Loading…

Flash Player 9 (or above) is needed to view presentations.
We have detected that you do not have it on your computer. To install it, go here.

Like this document? Why not share!

Analisis pengalaman pengalaman yang tercermin dalam puisi angkatan balai pustaka - angkatan 70

on

  • 7,900 views

SKRIPSI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

SKRIPSI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

Statistics

Views

Total Views
7,900
Views on SlideShare
7,897
Embed Views
3

Actions

Likes
0
Downloads
55
Comments
0

2 Embeds 3

http://www.slashdocs.com 2
https://twitter.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Analisis pengalaman pengalaman yang tercermin dalam puisi angkatan balai pustaka - angkatan 70 Analisis pengalaman pengalaman yang tercermin dalam puisi angkatan balai pustaka - angkatan 70 Document Transcript

  • ANALISIS PENGALAMAN-PENGALAMAN YANG TECERMIN DALAM PUISI ANGKATAN BALAI PUSTAKA – ANGKATAN 70 SEBAGAI UPAYA PEMILIHAN BAHAN PEMBELAJARAN APRESIASI PUISI DI SMA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat dalam Menempuh Ujian Sarjana Pendidikan Oleh Henda Suhenda 0721016887PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) SEBELAS APRIL SUMEDANG 2011
  • PERSEMBAHAN LEMBAR PERSEMBAHAN“ Jadilah seperti mutiara,walau di dalam lumpur sekalipunIa tetap mutiara, berharga dan mahal harganya...........” Dengan segala ketulusan hati kupersembahkan skripsi ini untuk : ibu dan bapak tercinta dan R I, Kalian inspirator dan motivator terbesar dalam hidupku
  • KATA PENGANTAR Puji dan syukur seraya penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt. karena ataslimpahan rakhmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan sertapenyusunan skripsi ini dengan tepat waktu. Skripsi yang berjudul, AnalisisPengalaman-pengalaman yang Tercermin dalam Puisi Angkatan Balai Pustaka –Angkatan 70 Sebagai Upaya Pemilihan Bahan Pembelajaran Apresiasi Puisi diSMA disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam menempuh ujian sarjanapendidikan di STKIP Sebelas April Sumedang. Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karenaitu, kritik dan saran yang sifatnya membangun, penulis harapkan untuk perbaikankarya ilmiah pada masa yang akan datang. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mengalami berbagai hambatan danrintangan. Akan tetapi, karena adanya bantuan, dorongan, dan bimbingan dariberbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan sesuai rencana. Olehkarena itu, sudah selayaknya penulis menyampaikan ucapan terima kasih yangtidak terhingga kepada :1. Bapak Prof. Dr. H. Yus Rusyana, selaku Dosen Pembimbing I yang selalu memberi waktu yang leluasa untuk memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini;2. Bapak Dadang Gunadi, Drs., M.Pd. selaku pembimbing II sekaligus sebagai Ketua STKIP Sebelas April Sumedang yang telah membimbing penulis dengan penuh ketulusan, ketekunan, dan ketelitian kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini; i
  • 3. Bapak Asep Saepurokhman, Drs, M.Pd selaku Ketua Program Studi Dikbasasinda STKIP Sebelas April Sumedang yang telah banyak memberikan berbagai kemudahan dan bantuan untuk kelancaran penyusunan skripsi ini;4. seluruh dosen dan karyawan STKIP Sebelas April Sumedang yang telah membekali pengetahuan dan berbagai fasilitas serta pelayanan kepada penulis selama menempuh pendidikan;5. ibu dan bapak yang telah banyak memberikan kasih sayang, dukungan, doa dan segala pengorbanan yang tidak terhingga kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan;6. saudaraku Rudi dan Hendi yang telah banyak memberikan motivasi, kasih sayang dan pengorbanan yang besar kepada penulis;7. sahabat setiaku Rony (Ony), Andrew, Daniel, Yandri, Nisa, Tedi (Adriel), Dewi, yang telah banyak memberikan inspirasi, dukungan, doa, perhatian, dan bantuan moril dan spirituil;8. rekan-rekan Dikbasasinda 2007 terutama Ibu Dade, Indria, Noer aprilianti, Erni, Trio Euis, Ani, Enjang, Pa Anwar, Yanti, Rudi, Ayu, Rohimat, dan teman-teman lainnya yang telah banyak membantu dan memberi saran;9. Agnes Monica, Britney Spears, Michael Jackson yang telah menjadi inspirasi penulis. Berkat mimpi-mimpi kalian penulis termotivasi untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik selama sekolah, kuliah hingga menyelesaikan skripsi ini;10. semua pihak yang telah membantu penulis selama menempuh pendidikan di STKIP Sebelas April Sumedang. ii
  • Semua amal baik tersebut tidak dapat dinilai harganya, penulis hanyamampu menyerahkan kepada Allah Swt. semoga dicatat sebagai amal baik danmendapat imbalan yang berlipat. Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi iniberguna bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.Sumedang, Juli 2011 Penulis iii
  • DAFTAR ISI HalamanKATA PENGANTAR ............................................................................... iDAFTAR ISI.................. ............................................................................ ivDAFTAR TABEL...... ............................................................................... viDAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. viiBAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah .................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................. 5 1.3 Batasan Masalah................................................................ 6 1.4 Tujuan Penelitian .............................................................. 6 1.5 Manfaat Penelitian ............................................................ 7 1.6 Anggapan Dasar ................................................................ 7 1.7 Definisi Operasional.......................................................... 8BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hakikat Puisi ..................................................................... 10 2.1.1 Pengertian Puisi ........................................................ 10 2.1.2 Jenis-jenis Puisi ........................................................ 11 2.1.3 Unsur-unsur Pembentuk Puisi .................................. 16 2.2 Pendekatan dan Angkatan Sastra ....................................... 21 2.2.1 Hakikat Pendekatan Sastra ....................................... 21 2.2.2 Angkatan Sastra ........................................................ 24 2.3 Hakikat Pendekatan Mimesis ............................................. 27 2.3.1 Pengertian Pendekatan Mimesis ............................... 27 2.3.2 Aspek Pengalaman dalam Pendekatan Mimesis ...... 30 2.4 Bahan Pembelajaran Sastra ................................................ 33 2.4.1 Pengertian Bahan Pembelajaran Sastra .................... 33 2.4.2 Kriteria Pemilihan Bahan Pembelajaran Sastra ........ 34 2.4.3 Kedudukan Pembelajaran Apresiasi Sastra dalam KTSP SMA ............................................................. 35BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian ............................................................... 37 3.2 Teknik Penelitian................................................................ 37 3.2.1 Teknik Pengumpulan Data ....................................... 38 3.2.2 Teknik Analisis Data ................................................ 38 3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ......................................... 39 3.3.1 Populasi Penelitian ................................................... 39 3.3.2 Sampel Penelitian ..................................................... 40 3.4 Instrumen Penelitian .......................................................... 41 3.4.1 Instrumen Pengumpulan Data .................................. 41 3.4.2 Instrumen Analisis Data ........................................... 43 iv
  • BAB IV ANALISIS PENGALAMAN-PENGALAMAN YANG TERCERMIN DALAM PUISI ANGKATAN BALAI PUSTAKA – ANGKATAN 70 4.1 Data Penelitian .................................................................. 45 4.2 Analisis Data...................................................................... 47 4.2.1 Analisis Puisi Tanah Air ......................................... 47 4.2.2 Analisis Puisi Indonesia Tumpah Darahku ............ 49 4.2.3 Analisis Puisi Berdiri Aku ...................................... 51 4.2.4 Analisis Puisi Padamu Jua ..................................... 53 4.2.5 Analisis Puisi Kolam .............................................. 55 4.2.6 Analisis Puisi Menuju ke Laut ................................ 57 4.2.7 Analisis Puisi Dibawa Gelombang ......................... 58 4.2.8 Analisis Puisi Kerabat Kita .................................... 60 4.2.9 Analisis Puisi Derai-derai Cemara ........................ 63 4.2.10 Analisis Puisi Karawang – Bekasi ......................... 65 4.2.11 Analisis Puisi Do’a ................................................. 67 4.2.12 Analisis Puisi Sajak Anak Laut ............................... 69 4.2.13 Analisis Puisi Gadis Peminta-minta ....................... 71 4.2.14 Analisis Puisi Biar Mati Badanku Kini .................. 73 4.2.15 Analisis Puisi Kepada Saudaraku M.Natsir ........... 74 4.2.16 Analisis Puisi Makna Sebuah Titipan ..................... 75 4.2.17 Analisis Puisi Sebuah Jaket Berlumur Darah ........ 77 4.2.18 Analisis Puisi Di Sebuah Halte Bis ........................ 79 4.2.19 Analisis Puisi Dewa Telah Mati ............................. 81 4.2.10 Analisis Puisi Jembatan.......................................... 82 4.3 Pembahasan Hasil Analisis ............................................... 84 4.4 Analisis Kesesuaian Pemilihan Bahan Pembelajaran ........ 87BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan............................................................................. 90 5.2 Saran ................................................................................... 91DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 93LAMPIRAN-LAMPIRAN ....................................................................... 95RIWAYAT HIDUP...... ............................................................................. 99 v
  • DAFTAR TABEL HalamanTABEL 3.1 Sampel Penelitian ................................................................ 41TABEL 4.1 Data Penelitian..................................................................... 46 vi
  • DAFTAR LAMPIRAN HalamanLAMPIRAN 1 Surat Keputusan Ketua STKIP Sebelas April Sumedang tentang Penulisan Skripsi ...................................................... 95LAMPIRAN 2 Berita Acara Bimbingan Skripsi Pembimbing 1 ................... 97LAMPIRAN 3 Berita Acara Bimbingan Skripsi Pembimbing 2 ................... 98 vii
  • BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu dari tujuan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia adalahsiswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkankepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuandan kemampuan berbahasa. Tujuan pembelajaran sastra berbeda dengan tujuanbahasa. Pembelajaran sastra dimaksud untuk meningkatkan kemampuan siswadalam mengapresiasi berbagai ragam karya sastra. Selain itu, tujuan pembelajaransastra adalah agar siswa memperoleh pengalaman, dan pengetahuan tentangsastra. Sastra merupakan cerminan nilai-nilai kehidupan yang terdapat dalammasyarakat. Karya sastra berisi pesan, ide, dan pengalaman kehidupan pengarangyang kemudian dikemas dengan imajinasi dan khayalan yang dapat dinikmati olehpembaca atau penikmat sastra. Menurut Lukens (2003:9) “Sastra menawarkan duahal utama, yaitu kesenangan dan pemahaman”. Artinya, sastra hadir sebagaihiburan yang bisa membuat pembaca atau penikmatnya senang dan gembira.Selanjutnya, Ampera (2010:9) mengungkapkan bahwa, “Gambaran kehidupanyang ada dalam sastra dapat memberikan pemahaman kepada pembaca tentangberbagai persoalan hidup”. Melalui sastra, siswa dapat memperoleh, mempelajari,dan menanggapi berbagai persoalan hidup dan kehidupan. Melalui sastra pula,siswa akan mendapatkan pengalaman cara mengatasi berbagai persoalan yangada. 1
  • Berdasar pada uraian di atas, dapat dikatakan bahwa pembelajaran sastratidak hanya untuk memberikan pengalaman kepada siswa tentang sastra dan karyasastra, tetapi juga agar siswa mendapat gambaran nilai-nilai dan pengalamankehidupan yang belum pernah dirasakannya. Selain itu, Rusyana (1984:306)mengungkapkan bahwa, “Sastra dapat ikut menunjang perkembangan bahasa atauhal-hal lain di luarnya apabila sastra itu kuat dan berkembang”. Artinya, sastrajuga berperan dalam kemajuan bahasa Indonesia dan juga dapat menjagakelestarian bahasa Indonesia. Dikatakan demikian, karena bahasa merupakanmedium terciptanya karya sastra. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Pradopo(2003:107) bahwa, “Karya sastra adalah sebuah karya yang bermedium bahasa”.Dengan demikian, dapat terlihat bahwa dicantumkannya pembelajaran sastradalam kurikulum pendidikan di Indonesia merupakan hal yang sangat penting.Dikatakan penting, karena tidak hanya menyangkut pendidikan nilai kehidupansiswa tetapi juga bagi kelangsungan kehidupan berbahasa Indonesia. Oleh karenaitu, pembelajaran sastra harus bersifat apresiatif dan ditekankan pada kenyataanbahwa sastra merupakan salah satu bentuk seni yang dapat diapresiasi. Salah satu genre sastra yang menjadi pembelajaran sastra adalah puisi.Pradopo (2007:7) mengungkapkan bahwa, “Puisi itu merupakan rekaman daninterpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang palingberkesan”. Dari pendapat tersebut dapat dikatakan, bahwa puisi merupakanpengalaman-pengalaman pengarang yang kemudian dibentuk dengan imajinasisehingga menjadi sebuah karya sastra yang memiliki pesan dan kesan untukdinikmati oleh pembaca atau penikmatnya. 2
  • Menyadari pentingnya pembelajaran sastra, termasuk puisi di dalamnyamaka guru perlu untuk menyajikan bahan pembelajaran yang menarik, tepat danapresiatif. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak hanya mengerti tentang teorisastra tetapi siswa juga harus mampu mengapresiasi karya sastra dengan baik. Halitulah yang sebenarnya menjadi tujuan utama dicantumkannya pembelajaransastra dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pembelajaranapresiasi puisi sebagai salah satu dari aspek pembelajaran sastra menuntut guruagar dapat memilih, menentukan, dan memberikan materi ajar yang tepat agarmembuat siswa beroleh pengalaman dan juga mengetahui pengalaman apa yangterkandung dalam puisi yang disajikan. Seperti yang disampaikan oleh Rusyana(1984:322), “Dalam mengapresiasi sastra, seseorang mengalami dari hasil sastraitu pengalaman yang telah disusun oleh pengarangnya”. Dengan demikian, terlihatbahwa pengalaman yang terdapat dalam puisi bisa disajikan sebaga bahan ajaryang tepat agar siswa dapat mengapresiasi karya sastra, khususnya puisi. Pengalaman yang dimaksud dalam uraian di atas merupakan pengalamanpengarang yang terkandung dalam sebuah puisi yang dikarangnya. Adapun yangdimaksud dengan pengalaman adalah “Yang pernah dialami (dijalani, dirasai,ditanggung, dsb)” (Depdiknas, 2004:456). Aspek pengalaman dalam karya sastradibahas dalam pendekatan mimesis. Menurut Abrams (1976:8) “Pendekatanmimesis merupakan pendekatan estetis yang paling primitif”. Dasar pertimbanganpendekatan mimesis adalah dunia pengalaman, yaitu “Karya sastra itu sendiriyang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagaipeniruan kenyataan” (Abrams, 1958:8). Kenyataan yang dimaksud dipakai dalamarti yang seluas-luasnya, yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan 3
  • yang diacu oleh karya sastra, seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dandiraba, bentuk-bentuk kemasyarakatan, perasaan, pikiran, dan sebagainya. Melaluipandangan ini, secara hierarkis karya sastra berada di bawah kenyataan. Berbicara mengenai pendekatan sastra, maka ada kaitannya dengan kritiksastra. Rusyana mengungkapkan bahwa, “Sebagai guru sastra yang baik, kitaharus berinisiatif memilih bahan sendiri”. Lebih lanjut lagi beliau mengatakanbahwa, “Hal itu hanya mungkin kita lakukan apabila kita mengikutiperkembangan kesusastraan, dan kita mempunyai kemampuan mengadakan kritiksastra”. Oleh karena itu, guru harus mampu untuk memahami ilmu sastra sertakritik sastra, dan perkembangan sastra. Perkembangan sastra merupakan suatu halyang berhubungan dengan periodisasi sastra. Wellek (1968:265) menjelaskanbahwa, “Periodisasi sastra yaitu sebuah bagian waktu yang dikuasai oleh sesuatusistem norma-norma sastra, standar-standar, dan konvensi-konvensi sastra yangkemunculannya, penyebarannya, keberagamannya, integrasi, dan kelenyapannyadapat diruntut”. Angkatani sastra Indonesia dimulai dari Angkatan Balai Pustaka.Puisi yang ditulis pada angkatan sastra Balai Pustaka dan setelahnya merupakanpuisi yang sarat dengan pengalaman. Dikatakan demikian, karena pada saat ituIndonesia sedang mengalami pasang surut dalam hal kepemerintahan,kebudayaan, dan juga kedaulatannya, sehingga sastra yang dihasilkannya jugamemiliki perbedaan dengan sastra yang dibuat pada masa sekarang. Selain itu,puisi-puisi yang terdapat dalam buku pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesiadidominasi oleh puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka - Angkatan 70. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitianterhadap pengalaman-pengalaman yang terdapat dalam puisi Angkatan Balai 4
  • Pustaka, Pujangga Baru, 45, dan 70 sebagai bahan kajian utama penelitian.Penulis menuangkan penelitian ini dalam bentuk skripsi dengan judul, “AnalisisPengalaman-pengalaman yang Tercermin dalam Puisi Angkatan Balai Pustaka –Angkatan 70 Sebagai Upaya Pemilihan Bahan Pembelajaran Apresiasi Puisi diSMA”.1.2 Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian adalah suatu topik untuk dipecahkan atau dicaripenyelesaiannya. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskanmasalah peneilitian ini sebagai berikut.1. Apakah terdapat pengalaman-pengalaman dalam puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70?2. Pengalaman-pengalaman apa sajakah yang tercermin dalam puisi Angkatan Balai Pustaka – 70?3. Apakah pengalaman-pengalaman yang tercermin dalam puisi Angkatan Balai Pustaka - 70 layak dijadikan sebagai bahan pembelajaran apresiasi puisi di SMA?1.3 Batasan Masalah Agar masalah dapat diidentifikasi dengan jelas, penulis melakukanpembatasan masalah. Oleh karena itu, masalah dalam penelitian ini dibatasisebagai berikut. 5
  • 1. Pengalaman yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengalaman yang berkaitan dengan pengalaman kegiatan (jasmani), kehidupan beragama, dan rohani (pikiran, sosial, dan budaya).2. Angkatan sastra yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ngkatan sastra menurut Racmat Joko Pradopo.3. Puisi yang dimaksud dalam penelitian ini dibatasi hanya pada puisi yang telah dibukukan atau didokumentasikan.4. Genre puisi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sajak.1.4 Tujuan Penelitian “Tiap penelitian harus mempunyai tujuan atau tujuan-tujuan yang dicapai”Nasution (1982:24). Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu :1. mendeskripsikan pengalaman-pengalaman yang tercermin dalam puisi angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70;2. mendeskripsikan Pengalaman-pengalaman apa sajakah yang tercermin dalam puisi angkatan Balai Pustaka – 70;3. mendeskripsikan apakah pengalaman-pengalaman yang tercermin dalam puisi Angkatan Balai Pustaka - 70 layak dijadikan sebagai bahan pembelajaran apresiasi puisi di SMA;1.5 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik untukpenulis, guru bahasa dan sastra Indonesia maupun lembaga pendidikan. Adapunmanfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini, yaitu sebagai berikut. 6
  • 1) Guru bahasa dan sastra Indonesia, hasil penelitian ini memberikan informasi bagi guru tentang pengalaman-pengalaman yang tercermin dalam puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70, sehingga dapat dijadikan alternatif pemilihan bahan pebelajaran apresiasi sastra, khususnya puisi.2) Lembaga STKIP, hasil penelitian ini dapat menambah koleksi bahan bacaan di perpustakaan sehingga dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa yang akan melakukan penelitian serupa.3) Penulis dapat mengetahui dan menambah wawasan tentang pengalaman- pengalaman yang tercermin dalam puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70, sekaligus berbagai hal yang berkaitan tentang pendekatan sastra.4) Bagi siswa, hasil penelitian ini dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran apresiasi sastra yang lebih menarik dan apresiatif.1.6 Anggapan Dasar Anggapan dasar adalah suatu titik tolak pemikiran yang kebenarannyaditerima penyelidik itu (Surakhmad, 1994:107). Artinya anggapan dasar bergunasebagai dasar pijakan yang kokoh bagi masalah yang sedang diteliti, untukmempertegas yang menjadi pusat perhatian dan untuk merumuskan hipotesis. Menurut Arikunto (1996:6) dikatakan bahwa tujuan dirumuskannyaanggapan dasar “1) agar ada dasar berpijak yang kukuh bagi masalah yang sedangditeliti, 2) untuk mempertegas variabel yang menjadi pusat perhatiannya, dan 3)guna menentukan dan merumuskan hipotesis”. Berdasarkan pendapat ini makapenulis merumuskan anggapan dasar sebagai berikut. 7
  • 1. Puisi merupakan salah satu karya sastra yang berisi ide, gagasan, dan pengalaman pengarang yang ditulis dengan bahasa yang imajinatif.2. Salah satu pendekatan dalam menganalisis puisi yaitu pendekatan mimesis.3. Pendekatan mimesis merupakan pendekatan yang berdasar pada pengalaman kehidupan nyata4. Pembelajaran sastra memiliki peranan penting dalam mencapai pendidikan susila, sosial, budaya, perasaan, dan keagamaan.5. Puisi yang akan dijadikan bahan pembelajaran sastra sebaiknya dianalisis terlebih dahulu dari pengalaman yang tercermin di dalamnya sehingga dapat dijadikan alternatif bahan pembelajaran sastra.1.7 Definisi Operasional Untuk menghindari kesimpangsiuran dalam memahami istilah-istilah yangdigunakan dalam penelitian ini, penulis mencoba membuat definisi operasional.Adapun istilah-istilah yang digunakan penelitian ini adalah sebagai berikut.1. Pengalaman adalah segala sesuatu yang pernah dirasakan dan dialami seseorang.2. Puisi adalah rangkaian kata-kata imajinatif yang berisi pengalaman, ide, dan pesan pengarangnya.3. Pengalaman jasmani adalah pengalaman seseorang yang melibatkan gerak dan menggunakan panca indera.4. Pengalaman rohani adalah pengalaman seseorang yang melibatkan kemampuan berpikir dan aspek kejiwaan. 8
  • 5. Apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh- sungguh sehingga menimbulkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. 9
  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA2.1 Hakikat Puisi2.1.1 Pengertian Puisi Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra. Istilah puisi dan sajakdalam pemakaiannya sering dikacaukan. Kekacauan penggunaan istilah tersebuttidak hanya dilakukan oleh masyarakat awam. Para guru dan pakar sastra puntidak sedikit yang melakukan kekeliruan tersebut dengan berbagai alasannyamasing-masing. Sudjiman (1984:61) mengungkapkan bahwa, “Puisi itu termasukragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunanlarik dan bait”. Namun, menurut pengamatan penulis, pendapat tersebut masihberlaku untuk beberapa jenis genre karya sastra yang termasuk puisi, seperti:pantun, gurindam, syair, dan soneta. Tetapi tidak berlaku untuk sajak, mengingatsejak kehadiran karya-karya Chairil Anwar genre sajak telah mengalamiperubahan. Waluyo (1991:25) menyatakan bahwa, “Puisi adalah bentuk karya sastrayang mengungkapkan pikiran dan perasaan secara imajinatif dan disusun denganmengkosentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya”. Artinya, puisi adalahungkapan pikiran dan perasaan yang berdasarkan pengalaman jiwa yang bersifatimajinatif dengan menggunakan kata konkret dan bahasa figuratif. Berdasarkanpendapat tersebut, dapat dikatakan bahwa istilah puisi dalam pemakaiannya seringdikacaukan dengan istilah sajak. Puisi dapat diartikan sebagai ragam sastra yangbahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait,sedangkan sajak adalah persamaan bunyi atau rima terutama pada akhir baris. 10
  • Sedangkan Altenbernd (1970:2) menyatakan bahwa, “Puisi adalahpendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasaberirama (bermetrum) ( as the interpretive dramatization of experience in metricallanguage)”. Maksud pengertian tersebut adalah bahwa pendramaan yangdimaksud adalah penyair mengubah atau menceritakan pengalaman melalui puisidengan bahasa yang terstruktur. Pengalaman itu dapat berupa pengalamanmenyedihkan, menyenangkan, dan mengharukan. Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwapuisi adalah ekspresi pengalaman yang ditulis secara sistematik dengan bahasayang puitis. Kata puitis sudah mengandung keindahan yang khusus untuk puisi.Di samping itu puisi dapat membangkitkan perasaan yang menarik perhatian,menimbulkan tanggapan yang jelas atau secara umum menimbulkan keharuan.2.1.2 Jenis-jenis Puisi Berdasarkan isinya puisi dapat dibagi menjadi tiga, yaitu (1) Puisi epikdisebut juga puisi naratif (Cohen, 1973:184-185). Bentuk puisi ini agak panjangdan berisi cerita kepahlawanan, tokoh kebangsaan, masalah surga, neraka, tuhan,dan kematian. Selain itu, puisi epik tersebut dapat dikatakan bahwa penyairmenceritakan hal-hal diluar dirinya. Dari pengertian tersebut dikatakan bahwadalam puisi epik penyair menceritakan hal yang tidak pernah dan belum dialami. Adapun yang termasuk puisi epik dalam sastra Indonesia antara lain syairdan balada. (2) Puisi lirik merupakan puisi yang bersifat subjektif, personal.Artinya penyair menceritakan masalah-masalah yang bersumber dari dalamdirinya. Puisi ini bentuknya agak pendek dan biasanya menggunakan kata ganti 11
  • orang pertama. Isinya tentang cinta, kematian, masalah muda dan tua. Adapunyang termasuk puisi lirik antara lain sonata, eligi, ode, dan himne. Puisi lirikbanyak dijumpai dalam karya-karya Amir Hamzah, misalnya sebagai berikut.TURUN KEMBALIKalau aku dalam engkauDan engkau dalam akuAdakah begini jadinyaAku hamba engkau penghuluAku dan engkau berlainanEngkau raja, maha rajaCaha halus tinggi mengawangPohon rindang menaun duniaDi bawa teduh engkau kembangkanAku berhenti memati hariPada bayang engkau mainkanAku melipur meriang hatiDiterangi cahaya engkau sinarkanAku menaiki tangga mengawanKecapi firduisi melana telingaMenyentuh gamnbuh dalam hatikuTerlihat ke bawahKandil kemerlapMelambai cempaka ramai tertawa 12
  • Hati duniawi melambung tinggiBerpaling aku turun kembali(Hamzah, 1985 a:24) (3) Puisi dramatik. Puisi ini bersifat objektif dan subjektif. Dalam hal iniseolah-olah penyair keluar dari dirinya dan berbiccara melalui tokoh lain. Dengankata lain, dalam puisi ini penyair tidak menyampaikan secara langsungpengalaman yang ingin diungkapkan tetapi disampaikan melalui tokoh lainsehingga tampaknya seperti sebuah dialog. Menurut Rollof (1973:65) “Unsuryang menonjol dalam puisi dramatik adalah kemampuan memberi sugesti”. BagiDoreksi (1988:147) “Puisi dramatik merupakan drama dalam sajak, dihilangkanuntuk dibaca bukan untuk dipentaskan”. Adapun contoh puisi dramatik dapatdilihat pada puisi Taufik Ismail berikut ini.SEORANG TUKANG RAMBUTAN KEPADA ISTRINYA“Tadi siang ada yang mati,Dan yang mengantar banyak seklaliYa. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolahYang dulu berteriak dua ratus, dua ratus!ampai bensi juga turun harganyaSampai kita bias naik bis pasar yang murah pula.Mereka kehausan dalam panas bukan mainTerbakar mukanya di atas trukterbukaSaya lemparkat sepuluh ikat rambutan kita BuBiarlah sepuluh ikat hugaMemang sudah rejeki mereka 13
  • Mereka berteriak kegirangan dan berebutanSeperti anak-anak kecilDan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya“Hidup tukang rambutan ! hidup tukang rambutanDan ada yang turun dari truk, buMengejar dan menyalami saya“Hidup rakyat!” teriaknyaSaya dipanggul dan diarak-arak sebentar“Hidup pak rambutan!” sorak mereka“Terima kasih pak, terima kasih!“Bapak setuju kami bukan ?”Saya menganguk-angguk. Tak bias bicara“Doakan perjuangan kami pak!”Mereka naik truk kembaliMasih meneriakkan terima kasihnya“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!Saya tersedu belum pernah seumur hidupOrang berterima kasih begitu jujurnyaPada orang kecilnya seperti kita”(dalam Jassin, 1968:151) Menurut Suharianto (1981:29), berdasarkan kata-kata dalam pembentukanpuisi, puisi dibagi menjadi dua yaitu puisi prismatis dan puisi diaphan. Untuklebih jelasnya, penulis paparkan kedua jenis puisi tersebut sebagai berikut. 14
  • 1. Puisi Prismatis Puisi prismatis adalah puisi-puisi yang menggunakan kata-kata sebagailambang-lambang atau kiasan. Dalam puisi ini pengarang menggunakan kata-katayang sulit dipahami bagi yang benar-benar belum menguasai teori puisi. Misalnyaketika penyair menggambarkan suatu keadaan, dia menggunakan simboltersendiri, sehingga ketika pembaca ingin memahaminya harus benar-benarmencermati dan merasakan.Contoh:DEWA TELAH MATITak ada dewa di rawa-rawa iniHanya gagak yang mengakak malam hariTak siang terbang mengitari bangkaiPertapa yang terbunuh dekat kuilDewa telah mati di tepi-tepi iniHanya ular yang mendesir dekat sumberLalu minum dari mulutPelacur yang tersenyum dengan baying sendiriBumi ini perempuan jalangYang menarik laki-laki jantan dan pertapaKe rawa-rawa mesum iniDan membunuhnya pagi hari.(SIMPHONI, hal 9) Dalam puisi tersebut lambang-lambang yang digunakan penyairmenunjuk kepada pengertian yang tidak sebenarnya. Untuk memahami maksud 15
  • puisi tersebut kita perlu menafsirkan kata-kata yang dipasang penyair tersebutmenghubung-hubungkan dengan hal-hal di luar puisi itu sendiri karena penyairjuga menggunakan kata-katanya sebagai perbandingan-perbandingan.2. Puisi Diaphan Puisi diaphan adalah puisi yang kata-katanya sangat terbuka, tidakmengandung pelambang-pelambang atau kiasan-kiasan. Dalam puisi diaphanpengarang menggunakan bahasa yang mudah dipahami atau dapat dikatakanbahwa kata yang digunakan adalah kata-kata yang biasa digunakan dalamkehidupan sehari-hari.Contoh:KITA ADALAH PEMILIK SYAH REPUBLIK INITidak ada pilihan lain, kita harusBerjalan terusKarena berhenta ayau mundurBerarti hancurApakah akan kita jual keyakinan kitaDalam pengabdian tanpa hargaAkan maukah kita duduk dalam satu mejaDengan para pembunuh tahun yangn laluDalam setiap kalimat yang berakhiranDuli Tuanku?Tidak adalagi pilihan lain.Kita harusBerjalan terusKita adalah manusia yang bermata sayu yang ditepi jalaN 16
  • Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh.Kita adalah berpuluh juta yang brtahun hidup sengsaraDipukul banjir, gunung api kutuk dan hamaDan brtanya-tanya diam inikah yang namanya merdekaKita yang tak punya kepentingan dengan seribut sloganDan seribut pengeras suarayang hampa suaraTak ada lagi pilihan lain. Kita harusBerjalan terus(ANGKATAN 66, hal. 165)2.1.3 Unsur-Unsur Pembentuk Puisi Puisi sebagai suatu karya sastra dibangun oleh beberapa unsur penting.Unsur-unsur tersebut yang membuat puisi berbeda dengan karya sastra lainnya.Adapun uraian tentang unsur-unsur pembentuk puisi akan penulis paparkansebagai berikut.1. Diksi Dalam puisi kata-kata sangat besar peranannya. Setiap kata mempunyaifungsi tertentu dalam menyampaikan ide penyairnya. Meyer (1987:457)mengatakan bahwa, “Dalam fungsinya untuk memadatkan suasana, lembut, danbersifat ekonomis. Jadi, kata-kata dalam puisi hendaknya disusun sedemikian rupasehingga dapat menyalurkan pikiran, perasaan penulisnya dengan baik”.Sehubungan dengan hal itu Meyer (1987:457-548) membagi diksi dalam tigatingkat yaitu : 17
  • 1) diksi formal adalah bermartabat, inpersonal dan menggunakan bahasa yang tinggi. 2) diksi pertengahan. Diksi ini agak sedikit tidak formal dan biasanya kata- kata yang digunakan adalah yang dipakai oleh kebanyakan orabng yang berpendidikan. 3) diksi informal mencakup dua bahasa yaitu bahasa sehari-hari yang dalam hal ini termasuk slang, dan dialek yaitu meliputi dialek geografis dan sosial. Diksi dapat berupa denotasi dan konotasi. Denotasi merupakan makna katadalam kamus, makna kata objektif yang pengertiannya menunjuk pada benda yangdiberi nama dengan kata kata itu. Satu sisi Alternberd (1970: 10) mengatakanbahwa, “Kumpulan asosiasi perasaan yang terkumpul dalam sebuah kata yangdiperoleh melalui setting yang dilukiskan disebut konotasi”. Selanjutnya, Meyer(1987:549) mengungkapkan bahwa, “Konotasi adalah bagaimana kata digunakandan asosiasi orang yang timbul dengan kata itu”. Tentu saja makna konotasisangat tergantung pada konteksnya. Makna konotasi dapat diperoleh melaluiasosiasi dan sejarahnya. Menurut Pradopo (2007:54), “Penyair inginmengekspresikan pengalaman jiwanya secara padat dan intens, untuk hal ini iamemilih kata yang setepat-tepatnya yang dapat menjilmakan pengalamanjiwanya”. Berdasar pada uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa pemilihankata dalam menulis puisi dimaksudkan agar pengalaman pengarang dapatdisampaikan dengan baik dalam bentuk rangkaian kata, sehingga pembaca ataupendengar mampu memahami pengalaman, ide atau gagasan pengarang tersebut.2. Pengimajian Pengimajian dapat memberi gambaran yang jelas, menimbulkan suasanayang khusus, membuat hidup (lebih hidup) gambaran dalam pikiran, danpenginderaan untuk menarik perhatian, untuk memberikan kesan mental atau 18
  • bayangan visual, penyair menggunakan gambaran-gambaran angan. Imaji adalahgambaran-gambaran angan, gambaran pikiran, kesan mental atau bayangan visualdan bahasa yang menggambarkannya. Artinya dalam tangan penyair yang baikimaji itu segar dan hidup, berada dalam puncak keindahannya untukmengintensifkan, menjernihkan, dan memperkaya. Citraan menurut Alternberd(1970:35), “Merupakan unsur yang penting dalam puisi karena dayanya untukmenghadirkan gambaran yang konkret, khas, menggugah dan mengesankan”.Citraan juga dapat merangsang imajinasi dan menggugah pikiran dibalik sentuhanindera serta dapat pula sebagai alat interpretasi. Pradopo (2007:81)mengungkapkan bahwa, “Gambaran-gambaran angan itu ada bermacam-macam,dihasilkan oleh indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan, danpenciuman, bahkan juga diciptakan oleh pemikiran dan gerakan”. Berdasar pada uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa citraanmerupakan gambaran angan atau khayalan yang terdapat dalam suatu puisi untukmenunjukan imajinasi pengarang agar puisi yang ditulisnya dapat memberikankesan hidup dan keindahan.3. Kata konkret Kata konkret adalah kata-kata yang digunakan oleh penyair untukmenggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untukmembangkitkan imaji pembaca. Waluyo (1987:45) mengatakan bahwa, “Dengankata yang diperkonkret, pembaca dapat membayangkan secara jelas peristiwa ataukeadaan yang dilukiskan oleh penyair”. Misalnya, penyair melukiskan seoranggadis yang benar-benar pengemis gembel. Penyair menggunakan kata-kata gadiskecil berkaleng kecil. 19
  • 4. Bahasa Figuratif Menurut Waluyo (1987:46) bahasa figuratif adalah majas. Bahasa figuratifmembuat puisi lebih indah, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akanmakna. Kiasan merupakan majas yang mengandung perbandingan yang tersiratsebagai pengganti kata atau ungkapan lain untuk melukiskan kesamaan ataukesejajaran makna. Pradopo (2007:62) menyamakan kiasan dengan bahasafiguratif dan memasukkan metafora salah satu bentuk kiasan. Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa pada umumnya bahasafiguratif dipakai untuk menghidupkan lukisan, untuk mengkonkretkan dan lebihmengekspresikan perasaan yang diungkapkan. Dengan demikian, pemakaianbahasa figuratif menyebabkan konsep-konsep abstrak terasa dekat pada pembacakarena dalam bahasa figuratif oleh penyair diciptakan kekonkretan, kedekatan,keakrabatan dan kesegaran. Menurut Altenbernd (1970:15), bahasa figuratifdigolongkan menjadi beberapa golongan, di antaranya adalah sebagai berikut.a. Simile Simile adalah jenis bahasa figuratif yang menyamakan satu hal dengan hal lain yang sesungguhnya tidak sama. Keraf menyatakan, Simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Perbandingan yang demikian dimaksudkan bahwa ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan yang lainnya. Misalnya dengan menggunakan kata seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana,dan lain-lain. Dari uraian di atas, smile adalah membandingkan atau menyapakan dengan hal lain dengan menggunakan kata kata yang artinya sama. 20
  • b. Metafora Metafora adalah bentuk bahasa figuratif yang memperbandingkan sesuatu hal dengan hal lainnya yang pada dasarya tidak serupa. Jadi, metafora itu membandingkan sesuatu yang tidak sama namun disamakan.c. Personifikasi Personifikasi adalah satu corak metofora yang dapat diartikan sebagai suatu cara penggunaan atau penerapan makna. Jadi antara personifikasi dan metafora keduanya mengandung unsur persamaan.d. Epik Simile Epik Simile atau perumpamaan epos adalah pembandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang yaitu dibentuk dengan cara melanjutkan sifat-sifat, perbandingan lebih lanjut dalam kalimat atau frase-frase yang berturut-turut.e. Metonimi Metonimi adalah pemindahan istilah atau nama suatu hal atau benda ke suatu benda yang lainnya yang mempunyai kaitan rapat.f. Sinekdoki Sinekdoki adalah bahasa figuratif yang menyebutkan suatu bagian penting dari suatu benda atau benda atau hal itu. Artinya, bahwa sebuah benda pasti mempunyai bagian bagian yang tekandung di dalamnya. Kemudian, dalam mencari sinekdoki cari hal yang paling penting.5. Versifikasi Versifikasi meliputi ritma, rima, dan metrum. Secara umum ritma dikenalsebagai irama, yakni pergantian turun naik panjang pendek, keras lembut ucapanbunyi bahasa dengan teratur. Panuti Sujiman memberikan pegertian irama dalam 21
  • puisi sebagai alunan yang dikesankan oleh perulangan dan pergantian kesatuanbunyi dalam arus panjang pendeknya bunyi keras lembutnya tekanan, dan tinggirendahnya nada karena sering bergantung pada pola matra. Irama dalampersajakan pada umumnya teratur. Rima adalah pengulangan bunyi di dalam barisatau larik puisi, pada akhir baris puisi atau bahkan juga pada keseluruhan barisdan bait puisi. Adapun metrum adalah irama yang tetap, artinya pergantiannyasudah tetap menurut pola tertentu. Hal ini disebabkan oleh (1) jumlah suku katayang tetap, (2) tekanan yang tetap, dan (3) alun suara menaik dan menurun yangtetap.6. Tipografi Tipografi merupakan pembeda yang paling awal dapat dilihat dalammembedakan puisi dengan prosa fiksi dan drama. Tipografi merupakan bentukdari puisi yang bermacam-macam tergantung yang mengarangnya. Adapun fungsitipografi adalah untuk keindahan indrawi dan mendukung makna.7. Sarana Retorika Sarana retorika berbeda dengan bahasa kiasan dan citraan yangmemperjelas gambaran dan menciptakan perspektif yang baru melaluiperbandingan. Sarana retorika adalah alat untuk mengajak pembaca berfikir agarlebih menghayati gagasan yang dikemukakan.2.2 Pendekatan dan Angkatan Sastra2.2.1 Hakikat Pendekatan Sastra Untuk membahas sebuah karya sastra ada dua macam pendekatan, yaitupendekatan intrinsik dan pendekatan ekstrinsik. Pendekatan intrinsik bertolak dari 22
  • karya itu sendiri. Pendekatan seperti ini disebut sebagai pendekatan struktural.Menurut Luxemburg (1984:36) struktural adalah kaitan-kaitan tetap antarkelompok-kelompok gejala. Kaitan tersebut dilakukan oleh peneliti berdasarkanobservasinya. Pendekatan kedua adalah pendekatan ekstrinsik. Wellek danWarren (1989:109) menyatakan bahwa pendekatan ekstrinsik biasanyamempermasalahkan sesuatu di seputar sastra dan situasi sosial tertentu, sistemekonomi, sistem sosial, adat istiadat, dan politik. Selanjutnya, Nurgiyantoro(1998:23) menyatakan bahwa unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luarkarya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan karya sastra.Bagaimanapun juga, karya sastra tidak muncul dari situasi kekosongan budaya.Pendekatan ekstrinsik dilakukan berdasarkan teori sosiosastra. Sosiologi menurutSoekanto (1982:3) adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dalammasyarakat dan proses sosialnya, termasuk perubahan-perubahan sosial yang adadalam masyarakat. Sedangkan sastra adalah pengungkapan dari apa yang dilihatdan dirasakan oleh manusia tentang kehidupan (Hardjana, 1981:10). Menurut Damono (1984:4), sastra adalah lembaga sosial yangmenggunakan bahasa sebagai mediumnya dan sastra menggambarkan kehidupanyang merupakan kenyataan sosial. Semi (1988:8) juga menyatakan bahwa sastraadalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalahmanusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya.Dengan demikian, kesamaan permasalahan antara sosiologi dengan sastra adalahsama-sama berurusan dengan manusia dan masyarakat. Namun, seorang sosiologhanya dapat melihat fakta berdasarkan kenyataan yang terjadi di dalammasyarakat. Sedangkan sastrawan mampu mengungkapkan kenyataan melalui 23
  • imajinasinya. Sosiosastra merupakan pendekatan yang mempertimbangkan nilai-nilai sosiologi pada karya sastra. Grebstein (Damono, 1984:4-5) menjelaskan bahwa karya sastra tidakdapat dipahami secara menyeluruh dan tuntas jika dipisahkan dari budayamasyarakat yang menghasilkannya. Penelitian ini menerapkan pendekatanmimetik dengan menggunakan teori struktural dan pendekatan ekstrinsik denganmenggunakan teori sosiosastra, antropologi sastra, dan psikosastra. “Pendekatanstruktural digunakan karena dalam memenuhi sebuah cerita diperlukan analisisstruktural sebab pendekatan struktural merupakan tugas prioritas dalam penelitiankarya sastra” (Teeuw,1983:61). Menurut Abrams (1979:3) dan Teeuw (1988:50) ada empat pendekatanterhadap karya sastra, yaitu: (1) pendekatan mimetik yang menganggap karya sastra sebagai tiruan alam (kehidupan) ; (2) pendekatan pragmatik yang menganggap karya sastra itu adalah alat untuk mencapai tujuan tertentu; (3) pendekatan ekspresif yang menganggap karya sastra sebagai ekspresi perasaan, pikiran, dan pengalaman sastrawan (penyair); dan (4) pendekatan objektif yang menganggap karya sastra sebagai suatu yang otonom terlepas dari alam sekitarnya, pembaca, dan pengarang. Maka, yang penting adalah dalam kritik ini adalah karya sastra itu sendiri, yang dianalisis khusus struktur intrinsiknya. Sesuai dengan pendapat di atas, maka dalam penelitian ini diterapkanpendekatan mimetik yang menganggap karya sastra sebagai suatu tiruan alam dangambaran pengalaman kehidupan yang pernah dialami pengarang ataupun oranglain yang kemudian ditulis oleh pengarang. Selanjutnya, dilakukan analisissosiosastra, psikosastra, dan antropologi sastra. Analisis sosiosastra diaplikasikanpada penelitian ini karena karya sastra dilihat dari hubungannya dengankenyataan. Kenyataan di sini mengandung arti yang cukup luas, yakni segalasesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. 24
  • Luxemburg (1984:24) menyatakan bahwa yang diteliti adalah hubungan antara(aspek-aspek) teks sastra dan suasana masyarakat. Sistem masyarakat serta perubahannya tercermin di dalam masyarakat.Sastra pun dipergunakan sebagai sumber menganalisis sistem masyarakat.Penelitian sosiosastra lebih banyak memperbincangkan hubungan pengarangdengan kehidupan sosialnya sehingga sosiosastra disebut sebagai konsep cerminatau mirror. Sastra dianggap sebagai mimesis (tiruan masyarakat), meskipunsastra tidak semata-mata menyodorkan fakta kehidupan secara mentah, namunsastra merupakan kenyataan yang telah ditafsirkan.2.2.2 Angkatan Sastra Pradopo (2003:1) mengungkapkan bahwa, “Masalah angkatan danpenulisan sejarah sastra Indonesia merupakan dua persoalan dalam satu wajah,yaitu persoalan sejarah sastra”. Dikatakan demikian, karena dalam perumusanangkatan atau periodisasi satra terdapat banyak pendapat, polemik, dan pandanganyang berbeda dari para pakar sejarah sastra. Selanjutnya Wellek (1968:39)mengugkapkan bahwa, “Sejarah sastra merupakan salah satu cabang studi sastrayang dipecah menjadi tiga: teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra”. Artinya,terdapat keterkaitan antara kritik sastra, teori sastra, dan sejarah sastra. Menurut Pradopo (2003:2), “Angkatan sastra tak lain adalah sekumpulansastrawan yang hidup dalam satu kurun masa atau menempati suatu periodetertentu”. Selanjutnya, Wellek (1968:265) menjelaskan bahwa, “Periodisasi sastrayaitu sebuah bagian waktu yang dikuasai oleh sesuatu sistem norma-norma sastra,standar-standar, dan konvensi-konvensi sastra yang kemunculannya, 25
  • penyebarannya, keberagamannya, integrasi, dan kelenyapannya dapat diruntut”.Dari kedua pandangan tersebut dapat disimpulkan, bahwa angkatan sastramerupakan sekumpulan pengarang atau sastrawan yang hidup dan berkarya dalamsuatu periode waktu tertentu. Jadi, terdapat perbedaan antara angkatan danperiodisasi. Dikatakan demikian, karena angkatan mencakup sekumpulansastrawan, sedangkan periodisasi mencakup waktu atau periode saat beberapasastrawan menghasilkan karyanya. Terdapat banyak perbedaan pandangan mengenai angkatan sastra ataupunperiodisasi sastra. Namun, seperti yang dikemukakan oleh Wellek (1968:165)bahwa, “Rangkaian periode sastra itu jangan dibayangkan seperti balok-balokbatu yang dijajarkan secara berurutan, melainkan hendaklah dilihat bahwa periodesastra itu saling bertumpang-tindih”. Maksud dari pendapat tersebut adalahperiode sastra bukan merupakan suatu rangkaian waktu terciptanya karya sastrasemata, melainkan suatu proses perkembangan sastra. Seperti yang diungkapkanoleh Teeuw (1983:65) bahwa, “Karya sastra itu merupakan respons (jawaban atautanggapan) terhadap karya sastra sebelumnya”. Selanjutnya, Pradopo (2003:18)menggolongkan ketidakmutlakan gambaran periodisasi sastra sebagai berikut. 1. Periode Balai Pustaka : 1920-1940. 2. Periode Pujangga Baru : 1930-1945. 3. Periode Angkatan 45 : 1940-1955. 4. Periode Angkatan 50 : 1950-1970, dan 5. Periode Angkatan 70 : 1965-sekarang (1984). Sedangkan, Ajip Rosidi (1969:13) menggolongkan periode sastra sebagaiberikut. I. Masa Kelahiran dan Masa Penjadian (kl.1990:1945) 1. Periode awal hingga 1993. 2. Peiode 1933-1942;dan 3. Periode 1942-1945. II. Masa Perkembangan (1945 hingga sekarang) 1. Periode 1945-1953. 26
  • 2. Periode 1953-1961, dan 3. Periode 1961 sampai sekarang (1969). Selanjutnya, Notosusanto menguraikan periodisasi satra menjadi beberapaperiode sebagai berikut. Keseluruhan Sastra Indonesia: A. Sastra melayu lama. B. Sastra Indonesia Modern Sastra Indonesia Modern dibagi 2 macam : I. Masa Kebangkitan (1920-1945) II. Masa Perkembangan (1945-sekarang) Masa Kebangkitan terdiri atas 3 periode: 1. periode ’20; 2. periode ’33; 3. periode 42’. Masa perkembangan ada 2 periode : 1. periode ’45; 2. periode ’50. Berdasar pada uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa yangdimaksud dengan periodisasi satra merupakan suatu kurun waktu tertentu saatpara sastrawan menghasilkan karya yang sesuai dengan norma dan konvensi-konvensi yang berlaku saat itu. Periodisasi sastra erat kaitannya dengan sejarahsastra, karena periodisasi satra merupakan salah satu aspek yang terdapat dalampenulisan sejarah sastra. Dalam periodisasi sastra terdapat karya sastra danangkatan sastra. Periode sastra tersebut merupakan jawaban atas kekosongan ideataupun pemikiran periode sastra sebelumnya. Artinya, periodisasi sastra jugamerupakan salah satu gambaran perkembangan kehidupan sastra Indonesia.2.3 Pendekatan Mimesis2.3.1 Pengertian Pendekatan Mimesis Secara umum pendekatan mimetik adalah pendekatan yang didasarkanpada hubungan karya sastra dengan universe (semesta) atau lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi lahirnya karya sastra itu. Mimesis merupakan salah 27
  • satu wacana yang ditinggalkan Plato dan Aristoteles sejak masa keemasan filsafatYunani Kuno hingga pada akhirnya Abrams memasukkannya menjadi salah satupendekatan utama untuk menganalisis sastra selain pendekatan ekspresif,pragmatik dan objektif. Mimesis merupakan ibu dan pendekatan sosiologi sastrayang darinya dilahirkan puluhan metode kritik sastra yang lain. Mimesis berasalbahasa Yunani yang berarti tiruan. Dalam hubungannya dengan kritik sastramimesis diartikan sebagai pendekatan sebuah pendekatan yang dalam mengkajikarya sastra selalu berupaya untuk mengaitkan karya sastra dengan realitas ataukenyataan. “Perbedaan pandangan Plato dan Aristoteles menjadi sangat menarikkarena keduanya merupakan awal filsafat alam, merekalah yang menghubungkanantara persoalan filsafat dengan kehidupan” ( Ravertz, 2007: 12). Pandangan pendekatan mimetik ini adalah adanya anggapan bahwa puisimerupakan tiruan alam atau penggambaran dunia dan kehidupan manusia disemesta raya ini. Sasaran yang dieliti adalah sejauh mana puisi merepresentasikandunia nyata atau sernesta dan kemungkinan adanya intelektualitas dengan karyalain. Hubungan antara kenyataan dan rekaan dalam sastra adalah hubungandialektis atau bertangga : mimesis tidak mungkin tanpa kreasi, tetapi kreasi tidakmungkin tanpa mimesis. “Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman, yaitukarya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnyamelainkan hanya sebagai peniruan kenyataan” (Abrams, 1958:8). “Kenyataan disini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu segala sesuatu yang berada diluar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra, seperti misalnya benda-bendayang dapat dilihat dan diraba, bentuk-bentuk kemasyarakatan, perasaan, pikiran, 28
  • dan sebagainya” (Luxemberg, 1989:15). Melalui pandangan ini, secara hierarkiskarya seni berada di bawah kenyataan. Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagaidokumen sosial; karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagaisesuatu yang sudah ditafsirkan. Sehubungan dengan pendekatan mimesis, Segers(2000, 91-94) menyatakan bahwa “Dunia fiksional teks sastra seharusnyamerefleksikan realitas sosial”. Lebih jauh Segers mempertimbangkanfiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatanmimesis. Menurutnya, norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tandalinguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung padadunia kita, tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. Adapun John Baxter(dalam Makaryk,1993: 591-593) menguraikan bahwa “Mimesis adalah hubungandinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semestamoral yang nyata atau masuk akal”. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". Secara terminologis,mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan, tetapi penekanannyaberbeda. Tiruan, menyiratkan sesuatu yang statis, suatu copy, suatu produk akhir;mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis, suatu proses, suatu hubungan aktifdengan suatu kenyataan hidup. Menurut Baxter (1993:594), “Metode terbaikmimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral,menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil”. Proses tidakberhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya.Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkanwalaupun hanya sesaat dalam kondisi riil, atau suatu perspektif pada aspek yang 29
  • riil yang tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. Kenyataan kadang-kadangdigambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yangmenyeluruh. Oleh karena itu, kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalamcakupan yang ideal. Berdasar pada uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa pendekatanmimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yangdiwujudkan secara dinamis, (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional,(3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalamcakupan yang ideal, dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadarantertinggi atas kenyataan. Secara metodis, langkah kerja analisis melaluipendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok, yaitu: (1) mengungkap danmendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secaratekstual, (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untukdirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu, sesuai tujuan,misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secaradinamis, dsb., (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam tekskarya sastra dengan kenyataan fakta realita, dan (4) menelusuri kesadarantertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengankenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra.2.3.2 Aspek Pengalaman dalam Pendekatan Mimesis Pendekatan mimesi erat kaitannya dengan pengalaman. Hal ini sejalandengan pendapat bahwa, “Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah duniapengalaman, yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan 30
  • yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan” (Abrams,1958:8). Dengan demikian, hal yang dikaji dalam pendekatan mimesis adalahaspek pengalaman yang terdapat dalam suatu karya sastra. Pada hakikatnya, aspekpengalaman dalam suatu karya sastra tidak dapat dipisahkan dari kenyataan hidupmasyarakat saat karya sastra tersebut diciptakan. Berikut penulis paparkan aspekpengalaman yang terdapat dalam karya sastra berdasar pada batasan modelpenelitian yang dikemukakan oleh Ratna (2008:321-358), dan dianggap relevanterhadap khazanah sastra Indonesia.1. Aspek Pengalaman Sosial Aspek pengalaman sosial merupakan batasan yang diturunkan dari analisissosiosastra. Sosiologi menurut Soekanto (1982:3) adalah “Ilmu yang mempelajaristruktur sosial dalam masyarakat dan proses sosialnya, termasuk perubahan-perubahan sosial yang ada dalam masyarakat”. Sedangkan “Sastra adalahpengungkapan dari apa yang dilihat dan dirasakan oleh manusia tentangkehidupan” (Hardjana, 1981:10). Menurut Damono (1984:23), “Sastra adalahlembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya dan sastramenggambarkan kehidupan yang merupakan kenyataan sosial”. Semi (1988:8)juga menyatakan bahwa, “Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan senikreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakanbahasa sebagai mediumnya”. Dengan demikian, kesamaan permasalahan antarasosiologi dengan sastra adalah sama-sama berurusan dengan manusia danmasyarakat. Namun, seorang sosiolog hanya dapat melihat fakta berdasarkankenyataan yang terjadi di dalam masyarakat. Sedangkan sastrawan mampu 31
  • mengungkapkan kenyataan melalui imajinasinya. Sosiosastra merupakanpendekatan yang mempertimbangkan nilai-nilai sosiologi pada karya sastra Berdasar pada uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa aspek pengalamansosial merupakan pengalaman kehidupan antara masyarakat dengan masyarakatlainnya. Pengalaman sosial menitikberatkan pada cara manusia, atau masyarakatberhubungan dengan orang lain dalam lingkungannya.2. Aspek Pengalaman Budaya Aspek pengalaman budaya merupakan batasan pengalaman yang diturunkandari teori antropologi sastra. Ratna (2008:356) mengungkapkan bahwa,“Antropologi sastra mempersalahkan karya sastra dalam hubungannya denganmanusia sebagai penghasil kebudayaan. Dalam suatu karya sastra pasti terdapatnilai budaya. Hal ini dijelaskan oleh Teuww (1980:11) bahwa, ‘Tak ada karyasastra yang lahir dalam kekosongan budaya”. Artinya, setiap karya sastradiciptakan dengan memiliki nilai budaya yang menggambarkan waktu ataupuntempat saat karya sastra tersebut diciptakan. Grebstein (Damono, 1984:4-5)menjelaskan bahwa, “Karya sastra tidak dapat dipahami secara menyeluruh dantuntas jika dipisahkan dari budaya masyarakat yang menghasilkannya”. Aspekbudaya yang termasuk dalam pengalaman pengarang merupakan cara manusiahidup dan kebiasaan manusia dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu.Pengalaman tersebut bisa berupa kebiasaan manusia atau masyarakat dalamsistem pencahariannya, sistem religi, dan sistem norma yang berlaku dalammasyarakat. Dengan membaca karya sastra, dapat dipahami kebudayaan Sunda,Jawa, Bali, Lombok, dan sebagainya. 32
  • 3. Aspek Pengalaman Psikologi Aspek pengalaman psikologi merupakan salah satu aspek pengalaman yangtermasuk dalam cabang ilmu psikosastra. “Apabila sosiologi sastra dianalisisdalam kaitannya dengan masyarakat yang menghasilkannya, sebagai latarbelakang sosialnya, maka psikologi sastra dianalisis dalam kaitannya denganpsike, dengan aspek-aspek kejiwaan pengarang” (Ratna, 2008:340). Artinya,dalam psikologi sastra terdapat pengalaman-pengalaman kejiwaan pengarang.Pengalaman kejiwaan yang dimaksud adalah pengalaman berpikir pengarang, danjuga pengalaman yang melibatkan panca indera lainnya sebagai bagian darisesuatu yang melibatkan aspek psikologi pengarang.2.4 Bahan Pembelajaran Sastra2.4 1 Pengertian Bahan Pembelajaran SastraBahan pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang sangatpenting. Dikatakan demikian, karena kualitas bahan pembelajaran akan sangatmenentukan tercapainya tujuan pembelajaran. Bahan pembelajaran adalahsejumlah pengetahuan, nilai, keterampilan berupa fakta, data, konsep, dan prinsipyang disusun secara rasional, logis, sistematis, sebagai media yangmenghubungkan siswa dengan tujuan pembelajaran. Badudu (1996:106)mengungkapkan bahwa, “Bahan pembelajaran atau pengajaran adalah materi yangdisajikan di depan kelas kepada murid-murid”. Dengan demikian, guru dituntutuntuk mampu memilih bahan pembelajaran yang sesuai dengan tingkatperkembangan siswa. 33
  • Bahan pembelajaran menurut Hidayat (1991:97), adalah “Isi dari matapelajaran suatu bidang tertentu yang terdapat dalam kurikulum yang diberikankepada siswa pada saat berlangsungnya proses pengajaran”. Artinya, bahanpembelajaran merupakan salah satu perangkat pembelajaran yang penggunaannyaberdasar pada suatu kurikulum yang berlaku. Berdasarkan uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksuddengan bahan pembelajaran adalah sejumlah fakta, konsep yang disusun secarasistematis dan sesuai dengan ketentuan dan tujuan pembelajaran yang berlaku danberhubungan dengan materi yang tercantum dalam suatu kurikulum sebagai mediayang menghubungkan siswa dengan materi, dan tujuan pembelajaran.2.4.2 Kriteria Pemilihan Bahan Pembelajaran Sastra Puisi sebagai salah satu jenis karya satra pada hakikatnya memilikikesamaan dengan karya sastra lainnya bila dibahas hubungannya denganpembelajaran. Pembelajaran apresiasi sastra termasuk di dalamnya pembelajaranapresiasi puisi merupakan pembelajaran yang bertujuan agar siswa memilikikemampuan untuk mengapresiasi karya sastra. Di dalamnya terkandung maksudagar siswa dapat menghayati nilai-nilai kehidupan, dan beroleh pengalamankehidupan agar mereka siap melihat dan mengenal nilai sastra dengan tepat. Olehkarena itu, setiap bahan pembelajaran sastra, khususnya pembelajaran apresiasipuisi harus memenuhi beberapa kriteria. Menurut Rusyana (1982:2), “Terdapat dua kriteria penting yang harusdiperhatikan, yaitu kriteria sastra dan kriteria pendidikan. Oleh karena itu, materiataupun bahan pembelajaran yang akan dipelajari siswa harus disesuaikan dengan 34
  • tujuan pengajaran yang telah ditetapkan dan sesuai dengan perkembangan jiwasiswa. Sedangkan Rahmanto (1988:27) memberikan tiga kriteria yang harusdiperhatikan dalam pemilihan bahan pembelajaran sastra, yaitu “Dari sudutbahasa, dari segi kematangan jiwa (psikologi), dan dari sudut latar belakangkebudayaan siswa”. Ditinjau dari sudut bahasa, guru kiranya perlu memilikiketerampilan untuk memilih bahan pembelajaran sastra yang bahasanya sesuaidengan tingkat penguasaan bahasa siswa. Selajutnya, dilihat dari segi kematanganjiwa siswa, hendaknya karya sastra yang dipilih untuk dipelajari siswa sesuaidengan tahap psikologis siswa pada umunya. Sedangkan, dilihat dari latarbelakang budaya siswa, hendaknya guru dapat memilih bahan pembelajaran sastrayang latar ceritanya dikenal oleh para siswa. Hal ini perlu dilakukan karenabiasanya siswa akan mudah tertarik pada karya-karya sastra dengan latar belakangbudaya yang erat kaitannya dengan latar belakang budaya mereka. Berdasarkan uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa kriteria bahanpembelajaran sastra dapat ditinjau dari beberapa aspek. Di antaranya dapat dilihatdari sudut bahasa, dari segi kematangan jiwa (psikologi), dan dari sudut latarbelakang kebudayaan siswa. Selain itu, bahan pembelajaran sastra yang akandisampaikan kepada siswa harus memenuhi kriteria struktur, estetika,pembaharuan, dan tradisi.2.4.3 Kedudukan Pembelajaran Apresiasi Sastra dalam KTSP SMA Kurikulum Bahasa dan Sastra Indonesia merupakan seperangkat rencanadan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, 35
  • evaluasi, kegiatan belajar-mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikandalam pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum merupakan pedoman bagi guru dalam melaksanakan tugasnyasehari-hari di sekolah. Agar setiap guru bahasa dan sastra Indonesia dapatmelaksanakan tugas kependidikannya dengan baik, setiap guru perlu memahamisemua ketentuan yang terdapat dalam kurikulum dengan baik. Pembelajaranbahasa dan sastra Indonesia berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(KTSP) adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilanberbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Sesuai dengankedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara, makakedudukan mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sebagaimana tercantumdalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sebagai berikut: 1) sarana pembinaan bahasa kesatuan dan persatuan bangsa, 2) sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya, 3) sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, 4) sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah, 5) sarana pengembangan penalaran, dan 6) sarana pemahaman keragaman budaya Indonesia melalui khazanah kesusastraan Indonesia (Depdiknas, 2006;4). Berdasar pada uraian di atas, terlihat bahwa kedudukan mata pelajaranbahasa dan sastra Indonesia tercantum dalam Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP). Kedudukan tersebut di antaranya sebagai sarana pembinaan 36
  • kesatuan dan persatuan bangsa, sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilanberbahasa, mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni,penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta saranapenalaran keberagaman budaya Indonesia. 37
  • BAB III METODOLOGI PENELITIAN3.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodedeskriptif. Metode penelitian deskriptif adalah “Suatu metode yang ditujukanuntuk memecahkan masalah yang ada dengan menentukan dan menafsirkan datayang tersedia, kemudian dianalisis dan diinterpretasikan “(Surakhmad, 1982:139-147). Sedangkan Arikunto (2002:29) mengungkapkan bahwa, “Metode deskriptifadalah metode yang berusaha mendeskripsikan fakta apa adanya”. Melalui metodedeskriptif ini penulis akan mendeskripsikan fakta-fakta tentang pengalaman-pengalaman yang tercermin dalam puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan70. Upaya mendeskripsikan puisi tersebut disesuaikan dengan metodedeskriptif yang dikemukakan oleh Surakhmad (1982:142), yaitu “Memusatkandiri pada pemecahan masalah-masalah yang aktual, dan data yang dikumpulkan,mula-mula disusun, dijelaskan, dan dianalisis”. Dengan demikian, metodedeskriptif tidak hanya mengumpulkan data, namun lebih jauh lagi dari itumenjelaskan hubungan antara data serta memberikan implikasi dari uraian atauanalisis data yang terkumpul. 38
  • 3.2 Teknik Penelitian3.2.1 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian iniadalah studi dokumenter dan teknik analisis teks. Teknik dokumenter penulisgunakan untuk mengumpulkan sumber data yang berupa puisi-puisi yangtermasuk dalam Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70. Selanjutnya, penulismenggunakan teknik analisis teks untuk mengumpulkan data yang berupapengalaman-pengalaman yang tercermin dalam puisi-puisi Angkatan BalaiPustaka – Angkatan 70.3.2.2 Teknik Analisis Data Untuk menganalisis data penulis menggunakan teknik analisis teks.Analisis teks digunakan untuk mendeskripsikan pengalaman-pengalaman yangtercermin dalam puisi angkatan Balai Pustaka hingga angakatan ’70. Langkah-langkah analisis teks tersebut penulis uraikan sebagai berikut.1. Membaca puisi-puisi yang dijadikan sampel penelitian secara sungguh- sungguh.2. Memahami kata-kata/ungkapan dalam puisi.3. Membentuk parafrase (memproseskan puisi).4. Pengungkapan makna puisi.5. Menganalisis puisi atau kaitannya dengan kenyataan dan pengalaman.6. Mengkaji pengalaman-pengalaman apa saja yang tercermin dalam puisi-puisi tersebut. 39
  • 7. Menginterpretasikan hasil analisis tentang pengalaman-pengalaman yang tercermin dalam puisi-puisi angkatan sastra Balai Pustaka hingga angkatan ’70.8. Menyimpulkan hasil analisis tentang kelayakan pengalaman-pengalaman yang tercermin dalam puisi-puisi angkatan Balai Pustaka – angkatan ’70 sebagai bahan pembelajaran apresiasi puisi di SMA dilihat dari pengalaman- pengalaman yang tercermin di dalamnya.3.3 Populasi dan Sampel Penelitian3.3.1 Populasi Penelitian Populasi adalah subjek penelitian yang merupakan sumber data penelitian.Menurut Surakhmad, populasi adalah “Sekumpulan subjek, baik manusia, gejala,nilai tes, benda-benda atau peristiwa” (1994:93). Hal ini sejalan dengan pendapatSudjana (1982:57) bahwa, “Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin,baik hasil menghitung maupun pengukuran, kualitatif maupun kuantitatif darikarakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas yangingin dipelajari sifat-sifatnya”. Dari pengertian tersebut terlihat jelas bahwapopulasi adalah semua unsur yang akan diteliti dari sekumpulan objek yanglengkap. Berdasarkan pendapat tersebut, populasi dalam penelitian ini adalahseluruh pengalaman-pengalaman yang tercermin dalam puisi-puisi AngkatanBalai Pustaka – Angkatan 70. 40
  • 3.3.2 Sampel Penelitian “Sampel adalah penarikan sebagian populasi untuk mewakili seluruhpopulasi” (Surakhmad, 1994:93). Ahli lain menyatakan bahwa, “Sampel adalahsebagian dari populasi yang diambil sebagai representasi atau wakil populasi yangbersangkutan” (Faisal, 1999:57). Dalam penelitian ini yang menjadi sampel penelitian adalah aspek-aspekpengalaman yang tercermin dalam puisi-puisi angkatan Balai Pustaka hinggaangkatan 70. Hal ini dilakukan dengan cara mengambil data pengalaman jasmani,dan rohani yang terdapat dalam puisi-puisi tersebut. Dikarenakan keterbatasankemampuan penulis, tenaga, dan waktu maka pengambilan sampel penelitiandilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu pengambilan sampel denganpertimbangan tertentu. Penentuan teknik pengambilan sampel tersebut didasarkanpada asumsi bahwa setiap karya sastra pada suatu angkatan tertentu memilikipengalaman sosial, budaya, psikologi yang hampir sama dan pertimbanganlainnya yaitu keterbatasan kemampuan penulis. Selain itu, penentuan sampeldidasarkan pada keinginan penulis yang membatasi sampel hanya puisi-puisiAngkatan Balai Pustaka-Angkatan 70 yang banyak terdapat dalam buku pelajaranBahasa dan Sastra Indonesia untuk tingkat SMA. Berdasarkan hasil pemikiran dan pertimbangan tersebut, maka penuliscantumkan judul-judul puisi yang dijadikan sampel penelitian dalam bentuk tabelsebagai berikut. 41
  • Tabel 3.1 Sampel Penelitian Kode No Judul Puisi Pengarang Sampel 1 01 Tanah Air M.Yamin 2 02 Indonesia Tumpah Darahku M.Yamin 3 03 Berdiri Aku Amir Hamzah 4 04 Padamu Jua Amir Hamzah 5 05 Kolam Rustam Effendi 6 06 Menuju Kelaut S.T Alisjahbana 7 07 Dibawa Gelombang Sanusi Pane 8 08 Kerabat Kita S.T Alisjahbana 9 09 Derai-derai Cemara Chairil Anwar 10 10 Krawang - Bekasi Chairil Anwar 11 11 Do’a Chairil Anwar 12 12 Sajak Anak Laut Asrul Sani 13 13 Sebuah jaket Berlumur Darah Toto S Bachtiar 14 14 Biar Mati Badanku Kini Hamka 15 15 Kepada saudaraku M Natsir Hamka 16 16 Makna Sebuah Titipan W.S Rendra 17 17 Sebuah Jaket Berlumur Darah Taufik Ismail 18 18 Di Sebuah Halte Bis Sapardi Djoko Pramono 19 19 Dewa Telah Mati Subagio Sastrowardojo 20 20 Jembatan Sutardi Calzoum Bachri3.4 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian merupakan alat untuk memperoleh sumber informasiyang diperlukan. Instrumen dapat menentukan keberhasilan suatu penelitian.Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini akan penulis jelaskan sebagaiberikut.3.4.1 Instrumen Pengumpulan Data Instrumen pengumpulan data yang penulis gunakan dalam pengumpulandata sebagai berikut. 42
  • 1. Pengimajian Imageri adalah kemampuan kata-kata yang dipakai pengarang dalam mengantarkan pembaca untuk terlibat atau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh penyair. Maka pengimajian digunakan sebagai instrumen pengumpulan data karena menggambarkan pengalaman dan imajinasi pengarangnya.2. Diksi Diksi digunakan sebagai isntrumen pengumpulan data karena fungsi diksi dalam sebuah puisi yaitu untuk menggambarkan ide, pesan, perasaan, dan pengalaman pengarang melalui kata-kata yang denotatif maupun konotatif.3. Bahasa Figuratif Bahasa figuratif digunakan sebagai salah satu instrumen pengumpulan data karena dengan bahasa figuratif, membuat puisi lebih indah, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Dengan demikian, aspek pengalaman yang terdapat dalam puisi bisa digambarkan lewat bahasa figuratif.4. Kata Konkret Kata konkret digunakan sebagai instrumen pengumpulan data karena kata konkret merupakan kata-kata yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca, sehingga memudahkan penulis untuk mendapatkan data peristiwa dan pengalaman yang terscermin dalam puisi tersebut. 43
  • Unsur-unsur pembangun puisi di atas dijadikan sebagai instrumenpengumpulan data karena unsur-unsur tersebut sangat berhubungan erat dalammengkaji aspek pengalaman sebagai analisis datanya. Dengan mengetahui unsurpembentuk puisi tersebut maka penulis dapat mengetahui perasaan, peristiwa, danpengalaman yang terdapat dalam puisi tersebut.3.4.2 Instrumen Analisis Data Untuk menganalisis puisi-puisi angkatan Balai Pustaka-angkatan ’70diperlukan instrumen analisis data sebagai berikut.1. Aspek pengalaman sosial Aspek pengalaman sosial yang dikaji berdasarkan aspek perilakupengarang, ataupun tokoh yang dibicarakan dalam puisi ketika berhubungandengan orang lain dan melakukan hubungan sosial kemasyarakatan.2. Aspek pengalaman budaya Aspek pengalaman budaya yang dikaji berdasarkan kebiasaan dangambaran kebudayaan yang berlaku dan digambarkan dalam puisi. Aspekkebudayaan tersebut meliputi kebiasaan masyarakat, sistem mata pencaharian,sistem religi, dan sistem kebudayaan lainnya yang terdapat pada saat puisitersebut ditulis.3. Aspek pengalaman psikologi Aspek pengalaman yang dikaji berdasarkan pengalaman cara berpikirpengarang ataupun pengalaman berpikir pengarang dan juga pengalaman yangmelibatkan aspek kejiwaaan pengarang maupun masyarakat yang hidup pada saatpuisi tersebut diciptakan. 44
  • BAB IV ANALISIS PENGALAMAN YANG TERCERMIN DALAM PUISI-PUISI ANGKATAN BALAI PUSTAKA – ANGKATAN 704.1 Data Penelitian Data inti dalam penelitian ini adalah unsur-unsur pengalaman yangterdapat dalam puisi-puisi yang ditulis oleh pengarang Angkatan Balai Pustaka –Angkatan 70. Seperti yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, bahwa yangmenjadi masalah dalam penelitian ini adalah keterkaitan antara pengalaman-pengalaman yang terdapat dalam puisi tersebut dengan upaya pemilihan bahanpembelajaran sastra di SMA. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yangdibangun oleh struktur lahir dan struktur batin. Struktur lahir puisi dapat diuraikan dalam metode puisi, yakni unsurestetik yang membangun strtuktur lahir dari puisi. Sedangkan, struktur batin puisimengungkapkan segala sesuatu yang ingin dikemukakan oleh penyair. Dengandemikian, melalui struktur batin puisi tersebut penyair dapat mengungkapkanperasaan, ide, gagasan, dan berbagai pengalaman kehidupan yang bernilai bagipembaca. Oleh karena itu, sebelum penulis melakukan analisis terhadap unsur-unsur pengalaman yang terdapat dalam puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan70, penulis terlebih dahulu melakukan analisis terhadap struktur batin dari puisi-puisi tersebut. Untuk memperjelas analisis data yang dilakukan penulis, penuliscantumkan data penelitian dalam bentuk tabel sebagai berikut. 45
  • Tabel 4.1 Data Penelitian KodeNo Judul Puisi Pengarang Angkatan Sampel1 01 Tanah Air M.Yamin Balai Pustaka2 Indonesia Tumpah 02 M.Yamin Balai Pustaka Darahku3 03 Berdiri Aku Amir Hamzah Balai Pustaka4 04 Padamu Jua Amir Hamzah Pujangga Baru5 05 Kolam Rustam Effendi Pujangga Baru6 06 Menuju Kelaut S.T Alisjahbana Pujangga Baru7 07 Dibawa Gelombang Sanusi Pane Pujangga Baru8 08 Kerabat Kita S.T Alisjahbana Pujangga Baru9 09 Derai-derai Cemara Chairil Anwar ‘4510 10 Krawang - Bekasi Chairil Anwar ‘4511 11 Do’a Chairil Anwar ‘4512 12 Sajak Anak Laut Asrul Sani ‘4513 13 Gadis Peminta-minta Toto S Bachtiar ‘5014 14 Biar Mati Badanku Kini Hamka ‘5015 Kepada saudaraku M 15 Hamka ‘50 Natsir16 16 Makna Sebuah Titipan W.S Rendra ‘7017 Sebuah Jaket Berlumur 17 Taufik Ismail ‘70 Darah18 Sapardi Djoko 18 Di Sebuah Halte Bis ‘70 Pramono19 Subagio 19 Dewa Telah Mati ‘70 Sastrowardojo20 Sutardi Calzoum 20 Jembatan ‘70 Bachri Selanjutnya, puisi-puisi di atas dianalisis berdasarkan struktur batin yangterdapat dalam puisi tersebut untuk mendapatkan gambaran mengenaipengalaman-pengalaman yang terdapat didalamnya. Untuk mempermudahpelaksanaan analisis data tersebut, penulis menggunakan lembar analisis yangmemuat hasil analisis struktur batin dan segala hal yang berkaitan dengan puisitersebut. 46
  • 4.2 Analisis Data Bagian ini berisi pemaparan pengalaman yang terkandung dalam puisiAngkatan Balai Pustaka – Angkatan 70. Untuk mengetahui pengalaman yangterdapat dalam puisi, bisa dilakukan dengan pendekatan mimesis. Analisis denganpendekatan mimesis dapat penulis uraikan sebagai berikut.4.2.1 Analisis Puisi Tanah Air Karya Mohamad Yamin1. Teks PuisiTANAH AIRPada batasan, Bukit BarisanMemandang aku, ke bawah memandang;Tampak Hutan rimba dan ngarai;Lagi pun sawah, sungai yang permai;Serta gerangan, lihatlah pulaLangit yang hijau bertukar warnaOleh pucuk daun kelapa;Itulah tanah, tanah airku,Sumatra namanya, tumpah darahku.Sesayup mata, hutan semata,Bergunung bukit, lembah sedikit;Jauh di sana, di sebelah situ,Dipagari gunung satu per satuAdalah gerangan sebuah surga,Bukannya janat bumi keduaFirdaus melayu di atas dunia!Itulah tanah yang kusayangi,Sumatra namanya, yang kujunjungi.Pada batasan, Bukit barisan,Memandang ke pantai, teluk permai;Tampaklah air, air segala,Itulah laut, Samudra Hindia.Tampaklah ombak, gelombang pelbagaiMemecah ke pasir, lalu berderai,“Wahai Andalas, pulau Sumatra,“Harumkan nama, selatan utara! 47
  • 2. Analisis Pengalaman Pengalaman yang terdapat dalam puisi tanah airku di antaranya yaitupengalama kegiatan yang berupa pengalaman jasmani, dan pengindraan. Untukpengalaman kegiatan dapat dilihat dalam larik Memandang aku, ke bawahmemandang. Kemudian, pada bait ke 3 larik kedua juga terlihat pengalaman yangsama dengan konteks Memandang ke pantai, teluk permai. Pengalaman tersebutbisa diasosiasikan bahwa penulis melakukan kegiatan melihat keindahan teluk danjuga hutan rimba. Hal tersebut menggambarkan bahwa penulis memilikipengalaman memandang keindahan tempat yang disebutkan tersebut. Selanjutnya, pengalaman pengindraan yang terdapat dalam puisi atau sajakTanah Air yaitu pengalaman pengindraan yang melibatkan indra penglihatan.Konteks pengalaman tersebut bisa dilihat dalam larik Langit yang hijau bertukarwarna. Kemudian, terdapat pula pengalaman pengindraan yang melibatkanpengindraan pendengaran yaitu dapat dilihat dalam larik Memecah ke pasir, laluberderai. Dari pengalaman pengindraan tersebut dapat penulis simpulkan bahwadalam puisi ini penulis memasukan pengalaman dia ketika melihat langit yanghijau dan indah. Kemudian, dia menggambarkan pengalaman-pengalamantersebut dalam aspek pencitraan yang terdapat dalam puisi tersebut. Berdasar pada uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa dalam sajakTanah Air Karya M.Yamin tercermin pengalaman penginderaan pendengaran,pengalaman penginderaan penglihatan, dan pengalaman kegiatan. 48
  • 4.2.2 Analisis Puisi Indonesia Tumpah Darahku Karya Mohamad Yamin1. Teks PuisiINDONESIA TUMPAH DARAHKUBersatu kita teguhBercerai kita runtuhDuduk di pantai tanah yang permaiTempat gelombang pecah berderaiBerbuih putih di pasir terderaiTampaklah pulau di lautan hijauGunung-gunung bagus rupanyaDilingkari air mulia tampaknyaTumpah darahku Indonesia namanyaLihatlah kelapa melambai-lambaiBerdesir bunyinya sesayup sampaiTumbuh di pantai bercerai-ceraiMemagar daratan aman kelihatanDengarlah ombak datang berlaguMengejar bumi ayah dan ibuIndonesia namanya. Tanah airkuTanahku bercerai seberang-menyeberangMerapung di air, malam dan siangSebagai telaga dihiasi kiambangSejak malam diberi kelamSampai purnama terang-benderangDi sanalah bangsaku gerangan menompangSelama berteduh di alam nan lapangTumpah darah Nusa IndiaDalam hatiku selalu muliaDijunjung tinggi atas kepalaSemenjak diri lahir ke bumiSampai bercerai badan dan nyawaKarena kita sedarah-sebangsaBertanah air di Indonesia2. Analisis Pengalaman Pengalaman yang terdapat dalam sajak di atas di antaranya yaitupengalaman kegiatan, pengalaman pengindraan, dan pengalaman rohani yaitupengalaman pemikiran. Pengalaman kegiatan yang terdapat dalam sajak tersebut 49
  • yaitu pengalaman kegiatan berupa pengalaman jasmani yang bisa dilihat dalamlarik berikut ini Duduk di pantai tanah yang permai. Selanjutnya, pengalamanpengindraan dapat dilihat dalam larik Lihatlah kelapa melambai-lambai dan larikSampai purnama terang-benderang. Dalam larik tersebut, terlihat adanyapengindraan yang melibatkan penglihatan. Selanjutnya, terdapat pula pengalaman pengindraan yang melibatkanpendengaran dalam larik Dengarlah ombak datang berlagu dan juga larikBerdesir bunyinya sesayup sampai. Kemudian, pengalaman rohani yangmelibatkan pemikiran dalam sajak tersebut dapat dilihat dalam larik Tumpahdarah Nusa India, Dalam hatiku selalu mulia. Dikatakan demikian, karena dalamkonteks tersebut bisa dilihat adanya suatu pemikiran yang mulia terhadap tempatyang disebut pengarang sebagai “Tumpah darah Nusa India”, dengan kata lainpengarang sangat mengagumi dan mencintai hal tersebut yang dia anggap selalumulia. Artinya, dalam larik tersebut terbersit pengalaman jiwa patriotismepengarang terhadap bangsa dan negaranya. Berdasar pada uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa dalam sajakIndonesia Tumpah Darahku karya M.Yamin tercermin pengalaman rohani yaitupengalaman berpikir, pengalaman penginderaan pendengaran, pengalamanpenginderaan penglihatan, dan pengalaman jasmani.4.2.3 Analisis Puisi Berdiri Aku Karya Amir Hamzah1. Teks PuisiBerdiri AkuBerdiri aku di senja senyapCamar melayang menepis buihMelayah bakau mengurai puncakBerjulang datang ubur terkembangAngin pulang menyejuk bumiMenepuk teluk mengepas emas 50
  • Lari ke gunung memuncak sunyiBerayun-ayun di atas alasBenang raja mencelup ujungNaik marah menyerang corakElang leka sayap tergulungDimabuk warna berarak-arakDalam rupa maha sempurnaRindu senda mengharu kalbuIngin datang merasa sentosaMengecap hidup bertentu tuju.2. Analisis Pengalaman Pengalaman-pengalaman yang tercermin dalam sajak tersebut di antaranyapengalaman penginderaan penglihatan yang dapat dilihat dalam penggalan baitberikut ini. Camar melayang menepis buih Melayah bakau mengurai puncak Dari penggalan bait tersebut terlihat adanya pengalaman penginderaanpenglihatan yang digambarkan oleh larik Camar melayang menepis buih. Haltersebut seperti menggambarkan keindahan pantai di sore hari. Kemudian terdapatpula pengalaman rohani pemikiran dan perasaan yang dapat dilihat dalampenggalan bait berikut ini. Angin pulang menyejuk bumi Menepuk teluk mengepas emas Lari ke gunung memuncak sunyi Berayun-ayun di atas alas Dari penggalan bait tersebut dapat dijelaskan bahwa pengarangmenyampaikan pemikiran ekspresi kesedihan yang ditampilkan dengan suasanasunyi. Kesedihan ini tidak lain dikarenakan oleh perpisahannya dengan 51
  • kekasihnya. Perasaan sedih yang sangat mendalam digambarkan penyair dengansuasana sunyi pantai di sore hari. Dengan demikian penyair hanya mampu melihatkeindahan alam sekitar karena kebahagiaannya dan harapan telah hilang.Kesedihan yang mendalam ini juga wujud perasaan galau penyair yangdigambarkan dengan perasaannya yang dipermainkan ombak dan angin. Sehinggahanya merenungi hiduplah yang mampu dilakukannya. Selain itu, dalam sajak tersebut tercermin pula pengalaman kehidupanberagama yang disampaikan oleh pengarang dan dapat dilihat dalam bait berikutini. Dalam rupa maha sempurna Rindu senda mengharu kalbu Ingin datang merasa sentosa Mengecap hidup bertentu tuju Larik Dalam rupa maha sempurnya yang ditulis pengarang tersebutmerupakan sebuah ungkapan pengarang terhadap Tuhan. Pengarang merasakesepian, namun sebagai seseorang yang beragama dia menyerahkan semuanyakepada Tuhannya. Dari bait tersebut juga terihat adanya pengalaman rohanimerindukan seseorang dan keinginan untuk merasa bahagia dan sejahtera denganlebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Berdasar pada uraian di atas, dalam sajak Berdiri Aku karya Amir Hamzahtercermin pengalaman-pengalaman penginderaan dan rohani. Dalam sajaktersebut terdapat pengalaman penginderaan penglihatan. Kemudian, pengalamanrohani pemikiran dan perasaan. Selain itu, terdapat pula pengalaman kehidupanberagama yakni pengalaman ingin lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. 52
  • 4.2.4 Analisis Puisi Dibawa Gelombang Karya Sanusi Pane1. Teks PuisiDibawa GelombangAlun membawa bidukku perlahanDalam kesunyian malam waktuTidak berpawang tidak berkawanEntah kemana aku tak tahuJauh di atas bintang kemilauSeperti sudah berabad-abadDengan damai mereka meninjauKehidupan bumi yang kecil amatAku bernyanyi dengan suaraSeperti bisikan angin di daunSuaraku hilang dalam udaraDalam laut yang beralun-alunAlun membawa bidukku perlahanDalam kesunyian malam waktuTidak berpawang tidak berkawanEntah kemana aku tak tahu2. Analisis Pengalaman Di dalam sajak di atas terdapat beberapa pengalaman yang disampaikanoleh pengarang. Pengalaman tersebut di antaranya pengalaman kegiatan menaikibiduk atau perahu kecil. Hal tersebut bisa dilihat dalam larik Alun membawabidukku perlahan. Larik tersebut sebenarnya bisa diasosiasikan seperti sebuahperjalanan hidup yang dijalani oleh pengarang ataupun orang lain. Kemudianterdapat pula pengalaman berpikir yang termasuk dalam pengalaman rohani, yaitubisa dilihat dalam larik Entah kemana aku tak tahu. Hal tersebut menggambarkanadanya pengalaman berpikir yang dituliskan dalam bentuk pertanyaan tentang kemana si tokoh “aku” harus pergi atau mungkin tinggal. Sebenarnya larik tersebutjuga tidak seperti sebuah pertanyaan, tetapi seperti sebuah pernyataan. Oleh 53
  • karena itu, peneliti menganggap hal tersebut merupakan sebuah pengalamanrohani. Selanjutnya dalam sajak tersebut juga terdapat pengalaman pengindraan,yang meliputi penginderaan pendengaran dan penglihatan. Hal tersebut bisadilihat dalam larik jauh di atas bintang kemilau dan seperti bisikan angin di daun.Dari kedua larik tersebut dapat digambarkan bahwa pengarang menggunakan citraatau pengimajian untuk mendeskripsikan keindahan bintang dan sinarnya, sertasunyinya suara angin yang digambarkan seperti sebuah bisikan di atas daun.Pengalaman lainnya yang dapat peneliti gambarkan yaitu pengalaman rohani,yaitu nilai sosial yang terdapat dalam kehidupan masyarakat saat sajak tersebutditulis. Hal tersebut bisa dilihat dalam larik kehidupan bumi yang kecil amat.Larik tersebut dapat diasosiasikan bahwa dunia terasa sempit bila setiap oranghidup dengan cara dan keinginannya masing-masing tanpa memperdulikan orangdi sekitarnya. Terlihat juga adanya pengalaman rohani lainnya, yaitu pemikiranatau pengalaman berpikir bahwa sebenarnya pengarang merasa sangat kesepian.Hal tersebut dapat dilihat dalam larik Alun membawa bidukku perlahan, Dalamkesunyian malam waktu, Tidak berpawang tidak berkawan, Entah kemana aku taktahu. Keempat larik tersebut merupakan bait pertama dalam sajak “Di bawagelombang”. Dari bait tersebut terlihat bahwa sebenarnya pengarang memilikipengalaman kesepian. Dia tidak memiliki teman atau sahabat.4.2.5 Analisis Puisi Padamu Jua Karya Amir Hamzah1. Teks Puisi Padamu Jua Habis kikis 54
  • Segala cintaku hilang terbang Pulang kembali aku padamu Seperti dahulu Kaulah kandil kemerlap Pelita jendela di malam gelap Melambai pulang perlahan Sabar, setia selalu Satu kekasihku Aku manusia Punya rasa Rindu rupa Di mana engkau Rupa tiada Suara sayup Hanya kata merangkai hati Engkau cemburu Engkau ganas Mangsa aku dalam cakarmu Bertukar tangkap dengan lepas Nanar aku gila sasar Sayang berulang padamu jua Engkau pelik menusuk ingin Serupa dara di balik tirai Kasihmu sunyi Menunggu seorang diri Lalu waktu – bukan giliranku Mati hari – bukan kawanku2. Analisis Pengalaman Pengalaman yang tercermin dalam sajak di atas di antaranya yaitupengalaman penginderaan. Pengalaman penginderaan tersebut dapat dilihat dalamlarik Kaulah kandil kemerlap. Dari larik tersebut, dapat terlihat adanyapenginderaan penglihatan yang dilukiskan dengan kata kandil dan kemerlap.Selanjutnya, ada juga pengalaman kegiatan yaitu merindukan seseorang.Pengalaman tersebut tercermin dalam larik Rindu rasa, Rindu rupa. Dari lariktersebut, terlihat adanya sebuah pengalaman merindukan seseorang. Kemudian, 55
  • ada juga pengalaman rohani yaitu proses berpikir pengarang dalam larik bertukartangkap dengan lepas dan Serupa dara di balik tirai. Larik tersebut tidak dapatdengan mudah dipahami. Hal tersebut disebabkan larik itu merupakan interpretasipengarang dalam menggambarkan suatu keindahan yang dimiliki wanita atauobjek yang menjadi sasaran sajak tersebut. Kemudian, selain pengalaman-pengalaman di atas, dalam sajak ini jugaterdapat pengalaman yang diambil dari keseluruhan sajak tersebut. Pengalamanyang dimaksud adalah pengalaman kegiatan mengagumi dan merindukanseseorang yang sangat dikasihinya. Setelah itu, pengarang melakukan monologyang digambarkan lewat bentuk puisi sajak Padamu Jua. Hal tersebut bisa dilihatdari penggalan sajak berikut ini. Di mana engkau Rupa tiada Suara sayup Hanya kata merangkai hati Dari bait tersebut, terlihat adanya pernyataan yang dibuat pengarang yangberisi pertanyaan tentang dimana keberadaan orang atau kekasihnya tersebut.Pengarang hanya melamun dan mencoba untuk mengobati hatinya sendiri, sepertiyang terlihat dalam larik Hanya kata merangkai hati. Berdasar pada uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa dalam sajakPadamu Jua karya Amir Hamzah tercermin pengalaman penginderaan,pengalaman kegiatan, dan pengalaman rohani. Pengalaman-pengalaman tersebutbisa dilihat dari larik yang dituliskan dan digambarkan oleh pengarang. 56
  • 4.2.6 Analisis Puisi Kolam Karya Rustam Effendi1. Teks PuisiKolamDi tengahkolam yang indahtenang,berenangseekor gangsaSayapnya putihbulunya jernih,jernihbiji matanyaBak pulaileher semampaijunjangmemandangbercermin airRenangnya heningairnya beningheningtiada berdesir.2. Analisis Pengalaman Pengalaman yang terdapat dalam sajak di atas di antaranya pengalamankegiatan dan pengalaman penginderaan. Pengalaman kegiatan yang terdapatdalam sajak di atas dapat dilihat dalam keseluruhan sajak tersebut. Pengalamankegiatan tersebut merupakan suatu pengalaman melihat seorang gadis yangdigambarkan oleh pengarang dengan seekor angsa putih. Kemudian, pengalamanpenginderaan dalam puisi tersebut dapat dilihat dalam larik bulunya jernih, lehersemampai, airnya bening, dan tiada berdesir. Pengalaman penginderaan untukketiga larik pertama yang disebutkan merupakan pengalaman penginderaanpenglihatan karena menggambarkan sesuatu yang dapat dilihat. Selanjutnya,pengalaman penginderaan pendengaran dalam larik terakhir yang disebutkan tadi. 57
  • Dalam larik tiada berdesir bisa digambarkan sesuatu yang sangat tenang dandamai sama halnya dengan suasana ketika seorang pria melihat wanita yangmenurutnya cantik dan anggun.4.2.7 Analisis Puisi Menuju Ke laut Karya S.T Alisjahbana1. Teks PuisiMenuju Ke LautKami telah meninggalkan engkau,Tasik yang tenang tiada beriak,diteduhi gunung yang rimbun,dari angin dan topan.Sebab sekali kami terbangun,dari mimpi yang nikmat.Ombak riak berkejar-kejarandi gelanggang biru di tepi langit.Pasir rata berulang di kecup,tebing curam ditentang diserang,dalam bergurau bersama angin,dalam berlomba bersama mega.Sejak itu jiwa gelisahSelalu berjuang tiada reda.Ketenagan lama serasa beku,gunung pelindung rasa pengalang.Berontak hati hendak bebas,menyerang segala apa mengadang.Gemuruh berderau kami jatuh,terhempas berderai mutiara bercahaya.Gegap gempita suara mengerang,Dahsyat bahna suara menang.Keluh dan gelak silih berganti,pekik dan tempik sambut menyambut.Tetapi betapa sukanya jalan,bedana terhembas, kepala tertumbuk,hati hancur, pikiran kusut, namun kembali tiada inginnamun kembali tiada angin,ketenangan lama tiada diratap. 58
  • Kami telah meninggalkan engkau,Tasik yang tenang tiada beriak,diteduhi gunung yang rimbun,dari angin dan topan.Sebab sekali kami terbangun,dari mimpi yang nikmat.2. Analisis Pengalaman Pengalaman yang terdapat dalam sajak di atas di antaranya, pengalamankegiatan dan pengalaman penginderaan. Pengalaman kegiatan bisa dilihat dalamlarik Kami telah meninggalkan engkau. Dari larik tersebut digambarkan bahwapengarang memiliki pengalaman pergi meninggalkan sesuatu, seseorang ataupunsuatu tempat. Selajutnya, pengalaman penginderaan dapat dilihat dalam larikTasik yang tenang tiada beriak. Kata beriak dalam larik tersebut merupakanpengalaman pengarang ketika menggambrkan sesuatu yang berhubungan denganindera pendengaran. Kemudian, terdapat juga pengalaman penginderaan lainnyadalam larik Gemuruh berderau kami jatuh, Gegap gempita suara mengerang,pekik dan tempik sambut menyambut. Ketiga larik tersebut merupakan konteksdari pengalaman penginderaan pendengaran. Sedangkan larik, terhempas berderaimutiara bercahaya merupakan konteks dari pengalaman penginderaanpenglihatan. Selain pengalaman- pengalaman di atas, terdapat pula pengalaman rohaniyaitu pengalaman berpikir dalam larik Sebab sekali kami terbangun, dari mimpiyang nikmat. Dari kedua larik tersebut, dapat terlihat adanya suatu prosespemikiran tentang pengalaman pengarang dalam menggambarkan sesuatu yangtidak mau ditinggalkan. Sesuatu tersebut bisa diasosiasikan menjadi sebuahangan-angan terhadap kenangan dan pengalaman indah pengarang bersamakekasihnya. 59
  • 4.2.8 Analisis Puisi Kerabat Kita Karya S.T Alisjahbana1. Teks PuisiKerabat KitaBunda,masih kudengar petuamu bergetarwaktu ku tertegun di ambang pintu,melepaskan diriku dari pelikmu :"Hati-hati di rantau orang, anakku sayang,Berkata di bawah-bawah, mandi di hilir-hilir,Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung".Telah lama aku mengembara :jauh rantau kejelajah,banyak selat dan sungai kuseberangi,gunung dan gurun kuedari.Beragam warna, bahasa dan budaya manusia,teman aku bersantap, bercengkerama dan bercumbu,lawan aku bertengkar dan berselisih.Di runtuhan Harapan dan Pompeyi aku ziarah,Dari menara Eifel dan Empire State Buildingaku tafakur memandang semut manusia.Di pembajaan Ruhr dan Nagasakiaku bangga melihat kesanggupan umatberpikir, mengatur dan berbuat.Kuhanyutkan diriku dalam lautan manusiadi Time Square di New York dan di Piccadily di London.Kuresapkan lagu kesepian pengendara untadi gurun pasir dan batu Anatolia,sega Islandia yang megah di padang salju yang putih.Bunda,Pulang dari rantau yang jauhberita girang kubawa kepadamu,resap renungan petua keramat,sendu engkau bisikkan di ambang pintu :Di mana-mana aku menjejakkan kaki,aku berjejak di bumi yang satu.Dan langit yang kunjungdi mana-mana langit kita yang esa.Bunda,Alangkah luasnya dan dahsyatnya kerabat kitakaya budi kaya hati,pusparagam ciptaan dan dambaan. 60
  • 2. Analisis Pengalaman Di dalam sajak di atas tercermin beberapa pengalaman penginderaan danpengalaman kegiatan. Pengalaman penginderaan dapat dilihat dalam larik masihkudengar petuamu bergetar, aku tafakur memandang semut manusia. Dari lariktersebut terlihat adanya pengalaman penginderaan pendengaran dan penglihatan.Indera pendengaran dapat dilihat pada larik pertama yang disebutkan, sedangkanpengalaman penginderaan pendengaran dapat dilihat dalam larik selanjutnya. Selain itu, pengalaman kegiatan yang merupakan kegiatan jasmani dalamsajak tersebut dapat dilihat dalam larik telah lama aku mengembara. Dalam lariktersebut digambarkan bahwa sajak ini merupakan ungkapan pengarang dalammenceritakan pengalamannya mengembara dan merantau ke luar negeri. Selanjutnya, dalam sajak ini juga terdapat pengalaman rohani, yaitupengalaman nilai sosial masyarakat pada saat sajak tersebut ditulis. Pengalamannilai sosial tersebut dapat terlihat dalam bait berikut ini. Di pembajaan Ruhr dan Nagasaki aku bangga melihat kesanggupan umat berpikir, mengatur dan berbuat. Dari bait tersebut dapat terlihat adanya rasa bangga pengarang ketikamelihat suatu tempat atau pemukiman yang pernah ia singgahi. Di sanamasyarakatnya mampu berpikir, dan mengatur kehidupannya dengan baik danteratur. Nilai sosial kemasyarakatan yang pandai dalam berpikir dan berperilakuterlihat dalam bait penggalan bait sajak tersebut. Selain pengalaman-pengalaman tersebut terdapat pula pengalaman rohanilainnya yang merupakan pengalaman nilai budaya, hal tersebut dapat dilihatdalam larik di bawah ini. 61
  • Bunda, Pulang dari rantau yang jauh berita girang kubawa kepadamu, resap renungan petua keramat, sendu engkau bisikkan di ambang pintu : Di mana-mana aku menjejakkan kaki, aku berjejak di bumi yang satu. Dan langit yang kunjung di mana-mana langit kita yang esa. Dari larik tersebut terlihat adanya hubungan antara anggota keluarga yangmerupakan salah satu aspek pengalaman nilai budaya. Berdasar pada uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa dalam sajakKerabat Kita karya S.T Alisjahbana terdapat beberapa pengalaman penginderaan,pengalaman rohani, dan pengalaman kegiatan. Pengalaman penginderaan tersebutyaitu penginderaan penglihatan dan pendengaran, sedangkan pengalaman rohanidalam sajak tersebut yaitu pengalaman nilai sosial dan budaya. Selanjutnya,pengalaman kegiatan yang dimaksud dalam sajak tersebut yaitu pengalamanjasmani yang menggambarkan kisah pengembaraan pengarang.4.2.9 Analisis Puisi Derai-derai Cemara Karya Chairil Anwar1. Teks PuisiDerai-derai cemaraCemara menderai sampai jauhTerasa hari akan jadi malamAda beberapa dahan di tingkap merapuhDipukul angin yang terpendamAku sekarang orangnya bisa tahanSudah beberapa waktu bukan kanak lagiTapi dulu memang ada suatu bahanYang bukan dasar perhitungan kiniHidup hanya menunda-nunda kekalahanTambah terasing dari cinta dan sekolah rendahDan tahu, ada yang tetap tidak diucapkanSebelum pada akhirnya kita menyerah 62
  • 2. Analisis Pengalaman Di dalam sajak di atas, terdapat beberapa pengalaman penginderaan danpengalaman rohani. Pengalaman penginderaan dapat dilihat dalam larik Cemaramenderai sampai jauh. Dari larik tersebut terlihat adanya pengalamanpenginderaan penglihatan. Ungkapan dalam puisi yang berbeda dengan maknasebenarnya Cemara menderai sampai jauh, dipukul angin yang terpendam,seolah-olah mencitrakan sebuah kehidupan yang mulai lelah. Dengan simbol-simbol seperti dahan, yaitu metafora dari bagian tubuh manusia yang mulai lemahdengan kiasan merapuh. Simbolik malam akan mengimajinasikan pada kesunyian,tempat sedang orang istirahat, dan akhir dari sebuah kehidupan, misalnya malamyang biasanya diidentikkan dengan kesunyian, disangkal dengan suara-suaraseperti, menderai dan dipukul. Kemudian, pengalaman rohani yang berupa pengalaman berpikir danperasaan dapat dilihat dalam larik Aku sekarang orangnya bisa tahan, Tambahterasing dari cinta dan sekolah rendah. Dari larik pertama, dapat terlihat adanyapengungkapan kemarahan dan ungkapan tidak tahan terhadap suatu keadaan yangpernah pengarang rasakan. Dalam larik kedua yang disebutkan tersebut, terlihatadanya pengalaman kesepian pengarang yang jauh dari rasa kasih sayang danpendidikan yang kurang dan belum pernah ia rasakan. Kata “Terasing” dalamlarik tersebut seakan menguatkan pernyataan bahwa pengarang pernah kesepiandan merasa jauh dari siapapun. Berdasar pada uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa dalam sajakDerai-derai Cemara karya Chairil Anwar tercermin pengalaman penginderaan 63
  • dan dua pengalaman rohani yaitu pemikiran atas sebuah pemberontakan danpengalaman perasaan yang menggambarkan perasaan kesepian.4.2.10 Analisis Puisi Do’a Karya Chairil Anwar Doa Kepada pemeluk teguhTuhanku,Dalam termanguAku masih menyebut namaMu Biar susah sungguh Menyebut Kau penuh seluruh CahayaMu panas suci Tinggal kerdip lilin di kelam sunyiTuhanku,Aku hilang bentukRemukTuhanku,Aku mengembara di negeri asingTuhanku,Di pintuMu aku mengetukAku tidak bisa berpaling2. Analisis Pengalaman Di dalam puisi di atas terdapat pengalaman penginderaan dan pengalamanrohani. Pengalaman penginderaan dapat dilihat dalam larik CahayaMu panas suci,Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi. Kedua larik tersebut menggambarkan suatupengalaman angan atau gambaran penginderaan penglihatan. Selajutnya,pengalaman rohani yaitu perasaan dan pemikiran ingin bertobat terlihat dalamlarik Di pintuMu aku mengetuk, Aku tidak bisa berpaling. Kemudian, selain duapengalaman tersebut juga terdapat pengalaman lain yaitu pengalaman kehidupanberagama yang dapat dilihat dalam bait berikut. 64
  • Tuhanku, Dalam termangu Aku masih menyebut namaMu Dari bait tersebut, terlihat adanya hubungan seorang umat manusia yangmemohon dan berdoa kepada Tuhannya. Pengalaman lainnya yaitu pengalamankegiatan jasmani yang merupakan pengalaman pengarang yang seringmengembara dan bepergian ke tempat yang jauh. Tidak hanya melakukanperjalanan dan pengembaraan, tetapi juga pengalaman pengarang yang telahmelakukan banyak kesalahan dan dosa. Hal tersebut dapat dilihat dalam baitberikut ini. Tuhanku, Aku hilang bentuk Remuk Tuhanku, Aku mengembara di negeri asing Tuhanku, Di pintuMu aku mengetuk Aku tidak bisa berpaling Dari bait tersebut, dapat digambarkan bahwa keadaan pengarang saat itusudah tidak seperti biasanya. Kata Remuk dan kalimat Aku hilang bentuk sepertimenggambarkan kondisi kehidupan pengarang yang sudah sangat buruk. Berdasar pada uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa dalam sajakDo’a karya Charil Anwar terdapat pengalaman penginderaan, pengalamankegiatan jasmani, pengalaman rohani yaitu pengalaman perasaan dan pemikiran,dan pengalaman kehidupan beragama. 65
  • 4.2.11 Analisis Puisi Karawang-Bekasi Karya Chairil Anwar1. Teks PuisiKARAWANG-BEKASIKami yang kini terbaring antara Karawang-BekasiTidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagiTapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kamiTerbayang kami maju dan berdegap hati ?Kami bicara padamu dalam hening di malam sepiJika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetakKami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debuKenang, kenanglah kamiKami sudah coba apa yang kami bisaTapi kerja belum selesai, belum apa-apaKami sudah beri kami punya jiwaKerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwaKami cuma tulang-tulang berserakanTapi adalah kepunyaanmuKaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakanAtaukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapanAtau tidak untuk apa-apaKami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkataKaulah sekarang yang berkataKami bicara padamu dalam hening di malam sepiJika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetakKenang-kenanglah kamiMenjaga Bung KarnoMenjaga Bung HattaMenjaga Bung SyahrirKami sekarang mayatBerilah kami artiBerjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian 66
  • Kenang-kenanglah kamiYang tinggal tulang-tulang diliputi debuBeribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi2.Analisis Pengalaman Sajak di atas merupakan sajak yang ditujukan kepada para pahlawan takdikenal yang tewas karena peperangan. Pengalaman yang terdapat dalam sajaktersebut di antaranya yaitu pengalaman pengindraan. Hal tersebut daapt terlihatdalam larik Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak. Pengalamanyang tercermin dalam larik tersebut merupakan pengalaman penginderaanpendengaran. Selanjutnya, terdapat pula pengalaman rohani dalam kontekspengalaman berpikir. Hal tersebut dapat dilihat dalam larik Tapi siapakah yangtidak lagi mendengar deru kami, terbang kami maju dan mendegap hati?. Padalarik tersebut dibutuhkan pemikiran untuk memahami kata-kata tersebut di atasterutama sebuah pertanyaan dari Sang Penyair dengan menggunakan citraintelektual. Apakah yang dimaksud dengan “deru kami” pada kalimat tersebut?,lalu apakah yang dimaksud oleh Sang Penyair dengan “terbang kami maju danmendegap hati”?. Bisa jadi yang dimaksud dengan “deru kami” yaitu segalakeinginan dan harapan dari Sang Penyair atau semua gejolak hati yang tidak dapatdisampaikan lewat kata-kata oleh Sang Penyair. Selain pengalaman tersebut, terdapat pula pengalaman kegiatan jasmaniyaitu pengalaman saat pengarang melihat mayat-mayat berserakan yang kemudiandia tuliskan dalam larik Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi. Darilarik tersebut terlihat bahwa pengarang pernah melihat mayat berserakan antara 67
  • Karawang-Bekasi. Mayat-mayat tersebut kemudian pengarang gambarkan dengan“kami terbaring”. Berdasarkan uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa dalam sajakKarawang-Bekasi karya Chairil Anwar terdapat pengalaman penginderaanpendengaran, pengalaman rohani yang berupa pemikiran, dan pengalamankegiatan jasmani.4.2.12 Analisis Sajak Anak Laut Karya Asrul Sani1. Teks PuisiSajak Anak LautSekali ia pergi tiada bertepiKepantai landasan mataharidan bermimpi tengah hariAkan negeri jauhanPasir dan air seakanBercampur. Awantiada menutupmata dan hatinya rindumelihat laut terbentang biru“Sekali aku pergidengan perahu ke negeri jauhandan menyanyikekasih hatilagu merindukan daku”.“Tenggelam matahariUfuk sana tiada nyatabayang-bayang bergerak perlahanaku kembali padanya”.Sekali ia pergi tiada bertopiKepantai landasan mataharidan bermimpi tengah hariAkan negeri di jauhan2. Analisis Pengalaman 68
  • Di dalam sajak di atas tercermin beberapa pengalaman. Salah satupengalaman yang terdapat dalam sajak tersebut yaitu pengalaman penginderaanpenglihatan. Hal tersebut dapat dilihat dalam larik “Tenggelam matahari. Darilarik tersebut diperoleh gambaran matahari yang terbenam atau suasana senja saatsinar matahari sedang redup. Kemudian, pengalaman penginderaan penglihatanjuga dapat dilihat dalam penggalan bait berikut. bayang-bayang bergerak perlahan aku kembali padanya Selanjutnya, terdapat pengalaman kegiatan jasmani menyanyi dalam baitberikut ini. “Sekali aku pergi dengan perahu ke negeri jauhan dan menyanyi kekasih hati lagu merindukan daku”. Dari bait tersebut digambarkan pengalaman pengarang membayangkankehidupan di negeri yang jauh sambil bernyanyi. Dari bait tersebut jugadigambarkan adanya pengalaman rohani perasaan akan sebuah harapandirindukan oleh seseorang. Berdasar pada uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam sajak AnakLaut karya Asrul Sani tercermin pengalaman penginderaan penglihatan,pengalaman kegiatan jasmani, dan pengalaman rohani yaitu perasaanmengharapkan sesuatu.4.2.13 Analisis Puisi Gadis Peminta-minta Karya Toto S Bachtiar1. Teks PuisiGadis Peminta-mintaSetiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecilSenyummu terlalu kekal untuk kenal dukaTengadah padaku, pada bulan merah jambu 69
  • Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwaIngin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecilPulang ke bawah jembatan yang melulur sosokHidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapanGembira dam kemayaan riangDuniamu yang lebih tinggi dari menara ketedralMelintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kauhafalJiwa begitu murni, terlalu murniUntuk membagi dukakuKalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecilBulan di atas itu, tak ada yang punyaDan kotaku, ah kotakuHidupnya tak lagi punya tanda2. Analisis Pengalaman Pengalaman yang tercermin dalam puisi di atas, di antaranya yaitupengalaman kegiatan jasmani. Hal tersebut dapat dilihat dalam larik Setiap kitabertemu, gadis kecil berkaleng kecil. Dari larik tersebut dapat dilihat adanyapengalaamn pertemuan antara pengarang dengan seorang anak kecil perempuanyang digambarkan dengan simbol gadis kecl. Selanjutnya, terdapat pula pengalaman rohani yaitu pengalaman berpikiratau pengalaman yang didasari oleh pemikiran. Gambaran pengalaman tersebutdapat dilihat dalam larik Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan,Gembira dan kemayaan riang. Dari larik tersebut terlihat adanya pemikiran danangan-angan mengenai kemewahan dan kebahagiaan yang tidak pernah dimilikioleh si gadis kecil tersebut. Angan-angan gadis tersebut kemudian pengaranggambarkan dalam larik tersebut. Pengalaman rohani yang juga termasuk dalampengalaman berpikir lainnya terdapat dalam larik Duniamu yang lebih tinggi darimenara ketedral. Dari larik tersebut terlihat adanya suatu pemikiran dan pendapat 70
  • pengarang yang menganggap bahwa gadis kecil tadi memiliki kemuliaan yangsangat tinggi. Hal tersebut digambarkan dengan tingginya menara katedral. Selain pengalaman-pengalaman tersebut, dalam puisi di atas terdapat pulapengalaman penginderaan. Pengalaman penginderaan tersebut dapat dilihat dalamlarik Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kauhafal, Bulan di atasitu, tak ada yang punya. Di dalam kedua larik tersebut terlihat adanya pengalamanpenginderaan penglihatan. Kemudian, terdapat pula pengalaman rohani yaitupengalaman perasaan ingin melakukan suatu perbuatan. Hal tersebut dapat dilihatdalam larik Jiwa begitu murni, terlalu murni, untuk membagi dukaku. Dari kedualarik tersebut dapat dilihat bahwa pengarang sebenarnya ingin bercerita kepada sigadis kecil. Namun, karena suatu hal akhirnya dia mengurungkan niatnya tersebut. Berdasarkan uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa dalam puisiGadis Peminta-minta karya Toto Sudarto Bachtiar tercermin pengalaman rohani,pengalaman jasmani dan pengalaman penginderaan yaitu pengalamanpenginderaan penglihatan.4.2.14 Analisis Puisi Biar Mati Badanku Kini Karya Hamka1. Teks PuisiBiar Mati Badanku KiniBiar mati badanku kiniPayah benar menempuh hidupHanya khayal sepanjang hidupBiar muram pusaraku sunyiCucuk kerah pudingnya redupLebih nyaman tidur di kubur 71
  • 2. Analisis Pengalaman Pengalaman yang tercermin dalam sajak di atas di antaranya yaitupengalaman kegiatan jasmani. Pengalaman tersebut dapat dilihat dalam larikPayah benar menempuh hidup. Dari larik tersebut dapat dilihat adanyapengalaman lelah menjalani suatu kehidupan. Artinya, pengalaman tersebut jugabisa menggambarkan suatu perjalanan hidup yang telah ditempuh pengarang.Pengalaman lainnya yang terdapat dalam puisi tersebut yaitu pengalamanpenginderaan. Hal tersebut dapat dilihat dalam larik Cucuk kerah pudingnyaredup. Selanjutnya, dalam puisi ini juga terdapat pengalaman rohani yaitupengalaman menginginkan dirinya mati agar terlepas dari semua masalkah yangdialami pengarang. Hal tersebut dapat dilihat dalam larik Lebih nyaman tidur dikubur. Berdasar pada uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam sajak BiarMati Badanku Kini karya Hamka tercermin pengalaman kegiatan, pengalamanrohani, dan pengalamana penginderaan.4.2.15 Analisis Puisi Kepada Saudaraku M.Natsir Karya Hamka KEPADA SAUDARAKU M. NATSIR Meskipun bersilang keris di leher Berkilat pedang di hadapan matamu Namun yang benar kau sebut juga benar Cita Muhammad biarlah lahir Bongkar apinya sampai bertemu Hidangkan di atas persada nusa Jibril berdiri sebelah kananmu Mikail berdiri sebelah kiri Lindungan Ilahi memberimu tenaga Suka dan duka kita hadapi Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi Ini berjuta kawan sepaham 72
  • Hidup dan mati bersama-sama Untuk menuntut Ridha Ilahi Dan aku pun masukkan Dalam daftarmu……!2. Analisis Pengalaman Di dalam puisi di atas tercermin pengalaman kegiatan. Pengalama kegiatantersebut merupakan pengalaman kegiatan pengarang melihat kematian seorangsahabatnya yaitu M. Natsir. Hal tersebut dapat dilihat dalam penggalam baitberikut ini. Suka dan duka kita hadapi Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi Selajutnya terdapat pula pengalaman rohani ingin berjuang melawanpeperangan dan penindasan dengan mengobarkan api semangat yang pernahdialami oleh Nabi Muhammad. Hal tersebut dapat dilihat dalam penggalam baitberikut. Meskipun bersilang keris di leher Berkilat pedang di hadapan matamu Namun yang benar kau sebut juga benar Cita Muhammad biarlah lahir Bongkar apinya sampai bertemu Hidangkan di atas persada nusa Dari larik tersebut, terlihat adanya semangat berjuang pengarang yangsangat mengidolakan Nabi Muhammad SAW. Pengalaman lainnya yang terdapatdalam penggalan bait di atas yaitu pengalaman kehidupan beragama. Dikatakandemikian, karena dalam bait tersebut terlihat bahwa pengarang mengidolakan dan 73
  • menjadikan Nabi Muhammad panutan. Nabi Muhammad dalam agama Islammerupakan seorang utusan Allah. Berdasar pada uraian di atas, dalam sajak Kepada Saudaraku M.Natsirkarya Hamka terdapat pengalaman kegiatan, pengalaman rohani, dan pengalamankehidupan beragama.4.2.16 Analisis Puisi Makna Sebuah Titipan Karya W.S Rendra1. Teks Puisi Makna Sebuah Titipan Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya, bahwa hartaku hanya titipan Nya, bahwa putraku hanya titipan Nya, tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ? Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita. Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku. Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika : aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan Nikmat dunia kerap menghampiriku. Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku, Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk 74
  • beribadah... "ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"2. Analisis Pengalaman Pengalaman yang tercermin dalam puisi di atas di antaranya yaitupengalaman kegiatan jasmani. Pengalaman yang dimaksud yaitu pengalamanberkata kepada orang lain mengenai apa yang dia miliki selaman ini. Hal tersebutdapat dilihat dalam larik Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku.Selanjutnya, terdapat pula pengalaman kehidupan beragama. Artinya, pengalamanyang berkaitan dengan hubungan pengarang dengan Tuhannya. Hal tersebut dapatdilihat dalam larik-larik puisi tersebut. Salah satunya dalam larik bahwa mobilkuhanya titipan Nya. Dari larik tersebut, terlihat adanya sebuah pengakuan dankerendahan ahti pengarang yang menganggap bahwa semua yang ia miliki hanyamilik Tuhannya. Kemudian, tercermin pula pengalaman rohani yaitu mengalamikehilangan yang sangat besar. Hal tersebut dapat dilihat dalam larik Mengapahatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?. Dari lariktersebut dapat dilihat bahwa pengarang kelihatan sesuatu yang sangat dia senangidan cintai. Berdasar pada uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa dalam sajakMakna Sebuah Titipan tercermin pengalaman kegiatan, pengalaman kehidupanberagama, dan pengalaman rohani.4.2.17 Analisis Puisi Sebuah Jaket Berlumur Darah Karya Taufik IsmailSebuah Jaket Berlumur DarahSebuah jaket berlumur darahKami semua telah menatapmuTelah pergi duka yang agung 75
  • Dalam kepedihan bertahun-tahunSebuah sungai membatasi kitaDi bawah terik matahari JakartaAntara kebebasan dan penindasanBerlapis senjata dan sangkur bajaAkan mundurkah kita sekarangSeraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’Berikara setia kepada tiraniDan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?Spanduk kumal itu, ya spanduk ituKami semua telah menatapmuDan di atas bangunan-bangunanMenunduk bendera setengah tiangPesan itu telah sampai kemana-manaMelalui kendaraan yang melintasAbang-abang beca, kuli-kuli pelabuhanTeriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasaProsesi jenazah ke pemakamanMereka berkataSemuanya berkata2. Analisis Pengalaman Pengalaman yang terdapat dalam puisi di atas di antaranya yaitupengalaman rohani berpikir. Hal tersebut dapat dilihat dalam bait berikut ini. Sebuah jaket berlumur darah Kami semua telah menatapmu Telah pergi duka yang agung Dalam kepedihan bertahun-tahun Dari bait tersebut, terlihat adanya sebuah pengalaman berpikir tentangsuatu pengorbanan yang telah dilakukan sejak lama. Pemikiran pengarangterhadap pengorbanan dan penderitaan yang pernah dialaminya dia ungkapkandalam bait tersebut. Kemudian, terdapat pula pengalaman kegiatan. Pengalamantersebut dapat dilihat dalam penggalan bait berikut ini. 76
  • Sebuah sungai membatasi kita Di bawah terik matahari Jakarta Antara kebebasan dan penindasan Berlapis senjata dan sangkur baja Akan mundurkah kita sekarang Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’ Berikara setia kepada tirani Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan? Dari bait tersebut, terlihat adanya pengalaman jasmani. Pengalamanjasmani tersebut menggambarkan perjalanan pengarang ketika akan ikutberperang. Dalam bait tersebut dijelaskan bahwa pengarang banyak menemuihambatan dan rintangan. Hal tersebut terlihat dalam larik Sebuah sungaimembatasi kita. Kemudian terlihat pula adanya pengalaman berpikir dalam larikBerikara setia kepada tirani, Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.Dari larik tersebut terlihat adanya pemikiran pengarang tentang kesetiaan dansebuah kepalsuan yang dilakukan para pejabat negara yang berkuasa saat itu. Berdasar pada uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa dalam sajakSebuah Jaket Berlumur Darah karya Taufik Ismali tercermin pengalamankegiatan, pengalaman rohani, yaitu pengalaman berpikir.4.2.18 Analisis Puisi Di Sebuah Halte Bis Karya Sapardi Djoko Pramono1. Teks PuisiDi Sebuah Halte BisHujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis danmembaringkanmu di sana. Kau memang tak pernah berumah,dan hujan tua itu kedengaran terengah batuk-batukdan tampak putih.Pagi harinya anak-anak sekolah yang menunggu di halte bis itu melihat bekas-bekas darah dan mencium bau busuk. Bis takkunjung datang. Anak-anak tak pernah bisa sabar menunggu.Mereka menjadi kesal dan, bagai para pemabok, berjalansempoyongan sambil melempar-lemparkan buku danmenjerit-jerit menyebut-nyebut namamu. 77
  • 2. Analisis Pengalaman Pengalaman yang tercermin dalam puisi di atas di antaranya yaitupengalaman penginderaan. Pengalaman penginderaan tersebut dapat dilihat dalamlarik dan hujan tua itu kedengaran terengah batuk-batuk. Dari larik tersebutterlihat adanya pengalaman penginderaan pendengaran yang digambarkan olehkata “terengah” dan “batuk-batuk”. Kemudian ada juga pengalaman penginderaanpenglihatan dan penciuman. Pengalaman penginderaan penglihatan dapat dilihatdalam larik dan tampak putih. Sedangakan, pengalaman penginderaan penciumanterlihat dari larik itu melihat bekas-bekas darah dan mencium bau busuk. Selain itu, dari keseluruhan konteks puisi atau sajak di atas, terlihat adanyapengalaman rohani yaitu pengalaman berpikir. Dikatakan demikian, karena sajakdi atas merupakan pemikiran pengarang yang menggambarkan seekor anjing liar.Hal tersebut terlihat dari setiap larik dalam sajak tersebut yang membicarakantentang sosok makhluk hidup yang liar, tidak terawat, bahkan namanya seringdijadikan atau disebut untuk mengungkapkan perasaan marah atau kesalseseorang. Hal tersebut bisa dilihat dalam bait berikut ini. Pagi harinya anak-anak sekolah yang menunggu di halte bis itu melihat bekas-bekas darah dan mencium bau busuk. Bis tak kunjung datang. Anak-anak tak pernah bisa sabar menunggu. Mereka menjadi kesal dan, bagai para pemabok, berjalan sempoyongan sambil melempar-lemparkan buku dan menjerit-jerit menyebut-nyebut namamu Dari bait tersebut, dapat digambarkan bahwa yang dibicarakan dalam sajakdi atas memang seekor anjing. Terlebih lagi bila dilihat kembali dari bait pertamapuisi tersebut, terlihat adanya penggantian sosok seekor anjing yang pengaranggambarkan dengan sosok “kau”. 78
  • Berdasar pada uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa dalam sajakDi Sebuah Halte Bis karya Sapardi Djoko Pramono tercermin pengalamanpenginderaan. Pengalaman penginderaan tersebut meliputi penginderaanpenglihatan, penciuman, dan pendengaran. Selain itu, terdapat juga pengalamanberpikir pengarang yang termasuk dalam pengalaman rohani.4.2.19 Analisis Puisi Dewa Telah Mati Karya Subagio Sastrowardojo1. Teks PuisiDEWA TELAH MATITak ada dewa di rawa-rawa iniHanya gagak yang mengakak malam hariDan siang terbang mengitari bangkaipertapa yang terbunuh dekat kuilDewa telah mati di tepi-tepi iniHanya ular yang mendesir dekat sumberLalu minum dari mulutpelacur yang tersenyum dengan bayang sendiriBumi ini perempuan jalangyang menarik laki-laki jantan dan pertapake rawa-rawa mesum inidan membunuhnya pagi hari.2. Analisis Pengalaman Pengalaman yang tercermin dalam puisi di atas yaitu di antaranyapengalaman penginderaan. Pengalaman penginderaan yang terdapat dalam sajakatau puisi di atas meliputi pengalaman penginderaan pendengaran danpenginderaan penglihatan. Pengalaman penginderaan pendengaran dapat dilihatdalam larik Hanya gagak yang mengakak malam hari, Hanya ular yang mendesirdekat sumber. Sedangkan pengalaman penginderaan penglihatan dapat dilihatdalam larik pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri. Dikatakan demikian,karena dalam larik tersebut terdapat kata “tersenyum”, pengarang mengimajikan 79
  • sebuah senyuman pada seorang pelacur. Artinya, ada penggunaan inderapenglihatan dalam larik tersebut. Kemudian, terdapat pula pengalaman berpikiryang dapat dilihat dalam larik Bumi ini perempuan jalang. Dari larik tersebut,pengarang menggunakan pikirannya untuk membuat perumpamaan bahwa bumiimi meupakan perempuan jalang. Perumpamaan tersebut didasarkan ataspengalaman pengarang selama menjalani hidup di bumi dan semua hal yang diarasakan dan ketahui, kemudian berdasar pada semua hal tersebut pengarangmemiliki pendapat bahwa bumi ini sama halnya dengan perempuan jalang. Berdasarkan uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa dalam sajakDewa Telah Mati karya Subagio Sastrowardojo tercermin pengalamanpenginderaan penglihatan, pengalaman penginderaan pendengaran danpengalaman rohani yaitu pengalaman berpikir.4.2.20 Analisis Puisi Jembatan Karya Sutardi Calzoum Bachri1. Teks Puisi Jembatan Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung airmata bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi dalam teduh pekewuh dalam isyarat dan kisah tanpa makna. Maka aku pun pergi menatap pada wajah berjuta. Wajah orang jalanan yang berdiri satu kaki dalam penuh sesak bis kota. Wajah orang tergusur. Wajah yang ditilang malang. Wajah legam para pemulung yang memungut remah-remah pembangunan. Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar penonton etalase indah di berbagai palaza. Wajah yang diam-diam menjerit mengucap tanah air kita satu bangsa kita satu bahasa kita satu bendera kita satu ! Tapi wahai saudara satu bendera kenapa sementara jalan jalan mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah 80
  • yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang di antara kita ? Di lembah-lembah kusam pada puncak tilang kersang dan otot linu mengerang mereka pancangkan koyak-miyak bendera hati dipijak ketidakpedulian pada saudara. Gerimis tak mampu mengucapkan kibarnnya. Lalu tanpa tangis mereka menyanyi padamu negeri airmata kami.2. Analisis Pengalaman Pengalaman yang tercermin dalam puisi di atas di antaranya yaitupengalaman kegiatan. Pengalaman kegiatan yang terdapat dalam puisi tersebutmerupakan pengalaman kegiatan jasmani. Pengalaman tersebut bisa dilihat dalamlarik Maka aku pun pergi menatap pada wajah berjuta. Wajah orang. Dari lariktersebut terlihat adanya pengalaman pergi untuk melihat atau menatap banyaknyawajah yang menginginkan kemerdekaan dari segala bentuk penjajahan danketidakadilan. Selanjutnya, terdapat pula pengalaman rohani yaitu pengalamanberpikir. Hal tersebut terlihat dalam penggalan bait berikut ini. indah di berbagai palaza. Wajah yang diam-diam menjerit mengucap tanah air kita satu bangsa kita satu bahasa kita satu bendera kita satu ! Dari larik tersebut dapat digambarkan bahwa pengarang memilikipemikiran tentang kesatuan dan persatuan yang ingin ia kobarkan kepada oranglain yang tertindas. Selain pengalaman berpikir yang dapat dilihat dalam penggalabait tersebut, terdapat juga pengalaman berpikir lain yang dapat dilihat dalampenggalan bait berikut ini. Tapi wahai saudara satu bendera kenapa sementara jalan jalan mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang di antara kita ? 81
  • Berdasar pada uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa dalam sajakJembatan karya Sutardi Calzoum Bachri tercermin pengalaman kegiatan jasmani,pengalaman rohani yaitu berpikir. Sesungguhnya sajak jembatan merupakan sajakyang memiliki banyak pengalaman berpikir dan pengalaman rohani. Dikatakandemikian, karena walaupun sajak ini diciptakan bukan pada saat peperangan,tetapi sajak ini dibuat saat masyarakat Indonesia terhimpit kesulitan ekonomi,ketidakpercayaan terhadap penguasa, dan masa kebangkitan pemerintah. Haltersebut yang menjadikan sajak ini sarat dengan semangat dan pesan moral yangdisampaikan pengarangnya.4.3 Pembahasan Hasil Analisis Pada bagian akhir bab IV ini, penulis akan menyimpulkan hasil analisisyang telah dikemukakan sebelumnya. Setelah mengkaji dan menganalisis dengancermat puisi-puisi yang ditulis oleh sastrawan yang tergolong dalam AngkatanBalai Pustakan-Angkatan 70, penulis akan memaparkan pembahasan hasil analisispuisi-puisi tersebut ditinjau dari pengalaman-pengalaman yang tercermin, sertaketerkaitannya dengan unsur-unsur lain dalam puisi-puisi tersebut.1. Pembahasan Pengalaman Kegiatan Pengalaman kegiatan yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu semuajenis kegiatan jasmani yang pernah dialami ataupun tercermin dalam puisi-puisiAngkatan Balai Pustaka-Angkatan 70. Pengalaman-pengalaman kegiatan jasmaniini meliputi kegiatan yang melibatkan semua organ tubuh, tangan, kaki, telinga,mulut ataupun organ tubuh lainnya. Pengalaman jasmani yang terecrmin dalampuisi-puisi atau sajak Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70 cukup beragam. 82
  • Pengalaman tersebut dicerminkan dalam Puisi Tanah Airku, Indonesia TumpahDarahku, Padamu Jua, Dibawa Gelombang, Kolam, Menuju Ke Laut, KerabatKita, Do’a, Karawang-Bekasi, Sajak Anak Laut, Biar Mati Badanku Kini, KepadaSaudaraku M.Natsir, dan Sajak Sebuah Jaket Berlumur Darah. Dalam sajak-sajaktersebut terdapat pengalaman kegiatan jasmani seperti duduk, memandang,melihat, dan bahkan berperang. Hal tersebut dapat dilihat dalam larik sajakSebuah Jaket Berlumur Darah karya Taufik Ismail. Dengan demikian, dapatdisimpulkan bahwa pengalaman kegiatan jasmani hampir terdapat dalam seluruhpuisi Angkatan Balai Pustaka- Angkatan 70, sebagian besar pengalaman tersebutmerupakan pengalaman-pengalaman hidup dalam sebuah kehidupan yangdiwarnai peperangan, kesengasaraan, dan kehidupan pada masa kebangkitanpemerintah.2. Pembahasan Pengalaman Rohani Pengalaman rohani yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu pengalamanberpikir, berangan-angan, berharap, pengalaman nilai budaya, pengalaman nilaisosial dan pengalaman lainnya yang melibatkan pikiran, norma dan perasaan.Pengalaman rohani tercermin dalam puisi Indonesia Tumpah Darahku, BerdiriAku, Padamu Jua, Dibawa Gelombang, Padamu Jua, Menuju Ke Laut, KerabatKita, Derai-derai Cemara, Do’a, dan Karawang-Bekasi. Sebagian besarpengalaman rohani tersebut merupakan pengalaman berpikir. Hal tersebutdidasarkan pada suasana atau kondisi kehidupan saat sajak tersebut ditulis. Selainitu, terdapat pula pengalaman rohani yang merupakan nilai sosial. Pengalamantersebut dapat dilihat dalam sajak Dibawa Gelombang karya Sanusi Pane. SelainPengalaman nilai sosial, tercermin pula pengalaman nilai budaya dalam sajak 83
  • Kerabat Kita karya S.T Alisjahbana. Di dalam sajak tersebut terlihat adanya aspeknilai budaya yaitu hubungan antara orang tua dan anaknya yang termasuk dalamaspek sistem kekerabatan dalam nilai budaya. Pengalaman rohani lainnyamencakup pengalaman perasaan menginginkan sesuatu, merindukan sesuatu,bahkan pengalaman berangan-angan.3. Pembahasan Pengalaman Penginderaan Pengalaman penginderaan yang dimaksud dalam penelitian ini mencakupengalaman penginderaan penglihatan, penginderaan pendengaran, penginderaanpenciuman, penginderaan perabaan. Pengalaman penginderaan tersebut juga bisadisamakan dengan aspek imaji atau citraan yang terdapat dalam puisi-puisitersebut. Pengalaman-pengalaman penginderaan tersebut tercermin dalam sajakTanah Airku, Indonesia Tumpah Darahku, Berdiri Aku, Dibawa Gelombang,Padamu Jua, Kolam, Menuju Ke Laut, Kerabat Kita, Derai-derai Cemara, Do’a,Karawang-Bekasi, Sajak Anak Laut, Gadis Peminta-minta, Biar Mati BadankuKini, Di Sebuah Halte Bis, dan Dewa Telah Mati. Pengalaman penginderaan yangpaling banyak dicermikan dalam puisi Angkatan Balai Pustaka-Angkatan 70yaitu pengalaman penginderaan pendengaran dan penglihatan. Namun, terdapatjuga satu pengalaman penginderaan penciuman dalam sajak Di Sebuah Halte Biskarya Sapardi Djoko Pramono.4. Pembahasan Pengalaman Kehidupan Beragama Pengalaman kehidupan beragama yang dimaksud dalam penelitian inimencakup pengalaman pengarang sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhandan pengalaman pengarang ketika berhubungan dengan Tuhannya ataupun pesan 84
  • yang disampaikan pengarang terkait dengan unsur-unsur keagamaan. Pengalamankehidupan beragama tercermin dalam sajak Berdiri Aku, Do’a, Kepada SaudarakuM.Natsir, dan Makna Sebuah Titipan. Dalam sajak-sajak tersebut tercerminadanya pengalaman ingin bertobat dan memohon ampuanan kepada Tuhan. Haltersebut dapat dilihat dalam sajak Berdiri Aku karya Amir Hamzah dan Do’akarya Chairil Anwar. Namun, terdapat pula pengalaman kehidupan beragamayang lain yaitu pengalaman menginspirasikan utusan Tuhan. Hal tersebut dapatdilihat dalam sajak Kepada Saudaraku M.Natsir karya Hamka. Di dalam sajaktersebut digambarkan rasa kagum pengarang kepada Nabi Muhammad SAW.Selain itu, dalam sajak Makna Sebuah Titipan karya W.S Rendra digambarkansikap dan pengalaman pengarang yang mengikhlaskan sesuatu yang hilang daridirinya dan menganggap bahwa semua yang ia miliki hanyalah milik Tuhan.Sajak tersebut berisi pesan dan amanat agar manusia tidak pernah lupa bahwasemua yang dia miliki, entah itu harta, jabatan ataupun kekuasaan semuanyahanyalah titipan dan suatu hari dapat diambil kembali.4.4 Analisis Kesesuaian Pemilihan Bahan Pembelajaran Berdasarkan hasil analisis terhadap puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka-Angkatan 70 dapat penulis simpulkan bahwa dalam puisi-puisi tersbeut terdapatpengalaman kegiatan yang meliputi aspek jasmani, pengalaman rohani,pengalaman penginderaan, dan pengalaman kehidupan beragama. Pengalaman-pengalaman tersebut digambarkan oleh pengarang agar pembaca atau penikmatsastra dapat mengetahui pengalaman kehidupan yang pengarang alami. Selain itu, 85
  • agar penikmat sastra bisa memahami dan mengalami kehidupan saat karya sastratersebut diciptakan. Di dalam pengalaman-pengalaman tersebut dicerminkan pesan dan maknakehidupan yang tinggi sehingga penikmat sastra dapat mengambil contohpengalaman dan perilaku baik yang terdapat dalam pengalaman-pengalamantersebut. Oleh karena itu, puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka-Angkatan 70 telahmemenuhi kriteria bahan pembelajaran apresiasi puisi. Hal yang menjadi dasarkriteria dan menjadi acuan adalah unsur-unsur pengalaman dalam puisi-puisitersebut layak untuk dijadikan sebagai bahan pembelajaran apresiasi puisi. Selainitu, puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka-Angkatan 70 mengandung nilai didaktis,nilai sosial, nilai budaya, dan nilai religius. Nilai-nilai kehidupan tersebuttercermin dalam pengalaman-pengalaman yang terdapat daam setiap bait puisitersebut. Rahmanto (1988:27) mengungkapkan tiga faktor yang harusdipertimbangkan dalam menyeleksi bahan pembelajaran apresiasi puisi. Faktor-faktor tersebut adalah faktor bahasa, faktor psikologis, dan faktor latar belakangbudaya. Berikut penulis paparkan secara singkat ketiga faktor tersebut.1. Pertimbangan dalam Segi Bahasa Pemilihan bahan pembelajaran sastra harus sesuai dengan masaperkembangan bahasa siswa. Bahasa yang mudah dipahami oleh siswa akanmemudahkan siswa untuk mengapresiasi karya sastra tersebut. Bila siswamengalami kesulitan memahami bahasa dalam karya sastra tersebut, guru harusmenjelaskan kata-kata atau kalimat yang dianggap sulit oleh siswa. Bahasa yang 86
  • digunakan dalam puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70 cukupsederhana dan mudah dipahami oleh siswa, khususnya untuk siswa tingkat SMA.2. Pertimbangan dalam Segi Psikologis Memilih bahan pembelajaran sastra harus mempertimbangkan tahap-tahapperkembangan psikologis. Hal tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap minatsiswa. Selain itu, faktor psikologis berpengaruh terhadap daya ingat, kemauanmengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama, dan kemungkinan pemahamanterhadap masalah yang dihadapi. Puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan70 sesuai dengan tahap perkembangan psikologis siswa SMA. Hal itu didasarkanpada pengalaman-pengalaman yang terdapat dalam puisi-puisi tersebut berkisartentang kehidupan nyata pengarang saat diciptakannya puisi-puisi tersebut.Pengalaman-pengalaman tersebut banyak yang berisi kisah perjuangan pengaranguntuk mendapatkan sesuatu, dan gambaran nilai-nilai kehidupan lainnya.3. Pertimbangan dalam Segi Latar Belakang Budaya Bahan ajar harus sanggup berperan sebagai sarana pendidikan menuju kearah pembentukan pribadi siswa. Latar belakang budaya meliputi hampir semuafaktor kehidupan manusia dan lingkungan seperti geografis, sejarah, topografi,iklim, mitologi, legenda, pekerjaan, kepercayaan, cara berpikir, nilai-nilaimasyarakat, moral, dan sebagainya. Dengan kata lain, penyusunan bahan ajarhendaknya disesuaikan dengan lingkungan hidup mereka. Nilai budaya dalampuisi-puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70 sesuai dengan latar belakangbudaya siswa SMA. Nilai budaya yang terkandung dalam puisi-puisi tersebutberisi nilai-nilai releigius dan sistem kemasyarakatan yang bisa dijadikan amanatdan pesan yang dapat diterapkan dalam kehidupan siswa. 87
  • Berdasarkan pada ketiga kriteria tersebut, jika dilihat dari unsur-unsurpengalaman yang dicerminkan pengarang dalam puisi-puisi Angkatan BalaiPustaka – Angkatan 70 dapat dikatakan bahwa cara pengarang menggambarkanpengalaman dalam puisi-puisi menggunakan bahasa yang sesuai dengan tahapperkembangan bahasa anak, sehingga pembaca (siswa) memahami ide, gagasan,perasaan, dan pengalaman yang tertuang dalam puisi tersebut. Ditinjau dari segi psikologis peserta didik, puisi-puisi Angkatan BalaiPustaka – Angkatan 70 tepat dijadikan sebagai bahan pembelajaran apresiasi puisidi SMA. Hal tersebut dikarenakan pada masa ini mereka mulai mencari jati diridan mulai beranjak dewasa. Pada masa ini, siswa mulai memahami nilai-nilaikehidupan dan membutuhkan pengalaman-pengalaman yang dapat meningkatkanpengetahuan dan kepekaan mereka terhadap unsur-unsur kehidupan. Puisi-puisiAngkatan Balai Pustaka – Angkatan 70 berisi pengalaman-pengalaman yangmenggambarkan kisah percintaan, kekeluargaan, perjuangan mendapatkansesuatu, dan nilai-nilai agama. Dengan demikian, puisi-puisi tersebut tepat biladisajikan dalam pembelajaran apresiasi puisi di SMA. Ditinjau dari segi latar belakang budaya, puisi-puisi Angkatan BalaiPustaka – Angkatan 70 tepat bila disajikan dalam pembelajaran apresiasi puisi diSMA. Hal tersebut dikarenakan puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan70 mengandung unsur-unsur kebudayaan yang erat dengan kehidupan siswa.Kebudayaan masyarakat Indonesia dan sistem kemasyarakatan, keagamaan dalampuisi-puisi tersebut mencerminkan kehidupan yang begitu keras dan penuhperjuangan, namun terdapat pula hal-hal indah dan unik lainnya yang menjadikan 88
  • puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70 layak untuk dijadikan sebagaibahan pembelajaran apresiasi puisi di SMA. Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa puisi-puisiAngkatan Balai Pustaka – Angkatan 70 digunakan sebagai bahan pembelajaranapresiasi puisi di SMA. Hal tersebut didasarkan pada pengalaman-pengalamanyang terdapat dalam puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70.Gambaran pengalaman-pengalaman tersebut sesuai dengan perkembangan bahasasiswa SMA dan juga dari segi psikologis sangat erat kaitannya dengan kehidupanyang dijalani siswa SMA saat ini. Demikian juga bila dilihat dari latar belakangbudaya, pengalaman-pengalaman yang terdapat dalam puisi Angkatan BalaiPustaka – Angkatan 70 mengandung nilai-nilai kebudayaan yang tinggi dan sesuaidengan lingkungan kehidupan siswa SMA. 89
  • BAB V SIMPULAN DAN SARAN5.1 Simpulan Masalah dan tujuan penelitian yang telah ditetapkan dalampenelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengalaman-pengalaman dankelayakan puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70 dijadikan sebagaialternatif bahan pembelajaran. Hasil analisis yang telah penulis lakukan dapatdisimpulkan sebagai berikut.1. Di dalam puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70 mengandung banyak pengalaman kehidupan. Pengalaman-pengalaman tersebut digambarkan dalam larik-larik yang terdapat dalam puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70. Selain itu, pengalaman-pengalaman tersebut merupakan gambaran perilaku, pemikiran, kejadian, dan perasaan pengarang saat karya sastra atau puisi tersebut diciptakan. Selain dari larik-larik dalam puisi, ada juga pengalaman yang tercermin dalam bait dan bahkan pengalaman yang digambarkan dan dicerminkan dari seluruh bait atau isi puisi tersebut.2. Pengalaman-pengalaman yang tercermin dalam puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70 mencakup pengalaman kegiatan yang meliput kegiatan jasmani dan perbuatan, pengalaman rohani yang meliputi pengalaman perasaan, berpikir, pengalaman nilai sosial dan pengalaman nilai budaya. Selain itu, tercermin pula pengalaman penginderaan yang meliputi penginderaan pendengaran, penginderaan penglihatan, dan penglihatan penciuman dan juga tercermin pengalaman kehidupan beragama. Pengalaman- pengalaman tersebut mencerminkan betapa keras dan susahnya hidup di saat 90
  • perjuangan dan kurangnya kesejatheraan. Di antara pengalaman-pengalaman tersebut tercermin pengalaman berperang, berjuang dan pengalaman meminta ampunan kepada Tuhan. Pengalaman yang paling banyak tercermin dalam puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70 yaitu pengalaman kegiatan, rohani dan pengalaman penginderaan. Pengalaman kehidupan beragama hanya tercermin dalam 4 buah puisi dari total 20 puisi yang dijadikan sampel penelitian.3. Berdasarkan analisis pengalaman-pengalaman yang tercermin ternyata puisi- puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70 dapat digunakan sebagai alternatif bahan pembelajaran apresiasi puisi di SMA. Hal ini berdasarkan hasil analisis ternyata aspek-apsek pengalaman yang tercermin dalam puisi- puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan relevan dengan kehidupan masyarakat sebenarnya, sehingga puisi-puisi tersebut layak dijadikan bahan pembelajaran apresiasi puisi di SMA.5.2 Saran Pada bagian akhir penelitian ini penulis ingin menyampaikan beberapasaran sehubungan dengan penelitian yang telah dilakukan. Adapun saran-saranyang ingin penulis sampaikan adalah sebagai berikut.1. Guru bahasa dan sastra Indonesia hendaknya menggunakan puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70 sebagai bahan pembelajaran apresiasi sastra, khusunya puisi di SMA. Hal ini didasarkan pada hasil analisis yang telah dilakukan oleh penulis ternyata pengalaman-pengalaman yang tercermin dalam puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70 telah memenuhi kriteria pemilihan bahan pembelajaran sastra. 91
  • 2. Hasil penelitian ini tidak hanya dapat digunakan dalam pembelajaran sastra, tetapi juga dapat digunakan dalam pembelajaran menulis puisi dan pembelajaran gaya bahasa. Dikatakan demikian, karena ternyata pengalaman- pengalaman yang terdapat dalam puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka – Angkatan 70 mengandung banyak perumpamaan dan gaya bahasa. Hal tersebut dapat dijadikan alasan untuk memasukan unsur-unsur pengalaman sebagai bahan pembelajaran menulis puisi, dan bahkan pembelajaran gaya bahasa. Hal tersebut dilakukan agar siswa tidak mengalami kesulitan dalam menyampaikan ide, gagasan dan pengalamannya dalam bentuk bahasa tulis.3. Guru hendaknya mengkaji pengalaman-pengalaman yang terdapat dalam karya sastra sebagai acuan ketika akan menentukan bahan pembelajaran apresiasi sastra. Sebagian besar pengkajian hanya dilakukan pada struktur dan gaya bahasa suatu karya sastra, tidak mencakup pengalaman-pengalaman yang terdapat dalam karya sastra.4. Untuk mengkaji pengalaman-pengalaman dalam karya sastra, khusunya puisi dapat dilakukan melalui pengakajian unsur-unsur yang membangun karya sastra tersebut. 92
  • DAFTAR PUSTAKAAbrams, M.H. (1979). Mirror and the lamp. London : Oxford University Press.Altenbernd. (1970). A Handbook for the Study of Poetry. London. Collier Ltd.Aminuddin. (1977). Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru.Ampera, T. (2010). Pengajaran Sastra. Bandung : Widya.Arikunto, S. (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.Cohen. (1973). Sense of Poetry. London : Oxord University Press.Damono, S.J. (1984). Perahu Kertas. Jakarta : Balai Putaka.Doreksi. (1988). The Evaluation of Literary Texts. London : De Ridder PressDepdiknas. (2004). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.Esten, M. (1990). Kesusastraan: Pengantar Teori dan Sejarah. Bandung: Angkasa.Luxemburg, J.V. (1984). Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta : PT Gramedia.Meyer. (1987). An Introduction to Fiction. London : Rinehart and Winston, Inc.Nurgiantoro, B. (1998). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gajah Mada Press.Pradopo, R.J. (2003). Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, Dan Penerapannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.Pradopo, R.J. (2007 Pengkajian Puisi. Yogyakarta. Gajah Mada Press.Rahmanto. (1988). Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta : Kanisius.Ratna, K. (2004). Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.Rollof. (1973). A Prague School Reader on Esthetics. Jakarta : Gramedia PustakaRosidi, A. (1959). Cari Muatan. Jakarta : Balai Pustaka.Rosidi, A. (1964). Kapankah Kesusatraan Indonesia Lahir?. Jakarta : Bharatara. 93
  • Rusyana, Y. (1982). Metode Pengajaran Sastra. Bandung : CV Gunung Larang.Sudjiman, P. (1984). Kamus Istilah Sastra. Jakarta : Universitas IndonesiaSuharianto, S. (1985). Dasar-dasar Teori Sastra. Semarang. Rumah IndonesiaSurakhmad, W. (1994). Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung : Tarsito.Teeuw, A. (1983). Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta : Gramedia.Teeuw, A. (1988). Tergantung pada Kata. Jakarta : Pustaka JayaTeeuw, A. (1998). Sastra Indonesia Modern II. Jakarta : Pustaka Jaya.Waluyo, H.S. (1991). Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta : Erlangga.Wellek, R.(1968). Teori Kesusastraan. Jakarta : Gramedia. 94
  • RIWAYAT HIDUP Henda Suhenda lahir di Sumedang pada tanggal 10 Juni 1990, sebagai putra kedua dari tiga bersaudara pasangan Bapak Uyu Wahyu dan Ibu Oyoh. Penulis menamatkan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Negeri Bantargintung pada tahun 2001. Pada tahun 2004 penulis menamatkan pendidikan tingkat menengah di SekolahMenengah Pertama Negeri 1 Tomo.Pendidikan tingkat atas ditempuh di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 CimalakaKabupaten Sumedang dan lulus pada tahun 2007. Dengan dukungan dan dorongan dari orang tua, pada tahun 2007 penulismelanjutkan pendidikan di STKIP Sebelas April Sumedang pada jurusanDikbasasinda dengan jenjang S1. Saat ini penulis bertempat tinggal di DusunBantargintung Desa Karyamukti Kecamatan Tomo Kabupaten Sumedang. 99