• Like
Feminisme esy
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Feminisme esy

  • 134 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
134
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
2
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. feminitas, dan juga peran dan tanggung jawab reproduksi dan seksual, berfungsi untuk membatasi pengembangan diri perempuan sebagai manusiay a n g u t u h . M e r e k a a d a l a h f e m i n i s r a d i k a l y a n g , y a n g a n t a r a l a i n menginginkan androgini.  Feminis radikal-kultural: Feminis radikal-kultural m e n g u n g k a p k a n pandangan bahwa adalah lebih baik menjadi perempuan/feminim, daripadam e n j a d i l a k i - l a k i / m a s k u l i n . K a r e n a i t u , p e r e m p u a n t i d a k s e h a r u s n ya mencoba untuk menjadi seperti laki-laki. Sebaliknya, perempuan harusnyamencoba untuk menjadi lebih seperti perempuan, dan menekankan nilai -nilai dan sifat-sifat, yang secara kultural,dihubungkan terhadap perempuan(saling kebergantungan, berbagi, emosi, kepercayaan dan sebagainya) danmeninggalkan penekanan atas nilai -nilai dan sifat yang secara kulturald i h u b u n g k a n t e r h a d a p l a k i - l a k i . F e m i n i s r a d i k a l - k u l t u r a l t i d a k s e p e r t i feminis libertarian, mengintruksikan perempuan untuk menjaga karakter feminimnya dari tambahan-tambahan sifat maskulin yang beracun.C . F e m i n i s m e M a r x i s d a n S o s i a l i s F e m i n i s m a r x i s m e n g i d e n t i f i k a s i b a h w a k e l a s i s m e m e r u p a k a n penyebab opresi kepada perempuan. Opresi tersebut merupakan produk daristruktur politik, sosial, dan ekonomi. Pekerjaan perempuan dianggap sebagai pekerjaan yang tidak pernah selesai sehingga terdapat konsepsi pada diri perempuan bahwa jika mereka tidak melakukan pekerjaan seperti itu, makamereka bukanlah perempuan. Feminis marxis menjelaskan pula bahwa untuk mengetahui mengapa perempuan teropresi oleh laki-laki harus melakukananalisa pada hubungan di anta ra status pekerjaan perempuan dan citra diri perempuan.  Teori Ekonomi Marxis: Bagi kelompok Marxis, kapitalisme merupakansistem hubungan kekuasaan dan hubungan pertukaran. Hal ini bisa dilihat ketikakekuatan kerja seseorang bisa dipertukarkan dengan sejumlah upah sedangkankapitalisme sebagai hubungan kekuasaan bisa dilihat ketika pertukaran yang adamenjadi lahan eksploitatif bagi majikan untuk memaksa pekerjanya bekerja giattanpa tambahan gaji yaitu tidak mendapatkan upah sesuai dengan pengorbanan ya n g t e l a h d i b e r i k a n n ya u n t u k m e n g h a s i l k a n b a r a n g a t a u j a s a s e p e r t i ya n g diperintahkan majikannya. Seharusnya setiap komoditas yang dihasilkan oleh 6 pekerja harus dibalas sesuai dengan pekerjaan, pengeluaran energi, dan intelejensi pekerja. Mereka tidak melakukan apapun karena menganggap hal tersebut sebagaihal yang wajar.  Teori Sosialis Marxis: B a n y a k d a r i p e m i k i r f e m i n i s m a r x i s y a n g menganggap perempuan sebagai kolektivisme sehingga pengajaran marxis tentangk e l a s d a n k e s a d a r a n k e l a s
  • 2. b e r p e r a n d i p e m i k i r a n f e m i n i s m a r x i s . M e s k i p u n sebenarnya perempuan tidak bisa dikatakan berasal dari kelas yang sama, karenasebagian dari mereka merupakan kelas borjuis dan sebagian lagi merupakan kelas proletar, namun bagi feminis marxis mereka bisa dijadikan ke dalam satu kelasketika mereka memperjuangkan untuk mendapatkan upah bagi pekerjaan rumahtangga yang mereka lakukan.  Teori Politik Marxis: Bagi marxis rekonstruktrusi sifat manusia bisadilakukan dengan m e n g h i n d a r i p e m b a g i a n ya n g m e n j a d i k a n s e b a g i a n o r a n g sebagai budak dari sebagian orang lain. Rekonstruksi tersebut yang memungkinkanmanusia menjadi bebas dan hal itu yang dituntut oleh kaum feminis. Kebebasanyang ada memungkinkan laki -laki dan perempuan membangun peran sosial dans t r u k t u r s o s i a l ya n g m e m b u a t l a k i - l a k i d a n p e r e m p u a n b i s a m e r e a l i s a s i k a n potensinya.Menurut Friederich Engel Pada mulanya perempuan bukan dianggap sebagaisubordinat laki-laki karena perempuan memainkan peran vital ketika menghasilkan barang material seperti pakaian dan peralatan masak. Hal tersebutlah yangmenyebabkan masyarakat berpasangan secara matrilineal sedangkan laki-lakimendapatkan keuntungan dari kegiatan itu. Laki-laki menjadi semakin kuat dengankemampuan ekonomi yang dimilikinya, sedangkan perempuan semakin lemahkarena pekerjaan yang dilakukannya di rumah tidak mampu menghasilkan seperti pekerjaan yang laki-laki kerjakan. Dengan kondisi seperti itu maka akhirnya posisimatrilineal berubah menjadi patrilineal karena laki-laki yang menjadi pihak yangmenurunkan kekayaan yang ada pada dirinya kepada anak. Hal tersebut membuat perempuan menjadi representasi kelas proletar. Dengan kekuatan yang dimiliki lai-laki mereka lebih bebas dalam melakukan berbagai hal.Feminisme Marxis Kontemporer 7  Keluarga dan Rumah Tangga di Bawah Patriaki: Teori marxis berbicarat e n t a n g r e p r o d u k s i s e r t a s e k s u a l p e r e m p u a n . H a l i n i y a n g m e n y e b a b k a n kebanyakan feminis marxis fokus pada permasalahan tentang pekerjaan perempuanyang seringkali hanya dianggap sebagai pekerjaan yang ringan serta tidak sulitdilakukan. Hal ini dapat dilihat dalam rumah tangga yang patriarki. Pada mulanya pekerjaan perempuan seperti memasak, merawat adalah pekerjaan yang sentral. Namun dengan industrialisasi dan transfer produksi barang-barang dari rumaht a n g g a k e t e m p a t k e r j a p u b l i k , p e r e m p u n y a n g t i d a k b e k e r j a d i l u a r r u m a h mendapat cap sebagai orang yang non produktif mereka akan menjadi pekerja kelas dua dengan bayaran lebih rendah.  Sosialisasi Pekerjaan Rumah Tangga: Feminis Marxis melihat a d a n ya gambaran sifat dan fungsi perempuan sebagai konsumen dalam arti pria di luar mencari uang dan perempuan yang menghabiskannya. Gambaran ini salah karenasalah
  • 3. karena perempuan adalah produsen yang bertanggung jawab atas produksinilai guna sederhana dalam kegiatan-kegiatan yang diasosiasikan dengan rumahdan keluarga karena produk yang dihasilkan perempuan seperti makanan keluargaatau jahitan pakaian anak ini tidak dijual, masyarakat cenderung melihat produksiyang dilakukan perempuan dalam keluarga itu lebih ringan daripada produksi yanghasilnya dipasarkan. Percuma jika perempuan diberikan peluang untuk memasukiranah industri publik jika secara bersamaan sosialisasi pekerjaan rumah tangga.K u n c i p e m b e b a s a n p e r e m p u a n m e n u r u t B e n s t o n a d a l a h s o s i a l i s a s i p e k e r j a a n rumah tangga. Sosialisasi pekerjaan rumah tangga yang dilakukan perempuan itu bukan berarti mampu membebaskan perempuan dari pekerjaan rumah tangga, akantetapi perubahan ini akan memungkinkan setiap orang untuk menyadari betapa pentingnya pekerjaan rumah tangga secara sosial.KRITIK TERHADAP FEMINIS MARXIS  Kritik Dari Komunitarian: Menurut Jean Bethke Elsthain feminis marxis t e r l a l u m e n g a n g g a p k e l u a r g a s e b a g a i h a s i l k o n s t r u k s i d a r i k a p i t a l i s m e ya n g m e r e p r o d u k s i t e n a g a kerja dengan mengorbankan perempuan. Elshtain 8
  • 4. Oleh: Zahrul Fadhi Johan ---Perempuan ibarat sebuah magnet yang memiliki daya tarik tersendiri untuk diperbincangkan. Feminisme bukanlah sebuah isu baru, baik di dunia Barat maupun Timur. Kajian feminisme memberikan ruang pada perempuan untuk menunjukkan sikap resistensi dan eksistensinya terhadap kaum laki-laki. Dalam hal tersebut praktik patriarkhi merupakan alasan kaum perempuan. Perempuan dianggap inferior dan lelaki menganggap dirinya lebih superior dibanding perempuan. Meminjam istillah Najmah dan Sa’di (2003:34), feminisme adalah suatu kesadaran akan penindasan dan ekploitasi terhadap perempuan, baik dalam keluarga, di tempat kerja maupun di masyarakat serta adanya tindakan sadar akan laki-laki maupun perempuan untuk mengubah keadaan tersebut secara leksikal. Kesadaran feminisme bertujuan untuk membongkar kekuasaan dan batas-batas pembagian kekuasaan. Kekuasaan yang dimaksud adalah penggolongan kelas atau status berdasarkan jenis kelamin (genderisasi). Dalam kajian feminis lebih menekankan sifat opresif (sifat yang keras) dan relasi gender. Huda Sha Rawi dan Nabawiyah Musa merupakan dua tokoh perempuan Mesir dan juga sebagai pelopor feminisme dunia Timur khususnya bangsa Arab era 1879-1900. Keduanya memberikan pandangannya, bahwa perempuan harus belajar tentang apa artinya menjadi perempuan dan caracara perempuan bereaksi untuk merekonstruksi kembali peranannya. Kaum perempuan Arab saat itu sangat dikekang oleh budaya patriarki. Perempuan tidak boleh mendapatkan pendidikan melebihi lelaki, apalagi menduduki sebuah jabatan di sebuah lembaga atau institusi tertentu. Perempuan juga tidak dibolehkan meninggalkan rumah. Jikapun keluar dari rumah mereka harus menjaga kesopanan dengan menutup rambut dan wajah. Keterbatasan itulah yang diperjuangkan oleh kedua perempuan ini. Berbeda halnya dengan kaum perempuan di Aceh, kebanyakan mereka lebih superior dibandingkan lelaki. Seperti halnya Laksamana Malahayati. Ia seorang perempuan yang sanggup memimpin 2.000 pasukan Inoeng Balee (janda-janda pahlawan yang telah gugur di medan tempur) untuk bertempur melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda (11/9/1599).Dan dalam pertempuran itu beliau berhasil membunuh Cornelis de Houtman dalam duel satu lawan satu. Dengan keberanian dan keperkasaanya wanita yang bernama lengkap Keumalahayati ini diberi gelar Laksamana Malahayati. Perempuan Aceh lainnya adalah Cut Nyak Dhien. Beliau perempuan yang gagah perkasa, sangat disegani oleh kawan dan ditakuti lawan. Cut Nyak Dhien dilahirkan dikalangan bangsawan, oleh orang tua dan gurunya ia dididik dan dibekali ilmu agama. Pada 8 April 1973 pasukan Belanda dibawah pimpinan Kohler berhasil memasuki dan membakar Mesjid Raya Baiturrarahman. Di sanalah Cut Nyak Dien berteriak “wahai orang-orang Aceh, tempat ibadah kita dirusak, mereka telah mencoreng nama Allah! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak? Semangat itulah yang membuat Kohler tewas dalam pertempuran itu dan setelah itulah ia mulai memimpin perang melawan kafir Belanda.Selain dari kedua perempuan itu masih banyak perempuan Aceh yang tangguh dan perkasa. Seperti halnya Ratu Safiatuddin, perempuan
  • 5. pertama yang menjadi pemimpin di kerajaan Aceh. Cut Mutia, seorang perempuan yang berjuang bersama suaminya Teuku Muhammad, setelah suaminya meninggal beliau menikah lagi dengan sahabat dekat suaminya yaitu Pang Nanggroe, kemudian beliau kembali berjuang sampai gugur di medan perang. Ketangguhan dan keperkasaan perempuan-perempuan Aceh tersebut, mengindikasikan bahwa perempuan-perempuan Aceh telah menunjukkan sikap eksistensi dan resistensinya terhadap kaum laki-laki. Mereka tidak pernah menuntut dan menyuarakan persamaan kelas dan gender. Jika ditinjau dari sisi feminisme, perempuan-perempuan tersebut layak dijadikan sebagai pelopor dan tokoh feminis di Nusantara. Apa yang terjadi di Aceh hari ini telah berbanding terbalik dengan zaman sebelumnya. Krisis moral dan pengaruh modernisasi telah merusak generasi muda Aceh. Fenomena diskriminatif terhadap perempuan sering sekali terjadi. Beberapa bulan lalu, Selasa, 19 Maret 2013, Aceh digemparkan oleh kasus pemerkosaan dan mutilasi terhadap Diana, bocah perempuan berusia 6 tahun dan pelakunya itu adalah paman kandungnya sendiri. Sebelumnya, Sabtu, 16 Maret 2013, seorang gadis remaja perempuan berumur 14 tahun yang masih duduk di bangku kelas II SMP di Kabupaten Bireuen juga menjadi sasaran empuk pemerkosaan oleh empat orang lelaki secara bergantian. Kedua kasus tersebut telah mencoreng wajah Negeri Syariah. Belum lagi kita kembali ke masa lalu, ketika daerah operasi militer (DOM) diterapkan di Aceh (1989-1998). Berapa banyak perempuan Aceh saat itu diperkosa dan dibunuh di Rumuh Gedong oleh oknum militer yang tidak bertanggung jawab? Sadisme seksualitas yang dilakukan oleh pelaku terhadap korban merupakan tindakan kebiadaban dan amoral. Hal ini disebabkan karena budaya dominasi laki-laki terhadap perempuan sangat kental. Para pelaku sadisme seksualitas ini memanfaatkan sifat superiornya terhadap inferioritas kaum perempuan. Di sisi lain, perempuan dihadirkan Tuhan untuk menjadi patner bagi lelaki. Dengannya, lelaki diharapkan untuk melakukan dialog dalam mengembangkan keturunannya. Dalam konteks Aceh tersebut, wacana feminisme tampaknya perlu dikaji dan dianalisis lebih mendalam. Sebab, nilai historis dari sisi feminisitas sangat kental di Nanggro Aceh Darussalam. Wallahu A’lam. (*). Zahrul Fadhi Johan Alumnus Ma’had Al-Furqan Bambi, Kabupaten Pidie Aceh. Kini tengah menempuh studi di Pascasarjana Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Email : fadie_aceh@yahoo.com. Tulisan ini telah di muat dan diterbitkan di: http://www.santrinews.com/Budaya/Esai/604/-Aceh-Antara-Feminisme-dan-Sadisme-Seksual Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
  • 6. Analisis Sejarah Perkembangan Feminisme di Indonesiadalam Kacamata Teori Habitus Pierre BourdieuFuaziatul Husna Pendahulua Feminisme adalah suatu bentuk gerakan kaum perempuan untuk memperolah persamaanderajat dengan dan kebebasan dari penindasan lelaki dan aturan-aturan yang mereka buat. Istilahfeminism sendiri pertama kali dipopulerkan oleh Charles Fourier, seorang sosialis Perancis yang banyak mempengaruhi perkembangan gerakan feminisme di seluruh dunia. Dalam perkembangan selanjutnya, pendefinisian istilah feminisme menjadi sulit karena kaum feministidak ingin memberikan defenisi yang pasti dan seragam dengan berbagai alasan. Maggie Humm(1989), menyatakan bahwa pendefinisian yang terlalu precise akan cenderung menyesatkankarena proses pemaknaan merupakan usaha untuk memperluas dan bukannya mempersempita l t e r n a t i f l i n g u i s t i k ( T h o m p s o n , 2 0 0 1 ) . M e n u r u t T h o m p s o n , f e m i n i s m m e r u p a k a n g e r a k a n konstruksi sosial dan bukannya gerakan persamaan gender karena permasalahan yang diusung oleh feminism mengacu pada penataan sosial dan bukan biologis.Gerakan feminisme yang pertama kali muncul di Eropa dari abad ke -17 pada awalnyam e r u p a k a n b e n t u k protes dari kaum perempuan terhadap gereja. Pada masa itu, g e r e j a merupakan institusi tertinggi yang menguasai hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Padadasarnya kekuasaan gereja yang terlalu besar dan aturan-aturannya yang bersifat mutlak memangdianggap sewenang-wenang dan menyusahkan masyarakat pada umumnya. Akan tetpai, kaum perempuan sebagai kelompok minoritas bahkan menerima perlakuan yang lebih tidak menyenangkan lagi karena mereka dianggap sebagai makhluk golongan kedua setelah lelaki.Salah satu tokoh feminis yang paling awal adalah seorang wanita bangsawan Perancis bernama Simone de Beauvoir yang menyuarakan aspirasinya melalui karya sastra.Para peneliti dan penulis dalam kajian feminism memiliki versi masing-masing dalam hal pembagian gerakan feminism dalam gelombanggelombang yang runut. Dalam makalah ini,setelah sedikit perkenalan mengenai kemunculan awal feminism di atas, penulis akan langsungmembahas mengenai gerakan feminism modern yang dimulai pada tahun 1960 dan dipelopor ioleh kaum perempuan intelektual di Amerika Serikat. Pada gerakan feminism modern tersebut kaum perempuan memperjuangkan hak-hak sipil perempuan dalam masyarakat, pendidikan dan juga politik. Tokoh-tokoh yang paling popular pada saat itu diantaranya Virginia Woolf danCharlotte Perkins. Selanjutnya pada tahun 1970 -an, masih di Amerika Serikat, muncul suatugerakan feminism yang kemudian dikenal sebagai feminism radikal karena memiliki landasant e o r i d a n t u j u a n s e n d i r i ya n g t i d a k b e r d a s a r k a n t e o r i M a r x i s . P a r a a k t i f i s f e m i n i s m r a d i k a l memperjuangkan pengembangan epistemology yang berperspektif feminis, sehingga kajian women’s studies dapat diterima oleh kalangan akademisi lain (Lubis, 2012).Hingga saat ini, feminisme masih tetap berkembang untuk menyesuaikan di ri dengan perubahan zaman yang secara otomatis juga mempengaruhi pikiran dan harapan-harapan perempuan sebagai objek yang diperjuangkan oleh kaum feminis. Proses perkembangan yangmelibatkan penyesuaian dengan
  • 7. perubahan zaman yang berarti penyesuaian dengan masalah danfenomena yang ada inilah yang nantinya berkaitan dengan teori Habitus yang dikemukakan olehPierre Bourdieu. Dalam makalah ini, pembahasan akan difokuskan pada bagaimana perubahanmisi gerakan feminisme dalam setiap periode waktu tertentu dipenga ruhi secara langsung olehtantangan yang diterima kaum perempuan dari lingkungan sekitarnya.Feminisme di Indonesia; Dulu hingga SekarangTelah menjadi pengetahuan umum bahwa gerakan feminism pertama di Indonesia adalah perjuangan R.A. Kartini agar kaum perempuan diberikan hak untuk menempuh pendidikanseperti halnya kaum lelaki. Banyak kalangan yang mengkritisi peran Kartini dalam pergerakanfeminism nyata karena memang dalam sejarah diceritakan bahwa sebagian besar ide-ide besar K a r t i n i u n t u k m e n g a n g k a t d e r a j a t p e r e m p u a n d i I n d o n e s i a h a n ya t e r t u a n g d a l a m t u l i s a n - tulisannya untuk temannya di Belanda, sedangkan tindakan nyata yang sempat dilakukan Kartinihanyalah membuat sekolah kecil khusus perempuan. Peran tersebut dianggap terlalu kecil untuk dianggap sebagai pelopor gerakan feminism di Indonesia.Akan tetapi, kobaran semangat Kartini yang begitu kuat untuk menuntut persamaan hak antara perempuan dan laki-laki tidak dapat dipungkiri merupakan sesuatu yang pada masa itumemang belum dimiliki perempuan lain manapun di negeri ini. Oleh karena itu, gelasr pelopor gerakan feminism memang sepantasnya disandang Kartini, setidaknya ia mengawali pemikiran akan suatu kondisi sosial masyarakat dimana manusia tidak lagi dipandang berdasarkan gender dan diperlakukan dengan lebih buruk hanya karena mereka terlahir sebagai perempuan.F a k t a n y a , p a d a p e r k e m b a n g a n s e l a n j u t n y a d i a k h i r masa penjajahan Belanda diIndonesia, para tokoh pergerakan p e r e m p u a n y a n g m e n c e t u s k a n d i a d a k a n n y a k o n g r e s perempuan menjadikan Kartini dan pemikiran-pemikirannya sebagai landasan semangat juangmereka. Bahkan hingga saat ini, hari Kartini diperingati dengan semangat bahwa perempuanharus mampu mandiri dan bersaing dengan kaum laki -laki dalam setiap aspek kehidupan. Jadi,t i d a k d a p a t d i p u n g k i r i b a h w a t e r l e p a s d a r i s e g a l a k o n t r o v e r s i d a n p e n o l a k a n y a n g memojokkannya, Kartini secara de facto merupakan pencetus dan penggagas pertama semangatemansipasi perempuan di Indonesia.J i k a d i b a n d i n g k a n d e n g a n g e r a k a n f e m i n i s m d i n e g a r a - n e g a r a l a i n s e p e r t i A m e r i k a Serikat dan Inggris, gerakan feminism di Indonesia bisa dibilang berjalan dengan lambat dantenang. Apabila di Negara -negara tersebut tercatat adanya peristiwa besar dimana perempuan melakukan demonstrasi menuntut persamaan hak dengan laki-laki, maka di Indonesia kita tidak pernah maelihat hal-hal seperti demikian bahkan hingga saat ini. Salah satu penyebabnya adalahf a k t a b a h w a d i I n d o n e s i a yang budayanya sangat dipengaruhi oleh ajaran agama I s l a m , perempuan cenderung diperlakukan dengan lebih baik dibanding di Negara-negara lain dimanakaidah-kaidah sosial hanya diatur dan dikuasai oleh kaum laki-laki yang tentunya tidak mewakiliaspirasi kaum perempuan sama sekali.Selain itu, perbedaan tingkat pendidikan merupakan sebab lain kenapa gerakan feminismdi Indonesia tidak sedinamis di Negara lain. Seperti diketahui, gelombang perlawanan kaum feminis di Amerika Serikat terjadi
  • 8. pada tahun 1960-an hingga 1970-an, saat dimana perempuanmulai meneruskan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Di Indonesia, pendidikan hingga ke perguruan tinggi belum begitu terlaksana hingga baru-baru ini, sehingga dapat dipahamimengapa perjuangan mereka cenderung terlihat lebih lambat dan tak tampak dibanding gerakanfeminis di Negara lain.Dewasa ini, perubahan kecenderungan gerakan feminism yang paling terlihat adalahm e n i n g k a t n ya u s a h a - u s a h a ya n g d i l a k u k a n f e m i n i s s e c a r a i n d i v i d u a l . Jika dulu feminismdiperjuangkan dengan membentuk kelompok -kelompok b e s a r ya n g a k a n b e r g e r a k b e r s a m a dalam mencapai misi feminis tertentu, saat ini banyak tokoh feminis yang berjuang sendiri dalam bidang masing-masing. Contoh yang mungkin paling populer adalah aktifis perempuan yangmemperjuangkan nilai-nilai feminism melalui buku-buku yang ditulisnya. Dengan cara ini, pesanyang ingin disampaikan pada masyarakat t entang konsep feminism akan sampai dengan baik tanpa membuat kehebohan atau konflik nyata dalam masyarakat.Teori Habitus Pierre BourdieuPierre Bourdieu adalah seorang tokoh post-modern Perancis yang aktif pada 1950 hingga1960an. Dalam kurun waktu tersebut ia menghasilkan beberapa teori penting yang hingga saatini masih diterapkan dan tidak dapat dipisahkan darinya. Dikenal sebagai seorang sosiolog,sebagian besar teori Bourdieu berakar dari ketertarikan dan pengamatan yang dalam terhadap kehidupan sosial manusia. Bourdieu mendefinisikan kehidupan sosial sebagai interaksi struktur ,kecenderungan, dan tindakan saling mempengaruhi antar manusia dalam melaksanakan praktik s o s i a l m a s i n g - m a s i n g . Praktik sosial itu sendiri merupakan hasil proses improvisasi y a n g distrukturkan oleh orientasi budaya, sejarah perorangan, dan kemampuan untuk berperan dalaminteraksi sosial.Salah satu teori Bourdieu yang paling dikenal adalah teori habitus. Secara umum habitusmerupakan sistem yang terdiri dari kecenderungan tetap yang berlangsung di dalam diri pelakus e p a n j a n g h i d u p n ya . Y a n g d a p a t m e n d o r o n g p r a k t i k d i b e r b a g a i a r e n a ya n g b e r b e d a ya n g berfungsi sebagai pembentuk praktik yang terstruktur dan yang secara objektif disatukan.H a b i t u s m e n c a k u p p e n g e t a h u a n d a n p e m a h a m a n t e n t a n g d u n i a ya n g m e m b u a t kontribusi terpisah pada realitas dunia.Pengetahuan seseorang memiliki kekuatan pembentuk yang asli (genuine), dan bukansemata-mata refleksi dunia “nyata’Karena perkembangannya, habitus tidak pernah tetap, baik bagi individu maupun bagi generasi ke generasi. Karena arena berubah-ubah, maka habitusnya pun berubah.Terkait pelaku atau agency yang berperan dalam habitus, ada dua macam kendala bagi pelaku (agency),: yakni habitus dari pelaku yang memasyarakatkannya, dan perubahan yang relatif cepat dan kondisi objektif lingkungan sosial dan material tidak akan sama bagi generasike generasi.Menurut Bourdieu, segala sesuatu tidak pernah mapan dan terus menerus dihadapkan pada hal yang baru, dan kedua, perubahan itu dapat dipolakan karena terdapat hambatan yangmenghadang pelaku.Sejarah Perkembangan Feminisme di Indonesia dalam Kacamata Teori Habitus Pierre BourdieuS e j a r a h p e r k e m b a n g a n f e m i n i s m d i I n d o n e s i a s e c a r a g a r i s b e s a r d a p a t d i b e d a k a n menjadi:- M a s a c o l o n i a l Pada zaman penjajahan, gerakan feminism di Indonesia m a s i h b e l u m m e n u n j u k k a n peningkatan yang signifikan karena terbatasnya ruang gerak yang dimiliki perempuan.Saat itu perempuan lebih fokus pada membantu dan
  • 9. mendorong perjuangan kaum laki-laki dalam merebut kemerdekaan dengan menjadi istri yang baik dan supportif. Dalams e j a r a h t e r c a t a t b a h w a b a r u l a h p a d a a w a l a b a d k e X X p e r e m p u a n m e m b e n t u k s u a t u perkumpulan resmi yang pada awalnya terdiri dari istri para pemuka-pemuka politik dangolongan pribumi terpandang saat itu.Perkumpulan ini akhirnya melahirkan suatu bentuk kongres perempuan yang diadakan pada tahun 1928 di Yogyakarta. Pada akhir kongres tersebut dibentuk lah suatu perkumpulan resmi yang disebut Gerakan Istri Sedar yang misi utamanya adalahm e n d o r o n g k a u m p e r e m p u a n u n t u k b e r a n i m e n o l a k p o l i g a m i . D a l a m p e r k e m b a n g a n selanjutnya perkumpulan ini berganti nama menjadi Gerakan Wanita Sosialis (Gernis)d a n G e r a k a n W a n i t a I n d o n e s i a ( G e r w a n i ) . A k a n t e t a p i , perubahan nama dan jargontersebut tidak merubah misi utama feminis saat i t u , ya i t u n ya m e n o l a k k e r a s p r a k t i k poligami yang dianggap merugikan pihak perempuan dari semua segi, baik mentalmaupun material.- M a s a O r d e l a m a