Your SlideShare is downloading. ×
Metode Pendidikan Rasulullah SAW Untuk Anak
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Metode Pendidikan Rasulullah SAW Untuk Anak

22,270

Published on

Metode Pendidikan Rasulullah SAW Untuk Anak

Metode Pendidikan Rasulullah SAW Untuk Anak

Published in: Education
0 Comments
7 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
22,270
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
544
Comments
0
Likes
7
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. METODEPENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK Sumber : http://mahluktermulia.wordpress.com/ METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 1 ]
  • 2. [I] VISI, MISI, DAN TUJUAN PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.WVisi Pendidikan Islam Rasulullah SawVisi pendidikan Islam yang diaplikasikan oleh Rasulullah Saw sesungguhnya melekat pada cita-cita dan tujuan jangka panjang ajaran Islam itu sendiri, yaitu mewujudkan rahmat bagi seluruhmanusia, sesuai dengan firman Allah berikut ini:“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”[1]Tafsir ayat tersebut, oleh Imam Al Maraghi ditafsirkan sebagai berikut: “Bahwa maksud ayatyang artinya: Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semestaalam, adalah bahwa tidaklah aku utus engkau Muhammad dengan al Qur‟an ini, serta berbagaiperumpamaan dari ajaran agama dan hukum yang menjadi dasar rujukan untuk mencapaibahagia dunia dan akhirat, melainkan agar menjadi rahmat dan petunjuk bagi mereka dalamsegala urusan kehidupan dunia dan akhiratnya.”Kedatangan Rasulullah Saw adalah rahmat bagi umat manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan danmakhluk-makhluk lainnya. Rasulullah membawa ajaran tentang persamaan, persatuan dankemuliaan umat manusia, bagaimana tata cara hubungan manusia sesama manusia, hubungansesama pemeluk agama, dan hubungan antara agama. Beliau juga mengajarkan tentangpersaudaraan, perdamaian, keadilan, tolong menolong, tata hidup berkeluarga, bertetangga danbermasyarakat dan lain sebagainya.Rasulullah Saw melarang manusia berbuat sewenang-wenang, sekalipun terhadap binatang.Binatang diciptakan antara lain untuk dimafaatkan oleh manusia, bukan untuk disakiti ataudisengsarakan, dan bukan pula untuk diperjudi dan dipermainkan. Rasulullah mengajarkan, kalauengkau menyembelih binatang ternak, lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Jangan dicekik,ditusuk atau dipukul. Sembelihlah dengan pisau yang tajam.Rasulullah Saw juga mengajarkan kepada umat manusia untuk memanfaatkan lingkungan hidupdan menjaga kelestariannya. Dalam peperangan sekalipun, tentatara Islam dilarang merusaktanaman-tanaman dan tumbuh-tumbuhan tanpa manfaat. Dengan demikian, visi utamapendidikan Islam Rasulullah Saw adalah memberi rahmat bagi seluruh alam.Misi Pendidikan Islam Rasulullah SawMisi pendidikan Islam zaman Rasulullah Saw antara lain: Mendorong timbulnya kesadaran umat manusia agar mau melakukan kegiatan belajar dan mengajar METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 2 ]
  • 3. Hal ini sejalan dengan firman Allah sebagai berikut:“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusiadari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia)dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”[2]Perintah membaca sebagaimana terdapat pada ayat tersebut sungguh mengejutkan untukmasyarakat Arab saat itu, karena membaca belum menjadi budaya mereka. Budaya mereka ialahmenghafal, yakni manghafal syair-syair yang di dalamnya memberikan ajaran yang harus merekajalani. Membaca dalam ayat tersebut selain berarti menghimpun atau mengumpulkan informasidengan melihat huruf-huruf, kata-kata dan kalimat dalam sebuah buku atau referensi lainnya,juga mencakup pula meneliti, mengamati, mengidentifikasi, mengklasifikasi, mengategorisasi,menyimpulkan, dan memverifikasi. Dengan membaca ini timbullah kegiatan penggalian danpengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban yang membawa kemajuan bangsa. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar sepanjang hayatHal ini sejalan dengan hadits Rasulullah Saw, yaitu:“Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat.”[3]Hadits tersebut mengandung isyarat tentang konsep belajar seumur hidup, yaitu belajar danmengajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas saja, melainkan di mana saja dan pada berbagaikesempatan. Hal ini sejalan dengan konsep pendidikan integrated, yaitu belajar dan mengajaryang menyatu dengan berbagai kegiatan yang ada di masyarakat. Melaksanakan program wajib belajarHal ini sejalan dengan sabda Rasulullah Saw, yaitu:Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap orang muslim.”(HR. Ibnu Majah).Kata ilmu sebagaimana terdapat dalam hadits tersebut adalah pengetahuan yang telah didukungoleh data dan fakta yang shahih dan disusun berdasarkan metode ilmiah, yaitu metode yangsistematis, objektif, komprehensif, dan rasional. Melaksanakan program Pendidikan Anak Usia DiniProgram pendidikan anak usia dini ini berdasarkan pada hadits dan isyarat Rasulullah Saw yangterkait dengan membangun rumah tangga, serta berbagai kewajiban orang tua terhadap anaknya.Rasulullah Saw misalnya menganjurkan agar seorang pria memilih wanita calon istri yang taatberagama, shalehah, dan berakhlak mulia. Menikahi sesuai dengan tuntunan agama danmenggaulinya dengan cara yang makruf, yaitu etis, sopan, dan saling mencintai danmanyayanginya. METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 3 ]
  • 4. Kemudian suami istri banyak berdoa kepada Allah pada saat istri mengandung (hamil), yaknidoa agar dikaruniai anak yang shaleh dan shalehah, mendekatkan diri kepada Allah denganbanyak beribadah, amal shaleh dan berakhlak mulia, serta memelihara kesehatan fisik denganmakan yang halal dan bergizi, serta istirahat yang cukup.Selanjutnya, mengazani pada telinga kanan, dan mengikomati pada telinga kiri pada saat bayilahir, memberi makanan yang halal, baik dan bergizi, seperti madu, kurma dan air susu ibu,memberi nama yang baik, mencukur rambutnya, membiasakan bertingkah laku sopan terhadaporang tua, kakek, nenek dan saudara-saudaranya, memberikan perhatian dan kasih saying cukup,mengajari bacaan al Qur‟an, membisakan shalat, dan mencegah serta memeliharanya daripergaulan dan pengaruh buruk. Semua perlakuan suami istri terhadap anaknya ini memiliki artidan fungsi yang sangat besar bagi tumbuhnya pribadi anak yang shaleh dan shalehah, sertaberkepribadian yang utuh dan sempurna. Mengeluarkan manusia dari kehidupan dzulumat (kegelapan) kepada kehidupan yang terang benderang.Hal ini sejalan dengan berfirman firman Allah berikut:“Alif, laam raa. (Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkanmanusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu)menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”[4]“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu),supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah DiaMaha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (al Quran) supaya Diamengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. dan Sesungguhnya Allah benar-benar MahaPenyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu.”[5]Berdasarkan pada ayat-ayat tersebut, terdapat beberapa catatan sebagai berikut: Pertama, adanyaperintah Allah kepada Nabi Muhammad agar mengeluarkan manusia dari kegelapan kepadacahaya yang terang benderang. Kegelapan pada ayat ini dapat mengandung arti kebodohan,karena orang yang bodoh tidak dapat menjelaskan berbagai hal dalam kehidupan yang amat luasdan kompleks. Adapun cahaya yang terang benderang dapat diartikan ilmu pengetahuan, karenadengan ilmu pengetahuan itulah semua kejadian dan peristiwa dalam kehidupan dapat dijelaskan.Di kalangan ulama terdapat pemikiran yang mengibaratkan ilmu seperti cahaya, dan dengancahaya ini kehidupan menjadi bermakna, berkualitas, dan memperoleh kemudahan. Misi NabiMuhammad Saw ini selanjutnya diamanatkan kepada para ulama, termasuk kepada pendidik.Kedua, bahwa sumber ilmu pengetahuan (cahaya) yang dapat mengeluarkan manusia darikegelapan tersebut yaitu al Qur‟an yang telah banyak dikaji isi dan kandungannya oleh paraulama. Al Qur‟an juga bukan hanya bicara masalah urusan keakhiratan, tetapi urusan duniawi;bukan hanya berisi ajaran yang berkaitan dengan pembinaan spiritual dan moral, malainkan juga METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 4 ]
  • 5. pembinaan intelektual, sosial, dan jasmani. Seluruh aspek kehidupan manusia dibina secara utuhdan manyeluruh secara seimbang, harmonis, serasi dan proporsional. Memberantas sikap JahiliyahHal ini sejalan dengan firman Allah berikut:“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombonganJahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orangmukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengankalimat takwa itu dan patut memilikinya. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”[6]Menurut Imam al Maraghi bahwa ayat ini turun berkaitan dengan perjanjian Hudaibiyah. Sikapjahiliyah juga dapat dilihat dari kekeliruan pola pikir (mindset) yang mereka terapkan dalamkehidupan. Mereka, misalnya menjadikan sesuatu yang sesungguhnya tidak dapat memberikanmanfaat apa pun, sebagai Tuhan. Mereka menyembah patuh berhala, memuja benda-benda alam,dan sebagainya. Mereka sungguh tidak cerdas, karena dengan menyembah berbagai patungberhala tersebut berarti merendahkan diri mereka sendiri. Seungguh pun benda-benda tersebutmengandung berbagai keistimewaan, seharusnya dilihat sebagai kekuasaan Tuhan, bukan untukdisembahnya.Sikap jahiliyah juga dapat dilihat dari pola pikir mereka yang mengangap benda-bendakeduniaan yang tidak kekal sebagai sesuatu yang dipuja-puja dan diagungkan, bahkandipertahankannya walau pun harus mengorbankan jiwa, raga, memutuskan tali kekeluargaan,bahkan menolak kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Dengan demikian, maknajahiliyah bukan berarti bodoh dalam arti idiot, melainkan bodoh dalam arti memilih pola pikiryang keliru. Yaitu lebih memilih harta, takhta, dan kasta, dari pada kebenaran yang akanmenyelamatkan kehidupannya di dunia dan akhirat. Menyelamatkan manusia dari tepi jurang kehancuran yang disebabkan karena pertikaianKetika Islam datang, keadaan dunia seperti baru saja dilanda „gempa‟ dan „tsunami‟. Kehidupanmereka dalam bidang sosial, ditandai oleh adanya kelompok suku, kabilah, dan etnis yang antarasatu dan lainnya tidak bersatu dan sering berperang. Dalam bidang politik, ditandai olehkekuasaan otoriter dan diktator yang didasarkan pada ketinggian dalam bidang harta, tahta, dankasta. Dalam ekonomi, ditandai oleh praktek riba, monopoli, rentenir, saling menipu satu samalain. Dalam bidang budaya, ditandai oleh budaya yang memuaskan hawa nafsu. Dalam bidangpendidikan dan ilmu pengetahuan, ditandai oleh keterbatasan dan monopoli kaum elite.Pendidikan dan ilmu pengetahuan hanya milik kaum elite, sedangkan rakyat pada umumnyadibiarkan dalam keadaan bodoh. Dalam bidang agama, ditandai oleh praktek syirik memujaselain Allah.Keadaan masyarakat seperti inilah yang dihadapi oleh Nabi Muhammad Saw di Mekkah danMadinah pada khususnya, dan di dunia pada umumnya. Masyarakat tersebut berhasil diperbaikidan diluruskan oleh Nabi Muhammad Saw dalam waktu yang relatif singkat. Misi kerasulan METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 5 ]
  • 6. Nabi Muhammad oleh para ahli sejarah dinilai sebagai yang paling berhasil dibandingkandengan misi kerasulan yang dibawa oleh para nabi dan rasul lainnya. Melakukan pencerahan batin kepada manusia agar sehat rohani dan jasmaninyaHal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:“Dan Kami turunkan dari al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orangyang beriman dan al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selainkerugian.”[7]Ayat tersebut berbicara tentang salah satu misi Rasulullah Saw yang terkandung dalam alQur‟an, yaitu memperbaiki mental dan pola pikir (mindset) masyarakat, sebagai modal utamabagi perbaikan di bidang lain. Islam mengingatkan bahwa antara jiwa dan raga memilikihubungan fungsional simbiotik, yaitu saling menopang dan mempengaruhi. Jiwa yang sehat akanmempengaruhi fisik, dan fisik yang sehat akan mempengaruhi jiwa.Dengan demikian, jika jiwa yang sakit, seperti jiwa yang di dalamnya terdapat penyakit munafik,buruk sangka, iri hati, dengki, dendam, sombong, merasa paling hebat (‘ujub), suka berdusta,fitnah, adu domba, dan sebagainya, maka keadaan masyarakat menjadi kacau balau. Keadaanjiwa yang demikian itulah yang diperbaiki oleh Rasulullah Saw melalui kegiatan pendidikan. Menyadarkan manusia agar tidak melakukan perbuatan yang menimbulkan bencana di muka bumi, seperti permusuhan dan peperanganHal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya danberdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”[8]Sebagai akibat dari jiwa yang sakit, sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka terjadilahberbagai perbuatan dan tindakan yang merusak masyarakat, seperti mengadu domba, memfitnah,saling menipu, menyerang, menjarah, menjajah, berperang, dan sebagainya. Alam dengan segalakekayaannya dapat menjadi rusak jika berada di tangan orang-orang yang sakit jiwanya, yakniorang yang tamak, serakah, boros, berlebih-lebihan, dan sebagainya. Keadaan inilah yangberhasil diubah oleh Rasulullah Saw. Mengangkat harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumiHal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dandi lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengankelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”[9] METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 6 ]
  • 7. Ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam struktur fisik dan psikis yanglengkap dan sempurna. Manusia memiliki pancaindra yang lengkap, serasi, dan proporsionalletaknya. Manusia memiliki akal (kemampuan berpikir), hati nurani, kecerdasan, bakat, minat,perasaan sosial, dan sebagainya. Dengan kelengkapan jasmani dan rohani inilah, manusia dapatmengerjakan tugas-tugas yang berat, menciptakan kebudayaan dan peradaban, menguasaidaratan, lautan dan udara, dan sebagainya. Semua ini terjadi jika berbagai potensi manusiatersebut dibina dan dikembangkan melalui pendidikan.Tujuan Pendidikan Islam Rasulullah SawManusia yang berakhlak mulia harus menjadi sasaran proses pendidikan Islam karena itulah jugasebagai tujuan utama pendidikan Islam Rasulullah Saw. Berkenaan dengan akhlak mulia sebagaitujuan pendidikan dapat dilihat dari ayat dan hadits-hadits berikut ini:“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”[10]Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untukmenyempurnakan kemuliaan akhlak.”[11]Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah Saw berkata: “Sesungguhnya Allah mengutusku dengantugas membina kesempurnaan akhlak dan kebaikan pekerjaan.”[12]Abdullah bin Amr, berkata bahwa Rasulullah Saw bukan seorang yang keji dan bukan pulabersikap keji. Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang palingbaik akhlaknya.”[13]Berdasarkan ayat dan hadits-hadits di atas menunjukkan dengan tegas bahwa tujuan utamapendidikan Rasulullah Saw adalah memperbaiki akhlak manusia. Beliau melaksanakan tujuantersebut dengan cara menghiasi dirinya dengan berbagai akhlak yang mulia dan menganjurkanagar umatnya senantiasa menerapkan akhlak tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Bahkansecara tegas, beliau menyatakan bahwa kualitas iman seseorang itu dapat diukur dengan akhlakyang ditampilkannya.[14] Itu berarti bahwa semakin bagus kualitas iman seseorang akansemakin baik pula akhlaknya. Dengan kata lain, akhlak seseorang yang jelek merupakanpertanda bahwa imannya tidak bagus.Rasulullah Saw adalah perwujudan riil “al Qur‟an yang berjalan”. Diriwayatkan oleh Muslim,bahwa ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah maka beliau menjawab, “AkhlakRasulullah adalah al Qur‟an.” Untuk itulah, Rasulullah diperintahkan untuk membentuk alQur‟an, al Qur‟an berjalan atau manusia-manusia rabbani, yaitu manusia-manusia yang memilikiakhlak mulia berdasarkan nilai-nilai rabbaniyyah (Ketuhan-an).Rasulullah Saw telah memperlihatkan akhlak yang mulia sepanjang hidupnya. MuhammadAthiyah al Abrasyi mengemukakan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah yang paling baiktingkah lakunya, pemuda yang paling bersih, manusia yang paling zuhud dalam hidupnya, hakimyang paling adil dalam memutuskan perkara, prajurit yang paling berani dalam membela METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 7 ]
  • 8. kebenaran, ikutan yang terbaik bagi orang-orang saleh dan para pendidik. Pribadi beliaumerupakan presentasi akhlak yang sesuai dengan al Qur‟an.Mukhtar Yahya berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah memberikan pemahamanajaran-ajaran Islam pada peserta didik dan membentuk keluhuran budi pekerti sebagaimanatujuan Rasulullah Saw sebagai pengemban perintah menyempurnakan akhlak manusia, untukmemenuhi kebutuhan kerja.Bila tujuan utama Rasulullah Saw adalah menyempurnakan kemuliaan akhlak, maka prosespendidikan seyogianya diarahkan menuju terbentuknya pribadi dan umat yang berakhlak mulia.Hal ini sesuai dengan penegasan Allah bahwa Nabi Muhammad Saw adalah teladan utama bagiumat manusia.[15] Untuk mencapai hal itu, akhlak mulia harus ditegaskan dalam formulasitujuan pendidikan.Islam sebagai agama yang seimbang, mengajarkan bahwa setiap usaha yang dilakukan manusiatidak hanya melibatkan peran manusia semata, melainkan juga melibatkan peran Tuhan. NabiMuhammad Saw menggambarkan proses pendidikan seperti sebuah kegiatan bertani. Jikaseorang petani ingin mendapatkan hasil pertanian yang baik, maka ia harus menyiapkan lahanyang subur dan gembur, udara dan cuaca yang tepat, air dan pupuk yang cukup, bibit yangunggul, cara menanam yang benar, pemeliharaan dan perawatan tanaman yang benar danintensif, waktu dan masa tanam yang tepat dan cukup. Namun meski berbagai usaha tersebuttelah dilakukan, tetapi belum dapat menjamin seratus persen bahwa hasil pertanian tersebut akanberhasil dengan baik.Tanah yang subur dan gembur serta bibit yang unggul dapat digambarkan seperti bakat danpotensi peserta didik yang bersifat internal. Adapun cara menanam yang benar, pemeliharaan danperawatan yang tepat dan intensif dan pemberian pupuk yang cukup dapat digambarkan sepertiusaha dan program pendidikan yang dilakukan oleh sekolah dan guru. Adapun keberhasilanpertanian menggambarkan peranan Tuhan. Dengan demikian, maka pendidikan Islam menganutpaham teo-anthropo centris, yaitu memusatkan pada perpaduan antara kehendak Tuhan danusaha manusia.Dengan demikian, pendidikan Islam seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yangseimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui pelatihan spiritual, kecerdasan, rasio,perasaan, dan panca indera. Oleh karena itu, pendidikan Islam seharusnya pelayanan bagipertumbuhan bagi manusia dalam segala aspeknya yang meliputi aspek spiritual, intelektual,imajinasi, fisik, ilmiah, linguistik, baik secara individu, maupun secara kolektif dan memotivasisemua aspek tersebut kepada kebaikan dan pencapaian kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikanbertumpu pada terealisasinya ketundukan kepada Allah baik dalam level individu, komunitas,dan manusia secara luas.[1] QS. Al Anbiya‟ (21): 107[2] QS. Al Alaq (96): 1-5 METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 8 ]
  • 9. [3] Shahih al Bukhari dan Shahih Muslim[4] QS. Ibrahim (14): 1[5] QS. Al Hadid (57): 9[6] QS. Al Fath (48): 26[7] QS. Al Isra‟ (17): 82[8] QS. Al A‟raf (7): 56[9] QS. Al Isra‟ (17): 70[10] QS. Al Qalam (68): 4[11] HR. al Baihaqi. Sunan al Baihaqi. Juz 2, 472, dalam al Maktabah al Syamilah[12] HR. Al Thabrani. al Mu’jam al Awsath, Juz 7, 74, dalam al Maktabah al Syamilah[13] Shahih al Bukhari, Juz 4, no. 2444 dan Shahih Muslim, Juz 4, no. 1810[14] Sesuai dengan maksud hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad (lihatAbu Daud, Juz 13: 412; Turmizi, Juz 5: 5; dan Ahmad, Juz 16: 138)[15] Lihat juga QS. Al Ahzab (33): 21 -------------------------------------- METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 9 ]
  • 10. [ II ] PENDIDIKAN ANAK METODE RASULULLAH S.A.W (USIA 0 – 3 TAHUN)Berdoa Untuk Anak Saat Masih dalam Sulbi AyahRasulullah bersabda, “Seandaianya salah seorang diantara kalian sebelum menggauli istrinyaberdoa:“Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan darianak yang engkau anugerahkan kepada kami, lalu dari keduanya lahir anak, setan tidak akandapat mengganggunya selamanya.”[1]Anjuran berdoa sebelum berhubungan suami-istri menunjukkan bahwa permulaan yang kitalakukan dalam berketurunan bersifat rabbani, bukan syaithani. Apabila disebutkan nama Allahpada permulaan senggama, berarti hubungan yang dilakukan oleh suami-istri tersebutberlandaskan ketakwaan kepada Allah dan dengan izin Allah anaknya nanti tidak akan diganggusetan.Zikir Untuk Keselamatan Bayi yang Akan DilahirkanRasulullah memberi petunjuk kepada Asma‟ dengan bersabda, “Maukah engkau aku ajaribeberapa kata yang bisa kau ucapkan saat dalam kekhawatiran (yaitu doa untuk memperlancarpersalinan). Ucapkanlah:“Allah, Allah rabbku. Aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”[2]Apabila keguguran terjadiDari Muadz bin Jabal, Rasulullah bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya,sesungguhnya bayi yang gugur benar-benar akan menarik ibunya dengan tali pusarnya ke surgabila ibunya rela dengan itu (ibunya bersabar dengan kehilangan anaknya).”[3]Azan di Telingan Kanan Bayi Baru LahirAbu Rafi‟ berkata, “Aku melihat Rasulullah mengumandangkan azan di telinga Hasan bin Alisaat baru dilahirkan oleh Fatimah.”[4] Ibn Qayyim berkata bahwa hikmah azan dan iqamah ditelinga bayi yang baru lahir adalah agar suara pertama yang didegar adalah seruan yangmengandung makna keagungan Allah serta syahadat.[5] METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 10 ]
  • 11. Berita Gembira Kelahiran BayiUcapan selamat dan hadiah atas kelahiran bayi jelas akan menyenangkan keluarga bayi yangbaru lahir dan akan menimbulkan suasana gembira, serta mempererat tali kasih dan ikatanpersatuan antara sesama kaum muslimin.Mentahnik Bayi dengan Kurma dan MendoakannyaDiriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah sering didatangi para orang tua yang membawabayinya untuk dimintakan berkah dan ditahnik.[6] Langkah-langkah Rasulullah mentahnik bayiyaitu: 1) sepotong kurma, 2) dikunyah-kunyah seperlunya, 2) buka mulut bayi, dan suaapkankurma tersebut sambil digosok-gosok dilangit-langit mulut bayi.[7]Membentangi Bayi dengan Zikir dan Bersyukur kepada AllahDari Anas, Rasulullah bersabda, “Allah tidak sekali-kali menganugerahkan suatu nikmat kepadahamba-Nya, lalu ia mengucapkan, „Segala puji hanya miliki Allah Rabb semesta alam‟,melainkan apa yang diberikan lebih baik dari pada yang diambil-Nya‟.”[8]Bila ada bayi yang baru lahir diantara keluarganya, Aisyah tidak bertanya, “Laki-laki atauperempuan?” Tapi ia bertanya, “Apa organ tubuhnya sempurna (lengkap)?” Bila dijawab “Iya”,ia berkata, “Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam.”[9]Memberikan Hak Waris Untuk Bayi yang Baru LahirJabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah telah memutuskan bahwa bayi tidak boleh diberikan hakwaris sebalum ia lahir dalam keadaan menangis (maksudnya: menangis dan menjerit ataubersin).”[10] Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Bila bayi yang baru dilahirkan menangis,ia berhak mendapatkan warisan.”[11]Kewajiban Zakat Fitrah atas Nama Bayi yang Baru LahirIbnu Umar berkata, “Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan atas setiapindividu kaum muslimin, baik yang merdeka maupun budak, baik laki-laki maupun perempuan,baik masih bayi maupun sudah dewasa, yaitu satu sha‟ kurma atau satu sha‟ gandum.”[12]Menyayangi, Meski Lahir dari Hasil PerzinaanAda wanita dari Bani Ghamidiyah yang datang kepada Rasulullah dan mengaku bahwa dirinyatelah mengandung dari perzinaan, beliau bersabda kepadanya, “Pulanglah sampai kamumelahirkan.” Setelah melahirkan, ia datang lagi seraya menggendong bayinya dan berkata,“Wahai Nabi Allah, bayi ini telah saya lahirkan.” Akan tetapi, Rasulullah bersabda kepadanya,“Pulanglah, susuilah ia sampai kamu menyapihnya.” Setelah wanita itu menyapihnya, ia datangdengan membawa bayinya yang sedang memegang sepotong roti di tangan. Ia berkata, “WahaiNabi Allah, bayi ini telah saya sapih dan kini ia sudah bisa makan sendiri.” Rasulullah punmemerintahkan agar bayi itu diserahkan kepada salah seorang lelaki dari kaum muslimin dan METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 11 ]
  • 12. memerintahkan agar dibuatkan galian sebatas dada untuk menanam tubuh wanita itu. Kemudianbeliau memerintahkan kepada orang-orang untuk merajamnya dan mereka pun segeramerajamnya.[13]Itulah kasih sayang Rasulullah terhadap anak hasil zina dan keinginan beliau yang kuat agar bayiitu tidak terlantar. Apa dosa anak yang baru lahir itu hingga ia harus menanggung konsekuensiperbuatan dosa orang tuanya?Merayakan Kelahiran Bayi dengan AqiqahDari Samurah bin Jundub, Rasulullah bersabda, “Smua anak itu tergadaikan dengan aqiqahnyayang disembelih pada hari ketujuh. Rambutnya dicukur dan ia dinamai.”[14] Dari Salman binAmir, Rasulullah bersabda, “Anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Karena itu, sembelihlahuntuknya dan jauhkanlah gangguan darinya.”[15]Ummu Kurz pernah bertanya kepada Rasulullah, maka beliau menjawab, “Untuk bayi laki-lakidua kambing (yang sepadan) dan untuk bayi perempuan satu kambing, baik kambing jantanmaupun betina tidak ada masalah bagimu.”[16]Abdullah bin Buraidah berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, „Pada masa Jahiliyah dulu,bila ada bayi yang baru dilahirkan, kami menyembelih kambing dan melumurkan darah kambingitu di kepala sang bayi. Setelah Allah menurunkan agama Islam, kami diperintahkan untukmenyembelih kambing dan mencukur rambutnya serta melumurinya dengan minyakza‟faran‟.”[17]Memberi Nama Yang BaikIslam selalu menginginkan kemudahan, bahkan dalam persoalan pemberian nama. Islam tidakmenginginkan kesulitan dalam hal pemberi nama. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dalam sabdaRasulullah. Beliau bersabda, “Nama yang paling disenangi Allah adalah Abdullah dan Hammam,sedangkan nama yang paling buruk adalah Harb dan Murrah.”[18]Ibnu Umar menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Sungguh, nama seseorang diantara kalianyang paling disenangi oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.”[19]Mencukur Rambut Bayi, Dibersihkan, dan Dihilangkan Kotorannya pada Hari KetujuhKetika mencukur rambut bayi sebaiknya tidak mencukurnya seperti pelangi. Al Qaza‟ artinyamencukur sebagian rambut bayi dan membiarkan sebagian yang lainnya di beberapa bagiantanpa dicukur sehingga mirip pelangi.Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah melarang Qaza‟. Aku bertanya kepada Nafi‟,“Apakah Qaza‟ itu?” Nafi‟ menjawab, “Mencukur sebagian rambut bayi dan membiarkansebagian yang lain.”[20] METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 12 ]
  • 13. Makna yang dimaksud dan yang menjadi tuntunan ialah mencukur rambut kepada secarakeseluruhan, karena mencukur sebagian dan membiarkan sebagian yang lain bertentangandengan kepribadian seorang muslim yang seharusnya berbeda dengan kepribadian pemelukagama lain (kafir).Bercengkrama dengan Lidah dan MulutAbu Hurairah bercerita, “Rasulullah keluar ke pasar Bani Qainuqa‟ sambil berpegangan padatanganku. Beliau berjalan mengelilingi pasar kemudian pulang dan duduk di masjid dengankedua tangan merangkul lutut. Beliau bertanya, „Mana si kecil yang lucu itu? Panggilkan diaagar datang kepadaku.‟ Al Hasan pun datang berlari, lalu langsung melompat ke pangkuannya.Rasulullah mencium mulutnya, kemudian berdoa, „Ya Allah, aku sungguh mencintainya. Makacintailah dia dan cintailah orang yang mencintainya (tiga kali)‟.” Abu Hurairah berkata, “Setiapkali melihat Al Hasan, aku menangis.”[21]Memberi Julukan Ayahnya dengan Nama AnakAbu Syuraih menceritakan bahwa pada awalnya dia bernama Abul Hakam. KamudianRasulullah bersabda kepadanya, “Sesungguhnya Allah, Dialah hakim yang memutuskan danhanya kepada-Nyalah semua keputusan.”[22]Kapan Menghitankan Anak ?Abu Hurairah berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, „Fitrah itu ada lima, yaitu:khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut buluketiak.”[23]Makhul mengatakan, “Ibrahim menghitankan anaknya, Ishaq, saat itu berusia 7 hari, danmengkhitankan Ismail pada usia 13 tahun. Demikianlah seperti yang disebutkan oleh AlKhalil.”[24]Sayangi di Kala Sakit, Maklumi Kalau NgompolUmmu Qais binti Mihshan berkata, “Aku pernah menemui Rasulullah dengan membawa bayikuyang masih belum makan makanan apa pun. Tiba-tiba ia kencing di pangkuan beliau. Baliau punmeminta air dan langsung menyipratkannya ke bagian yang terkena kencing (tanpamencucinya).”[25]Usamah bin Zaid berkata, “Rasulullah pernah mengambil dan mendudukanku di atas satu pahabeliau dan mendudukkan Al Hasan di atas paha beliau yang lain. Kemudian beliau memelukkami berdua dan berdoa, „Ya Allah, sayangilah keduanya karena aku sungguh menyayangikeduanya‟.”[26] METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 13 ]
  • 14. Kewajiban Menyusui dan Menjamin Nafkah AnakWahai para ibu, berikanlah kasih sayangmu kepada anakmu, susuilah ia dengan air susumu agarengkau dapat menyempurnakan makna ibu yang engkau sandang dan agar engkau mendapatkanpahala. Didiklah sendiri anakmu sesuai dengan manhaj Rasulullah. Lihatlah QS. Al Baqarah:233 dan Ath Thalaq: 7.Wahai ibu, cobalah engkau perhatikan. Apakah engkau pernah melihat burung, hewan lain, atausemua makhluk yang berstatus sebagai ibu pernah meninggalkan anaknya saat masih bayi danmenyingkir darinya? Sungguh merupakan perangai yang buruk bila hewan yang tidak berakalsaja tidak meninggalkan anaknya yang masih kecil, sedangkan manusia yang berakal relameninggalkan anaknya dan dipercayakan kepada orang lain.Umar Memperhatikan Anak Sejak LahirSuatu malam Umar mendengar tangisan seorang bayi. Maka Umar berkata kepada ibunya,“Susuilah dia.” Ibu si anak, yang tidak menyadari bahwa yang menyuruhnya adalah Umar,menjawab, “Amirul Mukminin tidak memberikan santunan untuk bayi yang baru lahir sampaimasa penyapihannya.” Umar berkata dalam hatinya, “Aku hampir saja membunuh anak itu.”Setelah itu ia berkata, “Susuilah dia, nanti Amirul Mukminin pasti akan memberikan santunanuntuknya.” Sesudah itu, Umar mulai menetapkan santunannya untuk bayi yang baru lahir.Dengan demikian, tangis seorang bayi sanggup mengubah keputusan seorang kepala negara yangbernama Umar bin Khattab.Boleh Menangisi Kematian Bayi dan Mengucapkan Belasungkawa Kepada KeluarganyaAnas berkata, “Kami masuk bersama Rasulullah lalu beliau mengambil putranya, Ibrahim, danlangsung menciumnya. Setelah itu kami masuk lagi pada hari yang lain. Ibrahim saat itu sedangameregang nyawa. Air mata Rasulullah berlinang, sehingga Abdurrahman bin Auf berkata,“Wahai Rasulullah engkau juga menangis?” Beliau menjawab, “Wahai Abdurrahman (beliaumenangis lagi) mata ini menangis dan hati ini bersedih tetapi kami tidak mengatakan kecualiyang diridhai oleh Rabb kami. Sesungguhnya kami, wahai Ibrahim, benar-benar sedih karenaberpisah denganmu.”[27]Mendoakan Anak Secara Khusus Saat Menshalatkan JenazahnyaSa‟id bin Musyyab berkata, “Aku pernah shalat di belakang Abu Hurairah yang sedangmenshalatkan jenazah anak kecil yang belum pernah melakukan suatu dosa pun. Aku mendengarAbu Hurairah mengucapkan doa berikut:“Ya Allah, lindungilah anak ini dari azab kubur.”[28] METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 14 ]
  • 15. Anak yang Meninggal Ketika Masih Kecil Akan Masuk SurgaAisyah berkata, “Rasulullah diundang untuk melayat jenazah seorang anak kecil dari kalanganAnshar. Aku (Aisyah) berkata, „Wahai Rasulullah, alangkah beruntungnya anak ini. Ia salah satuburung diantara burung-burung di surga. Ia tidak pernah berbuat keburukan dan belum pernahmenemuinya.‟ Rasulullah bersabda, „Apakah engkau tahu yang selain itu, wahai Aisyah?Sesungguhnya Allah menciptakan penghuni surga yang telah Dia tetapkan untuknya saat merekamasih berada di tulang sulbi ayah mereka pula. Dan Dia menciptakan penghuni neraka yangtelah Dia tetapkan untuknya saat mereka masih berada di tulang sulbi ayah mereka pula.”[29]Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Anak-anak kaum muslimin itu berada disebuah gunung di surga. Mereka diasuh oleh Ibrahim dan Sarah sampai mereka dikembalikankepada ayah-ayah mereka pada hari kiamat.”[30]Syafaat Anak Bagi Kedua Orang Tua yang Sabar Atas Kematian AnaknyaAbu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Tidaklah sekali-kali sepasang muslimditinggal mati oleh ketiga orang anaknya yang belum baligh, melainkan Allah akan memasukkankeduanya bersama anak-anak mereka ke dalam surga berkat karunia dan rahmat-Nya.” AbuHurairah melanjutkan, “Dikatakan kepada anak-anak tersebut, „Masuklah kalian ke dalamsurga!‟ Anak-anak itu menjawab, „Kamu menunggu kedua orang tua kami‟. Perintah itu diulangitiga kali, tetapi mereka mengeluarkan jawaban yang sama. Akhirnya, dikatakan kepada mereka,„Masuklah kalian bersama kedua orang tua kalian ke dalam surga‟.”[31]Tidak Mendapat Anak di Dunia, Mendapatkannya di AkhiratAbu Sa‟id berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin itu bila sangat menginginkananak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya, dantumbuh besar dalam sekejab, sebagaimana ia menginginkannya.”[32]Mempercepat Shalat Karena Mendengar Tangisan AnakAnas mengatakan, “Aku belum pernah shalat di belakang seorang imam yang lebih singkat danlebih sempurna shalatnya, selain Rasulullah. Jika beliau mendengar suara tangisan anak, beliaumempercepat shalatnya karena khawatir akan mengganggu shalat ibunya.”[33]Memanggil Anak dengan Julukan Sebagai PenghormatanAnas pernah mengatakan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling baik akhlaknya. “Akupunya seorang saudara laki-laki yang dikenal dengan nama panggilan Abu Umair dan setahukuia sudah disapih. Bila Rasulullah datang, beliau selalu menyapanya dengan panggilan, „Hai AbuUmair‟.”[34] METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 15 ]
  • 16. Memanggil dengan Panggilan yang BaikAbu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah sekali-kali seseorang diantara kalian mengatakan, „Hai budak laki-laki! Hai budak perempuan!‟ karena kamu semua,baik laki-laki maupun perempuan, adalah hamba-hambda Allah…”[35]Mengajak Shalat BerjamaahAbdullah bin Syaddad berkata, “Rasulullah keluar dari rumahnya menemui kami yang sedangmenunggu beliau untuk shalat (Maghrib atau Isya‟), sedangkan beliau menggendong Hasan atauHusein. Rasulullah maju dan meletakkan cucunya, kemudian melakukan takbir shalatnya. Dalamsalah satu sujud dari shalat itu, beliau lama sekali melakukannya.” Ayah perawi mengatakan,“Maka kuangkat kepalaku, ternyata kulihat anak itu berada di atas punggung Rasulullah yangsedang dalam sujudnya. Sesudah itu aku kembali ke sujudku. Setelah Rasulullah menyelesaikanshalatnya, orang-orang bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah melakukansujud dalam shalatmu yang begitu lama, sehingga kami mengira terjadi sesuatu pada dirimukarena ada wahyu yang diturunkan kepadamu.” Rasulullah menjawab, “Semuanya itu tidakterjadi, melainkan anakku ini menunggangiku sehingga aku tidak suka bila menyegerakannyauntuk turun sebelum dia merasa puas denganku.”[36]Abu Qatadah Al Anshari meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah shalat sembari menggendongUmamah binti Zainab binti Rasulullah. Apabila sujud, beliau meletakkan cucunya itu ke tanahdan apabila bangun, beliau menggendongnya kembali.”[37]Mengajarkan Kalimat Tauhid pada AnakAnak kecil yang belum belajar berbicara itu ketika mendengar kalimat-kalimat azan, ia akanmenirunya. Bahkan ia akan selalu memperhatikannya saat orang-orang dalam kelalaian. Maka iatanpa sadar telah berusaha mengucapkan kalimat tauhid. Karena itu, seorang guru hendaknyamembiasakan anak yang masih belum bisa bicara tersebut agar mengucapkan kalimat tauhid.Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Ajarkanlah kepada anak-anak kelianpada permulaan bicaranya ucapan „laailaha illallah‟ dan ajarilah ia agar di akhir hayatnyamengucapkan „laailaha illallah‟.”[38]Rasulullah Pernah Menghentikan Ktatbah dan Meninggalkan Mimbar Untuk MenyambutAnak Kecil yang Berjalan Tertatih-tatihAbdullah bin Buraidah telah meriwayatkan dari ayahnya yang berkata, “Ketika Rasulullahsedang berkathbah kepada kami, tiba-tiba datanglah Hasan dan Husein yang keduanyamengenakan gamis berwarna merah dengan langkah tertatih-tatih. Rasulullah pun langsung turundari mimbarnya lalu menggendong dan meletakkan keduanya di hadapan beliau. Kemudianbeliau membaca QS. Ath Thaghabun: 15 dan bersabda, „Ketika aku memandang kedua anak iniberjalan dengan langkah tertatih-tatih, aku tidak sabar hingga kuhentikan khatbahku untukmenggendong keduanya.”[39] METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 16 ]
  • 17. Memperhatikan Penampilan dan Potongan Rambut AnakNafi‟ dan Ibnu Umar bahwa Rasulullah melihat seorang anak kecil telah dicukur di sebagian sisikepalanya dan dibiarkan pada sisi lain. Beliau pun melarang hal itu dan bersabda, “Cukurlahsemua atau biarkanlah semua.”[40]Abdullah bin Ja‟far meriwayatkan bahwa Rasulullah mengurungkan diri untuk mendatangikeluarga Ja‟far sebanyak tiga kali, lalu beliau mendatangi mereka. Beliau bersabda, “Janganlahkalian menangisi saudaraku setelah hari ini.” Beliau bermaksud agar hari berkabung disudahi.Kemudian beliau bersabda, “Panggilkanlah keponakan-keponakanku kemari.” Maka kami pundatang dan rasa takut kami seperti hilang. Beliau bersabda, “Panggillah tukang cukur kepadaku.”Maka beliau menyuruhnya agar mencukur rambut kami.[41]Menggendong di Pundak, Mengajaknya Naik KendaraanAbdullah bin Ja‟far berkata, “Apabila Rasulullah baru tiba dari perjalanan, beliau selaludisambut oleh anak-anak ahli ahli baitnya. Suatu hari beliau baru datang dari perjalanan dan akuadalah anak yang paling terdepan menyambutnya. Maka beliau langsung menaikanku didepannya, kemudian didatangkanlah salah seorang di antara kedua putra Fathimah, Hasan atauHusein lalu beliau memboncengnya di belakangnya, dan kami bertiga memasuki kota Madinahdi atas kendaraannya.”[42]Rasulullah pernah membawa Hasan dan Husein di kedua pundak beliau, lalu bersabda, “Sebaik-baik pengendara adalah keduanya, tetapi ayah keduanya lebih baik daripada keduanya.”[43]Segera Mencari Begitu Merasa KehilanganAbu Hurairah berkata, “Rasulullah menuju pasar Bani Qainuqa‟ sambil berpegangan padatanganku. Beliau berjalan mengelilingi pasar kemudian pulang dan duduk di masjid dengankedua tangan merangkul lutut. Beliau bertanya, „Mana si kecil yang lucu itu? Panggilkan diaagar datang kepadaku‟…”[44]Mengajarkan Etika BerpakaianAbdullah bin Amr bin Ash berkata, “Rasulullah pernah melihatku mengenakan sepasang pakaianyang dicelup dengan warna kuning. Kemudian Rasululah bersabda, “Apakah ibumu yangmemerintahkan kamu mengenakan pakaian ini?” Aku menjawab, “Apakah aku harus mencucikeduanya?” Beliau menjawab, “Tidak, tetapi keduanya harus dibakar.”[45]Anjuran Untuk Tersenyum dan Mencium Anak-anakAbu Hurairah berkata, “Rasulullah mencium Hasan, sedangakan dihadapan beliau saat itu ada AlAqra bin Habis yang sedang duduk. Al Aqra berkata, „Saya punya sepuluh anak, tetapi sayabelum pernah mencium seorang pun di antara mereka.‟ Rasulullah memandang ke arahnya danbersabda, „Barang siapa yang tidak punya rasa belas kasihan, niscaya tidak akan dikasihi‟.”[46] METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 17 ]
  • 18. Bercengkrama dengan Anak-anakYa‟la bin Marrah berkata, “Kami pernah keluar bersama Rasulullah lalu kami diundang untukmakan. Tiba-tiba, Husein bermain di jalan. Rasulullah pun segera mendahului orang-orang lalumembentangkan kedua tangan beliau. Anak itu berlari menghindar ke sana kemari. Rasulullahmencandainya hingga akhirnya beliau dapat menangkapnya. Satu tangan beliau memegang daguHusein dan tangan satu lagi memegang kepala lalu beliau memeluknya. Setelah itu, beliaubersabda, “Husein bagian dariku dan aku adalah bagian darinya. Allah mencintai orang yangmencintai Husein. Husein adalah satu dari cucu-cucuku.”[47]Rasulullah juga pernah berbaring lalu tiba-tiba Hasan dan Husein datang dan bermain-main diatas perut beliau. Mereka sering menaiki punggung beliau saat beliau sedang sujud dalamshalatnya. Bila para sahabat hendak melarang keduanya, beliau memberi isyarat agar merekamembiarkan keduanya.[48]Memberi Hadiah, Mendoakan dan Mengusap Kepala AnakIbnu Abbas menceritakan bahwa apabila Rasulullah menerima buah yang pertama masak, beliaumeletakkannya di kedua mata beliau lalu di mulut dan bersabda, “Ya Allah, sebagaimanaEngkau telah memperlihatkan kepada kami awalnya maka perhatikanlah juga akhirnya kepadakami.” Kemudian beliau memberikan buah itu kepada anak yang ada di dekat beliau.[49]Menanamkan Kejujuran dan Tidak Suka BerbohongAbdullah bin Amir berkata, “Ibuku memanggilku dan pada saat itu Rasulullah sedang berada dirumah kami. Ibuku berkata, „Kemarilah aku akan memberimu sesuatu.‟ Rasulullah bertanyakepada ibuku, „Apa yang akan engkau berikan kepadanya?‟ Ibuku menjawab, „Aku akanmemberinya buah kurma.‟ Rasulullah pun bersabda, „Ingatlah, jika engkau tidak memberinyasesuatu, hal itu akan dicatatkan sebagai kedustaan bagimu‟.”[50]Tidak Mengajarkan Kemungkaran Kepada AnakAli dan Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Pena itu diangkat dari tiga orang,yaitu: orang gila dan hilang akal hingga sembuh, orang tidur hingga bangun, dan anak-anakhingga baligh.”[51]Diantara kasih sayang Allah terhadap anak ialah Dia membebaskan mereka dari beban taklifpada masa kecil mereka. Meskipun anak itu masih kecil dan belum baligh, seseorang tidak bolehmengajarinya untuk berbuat maksiat. Misalnya, mengajarinya minum-minuman keras, berbuatkejahatan, merokok, berbuat buruk, mencela, mencaci, berucap cabul, dan perilaku serta ucapanburuk lainnya.Sumber:Syeih Jamal Abdurrahman dalam bukunya yang berjudul “Athfalul Muslimin KaifaRobaahumun Nabiyyul Amin Saw” yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 18 ]
  • 19. Agus Suwandi dengan Judul “Islamic Parenting, Pendidikan Anak Metode Nabi” Solo:Aqwam, 2010[1] Muttafaq Alaihi.[2] Abu Dawud dengan sanad hasan, 1525[3] Ibnu Majah, Kitab Janaiz, 1632[4] Abu Dawud, Kitab Adab, 5105 dan At Turmidzi, Kitab Adhahi, 1514[5] Tuhfatul Maudud, Ibnu Qayyim, 39[6] Muslim, Kitab Adab, 4000[7] Lihat Kitab Ash-Shahihain.[8] Al Hadits Al Mukhtarah: VI, 2197[9] Shahih Al Adabul Mufrad, 485[10] Shahih Ibnu Majah, 2240 dan Majmu‟uz Zawaid: IV, 225[11] Shahih Al Jami‟, 328[12] Muslim, 1639[13] Muslim, 3298[14] Shahih Al Jami‟, 4184; Ibnu Majah, Kitab Dzabaih, 3156; dan At Turmidzi, Kitab Adhahi,1442[15] Shahih Al Jami‟, 4185[16] At Turmidzi, Kitab Adhahi, 1435[17] Abu Dawud, Kitab Dhahaya, 2460 dan Fathul Bari: IX, 594[18] Shaihul Mufrad, 625; Ibnu Hajar dalam Fathul Bari: X, 578[19] Muslim, Kitab Adab, 3975[20] Muttafaq Alaih METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 19 ]
  • 20. [21] Muttafaq Alaih.[22] Abu Dawud, Kitab Adab, 4304 dan Nasa‟i, Kitab Adabul Qadha‟, 5292[23] Muttafaq Alaih.[24] Zadul Ma‟ad: II, 304[25] Muttafaq Alaih.[26] Bukhari, Kitab Adab, 5544; dan Ahmad, Musnadul Anshar, 20788[27] Muttafaq Alaih.[28] Muwattha‟, Kitab Janaiz, 480 dan Aunul Ma‟bad: VII, 362[29] Shahih Sunan Ibnu Majah, 67[30] Shahih Al Jami‟, 1023[31] Bukhari, Kitab Janaiz, 1171[32] Shahih Al Jami‟, 6649[33] Bukhari, Kitab Adzan, 667[34] Bukhari, Kitab Adab, 5375[35] Muslim, Kitab Al Alfazh Minal Adab, 9585[36] An Nasa‟i, Kitab Tathbiq, 1129[37] Muttafaq Alaih.[38] Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami‟, At Turmizi: VI, 46[39] At Turmizi, Kitab Manaqib, 3774; an Nasa‟i, Kitab Shalatil „Adhain, 1567[40] Abu Dawud, Kitab Tarajul, 3663[41] Abu Dawud, Kitab Tarajul, 3660[42] Muslim, Kitab Fadhailush Shahabah, 4455[43] Mu‟jamul Kabir: III, 2677 METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 20 ]
  • 21. [44] Takhrijnya telah disebutkan sebelumnya.[45] Muslim, Kitab Libas waz Zinah, 3873[46] Shahihul Adabul Mufrad, 67[47] As Silsilatush Shahihah, 312[48] Shahih Al Jami‟, 4797[49] Shahih Al Jami‟, 4644[50] Ahmad, Musnadul Makiyyin, 15247 dan Abu Dawud, Kitab Adab, 4339[51] Shahih Al Jami‟, 3512 -------------------------------------- METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 21 ]
  • 22. [ III ] PENDIDIKAN ANAK METODE RASULULLAH S.A.W (USIA 4 – 10 TAHUN)Menasihati dan Mengajari Saat Berjalan BersamaBerikut ini adalah kisah yang dituturkan Abdullah bin Abbas ketika diajak jalan bersamaRasulullah di atas kendaraan beliau. Dalam perjalanan ini, beliau mengajarkan kepadanyabeberapa pelajaran sesuai jenjang usia dan kemampuan daya pikirannya melalui dialog ringkas,langsung dan mudah. Rasulullah bersabda, “Nak, aku akan memberimu beberapa pelajaran:peliharalah Allah, niscaya Dia akan balas memeliharamu. Peliharalah Allah, niscaya kamu akanmenjumpai-Nya dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan jika kamumeminta pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya andaikata manusiapersatu padu untuk memberimu suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapatmemberikannya kepadamu, kecuali mereka telah ditakdirkan oleh Allah untukmu. Danseandainya mereka bersatu padu untuk menimpakan suatu bahaya kepadamu, niscaya merekatidak akan dapat membahayakanmu, kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah bagimu, penatelah diangkat dan lembaran catatan telah mengering.”[1]Menarik Perhatian Anak dengan Ucapan yang LembutAdakalanya Rasulullah memanggil anak dengan panggilan yang paling sesuai dengan jenjangusianya, seperti ungkapan, “Anak muda, sesungguhnya aku akan memberimu beberapapelajaran.” Dan seterusnya. Adakalanya beliau memanggil dengan sebutan, “Anakku” sepertibeliau lakukan kepada Anas saat turun ayat hijab, “Hai anakku, mundurlah kamu ke belakang.”Rasulullah menyebut anak-anak Ja‟far, putra pamannya, “Panggilkanlah anak-anak saudaraku.”Beliau pun menanyakan kepada ibunya, “Mengapa aku lihat tubuh keponakanku kurus-kurusseperti anak-anak yang sakit?”[2]Seseorang lebih terkesan bila dipanggil dengan julukan, gelar, dan predikat yang baik dari padanama aslinya. Tak terkecuali anak-anak. Ironisnya, yang sering kali kita dapati anak-anak yangdipanggil dengan julukan tidak enak didengar, seperti: gundul, gembrot, kribo, dan sebagainya.Menghargai Mainan Anak dan Jangan Melarangnya BermainApa yang akan Anda katakan ketika mengetahui bahwa Hasan bin Ali mempunyai anak anjinguntuk mainannya, Abu Umair bin Abu Thalhah mempunyai burung pipit untuk mainannya, danAisyah mempunyai boneka perempuan untuk mainannya. Setelah dinikahi Rasulullah, Aisyahmembawa serta boneka mainannya ke rumah beliau, bahkan Rasulullah mengajak semua teman-teman Aisyah ke dalam rumah untuk bermain bersama Aisyah. Realitas seperti ini menunjukkanpengakuan dari Rasulullah terhadap kebutuhan anak kecil terhadap mainan, hiburan danpemenuhan kecenderungan (bakat). METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 22 ]
  • 23. Al Ghazali mengatakan, “Usai keluar dari sekolah, sang anak hendaknya diizinkan untukbermain dengan mainan yang disuainya untuk merehatkan diri dari kelelahan belajar di sekolah.Sebab, melarang anak bermain dan hanya disuruh belajar terus, akan menjenuhkan pikirannya,memadamkan kecerdasannya, dan membuat masa kecilnya kurang bahagia. Anak yang tidakboleh bermain pada akhirnya akan berontak dari tekanan itu dengan berbagai macam cara.”[3] AlGhazali juga menambahkan, “Hendaknya sang anak dibiasakan berjalan kaki, bergerak, danberolah raga pada sebagian waktu siang agar tidak menjadi anak yang pemalas.”Tidak Membubarkan Anak yang Sedang BermainAnas berkata, “Pada suatu hari aku melayani Rasulullah. Setelah tugasku selesai, aku berkatadalam hati, „Rasulullah pasti sedang istirahat siang.‟ Akhirnya, aku keluar ke tempat anak-anakbermain. Aku menyaksikan mereka sedang bermain. Tidak lama kemudian, Rasulullah datangseraya mengucapkan salam kepada anak-anak yang sedang bermain. Beliau lalu memanggil danmenyuruhku untuk suatu keperluan. Aku pun segera pergi untuk menunaikannya, sedangkanbeliau duduk di bawah sebuah pohon hingga aku kembali….”[4]Selain penting bagi pertumbuhan mental dan fisik anak, permainan mereka perlukansebagaimana orang dewasa memerlukan pekerjaan. Pikirkanlah dahulu untuk membubarkanmereka saat bermain. Kalau untuk memperingatkan karena waktu yang tidak tepat ataumembahayakan diri dan orang lain, lakukan dengan penuh bijaksana.Tidak Memisahkan Anak dari KeluarganyaAbu Abdurrahman Al Hubuli meriwayatkan bahwa dalam suatu peperangan Abu Ayyub beradadalam suatu pasukan, kemudian anak-anak dipisahkan dari ibu-ibu mereka, sehingga anak-anakitu menangis. Abu Ayyub pun segera bertindak dan mengembalikan anak-anak itu kepada ibunyamasing-masing. Ia lalu mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Barang siapamemisahkan antara seorang ibu dan anaknya, niscaya Allah akan memisahkan antara dia danorang-orang yang dicintainya pada hari kiamat.”[5]Rasulullah juga melarang seseorang duduk di tengah-tengah antara seorang ayah dan anaknyadalam suatu majelis. Beliau bersabda, “Janganlah seseorang duduk di antara seorang ayah dananaknya dalam sebuah majelis.”[6]Jangan Mencela AnakAnas mengatakan, “Aku melayani Rasulullah selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernahmengatakan, „Ah,‟ tidak pernah menanyakan, „Mengapa engkau lakukan itu?‟ dan tidak pulamengatakan, „Mengapa engkau tidak melakukan itu?‟.”[7]Anas juga mengatakan, “Beliau tidak pernah sekali pun memerintahkan sesuatu kepadaku,kemudian akan manangguhkan pelaksanaannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorangdari ahli baitnya mencelaku, beliau justru membelaku, „Biarkanlah dia, seandainya hal ituditakdirkan terjadi, pastilah terjadi.” METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 23 ]
  • 24. Al Ghazali memberi nasihat, “Janganlah banyak mengarahkan anak dengan celaan karena yangbersangkutan akan menjadi terbiasa dengan celaan. Dengan celaan anak akan bertambah beranimelakukan keburukan dan nasihat pun tidak dapat mempengaruhi hatinya lagi. Hendaklahseorang pendidik selalu menjaga wibawa dalam berbicara dengan anak. Untuk itu, janganlah iasering mencela, kecuali sesekali saja bila diperlukan. Hendaknya sang ibu mempertakuti anaknyadengan ayahnya serta membantu sang ayah mencegah anak dari melakukan keburukan.”[8]Mengajarkan Akhlak MuliaAnas menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Wahai anakku, jika engkau mampumembersihkan hatimua dari kecurangan terhadap seseorang, baik pagi hari maupun petang hari,maka lakukanlah. Yang demikian itu termasuk tuntunanku. Barang siapa yang menghidupkantuntunanku, berarti ia mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku niscaya akan bersamaku didalam surga.”[9]Al Ghazali mengatakan, “Anak harus dibiasakan agar tidak meludah atau mengeluarkan ingus dimajelisnya, menguap di hadapan orang lain, membelakangi orang lain, bertumpang kaki,bertopang dagu, dan menyandarkan kepala ke lengan, karena beberapa sikap ini menunjukkanpelakunya sebagai orang pemalas. Anak harus diajari cara duduk yang baik dan tidak bolehbanyak bicara. Perlu dijelaskan pula bahwa banyak bicara termasuk perbuatan tercela dan tidakpantas dilakukan. Laranglah anak membuat isyarat dengan kepala, baik membenarkan maupunmendustakan, agar tidak terbiasa melakukannya sejak kecil.”[10]Mendoakan Kebaikan, Menghindari Doa KeburukanJabir bin Abdullah berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian mendoakan keburukanuntuk diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk anak-anak kalian, janganlahkalian mendoakan keburukan untuk pelayan kalian, dan jangan pula kalian mendoakankeburukan untuk harta benda kalian, agar jangan sampai kalian menjumpai suatu saat yang didalamnya Allah memberi semua permintaanmu, kemudian mengabulkan doa kalian.”[11]Orang tua harus dapat mengontrol penuh lisannya, agar tidak keluar ancaman atau ucapan yangbisa menjadi doa keburukan bagi sang anak. Doa itu tak harus sesuatu yang khusus diucapkansaat bersimpuh di hadapan Allah. Ucapan seketika, seperti, “Dasar anak bandel,” pun bisabermakna doa. Dan doa orang tua kepada anak itu bakal manjur.[12]Meminta Izin Berkenaan dengan Hak AnakSahl bin Sa‟ad meriwayatkan bahwa disajikan kepada Rasulullah segelas minuman, lalu beliaumeminumnya, sedang disebelah kanan beliau terdapat seorang anak dan disebelah kirinyaterdapat orang tua. Sesudah minum, beliau bertanya kepada si anak, “Apakah engkau setuju bilaaku memberi minum mereka terlebih dahulu?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah, aku tidak akanmemberikan bagianku darimu.” Rasulullah pun menyerahkan wadah itu ke tangannya.[13] METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 24 ]
  • 25. Mengajari Anak Menyimpan RahasiaAbdulllah bin Ja‟far bercerita, “Pada suatu hari Rasulullah memboncengku di belakangnya.Beliau kemudian membisikkan suatu pembicaraan kepadaku agar tidak terdengar oleh seorangpun.”[14]Makan Bersama Anak Sembari Memberikan Pengarahan dan Meluruskan KekeliruanMerekaUmar bin Abu Salamah bercerita, “Ketika masih kecil, aku berada di pangkuan Rasulullah dantanganku menjalar ke mana-mana di atas nampan. Rasulullah bersabda kepadaku, „Hai bocah,sebutlah nama Allah (berdoa), makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah makanan yang adadi dekatmu.‟ Maka senantiasa seperti itulah cara makanku sesudahnya.”[15]Abdullah bin Umar tidak pernah melakukan shalat malam, maka Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bin Umar seandainya dia shalat malam.” Sesudah itu, dia hanya tidursebentar saja setiap malamnya.[16]Berlaku Adil Kepada Anak, Tanpa Membedakan Laki-laki atau PerempuanNu‟man bin Basyir pernah datang kepada Rasulullah lalu berkata, “Sungguh, aku telahmemberikan sesuatu kepada anak laki-lakiku yang dari Amarah binti Rawwahah, lalu Amarahmenyuruhku untuk menghadap kepadamu agar engkau menyaksikannya, ya Rasulullah.”Rasulullah bertanya, “Apakah engkau juga memberikan hal yang sama kepada anak-anakmuyang lain?” Ia menjawab, “Tidak.” Rasulullah bersabda, “Bertakwalah kamu kepada Allah danberlaku adillah kamu diantara anak-anakmu.” Nu‟man pun mencabut kembalipemberiannya.[17]Melerai Anak yang Terlibat PerkelahianRasulullah pernah memisahkan dua bocah yang terlibat dalam perkelahian. Beliau meluruskanpemikiran mereka dan menyerukan kepada orang-orang dewasa untuk menangkal kezaliman.[18]Gali Potensi MerekaIbnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Di antara pepohonan yang tumbuh didaerah pedalaman terdapat sebuah pohon yang dedaunannya tidak pernah gugur, dan itulahperumpamaan seorang muslim. Ceritakanlah kepadaku pohon apakah itu?” Orang-orangmenebaknya dengan beragam pepohonan yang tumbuh di daerah pedalaman tersebut. Ibnu Umarberkata, „Dalam hatiku terbetik bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon kurma, tetapi akumerasa malu untuk mengutarakannya (karena saat itu usiaku masih sangat muda). Selanjutnya,mereka pun menyerah dan berkata, „Ceritakanlah kepada kami wahai Rasulullah, pohon apakahitu?‟ Rasulullah menjawab, „Itulah pohon kurma‟.”[19] METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 25 ]
  • 26. Rangsang dengan HadiahRasulullah pernah membariskan Abdulullah, Ubaidillah dan sejumlah anak-anak pamannya, AlAbbas, dalam suatu barisan, kemudian beliau bersabda, “Siapa yang paling dahulu sampaikepadaku, dia akan mendapatkan (hadiah) ini.” Mereka pun berlomba lari menuju tempatRasulullah berada. Setelah mereka sampai di tempat beliau, ada yang memeluk punggung danada pula yang memeluk dada beliau. Rasulullah menciumi mereka semua serta menepati janjikepada mereka.[20]Menghibur Anak Yatim dan Menangis Karena MerekaRasulullah bersabda, “Aku dan pengasuh anak yatim itu di surga seperti ini.” Beliaumenunjukkan jari telunjuk dan jari tengah dengan meregangkan sedikit saja.[21] Rasulullahpernah menciumi dan bercucuran air mata ketika melihat anak-anak Ja‟far menjadi yatim karenaayahnya gugur dalam medan perang, beliau juga menghibur mereka.[22]Tidak Merampas Hak Anak YatimRasulullah bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya aku mengharamkan hak dua orang lemah, yaituanak yatim dan wanita.”[23] Dengan demikian, seleksilah benar-benar harta kita. Adakah didalamnya hak anak yatim yang kita rampas? Sebab, ancaman memakan harta mereka begitu jelasdan gamblang.Melarang Bermain Saat Setan Berkeliaran dan Lindungilah dari penyakit ‘AinRasulullah bersabda, “Apabila malam mulai gelap (malam telah tiba), tahanlah anak-anak kalian,karena setan saat itu sedang bertebaran. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu maghrib,lepaskanlah mereka….”[24]Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah melihat anak yang sedang menangis kemudian beliaubersabda, “Mengapa bayi kelian menangis? Mengapa tidak kalian ruqyah dari penyakit„ain?”[25]Mengajari Azan dan ShalatAbu Mahdzurah bercerita, “Aku bersama 10 orang remaja berangkat bersama Rasulullah danrombongan. Pada saat itu, Rasulullah adalah orang paling kami benci. Mereka kemudianmenyerukan azan dan kami yang 10 orang remaja ikut pula menyerukan azan dengan maksudmengolok-ngolok mereka. Rasulullah bersabda, „Bawa kemari 10 orang remaja itu!‟ Beliaumemerintahkan, „Azanlah kalian!‟ Kami pun menyerukan azan.Rasulullah bersabda, „Alangkah baiknya suara anak remaja yang baru kudengar suaranya ini.Sekarang pergilah kamu dan jadilah juru azan buat penduduk Mekkah.‟ Beliau bersabdademikian seraya mengusap ubun-ubun Abu Mahdzurah, kemudian beliau mengajarinya azan danbersabda kepadanya, „Tentu engkau sudah hafal bukan?‟ Abu Mahdzurah tidak mencukurrambutnya karena Rasulullah waktu itu mengusapnya.[26] METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 26 ]
  • 27. Mengenai shalat, Rasulullah bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian shalat sejak usia 7 tahun danpukullah ia karena meninggalkannya bila telah berusia 10 tahun.”[27]Anas bin Malik berkata, “Pada suatu hari aku pernah masuk ke tempat Rasulullah dan yang adahanyalah beliau, aku, ibuku, dan Ummu Haram, bibiku. Tiba-tiba Rasulullah menemui kami lalubersabda, „Maukah bila aku mengimami shalat untuk kalian?‟ Kala itu bukan waktu shalat. Makasalah seorang berkata, „Bagaimana Anas di posisikan di dekat beliau?‟ Beliau menempatkanku dikanan beliau lalu beliau shalat bersama kami…”[28]Tanpa cangung, Rasulullah mengajak anak shalat berjamaah meski tak ada orang selain anaktersebut, tanpa ragu pula, beliau mengangkat pemuda yang membencinya untuk menjadi tukangazan atau muazin kota Mekkah.Mengajari Anak Sopan Santun dan KeberanianSebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa Rasulullah pernah meminta izin kepada anak ketikabeliau hendak memberi minum kepada tamu yang dewasa terlebih dahulu sebelum dia. Namunanak itu menolak. Saat itu Rasulullah tidak bersikap kasar dan tidak menegurnya.Di antara keberanian yang beretika ialah anak tidak dibiarkan berbuat sesuatu dengan sembunyi-sembunyi. Al Ghazali mengatakan, “Anak hendaknya dicegah dari mengerjakan apa pun dengancara sembunyi-sembunyi. Sebab, ketika anak menyembunyikannya berarti dia menyakiniperbuatan tersebut buruk dan tidak pantas dilakukan.[29]Menjadikan Anak yang Lebih Muda sebagai Imam Shalat dan Pemimpin dalamPerjalananAbu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Bila kalian sedang berpergian,hendaknya yang menjadi imam adalah yang paling bagus bacaannya di antara kalian, walaupunia orang yang paling muda. Bila ia telah menjadi imam berarti ia adalah pemimpin.”[30] Dandikuatkan dengan hadits shahih, Amru bin Salamah berkata, Rasulullah bersabda, “Hendaknyayang menjadi imam kalian adalah yang paling banyak bacaan Al Qur‟annya.”[31]Sumber:Syeih Jamal Abdurrahman dalam bukunya yang berjudul “Athfalul Muslimin KaifaRobaahumun Nabiyyul Amin Saw” yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia olehAgus Suwandi dengan Judul “Islamic Parenting, Pendidikan Anak Metode Nabi” Solo:Aqwam, 2010[1] At Turmizi, Kitab Shifatul Qiyamah, 2516[2] Muslim, 4075 METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 27 ]
  • 28. [3] Ihya „Ulumuddin: III, 163[4] Ahmad, 12956[5] At Turmizi, 1204[6] At Thabrani, Al Ausath: IV, 4429[7] Muttafaq Alaih.[8] Ihya „Ulumuddin: III[9] At Turmizi, Kitab „Ilmi, 2602[10] Ihya „Ulumuddin: III, 62[11] Muslim, Kitab Zuhud wa Raqaiq, 5328 dan Abu Dawud, Kitab Shalat, 1309[12] Untuk lebih jelasnya lihat hadits At Turmizi, Kitab Birri wash Shilah, 1828[13] Muttafaq Alaih.[14] Muslim, Kitab Haidh, 517 dan Abu Dawud, Kitab Jihad, 2186[15] Bukhari, Kitab Ath‟imah, 4957[16] Muslim, Kitab Fadhuish Shahabah, 4528[17] Bukhari, Kitab Hibah, 2398[18] Lebih jelasnya lihat hadits Muslim, Kitab Birr wash Shilah, 4681[19] Muttafaq Alaih.[20] Majmu‟uz Zawaid: IX, 17[21] Bukhari, Kitab Thalaq, 4892 dan Kitab Adab, 5556; Tirmizi, Kitab Barri wash Shilah, 1841[22] Lebih jelasnya lihat hadits Ahmad, Musnaddul Anshar, 25839 dan Musnadul Ahli Baith,1695[23] Ibnu Majah, Kitab Adab, 3668 dan Ahmad Musnadul Mukstirin, 9289[24] Bukhari, Kitab Badil Khalq, 3038[25] Shahih Al Jami‟, 5662 METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 28 ]
  • 29. [26] Ahmad, Musnadul Makkiyah, 14833[27] Tirmizi, Kitab Shalat, 372 dan Abu Dawud, Kitab Shalat, 418[28] As Silsilatush Shahihah, 140[29] Ihya „Ulumuddin, III[30] Al Bazzar, hasan menurut Al Haitsami, Majma‟uz Zawaid: II, 64[31] Shahih Al Jami‟, 5350 -------------------------------------- METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 29 ]
  • 30. [ IV ] PENDIDIKAN ANAK METODE RASULULLAH S.A.W (USIA 11 – 14 TAHUN)Perintah Memberi Makan dan Pakaian kepada AnakUbadah bin Al Walid berkata, Rasulullah bersabda, “…Berilah mereka makan dari apa yangkalian makan dan berilah mereka pakaian dari apa yang kalian pakai…”[1]Menyuruh Anak Segera Tidur Setelah Isya’Rasulullah dan para sahabatnya mengakhirkan shalat isya‟. Karena itu, Umar memerintahkanagar anak-anak dan istrinya menunaikannya pada awal waktu supaya mereka segera tidur, Umarpergi menemui Rasulullah, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, marilah kita shalat, kaum wanitadan anak-anak telah tidur.” Rasulullah pun keluar rumah, sedangkan dari kepala beliau menetesair bekas wadhunya. Beliau bersabda, “Seandainya tidak memberatkan umatku atau manusia,aku pasti memerintahkan mereka agar shalat (isya‟) pada waktu sekarang ini.”[2]Melarang Tidur TelungkupAyah Ya‟isy bin Thakhfah Al Ghifari berkata, “Ketika saya sedang berbaring tertelungkup didalam masjid, tiba-tiba ada seseorang yang menggerakkan tubuhku dengan kakinya, serayaberkata, „Ini adalah cara tidurnya orang yang murkai Allah (ahli neraka).‟ Ketika aku menoleh,ternyata orang itu adalah Rasulullah.”[3]Memisahkan Tempat Tidur Anak Sejak Usia 10 TahunRasulullah bersabda, “Perintahkan anak-anak kalian mengerjakan shalat bila telah menginjakusia 7 tahun dan pukullah mereka karena meninggalkannya bila telah berusia 10 tahun danpisahkanlah tempat tidur mereka….”[4]Membiasakan Anak Menundukkan Pandangan dan Memelihara AuratAl Fadhl bin Abbas bercerita, “Ketika aku sedang dibonceng di belakang Rasulullah dariMuzdalifah ke Mina, tiba-tiba muncul seorang Arab badui yang membonceng anakperempuannya yang cantik. Kendaraannya berjalan bersebelahan dengan unta yang kendarai olehRasulullah. Waktu itu aku memandang anak perempuannya. Rasulullah pun memandang kearahku dan memalingkan wajahku dari anak perempuan itu. Akan tetapi, aku memandangnyalagi dan beliau memalingkan wajahku lagi. Beliau melakukan hal tersebut sebanyak tiga kalikarena aku memandanginya terus, sedangkan beliau terus mengucapkan talbiyah-nya hinggaselesai dari melempar jumrah Aqabah.”[5]Rasulullah Tidak Pernah Memukul Anak, Tapi Beliau Menjelaskan Aturan Memukul danBahaya Pemukulan METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 30 ]
  • 31. Abu Umamah menjelaskan bahwa Rasulullah pernah menerima dua anak. Beliau memberikansalah seorang dari keduanya kepada Ali. Beliau berpesan, “Jangan pukul dia karena akumelarang memukul orang yang shalat dan aku melihatnya mengerjakan shalat sejak kamiterima.”[6]Aisyah berkata, “Rasulullah tidak pernah memukul dengan tangannya, baik terhadap istrimaupun pelayannya, kecuali bila berjihad di jalan Allah.”[7] Rasulullah juga bersabda, “Seorangyang kuat bukanlah orang yang dapat membanting orang lain. Tetapi, orang yang kuat ialah yangmampu mengendalikan dirinya saat sedang marah.”[8]Hentikan Pemukulan Bila Anak Meminta Tolong Kepada AllahRasulullah bersabda, “Orang yang meminta perlindungan kepada kalian atas nama Allah makalindungilah dan siapa yang meminta kepada kalian dengan nama Allah maka berilah.”[9]Al Mubarakfuri mengatakan, “Ath-Thayyibi berkata, „Itu bila pukulan untuk pengajaran. Adapunbila itu untuk hukuman had (hukuman), maka tidak boleh dihentikan. Demikian pula jika iameminta perlindungan kepada Allah hanya untuk menipu‟.”[10]Jangan Pukul Bagian Sensitif dan Jangan EmosiSeorang lelaki yang mabuk atau harus menjalani hukuman had minum khamr dihadapkan kepadakhalifah Ali. Sahabat Ali berkata, “Deralah ia dan berikanlah kepada setiap anggota tubuhnyabagian yang hendak diterimanya. Tapi, hidarilah wajah dan kemaluannya.”[11] Rasulullahbersabda, “Apabila seseorang di antara kalian memukul, maka hindarilah bagian wajah.”[12]Rasulullah juga pernah berpesan secara berulang kepada lelaki badui saat ia mengatakan,“Berpesanlah kepadaku!” Rasulullah menjawab, “Kamu jangan suka marah.” Lelaki itu berkata,“Setelah kurenungkan apa yang dipesankan Rasulullah, ternyata aku menyadari bahwa sikapmarah menghimpun semua keburukan.”[13]Menghukum Anak dengan Cara Halus dan LembutAbdullah bin Busr Al Mazini berkata, “Ibuku mengutusku untuk mengantarkan setangkai anggurkepada Rasulullah. Namun, aku memakannya sebelum sampai kepada beliau. Ketika aku tiba ditempat beliau, beliau menjewer telingaku (secara halus) dan memanggilku dengan sebutan,„Wahai penghianat kecil‟.”[14]Jangan Manjakan Anak dan Menuruti Semua KemauannyaKhaulah binti Hakim berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya anak itu bisa menjadipenyebab kikir, pengecut, bodoh, dan sedih.”[15] Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullahbersabda, “Gantungkanlah pecut di tempat yang bisa dilihat oleh keluarga kalian.”[16]Jadi, di balik kecintaan dan kasih sayang orang tua kepada anaknya, Rasulullah tidakmenginginkan adanya sikap memanjakan secara berlebihan dan memperturutkan semua METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 31 ]
  • 32. keinginan anak. Sehingga sang anak nanti akan berbuat sesukanya dan menuruti semua yangdiinginkannya, tanpa ada yang melarangnya.Orang tua yang bersikap seperti ini sama dengan melakukan tindak kejahatan yang besarterhadap anaknya sendiri. Sikap memanjakan dan memberikan kasih sayang yang berlebihan inimengakibatkan anak merasa tidak pernah ada yang melarang bila berbuat kesalahan serta samasekali tidak pernah dibiasakan untuk taat kepada Allah dan memelihara batasan-batasan hukum-Nya.Bahaya Bergaul dengan Anak ManjaAl Ghazali berkata, “Anak harus dijaga untuk tidak bergaul dengan teman-teman sebaya yangdibiasakan hidup senang, mewah, dan mengenakan pakaian-pakaian yang mahal. Karena, apabilaanak dibiarkan seperti itu sejak usia dini, kebanyakan akan tumbuh menjadi anak yangberperangai buruk, pendusta, pendengki, suka mencuri, suka iseng, suka menipu, dan sukaberbuat seenaknya. Tiada cara lain untuk menghindarkan anak dari hal-hal tersebut kecualidengan memberikan pengajaran yang baik dan pendidikan yang menyeluruh.”[17]Rasulullah Menjengung, Mendoakan Kesembuhan dan Mengobati Anak-anak yang SakitAs Saib bin Yazid berkata, “Bibiku membawaku pergi menemui Rasulullah lalu berkata, „WahaiRasulullah, keponakanku ini sedang sakit. Maka Rasulullah mengusap kepalaku dan mendoakankeberkahan bagiku dan beliau berwudhu lalu aku minum dari bekas air wudhunya. Setelah ituaku berdiri di belakang punggungnya dan kulihat cap kenabian ada di antara kedua pundaknyaseperti telur burung puyuh.”[18]Meluruskan Kekeliruan dengan BijakRafi‟ bin „Amru Al Ghifari mengatakan, “Dahulu aku dan anak muda sebayaku seringmelempari pohon kurma milik orang-orang Anshar. Maka hal itu dilaporkan kepada Rasulullah,„Ada anak yang suka melempari pohon kurma kami.‟ Akhirnya, aku dibawa menghadapRasulullah dan beliau bertanya, „Nak, mengapa engkau melempari pohon kurma?‟ Akumenjawab, „Untuk saya makan buahnya.‟ Beliau bersabda, „Kamu jangan lagi melempari pohonkurma, tapi makanlah buahnya yang jatuh di bawahnya.‟ Selanjutnya, beliau mengusap kepalakuseraya berdoa, „Ya Allah, kenyangkanlah perutnya‟.”[19]Membantu dan Mengajari Anak Bila Tidak Mampu Mengerjakan SesuatuAbu Sa‟id Al Khudri berkata, “Rasulullah berjumpa dengan seorang anak muda yang sedangmenguliti kambing, maka beliau bersabda kepadanya, „Minggirlah, aku akan memperlihatkancara yang benar kepadamu.‟ Rasulullah pun memasukkan tangannya di antara kulit dan dagingseraya memanjangkannya hingga tangannya masuk sampai ke bagian ketiaknya, lalu bersabda,„Hai anak muda, seperti inilah yang harus kamu lakukan bila menguliti kambing.‟ Sesudah itubeliau berlalu dan shalat dengan orang banyak tanpa berwudhu lagi dan tidak menyentuhair.”[20] METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 32 ]
  • 33. Mengajari Cara Pengobatan AlamiUmar pernah menemui Rasulullah, sedangkan di dekat beliau terdapat seorang anak remajaberkulit hitam yang sedang memijit punggung beliau. Umar bertanya, “Apa yang terjadi?” Beliaumenjawab, “Tadi malam aku terjatuh dari untaku.”[21] Terlihat bahwa Rasulullah mengajarianak remaja itu bagaimana cara memijat otot-otot beliau agar memperingan rasa sakit.Bergaul dan Menceritakan Pengalaman Masa Kecil kepada AnakAnas mengatakan, “Sesungguhnya, dahulu Rasulullah benar-benar bergaul dengan kami.”[22]Rasulullah juga menceritakan kepada anak-anak tentang pengalaman kecil beliau. Beliaubersabda, “Aku pernah menghadiri perjanjian Muthayyibin bersama paman-pamanku saat akumasih remaja, dan aku tidak suka melanggar perjanjian itu meskipun diberi imbalan unta merah.”Mengucapkan Salam kepada Anak-anak yang Sedang BermainAnas telah menceritakan bahwa pada suatu hari ia berjumpa dengan sejumlah anak-anak, lalu iamengucapkan salam kepada mereka. Anas berkata, “Seperti itulah yang dilakukan olehRasulullah.”[23] Bagi para orang tua, buang rasa segan dan canggung untuk memulaimengucapkan salam terlebih dahulu kepada sekelompok anak. Demikian Rasulullah memberiteladan.Mengajari Etika Masuk RumahAnas berkata, Rasulullah bersabda, “Hai anakku, jika kamu masuk ke dalam rumah keluargamuucapkanlah salam, niscaya akan membawa berkah kepadamu dan juga bagi keluargamu.”[24]Beliau bersabda kepada orang yang masuk ke tempat beliau tanpa mengucapkan salam lebihdahulu, “Kembalilah dan ucapkan, „Assalamu‟alaikum, apakah aku boleh masuk?‟”Mengucapkan salam merupakan latihan bagi mereka tentang adab-adab yang diajarkan olehsyariat. Dalam hal ini juga berfungsi sebagai penunduk sifat sombong, dan mengandung maknatawadhu dan kelembutan.[25]Mengajarkan Anak Etika Meminta IzinAnas sering masuk ke tempat Rasulullah tanpa izin. Pada suatu hari Anas datang dan hendakmasuk begitu saja, maka Rasulullah bersabda kepadanya, “Tetaplah di tempatmu wahai anakku,karena sesungguhnya telah terjadi suatu perintah berkenaan denganmu, maka jangan lagi kamumasuk kecuali dengan meminta izin terlebih dahulu.”[26]Sahl bin Sa‟ad berkata, “Seorang lelaki mengintip dari suatu lubang ke kamar Rasulullah yangsaat itu beliau sedang memegang sisir untuk menggaruk kepada beliau. Ketika Rasulullahmelihat kelakuan lelaki itu, beliau bersabda, “Seandainya sejak semula aku mengetahui kamusedang mengintip, tentulah akan kutusuk matamu dengan ini. Meminta izin itu ditetapkan tiadalain hanyalah untuk kebolehan melihat.”[27] METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 33 ]
  • 34. Memotivasi Anak Menghadiri Perayaan dan Mengunjungi KerabatAnas berkata, “Rasulullah melihat anak-anak dan kaum wanita datang dari pesta perkawinan.Beliau pun berdiri tegak (dengan gembira), lalu bersabda, „Ya Allah (saksikanlah), kaliantermasuk orang-orang yang paling kucintai‟.” Rasulullah mengucapkannya sebanyak tiga kali,yang dimaksud adalah kaum Anshar.Menjaga Perasaan Anak-anak dalam PerayaanAisyah meriwayatkan bahwa Abu Bakar masuk ke tempatnya saat ia bersama dua budak yangmenyanyikan dan memukul rebana pada hari-hari mina. Sementara itu, Rasulullah sedangmembentangkan (menjemur) baju beliau. Maka Abu Bakar membentak mereka berdua.Rasulullah pun melongokkan wajah dari balik baju yang dijemurnya dan bersabda, “Biarkanlahsaja wahai Abu Bakar karena ini sedang hari raya.” Aisyah berkata, “Aku melihat Rasulullahmenutup dirinya dariku dengan jubahnya sedangkan aku melihat orang-orang Habasyah yangsedang bermain saat aku masih kecil. Maka mereka menghormati kadudukan anak kecil.Menganjurkan Anak Bergaul dengan Ulama dan Bersikap Santun Kepada MerekaRasulullah bersabda, “Sungguh, memuliakan orang Islam yang tua usia, orang yang pandaitentang Al Qur‟an yang tidak sombong dan tidak mengabaikannya, serta memuliakan penguasayang adil termasuk bagian dari mengagungkan Allah.”[28]Rasulullah juga bersabda, “Tidak termasuk golonganku orang yang tidak belas kasih terhadapyang lebih muda dan tidak mau menghormati orang yang lebih tua serta tidak pula menghargaihak orang yang alim di antara kita.”[29]Memberitahu Anak tentang Peperangan Kaum Muslim Menghadapi MusuhUrwah menceritakan bahwa ayahnya, Zubair mempunyai beberapa bekas luka pada tubuhnyayang dialami sewaktu dalam peperangan badar. Urwah berkata, “Aku sering memasukkan jarikuke dalam bekas luka pukulan pedang yang sudah sembuh itu seraya memainkannya sewaktu akumasih kecil…”[30]Memberitahu anak terhadap penindasan kaum muslim di berbagai belahan bumi oleh musuh-musuh Islam dapat menumbuhkan kepedulian terhadap nasib saudara seiman, sekaligustanggungjawab apa yang harus mereka lakukan hari ini dan esok.Mengingatkan Anak Agar Tidak Berteman dengan Orang JahatRasulullah bersabda, “Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang burukadalah seperti orang yang membawa minyak misik dan pande besi. Pembawa minyak misikadakalanya memberikannya kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu peroleh bau yangharum darinya, tetapi pande besi adakalanya baju kamu akan terbakar oleh percikan apinya ataukamu peroleh bau yang tidak enak darinya.”[31] METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 34 ]
  • 35. Mengajari Etika Berbicara dan Menghormati yang Lebih TuaAbdurrahman bin Sahl dan Huwayyishah bin Mas‟ud datang menghadap kepada Rasulullah.Abdurrahman membuka pembicaraan, maka Rasulullah bersabda, “Hormatilah yang lebih tua!Hormatilah yang lebih tua!”[32]Rasulullah sendiri apabila putrinya, Fatimah, masuk menemuinya, beliau bangkit menyambutnyadan menciumnya serta mendudukannya di tempat duduknya. Begitu pula sebaliknya, apabilabeliau masuk menemuinya, ia bangkit menyambutnya dan menciumnya sertamempersilahkannya duduk di tempat duduknya.”[33]Ketika Sa‟ad bin Mu‟adz hendak masuk ke masjid dan telah berada di dekatnya, Rasulullahbersabda kepada orang-orang Anshar, “Berdirilah kalian untuk menghormati pemimpin kalianatau orang yang terbaik di antara kalian.”[34]Mendidik Anak untuk tidak Menjengkelkan SesamanyaRasulullah bersabda, “Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur malam dalam keadaankenyang, sementara tetangganya kelaparan dan ia mengetahuinya.”[35]Al Ghazali mengatakan, “Hendaknya seorang anak tidak dibiarkan berbangga diri di depanteman-teman sebayanya dengan harta yang dimiliki oleh orang tuanya atau dengan sesuatu darimakanannya, pakaiannya, atau buku dan penanya. Akan tetapi, hendaklah anak dibiasakanbersikap rendah diri, menghormati setiap orang yang bergaul dengannya, dan lemah lembut tutursapanya dengan mereka.”[36]Memperingatkan Anak Agar Tidak Saling Mengancam Meski BergurauAbu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang mengacungkan besi kepadasaudaranya, maka sungguh para malaikat melaknatnya sampai ia meninggalkan perbuatannya,meski yang diacungi itu saudara kandungnya.”[37] Para malaikat melaknat orang yangmelakukan hal tersebut walaupun hanya bercanda.Melarang Anak Mengejutkan Orang Lain Meski BergurauAbdurrahman bin Abu Laila mengatakan, “Para sahabat pernah menceritakan kepada kamibahwa ketika mereka sedang dalam perjalanan bersama Rasulullah dalam suatu misi, tiba-tibaseorang lelaki diantara mereka tidur. Salah seorang di antara mereka pun mengambil anakpanahnya. Ketika lelaki itu terbangun, ia terkejut karena anak panahnya tidak ada dan orang-orang menertawakannya. Rasulullah bertanya, „Mengapa kalian tertawa?‟ Mereka menjawab,„Tidak ada, melainkan kami telah mengambil anak panah orang ini, lalu ia terkejut.‟ Rasulullahbersabda, „Seorang muslim tidak boleh menakut-nakuti saudaranya sesama muslim‟.”[38] METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 35 ]
  • 36. Memberi Keringanan Kepada AnakAnas bercerita, “Rasulullah adalah orang yang akhlaknya paling baik. Suatu hari beliaumengutusku untuk suatu keperluan. Aku berkata, „Demi Allah, aku tidak akan pergi.‟ Namun,hatiku berbisik bahwa aku harus pergi karena ini adalah perintah Rasulullah. Akhirnya, akuberangkat hingga melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tanpa sadar, ternyataRasulullah memegang tengkukku dari belakang. Aku pun memandang beliau, sedangkan beliautertawa. Beliau bersabda, „Wahai Anas kecil, apakah engkau telah pergi sesuai perintahku?‟ Akumenjawab, „Ya, saya akan pergi wahai Rasulullah‟.”[39]Melarang Anak Lelaki Menyerupai Perempuan, dan SebaliknyaAbdullah bin Yazid berkata, “Ketika kami sedang berada di rumah Abdullah bin Mas‟ud,datanglah seorang anaknya yang mengenakan baju gamis dari kain sutera. Ibnu Mas‟ud bertanya,„Siapa yang memberimu pakaian ini?‟ Anaknya menjawab, „Ibuku.‟ Ibnu Mas‟ud pun merobekbaju gamisnya dan berkata, „Katakanlah kepada ibumu agar dia memberimu pakaian selain kainsutera ini‟.”[40]Rasulullah bersabda, “Kaum lelaki dari umatku diharamkan mengenakan kain sutera dan emas,dan kaum wanitanya dihalalkan (mengenakan keduanya).”[41]Melatih Anak Berpenampilan Sederhana dan Melatih Ketahanan DiriRasulullah bersabda, “Tidak ada yang memakai sutera di dunia kecuali orang yang nanti diakhirat tidak mendapatkannya kecuali hanya sekian.” Beliau bersabda sambil menunjukkan jaritelunjuk dan jari tengah.[42]Dalam hal melatih ketahanan diri anak, Rasulullah sendiri pernah mengembala kambing. Beliaubersabda, “Tidaklah sekali-kali Allah mengutus seorang nabi, melainkan pernah mengembalakambing.” Para sahabat bertanya, “Dan juga engkau?” Beliau menjawab, “Ya, dahulu akumengembala kambing milik penduduk Mekkah dengan imbalan beberapa qirath.”[43]Rasulullah juga pernah melakukan perlombaan memanah, balap lari, balap kuda, dan balap unta.Beliau bersabda, “Tiada perlombaan kecuali memanah, balap kuda, atau balap unta.”[44]Abul Ward meriwayatkan dari Ali yang menceritakan bahwa Fatimah menggiling gandumdengan tangannya sendiri hingga meninggalkan bekas pada tangannya, mengambil air sendiridengan qirbah sehingga membekas pada lehernya, dan ia menyapu rumahnya sendiri hinggapakaiannya berdebu. Ketika Rasulullah mendapat banyak pelayan, Ali berkata, “Sebaiknya kamudatang menghadap kepada ayahmu untuk meminta seorang pelayan untuk meringankanpekerjaanmu.” Fatimah pun datang mengahadap kepada Rasulullah, tapi dia menjumpai di sisibeliau sedang banyak orang. Akhirnya Fatimah pulang.Keesok harinya Fatimah datang lagi kepada Rasulullah dan beliau bertanya, “Apakeperluanmu?” Fatimah diam, sehingga terpaksa Ali yang berbicara tentang maksudkedatangannya. Maka Rasulullah bersabda, “Hai Fatimah, bertakwalah kapada Allah, METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 36 ]
  • 37. tunaikanlah kewajiban Rabbmu dan lakukanlah pekerjaan rumah tanggamu. Apabila engkauhendak tidur, bertasbihlah sebanyak 33 kali, bertahmidlah sebanyak 33 kali, kemudianbertakbirlah sebanyak 34 kali. Itulah 100 wirid yang lebih baik bagimu dari pada mendapatseorang pelayan.”[45]Memperlakukan Anak Perempuan dengan Baik dan Menjelaskan Kedudukannya Merekadalam IslamRasulullah selalu menyambut dan mencium Fatimah ketika ia datang, menggandeng tangannya,mempersilahkan ia duduk di sebelah beliau. Rasulullah bersabda, “Barang siapa memeliki tigaanak perempuan, atau tiga saudara perempuan, atau dua anak perempuan atau dua saudaraperempuan lalu memperlakukan mereka dengan baik dan bertakwa kepada Allah dalammengasuh mereka, maka baginya surga.”[46]Mengingatkan Orang yang Menelantarkan Nafkah dan Pendidikan AnakRasulullah bersabda, “Bila ia keluar karena berusaha mencari nafkah untuk anaknya yang masihkecil maka ia berada di jalan Allah. Bila ia keluar mencari nafkah untuk dirinya maka ia beradadi jalan Allah. Dan bila ia keluar mencari nafkah karena ingin dilihat atau sebagai kebanggaanmaka ia berada di jalan setan.”Mengingatkan Agar Tidak Merendahkan Orang LainAisyah berkata, “Aku pernah berkata kepada Rasulullah, „Cukuplah sikapmu terhadap Shafiyyahkarena dia begini dan begini‟. Maka Rasulullah bersabda, „Sungguh, engkau telah mengucapkansuatu kalimat yang seandainya kalimat itu dicampukan dengan air laut, niscaya akanmencemarinya‟.”[47]Sumber:Syeih Jamal Abdurrahman dalam bukunya yang berjudul “Athfalul Muslimin KaifaRobaahumun Nabiyyul Amin Saw” yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia olehAgus Suwandi dengan Judul “Islamic Parenting, Pendidikan Anak Metode Nabi” Solo:Aqwam, 2010[1] Shahih, Adabul Mufrad, 566[2] Bukhari, Kitab Tamani, 6698[3] Abu Dawud, Kitab Adab, 4383[4] Shahih Sunan Abu Dawud, 466 dan Ahmad, 6467[5] Muttafaq Alaih. METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 37 ]
  • 38. [6] Shahih Adabil Mufrad, 121[7] Muslim, Kitab Fadhail, 4296[8] Muttafaq Alaih.[9] Shahih Al Jami‟, 6021[10] Tuhfatul Ahwadzi: VI, 67[11] Ahkamul Quran: III, 322[12] Muslim, Kitab Birri wash Shilah, 4729[13] Bukhari, Kitab Adab, 5651[14] Musnad Asy Syamiyyin: II, 355[15] Shahih Al Jami‟, 1990[16] Shahih Al Jami‟, 4021[17] Ihya „Ulumuddin, III[18] Muttafaq Alaih.[19] Az Zar‟i, Hasyiyah Ibnu Qayyim, dishahihkan At Tirmizi.[20] Shahih Ibnu Hibban: III, 1163 dan Shahih Abu Dawud, 3239[21] Lihat Ibnu Atsir, An Nihayah bab Qahama[22] Bukhari, Kitab Adab, 5664[23] Bukhari, Kitab Isti‟dzan, 5778[24] Tirmizi, Kitab Adab wal Isti‟dzan, 2622[25] Fathul Bari‟, Kitab Isti‟dzan, XI[26] Bukhari, Adabul Mufrad, 807[27] Muttafaq Alaih.[28] Shahih Al Jami‟, 2199 METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 38 ]
  • 39. [29] Ahmad, Musnad Anshar, 21693[30] Bukhari, Kitab Maghazi, 3678[31] Muttafaq Alaih.[32] Muttafaq Alaih.[33] Ibnu Abdil Bar, At Tamhid: XXIII, 204[34] Muttafaq Alaih.[35] Shahih Al Jami‟, 5505[36] Ihya „Ulumuddin.[37] Muslim, Kitab Birri wash Shilah, 4741[38] Shahih, Musnad Ahmad, 22959[39] Telah ditakhrij sebelumnya.[40] Majma‟uz Zawaid: V, 144[41] At Turmidzi, Kitab Libas, 1742[42] Tahqiq Musnad Ahmad, 243[43] Bukhari, 2102[44] Shahih Sunan Ibnu Majah, 2787[45] Muttafaq Alaih.[46] At Turmidzi, Kitab Barri wash Shilah, 1839 dan Abu Dawud, Kitab Adab, 4481[47] Ahmad, Kitab Adab, 4232-------------------------------------- METODE PENDIDIKAN RASULULLAH S.A.W UNTUK ANAK [ 39 ]

×