Your SlideShare is downloading. ×
0
ILMU MA`ANIL HADITS JURUSAN TAFSIR HADIS  STAI PERSIS BANDUNG 2009
Standar Kompetensi <ul><li>Mahasiswa dapat memahami urgensi dan signifikansi  ilmu  ma`ani al-hadits , menguasai metodolog...
Pendahuluan <ul><li>Kajian hadis selama ini lebih terfokus pada  tashhih  (otentifikasi dan validasi) sanad dan (sedikit p...
Fakta <ul><li>Tidak semua hadis Nabi saw menunjukkan pengertian yang jelas dan pasti. </li></ul><ul><li>Lafal-lafal hadis ...
Konklusi <ul><li>Ada yang memandang hadis sebagai dogma dan produk jadi, sehingga harus dipahami secara tekstual; </li></u...
Pengertian Ilmu Ma`ani al-Hadits <ul><li>Pengetahuan untuk memahami matan hadis secara tepat   dengan mempertimbangkan ane...
Model Metodologi <ul><li>Bentuk Matan Hadis: </li></ul><ul><li>Jawami`al-Kalim  (Ungkapan singkat padat makna) </li></ul><...
Lanjutan Ismail <ul><li>Dihubungkan dengan fungsi Nabi: </li></ul><ul><li>Rasul </li></ul><ul><li>Kepala negara </li></ul>...
Dihubungkan dengan fungsi Muhammad sebagai... <ul><li>Secara teoritik peran seseorang dapat saja berbeda-beda, hanya saja:...
Menurut pendapat al-Qarafi dalam  al-Furuq : <ul><li>Nabi sebagai penyampai Risalah </li></ul><ul><li>Pemimpin: Tidak bole...
Menurut pendapat ad-Dahlawi dalam  Hujjatullah al-Baligah: <ul><li>Informasi tentang hari kiamat,  </li></ul><ul><li>Infor...
Al-Dahlawiy lanjutan….. <ul><li>Informasi tentang masalah kedokteran, (melalui eksperimen dan pengalaman/ tajarrub ) </li>...
Menurut Mahmud Syalthut <ul><li>Sunnah yang berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia, </li></ul><ul><li>Berkaitan dengan p...
Dihubungkan dengan fungsi Muhammad... <ul><li>Dengan memerhatikan ragam faktor di atas, maka kriterianya adalah Obyek (kon...
M. Syuhudi Ismail….. <ul><li>Latar lahirnya matan hadis (Asbab al-Wurud): </li></ul><ul><li>Ada sebab khusus </li></ul><ul...
Model Metodologi <ul><li>Memahami Sunnah sesuai petunjuk Alquran </li></ul><ul><li>Menghimpun hadis yang bertema sama/satu...
Yusuf al-Qaradawi lanjutan... <ul><li>Membedakan sarana yang tetap dan yang berubah </li></ul><ul><li>Memerhatikan ungkapa...
Model Metodologi Muhammad `Abid al-Jabiriy <ul><li>Mawdhu`iyyah, Obyek </li></ul><ul><li>Ma`quliyyah, Rasional </li></ul><...
Resensi Ilmu Ma`an al-Hadits <ul><li>Memerhatikan ragam aspek yang telah lalu, maka pengkajian hadis harus menetapi prinsi...
Operasionalisasi metodologis  <ul><li>Untuk memeroleh pemahaman yang bersifat tekstual, maka yang dapat dilakukan, di anta...
Operasionalisasi lanjutan... <ul><li>Dengan alat bantu hermeunetika: </li></ul><ul><li>Melakukan studi kesejarahan, tujuan...
Operasionalisasi lanjutan... <ul><li>Proyeksi realitas </li></ul><ul><li>Untuk mengimplementasikan nilai-nilai yang dibawa...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Ilmi ma`an al hadits

5,045

Published on

Published in: Education, Technology
0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
5,045
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
139
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Ilmi ma`an al hadits"

  1. 1. ILMU MA`ANIL HADITS JURUSAN TAFSIR HADIS STAI PERSIS BANDUNG 2009
  2. 2. Standar Kompetensi <ul><li>Mahasiswa dapat memahami urgensi dan signifikansi ilmu ma`ani al-hadits , menguasai metodologi ma`ani al-hadits dan mampu menerapkannya dalam memahami hadis Nabi saw. </li></ul>
  3. 3. Pendahuluan <ul><li>Kajian hadis selama ini lebih terfokus pada tashhih (otentifikasi dan validasi) sanad dan (sedikit pada) matan. </li></ul><ul><li>Sejatinya sebuah hadis yang dinilai sahih, tidak serta merta dapat langsung difaktualisasi. </li></ul><ul><li>Teks hadis – oleh pembacanya – tidak selalu (harus) dipahami dengan pemahaman yang homogen. </li></ul><ul><li>Pada banyak siatuasi, hadis memerlukan susastera dan hermeunetika. </li></ul>
  4. 4. Fakta <ul><li>Tidak semua hadis Nabi saw menunjukkan pengertian yang jelas dan pasti. </li></ul><ul><li>Lafal-lafal hadis pasca sahabat Nabi saw dibaca oleh orang-orang yang tidak mengalami nuansa idiologi, politik, sosial, ekonomi, budaya, dan keagamaan ketika lafal-lafal itu diucapkan, sehingga memungkinkan terjadinya kekeliruan memahami maksud lafal. Pada level tertentu hadis dipandang tidak komunikatif dan kontekstual lagi. </li></ul><ul><li>Contoh: </li></ul><ul><li>لا يصلون احدكم العصر الا في بني قريظة </li></ul><ul><li>انتم اعلم بأمور دنياكم </li></ul>
  5. 5. Konklusi <ul><li>Ada yang memandang hadis sebagai dogma dan produk jadi, sehingga harus dipahami secara tekstual; </li></ul><ul><li>Ada yang melihat hadis sebagai produk dan respon sosial, dengan demikian harus dipahami secara kontekstual; dan </li></ul><ul><li>Ada pula yang memadukan dua pandangan sebelumnya, oleh karena itu hadis-hadis Nabi saw mesti dikritisi secara selektif dengan seluruh perangkat pemaknaannya. </li></ul><ul><li>صالح لكل زمان ومكان </li></ul>
  6. 6. Pengertian Ilmu Ma`ani al-Hadits <ul><li>Pengetahuan untuk memahami matan hadis secara tepat dengan mempertimbangkan aneka faktor yang berhubungan dengannya, selain mempertimbangkan pula ragam indikasi yang mengemuka dari suatu matan hadis . </li></ul><ul><li>Tujuan: Untuk menghindari terjadinya kesalahan dan kekeliruan dalam memahami teks sebuah matan hadis </li></ul>
  7. 7. Model Metodologi <ul><li>Bentuk Matan Hadis: </li></ul><ul><li>Jawami`al-Kalim (Ungkapan singkat padat makna) </li></ul><ul><li>Bahasa Tamtsil (Perumpamaan) </li></ul><ul><li>Ungkapan majaziy/ metafora (bukan makna sebenarnya, makna pinjaman /isti`arah) </li></ul><ul><li>Bahasa percakapan (dalam rupa ungkapan tanya jawab) </li></ul><ul><li>Ungkapan Analogi. </li></ul><ul><li>Qawliy, Fi`liy, Taqririy, atau gabungan. </li></ul><ul><li>M. Syuhudi Ismail </li></ul><ul><li>Dalam: Hadis Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual </li></ul>
  8. 8. Lanjutan Ismail <ul><li>Dihubungkan dengan fungsi Nabi: </li></ul><ul><li>Rasul </li></ul><ul><li>Kepala negara </li></ul><ul><li>Panglima perang </li></ul><ul><li>Hakim </li></ul><ul><li>Tokoh Masyarakat </li></ul><ul><li>Suami </li></ul><ul><li>pribadi </li></ul>
  9. 9. Dihubungkan dengan fungsi Muhammad sebagai... <ul><li>Secara teoritik peran seseorang dapat saja berbeda-beda, hanya saja: </li></ul><ul><li>bagaimana, seperti apa, kapan, dan di mana seseorang dapat berganti-ganti peran adalah persoalan yang membutuhkan analisis lebih mendalam dari seseorang pembaca hadis. </li></ul>
  10. 10. Menurut pendapat al-Qarafi dalam al-Furuq : <ul><li>Nabi sebagai penyampai Risalah </li></ul><ul><li>Pemimpin: Tidak boleh ada yang melakukannya tanpa seijin pemimpin </li></ul><ul><li>Sebagai hakim: Tidak ada yang boleh melakukannya tanpa seijin hakim. </li></ul>
  11. 11. Menurut pendapat ad-Dahlawi dalam Hujjatullah al-Baligah: <ul><li>Informasi tentang hari kiamat, </li></ul><ul><li>Informasi tentang alam malaikat, </li></ul><ul><li>Informasi tentang ibadah dan prinsip-prinsip mu`amalah, </li></ul><ul><li>Adalah Sunnah yang disampaikan sebagai penyampai risalah </li></ul><ul><li>(menurut M Syaltut berlaku umum) </li></ul>
  12. 12. Al-Dahlawiy lanjutan….. <ul><li>Informasi tentang masalah kedokteran, (melalui eksperimen dan pengalaman/ tajarrub ) </li></ul><ul><li>Memilih kuda, -hewan,kendaraan- (Pengalaman dan kesukaan) </li></ul><ul><li>Apa yang dilakukan karena kebiasaan dan/kebetulan, </li></ul><ul><li>Kemaslahatan kontemporer. </li></ul>
  13. 13. Menurut Mahmud Syalthut <ul><li>Sunnah yang berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia, </li></ul><ul><li>Berkaitan dengan pengalaman dan kebiasaan individual atau masyarakat, </li></ul><ul><li>Strategi manusiawi yang terkait dengan sikon. </li></ul><ul><li>Adalah Sunnah yang disabdakan Muhammad bukan dalam kapasitasnya sebagai penyampai risalah </li></ul>
  14. 14. Dihubungkan dengan fungsi Muhammad... <ul><li>Dengan memerhatikan ragam faktor di atas, maka kriterianya adalah Obyek (konten/muatan) bukan Subyek (Kontainer) </li></ul>
  15. 15. M. Syuhudi Ismail….. <ul><li>Latar lahirnya matan hadis (Asbab al-Wurud): </li></ul><ul><li>Ada sebab khusus </li></ul><ul><li>Tidak ada sebab khusus </li></ul><ul><li>Berkaitan dengan keadaan yang sedang terjadi </li></ul><ul><li>Tampak saling bertentangan ( al-Mut`aridhah fi al-Zhahirah ): </li></ul><ul><li>Thariqah al-Jam`i wa al-tawfiq </li></ul><ul><li>Thariqah al-Tarjih </li></ul><ul><li>Thariqah al-Nasikh wa al-Mansukh </li></ul><ul><li>Thariqah al-Tawaqquf </li></ul>
  16. 16. Model Metodologi <ul><li>Memahami Sunnah sesuai petunjuk Alquran </li></ul><ul><li>Menghimpun hadis yang bertema sama/satu tema </li></ul><ul><li>Menggabungkan/mengkompromikan atau mentarjih yang bertentangan </li></ul><ul><li>Mempertimbangkan asbab al-wurud </li></ul><ul><li>Yusuf al-Qaradawi </li></ul><ul><li>Dalam Kaifa Nata`ammal Ma` al-Sunnah al-Nabawiyyah </li></ul>
  17. 17. Yusuf al-Qaradawi lanjutan... <ul><li>Membedakan sarana yang tetap dan yang berubah </li></ul><ul><li>Memerhatikan ungkapan bahasa, haqiqiy atau majaziy </li></ul><ul><li>Membedakan informasi yang bersifat metafisis dan yang kasat mata </li></ul><ul><li>Memastikan makna dan konotasi </li></ul>
  18. 18. Model Metodologi Muhammad `Abid al-Jabiriy <ul><li>Mawdhu`iyyah, Obyek </li></ul><ul><li>Ma`quliyyah, Rasional </li></ul><ul><li>Menjadikan adat kebiasaan/tradisi menjadi dirinya sendiri, sehingga bersifat lebih kontekstual dan kontemporer </li></ul>
  19. 19. Resensi Ilmu Ma`an al-Hadits <ul><li>Memerhatikan ragam aspek yang telah lalu, maka pengkajian hadis harus menetapi prinsip-prinsip sebagai berikut: </li></ul><ul><li>Verifikatif dan konfirmatif </li></ul><ul><li>Tematik dan komprehensif </li></ul><ul><li>Analisis linguistik ( lughawiy dan fiqh al-lughah ) </li></ul><ul><li>Kesejarahan </li></ul><ul><li>Realitas sosio-kultural </li></ul><ul><li>Legalitas dan Etika </li></ul><ul><li>Sarana dan Tujuan </li></ul>
  20. 20. Operasionalisasi metodologis <ul><li>Untuk memeroleh pemahaman yang bersifat tekstual, maka yang dapat dilakukan, di antaranya adalah: </li></ul><ul><li>Menentukan tema </li></ul><ul><li>Kritik hadis </li></ul><ul><li>Pemaknaan hadis </li></ul><ul><li>Analisis matan </li></ul><ul><li>Tematik komprehensif </li></ul><ul><li>Linguistik </li></ul><ul><li>Konfirmatif </li></ul>
  21. 21. Operasionalisasi lanjutan... <ul><li>Dengan alat bantu hermeunetika: </li></ul><ul><li>Melakukan studi kesejarahan, tujuannya: </li></ul><ul><li>untuk menemukan dan mengidentifikasi ragam konteks sosio-historis di masa Nabi saw, sehingga menyata realitas yang menuansa pada masa itu. </li></ul><ul><li>Menggeneralisasi aneka konsep yang megemuka dari matan hadis, tujuannya: </li></ul><ul><li>untuk menemukan makna universal yang terkandung dalam hadis sesuai dengan maqashid al-Syari`ah. </li></ul>
  22. 22. Operasionalisasi lanjutan... <ul><li>Proyeksi realitas </li></ul><ul><li>Untuk mengimplementasikan nilai-nilai yang dibawa oleh hadis-hadis Nabi saw, maka diperlukan usaha lebih proaktif, masif dan dinamis dari para pembelajar hadis dalam melakukan kajian hadis dengan secara cermat menghubungkannya dengan realitas kekinian. </li></ul>
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×