Eka Permana HabibillahJITU PEMUDA PERSIS di Masjid Persis Viaduct                       Sabtu, 28 April 2012
PENGERTIAN ISRAILIYYAAT Secara leksikal,        adalah masdar shinai’y dari kata “        ” yang merupakan gelar Nabi Ya’...
Pengertian Kebudayaan Yahudi Dan KebudayaanNasrani Menurut Adz-Dzahaby Kebudayaan Yahudi dalam pandangannya berpangkal pa...
Latar Belakang Sejarah MasuknyaIsrailiyat Ke Dalam Penafsiran Al-quran Menurut Adz-Dzhabi salah satu sumber tafsir Al-Qur...
ASPEK KULTURAL(Adz-Dzahaby, At-Tafsir Wa Al-Mufasirun ) Secara umum kebudayaan bangsa Arab, baik sebelum maupun pada masa...
ASPEK STRUKTURAL(Adz-Dzahaby, At-Tafsir Wa Al-Mufasirun ) a. Struktur pemukiman penduduk Arabia waktu itu, di mana kaum A...
SUMBER ISRAILIYAT Menurut Al-Qattan, kebanyakan riwayat yang disebut  Israiliyat itu dihubungkan kepada empat nama yang  ...
3 Materi Yang Terkandung Dalam Israiliyyat(Az-Zahabi, Al-Israiliyat fi At-Tafsir wa Al-Hadis)   Pertama, yang berhubungan ...
3 Materi Yang Terkandung Dalam Israiliyyat(Az-Zahabi, Al-Israiliyat fi At-Tafsir wa Al-Hadis)   Kedua, yang berhubungan de...
3 Materi Yang Terkandung Dalam Israiliyyat(Az-Zahabi, Al-Israiliyat fi At-Tafsir wa Al-Hadis)   Ketiga, Cerita yang berhub...
HUKUM MERIWAYATKANISRAILIYAT Berdasarkan konstelasi di atas, para ahli tafsir tidak  sepakat tentang sikap dan penilaian ...
PANDANGAN IBN KATSIRTERHADAP ISRAILIYAT Dalam tafsir Al-Quran Al-Azhim, ia membagi Israiliyat  kepada tiga golongan :1. y...
Metodologi Ibn Katsir dalampenyusunan tafsirnya Menafsirkan al-Qur`an dengan al-Qur`an. Menafsirkan al-Qur`an dengan Sun...
Kesimpulan Israiliyyat adalah suatu realita yang tidak bisa kita tolak sepenuhnya  terutama dengan kriteria yang telah di...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Israiliyyaat dalam tafsir ibnu katsier

1,000 views
866 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,000
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
69
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Israiliyyaat dalam tafsir ibnu katsier

  1. 1. Eka Permana HabibillahJITU PEMUDA PERSIS di Masjid Persis Viaduct Sabtu, 28 April 2012
  2. 2. PENGERTIAN ISRAILIYYAAT Secara leksikal, adalah masdar shinai’y dari kata “ ” yang merupakan gelar Nabi Ya’kub ibn Ishaq ibn Ibrahim a.s. Nabi Ya’kub adalah nenek moyang bangsa Yahudi, karena kedua belas suku bangsa Yahudi yang terkenal itu berinduk kepadanya. Sedangkan kata adalah bentuk jamak dari kata Menurut Adz-Dzahabi dalam bukunya yang berjudul At Tafsir wal Al-Mufassirun, secara sepintas israiliyat itu mengandung pengertian pengaruh kebudayaan Yahudi dan kebudayaan Nashrani dalam penafsiran AlQuran.
  3. 3. Pengertian Kebudayaan Yahudi Dan KebudayaanNasrani Menurut Adz-Dzahaby Kebudayaan Yahudi dalam pandangannya berpangkal pada kitab Taurat yang diberitakan Al-Quran sebagai kitab suci yang di antaranya berisi bermacam-macam hukum syari’at yang diturunkan Tuhan kepada Nabi Musa a.s. Kemudian kitab Taurat digunakan sebagai predikat terhadap semua kitab suci agama Yahudi, termasuk di dalamnya kitab Jabur dan lain-lainnya yang kemudian dikenal dengan sebutan Kitab Perjanjian Lama. Di samping kitab Taurat yang diterima bangsa Yahudi secara tertulis, mereka juga mempunyai pelbagai ajaran dan keterangan yang diterima mereka dan Nabi secara lisan, dan mulut ke mulut. Kemudian setelah beberapa abad lamanya, ajaran tersebut dibukukan dengan nama Talmud. Selain itu, bangsa Yahudi juga mempunyai kekayaan seni sastra berupa cerita-cerita, legenda-legenda, sejarah, dan sebagainya. Semua itu memperkaya apa yang disebut “Kebudayaan Yahudi”. Kebudayaan Nashrani menurut Adz-Dzahabi berpangkal kepada kitab Injil yang di dalam Al-Quran diberitakan sebagai kitab suci yang diturunkan Tuhan kepada Nabi Isa a.s. Sedangkan kitab-kitab Injil yang diyakini di kalangan Nashrani, termasuk surat-surat Rasul, kemudian dikenal dengan Kitab Perjanjian Baru. Di samping itu, mereka mengenal adanya pelbagai keterangan atau penjelasan Injil-Injil tersebut berupa cerita- cerita, berita-berita, ajaran-ajaran yang semuanya mereka anggap diterima dan Nabi Isa. Inilah yang menjadi sumber kebudayaan Nashrani. (At-Tafsir Wa Al-Mufasirun )
  4. 4. Latar Belakang Sejarah MasuknyaIsrailiyat Ke Dalam Penafsiran Al-quran Menurut Adz-Dzhabi salah satu sumber tafsir Al-Quran pada masa shahabat adalah Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani). Pendapat ini tampaknya didasarkan atas fakta sejarah bahwa sementara tokoh-tokoh mufasir Al-Quran pada masa itu ada yang bertanya dan menerima keterangan-keterangan dan tokoh- tokoh Ahli Kitab yang telah masuk Islam, untuk menafsirkan ayat-ayat tertentu dalam Al-Quran. Ibn Abbas, yang terkenal sebagai tokoh mufasir terkemuka pada masa itu, banyak juga mempergunakan sumber ini dalam karya tafsirnya. Berdasarkan pendapat ini, masuknya Israiliyat ke dalam penafsiran Al-Quran sudah dimulai sejak masa sahabat, yaitu sesaat setelah Rasulullah wafat. Jika dikaji faktor-faktor apa saja yang melatarbelakangi tindakan para sahabat tersebut, dapat dikategorikan dalam dua aspek besar, kultural dan struktural pada masa itu. (At-Tafsir Wa Al-Mufasirun )
  5. 5. ASPEK KULTURAL(Adz-Dzahaby, At-Tafsir Wa Al-Mufasirun ) Secara umum kebudayaan bangsa Arab, baik sebelum maupun pada masa lahirnya agama Islam, relatif lebih rendah ketimbang kebudayaan Ahli Kitab, karena kehidupan mereka yang nomad dan buta huruf. Meskipun pada umumnya Ahli Kitab di Arabia juga tak terlepas dan kehidupan nomad mereka, namun mereka relatif lebih mempunyai ilmu pengetahuan, khususnya tentang sejarah masa lalu seperti diketahui oleh umumnya Ahli Kitab waktu itu. Oleh karena itu, wajar adanya kecenderungan kebudayaan yang rendah menyerap kebudayaan yang lebih tinggi jika keduanya bertemu dalam suatu dimensi ruang dan waktu tertentu Isi Al-Quran di antaranya mempunyai titik-titik persamaan dengan isi kitab-kitab terdahulu seperti Taurat dan Injil yang dipegang oleh Ahli Kitab pada masa itu, terutama pada cerita-cerita para nabi dan rasul terdahulu yang berbeda dalam penyajiannya. Pada umumnya, Al-Quran menyajikan secara ijaz, sepotong-sepotong disesuaikan dengan kondisi, sebagai nasihat dan pelajaran bagi kaum Muslimin. Sedangkan dalam kitab suci Ahli Kitab penyajiannya agak lengkap seperti dalam penulisan sejarah. Oleh karena itu, wajar jika ada ke-cenderungan untuk melengkapi isi cerita dalam Al-Quran dengan bahan cerita yang sama dan sumber kebudayaan Ahli Kitab Adanya beberapa hadis Rasulullah yang dapat dijadikan sandaran oleh para sahabat untuk menerima dan meriwayatkan sesuatu yang bersumber dan Ahli Kitab, meskipun dalam batas-batas tertentu yang dapat dipergunakan untuk menafsirkan A1-Quran
  6. 6. ASPEK STRUKTURAL(Adz-Dzahaby, At-Tafsir Wa Al-Mufasirun ) a. Struktur pemukiman penduduk Arabia waktu itu, di mana kaum Ahli Kitab memiliki pemukiman yang berbaur dengan penduduk asli sejak lama. Menurut sejarah, terjadinya perpindahan penduduk Ahli Kitab dari daerah Syam ke Arabia diawali sejak tahun 70 M. Mereka memasuki Arabia melepaskan diri dari keganasan Kaisar Titus dari Romawi yang telah membakar habis bait Al-Maq’dis. Malah pada waktu Madinah sudah menjadi ibu kota negara yang dipimpin Rasulullah SAW., bangsa Yahudi memiliki pemukiman-pemukiman di sekitar kota. Adanya pembauran pemukiman ini dengan sendirinya membawa kepada adanya pembauran di bidang kebudayaan.[ b. Adanya rute perdagangan bangsa Arab khususnya bangsa Quraisy yang berpusat di Mekah sejak masa Jahiliyah ke utara dan ke selatan pada musim-musim tertentu, mengakibatkan pertemuan mereka dengan orang-orang Ahli Kitab di ujung rute-rute perdagangan tersebut. Hal ini memungkinkan adanya pengaruh kebudayaan Ahli Kitab kepada kebudayaan bangsa Arab. c. Struktur sosial umat Islam sejak masa Rasulullah, termasuk di dalamnya orang-orang Ahli Kitab yang telah menganut agama Islam. Malah di antara tokoh-tokoh mereka di kalangan Ahli Kitab itu mendapat kehormatan pula dalam masyarakat Islam. Sangatlah wajar apabila para sahabat menggunakan ilmu pengetahuan mereka yang lebih tinggi tentang cerita-cerita para nabi di kalangan Bani Israil yang juga ada di kalangan masyarakat Islam sendiri, untuk memperjelas bagian-bagian tertentu dan cerita-cerita yang ada dalam Al-Quran.[
  7. 7. SUMBER ISRAILIYAT Menurut Al-Qattan, kebanyakan riwayat yang disebut Israiliyat itu dihubungkan kepada empat nama yang terkenal yaitu :1. Abdulah Ibn Salam (W.43 H.), ( Abu Yusuf Abdulah Ibn Salam Ibn Harits Al-Israil Al-Anshari. Semula ia bernama “Al Hashin” yang diubah oleh Rasulullah menjadi Abdullah ketika ia menyatakan keislamannya sesaat sesudah Rasulullah tiba di Madinah dalam peristiwa hijrah)2. Ka’b Al-Ahbar (Tabi’iy, W. 32 H dalam usia 140 th), (Ishaq Ka’ab Ibn Mani Al-Himyari)3. Wahab Ibn Munabbih (Tabi’iy, 34 H - 110 H), (Abu Abdilah Wahab Ibn Munabbih Ibn Sij Ibn Zinas Al-Yamani Al-Sha’ani)4. Abd Al Malik Ibn Abd Aziz Ibn Juraij (tabi’u tabi’iy, 80 H - 150 H)
  8. 8. 3 Materi Yang Terkandung Dalam Israiliyyat(Az-Zahabi, Al-Israiliyat fi At-Tafsir wa Al-Hadis) Pertama, yang berhubungan dengan akidah, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab-nya, ketika menerangkan firman Alah Swt: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah, dengan pengagungan yang semestinya.......” (QS. Az-Zumar: 67), yaitu sebagai berikut: “Telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Mansyur, dari Ibrahim, dan Ubaidah, dari Abdillah, semoga Allah meridhoinya, ia berkata: Telah datang kepada Nabi seorang ulama yahudi dan berkata: Wahai Muhammad, kami menemukan bahwasanya langit diciptakan di atas sebuah jari, bumi-bumi pada sebuah jari pula, air dan bintang pada sebuah jari dan makhluk lainnya pada sebuah jari pula, kemudian ia berkata: Kami adalah raja. Mendengar itu semua Nabi tertawa, membenarkan ucapannya sehingga kelihatan jelas geraham giginya. Kemudian Rasulullah Saw membaca ayat di atas.
  9. 9. 3 Materi Yang Terkandung Dalam Israiliyyat(Az-Zahabi, Al-Israiliyat fi At-Tafsir wa Al-Hadis) Kedua, yang berhubungan dengan masalah hukum, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya; “....(jika kamu mengatakan bahwa ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacah dia, jika kmu orang-orang yang benar” (QS. Ali Imran: 93), keterangan lengkapnya sebagai berikut: “Tetelah menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Munzir dari Abu Damrah, dari Musa bin Uqbah, dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar, semoga Allah meridhai keduanya, bahwasanya orang-orang Yahudi datang kepada Nabi membawa dua orang laki-laki dan seorang perempuan yang telah berbuat zina. Nabi berkata: Bagaimana tindakan kamu sekalian terhadap orang yang berzina? Mereka menjawab: kami mengucurkan air panas kepada keduanya dan memukulnya, Nabi bersabda: Tidakkah kamu sekalian menemukan hukumnya di dalam kitab Taurat? Mereka menjawab: kami tidak menemukan apapun di dalamnya. Abdullah bin Salam berkata kepada mereka: kalian dusta, ambillah oleh kamu sekalian kitab Taurat dan bacalah, jika kalian merasa benar. Kemudian ia meletakkan telapak tangannya pada Taurat yang mempelajarinya pada ayat tentang rajam. Kemudian ia berhasil membaca apa yang berada di bawah telapak tangannya dan tidak membaca ayat rajam. Kemudian ia mengangkat tangannya dari ayat tersebut, dan berkata: ayat apakah ini? Ketika mereka melihat, mereka berkata bahwa ayat tersebut adalah ayat tentang rajam. Kemudian Rasulullah Saw memerintahkan keduanya untuk dirajam pada tempat dimana mereka akan di kuburkan. Abdullah bin Umar berkata: Aku melihat mereka berdua menyeringai karena merasa ngeri terhadap lemparan batu”.
  10. 10. 3 Materi Yang Terkandung Dalam Israiliyyat(Az-Zahabi, Al-Israiliyat fi At-Tafsir wa Al-Hadis) Ketiga, Cerita yang berhubungan dengan nasihat atau kejadian yang tidak berkaitan dengan akidah dan hukum. Artinya:Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang- orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan”. (Q.S. Hud : 37) Muhammad bin Ishak telah menerangkan bahwa di dalam kitab Taurat,Allah menyuruh nabi Nuh untuk membuat kapal dari kayu jati.Kapal itu panjangnya delapan puluh sikut,lebarnya lima puluh sikut,luar dan dalamnya dipenuhi dengan kaca,dan dilengkapi dengan alat – alat yang tajam yang dapat membelah air.
  11. 11. HUKUM MERIWAYATKANISRAILIYAT Berdasarkan konstelasi di atas, para ahli tafsir tidak sepakat tentang sikap dan penilaian mereka terhadap Israiliyat. Di antaranya :1. ada yang menolak sama sekali, seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridla2. lebih banyak yang menerima secara selektif. Seperti Ath Thabari dan Ibn Katsir
  12. 12. PANDANGAN IBN KATSIRTERHADAP ISRAILIYAT Dalam tafsir Al-Quran Al-Azhim, ia membagi Israiliyat kepada tiga golongan :1. yang diketahui kebenarannya, karena ada konfirmasinya dalam syariat, maka dapat diterima.2. yang diketahui kebohongannya, karena ada pertentangannya dengan syariat, maka harus ditolak.3. yang tidak masuk ke dalam bagian pertama dan kedua tersebut, maka terhadap golongan ini tidak boleh membenarkan dan tidak boleh mendustakannya, tetapi boleh meriwayatkannya.
  13. 13. Metodologi Ibn Katsir dalampenyusunan tafsirnya Menafsirkan al-Qur`an dengan al-Qur`an. Menafsirkan al-Qur`an dengan Sunnah. Menafsirkan al-Qur`an dengan perkataan sahabat. Menafsirkan dengan perkataan tabi’in. (Abul fidâ al-hafizh bin katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, yang di tahkik oleh Dr. Ahmad abdul wahab faith, Vol I, dar al-Hadits, kairo, cet. VI, 2002, hal. 22)
  14. 14. Kesimpulan Israiliyyat adalah suatu realita yang tidak bisa kita tolak sepenuhnya terutama dengan kriteria yang telah disebutkan di atas. Meriwayatkan sesuatu belum tentu menjadi gambaran akidah si rawi seperti yang diriwayatkannya, dalam konteks ini Ibn Katsir. Ibnu Katsir adalah :a. seorang ahli hadits, yang mengetahui kondisi kwalitas hadits yang ia takhrij termasuk yang ada di dalam kitab tafsirnyab. Ahli sejarah, yang sudah tentu beliau tidak akan melewatkan begitu saja informasi yang menjelaskan kondisi masa lalu sekalipun berupa israiliyatc. Ahli fiqih, yang faham betul akan konsekuensi dalam penempatan setiap hujjahnyad. Manusia biasa yang berpotensi berbuat salah, yang berarti kewajiban kita untuk selalu kritis dalam menerima informasi apapun dan dari siapapun.

×