• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Model pembelajaran rme sesuai kurikulum 2013
 

Model pembelajaran rme sesuai kurikulum 2013

on

  • 1,638 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,638
Views on SlideShare
1,638
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
58
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Model pembelajaran rme sesuai kurikulum 2013 Model pembelajaran rme sesuai kurikulum 2013 Document Transcript

    • MODEL PEMBELAJARAN RME BERBANTUAN MEDIA TAPLAK MEJA PADA MATERI BARISAN TAK HINGGA MAKALAH UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH Pembelajaran Matematika Sekolah 2 yang dibina oleh Prof. Akbar Sutawidjojo, M.Ed, Ph.D oleh Hyronimus Lado 130311818887 UNIVERSITAS NEGERI MALANG PASCASARJANA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA APRIL 2014
    • 2 A. Model Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia ( PMRI) Suwangsih (2010.135) Realistic Mathematics Education sebagai salah satu paradigma dalam pembelajaran matematika, telah banyak mempengaruhi program pembelajaran matematika di beberapa Negara. Keberhasilannya di negeri asalnya (Belanda) menyebabkan para ahli pendidikan matematika menaruh perhatian secara khusus. Hartono (2010.35) Realistic mathematics education, yang diterjemahkan sebagai pendidikan matematika realistik (PMR), adalah sebuah pendekatan belajar matematika yang dikembangkan sejak tahun 1971 oleh sekelompok ahli matematika dari Freudenthal Institute, Utrecht University di Negeri Belanda. Pendekatan ini didasarkan pada anggapan Hans Freudenthal (1905-1990) bahwa matematika adalah kegiatan manusia. Hadi (2003) Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia (PMRI) dikembangkan berdasarkan pemikiran Hans Freudenthal yang berpendapat bahwa matematika merupakan aktivitas insani (human activities) dan harus dikaitkan dengan realitas. Berdasarkan pemikiran tersebut, PMRI mempunyai ciri antara lain, bahwa dalam proses pembelajaran siswa harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali (to reinvent) matematika melalui bimbingan guru, dan bahwa penemuan kembali (reinvention) ide dan konsep matematika tersebut harus dimulai dari penjelajahan berbagai situasi dan persoalan “dunia riil”. Dari beberapa pendapat di atas dan menurut sejarahnya, RME merupakan suatu pendekatan pembelajaran matematika yang dikembangkan di Belanda sekitar 30 tahun lalu oleh Freudenthal Institute. Di Indonesia, RME disebut Pembelajaran Matematika Realistik (PMR). PMRI adalah adaptasi dari RME dalam Konteks Indonesia: Budaya, Alam, Sistem Sosial, dll. Pendekatan ini dipandang sebagai pendekatan yang banyak memberikan harapan dalam mengaplikasikan matematika ke dalam situasi kehidupan real. Subanji (2013:104) Ditinjau dari lima karakteristik dasar realistic mathematics education (RME) yaitu: (1) phenomenological exploration or the use of contexts; (2) the use of models or bridging by vertical intruments; (3) the use of the students own productions and constructions or students contribution; (4) the interactive character of the teaching process or interactivity; dan (5) the
    • 3 intertwining of various learning atrands, maka semua karakteristik tersebut tidak terjadi dalam konstruksi pengetahuan siswa. Supardi (2012:254) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa: Pertama, guru matematika pada semua jenjang hendaknya mempelajari dan lebih memperdalam lagi tentang konsep-konsep dan teori pendekatan PMR. Kedua, Pendekatan PMR dapat diterapkan dalam berbagai metode pembelajaran karena itu hendaknya guru banyak berlatih menerapkannya pada berbagai subpokok bahasan (materi). Ketiga, guru hendaknya dapat memahami tingkat motivasi belajar setiap siswa dalam belajar matematka sedini mungkin, sebagai langkah awal dalam membina dan meningkatkan hasil belajar mereka. Keempat, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut oleh para peneliti, dosen, dan guru, tentang efektivitas penerapan pendekatan PMR yang dikaitkan dengan faktor-faktor psikologis siswa (seperti motivasi belajar, konsep diri, dan lain-lain) maupun dikaitkan dengan bentuk-bentuk perlakuan lainnya (seperti bentuk penilaian formatif, media belajar, dan lain-lain), yang diperkirakan dapat mengoptimalkan hasil belajar siswa untuk berbagai materi. Sugiman dan Yaya S (2010:50) dari penelitiannya, mereka menyimpulkan bahwa: (1) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang diajar dengan pendidikan matematika realistik lebih tinggi daripada peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang diajar dengan pembelajaran biasa; (2) Dengan pendidikan matematika realistik, peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa pada sekolah level A lebih tinggi daripada peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa pada sekolah level C dan B; (3) Tidak terdapat interaksi antara faktor pembelajaran dengan level sekolah dalam peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik. Dari beberapa hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa PMRI dapat diterapkan dalam berbagai metode pembelajaran dan dapat diterapkan pada berbagai subpokok bahasan (materi).
    • 4 Adapun langkah-langkah dalam Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia (PMRI): Pertama: memahami masalah kontekstual, yaitu guru memberikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut. Kedua: menjelaskan masalah kontekstual, yaitu jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian tertentu dari permasalahan yang belum dipahami. Ketiga: menyelesaikan masalah kontekstual, yaitu siswa secara individual menyelesaikan masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri. Cara pemecahan dan jawaban masalah berbeda lebih diutamakan. Dengan menggunakan lembar kerja, siswa mengerjakan soal. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri. Keempat: membandingkan dan mendiskusikan jawaban, yaitu guru menyediakan waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban masalah secara berkelompok. Siswa dilatih untuk mengeluarkan ide-ide yang mereka miliki dalam kaitannya dengan interaksi siswa dalam proses belajar untuk mengoptimalkan pembelajaran. Kelima: menyimpulkan, yaitu guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menarik kesimpulan tentang suatu konsep atau prosedur.
    • 5 B. Bahan Ajar LEMBAR KERJA SISWA (LKS) Nama Siswa : ........................................................... Kelas : ........................................................... Anggota Kelompok : 1. ....................................................... 2. ...................................................... 3. ...................................................... 4. ...................................................... Pada materi ini, kita akan merancang taplak meja untuk memahami konsep barisan tak hingga. Untuk itu, perhatikan gambar berikut ini! Gambar. Model rangkaian potongan sedotan Gambar di atas adalah contoh tiga model rangkaian potongan sedotan yang masing-masing dapat dirangkai dengan beberapa benang berwarna. Untuk membentuk taplak meja maka ikutilah langkah-langkah berikut ini sesuai dengan kesepakatan bersama dalam kelompok: Tujuan yang akan kamu capai adalah: 1. Memahami konsep barisan tak hingga sebagai fungsi dengan daerah asal himpunan bilangan asli. 2. Menyelesaikan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan barisan tak hingga. PETUNJUK 5 B. Bahan Ajar LEMBAR KERJA SISWA (LKS) Nama Siswa : ........................................................... Kelas : ........................................................... Anggota Kelompok : 1. ....................................................... 2. ...................................................... 3. ...................................................... 4. ...................................................... Pada materi ini, kita akan merancang taplak meja untuk memahami konsep barisan tak hingga. Untuk itu, perhatikan gambar berikut ini! Gambar. Model rangkaian potongan sedotan Gambar di atas adalah contoh tiga model rangkaian potongan sedotan yang masing-masing dapat dirangkai dengan beberapa benang berwarna. Untuk membentuk taplak meja maka ikutilah langkah-langkah berikut ini sesuai dengan kesepakatan bersama dalam kelompok: Tujuan yang akan kamu capai adalah: 1. Memahami konsep barisan tak hingga sebagai fungsi dengan daerah asal himpunan bilangan asli. 2. Menyelesaikan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan barisan tak hingga. PETUNJUK 5 B. Bahan Ajar LEMBAR KERJA SISWA (LKS) Nama Siswa : ........................................................... Kelas : ........................................................... Anggota Kelompok : 1. ....................................................... 2. ...................................................... 3. ...................................................... 4. ...................................................... Pada materi ini, kita akan merancang taplak meja untuk memahami konsep barisan tak hingga. Untuk itu, perhatikan gambar berikut ini! Gambar. Model rangkaian potongan sedotan Gambar di atas adalah contoh tiga model rangkaian potongan sedotan yang masing-masing dapat dirangkai dengan beberapa benang berwarna. Untuk membentuk taplak meja maka ikutilah langkah-langkah berikut ini sesuai dengan kesepakatan bersama dalam kelompok: Tujuan yang akan kamu capai adalah: 1. Memahami konsep barisan tak hingga sebagai fungsi dengan daerah asal himpunan bilangan asli. 2. Menyelesaikan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan barisan tak hingga. PETUNJUK
    • 6 1. Guntinglah setiap sedotan dengan ukuran yang sama. 2. Pilihlah salah satu model atau buatkan model baru, dan rangkaikanlah dengan model yang anda pilih hingga membentuk sebuah taplak meja. Misalkan yang anda pilih adalah model rangkaian segitiga, maka yang harus anda lakukan adalah merangkai potongan sedotan dengan model seluruhnya adalah segitiga hingga membentuk sebuah taplak meja. 3. Untuk 1 rangkaian segitiga membutuhkan 3 potongan sedotan, maka berapa banyak potongan untuk 2 rangkaian segitiga, 3 rangkaian segitiga dst? 4. Hitunglah banyaknya potongan sedotan yang dibutuhkan untuk merangkai sebuah taplak meja yang anda pilih! 5. Jawabannya diisi dalam Lembar Kerja ini! Jawaban
    • 7 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) A. Nama Sekolah : SMA ...... Mata Pelajaran : Matematika Kelas / Semester : XII/Ganjil Kompetensi Inti : KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia KI 3 : Memahami ,menerapkan,menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. KI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. Kompetensi Dasar : 2.1 Menghayati perilaku disiplin, sikap kerjasama, sikap kritis dan cermat dalam bekerja menyelesaikan masalah kontekstual 2.2 Memiliki dan menunjukkan rasa ingin tahu, motivasi internal, rasa senang dan tertarik dan percaya diri dalam melakukan kegiatan belajar ataupun memecahkan masalah nyata. 3.2 Memahami konsep barisan tak hingga sebagai fungsi dengan daerah asal himpunan bilangan asli dan menerapkannya dalam menyelesaikan berbagai masalah. Indikator : 3.2.1 Memahami konsep barisan tak hingga sebagai fungsi dengan daerah asal himpunan bilangan asli 3.2.2 Menerapkan konsep barisan tak hingga dalam menyelesaikan berbagai masalah. Alokasi waktu : 3 x 45’
    • 8 B. Tujuan Pembelajaran  Memahami konsep barisan tak hingga sebagai fungsi dengan daerah asal himpunan bilangan asli dan menerapkannya dalam menyelesaikan berbagai masalah. C. Materi Pembelajaran BARISAN TAK HINGGA D. Metode:- Diskusi - Ceramah - Penugasan - Tanya jawab E. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Pendahuluan KEGIATAN GURU KEGIATAN SISWA TAHAPAN PEMBELAJARAN Langkah 1: Memahami masalah kontektual  Mempersilahkan siswa untuk bergabung dalam kelompok  Siswa bergabung dengan kelompok masing-masing  Memberikan masalah kontekstual yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari yang terdapat pada LKS  Menerima dan membaca masalah yang ada di LKS  the use of context  Meminta siswa untuk membaca/memahami masalah yang terdapat pada LKS  Membaca dan memahami masalah konstektual yang terdapat pada LKS  student contribution, interactivity  Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya jika kurang memahami masalah tersebut  Bertanya jika ada yang belum dimengerti Kegiatan Inti KEGIATAN GURU KEGIATAN SISWA TAHAPAN PEMBELAJARAN Langkah 2: Menjelaskan Masalah Kontekstual  Menjelaskan cara kerja kelompok, waktu untuk diskusi dan presentasi.  Siswa memperhatikan penjelasan guru  Guru mengarahkan siswa untuk menyelesaikan LKS  Menyelesaikan LKS dan membagi tugas dengan anggota student contribution, interactivity
    • 9 dan memberikan kesempatan siswa bertanya jika ada yang belum bisa memahami LKS kelompok serta menanyakan jika ada hal-hal yang belum dipahami.  Memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan masalah dalam LKS dengan kelompoknya.  Mendiskusikan permasalahan yang ada di LKS  Guru memberikan bantuan seperlunya dengan cara membantu siswa untuk mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang baru.  Bekerja secara kelompok sesuai LKS untuk mendapatkan informasi baru dengan mengaitkan materi sebelumya Interactivity  Guru memberi bantuan seperlunya kepada siswa untuk menemukan sendiri konsep yang dipelajari  Siswa bekerja sama dalam kelompok untuk menemukan dan mengkonstruksi sendiri konsep yang dipelajari dengan bantuan guru Guided reinvention through progressive mathematizing Langkah 3: Membandingkan & mendiskusikan jawaban  Memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan masalah dalam LKS dengan kelompoknya  Mendiskusikan permasalahan yang ada di LKS dengan teman kelompok.  student contribution, interactivity  Guru memberi bantuan seperlunya kepada siswa untuk menggunakan konsep yang sudah dipahami untuk menyelesaikan masalah baru.  Siswa bekerja sama dalam kelompok untuk memecahkan masalah dengan bantuan guru.  Membimbing dan mengarahkan kelompok untuk bekerja secara aktif dan tepat waktu.  Bekerja sama secara aktif untuk menyelesaikan tugas dalam LKS tepat waktu sesuai arahan guru. Langkah 4: Diskusi Kelas  Meminta kelompok untuk menyiapkan laporan hasil kerjanya  Menyiapkan laporan hasil kerja kelompok .  student contribution, interactivity
    • 10 dan mempresentasikan di depan  Mengkoordinasi diskusi kelas dan meminta beberapa siswa untuk mempresentasikan jawabannya  Mencermati penjelasan siswa yang menyampaikan didepan kelas, kemudian memberikan komentar terhadap jawaban yang telah disampaikan  Meminta kelompok lain untuk menanggapi dan memberikan komentar terhadap jawaban kelompok yang presentasi.  Mengikuti kegiatan diskusi kelas dengan memberikan pernyataan setuju, tidak setuju, tambahan maupun sanggahan  Mengatur giliran setiap kelompok untuk melaporkan hasil kerja kelompoknya di depan kelas dan kelompok lain menanggapinya.  Melaporkan hasil kerja kelompok dan mempresentasikan di depan kelas  Guru mengatur kegiatan diskusi kelas demi kelancaran kegiatan diskusi.  Siswa mengikuti petunjuk guru demi membantu kelancaran kegiatan diskusi.  Sebagai fasilitator dan mengevaluasi serta menjelaskan kembali hasil diskusi  Siswa memperhatikan penjelasan guru Kegiatan Penutup KEGIATAN GURU KEGIATAN SISWA TAHAPAN PEMBELAJARAN Langkah 5: Menyimpulkan  Meminta siswa menyimpulkan tentang barisan tak hingga  Menyimpulkan tentang barisan tak hingga  Meminta siswa bertanya tentang hal- hal yang belum dipahami.  Siswa bertanya hal-hal yang belum dimengerti selama pembelajaran  Memberikan penguatan dan tugas rumah  Memperhatikan dan mencatat tugas yang diberikan guru
    • 11 F. Sumber Dan Media Pembelajaran  Sumber : - Lembar Kerja Siswa (LKS terlampir) - Buku Matematika SMA Kelas XII  Media : - Taplak Meja dari Sedotan G. Penilaian - Teknik : Non Tes - Bentuk : Lembar observasi aktivitas belajar siswa dan portofolio - Pelaksanaan : Selama proses pembelajaran berlangsung dan PR Tugas Rumah: 1. Carilah masalah yang berkaitan dengan barisan tak hingga dalam kehidupan sehari-hari (observasi) 2. Gunakanlah konsep barisan tak hingga untuk menyelesaikan masalah- masalah tersebut 3. Susunlah laporan hasil pencarian beserta penyelesaiannya (Portofolio) Malang, April 2014 Guru Mata Pelajaran (Hyronimus Lado)
    • 12 Daftar Pustaka Hadi, S. 2003. Paradigma Baru Pendidikan Matematika. Makalah disajikan pada pertemuan Forum Komunikasi Sekolah Inovasi Kalimantan Selatan, di Rantau Kabupaten Tapin, 30 April 2003. http://www.pmri.or.id/paper/index.php? main=3. (diakses:23/04/2014) Hadi, S. 2003. PMR: Menjadikan Pelajaran Matematika Lebih Bermakna Bagi Siswa. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 27 – 28 Maret 2003. http://www.pmri.or.id/paper/index.php?main=1. (diakses:23/04/2014) Hartono, Y. 2010. Pendekatan Matematika Realistik: BBM Unit 7. Bandung:UPI Subanji. 2013. Pembelajaran Matematika Kreatif dan Inovatif, Cetakan I. Malang: Universitas Negeri Malang Sugiman dan Kusumah, S. Yaya. 2010. Dampak pendidikan matematika realistik terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa SMP dalam IndoMS. J.M.E, Vol.1 No. 1 Juli 2010, pp. 41-51 Supardi. 2012. Pengaruh Pembelajaran Matematika Realistik Terhadap Hasil Belajar Matematika Ditinjau Dari Motivasi Belajar dalam Cakrawala Pendidikan, Juni 2012, Th. XXXI, No.2 Suwangsih, E. 2010. Pendekatan Pembelajaran Matematika: BBM 4. Bandung:UPI