• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Aplikasi GE matrix
 

Aplikasi GE matrix

on

  • 7,969 views

 

Statistics

Views

Total Views
7,969
Views on SlideShare
7,962
Embed Views
7

Actions

Likes
2
Downloads
316
Comments
0

3 Embeds 7

http://wildfire.gigya.com 3
http://enjoythissited.blogspot.com 3
http://www.search-results.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Aplikasi GE matrix Aplikasi GE matrix Document Transcript

    • APLIKASI MARKET ATTRACTIVENESS- BUSINESS POSITION MATRIX UNTUK PERUMUSAN STRATEGI BUMN
      (Studi Kasus: Bisnis Seluler PT. Telkomsel)
      Abstraksi
      Tingkat penetrasi seluler di Indonesia saat ini masih terbilang rendah. Dengan angka penetrasi tahun 2004 menurut ITU (International Telecommunication Union), JP Morgan, dan GS Research Report sebesar 9%, maka industri seluler Indonesia masih sangat menjanjikan. Angka penetrasi ini hanya berada di atas India (2,6%), namun berada jauh di bawah negara-negara industri baru seperti Singapura (79,8%) dan Hongkong (104,6%), dan negara-negara tetangga seperti Philipina (27%) Thailand (26%) dan Malaysia (42,6%). China saja, negara berpenduduk terbesar dengan 1,3 miliar jiwa dan memiliki pendapatan perkapita hampir sama dengan kita saat ini telah mencapai tingkat penetrasi 20%.
      Telkomsel, yang dimiliki oleh PT. Telkom, merupakan salah satu pemain utama dalam industri seluler Indonesia saat ini. Arus persaingan yang demikian ketat pascaderegulasi telekomunikasi mengharuskannya untuk menformulasikan strategi yang tepat untuk mempertahankan atau memperbaiki posisinya.
      Salah satu alat dalam manajemen strategik adalah analisis portofolio. Setelah model portofolio BCG mengalami euphoria di pertengahan tahun 1960-an dengan lambang-lambang seperti question mark, dogs, stars, dan cash cows, muncul model portofolio yang lebih maju yang dikembangkan oleh analis di General Electric yang disebut Market Attractivenss – Business Position Matrix yang kemudian dipakai oleh perusahaan konsultan terkenal, McKinsey. Dengan mengaplikasikan model portofolio ini dapat dirumuskan bagian dari strategi salah satu unit bisnis strategis PT. Telkom ini di masa depan.
      Latar Belakang
      Pasar jasa seluler di Indonesia saat ini didominasi oleh Telkomsel (dengan produknya Kartu Halo, Simpati, dan Kartu As), Indosat melalui Mentari dan IM3, serta Excelcomindo (Jempol dan Bebas). Tiga operator GSM nasional secara bersama-sama menguasai kurang lebih 99,1% pasar selular nasional per tanggal 31 Desember 2003. Telkomsel adalah penyedia layanan GSM terbesar di Indonesia dengan jumlah pelanggan selular kurang lebih mencapai 9,6 juta pelanggan dengan pangsa pasar sebesar 51,0%. Grup Indosat adalah penyedia selular terbesar kedua, dengan sekitar 6,0 juta pelanggan dan pangsa pasar sebesar 32,4%. Perseroan memiliki kurang lebih 2,9 juta pelanggan dan pangsa pasar sebesar 15,7%. Selain ketiga operator di atas, kini bermunculan beberapa operator baru seperti Bakrie Telecom (ESIA), dan Mobile-8 (Fren).
      Situasi Industri Seluler Saat Ini
      Satu faktor yang membuat industri seluler Indonesia hingga kini menjanjikan adalah masih rendahnya tingkat penetrasi. Berdasarkan fakta yang diungkapkan oleh ITU (International Telecommunication Union), JP Morgan, dan GS Research Report, Indonesia saat ini masih memiliki tingkat penetrasi yang amat rendah, hanya berkisar 9% (2003) dan kemungkinan besar saat ini angkanya baru sedikit di atas 10%. Artinya, dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 220 juta orang, pemilik telepon seluler di Indonesia telah berjumlah di atas angka 20 juta orang.
      Tingkat Penetrasi Seluler dan Tingkat Pertumbuhan Seluler Tahun 2003
      No.Negara Tingkat Penetrasi Seluler (%) Rata-rata Tingkat Pertumbuhan Seluler (%)* GDP (US $ juta) Populasi (juta orang) GDP per kapita (US $) GNI per kapita (US $) Negara-negara industri baru (NICs) 1. Singapura 85,25 26,7 91.342 4.250 21.492 21.230 2. Hongkong 107,92 18.3 156.679 6.816 22.987 25.860 Negara-negara berkembang 1. Filipina 26,95 66,0 80.574 81.503 989 1.080 2. Thailand 26,0 65.9 142.953 62.014 2.305 2.190 3. Malaysia 44,2 38,3 103.737 24.774 4.187 3.880 4. Indonesia 8,74 77,5 208.312 214.674 970 810 5. China 21,48 62,4 1.417.000 1.288.400 1.100 1.100 6. India 2,47 85.4 600.637 1.064.399 564 540
      Saat ini, persaingan antar operator terjadi dalam hal pricing, brand, cakupan wilayah jaringan, distribusi, teknologi, layanan nilai tambah, dan kualitas jaringan. Letak kekuatan dari Telkomsel ada pada kualitas jaringan, jangkauan jaringan, dan mereknya. Pesaing telepon seluler kini datang tidak hanya dari produk sejenis, namun juga dari layanan telepon tetap tanpa kabel. Tidak hanya Telkom yang meluncurkan Flexi, sebuah layanan telepon tetap tanpa kabel berbasis CDMA, Indosat juga meluncurkan produk serupa dengan nama StarOne, dan ikut mengambil sebagian pangsa pasar potensial telepon seluler. Flexi akan menjadi bisnis inti Telkom di masa depan, karena kewajiban penyediaan telepon tetap untuk memenuhi permintaan pelanggan baru yang dibebankan oleh negara kepada Telkom hanya akan dapat dipenuhi secara cepat oleh Telkom dengan menggunakan layanan telepon tetap tanpa kabel berbasis CDMA ini.
      GE Matrix (Market Attractiveness -Business Position Matrix)
      Model portofolio BCG merupakan model yang memang dibuat sederhana dan difokuskan pada arus kas serta memakai dua variabel, pertumbuhan dan pangsa pasar. Para analis di General Electric, mengembangkan Matriks Posisi Usaha – Daya Tarik Pasar, dengan menggunakan pendekatan portofolio yang dipakai oleh perusahaan konsultan terkenal, McKinsey.
      Pada sumbu horisontal, sebagai pengganti pertumbuhan pasar pada model portofolio BCG, digunakan sembilan faktor yang merupakan daya tarik pasar (market attractiveness). Dari kesembilan faktor tersebut, tentukan faktor-faktor yang paling sesuai, berikan bobot pada faktor terpilih dalam kaitannya dengan bobot pentingnya, evaluasi pasar suatu produk pada tiap faktor, dan terakhir gabungkan penilaian ini ke dalam satu ukuran gabungan. Dari sini, analisis ini tampak lebih kaya dan valid bila dibandingkan hanya menggunakan satu faktor pertumbuhan pasar saja.
      Sekilas Bisnis Telekomunikasi Seluler
      Arah masa depan bisnis telekomunikasi seluler di Indonesia (dikutip dari analisis manajemen Excelkomindo Pratama dalam Laporan Keuangan Tahunan Excelcomindo Pratama tahun 2003) adalah:
      •Terus bertumbuhnya telekomunikasi selular. Industri telekomunikasi dan permintaan atas layanan telekomunikasi akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan dan modernisasi yang terjadi di Indonesia.
      • Migrasi trafik data dan percakapan ke selular. Trafik suara dan data akan bermigrasi ke selular seiring dengan semakin populernya layanan selular dengan cakupan area yang semakin luas, mutu jaringan yang terus meningkat, harga telepon genggam yang terus merosot, dan layanan pra-bayar yang semakin populer.
      • Pesatnya laju penetrasi selular di luar pulau Jawa. Rendahnya tingkat penetrasi selular di luar Jawa memberikan potensi pertumbuhan yang menjanjikan, seiring dengan perkembangan ekonomi yang terus meningkat.
      • Tingkat penggunaan layanan percakapan yang mulai stabil. Pertumbuhan layanan SMS diharapkan mulai melambat di tahun-tahun yang akan datang. Hal ini akan menstabilkan penurunan penggunaan layanan percakapan yang dapat berakibat pada stabilnya ARPU untuk layanan percakapan, walaupun prediksi kestabilan ARPU ini meleset yang akan dijelaskan kemudian di bagian selanjutnya.
      PT. Telkomsel
      PT. Telkomsel (atau sering disingkat Telkomsel) yang akan menjadi fokus kajian tulisan ini merupakan anak perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia, salah satu BUMN kontributor dividen dan pajak terbesar kepada APBN. Hingga saat ini, Telkomsel merupakan operator layanan telekomunikasi seluler terbesar di Indonesia berdasarkan nilai pangsa pasarnya. Berdasarkan data statistik industri Maret 2005, Telkomsel memiliki jumlah pelanggan sebanyak 17,8 juta yang berarti penguasaan pangsa pasarnya mencapai 55%.
      Telkomsel memberikan layanan seluler berbasis GSM melalui gelombang dual band 900 dan 1800 Mhz untuk wilayah domestik dan melalui kerjasama dengan 356 jaringan partner roaming internasionalnya yang berada di 145 negara (berdasarkan data statistik industri Mei 2005). Para pelanggan Telkomsel disediakan dua pilihan layanan kartu prabayar, yakni SimPATI dan Kartu As, dan layanan kartu pascabayar, kartuHALO, dengan tambahan berbagai program dan fasilitas layanan lainnya.
      Bisnis Telkomsel di Indonesia telah tumbuh secara signifikan sejak peluncuran perdana layanan komersial pasca bayarnya pada tanggal 26 Mei 1995. Di bulan November 1997, Telkomsel menjadi perusahaan telekomunikasi seluler pertama di Asia yang memperkenalkan produk layanan GSM prabayar yang dapat diisi ulang. Dari total jumlah pendapatan, selama kurun waktu 5 tahun (2000 – 2004) total pendapatan Telkomsel tumbuh lebih dari lima kali lipat dari Rp2,8 Triliun menjadi Rp14,77 Triliun, berasal dari kontribusi kenaikan jumlah pelanggan pada periode yang sama yang mencapai lebih dari 9 kali lipat, dari 1,7 juta menjadi 16,3 juta.
      Dari sisi jaringan, Telkomsel memiliki wilayah jaringan layanan seluler terluas di Indonesia, mencakup wilayah propinsi, kota, dan kabupaten dengan memanfaatkan teknologi GPRS, Wi-Fi dan EDGE.
      Dalam upayanya memenangkan persaingan dalam kompetisi yang semakin sengit di bisnis seluler, maka berikut ini disajikan rangkaian analisis yang dilakukan berdasarkan analisis portofolio matriks posisi usaha – daya tarik pasar (Market Attractiveness- Business Position Matrix) yang diurutkan berikut ini: pertama, Market Attractiveness (terdiri atas penetapan harga atau tarif, ketersediaan serta kualitas layanan, profitabilitas dan regulasi), dan kedua Business position (yang terdiri atas ketersediaan jaringan, pertumbuhan usaha, dan pangsa pasar).
      Dua Dimensi Utama GE Matrix pada PT Telkomsel
      No. Dimensi Faktor Bobot 1. Market attractivenessPenetapan harga atau tarif 2 Ketersediaan serta kualitas layanan utama dan layanan tambahan 2 Profitabilitas 1 Regulasi 12. Business position Ketersediaan jaringan 2 Pertumbuhan usaha 1 Pangsa Pasar 1
      Market Attractiveness
      Penetapan Harga atau Tarif
      Dalam bisnis telekomunikasi seluler Indonesia, pada umumnya operator membebankan biaya panggilan kepada si pembuat panggilan tersebut. Batas maksimum tarif seluler ditentukan Pemerintah, dan dalam batas tersebut tiap operator seluler dapat menetapkan tarifnya sendiri-sendiri.
      Tarif Pascabayar, tarif seluler untuk layanan langganan pasca bayar terdiri atas biaya pengaktifan, abodemen, dan biaya penggunaan.
      Perbandingan Tarif Pasca Bayar
      Uraian Telkomsel (Kartu Halo) Fren Esia Excel (xplor) Indosat Matrix Biaya Abonemen 0 – 65.000* 65.000 Ada(na) Gratis** Ada(na) Mobile cellular to mobile cellular: Local 650 - 938 650 - 938 550 325 - 935 650 – 938 Domestic Longdistance 30 – 200 km 1110 – 2628 800 – 2100 1295 – 2100 677 – 2160 975 – 2103 Over 200 km 1220 - 3038 800 - 3038 1565 – 3080 875 - 2860 1110 – 3083 Mobile cellular to fixed line: Local 450 - 531 450 - 531 250 337-530 450-531 Domestic Long-distance 30-200 km 650 - 1696 650 - 1696 645 - 1290 772-1750 650-1696 200-500 km 785 -2,221 785 -2,221 915 - 1815 1068-2550 785-2221 Over 500 km 895 -2,676 895 -2,676 1135 - 2270 sda 895-2676 International Long-distance (SLI): Group I 7500 - 8000 7500 - 8000 1188 na na Group II 11000 -12000 11000 sda na na SMS Lokal/Interlokal 250 250 50-250 250 250 Internasional500500-500500To other operator350350250350350Data/InternetInternet/kbytenana5nana
      Tarif Prabayar, biaya aktivasi layanan prabayar akan ditentukan tergantung dari situasi pasar oleh Telkomsel, dengan biaya pemakaian maksimum 140% di atas biaya pemakaian pelanggan pascabayar.
      Saat ini bisa dikatakan bahwa tarif kartu seluler produk Telkomsel relatif mahal, sehingga bisa dikatakan, tarif bukanlah keunggulan dari Telkomsel. Dalam hampir semua kategori di atas, produk-produk Telkomsel masuk ke dalam kategori mahal atau rata-rata industri. Tidak ada satupun klasifikasi produk Telkomsel yang dapat masuk ke dalam predikat murah, apalagi termurah, kecuali untuk kategori mobile cellular to fixed line over 500 km. Dengan demikian, penulis berpendapat dari sisi penetapan harga, produk Telkomsel masuk kategori 3 (low).
      Ketersediaan Serta Kualitas Layanan Utama dan Layanan Tambahan
      Seluruh operator memiliki fasilitas standar berupa layanan telepon bebas pulsa untuk menanyakan tagihan, pembayaran, promosi, fitur layanan, informasi terkini dan menyampaikan keluhan.
      Dari segi isi ulang pulsa maupun pembayaran tagihan, ketiga operator besar sudah mapan karena banyak ATM perbankan yang menyediakan layanan tersebut. Termasuk juga pengisian pulsa lewat SMS saat ini diikuti oleh ketiga operator besar. Hal ini tentunya berbeda dengan operator-operator baru seperti Esia dan Fren yang belum memiliki kemampuan tersebut pada saat tulisan ini dibuat. Dalam tabel berikut ditampilkan secara lebih spesifik kelebihan dari masing-masing operator dari segi fasilitas pelayananan pelanggan.
      Perbandingan Fasilitas Layanan Pelanggan
      Telkomsel Excelkomindo Indosat Telkomsel memiliki jaringan layanan pelanggan terluas dan terbanyak di bawah nama GraPARI : Excelcomindo memiliki jaringan layanan pelanggan ketiga terbanyak dan terluas Excelcomindo meng-implementasikan sistem penagihan (billing system) baru yang terintegrasi dengan sistem customer relationship management (CRM). Indosat memiliki jaringan kedua terluas dan terbanyak yang berasal dari jaringan ex Satelindo yang dimerger dengan Indosat.
      Perbandingan Penawaran FiturTelkomsel Excelkomindo Indosat • Mitra Roaming Terbanyak • Cakupan Terluas di Indonesia. • Cukup dengan menggunakan pulsa minimal senilai Rp 25.000,- aktif selama 2 bulan (30 hari masa aktif, 30 hari masa isi ulang) • Tarif " Super Murah " (Antar pengguna kartu As) dan Tarif " Murah " (antar pelanggan kartu As ke pelanggan kartuHALO dan simPATI ). • Voucher yang murah, dari Rp 5.000,- hingga Rp 35.000,- • Dompet Pulsa Layanan • Tarif Lebih Hemat 15%-25% • Zona Xtra Luas bebas • AQS (Al Qur’an Selular). • Life in Hand. • Tarif yang flat untuk telepon ke sesama XL • M3-Friends Paket diskon kelompok hingga 7 orang • M3-GPRS (General Packet Radio Service). • M3-Video Streaming • M3-Multi Access Beragam Informasi yang fun dan fresh, bisa diakses via WEB,WAP dan SMS. • Tarif Mentari selama ini relatif sedikit lebih murah Sedangkan untuk fitur yang ditawarkan kepada operator, rata-rata tiap operator baik operator besar maupun kecil menawarkan fitur-fitur berupa: SMS, international roaming, GPRS, MMS, multi-party calling, call forwarding, call waiting, caller number display dan non-display, mobile banking, dan SMS ke layanan e-mail.
      Dalam tabel berikut ditampilkan secara lebih spesifik kelebihan dari masing-masing operator dari sudut fitur yang ditawarkan kepada pelanggan.
      Strategi Telkomsel mengeluarkan fitur produk seperti kartu As karena melihat kebutuhan pelanggan akan tarif percakapan yang murah, masa aktif kartu yang lama, di samping fitur pokok seperti luasnya area percakapan, bebas roaming, dan tarif percakapan yang sederhana.
      Dilihat dari pelayanan fasilitas pelanggan dan penawaran fitur ketiga operator terbesar sejauh ini sangat bersaing. Adanya strategi baru dari satu operator akan segera dibalas dengan strategi yang bisa sama untuk sekedar mengimbangi atau strategi inovatif yang diharapkan dapat lebih menarik daripada operator lainnya. Sejauh ini pelayanan fasilitas pelanggan dan penawaran fitur Telkomsel dan sesama operator tiga besar berdasarkan ilustrasi di atas dapat dianggap memiliki market attractiveness yang tinggi/high (=1), dengan Telkomsel sedikit lebih unggul di atas pesang-pesaing beratnya
      Profitabilitas
      Pencapaian blended ARPU Telkomsel itu merupakan ARPU yang relatif tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata ARPU industri di Indonesia, dan hingga akhir 2003 masih merupakan yang tertinggi dibandingkan kedua operator besar lainnya. Akibat persaingan ketat yang terjadi tidak hanya di tiga operator terbesar di atas, namun dengan operator-operator baru yang mulai bermunculan, terindikasi adanya konsistensi trend penurunan angka rata-rata penggunaan per pelanggan (Average Revenue per User/ARPU). Data terakhir di akhir tahun 2004 bahkan memperlihatkan kembali penurunan ARPU Telkomsel sebanyak 17% dari Rp123 ribu menjadi Rp102 ribu. Ekspektasi manajemen Indosat juga mengikuti trend ini, di mana ARPU Indosat diharapkan pada kisaran Rp92.000. Penurunan ARPU Telkomsel diperkirakan, sebagai konsekuensi dari penambahan 3,4 juta pelanggan Kartu As. Produk itu memang dirancang untuk membuka segmen pasar baru pada kelompok yang berpenghasilan lebih rendah. Di sisi lain, kondisi pasar saat ini memang cenderung ke segmen menengah-bawah. Dengan voucher yang makin terjangkau, diharapkan masyarakat bisa sering mengisi ulang pulsa dan nilai ARPU membaik.
      Profitabilitas (ROE)
      Excelkomindo Telkomsel Indosat 2001 2002 2003 2001 2002 2003 2001 2002 2003 Pendapatan Bersih 1.783,60 2.138,70 2.228,70 4918 7573 11146 1769,9 3271,7 5117,6 EBITDA 1.206,90 1.442,50 1.456,10 3499 5110 8026 3150 3127,8 3608,1 Laba Bersih 147,1 743,3 400,7 2044 2787 4237 1452,8 341 6082 ROE nm 109,5 53,6 46,9 44,9 48,4 13,53 3,17 12,87
      Profitabilitas (ARPU)
      ExcelkomindoTelkomselIndosat 2001 2002 2003 2001 2002 2003 2004 2001 2002 2003 ARPU (Rp. 000) Pra-bayar 172 132 96 111 103 95 n.a. n.a. n.a. n.a. Pasca-bayar 455 471 500 287 298 314 n.a. n.a. n.a. n.a. Blended 183 142 104 n.a. 145 123 102 120 115 106
      Namun, nilai ARPU yang rendah ini ditutupi oleh nilai EBITDA margin dan margin pendapatan bersih (net income margin) menunjukkan angka mengesankan yakni masing-masing 58% dan 30% (over gross revenue). Menurut Direktur Pemasaran Indosat, industri kini cenderung tidak hanya memperhatikan ARPU tetapi lebih ke AMPU (average margin per user) yang jelas mempengaruh pendapatan perusahaan.
      Dilihat dari ARPU, Telkomsel memiliki nilai ARPU tertinggi yang berarti memiliki tingkat pendapatan per pelanggan terbesar. Dari sisi tingkat pengembalian investasi terhadap equity (ROE), Excelcomindo sedikit lebih tinggi dari Telkomsel. Dari sini terlihat bahwa keduanya sama-sama memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi. Dengan demikian, nilai market attractiveness Telkomsel dari sisi profitabilitas adalah tinggi/high (=1).
      Regulasi Pemerintah
      Pemerintah bertindak selaku regulator maupun pengawas dalam industri telekomunikasi di Indonesia. Perpanjangan tangan pemerintah saat ini dalam mengatur sektor telekomunikasi adalah Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Tugas dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan secara spesifik adalah: membuat keputusan menteri, menetapkan cakupan hak-hak eksklusif, memformulasikan dan menyetujui usulan tarif, menetapkan cakupan USO (Universal Service Obligation) dan menetapkan faktor-faktor yang dapat menjamin kompetisi secara fair. Selain itu, Depperindag, sebagai regulator, memiliki kewenangan untuk memberikan lisensi modern untuk operator telekomunikasi.
      Depperindag melalui direktorat khusus di bawahnya juga mengatur alokasi spektrum frekuensi radio untuk seluruh operator, termasuk TELKOM. Hak penggunaan atas spektrum frekuensi radio ini merupakan persyaratan untuk mendapatkan lisensi dari Depperindag untuk pembukaan layanan komunikasi suatu operator telekomunikasi. Operator telekomunikasi diwajibkan membayar penggunaan spektrum frekuensi radio ini, selain biaya lisensi sebesar 1% dari pendapatan operasi perusahaan.
      Sejalan dengan program pemulihan ekonomi nasional yang didukung oleh IMF, Pemerintah meluncurkan program deregulasi sektor telekomunikasi yang dilandaskan atas prinsip-prinsip deregulasi, dukungan atas penciptaan iklim persaingan, liberalisasi, restrukturisasi, peningkatan akses pasar, dan pengenalan regulasi berorientasi pasar. Kebijakan reformasi telekomunikasi pemerintah ini diformulasikan dalam " Cetak Biru Kebijakan Pemerintah Indonesia dalam Sektor Telekomunikasi” (lihat SK Menperindag No. KM 72/1999 tertanggal 20 Juli 1999). Dengan adanya cetak biru ini diharapkan arah kebijakan pemerintah dalam sektor telekomunikasi menjadi jelas. Dengan adanya kebijakan-kebijakan tersebut diharapkan:
      • kinerja sektor telekomunikasi dalam era globalisasi meningkat
      • monopoli terhapus, transparansi dan prediktabilitas kerangka perundang-undangan meningkat, dan akibatnya struktur yang kompetitif tercapai.
      • lahirnya kesempatan bagi operator telekomunikasi nasional untuk membentuk aliansi strategis dengan mitra luar negeri.
      • peluang bagi usaha kecil menengah tercipta
      • kesempatan kerja baru tercipta
      Terkait dengan keinginan untuk meningkatkan kinerja sektor telekomunikasi, pemerintah akan meminta operator untuk membangun jaringan untuk minimum 1,4 sambungan baru di tahun 2004 dan 10,7 juta sambungan baru di tahun 2008 (lihat Pengumuman Menperindag No. PM.2/2004 tentang Implementasi Restrukturisasi Sektor Telekomunikasi tertanggal 30 Maret 2004).
      Pemanfaatan teknologi CDMA untuk telepon tetap tanpa kabel yang makin marak akhir-akhir ini (Flexi, StarOne, Esia, Frens) menyebabkan pemerintah perlu mengeluarkan regulasi agar tidak terlalu mengganggu dan merusak pasar telepon seluler yang ada. Karenanya, pada 11 Maret 2004, Menperindag menerbitkan SK No. 35/2004, yang berisi ketentuan bahwa hanya operator jaringan tetap yang mempunyai lisensi dan menggunakan jaringan akses frekuensi radio yang dapat menawarkan layanan akses sambungan tetap tanpa kabel. Layanan telekomunikasi ini dibatasi dalam hal-hal seperti: layanan terbatas dalam kode area tertentu dan pelanggan tidak dapat membuat atau menerima panggilan selama di luar kode areanya. Penyedia layanan ini hanya diperbolehkan mengenakan biaya sebesar tarif operator jaringan sambungan tetap dengan kabel. Selain itu, SK ini juga mewajibkan tiap penyedia layanan sambungan tetap tanpa kabel untuk menyediakan layanan telefoni dasar.
      Dari sisi regulasi, dengan ketetapan pemerintah bahwa Flexi (Telkom) dan StarOne (Indosat) digolongkan sebagai telepon tetap tanpa kabel (fixed wireless), maka Telkomsel mendapat pesaing berat yang salah satunya datang dari induk perusahaannya sendiri. Di samping itu dengan keputusan pemerintah yang membiarkan penetapan tarif yang murah dari telepon berteknologi CDMA ini, ditambah Esia yang masih tergolong seluler, sebenarnya amat mengganggu kenyamanan dan pertumbuhan usaha ketiga operator seluler besar. Di satu sisi konsumen sangat diuntungkan dengan keberadaan ketiga pendatang berteknologi CDMA ini, di sisi lain keputusan pemerintah ini membuat tertekannya pertumbuhan usaha Telkomsel bila tidak ada strategi khusus dari Telkomsel untuk meredam ekspansi ketiga pendatang baru berteknologi CDMA ini, ataupun strategi dari induk perusahaan Telkomsel (TELKOM) untuk tidak ‘membunuh’ perlahan-lahan bisnis seluler anak perusahaannya. Untungnya saat ini, pemerintah hanya membiarkan Flexi dan StarOne hanya untuk area terbatas, sehingga dalam aspek jangkauan, telepon seluler GSM masih mutlak mengungguli keduanya. Namun bila Esia (yang kini tampak diuntungkan karena keberpihakan secara politis sejak Aburizal Bakrie menjabat Menko Perekonomian) tidak dikendalikan dan dapat memiliki jangkauan sejauh telepon seluler GSM lainnya, di masa mendatang tampaknya posisi Telkomsel akan terancam bahaya. Untuk itu, Telkomsel memiliki nilai market attractiveness yang rendah/low (=3) dari sisi regulasi.
      Business Position
      Ketersediaan Jaringan
      Dari ketersediaan jaringan, dapat dikatakan Telkomsel leading daripada operator-operator lainnya ada berkat luasnya jaringan fixed-line yang selama ini dimiliki plus infrastruktur tambahan yang dibangun berikutnya. Telkomsel telah mampu mencakup 5 benua dan menjalin kerjasama dengan lebih dari 100 operator di seluruh dunia yang menjadikannya operator seluler di Indonesia dengan mitra roaming terbanyak. Saat ini cakupan jaringannya adalah yang terluas di Indonesia, tidak hanya kota-kota besar/ibukota propinsinya saja tetapi juga lebih dari 340 kota-kota kecil dan Dati II di seluruh Indonesia. kartuHALO juga dapat digunakan di kota-kota tujuan wisata seperti Prambanan, Borobudur, Samosir, Bunaken, Toraja, Bali, Gunung Bromo, Waimena Irian, Pasar Air di Kalimantan, Pantai Senggigi, Lembang dan lain sebagainya.
      Sedangkan Indosat memiliki keunggulan dalam pemanfaatan kepemilikan satelit yang selama ini sangat menunjang infrastruktur telekomunikasinya. Telkom kini juga memiliki satelit sendiri untuk menambah kemampuan bersaingnya. Dengan demikian dari sisi ketersediaan jaringan, Telkomsel dapat diklasifikasikan memiliki business position yang tinggi (=1)
      Jumlah Infrastruktur Telekomunikasi Seluler URAIAN Excelkomindo Telkomsel 2001 2002 2003 2001 2002 2003 Jumlah BTS (Base Transceiver Station) 739 950 1.491 1.995 3.483 4.820 Jumlah BSC (Base Station Controllers) 13 15 22 na na 166 Jumlah MSC (Mobile Switching Centers) 10 11 12 na na 51
      Pertumbuhan Usaha
      Dari sisi keuangan, rata-rata pertumbuhan pendapatan seluler Telkomsel (65%) masih kalah dengan rata-rata pertumbuhan pendapatan Indosat (120%). Rata-rata pertumbuhan pendapatan sebesar itu ditunjang oleh pertambahan jumlah pelanggan Telkomsel (rata-rata 3,2 juta pelanggan baru per tahun) dan Indosat (rata-rata 2 juta pertambahan pelanggan baru per tahun).
      Pertumbuhan Usaha Dilihat dari Sisi Keuangan(dalam miliar rupiah) URAIAN Excelkomindo Telkomsel Indosat 2001 2002 2003 2001 2002 2003 2001 2002 2003 Pendapatan Seluler Bersih1.7842.1392.2294.9187.57311.146177032725118Pertambahan pendapatannm35590nm2.6553.573nm1.5021.846Laba Bersih14774340120442787423714533361570Kenaikan laba bersihnm596-343Nm7431450nm11171234Pertumbuhan Pendapatan(2001 - 2003) URAIAN EXCELCOMINDO TELKOMSEL INDOSAT Pendapatan Seluler Bersih - Rata-rata Kenaikan (Rp miliar/thn) 223 3114 1674 - Rata-rata Growth/thn (%) 12 65 120
      Dengan pertumbuhan pendapatan usaha yang stabil dalam lima tahun ke depan (tahun 2008), bisnis seluler milik lndosat sudah akan mengungguli bisnis seluler Telkomsel. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pertumbuhan usaha Indosat saat ini jauh lebih baik dari Telkomsel, dan Telkomsel hanya masuk dalam klasifikasi business position sedang/medium (=2).
      Pangsa Pasar
      Pangsa Pasar (Jumlah Pelanggan)
      Operator200120022003SegmenPasar (2003)Rata2/thnRata2 Growth/Thn(%)TELKOMSEL 3.252.032 6.010.772 9.588.807 51% Pertambahan pelanggan baru nm 2.758.740 3.578.035 3.168.388 97 EXCELKOMINDO 1.223.000 1.680.000 2.944.000 16% Pertambahan pelanggan baru nm 457.000 1.264.000 860.500 70 INDOSAT 1.909.539 3.582.648 5.962.444 32% Pertambahan pelanggan baru nm 1.673.109 2.379.796 2.026.453 106
      Melihat peta persaingan yang ada, saat ini Telkomsel masih memimpin dengan menguasai 51% pangsa pasar, dan rata-rata pertumbuhan jumlah pelanggan sebesar 97%/tahun. Dengan melihat kondisi saat ini tampak bahwa posisi Telkomsel dalam peta persaingan akan masih tetap memimpin dalam jangka waktu dua atau tiga tahun ke depan. Karena itu dari sisi persaingan, Telkomsel masuk dalam klasifikasi memiliki business position yang tinggi (=1).
      Ringkasan Penilaian
      NoDimensiFaktorBobotNilaiB x NB×NB Ket.1Market Attractiveness (MA)Penetapan harga atau tarif2362,17Medium Ketersediaan serta kualitas layanan utama dan layanan tambahan212  Profitabilitas (ROE dan ARPU)112 Regulasi1332Business Position (BP)Ketersediaan jaringan2121,25High Pertumbuhan usaha122 Pangsa pasar111
      Nilai
      1 : High
      2 : Medium
      3 : Low
      Dengan memasukkan klasifikasi di atas (MA = Medium, BP = High) pada bangunan Market Attractiveness-Business Position Matrix, akan diperoleh tampilan sebagai berikut:
      Dari peletakan dimensi market attractiveness (MA) dan business position (BP) pada bangunan matriks, didapat letak kombinasi keduanya pada baris ke-1 kolom ke-2 yang bernilai 1 (= invest/grow). Melihat posisi Telkomsel yang saat ini mendapat serangan gencar dari operator seluler yang menawarkan tarif murah (Esia) dan operator fixed wireless CDMA (Flexi & StarOne), maka investasi yang perlu dilakukan pihak manajemen mencakup tiga hal yakni :
      • Investasi untuk mempertahankan posisi: usaha untuk menghentikan erosi posisi akibat tekanan kompetisi dan lingkungan dengan melakukan investasi dalam jumlah yang cukup
      • Investasi untuk penetrasi: dengan maksud meningkatkan posisi walaupun dengan mengorbankan pendapatan
      • Investasi untuk membangun kembali: dengan maksud untuk meraih kembali posisi yang hilang akibat salah alokasi investasi