0
Judul Buku  : Kurikulum & Pengajaran Penulis  : Prof. Dr. S. Nasution MA  Penerbit  : PT. Bumi Aksara  Jumlah  : 183 halam...
<ul><li>Bab I Konsep-konsep kurikulum dan pengajaran   </li></ul><ul><li>Kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk...
<ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Dengan adanya kurikulum kita dapat mengetahui sistem pendidikan kita lebih terarah dan ...
<ul><li>Bab II  </li></ul><ul><li>Determinan Kurikulum </li></ul><ul><li>Determinan kurikulum disebut juga dengan asas-asa...
<ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Dengan kita mengetahui asas-asas kurikulum kita dapat mengerti batasan-batasan yang dig...
<ul><li>Bab III </li></ul><ul><li>Pendekatan-pendekatan dalam pengembangan   </li></ul><ul><li>Pendekatan-pendekatan dalam...
<ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Dengan kita mengetahui pendekatan-pendekatan diatas kita dapat mengembangkan ilmu polit...
<ul><li>Bab IV </li></ul><ul><li>Tujuan Pengajaran   Dalam tujuan pengajaran ialah membantu siswa mengembangkan sikap terh...
<ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Kita dapat mengetahui apa tujuan pengajaran dimana tujuan pengajaran ialah membantu sis...
<ul><li>Bab V </li></ul><ul><li>Strategi dan Sumber Mengajar  Strategi dan sumber mengajar bagian yang sangat penting dala...
<ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Dengan adanya strategi dan sumber belajar guru dapat megnelola kegiatan pengajaran di k...
<ul><li>Bab VI  </li></ul><ul><li>Mendesain rencana evaluasi kurikulum Desain evaluasi kurikulum hubungan bagian yang dian...
<ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Dengan adanya desain kurikulum dapat mengetahui apa yang ada dalam perumusan kurikulum ...
<ul><li>BAB VII </li></ul><ul><li>Mendesain Rencana Instruksional Pengajaran  </li></ul><ul><li>Efektif   </li></ul><ul><l...
<ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Dengan adanya sistem ini hubungan antara guru dan siswa akan saling bekerja sama dalam ...
<ul><li>Bab VIII </li></ul><ul><li>Mengembangkan Keterampilan Berpikir dan Memecahkan </li></ul><ul><li>Masalah   Pemecaha...
<ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Saya setuju adanya system mengembangkan keterampilan berpikir dan memecahkan masalah se...
<ul><li>Bab IX </li></ul><ul><li>Perencanaan Instruksional Untuk Tujuan Afektif   </li></ul><ul><li>Pendidikan afektif, kh...
<ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Dengan sistem ini juga secara individu akan membuat kualitas hidup kita menjadi lebih m...
<ul><li>BAB X </li></ul><ul><li>Pendidikan Afektif, Perspektif Historis, Dan Modal-Modal </li></ul><ul><li>Pendidikan Afek...
<ul><li>Refleksi   </li></ul><ul><li>Pendidikan ini akan membuat para siswa memperdalam falsafah ilmu yang jarang ditemui....
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

http://www.slideshare.net/eenherlina

1,170

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,170
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
10
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "http://www.slideshare.net/eenherlina"

  1. 1. Judul Buku : Kurikulum & Pengajaran Penulis : Prof. Dr. S. Nasution MA Penerbit : PT. Bumi Aksara Jumlah : 183 halaman
  2. 2. <ul><li>Bab I Konsep-konsep kurikulum dan pengajaran </li></ul><ul><li>Kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajar, yang dimana kurikulum dibagi menjadi 2 yaitu kurikulum formal dan kurikulum non formal. Salah satu pegangannya dalam pengembangan kurikulum ialah berdasarkan prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh Rolph Tayler, dalam pengembangannya kurikulum mempunyai 2 proses yakni pengembangan pedoman kurikulum dan pengembangan pedoman instruksional. Ini dimaksud untuk meningkatkan mutu sekolah dan universitas dengan meningkatkan efektifitas mengajar dalam mengajar. </li></ul>
  3. 3. <ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Dengan adanya kurikulum kita dapat mengetahui sistem pendidikan kita lebih terarah dan sistematis sehingga pendidikan di indonesia akan lebih maju dan efesien. </li></ul>
  4. 4. <ul><li>Bab II </li></ul><ul><li>Determinan Kurikulum </li></ul><ul><li>Determinan kurikulum disebut juga dengan asas-asas kurikulum dimana ada 4 determinan kurikulum yakni: </li></ul><ul><ul><li>Determinan filosofis terdiri dari: a. Falsafah negara b. Falsafah lembaga pendidikan c. Falsafat guru </li></ul></ul><ul><ul><li>Determinal Sosiologis Tiap kurikulum mencerminkan keinginan, cita-cita tuntutan dan kebutuhan masyarakat, karena setelah didirikan oleh dan untuk masyarakat, sehingga sudah sewajarnya pendidikan harus memperhatikan dan merespon terhadap suara-suara dalam masyarakat. </li></ul></ul><ul><ul><li>Determinan Psikologis Determinan ini mempunyai 2 demensi saling berkaitan yaitu: Teori belajar dan hakikat belajar dalam teori belajar ada 5 kelompok terdiri dari yakni, behaviorisme, psikologi daya, perkembangan kognitif, teori lapangan, teori kepribadian. Sedangkan hakikat belajar berkenaan dengan motivasi, kesiapan kematanagn intelektual, kematangan emoral dan latar belakang pengalaman. </li></ul></ul><ul><ul><li>Determinan hakikat pengetahuan Pengetahuan berubah dan meluas dengan kelajuan yang kian cepat. </li></ul></ul>
  5. 5. <ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Dengan kita mengetahui asas-asas kurikulum kita dapat mengerti batasan-batasan yang digunakan dalam pembuatan kurikulumsehingga sesuai dengan arahan pengajaran di kelas </li></ul>
  6. 6. <ul><li>Bab III </li></ul><ul><li>Pendekatan-pendekatan dalam pengembangan </li></ul><ul><li>Pendekatan-pendekatan dalam pengembangan kurikulum </li></ul><ul><li>Pendekatan bidang studi </li></ul><ul><li>Pendekatan Interadisipliner </li></ul><ul><ul><li>Pendekatan broad–field: mengintegrasikan beberapa mata pelajaran yang saling berkaitan </li></ul></ul><ul><ul><li>Pendekatan kurikulum inti: menghilangkan tembok pemisah yang tak wajar antara berbagai disiplin ilmu agar siswa dapat menerapkan secara fungsional pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya guna memecahkan masalah sosial personal </li></ul></ul><ul><ul><li>Pendekatan kurikulum inti di perguruan tinggi: Pengetahuan inti yang diambil dari semua disiplin ilmu yang dianggap esensial </li></ul></ul><ul><ul><li>Pendekatan kurikulum fusi: menyatukan dua disiplin trasional menjadi bidang studi </li></ul></ul><ul><li>Pendekatan rekonstruksionisme: memfokuskan kurikulum pada masalah-masalah penting yang dihadapi dalam masyarakat. </li></ul><ul><li>Pendekatan hemonistik: berpusat pada siswa dengan mengutamakan perkembangan siswa sebagai prasyarat dan sebagai bagian integral dari proses belajar. </li></ul><ul><li>Pendekatan pembangunan rasional a. Pendidikan b. Pendidikan pembangunan rasional c. Pendidikan keterampilan untuk kehidupan praktis </li></ul>
  7. 7. <ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Dengan kita mengetahui pendekatan-pendekatan diatas kita dapat mengembangkan ilmu politik, mengelola ketenaga kerjaan serta merespon pembangaunan pendidikan di Indonesia. </li></ul>
  8. 8. <ul><li>Bab IV </li></ul><ul><li>Tujuan Pengajaran Dalam tujuan pengajaran ialah membantu siswa mengembangkan sikap terhadap kesegaran dan jasmani dnegan maksud agar siswa didorong untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kesehatannya tujuan pengajaran sama dengan tujuan mata pelajaran yang dirumuskan dari 3 aspek yakni aspek kognitif yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi, ke 2 tanah efektif yang terdiri dari menerima (memperhatikan), merespon, menghargai, organisasi, karakteristik suatu nilai/perangkat nilai-nilai, sedangkan aspek yang ketiga ranah psikomotor yakni terdiri dari gerak refleks, gerakan dasar yang fundamental, keterampilan persptual, keterampilan fisik, gerakan terampil, komunikasi non-diskursif (hubungan tanpa bahasa, melainkan melalui gerakan). </li></ul>
  9. 9. <ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Kita dapat mengetahui apa tujuan pengajaran dimana tujuan pengajaran ialah membantu siswa mengembangkan sikap dan prilakunya. </li></ul>
  10. 10. <ul><li>Bab V </li></ul><ul><li>Strategi dan Sumber Mengajar Strategi dan sumber mengajar bagian yang sangat penting dalam pengembangan kurikulum agar apa yang direncanakan dapat dilaksanakn sebaik-baiknya. Strategi mengajar yang banyak digunakan adalah melalui kuliah, demonstrasi, praktek latihan, diskusi bertanya, analisisi situasi dilema, penemuan, kerja dilapangan pemprosesan informasi, penelitian akademis, pemecahan masalah, dramatisasi bermain peranan, stimulasi dan proyek aksi. Dalam strategi belajar mengajar harus dibarengi dengan sumber mengajar biasanya sumber belajar ini berupa bahan cetakan, buku pelajaran transparan, proyektor, diagram, permainan simulasi, gambar dan segala alat yang dapat menunjang proses belajar mengajar tidak membosankan. </li></ul>
  11. 11. <ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Dengan adanya strategi dan sumber belajar guru dapat megnelola kegiatan pengajaran di kelas tanpa adanya kegiatan membosankan. </li></ul>
  12. 12. <ul><li>Bab VI </li></ul><ul><li>Mendesain rencana evaluasi kurikulum Desain evaluasi kurikulum hubungan bagian yang dianak trikan dalam pengembangan kurikulum. Jika evaluasi diadakan secara terus menerus mungkin kurikulum diganti seluruhnya akan tetapi dapat senantiasa di perbaiki dan disempurnakan serta disesuaikan dengan perkembangan jaman. Mendesain kurikulum biasanya terdiri atas 5 langkah yaitu : </li></ul><ul><ul><li>Merumuskan tujuan evaluasi </li></ul></ul><ul><ul><li>Mendesain proses dan metodologi evaluasi </li></ul></ul><ul><ul><li>Menspeksifikasi data yang diperlukan untuk menyusun instrumen bagi proses pengumpulan data </li></ul></ul><ul><ul><li>Mengumpulkan, menyusun, dan mengolah data </li></ul></ul><ul><ul><li>Menganalisis data dan menyusun laporan megnenai hasil-hasil, kesimpulan dan rekomendasi. </li></ul></ul>
  13. 13. <ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Dengan adanya desain kurikulum dapat mengetahui apa yang ada dalam perumusan kurikulum sehingga dapat dipakai dalam pengajaran. </li></ul>
  14. 14. <ul><li>BAB VII </li></ul><ul><li>Mendesain Rencana Instruksional Pengajaran </li></ul><ul><li>Efektif </li></ul><ul><li>Dasar desain instruksional mempunyai 2 dimensi yaitu dimensi kognitif dan efektif. Dimana kedua dimensi itu harus diperhitungkan dalam kegiatan mengajar dan belajar pada tingkat mikro, yakni dalam menghadapi situasi belajar mengajar dalam kelas sehingga peranan guru sangat penting dalam tumbuh dan kembang siswa dalam proses belajar mengajar. Instruksi atau pengajaran ialah proses interaktif yang berlangsung antara guru dan siswa atau kelompok siswa dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap, serta memantapkan apa yang dipelajari. </li></ul>
  15. 15. <ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Dengan adanya sistem ini hubungan antara guru dan siswa akan saling bekerja sama dalam peranan proses belajar didalam kelas sehinga system belajar mengajar akan jalan dengan sempurna. </li></ul>
  16. 16. <ul><li>Bab VIII </li></ul><ul><li>Mengembangkan Keterampilan Berpikir dan Memecahkan </li></ul><ul><li>Masalah Pemecahan masalah bukan perbuatan yang sederhan, akan tetapi lebih kompleks daripada yang diduga pemecahan memerlukan keterampilan berpikir yaitu dengan mengamati, melaporkan, mendeskripsikan, menganalisis, mengklasifikasi, menafsirkan, mengkritik, meramalkan, menarik kesimpulan dan membuat generalisasi berdasarkan infornasi yang dikumpulkan dan diolah. Sedangkan untuk memecahkan masalah dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan yakni pendekatan reaktif, pendekatan antisipatif, pendekatan reflektif, dan pendekatan impulsif. Adapun langkah-langkah pemecahan masalah yaitu mengidentifikasi dan merumuskan masalah, mengemukakan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, mengambil kesimpulan. Ada beberapa unsur-unsur keterapilan berpikir yaitu mengamati, melaporkan, mengklasifikasi, memberi label, menyusun dan mengurutkan, menginterprestasikan, membuat inferensi, dan memecahkan problema. </li></ul>
  17. 17. <ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Saya setuju adanya system mengembangkan keterampilan berpikir dan memecahkan masalah sehingga setiap manusia mempunyai jiwa didalam dirinya dalam memecahkan berbagai persoalan atau masalah. </li></ul>
  18. 18. <ul><li>Bab IX </li></ul><ul><li>Perencanaan Instruksional Untuk Tujuan Afektif </li></ul><ul><li>Pendidikan afektif, khususnya pendidikan nilai-nilai sejak dulu telah menjadi bagian integral dari pendidikan-pendidikan nilai-nilai ialah proses membantu siswa menjajaki nilai-nilai yang mereka miliki secara kritis agar meningkatkan mutu pemikiran dan perasaan mereka tentang nilai-nilai. Pendidikan Afektif mencakup pendidikan nilai-nilai dan pendidikan moral, Pendidikan Afektif bertujuan membantu siswa agar ia meningkatkan dalam hirarki / mematangkan diri secara moral dan menginternalisasi nilai-nilai yang diterima oleh masyarakat, sangat esensial bagi kehidupan individu dalam masyarakatnya. Dalam pendidikan afektif dihadapi sejumlah istilah yang perlu dipahami artinya yaitu kepercayaan, sikap, nilai-nilai, moral, intensi (Itikad) agar siswa dapat mempertinggi kemampuannya mengambil keputusan yang lebih matang dan tepat. </li></ul>
  19. 19. <ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Dengan sistem ini juga secara individu akan membuat kualitas hidup kita menjadi lebih maju bukan secara pemikiran tapi secara kepribadian. </li></ul>
  20. 20. <ul><li>BAB X </li></ul><ul><li>Pendidikan Afektif, Perspektif Historis, Dan Modal-Modal </li></ul><ul><li>Pendidikan Afektif. Pendidikan Afektif dipandang sebagai bidang studi interdisipuner karena didasarkan atas berbagai bidang ilmu seperti falsafah moral sosial (hobby, rousseau, piaget, dan durkham). Psikologi (bigmund freudhon dewey, jean plaget, dan teori kepribadian (peck dan havighurst cebraham maslow), karena masing-masing bidang mempunyai sumbangsih besar menurut perspektif, latar belakang, dan hakikat disiplinnya. Ada sejumlah modal pendidikan afektif dimana tiap modal mempunyai tujuan, proses, strategi mengajar dan hasil belajar yang agak berlawanan yaitu modal konsiderasi (kepedulian), modal pembentukan rasional, modal values clarifikation. </li></ul>
  21. 21. <ul><li>Refleksi </li></ul><ul><li>Pendidikan ini akan membuat para siswa memperdalam falsafah ilmu yang jarang ditemui. </li></ul>
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×