qur’an mengatakan bahwa sdq (disuarakan sidq, dan ditafsirkan berarti ‘kebenaran’) sebenarnya merupakan sebuah tempat: di sini orang-orang Israil dipaksa menetap (10:93); juga merupakan pusat kekuasaan seorang ‘raja yang sangat kuat’ (54:55). Ini dengan kuat mendukung tafsiran yang pertama. Perlu dicatat bahwa ‘Salem’ atau El ‘Elyon samasekali tidak disinggung dalam teks Mazmur. Berhubungan dengan pengamatan-pengamatan ini pembacaan atas Mazmur 110:4 seharusnya dikoreksi sehingga berbunyi: ‘engkau adalah pendeta ‘Olam yang memimpin kedua kelompok (atau dua daerah) raja-raja Sedeq’. Di sini seperti halnya dalam Kejadian 14:18 tidak ada persoalan mengenai seseorang yang bernama ‘Melchizedek’. Apa yang sebenarnya dibicarakan dalam kedua sebutan yang telah saya teliti tersebut adalah dua kelompok pendeta raja yang berbeda: para pendeta-raja ‘Salem’ dan El ‘Elyon,— 186 —
  • 198. serta para pendeta-raja Sedeq (sdq) dan ‘Olam (‘wlm).Sementara raja-raja ‘Salem’ (sdq) adalah pendeta-pendeta El‘Elyon (‘l ‘lwyn), raja-raja Sedeq (sdq) merupakan pendeta-pendeta ‘Olam (‘wlm). Yang selama ini diduga sebagai sebuahkota di Palestina dan terkadang dikenali sebagai Yerusalem,‘Salem’ yang tertera dalam Kejadian 14 tidak mungkinkalau bukan apa yang kini merupakan desa Al Salamah(‘l slm, ‘dewa slm’ atau desa keselamatan, perlindungan,kesejahteraan, kedamaian’), di wilayah Nimas di pedalamanAsir. Di dekatnya, pada wilayah yang sama berdiri desa Al‘Alyan (bandingkan dengan ‘l ‘lywn dalam Bibel) yang sampaikini masih memakai nama dewa tempat mengabdi raja ‘Salem’sebagai pendeta. Juga di wilayah Nimas yang sama dan didataran tinggi Tanumah tidak jauh di sebelah tenggara berdiripedesaan Al al-A’lam (‘l ‘lm) dan Al al-’Alam (‘l ‘lm), yangsampai kini memakai nama dewa (‘wlm yang ada dalam Bibel)tempat raja-raja Sedeq, sebagai pendeta-pendeta, mengabdi.Kedua ‘jemaah’ atau ‘daerah-daerah yurisdiksi’ (Ibranidbrtym) para pendeta-raja yang berlainan tersebut (andaikatabenar-benar tidak ada dua tempat dengan nama yang sama)mungkin berpusat di sekitar dataran tinggi Zahran di ujungutara Asir dan wilayah Jizan serta Najran di ujung selatan.Kemungkinan besar pusat kekuasaan raja-raja Sedeq yangmengabdi kepada dewa ‘Olam kini adalah desa Bayt al-Sadiq(byt ‘l-sdq, ‘kuil’ dewa sdq) di wilayah Zahran. Di dekatnyaberdiri sebuah desa lagi yang bernama Sidaq (sdq). Duapedesaan lagi yang bernama Sidaqah (sdq) dan Siddiqah (sdq)masih dapat dijumpai di wilayah Jizan, bersamaan dengansebuah desa yang bernama Sadaqah (sdq) di daerah sekitarWadi Najran. Kalau benar seperti yang telah saya tegaskanbahwa raja Daud berasal dari Wadi Adam, dekat Bayt al-Sadiqdi wilayah Zahran, dan bahwa ia akhirnya berkuasa sebagairaja di ‘Zion’-nya (atau Siyan) Rijal Alma’ dekat Sidaqah diwilayah Jizan, penjelasan terhadap dbrtym ganda itu mungkinterletak di sana. Selanjutnya, yang berikut ini perlu dipertimbangkan: Tuhan orang-orang Israil, Yahweh, dengan jelas dikenalisebagai Shalom (slwm, suatu bentuk slm, atau ‘Salem’) — 187 —
  • 199. dalam nama sebuah altar yang konon dibuat oleh Gideon di ‘Ophrah’ (‘prh), suatu tempat yang konon milik seseorang dari ‘Ezer’ (‘by h-’zry, ‘Bapak orang Ezrit’ seperti yang ditulis dalam Hakim-hakim 6 24). ‘Ophrah’ yang dipermasalahkan tersebut mestinya kini adalah ‘Afra (‘pr), sebuah desa di wilayah Nimas, tidak jauh dari ‘Adhrah (‘dr, bandingkan dengan nama Ibrani ‘zr) yang pasti adalah ‘Ezer’ dalam Bibel, di dekat Bani Shahr. Tentu, altar Yahweh Shalom adalah tidak lain dari Al Salamah di wilayah Nimas - ‘Salem’-nya Kejadian 14. Messiah yang kelahirannya diramalkan dalam Yesaya 9:6 bernama ‘l gbwr ‘by ‘d slwm, biasanya diterjemahkan menjadi ‘Tuhan Maha Besar, Bapak yang kekal, Pangeran Kedamaian’ (RSV). Sr slwm-nya bahasa Ibrani di sini tentunya berarti ‘pangeran dari Shalom’, dengan kata lain, dari kota penyembahan ‘Salem’ atau Al Salamah. Jelas bahwa ‘by ‘d merupakan nama dewa yang kini masih bertahan dalam nama desa Abu al-’Id (‘b ‘d, atau ‘b ‘l-’d) di wilayah Jizan. Jelas pula bahwa ‘l gbwr adalah nama dewa yang bertahan terus dalam nama-nama dari tiga buah pedesaan yang bernama Al Jabbar (‘l gbr): sebuah di wilayah Tanumah; sebuah di wilayah ‘Abidah; sebuah lagi di distrik Majaridah; ketiganya terletak di Asir. Dalam Yesaya, nama-nama ketiga dewa Arabia Barat diberikan kepada Messiah orang Israil yang akan duduk di singgasana Daud. Pembacaan secara tradisional atas Kejadian 14:22 telah lama menganggap bahwa Abram orang Ibrani, dalam suatu sumpahnya, mengenali tuhannya sendiri, Yahweh, dengan El ‘Elyon-nya raja ‘Salem’. Teks Ibrani dari sumpah Abram, hrmty ydy ‘l ‘lywn, biasanya diterjemahkan ‘Saya telah bersumpah (secara harfiahnya, telah mengangkat tangan saya) kepada Yahweh El ‘Elyon’ (dalam RSV, ‘kepada Tuhan Maha Tinggi’). Sebenarnya kata Ibrani Yahweh di sini (seperti dalam contoh-contoh sebelumnya) harus dibaca sebagai imperfek kuno dari kata kerja hyh - ‘adalah’. Sehingga sumpahnya akan berbunyi: ‘Saya telah bersumpah, El ‘Elyon adalah dewa’, atau ‘saya telah bersumpah, (karena) El ‘Elyon adalah dewa (‘l yhw ‘l ‘lywn)’, pengakuan terhadap kedewaan— 188 —
  • 200. El ‘Elyon dipersembahkan sebagai kesaksian dari kebenaransumpah itu. Namun dalam Mazmur 7:18 ‘Elyon dengantegas disebut sebagai Yahweh (sm yhwh ‘lywn, ‘nama Yahwehadalah ‘Elyon’). Yahweh juga disebut ‘Elyon dalam Mazmur47:3. Lebih lagi, ‘Elyon dan bukan Yahweh tertulis sebagainama Tuhan Israil dalam lebih dari duapuluh sebutan lamadalam teks-teks Bibel yang umumnya diterjemahkan sebagai‘Maha Tinggi.’ Yahweh dikenali sebagai El ‘Olam (‘l ‘wlm) dalamKejadian 21:33, dan sebagai ‘lhy(m) ‘wlm (harfiahnya ‘dewa-dewa ‘Olam’) dalam Yesaya 40:28. Ia juga disebut raja ‘Olam(mlk ‘wlm) dalam Yeremia 10:10. Dalam Mazmur 7:18 kalimat dalam bahasa Ibrani yangberbunyi ‘wdh yhwh b-sdqw sampai kini dianggap berarti‘Saya akan menyatakan terima kasih kepada Yahweh (atau‘Tuhan’) atau Kebenarannya’. Namun b dalam b-sdqwberarti ‘di’ atau ‘pada’, dan mustahil dapat berarti ‘atas’ atau‘karena’. Pembacaan yang terakhir seharusnya memerlukanpreposisi Ibrani, yaitu l, dalam hal ini sebagai l-sdqw. Makapenterjemahan yang benar teks Ibraninya adalah: ‘Saya akanmenyatakan terima kasih kepada Yahweh di Sedeq-nya’ yaitudi kuilnya di sebuah tempat yang bernama sdq, yang mungkinadalah Sidaqah atau Siddiqah-nya Jizan.1 Tentu kita dapatsaja meneliti segenap sebutan-sebutan Keinjilan dimana katasdq timbul dan menentukan, menurut konteksnya, sebab sdqmembuat suatu referensi pada sebuah tempat pemujaan yangbernama Sedeq dan kata itu hanya berarti ‘kebenaran’. Kini mestinya sudah jelas: kemungkinan tidak pernahada seorang pendeta-raja ‘Salem’ yang diakui kebenarannyamenurut Bibel, dengan nama ‘Melchizedek’ yang mengepalaisebuah ‘golongan’. Kesimpulan semacam ini sangatlahmenarik, tetapi apa yang lebih penting ialah bahwapenyelidikan terhadap masalah Melchizedek menyuguhkanpetunjuk-petunjuk yang membantu membongkar suatumisteri sejarah yang besar: asal mula monoteisme di Arabia 1 Judul Mazmur 7 mengasosiasikan penyusunannya dengan sebuah tempat --bukan dengan seseorang-- yang bernama ‘Cush’ (‘Kush’) (kws), yang mungkin kini adalah Kus (kws) atau Kisah (kys), keduanya terdapat di wilayah Jizan. Perlu dicatat di sini bahwa nomor-nomor baris yang disebutkan bagi Mazmur adalah nomor-nomor dari baris-baris dalam bahasa Ibrani, bukan terjemahannya. — 189 —
  • 201. Barat kuno yang telah terlupakan. Pertama-tama kita harus mengingat bahwa kata untuk ‘Tuhan’ yang Esa, dalam bahasa Ibrani adalah Elohim (‘lhym) yang merupakan bentuk jamak maskulin dari eloh (‘lh) atau ‘Tuhan’. Tak ada salahnya jika kita mengatakan bahwa apa yang nantinya dikenal di Arabia Barat, pada suatu waktu, sebagai Tuhan yang Esa yang pada mulanya adalah sebuah panteon (dunia dewata) yang terdiri dari dewa-dewa setempat atau dewa-dewa kesukuan. Sebuah penghitungan atas nama-nama tempat di Arabia Barat dimulai dengan Al (‘l, bandingkan dengan ‘l-nya bahasa Ibrani, ‘Tuhan/Dewa’), mengesampingkan nama-nama tempat yang tak terhitung lagi yang memakai kata sandang tertentu Arab al yang mungkin adalah ‘l-nya bahasa Ibrani yang masih bertahan sampai kini, dapat langsung menunjukkan bahwa dunia dewata Arabia Barat kuno pada mulanya terdiri dari ratusan dewa, mungkin termasuk dewa-dewa yang mempunyai beberapa nama yang berbeda. Di antara dewa-dewa tersebut adalah Al Salamah (yaitu slm atau slwn di dalam Bibel), Al ‘Alyan (‘l ‘lywn dalam Bibel), Al al-A’lam atau Al al-’Alam (yaitu ‘wlm dalam Bibel), dan Sidq (dalam Bibel adalah sdq, juga diakui sebagai sdq dan sdyq dalam inskripsi-inskripsi Arab). Di dalam Bibel Ibrani, Al Salamah, Al ‘Alyan, dan Al al-A’lam (atau al-’Alam) dengan jelas disamakan dengan Tuhan orang-orang Israil, yaitu Yahweh (yhwh, lihat di bawah), dan sebuah sdq dituliskan sebagai sebuah tempat pemujaan Yahweh. Juga disamakan dengan Yahweh adalah beberapa dewa Arabia Barat lainnya, yang namanya bertahan di tanah asal mereka dalam bentuk nama-nama tempat. Di antara mereka adalah Al Sadi (‘l sdy, dalam Bibel ‘l sdy, atau El Shaddai, sering diterjemahkan sebagai ‘Tuhan yang Maha Kuasa’); Al Rahwah (rhw, ‘lubang air, sumur’, dalam Bibel ‘l r’s diucapkan El Ro’i, ditafsirkan dengan salah sebagai ‘Dewa penglihatan’); al-Sabayat (sbyt, ‘gazelle’, sejenis rusa), nama tempat dari sebuah kuil; dalam bibel sb’wt atau ‘Sabaoth’, juga berarti ‘gazelle-gazelle’, namun secara tradisional ditafsirkan dalam pengertian ‘pasukan-pasukan, tuan rumah-tuan rumah’ — sehingga— 190 —
  • 202. penterjemahan atas yhwh sb’wt, sebagai ‘Tuhan para tuanrumah’ yang sebenarnya berarti ‘Yahweh-nya Sabayat’).Seperti yang telah dicatat, nama-nama dua dewa Arabia Baratlainnya, yaitu Al Jabbar (dalam Bibel ‘l gbwr) dan Abu al-’Id(dalam Bibel adalah ‘b ‘d), dikenali dalam Yesaya 9:6 sebagainama-nama Messiah orang-orang Israil; kedua dewa tersebutmungkin juga disamakan dengan Tuhan orang-orang Israil.2 Mengenai nama Yahweh sendiri, namanya juga hidupterus di Arabia Barat, tidak hanya sebagai yh atau yhw dalaminskripsi Thamud dan Lihyan dari Hijaz bagian utara (yangtelah menjadi suatu fakta yang telah diakui), tetapi juga dalamsejumlah nama tempat. Satu di antaranya adalah nama sebuahpunggung gunung, Jabal Tahwa (thw) di pesisir Asir. Lainnyaadalah nama-nama pedesaan seperti al-Haw (‘l hw) di dekatMekah; al-Hawa, (‘l-hw), Abu Hiya’ dan Hiyah (hyh) di dekatTaif; Al Hiyah (‘l hyh) di wilayah Nimas (kemungkinan namakuil utama Yahweh, mengingat letaknya yang berdekatandengan Al ‘Alyan dan Al al-A’lam, lihat di atas), dan Hiyah(hyy) dekat Dhahran, di ujung selatan ketinggian Asiryang terletak paling jauh di selatan (mungkin dt zhrn yangtertera dalam inskripsi-inskripsi Arab). Lebih mungkin daritidak, Yahweh, seperti El ‘Elyon, pada mulanya adalah dewaketinggian pegunungan. Namanya telah menjadi pokokbahasan dari kontroversi yang telah banyak dipelajari, namunnama tersebut dapat dengan mudah dijelaskan sebagai sebuahkata benda kuno dari kata kerja hwh (bukan apa yang biasanyadiduga berarti ‘adalah’), bukan dalam pengertian Ibrani danbahasa Arab ‘jatuh’, melainkan dalam pengertian bahasa Arab(belum diakui kebenarannya dalam bahasa Ibrani), yaitu‘naik, diangkat’. Namanya sendiri, dalam pengertian tersebut,mestinya mengakibatkan ia diakui sebagai dewa yang tertinggi. Kita tak dapat menyebutkan kapan Yahweh disamakandengan dewa-dewa lain dalam panteon Arabia Baratsebagai Elohim (‘lhym, ‘Tuhan’, berbeda dengan h-’lhym,‘dewa-dewa’) Israil. Yang dapat kita katakan adalah bahwaidentifikasi ini dilakukan secara selektif. Kalau nama-nama 2 Di samping dewa sdq, nama-nama dewa slm (sebagai slmn, dengan akhiran penghebat), ‘wlm (sebagai ‘lm) dan mungkin ‘bd (sebagai b’dn atau b-’dn dengan kata sandang tertentu kuno), diakui kebenarannya dalam inskripsi-inskripsi Arabia. — 191 —
  • 203. beberapa dewa Arabia Barat, seperti halnya dewa-dewa yang telah disebutkan di atas nantinya disamakan dengan Yahweh, lainnya tidak demikian. Begitulah dengan nama dewa ‘Succoth’ (skwt, Amos 5:26) yang bertahan di daerah sekitar Abha di dataran tinggi Asir sebagai nama desa Al Skut (‘l skwt). Begitu pula halnya dengan pelbagai dewa lainnya yang bernama ‘Baal’ (b’l mungkin kependekan dari ‘l ‘l, ‘bapak panen’, atau ‘yang satu panen’, seperti ‘Baal-Zebub’ (b’l zbwb, Raja-raja II 1:2) yang namanya bertahan terus sebagai nama pelbagai dewa di Asir seperti Dhabub (dbwb) dan Dhubabah (dbb) di wilayah Jizan, dan Al Dhubabah (‘l dbb) dekat Khamis Mushait. Kita dapat langsung mengerti mengapa Baal-Zebub tersebut (nama ini biasanya dianggap berarti ‘Majikan lalat-lalat’) tidak pernah disamakan dengan Yahweh. Menilai arti zbb yang bertahan dalam bahasa Arab, namanya menunjukkan bahwa ia merupakan ‘bapak panen- panen dengan zakar yang sangat besar’. Akan tetapi sebuah inventaris yang lengkap mengenai dewa-dewa Arabia Barat yang nantinya disamakan dengan Yahweh dan yang tidak, adalah di luar jangkauan penelilian ini. Yang tampaknya lebih penting ialah bahwa sebuah penafsiran kembali dari sebutan-sebutan tertentu dalam Bibel Ibrani dapat memberi kita bukti-bukti yang mungkin dapat berguna dalam membantu para ahli merumuskan sebuah teori baru yang dapat menjelaskan bagaimana monoteisme berkembang di Arabia Barat. Sekali lagi ilmu onomastik menunjukkan jalan yang terlalu berbelit-belit bagi saya, dan hanya berguna bagi mereka yang berpengetahuan sangat luas dalam hal ini . Perkenankan saya hanya menambah ini saja, sambil menyimpulkan: ada sebuah cerita yang menarik dalam Kejadian 22:1-4 yang kalau dibaca dengan teliti nampaknya membantu dalam transisi di Arabia Barat antara politeisme dan monoteisme (atau paling tidak pemujaan terhadap Yahweh sebagai tuhan yang tertinggi). Dalam sebutan tersebut kita diberitahu bahwa Ibrahim diperintahkan oleh ‘tuhan- tuhan’ (h-’lhym yang dibedakan dari ‘lhym) untuk membawa anaknya, yaitu Ishak, ke tanah ‘Moriah’ (h-mryh,— 192 —
  • 204. kini al-Marwah, atau mrwhm juga dengan kata sandangtertentu, di Rijal Alma’; lihat geografi cerita Ibrahim dalamBab 13). Di sana ia harus menjadikan anaknya kurban disebuah gunung, yang kemudian dikenal dengan nama yhwhyr’h, atau ‘Yahweh Yireh’ (kini Yara’, atau yr’, juga di RijalAlma’). Ibrahim dengan teliti mengikuti perintah ‘tuhan-tuhan’ itu (h-’lhym diulang dalam 22:1, 3, 9),3 namunsewaktu ia mempersiapkan altar bagi pengorbanan anaknya,Ishak bertanya dimana anak kambing yang akan dikurbankan,Ibrahim menjawab bahwa ‘Tuhan’ dalam bentuk tunggal(‘lhym bukan h-’lhym), akan menyediakan anak kambingitu (22:8). Mendengar ini Yahweh mengalangi merekadengan cara menyediakan sebuah kambing jantan yang akanmenggantinya sebagai kurban, setelah puas bahwa Ibrahimtakut terhadap ‘Tuhan’ (lagi ‘lhym bukan h-’lhym), sepertiyang disebutkan dalam Kejadian 22:11f. Apakah terlalufantastis untuk menganggap bahwa kisah ini pada mulanyadiceritakan guna menjelaskan asal mulanya monoteisme? 3 Kata kerja-kata kerja dengan h-’lhym (dewa-dewa) merupakan pokok kalimat dalam sebutan ini timbul dalam teks Ibrani tanpa akhiran kata ganti w. Ini mungkin ditanggalkan oleh para redaktur yang dibuat bingung oleh teks tersebut. Di pihak lain, mereka nampaknya tidak berhasil menanggalkan kata sandang tertentu dalam h-’lhym. — 193 —
  • 205. — 194 —
  • 206. 13 Orang- orang Ibrani Hutan AsirI stilah ‘Ibrani’ (‘bry, jamaknya adalah ‘brym, ‘bryym, bentuk femininnya adalah ‘bryt) muncul tujuh kali dalam Kitab Bibel Ibrani dan tiga kali dalam kitab-kitab Nasrani(Perbuatan-perbuatan 6:1; Orang-orang Korintia II 11:22;Orang-orang Philipi 3:5). Dalam teks-teks Nasrani tersebutkata ini digunakan untuk membedakan umat Kristen yangsecara kesukuan adalah Yahudi dengan yang lain, terutamaumat ‘Hellenis’ (Perbuatan-perbuatan 6:1). Dalam teks-teksIbrani penggunaannya agak kurang jelas; namun pembacaanteks-teks tersebut memberi kesan bahwa orang-orang Israildahulu kala mulanya dipandang sebagai suku-suku ‘Ibrani’. Apa yang dapat dikatakan mengenai orang-orang‘Ibrani’? Sejauh ini telah banyak usaha yang dilakukan gunamenyamakan ‘brym menurut Bibel dengan ha-pi-ru dalamteks-teks kuniform, dengan ‘prm-nya Ugarit, ‘pr-nya orangMesir dan habiru yang tertulis dalam Surat-surat Amarna(mengenai Surat-surat Amarna tersebut, lihat Bab 5). Orang-
  • 207. orang seperti ini pada umumnya dipercaya lebih merupakan suatu golongan sosial daripada suatu kelompok etnis yang tidak mematuhi pihak yang berwajib dan hidup di luar hukum dan peraturan yang ada seperti halnya bandit- bandit, prajurit-prajurit bayaran, orang-orang gelandangan atau penjual keliling. Kalau memang kaum ha-pi-ru ini benar-benar bangsa ‘brym menurut Bibel di dalam teks-teks kuniform, yang ditulis dalam bahasa yang masih serumpun dengan bahasa Ibrani Bibel, mestinya mengeja nama mereka dengan benar tanpa membuat satu atau lebih perubahan- perubahan yang mendasar. Dari hasil penyelidikan terhadap daftar-daftar topografis Mesir kuno juga menyalin susunan konsonan dari nama-nama tempat Semit dengan benar, jelas mereka tidak pernah menyalin b sebagai p. Maka dari itu, ‘pr-nya Mesir tidak mungkin merupakan suatu salah penterjemahan dari ‘br-nya bahasa Ibrani — akar kata asal kata ‘brym. Untuk mengetahui secara lebih mendalam siapa sebenarnya orang-orang ‘Ibrani’ pada mulanya, kita dapat melihat pada kisah tentang Ibrahim (Abraham) dalam Kejadian, yang dikenal dengan dua nama, Abram (‘brm) sampai Kejadian 17, dan Abraham (‘brhm) mulai dari Kejadian 18. Tanpa menghiraukan apakah Abram dan Abraham (Ibrahim) adalah orang yang sama atau bukan, kisah Kejadian ini memperlakukannya dengan demikian. Dalam Kejadian 14:13, Abraham, yang dipandang sebagai leluhur orang Israil dan bangsa-bangsa serumpun lainnya, diberi nama ‘Abram orang Ibrani’ (‘brm h-’bry). Ia juga dikatakan menetap ‘di samping pohon-pohon ek (lebih tepat lagi, hutan) Mamre’ (b-’lny mmr’, secara harfiah ‘di dalam’ bukan ‘di samping’ hutan Mamre). Abram yang sama ini dikatakan bertempat tinggal ‘di dalam hutan’ Mamre (sama dengan di atas) dalam 13:8. Hutan Mamre muncul lagi sebagai tempat tinggal Abraham (Ibrahim) dalam Kejadian 18:1, tepat pada waktu pergantian namanya terjadi. Jelas orang yang dianggap sebagai leluhur orang-orang Israil ini, seperti digambarkan dalam Kejadian, ialah orang ‘Ibrani’, atau ‘bry, seseorang yang menetap di dalam hutan.— 196 —
  • 208. Istilah ‘bry itu sendiri mungkin menunjukkan akan haltersebut. Sampai kini dianggap sebagai padanan kata dari katakerja Arab ‘br (diucapkan ‘abara) yang berarti ‘menyeberangi,melintasi’,1 kata Ibrani ‘br dalam ‘bry, atau bentuk jamaknya‘brym, mungkin pula padanan kata dari kata benda jamakgabungan Arab gbr (diucapkan gabar, tunggalnya gabarah,atau gbrhn) yang berarti ‘hutan’. Bangsa ‘Ibrani’ pada mulanyamungkin merupakan sebuah masyarakat Arabia Barat yangtinggal di dalam hutan. Di wilayah Dhahran, di ujungselatan ketinggian Asir, sampai kini masih berdiri sebuah desayang bernama Al al-Ghabaran (‘l gbrn ‘Dewa Kehutanan’).Mungkinkah dewa dengan nama ini adalah ‘lhy h-’brym(Tuhan orang-orang Ibrani, RSV) yang disamakan denganYahweh, Tuhan Israil di dalam enam buah sebutan Keluaran(3:18; 5:3; 7:16; 9:1 13; 10:3)?2 Untuk mengetahui di mana masyarakat hutan ‘Ibrani,Arabia Barat diperkirakan berasal, kita dapat dapat mengikutiperjalanan ‘Abram orang Ibrani’ itu, seperti yang dituturkandalam Kejadian 11:31; 13:18. Konon Abram dan rekan-rekansebangsanya pada mulanya berasal dari Ur Kasdim, atau ‘wrksdym. Penterjemahan Ur Kasdim yang tradisional sebagai ‘Urorang Chaldea’ yang diperkirakan terletak di Mesopotamia,terdapat dalam Septuaginta Yunani, dan yang demikian inimenunjukkan suatu salah penafsiran geografis pada zamanHellenis. Sebenarnya kampung halaman Abram pada mulanyamestinya kini adalah Waryah (wry, bandingkan dengan ‘wr) diWadi Adam, yang secara Bibel dikenali berhubungan denganMaqsud (mqsd, bandingkan dengan ksdym), sebuah tempatyang masih ada di sana di wilayah yang sama. Dari sanaAbram dan rekan-rekan sebangsanya pindah ke ‘Haran’ (hrn)- agaknya kini adalah Khayran (hyrn), juga di Wadi Adam.Di sini Abram berpisah dengan para rekannya dan melakukanperjalanan ke arah selatan menuju daerah sekitar ‘Shechem’ 1 Kita tak dapat mengesampingkan adanya kemungkinan bahwa orang-orang ‘Ibrani’ mendapatkan nama mereka dari ‘br, dalam arti kata ‘penyeberangan’, berkenaan dengan jurang-jurang pegunungan (m’brwt h-yrdn, lihat Bab 7) di ketinggian Sarat Arabia Barat, yang mungkin merupakan tempat asal mula mereka. 2 ‘Dewa hutan’, yang namanya masih dipakai oleh desa Al al-Ghabaran di wilayah Dhahran, mungkin dahulunya disebut Abu Ghabar, kini nama sebuah desa di Wadi Najran. Pedesaan lain dengan nama-nama yang berasal dari gbr dapat pula ditemui di pelbagai bagian daratan tinggi Asir. — 197 —
  • 209. (skm) kini al-Kashmah (ksm) di Rijal Alma’, dan di sini ia menetapkan diri di hutan ‘Moreh’ — agaknya kini Marwah (mrwh, satu di antara dua buah pedesaan dengan nama yang sama di Asir, yang satu lagi adalah ‘Moriah’, dalam Bibel, lihat Bab 12). Kemudian Abram pindah ke ‘gunung’ (dengan kata lain, punggung bukit) di sebelah timur ‘Bethel’ (byt ‘l), kini Batilah (btl) di Rijal Alma’ (lihat Bab 4) dan berkemah di sebelah baratnya dan ‘Ai’ (h-y, kini al-Ghayy, di wilayah yang sama, lihat Bab 7) terletak di sebelah timurnya.3 Memang ada sebuah Bethel yang bernama Bayt Ula (byt’l) di Palestina, di wilayah al-Khalil (atau ‘Hebron’). Agak jauh ke arah timur, melewati Laut Mati, ada sebuah Ai yang bernama Khirbat ‘Ayy (‘y) di wilayah al-Karak. Namun kedua wilayah tersebut saling terpisah bukan oleh sebuah gunung, tetapi oleh sebuah lembah Laut Mati yang sangat dalam. Mungkin karena alasan inilah para ahli Bibel belum mengenali tempat-tempat tersebut sebagai Bethel dan Ai-nya Abram, dan memang sepantasaya demikian. Namun perkiraan mereka bahwa Bethel yang dibicarakan ini adalah Baytin di Palestina, dan bahwa Ai adalah al-Tall yang terletak di dekatnya (lihat Bab 7, Catatan 8) samasekali tak dapat dipertahankan. Langkah Abram selanjutnya ditujukan ke arah ‘Negeb’ (h-ngb, kini al-Naqab, atau nqb, juga di Rijal Alma’). Dari sini ia pergi ke msyrm - bukan ‘Mesir’, seperti yang dikatakan oleh identifikasi tradisional tetapi Misramah (msrm) kini di dekat Abha, dan di sini ia konon mendapat kesulitan dengan ‘Pharaoh’ - pr’h yang nampaknya adalah dewa lokal di sana.4 Setelah menetap di daerah itu, yang konon memberinya kekayaan yang melimpah, mungkin melalui perdagangan ternak, Abram kembali ke Rijal Alma’ — pertama-tama ke ‘Negeb’ atau al-Naqab; kemudian ke tempat ia berkemah 3 Dalam kisah Abraham (Nabi Ibrahim), seperti yang dikisahkan dalam Kejadian, mungkin saja timbul kekeliruan antara ‘Bethel’ dengan ‘Ai’ di Rijal Alma’ dan ‘Bethel, dengan ‘Ai’ yang terletak di wilayah Zahran di Taif (Butaylah dan ‘Uya’) lebih dekat pada Wadi Adam (lihat Bab 10). 4 Ada tidak kurang dari dua puluh delapan buah pedesaan di Arabia barat yang masih memakai nama pr’h ini sebagai Far’ah (p’rh) atau al-Far’ah (‘l-prh). Bahwa ini adalah nama dewa sudah jelas diketahui dari nama desa Al Fira’ah (‘l pr’h) di distrik Ballasmar. Ada pula dua pedesaan yang bernama al-Far’ah dekat Abha, di sini Misramah dapat dijumpai. ‘Rumah kerajaan’ pr’h yang tertimpa ‘wabah penyakit yang besar disebabkan oleh Sarai, istri Abram’ (12:17), tentunya adalah kuil pemujaan dewa tersebut di Misramah, tempat Sarai, yang dianggap kakak perempuan Abram dan bukan istrinya, dipaksa menetap.— 198 —
  • 210. dahulu antara ‘Bethel’, atau Batilah, dan ‘Ai’, atau al-Ghayy.Dari sinilah dia akhirnya pergi untuk menetap di hutan‘Mamre’ (mmr’), di dekat ‘Hebron’ (hbrwn) - kini Namirah(mzmr) dekat Khirban (hrbn) di daerah perbukitan pedalamanQunfudhah. Di daerah sekitar Namirah dan di wilayahQunfudhah yang sama itu di sana sampai kini masih terdapatempat buah pedesaan yang berdekatan yang bernama QaryatAl Silan, Qaryat al-Shiyan, Qaryat ‘Asiyah, dan Qaryat ‘Amir— yang tak diragukan lagi adalah ‘Kiriath-arba (qryt ‘rb’, ‘desaempat’ atau ‘pedesaan empat’, mungkin empat dewa) dan disini istri Abram wafat yang dikenali dalam konteks yang samadengan ‘Hebron’. Di sekitar daerah yang sama juga berdiridesa Maqfalah (mqplh), yang sampai kini memakai nama guaMachpelah (mkplh) yang ia peroleh di luar ‘Hebron’ sebagaimakam keluarganya (Kejadian 23:9f). Begitulah ketelitiangeografis kisah Kejadian tersebut. Secara lebih umum kitadapat menambahkan bahwa nama Abram (‘brm) bertahansebagai nama dua buah lokasi di daerah-daerah tempat iamenetap selama sebagian besar hidupnya: desa Sha’b Baram(‘lembah’ brm) di Rijal Alma’; dan Barmah (brm) di wilayahQunfudhah. Jelas karir Abram berpusat di sekitar wilayah RijalAlma’ dan daerah perbukitan di sebelah utara, di pedalamanQunfudhah — daerah-daerah yang terdapat hutan-hutantanaman jenever dan pohon saru di ketinggian yang lebihtinggi, dan padang-padang pohon butun, akasia serta pohon-pohon hutan lainnya pada ketinggian yang lebih rendah,diselang-selingi oleh padang-padang rumput dan tanah-tanah subur. Secara kebetulan, ‘hutan’ ‘Mamre’-nya Ibrahimkini ditandai oleh sekelompok pohon akasia dan tumbuhantamarisk di sekitar daerah Namirah dan Khirban, dipedalaman Qunfudhah. Yang dibicarakan bukanlah ‘pohon-pohon ek’ (seperti dalam terjemahan-terjemahan Bibel lama)maupun ‘pohon-pohon butun’ (seperti dalam terjemahan-terjemahan yang lebih baru). Akan tetapi Misramah, tempatIbrahim menetap untuk beberapa waktu, tak diragukan lagiadalah sebuah kota pasar yang penting, seperti kota-kotatetangganya, yaitu Abha dan Khamis Mushait yang mestinya — 199 —
  • 211. merupakan kota-kota pasar yang penting pula sesudah zaman Abraham. Dataran tinggi di sana ditanami secara intensif dan terletak di sebuah persimpangan jalur niaga yang penting. Konon Abram pergi ke sana sewaktu ‘terjadi kelaparan di tanah itu’, yang mungkin disebabkan oleh belalang-belalang, karena sampai baru-baru ini wadi-wadi di sisi maritim Asir penuh dengan hama yang rakus tersebut. Apakah semua orang Israil pada mulanya merupakan orang-orang ‘Ibrani’, atau masyarakat kesukuan dari hutan- hutan Asir? Kemungkinan besar tidak. Di antara keduabelas ‘putra-putra’ Israil yang dianggap sebagai leluhur keduabelas suku Israil (kalau memang benar ada duabelas), hanya Yusuf yang dengan jelas dibicarakan dalam Kejadian sebagai orang ‘Ibrani’- seorang ‘ys ‘bry, atau ‘pria Ibrani’; seorang ‘bd ‘bry, atau ‘pelayan Ibrani, budak’; seorang n’r ‘bry, atau ‘anak Ibrani’ (Kejadian 39:14, 17: 4l:12). Di antara saudara-saudara laki-lakinya tidak ada yang dikhususkan sebagai orang Ibrani, walaupun secara bersama mereka disebut sebagai orang-orang Ibrani (contohnya 43:32). Yusuf konon dijual sebagai budak di ‘Mesir’ (msrym) — mungkin Misramah dekat Abha, atau Masr (msr, tunggal dari msrym), di Wadi Bishah. Sebelum itu ia tinggal di ‘Hebron’ yang telah dikenali sebagai Khirban di wilayah Qunfudhah, sedangkan ‘saudara-saudara laki- laki’nya menggembala ternak mereka dekat ‘Shechem’, atau al-Kashmah (lihat di atas), di Rijal Alma’ (Kejadian 37:13- 14). Diperintahkan untuk memanggil saudara-saudaranya di ‘Shechem’ dan gagal mengejar mereka, Yusuf mengikuti mereka ke ‘Dothan’ (dieja dtyn dan dtn, Kejadian 37:17) — mungkin Dathanah (dtn) di sekitar daerah Jabal Faifa, di daerah pedalaman Jizan yang bergunung-gunung.5 Di kaki Jabal Faifa terbentang barisan pegunungan yang menghubungkan wilayah pantai Jizan dengan pedalaman Asir. Ini menjelaskan mengapa orang-orang kafilah lewat dekat ‘Dothan’ dalam perjalanan mereka menuju Misramah atau ke Masr, dan mengambil Yusuf dari ‘saudara-saudara laki-laki’nya dan membawanya bersama mereka untuk dijual 5 Berbagai ragam ejaan nama ini mungkin disebabkan oleh adanya kekeliruan antara Dathanah (dtn) tersebut dengan apa yang kini merupakan desa Dathinah (dtyn), di Wadi Adam, yang merupakan wilayah suku Yusuf (Yoseph) (lihat Bab 8 dan Lampiran).— 200 —
  • 212. sebagai budak di sana. Kemudian ‘saudara-saudara laki-laki’Yusuf (dan juga ‘ayah’nya) menyusulnya ke Misramah atauMasr guna menghindari kelaparan yang terjadi di tanah asalmereka, seperti yang dilakukan oleh leluhurnya, Abram,beberapa waktu sebelumya. Keunggulan unsur ke’Ibrani’an di antara orang-orangIsrail ditunjukkan oleh peranan kuat yang diberikan padaYusuf di antara ‘saudara-saudara laki-laki’nya setelah merekasemua pindah ke wilayah Misramah atau Masr (mungkinMasr, karena ungkapan Ibrani ‘rs msrym paling tepatditerjemahkan sebagai ‘tanah orang-orang msr’, kata msry,yang jamaknya adalah msrym, adalah genitif msr). Setelahmereka menetap di sana, semua ‘saudara-saudara laki-laki’Israil itu dan para keturunan mereka kemudian dikenalsebagai orang-orang Ibrani (Kejadian 43:32; Keluaran1:15f, 19; 2:6, 7, 11, 13; 21:2), dan Tuhan Yahweh merekadipandang sebagai ‘Tuhan orang-orang Ibrani’, seperti yangtelah dikatakan. Namun setelah timbulnya orang-orang Israilsebagai suatu masyarakat politik, istilah ‘Ibrani’ hanya kadang-kadang saja digunakan untuk menunjuk kepada mereka, selaluuntuk membedakan mereka secara kesukuan dari bangsa-bangsa lain yang hidup di antara mereka (Samuel I 4:6, 9;13:3, 19; 14:11; Yunus 1:6). Akhirnya, bahasa yang kemudian dikenal sebagai bahasa‘Ibrani’ jelas bukanlah bahasa orang-orang ‘Ibrani’ ataubahasa suku-suku Israil itu sendiri. Pada zamannya, bahasaini dipergunakan secara luas tidak hanya di Arabia Baratsaja, tetapi juga di tempat- tempat lain. Akan tetapi orang-orang Israil di Arabia Barat lah, yang mengaku sama-samamempunyai leluhur orang ‘Ibrani’, yang mengabadikan bahasatersebut dalam karya-karya tulisan mereka yang menakjubkanKitab Bibel Ibrani, yang geografinya merupakan pokokbahasan studi ini. Adakah nama yang lebih baik untuk bahasaini, yang pada dasarnya ekspresif tetapi diperkaya dan diubahmenjadi suatu alat yang mengandung ide-ide abadi oleh paragenius bangsa yang agung, yang dapat diberikan padanya? — 201 —
  • 213. — 202 —
  • 214. 14 Orang- orang Filistin ArabiaK .A. Kitchen, seorang ahli Bibel yang terkemuka menulis: ‘Di antara bangsa-bangsa yang terdapat di dalam Kitab Perjanjian Lama, bangsa Filistin adalah sekaligus yangpaling dikenal dan yang paling sukar untuk dipahami’.1Tidaklah mengherankan jika mereka sukar untuk dipahami,karena para ahli bersikeras untuk mencari tanah asal merekapada tempat yang tidak semestinya. Karena bangsa Filistindisebut dalam beberapa sebutan menurut Bibel sebagai bangsa‘Cherethit’ (krty, bentuk genitif krt), sudah menjadi suatukepercayaan bahwa mereka pada mulanya adalah ‘Orang-orang Laut’ yang misterius dari pulau Crete (Kreta) di LautTengah yang kemudian menempati barat daya Palestina.Bagaimana Palestina mendapatkan namanya setelah ditempatioleh bangsa Filistin yang disebut dalam Bibel Ibrani tidakmenetap di sana, dan mereka tidak datang dari Crete. Namakrt dalam Bibel (Samuel I 30:14; Zefanya 2:4-5; Yehezkiel 1 K.A. Kitchen, ‘The Phillistines’, dalam D.J. Wiseman, ed., Peoples of Old Testament Times (Oxford, 1973), halaman 53.
  • 215. 25:15-16) mestinya adalah Wadi Karith (krt), sebuah cabang dari Wadi Tayyah di ketinggian Rijal Alma’. Ada pula tiga buah tempat di Asir yang bernama Falsah (plst, bandingkan dengan plst dalam bahasa Ibrani yang bentuk jamak maskulin genitifnya adalah plstym, ‘orang-orang Filistin’); satu di dekat Ghumayqah, di wilayah Lith; dan sebuah lagi di Wadi Adam, juga di wilayah Lith, dan di sana terdapat pula sebuah desa yang bernama Fasilah (plst, metatesis plst, dengan s (dengan topi di atas) diubah dalam pengucapan menjadi sebuah s (dengan titik di bawah) dan bukan s standar). Daripada kesal bertentangan dengan ilmu pengetahuan Bibel mengenai masalah orang-orang Filistin, lebih mudah jika saya mengatakan siapa mereka itu sebenarnya. ‘Tabel Bangsa-bangsa’ yang terkenal dalam Kejadian 10 menggolongkan mereka sebagai para keturunan Ham, putra Nabi Nuh. ‘Tabel Bangsa-bangsa’ ini sebenarnya adalah sejumlah daftar suku-suku dan masyarakat Arabia Barat seperti yang akan segera kita lihat. Kenyataannya, Kejadian adalah tidak lebih dari sebuah cerita mengenai legenda Arabia Barat. Dugaan bahwa tabel-tabel tersebut berusaha untuk menjelaskan asal mulanya dunia yang lebih luas (yaitu dunia Timur Dekat kuno secara keseluruhan) adalah tidak sah, dan perlu dihapus. Tabel 2, berdasarkan Kejadian 10:6, 13-14, menunjukkan bagaimana konon bangsa Filislin menurut Bibel berasal dari Ham. Mengingat bahwa bangsa Filistin menurut Bibel bertetangga dengan bangsa Israil, dan bahwa bangsa Israil telah dibuktikan sebagai orang-orang Arabia Barat, maka nama-nama yang terdapat pada tabel di atas dapat dikenali dalam pengertian geografi Arabia Barat sebagai berikut: Tabel 2. Orang-orang Filistin dalam “Tabel Bangsa-bangsa” 1 - Ham (hm) 9 - Naphtuhim 12 - Capthorim 10 - Pathrusim 11 - Casluhim 8 - Lehabim 7 - Ananim 5 - Kanaan 13 - Filistin 6 - Ludim 3 - Mesir (npthym)2 - Cush (kptrym) (kslhym) (ptrsym) (msrym) (‘nmym) (lwdym) (plstym) (lhbym) 4 - Put (kn’n) (pwt) (kws)— 204 —
  • 216. ‘Ham’ (hm): mungkin Hamm (hm ) di wilayah Qunfudhah; mungkin pula Hamm di distrik Bahr lebih jauh di selatan.‘Cush’ (kws): Kuthah (kwt) di sekitar daerah Khamis Mushait (lihat Bab 4).2‘Mesir’ (msrym): di sini mungkin Madrum (mdrm) di dataran tinggi Ghamid. Kemungkinan yang lain termasuk Misramah, dekat Abha, dan Masr, di Wadi Bishah (lihat Bab 10); Al Masri (msry, ‘yang satu dari msr’) di wilayah Taif (suatu kemungkinan yang kuat); atau Madir (mdr) di distrik Muhayil. Kemungkinam juga ada hubungan antara msrym dalam Bibel, sebagai bentuk jamak maskulin msr atau msry, dan nama kesukuan Arab yang telah disahkan, yaitu Mudar (mdr).‘Put’ (pwt): Fatiyah (ptw), di wilayah Qunfudhah; atau Fawayit (jamak Arab Fut, atau ptw) di Rijal Alma’.‘Kanaan’ (kn’n): Al Kun’an (‘l kn’n, ‘Tuhan Kanaan’), di Wadi Bishah. Bangsa Kanaan, seperti yang disebutkan satu demi satu dalam Kejadian 10:15-16, semua memakai nama yang merupakan genitif nama-nama tempat di pelbagai daerah di Asir yang tidak akan dikenali di sini; kota-kota orang Kanaan yang disebutkan dalam Kejadian 19 untuk menetapkan perbatasan wilayah kekuasaan bangsa Kanaan juga bertahan namanya, dan sebuah suku setempat memakai nama al-Qin’an (qn’n). Ungkapan yang kurang jelas dalam Kejadian 10:18 bahwa ‘Kemudian keluarga-keluarga orang-orang Kanaan berpencar sampai ke luar negeri’ mungkin dapat menjelaskan mengapa nama-nama dua kota Kanaan di Arabia Barat (Sidon dan Gaza, belum lagi yang lainnya yang tidak disebutkan di sini seperti Sur, atau ‘Tyre’) juga ditemukan sebagai nama kota-kota pesisir kuno di Suria. Sewaktu Herodotus (1:1), menulis pada abad ke-5 S.M., menyatakan bahwa bangsa Funisia (Phoenicia, 2 Nama kws dapat juga ditulis sebagai Kisah (ksy) dan Kus (kws) di wilayah Jizan dan sebagai Kiwath (kwt) dekat Ghumayqah, di wilayah Lith. — 205 —
  • 217. bangsa dari pesisir Suria yang menggunakan bahasa yang secara konsonan hampir serupa dengan bahasa Ibrani Bibel) dahulunya menetap di pantai-pantai Laut Merah, setelah mereka berpindah tempat ke Laut Tengah dan menetap di tempat-tempat ‘yang masih mereka diami’, ia tanpa menyadari setuju dengan pernyataan mengenai bangsa Kanaan yang ‘berpencar ke luar negeri’ dalam Kejadian 10:18. Apa pun asal-usul nama Funisia (Phoenicia), yang merupakan suatu penyalinan abjad dari suatu pemakaian Yunani kuno, nama ini masih bertahan di Arabia Barat sebagai nama desa Faniqa (pnq) di Wadi Bishah, dan di sini berdiri pula desa Al Kun’an. Masalah Kanaan yang tertera dalam Bibel telah disentuh dalam Bab 1 dan 4. ‘Ludim’ (lwdym): Ludhan (ldn) di Rijal Alma’; Lawdhan (lwdn) di wilayah pedalaman al-Qasim; Lidan (atau Liddan, bentuk ganda ld), di wilayah Taif, dan Lidah (atau Liddah, ld) di wilayah Lith, dan lwdym dapat merupakan jamak dari bentuk genitif ld). ‘Anamim’ (‘nmyn, jamak genitif ‘nm): Ghanamin (jamak Arab gnm), nama dua pedesaan di wilayah Taif dan di sini terdapat pula dua buah pedesaan dengan nama Ghunam (gnm), dan sebuah yang bernama Ghanamah (gnm). Dua desa lainnya yang bernama Ghanamah juga dapat dijumpai di Rijal Alma’. ‘Lehabim’ (lhbym): Lahban (lhbn, lhb, dengan kata sandang tertentu kuno) di wilayah Taif. Ada pula sebuah desa yang bernama Abi Lahab (‘b lhb ‘bapak’ atau ‘Tuhan’ lhb) di wilayah Jizan. Banu Luhabah (lhb) adalah sebuah suku gurun pasir Buqum, di sebelah timur Taif. ‘Naphtuhim, (npthym, ganda atau jamak npth): Mafatih (mpth, disuarakan sebagai bentuk jamak Arab dari nama yang sama), di wilayah Taif. Ada pula sebuah desa yang bernama Miftah (mpth, dalam bentuk tunggal) di wilayah Lith. Sebagai nama kesukuan Arabia Barat, ‘Naphtuhim’ nampaknya bertahan— 206 —
  • 218. dengan cara yang lain yaitu sebagai nama suku Fatahin (ithm) di wilayah Taif.‘Pathrusim’ (ptrsym, jamak genitif ptrs): Sharfat (srpt), nama lengkapnya adalah Hajib Bani al-Sharfat (sebuah nama kesukuan) di wilayah Birk. Ada pula sebuah suku, yaitu suku Farsat (prst) yang kini dapat ditemukan di Hijaz sebelah utara. Seperti dalam halnya ptrsym-nya bahasa Ibrani, baik Sharfat dan Farsat terdapat dalam bentuk jamak Arab.‘Casluhim’ (kslhym, jamak genitif kslh): mengikuti pula pola pengubahan yang gl’d (Gilead) dalam Bibel berubah menjadi ‘l-g’d (al-Ja’d, lihat Bab 1), dengan cara menaruh l, yang sebenarnya terletak di tengah- tengah kata itu, di luar, sehingga menjadi sebuah kata sandang tertentu Arab, kslh kini mestinya adalah al-Husaki (‘l-hsk) di Arabia Utara; atau al- Qash (‘l-qsh) di Wadi Adam. Sebuah suku wilayah Taif kini memakai nama al-Huskan (‘l-hskn, dengan n yang terakhir sebagai akhiran jamak Arab).‘Capthorim’ (kptrym, jamak kptr atau kptry): rupanya al- Faqarat (jamak Arab dari pqrt, yang merupakan metatesis dari kptr) di Wadi Bishah; atau al- Rafaqat (jamak Arab rpqt) di wilayah Jizan. Kedua nama- nama tempat ini mempunyai struktur nama kesukuan.‘Filistin’ (konon keturunan ‘Casluhim’, dan oleh sebab itu kemungkinan berasal dari wilayah Wadi Adam, dari sana mereka menyebar ke daerah-daerah lainnya; bahasa Ibraninya adalah plstym, ganda atau jamak plst atau genitif kata itu, plsty): Falsah (plst) di wadi Bishah; Shalfa (slp’, mungkin pada mulanya adalah slpt, hanya diucapkan sebagai slph), dekat Abha; Faslah (pslt), di wilayah Qunfudhah; dan empat buah pedesaan yang bernama yang bernama Fas’lah (pslt), dua di dataran tinggi Zahran, dan sebuah lagi di Wadi Adam wilayah Lith, serta sebuah lagi di Bani Shahr, di sebelah tenggara dari Qunfudhah. Berkenaan dengan bukti ini, tampaknya bangsa Filistin — 207 —
  • 219. dalam Bibel merupakan salah satu di antara sejumlah bangsa Arabia Barat yang tinggal bersama orang-orang Israil, tidak hanya di sepanjang pesisir Laut Merah, tetapi mungkin juga di wilayah pedalaman Wadi Bishah. Bahwa mereka mempergunakan bahasa yang sama seperti bangsa Ibrani atau Israil dapat dilihat dengan jelas dalam nama-nama perorangan kepala-kepala suku atau ‘raja-raja’ mereka, seperti yang dikatakan dalam teks-teks Bibel, misalnya ‘Abimelech’ (‘b mlk, dari mlk, ‘memiliki, mempunyai’ atau ‘raja’); ‘Ahuzzath’ (‘hzt: mungkin adalah jamak ‘hzh, bahasa Arabnya ialah ‘hdh, ‘milik, tanah milik’); ‘Phicol’ (pykl, Kejadian 26:26, bandingkan dengan kata Arab Afkah, atau ‘pkl, ‘bergetar’ diakui sebagai nama lama kesukuan dan perorangan Arab).3 Bangsa Filistin jelas berbeda dengan bangsa Israil dalam hal agama, dan juga dalam hal adat istiadat, Kitab Bibel Ibrani menyebut mereka dengan cara yang khusus sebagai orang-orang yang ‘tidak dikhitankan’ (Hakim-hakim 14:3; 15:18; Samuel I 14:16; 17:26, 36; 31:4; Samuel II 1:20; Tawarikh I 10:4). Mereka memuja pelbagai dewa di tanah itu, tetapi dewa khusus mereka adalah ‘Dagon’ (dgwn, dari dgn, ‘jagung, butir padi’), yang mempunyai tempat-tempat pemujaannya di ‘Gaza’ dan ‘Ashdod’ adalah dua di antara lima kota utama orang-orang Filistin di pesisir Asir, dan nama kuil-kuil ‘Dagon’ masih bertahan di sekitar daerah mereka, seperti yang ditunjukkan pada pengenalan berikut ini terhadap lima buah kota: ‘Gaza’ (‘zh): ‘Azzah (‘zh) di Wadi Adam (wilayah Lith). Di sekitar daerah yang sama berdiri desa Daghma (bentuk dari dgm dalam bahasa Aram; dengan kata sandang tertentu bahasa Aram yang berakhiran; bandingkan dengan kata dgn, atau dgwn di dalam Bibel) juga lima pedesaan lainnya yang bernama Duqum (dqm), salah satu di antara mereka terletak di Wadi Adam. ‘Gaza’ yang lainnya terdapat di pesisir Asir adalah ‘Azzah di distrik Majaridah; Al ‘Azzah (‘l ‘zh, ‘Dewa Gaza’, 3 ‘Phicol’ sampai kini dianggap sebagai suatu nama ‘non-Semit’; sehingga K.A. Kitchen berkomentar: ‘Akhirnya, dalam taraf linguistik, bercampurnya bahasa Semit (Abimelech, Ahuzzat) dan bahasa non-Semit (Phicol) ... menunjukkan suatu asimilasi orang-orang asing ke dalam lingkungan pergaulan Semit’.— 208 —
  • 220. tentunya ‘Dagon’), di distrik Ballasmar; dan ‘Azz (‘z, tanpa akhiran feminin), di dekat Birk.‘Ashdod’ (‘sdwd): Sudud (sdwd) di Rijal Alma’, dan di sini terdapat pula desa Dharwat Al Daghmah yang terletak di puncak bukit (Dharwat Al Daghmah berarti ‘puncak dewa dgm’, atau ‘Dagon’). ‘Ashdod’ lainnya di Arabia Barat adalah Sidad (sdd) di wilayah Jizan, dan Shadid (sdd) di wilayah Mekah. Ada desa yang bernama Daghumah (dgm) di dekat Sidad di wilayah Taif.‘Ashkelon’ (‘sqlwn): mungkin Shaqlah (sql) di sekitar daerah Qunfudhah, atau Thaqalah (tql) disekitar daerah yang sama; mungkin keduanya. Tqln (disuarakan taqalan) yang tertera dalam Qur’an 55:31 mungkin adalah sebuah referensi pada kedua tempat tersebut. Ascalon Palestina, ‘Ascalan (‘sqln) mungkin merupakan nama yang sama, hanya saja ‘Asqalan dimulai dengan bunyi desahan tekak yaitu ‘ayn dan bukan dengan hamzah ‘sqlwn.‘Gath’ (gt): al-Ghat di wilayah Jizan (lihat Bab 10). Di antara beberapa Gath yang lain di Arabia terdapat al-Ghati (gt) di wilayah Zahran, di sini terdapat pula sebuah desa yang bernama Al Dughman (‘l dgmn, ‘Dewa Dagon’, di sini dgmn memakai kata sandang tertentu kuno Semit).‘Ekron’ (‘qrwn): ‘Irqayn (‘rqyn), di wilayah Wadi ‘Itwad antara Rijal Alma’ dan wilayah Jizan; kecuali kalau itu adalah Jar’an (gr’n, metatesis dari ‘qrwn), di Rijal Alma’. Walaupun mereka dapat dijumpai di tempat-tempat laindi Arabia Barat, kota-kota utama bangsa Filistin dalam Bibelini jelas terletak di sisi pesisir Asir, agaknya dipusatkan didaerah pedalaman pelabuhan-pelabuhan Lith, Qunfudhah,Birk dan Jizan. Di sini wilayah mereka bertemu denganwilayah orang-orang Israil dan masyarakat-masyarakatsetempat lainnya. Dalam Bibel Ibrani sama sekali tidak ada — 209 —
  • 221. sesuatu pun yang menunjukkan bahwa mereka adalah pada mulanya penetap-penetap asing di negara itu yang datang sebagai ‘Orang-orang Laut’ dari luar negeri. Untuk menunjukkan sampai sedekat mana orang-orang Filistin menurut Bibel itu dan orang-orang Israil dari pesisir Asir hidup berdampingan, inilah sebuah analisa topografis mengenai kisah Samson, yang hampir seluruhnya berlangsung di pedalaman Lith, di Hijaz bagian selatan (bacalah kisah lengkapnya sebagaimana dikisahkan dalam Hakim-haknm 13:17): Samson dilahirkan di daerah perbukitan pesisir wilayah Zahran, di desa al-Zar’ah (zr’h, bandingkan dengan sr’h dalam Bibel atau ‘Zorah’). Keluarganya adalah anggota suku Dan (dn) yang memakai nama apa yang kini adalah Danadinah (genitif dn, ‘Danit’) di wi.layah yang sama. ‘Roh Yahweh’ pertama kali menggerakkannya di al-Mahna (mhn) dekat Danadinah (dalam Bibel adalah nhnh dn, ‘Mahaneh dari Dan’, bukan ‘Mahaneh-dan’, antara Zar’ah dan al-Ishta (‘l-’st, suatu inversi dari ‘st’l atau ‘st ‘l, l yang merupakan bentuk aslinya, ‘Eshtaol’, yang berarti ‘wanita, istri Tuhan’). Ia mencari seorang istri di antara orang-orang Filistin ‘Timnah’ (tmnh), agaknya kini adalah al-Mathanah (mtnh), juga di wilayah Zahran yang sama. Penyerangan pertamanya terhadap orang-orang Filistin ditujukan kepada Shaqlah atau Thaqalah, dekat Qunfudhah (‘Ashkelon’, lihat di atas). Ia kemudian pergi menuju ke utara untuk menetap di Ghutmah (gtm, ‘ytm atau ‘Etam’ dalam Bibel), di Wadi Adam. Dalam pembalasan mereka, orang-orang Filistin menyerang dan merampas ‘Lehi’ (lhy) di tanah ‘Yudah, yang kini adalah Lakhyah (lhy), juga di Wadi Adam. Di dekatnya sampai kini masih berdiri desa Dha al-Ramah (rmh) dan Dha al-Hamirah (hmyr). Konon Samson membunuh seribu orang Filistin yang menyerang b-lhy h-hmwr yang dapat berarti ‘dengan tulang rahang seekor keledai’ dan juga ‘di Lakhyah- nya Hamirah (dengan kata lain, Lakhyah di daerah sekitar Hamirah). Jelas kisah ini bertujuan untuk menjelaskan asal mula kedua nama tersebut. Tempat kejadian peperangan ini, menurut kisahnya, kemudian dinamakan ‘Ramath-lehi’ (rmt— 210 —
  • 222. lhy), yang berarti ‘bukit tulang rahang’ dan juga dapat berarti‘Ramah di Lakhyah’. Mata air tempat Samson menyegarkandiri, yang bernama ‘En-hakkore’ (‘yn h-qwr’), adalah lokasiapa yang kini merupakan desa al-Qara (qr’, dengan katasandang tertentu Arab), juga di Wadi Adam. Wanita Filistin, Delilah, yang menjadi istri mudaSamson, dan yang pada akhirnya membawa Samson kepadakehancurannya, berasal dari lembah ‘Sorek’ (nhl swrq) — kinikemungkinan besar adalah Shuruj (swrq) di Wadi Adam;kecuali kalau itu adalah Shariqah (srq) atau Shark (srk), diwilayah Qunfudhah. Samson, tentunya, menemui ajalnyadi ‘Gaza’ (‘zh) — ’Azzah di Wadi Adam (lihat di atas). Iadikebumikan di antara Zar’ah (Zorah) dan al-Ishta’ (Eshtaol),di wilayah Zahran. Sampai di sini kita mendapatkan sedikit hiburan, yaitumemecahkan ‘teka-teki’ Samson yang terkenal itu. Teka-teki itu, menurut keyakinan saya, tidaklah lebih dari kisah-kisah atau teka-teki yang berdasarkan kata-kata yang ditulisguna menjelaskan asal mula nama-nama tempat, dan untukmengabadikan kenangan-kenangan rakyat akan hubungankesukuan antara satu masyarakat dengan yang lain. Sepertiyang telah kita lihat, kisah mengenai ‘tulang rahang seekorkeledai, milik Samson diciptakan guna menjelaskan duabuah nama tempat, yaitu nama tempat-tempat yang kiniadalah Lakhyah dan Hamirah. Kisah mengenai bagaimanaia mengambil ‘madu dari bangkai singa’ (m-gwyt h-’ryhrdh h-dbs, Hakim-hakim 14:9) menandakan, pada suatutingkatan, etimologi-etimologi untuk nama-nama tigabuah tempat, yaitu Jaww (gw, bandingkan dengan gwyt, ‘didalam’, di sini ‘di dalam’ sebuah bangkai) dan Waryah (wryh,bandingkan dengan ‘ryh, ‘singa’) di Wadi Adam; dan Dabash(dbs) di dekat Hali di wilayah Qunfudhah. Pada tingkat yanglain, kisah ini memberi petunjuk-petunjuk bahwa Dabashdi wilayah Qunfudhah, pada mulanya merupakan suatupemukiman yang didirikan oleh emigran-emigran dari Jaww,di dekat Waryah, mungkin atas usaha Samson. Kata demi katakalimat dalam bahasa Ibrani ini dapat diterjemahkan dalamdua cara: yang pertama, ‘dari dalam singa itu ia mengambil — 211 —
  • 223. (mengeruk) madu itu’; dan yang kedua, ‘dari Jaww di Waryah ia mengambil Dabash’. Teka-teki Samson mengenai ‘madu’ yang ia ambil dari ‘dalam’ ‘singa itu’ membahas sekumpulan lagi dua masyarakat asal/utama dan koloni-koloni mereka masing- masing: ‘Dari yang pemakan (m-h-’kl) datang makanan (m’kl); dari yang kuat (m-’z) datang sesuatu yang manis (mtwq)’ (Hakim-hakim 14:14). Teka-teki ini dapat pula dibaca sebagai teka-teki yang berdasarkan kata-kata (conundrum) sehingga dapat mempunyai arti: ‘Dari al- Kulah (kl, di wilayah Qunfudhah) datang Makilah (mkl, di distrik Bahr); dari ‘Azz (‘z, ‘Gaza’ dekat Birk, lihat di atas) datang Mathqah (mtq, di wilayah Qunfudhah)’. Melalui teka-teki yang berdasarkan nama ini kebudayaan rakyat Timur Tengah dapat terus mengingat akan kejadian-kejadian dan perkembangan-perkembangan pada zaman yang telah silam. Ada gejala yang sebanding di dalam kebudayaan Eropa seperti yang dapat kita lihat dari komentar-komentar mengenai sejumlah kata-kata kepala dalam The Oxford Dictionary of Nursery Rhymes. Sewaktu orang-orang Filistin, sasaran Samson menanyakan teka-tekinya, dapat menjawabnya, karena istrinya orang Filistin itu secara diam-diam memberi jawabannya kepada mereka, ia membalas teka-teki yang berikut ini: ‘Jika kalian tidak membajak dengan anak sapi saya (‘glh, disini ‘glty, dalam bentuk orang pertama posesif), kalian tidak akan dapat memecahkan teka-tcki saya (hydh, di sini hydty, juga dalam bentuk orang pertama posesif’ (Hakim-Hakim 14:18). Menurut kisah tersebut, Samson telah menduga bahwa orang-orang Filistin telah ‘membajak’ istri yang ditunangkan kepadanya guna mendapatkan jawaban yang benar dari teka-tekinya. Namun pengertian yang lain dari teka-teki yang berdasarkan kata itu dapat diterjemahkan dengan bebas dalam kata-kata yang berikut ini: ‘Jika kalian tidak berasal dari ‘Ajlat (‘glt, di Bani Shahr), kalian tidak mungkin dapat mengetahui Haydah (hydy, juga di Bani Shahr)’. Yang terlihat di sini jelas adalah suatu pepatah, yang berarti bahwa seseorang harus berasal dari— 212 —
  • 224. suatu tempat untuk mempunyai pengetahuan yang mendalamdari keadaan sekelilingnya. Pada tingkat kiasannya, pepatahtersebut juga mengatakan bahwa seseorang tidak dapat benar-benar mengetahui apa-apa tanpa mengetahui tentang hal-hallain yang berhubungan dengannya yang mungkin bertindaksebagai suatu prasasti bagi penelitian ini. Untuk mempertimbangkan dan menafsirkan kembalisemua referensi Bibel pada bangsa Filistin adalah di luarbidang saya yang terbatas ini. Akan tetapi dalam Samuel I6:18 terdapat suatu pernyataan mengenai luas wilayah orang-orang Filistin ini ditemukan, yang sudah sepantasnya jikadiberi komentar. Dalam bahasa Ibrani, pernyataan tersebutterbaca sebagai berikut: kl ‘ry-plstym ... m-’yr mbsr w-’d kprh-przy. Dalam RSV, ini diterjemahkan sebagai ‘semua kotabangsa Filistin ... baik kota-kota kubu (m-’yr mbsr) maupundesa-desa yang dikelilingi oleh tembok (w-’d kpr h-przy)’.Tidak dapat dibayangkan suatu penterjemahan yang lebihtidak akurat daripada ini. Sebenarnya m-’yr mbsr hanyadapat berarti ‘dari kota mbsr’, kota yang dibicarakan adalahsebuah desa, yaitu Midbar (mdbr), yang kini terletak di daerahperbukitan Hurrath di ujung selatan wilayah Jizan. Dalamhalnya ‘d kpr h-przy, ini hanya dapat berarti ‘sampai pada desaprzy’, prz yang dibicarakan kini adalah dusun kecil al-Firdah(prd) di Wadi Adam (przy dalam bahasa Ibrani adalah genitifprz, dan berkenaan dengan penghuni daerah-daerah tersebut).Maka dari itu menurut definisi geografis tanah Filistin,wilayah mereka membentang dari ujung selatan wilayah Jizansampai ke Wadi Adam. Pendeknya, tidak ada perbatasangeografis yang ditentukan antara wilayah-wilayah bangsaIsrail dan Filistin pada daerah yang dibicarakan, yang agaknyasangat membantu dalam menjelaskan tidak hanya kisahSamson, tetapi juga sebutan-sebutan menurut Bibel tempatorang-orang Filistin dibahas. — 213 —
  • 225. — 214 —
  • 226. 15 Tanah HarapanA dakalanya suatu penyelidikan kesarjanaan yang tidak hati-hati dapat menimbulkan akibat-akibat, yang gemanya begitu jauh melampaui batas-batas disiplinakademis seseorang, terutama bila ditampilkan hendakmenantang praanggapan yang menjadi pusat kepercayaanagama yang sudah berakar dalam hati dan dihormatisepanjang sejarah. Mengatakan bahwa tanah harapan, bukanterletak di tempat yang umumnya dianggap sebagai lokasinya,tidak mungkin ditanggapi dengan sungguh-sungguh olehmereka yang menganggap bahwa pendirian negara Israil dalamtahun 1948 merupakan terkabulnya sebuah impian yangberusia berabad-abad. Namun, setelah memulai dalam analisaonomastik saya atas Kitab Bibel Ibrani, begitulah kesimpulanyang diberikan oleh penyelidikan saya dan saya percaya penuhakan kesimpulan ini. Seorang sejarawan tentunya dapat mengusulkan sebuahpenjelasan dalam penulisan sejarah, bukan keagamaan,
  • 227. mengenai janji menurut Bibel yaitu suatu wilayah yang telah ditentukan bagi keturunan Ibrani dari Abram (Kejadian 15), dan pengikut-pengikut Israil dari Musa (Bilangan 34). Sewaktu kisah-kisah mengenai kedua janji itu, seperti yang kemudian dicatat dalam Bibel, diceritakan dalam bentuk aslinya, orang-orang Israil telah mendiami tanah harapan mereka, sehingga kisah-kisah mengenai kedua janji itu telah merupakan penjelasan ex post facto (berlaku surut). Tetapi yang penting bagi kita adalah janji-janji itu sebagai geografi sejarah, bukan sebagai sejarah ataupun agama. Dalam terjemahan-terjemahan konvensional, tanah yang dijanjikan Yahweh kepada Abram orang Ibrani (Kejadian 15:18) konon membentang ‘dari sungai Mesir (nhr msrym) sampai ke sungai besar, sungai Efrat (nhr prt)’. Bertentangan dengan anggapan yang telah diterima, saya mengusulkan bahwa tanah yang ditunjukkan dalam janji asli yang tertulis dalam bahasa Ibrani sebenarnya terdiri dari tanah kuno Yudah (Bab 8), di Asir geografis, dari wilayah Jizan di selatan sampai pada Wadi Adam, di pedalaman Lith di utara. ‘Sungai Mesir’y (nhr msrym) dalam janji ini jelaslah bukan sungai Nil, tetapi sungai kecil Wadi ‘Itwad yang bersumber di dekat desa Misramah masa ini, di dataran tinggi Asir, dan membentuk perbatasan zaman kini antara wilayah Jizan dan Rijal Alma’. Nhr msrym mungkin juga adalah Wadi Liyah, yang memisahkan wilayah Jizan dari Yaman dan sebuah desa yang bernama Masram (msrm) masih dapat dijumpai di sana. Di Wadi Adam yang membentuk sebagian lembah utama wilayah Lith terdapat sebuah desa yang bernama Firt (prt) dan sebuah lagi yang bernama Farat (juga prt), sehingga saya percaya bahwa janji kepada Abram itu seharusnya berbunyi seperti yang berikut ini: ‘Kepada keturunanmu saya akan berikan tanah ini, dari sungai kecil Misramah (atau Masram, nhr msrym) sampai ke sungai besar (h-nhr h-gdwl), yaitu sungai Firt (atau Farat, nhr prt)’, sungai ini terletak di Wadi Adam, bukan ‘sungai Efrat’. Tanah yang dijanjikan kepada Abram dan orang-orang ‘Ibraninya’, tentunya telah dihuni (berpenghuni). Janji Yahweh mencatat penghuninya yang seluruhnya berjumlah— 216 —
  • 228. sepuluh bangsa (Kejadian 15-19-21), lima di antaranya adalahrakyat ‘Kanaan’, menurut Kejadian 10:15-18 (lihat Bab 14).Nama bangsa-bangsa ini bertahan sampai kini sebagai nama-nama tempat di pelbagai bagian di Asir, dan sebagian besar di‘Yudah’. Mereka adalah:Bangsa ‘Kenit’ (qyny, genitif qyn): sebagai sebuah nama kesukuan, qyny bertahan sebagai nama Qawayinah masa ini (tunggalnya adalah Qawni, atau qwny, dari qwn), di selatan Taif. Nama-nama yang berhubungan dengannya adalah Qani (qn), di wilayah Jizan; Qann (qn), di distrik Ballasmar; Qana (qn), seluruhnya berjumlah empat buah desa, sebuah di distrik Bahr, sebuah di dataran tinggi Dhahran, sebuah di wilayah Qunfudhah, dekat Hali, dan sebuah di Wadi Adam; Qanan (qnn), di distrik Majaridah; Qanwah (qwn), di Rijal Alma’; Qannah (qnn), seluruhnya berjumlah lima buah pedesaan, sebuah di distrik Muhayil, sebuah dekat Khamis Mushait, sebuah di wilayah Jizan, dan dua buah di Wadi Adam: Al Qaninah (‘l qnyn) di dataran tinggi ‘Abidah; Qanyah (qny) di Wadi Adam.Bangsa ‘Kenizzit’ (qnzy, genitif qnyzyz atau qnz) di wilayah Jizan. Sebuah suku Arab masih dapat ditemukan di sana yang bernama al-Qunaysat (tunggalnya adalah Qunaysn, atau qnysy, dari qnys).Bangsa ‘Kadmonit’ (qdmny, genitif qdmn): Damjan (dmgn, metatesis dari qdmwn) di wilayah Taif. Qadamah (qdm) di wilayah Lith, dan Kawadimah (kwdm) di wilayah Jizan, keduanya kecil kemungkinannya, tetapi masuk di akal. Sebuah suku Arab di utara Hijaz kini adalah Qidman (qdmn).Bangsa ‘Hittit’ (hty, genitif ht, dituliskan sebagai bangsa Kanaan dalam Kejadian 10): Hathah (ht), di wilayah Lith; Hat (ht) di distrik Ballasmar; Hatwah (htw), di Rijal Alam’; Hittayy (hty), di pesisir Zahran; lebih lagi Al-Hatahit (jamak Arab dari hty) diakui dalam kesusastraan Arab sebagai sebuah nama kesukuan Arab. — 217 —
  • 229. Bangsa ‘Perizzit’ (przy, genitif dari prz): Al Farzan (‘l przn, prz dengan kata sandang tertentu kuno Semit), di Bani Shahr; Furdah (prd, bandingkan dengan prz), nama dari empat buah desa, sebuah di wilayah Jizan, dua di Wadi Adam, dan sebuah di wilayah Majaridah. Mungkin juga merupakan nama- nama suku masa ini, yaitu Safarin (tunggalnya adalah Safari, atau spry), di selatan Asir; Zawafirah (tunggalnya adalah Zafiri, atau zpry), di Hijaz bagian selatan; dan Farasat (tunggalnya adalah Farsi, atau prsy), di utara Hijaz. Bangsa ‘Rephaim’ (rp’ym, ganda atau jamak rp’ atau dari genitifnya, yaitu rp’y): Rafah (rp), di wilayah Jizan, dan Rafyah (rpy), di Rijal Alma’. Kesusastraan Arab berbicara mengenai suku Yarfa (yrp, kata benda kuno rp) di Arabia baratdaya. Bangsa ‘Amorit’ (‘mry, genitif ‘mr, dituliskan sebagai bangsa Kanaan dalam Kejadian 10): Amarah (‘mr), di pesisir Zahran; Wamrah (wmr), di Wadi Adam; mungkin juga Maru (mrw, dengan w yang terakhir sebagai kata sandang tertentu Aram yang berakhiran), semuanya berjumlah tiga buah desa, dua di Wadi Adam dan satu di distrik Bahr. Sebagai sebuah nama kesukuan, ‘mry mungkin masih terdapat di sana nama Banu Murrah (mr) yang terdapat di mana-mana, atau nama Maru (mrw) di Hijaz bagian selatan. Bangsa ‘Kanaan’ (kn’ny, genitif kn’n): Al Kun’an (‘l kn’n), di Wadi Bishah; juga nama suku al-Qin’an (qn’n), di Asir (lihat Bab 14). Untuk lebih jelasnya, lihat Bab 1 dan 4. Bangsa ‘Girgashite’ (grgsy, genitif grgs, penghebat atau kata pengecil grs; ditulis sebagai bangsa Kanaan dalam Kejadian 10): Juraysh (grys, kata pengecil grs) dan Quraysh (qrys, kata pengecil qrs), di wilayah Qunfudhah; juga Quraysh, dua buah desa di wilayah Taif; Qaryat Quraysh, di wilayah Qunfudhah; Dar Bani Quraysh, di Wadi Adam;— 218 —
  • 230. Quraysh al Hasan, di dataran tinggi Zahran. Nama kesukuan Arabia Barat kuno Quraysh tidak mungkin lain dari nama yang ini sendiri.Bangsa ‘Yebusit’ (ybwsy, genitif ybws; ditulis sebagai bangsa Kanaan dalam Kejadian 10): Yabasah (ybs), di Wadi Adam; Yabs (ybs), di lerengan maritim wilayah Ghamid; dan Yabs, dekat Mudhaylif, di sebelah utara Qunfudhah (lihat Bab 9). Yubbas (ybs) dan Yabis (ybs) kini masih tetap bertahan sebagai nama-nama suku di Arabia Barat. Kalau kita menganggap bahwa identifikasi saya terhadapkesepuluh bangsa itu benar, maka penelitian menurut Bibelatas sejarah mereka telah sama sekali salah haluan.1 Makatidaklah mengherankan jika hanya ada sedikit bukti-buktiarkeologis dan paleografis yang tertulis guna mendukungsumber mereka, karena penyelidikan apa pun yang telahdilakukan dalam hal ini telah dikerjakan sehubungan dengantempat yang salah — Palestina dan Suria kuno, bukan ArabiaBarat. Menurut Kejadian, tanah asal suku-suku Arabia Baratkuno inilah yang dijanjikan oleh Yahweh kepada Abram danpara keturunannya. Tanah asal tersebut juga termasuk dalamwilayah yang dijanjikan oleh Yahweh kepada Nabi Musa(Bilangan 34:1-12), yang kenyataannya bukan lebih kecil dariwilayah yang dijanjikan kepada Abram, seperti yang dikirasampai kini, tetapi sebenarnya lebih luas. Tanah ini terdiri dari‘seluruh tanah Kanaan’ (34:2) dan termasuk baik pedalamanmaupun pesisir Asir, dan juga wilayah Taif di Hijaz, daripantai Laut Merah sampai pinggiran gurun Arabia Tengah. Dalam upaya mereka untuk melakukan suatu penafsirangeografis dari perbatasan-perbatasan tanah harapan ini dalampengertian Palestina, para ahli Bibel selalu menemui kesulitan-kesulitan yang juga tidak mengherankan, mengingat wilayahitu bukanlah pada tempatnya. Membaca teks Ibrani mengenai‘janji’ itu, seperti yang ditafsirkan dan disuarakan secaratradisional, kata ym dalam Bibel selama ini telah dianggap 1 Mengenai apa yang telah dikatakan oleh para ahli Bibel mengenai bangsa- bangsa dalam Bibel tersebut, lihat pelbagai catatan D.J. Wiseman, ed., Peoples of Old Testament Times, yang telah dibicarakan pada Bab 14. — 219 —
  • 231. berarti ‘laut’, walaupun kata ym yang sama itu juga diakui berarti ‘barat’. Para ahli juga telah menganggap ym h-mlh berarti ‘lautan garam’, sebuah referensi kepada Laut Mati Palestina. Walaupun mlh dalam bahasa Ibrani dan bahasa Arab memang berarti ‘garam’, kata ini juga berarti ‘pasir’ dalam dialek Arab sekarang dari daerah pedalaman Asir. Maka dari itu meski h-ym h-gdwl dalam Bibel memang berarti ‘Lautan Besar’ (berkenaan dengan Arabia Barat, bukan Laut Tengah, tetapi Laut Merah), ym h-mlh dalam konteks ‘janji’ yang sedang dibahas ini bukan berarti ‘lautan garam’, tetapi ‘di sebelah barat pasir’. Referensi ini seperti yang akan dilihat, adalah kepada Bilad Yam (ym), yang secara harfiah berarti ‘negara barat’, yang sebenarnya mengapit ‘pasir-pasir’ (mlh) Ar Rab’al Khali, dari sebelah ‘barat’ (ym). Begitu pula, ym knrt berarti ‘sebelah barat Quraynat’ (sebuah tempat, lihat di bawah), dan bukan ‘Lautan Chinnereth’, yang dikira — tanpa berdasarkan apa pun— adalah nama menurut Bibel dari Danau Tiberias di Palestina. Selanjutnya, penyusunan ktp ym knrt bukan berarti ‘pundak (ktp) Lautan Chinnereth’ (RSV), tetapi ‘Qatf di sebelah barat Quraynat’, Qatf (qtp) sebenarnya adalah sebuah tempat di Arabia Barat yang terletak di sebelah ‘Barat’ Quraynat (lihat di bawah). Dalam menafsirkan Tanah Harapan Musa, para ahli Bibel telah bingung bukan saja terhadap arti kata Ibrani ym, tetapi juga terhadap h-yrdn, yang mereka anggap adalah tidak lain dari ‘Yordan’ Palestina. Mereka selanjutnya dibuat bingung oleh sebuah tempat yang bernama qds brn’ (atau ‘Kadesh-Barnea’), yang secara tidak benar sejak tahun 1948 dikenali sebagai oase ‘Ayn Qudays, di Palestina sebelah selatan (lihat Bab 4). Pengenalan ini hanya berdasarkan kenyataan bahwa Qudays Arab, atau qdys, adalah pengecilan Quds, atau qds, yang merupakan padanan kata qds dalam bahasa Ibrani. Sebenarnya, qds brn’, diuraikan sehingga terbaca qds b-rn’ (di sini tampaknya b adalah pemendekan dari ‘b, ‘ayah’, dengan kata lain ‘Tuhan’), hanya berarti ‘tempat suci’, ‘kuil’, ‘tempat pemujaan’ ‘Tuhan’ rn’, yang namanya secara metatesis bertahan dalam dua nama tempat di Arabia bagian timur sebagai Abu ‘Arinah (‘b ‘rn), dan di dataran tinggi— 220 —
  • 232. Asir di sebelah selatan Khamis Mushait sebagai Al ‘Arinah (‘l‘rn). ‘Kadesh-Barnea’ mestinya dulu adalah sebuah ‘kota suci’kuno, yang kini masih ada sebagai desa Al ‘Arinah, sepertiyang akan kita lihat. Kebetulan nama dewa Arabia Barat rn’masih bertahan melalui metatesis yang lain, sebagai r’n, dalaminskripsi-inskripsi Lihyan dan Dedan dari utara Hijaz. Yang berikut ini adalah perbatasan-perbatasan tanahyang dijanjikan kepada pengikut-pengikut Israil Musa, sepertiyang digambarkan dalam Bilangan 34 dan berkenaan dengangeografi Arabia Barat: Perbatasan barat adalah ‘Lautan Besar’ (h-ym h-gdwl,34:6), dengan kata lain, Laut Merah (lihat di atas). Perbatasan selatan dimulai dari gurun pasir Zin, atauzn (sn dalam Bibel, ‘Zin’), sebuah oase di wilayah Najranyang secara tepat digambarkan terletak ‘di sisi’ (‘l ydy) WadiIdimah, atau ‘dm (dalam Bibel adalah ‘dwm, ‘Edom’), yangsebenarnya terletak ke arah selatan; tepatnya, ‘dari Quziyyah(qzyh), di sebelah barat pasir ke arah timur’ (m-qsh ym h-mlhqdmh), Quziyyah (dalam Bibel adalah qsh) adalah sebuahoase di Bilad Yam, ke arah hulu Zin di Wadi Najran, dantepat di perbatasan barat pasir Ar Rab’al Khali. Dari sanaperbatasan itu membentang ke arah barat ‘di selatan lerengAkrabbim (‘qrbym)’, kini merupakan sebuah desa di Sarat‘Abidah, di atas Wadi Najran, yang bernama al-Jarabi’ (jamakbahasa Arab grb’), metatesis ‘qrb dalam Bibel, (jamak bahasaIbrani dari ‘qrb adalah ‘qrbym).2 Lebih jauh ke arah barat,perbatasan ini melintasi satu lagi Zin (sn dalam Bibel) diwilayah Dahran, yang sebenarnya adalah ‘di sebelah selatan’Al ‘Arinah (atau ‘Kadesh-Barnea’, lihat di atas), persis sepertiyang tertera dalam teks. Kemudian perbatasan ini melintasiapa yang digambarkan oleh bahasa Ibrani Bibel sebagai hsr‘dr (‘Hazzar-addar’), yang paling-paling menunjukkan ‘tanahpemukiman’ (hsr) sebuah suku yang bernama ‘dr, yangnamanya masih dipakai oleh suku Adhar (‘dr) di Sarat ‘Abidahdan daerah sekitar Dhahran al-Janub. Kemudian perbatasanini menembus Al ‘Asman (‘l ‘smn, bandingkan dengan nama 2 Kekeliruan antara pengalihan ke dalam bahasa Arab dari nama ini adalah antara ‘qrb (‘kalajengking’ dalam bahasa Arab dan Ibrani) dengan kata Arab grb’, disuarakan garbu’ (sejenis tikus gurun, yaitu gerboa). — 221 —
  • 233. Ibrani ‘zmn atau ‘zmwn, ‘Azmon,), di wilayah Dhahran, dan sampai di Wadi ‘Itwad (nhl msyrm, yang berarti ‘pohon palem Misramah’ atau ‘hulu Misramah’ lihat di atas, bukan ‘sungai kecil Mesir’ seperti yang diterjemahkan secara tradisional; untuk melihat kebingungan antara Misramah ini dengan ‘Mesir’, lihat di atas). Dari sini, perbatasan ini mengikuti aliran Wadi ‘Itwad (atau mungkin juga Wadi Liyah, lihat di atas) sampai ke laut (34:3-5). Perbatasan utara bermula di pantai Laut Merah dan kemudian menuju ke atas bukit, melintasi ‘Gunung Hor’ (hr h-hr), yang telah dikenali sebagai sebuah puncak gunung (hr) al-Harrah (hr dengan kata sandang tertentu bahasa Arab), di ujung utara dataran tinggi Zahran (lihat Bab 7, Catatan 5). Dari sini perbatasan itu membelok ke utara dan sampai di wilayah Taif di Dhawi Himat (hmt) atau Himatah (hmt, bandingkan dengan hmt dalam Bibel, ‘Hamath’), dan Sidad (sdd, bandingkan dengan sdd dalam Bibel, ‘Zedad’). Dari sini perbatasan itu terus melintasi zprn (‘Ziphron’, mungkin kini adalah Safra’, atau spr tanpa kata sandang tertentu berakhiran, yaitu n),3 dan berakhir di hutan belantara Harrat al-Buqum, di ‘oase’ atau ‘perkampungan’ (Ibraninya hsr) ‘Aynin (‘ynn, bandingkan dengan hsr ‘ynn dalam Bibel, hsr atau ‘perkampungan’ ‘ynn yang biasanya diterjemahkan sebagai ‘Hazar-enan’, (34:7-9). Perbatasan timur, mulai dari ‘Aynin (lihat di atas), dan terus membentang ke selatan, rupanya ke al-Thafan (tpn, bandingkan dengan spm dalam Bibel, ‘Shepam’), di Wadi Tathlith (nama lengkapnya Hadayir al-Thafan, atau pemukiman-pemukiman al-Thafan). Kemudian perbatasan ini terus menuju ke selatan menerobos ‘Riblah’ (rblh), di sebelah timur ‘Ayn’ (‘yn), yang kini mungkin adalah al- Rabiyah (‘l-rbyh),4 di pelosok terjauh Wadi Habuna, yaitu 3 Kemungkinan-kemungkinan lain adalah Zafar (zpr) dan Dharif (drp), juga di wilayah Taif. Jika kata Ibrani zprn dibaca sebagai z-prn (‘dia’ yang berasal dari prn, atau ‘dewa’, dengan kata lain kuil prn), tempat yang dibicarakan ini mungkin adalah Faran, di dataran tinggi Zahran, yang berbatasan dengan gurun basal Harrat al-Buqum. Bagaimanapun juga, Faran ini tak disangkal lagi adalah Paran dalam Bibel (p’rn, Kejadian 21:21; Bilangan 10:12; 12:16; 13:3, 26; Ulangan 1:1; 33:2; Samuel I 25:1; Rajaraja 11:18; Habakuk 3:3). Di lain pihak, El Paran, atau Al Farwan (‘l prwn), di sebelah selatan Khamis Mushait. 4 Di sini, seperti dalam halnya gl’d (Gilead) menjadi al-Ja’d (Bab 1) dan kslh menjadi al-Hasakah (Bab 14), sebuah l yang terletak di tengah-tengah kata mungkin— 222 —
  • 234. Yam, di sebelah timur laut oase ‘Ayn, di wilayah Najran. Darisini perbatasan itu melintasi ‘Qatf (qtp), di sebelah baratQuraynat (qrynt)’ (ktp ym krnt, lihat di atas), Quraynatadalah oase Wadi al-Dawasir, dan Qatf terletak di sebelahbaratdaya Quraynat ini di Bilad Yam. Dari sini perbatasanitu menyeberangi ‘punggung bukit’ (h-yrdn), yang tidakdiragukan lagi adalah apa yang disebut Philby sebagai ‘jenggulgranit besar’ (the great granite boss) Jabal Abu Hamdan diwilayah Najran, dan berakhir di ‘sebelah barat pasir’ (ymh-mlh) Ar Rab’al Khali (34: 10-12). Jika kita memproyeksikan perbatasan-perbatasanTanah Harapan Musa seperti yang ditafsirkan di sini di ataspeta Arabia Barat, hasilnya samasekali tidak menimbulkanpertanyaan-pertanyaan apa pun. Gambarannya lengkaphampir sampai pada detil-detil yang terakhir. diletakkan di ujung kata tersebut dalam pengubahannya sehingga menjadi kata sandang tertentu Arab yang berakhiran. Namun pengenalan terhadap ‘Riblah’, tetap tidak dapat dipastikan. — 223 —
  • 235. — 224 —
  • 236. 16 Kunjungan Ke EdenM enurut standar orang-orang Barat Junaynah di Wadi Bishah tidak pantas di sebut taman; namun sebagai sebuah oase di pinggiran gurun pasir tempat inimempunyai daya tarik yang tersendiri. Tempat ini merupakan‘desa Bishah yang paling rendah’ tulis H. St. J. B. Philby yangmengunjungi Junaynah di sekitar awal 1930-an; tempat inimerupakan ‘sebuah oase di gurun pasir’, ‘tanpa pohon-pohonpalem’ di luarnya. Seperti yang dilukiskan oleh Philby, oase initerdiri dari ‘sebuah lingkaran belukar pohon-pohon palem yanganggun’, dengan ‘tanaman gerst dan gandum yang sudah mulaimematang di sana sini’ di ujung timurnya, dengan ‘perkebunan’tamarisk yang ‘lebat’, dan semak belukar yang ‘sangat lebat’ disekitar puing-puing yang terlantar, dengan sebuah desa kecildi dekatnya — pada keseluruhannya ‘sebuah gambaran oaseyang ideal’, terutama di bawah sinar bulan (Arabian Highlands,Ithaca, N.Y., 1952, hal. 29-31). Sebagai desa Bishah yangpaling terpencil, Junaynah, walaupun bukan sebuah desa
  • 237. yang penting, ada pada sebagian besar peta-peta jazirah Arab (20¬∞20” lintang utara dan 40¬∞55” bujur timur). Philby mengunjungi tempat itu dan menggambarkannya tanpa mengetahui bahwa tempat ini adalah Taman Firdaus (Eden). Bagaimana ia dapat mengetahui dengan adanya tradisi yang mendukung sepenuhnya bahwa lokasi taman ini terletak di sebuah tempat di Mesopotamia yang sangat jauh itu? Kini saya mengharapkan pembaca dapat menerima gagasan bahwa Kitab Bibel Ibrani ditulis oleh penulis-penulis Israil yang tinggal di daerah perbukitan di pantai Asir. Dalam Kejadian 2:8-14, salah seorang penulis ini, yang namanya tidak akan diketahui, melukiskan tentang keadaan Taman Firdaus sebagai berikut: Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman (gn) di Eden, di sebelah timur; di situlah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan (hyym) di tengah-tengah taman itu, seperti pohon pengetahuan (d’h) tentang yang baik dan yang jahat. Ada suatu sungai (nhr, ‘sungai, sungai kecil’) mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang (r’sym, jamak dari r’s, ‘mata air sungai’). Yang pertama, namanya Pison (pyswn), yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila (hwylh), tempat emas ada. Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras. Nama sungai yang kedua adalah Gihon (gyhwn), yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kusy (kws). Nama sungai yang ketiga adalah hdql [secara tradisional diterjemahkan sebagai ‘Tigris’, yang mengalir di sebelah timur ‘swr, secara tradisional diterjemahkan sebagai ‘Assyria, (Suryani)]. Dan sungai yang keempat adalah Efrat (prt). Setelah itu, selagi pembicaraan mengenai Adam, manusia yang pertama dan keluarganya, penulis yang sama memberikan dua informasi tambahan mengenai lokasi Eden serta tamannya. Sewaktu Adam beserta istrinya, Hawa, dikeluarkan dari surga, Yahweh menempatkan cherubim— 226 —
  • 238. (krbym, ganda atau jamak krb, harfiahnya ‘pendeta’) ‘disebelah timur taman itu’ guna menjaga jalan yang menujupohon kehidupan (3:24). Waktu Kain, anak pertama Adamdan Hawa membunuh adiknya, Abel, dan dihukum dengancara dibuang dari penglihatan Yahweh, ia pergi dan menetap‘di tanah Nod (nwd), di sebelah timur Eden’ (4:16). Informasi yang diberikan oleh semua ini mengenai lokasigeografis Eden dan tamannya dapat disimpulkan sebagaiberikut:Pertama, Eden terletak di sebelah timur kampung halaman penulis teks Bibel yang dibicarakan ini, adalah tanah Yudah, di sisi pantai Asir.Kedua, Eden beserta tamannya terletak di sebuah jaringan pengaliran yang terdiri dari empat anak sungai yang telah dikenal, yang dikenali dengan nama-namanya.Ketiga, taman (gn) Eden (‘dn) terletak ke arah hulu sungai Eden, yang diairi oleh sebuah sungai kecil yang ‘mengalir ke luar’ (ys’) Eden.Keempat, taman itu diasosiasikan dengan dua pohon yang penting, yaitu pohon ‘kehidupan’ (hyym) dan pohon ‘pengetahuan’ (d’h).Kelima, dua atau lebih cherub-cherub (krbym, jamak krb) berarti ‘pendeta’ ditugaskan di sebelah timur Taman Eden guna menjaga jalan yang menuju ke Pohon Kehidupan.Keenam, di sebelah timur daerah sekitar letaknya Eden terdapat tanah Nod (nwd). Dari semua informasi yang tertera di atas, kita dapatmengambil kesimpuIan bahwa Taman Eden terletak di sebuahwilayah oase yang subur yang terletak antara Tanah Yudah, dipesisir Asir, dan sebuah daerah pedalaman yang bernama nwd. — 227 —
  • 239. Bahwasanya wilayah ini tidak lain daripada lembah sungai Wadi Bishah tampaknya jelas, berkenaan dengan pengenalan yang lebih lanjut dari ‘keempat sungai’ Eden: Sungai ‘Pison’ (pyswn, pada hakekatnya psn), yang mengalir mengelilingi tanah ‘Hawila’ (hwylh) dan di sana terdapat emas. Kini ini adalah Wadi Tabalah, cabang Bishah yang terletak paling jauh di barat. Wadi ini mengambil nama yang dipakainya kini dari satu di antara sejumlah oase- oase yang terletak di sepanjang alirannya. Nama Bibelnya bertahan sebagai nama desa Shufan (spn, metatesis dari nama Ibrani pyswm), dekat hulu sungainya di dataran tinggi Nimas. Pengarang cerita Eden mestinya menganggap Wadi Tabalah (atau ‘Pison’) sebagai sungai utama di jaringan Wadi Bishah, mengingat cara yang ia pakai dalam menggambarkan alirannya. ‘Hawila’ , yang katanya dikelilingi oleh ‘Pison’, kini adalah Hawalah (hwlh), di dataran tinggi wilayah Ghamid, di sebelah utara Nimas. Aliran utama Wadi Bishah sebenarnya mengitari wilayah Ghamid di sisi pedalamannya setelah pertemuannya dengan cabang-cabang utamanya. Bahwa ini merupakan tanah ‘emas’ adalah benar; emas benar-benar ditemukan di sana pada zaman dahulu, dan masih dicari di sana sampai kini. Ini mungkin merupakan tanah ‘emas fosil ... bukan dalam bentuk emas urai, tetapi dalam gumpalan’, tulis Strabo dalam gambarannya mengenai Arabia (lihat Bab 3). Di sebelah timur wilayah Ghamid mengalir sebuah anak sungai Wadi Bishah, yang sebenarnya bernama Wadi Dhahab, ‘Lembah Emas’ (lihat lagi di Bab 3). Di sana juga dapat ditemukan batu carnelia (h-shm), umumnya disalahterjemahkan sebagai batu ‘onyx’. Bahkan sampai kini pun, para jemaah haji yang kembali dari Mekah biasanya membawa manik-manik yang terbuat dari batu-batu setengah mulia ini. Bdellium (bdlh), atau damar bedolah, yang dibicarakan adalah getah yang berharga yang dihasilkan oleh sejenis pohon lokal (commiphora mukul), yang khusus terdapat di Arabia Barat, kini disebut Balsem Mekah. Walaupun namanya sama, ‘Pison’ dalam Bibel jelas bukan anak sungai aliran utama Wadi Bishah yang kini dikenal dengan nama Wadi Shaffan (spn).— 228 —
  • 240. Sungai ‘Gihon’ (gyhwn, pada hakekatnya ghn), yangmengalir mengitari tanah ‘Kusy’ (kws). Ini merupakan sungaikecil utama Wadi Bishah, yang merupakan namanya kini,salah satu dari hulu sungainya masih bernama Wadi Juhan(ghn). Wadi ini terletak di antara Khamis Mushait dan Abha,dan di sana terdapat pula sebuah desa yang bernama Al Jahun(juga ghn). Nama sekarang Wadi Bishah diambil dari desaBishah, dekat persimpangan cabang-cabang utama jaringanwadi ini. Orang-orang ‘Kusy’ yang tanahnya dikelilingi oleh‘Gihon’ kini adalah desa Kuthah (kwt, lihat Bab 4), di daerahsekitar Khamis Mushait, yang sebenarnya mengapit WadiJuhan. Sungai hdql, yang secara tradisional dianggap sebagaisungai Tigris Mesopotamia. Kalau saja nama ‘sungai’ inih-dql (kini diarabkan menjadi al-Dijlah, atau dglh, didahuluioleh kata sandang tertentu), mungkin saja sungai ini adalahTigris. Namun kenyataannya nama sungai ini, seperti yangtertera dalam Kejadian, jelas adalah hdql, dengan h sebagaihuruf awal bukan h- yang bedanya dapat sejauh beratus-ratuskilometer. Kini, nama hdql bertahan sebagai nama desa AlJahdal (ghdl), di dataran tinggi Sarat ‘Abidah, dan di siniterdapat hulu sungai Wadi Tindahah. Sarat ‘Abidah terletak disebelah timur tengah Khamis Mushait, dan Wadi Tindahahbergabung dengan aliran utama Wadi Bishah di sebelah utaraKhamis Mushait. Pada zaman Bibel, Wadi Tindahah mestinyabernama hdql menurut nama desa tempat terdapatnyamata air. Seperti halnya hdql bukan Tigris, melainkan kiniWadi Tindahah, begitu pula ‘swr di sebelah timur alirannyabukanlah ‘Assyria’. Sebenarnya Wadi Tindahah mengalirtepat di timur ‘swr yang kini adalah desa Bani Thawr (twr),juga dikenal sebagai Al Abu Thawr. Seperti yang telah kitabuktikan beberapa kali sebelumnya, hampir tidak terdapatsuatu kesalahan topografis di dalam Bibel Ibrani. Sungai prt, yang secara tradisional dianggap sebagaisungai Efrat ini tidak mungkin kalau bukan apa yang kiniadalah Wadi Kharif yang mengalir dari ketinggian wilayahZanumah, di sebelah utara Abha, dan merupakan salah satuanak sungai utama aliran Wadi Bishah. Nama Bibelnya, yaitu — 229 —
  • 241. prt mestinya berasal dari nama sebuah desa di hulunya yang kini bernama al-Tafra’ (tpr, sebuah metatesis prt). Dalam teks-teks Bibel lainnya, seperti yang telah kita saksikan, prt adalah Wadi Adam (lihat Bab 1, Catatan 11), yang bukan demikian halnya di sini. Menurut kisah Genesis, sungai (nhr) Eden membelah menjadi empat hulu sungai (r’sym) di sekitar Eden dan tamannya. Sebenarnya, r’sym dalam Bibel ini bertahan sebagai nama oase Rawshan (rwsn) yang terletak dekat tempat Wadi Tabalah (Pison) bergabung dengan aliran utama Wadi Bishah.1 Di dekatnya, menuju ke arah hulu, terdapat sebuah oase yang bernama ‘Adanah (‘dn), yang sampai kini memakai nama Eden (‘dn) yang terdapat dalam Bibel. Oase Junaynah (gnyn, pengecilan gn, bandingkan dengan kata Ibrani gn, ‘taman’) terletak tidak jauh di hilir dari Rawshan, diairi oleh air yang mengalir dari ‘Adanah. Tampaknya aneh, tetapi di situlah letaknya taman Eden, bertahan melalui namanya (lihat Peta 8). Di sebelah timur pertemuan Wadi Bishah, yaitu di sekitar daerah Eden menurut Bibel, terdapat tanah ‘Nod’ — sebuah ‘negara ketunawismaan’ (Ibraninya nwd), tepat sebagaimana digambarkan dalam kamus-kamus standar bahasa Ibrani Bibel (dari kata kerja nwd, ‘tuna wisma, berjalan tanpa tujuan’). Ini merupakan sebuah hamparan gurun pasir pedusunan yang kering, yang memisahkan Asir dan Arabia Tengah. Di luar tanah Nod ini, di sana ‘tidak terdapat apa-apa kecuali ketandusan yang tiada akhirnya’ — gurun batu kerikil, atau ‘hamparan datar mati’ Ar Rab’al Khali (Arabian Highlands, hal. 221). Di sebelah timur tenggara Wadi Bishah terdapat oase al-Qarban (qrbn, dengan kata sandang tertentu; bandingkan dengan kata Ibrani h-krbym, ‘pendeta-pendeta’). Ini mungkin adalah ‘pendeta’ yang ditugaskan di sebelah ‘timur’ Taman Eden setelah Adam dan Hawa dikeluarkan dari taman itu. Namun dalam konteks cerita ini, kata h-krbym sebenarnya dapat berarti ‘pendeta-pendeta’ (lihat di bawah). Mengenai 1 Wadi Harjab, satu di antara tiga anak sungai utama Wadi Bishah, bergabung dengan pertemuan ini lebih kurang pada titik yang sama. Pengarang Kejadian nampaknya memandangnya sebagai sebuah tambahan dari Wadi Tindahah, seperti Wadi Harjab, bergabung dengan aliran utama Wadi Bishah dari sisi timur.— 230 —
  • 242. pohon kehidupan (hyym) dan pohon pengetahuan (d’h)di taman itu, mereka sudah pasti adalah dua buah pohonkeramat yang dipersembahkan kepada dua desa lokal kuno.Desa yang sekarang Al Hi (‘l hy) di Wadi Bishah, masihmenggunakan dewa ‘kehidupan’ Arabia Barat yang sudahdilupakan. Begitu juga perkampungan Al Hi (‘l hy) danAl Ibn Hi (juga hy) di dataran tinggi Asir ke arah Barat;dan Al Hayat (hyt) di wilayah Dhahran, dan Hiyin (hyyn,bandingkan dengan kata Ibrani hyym, dalam bentuk jamak),di wilayah Jizan. Begitu pula, desa yang sekarang Al Da’yah(‘l d’y, bandingkan dengan kata Ibrani d’h), di dataran tinggidi sebelah barat Wadi Bishah, sampai hari ini mengabadikannama dewa ‘pengetahuan’ Arabia Barat yang telah terlupakan. Apakah dahulunya Taman Eden dalam Bibel merupakansebuah belukar keramat — sebuah pusat pemujaan DewaKehidupan lokal dan Dewa Pengetahuan— sebelumtaman ini menjadi taman kepunyaan Yahweh sendiri? Buktitoponimis yang ada jelas menunjukkan ke arah ini. Ditelitidalam susunan referensi ini, kisah menurut Bibel mengenaitaman ini mungkin dapat menghasilkan pengertian-pengertianbaru yang, seperti penelitian atas masalah Melchizedek, dapatmemberikan pengetahuan yang lebih mendalam tentang asalmula monoteisme di Arabia Barat kuno. Namun penelitianyang semacam itu atas cerita ini tidak akan dilakukan di sini. Akan tetapi yang patut diperhatikan adalah bahwaQur’an tidak berbicara mengenai sebuah Taman Eden saja,tetapi mengenai ‘Taman-taman Eden’, dalam bentuk bentukjamak, dan juga mengenai ‘sungai-sungai’ (anhar), bukanhanya sebuah ‘sungai’ (nahr) saja, yang mengalir di bawahtaman-taman itu. Secara menyeluruh, ada sebelas referensi didalam Qur’an mengenai ‘Taman-taman Eden’ ini, dan bukanhanya mengenai sebuah taman saja, sehingga kita menduga-duga berapa sebenarnya taman-taman yang ada. Lebihpenting lagi, ada dua buah sebutan Qur’an yang memberipetunjuk tentang adanya hubungan yang erat antara taman-taman dan pemujaan-pemujaan keagamaan tradisional yangmungkin merupakan penjelasan terhadap penyebutan dalamBibel mengenai pengangkatan ‘cherubim’, atau ‘pendeta- — 231 —
  • 243. pendeta’, sebagai pengawas-pengawas taman Eden itu. Menurut teks Qur’an, Nabi Muhammad diberitahu oleh ‘kebanyakan orang’ bahwa mereka tidak sudi mengakui tugas keagamaannya kecuali kalau ia dapat menunjukkan bahwa ia mempunyai ‘sebuah kebun pohon-pohon palem dan anggur dengan sungai-sungai yang deras’ (17:89-91). Menurut sebuah teks yang lain, orang-orang bertanya-tanya bagaimana Nabi Muhammad dapat mengakui dirinya sebagai seorang rasul kalau ia memakan makanan biasa, dan berjalan-jalan di pasar-pasar, dan tidak memiliki sebuah ‘kebun khusus ia mendapatkan makanannya’ (25:7-8). Dari taman-taman di Arabia Barat kuno ini, yang Taman Eden dalam Bibel dan ‘cherubim’-nya merupakan purwa rupa, kita hanya mengetahui secara langsung satu di antaranya yang masih pada dasawarsa permulaan abad ke-7 Masehi. Taman ini ialah taman milik pendeta tinggi Maslamah dari Yamamah, seorang monoteis Arab, yang sezaman, tetapi bukan pengikut Nabi Muhammad. Taman ini disebut Hadiqat al-Rahman, al-Rahman (rhmn, ‘Yang Maha Pengampun’), yaitu nama Tuhan Esa di beberapa pemujaan monoteisme Arab pada zaman pra-lslam. Sewaktu Nabi Muhammad masih hidup, Maslamah bersedia mencapai persetujuan dengannya. Namun setelah wafatnya Nabi Muhammad, ia bertengkar dengan pengganti-pengganti Nabi Muhammad, dan Khalifah yang pertama, yaitu Abu Bakr (632-634 M.), mengerahkan pasukan-pasukannya guna menundukkannya. Menurut sejarawan-sejarawan Arab, seruan perang Maslamah dan para pengikutnya adalah: ‘Ke Taman! Ke Taman!’. Kenyataannya, konon pertahanan terakhirnya melawan pasukan-pasukan Islam adalah di balik tembok-tembok tamannya tempat ia dan sepuluh ribu pengikutnya melakukan perlawanan sampai mereka terbunuh. Suatu pikiran yang menarik: mungkinkah Maslamah, dengan taman keramatnya, merupakan cherubim Arabia Barat yang terakhir?— 232 —
  • 244. 17 Nyanyian Dari Pegunungan JizanI dealisasi kehidupan pedesaan tampaknya dahulu sama populernya di istana Yerusalem Arab dengan di Versailles pada zaman kekuasaan keluarga Bourbon yang belakangan.Kita harus tetap mengingat ini sewaktu mempertimbangkansifat ‘Kidung Agung’ yang merupakan (syr h-syrym ‘srl-slmh) Sulaiman, sebuah bunga rampai lagu-lagu rakyatyang membicarakan percintaan antara para gembala dan parapemelihara kebun anggur, rupanya disusun oleh salah seorangraja Yudah yang belakangan, walaupun memakai namaSulaiman. Bunga-rampai ini dipelihara di antara ktwbym(atau ‘kitab-kitab’) Ibrani dan akhirnya menjadi bagian Bibelsejajar dengan ‘kitab-kitab’ pepatah dan kearifan lain yangdihubungkan dengan Sulaiman. Secara tradisional umat Yahudi telah menafsirkan bahan
  • 245. erotik yang berani yang ada dalam ‘Kidung Agung’ sebagai suatu rangkaian bunga-rampai yang menunjukkan cinta Tuhan terhadap Israil. Umat Kristen memandang sebutan- sebutan yang sama itu sebagai ramalan dalam bentuk bunga- rampai yang berkenaan dengan cinta Kristus terhadap gereja. Namun bagi pendengaran telinga Arab, makna lirik-lirik yang termasuk dalam ‘Kidung Agung’ itu adalah jauh lebih ringan: lirik-lirik itu mempunyai arti tepat seperti yang dikatakannya, yaitu merupakan contoh-contoh awal gaya sastra erotik yang kini masih sangat populer. Nyanyian yang mirip dengan itu banyak terdapat dalam kesusastraan Arab klasik, dan kita dapat mendengarkan bentuk modern daripadanya di seluruh pelosok Timur Dekat. Pada pertemuan-pertemuan ramah-tamah di mana saja terdapat hiburan musik. Peniruan nyanyian-nyanyian ini, seperti halnya lagu-lagu rakyat dari seluruh dunia, telah mendapat tempat di ruang-ruang musik dan gramofon- gramofon otomat di kalangan Arab dan popularitas mereka membuktikan semangat tradisi mereka. Dalam lagu-lagu rakyat Arab yang hidup ini, seperti dalam ‘Kidung Agung’ dalam Bibel, muda-mudi yang sedang dimabuk asmara berubah menjadi rusa-rusa jantan dan betina yang gemar akan janji-janji rahasia untuk bertemu di perkebunan anggur dan tenda-tenda orang Badwi. Mengetuk pintu atau memasuki sebuah perkebunan anggur guna memetik buah (terutama buah delima dan anggur), atau mengambil dengan bebas madu atau susu, merupakan petunjuk-petunjuk yang cukup cerdik kepada perayuan erotik yang kita semua tahu apa itu sebenarnya. Dalam ‘Kidung Agung’, yang jatuh cinta adalah Sulaiman (shlomoh atau slmh), dan yang dicintainya, yang dikenali melalui namanya, adalah Shulammite (swlmyt), bentuk feminin slmh atau Salomo (lihat di bawah). Dalam lagu tradisional Arab, gadis yang dicintai sering disebut Salma (bentuk feminin nama Salman, yang merupakan padanan kata Arab dari nama Ibrani shlomoh, atau Salomo). Seperti halnya Shulammite dalam Bibel, Salma Arab dipuji dalam puisi klasik dan dalam lagu modern karena kecantikannya— 234 —
  • 246. yang kehitaman; ia sejak dahulu digambarkan sebagai ‘hitamtetapi molek’. Tentunya kesamaan yang erat antara ‘Kidung Agung’ danpuisi cinta Arab sebelumnya telah dikomentari oleh para ahli.Baru-baru ini, Morris Seale menulis: Menurut hemat saya, Kidung ini paling mudahdimengerti kalau dibandingkan bersama puisi erotik yangberasal dari Arabia. Yang langsung menarik perhatianpelajar-pelajar puisi cinta Arab kuno adalah kesamaan yangbesar antara puisi kaum pengembara seperti ini dengancurahan-curahan dalam Kidung Agung. Kesamaan ini adalahpada pokok pembicaraan, gaya sastra dan pada tamsilnya.Shulammit yang dicintai dalam Kidung Agung adalahsaudara perempuan dari sejumlah wanita cantik yang dikenaloleh para pecinta-penyair (seorang penyair sekaligus pandaibercinta). Penyair-penyair ini tinggal di kota tetapi pikiranmereka mengembara di padang pasir. Bahasa Arab modernpenuh dengan contoh-contoh semacam ini. Kumpulan puisiyang berhawa nafsu ini (dengan kata lain Kidung Agung)menunjukkan pada jiwa khas suatu bangsa pada zaman liardan kehidupan bebas. Begitu saja, ini merupakan suatumonumen sejarah pengembaraan kaum Ibrani pada waktukenikmatan dan penyelenggaraan percintaan badaniah lebihpenting dari rasa takut terhadap Tuhan.1 Namun pertanyaannya tetap adalah tepatnya dari manaadat dan pengetahuan erotik yang diabadikan dalam KidungAgung itu berasal? Seperti yang saya harapkan, tempat asalnyaadalah tidak lain dari tanah Bibel yang asli, yaitu Asir. Menilai dari nama-nama tempat yang disebutkandi dalam lagu-lagu percintaan ini, mereka pada mulanyamestinya berasal dari pegunungan dan bukit-bukit dipedalaman Jizan — sebuah setengah lingkaran punggungpegunungan yang indah sekali, sebagian gersang dan sebagianberhutan lebat dan sebagian lagi bertingkat-tingkat untukditanami, yang memandang ke bawah lembah-lembah suburgurun pesisir Jizan yang luas. Sewaktu Philby mengunjungitempat ini, ia terpesona akan keindahan pemandangannya. 1 Morris S. Seale, The Desert Bible (London, 1974), diringkas dari halaman 54- 74 — 235 —
  • 247. Lebih lagi, perasaan sadarnya digetarkan oleh alunan lagu dari sisi gunung yang dimainkan oleh tiupan suling seorang gembala (Arabian Highlands hal. 488), dan ia pun menyesali karena tidak membawa ‘sebuah alat yang dapat merekam lagu-lagu rakyat yang merdu’ penduduk setempat itu (hal. 503) — sesuatu yang tidak dikatakan Philby yang berkenaan dengan bagian-bagian di Asir lainnya. Juga pada zaman Bibel, tidak ada cara yang dapat merekam lagu-lagu rakyat setempat agar dapat mengabadikannya. Namun, sebagian dari lirik-lirik itu berhasil dipertahankan. Bagaimana, kapan dan mengapa Kidung Agung disusun adalah di luar jangkauan studi ini; dan pengetahuan sejarah tekstual Bibel saya pun tidak cukup untuk mengerjakannya. Akan tetapi, yang saya yakin adalah bahwa pengetahuan adat istiadat yang terkandung di dalam Kidung Agung hanya mungkin berasal dari pegunungan Jizan. Di negara mana saja, lagu-lagu rakyat seringkali diciptakan oleh penyanyi-penyanyi pengembara yang telah mengunjungi berbagai tempat, dan kadang-kadang ingin sekali menunjukkan keakraban mereka dengan tempat-tempat yang telah mereka kunjungi. Lebih lagi, dengan jalan menyebutkan nama-nama pelbagai distrik dalam lagu-lagu mereka, para penyanyi pengembara ini membuat lagu-lagu mereka langsung dapat dimengerti oleh para pendengarnya di mana pun mereka berada. Seorang penyanyi pengembara bahkan dapat menukarkan nama-nama tempat dalam sebuah lagu tertentu selagi menyanyikannya di suatu distrik satu atau yang lain guna menyenangkan hati pelbagai pendengarnya. Yang berikut ini adalah tempat- tempat yang disebut di tempat lain yang semuanya terletak di distrik-distrik wilayah Jizan. Ini penting, karena pengenalan semacam itu dapat menjelaskan banyak sebutan-sebutan dalam teks-teks Ibrani bunga rampai puisi-puisi cinta kuno yang sangat menarik ini, yang kalau tidak demikian tetap akan tidak jelas. Pertimbangkanlah yang berikut ini: ‘Saya hitam sekali, tetapi elok, hai putri-putri Yerusalem, bagaikan tenda-tenda Kedar (qdr), bagaikan tirai Salomo (yry’wt slmh)’ (RSV 1:5). Di sini Kedar mungkin adalah— 236 —
  • 248. al-Ghadir (gdr), di daerah perbukitan ‘Aridah. ‘Tenda-tenda’Kedar disebut sebagai ‘hly(m); yry’wt-nya slmh, di sebutkanbersamaan dengan ‘tenda-tenda’ Kedar sebagai sangatgelap (dengan kata lain, hitam), tidak mungkin ‘tirai-tiraiSulaiman’. Kata Ibrani yry’wt berarti ‘kain tenda’, dan slmhdi sini bukanlah ‘Salomo’, tetapi mungkin desa al-Salamah(pengubahan abjad lengkapnya slmh), di distrik Abu ‘Arish,atau Al Salamah (juga slmh), di ketinggian Dhahran al-Janubdi luar daerah perbukitan Jizan. Maka, baris ini seharusnyaberbunyi: ‘saya hitam sekali, tetapi elok, hai putri-putriYerusalem, bagaikan tenda-tenda al-Ghadir, bagaikan kaintenda al-Salamah’. ‘Kekasihku bagi saya adalah kumpulan bunga diperkebunan anggur En-gedi (‘yn gdy, ‘mata air’ gdy)’ (1:14).Referensinya di sini tampaknya adalah kepada ‘mata air’ al-Jiddiyyin (jamak Arab dari gdy, atau gdy sebagai genitif gd),sebuah oase yang terkenal di distrik Sabya. ‘Saya adalah sekuntum mawar (hbslt, ‘asphodel’) Sharon(hsrwn), sekuntum bunga bakung dari lembah-lembah’ (2:1).Di sini ‘asphodel’ Sharon dikenali sebagai sebuah bungabakung dari ‘lembah-lembah’. Sebenarnya dalam konteksini Sharon adalah sebuah lembah yang kini berada di WadiSharranah (srn) di daerah perbukitan Hurrath. ‘Wahai burung merpatiku, di celah-celah batu (b-hgwyh-sl’), tersembunyi di jurang-jurang (b-str h-mdrgh) ...’(2:14). Kata Ibrani hgwy h-sl’ dapat berarti ‘celah-celah batu’.Namun di sini tampaknya berkenaan dengan sebuah desa didataran tinggi Rijal Alma’ yang kini bernama Jarf Sala’ (grpsl’). Dalam namanya yang sekarang, kata Arab grp adalahsebuah terjemahan kata Ibrani hgw, yang bertahan dalamdialek Jizan sebagai hqw (disuarakan haqu), kini dipakai gunamenunjukkan kaki punggung sebuah gunung. Kata Ibranimdrgh, diakui hanya dalam dua sebutan teks Bibel (yangkedua adalah Yesaya 38:20) dan diterjemahkan menjadi‘jurang’, di sini jelas merupakan sebuah nama tempat - kini al-Madrajah (tepatnya mdrgh), di Jabal Harub. Bagi seseorang diwilayah Jizan, dataran tinggi Rijal Alma’ terletak ‘di belakang’(b-str, ‘tersembunyi’) Jabal Harub. Maka baris ini seharusnya — 237 —
  • 249. berbunyi: ‘wahai burung merpatiku di Jarf Sala’, di belakang Madrajah ...’ ‘Berpalinglah, kekasihku, jadilah seperti seekor rusa, atau seekor rusa jantan di pegunungan yang tidak rata tanahnya’ (hry btr) (2:17). Walaupun btr di sini dianggap berarti ‘tidak datar’, kata ini tidak mungkin merupakan sebuah deskripsi dari hry(m), yang berarti ‘pegunungan’ atau ‘bukit-bukit’ (jamak hr), karena btr adalah dalam bentuk tunggal. Referensinya hanya dapat pada ‘pegunungan’ atau ‘bukit-bukit’ Jabal Bani Malik, dan di sini sebuah desa yang bernama Batar (btr) masih berdiri. ‘Rambutmu bagaikan kawanan kambing jantan, yang sedang menuruni lerengan Gilead (hr gl’d, atau ‘Gunung Gilead)’ (4:1). Gunung Gilead yang dibicarakan ini mestinya adalah tonjolan gunung al-Ja’dah (‘l-g’d), di Rijal Alma’, di seberang Wadi ‘Itwad di wilayah Jizan. ‘Gigi-gigimu bagaikan kawanan biri-biri betina yang telah dicukur (k-’dr h-qswbwt) yang telah datang dari pencucian’ (4:2). Di sini h-qswbwt jelas adalah nama sebuah tempat, kini al-Qusaybat (qsybt, dalam bentuk jamak feminin, dan dengan kata sandang tertentu, seperti dalam bahasa Ibraninya), di perbukitan Hurrath. Tidak ada ‘biri-biri betina’ yang dapat ditemukan pada aslinya, dan ‘kawanan yang telah dicukur’ dalam bahasa Ibrani adalah ‘dr qswb, bukan ‘dr qswbwt, dan kata bendanya adalah dalam bentuk tunggal maskulin dan ajektifnya dalam bentuk jamak feminin. Sehingga: ‘gigi-gigimu seperti kawanan Qusaybat yang telah datang dari pencucian’. ‘Saya akan pergi cepat ke gunung myrrh (hnr h-mwr) dan ke bukit menyan (gb’t h-lbwnh)’ (4:6). Sebenarnya tidak ada apa-apa yang figuratif dalam baris ini. ‘Bukit h-lbwnh, jelas adalah bukit Jabal al-Lubayn; (lbyny), di distrik Hurrath. ‘Gunung myrrh’ adalah suatu referensi kepada salah satu punggung bukit di dataran tinggi Mawr (mwr), kini berada di Yaman, dan di sana terdapat hulu Wadi Mawr. ‘Datanglah bersamaku dari Libanon (lbnwn), istriku ... Berangkat (tepatnya ‘turun’) dari puncak Amana (‘mnh), dari puncak Senir (snyr) dan Hermon (hrmwn), dari liang-— 238 —
  • 250. liang singa (hrry h-nmrym), dari pegunungan macan tutul(hrry h-nmrym)’ (4:8). ‘Libanon’, ‘Amana’, ‘Senir’ dan‘Hermon’ di sini adalah dataran-dataran tinggi. Lubaynan(lbynn), di selatan perbatasan Yaman; Yamani (ymn), didistrik ‘Aridah; al-Sarran (srn), di Jabal Harub; dan Khimran(hmrn), di distrik Hurrath. ‘Liang-liang singa’ adalah sebuahdesa masa ini, yaitu al-Ma’ayin (jamak Arab m’yn) di JabalHarub, dikenali sehubungan dengan distrik al-Rayth yangbersebelahan dengannya (al-Rayth diucapkan ar-Rayth, atau‘ryt, bandingkan dengan kata Ibrani ‘rywt). ‘Pegununganmacan tutul’ jelas adalah punggung-punggung Jabal DhuNimr (nmr, ‘macan tutul’), di distrik Hurrath, kecuali kalaureferensinya adalah kepada al-Numur (jamak bahasa Arabnmr), di distrik Rubu’ah yang bertetangga dengannya. ‘Engkau cantik bagaikan Tirzah, kasihku, elok sepertiYerusalem, mengerikan seperti sebuah pasukan yangmembawa panji-panji (‘ymh k-ndglwt)’ (6:4). Kata Ibranindglwt di sini, diterjemahkan sebagai ‘panji-panji’ danditafsirkan secara bebas menjadi ‘sebuah pasukan yangmembawa panji-panji’, tidak diakui kebenarannya dalamsebutan-sebutan lainnya di dalam Bibel. Kata ini jelasmerupakan jamak feminin ndgl, yang dianggap sebagaipartisip bentuk np’l dari dg’l, ‘mengangkat panji’. Sebenarnyakata ini mestinya berkenaan dengan suatu barisan bukit diujung selatan wilayah Jizan yang kini bernama al-Janadil(jamak Arab dari gndl, ‘batu besar’, dan ndgl merupakan suatumetatesis). Dapat ditambahkan di sini bahwa ‘ymh k-ndglwtmungkin berarti ‘mengagumkan seperti al-Janadil’ dan bukan‘mengerikan seperti al-Janadil’, karena pegunungan dan bukit-bukit di pedalaman Jizan benar-benar megah sekali. Untuk‘Tirzah’ dan ‘Yerusalem’ di dalam Bibel, masing-masing lihatBab 9 dan 10. ‘Saya pergi ke kebun kacang (gnt ‘gwz), untuk melihatbunga-bunga lembah, untuk melihat apakah tanaman-tanaman anggur telah berpucuk, melihat apakah pohon-pohon delima telah berbunga’ (6:11). Di sebuah perkebunankacang, seseorang mestinya mengira akan dapat melihatpohon-pohon kacang, bukan kumpulan bunga-bunga, pohon — 239 —
  • 251. anggur dan pohon-pohon delima. Lebih lagi, ‘kebun kacang’, dalam bahasa Ibrani, mestinya diterjemahkan sebagai gnt h-’gwz, sekalipun ‘gwz berarti ‘kacang’, atau ‘pohon kacang’ (istilah ini tidak diakui kebenarannya di tempat-tempat lain dalam Bibel Ibrani, dan dianggap berarti ‘kacang’ sebagian besar dibandingkan dengan kata Arab gwz). Namun, yang dipermasalahkan di sini adalah nama sebuah tempat, kini desa al-Janat (gnt) di distrik Bal-Ghazi (atau Bani al-Ghazi, gzy, bandingkan dengan ‘gwz dalam Bibel — suatu daerah dan di sini kaki-kaki bukit Jabal Faifa dan Jahal Bani Malik bergabung dengan gurun pasir pesisir Jizan. ‘Lembah’ di sana mungkin sebuah di antara beberapa cabang Wadi Sabya atau Wadi Damad yang subur. ‘Kembalilah, kembalilah, wahai Shulammite (h-swlmyt), kembali, kembali, agar kita dapat memandangmu (w-nhzh bk). Mengapa engkau harus memandang Shulammite (mh thzw b-swlmyt), seperti memandang sebuah tarian di depan dua buah pasukan (k-mhlt h-mhnym)?’ (RSV 6:13; Bibel Ibrani 7:1). Di sini, swlmyt, bentuk feminin genitif swlm, mungkin berkenaan dengan seorang gadis dari sebuah desa yang kini adalah desa al-Shamla (sml), di wilayah suku Salamah (slm), di Jabal Bani Malik. Beberapa di antara para ahli berpendapat bahwa ada kemungkinan ini sebenarnya merupakan nama seorang gadis, yang menurut hemat saya lebih masuk akal, mengingat bahwa nama ini disebutkan dalam baris yang serupa sekali waktu dengan, dan sekali waktu lagi tanpa kata sandang tertentu (sebuah ciri yang biasa dari beberapa nama perorangan Arab sampai kini). Begitu saja, nama ini mungkin merupakan padanan kata Salma (slm’, bentuk feminin dari slmn) — purwa-rupa puitis dari sang kekasih yang begitu sering disanjung-sanjung dalam lagu lagu Arab kuno dan modern. Dalam baris yang dibicarakan, diterjemahkan seperti biasanya, Shulammite ini dibandingkan dengan tarian antara dua buah pasukan (atau dua perkemahan, mhlt h-mhnym), yang tidak masuk di akal. Akan tetapi, akar kata kerja mhl, adalah hlh, yang dalam bahasa Arab diakui sebagai (hly) dalam pengertian ‘menghiasi’; sehingga kata Arab (dan juga Ibrani) hly— 240 —
  • 252. sebagai sebuah kata benda yang berarti ‘perhiasan wanita’.Sebagai kata benda hlh, mhlh dapat juga berarti ‘perhiasan’.Maka baris itu dapat diterjemahkan kembali menjadi:‘Kembalilah, kembalilah, wahai Shulammite ... agar kita dapatmemandangmu. Mengapa engkau memandang (mh thzw)Shulammite sebagai perhiasan perkemahan-perkemahan?’ ‘Lehermu bagaikan menara gading (mgdl h-sh).Matamu bagaikan kolam-kolam di Heshbon (hsbwn), didekat gerbang Bath-rabbim (‘l s’r bt-rbym). Hidungmubagaikan menara Libanon (mgdl h-lbnwn), yang melihatke bawah Damsyik (Damaskus) (swph pny dmsq). Engkaubermahkotakan kepalamu yang seperti Carmel (r’sk ‘lykk-krml), dan gumpalan rambutmu yang panjang (dlt r’sk)bagaikan ungu; seorang raja ditawan di dalam rambutmu(k-’rgmn mlk ‘swr b-rhtym)’ (RSV 7:4-5); Bibel Ibrani 7:5-6).Di antara nama-nama tempat yang dikenali di sini, Heshbondan Bath-rabbim yang tidak dapat disamakan dengan nama-nama tempat yang bertahan yang dikenal di wilayah Jizanatau di daerah-daerah sekelilingnya, kecuali kalau Heshbonadalah punggung-punggung bukit (dan bukan mata air) Shihb(shb, metatesis hsb tanpa kata sandang kuno tertentu yangberakhiran, yaitu n) di Rijal Alma’, dan Bath-rabbim adalahSha’b al-Baram (brm, metatesis rbym) di wilayah yang sama.‘Libanon’ atau Lubaynan di Yaman Utara telah dikenali; iaterletak di seberang wilayah Jizan dari Jabal Bani Malik dandi sini terdapat sebuah ‘Damsyik’ (kini desa Dha Misk, ataudmsk, bandingkan dengan dmsq dalam Bibel). ‘Carmel’,atau Kirmil (krml) disebutkan oleh ahli-ahli geografi Arabsebagai sebuah punggung bukit di wilayah Jizan, nama masihtetap dipakai oleh Karamilah (orang-orang krml), sebuahsuku Wadi Jizan. Yang tidak dikenal sebagai nama sebuahtempat adalah h-sn (mgdl h-sn, dianggap berarti ‘menaragading’), yang kemungkinan besar berkenaan dengan al-Sinn(sn), di wilayah Muhayil, atau al-Shanu (sn), sebuah desadi punggung bukit yang terpisah di Jabal Dirim, di wilayahBallasmar yang bertetangga dengannya. Kalimat dalam bahasaIbrani dlt r’sk k-’rgmn mlk ‘swr b-rhtym, yang sampai kinidiperlakukan sebagai dua kalimat yang terpisah (‘gumpalan — 241 —
  • 253. rambutmu yang panjang seperti ungu; seorang raja ditawan di dalam rambutmu’), sebenarnya adalah satu kalimat. Di sini dlt berarti ‘rambut yang kusut’, atau hanya ‘rambut’ saja, dan bukan ‘gumpalan rambut’; ‘rgmn berarti ‘kain wil’, atau ‘kain wol yang dicelup’, dan bukan ‘ungu’ (lagi pula adakah rambut yang berwarna ungu?); ‘swr adalah sebuah nama tempat, Al Yasir (ysyr), di wilayah Tanumah di Sarat, dan bukan sebuah kata benda biasa yang berarti ‘tawanan’; rhtym (jamak rht), adalah padanan kata dari kata Arab rihat (jamak gabungan rht), yang diakui dalam pengertian permadani, kain pembalut, perabot tekstil, dan tidak mempunyai arti ‘rambut’. Penterjemah-penterjemah Kitab Bibel sebenarnya telah mengakui bahwa mereka ragu-ragu akan penterjemahan atas kalimat ini, yang seharusnya berbunyi: ‘Rambut kepalamu bagaikan permadani-permadani Raja Asur (Al Yasir)’ yang masuk di akal. Permadani-permadani wol, diwarnai dengan bahan celup dari sayur-sayuran setempat (kini makin bertambah diwarnai dengan bahan celup buatan) masih tetap dibuat di Sarat dan dijual di pasar-pasar Abha dan Khamis Mushait. ‘Sulaiman mempunyai sebuah perkebunan anggur di Baal-hamon (b’l hmwn)’ (8:11). Kalau kita menganggap b’l sebagai b-’l, maka kata ini akan berarti ‘di atas’, atau ‘di ketinggian’, bukan ‘Baal’. Hamon (hmwn) mestinya adalah Wadi Haman (hmn), di distrik Hurrath. Maka kalimat itu seharusnya berbunyi: ‘Sulaiman mempunyai sebuah perkebunan anggur di daerah ketinggian Haman’. ‘Bergegaslah, kekasihku, seperti seekor rusa jantan muda di pegunungan rempah-rempah (hry bsmym)’ (8:14). Referensinya di sini mungkin kepada dua tempat yang bernama Bashamah (bsm) di wilayah Jizan, satu di daerah perbukitan al-’Aridah, dan yang satu lagi di daerah perbukitan yang membatasi Wadi ‘Itwad. Kalau saja kedua Bashamah ini terlihat, maka hry bsmym seharusnya dibaca dalam bentuk ganda dan bukan dalam bentuk jamak. Kidung Agung bukanlah satu-satunya contoh cerita rakyat pegunungan Jizan yang dapat ditemukan dalam Bibel Ibrani. Satu lagi terdiri dari Mazmur yang berhubungan— 242 —
  • 254. dengan ‘putra-putra’ Korah (bny qrh, lihat Catatan 1 Bab9). Seperti yang telah dikatakan, ‘putra-putra Korah’ inimerupakan sebuah suku pedalaman pegunungan Jizan.Namanya bertahan di sana sebagai nama desa al-Qarhah(qrhn), di Jabal Faifa, dan nama desa al-Qarhan (qrhn), diJabal Bani Malik, nama yang belakangan ini adalah padanankata Arab qrhym (jamak Ibrani qrh), yang berarti rakyat qrh,atau suku qrh. Isi Kidung Agung, seperti yang telah dikatakan, mestinyadisusun bukan pada zaman Sulaiman, tetapi di bawahpengganti-penggantinya. Sebenarnya ada sebuah buktiyang menunjukkan bahwa Kidung Agung ini dikumpulkanbeberapa waktu setelah wafatnya Sulaiman dan terpisahnyakerajaannya, pada saat keturunan-keturunannya memerintahsebagai raja-raja Yudah di ‘Yerusalem’, sewaktu saingan-saingannya, yaitu raja-raja Israil, tinggal di ‘Tirzah’. Dalambaris yang berbunyi ‘Engkau cantik bagaikan Tirzah,kekasihku, elok bagaikan Yerusalem’, disebutkannya keduanama ini secara sejajar di dalam satu kalimat menandakanbahwa kedudukan kedua kota ini dianggap berada padatingkat yang sama. Persamaan kedudukan semacam ini tidakmungkin ada pada zaman Raja Sulaiman, sewaktu ‘Tirzah’masih merupakan sebuah tempat yang kurang dikenal didataran tinggi Ghamid (lihat Bab 10), sedangkan ‘Yerusalem’sudah merupakan ibukota ‘Seluruh Israil’. Kalau pengubahan Kidung Agung dari Palestina keAsir agaknya hanya sedikit membantu dalam pengertian kitaterhadap Bibel — salah penterjemahan nama-tempat menjadibunga-bunga padang pasir— tidak begitu banyak mengubahmakna Kidung Agung; bagaimanapun juga, contoh-contohyang telah saya pilih dapat membuka pikiran. Bukan hanyabahwa lirik Ibrani Kuno ini menambah ketepatan geografis;tetapi lebih penting lagi lirik-lirik ini mendorong kita untukmengakui bahwa itu tegas-tegas berasal dari suatu tempat.Inilah yang tidak dibedakan oleh kebanyakan pembaca Bibel,sisa-sisa ikatan kekeluargaan yang menyebabkan merekameremehkan sampai sejauh mana teks-teks ini ditulis dalamsebuah bahasa yang benar-benar dipergunakan oleh suatu — 243 —
  • 255. bangsa yang benar-benar ada, tinggal di suatu tempat tertentu pada suatu zaman tertentu. Yang ditunjukkan secara jelas oleh pembacaan kembali Kidung Agung dalam Bibel Ibrani adalah bahwa walaupun sebutan-sebutan yang nampaknya secara puitis benar, pengaruhnya lebih bersifat prosa meskipun ditafsirkan secara benar. Lebih cepat lagi kita mengakui bahwa tanah Asir yang kuno dan subur itu ialah tempat asalnya beberapa kepercayaan sebagian umat manusia yang paling dihargai, lebih cepat pula kita dapat mengerti bagian peninggalan yang penting itu.— 244 —
  • 256. EpilogT entunya seseorang dapat terus-menerus menafsirkan kembali geografi Bibel Ibrani dalam pengertian Arabia Barat dan bukan Palestina. Namun bagi penelitian inijumlah masalah yang dibahas sudah cukup banyak. Suatusaat jika ada generasi ahli Bibel baru yang memutuskan untukmenanggalkan apa yang saya anggap tradisi-tradisi kuno didalam keahlian mereka yang sudah tak terpakai lagi makakeseluruhan teks Bibel Ibrani akan ditafsirkan dengan benar.Kata-kata yang sampai kini dianggap sebagai kata kerja, katasifat, kata benda, dan gerund bahkan beberapa kata tambahan,akan dikenal; sebagai nama-nama tempat, sedangkankata-kata yang sampai kini dianggap sebagai nama-namatempat mungkin sebenarnya mempunyai arti yang lain. Jikadimasukkan ke dalam komputer bersamaan dengan berbagainama-nama tempat di Arabia Barat yang telah terdaftar,nama-nama tempat menurut Bibel yang telah diketahuimaupun yang belum, semua — atau hampir semua— akandikenali dengan benar. Atlas-atlas Bibel yang baru, yang sama
  • 257. sekali lain dari yang kita kenal sekarang, akan disusun dan diterbitkan sebagai petunjuk-petunjuk yang benar bagi para pembaca Bibel. Sampai sejauh ini saya telah menahan diri untuk menghadapi pertanyaan yang mau tidak mau timbul dari penelitian saya atas geografi Bibel: Apakah semua ini akan mempengaruhi Bibel sebagai sebuah kitab keagamaan? Tentu jawabannya adalah ‘ya’, dalam pengertian bahwa hasil penelitian ini akan memperkuat kebenaran sejarah menurut Bibel sampai suatu tingkat yang tak terduga. Alhasil kita dapat memperoleh pengertian yang mendalam terhadap asal mula, perkembangan serta ciri khas agama Yahudi dan Kristen — pengertian yang berdasarkan ketepatan ilmiah, bukan atas dugaan, yang jika dibandingkan dengan apa yang sampai kini telah ditulis mengenai masalah ini akan membuat karya-karya lama tersebut tampak tak akan dapat dipertahankan lebih lama lagi, kalau tidak akan dikatakan tidak bermutu. Jika dipelajari dengan benar berkenaan dengan geografinya yang benar, Bibel akan berdiri sebagai sebuah kitab sejarah yang tidak lagi perlu dibuktikan kesejarahannya melalui kelicikan-kelicikan — dan jelas tidak melalui arkeologi Bibel yang bersikeras mencari tanah Bibel pada tempat yang salah. Sejarah lama seluruh Timur Dekat jika dipelajari kembali berkenaan dengan penafsiran Bibel yang lebih tepat dalam lingkungan geografi yang semestinya akan lebih masuk akal. Walaupun demikian, alangkah baiknya jika kita mengingatkan diri kita sendiri bahwa Bibel Ibrani adalah suatu warisan umat manusia yang sangat berharga, dan akan tetap demikian tanpa menghiraukan apakah kitab ini ditulis di Palestina atau di Arabia Barat. Bangsa Israil kuno akan tetap dipandang selayaknya sebagai suatu bangsa agung yang merupakan penyumbang utama pada peradaban manusia, di mana pun mereka dahulu menetap, apakah itu Palestina atau Asir, atau apakah Yerusalem mereka Yerusalem sekarang atau sebuah desa di Arabia Barat yang bernama Al-Sharim. Geografi dapat membuat sejarah berbeda, tetapi tidak dapat membuat ketetapan bersejarah— 246 —
  • 258. berbeda, apalagi agama dan kepercayaan yang merupakanmasalah-masalah yang samasekali berada dalam golonganyang berbeda. Maka dari itu, sekalipun tesis saya mungkinakan menimbulkan kekhawatiran — dan lebih mungkin lagikesangsian— yang saya mohon hanyalah agar bukti-buktiyang telah saya kemukakan seharusnya dipelajari dengan telitiberkenaan dengan penelitian ilmiah yang tidak memihakpada suatu pendapat. Bibel bagaimanapun juga adalah tetapBibel, dan tak akan ada yang dapat mengurangi pentingnyaBibel sebagai sebuah kitab yang mengabadikan kearifan yangtelah menentukan jalannya peradaban dan telah meneruskankepercayaan semua pengikut-pengikut yang taat. Yang pentingadalah artinya bagi umat manusia, bukan konteks geografisdengan peristiwa-peristiwa yang digambarkannya sebenarnyaterjadi. — 247 —
  • 259. — 248 —
  • 260. Lampiran 1. Bukti-bukti Onomastik Yang BerkenaanDengan Keduabelas Suku Israil di Arabia BaratReuben (r’bwn): Suku Rawabin (rwbn) kini masih tetap memakai nama yang sama di Arabia. Wilayah Reuben tampaknya terletak di Hijaz bagian selatan, antara daerah sekitar Mekah dan pedalaman Lith. Sebuah desa yang bernama Rabin (rbn) kini berdiri di sekitar Rabigh, di dekat Mekah. Di sebelah timur Lith kita dapat menjumpai desa Rabwan (rbwn) di Wadi Adam dan desa Rubyan (rbyn) di wilayah Bahah.Simeon (sm’wn): Suku Sama’inah atau Sama’in (sm’n), mulanya berasal dari Yaman dan kini berada di Palestina bagian selatan, adalah sebuah suku Arab yang masih dikenal melalui nama yang sama. Daerah Simeon tampaknya sebagian besar terletak di bagian selatan wilayah Jizan, dekat perbatasan Yaman, di sini terdapat sebuah desa yang bernama Sha’nun (s’nwn) dan dua buah desa yang bernama Shima’ (sm’, tanpa kata sandang tertentu dalam sm’wn). Ada pula desa Al Sham’ah (‘l sm’) dekat Taif.Lewi (lwy): namanya sangat mirip dengan nama kesukuan Arab Lu’ayy (l’y). Buq’at al-Lawat (tunggalnya adalah lwh) terdapat di wilayah Jizan, yang merupakan salah satu tempat suku ini berpusat. Di sana terdapat desa Lawi (lwh) dan Lawiyyah (lwy). Dua buah pedesaan yang bernama Lawah (lwh) dan Lawiyyah (lwy) di Wadi Adam, satu bernama Luwayyah (lwy) di dekat Taif, memperlihatkan bahwa pada zaman dahulu suku ini pernah menetap di wilayah-wilayah ini.Yudah (yhwdh): sampai kini nama itu masih dipakai oleh sejumlah suku Arab, di antaranya Wahadin (jamak dari Wahadi, atau whd). Lihat Bab 8 mengenai pembahasannya. Dua buah desa yang bernama Wahdah (whdh) ada di Rijal Alma’. Ada pula desa Wahdah di Wadi Adam dan sebuah lagi di wilayah Bahah; dan sebuah lagi di wilayah Nimas; dan ada
  • 261. pula desa Wihad (whd) di Wadi Bishah. Sewaktu bangsa Filistin merampok ‘tanah Yudah’ pada zaman Samson, mereka menyerang ‘Lehi’ (lhy), kini Lakhyah (lhy), di Wadi Adam (lihat Bab 14). Ini menunjukkam bahwa tanah Yudah pada mulanya tentunya terletak di sana. Ada pula bukti-bukti menurut Bibel lain mengenai hal ini. Dan (dn): kini nama yang serupa ialah nama suku-suku Arabia, yaitu Duwaniyah (dny), Danaywi (dny) dan Dandan (dndn). Bentuk jamak Arab dari nama kesukuannya, yaitu Danadinah (dndn), dipakai oleh sebuah desa di dataran rendah maritim wilayah Zahran. Ada pula tambahan bukti-bukti menurut Bibel bahwa wilayah bangsa Danit terletak di sana; lihat toponimis kisah tersebut pada Bab 14. Naphtali (nptly): suku Arabia Falatin (pltn) hingga kini memakai sebuah metatesis dari nama tersebut. Wilayah Naphtali dalam Bibel mungkin meliputi daerah-daerah dari pedalaman Birk di utara sampai ke pedalaman Jizan di selatan. Dua buah desa yang bernama Maftali (mptly) dan Al Maftalah (‘l mptl) dapat dijumpai di daerah yang pertama; dan tiga buah pedesaan yang bernama Maftal (mptl) terletak di daerah yang kedua. Gad (gd): di antara beberapa suku Arabia yang masih memakai nama ini adalah suku Jadi (gd) dan suku Judan (jamak Judi atau gd). Jadiyah (gdy) di wilayah Bahah dan Jadiyah (gdy) dekat Mekah, menunjukkan bahwa Gad yang ada dalam Bibel adalah sebuah suku dari utara. Juga ada desa Jadyah (gdy) di daerah Taif. Selain itu ada pula desa Ghadah (gd) dekat Abha, sebuah desa Ghadi (gd) dan dua buah pedesaan yang bernama Ghadiyah (gdy) di wilayah Jizan, di samping desa Ghadiyat di utara di pedalaman Lith, yang menunjukkan sebuah kampung halaman di selatan bagi suku Gad. Pelabuhan Juddah (gd) di Mekah, dan dua buah pedesaan yang bernama Judah dan Ibn Juddah di— 250 —
  • 262. wilayah Qunfudhah mungkin saja berkenaan dengan nama kesukuan ini.Asher (‘sr): kini suku Arabia yang memakai nama yang sama adalah Dhawi Shari (sr). Nama tempat yang sama adalah Wishr (wsr), di wilayah Jizan, yang menunjukkan bahwa suku Asher merupakan suku dari selatan. Sharawra, atau Sharawrah (srwr), mungkin adalah bentuk jamak bahasa Arab dari nama kesukuan yang sama; ini merupakan nama sebuah desa di wilayah Najran, di ujung selatan pedalaman Asir.Issachar (ysskr): suku Shukarah (skr) dari Wadi Sayah, di sebelah utara Mekah, memakai nama yang nampaknya adalah nama suku dalam Bibel ini sekarang. Ada pula suku Shukarah di Wadi al- Dawasir di sebelah barat Wadi Bishah. Namun yang lebih dekat dengan ysskr dalam Bibel adalah nama suku Arab kuno, yaitu Yashkur (yskr).Zebulum (zblwn): suku Zabbalah (zbl) di dataran tinggi Asir sebelah selatan merupakan satu suku Arabia Barat yang masih terus memakai nama ini; satu lagi adalah suku Zubalah (juga zbl) yang dapat dijumpai di Wadi Hajar, di sebelah utara Mekah. Zblwn dalam Bibel merupakan nama yang sama, dengan kata sandang kuno tertentu ditambahkan sebagai sebuah akhiran.Yoseph (Yusuf) (ywsp): suku Arabia, yaitu Banu Yusuf (ysp) sampai kini masih tetap memakai nama yang sama. Ada pula sebuah desa yang bernama Al Yusuf (‘l ywsp) di ketinggian daerah Ballasmar, di Asia tengah. Juga, nama ini bertahan dalam bentuk yang telah diarabkan, yaitu Asfa’ (‘sp), yang merupakan nama sebuah desa di dekat Ghumayqah, di pedalaman Lith; di sana tanah kesukuan Yoseph tampaknya terletak (lihat Bab 6).Benyamin (bnymyn, atau bn ymyn, nampaknya berarti ‘putra selatan’): bahwa ymyn (sebagai ymn) berarti ‘selatan’ telah dapat dipastikan. Dalam kesusastraan pra-Islam — 251 —
  • 263. Arab, padanan kata Arab yang tepat dari nama Bibelnya, yaitu Ibn Yamin (‘bn ymn), dipergunakan secara politis untuk menandakan bangsa Yaman (Yaman, atau ymn, juga ‘selatan’). Kini di Arabia Barat terdapat suku Yamna, Yamanah, Yaman; (semuanya ymn), yang masih terus memakai nama yang sama. Pedesaan yang memakai nama yang berasal dari ymn (seperti halnya al-Yamani dan Al Yamani) berjumlah besar di bagian selatan Asir geografis. Menurut Kejadian 35:18, Benyamin disebut Ben-oni (bn ‘wny) sebelum namanya diubah. Nama menurut Bibel ‘wny di sini (dari akar kata ‘ny, mungkin adalah sebuah bentuk ‘nh, ‘memegang, terdiri dari’) mungkin berarti ‘kafilah’ (bandingkan dengan kata Arab aniyah, atau ‘nyh, dalam pengertian ‘kantung pelanan’, atau ‘kantung- kantung pelana’, keduanya dalam bentuk tunggal dan jamak gabungan). Maka jika Ben-oni mungkin berarti ‘putra kafilah-kafilah’, Benyamin yang menekankan lokasi dan bukan perdagangan suku atau bangsa yang bersangkutan, mestinya berarti ‘putra selatan’ (kini Asir bagian selatan dan Yaman yang bertetangga dengannya). Pada kedua kasus itu, namanya layak digunakan karena Asir kuno sangat berketergantungan bagi perniagaannya pada kafilah- kafilah yang datang dari arah selatan. Cabang-cabang suku Yoseph (Yusuf): Ephraim (‘prym, ganda atau jamak ‘pr): sebagai sebuah nama kesukuan Arab modern, kita mengenal Firan (ganda atau jamak pr, bandingkan dengan ‘pr). Wilayah suku Ephraim tentunya terletak di Wadi al- Malahah, di distrik Bani Shahr di lerengan maritim Asir, yang sampai kini masih berdiri sebuah desa yang bernama Wafrayn (wprym, ganda dari wpr). Manasseh (mnsh): sebagai nama sebuah suku Arab, nama itu masih merupakan nama suku Mansi (mns). Ada sebuah desa yang bernama Mansiyah (mnsyh)— 252 —
  • 264. di dekat Sabya di bagian utara wilayah Jizan; desa Munshah (mnsh) di wilayah Ballasmar; desa Mamshah (mmsh, sebuah pengubahan berdasarkan dialektika dari mnsh) di wilayah Qunfudhah; juga desa Manshiyyat al-Far’ di wilayah Bahah Asir sebelah utara. Pemusatan utama suku Manasseh tampaknya terletak cukup dekat dengan suku Ephraim yang berhubungan dengannya.‘Induk’ suku-suku Israil: Menurut Kejadian 29, 30 dan 35, putra-putra Yaqub,yaitu Reuben, Simeon, Lewi, Yudah, dan Issachar dilahirkanoleh Leah (l’h), putri sulung paman dari pihak ibu Yaqub,yaitu Laban (lbn), saudara laki-laki ibunya, Rebekah (rbqh).Laban dan Rebekah adalah putra dan putri Bethuel (btw’l).Yoseph dan Benyamia dilahirkan oleh putri Laban yang lebihmuda, yaitu Rachel (rhl). Dan dan Naphtali adalah putra-putra pelayan Rachel, yaitu Bilhah (blhh), sedangkan Gad danAsher adalah putra-putra pelayan Leah, yaitu Zilpah (zlph). Semua ini menunjukkan bahwa leluhur pihak ibu, darisuku-suku Israil yang diberitakan itu berasal dari utara. NamaBethuel, ayah Laban dan Rebekah dan kakek pihak ayahdari Leah dan Rachel, bertahan sebagai nama desa Butaylah(btyl) di dataran tinggi Zahran di sebelah selatan Taif. NamaRebekah; sebagai Ribqah (rbqh) bertahan sedikit lebih jauhke arah selatan lagi, di dataran tinggi Ghamid, sebagai namasebuah desa dekat Baljurashi. Ada pula desa Ribkah (rbkh,bentuk lain dari rbqh) dekat Rabigh di sekitar daerah Mekah;di sana sebuah desa yang bernama Laban (lbn) juga bertahan,masih terus memakai nama saudara laki-laki Rebekah. Denganlatar belakang topografis ini, kita perlu mengasosiasikannama Leah, putri Laban, keponakan Rebekah, dan ibu enamdi antara duabelas putra-putra Yaqub, dengan nama WadiLiyyah (lyh) di wilayah Taif di sebelah timur Mekah, danbukan dengan Wadi Liyah (juga lyh) di wilayah Jizan. Sebagai ‘saudara perempuan’ Leah, Rachel tampaknyamemakai nama Rakhilah atau Rukhaylah (rhyl bandingkandengan nama Ibrani rhl), salah satu desa di Wadi Liyyah, — 253 —
  • 265. mengingat bahwa sebuah desa yang bernama Rakhl (rhl, sama persis dengan rhl) juga sampai kini masih terdapat lebih jauh ke utara di sekitar daerah Yanbu’ al-Nakhl, di sebelah barat Madinah. Nama pelayan Rachel, ibu Dan serta Naphtali, yaitu Bilhah (blhh), mengingatkan kita pada desa Balha’ (blh’), sebenarnya diucapkan sebagai Balha atau Balhah (blhh), kini di sekitar daerah Lith, di sebelah baratdaya Taif, dekat pantai Laut Merah. Sedangkan pelayan Leah, Zilpah (zlph), yaitu ibu Gad dan Asher, namanya masih tetap dipakai oleh satu di antara tiga buah pedesaan juga di daerah yang sama: Dhulf (dlp) di Wadi Adam; Zulf (zlp), juga di Wadi Adam; dan (nampaknya yang paling cocok) Zuluf (zlp) di wilayah Taif, dekat dengan Wadi Liyyah. Penting hubungannya dengan ini adalah dua buah tempat yang bernama ‘Aqb (‘qb, akar kata y’qb, atau ‘Yaqub’) yang bertahan di wilayah Zahran, di sebelah selatan Taif, bersamaan dengan sebuah tempat yang bernama ‘Uqub (‘qwb), sebuah lagi yang bernama ‘Aqib (‘qyb), dan sebuah lagi yang bernama ‘Aqibah (‘qyb) di wilayah Taif. Ada pula sebuah desa yang bernama Al-Ya’aqib (jamak bahasa Arab y’qwby, harfiahnya berarti ‘orang-orang Yaqub’). Semua pedesaan ini dijumpai di wilayah Taif dan Zahran yang berada di tengah-tengah pembagi perairan antara bagian pedalaman dan pesisir Hijaz bagian selatan. Maka dari itu, mengingat akan topografi daerah tersebut, nama Yaqub atau y’qb, sebagai kata benda ‘qb, dapat dihubungkan dengan kata Arab ‘aqabah (‘qbh), yang berarti ‘jalan pegunungan, penyeberangan’. Sebenarnya sejumlah pedesaan yang bernama ‘Aqabah kini dapat ditemukan di daerah yang sama. Oleh sebab itu suku-suku Yaqub mungkin pada mulanya merupakan orang-orang yang menguasai jalan- jalan pegunungan antara Hijaz bagian selatan dan Asir bagian utara (bandingkan dengan analisa atas penyeberangan h-yrdn oleh Yosua pada Bab 7). Mengingat bahwa Kejadian menggambarkan paman Yaqub, yaitu Laban, sebagai seorang Aramaea, dan benar-benar membuatnya berbicara dalam bahasa Aram dan bukan bahasa Ibrani (lihat Bab 1) kita dapat menganggap bahwa sebuah bangsa Yaqub. yang tinggal di— 254 —
  • 266. daerah yang sama mungkin saja pada mulanya merupakanorang-orang Aram, sebelum melakukan migrasi ke arahselatan dan menyatu dengan suku-suku yang memakai bahasaIbrani di Asir, yang akhirnya dikenal sebagai bangsa Israil itu.Sebenarnya ‘Aram’ Laban tampaknya kini bertahan sebagaiAryamah (‘rym) di dataran tinggi Zahran (lihat Bab 1, Catatan3). Ini mungkin dapat menjelaskan pernyataan yang tidakjelas dalam Ulangan 26:5: ‘Ayahku adalah seorang pengembaraAram; dan ia pergi ke msrym (bukan ‘Mesir’, tetapi Misramahdekat Abha, seperti yang telah dikatakan) dan menetap disana, sedikit jumlahnya; dan di sana ia menjadi sebuah negara,agung, kuat dan mempunyai penduduk yang banyak’. Lagi, kita teringat pada kata-kata Gerald de Gaury:‘Siapa yang tahu akan harta karun sejarah yang terpendam dipuing-puing Asir yang berserakan?’ Nama-nama tempat yangbertahan di sana itu sendiri adalah harta karun dari sejarahyang membeku, dan kita dapat menganggap masih lebihbanyak dapat memberitahukan kita mengenai sejarah TimurDekat kuno daripada yang telah dikatakan di dalam buku ini. — 255 —
  • 267. — 256 —
  • 268. Lampiran 2: Peta-peta Peta 1 — Timur Dekat Kuno
  • 269. Peta 2 — Palestina Masa Perjanjian Lama— 258 —
  • 270. Peta 3 — Ciri-ciri Fisik Asir — 259 —
  • 271. Peta 4 — Daerah Administrasi Asir, 1978— 260 —
  • 272. Peta 5 — Lalu-lintas Utama dan Pusat-pusat Penduduk — 261 —
  • 273. Peta 6 — Gerar di Palestina— 262 —
  • 274. Peta 7 — Gerar di Asir — 263 —
  • 275. Peta 8 — Yordan dan Eden serta Tamannya— 264 —
  • 276. Peta 9 — Rencana Perjalanan Sheshonk II di Palestina — 265 —
  • 277. Peta 10 — Rencana Perjalanan Sheshonk I di Asir— 266 —
  • 278. Peta 11 — Tanah Harapan — 267 —
  • 279. — 268 —
  • 280. Tentang PenulisL ahir di Bairut, Libanon 1929 Dr. Kamal Salibi dibesarkan di tengah-tengah keluarga terpelajar. Sejak turun-temurun keluarga ini adalah penganut agamaKristen Maronit, dan yang menerjemahkan Perjanjian Lamadan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Arab yang sampaisekarang dipakai oleh kalangan Kristen yang berbahasa Arab,adalah kakeknya dari pihak bapak. Selepas dari InternationalCollege, ia meneruskan studinya ke Universitas Amerikadi Bairut hingga sarjana muda bidang sejarah Eropa danilmu-ilmu politik. Setelah mengambil studi dalam bahasa-bahasa Semit, dilanjutkannya ke Universitas London hinggamencapai Ph.D. dalam tahun 1953 di bidang sejarahIslam dan sejarah Arab. Kemudian ia menjabat guru besarsejarah dan kepala departemen sejarah dan kepurbakalaandi Universitas Amerika di Bairut. Dewasa ini ia tinggal diAmman, Yordania. Buku kontroversial yang ditulis dalam bahasa Inggris inipada mulanya menemui kesulitan dalam mencari penerbit,karena hampir semua penerbit di Eropa menolaknya. Setelahsampai ke tangan Der Spiegel di Jerman dan diterjemahkanke dalam bahasa Jerman dengan syarat harus terlebih dulu
  • 281. diteliti oleh sebuah tim yang terdiri dari para ilmuwan dan guru besar bahwa penelitiannya didasarkan hanya pada ilmu semata, bukan pada sesuatu agama atau ras, akhirnya dalam tahun 1985 buku ini terbit, dan kemudian disusul dengan penerbitan bahasa Inggris dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, di antaranya bahasa-bahasa Jerman, Perancis, Belanda, Denmark, Arab, Finlandia, Jepang, Spanyol dll. Pada mulanya teori Dr. Salibi tentang asal- usul Bibel yang katanya berasal dari Arabia dan bukan dari Palestina, cukup menghebohkan dan mendapat tantangan semua pihak! Terjemahan bahasa Indonesia ini disajikan semata-mata untuk maksud yang sama.— 270 —
  • 282. — 271 —
  • 283. PlantATree — Publishing