Your SlideShare is downloading. ×
5. sesi  ekonomi dan kemiskinan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

5. sesi ekonomi dan kemiskinan

15,358
views

Published on


1 Comment
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
15,358
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
240
Comments
1
Likes
2
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. ISBN 978-602-98295-0-1 ANALISIS EKONOMI DAMPAK TAMBANG INKONVENSIONAL (TI) TERHADAP PENDAPATAN NELAYAN DI KABUPATEN BANGKA BARAT (ECONOMIC ANALYSIS OF ILLEGAL MINNING IMPACT TO FISHERMAN INCOME IN KABUPATEN BANGKA BARAT) Endang Bidayani Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi, Universitas Bangka Belitung ABSTRACT Tin production in Kabupaten Bangka Barat (Bangka Belitung Province)generated positive and negative impact to environment. The aim of this research isto analyse impact from illegal minning (TI) activity to fisherman income inKabupaten Bangka Barat. The data was analysed by analysis of impact methode.The results shows that the illegal minning causes decreasing income of fishermanup to 70% in ten years (1998-2008). The policy of fishery sector development is tostop illegal minning in the fishery area.Keyword : illegal minning, income of fisherman, Kabupaten Bangka Barat PENDAHULUAN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) merupakan salah satu daerahpenghasil timah terbesar di Indonesia dengan pasokan hampir mencapai 40% darikebutuhan timah dunia. Selain berdampak positif, aktivitas penambangan timahjuga berdampak negatif, yakni limbah berupa pasir tailing sisa buangan hasilpencucian pasir timah, dan terbentuknya danau yang istilah lokal Bangka Belitungdisebut kolong atau lobang camuy. Sedangkan dampak pengerukan materialtambang di laut, dapat menurunkan kualitas air, merusak ekosistem terumbukarang, menyebabkan degradasi fisik habitat pesisir dan abrasi pantai (Anonimous2009). Salah satu daerah yang cukup parah dirambah TI adalah wilayah perairanKabupaten Bangka Barat, dengan kerusakan terumbu karang mencapai 30%.(Anonymous 2007). Seiring maraknya aktivitas TI di perairan Kabupaten BangkaBarat, maka dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap pendapatan nelayan, dansemakin memperburuk kerusakan lingkungan pesisir/pantai yang terjadi. Untukmengatasi hal ini, perlu strategi pengelolaan yang sifatnya terpadu denganProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 922
  • 2. ISBN 978-602-98295-0-1melibatkan semua stakeholders, sehingga penyusunan strategi pengelolaansumberdaya pesisir di Kabupaten Barat tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan, yaitu : 1)Menganalisis dampak kerusakan lingkungan terhadap sumberdaya ikan; dan 2)Menghitung penurunan pendapatan nelayan. Adapun kegunaan penelitian inidiharapkan dapat memberi masukan bagi Pemerintah Kabupaten Bangka Baratdalam merumuskan kebijakan pengelolaan sumberdaya pesisir di wilayahtersebut. METODOLOGI PENELITIANTempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dimulai pada bulan Juli 2009 sampai dengan Februari 2010 diwilayah pesisir Tanjung Ular Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan BangkaBelitung.Metode Penelitian dan Pengumpulan Data Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptifdengan jenis metode studi kasus. Data yang digunakan dalam penelitian inimeliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung didaerah penelitian melalui wawancara langsung kepada nelaya dan penambangtimah berdasarkan kuesioner. Metode pengambilan sampel/responden yangdigunakan adalah teknik sampling purposive atau sampling pertimbangan denganteknik snow ball. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat (nelayan pemilikyang mewakili sifat-sifat dari keseluruhan nelayan yang menangkap ikan danpengunjung pantai) yang memperoleh dampak langsung dari kegiatanpenambangan timah di laut, dan penambang timah yang memperoleh manfaat(benefit) dari kegiatan penambangan timah di Perairan Tanjung Ular. Jumlahsampel dalam penelitian ini adalah 30 orang nelayan dari populasi nelayansebanyak 117 orang. Sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur dan datastatistik dari DKP Kabupaten Bangka dan DKP Kabupaten Bangka Barat.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 923
  • 3. ISBN 978-602-98295-0-1 Metode Analisis Data Analisis Bio-teknik dan Bioekonomi Sumberdaya Perikanan Dampak TI terhadap pendapatan nelayan diestimasi dengan analisis bio- teknik menggunakan metode surplus produksi dari Schaefer MB (1954) diacu dalam (Sobari, Diniah, Widiastuti 2008). Hasil tangkapan maksimum lestari dilakukan dengan cara menganalisis hubungan antara upaya penangkapan (E) dengan hasil tangkapan per upaya penangkapan (CPUE) menggunakan persamaan : q2K 2 h  qKE  E ………………………………………………….……..…..(1) r Untuk memperoleh nilai parameter bio-teknik r, q dan k dilakukan dengan menggunakan model estimasi Algoritma Fox pendukung dari persamaan Schaefer, sebagai berikut :  z   1 x            z   1   a   E  Et 1   U t    y           z       t   U t 1      b   2  (2)  kq 2 k r q  Analisis bio-ekonomi dilakukan dengan cara menambahkan faktor ekonomi – faktor harga dan biaya - ke dalam aspek bio-teknik melalui model matematis Gordon-Schaefer (Sobari, Diniah, Widiastuti 2008) π = TR – TC    q 2 .k  = p.h – c.E   p. q.k .E       r .E   c.E 2 ………..……………....(3)     Keterangan : TR = penerimaan total (Rp), TC = biaya total (Rp), π = keuntungan (Rp), p = harga rata-rata ikan (Rp), h = hasil tangkapan (kg), c= biaya penangkapan persatuan upaya (Rp), E = upaya penangkapan (trip) Berdasarkan rumusan di atas, maka berbagai kondisi pola pemanfaatan sumberdaya statik ikan di Perairan Tanjung Ular disajikan pada Tabel 1. Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 924
  • 4. ISBN 978-602-98295-0-1Tabel 1. Pola Pemanfaatan Sumberdaya Optimal Statik Ikan di Perairan Tanjung Ular KondisiVariabel MEY MSY Open AccessBiomassa K c  K c 1   (x) 2 p.q.K   2q p.q r.K  c  c  1   1    r.K  r.c  c Catch (h) 4  p.q.K  p.q.K     p.q 1  p.q.K    4    r  c  r r c  1    1   p.q.K   p.q.K Effort (E) 2q   2q q Rente  q.E   r.K   r   c  p.q.K.E 1    c.E p.    c.   2q  p   F ( x) p.x Ekonomi  r   4     (π)Sumber : (Sobari, Diniah, Widiastuti 2008) Pengelolaan sumberdaya ikan dalam konteks dinamik, secara matematisdapat dituliskan dalam bentuk (Sobari dan Diniah 2009):  tmax    (1   ) h t 0 t   t  t ( xt , ht ) ....………………………...............(4)dengan kendala: xt 1  xt  F ( xt )  ht ………………………………….................…(5)Berdasarkan pertumbuhan mengikuti kaidah Golden Rule, pemecahanpengelolaan sumberdaya ikan dengan model dinamik dalam bentuk (Sobari danDiniah 2009):  ch    qx 2    2x     x  ……………....(6)   r 1   rx1    K   c  ...(11) F(x) = h =  K    p  qx  dan  Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 925
  • 5. ISBN 978-602-98295-0-1Dengam demikian nilai biomassa, hasil tangkapan, Effort dan rente ekonomioptimal model dinamik dapat dihitung dengan rumus (Sobari, Diniah, Widiastuti2008): ………………………………………………….(7) h*  x  pqx  c   r 1  2 x     c   K    2  h* …………………….(8)x   * c  1    c   1   8c  …14) E*   Kpq r  Kpq r Kpqr  qx*      Biaya penangkapan dalam kajian bio-ekonomi model Gordon-Schaeferdidasarkan pada asumsi bahwa hanya faktor penangkapan yang diperhitungkan.Biaya penangkapan rata-rata dapat dihitung dengan rumus berikut (Sobari danDiniah 2009): n 1 c 1 C m n h  m CPI t Ce      i , dan  100 n i 1 Et  t 1 hi  h j   CPI e c i 1 n   ........................(9)keterangan:c= biaya nominal rata-rata penangkapan (Rp per tahun ), ci biaya nominalpenangkapan responden ke- i (Rp per tahun), n=jumlah responden nelayan(orang), Ce= biaya riil per upaya pada periode penelitian (Rp per unit), C biayanominal rata-rata penangkapan (Rp per tahun), Et= effort alat tangkap pada waktut (trip), h= produksi ikan pada waktu t (ton), ∑(hi+hj) = total produksi ikan dari alattangkap (ton), n= jumlah responden (orang), m= jumlah tahun, CPIe= indek hargapada periode penelitiaan, CPIt= indek harga pada periode t Harga ikan yang digunakan merupakan harga rata-rata dari responden,dengan rumus sebagai (Sobari dan Diniah 2009): n P i CPI t P i 1 , dan Pt   P  100 n CPI e ..............................................(10)dimana:I = responden ke i , Pt = harga riil ikan pada tahun t (Rp), P = harga nominalikan berlaku (Rp), CPIe = indek harga pada periode penelitiaan CPIt = indekharga pada periode t Discount rate merupakan suatu rate untuk mengukur manfaat masa kinidibandingkan manfaat yang akan datang dari eksploitasi sumberdaya alam.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 926
  • 6. ISBN 978-602-98295-0-1Tingkat discount rate yang digunakan dalam kasus ini adalah discount rate yangmengacu ketetapan World Bank yakni berkisar 8% hingga 18%. Standarisasi upaya penangkapan sebagai berikut (Gulland 1983 diacudalam (Sobari, Diniah, Widiastuti 2008): FPI = CPUEi / CPUEs……………………………….………………..…...(11)dimana:FPI = Fishing Power Index, CPUEi = CPUE alat tangkap yang akandistandarisasi (kg per trip), CPUEs = CPUE alat tangkap standar (kg per trip)Menghitung upaya standar fs = FPI x fi ……………………………………………………..................(12)dimana:fs = upaya penangkapan hasil standarisasi (trip)fi = upaya penangkapan yang akan distandarisasi (trip) Standarisasi biaya yang digunakan dalam penelitian ini mengikuti polastandarisasi yang digunakan Anna (2003) yang mengacu pada Gulland (1983)secara matematis dapat ditulis :  1  Cet = 1 n TCi  n hit  1t CPl t  ................................(13)    t 1  n  i 1  Ei    hi  h j    100     Keterangan : Cet = Biaya per unit standarisasi upaya tangkap pada periode t, TCi = Biaya total untuk alat tangkap i (i= 1,2), Ei = Total standarisasi upaya tangkap untuk alat tangkap i, ∑(hi + hj) = Total produksi ikan, CPlt = Indeks harga konsumen pada periode t, hit = Produksi alat tangkap i pada periode t, n = Jumlah total alat tangkap Analisis depresiasi dan degradasi yang dilakukan mencakup analisis bio-teknik dan bio-ekonomi. Analisis bio-ekonomi menggunakan pendekatan modelAlgoritma Fox.Analisis Kerugian Ekonomi Penghitungan analisis kerugian ekonomi menggunakan data time series,yakni perhitungan total revenue menggunakan data produksi aktual dan harga riil,daan total cost yang menggunakan data effort dan riil cost mulai tahun 1998hingga tahun 2008, untuk mengetahui besarnya rente setiap tahunnya.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 927
  • 7. ISBN 978-602-98295-0-1 HASIL DAN PEMBAHASANAnalisis Dampak Kerusakan Terhadap Sumberdaya Ikan Analisis dampak kerusakan dilakukan melalui pendekatan analisissumberdaya perikanan menggunakan analisis bioekonomi perikanan terhadapproduksi ikan pelagis dan ikan demersal berdasarkan jenis alat tangkapnya, yaknijaring insang dan bagan, serta bubu dan pancing. Secara agregat jumlahtangkapan ikan pelagis mengalami penurunan dari tahun 1998 hingga 2008. Parameter biologi diestimasi dengan menggunakan model Gordon-Schaefer (1957). Pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis dan ikan demersal belumterjadi overfishing secara biologi (biological overfishing). Hasil estimasi parameterbiologi dapat dilihat pada Tabel 2.Tabel 2. Hasil Estimasi Parameter BiologiParameter Ikan Pelagis Ikan DemersalR 0,18 0,61Q 0,000114 0,000218K 67.306,26 20.999,87 Analisis optimasi statik sumberdaya ikan pelagis menunjukkan bahwajumlah effort aktual sebesar 752 unit masih berada di bawah titik optimal, artinyaupaya penangkapan ikan pelagis masih efisien baik secara ekonomi maupunbiologi. Demikian juga dengan hasil tangkapan belum terjadi overfishing. Namunpada kondisi open access dengan effort sebesar 1.519 unit, dihasilkan produksisebesar 541,64 ton mengindikasikan semakin banyak effort maka harvest turunatau pemborosan (inefisiensi ekonomi). Demikian juga dengan sumberdaya ikandemersal menunjukkan bahwa upaya penangkapan ikan demersal masih efisienbaik secara ekonomi maupun biologi. Demikian juga dengan hasil tangkapanaktual sebesar 2.857,60 ton yang masih di bawah optimal pada kondisi MEYsebesar 3.053,93 ton dan MSY sebesar 3.060,52 ton, atau belum terjadioverfishing. Namun pada kondisi open access dengan effort sebesar 2.752 unit,dihasilkan produksi sebesar 127,19 ton mengindikasikan semakin banyak effortmaka harvest turun atau pemborosan (inefisiensi ekonomi).Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 928
  • 8. ISBN 978-602-98295-0-1 Nilai rente sumberdaya ikan pelagis dan ikan demersal pada kondisi openaccess adalah nol. Ini berarti jika sumberdaya ikan dibiarkan terbuka untuk setiaporang, maka persaingan upaya penangkapan pada kondisi ini tidak terkendali,sehingga mengakibatkan nilai keuntungannya menjadi nol. Dalam pengelolaansumberdaya perikanan secara MEY, maka skenario kebijakan yang harusdilakukan adalah : Meningkatkan upaya penangkapan (effort). Berdasarkanperhitungan MEY model Fox, jumlah effort yang diperlukan dalam pengelolaanikan pelagis berjumlah 759 unit. Demikian juga dengan sumberdaya ikandemersal, perlu penambahan effort dari 1.255 unit menjadi 1.376 unit atausebanyak 121 unit. Penambahan effort ini bisa dilakukan melalui kebijakanpemberian kredit bunga ringan dari koperasi atau bantuan dana dari pemerintah. Analisis optimasi dinamik sumberdaya ikan pelagis, menunjukkan bahwanilai rente tertinggi dicapai pada discount rate 8% sebesar Rp 672.751,37 juta.Maka dapat disimpulkan, bahwa kebijakan yang harus dibuat dalam pengelolaanyang optimal dan lestari pada ikan pelagis adalah penambahan jumlah effort, dari752 unit menjadi 1.288 unit untuk menghasilkan produksi (harvest) optimalsebesar 3.465,93 ton. Demikian juga berdasarkan sumberdaya ikan demersal,menunjukkan bahwa nilai rente tertinggi dicapai pada discount rate 8% sebesarRp 1.413.182,92 juta. Maka dapat disimpulkan, bahwa kebijakan yang harusdibuat dalam pengelolaan yang optimal dan lestari pada ikan demersal adalahpenambahan jumlah effort, dari 1.255 unit menjadi 1.679 unit untuk menghasilkanproduksi (harvest) optimal sebesar 3.415,38 ton dari produksi aktual 2.408,34 ton. Analisis laju degradasi sumberdaya ikan pelagis menunjukkan bahwa,belum mengalami degradasi, dengan koefisien tertinggi terjadi tahun 1998 yaitusebesar 0,35 dan koefisien terendah tahun 2001 sebesar 0,09. Laju degradasicenderung mengalami kenaikan. Demikian juga untuk sumberdaya ikan demersaldengan nilai koefisien tertinggi terjadi tahun 2002 yaitu sebesar 0,43 dan terendahpada tahun 2001 dan 2003 sebesar 0,05 dan laju degradasi cenderung fluktuatif. Analisis laju depresiasi sumberdaya ikan pelagis menunjukkan belummengalami depresiasi dengan koefisien tertinggi terjadi pada tahun 1998 yaitusebesar 0,35 dan terendah pada tahun 2001 sebesar 0,08, dengan laju depresiasiyang cenderung mengalami penurunan. Demikian juga sumberdaya ikan demersalbelum mengalami depresiasi dengan koefisien tertinggi terjadi pada tahun 2002Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 929
  • 9. ISBN 978-602-98295-0-1yaitu sebesar 0,44 dan terendah tahun 2001 dan 2003 sebesar 0,04, dengan lajudepresiasi yang cenderung fluktuatif.Analisis Kerugian Ekonomi Nilai rente ikan pelagis secara agregat mengalami penurunan. Rentetertinggi dicapai pada tahun 1998, yakni sebesar Rp. 8,22 Milyar dan renteterendah pada tahun 2003 sebesar Rp. 1,24 Milyar. Rente rata-rata tahun 1998-1999 sebesar Rp. 7,68 Milyar dan menurun pada tahun 2000-2001 menjadi Rp.3,58 milyar. Pada tahun 2002 menjelang pemekaran wilayah, rente naik menjadiRp. 6,63 Milyar dan kembali turun pada kurun waktu 2003-2008 dengan renterata-rata sebesar Rp. 5,86 Milyar. Demikian juga untuk rente ikan demersal yangsecara agregat mengalami penurunan. Rente tertinggi dicapai pada tahun 2002yakni sebesar Rp. 600,92 Milyar dan rente terendah tahun 2003 sebesar Rp.34,45 Milyar. Rente rata-rata tahun 1998-1999 sebesar Rp. 151,09 Milyar,dan menurun pada tahun 2000-2001 menjadi Rp. 105,99 Milyar. Pada kurunwaktu 2003-2008 rente rata-rata menurun menjadi Rp. 46,44 Milyar. Untuk itu,kebijakan pengembangan sektor perikanan yang harus dilakukan adalahkebijakan penghentian kegiatan pertambangan timah di daerah yang berpengaruhbesar terhadap sumberdaya perikanan. KESIMPULAN DAN SARANKesimpulan Berdasarkan analisis data dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkanbahwa : 1) Penambangan timah illegal (TI) apung berdampak negatif bagilingkungan pesisir Tanjung Ular Kabupaten Bangka Barat, menyebabkanterjadinya penurunan kualitas air laut utamanya suhu, salinitas, kecerahan, dankecepatan arus yang kurang optimal bagi pertumbuhan terumbu karang sebagaitempat hidup ikan; dan 2) Kerusakan lingkungan menyebabkan penurunanpendapatan nelayan ikan pelagis sebesar 24%, dan pendapatan nelayan ikandemersal hampir mencapai 70% dalam kurun waktu sepuluh tahun (1998-2008)Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 930
  • 10. ISBN 978-602-98295-0-1Saran Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: Kebijakan penghentiankegiatan pertambangan timah di daerah yang berpengaruh besar terhadapsumberdaya perikanan. DAFTAR PUSTAKAAnonimous. 2007. Kondisi Terumbu Karang di Babel Memprihatinkan. http://www// kompascommunity. com/index.php. 5 September 2007.Anonymous. 2009. Perairan Dikeruk, Nelayan Terimpit. Kompas. Sabtu 7 Maret 2009Anna Suzy. 2003. Model Embeded Dinamik Ekonomi Interaksi Perikanan- pencemaran. Disertasi. Bogor. Sekolah Pascasarjana. IPBFisher S. at al. 2000. Working with Conflict : Skills et Strategies for Action. Bookcraft Midsomer Norton, Bath. UK.Lipton DW et al. 1995. Economic Valuation of Natural Resources: A Handbook for Coastal Resources Policymakers. Decision Analysis Series No.5. Coastal Ocean Office. National Oceanic and Atmospheric Administration. U.S. Department of Commerce.Sobari Moch Prihatna, Diniah dan Widiastuti. 2008. Kajian Model Bionomi Terhadap Pengelolaan Sumberdaya Ikan Layur di Perairan Pelabuhan Ratu: Makalah Seminar Nasional Perikanan Tangkap. Bogor. Institut Pertanian Bogor.Sobari Moch Prihatna dan Diniah. 2009. Kajian Bio-Ekonomi dan Investasi Optimal Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Ekor Kuning di Perairan Kepulauan Seribu. Padang. Jurnal Mangrove Bung Hatta (Siap Terbit)Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 931
  • 11. ISBN 978-602-98295-0-1 PERTAHANKAN PENDAPATAN PEKEBUN KARET DENGAN MENGENDALIKAN PENYAKIT KERING ALUR SADAP Tri R Febbiyanti dan Lina Fatayati Syarifa Balai Penelitian Sembawa Pusat Penelitian Karet ABSTRAKDampak fisiologis yang muncul akibat penyadapan terlalu berat pada tanamankaret adalah munculnya penyakit kering alur sadap (KAS). KAS adalah sebagaiakibat tidak seimbangnya antara lateks yang dipanen dengan lateks yangterbentuk kembali. Kelainan fisiologis yang ditampakkan tanaman karet yangbergejala KAS ditandai dengan jumlah lateks yang mengalir setelah penyadapansangat sedikit atau tidak dihasilkan lateks sama sekali, tetapi pohon dan bidangsadap tampak sehat, yang seolah tanpa gangguan.kerugian yang diakibatkan oleh penyakit KAS adalah sebesar Rp 287.300,- perpohon atau sekitar Rp 11.492.000,- per hanca untuk tanaman karet yang disadapdengan sistem 1/2S d2. Sedangkan untuk tanaman karet yang disadap dengansistem 1/2S d/3 kerugian yang disebabkan penyakit KAS adalah sebesar Rp364.650,- per pohon atau Rp 14.585.000,- per hanca. Namun apabila tanamanKAS tersebut diobati pada sistem sadap 1/2S d/2, besarnya kerugian yang bisadiselamatkan adalah senilai Rp 267.746,-per pohon maka kerugian yang bisadiselamatkan adalah sebesar Rp 9.103.350,- per hanca (menggunakan pisausadap manual) dan Rp 272.076,- per pohon dan Rp 9.250.573,- per hanca(menggunakan pisau scrapping). Sedangkan pada sistem sadap sadap 1/2S d/3,besarnya kerugian yang bisa diselamatkan apabila KAS diobati adalah sebesarRp 345.096,- per pohon atau sebesar Rp 11.733.250,- per hanca (bilamenggunakan pisau sadap manual) dan Rp 349.426,- per pohon atau Rp11.880.473,- per hanca (bila menggunakan pisau scrapping) .Pengendalian KAS dapat melalui deteksi dengan menggunakan jarum tusuk,kemudian kulit yang terserang KAS dikerok sampai batas 3-4 mm dari kambiumdengan memakai pisau sadap atau alat pengerok. Kulit yang dikerok langsungdioles dengan menggunakan campuran senyawa oleokimia dan pohon diberikanpupuk ektra untuk mempercepat pemulihan. Penyadapan dapat dilaksanakankembali setelah tumbuh kulit pulihan selama 1-1,5 tahun, dengan ketebalan minimal7 mm.Kata Kunci : Kering alur sadap, karet, analisa ekonomi PENDAHULUAN Karet merupakan komoditas ekspor yang sangat strategis bagiperekonomian Indonesia. Luas perkebunan karet Indonesia pada tahun 2007sekitar 3,4 juta hektar, 85% diantaranya dikelolah oleh rakyat dengan produksi2,76 juta ton. Dari produksi tersebut menghasilkan devisa bagi Indonesia sebesarProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 932
  • 12. ISBN 978-602-98295-0-1US$ 4.868 juta dengan volume ekspor mencapai 2,4 juta ton (Amypalupy, 2009).Karet juga berperan penting dalam perekonomian nasional, yaitu sebagai sumberpendapatan lebih dari 10 juta petani dan memberikan kontribusi yang sangatberarti dalam menyerap tenaga kerja (GAPKINDO, 2005). Selain itu, perkebunan karet berperan dalam mendorong pertumbuhansentra-sentra ekonomi baru di wilayah-wilayah pengembangan, dan berfungsisebagai pelestari lingkungan. Andalan perkebunan karet di Indonesia bertumpupada perkebunan rakyat, yang mencakup areal sekitar 83% (> 3 juta ha) dari totalareal perkebunan karet Indonesia (3,5 juta ha), dan memberikan kontribusi sekitar76% (2,2 juta ton) dari total produksi karet alam nasional (2,8 juta ton) pada tahun2008 (Tabel 1).Tabel 1. Luas areal dan produksi perkebunan karet seluruh Indonesia Tahun dan jenis Luas areal (Ha) Produksi (Ton) Rerata produksi pengusahaan (Kg/Ha)Rakyat/smallholders 3.000.461 2.241.803 929Negara/goverment 239.543 285.871 1.384Swasta/Private 276.791 310.982 1.635Sumber : Statistik Perkebunan Indonesia (2007) Pada saat ini, permintaan karet dunia terus meningkat, pada tahun 1999,konsumsi karet alam di pasar dunia 6.650 juta ton, meningkat sampai 8.620 jutaton pada 2005 (International Rubbeer Study Group, 2006). Sementara itu hargakaret fob SIR 20 juga meningkat dari US $ 510 per ton pada tahun 2001 menjadiUS $ 2.340 per ton pada Juni 2006 (Bisnis Indonesia, 2006-2006; InternationalRubber Study Group, 2006; Gapkindo, 2006). Peningkatan konsumsi terutamadisebabkan oleh adanya permintaan dalam jumlah besar dari negara-negaraindustri karet di pasar tradisional (Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang) danmeningkatnya permintaan di pasar baru (China, India, Rusia dan Brasilia), tarikanpeningkatan pertumbuhan ekonomi global dan kesejahteraan negara-negara didunia, dan peningkatan harga minyak bumi dan karet sintetis. Cina misalnya,diperkirakan masih akan terus meningkatkan konsumsi karet alamnya menjadisebesar 4 juta ton per tahun pada tahun 2020 (Pakpahan, 2004; Sinung, 2007 ). Prospek karet alam yang diperkirakan masih akan sangat terbuka inimengakibatkan harga karet meningkat secara drastis. Peningkatan inimemberikan keuntungan yang berlipat bagi para pekebun dan petani karet.Keuntungan karet ini meningkatkan taraf hidup dan keinginan yang berlebih dariProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 933
  • 13. ISBN 978-602-98295-0-1petani. Selanjutnya, untuk memenuhi setiap keinginan tersebut, para petanimengeksploitasi tanaman karet dengan melakukan penyadapan tidak sesuaidengan norma yang ditentukan, tanpa memperhatikan kesehatan dankemampuan tanaman. Penyadapan merupakan suatu tindakan membuka pembuluh lateks,supaya lateks yang terdapat di dalam tanaman karet keluar. Cara penyadapanadalah dengan mengiris kulit batang sebesar 2mm dengan kedalam 1 mm darikambium. Penyadapan yang terlalu berat mengakibatkan tanaman tidak mampuuntuk meregenerasi/mensintesis lateks. Selain itu, pemakaian kulit yangberlebihan mengakibatkan pemulihan kulit bidang sadap tidak normal, yangberdampak pada produksi dan fisiologis tanaman. Dampak fisiologis yang muncul akibat penyadapan terlalu berat adalahmunculnya penyakit kering alur sadap (KAS). KAS adalah sebagai akibat tidakseimbangnya antara lateks yang dipanen dengan lateks yang terbentuk kembali(Jacob et al., 1994; Dian et al., 1995). Kelainan fisiologis yang ditampakkantanaman karet yang bergejala KAS ditandai dengan jumlah lateks yang mengalirsetelah penyadapan sangat sedikit atau tidak dihasilkan lateks sama sekali, tetapipohon dan bidang sadap tampak sehat, seolah tanpa gangguan. Bagian kulityang kering akan berubah warnanya menjadi cokelat karena pada bagian initerbentuk gum (blendok) (Semangun, 2004) Kasus KAS di perkebunan Indonesia mencapai 5 – 25 %, kerugian yangdisebabkan oleh penyakit ini lebih dari 1,7 trilyun pertahun (Siswanto, 1997). KASmenjadi salah satu penyakit yang sangat penting di perkebunan karet Indonesia. Banyak cara dapat dilakukan untuk mengendalikan dan mencegahmunculnya penyakit KAS. Pengendalian akan sangat efektif dan tepat sasaran jikateknik pengendalian dilakukan secara terpadu baik preventif maupun kuratif.Tulisan ini memberikan informasi mengenai kerugian ekonomi, teknik pengamatanpenyakit kering alur sadap di lapangan serta cara pengendaliannya. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN KAS DI PERKEBUNAN RAKYAT KAS adalah penyakit fisiologis akibat penyadapan yang terlalu berat,apalagi jika disertai dengan penggunaan bahan perangsang lateks ethephon, klonProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 934
  • 14. ISBN 978-602-98295-0-1yang berproduksi tinggi, tanaman yang berasal dari seedling dan tanaman yangsedang membentuk daun baru (Situmorang dan Budiman, 1984). Penggunaan sistem eksploitasi yang berlebihan merupakan faktor utamapenyebab tingginya kejadian penyakit KAS. Eksploitasi berat ini terutamadisebabkan oleh kondisi sosial-ekonomi-budaya petani dalam pemenuhankebutuhan hidup. Kurangnya pengetahuan petani tentang budidaya tanaman karet danpengetahuan mengenai penyakit KAS, merupakan faktor yang menyebabkanpetani tidak memperhatikan kesehatan tanaman. Selanjutnya, kurangnyakesadaran petani terhadap pentingnya pengendalian penyakit juga merupakanpenyebab tingginya kejadian penyakit KAS di lapangan. Selain itu, terbatasnyapendapatan petani untuk melaksanakan pengendalian penyakit, jugamempengaruhi tingginya kerugian ekonomi akibat penyakit KAS. Tabel 2. Faktor sosial-ekonomi-budaya yang mempengaruhi perkembangan kekeringan alur sadap TingkatNo kerawanan Tingkat Kondisi sosial-ekonomi- Dampak penyakit kemajuan budaya kondisi sosial- petani ekonomi- budaya1 Rawan Kurang maju 1. Sarana/penyuluh tidak Penyadapan tersedia intensitas tinggi PTP/Swasta/PPKR, Akibatnya 2. Pengetahuan kurang, Intensitas 3. Kesadaran kurang penyakit tinggi 4. Pendapatan rendah2 Sedang Agak maju 1. Sarana/penyuluh kadang Penyadapan tersedia intensitas tinggi 2. Pengetahuan sedang mulai dikurangi 3. Kesadaran mulai ada Akibatnya 4. Pendapatan cukup Intensitas penyakit mulai berkurang3 Ringan Maju 1. Sarana/penyuluh tersedia Penyadapan 2. Pengetahuan tinggi, sesuai dengan 3. Kesadaran cukup anjuran 4. Pendapatan cukup-tinggi Akibatnya Intensitas penyakit rendahProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 935
  • 15. ISBN 978-602-98295-0-1Pada kondisi seperti tersebut, peran kelembagaan yang terkait sangat diperlukanuntuk memberikan pengetahuan dan wawasan akan pentingnya penjagaankesehatan tanaman dan pelaksanaan sistem budidaya yang sesuai anjuran,karena intensitas searangan KAS akan meningkat bersama-sama denganmeningkatnya intensitas sadapan dan pemakaian stimulan yang tidak terkendali. PENGENDALIAN PENYAKIT KAS Sebaiknya KAS ditanggulangi secara terpadu baik secara preventifmaupun kuratif. Tindakan tersebut dapat meliputi mengetahui sifat klon, sistemeksploitasi yang tepat, pemeliharaan tanaman dan pengobatan tanaman yangsakit. Mengetahui sifat klon sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya KAS.Ada klon yang rentan terhadap KAS yaitu BPM 1, PB 235, PB 260, PB 330, PR261 dan RRIC 100 dan ada klon yang tahan yaitu PB 237, PR 107 dan GT 1.Terhadap klon yang rentan KAS tersebut dihindari sistem penyadapan berlebihan(Situmorang dan Budiman, 2003). Salah satu upaya yang sangat penting mencegah terjadinya KAS adalahmelakukan sistem eksploitasi yang tepat. Untuk klon berproduksi tinggi sebaiknyadigunakan sistem eksploitasi rendah misalnya ½ S d/3, ½ S d/2 atau ½ S d 3 ET1.5 % Ga 1.0.9/y(m) sedang untuk klon berproduksi sedang digunakan sistemekploitasi tinggi misalnya ½ S d/3 ET 2.5% Ga 1.0.18/y/(2w) (Sumarmadji et al.,2004). Pemakaian kulit diusahakan sehemat mungkin, penyadapan yangmemakai kulit secara berlebihan tidak akan menaikkan produksi, bahkanmemperkecil produksi secara kumulatif. Untuk masing-masing sistem sadapternayata ada jumlah konsumsi kulit yang optimal bagi produksi karet. Normabaku pemakaian kulit secara umum bervariasi sesuai dengan frekuensi sadapan(Tabel 2). Di perkebunan karet rakyat dianjurkan ½ S d/2 tanpa penggunaan ethrel.Penggunaan ethrel tidak dianjurkannya pada petani karet karena dikhawatirkanpenggunaannya dilakukan tidak sesuai atau berlebihan yang akan berakibattingginya kejadian KAS.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 936
  • 16. ISBN 978-602-98295-0-1 Tabel 4. Pemakaian kullit yang terbaik sesuai dengan frekunsi sadap (sadap bawah) Frekunsi sadap Pemakaian kulit Per sadap (mm) Per bulan (cm) Per tahun (cm) d/2 1,2 1,8 22 d/3 1,6 1,6 19 d/4 1,8 1,3 15 Sumber : Siagian et al. 2009 Bila terjadi penurunan kadar karet kering yang terus menerus pada lateks yangdipungut serta peningkatan jumlah pohon yang terkena kering alur sadap sampai10% pada seluruh areal, maka penyadapan diturunkan intensitasnya dari 1/2S d/2menjadi 1/2S d/3 atau 1/2S d/4, dan penggunaan ethrel dikurangi atau dihentikanuntuk mencegah agar pohon-pohon lainnya tidak mengalami kering alur sadap(Situmorang dan Budiman, 2003). Pemeliharaan tanaman yaitu penyiangan gulma, pemupukan danpengendalian penyakit sesuai anjuran perlu dilakukan untuk mempertahankankondisi kesuburan tanaman. Pemeliharaan tanaman ini merupakan pendekatanpengendalian KAS secara preventif. Pengobatan tanaman dapat dilakukan dengan pengerokan (bark scraping)pada pohon yang terserang KAS. Setelah pohon diindikasikan terkena KASmelalui deteksi dini, penyebaran KAS ditentukan pada panel denganmenggunakan jarum tusuk. Kulit yang terkena KAS diisolasi dengan mengerokkeliling sampai batas kambium. Kemudian panel yang kering dikerok. Pengerokankulit yang kering dilakukan sampai batas 3-4 mm dari kambium dengan memakaipisau sadap atau alat pengerok. Kulit yang dikerok dioles dengan bahan perangsangpertumbuhan kulit formulasi oleokimia sekali satu bulan dengan 3 ulangan. Balaipenelitian Sembawa telah menemukan formula untuk menyembukan penyakit keringalur sadap yaitu Antico F 96. Formula ini mengandung Phytolipid Refinery Oil danfungisida terpilih 1,0 5 v/v dan Plant Growth Regulator 250 ppm. Antico F 96 ini jugadapat mempercepat penyembuhan luka-luka kambium akibat kesalahanpenyadapan.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 937
  • 17. ISBN 978-602-98295-0-1 Pengobatan dengan cara ini pada pohon yang terserang KAS cukup efektif,sehingga setelah satu tahun, pohon sudah dapat disadap dengan ketebalan kulit7,0 – 7,8 mm dan produksi lateks 24 – 44 g/pohon/sadap (Siswanto et al. 2004). ANALISIS EKONOMIS KERUGIAN DAN PENYEMBUHAN KAS PADA TANAMAN KARET Pada tulisan ini, dihitung kerugian yang diakibatkan oleh KAS dan biayapengobatannya pada klon karet PB 260 yang disadap dengan sistem sadap 1/2Sd/2 dan 1/2S d/3. Asumsi berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang manaproduksi lateks yang dihasilkan dengan sistem sadap 1/2S d/2 adalah 26 g/p/sdan dengan sistem sadap 1/2S d/3+ ET2,5% adalah 33 g/p/s (Sumarmadji, 2000dalam Sumarmadji, et al., 2005). Apabila diasumsikan bahwa konsumsi kulit sebesar  2 mm per kali sadap,maka setiap sentimeter kulit pohon dapat menghasilkan: 5 x 26 g = 130 g karetyang disadap dengan sistem 1/2S d/2 atau senilai (0,130 kg x Rp 35.000) = Rp4.550,- dan akan menghasilkan : 5 x 33 g = 165 g karet yang disadap dengansistem 1/2S d/3 atau senilai ( 0,165 kg x Rp 35.000,-) = Rp 5.775,-. Rincianperhitungan kerugian dan penyembuhan KAS pada tanaman karet dapat dilihatpada Tabel 5. Dari Tabel 5. terlihat bahwa kerugian yang diakibatkan oleh penyakit KASadalah sebesar Rp 591.500,- per pohon atau sekitar Rp 23.660.000,- per hancauntuk tanaman karet yang disadap dengan sistem 1/2S d2. Sedangkan untuktanaman karet yang disadap dengan sistem 1/2S d/3 kerugian yang disebabkanpenyakit KAS adalah sebesar Rp 750.750,- per pohon atau Rp 30.030.000,- perhanca. Apabila tanaman yang terserang KAS tersebut diobati maka diperlukan biayasebesar Rp 19.554,- per pohon atau Rp 782.177,- per hanca (bila digunakan pisausadap manual). Sedangkan bila pengobatannya menggunakan pisau scrappinghanya diperlukan biaya sebesar Rp 15.224,- per pohon atau Rp 608.973,-.perhanca.Tabel 5. Kerugian akibat penyakit KAS pada tanaman karet dan biaya penyembuhannyaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 938
  • 18. ISBN 978-602-98295-0-1Uraian Per pohon Per hanca 1/2S d/2 1/2S d/3 1/2S d/2 1/2S d/3KERUGIAN AKIBAT KASA. Produksi 1. Per kali sadap - Produksi (gram) 26 33 1,040 1,320 - Produksi (Kg) 0.026 0.033 1.040 1.320 2. Per panel - Produksi (Kg) 17 21 676 858B. Harga karet (Rp) 35,000C. Kerugian 1. Per kali sadap - Rp/Kg 910 1,155 36,400 46,200 2. Per panel - Rp/Kg 591,500 750,750 23,660,000 30,030,000BIAYA PENYEMBUHANPisau Sadap ManualA. Tenaga Kerja 1. Bark scrapping (Rp) 6,186 6,186 247,433 247,433 2. Pengolesan (Rp) 619 619 24,743 24,743B. Bahan Antico-F96 (Rp) 12,750 12,750 510,000 510,000Total Biaya (Rp) 19,554 782,177 782,177Pisau scrappingA. Tenaga Kerja 1. Bark scrapping (Rp) 1,856 1,856 74,230 74,230 2. Pengolesan (Rp) 619 619 24,743 24,743B. Bahan Antico-F96 (Rp) 12,750 12,750 510,000 510,000Total Biaya (Rp) 15,224 15,224 608,973 608,973KERUGIAN YANGDISELAMATKANDengan Pisau Sadap (Rp) 571,946 731,196 19,446,150 24,860,650Dengan Pisau Scrapping (Rp) 576,276 735,526 19,593,373 25,007,873Asumsi :1 hanca : 400 pohonTingkat serangan KAS = 10 %1 panel : 130 cm (konsumsi kulit  2 mm /kali sadap) = 650 kali sadapHarga karet : Rp 35.000,-/Kg (harga karet kering di tingkat pabrik per November2010)Tenaga kerja bark scrapping apabila menggunakan :- pisau sadap secara manual : 1 HOK = 6 pohon- pisau scrapping : 1 HOK = 20 pohonTenaga kerja aplikasi bahan : 1 HOK = 60 pohonUpah tenaga kerja adalah Rp 37.115,- per HOK (UMR tahun 2010)Harga bahan Antico-F 96 adalah Rp 85.000,- per liter (dosis pengobatan = 150 mlper 3 kali aplikasi)Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 939
  • 19. ISBN 978-602-98295-0-1 Namun dengan pengobatan menggunakan Antico F-96 tersebut pada sistemsadap 1/2S d/2, besarnya kerugian yang bisa diselamatkan adalah senilai Rp571.946,-per pohon atau bila diasumsikan dalam tingkat kesembuhan KAS dalamsatu hamparan sebesar 85% maka kerugian yang bisa diselamatkan adalahsebesar Rp 19.446.150,- per hanca (menggunakan pisau sadap manual) dan Rp576.276,- per pohon dan Rp 19.593.373,- per hanca (menggunakan pisauscrapping). Sedangkan pada sistem sadap sadap 1/2S d/3, besarnya kerugianyang bisa diselamatkan dengan menggunakan Antico F96 adalah sebesar Rp731.196,- per pohon atau bila diasumsikan dalam tingkat kesembuhan KAS dalamsatu hamparan sebesar 85% maka kerugian yang bisa diselamatkan adalahsebesar Rp 24.860.650,- per hanca (bila menggunakan pisau sadap manual) danRp 735.526,- per pohon atau Rp 25.007.873,- per hanca (bila menggunakan pisauscrapping) . Dengan menggunakan pisau sadap untuk bark scrappingnya, maka biayadari pengobatan KAS per pohon tersebut sudah dapat dikembalikan dengan caramenyadap pindah panel ke panel sadap yang masih normal (tanpapengistirahatan pohon) dimulai 3 bulan setelah aplikasi Antico-F96 ke-1, yaitusepanjang  4,3 cm (Rp 19.554/Rp 4.550,- x 1 cm) atau penyadapan selama  1,5bulan penyadapan (pada sistem sadap 1/2S d/2) dan sepanjang  3,4 cm (Rp19.554/Rp 5.775,- x 1 cm) atau penyadapan selama  1,7 bulan penyadapan(pada sistem sadap1/2S d/3). Dengan demikian jika panjang panel KAS yangdiobati sekitar 130 cm per pohon, maka sekitar 125 cm panjang panel per pohon(pada 1/2S d/2) dan 126 cm panjang panel per pohon (pada 1/2S d/3) merupakankeuntungan yang bisa diselamatkan dibandingkan jika pohon tidak diobati. Apabila menggunakan pisau sadap scrapping untuk bark scrappingnya,maka biaya dari pengobatan KAS per pohon tersebut sudah dapat dikembalikandengan cara menyadap pindah panel ke panel sadap yang masih normal (tanpapengistirahatan pohon) dimulai 3 bulan setelah aplikasi Antico-F96 ke-1, yaitusepanjang  3,3 cm (Rp 15.224,-/Rp 4.550,- x 1 cm) atau penyadapan selama  1bulan penyadapan (pada sistem sadap 1/2S d/2) dan sepanjang  2,6 cm (Rp15.224,-/Rp 5.775,- x 1 cm) atau penyadapan selama  1,3 bulan penyadapan(pada sistem sadap1/2S d/3).Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 940
  • 20. ISBN 978-602-98295-0-1 Hal ini berarti jika panjang panel KAS yang diobati sekitar 130 cm per pohon,maka sekitar 126 cm panjang panel per pohon (pada 1/2S d/2) dan 127 cmpanjang panel per pohon (pada 1/2S d/3) merupakan keuntungan yang bisadiselamatkan dibandingkan jika pohon tidak diobati. PENUTUP  Penyakit kering alur sadap (KAS) merupakan penyakit penting di perkebunan karet Indonesia.  Pengobatan tanaman KAS dapat dilakukan dengan pengerokan (bark scraping) sedalam 3-4 mm kambium dan segera dilakukan pengolesan dengan menggunakan Antico F96.  kerugian yang diakibatkan oleh penyakit KAS adalah sebesar Rp 287.300,- per pohon atau sekitar Rp 11.492.000,- per hanca untuk tanaman karet yang disadap dengan sistem 1/2S d2.  Pada tanaman karet yang disadap dengan sistem 1/2S d/3 kerugian yang disebabkan penyakit KAS adalah sebesar Rp 364.650,- per pohon atau Rp 14.585.000,- per hanca.  Apabila tanaman KAS tersebut diobati pada sistem sadap 1/2S d/2, besarnya kerugian yang bisa diselamatkan adalah senilai Rp 267.746,-per pohon maka kerugian yang bisa diselamatkan adalah sebesar Rp 9.103.350,- per hanca (menggunakan pisau sadap manual) dan Rp 272.076,- per pohon dan Rp 9.250.573,- per hanca (menggunakan pisau scrapping).  Pada sistem sadap sadap 1/2S d/3, besarnya kerugian yang bisa diselamatkan apabila KAS diobati adalah sebesar Rp 345.096,- per pohon atau sebesar Rp 11.733.250,- per hanca (bila menggunakan pisau sadap manual) dan Rp 349.426,- per pohon atau Rp 11.880.473,- per hanca (bila menggunakan pisau scrapping) . DAFTAR PUSTAKAAmypalupy, 2007. 100 Langka Bijak Usahatani Karet. Balai Penelitian Sembawa-Pusat Penelitian Karet. Palembang.Basuki. 1982. Penyakit dan gangguan pada tanaman karet. Pusat Penelitain dan Pengembangan Perkebunan Tanjung Morawa, Tanjung Morawa. 125 hal.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 941
  • 21. ISBN 978-602-98295-0-1Budiman, A. 2001. Penanggulangan gejala mati kulit pada tanaman karet di perkebunan rakyat Kalimantan Selatan. Balai Penelitian Sembawa. Palembang.Dian, K., Sangare A., Diopoh J.K., 1995. Evidence for specific variations of protein pattern during tapping panel dryness condition development in Hevea brasiliensis. Plant Science, 105 : 207 - 216.Gomez J.B., Hamzah S., Ghandimathi H., & Ho L.H., 1990. The brown bast syndrome of Hevea : Part II. Histological observations. J. Nat. Rubb. Res., 5 (2) : 90 - 101.Jacob, J.L., J.C. Prevot & R. Lacrotte (1994). Lencoche seche chez Hevea brasilienis Plantations, recherche, developpement, CIRAD FRANCE, 15 - 21..Husairis, K., Sitompul, J., Ginting K., Gunawan, Sipayung, T.V dan Siswanto. 1999. dampak pemulihan bidang sadap terserang KAS dengan aplikasi NoBB di PT. Perkebunan Nusantara III. Pros. Pertemuan. Teknis Biotek. Perkebunan untuk praktek, Bogor 5-6 Mei 1999, 19 – 30.PT. Perkebunan Nusantara VII. 1994. Vademecum budidaya kelapa sawit dan karet. PTPN VII. Bandar LampungRevli, N.R. 2004. Pertambahan tebal kulit pulihan dan produksi beberapa klon karet (Hevea brasiliensis Muell.Agr) anjuran yang bergejala kering alur sadap setelah perlakuan formulasi oleokimia. Fakultas pertanian. Universitas Sriwijaya. Indralaya.Siswanto. Sumarmadji dan Aron Situmorang. 2004. Status pengendalian penyakit kering alur sadap tanaman karet. Prosiding Pertemuan Teknis ‖Strategi Pengelolaan Penyakit Tanaman Karet untuk Mempertahankan Potensi Produksi Mendukung Indistri Perkaretan Indonesia Tahun 2020. Palembang, 6-7 Oktober 2004.87-96Situmorang A dan Budiman A. 2003. Penyakit tanaman karet dan pengendaliannya. Balit Sembawa Pusat Penelitian Karet.Soepadmo. 1980. Suatu pemikiran tentang pengendalian penyakit daun pada tanaman karet. BPP Bogor. Menara Perkebunan. Bogor. 48 (5): 147-154Sumarmadji. 2001. Pengendalian kering alur sadap dan nekrosis pada kulit tanaman karet. Warta Pusat Penelitian Karet, 2001, 20 (1-3) : 76 - 88Sumarmadji, U. Junaidi, Karyudi, T.H.S. Siregar, and Island Boerhendhy. 2004. Rubber exploiation system for Indonesia recommended clones based latex diagnosis. Proc. Int. Rubber Conf. and Product Exhibition 2004, 184-196.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 942
  • 22. ISBN 978-602-98295-0-1 PENDAPATAN USAHATANI DAN KEMAKMURAN: TERKAITKAH SECARA FUNGSIONAL? Muhammad Yazid Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Zone E, Kampus Unsri Indralaya, Jalan Palembang-Prabumulih, Indralaya ABSTRAKWalaupun kenaikan produksi pertanian terus berlanjut, pendapatan petani masihtergolong rendah. Hal ini diduga terkait dengan rendahnya pertumbuhan sektorpertanian dibandingkan sektor non-pertanian. Sehingga kemakmuran rumahtangga petani masih tertinggal dibandingkan rumah tangga non-pertanian.Kemakmuran rumah tangga petani diharapkan meningkat sejalan denganpeningkatan produksi. Pada pertanian pasang surut, keterkaitan antarakemakmuran dan produksi pertanian penting dipahami mengingat pertanianadalah satu-satunya pencaharian bagi sebagian besar rumah tangga di wilayahini. Penelitian ini mencoba menjelaskan keterkaitan peningkatan pendapatanusahatani dengan kemakmuran keluarga petani di pertanian pasang surut. Kajianini dilakukan melalui survei pada wilayah pertanian pasang surut Telang yangmerupakan salah satu sentra produksi beras di Sumatera Selatan. Sampel kajianmeliputi 500 keluarga tani. Hasil kajian menunjukkan bahwa beberapa indikatorkemakmuran petani seperti kualitas rumah (lantai, dinding dan atap) terkaitdengan tingkat pendapatan usahatani. Selain itu, rumah tangga petani yangberpendapatan usahatani lebih tinggi cenderung memiliki akses yang lebih baikterhadap sumber air bersih dan memiliki fasilitas pembuangan. Pengujian satistikmembuktikan bahwa pendapatan usahatani dan kemakmuran rumah tanggapetani di lahan pasang surut terkait secara signifikan.Kata kunci: pendapatan usahatani, kemakmuran, pasang surut PENDAHULUAN Pembangunan pertanian bertujuan untuk meningkatkan kemakmuranekonomi dan sosial petani. Di satu sisi, peningkatan kemakmuran tersebuthendak dicapai melalui peningkatan produksi dan perbaikan nilai tukar produkpertanian. Disisi lain, peningkatan tersebut akan membuka akses yang lebih baikterhadap perumahan, pendidikan, layanan kesehatan, dan lain-lain. Namun statusekonomi petani masih jauh di bawah mata pencaharian lainnya. Tidak hanyapendapatan perkapita petani yang rendah, tetapi pertumbuhan pendapatan sektorpertanian juga relatif rendah daripada sektor lainnya.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 943
  • 23. ISBN 978-602-98295-0-1 Usahatani di lahan pasang surut dipandang kurang produktif dibandingkandengan usahatani di lahan beririgasi baik di dataran rendah ataupun di datarantinggi (Simatupang and Rusastra, 2003). Hal ini disebabkan tidak hanya olehfaktor fisik lahan, tetapi juga aspek agro-klimat yang mengakibatkan usahatani dilahan pasang surut menghadapi lebih banyak kendala daripada lahan beririgasi didataran rendah atau tinggi. Mayoritas lahan pertanian di wilayah pasang suruthanya dapat ditanami tanaman pangan semusim sekali dalam setahun, yaitu padamusim penghujan. Pada musim penghujan, kebutuhan air tanaman dapatdipenuhi oleh air hujan. Pada beberapa lokasi di pasang surut, musim tanamkedua dapat dilakukan segera setelah panen musim pertama denganmemanfaatkan curah hujan yang mulai menurun dan dicukupi oleh sistem irigasipasang surut. Namun, pola tanam di lahan pasang surut tetap terbatas danproduktivitasnya pun masih lebih rendah dibandingkan dengan lahan irigasi. Memahami kendala-kendala di atas, patut dipertanyakan bagaimanakahpendapatan usahatani di lahan pasang surut dapat mendukung upaya petaniuntuk mensejahteraan petani dan keluarganya. Karena itu kajian ini mencobamenafsirkan kondisi pendapatan usahatani petani dengan beberapa indikatorkesejahteraan ekonomi keluarga petani yang teramati saat ini. PENGEMBANGAN PERTANIAN DI LAHAN PASANG SURUT Indonesia memiliki lahan rawa (lowlands) yang luasnya diperkirakan 33,4juta ha. Lahan rawa yang luas dijumpai di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,dan Papua. Dari 33,4 juta ha tersebut, sekitar 60 persen (20,1 juta ha) merupakanlahan pasang surut (Direktorat Rawa dan Pantai, 2007). Sifat alamiah lahan rawa,di antaranya kondisi tanah yang fragile, water-logging, tergenang periodik hinggapermanen, dan nilainya terhadap lingkungan, menyebabkan lahan rawa tidakdirekomendasikan untuk pembangunan. Namun, karena pengaruh pasang surutair yang melimpahkan hara, lahan rawa dinilai sebagai salah satu sumberdayalahan yang terbaik untuk pertanian (Ali, Suryadi, Schultz, 2002). Pengembanganpertanian ke lahan rawa menjadi pilihan karena konversi lahan beririgasi untukkebutuhan non-pertanian. Sehingga, pengembangan lahan pasang surut untukaktivitas pertanian sebagai pilihan untuk mengatasi tekanan konversi lahan diProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 944
  • 24. ISBN 978-602-98295-0-1Jawa dan Bali sekaligus mencapai tingkat produksi beras yang cukup haruslahdirencanakan dan dikelola dengan tepat dengan memperhatikan semua alternatif.Ini bermakna bahwa pengembangan lahan pasang surut untuk pertanian haruslahmemperhatikan keseimbangan antara kebutuhan masyarakat, dampaknyaterhadap lingkungan dan terakomodasinya pembangunan berkelanjutan (Schultz,2007). Kata kunci untuk mencapainya adalah pengelolaan air yang tepat(agricultural water management). Pengembangan lahan pasang surut untuk pertanian dilaksanakan melaluiproses reklamasi. Reklamasi lahan pasang surut di Indonesia telah mencapailuasan 1,8 juta ha. Seluas 692.000 ha terdapat di Sumatra dan 373.000 ha diantaranya berlokasi di Provinsi Sumatera Selatan. Walaupun wilayah yang telahdireklamasi luas, pemanfaatannya untuk kegiatan produksi pertanian masihrendah. Saat ini hanya sekitar 30 persen lahan yang cocok untuk padi dapatberproduksi di atas 5 ton per ha. Selain itu, haya sekitar 10 persen saja lahanyang dapat ditanami dua hingga tiga kali per tahun (IP 200 – 300). Hal inidisebabkan oleh kurangnya pemahaman petani terhadap karakteristik agro-fisikadan kimia lahan rawa dan terbatasnya penerapan sistem pengelolaan air. Tujuan utama pengembangan lahan pasang surut di Indonesia bersumberdari tujuan ganda untuk mendukung program transmigrasi dan meningkatkanproduksi pangan untuk mengimbangi berkurangnya produksi akibat konversi lahandi Jawa yang mencapai 40.000 hingga 50.000 ha setiap tahun. Untukmempertahankan tingkat produksi pangan, sekurang-kurangnya setiap ha lahanberirigasi yang dikonversi harus digantikan dengan 3 ha lahan kering atau sawahpasang surut. Tujuan untuk meningkatkan produksi pangan kembali menjadi prioritassejak kering berkepanjangan yang berlangsung pada tahun 1991, 1994, dan 1997yang berdampak kepada peningkatan impor beras hingga 4,5 juta ton per tahunpada tahun-tahun tersebut. Tujuan peningkatan produksi pangan denganmendorong kenaikan produktivitas telah diadopsi menjadi tujuan pengembanganpertanian pasang surut yang sebelumnya terfokus kepada mendukung programtransmigrasi. Dengan demikian, arah selanjutnya dalam pengembangan pertanianpasang surut adalah meningkatkan kapasitas produksi dengan mengakomodasiperkembangan teknologi seperti penggunaan varietas unggul atau high yieldingProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 945
  • 25. ISBN 978-602-98295-0-1varieties (HYVs), pupuk, pengendali hama dan penyakit, peralatan pertanian, danperbaikan pengelolaan air. METODOLOGI Penelitian survei ini dilakukan di daerah persawahan pasang surut Telangyang merupakan salah satu sentra produksi beras di Sumatera Selatan. Telangsecara administrasi berada dalam wilayah Kecamatan Muara Telang, KabupatenBanyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Telang dipilih sebagai daerah penelitiankarena merupakan salah satu wilayah reklamasi pasang surut yang palingproduktif yang didukung oleh sistem pengelolaan air yang berkembang. Sampel survei sebanyak 500 keluarga petani dipilih secara acak darisekitar 10.000 keluarga petani dilokasi studi yang meliputi 12 blok sekunderseluas sekitar 3.072 ha. Data dikumpulkan melalui observasi rumah tangga danusahatani serta wawancara terstruktur kepada petani sampel. Data hasil observasi dan wawancara dianalisis secara deskriptif. Tabelfrekuensi dan tabel silang (cross-tabulation) digunakan untuk menyajikan hasilanalisis karena dipandang cukup untuk menampilkan data deskriptif (Norusis,2006). Untuk melihat hubungan antara variabel pendapatan dan variabel indikatorkesejahteraan ekonomi rumah tangga petani, dilakukan uji χ2 (kai kuadrat). HASIL DAN PEMBAHASANProduksi, Produktivitas dan Pendapatan Usahatani di Lahan Pasang Surut Produksi adalah hasil dari kegiatan penggunaan beberapa masukan (input)usahatani seperti benih, pupuk, bahan kimia pertanian, dan tenaga kerja. Jumlahproduksi tergantung kepada luas lahan yang diusahakan sehingga antar petaniterdapat perbedaan jumlah produksi yang disebabkan oleh perbedaan luas lahanyang dimiliki dan diusahakan. Agar dapat dibandingkan, pengukuran produksidilakukan menggunakan produktivitas. Ukuran produktivitas independen terhadappenggunaan input dan menggunakan satuan unit lahan sebagai referensi.Produktivitas dalam studi ini dinyatakan dengan jumlah produksi per ha lahanyang diusahakan. Hasil analisis data produksi yang diperoleh dari 500 petani sampelmenunjukkan bahwa produksi bervariasi dari serendah 1,5 ton hingga setinggi79,2 ton padi kering panen (on-farm dried paddy). Tingginya variasi angkaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 946
  • 26. ISBN 978-602-98295-0-1produksi ini disebabkan oleh variasi dalam luas lahan yang diusahakan, yaitu dariseluas hanya 0,25 ha hingga seluas 12 ha. Produksi rerata adalah 9,75 ton ± 5,70ton dan luas tanam rerata 1,84 ha ± 0,99 ha. Produktivitas rerata di antara petanisampel mencapai 5, 35 ton ± 0,88 ton. Menggunakan harga di tingkat pasar lokal, yaitu Rp 2.100 per kg gabahkering panen, rerata penerimaan untuk setiap ha sawah adalah Rp 11.235.000.Dengan rerata biaya per ha sebesar Rp 4.958.460, pendapatan dari usahatanipadi adalah Rp 6.276.540 per ha. Jika diasumsikan rerata lahan usahatani yangdiusahakan per keluarga adalah 2 ha dan hanya sekali tanam dalam setahunsebagaimana dilakukan mayoritas petani di pasang surut karena kendala agro-klimat, maka pendapatan total per keluarga tani per tahun adalah sebesar Rp12.553.080. Nilai pendapatan inilah yang digunakan untuk semua jenispengeluaran konsumsi keluarga dan jika memungkinkan diinvestasikan dalamberbagai bentuk untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan keluarga tani, misalnyaperbaikan rumah (lantai, dinding, atap), pembangunan fasilitas rumah (toilet,pembuangan air), pengadaan listrik, dan lain-lain.Kesejahteraan Petani Perubahan kehidupan suatu masyarakat dapat diamati secara materialmelalui keadaan rumah dan kelengkapan fasilitasnya, khususnya fasilitas yangdiperlukan untuk mendorong kualitas hidup masyarakat. Keadaan fisik rumahresponden dapat diamati dari aspek-aspek berikut: jenis lantai, dinding dan bahanatap rumah. Sedangkan kualitas hidup dapat dilihat dari akses rumah tanggaterhadap fasilitas listrik, air bersih, tersedianya toilet pada setiap rumah, dansistem pembuangan limbah. Keadaan fisik rumah responden disajikan padaTabel 1. Tipe bangunan rumah paling nampak mengalami perubahan, yaitu darirumah asal berupa rumah panggung berbahan papan (elevated temporarywooden houses) menjadi rumah depok (earthed brick houses). Lantai rumah yangbaru lebih luas daripada rumah asal. Beberapa rumah depok bahkan didesainmengikuti perkembangan yang berlaku di kawasan perumahan di perkotaan.Lantai rumah pada umumnya berupa lantai semen, sebagian diantaranya sudahProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 947
  • 27. ISBN 978-602-98295-0-1dilapisi keramik. Rumah panggung yang telah diperbaiki hanya tinggal sekitar 2persen saja. Bahan dinding rumah pada umumnya semen dan hanya sebagian masihberdinding papan. Persentase rumah berdinding papan lebih tinggi daripadarumah berlantai papan. Hal ini menunjukkan ada tahapan perubahan dari rumahpanggung berbahan papan menjadi rumah depok berdinding papan sebelummenjadi sepenuhnya rumah depok, yaitu rumah yang berdinding dan berlantaisemen atau keramik. Atap rumah terbanyak berupa genting, diikuti oleh seng dan hanyasebagian kecil saja yang masih berupa atap daun nipah (thatch-palm leaves).Atap daun nipah adalah tipikal atap rumah panggung sederhana di lokasi studi. Wujud fisik rumah sering merupakan simbol status dalam masyarakat.Berdasarkan wujud fisik rumah tampak bukti bahwa telah terjadi perubahan statusekonomi yang signifikan pada masyarakat di wilayah studi. Perubahan statusekonomi masyarakat tersebut bersumber dari hasil kegiatan pertanian yangmerupakan pencaharian pokok. Tabel 1. Proporsi kondisi rumah responden Persentase Kondisi rumah Frekuensi Persentase kumulatifJenis lantai: Tanah 58 11.6 11.6 Papan 12 2.4 14.1 Semen 354 71.1 85.1 Keramik 74 14.9 100.0 Total 498 100.0Bahan dinding: Papan 126 25.3 25.3 Semen 372 74.7 100.0 Total 498 100.0Jenis atap: Daun nipah 5 1.0 1.0 Seng 68 13.7 14.7 Genteng 424 85.3 100.0 Total 497 100.0 Pengamatan ke dalam isi rumah menunjukkan lebih dalam mengenaikualitas kehidupan rumah tangga responden. Lebih dari 90 persen rumahresponden telah memiliki akses listrik seperti tampak pada Tabel 2. Listrik padaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 948
  • 28. ISBN 978-602-98295-0-1umumnya digunakan untuk menyalakan lampu dan beberapa peralatan berdayalistrik seperti televisi, radio, dan kipas angin. Sumber utama air minum rumah tangga responden adalah air hujan, diikutioleh air dalam kemasan, bersama-sama persentasenya mencapai lebih 95 persendari sumber air minum rumah tangga responden. Hampir semua rumah di wilayahstudi memiliki penampung air hujan (rain water collector) dengan rerata kapasitastampung 2 m3. Penampung air hujan ini sebagian disuplai melalui program yangdisponsori pemerintah dan sebagian lagi dibuat oleh masyarakat sendiri. Padamusim hujan, sebagian besar kebutuhan air minum masyarakat dapat dicukupidari penampung air hujan. Sedangkan pada masa curah hujan berkurang danstok air hujan dalam penampung menurun, kebutuhan air minum dipenuhi denganmembeli air minum dalam kemasan. Namun, masih ada sebagian kecil rumahtangga responden yang mengkonsumsi air saluran dan sumur. Kedua sumber airini dinilai tidak aman bukan saja karena kurang bersih, tetapi juga dicurigaiterkontaminasi bahan berbahaya yang digunakan untuk mengendalikan hama danpenyakit tanaman yang terbawa aliran sampai ke saluran. Tabel 2. Proporsi beberapa aspek kualitas hidup responden Persentase Aspek kualitas Frekuensi Persentase kumulatifListrik:Tidak tersambung 43 8.6 8.6Tersambung 456 91.4 100.0Total 499 100.0Sumber air minum:Sungai dan saluran 1 .2 .2Sumur 14 2.8 3.0Hujan 365 73.3 76.3Air dalam kemasan 118 23.7 100.0Total 498 100.0Toilet:Tanpa septic tank 134 27.0 27.0Dengan septic tank 363 73.0 100.0Total 497 100.0Saluran pembuangan:Tiada 37 7.5 7.5Ada 458 92.5 100.0Total 495 100.0Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 949
  • 29. ISBN 978-602-98295-0-1 Fasilitas lainnya yang terdapat di dalam rumah yang dapat menunjukkankualitas hidup rumah tangga adalah ketersediaan toilet. Sekalipun rumah telahdiperbaiki, masih banyak rumah yang toiletnya tidak dilengkapi dengan tangkipenampung kotoran (septic tank). Selain itu, ada sebagian kecil rumah yangtidak memiliki fasilitas pembuangan air kotor.Pendapatan Usahatani dan Kesejahteraan Fisik Bagi rumah tangga petani, pendapatan dari usahatani pertama kalidigunakan untuk memenuhi berbagai keperluan dasar. Jika berlebih, kelebihanpendapatan digunakan untuk berbagai pengeluaran yang dapat dikategorikansebagai investasi sesuai kebutuhan rumah tangga, khususnya untuk menambahmodal (lahan pertanian, alat dan mesin pertanian) dan untuk memperbaiki rumahdan melengkapi fasilitas dalam rumah. Dengan demikian, surplus pendapatanusahatani terefleksi pada kondisi rumah yang lebih baik yang menggambarkankesejahteraan fisik yang lebih tinggi. Analisis berikut menunjukkan bagaimanaperbedaan pendapatan usahatani terkait dengan perbedaan pencapaian beberapaindikator kesejahteraan fisik rumah tangga (Tabel 3). Tabel 3 menunjukkan bahwa pendapatan usahatani yang lebih tinggisecara signifikan berkorelasi dengan lantai, dinding dan atap rumah yang lebihberkualitas. Semakin tinggi pendapatan usahatani, semakin tinggi persentaserumah tangga petani yang memiliki lantai semen atau keramik, semakin tinggipersentase dengan dinding batu, dan semakin tinggi persentase atap genting. Pendapatan usahatani yang tinggi juga berkaitan dengan fasilitas rumahtangga yang lebih baik dan lebih sehat seperti sumber air minum, fasilitas toilet,dan ketersediaan saluran pembuangan. Peningkatan pendapatan diikuti olehpeningkatan penggunaan air minum dalam kemasan. Namun, sebagian kecilrumah tangga berpendapatan menengah ke bawah masih mengkonsumsi airsungai, saluran atau kolam, sedangkan rumah tangga berpendapatan tinggi taksatupun yang menggunakannya. Akses terhadap listrik tidak menunjukkanperbedaan antara rumah tangga berpendapatan rendah, menengah dan tinggi.Hal ini disebabkan listrik disuplai oleh pemerintah sehingga setiap rumah tanggatanpa membedakan pendapatannya tersambung kepada fasilitas ini.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 950
  • 30. ISBN 978-602-98295-0-1 Tabel 3. Tabulasi silang hubungan pendapatan usahatani dengan beberapa ukuran kesejahteraan fisik Tingkat pendapatanUkuran kesejahteraan SigΧ2a Rendah Menengah TinggiJenis lantai: 1. Tanah 19.4 15.1 7.8 13.626** 2. Semen 69.7 71.7 71.7 3. Keramik 10.9 13.3 20.5Jenisdinding: 1. Papan 32.7 28.3 15.1 14.803** 2. Semen 67.3 71.7 84.9Jenis atap: 1. Daun nipah 1.2 0.6 1.2 19.604** 2. Seng 23.0 10.9 7.2 3. Genting 75.8 88.5 91.6Listrik: 1. Tidak 5.4 10.8 9.6 3.411 tersambung 94.6 89.2 90.4 2. TersambungSumber air minum: 1. Sungai, saluran 6.1 3.0 0.0 15.530** 2. Hujan 75.8 74.1 69.9 3. Air dalam 18.2 22.9 30.1 kemasanToilet: 1. Tiada septic tank 26.1 27.7 26.7 0.118 2. Ada septic tank 73.9 72.3 73.3Saluran pembuangan: 1. Tiada 9.1 10.3 3.0 7.163** 2. Ada 90.9 89.7 97.0a Signifikansi dari Pearson Chi-square KESIMPULANDari temuan penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa 1. Pendapatan usahatani bervariasi mengikuti variasi dalam produksi pertanian yang disebabkan adanya variasi dalam luas pemilikan lahan. Petani yang menguasai dan menanam lebih luas memperoleh total produksi yang lebih tinggi daripada petani yang menguasai dan menanam lebih sedikit. Sehingga, pendapatan usahatani diantara mereka juga berbeda. 2. Rumah tangga yang berpendapatan usahatani tinggi cenderung mencapai kesejahteraan fisik yang lebih tinggi pula. Mereka cenderung memiliki rumah dengan kondisi lebih baik, fasilitas rumah tangga lebih baik, danProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 951
  • 31. ISBN 978-602-98295-0-1 menggunakan sumber air minum yang lebih sehat. Dengan kata lain, peningkatan pendapatan usahatani telah digunakan oleh rumah tangga responden untuk memperbaiki kesejahteraan hidup fisik keluarga. 3. Upaya terus menerus untuk meningkatkan pendapatan usahatani melalui peningkatan produktivitas usahatani akan meningkatkan kesejahteraan fisik rumah tangga petani di wilayah pasang surut. DAFTAR PUSTAKAAli, Md. L., F.X. Suryadi, B. Schultz. (2002). Water Management Objectives and Their Realization in Tidal Lowland Areas in Bangladesh and Indonesia. In Proceeding of the International Workshop on Sustainable Development of Tidal Areas. 18th Congress and 53rd IEC Meeting of the International Commission on Irrigation and Drainage. Montreal, Canada, July 22, 2002.Direktorat Rawa dan Pantai. (2007). Distribusi Lahan Rawa di Indonesia. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air, Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia.Kasryno, F. et al. (Eds.). (2003). Ekonomi Padi dan Beras Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian.LWMTL. (2006). Technical Guidelines on Tidal Lowland Development Volume I: General Aspects. Report of the Joint Indonesia – Netherlands Working Group. Jakarta, Indonesia.Norusis, M. J. (2006). SPSS 15.0 Statistical Procedures Companion. Upper Saddle River, New Jersey: Prentice Hall, Inc.Schultz, B. (2007). Development of Tidal Lowlands Potentials and Constraints of the Tidal Lowlands of Indonesia. Paper disajikan pada Kuliah Umum di Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya, 30 Juni 2007.Simatupang, P. and I. W. Rusastra. (2003). Kebijakan Pembangunan Sistem Agribisnis Padi. In Kasryno, F. et al. (Eds.). Ekonomi Padi dan Beras Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 952
  • 32. ISBN 978-602-98295-0-1 ANALISIS PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI PADI PADA LAHAN RAWA PASANG SURUT The Analysis Factor of Production and Revenue in Rice Farming in Tidal Swamp Land NasirProgram Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Tridinanti Palembang, Jl. Kapten Marzuki No. 2446 Kamboja palembang ABSTRACTThe Analysis of Use Production factor and Income of Rice Farming in Lawland(Case in the village of Muara Telang Telang Rejo Sub District Banyuasin) byNasir. The Study aims to: Analyze the relationship of input use with the productionof rice farming, Measuring the efficiency of input use of rice farming, and count therice farm income tidal wetlands. The experiment was conducted in the village ofMuara Telang Telang Rejo district Banyuasin District. The method used in thisresearch is the case with simple random sampling method on the respondentfarmers who seek rice farming, while the methods used in data analysis todetermine the effect of production factors on the production used regressionanalysis on the Cobb-Douglas equation, determining the efficiency of factorproduction efficiency measure used to calculate the level of prices and rates ofreturn using the formula R / C ratio. The results showed that the production factorsof land, seed, fertilizer and labor significantly influence on the production while theother production factors, namely: KCl and SP-36 as well as the use of herbicidesand insecticides no significant effect on production. Judging from the level ofefficiency, the use of all factors of production (land, seed, fertilizer (urea, SP-36and KCl), pesticides (insecticides and herbicides) and an outpouring of all is notyet efficient workforce.) The number of average farm income of Rp. 4,799,222.20 /hectare, with the ratio of farm revenue at the expense of 2.1 means that everyRp1,- issued will generate revenue of Rp. 2.1, -Keywords: factors of production, efficiency and revenue. PENDAHULUANLatar Belakang. Padi merupakan komoditi penting yang memiliki peran yangsangat penting yaitu sebagai barang ekonomi yang dikaitkan dengan fungsinyasebagai penghasil beras yang merupakan bahan pangan pokok, dan merupakankomoditi strategis yang kadangkala dapat mempengaruhi kondisi politik suatuNegara. Di Indonesia, dominasi beras atas pangan lainnya, tercermin dari 50%Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 953
  • 33. ISBN 978-602-98295-0-1total konsumsi pangan nasional dan 96% penduduk Indonesia menjadikan berassebagai pangan pokok ketimbang sumber pangan lainnya. Pentingnya komoditiini juga terlihat dari tingginya tingkat konsumsi komoditi ini yang mencapai 133kg/kapita/tahun dan jauh di atas tingkat konsumsi pangan lain (Simatupang,1999). Tingginya kebutuhan komoditi ini dimasa mendatang akan terus berlanjutsejalan dengan peningkatan jumlah penduduk apalagi saat ini belum ada komoditilain yang mampu menggeser keberadaan beras sebagai pangan pokok. Untukmemenuhi kebutuhan beras yang terus meningkat maka upaya peningkatanproduksi yang dipacu melalui peningkatan produktivitas dengan mendayagunakansumberdaya di berbagai wilayah yang berpotensi untuk pengembangan komodititersebut. Sumatera Selatan merupakan salah satu sentra pengembangan usahatanipadi di Indonesia. Berdasarkan hasil survey pertanian, produksi padi di SumateraSelatan tahun 2008 mencapai 2,97 juta ton GKG, bertambah sebesar 2.181,24ribu ton (7,93%) dibandingkan tahun 2007. Ditinjau wilayah pengusahaannya,untuk tahun 2008 kabupaten yang memiliki produksi tertinggi adalah kabupatenBanyuasin (746,55 ribu ton), Ogan Komering Ilir (789,81 ribu ton) dan OKU Timur(234,45 ribu ton), (BPS Sumsel, 2009). Berdasarkan data tersebut, Kabupaten Banyuasin merupakan sentrapenghasil padi di Sumatera Selatan. Beberapa faktor yang menyebabkankabupaten ini menjadi sentra beras antara lain karena memiliki lahan yang cukupluas, berupa lahan pasang surut yang potensial untuk pengembangan tanamanpadi. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Peternakan KabupatenBanyuasin (2007), luas lahan yang sudah direklamasi seluas 362.000 hektar. Dariluasan tersebut yang baru ditanami seluas 153.000 hektar dan dari jumlahtersebut yang baru dapat ditanami dua kali setahun baru 5.000 hektar yang telahdapat ditanami dua kali setahun sedangkan sisanya masih ditanami satu kalisetahun, yang sebagian besar berupa lahan pasang surut. Meskipun dikenal sebagai daerah yang berpotensi untuk pengembanganusahatani padi, tetapi ternyata produktivitas usahatani di daerah ini masih lebihrendah. Beberapa faktor yang diduga menyebabkan rendahnya produktivitaslahan di daerah ini adalah karena kondisi lahan yang marjinal denganProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 954
  • 34. ISBN 978-602-98295-0-1produktivitas yang rendah. Rendahnya produktivitas juga disebabkan karenapenggunaan sumberdaya berupa sarana produksi yang masih rendah, Padahalupaya peningkatan produktivitas usahatani padi dapat dipacu dengan penggunaansarana produksi secara optimal, antara lain menurut Suharno et al., (2000) dapatdilakukan melalui perbaikan teknologi budidaya seperti pemupukan, waktu tanamyang tepat dan pengendalian jasad pengganggu, dan penggunaan varietasunggul. Langkah awal untuk memacu peningkatan produktivitas lahan adalahdengan cara mengetahui faktor produksi yang paling berpengaruh terhadappeningkatan produksi dengan cara melakukan analisis terhadap tingkat efisiensipenggunaan faktor produksi. Berdasarkan alasan tersebut maka peneliti tertarikmelakukan penelitian ―Analisis Penggunaan Faktor Produksi dan PendapatanUsahatani Padi pada Lahan Rawa Pasang Surut‖ penelitian ini dilaksanakan di diDesa Telang Rejo Kecamatan Muara Telang Kabupaten Banyuasin. Melaluipenelitian ini diharapkan dapat diketahui pengaruh penggunaan faktor produksiterhadap produksi, tingkat efisiensi penggunaan faktor produksi serta pendapatanusahatani padi pada lahan rawa pasang surut.Rumusan Masalah. Permasalahan yang akan dibahas pada penelitian iniadalah:1. Bagaimanakah hubungan penggunaan faktor produksi dengan produksi usahatani padi.2. Bagaimanakah tingkat efisiensi pengunaan faktor produksi usahatani padi pada lahan rawa pasang surut3. Seberapa besar tingkat pendapatan usahatani padi lahan rawa pasang surutTujuan dan Kegunaan. Tujuan penelitian ini adalah:1. Menganalisis hubungan hubungan penggunaan faktor produksi dengan produksi usahatani padi.2. Mengukur tingkat efisiensi pengunaan faktor produksi usahatani padi pada lahan rawa pasang surut3. Menghitung pendapatan usahatani padi lahan rawa pasang surutProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 955
  • 35. ISBN 978-602-98295-0-1 Kegunaan penelitian ini diharapkan akan memberikan informasi bagisemua pihak khususnya petani yang berkaitan langsung dengan pengembanganusahatani padi, dan memberikan manfaat berupa penambahan khazanahkekayaan ilmu pengetahuan khususnya yang berkenaan dengan penggunaanfaktor produksi pada usahatani padi. METODE PENELITIANTempat dan Waktu. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Telang Rejo KecamatanMuara Telang Kabupaten Banyuasin. Pemilihan lokasi dilakukan dengan sengaja(purposive) dengan pertimbangan Kecamatan Muara Telang merupakan sentrausahatani padi yang dianggap telah melaksanakan usahatani secara intensif.Penelitian dilaksanakan selama dua bulan yaitu April sampai Mei 2010.Metode Penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kasus,dengan alasan petani di Desa Telang Rejo Kecamatan Muara Telang KabupatenBanyuasin merupakan petani yang telah melaksanakan intensifikasi usahatanikarena telah merupakan salah satu wilayah yang sering menjadi sentrapengembangan proyek percontohan untuk usahatani padi di lahan rawa pasangsurut.Metode Penarikan Contoh. Metode penarikan contoh pada penelitian ini adalahmetode acak sederhana dengan jumlah sample sebanyak 38 orang atau 10persen dari jumlah populasi yang ada.Metode Pengumpulan Data. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dansekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan petani yangmeliputi karakteristik individu, penggunaan factor produksi, produksi, hargaproduksi. Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi yang terkait denganpenelitian ini, seperti: Kantor Pemerintah Kecamatan Muara Telang, DinasPertanian dan lainnya. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancaraterstruktur terhadap petani dengan menggunakan panduan kuisioner.Metode Analisa Data. Data yang dikumpulkan di lapangan diolah secara tabulasidan selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Untuk menjawab permasalahanpertama yaitu melihat hubungan antara penggunaan faktor produksi dan produksidigunakan model persamaan sebabagi berikut, yaitu:Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 956
  • 36. ISBN 978-602-98295-0-1LnY= Ln+1 LnX1+2 LnX2+3Ln X3+4Ln X4+5 LnX5+6 LnX6+7 LnX7+8 LnX8+eKeterangan:Y = Variabel yang dijelaskan (variabel tak bebas) produksi usahatani padiX = Variabel yang menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi produksi padi,yaitu: X1 = Lahan (ha), X2 = benih (kg); X3= pupuk urea (kg); X4= pupuk SP-36(kg); X5=Pupuk KCl (kg); X6= Insektisida (lt); X7= Herbisida (lt); X8= Tenaga Kerja(HOK); ,  = Penduga parameter  dan i Kemudian untuk mengetahui apakah variable bebas (X) secara bersama-sama berpengaruh terhadap variable tak bebas (Y) menggunakan uji F, denganhipotesis statistik sebagai berikut :Ho : 1 = 2 = 3 = ………..= 9 = 0 : Y secara simultan dipengaruhi secara tidak nyata oleh X1, X2, X3,…………., X8Ho : 1 = 2 = 3 = ………..= 9  0 : Y secara simultan dipengaruhi secara tidak nyata oleh X1, X2, X3,…………., X8 JKR / (K – 1)Rumus F hitung adalah = ---------------- JKK / (n – 1)Keterangan :JKR = Jumlah kuadrat regresi; JKK = Jumlah kuadrat kesalahan; k= Jumlahparameter dugaan; n = Jumlah sampelKaidah pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :1. Jika F hitung > F tabel , (k – 1), (n – k) maka Hi diterima yang artinya variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi usahatani.2. Jika F hitung > F tabel , (k – 1), (n – k), maka Ho diterima yang artinya variabel bebas secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap produksi usahatani.Untuk mengetahui pengaruh masing-masing variable bebas (X) terhadap variabletak bebas (Y) menggunakan rumus t hitung dengan hipotesis statistik sebagaiberikut :Ho : bo = 0 : Y secara parsial dipengaruhi secara tidak nyata oleh X1, X2, X3,…, X8H1 : b1  0 : Y secara parsiap dipengaruhi secara nyata oleh X1, X2, X3,…, X8 iProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 957
  • 37. ISBN 978-602-98295-0-1Rumus t hitung = -------- Se (i)Keterangan :i.. : Koefisien regresi variable ke – 1; Se (i) : Simpangan variable ke-iKaidah pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :1. Jika thitung > t (/2) tabel maka tolak Ho, artinya variable bebas ke-n berpengaruh nyata terhadap produksi usahatani.1. Jika thitung < t (/2) tabel maka terima Ho, artinya variable bebas ke-n tidak berpengaruh nyata terhadap produksi usahatani Untuk menjawab permasalahan kedua yaitu mengukur tingkat efisiensipenggunaan factor produksi digunakan rumus efisiensi harga yang dirumuskan: NPMxNPMx = Px atau -------- = 1 Px b.Y.PyNPMx = ----------- XDimana :b = elastisitasY = produksiPY = harga produksi YX = jumlah faktor produksi XPX = harga faktor produksi XKaidah keputusan:NPM / Hx > 1---------- Tidak optimal (kekurangan penggunaan faktor produksi)NPM / Hx = 1---------- OptimalNPM / Hx < 1----------Tidak optimal (kelebihan penggunaan faktor produksi)Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 958
  • 38. ISBN 978-602-98295-0-1 HASIL DAN PEMBAHASANPengaruh Penggunaan Faktor Produksi Terhadap Produksi Padi. Hasilanalisis regresi fungsi produksi usahatani padi di Desa Telang Rejo dihasilkanpersamaan sebagai berikut:Y = 6,957 - 0,261X1 - 0,075X2 +0,384X3+0,046X4+ 0,171X5 + 0,069X6 + 0,084X7 + 0,186X8 Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa secara agregat hubungan antarafaktor produksi dan produksi usahatani padi cukup kuat dengan nilai koefisiendeterminasi (R2) sebesar 0,988. Nilai koefisien 0,988 artinya 98,8 persenperubahan dari produksi usahatani padi dapat dijelaskan oleh variabel saranaproduksi: luas lahan usahatani, jumlah benih, pupuk (urea, SP-36 dan KCl),herbisida, insektisida serta jumlah curahan tenaga kerja, sedangkan 1,2 persendipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Dari hasil uji F diketahui nilai F-hitung 311,620 pada tingkat kepercayaan 95persen lebih besar dibandingkan dengan F tabel sebesar 2,27 sehinggadisimpulkan bahwa hasil pengujian berbeda sangat nyata sehingga variabel bebasluas lahan, benih, pupuk urea, SP36, KCl, herbisida, insektisida dan curahantenaga kerja bersama-sama berpengaruh terhadap produksi usahatani padi. Meskipun secara bersama-sama penggunaan faktor produksi memilikipengaruh atau dampak yang kuat terhadap produksi, tetapi hasil analisismenunjukkan bahwa tidak semua faktor prdoduksi berpengaruh nyata terhadapproduksi. Hasil analisis regresi variabel independen (sarana produksi) dan produkdi ditampilkan pada Tabel 1. Tabel 1 memperlihatkan dari delapan variable bebas hanya luas lahanusahatani, benih, pupuk urea dan tenaga kerja yang memiliki pengaruh signifikanterhadap produksi, sedangkan variable lainnya, yaitu: penggunaan pupuk KCl danSP-36, penggunaan pestisida (herbisida dan insektisida tidak memiliki pengaruhyang signifikan terhadap produksi usahatani padi. Lahan usahatani memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadapproduksi usahatani dan memiliki hubungan yang negatif dengan koefisien sebesar-0,261. Nilai koefisin tersebut berarti setiap penambahan 10 persen lahanusahatani akan menyebabkan terjadinya penurunan produksi sebesar 2,61Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 959
  • 39. ISBN 978-602-98295-0-1persen. Nilai negative disebabkan semakin luas lahan maka penggunaan saranaproduksi yang digunakan juga makin tidak optimal karena biaya yang dikeluarkanbesar sedangkan petani keterbatasan dana sehingga produksi yang dicapai untuksatuan luas tertentu makin rendah. Rata-rata kepemilikan lahan ditingkat petanicukup tinggi yaitu mencapai 1,92 hektar per petani.Tabel 1. Hasil analisis regresi variabel independen terhadap variabel dependenNo Variabel Koefisien t-hitung KeteranganX1 Lahan (ha) 6,957 5,724 SignifikanX2 Benih (kg) -0,261 -2,557 SignifikanX3 Urea (kg) 0,384 4,025 SignifikanX4 SP-36 (kg) 0,046 1,403 Non SignifikanX5 KCl (kg) 0,171 1,183 Non signifikanX6 Insektisida (lt) 0,069 0,953 Non signifikanX7 Herbisida (lt) -0.084 -1,167 Non signifikanX8 Tenaga kerja (HOK) 0,186 2,266 SignifikanKoefisin determinasi (R2) = 0,992;F-hitung=311,62 dan F Tabel 0,05(8;30)=2,27t-tabel (0.025)=2,042 ; t-tabel (0.010)=2,457; t-tabel (0.005)=2,750 Penggunaan benih memiliki pengaruh yang signifikan. Pelaksanaanpenanaman yang dilakukan petani menggunakan sistem tabela (tanam benihlangsung) yaitu dengan cara menaburkan benih secara langsung di lahanusahatani sehigga jumlah benih yang digunakan besar, yaitu rata-rata 130kg/hektar dan melebihi dari batas optimal anjuran PPL yang maksimum 60kilogram perhektar. Penggunaan benih yang berlebihan menyebabkanpertumbuhan tanaman padi tidak berlangsung optimal karena terjadi persainganpenyerapan unsur hara oleh tanaman sehingga produksi yang dicapai tidakoptimal. Nilai koefisien benih sebesar 0,075 yang artinya kenaikan 10 persenProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 960
  • 40. ISBN 978-602-98295-0-1penggunaan benih akan menyebabkan terjadinya penurunan produksi sebesar0,75 persen. Penggunaan pupuk urea memiliki pengaruh yang signifikan terhadapproduksi dengan nilai koefisien sebesar 0,384 yang artinya setiap penambahanpenggunaan pupuk urea sebesar 10 persen akan menyebabkan peningkatanproduksi sebesar 3,84 persen. Pengaruh positip ini disebabkan karenakemungkinan ketersediaan unsur hara N pada lahan rawa pasang surut masihrendah sehingga penggunaan pupuk urea yang mengandung unsure hara N akancepat direspon oleh tanaman dalam bentuk peningkatan produksi. Selain itujumlah penggunaan pupuk urea lebih banyak dibandingkan dengan pupuk lainnyayaitu rata-rata 219,87 kilogram perhektar permusim tanam, sehingga tanamanlebih mudah dalam merespon penggunaan pupuk tersebut. Penggunaan pupuk SP-36 dan KCl tidak berpengaruh secara signifikanterhadap produksi. Penyebabnya karena jumlah penggunaan kedua pupuk masihjauh dari anjuran lebih rendah dibandingkan dengan pupuk urea, yaitu masing-masing 134,23 kilogram dan 115,64 kilogram perhektar., padahal menurutSuwalan et al., (2004) respon tanaman terhadap pemberian pupuk akanmeningkat apabila pupuk yang digunakan tepat jenis, dosis, waktu dan carapemberian. Penggunaan herbisida dan insektisida tidak berpengaruh signifikanterhadap produksi. Penyebabnya, penggunaan sarana produksi tersebut ditingkatpetani masih belum optimal, yaitu: insektisida pestisida 1,64 liter perhektarpermusim tanam dan herbisida 0,615 liter perhektar permusim tanam. Faktorlainnya adalah sifat dari sarana ini yang tidak memiliki pengaruh langsung padapeningkatan produksi seperti sarana produksi lainnya khususnya pupuk. Faktorlainnya adalah serangan hama yang ditemui di lapangan masih dibawah batasambang ekonomi, sehingga penggunaan insektisida masih rendah dan hanyabersifat pencegahan. Penggunaan herbisida masih rendah karena pemberantasangulma sering dilakukan secara manual yaitu dengan melakukan penyianganterhadap gulma sehingga penggunaan herbisida juga masih rendah. Faktor produksi tenaga kerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadapproduksi. Rata-rata curahan tenaga kerja pada usahatani padi adalah sebesar37,38 HOK perhektar permusim tanam. Hubungan antara curahan tenaga kerjaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 961
  • 41. ISBN 978-602-98295-0-1dengan produksi bersifat positip artinya semakin tinggi curahan tenaga kerja makaproduksi yang dicapai juga makin tinggi dengan nilai koefisien sebesar 0,186,yaitu jika terjadi peningkatan curahan tenaga kerja sebesar 10 persen makaproduksi akan meningkat seesar 1,86 persen. Pengaruh curahan tenaga kerjaterhadap produksi sangat beralasan karena tanaman padi memerlukan perawatandan pengelolaan yang baik, sehingga curahan tenaga kerja yang tinggimenyebabkan tanaman akan semakin terpelihara dengan baik sehingga produksiyang dicapai juga akan meningkat.Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi. Berdasarkan hasil penelitianpenggunaan faktor produksi pada usahatani padi sebagian besar tidak efisien.Rincian perhitungan terhadap analisis efisiensi ditampilkan pada Tabel 2.Tabel 2. Efisiensi penggunaan faktor produksi pada usahatani padiNo variabel Sarana propduksi NPMx / Px Keterangan X1 Lahan (ha) 0,99 Tidak efisien X2 Benih (kg) 0,89 Tidak efisien X3 Urea (kg) 9,94 Tidak efisien X4 SP-36 (kg) 1,39 Tidak efisien X5 KCl (kg) 3,80 Tidak efisien X6 Insektisida (lt) 14,12 Tidak efisien X7 Herbisida (lt) 6,04 Tidak efisien X8 Tenaga kerja (HOK) 1,17 Tidak efisien Berdasarkan tabel 2, terlihat bahwa sebagian besar penggunaan faktorproduksi pada usahatani padi belum efisien karena memiliki nilai perbandingannilai produk marjinal dan harga faktor produksi yang lebih kecil atau lebih besardari satu. Nilai rasio produk marjinal dan harga faktor produksi lahan lebih kecil darisatu (0,991) menunjukkan bahwa penggunaan lahan usahatani belum efisienkarena luas lahan yang digunakan petani relatif sudah cukup tinggi yaitu rata-rata1.92 hektar perpetani, sedangkan jumlah modal yang dimiliki petani untukProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 962
  • 42. ISBN 978-602-98295-0-1mengusahakan lahan tersebut masih rendah sehingga produksi yang dicapai tidakoptimal. Rendahnya modal yang dimiliki petani terlihat dari belum optimalnyapenggunaan faktor produksi lain, yaitu: pupuk (urea, SP-36 dan KCl), pestisida(insektisida dan herbisida) serta curahan tenaga kerja yang belum optimal karenamemiliki rasio nilai produk marjinal dan harga faktor produksi yang lebih besar darisatu. Nilai lebih besar dari satu menunjukkan bahwa penggunaan faktor produksitersebut masih rendah dari jumlah yang dibutuhkan untuk pengelolaan usahatanipadi sehingga perlu dilakukan penambahan agar usahatani tersebut efisien. Penggunaan benih memiliki rasio nilai produk marjinal dan harga benihyang lebih rendah dari satu (0,89) menunjukkan bahwa penggunaan benih tidakefisien karena terjadi kelebihan penggunaan yang seharusnya maksimal 60kg/hektar perpetani tetapi meningkat mencapai 130 kg/hektar. Terjadinyakelebihan penggunaan benih menyebabkan biaya yang dikeluarkan tinggisedangkan produksi yang dicapai tidak optimal karena terjadi perebutan unsurhara yang terbatas oleh tanaman sehingga produksi yang dicapai belum optimal.Pendapatan Usahatani Padi. Lahan rawa pasang surut memiliki karakteristikberupa lahan marginal yang memiliki tingkat keasaman tinggi yang dapatdiusahakan satu kali musim tanam per tahun.Tabel 3. Produksi, harga, penerimaan, biaya dan pendapatan usahatani padi di Desa Telang Rejo Kecamatan Muara Telang Kabupaten Banyuasin No. Indikator Jumlah 1. Produksi (kg/Ha/Mt) 3.951,00 2. Harga (Rp/kg) 2.290,00 3. Penerimaan (Rp/Ha/Mt) 9.118.932,50 4. Biaya (Rp/Ha/Mt) 4.319.710,30 - Biaya variabel (Rp/ha/Mt) 4.207.172,50 - Biaya tetap 112.537,80 5. Pendapatan (Rp/Ha/Mt) 4.799.222,20Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 963
  • 43. ISBN 978-602-98295-0-1 Dengan adanya sistem penanaman tersebut maka secara otomatisoptimalisasi penggunaan lahan pada lahan pasang surut masih rendah, denganproduksi yang masih cukup rendah, yaitu rata-rata 3.951 kilogram per hektar.Rincian produksi, harga, biaya dan pendapatan di tampilkan pada Tabel 3, Berdasarkan data pada tabel 3 terlihat bahwa rata-rata pendapatanusahatani padi pada lahan pasang surut di Desa Telang Rejo rata-rata Rp.4.700.222,20 per hektar per musim tanam, dengan tingkat penerimaan atas biayayang dikeluarkan (R/C rasio) sebesar 2,11. Nilai R/C=2,11 menunjukkan bahwasetiap Rp.1,- yang dikeluarkan petani akan menghasilkan penerimaan sebesarRp. 2,11,-. Pendapatan petani yang masih rendah disebabkan beberapa faktor, yaitu:produktivitas lahan yang masih rendah yaitu rata-rata 3.951 kg/Ha. Produktivitaslahan yang masih rendah juga disebabkan kondisi lahan yang marjinal dengantingkat keasaman tinggi dan penggunaan faktor produksi yang belum optimal,Faktor lain yang menyebabkan pendapatan petani rendah yaitu harga gabah yangmasih rendah ditingkat petani khususnya pada saat panen raya yaitu rata-rata Rp.2.290/kg menyebabkan pendapatan yang diperoleh petani masih rendah. KESIMPULAN Kesimpulan hasil penelitian ini adalah:1. Produksi usahatani padi dipengaruhi secara signifikan oleh factor produksi lahan, benih, pupuk urea dan tenaga kerja berpengaruh sedangkan factor produksi lainnya, yaitu: pupuk KCl dan SP-36 serta penggunaan herbisida dan insektisida tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi.2. Penggunaan seluruh faktor produks: (lahan, benih, pupuk (urea, SP-36 dan KCl), pertisida (insektisida dan herbisida) serta curahan tenaga kerja semuanya belum efisien.3. Pendapatan rata-rata usahatani Rp. 4.799.222,20 /hektar, dengan rasio penerimaan usahatani atas biaya sebesar 2,1 artinya setiap Rp1,- yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan Rp. 2,1,-Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 964
  • 44. ISBN 978-602-98295-0-1 DAFTAR PUSTAKABPTP Sumatera Selatan. 2007. Laporan PRA Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian pada Lahan Rawa Pasang Surut Kabupaten Banyuasin. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. PalembangSamaoen, I, 1992. Ekonomi Produksi Pertanian. Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, JakartaSuharno, Idris, M. Darwin, Sahardi dan Subandi, 2000. Keunggulan dan peluang pengembangan padi varietas Konawe. Dalam Dewi Sahara dan Idris: Efisiensi Produksi Sistem usahatani Terpadu Pada Lahan Sawah Irigasi Teknis. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi TenggaraSuwalan, S., Nana, S., Bambang S., R. Kusmawa dan Didi Ardi, 2004. Penggunaan Pupuk Alternatif pada Tanaman Padi Sawah di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kebijakan Perberasan dan Inovasi Teknologi Padi. Puslitbang Tanaman Pangan, Bogor.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 965
  • 45. ISBN 978-602-98295-0-1 ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI DAN OPTIMASI FORMULASI PEMPEK LENJER SKALA INDUSTRI Railia Karneta Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian STIPER Sriwigama Palembang ABSTRACT Pempek is a kind of traditional food for South Sumatera people, which ispotentially to be developed into large scale of industry if its technology meetsstandart procedure and consistent quality. Now a days, current pempek activityhas adjusted its formula and technology to changes of the existing materials aswell as their prices. The study investigated people‘s perception on pempek taste,optimalized pempek‘s formula, minimized material cost and analized it‘s feasibleenterpreneurship. Optimalization formula and minimization testing-using LINDO-Linier Programing Computer‘s Program- shows that condition using 100 grams ofpempek. Minimum cost of pempek‘s material is Rp 2310,04,- per 100 gramspempek‘s formula. The feasibility study shows that 1000 lenjer per day productionis feasible for industry scale. NPV test shows positive, IRR higher than currentinterest and Net B/C ration more than 1, PBP 1,69 per year and BEP 32,60 %.Sensitivity test to the increasing of costs and decreasing of return to 15 percent,pempek activity is still feasible to be doneKeywords: Traditional Food, feasibility study,optimalization formula PENDAHULUAN Pengembangan makanan tradisionil saat ini semakin digalakkan , agardapat bersaing dengan makanan yang berasal dari luar negeri .Yang perlumendapat perhatian utama adalah upaya mengangkat citra makanan tradisionildan menambah selera masyarakat agar dapat sejajar dengan bahan panganlainnya. Kebijakan diversifikasi pangan harus dititik beratkan pada sistemagribsinis yang terpadu mulai dari produksi sampai kepengolahan dan pemasaran(Iljas,N. 1995). Pempek sebagai salah satu makanan tradisionil Sumatera selatanberpotensi untuk dikembangkan ke skala industri yang lebih besar, karena selainrasanya yang khas dan disukai masyarakat, produk ini memiliki nilai ekonomis dangizi yang cukup tinggi. Usaha untuk menjadikan pempek lenjer sebagai komoditasperdagangan tidak mudah untuk dilaksanakan, karena diperlukan suatukonsistensi mutu dan proses yang efisien teknologinya. Industri pempek skalakecil sering mengubah formula dan cara pengolahan pempek lenjer karenaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 966
  • 46. ISBN 978-602-98295-0-1berfluktuasinya bahan baku terutama ikan, sehingga konsistensi mutu pempeklenjer sulit dipertahankan. Industri pempek sulit dikembangkan ke skala industriyang lebih besar tanpa konsistensi mutu yang baik. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan industri pempek diSumatera selatan adalah bahan baku dan pemasaran (harga/kelayakan usaha)jika akan dikembangkan ke skala industri yang lebih besar dengan mutu yangkonsisten. Penyelesaian masalah tersebut diperlukan analisis kelayakan, baiksecara teknologi maupun ekonomi . Secara teknologi diperlukan penentuanformulasi dan cara pengolahan yang tepat dengan mutu yang konsisten, secaraekonomi hal tersebut masih menguntungkan produsen. Formula dan carapengolahan yang dikembangkan dapat dijadikan bahan pengambilan keputusanbagi pengembangan industri pempek lenjer di Sumatera Selatan. BAHAN DAN METODE Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan gabus(Ophicephallus striatus Blkr), ikan tenggiri (Scomberomorus commersoni), tepungsagu dengan derajad putih minimal 94, garam dapur (NaCl), gula pasir(sukrosa),susu bubuk, telur ayam ras, minyak kelapa dan air es. Penelitian ini terdiri dari dua tahap dan digunakan dua metode yaitupenelitian lapang (tahap I) dan penelitian Laboratorium (tahap II). Pada tahap Idilakukan studi lapang untuk mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan.Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data skunder. Metode yangdigunakan dalam pengumpulan data primer ditentukan secara sengaja (purposive)dengan alat bantu kuisioner kepada 50 orang responden dan wawancara kepada5 orang produsen untuk memperoleh keterangan mengenai biaya produksi, jumlahproduksi, kapasitas produksi, biaya investasi dan harga pempek . Survai yangdilakukan meliputi kebiasaan mengkonsumsi dan persepsi konsumen tentangmutu pempek yang baik dan diinginkan konsumen . Pengumpulan data sekundermelalui studi pustaka. Pada tahap II dilakukan percobaan pembuatan pempek diLaboratorium .Penelitian di Laboratorium di bagi menjadi dua tahap, yaitupenelitian pendahuluan dan penelitian lanjutan.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 967
  • 47. ISBN 978-602-98295-0-1 Pada penelitian pendahuluan dilakukan penentuan perbandingan jumahikan gabus dan ikan tenggiri (0 : 2, 0,5 : 1,5 , 1 :1, 1,5 : 0,5) untuk pembuatanpempek lenjer. Untuk mengidentifikasi kesukaan atau ketidaksukaan panelisdilakukan uji coba perbandingan ikan gabus dan ikan tenggiri. Perbandinganikan tenggiri dan ikan gabus terpilih dari penelitian pendahuluan digunakan untukbahan penelitian lanjutan (standart). Sedangkan sumber protein ditambahkantelur ayam dan susu bubuk, pengganti lemak ditambahkan minyak kelapa, danpengganti vetsin digunakan gula pasir. HASIL DAN PEMBAHASAN1. Kelayakan Ekonomi Skala Usaha Industri kecil Analisis kelayakan ekonomi dilakukan pada skala usaha industri kecil(kapasitas produksi 1000 lenjer/ hari). Dalam operasionalisasi produksi pempeklenjer terdapat kegiatan teknis dan administrasi , sehingga dibutuhkan sumberdaya manusia yang sesuai dengan kebutuhan dua kegiatan tersebut . Padausaha pembuatan pempek dengan kapasitas produksi 1000 lenjer per hari,tenaga kerja yang dibutuhkan adalah 3 orang manajer (manajer umum, produksidan keuangan), sekretaris 3 orang, karyawan (tenaga kerja harian) 10 orang dankaryawati (tenaga kerja harian) 20 orang. Sebagai dasar perhitungan digunakanbeberapa asumsi sebagai berikut :-. Modal yang digunakan adalah modal sendiri dan pinjaman-. Jumlah hari kerja 240 hari per tahun-. Perhitungan biaya didasarkan pada harga awal tahun 2010 dan diasumsikan konstan selama periode pengkajian, dengan suku bunga 14 % / tahun.-. Gaji manajer Rp. 2.000.000/bulan ; sekretaris Rp 1.000.000/bulan; upah harian karyawan Rp 25.000/hari dan karyawati Rp 20.000/hari-. Harga daging ikan gabus Rp 40.000/kg-. Harga daging ikan tenggiri Rp 50.000/kg-. Harga saus/cuka 1/5 dari harga bahan baku-. Harga tanah Rp 150.000/m2 dan bangunan Rp 200.00 /m2-. Biaya operasi 5 % dari modal investasi-. Gaji dan upah naik 5 %/ tahunProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 968
  • 48. ISBN 978-602-98295-0-1 -. Biaya pemeliharaan 3 % dari harga alat dan bangunan -. Biaya pemasaran dan adminsitrasi Rp 500.000/bulan -. Biaya telpon dan listrik masing-masing Rp 250.000/bulan dan biaya air Rp 100.000/bulan. -. Analisis kelayakan ekonomi dilakukan untuk umur proyek 5 tahun yang ditetapkan berdasarkan umur ekonomi peralatan. Dengan asumsi tersebut, maka penentuan biaya investasi, biaya produksi, harga pokok dan harga jual produk dapat dilaksanakan. Total biaya produksi (tetap dan tidak tetap) disajikan pada Tabel 1. Biaya produksi adalah biaya yang berhubungan dengan kegiatan produksi yang terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap adalah biaya yang tidak dipengaruhi oleh naik turunnya produksi yang dihasilkan. Biaya tidak tetap tergantung pada volume produksi yang dihasilkan ( Ibrahim, 1998). Tabel 1. Biaya tetap dan tidak tetap produksi pempek lenjer /tahunNo Uraian Biaya Jumlah (Rp)1 Biaya tetap- Gaji 108.000.000-. Penyusutan 6.520.000-. Bunga pinjaman 82.740.924-. Biaya pemasaran dan administrasi 6.000.000-. Biaya pemeliharaan 2.634.000-. Biaya listrik 3.000.000-. Biaya telepon 3.000.000 Jumlah 211.894.9242 Biaya tidak tetap-. Upah 156.000.000-. Biaya bahan baku 1.832.832.000-. Biaya air 1.200.000 Jumlah 1.990.032.000 Total (1-2) 2.201.926.924 Komponen biaya tetap yang dibutuhkan terdiri dari : gaji untuk membayar 3 orang manajer (Rp 72.000.000 / tahun) dan 3 orang sekretaris (Rp 36.000.000 / tahun), penyusutan , bunga pinjaman , biaya pemasaran dan administrasi (Rp Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 969
  • 49. ISBN 978-602-98295-0-1500.000/bulan), pemeliharaan sebesar 3 % dari harga alat dan bangunan, biayalistrik dan telepon masing-masing sebesar ( Rp 250.000/bulan). Biaya tidak tetap terdiri dari upah untuk 10 orang karyawan (Rp60.000.000/tahun dan 20 orang karyawati (Rp 96.000.000/tahun). Besarnya biayaproduksi yang harus dikeluarkan untuk membuat produk (harga pokok)merupakan faktor penentu terhadap harga jual terendah dari produk yangdihasilkan.Tabel 2. Rekapitulasi biaya investasi, biaya produksi dan harga pempek lenjer DESKRIPSI JUMLAHA. INVESTASI 1. Tanah 30.000.000 2. Bangunan 40.000.000 3. Peralatan Produksi 7.800.000 4. Peralatan Kantor 10.000.000 5. Biaya pra oprasi 4.390.000 Jumlah 92.190.000B. BIAYA PRODUKSI 1. Biaya tetap 211.894.924 2. Biaya Tidak Tetap 1.990.032.000 Jumlah 2.201.926.924C. PRODUKSI/TAHUN (Lenjer) 240.000D. HARGA POKOK = (B: C) 9.174E. HARGA JUAL = D + (D x 20%) 11.000*) harga jual Rp 11.000/lenjer (dibulatkan) Pada perhitungan laba rugi tersebut, pengeluaran setiap tahun digunakanuntuk keperluan biaya produksi (biaya tetap dan biaya tidak tetap) serta pajak.Gaji dan upah ada kenaikan sebesar 5 % per tahun. Sedangkan pendapatansetiap tahun diperoleh dari nilai penjualan produk yang besarnya tergantung dariharga juall produk yang dihasilkan (Rp 11.000/lenjer). Arus penerimaan yangmerupakan sumber dana bagi industri terdiri dari modal sendiri dan modalpinjaman (tahun ke-1), penerimaan (hasil penjualan produk) dan penyusutanProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 970
  • 50. ISBN 978-602-98295-0-1untuk tahun ke-2 sampai tahun ke-5, sumber dana hanya terdiri dari penerimaandan penyusutan. Pengeluaran dana terdiri dari : modal investasi, gaji dan upah, bahan baku,air, listrik, telepon, pemeliharaan alat dan bangunan, biaya piutang, bunga bankdan cicilan. Usaha produksi pempek lenjer dengan kapasitas produksi 1000 lenjerper hari menghasilkan total kas yang positif pada akhir umur proyek (tahun ke-5)yaitu Rp 2.929.822.730,- Perhitungan atau penentuan kriteria investasi dengan menggunakantingkat suku bunga14 % per tahun disajikan pada Tabel 3.Tabel 3. Rekapitulasi Kriteria Investasi Produksi Pempek LenjerNPV 14% (Rp) IRR (%) Net B/C PBP(th) BEP(%)2.265.090.000 38,70 23,57 1,69 32,60 Hasil perhitungan kriteri investasi menunjukkan bahwa usaha produksipempek lenjer pada skala industri kecil (kapasitas produksi 1000 lenjer per hari)layak untuk dilaksanakan. Keadaan tersebut ditunjukkan oleh NPV yang bernilaipositif, IRR yang lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku dan Net B/Clebih besar dari satu. NPV yang bernilai positif (Rp 2.265.090.0000 ) merupakankeuntungan bersih yang akan diterima penyelenggara usaha pada tahun yangakan datang, jika diukur dengan nilai uang sekarang. NPV yang bernilai positifmenunjukkan kemampuan usaha untuk menghasilkan laba, sehingga usaha layakuntuk dilaksanakan. Nilai IRR yang diperoleh(38,70 %) lebih besar dari tingkat suku bungayang digunakan dalam perhitungan (14%). Hal ini menunjukkan bahwa usahayang akan dilakukan mempunyai kemampuan untuk mengembalikan modal yangdigunakan dan dapat menghasilkan keuntungan, sehingga usaha layak untukdilaksanakan. Net B/C pada tingkat suku bunga 14 % per tahun menunjukkan nilai 23,57.Hal ini berarti setiap satu rupiah yang ditanam akan menghasilkan keuntungansebesar 23,57 rupiah. Nilai Net B/C yang dihasilkan dalam perhitungan lebih 6Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 971
  • 51. ISBN 978-602-98295-0-1besar dari satu, sehingga usaha ini layak untuk dilaksanakan. PBP adalah waktuyang diperlukan untuk menutup atau mengembalikan modal investasi yangditanam. Modal investasi yang digunakan pada usaha produksi pempek lenjersebesar Rp 92.190.000,- akan kembali setelah usaha berjalan 1,69 tahun. Hasil perhitungan nilai BEP menunjukkan bahwa usaha memiliki potensiuntuk menghasilkan keuntungan. Semakin kecil nilai BEP maka semakin besarkeuntungan yang akan diperoleh. Sebagai ilustrasi , nilai BEP dicapai pada saat32,60 % dari penjualan yaitu Rp 860.728.000. Hal ini berarti 67,40 % daripenjualan atau senilai Rp 1.404.362.000 merupakan keuntungan usaha. Untuk mengetahui perubahan-perubahan yang mungkin terjadi terhadaphasil analisa ekonomi yang telah dlakukan, maka dilakukan analisis kepekaanatau sensitivitas. Pada produksi pempek lenjer, analisa kepekaan dilakukanterhadap perubahan biaya bahan baku, air, listrik dan telepon serta perubahanpenerimaan karena penurunanan harga atau jumlah yang dijual.Tabel 4. Rekapitulasi kriteria investasi dengan kenaikan biaya bahan baku, air, listrik dan telepon.Kenaikan biaya (%) NPV (Rp) IRR (%) Net B/C 5 1.947.140.509 38,64 12,62 10 1.697.355.916 38,60 9.35 15 1.315.841.526 38,4 1,22 Tujuan analisa kepekaan terhadap perubahan biaya bahan baku, air, listrikdan telepon adalah untuk melihat sejauh mana perubahan biaya tersebut(khususnya kenaikan biaya) akan mempengaruhi kelayakan usaha. Pada tabel 4,terlihat bahwa kenaikan biaya sebsar 5%, 10% dan 15 %, usaha pempek lenjermasih layak untuk dilaksanakan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai NPV yang positifdan nilai IRR yang lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang digunakan dalamperhitungan. Analisis kepekaan terhadap penurunan penerimaan bertujuan untukmelihat seberapa jauh perubahan penerimaan khususnya penurunan penerimaankarena penurunan harga jual atau jumlah yang dijual akan mempengaruhikelayakan usaha produksi pempek lenjer. Pengaruh perubahan penerimaanterhadap nilai NPV, IRR dan net B/C disajikan pada Tabel 5. 7Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 972
  • 52. ISBN 978-602-98295-0-1 Tabel 5. Rekapitulasi kriteria investasi dengan penurunan penerimaanPenurunan Penerimaan (% NPV (Rp) IRR (%) Net B/C 5 1.810.064.246 38,48 24,62 10 1.359.444.400 38,22 6,65 15 904.018.000 38,07 2,07 Pada Tabel 5. Terlihat bahwa penurunan penerimaan sebesar 5%, 10%, 15 % usaha pempek lenjer masih layak untuk dilaksanakan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai NPV yang positif dan nilai IRR yang lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang digunakan dalam perhitungan. Kenaikan biaya produksi dan penurunan harga jual menyebabkan penurunan nilai Net B/C, akan tetapi nilai-nilai tersebut masih tergolong layak, karena masih lebih besar dari satu. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan biaya produksi (kenaikan) dan harga jual (penurunan) sampai sebesar 15 % berpengaruh terhadap niai Net B/C, tetapi masih tergolong layak. 2.Optimasi Formulasi Pempek Pada pembuatan pempek lenjer digunakan campuran ikan tenggiri dengan ikan gabus, dengan taraf 0%, 25%, 50% dan 75%. Pengganti protein ikan dapat digunakan telur ayam dan susu bubuk , sedangkan pengganti lemak ikan dapat digunakan minyak kelapa dan pengganti vetsin digunakan gula pasir. Komposisi adonan pempek yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Komposisi bahan baku yang digunakan pada penelitian Bahan baku KomposisiIkan tenggiri (Kg) 1-2Ikan gabus (Kg) 0-0,75Tepung tapioka (gram) 250-1000Susu bubuk 0-50Telur (ml) 100-150Minyak kelapa sawit (ml) 100-150Gula (gram) 100Garam (gram) 50Air (ml) 400-500 8 Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 973
  • 53. ISBN 978-602-98295-0-1Penggunaan ikan gabus hingga 75 % dan penggunaan susu bubuk, telur ayamras, minyak kelapa dan gula pasir ditujukan untuk mendeteksi tingkat penerimaankonsumen terhadap pempek lenjer yang dihasilkan.Model Pencampuran Bahan Baku Pada penelitian ini dilakukan pembuatan model pencampuran bahan bakupempek dengan bantuan teknik operasional seperti program linier denganmenggunakan program LINDO (Maarif,S dan Machfud, 1989). Tujuan daripenggunaan program linier adalah untuk mendapatkan optimasi formula pempekdalam menghasilkan produk yang bermutu baik dan ekonomis dari segi biaya.Untuk kemudahan interpretasi model linier yang digunakan dalam penelitian inidigunakan dasar perhitungan 100 gram adonan pempek yang dibuat bagipenentuan fungsi tujuan maupun fungsi kendala (Siagian, 1987)Informasi biaya bahan baku (Cj) yang digunakan Bahan baku pempek yang digunakan dalam model pencampuran bahanbaku dengan penyelesaian program linier adalah ikan tenggiri (Rp 50.000/kg),ikan gabus (Rp 40.000/kg), tepung tapioka (Rp 10.000/kg), Susu bubuk Rp40.000/kg) , telur (Rp 13.000/kg), minyak kelapa (Rp 9000/kg), gula (Rp10.000/kg), garam (Rp 1000/kg) dan air ( Rp2500/l) Dalam permasalahan ini, bahan baku dapat dianggap sebagai peubahkeputusan (faktor Xj), diasumsikan bahwa sumber daya yang terbatas perludilakukan minimisasi biaya bahan baku yang dinyatakan dalam bentuk fungsitujuan yaitu :Minimisasi = 50 X1 +40 X2 + 10 X3 + 40 X4 + 13 X5+ 9 X6 +10 X 7+ X8 + 2,5 X9Batasan Selang Penggunaan Bahan Baku (bj) Yang DiperkenankanDalam hal ini dapat dikatakan bahwa bahan baku yang digunakan harus dibatasidalam jumlah tertentu untuk menekan biaya produksi. Batasan yang akandigunakan untuk menyusun fungsi atau persamaan kendala adalah jumlah proteinberkisar antara 5,48 – 9,23 %, jumlah lemak berkisar antara 4,37 – 9,92 % ,jumlah ikan tenggiri (X1) 27,27 – 36,36 %, jumlah ikan gabus (X 2) 0 – 9,09 %.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 974
  • 54. ISBN 978-602-98295-0-1Jumlah tepung tapioka (X 3) antara 27,27 – 36,36 %,Jumlah susu bubuk (X4) 0 –50 %, Jumlah telur ayam (X4 )3,63 - 5,45 % .Jumlah minyak kelapa (X5 ) 1,81-3,63, jumlah gula (X6 ), jumlah garam (X7) tetap,jumlah air (X8 ) antara 51,78 – 63,87 %. a. Fungsi kendala bobot bahan baku total : X1 +X2 +X3+X4+X5+X6+X7+X8 + X9 = 100 gram b. Fungsi kendala protein : 5,48 ≤ 0,124 X1 + 0,128 X2 + 0,007 X3 + 0,089 X4 + + 0,128 X5 ≤ 9,23 c. Fungsi kendala Lemak 4,37 ≤ 0,01 X1 + 0,015 X2+ 0,013 X3 + 0,002 X4 + 0,115 X5 + X6 ≤ 9,92 d. Fungsi kendala jumlah ikan tenggiri : 27,27 ≤ X1 ≤ 36,36 e. Fungsi kendala ikan gabus : 0 ≤ X2≤ 9,0 f. Fungsi kendala tepung tapioka : 27,27 ≤ X3 ≤36,36 g. Fungsi kendala susu bubuk : 0 ≤ X4 ≤ 9,0 h. Fungsi kendala telur ayam : 3,63 ≤ X5 ≤ 5,45 i. Fungsi kendala minyak kelapa : 1,81≤ X6 ≤ 3,63 j. Fungsi kendala gula : X7 = 3,63 k. Fungsi kendala garam : X8 = 1,81 l. Fungsi kendala air : 51,78 ≤ 0,81X 1 + 0,79 X2 + 0,14 X 3 + 0,12 X4 + 0,74 X5 + 0,054 X6 + X9 ≤ 63,87Dari fungsi tujuan dan fungsi kendala yang dibentuk untuk menyelesaikanmodel pencampuran bahan baku secara optimal dengan program komputerLINDO didapatkan biaya minimum bahan baku Rp 2310,04 ,- untuk setiap 100gram adonan pempek . Hal tersebut diperoleh pada kondisi penggunaan ikantenggiri (X1) 27,27 gram, ikan gabus (X2 ) 3,13 gram , tepung tapioka (X3) 27,27gram, susu bubuk (X4 ) 9,09 , telur ayam (X5) 5,45 gram, minyak kelapa (X6) 3,05gram, gula pasir (X7) 3,63 gram, garam (X8) 1,81 gram dan air (X9) 19,29 gram.Hasil perhitungan biaya bahan baku untuk pembuatan 100 gram adonan pempekyang dimaksud dapat dilihat pada Tabel 7. Terlihat bahwa biaya bahan bakuuntuk membuat 100 gram adonan pempek adalah Rp 2310,04 atau untukmemperoleh satu lenjer pempek adalah 300 gram (Rp 6930,12) , sehingga biayauntuk membuat satu lenjer pempek dan cukanya dibutuhkan biaya Rp 8316,144,-Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 975
  • 55. ISBN 978-602-98295-0-1 Tabel 7. Hasil optimal pencampuran bahan baku pempek lenjer Bahan baku Jumlah bahan Harga satuan Harga Bahan *) (gram) (Rp/gram) Ikan tenggiri (X1) 27,27 50 1363,50 Ikan gabus (X2) 3,14 40 125,60 Tepung tapioka (X3) 27,27 10 272,70 Susu bubuk (X4 ) 9,09 40 363,60 Telur ayam (X5) 5,45 13 70,85 Minyak kelapa (X6) 3,05 9 27,45 Gula pasir (X7) 3,63 10 36,3 Garam (X8) 1,81 1 1,81 Air (X9) 19,29 2,5 48,23 Total 100,00 2310,04 *) Harga bahan = jumlah bahan x harga/gram KESIMPULAN 1. Hasil analisis kelayakan ekonomi usaha pempek lenjer dengan produksi 1000 lenjer per hari layak untuk dilaksanakan. Hal ini ditunjukkan oleh NPV Rp 2.265.090.000 ; IRR 38,70 ; Net B/C 23,57 ; PBP 1,69 tahun ; BEP 32,60 %. Hasil analisis sensitivitas terhadap kenaikan biaya bahan baku, air, listrik dan telepon serta penurunan penerimaan hingga 15 %, usaha pempek lenjer masih layak untuk dilaksanakan 2. Hasil optimasi pencampuran bahan baku pempek dengan minimisasi biaya untuk 100 gram bahan baku adonan adalah ikan tenggiri sebanyak 27,27 gram, ikan gabus 3,13 gram, tepung tapioka 27,27 gram, susu bubuk 9,09 gram, telur ayam 5,45 gram, minyak kelapa 3,05 gram, gula pasir 3,63 gram, garam dapur 1,81 gram dan air 19,29 gram. Harga bahan Rp 2310,04 /100 gram adonan atau harga satu lenjer pempek dan cukanya Rp 8316,144,-Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 976
  • 56. ISBN 978-602-98295-0-1 DAFTAR PUSTAKAAstawan,M, F.G. Winarno dan Y. Kusumawati. Kajian Mutu Empek-empek Palembang Dari Ikan Tenggiri (Scomberomorus commersoni). 1997. Bul.Teknol dan Industri Pangan. VIII(1) :pp 1-7.Direktorat Gizi Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Bharatara Karya Aksara. Jakarta.Fardiaz,D. 1985. Kamaboko, Produk Olahan Ikan yang Berpotensi Dikembangkan. Media Teknologi Pangan. 1 (2).Govindan. 1987. Fish Processing Technology. IBH Publishing Co PVT.Ltd. New Delhi.Gray,C; P. Simanjuntak dan L.K.Sabur. 1997. Pengantar Evaluasi proyen. Gramedia Pustaka Utama. JakartaGreenwood,C.T. and Munro. 1979. Carbohydrates dalam Priestey (ed). 1979. Effects of Heating on Foodstuffs. Applied Science Publishers Ltd. London.Hubeis.M. 1994. Pemasyarakatan ISO 9000 untuk Industri Pangan di Indonesia . Bul Teknol dan Ind Pangan 5 (3) : 65-70Hubeis,M, Ni Luh Puspitasari dan Herijanto. 1994. Optimasi Formulasi Es Krim Skala Kecil Dengan Menggunakan Minyak kelapa Sawit Sebagai Pengganti Lemak Mentega (Optimization of Small Scale Ice Cream Formulating Using Palm Oil As Better Fat Substitute). Bul Teknol dan Ind Pangan 5 (3) : 1-6.Ibrahim, Y. 1998. Studi Kelayakan Bisnis. Rineka Cipta. Jakarta.Iljas. N. 1995. Peranan Teknologi Pangan Dalam Upaya Meningkatkan Citra Makanan Tradisional Sumatera Selatan. Pidato Pengukuhan Sebagai Guru besar Tetap Pada Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Palembang.Maarif,S dan Machfud. 1989. Teknik Optimasi Rekayasa Proses Pangan . Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor. Bogor.Siagian.P. 1987. Penelitian Operasional Teori dan Praktek. Universitas Indonesia Press. Jakarta.Turner,J. And Martin,T. 1989. Applied Farm Management. Blackwell Scientific Publication Ltd. Melborne.Widodo,S.T. 1995. Indikator Ekonomi. Kanisius. Yogyakarta.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 977
  • 57. ISBN 978-602-98295-0-1 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MENGHAMBAT WANITA PENGRAJINBAJU PENGANTIN DI DESA TANJUNG BATU, OKI DALAM BERWIRAUSAHA Desloehal Djumrianti dan Yusleli Herawati POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA ABSTRAKTulisan ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menghambat wanitapengrajin baju pengantin di desa Tanjung Batu OKI dalam berwirausaha. Banyakkesempatan untuk mengembangkan usaha di depan mata, tapi terkadang tidaktahu bagaimana menangkapnya secara maksimum. Ibu rumah tangga mempunyaipotensi yang luar biasa karena dapat mengerjakan banyak hal sekaligus. Olehkarena itu dia tidak hanya ibu dari anak-anak mereka atau istri dari suami, tetapimereka juga orang-orang yang dapat membuat "sesuatu" untuk mendapatkanuang. Dengan potensi yang besar dalam diri mereka terbuka peluang yang besaruntuk menjadi pengusaha yang. Seperti misalnya dengan melakukan bisnisrumahan atau home industry, yang dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga di desaTanjung Batu, Kabupaten OKI. Walaupun usaha tersebut sudah dilakukan turuntemurun teapi tetap saja mereka lamban dalam meraih sukses sebagaipengusaha wanita, hal ini di karenakan faktor intern dan ekstern yangmenghambat. DariKeywords: pengrajin baju pengantin, wirausaha wanita, kewirausahaan PENDAHULUAN Banyaknya tuntutan kebutuhan hidup dan naiknya harga barang memaksakita berfikir untuk memenuhinya. Sementara itu tidak berimbangnya penghasilanmasyarakat dapat mempersulit keadaan, terkadang seorang kepala keluarga tidakmampu menghidupi keluarga secara layak. Upah atau gaji mereka tidak mampumencukupi kebutuhan pangan, papan, dan sandang keluarga mereka. DenganUpah Minimum Regional (UMR) sebesar Rp 927.825 (Sapri H. Nungcik, 2009), halini jelas tidak dapat memenuhi semua kebutuhan satu keluarga yang mempunyaidua orang anak dan seorang isteri. Belum lagi dampak yang ditimbulkan oleh krisis global di beberapa negaraseperti di Indonesia. Banyak perusahaan yang besar bankrupt tidak bisa bertahandalam kondisi ini. Dimana-mana pengangguran semakin bertambah IncomeProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 978
  • 58. ISBN 978-602-98295-0-1perkapita drastis menurun karena beberapa industri mulai merampingkan tenaga-kerja atau mulai meliburkan tenaga kerja tanpa batas waktu. Kebijakanpemerintah seperti bantuan langsung tunai (BLT) akan sulit menahan pelemahanperekonomian yang sudah bersifat struktural. Perlu adanya gerakan yang cepatdan tepat untuk mengatasi semua itu. Peran pria sebagai kepala keluarga yangsekaligus pencari nafkah bagi keluarga sudah tidak dapat lagi menjadi satu-satunya andalan bagi keluarga untuk mencukupi kebutuhan hidup, perlu adanyakerjasama antara suami dan isteri dalam menopang keluarga mereka. Wanita mempunyai potensi yang besar untuk dapat berbuat sesuatu yanglebih kreatif dan produktif untuk menghasilkan uang. Mereka dapat berbagidengan suami mereka dalam mencari nafkah. Sekarang ini banyak wanitaIndonesia yang sudah merubah paradigma lama dimana mereka tidak hanyasebagai seorang isteri dari suami dan sebagai seorang ibu bagi anak-anakmereka, tetapi mereka juga sebagai wanita pekerja atau pengusaha. Setidaknyatercatat sekitar 9.3 juta wanita Indonesia yang berkerja lebih dari 48 jam perminggu dan sekitar 40.000 pengusaha wanita Indonesia (BPS Indonesia, 2009 &IWAPI, 2010). Tidak semua mereka memulai usahanya dengan modal yang besarada juga yang memulainya dari usaha rumahan. Walaupun belum tercatatsebagai pengusaha wanita yang sukses para ibu rumah tangga di Desa TanjungBatu, Kabupaten Ogan Komering Ilir berusaha dengan ketrampilan seadanyamereka mencari uang sebagai pembuat baju pengantin adat Sumatera Selatan. Sebagian wanita di desa ini berkerja sebagai pengrajin baju pengantin adatSumatera Selatan, ada juga yang menjadi pengrajin pembuat perhiasan emas danperak, dan membuat perabot dapur. Akan tetapi kesemua industri yang ada didesa ini masih terkategori industri rumah tangga atau skala kecil dan tidak jelaslegalisasi hukumnya serta tidak tercatat resmi di dinas Perindustrian danPerdagangan Sumatera Selatan. Tidak ada data mengenai berapa jumlah yangpersis industri baju pengantin adat Sumatera Selatan di daerah ini, dan sejakkapan memulai usahanya. Dari data di lapangan di dapat bahwa wanita pengrajinbaju pengantin adat Suamtera Selatan ini memulai usahanya karena turuntemurun warisan dari nenek moyang mereka. Usaha pembuatan baju pengantin adat Sumatera Selatan ini berjalanbegitu saja dari hari ke hari, mereka membuat baju pengantin karena mendapatProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 979
  • 59. ISBN 978-602-98295-0-1upahan atau membuat atas inisiatif sendiri kemudian mereka jual. Upahpembuatan satu stel baju pengantin sangat bervariasi tergantung dari baju yangakan dipakai oleh pengantin wanita atau baju yang akan dipakai oleh pengantinpria. Selain itu yang membedakan tingkat kerumitan dari baju itu sendiri, sepericontoh baju pengantin Aesan Kebesaran (Gede), tentu berbeda denganpembuatan baju pengantin berbeda Aesan Pengangon (Pak Sangko). Sepertiuntuk membuat satu stel baju kurung pengantin wanita (Pak Sangko wanita)lengkap dengan teratai, sunting, mahkota, gelang tetapi tidak termasuk kainsongket yang akan dipakai pengantin wanita yaitu berkisar antara Rp. 300.000,- –Rp. 500.000,- tergantung dari kualitas baju tersebut. Tetapi untuk pakaian PakSangko Pria upahnya sedikit lebih rendah berkisar Rp. 200.000,- - Rp. 400.000,-.Sedangkan untuk baju pengantin Aesan Gede Wanita upah pembuat satu stellebih mahal karena walaupun baju pengantin ini tidak tertutup seperti hanyamenggunakan kain dodot saja, tetapi ditutupi dengan teratai pada bagian dada,dan biasanya sebagai daya tarik utama pakaian jenis ini terletak pada teratai itu.Sehingga dibuat agak gemerlap bertaburan dengan hiasan-hiasan keemasansehingga pengerjaannya menjadi lebih rumit, selain itu perbedaan pakain inidengan Pak Sangko juga ditambahkan selempang jadi upah untuk mengerjakanbaju jenis ini berkisar antara Rp. 350.000,- sampai Rp. 600.000,-. Sedangkanupah untuk pakaian prianya sama dengan pakaian Pak Sangko wanita. Selain menerima membuatkan pesanan dari toko-toko yang menjual bajupengantin adat Sumatera Selatan di Palembang, mereka juga membuat bajupengantin apabila tidak ada pesanan dan kemudian menjualnya apabila ada orangyang datang ke desa mereka atau membawa hasil karya mereka ke kotaPalembang. Harga 1 stel pakaian pengantin Aesan Gede wanita mereka jualdengan harga Rp. 3.000.000,- sedangkan Aesan Gede Pria Rp. 1.500.000,-dengan kualitas nomor satu. Untuk pakaian pengantin Pak Sangko nomor satumereka menjual satu pasang untuk pria dan wanita Rp. 3.000.000 sampai Rp.4.000.000,-. Bahan baku untuk membuat baju pengantin adat Sumatera Selatanbiasanya terdiri dari kain bludru, kuningan, manik-manik, benang emas, kuningan,mata-mata, kembang goyang. Sedangkan peralatan yang digunakan untukmembuat baju pengantin ini selain dari mesin jahit, benang jahit, alat untukProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 980
  • 60. ISBN 978-602-98295-0-1membentuk sunting, anting-anting, kalung, bunga-bunga untuk mahkota. Tetapiyang terpenting dalam membuat baju pengantin ini adalah ketelitian, keuletan, danketrampilan untuk memasang ornament-ornamen untuk baju tersebut. Prosespembuatan satu pasang baju pengantin ini berkisar antara satu hingga duaminggu. Dibawah ini adalah gambar baju pengantin adat Palembang, SumateraSelatan yang dibuat oleh wanita pengrajin baju pengantin di desa Tanjung Batu,Kabupaten OKI.Baju Pengantin Pak Sangko Baju Penganti Aesan Ged Gambar 1 Baju Pengantin Adat Palembang, Sumatera Selatan Tujuan dari studi ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor manakah yangdapat menghambat wanita pengrajin pakaian pengantin di desa Tanjung Batu inidalam berwirausaha. Manfaat yang akan di dapat dari studi ini adalah untukmembantu wanita pengrajin dalam mengatasi permasalahannya, serta membantumereka untuk dapat mengembangkan usahanya. Secara tidak langsung ini jugaakan bermanfaat bagi pemerintah daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir dalammeningkatkan income per kapitanya. TINJAUAN PUSTAKAApakah Wirausaha dan Kewirausahaan Banyak pengertian dari kewirausahaan atau dalam bahasa InggrisnyaEntrepreneurship, seperti yang dikatakan oleh Timmons (1994) statesentrepreneurship is a human, creative act that builds something of value frompractically of opportunity regardless of the resources, or less of resources, athand. It requires a willingness to take calculated risks. Sedangkan menurutWikipedia Online (2010) dalah proses mengidentifikasi, mengembangkaan, danProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 981
  • 61. ISBN 978-602-98295-0-1membawa visi ke dalam kehidupan. Pendapat senada di uraikan oleh Unggul(2008) Semangat , sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menanganiusaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya cara kerja teknologi dan produkbaru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yanglebih baik dan keuntungan yang lebih besar.Tahap-tahap kewirausahaanSecara umum tahap-tahap melakukan wirausaha: 1. Tahap memulai 2. Tahap melaksanakan usaha 3. Tahap mempertahankan usaha 4. Tahap mengembangkan usaha(Wikipedia Online, 2010)Pengertian seorang Entrepreneur Beberapa orang berpendapat adanya perbedaan antara pengusaha,pekerja dan seorang entrepreneur. Menurut Zimmerer and Scarborough (2003),an entrepreneur is one who creates a new business in the face of risk anduncertainty for the purpose of achieving profit and growth by identifyingopportunities ad assembling the necessary resources to capitalize on thoseopportunities. Sedangkan menurut Unggul (2008), pengusaha adalah wirausahayaitu orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan bisnis,mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan dantindakan yang cepat dalammemastikan kesuksesan.Faktor-faktor Keberhasilan dan Kegagalan Wirausaha1. Keberhasilan Wirausahawan Untuk menjadi seorang wirausahawan, diperlukan dukungan dari orang lain yang berhubungan dengan bisnis yang kita kelola. Seorang wirausaha harus mau menghadapi tantangan dan resiko yang ada. Resiko dijadikan sebagai pemacu untuk maju, dengan adanya resiko, seorang wirausaha akan semakin maju. a. Kerja keras e. Pandai membuat keputusan b. Kerjasama dengan orang lain f. Mau menambah ilmu pengetahuanProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 982
  • 62. ISBN 978-602-98295-0-1 c. Penampilan yang baik g. Ambisisi untuk maju d. Yakin h. Pandai berkomunikasi3. Kegagalan Wirausahan.Menurut Alex S. Niti Semito dalam Unggul (2008), kegagalan wirausahawandalam menjalankan bisnisnya terbagi menjadi dua, yaitu :1. Kegagalan yang dapat dihindarkan Misal: salah mengelola perusahaan, tidak ada rencana yang matang, pelayanan yang kurang baik, dll2. Kegagalan yang tidak dapat dihindarkan Yaitu kegagalan yang sulit atau hamper tidak dapat dihindari seperti bencana alam, peperangan, kebakaran, kecelakaan.Prinsip dasar membuka peluang usaha adalah :1. Memiliki motivasi , tekad yang bulat dan kuat. 4. Memiliki wawasan luas2. Cerdas dalam teknik pengambilan resiko 5. Memiliki naluri kuat3. Percara diri 6. Tidak suka diatur orang lain 7. Menerima pendapat orang lainStrategi membuka peluang usaha adalah :1. Jangan ragu 4. Berupaya menutupi kelemahan2. Menhilangkan rasa pesimis 5. Mau belajar pada dengan orang lain3. Bangikitkan sifat optimis 6. Memiliki wawasan luasPengusaha Wanita Kesempatan dan dan Tantangannya Kesempatan berwirausaha di depan mata, tergantung bagaimana setiaporang memanfaatkannya. Untuk mendapatkannya memang tidaklah mudahkarena kesempatan tidak datang begitu saja, sehingga orang harus jeli melihatpeluang tersebut. Begitu pula kesempatan usaha bagi wanita dari sektor industrirumah tangga, walaupun kecil peran wanita dalam industri rumah tangga tetapiwanita tetap dapat mengembangkan potensi yang ada pada mereka (Indriani,2005). Untuk itu pengusaha wanita harus pandai mengidentifikasi kesempatanbisnis dan menangkap peluang disekitar mereka. Sama halnya denganProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 983
  • 63. ISBN 978-602-98295-0-1pengusaha pria, banyak pengusaha wanita yang memulai bisnisnya karena hanyamempunyai ide yang baik. Tetapi ada beberapa alasan yang membuat perbedaan antara pembiniswanita dan pria, seperti motivasi, dan diskriminasi (Zimmerer & Scarborough,2003). Selain itu ada tantangan lain bagi pengusaha wanita, seperti personalservice, karena sektor industri lebih percaya dengan pengusaha pria. Sebuahstudi di Inggris memperoleh hasil bahwa pengusaha wanita lebih menderitadisbanding dengan pengusaha pria dikarenakan adanya diskriminasi gender(Shaw et.al, 2001). Masalah lain yang dapat timbul adalah karena urusankeluarga termasuk suami dan anak-anak (Deakin & Fareel, 2003), dan kesibukanurusan rumah tangga (Darmawan & Kurniati, 2008) PROSEDUR DAN METHODOLOGI Banyak faktor yang mempengaruhi entrepreneur wanita untukmengembangkan usahanya. Pada penelitian ini dibatasi menjadi dua jenis yaitupotensi dan hambatan secara detil seperti diagram di bawah ini: Teori Faktor-faktor yang mempengaruhi kesempatan berusaha: 1. Hambatan 2. Potensi - modal - keahlian - keluarga - ketrampilan - diskriminasi Analisis Regresi Berganda Hasil dan Interpretasi Sumber: Djumrianti, 2010 Gambar 2. Model PenelitianProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 984
  • 64. ISBN 978-602-98295-0-1 HIPOTESA Asumsi bahwa faktor-faktor hambatan secara signifikan parsial mempengaruhi kesempatan berwirausaha. Asumsi bahwa faktor-faktor potensi mempengaruhi signifikan parsial terhadap kesempatan berwirausaha. Asumsi bahwa faktor-faktor hambatan dan potensi mempengaruhi kesempatan berwirausaha secara simultan signifikan.Diagram di bawah ini adalah hipotesa model dalam penelitian ini: Hambatan Kesempatan Potensi Gambar 3. Model HipotesisDefinisi dari variable-variabel Dibawah ini adalah variable-variabel penelitian: 1. Hambatan (X1), comprise three indicators: - Modal (X11), Jumlah orang dan dana yang ada di perusahaan. - Family (X12), orang yang ada hubungan dekat termasuk suami, anak dan orang tua. - Discrimination (X13), perbedaan supporting program terhadap pengusaha wanita. 2. Potentials (X2), consist of three indicators: - Hobbi (X21), sesuatu yang wanita sangat menyukai - Ketrampilan (X22), sesuatu dimana pengusaha wanita yakin bisa mengerjakan - Keahlian (X23), suatu ketrampilan di dalamnya ada pengetahuan untuk mencapai sesuatu. 3. Kesempatan (Y), kesempatan untuk berbisnis. PROSEDUR PENGUMPULAN DATAData Primer: Serangkaian observasi telah dilakukan secara langsung untukmelihat proses pembuatan baju pengantin adat Sumatera Selatan. Beberapakuesioner pun telah dibagikan kepada 67 orang responden terpilih. Serta focusProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 985
  • 65. ISBN 978-602-98295-0-1group discussion selama 60 menit pun telah dilakukan untuk mendapatkan hasilyang lebih maksimal.Data Sekunder: Untuk melengkapi data pada penelitian ini ditambah datasekunder yang diperoleh dari dinas Perindustian dan Perdagangan propinsiSumatera Selatan, Biro Pusat Statistik Daerah Sumatera Selatan, dan Indonesia,serta mengkaji beberapa literatur.Populasi dan SampelYang menjadi populasi wanita, ibu rumah tangga di desa Tanjung Batu,Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sebanyak 200 wanita. Sedangkan yangmenjadi sampel adalah sebagai berikut, dihitung dengan menggunakan rumusSlovin, seperti di bawah ini (Arikunto, 2002 & Umar, 2001): N n = ---------------- 1 + N (e) 2n: sample, N: populasi, e: precision . Dengan tingkat ketelitian 10%, didapatsampel sebanyak 67 orang.Teknik Analisis Data Untuk menganalisis data dalam penelitian ini dengan menggunakan regresiberganda (Gujarati, 2003):Y = f (X1, X2, X3, … Xn) atau Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + …μY : dependent variable β1 … βn : regression coefficient μ:disturbing errorβ0 : constantan X1… Xn: independent variablesPengukuran variable-variabel Untuk mengukur variable-variabel tersebut digunakan skala Likert untukmenjawab pertanyaan-pertanyaan dimana skornya adalah Sangat setuju= 5,Setuju=4, Netral = 3, Tidak setuju= 2, Sangat Tidak Setuju = 1.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 986
  • 66. ISBN 978-602-98295-0-1 HASIL DAN DISKUSIDeskripsi responden Sebanyak 67 pertanyaan dibagikan kepada respondent di desa TanjungBatu OKI, tetapi hanya hanya 60 kuesioner yang dikembalikan.Demographi Responden Umur wanita pengrajin yang dijadikan responden adalah 19-25 th = 10 org(17%), 26-32 th = 11 org (18%), 33-38 th = 20 org (33%), ≥ 39 th = 19 org (31%).Sedangkan status perkawinan responden adalah mayoritas sudah menikahsebanyak 58 orang (97%), sisanya 2 orang atau 3% yang belum menikah.Diskusi Berdasarkan analisis data pada penelitian diperoleh sebagai berikut: K = 0.452 H + 0.226 P + 3.788EK : Kesempatan, H: Hambatan-hambatan, P: Potensi, E: Error Berdasarkan rumus diatas, dijelaskan hambatan dan potensi berpengaruhterhadap kesempatan, hambatan 0.452 dan potensi berpengaruh 0.226. Untuk mengetahui bagaimana kedua independent variabel mempengaruhikesesempatan seperti tabel di bawah ini:Tabel 1. Analisis T test hambatan, Potensi, dan Kesempatan Variable C.R Prob Description (t test)Hambatan - Kesempatan 5.005 0.000 Significant* Potentsi – Kesempatan 1.274 0.206 Not Significant* Significant at level 5% or 0.05 Dari tabel diatas terlihat dua variable independen mempunyai pengaruhterhadap variable dependen, dimana satu variable dependen mempunyaihubungan signifikan kausal (seperti yang terlihat dari tabel level signifikanhipotesis test adalah dibawah 0.05). Pengaruhh hambatan dan kesempatan padalevel significan 0.000, nilai t test adala 5.005. Pengaruh potensi terhadapkesempatan sebesar 0.2006 dan t test adalah 1.274.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 987
  • 67. ISBN 978-602-98295-0-1 Secara detil pengaruh dari variable independent terhadap dependent dalampenelitian ini seperti tabel di bawah ini: Tabel 2. Hypothesis Test Independent Dependent The Influence (p value) Decision Variable Variable X1 Y 0.465 0.000 Accept X2 Y 0.227 0.206 RejectSumber: Data Primer diolah, 2010 Asumsi pertama dimana hambatan mempunyai pengaruh secara parsialterhadap kesempatan bisnis. Untuk membuktikan ini, ada beberapa penemuan,dimana t test hambatan adalah 5.005 dengan significan t adalah 0.000. Karena ttest lebih besar dari t tabel (5.005 >1.661) atau significan t tabel lebih kecil dari 5%(0.000 <0.05), jadi hambatan mempunyai pengaruh terhadap kesempatan sebesar0.465 secara parsial. Asumsi kedua dimana potensi mempunyai pengaruh terhadap kesempatanbisnis secara parsial. Untuk membuktikannya dimana t test adalah 1.274 dengansignifican t 0.000. Karena t test lebih kecil dari t tabel (1.274 < 1.661) or signifikant lebih besar dari 5% (0.206 > 0.05), sehingga, potensi tidak mempunyai dampakyang signifikan terhadap kesempatan bisnis sebesar 0.465 secara parsial. Asumsi ketiga dimana hambatan dan potensi mempunyai dampak terhadapkesempatan bisnis secara simultan. Hasil menunjukkan bahwa F test was 30.90(sig F = 0.000). Therefore, F test lebih besar dari F table (30.792 > 2.12) of Sig Flebih kecil dari 5% (0.000 < 0.05). Ini berarti kedua hambatan dan potensimempunyai pengaruh terhadap kesempatan bisnis. Sehingga kesemua hipotesis-hipotesis tersebut:H1: Hambatan mempunyai pengaruh terhadap kesempatan bisnis terbukti.H2: Potensi mempunyai pengaruh terhadap kesempatan bisnis terbukti.H3: Faktor-faktor hambatan mempengaruhi kesempatan bisnis sudah terbukti. Sedangkan faktor-faktor potensi mempengaruhi kesempatan bisnis tidak terbukti.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 988
  • 68. ISBN 978-602-98295-0-1 KESIMPULAN Sebagian besar wanita pengrajin baju pengantin adat Sumatera Selatan di desa Tanjung batu adalah isteri sekaligus ibu rumah tangga. Mereka berkerja atau berusaha karena warisan turun temurun. Meskipun mereka telah mempunyai keahlian dan pengalaman dalam membeuat baju pengantin ini tetapi perkembangan usaha mereka sangat lamban. Hal ini dikarenakan adanya hambatan-hambatan dari keluarga. Dari hasil focus group discussion di dapat, bahwa sebagian dari mereka berkerja sampil mengasuh anak. Jadi mereka tidak banyak waktu untuk lebih kreatif dan inovatif. Selain itu diskriminasi gender juga menjadi halangan bagi mereka, dan halangan mendapatkan dana juga hambatan lain mereka untuk sukses. Faktor-faktor dari potensi seperti hobbi, ketrampilan dan keahlian tidak signifikan berpengaruh terhadap kesempatan bisnis. Hal ini dikarenakan wanita di desa ini memulai pekerjaannya bukan karena hobbi, tetapi mereka hanya mengikuti apa yang telah dilakukan oleh ibu, dan nenek mereka secara turun temurun. Dari focus group discussion di dapat bahwa sejak kecil mereka sudah Some factors of potentials, such as hobbies, abilities, and skills are having not significant influence belajar membuat baju pengantin karena membantu orang tua mereka, sehingga keahlian dan ketrampilan terdidik mereka miliki selama ini sudah cukup untuk mensupport usaha mereka. Faktor potensi dan hambatan berpengaruh secara simultan terhadap kesempatan bisnis baju pengantin adat Sumatera Selatan ini. Penelitian yang akan datang akan mengkaji lebih dalam bagaimana peranserta wanita di dalam industri rumah tangga di desa ini. Melihat mengapa terjadidiskriminasi bagi wanita dalam menjalankan usahanya, serta mencari tahubagaimana bantuan permodalan untuk pengusaha wanita.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 989
  • 69. ISBN 978-602-98295-0-1 DAFTAR PUSTAKAM. Ikhsan Modjo (2008). Dampak Krisis Pengangguran 2009 Diprediksi 9.5 persen. Suara Karya Online. 27 Nopember 2009.Safri. H. Nungcik (2009). UMR Sumsel naik 12.5 persen. Tempo Interaktif, 18 November 2009rikunto, S. (1999).: Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka CitpaBerita Sore. (2009).: Pekerja di PHK Akibat Krisis Global, Retrieved 26/04/10 World Wide Web http://beritasore.com/2009/2/003/31660-pekerja-di-phk- akibat-krisis-globalDarmawan & Kurniati (2008). Pemberdayaan Perempuan pada Sektor Industri Kecil. Bandung: UPIDeakins, D. & Freel, M. (2003).: Entrepreneurship and small firms. New York: McGraw-Hill Education (UK) Limited.Global Entrepreneurship Monitor (1999).: Executive Report. USA: Kauffman Centre for Entrepreneurial Leadership, Babson College, Boston.Global Entrepreneurship Monitor (2000).: Executive Report. USA: Kauffman Centre for Entrepreneurial Leadership, Babson College, Boston.Gujarati, D. (2003).: Basic Econometric. New York: McGraw-Hill.Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI). (2010).: Laporan Ketua IWAPI. Retrieved 27 April 2010 World Wide Web http://www.iwapi.or.idIndriani (2005). Peran Perempuan dalam Perkembangan Industri Kecil. (Studi Kasus: Perempuan dalam Industri Batik di Kabupaten Banyumas). Universitas Diponegoro.Lambing, P. & Kuehl, C. R. (2000).: Entrepreneurship. 2nd ed. New Jersey:Prentice Hall.McClelland, D.C. (1996).: The Achiving Society. New Jersey: Van NostrandShaw, E., Carter, S. and Brierton, J. (2001).: Unequal Entrepreneurs: Why female enterprise is an uphill businesss. London: The Industrial Society.Statical Abstract of the U.S. (1992).: Department of Commerce, Bureau of theCensus.BPS Indonesia & Sumsel. (2009). Data wanita bekerja di Indonesia pada tahun2009.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 990
  • 70. ISBN 978-602-98295-0-1Steinhoff, D. & Burgess, J. F. (1993).: Small Business Management Fundamentals. 6th ed. New York: McGrawhill Inc.Timmons, J. (1994).: The Entrepreneurial Mind. Success. Vol. 48.Umar, H. (2001).: Metode Penelitian Aplikasi dalam Pemasaran. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Unggul, E. (2008). Modul Kewirasuahaan. Tegal: Politeknik Tegal.Wikipedia Online (2010). Kewirasuahaan. Diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kewirausahaan pada tanggal 5 Desember 2010.Zimmerer, W. T. & Scarborough, N. M. (1996).: Entrepreneurship and The New Venture Formation. New Jersey: Prentice Hall International Inc.Zimmerer, W. T. & Scarborough, N. M. (2003).: Entrepreneurship and The New Venture Formation. New Jersey: Prentice Hall International Inc.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 991
  • 71. ISBN 978-602-98295-0-1 PENINGKATAN PENDAPATAN MELALUI PENANAMAN TANAMAN SELA KEDELE DAN CABE RAWIT DIANTARA TANAMAN PANILI YANG BELUM MENGHASILKAN INCREASING INCOME THROUGH INTERCROPPING OF SOYBEAN AND CHILLI ON VANILLA BEFORE PRODUCTION Robet Asnawi dan Ratna Wylis Arief Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung ABSTRACTLow production and low quality of vanilla caused by the farmers do not cultivatethe plant in proper way, such as pruning the post, mound, fertilizer, and postharvest technology. Besides, monoculture farming system espesially for youngplant caused does not have affort. The activity of assesment adaptability ofpackage technology and farming system of vanilla was conducted at Jabung (EastLampung) in 2007. The treatments were Model 1 (recommended cultivationtechnology) such as superior variety of Anggrek vanilla, pruning the post, mound,and fertilizer, and Model 2 (traditional cultivation technology). Farming system ofvanilla (vanilla-soybean and vanilla-chili) will be done by young plant of vanilla.The objective was to increase farmers income and to obtain technology packagescultivation and farming system exspecially for young plant of vanilla. The resultshowed that cultivar Anggrek vanilla that support by application of recommendedcultivated technology such as prunning and fertilizer produced higher growth thanlocal cultivar. Soybean and chilli were planted among vanilla result the samegrowth and production with soybean monoculture and chilli monoculture. Soybeanplanted among vanilla (pattern of vanilla-soybean) increased farmers incomeaverage Rp.1.691.000,- per ha per season (3 months) and increased farmersincome average Rp. 1.656.000,- per ha per season (3 months) by pattern ofvanilla-chili.Key Word : Vanilla planifolia, soybean, chilli, intercropping, income. PENDAHULUAN Tanaman panili (Vanilla planifolia Andrews) di propinsi Lampung berkembangsangat pesat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1991 luas areal tanaman panili dipropinsi Lampung adalah 834 ha, dan berkembang menjadi 2 245,5 ha pada tahun1995 (Dinas Perkebunan Propinsi Lampung, 1995). Budidaya tanaman panili memerlukan penegak yang sekaligus merupakannaungan. Tanaman panili menghendaki kelembaban udara dan tanah yang tinggi,Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 992
  • 72. ISBN 978-602-98295-0-1yaitu 80 sampai 100%. Oleh karena itu pada pertanaman panili tidak memerlukanpenyiangan yang intensif, terutama pada musim kemarau, bahkan jika perlu tidakdilakukan penyiangan. Hasil observasi Asnawi (1995), menunjukkan bahwa tanamanpanili yang disiang bersih akan menguning dan bunga akan rontok pada musimkemarau. Sifat demikian yang dimiliki tanaman panili memberikan peluang dalamupaya memanfaatkan tanaman sela diantara tanaman panili baik untuk menjagakelembaban tanah maupun menambah pendapatan petani. Budidaya tanamanpanili memerlukan penegak yang sekaligus merupakan naungan. Tanaman panilimenghendaki kelembaban udara dan tanah yang tinggi, yaitu 60 sampai 80%(Kartono dan Isdijoso, 1977). Hasil penelitian Soenardi dan Rakhmadiono (1985),menunjukkan bahwa pemberian 30 liter/pohon pupuk kandang berasal dari kotoransapi mampu menaikkan hasil lebih dari 100 %. Secara umum permasalahan pertanaman panili di Indonesia adalah produksidan mutu yang rendah. Produksi ditentukan oleh antara lain ditentukan olehpenerapan dan pemakaian teknologi budidaya yang belum sesuai, sepertipenggunaan bahan tanaman klon harapan unggul), pemangkasan pohon penegak,pengguludan, pemakaian mulsa, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit,serta belum diterapkannya teknologi pengolahan buah panili. Sistem usahatani yangtidak optimal akan menyebabkan pendapatan usahataninya yang rendah, sepertiterjadi pada usahatani panili di Bali (Mauludi dan Indrawanto, 1997). Sebagianbesar pola pertanaman panili di Lampung dilakukan secara monokultur. Efisiensipenggunaan lahan melalui penanaman tanaman sela diantara tanaman panili sangatmungkin dilakukan dan sesuai dengan habitat yang diinginkan tanaman panili, yaitukelembaban tanah yang tinggi. Karena itu penanaman tanaman sela antara lainjagung, kedele, jahe, dan cabe diantara tanaman panili yang belum menghasilkandiharapkan akan mampu menambah pendapatan petani selama tanaman panilibelum menghasilkan. Pola tanam monokultur ini menanggung resiko kegagalan yang cukup tinggibaik ditinjau dari segi fluktuasi harga komoditas maupun resiko kegagalan tanamdari komoditas bersangkutan, yang berakibat menurunnya pendapatan petani.Karena itu kemampuan bersaing melalui proses produksi yang efisien merupakanpijakan utama bagi kelangsungan hasil usahataninya (Kasryno et al., 1993).Tanaman panili berproduksi pada umur 2,5 sampai 3 tahun setelah tanam. DenganProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 993
  • 73. ISBN 978-602-98295-0-1demikian selama tanaman panili belum menghasilkan, penanaman tanaman selabernilai ekonomis seperti padi, palawija, sayuran merupakan alternatif sumberpendapatan atau tambahan modal usahatani panili sebelum menghasilkan. Dipropinsi Lampung, produksi panili di tingkat petani masih sangat rendah, yakni rata-rata 0,25 kg buah panili basah/pohon (Asnawi dan Rosman, 1994), sementarapotensi klon harapan panili unggul (klon Anggrek) serta ditunjang dengan teknikbudidaya yang benar akan mampu menghasilkan 1 sampai 1.5 kg buah panilibasah/pohon (Asnawi, 1993). Klon harapan Anggrek panili hingga saat ini belumdijumpai di pertanaman panili di Lampung, sehingga perlu dikaji sebagai klonintroduksi dalam upaya meningkatkan produksi panili di Lampung, baik melaluiperemajaan tanaman maupun perluasan areal. Pada umumnya teknologi budidayayang dilakukan di Lampung adalah secara tradisional dengan input teknologi yangrendah, seperti tanpa pemupukan, pemangkasan yang tidak teratur, dan tanpaguludan. Hasil penelitian Asnawi dan Rosman (1994) menunjukkan bahwapenerapan paket teknologi budidaya seperti pemangkasan, pemupukan,pengguludan mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi panili. Pada umumnya petani menjual hasil panen dalam bentuk buah basah (buahsegar). Sedangkan bila petani melakukan pengolahan buah yang akan dijual dalambentuk hasil olahan maka akan memperoleh pendapatan dua sampai tiga kali lipat(Mauludi, 1993). Karena itu penerapan teknologi pasca panen panili di tingkat petanisecara langsung akan meningkatkan pendapatan petani. Hal tersebut akan berhasilapabila ditunjang oleh koordinasi antara dinas instansi, kelompok tani, serta perananpihak swasta (eksportir) yang membeli hasil olahan buah panili. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan peket teknologi budidaya danmeningkatkan pendapatan petani melalui pemanfaatan tanaman sela diantaratanaman panili yang belum menghasilkan. BAHAN DAN METODE Kegiatan ini dilakukan di Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timurpada tahun 2007. Pemilihan lokasi kegiatan karena Kecamatan Jabung merupakansalah satu sentra produksi tanaman panili di Provinsi Lampung. Kegiatan dilakukandi lahan petani dengan total areal kajian 2 ha. Paket teknologi yang diterapkan(Tabel 1) adalah paket teknologi anjuran (Model 1) dan paket teknologikonvensional/cara petani (Model 2). Paket teknologi budidaya anjuran seperti klonProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 994
  • 74. ISBN 978-602-98295-0-1harapan unggul Anggrek panili, pemangkasan pohon penegak, pengguludan,pemupukan, pola tanam panili-kedele dan pola tanam panili-cabe rawit. Sedangkanpaket teknologi konvensional menggunakan klon lokal Jabung dan tanpapemupukan. Sebagai pembanding diamati pertumbuhan dan produksi tanamankedele dan cabe rawit yang ditanam secara monokultur masing-masing dengan luas400 m2.Tabel 1. Model Paket teknologi yang diterapkan di areal pengkajian. Perlakuan Model 1 Model 2 (Paket teknologi anjuran) (Paket teknologi konvensional)Bahan Klon Anggrek panili Klon panili lokal JabungTanamanPemangkasan Pangkas teratur dgn Pangkas habis pada awal menyisakan 2 cabang per musim hujan. pohon pada awal musim hujan.Pengguludan Digulud Tidak diguludPemupukan 10 kg/phn/th pupuk kandang Tidak dipupukPola tanam Panili-kedele dan panili-cabe Panili monokultur rawit Jenis data yang akan dikumpulkan antara lain adalah : pertumbuhanvegetatif panili, kedele, dan cabe, dan komponen hasil kedele dan cabe, sertaanalisis usahatani pola tanam panili-kedele dan panili-cabe rawit. Data hasil pengamatan akan dianalisis dengan uji T (T-Test) denganmembandingkan masing-masing paket teknologi budidaya panili yang diadaptasikan(teknologi budidaya dan pola tanam) dengan teknologi konvensional yang diterapkanpetani. Tahap awal kegiatan ini adalah pengajiran dan penanaman pohon penegakGlyricidia sp. Jarak tanam yang digunakan adalah 1.5 m x 1.25 m. Tahapselanjutnya adalah pembuatan lubang tanam berukuran 30 cm x 30 cm x 30 cmkemudian diberi pupuk kandang sebanyak 10 kg per pohon. Klon harapan unggulAnggrek panili dan klon panili lokal ditanam satu minggu setelah pemberian pupukkandang pada lubang tanam yang telah tersedia. Ukuran setek yang digunakanProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 995
  • 75. ISBN 978-602-98295-0-1adalah 7 ruas, dengan 3 ruas (daun dibuang) dibenam di dalam tanah serta 4 ruas(daun tidak dibuang) diikatkan pada pohon penegak yang sudah ada.Pemangkasan pohon penegak, dilakukan pada awal musim hujan dengan hanyamemelihara 2 cabang per pohon (teknologi anjuran) dan pangkas habis (untukteknbologi konvensional). Pembuatan guludandilakukan satu bulan setelahpenanaman panili dengan meninggikan tanah pada daerah perakaran setinggi 25cm dan lebar 75 cm. Pemupukan dilakukan pada awal musim kemarau denganmemberikan pupuk kandang yang berasal dari kotoran sapi/kambing dengan dosis30 liter/pohon/tahun atau 10 kg/pohon/tahun. Pola tanam panili-kedele dan panili-cabe rawit dilakukan satu minggu setelah penanaman panili ditanam. Jenis tanamansela yang digunakan adalah selain berumur pendek juga merupakan tanaman yangtoleran terhadap sedikit naungan tetapi tanpa menghambat pertumbuhan tanamantersebut seperti kedele dan cabe rawit. Tanaman kedele ditanam sebanyak 3 barisdiantara tanaman panili (jarak tanam 10 x 50 cm), sedangkan tanaman cabe rawitditanam 1 baris diantara tanaman panili dengan jarak di dalam barisan berukuran 1.5m. Pemeliharaan tanaman panili meliputi pemeliharaan sulur, pengendaliaanpenyakit busuk batang panili. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan Tabel 1 menunjukkan bahwa klon Anggrek panilimenghasilkan pertumbuhan vegetatif yang lebih baik dari klon lokal Jabung, yangtercermin pada pengamatan persentase tanaman tumbuh, tinggi tanaman, jumlahdaun, jumlah ruas, dan persentase serangan penyakit. Tabel 1. Hasil pengamatan pertumbuhan tanaman panili. No Parameter Klon Anggrek panili Klon panili lokal 1. Tanaman tumbuh (%) 89.27 78.78 2. Tinggi tanaman (cm) 89.22 87.67 3. Jumlah daun 12.66 11.78 4. Jumlah ruas 12.36 10.44 5. Serangan penyakit (%) 8.23 8.77Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 996
  • 76. ISBN 978-602-98295-0-1Hal tersebut disebabkan karena selain perbedaan faktor genetik juga disebabkandaya adaptasi yang lebih tinggi bagi klon harapan Anggrek untuk tumbuh danberkembang di Jabung. Dijelaskan oleh Bari et al (1974) bahwa faktor genetik akanmuncul secara optimal apabila didukung oleh kondisi lingkungan (penerapanteknologi budidaya yang benar) yang sesuai. Ditambahkan hasil penelitian Asnawi(1993), bahwa klon Anggrek panili yang ditanam di KP Natar menghasilkanpertumbuhan dan produksi yang lebih tinggi dari klon Ungaran Daun Tipis, UngaranDaun Tebal, dan Gisting. Hasil pengamatan terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman selakedele (Tabel 2), menunjukkan bahwa tanaman kedele yang ditanam diantaratanaman panili (Gambar 1) menghasilkan pertumbuhan yang tidak jauh berbedadengan tanaman kedele yang ditanam dengan pola monokultur, kecuali untukparameter produksi per hektar. Hal tersebut disebabkan kondisi lingkungan baikdari jumlah cahaya maupun kelembaban relatif sama (masih pada batas toleransi)antara kedele yang ditanam diantara tanaman panili dengan kedele monokultur. Gambar 1. Pola tanam panili-kedele.Rendahnya produksi per hektar untuk tanaman kedele yang ditanam diantaratanaman panili yang belum menghasilkan dikarenakan jumlah populasi tanamankedele lebih sedikit bila ditanam diantara tanaman panili dibandingkan dengankedele monokultur.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 997
  • 77. ISBN 978-602-98295-0-1Tabel 2. Hasil pengamatan tanaman sela kedele (Panili-kedele) dan kedelemonokultur.No Parameter Panili-kedele Kedele monokultur1 Tinggi tanaman (cm) 88.25 87.362 Jumlah polong isi/tanaman 109.24 111.03 3 Berat 100 butir (g) 11.08 10.97 4 Berat berangkasan (g) 20.02 20.82 5 Produksi (ton/ha) 0.74 0.96 Hasil pengamatan pada Tabel 3 terlihat bahwa pertumbuhan tanaman caberawit yang ditanam diantara tanaman panili (Gambar 2) cenderung menghasilkanpertumbuhan yang lebih baik daripada tanaman cabe rawit yang ditanam secaramonokultur. Hal tersebut disebabkan karena adanya sedikit naungan yangdibutuhkan tanaman cabe rawit untuk pertumbuhannya. Sedangkan produksitanaman cabe yang ditanam diantara tanaman panili terlihat lebih rendah jikadibandingkan dengan produksi tanaman cabe rawit yang ditanam secaramonokultur. Hal tersebut dikarenakan jumlah populasi tanaman cabe rawit pada polapanili-cabe rawit lebih sedikit (hanya 1 baris) dibandingkan dengan tanaman caberawit monokultur.Tabel 3. Hasil pengamatan tanaman sela cabe rawit. No Parameter Panili-cabe rawit Cabe rawit monokultur 1. Tinggi tanaman (cm) 121.76 106.75 2. Produksi (ton/ha) 370.75 987.50 Gambar 2. Pola tanam panili-cabai.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 998
  • 78. ISBN 978-602-98295-0-1Hasil analisis usahatani panili-kedele (Tabel 4) menunjukkan bahwa tanamanpanili yang ditanam secara tumpang sari dengan tanaman kedele (pola tanampanili-kedele) mampu menambah penghasilan pertani sebesar Rp. 1.691.000.-/haselama 3 bulan, sedangkan tanaman panili yang ditanam secara tumpang saridengan tanaman cabe (pola tanam panili-cabe) mampu menambah penghasilanpertani sebesar Rp.1.656.710.-/ha selama 3 bulan (Tabel 5). Hal tersebut berartiselama menunggu tanaman panili menghasilkan, areal tanaman panili dapatditanami beberapa jenis tanaman pangan (kedele, cabe) untuk menambahpenghasilan petani.Tabel 4. Analisis usahatani pola tanam panili-kedele.No Uraian Volume Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 1 Benih kedele 10 kg 5,000 50,000 2 Pupuk kandang 5000 kg 125 625,000 3 Pupuk Urea 100 kg 1,100 110,000 4 Pupuk SP36 100 kg 1,400 140,000 5 Pupuk KCl 50 kg 3,000 150,000 6 Pestisida 3 lt 40,000 120,000 7 Jumlah Pengeluaran - - 1,250,000 8 Hasil 740 kg 3,900 2,886,000 9 Pendapatan - - 1,691,000Catatan : Tenaga kerja menggunakan tenaga kerja keluarga (dikelola sendiri).Tabel 5. Analisis usahatani pola tanam panili-cabe rawit.N Uraian Volume Satuan (Rp) Jumlah (Rp)o1 Benih cabe rawit 5 bks 30,000 150,0002 Pupuk kandang 5000 kg 125 625,0003 Pupuk Urea 150 kg 1,100 165,0004 Pupuk SP36 100 kg 1,400 140,0005 Pupuk KCl 50 kg 3,000 150,0006 Pestisida 2 lt 40,000 80,0007 Jumlah Pengeluaran - - 1,310,000 370.78 Hasil kg 8,000 2,966,000 59 Pendapatan - - 1,656,000Catatan : Tenaga kerja menggunakan tenaga kerja keluarga (dikelola sendiri).Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 999
  • 79. ISBN 978-602-98295-0-1 KESIMPULAN Dari hasil kegiatan yang dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal sebagaiberikut: 1. Pertumbuhan tanaman panili klon harapan Anggrek yang ditunjang dengan teknologi budidaya anjuran menghasilkan pertumbuhan vegetatif yang lebih baik dibandingkan dengan klon panili lokal Jabung dengan teknologi budidaya konvensional. 2. Pemanfaatan tanaman sela kedele (pola tanam panili-kedele) mampu menambah pendapatan petani sebesar Rp.1.691.000,-/ha/musim (selama 3 bulan) dan cabe rawit (pola tanam panili-cabe rawit) Rp.1.656.000,-/ha/musim (selama 3 bulan) 3. Pertumbuhan dan produksi tanaman kedele dan cabe rawit yang ditanam diantara tanaman panili cenderung sama dengan tanaman kedele dan cabe rawit monokultur. DAFTAR PUSTAKAAsnawi, R. 1993. Produksi beberapa tipe panili (Vanilla planifolia Andrews). Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (VIII) 1 : 52-55.Asnawi, R dan R. Rosman. 1994. Perakitan paket teknologi peningkatan mutu panili. Kerjasama antara Badan Litbang Pertanian, Proyek Pembangunan Penelitian Pertanian, dengan Sub Balittro Natar. 18 hal.Asnawi, R. 1995. Observasi pengaruh curah hujan terhadap pembungaan tanaman panili. Analisis Iklim Untuk Pengembangan Agribisnis. Prisiding Simposium Meteorologi Pertanian IV, Yogyakarta 26-28 Januari 1995. Hal 249-256.Bari, A., S. Musa dan E. Syamsudin. 1974. Pengantar pemuliaan tanaman. Dept. Agronomi, Faperta IPB, Bogor: 15-18.Dinas Perkebunan Propinsi Lampung. 1995. Perkembangan pembudidayaan panili di Lampung dan permasalahannya. Prosiding temu tugas pemantapan dan pengolahan panili di Bandar Lampung 15 Maret 1995. Kerjasama Balittro Bogor dan Disbun Propinsi Lampung. Hal 1-23.Kartono,G dan S.H.Isdijoso. 1977. Panili (Vanilla planifolia Andrews). Pemberitaan LPTI (27): 65-85.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1000
  • 80. ISBN 978-602-98295-0-1Kasryno, F, P. Simatupang, dan V.T. Manurung. 1993. Penelitian pertanian dengan pendekatan agribisnis. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor. XII (4): 67-73.Mauludi, L. 1993. Analisa efisiensi pemasaran panili di daerah sentra produksi propinsi Bali. Pemberitaan Penelitian Tanaman Industri (XIX) 3-4: 49-58.Mauludi, L dan C. Indrawanto. 1997. Analisa sistem usahatani dan pemasaran panili di Sulawesi Utara. Jurnal Penelitian Tanaman Industri (II) 6: 255-260.Soenardi dan S. Rakhmadiono. 1995. Pemupukan panili dengan pupuk kandang dan pupuk buatan. Pemberitaan Penelitian Tanaman Industri (X) 3-4 : 69-71.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1001
  • 81. ISBN 978-602-98295-0-1 ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR KEUNTUNGAN USAHATANI PADI SAWAH IRIGASI DI SUMATERA SELATAN Sidiq Hanapi, Yanter Hutape dan Waluyo Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan Jl. Kol. H. Barlian, Km 6 Kotak Pos 1265, Palembang 30153 ABSTRAKPenelitian ini dilakukan pada bulan oktober 2010 di salah satu sentra produksipadi di Kecamatan Belitang III, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Metodepenelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis dan metode regresi bergandauntuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel tak bebas. Variabel-variabel luas tanam, harga GKP, harga benih, harga pupuk NPK, harga pupukUrea, harga pupuk organik, harga pestisida dan jumlah produksi padi , menjadivariabel bebas, sedangkan yang menjadi variabel tak bebas adalah tingkatkeuntungan usahatani padi irigasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisisseberapa besar pendapatan rumah tanga petani padi sawah irigasi dan melihatfaktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keuntungan usahatani padi sawah irigasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata usahatani padi sawahirigasi per hektar sebesar Rp.8.911.338,24. Sedangkan faktor-faktor yangmempengaruhi tingkat keuntungan usahatani padi sawah irigasi adalah luastanam, harga GKP, harga pupuk Urea, harga pestisida dan jumlah produksi padi.Kata Kunci : Usahatani padi, pendapatan, dan keuntungan. PENDAHULUAN Sasaran pembangunan nasional Indonesia yang telah ditetapkan sebagaikomitmen nasional adalah menurunkan jumlah penduduk miskin menjadi 8,2persen pada tahun 2009, jumlah pengangguran juga akan diupayakan untukditurunkan menjadi 5,2 persen di tahun 2009. Untuk mencapai sasaran-sasarantersebut diperlukan adanya pertumbuhan perekonomian nasional baik diperkotaan maupun diperdesaan. Sektor pertanian memegang peranan sangatpenting dalam upaya pengurangan kemiskinan dan pengangguaran di Indonesia,karena disanalah salah satu tumpuan pengentasan kemisikinan, percepatankesempatan kerja dan pendapatan masyarakat. (Lokollo dan Friyanto, 2007) Sejalan dengan hal itu, dalam upaya penanggulangan kemiskinan,kapasitas Departemen Pertanian yang sekarang menjadi Kementrian Pertaniansesuai mandat utamanya yaitu menangani stabilitas peningkatan produksiProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1002
  • 82. ISBN 978-602-98295-0-1pertanian, terutama menfasilitasi untuk pengembangan kemampuan masyarakatpetani (Harniati, 2008). Wujud komitmen yang tinggi itu dalam bentuk kebijakan-kebijakan dan program-program peningkatan produksi pangan, khususnya beras.Besarnya perhatian pemerintah terhadap ekonomi perberasan ini didasari olehpertimbangan bahwa beras merupakan bahan pokok bagi sebagian besarpenduduk Indonesia, serta bahwa usahatani padi merupakan sumber pendapatandan sumber lapangan pekerjaan bagi sebagian besar masyarakat perdesaan(Hermanto, 2001). Produksi padi di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) berasal dari lahansawah mencapai 2.891.263 ton (BPS Sumsel, 2009). Untuk lahan sawah irigasiseluas 90,8 ribu ha yang tersebar di 7 kabupaten dan sekitar 33 ribu ha berupasawah irigasi teknis. Agroekosistem sawah irigasi teknis sangat potensial untukpeningkatan produktivitas pertanian dan peningkatan pendapatan petani. upayaperbaikan agribisnis untuk meningkatkan produksi dan produktivitas padi adalahmelalui pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT), suatu pendekatanpotensi secara terpadu, sinergi dan partisipatif dalam upaya meningkatkanproduksi padi sehingga pendapatan petani meningkat (Thamrin T.dkk, 2009). Penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis seberapa besar pendapatanrumah tanga petani padi pada lahan sawah irigasi (2) melihat faktor-faktor yangmempengaruhi tingkat keuntungan usahatani padi sawah irigasi. METODOLOGI PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptifanalitis, yaitu memberikan gambaran terhadap fenomena-fenomena,menerangkan hubungan antar variabel, antar kategori dalam suatu variabeldengan kategori atau variabel lain, membuat prediksi, serta mendapatkan maknadan implikasi dari suatu masalah yang dipecahkan (Nazir, 1988). Selanjutnyadapat memberikan gambaran pendapatan petani padi dan faktor-faktor yangmempengaruhi keuntungan usahatani padi sawah irigasi sehingga dapat dijadikanpertimbangan dalam pengembangan usahatani padi saat ini. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Ringinsari, Kecamatan Belitang III,Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Penentuan lokasi ini pengkajian iniProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1003
  • 83. ISBN 978-602-98295-0-1dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa kabupatenOgan Komering Ulu Timur merupakan salah satu sentra produksi padi/lumbungberas Sumatera Selatan (Badan Puasat Statistik Sumsel, 2009) dengan jumlahsampel sebanyak 35 petani padi.Teknik Analisis 1. Analisis Keuntungan Usahatani Padi Sawah Irigasi Aanalisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui tingkat pendapatan petanipadi. Pendapatan diperoleh dengan menghitung selisih antara penerimaaan yangditerima dari hasil usaha dengan biaya produksi yang dikeluarkan, dirumuskan:  = Y.Py - ∑Xi.Pxi - BTT Keterangan:  = Pendapatan (Rp) Y = Produksi (Kg) Py = Harga GKP (Rp) ∑Xi = Jumlah faktor produksi ke i (i= 1,2,3...n) Px = Harga produksi ke i (Rp) BTT = Biaya Tetap Total (Rp) Untuk mengetahui keuntungan usahatani padi digunakan analisis imbanganpenerimaan dan biaya yang dirumuskan sebagai berikut: PT R/C  BTKeterangan: R/C = Nisbah antar penerimaan dengan biaya PT = Penerimaan Total BT = Biaya total yang dikeluarkan petaniJika R/C > 1, maka usahatani padi yang diusahakan menguntungkan. Jika R/C < 1maka suahatani padi yang diusahakan mengalami kerugian. 2. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Keuntungan Usahatani Padi Sawah IrigasiDalam analisis pengkajian ini digunakan metode regresi berganda untuk melihatpengaruh beberapa variabel bebas (independent) yang meliputi luas tanam, hargaGKP, harga benih, harga pupuk NPK, harga pupuk Urea, harga pupuk organik,Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1004
  • 84. ISBN 978-602-98295-0-1harga pestisida dan jumlah produksi padi terhadap variabel tak bebas (dependent)yaitu tingkat keuntungan usahtani padi. Persamaan regresi berganda adalah(Lains,2006): Y=β0+β1X1+β2X2+ β3X3+β4X4 +β5X5+β6X6 β7X7+β8X8+ u Keterangan: Y = Tingkat keuntungan usahatani padi β0 = intersep β1 = Koefisien regresi X1 = Luas tanam X2 = Harga GKP X3 = Harga Benih X4 = Harga Pupuk NPK X5 = Harga Pupuk Urea X6 = Harga Pestisida X7 = Harga Pupuk Organik X8 = produksi padi U = Galat baku Untuk mengetahui seberapa besar proporsi atau persentase total dalamvariabel tak bebas (dependent variable) yang dijelaskan oleh variabel bebas 2(independent variable) digunakan koefisien determinasi (R ) (Gujarati, 2000).Selanjutnya digunakan uji-F untuk melihat variabel bebas secara simultanterhadap tingkat keuntungan usahatani padi. Guna menguji secara parsial darimasing-masing variabel bebas terhadap tingkat keuntungan usahatani padidigunakan uji-t. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Analisis Keuntungan Usahatani Padi Sawah Irigasi Penerimaan usahtani padi diperoleh dari hasil produksi padi (GKP) dikalikanharga produksi yaitu harga GKP pada periode tersebut yang dinyatakan dalamrupiah. Pengeluaran usahatani padi merupakan penjumlahan dari biaya variabeldan biaya tetap. Biaya variabel meliputi pengunaan bibit, pupuk, pestisida, tenagakerja pengolahan lahan, semai, pemeliharaan tanaman sampai panen, biayaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1005
  • 85. ISBN 978-602-98295-0-1angkut dan lain-lain, sedangkan biaya tetap meliputi biaya penyusutan alat danpajak. Keuntungan yang didapat petani adalah penerimaan dikurangi dengan totalpengeluaran petani untuk prosess produksi.Tabel 1. Rata-rata Penerimaan, biaya dan keuntungan usahatani padi sawahirigasi di kecamatan Belitang III, Kabupaten OKU Timur. Nilai (Rp) Uraian Volume Harga (Usahtani/0,67 Niali (Rp) (Kg) (Rp) ha) Per hektarProduksi (Kg/ha) 3.545,63 2.513,33 8.911.338,24 14.852.230,41Biaya Variabel (RP):a. Benih 17,80 6.713,33 119.497,27 199.162,12b. Pupuk 1. NPK 138,63 2.383,33 330.401,03 550.668,39 2. Urea 93,50 1.556,66 145.547,71 242.579,51 3. Organik 76,95 7.033,33 541.214,74 902.024,57c. Pestisida (ltr) 1,01 27.200,00 27.472,00 45.786,66d. Tenaga Kerja(HOK) 60,70 1. Babat Rumput 59.766,66 99.611,10 2. Semai 99.500,00 165.833,33 3. penyiapan lahan 319.166,67 531.944,45 4. Penamanam 448.700,00 747.833,33 5. Penyiangan 77.000,00 128.333,33 6. Semprot G/H/P 44.833,33 74.722,21 7. Pemupukan 52.333,33 87.222,21 8. Angkut 91.000,00 151.666,66 9. Panen 1.212.930,33 2.021.550,55e. Lain-lain 371.500,00 619.166,66Jumlah 3.940.863,08 6.568.105,14Biaya Tetapa. Penyusutan Alat 76.850,45 128.084,08Jumlah 76.850,45 128.084,08Total Biaya 4.017.713,53 6.696.189,22Keuntungan 4.893.624,71 8.156.041,18R/C 2,21 2,21Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1006
  • 86. ISBN 978-602-98295-0-1 Berdasar hasil analisis yang disajikan pada tabel 1 tersebut bahwapenerimaaan dan total biaya usahatani padi, maka diperoleh nisbah penerimaandengan biaya yang disebut Revenue cost ratio (R/C rasio). Besarnya R/Cusahatani padi adalah 2,21 artinya setiap Rp. 1.000,- biaya yang dikeluarkandalam usahatani padi akan memperoleh penerimaan sebesar Rp. 2.210,-.Sehingga dilihat besarnya R/C tersebut menunjukkan bahwa usahatani padi tetapmemberikan keuntungan petani. Keuntungan rata-rata pada lahan garapan padiseluas 0,67 hektar yang diterima oleh petani di kecamatan Belitang III, KabuptenOKU Timur sebesar Rp. 4.893.624,71 dan keuntungan rata-rata per hektarsebesar Rp. 8.156.041,18. Lebih tinggi dibanding tingkat keuntungan rata-ratapetani di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Musi Rawas yang per hektar sebesarRp. 7.734.000,00 dalam hasil penelitian Thamrin T dkk mengenai produktifitaspadi sawah irigasi di Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi keuntungan usahatani padi Faktor yang mempengaruhi keuntungan usahatani padi adalah luas tanam,harga GKP, harga benih, harga pupuk NPK, harga pupuk Urea, harga pestisida,harga pupuk organik, dan produksi padi. Variabel-variabel ini dianalisis denganmenggunakan model regresi. Hasil analisis model regresi sebagai berikut.Tabel 2. Hasil analisis regresi tingkat keuntungan usahatani padi (tahap pertama)Variabel Koef. Regresi t- Sig hitungKonstanta -5787313 -3,977 0,001Luas Tanam(X1) 2736391 3,747 0,001Harga GKP(X2) 2436,582 4,834 0,000Harga Benih(X3) -20,378 -0,359 0,723Harga NPK(X4) -48,983 -0,155 0,878Harga Urea(X5) -386,3390 -0,755 0,459Harga Pestisida(X6) -10,196 -1,970 0,062Harga Pupuk organik(X7) -701,374 -1,237 0,230Produksi Padi(X8) 2226,522 17,204 0,000F-hitung 205,948R2 adjusted 0,983R2 0,987 Berdasarkan uji t, diketahui ada variabel 4 variabel yang mempengaruhitingkat keuntungan usahtani padi irigasi, sedangkan sisa 4 variabel lainnya tidakberpengaruh nyata. Kemudian data diolah kembali dengan menggunakan metodeProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1007
  • 87. ISBN 978-602-98295-0-1backward untuk mendapatkan hasil terbaik dengan menghilangkan variabel-variabel independent yang memiliki korelasi tinggi terhadap variabel dependent.Hasilnya disajikan pada tabel 3 sebagai berikut:Tabel 3. Hasil analisis regresi tingkat keuntungan usahatani padi (tahap kedua)Vareabel Koef. t-hitung Sig RegresiKonstanta -6041395 -4,943a 0,000Luas Tanam(X1) 2710294 3,915a 0,001Harga GKP(X2) 2485,683 5,340a 0,000Harga Urea(X5) -463,189 -2,153c 0,042Harga Pestisida(X6) -8,709 -3,262b 0,003Produksi Padi(X8) 2218,268 18,175a 0,000F-hitung 298,832R2 adjusted 0,984R2 0,987 Keterangan: a. Nyata pada taraf kepercayaan 99,99 persen b. Nyata pada taraf kepercayaan 99,97 persen c. Nyata pada taraf kepercayaan 95,80 persen Model faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keuntungan usahatani padidi Kecamatan Belitang III, Kabupaten OKU Timur :Y= - 6041395 +2710294X1+2485,683X2 - 463,189X5 - 8,709X6 +2218,268X8 Nilai koefisien determinasi ( R 2 ) memberikan informasi proporsi variasidalam faktor yang dijelaskan oleh variabel bebas secara bersama-sama.Kecocokan model dikatakan lebih baik kalau R 2 semakin mendekati nilai 1(Gujarati, 2000). Pada tabel terlihat nilai koefisien determinasi (R2) yang diperolehsebesar 0,987 yang berarti sekitar 98,7 persen dari variasi produksi padidijelaskan oleh variabel Independennya/bebasnya yaitu luas tanam, harga GKP,harga pupuk Urea, harga pestisida, dan produksi padi. Sedangkan 1,3 persensisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model regresi. Nilai F-hitung sebesar 298,832 yang berarti lebih besar dari f-tabel padatingkat kepercayaan 99,99 persen yaitu f 0,01 (6;41)= 3,67. Dengan demikiansecara keseluruhan semua variabel independen/bebas secara bersama-samaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1008
  • 88. ISBN 978-602-98295-0-1berpengaruh nyata terhadap keuntungan usahatani padisawah irigasi diKabupaten OKU Timur. Untuk mengetahui pengaruh antara variabel Independen/bebas terhadapdependen variabel(keuntungan usahatani padi) dapat dijelaskan sebagai berikut: Faktor luas tanam padi (X1) berpengaruh nyata terhadap tingkatkeuntungan usahatani padi sawah irigasi pada taraf kepercayaan 99,99 persen.Nilai koefisien regresi yang positif berarti semakin besar luas tanam yang dimiliki,maka akan semakin besar produksi padi yang dihasilkan dan keuntungan yangdiperoleh petani juga semakin besar. Berarti kenaikan dan penurunan luas tanampadi berpengaruh terhadap tingkat keuntungan usahtani padi sawah irigasi. Faktor harga GKP (X2) berpengaruh nyata terhadap tingkat keuntunganusahtani padi sawah irigasi pada taraf kepercayaan 99,99 persen. Nilai koefisienregresi yang positif berarti semakin tinggi harga GKP sebagai harga jual produksi,maka akan semakin tinggi keuntungan yang diperoleh petani juga semakin tinggi.Hal ini berarti kenaikan dan penurunan harga GKP padi berpengaruh terhadaptingkat keuntungan usahtani padi sawah irigasi. Dari hasil analisis diketahui bahwarata-rata harga GKP yang diterima oleh petani di kecamatan Belitang III, KabuptenOKU Timur sebesar Rp. 2.513,33/kg. Faktor harga pupuk Urea (X5) berpengaruh nyata terhadap tingkatkeuntungan usahtani padi irigasi pada taraf kepercayaan 95,80 persen. Nilaikoefisien regresi yang negatif berarti semakin tinggi harga pupuk Urea, makakeuntungan yang diperoleh petani akan menurun. Hal ini berarti kenaikan danpenurunan harga pupuk Urea berpengaruh terhadap tingkat keuntungan usahtanipadi sawah irigasi. Dari hasil analisis diketahui bahwa rata-rata harga pupuk Ureayang diterima oleh petani di kecamatan Belitang III, Kabupten OKU Timur sebesarRp. 1.556,66/kg. Faktor harga pestisida (X6) berpengaruh nyata terhadap tingkat keuntunganusahtani padi pada taraf kepercayaan 99,70 persen. Nilai koefisien regresi yangnegatif berarti semakin tinggi harga pestisida, maka keuntungan yang diperolehpetani akan menurun. Hal ini berarti kenaikan dan penurunan harga pestisidaberpengaruh terhadap tingkat keuntungan usahtani padi irigasi. Dari hasil analisisdiketahui bahwa rata-rata harga pestisida yang diterima oleh petani di kecamatanBelitang III, Kabupten OKU Timur sebesar Rp.27.200/liter.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1009
  • 89. ISBN 978-602-98295-0-1 Faktor produksi padi (X8) berpengaruh nyata terhadap tingkat keuntunganusahtani padi irigasi pada taraf kepercayaan 99,99 persen. Nilai koefisien regresiyang positif berarti semakin tinggi jumlah produksi padi, maka akan semakin tinggikeuntungan yang diperoleh petani juga semakin tinggi. Hal ini berarti kenaikan danpenurunan jumlah produksi padi berpengaruh terhadap tingkat keuntunganusahtani padi sawah irigasi. Dari hasil analisis diketahui bahwa rata-rata produksipadi dengan luas tanam 0,67 hektar, yang diterima oleh petani di kecamatanBelitang III, Kabupten OKU Timur sebesar 3.545,63 kg dengan nilai sebesarRp.8.911.338,24. KESIMPULANDari hasil pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Pendapatan rata-rata rumah tangga petani padi sawah irigasi di Kecamatan Belitang III, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur sebesar Rp.4.893.624,71 per luas tanam 0,67 hektar atau sebesar Rp. 8.156.041,18 per hektar. 2. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat keuntungan uisahatani padi sawah irigasi adalah luas tanam, harga GKP, harga pupuk Urea, harga pestisida dan jumlah produksi padi. DAFTAR PUSTAKABPS Provinsi Sumatera Selatan. 2009. Sumatera Selatan dalam Angka tahun 2009.Badan Pusat Statistik Sumsel. Palembang.Gujarati, D. dan Zain, S, 2000. Ekonometrika Dasar. Erlangga. Jakarta.Hariati, 2008, Program-program Sektor Pertanian yang Berorientasi Penganggulangan Kemiskinan, Dalam Prosiding Seminar Nasional Meningkatkan Peran Sektor Pertanian dalam Penanggulangan Kemiskinan. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, DEPTAN, BogorLains, Alfian. 2006. Ekonometrika Teori dan Aplikasi. Jilid II. Pustaka LP3ES Indonesia. Jakarta.Lokollo, EM dan Friyanto,S, 2007, Peran Sektor Pertanian Dalam Pendapatan Rumah Tangga, Dalam Prosiding Seminar Nasional Dinamika Pembangunan Pertanian dan Perdesaan: mencari alternatif arahProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1010
  • 90. ISBN 978-602-98295-0-1 pengembangan ekonomi rakyat, Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, DEPTAN, BogorNazir, M. 1988. Metode Penelitian. Cetakan Ketiga. Ghalia Indonesia. Jakarta. Suryana, A. Dan Mardianto, S. 2001, Bunga Rampai Ekonomi Beras, LPEM-FEUI, JakartaThamrin,T., Hutape, Y., dan Soehendi, R. 2009, Produkrifitas Padi Sawah Irigasi Intensif Melalui Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) di Kabupaten Musi Rawas Sumatera Selatan, dalam Prosiding Seminar Inovasi Teknologi Peningkatan Produksi Pertanian Spesifikasi Lokasi. BPTP Lampung kerjasama dengan BBP2TP,Faperta UNILA. Lampung.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1011
  • 91. ISBN 978-602-98295-0-1 DAMPAK PELAKSANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) TERHADAP PENDAPATAN PETANI PADI PENERIMA BLM PUAP DI LAMPUNG Zahara, Jamhari Hadipurwanta Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung ABSTRACTPoverty requires the handling of serious and involve many parties, not onlygovernments but also business, social, and community volunteers in general.Based on survey results of the Central Bureau of Statistics (CBS) In March 2009the number of poor people reached 32.53 million persons or 14.15% of the totalpopulation of Indonesia. Comprised of more poor in rural areas is 20.62 millionpeople or 17.35 percent of the total population in the village. Therefore, toaccelerate the growth and development Agribusiness while reducing poverty andunemployment in rural areas the Ministry of Agriculture launched the activities ofRural Agribusiness Development (PUAP). PUAP aims to cultivate agribusinessactivities in rural areas according to potential target areas, reducing poverty andunemployment, improve household welfare of poor farmers, farmers / farmer (landowner / cultivator) and small-scale farmers, the development of agribusinessenterprises that have a daily business, weekly or seasonal, empowermentgapoktan / poktan in the target area PUAP. This study aims to determine theimpact on farmers income in particular PUAP rice farmers and determine thefeasibility of the business (R / C) ratio of rice farming, and is there any differenceof rice farming pendapataan between before and after PUAP BLM Program. Thisresearch was conducted at the site of three locations in Lampung PUAP BLMrecipients from January to December 2009. Data collection was conducted on ricefarmer who received the BLM PUAP. Sampling was done on purpose (purposive)in three districts namely North Lampung, South and East Lampung, with a totalsample of 30 people. The method used is the survey method and data collected isof primary and secondary data. The analysis used in this study is to analyzerevenue and statistical calculation using paired sample t test. The results showedthat: (1) Program PUAP positive impact on farmers income. Before PUAP farmerincome of Rp. 6,399,047.00 and after PUAP Rp. 8,435,686.00, there is adifference of Rp. 2036639.00; (2) Before PUAP value of R / C ratio based on cashcosts is 3 and R / C ratio based on total cost is 2.43. After PUAP value of R / Cratio based on cash costs is 3 and R / C ratio based on total cost is 2.83. Value R /C ratio of more than one meaning rice farm worth conducting, (3) The test resultsstatistic obtained by value t-count = │-2.618 │ and t-table = 1.645 if t-count > t-table then reject H0. This means that there are significant differences of rice farmrevenues between before and after PUAP.Keyword : impact PUAP, poverty, incomeProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1012
  • 92. ISBN 978-602-98295-0-1 PENDAHULUAN Permasalahan kemiskinan cukup kompleks khususnya bagi negaraberkembang seperti Indonesia. Kemiskinan memerlukan penanganan yang cukupserius dan melibatkan berbagai pihak, bukan saja pemerintah namun juga duniausaha, relawan sosial dan masyarakat pada umumnya. Berdasarkan hasil surveiBadan Pusat Statistik (BPS) Bulan Maret 2009 jumlah penduduk miskin mencapai32,53 juta jiwa atau 14,15 % dari jumlah total penduduk Indonesia. Pedudukmiskin lebih banyak berada di pedesaan yaitu 20,62 juta jiwa atau 17,35 persendari total penduduk di Desa. Sebagian besar penduduk di pedesaan bekerjasebagai petani yang kehidupannya dibawah garis kemiskinan. Diperkirakan sekitar80% penduduk miskin yang tinggal di daerah pedesaan adalah para buruh tanidan petani yang menguasai lahan garapan kurang dari 0.3 hektar. Sebagian besar pendapatan rumah tangga miskin di pedesaan berasal darikegiatan pertanian atau usaha agribisnis. Kegiatan pertanian atau usahaagribisnis yang dilkaukan oleh petani masih belum mampu meningkatkanpendapatan mereka sehingga kesejahteraan petani masih rendah. Hal inidisebabkan karena petani tersebut hanya memilki lahan yang sempit, carabercocok tanam yang tradisional, sarana dan prasarana yang tidak mendukung,akses yang rendah terhadap pasar dan keterbatasan modal. Oleh karena itu untukmempercepat tumbuh dan berkembangnya Usaha Agribisnis sekaligusmengurangi kemiskinan dan pengangguran di perdesaan, Pemerintahmengeluarkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-M).Sehubungan dengan hal tersebut Kementerian Pertanian meluncurkan kegiatanPengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang mendukung PNPM-Mmelalui bantuan modal usaha dalam menumbuhkembangkan Usaha Agribisnissesuai potensi daerah sasaran. Usaha agribisnis dapat berupa kegiatan produktifbudidaya (on farm) baik tanaman pangan, hortikultura, perikanan dan peternakandan kegiatan non budidaya (out farm) yang terkait dengan komoditas pertanianyaitu industri rumah tangga pertanian, pemasaran hasil pertanian dan usaha lainyang berbasis pertanian. Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) bertujuanmenumbuh kembangkan kegiatan usaha agribisnis di perdesaan sesuai potensiProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1013
  • 93. ISBN 978-602-98295-0-1wilayah sasaran, mengurangi kemiskinan dan pengangguran, meningkatkankesejahteraan rumah tangga petani miskin, petani/peternak (pemiliktanah/penggarap) skala kecil dan buruh tani, berkembangnya usaha pelakuagribisnis yang mempunyai usaha harian, mingguan maupun musiman,pemberdayaan gapoktan/poktan yang ada di daerah sasaran PUAP. SasaranProgram Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) hanya ditujukankepada desa miskin/tertinggal yang di dalamnya terdapat gapoktan/poktan yangaktif. Persiapan pelaksanaan Program PUAP dimulai pada tahun 2007, tetapibaru direalisasikan pada tahun 2008 dengan sasaran 33 propinsi, 379 kabupaten/kota 1.834 kecamatan miskin dan 10.542 desa miskin. Sasaran PUAP pada awalprogram adalah: (1) berkembangnya usaha agribisnis di 10.000 desamiskin/tertinggal sesuai dengan potensi pertanian desa; (2) berkembangnya10.000 gapoktan/poktan yang dimiliki dan dikelola oleh petani; (3) meningkatnyakesejahteraan rumah tangga tani miskin, petani/peternak skala kecil, buruh tani;dan (4) berkembangnya usaha pelaku agribisnis yang mempunyai usaha harian,mingguan, maupun musiman. Total desa miskin/gapoktan yang direncanakanmenerima dana BLM-PUAP adalah 11.000 desa miskin/gapoktan. Tahun 2008,program PUAP dapat direalisasikan pada 10.542 gapoktan di 10.542 desa.Pemerintah telah mengeluarkan dana sebesar Rp. 3.505.369.742.000,00 padatahun 2008. Dari dana tersebut, alokasi untuk Lampung sebesarRp.26.511.675.000,00 yang tesebar di 10 Kabupaten dan 269 desa/gapoktanpada tahun 2008. Pemanfaatan dana tersebut digunakan petani untuk modalberusahatani baik tanaman pangan, hortikultura, perkebuanan, peternakanmaupun non usahatani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak PUAPterhadap pendapatan petani khususnya petani padi dan mengetahui kelayakanusaha (R/C) rasio usahatani padi, serta adakah perbedaan terhadap pendapataanusahatani padi anatara sebelum dan setelah Program BLM PUAP. BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan pada tiga kabupaten di Propinsi Lampung yaituLampung Selatan, Lampung Utara, Lampung Timur. Responden diambil dari 10Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1014
  • 94. ISBN 978-602-98295-0-1gapoktan dari tiga tabupaten dan dari 10 gapoktan diambil sampel sebanyak 30orang responden. Penelitian dilakukan pada Bulan Desember 2009. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini adalah metode survai, data yang digunakan adalahdata primer dan sekunder.Dampak PUAP dapat dilihat dari peningkatan pendapatan petani sebelummenerima dan setelah menerima dana BLM PUAP. Pendapatan bersih usahatanidiperoleh dari selisih antara penerimaan kotor dan pengeluaran kotor usahatani.Pendapatan usahatani dapat dihitung menggunakan rumus : P = TP – (Bt + Btt)Dimana : P = Pendapatan bersih usahatani (Rp) TP = Total penerimaan usahatani (Rp) Bt = Biaya tunai (Rp) Btt = Biaya tidak tunai (Rp)Untuk mengetahui kelayakan dan keberhasilan usahatani digunakan analisis rasiopendapatan dan biaya (R/C rasio). Analisis kelayakan usahatani dihitungmenggunakan rumus: TP R/C = (Rasio atas biaya total) BT TP R/C = (Rasio atas biaya tunai) BtDimana BT = Bt + BttKeterangan : TP = Total penerimaan usahatani (Rp) BT = Biaya total (Rp) Bt = Biaya tunai Btt = Biaya tidak tunaiJika : R/C > 1, maka dikatakan usahatani layak R/C < 1, maka dikatakan usahatani tidak layak R/C = 1, maka dikatakan usahatani impasUntuk menguji perbedaan tingkat pendapatan sebelum dan sesudah adanyaprogram PUAP, dihitung dengan menggunakan uji t untuk pengamatanberpasangan (walpole, 1995) dengan rumus sebagai berikut :Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1015
  • 95. ISBN 978-602-98295-0-1 d  do t hitung  ;v  n 1 sd / nKeterangan: d – do = Rata-rata tingkat pendapatan setelah ada dana pinjaman – sebelum ada dana pinjaman. Sd = Standar deviasi n = Jumlah observasi v = Derajat BebasHipotesis yang diajukan yaitu:1. Tidak ada perbedaan yang nyata terhadap pendapatan usahatani sebelum dan sesudah adanya program PUAP.2. Adanya perbedaan yang nyata terhadap pendapatan sebelum dan sesudah adanya Program PUAP. Hipotesis tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut : Kriteria Uji : Ho ditolak apabila t-hitung > t-tabel, v = n-1, α = 0.05 Ho diterima apabila t-hitung < t-tabel, v = n-1, α = 0.05 HASIL DAN PEMBAHASAN1. Pendapatan petani sebelum dan setelah menerima BLM PUAPPendapatan diperoleh dari pengurangan penerimaan rata-rata dengan biaya rata-rata yang dikeluarkan. Penerimaan adalah nilai produksi yang diperoleh dalamjangka waktu tertentu. Dalam penelitian ini penerimaan usahatani padi diperolehdari jumlah produksi total padi yang dihasilkan dikalikan dengan harga jual padi.Biaya usahatani dihitung dari penggunaan faktor-faktor produksi dalam melakukanproses usahatani. Biaya yang dikeluarkan terdiri dari biaya tunai dan biaya yangdiperhitungkan. Biaya tunai adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli barangdan jasa secara tunai yang meliputi : benih, pupuk, pestisida, herbisida,pengolahan tanah, tenaga kerja dari tanam sampai panen. Sedangkan Biaya yangdiperhitungkan adalah biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk membeli barangdan jasa secara tidak tunai yang meliputi : tenaga kerja dalam keluarga dan biayalainnya (pajak, iuran desa/IPAIR).Pendapatan usahatani rata-rata dihitung sebelum petani menerima BLM PUAPpada musim tanam ke-II tahun 2008. Analisis pendapatan usahatani petaniProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1016
  • 96. ISBN 978-602-98295-0-1responden sebelum dan setelah menerima dana BLM PUAP dapat dilihat padaTabel 1.Tabel 1. Rata-rata Pendapatan Usahatani Padi Sebelum dan Setelah PUAP Tahun 2008 di Lampung Uraian Nilai rata-rata Nilai rata-rata sebelum PUAP setelah PUAPA. Penerimaan1. Jumlah Produksi Beras (kg) 5,241 5,4652. Harga Jual (Rp/kg) 2,060 2,3613. Nilai Produksi 10,876,028 13,051,708B. Biaya Usahatani1. Biaya Tunaia. Benih 287,811 338,862b. Pupuk Kandang 71,133 61,258c. Urea 326,641 244,879d. SP-18 303,053 225,223e. Phonska 356,876 416,814f. Pupuk Alternatif 71,333 45,000g. Pestisida 105,315 137,010h. Herbisida 72,852 82,149i.Tenaga Kerja (Tanam-Panen) 1,893,087 2,392,763Total Biaya Tunai 3,636,893 3,943,9582. Biaya yang diperhitungkanj. TKDK 543,033 513,138k. Biaya lainnya 297,054 158,926Total Biaya yang diperhitungkan 840,088 672,064C. Total Biaya Usahatani 4,476,981 4,616,022D. Pendapatan total 6,399,047 8,435,686E. Pendapatan atas biaya tunai 7,239,134 9,107,750F. Pendapatan atas biaya yg diperhitungkan 10,035,940 12,379,644G. R/C Rasio atas biaya tunai 3 3H. R/C Rasio atas biaya yg diperhitungkan 12 19I. R/C Rasio atas biaya total 2,43 2,83Sumber : data primer diolah (dihitung per hektar) Berdasarkan Tabel 1 di atas dapat terlihat produksi rata-rata padi sebelumPUAP sebesar 5.241 kg dan setelah PUAP sebesar 5.465 kg atau meningkat 224kg (4,27%). Harga jual rata-rata sebelum PUAP Rp. 2.060,00/kg GKG dan setelahPUAP Rp. 2.361,00/kg GKG atau meningkat Rp. 301/kg GKG (14,61%). Jumlahproduksi dikalikan dengan harga jual diperoleh penerimaan rata-rata sebelumPUAP sebesar Rp. 10.876.028,00 dan setelah PUAP Rp. 13.051.708,00. Terjadipeningkatan rata-rata penerimaan total usahatani padi sebelum dan setelah PUAPProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1017
  • 97. ISBN 978-602-98295-0-1sebesar Rp. 2.175.680,00 atau 20 %. Penerimaan rata-rata ini meningkat karenajumlah produksi padi juga meningkat sebesar 224 kg (4,27%) setelah adanyaPUAP disebabkan petani beralih menggunakan benih unggul berlabel dan adanyapeningkatan harga jual Rp. 301/kg GKG. Petani meggunakan bantuan modal iniuntuk membeli benih yang lebih unggul dan berkualitas dan penanganan pascapanen. Biaya yang dikeluarkan oleh petani adalah biaya tunai dan biayadiperhitungkan. Biaya tunai digunakan petani untuk membeli sarana produksi yaitubenih, pupuk, pestisida serta untuk membayar tenaga kerja mulai dari olah tanahsampai panen. Biaya yang diperhitungkan adalah biaya tidak tunai untukmembayar iuran air (IPAIR) dan tenaga kerja dalam keluarga. Biaya tunai yangdikeluarkan petani sebelum PUAP sebesar Rp. 3.636.893,00 dan setelah PUAPsebesar Rp. 3.943.958,00 atau terjadi peningkatan biaya usahatani sebesar Rp.307.065,00 (8,44%). Peningkatan biaya usahatani setelah PUAP karena petanimenggunakan dana BLM PUAP untuk membeli semua sarana produksi yang lebihbanyak dan tentunya lebih berkualitas misalnya benih unggul bersertifikat dalamupaya menerapkan teknologi produksi yang direkomendasikanh. Hal ini dilakukandengan tujuan agar produktivitas tanaman padi lebih baik lagi sehingga hasilpanen yang diperoleh pun juga akan mengalami peningkatan (Prihartono, M.K,2009). Sebelumnya petani hanya menggunakan sarana produksi seadanyakarena keterbatasan modal. Selain itu petani mengalokasikan dana bantuanPUAP untuk membayar tenaga kerja mulai dari olah tanah sampai panen. Biayatenaga kerja sebesar Rp. 1.893.087,00 sebelum PUAP dan setelah PUAP Rp.2,392,763,00 atau meningkat sebesar Rp. 499.676,00 (26,39 %). Biaya yangdiperhitungkan sebelum PUAP sebesar Rp. 840.088,00 dan setelah PUAPsebesar Rp. 672.064,00 atau terjadi penurunan sebesar Rp. 168.024,00. Hal inimenunjukkan petani mengurangi penggunaan tenaga kerja dalam keluarga, danmenambah penggunaan tenaga kerja dari luar keluarga. Dengan kata lain terjadipeningkatan penyerapan tenaga kerja di perdesaan setelah pelaksanaan PUAPpada usahatani padi. Total pendapatan rata-rata yang diperoleh dari selisih antaratotal penerimaan dan total biaya usahatani menunjukkan adanya kenaikansebesar Rp. 2.036.639,00 (31,83 %) yaitu dari Rp. 6.399.047,00/ha sebelumProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1018
  • 98. ISBN 978-602-98295-0-1PUAP menjadi Rp. 8.435.686,00/ha setelah PUAP. Hal ini berarti pelaksanaanprogram PUAP pada usahatani padi mampu meningkatkan pendapatan petani. Peningkatan pendapatan ini sudah sejalan dengan tujuan program PUAPyaitu meningkatkan kesejahteraan petani miskin, dan indikator kesejahteraanadalah peningkatan pendapatan petani. Dengan meningkatnya pendapatan petanipadi maka meningkat pula kesejahteraan keluarga petani. Hal ini menunjukkanbahwa program PUAP berdampak positif terhadap pendapatan petani dalamberusahatani padi.2. Uji Statistik Peningkatan pendapatan yang telah dihitung tersebut harus di uji secrastatistik. Apakah ada perbedaan pendapatan yang signifikan antara sebelum dansetelah program PUAP. Oleh karena itu perlu diuji dengan uji statistikmenggunakan rumus t-test untuk data berpasangan atau paired sample t-test(Walpole, 1995). Hasil Uji statistik pendapatan petani berdasarkan luas lahandapat dilihat pada Tabel 2.Tabel 2. Hasil Analisis Statistik t-hitung terhadap Pendapatan UsahataniLuas Lahan t-hitung t-tabel Kesimpulan1 Ha │- 2,618│ 1,645 Perbedaan yang nyata (tolak H0)Sumber : data diolah Hasil pengujian statistik menggunakan rumus t-test menghasilkan nilai t-hitung sebesar -2,618 dan nilai t-tabel sebesar 1,645. Berdasarkan kriteria uji jikat-hitung > t-tabel maka tolak H0. Tabel 2 diatas menunjukkan nilai t-hitung > nilai t-tabel, maka tolak H0 pada taraf nyata 5 persen (α = 0,05). Kesimpulannya adaperbedaan yang nyata terhadap pendapatan usahatani padi sebelum dan setelahprogram PUAP.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1019
  • 99. ISBN 978-602-98295-0-13. Analisis R/C rasio Analisis R/C rasio adalah perbandingan antara penerimaan (revenue)dengan biaya (cost). Semakin besar penerimaan maka semakin besar pula nilaiR/C rasio. Hasil perhitungan analisis R/C rasio sebelum dan setelah PUAP dapatdilihat pada Tabel 3 di bawah ini :Tabel 3. Hasil Perhitungan R/C rasio Sebelum dan Setelah PUAP Uraian Sebelum PUAP Setelah PUAPR/C rasio atas biaya tunai 3 3R/C rasio atas biaya total 2,43 2,83Sumber : data diolah Berdasarkan Tabel 4 dapat terlihat perbedaan yang tidak terlalu signifikanpada nilai R/C rasio atas biaya tunai sebelum dan setelah PUAP yaitu 3. Artinyasetiap Rp. 1,00 biaya yang dikeluarkan petani dalam usahatani padi maka petaniakan mendapatkan penerimaan sebesar Rp. 3,00. Nilai R/C rasio untuk biayatotal sebesar 2,43 artinya setiap Rp. 1,00 biaya yang dikeluarkan akanmenghasilkan penerimaan sebesar Rp. 2,43,00. Jika nilai R/C rasio lebih darisatu,maka usahatani layak untuk diusahakan. Dapat disimpulkan bahwa usahatanipadi layak untuk diusahakan. Setelah PUAP nilai R/C untuk biaya tunai sebesar 3, tidak berbeda dengannilai R/C rasio sebelum PUAP. Tetapi nilai R/C rasio atas biaya total berbedaantara sebelum dan setelah PUAP. Sebelum PUAP nilai R/C rasio sebesar 2,83,artinya setiap Rp.1,00 biaya yang dikeluarkan akan memperoleh penerimaansebesar Rp. 2,83,00. Nilai R/C rasio setelah PUAP lebih besar dari satu sehinggausahatani padi leyak untuk diusahakan. Perbedaan nilai R/C rasio atas biaya tunaidan biaya total dikarenkan ada biaya yang diperhitungkan dalam biaya totalsehingga biaya yang dikeluarkan bertambah. Biaya yang diperhitungkan walaupunnilainya kecil namun sangat mempengaruhi pendapatan total.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1020
  • 100. ISBN 978-602-98295-0-1 KESIMPULANBerdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan:1. Pendapatan petani sebelum PUAP Rp. 6.399.047,00 dan setelah PUAP Rp. 8.435.686,00. Ada peningkatan pendapatan antara sebelum dan setelah PUAP sebesar Rp. 2.036.639,00. Hal ini menunjukkan bahwa Program PUAP berdampak positif terhadap pendapatan petani2. Sebelum nilai R/C rasio atas biaya tunai sebesar 3 dan nilai R/C rasio atas biaya total sebesar 2,43. Setelah PUAP nilai R/C rasio atas biaya tunai sebesar 3 dan nilai R/C rasio atas biaya total 2,83. Nilai R/C rasio lebih besar dari satu berarti usahatani padi layak untuk diusahakan.3. Nilai t-hitung = │-2,618│ > t-tabel = 1,645, maka tolak H0. Artinya ada perbedaan yang nyata terhadap pendapatan petani sebelum dan setelah Program PUAP DAFTAR PUSTAKABadan Pusat Statistik. 2009. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial- Ekonomi Indonesia. Jakarta.Pedoman Umum PUAP. 2009. Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Jakarta.Prihartono, M.K. 2009. Dampak Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pertanian terhadap Kinerja Gapoktan dan Pendapatan Anggota Gapoktan. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. PUAP untuk Kesejahteraan Rakyat. Vol. 1 no. 36. Tahun 2009. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Bogor.Walpole, R.E. 1995. Pengantar Statistika. Edisi ke-3. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1021
  • 101. ISBN 978-602-98295-0-1 MENGENTASKAN KEMISKINAN MELALUI PERANG TERHADAP KORUPSI: STUDI KASUS TERHADAP BEBERAPA NEGARA DI ASIA Sari Lestari Zainal Ridho, Dewi Fadila, Elisa Jurusan Administrasi Niaga, Politeknik Negeri Sriwijaya ABSTRAKKajian ini berjudul ―Mengentaskan Kemiskinan melalui Perang Terhadap Korupsi‖,yang ditulis oleh Sari Lestari Zainal Ridho dan Dewi Fadila, staf pengajar jurusanAdministrasi Niaga Politeknik Negeri Sriwijaya. Kajian ini bertujuan memaparkandan membuktikan pentingnya perang terhadap korupsi dalam rangkamengentaskan kemiskinan. Kemiskinan merupakan permasalahan dalam upayamenjalankan pembangunan ekonomi, sehingga merupakan kewajiban tiap Negarauntuk mengentaskan kemiskinan. Namun upaya pengentasan kemiskinan tanpamenghilangkan perilaku korupsi hanya akan menyebabkan ketidakefisienan danketidakefektifan dalam pencapaian tujuan program-program pengentasankemiskinan. Menggunakan metode penelitian deskriptif eksploratif dan analisisprofil, kami menemukan bahwa tingkat pengendalian korupsi yang rendah yangberarti tingginya tingkat korupsi di suatu Negara akan dibarengi oleh tingkatpendapatan rata-rata Negara yang juga rendah dan jumlah penduduk miskin yangtinggi. Sehingga perang terhadap korupsi melalui pencegahan, penegakkanhukum dan pendidikan merupakan suatu keniscayaan dalam rangkamemberantas kemiskinan.Kata Kunci: Kemiskinan, Pengendalian Korupsi, Pendapatan Rata-Rata PENDAHULUAN Kemiskinan meupakan masalah yang menimbulkan berbagai masalahlainnya, yaitu: (1) tingkat kriminalitas yang semakin tinggi, (2) memunculkanberbagai penyakit pada kelompok beresiko tinggi seperti ibu hamil, ibu menyusui,bayi dan balita, (3) anak putus sekolah serta masalah-masalah lainnya.Kemiskinan merupakan pekerjaan rumah bagi Negara-negara yang hendakmembangun negerinya karena salah satu indikator pembangunan ekonomi disuatu Negara adalah rendahnya jumlah orang miskin atau angka kemiskinan diNegara tersebut. Berbagai program pengentasan kemiskinan dilakukan oleh pemerintah diIndonesia, baik dalam bentuk bantuan publik ataupun program anti kemiskinan.Namun hasil yang diperoleh dalam pelaksanaan program-program tersebut masihbergerak perlahan dalam mengentaskan kemiskinan. hal ini bisa dilihat dari salahsatu indikator kemiskinan yaitu penganguran. Berdasarkan data dari Biro PusatProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1022
  • 102. ISBN 978-602-98295-0-1Statistik (BPS) Indonesia untuk periode Februari-Agustus 2010, laju penurunantingkat penganguran di Indonesia belum menunjukkan perubahan yang signifikan,bahkan berjalan lebih lambat dari periode sebelumnya. Korupsi dianggap sebagai salah satu penyebab ketidakberhasilan berbagaiprogram pengentasan kemiskinan tersebut. Berbagai strategi yang dilakukanuntuk mengurangi kemiskinan, tanpa upaya memerangi korupsi hanya akanmenimbulkan masalah baru dalam pembangunan ekonomi, hal ini disebabkanoleh dana yang sejatinya disalurkan untuk mengentaskan kemiskinan ketikadikorupsi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, akan menyebabkandeefisiensi dan deefektititas dalam pencapaian tujuan mengentaskan kemiskinan.Berdasarkan data lembaga Transparency International, Index Persepsi KorupsiIndonesia untuk tahun 2010 masih sangat rendah, yaitu sebesar 2,8 walaupunmengalami kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya. Indeks Persepsi Korupsitersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih merupakan negara korup, karenaskor yang diperoleh Indonesia jauh lebih mendekati angka nol (skor bagi negaraterkorup) dibanding mendekati angka 10 (skor bagi negara terbersih) (CorruptionPerception Index 2010) Tingginya tingkat korupsi meperlambat laju penurunan jumlah kemiskinanyang berpengaruh terhadap pelaksanaan pembangunan ekonomi. Kajian inibertujuan memaparkan permasalah korupsi dan pengaruhnya terhadapkemiskinan dan pembangunan ekonomi di Indonesia serta memberikan solusi daripemasalah tersebut. BAHAN DAN METODE Berdasarkan definisi dari Asia Development Bank, kemiskinan adalahperampasan aset penting dan peluang yang setiap manusia berhak atasnya,seperti atas pendidikan dasar, perawatan kesehatan, nutrisi, air, sanitasi,pendapatan, pekerjaan dan gaji. Senada dengan definisi yang diberikan olehRatnayake bahwa kemiskinan tidak hanya berarti kehilangan pendapatan danasset-aset productive tapi juga kehilangan akses terhadap pelayanan publik danekonomis yang esensial juga kehilangan kekuatan, kesempatan berpartisipasi danhak atas penghormatan. (Ratnayake, 2007) Ada berbagai program yang dilakukan dalam rangka mengurangi jumlahpenduduk miskin. Program-program tersebut dapat kita kelompokkan dalam duaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1023
  • 103. ISBN 978-602-98295-0-1golongan, yaitu: pemberian bantuan publik (public assistance) dan program antikemiskinan (anti poverty program). Pemberian bantuan publik merupakan programuntuk mengurangi kondisi Program anti kemiskinan berarti menjalankan programyang mengarah pada pemindahan kondisi kemiskinan seseorang dan membantuorang menghindari kemiskinan. (Northrop, 1991) Indonesia telah melaksanakan berbagai program pengentasan kemiskinan,baik dalam bentuk bantuan langsung maupun anti kemiskinan. Program-programyang termasuk bantuan publik adalah: program beras untuk rakyat miskin danprogram jaring pengaman sosial (JPS) untuk orang miskin, dan program BantuanLangsung Tunai (BLT). Sedangkan program yang termasuk program antikemiskinan adalah: Kredit Untuk Rakyat dan Bantuan Operasional Sekolah. Ada berbagai penelitian empiris yang membuktikan keterkaitan antaraNegara-negara miskin atau dengan jumlah penduduk miskin yang tinggi dengantingkat korupsi yang tinggi pula yang pada akhirnya berpengaruh terhadappembangunan ekonomi. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Fishman danMiguel yang melakukan penelitian pada tahun 2006 dengan judul ―EconomicGangsters: Corruption, Violation and the Poverty of Nations‖ membuktikan bahwaNegara-negara miskin merupakan Negara-negara dengan tingkat korupsi yangtinggi hal ini disebabkan oleh banyaknya koruptor di Negara-negara miskintersebut. Hal ini tentunya berpengaruh dalam pembangunan. (Harford, 2009).Sebuah penelitian lain membuktikan bahwa tinggi rendahnya korupsi akanberpengaruh terhadap tinggi rendahnya tingkat pembangunan di suatu Negara.Blackburn dan Sarmah dalam kajiannya yang berjudul “Corruption, Developmentand Demography‖, dalam peneltian ini Blackburn dan Sarmah menganalisahubungan antara korupsi birokrasi, pembangunan ekonomi, tingkat harapan hidupdan transisi demografi. Temuan mereka membuktikan bahwa: rendahnya tingkatpembangunan berkaitan dengan tingginya tingkat korupsi dan rendahnya tingkatharapan hidup. Sebaliknya tingginya tingkat pembangunan berkaitan denganrendahnya tingkat korupsi dan tingginya tingkat harapan hidup. (Blackburn &Sarmah, 2008) Metode yang penulis gunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptifeksploratif, dengan menggunakan analisis profil. Variabel yang digunakan dalamkajian ini adalah kemiskinan, yaitu: jumlah penduduk dari suatu Negara yangProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1024
  • 104. ISBN 978-602-98295-0-1berada di bawah garis kemiskinan dalam persentase. Variable kedua adalah:rangking pengendalian korupsi, yaitu: menangkap persepsi sejauh manakekuasaan publik dan kekuasaan negara oleh para elite dilaksanakan untukkeuntungan dan kepentingan pribadi, termasuk bentuk kecil dan besar korupsi.Data diukur berdasarkan rangking 0-100 dimana angka yang lebih kecilmenunjukkan posisi yang lebih rendah. Sedangkan Variabel ketiga adalahpendapat rata-rata, yaitu: tingkat pendapatan negara secara rata-rata, yang diukurberdasarkan bagian dari perseratus atau percentile.(Kaufmaan, 2010). Data yangdigunakan dalam kajian ini adalah data sekunder yang penulis peroleh dariberbagai lembaga, yaitu: Biro Pusat Statistik, World Bank, dan TransparencyInternational. HASILTable 1 menunjukkan berbagai kasus korupsi di Indonesia, yaitu: dalam BadanUsaha Milik Negara, dalam dunia perbankan, dalam dunia pendidikan dan dalamprogram pengentasan kemiskinan, dengan jumlah luar biasa yang dikorupsi olehberbagai lembaga tersebut. Kasus korupsi di Pertamina untuk 2 kasus saja, yangterjadi pada tahun 1993 sampai dengan 1998, di duga telah merugikan Negarasebesar kurang US $ 24,800,700. Kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia padatahun 2000 diduga telah merugikan Negara sebesar Rp 138,4 T. Kasus programpendidikan yang sebagian besar terjadi pada penggelapan dana BantuanOperasional Sekolah dan Dana Alokasi Khusus, sebanyak 142 kasus, merugikanNegara sebanyak kurang lebih Rp 243,3 M, dan program pengentasan kemiskinanuntuk 1 kasus, diduga telah merugikan Negara sebanyak Rp 210 juta. Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa untuk tahun 2009 Indonesia berada pada rangking 28,1dari 100 jika dibandingkan dengan Negara-negara yang dipilih dalam kajian iniIndonesia berada pada rangking terendah kedua setelah Philipina. China danVietnam berada posisi yang lebih tinggi yaitu rangking 36.2 dan 36.7. Singapuraberada pada posisi yang sangat tinggi yaitu pada rangking 99. Pada datapendapat rata-rata yang dihitung berdasarkan bagian dari perseratus (percentile)maka Indonesia berada pada 38,6 persentil, angka tersebut juga di peroleh olehPhilipina dan Thailand. Singapura dan Korea Selatan memiliki pendapatan rata-rata pada 83.4 persentil. Profil dari data table 2 dapat dilihat pada gambar 1.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1025
  • 105. ISBN 978-602-98295-0-1 Table 1 Data Beberapa Kasus Dugaan Korupsi di Indonesia Kasus Jumlah Jumlah Keterangan Sumber Kasus Kerugian NegaraPERTAMINA 2 $ 24.8 juta Dugaan korupsi dalam Tecnical www.tempointeraktif. Assintance Contract (TAC) com antara Pertamina dengan PT Ustaindo Petro Gas (UPG) tahun US$ 700 1993. Kasus Proyek Kilang Minyak Export Oriented (Exxor) I di Balongan, Jawa Barat, tahun 1995-1998.Bantuan 1 Rp 138,4T Pada tahun 2000, adanya www.tempointeraktif.Likuiditas Bank penyimpangan penyaluran dana comIndonesia BLBI dari total dana senilai Rp(BLBI) 144,5 triliun.Program 142 Rp243,3 M Kasus korupsi terjadi sampai Tempo dari websitePendidikan dengan bulan September 2009. BAPPENAS Sebagian besar terjadi (TKPKP2E-DAK penggelapan pada dana Bantuan BAPPENAS) Operasional Sekolah (BOS) dan Dana Alokasi Khusus (DAK)Program 1 Rp 210 Juta Kasus Korupsi terjadi di Desa RepublikaPengentasan Karangharja KecamatanKemiskinan Pebayuran, Kabupaten Bekasi periode September hingga Desember 2008. Terjadi penggelapan dana pada Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi rakyat miskin Table 2. Pengawasan Korupsi, Perbandingan antara Beberapa Negara di Asia Rangking Pendapatan Rata- Negara Tahun Pengawasan Korupsi Rata (bagian dari (0-100) perseratus)CHINA 2009 36.2 38.6INDONESIA 2009 28.1 38.6KOREA, SOUTH 2009 71.4 83.4MALAYSIA 2009 58.1 58.7PHILIPPINES 2009 27.1 38.6SINGAPORE 2009 99 83.4THAILAND 2009 51 38.6VIETNAM 2009 36.7 23.4Sumber: World Bank, Worldwide Governance Indicators 2009, diolah oleh penulis Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1026
  • 106. ISBN 978-602-98295-0-1Sumber: World Bank, Worldwide Governance Indicators 2009, diolah oleh penulis Tabel 3. Kemiskinan, Perbandingan antara Beberapa Negara di Asia Proporsi dari Populasi Rangking yang Berada di Bawah Pengawasan Korupsi Negara Garis Kemiskinan Tahun 2009 (%) (0-100)CHINA 4.2 (2008) 36.2INDONESIA 14.2 (2009) 28.1KOREA, SOUTH 5.0 (2004) 71.4MALAYSIA 3.6 (2007) 58.1PHILIPPINES 32.9 (2009) 27.1SINGAPORE --- 99THAILAND 8.5 (2008) 51VIETNAM 13.5 (2008) 36.7Sumber: Asian Development Bank, Key Indicators for Asia and the Pacific 2010,diolah penulis. Tabel 3 merupakan data dari proporsi dari populasi yang berada di bawahgaris kemiskinan dan data ranking pengawasan korupsi. Pada table tersebutdisajikan bahwa Indonesia memiliki proporsi jumlah penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan sebanyak 14,2 % yang merupakan urutan ke dua tertinggisetelah Philipina dengan 32,9 % diikuti oleh Vietnam dengan 13,5%. Sedangkanposisi terendah secara berurutan dari yang paling rendah adalah sebagai berikut:Malaysia dengan 3.6%, China dengan 4.2 %, Korea Selatan dengan 5%, danThailand dengan 8.5%Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1027
  • 107. ISBN 978-602-98295-0-1 PEMBAHASAN Berdasarkan data pada table 1 yang menunjukkan bahwa hanya dengansejumlah kecil kasus korupsi di Indonesia—dalam Badan Usaha Milik Negara,perbankan, program pendidikan dan program pengentasan kemiskinan—sajatelah merugikan Negara sebanyak ratusan triliun rupiah, yang jika digunakanuntuk menjalankan program pengentasan kemiskinan akan dapat membiayaisekolah sejumlah besar anak putus sekolah, atau dapat memberikan ribuan wargabantuan dana untuk membuka usaha dan memberikan ratusan juta rakyatbantuan publik. Irosnisnya tidak sedikit penggelapan dana terjadi pada program-program yang bertujuan menngentaskan kemiskinan dan memperbaiki kondisisumber daya manusia, seperti pendidikan dalam rangka memutus lingkarankemiskinan yang selama ini terjadi di Indonesia. Kasus-kasus dugaan koruspsiyang telah merugikan Negara sedemikian besar, masih merupakan puncakgunung es,karena kita mengetahui ada lebih banyak kasus duggan koruspsi yangterjadi akhir-akhir ini. Berdasarkan data pada table 2, kita dapat melihat bahwa ada pergerakanyang selaras antara rangking pengawasan korupsi dan tingkat pendapatan rata-rata. Hal ini diperjelas pada profil yang ditunjukkan gambar 1. Indonesia beradapada posisi terendah kedua yang berarti tingkat pengawasan terhadap korupsi diProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1028
  • 108. ISBN 978-602-98295-0-1Indonesia sangat rendah, hal ini menyebabkan maraknya kasus korupsi diIndonesia. Demikian dengan pendapatan rata-rata Indonesia berada di posisikedua terendah setelah Vietnam. Sebaliknya Singapura dengan tingkatpengawasan yang tinggi terhadap korupsi memiliki tingkat pendapatan rata-ratayang juga tinggi. Data dan profil tersebut menunjukkan bahwa semakin rendahrangking pengawasan korupsi di suatu Negara yang berindikasi semakin tingginyajumlah kasus korupsi di Negara tersebut maka semakin rendah pendapatan rata-rata Negara tersebut. Sama halnya dengan pergerakan yang terjadi ketika kami membandingkanjumlah kemiskinan di suatu Negara dengan tingkat pengawasan korupsi, hal inidapat dilihat dari table 3 dan gambar 2. Sebagai contoh Negara Korea Selatandan Malaysia, merupakan dua Negara yang memiliki ranking pengawasan korupsiyang cukup tinggi yaitu 71, 4 dan 58,1, kedua Negara tersebut memilikiprosentase yang rendah atas populasi penduduk yang berada di bawah gariskemiskinan, dengan demikian jumlah penduduk miskin di kedua Negara tersebutsecara proporsional lebih sedikit disbanding Negara-negara dengan tingkatpengawasan korupsi yang rendah seperti di Indonesia. Data dan profil tersebutmenunjukkan bahwa semakin rendah rangking pengendalian korupsi di suatuNegara yang berarti semakin tinggi tingkat korupsi di Negara tersebut, Negaratersebut juga memiliki jumlah penduduk miskin yang lebih besar disbandingNegara dengan angka pengendalian korupsi yang lebih tinggi atau Negara dengantingkat korupsi yang lebih rendah. KESIMPULAN DAN SARAN Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari kaiian ini adalah, pertama,semakin rendah rangking pengendalian korupsi di suatu Negara yang berartisemakin tingginya jumlah kasus korupsi di Negara tersebut maka semakin rendahpendapatan rata-rata Negara tersebut. Kedua, semakin rendah rangkingpengendalian korupsi di suatu Negara yang berarti semakin tinggi tingkat korupsidi Negara tersebut, Negara tersebut juga memiliki jumlah penduduk miskin yanglebih besar disbanding Negara dengan angka pengendalian korupsi yang lebihtinggi atau Negara dengan tingkat korupsi yang lebih rendah. Sehingga tingkatProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1029
  • 109. ISBN 978-602-98295-0-1pengendalian korupsi yang rendah atau tingkat korupsi yang tinggi di suatuNegara akan menyebabkan upaya pengentasan kemiskinan berjalan lambat.Demikian sehingga perang terhadap korupsi merupakan keniscayaan dalamupaya mengentaskan kemiskinan suatu Negara, dengan cara-cara antara lainadalah: melalui tindakan pencegahan, penegakan hukum dan pendidikan kepadamasyarakat. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pengawasan secara ketatterhadap perilaku-perilaku korupsi yang dapat dilakukan oleh masyarakat,lembaga penegak hokum dan lembaga sosial masyarakat. Penegakkan hukumdapat dilakukan dengan transparan dan tegas dengan menjunjung tinggi nilai-nilaikeadilan dan dengan melakukan pembersihan dari korupsi pada lembaga-lembaga Negara, baik lembaga pengelola asset dan keuangan Negara maupunlembaga pelayanan publik. Pendidikan dapat dilakukan dengan upaya-upayapeningkatan pemahaman masyarakat akan dampak dari korupsi bagi individu,masyarakat dan Negara. Melalui pendidikan juga diharapkan dapat menciptakanpembentukan karakter pribadi-pribadi yang memiliki integritas, moral yang tinggiyang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan kejujuran. DAFTAR PUSTAKAAnonim. 2009. Incar BOS dan DAK Kasus Korupsi di Pendidikan Rp 243,3 Miliar: Kasus korupsi di sekolah-sekolah masih dianggap sebagai kasus recehan. Tempo. 10 September. http://www.tkp2e- dak.org/newsview.asp?kk=138&dkd=berita. Tanggal pengaksesan: 5 Desember 2010.Anonim. 2004. Kasus-kasus Korupsi di Indonesia.www.tempointrtaktif.com. 25 Oktober. http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2004/10/25/nrs,20041025- 04,id.html. Tanggal Pengaksesan: 4 Desember 2010.Anonim. 2010. Key Indicators for Asia and The Pacific 2010: The Rise of Asia‘s Middle Class. August. Asian Development Bank. 41th Edition. http://www.adb.org/Documents/Books/Key_Indicators/2010/pdf/Key- Indicators-2010.pdf Tanggal pengaksesan: 3 Desember 2010.Anonim. 2010. Corruption Perception Index 2010. http://www.transparency.org/policy_research/surveys_indices/cpi/2010. Tanggal Pengaksesan: 4 Desember 2010.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1030
  • 110. ISBN 978-602-98295-0-1Blackburn, Keith and Rashmi Sarmah. 2008. Corruption, Development and Demography. Econ Gov; 9; 341-362.Harford, Tim. 2009. The Development Dilemma. Reason; May; 41,1; Research Library, hal. 51. Tanggal Pengaksesan 3 Desember 2010.Kaufmann, Daniel, Aart Kraay, and Massimo Mastruzzi. 2010. Worldwide Governance Indicators: Methodology and Analysis. Policy Research Working Paper 5430. The World Bank, Development Research Group, Macroeconomics and Growth Team. http://siteresources.worldbank.org/INTMACRO/Resources/WPS5430.pdf. Tanggal pengaksesan: 4 Desember 2010Northrop, Emily M.1991. Public Assistance and Antipoverty Programs or Why Havent. Journal of Economic Issues. Lincoln: Dec . Vol. 25, Edisi 4; pg. 1017, 11 pgs http://www.unescap.org/pdd/publications/RuralPoverty/ChIII.pdf. Tanggal Pengksesan 2 Desember 2010.Ratnayake, Ravi. 2007. Persistent and Emerging Issues in Rural Poverty Reduction. UN Economics and Social Commission for Asia and the Pacific Document. http://www.unescap.org/pdd/publications/RuralPoverty/Rural_Poverty_Redu ction.pdf Tanggal Pengaksesan 3 Desember 2010.Yuwanto, Endro. 2010. Tiga Tersanka Kasus Korupsi di Bekasi. REPUBLIKA.co.id. 15 Juli. http://www.republika.co.id/berita/breaking- news/metropolitan/10/07/15/124819-tiga-tersangka-korupsi-dana-blt-di- bekasi-ditahan. Tanggal Pengaksesan: 5 Desember 2010.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1031
  • 111. ISBN 978-602-98295-0-1 PROSES PENGOLAHAN DAN ANALISIS USAHA HOME INDUSTRY DODOL NENAS DI DESA BIKANG KECAMATAN TOBOALI KABUPATEN BANGKA SELATAN Evahelda Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Perikanan Dan Biologi, Universitas Bangka Belitung, kampus terpadu Balunijuk Desa Balunijuk Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengolahan dodol nenas, danmenghitung analisis usaha (total biaya, penerimaan dan pendapatan) pada prosespengolahan dodol nenas di Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakanmetode survei. Penarikan sampel dilakukan secara sengaja (Purposive). Metodepengumpulan data, yaitu observasi (pengamatan), wawancara langsung dan studipustaka. Selanjutnya data yang diperoleh disusun secara tabulasi dan dijelaskansecara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengolahan dodolnenas adalah sebagai berikut : Buah nenas dikupas dan dicuci, lalu di potongkemudian di blender. Campurkan nenas yang sudah halus dengan sebagiansantan, tepung ketan, gula pasir, margarin menjadi adonan dodol, tambahkan sisasantan yang sudah dipanaskan di wajan dan hampir menjadi minyak kedalamadonan yang sudah rata sambil diaduk dan dimasak sampai kental, liat, danadonan keluar minyak. Angkat adonan dan tuangkan kedalam loyang yang sudahdialasi plastik, setelah dingin adonan dikemas dengan plastik. Biaya total yangdikeluarkan dalam satu kali proses produksi adalah sebesar Rp. 289.638,91.Penerimaan yang diperoleh adalah sebesar Rp. 600.000. Pendapatan yangdiperoleh adalah sebesar Rp. 310.361,09 dalam satu kali produksi.Kata kunci : dodol nenas, analisis usaha, home industry, Toboali PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi alamiah untukmengembangkan sektor pertanian, termasuk tanaman hortikultura. Sektorpertanian merupakan suatu kegiatan ekonomi yang tangguh yang dapatdigunakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Nenas (Ananas comucus L) merupakan komoditas hortikuktura andalanIndonesia, baik yang di ekspor dalam bentuk buah segar maupun olahan. Volumeekspor buah nenas Indonesia pada tahun 2008 sebesar 269.663,512 ton. Jumlahini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2007 sebesar110.112,419 ton (Anonim 2009).Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1032
  • 112. ISBN 978-602-98295-0-1 Produksi nenas Indonesia pada tahun 2009 mencapai 1.558.049 ton dan9.266 ton dihasilkan oleh Provinsi Bangka Belitung (BPS RI 2009). Hal inimenunjukkan bahwa nenas dapat mendukung pengembangan pembangunanpertanian di Bangka Belitung selain sektor perkebunan dan pertambangan. Salah satu sentra produksi nenas terbesar di Kabupaten Bangka Selatanadalah Desa Bikang. Luas areal tanaman nenas di Desa Bikang pada tahun 2009adalah sebesar 48 Ha dengan jumlah produksi sebanyak 130 ton (BPS BangkaSelatan 2009). Nenas di Desa Bikang sudah menjadi produk unggulan, hal ini disebabkankarena usahatani nenas sudah menjadi mata pencaharian utama yangdiusahakan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Keunggulan NenasBikang dibanding nenas lainnya adalah kualitas rasanya yang tak tersaingi, manisdan gurih, dengan kondisi buahnya yang besar, kelihatan segar dan sedapdipandang mata (Anonim 2009). Melihat potensi nenas yang cukup besar baik dari segi produksi danrasanya, sudah selayaknya nenas dapat meningkatkan pendapatan petani diDesa Bikang. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah pada saat panenraya tiba harga nenas tersebut akan menjadi rendah. Didukung lagi dengankarakteristik produk hortikultura yang mudah rusak, tidak seragam dan bulky,sehingga akan menurunkan pendapatan petani nenas. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahantersebut adalah dengan pengolahan lebih lanjut buah nenas menjadi dodol nenas,sehingga dapat meningkatkan nilai tambah. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan dari Bulan Agustus sampai November 2009, diDesa Bikang Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalahmenggunakan metode survei dimana peneliti melihat langsung keadaandilapangan. Menurut Hasan (2006), penelitian survei adalah penelitian dengantidak melakukan perubahan (tidak ada perlakuan khusus) terhadap variabel-Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1033
  • 113. ISBN 978-602-98295-0-1variabel yang diteliti, dan penelitian ini dilakukan untuk memperoleh fakta-faktadari gejala-gejala yang ada pada suatu kelompok ataupun suatu daerah. Penarikan sampel dilakukan secara sengaja (Purposive), yaitu homeindustry milik Bapak Saparudin. Usaha pembuatan dodol nenas ini sudah dimulaisejak tahun 2007. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data, yaitu observasi(pengamatan), wawancara langsung dan studi pustaka. Metode yang digunakan untuk menghitung besarnya biaya produksi(Soekartawi, 2002) adalah sebagai berikut : TC = FC + VCDimana : TC = Total Cost / Biaya Total (Rp) FC = Fixed Cost / Biaya Tetap (Rp) VC = Variabel Cost / Biaya Variabel (Rp) Menghitung biaya penerimaan dan pendapatan (Soekartawi, 2002) adalahsebagai berikut: Pn = Pt x HpDimana : Pn = Penerimaan (Rp) Pt = Produksi (unit) Hp = Harga Jual (Rp) Menghitung pendapatan Pd = TR - TCDimana : Pd = Pendapatan Total (Rp) TR = Total Revenue / Penerimaan (Rp) TC = Total Cost / Biaya Produksi Total (Rp) Selanjutnya data yang diperoleh disusun secara tabulasi dan dijelaskansecara deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASANProses Pembuatan Dodol Nenas Berdasarkan bahan bakunya dodol diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:dodol yang diolah dari tepung-tepungan dan buah-buahan (Satuhu dan Sunarmi2004). Dodol merupakan salah satu produk olahan hasil pertanian (buah-buahan)Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1034
  • 114. ISBN 978-602-98295-0-1yang termasuk dalam jenis pangan semi basah yang terdiri dari campuran tepungdan gula yang dikeringkan, sehingga dapat langsung dimakan dan kandunganairnya rendah sehingga dapat stabil selama penyimpanan. Makanan ini biasanyadigunakan sebagai makanan ringan atau makanan selingan.1. Bahan baku dan peralatan : Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan dodol nenas terdiri daribahan pokok (utama), bahan pembantu dan bahan penunjang. Bahan utama yangdigunakan untuk pembuatan dodol nenas adalah buah nenas. Bahan penolongyang digunakan terdiri dari tepung ketan, gula putih, margarin, santan kelapa, airdan plastik kemasan. Bahan penunjang yang digunakan minyak tanah, kayu bakardan listrik. Peralatan yang digunakan adalah sebagai berikut: wajan almunium, pisau,pengaduk kayu, blender, baskom, loyang, ember, tungku besi, saringan santan,dan ember.2. Cara Pembuatan : a. Buah nenas yang akan digunakan dikupas dan dicuci b. Ambil daging buah, lalu dipotong kecil kemudian di blender c. Siapkan santan kelapa dengan perbandingan 1 : 3 d. Campurkan nenas yang sudah halus dengan sebagian santan, tepung ketan, gula pasir, margarin menjadi adonan dodol e. Tambahkan sisa santan yang sudah dipanaskan di wajan dan hampir menjadi minyak kedalam adonan yang sudah rata sambil diaduk f. Masak sampai kental, liat, dan adonan keluar minyak g. Angkat adonan dan tuangkan kedalam loyang yang sudah dialasi plastik dengan ketebalan adonan 2 cm h. Setelah dingin adonan bisa dikemas dengan plastik.Analisis UsahaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1035
  • 115. ISBN 978-602-98295-0-1 Biaya produksi adalah semua pengeluaran yang harus dikeluarkanprodusen untuk memperoleh faktor-faktor produski dan bahan penunjang lainnya,yang akan digunakan agar produk-produk tertentu yang direncanakan dapatterwujud (Mankiw 2003). Biaya produksi dalam penelitian ini adalah semua biayayang dikeluarkan dalam memproduksi dodol nenas. Biaya produksi yangdikeluarkan yaitu biaya tetap dan biaya variabel.1. Biaya Tetap (Fixed cost) Biaya tetap dalam penelitian ini adalah biaya yang dikeluarkan untukpembiayaan faktor-faktor produksi yang sifatnya tetap, tidak berubah walupunvolume produk yang dihasilkan berubah. Atau dengan kata sarana produksi yangtidak habis dipakai dalam satu kali proses produksi. Penghitungan biaya tetap merupakan biaya penyusutan peralatan yangdigunakan selama proses pengolahan dodol nenas, yang sifatnya tidak habisdipakai dalam sekali produksi. Akan tetapi dapat digunakan berulang-ulang sesuaidengan umur pemakaiannya. Biaya penyusutan dihitung dengan membandingkanharga beli (Rp) dengan lamanya pemakian (Th) (Suratiah 2006). Rincian biayatetap dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat bahwa biaya tetap yang dikeluarkanberdasarkan biaya penyusutan adalah sebesar Rp. 16.638,91. Tabel 1. Biaya tetap yang digunakan dalam pembuatan dodol nenasNo. Bahan Satuan Harga satuan Nilai Penyusutan (unit) (Rp) (Rp/Bln) 1. Baskom 2 10.000 555,56 2. Wajan besar 1 250.000 4.166,67 3. Wajan sedang 1 130.000 2.166,67 4. Pengaduk kayu 1 30.000 833,33 5. Loyang 4 15.000 1.666,67 6. Tungku besi 1 40.000 666,67 7. Saringan santan 2 6.000 333,33 8. Blender 1 200.000 5.555,569. Ember 1 10.000 277,7810. Pisau 2 12.500 416,67 Total 703.500 16.638,91 Sumber : diolah dari data primerProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1036
  • 116. ISBN 978-602-98295-0-12. Biaya Variabel (Variabel Cost) Biaya variabel adalah biaya yang digunakan untuk pengadaan faktor-faktorproduksi yang sifatnya berubah-ubah. Atau dengan kata lain biaya variabel adalahbiaya yang dikeluarkan selama proses produksi yang langsung mempengaruhijumlah produksi dan penggunaanya habis dipakai dalam satu kali proses produksi.Biaya variabel yang dimaksud dalam penelitian ini adalah biaya bahan baku,bahan penolong, biaya tenaga kerja dan biaya penunjang yang besar kecilnyatergantung dari besar kecilnya volume produksi. Biaya variabel yang digunakanselama proses pengolahan dodol nenas dalam satu kali produksi dapat dilihatpada Tabel 2. Tabel 2. Biaya variabel yang digunakan dalam pembuatan dodol nenasNo. Bahan Satuan Harga satuan (Rp) Jumlah (Rp) 1. Nenas 20 buah 3.500 70.000 2. Gula pasir 2,5 Kg 11.000 27.500 3. Margarin 5 ons 4.000 20.000 4. Tepung ketan 3 bungkus 5.000 15.000 5. Kelapa 10 buah 4.000 40.000 6. Kayu bakar 2 ikat 6.000 12.000 7. Minyak tanah 0,25 liter 4.000 1.000 8. Plastik kemasan 1 pak ukuran 0.5 kg 7.500 7.500 9. Listrik 30.000 30.00010. Tenaga Kerja 2 orang 25.000 50.000 Total 100.000 273.000 Sumber : diolah dari data primer3. Biaya Total (Total Cost) Biaya total adalah semua komponen biaya yang digunakan selama prosesproduksi. Biaya total adalah jumlah dari biaya tetap (FC) ditambah biaya variabel(VC) yang digunakan bersama-sama dalam satu kali proses produksi. Biaya Totalyang digunakan selama proses pengolahan dodol nenas dalam satu kali produksidapat dilihat pada Tabel 3.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1037
  • 117. ISBN 978-602-98295-0-1 Tabel 3. Biaya Total yang digunakan dalam pembuatan dodol nenasNo. Uraian Biaya Jumlah perbulan (Rp/bln) 1. Biaya Tetap (Fixed Cost) Rp. 16.638,91 Penyusutan 2. Biaya variabel (Variable Cost) Rp. 273.000 3. Biaya total (total Cost) Rp. 289.638,91 Berdasarkan Tabel 3, dapat dilihat bahwa biaya tetap yang dikeluarkanadalah sebesar Rp. 16.638,91. Biaya ini merupakan biaya peralatan setelahmengalami penyusutan. Biaya variabel adalah seluruh biaya yang dikeluarkanselama satu kali proses pengolahan dodol nenas yaitu sebesar Rp. 273.000.Sehingga biaya total yang dikeluarkan adalah sebesar Rp. 289.638,91 yangmerupakan penjumlahan dari kedua komponen tersebut.4. Penerimaan Penerimaan adalah hasil kali antara jumlah produksi dengan harga jual.Selama satu kali produksi akan menghasilkan 12 kg dodol nenas. Harga jual 1 kgdodol nenas sebesar Rp. 50.000. Penerimaan yang diperoleh adalah sebesar Rp.600.000 dalam satu kali produksi. Komponen penerimaan yang diperoleh dalamsatu kali produksi dodol nenas dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Penerimaan yang diperoleh dalam satu kali produksi dodol nenasNo. Uraian Biaya Sekali produksi 1. Jumlah produksi 12 kg2. Harga per kg Rp. 50.000 3. Penerimaan Rp. 600.000 Penerimaan dari usaha pengoalahan dodol nenas dalam satu kali produksiadalah = produksi x harga penjualan = 12 kg x Rp. 50.000 = Rp. 600.000Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1038
  • 118. ISBN 978-602-98295-0-15. Pendapatan Pendapatan adalah selisih antara jumlah penerimaan yang diperolehdengan total biaya yang dikeluarkan. Penerimaan yang diperoleh dalam satu kaliproses pengolahan dodol nenas dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Pendapatan yang diperoleh dalam satu kali produksi dodol nenasNo. Uraian Biaya Sekali Produksi (Rp) 1. Penerimaan Rp. 600.0002. Biaya total Rp. 289.638,91 3. Pendapatan Rp. 310.361,09 Pendapatan dari usaha pengoalahan dodol nenas dalam satu kali produksiadalah selisih antara penerimaan dengan biaya total yaitu : = Rp. 600.000 - Rp. 289.638,91 = Rp. 310.361,09 Dengan demikian dapat diketahui bahwa pendapatan yang diperoleh dalamsatu kali proses pengolahan dodol nenas adalah sebesar Rp. 310.361,09. KESIMPULAN DAN SARANKesimpulanKesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut :1. Proses pengolahan dodol nenas adalah sebagai berikut : Buah nenas dikupas dan dicuci, dipotong, lalu di blender. Campurkan nenas yang sudah halus dengan sebagian santan, tepung ketan, gula pasir, margarin menjadi adonan dodol, tambahkan sisa santan yang sudah dipanaskan di wajan dan hampir menjadi minyak kedalam adonan yang sudah rata sambil diaduk dan dimasak sampai kental, liat, dan adonan keluar minyak, angkat adonan dan tuangkan kedalam loyang yang sudah dialasi plastik dengan ketebalan adonan 2 cm, setelah dingin adonan bisa dikemas dalam plastik.2. Biaya total yang digunakan dalam satu kali proses produksi adalah sebesar Rp. 289.638,913. Penerimaan yang diperoleh dalam satu kali produksi adalah sebesarProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1039
  • 119. ISBN 978-602-98295-0-1 Rp. 600.0004. Pendapatan yang diperoleh adalah sebesar Rp. 310.361,09 dalam satu kali produksi. SARAN1. Perlu dilakukan promosi lebih lanjut supaya nenas dan produk turunannya seperti dodol nenas tetap ada dan diharapkan meningkat volume produksi sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di daerah setempat, sehingga daerah Toboali khususnya dapat menjadi ikon sebagai daerah penghasil nenas di Kabupaten Bangka Selatan.2. Perlu dilakukan pembinaan kepada masyarakat pengrajin dodol nenas sehingga produk yang dihasilkan lebih baik mutu dan kemasannya, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah. DAFTAR PUSTAKAAnonim. 2009. Statistik Ekspor 2003-2008. Jakarta : Dirjen Hortikultura. http://www.hortikultura.go.id (20 Januari 2009).Anonim, 2009. Bikang Menuju Sentra Nenas. http://cetak.bangkapos.com/serumpunsebalai/read/17370.html (6 Februari 2009).Badan Pusat Statistik. 2009. Bangka Selatan dalam Angka. BPS. Toboali.Badan Pusat Statistik RI. 2009. Produksi Buah-buahan Menurut Provinsi. http://www.bps.com. (1 Maret 2009).Hasan. 2006. Analisis Data Penelitian dengan Statistik. PT. Bumi Aksara. Jakarta.Mankiw, N.G. 2003. Pengantar Ekonomi. Erlangga. Jakarta.Satuhu, S dan Sunarmi. 2004. Membuat Aneka Dodol Buah. Penebar Swadaya. Jakarta.Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Rajawali Persada. Jakarta.Suratiah, K. 2006. Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya. Jakarta.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1040
  • 120. ISBN 978-602-98295-0-1 KEUNGGULAN KOMPETITIF DAN KOMPARATIF USAHA PEMASARAN LOBSTER DI KOTA BENGKULU M.Mustopa Romdhon1 Ketut Sukiyono Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu ABSTRACT The tight competition in lobster market at Bengkulu was indicating the smallquantity of market player, and promoting highest profit. The highest level ofcompetition caused great spending on marketing, and production cost. Thesecould lead to fluctuation of firm advantages. The Objective of research was toasses the competitive and comparative advantages of lobster marketing firm atBengkulu. Competitive and comparative advantages of lobster marketing would betested through economic unit cost proposed by Cockburn and Sieggel (1998,1999). This indication mean that if value is < 1 the cost smaller than productionvalue, firms have profit and high competitive and comparative advantages. Theresults showed that average index of competitive and comparative advantageswere .0,97 and 0,377. These means that the marketing firm has high advantages.Nowadays, the decreasing of catchments had to push the local government toconstruct the strength policy to market activities, where is the marketing firmsshould apply it. The policy related to the eco-market for lobster stock throughempowering fishermen by applying catching eco-friendly technology .key words : lobster, advantages, marketing firm PENDAHULUAN Potensi laut Propinsi Bengkulu cukup besar dengan tingkat pemanfaatanikan laut mencapai 31.906,6 ton per tahun, pada panjang garis pantai mencapai525 km yang membentang ke arah laut lepas (ZEE 200 mil), dimana peluangpenangkapan ikan mencapai 94.310,4 ton per tahun (74,72%). Ini menunjukkantingkat produksi ikan lestari di laut mencapai 126.217 ton per hektare. Jeniskomoitas laut yang dapat dikonsumsi dari perairan Bengkulu antara lain ikan tunabesar, cakalang, tongkol, tenggiri, sentuhuk, pedang, layaran, pelagis kecil,demersal, udang penaide, lobster, cumi-cumi, serta ikan karang (Aprianty, 2006).Jenis ikan di Bengkulu termasuk salah satu kelompok komoditas yang bernilaitinggi baik di pasar lokal/domestik maupun di pasar ekspor menurut DelgadoProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1041
  • 121. ISBN 978-602-98295-0-1(2003) yaitu lobster kelompok Crustacea yang merupakan jenis ikan terkecil dalamjumlah penangkapan namun memiliki nilai jual tinggi di pasar per kilogram.Produksi lobster tangkap berfluktuasi tiap lima tahun meskipun produksi tertinggiada di Kota Bengkulu. Prospek permintaan lobster ke depan semakin besarsehingga perlu peningkatan produksinya, padahal sebagian besar lobster diBengkulu lobster dari perikanan tangkap sebesar 60 persen. Faktorpendukungnya adalah perkembangan harga nominal lobster di pasar lima tahunterakhir di Propinsi Bengkulu menunjukkan peningkatan cukup baik dari Rp.52.000per kg tahun 2001 menjadi Rp.165.480 per kg tahun 2005 (Romdhon dan Ketut,2008). Pelaku usaha komoditas lobster menjanjikan tingkat laba yang besarmengingat pelaku usaha di Kota Bengkulu sendiri relatif terbatas. Jumlahperusahaan di bisnis lobster hanya empat perusahaan salah satunya CV.Edi Kotosebagai perusahaan penampung dan pemasar lobster terbesar,sehingga tingkatpersaingan usaha pemasaran lobster sangat tinggi. Namun resiko danketidapastian usaha yang dihadapi pelaku usaha tinggi karena rantai pemasaranpanjang dan besar hingga membutuhkan biaya besar untuk mendistribusikanproduknya kepada konsumen yang lokasinya relatif jauh antara lain Lampung danJakarta. Persoalan rantai pemasaran lobster yang panjang ini lahir dari adanyakerjasama produksi maupun pemasaran mulai dari tingkat nelayan, pedagangbesar sampai eksportir luar daerah. Tingkat ketidakpastian yang sangat tinggikarena pengaruh iklim dan cuaca berpengaruh terhadap hasil tangkapan lobster. Kondisi ini berdampak besar terhadap keunggulan kompetitif dankomparatif lobster asal Propinsi Bengkulu dibandingkan lobster tangkapan daridaerah lain seperti ini Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Lobster daerah inijuga menghadapi pesaing dari Propinsi Lampung dan wilayah-wilayah penghasillobster lainnya telah mampu membudidayakan lobster kualitas ekspor denganharga yang bersaing. Ketidakstabilan harga lobster di pasar domestik di Jakartadan pasar dunia di Cina dan Jepang menambah besar tingkat persaingan usahalobster. Terbukanya pasar di setiap negara bagi berbagai komoditas menjadipenanda datangnya era globalisasi ekonomi. Schuh (1991) mengungkapkanbahwa globalisasi telah menyebabkan ekonomi nasional menjadi makin terbukadan tergantung pada perdagangan internasional, sehingga makin jauh dariProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1042
  • 122. ISBN 978-602-98295-0-1intervensi pemerintah. Akibatnya, agar mampu bersaing, produk yang dipasarkanharus memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif di pasarinternasional. Penelitian ini bertujuan untuk menilai Keunggulan kompetitif dankomparatif usaha pemasaran lobster. Keunggulan kompetitif dan komparatif sebagai kemampuan perusahaanmeningkatkan produktivitas melalui upaya efisiensi teknis dan proses produksi(Novalia, 2005). Keunggulan kompetitif dan komparatif usaha diuji denganmenggunakan formula pendekatan unit biaya ekonomi yang diajukan olehCockburn and Siggel (1998, 1999) seperti tersaji pada persamaan (1). Jika nilaiindikator ini kurang dari satu, biaya lebih rendah dari nilai produksi danperusahaan memperoleh keuntungan. Implikasinya, unit biaya kurang dari satumaka diinteprestasikan sebagai indikator keunggulan kompetitif dan komparatifyang tinggi (Cockburn and Siggel, 1998, 1999). Kedua keunggulan ini dalam usaha pemasaran sebagai ukurankemampuan perusahaan memasarkan produknya dengan penggunaan biayapemasaran yang efisien. Sehingga perusahaan dapat menekan harga jual produk,agar produk dapat bersaing dengan produk sejenis. Faktor-faktor pembentukkeunggulan kompetitif dan komparatif usaha pemasaran menurut Malian, et al.(2004) terdiri dari teknologi, produktivitas, harga dan biaya input, struktur industri,serta kuantitas permintaan domestik dan ekspor. Faktor-faktor ini dibedakan atas:(1) faktor yang dapat dikendalikan oleh unit usaha, seperti strategi produk,teknologi, riset dan pengembangan; (2) faktor yang dapat dikendalikanpemerintah, seperti lingkungan bisnis (pajak, suku bunga, nilai tukar uang),kebijakan perdagangan, kebijakan riset dan pengembangan, serta pendidikan,pelatihan dan regulasi; (3) faktor semi terkendali, seperti kebijakan harga inputdan kuantitas permintaan domestik; dan (4) faktor yang tidak dapat dikendalikan,seperti lingkungan alam. Fluktuasi harga tersebut dapat bersumber dari fluktuasi produksi dalamnegeri, fluktuasi harga internasional dan flukuasi nilai tukar (Simatupang,1999).Zylbersztajn dan Claudio (2003) menyatakan bahwa keunggulan kompetitif dankomparatif produk pertanian ditunjukkan oleh koordinasi pada tiap tahapan prosesproduksi sampai pemasaran yang diindikasikan oleh besarnya permintaan produkmelalui indikasi kualitas, standarisasi dan sertifikasi. Rachman (2002)Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1043
  • 123. ISBN 978-602-98295-0-1berpendapat pemerintah menerapkan instrumen kebijakan komprehensif meliputi1) penetapan harga dasar pembelian pemerintah, 2) penetapan tarif bea masukyang realistik dan periodik,3) pengaturan volume impor yang konsisten, dan 4)perbaikan struktur dan efisiensi pemasaran serta pemberdayaan kelembagaanpemasaran di tingkat petani/nelayan. BAHAN DAN METODEPenentuan lokasi Lokasi penelitian ini dipilih secara sengaja yakni CV.Edi Koto yangbergerak dalam usaha penampungan dan pemasaran terbesar dengan produksitangkapan 3,2 ton di Kota Bengkulu yang secara aktif melakukan pemasaranlobster selama tiga tahun terakhir. Sehingga diharapkan akan mampu menunjangketersediaan data yang dibutuhkan untuk menjawab tujuan penelitian.Metode Analisa Data Data yang digunakan diperoleh melalui pengumpulan data sekunder harianperusahaan berupa nota dan faktur pembelian dan penjualan lobster, laporantransaksi, serta data keuangan lainnya selama lima belas bulan terakhir. Metodeyang digunakan dalam pengukuran keunggulan kompetitif dan komparatif.1) Keunggulan Kompetitif Keunggulan kompetitif dan komparatif domestik diukur pada harga outputdan input domestik. Rumus unit biaya tersebut akan menjadi : TCd TCdUCd   VOd Q  Pd ≤ 1 (1)dimana TCd mengindikasikan total biaya produksi pada harga pasar domestik, P dharga pasar domestik (harga yang diterima Perusahaan Edi Koto dari penjualanLobster) per unit produk, Q adalah jumlah lobster yang dijual, VO d dalahpenerimaan pada tingkat harga domestik.2) Keunggulan komparatif Analisa keunggulan komparatif diukur dengan harga bayangan (shadowprice) seperti yang disarankan oleh Canh, et al (2005). Ini berarti rumus unit biayaakan menjadi sebagai berikut:Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1044
  • 124. ISBN 978-602-98295-0-1 TCs TCsUCs   VO s Q  Ps ≤ 1 (2)dimana TCs adalah total biaya produksi pada harga bayangan, Ps adalah hargabayangan output, Q adalah kuantitas yang dijual, dan Vos adalah Total revenuepada harga bayangan. Dalam analisa unit cost, penerimaan, biaya dankeuntungan dibedakan menurut harga privat dan harga bayangan. Perbedaankedua harga ini merupakan dampak kebijakan pemerintah, serta terjadinya distorsidi pasar input dan/atau output. Harga privat adalah harga yang berlaku di bawahkondisi aktual kebijakan pemerintah. Harga bayangann adalah harga dimanapasar dalam kondisi efisien (tidak ada distorsi pasar) (Malian et al., 2004). Unitbiaya merupakan rasio antara total biaya produksi dengan nilai output Berdasarkan pendekatan daya saing usaha Cohran dan Sigel (2005)tersebut maka diasumsikan bahwa :1. Harga bayangan adalah nilai tertinggi dari produk dalam penggunaan alternatif terbaik (Rp).2. Penerimaan bersih merupakan pendapatan bersih CV.Edi Koto (Rp/triwulan).3. Pajak pendapatan adalah nilai yang harus dibayarkan oleh CV.Edi Koto atas pendapatan dari usaha pemasaran lobster (Rp/triwulan)4. Harga input bayangan terdiri dari komponen bahan bakar, telepon dan listrik diperhitungkan pada harga non-subsidi (Rp)5. Harga output bayangan adalah harga FOB lobster di pasar internasional, karena Indonesia pada saat ini sebagai eksportir lobster.6. Biaya penyusutan atas aktiva tetap pada CV.Edi Koto dihitung dengan metode garis lurus (straight line method) dimana tingkat suku bunga diasumsikan tetap dan nilai akhir aktiva tetap adalah nol. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi pemasaran lobster di Provinsi Bengkulu mulai dari nelayan sampaitujuan ekspor cukup panjang dan beragam. Nelayan di kota Bengkulu umumnyalangsung menjual lobster tangkapannya langsung ke pedagang besar. Namunnelayan dari daerah atau kabupaten lain umumnya menjalin kemitraan denganpedagang pengumpul setempat yang memiliki akses kepada pedagang besar diProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1045
  • 125. ISBN 978-602-98295-0-1kota Bengkulu. Saluran pemasaran lobster yang melibatkan UD Edi Koto dapatdilihat pada Gambar 1. Lobster mati hanya dibeli oleh UD Edi Koto dari pedagangpengumpul. Sedangkan lobster yang dipasarkan ke Jakarta adalah lobster dalamkeadaan hidup. Lobster mati baik yang dibeli dalam keadaan mati maupun matisaat pemyimpanan akan dijual ke pasar lokal atau ke padagang besar lainnya dikota Bengkulu. Gambar 1. Saluran Pemasaran Lobster di Propinsi Bengkulu Dalam saluran pemasaran lobster pada UD Edi Koto pembentukan hargaterbentuk berdasarkan transmisi harga dari pedagang eksportir, ke pedagangbesar, yang diteruskan oleh pedagang pengumpul kepada nelayan. UD Edi Kotosebagai pedagang besar menjadi penerima harga dari PT Velyn. Dari sisipembelian, UD Edi Koto menjadi penentu harga lobster dari pedagangpengumpul. Kondisi ini menyebabkan kenaikan harga di tingkat konsumen tidakditransimisikan kepada nelayan secara sempurna. Sistem ini menimbulkankekuatan monopsoni/oligopsoni yang terbentuk melalui proses: (1) menjalinkerjasama dan kemitraan dengan nelayan atau lembaga pemasaran penyalurlobster, (2) menciptakan hambatan pasar komoditi, dan (3) menciptakanketergantungan pemasaran lobster kepada pedagang tertentu. Mekanisme iniProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1046
  • 126. ISBN 978-602-98295-0-1menyebabkan tingkat keuntungan pedagang lebih besar dari keuntungan nelayanmaupun pedagang sebelumnya.Keunggulan Kompetitif Penerimaan CV.Edi Koto berasal dari penjualan lobster kepada mitrabisnisnya yaitu PT Velyn Lestari di Jakarta. Zylbersztajn dan Claudio (2003)menyatakan bahwa keunggulan kompetitif dan komparatif diindikasikan olehbesarnya permintaan produk melalui indikasi kualitas, standarisasi dan sertifikasi.Proses sortasi dan grading oleh CV.Edi Koto pada proses pembelian lobster.Kriteria sortasi yang diterapkan yaitu: Kelengkapan organ kaki (ada tidaknya kakiyang patah),tekstur dan keras atau lunaknya kulit lobster, kondisi leher,jenislobster dimana lobster mutiara adalah jenis yang memiliki nilai harga paling tinggibaik di pasar domestik maupun internasional serta size (ukuran) seperti tersajiada Tabel 3. CV.Edi Koto menerapkan dua sistem sortasi dan grading padapembelian lobster yang ditentukan oleh musim lobster. Sistem grading padamusim biasa dapat digambarkan pada Tabel 1.Tabel 1. Sistem Grading Lobster Pada Musim BiasaNo. Jenis Corak Lobster Grade Pembelian (Ukuran)1. Hijau Pasir (Panulirus homarus)  Baby (< 0,1 kg)  Rut (0,1-0,5 kg)  5 Up (> 0,5 kg)2. Batu (Panulirus penicilatus)  Baby (< 0,1 kg)  Rut (0,1-0,5 kg)  5 Up (> 0,5 kg)3. Bambu (Panulirus versicolor)  Baby (< 0,1 kg)  Rut (0,1-0,5 kg)  5 Up (> 0,5 kg)4. Batik (Panulirus cygnus)  Baby (< 0,1 kg)  Rut (0,1-0,5 kg)  5 Up (> 0,5 kg)5. Hitam/Pakistan (Panulirus argus)  Baby (< 0,1 kg)  Rut (0,1-0,5 kg)  5 Up (> 0,5 kg)6. Mutiara (Panulirus ornatus)  6/9 (0,6 – 0,9 kg)  Besar (> 0,9)7. Lobster Mati (semua jenis)  Kecil (< 0,3 kg)  Besar (> 0,3 kg)Sumber: data primer dan sekunder, 2008Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1047
  • 127. ISBN 978-602-98295-0-1 Sistem sortasi pada musim puncak lebih terperinci karena proporsi lobsterukuran kecil lebih banyak dari pada lobster dengan ukuran lebih besar. Pola inidilakukan pada lobster jenis Hijau Pasir dan Mutiara karena selain nilaiekonomisnya tinggi, kedua jenis lobster ini jumlah produksinya tertinggi diBengkulu. Sistem grading lobster pada musim puncak dapat dilihat pada Tabel 2.Tabel 2. Sistem Grading Lobster Pada Musim PuncakNo. Jenis Corak Lobster Grade Pembelian (Ukuran)1. Hijau Pasir (Panulirus  Baby (< 0,1 kg) ; 0,1 – 0,2 Kg ; 0,2 – 0,3 homarus) Kg ;  0,3 – 0,5 Kg ; 5 Up (> 0,5 kg)2. Batu (Panulirus  Baby (< 0,1 kg) ; Rut (0,1-0,5 kg) ; 5 Up (> penicilatus) 0,5 kg)3. Bambu (Panulirus  Baby (< 0,1 kg) ; Rut (0,1-0,5 kg) ; 5 Up (> versicolor) 0,5 kg)4. Batik (Panulirus cygnus)  Baby (< 0,1 kg) ; Rut (0,1-0,5 kg) ; 5 Up (> 0,5 kg)5. Hitam/Pakistan (Panulirus  Baby (< 0,1 kg) ; Rut (0,1-0,5 kg); 5 Up (> argus) 0,5 kg)6. Mutiara (Panulirus  6/9 (0,6 – 0,9 kg) ; Besar (> 0,9) ornatus)7. Lobster Mati (semua  Kecil (< 0,3 kg) ; Besar (> 0,3 kg) jenis) Sumber: data primer dan sekunder, 2008 Jenis (Rp.)N Periode Hijau Pasir Mutiara Lainnya Lobster Jumlah (Rp)o Mati1. Triwula 2.043.307.16 78.239.700 99.581.625 28.878.66 2.250.007.15 nI 5 0 02. Triwula 1.274.207.51 63.505.800 36.639.430 11.977.40 1.386.330.14 n II 0 0 03. Triwula 1.220.237.84 55.354.950 30.376.675 6.243.200 1.312.212.66 n III 0 54. Triwula 928.250.465 2.286.200 27.384.585 10.417.70 968.338.950 n IV 05. Triwula 1.792.295.05 27.500.250 51.848.840 12.171.50 1.883.815.64 nV 0 0 0 Rata-rata 1.451.659.60 45.377.380 49.166.231 13.937.69 1.560.140.90 6 2 9 % 93,05 2,91 3,15 0,89 100 Jumlah 7.258.298.03 226.886.90 245.831.15 69.688.46 7.800.704.54 0 0 5 1 6Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1048
  • 128. ISBN 978-602-98295-0-1Sumber: data sekunder (diolah), 2008 Dengan sistem standarisasi kualitas ini, maka penerimaan CV.Edi Kotoatas penjualan lobster menurut jenis lobster selama November 2006 – Januari2008 dapat dilihat pada Tabel 3.Tabel 3. Nilai Penjualan CV.Edi Koto per Triwulan (November 2006 – Januari2008) Nilai penjualan lobster tertinggi yang terjadi pada periode triwulan Idisebabkan oleh tingginya jumlah lobster terutama pada musim puncak lobsteryang dipasarkan oleh CV.Edi Koto. Rendahnya nilai penjualan lobster padatriwulan IV berkaitan dengan rendahnya jumlah lobster yang dipasarkan karenamenurunnya intensitas penangkapan lobster akibat kondisi cuaca serta siklusperkembangbiakan lobster.Tabel 4. Total Cost, Nilai Output dan Unit Cost pada Harga Riil CV.Edi Koto (November 2006 – Januari 2008) Uraian Periode Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan Triwulan V IVBiayaProduksiB. 4.740.400 4.724.950 4.740.400 4.740.400 4.740.400OperasiB. 161.560.682 90.406.750 68.586.583 52.651.02 86.943.987Pemasara 3nB. 1.974.640.2 1.225.325.2 1.172.999.9 863.994.2 1.427.774.9Pembelia 25 00 50 00 50nB. Tenaga 12.000.000 12.000.000 12.000.000 12.000.00 12.000.000Kerja 0B. 8.808.997 8.808.997 8.808.997 8.808.997 8.808.997PenyusutanTotal Cost 2.161.750.3 1.341.265.8 1.267.135.9 942.194.6 1.540.268.3(TCd) 04 97 30 20 34Nilai 2.250.007.1 1.386.330.1 1.312.212.6 968.338.9 1.883.815.6Output 50 40 65 50 40(VOd)Unit Cost 0,961 0,967 0,966 0,973 0,818(UCd) Sumber: data primer dan sekunder (diolah), 2008Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1049
  • 129. ISBN 978-602-98295-0-1 Keunggulan kompetitif diukur dengan pendekatan unit biaya dimanaseluruh faktor input dan output dihitung pada harga domestik (harga privat).Sehingga seluruh biaya dan hasil produksi dihitung pada tingkat dimana harga-harga berada dibawah kebijakan pemerintah seperti subsidi misalnya. Total biayaproduksi, nilai penerimaan, dan indeks keunggulan kompetitif diukur denganpendekatan unit biaya dalam triwulan dapat dilihat pada Tabel 4. Nilai rata-rata rasio unit cost usaha pemasaran lobster pada CV.Edi Kotoselama lima belas bulan terakhir lebih kecil dari 1, yaitu 0,937. Hasil analisis unitcost tersebut mencerminkan bahwa secara finansial, usaha pemasaran lobsterpada CV.Edi Koto memiliki keunggulan kompetitif (domestik) yang relatif tinggi.meskipun nilainya fluktuatif. Artinya CV.Edi Koto dapat dapat bersaing dalammenjual produk sejenis dengan pesaingnya (Romdhon et al, 2008). Fluktuasi harga tersebut dapat bersumber dari fluktuasi produksi dalamnegeri, fluktuasi harga internasional dan flukuasi nilai tukar (Simatupang,1999)yang berdampak pada fluktuasi tingkat keunggulan kompetitif usaha pemasaranlobster. Tingkat keunggulan kompetitif terendah terjadi pada periode triwulan IV,yaitu pada bulan Agustus, September, dan Oktober 2007. Ini dikarenakan padaperiode ini jumlah penangkapan lobster yang rendah. Jumlah transaksi lobsteryang lebih rendah dari pada jumlah transaksi lobster pada bulan yang sama tahunsebelumnya dikarenakan intensitas penangkapan lobster pada periode triwulan Vterutama pada bulan Desember 2007 dan Januari 2008. Penurunan intensitaspenangkapan lobster ini diakibatkan oleh kondisi cuaca yang tidak kondusif lokasipenangkapan bahkan di sebagian besar perairan laut di Indonesia. Kondisitersebut menyebabkan jumlah tangkapan lobster menurun dibandingkan tahunsebelumnya, meskipun harga lobster mencapai titik tertinggi tidak berpengaruhterhadap tingkat keunggulan kompetitif karena harga lobster yang tinggi akibatmenurunnya tingkat penawaran. Habitat hidupnya lobster beruapa terumbu –terumbu karang dan hutan – hutan banyak terancam akibat alih fungsi lahan danpenangkapan yang tidak lestari, dengan menggunakan peralatan seperti bom ,jaring pukat dan lain-lain. Tingkat keunggulan kompetitif tertinggi terjadi pada periode triwulan I danV, yaitu pada bulan-bulan November, Desember, dan Januari, menurut DelgadoProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1050
  • 130. ISBN 978-602-98295-0-1(2003) karena harga jual baik dipasar domestik maupun internasional cukup tinggi.Tingginya tingkat keunggulan kompetitif sejalan dengan tingginya jumlah lobsteryang ditransaksikan. Tingginya tingkat keunggulan kompetitif dan pada periodetersebut juga dipengaruhi oleh tingginya harga jual lobster khususnya jenis hijaupasir dan mutiara. Harga jual rata-rata lobster jenis hijau pasir mencapai Rp.239.000,-/kg, sedangkan jenis jenis mutiara rata-rata Rp. 302.500,- /kg. Hal yangsama terjadi pada periode triwulan IV (Agustus, September, dan Oktober).Keunggulan Komparatif Keunggulan komparatif usaha pemasaran lobster juga diukur denganpendekatan unit biaya. Namun faktor input dan output dihitung pada hargabayangan. Harga FOB lobster rata-rata (semua jenis) pada periode November2006-Januari 2008 dapat dilihat pada Tabel 5.Tabel 5. Harga FOB Lobster (semua jenis) November 2006 – Januari 2008 Periode (Rp./kg) Jenis Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Triwulan VHidup 409.925 411.692 431.058 414.214 402.564Mati 274.659 269.213 294.341 272.980 260.210Rata-rata 342.292 340.452 362.699 343.597 331.387 Sumber: National Marine Fisheries Service USA (diolah) Faktor input usaha pemasaran lobster yang dikenai subsidi antara lain:bensin, solar, tarif dasar listrik dan tarif telepon. Komponen harga bayanganlainnya diasumsikan sama dengan harga domestiknya. Harga privat sebesar Rp.4.500,- per liter. Harga bayangan bensin pada kurun waktu November 2006 –Januari 2008 berkisar antara Rp. 4.780,55 sampai Rp. 7.587,7 per liter. Solarpada harga domestik dibeli seharga Rp. 4.300,- per liter. Harga bayangan solarberkisar antara Rp. 5.481,- sampai Rp. 8.402,5 per liter (Pertamina,2008). Tarif dasar listrik domestik (privat) dengan 1.300 volt pada pemakaiansampai dengan 20 kwh dikenai tarif Rp. 385/kwh, pada pemakaian 21-40 kwhdikenai tarif Rp. 445/kwh, dan pada pemakaian lebih dari 40 kwh dikenai tarif Rp.495/kwh. Sedangkan pada harga bayangan (bayangan) dengan menghilangkankomponen subsidi, tarif dasar listrik adalah Rp. 970,-/kwh pada semua tingkatpemakaian (PLN, 2007). Pada komponen telepon, tarif percakapan lokal per menitdi bawah kebijakan subsidi adalah Rp. 173,-/menit. Dengan menghilangkanProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1051
  • 131. ISBN 978-602-98295-0-1komponen subsidi pada pembentukan harga tarif telepon akan menjadi Rp.313/menit dengan asumsi penggunaan telepon sepenuhnya pada pemakaianpercakapan lokal. Total biaya produksi, nilai output, dan indeks Keunggulankompetitif dan komparatif yang diukur dengan pendekatan unit biaya pada hargabayangan dalam periode triwulan dapat dilihat pada Tabel 6.Tabel 6. Total Cost, Nilai Output, dan unit Cost pada Harga Bayangan (Nov. 2006 – Jan. 2008) Uraian Periode Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Triwulan VBiayaProduksiB. Operasi 5.577.264 5.551.810 5.690.221 5.736.231 5.879.355B. 162.019.310 90.822.206 69.086.722 53.237.608 87.754.979PemasaranB. 1.974.640.22 1.225.325.20 1.172.999.95 863.994.200 1.427.774.95Pembelian 5 0 0 0B. Tenaga 12.000.000 12.000.000 12.000.000 12.000.000 12.000.000KerjaB. 8.808.997 8.808.997 8.808.997 8.808.997 8.808.997PenyusutanTotal Cost 2.163.045.79 1.342.508.21 1.268.585.88 943.777.035 1.542.218.28(TCs) 6 3 9 0Nilai 7.138.110.29 3.838.445.62 3.041.574.52 2.191.495.87 3.630.704.56Output 3 6 0 1 1(VOs)Unit Cost 0,303 0,350 0,417 0,431 0,425(UCs)Sumber: data primer dan sekunder (diolah), 2008 Hasil analisis unit cost pada harga bayangan diketahui menunjukkan bahwanilai indeks keunggulan komparatif rata-rata sebesar 0,385. Hasil inimencerminkan bahwa secara ekonomi, usaha pemasaran lobster memiliki tingkatkeunggulan komparatif yang relatif tinggi. Rasio ini juga menunjukkan bahwatanpa proteksi pemerintah pun, usaha pemasaran lobster masih memiliki dayasaing tinggi, Hal ini dipicu oleh selisih harga beli domestik dengan harga jualinternasional yang tinggi. KESIMPULANProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1052
  • 132. ISBN 978-602-98295-0-1 Tingkat keunggulan kompetitif dan komparatif usaha pemasaran CV.EdiKoto relatif tinggi meskipun jumlah produksi lobster yang ditransaksikan semakinmenurun dimana rata-rata indeks keunggulan kompetitif dan komparatif CV.EdiKoto berturut-turut adalah 0,97 dan 0,377. Kecenderungan penurunan jumlah tangkapan lobster disebabkan olehpenurunan kualitas ekosistem hidup lobster. Upaya pemeliharaan ekosistemterumbu karang harus segera diupayakan secara sadar dan bijaksana sebagaisuatu bentuk investasi untuk menjamin ketersediaan lobster tangkap. Perusahaanjuga perlu segera menerapkan strategi usaha untuk menjamin pasokan losbtermisalnya dengan mendorong nelayan untuk menerapkan teknologi penangkapanramah lingkungan serta sistem pembesaran lobster pada keramba jaring apungdan dijual setelah ukurannya cukup besar. Lobster betina yang sedang bertelurjuga dihindari untuk ditangkap agar mampu berkembang biak. DAFTAR PUSTAKAAprianty,H,Hadi,S.A,Kooswardhono, M,Endriatmo, dan Lala, M.(2006). Struktur Sosial Masyarakat Nelayan Kota Bengkulu : Kajian Struktural tentang Kemiskinan Nelayan Kota Bengkulu. Jurnal Agrisep 4(2): ,Maret .Jurusan SOSEk UNIB.Bengkulu.Canh, et al.. 2005. The Competitiveness of Ho Chi Minhs Food Processing Industry. Research Report. The Faculty of Economics, Faculty of Industry at Vietnam National University-Ho Chi Minh City and the Institute for Economic Research of HCMC.Cockburn, J. et al.. (1998). Measuring competitiveness and its sources: ‘the case of Malis manufacturing sector‘, Working Paper. CRÉFA: Université Laval.Delgado,C.L,Nikolas w, Mark W.R,Siet M, and Mahfuzuddin A.(2003). Fish to 2020 : Supply and Demand in Changing World Markets. International Food Policy Research Institute (IFPRI). Wahington D.C. World Fish Center- Penang,Malaysia.Hawkins, R dan Meindertsma J.,D. 2004. Competitiveness and Comparative Advantage: Key Concepts. ICRA Learning Materials (www.icra-edu.org).Irawan, B. Nurmanaf, R. Hastuti, E.L. Muslim,C. Supriatna, dan Y.V. Darwis. 2001. Kebijakan Pengembangan Agribisnis Komoditas Unggulan Hortikultura. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertianian, Bogor.Irawan, Bambang. 2007. Fluktuasi Harga, Transmisi Harga dan Marjin Pemasaran Sayuran dan Buah. Analisis Kebijakan Pertanian, 22 (4) Desember: 358-373.Malian, et al.. 2004. Permintaan Ekspor dan Keunggulan kompetitif dan komparatif Panili Di Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal Agro Ekonomi, 22 (1) Mei: 26-45.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1053
  • 133. ISBN 978-602-98295-0-1Novalia, Nurkadina. 2005. Analisis Keunggulan kompetitif dan komparatif Industri Agro Indonesia. Jurnal Kajian Ekonomi, 4 (1) Juni: 105-127.Rachman,B dan Tahlim Sudaryanto.(2002). Kemampuan Daya Saing Sistem Usahatani Padi. Jurnal SOSIO EKONOMIKA,8(1), Juni 2002,31-44. Fakultas Pertanian Universitas Lampung.Bandar Lampung.Romdhon,M. dan Ketut S.2008.Daya Saing dan Model Kemitraan Usaha Pemasaran Lobster di Kota Bengkulu (laporan penelitian tidak di publikasikan). Hibah Kompetisi A2. Jurusan Sosek Fak. Pertanian Universitas Bengkulu.Simatupang, P dan J Situmorang. (1998) Integrasi Pasar dan Keterkaitan Harga Karet Indonesia dan Singapore. Jurnal Agro Ekonomi. Oktober 1998. 7(2): 12 – 29.Schuh, G. E. 1991. Open Economic: Implication for Global Agriculture. ―American Journal of Agricultural Economics‖. Hlm 1322-1329.Simatupang, P, Saptana, Supena,and I.W.Ruastra.(1999). The Impact of Policy Adjustment on Aricultural Input Market and Rice Farmer Income. Workshop on Macro Food Policy and Rural Finance.Brawijaya University .Malang.Zylbersztajn, D and Cluadio A.Pinheiro M.F. (2003). Competitiveness of Meat Agri- Food Chain in Brazil. Supply Management : An International Journal 8(2):155 – 165.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1054
  • 134. ISBN 978-602-98295-0-1 KERAGAAN PERTUMBUHAN KEDELAI VARIETAS UNGGUL DI LAHAN KERING SUMSEL NP. Sri Ratmini, Rudy Soehendi dan Herwenita Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan RINGKASAN Luas areal panen di Indonesia mengalami penurunan secara tajam rata-rata 11 % per tahun dan 9,66% per tahun Selama periode 2000–2004.Permintaan kedelai nasional cukup tinggi, namun tidak diimbangi oleh produksidalam negeri. Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan berbagai cara, salahsatunya dengan pemakaian benih unggul Kegiatan ini dilaksanakan di Desa DesaJaga Baya Kecamatan Kikim Selatan Kabupaten Lahat, dari bulan Juli sampaiOktober 2009, yang bertujuan untuk mempercepat proses diseminasi varietasunggul kedelai yang berpotensi tinggi dan dapat bedapatasi baik pada lahankering Sumsel. Kegiatan ini berua demontrasi teknologi varietas unggul yangmenggunakan 4 varietas unggul kedelai yaitu Sinabung, Tanggamus, Anjasmorodan Grobogan dengan total luasan 1 ha. Data yang diamati adalah tinggitanaman, umur berbunga, produksi dan analisis usahatani. Hasil analisausahatani didapatkan bahwa pengembangan kedelai di Kabupaten Lahat layakuntuk dikembangkan dengan nilai ROI dan B/C ratio di atas 1. Varietas yangpaling direspon petani di sekitar penelitian adalah kedelai varietas Anjasmoro.Kata Kunci: varietas unggul, lahan kering, diseminasi dan usahatani PENDAHULUAN Kebutuhan kedelai Nasional terus meningkat seiring dengan pertambahanpenduduk dan berkembangnya industri pangan olahan. Pertumbuhan permintaankedelai selama 15 tahun terakhir cukup tinggi, namun tidak mampu diimbangi olehproduksi dalam negeri, sehingga harus dilakukan impor dalam jumlah yang cukupbesar, untuk menanggulangi hal ini maka perlu dilakukan peningkatan produksikedelai Nasional. Peluang peningkatan produksi kedelai di dalam negeri masihterbuka lebar, baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan arealtanam. Produktivitas rata-rata kedelai nasional saat ini baru mencapai 1,28 t/hadengan pencapain di tingkat petani berkisar antara 0,6 – 2,0 t/ha, sedangkanbeberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi kedelai bisa mencapai 1,7– 3,2 t/ha. Produksi ini masih dapat ditingkatkan dengan menerapkan inovasiteknologi (Badan Litbang, 2007; Badan Litbang, 2008; BPS, 2005 dan Subandi,2007).Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1055
  • 135. ISBN 978-602-98295-0-1 Data statistik dari FAO menunjukkan bahwa selama periode 1990-1995,areal panen kedelai meningkat dari 1,33 juta ha pada tahun 1990 menjadi 1,48juta ha pada tahun 1995, atau meningkat rata-rata 2,06% per tahun. Sejak tahun1995, terjadi penurunan areal panen secara tajam dari sekitar 1,48 juta ha menjadisekitar 0,83 juta ha pada tahun 2000, atau menurun rata-rata 11 % per tahun.Selama periode 2000–2004, areal panen kedelai masih terus menurun rata-rata9,66% per tahun. Secara keseluruhan, selama periode 15 tahun terakhir (1990–2004) luas areal kedelai di Indonesia menurun tajam dari sekitar 1,33 juta ha padatahun 1990 menjadi 0,55 juta ha pada tahun 2004, atau turun rata-rata 6,14% pertahun. Pada dekade 1997 -2007 perkembangan luas panen dan produksi kedelaidi Sumatera Selatan terus menurun (BPS, 2007). Peluang peningkatan produksikedelai melalui perluasan areal tanam pada lahan kering di Provinsi Sumsel cukupbesar dengan potensi yang dapat ditanami kedelai mencapai 285 ribu ha dan21.433 ha terdapat di Kabupaten Lahat (BPTP Sumsel, 2001). Hambatan yangdihadapi antara lain: beriklim basah dengan curah hujan tinggi mengakibatkantingkat pencucian basa-basa cukup intensif sehingga kemasaman tanah dankejenuhan Al dan Fe tinggi, dan kesuburan fisik-kimia menjadi rendah (Hidayat etal., 2000 dan Utomo, 1997). Tujuan dari penelitian ini adalah mempercepatproses diseminasi varietas unggul kedelai yang berpotensi tinggi dan dapatbedapatasi baik pada lahan kering Sumsel. METODOLOGI Kegiatan dilaksanakan pada lahan kering di Desa Jagabaya KabupatenLahat dari bulan Juli-Oktober 2009. Varietas yang diperagakan ada 4 (empat)macam yaitu: Anjasmoro, Tanggamus, Sinabung dan Grobogan dengan total luas1 ha. Komponen teknologi yang diterapkan dengan pendekatan PTT.Pengolahan tanah dilakukan sempurna dengan dilengkapi saluran keliling untukmembantu menjaga kelembaban dan aerasi tanah. Kapur yang digunakan adalahresidu dari pengapuran pada musim tanam sebelumnya dengan dosis 500 kg/ha.Pupuk yang digunakan adalah pupuk NPK majemuk dengan dosis 100 kg/ha.Data yang dikumpulkan pada kegiatan ini meliputi: pertumbuhan tanaman,Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1056
  • 136. ISBN 978-602-98295-0-1serangan hama dan penyakit, produksi biji kedelai (t/ha) serta data sosial ekonomimeliputi: volume input yang digunakan, harga input dan ouput, yang akanmenghasilkan struktur biaya, dan hasil akhir analisis usahatani. HASIL DAN PEMBAHASANA. Karakteristik Wilayah Luas wilayah Kecamatan Kikim selatan sekitar 41.085 ha yang tersebar di17 desa, salah satunya adalah Desa Jaga Baya dengan total luasan 1.514 hadengan jumlah penduduk 3343 KK. Pada umumnya pemanfaatan lahan di daerahJaga Baya yaitu sebagai lahan pekarangan, ladang/huma, Tegal/kebun,perkebunan, hutan rakyat, hutan negara, kolam dan lain-lain. Luas lahanpertanian di Desa Jaga Baya adalah 31 ha yang merupakan pertanian denganirigasi sederhana. Petani di daerah ini pada umumnya mengusahakan tanamanpangan dengan komoditi padi, kedelai, kacang tanah, jagung, ubi kayu dansayuran. Kedele merupakan komoditas kedua yang banyak diusahakan petanisetelah tanaman padi. Pada tahun 2008 total luas panen kedelai di Sumsel 5.352ha dengan tingkat produksi 7.305 ton (BPS, 2007). Dilihat dari data di atas makaLahat mempunyai peluang untuk pengembangan kedelai di Sumsel.B. Pertumbuhan Tanaman Dari hasil pengamatan keragaan perumbuhan tanaman sangat baikterutama Anjasmoro (Tabel 1). Dari data tersebut dapat diketahui bahwabeberapa varietas unggul yang diperagakan mempunyai adaptasi yang baikterhadap lingkungan sekitar hal ini dapat dilihat dari keragaan tinggi tanaman lebihbaik dari data deskripsi varietas masing-masing. Dari 4 (empat) varietas yangdiperagakan terlihat adanya gejala kekurangan unsur hara Ca dan Mg padavarietas Sinabung, namun tidak menyebabkan kerusakan pada tanaman, hal inidisebabkan karena tanah di lokasi percobaan mempunyai nilai pH tanah 5,5,sehingga belum berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Pemberian kapursebanyak 500 kg/ha pada musim tanam sebelumnya ternyata belum dapatmencukupi kebutuhan Ca dan Mg terutama untuk varietas Sinabung. GejalaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1057
  • 137. ISBN 978-602-98295-0-1kahat Ca dimulai pada daun muda yang ditandai dengan adanya bintik-bintikcoklat atau hitam pada permukaaan daun. Bila kahat berlanjut terjadi nekrosispada permukaan bawah daun, sehingga daun berwarna coklat dan kadang daunnampak kriting mirip gejala serangan virus. Kandungan Ca dapat ditukar (Ca-dd)sebesar 10 me/100 g termasuk rendah dan perlu pepupukan Ca. Kekahatan Mgditandai dengan adanya klorosis yang berawal dari tepi daun, kemudian menjalarke bagian tengah diantara tulang daun. Kekahatan yang meningkat menyebabkanperubahan warna tepi daun menjadi merah kekuningan, daun gugur, pertumbuhanterhambat dan hasil rendah. Batas kritis kandungan Mg dalam tanah adalah 50ppm Mg. Kisaran nilai cukup pada daun muda adalah 0,26 – 1,0 %. Kahat Cadapat diatasi dengan dolomit dan kapur, sedangkan kahat Mg pada tanah masamdapat diatasi dengan pupuk yang mengandung Mg seperti kiserit (mgSO4) dandolomit [(CaMg(CO3)] atau dengan pupuk kandang (Puslitbangtan, 2006)Tabel 1. Keragaan pertumbuhan tanaman pada kegiatan demplot di Desa Jagabaya Kec. Kikim Kab Lahat, MK 2009No Varietas Umur Berbunga Tinggi Produksi (t/ha) (MST) Tanaman (Cm) 1. Sinabung 5 (35 hr)* 68,67 (66)* 1,385 2. Tanggamus 5 (35 hr)* 72,50 (67)* 1,250 3. Anjasmoro 7 (35,7–39,4 hr)* 83,33 (64-68)* 1,505 * * 4. Grobogan 4 (30-32 hari) 59,00 (50-60) 1,085Keterangan: ()* = Umur pada data deskripsi varietas Dari Tabel 1 terlihat bahwa produksi dari ke empat varietas kedelai yangdicobakan menunjukkan bahwa varietas Grobogan mempunyai produksi yangpaling rendah jika dibandingkan dengan varietas lainnya. Produksi tertinggidiperoleh oleh varietas Anjasmoro, kemudian berturut turut diikuti dengan varietasSinabung, Tanggamus, dan Grabogon dengan tingkat produksi masing masing1,505, 1,385, 1,250, dan 1,085 t/ha. Rendahnya produksi lebih disebabkankarena pada saat berbunga tanaman mengalami kekeringan akibat adanyaperbaikan saluran irigasi disamping juga disebabkan hama penggerek polong.Walaupun ditanam bukan pada musimnya ternyata tingkat serangan hama selainpenggerek polong tidak berpengaruh terhadap produksi hasil (Tabel 2). SeranganProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1058
  • 138. ISBN 978-602-98295-0-1hama penggerek polong yang tinggi pada varietas Sinabung dan Tanggamus lebihdisebabkan karena umur tanaman yang lebih panjang. Saat varietas Grobogandan Anjsamoro telah panen, Tanggamus dan Sinabung masih hijau sementaratingkat curah hujan sangat tinggi sehingga akan sangat berpengaruh terhadaptingkat serangan hama.Tabel 2. Data serangan hama pada kegiatan demplot di Desa Jaga Baya Kecamatan Kikim kabupaten Lahat, MK 2009No Varietas Ulat (%) Belalang Kutu Daun Hama penggerek (%) (%) polong (%) 1. Sinabung 4,8 3,2 2,8 45 2. Tanggamus 5,4 3,2 4,2 25 3. Anjasmoro 2,2 2,5 5,0 4 4. Grobogan 6,8 2,8 5,6 2 Ukuran biji menunjukkan bahwa varietas Grobogan mempunyai ukuranpaling besar, sementara Anjasmoro dan Tanggamus ukuran biji sedang danSinabung ukuran biji kecil. Seperti yang dikemukakan oleh Sutomo dan Yuda(2008) dan Duryatmo (2008), varietas Grobogan mempunyai ukuran biji besar danbobot 100 butir biji dapat mencapai 16 g. Produksi Grobogan paling rendah hal iniberkorelasi dengan tinggi dan umur tanaman yang pendek, sehingga sangatberpengaruh terhadap fotosintat yang dihasilkan juga kecil. Baharsjah, dkk.(1998) menyatakan bahwa meningkatnya energi radiasi matahari yang dapatditerima tajuk tanaman kedelai menjadikan proses fotosintesis meningkatsehingga fotosintat yang dihasilkan lebih tinggi dan hasil akan meningkat.Pertumbuhan tanaman yang lebih baik dan fotosintesis yang meningkat akanmemperbesar pasokan fotosintat ke bagian limbung (biji) (Wicks, dkk., 2004).Produktivitas tanaman kedelai juga sangat tergantung pada teknologi produksi,panen dan pasca panen selain sifat morfologinya. Di samping itu kondisilingkungan makro seperti tinggi tempat, jenis tanah, suhu, kelembaban dan curahhujan maupun kondisi lingkungan mikro seperti pemupukan, jarak tanam,pengelolaan OPT (termasuk gulma) yang optimal dapat meningkatkanproduktivitas kedelai (Baihaki, 2008 dan Rahayu, 2008).Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1059
  • 139. ISBN 978-602-98295-0-1C. Analisa Usaha Tani Produksi biji kedelai yang diperoleh dari luas areal tanam 1 ha selama satumusim tanam (3 bulan) di Desa Jaga Baya 1,79 t/ha dengan harga jual pada saatpanen Rp 5.000/kg, maka pendapatan yang diperoleh petani Rp 8.950.000dengan keuntungan Rp 4.250.000. Penilaian suatu kelayakan usaha tani dilakukan dengan beberapa cara,antara lain return of investment (ROI) dan (benefit cost ratio, B/C rasio). ROImerupakan ukuran perbandingan antara keuntungan dengan total biaya produksi.Cara ini digunakan untuk mengetahui tingkat efisiensi penggunaan modal ataumengukur keuntungan usaha tani dalam kaitannya dengan jumlah modal yangdiinvestasikan, sedangkan B/C rasio merupakan keuntungan bersih dengan totalbiaya produksi sehingga dapat diketahui kelayakan usaha taninya. Bila nilai B/Crasio lebih besar dari 1, berarti usaha tani tersebut layak untuk dilaksanakan.Sebaliknya, bila nilai B/C rasio lebih kecil dari 1, usaha tani tersebut tidak layakuntuk dijalankan. Tabel 3 menujukkan bahwa nilai ROI usahatani kedelai 2,9 yangmenggambarkan bahwa setiap modal Rp 1 yang dikeluarkan untuk usaha tanikedelai akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 2,9 dan nilai B/C ratio > 1yaitu 1,94 artinya, setiap satuan biaya yang dikeluarkan akan diperoleh hasilpenjualan sebesar 1,94 kali lipat. Hasil ini menunjukkan bahwa usaha tani kedelaidi kabupaten Lahat layak untuk dikembangkan dan efisien dalam penggunaanmodal.D. Respon Petani Respon petani terhadap varietas yang digelarkan dapat diketahui melaluipelaksanaan temu lapang. Dari hasil temu lapang terhadap petani dan aparatdinas setempat di ketahui bahwa a[etani lebih menyukai varietas Anjasmorodibandingkan dengan varietas lainnya. Beberapa hal alasan petani memilihAnjasmoro karena keragaan pertumbuhan dan produksi yang diperoleh cukupbaik, ukuran polong besar dan adaptif. Sinabung mempunyai tingkat produksiyang tinggi namun tidak disukai petani karena mempunyai ukuran biji yang kecil,sedeangkan Grobogan tidak disukai walaupun mempunyai ukuran biji besar danumur pendek karena keragaan pertumbuhan di lapang kurang tinggi(pertumbuhan pendek).Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1060
  • 140. ISBN 978-602-98295-0-1Tabel 3. Data Analisa Usahatani Kedelai di Desa Jaga Baya Kecamatan Kikim kabupaten Lahat, MK 2009No. Uraian Biaya (Rp.000,-)1. Pengolahan Tanah 7502. Saprodi : - Benih 240 - Pestisida 70 - Pupuk NPK Majemuk 2503. Biaya - Tanam 400 - Pemupukan 90 - Pemberantasan Hapen 90 - Penyiangan & pemeliharaan 300 - Panen & pasca Panen 750 - Lain-lain 1004. Total Biaya 3.0405. Produksi (t/ha) 1,796. Pendapatan 8.9507. Keuntungan 5.918. ROI 2,99. B/C ratio 1,94 KESIMPULANDari hasil pengkajian terhadap kegiatan demplot di Desa Jaga Baya KecamatanKikim Kabuoaten Lahat, dapat disimpulkan sebagai berikut:1. Budidaya kedelai dengan pendekatan PTT di Kabupaten Lahat layak untuk dikembangkan, dengan nilai ROI 2,9 dan 1,94 di Desa Jaga Baya .2. Pemakaian benih unggul dapat meningkatkan produksi kedelai di Kabupaten Lahat. Adaptasi Varietas unggul, produksi tertinggi diperoleh pada varietas Anjasmoro yaitu 1,5 t/haProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1061
  • 141. ISBN 978-602-98295-0-13. Varietas yang lebih disukai petani adalah Anjasmoro dan Tanggamus dengan produksi dan adaptibilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan lainnya. DAFTAR PUSTAKABadan Pusat Statistik, 2005. Statistik Indonesia 2004. Biro Pusat Statistik, Jakarta.Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan, 2007. Sumatera Selatan Dalam Angka Palembang. Biro Pusat Statistik, Palembang.Badan Litbang Pertanian. 2002. Inovasi Teknologi Kacang-Kacangan dan Umbi- umbian Menjawab Tantangan Ketahanan Pangan Nasional. Badan Litbang Pertanian, Jakarta.Badan Litbang Pertanian. 2008. Prospek Dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai. Badan Litbang Pertanian, Jakarta.Baharsjah, J.S., Didi, S dan Irsal, L., 1998. Hubungan Iklim dengan Pertumbuhan Kedelai. Balitbang Pertanian. Puslitbang Tanaman Pangan, Bogor : 87-102.Baihaki, A., 2008. Peningkatan Produktivitas Kedelai. http://www.trubusonline.co.id. diakses pada 2 Mei 2008.Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. 2001. Peta Zona Agro-Ekologi Propinsi Sumatera Selatan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Palembang.Duryatmo, S., 2008. Grobogan Bukan Reinkarnasi Malabar. Error! Hyperlink reference not valid.. diakses pada 2 Mei 2008.Hidayat, A., Hikmatullah dan Djoko Santoso. 2000. Potensi dan Pengelolaan Lahan Kering Dataran Rendah. Dalam Buku Sumberdaya Lahan Indonasia dan Pengelolaannya. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.Hilman, Y. 2004. Inovasi Teknologi Pengembangan Kedelai di Lahan Kering Masam. Prosiding Lokakarya Pengembangan Kedelai melalui Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)di Lahan Kering Masam. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.Pusllitbangtan. 2006. Hama, Penyakit dan Masalah Hara Pada Tanaman Kedelai. Identifikasi dan pengendaliannya. Badan Litbang Pertanian. Error! Hyperlink reference not valid..Rahayu, M., 2008. Teknologi Budidaya Intensif Tanaman Kedelai di Lahan Sawah Setelah Padi di Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu. Error! Hyperlink reference not valid. task=wiew&id=120&Hemid=141 <?xmlversion=‖1.0‖encoding=‖iso-8859-1‖?. diakses pada 7 Mei 2008.Riwanodja dan T. Adisarwanto. 2002. Aplikasi pupuk Organik dan Anorganik NPK pda Kedelai di Lahan Sawah. Teknologi Inovatif Tanaman Kacang-Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1062
  • 142. ISBN 978-602-98295-0-1 Kacangan dan Umbi-Umbian. Badan Litbang Pertanian, Puslitbangtan, Bogor.Saleh, N. Dan A. Kasno. 2002. Teknologi Aneka Tanaman Kacang dan Umbi Siap Uji Adaptasi. Balitkabi, Malang.Subandi. 2007. Teknologi Produksi dan Strategi Pengembangan Kedelai Pada Lahan Kering Masam. Dalam Iptek Tanaman Pangan. Volume 2 No. 1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.Suhartina. 2007. Deskripsi Varietas Unggul Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Balitkabi, Malang.Sutomo, Y dan Yuda T., 2008. Kedelai Kualitas Unggul Asal Grobogan. <http://www.liputan6.com/new/?id=15443&c_id=>. diakses 7 Mei 2008.Tanjung, A., Akmal, Yustisia, Azwir, Suhartono dan Marzempi. 1992. Kipas Putih dan TGX 562-4d: Galur Harapan Kedelai Untuk Lahan Kering Masam. Rapat Pelepasan Varietas Unggul, Bogor.Utomo, M. 1997. Teknologi Pemnafaatan Lahan Kering. Prosiding Optimasi Pemanfaatan Sumberdaya Pertanian bagi peningkatan Kesejahteraan dalam Pelita VII. Perhimpunan Agronomi Indonesia.Wicks, G.A., D.A.Crutcfield dan O.C.Burnside, 2004. Influence of Wheat (Triticum aestivum) Straw Mulch and Metalachlor on Corn (Zea mays) rowth and Yield. Weed Sci . 42 : 141-147.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1063
  • 143. ISBN 978-602-98295-0-1 ANALISIS PERKEMBANGAN USAHA PUAP DI KABUPATEN MUSI BANYUASIN SUMATERA SELATAN Viktor Siagian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan ABSTRACTSIn the year 2008 amount of fund of Society Direct Relief (BLM) PUAP havechanneled in Regency Musi Banyuasin (Muba) Provinsi of South Sumatra asmuch Rp 3,2 billion which is distributed to 32 Gapoktans. The aims of thisresearch is 1) Knowing development of PUAP in Muba Regency, 2) Analysingbusiness of PUAP in Muba Regency, 3) Knowing prospect and constraint ofPUAP development. Method of Survey is case study. Method analyse to use ratioanalysis and descriptive. Result of this research is 1) Fund of PUAP in Kab. Mubahave increased into Rp 3,69 billion 2) Until month of June 2010 fund haveincreased into Rp 190,3 million in Teladan Jaya Gapoktan, and Rp 170,7 millionin Ngesti Makmur Gapoktan, and both of finance balance sheet of suchGapoktans is helat/good, 3) Program of PUAP has good development prospect,the constraint the amount of fund relative still less.It‘s need to increase the fund ofPUAP in order the productive effort of Gapoktan can more expandKeywords: Analyze, business, development of rural agribusiness entrepreneur. PENDAHULUANLatar Belakang Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan merupakan salahsatu kabupaten yang menerima dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM)Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP). Tujuan PUAP ini adalahmengurangi kemiskinan dan pengangguran di perdesaan melalui peningkatankemampuan pelaku usaha agribisnis, dan menjadi mitra lembaga keuangan untukakses ke permodalan (Kementan, 2010). Dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) PUAP adalah dana berguliryang dikelola oleh Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani). Provinsi SumateraSelatan pada tahun 2008 telah menerima penyaluran dana BLM PUAP sebesarRp 36,2 milyar yang tersebar di 12 kabupaten/kota dan 362 Gapoktan yangterdiri dari 2.256 kelompok tani (poktan) dan 42.538 anggota (Harnisah dkk,2010). Pada tahun 2009 Kementan telah menyalurkan dana BLM PUAP sebesarProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1064
  • 144. ISBN 978-602-98295-0-1Rp 16,8 milyar kepada 168 Gapoktan yang tersebar di 13 kabupaten/kota yangterdiri dari 982 poktan dan 22.186 anggota. Khusus di Kabupaten Muba jumlah Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan)penerima dana PUAP pada tahun 2008 berjumlah 32 Gapoktan tersebar di 32desa dan 6 kecamatan. Ke-32 Gapoktan tersebut terdiri dari 154 Kelompok tani(Poktan) dan 1.292 anggota. Jumlah dana BLM PUAP Tahun 2008 yang telahdisalurkan berdasarkan Rencana Usaha Bersama (RUB) adalah Rp3.182.250.000. (sampai dengan Maret 2010) dan sisa dana yang tidaktersalurkan Rp13.750.000. Dari dana yang telah disalurkan telah berkembangmenjadi Rp 3.689.114.000 (sesuai Laporan Keuangan per tanggal 31 Desember2009). Untuk program PUAP tahun 2009, jumlah Gapoktan penerima BLM PUAPberjumlah 13 buah tersebar di 6 kecamatan dan 13 desa. Jumlah dana BLMyang sudah disalurkan sesuai RUB berjumlah Rp 1,3 milyar, dengan total danayang dipertanggungjawabkan baru Rp 611 juta. Untuk mengetahui sejauh mana perkembangan usaha PUAP di Kab. Muba,keragaan usaha PUAP, serta prospek dan kendala pengembangannya makaperlu dilakukan kajian sehingga dapat menjadi masukan untuk kebijakan programPUAP selanjutnya. BAHAN DAN METODEMetode Pelaksanaan Metoda yang digunakan dalam kajian ini adalah studi kasus. Studi kasusdilakukan di Gapoktan penerima dana BLM PUAP yaitu Teladan Jaya di DesaMuara Teladan Kecamatan Sekayu dan Gapoktan Ngesti Makmur di DesaTanjung Keputran, Kecamatan Plakat Tinggi. Parameter yang didalami adalahkeragaan usaha kedua lembaga tersebut, perkembangan penyaluran BLM antingkat pengembaliannya, dan neraca keuangan kedua lembaga tersebut.Lokasi dan Waktu Pengkajian Lokasi pengkajian seperti tersebut di atas yang dipilih secara sengaja(purposive) setelah berkonsultasi dengan Penyelia Mitra Tani (PMT) danProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1065
  • 145. ISBN 978-602-98295-0-1BP2Tanikanhut Kab. Muba. Waktu pengkajian ini selama tiga hari yaitu daritanggal 21 – 22 Juli 2010.Metode Analisis Data Analisis data yang digunakan terdiri dari analisis kualitatif dan kuantitatif.Analisis kualitatif menggunakan statistik deskriptif. Analisis kuantitatifmenggunakan analisa laporan keuangan dengan metoda analisis rasio.Melaluianalisis rasio dapat diketahui baik buruknya posisi keungan suatu perusahaan(Djahidin F., 1985). Ada tiga komponen utama dalam metoda analisa rasio(Siagian, 1987; Santoso S., 2001), yaitu: 1. Likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan untuk menyediakan alat-alat yang likuid (yang mudah diuangkan/ dijual) untuk menjamin pengembalian hutang jangka pendek dan panjang yang jatuh tempo. 2. Solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh hutang-hutangnya dengan aktiva yang dimiliki seandainya perusahaan tersebut bangkrut. 3. Rentabilitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dalam periode tertentu. Data yang ada diolah secara komputerisasi, untuk analisis tabulatif dan dankuantitatif diolah dengan program Excel. HASIL DAN PEMBAHASANPerkembangan Dana PUAP di Kabupaten Muba Seperti yang telah dijelaskan pada Bab Pendahuluan bahwa dana PUAPyang disalurkan pada tahun 2008 berjumlah Rp 3,2 milyar. Dana tersebut telahberkembang menjadi Rp 3.689.114.000, diantaranya terdapat dana kas Rp634.110.000, dana bank Rp 448.409.000, dan pendapatan lain Rp 37.618.000,pendapatan saprodi Rp 37.495.000. Berdasarkan jenis usaha produktif terdiri dana PUAP tersebut telahberkembang sebagai berikut: 1) Tanaman pangan dari dana disalurkan Rp281.650.000 telah berkembang menjadi Rp 333.493.000, 2) Tanaman hortikulturadari dana disalurkan telah berkembang menjadi Rp 214.226.000, 3) TanamanProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1066
  • 146. ISBN 978-602-98295-0-1Perkebunan dari dana disalurkan Rp 1.384.223.000 telah berkembang menjadiRp 1.619.728.000, 4) Peternakan dari dana disalurkan Rp 559.800.000 telahberkembang menjadi Rp 638.491.000, 5) Industri rumah tangga dari danadisalurkan Rp 39.277.000 telah berkembang menjadi Rp 43.286.000, 6)Pemasaran hasil pertanian dari dana disalurkan Rp 718.550.000 telahberkembang menjadi Rp 765.103.000, dan 6) Usaha lainnya dari dana disalurkanRp 19.000.000 menurun menjadi Rp 2.633.000. Dana PUAP tersebut untuk usaha produktif tanaman pangan, hortikultura,perkebunan umumnya digunakan untuk membeli saprodi, penyiapan lahan, pagarkebun. Untuk usaha peternakan digunakan untuk membeli bibit ayam potong(d.o.c), bibit sapi (pedet), bibit kambing. Untuk usaha produktif pemasaran hasilpertanian umumnya untuk modal kerja.Keragaan Umum Gapoktan Teladan Jaya, Desa Muara Teladan Gapoktan Teladan Jaya berdiri tanggal 28 Februari 2008 dengan jumlahanggota 256 orang. Desa Muara Teladan terletak ± 30 km disebelah utara KotaSekayu di tepi jalan Sekayu – Keluang atau ± 150 km dari Kota Palembang.Tipologinya adalah lahan kering dan tanaman dominan adalah karet, padi lebakdan ubi kayu. Jumlah poktan penerima PUAP sebanyak 6 buah dari 10 poktanyang ada. Berdasarkan RUBnya jenis usaha produktifnya adalah Peternakan,Perkebunan, Tanaman Pangan dan Pemasaran, dan saat ini ditambah usahajasa. Dari dana PUAP sebesar Rp 100 juta yang sudah disalurkan, saat inivolume usahanya bernilai Rp 190.288.000. Total tabungan anggota saat ini Rp 56juta yang berasal dari simpanan pokok Rp 20.000/bulan, simpanan wajib Rp5.000/bulan dan simpanan sukarela tidak terbatas. Prosedur pengajuan pinjaman adalah: Mengajukan Rencana Usaha Anggota(RUA) (dinilai kelayakannnya oleh Ketua Kelompok), jika layak diajukan kePengurus Gapoktan, jika layak maka dana bantuan PUAP direalisasikan dalambentuk tunai. Jangka pengembalian maksimal 10 bulan, diangsur tiap bulandengan bunga tetap (flat) 1%/bulan.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1067
  • 147. ISBN 978-602-98295-0-1Tata Kerja dan Susunan Organisasi Untuk kelacaran organisasi diberikan honor 20% dari pendapatan bungakepada pengurus tiap bulan yang dibagi atas: Ketua Gapoktan 40%, Sekretaris20%, Bendahara 20%, Ketua Poktan 20% (dibagi 6 poktan). Saat ini KetuaGapoktan dijabat oleh Suhat (pendidikan tammat SLTA), Sekretaris dijabat olehMus Mulyadi (pendidikan tammat SLTP), Bendahara dijabat oleh Amar Ma‘ruf(tammat SLTA). Gapoktan tidak berbadan hukum, AD/ART dan kantor sampaisaat ini belum ada. Pertemuan diantara pengurus dilakukan tiap bulan sedangkandengan anggota baru 2 kali. Alat kelengkapan organisasi seperti buku anggota,buku tamu, buku kas, buku simpan pinjam, buku inventaris, dsb sudah lengkap.Perkembangan Usaha Produktif.1. Peternakan Pinjaman diberikan untuk usaha terpadu ikan + ternak. Total pinjamanuntuk membeli benih ikan nila dan patin Rp 25 juta/5 orang. Nilai Rp 5 juta peranggota digunakan untuk membeli 1000 ekor benih ikan dan pakan ikan. Saatini sudah 7 orang yang melakukan pinjaman dan sudah lunas dan mereka sudahmengajukan pinjaman lagi. Usaha ternak ayam digunakan untuk membeli bibitayam potong (boiler) ras (d.o.c) Rp 2 juta/orang. Harga doc Rp 4.900/ekorberumur 1 hari. Ayam boiler dijual pada umur ± 45 hari. Jumlah pinjaman Rp 4juta/2 orang dan sudah lunas dan sudah mengajukan pinjaman lagi.Permasalahan usaha ini adalah harga pakan yang relatiftinggi.2. Pemasaran Digunakan untuk jual beli benih ikan dengan pinjaman Rp 1 juta/orangdari semula yang meminjam 7 orang sekarang sudah berkembang menjadi 30orang dengan kisaran pinjaman Rp 1 – 5 juta/orang. Pinjaman sudah lunas dananggota sudah mengajukan pinjaman lagi.3. Bengkel Nilai pinjaman Rp 5 juta untuk 1 orang, dan baru dilunasi Rp 2,5 juta.4. Perkebunan dan Tanaman Pangan Untuk perkebunan pinjaman digunakan untuk modal kerja senilai Rp 24 jutadengan total peminjam 15 orang, baru berlangsung 2 – 3 bulan dan belum lunas.Uang pinjaman umumnya digunakan untuk membeli kebutuhan saprodi. UntukProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1068
  • 148. ISBN 978-602-98295-0-1tanaman pangan digunakan untuk membuat pagar kebun ubi kayu yaitu Rp 1 – 2juta/orang dan belum lunas. Di desa ini serangan hama babi hutan relatif tinggisehingga kebun harus dipagar. Jika dirinci distribusi bantuan menurut masing-masing Kelompok Tani (Poktan), dana awal PUAP adalah sebagai berikut: 1) Rencana Baru sebesar Rp52.000.000, 2) Pelung sebesar Rp 33.500.000, 3) Palu Raden sebesar Rp34.500.000, 4) Harapan Utama sebesar Rp 32.500.000, 5) Padang Besar sebesarRp 43.000.000, 6) Sei Serni sebesar Rp 33.500.000. Sebagai gambaran umum di Desa Muara Teladan, produktivitas rata-rata 4kw/bulan/ha dengan harga karet basah Rp 10.500/kg. Padi lebak denganproduktivitas 3 ton gkp/ha, sedangkan padi ladang 1,8 ton gkp/ha. Hasil produksidijual dalam bentuk beras dengan harga Rp 6.000/kg. Ubi kayu denganproduktivitas 15 ton/ha, dipanen 6 – 7 bulan dengan harga jual Rp 500/kg umbibasah. Harga jual ayam potong ras (hidup) adalah Rp 17.000/kg.Analisa Laporan Keuangan Melalui analisis rasio dapat diketahui kelayakan usaha Gapoktan tersebutberdasarkan neraca keuangan di atas. Adapun hasilnya sebagai berikut:1. Likuiditas: a. Current Ratio atau Rasio Lancar: Aktiva Lancar Rp 187.408.000 CR = _____________ = ________________ = 1,87. Hutang Lancar Rp 100.000.000 b. Cash Ratio (CHR) atau Rasio Posisi Kas: Kas + Bank Rp 3.838.000 + Rp 8.900.000 CHR = _________________ = __________________________ = 0,13. Total Passiva Lancar Rp 100.000.000 Rasio Lancar (CR) Gapoktan nilainya 1,87 yang artinya setiap Rp 100 hutanglancar dapat dijamin dengan Rp 187 aktiva lancar. Nilai ini relatif baik, standarrasio adalah 2 (Siagian, 1987). Rasio Posisi Kas sangat rendah yaitu 0,13 artinyasetiap Rp 100 hutang lancar (dana BLM diangap sebagai hutang lancar) hanyadapat dibayar dengan uang kontan sebesar Rp 13. Nilai standar rasio yangberlaku pada bank adalah 0,3, jadi masih dibawa nilai standar (Siagian, 1987).Dari kedua alat rasio tersebut dapat disimpulkan bahwa Gapoktan Teladan JayaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1069
  • 149. ISBN 978-602-98295-0-1illikuid (kemampuan Gapoktan membayar hutangnya dengan alat yang likuidrelatif rendah).2. Solvabilitas a. Rasio Modal Sendiri dengan Total Aktiva (S1): Total Modal Sendiri Rp 90.288.000 S1 = _________________ x 100% = ________________ x 100% =47,4% Total Aktiva Rp 190.288.000 b. Rasio Total Aktiva dengan Total Hutang (S3) Total Aktiva Rp 190.288.000 S2 = _______________ x 100% = _________________ x 100% =190,3%. Total Hutang Rp 100.000.000 Rasio Modal Sendiri (S1) nilainya 0,47, nilai ini mendekati nilai standaryaitu 50% artinya kemampuan membayar hutangnya dengan modal sendiri relatifbaik. Nilai Rasio S2 adalah 190,3% di atas nilai standar 100%, kemampuanmembayar seluruh hutangnya dengan aktiva yang dimiliki masih lebih besar. Jadidapat disimpulkan bahwa Gapoktan masih solvabel (mampu membayarhutangnya dengan aktiva yang dimiliki seandainya bangkrut).3. Rentabilitas a. Return on Net Worth (RONW) atau Rasio Margin Laba Bersih (SHU)dengan Modal Sendiri Laba Bersih (SHU) Rp 28.234.000 RONW = ________________ x 100% = ______________ x 100% =31,3%. Modal Sendiri Rp 90.288.000 b. Return On Investment (ROI) atau Rasio Laba Bersih dengan Total Aktiva Laba Bersih (SHU) Rp 28.234.000 ROI = ___________________ x 100% = _______________ x 100% =14,8%. Total Aktiva Rp 190.288.000 Nilai RONW sebesar 31,3% artinya setiap modal sendiri sebesar Rp 100mampu menghasilkan SHU sebesar Rp 31,3 (tidak ada nilai standar rasionya),artinya relatif baik. Nilai ROI sebesar 14,8% artinya setiap aktiva sebesar Rp 100mampu menghasilkan SHU sebesar Rp 14,8 nilai ini masih di atas rata-rataProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1070
  • 150. ISBN 978-602-98295-0-1bunga bank 10%/tahun, jadi kemampuan menghasilkan laba dengan total aktivalaba relatif baik.Dari kedua alat rasio tersebut disimpulkan Gapoktan adalahrentabel. Tabel 1 berikut menjabarkan neraca keuangan Gapoktan TeladanJaya. Tabel 1. Neraca Gapoktan Teladan Jaya Per 31 Juni 2010No. AKTIVA 31 JUNI No. KEWAJIBAN DAN 31 JUNI 2010 (Rp) MODAL 2010 (Rp) AKTIVA KEWAJIBAN LANCAR1. Kas 3.838.000 6. MODAL2. Bank 8.900.000 7. Donasi 100.000.0003. Piutang 174.670.000 8. Simpanan Pokok 2.760.0004. Persediaan 0 9. Simpanan Wajib 7.665.000 Barang Jumlah Aktiva 187.408.000 10. Simpanan Swakarsa 46.309.000 Lancar AKTIVA 10. Dana Cadangan 5.320.000 TETAP5. Peralatan 2.880.000 11. SHU Thn 2009 15.907.000 Jumlah Aktiva 2.880.000 12. SHU Thn Berjalan 12.327.000 Tetap JUMLAH 190.288.000 JUMLAH PASSIVA 190.288.000 AKTIVASumber: Laporan Tengah Tahun Gapoktan Teladan Jaya, 2010.Keragaan Umum Gapoktan Ngesti Makmur, Desa Tanjung Keputran Gapoktan Ngesti Makmur berdiri tanggal 13 Desember 2007, denganangota 16 poktan dan 469 anggota. Sampai saat ini baru 7 poktan yangmenerima dana BLM PUAP. Gapoktan berada di Desa Tanjung Keputran,Kecamatan Plakat Tinggi yang berjarak ± 70 km di sebelah barat Kota Sekayuatau ± 190 km dari Kota Palembang. Tipologi lahannya adalah lahan keringdengan tanaman dominan adalah karet dan padi ladang. Luas desa 2.200 hadengan jumlah penduduk 3.171 jiwa yang terdiri dari 597 kk. Luas tanaman karet1.800 ha sedangkan padi ladang 80 ha. Produktivitas karet adalah 200kg/ha/bulan dengan harga Rp 10.000/kg basah. Harga jual padi adalah Rp 3.000– 3.500/kg gkg, sedangkan beras adalah Rp 6.500/kg. Desa ini termasuk Desapeserta SLPTT. Dana PUAP yang diterima tahun 2008 sebesar Rp 100 juta dan saat inisudah berkembang menjadi Rp 170.700.000. Tunggakan belum ada dan modalProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1071
  • 151. ISBN 978-602-98295-0-1sudah diputar dua kali. Unit usaha Gapoktan adalah simpan pinjam. Jenis usahaproduktif yang dibiayai adalah: 1) Peternakan, 2) Pemasaran, 3) TanamanPangan, 4) Perkebunan. Total tabungan anggota saat ini adalah Rp 8.178.000 per bulan Maret2010. Tabungan tersebut berasal dari simpanan pokok Rp 10.000/orang/bulan,simpanan wajib Rp 5.000/orang/bulan dan simpanan sukarela dengan besarantidak terbatas. Prosedur pengajuan pinjaman sama seperti pada GapoktanMuara Teladan. Jangka waktu pengembalian pinjaman adalah 10 bulan, diangsurtiap bulan dengan tingkat bunga (flat) 2%/bulan. Hasil bunga tersebut sebesar 1%untuk kas dan 1% lagi untuk honor dan operasional pengurus. Jumlah kas pertanggal 31 desember 2009 adalah Rp 1.981.000.Tata Kerja dan Susunan Organisasi Untuk kelancaran organisasi maka dari dana 1% tersebut dibagikankepada pengurus sebagai berikut: Ketua dengan honor Rp 110.000/bulan,Sekretaris dengan honor Rp 135.000/bulan, Bendahara dengan honor Rp85.000/bulan, Seksi LKM Rp 75.000/bulan, Tim Pengarah I dengan honor Rp30.000/bulan, Tim Pengarah II dengan honor Rp 15.000/bulan, Pelindung(Kades) dengan honor Rp 20.000/bulan, Ketua Poktan (7 orang) dengan honormasing-masing Rp 60.000/bulan. Saat ini Ketua dijabat oleh Kartomulyono(pendidikan tammat SR), Sekretaris dijabat oleh Muwardi SP (pendidikan tammatSarjana), Bendahara dijabat oleh Solehani (tammat SLTP). Gapoktan tidakberbadan hukum, Anggaran Dasar/Anggaran Rumaah Tangga sudah ada,kantor sampai saat ini belum ada tapi pondok pertemuan sudah ada. Pertemuandiantara pengurus dilakukan tiap bulan sedangkan dengan anggota baru 2 kali.Alat kelengkapan administrasi seperti buku anggota, buku tamu, buku kas, bukusimpan pinjam, buku inventaris, dsb sudah lengkap. Pendamping Gapoktan Sdr.Sariman SP (juga PPL setempat sudah pernah mendapat pelatihan sebanyak 3kali yang berkaitan dengan PUAP yaitu: LKMA (Lembaga Keuangan MikroAgribisnis), Pendampingan PUAP, dan Sosialisasi Pengembangan PUAP.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1072
  • 152. ISBN 978-602-98295-0-1Perkembangan Usaha Produktif.2.2.1. Peternakan Pinjaman digunakan untuk membeli bibit sapi dan kambing. Untuk bibitsapi (pedet) besar pinjaman Rp 3 juta/orang/ekor. Jumlah peminjam sebanyak 7orang per 7 kelompok tani (poktan). Untuk kambing pinjaman Rp 1,5 juta/orangdan nilai tersebut dapat membeli 2 ekor kambing bakalan. Pinjaman sudahmenyebar di 7 poktan. Untuk ayam potong buras Rp 1,5 juta/orang denganjumlah peminjam 1 orang. Harga bibit ayam adalah Rp 20.000/ekor.2.2.2. Pemasaran Pinjaman digunakan untuk modal kerja berdagang sayuran, dan diberikanke tiap kelompok dengan nilai pinjaman Rp 1 juta/orang. Dari nilai tersebutanggota bisa mendapatkan pendapatan Rp 600.000/bulan.2.2.3. Tanaman Pangan dan Hortikultura Untuk tanaman pangan pinjaman digunakan untuk membeli pupuk dengannilai pinjaman Rp 1 juta/orang dan menyebar di setiap kelompok. Untuk tanamanhortikultura pinjaman digunakan untuk membeli saprodi dengan nilai pinjaman Rp1,5 juta/orang dan tidak setiap poktan sudah menerimanya.2.2.4. Tanaman Perkebunan Pinjaman digunakan untuk membeli saprodi dan penyiapan lahan dengannilai pinjaman Rp 2 juta/orang dan diberikan di setiap poktan. Jika dirinci per masing-masing poktan distribusi bantuan, dana awal PUAPadalah sebagai berikut: 1). Sido mulung sebesar Rp 16.500.000, 2) NgestiRahayu sebesar Rp 17.100.000, 3) Subur Makmur sebesar Rp 20.500.000, 4)Cipta Karya Laksana sebesar Rp 34.500.000, 5) Sukarela sebesar Rp 31.500.000,6) Sidomulyo sebesar Rp 24.800.000, 7) Tani Maju sebesar Rp 29.500.000. Totaldana awal Rp 174.400.000 (sudah perputaran 2 kali) dan nilai akhirnyasekarang adalah Rp 177.108.000.Analisa Laporan Keuangan Melalui analisis rasio dapat diketahui kelayakan usaha Gapoktan tersebutberdasarkan neraca keuangan di atas. Adapun hasilnya sebagai berikut:1. Likuiditas: a. Current Ratio atau Rasio Lancar:Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1073
  • 153. ISBN 978-602-98295-0-1 Aktiva Lancar Rp 120.331.000 CR = _____________ = ________________ = 1,20. Hutang Lancar Rp 100.000.000 b. Cash Ratio (CHR) atau Rasio Posisi Kas: Kas + Bank Rp 1.961.000 + Rp 113.000.000 CHR = ___________________ = ____________________________ =1,15. Total Passiva Lancar Rp 100.000.000 Rasio Lancar (CR) Gapoktan nilainya 1,20 yang artinya setiap Rp 100 hutanglancar dapat dijamin dengan Rp 120 aktiva lancar, masih lebih rendah dari nilaistandar rasio yaitu 2. Rasio Posisi Kas sangat rendah yaitu 1,15 artinya setiap Rp100 hutang lancar dapat dibayar dengan uang kontan sebesar Rp 115. Nilaistandar rasio yang berlaku pada bank adalah 0,3, jadi jauh di atas nilai standar.Dari kedua alat rasio tersebut dapat disimpulkan bahwa Gapoktan Tani Sejahteralikkuid (mampu membayar hutangnya dengan alat yang likuid).2. Solvabilitas a. Rasio Modal Sendiri dengan Total Aktiva (S1): Total Modal Sendiri Rp 32.987.000 S1 = _________________ x 100% = ________________ x 100% =24,8% Total Aktiva Rp 132.987.000 b. Rasio Total Aktiva dengan Total Hutang (S2) Total Aktiva Rp 132.987.000 S2 = _______________ x 100% = _________________ x 100% =133,0%. Total Hutang Rp 100.000.000 Rasio Modal Sendiri (S1) nilainya 0,25, nilai ini masih dibawah nilai standaryaitu 50% artinya kemampuan membayar hutangnya dengan modal sendiri masihrendah. Nilai Rasio S2 adalah 133% di atas nilai standar 100%, kemampuanmembayar seluruh hutangnya dengan aktiva yng dimiliki masih lebih besar. Jadidapat disimpulkan bahwa Gapoktan masih solvabel. (mampu membayarhutangnya dengan aktiva yang dimiliki seandainya bangkrut).3. Rentabilitas a. Return on Net Worth (RONW) atau Rasio Margin Laba Bersih (SHU)dengan Modal SendiriProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1074
  • 154. ISBN 978-602-98295-0-1 Laba Bersih (SHU) Rp 27.294.000 RONW = _______________ x 100% = _______________ x 100% =82,7%. Modal Sendiri Rp 32.987.000 b. Return On Investment (ROI) atau Rasio Laba Bersih dengan Total Aktiva Laba Bersih (SHU) Rp 27.294.000 ROI = ___________________ x 100% = ______________ x 100% =20,5%. Total Aktiva Rp 132.987.000 Nilai RONW sebesar 82,7% artinya setiap modal sendiri sebesar Rp 100mampu menghasilkan SHU sebesar Rp 82,7 (tidak ada nilia standar rasionya),nilai ini relatif baik. Nilai ROI sebesar 14% artinya setiap aktiva sebesar Rp 100mampu menghasilkan SHU sebesar Rp 20,5 nilai ini masih di atas rata-ratabunga bank 10%/tahun, jadi dapat disimpulkan Gapoktan tersebut rentabel,kemampuan menghasilkan laba relatif baik. Tabel 2 berikut menjabarkan neracakeuangan Gapoktan Ngesti Makmur. Tabel 2. Neraca Gapoktan Ngesti Makmur Per 31 Desember 2009No. AKTIVA 31 No. KEWAJIBAN DAN 31 DESEMB MODAL DESEMB 2009 (Rp) 2009 (Rp) AKTIVA KEWAJIBAN LANCAR1. Kas 1.961.000 6. MODAL2. Bank 113.330.000 7. Donasi 100.000.0003. Piutang 0 8. Simpanan Pokok 1.100.0004. Persediaan 5.040.000 9. Simpanan Wajib 1.594.000 Barang Jumlah Aktiva 120.331.000 10. Simpanan Swakarsa 1.119.000 Lancar Biaya-biaya 12.656.000 10. Dana Cadangan 05. AKTIVA 11. SHU Thn 2009 27.294.000 TETAP 12. Pendapatan lain 1.520.000 13. Pendapatan Saprodi 360.000 JUMLAH 132.987.000 JUMLAH PASSIVA 132.987.000 AKTIVASumber: Laporan Akhir Tahun Gapoktan Ngesti Makmur, 2010. Berdasarkan analisa laporan keuangan, kedua Gapoktan tersebut memilikineraca keuangan yang sehat/baik. Diperlukan audit (pemeriksaan) lebih lanjutProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1075
  • 155. ISBN 978-602-98295-0-1untuk mengetahui apakah aktiva/passiva tersebut benar adanya sesuai yangdilaporkan. KESIMPULAN DAN SARANKesimpulan1. Dana BLM PUAP di Kabupaten Musi Banyuasin pada tahun 2009 telahberkembang dari Rp 3,2 milyar menjadi Rp 3,69 milyar. Unit Usaha produktifterbesar yang menerima dana adalah perkebunan sebesar Rp 1,38 milyar telahberkembang menjadi Rp 1,62 milyar.2. Dana BLM PUAP di Gapoktan Teladan Jaya sudah berkembang dari Rp 100juta menjadi Rp 190,3 juta sampai pada 31 Juni 2010, sedangkan pada GapoktanNgesti Makmur sudah berkembang menjadi Rp 170,7 juta per 31 Juni 2010.Kedua neraca keuangan Gapoktan tersebut adalah sehat, mampu membayarkewajiban-kewajibanya.3. Program PUAP memiliki prospek pengembangan relatif baik, kendalanyabesaran dana relatif masih kurang.Saran1. Perlu dukungan dari pemerintah pusat dan daerah baik untuk memperbesarmodal kerja Gapoktan sehingga seluruh anggota Poktan dapat menikmati danaPUAP sebagai sumber permodalan usaha, dan juga pengawalan danpengawasan agar dana PUAP dapat terjamin penggunaannya. DAFTAR PUSTAKAAnonim, 2010. Laporan Akhir Tahun Gapoktan Ngesti Makmur. Gapoktan Ngesti Makmur, Tanjung Keputren.Anonim, 2010. Laporan Tengah Tahun Gapoktan Teladan Jaya Tahun 2010. Gapoktan Teladan Jaya, teladan Jaya.Djahidin F., 1985. Analisa Laporan Keuangan. CV Ghalia Indonesia, Jakarta.Harnisah, dkk, 2010. Laporan Akhir Tahun Pengembangan SumberdayaInformasi Iptek, Diseminasi dan Jaringan Umpan Balik. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumsel, Palembang.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1076
  • 156. ISBN 978-602-98295-0-1Kementan, 2010. Pedoman Umum Usaha Agribisnis Pedesaan. Kementerian Pertanian, Jakarta.Santoso S., 2001. Aplikasi Excel dalam Manajemen Keuangan. PT Elex Media Komputindo, Jakarta.Siagian V., 1987. Analisa Keadaan Usaha Koperasi Unit Desa. Skripsi S1, Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1077
  • 157. ISBN 978-602-98295-0-1KONDISI (SOSEKBUD) MASYARAKAT PESISIR DALAM KAWASAN LINDUNG DAN PEMAHAMANNYA TERHADAP UPAYA KONSERVASI EKOSISTEM MANGROVE DI TAMAN NASIONAL SEMBILANG, SUMSEL. Yetty Hastiana 1), Fachrurrozie Sjarkowi 2), Dinar DAP 2) , M. Rasjid Ridho 2)1) Universitas Muhammadiyah Palembang, FKIP, Jurusan PMIPA, Program Pend. Studi Biologi; 2) Universitas Sriwijaya Palembang, Program Pasca Sarjana, Bidang Ilmu Lingkungan ABSTRAKLahan basah yang dominan pada kawasan Taman Nasional Sembilang berupaekosistem mangrove. Luasan hutan mangrove yang tersisa merupakan kawasanmangrove terluas di Pesisir Timur Sumatera. Kelestarian TN Sembilang besertasumberdaya hayatinya sangat dipengaruhi beberapa faktor. Selain faktor alamiah,kegiatan masyarakat di sekitarnya memberikan andil terhadap upaya pelestarian.Rendahnya tingkat pendidikan, lemahnya penegakan hukum, kurangnyakesadaran lingkungan, dan faktor kemiskinan masyarakat daerah penyangga,semakin mempercepat terjadinya perusakan hutan Taman Nasional (Yuswandidkk, 2003). Potensi SDA di daerah penyangga Taman Nasional dapat menjadifaktor penentu terjadinya tekanan terhadap pelestarian SDA Taman Nasional.Tingkat kesadaran dan kepedulian individu terhadap konservasi dan pelestarianlingkungan, erat kaitannya dengan orientasi pengetahuan, pemahaman, sikapdan perilaku seseorang. Diduga persepsi dan kondisi sosial ekonomi dan budayamasyarakat akan mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat dalammelestarikan hutan di sekitarnya. Berdasarkan hal tersebut, akan dilakukan suatukajian dan pengamatan mengenai Kondisi (Sosekbud) Masyarakat PesisirKawasan Lindung dan Pemahamannya Terhadap Konservasi EkosistemMangrove. Data pengamatan dikumpulkan menggunakan teknik triangulasi, yaitumenggabungkan data wawancara, observasi lapangan non partisipasi dandokumentasi. Selain wawancara dilakukan juga teknik focus group discussion(FGD). Sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder,sedangkan jenis data yang diambil adalah data kualitatif dan kuantitatif. Populasidari penelitian ini adalah masyarakat Desa Tanah Pilih di seksi III kawasan TamanNasional Sembilang, meliputi tiga dusun yaitu Dusun Satu, Dusun Dua dan DusunTerusan Dalam. Data hasil wawancara dan observasi pada setiap indikatorvariabel dianalisis secara kuantitatif dengan cara scoring dalam bentuk ordinal daninterval lalu dinilai dengan persentasi. Berdasarkan data statistik, saat ini jumlahpenduduk 202 KK, dengan mata pencaharian masyarakat saat ini rata-ratasebagai nelayan, petani, dan peternak walet. Sejarah Desa Tanah Pilih berawalsejak tahun 1970 tujuh orang suku Bugis datang ke kawasan pesisir Sembilangdekat Sungai Benu. Daerah asal mereka adalah Teluk Bone Sulawesi Selatan.Pertama kali yang mereka kerjakan saat adalah membuka areal persawahan danperkebunan yang terletak antara sungai Terusan Dalam hingga S. Benu. Dari hasilProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1078
  • 158. ISBN 978-602-98295-0-1wawancara ternyata 93,33 % responden tahu bahwa hutan yang ada disekitarnya berstatus Taman Nasional, persen tersebut identik dengan nilai 158,dimana nilai itu masuk pada kriteria sangat paham. Pemahaman masyarakatterhadap fungsi hutan mangrove termasuk kriteria paham, dimana nilai yangdidapat adalah 158 identik dengan 65,83%, dari delapan kelompok yang dijadikanparameter pengukuran pemahaman masyarakat terhadap fungsi hutan mangrove,masyarakat memahami empat sampai tujuh macam fungsi. Ada satu fungsi hutanmangrove yang belum dipahami masyarakat, yaitu hutan mangrove dapatmempercepat perluasan pantai melalui pengendapan. Pengetahuan masyarakatterhadap jenis dikelompokkan menjadi dua yaitu pengetahuan terhadap vegetasidominan dan vegetasi dilindungi.Kata Kunci: Ekosistem mangrove, konservasi, sosekbud masyarakat pesisir,Taman Nasional Sembilang. PENDAHULUAN Taman Nasional Sembilang (TNS) merupakan salah satu Taman Nasionalyang terletak di Sumatera Selatan yang memiliki karakteristik lahan basah. Dariluasan tersebut 45% merupakan ekosistim mangrove, 42% rawa belakang, 9%rawa air tawar dan gambut, sisanya merupakan dataran lumpur dan pantaiberpasir. Lahan basah yang dominan pada kawasan Taman Nasional Sembilangadalah ekosistem mangrove. Hutan mangrove termasuk pada ekosistem yangmempunyai fungsi ekologis, ekonomis dan sosial yang unik. Konsep ekologis humanistik berusaha menempatkan manusia sebagaiintegral sebuah ekosistem, dimana makhluk hidup mempunyai peluang yang samabesarnya untuk menjaga dan merusak alam. Begitu juga dengan masyarakat sekitarTNS mempunyai potensi yang sama antara memelihara dan merusak alamkhususnya hutan dalam kawasan TNS. Kecenderungan untuk mengeksploitasi jenissumber daya hutan di dalam kawasan secara berlebihan, dapat mengurangikelestarian sumber daya hayati TNS. Hasil penelitian Riyanto (2005), diketahuiterdapat interaksi antara masyarakat sekitar hutan dengan Taman Nasional.Beberapa faktor yang ikut memberikan kontribusi bagi terjadinya kerusakan hutan diTaman Nasional adalah faktor sosial ekonomi budaya masyarakat setempat.Rendahnya tingkat pendidikan, lemahnya penegakan hukum, kurangnya kesadaranlingkungan, dan faktor kemiskinan masyarakat daerah penyangga, semakinProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1079
  • 159. ISBN 978-602-98295-0-1mempercepat terjadinya perusakan hutan Taman Nasional tersebut (Yuswandi dkk,2003). Potensi SDA di daerah penyangga Taman Nasional dapat juga menjadi faktorpenentu terjadinya tekanan terhadap pelestarian SDA yang ada di dalam kawasanTaman Nasional. Tingkat kesadaran dan kepedulian individu terhadap konservasi danpelestarian lingkungan, secara teoritis terkait erat dengan orientasi, pengetahuan,pemahaman, sikap dan perilaku yang dimiliki seseorang. Diduga tingkat pemahaman masyarakat akan mempengaruhi tingkatpartisipasi masyarakat dalam melestarikan hutan sebagai kawasan konservasi.Berdasarkan uraian di atas, yang menjadi fokus permasalahan dalam penelitian dankajian ini, yaitu bagaimana kondisi (sosekbud) masyarakat pesisir dalam kawasanlindung dan pemahamannya terhadap upaya konservasi ekosistem mangrove diTaman Nasional Sembilang, SumSel. Setelah dilakukan serangkaian pengamatandan kajian mengenai kondisi dan pemahaman masyarakat pesisir kawasan lindungterhadap upaya konservasi ekosistem mangrove, diharapkan dapat diketahui kondisisosekbud dan pemahaman masyarakat terhadap upaya konservasi ekosistemmangrove di kawasan Taman Nasional Sembilang, SumSel. Adapun manfaat lebihlanjut adalah untuk merancang pola pengelolaan kawasan ekosistem mangrovesecara berkelanjutan.A. Metode Penelitian 1. Teknik Pengumpulan Data Data pengamatan dikumpulkan menggunakan teknik triangulasi, yaitumenggabungkan data wawancara, observasi lapangan non partisipasi dandokumentasi. Wawancara dilakukan dengan teknik wawancara terstrukturberkaitan dengan aspek yang akan diukur pada setiap variabel. Selain itudilakukan juga teknik focus group discution (FGD), observasi lapangan nonpartisipasi dilakukan untuk mengetahui pemanfaatan potensi sumber daya alamyang dikelola dan sumber daya manusia yang mengelolanya. Hal-hal yang terlihatsebagai pendukung data dicatat dan didokumentasikan. 2. Sumber dan Jenis DataProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1080
  • 160. ISBN 978-602-98295-0-1 Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekundersedangkan jenis data yang diambil adalah data kualitatif dan kuantitatif. Populasidari penelitian ini adalah masyarakat Desa Tanah Pilih. Dalam rancanganpenetapan zonasi Taman Nasional Sembilang, Desa Tanah Pilih merupakan desayang diusulkan untuk menjadi kawasan zona tradisional. Desa tanah Pilih terdiridari tiga dusun yaitu Dusun Satu, Dusun Dua dan Dusun Terusan Dalam. Padadata profil desa tahun 2009 jumlah penduduk Desa Tanah Pilih terdiri dari 202 KK,25 KK ada di Dusun Terusan Dalam dan sisanya ada di Dusun Satu dan DusunDua. Responden yang dijadikan sample adalah setiap Kepala Keluarga (KK) yangada di tiga dusun dengan jumlah sample 30 KK dilakukan dengan teknik purposivesampling dengan intensitas sampling lebih dari 10%. Kepala keluarga yangdimaksud adalah bapak atau ibu yang mewakili dari keragaman profesi yaitupetani, nelayan, pejabat struktural desa, pedagang, tokoh masyarakat dan agama.Sedangkan untuk data sosekbud masyarakat selain dari hasil pengamatanlapangan non partisipatif, sebagian besar berupa data primer . 3. Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah pemahaman masyarakat terhadap peran TamanNasional yang diukur dengan pemahaman status kawasan hutan. Indikatorpemahaman pada status kawasan, diukur dengan masyarakat mampu atau tidakmenyebutkan bahwa status hukum kawasan tersebut adalah Taman Nasional.Untuk mempertajam pemahaman terhadap peran Taman Nasional maka indikatorselanjutnya adalah mengukur pemahaman terhadap sikap masyarakat terhadapbeberapa pernyataan yang berhubungan dengan peran Taman Nasional. Penelitimengajak responden berpartisispasi untuk dapat memberikan suatu sikap Setuju,Netral dan Tidak Setuju atas beberapa pernyataan. Variabel lain dari pemahaman adalah mengukur pemahaman terhadapfungsi hutan mangrove, ada delapan fungsi hutan mangrove yang dijadikandeskripsi dari indikator tersebut diantaranya: (1) Pelindung garis pantai dari abrasi,(2) Mempercepat perluasan pantai melalui pengendapan, (3) Mencegah intrusiair laut, (4) Tempat berlindung dan berkembang biak jenis ikan, burung,mamalia, reptile, dan serangga, (5) Sebagai pengatur iklim mikro, (6) Penghasilkeperluan rumah tangga (kayu bakar, arang, bahan bangunan, bahan makanan,Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1081
  • 161. ISBN 978-602-98295-0-1obat-obatan), (7) Penghasil keperluan industri (bahan baku kertas, tekstil,kosmetik, penyamak kulit, pewarna), (8)Pariwisata, penelitian dan pendidikan. Variabel pengetahuan jenis vegetasi dan satwa diukur dengan indikatorpengenalan terhadap vegetasi dominan dan vegetasi dilindungi sedangkanpengetahuan terhadap satwa diukur dengan pengenalan jenis satwa yangdilindungi meliputi jenis primata, aves dan mamalia besar Variabel lain adalah perilaku masyarakat terhadap kelestarian TamanNasional Sembilang dengan indikator peran masyarakat dalam pemanfaatansumberdaya hutan kayu dan bukan kayu dalam kawasan. 4. Metode Analisis Data Data hasil wawancara dan observasi pada indikator untuk mengukur setiapvariabel dianalisis secara kuantitatif dengan cara scoring dalam bentuk ordinal daninterval lalu dinilai dengan persentasi, sedangkan data lainnya dianalisis secaradeskriftif kualitatif dengan cara tabulasi. Cara perhitungan variabel pemahaman masyarakat pada indikatorpemahaman terhadap status kawasan dideskripsikan menjadi enam kelompokkemungkinan masyarakat menjawab yaitu taman nasional, hutan konservasi,suaka margasatwa, hutan lindung, status hutan lainnya dan tidak tahu, lalu diberipoint secara berurutan dengan nilai 5,4,3,2,1 dan 0. Nilai dari masing-masingdeskripsi dikalikan dengan jumlah responden yang menjawab deskripsi berikut laludipersentasikan. Dalam mengukur pemahaman masyarakat terhadap peran tamannasional, apabila pernyataan positif maka pemberian skor Setuju=3, Netral=2,Tidak Setuju=1 tetapi apa bila pernyataannya negatif pemberian skor menjadiSetuju=1, Netral=2, Tidak Setuju=3. Dari setiap skor yang didapat lalu dikalikandengan jumlah responden yang menyatakan sikap tertentu tersebut. Pada indikator fungsi hutan mangrove, ada 8 fungsi hutan mangrove yangmenjadi deskripsinya sehingga nilai berkisar antara 8-0. Pengenalan jenisvegetasi dominan dideskripsikan menjadi 13 jenis dan kisaran nilai dari 13 - 0,pengenalan jenis vegetasi dilindungi bernilai antara 3 - 0, pengenalan jenis satwadilindungi untuk kelompok primata bernilai antara 1 - 0, sedangkan untukkelompok aves bernilai 1 – 0, dan kelompok mamalia besar bernilai 12 - 0.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1082
  • 162. ISBN 978-602-98295-0-1 Setelah dilakukan perhitungan lalu dimasukan pada interval skor, biladikonversikan pada nilai persentasi maka nilai 0 % - 20 % termasuk sangat tidakpaham, 21 % - 40 % tidak paham, 41 % - 60 % cukup paham, 61 % – 80 %paham dan 81 % - 100 % sangat paham.B. Hasil Penelitian 1. Keadaan Umum Lokasi Secara Geografis Wilayah Desa Tanah Pilih terletak pada Muara SungaiBenu yang berbatasan dengan Propinsi Jambi, sedangkan secara administrasipemerintahan berada di wilayah Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasindengan luas 70.000 Ha, adapun batas-batas wilayah Desa Tanah pilih adalahsebelah Utara Sungai Benu, sebelah Selatan Sungai Tiram dan Desa SungsangIV, sebelah Timur Laut Cina Selatan dan sebelah Barat Kabupaten MusiBanyuasin dan Propinsi Jambi (TNS, 2008). Aksesibilitas menuju Desa TanahPilih dari Kota Palembang dapat dicapai dengan menggunakan kapal speed boatmelalui Sungai Musi dalam waktu 5½ jam. Dapat juga dicapai dari Mentok PulauBangka dengan menggunakan speed boat besar dengan waktu yang diperlukankira-kira 3 hingga 4 jam. Disamping itu dapat juga ditempuh dari Nipah PanjangPropinsi Jambi dengan memakai speed boat dalam waktu tempuh kira-kira 3 -4jam (Profile Desa Tanah Pilih, STN 3 TNS, 2009). Kawasan Taman Nasional Sembilang umumnya memiliki iklim tropisdengan rata-rata curah hujan tahunan 2.455 mm. Musim kemarau biasanya terjadidari bulan Mei hingga Oktober, musim hujan dengan angin barat laut yang kerasdan membawa butiran hujan dari November hingga April. Iklim dapat dijabarkansesuai dengan Zona C : 5 hingga 6 bulan berturut-turut bulan basah dan 3 bulanatau kurang berturut-turut bulan kering, (TNS, 2008). Kawasan TN. Sembilang,merupakan bagian dari lahan rawa yang lebih luas dengan formasi sedimenPelembang. Saat ini ditutupi oleh tanah liat merin muda dan sedimen sungai.Sebagian kawasan ini sebagian besar didominasi oleh sedimen alluvial (termasuksedimen marin dan sedimen organik di pesisir, dan deposit organik, biasanyasebagai kubah gambut jauh di daratan). Tanah umumnya terdiri dari jenis histosoldan inceptisol.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1083
  • 163. ISBN 978-602-98295-0-1 Sebagian besar TN Sembilang terdiri dari habitat estuarin. Sejumlahsungai yang relatif lebih pendek menyalurkan air dari rawa air tawar tadah hujandan hutan rawa gambut yang terletak jauh ke daratan dalam sebuah pola menyirip(pinnate) ke wilayah pesisir Taman Nasional. Sungai terpanjang di Desa TanahPilih adalah Sungai Benu hulunya bersumber dari hutan rawa primer dan rawagambut, sedangkan sungai lainnya memberikan kontribusi pada formasi habitatestuarin. Substrat sungai berupa organik pada bagian hulu (gambut), pada bagianhilir liat. Substrat pantai lumpur dan sebagian pasir. Partikel lumpur tersuspensidalam air sungai, di daerah berarus deras substrat yang tertinggal berupa substratkasar, sedangkan di daerah berarus lemah, substrat yang tertinggal adalahsubstrat halus. Gambar 1. Peta Kawasan Taman Nasional Sembilang (sumber : BalaiTNS, 2008) 2. Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Sejarah Desa Tanah Pilih berawal sejak tahun 1970 tujuh orang sukuBugis (Daeng Pasoreh, Haji Aras, Mencak, Hamzah, Bedu, Darisek dan Baru)datang ke kawasan pesisir Sembilang dekat Sungai Benu. Daerah asal merekaadalah Teluk Bone Sulawesi Selatan. Pada umumnya Masyarakat Teluk Bonemeninggalkan Sulawesi menuju Sumatera, antara lain yang dituju adalah Jambi.Karena lahan garapan di Jambi sudah mulai berkurang, maka mereka mencarilahan garapan baru. Mereka mendapatkan ijin dari Pesirah di Sungsang untukmendirikan pemukiman pertama di Tanah Pilih dan membuka areal hutanmangrove dan hutan rawa untuk pertanian (padi dan kelapa). Pertama kali yangmereka kerjakan saat tiba di tanah Pilih adalah membuka areal persawahan danProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1084
  • 164. ISBN 978-602-98295-0-1perkebunan yang terletak antara sungai Terusan Dalam hingga S. Benu (sumber :informasi personal, 2009 ; Profile Desa Tanah Pilih, STN 3 TNS, 2009). Kesuksesan menggarap padi di sawah dan kelapa di kebun mengukirsejarah Desa Tanah Pilih, hingga orang Bugis berduyun-duyun berdatanganmenetap di Desa Tanah Pilih untuk menggarap sawah dan kebun. Orang Bugistersebut ada yang datang dari Jambi dan ada yang datang langsung dariSulawesi. Tahun 1993 adalah puncaknya keramaian hingga mencapai 5000 jiwabelum termasuk yang tinggal di wilayah Terusan. Sejak tahun 1990 hasilpertanian mulai berkurang, disebabkan karena adanya hama yang membludakyaitu beruang dan tikus. Dampak dari kejadian itu ada masyarakat yang kembalike Jambi, kembali ke Sulawesi dan sebagian lagi turun ke daerah muara beralihprofesi menjadi nelayan (sumber : informasi personal, 2009). Pada tahun 2000, Desa Tanah Pilih mengalami musibah (air pasang,badai ombak besar) yang memisahkan dan merusakkan perumahan warga.Sehingga sebagian besar (70%) warga membuat pemukiman baru dengan sisabahan dari kerusakan rumah mereka yaitu di lokasi sekitar Sungai Benu. SejakTahun 2000 Muara Sungai Benu telah menjadi desa Definitif yaitu Desa TanahPilih dengan luas ± 70.000ha. Menurut data Statistik saat ini jumlah pendudukadalah 202 KK dengan jumlah mata pilih hampir 400 orang. Daerah SungaiTerusan Dalam termasuk bagian dari Desa Tanah Pilih. Dengan jumlah kepalakeluarga sekitar 25 KK. Mata Pencaharian Masyarakat Desa Tanah Pilih saat inirata-rata adalah nelayan, bertani, dan yang mulai menjamur adalah peternakwalet. Hasil perikanan dan kebun dipasarkan ke Jambi dan Sungsang (sumber :Profile Desa Tanah Pilih, STN 3 TNS, 2009). Adat istiadat yang ada di Desa Tanah Pilih dikelola oleh 5 orangsesepuh/pemangku adat, meliputi (Sumber : Informasi personal, 2009 ; ProfileDesa Tanah Pilih, STN 3 TNS, 2009 ): a. Bersih desa/syukuran desa Dilakukan setahun sekali setiap bulan Maret. Waktu tersebut diselenggarakan pada saat panen raya. Acara tersebut wajib diikuti oleh setiap masyarakat. Tujuan kegiatan bersih desa adalah (1) Bersykur atas hasil panen yang dicapai (2) Tolak bala terhadap hal-hal yan tidakProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1085
  • 165. ISBN 978-602-98295-0-1 diinginkan, (3) Meningkatkan kebersamaan dan silaturahim antar warga, (4) Membicarakan permasalahan desa dan harapan-harapannya. b. Acara pernikahan Upacara pernikahan harus memakai adat Bugis tidak dibolehkan mengambil adat dari daerah lain. Dalam menentukan waktu pelaksanaan pernikahan ditentukan hari baik dan bulan baik oleh 5 pemuka adat melalui musyawarah. Tujuan dari ketentuan tersebut adalah (1) Mempetahankan adat Bugis agar tidak punah oleh desakan budaya modern, (2) Merupakan kekayaan budaya bagi anak cucu sebaagi ahli waris, (3) Sebagai perisai terhadap pengaruh luar yang mungkin tidak / bertentangan dengan budaya masyarakat Bugis. c. Membakar ladang Dalam melakukan pembakaran lahan garapan ada beberapa aturan yang disepakati yaitu. (1) Apabila melakukan pembakaran lahan / ladang harus diawasi dan dibuat sekat bakar agar tidak meluas, (2) Harus dilakukan secara bergantian, tidak dilakukan secara serentak. d. Pertengkaran Kalau ada pertengkaran atau percekcokan diantara warga yang dianggap sudah sangat memprihatinkan, maka untuk penyelesaiannya ada semacam sanksi yaitu (1) Memotong kambing, (2) Membuat surat perjanjian mengikat dan sanksi yang lebih berat. Tingkat pendidikan masyarakat Desa Tanah Pilih rata-rata lulusan SD.Rendahnya tingkat pendidikan ini disebabkan oleh belum tercukupinyafasilitas/sarana prasarana dan kekurangan tenaga pendidik. Untuk fasilitaspendidikan hanya ada 1 (satu) gedung SD. Masyarakat Desa Tanah Pilihseluruhnya memeluk agama Islam yang merupakan masyarakat asli Bugis. 3. Pemahaman Masyarakat Terhadap Status TNS dan Fungsi Ekosistem Mangrove Hasil penelitian dari variabel pemahaman masyarakat diawali denganmengukur pemahaman masyarakat terhadap status kawasan memakai beberapaindikator. Metode yang dipakai untuk mengukur indikator itu adalah wawancarakepada 30 responden. Berdasarkan hasil wawancara ternyata 93,33 %Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1086
  • 166. ISBN 978-602-98295-0-1responden tahu bahwa hutan yang ada di sekitarnya berstatus Taman Nasional,persentase tersebut identik dengan nilai 158, dimana nilai itu masuk pada kriteriasangat paham. Hasil tersebut lebih jelas terlihat pada Gambar 1. Pemahaman masyarakat terhadap status kaw asan Taman Nasional 6.67% Hutan Konservasi Suaka Margasatw a Hutan Lindung Lain-lain Tidak Tahu 93.33% Gambar 1. Pemahaman Masyarakat Terhadap Status Kawasan TN. Sembilang Status Taman Nasional sangat familiar dengan masyarakat, terbukti93,33% dari responden tahu dengan nama Taman Nasional dan hanya 6,67%saja yang tidak tahu. Masyarakat tidak mengerti status kawasan yang lain,padahal sebelum ditetapkan menjadi Taman Nasional status kawasan adalahSuaka Margasatwa, Hutan Lindung dan Hutan Produksi. Tetapi hal ini tidakfamiliar dengan masyarakat masyarakat hanya mengenal Taman Nasional. Kayu tidak boleh 100 diambi/dimanfaatkan 90 80 Satwa harus dilindungi 70 60 Hasil hutan buka kayu Nilai 50 boleh dimanfaatkan 40 30 Ikan, burung, satwa 20 yang bisa dimanfaatkan 10 boleh diambil 0 Boleh menggarap kebun Pernyataan dan tambak Gambar 2. Respon Masyarakat Terhadap Peran Taman Nasional Setelah mereka tahu atau mampu menyebutkan bahwa status hutanyang berada di sekitarnya adalah Taman Nasional, maka peneliti ingin tahu lebihjauh apakah masyarakat paham dengan peran Taman Nasional itu sendiri.Masyarakat diberikan beberapa pernyataan yang berhubungan dengan peranProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1087
  • 167. ISBN 978-602-98295-0-1Taman Nasional lalu diminta untuk memberikan penilain sikap setuju, netral dantidak setuju. Ada dua pernyataan yaitu pernyataan positif dan pernyataan negatif.Respon masyarakat dari setiap pernyataan yang dimaksud tercantum padaGambar 2. Dalam UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya AlamHayati dan Ekosistemnya pasal 33 ayat 3 menyebutkan bahwa ‖Setiap orangdilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatandan zona lain dari Taman Nasioanl, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam‖.Kalau merujuk aturan tersebut, sebenarnya masyarakat tidak diperkenankan untukmemanfaatkan kayu karena kalau menelaah lebih lanjut tentang batasan dari zonapemanfaatan tradisional, masyarakat di sekitar hutan hanya boleh memanfaatkanhasil hutan dengan tidak menebang atau membudidaya. Pada pernyataan ‖Satwanya harus dilindungi‖, semua respondenmenyatakan setuju, sehingga nilai yang didapat adalah satu dan masuk padakriteria sangat paham. Jadi selama masyarakat tidak dapat mengambilmanfaatnya maka sumber daya tersebut tidak akan di manfaatkan dalam modusapapun. Penilaian ini saling berhubungan dengan pernyataan ‖Ikan, burung, dansatwa lainnya yang bisa dimanfaatkan boleh diambil‖. Pada pernyataan inimasyarakat memberikan sikap dengan poin nilai 0,50, padahal pernyataan yangdilontarkan hampir sama yaitu pemanfaatan satwa, tetapi pada pernyataan yangkedua ada kalimat tambahan yaitu yang bisa dimanfaatkan, maka ada penilaianpergeseran respon dari masyarakat. Hal ini lebih terbukti bahwa terlibatnyamasyarakat dalam pemeliharaan atau sebaliknya dalam pengrusakan sangat erathubungan dengan memberikan manfaat atau tidak terhadap masyarakat. Selamasumberdaya itu tidak memberikan manfaat maka masyarakat tidak akanmengganggunya tetapi bila sumberdaya itu memberikan manfaat, makamasyarakat akan berusaha untuk memanfaatkannya. Nilai yang didapat dari masyarakat dalam menyikapi pernyataan dari‖hasil hutan bukan kayu boleh dimanfaatkan‖ adalah 0,50 masuk pada kritericukup paham. Masyarakat memberikan penilaian tersebut karena masyarakatmenilai apa yang sedang terjadi pada dirinya, dimana masyarakat seringmemanfaatkan hasil hutan bukan kayu seperti daun nipah digunakan untuk ataprumah, rotan untuk mengikat, dan nibung untuk tiang-tiang rumah dan bangunanProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1088
  • 168. ISBN 978-602-98295-0-1lainnya. Dalam pemanfaatan hasil hutan bukan kayu sebenarnya masyarakatpunya payung hukum, dimana dalam syarat penetapan sebagai zonapemanfaatan tradisional bila pada zona tersebut memiliki potensi dan kondisisumberdaya alam hayati non kayu tertentu yang telah dimanfaatkan secaratradisional oleh masyarakat setempat guna memenuhi kebutuhan hidupnya. DesaTanah Pilih tengah diusulkan menjadi zona pemanfaatan tradisional, berartipemanfaatan hasil hutan bukan kayu yang telah biasa masyarakat manfaatkandibenarkan secara hukum. Namun demikian nilai yang didapat hanya 0,50, disiniterlihat sifat kehati-hatian masyarakat dalam menyikapi pemanfaatan sumberdayadan peran Taman Nasional. Dalam sejarah masyarakat Desa Tanah Pilih matapencahariannya adalah bertani padi dan kelapa setelah adanya serangan hamayang hebat yaitu beruang dan tikus, masyarakat beralih menjadi nelayan dansekarang selain nelayan masyarakat menjamur mendirikan sarang walet. Jadimasyarakat dalam menyikapi pernyataan boleh menggarap kebun/ladang dantambak disikapi dengan positif karena masyarakat sendiri tidak mempunyaikepentingan dengan penggarapan lahan tersebut. Pemahaman masyarakat terhadap fungsi hutan mangrove termasukkriteria paham, dimana nilai yang didapat adalah 158 identik dengan 65,83, daridelapan kelompok yang dijadikan parameter pengukuran pemahaman masyarakatterhadap fungsi hutan mangrove, masyarakat memahami empat sampai tujuhmacam fungsi. Ada tiga fungsi hutan mangrove yang secara keseluruhanmasyarakat atau (100 %) dari jumlah responden paham diantaranya fungsimangrove sebagai pelindung garis pantai dari abrasi; sebagai tempat berlindungdan berkembang biak jenis ikan, burung, mamalia, reptil dan serangga dansebagai pengatur iklim mikro. Menyusul kemudian 90 % dari respondenmemahami bahwa fungsi hutan mangrove adalah sebagai penghasil keperluanrumah tangga. Fungsi mangrove sebagai pencegah intrusi air laut dipahami oleh66,67 % responden sedangkan fungsi mangrove sebagai parawisata, pendidikandan penelitian dipahami oleh 40 % responden. Hanya 26,67 % dari masyarakatyang memahami bahwa fungsi hutan mangrove adalah sebagai penghasilkeperluan industri (bahan baku kertas, tekstil, kosmetik, penyamak kulit, pewarna).Ada satu fungsi hutan mangrove yang benar-benar masyarakat belum pahamyaitu dengan adanya hutan mangrove dapat mempercepat perluasan pantaiProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1089
  • 169. ISBN 978-602-98295-0-1melalui pengendapan, padahal kemampuan mangrove untuk mengembangkanwilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalampembentukan lahan baru. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkansubtrat lumpur, pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus,sementara vegetasi secara keseluruhan dapat menahan sedimen (davies andClaridge, 1993 dalam Noor Rusila, 2006). Tegakan mangrove menyukai suasana lingkungan yang memungkinkanterjadinya penimbunan tanah dan perluasan lahan, dengan perakaran yang khasyang berkembang mengikuti penimbunan tanah yang terjadi (Pramudji, 1996dalam Arief 2003). Permudaan alam yang berasal dari alam dan keberadaannnyaditentukan oleh variabel permudaan alam sangat membantu dalam perluasanlahan baru. Seringkali di kawasan ini terbentuk daratan baru karena adanyaperakaran yang menghunjam ke dalam lumpur pantai sehingga membentukdinding vegetasi yang dapat menampung serasah dan lumpur. Oleh karena itu,tumbuhan mangrove mampu tumbuh secara agresif dan cepat menyebarmenutupi dataran estuaria. Dengan bentuk akar yang rapat mangrove dapatmenangkap lumpur sehingga mendorong pengendapan lumpur serta memperkuatketahanan terhadap erosi. 4. Pengetahuan Masyarakat Terhadap Jenis Vegetasi dan Satwa Deskripsi pengetahuan masyarakat terhadap jenis vegetasi dan satwaterlihat pada Gambar 3. Pengetahuan masyarakat terhadap jenis dikelompokkanmenjadi dua yaitu pengetahuan terhadap vegetasi dominan dan vegetasidilindungi. Parameter pengetahuan terhadap jenis vegetasi dominan dirangkummenjadi 13 jenis vegetasi dominan yang menyusun kawasan pantai TamanNasional Sembilang diantaranya Rhizopora spp (bakau), Avicennia spp (Api-api),Ceriops sp (tengar), Excoecoria sp (buta-buta), Xylocarpus (Nyirih), Bruguiera(tumu), Sonneratia sp (pedada), Oncosperma tigilarium (nibung), Casuarinajunghuhniana (cemara laut), Nimpa pructican (Nipah), Pandanus spp (Pandan),Terminalia catappa (ketapang), Hibiscus sp (waru).Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1090
  • 170. ISBN 978-602-98295-0-1 Pengetahuan masyarakat 70.00% terhadap vegetasi dominan Pengetahuan 60.00% masyarakat 50.00% terhadap vegetasi dilindungi Pengetahuan 40.00% masyarakat terhadap primata 30.00% dilindungi Pengetahuan 20.00% masyarakat terhadap aves 10.00% dilindungi Pengetahuan 0.00% masyarakat Indikator terhadap mamalia besar dilindungi Gambar 3. Pengetahuan Masyarakat Terhadap Jenis Vegetasi dan Satwa Jumlah jenis yang di kenal masyarakat berkisar antara 5 – 13 jenisdengan rata-rata yang mereka kenal 6 – 8 jenis. Secara umum semua jenis dikenal oleh masyarakat tetapi ada lima jenis yang secara keseluruhan masyarakatmengetahuinya yaitu bakau, api-api, pedada, nibung dan nipah. Jenis ini dikenaloleh seluruh masyarakat baik laki-laki maupun perempuan. Alasan masyarakatlebih mengenal dengan jenis ini adalah karena jenis ini berada sangat dekatdengan tempat pemukiman, bahkan sudah menjadi pemandangan sehari-hariseperti bakau, pedada, api-api dan nipah sedangkan nibung adalah kayu yangsering masyarakat manfaatkan untuk tiang bangunan. Selain vegetasi dominan, pengetahuan masyarakat terhadap jenisdiukur juga pengetahuan masyarakat terhadap vegetasi dilindungi. Hasilpenelitian menunjukkan masyarakat tidak paham dengan jenis vegetasi dilindungi,hal ini dicirikan dengan nilai yang didapat adalah 21 yang identik dengan 23,33 %.Jenis yang dijadikan parameter adalah jenis yang ada pada kawasan TamanNasional Sembilang yang sudah termasuk katagori langka dan dilindungi PP No. 7tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Jenis yang di maksudadalah Shorea palembanica (tengkawang), Nephentes spp (kantong semar) danDendrobium spp (anggrek jamrud dan anggrek Hartina) Pengetahuan masyarakat terhadap jenis satwa diukur dengan tigaindikator yaitu primata, aves dan mamalia besar. Hasil penelitian menunjukkanmasyarakat tidak paham pada satwa dilindungi, hal ini ditunjukkan dengan nilai 10atau 33,33% untuk primata, 18 atau 60% untuk aves dan 110 atau 30,56% untukProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1091
  • 171. ISBN 978-602-98295-0-1mamalia besar. Pengetahuan masyarakat terhadap primata dan mamalia besardilindungi termasuk pada kriteria tidak paham, namun pengetahuan masyarakatterhadap aves dilindungi masuk pada kriteria cukup paham. 5. Perilaku Masyarakat Perilaku masyarakat yang diteliti hanya dibatasi pada perilaku masyarakatdalam memanfaatkan sumberdaya hutan yang termasuk pada hasil hutan kayudan bukan kayu. Dari hasil wawancara dan observasi, masyarakat masihmemanfaatkan hasil hutan kayu untuk kayu bakar dan bahan bangunan. Semuajenis kayu yang ada disekitarnya tanpa dipilih dimanfaatkan oleh masyarakatuntuk kayu bakar, sedangkan kayu yang digunakan untuk bahan bangunanadalah jenis meranti dan jenis kayu berkelas lainnya, jenis nibung dan nyirihdigunakan masyarakat untuk tiang-tiang rumah. Bahan bangunan yang masihmemerlukan kayu adalah rumah tinggal, sarana ibadah, sekolah, gudang, perabotrumah tangga dan jembatan. Nibung merupakan jenis kayu yang sangat populerdi kalangan masyarakat pesisir yang pemanfaatannya untuk tiang rumah ataubangunan lainnya yang terkena pasang surut. Hasil hutan bukan kayu yangsering dimanfaatkan masyarakat adalah daun nipah yang digunakan untuk atapdan pengikatnya kadangkala masyarakat menggunakan rotan. Daun nipahmerupakan hasil hutan bukan kayu yang paling banyak dimanfaatkan olehmasyarakat, bahkan di Desa Maju Ria dan Desa Jati Sari masyarakat hanyamemanfaatkan hasil hutan bukan kayu berupa daun nipah. DAFTAR PUSTAKAArief Arifin. 2003. Hutan Mangrove Fungsi dan Manfaatnya. Kansius. YogyakartaDepdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Jaringan. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php. Jakarta, diakses 2 Mei 2009).Gonner, C dan Wibowo, P. 2002. Rencana Pengelolaan 25 Tahun Taman Nasional Sembilang Propinsi Sumatera Selatan (buku-2). Wetlands International Asia Pacific-Indonesia Programme.Harmoko. 2008. Inventarisasi Vegetasi Hutan Pantai Di Kawasan Taman Nasional Sembilang Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan. Skripsi . Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah PalembangProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1092
  • 172. ISBN 978-602-98295-0-1Muhlisin. 2006. Persepsi Siswa SMP Terhadap Pemanfaatan Zat Aditif Pada Makanan di Kec. Inderalaya Kab. OI. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Unsri.Noor Rusila Y, M. Khazali, dan I N.N. 2006. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PHKA/WI-IP. BogorPeraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999. Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.Peraturan Mentri Kehutanan No.P. 56 tahun 2006. tentang Pedoman Zonasi Taman Nasional Mentri Kehutanan.Qum Zaidan Marhani. 2007. Persepsi dan Sikap dalam Hubungannya dengan Prilaku Masyarakat Industri Pandai Besi di Desa Limbung Jaya kab. OI (studi kasus masyarakat dalam pengelolaan limbah serbuk besi).Riduwan. 2002. Varabel-Variabel Penelitian. Alfabeta. BandungRiyanto, B. 2005. Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan Dalam Perlindungan Kawasan Pelestarian Alam, Lembaga Pengkajian Hukum Kehutanan dan Lingkungan, Bogor.Rodi Edi. 2007. Hubungan Antara Pengetahuan Tentang Kimia Lingkungan dengan Sikap Mahasiswa Terhadap Lingkung-an Berdasarkan Jenis Kelamin di FKIP Kimia dan FMIPA Kimia UNSRI.Suharto, Y. 2008. Konservasi Hutan dan Sikap Masyarakat dalam Upaya Pelestarian Hutan di Kecamatan Bubulan Kabupaten Bojonegoro. Universitas Negeri Malang, Jawa Timur, (http://journal.um.ac.id/index.php/ilmu- pengetahuan- osial/article/view/1414. diakses, 24 November 2008)Suriasumantri, J. S. 1985. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Popular. Sinar Harapan, Jakarta.Taman Nasional Sembilang. 2008. Renstra Zonasi Taman Nasional Sembilang.Taman Nasional Sembilang. 2009. Profil Desa Tanah Pilih Kecamatan Banyuasin II.Undang-Undang Nomor. 5 tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistimnya.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999 Tentang Kehutanan.Yuningsih, L. 2009. Studi Potensi Masyarakat Dalam Menunjang Pembangunan Desa Konservasi Pada Daerah Penyangga Taman Nasional Sembilang. Tesis. Pascasarjana. Universitas SriwijayaYuswandi, Hari dan Cahyoadi Bowo. 2003. Pemberdayaan Kelembagaan Tradisional Masyarakat Daerah Penyangga Hutan untuk Pelestarian Taman Nasional Meru Betiri. FISIP Universitas Jember.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1093
  • 173. ISBN 978-602-98295-0-1 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PT MEDCO E&P INDONESIA DI KABUPATEN MUSI BANYUASIN SUMATERA SELATAN Yulian Junaidi dan M. Yamin Hasan Abstract This paper is focusing on community empowerment through Corporate SocialResponsibility (CSR). The objectives are to Analyze and evaluate communityempowerment program that was done PT Medco E & P Indonesia-Rimau Asset inMusi Banyuasin District as part of corporate social responsibility, and Formulaterecommendations based on evaluations conducted for the communityempowerment program in the future. The method that used in this research is survey method, The samples in thisevaluation, using purposive sampling method. Primary data collection method wasused is indepth interviews and observation in the field. Secondary data collectionis done by a search of documents from parties concerned. The data obtained aregrouped according to predetermined parameters, then analyzed by tabulation anddescriptive. The research result showed (1) Community empowerment programsconducted by PT Medco E & P Indonesia Rimau Asset-is that corporate socialresponsibility has a dimension of development grant to explore the potentialsocioeconomic conditions. (2) Community empowerment through SRI-organicprogram implemented under the principle of participation and independence. Theprogram has provided benefits to the community include: increasing revenue,improving environmental quality, enhance independence, and establishment ofcooperation between communities.(3) Empowering communities through programsduck farm has benefited the community, among others, to increase revenue,increase knowledge and skills. In practice there are several obstacles, amongothers, the inability of farmers to provide feed during moulting ducks whichresulted in some participants withdraw from the program. (4) To strengthencommunity self-reliance and sustainability of the program required thedevelopment of institutional, technical assistance optimally, marketing network,and periodic monitoring and evaluationA. Latar Belakang Kehadiran perusahaan skala besar, selain menciptakan pertumbuhanekonomi dan kesempatan kerja, juga berdampak negatif pada masyarakatsekitarnya akibat degradasi lingkungan dan terciptanya dual society karenaberoperasi secara enclave. Degradasi lingkungan akan menurunkan manfaatsumberdaya alam dan meningkatkan biaya lingkungan, sedangkan dual societyakan menciptakan kecemburuan sosial akibat adanya kesenjangan sosialekonomi antara pihak perusahaan dan masyarakat. Dampak tersebut jika tidakProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1094
  • 174. ISBN 978-602-98295-0-1dikelola dengan baik akan menimbulkan ledakan konflik yang dapat merugikansemua pihak. Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan komitmenperusahaan untuk mempertanggungjawabkan dampak operasinya dalam dimensisosial, ekonomi dan lingkungan. Konsep CSR bukan hanya charity atau filantropiyang memberikan hibah sosial untuk mengatasi persoalan dalam jangka pendek,tetapi merupakan konsep investasi untuk akumulasi modal sosial melalui hibahpembangunan jangka panjang dengan melakukan pemberdayaan masyarakat.Menurut Sepahvand (2009), CSR tidak bertentangan dengan tujuan profitperusahaan, justru CSR merupakan bagian penting dari strategi perusahaanuntuk memaksimalkan keuntungan dalam jangka panjang. Menurut Suparjan dan Suyatno (2003), kata pemberdayaan masyarakatsangat terkait erat dengan konsep pembangunan alternatif (alternativedevelopment). Kegagalan pembangunan model pertumbuhan ekonomi dalamupaya pengentasan kemiskinan ataupun mewujutkan keberlanjutan lingkunganmendorong lahirnya konsep pembangunan alternatif. Konsep ini, menuntutadanya demokrasi, pertumbuhan ekonomi yang menjamin kepentingan rankyatbanyak kesamaan gender dan keadilan antar generasi, Self reliance, direct(participatory) democracy, and melalui proses belajar secara sosial.Pemberdayaan pada hakekatnya mencakup dua aspek yaitu to give or autbority todan to give ability or to enable. Dalam pengertian pertama, pemberdayaanmemiliki makna memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan, dan mendelegasikanotoritas ke pihak lain. Sedangkan dalam pergertian yang kedua, pemberdayaandiartikan sebagai upaya untuk memberi kemampuan atau keberdayaan. Berdirinya PT Medco E&P Indonesia-Rimau Asset di Kabupaten MusiBanyuasin diawali pada tahun 1996, saat itu masih bernama PT Expan Sumatera.Pertama kali ditemukannya cadangan minyak yang besar di lapangan KajiSemoga, blok Rimau. Pada tahun 2004, tepatnya tanggal 19 April 2004 PT ExpanSumatera berubah nama menjadi PT Medco E&P Indonesia-Rimau Asset.Hadirnya perusahaan di tengah masyarakat menyebabkan adanya tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) di sekitar wilayah operasi kerja, sehinggaperusahaan membuat program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untukmembantu masyarakat di sekitar wilayah kerja agar menjadi lebih mandiri dansejahtera.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1095
  • 175. ISBN 978-602-98295-0-1 Paper ini merupakan hasil evaluasi program pemberdayaan masyarakat yangdilakuan PT Medco E&P Indonesia-Rimau Asset pada tahun 2009 dengan duakegiatan utama yaitu Program System Rice Intensification (SRI) Organik danProgram peternakan itik petelur.B. Tujuan dan KegunaanB.1. Tujuan1. Menganalisis dan mengevaluasi program pemberdayaan masyarakat yang dilakuan PT Medco E&P Indonesia-Rimau Asset pada tahun 2009 sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan2. Merumuskan rekomendasi berdasarkan evaluasi yang dilakukan untuk program pemberdayaan masyarakat dimasa yang akan datang.B.2. Kegunaan Hasil evaluasi program pemberdayaan masyarakat diharapkan : 1. Menjadi bahan masukan untuk melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di masa mendatang. 2. Menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah setempat dalam mensinergikan pembangunan wilayah. 3. Menjadi bahan informasi dan referensi bagi pihak yang terkait dengan program pemberdayaan masyarakatC. Metode Evaluasi Metode yang digunakan dalam evaluasi ini adalah metode survey.Penentuan sampel dalam evaluasi ini, menggunakan metode Purposive sampling.Dengan kriteria terlibat dalam program pemberdayaan masyarakat dan mengikutiseluruh proses yang dianjurkan dalam program ini. Pengumpulan data primerdilakukan dengan metode wawancara secara mendalam (dept interview) dengandipandu dengan daftar pertanyaan, menyebarkan kuisioner yang dibantu olehenumerator dan melakukan observasi di lapangan. Sedangkan pengumpulan datasekunder dilakukan dengan penelusuran dokumen dari pihak yang terkait. Datayang diperoleh dikelompokkan berdasarkan parameter yang telah ditentukan,kemudian dianalisis secara tabulasi dan deskriptif.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1096
  • 176. ISBN 978-602-98295-0-1D. Hasil dan PembahasanProgram System Rice Intensification (SRI) Organik Program SRI organik yang dilaksanakan oleh PT Medco E&P Indonesia-Rimau Asset merupakan komitmen perusahaan tersebut dalam PemberdayaanMasyarakat dan perbaikan kondisi lingkungan hidup. Program ini dilaksanakan diDesa Teluk Betung Kecamatan Pulau Rimau Kabupaten Banyuasin. Tujuan dariprogram ini adalah melakukan perubahan sistem usahatani padi konvensionalyang menggunakan pupuk dan pestisida kimia menjadi sistem usahatani padiyang dilakukan secara intensif dengan menggunakan pupuk dan pestisidaorganik, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan perbaikanlingkungan hidup. Peserta program pada tahap awal (perencanaan sampai pelatihan)berjumlah 31 orang, tetapi setelah pelaksanaan program peserta bertambahmenjadi 47 orang. Beberapa petani sekitar wilayah kegiatan ikut menanam padiSRI walaupun pada awalnya tidak mengikuti pelatihan. Mereka tertarik denganprogram SRI karena melihat keberhasilan budidaya padi dengan system tersebut,dan adanya pendampingan yang dilakukan pada kegiatan tersebut. Pada kegiatanevaluasi ini responden yang diwawancarai berjumlah 24 orang atau 51 persen daripeserta program.1. Pelaksanaan Kegiatan Pelaksanaan kegiatan Pemberdayaan Masyarakat melalui program SRIorganik ini diawali dengan perencanaan, sosialisasi, pelatihan, pelaksanaanprogram, pendampingan serta monitoring dan evaluasi. Setiap tahapan kegiatantersebut melibatkan pihak yang kompeten. Seperti pada Tabel 1 di bawah ini.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1097
  • 177. ISBN 978-602-98295-0-1Tabel 1. Tahapan kegiatan program SRI organikNo. Tanggal Uraian kegiatan Keterangan1. 23 – 25 Des 2009 Perencanaan dan  Hadir 31 orang sosialisasi (pemetaan petani lahan dan pertemuan) di Desa Teluk Betung2. 26 Des 2009 Penyampaian laporan  Ditentukan tgl hasil kegiatan pemetaan pelatihan dan sosialisasi3. 3-7 Januari 2010 Pelatihan  Di PT Medco E&P Desa Sumber  Peserta 36 orang4. Mulai 21 Jan Pelaksanaan program  Di Desa Teluk 2010 (penanaman bibit padi, Betung Kec. Pulau pembuatan kompos dan Rimau Kab. pembuat MOL) Banyuasin  Masih terus berlangsung sampai sekarang dan telah bertambah menjadi 47 orang5. 21 Januari 2010 Pendampingan  Tenaga pendamping sampai sekarang 2 orang  Tenaga ahli dari Aliksa6. Mulai 21 Januari Monitoring dan evaluasi  Tenaga ahli dari 2010 sampai Aliksa sekarang  Tim CD PT Medco Kegiatan dalam program SRI organik di atas telah memenuhi prinsipPemberdayaan Masyarakat. Menurut Tonny (2002), dalam pelaksanaannyapemberdayaan mengandung dua unsur pokok, yaitu partisipasi dan kemandirian.Pemberdayaan dilakukan agar anggota kelompok mampu berpartisipasi untukmencapai kemandirian. Kegiatan program SRI organik diawali dengan perencanaan dan sosialisasi,dimana dalam perencanaan dilakukan secara partisipatif dengan mengajak petanimelakukan pemetaan lahan dan pertemuan untuk membahas rencana kerjaprogram. Kemudian dilakukan konfirmasi kembali ke calon peserta programmengenai hasil dari perencanaan tersebut dan pada saat itu juga disepakatitanggal pelatihan.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1098
  • 178. ISBN 978-602-98295-0-1 Kegiatan selanjutnya melakukan pelatihan. Dalam pelatihan ini diajarkanmengenai prinsip-prinsip dan teknis budidaya SRI organik serta teknik pembuatankompos dan Mikro Organisme Lokal (MOL). Tujuan dari pelatihan ini adalah untukmeningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta sehingga mampumelaksanakan program tersebut secara mandiri. Dalam pelatihan ini PT MedcoE&P Indonesia-Rimau Asset didukung oleh tenaga ahli dari Aliksa Foundationyang mempunyai kapasitas dan pengalaman dalam Pemberdayaan Masyarakatmelalui program SRI organik. Pentingnya kapasitas pelaku pemberdayaan sejalandengan pendapat Sidu (2006), bahwa paradigma baru pemberdayaan menuntutadanya pelaku pemberdayaan yang memiliki kemampuan dalam menjalankantugas-tugasnya di lapangan dengan baik. Mereka tidak hanya dituntut memilikipengetahuan dan keterampilan dalam mendesain program pemberdayaan,melainkan dituntut pula untuk memiliki komitmen yang tinggi terhadap kepentinganmasyarakat, terutama dalam menggali, menumbuhkan, mengembangkan danmemanfaatkan sumberdaya lokal. Pada saat pelatihan ini peserta program ditingkatkan kapasitasnya dalammenggali potensi dan memanfaatkan sumberdaya lokal terutama dalampembuatan kompos dan MOL. Bahan-bahan pembuatan kompos terdiri dari sisa-sisa tanaman dan kotoran hewan yang dipelihara oleh petani, sedangkan MOLdibuat dari bahan yang ada di lingkungan petani seperti buah maja atau labu kayu,kulit jengkol, rebung, nasi, bonggol pisang dan keong. MOL ini digunakan sebagaipengurai kompos dan zat perangsang tumbuh. Dalam pelaksanaan program, sejak pengolahan lahan, pembuatan bibit,penanaman, serta pembuatan kompos dan MOL dilakukan sendiri olehmasyarakat secara swadaya. PT Medco E&P Indonesia-Rimau Asset hanyamenyediakan pendamping 2 orang yang berasal dari Aliksa Foundation untukmengawal proses pelaksanaan program. Pendamping tersebut ditempatkanbersama masyarakat untuk mengatasi persoalan yang muncul dan terus menerusmemberikan motivasi kepada masyarakat. Dengan motto ―Sabar, Ridho, Ikhlas‖pendamping meyakinkan masyarakat bahwa program SRI ini dapat memberikanhasil akhir berupa kesejahteraan, kemandirian dan perbaikan kualitas lingkunganhidup.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1099
  • 179. ISBN 978-602-98295-0-1 Kemandirian masyarakat ini terbangun karena program dilaksanakanberdasarkan prinsip partisipasi. Menurut Bessette (2004), partisipasi dibutuhkanuntuk mendapatkan dukungan masyarakat dalam proyek pembangunan yangdidefinisikankan oleh pemerintah, LSM atau para ahli. Indikator partisipasi yangbaik apabila rakyat mengambil tanggungjawab untuk melaksanakan inisiatifpembangunan. Hal ini berarti rakyat tidak hanya mengambil bagian dalamaktivitas-aktivitas yang ada, tetapi juga dalam proses pengambilan keputusan dariseluruh rangkaian inisiatif pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan,sampai monitoring dan evaluasi. Kegiatan monitoring dilakukan secara berkala oleh PT Medco E&PIndonesia-Rimau Asset dan tenaga ahli dari Aliksa Foundation. Monitoring inidilaksanakan untuk melihat apakah program tersebut dapat berjalan sesuaidengan yang direncanakan. Dari hasil monitoring ini terdapat beberapa kendaladalam pelaksanaan SRI Organik antara lain: di beberapa lahan, ketinggian airpasang sulit dikendalikan sehingga menenggelamkan bibit padi yang baruditanam, selain itu adanya serangan hama yang merusak sebagian tanaman.Untuk mengatasi masalah ini pendamping menyarankan kepada petani untukmenanam ulang tanaman tersebut dan membuat perangkap hama.2. Manfaat bagi Masyarakat Program SRI organik telah memberikan manfaat pada masyarakat. Manfaatprogram SRI organik yang dirasakan masyarakat antara lain mengatasi masalahsosial ekonomi, menumbuhkan kemandirian, dan membangun kerjasama dalammasyarakat. Masalah ekonomi yang dihadapi petani antara lain kurangnya modal dalammembeli input produksi seperti pupuk dan pestisida kimia. Keterbatasan modal inidikarenakan produktivitas lahan sudah semakin menurun dan tingginya biayaproduksi sehingga pendapatan usahatani menjadi rendah. Pendapatan yangrendah ini mengakibatkan petani sering tidak mampu membeli input produksi.Program SRI organik mampu menyelesaikan persoalan sosial ekonomimasyarakat karena semua input produksi dibuat sendiri oleh petani. Selain ituproduktivitas lahan meningkat karena penggunaan pupuk organik dan mikroorganisme lokal (MOL). Produksi yang dihasilkan dari sistem SRI ini mencapaiProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1100
  • 180. ISBN 978-602-98295-0-1antara 6 - 8 ton gabah kering panen (GKP)per hektar. Sedangkan denganmenggunakan sistem konvensional yang dilakukan sebelumnya hanya mencapai3-4 ton GKP per hektar. Dengan peralihan sistem konvensional ke sistem SRIorganik dapat meningkatkan produktifitas lahan dua kali lipat dari sebelumnya.Peningkatan produktifitas tersebut tentunya akan diikuti dengan peningkatanpendapatan petani secara proporsional dengan asumsi harga output tetap. Kegiatan pelatihan dan pendampingan yang dilakukan dalam program initelah mampu menumbuhkan kemandirian masyarakat. Hal ini terlihat dari petanisecara swadaya menyediakan tenaga, bahan dan alat yang diperlukan dalampenanaman padi, pembuatan kompos dan MOL. Dalam pelaksanaan program iniPT Medco E&P Indonesia-Rimau Asset tidak memberikan bantuan berupa uangdan barang. Pembuatan rumah kompos dan pembelian alat seperti gentong untukpembuatan MOL dibeli sendiri oleh petani. Selain itu, pendamping dan tenaga ahliyang disediakan perusahaan telah mampu meningkatkan kapasitas petanimembuat kompos dan MOL dari berbagai bahan yang ada disekitar petanisehingga petani tidak lagi tergantung dari input luar yang harganya semakinmahal. Dengan kemandirian yang sudah dibangun sejak awal ini sebagian besarpetani mengungkapkan akan tetap melanjutkan program ini ditahun-tahunmendatang, tetapi masih berharap mendapatkan pendampingan dari perusahaan,terutama dalam mengembangkan potensi ekonomi yang ada di pedesaan terkaitdengan model pertanian terpadu yang berkelanjutan. Program SRI organik ini juga telah menumbuhkan kerjasama di dalammasyarakat. Keterlibatan berbagai etnis yang ada di wilayah ini seperti etnis Jawa,Sumsel, Bugis, Sunda telah mendorong terjalinya integrasi masyarakat, selain ituadanya pihak ketiga untuk mendukung program ini juga bermanfaat dalammembangun jaringan kerjasama antara petani dan pihak-pihak lain. Hanya sajakelembagaan petani belum terbangun dengan baik. Menurut Uphoff (1986),kelembagaan lokal harus dikembangkan karena sangat erat kaitannya denganpengembangan kapasitas manusia dan pembangunan perdesaan. Terminologikelembagaan ini merujuk pada persoalan struktur, prosedur, dan kemampuankinerja yang abstrak. Kelembagaan tersebut dibangun dari pikiran orang-orang,keahlian, motivasi, dan kemampuan personal. Sedangkan pengertian lokalhampir selalu disamakan dengan community level (tingkat desa), walaupun untukProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1101
  • 181. ISBN 978-602-98295-0-1beberapa tempat karena kepentingan pengorganisasian, tingkatannya dapatditurunkan menjadi group level atau dinaikkan menjadi locality level (beberapadesa yang mempunyai kesatuan sosial ekonomi).Program Peternakan Itik Petelur Program peternakan itik petelur merupakan salah satu kegiatanPemberdayaan Masyarakat yang telah dilaksanakan oleh PT Medco E&PIndonesia-Rimau Asset yang dimulai dari tahun 2009 di sekitar wilayah operasiperusahaan. Program tersebut bertujuan memberikan pengetahuan mengenaicara beternak itik yang baik dan benar kepada masyarakat, selain itu diharapkanjuga dapat memahami teknologi yang lebih baik mengenai beternak itik. Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah pemberian paket bantuan ternak itikpetelur. Paket bantuan tersebut terdiri dari itik yang siap bertelur, pembuatankandang dan pemberian pakan selama 2 (dua) bulan. Selain itu diberikan jugapelatihan peternakan itik petelur bagi petani tentang teknik budidaya, penyediaanpakan dan pengolahan pasca panen. Melalui paket bantuan ini diharapkan dapatmeningkatkan pendapatan, taraf hidup dan lapangan pekerjaan masyarakatsehingga terjadi kemandirian secara ekonomi. Program peternakan itik petelurdilaksanakan di beberapa daerah antara lain di Dusun Tabuan (KecamatanBetung) dan Desa Langkap (Kecamatan Sungai Lilin).1. Pelaksanaan Kegiatan Program peternakan itik petelur merupakan salah satu kegiatanPemberdayaan Masyarakat yang dilaksanakan di beberapa daerah di sekitarwilayah kerja PT Medco E&P Indonesia– Rimau Asset, di antaranya di DusunTabuan (Kecamatan Betung) dan Desa Langkap (Kecamatan Sungai Lilin).Program ini merupakan kompensasi atas hilangnya kesempatan kerja akibatlahannya digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan. Berdasarkan data perusahaan, langkah awal yang dilakukan adalahmengidentifikasi permasalahan yang ada di masyarakat. Hal tersebut dilakukanuntuk mengetahui kondisi masyarakat dan lingkungannya, problematika yang ada,pihak-pihak yang berpengaruh dalam masyarakat serta karakteristik masyarakat.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1102
  • 182. ISBN 978-602-98295-0-1Hasil dari pra-kondisi dan penjajakan kebutuhan tersebut didiskusikan denganmasyarakat dan pemerintah setempat. Tahapan selanjutnya adalah perusahaanmenyusun Work, Program and Budget (WP&B) tahunan. Setelah itu, perusahaanmenerima proposal dari masyarakat dan melakukan pengecekan informasi padaproposal tersebut. Dari hasil evaluasi pada tahap perencanaan, perusaan telahmerencanakan program secara partisipatoris dengan memperhitungkankeragaman masyarakat dan telah sesuai dengan Standar Operating Procedure(SOP). PT Medco E&P Indonesia–Rimau Asset telah melakukan kesepahamanbersama (Memorandum of Understanding-MoU) dengan pemerintah dan pihak-pihak lain. Kesepahaman bersama tersebut dilakukan agar sejalan denganprogram atau kegiatan pembangunan pemerintah atau pihak lain. Dengandemikian, diharapkan dapat menjadi komplemen dan suplemen dari kegiatanpembangunan yang dilakukan pemerintah atau pihak lain. Begitupun juga denganprogram peternakan itik petelur sudah sejalan dengan program atau kegiatanpembangunan pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin. Program dan kegiatan Pemberdayaan Masyarakat peternakan itik peteluryang dilakukan oleh PT Medco E&P Indonesia–Rimau Asset sudah dilakukanbersama-sama dengan masyarakat dan pihak lain yang berkompetensi.Masyarakat dalam hal ini khususnya adalah peserta program, misalnya kelompokpeternak Tabuan (Dusun Tabuan), Sehati (Desa Langkap), Mitra Bersama (DesaLangkap). Untuk pelaksanaan kegiatan ini, perusahaan bekerjasama denganpihak yang berkompetensi di bidang peternakan, yaitu Agro Techno Park (ATP) diSumatera Selatan. Jumlah karyawan atau personil PT Medco E&P Indonesia–Rimau Asset yangmengurusi program pemberdayaan masyarakat hanya berjumlah empat orangtermasuk supervisor. Selain mengerjakan tugas-tugas untuk PemberdayaanMasyarakat, karyawan tersebut juga melaksanakan tugas-tugas kehumasan.Dengan sedikitnya jumlah personil dan adanya kelebihan beban kerja (overload),maka kegiatan pendampingan dan pemantauan pada program itik petelur yangdilakukan oleh perusahaan tidak bisa secara rutin. Oleh karena itu, untuk kegiatanpendampingan dan pemantauan, perusahaan menjalin kerjasama lagi denganpihak luar, yaitu ATP.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1103
  • 183. ISBN 978-602-98295-0-1 Untuk melihat keberhasilan dari program dan kegiatan PemberdayaanMasyarakat yang telah dilakukan selama satu tahun, perusahaan melakukanevaluasi secara internal. Dari hasil pemantauan dan evaluasi dapat diketahuikesalahan dan hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan program peternakan itikpetelur. Selain itu, hasil dari evaluasi tahunan tersebut digunakan untukmemperbaiki program tersebut di masa datang. Hasil survei di lapangan menunjukkan bahwa dalam program itik petelur,pihak perusahaan belum memanfaatkan sumberdaya alam lokal yang bisadimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak itik, seperti buah karet dan keong. Halini menyebabkan peternak harus membeli pakan ternak. Kondisi tersebut menjadihambatan peternak terutama saat terjadi masa moulting (rontok bulu). Masamoulting yang dialami itik terjadi selama kurang lebih dua bulan. Selama kurunwaktu tersebut itik tidak menghasilkan telur, ini artinya tidak ada penerimaan yangdidapatkan oleh peternak. Sedangkan biaya produksi, terutama untuk pakan harusterus dikeluarkan. Pada saat moulting, banyak peserta program peternakan itikpetelur yang mengundurkan diri karena tidak mampu membeli pakan. Melihatkendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program peternakan itik petelurtersebut, untuk selanjutnya sebaiknya perusahaan lebih memperhatikansumberdaya alam lokal yang dapat digunakan sebagai pakan. Selain memperhatikan sumberdaya alam lokal sebagai pakan, perusahaanjuga harus mengajarkan peternak mengenai manajemen produksi yang baikdalam usaha ternak itik petelur, misalnya memanajemen untuk mengatasimasalah moulting. Pada saat moulting, itik tidak memproduksi telur sehinggapetani tidak mendapatkan pendapatan. Solusi dari permasalahan tersebutsebaiknya perusahaan memberikan bantuan itik secara bertahap agar masamoulting tidak terjadi secara bersamaan. Kendala lain yang dihadapi peserta program adalah kurangnyapendampingan. Pendampingan untuk program itik petelur hanya dilakukan satubulan sekali, sehingga masyarakat tidak dapat berkonsultasi apabila adapermasalahan dalam usaha itik petelurnya. Solusi dari kendala ini adalahsebaiknya perusahaan memiliki tenaga ahli khusus yang siap mendampingimasyarakat yang diberikan bantuan sampai masyarakat tersebut bisa mandiri.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1104
  • 184. ISBN 978-602-98295-0-12. Manfaat bagi Masyarakat Menurut Servaes dalam White (2004), pemberdayaan adalah usaha untukmenjamin bahwa rakyat mampu menolong diri mereka sendiri. Dengan adanyaprogram Pemberdayaan Masyarakat yang dilakukan oleh perusahaan misalnyaprogram peternakan itik petelur ini, diharapkan dapat membuat masyarakatmandiri secara sosial ekonomi. Dalam pelaksanaannya, program peternakan itikpetelur yang telah dilaksanakan oleh perusahaan, dilihat secara PemberdayaanMasyarakat dapat dikatakan kurang berhasil. Hal ini dapat dilihat dengan adanyasebagian masyarakat yang mengundurkan diri karena tidak mampu membelipakan pada saat itiknya rontok bulu (moulting), tidak dimanfaatkannyasumberdaya alam lokal untuk pakan, belum adanya manajemen produksi yangbaik, dan tidak optimalnya pendampingan. Meskipun demikian, program itik petelur telah memberikan manfaat untukpeserta yang masih mengikuti program tersebut. Hal ini dapat dilihat darikontribusi pendapatan usaha itik petelur sebesar rata-rata Rp. 446.139,- perbulan. Analisis pendapatan usaha ternak itik petelur dalam program ini dapatdilihat pada Tabel 2.Tabel 2. Rata-rata produksi, harga, penerimaan, biaya dan pendapatan peternak itik petelur Uraian Rata-rata per Bulan Rata-rata per Tahun Produksi (butir) 564 16.917 Harga (Rp/butir) 1.400 1.400 Penerimaan (Rp) 764.028 22.920.833 Biaya (Rp) 317.889 9.536.667 Pendapatan (Rp) 446.139 13.384.167 Sumber: data primer yang diolah Manfaat lain yang diperoleh masyarakat dengan adanya program peternakanitik petelur ini adalah meningkatnya keterampilan masyarakat. Paket bantuanpeternakan itik petelur tidak hanya terdiri dari material yang dibutuhkan saja tetapijuga termasuk pelatihan peternakan itik petelur tentang teknik budidaya, pakanProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1105
  • 185. ISBN 978-602-98295-0-1dan pengolahan pasca panen. Dengan adanya pelatihan tersebut, keterampilandan pengetahuan masyarakat menjadi bertambah.E. Kesimpulan dan SaranKesimpulan1. Program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh PT Medco E&P Indonesia-Rimau Asset merupakan tanggung jawab sosial perusahaan yang berdemensi hibah pembangunan untuk menggali potensi sosial ekonomi masyarakat.2. Pemberdayaan masyarakat melalui program SRI organik dilaksanakan berdasarkan prinsip partisipasi dan kemandirian. Program tersebut telah memberikan manfaat bagi masyarakat antara lain: meningkatkan pendapatan, memperbaiki kualitas lingkungan hidup, meningkatkan kemandirian, dan terjalinnya kerjasama antar masyarakat.3. Pemberdayaan masyarakat melalui program itik petelur telah memberikan manfaat bagi masyarakat antara lain peningkatan pendapatan, menambah pengetahuan dan keterampilan. Dalam pelaksanaannya terdapat beberapa kendala antara lain ketidakmampuan peternak dalam menyediakan pakan pada masa itik moulting yang mengakibatkan sebagian peserta mengundurkan diri dari program tersebut.Saran1. Untuk memantapkan kemandirian masyarakat dan keberlanjutan program diperlukan pengembangan kelembagaan, khususnya ditingkat lokal seperti kelompok tani, kelompok wanita tani, dan koperasi.2. Perlu adanya pendampingan secara optimal dalam program petelur itik petelur agar masyarakat mampu mengelola usaha itik petelurnya dengan baik, misalnya perlu adanya pelatihan pembuatan pakan dengan memanfaatkan sumberdaya alam lokal, pelatihan manajemen produksi dan manajemen keuangan.3. Perlu dibangun jaringan pemasaran khusus untuk beras organik dan telur agar mendapatkan harga yang lebih layak sehingga usaha tersebut dapat berkelanjutan.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1106
  • 186. ISBN 978-602-98295-0-14. Perlu dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memperbaiki kelemahan dan meningkatkan keberhasilan program pemberdayaan masyarakat DAFTAR PUSTAKABessette, G. 2004. Involving The Community, A Guide to Participatory Development Communication. International Develovment Research Centre. Jointly Published by Southbound, Penang, Malaysia.Sepahvand, M. 2009. Analyzing The Concept of Corporate Social Responsibility: with the monetary and ethical approach. http://www.essays.se/essay/20677c6bda/Sidu, D. 2006. Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan Lindung Jompi Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Disertasi. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (Tidak dipublikasikan).Suparjan dan Suyatno, H. 2003. Pengembangan Masyarakat, Dari pembangunan Sampai Pemberdayaan. Aditya media, Jakarta.Tonny. F. 2002. Pengembangan Masyarakat, Creating Community Alternatives – Vision, Analisis and Practice . Institut Pertanian Bogor, Bogor.Uphoff, N. 1986. Local Institutional Development. Kumarian Press, West Harford, Connecticut.White, R. A. 2004. Is ‗Empowerment‘ The Answer? : Current Theory And Research On Development Communication. Gazette: The International Journal For Communication Studies Copyright © Sage Publications.London, Thousand Oaks & New Delhi 0016-5492 Vol 66(1): 7– 24. Doi: 10.1177/0016549204039939. Www.Sagepublications.ComProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1107
  • 187. ISBN 978-602-98295-0-1 HUBUNGAN MODAL SOSIAL DAN MODAL MANUSIA DENGAN TINGKAT PENDAPATAN PETANI KARET DI KECAMATAN TANJUNG BATU KABUPATEN OGAN ILIR Nukmal Hakim1, Henny Malini2, Selly Oktarina3 Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Jl Palembang- Prabumulih Km 32 Indralaya OI, 30662 ABSTRAK Hubungan Modal Sosial dan Modal Manusia dengan Tingkat PendapatanPetani karet di Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir, tujuan daripenelitian ini adalah Menganalisis berapa besar Modal Sosial dan Modal Manusiayang dimiliki petani karet dan Menghitung pendapatan Petani Karet, sertamenganalisis hubungan modal manusia dan modal sosial dengan tingkatpendapatan Petani Karet dan Mengidentifikasi upaya yang dilakukan oleh petanikaret di Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir didalam meningkatkanModal Sosial dan Modal Manusia. Metode penelitian yang digunakan dalampenelitian ini adalah metode survey. Modal Sosial yang dimiliki oleh petani karet di Kelurahan Tanjung Batu iniadalah sebesar 45,57 yang berada pada kriteria sedang dan Modal Manusia yangdimiliki oleh petani karet ini adalah sebesar 14,36 yang juga berada pada tarafatau kriteria sedang. Rata-rata pendapatan usahatani karet petani karet diKelurahan Tanjung Batu ini adalah sebesar Rp. 32.305.181,41 per hektar/thn danpendapatan totalnya rata-rata 35.051.848,07 per tahunnya. Hasil uji korelasidengan menggunakan alat uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidakterdapat hubungan antara modal sosial petani dengan pendapatan petani karet diKelurahan Tanjung Batu Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir, artinyasemakin tinggi modal sosial petani maka tidak akan mempengaruhi pendapatanpetani begitu pun juga sebaliknya. Hasil uji korelasi dengan menggunakan uji korelasi Sperarman juga,menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara modal manusia dengan tingkatpendapatan petani karet di kelurahan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir Upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan modal sosial yaitudengan memperbanyak interaksi sosial dengan masyarakat lingkungan setempatdan lingkungan luar sehingga akan memperoleh masukan-masukan yangbermanfaat dan upaya untuk meningkatkan modal manusia yaitu dengan rajinmengikuti pelatihan maupun kursus-kursus yang bermanfaat untuk kehidupanmereka, senantiasa menjaga kesehatan diri maupun lingkungan.1,2, 3 Staf Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian UnsriProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1108
  • 188. ISBN 978-602-98295-0-1 PENDAHULUAN Kontribusi tanaman karet dalam perekonomian Sumatera Selatan, antaralain sebagai sumber pendapatan dan pekerjaan bagi 450.856 Kepala Keluarga(Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, 2008) dan memberikankontribusi yang cukup besar dalam menghasilkan devisa bagi perekonomian diSumatera Selatan. Tahun 2007 volume ekspor karet Sumatera Selatansebesar 592.134,92 Ton dengan nilai US $ 1.133.051,680 atau memberikankontribusi 79,53 % dari total ekspor komoditi perkebunan sebesar US $1.424.663,920 (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi SumateraSelatan, 2008). Bappeda Kabupaten Ogan Ilir (2007) menyatakan bahwa pendapatanpenduduk tertinggi adalah berasal dari usaha kebun karet dan perdaganganyang dapat mencapai Rp. 9,5 juta perkapita per tahun, sedangkanpendapatan terendah adalah penduduk dengan usahatani padi lebak dan ikantangkap. Kenyataan ini menunjukkan pentingnya sektor perkebunan karet diwilayah Kabupaten Ogan Ilir, khususnya di karena adalah salah satu sentrapengembangan karet, akan tetapi apabila dilihat dari harga yang diterima olehpetani, maka keuntungannya yang diterima oleh petani masih sangat jauhsekali bila dibandingkan dengan keuntungan yang diterima oleh pihak lain,harga yang diterima oleh petani masih sangat rendah hal ini disebabkan masihrendahnya mutu bokar yang dihasilkan oleh petani, selain faktor penyebablainnya adalah hubungan sosial petani (modal sosial) dengan pihak lainnya danmodal manusianya. Modal sosial berpengaruh kuat pada perkembangan sektor-sektor ekonomilainnya seperti sektor perdagangan, jasa, konstruksi, pariwisata dan beberapayang lain. Apapun pembangunan ekonomi yang dilakukan, faktor trust,reciprocity, positive externalities, dan nilai-nilai etis merupakan penopang yangakan menentukan perkembangan dan keberlanjutan beragam aktifitas usaha disetiap sektor perekonomian (Mawardi M, 2007) Disamping modal sosial, modal manusia (pendidikan, kesehatan daninteraksi sosial) pun sangat kuat pengaruhnya terhadap perkembangan sektor-sektor ekonomi.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1109
  • 189. ISBN 978-602-98295-0-1 Melihat kenyataan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukanpenelitian tentang hubungan antara modal sosial dan modal manusia dengantingkat pendapatan petani karet di Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten OganIlir. METODE PENELITIANA. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan di Kecamatan Tanjung Batu KabupatenOgan Ilir, Karena mengingat Kecamatan ini merupakan salah satu daribeberapa Kecamatan di Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan yang sebagianbesar masyarakatnya mempunyai mata pencaharian sebagai petani karet.Waktu penelitian pada Bulan Juni sampai dengan Desember 2010B. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodesurvey. Metode survey ini diharapkan dapat memperoleh informasi mengenaifakta yang terjadi di lapangan dengan cara melakukan penarikan sampel untukmewakili populasi dan mengumpulkan data melalui wawancara langsungkepada responden dengan berpedoman kepada kuisioner.C. Metode Penarikan Contoh Metode penarikan contoh pada penelitian ini adalah metode acaksederhana (Simple Random Sampling) terhadap petani karet yang ada diKecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir. Hal ini bertujuan agar seluruhpetani karet tersebut memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampeldalam penelitian ini. Sampel yang diambil berjumlah 30 orang dari populasisejumlah 104 orang.D. Metode Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan didalam penelitian ini adalah data primer dandata sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh berdasarkanwawancara langsung dengan petani karet di Kecamatan Tanjung Batu denganProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1110
  • 190. ISBN 978-602-98295-0-1menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan (Quesioner) dandilanjutkan dengan observasi lapangan dalam mempertajam penilaian. Datasekunder diperoleh dari instansi/ lembaga Pemerintah yang menjadi sampeldidalam penelitian ini.E. Metode Pengolahan Data Data yang diperoleh dari lapangan diolah secara tabulasi dan diuraikansecara deskriptif yaitu dengan memaparkan hasil dalam bentuk uraian yangsistematis pada pembahasan. Adapun untuk menjawab tujuan pertama yaitumengukur modal sosial dan Modal Manusia yang dimiliki petani karet diKecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir dilihat dari 4 indikator, yaitupartisipasi dalam suatu jaringan, resiprositas, kepercayaan, dan norma sosial.Indikator-indikator tersebut kemudian dikelompokkan ke dalam interval kelasdengan pemberian skor 3 untuk kriteria tinggi, skor 2 untuk kriteria sedang, danskor 1 untuk kriteria rendah. Untuk menjawab pertanyaan kedua yaitu menghitung pendapatanusahatani karet petani karet di Kecamatan Tanjung Batu yaitu denganmenggunakan rumus Pn = Y x Hy Bp = Bt + Bv PdU = Pn – Bp Pdtotal= PdU + Pd non-UDimana:Pn = Penerimaan petani (Rp/Ha/Th)PdU = Pendapatan usahatani (Rp/Ha/Th)Bp = Biaya produksi (Rp/Ha/Th)Bt = Biaya total (Rp/Ha/Th)Bv = Biaya variabel (Rp/Ha/Th)Hy = Harga jual hasil produksi (Rp/Ha/Th)Y = Produksi karet (Kg/Ha/Th)Pdtotal = Pendapatan Total (Rp/Th)PdnonU = Pendapatan non-usahatani (Rp/Th)(Hernanto, 1996).Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1111
  • 191. ISBN 978-602-98295-0-1Untuk menjawab tujuan ketiga yaitu menganalisis hubungan modal sosial danmodal manusia dengan tingkat pendapatan dengan menggunakan dilakukan ujiStatistik Koefisien Peringkat Spearman dengan taraf nyata 0,05 dan dipaparkandalam bentuk uraian secara sistematis. Untuk menjawab pertanyaan terakhir yaitu mengidentifikasi upaya-upayayang dilakukan oleh petani karet di Kecamatan Tanjung Batu yaitu diolahsecara tabulasi dan di analisis secara deskriptif dan mendalam.C. Modal Sosial Di era kemajuan teknologi komunikasi dan informasi seperti sekarang inikeberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh modal dalam bentuk fisiksaja seperti jalan, bangunan, lahan, kendaraan dan modal fisik lainnya, tetapimodal sosial dan modal manusia memegang peranan penting didalammeningkatkan pendapatan petani di suatu daerah. Dari Hasil Penelitian terhadap Petani Karet di Kelurahan Tanjung Batu,maka rata-rata modal Sosial yang dimiliki oleh petani di Kelurahan TanjungBatu ini adalah tergolong sedang dengan skor 45,57. didalam penelitian inimodal sosial diukur dari indikator partisipasi dalam suatu jaringan (networks),kepercayaan(trust), resipirositas (Recipirocity), dan Norma Sosial.Perbandingan rata-rata tingkat modal sosial petani contoh yaitu petani karetyang tergabung dalam kelompok Tani P4S ini dapat dilihat pada Tabel 1 berikutini.Tabel 1. Rata-rata tingkat modal sosial petani contoh, 2010No. Modal Sosial Skor Kriteria 1 Partisipasi dalam suatu jaringan 10,17 S (Networks) 2 Resiprositas (Reciprocity) 11,70 T 3 Kepercayaan (Trust) 13,00 T 4 Norma sosial (Norms) 10,70 S Jumlah 45,57 S Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa secara umum modal sosial yangdimiliki oleh petani contoh di Kelurahan Tanjung Batu ini pada kriteria sedang.Kualitas modal sosial dibangun oleh indikator partisipasi dalam suatu jaringan,Resiprositas, kepercayaan, dan norma sosial. Partisipasi petani contoh didalamsuatu jaringan, serta norma sosial yang dimiliki oleh petani contoh tergolongProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1112
  • 192. ISBN 978-602-98295-0-1dalam kriteria sedang. Resiprositas dan Kepercayaan petani contoh tergolongdalam kriteria tinggi. Secara umum tingkat partisipasi yang terbangun pada petani contohtergolong dalam kriteria sedang dengan nilai skor 10,17. Partisipasi petani contoh dalam suatu jaringan berhubungan dengankeaktifan dalam organisasi dan jangkauan hubungan sosial atau pergaulanantar masyarakat. Pada umumnya petani hanya mau berpartisipasi padalembaga yang ada hubungannya dengan kegiatan produksi pertanian saja,sedangkan partisipasi petani contoh pada lembaga-lembaga sosial lainnyamaupun lembaga politik sangat terbatas. Resipirositas atau sering disebut juga solidaritas petani contoh dapatdilihat dari bagaimana petani contoh membantu penyelenggaraan acaratetangga, kegiatan jaga malam, dan kegiatan gotong royong pembersihansiring. Pengukuran terhadap ketiga bentuk resiprositas tersebut berada padakriteria tinggi dengan skor 11,70. hal ini berarti solidaritas yang terbentuk daripetani terhadap kerabat dan lingkungan petani contoh tergolong tinggi. DiKelurahan Tanjung Batu ini suasana keakraban antar tetanga dan lingkungansangat terasa sekali. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme mereka didalammembantu anggota dari masyarakat yang mempunyai hajatan, dan juga bisadilihat dari bagaimana mereka mau secara bergiliran didalam kegiatan jagamalam untuk keamanan lingkungan di daerah mereka serta gotong royong atausaling tolong menolong demi kepentingan mereka bersama. Tingkat kepercayaan (trust) petani contoh di Kelurahan Tanjung Batu initergolong tinggi dengan skor 13,00. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana merekamenaruh kepercayaan pada sesama warga masyarakat di lingkungan mereka,kepada para tokoh masyarakat, tokoh-tokoh adat setempat, ketua organisasi/kelompok yang mereka ikut serta dalam keanggotaannya, para penyuluhlapangan dan pemerintah setempat. Bentuk-bentuk norma sosial yang diteliti pada penelitan ini adalahbagaimana tingkat kepatuhan petani contoh terhadap lembaga adat setempat,bagaimana kepatuhan mereka terhadap perjanjian bagi hasil antara pemilik danpenggarap usahatani karet petani contoh, kepatuhan terhadap sanksi yangdikenakan kepada mereka apabila mereka melakukan pelanggaran. KepatuhanProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1113
  • 193. ISBN 978-602-98295-0-1petani contoh terhadap orang-orang yang dituakan di kelurahan Tanjung Batuserta kepatuhan mereka terhadap aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintahsetempat. Berdasarkan penelitian, tingkat kepatuhan petani contoh terhadap normasosial yang berlaku di masyarakat tergolong sedang dengan skor 10,70.D. Modal Manusia Modal manusia dalam penelitian ini diukur melalui indikator tingkatpendidikan, tingkat kesehatan dan kemampuan interaksi sosial. Perbandinganrincian rata-rata modal manusia petani contoh berdasarkan masing-masingindikator dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.Tabel 2. Rincian rata-rata modal manusia petani contoh di Kelurahan Tanjung Batu, 2010No. Modal manusia Skor Kriteria 1 Tingkat Pendidikan 3,83 Sedang 2 Tingkat Kesehatan 5,1 Tinggi 3 Kemampuan Interaksi Sosial 5,43 Tinggi Jumlah 14,36 SedangKriteria : 2- 3,33 = Rendah ; 3,34 – 4,67 = Sedang ; 4,68 – 6,00 = Tinggi. Berdasarkan Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa secara umum modalmanusia yang dimiliki oleh petani contoh di Kelurahan Tanjung Batu beradapada kriteria sedang. Kualitas modal manusia pada kriteria sedang dibangunoleh indikator tingkat pendidikan, tingkat kesehatan dan kemampuan interaksisosial. Parameter pendidikan dilihat dari tingkat Pendidikan Formal dan NonFormal, dari hasil penelitian didapatkan skor untuk tingkat pendidikan adalah3,83 yang berada pada kriteria sedang. Selain tingkat pendidikan, tingkat kesehatan juga sangat penting artinyabagi pengembangan modal manusia, kesehatan yang baik dapat meningkatkanhasil dalam pendidikan maupun meningkatkan hubungan dengan lingkungan,karena dengan kondisi tubuh dan jiwa yang sehat, merupakan faktor utamayang mempengaruhi petani agar dapat memperoleh pembelajaran, khususnyapendidikan non formal untuk dapat menambah pengetahuan didalam kegiatanusahatani karetnya, yang mana akan berdampak pada peningkatan taraf hidupProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1114
  • 194. ISBN 978-602-98295-0-1mereka. Kondisi kesehatan petani contoh secara umum rata-rata berada padakriteria Tinggi dengan skor 5,1. Disamping kedua modal manusia diatas, ada satu hal lagi yang tidakkalah pentingnya yaitu modal kemampuan interaksi sosial, kemampuan inidilihat dari penguasaan bahasa dan akses terhadap media. Kemampuanberbahasa Indonesia, selain bahasa daerah akan meningkatkan kemampuanpetani didalam berinteraksi dengan orang lain diluar lingkungan mereka,dengan adanya mereka berinteraksi dengan lingkungan diluar mereka, makaakan menambah wawasan dan pengetahuan petani karet, untuk menerimasuatu perubahan baik itu perubahan pola pikir yang lebih baik, maupunpeningkatan pengetahuan petani tentang semua hal, khususnya pengetahuandidalam kegiatan usahatani karet mereka. Selain itu akses terhadap mediaakan mempermudah petani karet dikelurahan Tanjung Batu ini ini danmempercepat berinteraksi/berhubungan dengan dunia luar. Adapun skor modalmanusia didalam kemampuan interaksi sosial pada penelitian ini adalah 5,43yang berada pada kriteria Tinggi, yang berarti kemampuan berinteraksi sosialpetani karet di Kelurahan Tanjung Batu ini secara umum Tinggi.E. Pendapatan Petani Karet di Kelurahan Tanjung Batu 1. Pendapatan Usahatani Pendapatan usahatani rata-rata yang diterima oleh petani karet diKelurahan Tanjung Batu untuk satu hektar lahan adalah sebesar Rp32.305.181,41. yang didapatkan dari penerimaan sebesar Rp 36.081.553,34per hektar dikurangi dengan biaya produksi sebesar Rp 3.776.371,93 perhektar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.Tabel 3. Pendapatan usahatani petani karet di Kelurahan Tanjung Batu tahun2010No. Uraian Rata-rata (Rp/Ha/Th)1 Penerimaan 36.081.553,342 Biaya total 3.776.371,93 Pendapatan usahatani 32.305.181,41Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1115
  • 195. ISBN 978-602-98295-0-1 2. Pendapatan Luar-usahatani Pendapatan luar usahatani atau pendapatan non usahatani adalahpendapatan yang diperoleh oleh petani dari kegiatan non usahatani. Adapun pendapatan non usahatani dari beberapa petani contoh diKelurahan Tanjung Batu ini diperoleh pekerjaan sampingan seperti pedagangdan pengrajin. Pendapatan rata-rata dari pekerjaan sampingan petani adalahsebesar Rp 2.746.666,66. Pendapatan petani contoh sebagai pedagangdiperoleh dari membuka warung manisan kecil-kecilan, dan jenis usahakerajinanyang dilakukan oleh petani contoh di dalam penelitian ini adalahmembuat kerajinan emas dan perak, akan tetapi bersifat musiman dan sesuaidengan banyaknya pesanan. 3. Pendapatan Total Pendapatan Total adalah penjumlahan pendapatan bersih dari usahatanikaret ditambah dengan pendapatan bersih dari luar usahatani karet (nonUsahatani) Rata-rata penerimaan, biaya total produksi, dan pendapatan petanidi Kelurahan Tanjung Baru dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini.Tabel 4. Rata-rata penerimaan, biaya total, dan pendapatan usahatani petani di Kelurahan Tanjung Batu tahun 2010No. Uraian Rata-rata1 Pendapatan usahatani (Rp/Ha/Th) 32.305.181,412 Pendapatan non-usahatani (Rp/Th) 2.746.666,66 Pendapatan total (Rp/Th) 35.051.848,07 Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa rata-rata pendapatan total yangdiperoleh petani adalah sebesar Rp 35.051.848,07 per tahunnya.F. Hubungan antara Modal Sosial Petani dengan Tingkat Pendapatan Petani Karet di Kelurahan Tanjung Batu Berdasarkan hasil perhitungan, Karena rs hitung < rs tabel yaitu 0,213 <0,365. Maka terima Ho, artinya tidak terdapat hubungan yang positif antaramodal sosial dengan pendapatan petani karet di Kelurahan Tanjung BatuKecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir, artinya modal sosial tidakmempengaruhi secara langsung pendapatan petani karet di kelurahan TanjungBatu Kabupaten Ogan Ilir. Sehingga semakin tinggi modal sosial petani makaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1116
  • 196. ISBN 978-602-98295-0-1pendapatan petani tidak akan berubah/tetap karena keduanya tidak salingmempengaruhi satu sama lainnya.G. Hubungan antara Modal Manusia dengan Tingkat Pendapatan Petani Karet di Kelurahan Tanjung Batu Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan bahwa rs hitung < rs tabelyaitu 0,24 < 0,372. Maka terima Ho, artinya tidak terdapat hubungan yangpositif antara pendapatan petani dengan Modal Manusia petani karet diKelurahan Tanjung Batu Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir, artinyamodal manusia tidak mempengaruhi pendapatan petani karet di KelurahanTanjung Batu ini, apabila modal manusia semakin meningkat maka tidak akanberpengaruh terhadap pendapatan petani.H. Upaya-Upaya didalam meningkatkan Modal Sosial dan Modal Manusia pada petani karet di Kelurahan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir Upaya- upaya petani di Kelurahan Tanjung Batu didalam meningkatkanmodal sosial (partisipasi dalam suatu jaringan, resiprositas, kepercayaan dannorma sosial) yaitu dengan memperbanyak frekuensi berinteraksi/pertemuanrutin dengan masyarakat lingkungan setempat dan lingkungan luar daerahdalam suatu wadah atau organisasi guna berbagi pengalaman maupuninformasi yang bermanfaat untuk kehidupan mereka dan kegiatan merekadalam berusahatani karet. Upaya untuk meningkatkan ketaatan/kepatuhan mereka terhadap normasosial yaitu dengan pemberian sanksi-sanksi yang tegas atas perbuatan yangsudah melampaui batas dan melanggar norma di dalam masyarakat setempat,sehingga akan membuat lingkungan di daerah mereka menjadi aman dantenteram. Adapun upaya-upaya yang dilakukan oleh petani karet di KelurahanTanjung Batu ini didalam meningkatkan modal manusia (pendidikan, kesehatandan kemampuan interaksi sosial) yang mereka miliki adalah yaitu denganmengikuti secara aktif pelatihan-pelatihan yang bermanfaat menambahpengetahuan mereka didalam kegiatan usahatani karet, mengikuti seminarProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1117
  • 197. ISBN 978-602-98295-0-1maupun kursus-kursus yang akan membuka wawasan mereka, serta untukpetani karet setempat yang masih buta huruf yaitu dengan mengikuti programpemerintah Kejar Paket A dsb, Sedangkan untuk meningkatkan kesehatan dilingkungan petani karet tersebut yaitu dengan senantiasa menjaga kebersihandan pola hidup yang sehat. Apabila terkena suatu penyakit yang agak beratharus segera memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit terdekat, danupaya didalam meningkatkan kemampuan interaksi sosial yaitu denganmembiasakan diri berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerahsetempat dan Bahasa Indonesia yang baik untuk berkomunikasi dengan orangluar daerah. sehingga akan mengurangi kesalahpahaman dan memudahkanuntuk berinteraksi. DAFTAR PUSTAKABappeda Kabupaten Ogan Ilir. 2007. Pendapatan Masyarakat. Diakses pada 4 Februari 2010 (http://bappeda.oganilirkab.go.id).Dinas Perindustrian dan Perdagangan. 2008. Pemerintahan Provinsi Tingkat I Sumatera Selatan. Palembang.Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan. 2008. Laporan Tahunan 2003- 2007. Pemerintahan Provinsi Tingkat I Sumatera Selatan. Palembang.Daniel, Manurung. 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. Bumi Aksara. JakartaHernanto, F. 1996. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. JakartaMawardi, M. 2007. Peranan Social Capital dalam Pemberdayaan Masyarakat. Diakses pada 16 januari 2010 (http://komunitas.wikispaces.com).Soekartawi, 1990. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Teori dan Aplikasinya. Rajawali Press. JakartaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1118
  • 198. ISBN 978-602-98295-0-1 ANALISIS PERMINTAAN BIBIT KELAPA SAWIT BERDASARKAN TREND PERKEMBANGAN LUAS AREAL DAN PROSPEK USAHA PEMBIBITAN DI SUMATERA SELATAN M. Yamin Hasan dan Maryadi Staf Dosen Program Studi Agribisnis Jurusan Sosial Ekonomi FakultasPertanian Universitas Sriwijaya, Jl. Raya Palembang – Prabumulih Km 33 Indralaya, Ogan Ilir Telp 0711-580662 Email: maryadi_sep@yahoo.com ABSTRAK Sumatera Selatan merupakan salah satu propinsi dengan perkebunankelapa sawit terbesar ketiga setelah Sumatera Utara. Pada tahun 2009 luaslahan kelapa sawit di Sumatera Selatan adalah seluas 775,502.66 hektar,sehingga pada tahun 2009 saja ada penambahan luas lahan sebesar 85.118hektar jika kerapatan per hektar 121 pohon, maka dibutuhkan bibit kelapa sawitsebanyak 10.299.357,86 batang bibit per tahun. Kebutuhan bibit yang besartersebut sebagian besar masih di datangkan dari luar propinsi SumateraSelatan, terutama di datangkan dari Medan. Penelitian ini dilaksanakan diPropinsi Sumatera Selata dengan menggunakan metode studi literatur dansurvey kepada sampel. Data yang dikumpulkan meliputi primer dan datasekunder. Trend pertumbuhan luas areal perkebunan kelapa sawit dapat dianalaisis dalam 3 bentuk model rehresi yaitu linear, kuadratik, dan kubikdengan nilai R2 yang hampir sama yaitu sebesar 92%, yang berarti bahwa 92%nilai variasi luas lahan mampu dijelaskan oleh variabel waktu (tahun). Dengantrend linear permintaan bibit kelapa sawit di sumatera selatan setiap tahunnyaadalah konstan yaitu sebesar 4.410.450 batang bibit per tahun. Permintaanbibit kelapa sawit dengan trend kuadratik diperkirakan meningkat sebesar1.47% per tahun. Sedangkan untuk model kubik permintaan bibit meningkatdengan penurunan sekitar sebesar sekitar 6,5% setiap tahunnya. Dari analisisNet Present Value (NPV), diperoleh nilai NPV sebesar Rp 117.059.124. Hal iniberarti bahwa usaha pembibitan kelapa sawit sangat layak dengan prospekyang sangat menguntungkan karena nilai NPV jauh lebih besar dari nol.Kata kunci: Permintaan bibit kelapa sawit, trend luas lahan, trendpermintaanI. PENDAHULUAN Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) saat ini merupakan salahsatu jenis tanaman perkebunan yang menduduki posisi penting di sektorpertanian umumnya, dan sektor perkebunan khususnya, hal ini disebabkankarena dari sekian banyak tanaman yang menghasilkan minyak atau lemak,Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1119
  • 199. ISBN 978-602-98295-0-1kelapa sawit yang menghasilkan nilai ekonomi terbesar per hektarnya di dunia(Balai Informasi Pertanian, 1990). Kelapa sawit termasuk produk yang banyak diminati oleh investor karenanilai ekonominya cukup tinggi. Para investor mengivestasikan modalnya untukmembangun perkebunan dan pabrik pengolahan kelapa sawit. Selama tahun1990 – 2000, luas areal perkebunan kelapa sawit mencapai 14.164.439 ha ataumeningkat 21,5% jika dibandingkan akhir tahun 1990 yang hanya 11.651.439ha. Rata-rata produktivitas kelapa sawit mencapai 1,396 ton/ha/tahun untukperkebunan rakyat dan 3,50 ton/ha/tahun untuk perkebunan besar.Produktivitas kelapa sawit tersebut dinilai cukup tinggi bila dibandingkandengan produktivitas komoditas perkebunan lain (Yan Fauzi, dkk, 2004). Sumatera Selatan merupakan salah satu propinsi dengan perkebunankelapa sawit terbesar ketiga setelah Sumatera Utara. Perkembangan luas arealperkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan pada tahun 2006 luasnyamencapai 618.000 hektar dan tumbuh pesat menjadi 682.730 hektar padatahun 2007. Dalam kurun tahun 2006 – 2007 luas areal tumbuh sebesar64.730 hektar, jika kerapatan per hektar 128 s/d 143 pohon, maka dibutuhkanbibit kelapa sawit paling tidak antara 8 – 9 juta batang bibit per tahun.Kebutuhan bibit yang besar tersebut sebagian besar masih di datangkan dariluar propinsi Sumatera Selatan, terutama di datangkan dari Medan. Jumlahyang besar tersebut membuat harga bibit sawit berkualitas cukup tinggi dansulit didapat, serta banyaknya beredar bibit palsu yang merugikan petani. Untukitu pengembangan bibit sawit secara lokal sangat diperlukan dan mempunyaiprospek usaha yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan daerah.Permasalahan Dari uraian di atas beberapa permasalahan penting yang perlu dikajidalam penelitian seputar permintaan dan prospek usaha pembibitan kelapasawit adalah sbb:1. Berapa besar pertumbuhan areal perkebunan kelapa sawit setiap tahunnya di Sumatera Selatan?Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1120
  • 200. ISBN 978-602-98295-0-12. Berapa besar kebutuhan bibit kelapa sawit di sumatera selatan dan bagaimana cara memenuhi kebutuhan itu setiap tahunnya?3. Berapa besar peluang usaha dan tingkat kelayakan pembibitan kelapa sawit di Sumatera Selatan?Tujuan Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya,secara khusus penelitian bertujuan untuk:1. Menentukan trend pertumbuhan luas areal perkebunan kelapa sawit diSumatera Selatan.2. Menentukan tingkat kebutuhan bibit kelapa sawit berdasarkan permintaanefektif.3. Menganalisis prospek kelayakan usaha pembibitan kelapa sawit di SumateraSelatan.Manfaat Penelitian Bagi pengambil kebijakan diharapkan penelitian dapat menjadi masukandalam menjamin pasokan kebutuhan bibit kelapa sawit yang bermutu denganjumlah yang mencukupi bagi kebutuhan usaha pengembangan tanaman kelapasawit di Sumatera Selatan. Bagi masyarakat dan dunia usaha penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai informasi penting tentang peluang usahapembibitan kelapa sawit di Sumatera Selatan. Sedangkan bagi penelitian,informasi awal ini bisa melahirkan penelitian baru di bidang kajian efisiensiusaha pembibitan dengan menggunakan bermacam model pembibitan kelapasawit yang ada.II. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Propinsi Sumatera Selatan, denganpertimbangan Sumatera Selatan merupakan propinsi ketiga terbesar arealperkebunan kelapa sawitnya setelah Riau dan medan. Penelitian inidilaksanakan pada bulan Mei s/d Desember 2010, dengan tahapan kegiatanmencakup proses persiapan dan perizinan, studi literatur, pengumpulan danProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1121
  • 201. ISBN 978-602-98295-0-1kompilasi data sekunder, pengumpulan dan pengolahan data primer, analisisdata dan penyusunan laporan hasil penelitian.Metode Penelitian dan Pengambilan Data Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dan metode survey,karena data yang diperlukan merupakan gabungan antara data primer dan datasekunder. Data sekunder yang digunakan meliputi publikasi tentangperkebunan kelapa sawit di 11 kabupaten/kota di Sumatera Selatan. Dataprimer yang dikumpulkan adalah sebagai pelengkap data sekunder yangsekaligus merupakan pengecekan silang data sekunder yang akan diambil daridua perusahaan inti dan beberapa orang tokoh kunci petani plasma.Metode Analisis Data Data yang dikumpulkan akan analisis baik secara kuantitatif maupunkualitatif. Secara kuantitatif perhitungan akan dilakukan dengan menggunakanpersamaan trend yang secara matematis dapat dirumuskan sbb: 1. Y = a + bX (untuk trend yang linear) Dimana: Y = Variabel permintaan X = Varibel Tahun (time series data selama 20 tahunterakhir) 2. Y = a + bX + cX2 (untuk trend kuadratik) 2. Y = a + bX + cX2 + dX3 (untuk trend kubik) 3. Y = abx (untuk trend simple exponential)Data trend akan diolah dengan menggunakan metode regresi linear sederhanadengan teknik OLS (Ordinary Least Square) lalu diambil garis trend yang palingmendekati keadaan aktual dengan nilai R2 terbesar. Pengolahan data akandilakukan dengan menggunakan program komputer SPSS versi 16. Untuk meramalkan kebutuhan bibit kelapa sawit di Sumatera Selatandilakukan dengan menggunakan pendekatan yang didasarkan pada trend luaslahan sepanjang tahun. Kemudian di hitung besar peningkatan luas lahansetiap tahunnya. Kebutuhan bibit dihitung berdasarkan penambahan luas lahanProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1122
  • 202. ISBN 978-602-98295-0-1per tahun dikalikan dengan jumlah bibit yang dibutuhkan per hektar (121batang, dengan asumsi jarak tanam 11 x 11 meter) sehingga rumus kebutuhanbibit pertahun dapat dihitung sbb: PBt = (Lt – Lt-1) x 121Dimana: Pt = Permintaan bibit kelapa sawit di Sumatera Selatan pada tahunt Lt = Luas Lahan kelapa sawit di Sumatera Selatan pada tahun t Lt-1 = Luas Lahan kelapa sawit di Sumatera Selatan pada tahun t-1 Tingkat kelayakan usaha pembibitan kelapa sawit akan dilakukandengan menghitungan nilai bersih kini atau Net Present Value (NPV), TheInternal Rate of Return (IRR), Net B/C ratio, Gross B/C ratio dan TheProfitability Ratio (P/R). Secara umum rumus matematis persamaan Net Present Value dapatdisajikan sebagai berikut: Dimana : B = manfaat C = biaya r = discount rate per tahun i = waktu ke-iIII. HASIL DAN PEMBAHASAN Sumatera Selatan memiliki areal perkebunan kelapa sawit tebesar ketigasetelah Riau dan Sumatera Utara. Pada tahun 2009 perkebunan kelapa sawit diSumatera Selatan memiliki luas lahan sebesar 775.502,66 ha dengan luas arealuntuk tanaman belum menghasilkan (TBM) sebesar 208.486,51 ha, tanamanmenghasilkan (TM) sebesar 561.399,29 ha, dan tanaman tua (TT) sebesar5.616,86 ha. Dari luas areal perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatanpada tahun 2009, perkebunan swasta memiliki luas areal terbesar, yaitu454.590 ha atau 58,62% dari total luas areal yang ada, sedangkan plasmahanya 236.401 ha atau 30,48% dan perkebunan rakyat sebesar 84.511,66 haatau 10,90% dari total luas areal perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan. Kelapa sawit di Sumatera Selatan merupakan salah satu penyumbanghasil produksi yang besar dalam produksi kelapa sawit nasional dengan tujuanProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1123
  • 203. ISBN 978-602-98295-0-1pasar internasional. Hasil produksi kelapa sawit Sumatera Selatan pada tahun2009 adalah 2.035.553,65 ton.3.1. Pertumbuhan Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit di SumateraSelatan Dari hasil pengumpulan data dari berbagai instansi terkait perkembanganluas lahan perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan setiap tahunmengalami fluktuasi dengan trend yang terus meningkat. Data luas lahanperkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan selama kurun waktu tahun 1989– 2009 dapat dilihat secara rinci pada Tabel 1.Tabel 1. Luas lahan Perkebunan Kelapa Sawit di Sumatera Selatan 1989-2009 No. Tahun Luas Lahan (Ha) 1 1989 52.233,39 2 1990 76.696,29 3 1991 88.945,60 4 1992 71.513,24 5 1993 54.747,21 6 1994 161.645,37 7 1995 141.105,99 8 1996 140.532,76 9 1997 444.722,36 10 1998 315.673,50 11 1999 457.634,00 12 2000 491.810,00 13 2001 412.534,00 14 2002 422.812,50 15 2003 429.666,02 16 2004 488.693,00 17 2005 551.651,00 18 2006 618.752,42 19 2007 682.730,00 20 2008 690.384,00 21 2009 775.502,66Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1124
  • 204. ISBN 978-602-98295-0-1 Grafik Perkembangan Luas Lahan Perkebunan Kelap Sawit di Sumatera Selatan 1989 - 2009 900,000.00 800,000.00 700,000.00 600,000.00 500,000.00 400,000.00 300,000.00 200,000.00 100,000.00Gambar 1. Grafik Perkembangan Luas Lahan Perkebunan Kelapa Sawit di - Provinsi Sumatera selatan 1989-2009 1989 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 2009 Dari Tabel 1 terlihat bahwa sejak tahun 1989 hingga tahun 2009 luaslahan perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan menunjukkan trend yangterus meningkat. Dalam periode 1989 – 2009, luas lahan perkebunan kelapasawit di Sumatera Selatan mengalami peningkatan sebesar 723.269,27 hektaratau meningkat sebesar 1.384%. Perkembangan luas lahan yang sangat pesatdalam kurun 20 tahun terakhir ini disebabkan semakin banyaknya perkebunanbesar nasional dan swasta, serta perkebunan rakyat yang bergerak di bidangperkebunan kelapa sawit yang sangat menguntungkan. Secara grafis,perkembangan luas lahan perkebunan kelapa sawit di Provinsi SumateraSelatan dapat dilihat pada Gambar 1. Untuk melihat kecenderungan (trend) pertumbuhan luas lahandilakukan pengolahan data dengan menggunakan SPSS Versi 16 terhadapkemunkinan trend perkembangan luas lahan kelapa sawit di Sumatera Selatan.Dari data perkembangan luas lahan yang ada diperoleh 3 (tiga) trendperkembangan luas lahan, yaitu : linear, kuadratik, dan kubik dengan nilai R2yang sebanding sebesar 0,92. Ini berarti ketiga model ini mampu menjelaskanbahwa variasi perkembangan luas lahan 92% dijelaskan oleh perubahan waktuProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1125
  • 205. ISBN 978-602-98295-0-1(tahun). Hasil pengolahan data dengan SPSS secara rinci dapat di lihat dalamTabel 2 berikut ini.Tabel 2. Hasil regresi trend perkembangan luas lahan kelapa sawit di Sumatera Selatan dengan model linear, kuadratik, dan kubik REquation Square F df1 df2 Sig. Constant b1 b2 b3Linear 0,92 213,438 1 19 0,00000 -40.470 36.450 - -Quadratic 0,92 103,871 2 18 0,00000 -13.860 29.510 315,567 - -Cubic 0,92 65,533 3 17 0,00000 -3.941 24.650 854,604 16,334 Dari hasil tersebut terlihat bahwa ketiga model tersebut sama baiknyadalam menjelaskan variasi luas lahan seiring dengan perjalan waktu (tahun).Secara statistik model-model tersebut menunjukkan hasil yang sangat signifikandengan selang kepercayaan hampir mendekati 100%. Secara matematis ketigamodel tersebut dapat di tulis dalam persamaan sebagai berikut: a) Linear : Y = -40.470 + 36.450 X b) Kuadratik : Y = -13.860 + 29.510 X + 315,567 X2 c) Kubik : Y = -3.941 + 24.650 X + 854,604 X2 – 16,334 X3 Dalam model trend yang linear terlihat bahwa pertambahan luas lahansetiap tahunnya meningkat dengan jumlah yang konstan yaitu sebesar 36.450hektar. Sedangkan untuk model kuadratik peningkatan luas lahan setiap tahunmengalami peningkatan, dimana pada tahun 1989 – 1991 luas lahan meningkatsebesar 30,456.70 hektar dan tahun berikutnya bertambah sebesar 631.13hektar menjadi 31,087.84 hektar dan peningkatan bertambah setiap tahunberikutnya sebesar 631,13 hektar. Sedangkan untuk model kubik justrupeningkatan luas lahan semakin menurun setiap tahunnya. Pada tahun 1989 –1991 luas lahan meningkat sebesar 27.099,47 hektar dan tahun berikutnyapertambahan luas lahan meningkat sebesar 1.513,20 hektar menjadi 28.612,67hektar dan peningkatan tahun berikutnya turun sebesar 98 hektar menjadihanya 1,415.20, dan demikian seterusnya pada tahun-tahun berikutnyaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1126
  • 206. ISBN 978-602-98295-0-1peningkatan luas lahan turun sebesar 98 hektar. Gambar trend peningkatanluas lahan secara grafis dapat dilihat pada gambar 2.Gambar 1. Grafik Trend Perkembangan Luas Lahan Perkebunan Kelapa Sawit di Provinsi Sumatera selatan 1989-2009 Dengan menggunakan rumus trend di atas perkembangan luas lahankelapa sawit pada tahun 2011-2020 dan seterusnya dapat diramalkan luasnyasebagai dapat di lihat dalam tabel berikut.Tabel 3. Perkiraan luas areal perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan, tahun 2011 – 2020 Luas Areal (ha) Tahun Luas Areal (ha) utk trend Luas Areal (ha) utk utk trend Linear Kuadratik trend Kubik 2011 797.880 831.805 816.359 2012 834.330 876.147 854.110 2013 870.780 921.119 891.218 2014 907.230 966.723 927.585 2015 943.680 1.012.958 963.113 2016 980.130 1.059.825 997.705 2017 1.016.580 1.107.322 1.031.261 2018 1.053.030 1.155.450 1.063.685 2019 1.089.480 1.204.210 1.094.877 2020 1.125.930 1.253.601 1.124.741 Selanjutnya trend pertumbuhan luas lahan perkebunan kelapa sawit diSumatera Selatan pada tahun 2010 - 2035. secara jelas dapat dilihat dalamgambar berikut ini.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1127
  • 207. ISBN 978-602-98295-0-1Gambar 2. Grafik Trend Perkembangan Luas Lahan Perkebunan Kelapa Sawit di Provinsi Sumatera selatan. tahun 2010 - 2035 Dari grafik di atas terlihat bahwa trend perkembangan luas secara lineardan kuadratik terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Trendpeningkatan luas lahan secara kuadratik terlihat lebih besar dibanding trendyang linear dan kubik. Sedangkan trend peningkatan luas lahan secara kubikpeningkatannya terus mengalami penurunan dan mencapai optimal pada tahun2034. dan pada tahun 2035 sudah mulai menurun. Trend dengan model kubik lebih realistis dengan kondisi riil dimanaketersediaan lahan yang cenderung terbatas. sehingga pada titik terjenuh akanmengalami kejenuhan dimana luas areal tidak dapat bertambah lagi karenalahan yang tersedia tidak ada lagi. Pada saat ini ektensifikasi tidak dapatdilakukan lagi. dan program pengembangan hanya bisa dilakukan denganintensifikasi. Dan jika data yang dapat mewakili kondisi riil yang ada maka padatahun 2034 pertambahan luas areal sudah mencapai maksimal.3.2. Kebutuhan Bibit Kelapa Sawit di Sumatera Selatan Analisis permintaan bibit kelapa sawit seharusnya dapat di analisis daridata permintaan setiap tahun. karena kendala ketidak tersediaan datapermintaan dari instansi terkait yang ada di Sumatera Selatan. makapendekatan perhitungan kebutuhan bibit kelapa sawit dilakukan melalui trendperkembangan luas lahan yang telah di bahas di muka. Untuk menghitung kebutuhan bibit kelapa sawit di gunakan rumussebagaimana yang telah diuraikan dalam analisis data. yaitu : PB t = (Lt – Lt-1) xProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1128
  • 208. ISBN 978-602-98295-0-1121. Dimana disini diasumsikan bahwa kebutuhan bibit per hektar adalah 121batang. dengan asumsi jarak tanam yang digunakan adalah 9 x 9 meter. Berdasarkan persamaan trend luas lahan dan persamaan kebutuhanbibit kelapa sawit di atas maka kebutuhan bibit kelapa sawit untuk tahun 2011dan seterusnya dapat diramalkan kebutuhannya. Kebutuhan bibit kelapa sawitdi Sumatera Selatan pada tahun 2011 – 2020 dapat di lihat secara jelas dalamtabel berikut ini.Tabel 4. Perkiraan kebutuhan bibit kelapa sawit di Sumatera Selatan, tahun2011 – 2020 Tahun Linear Kuadratik Kubik 2011 4.410.450 5.288.972 4.633.796 2012 4.410.450 5.365.340 4.567.865 2013 4.410.450 5.441.707 4.490.076 2014 4.410.450 5.518.074 4.400.428 2015 4.410.450 5.594.441 4.298.921 2016 4.410.450 5.670.808 4.185.556 2017 4.410.450 5.747.176 4.060.333 2018 4.410.450 5.823.543 3.923.251 2019 4.410.450 5.899.910 3.774.311 2020 4.410.450 5.976.277 3.613.512 Secara grafik trend permintaan bibit kelapa sawit di Sumatera Selatanyang dihitung berdasarkan trend perkembangan luas lahan dan persamaankebutuhan bibit pada tahun 2010 - 2035 secara jelas dapat dilihat dalamgambar berikut ini.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1129
  • 209. ISBN 978-602-98295-0-1Gambar 3.Grafik Trend Perkembangan kebutuhan bibit Kelapa Sawit di Provinsi Sumatera selatan, tahun 2010 - 2035 Dengan trend linear permintaan bibit kelapa sawit di sumatera selatansetiap tahunnya adalah konstan yaitu sebesar 4.410.450 batang bibit per tahun.Permintaan bibit kelapa sawit dengan trend kuadratik diperkirakan pada tahun2011 adalah sebesar 5.288.972 batang dan selanjutnya setiap tahunnyameningkat sebesar 76.367 batang atau meningkat sebesar 1.47% per tahun.Sedangkan untuk model kubik permintaan bibit pada tahun 2011 diperkirakansebesar 4.633.796 batang bibit lalu turun pada tahun berikutnya sebesar 65.931batang menjadi 4,567,865 dan tahun berikutnya penurunan itu terus bertambahsetiap tahunnya sebesar 11.858 batang. Dari gambar di atas permintaan bibit kelapa sawit cenderung menurundari tahun ke tahun, hal ini dikarenakan trend pertambahan luas lahan denganmodel kubik yang cenderung menurun. Jika data yang dikumpulkan dapatmempresentasikan keadaan riil di lapangan maka diperkirakan permintaan bibitkelapa sawit akan menurun ke titik terendah pada tahun 2034, dan pada tahun2035 permintaan bibit kelapa sawit menjadi nol untuk pertambahan luas arealyang sudah mencapai stagnan. Namun permintaan bibit kelapa sawit akantetap ada dari peremajaan kebun kelapa sawit yang telah berumur 20 – 25Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1130
  • 210. ISBN 978-602-98295-0-1tahun yang sudah dianggap tanaman tua yang tidak produktif lagi atau daritanaman mati dan gagal.3.3. Prospek Usaha Pembibitan Kelapa Sawit di Sumatera Selatan Besarnya potensi kebutuhan bibit kelapa sawit di Sumatera Selatanmembuka peluang usaha pembibitan dengan prospek yang amat menjanjikan.Dari data perkiraan yang di analisis, kebutuhan bibit kelapa sawit di SumateraSelatan saat ini sekitar 4 juta batang. Dengan masih cukup tersedia lahanuntuk perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan usaha pembibitanmemberikan prospek usaha dengan tingkat keuntungan yang cukupmenjanjikan. Dari hasil analisis kelayakan usaha untuk pembibitan kelapa sawit seluas1 hektar diperlukan biaya investasi sebesar Rp 45.773.000 yang meliputi biayalahan dan peralatan. Biaya operasional sebesar Rp 289.221.250 per tahunyang meliputi biaya bahan habis pakai dan biaya tenaga kerja. Jumlah produksi dari kegiatan pembibitan kelapa sawit ini dihasilsebanyak 12.000 bibit kelapa sawit yang siap salur. Jika diasumsikan hargabibit kelapa sawit yang dipakai dalam perhitungan penelitian ini adalah Rp27.500.00. Penerimaan setiap tahun pertama menghasilkan Rp330.000.000.00. Dengan menggunakan analisis Net Present Value (NPV), dengan siklususaha selama 5 tahun dan discount faktor sebesar 11%, diperoleh nilai NPVsebesar Rp 117.059.124. Hal ini berarti bahwa usaha pembibitan kelapa sawityang dilakukan sangat menguntungkan karena nilai NPV jauh lebih besar darinol.IV. KESIMPULAN DAN SARAN Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan dari hasilpenelitian ini:1. Trend pertumbuhan luas areal perkebunan kelapa sawit dapat di analaisis dalam 3 bentuk model rehresi yaitu linear, kuadratik, dan kubik dengan nilaiProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1131
  • 211. ISBN 978-602-98295-0-1 R2 yang hampir sama yaitu sebesar 92%, yang berarti bahwa 92% nilai variasi luas lahan mampu dijelaskan oleh variabel waktu (tahun).2. Dengan trend linear permintaan bibit kelapa sawit di sumatera selatan setiap tahunnya adalah konstan yaitu sebesar 4.410.450 batang bibit per tahun. Permintaan bibit kelapa sawit dengan trend kuadratik diperkirakan meningkat sebesar 1.47% per tahun. Sedangkan untuk model kubik permintaan bibit meningkat dengan penurunan sekitar sebesar sekitar 6,5% setiap tahunnya.3. Dari analisis Net Present Value (NPV), diperoleh nilai NPV sebesar Rp 117.059.124. Hal ini berarti bahwa usaha pembibitan kelapa sawit sangat layak dengan prospek yang sangat menguntungkan karena nilai NPV jauh lebih besar dari nol. DAFTAR PUSTAKADinas Perkebunan, 2007. Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit Sumatera Selatan. Kantor Dinas Perkebunan Sumatera Selatan. Palembang.Dinas Perkebunan, 2008. Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit Sumatera Selatan. Kantor Dinas Perkebunan Sumatera Selatan. Palembang.Direktorat Jenderal Perkebunan, 2000. Pertemuan koordinasi teknis komoditas perkebunan: karet, kelapa, kelapa sawit, dan lada, Palembang, 27-28 Oktober 2000/Dirjenbun. Palembang.Direktorat Jenderal Perkebunan, 2008. Wilayah Potensi Kelapa Sawit berdasarkan Kabupaten/Kota. Jakarta.Direktur Perbenihan, 2000. Pemikiran mengenai strategi dan kebijaksanaan penyediaan benih karet, kelapa, kelapa sawit dan lada /Direktur Perbenihan. Pertemuan Koordinasi Teknis Komoditas Perkebunan.Direktur Produksi Perkebunan, 2000. Kebijakan pengembangan produksi perkebunan karet, kelapa, kelapa sawit dan lada/ Direktur Produksi Perkebunan. Pertemuan Koordinasi Teknis Komoditas Perkebunan.Drajat, Bambang, 2003. Peramalan figure perkelapasawitan 2004-2008 dan Tinjauan Komoditas Perkebunan: Karet, Kopi, Gula, Teh, Kelapa Sawit dan Umum.Fauzi, Yan, dkk, 2004, ‖Budidaya Kelapa Sawit Pemanfaatan Hasil dan Limbah Analisis Usaha dan Pemasaran‖, Penebar Swadaya, JakartaGirsang Annel, 2005. ―Pedoman Pembibitan Kelapa Sawit Pre-Nursery dan Main-Nursery.‖ PPKS – Unit Usaha Marihat. Pematang Siantar.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1132
  • 212. ISBN 978-602-98295-0-1Lubis Adlin U, 1993. ―Pengadaan Benih Kelapa Sawit.‖ Pusat Penelitian Kelapa Sawit. MedanMuhidin, S. A, Maman Abdurahman, 2007. Analisis Korelasi, Regresi Dan Jalur Dalam Penelitian. Pustaka Setia. BandungPahan, Iyung, 2007, ‖Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu Sampai Hilir‖. Penebar Swadaya, JakartaSastroyono Selardi, 2003, ‖Budidaya Kelapa Sawit‖. Agromedia Pustaka. JakartaTim Pengembangan Materi LPP, 2007. Buku Pintar Mandor (BPM). Seri Budidaya. Tanaman Kelapa Sawit.‖ Lembaga Pendidikan Perkebunan. Yogyakarta.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1133
  • 213. ISBN 978-602-98295-0-1 PEMBANGUNAN SDM INDONESIA DITENGAH DAYA SAING NEGARA- NEGARA LAIN DAN DI ERA AC-FTA NURLINA TARMIZI ABSTRAKKajian tentang Pembangunan SDM Indonesia di tengah Daya Saing Negara-Negara Lain dan di Era AC-FTA dalam upaya mengetahui sejauhmanakeberhasilan pembangunan SDM Indonesia di tengah keberhasilan negara-negara lain dan langkah/strategi yang perlu ditempuh agar Indonesia mampubersaing di Era AC-FTA. Hasil kajian menunjukkan bahwa Indonesia masihtertinggal dalam peningkatan pembangunan SDM. Di tingkat Asean, IPMIndonesia, lebih rendah dari Malaysia, Thailand dan Filipina. Di luar Asean,lebih rendah dari negara Amerika Latin dan Karibia. Rendahnya kualitas SDMmenyebabkan Indonesia kalah bersaing dalam perdagangan bebas ditunjukkanoleh competitiveness index Indonesia yang lebih rendah dari beberapa negaraAsean dan China. Strategi yang perlu dilakukan adalah lebih mengoptimalkanpembangunan SDM terutama peningkatan kualitas pendidikan. PENDAHULUANPembangunan sumber daya manusia (SDM) merupakan suatu strategi yangdilakukan banyak negara dalam upaya memperlihatkan posisi keberhasilanpembangunan negara-negara tersebut. Pemberdayaan SDM adalah sebuahkonsep pembangunan ekonomi yang merangkup nilai-nilai sosial. Sebuahmasyarakat dinyatakan telah ―berdaya‖ ketika masyarakat suatu negara telahmenunjukkan performance kualitas yang cukup tinggi dibandingkan masyarakatdi negara lain. Dengan demikian, outcome dari pemberdayaan SDM adalahsejauhmana SDM memainkan peran aktif dalam pembangunan sehingga adaperubahan besar dalam ekonomi, struktur sosial, sikap masyarakat yang dapatmempercepat pertumbuhan ekonomi, utamanya dalam menghadapi persainganglobal yang semakin menguat.Konsep pembangunan SDM berbeda dengan konsep pembangunan ekonomi.Paradigma pembangunan ekonomi meletakkan dasar pembangunan padapertumbuhan ekonomi dengan konsep trickle down effect (tetesan ke bawah)dengan harapan kesejahteraan masyarakat di masa depan semakin meningkat.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1134
  • 214. ISBN 978-602-98295-0-1Akan tetapi pendekatan kesejahteraan hanya meletakkan manusia sebagaiobjek (pengambil manfaat) bukan sebagai subjek (peserta aktif) pembangunan.Apalagi konsep trickle down effect ternyata membuat ketimpangan pendapatansemakin melebar, antar kelompok masyarakat dan antar daerah. Sementaraparadigma pembangunan manusia bertitik tolak dari pemahaman bahwapembangunan dapat memperluas pilihan. Seperti pilihan untuk umur panjang,hidup di lingkungan yang layak sehingga kesehatannya dan keluarga terjamin,memperoleh pendidikan, mempunyai akses pada sumber daya ekonomi, danlain-lain.Ini berarti, pembangunan manusia merupakan pembangunan multidimensi yangmengaitkan dimensi ekonomi, pendidikan, kesehatan, sekaligus denganprasyarat pembangunan lingkungan eksternal: lingkungan hidup, lingkungansosial dan lingkungan global. Karena itu, proses pembangunan harus dapatmerealisasikan keinginan-keinginan tersebut.Pembangunan manusia yang multidimensi merealisasikan juga pembangunansosial dan budaya. Outcome pembangunan SDM adalah adanya perubahanbesar dalam ekonomi, struktur sosial, sikap masyarakat sehingga dapatmempercepat pertumbuhan ekonomi, pemerataan distribusi pendapatan dandengan itu akan terjadi peningkatan kesejahteraan.Indonesia melakukan upaya terus menerus meningkatkan pembangunan SDM.Upaya Indonesia memperoleh kemajuan yang cukup signifikan, namun harusterus dilakukan, sebab ketika Indonesia telah dapat meningkatkan performancekualitas SDM nya, negara-negara lain juga terus memacu kemajuan kualitasSDM mereka. Ini berarti daya saing negara-negara lain cukup tinggi, terutamamemasuki era perdagangan bebas. Dalam era ini, Indonesia perlumeningkatkan basic requirement, efisiensi dan inovasi. Ketiga hal ini dapatdicapai jika peningkatan SDM berhasil secara optimal.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1135
  • 215. ISBN 978-602-98295-0-1Pertanyaan yang muncul, sejauhmana keberhasilan pembangunan SDMIndonesia di tengah keberhasilan negara-negara lain dan langkah/ strategiyang perlu ditempuh agar Indonesia mampu bersaing di Era AC-FTA. PEMBANGUNAN SDMIndikator yang memperlihatkan pembangunan SDM suatu negara, dimanadidalamnya terangkum keberhasilan ekonomi dan sosial, adalah indekspembangunan manusia (IPM) atau human development index (HDI). IPMmerupakan suatu indeks melingkupi kondisi manusia yang dilihat dari dimensidasar pembangunan manusia, yakni, pertama, dimensi hidup sehat danpanjang umur yang diukur dengan harapan hidup saat lahir. Usia harapan hidupsaat lahir (life expectancy) mencerminkan tingkat kesehatan dan gizi yang baik.Kedua, dimensi pengetahuan yang diukur dengan angka melek huruf merekayang berumur 15 tahun. Angka ini menunjukkan kemampuan untuk menujudunia pengetahuan yang lebih tinggi. Ketiga, dimensi ekonomi, standar hidupyang layak dilihat dari GDP perkapita Untuk dapat membandingkan dengandaerah/negara lain maka indikator yang digunakan adalah kemampuan dayabeli (purchasing power parity); dengan indikator ini dapat diukur sejauhmanakemampuan daya beli di satu daerah/ negara dapat dibandingkan dengankemampuan daya beli daerah/negara lain.Namun untuk mencapai IPM yang unggul adalah tidak mudah. Terdapat duatantangan yang dihadapi suatu negara yaitu, tantangan dari dalam (internal)dan tantangan dari luar (eksternal). Tantangan bersifat internal adalahrendahnya tiga indikator komposit IPM, sedangkan tantangan bersifat eksternalyaitu globalisasi dan liberalisasi ekonomi. Tantangan kedua tidak dapat diatasiketika permasalahan pada tantangan pertama tidak terselesaikan, dan keduatantangan ini harus diselesaikan secara bersamaan.Bagaimana posisi IPM Indonesia? Posisi Indonesia seperti yang dilaporkanUNDP adalah sebagai berikut. Tahun 2005, Indonesia menempati posisi ke110 dari 177 negara dengan indeks 0,697, lebih rendah dari Vietnam yangProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1136
  • 216. ISBN 978-602-98295-0-1menempati posisi 108 dengan indeka 0,704 dan jauh lebih rendah dari Filipina(84/0,758), Thailand 73/0,778) dan Malaysia (61/ 0,796). Tahun 2006,Indonesia mengalami kemajuan dengan mencapai indeks IPM 0,711 danberada di urutan ke 108 mengalahkan Vietnam. Pada tahun 2007, IPMIndonesia meningkat menjadi 0,734. Variabel yang mengkontribusi IPM tahun2007 menjadi bertambah lebih baik, adalah angka harapan hidup hidup sejakdilahirkan, 70,5, jumlah penduduk Indonesia berumur 15 tahun telah melekhuruf 92,0%, enrollment ratio 68,2% dan angka GDP per kapita US$ 3,712.Namun demkian, sepanjang tahun 2005, 2006 dan 2007, posisi Indonesiaselalu dibawah Thailand, China, Filipina, bahkan di bawah Palestina (Tabel 1).Bagaimana bila dibandingkan dengan negara-negara lain diluar negara ASEAN.Jika dibandingkan dengan negara-negara Sub-Saharan Africa, Asia Selatandan Arab (Gambar 1), IPM Indonesia tahun 2005 masih lebih baik, tetapidibandingkan dengan negara-negara Karibia, Asia Timur dan Pasific, IPMIndonesia masih di bawah posisi negara-negara tersebut (Gambar 1). Gambar 1 IPM Indonesia dan Negara-negara Lainnya Tahun 2005Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1137
  • 217. ISBN 978-602-98295-0-1 Tabel 1 HDI 1980-2007 HDI Country rank code Country name 1980 1985 1990 1995 2000 2005 2006 2007VERY HIGH HUMAN DEVELOPMENT (OR DEVELOPED) 23 SGP Singapore 0.785 0.805 0.851 0.884 .. .. 0.942 0.944 30 BRN Brunei Darussalam 0.827 0.843 0.876 0.889 0.905 0.917 0.919 0.920HIGH HUMAN DEVELOPMENT (OR DEVELOPING) 66 MYS Malaysia 0.666 0.689 0.737 0.767 0.797 0.821 0.825 0.829MEDIUM HUMAN DEVELOPMENT (OR DEVELOPING) 87 THA Thailand 0.658 0.684 0.706 0.727 0.753 0.777 0.780 0.783 92 CHN China 0.533 0.556 0.608 0.657 0.719 0.756 0.763 0.772 105 PHL Philippines 0.652 0.651 0.697 0.713 0.726 0.744 0.747 0.751 Occupied Palestinian 110 PSE Territories .. .. .. .. .. 0.736 0.737 0.737 111 IDN Indonesia 0.522 0.562 0.624 0.658 0.673 0.723 0.729 0.734 116 VNM Viet Nam .. 0.561 0.599 0.647 0.690 0.715 0.720 0.725 134 IND India 0.427 0.453 0.489 0.511 0.556 0.596 0.604 0.612 137 KHM Cambodia .. .. .. .. 0.515 0.575 0.584 0.593 138 MMR Myanmar .. 0.492 0.487 0.506 .. 0.583 0.584 0.586 148 PNG Papua New Guinea 0.418 0.427 0.432 0.461 .. 0.532 0.536 0.541LOW HUMAN DEVELOPMENT (OR DEVELOPING) 162 TMP Timor-Leste .. .. .. .. .. 0.488 0.484 0.489 Deskripsi kuantitatif indeks komposit IPM di atas memberikan pelajaran bahwa pembangunan manusia harus dilakukan berkesinambungan. Diharapkan, Indonesia dapat memainkan peran penting, terutama menghadapi persaingan yang semakin ―mengglobal‖. Namun, perjuangan untuk dapat memainkan peranan global, tidak hanya terkonsentrasi meningkatkan angka IPM. Perlu berbagai kebijakan yang saling mendukung. Dalam konteks pencapaian keberhasilan pembangunan, maka pembangunan harus diletakkan pada 3 faktor utama, yakni pro-growth, pro-job dan pro-poor. Pembangunan yang hanya menfokuskan pada pertumbuhan ekonomi tinggi memang akan menghasilkan pendapatan per kapita yang tinggi. Namun pendapatan per kapita tinggi tidak mencerminkan kesejahteraan yang relatif merata untuk seluruh masyarakat. Hasil penelitian (Nurlina, 2003) menunjukkan bahwa di Sumatera Selatan pada tahun 2003 terjadi ketimpangan pendapatan yang cukup tinggi, 20% kelompok kaya menerima lebih dari 40% Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1138
  • 218. ISBN 978-602-98295-0-1pendapatan, sedangkan 40% dari kelompok berpendapatan rendah hanyamenerima 13-19% dari pendapatan.Berikut, Gambar 2 menunjukkan suatu fenomena menarik. Tahun 2007, GDP perkapita Indonesia US $ 3,700 sedangkan Filipina ―hanya‖ US$ 3,400, yang berartiIndonesia dapat dikategorikan negara yang lebih kaya dari Filipina. Akan tetapiindeks komposit pembangunan manusia Indonesia ternyata lebih rendah dariFilipina. Fenomena ini memperlihatkan bahwa program pertumbuhan ekonomitinggi hanya dinikmati sebagian kecil masyarakat. Program yang pro-growthtidak diarahkan untuk meningkatkan kesejahtaraan masyarakat secarakeseluruhan terutama masyarakat miskin. Atau dengan kata lain, kekayaanIndonesia tidak terdistribusi secara merata. Ini merupakan ketidakefisienan dalampengelolaan hasil-hasil pembangunan. Gambar 2 HDI dan GDP per kapita Indonesia dan Filipina Tahun 2007FREE TRADE AREA/AC-FTAFree Trade Area (FTA) menggambarkan dunia tanpa batas. Setiap negara dapatmengekspor/mengimpor barang dan jasa tanpa hambatan tariff dan jugahambatan non tariff. Dasar pemikiran membentuk kerjasama perdaganganProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1139
  • 219. ISBN 978-602-98295-0-1dengan keinginan agar setiap negara dapat memperoleh manfaat melaluispesifikasi produksi yang diunggulkan masing-masing negara. Negara-negaraAsean (Indonesia, Malaysia, Philippina, Thailand dan Singapore atas prakarsaPM Thailand (Anand Panyarachun) tahun 1992 di Kuala Lumpur membentukASEAN Free Trade Area (AFTA). Blok perdagangan AFTA ini bertujuan untukmemajukan local manufacturing semua negara ASEAN. Untuk itu ASEANmenentukan besarnya tarif 0-5% untuk barang dan jasa dari negara ASEAN yangmasuk ke negara ASEAN lainnya (termasuk negara CMLV. Cambodia, Myanmar,Laos dan Vietnam).Namun, ide dasar untuk dapat memperoleh manfaat dari terbentuknya FTA tidakberjalan mulus. Fakta menunjukkan perdagagan bebas dapat menimbulkandampak negatif, seperti terjadi eksploitasi terhadap negara yang lebih lemah,rusaknya industri lokal dan faktor keamanan yang kurang terjamin. Selain itu pulanegara yang lebih efisien akan lebih menguasai perdagangan, meskipunagreement yang disepakati tampaknya menguntungkan negara-negara yangtergabung dalam asosiasi tersebut.Selain membentuk blok perdagangan sesama negara Asean, Indonesia jugamembentuk blok perdagangan dengan China dengan Framework Agreement onComprehensive Economic Co-operation (AC-FTA). Kerangka kerja inimemperlihatkan bahwa perdagangan bebas antara keduanya akan menghasilkanmanfaat antara kedua belah pihak. Untuk meningkatkan kerjasama ekonomi makadisepakati: a) penghapusan tariff dan hambatan non-tariff dalam perdaganganbarang, b) liberalisasi secara progresif perdagangan jasa, c) membangun regiminvestasi yang kompetitif dan terbuka dalam kerangka AC-FTA. Tujuan dariframework agreement tersebut: a) memperkuat dan meningkatkan kerjasamaekonomi, perdagangan dan investasi kedua pihak, b) meliberalisasikanperdagangan barang, jasa dan investasi, c) mencari area baru danmengembangkan kerjasama ekonomi yang saling menguntung-kan, d)memfasilitasi integrasi ekonomi yang lebih efektif dengan negara anggota baruASEAN dan menjembatani gap yang ada di kedua belah pihak.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1140
  • 220. ISBN 978-602-98295-0-1Untuk kasus Indonesia, data lapangan menunjukkan kerjasama yang terjadihanya menguntungkan China. Nilai ekspor Non Migas Indonesia ke China jauhlebih rendah dari nilai impor barang yang sama dari China (Gambar 3). Dengandemikian produk non migas China mempunyai keunggulan dari produk non migasyang dihasilkan Indonesia. Tabel 2 mendukung hal di atas, selama 2 tahunterakhir nilai ekspor ke China relatif lebih kecil dibanding dengan nilai impor dariChina. Dengan kata lain Indonesia tidak memperoleh value added yang tinggidari perdagangan bebas ini. Tabel 2 Ekspor dan Impor Indonesia ke dan dari China 2007 dan 2008 (dalam juta US $) Ekspor Impor No. HS 2007 2008 HS 2007 2008 1 15 1520,6 2119,1 84 1503,8 3394,2 2 40 762,1 901,2 85 1255,0 3281,0 3 47 510,9 742,3 72 858,2 1026,2 4 26 613,1 649,2 73 366,3 872,9 5 29 549,9 335,1 29 371,6 511,5 6 74 330,2 315,5 28 269,8 466,6 7 85 217,9 279,1 39 182,5 335,2 8 84 276,6 255,7 31 106,5 323,2 9 48 194,9 195,1 52 86,4 299,6 10 44 194,7 157,9 08 255,4 248,0 Sumber: Mutakin dan Salam, 2009Keterangan:HS: produk-produk highly sensitive15: lemak dan minyak hewan/nabati dan produk disosiasinya40: karet dan barang daripadanya47: pulp dari kayu, kertas atau kertas kartom yang diputihkan26: biji logam, terak dan abu29: bahan kimia oeganik74: tembagadan barang daripadanya85: mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, perekam, preproduksi gambar dan suara televisi, dan bagian asesoris dari barang tersebut84: reactor nuklir, ketel, mesin dan peralatan mekanis dan bagian daripadanya48: kertas dan kertas karton, barang dari pulp kertas, dari kertas atau dari kertas karton44: kayu dan barang dari kayu, arang kayu72: besi dan baja besi73: barang dari besi dan bajaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1141
  • 221. ISBN 978-602-98295-0-129: bahan kimia organic28: bahan kimia organic, senyawa organic atau anorganik, dari logam mulia, dari logam tanah lengka, dari unsure radio aktif atau dari isotop39: plastic dan barang daripadanya31: pupuk52: kapas08: buah dan buah tempurung yang dapat dimakan, kulit dari buah jeruk atau melon Gambar 3 Neraca Perdagangan Non Migas Indonesia – China 2004-2008 (dalam miliar Rupiah)Indonesia kalah bersaing dari China. Laporan the World Economic Forum tentangThe Global Competitiveness Report (GCR) tahun 2008-2009 memperlihatkankelemahan Indonesia dari 3 sisi, basic requirement, efisiensi dan inovasi, masing-masing menduduki rangking 78, 49 dan 45. Sementara China untuk ketiga haltersebut berada di rangking 42, 40, 32. Ketiga hal tersebut membentuk overallindex, Indonesia berada di ranking ke 55 dengan overall index 4,09, sedangkanChina pada rangking ke 30 dengan overall index 4,70. China menempati posisi30 top dunia, Posisi China pada tahun 2009-2010 meningkat menempati urutanke 29 dengan index 4,74 dan tahun 2010-2011 menempati rangking 27 denganindex 4,84. Negara Asean lainnya yang mengalahkan Indonesia adalahSingapura (menempati posisi 5) Malaysia (posisi 21), Thailand (posisi 34)Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1142
  • 222. ISBN 978-602-98295-0-1Hal di atas menyimpulkan bahwa adanya persetujuan tentang perdaganganbebas tanpa hambatan tariff dan non tariff, tetap menguntungkan suatu Negaradan merugikan Negara lainnya. Sebab kekuatan ekonomi antar Negara sangattimpang. Ketimpangan ini dikontribusi oleh kekurangmampuan dalam inovasi danketidakefisienan dalam setiap usaha/tindakan.Namun demikian, kondisi ini tidak perlu ditakuti, karena roda globalisasi danliberalisasi terus berjalan dan tidak ada suatu negara yang dapat mengisolasi diridari kondisi tersebut. Untuk dapat bersaing di era ACFTA maka salah satu caramemperkuat daya saing dengan cara meningkatkan kualitas pelaku pembangunanmelalui pendidikan dan melalui kemampuan dalam sains dan teknologi.STRATEGI DALAM MENINGKATKAN DAYA SAINGBanyak strategi untuk dapat meningkatkan daya saing. Namun ujung tombak daristrategi tersebut adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutamaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1143
  • 223. ISBN 978-602-98295-0-1melalui peningkatan kualitas pendidikan. Sebab dalam komponen pendidikan,tercakup secara tidak langsung komponen kesehatan dan ekonomi, karena itupendidikan memerlukan perhatian serius.Pendidikan merupakan jendela untuk meraih dunia. Tanpa pendidikan yang lebihbaik yang dipunyai rata-rata penduduk maka Indonesia susah bersaing di pasarglobal. Dalam era informasi sekarang ini, dimensi pendidikan tidak hanya berkutatpada melek huruf tetapi jangkauannya sudah semakin meningkat, bahwa yangdiperlukan adalah manusia yang berkualitas tinggi serta mampu bersaing dalamberbagai bidang.Paradigma pendidikan mengalami pergeseran. Pada masa lalu, diutamakanadalah orang-orang yang memiliki pendidikan dan ketrampilan tinggi; sedangkanparadigma pendidikan masa kini adalah sejauhmana pendidikan mampumeningkatkan sumber daya bangsa menjadi semakin bermartabat. Dengandemikian keberhasilan peningkatan kualitas pendidikan adalah keberhasilanmemadukan pendidikan yang memfokuskan pada hard skil (paradigma lama) dansoft skill. Pendidikan yang mengutamakan hard skill membuat seseorangmenguasai pengetahuan yang jika dipadu dengan pendidikan yang memuat softskill akan membentuk karakter yang mau bekerja keras, kepercayaan diri tinggi,mempunyai visi ke depan dan memiliki keilmuan yang tinggi.Oleh karena itu, peningkatan pembangunan manusia lewat pendidikan yangmemuat hard skill dan soft skill akan mempercepat keberhasilan dalampembangunan. Sebab, kedua hal tersebut merupakan dasar untuk melakukaninovasi dan pengembangan sains dan teknologi. Rendahnya competitivenessindeks Indonesia dibandingkan China disebabkan rendahnya kemampuan sainsdan teknologi.Peran sains dan teknologi dalam pembangunan berkelanjutan adalah sangatpenting. Peran sains dan teknologi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun2007 hanya 1,38%, berarti pertumbuhan ekonomi nasional masih di dominasi olehfaktor modal bukan oleh sains dan teknologi. Sentuhan sains dan teknologi untukbarang-barang Indonesia yang di ekspor ke China relatif rendah karena yang diProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1144
  • 224. ISBN 978-602-98295-0-1ekspor merupakan bahan mentah. Sementara yang di impor dari Chinamerupakan barang yang memiliki value added tinggi.Perkembangan ekonomi yang berakar pada kemampuan teknologi dan inovasitidak hanya memberikan kekuatan untuk bersaing di kancah perdaganganinternasional, namun yang terutama dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat(Kardiman, tanpa tahun).KESIMPULANPembangunan SDM di Indonesia secara kontinyu harus terus dilakukan. IPMIndonesia masih tertinggal dengan negara-negara lain. Sepanjang tahun 2005-2007, posisi IPM Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan negara Aseanlainnya, seperti Thailand, Filipina dan Malaysia. Di tengah kancah dunia, IPMIndonesia di bawah Amerika Latin dan Karibia.Rendahnya IPM Indonesia, yang berarti rendahnya kualitas SDM Indonesia,berdampak pada rendahnya inovasi dan efisiensi. Rendahnya kemampuanmelakukan inovasi dan rendahnya tingkat efisiensi dibandingkan, antara laindengan Singapura, Malaysia dan China, menyebabkan Indonesia mendudukirangking 55 dalam persaingan ekonomi global.Oleh karena itu, Indonesia harus melakukan percepatan dalam peningkatan IPM,terutama kualitas pendidikan. Jika tantangan internal ini (peningkatan kualitaspendidikan) ini sudah dapat diatasi maka Indonesia mampu menghadapitantangan external berupa globalisasi dan liberalisasi ekonomiDAFTAR RUJUKANGDP - Country Comparison. http://www.indexmundi.com/g/r.aspx. Diakses 8 November 2010.Kadirman, Kusmayanto. Membangun Daya Saing, Kemandirian Sains dan Teknologi Bangsa. Diakses 13 Oktober 2010.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1145
  • 225. ISBN 978-602-98295-0-1Mutakin, Firman & AR Salam, 2009. ―Dampak Penerapan Asean China Free Trade Agreement bagi Perdagangan Indonesia‖. Economic Review, 218, 2009.Nurlina Tarmizi, 2003. Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Melalui Agihan Masa Pekerja Keluarga Wanita: Kajian Kes Propinsi Sumatera Selatan Indonesia. Tesis Program Doktor. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.Nurlina Tarmizi, 2005. Gejolak Ekonomi, Kemiskinan dan Alternatif Kebijakan Pengentasan. Pidato Pengukuhan Sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi pada FE UNSRI.Nurlina Tarmizi, 2009. Ekonomi Ketenagakerjaan. Badan Penerbit Universitas Sriwijaya.Porter, Michael E & Klaus Schwab, 2008. The Global Competitiveness Report 2008-2009. Geneva: World Forum. Diakses 12 Oktober 2010.Solihat, Eneng dkk, 2010. Angka Harapan Hidup Indonesia, http://nezz33.blogspot.com/2010-Angka-harapan-hidup.html. Diakses 8 November 2010.The Grey Chronics. http://reyadel.word press.com/2009/06/27//asian competitiveness. Diakes, 13 Oktober 2010.UNDP, 2009. Human Development Report 2009. Diakses 9 Oktober 2010.UNDP, HDI Trend. Diakses 11 Oktober 2010.Wikipedia, Asean Free Trade Area, http://en.wikipedia.org/wiki/ASEAN Free_Trade_Area. Diakses. 9 Oktober 2010.Yustiana, CB, 2010. Soft Skill dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia. Diakses 6 Oktober 2010.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1146
  • 226. ISBN 978-602-98295-0-1 Kajian Penguatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Sumatera Selatan.Syamsurijal, AK, H. Isnurhadi, Kosasih M. Zen, Subardin, Welly Nailis. Husni Thamrin, Eko Fitrianto, Zaleha, dan Lamazi Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya Balitbang Sumatera Selatan dan Fakultas Ekonomi Universitas SriwijayaI, PENDAHULUANI.1 Latar Belakang Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dibentuk berdasarkan UU No. 5 tahun1962 tentang Perusahaan Daerah yang diperkuat UU no. 32 tahun 2004 tentangOtonomi Daerah. Tujuan dibentuknya BUMD tersebut adalah untuk melaksanakanpembangunan daerah melalui pelayanan jasa kepada masyarakat,penyelenggaraan kemanfaatan umum dan peningkatan penghasilan pemerintahdaerah. Dapat dikemukakan lebih lanjut bahwa BUMD itu berdasarkan kategorisasarannya dapat dibedakan dua golongan yaitu perusahaan daerah untukmelayani kepentingan umum dan perusahaan daerah untuk tujuan peningkatanpenerimaan daerah dalam Pendapatan Asli daerah (PAD) nya. BUMD bergerakdalam berbagai bidang usaha, yaitu jasa keuangan dan perbankan (bank Sumsel),jasa air bersih (PDAM) dan berbagai jasa dan usaha produktif lainnya padaindustri, perdagangan dan perhotelan, pertanian – perkebunan, perparkiran,percetakan dan lain-lain. Sumatera Selatan saat ini memiliki 6 (enam) BUMD yang bergerakdiberbagai bidang. Antara lain yaitu PT. Bank SUMSEL BABEL, PT BPR SriwijayaPrimadana (di bidang perbankan), PD. PDE (di bidang Pertambangan danEnergi). PD. Prodexim (di bidang Perdagangan Ekspor dan Impor), PD.Percetakan Meru (di bidang Percetakan), PD. Hotel Swarna Dwipa (di bidangPerhotelan). Dalam perkembangannya BUMD di lingkungan SUMSEL memilikiperan yang cukup baik seperti PT Bank SUMSEL Babel yang merupakan BankPembangunan Daerah dengan sistem yang cukup baik, saat ini jangkauanoperasional perusahaan telah mencakup 2 (dua) provinsi sekaligus yaituProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1147
  • 227. ISBN 978-602-98295-0-1Sumatera Selatan dan Bangka Belitung. Hotel Swarna Dwipa juga merupakanBUMD yang mulai menunjukkan pertumbuhan yang positif, hal ini ditunjang dariprogram pariwisata yang mulai digalakkan oleh pemerintah daerah baik ProvinsiSumatera Selatan sendiri maupun pemerintah kota Palembang sebagai kotatempat basis usaha. Namun dalam perjalanannya tidak semua BUMD mengalami pertumbuhanusaha yang baik, seperti PD. Prodexim dan PD. Percetakan Meru memilikimasalah pada operasional perusahaan dan dikategorikan sakit (Data BiroPerekonomian Provinsi SUMSEL). Sehingga dibutuhkan suatu metodepenanggulangan yang baik berdasarkan kajian riset ekonomi dan kondisimanajemen usaha, serta riset potensi pasar bagi BUMD yang ada.I.2 Perumusan Masalah 1. Seberapa baik kinerja BUMD selama 5 tahun terakhir? 2. Faktor apakah yang dominan mempengaruhi kinerja BUMN tersebut? 3. Bagaimana potensi pasar Sumatera Selatan pada umumnya dan pasar Palembang pada khususnya dalam upaya mendukung perkembangan BUMD tersebut?I.3 Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui bagaimana kondisi dan kinerja BUMD milik Pemda Sumatera Selatan. 2. Mengetahui faktor apa yang mempengaruhi kinerja BUMD tersebut. 3. Mengetahui potensi pasar tempat BUMD tersebut menjalankan operasinya.I.4 Manfaat Penelitian Dengan mengetahui dan memahami kondisi dan kinerja BUMD serta faktoryang menjadi penyebabnya maka pimpinan atau manajemen BUMD dapatmerumuskan strategi manajemen yang lebih optimal dalam mencapai tujuan dansasaran perusahaan seperti yang dikehendaki oleh Pemda Sumatera Selatan.I.5 Sasaran PenelitianProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1148
  • 228. ISBN 978-602-98295-0-1 Sasaran dari kajian ini adalah BUMD-BUMD yang menjadi milik PemdaProvinsi Sumatera Selatan yang masih berstatus Perusahaan Daerah atau PD,antara lain : 1. PD Hotel Swarna Dwipa (Perhotelan) 2. PD. PDE (Pertambangan dan Energi) 3. PD Meru (Percetakan) 4. PD Prodexim (Ekspor-Impor)I. 6 Kerangka Pemikiran Salah satu tujuan didirikannya perusahaan secara umum adalah untukdapat menghasilkan laba. Dengan laba tersebut perusahaan dapat berkembang.Laba juga akan memberikan pembagian keuntungan kepada Pemda dalambentuk dividen. Untuk dapat menghasilkan laba dan berkembang dengan baikmaka perusahaan dalam bentuk apapun harus dikelola dengan baik. Namun selain manajemen yang baik, diperlukan juga kondisi yangmendukung dalam hal ini adalah perekonomian atau lebih konkritnya adalahaspek pasar. Apakah pasar Sumatera Selatan atau Palembang pada khususnyamendukung perkembangan BUMD tersebut. Dengan kombinasi potensi pasaryang besar dengan manajemen BUMD yang baik maka akan tercipta sinerji yangbaik sehingga BUMD dapat berkembang dan menghasilkan laba yang baik pulayang pada akhirnya akan memberikan sumbangan terhadap Pemda SumateraSelatan. Sinerji yang baik ini pula pada akhirnya akan mampu meningkatkankesejahteraan masyarakat Sumatera Selatan.I.7 Metode PenelitianI.7.1 Rancangan Penelitian a. Penelitian ini merupakan suatu penelitian terapan (applied research) yaitu penyelidikan yang hati-hati, sistematis terhadap suatu masalah dengan tujuan untuk digunakan segera demi keperluan tertentu. b. Penelitian ini juga merupakan penelitian observasional yaitu pengamatan terhadap objek yang diteliti, berusaha mengumpulkan data dari fenomena yang telah muncul untuk memberikan penafsiran yang diperoleh melalui data primer dalam pengumpulan data.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1149
  • 229. ISBN 978-602-98295-0-1I. 7.2 Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian adalah seluruh karyawan pada PerusahanDaerah Milik Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Sedangkan sampel datayang diambil adalah berupa data kinerja perusahaan pada 5 (lima) tahun terakhirmeliputi data karyawan, data pemasaran dan data keuangan.I.7.3 Metode Pengambilan Data Metode penelitian menggunakan dua jenis data yaitu data primer dan datasekunder.1. Data Primer Alat yang digunakan adalah metode interview dan diskusi yang mendalam (in- depth interviews) dengan panduan kuesioner untuk daftar pertanyaan yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dari responden. Adapun responden penelitian ini adalah pengambil keputusan setingkat dibawah pimpinan utama (Direktur Utama) semisal Direktur Pemasaran untuk Aspek Pemasaran, Direktur Keuangan untuk Aspek Keuangan, dan Direktur SDM untuk Aspek SDM. Enumerator yang bertugas mengumpulkan data di lapangan adalah staf peneliti dari Balitbangda Provinsi Sumatera Selatan dengan koordinasi langsung oleh Tim Peneliti dari Universitas Sriwijaya.2. Data Sekunder Data sekunder terdiri dari data Jumlah Penduduk Sumatera Selatan dan Palembang saat ini, PDB tahun 2005-2009, PAD tahun 2005-2009, DAU tahun 2005-2009 untuk aspek kajian ekonomi makro. Dan data keuangan perusahaan yang meliputi Laporan Laba-Rugi, Neraca Keuangan dan laporan lain yang sesuai dengan kebutuhan penelitian.I.8 Bidang Kajian Adapun jenis kajian yang dilakukan pada penelitian ini sebagai berikut: 1. Kajian Potensi Pasar (aspek ekonomi) Sumatera Selatan secara umum dan Palembang secara khusus tempat dimana BUMD-BUMD tersebut beroperasi. 2. Kajian di bidang Manajemen KeuanganProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1150
  • 230. ISBN 978-602-98295-0-1 3. Kajian di bidang Manajemen Pemasaran 4. Kajian di bidang Manajemen Sumberdaya ManusiaII. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN DAERAHII.1 Gambaran Umum BUMD Sebagaimana yang diamanatkan dalam GBHN 1999 dan Undang-undangNo. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) Tahun2000 – 2004 adalah bahwa perwujudan otonomi daerah dalam pertumbuhanekonomi dan pemerataan antar daerah dilaksanakan melalui berbagai arahkebijakan, utamanya adalah: (a) mengembangkan otonomi daerah secara luas,nyata, dan bertanggung jawab dalam rangka pemberdayaan masyarakat, sertaberbagai lembaga ekonomi dan masyarakat di daerah; (b) melakukan pengkajiandan saran kebijakan lebih lanjut tentang berlakunya otonomi daerah bagi daerahprovinsi, daerah kabupaten dan kota serta daerah perdesaan; dan (c)mewujudkan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah secara adil denganmengutamakan kepentingan daerah yang lebih luas melalui desentralisasiperizinan dan investasi serta pengelolaan sumber daya di daerah. Dalam hubungan ini, sebagai sumber-sumber penerimaan daerahkeseluruhannya dalam pelaksanaan otonomi dan desentralisasi ini adalah: (a)Pendapatan Asli Daerah; (b) Dana Perimbangan; (c) Pinjaman Daerah dan (d)Lain-lain Penerimaan yang sah. Dan sumber PAD tersebut meliputi; (a) hasil pajakdaerah; (b) hasil retribusi daerah; (c) hasil perusahaan milik daerah dan hasilkekayaan daerah lainnya yang dipisahkan dan (d) lainlain PAD yang sah. Sehubungan dengan itu, sesungguhnya usaha dan kegiatan ekonomidaerah yang bersumber dari hasil badan usaha milik daerah (BUMD) telahberjalan sejak lama. BUMD tersebut dibentuk berdasarkan UU No. 5 Tahun 1962tentang Perusahaan Daerah, yang diperkuat oleh UU No. 5 Tahun 1974 tentangPokok-pokok Pemerintahan di Daerah (Nota Keuangan dan RAPBN, 1997/1998).Tujuan dibentuknya BUMD tersebut adalah untuk melaksanakan pembangunandaerah melalui pelayanan jasa kepada masyarakat, penyelenggaraankemanfaatan umum dan peningkatan penghasilan pemerintah daerah.II. 2 BUMD di Sumatera SelatanProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1151
  • 231. ISBN 978-602-98295-0-1 Sumatera Selatan saat ini memiliki 6 (enam) BUMD yang bergerakdiberbagai bidang. Antara lain yaitu PT. Bank SUMSEL BABEL, PT BPR SriwijayaPrimadana (di bidang perbankan), PD. PDE (di bidang Pertambangan danEnergi). PD. Prodexim (di bidang Perdagangan Ekspor dan Impor), PD.Percetakan Meru (di bidang Percetakan), PD. Hotel Swarna Dwipa (di bidangPerhotelan).III. HASIL DAN PEMBAHASAN3.1. ASPEK EKONOMI Salah satu sumber pembiayaan alternatif bagi pembangunan adalahpengembangan BUMD.. Sehubungan dengan hal ini, ada dua modelpengembangan yang dapat dipertimbangkan. Pertama, BUMD bekerjasamadengan pihak swasta membentuk perusahan dengan masing-masing pihak turutmemberikan modal sesuai kesepakatan bersama. Kedua, pemerintah daerahsecara langsung bekerjasama dengan pihak swasta, membentuk perusahan barudengan modal yang disepakati. Kedua model ini diperkirakan dapat memicupembangunan dan pengelolaan infrastruktur dasar strategis di daerah yangdiperkirakan dapat memberikan manfaat ekonomi dan keuangan cukup signifikanbagi Sumsel di masa mendatang. Menilik potensi perekonomian Sumsel yang berkembang pesat, makapeluang pengembangan BUMD berpotensi untuk meningkatkan PAD. Hanya sajadiperlukan upaya-upaya penguatan kelembagaan untuk menciptakan iklim usahakompetitif bagi BUMD. Pengembangan manajerial dan SDM Profesional yangakan mengelola BUMD dilakukan dengan berbagai pelatihan dan rekrutmen untukmenjaring tenaga berkualitas. Kegiatan pembangunan termasuk pengembangan BUMD sangatbergantung pada ketersediaan dana sebagai salah satu input dalam prosespembangunan. Keberhasilan pembangunan ditentukan pula oleh kemampuandalam menggali dan mengelola dana pembangunan baik yang berasal darisumber lokal maupun dari berbagai sumber lainnya. Pengembangan BUMD dapat dilakukan dengan model yang menunjukkanadanya partisipasi antar aktor ekonomi. Model kerjasama (kemitraan) yangmenunjukkan hubungan antara sektor publik dengan sektor swasta atauProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1152
  • 232. ISBN 978-602-98295-0-1masyarakat dalam rangka menggali sumber dana untuk membiayai investasipengembangan BUMD melalui partisipasi sektor publik dan swasta sertamasyarakat. Bentuk kerjasama antara sektor publik dan sektor swasta serta partisipasimasyarakat dalam penyediaan dana tergantung kepada bentuk hubungan yangdijalin antara lembaga/sektor (pelaku-pelaku ekonomi). Kerjasama dapat sajaberbentuk kemitraan dan partisipasi atau bentuk lainnya. Bentuk-bentukkerjasama tersebut dapat berupa Joint venture; Venture capital; build, operate,and transfer (BOT); build, transfer, and operate (BTO); production sharingagreement (PSA); special purpose company (SPC); konsesi; penciptaan danpenjualan obligasi dan saham melalui initial public offering (privatisasi perusahaanpublik). Kerjasama dalam pembiayaan investasi melalui venture capital (kongsi)sangat menguntungkan, karena ide-ide yang hebat tidak dapat dikonversi kedalamproduk yang dapat dipasarkan tanpa adanya pembiayaan. Sebagai contoh,Perusahaan BUMD yang menciptakan barang cetakan (PD Grafika Meru)memerlukan dukungan pembiayaan yang besar untuk membayar programmeryang mendesain lay out, membiayai promosi, membayar tenaga penjual, danbiaya lain-lain dalam menjalankan perusahaan. Tanpa adanya hubungan denganuser maka perusahaan tersebut tidak akan mampu menawarkan jasanya. Berbagai model pembiayaan bagi pengembangan BUMD dapat ditempuholeh pemerintah daerah untuk memanfaatkan potensi ekonomi yang ada. Potensiekonomi Sumsel seperti pada sektor pertambangan dan energi sebenarnya bisadikelola sendiri oleh pemerintah daerah dengan mengembangkan BUMD. Dengandemikian benefit dari sumberdaya alam tersebut dirasakan manfaatnya langsungoleh masyarakat Sumatera Selatan.3.2 ASPEK SUMBER DAYA1. PDPDE Berdasarkan hasil pembahasan pada bagian terdahulu, dapat diketahuidalam bidang MSDM, PDPDE belum berjalan sebagaimana mestinya. Beberapafungsi MSDM masih perlu dibenahi, terutama untuk mendapatkan kinerja unggulProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1153
  • 233. ISBN 978-602-98295-0-1dan mampu bersaing. Penerimaan dan penempatan pegawai masih perludibenahi, dibutuhkan persayaratan prilaku disamping syarat pengetahuan. Pelaksanaan pelatihan pegawai tidak disesuaikan berdasarkan analisiskebutuhan pelatihan. Pemberian kompensasi belum berdasarkan capaian kinerjakaryawan. Penilaian kinerja memang dilakukan tapi sasaran bukan padapeningkatan kinerja perusahaan. Pelaksanaan manajemen karir belum berjalandengan baik, kedepan masih perlu disempurnakan. Struktur birokrasi yang dipakaijuga menghambat PDPDE dalam meningkatkan kinerja terutama dalammenghadapi persaingan global Pengelolaan Organisasi dan SDM belum berjalan sebagaimana mestinya.Perlu pembenahan jika PDPDE akan meningkatkan kinerjanya, terutama untukmenghadapi persaingan.2. PD Swarna Dwipa Palembang Dari hasil pembahasan pada bagian terdahulu, dapat diketahui bahwapengelolaan SDM di PD Hotel Swarna Dwipa belum berjalan sebagaimanamestinya. Hampir semua fungsi MSDM belum dijalankan secara baik. Hal initerlihat dari : 1. Penerimaan pegawai masih belum dilakukan secara terencana 2. Penempatan pegawai tidak dilakukan secara baik. 3. Pelaksanaan pelatihan pegawai tidak disesuaikan berdasarkan kebutuhan. 4. Pemberian kompensasi belum berdasarkan tujuannya dan syarat- syarat jabatan. 5. Penilaian kinerja memang dilakukan tapi sasaran bukan pada peningkatan kinerja perusahaan. 6. Pelaksanaan manajemen karir belum berjalan dengan baik. 7. Struktur birokrasi yang dipakai juga menghambat PD Hotel Swarna Dwipa dalam meningkatkan kinerja dan menghadapi persaingan dengan perusahaan lain. Pengelolaan SDM belum berjalan sebagaimana mestinya. Perlupembenahan dalam pengelolaan SDM jika PD Hotel Swarna Dwipa akanProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1154
  • 234. ISBN 978-602-98295-0-1meningkatkan kinerjanya, terutama untuk menghadapi persaingan denganperusahaan sejenis.3. PD Meru PD Meru merupakan Badan Usaha Milik Daerah Provinsi Sumatera Selatanyang bergerak dibidang percetakan. Namun dalam pelaksanaan beberapa tahunterakhir, perusahaan ini tidak memiliki aktivitas yang rutin, sehingga tidak didapatilaporan atau data-data yang dapat dianalisis. Berdasarkan hasil survey, PD Merumemiliki rencana usaha kedepan.4. PD Prodexim PD Prodexim merupakan Badan Usaha Milik Daerah Provinsi SumateraSelatan yang bergerak dibidang perdagangan ekspor dan impor. Namun dalampenelitian ini, tidak didapati data-data keuangan perusahaan sehingga tidak dapatdiketahui kinerja perusahaan. Dalam hasil survey didapati informasi mengenai usaha yang berjalan yaituagen distribusi pupuk non subsidi dari PT Pusri dan agen distirbusi SemenBaturaja, SPBU yang dikelola oleh anak perusahaan PT PDPDE Hilir kerjasamadengan PD PDE, dan penjualan batubara. Rencana usaha yang akan dilakukanoleh PD Prodexim, yaitu pemanfaatan gedung bekas asrama haji milik PemprovSumsel, dan rencana pembangunan real estate di tanah milik Pemprov Sumsel diwilayah Kabupaten Banyuasin.3.ASPEK PEMASARAN1. Hotel Swarna Dwipa Fokus dengan bisnis perhotelan, hendaknya komposisi pendapatan paling tidak sama dengan komposisi penjualan makanan dan minuman, hal ini ditujukan untuk focus dalam penggunaan dan pemanfaatan sumberdaya secara lebih efektif dan efisien. Selain itu hotel Swarna Dwipa dapat memposisikan diri sebagai hotel sejarah dan kebudayaan dikarenakan Hotel Swarna Dwipa memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan kota Palembang dan Sumatera Selatan, dalam focus memposisikan diri sebagai hotel sejarah, hendaknya tampilan, kegiatan dan segala sesuatu mengacu pada sejarah dan kebudayaan Sumatera Selatan.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1155
  • 235. ISBN 978-602-98295-0-12. PD PDE : PD PDE memiliki kekuatan sebagai perusahaan milik pemerintah provinsi, maka jika ada komitmen dari pimpinan daerah, maka PD PDE sangat berpeluang untuk dapat menjual produk jasanya. Namun kedepan perusahaan harus menjadi lebih professional, dan tidak mengandalkan dari komitmen pimpinan daerah, dikarenakan perusahaan luar dengan skala lebih besar, memiliki sumber daya yang lebih besar dan menawarkan harga yang bersaing akan menjadi ancaman serius bagi PD PDE. PD PDE harus memiliki daya saing yang tinggi agar dapat memenangkan persaingan.3. PD Meru : Memiliki kekuatan yang didukung oleh perusahaan besar percetakan dari Bandung, dengan dukungan tersebut PD Meru dapat menghasilkan hampir semua jenis produk cetakan, tentunya ini menjadi nilai tambah dibanding pesaing. PD Meru diharuskan mengembangkan jaringan pada sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan pada dinas-dinas pemerintah kota maupun provinsi.4. Prodexim : Sebagai perusahaan daerah komitmen dari pemimpin daerah adalah kekuatan yang tidak dimiliki oleh perusahaan lain. Namun kedepan pengelolaan yang professional harus diutamakan agar dapat bersaing dengan perusahaan luar.4. ASPEK KEUANGAN Berdasarkan analisis data di atas dapat disimpulkan bahwa PD PDEmerupakan perusahaan yang masih mampu melanjutkan kegiatan usahanya.Namun dibutuhkan kebijakan perusahaan untuk terus mengembangkan jenisusaha dalam skala yang lebih besar, karena posisi pertumbuhan perusahaan(growth) yang masih labil, hal ini sangat dipengaruhi oleh jenis usaha PD PDEyang bergerak di bidang energi terkait dengan fluktuasi harga minyak di dunia. PD Hotel Swarna Dwipa Palembang adalah perusahaan daerah milikPemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang bergerak dibidang perhotelan.Kondisi keuangan perusahaan ini dinilai cukup baik, dan menjanjikan dalampengembangan usahanya di kemudian hari. Namun tentu pertumbuhan usahaharus dilakukan demi mempertahankan posisi perusahaan dalam kondisi baik.Dan upaya perbaikan sistem manajemen harus terus dilakukan terkait semakinProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1156
  • 236. ISBN 978-602-98295-0-1membaiknya posisi DER yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalammembayar utang perusahaan. PD Meru merupakan Badan Usaha Milik Daerah Provinsi Sumatera Selatanyang bergerak dibidang percetakan. Namun dalam pelaksanaan beberapa tahunterakhir, perusahaan ini tidak memiliki aktivitas yang rutin, sehingga tidak didapatilaporan atau data-data yang dapat dianalisis. Berdasarkan hasil survey, PD Merumemiliki rencana usaha kedepan. PD Prodexim merupakan Badan Usaha Milik Daerah Provinsi SumateraSelatan yang bergerak dibidang perdagangan ekspor dan impor. Namun dalampenelitian ini, tidak didapati data-data keuangan perusahaan sehingga tidak dapatdiketahui kinerja perusahaan. Dalam hasil survey didapati informasi mengenai usaha yang berjalan yaituagen distribusi pupuk non subsidi dari PT Pusri dan agen distirbusi SemenBaturaja, SPBU yang dikelola oleh anak perusahaan PT PDPDE Hilir kerjasamadengan PD PDE, dan penjualan batubara. Rencana usaha yang akan dilakukanoleh PD Prodexim, yaitu pemanfaatan gedung bekas asrama haji milik PemprovSumsel, dan rencana pembangunan real estate di tanah milik Pemprov Sumsel diwilayah Kabupaten Banyuasin.IV. KESIMPULAN1. Aspek EkonomiSalah satu sumber pembiayaan alternatif bagi pembangunan adalahpengembangan BUMD.. Sehubungan dengan hal ini, ada dua modelpengembangan yang dapat dipertimbangkan. Pertama, BUMD bekerjasamadengan pihak swasta membentuk perusahan dengan masing-masing pihak turutmemberikan modal sesuai kesepakatan bersama. Kedua, pemerintah daerahsecara langsung bekerjasama dengan pihak swasta, membentuk perusahan barudengan modal yang disepakati. Kedua model ini diperkirakan dapat memicupembangunan dan pengelolaan infrastruktur dasar strategis di daerah yangdiperkirakan dapat memberikan manfaat ekonomi dan keuangan cukup signifikanbagi Sumsel di masa mendatang.2. Aspek SDMProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1157
  • 237. ISBN 978-602-98295-0-1Pengelolaan Organisasi dan SDM belum berjalan sebagaimana mestinya. Perlupembenahan jika BUMD akan meningkatkan kinerjanya, terutama untukmenghadapi persaingan pada perusahaan sejenis.3. Aspek PemasaranPengembangan jaringan dan penguatan aspek pemasaran pada core businessharus terus dilakukan, seperti halnya Hotel Swarna Dwipa dan PD Meru yangmemiliki basis persaingan usaha yang sangat terbuka sehingga harus memilikikeunggulan perusahaan, sedangkan untuk PD PDE dan Prodexim yangdukungan kinerja yang profesional akan sangat membantu perusahaan untukterus berkembang.4. Aspek KeuanganBerdasarkan analisis laporan keuangan dapat disimpulkan bahwa BUMD yangada merupakan perusahaan yang masih mampu melanjutkan kegiatan usahanya.Namun dibutuhkan kebijakan perusahaan untuk terus mengembangkan jenisusaha dalam skala yang lebih besar, karena posisi pertumbuhan perusahaan(growth) yang masih labil, hal ini sangat dipengaruhi oleh jenis usaha yangdijalankan. Namun tentu pertumbuhan usaha harus dilakukan demimempertahankan posisi perusahaan dalam kondisi baik. Dan upaya perbaikansistem manajemen harus terus dilakukan terkait semakin membaiknya posisi DERyang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar utang perusahaan.4.2 Saran dan Rekomendasi Berdasarkan hasil penelitian di atas, beberapa saran dapat menjadirekomendasi untuk pengembangan BUMD antara lain :1. Aspek EkonomiPertama, BUMD bekerjasama dengan pihak swasta membentuk perusahandengan masing-masing pihak turut memberikan modal sesuai kesepakatanbersama. Kedua, pemerintah daerah secara langsung bekerjasama dengan pihakswasta, membentuk perusahan baru dengan modal yang disepakati. Kedua modelini diperkirakan dapat memicu pembangunan dan pengelolaan infrastruktur dasarstrategis di daerah yang diperkirakan dapat memberikan manfaat ekonomi dankeuangan cukup signifikan bagi Sumsel di masa mendatang.2. Aspek SDMProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1158
  • 238. ISBN 978-602-98295-0-1Perlu dilakukan berbagai perbaikan di sektor SDM berkaitan dengan sistem kerjapegawai, sistem pembayaran kompensasi, dan juga pengembangan karir, hal inikaitannya dengan peningkatan kinerja pegawai yang menjadi acuan dari sisiSDM dalam peningkatan kinerja BUMD.3. Aspek PemasaranPengembangan jaringan dan penguatan aspek pemasaran pada core businessharus terus dilakukan sehingga harus memiliki keunggulan perusahaan, kinerjayang profesional akan sangat membantu perusahaan untuk terus berkembang.BUMD sudah harus mempertimbangkan pentingnya segementasi perusahaandan bagaimana marketing mix (4 P) yang diterapkan oleh perusahaan yangmemiliki kinerja yang baik. Untuk itu sebaiknya BUMD memiliki rencana strategisberdasarkan analisis SWOT perusahaannya.4. Aspek KeuanganKeuangan perusahaan daerah harus dikelola dengan baik. Cash ratio, growth,firm size, DTA, dan DER yang menjadi acuan penilaian kinerja keuanganperusahaan menunjukkan angka yang belum stabil. Untuk itu, perlu dilakukanperbaikan-perbaikan khususnya pada pengelolaan kas dan piutang, sertapenetapan target dividen agar menjadi pemicu kinerja perusahaan. REFERENSIBPS SumSel, Sumatera Selatan dalam Angka 5 tahun terakhir.BPS Palembang, Palembang dalam Angka 5 tahun terakhir. Handoko, T. Hani, Manajemen Personalia dan Sumberdaya Manusia, BPFE, Yogyakarta. Kosasih, T.S, 1988, Manajemen Pemerintahan dalam Sistem dan Struktur Administrasi Negara Baru, Idola Remaja, Doa Ibu, Bandung. Ravianto, J., dkk, 1988, Manajemen Sumber Daya Manusia, Bumi AKsara, Jakarta. Ross, Steven A, dkk, 2008. Modern Corporate Finance, Prentice Hall, Singapore.Sugiono, 1999. Metode Penelitian Bisnis, Alfabeta, Bandung.Kotler, Phillip, Principle of Marketing, 2005, Thomson Publishing, New York.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1159
  • 239. ISBN 978-602-98295-0-1 Siregar, Sylvia Veronica N.P. dan Utama Siddharta, (2005), Pengaruh Struktur Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, dan Praktek Corporate Governance Terhadap Pengelolaan Laba (Earnings Management) Simposium Nasional Akuntansi VIII, IAI, 2005 Siswanto, H.B. 2006. Pengantar Manajemen, Bumi Aksara, Jakarta.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1160
  • 240. ISBN 978-602-98295-0-1 Efisiensi Pemasaran Bahan Olah Karet Rakyat (Bokar) di Wilayah Eks-PIRBUN PTPN XIII Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat Lina Fatayati Syarifa, Sinung Hendratno dan Dwi Shinta Agustina Staf Peneliti di Balai Penelitian Sembawa, PO. BOX 1127 Palembang ABSTRAK Di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat umumnya pemasaran karetdilakukan secara tradisional melalui tengkulak. Penelitian dilakukan untuk melihatkeragaan dan efisiensi pemasaran karet di Kab. Sintang Kalimantan Barat.Penelitian dilakukan secara survei terhadap petani yang lokasinya dekat denganpabrik dan jauh dari pabrik, dengan menelusuri rantai pemasaran karet yangdimulai dari prosesor/eksportir, dilanjutkan ke pedagang dan ke petani sebagaiprodusen. Dari hasil survei bagian harga fob di tingkat petani yang memilih rantaipemasaran yang panjang masing-masing 64% dan 62%. Sedangkan bagianharga fob di tingkat petani yang memilih rantai pemasaran yang pendek masing-masing 71% dan 69%. Sementara total marjin pemasaran di tingkat petani yangmemilih rantai pemasaran yang panjang masing sebesar Rp 8.126,/kg danRp 8.576,-/kg. Sedangkan total marjin pemsaran di tingkat petani yang memilihrantai pemasaran yang pendek masing-masing sebesar Rp 6.519,-/kg danRp 7.031,-/kg. Hal ini merupakan indikasi bahwa semakin pendek rantaipemasaran karet akan lebih efisien. Karena itu untuk memperoleh bagian hargayang lebih baik di tingkat petani, disarankan agar petani berkelompokmemasarkan bokarnya langsung ke pabrik.Kata kunci : Pemasaran tradisional, rantai pemasaran, fob, marjin pemasaran PENDAHULUAN Sektor perkebunan, khususnya perkebunan karet merupakan salah satusektor yang banyak menopang hidup penduduk Indonesia. Kalimantan Baratmerupakan salah satu sentra perkebunan karet di Indonesia dengan total areal389 ribu hektar. Dari total areal tersebut, areal perkebunan karet rakyatmendominasi areal perkebunan karet di Kalimantan Barat yaitu seluas 380 ribuhektar atau sekitar 97% dari total areal karet. Dengan begitu, perkebunan karet diKalimantan Barat merupakan salah satu industri yang bukan saja sebagaipenyedia devisa bagi negara tapi juga merupakan industri yang banyak menyeraptenaga kerja dan menjadi sumber mata pencaharian bagi sekitar 200 ribu KK atauProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1161
  • 241. ISBN 978-602-98295-0-1sekitar 800 ribu penduduk di Kalimantan Barat (Statistik Perkebunan Indonesia,2009). Kebijakan pemerintah dalam pengembangan industri karet tidak hanyabertujuan untuk meningkatkan devisa bagi negara, tapi diarahkan sebagai upayapeningkatan pendapatan petani. Pendapatan petani sendiri merupakan refleksidari produktivitas kebun dan mutu bahan olah karet yang dihasilkan serta aspekpemasaran bokar yang menentukan pendapatan bersih yang diterima petani. Pada awal program pengembangan perkebunan karet rakyat melalui polaPIRBUN di Kalimantan Barat, khususnya di Kab. Sintang, telah dibentukkelembagaan pemasaran bokar yang formal antara lain kelompok tani, KUD, ataukelompok usaha bersama dan kemitraan. Selain itu juga telah lama berkembangdi masyarakat sistem pemasaran tradisional melalui pedagang atau tengkulak.Awalnya kelembagaan pemasaran formal mampu memberikan bagian harga yanglebih tinggi dibandingkan pemasaran tradisional (Nancy, 1988; Hendratno, 1986;Hendratno, 1996). Namun lama kelamaan kelembagaan tersebut memperlihatkankeragaan yang kurang menggembirakan. Petani kembali cenderung memilihpemasaran tradisional. Saat ini, umumnya petani karet di Kalimantan Barat,khususnya Kab. Sintang memasarkan bokarnya secara tradisional melaluitengkulak dan tidak lagi ditemukan pola pemasaran bokar secaraformal/terorganisir. Karena itu dilakukan penelitian untuk mengetahui keragaanpemasaran bokar serta pendapatan atau bagian harga yang diterima petani karetyang memilih sistem pemasaran tradisional tersebut. Makalah ini akan mengkajikeragaan dan efisiensi pemasaran bahan olah karet (bokar) secara tradisionalyang akan menentukan bagian bersih yang diterima petani di Kab. Sintang. METODOLOGI Penelitian dilakukan secara survey pada bulan Nopember 2010 di lokasi eksPIRBUN Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Data diperoleh melaluiwawancara langsung dengan petani karet, pedagang, prosesor/eksportir yangterpilih menjadi responden. Penarikan contoh dilakukan dengan menelusuri rantaipemasarannya yang dimulai dari prosesor/eksportir yang dipilih secara sengaja.Kemudian secara acak dipilih pedagang yang menjual ke prosesor tersebut.Selanjutnya penarikan contoh petani responden dilakukan secara acak di masing-Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1162
  • 242. ISBN 978-602-98295-0-1masing lokasi pemasaran yaitu lokasi pemasaran yang dekat (< 70 km)dari pabrik karet remah dan lokasi pemasaran yang jauh dari pabrik (>70 km).Masing-masing kelompok lokasi diambil sampel sebanyak 30 responden. Survei dilakukan pada desa-desa yang terletak pada lokasi yang dekat danlokasi yang jauh dari pabrik karet remah. Data yang diperoleh dari hasilwawancara dengan petani di desa yang lokasinya dekat dengan pabrik yaitu desaTaok dan desa Terusan di Kec. Dedai dan petani di desa yang lokasinya jauhdengan pabrik yaitu desa Lundang Jaya, dan desa Bayah Betung, Kec. SeiTebelian. Efisiensi pemasaran dapat didekati dengan pengukuran marjinpemasaran. Kinerja kelembagaan pemasaran bokar dapat diukur dengan marjinpemasaran (Hendratno, 1986; Nancy, 1988). Marjin pemasaran adalahperbedaan harga di tingkat produsen (harga beli) dengan harga di tingkatkonsumen (harga jual). HASIL DAN PEMBAHASANA. Pengolahan Bokar Harga karet kering di tingkat pabrik berbeda-beda untuk setiap jenis mutubokar. Untuk sleb yang baik biasanya diberikan harga yang tinggi, sedangkanuntuk sleb bermutu rendah dikenakan penalti atau potongan, sehingga harganyalebih murah. Penyusutan akibat pengangkutan dari kebun ke pedagang tidaktercatat, karena petani tidak pernah menimbang bokarnya di kebun. Mutu bokaryang dihasilkan erat kaitannya dengan teknologi pengolahan yang dilakukan olehpetani (Tabel 1). Umumnya petani yang lokasinya dekat dengan pabrik (91.7%) maupun yangjauh dari pabrik (83.8%) menghasilkan lump mangkok yang kotor dan bermuturendah karena sebagian besar direndam yaitu 56.1% di desa dekat pabrik dan76.7% di desa jauh dari pabrik. Semua petani responden tidak menggunakanpembeku untuk membekukan bokarnya. Bokar yang dihasilkan petani dibekukansecara alami. Umumnya bokar di Propinsi Kalimantan Barat tidak saja dibedakanberdasarkan usia simpan (KKK) tetapi juga dibedakan berdasarkan tingkatkebersihan bokar (mutu A dan mutu B). Mutu A adalah jenis bokar yang bersihProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1163
  • 243. ISBN 978-602-98295-0-1(tanpa campuran) sedangkan mutu B adalah jenis bokar yang terdapat campuran(Gambar 1). Namun sebagian besar bokar yang dihasilkan oleh petani adalahmutu B atau campuran.Tabel 1. Teknologi Pengolahan Bokar di Petani Tempat Kualitas bokar PenyimpananDesa Pembeku pembekuan (%) (%) bokar (%) Kotak kayu Mangkok Bersih Kotor Direndam kebunDesa dekatTaok Alami 0 100 0 100 55 45Terusan Alami 0 100 25 75 53.3 46.7Rata-rata 0 100 8.3 91.7 56.1 43.9Desa jauhLundang AlamiJaya 0 100 12.5 87.5 100 0Bayah AlamiBetung 0 100 20 80 53.3 46.7Rata-rata 0 100 16.3 83.8 76.7 23.4Gambar 1. Jenis bahan olah karet mutu B (kiri) dan jenis bahan olah karet mutu A (kanan)B. Pemasaran Bokar Sementara pemasaran bokar yang dihasilkan petani di Kab. Sintang yangmemasarkan bokarnya secara tradisional, didominasi oleh pedagang perantara,tidak ada petani atau kelompok tani yang langsung menjual ke pabrik. Hal iniProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1164
  • 244. ISBN 978-602-98295-0-1disebabkan oleh berbagai keterbatasan yang dimilikinya seperti; lokasi yangterpencil, kurangnya sarana dan prasarana angkutan serta rendahnyapengetahuan petani. Secara umum saluran pemasaran bokar secara tradisionalmelalui pedagang perantara di Kab. Sintang dapat dilihat pada gambar berikut: Pedagang Pedagang Prosesor Eksportir Petani kecil/desa Besar Gambar 2. Saluran Pemasaran Bokar di Kab. SintangTabel 2. Biaya pemasaran di tingkat petaniDesa Biaya Pemasaran (Rp/kg) Total Sewa Pikul Transpor Klp Retribus gudang muat t tani i (Rp/kg)Desa dekatTaok 0 0 184.4 0 0 184.4Terusan 0 0 136.7 0 0 136.7Rata-rata 0 20 252.4 0 0 252.4Desa jauhLundang Jaya 0 0 110 0 0 110Baya Betung 0 0 184.4 0 0 184.4Rata-rata 0.0 0.0 202 0.0 0.0 202 Rata-rata volume bokar setiap kali penjualan yang dilakukan oleh parapedagang besar yang dijadikan sample adalah sebesar 15-20 ton, baik pada saatmusim hujan maupun pada saat musim kemarau. Pedagang besar berusahamempertahankan pasokan bokar ke pabrik tetap stabil meskipun pada saat musimhujan maupun saat musim kemarau. Harga penjualan dari pedagang besar kepabrik bervariasi antara Rp 8.500,- - Rp 9.500,-. Rata-rata volume bokar perpenjualan di tingkat pedagang kecil adalah 4 ton. Bokar di tingkat pedagang besardan pedagang kecil rata-rata direndam selama 1-2 minggu sebelum dijual. HargaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1165
  • 245. ISBN 978-602-98295-0-1pembelian bokar dari pedagang besar di tingkat pedagang kecil berkisar antaraRp 7.400,- sampai Rp. 8.000,-. Sedangkan harga pembelian bokar dari pedagangkecil di tingkat petani di masing-masing desa juga bervariasi bergantung padatingkat KKK dan kebersihan bokar. Harga pembelian bokar dari pedagang kecil ditingkat petani adalah Rp 6.500,- 7.500,- per kg Setiap pedagang umumnya membeli bokar dari 20-40 petani. Pedagangumumnya ada yang mengambil bokar langsung di rumah petani, dan ada jugayang menunggu petani mengantar bokar ke rumahnya. Untuk melakukan kegiatanpembelian bokar tersebut, pedagang memiliki beberapa fasilitas seperti trukdengan kapasitas 4 – 5 ton dan timbangan. Penjualan sleb oleh petani kepadapedagang masih dilakukan atas dasar penimbangan berat basah, penentuan KKKdilakukan berdasarkan perkiraan pedagang. Hal ini mengakibatkan tingginyaresiko karena banyak faktor yang sulit diduga seperti kadar air dan kotoran. Mutubokar yang rendah tidak hanya disebabkan oleh tingginya kadar air, tetapi jugakarena tingginya kadar kotoran. Untuk mengatasi resiko tersebut pedagangbiasanya menekan harga di tingkat petani. Penentuan harga oleh pedagang tidaksemata-mata berdasarkan umur simpan bokar, tapi lebih dilihat dari kebersihanbokarnya. Kadang-kadang ada bokar yang disimpan selama sebulan punharganya sama saja dengan harga seminggu. Namun saat ini karena tingginyapersaingan antara pedagang karet, pedagang tidak bisa terlalu banyak menekanharga. Selain itu dikarenakan tingginya tingkat teknologi komunikasi saat ini,informasi harga sangat mudah diperoleh pedagang langsung dari pabrik.C. Efisiensi Pemasaran Pengukuran efisiensi pemasaran dapat dilakukan dengan menggunakanmarjin pemasaran. Marjin pemasaran terdiri dari biaya pemasaran dankeuntungan lembaga pemasaran. Dalam laporan ini akan diuraikan marjinpemasaran mulai dari tingkat produsen yaitu petani karet sampai tingkat eksportir. Biaya pemasaran meliputi biaya transportasi, biaya sortir, bongkar muat danpungutan-pungutan, biaya penyusutan dan biaya pengolahan. Sedangkankeuntungan lembaga pemasaran terdiri dari keuntungan yang diperoleh pedagangdan prosesor/eksportir.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1166
  • 246. ISBN 978-602-98295-0-1 Ongkos angkut per kg bokar bervariasi dan tidak stabil setiap per penjualan,karena ditentukan oleh biaya sewa mobil dan kapasitas angkut mobil tersebut.Biaya sewa mobil dibedakan berdasarkan jarak angkut dan muatan angkut mobiltersebut. Bila jarak angkut, semakin jauh, maka ongkos angkutnya menjadi mahal.Selain itu bila muatan truk kurang dari kapasitas angkut bokar, maka ongkos perkg bokar menjadi mahal. Bila muatan melebihi kapasitas angkut, akan diperolehpersentase susut yang tinggi karena pengaruh tekanan/beban yang berlebihan. Penyusutan terjadi karena berkurangnya kandungan air dalam bokar akibatproses pengeringan yang disebabkan oleh tekanan atau penyimpanan.Sedangkan kandungan karetnya sendiri tidak berubah. Akibatnya apabila terjadipenyusutan, maka KKK akan meningkat. Penyusutan akan semakin tinggi dengansemakin tingginya kadar air bokar. Biaya pemasaran dari rumahpedagang/tempat pembelian bokar ke pabrik dan biaya penyusutan pada waktupengangkutan ditanggung oleh pedagang. Persentase penyusutan yang tidakmenentu dan penentuan KKK secara visual oleh pedagang, menyebabkanberfluktuasinya marjin keuntungan yang diterima pedagang, dimana pedagangadakalanya beruntung dan adakalanya merugi. Penjualan bokar yang dilakukanpedagang di pabrik diperhitungkan atas dasar taksiran KKK dan harga 100% slebyang telah ditentukan oleh prosesor. Harga 100% sleb atau harga karet keringadalah harga FOB SIR 20 setelah dikurangi biaya pengolahan pabrik, biayapemasaran prosesor/eksportir dan keuntungan prosesor. Sementara harga FOBSIR 20 ditentukan berdasarkan harga yang terjadi di pasar internasional, setelahdikurangi uang ongkos angkut, jasa angkutan laut, asuransi serta biaya-biayalainnya. Selanjutnya di tingkat pabrik pengolah, sleb mengalami prosespengolahan, lalu dihasilkan produk SIR 20. Yang dimaksud biaya pemasaran tingkat eksportir meliputi bunga bank, biayapengangkutan pabrik-pelabuhan, biaya L/C, komisi bank, biaya administrasi, iuranGapkindo dan sebagainya. Secara terperinci penyebaran bagian harga fob danmarjin pemasaran berdasarkan lokasi dapat dilihat pada Tabel 3. Dari Tabel 3. terlihat bahwa, pada tingkat petani yang berlokasi di desa yangjaraknya dekat yaitu desa Taok dan desa Terusan, memilih dua rantai pemasaranyang berbeda. Petani di desa Taok memilih rantai pemasaran yang panjang, yaitupetani – pedagang kecil/desa – pedagang besar – pabrik. Sedangkan petani diProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1167
  • 247. ISBN 978-602-98295-0-1desa Terusan memilih rantai pemasaran yang pendek yaitu: petani – pedagangbesar – pabrik. Dari hasil analisis, bagian harga fob di tingkat petani di desa Taokyang memilih rantai pemasaran yang pendek sebesar 64% dengan marjinpemasaran sebesar Rp 8.126,-/kg. Sedangkan bagian harga fob di tingkat petaniyang memilih rantai pemasaran yang panjang masing-masing 71% dengan marjinpemasaran sebesar Rp 6.519,-/kg. Sementara pada tingkat petani yang berlokasidi desa yang jaraknya jauh dari pabrik yaitu desa Lundang Jaya dan desa BayahBetung, juga memilih dua rantai pemasaran yang berbeda. Dari hasil analisis,bagian harga fob di tingkat petani di desa Lundang Jaya yang memilih rantaipemasaran yang pendek sebesar 69% dengan marjin pemasaran sebesar Rp7.031,-/kg. Sedangkan bagian harga fob di tingkat petani di desa Bayah Betungyang memilih rantai pemasaran yang panjang masing-masing 62% dengan marjinpemasaran sebesar Rp 8.576,-/kg. Hasil analisis tersebut menunjukkan indikasi bahwa semakin pendek rantaipemasaran karet dan semakin dekat jarak lokasi ke pabrik, pemasaran akan lebihefisien. Jika dikaji rincian data pada Tabel 3. terdapat komponen biaya yang bisadiefisienkan yaitu biaya pemasaran (yang terdiri dari biaya penyusutan dantransport) dan biaya jasa lembaga/pedagang. Semakin tinggi KKK bokar yangdihasilkan maka biaya penyusutan dan transport juga akan semakin kecil.Semakin pendek rantai pemasarannya maka biaya untuk jasa lembaga/ pedagangjuga akan bisa dikurangi. Oleh karena itu untuk memperoleh bagian harga yanglebih baik di tingkat petani, disarankan agar petani memperbaiki kualitas bokarnyaserta memperpendek rantai pemasarannya. Dalam upaya memperpendek rantaipemasarannya, petani bisa membentuk kelompok pemasaran dan menjualkaretnya ke pabrik bersama-sama. Faktor-faktor penghambat yang selama inimenyebabkan ketergantungan petani terhadap tengkulak perlu dicarikan solusinyaantara lain dengan mengembangkan usaha simpan pinjam untuk petani darilembaga ekonomi milik kelompok tani yang dapat menghimpun bantuan dana dariprogram CSR, pihak lembaga swasta atau pemerintah. Dengan pinjaman darikelompok tani tersebut, petani dapat memperoleh uang untuk memenuhikebutuhan hidupnya sebelum bokar terjual. Melalui cara ini, diharapkan perlahan-lahan petani bisa melepaskan diri dari ketergantungannya terhadap tengkulak.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1168
  • 248. ISBN 978-602-98295-0-1 KESIMPULAN DAN SARAN1. Bagian harga fob di tingkat petani yang memilih rantai pemasaran yang panjang yaitu desa Taok dan desa Bayah Betung masing-masing 64% dan 62%. Sedangkan bagian harga fob di tingkat petani yang memilih rantai pemasaran yang pendek yaitu desa Terusan dan desa Lundang Jaya masing- masing 71% dan 69 %. Sementara total marjin pemasaran di tingkat petani yang memilih rantai pemasaran yang panjang masing sebesar Rp 8.126,-/kg dan Rp 8.756,-/kg. Sedangkan total marjin pemasaran di tingkat petani yang memilih rantai pemasaran yang panjang masing-masing sebesar Rp 6.519,-/kg dan Rp 7.031,-/kg. Hal ini merupakan indikasi bahwa semakin pendek rantai pemasaran karet akan lebih efisien.2. Dari kesimpulan diatas, untuk memperoleh bagian harga dan pendapatan yang lebih baik disarankan agar petani membentuk suatu kelompok pemasaran bersama dan kemudian menjual karetnya secara bersama ke pabrik. Hal ini selain dapat memperpendek rantai pemasaran juga dapat meningkatkan posisi tawar petani di tingkat pabrik. Upaya tersebut juga harus didukung oleh komitmen kelompok yang berkesinambungan untuk menghasilkan karet yang berkualitas dengan kadar karet kering (KKK) yang tinggi, yang dihasilkan dengan pembeku lateks yang dianjurkan, berukuran seragam, bersih dari kotoran dan tidak direndam.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1169
  • 249. ISBN 978-602-98295-0-1Tabel 3. Bagian harga FOB dan marjin pemasaran bokar di Kabupaten Sintang, Kalimantan BaratUraian Desa Dekat Pabrik Desa Jauh dari Pabrik Taok Terusan Lundang Jaya Baya Betung Harga (Rp/Kg) Harga (Rp/Kg) Harga (Rp/Kg) Harga (Rp/Kg) % % % % KKK KKK FOB KKK KKK FOB KKK KKK FOB KKK KKK FOB 48% 100% 47% 100% 47% 100% 45% 100%Biaya pengolahan(beku) - - - - - - - - - - - -Biaya pemasaran 184.4 384.2 1.7 136.7 290.9 1.3 110.0 234.0 1.0 184.4 409.8 1.8Harga Tk. Petani 6,936.0 14,450.0 64.0 7,547.0 16,057.4 71.1 7,306.0 15,544.7 68.9 6,300.0 14,000.0 62.0Biaya Pemasaran 400.0 833.3 3.7 - - - - - - 500.0 1,111.1 4.9Keuntungan Pedagang 564.0 1,175.0 5.2 - - - - - - 400.0 888.9 3.9Harga Tk. Pedagangkecil 7,800.0 16,250.0 72.0 - - - - - - 7,200.0 16,000.0 70.9Biaya Pemasaran 1,000.0 2,083.3 9.2 979.9 2,084.9 9.2 1,144.0 2,434.0 10.8 1,000.0 2,222.2 9.8Keuntungan Pedagang 500.0 1,041.7 4.6 573.1 1,219.4 5.4 650.0 1,383.0 6.1 500.0 1,111.1 4.9Harga Tk. Pedagangbesar 9,300.0 19,375.0 85.8 9,100.0 19,361.7 85.8 9,100.0 19,361.7 85.8 8,700.0 19,333.3 85.6Biaya pengolahan 1,602.0 7.1 1,602.0 7.1 1,602.0 7.1 1,602.0 7.1(Biaya pemasarankeuntungan Prosesor) - 1,598.9 7.1 - 1,612.2 7.1 - 1,612.2 7.1 - 1,640.6 7.3Harga Tk. Exportir - 22,575.9 100.0 - 22,575.9 100.0 - 22,575.9 100.0 - 22,575.9 100.0Marjin Pemasaran 8,125.9 6,518.5 7,031.2 8,575.9Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1170
  • 250. ISBN 978-602-98295-0-1 DAFTAR PUSTAKAHaris, U. A, Anwar. I, Gonarsyah dan B, Juanda. 1998. Analisis Ekonomi Kelembagaan Tataniaga Bahan Olah Karet Rakyat. Jurnal Penelitian Karet. 16 (1-3): 35-58.Hendratno, S. 1986. Analisis Organisasi Pemasaran Primer Karet Rakyat. Laporan Penelitian, 1 (2 dan 3), 5-11.Nancy, C. 1988. Efisiensi Pemasaran Untuk Meningkatkan Daya Saing Karet Alam Indonesia. Bulletin Perkebunan Rakyat, 4(2), 43-47Statistik Perkebunan Indonesia. 2009. Karet 2008-2010. Direktorat Jenderal Perkebunan. Jakarta.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1171
  • 251. ISBN 978-602-98295-0-1 RINTISAN USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG SEBAGAI ALTERNATIF MENGURANGI AKTIVITAS PEMBAKARAN LAHAN DAN HUTAN DI KABUPATEN OKI SUMATERA SELATAN (Studi Kasus di Desa Ujung Tanjung Kecamatan Tulung Selapan) Jauhari Efendy1, Waluyo2 dan Tumarlan Thamrin2 1) Loka Penelitian Sapi Potong, 2) BPTP Sumatera Selatan ABSTRAK Selama ini masyarakat pedesaan yang tinggal di lahan agroekosistem lahan keringdan lebak wilayah Sumatera Selatan sudah biasa melakukan aktivitas pembakaran lahandan hutan untuk membuka lahan baru walaupun dengan resiko cukup tinggi. SouthSumatera Forest Fire Management Project (SSFFMP) yang merupakan salah satu lembagabidang pelestarian lahan dan hutan merasa bertanggungjawab untuk menjaga kelestarianalam khususnya hutan melalui program pemberdayaan masyarakat (communitydevelopment) dalam bentuk usaha penggemukan sapi potong skala usaha 8 ekor (sistemkereman) dengan lama penggemukan 5 bulan. Sapi bakalan yang digunakan adalah sapiBali jantan berumur ± 1,5 tahun dengan bobot badan awal 206,34 ± 3,44 kg. Pakan yangdigunakan terdiri atas rumput (rumput alam + rumput kumpai) dan legume (gamal,lamtoro dan turi) ditambah dedak padi sebanyak 3 kg per ekor per hari. PBBH yangdicapai sebesar 0,41 ± 0,072 kg. Berdasarkan analisis ekonomi, kegiatan penggemukansapi potong ini mampu menambah pendapatan keluarga sebesar 20% atau dengan nilai R/C= 1,2. Walaupun secara ekonomis tidak terlalu besar, namun petani berkeinginan untukmengembangkan usaha penggemukan sapi potong di masa yang akan datang karenakegiatan ini tidak mengganggu pekerjaan pokok sebagai petani.Kata kunci : penggemukan sapi potong, pemberdayaan masyarakat, sumberdaya lokal PENDAHULUAN Meningkatnya jumlah pengangguran dan menurunnya pendapatan riil dapatmemicu masyarakat untuk mencari sumber penghasilan baru dengan cara yang mudah danmurah. Sebagai contoh, setiap musim kemarau tiba banyak masyarakat pedesaan yangtinggal di lahan rawa lebak membuka hutan dengan cara menebang dan membakar untukkemudian ditanami padi sonor (Anne, 1999). Namun di sisi lain, apabila praktekpembukaan lahan tersebut dibiarkan maka dalam jangka panjang dapat menimbulkandampak negatif terhadap kelestarian lingkungan maupun hutan itu sendiri. Salah satu upaya mengurangi praktek perladangan berpindah adalah denganmenciptakan kegiatan yang dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakatpedesaan. Namun demikian, melihat kemampuan sumberdaya modal masyarakat yangmasih rendah maka strategi pendekatannya dapat dilakukan melalui pengembanganProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1172
  • 252. ISBN 978-602-98295-0-1kemampuan permodalan dengan memberikan stimulus berupa bantuan bergulir dimanadalam implementasinya berdasarkan tujuh prinsip pembinaan yaitu pendekatan kelompok,keserasian, kepemimpinan, kemitraan, swadaya, belajar sambil bekerja serta pendekatankeluarga (Lestari, 1998). Berdasarkan potensi dan sumberdaya (manusia dan alam) yang tersedia sertakeadaan ekonomi masyarakatnya, maka usaha penggemukan sapi potong dapat menjadisolusi untuk menciptakan kegiatan baru serta memiliki prospek pasar yang baik. Hal inikarena usaha tersebut tidak memerlukan waktu yang lama (4-6 bulan) sehingga perputaranmodal cepat berkembang dan pengelola (petani/peternak) dapat segera menikmati hasilnyaserta tidak banyak menyita waktu petani. Secara umum pengkajian ini bertujuan menciptakan lapangan pekerjaan sebagaisumber pendapatan baru bagi masyarakat pedesaan serta meningkatkan pengetahuan danketerampilan melakukan usaha penggemukan sapi yang prospektif dan berwawasanlingkungan. Adapun keluaran yang diharapkan adalah tumbuh dan berkembangnya usahapenggemukan sapi potong menggunakan pakan lokal serta memanfaatkan kotoran sapisebagai pupuk organik. METODOLOGIPendekatan Kegiatan ini dilakukan dengan pendekatan partisipatif dimana petani dilibatkansejak tahap perencanaan, pelaksanaan sampai akhir kegiatan. Metode statistik yangdigunakan adalah deskriptif analisis, dimana data hasil kegiatan ditabulasi dan diolah untukmendapatkan nilai rata-ratanya.Lokasi Kegiatan Pengkajian ini dilaksanakan di Desa Ujung Tanjung Kecamatan Tulung SelapanKabupaten OKI Sumatera Selatan. Jadwal pelaksanaan dari bulan Maret-Desember 2007.Materi dan Bahan yang Digunakan serta Skala Kegiatan Kegiatan ini menggunakan 8 ekor sapi Bali jantan sebagai bakalan, satu unitkandang kelompok serta satu paket peralatan kandang. Bahan yang digunakan terdiri atassatu paket pakan konsentrat (dedak padi), satu paket obat-obatan (obat cacing) serta 100bibit tanaman gamal (Glyricidia maculata). Materi dan bahan tersebut berasal dari bantuanSouth Sumatera Forest Fire Management Project (SSFFMP). Untuk mempermudah manajemen dan pengawasan maka kegiatan ini dikelola olehKelompok Tani-Ternak Maju Jaya yang beranggota 16 orang dengan sistem bergulir.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1173
  • 253. ISBN 978-602-98295-0-1Mekanisme pergulirannya ditetapkan sebagai berikut, 8 anggota mendapatkan bantuan sapipotong terlebih dahulu yang dipilih secara acak. Kemudian 8 anggota lainnya mendapatkansapi potong bakalan pada periode pemeliharaan berikutnya setelah sapi-sapi potongtersebut dijual. Pembagian serta besarnya keuntungan didasarkan pada kesepakatan yangsudah ditetapkan secara musyawarah oleh kelompok tani-ternak.Teknologi yang DiterapkanNo. Paket teknologi** Uraian/jenis teknologi Keterangan1. Sistem Intensif (kereman) - pemeliharaan2. Sistem Kandang kelompok (komunal). Luas - perkandangan kandang 12 m2 atau (1,5 x 2) m2 per ekor.3. Bangsa sapi Sapi Bali jantan, umur antara 1,5-2 - bakalan tahun.4. Manajemen pakan* Rumput alam : Rumput dan dedak Jumlah pemberian 15% dari bobot padi diberikan 2 kali badan per ekor per hari. sehari, pagi dan sore Pakan tambahan (dedak padi) : hari. Jumlah pemberian 3 kg per ekor per hari5. Air minum Ad-libitum -6. Obat-obatan Obat cacing Verm-O Obat cacing diberikan satu minggu setelah sapi tiba di lokasi. Dosis pemberian 1 tablet per ekor.7. Penanaman HPT Gamal (Glyricidia maculata) Ditanam di sekitar kandang sebagai pagar/pelindung serta pakan ternak sapi. * : target produksi pertambahan bobot badan harian (PBBH) 0,5 kg per ekor per hari ** : masa pemeliharaan 5 bulan HASIL DAN PEMBAHASANPotensi Sumberdaya Alam Desa Ujung Tanjung merupakan wilayah pedesaan dengan bentangan alam berupalahan kering, hutan bekas penebangan serta lahan rawa lebak. Lahan kering maupun rawalebak memiliki areal yang cukup luas dimana sebagian besar diantaranya (terutama lahanrawa lebak) belum dimanfaatkan untuk kegiatan usahatani.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1174
  • 254. ISBN 978-602-98295-0-1 Potensi sumberdaya pakan di Desa Ujung Tanjung dan sekitarnya berupa rumputalam dengan berbagai jenis baik yang tumbuh di daratan maupun perairan/lebak. Padaumumnya rumput yang tumbuh daratan terdiri atas rumput teki, rumput paitan dan rumputbento (Leersia hexandra). Sedangkan khusus di daerah lebak didominasi oleh rumputkumpai yang terdiri atas tiga jenis, yaitu kumpai tembaga, kumpai padi dan kumpaiminyak. Namun dari ketiga jenis kumpai tersebut yang terbanyak adalah kumpai padi dantembaga. Selama ini rumput kumpai tersebut sudah biasa dikonsumsi ternak kerbau yangmemang sudah menjadikan lahan rawa lebak sebagai areal penggembalaannya. Selain berbagai rumput alam, sumber pakan lainnya yang memiliki potensi cukupbesar adalah tanaman legume. Sebagaimana rumput, tanaman legume juga tumbuh secaraliar dan tidak beraturan di berbagai tempat seperti sekitar areal perkebunan karet, pinggirjalan desa, lahan tegalan serta pekarangan rumah penduduk. Beberapa jenis legume yangbanyak terdapat di Desa Ujung Tanjung antara lain lamtoro (Leucaena leucocephala),gamal (Glyricidia maculata) dan turi (Sesbania glandiflora). Selama ini keberadaanberbagai tanaman legume tersebut luput dari perhatian masyarakat sehingga banyakdiantaranya yang ditebang/dibuang terutama yang tumbuh di sekitar rumah-rumahpenduduk karena dianggap sebagai tanaman tidak produktif.Implementasi Teknologi Penggemukan Sapi Potong Bagi sebagian besar masyarakat di Desa Ujung Tanjung, usaha penggemukan sapipotong merupakan aktivitas yang relatif baru. Selama ini aktivitas keseharian penduduksetempat terfokus pada usaha pertanian tanaman pangan (padi gogo + padi sonor) danperkebunan karet yang umumnya sebagai petani penggaduh/penggarap. Disamping itu,terdapat juga aktivitas sambilan yang dilakukan sebagian masyarakat yaitu mencari kayubakar di bekas areal penebangan hutan. Dengan melihat kondisi masyarakat tersebut, makarintisan kegiatan penggemukan sapi potong membutuhkan bimbingan dan pendampinganyang cukup intensif, mulai dari tahap perencanaan usaha, pemilihan sapi bakalan,pembuatan kandang, pemberian pakan, manajemen pemeliharaan sampai pemasaran.Sapi bakalan Dalam usaha penggemukan sapi potong, pemilihan sapi bakalan merupakan faktoryang sangat menentukan keberhasilan usaha. Secara teknis, pemilihan sapi bakalandiarahkan pada beberapa faktor, yaitu ketersediaan bibit di pasaran, harga sapi bakalan,potensi pakan lokal serta preferensi petani maupun konsumen. Berkaitan dengan berbagaiProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1175
  • 255. ISBN 978-602-98295-0-1pertimbangan di atas, maka bibit/bakalan sapi potong yang dipilih adalah sapi Bali jantanberumur sekitar 1,5 tahun dengan bobot badan awal kegiatan sebesar 206,34 ± 3,44 kg. Pemilihan sapi Bali sebagai bakalan sapi potong, disamping atas dasarpertimbangan di atas juga karena memiliki tingkat adaptasi yang baik terhadap kondisilingkungan serta produktivitasnya cukup tinggi. Banyak laporan dari beberapa hasilpenelitian menunjukkan bahwa sapi Bali memiliki sifat-sifat dan kemampuan produksiyang cukup tinggi sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu indikator seleksi. Beberapaindikator sifat-sifat produksi yang dapat dilihat diantaranya bobot dewasa, lajupertambahan bobot badan serta persentase dan kualitas karkas (Pane, 1991).Manajemen Pakan dan Performans PBBH Dalam usaha penggemukan sapi potong, komponen pakan merupakan biayaterbesar setelah pembelian bibit/bakalan. Pemberian pakan ad-libitum adalah tindakanpemborosan disamping menguras tenaga kerja, sebaliknya pemberian pakan sesuaikebutuhan nutrisi ternak merupakan langkah tepat dan bijaksana mengingat sumberdayapakan di alam tersedia dalam jumlah terbatas. Pakan yang diberikan terdiri dari dua jenis, yaitu hijauan (rumput alam + legume)dan konsentrat (dedak padi). Jumlah pemberian hijauan sebanyak 15% dari bobot badanper ekor per hari, sedangkan dedak padi sebanyak 3 kg per ekor per hari dengan frekuensipemberian 2 kali sehari pagi dan sore hari. Untuk meningkatkan efisiensi dan kecernaan ransum, pemberian konsentratdilakukan dua jam sebelum hijauan. Pemberian hijauan yang hampir bersamaan dengankonsentrat akan berakibat pada penurunan kecernaan bahan kering dan bahan organikransum. Hal ini karena mikroorganisme dalam rumen mempunyai preferensi untukmencerna konsentrat terlebih dahulu yang lebih banyak mengandung pati (Siregar, 2002). Dari implementasi pemberian pakan tersebut diperoleh PBBH rata-rata 0,41 +0,072 kg per ekor per hari (dari target 0,50 kg per ekor per hari). Berdasarkan beberapahasil penelitian sebelumnya, maka PBBH yang telah dicapai termasuk dalam kategoricukup tinggi. Amril et al. (1990) melaporkan bahwa sapi Bali yang diberi pakan rumputlapangan saja menghasilkan PBBH sebesar 0,177 kg per ekor per hari, sedangkan yangdiberi pakan rumput lapangan ditambah konsentrat menghasilkan PBBH sebesar 0,314 kgper ekor per hari. Sementara itu, sapi Bali yang diberi pakan rumput dan pucuk tebuditambah konsentrat 1% dari BB menghasilkan laju pertambahan bobot badan hariansebesar 0,69-0,82 kg per ekor (Soemarmi et al., 1985). Tingginya PBBH yang dicapaiProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1176
  • 256. ISBN 978-602-98295-0-1dalam pengkajian ini karena pakan yang diberikan cukup beragam, kuantitas sesuaikebutuhan ternak serta memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi terutama padalegume dan rumput kumpai (Tabel 1).Tabel 1. Kandungan nutrisi beberapa hijauan pakan ternakNo Kandungan nutrisi (%) Nama hijauan . PK SK LK Abu1. Rumput lapang2. Rumput kumpai padi (Hymenache interupta) 13,13 27,69 - 16,193. Rumput kumpai tembaga (Ischaenum 13,03 27,87 - 8,25 aristatum)4. Daun gamal (Glyricidia maculata)5. Daun lamtoro (Leucaena leucosephala)6. Daun turi (Sesbania glandiflora) Dengan kondisi saat ini dimana jumlah populasi sapi potong di Desa UjungTanjung masih rendah yaitu ± 126 ekor (tahun 2007), masih memungkinkan bagi peternakuntuk dapat memberikan hijauan dengan berbagai jenis serta jumlah yang cukup. Namunke depan apabila populasi sapi potong maupun ternak ruminansia lainnya meningkat makatidak saja dibutuhkan hijauan yang cukup, tetapi juga dituntut kesadaran masyarakat bahwabeberapa jenis hijauan yang ada di Desa Ujung Tanjung dan sekitarnya merupakansumberdaya alam yang potensial dalam usaha pengembangan ternak ruminansia khususnyasapi. Hal ini perlu ditekankan agar penduduk setempat tidak lagi membuka lahan dengancara membakar supaya sumberdaya pakan tetap terjaga kelestariannya.Sistem perkandangan Dalam kegiatan usaha penggemukan sapi potong sistem kereman, kandang tidaksaja sebagai tempat berlindung tetapi sebagai salah satu faktor produksi. Artinya,keberhasilan atau kegagalan dalam usaha penggemukan sapi potong ditentukan juga olehfungsi kandang. Kandang menggunakan tipe individu kapasitas 8 ekor. Ukuran per ekor : panjang2,0 meter dan lebar 1,0 meter. Perlengkapan kandang terdiri atas palungan (tempat pakan),ember (tempat minum), tempat penampungan pakan (hijauan), kandang jepit/kandangpenimbangan ternak (berukuran 2 m x 0,75 m) serta selokan. Bahan kandang terdiri atas kayu dan bambu serta bahan-bahan lain yang tersedia dilokasi peternakan. Atap menggunakan bahan genting dengan model shade. Dindingkandang dibuat semi terbuka agar sirkulasi udara dapat berjalan dengan lancar. Lantaikandang terbuat dari tanah yang dipadatkan dan pada bagian atas dilapisi semen denganProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1177
  • 257. ISBN 978-602-98295-0-1posisi miring ke belakang. Untuk memudahkan dalam membersihkan kotoran, peternakdilengkapi berbagai macam peralatan diantaranya sepatu boot, sekop, lori dan cangkul.Analisa Usahatani dan Respon Petani Kooperator (Peternak) Total komponen biaya penggemukan sapi potong adalah sebesar 30.500.000,-,terdiri atas 1) pembelian sapi bakalan, 2) penyusutan kandang, 3) pakan konsentrat (dedakpadi) dan 4) obat-obatan. Sedangkan total penerimaan sebesar Rp 35.500.000,- yangberasal dari penjualan ternak sapi. Berdasarkan hasil analisa usahatani maka diperolehangka R/C sebesar 1,2. Artinya, kegiatan penggemukan sapi potong (skala usaha 8 ekordengan lama penggemukan 5 bulan) memberikan keuntungan sebanyak 20% dari modalusahatani atau Rp 5.000.000,-. Secara ekonomis, besarnya keuntungan yang diterima setiappeternak dalam satu periode pemeliharaan tidak terlalu besar, yaitu Rp 625.000,- (Rp125.000,- per peternak per bulan). Namun demikian, peternak (petani kooperator)memberikan respon positif terhadap kegiatan ini yang ditunjukkan dengan keinginannyauntuk mengembangkan usaha penggemukan sapi potong di waktu mendatang. Tumbuhnya minat dan keinginan peternak untuk mengembangkan usahapenggemukan sapi potong karena dua alasan pokok. Pertama, aktivitas ini tidak banyakmenyita waktu dan tenaga, dimana dalam sehari hanya dibutuhkan waktu sekitar 3 jam (1jam membersihkan kandang, 2 jam mencari rumput). Dengan demikian, secara umumusaha penggemukan sapi potong tidak mengganggu aktivitas pokok sebagai petani padimaupun petani penggarap di perkebunan karet. Alasan kedua, walaupun keuntungan yangdiperoleh tidak terlalu besar, tetapi secara ekonomis dapat menambah pendapatan keluarga± 20% per bulan dari total pendapatan yang berkisar antara Rp 600.000-750.000,-. KESIMPULAN Dengan melihat potensi sumberdaya (alam + manusia) yang tersedia di Desa UjungTanjung maka usaha penggemukan sapi potong merupakan salah satu cabang usahataniyang prospektif untuk dikembangkan. Sapi Bali yang digemukkan selama 5 bulan mampumemberikan PBBH sebesar 0,41 + 0,072 kg dengan komposisi pakan hijauan (rumput danlegume) sebanyak 15% dari bobot badan per ekor per hari dan konsentrat (dedak padi)sebanyak 3 kg per ekor per hari. Walaupun secara ekonomis sumbangannya terhadap pendapatan keluarga sebesarRp 125.000,- per bulan, namun petani merasa bahwa kegiatan usaha penggemukan sapipotong cukup membantu ekonomi keluarga karena secara umum aktivitas ini tidakmengganggu pekerjaan pokok sebagai petani.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1178
  • 258. ISBN 978-602-98295-0-1 Dampak positif yang diharapkan dari kegiatan pengkajian ini disamping sebagaiupaya untuk pemberdayaan masyarakat (meningkatkan pengetahuan dan menambahpendapatan keluarga) juga untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa hijauan yangtumbuh di Desa Ujung Tanjung merupakan bahan lokal yang harus dijaga kelestariannya. DAFTAR PUSTAKAAmril, M.A., S. Rasjid dan S. Hasan. 1990. Rumput Lapangan dan Jerami Padi Ammoniasi Urea sebagai Sumber Hijauan dalam Penggemukan Sapi Bali Jantan dengan Makanan Penguat. Prosiding Seminar Nasional Sapi Bali – Tanggal 20-22 September 1990. Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Denpasar.Anne, G. 1999. The Suistainable Development of Tree Crops and The Prevention of Vegetation Fires in South Sumatera-Indonesia. European Union Ministry of Forestry and Estate Crop. Forest Fire Prevention and Control Project. Palembang.Lestari, B. 1998. Metode Penyuluhan Efektif untuk Pembentukan Kelompok Tani-Ternak Mandiri. Prosiding Seminar Nasional Jilid II (hal 835-840). Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor.Pane, I. 1991. Produktivitas dan Breeding Sapi Bali. Prosiding Seminar Nasional Sapi Bali Tanggal 2-3 September 1991. Fakultas Peternakan Universitas Hasanudin. Ujung Pandang.Siregar, S.B. 2002. Penggemukan Sapi – Cetakan ke-7. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.Soemarmi, A. Musofie dan N.K. Wardhani. 1985. Pengaruh Pemberian Wafer Pucuk Tebu terhadap Pertambahan Berat Badan Sapi Bali Jantan. Prosiding Seminar Pemanfaatan Limbah Tebu untuk Pakan Ternak. Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1179
  • 259. ISBN 978-602-98295-0-1 TANAMAN SELA SEBAGAI TAMBAHAN PENDAPATAN BAGI PETANI KARET (Studi Kasus di Desa Lubuk Bandung, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan) Dwi Shinta Agustina, L.F. Syarifa, C. Nancy, dan M.J. Rosyid Balai Penelitian Sembawa, PO BOX 1127 Palembang 30001 ABSTRAK Salah satu alternatif untuk meningkatkan pendapatan petani karet rakyatadalah adanya komoditas pendukung yang diusahakan secara mix-croppingdengan tanaman karet. Tanaman nenas merupakan salah satu jenis tanaman selayang dianjurkan ditanam di antara tanaman karet sebelum berumur tiga tahun.Salah satu desa di Provinsi Sumatera Selatan yang mengusahakan tanaman selanenas sebagai sumber pendapatan tambahan adalah Desa Lubuk BandungKabupaten Ogan Ilir. Tulisan ini menampilkan gambaran usahatani karet dengantanaman sela nenas yang dilakukan oleh petani karet rakyat di Desa LubukBandung. Petani di Desa Lubuk Bandung merupakan petani proyek sehingga telahmempunyai minat dan motivasi yang kuat untuk menerapkan teknologi anjuran. Halini terlihat dari produksi tanaman karet yang cukup tinggi serta input yang diberikanpada tanaman karet dan tanaman sela sudah sesuai dengan anjuran. Tanaman selayang umum diusahakan oleh petani meliputi padi dan nenas. Produksi yangdiperoleh dari tanaman padi digunakan petani untuk memenuhi konsumsi keluargasedangkan produksi nenas memberikan pendapatan sebesar Rp 12,2 juta. Rata-ratapendapatan usahatani di Desa Lubuk Bandung adalah Rp 21,2 juta per tahun. Kata kunci : Hevea brasiliensis, usahatani karet, tanaman sela nenas PENDAHULUAN Provinsi Sumatera Selatan merupakan sentra perkebunan karet rakyatterbesar di Indonesia. Luas areal karet Provinsi Sumatera Selatan pada tahun2003 mencapai 928 ribu ha, terdiri dari 866 ribu ha perkebunan karet rakyat (93%dari total luasan karet) dan sisanya merupakan perkebunan besar (DinasPerkebunan Provinsi Sumsel, 2006). Permasalahan umum yang dihadapi padaperkebunan karet rakyat adalah rendahnya produktivitas perkebunan karet rakyat.Hal ini disebabkan antara lain oleh : 1). Masih banyak petani yang menggunakanbibit seedling sebagai bahan tanam, 2). Kurangnya pemeliharaan kebun sehinggakondisinya lebih mirip ―hutan karet‖, 3). Masih luasnya areal kebun karet tua yangperlu diremajakan, dan 4). Kerusakan bidang sadap akibat penyadapan yangterlalu berat.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1180
  • 260. ISBN 978-602-98295-0-1 Untuk mengoptimalkan usahatani karet, pengusahaan tanaman sela diantara tanaman karet dapat menjadi salah satu alternatif teknologi bagiperkebunan karet rakyat. Penanaman tanaman sela diantara tanaman karetterutama pada masa tanaman karet belum menghasilkan dapat menambahsumber pendapatan petani, meningkatkan produktivitas lahan serta meningkatkanintensitas pemeliharaan kebun (Rosyid, 2006). Di Indonesia, sistem tumpang sari tanaman setahun maupun tanamantahunan dengan berbagai tanaman perkebunan juga merupakan salah satucontoh yang baik, seperti tumpang sari tanaman pangan, vanili atau kakao diantara kelapa (Darwis, 1988 dalam Rosyid dkk., 1992); cengkeh dengan kopi danvanili di Bali; tanaman pangan, buah-buahan, tanaman tahunan lainnya di antarakaret (Barlow dan Muharminto, 1982; Wibawa dkk., 1985; Rosyid dkk., 1987;Gouyon dan Nancy, 1989; Rosyid dkk., 1993). Petani karet di Sumatera Selatan baik petani proyek maupun non-proyektelah melakukan diversifikasi usahataninya baik dengan tanaman palawijamaupun tanaman tahunan; seperti kopi, kakao, melinjo, duku, dan tanamanlainnya yang dinilai menguntungkan (Rosyid dkk., 1992). Salah satu jenis tanamansela yang dianjurkan untuk ditanam di antara karet sebelum berumur tiga tahunadalah tanaman nenas. Pola usahatani karet dengan tanaman sela nenas telah dipraktekkan olehpetani di Desa Lubuk Bandung Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan.Tulisan ini menampilkan gambaran usahatani karet dengan tanaman sela nenasyang dilakukan oleh petani karet rakyat di Desa Lubuk Bandung.KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PETANI DESA LUBUK BANDUNG Sebagian besar petani di Desa Lubuk Bandung sudah menanam bibit karetunggul, karena mereka pernah mengikuti proyek pembangunan demonstrasi plotoleh Balai Penelitian Sembawa pada tahun 1994 dan proyek kehutanan pada tahun2004. Pekerjaan pokok mereka adalah petani karet sehingga pendapatan utamapetani diperoleh dari hasil karet. Rata-rata total pemilikan lahan petani adalah 2 ha, terdiri dari 1 ha lahan karetbelum menghasilkan (TBM) dan 1 ha lahan karet menghasilkan (TM). Pada lahankaret TBM mayoritas petani sudah menanam bibit karet okulasi sedangkan padaProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1181
  • 261. ISBN 978-602-98295-0-1lahan karet TM yang umurnya antara 6 – 16 tahun, jenis bibit yang ditanam petanimasih beragam yaitu seedling, okulasi dan bibit campuran.KARAKTERISTIK USAHATANI KARET DI DESA LUBUK BANDUNG Usahatani karet di Desa Lubuk Bandung telah menerapkan teknis budidayakaret sesuai dengan rekomendasi. Sebagai sumber pendapatan selain karetterutama pada masa tiga tahun tanaman belum menghasilkan, petani di Desa LubukBandung menanam tanaman sela di antara tanaman karet. Teknologi tanaman selayang dilaksanakan oleh petani pada umumnya sesuai dengan rekomendasi. Hal inikarena pada saat pelaksanaan proyek pembangunan demonstrasi plot oleh BalaiPenelitian Sembawa pada tahun 1994, petani sudah mendapatkan pengetahuanmengenai teknis budidaya karet dengan tanaman sela. Pada tiga tahun pertama masa tanaman karet belum menghasilkan, petanimenanam tanaman sela di antara karet berupa padi dan nenas. Setelah pembukaanlahan, petani langsung menanami lahan mereka dengan nenas. Kegiatan iniberlangsung pada bulan September. Kemudian pada bulan Oktober, petani mulaimenanam padi dan dilanjutkan dengan penanaman karet pada bulan November. Pemilihan jenis tanaman sela perlu mempertimbangkan faktor sosial ekonomipetani, peluang pasar disamping faktor agronomis dan ketahanan terhadapnaungan. Selain itu, faktor persaingan antara tanaman sela dengan tanaman karetperlu menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan jenis tanaman sela.Persaingan antara karet dengan tanaman sela tertentu akan dapat terjadisecepatnya setelah tahun pertama (Wibawa dkk., 1999). Untuk menghindaripersaingan antara tanaman sela dan tanaman karet, perlu dilakukan pengaturanjarak tanam. Balai Penelitian Sembawa (2003) menganjurkan jarak tanaman selaterdekat dengan tanaman karet untuk tanaman nenas adalah 100 cm. Keragaanpertumbuhan tanaman karet dengan tanaman sela nenas di Desa Lubuk Bandungditampilkan pada Gambar 1.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1182
  • 262. ISBN 978-602-98295-0-1Gambar 1. Keragaan Pertumbuhan Tanaman Karet dengan Tanaman Sela Nenas di Desa Lubuk Bandung, Kabupaten Ogan Ilir Dari Gambar 1 terlihat bahwa petani telah terlebih dahulu menanam nenassebelum menanam karet. Penanaman tanaman sela nenas diberi jarak dengantanaman karet sehingga tidak terjadi persaingan dalam pertumbuhan masing-masing tanaman. Usahatani karet dengan tanaman sela nenas pada umumnyadilakukan sampai dengan tanaman karet berumur tiga tahun.PENDAPATAN USAHATANI Pendapatan usahatani merupakan total pendapatan yang diterima petanidari berbagai cabang usahatani yang diusahakannya. Cabang usahatani yangumum ditemukan di Desa Lubuk Bandung adalah usahatani karet dengantanaman sela padi dan nenas. Produksi padi yang diperoleh dari dua kali panen di Desa Lubuk Bandungmasing-masing adalah 60 dan 20 kaleng (1 kaleng sama dengan 20 kg). Produksipadi pada umumnya dikonsumsi sendiri oleh keluarga petani sehingga petani tidakmemperoleh pendapatan dari usahatani tanaman sela padi. Oleh karena itu padatulisan ini tidak dibahas mengenai analisis input-output tanaman sela padi secararinci.Tabel 1. Analisis Input – Output Usahatani Nenas di Desa Lubuk Bandung Komponen Biaya Biaya Produksi Penerimaan Pendapatan (Rp/ha/tahun) (buah) (Rp/tahun) (Rp/tahun)Persiapan lahan 1.990.000 - - -1.990.000Penanaman 1.000.000 - - - 1.000.000Pengkarbitan I 40.000 - - - 40.000Panen buah induk 1.280.000 16.000 8.000.000 6.720.000Pengkarbitan II 96.000 - - - 96.000Panen buah anak 3.200.000 40.000 10.000.000 6.800.000Pengkarbitan III 192.000 - - - 192.000Panen buah catok 100.000 25.000 3.125.000 3.025.000Pembersihan 1.000.000 - - - 1.000.000Total 8.898.000 21.125.000 12.227.000Keterangan : Harga buah induk Rp 500,00 Harga buah anak Rp 250,00 Harga buah catok Rp 125,00 Harga yang berlaku adalah harga pada tahun 2006 di tingkat desa Lubuk BandungProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1183
  • 263. ISBN 978-602-98295-0-1 Berbeda dengan tanaman sela padi, produksi tanaman sela nenas yangdiperoleh dari tiga kali panen, memberikan pendapatan bagi petani. Pemanenanbuah nenas dilakukan sebanyak tiga kali dalam satu periode tanam. Pemanenanpertama adalah pemanenan buah induk, pemanenan kedua adalah pemanenanbuah anak, dan panen ketiga adalah panen buah catok. Produksi terbesardiperoleh petani pada saat pemanenan buah anak sedangkan produksi terendahdiperoleh pada saat pemanenan buah induk. Namun ukuran buah induk lebihbesar dibandingkan dengan ukuran buah anak. Besar kecilnya ukuran buah inimenentukan tingkat harga jual masing-masing buah. Harga jual buah induk lebihtinggi dibandingkan dengan harga jual buah anak dan buah catok. Analisis input-output usahatani tanaman sela nenas di Desa Lubuk Bandung disajikan padaTabel 1. Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa usahatani tanaman sela nenas diantara tanaman karet memberikan pendapatan bagi petani sebesar Rp 12,2 jutaper tahun. Pendapatan ini diperoleh setelah dikurangi biaya usahatani sebesar Rp8,9 juta per tahun. Nilai R/C ratio (nilai perbandingan antara penerimaan danbiaya) dari usahatani nenas di Desa Lubuk Bandung adalah 2,37. Nilai inimenunjukkan bahwa secara ekonomis usahatani tanaman sela nenasmenguntungkan karena nilai R/C ratio yang diberikan adalah > 1.Tabel 2. Perincian Biaya Produksi Usahatani Tanaman Sela Nenas di Desa Lubuk Bandung Kegiatan Tenaga Kerja Bahan Total Unit Jumlah Biaya Jenis Unit Jumlah Biaya BiayaPersiapan HOK 78 1.950.000 Kawat ikat kg 4 40.000 1.990.000lahanPenanaman HOK 0 0 Bibit nenas rumpun 20000 1.000.000 1.000.000Pengkarbitan I HOK 0 0 Karbit kg 3 40.000 40.000Panen buah HOK borong 1.280.000 - - - - 1.280.000indukPengkarbitan II HOK 0 0 Karbit kg 8 96.000 96.000Panen buah HOK borong 3.200.000 - 3.200.000anak - - -Pengkarbitan III HOK 0 0 Karbit kg 16 192.000 192.000Panen buah HOK borong 100.000 - 100.000catok - - -Pembersihan HOK borong 1.000.000 - - - - 1.000.000 Total Biaya 7.530.000 (85) 1.368.000 (15) 8.898.000Keterangan : Angka dalam kurung menunjukkan persentase terhadap totalProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1184
  • 264. ISBN 978-602-98295-0-1 Dari Tabel 1 juga terlihat bahwa secara keseluruhan komponen biaya yangterbesar dalam usahatani tanaman sela nenas adalah pada kegiatan panen buahanak. Hal ini ditimbulkan oleh biaya tenaga kerja panen yang cukup besar karenabuah yang dipanen cukup banyak. Pada umumnya tenaga kerja dibayar dengansistem borong dan tenaga kerja keluarga tidak diperhitungkan sebagai biaya.Perincian biaya produksi usahatani tanaman sela nenas di Desa Lubuk Bandungdisajikan pada Tabel 2. Dari data yang ditampilkan pada Tabel 2 terlihat bahwa biaya produksiterbesar adalah komponen biaya tenaga kerja yang menyerap biaya sekitar 85%dari total biaya produksi sedangkan sisanya sebanyak 15% merupakan biayabahan. Biaya bahan yang terbesar adalah biaya pembelian bibit nenas kemudianbiaya pembelian karbit dan biaya pembelian kawat untuk pemagaran. Pembeliankarbit dilakukan sebanyak tiga kali dengan jumlah pembelian yang bervariasidimana jumlah pembelian terbesar adalah pada saat pemanenan buah catok. Produksi rata-rata dari hasil karet di Desa Lubuk Bandung adalah 1482kg/ha/tahun. Dari sejumlah produksi tersebut, rata-rata pendapatan yang diterimapetani adalah Rp 9 juta per tahun. Pendapatan tersebut diterima setelah dikurangibiaya usahatani rata-rata sebesar Rp 579 ribu per tahun. Pendapatan dariusahatani karet diperoleh selama 25 tahun dan dimulai pada saat tanaman karetberumur 6 tahun. Grafik produksi tanaman karet di Desa Lubuk Bandung mulaitahun sadap pertama (umur tanaman 6 tahun) sampai dengan tahun sadap ke 25(umur tanaman 30 tahun) dapat dilihat pada Gambar 2. 2500 2000 1500 Produksi tahun ke- 1000 500 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 Gambar 2. Grafik Produksi Tanaman Karet di Desa Lubuk BandungProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1185
  • 265. ISBN 978-602-98295-0-1 Rata-rata produksi tanaman karet yang diperoleh oleh petani di Desa LubukBandung cukup tinggi karena pada umumnya petani sudah menanam bibit karetokulasi dan pemeliharaan yang dilakukan cukup intensif. Dari Gambar 2 terlihatbahwa produksi karet petani di Desa Lubuk Bandung mulai dari tahun pertamasadap sampai dengan tahun ke 25 sadap berfluktuasi dari tahun ke tahun denganpola yang cenderung menurun. Secara keseluruhan, pendapatan usahatani petani di Desa Lubuk Bandungdari karet dan nenas tergolong tinggi yaitu rata-rata Rp 21,2 juta per tahun.Kontribusi tanaman sela nenas cukup besar terhadap total pendapatan usahataniyaitu 58% dari total pendapatan sedangkan tanaman karet memberikan kontribusi42% terhadap total pendapatan usahatani. Ditinjau dari kelayakan untuk memenuhi standar upah minimum regionalProvinsi Sumatera Selatan, pendapatan total usahatani karet dengan tanamansela sudah memenuhi kriteria tersebut. Upah minimum regional Provinsi SumateraSelatan adalah Rp 720 ribu per bulan (Keputusan Depnaker, 2007). Dilihat daripendapatan usahatani yang diterima petani di Desa Lubuk Bandung diketahuibahwa pendapatan usahatani yang diterima telah memenuhi standar upahminimum regional Provinsi Sumatera Selatan. Dengan demikian dapat dikatakanbahwa pengusahaan tanaman sela di antara tanaman karet layak dari sisipendapatan. SIMPULAN DAN SARAN Pengusahaan tanaman sela nenas di antara tanaman karet memberikankeuntungan bagi petani. Rata-rata pendapatan usahatani karet dengan tanamansela yang diperoleh petani di Desa Lubuk Bandung adalah Rp 21,2 juta per tahun.Petani di Desa Lubuk Bandung sudah menerapkan teknologi karet dan tanamansela sesuai dengan anjuran. Kontribusi pendapatan dari tanaman sela nenascukup besar yaitu 58% terhadap total pendapatan usahatani. Pendapatanusahatani ini telah memenuhi standar upah minimum regional Provinsi SumateraSelatan sehingga pengusahaannya layak dari sisi pendapatan. Dari hasil penelitian dapat disarankan agar pengusahaan tanaman selanenas di antara tanaman karet dapat dilaksanakan lebih intensif danProsiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1186
  • 266. ISBN 978-602-98295-0-1berkesinambungan sebagai sumber pendapatan bagi petani terutama selamatanaman karet berumur tiga tahun. DAFTAR PUSTAKABalai Penelitian Sembawa, 2003. Sapta Bina Usahatani Karet. Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet.Barlow, C dan Muharminto. 1982. Smallholder Rubber in South Sumatra. Toward Economic Improvement. Doc. BPP Bogor dan ANU, 78 pp.Gouyon, A dan C. Nancy. 1989. Increasing the Productivity of Rubber Smallholders in Indonesia : A Study of Agro-economic Constrains and Proposals. Paper for the Rubber Growers Conference, 26 pp.Keputusan Menteri Tenaga Kerja. 2007. Ketetapan UMR 2007. Jakarta.Rosyid, M.J., G. Wibawa, U. Junaidi, dan A. Gunawan. 1992. Pengujian Diversifikasi Beberapa Tanaman Tahunan di Antara Tanaman Karet. Risalah Seminar Hasil Penelitian Balai Penelitian Sembawa Tahun 1992/1993. h. 105-125.Rosyid, 2006. Budidaya Tanaman Sela Berbasis Karet. Makalah disampaikan pada acara Gelar Teknologi di Banjar Baru, Kalimantan Selatan, 31 Mei – 1 Juni 2006. Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet.Rosyid, M.J., G. Wibawa, dan A. Gunawan, 1993. Pola Usahatani Terpadu pada Perkebunan Karet untuk Meningkatkan Efisiensi Penggunaan Lahan. Makalah disajikan pada Temu Aplikasi Paket Teknologi Usahatani di BIP, Aceh, 45 pp.Rosyid, M.J., G. Wibawa, U. Junaidi, dan A. Gunawan. 1992. Pengujian Diversifikasi Beberapa Tanaman Tahunan di Antara Tanaman Karet. Risalah Seminar Hasil Penelitian Balai Penelitian Sembawa Tahun 1992/1993. h. 105-125.Rosyid, M.J., G. Wibawa, dan S. Arifin. 1987. Hasil dan Rencana Penelitian Pola Usahatani Lahan Kering di Sembawa dan Batumarta. Dalam : Mahyudin Syam, et al. 1987. Risalah Lokakarya Pola Usahatani, Buku 2. Badan Litbangtan.Wibawa, G, M.J. Rosyid, Suryatna Effendi, dan T. Subagio. 1985. Increasing of Land Productivity of Red Yellow Podzolic Soil through Rubber Based Farming System. Proceeding of International Workshop on Cropping/ Farming System, Sukarame, Indonesia.Wibawa, G, A. Gunawan, dan M.J. Rosyid. 1999. Pola Tumpangsari berbasis karet sebagai alternatif potensial untuk pengembangan karet rakyat di Sumatera Selatan. Prosiding Seminar Nasional Pertanian Terpadu, Palembang, 13 Februari 1999. h. 73-92.Prosiding Seminar Nasional, 13-14 Desember 2010 1187

×