DIGITAL RIGHTS MANAGEMENT CITRA BERBAYAR DENGAN KRIPTOGRAFI                    PADA VIEWER BERBASIS MOBILE DEVICE         ...
Pada makalah ini akan dijelaskan mengenai solusi pengamanan satu data digital  berbentuk citra untuk menghindari adanya pe...
digunakan pada suatu media kreatif seperti citra, suara atau video. Sehingga DRM   seringkali diminati oleh para penerbit ...
a                         b                           c                               Gambar 1. Hasil emulator            ...
V.      SIMPULAN             Dari uraian tersebut diatas maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai    berikut:    a. ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Drm untuk citra berbayar dengan kriptografi pada viewer berbasis mobile device - Danang Jaya, Claudia Dwi Amanda, Alvin Devara

1,200 views
1,147 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,200
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
74
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Drm untuk citra berbayar dengan kriptografi pada viewer berbasis mobile device - Danang Jaya, Claudia Dwi Amanda, Alvin Devara

  1. 1. DIGITAL RIGHTS MANAGEMENT CITRA BERBAYAR DENGAN KRIPTOGRAFI PADA VIEWER BERBASIS MOBILE DEVICE Danang Jaya, Claudia Dwi Amanda, Alvin Devara Lesmana querydanangjaya@yahoo.com, amanda_hectic@yahoo.com,  alvin_dev@yahoo.com Lembaga Sandi Negara Abstrak Teknologi digital memungkinkan seorang seniman untuk membuat suatu karya seninya dalam bentuk digital. Dengan kemudahan peralatan viewer yang ada pada mobile device memungkinkan untuk sebuah citra dilihat dan diperlihatkan pada siapa saja dan kapan saja. Permasalahan bagi seorang seniman adalah menyangkut aspek hak cipta dan royalti dari karya seninya. Seseorang dapat dengan mudah untuk menggandakan dan menyebarkan sebuah karya seni tanpa diketahui oleh si pembuat. Dengan memanfaatkan teknik kriptografi yang diimplementasikan pada mobile device maka sebuah citra hanya dapat dilihat dengan sebuah mobile device yang dimaksud saja. Kata Kunci: Kriptografi, Citra Berbayar, Mobile DeviceI. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital yang sedemikian pesat membuat setiap orang untuk mengikutinya, tidak terkecuali seorang seniman. Jika dahulu para seniman lukis menuangkan karyanya di suatu kanvas maka di era digital seorang seniman mengganti kanvasnya dengan sebuah layar monitor. Hal ini disebabkan salah satunya karena banyak sekali tools yang memudahkan seniman untuk lebih berkreasi. Kemudahan-kemudahan ini tidak serta merta menjadi suatu hal yang menguntungkan dan bukan berarti tanpa resiko. Permasalahan yang dihadapi seorang seniman digital adalah mudahnya suatu file digandakan dan didistribusikan kepada siapapun dan dimana pun. Hal ini tentu menyangkut akan hak-hak royalti dan copy right kemilikan suatu karya seni yang asli. Jika seorang seniman digital membuat karya seni kemudian digandakan oleh pihak lain dan diklaim sebagai hasil karyanya maka akan sulit untuk membuktikan kepemilikan tersebut. Mobile device seperti HP dan ipad menjadi sarana yang paling disenangi untuk melihat gambar, menggandakan dan mendistribusikan gambar, baik melalui mms ataupun internet. Media ini pula yang menjadikan mobile device sebagai sebuah pangsa pasar yang menarik bagi seorang penjual karya seni digital, khususnya citra digital. Penjual citra digital tentu berharap bahwa karya seninya hanya dinikmati oleh si pembeli saja. Jika pembeli ingin memperlihatkan pada pihak lain maka pihak lain tersebut harus menghubungi penjual. Salah satu cara yang umum digunakan oleh seorang penjual karya seni digital untuk melindungi barang dagangannya dari pemalsuan adalah dengan teknik watermarking. Teknik ini dapat digunakan sebagai sebuah tanda tangan yang diletakkan secara tersembunyi maupun terlihat jelas untuk membuktikan suatu kepemilikan. Jika pemalsuan dapat diartikan sebagai suatu penggandaan tanpa ijin maka hal ini menjadi masalah serius bagi seorang seniman mengenai hak-hak royaltinya. Tetapi teknik watermarking masih belum bisa mengurangi resiko penggandaan tanpa ijin[1]. Permasalahan tersebut dapat dipecahkan dengan memanfaatkan teknik kriptografi untuk digital rights management.
  2. 2. Pada makalah ini akan dijelaskan mengenai solusi pengamanan satu data digital berbentuk citra untuk menghindari adanya penggandaan tanpa ijin. Dengan membuat suatu skema yang hanya memungkinkan seorang pembeli untuk menampilkan citra yang dibelinya pada salah satu peralatan mobile device yang diinginkan saja. Skema ini menghindari resiko menampilkan citra yang sama pada mobile device lainnya yang tidak diinginkan/disetujui oleh penjual.II. LANDASAN TEORI a. Kriptografi Konsep kriptografi sendiri telah lama digunakan oleh manusia misalnya pada peradaban Mesir dan Romawi walau masih sangat sederhana. Prinsip-prinsip yang mendasari kriptografi yakni[2]: • Confidentiality (kerahasiaan) yaitu layanan agar isi pesan yang dikirimkan tetap rahasia dan tidak diketahui oleh pihak lain (kecuali pihak pengirim, pihak penerima / pihak-pihak memiliki ijin). Umumnya hal ini dilakukan dengan cara membuat suatualgoritma matematis yang mampu mengubah data hingga menjadi sulit untuk dibaca dan dipahami. • Data integrity (keutuhan data) yaitu layanan yang mampu mengenali/mendeteksi adanya manipulasi (penghapusan, pengubahan atau penambahan)data yang tidak sah (oleh pihak lain). • Authentication (keotentikan) yaitu layanan yang berhubungan dengan identifikasi. Baik otentikasi pihak-pihak yang terlibat dalam pengiriman data maupun otentikasi keaslian data/informasi. • Non-repudiation (anti-penyangkalan) yaitu layanan yang dapat mencegah suatu pihak untuk menyangkal aksi yang dilakukan sebelumnya (menyangkal bahwa pesan tersebut berasal dirinya). Kriptografi amat luas penggunaannya, oleh karena itulah, pada tahun 1972 dan 1974, National of Standart (sekarang bernama NIST) mengumumkan adanya standar enkripsi, yaitu DES (Data Encryption Standard). Dalam proses perkembangannya ternyata kunci dalam DES dirasa terlalu pendek bagi keamanan komersial Akhirnya, NIST mengumumkan AES (Advanced Encryption Standard) pada tahun 1997. AES adalah algoritma simetrik berbasis block cipher yang mengenkripsi/mendekripsi blok berukuran 128 bit dengan panjang kunci yang beragam, yaitu 128, 192, dan 256 bit. Sehingga dikenal tiga tipe AES berdasarkan panjang kuncinya, yaitu AES-128, AES-192, dan AES-256. AES tidak berorientasi bit melainkan berorientasi byte sehingga implementasi AES ke hardware maupun software menjadi efektif. Memori yang dibutuhkan lebih sedikit dan eksekusinya pun lebih cepat dibandingkan dengan DES[3]. b. Digital Rights Management Digital Rights Management merupakan suatu pengaturan hak akses terhadap suatu media digital karena alasan tertentu. Tujuan dari pengaturan hak akses tersebut adalah untuk mencegah penggandaan tanpa ijin dan hak cipta suatu media digital. Seperti diketahui bahwa data digital sangat mudah untuk digandakan dan didistribusikan ke semua peralatan digital[4]. Dengan memanfaatkan teknik digital rights management diharapkan hanya peralatan tertentu saja (sesuai kesepakatan) yang mampu menampilkan data digital yang dimaksud. Digital right management seringkali rancu dengan istilah copy protection karena mempunyai tujuan yang sama. Tetapi secara khusus, DRM hanya
  3. 3. digunakan pada suatu media kreatif seperti citra, suara atau video. Sehingga DRM seringkali diminati oleh para penerbit buku ataupun para seniman digital.III. SKEMA YANG DIAJUKAN Secara umum skema ini diatur sedemikian rupa dengan membuat suatu viewer tersendiri terhadap suatu citra yang sudah dienkripsi. Citra tersebut dienkripsi dengan memanfaatkan data unik yang ada dari suatu mobile device, yaitu IMEI. Citra terenkripsi tersebut selanjutnya dikirim beserta viewer-nya kepada pembeli. Pada saat proses dekripsi, viewer akan mengambil IMEI dari mobile device tempat aplikasi tersebut berada kemudian melakukan dekripsi file citra dengan IMEI tersebut. Adapun skema sederhana tersebut secara keseluruhan adalah sebagai berikut: No   Pembeli   Penjual   1   Pembeli  menentukan  citra  yang   -­‐   dimaksud   2   Meminta  kepada  pembeli  data  dan   -­‐   spesifikasi  mobile  device-­‐nya   3   Mendaftarkan  Mobile  Devicenya   -­‐   kepada  Penjual   4   -­‐   Mencatat  IMEI     5   Melakukan  Enkripsi  citra  yang   -­‐   dimaksud  dengan  IMEI  sebagai  kunci   6   Mengirimkan  citra  +  viewer  kepada   -­‐   pembeli   7   Menjalankan  viewer  untuk  membuka   -­‐   citra   Adapun beberapa ketentuan yang harus dilakukan menyangkut keamanan dari citra itu sendiri adalah sebagai berikut: a. Proses penyandian dilakukan dengan menggunakan AES 128 b. Kunci yang mengambil IMEI sebagai seed kunci c. Citra disimpan dalam mobile device pembeli dalam bentuk terenkrip d. Hasil dekripsi citra dalam mobile device pembeli tidak disimpan dalam memori e. Proses dekripsi mengecek terlebih dahulu IMEI dari mobile device. f. Viewer tidak menyimpan kunci sehingga dapat bersifat publik (tidak rahasia)IV. IMPLEMENTASI DAN ANALISA a. Implementasi Dengan menggunakan emulator Android SDK dan Eclipse IDE sebagai compiler-nya. Pembuatan simulasi program tersebut memanfaatkan komputer laptop dengan spesifikasi procesor intel core 2, RAM 1 GB dan Windows vista sebagai OS-nya.
  4. 4. a b c Gambar 1. Hasil emulator Pada Gambar 1 dijelaskan berturut-turut adalah tampilan saat menjalankan viewer untuk membuka citra yang diinginkan (a), sedangkan pada (b) adalah proses dekripsi dari citra tersebut. Kecepatan proses dekripsi tergantung dari kemampuan processor mobile device yang dimiliki. Sedangkan pada (c) adalah contoh citra yang berhasil didekripsi. Untuk tampilan jika citra dibuka menggunakan mobile device lainnya dengan IMEI yang berbeda akan menampilkan gambar yang tidak terbaca.b. Analisa Dari implementasi tersebut diatas maka dapat ditarik beberapa analisissebagai berikut: • Dengan menggunakan IMEI sebagai kunci bisa diketahui karakteristik unik suatu mobile device. Pemanfaatan karakteristik unik mobile device tersebut dapat dikembangkan seperti no HP atau gabungan dari beberapa item. • Dengan menampilkan sebagai sebuah viewer, aplikasi tersebut masih sangat terbatas penggunaannya. Misalnya, aplikasi tersebut tidak bisa langsung terbuka jika citra yang terenkripsi dibuka (double klik, jika di komputer). Hal ini menjadi kurang praktis jika digunakan oleh pengguna yang awam dengan teknologi mobile device. • Pengembangan skenario ini bisa digunakan untuk multimedia lainnya seperti video on demand atau mp3 lagu-lagu bahkan ebook. Hal ini bisa menjadi alternatif bai para produser film atau penerbit dalam memasarkan film atau bukunya dalam bentuk digital. • Karena IMEI dalam satu mobile device adalah satu maka otomatis penggunaan kunci kriptografi yang digunakan enkripsi dalam satu mobile device adalah satu kunci saja. Belum diketahui mekanisme yang baik untuk menentukan manajemen kunci kriptografi yang digunakan untuk hal yang unik dalam mobile device seperti fingerprint dan lain-lain.
  5. 5. V. SIMPULAN Dari uraian tersebut diatas maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: a. Karena menggunakan RAM untuk tempat file dekripsi citra maka besarnya file sangat terbatas sehingga jika file melebihi RAM akan timbul masalah b. Solusi ini bisa dikembangkan untuk multimedia lainnya seperti music, ebook atapun video. c. Masih perlu dikaji lebih lanjut untuk penggunaan multiple data dalam satu mobile device, terkait keamanan. d. Perlu dicari kunci kriptografi selain IMEI yang mengacu pada nilai otentikasi unik dalam mobile device.VI. REFERENSI a. Jaya, D. (2011). Pemanfaatan Watermarking Untuk Pengamanan Multimedia Digital. Seminar Fungsional Sandiman. Jakarta, Lembaga Sandi Negara. b. Bruce, S. 1996, Applied Cryptography, Protocols, Algorithms, and Source Code in C, John Wiley & Sons, New York. c. Rinaldi, M. 2007, Kriptografi, Informatika, Bandung d. Digital Rights Management: Technological, Economic, Legal and Political Aspects in the European Union, Digital Rights Management org, 2003.  

×