• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Menuangkan gagasan dalam karya tulis
 

Menuangkan gagasan dalam karya tulis

on

  • 265 views

 

Statistics

Views

Total Views
265
Views on SlideShare
265
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
4
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Menuangkan gagasan dalam karya tulis Menuangkan gagasan dalam karya tulis Presentation Transcript

    • Menuangkan Gagasan Dalam Karya Tulis Oleh Ichwan Prasetyo Jurnalis SOLOPOS Anggota AJI Solo
    • Fiksi dan Nonfiksi • Menurut saya menulis artikel nonfiksi justru lebih mudah ketimbang fiksi (cerpen, novel, dst). Mengapa? Saya sendiri tidak tahu. Tapi, saya ingin menjadi penulis fiksi dan nonfiksi sekaligus, karena keduanya punya keunggulan masingmasing.
    • Kiat Sederhana • Untuk artikel nonfiksi, menurut saya, kiat dasarnya cukup sederhana. Kita hanya membutuhkan “bahan dasar” sebagai berikut: 1. Ide 2. Berpikir sistematis 3. Data (ini cukup relatif, karena ada juga artikel yang bisa ditulis tanpa harus mencari data) 4. Fokus pada masalah. Jangan suka melebarkan topik ke mana-mana. • Jika keempat poin ini sudah kita miliki, maka Insya Allah, menulis nonfiksi bisa menjadi pekerjaan yang sangat mudah.
    • Ide • Ide itu ada di mana-mana. Kali ini, kita mengambil contoh ide yang sederhana saja, yakni saya ingin membaca buku sebanyakbanyaknya, tapi saya tidak punya waktu dan tidak punya uang untuk membeli buku yang banyak. • Nah, ini adalah ide yang cukup bagus dan bisa kita angkat menjadi sebuah tulisan. Di dalam ide ini terdapat sebuah masalah yang dapat kita kembangkan.
    • Berpikir Sistematis • Setelah idenya ketemu, saatnya kita berpikir sistematis. Menurut saya, berpikir sistematis ini penting sekali. Salah satu kegagalan para penulis pemula adalah mereka belum terbiasa berpikir secara sistematis. • Akibatnya, mereka punya ide, tapi bingung harus mulai dari mana, bagaimaan cara mengembangkannya, dan seterusnya. Karena itu, kalau kita ingin jadi seorang penulis nonfiksi yang berhasil, cobalah mulai berlatih berpikir sistematis. Begitu ada ide, kita analisis secara runut, poin per poin, langkah demi langkah.
    • Analisa • Dari contoh di atas, mari kita coba mengembangkannya berdasarkan pemikiran yang sistematis: • Saya berpendapat bahwa membaca itu sangat penting. Karena itu, saya harus membaca buku sebanyak-banyaknya. • Apa saja manfaat membaca buku itu? • Kendala #01: Saya tak punya waktu yang banyak. Saya sibuk, banyak pekerjaan, dst… • Kendala #02: Uang saya terbatas, sehingga saya tidak bisa membeli buku yang banyak.
    • Analisa • Alternatif pemecahan masalah: – Pinjam di perpustakaan. – Pinjam buku ke teman----perluas pergaulan sehingga makin banyak teman yang bisa meminjamkan buku. – Membaca ketika dalam perjalanan. – Membaca di sela-sela tugas kantor. – Sering-sering browsing di internet, – Dan seterusnya.
    • Analisa • Pembahasan terhadap “alternatif pemecahan masalah”: – Tentang pinjam di perpustakaan: Wah, tidak bisa! Saya juga tak punya waktu untuk meminjam buku ke perpustakaan. Lagipula, saya seringkali belum membaca bukunya, padahal sudah saatnya dikembalikan lagi. – Tentang pinjam ke teman: wah, teman saya sedikit. Saya kan orangnya kuper. – dan seterusnya… • Pemecahan masalah secara menyeluruh • Kesimpulan
    • Analisa • Nah, dari sistem berpikir sistematis tersebut, kita sudah menemukan KERANGKA KARANGAN. • Ya, kerangka karangan ini sangat penting, karena dari sini kita bisa mengembangkan tulisan. • Kerangka tulisan ini bisa kita tulis di kertas, atau cukup disimpan di kepala saja. Terserah kita memilih yang mana, tergantung kebiasaan dan kemampuan masing-masing.
    • Data • Alangkah bagusnya jika tulisan ini kita lengkapi dengan data pendukung. Misalnya: berapa koleksi buku yang telah saya miliki, berapa rata-rata harga buku. Dari total penghasilan saya, berapa rupiah yang dapat saya sisihkan untuk membeli buku. Dan seterusnya. Data ini akan membuat tulisan kita lebih “kaya”.
    • Fokus: Jangan Melebarkan Topik • Nah, ini adalah masalah yang seringkali tidak kita sadari ketika menulis. Sebab, kita merasa bahwa apa yang kita tulis masih berhubungan dengan tema utamanya, padahal sebenarnya tidak terlalu berhubungan, dan tidak perlu dibahas. • Misalnya begini: Ketika menulis tentang ide di atas (kendala saya dalam membaca buku), kita tanpa sadar membahas tentang “gerakan gemar membaca yang dicanangkan pemerintah.” Kita uraikan tema ini panjang lebar, ditambah berbagai data penunjang.
    • Fokus, Jangan Melebarkan Topik • Kalau tema ini dibahas sekilas saja, mungkin tidak terlalu masalah, karena justru bisa menjadi penguat argumen kita bahwa membaca itu memang sangat penting. • Dan memang, tema “gerakan gemar membaca” ini masih berkaitan erat dengan ide yang sedang kita tulis. • Masalahnya adalah, jika kita mulai membahas tema tambahan ini secara panjang lebar, tulisan kita menjadi tidak fokus lagi. • Di dalamnya sudah ada dua tema besar yang samasama kuat. Dan pembaca nantinya akan bingung, “Si penulis ini sebenarnya sedang membahas apa, sih?”
    • Tujuh Elemen Tulisan • 1. Informatif • Esensi sebuah tulisan adalah memberi informasi, bukan merangkai bahasa. Informasilah yang menjadi batu bata penyusun tulisan yang efektif. Untuk menulis efektif, penulis pertama-tama harus mengumpulkan kepingan informasi serta detail konkret yang spesifik dan akurat, bukan kecanggihan retorika atau pernak-pernik bahasa.
    • Tujuh Elemen Tulisan • 2. Signifikan • Tulisan yang baik memiliki dampak pada pembaca. Panjangnya tulisan dan ruwetnya persoalan jangan sampai membuat penulisnya lupa untuk mengaitkan dengan kepetingan pembaca. Penulis harus meletakkan informasi itu dalam sebuah perspektif yang berdimensi: mengandung unsur apa yang telah, sedang, dan akan terjadi.
    • Tujuh Elemen Tulisan • 3. Fokus • Tulisan yang sukses adalah yang bisa secara jelas menyampaikan sebuah pesan. Tidak harus panjang lebar, tetapi justru efektif dan terfokus.
    • Tujuh Elemen Tulisan • 4. Konteks • Tulisan yang efektif mampu meletakkan informasi pada perspektif yang tepat sehingga pembaca tahu dari mana kisah berawal dan kemana mengalir.
    • Tujuh Elemen Tulisan • 5. Wajah • Manusia suka membaca tulisan tentang manusia lainnya. Tulisan akan efektif jika penulisnya mampu mengambil jarak dan membiarkan pembacanya menemui, berkenalan, serta mendengar sendiri gagasan/informasi/perasaan dari manusia-manusia di dalamnya.
    • Tujuh Elemen Tulisan • 6. Bentuk • Tulisan yang efektif mengandung cerita dan sekaligus mengungkapkan cerita. Umumnya tulisan ini berbentuk narasi, dan sebuah narasi bakal sukses jika terdapat pola kronologis aksi-reaksi. Penulis harus kreatif menyusun sebuah bentuk yang memungkinkan pembacanya memiliki kesan lengkap yang memuaskan.
    • Tujuh Elemen Tulisan • 7. Suara • Tulisan akan mudah diingat jika penulisnya mampu menciptakan ilusi bahwa dia sedang bertutur pada pembacanya.
    • Karangan Ilmiah • Skema kerja membuat karangan ilmiah
    • Kaidah Ilmiah • Sadar akan adanya masalah dan perumusan masalah. • Pengamatan dan pengumpulan data yang relevan. • Penyusunan atau klasifikasi data. • Perumusan hipotesis. • Deduksi dan hipotesis. • Tes dan pengujian kebenaran (verifikasi dari hipotesis.
    • Karangan Ilmiah • Jelas terlihat hubungan subjek yang mengamati (S) dengan objek yang diamati (O). S mengamati O, kemudian O diolah/disusun berdasar kaidah-kaidah ilmiah (X). S mengambil jarak dengan O sehingga kehadiran S sedapat mungkin ditiadakan. Yang tinggal adalah O berdasarkan X (OX), yang disebut sebagai karangan ilmiah.
    • Karangan Sastra • Skema kerja membuat karangan sastra
    • Kaidah Sastra • • • • • • Tema Alur Penokohan Latar Sudut pandang Atau: tema, diksi, irama, enjabemen, majas, rancang bangun.
    • Karangan Sastra • Jelas terlihat hubungan subjek (sastrawan) yang mengamati (S) dengan realitas atau objek yang diamati (O). S mengamati O, kemudian O diabaikan dan S membuat rekaan-rekaan yang dapat berkenaan dengan O dapat juga tidak. Jika rekaannya berkaitan dengan O, keberadaan O tidak lagi penting karena yang ada adalah subjek (S) yang mereka dan menulisaknya dalam kaidah sastra (Y) sehingga menghasilkan SY (karya sastra).
    • Artikel/Opini • Skema kerja menulis artikel/opini
    • Artikel/Opini • Terlihat jelas bagaimana hubungan subjek (penulis artikel/opini) yang mengamati (S) dengan kenyataan atau objek yang diamati (O). Pengamat melihat kenyataan sebagaimana kenyataan tersebut hadir dan menggejala di latar kesadaran pengamat. Pengamat langsung menuliskan begitu saja kehadiran objek yang menggejala di latar kesadarannya itu.
    • Artikel/Opini • Kemenggejalaan tersebut tergantung pada sikap, watak, temperamen, minat, perhatian, cakrawala pengalaman dan cakrawala pemahaman pengamat. O dipersepsi S sebagaimana O hadir di latar kesadaran S, sehingga menggejala dialektika OS. OS lah yang kemudian dituliskan oleh S dan disebut artikel/opini.
    • Artikel/Opini • Kepribadian S senantiasa membayang dalam tulisan-tulisan artikel/opini S mengenai O. Keberadaan O tidak dapat diabaikan oleh S sebagaimana S pun tak dihilangkan. Jika S dihilangkan atau direlatifkan maka ia cenderung menjadi karangan ilmiah, jika ditulis berdasar kaidah ilmiah. Sementara jika O diabaikan, ia cenderung menjadi karangan sastra jika kaidah sastra digunakan untuk menuliskannya.