Your SlideShare is downloading. ×
0
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Cio#3 teknik evaluasi investasi ti
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Cio#3 teknik evaluasi investasi ti

1,821

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,821
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
68
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Teknik Evaluasi Investasi TI Joko Hariyono CIO MTI UGM | 2010
  • 2. Klasifikasi• RETURN-ON-INVESTMENT (ROI)• COST-BENEFIT ANALYSIS (CBA)• MULTI-OBJECTIVE, MULTI-CRITERIA METHODS (MOMC)• BOUNDARY VALUES• RETURN-ON-MANAGEMENT (ROM)• INFORMATION ECONOMICS (IE)• CRITICAL SUCCESS FACTORS (CSF)• VALUE ANALYSIS (VA)• EXPERIMENTAL METHODS
  • 3. RETURN-ON-INVESTMENT (ROI)• Pendekatan ROI terdiri dari sejumlah teknik pendekatan formal (Radcliffe, 1982). – Payback method, teknik paling sederhana yaitu menghitung durasi waktu yang diperlukan untuk mengembalikan investasi yang telah dialokasikan. • Diperhitungkan nilai (value) atau manfaat investasi yang akan diperoleh di masa depan dengan “memproyeksikan” besaran nilai tersebut pada saat ini (ketika investasi dilakukan).
  • 4. ROI (1) – Metode Internal Rate of Return (IRR) umumnya digunakan bersama dengan Net Present Value (NPV). IRR adalah nilai perkiraan besaran manfaat yang akan didapat dari implementasi TI di kemudian hari. • Ada dua faktor utama yang sangat sulit untuk ditentukan, yaitu: – Manfaat yang bersifat kualitatif dan intangible, perkembangan TI yang sangat cepat (eksponensial) dan kompetisi yang sedemikian tajam. – Durasi waktu tambahan, terutama proyek dengan ruang lingkup besar dan kompleksitas tinggi. • Jika nilai IRR lebih besar dari ambang batas minimal rasio pengembalian (hurdle rate of return), maka proposal disetujui. • Pendekatan ROI ini diterapkan oleh organisasi yang memiliki disiplin tinggi atau sangat ketat dalam mengelola sumber daya keuangannya. • Kekuatan metode IRR terletak pada kemudahan bagi para pengambil keputusan dalam menentukan keputusan investasi TI. Misalnya lebih besar dari bunga deposito bank atau alat investasi konvensional lainnya.
  • 5. COST-BENEFIT ANALYSIS (CBA)• Metode CBA adalah pendekatan yang mencoba untuk menentukan atau menghitung nilai dari setiap elemen teknologi informasi yang memiliki kontribusi terhadap biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang diperoleh (King et al, 1978). – Metode ini lahir untuk mengantisipasi banyaknya elemen terkait (seperti manfaat) yang tidak memiliki nilai pasar atau harga yang jelas. – Contoh : menghitung manfaat implementasi sebuah sistem teknologi yang memiliki potensi untuk menyelematkan nyawa satu orang? – Elemen yang tidak memiliki value yang jelas dicari nilai padanannya (dalam mata uang) dengan menggunakan berbagai teknik penilaian (valuation technique). Selanjutnya diproyeksikan ke dalam format alur kas (cash flow) atau dengan menggunakan metode ROI. – Kekuatan pada kemampuan mengkonversi manfaat yang bersifat kualitatif maupun intangible. – Kelemahan yang sering terjadi yaitu perbedaan pendapat dalam menentukan teknik yang sesuai dalam mencari value elemen yang nilainya tidak jelas.
  • 6. MULTI-OBJECTIVE, MULTI-CRITERIAMETHODS (MOMC)• MOMC merupakan variasi dari CBA (Vaid-Raizda, 1983).• Metode ini melibatkan sejumlah stakeholders dalam mengukur value dari biaya atau manfaat dalam sejumlah aspek atau elemen TI. – Dalam kerangka ini, utility dipandang lebih penting dibandingkan dengan nilai uang. – Setiap stakeholder melakukan pembobotan (fungsi utilitas) terhadap sejumlah obyektif yang ada (misalnya dilihat dari sisi prioritas atau dampak signifikan dari investasi yang akan dilakukan). – Setelah itu barulah nilai value yang telah disetarakan dengan biaya maupun manfaat yang ada dikalikan dengan masing-masing bobot tersebut untuk memperoleh hasil akhir.• Pendekatan ini selain cocok dipergunakan untuk investasi proyek dengan multi obyektif, sangat tepat dipergunakan untuk meredam konflik yang terjadi antar stakeholder.• Kelebihan metode MOMC jika digunakan untuk lebih dari satu jenis proyek investasi dengan ragam obyektif maupun biaya/manfaat terkait.
  • 7. BOUNDARY VALUES• Metode ini merupakan salah satu cara heuristik yang cukup banyak digemari karena kemudahan dan kesederhanaannya (Martin, 1989).• Prinsip yang dipergunakan adalah melakukan komparasi antara rasio perusahaan dengan rasio rata-rata industri sejenis. – menghitung biaya total yang harus dikeluarkan untuk investasi teknologi informasi dibandingkan dengan sebuah ukuran agregrat tertentu, seperti total pendapatan (revenue) atau total pengeluaran operasional (operating expenses). – Jika rasio perusahaan lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata industri sejenis, maka kenaikan biaya investasi dipertimbangkan sebagai hal yang normal atau seharusnya dilakukan. – Sementara jika terjadi sebaliknya, perlu dipertanyakan kelayakan investasi tersebut.
  • 8. RETURN-ON-MANAGEMENT (ROM)• Metode ROM terkait dengan penghitungan nilai manfaat terkait dengan terjadinya perubahan kenaikan tingkat produktivitas manajemen (Strassman, 1985). – Cara ini bertujuan untuk melihat dampak implementasi sebuah sistem baru terhadap nilai tambah di kalangan manajemen perusahaan. – ROM didefinisikan sebagai hasil perhitungan dari total pendapatan perusahaan dikurangi dengan seluruh biaya dan nilai tambah dari masing-masing sumber daya, kecuali biaya manajemen dan hal terkait dengan manajemen. – Value dari sebuah sistem baru adalah selisih antara ROM sebelum dan setelah sistem diimplementasikan.
  • 9. INFORMATION ECONOMICS (IE)• Dari semua metode yang ada, information economics dinilai sebagai satu-satunya cara yang paling komprehensif dan dinilai dapat menjawab sejumlah faktor dan karakteristik unik serta berbagai isu dan tantangan yang dihadapi dalam mengevaluasi proyek investasi teknologi informasi (Parker et al, 1987). – Merupakan varian dari CBA, yang disesuaikan secara khusus untuk menjawab berbagai faktor ketidakpastian (uncertainties) dan intangible yang kerap ditemukan dalam proyek teknologi informasi. – IE bertujuan untuk menjembatani aspek kuantitatif dan kualitatif dari manfaat teknologi informasi, isu tangible dan intangible, hal-hal yang penuh ketidakpastiaan baik secara strategis maupun operasional, dan terutama yang berkaitan dengan resiko yang dihadapi.
  • 10. IE(1) – Dalam IE, semua hal yang bersifat kuantitatif dan tangible dapat dengan mudah dikalkulasikan dengan menggunakan metode ROI konvensional. – Untuk proses yang bersifat intangible dan memiliki unsur resiko, diberlakukan sejumlah teknik dengan menggunakan ranking dan scoring. Hasilnya kemudian dinilai kembali oleh para eksekutif untuk menentukan nilai relatif dari aspek yang bersifat tangible dan intangible. – Metode ini bertujuan untuk mengidentifikasikan, mengukur, dan me-ranking dampak ekonomis yang timbul akibat diimplementasikannya sistem baru (perubahan kinerja organisasi). Metode ini dikatakan merupakan sebuah teknik CBA yang diperluas karena adanya tiga proses tambahan yang diberlakukan, yaitu: • Value Linking – yang membahas dampak konsekuensi dari perubahan utama di berbagai fungsi organisasi akibat diterapkannya sebuah sistem baru; • Value Acceleration - yang mencoba untuk mendefinisikan nilai tambah yang akan dinikmati oleh perusahaan seandainya sistem baru dipergunakan; dan • Job Enrichment – yang menggambarkan hasil evaluasi terhadap nilai tambah lainnya terkait dengan peningkatan kompetensi dan keahlian dari karyawan perusahaan yang diperoleh karena diterapkannya sistem baru.
  • 11. CRITICAL SUCCESS FACTORS (CSF)• Metode ini bersifat sangat strategis dan generik, namun diminati oleh para pimpinan perusahaan karena relevansinya terhadap bisnis (Rockart, 1979). – Setelah menentukan visi, misi dan obyektif bisnisnya, biasanya para pimpinan perusahaan berusaha untuk mengidentifikasikan critical success factors yaitu faktor-faktor apa saja yang dipandang sebagai kunci keberhasilan bisnis perusahaan. – Setelah CSF berhasil didefinisikan, barulah ditelaah satu per satu, apa saja kontribusi teknologi informasi terhadap masing-masing CSF. – Jika kontribusi teknologi informasi sangat besar terhadap pencapaian sebuah CSF, maka seyogyanya perlu dilakukan investasi terhadapnya. • Misalnya salah satu CSF adalah: “pelayanan prima kepada pelanggan di seluruh dunia” – dimana investasi untuk membangun sebuah sistem Customer Relationship Management (CRM) menjadi suatu keharusan.
  • 12. VALUE ANALYSIS (VA)• VA diperuntukkan untuk teknologi informasi yang memberikan sprektrum manfaat yang cukup luas, termasuk hal-hal intangible (Melone et al, 1984). – Metode ini dibangun dengan prinsip bahwa lebih baik memfokuskan diri pada value atau nilai yang didapat perusahaan dibandingkan dengan usaha untuk mengurangi atau mereduksi biaya. – Filosofi ini didasari pada observasi bahwa setiap inovasi berkembang karena adanya keinginan untuk meningkatkan value tertentu, bukan sekedar untuk melakukan penghematan terhadap biaya semata. – Untuk mendapatkan value yang optimal, kajian terhadap hal-hal yang bersifat intangible harus dilakukan. Terkadang dibangun pula prototip dari sebuah sistem agar manajemen dapat memperkirakan value yang diperoleh seandainya sistem diimplementasikan di kemudian hari. • Ketika sebuah sistem diusulkan untuk dibangun, sejumlah manfaat yang akan diperoleh dipetakan terlebih dahulu. • Kemudian manfaat diklasifikasikan berdasar kategori, masing-masing kategori dihitung/dinyatakan value yang terkait dengannya. Manfaat tersebut umumnya diekspresikan melalui berbagai format, seperti: angka, kalimat, ukuran, dll. • Lalu dipergunakan metode kalkulasi utility seperti pada MOMC.
  • 13. EXPERIMENTAL METHODS• Memperkirakan hasil yang akan terjadi seandainya sistem telah selesai dibangun sangat sulit dilakukan oleh para pengambil keputusan. – Nilai investasi yang terlampau besar, pengerjaan yang diperkirakan memakan waktu cukup lama, dan ketidakpastiaan akan sukses tidaknya proyek merupakan hal-hal yang “menakutkan” bagi para pengambil keputusan, akhirnya memilih untuk tidak melakukan investasi.• Untuk mengatasi hal tersebut, ada beberapa cara ekseperimental yang dapat dipergunakan dalam rangka menjembatani hal tersebut : – Prototyping : membuat prototip dari sebuah sistem besar secara cepat (Alavi, 1984). • Prototip dapat berupa sebuah sub-sistem kecil, atau sistem lengkap dengan kemampuan terbatas. • Manajemen yang merasa ragu-ragu atau sulit mendapat gambaran mengenai sistem yang akan dibangun biasanya memilih sebuah fungsi atau proses bisnis tertentu untuk dibangun prototipnya. Setelah prototip selesai dibangun, barulah didemonstrasikan kepada yang bersangkutan, sehingga manajemen tersebut dapat memperoleh gambaran dan memperkirakan manfaat atau value apa yang dapat diperoleh perusahaan di kemudian hari terkait dengan sistem yang akan dibangun.
  • 14. EXPERIMENTAL METHODS – Simulation : proses pemetaan terhadap situasi bisnis yang akan terjadi di kemudian hari dengan menggunakan perangkat lunak tertentu (software) untuk kemudian disimulasikan (Hertz, 1990). • Tujuannya adalah agar perusahaan dapat melihat secara jelas berbagai ukuran kinerja kuantitatif yang terlihat meningkat dalam tatanan baru tersebut. • Melalui alat simulasi ini manajemen dengan leluasa dapat melakukan berbagai skenario yang dikehendakinya (what-if scenario) terkait dengan nilai investasi yang ingin dikeluarkan. – Gameplaying : pendekatan role play terhadap skenario tertentu yang akan terjadi di kemudian hari seandainya sebuah sistem teknologi informasi diterapkan (Hirschheim, 1985). • Misalnya perusahaan berniat untuk menerapkan sistem e-procurement untuk proses tender. Maka dipertemukan karyawan dan rekanan bisnis terkait dengan proses tersebut untuk membahas seandainya sistem electronic tender tersebut dilaksanakan. Isu maupun manfaat yang diperoleh akan teridentifikasi melalui proses diskusi dari berbagai pihak yang berkepentingan ini.
  • 15. PENUTUP• Disamping seluruh metode di atas, perkembangan selanjutnya ada pendekatan lain yang diperkenalkan untuk mengevaluasi investasi proyek teknologi informasi (House, 1983): – art criticism : menggunakan justifikasi penilaian dari para ahli berdasarkan pengalaman luas mereka mengenai value of IT bagi bisnis. – accreditation : menggunakan sejumlah kriteria atau ukuran standar kualitas dari sebuah investasi yang “baik dan benar”. – adversarial methods : mengambil keputusan setelah mendengarkan dua belah pihak saling “berdebat” mengenai pro dan kontra dari rencana investasi. – analogy : melakukan penggambaran terhadap situasi sejenis yang pernah terjadi sebelumnya), dan lain sebagainya.
  • 16. Referensi• House, E. (ed.) (1983). Philosophy of Evaluation. Sage, San Fransisco and London.• Keen P.G.W. Value Analysis: Justifiying Decision Support Systems. MIS Qtly (March).• King, J. and Schrems, E. (1978). Cost Benefit Analysis in IS Development and Operation. Computing Surveys, March, 19-34.• Parker, M, and Benson, R. With Trainor, H. (1987). Information Economics. Prentice-Hall, Englewood Cliffs, NJ.• Scwalbe, Kathy. (2002). Information Technology Project Management, The Course Technology – Thomson Learning.
  • 17. Terima KasihCIO MTI UGM | 2010

×