Your SlideShare is downloading. ×
1
TINGKAT KEBUGARAN PADA MAHASISWA DENGAN OLAH RAGA TAEKWONDO
DI UNIVERSITAS AIRLANGGA
ABSTRACT
FITNESS LEVEL IN STUDENTS ...
2
istirahat, tidak semua orang menjadikan
olahraga sebagai bagian dari rutinitas
kegiatannya. Dari studi pendahuluan di
Un...
3
taekwondoin pria dan wanita usia 20 tahun
memiliki rata-rata VO2 max antara 54-61
ml/kg (Kordi et.al, 2009).
Populer nya...
Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara tingkat
kebugaran pada mahasiswa dengan olah raga
Taekwondo di Universitas Airl...
mempergunakan otot untuk menerima
beban sewaktu bekerja.
2. Daya tahan (Endurance)
Dalam hal ini dikenal dengan dua daya
t...
Tabel 2.1 Hubungan antara umur, jenis kelamin, nadi istirahat bedasarkan tingkat latihan menurut Carol &
Smith (1992)
Nadi...
dewasa adalah 12-20 kali/menit (potter & Perry,
2005).
Kebugaran juga dapat dinilai dengan melakukan
beberapa metode tes a...
Adapun konsep olahraga kesehatan adalah
padat gerak, bebas stres, singkat (cukup 10 - 30 menit
tanpa henti), adekuat, mass...
ini dapat meningkatkan tonus dan kelenturan otot
dan meningkatkan kebugaran kardio-respirator.
4. Latihan Anaerobik
Latiha...
seiring perkembangan Taekwondo yang makin maju
dan populer, hingga sampai ke Indonesia dan
berkembang tahun 1970. Taekwond...
hasilnya akan relatif kuat dan cepat. Latihan power
dalam olahraga taekwondo banyak menggunakan
plyometric, misalnya lompa...
21
tahun
4
20%
20
tahun
7
35%
22
tahun
4
20%
19
tahun
4
20%
24
tahun
1
5%
laki-laki
60%
perempu
an
40%
3 tahun
30%
2 tahun...
Data khusus
Tabel 5. 1 Hasil observasi VO2 max responden
tingkat kebugaran pada mahasiswa dengan olah raga
Taekwondo di Un...
Pembahasan
Kebugaran fisik pada mahasiswa
dengan olahraga Taekwondo
Hasil pemeriksaan fisik ditemukan
mayoritas kebugaran ...
<140mmHg, distole <90 mmHg. Hal
ini menunjukan kondisi fisik
responden yang baik. Dengan TTV
berada pada nilai normal tubu...
3. Bagi klub terkait
Karena telah terbukti menunjukan hasil
yang baik bagi kebugaran anggotanya pada
usia 18-25, melihat b...
Melhim, A. F. (2001). Aerobic and anaerobic power
responses to the practice of Taekwondo.
Brj. sport Med. volume.35 , 231-...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Artikel jurnal tingkat kebugaran pada mahasiswa dengan olah raga Taekwondo

15,833

Published on

journal unair

Published in: Sports
2 Comments
7 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
15,833
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
240
Comments
2
Likes
7
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Artikel jurnal tingkat kebugaran pada mahasiswa dengan olah raga Taekwondo"

  1. 1. 1 TINGKAT KEBUGARAN PADA MAHASISWA DENGAN OLAH RAGA TAEKWONDO DI UNIVERSITAS AIRLANGGA ABSTRACT FITNESS LEVEL IN STUDENTS WITH TAEKWONDO SPORT at AIRLANGGA UNIVERSITY by: AGUSTIAN SAQURIN Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga 2013 Students with their activities and bustle are required to have a good physical fitness in order to not disrupt their daily activities. Some sources say that sport, is one ways to improve fitness. One of popular sports lately and good for fitness is Taekwondo. This study is expected to be able to describe the fitness level of students with Taekwondo sport at Airlangga University briefly and clearly. This is a descriptive research with evaluation study design. Samples were taken from students of Airlangga University who are members of the UKM Taekwondo UNAIR using purposive sampling method. From that, it is obtained 20 respondents. Fitness can be measured by looking at the Harvard Step Test, 15 minutes run test, and measurement of the vital signs for each respondent. As a result, there is relationship between fitness level in students with Taekwondo sport at Airlangga University. Majority of the respondents showed a good fitness level indicated by VO2 max, fitness index, also vital signs involve heart rate, respiratory rate, and blood pressure. From the result of the research, it can be concluded that the physical fitness of students with Taekwondo sport at Airlangga University are in a good level. This research found that Taekwondo training provides fitness benefit to its members. Further research is expected to be able to explain the short-term effects of practicing Taekwondo for its members with different and larger respondents Keywords: level of fitness, sport, Taekwondo PENDAHULUAN Latar Belakang Mahasiswa adalah murid pada perguruan tinggi yang memulai jenjang kedewasaan (Daldiyono, 2009). Mahasiswa dalam tahap perkembangannya digolongkan sebagai remaja akhir dan dewasa awal, yaitu usia 18-21 tahun dan 22-24 tahun (Knoers, F.J, & Haditono, 2001). Fase tersebut merupakan masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode komitmen dan masa ketergantungan perubahan nilai-nilai, kreatifitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru (Indarjo, 2009). Mahasiswa merupakan bagian dari civitas akademika yang berperan untuk mengembangkan diri, sebab mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa di masa mendatang. Untuk itu seorang mahasiswa harus memilki cara pandang yang baik, jiwa kepribadian serta mental yang sehat dan kuat dalam menghadapi masalah apapun. Kebugaran adalah kapasitas tubuh secara umum dalam menghadapi kerja fisik baik dalam posisi bergerak maupun duduk dengan aman dan efektif dan masih dapat memnuhi fungsinya dalam keluarga maupun masyarakat serta menikmati kegiatan pilihannya tanpa mengalami kelelahan (Siregar, 2010). Dengan demikian setiap orang mutlak memerlukan kebugaran agar bisa menjalankan kehidupannya dengan nyaman tanpa keluhan.Namun karena kesibukan aktifitas dan tugas kuliah, dimungkinkan seorang mahasiswa menjadikan olah raga bukan sebagai prioritas yang harus dilaksanakan, yang pada akhirnya mempengaruhi kebugaran tubuhnya. Penelitian Taylor mengatakan bahwa ujian, praktikum, tugas memicu timbulnya gangguan yang berhubungan dengan peristiwa akademik, yang dalam tingkat keparahan tinggi dapat menekan ketahanan tubuh (Ariana, 2006). Sebagai mahasiswa, kebugaran mutlak diperlukan agar dapat menjalankan setiap kewajiban di kampus dengan baik dan agar dapat berkembang secara akademis.Lain halnya dengan makan dan
  2. 2. 2 istirahat, tidak semua orang menjadikan olahraga sebagai bagian dari rutinitas kegiatannya. Dari studi pendahuluan di Universitas Airlangga diketahui bahwa rata- rata hanya 3 dari 10 mahasiswa yang masih rutin melakukan olahraga (Yulianti, 2008). Di Indonesia, sebuah penelitian yang dimuat pada Majalah Ilmu Faal Indonesia menyatakan bahwa dari 30 orang responden remaja usia 18 hingga 23 tahun yang diteliti kebugaran jasmaninya, 22 orang berada pada level buruk, 8 orang pada level sedang dan tidak ada yang berada pada level baik (Indrawagita, 2009). Peneliti lain mengatakan, level kebugaran nasional pelajar di Indonesia hanya 45,9% yang ditunjukan dengan level rendah dan sangat rendah (Anggrawati, 2009). Dalam hal kebugaran, perkembangan dunia keperawatan sekarang ini tidak hanya sebatas di rumah sakit saja tetapi lebih dari itu perawat dapat terlibat dalam aktivitas olah raga pada lingkup persiapan dan evaluasi aktivitas, pencegahan & penanganan cedera, serta rehabilitasi (Wong, 2002). Pemberian konseling untuk partisipasi dalam olah raga akan memberikan kesenangan dan keuntungan fisik dari usia anak-anak sampai dewasa (Wong, 2002). Dalam buku Konsep dasar keperawtan anak, Supartini (2002) menyebutkan bahwa olah raga/latihan fisik berdampak pada fisik dan perkembangan psikososial yang secara fisik dapat meningkatkan sirkulasi darah dan suplai oksigen. Berdasarkan Buku Pedoman Kerja Puskesmas, terdapat 20 kegiatan pokok kesehatan yang salah satunya adalah kegiatan promotif dengan olah raga (Effendy, 1998). Olah raga adalah aktifitas fisik yang terencana, terstruktur, berulang dan bertujuan memperbaiki atau menjaga kesegaran jasmani (Adiwinanto, 2008).Wahjuni (2012) mengatakan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kebugaran diantaranya adalah dengan berolahraga. Seseorang yang melakukan olahraga maka dalam otaknya akan terjadi perubahan biokimiawi yang menyebabkan seseorang menjadi gembira atau baik suasana hatinya. Terdapat penelitian yang menunjukan bahwa olah raga beladiri memberikan manfaat pada kebugaran aerobik, otot, kelentukan fisik, serta ketangkasan dengan sangat baik (Irfan, 2011). Olah raga sudah merupakan suatu kebutuhan hidup sehari-hari, seperti halnya makan. Olahraga yang dilakukan secara teratur dan terukur dapat menurunkan berat badan, mencegah penyakit, dan mengurangi stres (Suryanto, 2011). Berbicara mengenai jenisnya, salah satu olah raga yang mengalami kemajuan secara signifikan tahun terakhir ini dengan jumlah praktisi mencapai ratusan juta, dan dipraktikan hampir di 200 negara di dunia adalah Taekwondo (Suryadi, 2008). Sebagai pertimbangan di Universitas Airlangga saja meskipun terdapat 7 jenis beladiri yang dikembangkan, namun 6 tahun terakhir, Taekwondo merupakan dengan jumlah peminat tertinggi dengan pendaftar mencapai diatas 200, melebihi olah raga beladiri lain. Taekwondo merupakan cabang olah raga beladiri yang menggunakan tangan, kaki dengan disiplin diri, sehingga taekwondo bermanfaat besar dalam kehidupan bermasyarakat (Tirtawirya, 2005). Taekwondo berasal dari Korea, yang sekarang mempunyai anggota lebih dari 165 negara dan berkembang di Indonesia sejak tahun 1970.Taekwondo mengembangkan komponen-komponen biomotor yang sangat berguna bagi anggota yang latihan rutin.Komponen biomotor tersebut antara lain koordinasi, keterampilan, kecepatan, fleksibilitas, kekuatan otot, keseimbangan, postur, power, dan daya tahan (Tirtawirya, 2005).Sebuah hasil studi menunjukkan bahwa praktek Taekwondo memiliki potensi untuk menaikkan detak jantung yang cukup untuk meningkatkan kebugaran kardiorespirasi (Melhim, 2001). Menurut Skelton (1991) Taekwondo dapat meningkatkan kekuatan fisik, mengurangi lemak tubuh, meningkatkan pengkondisian kardiovaskular dan daya tahan, meningkatkan keseimbangan dan koordinasi, mengurangi stres, meningkatkan konsentrasi dan fokus, meningkatkan kinerja dalam pekerjaan seseorang, sekolah, atau olahraga, menyediakan program terstruktur dengan kemajuan dicapai tujuan, dan meningkatkan disiplin diri dan percaya diri (Bell & Chang, 2002). Pieter & Toskovic mengatakan bahwa dengan berlatih Taekwondo dengan frekuensi, durasi, dan intensitas tertentu akan memberikan manfaat bagi kebugaran kardiorespiratory (Kordi et.al, 2009). Hong menyatakan atlet Taekwondo tidak hanya berlatih tentang kekuatan, tetapi juga melatih komponen aerobic dan anaerobic pada latihan rutinnya. Beberapa penelitian pada
  3. 3. 3 taekwondoin pria dan wanita usia 20 tahun memiliki rata-rata VO2 max antara 54-61 ml/kg (Kordi et.al, 2009). Populer nya Taekwondo sebagai olah raga beladiri yang dipraktikan di pusat kebugaran baik dalam lingkup nasional maupun internasional, belum banyak ditemui penelitian yang menjelaskan hubungan antara Taekwondo dengan kebugaran. Oleh karenanya seiring dengan kemajuan ilmu di bidang keperawatan dan kedokteran yang semakin pesat dimana kebutuhan akan terpenuhinya tuntutan fisik, fisiologi, biomekanik, nutrisi, latihan, dan sebagainya yang secara umum bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup, maka dipandang perlu untuk dilakukan penelitian tentang hubungan olah raga Taekwondo dengan kebugaran pada mahasiswa. Dengan harapan bisa menjadi alternatif solusi meningkatkan kebugaran yang menyenangkan bagi mahasiswa. Identifikasi masalah Melhim (2001) Taekwondo memiliki potensi untuk menaikkan detak jantung yang cukup untuk meningkatkan kebugaran kardiorespirasi Tirtawirya (2005) Taekwondo mengembangkan komponen biomotor antara lain koordinasi, keterampilan, kecepatan, fleksibilitas, kekuatan otot, keseimbangan, postur, power, dan daya tahan mahasiswa Olah raga Taekwondo  Peningkatan aktifitas fisik  Emosi tersalurkan Kebugaran tubuh
  4. 4. Rumusan Masalah Apakah ada hubungan antara tingkat kebugaran pada mahasiswa dengan olah raga Taekwondo di Universitas Airlangga? Tujuan Penelitian Tujuan umum Menjelaskan hubungan tingkat kebugaran pada mahasiswa dengan olah raga Taekwondo di Universitas Airlangga. Tujuan khusus 1. Mengidentifikasi kebugaran fisik pada mahasiswa dengan olah raga Taekwondo dengan indikator VO2 max dan fitness index. 2. Mengidentifikasi TTV pada mahasiswa dengan olah raga Taekwondo. 3. Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi kebugaran fisik mahasiswa dengan olah raga Taekwondo. Manfaat Penelitian Manfaat teoritis Hasil penelitian ini akan membantu mengembangkan penelitian tentang peningkatan kebugaran melalui olahraga Taekwondo dengan proses latihan dan pembinaan mental. Sehingga dapat digunakan sebagai rujukan dalam penelitian selanjutnya. Manfaat praktis 1. Memberikan alternatif pilihan olah raga yang menarik untuk meningkatkan kebugaran tubuh. 2. Sebagai alternatif aktifitas dalam bentuk kegiatan olahraga untuk mengelola kebugaran mahasiswa sehingga dapat meningkatkan kualitas belajar. 3. Bagi club/institusi Taekwondo akan memberikan nilai positif untuk dikembangkan sebagai program latihan peningkatan kebugaran bagi mahasiswa TINJAUAN PUSTAKA Konsep kebugaran Pengertian kebugaran Sumosardjuno mendefinisikan kebugaran/kesegaran jasmani sebagai kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan/tugasnya sehari-hari dengan mudah, tanpa merasa kelelahan yang berlebihan, dan masih mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya dan untuk keperluan - keperluan yang mendadak (Suharjana & Purwanto, 2008). Komponen kebugaran Komponen-komponen kesegaran jasmani menurut Roji (2002) meliputi beberapa hal meliputi daya tahan jantung/peredaran darah dan paru-paru,kemampuan adaptasi biokimia seperti enzim-enzim dalam darah dan konsentrasi asam laktat dalam plasma darah, bentuk tubuh,kekuatan otot,tenaga ledak otot,daya tahan otot,kecepatan,kelincahan,kelentukan,kecepatan reaksi,koordinasi (Maselah, 2012) Menurut Morehouse dan Miller dalam Nurhasan, (2006) kesegaran/kebugaran jasmani merupakan bagian dari total fitnes. Dalam total fitnes terdapat beberapa komponen yaitu : 1. Anatomi fitness Adalah hal yang sukar dapat dikembangkan oleh karena untuk pengembangannya harus dimulai sejak masa pertumbuhan anak-anak, sehingga akan memerlukan waktu yang sangat banyak dan hasilnya sangat minim sekali, karena kita akan terbentur pada faktor heriditer yang tidak banyak dapat dipengaruhi. 2. Physiological fitness (kesegaran jasmani) Kemampuan tubuh untuk menyesuaikan fungsi fisiologisnya terhadap keadaan lingkungan dan atau terhadap tugas fisik yang memerlukan kerja otot secara : efisien, tak mengalami kelelahan yang berlebihan, telah memperoleh yang sempurna sebelum datangnya tugas-tugas pada hari berikutnya. Psychological fitness adalah suatu kemampuan untuk melakukan tugas tertentu yang memerlukan usaha otot. Sistem otot dan persyarafan merupakan hal yang lebih primer, karena untuk kerja dapat ditampilkan melalui perkembangannya kerja kelompok otot-otot besar yang didukung oleh syaraf. Sedang sistem jantung, paru-paru dan peredaran darah merupakan kelompok sistem yang mendukung dari kerja sistem primer otot- otot dan persyarafan (Maselah, 2012). Sedangkan komponen-komponen kesegaran jasmani menurutSajoto (1995) terdiri dari : 1. Kekuatan (Strenght) Komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam
  5. 5. mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja. 2. Daya tahan (Endurance) Dalam hal ini dikenal dengan dua daya tahan, yakni : 1) Daya tahan umum (general endurance) kemampuan seseorang dalam mempergunakan sistem jantung paru-paru dan peredaran darahnya secara efektif dan efisien untuk menjalankan kerja terus menerus yang melibatkan kontraksi otot-otot dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama. 2) Daya tahan otot (local endurance) adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan ototnya untuk berkontraksi terus menerus dalam waktu relatif lama dengan beban tertentu. 3. Daya otot (Muscular power) Kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu yang sependek-pendeknya. Dapat dinyatakan bahwa daya ledak otot = kekuatan(force) x kecepatan (felocity). Seperti dalam lompat tinggi, tolak peluru serta gerak lain yang bersifat eksplusif. 4. Kecepatan (Speed) Kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan keseimbangan dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya seperti dalam lari cepat, pukulan dalam tinju, balap sepeda, panahan dan lain-lain.Dalam hal ini ada kecepatan gerak dan kecepatan eksplusif. 5. Daya lentur (Fleksibility). Kelenturan adalah aktifitas seseorang dalam menyesuaikan diri untuk segala aktifitas dengan penguluran tubuh yang luas. Hal ini akan mudah ditandai dengan tingkat fleksibilitas pada seluruh tubuh. 6. Kelincahan (agility) Kelincahan adalah kemampuan seseorang mengubah posisi diarea tertentu. Seseorang yang mampu mengubah satu posisi yang berbeda dalam kecepatan tinggi dengan koordinasi yang baik, berarti kelincahannya cukup baik. 7. Koordinasi (coordination) Adalah kemampuan seseorang mengintegrasikan bermacam-macam gerakan yang berbeda kedalam pola gerakan tunggal secara efektif. 8. Keseimbangan ( balance ) Kemampuan seseorang untuk mengendalikan organ-organ syaraf otot, seperti dalam hand-stand atau dalam mencapai keseimbangan sewaktu seseorang sedang berjalan kemudian terganggu(misalnya tergelincir dan lain- lain). 9. Ketepatan ( accuracy ) Ketepatan adalah kemampuan seseorang mengendalikan gerak-gerak bebas terhadap suatu sasaran-sasaran, ini dapat merupakan suatu jarak atau mungkin suatu objek yang langsung yang harus dikenai dengan salah satu bagian tubuh. 10. Reaksi (reaction) Reaksi adalah kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menghadapi rangsangan yang ditimbulkan lewat indera, syaraf atau feeling lainnya. Seperti dalam mengantisipasi datangnya bola yang harus ditangkap dan lain-lain. (Maselah, 2012) Dari beberapa pendapat para ahli tentang komponen-komponen kebugaran jasmani dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen kebugaran jasmani terdiri dari: kekuatan otot, daya tahan otot, kecepatan, kelincahan, koordinasi. Pengukuran tingkat kebugaran 1. Nadi sewaktu istirahat Potter & Perry (2005) menuliskan, nadi adalah aliran darah yang menonjol dan dapat diraba di berbagai tempat pada tubuh. Nadi merupakan indicator status sirkulasi.Sirkulasi merupakan alat sel menerima dan membuang sampah yang dihasilkan dari sisa metabolisme. Supaya sel berfungsi normal, harus ada aliran darah yang kontinyu dan dengan volume sesuai yang didistribusikan darah menuju sel yang membutuhkan nutrien (Marniyah, 2007). Cara mengetahui tingkat kebugaran dan mengukur kemajuan latihan adalah dengan mengawasi kecepatan denyut jantung waktu istirahat, yaitu kecepatan denyut nadi sewaktu istirahat. Prinsipnya adalah semakin rendah kecepatan nadi sewaktu istirahat, maka semakin baik bentuk jantung (Marniyah, 2007) .
  6. 6. Tabel 2.1 Hubungan antara umur, jenis kelamin, nadi istirahat bedasarkan tingkat latihan menurut Carol & Smith (1992) Nadi istirahat permenit Umur (tahun) 20-29 30-39 40-49 50-59 Laki –laki Sangat baik <60 <64 <66 <68 Baik 60-69 64-71 66-73 68-75 Sedang 70-85 72-81 74-79 76-91 Kurang >85 >87 >89 >91 Perempuan Sangat baik <70 <72 <74 <76 Baik 70-77 72-79 74-81 76-83 Sedang 78-94 80-96 82-89 84-100 Kurang >94 >96 >98 >100 2. Tekanan darah Potter & Perry (2005) menuliskan tekanan darah sebagai kekuatan dinding arteri tubuh oleh darah yang didorong dengan tekanan dari jantung.Tekanan arteri darah adalah indikator yang baik tentang kesehatan jantung (Marniyah, 2007). Potter & Perry (2005) juga menuliskan faktor yang turut mempengaruhi tekanan darah adalah genetic, usia, stres, dan gaya hidup. Ansietas, nyeri, takut, dan stres emosi menimbulkan stimulasi simpatik yang meningkatkan frekuensi denyut jantung, curah jantung, dan ketahanan vaskuler perifer sehingga meningkatkan tekanan darah (Marniyah, 2007) Tabel 2.2 Tekanan darah menurut WHO Kategori Tekanan Darah Sistol (mmHg) Tekanan Darah Diatol (mmHg) Optimal Normal Normal-Tinggi < 120 < 130 130-139 < 80 < 85 85-89 Tingkat 1 (Hipertensi Ringan) Sub-group: perbatasan 140-159 140-149 90-99 90-94 Tingkat 2 (Hipertensi Sedang) 160-179 100-109 Tingkat 3 (Hipertensi Berat) ≥ 180 ≥ 110 Hipertensi sistol terisolasi (Isolated systolic hypertension) Sub-group: perbatasan ≥ 140 140-149 < 90 <90 3. Frekuensi napas Kelangsungan hidup manusia bergantung pada kemampuan oksigen untuk mencapai sel tubuh, dan sel mengeluarkan CO2.frekuensi, kedalaman, dan irama napas menandakan kualitas dan efisiensi ventilasi (Marniyah, 2007). Ventilasi diatur oleh kadar O2 , CO2 dan konsentrasi ion H+ (pH) dalam darah (Potter & Perry, 2005). Guyton & Hall (1997) mengatakan latihan fisik yang berulang akan merangsang otak secara progresif menjadi lebih mampu untuk menghasilkan sinyal otak yang sesuai dan dibutuhkan untuk mempertahankan faktor kimia dalam darah pada nilai normalnya (Marniyah, 2007). Pernapasan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah dengan olah raga yang dapat meningkatkan frekuensi dan kedalaman napas untuk memenuhi kebutuhan tubuh dalam memenuhi O2.Frekuensi pernapasan dihitung dengan mengobservasi inspirasi dan ekspirasi penuh.Frekuensi normal pada orang
  7. 7. dewasa adalah 12-20 kali/menit (potter & Perry, 2005). Kebugaran juga dapat dinilai dengan melakukan beberapa metode tes antara lain Harvard step test dan tes lari 15 menit. 1. Harvard Step Test Merupakan pengukuran kebugaran seseorang berdasarkan kemampuan kardiovaskuler yang dibuat melalui penelitian di Harvard USA.Tujuan dari tes ini adalah untuk mengukur kemampuan tubuh seseorang untuk menyesuaikan terhaddap beban kerja dan nadi pulih asal dari kerja tersebut (Sibson & Taylor, 2004). Prosedur pelaksanaan Harvard Step Test 1. Subjek penelitian diminta berdiri menghadap bangku/tangga setinggi 40 cm untuk laki-laki dan 30 cm untuk perempuan. 2. Meminta responden untuk naik turun bangku dengan posisi badan tegak sebanyak 30 kali naik dan turun selama 1 menit. 3. Siklus tersebut dilakukan terus menerus sampai responden tidak kuat lagi, tetapi tidak boleh lebih dari 5 menit pelaksaaan. 4. Segera setelah melakukan tes ini responden diminta duduk, dan dihitung denyut nadinya selama 30 detik setelah istirahat menit pertama. Interpretasi hasil Denyut nadi dihitung setelah menit pertama istirahat selama 30 detik, kemudian dimasukan dalam rumus berikut (Gilang, 2007) 𝐹𝑖𝑡𝑛𝑒𝑠𝑠 𝐼𝑛𝑑𝑒𝑥 = lama naik turun bangku dalam detik x 100 5,5 x denyut nadi selama 30 detik Standart nilai menurut Liebenson (2007): >90 = baik sekali 80 – 89 = baik 65 – 79 = diatas rata-rata 55 – 64 = rata - rata <55 = jelek 2. Tes lari 15 menit Tes lari selama 15 menit merupakan salah satu tes untuk mengetahui tingkat kebugaran jasmani terutama daya tahan (endurance) (Irwansyah, 2007). Cara melakukan tes tersebut adalah sebagai berikut : 1. Sebelum tes, responden harus melakukan pemanasan dan peregangan yang cukup. 2. Setelah siap dan diberi aba-aba untuk lari selama waktu 15 menit dan dicatat waktunya. 3. Standar patokan untuk subjek yang mampu melakukan lari sejauh 2500 m dalam 15 menit adalah memiliki VO2 max = 39,00 ml/kg BB/menit. 4. Standar hitungan untuk lebih atau kurang dari jarak 2500 adalah 1,22 ml/kg BB/menit untk tiap 100 meter. 5. Dapat juga menggunakan rumus : VO2 max = kecepatan lari selama 15 menit – 133 x 0.172 + 33,3 Tabel 2.3 Tingkat kebugaran berdasarkan VO2 max seseorang dikutip dari buku Principles and Labs for Fitness and Wellness 3th edition, 2010. Jenis kelamin Usia Klasifikasi tingkat kebugaran (berdasarkan VO2 max dalam ml/kg/mnt) Jelek Cukup Rata-rata Baik Sangat baik Laki – laki < 29 < 24,9 25-33,9 34-43,9 44-52,9 > 53 30 – 39 < 22,9 23-30,9 31-41,9 42-49,9 >50 40 – 49 < 19,9 20-26,9 27-38,9 39-44,9 >45 50 – 59 < 17,9 18-24,9 25-37,9 38-42,9 >43 60 – 69 < 15,9 16-22,9 23-35,9 36-40,9 >41 >70 < 12,9 13-20,9 22-32,9 33-37,9 > 38 Perempuan < 29 < 23,9 24-30,9 31-38,9 39-48,9 > 49 30 – 39 < 19,9 20-27,9 28-36,9 37-44,9 > 45 40 – 49 < 16,9 17-24,9 25-34,9 35-41,9 > 42 50 – 59 < 14,9 15-21,9 22-33,9 34-39,9 > 40 60 – 69 < 12,9 13-20,9 21-32,9 33-36,9 > 37 >70 < 11,9 12-19,9 20-30,9 31-34,9 > 35 Konsep Olahraga Pengertian Olahraga Olahraga adalah aktivitas fisik yang terencana, terstruktur, berulang dan bertujuan memperbaiki atau menjaga kesegaran jasmani (Adiwinanto, 2008). Sedangkan dalam deklarasi international council of sport and physical Education tentang olahraga dinyatakan bahwa olahraga adalah setiap kegiatan fisik yang bersifat permainan dan yang beruoa oerjuangan terhadap diri sendiri atau orang lain atau terhadap kekuatan-kekuatan alam tertentu (Darmayanti, 2007).
  8. 8. Adapun konsep olahraga kesehatan adalah padat gerak, bebas stres, singkat (cukup 10 - 30 menit tanpa henti), adekuat, massal, mudah, murah, meriah dan fisiologis (bermanfaat dan aman). Massal adalah ajang silaturahmi, ajang pencerahan stres, ajang komunikasi sosial. Jadi olahraga kesehatan membuat manusia menjadi sehat jasmani, rohani dan sosial, yaitu sehat seutuhnya sesuai konsep sehat WHO. Adekuat artinya cukup, yaitu cukup dalam waktu (10 – 30 menit) dan cukup intensitasnya (Suryanto, 2011). Ruang lingkup Olahraga Menurut UU RI No.3 Tahun 2005 BabVI, Pasal 17 tentang sistem keolahragaan nasional dijelaskan bahwa “Ruang lingkup olahraga meliputi kegiatan olahraga pendidikan, olahraga rekreasi, dan olahraga prestasi, olahraga.” Penjelasan lebih lanjut terkait ruang lingkup olahraga secara jelas termaklumat pada UU RI No.3 Tahun 2005 Bab I, Pasal 1, ayat 11, 12, 13, 14, 15 dan 16 tentang sistem keolahragaan nasional, yaitu : 1. Olahraga pendidikan adalah pendidikan jasmani dan olahraga yang dilaksanakan sebagai bagian proses pendidikan yang teratur dan berkelanjutan untuk memperoleh pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan, dan kebugaran jasmani. 2. Olahraga rekreasi adalah olahraga yang dilakukan oleh masyarakat dengan kegemaran dan kemampuan yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi dan nilai budaya masyarakat setempat untuk kesehatan, kebugaran, dan kegembiraan. 3. Olahraga prestasi adalah olahraga yang membina dan mengembangkan olahragawan secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan melalui kompetisi untuk mencapai prestasi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan 4. Olahraga amatir adalah olahraga yang dilakukan atas dasar kecintaan atau kegemaran berolahraga. 5. Olahraga profesional adalah olahraga yang dilakukan untuk memperoleh pendapatan dalam bentuk uang atau bentuk lain yang didasarkan atas kemahiran berolahraga. 6. Olahraga penyandang cacat adalah olahraga yang khusus dilakukan sesuai dengan kondisi kelainan fisik dan/atau mental seseorang. Manfaat Olahraga Moelok menjelaskan manfaat olahraga dapat diukur dengan “double product”, yaitu frekuensi denyut jantung dan tekanan sistolik.Latihan dapat menurunkan frekuensi denyut jantung, nadi dan tekanan darah, sehingga merupakan peningkatan efisiensi jantung dalam melakukan olahraga. Manfaat lainnya adalah memperbaiki fungsi paru, penurunan kolesterol, trigliserida dan kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus, menurunkan berat badan, dan menambah kesegaran jasmani dan rohani (Darmayanti, 2007). Supandi menjelaskan beberapa manfaat olahraga antara lain: 1. Meningkatkan kerja dan fungsi jantung, pembuluh darah dan paru yang ditandai dengan 1) Denyut nadi istirahat menurun. 2) Isi sekuncup bertambah. 3) Penumpukan asam laktat berkurang. 4) Meningkatkan pembuluh darah kolateral. 2. Meningkatkan kekuatan otot dan kepadatan tulang. 3. Meningkatkan kelenturan tubuh sehingga tidak mudah cedera. 4. Meningkatkan metabolisme tubuh. 5. Mengurangi resiko terjadinya penyakit seperti 1) Tekanan darah tinggi. 2) Jantung koroner dengan menambah HDL dan mengurangi lemak. 6. Meningkatkan aktifitas sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit melalui peningkatan pengaturan kekebalan tubuh (Tarmin, 2011). Syarat Olahraga Yang Baik Olahraga yang baik dapat mempengaruhi hal-hal sebagai berikut : 1. Memperlambat degenerasi karena perubahan usia. 2. Mempermudah untuk menyesuaikan kesehatan jasmani dalam kehidupan (adaptasi). 3. Fungsi melindungi, yaitu memperbaiki tenaga cadangan dalam fungsinya terhadap bertambahnya tuntutan, misalnya sakit (Darmayanti, 2007). Macam Latihan Fisik 1. Latihan Aerobik Latihan aerobik membuat otot – otot tubuh yang besar bekerja, terutama otot -otot dari tungkai atau latihan dapat dilakukan terus – menerus, diulang dengan intensitas yang cukup tinggi dengan menggunakan oksigen dan energi.Contoh dari latihan aerobik adalah berjalan, jogging, berenang, loncat tali, menari dan permainan dengan bola dan raket. 2. Latihan Kalestenik Latihan ini bermanfaat untuk meningkatkan kekuatan, ketahanan, dan kelenturan sendi dan otot. Contoh dari latihan ini adalah melambaikan tangan, menyentuh jari-jari kaki, memutar pinggang, taekwondo, Tai Chi, push-up, dan sit- up 3. Latihan Relaksasi Merupakan gerakan terkendali dan latihan pernafasan.Bila dilakukan dengan benar, latihan
  9. 9. ini dapat meningkatkan tonus dan kelenturan otot dan meningkatkan kebugaran kardio-respirator. 4. Latihan Anaerobik Latihan ini bermanfaat untuk meningkatkan kekuatan otot, ketahanan otot, tenaga otot dan kapasitas anaerobik.Contoh dari latihan ini adalah lari cepat jarak pendek, angkat beban dan latihan – latihan isometrik (Darmayanti, 2007). Konsep Taekwondo Pengertian Taekwondo Yoyok Suryadi mendefinisikan Taekwondo adalah seni atau cara mendisiplinkan diri atau seni beladiri yang menggunakan teknik kaki dan tangan kosong. Taekwondo adalah olahraga beladiri Korea yang populer dan juga merupakan olahraga Nasional Korea (Rasyono, Rahayu, & Soegiyanto, 2012). Taekwondo merupakan cabang olahraga beladiri yang menggunakan tangan, kaki dengan disiplin diri, sehingga taekwondo bermanfaat besar dalam kehidupan bermasyarakat (Tirtawirya, 2005). Taekwondo berasal dari Korea dan bermarkas besar di Kukkiwon seoul Korea, sekarang mempunyai anggota lebih dari 165 negara dan berkembang di Indonesia sekitar tahun 1970. Taekwondo mengembangkan komponen-komponen biomotor yang sangat berguna bagi para anggota taekwondo yang latihan rutin. Komponen-komponen biomotor yang dikembangkan cabang olahraga Taekwodo antara lain koordinasi, keterampilan, kecepatan, fleksibilitas,kekuatan otot, keseimbangan, postur, power, daya tahan. Taekwondo yang cenderung sebagai olah raga fisik secara psikologis sangat berperan dalam proses pelatihan maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Berkaitan dengan psikologis ada dua hal yang diberikan saat belajar taekwondo, yaitu moral dan mental (Tirtawirya, 2005). Sejarah Taekwondo di Indonesia Taekwondo mulai berkembang di Indonesia pada tahun 1970-an, dimulai oleh aliran Taekwondo yang berafiliasi ke ITF (International Taekwondo Federation) yang pada waktu itu bermarkas di Toronto Kanada dan dipelopori oleh GenChoHonHi. Kemudian berkembang juga aliran Taekwondo yang berafiliasi ke WTF yang berpusat di Kukkiwon, Seoul, Korea Selatan dengan presider Dr. Un Yong Kim. Pada 28 Maret 19 musyawarah nasional Taekwondo berhasil menyatukan kedua pihak dan berubah menjadi Taekwondo Indonesia yang berkiblat WTF dan dipimpin oleh Leo Lopolisa, dan kini Taekwondo Indonesia telah berkembang di seluruh propinsi Indonesia (Bassa, 2009). Tirtawirya (2005) menjelaskan Taekwondo adalah suatu ungkapan fisik dari kehendak manusia untuk survival dan suatu aktivitas untuk memenuhi keinginan rohani dari seorang laki-laki.Pada dasarnya semua tindakan dalam taekwondo dikembangkan dari naluri manusia untuk pertahanan diri diperkuat dengan unsur yang positif, dan pada akhimya menjangkau status yang absolut untuk mengalahkan ego dan tiba pada suatu kesempurnaan.Taekwondo mempunyai sejarah yang sangat panjang seiring dengan perjaranan sejarah bangsa Korea.Sebutan Taekwondo sendiri baru dikenal sejak tahun 1954, yang merupakan modifikasi dan penyempumaan dari berbagai beladiri tradisional Korea. Seiring dengan kemerdekaan Korea dari penjajahan Jepang, konsep baru tentang kebudayaan dan tradisi mulai bangkit. Banyak para ahli seni beladiri mendirikan sekolah/perguruan beladiri. Dengan meningkatnya populasi dan hubungan kerjasama yang baik antar perguruan beladiri, akhirnya diputuskan menyatukan berbagai nama seni beladiri Korea dengan sebutan Taekwondo pada tahun 1954. Pada tanggal 16 September 1961 sempat berubah menjadi Taesodo namun kembali menjadi Taekwondo dengan organisasi nasionalnya bernama Korea Taekwondo Associacion (KTA) pada tanggal 5 Agustus 1965, dan menjadi anggota Korean Sport Council, dan pada era tahun 1965 sampai 1970-an, KTA banyak menyelenggarakan berbagai acara pertandingan dan demonstrasi untuk berbagai kalangan pada skala nasional. Taekwondo berkembang dan menyebar diberbagai kalangan, hingga diakui sebagai disiplin/program resmi oleh pertahanan nasional Korea, menjadi olahraga wajib bagi tentara dan polisi.Tentara Korea yang berpartisipasi dalam perang Vietnam dibekali keahlian Taekwondo, saat itulah Taekwondo mendapatkan perhatian besar dunia.Nilai lebih ini menjadikan Taekwondo dinyatakan sebagai olahraga nasional di Korea.Pada tahun 1972, Kukkiwon didirikan, sebagai markas besar Taekwondo, hal ini menjadi penting bagi pengembangan Taekwondo ke seluruh dunia.Kejuaran dunia yang petama diadakan pada tahun 1973 di Kukkiwon, Seoul, Korea Selatan dan hingga sampai saat ini kejuaraan dunia rutin dilaksanakan setiap 2 tahun sekali. Untuk meningkatkan kualitas Instruktur Taekwondo di seluruh dunia, Kukkiwon membuka Taekwondo Academy, mulai tahun 1998 telah membuka Program pelatihannya bagi instruktur Taekwondo dari seluruh dunia. Kukkiwon, sebagai markas besar Taekwondo dunia, pusat penelitian dan pengembangan Taekwondo, pelatihan para instruktur, dan sekretariat promosi ujian tingkat intemasional. Pada tanggal, 28 Mei 1973 didirikan The World Taekwondo Federation (WTF), dan sekarang mempunyai 156 negara anggota, Taekwondo telah dipraktekkan oleh lebih dari 50 juta orang di seluruh penjuru dunia, dan angka ini masih terus bertambah
  10. 10. seiring perkembangan Taekwondo yang makin maju dan populer, hingga sampai ke Indonesia dan berkembang tahun 1970. Taekwondo telah dipertandingkan diberbagai pertandingan baik nasional maupun intemasional di seluruh dunia, dan telah dipertandingkan sebagai ekshibisi pada Olympic Games 1988 Seoul dan telah dipertandingkan sebagai cabang olahraga resmi di Olympic Games 2000 Sydney (Tirtawirya, 2005). Prinsip dasar Taekwondo Secara umum Prof. Kyong Myong Lee menjelaskan Taekwondo dibagi menjadi dua tipe (latihan dan pertandingan) Taekwondo kontak yang disebut sparring(untuk pertarungan) dan non kontak atau poomse untuk latihan rutin (Suryadi, 2008).Poomse adalah kata Korea untuk mendefinisikan bentuk/gerakan.Semua siswa Taekwondo diwajibkan belajar memahami bentuk tertentu. Sebagai siswa Taekwondo semua akan belajar Poomse Taegeuk sebagai wujud paradigma seni beladiri yang mengandung gerakan dari fisik dan juga filosofi seni Taekwondo. Secara harfiah “Tae” adalah besar dan “Geuk” berarti keabadian yang menunjukan Taegeuk adalah sebagai keabadian besar.Terdapat 8 bentuk Taegeuk yang bermakna prinsip dasar orientasi. Delapan bentuk tersebut berasal dari kekuatan alam semesta “ Yin dan Yang”. Yin adalah kekuatan kreatif utama dan “Yang” adalah penerima kekuasaan utama. Setiap kombinasi taegeuk diwakili oleh simbol yang disebut trigram, disebut demikian karena mengandung tiga baris. Delapan trigram tersebut diatur dalam lingkaran Yin dan Yang dan membentuk kutub yang mewakili alam semesta. Keuntungan belajar Taekwondo Manfaat belajar taekwondo tidak sekedar untuk menjadi atlet kyorugi tetapi akan memberikan rasa aman pada orang yang menguasai ilmu bela diri. Menguasai ilmu bela diri taekwondo berarti mempunyaipertahanan diri menggunakan tangan kosong yang sewaktu- waktu dapat digunakan dalam keadaan darurat untuk mengamankan diri.Mempunyai keahlian bela diri seperti membawa senjata yang bisa dibawa ke mana-mana.Selain sebagai ilmu bela diri, latihan taekwondo juga membuat badan menjadi sehat. (Tirtawirya, 2005). Selain itu ketika seseorang melakukan poomse, maka dalam setiap gerakan akan dituntut untuk selalu tenang dengan menyatukan pikiran (Suryadi, 2008). Menurut Skelton (1991) Taekwondo dapat meningkatkan kekuatan dan otot, mengurangi lemak tubuh, meningkatkan pengkondisian kardiovaskular dan daya tahan, meningkatkan keseimbangan dan koordinasi, mengurangi stres, meningkatkan konsentrasi dan fokus, meningkatkan kinerja dalam pekerjaan seseorang, sekolah, atau olahraga, menyediakan program terstruktur dengan kemajuan dicapai tujuan, dan meningkatkan disiplin diri dan percaya diri (Bell & Chang, 2002). Pieter & Toskovic mengatakan bahwa dengan berlatih Taekwondo dengan frekuensi, durasi, dan intensitas tertentu akan memberikan manfaat bagi kebugaran kardiorespiratory(Kordi et.al, 2009). Hong menyatakan atlet Taekwondo tidak hanya berlatih tentang kekuatan, tetapi juga melatih komponen aerobic dan anaerobic pada latihan rutinnya. Beberapa penelitian pada taekwondoin pria dan wanita usia 20 tahun memiliki rata-rata VO2 max antara 54-61 ml/kg (Kordi et.al, 2009). Peranan Taekwondo Bagi Manusia Tirtawirya (2005) menjelaskan beberapa manfaat dari belajar Taekwondo antara lain : 1. Pembinaan Fisik Fisik manusia adalah tubuh, seandainya tubuh tidak pernah dirawat dan dikembangkan maka tubuh tidak akan menjadi baik. Supaya tubuh menjadi baik dan sehat maka tubuh harus dirawat, untuk bisa berkembang dengan baik maka perlu adanya perlakuan atau aktifitas yang baik. Perawatan tubuh yang baik banyak macamnya, antara lain dengan olahraga taekwondo. Taekwondo merupakan olahraga beladiri yang mempunyai kemampuan untuk mengembangkan beberapa komponen biomotorik yang baik dalam tubuh manusia yaitu 1) Kekuatan otot 2) Kecepatan 3) Power 4) Keseimbangan 5) Feksibilitas 6) Daya tahan 7) Ketrampilan gerak . Kekuatan otot merupakan keadaan tubuh mampu mengatasi beban dalam jumlah tertentu.Kondisi tubuh harus cukup kuat jika sedang melakukan pertarungan, sebab cedera patah tulang, terkilir atau yang lainnya bisa terjadi jika otot tidak cukup kuat.oleh karena itu dalam latihan taekwondo selalu diberikan latihan fisik berupa kekuatan. Latihan kekuatan dalam taekwondo misalnya push-up, sit-up, back-up, leg press, dan lain- lain.Latihan kekuatan ini tidak harus dengan alat tetapi bisa berpasangan dengan teman. Kecepatan adalah kemampuan untuk melakukan tendangan dalam waktu yang sesingkat mungkin, kecepatan merupakan komponen yang sangat penting dalam pertarungan taekwondo. Power adalah hasil kali antara kekuatan dan kecepatan, sehingga jika tungkai mempunyai power yang bagus, tentu saja jika melakukan tendangan
  11. 11. hasilnya akan relatif kuat dan cepat. Latihan power dalam olahraga taekwondo banyak menggunakan plyometric, misalnya lompat-lompat, naik turun tangga, drill nare chagi dan lain-lain. Daya tahan adalah kemampuan tubuh untuk melakukan aktifitas baik aerobik maupun anaerobik dalam waktu yang cukup lama.Fleksibilitas adalah kondisi otot dan sendi yang mampu melakukan gerakan seluas-luasnya.Fleksibilitas ini penting karena angka terbanyak didapatkan jika seorang atlet dapat melakukan tendangan dan mengenai kepala lawanya.Koordinasi adalah kemampuan tubuh untuk melakukan beberapa aktifitas dalam waktu yang relatif bersama-sama. Latihan koordinasi dalam olahraga taekwondo misalnya tendang dolyo cagi dengan dua kaki bergantian ditambah langkah, mengangkat satu lutut setinggi rata-rata air sambil gerak ke depan, dan lain-lain. Latihan ini dilakukan saat latihan teknik, cara ini dilakukan supaya taekwondoin mempunyai koordinasi yang bagus. Dengan koordinasi bagus maka keterampilan gerak, kelincahan dan keseimbangan bisa terbentuk. Olahraga taekwondo sebagai olahraga bela diri yang mengandalkan fisik saat bertanding tidak akan bisa berprestasi dengan baik jika kondisi fisik tidak dilatih secara benar dan kontinyu. 2. Pembinaan Psikis Taekwondo mengurangi ketegangan, Secara sosial bisa diterima fisik, pengendalian dari agresi untuk permusuhan. Suatu kepercayaan bahwa kegiatan fisik secara teratur akan mencegah penyakit dan degenerasi, memperbaiki kesehatan dan memperpanjang hidup sampai tua sebagai layaknya manusia itu sendiri. Kenyataan itu diyakini oleh masyarakat dan sudah menjadi hal yang sangat lazim, bahwa berolahraga itu sehat.Olahraga yang sehat tentunya perlu adanya keteraturan dan penyesuaian dosis dari latihan itu. Olahraga yang positif hendaknya dilakukan dengan senang atas keinginan sendiri, karena secara psikologis jika orang berolahraga dengan terpaksa maka hasilnya tidak akan baik. Sabuk yang dipakai dalam olahraga taekwondo dari dasar sampai tingkatan “DAN” berbeda-beda dan itu menunjukkan tingkat kemampuan Taekwondoin.Warna sabuknya adalah putih, kuning, hijau, biru, merah dan hitam.Setiap tingkatan sabuk mempunyai materi latihan yang berbeda-beda dan itu merupakan materi latihan yang berkesinambungan.Dedikasi mencapai suatu tujuan dan prestasi menyangkut tujuan untuk meningkatkan gambaran diri seseorang dan pengertian seseorang dari harga diri. 3. Nilai Moral Taekwondo mempromosikan karakter baik dan suatu sikap yang tidak kejam dengan pengajaran kehormatan, kerendahan hati, integritas, rasa tormat untuk orang lain, kepercayaan diri dan keberanian. 4. Nilai Mental Taekwondo belajar detasemen dan konsentrasi yang dipusatkan dari pengacauan.Ada keindahan dan saling menghormati dalam menguasai dan mengendalikan badan serta pikiran seseorang saat aktifitas.Keseluruhan sikap menjadi satu-satunya pertimbangan yang paling utama ketika mulai belajar taekwondo. Berikut ini beberapa hal yang akan didapatkan saat belajar Taekwondo sebagai upaya pematangan mental : 1) Mengenal Diri Keberanian untuk bertarung dalam olahraga taekwondo tidak dimiliki oleh semua taekwondoin, baik yang sabuk rendah maupun tingkat DAN.Untuk mempunyai keberanian Taekwondoin harus mempunyai modal yang cukup, artinya bahwa seorang yang berani bertanding bisa karena mempunyai mental bawaan yang pemberani, atau siap dari segi fisik, teknik, taktik dan kematangan bertanding.Untuk menjadi berani seseorang harus dapat mengenali siapa diri sendiri. Taekwondo akan mengajarkan bagaimana mengenal diri sendiri. 2) Menghadapi stres Stres adalah keadaan yang tidak nyaman yang harus diatasi. Kenyataanya itu merupakan hal yang sangat manusiawi yang sering dihadapi oleh seseorang. Dalam berlatih Taekwondo seseorang akan belajar untuk mengelola stresnya sendiri melalui kontrol diri saat bertarung. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling Populasi Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa anggota UKM Taekwondo Universitas Airlangga. Anggota terdaftar per 1 januari 2013 adalah sejumlah 200 mahasiswa, namun peneliti akan mengambil populasi terjangkau yaitu anggota yang sudah mencapai tingkatan sabuk hijau atau lebih tinggi. Hal ini dimaksudkan karena anggota yang berada dibawah tingkatan tersebut masih memiliki porsi latihan yang ringan. Selain itu terdapat juga anggota yang tidak aktif dalam latihan rutinnya, sehingga dimungkinkan kurangnya akurasi data yang diambil. Adapun populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah sejumlah 25 responden. Sampel Sampel yang diambil oleh peneliti adalah mahasiswa yang memenuhi kriteria tertentu, antara lain Kriteria Inklusi : 1. Anggota UKM Taekwondo yang sudah mencapai tingkatan sabuk hijau atau lebih tinggi dan memulai latihan Taekwondo di Universitas Airlangga.
  12. 12. 21 tahun 4 20% 20 tahun 7 35% 22 tahun 4 20% 19 tahun 4 20% 24 tahun 1 5% laki-laki 60% perempu an 40% 3 tahun 30% 2 tahun 60% 5 tahun 5% 1 tahun 5% 2. Mahasiswa yang sudah berlatih Taekwondo minimal satu tahun terakhir. Dalam hal ini, subjek yang diambil melakukan latihan taekwondo berupa gerakan poomsae sekurangnya sekali dalam seminggu selama 3 bulan berturut- turut, dengan durasi 90 menit di setiap latihannya. 3. Mahasiswa dengan usia 18 – 25 tahun. 4. Anggota bukan sebagai pelatih. Kriteria Eksklusi : 1. Anggota yang melakukan aktifitas olah raga selain Taekwondo secara rutin dalam hal ini melakukan olah raga diluar Taekwondo lebih dari satu kali dalam seminggu. 2. Mahasiswa yang mempunyai kelainan jantung bawaan dan penyakit pernapasan (asma, ISPA) baik akut maupun kronis. 3. Anggota yang merupakan atlet profesional. Adapun besar sampel pada penelitian ini yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah sejumlah 20 responden Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Student Center Kampus C Universitas Airlangga pada tanggal 7-15 Mei 2013. Instrumen Penelitian Pada penelitian ini peneliti menggunakan instrumen berupa observasi dan tes fisik untuk mengetahui variabel dependen yaitu kebugaran pada mahasiswa.Instrumen yang dirancang oleh peneliti adalah menggunakan 2 tes yaitu HST (Harvard Step Test) dan Tes lari 15 menit. Dari tes tersebut peneliti akan mendapatkan nilai indeks kebugaran seseorang dan juga nilai VO2 max responden sebagai tolok ukur kebugaran. Hasil penelitian Gambaran umum lokasi penelitian UKM Taekwondo Universitas Airlangga merupakan salah satu dari 7 UKM beladiri yang dikembangkan di UNAIR. UKM ini didirikan sejak 31 tahun yang lalu oleh beberapa sabeumnim sabuk hitam, yang merupakan pelopor dari pengenalan Taekwondo di Universitas Airlangga. UKM ini awalnya bermarkas di student center kampus B Universitas Airlangga yang pada tahun 2010 dipindahkan ke kampus C menempati gedung baru sekretariat kampus C Universitas Airlangga Jl.Mulyorejo, Surabaya. Setiap tahunnya UKM ini melakukan rekrutmen anggota yang dalam 5 tahun terakhir merupakan UKM dengan peminat tertinggi daripada UKM lainnya dengan jumlah pendaftar lebih dari 200 peserta. Data umum 1. Hasil observasi responden berdasarkan usia Gambar 5. 1 Karakteristik responden penelitian di student center universitas airlangga berdasarkan usia Dari diagram dapat dilihat dari 20 responden jumlah subjek terbanyak adalah usia 20 tahun 35%. 2. Hasil observasi responden berdasarkan jenis kelamin Gambar 5. 2 Karakteristik responden penelitian di student center Universitas Airlangga berdasarkan jenis kelamin Diagram 5.2 menunjukan jumlah responden terbanyak adalah laki-laki 60%. 3. Hasil observasi responden berdasarkan lamanya berlatih Taekwondo Gambar 5. 3 Karakteristik responden penelitian di student center Universitas Airlangga berdasarkan lamanya telah berlatih Diagram 5.3 menunjukan mayoritas responden dalam penelitian ini sudah berlatih Taekwondo selama 2 tahun yaitu sebanyak 60%.
  13. 13. Data khusus Tabel 5. 1 Hasil observasi VO2 max responden tingkat kebugaran pada mahasiswa dengan olah raga Taekwondo di Universitas Airlangga Interpretasi nilai VO2 max Jenis kelamin ∑ %L P Sangat baik 0 0 0 0% Baik 9 3 12 60% Diatas rata-rata 3 5 8 40% N 12 8 20 100% p = 0,006 Dari tabel menunjukan VO2 max responden penelitian mayoritas berada pada level baik, sebagian kecil pada level diatas rata-rata. Level terendah paling banyak ditemukan pada jenis kelamin perempuan. Tabel 5. 2 Hasil observasi VO2 max responden tingkat kebugaran pada mahasiswa dengan olah raga Taekwondo di Universitas Airlangga Interpretasi nilai VO2 max Lama latihan (tahun) ∑ % 1 2 3 5 Sangat baik 0 0 0 0 0 10% Baik 0 6 5 1 12 85% Diatas rata-rata 1 6 1 0 8 5% N 20 100% p = 0,569 Dari tabel menunjukan indeks kebugaran responden penelitian mayoritas berada pada level baik, sebagian kecil pada level sangat baik dan diatas rata- rata. Tabel 5. 3 Hasil observasi indeks kebugaran responden tingkat kebugaran pada mahasiswa dengan olah raga Taekwondo di Universitas Airlangga Interpretasi nilai indeks kebugaran Jenis kelamin ∑ %L P Sangat baik 2 0 2 10% Baik 10 7 17 85% Diatas rata-rata 0 1 1 5% N 12 8 20 100% p = 0,387 Dari tabel menunjukan VO2 max responden penelitian mayoritas berada pada level baik, sebagian kecil pada level diatas rata-rata. Tabel 5. 4 Hasil observasi indeks kebugaran responden tingkat kebugaran pada mahasiswa dengan olah raga Taekwondo di Universitas Airlangga Interpretasi nilai indeks kebugaran Lama latihan (tahun) ∑ % 1 2 3 5 Sangat baik 0 0 1 1 2 0% Baik 0 12 5 0 17 60% Diatas rata-rata 1 0 0 0 1 40% N 20 100% p = 0,036 Dari tabel menunjukan indeks kebugaran responden penelitian mayoritas berada pada level baik, sebagian kecil pada level sangat baik dan diatas rata-rata. Tabel 5. 5 Hasil observasi tanda-tanda vital responden tingkat kebugaran pada mahasiswa dengan olah raga Taekwondo di Universitas Airlangga TTV (diukur saat responden tidak latihan fisik) ∑ % HR/ menit <60 0 0% 60 – 80 20 100% > 80 0 0% RR/ menit 12 – 20 20 100% >20 0 0% TD Sistole <130 19 95% 130-139 1 5% Distole <85 20 100% 85-89 0 0% Gambaran secara umum dari data diatas adalah bahwa mayoritas pada responden penelitian menunjukan nilai kebugaran pada level baik. Nilai yang diteliti ditemukan pada level terendah adalah pada responden perempuan yaitu pada level diatas rata-rata. Tanda-tanda vital pada responden menunjukan semuanya dalama batas normal .
  14. 14. Pembahasan Kebugaran fisik pada mahasiswa dengan olahraga Taekwondo Hasil pemeriksaan fisik ditemukan mayoritas kebugaran responden berada pada level baik. Peneliti menggunakan indikator VO2 max dan indeks kebugaran untuk pengukuran dalam penelitian ini. Indikator pertama adalah VO2 max, merupakan pengukuran kebugaran jasmani terutama daya tahan. Nilai VO2 max menunjukan efisiensi jantung dan sistem pernapasan dalam mensuplai O2 dalam tubuh seseorang (Irwansyah, 2007). Hasilnya VO2 max terbanyak ditemukan pada level baik. Level terendah ditemukan pada perempuan yaitu diatas rata-rata. Dalam teorinya Kordi (2009) yang menuliskan taekwondoin tidak hanya berlatih tentang kekuatan, tetapi juga melatih komponen aerobic dan anaerobic pada latihan rutinnya, serta baik pada pria dan wanita usia 20 tahun memiliki VO2 max yang berada pada level sangat baik. Namun menurut peneliti kondisi ini masih belum tercapai sepenuhnya dengan ditemukannya 40% responden memiliki level diatas rata-rata. Faktor yang bisa menyebabkan perbedaan tersebut antara lain jenis kelamin, dimana menurut Amstrong (2006) bahwa VO2 max juga dipengaruhi jenis kelamin, dan terbukti berada dalam level terendah yaitu diatas rata-rata adalah perempuan. Indikator kedua adalah indeks kebugaran responden, merupakan pengukuran kebugaran seseorang berdasarkan kemampuan kardiovaskuler, yaitu dengan mengukur kemampuan menyesuaikan terhadap beban kerja dan nadi pulih asal dari kerja tersebut (Sibson & Taylor, 2004). Hasilnya mayoritas responden juga memiliki kebugaran baik, sebagian kecil ditemukan pada level sangat baik dan diatas rata-rata. Darmayanti (2007) menjelaskan manfaat dari olah raga adalah dapat menurunkan tekanan darah, sehingga meningkatkan efisiensi jantung. Selain itu terdapat juga teori yang menyatakan bahwa latihan Taekwondo memiliki potensi yang cukup untuk menaikan detak jantung yang bermanfaat bagi kebugaran kardiorespirasi (Melhim, 2001). Terbukti dalam penelitian ini bawa responden dilihat dari indeks kebugaran memiliki level yang baik. Level baik ditemukan terbanyak pada responden yang sudah berlatih selama 2 tahun. Nilai ini berbeda bagi responden lain yang lama latihan nya kurang dari 2 tahun atau lebih. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa secara umum semua responden memiliki fisik yang bugar, meskipun tingkatanya bervariasi tetapi tidak ditemukan level kebugaran jelek pada responden. Hal ini menunjukan bahwa penelitian ini memperkuat teori yang telah ada bahwa latihan Taekwondo memberikan manfaat bagi kebugaran seseorang. Tanda-tanda vital pada mahasiswa dengan olah raga Taekwondo Hasil observasi yang diukur pada saat responden tidak melakukan latihan fisik dengan melihat pada denyut jantung, frekuensi nafas serta tekanan darah berdasarkan standard WHO, ditemukan bahwa semua tanda-tanda vital pada mahasiswa dengan olah raga Taekwondo dalam batas normal. Nilai pertama yang diukur adalah nadi responden. Cara mengetahui tingkat kebugaran dan kemajuan latihan adalah dengan mengawasi denyut jantung, prinsipnya semakin rendah kecepatan nadi (dalam standard) maka semakin baik bentuk jantung (Marniyah, 2007). Nadi permenit yang ditemukan adalah semuanya berada pada nilai 60-80 yang menunjukan nilai normal. Nilai kedua adalah frekuensi napas permenit. Pernapasan dapat dipengaruhi beberapa faktor salah satunya dengan olah raga fisik (Marniyah, 2007). Frekuensi pernapasan dihitung dengan mengobservasi inspirasi dan ekspirasi penuh. Dari penelitian menunjukan semuanya memiliki frekuensi napas pada 12-20 x/menit, dimana menurut Potter & Perry (2005) nilai tersebut menunjukan dalam batas normal. Selanjutnya peneliti mengukur tekanan darah responden, dimana tekanan darah merupakan indikator yang baik tentang kesehatan jantung (Marniyah,2007). Dari observasi ditemukan tekanan darah sistole
  15. 15. <140mmHg, distole <90 mmHg. Hal ini menunjukan kondisi fisik responden yang baik. Dengan TTV berada pada nilai normal tubuh responden akan mampu bekerja dengan baik tanpa mengalami keluhan fisik dalam aktifitasnya. Dari penelitian ini menunjukan pada responden mahasiswa usia 18-25 tahun, terbukti bahwa latihan Taekwondo dapat memberikan manfaat yang baik bagi fisik anggotanya. Faktor yang berpengaruh terhadap kebugaran fisik pada mahasiswa dengan olah raga Taekwondo Dari penelitian ini, menunjukan bahwa mayoritas responden yang diteliti kebugaran fisiknya berada pada level baik, sebagian kecil juga diemukan level sangat baik dan diatas rata-rata. Meskipun terdapat variasi tersebut namun tidak ada responden dengan nilai jelek. Dengan indikator VO2 max dan indeks kebugaran yang mengukur dari komponen berbeda, menurut peneliti terdapat faktor yang mempengaruhi perbedaan nilai masing-masing responden. Faktor pertama adalah jenis kelamin, dimana menurut Amstrong (2006) VO2 max bisa juga dipengaruhi jenis kelamin. Dalam penelitian ini terdapat 40% responden memiliki level kebugaran VO2 max diatas rata-rata. Dari hasil tersebut menunjukan responden terbanyak adalah dengan jenis kelamin perempuan. Pada hasil crosstab ditemukan nilai p = 0,006 dengan α=0,05. Nilai p=0,006 tersebut memperkuat dugaan bahwa jenis kelamin seseorang berpengaruh terhadap nilai VO2 max yang berarti mempengaruhi perbedaan kebugaran. Faktor kedua menurut peneliti adalah lamanya responden telah berlatih. Hal ini berdasarkan nilai indeks kebugaran responden yang menunjukan mayoritas responden yang berlatih 2 tahun memiliki kebugaran yang baik. Nilai lain pada responden dengan lama latihan berbeda menunjukan nilai indeks kebugaran yang berbeda pula. Mukholid (2007) menyebutkan bahwa program latihan fisik dalam olah raga perlu juga memperhatian lamanya latihan. Pieter & Toskovic (2004) mengatakan bahwa dengan berlatih Taekwondo pada durasi dan intensitas tertentu akan bermanfaat bagi kebugaran kardiorespiratory (Kordi, 2009). Pada hasil crosstab lama latihan dengan nilai indeks kebugaran didapatkan p=0,036 dengan α=0,05. Nilai p=0,036 tersebut memperkuat dugaan bahwa lamanya latihan responden berpengaruh terhadap nilai indeks kebugaran yang berarti mempengaruhi perbedaan kebugaran seseorang. Dari hasil analisa menunjukan bahwa level kebugaran pada responden penelitian tingkat kebugaran pada mahsiswa dengan olah raga Taekwondo di Universitas Airlangga, bisa dipengaruhi oleh factor jenis kelamin dan lamanya responden tersebut sudah berlatih Taekwondo. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Kebugaran fisik pada mahasiswa dengan olahraga Taekwondo di Universitas Airlangga menunjukan level baik. Tanda-tanda vital pada mahasiswa yang melakukan olah raga Taekwondo menunjukan semuanya dalam batas normal. Penelitian ini menunjukan bahwa dengan latihan Taekwondo pada durasi dan intensitas tertentu akan mampu memberikan manfaat bagi kebugaran anggotanya. 6.2 Saran 1. Bagi peneliti selanjutnya Agar mengembangkan penelitian ini di Indonesia umumnya dengan sasaran responden yang lebih besar dan pada jenjang usia yang berbeda. Peneliti mampu menjelaskan manfaat jangka pendek berlatih Taekwondo dengan harapan bisa menarik minat seseorang dalam melakukan olahraga dengan waktu singkat. 2. Bagi institusi pendidikan (PSIK FKp Unair) Mengenalkan kegiatan olah raga ini melalui organisasi mahasiswa guna memberikan wawasan tentang alternatif kegiatan untuk menjaga kebugaran tubuh. Berkembangnya dunia kesehatan khususnya keperawatan, perawat mampu mengembangkan kemampuannya di bidang kesehatan dengan memberikan alternatif kegiatan dalam bentuk olah raga untuk kesehatan.
  16. 16. 3. Bagi klub terkait Karena telah terbukti menunjukan hasil yang baik bagi kebugaran anggotanya pada usia 18-25, melihat banyaknya anggota yang masuk setiap tahunnya, UKM diharapkan memberikan informasi pada anggota baru tentang manfaat olah raga ini dengan harapan lebih banyak anggota yang aktif berlatih. Daftar Pustaka Adiwinanto, W. (2008). Pengaruh Olahraga di Sekolah terhadap Indeks Masa tubh dan Tingkat Kesegaran Kardiorespirasi Pada Remaja Obesitas. Semarang: Tesis Universitas Diponegoro. Amstrong, N. (2006). Aerobic fitness of childreen and adolescent. Jornal de Pediatria , 82. Anggrawati, H. (2009). The corelation between physical fitness and study performance in high school students after 1200 M run. media majalah ilmu faal Indonesia vol.9 no.1 , 1. Ariana, A. (2006). Efektifitas terapi humor terhadap penurunan tingkat stres pada mahasiswa baru. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Bassa, A. M. (2009). Hubungan Motivasi Berprestasi Dengan Pengambilan Keputusan pada Anggota UKM Taekwondo UIN Malik Ibrahim Malang. Skripsi , 48. Bell, R. C., & Chang, C. M. (2002). The exploration of Taekwondo training on personality traits. the sport journal vol.5 no.3 , 1. Daldiyono. (2009). How to be a succesful student (buku panduan untuk menjadi sarjana yang sadar dan berpikir). jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Darmayanti, S. (2007). Pengaruh Latihan Tai Chi Chuan Terhadap Peningkatan Kebugaran Pada Manula. Skripsi , 20. Effendy, N. (1998). Keperawatan kesehatan masyarakat. Jakarta: EGC. Gilang, M. (2007). Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Bandung: Ganeca exact. Hoeger, W. W., & Hoeger, S. A. (2010). Principles and labs for fitness and wellness 3th edition. United States of America: Yolanda Cossio. Indarjo, S. (2009). Kesehatan jiwa remaja. Journal.Unnes , 49 - 54. Indrawagita, L. (2009). Hubungan status gizi, aktifitas fisik, dan asupan gizi dengan kebuigaran pada mahasiswi FKMUI 2009. Skripsi , 1-2. Irfan, M. (2011). Pedoman olahraga yang menyehatkan. Unimed Journal vol.17 no.65 . Irwansyah. (2007). Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Bandung: PT. Grafindo Media Pratama. Kim, J. W. (2010). Taekwondo Student manual. South Yosemite Street: www.jwkimtkd.com. Knoers, F.J, M., & Haditono, S. (2001). Psikologi Perkembangan : Pengantar dalam berbagai Bagiannya. In F. M. Monk, Psikologi Perkembangan : Pengantar dalam Berbagai Bagiannya (pp. 260- 262). yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Kordi, R. e. (2009). Combat sport medicine. New Jersey: Springer. Marniyah. (2007). Pengaruh senam yoga terhadap peningkatan kebugaran pada lansia. Skripsi , 23-25. Maselah, M. (2012). Pengaruh permainan tradisional terhadap siswa putra kelas 5 SD negeri sidoagung magelang. Tesis , 9-13.
  17. 17. Melhim, A. F. (2001). Aerobic and anaerobic power responses to the practice of Taekwondo. Brj. sport Med. volume.35 , 231-234. Mukholid, A. (2007). Pendidikan Jasmani Olahraga dan kesehatan. Jakarta: Yudhistira. Notoatmodjo, S. (2002). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Nursalam. (2011). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Rasyono, Rahayu, T., & Soegiyanto. (2012). Model Extracurricular Taekwondo For A Basic Of Talent Scouting Athletes. Journal of Physical Education and Sports , 2. Saqurin, A. (2013). Tingkat kebugaran pada mahasiswa dengan olah raga Taekwondo di Universitas Airlangga. Surabaya: Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga. Sibson, A., & Taylor, J. (2004). Sport examined. London: United Kingdom. Siregar, Y. I. (2010). Peranan kebugaran jasmani dalam meningkatkan kinerja. Unimed Journal Vol.16 No.60 Thn.XVI , 77 - 83. Suharjana, F., & Purwanto, h. (2008). Kebugaran jasmani D2 PGSD penjas FIK UNY. JPJI vol.5, no.2 , 65. Supartini, Y. (2002). Konsep dasar keperawatan anak. Jakarta: EGC. Suryadi, V. Y. (2008). Gambar gerakan taekwondo. In Poomsae Taekwondo Untuk Kompetisi (edisi bahasa Indonesia) (pp. 27-42). Jakarta: PT.Gramedia. Suryanto. (2011). Peranan Olahraga Dalam Mengurangi Stres. WUNY Majalah Ilmiah Populer , 1-6. Tarmin. (2011). Pengelolaan pelatihan olahraga pencak silat unggul di PPLP Pencak Silat Jawa Tengah. Tesis , 1. Tirtawirya, D. (2005). Perkembangan dan peranan Taekwondo dalam pembinaan manusia di Indonesia. In Jorpres (pp. 195-211). Yogyakarta: Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY. Wong, D. L. (2002). Buku ajar keperawatan pediatrik vol.1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Yulianti, R. (2008). Hubungan persepsi tentang tubuh bugar dengan tindakan mahasiswa dalam menjaga kebugaran. Skripsi , 1.

×