Agribisnis
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Agribisnis

on

  • 5,116 views

Prospek pertanian agribisnis

Prospek pertanian agribisnis

Statistics

Views

Total Views
5,116
Slideshare-icon Views on SlideShare
5,116
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
63
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Agribisnis Agribisnis Document Transcript

    • 1BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangUbi kayu atau ketela pohon (Manihot Esculenta Grant) adalah salah satu komoditaspertanian jenis umbi-umbian yang cukup penting di Indonesia baik sebagai sumber panganmaupun sumber pakan. Hal ini disebabkan karena tanaman ubi kayu mempunyai beberapakeunggulan dibandingkan dengan tanaman pangan lain, diantaranya dapat tumbuh di lahankering dan kurang subur, daya tahan terhadap penyakit relatif tinggi, masa panennya yangtidak diburu waktu sehingga dapat dijadikan lumbung hidup. Selain itu, daun dan umbi ubikayu dapat diolah menjadi aneka makanan, baik makanan utama maupun selingan.Ubi kayu segar memiliki nilai ekonomi yang sangat rendah pada saat panen raya,karena itu perlu suatu upaya meningkatkan nilai tambah (added value) dari ubi kayu denganmengolah menjadi beranekaragam produk.Alternatif pengolahan umbi ubi kayu yang sedang digalakkan oleh pemerintah adalahpengolahan umbi ubi kayu menjadi tepung ubi kayu. Tepung ubi kayu (kasava) adalah tepungyang dihasilkan dari penghancuran (penepungan) umbi ubi kayu yang telah dikeringkan. Dandapat diolah menjadi berbagai bentuk produk akhir juga sebagai substitusi terigu serta dapatdigunakan menjadi salah satu komoditi ekspor maupun bahan baku industri.Tepung kasava di Indonesia sebagian besar dimanfaatkan sebagai bahan pencampur(substitusi) untuk industri pangan, terutama industri mie. Dengan kandungan serat yang tinggimenyebabkan keterbatasan aplikasi tepung kasava tersebut. Perbaikan tepung kasava melaluiperbaikan proses produksi dilakukan untuk memperbaiki struktur komponen serat yang adadi dalam ubi kayu dan menurunkan kandungan HCN pada tepung. Penambahan enzimselulolitik diharapkan akan meningkatkan daya cerna tepung, kandungan oligosakarida yangberfungsi sebagai bahan pangan probiotik, namun tidak merubah atau mempengaruhistruktur dari komponen patinya. Hasil penelitian telah membuktikan bahwa bakteri isolatelocal yang dimiliki mempunyai keunggulan karena memiliki kemampuan selulolitik, sertaberpotensi xilanolitik atau hemiselulolitik.Keripik singkong merupakan makanan kudapan/cemilan yang paling populer,terutama bila ditinjau dari penyebarannya, dimana keripik singkong ditemukan di hampirsemua kabupaten Selain keripik, produk olahan ubikayu lainnya yang populer adalah opak,getuk, lanting, slondok, alen-alen, rengginang, emping, dan lain-lain.Keripik, emping singkong dan slondok sekarang tersedia dalam aneka rasa seperti rasakeju, manis, asin, pedas, manis pedas, rasa udang dan sebagainya. Beberapa jenis produkolahan lain yang ditemukan di beberapa kabupaten di Jawa adalah gatot, sawut, klenyem,kolak, pais, sermiyer, aneka kue, ampyang, walangan, dan gredi. Di Sumatera, ubi kayu
    • 2umumnya diolah menyerupai hasil olahan di Jawa, meskipun keragamannya tidak sebanyak diJawa.Di wilayah ini, selain direbus atau digoreng, ubikayu diolah menjadi keripik, tape,kebuto (Kabupaten Luwuk Banggai), kepuso, kambuse (Kabupaten Kendari) dan aneka kue.Konsumsi makanan pokok merupakan proporsi terbesar dalam susunan hidangan diIndonesia, karena dianggap terpenting di antara jenis makanan lain. Suatu hidangan bila tidakmengandung bahan makanan pokok dianggap tidak lengkap oleh masyarakat(Sediaoetama, 1999). Makanan pokok seringkali mendapat penghargaan lebih tinggi olehmasyarakat dibanding lauk-pauk. Orang merasa puas asalkan bahan makanan pokok tersedialebih besar dibanding jenis makanan lain (Soedarmo dan Sediaoetama, 1985).Teknologi tepung merupakan salah satu proses alternatif produk setengah jadi yangdianjurkan karena lebih tahan lama disimpan, mudah dicampur (dibuat komposit), diperkayazat gizi (difortifikasi), dibentuk dan lebih cepat dimasak sesuai tuntutan kehidupan modernyang serba praktis (Balit Pascapanen Pertanian, 2002).Ubikayu mempunyai potensi baik untuk dikembangkan menjadi bahan pangan pokokselain beras (Suprapti, 2005), Ubikayu umum dikonsumsi dalam bentuk ubi rebus, tiwul(gaplek) maupun sebagai campuran beras (dalam bentuk oyek). Penggunaan ubikayu sebagaicampuran beras (oyek) ditemukan di sebagian Jawa, Sumatera dan Kalimantan. MenurutSuryana et al. (1990), untuk konsumsi langsung ubikayu sudah menjadi komoditas inferior.Ubikayu dimanfaatkan untuk substitusi beras terutama di kalangan penduduk miskin dimusim paceklik di mana harga beras relatif tinggi.Mikroorganisme selulolitik memainkan peranan penting dalam biosfir denganmendaur-ulang selulosa. Mikroorganisme jenis ini juga penting dalam beberapa prosesfermentasi dalam industri, terutama dalam penghancuran limbah selulosa secara anaerob,sehingga menghasilkan lignoselulosa dengan persentase tinggi.Mikroorganisme selulolitik umumnya ialah bakteri dan cendawan, walaupun kadang-kadang beberapa protozoa anaerobik juga mampu mendegradasi selulosa. Cendawandiketahui paling baik dalam mendegradasi selulosa, tetapi bakteri menjadi pilihan utama. Halini dikarenakan, ukuran molekul enzim selulase yang dihasilkan cendawan terlalu besar untukdapat berdifusi ke dalam jaringan tumbuhan yang mengandung selulosa. Enzim selulasebakteri lebih stabil pada perlakuan panas, tingkat pertumbuhannya cepat, memilikivariabilitas genetik yang luas, dan lebih mudah untuk direkayasa secara genetik dibandingkandengan cendawan.Aplikasi selulase untuk bioteknologi pada saat ini mulai menunjukkan kemajuan.Enzim selulase di antaranya biasa digunakan dalam bioteknologi pulp dan kertas, dalammengekstraksi jus buah, dan mempersiapkan ekstrak biji kopi dan vanilla bagi konsumsi
    • 3manusia. Granula pati mengalami hidrolisis menghasilkan monosakarida merupakan sumberkarbohidrat yang terbarukan untuk produksi tepung.1.2. Tujuan1. Untuk pemanfaatannya lebih luas dalam industri dan meningkatkan nilai tambah ubikayu.2. Untuk mengetahui jenis – jenis produk olahan dari Ubi Kayu yang memiliki nilai jualtinggi3. Untuk mengetahui permasalahan atau kendala dalam pengembangan agribisnis UbiKayu.4. Untuk Mengetahui Sub Sistem yang berperan dalam agribisnis Ubi Kayu.5. Untuk mengetahui resiko dalam agribisnis Ubi Kayu.6. Untuk mengetahui teknologi yang berperan dalam pengembangan agribisnis Ubi Kayu.7. Untuk mengetahui lembaga – lembaga pemasaran yang terkait dalam prosespemasaran Ubi Kayu.8. Untuk melihat kelayakan usaha agribisnis ubi.9. Produksi dan pendapatan pada usaha tani ubi kayu10. Kondisi pemasaran ubi kayu11. Kondisi antara hubungan sub-sistem agribisnis ubi12. Mendeskripsikan kontribusi energi dan pola makan makanan pokok rumah tangga.1.3. ManfaatDi beberapa daerah tertentu, ubi merupakan salah satu komoditi bahan makananpokok. Ubi merupakan komoditi pangan penting di Indonesia dan diusahakan penduduk mulaidari daerah dataran rendah sampai dataran tinggi. Tanaman ini mampu beradaptasi di daerahyang kurang subur dan kering. Dengan demikian tanaman ini dapat diusahakan orangsepanjang tahun Ubi dapat diolah menjadi berbagai bentuk atau macam produk olahan.1. Agar bisa membuka usaha agribisnis Ubi Kayu sesuai dengan prospek yang ada.2. Agar bisa meningkatkan nilai tambah dari Ubi Kayu.3. Agar pengusaha agribisnis Ubi Kayu bisa mengatasi permasalahan dalam usahaagribisnis Ubi Kayu.4. Agar dalam agribisnis Ubi Kayu, pengusaha bisa menggunakan teknologi yang moderndan bisa memasarkan produk sesuai dengan lembaga –lembaga yang berperan.
    • 4Beberapa peluang penganeka-ragaman jenis penggunaan ubi jalar dapat dilihat berikutini:a. Daun: sayuran, pakan ternakb. Batang: bahan tanam,Pakan ternakc. Kulit ubi: pakan ternakd. Ubi segar: bahan makanane. Tepung: makananf. Pati: fermentasi, pakan ternak, asam sitrat
    • 5BAB IIISI DAN PEMBAHASAN2.1. Pentingnya Pengamatan Aspek Produksi dan Konsumsi2.1.1. Pentingnya Pengamatan Dari Aspek ProduksiDalam peta produksi ubi dunia, indonesia merupakan negara produsen ubi ke tigadi dunia setelah RRC dan Vietnam (Woolfe, 1992 dalam Van de Fliert, e. Al., 2000). Produksiubi di Indonesia tersebar diseluruh provinsi dengan wilayah sentra produksi utamaadalah provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatra Utara, Bali, NTT dan Papua(BPS, 2008). Potensi pengembangan komoditas ubi masih bisa ditingkatkan dari sisiketesediaan lahan maupun produktivitas. Dalam hal ini ini ubi dibudidayakan pada lahansawah, kering atau tegalan, dataran tinggi ataupun dataran pengembangan teknologibudidaya, pasca panen dan pengolahannya (Rahayuningsih, et al. 2000; Rahayunigsih, et al.1999).Walaupun dalam budidaya tanaman ubi kayu ini pada umumnya dapat dilakukandengan menggunakan pola tumpang sari, dimana jagung, kacang kedelai ataukacang-kacangan lainnya dmal. Ubi kayu merupakan tanaman yang relatif lebih mudah ditanamdan tahan kekeringan dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya, sehingga apabilatujuannya untuk memaksimalkan produksi ubi kayu, kesulitan mendapatkan waktutanam yang cocok untuk semua komoditi dalam pola tumpang sari dapat dihindarkan.Masyarakat pada umumnya sudah mengenal ubi. Ubi merupakan salah satukomoditas pertanian jenis umbi-umbian yang cukup menguntungkan di Indonesia baiksebagai sumber pangan maupun sumber pakan. Karena tanaman ubi kayu mempunyaikeunggulan dibandingkan dengan tanaman pangan lain, diantaranya dapat tumbuh dilahan kering dan kurang subur, daya tahan terhadap penyakit relatif tinggi, masapanennya yang tidak diburu waktu sehingga dapat dijadikan lumbung hidup.a. Kesesuaian LahanUbi kayu merupakan tanaman yang mudah ditanam, dapat tumbuh di berbagailingkungan agroklimat tropis, walaupun tentunya tingkat produksinya akan bervariasimenurut tingkat kesuburan dan ketersediaan air tanah. Ubi kayu merupakan tanamanyang tahan di lahan kering, sedangkan pada lahan-lahan dengan tingkat kesuburan tinggi,akan menyerap unsur hara yang banyak.Produksi yang optimal akan dapat dicapai apabila tanaman mendapat sinarmatahari yang cukup, berada pada ketinggian sampai dengan 800 m dpi, tanah gembur,dan curah hujan di antara 750 - 2.500 mm/tahun dengan bulan kering sekitar 6 bulan.
    • 6Hampir tidak ada kontribusinya terhadap struktur dan kandungan unsur haratanah, karena akar/umbi tanaman dicabut. Dengan demikian kelestarian perkebunan ubikayu memerlukan upaya khusus untuk menjaga kelestarian lahan dengan memberikankembali unsur hara tanah berupa pupuk organik di samping pupuk buatan. Sisa tanamansebaiknya dicacah untuk dimasukkan kembali ke dalam tanah.Mengingat nilai produksl dan kemudahan di dalam budidayanya, pola usaha ubikayu sering tidak menghasilkan pendapatan yang berarti bagi petani, apalagi jika ditanbukan merupakan usaha pokok. Bagi petani yang tidak memiliki modal usaha yang cukup,dengan hanya bermodalkan tenaga untuk mengolah tanah, petani sudah dapat menanamubi kayu karena bibitnya mudah didapat dan murah. Dengan demikian dapatlah dikatakanbahwa tanaman ubi kayu dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, tidak memerlukanpersyaratan tanah tertentu.b. Pengolahan tanahPengolahan tanah ini bertujuan untuk membuat tanah menjadi gembur sehinggapertumbuhan akar dan umbbi berkembang dengan baik. Waktu pengolahan tanahsebaiknya tidak dilakukan pada saat tanah dalam keadaan basah atau becek sehinggastruktur tanah tidak rusak. Pada tanah ringan atau gembur, pengolahan tanah inidilakukan dengan cara mencangkul 1-2 kali sedalam kurang lebih 20 cm, lalu setelah itudiratakan dan ditanami bibit. Sedangkan pada tanah becek atau berair, tanah dicangkul 1-2 kali sedalam kurang lebih 20 cm, lalu dibuat bedenganbedengan atau guludan yangberguna sebagai saluran drainase lalu kemudian dapat ditanam.Secara garis besar persiapan lahan untuk tanaman ubi kayu dilakukan sebagaiberikut:〆 Pembabatan tanaman perdu dan semak-semak serta rumput-rumputan/alangalangdan gulma lainnya. Hal ini dikerjakan terutama pada lahan yang baru dibuka,sedangkan pada lahan yang sudah biasa ditanami dengan palawija, tanah dapatlangsung dicangkul/dibajak.〆 Pengumpulan dan penyisihan batang tebangan, sedangkan bekas rerumputan dicacahdan dimasukkan kedalam tanah.〆 Pembajakan/pencangkulan atau pentraktoran pertama〆 Pembajakan/pencangkulan atau pentraktoran kedua dan penggemburan〆 Pembuatan saluran pemasukan dan saluran pembuangan〆 Pembuatan guludan.
    • 7c. Bibit dan PenanamanPenanaman bibit dapat dilakukan setelah tanah disiapkan. Waktu yang baik untukmenanam bibit ubi kayu adalah pada saat musin hujan. Hal ini dikarenakan ubi kayumemerlukan air terutama pada pertumbuhan vegetatif yaitu umur 4-5 bulan, selanjutnyakebutuhan air relatif sedikit. Cara menanam ubi kayu dianjurkan bibit tegak lurus atauminimal membentuk sudut 60 derajat dengan tanah dan kedalamannya 10-15 cm. Jaraktanam ubi kayu secara monokulture adalah 100 x 100 x 60, atau 100 x 40.Setelah lahan diolah dengan sempurna, bibit berupa stek batang dengan panjangkurang lebih 30 cm, ditanam dengan jarak tanam sekitar 100 x 80 cm, sehingga populasitanaman untuk luasan 1 Ha mencapai sekitar 12.500 tanaman. Waktu penanamandilakukan pada saat kelembaban tanah dalam keadaan mencapai kapasitas lapang, yaitubiasanya pada saat musim hujan, karena selama masa fase pertumbuhan tersebut ubikayu memerlukan air yang cukup.Tabel 5. Sifat Beberapa Varitas Ubi Kayu.VarietasUmur(Bulan)Rata-rataHasil(Ton/ha)BasahTinggiBatang (m)KadarTepung(%)Warna DagingUmbiRasaAdira 1Adira 2Adira 4Malang 1Malang 2DarulHidayah7 - 108 - 1210,5 - 11,59 - 108 - 108 - 1222223536.531.51021 - 22 - 31.5 - 2.01.5 - 3.01. 5 - 3.03.65454120343428KuningPutihPutihPutihKekuninganKuning MudaPutihEnakAgak PahitAgak PahitEnakEnakKenyal sptketanSumber : J. Wargiono. Ahli Peneliti Utama pada Puslitbang Tanaman Pangand. PemupukanUntuk mendapatkan potensi hasil yang tinggi pemupukan dengan pupukorganik (pupuk kandang, pupuk kompos dan pupuk hijau) dan pupuk anorganik (urea,TSP, dan KCL) perlu dilakukan. Pupuk organik sebaiknya diberikan pada saatpengolahan tanah dengan tujuan untuk memperbaiki struktur tanah. Sedangkan pupukanorganik yang diberikan tergantung dari tingkat kesuburan tanah. Pada umumnyadosis yang dianjurkan untuk digunakan pada tanaman ubi kayu adalah : urea sebanyak60-120 kg/ha, TSP sebanyak 30 kg P205/ha, dan KCL sebanyak 50 kg K20/ha. Cara
    • 8pemberian pupuk yang benar dibagi dalam dua waktu, pertama pada saat tanam(pupuk dasar) sebanyak 1/3 bagian urea dan KCL serta seluruh dosis TSP, kedua padasaat tanaman ubi kayu berumur 3-4 bulan yaitu 2/3 bagian urea dan KCL.e. Pemeliharaan tanamanPemeliharaan tanaman perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil yang tinggidengan kriteria tanaman yang baik, sehat dan seragam. Pemeliharaan ubi kayu meliputi :a) PenyulamanPenyulaman dilakukan apabila ada tanaman yang mati atau tumbuh sangatmerana. Waktu penyulaman paling lambat 5 minggu setelah tanamb) Penyiangan dan pembubunanPenyiangan dilakukan bila sudah tampak timbul gulma (tanaman pengganggu).Penyiangan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan sekaligusdengan melakukan pembumbunan. Pembumbunan dilakukan untuk memperbaikistruktur tanah sehingga ubi kayu dapat tumbuh dengan sempurna, serta dapatmemperkokoh tanaman agar tidak rebah.c) Pembuangan tunasPembuangan tunas dilakukan pada saat tanaman berumur 1-1,5 bulan. Inidilakukan bila dalam satu tanaman tumbuh dua tunas.Pengairan, mengingat ubi kayu ditanam di lahan kering, pada umumnyapengairan hanya mengandalkan dari curah hujan, hanya kadang-kadang apabilasetelah terjadi hujan yang cukup deras, perlu memperhatikan drainasinya.Kegiatan pemeliharaan yang lain yaitu pengendalian hama dan penyakit,namun sampai dengan saat ini khusus pada tanaman ubi kayu belum terjadi adanyaserangan hama dan penyakit yang serius, sehingga dapat dikatakan tidak diperlukanpemberantasan hama dan penyakit.f. Panen dan Pasca panenJika dalam mencabut tersebut dirasakan susah, maka sebelumnya tanah disekitarbatang ubi kayu sebagian terlebih dahulu digali dengan cangkul, baru setelah itu batangdicabut sampai umbinya terangkat semuanya. Kalau masih ada umbi yang tertinggal,karena patah/putus pada waktu pencabutan, maka sisa umbi tadi diambil dengan digalidengan cangkul. Cara lain yaitu dengan menggunakan tali/tambang yang dililitkan padabatang, lalu diungkit.Umbi yang telah dicabut, lalu dipotong dari batangnya dengan parang/golok, sertabagian tanah yang menempel dibuang akhirnya umbi tersebut ditumpuk disatukan
    • 9dengan umbi lainnya, dan siap diangkut ke tempat penyimpanan atau langsungdipasarkan. Umur ubi kayu yang cocok dipanen berkisar antara 10 - 14 bulan setelahtanam. Kurang dari 10 bulan rendemen kadar patinya rendah, begitu juga bila lebih dari14 bulan akan mengayu dan juga kadar patinya menurun pula. Hasil rata-rata per ha,dengan asumsi tiap batang menghasilkan antara 2,5 - 4,0 kg, maka akan diperoleh hasilbersih antara 30 ton - 40 ton per ha umbi basah.2.1.2. Pentingnya Pengamatan Dari Aspek KonsumsiBerdasarkan sifat ubi kayu digolongkan dalam dua golongan yaitu golongan pahitdan manis. Namun pada umumnya yang dikonsumsi adalah varietas yang manissedangkan yang pahit di gunakan untuk tujuan industri.Konsumsi ubi kayu terus bertambah seiring dengan peranan ubi sebagai sumberpangan, pakan dan bahan bakar. Pemanfaatan komoditi pertanian termasuk ubi kayusebagai bahan bakar nabati baru diresmikan dengan adanya peraturan Presiden No.5tahun 2006 mengenai Kebijakan Energi Nasional yang baru b erlangsung beberapa tahun,maka data mengenai konsumsi ubi kayu untuk bahan bakar ini belum tersedia. Perpresinipun dirasa belum dilakukan secara optimal karena masih terlihat sendiri-sendiri dalampengembangan ubi kayu menjadi bio ethanol untuk meningkkatkan penghasilannya.Untuk mencermati keterkaitan sisi konsumsi, tingkat konsumsi diukur dalamsatuan kg/kapita/tahun dan Kkal/kapita/hari.sedangkan tingakt partisipasi konsumsi ubidipetakan dalam ukuran : 1. Proporsi rumah tangga/individu yang mengkonsumsiterhadap total rumah tangga/individu wilayah tertentu; 2. Proporsi energi yangbersumber dari konsumsi ubi; 3. Konsumsi ubi terhadap pola konsumsi pangan dirumahtangga.Berikut penjelasan konsumsi terhadap ubi kayu :1. Konsumsi Untuk PanganPengkonsumsian ubi kayu sebagai pangan alternatif cukup penting dalampenganekkaragaman pangan karena ketersediaannya yang cukup banyak dan mudahdibudidayakan pada lahan subur, kurang subur bahkan lahan marjinal sekalipun.Sebagai sumber pangan, ubi kayu dapat dikonsumsi langsung mmaupun diolahmenjadi tapioka, makanan ringan serta bahan baku mie, roti, kue basah, tiwul, gaplekdan lain-lain.Walau pernah terjadi penurunan konsumsi ubi kayu untuk pangan yang sangatdrastis taitu tahun 1977 hingga puncaknya pada tahun 1980. bila dibandingkandengan tahun 1976, konsumsi ubi kayu untuk thaun 1980 turun sebesar 33,8% atau2.171.00 ton. Ini dikarenakan produksi mengalami penurunan.
    • 102. Konsumsi Untuk PakanKonsumsi Ubi kayu sebagai pakan selain umbinya, kulit ubi kayu pun dapatdimanfaatkan sebagai pakan ternak. Bagian kulit dapat diolah langsung menjadi pakanternak, sedangkan bagian umbi yang dapat digunakan sebagai pakan ternak berupaonggok dan pallet yang merupakan hasil olahan ubi kayu menjadi gaplek.3. Konsumsi bahan bakarPeningkatan pertumbuhan ekonomi dan populasi penduduk dengan semuaaktivitasnya akan berdamapak pada peningkatan kebutuhan energi di semua sektorpengguna energi, baik industri, rumah tangga, transportasi dan komersial. Konsumsienergi final pada tahun 1990 yaitu sebesa 221,33 juta SBM (Setara Minyak Barel)meningkat 6,3 persen/tahun menjadi 489,01 juta SBM pada tahun 2003 dimanakonsumsi Bahan Bakar Minyak merupakan konsumsi energi terbesar. Sebagian besarkonsumsi BBm, itu digunakan untuk transportasi (Sugiyono, 2005).Mengingat bahwa energi khususnya minyak adalah sumber daya yang tidakdapat diperbaharui maka sumber daya tersebut akan habis padahal kebutuhan energitersebut terus meningkat, oleh karna itu, masyarakat dan pemerintah harus mencarisolusi energi subtitusi yang dapat menggantikan serta mencukupi kebutuhan energitersebut.Diindonesia teradapat tanaman yang dapat dijadikan bahan bakar baku nabatidiantaranya adalah kelapa sawit, jarak pagar dan kedelai sebagai bahan baku bio dieseldan ubi kayu, ubi jalar, jagung, tetes serta sagu sebagai bahan baku bioethanol. Dan ubikayu adalah salah satu tanaman yang potensial untuk dijadikan salah satu subtitusisehingga permintan konsumsi terhadap ubi akan naik.Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa ubi kayu sebagai bahan bakubioethanol merupakan kebangkitan ketiga tanaman ubi kayu setel;ah ubi kayu dapatdimanfaatkan menjadi gaplek sebgai sumber bahan pangan alternatif dan kedua ubikayu dapat diolah menjadi tapioka yang merupakan salah satu komoditi ekspor.2.2. Prospek Komoditi Dari Segi PermintaanDitinjau dari sisi permintaan, permintaan ubi dipasar diomestik terus meningkat baikdalam bentuk konsumsi segar maupun olahan sebagai akibat penigkatan jumlah pendudukdan berkembangnya teknologi penanganan pasca panen dan pengolahan berbahan baku ubi.Dimasa yang akan datang diperkirakan permintaan ubi meningkat seiring dengan upayapengembangan pangan lokal. Dalam hal ini tepung serealia dan umbi-umbian lokal dapatmenjadi subtitusi terigu dan tepung beras sampai 20-50 persen untuk pembuatan aneka kue,cake, mie, dan roti tawar (Richana dan Damardjati dalam Widowati dan Damardjati, 2001).
    • 11Sementara itu permintaan ubi untuk pasar Malaysia meningkat dari 0,839 juta RMtahun 1997 meningkat menjadi 1.442 juta Rm tahun 2000 (Wan Ibrahim Wan Daud, 2002).Sedangkan permintaan untuk singapura lebih besar lagi dengan volume impor gabungankentang dengan ubi mencapai 16,34 ribu ton. (Lee Siew Moi, 2002).Ubi memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan secara komersial. Ubimerupakan komoditas bahan baku industri pengolahan serta produk industri hasil olahanlainnya. Pertumbuhan permintaan ubi cukup tinggi, namun tidak mampu diimbangi olehproduksi dalam negeri, sehingga harus dilakukan impor dalam jumlah yang cukup besar.1. Prospek untuk permintaan luar negeriUbi kayu kering diperlukan untuk bahan pakan ternak dan banyak lainnya,yang jumlah kebutuhan selama ini makin meningkat sejalan dengan peningkatanpopulasi konsumen akhir dari ubi kayu tersebut. Untuk mempertahankan pasar luarnegeri yang telah dikuasai Indonesia dengan jumlah yang semakin besar, makakebutuhan terhadap ubi kayu untuk masa-masa mendatang diperkirakan masih akanterus meningkat.2. Perkembangan EksporEkspor ubi kayu Indonesia dilakukan dalam bentuk ubi kayu kering (gaplekatau lainnya) dan tepung tapioka. Perkembangan ekspor ubi kayu dalam bentuk kering(gaplek, chips atau tepung) selama tahun 1990 sampai tahun 1998. Dalam periodetersebut ekspor terbesar terjadi pada Tahun 1993, selanjutnya perkembangan eksporubi kayu ada kecenderungan makin turun. Berbagai hal menyangkut masalah tataniaga yang berkaitan dengan peraturan ekspor (diterapkannya pembagian quota) danpola penyerapan produksi ubi kayu petani, dirasakan telah mempengaruhi laju eksporyang selanjutnya adalah juga produktivitas ubi kayu petani.Tabel 1. Ekspor Ubi Kayu Indonesia Tahun 1990-1998Tahun>Total Ekspor (Kg)Gaplek Pelet Bentuk Lain199019911992199319941995199619971998597.329.412492.507.502368.868.865516.585.171386.024.532426.894.318290.039.080184.154.743194.616.294570.456.989364.264.420501.304.110408.446.685298.829.70853.281.00893.610.15259.315.87324.770.0003.315.0941.850.8203.235.64810.852.2441.184.8311.307.8224.941.4343.530.0032.017.583
    • 12Tabel 2. Nilai Ekspor Ubi Kayu Indonesia Tahun 1990-1998TahunTotal Ekspor (Kg)Gaplek Tepung Tapioka Bentuk Lain19901991199219931994199519961997199870.725.23353.728.69340.625.62147.906.44833.228.91159.763.83135.766.85316.172.50718.262.20170.050.72450.476.79767.027.16242.625.19928.838.3026.123.00110.743.4225.564.9691.718.000998.850755.6431.069.9761.084.1361.010.002633.5761.103.416991.832421.401Sumber : Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia. Ekspor. BPS. Dikumpulkan dariBuku Tahun 1990 – 1998Berbeda dengan gaplek dan genusnya, total ekspor dalam bentuk tapioka terlihatpernah mencapai titik tertinggi sebesar 82.191 ton dengan nilai sebesar US 13,98 juta padatahun 1993 (Tabel 3). Untuk tahun selanjutnya jumlah ekspor kembali tidak menentu.Penurunan total ekspor yang drastis pada tahun 1994 diimbangi dengan ekspor yang tinggipada tahun 1995. Ini terjadi mungkin karena adanya pergeseran masa panen akibat pengaruhiklim dan adanya masalah penampungan ubi kayu petani dan pengolahannya yang dikaitkandengan kebijakan niaga pihak Pengusaha.Tabel 3. Ekspor Tapioka (Pati Ubi Kayu) Indonesia Tahun 1990-1997TahunTotal EksporGaplek Pelet1990 6.702.500 1.426.0721991 4.506.500 1.320.1751992 21.598.013 5.217.3321993 82.191.450 13.982.7121994 30.870.431 10.548.9501995 17.923.865 5.575.4301996 7.336.226 2.668.590Sumber : Statistik Perdagangan Luar Negari Indonesia. Ekspor.BPS.Dikumpulkan dariBuku Tahun 1990 - 1998Jangkauan ekspor ubi kayu Indonesia telah mencapai berbagai Negara di Asiadan Eropa, dengan ekspor terbesar ke Korea dan China. Luasnya negara tujuan ekspordi beberapa Negara Asia dan Eropa, menunjukkan bahwa ekspor komoditi ini
    • 13sebenarnya cukup potensial dan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan eksporproduksi ubi kayu pada masa yang akan datang.Tabel 4. Ekspor Tapioka (Pati Ubi Kayu) Indonesia Tahun 1997Negara TujuanTotal Ekspor(Dari Berbagai Bentuk)(kg)Nilai Ekspor (FOB)(US$)Korea 120.797.083 12.125.792China 67.502.292 5.473.891Philppine 558.000 107.884Malaysia 2.342.962 436.884Vietnam 697.920 41.875Netherlands 20.400.000 1.371.550Switzerlands 3.000.000 165.000Taiwan 570.000 85.500Germany 4.500.000 328.000Japan 762.000 154.570Singapore 247.000 53.106United Kingdom 26.600 57.399Sumber: Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia. Ekspor. BPS 19973. Permintaan dalam negeriKonsumsi Dalam Negeri ubi kayu dalam bentuk gaplek ataupun tapioka diIndonesia, terutama diperlukan untuk kebutuhan pakan ternak, tekstil, kerupuk danberbagai bahan campuran bagi produk makanan lainnya yang dibuat dari tepung. Bisadibayangkan bahwa kebutuhan tepung ubi kayu ataupun tapioka akan terus meningkatdi Indonesia, sesuai dengan peningkatan populasi konsumen.2.3. Permasalahan Komoditi Dari Segi AgribisnisKebutuhan Modal UsahaAspek keuangan untuk budidaya ubi kayu dihitung dengan asumsi :Setiap pengusaha kecil memiliki dua hektar lahan yang siap dibudidayakan danbukan lahan hutan, sehingga tidak memerlukan biaya untuk land clearing.Skim kredit yang digunakan dalam analisis ini didasarkan pada skim Kredit UsahaTani (KUT) dengan tingkat suku bunga 10,5% per tahun, KKPA dengan tingkat suku bunga16% per tahun, dan kredit umum yang dalam hal ini dihitung menggunakan suku bunga28% per tahun.Khusus untuk skim kredit KKPA dan kredit komersil diberikan grace periodselama satu tahun atau tiga bulan, sebagai masa konstruksi.Varietas ubi kayu yang digunakan adalah varietas unggul dengan produksi rata-rata per hektar per tahun sekitar 35 ton.
    • 14Dalam analisis ini dibedakan atas biaya investasi untuk kegiatan pra-operasi untukkeperluan sertifikasi lahan (yang mungkin masih diperlukan) yang biasanya diminta olehpihak Bank sebagai jaminan pinjaman, dan modal kerja untuk kegiatan penanaman ubikayu (persiapan lahan, pengadaan sarana produksi, tanam dan pemeliharaan tanaman).Oleh karena proyek yang akan dikembangkan ini akan memanfaatkan pendekatan ProyekKemitraan Terpadu (PKT), maka dalam perhitungan biaya dimasukkan management feesebesar 3,5% untuk skim KUT dan 5% untuk skim kredit tainnya.Pemasaran Hasil Produksi PetaniBanyak masalah yang selama ini sering dihadapi para petani ubi kayu dalammemasarkan produksinya, terutama sekali menyangkut harga, peran dan tingkah parapengumpul, dan kebijakan yang dilakukan sendiri oleh para Pengusaha Pabrik PengolahanUbi Kayu dan Eksportir.a. Harga Jual Ubi KayuHarga jual ubi kayu ditingkat petani Ubi Kayu/Eksportir yang mungkin jugadipengaruhi oleh adanya kebijakan Pemerintah tentang kuota ekspor, serta naikturunnya nilai dolar terhadap rupiah. Disamping itu bisa dipahami pula bahwa bagidaerah-daerah penghasil ubi kayu untuk industri, para petani di dalam mengadakanpenanaman tidak mampu mengantisipasi daya serap pihak pabrik pengolahan.Melalui kemitraan antara Petani Ubi Kayu dengan Pengusaha PabrikPengolahan dan Eksportir, para Pengusaha akan bisa menentukan kepastian jumlahproduksi yang mungkin ditampung dan luas tanam ubi kayu yang akan dilaksanakanbersama mitra petaninya. Keadaan ini akan dapat mencegah terjadinya produksi yangmelimpah, dan apabila harga pasar yang terjadi lebih tinggi dari tingkat harga itudisepakati untuk penentuan harga dasar bisa dibuatkan kesepakatan yang tidakmerugikan petani, dan apabila harga pasar lebih tinggi dari kesepakatan harga ituakan dipergunakan sama dengan harga pasar setempat.b. Pedagang Pengumpul PerantaraKarena lokasi lahan petani yang terpencar jauh dari Pabrik Pengolahan UbiKayu, maka banyak petani yang terpaksa menjual hasil panen ubi kayu kepada paraPengumpul atau para Perantara yang datang ke tempat itu. Para Pengumpul ini dengankendaraan truk mengambil hasil panen petani untuk dibawa ke pabrik dan ditimbanguntuk menentukan beratnya. Banyak masalah dalam penentuan berat timbangan ini,yang sering tidak memuaskan dan dapat merugikan petani. Sementara pihakPengumpul atau Perantara itu sendiri sangat mengupayakan keuntungan dariperanannya itu.
    • 15Kejadian yang sangat merugikan petani adalah kalau dalam kondisi yang serbatidak kecukupan, petani terpaksa memenuhi kebutuhannya dengan meminta uangterlebih dahulu sebelum panen dari para Pengumpul atau para Perantara ini. Dalamkeadaan seperti ini, pada saat panen petani bisa jatuh berada pada posisi yang lemahdalam hal penentuan harga dan berat timbangan hasil panennya yang sering kalisangat merugikan petani ubi kayu, ditambah juga dengan penentuan rafraksinya yangtidak transparan.Untuk memastikan tingkat pendapatan petani ubi kayu dalammempertimbangkan pemberian fasilitas kredit, jaminan mengenai kepastian harga dantingkat produksi tanaman petani diharapkan akan dapat diperoleh melalui kemitraanyang didukung dengan perjanjian kerjasama dalam mengatur hal-hal yang berkaitandengan pembinaan produksi, penanganan hasil panen dan harga jual ubi kayu petaniyang mantap.c. Kebijakan Pengusaha Pabrik Pengolahan Ubi Kayu Tentang Harga Beli UbiKayu PetaniSering kali dialami bahwa kebijakan harga beli ubi kayu pada saat panen rayasangat merugikan petani. Beberapa yang sering dikemukakan oleh pihak Pengusahaadalah terbatasnya daya tampung fasilitas pabrik, dan kuota ekspor yang diterapkanoleh Pemerintah.Untuk menjaga agar jangan sampai terjadi produksi yang melimpah, melaluikemitraan dalam rangka budidaya ubi kayu ini oleh Petani/KelompokTani/Koperasi/KUD diharapkan bisa dipertimbangkan besarnya luas cakupankemitraan yang menyangkut luas tanam, jumlah petani peserta dan produktivitaslahan, sehingga masalah harga bisa dijaga dan ditentukan harga dasarnya sesuaikemampuan daya tampung produksi dan fasilitas ekspor yang ada secara lokal dannasional.d. Pemasaran Ubi Kayu Petani Dalam Rangka KemitraanDengan kemitraan terpadu antara para Petani dengan PengusahaPengolahan/Ekspotir Ubi Kayu, para Petani menggunakan modal untuk bercocoktanam ubi kayu dari fasilitas kredit. Kredit ini diberikan oleh Badan pemberi kreditatas adanya peran serta pihak mitra Pengusaha yang ikut menjamin keberhasilanusaha dan pelunasan kredit.Untuk memastikan arus pelunasan kredit dan pembayaran bunganya, parapetani diharuskan melalui kesepakatan bersama menjual produksi ubi kayunya kepadaPabrik Pengolahan milik mitra dengan harga yang ditetapkan dengan
    • 16mempertimbangkan terciptanya keuntungan bagi kedua belah pihak secara wajar. Daripenjualan ini, Petani melalui Pengusaha mitra menyisihkan sejumlah hasil penjualanubi kayu yang harus dipergunakan untuk melunasi kredit dan bunganya. Mekanismeini diatur dalam Perjanjian Kerjasama seperti contoh tertampir.2.4. Penerapan Fungsi Manajemen Pada Sub-Sistem AgribisnisStrategi pembangunan sistem agribisnis yang bercirikan yakni berbasis padapemberdayagunaan keragaman sumberdaya yang ada di setiap daerah (domestic resourcesbased), akomodatif terhadap keragaman kualitas sumberdaya manusia yang kita miliki, tidakmengandalkan impor dan pinjaman luar negeri yang besar, berorientasi ekspor (selainmemanfaatkan pasar domestik), diperkirakan mampu memecahkan sebagian besarpermasalahan perekonomian yang ada. Selain itu, strategi pembangunan sistem agribisnisyang secara bertahap akan bergerak dari pembangunan yang mengandalkan sumberdaya alamdan SDM belum terampil (factor driven), kemudian beralih kepada pembangunan agribisnisyang digerakkan oleh barang-barang modal dan SDM lebih terampil (capital driven) dankemudian beralih kepada pembangunan agribisnis yang digerakkan ilmu pengetahuan,teknologi dan SDM terampil (innovationdriven), diyakini mampu mengantarkan perekonomianIndonesia memiliki daya saing dan bersinergis dalam perekonomian dunia (Bungaran Saragih,2001).Bila dibandingkan dengan pertanian primer atau on farm yang berorientasi pada satukegiatan pertanian seperti aktivitas cocok tanam, berkebun, atau berladang, agribisnis lebihmembawa kemudahan dalam persaingan industri, dikarenakan kegiatan pertanian dalamlingkup agribisnis lebih memadukan pendekatan kegiatan pertanian dengan prinsip ekonomidengan menekan faktor produksi seminimal mungkin untuk mencapai keuntungan sebesarmungkin. Pendekatan pertanian agribisnis diharapkan dapat menghidupkan segala potensipertanian, dengan pengelolahan secara subsektoral bersama kelompok tani denganmemanfaatkan sumberdaya alam dan lingkungan, serta mengandalkan pelayanan jasa usahapertanian (input, output dan modal).Subsistem agribisnis ubi dalam penelitian ini diukur dengan cara mengetahui jumlahskor dari 5 subsistem agribisnis yang meliputi : subsistem pengadaan sarana produksi,subsistem usahatani, subsistem pengolahan hasil pertanian, subsistem pemasaran, subsistemjasa dan penunjang.2.4.1. Agribisnis HuluSistem agribisnis adalah cara baru melihat sektor pertanian (Saragih 2010).Sistem agribisnis (termasuk agroindustri) dalam konteks strategi industrialisasi yangmengandalkan industri atau kegiatan-kegiatan yang memanfaatkan atau menciptakan
    • 17nilai tambah baru bagi produk-produk pertanian primer serta industri atau kegiatanlain yang memproduksi bahan-bahan dan alatalat untuk meningkatkan produktivitaspertanian.Menurut Saragih (2010) sektor agribisnis sebagai bentuk modern daripertanian primer, paling sedikit mencakup empat subsistem yakni: subsistemagribisnis hulu (upstream agribusiness), yaitu kegiatan ekonomi yang menghasilkandan perdagangan sarana produksi pertanian primer (seperti industry pupuk, obat-obatan, bibit/benih, alat dan mesin pertanian, dan lain-lain); subsistem usahatani(on-farm agribusiness) yang pada masa lalu kita sebut dengan sektor pertanianprimer, subsistem agribisnis hilir (downstream agribusiness), yaitu kegiatanekonomi yang mengolah hasil pertanian primer menjadi produk olahan, baik dalambentuk yang siap untuk dimasak, siap untuk disaji atau siap untuk dikonsumsi besertakegiatan perdagangannya di pasar domestik dan internasional; dan subsistem jasalayanan pendukung seperti lembaga keuangan dan pembiayaan, transportasi,penyuluhan dan layanan informasi agribisnis, penelitian dan pengembangan, kebijakanpemerintah, asuransi agribisnis dan lain-lain. Berikut lingkup pembangunan dansistem usaha.Gambar 1. Penjelasan Subsistem AgribisnisSubsistemAgribisnisHuluIndustriperbenihan/PembibitantanamanIndustriagrokimiaIndustriagrootomotifSubsistemUsahataniSubsistemPengolahan/hilirSubsistemPemasaranUsahatanamanpangan danhortikulturaUsahaperkebunanUsahapeternakanIndustrimakananIndustriminumanIndustripanganIndustri barangserat alamIndustribiofarmaIndustriagrowisata danestetikaDistribusiPromosiInformasipasarKebijakanperdaganganStruktur pasarSubsistem jasa dan penunjangPerkreditan dan AsuransiPenelitian dan PengembanganPendidikan dan PenyuluhanTransportasi dan Pergudangan
    • 182.4.2. Agribisnis On FarmSubsistem usahatani merupakan kegiatan ekonomi yang menggunakansarana produksi usahatani untuk menghasilkan produk pertanian primer.Berdasarkan factor agribisnis hulu-hilir, fungsi dan ruang lingkupagribisnis terbagi menjadi :ゞ Agribisnis hulu : merupakan agribisnis yang menangani factor produksi dansarana untuk usaha tani. Dikenal juga dengan agribisnis input.ゞ Agribisnis usaha tani : merupakan agribisnis yang melakukan usahapemanenan energi surya melalui proses fotosintesis. Dikenal juga denganagribisnis produksi.ゞ Agribisnis hilir : merupakan agribisnis yang mengolah output/hasil produksiagribisnis. Dikenal juga dengan agribisnis proses dan manufaktur.ゞ Agribisnis penunjang : seluruh kegiatan yang menyediakan jasa bagi agribisnis.Dikenal dengan agribisnis jasa.Fungsi dan ruang lingkup sistem agribisnis hulu-hilir bila dianggap perlumasih dapat dikembangkan dengan integrasi vertikal dan integrasi horizontal.Andaikan pengembangan sistem dilakukan dengan model dua dimensi maka akanada pengembangan sumbu X dan pengembangan sumbu Y.2.4.3. Agribisnis HilirBerdasarkan sumbu X, pengembangan agribisnis dapat dilakukan denganintegrasi horisontal (Horizontal Integration) yang merupakan strategi untukmengendalikan para pesaing. Terkait ke sisi kanan (right side linkage):merupakan integrasi beberapa perusahaan yang merupakan pesainglangsung karena memiliki alur sistem agribisnis hulu-hilir yang sama,tujuannya adalah meniadakan persaingan dan menguasai akses pasar. Misalnyaintegrasi sesama agribisnis pakan ternak. Terkait ke sisi kiri (left side linkage):merupakan integrasi beberapa perusahaan yang bukan merupakanpesaing langsung tetapi saling berkompetisi sebagai produk komplementeratau sebagai produk substitusi, tujuannya adalah meminimalkan persaingandan menguasai pasar. Misalnya agribisnis daging sapi dengan agribisnis telurdan daging ayam.
    • 19Berdasarkan sumbu Y pengembangan agribisnis dapat dilakukan denganstrategi integrasi vertikal (vertical integration strategies) yaitu merupakan strategiperusahaan untuk menguasai alur sistem agribisnis dari hulu sampai hilir, mulaidari pemasok bahan baku hingga distribusi pemasaran. Integrasi dilakukan dengancara merjer, akuisisi, atau membuat perusahaan tersendiri. Integrasi hulu – on farm atau terkait kebelakang (backward linkage) :Pengembangan agribisnis dengan menggabungkan agribisnis huludengan agribisnis on farm. Tujuannya adalah agar lebih menguasai bahan baku,faktor produksi dan sarana penunjang produksi. Integrasi on farm – hilir atau terkait kedepan (forward linkage) :Pengembangan agribisnis dengan menggabungkan agribisnis on farmdengan agribisnis hilir. Tujuannya adalah agar lebih dekat ke konsumen. Integrasi hulu – on farm – hilir atau integrasi terkait dari belakang hinggadepan (backward-forward linkage) :Pengembangan agribisnis dengan menggabungkan agribisnis hulu,agribisnis on farm dan agribisnis hilir, Tujuannya adalah menguasai bahanbaku dan lebih dekat ke konsumen. Integrasi satu alur (hulu – on farm – hilir – penunjang) atau integrasi penuh(full integration) :Pengembangan agribisnis yang mengintegrasikan agribisnis hulu, onfarm, hilir dan penunjang. Tujuannya menguasai satu sistem agribisnis hulu-hilir.2.4.4. PemasaranMerupakan semua kegiatan yang mempengaruhi proses penyampaianproduk dari produsen ke konsumen. Dengan pemahaman tersebut, pelaku akanlebih mampu bersaing di pasar lokal, antar pulau maupun perdaganganinternasional. Beberapa faktor perlu dikenali yaitu : karakter pelaku perdaganganubi (petani, pedagang kecil/ besar); faktor-faktor yang mempengaruhi pemasaranseperti kualitas ubi, harga jual, margin usaha, dan peran setiap kawasan sentraproduksi dalam memasok pasar kedelai nasional. Sistem pemasaran ubiberkembang karena dipengaruhi oleh perilaku pedagang besar, pedagang kecilmaupun pengrajin. Kekuatan pelaku pasar tertentu sering menyulitkanberkembangnya sistem perdagangan yang adil dan merata. Rantai pasokan kedelaidiidentifikasi untuk mengetahui peluang usaha bagi pelaku baru dan untukmembantu konsumen tertentu, industri kecil dan pengrajin yang dirugikan akibatlonjakan harga atas permainan oknum pelaku tertentu. Pelaku pasar yang
    • 20bermoral akan senantiasa memberikan harga yang terjangkau dengan kualitasyang memenuhi persyaratan usaha industri.Pelaku baru akan berhasil apabila memahami supply chain komoditas ubiDaerah produsen tersebut disurvei untuk mengetahui sejauh mana mampumencukupi kebutuhan konsumsi dan perlunya tambahan ubi dari daerah lain atauimpor. Margin pemasaran juga disinggung untuk melihat besaran yangditerimaoleh setiap pelaku dalam rantai pasokan komoditas ubi sebagai acuanpengembangan usaha.2.4.5. PenunjangSubsistem jasa dan penunjang merupakan kegiatan jasa yag menyediakanjasa bagi agribisnis seperti koperasi, perbankan, litbang, penyuluh, trnsportasi danlain–lain.a. Pelayanan Sarana ProduksiPelayanan ini harus ada untuk menjamin ketersediaan saranausahatani tepat waktu, jumlah dan harga yang wajar. Instansi pemerintahsetempat harus mampu menciptakan iklim usaha dan memberikan dukunganagar koperasi atau pengusaha dapat menjalankan fungsinya secara wajar.Diperlukannya rekomendasi berbagai program insentif untuk mendorongtumbuhnya lembaga pelayanan, khususnya untuk lokasi yang terpencil.b. Pelayanan Informasi Teknologi Spesifik LokasiPelayanan informasi ini mencakup pemilihan kultivar dengan kualitastinggi yang secara ekonomis dapat diproduksi di lokasi setempat, teknologipembibitan, teknologi budidaya, pasca panen, pengolahan primer, sekunderhingga pengepakan buah segar maupun olahannya. Kerjasama peneliti-penyuluh dalam hal alih teknologi kepada petani harus dilakukan secaraintensif.Kegiatan perlindungan yang harus mengawali pengembangan kawasanagribisnis Ubi terutama adalah pengawasan sebagai tindak preventif sertametode penanggulangan hama dan penyakit yang mungkin mengganggutanaman ubi, serta komoditas penunjangnya. Hal ini sangat penting untukmencegah kerugian akibat kegagalan panen atau penurunan kualitas produk.c. Pelayanan PembibitanJaringan kerjasama dengan Penangkar bibit berlabel diperlukan untukmendukung pengembangan komoditas ubi . Aspek ini mencakup pengadaan
    • 21bibit, pengawasan dan sertifikasi bibit, serta pembinaan petani penangkarbibit, khususnya untuk tanaman unggulan komoditas ubi.d. PengairanKebun rakyat biasanya memerlukan air untuk budidaya, pasca panen,dan kegiatan penunjang lainnya. Kebutuhan air bersih akan meningkat kalautelah terdapat kegiatan pengolahan, terutama dalam bentuk industripengolahan pangan. Program pengairan dialokasikan untuk kegiatanpenyediaan sumber air (sumur gali atau PAH) dan saluran air hujan (SPA).e. TransportasiSarana transportasi sangat vital dalam membangun kawasanagribisnis Ubi, dengan demikian program pembangunan sarana transportasiyang ada harus diarahkan untuk mampu menjamin tersedianya prasaranajalan (jalan desa dan jalan hutan) serta fasilitas transportasi yang memadai dikawasan sentra produksi, yang menghubungkannya dengan pusat-pusatpelayanan dan pemasaran.f. Sarana dan Prasarana PemasaranSarana dan prasarana pemasaran, seperti tempat penampungan, alat-alatpenyimpanan dengan fasilitas pasca panen, alat-alat pengepakan, informasi hargaserta fasilitas fisik pasar/kios yang memadai, sangat vital dalam pengembangansentra agribisnis Ubi.2.5. Sub-Sistem Yang Paling BerperanSubsistem jasa dan penunjang adalah sub-sistem yang paling berperan dalampertanian ubi ini, sama seperti komoditi pertanian pada umumnya, meliputi pemerintah (baikpusat maupun daerah), lembaga pembiayaan, pendidikan dan penyuluhan, transportasi danpergudangan, sera penelitian pengembangan. Penelitian pengembangan ubi di indonesiaditangani oleh Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Pangan atau Balai PenelitianKacang-Kacangan dan Umbi-Umbian (Balitkabi), Departemen Pertanian. Sedangkanpembinaan agroindustri di indonesia dilakukan oleh berbagai instansi, antara lain diDepartemen Pertanian (Direktorat jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil pertanian),Departemen Perindustrian (Direktorat Agroindustri, dan kantor Menteri Negara Riset danteknologi juga terdapat unit yang menangani agroindustri, serta Biro Pusat Statistik juga adadata pengumpulan agroindustri (Soekartawi 2005).
    • 222.6. Resiko Penurunan Nilai Input Dan Output dalam AgribisnisSetiap kegiatan usaha yang bergerak disektor pertanian khusunya Ubi selaludihadapkan pada resiko ketidakpastian yang tidak terlalu tinggi. Resiko ketidakpastiantersebut meliputi tingkat kegagalan panen, resiko pemasaran dan juga resiko harga. Untukmengatasi resiko yang akan dihadapi oleh petani ubi, biasanya petani Ubi sudah menyiapkanlangkah untuk mengantisipasi yang akan dihadapi. Adapun contoh langkah yang dilakukanpetani untuk menghadapi resiko di atas adalah dengan membentuk harga sama dengan petaniubi lainnya agar persaingan bisa teratur sehingga petani Ubi tidak perlu menjual hasilpertanian dengan harga yang rendah untuk menarik hati konsumen. Jika dilihat dari segipemasarannya, hasil pertanian ubi kayu sangatlah mudah busuk sehingga dari waktupemanenan sampai ke pamasaran harus dalam waktu yang dekat, karena apabila terlalu lamahasilpertanian ubi akan busuk dan akan menyebabkan kerugian bagi petani ubi.2.7. Tekonologi Alternatif Dalam Upaya Pengembangan Produksi UbiTeknologi PenyimpananUbi tidak tahan disimpan lama. Untuk memperpanjang masa simpan, umbi perludiolah menjadi bahan-bahan jadi atau setengah jadi. Menurut Damarjati dan Widowatidalam Zuraida dan Supriati (2001), ada empat kelompok produk olahan ubi jalar, yaitu: 1)hasil olahan ubi jalar segar, seperti ubi rebus, ubi goreng, ubi timus, kolak, nogosari, getuk,dan pie, 2) produk siap santap, misalnya keremes, saos, selai, hasil substitusi dengantepung seperti biskuit, roti, dan kue, bentuk olahan dengan buah-buahan seperti manisandan asinan, 3) produk siap masak seperti chips, mi,dan bihun, dan 4) produk bahan bakuyang biasanya kering, setengah jadi, awet dan dapat disimpan lama, misalnya irisan ubikering, tepung, dan pati, bisa juga menjadi campuran utama dalam membuat saos tomat,selai, dan sambal.Cara lain untuk memperpanjang masa simpan umbi adalah dengan pelumpuran.Bobot umbi yang disimpan menurut cara petani dan cara pelumpuran disajikan padaBobot umbi yang disimpan dengan cara pelumpuran selama 3 bulan hanya menurun33,47%, sedangkan umbi yang disimpan dengan cara petani dengan periode simpan yangsama sudah busuk. Umbi yang disimpan dengan cara pelumpuran masih utuh denganbobot 2,60 kg. Teknologi ini dapat diterapkan bila kebun kebanjiran sehingga ubi jalarharus dipanen serempak agar tidak busuk akibat tergenang air.Langkah operasional yang harus dilakukan Dinas Pertanian Tanaman Pangan danHortikultura Provinsi Papua untuk mengembangkan tanaman pangan antara lain adalahpenyediaan benih bermutu varietas unggul, pemupukan berimbang, penyediaan saranaproduksi, perluasan areal tanam dan optimalisasi pemanfaatan lahan, pengendalianOrganisme Pengganggu Tanaman (OPT), serta penanganan panen dan pascapanen.
    • 23Teknologi untuk mendukung program tersebut telah tersedia dan siap diimplementasikandi lapangan.a. Investasi peralatan dibutuhkan baik untuk peningkatan kapasitas produksi maupununtuk perbaikan kualitas produk ubi kayu. Hal ini mengingat peluang pasar domestikmaupun ekspor masih sangat terbuka dan sejauh ini belum optimal mampudimanfaatkan oleh pelaku usaha ubi kayu.b. Pembiayaan dari lembaga keuangan formal (bank) sangat dibutuhkan untukpengadaan alat-alat baik untuk perbaikan mesin maupun pembeliaan mesin baru.Guna memotivasi pelaku usaha untuk mengakses kredit dari perbankan maka perluada skim pembiayaan yang dapat mengakomodir siklus produksi dan nature ofbusiness gula aren.c. Untuk meningkatkan dan memperbaiki mutu produk yang dihasilkan, maka pengusahaperlu lebih memperdalam pengetahuan mengenai teknik produksi, teknologi, daninformasi mengenai produksi ubi kayu yang efektif dan higienisd. Untuk meningkatkan produksi, perlu diadakan pembudidayaan bibit ubi kayu secaraintensif untuk menggantikan pohon sudah tidak produktif lagi. Selain itu perlu adanyatransfer teknologi pengolahan ubi kayu cetak dan semut melalui pelatihan danpenyuluhan secara berkala dan pengenalan teknologi tepat guna sehingga lebih efisien.e. Untuk memperbaiki pola pemasaran, pengusaha sebaiknya mendapat pelatihanmengenai strategi pemasaran yang baik untuk meningkatkan penjualan produknyadan mendapatkan harga yang baik.2.8. Pengembangan Agribisnis Komoditi UbiTujuan yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah sebagai berikut :a. Meningkatkan produktivitasb. Meningkatkan pendapatan petanic. Meningkatkan serta membuka kesempatan kerjaMelalui perluasan areal tanaman dari 2105 Ha pada tahun 2007 meningkatmenjadi 3105 Ha untuk tahun 2008 dengan harapan kapasitas produksi per Hektar 18 tonsehingga per musim produksi ubi jalar mencapai 55890 ton/musim atau pertahun 111780ton (2 musim).Membangun pabrik chips ubi dengan kapasitas 12 ton/hari, Adanya kerjasamadengan pabrik tepung yang ada di Kabupaten Kuningan dengan kapasitas 12 ton/hari danjuga untuk kebutuhan-kebutuhan pabrik tepung lainnya yang ada di luar KabupatenKuningan.
    • 242.9. Analisis SWOTAnalisis SWOT adalah instrument perencanaaan strategis yang klasik. Denganmenggunakan kerangka kerja kekuatan dan kelemahan dan kesempatan ekternal danancaman, instrument ini memberikan cara sederhana untuk memperkirakan cara terbaikuntuk melaksanakan sebuah strategi. Instrumen ini menolong para perencana apa yang biasdicapai, dan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan oleh merekaGambar 2. Analisis SWOT2.9.1. Kekuatan (Strengths)Merupakan kondisi kekuatan yang terdapat dalam organisasi, proyekatau konsep bisnis yang ada. Kekuatan yang dianalisis merupakan faktor yangterdapat dalam tubuh organisasi, proyek atau konsep itu sendiri.Strenght ini bersifat internal dari organisasi atau sebuah program.Contoh :1. Jumlah anggota yang lebih dari cukup (kuantitatif)2. Berpengalaman dalam beberapa kegiatan (kualitatif)2.9.2. Kelemahan (Weakness)Merupakan kondisi kelemahan yang terdapat dalam organisasi, proyek ataukonsep bisnis yang ada. Kelemahan yang dianalisias merupakan faktor yangterdapat dalam tubuh organisasi, proyek atau konsep itu sendiri. Ataukegiatan-kegiatan organisasi yang tidak berjalan dengan baik atau sumber dayayang dibutuhkan oleh organisasi tetapi tidak dimiliki oleh organisasi.Kelemahan itu terkadang lebih mudah dilihat daripada sebuah kekuatan,namun ada beberapa hal yang menjadikan kelemahan itu tidak diberikan solusiyang tepat dikarenakan tidak dimaksimalkan kekuatan yang sudah ada.Contoh :1. Kurang terbinanya komunikasi antar anggota2. Jaringan yang telah terbangun tidak dimaksimalkan oleh seluruh anggota.
    • 252.9.3. Peluang (Opportunities)Merupakan kondisi peluang berkembang dimasa datang yang terjadimerupakan peluang dari luar organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri.Misalanya kompetitor, kebijakan pemerintah, kondisi lingkungan sekitar.Opportunity tidak hanya berupa kebijakan atau peluang dalam halmendapatkan modal berupa uang, akan tetapi bisa juga berupa responmasyarakat atau isu yang sedang diangkat.Contoh :1. Masyarakat sedang menyukai tentang hal-hal yang bersifat reboisasilingkungan2. Isu yang sedang diangkat merupakan isu yang sedang menjadi topic utama.2.9.4. Kendala (Threats)Merupakan kondisi yang mengancam dari luar. Ancaman ini dapat menggangguorganisasi, proyek atau konsep itu sendiri.Ancaman ini adalah hal yang terkadang selalu terlewat dikarenakan banyakyang ingin mencoba untuk kontroversi atau out of stream (melawan arus)namun pada kenyataannya organisasi tersebut lebih banyak layu sebelumberkembang.Contoh :1. Masyarakat sudah jenuh dengan pilkada2. Isu agama yang berupa ritual telah membuat masyarakat bosan.2.10. Lembaga PemasaranSaluran pemasaran merupakan jembatan antara dan petani akhir yangmelaluio berbagai tingkatan lembaga pemasaran. Saluran pemasaran yang dilalui sangatberpengaruh terhadap keuntungan yang diterima oleh masing-masing lembagapemasaran yang terlibat dalam penyaluran produksi ubi. Lembaga pemasaran yangterlibat dalam penyaluran produksi ubi sampai ketangan konsumen akhir adalahDepartemen Pertanian dan petani, tengkulak, pedagang pengumpul, pedagang besar,serta pedagang pengecer, industri pakan ternak, industri makanan, eksportir dankonsumen (Juanda & Cahyono, 2004).Lembaga pemasaran inilah yang kemudian akan berperan dalam menjaminsampainya produk ubi tersebut ketangan konsumen secara efisien.
    • 26BAB IIIPENUTUP3.1. Kesimpulan1. Peluang pasar komoditas yang menggunakan ubi kayu sebagai bahan bakunya, sepertitepung tapioka dan gaplek, baik untuk ekspor ataupun untuk keperluan dalam negerimasih terus terbuka, sehingga secara tidak langsung memberikan peluang bagidiadakannya pengembangan dan peningkatan produksi ubi kayu pada umumnya diIndonesia.2. Besarnya potensi pengembangan agroindustri tepung ubi merupakan modal dasar bagipembangunan agroindustri ubi jalar secara lebih konkrit.3. Secara teknis, sumber daya lahan dan sumber daya manusia untuk pengembanganproduksi ubi kayu di Indonesia masih banyak tersedia di berbagai wilayah, terutama didaerah-daerah lahan kering Luar Jawa.4. Beberapa kendala yang dihadapi oleh para petani dalam pengembangan budidaya ubikayu adalah masalah penyertaan modal, penyediaan saprodi, pemasaran hasil dankeadaan harga jual umbi pada waktu panen yang sering tidak menguntungkan petani.Hal ini menjadi perhatian dalam mempertimbangkan pengamanan pemberian kreditdari pihak Bank kepada petani, yang hasilnya dilaporkan dalam bentuk ModelKelayakan Proyek Kemitraan Terpadu (MK-PKT) Usaha Budidaya Ubi Kayu.5. Berdasarkan analisis finansial, pemberian KUT, KKPA ataupun skim kredit lainnya(sampai dengan tingkat bunga 28%), terlihat masih memiliki landasan kelayakanfinansial apabila pelaksanaan usahanya menggunakan Pola Kemitraan Terpadu sepertidibahas dalam Model Kelayakan ini.3.2. Saran Petani diharapkan selain sebagai pelaku produksi Ubi petani juga harus berperansebagai pelaku tataniaga karena dapat meningkatkan taraf hidup petani. Petani diharapkan selain menjual dalam bentuk bahan baku namun juga petani harusmenjual dalam bentuk yang sudah diolah menjadei produk jadi ataupun stengah jadi,seperti tepung ubi yang dimkanfaatkan sebagai bahan baku industri, dan kerupuk danberbagai makanan sehingga memiliki nilai tambah. Untuk menjaga kelestarian lahan dan keberlanjutan usaha, aspek teknis budidaya ubikayu ini agar mendapatkan perhatian dengan menyertakan pemberian pupuk organikdi samping pupuk anorganik (seperti urea) dan mengembalikan sisa-sisa tanaman kedalam tanah. Diadakannya tumpangsari dengan tanaman kacang-kacangan atau
    • 27diadakannya rotasi bergilir dengan tanaman lain, akan dapat membantu mencegahterkurasnya unsur hara tanah. Guna mencegah biaya angkut yang tinggi, proyek pengembangan budidaya ubi kayusebaiknya dilaksanakan pada lokasi yang tidak jauh di sekitar Pabrik Pengolahan ubikayu atau gudang pengumpulan gaplek milik mitra Pengusaha Besar yangbersangkutan. Untuk mengantisipasi fluktuasi harga jual ubi kayu hasil panen petani, jadual dan luastanam sebaiknya disesuaikan dengan permintaan dari Perusahaan mitra pengguna ubikayu tersebut.
    • 28DAFTAR PUSTAKAwww.untirta-network.co.cchttp://taufikhidayat.blogspot.com/2011/12/analisis-tataniaga-ubi-jalar-ipomoea.html?m=1Bungaran Saragih. 2001. Agribisnis. Jakarta : Pengembangan Sinar Tani.Setiyono, A and Soemardi. Masalah Ubi Kayu dan Mutu Gaplek di Lampung. In. : LaporanTahunan, Sub-Balai Penelitian Tanaman Pangan.Oramahi, H.A. 2005. Pengolahan Gaplek “Chips” Dapat Meningkatkan Pendapatan Petani?Kedaulatan Rakyat, 24 Juni 2005, hal. 10.Suprapti, M.L. 2005. Tepung Tapioka: Pembuatan dan Pemanfaatannya. Kanisius,Yogyakarta.Suryana, A. 2005. Arah, Strategi dan Program Pembangunan Pertanian 2005-2009. BadanPenelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.Ibrahim, D. 1997. Strategi Pemasaran Industri Pangan dalam Globalisasi. Majalah Pangan.No.33, Vol.IX. Jakarta.Siew Moi, Lee, 2002. Peluang Pasar Sayur Sumatera di Singapura. Dalam Prosiding PertemuanRegional Kawasan Agribisnis Sayuran Sumatera (KASS). Hal 27-32. DirektoratPengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Dengan Dinas Pertanian ProvinsiRiau.Wan Ibrahim Wan daud, Dato’, 2002. Peluang Pasar Sayur Sumatera di Malaysia. DalamProsiding Pertemuan Regional Kawasan Agribisnis Sayuran Sumatera (KASS). Hal34-48. Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Dengan DinasPertanian Provinsi Riau.Widowati, S. dan D.S. Dmardjati. 2001. Menggali Sumberdaya Pangan Lokal dan PeranTeknologi Pangan Dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional. Majalah 36 (X) :3-11.Bulog. Jakarta.Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia. Ekspor. BPS. Dikumpulkan dari Buku Tahun1990 – 1998
    • 29Juanda & Cahyono, 2004. Lembaga pemasaran dalam pemasaran ubi. Badan Penelitian danPengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.Soekartawi. 2005. Lembaga pemasaran. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Panganatau Balai Penelitian Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian (Balitkabi)New Weave (2002:170) dan Schuler (1986) Empowerment and the LawJ. Wargiono. Ahli Peneliti Utama pada Puslitbang Tanaman Pangan.Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia. Ekspor. BPS 1997.Sudiyono, A. 2001. Pemasaran Pertanian. Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang (UMMPress). MalangLies, Suprapti. 2003. Teknologi Tepat Guna Dalam Budidaya dan Teknologi Pengolahan pangantepung Ubi Jalar. Penerbiat kanisuis. YogyakartaAnonimous. 2000. Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional 2001-2005. Pemerintah RepublikIndonesia Bekerjasama dengan World Health Organization. JakartaAnonimous. 2003. Pengkajian Analisis Konsumsi dan Penyediaan Pangan. Kerjasama BBKP,Deptan dengan Fakultas Pertanian, IPB. Jakarta.Badan Bimas Ketahanan Pangan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. Nomor 68 Tahun2002 Tentang Ketahanan Pangan. Departemen Pertanian. Jakarta.Badan Pusat Statistik. 2003. Statistik Industri Besar dan Sedang. Bagian III. Badan PusatStatistik, Jakarta.Balai Penelitian Pascapanen Pertanian. 2002. Petunjuk Teknis Proses Pembuatan AnekaTepung dari Bahan Pangan Sumber Karbohidrat Lokal. Jakarta.Bradford, R.W., P.J. Duncan, and B. Tarcy. 2000. Simplified Strategic Planning: A No-NonsenseGuide for Busy People Who Want Result Fast! www.quickmba.com/strategy/swot/Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur. 2004. Laporan Tahunan, 2004. Surabaya.Ketahanan Pangan. Pusat penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Bogor, hal.167-172.Suprapti, M.L. 2005. Tepung Tapioka: Pembuatan dan Pemanfaatannya. Kanisius,Yogyakarta.Suryana, A. 2005. Arah, Strategi dan Program Pembangunan Pertanian 2005-2009. BadanPenelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.Suryana, M.A. Husaini, M. Atmowidjojo, dan S. Koswara (Eds.). Widyakarya Nasional Pangandan Gizi VI. LIPI. Jakarta.