Kearifan Lokal Kudus
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Kearifan Lokal Kudus

on

  • 864 views

My assesment for Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup

My assesment for Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup

Statistics

Views

Total Views
864
Views on SlideShare
864
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
14
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Kearifan Lokal Kudus Kearifan Lokal Kudus Document Transcript

  • Nama : Nor HidayatiNIM : 1111016100067Pendidikan Biologi 2BKearifan Lokal di Kota KudusDalam pengertian kamus, kearifan lokal (local wisdom) terdiri dari dua kata: kearifan (wisdom)dan lokal (local). Dalam Kamus Inggris Indonesia John M. Echols dan Hassan Syadily, local berartisetempat, sedangkan wisdom (kearifan) sama dengan kebijaksanaan. Secara umum maka localwisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifatbijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.1. Kearifan Lokal Masyarakat Kudus Kulon dalam tradisi Perawatan Rumah PencuKeberadaan rumah tradisional di Kudus memiliki keberagaman, yaitu rumah Pencu danrumah Payon (rumah Payon Limasan Maligi Gajah dan rumah Payon Kampung).Persebaran rumah Pencu yang terdapat di Kudus tersebar di wilayah Kudus Kulon dan KudusWetan. Di Kudus Kulon kondisi eksisting rumah Pencu sekarang ini masih bisa dijumpai denganjumlah yang cukup banyak jika dibandingkan dengan kondisi eksisting rumah Pencu di daerahKudus Wetan. Adanya perbedaan jumlah yang sangat signifikan tersebut sangat erat kaitannyadengan perkembangan lingkungan dan tata ruang dikedua wilayah tersebut. Di Kudus Kulonkondisi lingkungannya relatif tidak banyak mengalami perubahan dari tahun ke tahun,sedangkan di Kudus Wetan perubahan lingkungannya begitu pesat.Rumah Pencu merupakan salah satu bagian dari hasil budaya materi yang berasal darimasyarakat Kudus pada masa lalu. Identitas mengenai tingkat budaya masyarakatnya tercerminmelalui arsitektur, ragam hias serta konsepsi yang melatarbelakangi rumah tersebut.Masyarakat Kudus memiliki cara tersendiri dalam merawat rumah tinggalnya yang beruparumah kayu tersebut dari beberapa generasi yang lampau. Kearifan lokal tersebut terihat daribagaimana masyarakat Kudus mengkonservasi rumah Pencu yang berbahan utama kayu denganramuan tradisional dari leluhur mereka.Pada rumah tradisional Kudus khususnya rumah Pencu, perawatan terhadap komponenbangunan yang sebagian besar terbuat dari bahan kayu sangat diperhatikan. Terdapat beberaptahapan dalam prosesi perawatan dalam rumah tradsional tersebut. Sedangkan dalammasyarakat Kudus Kulon telah terdapat sebuah profesi yang memang khusus dalampenanganan perawatan rumah kayu dan ukir.Proses perawatan rumah Pencu ataupun rumah tradisional pada dasarnya memilikikesamaan. Proses perawatan rumah Pencu dilakukan oleh masyarakat pemiliknya sendiridengan cara tradisional dan turun-temurun dari generasi ke generasi. Proses perawatan rumahtersebut menggunakan beberapa ramuan tradisional yang biasa terdapat di lingkungan sekitarrumah atau wilayah Kudus Kulon. Beberapa ramuan yang dipergunakan dalam perawatan
  • rumah Pencu adalah rendaman pelepah pisang atau lebih dikenal dengan sebutan air pelepahpohon pisang dan tembakau (APT), air merang, dan air rendaman cengkeh (ARC).Proses perendaman ramuan tersebut berbeda-beda waktunya dan yang paling singkatadalah rendaman air merang dan air pelepah daun pisang-tembakau yang rata-rata memakanwaktu sekitar 7 hari, sedangkan rendaman air cengkeh lebih dari 7 hari. Proses pencucianrumah berlangsung bisa berlangsung 2 bulan atau lebih, hal ini disebakna oleh tingkatkemampuan ekonomis setiap pemiliki rumah dalam memperkerjakan ahli perawatan rumahPencu. Menurut bapak Sariyon, salah satu orang yang berprofesi dalam merawat atau mencucirumah tradional Kudus atau rumah Pencu, hanya orang-orang tertentulah yang bisa mencucirumah Pencunya, dan biasanya setiap tahun berlangsung dua kali proses pencuciaannya.Penggunaan ramuan tersebut terbukti efisien dan efektif mampu mengawetkan kayu jati, bahandasar Rumah Adat Kudus, dari serangan rayap (termite) dan sekaligus meningkatkan pamor danpermukaan kayu menjadi lebih bersih, karena ramuan APT dan ARC dioleskan berulang-ulang kepermukaan dan komponen-komponen bangunan kayu jati.2. Kearifan Lokal Buka LuwurBuka luwur merupakan upacara penggantian kain klambu penutup makam yang berlangsungtiap tahun. Upacara buka luwur diawali dengan penglepasan luwur lama dan dilanjutkandengan pemasangan luwur yang baru. Upacara ini dirangkai dengan pengajian umum dan tahlilbersama.• Buka luwur Sunan Kudus dilaksanakan setiap tanggal 10 Syuro ( 10 Muharram )• Buka luwur Sunan Muria dilaksanakan setiap tanggal 16 SyuroRibuan meter luwur yang menutupi makam diganti dengan luwur baru hasil sumbanganmasyarakat. Luwur lama dibagi secara gratis kepada warga sekitar, bahkan di MakamMutamakin, luwur dilelang kepada pengunjung hingga mencapai nilai puluhan juta. Luwurpaling keramat dan mempunyai nilai jual tinggi adalah yang berada di bagian nisan yang bagiankepala.Luwur yang hanya sebuah kain mori pada gilirannya mempunyai makna mistis di kalanganmasyarakat karena ada alunan doa dan berkah yang melekat di dalamnya. Warga melihat bendametafisis untuk menggapai yang metafisis. Kepercayaan warga demikian sama halnya dengananimisme maupun dinamisme, hanya saja dipisahkan oleh muatan ilahiah pada umat muslimkekinian.Buka luwur dalam tradisi makam-makam keramat dilakukan satu tahun sekali seperti halnyamerayakan ulang tahun. Setiap makam mempunyai tanggal yang menjadi acuan. Sehinggamasyarakat bisa menyiapkan diri untuk terjun sebagai relawan atau donator acara.Dimensi sosial yang muncul dari buka luwur adalah adanya kebersamaan dankesetiakawanan yang saat ini jarang ada. Buka luwur bisa dikategorikan sebagai pesta rakyat,karena antusias masyarakat yang mengikuti serta panitia acara. Dalam sebuah acara setidaknya
  • melibatkan ratusan masyarakat yang turun tanpa dikomando dan dibayar dengan upah rupiah.Karena mereka akan cukup jika ada hasil sajian kuliner yang bisa dibawa pulang sebagai bagiandari ngalap berkah, serta sepotong kain luwur yang selalu disimpan untuk kepentingan pribadi.Panitia buka luwur menerima sumbangan tidak dibatasi dari masyarakat muslim saja, warganonmuslim pun ikut ambil alih. Panita bahkan tidak membatasi jumlah sumbangan yangdiberikan, karena buka luwur adalah hajat masyarakat, maka besar kecilnya kegiatantergantung pada masyarakat. Panitia buka luwur Makam Sunan Kudus, misalnya, tidakmembuat proposal atau permohonan bantuan kepada pihak luar. Besar atau kecil acara tidakmemengaruhi kekhidmatan buka luwur. Semua berjalan apa adanya sesuai dengan tradisi dantidak dibuat-buat. Makna dan kekhusyuan menjadi taruhan.Modal sosial yang terkuak melalui kebersamaan dan sikap saling tolong menolongmerupakan aset besar dalam kehidupan bermasyarakat. Sebuah bangunan sosial yang akanmenjadikan cerahnya masa depan kemanusiaan. Anggota masyarakat yang jauh beradadipersatukan oleh even agama untuk sekadar datang berziarah hingga ikut menyukseskanacara. Jiwa yang mempunyai kesamaan visi dan misi bertemu dan membangun jalinankemanusiaan untuk menggapai sebuah maqam ilahiah. Sehingga buka luwu menjadikan amatberkesan dan meninggalkan keakraban sosial.Anak muda ataupun anak-anak yang mengikuti buka luwur akan dikenalkan dengan tradisimasyarakat yang menuduhkan perawatan terhadap jalinan pesaudaraan. Meski terkadang dibenak anak-anak baru sebatas perayaan agama, tetapi saat menginjak dewasa kemudian tua,akan terbersit memory purba dimana persaudaraan terjalin.Tantangan memertahankan makna dan hikmah dari sebuah tradisi kuno yang berlangsung dizaman modern adalah gempuran pemahaman ekonomi. Dalam kaca mata industri pariwisatadan ekonomi masyarakat tradisi tersebut adalah objek penggalian keuntungan.Dampak positif buka luwur dalam industri pariwisata sangat besar. Puluhan ribu orang dariberbagai penjuru Indonesia mengkhususkan diri datang. Wisatawan di lokasi makam keramatjustru menemukan puncak wisatawan. Secara tak langsung denyut ekonomi lokal sekitarmakam terangkat.Buka luwur kemudian menjadi tradisi yang hidup berkat gairah masyarakat untuk menjagakearifan lokal dan nilai di dalamnya. Timbal baliknya buka luwur pun menghidupi warga.Sehingga terjadi hubungan mutualisme yang menghantarkan tradisi terus berjalan.Daya kekuatan pemersatu dari buka luwur merupakan modal sosial bagi keberlangsungantatanan masyarakat yang saling memerhatikan. John Field dalam bukunya Modal Sosial (2010)memerlihatkan bahwa dalam masyarakat modern modal sosial telah runtuh tergantikan dengandominasi individualism semata. Jikapun modal sosial tetap ada, hanya menjadi alat memerolehkekuasaan atau fasilitas nyaman sekolompok orang melalui lobi-lobi tertentu. Maka kembalipada adat tradisi lokal yang sarat kearifan adalah tawaran yang mencerahkan.
  • Tak harus larut dalam buka luwur sebagai bentuk tunggal, membumikan sikap saling pedulibisa diciptakan dalam ruang privat ataupun publik secara berbarengan. Buka luwurmenawarkan keterkaitan sosial lintas batas.3. Kearifan Lokal Kupatan dan SyawalanDi setiap perayaan hari raya Lebaran, dimana umat muslim selesai menjalankan puasaselama satu bulan penuh, kita dapat menemukan ketupat hampir di setiap rumah yangmerayakannya. Makanan yang terbuat dari beras dan dimasak dalam balutan daun kelapa inimemang identik dengan lebaran. Dengan sajian pendamping sayur opor, ketupat selalumenghiasi meja-meja pada perayaan idul fitri.Kiblat papat lima pancer ini, dapat juga diartikan sebagai empat macam nafsu manusia, yaituamarah, yakni nafsu emosional ; aluamah atau nafsu untuk memuaskan rasa lapar ; supiahadalah nafsu untuk memiliki sesuatu yang indah dan mutmainah, nafsu untuk memaksa diri.Keempat nafsu ini yang ditaklukkan orang selama berpuasa. Jadi, dengan memakan ketupatorang disimbolkan sudah mampu menaklukkan keempat nafsu tersebut. Tradisi syawalan yangdilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu, kini dilestarikan oleh organisasi-organisasi Islam,maupun instansi pemerintah dan swasta dengan istilah halal bihalal. Menariknya, peserta halalbihalal, tidak hanya umat Islam, tetapi seluruh warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama,suku, ras dan golongan.Tradisi itu bukan lagi milik umat Islam dan masyarakat Jawa saja, tetapi menjadi miliksegenap bangsa Indonesia. Tradisi ini juga kaya dengan kearifan dan kesalehan yang relevandengan konteks kekinian. Ia bisa diartikan sebagai hubungan antarmanusia untuk salingberinteraksi melalui aktivitas yang tidak dilarang, plus mengandung sesuatu yang baik danmenyenangkan. Maka, berhalal bihalal, mestinya tidak semata-mata dengan memaafkanmelalui perantara lisan atau kartu ucapan selamat saja, tetapi harus diikuti perbuatan yang baikdan menyenangkan bagi orang lain khususnya yang diajak berhalal bihalal.Syawalan juga merekatkan persatuan dan kesatuan, dan mendorong orang untuk jujur.Adanya kerelaan untuk saling memaafkan, sudah membuktikan mencairnya individualitas,strata sosial, egoisme, sektarian dan sebagainya. Orang juga dituntut untuk jujur, maumengakui kesalahan dan lantas meminta maaf. Kejujuran dan kerelaan hati untuk memaafkanini, merupakan terapi psikologis yang sangat ampuh bagi setiap orang. Pasalnya, dengan lepasdan hilangnya dosa-dosa, orang akan merasa damai, tenang dan tentram.Pada akhirnya, dalam masyarakat yang kian terkepung aneka kepentingan primordial ataukepentingan yang mengatasnamakan apa pun yang eksploitatif dan tiranik, penuh konflikkepentingan bahkan sampai pertikaian atau perang, Idul Fitri dengan tradisi syawalannya,diharapkan mampu menghadirkan kesejukan, keharmonisan, dan obat-obat kemanusiaanlainnya.Tradisi kupatan berasal dari jaman para wali yang juga menyebarluaskan agama islam diwilayah Jawa. Kalau melihat dari katanya, kupatan sendiri berasal dari kata kupat yang dalambahasa jawa bermakna “ngaku lepat” atau mengaku salah. Sebenarnya tradisi ini pada masa
  • dulu dilaksanakan pada hari ke-37 atau sesudah puasa yang ke-36. Kupatan dilaksanakan diberbagai daerah antara lain di Bulusan Desa Hadipolo (Kec. Jekulo), Desa Kesambi (Kec.Mejobo), Sendang Jodo Desa Purworejo (Kec. Bae).4. Kearifan Lokal DandanganDandangan yaitu tradisi menyambut datangnya Bulan Ramadhan / bulan puasa yangdilaksanakan di sekitar Menara Kudus. Puncak acara adalah pada malam 1 Ramadhan.Masyarakat berkumpul di sekitar Masjid Menara Kudus untuk mendengarkan pengumuman danbedug yang dipukul bertalu-talu sebagai tanda dimulainya ibadah puasa keesokan harinya.Banyaknya masyarakat yang berkumpul tersebut dimanfaatkan para pedagang kecil dan mainananak-anak untuk menjajakan dagangannya.5. Kearifan Lokal Ampyang MaulidAmpyang merupakan salah satu acara tradisional yang bertujuan untuk memperingati harikelahiran Nabi besarMuhammad SAW. Ampyang dilaksanakan di Desa Loram Kulon.Berdasarancerita, ampyang adalah sejenis krupuk bentuk bulat dan beraneka warna yang dijadikan hiasantempat makan dari bambu ( didalamnya terdapat nasi dan lauk pauk ) diusung ke Masjid Wali AtTaqwa Loram Kulon.6. Kearifan Lokal Sewu KupatSewu Kupat merupakan tradisi masyarakat Desa Colo untuk memperingati Hari Raya IdulFitri. Pelaksanaan tradisi setelah 1 minggu hari raya idul fitri. Kegiatan ini diadakan atas dasarrasa syukur masyarakat Colo yang telah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.7. Kearifan Lokal Resik-Resik Sendang dan Nyiwer DesaDesa Wonosoco berbatasan dengan sebelah timur Pati dan Grobogan ( selatan ). Selainalamnya yang indah desa di Kecamatan Undaan ( 22 km selatan Kota Kudus ). Prosesi ritual adatresik-resik sendang digelar warga Desa Wonosoco dengan mengarak hasil bumi kelilingkampung menuju sendang. Dilakukan setahun sekali yakni satu bulan jelang Ramadan digelarprosesi resik-resik sendang pada Sendang Dewot dan Sendang Gading, yang airnya tidak pernahhabis. Warga menggantungkan air sendang untuk minum, masak dan mandi. Oleh PemerintahKabupaten acara ini ditingkatkan dengan melibatkan pemerintah dan tokoh masyarakat,bekerja sama dengan seniman di Kudus dan Sakapanduwisata. Banyak potensi wisata yang bisadikembangkan yaitu bisa digunakan untuk lokasi bumi perkemahan, wanawisata. Disini jugaterdapat pertunjukan wayang klithik dimana dalang harus memiliki garis keturunan dari dalangsebelumnya. Disebut wayang klithik, karena suara yang ditimbulkan bunyinya klithik-klithik.Sumber :http://www.arupadhatu.or.id/artikel/budaya/124-kearifan-lokal-masyarakat-kudus-kulon-dalam-tradisi-perawatan-rumah-pencu.html
  • http://www.kuduskab.go.id/profile.php#http://memoarema.com/misteri/membedah-makna-syawalan-tradisi-kupatan-2habis/#axzz1wshVMfKuhttp://muriastudies.umk.ac.id/?page_id=178www.fe.undip.ac.id/index.php/arsip-berita/61-dosen/497-prof-purbayu--kearifan-lokal-buka-luwur
  • http://www.kuduskab.go.id/profile.php#http://memoarema.com/misteri/membedah-makna-syawalan-tradisi-kupatan-2habis/#axzz1wshVMfKuhttp://muriastudies.umk.ac.id/?page_id=178www.fe.undip.ac.id/index.php/arsip-berita/61-dosen/497-prof-purbayu--kearifan-lokal-buka-luwur