i
ii
JURNAL PENGENDALIAN PENYAKIT
DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN

Desember 2012
ISSN 2089 – 290X

Penerbit
Direktorat Jenderal PP da...
Kata Pengantar
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena Jurnal Pengendalian
Penyakit dan Pengendalian Lingku...
Daftar Isi
Halaman
Hasil Kegiatan Monitoring Resistensi Obat HIV dan AIDS di
Indonesia ………………………………………………………………………..

1-4
...
Hasil Kegiatan Monitoring Resistensi Obat HIV dan AIDS di Indonesia
1

2

2

2

3

3

Tri Yunis Miko W , Fera Ibrahim , Bu...
Mikrobiologi UI. Pemeriksaan genotyping di
Mikrobiologi
UI
dimaksudkan
untuk
memperoleh akreditasi sebagai laboratorium
un...
threshold survey akan diadakan setiap 2 tahun
sekali.
Monitoring Survey
Hasil pemeriksaan dari Burnet Institute
pada monit...
Pengembangan kapasitas laboratorium FK
UI
Untuk menunjang kegiatan HIV Drug
Resistance di Indonesia, maka perlu ada
labora...
Model Harmonisasi Surveilans Epidemiologi dan Virologi Influenza
(H5N1 dan Influenza Lainnya) di Jakarta Timur, Tahun 2011...
Berbagai upaya telah dilakukan untuk
deteksi dini dan respon cepat mengantisipasi
terjadinya penyebaran Avian Influenza di...
Proses identifikasi pasien ILI dilakukan
selama lima hari kerja dalam seminggu
terhadap semua kunjungan Puskesmas.
Proses ...
ditemukan pada akhir tahun 2011. Influenza
A(H3) mendominasi pada awal tahun 2012,
tetapi kemudian influenza B banyak dite...
menjadi tren pada masanya. Sampai saat ini
pola virus yang beredar pada hasil kegiatan ini
dapat dikatakan hampir sama den...
Hubungan Perilaku dan Faktor Lingkungan dengan Kejadian Malaria di
Sangkulirang, Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur
An...
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan
Provinsi Kalimantan Timur selama tahun 2010,
bahwa hasil laporan
penemuan dan
pengob...
sebelumnya
dimana
kuesioner
mengkategorikan analisa berdasarkan tingkat
pengetahuan, perilaku dan hasil observasi
lapangan...
kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat
seperti pengajian, arisan-arisan, posyandu
tentang penyakit malaria dan upaya
pen...
Status Resistensi Nyamuk Anopheles di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi
1

Rita Kusriastuti , Suwito
1

2

Direktorat PPBB D...
Proses Uji
Nyamuk Anopheles diambil dari lapangan
dalam bentuk larva instar 3-4. Nyamuk
dipelihara hingga umur 3-4 hari. S...
Secara teori, resistensi nyamuk terhadap
insektisida dapat dijelaskan karena faktor
genetik, faktor biologis dan faktor op...
Contact Investigation pada Anak yang Tinggal Serumah dengan
Penderita Tuberkulosis di Yogyakarta
1

2

3

Rina Triasih , S...
Faktor risiko

BAHAN DAN CARA
Penelitian ini merupakan penelitian cross
sectional yang dilakukan di Kota Yogyakarta.
Kasus...
dengan sumber infeksi dan kepadatan hunian
rumah. Pada penelitian ini didapatkan bahwa
risiko terinfeksi TB meningkat pada...
Beyers,
N.,
2004.
The
clinical
epidemiology of childhood pulmonary
tuberculosis: A critical review of literature
from
the
...
Perilaku Nyamuk Anopheles di Kabupaten Lampung Selatan,
Provinsi Lampung
Suwito
Sub direktorat Pengendalian Vektor, Direkt...
rumah, masing-masing di luar dan di dalam
rumah.
Waktu
penangkapan
nyamuk
dilakukan 45 menit untuk setiap jam, per
malam. ...
Padangcermin A. sundaicus hinggap di badan
sepanjang malam, mulai pukul 18.00-06.00,
mencapai puncaknya pada pukul 02.00-0...
Jumlah nyamuk yang meningkat pada
bulan November-Desember berkaitan dengan
pola musim. Pada musim hujan jumlah dan
luas pe...
A. barbirostris

Tumpukan kayu
kering di dapur,
dinding rumah
Kelambu, pakaian
menggantung,
dinding rumah
bagian dalam

Re...
DAFTAR PUSTAKA
Bonne-Wepster J, Swellengrebel NH. 1953.
The anopheline mosquitoes of the IndoAustrialian region. Amsterdam...
Implementasi Public Private Mix Program DOTS pada Dokter Praktik Swasta
dalam Pengendalian Tuberkulosis di Kabupaten Malan...
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012

6,631

Published on

Published in: News & Politics
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
6,631
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
251
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Jurnal Ditjen PP dan PL Kemenkes RI Tahun 2012

  1. 1. i
  2. 2. ii
  3. 3. JURNAL PENGENDALIAN PENYAKIT DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN Desember 2012 ISSN 2089 – 290X Penerbit Direktorat Jenderal PP dan PL, Kementerian Kesehatan RI DEWAN REDAKSI Penasihat Direktur Jenderal PP dan PL Sekretaris Ditjen PP dan PL Penanggung Jawab Kepala Bagian Hukormas Redaktur Sri Handini, SH, M.Kes, MH dr. Ita Dahlia, MH.Kes dr. Ramadona Triadi Dyah Prabaningrum, SKM DR. Lukman Hakim Editor Dr. Toni Wandra, M.Kes, Ph.D DR. Hari Santoso, M.Epid Dr. Suwito, SKM, M.Kes Desain Grafis/Fotografer Putri Kusumawardhani, ST Eriana Sitompul Bukhari Iskandar, SKM Sekretariat Dr. Grace Ginting, MARS Mugi Wahidin, SKM Hilwati, SKM, M.Kes Risma, SKM Dewi Nurul Triastuti, SKM Ahmad Abdul Hay, SKM Siti Djubaidah Murniaty, SE Aditya Pratama, Si.Kom Indah Nuraprilyanti, SKM Alamat Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Jl. Percetakan Negara No. 29 Jakarta 10560 Telepon/Faks: (021) 4223451 e-mail : hoh.pppl@yahoo.com, website: www.pppl.depkes.go.id facebook: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan iii
  4. 4. Kata Pengantar Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena Jurnal Pengendalian Penyakit dan Pengendalian Lingkungan Tahun 2012 telah dapat disusun dan diterbitkan. Jurnal ini disusun untuk memenuhi kebutuhan pembaca dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan khususnya pengendalian penyakit, baik yang menular maupun tidak menular serta penyehatan lingkungan di Indonesia. Jurnal ini disajikan dengan materi-materi yang pernah dilakukan kajian atau survei dari Unit Satuan Kerja di lingkungan Direktorat Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, dengan tujuan dapat membantu pembaca mengetahui perkembangan terbaru tentang program pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan. Pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan jurnal ini dan kepada seluruh pembaca jurnal atas kesediaan untuk memberikan saran dan kritik dalam penyempurnaan jurnal ini. Akhir kata, semoga jurnal ini dapat memberikan motivasi dan dorongan, serta bermanfaat bagi kita semua. Jakarta, Desember 2012 iv
  5. 5. Daftar Isi Halaman Hasil Kegiatan Monitoring Resistensi Obat HIV dan AIDS di Indonesia ……………………………………………………………………….. 1-4 Model Harmonisasi Surveilans Epidemiologi dan Virologi Influenza (H5N1 dan Influenza) di Jakarta Timur, Tahun 2011 – 2012 ..................................................................................... 5-9 Hubungan Perilaku dan Faktor Lingkungan dengan Kejadian Malaria di Sangkulirang, Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur .... 10-13 Status Resistensi Nyamuk Anopheles di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi ………………………………………………………………………… 14-16 Contact Investigation pada Anak yang Tinggal Serumah dengan Penderita Tuberkulosis di Yogyakarta …………………………………… 17-20 Perilaku Nyamuk Anopheles di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung …………………………………………………………….. 21-26 Implementasi Public Private Mix Program DOTS pada Dokter Praktik Swasta dalam Pengendalian Tuberkulosis di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, Tahun 2011 …..…………………………. 27-29 Hasil Kajian Peningkatan Deteksi Kasus Tuberkulosis di Daerah Sulit Dijangkau di Provinsi Maluku ..………………………………………. 30-32 Kajian Pengembangan Pengendalian Penyakit Tiroid di Kota Kendari, Semarang, Tarakan, Kabupaten Gorontalo, dan Kabupaten Gianyar, Tahun 2011 ..................................................... 33-35 Entomological Inoculation Rate (EIR) Wilayah Perkebunan di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Tahun 2008 dan 2009 . 36-39 Pengolahan Limbah Medis Padat Rumah Sakit di Indonesia, Tahun 2009 – 2012 ..................................................................................... 40-43 Proses Pengelolaan Air Limbah di BBTKLPP Jakarta ...................... 44-46 v
  6. 6. Hasil Kegiatan Monitoring Resistensi Obat HIV dan AIDS di Indonesia 1 2 2 2 3 3 Tri Yunis Miko W , Fera Ibrahim , Budiman Bela , Andi Yasmon , Siti Nadia Tarmizi , Naning Nugrahini , Victoria 3 3 4 4 4 Indrawati , Rachma Febriana , Oscar Martin Barreneche , Sri Pandam Pulungsih , Janto G.Lingga , Martha 4 4 Akila , Fetty Wijayanti 1 2 Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Departemen Mikrobiologi, 4 3 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Subdit AIDS dan PMS Direktorat Jenderal PP dan PL, WHO Indonesia Abstrak. Indonesia merupakan negara berkembang yang memilliki Triple Burden of Diseases, dimana pada saat ini Indonesia memiliki masalah kesehatan baik masalah penyakit menular, tidak menular dan penyakit-penyakit baru muncul (new emerging diseases). Salah satu masalah penyakit menular di Indonesia adalah penyakit HIV dan AIDS. Penyakit ini meningkat dengan cepat sejak ditemukan kasus pertama kali pada tahun 1980. Hingga Juni tahun 2012, jumlah penderitanya telah mencapai 86.762 kasus HIV dan 29.421 kasus AIDS. Dengan peningkatan yang cepat tersebut, maka pada tahun 2004 Indonesia telah melaksanakan pengobatan massal terhadap penderita HIV dan AIDS . Dimulai dengan menunjuk beberapa rumah sakit sebagai tempat pelayanan pengobatan Anti Retro Viral (ARV), hingga sekarang jumlah tempat pelayanan ARV tersebut telah berjumlah 323 Rumah Sakit, terdiri dari 238 RS Rujukan PDP (induk) dan 85 satelit. Oleh karena itu untuk memonitor dampak pengobatan massal yang sudah semakin meluas, maka pada tahun 2008 Kementerian Kesehatan membentuk Tim Nasional HIV Drug Resistances dengan beranggotakan para ahli, WHO, dan subdit AIDS dan PMS. Kata Kunci: Monitoring, Obat, HIV dan AIDS. Koresponden: Dr. Tri Yunis Miko Wahyono, MSc Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Telp. 0818177817; 02178849031; 7863474 Faks. 02178849032 Email:triyunis@yahoo.com PENDAHULUAN Sesuai dengan rekomendasi World Health Organization (WHO) pemantauan resistensi obat HIV dan AIDS (selanjutnya disebut resistensi obat HIV) di Indonesia terdiri dari tiga kegiatan yaitu: (1) Survey ambang batas (HIV DR threshold survey) yang bertujuan untuk melihat prevelensi resistensi primer pada orang yang baru terkena HIV; (2) Survey monitoring (HIV DR monitoring survey) yang bertujuan untuk melihat efektivitas pengobatan ARV; dan (3) Indikator kewaspadaan dini (Early Warning Indicators/EWIs monitoring) yang bertujuan untuk melihat indikator kewaspadaan dini (Indikator EWI1-EWI6) di setiap tempat pelayanan ARV. Selain itu untuk mendukung monitoring resistensi obat HIV tersebut juga (4) dikembangkan laboratorium untuk pemeriksaan resistensi obat HIV (genotyping test). Tujuan penelitian ini untuk memantau resistensi obat HIV di Indonesia BAHAN DAN CARA Threshold Survey Threshold survey pertama kali diadakan di Jakarta. Tujuan dari survei ambang ini adalah (1) Untuk melihat estimasi prevalensi dari transmisi resistensi obat ARV di Jakarta; dan (2) Untuk mengevaluasi prosedur survei ini untuk digunakan pada threshold survey selanjutnya di daerah yang berbeda. Desain studi penelitian ini adalah cross sectional dengan menggunakan data dan spesimen darah untuk genotyping test dari masing-masing sampel. Populasi pada survei ini adalah pengguna jarum suntik (penasun/IDUs) yang berumur 21 tahun ke bawah yang belum menunjukan gejala AIDS (HIV asimptomatik) dan belum mendapat Anti Retroviral Treatment/ART (ART-naive). Berdasarkan perhitungan binomial sequential sampling, dibutuhkan jumlah sampel minimal sebanyak 47 sampel, tetapi untuk antisipasi non respons rate, maka jumlah sampel ditambah menjadi 70 sampel. Prevalensi transmisi resistensi primer HIV DR pada survei ini berdasarkan teknik sampling tersebut. Selanjutnya diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu: (1) Low prevalence, bila tingkat transmisi resistensi primer <5%; (2) High prevalence (≥15%); dan (3) Moderate prevalence: (5%-15%). Threshold survey pertama telah dilaksanakan pada bulan April 2006 sampai September 2007 di lima pilot site, yaitu Pokdisus RSCM, RSK Dharmais, RS Fatmawati, Kios Atma Jaya, dan Pamardi Siwi. Pemeriksaan genotyping test ini dilakukan secara duplo di dua laboratorium, yaitu di laboraturium rujukan WHO di St. Vincent (Australia) dan di laboratorium 1
  7. 7. Mikrobiologi UI. Pemeriksaan genotyping di Mikrobiologi UI dimaksudkan untuk memperoleh akreditasi sebagai laboratorium untuk pemeriksaan genotipik AIDS dengan teknik in-house. Monitoring Survey Monitoring survey HIV DR adalah survei yang dilakukan untuk melihat efektivitas ARV selama pengobatan ARV disuatu tempat pelayanan ARV. Tujuan monitoring survei adalah: (1) Untuk melihat estimasi proporsi populasi yang menerima ART dan hubungannya dengan pencegahan resistensi obat ARV (efektivitas ARV); (2) Untuk mengidentifikasi mutasi spesifik resistensi obat ARV dan pola mutasi pada populasi yang tidak menerima obat ARV lini pertama; (3) Untuk melihat hubungan antara faktor program dengan pencegahan resistensi obat HIV; dan (4) Sebagai bahan evaluasi dalam mengoptimalkan fungsi program ART di tempat pelayanan ARV. Monitoring survey ini merupakan suatu studi penelitian ini dengan desain kohort. Populasi pada survei ini adalah pasien yang berusia 15 tahun ke atas dan baru memulai ART yang akan diikuti selama 12 bulan pertama. Jumlah sampel minimal untuk penelitian ini adalah 96 sampel dan ditambah dengan perkiraan sampel yang meninggal dan transfer-out, maka jumlah sampel keseluruhan yang diambil sebanyak 110-130 sampel. Dari monitoring survei ini resistensi obat dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori yaitu: (1) HIVDR prevention, apabila supresi RNA HIV <1000 copies/ml; (2) Possible HIVDR, apabila viral load terdeteksi tetapi mutasi resistensi HIV tidak terdeteksi atau sampel loss of follow up atau sample berhenti menggunakan ART; dan (3) HIV DR, apabila terdeteksi setidaknya satu resistensi mayor yang sesuai dengan standar genotyping resistensi obat HIV dari WHO. Monitoring survey HIV DR pertama kali dilaksanakan pada bulan September 2008 sampai Januari 2010 di RSPI Sulianti Saroso. Pemeriksaan genotyping test pada survei ini dilakukan di laboratorium rujukan WHO di Burnet Institute, Australia. Selain itu, genotyping test juga dilakukan di Laboratorium mikrobiologi FK UI. Jumlah sampel baseline pada survey ini sebanyak 110 sampel dan sampel endline sebanyak 76 sampel. Early Warning Indicators (EWIs) Early Warning Indicators (EWIs) bertujuan untuk mengevaluasi program ART yang telah dilaksanakan di Indonesia. Kegiatan EWIs dilakukan dengan mengukur enam indikator yang dilihat dari pencatatan dan pelaporan yang ada di rumah sakit. Keenam indikator tersebut adalah: (1) Persentase pasien yang mendapatkan resep obat ARV sesuai dengan standar nasional; (2) Persentase gagal follow up setelah 12 bulan menggunakan ARV; (3) Persentase pasien yang tetap menggunakan ARV lini pertama selama 12 bulan sejak memulai ART; (4) Persentase pasien yang mengambil obat ARV tepat waktu; (5) Persentase pasien yang memenuhi jadwal kunjungan untuk mengambil ARV, dan (6) Keberlangsungan suplai obat ARV. Kegiatan Early Warning Indicators (EWIs) 2009 dilaksanakan pada empat pilot site yang telah terpilih yaitu RSK Dharmais, RSPI Sulianti Saroso, RSKO Cibubur, dan RSPAD Gatot Soebroto. Pemilihan keempat site tersebut dilakukan oleh Subdit AIDS dan PMS dengan asistensi konsultan dari WHO HQ dan WHO. Pelaksanaan kegiatan ini akan dilaksanakan pada masing-masing site. Untuk input data indikator EWIs dilakukan oleh staf pencatatan pelaporan dan farmasi pada layanan yang terpilih. Sedangkan untuk analisis data dilakukan oleh tim HIVDR. Setelah pilot di 4 site di Jakarta, selanjutnya dilakukan EWIs monitoring di 16 RS di 6 Propinsi pada tahun 2011. Rumah sakit yang melaksanakan EWIs 2011 tersebut adalah RSK Dharmais, RSPAD Gatot Soebroto, RSPI Sulianti Saroso, RSKO Cibubur, RS Hasan Sadikin, RS dr. Kariadi, RS Sardjito, RS dr. Soetomo, RS Karang Tembok, RS Ramelan, RS Sanglah, RS Buleleng, RS Wangaya, RS Badung, RS Sanjiwani, dan RSTabanan. Dari 16 rumah sakit tersebut hanya 12 rumah sakit yang memberikan data lengkap untuk 6 indikator EWI. HASIL DAN PEMBAHASAN Threshold Survey Hasil genotyping tes dari St. Vincent diterima pada bulan Oktober 2007. Hasil dari genotyping tersebut menunjukkan bahwa tingkat transmisi resistensi primer ARV di Indonesia di kalangan pengguna jarum suntik kurang dari 5% (low prevalence). Oleh karena tingkat resistensi di Indonesia masih berada dalam kategori low prevalence, maka 2
  8. 8. threshold survey akan diadakan setiap 2 tahun sekali. Monitoring Survey Hasil pemeriksaan dari Burnet Institute pada monitoring survey di RSPI Sulianti Saroso menunjukkan bahwa tingkat resistensi yang didapatkan 25% (9.2% HIV DR dan 15.8% possible resistance) atau tingkat efektivitas ARV masih 75%. Hal itu menunjukkan bahwa pengobatan ARV lini pertama masih efektif digunakan. Early Warning Indicators (EWIs) Hasil pilot EWIs tahun 2010 (data tahun 2008) menunjukkan hasil bahwa masih ada layanan yang menggunakan rejimen obat tidak sesuai dengan standar nasional. Kemudian angka gagal follow-up juga masih tinggi yaitu di atas 20%. Selain itu angka ketepatan waktu untuk pengambilan obat dan konsultasi klinik juga masih rendah. Untuk ketersediaan suplai obat, masih ada layanan yang mengalami kekurangan obat pada tahun tersebut. ada lagi layanan yang kekurangan stok obat. Kemudian, angka gagal follow-up juga sudah mulai menurun. Akan tetapi angka ketepatan waktu mengambil obat masih belum memenuhi target yang ada (lihat tabel 2). Tabel 2. Hasil monitoring EWIs di 12 sites pada 6 propinsi, tahun 2011 EWI 1 EWI 2 EWI 3 EWI 4 EWI 5 2 <20% >70% >90% >80% 100% RS B RS C Sample size 3 RS D Sample size RS E Sample size 5 RS F Sample size 6 100% 6 Target EWIs RS G Sample size Hospital A 98% 19% 94% 36% 66% 92% Sample size 125 125 125 74 70 12 months 100% 24% 100% 49% 67% 2 3 4 EWI 5 EWI 6 100% Sample size 4 EWI 1 EWI <20% >70% >90% >80% 100% 100% 0% 55.24% 42% 92% 100% 110 110 110 145 145 12 bulan 100% 0% 75% 13% 72% 100% 57 57 57 75 75 12 bulan 100% 1% 81.25% 43% 91% 100% 100 100 100 100 100 12 bulan 100% 2% 75.76% 41% 88% 100% 75 75 75 100 100 12 bulan 100% 0% 98.33% 36% 70% 100% 120 120 120 155 155 12 bulan 100% 23% 16.47% 25% 77% 100% 100 100 100 100 100 12 bulan 100% 30% 53.80% 35% 94% 100% 231 231 231 151 151 12 bulan 100% 0% 75.00% 83% 83% 100% 10 10 10 6 6 12 bulan 100% 3% 90.83% 24% 90% 100% 120 120 120 160 160 12 bulan 100% 4% 85.19% 42% 92% 92% 35 35 35 13 12 12 bulan 100% 19% 48.57% 83% 91% 100% 36 36 36 23 23 12 bulan 100% 8% 68.97% 48% 100% 92% 32 32 32 27 27 12 bulan Target EWIs Tabel 1. Hasil monitoring EWIs di 4 pilot sites di Jakarta, tahun 2008 EWI EWI 1 No. EWI 100% Hospital B 7 RS I Sample size 8 RS J Sample size Sample size Hospital C Sample size Hospital D 87 87 87 45 45 12 months 100% 29% 100% 33% 67% 92% 30 30 30 9 9 12 months 9 Sample size 10 RS N Sample size 100% 31% 98% 15% 86% 100% 11 Sample size RS L 62 62 62 13 13 12 months Pada pemantauan EWIs selanjutnya pada tahun 2011 (data tahun 2009), dapat terlihat bahwa sudah seluruh layanan ART memberikan rejimen obat sesuai dengan standar nasional yang ada dan sudah tidak RS O Sample size 12 RS P Sample size 3
  9. 9. Pengembangan kapasitas laboratorium FK UI Untuk menunjang kegiatan HIV Drug Resistance di Indonesia, maka perlu ada laboratorium yang dapat melakukan pemeriksaan HIV Drug Resistance (genotyping test). Berdasarkan penilaian, maka laboratorium mikrobiologi FK UI terpilih sebagai laboratorium yang akan dijadikan rujukan untuk pemeriksaan HIV Drug Resistance. Pemilihan tersebut didasarkan bahwa laboratorium sudah memiliki BSL2 dan BSL 3 serta memiliki pengalaman melakukan genotyping test dan memiliki sumber daya manusia yang memiliki kapasitas dalam pemeriksaan tersebut. Saat ini Laboratorium FK UI masih dalam tahap proses akreditasi untuk genotyping resistensi obat HIV. Akreditasi tersebut didapat apabila pihak laboratorium FK UI sudah mampu melakukan genotyping test secara rutin minimal 100 sampel setiap tahunnya. Laboratorium ini telah mendapatkan sertifikasi proficiensy test yang dilakukan oleh jaringan laboratorium regional (Resnet) yang menunjukkan bahwa laboratorium mikrobiologi FK UI telah dianggap mampu melakukan genotyping test dengan baik (proficient). WHO, 2010. HIV Drug Resistance Early Warning Indicators to monitor HIV Drug Resistance prevention at antiretroviral treatment sites, Genewa. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil tiga kegiatan pemantauan resistensi obat HIV yang sudah dilaksanakan di Indonesia, menunjukan hasil bahwa pengobatan ARV di Indonesia masih efektif. Walaupun seperti itu, faktor-faktor pemicu resistensi di Indonesia harus selalu dipantau setiap tahunnya untuk mencegah terjadinya resistensi obat tersebut. DAFTAR PUSTAKA Kementerian Kesehatan RI, 2012. Laporan Perkembangan HIV-AIDS di Indonesia. Jakarta. WHO, 2006. Protocol for evaluation of transmitted HIV drug resistance using specimens from HIV, Genewa WHO, 2009. Protokol for Surveys to Monitor HIV Drug Resistance Prevention and Associated Factors in Sentinel Antiretroviral Treatment Sites, Geneva. 4
  10. 10. Model Harmonisasi Surveilans Epidemiologi dan Virologi Influenza (H5N1 dan Influenza Lainnya) di Jakarta Timur, Tahun 2011-2012 1 1 1 1 1 1 Rita Kusriastuti , Misriyah , Regina T Sidjabat , Sinurtina Sihombing , Chita Septiawati , Romadona Triada , 1 1 2 3 3 3 Anjar Kusnawardani , Puji Sulistyarini , Vivi Setiawati , Amalya , Yekti Praptiningsih , Gina Samaan 1 2 Direktorat PPBB, Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 3 Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbangkes. CDC Atlanta Abstrak. Situasi epidemiologi serta pola musiman influenza di Indonesia belum banyak diketahui. Di Indonesia, penyakit influenza kurang mendapat perhatian karena dianggap penyakit ringan dan tidak membahayakan. Namun sejak tahun 2005, yaitu saat ditemukannya kasus H5N1 pada manusia di Indonesia, masyarakat maupun pemerinta mulai menaruh perhatian pada penyakit ini. Berbagai upaya dilakukan termasuk upaya untuk mengetahui faktor risiko, gejala klinis dan pola musiman dan besaran masalah influenza khususnya H5N1. Salah satunya adalah dengan dilaksanakannya Harmonisasi Surveilans Epidemiologi dan Virologi Influenza di wilayah Jakarta Timur yang bertujuan untuk mengetahui epidemilogi influenza H5N1dan influenza subtipe lainnya. Surveilans ini dilaksanakan sejak Agustus 2011, dilaksanakan di 4 puskesmas untuk menjaring pasien yang mengalami gejala ILI (Influenza Like Illness) dengan panas lebih dari 38°C dengan batuk dan atau sakit tenggorok dan 6 rumah sakit untuk menjaring pasien yang mengalami gejala SARI (Severe Acute Respiratory Infection) dengan panas lebih dari 38°C atau ada riwayat panas, disertai batuk atau sakit tenggorok dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Setiap hari puskesmas mengindentifikasi kasus ILI dan rumah sakit mengindentifikasi SARI, selanjutnya pasien diambil usap hidung dan tenggorokan untuk diperiksa dengan RTPCR di Labkesda Provinsi DKI Jakarta. Analisa dilakukan untuk melihat proporsi, kecenderungan penyakit serta jenis virus yang beredar.Sejak Agustus 2011 hingga Juli 2012, terdapat 3.096 kasus ILI yang ditemukan di puskesmas dan 38% diantaranya positif influenza. Pada rumah sakit ditemukan 1.641 kasus SARI dan 17% diantaranya positif influenza. Jenis virus influenza A (H1N1pdm 2009) merupakan subtipe virus yang paling banyak ditemukan pada akhir tahun 2011. Sedangkan influenza (H3) mendominasi pada awal tahun 2012, tetapi kemudian Influenza B banyak ditemukan sejak bulan Maret 2012 hingga Juli 2012. Hal ini ditemukan baik pada kasus ILI maupun pada kasus SARI.Virus influenza merupakan virus yang biasa beredar di masyarakat kita, hal ini dapat dilihat dari adanya 38% kasus ILI di puskesmas yang positif influenza. Disamping itu, influenza juga terdapat pada pasien-pasien dengan penyakit pernapasan berat yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Hal ini dapat dilihat dari 17% pasien SARI adalah positif influenza. Berbagai jenis influenza musiman seperti influenza A H1N1 2009, H3N2, dan influenza B beredar dengan pola yang berbeda dari waktu ke waktu. Kata Kunci : Virologi, Influenza Koresponden: drh. Misriyah, Telp.081310971683 Faks. 021-4266270, Email: misriyahimut@yahoo.com PENDAHULUAN Ancaman terhadap potensi terjadinya pandemi yang disebabkan oleh penyebaran virus highly pathogenic Avian Influenza A(H5N1) telah menjadi perhatian dunia. Virus H5N1 pertama kali diketahui menginfeksi manusia pada waktu terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di Hongkong pada tahun 1997, namun tidak ada laporan secara regular hingga akhir tahun 2003 {Kung, 2007 #2165}. Infeksi pada manusia diketahui berhubungan dengan penyebaran yang luas infeksi virus influenza A (H5N1) pada unggas di wilayah Asia, Afrika dan Timur Tengah, termasuk juga pada unggas liar {World Health Organization, 2005 #2627;Yee, 2009 #3251}. Beberapa negara telah menyusun rencana kesiapsiagaan menghadapi pandemi dan membangun sistim surveilans epidemiologi yang merupakan faktor kunci dalam menghadapi atau mengantisipasi serta merespon kemungkinan terjadinya pandemi. Di Indonesia virus Avian Influenza pertama kali ditemukan pada unggas bulan Agustus tahun 2003 di Kabupaten Pekalongan, Propinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten {Kandun, 2006 #2047}. Selanjutnya terjadi penyebaran dan perluasan penularan infeksi pada unggas ke berbagai wilayah di Indonesia. Pemerintah melalui Menteri Pertanian menyatakan terjadinya KLB/Wabah Avian Influenza pada unggas pada tanggal 25 Januari 2004. Kasus pada manusia pertama kali diawali laporan adanya sinyal klaster pneumonia pada 1 keluarga (bapak dan anak) dari Rumah Sakit di Kabupaten Tangerang pada akhir Juni 2005 {Kandun, 2006 #2047}. 5
  11. 11. Berbagai upaya telah dilakukan untuk deteksi dini dan respon cepat mengantisipasi terjadinya penyebaran Avian Influenza di Indonesia, diantaranya melalui Surveilans Sentinel Kewaspadaan Dini dan Kejadian Luar Biasa (SKD KLB/EWARS), Sistem Surveilans Influenza Like Illnes (ILI) berbasis epidemiologi, Surveilans ILI berbasis Virologi dan Surveilans Sentinel Severe Acute Respiratory Infection (SARI) dan Surveilans Sentinel Pneumonia di Puskesmas dan Rumah Sakit. Berbagai kegiatan Surveilans tersebut baik epidemiologi maupun virologi yang dilakukan oleh Badan Litbangkes maupun oleh Ditjen PP dan PL belum terintegrasi dan harmonisasi dalam sistem manajemen datanya sehingga pemanfaatan informasinya belum optimal. Oleh karena itu proses harmonisasi dan integrasi surveilans ILI berbasis Epidemiologi dan Virologi yang sedang dalam proses perlu dilanjutkan dan segera terwujud modelnya. Mencermati situasi di lapangan dimana salah satunya di Jakarta Timur merupakan daerah yang tergolong berisiko tinggi penularan virus A(H5N1) serta kenyataan bahwa sejak tahun 2005 ditemukan 12 kasus A(H5N1) di wilayah Jakarta Timur. Tingginya risiko penularan virus A(H5N1) di wilayah Jakarta Timur karena wilayah yang berpopulasi sekitar 2,6 juta penduduk tersebut mempunyai tempat pengumpul ayam yang cukup banyak, dan juga merupakan wilayah pintu masuk pengiriman unggas yang datang dari wilayah timur dan tengah pulau Jawa. Dari 182 tempat penampungan unggas di Jakarta terdapat 114 (62,6%) berada di Jakarta Timur sedangkan dari 1.175 tempat pemotongan unggas terdapat 926 (78,8%) juga berada di Jakarta Timur. Jumlah pasar tradisional di Jakarta Timur ada 314 pasar (36,5%) dari 859 pasar tradisional yang ada di Jakarta. Infeksi terbanyak pada peternak unggas halaman rumah dan masyarakat umum yang terpapar pencemaran lingkungan infeksi H5N1. Untuk mewujudkan harmonisasi dan integrasi survelans ILI, SARI, Pneumonia yang sudah berjalan dalam rangka deteksi dini respon cepat sebagai antisipasi kemungkinan terjadinya Pandemi Influenza dimasa datang perlu di lakukan kegiatan uji percontohan lapangan Model Harmonisasi Surveilans Epidemiologi dan Virologi Influenza (H5N1 dan Influenza Lainnya) Berbasis Sentinel di Jakarta Timur. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran epidemiologi dan virologi influenza (H5N1 dan Influenza lainnya) melalui surveilans berbasis sentinel di Jakarta Timur. Secara khusus diantaranya kegiatan ini untuk mengetahui: 1. Proporsi subtipe H5N1 dan influenza subtipe lainnya di puskesmas dan rumah sakit. 2. Model sentinel surveilans terpadu epidemiologi dan virologi. BAHAN DAN CARA Dalam kegiatan Model Harmonisasi Surveilans Epidemiologi dan Virologi Influenza (H5N1 dan Influenza Lainnya) Berbasis Sentinel di Jakarta Timur melibatkan 4 Puskesmas dan 6 Rumah Sakit. Kegiatan ini menggunakan dua metode yaitu Surveilans Influenza-Like Illnes (ILI) dan Surveilans Severe Acute Respiratory Infection (SARI). Surveilans Influenza-Like Illness (ILI) Kegiatan surveilans ILI dilaksanakan di 4 Puskesmas Kecamatan. Definisi kasus ILI yang digunakan adalah demam dengan suhu ≥ 38⁰C DAN batuk atau sakit tenggorokan. Surveilans Severe Acute Respiratory Infection (SARI) Kegiatan Surveilans SARI dilaksanakan di 6 Rumah Sakit. Definisi kasus SARI yang digunakan adalah: Untuk pasien rawat inap berusia >5 tahun  Demam mendadak (dalam 7 hari terakhir) dengan suhu > 38⁰ C atau ada riwayat panas (subyektif) DAN  Batuk atau sakit tenggorokan DAN  Memerlukan perawatan di Rumah Sakit Untuk pasien rawat inap berusia <5 tahun  Batuk atau sesak nafas  DAN mempunyai frekuensi nafas: o >60 kali/menit untuk bayi <2 bulan o >50 kali/menit untuk bayi 2-12 bulan o >40 kali/menit untuk anak 1-5 tahun  DAN memerlukan perawatan di Rumah Sakit ATAU  Batuk atau sesak nafas  DAN sekurang-kurangnya satu dari gejala berikut: o Tarikan dinding dada atau stridor o Kejang o Kesadaran Menurun o Tidak bisa minum atau menyusu o Muntah  DAN memerlukan perawatan di Rumah Sakit Proses Surveilans 6
  12. 12. Proses identifikasi pasien ILI dilakukan selama lima hari kerja dalam seminggu terhadap semua kunjungan Puskesmas. Proses identifikasi pasien SARI dilakukan setiap hari, selama tujuh hari kerja dalam seminggu, terhadap seluruh pasien rawat inap yang memenuhi definisi kasus SARI. Sebelum melakukan kegiatan pasien diberi penjelasan tentang maksud, tujuan dan manfaat survei ini serta menandatangani informed consent. Kegiatan ini menggunakan formulir quisioner yang ditanyakan kepada pasien sesuai kriteria ILI dan SARI. Setelah itu pasien diambil spesimen hidung dan tenggorok. Spesimen tersebut disimpan sementara di lemari pendingin sentinel dan akan diambil oleh kurir keesokan harinya. Kurir mengantarkan spesimen ke laboratorium yang ditunjuk. Laboratorium mengerjakan spesimen dan memberikan hasilnya kepada data manager dalam 1-2 hari. Data manager akan mengentry formulir quisioner dan hasil laboratorium ke dalam website khusus. Website dapat dilihat oleh masing-masing sentinel yang terlibat. Laboratorium Uji real time RT-PCR dilakukan terhadap semua spesimen ILI dan SARI {World Health Organization, 2002 #2580}. Untuk spesimen ILI, uji rt RT-PCR dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi DKI Jakarta. Sedangkan untuk spesimen SARI, uji rt RTPCR dilakukan di Laboratorium RS. Sulianti Saroso. Dalam menjaga hasil yang baik maka dilakukan Quality Control (QC)oleh laboratorium rujukan nasional yaitu Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan (BTDK). Pemeriksaan QC oleh BTDK dilakukan sebanyak 10% dari total spesimen. Pelaporan Online Data yang dikumpulkan dari setiap site sentinel dilaporkan secara online melalui website khusus surveilans influenza Jakarta Timur, termasuk hasil uji laboratorium. Data Analisis Kegiatan ini bersifat surveilans aktif untuk mencari besaran kasus influenza yang terjadi di wilayah Jakarta Timur dengan melibatkan 6 Rumah Sakit dan 4 Puskesmas. Beberapa proses kegiatan dilakukan untuk menjaga kualitas data seperti yang terlihat pada Tabel 1. Tabel 1. Proses Kualitas Data Dalam Sistem Surveilans Proses dalam sistem Harian Hasil laboratorium Entri data Catur wulan Tahunan √ Verifikasi data Bulanan √ √ Monitoring √ Supervisi √ √ Analisis data Monitoring logistik √ √ Entri data baik hasil kuesioner maupun laboratorium dilakukan setiap hari dan ditampilkan ke dalam website. Selain itu verifikasi data apabila terdapat entri data yang kurang dari sentinel oleh data manager. Monitoring dan supervisi (monev) dilakukan setiap bulan oleh tim gabungan dari Subdit Pengendalian Zoonosis dan CDC. Selama monev tim mendiskusikan tentang kendala yang dihadapi setiap sentinel baik dari penjaringan pasien, pengambilan dan penyimpanan spesimen. Monev juga dilakukan terhadap entri data kuesioner ke website oleh sentinel serta persediaan logistik agar tidak terjadi stockout. Dengan adanya monev diharapkan apabila terdapat kendala dalam pelaksanaan kegiatan dapat segera mendapat solusi. Setiap sentinel juga membuat laporan bulanan tentang logistik dan jumlah pasien yang dikirim ke Subdit Pengendalian Zoonosis. Melalui laporan tersebut dapat terlihat jumlah logistik yang ada di sentinel sehingga tidak terjadi stockout. HASIL KEGIATAN Surveilans SARI Sejak Agustus 2011, dari total 55.033 pasien rawat inap, 3% (n=1.641) diantaranya teridentifikasi sebagai kasus SARI. Dari total 1.583 spesimen SARI yang diuji RT-PCR, 17% (n=268) adalah kasus SARI positif influenza. Grafik 1. menunjukkan bahwa pada minggu ke-22 tahun 2012, proporsi kasus SARI yang positif influenza adalah 5%. Hal ini merupakan penurunan jika dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. 7
  13. 13. ditemukan pada akhir tahun 2011. Influenza A(H3) mendominasi pada awal tahun 2012, tetapi kemudian influenza B banyak ditemukan sejak bulan Maret tahun 2012 sampai dengan sekarang. Dalam kurun waktu minggu ke-19 sampai dengan minggu ke-21 tahun 2012, tidak ditemukan adanya influenza A pada kasus ILI. Kemudian, pada minggu ke-22 tahun 2012, hanya satu kasus ILI yang teridentifikasi dengan virus influenza A (H1N1pdm2009). Pada minggu ke-22 tahun 2012, proporsi kasus ILI yang positif influenza terlihat menurun jika dibandingkan dengan mingguminggu sebelumnya. Pada minggu tersebut, hanya 11% kasus ILI yang positif influenza. Virus influenza A merupakan jenis virus yang paling banyak ditemukan pada kasus SARI yang positif influenza (Grafik 2). Berdasarkan subtipe, influenza A(H1N1pdm2009) merupakan subtipe virus yang paling banyak ditemukan pada akhir tahun 2011. Influenza A(H3) mendominasi pada awal tahun 2012, tetapi kemudian influenza B mendominasi sejak Maret, 2012 sampai sekarang. Pada periode minggu ke-13 dan minggu ke-22 tahun 2012, virus influenza A tidak ditemukan pada kasus SARI yang positif influenza. Surveilans ILI Sejak Agustus 2011, dari total 147,692 kunjungan Puskesmas, 2% (n=3,096) diantaranyateridentifikasi sebagai kasus ILI. Dari total 3,039 spesimen ILI yang diuji, 38% (n=1,142) diantaranya positif influenza (Grafik 3). Berbagai macam tipe dan sub-tipe virus influenza terdeteksi sejak awal kegiatan surveilans dilaksanakan (Grafik 4). Influenza A(H1N1pdm2009) merupakan subtipe virus influenza yang paling banyak KESIMPULAN DAN SARAN Kegiatan Model Harmonisasi Surveilans Epidemiologi dan Virologi Influenza di Jakarta Timur merupakan salah satu kegiatan surveilans aktif yang menggabungkan epidemiologi dan virologi dalam penjaringan influenza. Melihat hasil proporsi ILI sebanyak 38% dan SARI sebanyak 17% kasus influenza di Jakarta Timur terbilang tinggi. Bila dilihat dari surveilans pada kegiatan ini khususnya kasus SARI di rumah sakit yang cukup banyak, menunjukan bahwa influenza merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting dan memerlukan monitoring secara berkala. Untuk itu diperlukan kebijakan pemerintah dalam melakukan kegiatan tersebut secara rutin. Selama setahun kegiatan ini dilaksanakan belum ditemukan kasus konfirmasi flu burung. Hal ini menunjukan bahwa kasus flu burung jarang terjadi atau kasus Avian Influenza (AI) pada unggas mengalami penurunan. Selain itu Virus H5N1 sampai saat ini sulit menular dari unggas ke manusia. Untuk itu penting kiranya apabila kegiatan ini dapat dilanjutkan secara terus menerus untuk mendapatkan gambaran influenza secara umum dan flu burung pada khususnya. Selain itu koordinasi lintas sektor seperti Kementerian Pertanian perlu kiranya ditingkatkan untuk melihat kasus pada unggas baik di peternakan unggas maupun unggas yang dipelihara masyarakat. Hasil proporsi ILI lebih banyak dari proporsi SARI dikarenakan kasus ringan lebih banyak dibandingkan dengan kasus yang berat/dirawat, ini sesuai dengan epidemiologi influenza pada umumnya {Wright, 1977 #3062;Wu, 2010 #2877;Yang, 2011 #2620}. Pada hasil terlihat perbedaan jenis subtipe virus yang beredar pada waktu tertentu, merupakan pola jenis virus yang 8
  14. 14. menjadi tren pada masanya. Sampai saat ini pola virus yang beredar pada hasil kegiatan ini dapat dikatakan hampir sama dengan pola virus dinegara lain seperti negara tetangga Singapura {World Health Organization, 2012 #4315}. Dalam kegiatan ini yang dapat diambil sebagai suatu keberhasilan adalah adanya proses yang baik dalam monitoring, supervisi. Selain itu juga terdapat umpan balik dari setiap sentinel. Hal ini yang membuat petugas di sentinel tetap berkomitmen kuat untuk melaksanakan kegiatan surveilans ini. Dengan demikian kualitas data yang dihasilkan menjadi baik sehingga dapat digunakan menjadi salah satu faktor dalam menentukan kebijakan. Monitoring secara teratur baik secara pelaksanaan SOP teknis maupun data entri di setiap sentinel yang terlibat. Analisa data yang secara regular dilakukan membuat input data menjadi lengkap. Selain itu tidak lupa adalah umpan balik dari setiap sentinel yang terlibat membuat kesulitan dan hambatan dapat diselesaikan dengan cepat. Yang L, Ma S, Chen PY, He JF, Chan KP, et al., 2011. Influenza associated mortality in the subtropics and tropics: Results from three Asian cities. Vaccine 29: 8909-8914. World Health Organization, 2012. FluID - a global influenza epidemiological data sharing platform. Geneva. DAFTAR PUSTAKA Kung NY, Morris RS, Perkins NR, Sims LD, Ellis TM, et al., 2002 Risk for infection with highly pathogenic influenza A virus (H5N1) in chickens, Hong Kong. Emerg Infect Dis 13: 412-418. World Health Organization (2005) Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS) Geneva. Yee KS, Carpenter TE, Cardona CJ, 2009. Epidemiology of H5N1 avian influenza. Comp Immunol Microbiol Infect Dis 32: 325-340. Kandun IN, Wibisono H, Sedyaningsih ER, Yusharmen, Hadisoedarsuno W, et al., 2006. Three Indonesian clusters of H5N1 virus infection in 2005. N Engl J Med 355: 2186-2194. World Health Organization, 2002. WHO manual on animal influenza diagnosis and surveillance. Geneva. Wright PF, Ross KB, Thompson J, Karzon DT,1977. Influenza A infections in young children. Primary natural infection and protective efficacy of live-vaccine-induced or naturally acquired immunity. N Engl J Med 296: 829-834. Wu JT, Ma ES, Lee CK, Chu DK, Ho PL, et al. 2010. The infection attack rate and severity of 2009 pandemic H1N1 influenza in Hong Kong. Clin Infect Dis 51: 11841191. 9
  15. 15. Hubungan Perilaku dan Faktor Lingkungan dengan Kejadian Malaria di Sangkulirang, Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur Andiek Ochman, M. Gustiansyah, Mur Prasetyaningrum, Adi Wijaya, Sumadi, Kariadi Alwan Zaki Nozomi. Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Samarinda Abstrak. Penyakit malaria sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan umum yang utama di seluruh dunia termasuk Indonesia. Berdasarkan hasil laporan penemuan dan pengobatan penderita malaria di Kaltim, jumlah kasus penyakit malaria di Kabupaten Kutai Timur mencapai 432 kasus sepanjang 2010. Kantor Kesehatan Pelabuhan Samarinda yang meliputi wilayah kerja di Sangkulirang Kutai Timur juga berhadapan dengan permasalahan malaria. Mengingat angka kasus penyakit malaria tersebut maka sangatlah perlu untuk dilakukan suatu kajian tentang malaria di wilayah Sangkulirang khususnya di wilayah pesisir pelabuhan Sangkulirang. Tujuan kegiatan ini untuk mengetahui gambaran umum karakteristik penderita malaria yang berhubungan dengan kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sangkulirang, dan secara khusus mengetahui hubungan perilaku dengan kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sangkulirang, Mengetahui hubungan faktor lingkungan dengan kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sangkulirang. Kegiatan dilakukan dengan observasi lapangan dan pengumpulan data responden. Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi lapangan melalui kuesioner yang telah dibuat sebelumnya dimana kuesioner mengkategorikan analisa berdasarkan tingkat pengetahuan, perilaku dan hasil observasi lapangan. Dari hasil RDT 8 0rang positif malaria merupakan sampel kasus dan 52 orang dengan hasil RDT negatif dijadikan sampel kontrol. Seluruh kasus berjenis kelamin laki-laki dengan usia produktif sebnayak 87.5%, sedangkan 1 kasus berusia di atas 45 tahun (12.5%). Seluruh kasus berpendidikan rendah yaitu tamat SD dan SMP. Mereka yang hidup dan bekerja di dalam hutan, dan sering keluar malam tanpa pelindung badan/baju serta memiliki kandang dan ternak di sekitar rumah menjadi faktor yang meningkatkan kejadian malaria. Kata Kunci : Malaria, Perilaku, Sangkulirang. Koresponden: Andiek Ochman, SKM, M.Kes, Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Samarinda. Telp. 081229669937 Faks. 0541-742564, Email: andieachman@yahoo.co.id PENDAHULUAN Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia dan secara alami ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Penyakit malaria sampai saat ini ternyata masih menjadi masalah kesehatan umum yang utama di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang, seperti negaranegara Amerika Latin, Afrika subSahara, Asia Selatan, sebagian Asia Timur (terutama Cina), dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dalam buku The World Malaria Report 2005, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dijelaskan bahwa walaupun berbagai upaya telah dilakukan, hingga tahun 2005 yang lalu, malaria masih menjadi masalah kesehatan utama di 107 negara di dunia. Penyakit ini menyerang sedikitnya 350-500 juta orang setiap tahunnya dan bertanggung jawab terhadap kematian sekitar 1-3 juta orang setiap tahunnya, atau 1 kematian setiap 30 detik. Diperkirakan masih sekitar 3,2 milyar orang hidup didaerah endemis malaria. Malaria juga bertanggung jawab secara ekonomis terhadap kehilangan 12% pendapatan nasional negara-negara yang endemis malaria. Semua ini terjadi karena berkaitan dengan Global Environmental Change (GEC) atau perubahan lingkungan global. Istilah lain yang lebih dikenal adalah Climate Change (perubahan iklim) akibat Global Warming (pemanasan global). Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Depkes 2001, di Indonesia setiap tahunnya terdapat sekitar 25 juta penderita malaria klinis yang mengakibatkan 38.000 orang meninggal dunia atau 8-11 orang per 100.000 penduduk. Sementara itu di beberapa rumah sakit dilaporkan bahwa Case Fatality Rate (CFR) malaria berat berkisar 1050 %.1 Dari 576 kabupaten/kota yang ada di Indonesia, 424 kabupaten/kota merupakan daerah endemis malaria. Sekitar 50% masyarakat Indonesia masih tinggal didaerah endemis.United Nation Development Program (UNDP,2004) juga mengklaim bahwa akibat malaria, Indonesia sedikitnya mengalami kerugian ekonomi sebesar US $ 56,6 juta/tahun atau lima ratus enam puluh enam milyar rupiah. 10
  16. 16. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur selama tahun 2010, bahwa hasil laporan penemuan dan pengobatan penderita malaria telah dilakukan di 14 kabupaten/kota di Kaltim dimana jumlah penderita tertinggi yaitu di Kabupaten Paser mencapai 3,260 penderita, sementara yang terendah adalah Kota Tarakan hanya 40 penderita. Pemprov Kaltim khususnya Dinas Kesehatan terus berupaya agar penyakit malaria bisa diberantas dengan tuntas, bahkan para SDM juga terus ditingkatkan, misalnya memberikan pelatihan kepada petugas Puskesmas terkait dalam penanganan dan pencegahan penyakit malaria. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Timur, Syafak Hanung mengatakan “ Di Kaltim, jumlah dan presentasi kasus klinis dengan ditandai demam yang diperiksa mikroskopis terhadap total jumlah perkiraan kasus klinis, kabupaten Malinau menempati urutan terbanyak disusul oleh Kabupaten Paser, Kutai Barat, Bulungan, Tana Tidung, Balikpapan, Nunukan, Tarakan, Bontang, Berau, Samarinda, Kutai Timur, Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara”, ujarnya dalam acara Sosialisasi Kebijakan Pemerintah di Bidang Kesehatan. Berdasarkan hasil laporan penemuan dan pengobatan penderita malaria di Kaltim, yang tertinggi penderintanya adalah Kabupaten Paser sebanyak (3,260), Nunukan (3,077), Berau (3,010), Kutim (2,851), Kubar (2,661), PPU (2,383), Bulungan (1,781), Malinau (1,411), Kutai Kartanegara (322), Tanah Tidung (273), Samarinda (154), Bontang (71), Balikpapan (67) dan Kota Tarakan (40). Jumlah kasus penyakit malaria di Kabupaten Kutai Timur mencapai 432 kasus sepanjang 2010. Data itu diperoleh dari hasil pendataan di 135 desa yang menjadi endemi penyakit malaria. “ Bahkan sekitar 70 persen penduduk Kutai Timur berisiko terhadap penularan penyakit malaria," Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, Marthin Luther. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Timur mengatakan kepada wartawan di selasela rehat acara Sosialisasi Kebijakan Pemerintah Bidang Kesehatan bahwa, "Tiga kabupaten yang masuk "merah" penyebaran malaria adalah Penajam Paser Utara (PPU), Bulungan, dan Kutai Timur (Kutim)." Kantor Kesehatan Pelabuhan Samarinda merupakan salah satu UPT di lingkungan Kementerian Kesehatan RI yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Dijen PP & PL yang wilayah kerjanya meliputi area/lingkungan pelabuhan dan sekitarnya yang diatur oleh perundang-undangan yang berlaku dan salah mempunyai tugas pokok yang salah satunya yaitu melaksanakan pencegahan penyakit potensial wabah di wilayah kerjanya dimana salah satunya yaitu penyakit malaria. Dalam hal pengendalian penyakit malaria, KKP sangat berperan penting dimana KKP peranan Kantor kesehatan pelabuhan dalam penanganan malaria ini sangat dibutuhkan untuk mencegah penularan malaria antar daerah. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kewaspadaan jika terdapat penumpang yang berasal dari daerah yang endemis malaria. KKP sebagai salah satu komponen dinamisator upaya-upaya manajemen pemberantasan penyakit secara terpadu dalam satu wilayah kabupaten/kota maka KKP Samarinda bertanggung jawab dalam upaya pengendalian penyakit malaria. Kantor Kesehatan Pelabuhan kelas II samarinda adalah salah satu KKP yang berada di Propinsi Kalimantan Timur dan memiliki 5 wilayah kerja yang salah satunya yaitu wilayah kerja Sangkulirang di Kutai Timur. Berdasarkan data surveilans 10 penyakit terbesar yang dilakukan petugas KKP di wilker Sangkulirang yang bekerjasama dengan puskesmas Sangkulirang pada tahun 2010 didapatkan hasil 155 kasus malaria tanpa pemeriksaan laboratorium dan 69 kasus malaria dengan pemeriksaan laboratorium. Mengingat angka kasus penyakit malaria tersebut maka sangatlah perlu untuk dilakukan suatu kajian tentang malaria di wilayah Sangkulirang khususnya di wilayah pesisir pelabuhan Sangkulirang. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui gambaran umum karakteristik penderita malaria yang berhubungan dengan kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sangkulirang dan mengetahui hubungan perilaku dan faktor lingkungan dengan kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sangkulirang BAHAN DAN CARA Kegiatan dilakukan di wilayah kerja Sangkulirang, Kutai Timur dari bulan Juni s/d Agustus 2011. Kegiatan dilakukan dengan observasi lapangan dan pengumpulan data responden yaitu pasien yang datang ke Puskesmas Sangkulirang untuk berobat dengan gejala menyerupai malaria. Dari hasil pengumpulan data diperoleh responden sebanyak 60 orang yang kemudian dijadikan sampel penelitian. Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi lapangan melalui kuesioner yang telah dibuat 11
  17. 17. sebelumnya dimana kuesioner mengkategorikan analisa berdasarkan tingkat pengetahuan, perilaku dan hasil observasi lapangan. Tidak 2 25 39 75 41 68,3 Pakai kelambu Ya 2 25 39 75 41 68,3 Tidak 6 75 13 25 13 0,01 0,11 0,09 4,52 0,00 0,037 0,4 0,44 0,019 0,784 0,002 19 31,7 Keluar malam Ya HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil RDT 8 0rang positif malaria merupakan sampel kasus dan 52 orang dengan hasil RDT negatif dijadikan sampel kontrol. Dari hasil analisis data diperoleh hasil sebagai berikut : 5 62,5 14 26,9 19 31,7 Tidak 3 37,5 38 73,1 41 68,3 Pakai obat nyamuk Ya 3 37,5 49 94,2 52 86,7 Tidak 5 62,5 3 5,8 8 13,3 Pakai kawat kasa Ya Tabel I. Distribusi Responden berdasarkan jenis kelamin di Sangkulirang, Kutai Timur Tahun 2011 Kasus Laki-laki 8 100 Perempuan 0 Total 8 % Total 36 69 44 0 16 31 69,2 40 66,7 Tidak 4 50 16 30,8 20 33,3 Keberadaan pepohonan 100 52 100 60 Ya 8 100 29 55,8 37 61.7 0 0 23 44,2 23 38,3 16 Responden Kasus % Kontrol % Total ≤ 45 7 87,5 1 1,93 8 > 45 1 12,5 51 98,07 52 Total 8 100 52 100 60 Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Sangkulirang, Kutai Timur Tahun 2011 Jenis pendidikan Kasus % Responden Total Kontrol % SD 7 87,5 7 13,5 14 SMP 1 12,5 28 53,8 29 SMA 0 0 16 30,8 16 Akademi 0 0 1 1,9 1 Total 8 100 52 100 60 Tabel 4. Analisis Bivariat Tahun 2011 Responden Varia bel 36 Keberadaan kandang Ya Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Usia di Sangkulirang, Kutai Timur Tahun 2011 Usia 50 Tidak Responden % Kontrol Jenis Kelamin 4 Kasus % Kont rol % Pakai baju keluar malam Ya 2 25 12 Tidak Total % P Value 23,1 14 23,3 1 6 75 40 76,9 46 75 13 25 19 31,7 1,11 76,7 Masuk hutan Ya 6 OR 0,01 9 7 87,5 14 26,9 21 35,0 Tidak 1 12,5 38 73,1 39 65 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Karakteristik responden yang menjadi kasus semuanya laki-laki berusia kurang dari 45 tahun berpendidikan SD serta tidak mengetahui penyebab dan gejala malaria. 2. Variabel perilaku yang berhubungan dengan kejadian malaria adalah kebiasaan masuk hutan dengan p value 0,01 dan OR 9. Variabel penggunaan kelambu, dan penggunaan obat anti nyamuk merupakan variabel protektif dengan p value < 0,05 dan OR < 1. 3. Variabel lingkungan yang berhubungan dengan kejadian malaria adalah keberadaan pepohonan di sekitar rumah, dan keberadaan kandang ternak serta pemakian kawat kasa. Saran 1. Sebaiknya masyarakat pada saat melakukan kegiatan di hutan mengenakan pakaian yang tertutup untuk menghindari gigitan nyamuk dan membersihkan lingkungan sekitar rumah dari semak belukar yang berpotensi menjadi tempat istirahat nyamuk 2. Sebaiknya masyarakat Menjaga kebersihan kandang ternak 3. Sebaiknya masyarakat Menggunakan kelambu waktu tidur terutama pada malam hari 4. Sebaiknya masyarakat Memakai obat anti nyamuk waktu tidur pada malam hari 5. Sebaiknya petugas melakukan Penyuluhan ke masyarakat melalui 12
  18. 18. kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat seperti pengajian, arisan-arisan, posyandu tentang penyakit malaria dan upaya pencegahannya. 6. Sebaiknya petugas Pemeriksaan sediaan darah tebal secara berkala kepada mereka yang berisiko terkena malaria, untuk mendeteksi secara dini kasus penularan malaria 7. Sebaiknya petugas Perlindungan kepada karyawan yang bekerja di hutan dengan penggunaan APD berupa repelent, wearpack, sarung tangan, dan sepatu safety 8. Sebaiknya petugas Profilaksis malaria pada pendatang yang bekerja di sekitar hutan DAFTAR PUSTAKA Depkes RI, 1999. Petunjuk Teknis Pemberantasan Penyakit Malaria, Jakarta : Ditjen PPM-PL :file:///E:/SKRIPSI/jurnal/Demam typoid.htm, diakses 23 Februari 2011 PosKota Kaltim, 26 April 2011: http://www.poskotakaltim.com/berita/read/1 1772-2010-penderita-malaria-capai-21-361orang.html , diakses pada 05 Mei 2011 Pendekatan epidemiologi faktor resiko penyakit :http://id.shvoong.com/medicineand-health/epidemiology-publichealth/2090636-pendekatan-epidemiologifaktor-risiko-penyakit/#ixzz1Lzw9pdvG, diakses 05 Mei 2011 7 Januari 2011 - Posted by yantigobel | Uncategorized | Arsunan Arsin, Epidemiologi Penyakit Malaria, Fatmah Afrianty Gobel, FKM UMI Makassar Pengaruh Perilaku Penderita Terhadap Angka Kesakitan Malaria Di Kabupaten Rokan Hilir, 2009. Afridah Advisors: Prof. Drs. Subhilhar, MA, PhD; Drs. Zulkifli Lubis, MA Departemen Kesehatan RI, 1999. Modul Pemberantasan Vektor, Jakarta : Dit. P2B2, Ditjen PPM-PL Departemen Kesehatan RI, 1999. Modul Manajemen Pemberantasan Penyakit Malaria, Jakarta : Dit. P2B2, Ditjen PPMPL Departemen Kesehatan RI, 2007. Pedoman Sistem Kewaspadaan dini Dan Penanggulangan Kejadian Luar biasa Malaria (SKD KLB). Jakarta : Dit. P2B2, Ditjen PP-PL Departemen Kesehatan RI, 2007. Pedoman Sistem Surveilans Malaria. Jakarta: Dit. P2B2, Ditjen PP-PL Departemen Kesehatan RI, 2007. Pedoman Promosi Gebrak Malaria. Jakarta : Dit. P2B2, Ditjen PP-PL Haryanto.1999. MALARIA epidemiologi, patogenesis, manifestasi klinis dan penanganan. Jakarta: EGC Depkes RI, 1995. Malaria, Jakarta : Dirjen Pencegahan & Pemberantasan Penyakit Menular & Lingkungan Pemukiman Jeppry Kurniawan,2008. Analisis Faktor Risiko Lingkungan Dan Perilaku Penduduk Terhadap Kejadian Malaria Di Kabupaten asmat Tahun 2008, Jakarta 13
  19. 19. Status Resistensi Nyamuk Anopheles di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi 1 Rita Kusriastuti , Suwito 1 2 Direktorat PPBB Ditjen PPPL, Kemenkes, Perhimpunan Entomologi Indonesia Cabang Jakarta Abstract. Indonesia is commited toward elimination of malaria. Vector control is an important activities in the elimination of malaria. There are many ways in controling malaria mosquitos such as indoor residual spraying, larvasiding as well as environmental management. The failures of vector control one among other is caused by Anopheles resistant due to uncontrolled used of insecticide. The objective of the study is to detect resistant status of Anopheles mosquitoes. Samples of Anopheles was collected in Kalimantan and Sulawesi in the year 2011. The resistant test used WHO sucebtibility kit and impregnated paper. The results shown that Deltamethrin and Permethrin insecticide was resistant and tolerant in areas of study Kalimantan and Sulawesi. The finding from this study can be used by malaria program manager in provinces or districts level to make a decision for rotation of insecticide used. Keywords: Malaria, resistant, Anopheles, Kalimantan and Sulawesi Koresponden: dr. Rita Kusriastuti, M.Sc. Direktorat PPBB, Ditjen PP dan PL Telp.0816872633, Email: ritakus@yahoo.com PENDAHULUAN Nyamuk (genus) Anopheles adalah vektor malaria di dunia. Di Indonesia dari 456 jenis nyamuk, 80 di antaranya adalah Anopheles spp., dan 26 di antaranya adalah vektor malaria. Pemerintah melalui Direktorat PPBB Kementrian Kesehatan, telah melakukan upaya preventif dalam pengendalian malaria, salah satunya melalui pengendalian vektor. Ada berbagai cara dalam pengendalian vektor yang harus dilaksanakan secara terintegrasi yang dikenal dengan istilah integrated vector management (IVM). Berbagai masalah dalam pengendalian vektor, seperti teknik yang digunakan, kemampuan petugas penyemprot, jenis insektisida, jangka waktu penggunaan insektisida, resistensi terhadap insektisida dan lain-lain. Di antara berbagai persoalan di atas ada satu hal yang tidak bisa dihindari yaitu timbulnya resistensi vektor terhadap insektisida. Pemakaian insektisida di Indonesia sebagian besar dilakukan oleh bidang pertanian, hanya sebagian kecil (tidak lebih dari 10%) oleh bidang kesehatan. Status resistensi serangga (vektor) dipicu karena pemakaian insektisida yang rutin dengan jenis yang sama, bahkan penggunaan dosis yang tidak tepat (dosis rendah) akan menyebabkan resistensi dalam waktu yang relatif singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status resistensi nyamuk Anopheles sp. terhadap insektisida, yang dapat digunakan sebagai data dasar penyusunan program pengendalian vektor di Indonesia. BAHAN DAN CARA Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di 10 Provinsi wilayah Kalimantan dan Sulawesi, pada bulan JanuariDesember 2011. Gambar 1. Lokasi Penelitian Sampel Nyamuk Sampel nyamuk Anopheles sp. diambil dari 10 Provinsi, yaitu Kalimantan Selatan; Desa Santuun dan Uwie, Kalimanten Tengah; Desa Pujon dan Desa Tapen, Kalimantan Timur; Desa Sungai Nyamuk dan Tanjung Aru, Baru Kalimantan Barat; Desa Emparu dan Mangat, Sulawesi Tengah; Desa Manimbaya dan Ketong, Sulawesi Tenggara; Desa Aneka Marga dan Marga Jaya, Sulawesi Barat; Desa Tapandulu dan Sumare, Sulawesi Utara; Desa Ranoketang Tua dan Kilometer Tiga, Gorontalo; Desa Tunggulo dan Desa Yosonegoro, Sulawesi Selatan; Desa Ela Ela dan Caile. Bahan Insektisida Bahan yang digunakan adalah kertas impragnated yang mengandung insektisida jenis Deltamethrin 0,05%, Permethrin 0,75%, Lamdacyhalothrin 0,05%, Etofenprox 0,5%, Bendiocarb 0,1%, Fenitrothion 1%, Malathion 5% dan DDT 4%. 14
  20. 20. Proses Uji Nyamuk Anopheles diambil dari lapangan dalam bentuk larva instar 3-4. Nyamuk dipelihara hingga umur 3-4 hari. Sebelum dilakukan uji, nyamuk diberi makan air gula. Uji dilakukan menggunakan suscebtibility test kit dan kertas impragnated paper dengan Standar WHO. Suhu dan kelembaban tempat uji dijaga sesuai dengan kondisi alam, tidak melebihi ±1 SD dari rentang minimummaksimum. Analisis Analisis status resistensi nyamuk berdasarkan ketentuan WHO (1975), dengan masakontak 60 menit selama pengamatan 24 jam, sebagai berikut : 1) kematian < 80 % (resisten), 2) kematian antara 80% - 97% (toleran) dan 3) kematian antara 98% - 100% (rentan). Apabila terjadi kematian nyamuk kontrol 5-20% maka status resistensi dikoreksi dengan rumus Abbot, dan apabila kematian nyamuk kontrol lebih dari 20% maka dilakukan uji ulang. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengujian di Kalimantan menunjukkan bahwa dua jenis insektisida yang perlu mendapatkan perhatian, yaitu Deltamethrin 0,05% dan Permethrin 0,75%. Hal ini dikarenakan di Kalimantan Selatan nyamuk Anopheles sp. telah toleran terhadap insektisida jenis Deltamethrin 0,05% dan Permethrin 0, 75%. Bahkan kondisi lebih berat terjadi di Kalimantan Barat nyamuk Anopheles sp. telah resisten terhadap insektisida jenis Deltamethrin 0.05% (Gambar 2). Sementara itu, Anopheles sp. tetap rentan terhadap Lamdacyhalothrin 0,05%, Etofenprox 0,5%, Bendiocarb 0,1%, Fenitrothion 1%, Malathion 5% dan DDT 4%. Seperti halnya di wilayah Kalimantan, nyamuk Anopheles sp. di wilayah Sulawesi juga telah toleran terhadap insektisida jenis Deltamethrin 0,05% dan Permethrin 0,75%, yaitu di Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Selatan (Gambar 3). Gambar 2. Status Resistensi Anopheles di Wilayah Kalimantan Gambar 3. Status Resistensi Anopheles di Wilayah Sulawesi Nyamuk dengan status toleran terhadap insektisida artinya nyamuk yang kontak dengan insektisida kematiannya kisaran 8097%, dengan kata lain nyamuk dapat bertahan hidup mencapai hingga 20%. Adapun nyamuk dengan status resisten berarti kematian nyamuk yang kontak dengan insektisida maksimal hanya 80%, di atas 20% nyamuk tetap hidup. Di Indonesia, di daerah dengan kasus tinggi malaria ditemukan 6-8% Anopheles mengandung sporozoit (Suwito, 2010). Artinya, jika status toleran diabaikan dan insektisida tetap diaplikasikan berarti akan tetap terdapat 1-2% nyamuk infektif di alam dan berpotensi menginfeksi. Kondisi tersebut lebih berbahaya jika status nyamuk sudah resisten, maka apabila insektisida resisten tetap digunakan berarti nyamuk di alam akan tetap mengandung sporozoit hingga 8%. Resistensi adalah berkembangnya kemampuan toleransi suatu spesies serangga terhadap dosis toksik insektisida yang mematikan sebagian besar populasi (WHO, 2003). Definisi tersebut membatasi bahwa serangga dikatakan resisten apabila telah mempunyai daya toleran terhadap insektisida. Lebih lanjut, WHO (2003) menyatakan bahwa aplikasi insektisida digunakan apabila nyamuk rentan, dan perlu ditinjau ulang (rotasi) apabila nyamuk telah toleran, serta harus dihentikan apabila nyamuk resisten. Oleh karena itu pemakaian insektisida di Indonesia jenis Deltamethrin 0,05% dan Permethrin 0,75% harus segera dirotasi dengan jenis lain yang masih rentan dan dapat membunuh minimal 98% nyamuk target. 15
  21. 21. Secara teori, resistensi nyamuk terhadap insektisida dapat dijelaskan karena faktor genetik, faktor biologis dan faktor operasional (IRAC, 2006). Secara umum semua mahluk hidup mempunyai kemampuan genetik membentuk enzim yang dapat menetralisir paparan insektisida, termasuk nyamuk. Namun, faktor biologis dan faktor operasional lebih banyak memicu timbulnya resistensi pada nyamuk. Secara biologis nyamuk mempunyai kecepatan regenerasi yang tinggi, hanya dalam waktu tidak lebih dari dua minggu nyamuk dapat menghasilkan generasi berikutnya. Pada tekanan pemaparan insektisida kemampuan regenerasi yang tinggi menyebabkan nyamuk cepat menurunkan generasi resisten. Faktor operasional insektisida juga memegang peran penting meliputi cara aplikasi, frekuensi, dosis dan lama pemakaian. Aplikasi insektisida pertanian di sawah sebagian insektisida jatuh ke air, pada saat di air kepekatan insektisida berkurang (dosis menjadi lebih rendah). Air sawah merupakan habitat potensial larva Anopheles spp., kontak insektisida pertanian dosis rendah dengan larva nyamuk di sawah dapat digunakan sebagai hipotesis (dugaan rasional) untuk menyatakan sebagai pemicu timbulnya resistensi nyamuk. Faktor operasional lain yang patut diduga adalah pemakaian insektisida rumah tangga dan insektisida program (kesehatan) yang monoton dan terus menerus. Pada kondisi tekanan (pemaparan) tinggi yang terus menerus akan mempercepat terjadinya populasi resisten dibandingkan dengan kondisi lingkungan yang mempunyai tekanan rendah. DAFTAR PUSTAKA [IRAC] Insecticide Resistance Action Committee, 2006. Prevention and Management of Insecticide Resistance in Vectors and Pests of Public Health Importance. Geneva. Suwito, 2010. Entomological inoculation rate (EIR) Anopheles spp. di Kabupaten Lampung Selatan dan Pesawaran Provinsi Lampung. (Bagian dari Disertasi). Bogor : IPB. [WHO] World Health Organization, 1975. Manual on practical entomology in malaria part II. Geneva. [WHO] World Health Organization, 2003. Malaria Entomology and Vector Control. Geneva. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan pada penelitian ini bahwa insektisida jenis Deltamethrin dan Permethrin telah resisten terhadap nyamuk Anopheles spp. di daerah sampel, namun hal ini dapat digeneralisir telah terjadi di Kabupaten wilayah sampel. Saran kepada para pengelola program malaria untuk memberi masukan kepada Kepala Dinas Kesehatan segera membuat kebijakan merotasi dengan jenis lain yang masih rentan seperti Lamdacyhalothrin, Etofenprox, Bendiocarb, Fenitrothion, Malathion dan DDT. Melakukan kegiatan pemantauan resistensi insektisida secara rutin dan berkelanjutan di daerah-daerah lainya. 16
  22. 22. Contact Investigation pada Anak yang Tinggal Serumah dengan Penderita Tuberkulosis di Yogyakarta 1 2 3 Rina Triasih , Setyorini Hestu Lestari , Ning Rintiswati , Endang Sri Rahayu 1 4 2 Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UGM/RS Dr. Sardjito Yogyakarta, Dinas Kesehatan Provinsi 3 4 DIY, Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UGM, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, DIY. Abstrak. Contact investigation merupakan salah satu cara yang potensial untuk meningkatkan penemuan kasus dan mencegah timbulnya sakit TB. Anak yang tinggal serumah dengan penderita TB yang infeksius berisiko tinggi untuk terinfeksi atau sakit TB. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui prevalensi sakit TB dan infeksi laten TB pada anak-anak yang kontak erat dengan penderita TB paru dewasa; dan 2) Mengetahui faktor risiko infeksi laten TB pada anak yang kontak erat dengan penderita TB paru dewasa. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional yang dilakukan di Kota Yogyakarta, dari bulan Mei sampai dengan November 2011. Kasus indeks adalah pasien TB paru dewasa yang diobati di 18 Puskesmas, dua Balai Pengobatan Paru dan tiga Rumah Sakit di kota Yogyakarta. Anak umur kurang dari 15 tahun yang kontak erat dengan kasus indeks diikutsertakan dalam penelitian ini. Sejumlah 215 anak dari 117 penderita TB paru dewasa diikut sertakan dalam penelitian ini. Sebagian besar sumber penularan (77%) adalah penderita TB dengan BTA positif dan merupakan orang tua dari anak kontak serumah (59%). Hasil pemeriksaan di antara anak-anak kontak serumah menunjukkan bahwa 13 anak (6%) sakit TB, 81 anak (38%) dengan infeksi laten TB dan 121 anak (56%) tidak mempunyai bukti infeksi maupun sakit TB. Faktor risiko terjadinya infeksi laten TB dianalisis terhadap 81 anak dengan infeksi laten TB dan 121 anak tanpa bukti infeksi atau sakit TB. Beberapa faktor terkait karakteristik anak dan sumber penularan serta kedekatan anak dengan sumber penularan dianalisis dengan regresi logistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa risiko terjadinya infeksi laten TB meningkat jika sumber penularan dengan BTA positif (OR: 2,8; 95% CI 1,2-6,6). Contact investigation bermanfaat untuk mengidentifikasi anak-anak dengan infeksi laten TB atau dengan sakit TB. Sumber penularan dengan BTA positif merupakan faktor risiko terjadinya infeksi laten TB. Kata Kunci : Contact Investigation, Tuberkulosis Paru, Yogyakarta Koresponden: Rina Triasih, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UGM/RS Dr. Sardjito Yogyakarta Telp. 081392764269 PENDAHULUAN Contact investigation merupakan salah satu cara yang potensial untuk meningkatkan penemuan kasus dan mencegah timbulnya sakit TB. Anak-anak, khususnya yang berumur di bawah lima tahun (balita), merupakan prioritas sasaran pada contact investigation karena apabila terinfeksi, kelompok umur ini mempunyai risiko tertinggi untuk berkembang menjadi sakit TB. Contact investigation yang diikuti tata laksana yang adekuat sangat berpotensi untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat TB pada anak, yang masih merupakan masalah di negara endemis TB, seperti di Indonesia. Di samping itu, dengan contact investigation, anak-anak dengan infeksi laten TB yang dapat berpotensi sebagai sumber penularan di masa dewasanya, dapat diidentifikasi dan diberikan terapi profilaksis yang adekuat. (Marais et al, 2004) Indonesia saat ini menduduki peringkat kelima dari 22 negara dengan jumlah penderita TB terbanyak di dunia. Menurut WHO’s Global Tuberculosis Control Report 2009, terdapat kira-kira 528.063 kasus TB baru dengan insidensi 102 kasus baru BTA positif per 100.000 populasi pada tahun 2007. Pencapaian CDR telah meningkat dalam 6 tahun terakhir, dari 30% pada 2002 menjadi 68% pada tahun 2007. Dengan jumlah kasus TB yang besar di Indonesia, anak-anak Indonesia berisiko tinggi terinfeksi atau menderita sakit TB. Untuk itu perlu diketahui outcome anak-anak yang kontak erat dengan penderita TB paru dewasa. Perlu diketahui pula faktor risiko infeksi laten TB pada anak yang tinggal serumah dengan penderita TB paru dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko infeksi laten TB pada anak-anak yang kontak erat dengan penderita TB paru dewasa. 17
  23. 23. Faktor risiko BAHAN DAN CARA Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional yang dilakukan di Kota Yogyakarta. Kasus indeks adalah pasien TB paru dewasa yang diobati di 18 Puskesmas, 2 Balai Pengobatan Paru dan 3 Rumah Sakit di kota Yogyakarta. Anak yang kontak erat dengan kasus indeks diikutkan dalam penelitian jika berumur kurang dari 15 tahun, jarak tempat tinggal dengan RS. Sardjito kurang dari 20 km, dan mendapatkan informed consent tertulis dari orang tua/wali. Anak-anak yang pernah atau sedang dalam terapi TB tidak diikutkan dalam penelitian ini. Semua anak yang memenuhi inklusi dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, Rontgan dada dan uji tuberkulin. Anak-anak yang menunjukkan gejala TB dilakukan pemeriksaan BTA dan kultur sputum. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. HASIL DAN PEMBAHASAN Sejumlah 215 anak dari 117 penderita TB paru dewasa diikutsertakan dalam penelitian ini. Karakteristik subyek penelitian dan sumber penularan, ditampilkan masing-masing pada Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik kontak, kasus indeks dan kondisi lingkungan di Yogyakarta Tahun 2011 tidak ada bukti infeksi/sakit TB N = 118 infeksi laten TB N = 81 sakit TB N = 16 Karakteristik kontak Median umur, bulan (IQ range) Balita 74 (33;120) 52 (44,1%) 88 (39; 131) 32 (39,5%) 56 (28; 121) 8 (50%) 74 (34; 128) 92 (43%) jenis kelamin perempuan 53 (44,9%) 49 (60,5%) 10 (62,5%) 112 (52,1%) Vaksinasi BCG, n (%) Skar BCG (+) Hubungan dengan sumber penularan, n (%) Anak Cucu Saudara kandung Keponakan Lain-lain Uji tuberkulin positif 111 (94,1%) 92 (78,6%) 77 (95,1%) 69 (85,2%) 15 (93,75%) 13 (81,3%) 203 (94,4%) 174 (81%) 71 (60,7%) 20 (17,1%) 0 17 (14,5%) 9 (7,7%) 0 47 (58%) 14 (17,3%) 3 (3,7%) 11 (13,6%) 6 (7,4%) 81 (100%) 9 (56,3%) 2 (12,5%) 2 (12,5%) 3 (18,7%) 0 11 (68,8%) 127 (59%) 36 (17%) 5 (2%) 31 (14%) 15 (7%) 92 (42,8%) 71 (60,2%) 25 (21,2%) 38 (46,9%) 17 (21,0%) 9 (56,3%) 6 (37,5%) 32 (27,1%) 2 (1,7%) 33 (28%( 21 (17,8%) 30 (25,4%) 11 (12,6%) 2 (2,5%) 21 (25,9%) 9 (11,1%) 38 (46,9%) 3 (18,8%) 0 5 (31,2%) 3 (18,8%) 5 (31,2%) 5,5 (4; 8) 61 (51,7%) 52 (44,1%) 6 (5;8) 44 (54,3%) 45 (55,6%) 5 (4;7) 6 (37,5%) 8 (50%) Karakteristik sumber penularan jenis kelamin laki-laki Hubungan: ibu dari kontak BTA sputum negatif scanty positif 1 positif 2 positif 3 kondisi lingkungan dan kedekatan Median jumlah penghuni rumah (IQ range) Jumlah penghuni rumah > 6 Tidur sekamar dengan sumber penularan total N = 215 6 (4;8) 111 (51,6%) 105 (48,8%) Tabel 2.Faktor risiko infeksi laten TB di Yogyakarta Tahun 2011 OR 95% CI 1,6 0,9 – 2,8 0,8 0,5 – 1,5 1,7 0,8 – 3,6 1,7 0,9 – 2,9 1,0 0,5 – 1,9 0,9 0,5 – 1,7 2,8 1,2 – 6,6 Tidur sekamar 1,6 0,9 – 2,8 Jumlah orang serumah > 6 1,3 0,7 – 2,3 Karakteristik anak serumah - Jenis kelamin perempuan Umur kurang dari 5 tahun Tidak ada skar BCG Karakteristik sumber penularan - Jenis kelamin perempuan Hubungan: ibu Hubungan: orang tua BTA positif Uji tuberkulin positif didapatkan pada 92 (42,8%) anak. Hasil pemeriksaan selanjutnya menunjukkan bahwa 13 anak (6%) menderita TB, 81 anak (38%) dengan infeksi laten TB dan 121 anak (56%) tidak mempunyai bukti infeksi maupun sakit TB. Faktor risiko terjadinya infeksi laten TB dianalisis terhadap 81 anak dengan infeksi laten TB sebagai kelompok kasus dan 121 anak tanpa bukti infeksi atau sakit TB sebagai kelompok kontrol. Hasil analisis menunjukkan bahwa risiko terjadinya infeksi laten TB meningkat jika sumber penularan dengan BTA positif (Tabel 2). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sekitar sepertiga anak yang tinggal serumah dengan penderita TB paru dewasa mengalami infeksi laten TB dan 6% anak menderita sakit TB. Hasil ini kurang lebih sama seperti yang dilaporkan sebelumya pada meta-analisis, pada semua kelompok umur, 4,5% kontak serumah menderita sakit TB dan 51,4% mengalami infeksi laten TB. Pada anak balita, sakit TB terjadi pada 8,5% anak dan infeksi laten TB pada 30,4% (Morrison et al, 2008). Beberapa penelitian di Afrika melaporkan 1445% anak kontak serumah menderita infeksi laten TB dan 23%-34% menderita sakit TB. (Beyers et al, 1997; Sinfield et al, 2006). Proporsi infeksi laten TB dilaporkan lebih tinggi di Asia (30-70%), tetapi kejadian sakit TB-nya lebih rendah (3-16.4%) daripada yang dilaporkan di Afrika (Nguyen et al, 2009; Iskandar et al. 2008). Secara umum risiko terinfeksi TB tergantung pada kondisi anak, virulensi kuman, keparahan penyakit penderita TB sebagai sumber infeksi, kedekatan anak 18
  24. 24. dengan sumber infeksi dan kepadatan hunian rumah. Pada penelitian ini didapatkan bahwa risiko terinfeksi TB meningkat pada anak yang kontak serumah dengan penderita TB BTA positif dengan OR 2,8 (95% CI 1,2 -6,6) . Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumya yang menunjukkan bahwa risiko terinfeksi TB lebih tinggi pada anak yang kontak dengan penderita TB dengan BTA positif dibandingkan BTA negative (Gessner et al, 1998; Mark et al, 2000; Singh et al, 2005). Beberapa penelitian melaporkan bahwa semakin tinggi derajat kepositifan BTA, semakin infeksius sumber infeksi tersebut. (Gessner et al, 1998; Nguyen et al, 2009; Sinfield et al, 2006; Tornee et al, 2004) Hal ini dikarenakan derajat BTA sesuai dengan jumlah kuman TB di dalam sputum. Lienhardt et al melaporkan bahwa risiko terinfeksi lebih tinggi jika penderita TB adalah orang tua atau saudara kandung. Beberapa penelitian yang lain menunjukkan risiko infeksi TB meningkat bila sumber penularannya wanita dan semakin meningkat bila sumber penularannya ibu atau nenek. (Espinal et al, 2000; Kenyon et al, 2002; Sinfield et al, 2006; Tornee et al, 2004). Hasil penelitian kami tidak menunjukkan adanya risiko tersebut. Risiko terinfeksi TB juga meningkat sesuai dengan kedekatan anak dengan sumber penularan dan kondisi lingkungan rumah. Anak yang tidur sekamar atau satu tempat tidur dengan penderita TB dan rumah yang padat penghuninya merupakan faktor risiko infeksi TB. (Lienhardt et al, 2003a; Lienhardt et al, 2003b; Lin et al, 2008; Rathi et al, 2002) Rumah yang padat penghuninya tidak hanya meningkatkan risiko transmisi, tetapi secara teori dianggap dapat menimbulkan stress psikis penghuni yang dapat dapat menurunkan sistem imun. (Stokols, 1972) Namun demikian, penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang tidak konsisten. (Lienhardt et al, 2003a; Lockman et al, 1999; Saiman et al, 2001; Sinfield et al, 2006; Teixeira et al, 2001; Tornee et al, 2004) Hasil penelitian kami juga tidak menunjukkan bukti adanya peningkatan risiko infeksi dengan tidur sekamar dan jumlah penghuni rumah lebih dari 6 orang. KESIMPULAN DAN SARAN Contact investigation merupakan kegiatan yang penting untuk mengidentifikasi anakanak dengan infeksi laten TB dan untuk meningkatkan penemuan kasus. Sebaiknya diprioritaskan pada anak yang tinggal serumah dengan penderita TB BTA positif. DAFTAR PUSTAKA Beyers, N., Gie, R.P., Schaaf, H.S., Van, Z.S., Talent, J.M., Nel, E.D., & Donald, P.R., 1997. A prospective evaluation of children under the age of 5 years living in the same household as adults with recently diagnosed pulmonary tuberculosis. Int.J.Tuberc.Lung Dis; 1: 38-43. Espinal, M.A., Perez, E.N., Baez, J., Henriquez, L., Fernandez, K., Lopez, M., Olivo, P., & Reingold, A.L., 2000. Infectiousness of Mycobacterium tuberculosis in HIV-1-infected patients with tuberculosis: a prospective study. Lancet; 355: 275-280. Gessner, B.D., Weiss, N.S., & Nolan, C.M., 1998. Risk factors for pediatric tuberculosis infection and disease after household exposure to adult index cases in Alaska. J Pediatr; 132: 509-513. Kenyon, T.A., Creek, T., Laserson, K., Makhoa, M., Chimidza, N., Mwasekaga, M., Tappero, J., Lockman, S., Moeti, T., & Binkin, N., 2002. Risk factors for transmission of Mycobacterium tuberculosis from HIV-infected tuberculosis patients, Botswana. Int.J.Tuberc.Lung Dis.; 6: 843-850. Lienhardt, C., Fielding, K., Sillah, J., Tunkara, A., Donkor, S., Manneh, K., Warndorff, D., McAdam, K.P., & Bennett, S., 2003a. Risk Factors for Tuberculosis Infection in SubSaharan Africa: A Contact Study in The Gambia. Am.J.Respir.Crit.Care Med.; 168: 448-455. Lienhardt, C., Sillah, J., Fielding, K., Bennett, S., Donkor, S., Warndorff, D., McAdam, K., & Manneh, K., 2003b. Risk Factors for Tuberculosis Infection in Children in Contact With Infectious Tuberculosis Cases in The Gambia, West Africa. Pediatrics; 111: 608. Lin, X., Chongsuvivatwong, V., Lin, L., Geater, A., & Lijuan, R., 2008. Dose-response relationship between treatment delay of smear-positive tuberculosis patients and intra-household transmission: a crosssectional study. Trans R Soc Trop Med Hyg; 102: 797-804. Lockman, S., Tappero, J.W., Kenyon, T.A., Rumisha, D., Huebner, R.E., & Binkin, N.J., 1999. Tuberculin reactivity in a pediatric population with high BCG vaccination coverage. Int J Tuberc Lung Dis; 3: 23-30. Marais, B.J., Gie, R.P., Schaaf, H.S., Hesseling, A.C., Obihara, C.C., Nelson, L.J., Enarson, D.A., Donald, P.R., & 19
  25. 25. Beyers, N., 2004. The clinical epidemiology of childhood pulmonary tuberculosis: A critical review of literature from the pre-chemotherapy era. Int.J.Tuberc.Lung Dis.; 8: 278-285. Mark, S.M., Taylor, Z., Qualls, N.L., Shresta_Kuwahara, R.J., Wilce, M., & Nguyen, C.H., 2000. Outcomes of Contact Investigations of Infectious Tuberculosis Patients. Am.J.Respir.Crit.Care Med.; 162: 2033-2038. Morrison, J., Pai, M., & Hopewell, P.C., 2008. Tuberculosis and latent tuberculosis infection in close contacts of people with pulmonary tuberculosis in low-income and middle-income countries: a systematic review and meta-analysis. Lancet Infect Dis; 8: 359-368. Nguyen, T.H., Odermatt, P., Slesak, G., & Barennes, H, 2009. Risk of latent tuberculosis infection in children living in households with tuberculosis patients: a cross sectional survey in remote northern Lao People's Democratic Republic. BMC Infectious Diseases; 9: 96. Rathi, S.K., Akhtar, S., Rahbar, M.H., & Azam, S.I., 2000. Prevalence and risk factors associated with tuberculin skin test positivity among household contacts of smear-positive pulmonary tuberculosis cases in Umerkot, Pakistan. Int.J.Tuberc.Lung Dis.; 6: 851-857. Saiman, L., Gabriel, P.S., Vargas, M.P., Schulte, J., Kenyon, T., & Onorato, I., 2001. Risk Factors for Latent Tuberculosis Infection Among Children in New York City. Pediatrics; 107: 999. Sinfield, R., Nyirenda, M., Haves, S., Molyneux, E.M., & Graham, S.M., 2006. Risk factors for TB infection and disease in young childhood contacts in Malawi. Ann Trop Paed: Int Child Health; 26: 205-213. Singh, M., Mynak, M.L., Kumar, L., Mathew, J.L., & Jindal, S.K., 2005. Prevalence and risk factors for transmission of infection among children in household contact with adults having pulmonary tuberculosis. [Article]. Arch Dis Child; 90: 624-628. Stokols, D., 1972. A Social-Psychological Model of Human Crowding Phenomena. Journal of the American Institute of Planners; 38: 72-83. Teixeira, L., Perkins, M.D., Johnson, J.L., Keller, R., Palaci, M., do, V.D., V, Canedo Rocha, L.M., Debanne, S., Talbot, E., & Dietze, R., 2001. Infection and disease among household contacts of patients with multidrug-resistant tuberculosis. Int.J.Tuberc.Lung Dis.; 5: 321-328. Tornee, S., Kaewkungwal, J., Fungladda, W., Silachamroon, U., Akarasewi, P., & Sunakorn, P, 2004. Risk factors for tuberculosis infection among household contacts in Bangkok, Thailand. Southeast Asian J Trop Med Public Health; 35: 375383. 20
  26. 26. Perilaku Nyamuk Anopheles di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung Suwito Sub direktorat Pengendalian Vektor, Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Abstract. Malaria is one of a public health problem in Indonesia, causing morbidity and mortality as well as outbreak in remote areas. South Lampung was medium malaria areas, with annual parasite incidence in 2009 was12,48 0 00 . Vector control remains the most effective measure to prevent malaria transmission. The understanding of behavior vector species is very important to formulate vector control strategies. The study of Anopheles mosquito in South Lampung and Pesawaran Districts were carried out on August 2009 to September 2010. Anopheline species were collected by human landing and resting collections to study population dynamics and biting activities. Twelve species were found, there were 11 species at Rajabasa and 10 species at Padangcermin, e.g. A. sundaicus, A. barbirostris, A. annularis, A. minimus, A. kochi, A. aconitus, A. tessellatus, A. vagus, A. subpictus, A. indefinitus, A. maculatus and A. hyrcanus group. The A. sundaicus was the predominant species in both study areas. The population density of A. sundaicus was fluctuated every month, and the peak occurred on November at Rajabasa and on Desember at Padangcermin. The biting activities of A. sundaicus was fluctuated every hour, and the peak occurred at 03.00-04.00 AM at Rajabasa, and 02.00-03.00 AM at Padangcermin, the outdoor man hour density (MHD) higher than indoor. Keyword : Anopheles, behavior and South Lampung Koresponden: DR. Suwito, SKM, M.Kes, Sub direktorat Pengendalian Vektor, Direktorat PPBB, Ditjen PP dan PL, Telp.081379729578 PENDAHULUAN Lampung Selatan merupakan daerah endemis malaria dengan angka AMI tahun 0 (Dinkes 2009 sebesar 12,48 Prov. 00 Lampung 2010). Pengendalian malaria dengan upaya memutuskan mata rantai penularan, yang melibatkan vektor, masih efektif untuk dilaksanakan. Setiap spesies Anopheles mempunyai daerah penyebaran geografi, habitat perkembangbiakan dan ekosistem yang khusus (Sukowati 2008). Oleh karena itu pemahaman perilaku nyamuk Anopheles penting dipelajari sebagai dasar pengendalian vektor malaria. Pemahaman tentang perilaku vektor sangat penting sebagai dasar pengendalian vektor. Infomasi mengenai perilaku vektor meletakan telur (habitat perkembangbiakan) dan perilaku menghisap darah merupakan dasar pengendalian vektor malaria, mengingat sifatnya yang local specific areas, dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perilaku nyamuk Anopheles spp., meliputi perilaku menghisap darah dan perilaku istirahat. BAHAN DAN CARA Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Lampung Selatan yang merupakan wilayah kategori kasus malaria sedang (medium case incidence/MCI) di Indonesia, tepatnya di dua kecamatan dengan status kasus malaria tinggi (high incidence area/HIA), yaitu Kecamatan Rajabasa dan Padangcermin. (Gambar 1). Gambar 1. Lokasi Penelitian, (A) Wilayah Kecamatan Rajabasa, (B) Wilayah, Kecamatan Padangcermin Penangkapan Nyamuk Anopheles Malam Hari Penangkapan nyamuk malam hari menggunakan metode human landing collection (HLC), dari jam 18.00-06.00. Penangkapan nyamuk dilakukan pada tiga 21
  27. 27. rumah, masing-masing di luar dan di dalam rumah. Waktu penangkapan nyamuk dilakukan 45 menit untuk setiap jam, per malam. Kegiatan dilaksanakan selama satu tahun, mulai dari Agustus 2009 sampai dengan September 2010, dengan frekuensi penangkapan empat malam per bulan. Identifikasi nyamuk menggunakan kunci identifikasi dari O’Connor dan Soepanto (1999). Penangkapan Nyamuk Anopheles Pagi Hari Penangkapan nyamuk pagi hari bertujuan untuk mengetahui tempat nyamuk beristirahat. Penangkapan nyamuk pagi hari dilaksanakan oleh empat orang, masing-masing dua orang di luar dan di dalam rumah. Penangkapan nyamuk dilakukan pada jam 06.00-09.00, tiap bulannya selama empat hari, selama satu tahun, mulai Agustus 2009 sampai dengan September 2010. Analisis Data Nyamuk Anopheles spp. yang hinggap di badan per orang per jam dihitung berdasarkan nilai man hour density (MHD), sedangkan nyamuk Anopheles spp. hinggap di badan per orang per malam dihitung berdasarkan nilai man biting rate (MBR). Nilai MHD dihitung berdasarkan jumlah nyamuk yang hinggap di badan per jam dibagi dengan jumlah penangkap dikali waktu penangkapan (dalam jam). Adapun nilai MBR dihitung berdasarkan jumlah nyamuk yang hinggap di badan per malam dibagi jumlah penangkap dikali waktu penangkapan (WHO 2003). Fluktuasi MHD ditampilkan bentuk grafik selama 12 jam (18.00-06.00), di dalam dan di luar rumah. Adapun fluktuasi MBR dirataratakan tiap bulannya dan ditampil bentuk grafik selama satu tahun, di dalam dan di luar rumah. Hasil penangkapan nyamuk per bulan hampir seluruhnya mendapatkan A. sundaicus, maka fluktuasi MBR satu tahun adalah MBR A. sundaicus. Perilaku Anopheles spp. menghisap darah dihitung persentasenya di luar dan di dalam rumah. Kebiasaan Anopheles spp. beristirahat ditampilkan tempatnya dan dihitung persentase tempat beristirahat di luar dan di dalam rumah. HASIL DAN PEMBAHASAN Kepadatan Spesies Anopheles Nyamuk Anopheles yang berkontak dengan manusia di Kecamatan Rajabasa sebanyak 10 spesies, yaitu A. sundaicus, A. vagus, A. tessellatus, A. aconitus, A. subpictus, A. annularis, A. kochi, A. minimus, A. barbirostris dan A. maculatus. Nyamuk A. sundaicus merupakan spesies dominan, sebagaimana ditunjukkan oleh rata-rata angka hinggap di badan (MBR) sebesar 32,29 per orang per malam, melebihi spesies lainnya (Gambar 2). Di wilayah Kecamatan Padangcermin terdapat delapan spesies Anopheles yang berkontak dengan manusia, yaitu A. sundaicus, A. subpictus, A. barbirostris, A. kochi, A. aconitus, A. tessellatus, A. vagus dan A. hyrcanus group. Nyamuk A. sundaicus juga merupakan spesies dominan, dengan rata-rata angka hinggap di badan (MBR) sebesar 54,26 per orang per malam, melebihi spesies lainnya (Gambar 3). Gambar 2. Rata-rata Spesies Anopheles Hinggap di Badan Per Orang Per Malam (MBR) di Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan Gambar 3. Rata-rata Spesies Anopheles Hinggap di Badan Per Orang Per Malam (MBR) di Kecamatan Padangcermin, Lampung Selatan Perilaku A. sundaicus Menghisap Darah Jumlah A. sundaicus hinggap di badan per orang per jam (MHD) dirata-ratakan selama satu tahun, hasilnya menunjukkan A. sundaicus di Kecamatan Rajabasa, hinggap di badan sepanjang malam, dengan puncak aktivitas pukul 03.00-04.00. MHD di luar rumah selalu lebih tinggi dibandingkan dengan di dalam rumah, sepanjang malam mulai dari pukul 18.00-06.00 (Gambar 4). Seperti halnya di Kecamatan Rajabasa, di Kecamatan 22
  28. 28. Padangcermin A. sundaicus hinggap di badan sepanjang malam, mulai pukul 18.00-06.00, mencapai puncaknya pada pukul 02.00-03.00. Nyamuk A. sundaicus hinggap di badan lebih banyak di luar rumah dibandingkan dengan di dalam rumah, sepanjang malam (Gambar 5). Gambar 4. Nyamuk A. sundaicus Hinggap di Badan Per Orang Per Jam (MHD) di Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan 6 5 MHD 4 3 2 1 0 18-19 19-20 20-21 21-22 22-23 23-24 24-01 01-02 02-03 03-04 04-05 05-06 1.77 1.4 1.31 1.76 2.32 2.72 3.51 3.89 4.05 5.23 3.47 1.89 MHD di dalam rumah 1.55 1.01 0.95 1.28 1.83 2.19 3.02 3.31 3.45 4.37 2.8 1.21 1.66 1.21 1.13 1.52 2.08 2.46 3.27 3.60 3.75 4.80 3.14 1.55 MHD di luar rumah MHD Rata-rata Jam pengamatan Gambar 5. Nyamuk A. sundaicus Hinggap di Badan Per Orang Per Jam (MHD) di Kecamatan Padangcermin, Lampung Selatan 8.00 MHD 6.00 4.00 2.00 0.00 18-19 19-20 20-21 21-22 22-23 23-24 24-01 01-02 02-03 03-04 04-05 05-06 4.09 3.22 2.91 3.44 4.56 5.43 6.64 6.71 6.97 6.21 4.43 3.08 MHD di dalam rumah 3.66 2.71 2.31 2.76 3.78 4.48 5.21 5.49 5.69 4.99 3.33 2.12 3.88 2.97 2.61 3.10 4.17 4.96 5.93 6.10 6.33 5.60 sepanjang malam mulai pukul 18.00-06.00, kepadatan di luar lebih tinggi dibandingkan di dalam rumah. Hal ini berarti potensi penularan malaria di Rajabasa dan Padangcermin berlangsung sepanjang malam, baik di luar maupun di dalam rumah, dengan puncak transmisi Plasmodium pukul 03.00-04.00 di Rajabasa dan pukul 02.00-03.00 di Padangcermin, transmisi Plasmodium ke tubuh manusia lebih banyak terjadi di luar rumah dinbandingkan di dalam rumah. Nyamuk A. sundaicus hinggap di badan per orang per malam (MBR) dirata-ratakan per bulan. Hasilnya menunjukkan A. sundaicus hinggap di badan sepanjang bulan, baik di Kecamatan Rajabasa maupun Padangcermin. MBR tertinggi pada bulan November di Kecamatan Rajabasa dan bulan Desember di Kecamatan Padangcermin. MBR A. sundaicus lebih tinggi di luar rumah dibandingkan di dalam rumah, baik di Kecamatan Rajabasa maupun Padangcermin (Gambar 6 dan Gambar 7). Nyamuk A. sundaicus merupakan vektor dominan di Kecamatan Rajabasa dan Padangcermin. Jumlah vektor yang meningkat akan meningkatkan akan meningkatkan kasus (Rozendal 1997), maka Gambar 6 dan Gambar 7 memberikan prediksi bahwa kasus malaria akan meningkat pada bulan November di Rajabasa dan Desember di Padangcermin, dengan anggapan daya tahan tubuh masyarakat stabil setiap bulan. 3.88 2.60 MHD di luar rumah MHD Rata-rata Jam pengamatan Nyamuk A. sundaicus banyak ditemukan di daerah pantai dengan puncak aktivitas tengah malam hingga dini hari. Sukowati dan Shinta (2009) melaporkan A. sundaicus merupakan spesies dominan di daerah pantai Purwodadi Kabupaten Purworejo Jawa Tengah, hinggap di badan sepanjang malam, dengan puncak aktivitas pukul 02.00-03.00, sementara itu di Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang Jawa Barat puncak aktivitas A. sundaicus di luar rumah pukul 01.00-02.00 dan di dalam rumah pukul 24.00-01.00 (Mardiana et al. 2007), sedangkan di Pulau Nicobar India A. sundaicus dilaporkan aktif pada malam hari pukul 20.00-03.00 (Dusfour et al. 2004). Rosa et al. (2010) melaporkan di daerah pantai Sukamaju Kota Bandar Lampung, Anopheles spp. menghisap darah sepanjang malam dengan puncak aktivitas pukul 24.00 di luar rumah dan 23.00 di dalam rumah. Di Kecamatan Rajabasa dan Padangcermin A. sundaicus hinggap di badan Gambar 6. Nyamuk A. sundaicus Hinggap di Badan Per Orang Per Malam (MBR) di Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan Gambar 7.Nyamuk A. sundaicus Hinggap di Badan Per Orang Per Malam (MBR) di Kecamatan Padangcermin, Lampung Selatan 23
  29. 29. Jumlah nyamuk yang meningkat pada bulan November-Desember berkaitan dengan pola musim. Pada musim hujan jumlah dan luas perairan sebagai habitat larva A. sundaicus meningkat. Tambak terbengkalai pada musim hujan bertambah luasannya dari 25,6 Ha menjadi 30,6 Ha. Bak terbengkalai yang sebelumnya kering menjadi berisi air, rawa-rawa yang sebelumnya kadar garamnya sangat tinggi menjadi lebih payau, kobakan dan kubangan menjadi lebih banyak. Tipe perairan tersebut merupakan habitat utama A. sundaicus. Perilaku Nyamuk Anopheles Beristirahat Hasil penangkapan nyamuk Anopheles beristirahat pada pagi hari pukul 06.00-09.00, di Kecamatan Rajabasa dan Padangcermin mendapatkan empat spesies yang sama, yaitu A. sundaicus, A. annularis, A. vagus dan A. barbirostris. Nyamuk Anopheles spp. baik di Rajabasa maupun Padangcermin dapat beristirahat baik di dalam dan di luar rumah (Tabel 1 dan Tabel 2). Di Kecamatan Rajabasa, nyamuk A. sundaicus beristirahat di luar rumah didapatkan di rerumputan, ujung atap rumah dan tumpukan kayu, di dalam rumah beristirahat di jaring yang digantung, kelambu, pakaian digantung, dinding dalam rumah dan rak rak sepatu. Nyamuk A. annularis hanya ditemukan hinggap beristirahat di dinding luar rumah. Nyamuk A. vagus di luar rumah beristirahat di dinding kandang, daun pisang kering, tumpukan kayu dan semak kering, di dalam rumah beristirahat di atap rumah bagian dalam dan dinding dalam rumah. Nyamuk A. barbirostris hanya ditemukan beristirahat di luar rumah di rerumputan sekitar rumah (Tabel 1). Di Kecamatan Padangcermin, nyamuk A. sundaicus di luar rumah beristirahat di rerumputan dan dinding luar rumah, di dalam rumah beristirahat di jaring yang digantung, kelambu, pakaian yang digantung, dinding dalam rumah dan sapu lidi. Nyamuk A. annularis di luar rumah beristirahat di dinding luar rumah, di dalam rumah beristirahat di tumpukan kayu kering dan dinding dalam rumah. Nyamuk A. vagus hanya ditemukan beristirahat di dalam rumah di kelambu, pakaian menggantung, dinding rumah bagian dalam. Nyamuk A. barbirostris di luar rumah beristirahat pada rerumputan di sekitar rumah dan tambak, di dalam rumah di pakaian kotor yang digantung di dapur (Tabel 2). Nyamuk Anopheles pada umumnya dapat beristirahat baik di luar maupun di dalam rumah. Nyamuk A. maculatus dan A. balabacensis di Kokap Kabupaten Kulonprogo DIY beristirahat di luar rumah, di semaksemak dan tebing parit (Mahmud 2002). Nyamuk A. aconitus di Loano Kabupaten Purworejo Jawa Tengah di dalam rumah beristirahat di kamar tidur dan ruang tamu, sedangkan di luar rumah banyak beristirahat pada lubang-lubang buatan (Riyanti 2002). Mahande et al. (2007) melaporkan di Moshi bagia utara Tanzania Nyamuk A. arabiensis lebih banyak beristirahat di luar rumah sebesar 80,7% dibandingkan A. gambiae sebesar 59,7% dan Culex spp. sebesar 60,8%. Tabel 1. Tempat Anopheles spp. Beristirahat Pagi Hari di Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan Tahun 2010 Tempat beristirahat Spesies Anopheles Di luar rumah Di dalam rumah A. sundaicus Rerumputan pinggiran tambak, pinggiran atap bagian luar, tumpukan kayu Gantungan jaring, kelambu, pakaian mengantung, dinding rumah, rak sepatu A. annularis Dinding rumah bagian luar Tidak ditemukan A. vagus Dinding kandang, daun pisang kering, tumpukan kayu, semak kering Atap rumah bagian dalam, dinding rumah A. barbirostris Rerumputan di sekitar permukiman Tidak ditemukan Tabel 2. Tempat Anopheles spp. Beristirahat Pagi Hari di Kecamatan Padangcermin, Lampung Selatan, Tahun 2010 Spesies Anopheles A. sundaicus Tempat beristirahat di luar rumah Rerumputan pinggiran tambak dan rumah, dinding di dalam rumah Gantungan jaring, kelambu, pakaian mengantung, dinding rumah 24
  30. 30. A. barbirostris Tumpukan kayu kering di dapur, dinding rumah Kelambu, pakaian menggantung, dinding rumah bagian dalam Rerumputan di sekitar permukiman dan tambak Pakaian kotor yang digantung di dapur Tabel 3. Tempat Anopheles spp. Beristirahat di Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Tahun 2010 4,53 100 Tabel 4. Tempat Anopheles spp. Beristirahat di Kecamatan Padangcermin, Lampung Selatan Tahun 2010 No Rata-rata Anopheles spp. beristirahat pagi hari di Kecamatan Rajabasa dan Padangcermin lebih banyak ditemukan di dalam rumah dibandingkan di luar rumah. Di Kecamatan Rajabasa Anopheles spp. di dalam rumah lebih banyak beristirahat di kelambu (33,74%) dan dinding dalam rumah (32,1%), selebihnya pakaian menggantung (16,87%), jaring menggantung (10,29%), atap luar rumah (4,53%) dan rak sepatu (2,47%). Di Kecamatan Padangcermin Anopheles spp. di dalam rumah beristirahat pagi hari lebih banyak ditemukan di dinding (32,55%) dan kelambu (30,5%), selebihnya pakaian menggantung (15,25%), tumpukan kayu (13,32%) dan sapu lidi (9,38%) (Tabel 3 dan Tabel 4). 2,47 Jumlah A. vagus Dinding luar rumah 10,29 - Atap rumah bagian dalam, sapu lidi Tidak ditemukan A. annularis - Jaring menggantung - Rak sepatu luar rumah 1 Tempat Anopheles Beristirahat Persen Luar Rumah - Rumput 44,34 - Dinding luar rumah 55,66 Jumlah 2 100 Dalam Rumah - Kelambu 30,5 - Pakaian menggantung 15,25 - Dinding dalam rumah 32,55 - Sapu lidi 9,38 - Tumpukan kayu 12,32 Jumlah 100 KESIMPULAN DAN SARAN No 1 Tempat Anopheles Beristirahat Persen Luar Rumah - Rumput - Pinggir atap luar - Dinding luar rumah 17,86 17,14 18,57 - Dinding kandang - Tumpukan kayu 7,86 - Daun pisang kering 7,14 - Semak kering 6,43 Jumlah 2 25 100 Kesimpulan Nyamuk A. sundaicus ditemukan sebagai spesies terbanyak, dan populasi A. sundaicus aktif sepanjang malam dengan puncak aktivitas pada jam 03.00-04.00 di Rajabasa dan pada jam 02.00-03.00 di Padangcermin, kepadatan tertinggi pada bulan November di Rajabasa dan pada bulan Desember di Padangcermin. Nyamuk Anopheles spp. beristirahat di dalam dan di luar rumah, sebagian besar ditemukan beristirahat di dinding dalam dan luar rumah, serta di kelambu. Dalam Rumah - Kelambu 33,74 - Pakaian menggantung 16,87 - Dinding dalam rumah Saran Membentuk juru malaria desa (JMD) sebagai jembatan informasi antara Pemda dan masyarakat. Menggiatkan pengendalian Anopheles dan malaria melalui indoor residual spray (IRS) dan penggunaan kelambu insektisida. 32,1 25
  31. 31. DAFTAR PUSTAKA Bonne-Wepster J, Swellengrebel NH. 1953. The anopheline mosquitoes of the IndoAustrialian region. Amsterdam. 734 hal. Bruce-Chwatt LJ. 1985. Essential Malariology. Second Edition. Lodon : Oxford, Alden Press. 452 hal. Clements AN. 1999. Mosquitoes Vol. 2, Sensory Reception and Behaviour. New York : CABI Publising. 740 hal. Clinster AW. 2008. Sensitiveness of mosquitoes in the water. Bull. Environ. Hlth. Amer. 89 (3) 283-296. [Dinkes Prop. Lampung] Dinas Kesehatan Propinsi Lampung. Laporan Penemuan Penderita Malaria. 2010. Bandarlampung, Lampung. Dusfour I, Harbach RE, Manguin S. 2004. Bionomics and systematics of the oriental Anopheles sundaicus complex in relation to malaria transmission an vector control. Am. J. Trop. Med. Hyg. 71 (4) : 518-524. Machault V, Gadiaga L, Vignolles C, Jarjaval F, Bouzid S, Sokhna C, Lacaux J, Trape J, Rogier C, Pagès F. 2009. Highly focused anopheline breeding sites and malaria transmission in Dakar. Malar. J. 8 : 138 Mahande A, Mosha F, Mahande J, Kweka E. 2007. Feeding and resting behavior of malaria vector, Anopheles arabiensis with reference to zooprophylaxis. Malar J. 6 : 100. Mahmud. 2002. Studi Perilaku Beristirahat Nyamuk Anopheles maculatus dan Anopheles balabacensis (Baisas) di Desa Hargotirto Kecamatan Kokap Kabupaten Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta. (Tesis). Bogor : IPB. Mardiana, Sukowati S, Wigati RA. 2007. Beberapa aspek perilaku nyamuk Anopheles sundaicus di Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang. J. Ekol. Kes. 6 (3) : 621-627. O’connor CT, Soepanto A. 1999. Kunci Bergambar untuk Anopheles Betina dari Indonesia. Jakarta : Ditjen P2M&PL, Depkes RI. 40 hal. Reisen WK, Eldridge BE, Scott TW, Gutierrez A, Takahashi R, Lorenzen K, DeBenedictis J, Boyce K, Swartzell R. 2002. Comparison of dry ice-baited centers for disease control and new jersey light traps for measuring mosquito abudance in California. J. Amer. Mosq. Cont. Assoc. 18 (3): 158-163. Reid JA. 1968. Anopheline mosquitoes of Malaya and Borneo Goverment of Malaysia. Malaysia. Risdiyanto I, Marpaung F, Wibowo A. 2009. Penyusunan model spasial prediksi lingkungan sebaran malaria (Anopheles sp.). Bogor : FMIPA, IPB. Risch SJ, Andow D, Altieri MA. 1983. Agroecosystem diversity and pest control : Data, tentative conclusions, and new research directions. Bull. Environ. Entomol. Soc. Amer. 12 (3) : 625-629. Riyanti F. 2002. Studi perilaku beristirahat nyamuk Anopheles di Desa Sedayu Kedamatan Loano Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. [Tesis]. Bogor : IPB. Rosa E, Setyaningrum E, Murwani S, Halim I. 2009. Identifikasi dan aktivitas menggigit nyamuk vektor malaria di daerah pantai Puri Gading Kelurahan Sukamaju Kecamatan Teluk Betung Barat Bandar Lampung. Laporan Penelitian. Bandar Lampung : FMIPA, Universitas Lampung. Russell PF, West LS. Manwell RD, MacDonals G. 1963. Practical Malariology. London : Oxpord University Press. 750 hal. Sukowati, S. 2008. Masalah keragaman spesies vektor malaria dan cara pengendalianya di Indonesia. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Biologi Lingkungan. Jakarta : Badan Litbangkes, Depkes R.I. Sukowati S, Shinta. 2009. Habitat perkembangbiakan dan aktivitas menggigit nyamuk Anopheles sundaicus dan Anopheles subpictus di Purworejo, Jawa Tengah. J. Ekol. Kes. 8 (1) : 915-925. [WHO] World Health Organization. 2003. Malaria Entomology and Vector Control Trial Edition. Genewa. 107 hal. 26
  32. 32. Implementasi Public Private Mix Program DOTS pada Dokter Praktik Swasta dalam Pengendalian Tuberkulosis di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, Tahun 2011 1 1 1 2 3 Tety Rachmawati , Muji Sulistyowati , Chatarina U.W , Setya Budiono , Tri Awignami A , Tadjudin Noor 1 2 3 3 Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Dinas Kesehatan Kabupaten Malang Abstrak. Public Private Mix (PPM) merupakan suatu model untuk lebih meningkatkan kualitas dalam pelayanan dan pengendalian Tuberkulosis (TB). Banyak praktisi swasta yang terlibat dalam program TB selain rumah sakit yaitu dokter praktik swasta (DPS), klinik, bidan, dan sebagainya. Beberapa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penderita TB tidak hanya menggunakan pelayanan kesehatan di puskesmas namun juga praktisi dokter umum. Upaya implementasi PPM program DOTS (Directly Observed Treatment Short course) pada DPS di propinsi Jawa Timur belum berjalan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model PPM program DOTS pada DPS dalam upaya peningkatan penemuan BTA positip. Hasil penelitian hampir separo responden belum pernah mendapat sosialisasi tentang DOTS, namun responden siap berpartipasi dalam implementasi DOTS. Keinginan untuk berpartisipasi terlepas dari faktor eksternal dan organisasi profesi. Walaupun begitu pengetahuan sebagian besar responden tentang tuberkulosis baik. Peran DPS dalam program DOTS tergambar dari pendapat responden mengenai peran yang akan dilakukan dalam komponen DOTS. Didapatkan 100% responden berkomitmen untuk mengimplementasikan model PPM-DOTS dengan tetap berkoordinasi dengan puskesmas dan dinas kesehatan. Perlu sosialisasi intensif tentang model PPM dan strategi DOTS dengan melibatkan organisasi profesi. Pertemuan intensif lanjutan perlu diadakan untuk mengimplementasikan sesegera mungkin model PPM-DOTS yang memungkinkan di Kabupaten Malang, Propinsi JawaTimur. Kata Kunci : public-private mix, DOTS, dokter praktik swasta, tuberkulosis. Koresponden: Muji Sulistyowati, Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR, Telp. 08123269986 PENDAHULUAN Public-Private Mix (PPM) merupakan satu model dalam bentuk pelibatan semua fasilitas layanan kesehatan dalam melakukan layanan pasien TB dan program pengendalian TB. PPM meliputi beberapa bentuk kolaborasi antara lain pemerintah – swasta (seperti kerjasama dengan DPS), kolaborasi pemerintah - pemerintah (seperti program TB dengan RS pemerintah, fasyankes lapas) dan kolaborasi swasta - swasta (seperti LSM, RS swasta dengan DPS). Public-Private Mix terdiri dari berbagai strategi yang dapat mengembangkan jejaring (partnerships) dalam pelaksanaan program TB secara lokal dan nasional, yang akan bermanfaat bagi pasien TB, masyarakat, petugas, dan peningkatan derajat kesehatan nasional (WHO, 2006). Data di Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur menyatakan bahwa Propinsi Jawa Timur mulai mengimplementasikan Directly Observered Treatment Shortcourse (DOTS) pada seluruh kabupaten dalam tahun 2000, pencapaian cakupan Puskesmas 100%. Sementara tahun 2003 propinsi JawaTimur melaporkan bahwa 41,179 suspek TB paru, hanya 11.533 BTA baru tercatat kasus positip sehingga CDR yang dicapai 28%. Sampai dengan tahun 2007 CDR propinsi Jawa Timur sudah mencapai 58%. Banyak faktor yang melatar belakangi rendahnya CDR, khususnya juga dalam pengelolaan penanganan pasien TB. Terdapat banyak praktisi swasta yang dapat terlibat dalam program TB selain rumah sakit yaitu dokter praktik swasta, klinik, bidan, dan sebagainya. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita TB tidak hanya menggunakan pelayanan kesehatan di puskesmas namun juga praktisi dokter umum. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan dokter praktik swasta dalam program DOTS dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan Case Detection Rate (CDR) dalam rangka pengendalian TB. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model Public Private Mix (PPM) program DOTS pada dokter praktik swasta dalam upaya peningkatan penemuan BTA positip di kabupaten Malang, JawaTimur. BAHAN DAN CARA Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap I adalah penelitian deskriptif dengan need assesment pada dokter praktik swasta 27

×