6. sesi kesehatan dan obat

6,511 views

Published on

1 Comment
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
6,511
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
135
Comments
1
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

6. sesi kesehatan dan obat

  1. 1. ISBN 978-602-98295-0-1 PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK DIAGNOSA PENYAKIT DIABETES MELLITUS TIPE II BERBASIS TEKNIK KLASIFIKASI DATA Rodiyatul FS1, Bayu Adhi Tama2, Megah Mulya3 1,2,3 Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Sriwijaya 1 rodiyatulfs@yahoo.co.id, 2bayu@unsri.ac.id, 3megahmulya@unsri.ac.id ABSTRACT Type-2 of Diabetes Mellitus (Type II DM) is the most common type of diabeteswhose patient about 90-95% of all diabetes population. Early Detection of Type IIDM from various risk factors is a way to prevent the complication that causesmortality. Developing software for diagnosis Type II DM could be utilized as analternative and would enhance medical care for the increasing number of patients.In this paper, the classification technique of data mining with C4.5 algorithmclassifier is employed to acquire valuable information and extract pattern frommedical record data. This pattern is used as knowledge base in medical diagnosisprocess. It absolutely helps doctors and other clinicians for making decisionthrough early detection of Type II DM.Keywords. data mining, Type II DM, diagnosis, software PENDAHULUAN Saat ini penyakit Diabetes Mellitus (DM) Tipe II telah menjadi salah satupenyakit kronik yang paling sering diderita di Indonesia. Berdasarkan survei,diperkirakan pada tahun 2020 akan ada 178 juta penduduk berusia diatas 20tahun memiliki prevelansi terkena DM, suatu jumlah yang besar untuk dapatditangani sendiri oleh para ahli DM [4]. Tingginya angka-angka statistik diatas,tentunya patut diantisipasi oleh pihak penyedia layanan kesehatan seperti rumahsakit untuk mencegah timbulnya ledakan pasien DM. Pada zaman modern ini, banyak rumah sakit telah mengimplementasikanteknologi informasi untuk meningkatkan pelayanan medis dan mengatur datawarehouse Ketersediaan instrumentasi dan informatika medis modern (telemedis)seperti adanya suatu perangkat lunak untuk menunjang keputusan seorang dokterdalam mendiagnosa suatu penyakit sangat dibutuhkan. Teknologi data mininghadir sebagai solusi nyata bagi para pengambil keputusan seperti dokter dalamProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1188
  2. 2. ISBN 978-602-98295-0-1memprediksi pasien yang beresiko terkena terkena penyakit DM Tipe II. Denganmenerapkan teknik klasifikasi data mining, dapat ditemukan informasi yangberharga pada sekumpulan data yang berukuran besar. TEKNIK KLASIFIKASI DATA MINING Klasifikasi adalah proses penemuan pola atau fungsi yang menjelaskan danmembedakan konsep atau kelas data dengan tujuan untuk dapat memprediksikelas dari suatu objek yang labelnya tidak diketahui[3]. Konsep klasifikasi denganpengawasan (supervised classification) adalah untuk membangun sebuah modeldari data yang telah diketahui, atau sering disebut sebagai classifier. Model ataufungsi ini kemudian dapat digunakan untuk memetakan data didalam suatu basisdata kepada suatu atribut target, selanjutnya dapat memperkirakan suatu kelasdari data yang baru Tiap rekord berisi banyak atribut dimana masing-masing atribut memiliki satudari beberapa kemungkinan nilai. Di dalam klasifikasi diberikan sejumlah rekordyang dinamakan sekumpulan data latih yang terdiri dari beberapa atribut, dimanasalah satu atribut menunjukkan kelas untuk rekord. ALGORITMA KLASIFIKASI DATA MINING Pada paper ini digunakan algoritma klasifikasi C4.5 yang melakukanpemilihan atribut terbaik berdasarkan informasi gain. Atribut dengan informasigain tertinggi akan dipilih untuk membuat keputusan. Informasi gain merupakanselisih antara kebutuhan informasi awal (yang hanya bergantung pada jumlah danproporsi tiap kelas di dalam D) dan kebutuhan informasi baru (yang diperolehsetelah melakukan partisi terhadap atribut A). Untuk menghitung gain, digunakanrumus : Gain (A) = Info (D) - InfoA (D)Informasi yg dibutuhkan untuk mengklasifikasi sebuah rekord di D diberikandengan rumus berikut.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1189
  3. 3. ISBN 978-602-98295-0-1 m Info (D)    i 1 pi Log2 (pi) Informasi yg dibutuhkan untuk mengklasifikasi sebuah rekord di D diberikandengan rumus berikut berdasarkan hasil partisi di A. v | Dj | Info A (D)   | D | x Info (D ) j 1 j Psedeucode algoritma C4.5 untuk membangun pohon keputusan adalahsebagai berikut [7] : 1. Cek Sekumpulan Data Latih 2. Pada masing-masing attribut a, hitung informasi gain 3. Ubah a terbaik ( dengan informasi gain tertinggi) menjadi akar 4. Buat simpul keputusan yang berakar dari a terbaik 5. Ulangi proses untuk masing-masing cabang dengan memilih a terbaik berikutnya dan jadikan anak dibawah simpul keputusan terakhir. ANALISIS1. Data Preparation Data utama yang digunakan pada penelitian ini berupa sekumpulan datarekam medis pasien rawat inap RSMH Palembang untuk penyakit DiabetesMellitus Tipe 2 sepanjang tahun 2008 yang berjumlah 435 instances.2. Pembangkitan dan Pengujian Model Klasifikasi Sebelum pembangkitkan model klasifikasi berupa 39 rules, dibentuk sebuahpohon keputusan menggunakan algoritma C4.5. Untuk menguji tingkat akurasimodel klasifikasi digunakan pengujian kualitatif dengan mewawancara dua dokteruntuk mengetahui seberapa besar user-acceptance terhadap model klasifikasi.Dari hasil penilaian, didapatkan 34 rules yang sesuai dengan standar penegakandiagnosa WHO dan PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia). DisampingProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1190
  4. 4. ISBN 978-602-98295-0-1itu, dilakukan juga pengujian kuantitatif dengan menggunakan metode confusionmatrix yang menghasilkan tingkat akurasi model sebesar 95,63%.3. Hasil dan Pembahasan Hasil implementasi perangkat lunak dapat dilihat pada beberapa tampilanberikut : Gambar 4.1 Form Pembangkitan Model Pohon Berdasarkan hasil pembangkitan model klasifikasi, maka dapat dilihat bahwaplasmainsulin memiliki gain ratio yang paling tinggi, oleh karena itu atribut inipaling berpengaruh terhadap penyakit diabetes mellitus tipe IIProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1191
  5. 5. ISBN 978-602-98295-0-1 Gambar 4.2 Form Pembangkitan Model Klasifikasi Gambar 4.3 Form Pengujian Model KlasifikasiProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1192
  6. 6. ISBN 978-602-98295-0-1 Gambar 4.4 Form Proses Diagnosa KESIMPULAN DAN SARAN Melalui teknik klasifikasi data mining yang digunakan, paper ini telah berhasilmengumpulkan dan menganalisa data rekam medis pasien diabetes mellitus tipeII, dan menghasilkan beberapa rules yang dapat digunakan pihak rumah sakitdalam pengambilan keputusan di bidang kesehatan, khususnya dalammendiagnosa penyakit diabetes mellitus tipe II. Kuantitas training data yang digunakan sebaiknya ditambah untuk mengekstrakkemungkinan munculnya tambahan informasi bernilai lainnya. Disamping itu,sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan dengan membandingkan algoritmaklasifikasi yang lain pada proses pembangkitan model klasifikasi sehinggadihasilkan performance yang lebih baik.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1193
  7. 7. ISBN 978-602-98295-0-1 DAFTAR PUSTAKAAmerican Diabetes Association. 2004. Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus. American Journal of Diabetes Care. 27. S5-S10Bramer, Max. Principles of Data Mining, Springer-Verlag London Limited, 2007.Han, J., et al. Data Mining: Concepts and Techniques 2nd Edition, Morgan Kaufmann Publisher, 2006.Indah. 2009. [Online] Tersedia: www.indahmuhariani.com/index.php /2009/02/01. [ diakses terakhir tanggal 10 Februari 2009]Larose, D.T. 2005. Discovering Knowledge in Data : An Introduction to Data Mining. John Wiley & Sons, Inc, New Jersey.Palaniappan, S. and R.Awang. 2008. Intelligent Heart Disease Prediction System Using Data Mining Techniques. International Journal of Computer Sciences and Network security. 8 (8), 343-350.Quinlan.2009.C4.5 Algorithm. [Online] Tersedia : http://en.wikipedia.org/wiki /C4.5_algorithm. [10 Februari 2009]Witten, Ian H. And Eibe Frank. Data Mining: Practical Machine Learning Tools and Techniques 2nd Edition, Morgan Kaufmann Publisher, 2005.World Health Organization. 2002. Laboratory Diagnosis and Monitoring of Diabetes Mellitus. WHO Publication, Switzerland.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1194
  8. 8. ISBN 978-602-98295-0-1 PENGALAMAN MANTAN PENGGUNA DALAM PENYALAHGUNAAN NAPZA SUNTIK DI KOTA PALEMBANG ( Studi Fenomenologi ) Budi Santoso Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Palembang Email : sant.budi75@yahoo.com ABSTRACT Drugs injects abuse is abnormal behavior that trespass norm in community.Drugs injects also trigger main problem to individual, family, community andcountries. Until now drugs injects abuse tend to difficult to stopped. Manyprevention of effort and eradiction of drugs haved conducted, but drugs injectsabuse still increase, reffered to in case in Palembang. This studi was aimed toprovide dept understanding and meaning of former user‘s experience in drugsinjects abuse in Palembang. This study was descriptive phenomenology designwith purposive sampling in depth interview and fieldnote for data collecting. Resultof interview was recorded in tape recorder, then transcribed and analyzed withCollaizi‘s method. The resulth of study identified 9 themes as spesific goal is :reason to use drugs injects to classification reason in first time and to continuesuse drugs injects; drugs injects use of respon is individual respon and parentrespon; perception related to impact efect andmore value, negative impact,meaning in use, meaning after recovered, the aother support. This studyconclution that drugs injects abuse have to prevent and early treatment. The nursespecialist community as proffesional in health rule in primary, secondary, andtertier of prevent to drugs injects abuse.Keyword : former user‘s, drugs injects, phenomenology PENDAHULUAN Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya (NAPZA) secara luasdiketahui sebagai salah satu ancaman paling mengkhawatirkan bagi masyarakat,khususnya generasi muda di lebih 100 negara di dunia ( Asian Harm ReductionNetwork (AHRN, 2001). Berbagai survei menunjukan bahwa NAPZA merupakanancaman bagi kelompok usia muda dan produktif (Badan Narkotika Nasional(BNN), 2006). Penyalahgunaan NAPZA tidak hanya menimbulkan penyimpanganperilaku yang menyalahi norma yang berlaku di masyarakat, namun juga memicumasalah utama yang memberi efek negatif terhadap fungsi organ tubuh (Syarief,Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1195
  9. 9. ISBN 978-602-98295-0-12008). Menurut Banks dan Waller (1983, dalam Hawari, 2001) penyalahgunaanNAPZA mengakibatkan komplikasi medik berupa gangguan pernafasan yaituedema paru dan gangguan lever. Walaupun bahaya penyalahgunaan NAPZAsudah sering disosialisasikan, namun masih banyak masyarakat yang tidakmempedulikannya, sehingga jumlah pengguna NAPZA terus meningkat. Jumlah penyalahguna NAPZA, terutama penyalahguna NAPZA suntikmengalami peningkatan yang fantasitis. Berdasarkan survei di 10 kota besar diIndonesia terhadap penyalahguna NAPZA di masyarakat dengan respondenberjumlah 956 orang didapatkan bahwa 56% atau sekitar 572 respondenmerupakan penyalahguna NAPZA suntik (BNN, 2007). Kecenderunganpeningkatan jumlah penyalahguna NAPZA dari tahun ke tahun dengan berbagaijenis dan cara, termasuk melalui suntikan. Berdasarkan data AHRN (2003), jumlahIDU (Injection Drug User) di Indonesia diperkirakan sekitar 30.000 hingga 40.000orang pada tahun 1997, dan pada tahun menyebutkan bahwa sejak tahun 2002sampai November 2008, penderita HIV/AIDS berjumlah 401 orang, 20 %diantaranya penyalahguna NAPZA suntik. Hal ini mengindikasikan bahwapenyalahguna NAPZA suntik merupakan penyumbang terbesar penularanHIV/AIDS. Besarnya angka di atas menunjukkan tingginya epidemi HIV di kalanganIDU yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan. Penelitimemandang penyalahguna NAPZA suntik sebagai kelompok yang mempunyairisiko tinggi untuk mengalami berbagai masalah kesehatan baik fisik maupunpsikologis, khususnya terinfeksi HIV/AIDS. Masalah kelompok ini tidak hanyaberdampak pada kelompok itu sendiri, tetapi juga pada masyarakat di sekitarnya(Husaini, 2006). Masalah ini merupakan ancaman yang serius bagi masa depanpenyalahguna NAPZA dan membahayakan bagi kelangsungan hidup bangsa dannegara. Perawat komunitas sebagai bagian dari profesi kesehatan, memilikitanggung jawab untuk berperan aktif dalam meningkatkan perilaku hidup sehatmasyarakat. Perawat komunitas memiliki peran untuk membantu komunitaspenyalahguna NAPZA suntik untuk secara bertahap berhenti mengkonsumsiNAPZA secara total melalui usaha-usaha promosi kesehatan. Pender, Murdaugdan Parsons (2002) menyebutkan bahwa perawat komunitas dalam menyusunProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1196
  10. 10. ISBN 978-602-98295-0-1program anti NAPZA perlu memperhatikan respon-respon individu terhadapsituasi sosial yang melingkupinya seperti pergaulan bebas, gaya hidup, danperaturan pemerintah tentang program penanggulangan NAPZA. Namun belumbanyak tereksplorasi perilaku tersebut dalam perspektif keperawatan komunitas,sehingga upaya antisipasi dirasakan belum optimal. Peneliti akan berupaya untuk memahami dan memaknai gambaranpengalaman mantan pengguna dalam penyalahgunaan NAPZA suntikmenggunakan pendekatan fenomenologi deskriptif. Penelitian bertujuan untukmendapatkan gambaran mengenai arti dan makna pengalaman mantanpengguna dalam penyalahgunaan NAPZA suntik di kota Palembang. Penelitimengidentifikasi alasan menggunakan NAPZA suntik, respon yang timbul setelahmenggunakan NAPZA suntik, persepsi terkait efek samping dan bahaya NAPZAsuntik, makna menggunakan NAPZA suntik, dan dukungan dari pihak terkait. METODE PENELITIAN Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah fenomenologi deskriptif.Tiga langkah dalam proses fenomenologi deskriptif, yaitu intuiting, analyzing dandescribing seperti yang diungkapkan oleh Spiegelberg (1975 dalam Streubert &Carpenter,1999). Metode yang digunakan adalah metode Collaizi yang memiliki 9tahap (1978, dalam Streubert & Carpenter,1999). Populasi penelitian yang diteliti adalah mantan pengguna NAPZA suntik dikota Palembang. Pengambilan sampel pada penelitian ini dengan menggunakanteknik purposive sampling yang merupakan pemilihan secara sadar oleh penelititerhadap subjek/elemen tertentu untuk dimasukkan dalam penelitian. Penelitian initersaturasi pada partisipan ke-7 dimana tidak ada lagi kategori atau tema yangdidapatkan. HASIL Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 7 mantan pengguna yang beradadi kota Palembang. Keseluruhan partisipan adalah laki-laki dengan rentang usiaantara 19 sampai dengan 34 tahun dan bertempat tinggal di Kota Palembang.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1197
  11. 11. ISBN 978-602-98295-0-1Tingkat pendidikan partisipan bervariasi dari sekolah menengah umum sampaisarjana. Tiga partisipan berstatus menikah dan empat orang lainnya masih lajang.Status pekerjaan ada yang belum bekerja dan bekerja di sektor swasta. Usiapertama kali menyalahgunakan NAPZA bervariasi dari mulai usia 13 sampai 17tahun. Jenis NAPZA yang pertama disalahgunakan 4 partisipan jenis ganja, 2partisipan jenis putaw dan 1 partisipan jenis ineks. Lama mengggunakan NAPZAsuntik bervariasi dari mulai 2 bulan sampai 10 tahun. Penelitian ini menghaslkan 9 tema sesuai tujuan khusus yaitu : alasanmenggunakan NAPZA suntik tergambar dalam dua tema yaitu alasan pertamakalimenggunakan dan alasan tetap menggunakan; respon yang timbul setelahmenggunakan NAPZA suntik teridentifikasi dalam dua tema yaitu respon personaldan respon orang tua; persepsi terkait efek samping dan bahaya NAPZA suntiktergambar dalam dua tema yaitu mempunyai nilai lebih dan.mempunyai dampakburuk; makna yang tergali dari partisipan yaitu makna selama menggunakan danmakna setelah sembuh; dan harapan terhadap dukungan pihak terkaitmemunculkan tema dukungan terhadap kepolisian, petugas kesehatan danpemerinah daerah. PEMBAHASAN Alasan pertama kali menggunakan NAPZA suntik yang teridentifikasi yaitualasan utama dan alasan penunjang. Alasan utama bersumber dari lingkungansekolah yaitu pengaruh teman. Lingkungan sekolah merupakan tempatbertemunya partisipan dengan teman sebayanya, sehingga pengaruh temanmenimbulkan keinginan individu bukan pengguna mengikuti ajakan teman untukmenggunakan NAPZA suntik. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitianTasman (2005) bahwa lingkungan teman sebaya sangat berpengaruh terhadaprisiko penyalahgunaan NAPZA. Hasil penelitian ini juga memperkuat hasilpenelitian Hawari (1990) dan Martono (2008) yang menyebutkan bahwa faktorpenyebab remaja menyalahgunakan NAPZA adalah akibat pengaruh/bujukanteman (peer group) atau berteman dengan penyalahguna NAPZA serta adanyatekanan atau ancaman dari teman. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Joewana(2005) bahwa kebutuhan akan pergaulan dengan teman sebaya mendorongProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1198
  12. 12. ISBN 978-602-98295-0-1remaja untuk dapat diterima sepenuhnya dalam kelompoknya. NAPZA dapatmeningkatkan atau mempermudah interaksi remaja dengan kelompok sebayanya(vehicle of social interaction). Alasan tetap menggunakan NAPZA suntik yang teridentifikasi padapenelitian ini adalah aksesibilitas obat, coba-coba, masalah keluarga, danekonomis. Alasan aksesibilitas obat yaitu kemudahan akses terhadap obat daninformasi. Kemudahan akses terjadi karena kurangnya pengawasan yang selektif,dengan membiarkan NAPZA beredar dilingkungan masyarakat, khususnyalingkungan sekolah ditambah kemudahan mengakses informasi juga menjadialasan partisipan mengunakan NAPZA. Hal ini sesuai dengan pendapat Martono(2006) dan Hikmat (2008) bahwa lingkungan sekolah seperti sekolah terletakdekat tempat hiburan, pembinaan dari sekolah yang kurang maksimal sepertikurang disiplin, sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untukmengembangkan diri secara kreatif dan positif merupakan faktor penyebab remajamenyalahgunakan NAPZA. Respon personal yang ditemukan adalah pengetahun tentang NAPZA,perubahan yang terjadi, upaya mengatasi, kambuh, faktor pendukung berhentidan nilai NAPZA. Respon pengetahuan tentang NAPZA yaitu ketidaktahuantentang manfaat, bahaya dan risiko penyalahgunaan NAPZA. Pada proses awalpenyalahgunaan NAPZA suntik hampir semua partisipan tidak mengetahuimanfaat, bahaya dan risikonya. Hal ini disebabkan karena keterbatasan informasitentang NAPZA suntik. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Rahayuwati (2006)tentang pengetahuan dan sikap tentang hubungan narkoba dengan kejadianHIV/AIDS (studi kualitatif pada SMP di Bandung ) yang menyebutkan bahwahampir semua responden tidak mempunyai informasi yang memadai tentangnarkoba. Respon orang tua yang teridentifikasi yaitu perasaan. Perasaanemosional meliputi kecewa, terpukul dan syok. Hal ini sesuai dengan pendapatHikmat (2008) bahwa orang tua akan merasa malu, merasa bersalah, sedih,marah, dan putus asa karena memiliki anak sebagai pengguna NAPZA. Persepsi efek samping yang dirasakan mantan pengguna adalahmempunyai nilai lebih yaitu perasaan, ekonomis dan proses kerja obat. Efeksamping terhadap perasaan yaitu meningkatkan kenyamanan fisik dan pikiran. Halini sesuai dengan pendapat Joewana (2005) yang menyatakan NAPZA suntikProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1199
  13. 13. ISBN 978-602-98295-0-1jenis heroin (putaw) banyak dikonsumsi dengan alasan untuk dinikmati atau untukmengatasi perasaan yang tidak enak ( ketegangan, kecemasan dan kesedihan).Keberadaan efek samping yang dirasakan saat menggunakan NAPZA suntik baiksedikit maupun banyak, menyebabkan individu akan terus menggunakan NAPZAsuntik. Hal ini sesuai dengan teori Health Belief Model dari Becker (1977, dalamPender, Murdaug, & Parsons, 2002) yang menyebutkan bahwa adanya persepsiefek samping yang menguntungkan akan mendorong individu untuk terusmempertahankan suatu perilaku tertentu. Selain meningkatkan kenyamanan fisikdan pikiran, NAPZA juga mempunyai efek samping ekonomis dan proses kerjaobat lebih cepat. Persepsi bahaya yang dirasakan oleh mantan pengguna adalahmempunyai dampak buruk terhadap kesehatan fisik yaitu menularkan penyakitHIV/AIDS dan Hepatitis. Studi ini menemukan dua partisipan yang sudah terinfeksiHIV. Hal ini sesuai dengan pernyataan Martono (2006) menyebutkan bahwadampak penyalahgunaan NAPZA yang paling membahayakan adalah terinfeksiHIV/AIDS akibat penggunaan jarum suntik tidak steril dan bergantian. Hal inididukung oleh pendapat Costigan (1999) bahwa dampak buruk terhadap masalahkesehatan akibat penggunaan NAPZA suntik dalam jangka panjang adalahpembuluh darah mengempis, abses, tetanus, hepatitis B dan C, jantung, paru,sembelit dan ditingkat komunitas terjadi epidemi HIV. Makna menyakitkan yang teridentifikasi yaitu perasaan sedih, sakit hati,hancur dan susah. Studi ini mengungkap hampir semua partisipan mengatakanbahwa sampai detik ini masih banyak masyarakat memandang seorang penggunaatau mantan pengguna NAPZA dengan pandangan yang negatif, memperlakukanpengguna dan mantan pengguna dengan tidak manusiawi. Seorang partisipanmengatakan bahwa seorang terlibat menyalahgunakan NAPZA itu harus dilihatapa alasannya, apa latar belakangnya, sehingga tidak membuat kesimpulanbahwa seorang pengguna itu semuanya sama. Hal ini sesuai dengan pendapatJoewana (2005) secara sosiokultural, penggunaan zat psikoaktif dipandangsebagai suatu fenomena kultural, penggunaan zat psikoaktif dapat dipandangsebagai suatu perilaku yang normal atau perilaku yang menyimpang, bergantungsiapa yang menggunakan, jenis zat yang digunakan, banyaknya (sampaiintoksikasi atau tidak) dan dalam setting apa.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1200
  14. 14. ISBN 978-602-98295-0-1 Makna setelah sembuh yang teridentifikasi yaitu mempengaruhi sikap,pengetahuan terhadap NAPZA, sebagai petunjuk dan mempunyai cita – cita.Sikap lebih manusiawi dan berempati dalam bekerja merupakan makna yangtersirat dalam diri partisipan, sehingga partisipan akan berbuat dan bertindak lebihbaik dari sebelumnya. Makna pengetahuan terhadap NAPZA tentang efeksamping dan bahayanya merupakan suatu proses belajar pada taraf intelektual(cognitive learning), informasi yang didapatkan merupakan modal dasar bagipartisipan untuk memberkan informasi lebih baik lagi. Selain itu makna sebagaipetunjuk merupakan sarana meningkatkan keimanan bagi partisipan. Dukungan pihak kepolisian yaitu target dan upaya yang dilakukan harustepat target dan upaya. Hal ini sejalan dengan tugas pihak kepolisian yang bekerjasama dengan BNN dalam melaksanakan tugasnya menggunakan strategikerjasama internasional, meningkatkan peran serta masyarakat dan penegakanhukum dengan mengembangkan pelayanan terapi dan rehabilitasi sertamenggalakkan komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat. Dukungan terhadap petugas kesehatan yaitu pelayanan yang profesionaldan metode pengobatan yang variatif. Mantan pengguna berdasarkanpengalamannya ingin diberikan pelayanan yang optimal dengan tidak membeda-bedakan atau mendiskriminasikan pengguna NAPZA dengan pasien lainnya. Halini memang sesuai dengan sumpah profesi seorang petugas kesehatankhususnya tenaga keperawatan bahwa dalam memberikan pelayanan kepadapasien tidak membeda-bedakan pangkat, kedudukan dan golongan. Fakta daribeberapa partisipan masih mengeluhkan pelayanan yang diberikan oleh petugaskesehatan, apalagi pelayanan kepada mantan pengguna NAPZA. Dukungan dari pemerintah yaitu segi fasilitas agar lebih care dan adaalternatif, Mantan pengguna mempunyai harapan tehadap pemerintah agarmengembangkan program penanggulangan penyalahgunaan NAPZA denganberbagai program alternatif, fasilitas yang lengkap sehingga pengguna yangmempunyai keinginan berhenti mempunyai pilihan untuk pengobatannya. Hal inisesuai dengan Inpres No.3 tahun 2002 dan Keppres No.17 tahun 2002 tentangtugas BNN yaitu mengkoordinasikan instansi pemerintah terkait dalampenyusunan kebijakan dan pelaksanaannya dibidang pencegahan, ketersediaanProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1201
  15. 15. ISBN 978-602-98295-0-1dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika,prekusor dan zat adiktif lainnya. KESIMPULANPenelitian ini mengungkap alasan mantan pengguna tetap menggunakan NAPZAsuntik didasarkan oleh rasa ingin tahu, informasi yang menantang dan tidaklengkap dan kebutuhan terhadap NAPZA. Alasan menggunakan NAPZA suntikmencerminkan kuatnya pengaruh teman sebaya terhadap pembentukan persepsipengguna terhadap NAPZA suntik. Selain itu dukungan petugas kesehatan yaitupelayanan yang profesional dan variatif dengan pelayanan yang optimal dengantidak membeda-bedakan atau mendiskriminasikan pengguna NAPZA denganpasien lainnya. Dukungan pemerintah daerah terhadap fasilitas agar lebih caredan ada alternatif, pemerintah harus menyediakan fasilitas yang lengkap sehinggapengguna yang mempunyai keinginan berhenti mempunyai pilihan untukpengobatannya. SARANSaran untuk pengambil kebijakan yaitu perlunya media promosi yang dapatmemberikan informasi lengkap dan dapat dipahami oleh masyarakat khususnyaremaja, misalnya informasi penyalahgunaan NAPZA disertai dengan gambarakibat penyalahgunaan NAPZA tersebut. Untuk pelayanan keperawatan perlupeningkatan kompetensi perawat komunitas dalam penyusunan programpencegahan dan penanggulangan NAPZA melalui pendidikan dan pelatihantentang teknik penyusunan program keperawatan komunitas. Penelitian lebih lanjut yaitu studi fenomenologi pengalaman mantanpengguna NAPZA selama menjalani proses rehabilitasi,studi fenomenologipengalaman mantan pengguna dalam upaya berhenti menyalahgunakan NAPZAsuntik, Untuk membandingkan dengan hasil penelitian ini perlu juga diteliti lebihlanjut dengan metode dan partisipan yang berbeda, misalnya partisipanperempuan.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1202
  16. 16. ISBN 978-602-98295-0-1 DAFTAR PUSTAKAAbdul, R.D. (2005). Voicing Concern " Tobacco, Alcohol and Drugs of Abuse ". Malaysia : Universitas Sains Malaysia.AHRN/WHO. (2001). Survey Penyalahgunaan NAPZA di Indonesia. Jakarta : AHRN.AHRN/WHO. (2003). Buku Panduan untuk Pencegahan HIV yang Efektif Diantara Pengguna NAPZA. Jakarta : AHRN.Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia. (2002). Kebijakan dan Strategi Badan Narkotika Nasional dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba. Jakarta: BNN.Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia. (2006). Hasil Survei penyalahgunaan NAPZA pada kelompok pelajar dan mahasiswa di Indonesia tahun 2006. Jakarta: Puslitbang dan Info Lakhar BNN.Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia. (2008). Survey Ekonomi akibat Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba di Indonesia. Jakarta: Puslitbang dan Info Lakhar BNNBadan Narkotika Kota Palembang. (2008). Laporan Tahunan Badan Narkotika Kota Palembang Tahun 2008. Palembang : BNK.Creswell, J.W. (1998). Qualitative Inquiri and Research design : choosing among (5th Ed.), United Status America (USA): Sage Publication Inc.Costigan G,.(1999). NAPZA dan Epidemi HIV di Indonesia. Jakarta : UNAIDSDanielson, C.B, et al. (1993). Families, Health and Illness: Perspective and Coping Intervention. St. Louis: Mosby Year Book.Deany, P.,(2000). HIV and Injecting Drug User : A new Challenge to Sustainable Human Development, http://www.who.int/HIV-AIDS/HIV-IDU/html. diperoleh tanggal 7 Februari 2009.Depkes RI (2001). Data Kasus HIV/AIDS di Indonesia. Jakarta. AHRN Indonesia.Depkes RI (2001). Buku Pedoman Praktis Bagi Petugas Kesehatan Mengenai Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya (NAPZA). Jakarta.Depkes (2005) Kebijakan dan Program Pencegahan & Penanggulangan NAPZA. JakartaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1203
  17. 17. ISBN 978-602-98295-0-1Dinas Kesehatan Kota Palembang (2008). Laporan Tahunan Dinas Kesehatan Kota Palembang Tahun 2008, Palembang.Friedman, et al. (2003). Family Nursing: Research, Theory and Practice. (Fifth Edition). New Jersey: Prentice Hall.Hawari, Dadang. (1991). Penyalahgunaan Narkotika dan Zat Adiktif. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas IndonesiaHawari, Dadang. (2000). Terapi (Detoksifikasi) dan Rehabilitasi (Pesantren) Mutakhir (Sistem Terpadu) Pasien "NAZA" (Narkotika, Alkohol, dan Zat Adiktif lainnya). Jakarta. UI-PressHawari, Dadang. (2001). Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAZA, Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas IndonesiaHawari, Dadang.(2002). Penyalahgunaan NAZA. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas IndonesiaHelvie.C.O.(1998). Advanced Practice Nursing in The Community, Sage Publications Thousand Oaks London. New DelhiHikmat (2008). Generasi Muda : Awas Narkoba. Bandung : AlphabetaHitchcock,JE., Scubert, PE., & Thomas, SA (1999). Community Health Nursing : Caring in action. USA : Delmar PublisherHusaini, A.(2006). Rokok : Pintu Gerbang Narkoba. Jakarta : Pustaka ImanJangkar.net. (2003). Lokakarya Penanggulangan HIV/AIDS pada Kelompok Penyalahguna Narkoba Suntik bagi Kepolisian. diakses dari http :// www. Jangkar.net/workshop / detailrep.asp? = TOR Police & view, tanggal 1 April 2009Joewana, Satya. (2005). Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penggunaan Zat Psikoaktif (Penyalahgunaan NAPZA/Narkoba). Jakarta: EGCKamil, Oktavery. (2004). Pencegahan HIV/AIDS pada Kelompok Pengguna Narkoba Suntik. Tesis.FISIP-UI (Tidak Dipublikasikan).Komisi Penanggulangan AIDS. (2007). ODHA dan Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta. UNAIDSMartono, L.J., (2006). Pencegahan dan Penanggulangan Narkoba di Sekolah. Jakarta : PT. Rosda KaryaMc.Murray, A. (2003). Community Health and Wellness : a Sociological approach. Toronto : MosbyProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1204
  18. 18. ISBN 978-602-98295-0-1Moleong, L.J., ( 2004). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja RosdakaryaPatton. (1990). Qualitative Evalution and Research Methods. Newbury Park,CA: SagePender, N.J, Murdaug, C.L., & Parsons, M.A. (2002). Health promotion in nursing practice. 4th ed. Upper Saddle River: Prentice HallPoerwandari, E.K. (1998) Pendekatan Kualitatif Dalam Penelitian Psikologi. . Jakarta : LPSP3. Fakultas Psikologi Universitas IndonesiaPoerwandari, E.K. (2007). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia. Jakarta : LPSP3. Fakultas Psikologi Universitas IndonesiaPolit,D.F., Beck, C.T., & Hungler,B.P. (2001). Essensial of Nursing Research: Methods, Appraisal and Utilization. St.Louis: Mosby Year Book Inc.Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (PPK UI). (2002) Hasil Studi Kualitatif pada Kelompok IDU Wanita di Jakarta,Surabaya dan Bandung. JakartaRiehman, Karas (1996). Injecting Drug Use and AIDS in Developing Countries : Determinant and Issues for Policy Consideration, paper prepared for The Policy Research Report on AIDS and Development, World Bank, Policy Research Departement.Sarasvita, et al. (2000). Napza dan Kita : Laporan Rapid Assesment and Response On Injection Drug Users. Tim Jakarta ; 61 hlmSpiegelberg, H. (1978). The Phenomenological Movement: a Historical Introduction. The Hague: Matinus Nijhoff.Streubert, H.J.& Carpenter,D.R. (1999). Qualitative Research in Nursing : Advancing the Humanistic Imperative. Philadelphia : LippincottSyarief, Fatimah. (2008). Bahaya Narkoba di Kalangan Pemuda. JakartaTasman (2005). Hubungan Lingkungan Eksternal Remaja dengan Risiko Penyalahgunaan NAPZA pada siswa di SMA/SMK kec. Beji Depok : Thesis Program Magister Ilmu Keperawatan FIK-UI : tidak dipublikasikanUNAIDS/ WHO (2003), AIDS Epidemisc Update, UNAIDS ; 39 hlmProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1205
  19. 19. ISBN 978-602-98295-0-1 HUBUNGAN KARAKTERISTIK PEKERJA, PENGGUNAAN APD DAN LAMA KERJA DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA PEKERJA DI STASIUN PENGISIAN BAHAN BAKAR UMUM (SPBU) PALEMBANG TAHUN 2009 Nurhayati Ramli 1), Diah Navianti 1), M.Ihsan Tarmizi 1), Ummi kaltsum 2) 1) Dosen Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes kementrian kesehatan Palembang 2) . Staf Laboratorium klinik Prodia Palembang ABSTRAK Timah hitam atau lebih dikenal dengan sebutan timbal biasa digunakansebagai campuran bahan bakar bensin yang dijual hampir di setiap StasiunPompa Bensin Umum (SPBU) di Palembang. Sebagian besar kendaraanbermotor di Palembang masih menggunakan bensin bertimbal. Bensin bertimbalini merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan kejadian anemiakhususnya bagi pekerja SPBU yang telah bekerja dalam jangka waktu yang lama. Anemia yang merupakan salah satu gejala keracunan timbal terjadi akibatpenurunan sintesis globin walaupun tak tampak adanya penurunan kadar zat besipada serum. Anemia ringan yang terjadi disertai dengan sedikit peningkatan kadarALA (Amino Levulinic Acid) urine. Anemia biasanya terjadi pada orang yangterpapar timbal dalam jangka waktu lama. Misalnya pada penduduk yang tinggaldi sekitar industri yang menggunakan bahan tersebut dan para pekerja. Penelitian ini merupakan penelitian analitik yaitu untuk mengetahuihubungan karakteristik pekerja, penggunaan APD dan lama kerja dengan kejadiananemia pada pekerja di Stasiun Pompa Bensin Umum (SPBU) Palembang tahun2009. Teknik pengambilan 96 sampel ini dilakukan secara cluster randomsampling. Kemudian sampel tersebut diperiksa kadar hemoglobinnya dilaboratorium klinik dengan menggunakan alat spektrofotometer. Analisis data penelitian ini menggunakan uji Chi Square dan uji Tindependent dengan bantuan perangkat lunak software computer. Hasil didapat kadar Hb rata rata adalah 15.69 gr % dengan kadar Hbterendah 10.10 gr% dan kadar Hb tertinggi 27.40 gr%. Status Hb anemia 31 orang(31.6%), status Hb normal 41 orang (41.8%) dan status Hb polisitemia adalahsebanyak 26 orang (26.5 %). Hasil uji lebih lanjut didapat tidak ada hubunganantara jenis kelamin dengan status hemoglobin (p = 0.351), Tidak ada hubunganantara lama kerja dengan status hemoglobin ( p = 0.545). Dan Ada hubunganantara penggunaan APD dengan status hemoglobin pekerja SPBU ( p = 0.020 ).Disarankan adanya upaya managemen pencegahan timbulnya penyakit akibatkerja pada pekerja SPBU dengan menggunakan alat pelindung diri yang sesuia,adanya penyuluhan mengenai bahaya lingkungan kerja dan penyuluhan tentanggizi terhadap pekerja di SPBU.Kata Kunci : Anemia, PekerjaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1206
  20. 20. ISBN 978-602-98295-0-1 PENDAHULUAN Di Indonesia, prevalensi anemia bervariasi yaitu 50-70 % pada wanitahamil, 30-40% pada wanita dewasa, 30 - 40 % pada balita, 25 - 30 % pada anaksekolah, 20 - 30% pekerja berpenghasilan rendah (Husaini, 1989).(1) Salah satu faktor penyebab anemia adalah gaya hidup yang kurang sehat,kurang asupan zat yang dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin seperti zatbesi, folat, dan vitamin B12. Ada penyebab anemia yang lain yaitu timah hitam. (2) Timah hitam secara umum dikenal dengan sebutan timbal, biasa digunakansebagai campuran bahan bakar bensin. Fungsinya selain meningkatkan dayapelumasan, juga meningkatkan efisiensi pembakaran sehingga kinerja kendaraanbermotormeningkat. Bahan kimia ini bersama bensin dibakar dalam mesin. Sisanya  70%keluar bersama emisi gas buang hasil pembakaran. Berdasarkan data tahun2004, beberapa kota besar misalnya Palembang masih menggunakan bensinbertimbal dengan kadar 0,199 gr/L. (3,5) Timbal lebih tersebar luas dibanding kebanyakan logam toksik lainnya.Kadarnya di lingkungan meningkat karena penambangan, peleburan,pembersihan, dan berbagai penggunaannya dalam industri. (4) WHO menyatakan tidak ada ambang batas paparan timbal di udara karenasifatnya logam berat dan toksik. Kadar Pb dalam darah manusia yang tidakterpapar oleh Pb adalah sekitar 10-25 µg/100 ml. Konsentrasi Pb dalam darahpada kadar 40-50 µg/100 ml mampu menghambat hemoglobin yang padaakhirnya merusak hemoglobin darah.(3) Mukono (1991) meneliti status kesehatan dan kadar Pb Blood (Pb-B)karyawan SPBU (Stasiun Pompa Bensin Umum) di Jawa Timur dan menemukanbahwa pemeriksaan darah lengkap pada karyawan SPBU dengan penjualanbensin kurang dari 8 ribu liter per hari lebih baik dari karyawan SPBU yangmenjual bensin lebih dari 10 ribu liter per hari. Didapatkan pula bahwa reratakadar Pb-B karyawan SPBU sebesar 77,59 µg/100 ml.(6) Suwandi (1995) menemukan bahwa kadar Pb udara di daerah terpaparpada malam hari adalah 0,0299 mg/ml, yang besarnya sepuluh kali lipat kadar Pbdi daerah tidak terpapar pada malam hari 0,0028 mg/ml. Sedangkan rerata kadarProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1207
  21. 21. ISBN 978-602-98295-0-1Pb Blood (Pb-B) di daerah terpapar adalah 170,44 µg/100 ml, yang besarnya tigakali lipat kadar Pb di daerah tidak terpapar 45,43 µg/100 ml. Juga ditemukansemakin tinggi kadar Pb-B semakin rendah kadar hemoglobin-nya.(6) Aminah (2006) melakukan penelitian kadar Pb dan Hb dalam darahkaryawan sampling dan non sampling di BBTKL PPM (Balai Besar TeknikKesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular) Surabaya, dimanakaryawan sampling memiliki rata-rata kadar Pb darah 7,08 g/L dengan rata-ratakadar Hb darah 14,42 g/dL. Sedangkan semua karyawan non sampling memilikikadar Pb darah 0 g/L dengan rata-rata kadar Hb 13,34 g/dL (sebagian besarkaryawan non sampling berjenis kelamin wanita).(7) Kaltsum (2008) melakukan penelitian kadar Hb pada pekerja SPBU didapatrata rata kadar Hb 15.68 gr%. Kejadian anemia pada pekerja SPBU sebanyak 31orang (32.3%) Dampak yang ditimbulkan oleh timbal adalah dapat meracuni sistempembentukkan sel darah merah sehingga menimbulkan gangguan pembentukkansel darah merah, mempengaruhi sistem saraf, dan intelegensia pertumbuhananak-anak (IQ). Gejala keracunan timbal ini biasanya mual, sakit di perut, dananemia. Keracunan timbal kronik secara terus menerus makin meningkat dalamjaringan yang akan menyebabkan kelumpuhan serta perubahan hematologik sertaleukemia.(3) Anemia yang merupakan salah satu gejala keracunan timbal terjadi akibatpenurunan sintesis globin walaupun tak tampak adanya penurunan kadar zat besipada serum. Anemia ringan yang terjadi disertai dengan sedikit peningkatan kadarALA (Amino Levulinic Acid) urine. Anemia biasanya terjadi pada orang yangterpapar timbal dalam jangka waktu lama. Misalnya pada penduduk yang tinggaldi sekitar industri yang menggunakan bahan tersebut dan para pekerja. (6)Dalam hal ini yang menjadi objek penelitian adalah para pekerja di Stasiun PompaBensin Umum (SPBU). Para pekerja SPBU tersebut rentan terkena anemia dikarenakan keadaan lingkungan kerja mereka yang secara langsungterpapar timbal dari bensin. Selain itu juga ditunjang dari faktor ekonomi yangrendah serta kurangnya asupan gizi bagi pekerja tersebut.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1208
  22. 22. ISBN 978-602-98295-0-1 Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status kesehatan pada pekerja dilingkungan yang terpapar timbal diantaranya jenis kelamin, umur, lama kerja, danpenggunaan alat pelindung diri (APD). (3,7) Rumusan masalah penelitian ini adalah masih ditemukannya kejadianAnemia pada pekerja berpenghasilan rendah, salah satunya adalah pekerjaSPBU. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakteristikpekerja, penggunaan APD, dan lama kerja dengan kejadian anemia pada pekerjadi stasiun pompa bensin umum (SPBU) Palembang tahun 2009. METODA PENELITIANLokasi PenelitianPenelitian secara cross sectional ini di lakukan di 18 SPBU yang terpilih menjadisubyek penelitian. Cara pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian iniadalah rancangan stratified random sampling.Jumlah SampelBesar sampel penelitian yang ditetapkan, dihitung dengan menggunakan rumusLemeshow et al. (1997) sebagai berikut : Z21-ά/2 .p (1 – P) n= d2 Perhitungan sampel : (1,96)2 . 0.30 (1 – 0.30) n = -------------------------------- (0,1)2 n = 81 pekerja dibulatkan menjadi 96 pekerja SPBUPengumpulan data Jenis data yang dikumpulkan dan cara pengumpulan data adalah :Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1209
  23. 23. ISBN 978-602-98295-0-1 1. Data primer, meliputi data :  Data karakteristik responden, lama kerja, penggunaan APD diperoleh melalui wawancara lansung terhadap responden dengan menggunakan alat bantu kuesioner dan observasi langsung.  Data kadar Hb diperoleh melalui pemeriksaan darah untuk menentukan kadar Hb dengan menggunakan metode cyanmethemoglobin. 2. Data Skunder, meliputi data :  Jumlah SPBU dan lokasi SPBU yang diperoleh dari Hiswanamigas Plaju.Pengolahan data dan cara analisis DataPengolahan Data  Hasil pengukuran Hb responden dengan metode cyanmethemoglobin dibandingkan dengan standar rujukan cyanmethemoglobin , kemudian dibuat menjadi dua katagori yaitu Kadar Hb < rujukan dan kadar Hb ≥ Rujukan.  Seluruh data akan diolah dengan menggunakan software komputer .Analisis Data  Analisa Univariat Analisa ini digunakan untuk mendiskripsikan variabel bebas dan variabel terikat guna mendapatkan gambaran atau karakteristik responden dengan membuat tabel distribusi frekuensi.  Analisa Bivariat Analisa ini dilakukan dengan membuat tabel silang antara masing- masing variabel bebas terhadap variabel terikat guna memperoleh gambaran variabel bebas mana yang diduga ada hubungan dengan kejadian Anemia pada pekerja di SPBU kota palembang. Uji statistik yang digunakan dalam analisis ini adalah Chi square dan uji t independent. HASIL PENELITIAN Kadar Hemoglobin (Hb) pekerja SPBU Hasil analis didapat distribusi statistic kadar Hb pekerja SPBU adalah sebagai berikutProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1210
  24. 24. ISBN 978-602-98295-0-1 Tabel. 4.1. Distribusi statistik kadar Hb pekerja SPBU di Kota Palembang tahun 2009 Variabel Mean Median SD Min - Maks 95 % CI Kadar Hb 15.69 3.31 10.10 – 27.4 15.03 – 15.45 16.36 Hasil analisis didapatkan rata rata kadar Hb adalah 15.69 gr % ( 95% CI : 15.03 – 16.36), Median 15.45gr % dengan standar deviasi 3.31 gr % . Kadar Hb terendah 10.10 gr % dan kadar Hb tertinggi 27.4 gr %. Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95 % diyakini bahwa rata rata kadar Hb antara 15.03 gr % sampai 16.36 gr %. Status Hemoglobin (Hb) pekerja SPBU Hasil analisis didapat distribusi frekuensi kadar Hb pekerja SPBU adalah sebagai berikut Tabel. 4.2. Distribusi frekuensi Status Hb pekerja SPBU di Kota Palembang tahun 2009 Status Hb Jumlah Persentase Anemia 31 31.6 Normal 41 41.8 Polisitemia 26 26.5 Jumlah 98 100 Distribusi status Hb pekerja SPBU hampir merata, yaitu status anemia sebanyak 31 orang (31.6 %), status Hb normal 41 orang (41.8 %) dan Status Hb polisitemia sebanyak 26 orang (26.5 %). Status Hemoglobin (Hb) pekerja SPBU Hasil analisis didapat distribusi frekuensi kadar Hb pekerja SPBU adalah sebagai berikut Tabel. 4.2. Distribusi frekuensi Status Hb pekerja SPBU di Kota Palembang tahun 2009 Status Hb Jumlah Persentase Normal 41 41.8 Tidak Normal 57 58.2 Jumlah 98 100Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1211
  25. 25. ISBN 978-602-98295-0-1 Distribusi status Hb pekerja SPBU hampir merata, yaitu status Hb yang normal sebanyak 41 orang (41.8 %), dan status Hb yang tak normal 57 orang (58.2 %). Jenis Kelamin pekerja SPBU Hasil analisis didapat distribusi frekuensi jenis kelamin pekerja SPBU adalah sebagai berikut Tabel. 4.2. Distribusi frekuensi Jenis kelamin pekerja SPBU di Kota Palembang tahun 2009 Jenis Kelamin Jumlah Persentase Laki laki 74 75.5 Perempuan 24 24.5 Jumlah 98 100 Distribusi jenis kelamin pekerja SPBU yaitu laki laki sebanyak 74 orang (75.5%), dan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 24 orang (24.5 %). Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Hasil analisis didapat distribusi frekuensi penggunaan APD pekerja SPBU adalah sebagai berikut Tabel. 4.2. Distribusi frekuensi Penggunaan APD pekerja SPBU di Kota Palembang tahun 2009 APD Jumlah Persentase Sesuai 7 7.1 Tidak Sesuai 91 92.9 Jumlah 98 100 Distribusi Penggunaan APD pekerja SPBU yaitu Penggunaan APD yang sesuai sebanyak 7 orang (7.1%), dan yang menggunakan tidak sesuai sebanyak 91 orang (92.9 %). Lama Kerja Pekerja SPBU Hasil analis didapat distribusi statistic lama kerja pekerja SPBU adalah sebagai berikutProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1212
  26. 26. ISBN 978-602-98295-0-1 Tabel. 4.1. Distribusi statistik Lama kerja pekerja SPBU di Kota Palembang tahun 2009 Variabel Mean Median SD Min - Maks 95 % CI Lama kerja 5.45 5.93 1 – 30 4.26 – 6.64 3.00 Hasil analisis didapatkan rata rata lama kerja adalah 5.45 tahun ( 95% CI : 4.26 – 6.64), Median 3.00 tahun dengan standar deviasi 5.93 tahun . Lama kerja terendah adalah 1 tahun dan lama kerja tertinggi 30 tahun. Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95 % diyakini bahwa rata rata lama kerja antara 4.26 tahun sampai 6.64 tahun. Lama kerja Pekerja SPBU Hasil analisis didapat distribusi frekuensi lama kerja pekerja SPBU adalah sebagai berikut Tabel. 4.2. Distribusi frekuensi Lama kerja pekerja SPBU di Kota Palembang tahun 2009 Lama kerja Jumlah Persentase  3 tahun 56 57.1 > 3 tahun 42 42.9 Jumlah 98 100 Distribusi lama kerja pekerja SPBU yaitu  3 tahun sebanyak 56 orang (57.1 %), dan lama kerja > 3 tahun sebanyak 42 orang ( 42.9 %). Umur pekerja SPBU Hasil analis didapat distribusi statistic umur pekerja SPBU adalah sebagai berikut Tabel. 4.1. Distribusi statistik Umur pekerja SPBU di Kota Palembang tahun 2009 Variabel Mean Median SD Min - Maks 95 % CI Umur 28.31 7.30 18 - 54 26.84 – 27.50 29.77Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1213
  27. 27. ISBN 978-602-98295-0-1 Hasil analisis didapatkan rata rata umur pekerja adalah 28.31 tahun ( 95% CI : 26.84 – 29.77), Median 27.50 tahun dengan standar deviasi 7.30 tahun . Umur pekerja termuda adalah 18 tahun dan umur pekerja tertua adalah 54 tahun. Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95 % diyakini bahwa rata rata umur pekerja antara 26.84 tahun sampai 29.77 tahun.Hubungan karakteristik pekerja dengan status hemoglobin pekerja SPBU 1. Jenis Kelamin dengan status hemoglobin Tabel. 4.9.1. Distribusi responden menurut jenis kelamin dan status hemoglobin pekerja SPBU Status HemoglobinJenis Normal Tidak Total OR P valuekelamin normal 95 % CI n % n % N %Laki laki 29 39.2 45 60.8 74 100 0.6 (0.25 – 0.351Perempu 12 50.0 12 50.0 24 100 1.63anJumlah 41 41.8 57 58.2 98 100Hasil analisis hubungan antara jenis kelamin dengan status hemoglobin pekerjaSPBU didapat bahwa ada sebanyak 45 pekerja (60.8 %) dari 74 orang pekerjayang ber jenis kelamin laki laki memiliki status hemoglobin tidak normal.Sedangkan diantara pekerja yang berjenis kelamin perempuan ada 12 pekerja(50.0%) yang mempunyai status hemoglobin yang tidak normal. Hasil uji statistikdiperoleh nilai p = 0.351, maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan yangsignifikan antara jenis kelamin dengan status hemoglobin pekerja SPBU di kotaPalembang.2. Umur dengan status hemoglobin Tabel.4.9.1. Distribusi rata rata umur responden menurut status hemoglobin Pekerja SPBU di kota Palembang Variabel Mean SD SE P value N Status Hb - Normal 27.56 8.24 1.29 0.395 41 - Tidak 28.84 6.58 0.87 57 normalProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1214
  28. 28. ISBN 978-602-98295-0-1Rata rata umur pekerja yang mempunyai status Hb normal adalah 27.56 tahundengan standar deviasi 8.24 tahun. Sedangkan untuk pekerja yang status Hb nyatidak normal, rata rata umurnya adalah 28.84 tahun dengan standar deviasi 6.58tahun.Hasil uji didapat p = 0.395, berarti pada alpha 5 % terlihat tidak ada perbedaanyang signifikan rata rata umur pekerja antara pekerja yang status Hb nya normaldengan pekerja yang status Hbnya tidak normal.Hubungan Penggunaan APD dengan status Hemoglobin pekerja SPBU Tabel. 4.10. Distribusi responden menurut Penggunaan APD dan status hemoglobin pekerja SPBU Status HemoglobinPengguna Normal Tidak Total OR P valuean APD normal 95 % CI n % n % N %Sesuai 6 85.7 1 14.3 7 100 9.60 (1.11-83.1) 0.020Tidak 35 38.5 56 61.5 91 100sesuaiJumlah 41 41.8 57 58.2 98 100Hasil analisis hubungan antara penggunaan APD dengan status hemoglobinpekerja SPBU didapat bahwa ada sebanyak 1 pekerja (14.3 %) dari 7 orangpekerja yang menggunakan APD sesuai memiliki status hemoglobin tidak normal.Sedangkan diantara pekerja yang menggunakan APD tidak sesuai ada 56 pekerja(61.5%) yang mempunyai status hemoglobin yang tidak normal. Hasil uji statistikdiperoleh nilai p = 0.020, maka dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikanantara penggunaan APD dengan status hemoglobin pekerja SPBU di kotaPalembang.Dari hasil analisis diperoleh nilai OR = 9.60 (95%CI : 1.11 – 83.1), artinya pekerjayang menggunakan APD yang tidak sesuai memiliki peluang 9.60 kali mempunyaistatus hemoglobin tidak normal dibanding pekerja yang menggunakan APD yangsesuai.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1215
  29. 29. ISBN 978-602-98295-0-1Hubungan lama kerja dengan status hemoglobin pekerja SPBUTabel.4.9.1. Distribusi rata rata lama kerja responden menurut status hemoglobin Pekerja SPBU di kota Palembang Variabel Mean SD SE P value N Status Hb - Normal 5.024 5.42 0.85 0.545 41 - Tidak 5.76 6.29 0.83 57 normalRata rata lama kerja pekerja yang mempunyai status Hb normal adalah 5.04tahun dengan standar deviasi 5.42 tahun. Sedangkan untuk pekerja yang statusHb nya tidak normal, rata rata lama kerjanya adalah 5.76 tahun dengan standardeviasi 6.29 tahun.Hasil uji didapat p = 0.545, berarti pada alpha 5 % terlihat tidak ada perbedaanyang signifikan rata rata lama kerja pekerja antara pekerja yang status Hb nyanormal dengan pekerja yang status Hbnya tidak normal. PEMBAHASANA. Kadar Hemoglobin (Hb) pekerja SPBU Dari hasil penelitian yang dilakukan pada 98 pekerja di SPBU Palembang tahun 2009 didapatkan rata-rata kadar hemoglobin pekerja SPBU adalah 15.69 gr/dL, dengan kadar hemoglobin terendah 10.10 gr/dL dan tertinggi 27.4 gr/dL. Hasil kadar hemoglobin yang didapat memiliki kadar yang sangat jauh. dimana terdapat 2 perbedaan hasil yang rendah dan sangat tinggi. Tingginya kadar hemoglobin ini dapat disebabkan banyak faktor, yaitu karena kadar oksigen di dalam udara terlalu rendah dan waktu pengambilan sample. Jika kadar oksigen di udara rendah, maka jaringan mungkin menerima terlaluProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1216
  30. 30. ISBN 978-602-98295-0-1 sedikit oksigen. Waktu pengambilan sampel pada penelitian ini beraneka ragam. Mulai dari pagi, siang, dan sore hari. Waktu pengambilan sampel di siang hari juga mempengaruhi tingginya hasil kadar hemoglobin, dimana pekerja yang diambil sampelnya dalam kondisi yang tidak begitu baik. Kondisi yang tidak baik disini adalah pekerja di siang hari tepatnya sekitar pukul 11.00-14.00 melakukan pergantian shift. Pada saat pergantian shift, mereka belum mengkonsumsi makan siang dan kurangnya minum, ditambah dengan keadaan lingkungan yang panas. Terlihat pula kelelahan mereka bekerja dikarenakan aktifitas padat seharian yang banyak mengeluarkan tenaga sehingga pekerja juga sangat kurang mengkonsumsi air putih dan terjadi dehidrasi secara mikro di dalam tubuh.. Penyebab lain tingginya kadar hemoglobin juga dapat dilihat pada saat pemeriksaan di laboratorium. Hasil pemeriksaan kadar hemoglobin penelitian pada hari pertama umumnya seimbang, tetapi pada hari kedua hasilnya terdapat ketidakseimbangan. Hal ini bisa dikarenakan standar hemoglobin yang dibaca berulang-ulang sehingga tutup standar sering terbuka. Jika standar menguap dapat mempengaruhi hasil kadar hemoglobin menjadi tinggi dari hasil yang sebenarnya.B. Status Hemoglobin (HB) pekerja SPBU Distribusi frekuensi status Hb pada pekerja di SPBU Palembang tahun 2009 diperoleh hasil pekerja yang status Hb nya anemia sebanyak 31 orang (31,6%).Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1217
  31. 31. ISBN 978-602-98295-0-1 Hasil ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan penelitian Husaini (1989) bahwa di Indonesia prevalensi anemia pada pekerja berpenghasilan rendah sebanyak 20-30% (Nyoman M, 2004) Anemia yang terjadi pada pekerja SPBU dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor utama diduga dari paparan timbal pada bensin dalam jangka waktu yang lama. Menurut penelitian di lapangan pada saat pengambilan sampel, umumnya pekerja yang anemia telah memiliki dampak dari pekerjaan sebelumnya seperti ada beberapa pekerja SPBU tersebut yang sebelumnya telah bekerja di SPBU juga. Sedangkan faktor lain dapat berasal dari rendahnya faktor ekonomi serta kurangnya asupan gizi bagi pekerja tersebut. Gangguan kesehatan seperti anemia dapat berpengaruh pada produktifitas kaum pekerja SPBU dimana daya tahan fisik pekerja terkendala karena rendahnya kadar hemoglobin dalam darah. Akibatnya para pekerja tidak dapat bekerja dengan optimal misalnya saja para pekerja sering izin tidak dapat bekerja dikarenakan sakit. Anemia merupakan penyakit yang bukan sepele karena jangka panjang dapat mengakibatkan kerusakan syaraf, fungsi otak, serangan jantung bahkan kematian. (http://portalcbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx/.) Selain timbal, di dalam bensin juga ada zat kimia lain yang berbahaya yaitu benzena. Data menunjukkan adanya insiden terjadinya anemia aplastik akibat inhalasi benzene di eropa dan Israel sebanyak dua kasus per 1 juta populasi setiap tahunnya. Di Thailand dan Cina angka kejadiannya sebanyak lima hingga tujuh orang per 1 juta populasi per tahunnya ( Kasper, Braunwald, faunci et al, 2004).Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1218
  32. 32. ISBN 978-602-98295-0-1 Pemajanan zat kimia terhadap pekerja beserta lingkungan kerjanya secara terus-menerus akan merupakan beban fisik dan psikologis bagi tenaga kerja yang akhirnya menyebabkan penyakit akibat kerja. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per. 01/Men/1981 mengenai kewajiban melapor penyakit akibat kerja, mengatur bahwa terdapat 30 jenis penyakit akibat kerja yang berhubungan dengan bahan kimia termasuk benzena. Salah satu bahaya dari benzen adalah leukemia, dimana tanda-tanda awal dari leukemia adalah anemia.(Lu, Frank. 1995). Selain itu dari hasil analisis didapat adanya kejadian polisitemia sebanyak 26 orang (26.5%). Polisitemia adalah keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah sel darah merah akibat pembentukan sel darah merah yang berlebihan oleh sumsum tulang. Polisitemia terjadi akibat kekurangan kadar oksigen, dehidrasi dan pada beberapa kasus yang berkaitan dengan neoplasma. (Brown A B, 1975)C. Hubungan Karakteristik responden dengan status Hemoglobin pekerja SPBU Dari hasil uji didapat bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan status hemoglobin. Hasil ini bertolak belakang dengan penelitian sebelumnya Aminah (2006) di Surabaya bahwa perempuan lebih rentan terkena anemia yang disebabkan oleh keracunan timbal daripada laki-laki. Beberapa penelitian (Husaini dkk) melaporkan dikalangan tenaga kerja wanita 30-40% menderita anemia, dan hasil studi di Tangerang tahun 1999 menunjukan prevalensi anemia pada pekerja wanita 69%.(Aminah, 2006 dan Depkes, 1999).Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1219
  33. 33. ISBN 978-602-98295-0-1 Menurut teorinya, perempuan lebih berisiko terkena anemia daripada laki-laki. Disamping dari pengaruh hormon akibat menstruasi dan kehamilan, banyak perempuan yang melakukan diet tidak sehat seperti minum obat-obat pelangsing yang mempunyai efek samping yang buruk serta mengurangi mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin. Aktifitas perempuan juga lebih banyak dibanding laki-laki karena selain bekerja di luar rumah, perempuan juga mengurus rumah tangga.(Wahyuni, sri, 2007) Distribusi jenis kelamin pada pekerja SPBU di kota Palembang didapat bahwa Jumlah pekerja berjenis kelamin perempuan sangat sedikit yaitu 24 orang (24,5%) dari 98 orang pekerja. Dengan proporsi ini maka hubungan antara jenis kelamin dengan status hemoglobin tidak terdeteksi karena jenis kelamin mendekati homogen. Hasil uji juga di dapat tidak ada hubungan antara umur dengan status hemoglobin. Hal ini bertolak belakang dengan teori dari buku kasper, braunwald, fauci et al (2004) yang menyatakan bahwa distribusi umur biasanya biphasik, yang artinya puncak kejadiannya pada remaja dan puncak kedua pada orang lanjut usia. Distribusi umur pada pekerja di SPBU kota palembang, umur rata rata 28.31 tahun. Umur termuda 18 dan umur tertua 54 tahun. Dari distribusi ini, terlihat bahwa rentang usia sangat jauh berbeda dan jumlah usia tua sangat sedikit. Sehingga data cukup homogen di usia produktif. Dengan homogennya umur pekerja ini maka tidak didapat hubungan antara umur dengan status hemoglobin.D. Hubungan Lama kerja dengan status hemoglobin pekerja SPBUProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1220
  34. 34. ISBN 978-602-98295-0-1 Dari hasil uji didapat bahwa tidak ada hubungan antara lama kerja dengan status hemoglobin pekerja SPBU. Hal ini bertentangan dengan penelitian sebelumnya Aminah (2006) di Surabaya yang menyatakan bahwa lebih lama seseorang bekerja dalam lingkungan yang terpapar timbal akan lebih besar kemungkinan keracunan. Berdasarkan teorinya, semakin lama seseorang bekerja dalam lingkungan yang terpapar timbal maka semakin besar terkena keracunan karena dalam jangka waktu yang lama konsentrasi timbal berlebih akan terakumulasi dalam darah. Namun demikian, tidak hanya lama kerja yang merupakan faktor penyebab anemia dari keracunan timbal, tetapi masih banyak faktor lainnya diantaranya status gizi yang buruk, dan kesejahteraan pekerja SPBU. (Aminah, 2007 dan http://portalcbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx/.). Distribusi lama kerja di dapat, rata rata lama kerja 5.45 tahun. Sedangkan lama kerja terendah adalah 1 tahun dan lama kerja tertinggi adalah 30 tahun. Dari distribusi ini terlihat begitu lebar jarak rentang lama kerja antara sesama pekerja. Dan sebagian besar pekerja mempunyai lama kerja antara 4.26 tahun sampai 6.64 tahun. Dari data ini, maka dapat disimpulkan bahwa proses keterpaparan pekerja oleh bahan bahan toksik di dalam bensin mendekati homogen antara sesama pekerja.E. Hubungan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dengan statushemoglobin Hasil analisis didapat Ada hubungan antara penggunaan APD dengan status hemoglobin pekerja SPBU di kota Palembang.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1221
  35. 35. ISBN 978-602-98295-0-1 Dari pengamatan di lapangan, didapatkan 91 orang pekerja SPBU (92.9%) tidak menggunakan alat pelindung diri yang sesuai sedangkan hanya 7 orang (7.1%) yang menggunakan alat pelindung diri yang sesuai. Hasil ini hampir sama dengan penelitian Aminah (2006) di Surabaya dimana seluruh karyawan 100% tidak menggunakan alat pelindung diri. Penyebab utamanya adalah tidak tersedianya alat pelindung diri yang sesuai di SPBU tersebut diantaranya sepatu, sarung tangan, dan masker. Walaupun ada beberapa SPBU yang menyediakan fasilitas tersebut, tetapi para pekerja tidak menggunakannya dengan baik. Tidak diketahui alasannya secara pasti tetapi hal tersebut juga merupakan kesalahan dari pihak atasan karena tidak adanya tindakan tegas bagi para pekerja yang tidak menggunakan alat pelindung diri yang sesuai. Alat pelindung diri sangat penting digunakan pada pekerja SPBU. Lingkungan kerja yang terpapar timbal dari bensin dapat mengakibatkan gangguan kesehatan bagi pekerja SPBU tersebut. Pentingnya alat pelindung diri terutama masker mengingat dimana timbal dapat masuk ke dalam tubuh 85% melalui pernapasan, 14% melalui pencernaan, dan 1% melalui kulit.(KPBB, 1999) Keracunan melalui mulut kemudian masuk ke dalam pencernaan akan menimbulkan tanda-tanda seperti muntah, denyut nadi cepat, hilang kesadaran, kehilangan kestabilan, dan koma. Keracunan melalui kulit merupakan iritan kuat yang dapat menimbulkan bercak merah dan terbakar serta menghilangkan lemak pada lapisan keratin yang menyebabkan kulit kering serta bersisik. Pada keracunan melalui pernapasan, tanda-tanda utamanya ialah perasaan mengantuk, pusing, sakit kepala, vertigo, danProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1222
  36. 36. ISBN 978-602-98295-0-1 kehilangan kesadaran. Keracunan ini berpengaruh terhadap sel sel hemopoetik darah tepi dan sumsum tulang.(Wisaksono, 2004). KESIMPULAN 1. Tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan status hemoglobin pekerja SPBU di kota Palembang tahun 2009 2. Tidak ada hubungan antara lama kerja dengan status hemoglobin pekerja SPBU di kota Palembang tahun 2009 3. Ada hubungan antara penggunaan alat pelindung diri (APD) dengan status hemoglobin pekerja SPBU di kota Palembang tahun 2009. SARAN 1. Pemilik SPBU diharapkan memberikan fasilitas alat pelindung diri yang sesuai untuk pekerja SPBU guna mencegah timbulnya gangguan kesehatan seperti anemia atau penyakit akibat kerja lain nya. 2. Pekerja SPBU diharapkan mengkonsumsi gizi yang seimbang setiap harinya. 3. Perlu adanya penyuluhan bagi pekerja SPBU oleh petugas kesehatan mengenai bahaya lingkungan kerja, khususnya dampak timbal dan benzen bagi kesehatan. 4. Kepada peneliti lain, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut antara lain: a. Pemeriksaan penunjang lain seperti pemeriksaan hitung jumlah eritrosit, retikulosit, dan pemeriksaan sediaan hapus darah. b. Dilakukan pemeriksaan seperti di atas tetapi dengan objek penelitian yang berbeda misalnya pada pedagang asongan, anak-anak jalanan, sopir angkutan umum, dan polisi lalu lintas yang terpapar timbal dari gas buang kendaraan.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1223
  37. 37. ISBN 978-602-98295-0-1 DAFTAR PUSTAKAMurtiyasa, Nyoman. 2004. Faktor Resiko Kejadian Anemia pada Pekerja Wanita. (http://adln.lib.unair.ac.id/go.php/. Diakses 7 Januari 2008).Anonim. 2006. Anemia. (http://portalcbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx/. Diakses 7 Januari 2008).Komite Penghapusan Bensin Bertimbal. 1999. Analisis Dampak Pemakaian Bensin Bertimbal dan Kesehatan. (http://www.kpbb.org/makalah-ind/. Diakses 29 September 2007).Komite Penghapusan Bensin Bertimbal. 2005. Pengujian Kadar Pb pada Bensin Premium TT. (http://www.kpbb.org/makalah_ing/LeadPhaseOutRevised.pdf. Diakses 7 Januari 2008).Lu, Frank C. 1995. Toksikologi Dasar. Edisi Kedua. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.Sudarmaji, J. Mukono, Corie I.P. 2006. Toksikologi Logam Berat B3 dan Dampaknya Terhadap Kesehatan. Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol.2 No.2. (http://www.journal.unair.ac.id/login/journal/filer/KESLING-2-2-03.pdf. Diakses 29 September 2007).Aminah, Noery. 2006. Perbandingan Kadar Pb, Hb, Fungsi Hati, Fungsi Ginjal. Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol.2 No.2. (http://www.journal.unair.ac.id/login/jurnal/filer/KESLING-2-2-01.pdf. Diakses 3 Oktober 2007).Depkes RI Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. 1989. Hematologi. Jakarta.Hadiat, dkk. 2004. Kamus Sains. Balai Pustaka, Jakarta.De Maeyer, E.M. 1993. Pencegahan Dan Pengawasan Anemia Defisiensi Besi. Widya Medika, Jakarta.Sitompul, Johan Intan. 1983. Patohematologi. Penerbit Medipress, Jakarta.Wahyuni, Sri. 2007. Anemia dan Wanita.(http://www.medanbisnisonline.com/rubrik.php. Diakses 4 Juli 2008).Notoatmodjo, Soekidjo. 1996. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1224
  38. 38. ISBN 978-602-98295-0-1Firdaus, Lutfi. Bensin. (http://www.chem-is-try.org/?sect=fokus&ext=17. Diakses 7 Januari 2008).Sartono, Drs. 2002. Racun dan Keracunan. Widya Medika, Jakarta.Polar, Heryando. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.dr U Syamsudin, dr F D Suyatna. 1978. Keracunan Pb.(http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10KeracunanPb013.pdf/. Diakses 7 Januari 2008).Komite Penghapusan Bensin Bertimbal. 1999. Kebijakan Energi Bersih melalui Penghapusan Bensin Bertimbal (Pb).(http://www.kpbb.org/makalah_ind/Kebijakan%20Energi%20Bersih%20Melalui%2 0Penghapusan%20Bensin%20Bertimbel.pdf. Diakses 7 Januari 2008).Azwar, A. 1988. Pengantar Epidemiologi Edisi Pertama. PT.Bina Rupa Aksara, Jakarta.Imamkhasani, Soemarto. 1990. Keselamatan Kerja dalam Laboratorium Kimia. Penerbit PT.Gramedia, Jakarta.Martin, David W.JR dkk. 1992. Biokimia Harper Edisi 20. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.Kresno, Siti Boedina. 1988. Pengantar Hematologi dan Imunohematologi.1988. Balai Penerbit FKUI, Jakarta.Wisaksono, Satmoko. 2004. Resiko Pemajanan Benzen terhadap Pekerja dan Cara Pemantauan Biologis. Jakarta.Gandasoebrata, R. 2004. Penuntun Laboratorium Klnik. Dian Rakyat, Jakarta.Tjokronegoro, Arjatmo dkk. 1992. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Sederhana. Balai Penerbit FKUI, Jakarta.Notoatmojo, Soekidjo. 1993. Dasar-dasar Metodelogi Penelitian Kesehatan. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.Widman K.F. 1995. Tinjauan klinis atas hasil Pemeriksaan Laboratorium. Ed 9 UI.JakartaBrown Barbara. 1975. Principles and Procedure. Lea & Febiger. PhiladelphiaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1225
  39. 39. ISBN 978-602-98295-0-1 ANALISIS FAKTOR RESIKO PENULARAN HIV/AIDS DI KOTA MEDAN Erledis Simanjuntak Mahasiswa tugas belajar pada Program Doktor Ilmu-Ilmu Lingkungan Di PPS Unsri Palembang ABSTRAK HIV/AIDS merupakan salah satu masalah kesehatan Global. Di seluruhnegara saat ini sedang terancam dengan penyebaran virus yang mematikan ini.Tidak hanya di negara maju, tetapi juga di negara sedang berkembang sepertiIndonesia, termasuk di Kota Medan.Berbagai faktor resiko penyebab HIV/AIDS,seperti: hubungan sex bebas (beresiko), pemakaian jarum suntik narkoba,penularan melalui transfusi darah, dan transmisi dari ibu ke anak. Di samping itufaktor karakteristik juga berperan terhadap resiko penularan HIV/AIDS, sepertiumur, jenis, pekerjaan, dan pendidikan.Desain penelitian ini Kasus Kontrol,dengan 230 sampel (115:115). Data diambil dari pasien HIV/AIDS dan Kontrolyang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan tahun2010, yang berdomisili di Kota Medan. Dilakukan Analisis Deskriptif, Bivariat (UjiChi-Square), dan Multivariat (Uji Regressi Logistik), dengan Program SPSS ForWindos 17. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan padatingkat kepercayaan 95 % pada variabel : Pemakai jarum suntik narkoba(P=0,000), Hubungan sex bebas (P=0,000), Kelompok umur 15 – 24 tahun, 25-34 tahun, 35-44 tahun (P=0,000), jenis kelamin Laki-laki (P=0,000), Tidak bekerja,Wiraswasta, Pegawai Swasta (P= 0,000), Pendidikan SD, SLTP (P=0,000), SLTA(P=0,001). Uji Multivariat menunjukkan faktor resiko yang dominan terhadappenularan HIV/AIDS di Kota Medan adalah: Pemakaian jarum suntik narkoba(OR=66,551), hubungan sex bebas (OR=25,419), Pendidikan (OR=2,653),Pekerjaan (OR= 2,288).Kata Kunci : Kesehatan, Faktor Resiko HIV/AIDS, Kasus Kontrol. PENDAHULUAN Kasus HIV/ AIDS dewasa ini telah mengalami peningkatan jumlah secaracepat dari tahun – ketahun. Menurut data yang ada, sampai dengan 30 Juni 2010secara komulatif kasus AIDS yang dilaporkan sejak tahun1978 sejumlah 21.770kasus dari 32 provinsi dan 300 Kabupaten. Kasus terbanyak diperoleh di DKIJakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Papua, Bali, Jawa tengah, Kalimantan Barat,Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Riau dan Sumatera Barat. Rate tertinggiberada di Provinsi Papua (14,34 kali) dari angka Nasional. Rasio Kasus AIDSantara laki-laki dengan perempuan adalah 3:1.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1226
  40. 40. ISBN 978-602-98295-0-1 Sedangkan kasus HIV positf sampai dengan 30 Juni 2010 sejak dilaporkantahun1978 secara komulatif = 44.292. Daerah yang paling banyak terjadi kasusHIV positf adalah DKI Jakarta (9,804 kasus), Jawa Timur (5.973 kasus), JawaBarat (3.798 kasus), Sumatera Utara (3.391 kasus), Papua (2,947 kasus), Bali(2,505 Kasus). Jumlah ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS yang masih dalampengobatan Anti Retro Virus tertinggi di DKI Jakarta (7.242 Kasus), Jawa Barat(2.001), Jawa Timur (1.517 Kasus), Bali (984 Kasus), Papua (685 Kasus), JawaTengah (575 Kasus), Sumatera Utara (575 Kasus), Kalimantan Barat (463 Kasus),Kepulauan Riau (426 kasus), Sulawesi Selatan (343 Kasus) (Depkes RI, 2010). Beberapa faktor resiko penularan hiv/aids adalah melalui hubunganseksual, melalui transfusi darah atau produk darah yang sudah tercampur virushiv, melalui jarum suntik yang tidak steril, transplantasi organ pengidap hiv danpenularan dari ibu ke anaknya saat di kandungan (Nursalam , 2007). Hingga saat ini belum ada data yang akurat tentang jumlah kasus, danfaktor risiko yang mempengaruhi berkembangnya penularan HIV diberbagaiwilayah di indonesia, termasuk di Kota Medan. Oleh sebab itu perlu dilakukanpenelitian tentang ― Analisis Faktor Resiko HIV/AIDS Di Kota Medan―. Dengandiketahuinya faktor resiko penularan HIV/AIDS secara jelas, diharapkan dapatmenjadi masukan terhadap pemerintah untuk membuat perioritas programpenanggulangan HIV/ AIDS secara tepat, efektif sesuai dengan sumber dayayang ada. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Haji AdamMalik Medan.W aktu penelitian selama enam bulan (Mei - September tahun 2010).Desain penelitian ini adalah studi kasus kontrol (case control study). Sampeldalam penelitian terdiri dari dua kelompok yaitu satu kelompok kasus (penderitaHIV/AIDS), dan satu kelompok kontrol (bukan penderita HIV/AIDS) yangberdomisili di Kota Medan. Besar sampel dalam penelitian ini ditentukan denganrumus (Murti, 1996., Sudigdo, 2002) sebagai berikut:Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1227
  41. 41. ISBN 978-602-98295-0-1 2    z  z  PQ  n 2    p 1       2  R p 1  R  Q  1  p Keterangan :R = Perkiraan Odds Ratio = 2., = 0,05., Z=1,64., = 0,10., Z= 1,28 2  1,64 2 1   1,28. .  n 2 3 3  2 1        3 2  2  0,82  0,89  n   0,16  n= 115 (jumlah sampel dalam adalah 230, terdiri dari 115 kasus, dan 115Kontrol). Pengambilan sampel dilakukan secara porposif. dengan menggunakanAngket, berupa kuesioner yang diisi langsung oleh responden. Bahan yang dianalisis dalam penelitian ini berupa Data Primer Primer yangdikumpulkan dengan menggunakan Angket. Data dianalisis secara Deskriptif,Analisis Bivariat (Uji Chi-Square), dilakukan perhitungan terhadap Odds Ratio(OR), dengan Confident Interval 95%. Analisis terhadap Odds Ratio dilakukandengan membandingkan Odds pada kelompok kasus dengan Odds padakelompok Kontrol (Sudigdo,2002). Selanjutnya dilakukan Analisis Multivariat (UjiRegressi Logistik), melalui Program SPSS For W indos 17 dengan metodeStepwise (Hastono,2001).Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1228
  42. 42. ISBN 978-602-98295-0-1 HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel .1. Distribusi Gambaran Karakteristik Sampel Kasus HIV/AIDS dan Kontrol Di Kota Medan Tahun 2010.No Variabel Kasus Kontrol Total n % n % n %1 Umur : 15-24 Tahun 15 13,0 13 11,3 28 12,2 25-34 Tahun 63 54,8 15 13,0 78 33,9 35-44 Tahun 27 23,5 32 27,8 59 25,7 45- 64 Tahun 10 8,7 55 47,8 65 28,3 Jumlah 115 100 115 100 230 1002 Jenis Kelamin: Laki-laki 96 83,5 70 60,9 166 72,2 Perempuan 19 16,5 45 39,1 64 27,8 Jumlah 115 100 115 100 230 1003 Pekerjaan: Tidak Bekerja 51 44,3 20 17,4 71 30,9 Wiraswasta 43 37,4 27 23,5 70 30,4 Pegawai 20 17,4 26 22,6 46 20,0 Swasta PNS 1 0,9 42 36,5 43 18,7 Jumlah 115 100 115 100 230 1004 Pendidikan: SD 9 7,8 2 1,7 11 4,8 SLTP 39 33,9 25 21,7 64 27,8 SLTA 65 56,5 70 60,9 135 58,7 PT/Akademi 2 1,7 18 15,7 20 8,7 Jumlah 115 100 115 100 230 100 1. Umur. Hasil penelitian pada Tabel.3.1. Menunjukkan bahwa proporsi kasusHIV/AIDS ditemukan tertinggi pada Umur 25-34 tahun (54,8%), 35-44 tahun(23,5%). Hasil uji Bivariat (Tabel. 3.3.) Menunjukkan adanya hubungan yangsignifikan antara umur dan HIV/AIDS (p=0,000), dan jika dilihat dari nilai OR, makadapat disimpulkan bahwa Usia yang paling beresiko terhadap HIV/AIDS adalahumur 25-34 tahun (OR=23,100), Usia 15-24 tahun (OR=6,346), 35-44 Tahun(OR=4,641). Usia remaja, dan usia produktif sangat beresiko terhadap penularanHIV/AIDS. Infeksi HIV/AIDS sebagian besar (>80%) diderita oleh kelompok usiaproduktif (15-49 tahun) (Wandoyo, 2007). Banyak faktor yang menyebabkantingginya kasus HIV/AIDS pada kelompok usia remaja, usia produktif . MenurutTanjung (2004), remaja sangat rentan dengan HIV/AIDS, oleh karena usia remajaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1229
  43. 43. ISBN 978-602-98295-0-1identik dengan semangat bergelora, terjadi peningkatan libido. Selain itu resiko inidisebabkan faktor lingkungan remaja. Tabel.2. Resiko Kejadian HIV/AIDS Pada Sampel Menurut Umur dan Jenis Kelamin Di Kota Medan Tahun 2010.No Variabel Kasus Kontrol χ² OR N % n % (Nilai P) (CI 95%) 1 Umur :  15-24 Tahun 15 60,0 13 19,1 14,519 6,346  45- 64 Tahun 10 40,0 55 80,9 (0,000) (2,326- Jumlah 25 100 68 100 17,299).  25-34 Tahun 63 86,3 15 21,4 60,656 23,100  45- 64 Tahun 10 13,7 55 78,6 (0,000) (6,600 - Jumlah 73 100 70 100 55,586)  35-44 Tahun 27 73,0 32 36,8 13,633 4,641  45- 64 Tahun 10 27,0 55 63,2 (0,000) (1,991-10,818) Jumlah 37 100 87 100 2 Jenis 14,635 3,248 Kelamin: (0,000) (1,750-6,028).  Laki-laki 96 83,5 70 60,9  Perempuan 19 16,5 45 39,1 Jumlah 115 100 115 100 2. Jenis Kelamin. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kasus HIV/AIDS lebihtinggi pada laki-laki sejumlah (83,5%), dibanding dengan perempuan sejumlah(16,5). Resiko laki-laki menderita HIV/AIDS jika dilihat dari nilai OR adalah 3,248kali lebih tinggi dari perempuan (Tabel.2). Hal ini sejalan dengan data prevalensiHIV/AIDS tahun 2003, dari 22 provinsi yang telah ada kasus HIV di Indonesiadiperoleh data bahwa penyebaran HIV/AIDS berdasarkan Gender, laki-laki 57,71%, dan perempuan 42,29 % (Notoadmojo,2007). Menurut Depkes RI (2010),Rasio Kasus AIDS antara laki-laki dengan perempuan adalah 3:1. MenurutWandoyo (2007) bahwa infeksi HIV sebagian besar (>80%) diderita oleh kelompokusia produktif (15-49 Tahun), terutama laki-laki. Akan tetapi jumlah penderitawanita cenderung meningkat. Resiko AIDS yang tertinggi pada pria homoseks,mungkin sekali kerena seringnya hubungan seksual dengan pasangan yangberbeda-beda. ( Noor , 1997).a. PekerjaanProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1230
  44. 44. ISBN 978-602-98295-0-1 Tabel.1. Memperlihatkan Proporsi Sampel yang tidak bekerja padakelompok Kasus HIV/AIDS (44,3%), wiraswasta (37,4%). PNS (0,9%). Hasil UjiBivariat (Tabel.3.)memperlihatkan Ada hubungan yang signifikan antara jenispekerjaan dengan HIV/AIDS P < 0,005. Bila dilihat dari besarnya nilai OR makaSampel yang tidak bekerja mempunyai resiko tertinggi untuk kemungkinanmenderita HIV/AIDS (OR=107,100), selanjutnya bekerja sebagai wiraswasta(OR=66,889), Pegawai Swasta (OR=32,308 ). Muninjaya (1999), menyebutkanbahwa HIV ditularkan oleh para Traveler (turis, nelayan asing), kepada kelompokPekerja Sex Komersial, kemudian menyebar kepada para pelanggan yangmenggunakan jasa meraka.b. Pendidikan Tabel.3. Resiko Kejadian HIV/AIDS Pada Sampel Menurut Pekerjaan dan Pendidikan Di Kota Medan Tahun 2010.No Variabel Kasus Kontrol χ² OR N % n % (Nilai P) (CI 95%) 1 Pekerjaan : A  Tidak 51 98,1 20 32,3 52,152 107,100 Bekerja (0,000) (13,795-  PNS 1 1,9 42 67,7 831,499) Jumlah 52 100 62 100 B  Wiraswasta 43 97,7 27 39,1 39,135 66,889  PNS 1 2,3 42 60,9 (0,000) (8,691-514,786) Jumlah 44 100 69 100 C  Pegawai 20 95,2 26 38,2 20,878 32,308 Swasta (0,000) (4,089-255,282)  PNS 1 4,8 42 61,8 Jumlah 21 100 68 100 2 Pendidikan: A  SD 9 81,8 2 10,0 15,989 40,500  PT/Akademi 2 18,2 18 90,0 (0,000) (4,876-336,401) Jumlah 11 100 20 100 B  SLTP 39 95,1 25 58,1 15,824 14,040  PT/Akademi 2 4,9 18 41,9 (0,000) (2,996-65,804) Jumlah 41 100 43 100 C  SLTA 65 97,0 70 79,5 10,330 8,357  PT/Akademi 2 3,0 18 20,5 (0,001) (1,866-37,431) Jumlah 67 100 88 100Ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dan HIV/AIDS (p < 0,05). NilaiOR tertinggi pada sampel (Tabel.3.) berpendidikan SD (nilai OR = 40,500,),Sampel berpendidikan SLTP (OR =14,040), berpendidikan SLTA (OR =8,357).Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1231
  45. 45. ISBN 978-602-98295-0-1Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin rendah pendidikansampel, maka semakin tinggi resiko menderita HIV/AIDS. Dalam masyarakat dimana taraf kecerdasan masih rendah, masyarakatbelum berpartisipasi dalam pencegahan penyakit dan baru mencari pemecahanpersoalan bila masalah sudah nyata (Entjang, 2002). tingkat pendidikan individudan masyarakat dapat berpengaruh terhadap penerimaan pendidikan kesehatanHerawani (2002), bahwa. Oleh sebab itu sosialisai (komunikasi, informasi danedukasi,pencegahan HIV/AIDS harus disesuaikan dengan tingkat pendidikanmasyarakat.c. Hubungan Sex Bebas Hasil penelitian Pada Tabel.4. Memperlihatkan bahwa ada hubunganyang signifikan antara hubungan sex bebas dengan HIV/AIDS (P=0,000). Resikosampel yang melakukan hubungan sex bebas 9,966 lebih tinggi menderitaHIV/AIDS dibandingkan dengan Sampel yang tidak melakukan hubungan sexbebas. Menurut data yang diperoleh dari Depkes RI (2010), cara penularanterbanyak HIV/AIDS melalui hubungan heterosexual (51,3%). Dengan semakinbanyaknya perilaku hubungan sex bebas, tempat pelacuran, serta kemiskinanmoral sangat berpotensi menularkan HIV. Adanya kebiasaan berganti-gantipasangan dan melakukan anal sex menyebabkan rentan tertular HIV (Duarsa,2007). Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari hubungan sexberesiko, setia pada pasangan suami/istri. Tabel.4. Resiko Kejadian HIV/AIDS Pada Sampel Menurut Cara Penularan Di Kota Medan Tahun 2010.No Variabel Kasus Kontrol χ² OR N % N % (Nilai P) (CI 95%) 1 Hubungan Sex Bebas:  Ya 56 48,7 10 8,7 44,963 9,966  Tidak 59 51,3 105 91,3 (0,000) (4,733-20,985) Jumlah 115 100 115 100 2 Pemakaian Jarum Suntik Narkoba:  Ya 62 53,9 6 5,2 65,476 21,252  Tidak 53 46,1 109 94,8 (0,000) (8,641 -52,268) Jumlah 115 100 115 100 3 Transfusi Darah  Ya 2 1,7 7 6,1 2,891 0,273  Tidak 113 98,3 108 93,9 (0,089) (0,055-1,344) Jumlah 115 100 115 100Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1232
  46. 46. ISBN 978-602-98295-0-13.6. Pemakaian Jarum Suntik Narkoba Ada hubungan pemakaian jarum suntik narkoba, dengan HIV/AIDS (P=0,000). Sampel Pemakai Jarum suntik narkoba kemungkinan 21,252 kali lebihtinggi menderita HIV/AIDS dibandingkan dengan sampel yang tidak menggunakanJarum suntik narkoba. Resiko penggunaan jarum suntik tidak steril/pemakaianbersama pengguna narkoba sekitar 0,5 – 1 % dan terdapat 5-10 % dari totalkasus sedunia. Depkes RI (2010) melaporkan cara penularan HIV/AIDS melaluiPengguna Narkoba Suntik/Panasun (39,6%). Di negara - negara Amerika Latin dilaporkan 7.215 kasus AIDS melandakaum muda berusia 20-49 tahun yang sebagian besar adalah kaum homoseksualdan pengguna obat-obat suntik (Wandoyo, 2007). Di beberapa negara sekitar 50% lebih pengguna narkotik dengan jarum suntik hidup dengan HIV/AIDS. Sekitar50-70 % pengguna narkotik suntik (penasun), telah terinfeksi HIV (Tanjung,2004). Remaja memerlukan perhatian, bimbingan dan pembinaan terhadapseluruh aspek kehidupan mereka, baik secara bio, psiko, social, budaya, danSpiritual.3.7. Melalui Transfusi Barah Hasil Analisis Bivariat hubungan transfusi darah dengan HIV/AIDSdiperoleh nilai p > 0,05 atau nilai p = (0,089), artinya tidak ada hubungan yangbermakna antara transfusi darah dengan HIV/AIDS pada sampel. Hal inikemungkinan karena penyediaan produk darah yang diberikan kepada sampeltelah diperiksa oleh Palang Merah Indonesia, dan bebas HIV. Berdasarkan Hasil akhir Uji Multivariat, diperohasil bahwa ada 4 variabelfaktor resiko yang dominan terhadap kejadian HIV/AIDS pada sampel di KotaMedan Yaitu : Pemakaian jarum suntik narkoba, hubungan sex bebas, pendidikan,dan pekerjaan.3.8. Kesimpulan Faktor resiko yang berhubungan secara signifikan (CI:(95%) terhadapkejadia HIV/AIDS pada sampel di Kota Medan Adalah: Pemakai jarum suntikProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1233
  47. 47. ISBN 978-602-98295-0-1narkoba, Hubungan sex bebas, Kelompok umur 15 – 24 tahun, 25-34 tahun, 35-44 tahun, jenis kelamin Laki-laki, sampel yang tidak Tidak bekerja mempunyairesiko lebih tinggi disbanding sampel yang bekerja, resiko pada sampel denganpendidikan yang lebih rendah menjadi HIV/AIDS lebih tingggi dibanding dengansampel berpendidikan tinggi. Faktor resiko yang dominan terhadap penularan HIV/AIDS di KotaMedan adalah: Pemakai jarum suntik narkoba, hubungan sex bebas, Pendidikan,dan Pekerjaan. DAFTAR PUSTAKADepkes RI, Dirjen P2M dan PL:2009 Statistik Umum HIV/AIDS di Indonesia. http//www./LP3Y.org/Content/AIDS/Sti.html.Depkes RI, Dirjen P2M dan PL:2010. Kasus HIV/AIDS di Indonesia sampai September 2010. http//www.Puskom Depkes @mail.com.Duarsa, W . 2007. Infeksi Menular Seksual, Balai Penerbit Fk-Ui.Jakarta.Entjang, Indan., 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat, PT.Citra Adiya Bakti, Bandung.Hastono, S.P., 2001. Modul Analisis Data . Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.Irianto, K. 2000. Gizi Dan Pola Hidup Sehat., Penerbit Yrama W idya. Jakarta.Muninjawa, G. 1999. Aids Di Indonesia Masalah Dan Kebijakan Penanggulangannya. Penerbit Buku Kedokteran Egc. Jakarta.Murti, B. 1997. Prinsip Dan Metode Riset Epidemiologi., Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.Noor,N.N., 1997. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Penerbit Rineka Cipta. JakartaNotoadmodjo, S., 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu Seni., Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.Nursalam, M., 2007. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Terinfeksi Hiv/Aids. Penerbit Salemba Medika. Jakarta.Sudigdo, S. 2002. Dasar-Dasar Metode Penelitian Klinis. Edisi Kedua. Jakarta.Wadoyo, G.2007. Awas Hiv-Aids. Penerbit Dinamika Media. Jakarta.Tanjung, M., 2004. Kenali Kejahatan Narkoba Hiv-Aids. Lembaga Terpadu Pemasyarakatan Anti Narkoba. Jakarta.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1234
  48. 48. ISBN 978-602-98295-0-1REFINERY PRODUCED WASTEWATER TREATMENT BY PVDF COMPOSITE HOLLOW FIBER ULTRAFILTRATION Erna Yuliwatia,ba Advanced Membrane Technology Research Centre Universiti Teknologi Malaysia b Universitas Bina Darma ABSTRACT The aim of this study is to investigate the effect of surface- modified ofPVDF membranes by adding the hydrophilic additives for refinery producedwastewater treatment. This paper presents the results of a research on directclean water treatment using hollow fiber ultrafiltration equipment. The source ofwater is the synthetic refinery wastewater with mixed liquor suspended solids(MLSS) concentration of 3 g/l. All experiments were conducted at 25 oC and usingvacuum pump. The data were collected during a period of 72 h. Themorphological and performance tests were conducted on PVDF ultrafiltrationmembranes prepared from different additives concentrations. The cross- sectionalarea of the hollow fiber membranes was observed using a field emission scanningelectron microscope (FESEM). The surface wettability of porous membranes wasdetermined by measurement of contact angle. Mean pore size and surfaceporosity were calculated based on the permeate flux. The results also indicatedthat the PVDF composite membranes with lower additives concentration loadingpossessed smaller mean pore size, more apertures inside the membranes withenhanced membrane hydrophilicity. The flux and rejection of refinery wastewaterusing PVDF composite membranes achieved were improved and the system isready for field employment. INTRODUCTION Waterborne outbreaks of enteric diseases are a major public health concern,yet monitoring and identifying the disease-causing microorganism from watersamples remain difficult. Produced water is by far the largest contaminated streamresulting from thermal heavy oil recovery operations and its treatment and reuse isessential for the sustainability of oil sands processing [1]. Organic contaminants inproduced waters are toxic and corrosive leading to environmental and operationalproblems. From an environmental sustainability and perspective, it is necessary torecycle produced water and thus it must undergo proper treatment in order toavoid potentially negative impacts on drinking water supplies and aquaticProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1235

×