Eduard Douwes Dekker           Eduard Douwes Dekker (lahir di Amsterdam, Belanda, 2 Maret1820 – meninggal diIngelheim am R...
Bagi Eduard, penempatannya di sebuah kantor dagang membuatnya merasa dijauhkandari pergaulan dengan kawan-kawannya sesama ...
Kehidupan di kota yang terpencil tersebut, bagi Eduard justru lebih menyenangkan.Sebagai ambtenaar pemerintahan sipil yang...
perubahan dalam sistem hukum kolonial. Karirnya meningkat menjadi asisten residen, yangmerupakan karier nomor dua paling t...
dilakukan oleh Bupati Lebak dan para pejabatnya dengan meminta hasil bumi dan ternak kepadarakyatnya. Kalaupun membelinya,...
Sampul cetakan pertama Max Havelaar tahun 1860.           Gagal menjadi pegawai, namun cita-cita Eduard yang lain, yaitu m...
Vorstenschool (Sekolah para Raja), dipentaskan dengan sukses.Walaupun kualitas literaturMultatuli diperdebatkan, ia disuka...
Karya-karyanya  1843 - De eerloze (naskah drama, kemudian diterbitkan sebagai De bruid daarboven (1864))  1859 - Geloofsbe...
1870 - Nog eens: Vrye arbeid in Nederlandsch Indië   1871 - Duizend en eenige hoofdstukken over specialiteiten (esai satir...
Ernest Douwes DekkerDr. Ernest François Eugène Douwes Dekker (umumnya dikenal dengan nama DouwesDekker atau Danudirja Seti...
DD menikah dengan Clara Charlotte Deije (1885-1968), anak dokter campuran Jerman-Belandapada tahun 1903, dan mendapat lima...
pegawai bawahannya. Akibat konflik dengan manajernya, ia dipindah ke perkebunan tebu"Padjarakan" di Kraksaan sebagai labor...
nasional pertama, lahir atas bantuannya. Ia bahkan menghadiri kongres pertama BO diYogyakarta.Aspek pendidikan tak luput d...
kemerdekaan Indonesia ini dibubarkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda setahunkemudian, 1913 karena dianggap menyeba...
Pada rentang masa ini dibentuk pula Nationaal Indische Partij (NIP), sebagai organisasi pelanjutIndische Partij yang telah...
wakil pribumi di Volksraad. Pada saat yang sama, pemerintah Hindia Belanda masih traumaakibat pemberontakan komunis (ISDV)...
sebagai kepala seksi penulisan sejarah (historiografi) di bawah Kementerian Penerangan. Dimata beberapa pejabat Belanda ia...
Catatan kaki   1. ^abcd"DOUWES DEKKER, Ernest François Eugène, 1879–1950". Instituut voor Nederlandse      Geschiedenis. D...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Eduard dan ernest douwes dekker

2,509

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
2,509
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
21
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Eduard dan ernest douwes dekker

  1. 1. Eduard Douwes Dekker Eduard Douwes Dekker (lahir di Amsterdam, Belanda, 2 Maret1820 – meninggal diIngelheim am Rhein, Jerman, 19 Februari1887 pada umur 66 tahun), atau yang dikenal puladengan nama penaMultatuliadalah penulis Belanda yang terkenal dengan Max Havelaar.Roman Max Havelaar terbit kali pertama pada 15 Mei 1860 di Amsterdam. Roman itu bercoraksatir politik, ditulis oleh Eduard Douwes Dekker di bawah pseudonim Multatuli (latin: aku telahbanyak menderita). Ia jadi pusat perhatian karena menghadirkan realitas kehidupan masyarakatLebak nan miskin di tengah hiruk-pikuk kolonialisme yang mengeruk keuntungan dari negerijajahan. Eduard memiliki saudara bernama Jan yang adalah kakek dari tokoh pergerakankemerdekaan Indonesia, Ernest Douwes Dekker yang dikenal pula dengan nama DanudirjaSetiabudi.Eduard dilahirkan di Amsterdam. Ayahnya adalah seorang kapten kapal yang cukupbesar dengan penghasilan cukup sehingga keluarganya termasuk keluarga mapan danberpendidikan. Eduard kemudian disekolahkan di sekolah Latin yang nantinya bisa meneruskanjenjang pendidikan ke universitas. Pada awalnya Eduard menempuh pendidikan dengan lancarkarena Eduard merupakan murid yang berprestasi dan cukup pandai. Namun lama kelamaanEduard merasa bosan sehingga prestasinya merosot. Hal ini membuat ayahnya langsungmengeluarkannya dari sekolah dan ia ditempatkan di sebuah kantor dagang.
  2. 2. Bagi Eduard, penempatannya di sebuah kantor dagang membuatnya merasa dijauhkandari pergaulan dengan kawan-kawannya sesama keluarga berkecukupan; ia bahkan ditempatkandi posisi yang dianggapnya hina sebagai pembantu di sebuah kantor kecil perusahaan tekstil. Disanalah dirinya merasa bagaimana menjadi seorang miskin dan berada di kalangan bawahmasyarakat. Pekerjaan ini dilakukannya selama empat tahun dan meninggalkan kesan yang tidakdilupakannya selama hidupnya. "Dari hidup di kalangan yang memiliki pengaruh kemudianhidup di kalangan bawah masyarakat membuatnya mengetahui bahwa banyak kalanganmasyarakat yang tidak memiliki pengaruh dan perlindungan apa-apa", seperti yang diucapkanPaul van t Veer dalam biografi Multatuli. Patung Eduard Dekker di Amsterdam, Belanda. Ketika ayahnya pulang dari perjalanannya, dilihatnya perubahan kehidupan dankeadaan dalam diri Eduard. Hal ini melahirkan niat pada diri ayahnya untuk membawanya dalamsebuah perjalanan. Pada saat itu, di Hindia Belanda terdapat kesempatan untuk mencari kekayaandan jabatan, juga bagi kalangan orang-orang Belanda yang tidak berpendidikan atauberpendidikan rendah. Karena itu, pada tahun 1838 Eduard pergi ke pulau Jawa dan pada 1839tiba di Batavia sebagai seorang kelasi yang belum berpengalaman di kapal ayahnya. Denganbantuan dari relasi-relasi ayahnya, tidak berapa lama Eduard memiliki pekerjaan sebagaipegawai negeri (ambtenaar) di kantor Pengawasan Keuangan Batavia. Tiga tahun kemudian diamelamar pekerjaan sebagai ambtenaarpamong praja di Sumatera Barat dan oleh GubernurJendral Andreas Victor Michiels ia dikirim ke kota Natal yang saat itu terpencil sebagai seorangkontrolir.
  3. 3. Kehidupan di kota yang terpencil tersebut, bagi Eduard justru lebih menyenangkan.Sebagai ambtenaar pemerintahan sipil yang cukup tinggi di sana, ditambah usianya yang masihcukup muda, ia merasa memiliki kekuasaan yang tinggi. Dalam jabatannya ia mengemban tugaspemerintahan dan pengadilan, dan juga memiliki tugas keuangan dan administrasi. Namunternyata ia tidak menyukai tugas-tugasnya sehingga kemudian ia meninggalkannya. Atasannyayang kemudian mengadakan pemeriksaan, menemukan kerugian yang besar dalam kaspemerintahannya. Sikapnya yang mengabaikan peringatan-peringatan dari atasannya, serta adanyakerugian kas pemerintahan, Eduard pun diberhentikan sementara dari jabatannya oleh GubernurSumatera Barat Jendral Michiels. Setahun lamanya ia tinggal di Padang tanpa penghasilan apa-apa. Baru pada September 1844 ia mendapatkan izin untuk pulang ke Batavia. Di sana iadirehabilitasi oleh pemerintah dan mendapatkan "uang tunggu". Sambil menunggu penempatan tugas, Eduard menjalin asmara dengan Everdine vanWijnbergen, gadis turunan bangsawan yang jatuh miskin. Pada bulan April 1846, Eduard yangsaat itu telah menjabat sebagai ambtenaar sementara di kantor asisten residenPurwakarta,menikah dengan Everdine.Belajar dari pengalamannya yang buruk saat bertugas sebelumnya diNatal, Eduard bekerja cukup baik sebagai ambtenaar pemerintah sehingga pada 1846 ia diangkatmenjadi pegawai tetap. Pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi komis di kantor residenPurworejo. Prestasinya membuat dia diangkat oleh residen Johan George Otto Stuart vonSchmidt auf Altenstadt menjadi sekretaris residen menggantikan pejabat sebelumnya. Namunkarena Eduard tidak memiliki diploma sebagai syarat ditempatkannya sebagai pejabat tinggipemerintahan, Eduard tidak mendapatkan kenaikan pangkat yang sesungguhnya. NamunGubernur Jenderal dapat memberikan pengakuan diploma dalam hal-hal yang dianggap istimewadengan syarat mampu melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. Eduard mengajukan permohonankepada Gubernur Jenderal dan akhirnya berhasil memperolehnya karena prestasi kerjanya.Keputusan ini diterima dari atasannya, Residen Purworejo. Kegagalan saat bertugas di Nataldianggap sebagai kesalahan pegawai muda yang dapat dimaafkan. Dalam perjalanan karier selanjutnya, Eduard diangkat menjadi sekretaris residen diManado akhir April 1849 yang merupakan masa-masa karier terbaiknya. Eduard merasa cocokdengan residen Scherius yang menjadi atasannya sehingga ia mendapat perhatian para pejabat diBogor di antaranya karena pendapatnya yang progresif mengenai rancangan peraturan guna
  4. 4. perubahan dalam sistem hukum kolonial. Karirnya meningkat menjadi asisten residen, yangmerupakan karier nomor dua paling tinggi di kalangan ambtenaar Hindia Belanda. Eduardmenerima jabatan ini dan ditugasi di Ambon pada Februari 1851. Namun, meskipun telah mendapatkan jabatan yang cukup tinggi di kalanganambtenaar Hindia Belanda, Eduard merasa tidak cocok dengan Gubernur Maluku yang memilikikekuasaan tersendiri sehingga membuat ambtenaar-ambtenaar bawahannya tidak dapatmenunjukkan inisiatifnya. Eduard akhirnya mengajukan cuti dengan alasan kesehatan sehinggamendapatkan izin cuti ke negeri Belanda. Dan pada hari Natal 1852, dia bersama istrinya tiba dipelabuhan Hellevoetsluis dekat Rotterdam. Selama cuti di Belanda, Eduard ternyata tidak dapat mengatur keuangannya denganbaik; hutang menumpuk di sana-sini bahkan ia sering mengalami kekalahan di meja judi.Meskipun telah mengajukan perpanjangan cuti di Belanda, dia dan istrinya akhirnya kembali keBatavia pada tanggal 10 September1855. Tidak lama kemudian, Eduard diangkat menjadi asistenresiden Lebak di sebelah selatan karesidenanBanten yang bertempat di Rangkasbitung padaJanuari 1856. Eduard melaksanakan tugasnya dengan cukup baik dan bertanggung jawab.Namun ternyata, dia menjumpai keadaan di Lebak yang sesungguhnya sangat buruk bahkanlebih buruk daripada berita-berita yang didapatnya. Bupati Lebak yang pada saat itu menurut sistem kolonial Hindia Belanda diangkatmenjadi kepala pemerintahan bumiputra dengan sistem hak waris telah memegang kekuasaanselama 30 tahun, ternyata dalam keadaaan kesulitan keuangan yang cukup parah lantaranpengeluaran rumah tangganya lebih besar dari penghasilan yang diperoleh dari jabatannya.Dengan demikian, bupati Lebak hanya bisa mengandalkan pemasukan dari kerja rodi yangdiwajibkan kepada penduduk distriknya berdasarkan kebiasaan. Dekker bukan ambtenar yang selalu membuat laporan palsu demi pujian dari atasan,atau hidup cari selamat demi gaji bulanan. Ia manusia yang benar pada tempat yang salah. Bukansaja penindasan sang bupati yang digugatnya, tapi juga kekuasaan kolonial yang membiarkanrakyat terus terhimpit kesusahan.“Saya tak suka menggugat siapa pun, tapi kalau harus, biar diakepala tentu saya akan gugat,” ujar Max Havelaar, menunjukkan sikap teguh berpendirian. Edwuard Douwes Dekker menemukan fakta bahwa kerja rodi yang dibebankan padarakyat distrik telah melampaui batas bahkan menjumpai praktik-praktik pemerasan yang
  5. 5. dilakukan oleh Bupati Lebak dan para pejabatnya dengan meminta hasil bumi dan ternak kepadarakyatnya. Kalaupun membelinya, itupun dengan harga yang terlalu murah. Belum saja satu bulan Eduard Douwes Dekker ditempatkan di Lebak, dia menulissurat kepada atasannya, residen C.P. Brest van Kempen dengan penuh emosi atas kejadian-kejadian di wilayahnya. Eduard meminta agar bupati dan putra-putranya ditahan serta situasiyang tidak beres tersebut diselidiki. Dengan adanya desakan dari Eduard tersebut, timbullahdesas-desus bahwa pejabat sebelumnya yang digantikannya meninggal karena diracun. Hal inimembuat Eduard merasa dirinya dan keluarganya terancam. Sebab lainnya adalah adanya beritakunjungan bupati Cianjur ke Lebak, yang ternyata masih keponakan bupati Lebak, yangkemudian membuat Eduard mengambil kesimpulan akan menimbulkan banyak pemerasankepada rakyat. Atasannya, Brest van Kempen sangat terkejut dengan berita yang dikirimkan Eduardsehingga mengadakan pemeriksaan di tempat, namun menolak permintaan Eduard. Dengandemikian Eduard meminta agar perkara tersebut diteruskan kepada Gubernur Jendral A.J.Duymaer van Twist yang terkenal beraliran liberal. Namun, meskipun maksudnya terlaksana,Eduard justru mendapatkan peringatan yang cukup keras. Karena kecewa, Eduard mengajukanpermintaan pengunduran diri dan permohonannya dikabulkan oleh atasannya. Sekali lagi, Eduard kehilangan pekerjaan akibat bentrok dengan atasannya. Usahanyauntuk mencari pekerjaan yang lain menemui kegagalan. Bahkan saudaranya yang suksesberbisnis tembakau malah meminjamkan uang untuk pulang ke Eropa untuk bekerja di sana. Istridan anaknya sementara ditinggalkan di Batavia. Di Eropa, Eduard bekerja sebagai redaktur sebuah surat kabar di Brusel, Belgia namuntidak lama kemudian dia keluar. Kemudian usahanya untuk mendapatkan pekerjaan sebagai jurubahasa di KonsulatPerancis di Nagasaki juga menemui kegagalan. Usahanya untuk menjadi kayadi meja judi justru membuatnya menjadi semakin melarat.
  6. 6. Sampul cetakan pertama Max Havelaar tahun 1860. Gagal menjadi pegawai, namun cita-cita Eduard yang lain, yaitu menjadi pengarang,berhasil diwujudkannya. Ketika kembali dari Hindia Belanda, dia membawa berbagai manuskripdi antaranya sebuah tulisan naskah sandiwara dan salinan surat-surat ketika dia menjabat sebagaiasisten residen di Lebak. Pada bulan September 1859, ketika istrinya didesak untuk mengajukancerai, Eduard mengurung diri di sebuah kamar hotel di Brussel dan menulis buku Max Havelaaryang kemudian menjadi terkenal. Buku tersebut diterbitkan pada tahun 1860 dalam versi yang diedit oleh penerbit tanpasepengetahuannya namun tetap menimbulkan kegemparan di kalangan masyarakat khususnya dikawasan negerinya sendiri. Pada tahun 1875, terbit kembali dengan teks hasil revisinya.Namanya sebagai pengarang telah mendapatkan pengakuan, yang berarti lambat laun Eduarddapat mengharapkan penghasilan dari penerbitan karyanya. Ketika menerbitkan novel Max Havelaar, ia menggunakan nama samaran Multatuli.Nama ini berasal dari bahasa Latin dan berarti "Aku sudah menderita cukup banyak" atau "Akusudah banyak menderita"; di sini, aku dapat berarti Eduard Douwes Dekker sendiri atau rakyatyang terjajah. Setelah buku ini terjual di seluruh Eropa, terbukalah semua kenyataan kelam diHindia Belanda, walaupun beberapa kalangan menyebut penggambaran Dekker sebagai berlebih-lebihan. Antara tahun 1862 dan 1877, Eduard menerbitkan Ideën (Gagasan-gagasan) yangisinya berupa kumpulan uraian pendapat-pendapatnya mengenai politik, etika dan filsafat,karangan-karangan satir dan impian-impiannya. Sandiwara yang ditulisnya, di antaranya
  7. 7. Vorstenschool (Sekolah para Raja), dipentaskan dengan sukses.Walaupun kualitas literaturMultatuli diperdebatkan, ia disukai oleh Carel Vosmaer, penyair terkenal Belanda. Ia terusmenulis dan menerbitkan buku-buku berjudul Ideen yang terdiri dari tujuh bagian antara tahun1862 dan 1877, dan juga mengandung novelnya Woutertje Pieterse serta Minnebrieven padatahun 1861 yang walaupun judulnya tampak tidak berbahaya, isinya adalah satir keras. Akhirnya Eduard Douwes Dekker merasa bosan tinggal di Belanda. Pada akhirhayatnya, dia tinggal di Jerman bersama seorang anak Jerman yang sudah dianggapnya sebagaianaknya sendiri. Eduard Douwes Dekker tinggal di Wiesbaden, Jerman, di mana ia mencobauntuk menulis naskah drama. Salah satu dramanya, Vorstenschool (diterbitkan di 1875 dalamvolume Ideën keempat) menyatakan sikapnya yang tidak berpegang pada satu aliran politik,masyarakat atau agama. Selama dua belas tahun akhir hidupnya, Eduard tidaklah mengarangmelainkan hanya menulis berbagai surat-surat.Eduard Douwes Dekker kemudian pindah keIngelheim am Rhein dekat Sungai Rhein sampai akhirnya meninggal 19 Februari1887.Pengaruh dalam sastra Hindia Belanda dan Indonesia Multatuli telah mengilhami bukan saja karya sastra di Indonesia, misalnya kelompokAngkatan Pujangga Baru, namun ia telah menggubah semangat kebangsaan di Indonesia.Semangat kebangsaan ini bukan saja pemberontakan terhadap sistem kolonialisme daneksploitasi ekonomi Hindia Belanda (misal tanam paksa) melainkan juga kepada adat, kekuasaandan feodalisme yang tak ada habisnya menghisap rakyat jelata. Bila Multatuli dalam MaxHavelaar dapat dikatakan telah mempersonifikasikan dirinya sebagai Max yang idealis danakhirnya frustrasi, Muhammad Yamin lebih berfokus pada si kaum terjajah, misalnya dalampuisinya yang berjudul Hikajat Saidjah dan Adinda Dalam sisi filosofis frustrasi yang dihadapiMax serta Saidjah dan Adinda adalah sama pada hakekatnya; keduanya putus asa danterbelenggu dalam rantai sistem yang hanya bisa terputuskan melalui revolusi.Dalam budaya populer Max HavelaarISBN 0-14-044516-1 – buku ini telah diangkat menjadi film tahun 1988 dengan judul yang sama, disutradarai oleh Alphonse Marie Rademaker dan melibatkan beberapa artis Indonesia, misalnya Rima Melati. Film ini tidak populer di Indonesia, bahkan sempat dilarang beredar oleh pemerintahan Orde Baru setelah beberapa saat diputar di gedung bioskop.
  8. 8. Karya-karyanya 1843 - De eerloze (naskah drama, kemudian diterbitkan sebagai De bruid daarboven (1864)) 1859 - Geloofsbelydenis (diterbitkan dalam jurnal pemikir bebas De Dageraad) 1860 - Indrukken van den dag 1860 - Max Havelaar of de koffiveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappy 1860 - Brief aan Ds. W. Francken z. 1860 - Brief aan den Gouverneur-Generaal in ruste 1860 - Aan de stemgerechtigden in het kiesdistrikt Tiel 1860 - Max Havelaar aan Multatuli 1861 - Het gebed van den onwetende 1861 - Wys my de plaats waar ik gezaaid heb 1861 - Minnebrieven 1862 - Over vrijen arbeid in Nederlandsch Indië en de tegenwoordige koloniale agitatie (brochure) 1862 - Brief aan Quintillianus 1862 - Ideën I (terdapat pula yang berupa novel De geschiedenis van Woutertje Pieterse) 1862 - Japansche gesprekken 1863 - De school des levens 1864-1865 - Ideën II 1864 - De bruid daarboven. Tooneelspel in vijf bedrijven (naskah drama) 1865 - De zegen Gods door Waterloo 1865 - Franse rymen 1865 - Herdrukken 1865 - Verspreide stukken (diambil dari Herdrukken) 1866-1869 - Mainzer Beobachter 1867 - Een en ander naar aanleiding van Bosschas Pruisen en Nederland 1869-1870 - Causerieën 1869 - De maatschappij tot Nut van den Javaan 1870-1871 - Ideën III 1870-1873 - Millioenen-studiën 1870 - Divagatiën over zeker soort van Liberalismus
  9. 9. 1870 - Nog eens: Vrye arbeid in Nederlandsch Indië 1871 - Duizend en eenige hoofdstukken over specialiteiten (esai satir) 1872 - Brief aan den koning 1872 - Ideën IV (terdapat pula dalam naskah drama Vorstenschool) 1873 - Ideën V 1873 - Ideën VI 1874-1877 - Ideën VII 1887 - Onafgewerkte blaadjes 1891 - Aleid. Twee fragmenten uit een onafgewerkt blyspel (naskah drama) 1897 - Max Havelaar of de Koffiveilingen der Nederlandsche Handelsmaatschappy (editor Willem Frederik Hermans)Sumber: Wikipedia Majalah historia online Sumber-sumber terkait lainnya
  10. 10. Ernest Douwes DekkerDr. Ernest François Eugène Douwes Dekker (umumnya dikenal dengan nama DouwesDekker atau Danudirja Setiabudi; lahir di Pasuruan, Hindia-Belanda, 8 Oktober1879 –meninggal di Bandung, Jawa Barat, 28 Agustus1950 pada umur 70 tahun) adalah seorangpejuang kemerdekaan dan pahlawan nasionalIndonesia.Ia adalah salah seorang peletak dasar nasionalisme Indonesia di awal abad ke-20, penulis yangkritis terhadap kebijakan pemerintah penjajahan Hindia-Belanda, wartawan, aktivispolitik, sertapenggagas nama "Nusantara" sebagai nama untuk Hindia-Belanda yang merdeka. Setiabudiadalah salah satu dari "Tiga Serangkai" pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia, selain dr.Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat.Ernest adalah anak ketiga (dari empat bersaudara) pasangan Auguste Henri Edouard DouwesDekker (Belandatotok), seorang pialangbursa efek dan agen bank,[1] dan Louisa MargarethaNeumann, seorang Indo dari ayah Jerman dan ibu Jawa. Dengan pekerjaannya itu, Augustetermasuk orang yang berpenghasilan tinggi. Ernest, biasa dipanggil "Nes" oleh orang-orangdekatnya atau "DD" oleh rekan-rekan seperjuangannya, masih terhitung saudara dari pengarangbuku Max Havelaar, yaitu Eduard Douwes Dekker (Multatuli), yang merupakan adikkakeknya.[2]Olaf Douwes Dekker, cucu dari Guido, saudaranya, menjadi penyair di Breda,Belanda.
  11. 11. DD menikah dengan Clara Charlotte Deije (1885-1968), anak dokter campuran Jerman-Belandapada tahun 1903, dan mendapat lima anak, namun dua di antaranya meninggal sewaktu bayi(keduanya laki-laki). Yang bertahan hidup semuanya perempuan. Perkawinan ini kandas padatahun 1919 dan keduanya bercerai.Kemudian DD menikah lagi dengan Johanna Petronella Mossel (1905-1978), seorang Indoketurunan Yahudi, pada tahun 1927. Johanna adalah guru yang banyak membantu kegiatankesekretariatan Ksatrian Instituut, sekolah yang didirikan DD. Dari perkawinan ini mereka tidakdikaruniai anak. Di saat DD dibuang ke Suriname pada tahun 1941 pasangan ini harus berpisah,dan di kala itu kemudian Johanna menikah dengan Djafar Kartodiredjo, yang juga merupakanseorang Indo (sebelumnya dikenal sebagai Arthur Kolmus), tanpa perceraian resmi terlebihdahulu. Tidak jelas apakah DD mengetahui pernikahan ini karena ia selama dalam pengasingantetap berkirim surat namun tidak dibalas.Sewaktu DD "kabur" dari Suriname dan menetap sebentar di Belanda (1946), ia menjadi dekatdengan perawat yang mengasuhnya, Nelly Alberta Geertzema née Kruymel, seorang Indo yangberstatus janda beranak satu. Nelly kemudian menemani DD yang menggunakan nama samaranpulang ke Indonesia agar tidak ditangkap intelijen Belanda. Mengetahui bahwa Johanna telahmenikah dengan Djafar, DD tidak lama kemudian menikahi Nelly, pada tahun 1947. DDkemudian menggunakan nama Danoedirdja Setiabuddhi dan Nelly menggunakan nama HaroemiWanasita, nama-nama yang diusulkan oleh Sukarno. Sepeninggal DD, Haroemi menikah denganWayne E. Evans pada tahun 1964 dan kini tinggal di Amerika Serikat.Walaupun mencintai anak-anaknya, DD tampaknya terlalu berfokus pada perjuanganidealismenya sehingga perhatian pada keluarga agak kurang dalam. Ia pernah berkata kepadakakak perempuannya, Adelin, kalau yang ia perjuangkan adalah untuk memberi masa depanyang baik kepada anak-anaknya di Hindia kelak yang merdeka. Pada kenyataannya, semuaanaknya meninggalkan Indonesia menuju ke Belanda ketika Jepang masuk. Demikian pulasemua saudaranya, tidak ada yang memilih menjadi warga negara Indonesia.Pendidikan dasar ditempuh Nes di Pasuruan. Sekolah lanjutan pertama-tama diteruskan ke HBSdi Surabaya, lalu pindah ke Gymnasium Willem III, suatu sekolah elit di Batavia. Selepas lulussekolah ia bekerja di perkebunankopi "Soember Doeren" di Malang, Jawa Timur. Di sana iamenyaksikan perlakuan semena-mena yang dialami pekerja kebun, dan sering kali membelamereka. Tindakannya itu membuat ia kurang disukai rekan-rekan kerja, namun disukai pegawai-
  12. 12. pegawai bawahannya. Akibat konflik dengan manajernya, ia dipindah ke perkebunan tebu"Padjarakan" di Kraksaan sebagai laboran.[1] Sekali lagi, dia terlibat konflik dengan manajemenkarena urusan pembagian irigasi untuk tebu perkebunan dan padi petani. Akibatnya, ia dipecat.Menganggur dan kematian mendadak ibunya, membuat Nes memutuskan berangkat ke AfrikaSelatan pada tahun 1899 untuk ikut dalam Perang Boer Kedua melawan Inggris.[2] Ia bahkanmenjadi warga negara Republik Transvaal.[1] Beberapa bulan kemudian kedua saudara laki-lakinya, Julius dan Guido, menyusul. Nes tertangkap lalu dipenjara di suatu kamp di Ceylon. Disana ia mulai berkenalan dengan sastera India, dan perlahan-lahan pemikirannya mulai terbukaakan perlakuan tidak adil pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap warganya.DD dipulangkan ke Hindia Belanda pada tahun 1902, dan bekerja sebagai agen pengirimanKPM, perusahaan pengiriman milik negara. Penghasilannya yang lumayan membuatnya beranimenyunting Clara Charlotte Deije, putri seorang dokter asal Jerman yang tinggal di HindiaBelanda, pada tahun 1903.Kemampuannya menulis laporan pengalaman peperangannya di surat kabar terkemuka membuatia ditawari menjadi reporter koran Semarang terkemuka, De Locomotief. Di sinilah ia mulaimerintis kemampuannya dalam berorganisasi. Tugas-tugas jurnalistiknya, seperti ke perkebunandi Lebak dan kasus kelaparan di Indramayu, membuatnya mulai kritis terhadap kebijakankolonial. Ketika ia menjadi staf redaksi Bataviaasch Nieuwsblad, 1907, tulisan-tulisannyamenjadi semakin pro kaum Indo dan pribumi. Dua seri artikel yang tajam dibuatnya pada tahun1908. Seri pertama artikel dimuat Februari 1908 di surat kabar Belanda Nieuwe ArnhemscheCourant setelah versi bahasa Jermannya dimuat di koran Jerman Das Freie Wort, "Het bankroetder ethische principes in Nederlandsch Oost-Indie" ("Kebangkrutan prinsip etis di HindiaBelanda") kemudian pindah di Bataviaasche Nieuwsblad. Sekitar tujuh bulan kemudian (akhirAgustus) seri tulisan panas berikutnya muncul di surat kabar yang sama, "Hoe kan Holland hetspoedigst zijn koloniën verliezen?" ("Bagaimana caranya Belanda dapat segera kehilangankoloni-koloninya?", versi Jermannya berjudul "Hollands kolonialer Untergang"). Kembalikebijakan politik etis dikritiknya. Tulisan-tulisan ini membuatnya mulai masuk dalam radarintelijen penguasa.[3]Rumah DD, pada saat yang sama, yang terletak di dekat Stovia menjadi tempat berkumpul paraperintis gerakan kebangkitan nasional Indonesia, seperti Sutomo dan Cipto Mangunkusumo,untuk belajar dan berdiskusi. Budi Utomo (BO), organisasi yang diklaim sebagai organisasi
  13. 13. nasional pertama, lahir atas bantuannya. Ia bahkan menghadiri kongres pertama BO diYogyakarta.Aspek pendidikan tak luput dari perhatian DD. Pada tahun 1910 (8 Maret) ia turut membidanilahirnya Indische Universiteit Vereeniging (IUV), suatu badan penggalang dana untukmemungkinkan dibangunnya lembaga pendidikan tinggi (universitas) di Hindia Belanda. Didalam IUV terdapat orang Belanda, orang-orang Indo, aristokrat Banten dan perwakilan dariorganisasi pendidikan kaum TionghoaTHHK.Karena menganggap BO terbatas pada masalah kebudayaan (Jawa), DD tidak banyak terlibat didalamnya. Sebagai seorang Indo, ia terdiskriminasi oleh orang Belanda murni ("totok" atautrekkers). Sebagai contoh, orang Indo tidak dapat menempati posisi-posisi kunci pemerintahkarena tingkat pendidikannya. Mereka dapat mengisi posisi-posisi menengah dengan gajilumayan tinggi. Untuk posisi yang sama, mereka mendapat gaji yang lebih tinggi daripadapribumi. Namun, akibat politik etis, posisi mereka dipersulit karena pemerintah koloni mulaimemberikan tempat pada orang-orang pribumi untuk posisi-posisi yang biasanya diisi oleh Indo.Tentu saja pemberi gaji lebih suka memilih orang pribumi karena mereka dibayar lebih rendah.Keprihatinan orang Indo ini dimanfaatkan oleh DD untuk memasukkan idenya tentangpemerintahan sendiri Hindia Belanda oleh orang-orang asli Hindia Belanda (Indiërs) yangbercorak inklusif dan mendobrak batasan ras dan suku. Pandangan ini dapat dikatakan original,karena semua orang pada masa itu lebih aktif pada kelompok ras atau sukunya masing-masing.Berangkat dari organisasi kaum Indo, Indische Bond dan Insulinde, ia menyampaikan gagasansuatu "Indië" (Hindia) baru yang dipimpin oleh warganya sendiri, bukan oleh pendatang.Ironisnya, di kalangan Indo ia mendapat sambutan hangat hanya di kalangan kecil saja, karenasebagian besar dari mereka lebih suka dengan status quo, meskipun kaum Indo direndahkan olehkelompok orang Eropa "murni" toh mereka masih dapat dilayani oleh pribumi.Tidak puas karena Indische Bond dan Insulinde tidak bisa bersatu, pada tahun 1912 Nesbersama-sama dengan Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat mendirikan partaiberhaluan nasionalis inklusif bernama Indische Partij ("Partai Hindia").[1][4] Kampanye kebeberapa kota menghasilkan anggota berjumlah sekitar 5000 orang dalam waktu singkat.Semarang mencatat jumlah anggota terbesar, diikuti Bandung. Partai ini sangat populer dikalangan orang Indo, dan diterima baik oleh kelompok Tionghoa dan pribumi, meskipun tetapdicurigai pula karena gagasannya yang radikal. Partai yang anti-kolonial dan bertujuan akhir
  14. 14. kemerdekaan Indonesia ini dibubarkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda setahunkemudian, 1913 karena dianggap menyebarkan kebencian terhadap pemerintah.Akibat munculnya tulisan terkenal Suwardi di De Expres, "Als ik eens Nederlander was"(Seandainya aku orang Belanda), ketiganya lalu diasingkan ke Belanda, karena DD dan Ciptomendukung Suwardi. Universitas Zurich, tempat Ernest Douwes Dekker menempuh pendidikan tingginya.Masa di Eropa dimanfaatkan oleh Nes untuk mengambil program doktor di Universitas Zürich,Swiss, dalam bidang ekonomi. Di sini ia tinggal bersama-sama keluarganya. Gelar doktordiperoleh secara agak kontroversial dan dengan nilai "serendah-rendahnya", menurut istilah salahsatu pengujinya. Karena di Swis ia terlibat konspirasi dengan kaum revolusioner India, iaditangkap di Hong Kong dan diadili dan ditahan di Singapura (1918). Setelah dua tahundipenjara, ia pulang ke Hindia Belanda 1920.Sekembalinya ia ke Batavia setelah dipenjara DD aktif kembali dalam dunia jurnalistik danorganisasi. Ia menjadi redaktur organ informasi Insulinde yang bernama De Beweging. Iamenulis beberapa seri artikel yang banyak menyindir kalangan pro-koloni serta sikapkebanyakan kaumnya: kaum Indo. Targetnya sebetulnya adalah de-eropanisasi orang Indo, agarmereka menyadari bahwa demi masa depan mereka berada di pihak pribumi, bukan seperti yangterjadi, berpihak ke Belanda. Organisasi kaum Indo yang baru dibentuk, Indisch EuropeeschVerbond (IEV), dikritiknya dalam seri tulisan "De tien geboden" (Sepuluh Perintah Tuhan) dan"Njo Indrik" (Sinyo Hendrik). Pada seri yang disebut terakhir, IEV dicap olehnya sebagai "ligayang konyol dan kekanak-kanakan".Sejumlah pamflet lepas yang cukup dikenal juga ditulisnya pada periode ini, seperti "Een Natiein de maak" (Suatu bangsa tengah terbentuk) dan "Ons volk en het buitenlandsche kapitaal"(Bangsa kita dan modal asing).
  15. 15. Pada rentang masa ini dibentuk pula Nationaal Indische Partij (NIP), sebagai organisasi pelanjutIndische Partij yang telah dilarang. Pembentukan NIP menimbulkan perpecahan di kalangananggota Insulinde antara yang moderat (kebanyakan kalangan Indo) dan yang progresif(menginginkan pemerintahan sendiri, kebanyakan orang Indonesia pribumi). NIP akhirnyabernasib sama seperti IP: tidak diizinkan oleh Pemerintah.Pada tahun 1919, DD terlibat (atau tersangkut) dalam peristiwa protes dan kerusuhanpetani/buruh tani di perkebunan tembakauPolanharjo, Klaten. Ia terkena kasus ini karenadianggap mengompori para petani dalam pertemuan mereka dengan orang-orang Insulindecabang Surakarta, yang ia hadiri pula. Pengadilan dilakukan pada tahun 1920 di Semarang.Hasilnya, ia dibebaskan; namun kasus baru menyusul dari Batavia: ia dituduh menulis hasutan disurat kabar yang dipimpinnya. Kali ini ia harus melindungi seseorang (sebagai redaktur DeBeweging) yang menulis suatu komentar yang di dalamnya tertulis "Membebaskan negeri iniadalah keharusan! Turunkan penguasa asing!". Yang membuatnya kecewa adalah ternyata alasanpenyelidikan bukanlah semata tulisan itu, melainkan "mentalitas" sang penulis (dan dituduhkanke DD). Setelah melalui pembelaan yang panjang, DD divonis bebas oleh pengadilan.Sekeluarnya dari tahanan dan rentetan pengadilan, DD cenderung meninggalkan kegiatanjurnalistik dan menyibukkan diri dalam penulisan sejumlah buku semi-ilmiah dan melakukanpenangkarananjinggembala Jerman dan aktif dalam organisasinya. Prestasinya cukupmengesankan, karena salah satu anjingnya memenangi kontes dan bahkan mampu menjawabbeberapa pertanyaan berhitung dan menjawab beberapa pertanyaan tertulis.Atas dorongan Suwardi Suryaningrat yang saat itu sudah mendirikan Perguruan Taman Siswa, iakemudian ikut dalam dunia pendidikan, dengan mendirikan sekolah "Ksatrian Instituut" (KI) diBandung. Ia banyak membuat materi pelajaran sendiri yang instruksinya diberikan dalam bahasaBelanda. KI kemudian mengembangkan pendidikan bisnis, namun di dalamnya diberikanpelajaran sejarah Indonesia dan sejarah dunia yang materinya ditulis oleh Nes sendiri. Akibat isipelajaran sejarah ini yang anti-kolonial dan pro-Jepang, pada tahun 1933 buku-bukunya disitaoleh pemerintah Keresidenan Bandung dan kemudian dibakar. Pada saat itu Jepang mulaimengembangkan kekuatan militer dan politik di Asia Timur dengan politik ekspansi ke Koreadan Tiongkok. DD kemudian juga dilarang mengajar.Karena dilarang mengajar, DD kemudian mencari penghasilan dengan bekerja di kantor KamarDagang Jepang di Jakarta. Ini membuatnya dekat dengan Mohammad Husni Thamrin, seorang
  16. 16. wakil pribumi di Volksraad. Pada saat yang sama, pemerintah Hindia Belanda masih traumaakibat pemberontakan komunis (ISDV) tahun 1927, memecahkan masalah ekonomi akibat krisiskeuangan 1929, dan harus menghadapi perkembangan fasisme ala Nazi di kalangan warga Eropa(Europaeer).Serbuan Jerman ke Denmark dan Norwegia, dan akhirnya ke Belanda, pada tahun 1940mengakibatkan ditangkapnya ribuan orang Jerman di Hindia Belanda, berikut orang-orang Eropalain yang diduga berafiliasi Nazi. DD yang memang sudah "dipantau", akhirnya ikut digarukkarena dianggap kolaborator Jepang, yang mulai menyerang Indocina Perancis. Ia juga dituduhkomunis.DD ditangkap dan dibuang ke Suriname pada tahun 1941 melalui Belanda. Di sana iaditempatkan di suatu kamp jauh di pedalaman Sungai Suriname yang bernama Jodensavanne("Padang Yahudi").[2] Tempat itu pada abad ke-17 hingga ke-19 pernah menjadi tempatpemukiman orang Yahudi yang kemudian ditinggalkan karena kemudian banyak pendatang yangmembuat keonaran.Kondisi kehidupan di kamp sangat memprihatinkan. Sampai-sampai DD, yang waktu itu sudahmemasuki usia 60-an, sempat kehilangan kemampuan melihat. Di sini kehidupannya sangattertekan karena ia sangat merindukan keluarganya. Surat-menyurat dilakukannya melalui PalangMerah Internasional dan harus melalui sensor.Ketika kabar berakhirnya perang berakhir, para interniran (buangan) di sana tidak segeradibebaskan. Baru menjelang pertengahan tahun 1946 sejumlah orang buangan dikirim keBelanda, termasuk DD. Di Belanda ia bertemu dengan Nelly Albertina Gertzema nee Kruymel,seorang perawat. Nelly kemudian menemaninya kembali ke Indonesia. Kepulangan ke Indonesiajuga melalui petualangan yang mendebarkan karena DD harus mengganti nama dan menghindaripetugas intelijen di Pelabuhan Tanjung Priok. Akhirnya mereka berhasil tiba di Yogyakarta,ibukota Republik Indonesia pada waktu itu pada tanggal 2 Januari1947.Tak lama setelah kembali ia segera terlibat dalam posisi-posisi penting di sisi RepublikIndonesia. Pertama-tama ia menjabat sebagai menteri negara tanpa portofolio dalam KabinetSjahrir III, yang hanya bekerja dalam waktu hampir 9 bulan. Selanjutnya berturut-turut iamenjadi anggota delegasi negosiasi dengan Belanda, konsultan dalam komite bidang keuangandan ekonomi di delegasi itu, anggota DPA, pengajar di Akademi Ilmu Politik, dan terakhir
  17. 17. sebagai kepala seksi penulisan sejarah (historiografi) di bawah Kementerian Penerangan. Dimata beberapa pejabat Belanda ia dianggap "komunis" meskipun ini sama sekali tidak benar.Pada periode ini DD tinggal satu rumah dengan Sukarno. Ia juga menempati salah satu rumah diKaliurang. Dan dari rumah di Kaliurang inilah pada tanggal 21 Desember 1948 ia diciduk tentaraBelanda yang tiba dua hari sebelumnya di Yogyakarta dalam rangka "Aksi Polisionil". Setelahdiinterogasi ia lalu dikirim ke Jakarta untuk diinterogasi kembali.Tak lama kemudian DD dibebaskan karena kondisi fisiknya yang payah dan setelah berjanji takakan melibatkan diri dalam politik. Ia dibawa ke Bandung atas permintaannya. Harumi kemudianmenyusulnya ke Bandung. Setelah renovasi, mereka lalu menempati rumah lama (dijulukinya"Djiwa Djuwita") di Lembangweg.Di Bandung ia terlibat kembali dengan aktivitas di Ksatrian Instituut. Kegiatannya yang lainadalah mengumpulkan material untuk penulisan autobiografinya (terbit 1950: 70 jaarkonsekwent) dan merevisi buku sejarah tulisannya.Ernest Douwes Dekker wafat dini hari tanggal 28 Agustus1950 (tertulis di batu nisannya; 29Agustus1950 versi van der Veur, 2006) dan dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung.Jasa DD dalam perintisan kemerdekaan diekspresikan dalam banyak hal. Di setiap kota besardapat dijumpai jalan yang dinamakan menurut namanya: Setiabudi. Jalan Lembang di Bandungutara, tempat rumahnya berdiri, sekarang bernama Jalan Setiabudi. Di Jakarta bahkan namanyadipakai sebagai nama suatu kecamatan, yakni Kecamatan Setiabudi di Jakarta Selatan.Di Belanda, nama DD juga dihormati sebagai orang yang berjasa dalam meluruskan arahkolonialisme (meskipun hampir sepanjang hidupnya ia berseberangan posisi politik denganpemerintah kolonial Belanda; bahkan dituduh "pengkhianat").Referensi Doel, H.W. van den Douwes Dekker, Ernest François Eugène (1879-1950) Biografisch Woordenboek van Nederland. Voer, P.W. van der 2006. The lion and the gadfly. Dutch colonialism and the spirit of E.F.E. Douwes Dekker. KITLV Publisher. Lapian, A.B."Danudirdja Setiabuddhi, 1879-1950. Tokoh Indo yang Antikolonial". Resensi atas buku Het leven van E.F.E. Douwes Dekker dari Frans Glissenaar yang dimuat di Kompas daring.
  18. 18. Catatan kaki 1. ^abcd"DOUWES DEKKER, Ernest François Eugène, 1879–1950". Instituut voor Nederlandse Geschiedenis. Diakses pada 8 Januari 2006. 2. ^abc"Danudirdja Setiabuddhi, 1879–1950". Kompas. Diakses pada 8 Januari 2006. 3. ^Indonesia, Early Political Movements. Library of Congress Country Studies. 4. ^"The Growth of National Consciousness". Federal Research Division of the Library of Congress. Diakses pada 8 Januari 2006.Bacaan tambahan (Belanda) Glissenaar, F. 1999. D.D. Het leven van E.F.E. Douwes Dekker. Hilversum, Nederland.

×