Pengalaman Berharga Untuk Menjadi Warga Dunia
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Pengalaman Berharga Untuk Menjadi Warga Dunia

on

  • 8,266 views

Catatan Mengikuti Studi Banding Internasional

Catatan Mengikuti Studi Banding Internasional
Malaysia dan Singapura 2011:

Pengalaman Berharga Untuk
Menjadi Warga Dunia

Statistics

Views

Total Views
8,266
Slideshare-icon Views on SlideShare
1,793
Embed Views
6,473

Actions

Likes
0
Downloads
23
Comments
0

7 Embeds 6,473

http://enewsletterdisdik.wordpress.com 6341
http://translate.googleusercontent.com 127
http://213.134.46.67 1
http://www.365dailyjournal.com 1
http://jaredandkathleensmith.blogspot.com 1
http://enewsletterdisdik.wordpress.com. 1
https://enewsletterdisdik.wordpress.com 1
More...

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Pengalaman Berharga Untuk Menjadi Warga Dunia Pengalaman Berharga Untuk Menjadi Warga Dunia Document Transcript

    • Catatan Mengikuti Studi Banding Internasional Malaysia dan Singapura 2011:Pengalaman Berharga Untuk Menjadi Warga Dunia Oleh: Marjohan, M.Pd (Face Book: marjohanusman@yahoo.com) Pemerintah Kabupaten Tanah Datar Dinas Pendidikan SMA Negeri 3 Batusangkar Tahun 2011
    • DAFTAR ISIBAB. I PROSES KREATIF A.Menulis untuk menciptakan kualitas pribadi…………………… 1 B.Peluncuran dan Reward Buku……………………………………. 4 C. Langkah-Langkah Menjadi Penulis…………………………….. 6 D. Jasa Penulis Dalam Mendidik dan Menghibur Jutaan Anak-Anak………………………………………………... 11BAB.II IKUT SERTA DALAM PROGRAM STUDI BANDING A. Sebuah Kesempatan………………………………………………. 19 B. Pembekalan Pengalaman………………………………………… 21BAB. III PENGALAMAN SELAMA PERJALANAN A. Keberangkatan…………………………………………………… 25 B. Bermalam di Islamic Centre Pagaruyung…………………….. 29 C. Kuala Lumpur Air Port………………………………………….. 35 D. Nilai University dan Istana Sri Menanti………………………… 47 E. Bapak Rusdi di Attase Budaya KBRI Kuala Lumpur………... 57 F. Genting Highland………………………………………………… 61 G. Johor Baru dan Singapura……………………………………… 71 H. Malaka……………………………………………………………. 83 I. Kembali Ke Sumatra……………………………………………… 86BAB IV. MENERAPKAN PENGALAMAN STUDI BANDING A. Manfaat Studi Banding Bagi Siswa……………………………… 88 B.Manfaat Secara Umum…………………………………………… 90
    • Ucapan Terima Kasih Program studi banding internasional guru dan siswa berprestasi keMalaysia dan Singapura bertujuan untuk memotivasi anak didik dan guru menjadiwarga yang lebih berkualitas. Program ini juga memberi peserta pengalamaninternasional untuk menjadi warga internasional. Laporan perjalanan ini berjudul :pengalaman berharga menjadi wargadunia. Laporan perjalanan ini dapat penulis selesaikan karena bantuan banyakpuhak. Ucapan terima kasih atas terselenggaranya perjalanan studi bandinginternasional ke Malaysia dan Singapura terlaksana atas peran dari: 1. Bapak Bupati Kabupaten Tanah Datar 2. Anggota Dewan (DPRD) Kabupaten Tanah Datar 3. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Datar 4. Kepala Kementrian Pendidikan agama Kabupaten Tanah Datar 5. Kepala SMA N 3 dan Majlis guru Batusangkar. 7. Travel Biro JAP (Jalur Angkasa Prima). Terima kasih juga penulis aturkan kepada istri dan dua orang anak penulis(Fachrul dan Nadhilla). Tulisan dalam laporan ini diharapkan bisa memberiinspirasi dan motivasi bagi pembaca. Tidak ada gading yang tidak retak. Laporanperjalanan ini agaknya ada kekurangan dan butuh kritikan positif daripembacanya. Kritikan positif dapat disampaikan melalui emailmarjohanusman@yahoo.com. Atas perhatian dari pembaca kami ucapkan terimakasih. Batusangkar, Desember 2011 Marjohan M.Pd
    • BAB. I PROSES KREATIFA. Menulis untuk menciptakan kualitas pribadi Ada empat keterampilan berbahasa yang harus kita kuasai yaitu membaca, berbicara, menyimak (mendengar) dan menulis. Keempat keterampilan tersebut mutlak dimiliki secara optimal dan maksimal. Dari empat jenis keterampilan ini kita dapat mengelompokannya menjadi keterampilan bahasa yang bersifat reseptif (menerima) yaitu: membaca dan mendengar, serta keterampilan bahasa yang bersifat produktif (menghasilkan) yaitu: menulis dan berbicara. Keterampilan menulis sangat penting, namun keterampilan ini jarang diaplikasikan. Menulis yang dimaksud disini adalah mengarang. Kegiatan mengarang meliputi menulis surat, menulis dokumen, menulis proposal, cerita pendek, menulis novel dan sampai kepada menulis skripsi, tesis dan disertasi. Dalam kehidupan orang hanya banyak melakukan aktivitas berbicara dan mendengar, Sementara itu aktivitas membaca dan menulis bisa terabaikan. Kedua aktivitas ini perlu mendapat perhatian karena menentukan kualitas hidup seseorang. Orang-orang yang tekun dalam membaca dan menulis bisa menjadi orang-orang yang berkualitas. Agama Islam sendiri juga mengajarkan bahwa membaca (iqra’) sangat penting dan ayat pertama yang diturunkan Allah Swt kepada Rasul adalah ayat “iqra’ atau bacalah...!” Selanjutnya dari dua bentuk aktivitas: membaca dan menulis, maka “menulis” adalah keterampilan yang paling terabaikan. Dewasa ini lebih banyak orang yang suka membaca daripada menulis. Bila mereka disuruh menulis maka mereka akan mengeluh “wah aku tidak punya ide, kosa kata
    • terbatas, tidak punya motivasi”. Keluhan ini disebabkan menulis belummenjadi kebutuhan dalam hidup. Penulis juga menyadari bahwa menulis ini sangat penting. Ketikaduduk di bangku sekolah dasar ia belum memiliki bakat menulis sampai suatuhari, saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama- SMP Negeri 1Payakumbuh, ia membaca biografi tentang seorang penulis. Ia memahamibagaimana manfaat menulis dan bagaimana cara memulai untuk menulis. Saat duduk di bangku SMP, penulis mempunyai minat dalam bidangkorespondensi atau bersahabat pena. Ia mempunyai banyak sahabat dinusantara dari Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Irian. Ia juga punyasahabat pena dari luar negeri: Pakistan, Srilangka, Malaysia dan AmerikaSerikat. Saat duduk di bangku SMA, hobbi berkorespondensi penulis agakterganggu, namun ia punya hobbi baru yaitu menulis. Sering bila punya waktuluang penulis membuat cerpen dan ia sendiri sebagai tokoh utama. Bilacerpen-cerpennya selesai, ia menyuruh teman-temannya membaca dan iasendiri memperoleh rasa senang, karena cerpen yang ia tulis mempunyaitujuan sebagai sarana untuk hiburan. Hobi menulis sangat mendukung jurusan yang ia pilih di Universitas. Iamemilih jurusan Bahasa Inggris. Begitu pula orang-orang yang memilihjurusan Bahasa, apakah Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Jepang, Bahasa-bahasa yang lain maka mereka idealnya memiliki hobi dalam menulis. Tentusaja menulis dalam bahasa asing akan mampu membuat kualitas pemahamanbahasa asing mereka menjadi sangat bagus.
    • Saat penulis menjadi guru di SMA Negeri 1 Lintau Buo- KabupatenTanah Datar, penulis mulai menulis dalam bentuk non fiksi yaitu artikelpendidikan. Ia menulis artikel bila punya waktu senggang dan iamempublikasikannya pada koran-koran yang terbit di Sumatera setiap minggu.Tahun 1992, artikelnya yang pertama dengna judul “Tidak Perlu Frustasi bilaGagal ke Perguruan Tinggi” terbit pada koran Singgalang. Munculnyapublikasi artikel pada koran menambah semangat dan motiviasi menulisnya. Saat zaman dengan sarana informasi dan teknologi datang maka iamenulis menggunakan komputer dan internet sehingga tulisannya bisa diaksesoleh banyak orang. Ia juga memposkan tulisannya pada jejaring “Pak GuruOnline” dan “E-newsletter disdik”. Samapai tulisannya juga terbaca oleh Prof.Dr. Jalius Jama, seorang dosen senior di Universitas Negeri Padang. Itu ia ketahui saat ia melakukan seminar untuk tesis pascasarjananya.Dan dalam acara pengujian tesis, profesor Jalius Jama berkomentar “inirupanya saudara Marjohan tersebut, kalau tulisan anda sudah sering penulisbaca. Tulisan anda banyak sekali dan sangat layak untuk dikompilasi menjadibuku”. Pernyataan tadi memberi gairah/ semangat bagi penulis untuk selalumenulis. Setelah menyelesaikan pendidikannya pada program pasca sarjana UNPia segera mengkompilasi tulisannya menjadi sebuha buku. Pada mulanya iamengalami kesulitan dalam mencari judul buku. Sebab judul cukupmenentukan dalam memberikan daya tarik. Pada mulanya judul bukunya“Beranda Sekolah”, namun judul ini terasa kurang begitu menggigit, akhirnya
    • ia mengganti judul naskah buku menjadi “School Healing – menyembuhkanproblem sekolah”, penulis juga mengalami kesulitan untuk mencari penerbit. Penulis mempostingkan naskah bukunya pada blogger pribadi yaitupada http://penulisbatusangkar.blogspot.com. Agaknya blogger pribadinyaterbaca oleh redaktur penerbit “Insan Madani Yogyakarta”. Akhirnya redakturmenelpon penulis dan membut MOU (Memorandum of Understanding)hingga buku School Healing bisa terbit dan beredaran di pasar terutama diToko Buku Gramedia. Setahun kemudian (2010) penulis juga menyelesaikan buku yang kedua dengan judul “Generasi Masa Depan- Memaksimalkan Potensi DiriMelalui Pendidikan”. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Bahtera Buku,Jogjakarta.Buku pertama terbit Buku yang ke duaB.Peluncuran dan Reward Buku Bulan November 2009 adalah hari yang bersejarah bagi penulissebenarnya pada bulan tersebut ada seminar yang diselenggarakan olehprogram bermutu (Better Education Through Reformed Management and
    • Universal Teacher Upgrading) untuk mengadakan seminar. Penulismengambil inisiatif untuk membagi-bagikan fotokopi buku school healingdalam kegiatan seminar tersebut Saat itu ada rombongan tim Bank Dunia (world bank) yangmembiayai penyelenggaraan program “bermutu” tersebut. Tempatnya digedung Indo Jolito dan di sana juga ada utusan yang berasal dari berbagaikota dan Kabupaten di Propinsi Sumatera Barat. Juga ada para pejabat sepertiWakil Bupati dan Kepala Sekolah se Kabupaten Tanah Datar. Dalam acara seminar tersebut, penulis memperkenalkan bukunya.Pertanyaan wakil bupati (Bapak Aulizul) yang masih berkesan adalah“Bagaimana pendapat anda tentang siswa yang nakal di dalam kelas?”Spontan penulis menjawab “Menurut penulis, tidak ada siswa yang nakal,yang ada hanyalah siswa yang mengalami fenomena skin hunger atau kulityang haus akan sentuhan dan belaian guru. Jadi bila kita melihat seorangmurid tampak nakal, sebetulnya ia hanya butuh sebuah sentuhan dan kata-katayang menentramkan jiwanya. Semua pendengar memberi tepuk tangan pada penulis, Aulizul Syuib,Wakil Bupati dalam kesempatan tersebut menjanjikan reward kepada penulisuntuk ikut comparative study (studi banding) bagi guru dan siswa berprestasiTanah Datar ke negara Malaysia dan Singapura. Penulis berfikir apakah ia bisa berangkat studi banding dalam tahun2010 (?) dan ternyata tidak. Ia memperoleh informasi bahwa jadwal studibanding untuk penulis adalah taun 2011, jadi ia harus menunggu satu tahun.
    • C. Langkah-Langkah Menjadi Penulis Menulis adalah aktifitas yang sulit bagi sebagian orang. Banyak orangmengatakan bahwa menulis itu sungguh sulit. Ada yang mengatakan tidak punyawaktu untuk menulis, kalau menulis mata menjadi berair. Ada pula yang senangberlindung berlindung dibalik alas an dan kata “tapi”. Penulis ingin menulis tapisibuk, penulis ingin menulis tapi anak sering mengganggu, penulis ingin …”tapi”,dan masih ada belasan alas an dibalik kata “tapi”. Bagi penulis sendiri pada mulanya juga beranggapan bahwa menulis itujuga sulit. Beruntung penulis berlangganan majalah Kawanku saat belajar di SMPNegeri 1 Payakumbuh di tahun 1980an. Ada profil Leila Chudori Budiman (yangkemudian sering menulis dalam Koran Kompas) pada majalah tersebut danbercerita bagaimana ia bisa menjadi penulis. Saat itu penulis berfikir “wah enaksekali ya menjadi penulis, bisa menjadi orang ngetop, punya banyak teman danmendapat bonus”. Rasa ingin tahu penulis tentang bagaimana menjadi penulis terobati saat iaberkenalan dengan berbagai buku biografi para penulis. Ada tetangganya, BapakMaran mantan Camat di kota Payakumbuh yang bisa bermain biola dan memilikikoleksi buku-buku. Maka penulis sangat suka membaca biografi ErnestHemingway, Zakiah Daradjat, Buya Hamka dan beberapa biografi penulis noveldan ia menjadi tahu bahwa untuk menulis memang butuh latihan. . Saat penulis remaja, tidak banyak godaan untuk tumbuh dan berkembang.Tidak banyak stasium televisi dan program yang mengganggu kosentrasi belajar,kecuali hanya tayangan televisi. Tidak ada HP kamera untuk diotak atik dan jugatidak ada VCD player untuk home theatre, apalagi computer, laptop dan internet
    • seperti zaman sekarang. Oleh karena itu televise bisa berlatih banyak dan iamempunyai lusinan buku diari yang penuh dengan coretan-coretan mimpi danpengalaman. Pulang sekolah televise terbiasa menulis. Ia merasa sebagai siswa yangpaling jago dalam segala hal. Ia jago dalam bidang olah raga, jago matematik danbeberapa mata pelajaran lain, jago dengan bahasa Inggris dan semua teman kagumpadanya. Penulis juga jatuh cinta dengan teman sekelas. Mimpi dan ilusi nyasebagai orang yang paling jago penulis paparkan dalam buku tulis. Apabila selesaimenulis, maka ia serahkan pada teman yang gemar membaca namun tidak bisamenulis. Kadang-kadang penulis juga mengundang adik-adik dan anak tetanggauntuk mendengar kisah kisa cinta yang penulis tulis. Bertambah umur tentu bertambah pula pengalaman hidup. Saat kuliah diUNP (saat itu IKIP Padang) penulis bekerja paroh waktu sebagai pemandu wisata.Ada pengalaman suka duka selama menjadi guide; dibentak oleh bule-bule,karena mereka tidak memakai bahasa Inggris, atau memperoleh uang tip dariperusahaaan. Pengalaman tersebut juga penulis tulis pada buku diari. Membaca banyak buku, artikel dan fikiran-fikiran orang lain tentu bisamembuat tulisan lebih berkualitas. Tahun 1997, penulis memutuskan untukmenjadi pembaca yang baik. Ia berlatih, membuat target untuk membaca 100halaman setiap hari. Banyak membaca tentu akan membuat tulisan lebih menarik,penulis bisa memaparkan banyak ilustrasi dan contoh-contoh dalam kehidupan. Tahun 1990-an, penulis menajdi guru di SMAN 1 Lintau. Ia tidak inginmenjadi guru kebanyakan yang aktifitasnya sangat monoton dan tidak bervariasi-pulang ke sekolah, masuk kelas dan mengajar dengan metode konvensional. Ia
    • ingin menjadi guru dengan kepintaran berganda- guru, menguasai bidang studi,menguasai seni berkomunikasi, menguasai bahasa asing yang lain dan trampildalam menulis. Untuk itu ia membaca banyak buku seputar paedagogy, psikologi,filsafat, biografi dan kisah kisah pencerahan dari orang lain. Akhirnyakemampuan dan energi menulis penulis makin meningkat. Setiap minggu penulis mampu menulis satu atau dua artikel per-minggu.Penulis memutuskan untuk mempublikasikanya pada Koran-koran di Sumbar.Saat itu ada tiga Koran yaitu Canang, Haluan dan Singgalang. Tahun 1992 tulisanpenulis pertama terbit di Koran Singgalang engan judul “Melacak pergaulanremaja dan tidak perlu frustasi bila gagal masuk perguruan tinggi”. Ia sangatbahagia dan enerjik menulis semakin bertambah, penulis terus mengirim artikel keKoran-koran. Bila dipublikasi penulis tentu senang dan kalau ditolak penulisberusaha untuk tidak kecewa apalagi sampai menjadi frustasi. Frustasi tentu bisamembunuh kreatifitas menulis dan energi untuk melakukan aktifitas lain. Di awal tahun 1990-an ada beberapa orang asing dari Perancis- FrancoiseBrouquisse, Anne Bedos dan Louis Deharveng. Mereka bertugas di LIPI(Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Jakarta dan melakukan penelitian tentanghutan tradisionil di Lintau. Orang- orang Perancis tersebut kemudian menjaditemn baik penulis dan mereka datang ke Sumatra dan berkunjung ke Rumahpenulis. Mereka membatunya dalam mempelajari bahasa Perancis dan memintapenulis menulis untuk dipublikasi dalam. Dengan demikian tulisan penulis tentangparawisata juga dipublikasi pada journal mereka, speleologie,di kota Tarbes,Perancis.
    • Ternyata ada manfaat menulis dalam pengembangan karir penulis sebagaiguru. Tahun 1998 ada seleksi guru teladan (sekarang guru berprestasi). Porto foliopenuh dengan klipping artikel-artikel dan tulisan penulis dalam bentuk lain,seperti resensi buku. Kemampuan menguasai dua bahasa asing, Inggris danPerancis, dan skor ujin tulis membuat penulis bisa mewakili kecamatan LintauBuo dan selanjutnya untuk tingkat Kabupaten Tanah Datar untuk seleksi guruTeladan. Di tingkat Provinsi, penulis masuk nominasi dan akhirnya tahun 1998penulis tercatat sebagai guru teladan Sumatera Barat dalam usia tiga puluh tahun. Tahun 2005, penulis mutasi ke kota Batusangkar dan bertugas di sekolahbaru pada sekolah “Pelayan Unggul” satu atap SMP-SMA unggul, yang manakemudian berubah nama menjadi SMP Negeri 5 Batusangkar dan SMA Negeri 3Batusangkar. Berdomisili di kota batusangkar membuat penulis mudahbersentuhan dengan tekhnologi- computer dan internet. Ia terus menulis danmenyalurkan tulisan lewat internet, mengirim artikel ke berbagai Koran lewat e-mail. Kemudian penulis juga membuat situs gratisan lewat blogspot. Sebetulnyaada beberapa bentuk blog gratisan lain seperti wordpress dan multiply. Namunpenulis suka fitur blogspot. . Situs penulis sendiri ada pada alamat:http://penulisbatusangkar.blogspot.com. Tahun 2006, penulis memperoleh beasiswa untuk mengikuti programpascasarjana di Universitas Negeri Padang. Kemampuan menulis membuat kuliahlancar dan penulis bisa selesai pendidikan pada Pascasarjana. Kemampuanmenulis membuat tesis penulis bisa selesai lebih cepat penulis wisuda padapertengahan tahun 2008.
    • Issue sertifikasi untuk guru professional pun bergulir dan segera menjadirealita. Bagi yang mampu memenuhi angka atau skor porto folio bisa lulus danmemperoleh sertifikasi sebagai guru professional. Ia mengetik ulang semua artikelyang pernah diterbitkan pada Koran-koran. Artikel yang telah diketik ulangpenulis kirim lagi ke Koran, tentu saja diedit lagi. Semuanya terbit lagi danpenulis memperoleh honorarium lagi. Ia juga mempostingkan tulisan tadi dalamblogspot penulis dan kumpulan artikel yang pernah dipublikasikan membuat nyabisa lulus sertifikasi lewat portofolio. Betul-betul dana sertifikasi yang telahpenulis terima membuat penulis dan keluarga menjadi lebih sejahtera, bisamembeli laptop dan memperbaiki bangunan rumah. Penulis ingin menjadi penulis buku dan tidak harus menulis buku tebaldari awal sampai akhir sebanyak 250 halaman. Ia menseleksi beberapa tulisa yangsama temanya menjadi satu buku. Temanya tentang pendidikan dan penulis berijudul: SCHOOL HEALING MENYEMBUHKAN PROBLEM SEKOLAH. BulanFebruari 2009 ini penulis punya rencana untuk menyerahkan pada teman untukditerbitkan di Provinsi Riau, namun lebih dahulu ada telepon dari Jogjakarta-penerbit Pustaka Insan Madani- ingin mencetak dan meberbit naskah buku atautulisannya. Penulis menyetujui. Insyaallah, menurut pihak penerbit bahwa dalambulan Agustus 2009 ini buku penulis sudah siap cetak dan siap untuk diluncurkanuntuk dikonsumsi oleh masyarakat. Moga-moga bermanfaat oleh masyarakat. Kemampuan menulis ternyata adalah sebuah keterampilan. Semua orangbisa menjadi penulis asal dia banyak berlatih dan menyenangi aktifitas menulis.Menulis bisa mendatangkan manfaat. Penulis bisa berbagi ide dan opini denganpembaca, bisa memperoleh honor dan sangat membantu bagi guru untuk
    • memperoleh skor portofolio untuk sertifikasi guru. Penulis artikel bisamengembangkan diri menjadi penulis buku dan memperoleh royalty pada akhirtahun. Buku kedua penulis kemudian juga terbit pada penerbitan :Bahtera buku diJogjakarta. Buku tersebut berjudul “Generasi Masa Depan- MemaksimalkanPotensi Diri Melalui Pendidikan”.D. Jasa Penulis Dalam Mendidik dan Menghibur Jutaan Anak-Anak Jutaan anak-anak di dunia bisa bermimpi dan berbagi cerita tentang tokohcerita yang telah mereka baca. Jutaan anak-anak di dunia bisa terhibur dan bisaberhenti menangis setelah ibu, ayah , nenek mereka menceritakan tokoh-tokohhebat yang tidak cengeng dan jutaan anak-anak terdidik, berubah karakter jadibaik, gara-gara tokoh cerita yang mereka kagumi. Itulah berkah karena adanyapenulis cerita anak anak yang bisa berjasa mendidik dan mendatangkankedamaian ke hati mereka. Anak-anak yang gemar dengan sastra (cerita anak-anak) lebih mengenaltokoh cerita daripada penulis cerita tersebut. Mereka lebih mengenal “kisah sikerudung merah dan Cinderella” dari pada penulisnya “Charles Perrault”, lebihmengenal cerita “Pinokio” dari pada penulisnya “Carlo Collodi”, cerita “PutriSalju” dari pada penulisnya “Hans Christian Andersen”, cerita “Harry Porter” daripenulisnya J.K Rowling, atau “Elisa di negeri ajaib” dari pada penulisnya LewisCaroll. Pada umumnya cerita-cerita menarik tersebut banyak yang berasal daridaratan Eropa, seperti Ceko, Perancis, Jerman, Denmark, Italia, Swiss, Inggris,Irlandia, dan juga dari Amerika SErikat. Penyebabnya bisa jadi karena bahasa-
    • bahasa Eropa menjadi bahasa Internasional seperti bahasa Inggris, Perancis,Jerman, dan Spanyol. Karya sastra anak anak pun menyebar melalui bahasa ini Sekali lagi anak-anak sedunia begitu kagum dengan tokoh cerita-ceritayang telah disulap menjadi film film kartun yang lucu, menghibur dan mendidik.Kita juga perlu mengenal cerita tersebut namun juga perlu tahu siapapengarangnya dan bagaimana latar belakang kehidupan mereka, agar kita jugabisa menimba pengalaman sukses mereka sebagai penulis hebat. 1) Putri Salju Hans Christian Andersen lahir di Odense, Denmark (1805), ia penulis danpenyair yang paling terkenal berkat karya dongengnya. Ayah Andersen adalahtukang sepatu yang miskin dan buta huruf (namun rajin), dan ibunya adalahseorang binatu (buruh cuci). Walau dari keluarga miskin, namun sejak kecil HansChristian Andersen sudah mengenal berbagai cerita dongeng, sang ibunya yangmembuat H.C Andersen berkenalan dengan certa-cerita rakyat. Di kemudian hari,H.C. Andersen sempat melukiskan sosok sang ibu dalam berbagai novelnya. Ayahnya juga seorang pencinta sastra, dan kerap mengajak Hansmenonton pertunjukkan sandiwara (atau theater). Setiap Minggu ia membuatkangambar-gambar dan membacakan certa-cerita dongeng untuk Andersen. Sikap danpengalaman dari orang tua itulah yang membuat H.C. Andersen tertarik dengandunia mainan, cerita, sandiwara termasuk karya sastra. Setelah ayahnyameninggal. H.C. Andersen yang belum lama mengenyam pendidikan formal,merasakan susahnya kehidupan. Akhirnya ia bekerja serabutan di antaranyapernah bekerja di sebuah pabrik, magang di sebuah penjahit dan bekerja sebagaipenenun. Ia terpaksa memburuh untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
    • Anderson mencoba menjadi seorang penulis sandiwara. tetapi penulisng,semua karyanya ditolak dimana-mana. Hans Andersen beruntung bisa bertemudengan Raja Denmark, Frederik VI, karena ia cerdas dan gagah, Raja tertarikdengan penampilan Hans muda dan mengirimkannya untuk bersekolah(memberinya bea-siswa). Andersen melanjutkan studi ke UniversitasKopenhagen. Sambil kuliah, pada tahun 1828 Hans Christian menulis kisahperjalanan yang berjudul Fodreise fra Holmens Kanal Til Ostpynten af Amager(Berjalan kaki dari Kanal Holmen ke Titik Timur Amager). Hans Christian Andersen pergi berkelana ke luar negeri selain Jerman. kePerancis, Swedia, Spanyol, Portugal, Italia bahkan hingga Timur Tengah. Dariberbagai kunjungan itu melahirkan setumpuk kisah perjalanan. Ketika melawat keParis, Andersen bertemu dengan Victor Hugo, Alexandre Dumas, Heinrich Heinedan Balzac. Di tengah perjalanan panjang ini pula, ia sempat menyelesaikanpenulisan "Agnette and the Merman". Pada awal 1835, novel pertama Andersen terbit dan meraih sukses besar.Sebagai novelis, ia membuat terobosan lewat The Imrpvisator, karya yangditulisnya pada tahun yang sama. Cerita yang mengambil setting Italiainimencerminkan kisah hidupnya sendiri; melukiskan upaya seorang bocah miskinmasuk ke dalam lingkungan pergaulan masyarakat. Malah sampai akhir hayatnya,buku The Improvisatore inilah yang paling banyak dibaca orang banyakdibandingkan dengan karya karya Andersen yang lain. Sejak buku ini terbit, masamasa sulit Andersen mulai berubah. Sepanjang 1835, ia meluncurkan tujuh ceritadongeng yang disusun jauh hari sebelumnya.
    • Kendati novel-novelnya mendapat sambutan besar, nama Hans ChristianAndersen di dunia justru menjulang sebagai penulis dongeng anak-anak. Pada1835, ia meluncurkan cerita anak-anak Tales for Children dalam bentuk bukusaku berharga murah. Lalu kumpulan cerita bertajuk Fairy Tales and Storydigarapnya dalam kurun 1836-1872. Dua dari cerita dongengnya yang amat kesohor, The Little Mermaid danThe Emperors New Clothes, diterbitkan dalam kumpulan cerita pada 1837. Tujuhdongengnya yang lain: Little Ugly Duckling, The Tinderbox, Little Claus and BigClaus, Princess and the Pea, The Snow Queen, The Nightingale dan The SteadfastTin Soldier, juga dikenal di berbagai belahan dunia sebagai cerita yang kerapdidongengkan pada anak-anak. Bisa dilihat dari kisah dongeng The Emperors new Clothes. Pesan bahwakeserakahan itu tidak baik disampaikan Andersen lewat parodi raja lalim yangcukup menggelikan itu. Salah satu ciri lain yang menonjol dalam cerita dongengAndersen adalah hadirnya kaum papa dan mereka yang tidak beruntung dalamhidup, namun juga punya semangat juang untuk hidup. 2) Pinokio Carlo Collodi (nama pena dari Carlo Lorenzini) adalah pengarang daridongeng anak-anak yang sangat terkenal berjudul Pinokio. Dongeng Pinokiamerupakan suatu cerita edukatif tentang boneka kayu yang berubah menjadi anaklaki-laki bernama Pinokio karena bantuan peri. Pinokio memiliki petualanganyang merubahnya dari anak yang nakal dan suka berbohong menjadi anak yangbaik dan patuh pada orang tua. Selain menjadi pengarang dongeng, dia jugadikenal sebagai penulis artikel di surat kabar, buku, dan novel.
    • Carlo Collodi merupakan anak pertama dari 10 bersaudara dengan orangtua bernama Domenico Lorenzini, seorang juru masak, dan Angela Orzali,seorang penjahit. Masa kecilnya dihabiskan di desa, menyelesaikan pendidikansekolah dasar dan dikirim ke seminari selama 5 tahun. Setelah lulus dari seminari,dia bekerja menjadi penjual buku. Ketika pergerakan unifikasi atau persatuanItalia mulai penyebar, Collodi yang berusia 22 tahun menjadi jurnalis yang ikutmemperjuangkan kemerdekaan Italia. Semasa hidupnya, Collodi menulis komedi, koran, dan juga berbagaiulasan. Ketika Italia menjadi negara persatuan, Collodi berhenti dari duniajurnalisme dan setelah tahun 1870 menjadi editor naskah teater dan editormajalah. Kemudian Collodi beralih ke dunia fantasi anak-anak danmenerjemahkan dongeng karya penulis Perancis, Charles Perrault, ke dalambahasa Italia. Sejak saat itu, Collodi banyak menghasilkan berbagai karya,terutama cerita anak-anak yang sukses dan disukai oleh masyarakat. 3) The Tale of Peter Rabbit Helen Beatrix Potter adalah seorang pengarang dan ilustrator, botanis dankonservasionis berkebangsaan Inggris. Ia terkenal karena buku ceritanya, yangmenampilkan tokoh hewan seperti Peter Rabbit. Ia dilahirkan di Kensington,London pada tanggal 28 Juli 1866. Ia dididik dan belajar di rumah, sehingga iamempunyai sedikit kesempatan untuk berkumpul bersama teman-temansebayanya. Bahkan adik laki-laki Potter, Bertram, sangat jarang berada di rumah;dia disekolahkan di sekolah asrama, sehingga Beatrix hanya sendirian bersamahewan peliharaannya. Ia mempunyai katak dan kadal, dan bahkan kelelawar. Iajuga pernah memiliki dua ekor kelinci. Kelinci pertamanya adalah Benjamin, yang
    • ia gambarkan sebagai "benda kecil yang bermuka tebal dan kurang ajar",sedangkan kelinci keduanya adalah Peter, yang selalu dibawanya ke manapun iapergi bahkan di dalam kereta api. Potter sering memperhatikan hewan-hewan iniselama berjam-jam dan membuat sketsa mereka. Sedikit demi sedikit, sketsa yangdibuatnya semakin baik, membuat bakatnya berkembang sejak usia dini. Ketika Potter beranjak dewasa, orang tuanya menunjuknya sebagaipengurus rumah dan mengurangi pengembangan intelektualnya,mengharuskannya untuk mengurusi rumah. Sejak umur 15 tahun sampai sekitarumur 30 tahun, ia mencatat kehidupan kesehariannya di sebuah jurnal,menggunakan kode rahasia (yang tidak terdekripsi sampai beberapa dekadesetelah kematiannya). Hal yang mendasari kebanyakan proyek dan ceritanya adalah hewan-hewan kecil yang menyelundup ke dalam rumah atau yang ia amati ketika liburankeluarga di Skotlandia dan Distrik Lake. Dia didorong untuk mempublikasi ceritaThe Tale of Peter Rabbit, dan ia pun berjuang untuk mencari penerbit sampai iaakhirnya diterima saat berumur 36 tahun pada 1902. Buku kecilnya dan karya-karyanya yang lain diterima masyarakat dengan baik dan ia memperolehpendapatan dari penjualan karyanya tersebut. 4) Harry Porter Joanne Kathleen Rowling atau lebih dikenal sebagai J.K. Rowlingdilahirkan tahun 1965 di Chipping Sodbury, dekat Bristol, Inggris. Sebagaiseorang ibu tunggal yang tinggal di Edinburgh, Skotlandia, Rowling menjadisorotan kesusasteraan internasional pada tahun 1999 saat tiga seri pertama novel
    • remaja Harry Potter mengambil alih tiga tempat teratas dalam daftar New YorkTimes best-seller setelah memperoleh kemenangan yang sama di Britania Raya. Lulusan Universitas Exeter, Rowling berpindah ke Portugal pada tahun1990 untuk mengajar Bahasa Inggris. Di sana dia berjumpa dan menikah denganseorang wartawan Portugis. Anak perempuan mereka, Jessica dilahirkan padatahun 1993. Selepas perkawinannya berakhir dengan perceraian, Rowlingmenghadapi masalah untuk menghidupi diri dan anaknya. Semasa hidup dalamkesusahan itu, Rowling mulai menulis sebuah buku. Dikatakan bahwa Rowlingmendapat ide tentang penulisan buku itu sewaktu dalam perjalanan menaiki keretaapi dari Manchester ke London pada tahun 1990. Menjadi penulis besar, apalagi penulis kaliber dunia, tidak mudah. Tidaksemudah membalik telapak tangan. Untuk menjadi penulis besar butuh perjuangandan persiapan diri. Mereka yang menjadi penulis besar selalu belajar daripengalaman dan hasil karya pendahulu mereka. Tidak perlu mencari alas an, “wahbagaimana aku akan menjadi penulis besar, orang tua ku saja susah dan melarat”.Christian Andersen si penulis dongeng anak-anak yang hebat (Cinderella) jugapunya orang tua yang melarat. Namun factor dukungan orang tua jugamenentukan, bahwa sangat perlu setiap rumah juga menyediakan koleksi ceritadan sastra (novel dan biografi) untuk konsumsi anggota keluarga. Carlo Collodi,penulis Pinokio, juga berasal dari orang tua yang hidup susah-ayahnya cumaburuh masak (juru masak) dan ibunya buruh cuci (tukang cuci) dan ia sendiri jugatidak terbiasa bermalas-malas dan juga mencari kegiatan untuk menghidupi diri,maka jadi kayalah pengalaman emosionalnya.
    • Menjadi besar bukan berarti hidup cengeng (suka mengeluh) sebagaimanaAndersen juga melakukan kerja serabutan dan sempat menjadi buruh untukmemenuhi kebutuhan hidup. Adalah isapan jempol bagi mereka yang cuma betahnongol di rumah untuk bisa menjadi hebat, untuk itu perlu melakukanpenjelajahan- mengunjungi banyak tempat, berkenalan dan berdialog denganbanyak orang- mencari ribuan pengalaman hidup untuk menjadi bahan cerita. Menjadi penulis juga perlu banyak berlatih. Sebelum menjadi hebatseorang penulis tentuh telah menulis (berlatih) ribuan helai kertas danmenghabiskan lusinan tinta. Begitu karyanya selesai- apakah puisi, cerpen,cerbung (cerita bersambung), biografi atau novel, dikirim ke penerbit bukanlangsung diterima (diterbitkan). Seringkali karya-karya mereka buat pertamakalinya ditolak, namun mereka tentu tidak mengenal kata “patah hati” apalagifrustasi dan berhenti menulis. Sebelum mengakhiri tulisan ini, penulis ingin pula memaparkan tentangrahasia pengajaran sastra yang menyenang seperti yang tertulis pada dindingRumah Puisi- yang didirikan oleh Sastrawan Taufiq Ismail- berlokasi di NagariAie Angek, Kecamatan Sepuluh Koto, Padang Panjang. Bahwa cara pandangpengajaran sastra harus asyik, nikmat, gembira dan mencerahkan. Siswa harusmembaca langsung karya sastra, dan perpustakaan sekolah musti punya koleksibuku-buku sastra yang menarik, kemudian kelas mengarang perlu menyenangkandan selalu dikembangkan. Dan terakhir suasana belajar musti menyenangkan-bebas dari suasana mengkritik apalagi penuh tekanan.
    • BAB.II IKUT SERTA DALAM PROGRAM STUDI BANDINGA. Sebuah Kesempatan Penulis tidak memikirkan kalau ia harus ikut studi banding, suatu hariBapak H. Rosfairil (Kepala SMA Negeri 3 Batusangkar) memberi sinyal kalausudah waktu bagi penulis untuk tahu apakah ia berangkat atau tidak. MakaBapak H. Rosfairil melakukan kontak telepon ke kantor Dinas PendidikanKabupaten Tanah Datar. Namun saat itu ada sinyal buat penulis untukbergabung, namun belum lagi diumumkan secara resmi, baru sebatas info darimulut ke mulut (tidak resmi). Kemudian, suatu hari secara tiba-tiba, penulis diminta untukmelengkapi bahan yang diperlukan oleh kantor imigrasi seperti “kartu nikah,KTP, kartu keluarga, ijazah, akta kelahiran, surat izin dari istri dan jugamaterai Rp. 6.000 (tiga lembar)”. Semua bahan dokumen ini diserahkan keKantor Dinas Pendidikan di Pagaruyung. Di sana penulis juga berjumpadengan beberapa orang guru yang juga mau berangkat studi banding. “Setiapdokumen yang asli harus ada fotocopinya”. Setelah dua atau tiga minggu, ada perintah untuk pengumpulan bahandokumen- untuk verifikasi. Panitia studi banding mengirim pesan melaluiSMS kepada semua peserta. Hingga semua peserta comparative study (studibanding) berkumpul di aula Dinas Pendidikan. Untuk memudahkan manajemen maka panitia studi banding membagipeserta atas 6 kelompok. Penulis sendiri berada dalam kelompok 3 dansekaligus menjadi guru pembimbing. Saat itu semua peserta mengisi blanko
    • yang diminta oleh Kantor Imigrasi dan dibutuhkan tiga lembar materai untukdi tempel pada dokumen aslinya. Di antara peserta tentu saja sudah mulai bersosialisasi- salingberkenalan. Penulis saat itu baru mengenal beberapa orang anggotarombongan. Bersamanya juga ada dua orang siswanya sendiri (dari SMANegeri 3 Batusangkar) yaitu Fauzi, reward sebagai siswa jago Kimia tingkatSumbar dan Mayang Berliana, reward atas prestasinya sebagai juara umum diSMAN 3 Batusangkar. Ia juga tahu bahwa siswinya ‘Fitria Rahmadani” jugaikut dan ia telah memiliki passport. Suatu hari kami memperoleh SMS bahwa semua peserta grup 3 dimintauntuk hadir jam 8.00 wib di Kantor Dinas Pendidikan. Mereka akan brangkatmenuju kantor Imigrasi di Bukit Tinggi menggunakan bus Pemda Tanah Dataruntuk menggurus penerbitan pass port secara kolektif. Saat itu peserta sudahmulai terlihat jelas “siapa saja dan dari mana saja”. Mereka adalah siswa yangberasal dari juara umum Kecamatan untuk siswa SD, terus dari MTsN, SMP,SMK, MA dan SMA di Kabupaten Tanah Datar. Juga ada guru berprestasilainnya, siswa yang masih dibawah umur 17 tahun, musti didampingi olehorang tua mereka. Setelah satu jam dari Batusangkar, akhirnya bus Pemda tiba di KantorImigrasi, Di Belakang Balok Bukittinggi. Gedung kantor imigrasi terlihatbiasa-biasa saja, namun terlihat cukup bersih. Pengunjung yang datang, adaorang-orang desa, mereka datang untuk mengurus pasport buat pergi umrahke Mekkah, juga ada rombongan anak-anak pramuka dari Pesantren Al-Hira(Padang Panjang) jumlah mereka cukup banyak. Mereka akan mengikuti
    • kegiatan pramuka di Malaysia dan setiap peserta membayar seribu dollar (apakah Dollar Amerika, Australia atau Dollar Singapura). Rombongan dari Tanah Datar (peserta Comparative study) juga cukup banyak di gedung tersebut. Saat rombongan kami tiba belum banyak aktivitas di kantor tersebut, namun kami datang lebih cepat dan berharap bisa urusan cepat selesai. Pertama kami antrian menunggu panggilan untuk pengambilan dokumen asli, setelah itu membayar biaya pembuatan paspor pada loket kasir. Kami harus menunggu beberapa saat untuk proses selanjutnya. Biaya pembuatan pasport ditanggung oleh Pemda Tanah Datar, masing-masing memperoleh Rp. 270.000, dengan rincian untuk biaya pembuatan pasport Rp. 255.000, dan sisanya buat beli minuman. Satu per satu anggota rombongan kami dipanggil untuk pemotretan dan setelah semua selsai rombongan mencari kuliner untuk mengisi perut yang lapar dan setelah itu kami kembali berangkat menuju Batusangkar. Katanya bahwa urusan passport dan dokumen lainnya sudah selesai. Kami semua kembali ke Batusangkar.B. Pembekalan Pengalaman Kami kembali berkumpul untuk memperoleh pembekalan pengalaman tentang keimigrasian dan melancong ke luar negeri. Pada umumnya peserta studi banding (guru dan siswa) belum pernah melakukan kunjungan ke Malaysia dan Singapore. Penyelenggara kegiatan ini adalah dari Dinas Pendidikan Tanah Datar dan dari biro perjalanan JAP (Jalur Angkasa Prima). Mereka merasa perlu untuk memberi pembekalan pengalaman bagaimana dan
    • mengapa dengan negara Malaysia dan Singapura- bagaimana kultur, politikdan budaya mereka. Bapak Mardalius, kepala sub bidang Dinas Pendidikan Tanah Datar,mengatakan bahwa Pemda Tanah Datar menyediakan anggaran sekitar Rp.500 juta untuk membiaya studi comparative siswa dan guru berprestasitersebut. Mereka terdiri dari anak-anak juara umum di Kecamatan, dan juaraumum di sekolah bagi siswa tingkat SLTP dan SLTA dan juga guru-gurupilihan atau guru berprestasi. Dana yang dianggarkan tersebut merupakan reward bagi warga TanahDatar dari segi pendidikan, tentu saja penganggaran ini telah disetujui olehDPRD dan Pemerintah Tanah Datar. Dapat dikatakan bahwa dalam kegiatantersebut guru-guru juga berfungsi sebagai unsur pembimbing dan merekaperlu memberikan perhatian atas keselamatan dan kesehatan siswa. Olehkarena ini dalam rombongan sekarang (studi banding yang ke 5) juga ikutseorang dokter yang berprestasi (Dr. Susi Julianti, dari Dinas KesehatanKecamatan Limo Kaum) untuk tingkat Sumatera Barat. Kegiatan studi banding kali ini, pada mulanya direncanakan sebelumlebaran haji yang jatuh tanggal 6 November 2011, namun diundur menjaditanggal 17 November 2011. Dikatakan bahwa semua pasport sudah selesai dansiap dibagikan. Passport adalah sebagai dokumen atau identitas seseorangyang ingin berpergian ke negara lain dan paspor akan distempel di bahagiankeimigrasian di Bandara Internasional Minangkabau dan bandara kedatanganMalaysia. Atau pasport distempel oleh pihak imigrasi saat keluar dan saatmasuk suatu negara.
    • Diingatkan bahwa selama berada di luar negeri, paspor musti ada padadiri kita. Kalau paspor kita hilang (dokumen penting ini) maka kita tidak bisameninggalkan suatu negara, kita malah akan ditahan oleh pihak imigrasi danpolisi dan dianggap sebagai warga illegal. Dewasa ini negara Malaysia sudah maju, dan Singapura lebih maju lagi.Orang-orang di negara tersebut lebih teliti dan disiplin. Fenomena telititersebut bisa cenderung menjadi karakter pencuriga. Kadang-kadang karaktercuriga sering dijumpai pada petugas imigrasi di bandara terhadap orang-orangyang membawa barang/tentengan yang berlebihan. “Mereka bisa dicurigai,misalnya memperoleh titipan drug atau narkoba dari seseorang”. Untuk itu disarankan agar siapa saja yang berkunjung ke luar negeri danmelewati kantor atau petugas immigrasi agar tidak mudah menerima titipantas/barang dari seseorang sebelum masuk bandara, karena dikhawatirkan akanmenjadi titipan narkoba oleh pengedarnya. Sebab penerima titipan akan bisaterlibat kasus dan ikut berurusan dengan imigrasi dan polisi “sekali lagidiingatkan bahwa JANGAN MENERIMA BARANG TITIPAN DIBANDARA”. Demikian pesan Pemda kepada kami semua. Merokok dilarang di Singapura, untuk itu jangan merokok selamaberada di Singapura. Juga diingatkan bahwa bila kita pergi keluar negeridalam bentuk grup maka kita harus memperhatikan keselamatan dankesehatan anggotagrup. Terutama kesehatan dan keselamatan diri pribadi. Biasanya orang yang telah pergi ke luar negeri akan punya banyakcerita menarik yang akan bisa menjadi pengalaman bagi orang lain. Misalnyaorang yang bernama “Salman dan Imam” bisa ditahan dan diinterogasi di
    • Bandara Singapura. Alasannya bahwa nama tersebut mirip dengan namaSalman Rusdie, penulis buku The Satamic Verses (ayat-ayat setan) dan ImamSamudra, gembong teroris yang ikut meledakkan bom di pulau Bali. Ditambahkan bahwa keberangkatan rombongan tidak sekaligus, namundipecah menjadi dua kali dengan pesawat Air Asia yang terbang dari bandaraPadang menuju Kuala Lumpur. Juga dinyatakan lagi bahwa di Sumatera Baratprogram reward studi banding bagi warga yang berprestasi hanya ada diKabupaten Tanah Datar. Warga yang berprestasi di Tanah Datar akan diberireward oleh Pemerintah.
    • BAB. III PENGALAMAN SELAMA PERJALANANA. Keberangkatan Tanggal 16 November 2011 kami berkumpul di Aula Islamic Centre,pukul 13.00 siang peserta sudah datang dari seluruh kecamatan. Penulis sendiritiba di Aula hampir pukul 14.00, karena harus menyelesaikan penulisan naskahujian Bahasa Inggris untuk kelas XI. Kabupaten Tanah Datar (semester 1 tahun2011/2012) dan ada sedikit problem dengan editing ukuran margin kertas ujian. Alhamdulillah akhirnya penulis bisa merampungkan penulsian danpengaturan ukuran kertas ujian sesuai dengan ukuran standar. Ia kemudian harusmenuju Griya Alam Segar –rumahnya- untuk shalat zuhur dan menyiapkantravelling bagnya. Ia sempat menitipkan pesan pada anak laki-lakinya(Muhammad Fachrul Anshar) untuk berkumpul di Islamic Center Pagaruyung danseterusnya terbang menuju Kuala Lumpur.Opening session bersama Bupati Shalat berjamaah di Mesjid Nurul Amin Penulis bergabung dengan peserta studi banding yang lain, setelah ditelponoleh beberapa orang tua siswa peserta studi banding. Ppenulis menyusup dalamkerumunan orang tua yang mau melepas keberangkatan anaknya. Dalam aula digedung Islamic Center telah terpajang pamflet “Selamat Jalan rombongan Studi
    • Banding Internasional Siswa/Siswi, guru, pengawas dan UPTD berprestasi TanahDatar ke Malaysia dan Singapura, 17 sampai 22 November 2011, Penghargaanbagi yang berprestasi”. Semua peserta menunggu kedatangan Bupati Tanah Datar, Bapak ShadiqPasadigoe, jam 15.15 sore. Penulis dan juga orang-orang lain menghilangkanringtone phone cell, khawatir kalau mengganggu kekhidmatan acara di ruangantersebut. Kami semua memberikan applause (tepuk tangan) dan Bupati begitu jugarombongan telah datang. Mereka bergegas dan melangkah menuju deretan kursipaling depan untuk memberikan arahan dan juga melepaskan keberangkatan kamisecara formal. Kepala Dinas Pendidikan Tanah Datar, Bapak Drs. H. Darisman,adalah ketua pelaksana studi banding siswa berprestasi ke Singapura danMalaysia. Dikatakan bahwa kegiatan studi banding telah menjadi kegiatan rutin sejaktahun 2006. Tanah Datar merupakan satu-satunya kabupaten di Sumatera Baratyang memberikan reward buat warga yang berprestasi, tentu saja sebagai caraterbaik dalam memotivasi warga. Program tersebut juga sangat bermanfaat untukmenambah wawasan peseta tentang budaya, etos belajar dan etos kerja masyarakatMalaysia dan Singapura yang negara mereka sudah maju tersebut. Jumlah peserta ada 137 guru, 107 siswa dan 30 orang guru pembimbing.Bapak Darisman memperkenalkan peserta per grup, mereka berdiri danmemperoleh applause. “Oh, sungguh memberi semangat dan keceriaan bagisemua peserta”.
    • Ada dua kloter penerbagangan, peserta nomor 1-95 ditambah dengannomor 136, dan 137 musti bermalam di Islamic Centre. Mereka akan berangkatmenuju BIM (Bandara Internasional Minangkabau) pada pukul 3.00 dini hari.Kemudian kloter kedua adalah nomor 96-135. Seterusnya, Bapak Darismanmenjelaskan bahwa rencana perjalanan adalah pada tanggal 17-22 November.Esok hari kami terbang dari padang menuju Kuala Lmpur dan melakukan citytour, mengunjungi Putra Jaya dan masjid Negara.Di Bandara BIM Padang Di Bandara Kuala Lumpur Thanks bahwa studi banding ini bisa terlaksana karena dukungan danaAPBD (Anggaran Pengeluaran Belanja Daerah) tahun 2011. Ternyata jaketberwarna hitam dan bertulisan “peseta studi banding internasional Malaysia danSingapura” yang kami pakai adalah sumbangan dari BPD (Bank Nagari)Batusangkar. Ada beberapa pengarahan yang kami peroleh. Bapak Yasman, S.Ag darikomisi I, anggota DPRD Kabupaten Tanah Datar juga menyampaikan beberapaarahan. Ia mengatakan bahwa Tanah Datar tidak memiliki pabrik dan tambang,maka SDM yang bagus juga merupakan aset berharga yang perlu untukditingkatkan. Di Kabupaten Tanah Datar, motto ajaran Islam yang berbunyi “Man
    • Jadda wa jadda” yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasildiwujudkan oleh pemerintah. “Pemerintah memberikan respon dalam bentuk program yaitu reward studibanding internasional ke Malaysia dan Singapura”. Tentu saja harapan dariprogram ini adalah pulang dari Malaysia dan Singapura, maka etos kerja dan etosbelajar mereka menjadi lebih baiklagi”. Rombongan yang jumlahnya 137 orang ini bisa memberi citra TanahDatar, andai kami punya citra yang jelek, maka tentu orang akan berfikir“o…begini ya, karakter orang Batusangkar”. Oleh sebab itu kami perlu selalumenjadi warga yang sopan santun selama berpergian. Bupati Tanah Datar, Bapak Shodiq Pasadigoe, mengatakan bahwa 60%dari APBD tersedot buat kebutuhan belanja pegawai. Anggaran studi banding jugatermasuk ke dalam APBD, dimana setiap peserta diberi dana Rp. 3,7 juta,termasuk uang saku. Ia mengatakan tour ke luar negeri berbeda dengan tour dalamnegeri, misalnya tour ke Jakarta. Tentu saja tour ke Jakarta tanpa pemeriksaanimigrasi, sementara tour ke Singapura dan Malaysia tentu melalui pemeriksaan. Melalui program studi banding ke luar negeri tentu saja akan adapembelajaran yang bisa diperoleh. Harapan dari pemerintah “agar gurupembimbing memberi pengalaman buat siswa secara langsung”. Tanah Datarbukanlah kabupaten yang kaya, namun bisa menyediakan anggaran Rp. 580 jutauntuk mendukung acara studi banding tersebut, sebuah doa agar siswa yangberprestasi bisa kuliah di Singapura dan Malaysia. “Dengan Bismillah,rombongan studi banding penulis lepas” ucap Bapak Bupati sambil memberikan
    • ketukan tiga kali. Dan kami semua memberikan tepuk tangan, beberapa saatkemudian acara pelepasan rombongan studi banding ini pun berakhir.B. Bermalam di Islamic Centre Pagaruyung- Batusangkar Setelah Bupati meninggalkan aula Islamic Centre, kegiatan masih adayaitu penyelesaian administrasi. Pembagian (pendistribusian) kokarde, pasport,buku petunjuk dan yang paling penting adalah penyerahan uang saku buat siswadan guru pembimbing. Kami kemudian pergi ke lantai atas untuk mencari kamar,rupanya hanya ada dua kamar yang luas buat grup pria dan grup wanita. Penulismenuju ruangan 4, kamar besar buat grup pria. Ternyata bermalam bersama peserta studi banding di Islamic Centre jugaasyik. Kami semua shalat di Masjid Nurul Amal yang terletak di samping IslamicCentre. Dinding masjid dicat putih, ruangannya luas dan bersih. Habis shalat kamimerebahkan diri dan terasa sangat rileks, anak-anak lain saling berkenalan danberbagi cerita. Penulis dan beberapa teman berfikir kalau panitia studi bandingmenyediakan makan malam ternyata tidak. Untuk mengatasi perut yang terasakeroncongan kami mencari makan dan susah sekali mencari warung malam itu.Penulis dan Febrianto (guru SMAN 3 Batusangkar) berjalan ke luar untukmencari warung. Kami bisa membeli ketupat gulai nangka yang terletak persis didepan Istano Basa Pagaruyung. Rasa ketupat gulai nangka cukup lezat (mungkinperut lapar). Penulis juga melahap goreng tahu dan kerupuk, penulismemperkirakan harganya sama dengan hargama makanan di pasar, ternyataharganya cukup murah, yaitu separo harga pasar.
    • Menjelang tidur penulis duduk di antara siswa peserta, penulis berbagicerita tentang cara belajar, tentang motivasi dan tentang kepribadian. Penulis jugamembuat kalimat-kalimat lelucon, ternyata siswa peserta senang dan tampakrileks, mereka makin ramai. “Wah kita jam 3.00 dini hari harus bangun dan bertolak menuju BandaraInternasional Minangkabau di Padang, untuk itu harus tidur”, kata penulis.Mereka harus tidur dan ternyata tidur yang mudah adalah dikamar sendiri,dirumah sendiri. Namun penulis melihat bahwa sebagian masih sibuk dengankebiasaan sendiri, otak atik HP, mendengar MP3, sampai ada membaca komikdan berbagi cerita. Penulis fikir bahwa sebagian besar peserta tidak tidur bisa dengan pulas,kecuali hanya sebagian, “oh..ternyata bagi anggota kloter 2 yang akan berangkatjam 3 sore dan fikiran mereka rileks hingga bisa tertidur”. Anak-anak pasti sibuk dengan pikiran mereka. Mereka tentu berfikirtentang bagaimana kegiatan selanjutnya, penulis sendiri juga tidak tidur denganpulas, telinga dengan jelas mendengar percakapan demi percakapan orang-orangyang berada dalam ruangan tidur besar tersebut. Penulis sengajat menutup mataagak lama agar bisa memperoleh rasa istirahat yang lebih lama, meskipun tidaktertidur lelap. Paling kurang melalui cara tersebut penulis masih bisa memperolehtidur atau istirahat yang lebih berkualitas. Anak-anak peserta studi banding ini tentu saja anak-anak pilihan disekolah atau di Kecamatan mereka. Mereka amat mudah termotivasi untukmelakukan hal-hal positif, saat penulis berada di dalam aula Islamic Centrekemaren, penulis sibuk menuliskan pengalaman pada buku catatan dan sambil
    • berbagi cerita pada anak-anak yang duduk dekat penulis bahwa “menuliskanpengalaman adalah cara yang terbak buat menyelesaikan pengalaman”. Lagi pulananti setelah acara “comparative study” selesai maka kita akan diminta untukmenulis laporan. Tentu saja kita akan dengan mudah dapat menyelesaikan laporanperjalanan.Danau Singkarak Terlihat Dari Pesawat Berfoto foto di Bandara Mendengar penjelasan ini maka dengan serta merta beberapa siswa pergike luar ruangan Islamic Centre untuk mendapatkan (membeli) buku catatan danpulpen. “Betapa mudah memotivasi anak-anak pilihat buat berhasil dalam hidupmereka, tinggal lagi kualitas pemberian motivasi dan mengarahkan mereka untukmelakukan aktivitas selanjutnya untuk menggenjot SDM (Sumber Daya Manusia)mereka”. Siswa peserta ternyata mampu mengurus diri dalam memanfaatkan waktu.Islamic Centre hanya memiliki dua kamar mandi, namun semua peserta mampumembersihkan diri. Di malamm itu (dini hari) penulis turun agak lambat danternyata orang-orang sudah siap berpakaian rapi. Mereka bisa mandi meski kamarmandi hanya dua, tidak sebanding dengan jumlah peserta yang lebih dari seratusorang.
    • Perjalanan menuju Padang pada waktu dini, pukul 3.00 pagi terasanyaman, mobil melaju dengan mulus. Tidak ada kendaraan dan transportasi lainyang mengganggu perjalanan kami. Cuaca pagi dini hari juga sejuk membuatsemua penumpang ingin untuk menikmati tidur, apalagi mata pun masihmengantuk. Penulis sendiri juga enggan membuka mata, lebih enak untukmemejamkan mata, tidak merasa rugi untuk melihat pemandangan apalagipemandangan yang akan dilihat sudah bisa dilalui sepanjang waktu. Hanya perjalanan sedikit terganggu setelah melewati pasar Sicincin.Terlihat polisi mengatur arus lalu lintas, ada sebuah mobil pecah ban, namun jugaada pemeriksaan terhadap mobil travel, khawatir kalau mobil travel yang lewatsaat dini hari membawa barang-barang yang dicurigai polisi. Tak lama kemudian, ada kumandang azan subuh, rombongan mobilPemda berhenti pada sebuah masjid di pinggir jalan di Kayu Tanam. Kami shalatsubuh, dan rombongan kami segera membuat jamaah masjid menjadi ramai padapagi subuh itu. Penulis tidak ingin berlama-lama duduk dalam masjid, ia lebihmemilih duduk segera dalam bus deretan nomor dua dari depan, tentu saja kamiselanjutnya menuju Padang Airport- BIM (Bandara Internasional Minangkabau). Mata kami tidak lagi mengantuk. Hari juga sudah mulai menyingsing,berkas sinar matahari mulai membersit di cakrawala. Memang masih terasa letihrasanya. Penulis menikmati pemandangan menuju BIM kembali. Dalam mobil yang penulis tumpangi, terdapat dua grup, yaitu grup 5 dan6. Penulis sendiri menjadi grup pembimbing untuk grup 5 penulis dudukbersebelahan dengan seorang siswa asal Lintau, dia tinggal di Ujung Tanah, TepiSelo. Penulis mengajak ia untuk bertukar fikiran dan melihat bagaimana gaya dan
    • pola berfikir. Tentu saja namanya anak-anak pikiran mereka masih dangkal.Namun untuk selanjutnya mereka perlu melatih diri lewat menulis, bertukarfikiran dan membaca untuk memiliki fikiran yang dalam dan berkualitas. Akhirnya rombongan mobil kami sampai pada jalan fly over dekat nagariDuku- Kabupaten Padang Pariaman dan terus menuju Bandara. Jalan raya menujubandara sebagai beranda Sumatera Barat sudah sangat bagus dan terawat denganbaik. Tiang-tiang listrik dengan simbol Minangkabau memberi keanggunantersendiri. Pada pos memasuki bandara juga ada jalan kecil yang disediakan buatsepeda motor atau ojek. Namun mereka hanya berada pada pinggiran hamparanhalaman bandara. Ojek tentu saja kurang bagus berkeliaran di seputar Bandara,apalagi ini kan bandara standar Internasional. Kami semua turun, penulis sendiri membantu menurunkan bagasi parapenumpang. Kami selanjutnya harus cek in, direncanakan kami akan terbangmenuju Kuala Lumpur dengan pesawat Air Asia pukul 8.30 wib. Kami duduk-duduk sesaat. Ada yang menggunakan waktu ini untukmengobrol ringan, juga untuk mengambil foto buat sweet memory nanti. Kamikemudian cek in, pemeriksaan barang-barang “Tentu saja itu sebuah pengalamanyang baru dan menarik bagi anak-anak untuk menjadi warga internasional”.Beberapa anak laki-laki barangkal belum memiliki valuta asing (ringgit Malaysiadan Singapura Dolar), mereka berdiri di depan money changer, “Oh masih pagi,tentu saja belum buka untuk money changer”. Akhirnya money changer, pukul 7.15 wib sudah open, namun peserta studibanding tampak bengong – mau tukar uang apa-. Apalagi pada billboard tidak adatertulis mata uang Malaysia. Penulis mengambil inisiatif dan mulai menukar uang,
    • pada mulanya mau beli 200 ringgit dan harganya lebih dari Rp. 500.000,- “Wahkalau begitu 100 ringgit saja, dan penulis harus bayar Rp. 295.000,-. Setelah ituanak-anak juga tertarik mengikuti penulis, mereka juga menukarkan mata uangRupiah dengan Ringgit Malaysia atau Dollar Singapura. Rombongan kami cukup banyak, jadi kami agak lama berada di depanpemeriksaan imigrasi untuk terbang menuju Kuala Lumpur. Hingga akhirnyapihak travel biro menyerahkan tiket dan kartu keberangkatan, kami antri danmenyerahkan kartu ini pada petugas imigrasi, kami masuk dan ada lagipemeriksaan terakhir. Tubuh kita harus dilepaskan dari benda-benda logam untukpemeriksaan metal detector. Ya akhirnya kami berada di ruangan tunggu pesawat. Di belakang penulis duduk ada satu grup warga asing, mereka ngobroltentang Mentawai. Agaknya Mentawai menjadi tempat favorite bagi warga asinguntuk berlibur. Pemerhati wisata perlu berfikir untuk mengembangkan pariwisataMentawai yang juga memiliki ombak tinggi seperti ombak di Hawaii. Maklumada ombak dari samudera lepas- Samudera Hindia yang sangat luas Penulis duduk pada bangku 16 F Pesawat Air Asia, AK 1371 dekatjendela, jadi dapat melihat pemandangan. Tentu saja terbang ke Kuala Lumpur,berarti kami melewati Sumatara Barat menuju timur. Penulis bisa melihat danauSingkarak dari ketinggian, begitu pula dengan Gunung Sago.....atau mungkin jugagunung yang lain “Wah aku tidak kenal gunungnya”. Matahari berada di sebelah kanan (jendela) penulis dan cuaca cerah.Samudra awan terbentang di bawah pesawat. Hamparan samudra awan di angkasatentu memberi kesejukan bagi warga yang berada di bumi. Jauh di atas juga ada
    • awan tipis menghiasi angkasa yang lebih tinggi lagi. Wah penulis ingat denganpelajaran geografi. Pesawat Air Asia memiliki attentant flight berusia muda dengan wajah danpenampilan ganteng. Juga ada seorang attendant flight wanita berwajah India.Peswat Air Asia yang kami tumpangi adalah jenis pesawat air bus. Penulis dudukpas pada bagian sayap atau bagian pinggang. Penumpang lain mencari kesibukanseperti membaca majalah yang mereka ambil dari kantong kursi, seperti majalahsky shop dan high flying fashion. Penulis mengintip pemandangan dan sekali-sekali memotret ke arah luar jendela. Flight attendant menginformasikan bahwa suhu mendekati kuala lumpur290 C. Pesawat kami terbang melewati daerah Riau dan terus selat Malaka. Lautanawan tampak agak tipis. Itu berarti cuaca memang agak panas di kawasantersebut, ketinggian pesawat berpengaruh pada telinga penulis karena saraf-sarafpendengaran penulis sedikit sakit dan begitu pula dengan lobang telinga. Akhirnyapesawat turun, berarti kami akan mendarat di Kuala Lumpur. Menjelang mendaratpenulis sempat melihat lalu lintas kapal di Selat Malaka.C. Kuala Lumpur Air Port Daratan Malaysia terlihat jelas. Tidak banyak terlihat hutan, kecualiperkebunan dan lahan-lahan yang terhampar untuk dijadikan industri. Pesawat AirAsia AK 1371 akhirnya mendarat, kami turun dan harus berjalan melalui koridoryang cukup panjang. Papan billboard menggunakan empat bahasa yaitu bahasaArab, Bahasa Melayu, Bahasa China dan Bahasa Inggris.
    • “Wah idealnya Bandara Internasional Minangkabau (BIM) juga demikian,musti menggunakan banyak bahasa, karena warga yang datang akan senang kalaumelihat bahasa mereka juga dipakai pada billboard- munghkin nanti ada aksaraChina, Jepang, Thailand, India, Arab...dan lain-lain untuk mewujudkan bandayayang benar benbar untuk banyak warga dunia”. Pekerja pada bandara antar bangsaKuala Lumpur umumnya berwajah Melayu dan India. Kami pergi ke tumpukan barang-barang. Masing-masing menemui koper.Akhirnya kami bergerak menuju pintu exit. Suasana di luar bandara hampir miripdengan suasana pada BIM Padang, penulis juga menemui ada warga yangmerokok dan mobil-mobil keluaran tahun-tahun lalu. Hanya saja suasana bahasa,tentu saja bahasa Melayu dan juga mungkin bahasa Tamil, China dan bahasaEropa. Kami sudah ditunggu oleh armada mobil pariwisata, mereka menyebutnyadengan “Bas Pesiaran”. Rombongan kami masih pada nomor mobil nomor 2,namun mobil ini untuk gurp 4, 5 dan 6. Bisnya cukup panjang dan besar. Pemandu kami bercerita panjang lebar tentang Malaysia, pendidikan,sosial dan budaya. Penulis juga merekam suara pemandu dan akan mendengarnyananti lagi. Seperti dikatakan bahwa hari pertama kami adalah berada di KualaLumpur adalah acara untuk sight seeing city tour dengan rute kota Putra Jaya danKuala Lumpur. “Ya sesuai petunjuk buku perjalanan bahwa tanggal 17 November 2011,Rute kami Padang- Kuala Lumpur. Rombongan pertama berkumpul di BIM jam06.00 WIB, rombongan ke dua jam 13.00 WIB untuk penerbangan ke KualaLumpur. Tiba di Malaysia, rombongan akan langsung melaksanakan City Tour ke
    • Putra Jaya, Dataran Merdeka, Mesjid Negara, kemudian check in di hotel agarpeseta studi banding bisa bersitirahat”. Penulis menangkap pemahaman dari cerita pemandu bahwa Putra Jayaadalah sebuah Kota Baru. Dahulu merupakan desa penuh belukar, ide membukawilayah ini menjadi Kota Baru, yang diberi nama dengan Putra Jaya atau cyberJaya, oleh Perdana Menteri Dr. Mahatir Muhammad, sekarang Putra Jayamerupakan kota pusat pemerintahan, sementara Kuala Lumpur adalah ibu kotaMalaysia. Penulis berfikir bahwa Putra Jaya akan merupakan kota satelit, atau kotapenyangga dari Kota Kuala Lumpur. Putra Jaya merupakan kota dengan tamanyang begitu luas, memiliki banyak pekerja taman untuk merawat taman setiapsaat. Dibanding dengan daerah Tanah Datar atau Batusangkar, geografi Putra jayatidak begitu menarik, gersang. Namun Batusangkar di lereng gunung, dikelilingioleh bukit-bukit dan gunung, hamparan sawah dan kebun serta belantara tampaklebih cantik. Namun penata kota Putra Jaya membangun perkantoran padatumpukan bukit kecil dan meniru gedung populer di dunia. Untuk bangunangedung di kota ini, misalnya ada bangunan mirip Taj Mahal, ada bangunan miripgedung di Australia, Eropa, Arab, Iran, Jepang, China. Begitu pula denganjembatan, ada jembatan yang dibangun mirip dengan jembatan golden gate diAmerika Serikat, jembatan di Perancis dan di Australia. Akhirnya kota Baru inibisa menjadi turis destination. “Pantaslah moto parawista Kerajaan Malaysia adalah Malaysia the trulyAsia. Semua icon yang ada di asia terbentang dalam kota Putra Jaya”.
    • Penulis melihat kota Putra Jaya hanya ibarat kota dengan banyakperumahan elit. Gedungnya banyak namun kendaraan pada sepi, tentu sajakendaraan yang begini bisa membuat nyaman bagi banyak penumpang, karenakita tidak terjebak ke dalam kemacetan lalu lintas. Selama berada di Kota PutraJaya, penulis tidak pernah menemui pohon kelapa sebagai ciri khas pohon didaerah tropis, yang terlihat hanyalah hamparan pohon kelapa sawit di pinggirkota.Penulis dalam Mesjid Negara di Putra Wisatawan dalam Masjid Negara PutraJaya Jaya Dalam acara keliling kota, kami berhenti di depan Masjid negaraMalaysia. Mesjidnya sangat besar dan megah. Masjid ini dirancang menyerupaimasjid yang berada di Iran. Dikatakan bahwa tinggi masjid tersebut adalah 200kaki dan menampung jamaah sebanyak 8.000 orang. Ruang tempat berwudhu ada pada ruang bawah tanah dan disana dekatgerbang halaman masjid. Di sana juga ada kulkas sistem koin untuk beliminuman. Penulis melaksanakan shalat jamak zuhur dan ashar. Usai shalat penulis
    • mengambil rekaman kamera dan juga ngobrol dengan Yusuf, seorang wistawanwarga Saudi Arabia yang kuliah dan menuntut ilmu di Australia. Masjid tersebut selain tempat untuk shalat, juga menjadi touristdestination. Penulis meminta brochure tentang dakwah Islam dalam bahasaInggris dan beberapa bahasa Eropa lain kepada pengurus masjid tersebut. Penulistampak asyik dan selalu terlambat hadir kembali ke mobil wisata nomor dua. Kami kemudian dibawa ke sebuah restoran dengan masakan Malaysia.Tetapi cita rasanya mirip dengan masakan Padang karena di sana juga dengancabe. Tentu saja masakanya rasa citarasa masakan Padang karena juru masaknyaberasal dari Sumatera Barat. Siang tadi kami makan siang dengan hidangan dan sup serta goreng ikan.Usai makan siang tour kami terus menuju Kuala Lumpur. Kuala Lumpur yalangsung bersebelahan dengan kota Putra Jaya. Penulis melihat Ternyata KualaLumpur adalah bertetangga dengan Putra Jaya. Memang terlihat kondisi keduakota juga berbeda, seperti kebersihan kota dan traffic jam sedikit ada di KualaLumpur. Di kota Kuala Lumpur ada jalur kereta api bawah tanah dan jalur di atasfly over (jalan jalur atas) sehingga bahaya tabrakan atau kecelakaan kereta apihampir tidak ada terdengar. Juga di Kuala Lumpur hampir tidak terlihatpengamen, anak jalanan dan pengemis. Begitu pula dengan ojek seperti yang adadi Tanah Air juga tidak ada. Gedung-gedung di Kuala Lumpur sebagian juga terlihat sudah tua.Barangkali kami tadi lewat melalui wilayah kota tua dan sebelumnya kami
    • berhenti di lapangan kota Kuala Lumpur sambil mengambil foto-foto. Di sanapenulis dibantu mengambilkan foto oleh warga Kuala Lumpur yang cukup ramah. Orang-orang (penduduk Kuala Lumpur) hidup cukup rileks, tidak terburu-buru. Penulis fikir bahwa kota Palembang mungkin lebih sibuk dari KualaLumpur. Perbandingan ini terasa karena penulis sendiri pernah tinggal diPalembang selama 10 hari. Namun pada beberapa bagian kota Kuala Lumpur adayang terlihat gedung megah dan pada beberapa tempat tampak lain lagi corakgedungnya. Akhirnya rombongan bis pesiar kami menuju Grand Hotel Pasific, sebagaitempat menginap kami. Bis melewati jalan-jalan sempit dan kami turun. Sopir-sopir bis di kota Kuala Lumpur sangat menghargai pejalan kaki sesuai denganpesan yang pernah terlihat di bandara antar bangsa “Beri Laluan Buat PejalanKaki”. Bis pesiar berhenti, kami semua turun. Kami masuk dan berkumpul ke lobihotel Grand Pasifik. Personalia hotel ini sebagian berwajah India. Dalam bis,pemandu sempat menceritakan bahwa penduduk Melayu dianggap penduduk asliatau disebut sebagai “bumi putra”. Mereka memperoleh perlakuan istimewa darinegara. Misal discount diberikan oleh Bank 20% untuk warga Melayu, sementarauntuk keturunan Cina dan India tidak begitu, sehingga kedua etnis ini melaluipolitik (parlemen) meminta hak-hak persamaan. Pemerintah takut kalau inimenjadi perpecahan, maka pemerintah segera membentuk semboyan “oneMalaysia for China, Melayu and India”.Atau juga ada semboyan untuk persatuanyang berbunyi “world under one roof atau dunia dibawah satu atap”
    • Salah seornag rombongan kami berbisik “kita tidur di hotel kelas Melatiya…”katanya, karena hotel Grand Pacific dari luar terlihat kecil, tidak punyahalaman parker. Maklum karena hotel berlokasi persis di persimpangan jalanbesar, penulis juga berfikir demikian. Akhirnya pihak travel biro membagi kami untuk tidur per kamar, groupwanita berpisah dengan grup pria, penulis memperoleh teman grup rombongananak 3 orang, yaitu David (David Al Azis dari SMPN 1 Batipuh, Raihan (RayhanFajar Matheza dari SMPN 1 Batusangkar dan Syandi (Shandi Alfajar dari SMPN1 Tanjung Emas) ya mereka sekolah di SMP semuanya. Kami memperoleh kamar428, kami segera menuju pintu lift. Petugas travel memberi petunjuk cara mengoperasikan lift untuk menujukamar 428 “tekan tombol menjadi angka empat, tutup pintu, nanti lift menujulantai empat. Kalau sampai di lantai 4 maka tekan tombol buka. Begitu pula kalaumau turun. Ya cukup praktis”. Anak anak dan penulis sendiri memperolehpengalaman internasional dan sangat berharga yaitu bagaimana tinggal di hoteldan memanfaatkan fasilitas publik. Anak-anak yang satu grup dengan penulis cukup percaya diri untukmencoba mengoperasikan tombol lift, dan penulis memberi pujian “kamu cukuppintar ya, tidak sia-sia satu grup dengan Mr. Joe” dan yang lain tentu saja tertawadan juga jadi termotivasi. Ternyata Hotel Grand Pacifik bukan hotel kelas melati seperti yangh kamifikirkan sebelumnya. Karena begitu sampai di lantai 4 terlihat susunan kamarhotel yang begitu rapi dan bersih, lantai hotel dilapisi dengan karpet, ruang cukupterang dan juga sejuk oleh Air Conditioner. Kami terus masuk ke kamar 428,
    • kamarnya cukup luas. Juga ada TV set dengan 4 tempat tidur bersih. “Ohnyamannya..!” Kami langsung bersosialisasi satu sama lain. Teman kecil penulis yangbernama David membeli kartu Malaysia dan menukar kartu dengan kartu phoneIndonesia. Namun ia merasa gagal karena kurang mengerti dalammengoperasikannya. Lagi lagi phonecell tidak punya baterai lagi dan setiap orangingin mencharge baterai HP, tetapi susah karena charge outlet listrik pada dindingbutuh socket listrik kaki tiga. Penulis berfikir bagaimana untuk mencari alat untuk charger baterai. Iseng-iseng penulis masuk ke kamar lain, ada siswa yang bernama “Amru”(Amru Mufid dari SMPN 5 Batusangkar), cukup pendiam, ia sibuk sendiriandengan HPnya, “oo…lagi main internet ya.., bagaimana kamu main internet, kanmahal harga pulsa disini?’ “Tidak Mister, saya menggunakan wifi, tadi penulis minta password yaitu“grand hotel pacifik” Kata Amru Mufid. “Ya…bantu…dong…!!!” Akhirnya penulis juga bisa main facebook. Penulis bisa mengupload 3 fotodan juga membalas SMS teman lewat facebook. Penulis mohon maaf tidak bisamembalas SMS atau telepon langsung karena biaya roaming yang sangat mahalantara “my maxis dengan telkomsel” soalnya begitu masuk Kuala Lumpur kartuHP kita spontan berganti menjadi my maxis. “Penulis menerima SMS dari teman di Batusangkar dan penulis membalasSMS. Kemudia penulis cek biaya kirim ya ampun satu SMS biayanya Rp. 4.600,.Penulis juga pernah menerima telefon dari orang tua siswa peserta studi banding,
    • ya ampun biayanya Rp. 24.000. Jadi untuk biaya SMS sampai 400 %, mahalamat....biaya roaming mahal- so jangan telefon aku...jangan SMS aku...nanti kitadua-duanya rugi”. Penulis ingat dengan David yang masih kesulitan dalam mengoperasikankartu baru Malaysianya. Penulis mengantarkannya ke kamar Amru, seorang siswayang pendiam, namun ternyata cerdas dalam otak atik HP. Amru pun membantuDavid “Hei…akhirnya bisa, dan David pun senang, ia akhirnya bisa membalasSMS semua- orang tuanya dan familinya, dengan harga standar. Penulis pun nantijuga akan minta SMSnya untuk mengirim kabar ke sekolah penulis “SMAN 3Batusangkar” tentang tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh siswa selamapenulis berada di Malaysia dan Singapura. Malam itu TV di ruangan kamar hotel kami menyala “ohh…adapertandingan sepak bola dalam Sea Game Jakarta-Palembang”. Penulis sendirilangsung percaya diri bahwa TIMNAS (tim nasional bolakaki Indonesia) bakalmenang karena penampilan pemainnya cukup gagah dibanding pemain yangcukup bersahaja dari tim Malaysia. Apalagi komentar penonton TIMNAS yangcukup emosional, meniru ucapan Bung Karno “Ganyang Malaysia”- padahalungkapan ini tidak perlu dipakai lagi karena bisa mengeruhkan suasana hubunganIndonesia dan Malaysia. Penulis menyaksikan kalimat dari spanduk illegal supporter TIMNASyang disorot oleh TV 2 Malaysia. Dalam hati penulis yang menonton acara inidari kamar hotel di Kuala Lumpur menjadi malu “wah supporter TIMNAS kitaterlalu emosional dan kekanak-kanakan”. Namun komentar dari komentator TV 2Malaysia cukup bersahaja dan tersenyum ringan (Maaf bukan maksud
    • merendahkan bangsa sendiri, namun demi perbaikan karakter segelintir daribangsa kita). Dalam babak pertama tim sepakbola Malaysia dengan mudah menang 1-0.Aku menjadi enggan untuk mengikuti kelanjutan acara Sea Games ini dan berfikirbahwa ini gerangan akibat supporter TIMNAS kita yang cukup takabur aliassombong. “ya, doa orang sombong tidak didengar oleh Allah, bisa membuat kalahmeskipun pemain timnas kita sudah menjadi pemain pilihan. Meskipun Indonesiamemimpin perolehan medali, namun kalau tim sepak bola gagal, ya cukup sia-sia.Apalagi sepak bola adalah olah raga yang cukup bergengsi. Namun moga mogakita bisa koreksi diri untuk kemajuan sepakbola kita. Malam pun tiba. Untuk makan malam, buat pertama diantar oleh pihaktravel biro dalam bentuk makanan box. Kami segera turun melalui lift dan kamimemperoleh empat box makanan dan juga empat botol air mineral untuk anggotagrup kami. Kami mengenal seisi kamar hotel, rupanya ada kopi, gula dan kreamdalam kantong-kantong kecil dalam laci meja. Anak-anak dari grup penulismemanaskan air dan membuatkan kopi panas buat penulis. Kopinya masih panas, penulis menunda minum dan memutuskan untukmembals email lewat facebook. Mata terasa mengantuk dan kepala terasa berat,namun penulis masih punya kopi, dan mubazir kalau tidak diminum. Astaga, penulis menjadi sedikit susah tidur setelah minum kopi setelahjam 10.00 malam, anak-anak bisa tertidur pulas namun penulis tidak- gara-garaminum kopi mungkin. Penulis mengosongkan fikiran agar bisa tidur.
    • Pada waktu dini hari penulis terbangun. Di luar terdengar hingar bingarraungan musik. Mungkin ada suara karaoke dari klub malam. Penulis berfikirkalau-kalau waktu subuh sudah masuk, “ooh… ternyata baru jam 2.00 dini hari”. “wah mengapa aku tidur, lebih baik aku terus menyelesaikan tulisantentang perjalanan ini”, bisik penulis dalam hati. Dibawah, dari balik jendela, terlihat jalan-jalan Kuala Lumpur yangcukup sepi, tidak ramai seperti di Jakarta. Antrian pada persimpangan jalan jugatidak begitu lama seperti di Jakarta, jadi Kuala Lumpur terlihat biasa-biasa saja. Hari pertama di Kuala Lumpur, penulis belum melakukan shopping yangberarti, kecuali baru dalam bentuk membeli cenderamata yaitu satu box miniatur“twin tower” sebagai ciri khas kota Kuala Lumpur yang harganya RM 30 (atau 30x Rp. 2.900), atau hampir Rp. 90.000,- yang penulis beli dari sebuah kedai dikomplek Masjid Negara di Putra Jaya. Mungkin termasuk mahal untuk ukurancendera mata. “Ya…makanya penulis hati-hati untuk shopping di Malaysia”, inicenderamata dibeli cukup penting sebagai simbol bahwa kita sudah kembali dariMalaysia. Penulis juga membeli tabloid, berbahasa Inggris “STAR, the people’spaper” atau korannya masyarakat, yang harganya sangat murah hanya hampir duaringgit, sementara tabloid tersebut terdiri atas 72 halaman, ya murah sekali. Hallain yang terasa, karena perubahan situasi adalah penulis merasa sulit untuk buangair besar, dalam hati penulis berfikir untuk membeli buah-buahan, kalau memesanbuah-buahan atau juice lewat hotel terasa sangat mahal. Water melon RM 8 (Rp. 24.000) Honey RM 8 (Rp. 24.000)
    • Papaya RM 8 (Rp. 24.000) Malah harga juice jauh lebih mahal lagi, seperti dalam daftar Orange/Mango RM 10 (Rp. 30.000) Juice nanas RM 12 (Rp. 36.000) “Oh ya.....harga di hotel jadi mahal karena meliputi pajak 6%, dan 10%untuk harga …., ini tertulis dalam daftar menu service, bagaimana harga diluar ya,lebih baik penulis beli di open place nanti”. Jam 4.00 pagi dini, bisa jadi jam 5.00 pagi karena penulis lupa mengubahwaktu WIB menjadi waktu Malaysia. Ada suara ringtone dari intercome, ya pihakhotel membangunkan kami, ya masih dini hari, aku menjawab “good morning”,tapi masih pagi dan istirahat dulu sebentar. Kesan penulis terhadap orang Kuala Lumpur, mereka sangat ramah, tanpabertanya, mereka sudah duluan berbicara. Kemaren ketika di restoran, wanitapemilik restoran berkata bahwa juru masak direstorannya adalah orang Indonesia.Saat berada di taman kota- lapangan terbuka- di Kuala Lumpur, seorang wanitaMalaysia keturunan India juga menawarkan diri untuk memotret penulis, begitujuga dengan orang-orang yang penulis temui di hotel atau dalam box lift jugadengan mudah berbicara lebih duluan. Jadi berada di Kuala Lumpur ya sepertiberada di kampung halaman sendiri. Penulis terbangun jam 2.00 dini hari, memutuskan tidak tidur, ya buat apatidur, sebab datang ke Kuala Lumpur adalah untuk studi banding dan penulismerasa rugi kalau buang-buang waktu. Lebih baik memanfaatkan waktu buatmenulis, menulis apa yang dilihat dan apa yang dirasakan selama berada diMalaysia dan Kuala Lumpur, bukankah menulis yang terbaik sesuai dengan
    • kondisi dan tempat kita berada. Apalagi kalau ditunda untuk menulis, memoriperjalanan saat tiba kembali di Batusangkar maka tentu ada banyak hal pentingtidak tercover oleh kapasitas memori kita, maka “jangan menunda waktu dalammenulis”.Menara Kembar di Kuala Lumpur Lapangan terbuka di Ibu kota- Kuala LumpurD. Nilai University College dan Istana Sri Menanti Hari kedua di Kuala Lumpur, penulis bangun lebih cepat jam dua pagi,tidak buang-buang waktu untuk tidur, tetapi untuk menulis. Penulis menulis darijam 2 pagi sampai subuh, kemudian jam 5.00 waktu Kuala Lumpur, habis shalatsubuh, penulis membangunkan anka-anak juga mencari channel berita yangmenarik, tidak ada channel yang menarik. Anak-anak juga bangun, shalat dan mengurus diri sendiri. Oh…ternaytatidak begitu kami turun ke lantai bawah, orang-orang sudah pada selesai sarapan,namun kami belum. Mereka sudah siap naik bis melanjutkan perjalanan tour.Penulis menyempatkan diri untuk sarapan. Penulis mengambil sedikit sarapan dan
    • penulis butuh makan papaya, oh…juga orange juice. Orange juice dan pepayasangat bagus untuk kesehatan perut, membuat BAB jadi lancar. David, salah seorang anak di kamar penulis masih tertinggal, entah apayang diurusnya, ya…kami naik lagi kelantai atas. Dia sedang merapikan tempattidur, namun dia harus segera turun, karena hanya dia saja yang ditunggu. Penulismembantu mengambil roti dan selai, David butuh waktu kalau menikmatisarapannya, maka ia membawa sarapannya ke mobil, karena waktu buat berangkatmelanjutkan tour sudah datang. Masih ada sedikit waktu dalam bis sebelum berangkat, penulis masihpunya sedikit ide untuk menulis. Iwan, peserta dari MTsN Tanjugn Barulakmelihat penulis dalam menulis, ya…sambil bertukar pengalaman cara menulis danbelajar bahasa. Bis berangkat, pemandu kami bernama Azam. Ia berbicara tenrang KualaLumpur yang terletak di Selangor, wilayahnya cukup kecil, umumnya Malaysiamemmpunyai 13 sultan, kecuali Sabah, Sarawak, Malaka dan Penang yaitu hanyagubernur. Nama “Kuala Lumpur...?” Kuala yaitu sungai bertemu sungai, kalaumuara, sungai bertemu laut. Di Malaysia ada beberapa kota menggunakan kata“Kuala” seperti Kuala trengganu, Kuala Lumpur dan mungkin ada yang lain. Penulis masih ingat dengan kota “Putra Jaya” yang sekarang merupakankawasan baru yang dibuka pada tahun 1999 atas ide Mahatir Mahmud. Saat itukantor-kantor pemerintah dipindahkan ke Putra Jaya. Dengan demikian kemacetandi Kuala Lumpur bisa diatasi. Jarak Putra Jaya ke Kuala Lumpur hanya 25 km.
    • Pemandu wisata kami berganti dan pemandu kami yang kedua ini terlihatlebih cerdas. Ia berbicara tentang banyak hal seperti koin, nama kota, asal usulkota. Contoh Selangor berasal dari kata “seekor langor”. Wah terlalu banyakuntuk dicatat dan untuk didengar dari pemandu yang kedua ini, namanya Azam. Dekat Musem Minangkabau di Daerah Sri Menanti- Negeri SembilanDi Nilai Universitas College Azam menambahkan tentang hal lain. Jalan tol, dalam bahasa Melayu“Lebuh Raya”, pusing berarti berputar, tetapi pusing dalam bahasa Indonesiaberarti pening. Pemandu wisata kami menceritakan bahwa dahulu etnis Cina banyak yangkaya, namun sekarang etnis Cina ada yang kaya, tetapi juga banyak yang miskin,sudah seperti etnis India dan etnis Melayu. “dalam buku paduan bahwa tanggal 18 November, rute kami adalah KualaKumpur dan beberapa kunjungan. Setelah sarapan pagi rombongan melakukankunjungan ke tempat yang telah ditentukan seperti Nilai University sampaiselesai, mengunuungi Istana Sri Menanti sampai selesai, shalat Jum’at di masjidTuanku Ja’far, setelah itu langsung menuju Keduataan Besar Indonesia di KualaLumpur, Bukit Bintang, makan malam dan kembali ke hotel dan istirahat”.
    • Kunjungan pertama di hari kedua di bumi Malaysia adalah berkunjung ke“Nilai Colloege Universiti”. Niilai adalah nama sebuah kota dekat Selangor.Jaraknya 70 km dari Kuala Lumpur. Universitas college di Kota Nilai ini adalah Universitas swasta, lokasinyaberada di kawasan yang sepi. Penulis berfikir bahwa pasti universitas ini akankekurangan mahasiswa. Apalagi mengingat jumlah pepulasi Malaysia yang jugarelatif kecil yaitu hanya 27 juta orang. Namun universitas swasta ini mampumembawa lembaga ini menjadi universitas populer dan bertaraf internasional. Iamenjual program universitas ini ke luar negeri dan mengundang mahasiswa asinguntuk menjadi mahasiswanya. Universitas terasa sepi karena saat kedatangankami disana mungkin lagi liburan. Dan saat itu kami dipandu atau dilayani olehmahasiswa Nilai College university asal Kenya. Promosi keluar negeri sangat penting, apalagi untuk meyakinkan dansekaligus untuk menarik mahasiswa untuk datang kesana. Sebagai kawasaninternasional, maka disana hanya dipakai bahasa Inggris sebagai bahasapengantar. Ini terjadi karena mahasiswa nya adalah multi bangsa dan secara tidaklangsung bahasa Inggris menjadsi bahasa penghubung. Kemudian rekruitmen ataupenerimaan mahasiwa juga menekankan penggunaan bahasa Inggris, wawancaradalam penerimaan bahasa Inggris. Penulis merasa, saat berada di lingkungan kampus Universitas NilaiCollege ini biasa-biasa saja. Mahasiswanya juga terkesan tidak begitu menonjol,ya biasa biasa saja. Yang diterima sebagai mahasiswa di sana mungkin tingkatkecerdasan mahasiswa asing yang juga biasa-biasa saja. Malah mahasiswa yangkuliah di Indonesia seperti di UI, ITB, UNPAD dan lain-lain terkesan lebih
    • cerdas. Penulis merasakan bahwa agar bisa diterima di Universitas Indonesia diITB atau di UNPAD terkesan lebih sulit dan ada persaingan, malah lebih terasabergengsi. Di Universitas Nilai terasa biasa-biasa saja. Itu karena ia tidakmenekankan persyaratan pada standar nilai UAN (Ujian Akhir Nasional). Iamengatakan bahwa nilai UAN (atau UN) hanya untuk sistem pendidikan nasionaldi Indonesia. Jadi masuk Universitas Nilai College itu mudah- kalau punyabanyak uang ya...selesai urusan untuk jadi mahasiswa di sana. Universitas NilaiCollege hanya menekankan pada nilai raport saja. Persyaratan penerimaan mahasiswa di Universitas ini begitu mudah, nilairata-rata rapor paling rendah 7.00, bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris.Sekali lagi, penulis berfikir bahwa itu adalah universitas internasonal untuk levelmahasiswa biasa-biasa saja, asal bisa berbahasa Inggris, ada uang….ya langsungjebol”, namun persyaratan beasiswa 100%, 50%. 25% tentu lebih ketat, misalnyanilai rata-rata 85 dan TOEFL dengan skor yang lebih tinggi. Kunjungan kami di Nilai Universitas College disambut dalam ruangankuliah umum oleh seorang wanita muda, berwajah Cina. Ia berkomunikasi denganlincah dalam bahasa Melayu bercampur aksen Indonesia. Sebagaimana iamengatakan bahwa ia pernah beberapa kali tinggal di Semarang. Pada mulanya penulis berfikir kalau ia adalah seorang dosen atau stakeholder. Kemudian penulis tahu bahwa ia adalah tenaga khusus dalam bidangpromosi kampus untuk internasional. Untuk informasi lebih lanjut, kami diberibuku panduan atau buku promosi dan juga kami diberi formulir pendaftaran danmengisinya. Setelah itu mengumpulkannya kembali. Penulis berfikir bahwa
    • formulir itu berguna sebagai angket untuk melihat gambaran kami terhadapuniversitas tersebut. Universitas Nilai College memang luas kompleksnya dan terlihat rapi sertamegah. Kompleknya dibangun pada kawasan seluas 14 kali lapangan bola kaki,lokasinya jauh di luar ibu kota negeri Selangor, 70 km dari Seremban. Untuk kerapian dan perawatan, Universitas ini merekrut banyak tenagawanita mulai dari sekuriti depan, penjaga kebun, dan untuk kebersihan.Kebanyakan yang direkrut adalah wanita keturunan India. Penulis berasumsibahwa wanita dalam bekerja lebih tekun dan lebih amanah dibanding laki-laki,tentu saja itu tergantung pada kualitas wanitanya. Sebelum mengakhiri kegiatan di kampus ini, kami diajak berjalan melihat-lihat kampus namun ada komplain dari rombongan kami, “Wah kenapapemandunya diam-diam saja”. Tidak ada cerita-cerita yang disampaikan olehpendamping yang bernama “Elvie” berwajah Cina dan usianya sekitar 20 tahun. “Ya kami dipandu berkeliling oleh pemandu yang kurang dalamkomunikasi dan kecuali ia masih muda dan berwajah cantik”. Yang sedikit mengesankan bahwa kami pergi ke bengkel perawatanpesawat. Di dalamnya ada satu pesawat kecil, ternyata rombongan kami datanguntuk berfoto-foto, dan penulis menghampiri salah satu staf. Ternyata ia adalahdosen disana. Penulis bertanya jawab dengannya, ia menjelaskan bahwa bengkelitu untuk latihan perawatan pesawat. Universitas tersebut merujuk pada standarEropa. Tidak banyak yang kami lihat di Universitas Nilai ini kecuali hanyasekedar melihat luasnya komplek dan bagusnya gedung, padahal yang perlu kami
    • lihat adalah suasana pendidikan dan ruangna belajar yang ada disana. Namunkami tetap berterima kasih atas sambutan mereka yang cukup ramah. Rombongan kami melanjutkan perjalanan menuju Istana Seri Menanti.Dalam fikiran penulis bahwa Seri Menanti itu apa (?). Ternyata seri Menantiadalah nama daerah yang pada mulanya nama dari seorang Raja Melayu. Dalam perjalanan guide kami bercerita apa-apa saja yang terlintas dalamfikirannya. Ia juga menjelaskan tentang populasi Kuala Lumpur yang luasnya 430km persegi, penduduk 1,6 juta jiwa dan mobil yang beredar di jalan raya sebanyak2 juta mobil. Dikatakan saat kami melewati daerah Nilai bahwa disana juga banyakdihuni oleh warga keturunan Minangkabau, orang-orang yang bekerja di KualaLumpur juga banyak yang tinggal di luar ibukota (Kuala Lumpur) yang jaraknyamungkin dua jam perjalanan, seperti di Kota Selangor, Ipoh, Pahang dan Perak.Alasan mereka bekerja dan bola-balik ke Kuala Lumpur adalah alasan lebih enaktinggal bersama orang tua, keluarga di kampung sendiri dan juga karena biaya belirumah yang cukup tinggi di Kuala Lumpur. Di kawasan kota Nilai juga terdapat perumahan atau perkampungan wargaketurunan Eropa, berkulit putih. Kalau di Indonesia, orang kulit putih disebutdengan bule, tetapi orang Melayu (Malaysia) menyebut orang berkulit putihdengan “Mat Saleh”. Asal kata “Mat Saleh” adalah “Mad Sailor” atau “Pelaut yang Gila”,dahulu kala dikatakan bahwa pelaut asal Eropa, mendarat di Melaka dan merekamemperkenalkan diri sebagai “Mad Sailor” atau pelaut yang gila, kata Mad Sailordisesuaikan dengan lidah orang Melayu menjadi “Mat saleh”. Namun sebutan ini
    • juga memberi kesan sebagai karakter yang baik yaitu “Mat Saleh juga dapatditerjemahkan menjadi “Mak yang sholeh, atau Mak yang taat”. Penulis melihat bahwa daerah Malaysia sudah sangat maju, jalan-jalan tolmenghubungkan antar state (propinsi) cukup panjang dan lebar. Kedua sisi jalandiberi pagar, dan tentu saja sopir perlu membayar sesuai dengan standar mobil danjarak jalan yang ditempuh. Penerangan jalan sangat memadai, kebutuhan listrikMalaysia menggunakan energi gas yang dikelola oleh Petronas, ya semacamPertamina untuk Indonesia. Sekali lagi, pemandu kami juga menjelaskan asal kata “Selangor” yaitu“Seekor Langau” atau seekor lalat. Tentu saja ia menjelaskan anecdote yangcukup lucu buat menghibur kami semua. Terlihat bahwa untuk menjadi guideperlu memiliki wawasan luas, komunikasi, anecdote dan juga rasa humoris yangtinggi. Dalam memandu kami dalam bus, guide memajang peta Malaysia padakaca depan bus. Jadi saat itu kami hanya berada di negara bagian Selangor dansekitarnya (negeri Sembilan, Selangor dan juga Johor Baru). Terkesan bahwa daerah perkotaan dan juga perbukitan seputar ibu kotatelah direkayasa, dan ditanam dengan pohon sawit, pohon akasia. Itulah mengapaalam Malaysia terasa monoton. Burung-burung jarang terlihat, dan setelahmemasuki state Negeri Sembilan, yang warganya keturunan Minangkabausuasana terasa seperti di Sumatera Barat, hutan yang masih asli, rumah pendudukseperti penduduk Minang. Setelah duduk dalam kendaraan agak lama, mungkin dua atau tiga jamkami sampai pada persimpangan jalan. Di sana ada gerbang dengan ciriMinangkabau. “Ohh…ternyata jalan menuju Istana Seri Menanti”. Penulis merasa
    • mengantuk, namun enggan untuk tidur karena merasa rugi untuk melewatisuasana Minang di Negeri Sembilan. Di daerah ini memang ditemukan pohon-pohon kelapa sebagai ciri khasyang banyak tumbuh di daerah panas. Disamping itu juga ada daerah pertaniansawah, pematang sawah terlihat bersih dan rapi. Mobil kami memasuki komplek istana Sri Menanti. Kami turun danmerasa terpesona melihat museum Sri Menanti. Namun museum ini tidakbercorak rumah Minang, namun lebih bercorak rumah adat Melayu Riau. Museumini dicat hitam dan di depannya terdapat replika (duplikat) batu basurek dan jugabatu kasur seperti yang terdapat di kota Batusangkar. Halaman yang luasterhampar di depan komplek istana dan museum ini. Kami disambut oleh ketua pengurus Istana Sri Menanti. Kami diberitahutentang sejarah hubungan negeri Sembilan dengan Minangkabau. Terasa bahwasistem raja masih dipelihara di Negeri Sembilan, malah kerajaan menguasaimiliter dan juga agama, sementara di Batusangkar, kerajaan Pagaruyung hanyatinggal nama saja lagi, rajanya sendiri entah dimana lagi. Pihak Istana Sri Menanti, mengizinkan kami untuk berfoto-foto, kecuali didalam museum tidak boleh, kami kemudian diizinkan untuk memasuki gedungtempat penobatan raja, istananya megah dengan hamparan karpet persia dan kursi-kursi untuk tamu. Pada beberapa dinding terdapat potret keluarga raja. Penulis danjuga beberapa peserta studi banding memotret momen dalam istana, kita tidakboleh memasuki lantai yang dekat kursi tahta raja, disana terdapat tali pembatas. Kami dijanjikan untuk makan siang di sana setelah shalat jumat, usai dariruang ini kami disuguhi tas kertas, ya tas promosi wisata Negeri Sembilan dengan
    • gambar cantik. Di dalamnya ada kue besar, seperti martabak ambon, sebotol air,buku atau brochure wisata, kartu-kartu pos, gelas dengan tadah keramik, terasakami diberi pemanjaan. Tadinya perut terasa lapar dan bisa jadi kenyang setelahmelahap bika ambon. Tiba-tiba hujan cukup lebat turun, walau hanya sesaat, namun kami bataluntuk shalat jumat dan kami ganti dengan sholat Zohor yang dijamak dengansholat Ashar, ya kamikan semua musafir di negeri Jiran. Para wanita pekerjadapur sudah menyuguhkan makan berjamba dalam ruang luas, namun terasasempit karena jumlah kami cukup ramai yaitu 140 orang. Kami makan duduk dihamparan, yang datang dulu ya makan dulu, yangdatang belakangan cari tempat untuk duduk. Di sana ada ciri khas dalam makan,bahwa (begitu juga di restoran) yaitu menyuguhkan minuman sirup. Penulis fikirbahwa minum sirup lebih sering berbahaya bagi kesehatan ginjal karena siruppunya zat pewarna dan zat penyadap”. Usai makan kami turun, masih sempat berfoto-foto, dalam beberapa menitkemudian kami sampai di komplek masjid, penulis melihat ada dua masjid,o…ternyata bangunan sebelah kiri yang mirip masjid adalah tempat makam(kuburan) raja, di depan (dalam ruang berbentuk masjid) juga ada tiga calontempat kuburan buat raja-raja berikutnya kalau mangkat. Kami pun berlalumeninggalkan kompleks kerajaan Sri Menanti dan perut terasa kenyang, karenapenulis menghabiskan kue bika (martabak) ambon yang berukuran jumboditambah pula dengan makan siang di kompleks istana. Penulis mencoba menikmati cita rasa masakan Melayu Negeri Sembilan,gulainya terasa bumbu sereh (sarai). Terasa agak manis dan kurang pas dalam
    • lidah Padang, sementara ada rendang bada, tetapi terlalu asin, hanya satu yangcocok untuk lidah Padang penulis yaitu “sambalado”. Kami kembali dan meninggalkan daerah Sri Menanti. Selanjutnya Kamimenuju kota Kuala Lumpur, hari mulai gelap dan penulis memejamkan mata,karena tidak merasa penting lagi untuk melihat pemandangan, o…ternyata kamiharus menuju kompleks KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia).E. Prof. Rusdi di Attase Budaya KBRI Kuala Lumpur Bis pesiar berhenti dan kami bergegas masuk kompleks KBRI di KualaLumpur. Begitu memasuki gedung KBRI kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto. Latar belakang yang dipilih adalah merek KBRI Kuala Lumpur yang sebagaibukti bahwa kami memang benar-benar berada di KBRI Kuala Lumpur,rencananya kami juga akan diundang makan di KBRI. Kami semua duduk dalam aula KBRI dan menunggu kedatangan pejabatKBRI. “Subhanallah…dada penulis berdesir bahwa ternyata yang tampil ituadalah Prof. Rusdi, sebagai attase budaya Kuala Lumpur, Pak Rusdi adalah temansekelas penulis saat kuliah di IKIP Padang (kini berganti nama jadi UNP Padang)dari tahun 1984 hingga 1988. Bapak Rusdi langsung disambut oleh Kepala Dinas Pendidikan TanahDatar, penulis juga bergegas kedepan untuk menyalaminya, Bapak Rusdimenyapa nama penulis “Hello, Johan…” Ternyata ingat sekali dengan pribadipenulis. Tentu saja masih ingat karena kami penya pengalaman emosional. Saatmahasiswa dulu, kami sering pergi bersama dan penulis beberapa kali datang ke
    • rumah kosnya di seberang kompleks Ring-Dam tempat latihan militer di AirTawar, Padang, membawa bahan makanan dan kami pun makan di rumah kosRusdi yang sangat sederhana. Rusdi dan penulis membakar ikan dan membuatsambalado dan kami makan bareng-bareng. Kenangan inilah yang agaknya selaluterkenang dalam memori Bapak Rusdi hingga sekarang, ya sebagaimana iapaparkan dalam kata sambutannya. Setelah itu kami berpisah sejak tahun 1989 dan kami berjumpa lagi tahun2006, ya penulis menjadi mahasiswa Bapak Rusdi pada program pasca sarjanaUNP Padang, dan Bapak Rusdi menjadi dosen pasca sarjana dengan mata kuliahpsikolinguistik dan sosiolinguistik. Tamat dari kuliah strata satu pada jurusan pendidikan Bahasa Inggris,Rusdi tidak memutuskan untuk menjadi guru, seperti yang penulis lakukanmenjadi guru. Ia mencari beasiswa melalui yayasan Bunda yang dikelola olehGubernur saat itu (Gubernur Azwar Anas), ia melanjutkan pendidikanpascasarjana (S.2) di Australia. Selesai pascasarjana ia kembali ke Indonesia menjadi dosen pada IKIP(UNP) Padang, beberapa saat kemudian melanjutkan program Post Graduate diCurtin University, Australia Baratoard. Ia memperoleh Ph.D dan kembali menjadidosen di UNP (tugas belajar). Rusdi membawa keluarganya sambil kuliah di Australi, malah dua oranganaknya lahir di Australia, komunikasi dengan kedua anaknya memakai bahasaInggris, Rusdi memperkenalkan banyak pengalaman buat anak-anaknya. Rusdi ternyata menjadi dosen juga pada program pascasarjana danprogram doktor di UNP. Penulis pernah menjadi mahasiswanya tahun 2006-2007
    • di pascasarjana. Pada umumnya mahasiswa Rusdi merasa senang belajar denganRusdi, karena ia mempunyai pribadi yang hangat, humoris dan selalu memberikemudahan dalam perkuliahan. Posisi sebagai pembimbing tesis sangatmenyenangkan, karena Rusdi memberi solusi, memberi kontribusi dan tidakmembuat mahasiswa stress. Rusdi memiliki pribadi yang hangat, mudah berkomunikasi dan juga bisategas, dengan bahasa yang santun, inilah yang membuat Rusdi bisa meraih posisidemikian. Agaknya Rusdi, sebagai manusia, punya keinginan positif, tentu saja iapingin untuk menjadi rektor, wah…penulis berfikir bahwa agak sulit untuk meraihposisi rektor, maka mungkin secara kebetulan ada posisi untuk mengisi attasebudaya di luar negeri. Sebagaimana dijelaskan oleh Pak Rusdi, sesuai dengan pertanyaan denganPak Rusdi saat acara temu ramah di Aula KBRI, bahwa secara iseng-iseng ia ikuttes, mengisi formulir. Ia mengikuti beberapa kali seleksi dan lulus, saat adabeberapa orang attase yang akan ditempatkan pada beberapa perwakilan RI(KBRI) di luar negeri, agaknya diantara yang lulus tersebut barangkali Pak Rusdiwajahnya paling Melayu, maka ia ditempatkan di Kuala Lumpur. KBRI adalah ibarat rumah sendiri bagi warga Indonesia di luar negeri, jaditidak layak kalau datang ke rantau orang untuk tidak singgah ke rumah sendiri”seloroh Rusdi. Dalam acara kunjungan pada KBRI Kuala Lumpur, rombongan kamimenyuguhkan kesenian dalam bentuk tari Minang. Grup tari mempertunjukan tarikreasi yang baru, dengan kostum cerah, gerak lincah dan para penari jugamenebarkan senyum ceria mereka. Penulis seolah-olah tidak percaya kalau semua
    • penari itu adalah anggota rombongan sendiri. Setelah itu juga ada pembacaanpuisi oleh Fitria, jago baca puisi tingkat propinsi yang juga ikut lomba baca puisitingkat nasional di Makasar, beberapa waktu yang lalu. Akhirnya lagu MarsTanah Datar untuk mengingatkan kita kembali pada keelokan alam Tanah Datar. Perut kami masih kenyang, karena sebelumnya disuguhi makan siang danmakan martabak ambon dari istana Seri Menanti. Malam itu kami juga disuguhimakan oleh KBRI dalam bentuk hidangan mie rebus, pakai bakso, wah sangatenak….. Semua hidang rasa selera Indonesia jadi ludes- terasa lesat. Tiba-tiba Pak Rusdi menyeret penulis. Kami bergerak menuju lift untukmenuju ruang kantornya. Agaknya Rusdi berbagi kebahagiaan berdasarkanmemori kami pada masa remaja bahwa ternyata ia masih merasa bermimpi bisaberkantor di KBRI Kuala Lumpur. Sepanjang jalan menuju kantornya Rusdibercerita-cerita tentang masa lalu. Penjaga pintu dan ajudan mempersilahkanpenulis untuk mengikuti langkah Pak Rusdi. Seperti mimpi saja perjalanan karirPak Rusdi tersebut.Prof. Rusdi dan Penulis di KBRI Penulis di KBRI Kuala LumpurKuala Lumpur
    • Acara kami di KBRI Kuala Lumpur pun berakhir dan bis pesiar kembalimembawa kami ke hotel. Lagi-lagi dihotel kami disuguhi makan malam, agaknyapeserta tidak begitu berselera untuk makan malam, karena dari tadi siang perutsudah penuh. Penulis juga tidak menikmati makan malam kecuali hanyamengambil beberapa potong pepaya di ruang makan itu karena kebutuhan untukmengkonsumsi buah-buahan segar dalam perut seperti pepaya, pisang apel atauminum juice, sangat memberi rasa segar dan nyaman pada perut sendiri. Penulismelihat ada satu atau dua orang peserta yang merasa kurang nyaman pada perutmereka. Mereka seharusnya makan papaya atau apel. Pada malam kedua di Kuala Lumpur, penulis sudah bisa tidur lebihnyenyak karena tidak lagi membuat kopi, memang minum koffee menjelang tidurbisa merusak kualitas tidur kita. Namun penulis masih bangun lebih cepat danbisa menulis tentang beberapa pengalaman selama di Kuala Lumpur.F. Genting Highland Hari ketiga dalam travelling, atau hari kedua di Kuala Lumpur, kamipunya acara untuk mengunjungi objek wisata Genting Highland. Namun kamijuga harus check out dan berkemas untuk keluar hotel. Agar dari GentingHighland bisa ke Johor. “Dalam buku petunjuk bahwa rute kami pada tanggal 19 November adalahKuala Lumpur- Genting Highland dan Johor Baru. Perinciannya bahwa setelahsarapan rombongan check out hotel langsung menuju Istana Negara, MenaraKembar (Twin Tower), Batu Chave, Genting Highland dengan cable car,rombongan menuju puncak ke cloud city sampai selesai. Sore hari rombongan
    • melanjutkan perjalanan menuju Johor Baru, makan malam dan check in di hotelbuat istirahat”. Kami berkemas dan berharap agar tidak ada yang tertinggal, apalagi kalau-kalau sampai tertinggal atau hilang paspor ya akan bermasalah di imigrasi. Penulissejak kemaren sudah kehabisan batterai pada kamera dan phone cell, penulismenuju front desk untuk meminjam kaki tiga untuk colokan charge HP dankamera. Lagi-lagi sarapan pagi tidak begitu cocok untuk lidah penulis dan tentusaja bagi lidah anggota studi tour yang lain. Penulis hanya mengambil nasigoreng, pake sup dan yang paling penting juga ada buah, penulis tidak melupakankesempatan untuk minum juice jeruk, karena makan buah dan minum juice sangatbagus untuk kesehatan perut. Lupa mengkonsumsi buah untuk beberapa hari bisamembuat seseorang menjadi demam atau paling tidak terkena sariawan. Mobil wisata kami cukup lama berdiri di depan Hotel Grand Pacifik untukmemuat barang kami semua, akhirnya kami berangkat. Sebelum bergerak menujuGenting Highland, kami melakukan tour kota dan sight seeing atau lihat-lihatpemandangan. Oh ya,..penulis masih teringat tentang pernyataan yang dilontarkan olehpeserta tour tentang syarat menjadi attase atau bekerja di KBRI, bahwa SarjanaSosial seperti lulusan Ekonomi, Hukum, Politik, Komunikasi dan HubunganInternasional bisa mendaftar di Departemen Luar Negeri, dengan syarat memilikipribadi yang menarik, fasih berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan kalau bolehjuga menguasai bahasa lain sebagai nilai plus. Informasi tentang Deplu dapatdiakses pada www.deplu.org .
    • Berpose dekat gerbang Intana Negara Kereta kabel di Genting HighlandKuala Lumpur Ditambahkan bahwa studi banding merupakan ajang memotivasi diriuntuk menjadi lebih berkualitas, oh ya…persyaratan untuk mendaftar diDepartemen Luar Negeri adalah usia maksimal 28 tahun dan semua applikasidilakukan melalui internet. Tentu saja yang dibutuhkan adalah sarjana yang punyabanyak prestasi, salah satu usaha yang dilakukan oleh KBRI agar orang asingmencintai Indonesia adalah melalui mengajar mereka seni dan bahasa Indonesiadan nanti mereka akan terbiata mengatakan “selamat pagi”. Rute pertama kami adalah mengunjungi istana Negara. Sepanjang jalanterlihat pemukiman penduduk, mereka umumnya tinggal dalam apartemen, bagiyang punya rumah tingkat satu terlihat mereka menggunakan antene parabolukuran kecil. Dikatakan oleh pemandu kami bahwa istana negara dijaga oleh 2 penjagaberkuda untuk raja, yang dipertuan Agung. Raja diganti sekali dalam 5 tahun dandipilih dari kerjaaan di negara bagian yang berjumlah 13 kerajaan, kecuali untukSabah, Sarawak, Penang dan Malaka yang tidak punya raja kecuali gubernur.Istana negara juga menjadi destinasi wisata dalam kota karena penulis melihat
    • banyak turis dalam berbagai ras/ bangsa berfoto-foto. Untuk mencapai tempat inikami melalui kawasan bukit Bintang yang berlokasi dalam kota. Dalam kota Kuala Lumpur kami masih bisa menjumpai bangunan tua,Kubah bangunan tua mirip dengan bawang sementara bangunan lam tidak. DaerahChina Town dimonopoli oleh gedung-gedung tua, namun mereka tidak bolehmerenovasi sesuka hati, harus ada izin dari pemerintah. Armada mobil kami (Bis Pesiar atau Bis Wisata) berhenti di depan pabrikcoklat “Berly’s chocolat kingdom” dan sekaligus sebagai butik coklat (atau tokocoklat). Satpam butik coklat ini dijaga oleh satpam asal India, ia hanya bisa sedikitbahasa Inggris. Sebagaiman dikatakan oleh Azam, pemandu wisata kami, bahwa diMalaysia warga Melayu adalah warga kelas satu, ini terlihat dari perlakuanpemerintah seperti memberi potongan sampai 20% buat mereka sementara buatketurunan Cina dan India, potongan hanya 10%, penghargaan demikian membuatmereka punya harga diri, namun kedua suku bangsa yang lain juga menuntutpersamaan hak layanan. Penulis berfikit “mengapa pabrik coklat ini bisa jadi populer, padahal dikampung penulis juga tumbuh ribuan atau jutaan batang coklat, seharusnya jugaada pabrik coklat yang hebat. Ya Indonesia juga harus pabrik coklat dengan citarasa Indonesia dan populer di dunia, atau paling kurang di Asia Tenggara. Kunciuntuk ini adalah SDM....SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas, punyainovasi dan kreasi. Pelayanan dari pihak butik coklat terhadap pengunjung, apakah mau beliatau tidak memberikan kepuasan pada kami sebagai pengunjung. Pelayanan dan
    • setting pabrik ini telah membuat tempat ini menjadi destinasi wisata, tentu saja iamelengkapi fasilitas layanan seperti ada pohon coklat tumbuh dua batang didepan, ada patung sapi frisian, dan patung buah coklat. Juga pelayanan informasicara membuat coklat, nah..ini juga bisa ditiru oleh perusahaan industri rumahtangga di Batusangkar/Tanah Datar, seperti “Kawa Daun, Pisang Selai, KeripikBalado…” dan pelayanan pada pengunjung seperti menempelkan nomor atautempel kertas berisi ucapan “selamat datang dan terima kasih” bisa membuatpengunjung jadi tersanjung. Coklat yang tumbuh di daerah panas (tropis) namun mengapa produksinyabisa dikuasai oleh orang Eropa (seperti Berly) ya pastilah ia memiliki karakterinovasi dan kreativitas. Oleh sebab itu kita perlu mengembangkan karakter positif:memiliki inovasi dan kreativitas generasi kita, misal mengajak merekamengunjungi pabrik seperti ini. “Sangat penting anak didik kita berlomba memiliki jiwa (karakter) inovasidan kreativitas, jadi tidak berlomba sekedar membuat skor/nilai yang tinggidengan harapan ingin menjadi pegawai atau buruh”. Sepanjang perjalanan menuju Genting Highland penulis juga membacabanyak pesan buat publik, salah satu pesan buat warga adalah “Love KualaLumpur”. Ini bisa kita sadur menjadi “Love Batusangkar, Love your School, loveyour library”. Ini ditulis pada billboard untuk menanamkan karakter cintalingkungan. Jalan-jalan antar kota, antar desa dan juga antar provinsi (negara bagian/state) sudah dihubungi dengan jalan tol. Kita tidak melihat lagi rumah pendudukterpencar-pencar, kecuali sudah dalam bentuk kumpulan apartemen.
    • Tidak ada orang yang parkir kendaraan dengan bebas untuk istirahat-makan makan dan menebarkan sampah seenaknya. Atau orang yang menjajakandagangan sepanjang jalan tol yang begitu banyak dan begitu panjang. Sepanjangjalan penulis melihat banyak baliho iklan dan juga baliho “rambu-rambu lalulintas” yang memberi pesan yang penting bagi pengguna jalan. Baliho tersebuttidak sekedar lambang, tetapi juga diikuti oleh maksud yang harus dipahami olehpengguna jalan seperti: dilarang memarkirkan mobil, dilarang membuang sampah,dilarang, memotong/mendahului mobil lain, truk berat harus berjalan pada jalurkiri”. Pesan tersebut ditulis dalam bahasa Melayu, bahasa Inggris dan bahasa lain,sehingga ada kesan bahwa pesan tersebut adalah buat warga internasaional. Di restoran juga ada pesan atau peringatan “dilarang merokoksembarangan (kecuali pada smooking corner), dilarang menjual rokok pada anakdibawah umur 18 tahun”. Sementara di kampung penulis warung dekat sekolahmenjual rokoh pada pelajar atau pak guru minta tolong beli rokok pada siswa.Moga-moga ini bisa ditertibkan. Belum sampai di Genting highland, kami berhenti di desa Genting Sempahuntuk makan siang di sebuah resto atau mall resto. Mall resto terdiri dari beberapawarung yang menjual aneka food and drink. Di sana ada dijual minuman danmakanan cita rasa India, Arab dan Melayu. Umumnya rombongan kami harusberadaptasi dengan cita rasa makanan yang sangat asing dengan lidah, Namuncukup banyak makanan yang mubazir atau terbuang percuma (ini tidak bolehmenurut syariat Islam). Resto dilengkapi dengan Tandas (toilet) buat pria dan wanita, terpisah,yang sangat bersih untuk standar internasional, begitu juga tersedia surau
    • (mushalla/ praying room) terpisah antara surau pria dan surau wanita. Dekat surauhanya ada fasilitas untuk berwuduk sementara untuk toilet letaknya terpisah,mengapa fasilitas surau, toilet dan resto berskala internasional, ya karenaberlokasi menuju Genting Highland, sebuah tour destination maka kawasanmenuju kesana juga berkualitas standar internasional. Hal yang sama untuk di Batusangkar bahwa kalau Istano BasaPagaruyung, Danau Singkarak atau Lembah Anai adalah sebagai touristdestination skala internasional, maka jalan-jalan di sana (seperti jalan Sutan AlamBagagarsyah yang berasal di pasar Batusangkar sampai ke ujung di NagariSaruaso) harus disulap menjadi jalan internasional pula. Warung-warung danfasilitas umum harus ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, dankarena Batusangkar adalah pusat budaya Melayu juga harus menggunakan hurufArab Melayu. Akhirnya rombongan kami tiba di Area Genting Highland, sebelumnyakam melewati wilayah lembah dan berbukit dengan jalan tol yang panjang. Pintutol banyak menggunakan tenaga perempuan, mungkin perempuan lebih rajin(yang dipilih yang rajin). Pinggang bukit sepanjang jalan tidak dibiarkan terjaltetapi dibuat miring dan diberi terrace/ sengkedan dan tempat peluncuran airuntuk mencegah longsor dan erosi. Hutan-hutan yang gundul segera ditanamipohon yang mudah tumbuh seperti pohon akasia. Ternyata sampah Malaysia dibuang di isolased area. Sebelum dihancurkandipisahkan antara sampah organik dan organik, ada kalanya sampah dibakar danditimbun. Tong sampahnya cukup kokoh, bukan terbuat dari plastik atau darimateri yang cepat hancur.
    • Ternyata kami tidak perlu membeli karcis untuk naik kereta kabel karenapihak travel biro JAP (Jalur Angkasa Prima) sudah membooking buat programkami. Kami dibagi atas empat grup, sesuai dengan grup mobil. Kami naikescalator untuk menuju tempat antrian cable car (kereta kabel). Kami ikt antriancukup lama untuk mencapai counter kereta kabel. Antriannya tidak dalam bentukderetan lurus, tetapi kami harus memasuki handrail (susunan) berliku-liku agarantrian tidak panjang garisnya. Dalam antrian kami tidak hanya terlihat orang Melayu, namun juga etnikIndia, Cina, Arab, Iran dan Eropa, penulis mendengar banyak orang berbicaradalam berbagai bahasa. Akhirnya kami sampai pada counter/ terminal keretakabel. Masing-masing kereta kabel memuat enam orang yaitu tiga dimuka dantiga dibelakang, pintunya terbuka atau tertutup secara otomatis bila ingin lepasdan saat mau berhenti. Di objek wisata Genting Highland terdapat komplek hotel, plaza dan jugasarana perjudian casino ala Las Vegas (Amerika Serikat) yang disediakan buatpenggemar judi. Ini berlaku untuk wisatawan dan orang Malaysia yang beragamaIslam dilarang untuk masuk. Kereta kabel kami melintasi ketinggian sekitar 2000 meter di ataspermukaan laut dan panjangnya sekitar 13 km, dan jarak tempuh 20 menit. Kamibisa melihat lembah dan puncak puncak pepohonan terbentang di bawah. Jalanjalan yang ada dekat tiang tali kereta bukan untuk diakses oleh umum, tetapidiakses untuk perawatan dan keselamatan tiang. Menurut pemandu bahwa tiapbulan selama 4 hari kereta kabel berhenti untuk beroperasi, karena butuhperawatan dan pemeriksaan kondisi demi keselamatan operasionalnya. Saat kami
    • meluncur tiba tiba angin kencang datang dan kereta terhenti dan kami berayun-ayun di udara. Penumpang yang phobi ketinggian tentu akan menjerit ketakutan. Kami sampai pada ujung stasiun kereta kabel. Kami melihat lokasi hotelmemang tinggi, makanya genting juga disebut “negeri diatas awan – countryabove the cloud”. Akhirnya semua rombongan turun dari kereta kabel. Tentu sajarombongan kami menggunakan 26 kereta kabel, karena jumlah kami 137 orangdan muatan per-kereta adalah 6 orang. Sebagian rombongan berpencar, namunkami diberi waktu untuk explorer selama dua jam. Penulis tidak tertarik untukmelihat apa dan bagaimana itu kasino. Penulis dan teman (dalam rombongankecil) hanya jalan berputar-utar untuk menelusuri kompleks plaza dan hotel. Tentusaja harga makanan dan minuman mahal dan juga banyak yang tidak halal. Untukitu ada baiknya membawa makan sendiri, atau cari makanan yang kita yakini ituadalah halal. Di sana terlihat berbagai karakter orang. Ada yang tampak kesepian, yangsedang lagi dilanda asmara, anak-anak, ada pengunjung yang tertutup purdah(tertutup wajah), dan juga ada yang memakai pakaian sangat minim dan seksi,wah…di Genting Highland tidak terasa suasana Melayu yang Islam. Anak-anak yang sudah terbiasa dengan suasana heterogen dan suasanainternasional terlihat santai, ceria dan menikmati suasana, sementara rombongankami yang baru pertama kali datang belajar untuk beradaptasi dalam mengenalsituasi. “ada yang cemas dan takut hilang dalam keramaian). Di sana ada banyaktulisan dalam aksara Melayu, China, English dan India.
    • Kesempatan untuk pergi ke Genting Highland tentu saja amat langka,maka penulis sempat mengambil video dan beberapa foto dengan HP. Rasa ingintahu bagaimana kereta kabel datang, pintunya terbuka dan tertutup secara otomatisjuga penulis abadikan lewat video dan sudah dapat ditonton lewat youtube denganalamat Youtube di: marjohanusman@gmail.com .Sebelum kembali pulang,penulis mencari dimana lokasi toilet umum. Akhirnya kami kembali keterminal awal menggunakan kereta kabel lagi.Kali ini rasa takut kami tidak begitu besar atau malah sudah hilang karena kamisudah mengenal dan mencoba berayun dalam rute datang tadi. Selain datang dengan kereta kabel, ternyata untuk datang ke lokasi hoteljuga bisa menggunakan mobil carteran melalui jalan berkeliling. Tentu saja tidaksemua mobil boleh masuk, publik menggunakan armada transpor yang jugadikelola oleh pihak perusahaan industri wisata Genting Highland. “Good bye Genting Highland. Bis pesiar kami meluncur menuju JohorBaru lagi, kami meninggalkan Genting Highland yang terletak dalam kawasanGunung Ulu Kali”. Kami melaju turun. Mobil melaju menuju negara bagian Johor Baru. Perutsudah terasa keroncongan dan mobil pesiar kami berhenti di rumah makan Melayu“Wakomo” yang berada di daerah Muar. Makan di daerah ini agak cocok denganselera kami, namun masih terasa bumbu yang agak manis (daging ayam dipotongagak besar, tapi banyak anak-anak tidak menghabiskan makanan mereka). Airsyrup menjadi ciri khas minuman pada banyak restoran. Sebagai catatan bahwamengkonsumsi sirup lebih sering tidak bagus untuk kesehatan karena sirup punyazat pewarna dan penyedap.
    • Penulis berjalan untuk mengenal lokasi seputar trestoran. Rupanya adapenjaja buah yang sudah dipotong-potong dan dibungkus dalam plastic. Penulismembeli guava (jambu biji), karena buah-buahan berguna untuk kesegaran dankesehatan perut. Salah seorang anak (rombongan kami) dari sekolah satu atap diKecamatan Lintau susah beradaptasi dengan makanan yang ada dalam perjalanan.Ia cenderung tidak mengkonsumsi makanan dan mengalami mual sepanjang jalan,praktis ia tidak merasakan indahnya pengalaman studi banding internasionalMalaysia dan Singapura. Adalah penting untuk bisa beradaptasi dengan jenismakanan yang ada di internasional, selagi halal, untuk menjadi wargainternasional. Semua orang naik bis pesiar. Mobil kami melaju lagi di atas jalan yangmulus. Kami dalam bus cukup lama mungkin sekitar dua atau tiga jam, kamimelewati jalan yang gelap gulita, “ya...lebih baik tidur saja). Pemandu (Bapak Azam) membangunkan kami “oke....cik abang....cik gu..,cik adek....semua boleh buka mata”, katanya dalam bahasa Malaysia. Karena kamitelah berada dalam kota Johor Baru, kota terbesar keemapt di Malaysia. Kotanyatidak seramai kota-kota di Indonesia, kami tidur malam itu dihotel Tropical Inn,menjelang tidur dan mimpi indah kami shalat lagi, arah kiblat tertera pada lotengkamar.G. Johor Baru dan Singapura Kami berempat, penulis sebagai guru pembimbing dan anak-anak (David,Raihan dan Syandi) memperoleh kamar 2206, yang berarti kami harus naik lift
    • mencapai lantai 22 di hotel Tropical Inn. Sekarang kami sudah sangat mahirdalam menggunakan lift hotel.Tidur nyenyak di hotel Berpose di learning science centre Singapore Pemandu kami menjelaskan bahwa Johor berasal dari kata “Jauhar”.Ibukota Johor adalah Johor Baru, yang merupakan sebuah kota besar. NegaraSingapura terlihat jelas dari hotel kami karena jarak Singapura dan Johor hanyasatu kilometer saja, dihubungi oleh sebuah jembatan panjang. Ketika kami sampai di kota ini sudah lewat tengah malam, Johor Barumasih terlihat ramai. Kami harus tidur, walau tidak lama dan bangun untuk shalatsubuh dan kami boleh tidur lagi hingga pukul 9.00 pagi karena kami harusbertolak ke Singapura jam 10.00 pagi. Dini hari itu kami diberi kartu dan penulis minta kunci, dan dijawabbahwa “kartu itu adalah kunci untuk hotel”. Wah penulis masih ketinggalan infotentang teknologi, ya…kartu tersebut ternyata berfungsi untuk kunci pintu kamaryang harus diselipkan pada kunci pintu. Kartu tersebut juga berguna untukdiselipkan untuk menghidupkan lampu kamar. Salah seorang teman penulis
    • mencabut kartu tersebut dari socket lampu dan ternyata lamu kamar jadi matisemua. “Menurut jadwal perjalanan kami tanggal 20 November bahwa rute kamiadalah Johor Baru- Singapura- Malaka. Setelah sarapan pagi rombongan checkout hotel dan langsung masuk nergara Singapura setelah melewati pemeriksaanimigrasi, rombongan mengikuti Singapore City Tour- mengunjungi The MerlionPark, Rafless, Singapore Science Centre, melewati KBRI di Singapura, menaikikereta api bawah tanah, terakhir shopping di Mustafa Center, Orchad danselanjutnya rombongan melanjutkan perjalanan ke Melaka, ya bermalam dalammobil saja”. Pagi hari di Tropical Inn hotel di Johor Baru, kami punya sedikit waktuuntuk bersenang-senang. Penulis melepaskan pandangan jauh ke Pulau Singaporemelalui jendela kamar hotel dan sempat mengabil foto. Pagi itu kami segera turun untuk sarapan. Penulis agak ragu untuk masukke ruangan makan karena disana ada satu grup pelajar-pelajar SD dari Singapura.Penulis berfikir apakah itu masih jam sarapan buat grup anak-anak di Singapura,hingga salah seorang pemandu menyuruh penulis segera untuk bergabung untuksarapan. Pelajar-pelajar Singapura yang berlokasi dekat dengan Johor Baru, tentumereka selalu pergi ke Johor Baru untuk pergi rekreasi, sementara orangSingapura yang berlokasi dekat ke Batam juga sering pergi ke Batam. Pastilahsebagai sebuah negara kota, semua warga Singapura memiliki pasport buat keJohor Baru atau ke Batam.
    • Rupanya kami tidak lama di tropical inn, kami berkemas dan harus checkout dari hotel. Semua koper dan bagasi lain kami titip pada salah satu gudang dihotel tersebut, souvenir yang dibeli di Kuala Lumpur juga dititip. Jadi hotel inihanya sebagain tempat transit dan menitip barang-barang...bagus juga yamanajemen biro perjalanan JAP ini. Kami diberi tahu bahwa kelak bila sampai di Singapura, guide ataupemandu wisata juga berganti dengan guide warga Singapura. Jugadiinformasikan bahwa di imigrasi nanti dilarang mengambil foto, merekam,karena nanti bisa dirampas oleh pihak Imigrasi. Imigrasi Malaysia-Singapuraberada dikawasan woodland. Petugas imigrasi Malaysia banyak berwajah India, mereka punya mottodalam melayani yaitu: Smile, Greet, Look, Serve and Thanks” dalam memeriksadokumen kami. Selesai pemeriksaan di imigrasi Malaysia kami harus melewati jembatansepanjang satu kilometer untuk mencapai imigrasi Singapura. Di sampingjembatan penulis melihat tiga buah pipa besar yang berfungsi sebagai saluran airuntuk memenuhi kebutuhan air minum negara Singapura. Jadi air minum wargaSingapura berasal dari Johor- Malaysia. Memasuki wilayah Singapura, pemandu kami memberi pengarahantentang “some do’s dan some don’ts- atau beberapa anjuran dan larangan”. Kamibergegas menuju imigrasi. Di area imigrasi tertulis peringatan “no drugs, nophotos, no records dan no litter”, dilarang membawa drug, dilarang mengambilfoto, dilarang mengambil rekaman, dan dilarang membuat sampah”.
    • Ternyata ada antrian yang panjang. Petugas imigrasi Singapura sukamencurigai orang yang dianggapnya mencurigakan. Tiga orang dari rombongankami “Pak Erman, Pak Muslim dan Pak Fuad” ditahan dulu untuk interogasi,mereka naik lift menuju ruang petugas. Mereka menyerahkan paspor danmenunggu setengah jam dan dalam ruangan ada delapan orang, mereka dengansabar untuk “waiting call”, petugas bertanya tentang apa dan mengapa pergi keSingapura”. Mereka duduk lagi dan menunggu lagi hingga dipanggil untuk cek sidikjari. “ya…pokoknya cukup ribet untuk dipanggil…duduk lagi dan dipanggillagi…”. Juga ada siswa yang ditahan karena fotonya pada passport sedikit berbedadari wajahnya. Namun ini juga termasuk pengalaman internasional- menghadapipemeriksaan dengan sabar dan tertib. “Namun juga ada pengalaman internasional yang terpantau di pelintasanimigrasi Singapura, bahwa anak-anak kecil dari Singapura melintasi pemeriksaandengan enjoy dan penuh percaya diri. Mereka mematuhi antrian...tidak rewel,begitu tiba giliran ia menyerahkan passport dan menjawab pertanyaan sepertiorang dewasa. Luar biasa gentklemen nya, tentu berbeda dengan anak anak kami...yang pertama kali melewati immigrasi, sedikit khawatir, dan waspada..pastimereka juga memperoleh pengalaman internasional dalam usia emas ini dan tidakterlupakan sepanjang umur”.
    • Patung Perlion di Singapura Restoran di Singapura menganjurkan tidak mubazir makanan Lepas dari kantor imigrasi Singapura kami dipandu oleh guide Singapuraketurunan India. Ia sangat humoris dan pintar, ia memiliki wawasan yang luas, iamenguasa bahsa Malaysia/Indonesia, bahasa Inggris dan juga bahasa Tamil. Dia mengatakan bahwa kalau di Singapura jarak ditempuh dalam hitunganmenit, kalau di Malaysia dan Indonesia, jarak ditempuh dalam hitungan jam. Rutepertama kami tentu saja menuju Restoran karena perut sudah mulai keroncongan. Pemandu kami bernama “Muhammad”, keturunan India Muslim. Ternyatarute pertama kami menuju “Sain centre” yang kami capai dalam waktu 25 menitdari kantor imigrasi. Dalam perjalanan Muhammad berbicara banyak, membandingkanpenduduk Indonesia 250 juta dengan penduduk Singapura 5,1 juta orang,penduduk asli Singapura hanya 3,6 juta, yang lainnya adalah pendatang, menikahdengan warga Singapura, ya akhirnya menjadi warga Singapura. Dari total
    • penduduk Singapura tersebut, 74% adalah etnik Cina. Dahulu pendudukSingapura ini berasal dari warga Majapahit dan Sriwijaya, namun sekarangmayoritas etnik China. Namun semua warga hidup damai berdampingan. Singapura tidak punya sawah dan ladang (sumber daya alam), maka semuaorang harus peduli dengan pendidikan, (kualitas pendidikan), pekerjaan sesuaidengan standar pendidikan. Pemerintah menghargai semua “ras” dan juga agama, juga peduli padapendidikan. Kalau ada anak usia sekolah yang tidak pergi ke sekolah, makapemerintah akan pergi menemui orang tua sang anak, kalau ternyata karenamasalah ekonomi, maka petugas pendidikan memberi bantuan dan membinamereka. Tidak ada konflik agama disana. Semua agama dihargai. Singapura tidaksaja mengharapkan anak-anak jadi pintar, tetapi juga menjadi sehat, maka anak-anak dianjurkan untuk tidak gemuk, oleh sebab itu pemerintah terus menambahpusat-pusat aktivitas fisik (olahraga), jadi dimana ada tempat kegiatan belajar,juga ada tempat aktivitas gerak badan. Di Singapura anak laki-laki lulusan SLTA wajib untuk mengikuti wajibmiliter. Anak-anak kaya dan miskin diperlakukan sama, mereka hidup membaurdan dilatih beberapa kegiatan fisik dan melepaskan unsur-unsur kemewahan.Mereka dilatih mandiri dan juga mampu mengurus diri sendiri, wajib militerlamanya dua tahun berguna untuk membuat warga tidak cengeng. “Sekali lagi bahwa tujuan wajib militer tentu saja untuk melatih merekajadi mandiri dan tidak cengeng. Wajib militer tidak ada buat anak perempuan,namun kalau mereka ingin bergabung itu lebih baik”.
    • Di Singapura ada 181 TK, 187 SD, 141 SMP, 8 SMA dan ada 3universitas popular. Sekolah internasional Singapura tidak punya subsidi, guru-guru Singapura punya otoriter, tanpa campur tangan dari pihak orang tua, tetapitentu saja mereka harus bekerja sama untuk memajukan pendidikan. “nonegotiation” untuk disiplin, anak yang terlambat dicatat, telat yang keduadipanggil orang tua, ya pokoknya disiplin tak butuh ditawar atau negosiasi. Di Singapura, NO litter, dilarang merokok, dilarang meludah, no freesmooking area”, wilayah ini diawasi polisi sebagian tak memakai pakaianseragam, kalau ada yang melanggar, maka langsung didenda 500 dollarSingapura, kalau tidak ada uang denda ya bersedia untuk ditahan dalam penjara,malah kalau ketahuan dalam negosiasi disiplin, yang menyogok dan yangmemberi sogok, dua-duanya kena denda. Denda yang besar juga bisa jadi incomebagi nagara Singapura. Lingkungan kota Singapura cukup lestari, ada hutan kota dan Singapuramemang kaya dengan teknologi, namun miskin dengan sumber daya alam. Pohon-pohon yang ada di Singapura ada yang asli, tumbuh di Singapura sejak dulu danjuga ada yang diimpor. Ukuran luas wilayah Singapura adalah 42 km dari timur ke barat, 23 kmdari utara ke selatan, ya wilayah Singapura sangat aman. Undang-undang cukupkeras, namun kualitasnya juga tergantung orangnya dan setiap orang tentu punyakarakter sendiri-sendiri. Biaya hidup di Singapura sangat mahal, harga barang akan menjadi 200%lebih mahal di Malaysia dan di Singapura bisa menjadi 300% lebih mahal. Tidak
    • semua orang punya mobil di Singapura, orang Singapura tidak suka memaksakandiri untuk mencari gaya hidup- kalau ujung ujungnya bikin diri jadi melarat. Tempat tinggal penduduk adalah pada flat-flat, dan blok-blok flatmenggunakan nomor yang terlihat dari jalan raya. Ternyata juga terlihat wargaSingapura menjemur kain lewat jendela flat mereka. Jalan raya Singapura tidakterlihat ramai, karena transportasi hanya dikuasai oleh pemerintah. Di jalan rayajuga ada jalur sepeda motor di pinggir jalan. Selama di Singapura rombongan kami melakukan “walk, see and learnatau berjalan, lihat dan belajar. Sekolah di Singapura selama 6 hari, kami sempatmelewati kawasan Jurong, asal kata “jurang”. Perilaku pekerja atau pegawai di Singapura yang ideal adalah adalah “nosmooking, no woman, no drink, and no gambling”. Jadi mereka dilarang merokok,main perempuan, minum keras, dan dilarang berjudi”. Tanah di Singapura adalah milik pemerintah, negara Singapura persisdilalui oleh khatulistiwa. Kalau begitu Singapura ini mudah kering makapemerintah menjaga kelembaban taman melalui petugas taman yang sangat rajin.Di Singapura pajak dipungut 2 kali dalam satu tahun. Rombongan kami memasuki lokasi sain center atau pusat sain buat anak-anak. Tertulis science learning centre. Di depan gedungnya ada taman air (waterpark) buat anak-anak kecil. Mereka bermain bola dengn semprotan air, merekaterlihat ceria. Orang tua mereka memperkenalkan mainan air, sementara diSuamtera kita punya air yang berlimpah, anak-anak jarang atau dilarang main air,dengan alasan nanti basah, atau masuk angin, “bukankah bermain membuat anaklebih cerdas dan lebih creative” Yuk kita perkaya pengalaman anak-anak kita.
    • Pemilik pusat learning centre pintar sekali dalam mengundang publikuntuk dating. Semua pengunjung membeli tiket dan kemudian antrian, kami diberiselebaran untuk panduan tentang ada apa dan mengapa di dalam ruangna learningcentre. Melihat antrian begitu panjang maka penulis berfikir bahwa dalamnyabakal ada pertunjukan yang serba waaah. Setelah masuk ternyata biasa-biasa saja. “Pusat learning centre adalah museum belajar untuk anak-anak, untukmemahami dunia matematika, biologi, kimia, fisika, geografi, astronomi, dan adabeberapa ruangan untuk memahami tokoh para ahli. Dalam ruangan itupengunjung bisa bereksperimen tentang bagaimana bunyi terjadi, bagaimanaterjadi gelombang, bagaimana terjadi gempa, jadi sain learning centre Singapuraitu adalah paduan dari labor sain untuk bereksperimen dan sekaligus ruanganuntuk melakukan eksplorasi dengan model learning by trying atau learning bydoing”. Usai dari pusat sain Singapura, kami terus ke restoran dan bis melaju lagi.Ternyata ruangan restoran terlalu sempit untuk menampung jumlah kami yangcukup banyak. Kami pun antri untuk memesan makanan Indonesia. Sup jagung,sup sayur dan sepiring nasi goreng. Toilet sangat bersih dan dilengkapi drierlistrik untuk mengeringkan air pada tangan. Kebutuhan listrik Singapuramenggunakan energi gas. Pelayan di restoran ini semua keturunan Indonesia. Untuk menggunakan MRT (mass rapid transport) sejenis kereta api masalbawah tanah, kami dipandu oleh guide agak tua, tapi lucu dan ramah, ternyatasemua orang senang dengan suasana humoris. Ia mengatakan bahwa penggunaMRT harus cpeat, agar tidak ketinggalan, sebab kereta api hanya berhentisebentar, kalau lalai ya...tertinggal dan setelah itu berangkat lagi dengan
    • kecepatan 120 km per jam untuk menghubungkan ujung-ujung sudut Singapura.Ternyata benar bahwa Singapura lebih ramai dibawah tanah dari pada di atastanah. “Bila tertinggal oleh MRT, ya jangan panik sebab akan mudah ditemui,apalagi wilayah Singapura cukup kecil, kalau tertinggal di Sumatera sangat repotbisa terpisah puluhan atau ratusan kilometer”. Kami berjalan dan berhenti untuk mencari tempat sholat. Kami berhentipada masjid Al Falah (Al Falah mosque). Masjidnya bersih, tempat wudhu bersih,di pintu depan terdapat rak panjang untuk informasi seputar Islami, agaknyabuletin disana gratis, penulis mengambil satu lembar. Kami tidak begitu menikmati jalan-jalan di Singapura karena kemudianhujan turun lebat, saat mengunjungi patung Singa (merlion) hujan sudahmengguyur tubuh kami, karena kunjungan sangat langka, maka penulis melawantakut basah dengan cara mengmbil foto-foto yang cukup eksotik. Menjelang pergi shopping bis melaju ke dekat taman merlion. Hujuanturun mengguyur, kami tidak begitu menikmati liburan, namun karena berada diTaman Merlion atau The Merlion Park, makanya kami merasa rugi kalau tidakmengambil foto-foto. Patung Merlion adalah gabungan separoh singa dan badanikan yang dibangun pada pinggir sungai Singapura, tingginya sekitar 8 meter.Kecil Cuma dan ada semburan air dari mulut patung Merlion. Jauh di belakangpatung merlion yang besar juga ada patung merlion yang kecil, hanya sedikit lebihtinggi dari tubuh manusia. Penulis dan juga pengunjung yang lain bergaya dengan latar belakang themerlion. Ini bisa menjadi kenangan. Tanah air kita malah punya situs situs yang
    • jauh lebih menarik, nah tinggal lagi bagaimana kita bisa mengemas,mempromosikan dan menghidupkan klegiatan di sana. Kami kemudian dibawa ke pusat belanja (shopping centre). Penulismelihat para imigran dan warga keturunan india berkumpul disana untuk sekedarngobrol dan melepas kangen pada kampung halaman mereka, kami diberi waktu 2jam untuk pergi shopping.Penulis dalam kereta kabel di Penulis dalam kota SingaporeGenting Highlan Penulis dan anak-anak peserta studi banding berjalan bareng. Yang lainmengikuti langkah penulis dari belakang, kami melintasi jalan berhujan danbergabung ke dalam keramaian warga India, kami pergi ke lantai 3. Di sana adamall untuk souvenir atau cendera mata kami mencari asesoris Singapura dan jugamempelajari harganya. “Ohh…rupanya penulis harus membeli 20 dollar Singapura yang harganyakira-kira Rp. 150 ribu, asesoris harganya mahal, penulis mengatakan pada anak-anak bahwa kita mesti beli asesori sebagai tanda dari Singapura, tetapi mesti
    • memikirkan penghematan dalam membeli, ya jangan asal beli mendingan kalauada di Indonesia, ya kita beli saja nanti di Dumai karena harga jauh lebih murah”. Usai berbelanja beberapa souvenir sebagai tanda telah berkunjung dariSingapura kami kembali berkumpul dan naik bis. Kami bertolak kembali menujuwordland, daerah imigrasi terasa lebih mudah keluar Singapura dari pada masukke Singapura. Kami kembali mengikuti prosedur keluar imigrasi Singapura danmasuk imigrasi Malaysia dengan mudah. Mobil membawa kami kembali ke “hotel tropical inn” untuk mengambilbarang-barang, karena kami harus menuju Malaka. Dalam perjalanan ke JohorBaru kami masih sempat berhenti lagi di sebuah restoran untuk makan malam,Mata sudah lelah dan penulis tidak perlu lagi melihat pemandangan wah, lebihbaik tidur saja. Berarti penulis dan juga anggota rombongan tidak mandi untuk satu ataudua hari. Menjelang subuh kami berhenti di daerah Plus (mungkin ini namasebuah kampung) tempat beristirahat dan sarapan. Kami shalat subuh disana danterus sarapan, hidangan disana terasa enak. Perjalanan berlanjut menuju Malaka.H. Malaka Penulis bertanya pada pemandu “kenapa Melaka lebih popular dibandingdaerah lain sepanjang pesisir barat semenanjung Malaysia ?”. Katanya dahulu adaraja Melaka yang sangat populer di kerajaan melayu, ya maka namanya menjadipopuler saat itu. “Menurut bahwa rute kami tanggal 22 November adalah Malaka- Dumai.Pagi hari rombongan sampai di Malakas, sholat subuh, sarapan dan masndi.
    • Setelah itu langsung menuju pelabuhan laut Malaka, rombongan menyeberangselat Malaka dengan Ferri ekspress untuk menuju pelabuhan Dumai. Di Dumaikami dijemput dan melanjutkan perjalanan menuju Batusangkar”. Kami hanya sekedar lewat saja di Malaka, tidak aktivitas keliling kota, yabadan sudah terasa letih dan Malaka mungkin tidak memiliki banyak objekwisata, kecuali taman- taman yang sudah dirancang dan dirawat dengan bersih,namun sepi oleh pengunjung. Gedung-gedung di Malaka mirip dengan suasana gedung di Riau. Adagedung modern dan juga gedung-gedung kuno. Kami turun mobil dan kamifarewel dengan tour travel selama di Malaysia. Tour leader kami dari SumateraBarat memandu kami untuk menuju pelabuhan.Goh Hendry, Supervisor Pelabuhan Di dermaga pelabuhan MelakaMalaka Kami mengumpulkan pasport dan akhirnya kami memperoleh tiket FerryMalaka-Dumai. Penulis mengenal daerah sekitar dan menemukan bahwa penjagatoilet di Melaka adalah warga keturunan China, dan ada warga sakit jiwaketurunan India. Terlihat bahwa warga Malaysia sebagai warga kelas satu. Di sanatidak ada simbol One Malaysia.
    • Di pelabuhan penulis berkenalan dengan supervisor pelabuhan Goh ChoonKeng (Henry). Orangnhyas easy to say hello, orangnya sangat ramah. Dalamsekejap mata kami sudah bersahabat dan saling berbagi cerita. Penulis jugamenceritakan tentang kampung sendiri. Hendry punya niat untuk berlibur keSumatra dan berkunjung ke rumah tahun depan. Penulis juga berkenalan dengan Alexander, seorang mahasiswa asal Rusia.Tampaknya ia sudah berhenti kuliah. Ia telah berjalan dan meninggalkanrumahnya sejak tahun 2001. Prenulis tanya tentang kampung dan orang tuanya. Iamenjawab ia benci ayahnya namun masih kontak dengan ibunya lewat e-mailyang tinggal di kota Krasnovyark. Ia adalah anak broken home atau juga senangmenjelajah dengan uang dan bekal hidup apa adanya. Ia ingin pergi ke pelabuhanDumai dan dibantu oleh Henry (supervisor pelabuhan) yang baik hati. AgaknyaHendry juga memberi dia beberapa ringgit dan Alex tidak punya uang. Penulis tanya tujuannya dan ia mau menuju Bali karena temannya dariRusia bakal datang tanggal 12 Desember. Alex akan ke Bali melalui cara yangmurah saja, ia tidak punya banyak uang untuk membeli tiket. Mungkin ia hanyanaik truk barang dari Pelabuhan Dumai menuju Pelabuhan ujung Sumatra. Padabahunya tertera tattoo “world”s largest biker bar’. Mungkin ini nama grupnyayaitu keliling dunia lewat nebeng mobil saja. Sebelumnhya ia pernah singgah diThailand. Ia banyak berbagi cerita dengan penulis, penulis merasa simpati dansempat memberi dia sedikit uang buat beli makan di jalan “Kasihan itu anakmuda”. Alex mau ikut dengan penulis, namun sayang penulis tidak punyakesempatan untuk mengajak dia untuk ke Batusangkar. Moga-moga ia selamatdalam perjalanan dan bisa berjumpa dengan temannya di Pulau Bali.
    • Di pelabuhan Malaka ada kapal “Malaysia Express, Indonesia Express danFerry Service”, penulis dan penumpang lain naik kapal dan duduk dekat jendeladan bisa melihatkan gelombang laut, kapal dan pulau-pulau kecil. GoodbyeMalaysia....penulis juga ingat dengan senandung lagu semalam di Malaya.I. Kembali Ke Sumatra Welcome back to Sumatera, kapal merapat di pelabuhan laut Dumai jam12.00, ya kami turun lagi, mengambil barang dan melewati imigrasi Indonesia,terasa suasana bersahaja beda dengan suaasana di Singapura, tentu saja. Suasana terasa sangat informal, kami keluar pelabuhan dan tidak beberapalama kami dijemput oleh armada bis menuju rumah makan Pak Datuk BundoKanduang di Dumai, disana kami disambut oleh perantau Tanah Datar sebanyak5000 kepala keluarga.Di Indojolito....come back to Di pelabuhan laut, DumaiBatusangkar Makan kami terasa enak lagi selama dalam perjalanan Malaysia danSingapura, umumnya tidak menghasilkan makan kalau makan sementara makandi rumah makan Pak Datuk terasa sangat nikmat, semua hidnagnan habis ludes,kami melakukan shalat jamaah qasar zuhur dan ahar, sebelum melanjutkan
    • perjalanan ke Tanah Datar, kami juga sempat singgah untuk membeli oleh-oleh diswalayan Ramayana, harganya beda, sangat murah, dibandingkan dengan harga diSingapura dan Malaysia. Lagi-lagi kami berhenti di rumah makan di kota kecil, Kandis, sebelummasuk kota Pekanbaru, kami melaju lagi, mencari posisi tidur pada bangku mobilyang keras, hingga subuh kami sampai di Batusangkar diterima lagi oleh Bupati digedung Indojelito, disana ada sedikit acara mendengar kesan-kesan dari pesertastudi banding internasioinal Malaysia-Singapura, siswa, guru dan pegawaiberprestasi Tanah Datar, semoga kegiatan ini bermanfaat untuk membangunmental dan karakter kami menjadi mental orang yang cerdas, taat dan berwawasaninternasional.
    • BAB IV. MENERAPKAN PENGALAMAN STUDI BANDINGA. Manfaat Studi Banding Bagi Siswa Mengikuti program studi banding internasional ke Malaysia dan Singapuratentu memberikan manfaat yang besar bagi para siswa berprestasai dariKabupaten Tanah Datar. Program ini bisa memotivasi mereka, sekaligus sangatbermanfaat untuk menambah wawasan mereka tentang budaya, etos belajar danetos kerja masyarakat Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yangsudah maju tersebut. Peserta studing ini mayoritas adalah siswa, mulai dari tingkat SD sampaiSLTA- jumlahnya 107 orang- , yang nota benenya adalah mereka yang masihberada dalam Golden Age atau usia emas. Pengalaman positif yang mereka alamidalam usia ini akan membekas sepanjang hidup mereka. Pengalaman dalam usiaini akan membentuk karakter positif. Mereka bisa menghargai waktu, senangbersosialisasi, suka mengambil inisiatif dan terbiasa berkompetisi untuk maju. Penulis melihat bahwa para siswa peserta studi banding adalah anak anakcerdas yang gampang untuk dimotivasi. Untuk itu adalah tugas kita bersama(orang dewasa: guru dan orang tua) untuk meningkatkan tingkat kualitaskecerdasan mereka. Kalau sudah cerdas mereka akan gampang untuk dimotivasi,malah mereka juga akan mampu memotivasi diri sendiri. “Betapa mudahmemotivasi anak-anak pilihan buat berhasil dalam hidup”. Guru adalah pembimbing bagi siswa dan sekaligus sebagai orang tuamereka. Maka guru atau pembimbing perlu meluangkan waktu untuk bertukarpikiran agar mereka punya pengalaman bertukar fikiran dengan orang dewasa.
    • Mengikuti program studi banding ke hingga ke Malaysia dan Singapura -jauh dari rumah/ orang tua akan memberikan efek positif bagi para siswa. Merekaakan belajar mengambil inisiatif, dan beradaptasi dengan hal baru dan suasanabaru. Mereka akan terbiasa dengan budaya antri dan menghargai kesempatan yangdiperoleh oleh orang lain. Juga mereka melihat banyak jenis karakter orang dan ini membuat merekaakan mudah beradaptasi dengan orang-orang baru. Mereka akan mampumenggunakan uang secara effisien dan mampu bertransaksi secara internasional.Jadi mereka akan menghargai nilai mata uang dan tidak akan asal beli saja.Selanjutnya mereka akan mengetahui bermacam macam bentuk profesi, jadi tidakhanya tahu dengan profersi PNS saja, tetapi juga ada “money changer, worker,flight attendant, pilot, driver, guide, pelaut, pemandu wisata, manager...dll. Mengunjungi negara lain berarti berhubungan denghan passport dandokumen lain. Pengalaman ini akan membuat mereka menghargai dokumen,seperti passsport, visa , KTP, SIM. Juga mereka akan mengerti apa itu imigrasi,juga bagaiman tata cara bepergian dalam pesawat terbang dan dalam kapal laut.Selanjutnya mereka akan mampu mengagumi keagungan Ilahi lewat udara, lautdan darat. Para siswa juga punya pengalaman bagaimana tinggal jauh dari orangtua, tinggal di hotel moderen bagaimana mengoperasikan fasilitas hotel, hidupdisiplin waktu, dan menikmati makanan yang kadang kala berbeda denganhidangan di rumah sendiri. Juga bagaimana mandi pakai shower dengan air panasdan dingin, salah putar bisa membuat kulit terbakar oleh air panas, untuk ituharus cerdas.
    • Akhir kata siswa juga tahu bagaimana tinggal bareng dengan orangberbeda karakter. Kalau tidak terbiasa bersosialisasi ...wah bakal kesulitan dalamberadaptasi. Perlu diketahui agar kita perlu memiliki kelebihan (misal tahudengan musik, tahu dengan komputer, banyak wawasan) pasti kita bakal menjadiorang yang disenangi.B.Manfaat Secara Umum Mengikuti studi banding ke negara yang lebih maju bisa memberiinspirasi bagi negeri kita- bandara, jalan raya, fasilitas publik menggunakanbahasa bahasa internasional untuk warga dunia dan peduli dengan makna bersih.Kalau sudah begini maka orang akan betah berada pada tempat (restoran,mushola, fasilitas umum) karena bersih dan rapi. Problem bila kita berpergian jauh untuk waktu yang cukup lama (misalsatu minggu) adalah seperti susah makan dan susah BAB (buang air besar), initerjadi karena kurang mengkonsumsi buah- buahan yang bagus untuk pencernaanseperti papaya, jeruk, pisang, apel (buah yang mudah diperoleh). Banyakmengkonsumsi bumbu dan daging membuat perut panas dan akhirnya demam.Maka ini perlu untuk diperhatikan. Bila kita ingin menjadikan daerah kita sendiri sebagai daerah tujuan wisatainternasional maka kita perlu selalu memelihara karakter ramah tamah. Ramahtamah tidak harus milik orang desa. Kemudian maka tiap kota perlu punya citymap, buku paduan wisata yang praktis tapi lengkap untuk menjawab kebutuhanwisatawan. Masyarakatnya- apalagi pelayan publik perlu memiliki pribadi yang
    • menyenangkan dan suka memberi kemudahan (memberi pelayanan) pada oranglain.Seorang anak peserta studi Gerbang bercorak Minangkabau di Negeribanding berdoa dengan khusu’ Sembilan Jalan raya-jalan raya di negara tetangga yang sudah maju tersebut bisamemberi inspirasi bagi negara kita. Jalan- jalan yang penuh dengan pesan dalamberbagai bahasa untuk masyarakat internasional. Kalau ingin membuat SumatraBarat, khususnya Kabupaten Tanah Datar sebagai daerah tujuan wisata buat orangmanca negara atau buat warga dunia. Seharusnya jalan rayanya tidak hanya penuhdengan rambu-rambu yang pakai lambang, kalau boleh juga rambu rambu dengankata-kata yang bisa dibaca dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, “Noparking except for emergency- dilarang berhenti kecuali fdalam kjeadaan darura,bila butuh bantuan mekanik telpon ke nomor berikut...., bila butuh bantuan polisikontak nomor berikut. Restoran juga memajang peringatan dilarang merokok pada sembarangtempat. Juga peringatan dilarang menjual tembakau atau rokok kepada yang
    • berusia di bawah 18 tahun. Juga perlu menjaga kebersihan dan melengkapikebutuhan tempat sholat dan MCK yang selaku bersih. Mengapa orang barat memiliki karakter inovasi dan kreativitas yang tinggikarena mereka suka melakukan eksplorasai, sementara itu kita terlalu sukamengurung diri dalam kamar atau dalam rumah meskipun atas nama belajar.Agama saja menyuruh kita untuk bertebaran di muka bumi. Kita perlu untuk“banyak berbagi pengalaman, berbagi cerita, banyak mengunjungi tempat barudan objek baru”. Antrian ala di Genting Highland, untuk menghindari antrian lurus yangpanjang, diganti dengan antri zigzag memakai handrail- pagar telusur ini bergunauntuk mencegah kebosanan. Fasilitas umum, seperti toilet, harus jelas tempatnya.Restoran kita perlu meniru restoran Singapura yang menganjurakanpengunjungnya agar tidak mubazir- membuang makanan – menyisakan makananyang banyak.
    • Bio Data Penulis Marjohan Usman, Guru SMA Negeri 3 Batusangkar, Program Pelayanan Keunggulan Kabupaten Tanah Datar. Sumatera Barat. Penulis freelance Menulis pada koran Singgalang, Serambi Pos, Haluan dan Sripo (Sriwijaya Post). Menulis buku dengan judul “School Healing- Menyembuhkan Problem Sekolah (Pustakan Insan Madani, Yogyakarta)” Dan “Generasi Masa Depan- Memaksimalkan Potensi Diri Melalui Pendidikan (Bahtera Buku, Yogyakarta)”.