• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Buletin BNSP Edisi 3 Th 2012
 

Buletin BNSP Edisi 3 Th 2012

on

  • 1,223 views

Buletin BNSP Edisi 3 Th 2012

Buletin BNSP Edisi 3 Th 2012

Statistics

Views

Total Views
1,223
Views on SlideShare
1,223
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
43
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Buletin BNSP Edisi 3 Th 2012 Buletin BNSP Edisi 3 Th 2012 Document Transcript

    • Pengantar Redaksi PenanggungjawabMoehammad Aman Wirakartakusumah P embaca yang budiman. Ujian Nasional atau UN untuk SMA, MA, SMK, SMALB, SMP, MTs, SMPLB, SD dan MI telah selesai dilaksanakan. Pelaksanaan UN ini kami sajikan dalam bentuk gambar (Lensa BSNP). Mulai tanggal 9-12 Juli Pemimpin Redaksi 2012 BSNP menyelenggarakan Ujian Nasional Pendidikan Edy Tri Baskoro Kesetaraan atau UNPK untuk Program Paket C. Sedangkan UNPK Program Paket A dan Paket B dilaksanakan tanggal 16- Redaksi Eksekutif 18 Juli 2012. Informasi lengkap tentang UNPK disajikan dalam Richardus Eko Indrajit berita BSNP. Pada edisi ketiga ini kami juga menyajikan tiga Djemari Mardapi artikel utama yaitu Paradigma Pendidikan Nasional Abad XXI Teuku Ramli Zakaria (bagian kelima), “Empat Pilar” Menyatukan Kemajemukan Weinata Sairin Indonesia, dan Upaya mengatasi Gangguan Psikologis Siswa Dalam Pelaksanaan Ujian Nasional. Selamat membaca. Redaksi Pelaksana Bambang Suryadi Daftar Isi Penyunting/Editor Mungin Eddy Wibowo Paradigma Pendidikan Nasional Abad XXI Zaki Baridwan 3-6 (Bagian V) Djaali Furqon 7-10 Upaya Mengatasi Gangguan Psikologis Siswa dalam Pelaksanaan Ujian Nasional Johannes Gunawan Jamaris Jamna “Empat Pilar”, Menyatukan Kemajemukan Kaharuddin Arafah 11-12 Indonesia Desain Grafis & Fotografer 13-17 Berita BSNP: Djuandi - UNPK Tetap Diadakan Dua Kali Setahun Ibar Warsita - Uji Coba Instrumen Pemantauan Standar - DPRD Kabupaten Sinjai Mengadukan Sekretaris Redaksi Masalah SKHUN SD ke BSNP Ning Karningsih - IKAPI Berkomitmen Hasilkan Buku Teks Pelajaran Bermutu Alamat: - Kunjungan Tamu dari Casio Jepang BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN 18-20 Lensa BSNP Gedung D Lantai 2, Mandikdasmen Keterangan Gambar Cover Jl. RS. Fatmawati, Cipete Jakarta Selatan Anggota BSNP, tim ahli, dan reviewer instrumen pemantauan standar Telp. (021) 7668590 sarana dan prasarana pendidikan dasar dan menengah berpose Fax. (021) 7668591 bersama setelah menelaah draf instrumen pemantauan di BSNP (atas). Dari kiri ke kanan, M. Aman Wirakartakusumah Ketua BSNP, Email: info@bsnp-indonesia.org Hari Setiadi Kepala Puspendik, R. Eko Indrajit Sekretaris BSNP,danWebsite: http://www.bsnp-indonesia.org Jamaris Jamna Anggota BSNP dalam acara sosialisasi pelaksanaan UNPK tahun 2012 di Jakarta (bawah). Vol. VII/No. 3/September 2012
    • PARADIGMA PENDIDIKANNASIONAL ABAD XXI (Bagian V)Tim BSNP memiliki potensi sumber daya alam luar biasa.3.9. Globalisasi dan Pendidikan Bayangkan, Indonesia ada­lah tempat hidup bagi 37% spesies dunia, 30% hutan bakau du­ nia, dan 18% terumbu karang dunia. Hutan Pada mulanya globalisasi disulut tro­pis Indonesia me­rupakan hutan terbesaroleh niat negara-negara industri maju ketiga setelah Brazil dan Republik Demokrasiuntuk mengkonsentrasikan upaya Congo. Belum lagi hasil tambang, baik berupapada “Research & Development” minyak dan gas bumi maupun sumber-sumber mineral lainnya. Produksi minyak In­donesiauntuk menghasilkan produk-produk pernah mencapai rata-rata 1685 ribu barrel/yang memiliki nilai tambah tinggi hari pada 1977 (Hertzmark, 2007).dengan muatan ilmu pengetahuan Namun, kekayaan ini semakin hari se­ma­mutakhir sehingga dengan demikian kin terbuang akibat penghancuran sis­tema­tis.mereka mendapatkan peluang untuk Paradigma pembangunan yang ber­orientasimemenangkan pasar beserta keunggulan pada pertumbuhan sesaat yang bersifat sek­ toral, frag­men­tatif, dan tak mengindahkankompetitifnya. Kemudian mereka alihkan ke­­ber­lanjutan menjadi penyebab ke­han­curanteknologi industri yang kokoh yang yang sudah mulai kita rasakan. Kerusakantelah mereka kembangkan dengan infra- sum­ber kekayaan alam terus terjadi akibatstrukturnya yang padat investasi itu ke eksploitasi alam terencana yang dilakukan ne­negara-negara ‘berkembang’ melalui apa gara ataupun akibat pembiaran perusakan alam yang di­­la­kukan oleh perusahaan-peru­sahaanyang disebut “transfer/alih teknologi”. be­­sar dan kecil yang tengah mengejar ke­­un­Maka globalisasi dalam konteks ini tungan jangka pendek tanpa mem­pedulikanmemperoleh makna: kompetisi ekonomi dampak lingkungan jangka panjang.berbasis ilmu pengetahuan, yang Dengan demikian, yang harus kita la­ku­berimplikasi pada apa yang disebut kan adalah perubahan sistemik menye­lu­“ekonomi pengetahuan”, yaitu ekonomi ruh, yang mampu menerobos kebuntuan yang terjadi saat ini. Per­ubahan ini bukan se­yang dasarnya dan atau produknya adalah ka­dar berubahan tambal sulam seperti mi­pengetahuan. Hal ini pada umumnya sal­nya sekadar menambah anggaran ataumelibatkan kegiatan penelitian yangdilakukan di perguruan-perguruan tinggi  Produksi produksi minyak Indonesia yang menjadi andalan pun kini hanya mencapai 1126 ribu barrel/ataupun lembaga-lembaga penelitian hari (2004). Angka ini sudah berada di bawah kon- sumsi BBM Indonesia yang jumlahnya sebesar 1150 ribu barrel/hari. Sementara itu, hutan kita yang pada 1985 diperkirakan mencapai luas 120 juta hektar, pada 2001 diperkirakan tinggal 96 juta hektar saja, dan inipun luasnya diperkirakan terus mengalami penciutan hingga 1,7 juta hektar per hari (Lihat Bank Dunia, 2001). Kekayaan alam yang harusnya menjadi modal awal untuk membiayai pengembangan kuali- tas sumber daya manusia (human capital), ternyata banyak yang tersia-siakan. Anugerah kekayaan alam ternyata tidak berdampak besar pada peningkatan 3.10. Budaya dan Karakter Bangsa: mutu manusia Indonesia sebagai terlihat pada the Tantangan Nasional Indonesian Human Development Index tahun 2009 Tak dapat disangkal bahwa Indonesia yang masih terus menempatkan kualitas manusia merupakan negara yang memiliki modal fisik Indonesia pada urutan rendah yakni urutan nomor 111, lebih rendah dari Palestina (urutan ke 110), se- (physical capital) awal yang kaya. De­ngan buah negeri yang masih harus berjuang karena pen- luas laut terluas (5,8 juta km2) dan jum­lah dudukan Israel, dan juga jauh ketinggalan dari nega- pulau terbanyak (17.508) di dunia, Indonesia ra tetangga, seperti Malaysia (urutan ke-66) dan Thai- land (urutan ke-87). Vol. VII/No. 3/September 2012 
    • meng­­ganti kurikulum yang kini berlaku atau terkait dalam pro­ses pendidikan ini harussekadar meningkatkan kapasitas pe­lak­sana terintegrasi dalam satu kesatuan sistempen­didikan orang per orang, tetapi lebih ma­najemen pen­didikan holistik yang sta­jauh dari itu, yakni peningkatan mo­dal sosial tus legalitasnya jelas, tertuang dalam per­bangsa yang ditandai de­ngan tumbuhnya undangan-undangan maupun regulasi tek­jejaring pelaksana pendidikan yang saling- nis untuk pelaksanaannya. Pembagian ke­we­bekerjasama memanfaatkan se­gala potensi nangan antarkomponen dalam sistem yangyang tersedia untuk me­ning­katkan kualitas tergambar secara jelas.pendidikan rakyat banyak. Analisa sistemik tentang proses pendidikan Sejak awal kemerdekaan, para pen­­diri ini sangat diperlukan untuk memudahkanne­geri ini sebenarnya telah memiliki ko­mit­ pembuatan keputusan mengenai dari manamen kuat dalam me­ningkatkan kua­­litas pen­ dan bagaimana per­baikan-perbaikan dan pe­didikan bangsa. Dalam pem­­bukaan UUD ningkatan kualitas pendidikan dapat dila­1945 disebutkan bah­wa salah satu tujuan kukan. Bila saat ini masih dirasakan adanyadibentuknya pe­me­rin­tah negara In­donesia kesenjangan tajam antara tujuan ideal pen­adalah untuk “me­majukan kesejahteraan didikan yang dicita-citakan dengan hasil yangumum, [dan] men­­cerdaskan kehidupan dicapai, maka diperlukan panduan evaluasibang­sa.” Bah­­kan dalam perkembangannya, tentang bagaimana pro­ses pendidikan yangama­­nat UUD 1945 dalam Perubahan ke selama ini berlangsung, dan sekaligus me­IV (10 Agustus 2002) dirinci menjadi: “Se­­ nentukan perbaikan-perbaikan yang bagai­tiap warganegara wajib mengikuti pen­di­­ mana diperlukan untuk merespons tantangandikan dasar dan pe­merintah wajib mem­bia­ di masa mendatang.yainya” (pasal 31 ayat 2), dan “ne­gara mem­ Uraian berikut akan paparan secara garisprioritaskan ang­garan pen­­­didikan sekurang- besar dari beberapa komponen inti dalamkurang­nya 20% dari anggaran pendapatan sistem pendidikan yang perlu mendapatdan belanja ne­gara serta dari ang­garan per­hatian.pendapatan dan belanja dae­rah untuk me­menuhi ke­butuhan penye­lenggaraan pen­ a. Pendidikan dalam Mengem­bang­kan Ke­te­didikan na­sional” (pa­sal 31 ayat 4). Da­lam rampilan dan Ilmu Penge­tahuanUU 20/2003, pe­merintah merumuskan Untuk dapat mencapai fungsi pe­nyalurbah­­­wa tu­juan pendidikan nasional adalah dan pengembang ilmu penge­tahuan yang“mengembangkan kemampuan dan mem­ efektif, guru/dosen harus menjalankan fung­ben­tuk watak serta peradaban bang­sa yang si yang sentral. Guru/dosen tidak hanyabermartabat dalam rangka mencerdaskan berfungsi sebagai sumber ilmu yang setiapkehidupan bangsa, ber­tujuan untuk ber­kem­ saat menjadi acuan murid, tetapi ia jugabangnya potensi peserta didik agar menjadi harus ber­peran sebagai perangsang dalammanusia yang beriman dan bertakwa kepada pe­ngembangan minat peserta didik dalamTuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mencari ilmu pengetahuan secara mandiri.sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan Ilmu pengetahuan didapat selain dari hasilmenjadi warganegara yang demokratis serta interaksi dengan guru/dosen, melainkan jugabertanggung-jawab.” dari hasil penjelajahan peserta didik sendiri Tujuan pendidikan yang dirumuskan (personal discovery) dengan membaca buku,da­lam konsep-konsep abstrak tinggi ha­ melakukan penelitian, mengikuti diskusi ke­rus dijabarkan ke dalam konsep yang lebih ilmuan, atau pun perenungan/refleksi. Ke­pia­mem­bumi sehingga dapat dirumuskan cara waian guru/dosen dalam menumbuhkan minatpencapaiannya secara terukur. Cara-cara peserta didik untuk menggali ilmu secaramen­capai tujuan pen­didikan itu juga harus mandiri ini sangat penting dibanding transferdirumuskan dan dijabarkan secara rinci ke ilmu yang diperoleh murid dari guru/dosendalam kurikulum beserta metodologi yang secara langsung. Karena itu, bentuk-bentukdigunakan sehingga keterkaitan an­tara tujuan pendidikan partisipatif dengan menerapkandan cara pencapaiannya ter­gambar jelas. metode belajar aktif (active learning) dan Untuk mendukung proses pen­ca­paian belajar bersama (cooperative learning) sangattujuan agar dapat berjalan efek­tif, berbagai diperlukan.perangkat pendukung di­perlukan, baik be­ Agar proses ini berjalan efektif, tentu­r­upa infrastruktur fisik (seperti gedung kelengkapan infrastrutuktur ha­rus di­sedia­per­­­kuliahan, per­pustakaan, laboratorium kan, baik berupa fasilitas fisik yang me­dan lain-lain), juga infrastruktur sosial (se­ madai seperti gedung sekolah/kampus, per­perti organisasi pelajar/mahasiswa, organi­ pustakaan, labora­torium, alat-alat peraga dansasi seni-budaya, kelompok studi, olah­ra­ lain-lain, maupun kelengkapan organisasiga dan lain-lain). Semua komponen yang lembaga pendidikan.  Vol. VII/No. 3/September 2012
    • b. Pendidikan sebagai Penyalur dan Pengem­ bangan watak bangsa Indonesia ter­letak pada bang Karakter Luhur enam watak itu, yakni tiga ber­dimensi personal Pendidikan tidaklah semata-ma­ta berfungsi (jujur, akal sehat, dan pem­berani), dan tigasebagai alat penyalur il­mu pengetahuan, namun lainnya berdimensi sosial (adil, tanggung-juga seba­gai pendorong berkembangnya nilai- ja­wab, dan toleran).2 Bila ke­enam watak inin­ ilai luhur yang menjadi dasar berkembangnya benar-benar dikembangkan secara nasional,watak yang baik. Watak yang baik itu antara tak mustahil akan terjadi peningkatan kualitaslain berupa sikap jujur, adil, demokratis, manusia Indonesia dalam kurun waktu satudisiplin, dan toleran. Watak adalah keunggulan generasi saja.moral yang berperan sebagai penggerak utama Penekanan jenis-jenis watak yang hendakseseorang di saat ia akan melakukan tindakan. kita kembangkan di sua­tu lingkunganWatak merupakan kekuatan moral yang dapat ter­tentu dapat dipi­lih sesuai dengan ke­berfungsi sebagai da­ya yang menentukan butuhan. Di ling­kungan perguruan tinggipilihan bentuk-bentuk tindakan. Bertindak misalnya ter­dapat kebutuhan mendesakdengan wa­tak berarti melangkah atas dasar untuk mengembangkan watak “kejujurannilai-nilai yang baik, luhur, patut, dan berdaya- aka­demis” (academic ho­nesty). Watak iniguna. Watak bukanlah sesuatu yang begitu harus dikembangkan agar ma­­hasiswa dansaja ada dan tumbuh dalam diri seseorang, dosen memiliki kesadaran tinggi dan me­melainkan sesuatu yang dapat dipelajari miliki komitmen kuat untuk menjunjungdan dibangun seseorang dalam menjalani tinggi kejujuran akademis sehingga takkehidupan. mudah terjerumus pada praktek-prak­tek Dalam konteks inilah, guru/do­sen me­ ketidak-jujuran seperti antara lain pla­miliki peran sentral dalam keikut-sertaannya giatisme (plagiarism) dalam berkarya. Inimembentuk watak peserta didik. Karena itu, penting karena dengan berkembangnyaguru/dosen dituntut tidak saja mumpuni dalam teknologi di­gital dan semakin terbukanyapengetahuan dan pandai dalam menjalankan akses informasi, berbagai kemudahan untuktugas menyalurkan ilmu, tetapi juga menjadi mengunduh (download) data, mengirim file,acuan dan teladan bagi anak didik. Inte­ dan melakukan duplikasi text dengan caragritas guru/dosen jelas memiliki ke­dudukan “copy/cut and paste” di setiap komputer,penting karena pesan moral yang baik hanya pragiarisme semakin mudah dilakukan.akan memiliki kredibilitas tinggi ma­nakala Watak lain yang juga perlu di­kem­bangkandibawakan oleh penyalur yang baik pula. di lingkungan perguruan tinggi adalah watakNamun, pengembangan watak luhur dalam untuk ‘’produktif” dan “kreatif/inovatif”’perilaku sehari-hari hanya bisa dilak­sanakan da­lam berpikir dan ber­karya. Bila watakbila dalam lingkungan tempat anak dibesarkan ini secara khusus dikembangkan, niscayaterbangun norma-norma pengendali perilaku perguruan ting­gi akan menjadi lahan subur(baik tertulis ataupun tidak tertulis) yang bagi tumbuhnya pemikiran-pemikiran pro­difahami secara jelas dan baik serta ditegakkan duktif, kreatif/inovatif, dengan dida­sarkansecara konsisten. Karena pembangunan wa­ pada sifat kejujuran yang kuat. Agar wataktak warga negara memiliki posisi sangat semacam ini dapat kuat terbangun, pihakpenting dalam pembangunan bangsa, perlu kampus harus merancang infrastruktur yangadanya fokus perhatian terhadap jenis-jenis memadai, baik berupa kurikulum pengajaranwatak tertentu yang harus dikembangkan yang secara tegas mendukung tujuan ini,sehingga menjadi bagian integral dari perilakumasyarakat. Di banyak negara lain telah lama  Tentu saja, selain sikap-sikap yang disebutkan inidikembangkan beberapa pilihan watak luhur sebagai watak luhur yang perlu dikembangkan, ma- sih banyak lagi sikap luhur yang dapat digali sebagaiyang dianggap strategis bagi pembangunan bagian dari kearifan lokal (local wisdom) bangsa Indo-bangsanya. nesia. Sebagai contoh, sikap ramah pada orang lain Bagaimana dengan Indonesia? Pa­ra pendiri dan kesediaan bergotong-royong adalah sikap yangnegeri ini sejak awal telah menyadari betapa sering disebut sebagai watak bangsa Indonesia yang harus dipertahankan. Lebih jauh, Ratna Megawangipentingnya pem­bangunan watak, namun hingga (2004), yang belakangan ini giat menyelenggarakanhari ini belum ada konsensus kuat tentang pendidikan karakter di berbagai wilayah di Indone-jenis-jenis watak luhur mana yang harus sia melalui Indonesia Heritage Foundation menyebutdiajarkan dan diterapkan secara sistematis. sembilan sikap luhur yang harus ditanamkan sejakBudi pekerti atau akhlaq mulia memang telah dini pada anak-anak Indonesia. Sikap itu adalah:1) cinta Tuhan dan kebenaran, 2) tanggung-jawab, kedi-diajarkan sejak taman kanak-kanak, namun siplinan dan kemandirian, 3) amanah, 4) hormat dansifatnya masih sporadis dan kurang intensif santun, 5) kasih sayang, kepedulian, dan kerjasama,(belum terfokus dan ketat) sehingga hasilnya 6) percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah, 7) ke-dirasakan belum maksimal. adilan dan kepemimpinan, 8) baik dan rendah hati, dan 9) toleransi dan cinta damai. Bila kita sepakat, fokus perhatian pengem­ Vol. VII/No. 3/September 2012 
    • merumuskan aturan-aturan tegas bagi pelang­ 3. Menumbuhkan kemauan (will), se­pertigar kejujuran, membangun pakta-integritas menguatkan niat dan meng­himpun tenagauntuk menjaganya, serta merancang data- untuk melaksanakan prinsip-prinsip luhurbase untuk pemantauan (monitoring) untuk dalam ke­hi­dupan nyata.menumbuhkan suasana interaksi akademis 4. Pembiasaan (habit), yakni pe­ngem­bang­yang sehat dan berintegritas. an sikap untuk merespon ber­bagai si­ Apapun pilihan yang ditentukan, yang tua­si dengan baik secara konsisten danpaling penting dilakukan adalah men­ca­ berkelanjutan.nangkan pelaksanaan strategi pen­didikan Beragam cara kreatif dapat dicoba untukyang tepat agar watak luhur itu dapat ber­ dilakukan dalam pendidikan karakter. Na­kembang dan ter­internalisasi efektif dalam mun yang perlu diingat, se­bagaimana telahdiri setiap peserta didik. Selain sekolah/ disinggung sebe­lumnya, pengembangan ka­kampus, lingkungan keluarga menjadi tempat rakter luhur hanya akan tumbuh sehat, bilapenting bagi pembangunan watak luhur ini. ada dukungan kuat dari komunitas tempatPeran orangtua di rumah tetap memiliki posisi seseorang hidup sehari-hari. Komunitas yangpaling sentral. Tak dapat dipungkiri bahwa sehat adalah komunitas yang di dalamnyalembaga keluarga adalah lembaga pendidikan terjadi interaksi yang sejajar, yakni masing-terpenting di banding lainnya. Karena itu, masing anggota memiliki kesamaan derajat,pembangunan watak secara nasional mus­ ada kesamaan tingkat keterlibatan, dan adatahil dapat dilakukan tanpa upaya serius sikap keterbukaan. Langkah membangunmendorong keluarga untuk ikut menjalankan interaksi sehat ini memerlukan pemahamanmisi character building ini. dan latihan terus-menerus. Manakala komu­ Namun, kehidupan modern telah semakin nitas se­macam ini terbangun, maka setiapmenggeser peran keluarga. Jam belajar dan anggota di dalamnya memiliki jalinan hu­interaksi sosial anak di lingkungan sekolah/ bungan erat yang diikat oleh nilai-nilai moralkampus sering lebih panjang dibanding yang disepakati bersama. Sikap luhur sepertiinteraksi dalam keluarga. Akibatnya, peran kejujuran, keadilan, tanggung-jawab, rasional,sekolah/kampus dalam ikut membangun berani dan toleran sebagaimana disebutkan, bi­wa­tak peserta didik pada tempat dan wak­ la telah menjadi bagian dari norma ko­munitas,tu tertentu menjadi lebih penting. Karena akan berkembang kuat. Se­tiap anggota da­itu, sebagaimana dikatakan Thomas Lickona lam komunitas itu se­cara demokratis akan(1993): „School must help children understand menjaganya dari pelanggaran-pelanggarancore values, adopt or commit to them, and then yang dilakukan.act upon them in their own lives“. Artinya, Pola-pola interaksi sehat merupakan em­dalam pendidikan karakter, sekolah/kampus brio tumbuhnya sebuah komunitas responsif.harus mendorong peserta didik untuk Amitai Etzioni (1996) meng­gunakan termi­mampu memahami nilai-nilai moral yang nologi “komunitas res­ponsif” untuk menandaibaik (moral knowing), mampu merasakan sebuah ko­munitas yang bersifat non-represif,nilai-nilai luhur itu hingga ke lubuk hati yang yaitu sebuah komunitas yang di dalamnya, dipaling dalam (moral feeling), dan akhirnya satu sisi, tidak ada upaya-upaya pemaksaanmemiliki komitmen kuat untuk melaksanakan penerapan nilai karena tidak ada lagi ke­apa yang diketahui dan dirasakannya itu ke kuatan sentripetal komunitas (centripetaldalam tindakan nyata (moral action) (Ratna forces of community) yang memberangusMegawangi, 2004: 111). hak-hak individu, namun di sisi lain, tiap- Apa yang harus diperhatikan agar hal ini tiap individu tidak juga menganut kebebasandapat terimplementasi? Shea (2003) menyebut yang mengabaikan tanggung jawab kolektifempat aspek yang harus dilakukan dalam (sebagaimana terjadi dalam iklim komunitaspembentukan watak, yakni: libertarian free for all). Nilai-nilai moral ber­1. Perhatian pada sisi emosi peserta didik sama tumbuh atas kesadaran, bukan pak­ seperti menghargai diri sendiri (self- saan. Etzioni (1996: 92) menulis, “the term respect), kemampuan ber-em­pathy, dapat ‘responsive’ implies that the society is not merely menahan diri (self-control), rendah hati setting and fostering norms for its members, dan lain-lain. but is also responding to the expressions of2. Meningkatkan life-skills seperti ke­mam­ their values, viewpoints and communications puan mendengarkan orang lain dan ke­ in refashioning its culture and structure.” l mampuan berko­mu­nikasi. (bersambung)  Vol. VII/No. 3/September 2012
    • Upaya Mengatasi Gangguan PsikologisSiswa Dalam Pelaksanaan Ujian NasionalTeuku Ramli Zakaria (Anggota BSNP) A. Latar Belakang Permasalahan P ada bulan April tahun 2006 Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) melaksanakan Ujian Nasional pertama, sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan. Ketika pengumuman hasil ujian, karena adanya ketentuan lulus-tidak lulus, timbul krontroversi di tengah-tengah masyarakat. Sebelumnya, ketika berlaku sistem Ujian Sekolah sepenuhnya, yang dikenal dengan sebutan Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA) dan ketika berlaku sistem Evaluasi Belajar Tahap Akhir Pramono, SH., M.HUM. Salah satu amar Nasional (EBTANAS), semua sekolah keputusan pengadilan tersebut adalah cenderung meluluskan siswanya mengambil langkah-langkah konkrit 100%. Hal ini sesungguhnya sangat untuk mengatasi gangguan psikologi berbahaya bagi dunia pendidikan kita, dan mental peserta didik dalam usia karena lembaga pendidikan cenderung anak akibat penyelenggaraan Ujian memberikan pendidikan semu kepada Nasional. Upaya ini telah dilakukan, peserta didik. Lembaga pendidikan dan akan terus diperbaiki secara cenderung membagi-bagikan ijazah saja berkelanjutan. kepada peserta didik, tidak membekali mereka dengan kompetensi yang B. Berbagai Upaya untuk Menga­ mencukupi, sesuai dengan jenjang dan/ tasi Gangguan Psikologis dan atau jenis pendidikan yang ditempuh. Mental Siswa Akibat lebih lanjut, kinerja dunia pendidikan kita tidak terukur lagi, Dalam rangka membangun sistem karena tidak ada suatu standar yang pendidikan nasional, kita perlu mem­ jelas, yang dapat digunakan sebagai bangun sebuah sistem ujian yang tolok ukur secara nasional. Berbeda mapan, yang dapat mendorong upaya dengan era sebelumnya, saat berlakunya peningkatan mutu pendidikan secara Ujian Negara, kita memiliki standar yang berkelanjutan. Sudah lebih dari 60 tahun sama, sebagai tolok ukur kinerja dunia Indonesia merdeka, kita belum memiliki pendidikan yang berlaku untuk seluruh sebuah sistem ujian yang terbangun wilayah tanah air. dengan baik. Sistem ujian kita berubah- Di tengah-tengah suasana kontroversi ubah. Sejak Indonesia merdeka, telah tersebut, 58 orang warga masyarakat pernah berlaku 4 macam sistem ujian mengajukan Surat Gugatan bertangal akhir untuk penentuan kelulusan: 27 Juli 2006 melalui Pengadilan Negeri Ujian Negara; Ujian Sekolah (Evaluasi Jakarta Pusat, yang terdaftar dengan Belajar Tahap Akhir sering disingkat register perkara No. 228/PDT.G/2006/ EBTA) sepenuhnya; Evaluasi Belajar Ta­ PN.JKT.PST, yang kemudian diperbaiki hap Akhir Nasuional (EBTANAS); dan dengan surat bertanggal 4 September Ujian Nasional, yang masih berlaku 2006. Perkara ini diputuskan oleh saat ini. Berdasarkan hasil kajian ter­ pengadilan pada hari Kamis, tanggal 3 hadap 4 macam sistem ujian akhir Mei 2007, dengan Hakim Ketua: Andriani ter­sebut, Ujian Nasional adalah lebih Nurdin, SH., MH., dan Hakim Anggota; baik untuk menunjang peningkatan Makkasau, SH., M.HUM., dan Heru dan pemerataan mutu pendidikan. Na­ Vol. VII/No. 3/September 2012 
    • mun demikian disadari bahwa dalam buah paragraf”. Bila peserta didik me­pelaksanaannya saat ini masih terdapat mahami makna tema, diberi contoh,kelemahan-kelemahan yang perlu di­ dan diberikan beberapa latihan mencarisempurnakan. Salah satu kelemahan tema dalam paragraf oleh guru, niscayaitu adalah berkaitan dengan dampak peserta didik akan dapat mengerjakanpsikologis dan mental bagi peserta butir soal tersebut dengan baik. Seluruhdidik. Hal ini juga merupakan tuntutan butir soal yang ada dalam naskah soalamar putusan pengadilan yang harus ujian mengacu pada indikator yang adadipenuhi. dalam kisi-kisi. Kisi-kisi ini dapat diakses Untuk mengatasi gangguan psikologi oleh siapapun, tidak bersifat rahasia.dan mental peserta didik, Kementerian Pada masa berlaku sistem Ujian Ne­Pendidikan dan Kebudayaan telah me­ gara sampai dengan awal tahun 1970anlakukan upaya-upaya sebagai berikut. dan pada masa berlaku EBTANAS pa­ da era 1980an, kisi-kisi soal tidak dise­1. Sosialisasi barluaskan secara terbuka seperti saat Sosialisasi dipandang merupakan ini. Dengan demikian, Ujian Nega­rasalah satu langkah penting, terutama dan EBTANAS seharusnya lebih me­­untuk pemerataan informasi. Sosialisasi negangkan bagi peserta didik di­ban­inipun dilakukan dalam beberapa ben­ dingkan dengan Ujian Nasional saat ini.tuk. Pertama, sosialisasi pada se­mua Bila kita perhatikan dengan sek­sama,ibukota provinsi, dengan melibatkan: ada 2 faktor utama yang me­nimbulkanDinas Pendidikan Provinsi; seluruh Dinas ketegangan dan memberi beban psi­Pendidikan Kabupaten/Kota; Kantor kologis di sekolah, baik pada guru mau­Wilayah Kementrian Agama Provinsi; pun pada peserta didik sbb.dan seluruh Kantor Departemen Aga­ - Pertama, ketika berlaku Evaluasima Kabupaten/Kota; Anggota DPRD Belajar Tahap Akhir (EBTA/ujianProvinsi; Wakil dari Perguruan Ting­ sekolah sepenuhnya) telah ber­gi; dan wartawan. Sosialisasi ini dila­ kembang budaya lulus 100%.kukan oleh Badan Standar Nasional Dam­­pak psikologisnya, saat iniPendidikan bersama-sama dengan Ba­ masyarakat juga mengharapkandan Penelitian dan Pengembangan, Ke­ siswa lulus 100%. Ketidaklulusanmetrian Pendidikan dan Kebudayaan. dari ujian dipandang sebagai halLebih lanjut diharapkan, Dinas Pen­ yang tidak wajar.didikan Kabupaten/Kota dan Kantor - Kedua, pengaruh faktor politis. Ka­Kementrian Agama Kabupaten/Kota rena pendidikan merupakan bidangda­pat melakukan sosialisasi langsung yang diotonomikan, hasil Ujianke seluruh sekolah dan madrasah yang Nasional dijadikan indikator kinerjaada dalam lingkungannya. Selain dari pemerintah daerah. Oleh karenaitu, sosialisasi dalam bentuk ini juga itu, pemerintah daerah cenderungdilakukan oleh direktorat-direktorat menekan guru dan sekolah untukterkait tehadap sekolah/madarah dalam memperoleh hasil Ujian Nasinoallingkungan binaannya. yang baik. Kedua, sosialisasi melalui Media Cen­ Kisi-kisi Ujian Nasional dapat di­ter yang ada di Kementrian Pendidikan akses oleh semua guru dan pesertadan Kebudayaan. Media Center ber­ didik. Selain telah disosialisasikan danperan dalam menyebarluaskan in­for­ disebarluaskan ke seluruh Provinsimasi tentang pendidikan, termasuk dan Kabupaten/Kota, melalui DinasUjian Nasional melalui media cetak Pendidikan dan Instansi Vertikal Ke­dan media elektronik. Ketiga, informasi meterian Agama, juga dapat diaksestentang Ujian Nasional juga dapat melalui www.kemdiknas.go.id; www.diakses melalui: www.kemdiknas.go.id; bsnp-indonesia.org; dan www.www.bsnp-indonesia.org; dan www. puspendik.com.puspendik.com. 3. Mengintegrasikan nilai sekolah2. Menyebarluaskan Kisi-kisi Soal dalam penentuan kelulusan UN Kisi-kisi Ujian Nasional memuat Pada Ujian Nasional Tahun Pela­kom­petensi dan indikator sebagai ke­ jaran 2010/2011 dan Tahun Pelajaranmampuan spesifik yang akan diujikan. 2011/2012 telah dilakukan satu per­Misalnya, dalam Bahasa Indonesia “sis­ baikan yang sangat mendasar, yaituwa dapat menemukan tema dalam se­ diintegrasikannya Nilai Sekolah (NS)  Vol. VII/No. 3/September 2012
    • dengan Nilai Ujian Nasinal untuk pe­ Indonesia merdeka sampai dengannentuan kulusan dalam Ujian Nasional. awal tahun 1970an. Kriteria kelulusanFormula Nilai Sekolah sbb.: NS = 0,6 x EBTANAS dan Ujian Negara ≥ 6,0 untukNUS + 0,4 x NR. masing-masing mata pelajaran.Keterangan : Dengan perbaikan-perbaikan terse­ NS = Nilai Sekolah; but, gangguan psikologis dan mental NUS = Nilai Ujian Sekolah peserta didik secara sistemasis dapat NR = Nilai Rata-rata Rapor teratasi. Hal ini antara lain dapat diamati dari suasana di sekolah yang semakin Dalam hal ini, Nilai Rata-rata Rapor, baik dan kondusif. Hasil Ujian Nasional,mewakili nilai dalam proses pembelajaran dilihat dari persentase kelulusan jugayang diperoleh peserta didik dari guru semakin meningkat dari tahun kemasing-masing mata pelajaran. Adapun tahun.Nilai Ujian Sekolah/Madrasah adalah Seperti telah dijelaskan di atas,nilai yang diperoleh peserta didik dalam da­­lam penetuan kelulusan Ujian Na­ujian akhir pada masing-masing mata sio­nal tahun pelajaran 2010/2011pelajaran, yang diselenggarakan oleh dan tahun pelajaran 2011/2012 telahsekolah/madrasah. diintegrasikan nilai sekolah, termasuk Kelulusan dalam UN ditentukan nilai proses yang dicapai peserta di­ber­dasarkan Nilai Akhir (NA), dengan dik, seperti tercantum dalam rapot.ke­tentuan: rata-rata NA ≥ 5,5, dan NA Dengan diintegrasikannya nilai sekolah,untuk setiap mata pelajaran ≥ 4,0. Ada­ dalam Ujian Nasional Ta­hun Pelajaranpun formulanya: NA = 0,6 x NUN + 04 2010/2011 dan Tahun Pelajaranx NS. 2011/2012 yang lalu dapat di­capaiKeterangan: pesentase kelulusan yang ting­gi dan NA = Nilai Akhir; lebih baik dari tahun-tahun sebe­lumnya, NUN = Nilai Ujian Nasional; walaupun tanpa Ujian Nasional Ulangan. NS = Nilai Sekolah Tahun-tahun sebelum ada Ujian Na­sio­ nal Ulangan, namun berdasarkan ha­ Adapun untuk penentuan kelulusan sil kajian, Ujian Nasional Ulangan inidari satuan pendidikan (sekolah/ma­dra­ memiliki satu kelemahan mendasar,sah), sesuai dengan kriteria yang tersurat yakni menjadi ajang cuci gudang dandalam Pasal 72 Ayat (1) Peraturan merugikan bagi para siswa yang lulusPemerintah No. 19 Tahun 2005, tentang dalam Ujian Nasional Utama. BanyakStandar Nasional Pendidikan sebagai siswa yang lulus dalam ujian keduaberikut. mencapai nilai yang lebih tinnggi daria. menyelesaikan program; para siswa yang lebih baik dari mereka,b. memperoleh nilai minimal baik yang lulus dalam Ujian Nasional Utama. pada penilaian akhir untuk seluruh Dalam suatu proses seleksi ke jenjang kelompok mata pelajaran agama pendidikan perikutnya, misalnya dari dan akhlak mulia, kelompok ma­ SMP/MTs masuk ke SMA/MA, siswa ta pelajaran kewarganegaraan dan yang lulus dalam Ujian Nasional Utama kepribadian, kelompok mata pela­ tersisih oleh pesaing yang lulus dalam jaran estetika, dan kelompok mata Ujian Nasional Ulangan. Oleh karena itu, pelajaran jasmani, olah raga, dan banyak pula masukan yang diterima dari kesehatan; lapangan, yang mengharapkan supayac. lulus ujian sekolah/madrasah; Ujian Nasional Ulangan ditiadakan.d. lulus Ujian Nasional. C. Penutup4. Menetapkan batas lulus yang rendah Dalam proses pendidikan selalu ada Batas lulus Ujian Nasional yang dite­ ujian. Berdasarkan berbagai literaturtapkan adalah rendah, seperti telah di­ dan pengamalan berbagai Negara, secarajelaskan dalam butir 3 di atas: Rata-rata garis besar ada 2 macam ujian, yakni:NA ≥ 5,5; dan NA untuk masing-masing ujian internal (yang diselenggarakanmata pelajaran ≥ 4,0. Batas kelulusan oleh lembaga penyelenggara pendidikanini lebih rendah dari batas kelulusan sendiri) dan ujian eksternal (yang di­Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional selenggarakan oleh lembaga luar).(EBTANAS) di era tahun 1980an dan Ujian Nasional merupakan ujian eks­Ujian Negara yang pernah berlaku sejak ternal bila dilihat dari perspektif seko­ Vol. VII/No. 3/September 2012 
    • kah madrasah penyelenggara, yang semua sekolah/madrasah cenderungtujuannya adalah untuk menilai pen­ meluluskan siswanya 100%, walaupuncapaian Standar Kompetensi Lulusan mereka belum memiliki kompetensi(SKL) secara nasional. SKL adalah kom­ minimal yang seharusnya mereka mi­petensi minimal (bukan kompetensi liki, sesuai dengan jenis dan jenjangmaksimal) yang harus dikuasai oleh pen­didikannya. Kelemahan lain yangpeserta didik untuk lulus dari suatu sangat menyolok ketika berlaku sistemjenjang dan/atau jenis pendidikan. Kom­ Ujian Sekolah (EBTA) dan EBTANASpetensi maksimal pada masing-masing adalah nilai rapot dan nilai dalammata pelajaran dikembangkan dan diuji Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) padaoleh masing-masing sekolah/madrasah sekolah/madrasah yang kurang baiksesuai dengan kekhasan dan kebutuhan pada umumnya lebih tinggi dibadingkanpeserta didik pada masing-masing dengan sekolah/madrasah yang baiksekolah/madrasah. dan bermutu. Dengan demikian, nilai Pengujian penguasan komptensi mi­ rapot dan nilai STTB dapat menyesatkannimal yang harus dikuasai oleh peserta bila digunakan sebagai tolok ukur dalamdidik pada mata pelajaran kelompok proses seleksi dan penempatan olehilmu pengetahuan dan teknologi tertentu pengguna lulusan. Namun demikian,sangat penting dilakukan, karena 2 alas­ ki­ta menyadari sepenuhnya, bahwaan utama sebagai berikut. Pertama, su­ penye­lenggaraan Ujian Nasional perlupaya lembaga pendidikan dapat me­­ terus diperbaiki secara berkelanjutannyelenggarakan pendidikan yang ber­ dan terarah, dalam rangka membanguntanggung jawab, tidak memberikan sebuah sistem ujian yang mapan danpen­didikan semu kepada masyarakat dapat menopang pembangunan sertadengan cara hanya membagi-bagi ija­ upaya pemerataan dan peningkatanzah, tidak membekali peserta didik mu­tu pendidikan secara berkelanjutande­ngan kompetensi yang mencukupi, pula.sesuai dengan jenjang/jenis pendidikanyang ditempuh. Kedua, kita perlu DAFTAR PUSTAKAmeningkatkan mutu pendidikan secarasistematis dan terarah, dalam rangka Djemari Mardapi. 2004. Studi Dampakmeningkatkan mutu sember manusia Ujian Nasional. Yogyakarta: Pro­daya bangsa ini, untuk mampu bersaing gram Pascasarjana UNY.dengan bangsa-bangsa lain di eraglobal Furqon. 2005. Ujian Nasional dan Alter­saat ini. natif Solusi. Bandung: Universitas Berdasarkan hasil kajian tentang Pendidikan Indonesia.sistem ujian yang pernah berlaku se­jak Indonesia merdeka, sistem Ujian Ki Supriyoko, 2005. Studi Aspirasi Masya­Na­sional, seperti juga Ujian Negara rakat Tentang Pelaksanaan Ujianyang pernah berlaku sejak Indonesia Nasional. Yogyakarta: Lembagamerdeka, adalah lebih baik dibandingkan Studi Pembangunan Indonesia.dengan sistem Ujian Sekolah (EBTA),yang diberlakukan sepenuhnya pada Pemerintah RI. Undang-undang No.era tahun 1970an dan EBTANAS yang 20 Tahun 2003 Tentang Sistemberlangsung pada era tahun 1980an. Pendidikan Nasional.Justru awal lahirnya gagasan Ujian _______________, Peraturan PemerintahNasional adalah untuk memperbaiki No. 19 Tahun 2005 Tentangkelemahan mendasar pada sistem Ujian Standar Nasional Pendidikan. lSekolah (EBTA) dan EBTANAS. Padasistem Ujian Sekolah dan EBTANAS, 10 Vol. VII/No. 3/September 2012
    • “Empat Pilar”, MenyatukanKemajemukan IndonesiaOleh Weinata Sairin Spesifik realitas kemajemukan itu­ lah yang pada akhirnya B erbicara tentang nilai yang unik dan membulatkan sikap me­ spesifik, yang menjadi ciri khas dari reka untuk menetapkan kedirian Indonesia tak bisa tidak ha­ Pancasila sebagai da­ rus disebut adalah ke­majemukannya, plu­ sar Negara Republik ralitasnya. Kema­je­mukan multi dimen­sional In­do­­­nesia. yang meliputi suku, etnik, budaya, dan agama adalah sesuatu yang tidak terbantahkan, ji­ Pluralisme Keagamaan ka kita berbicara tentang Indonesia. Ke­ma­ Di Indonesia hidup dan jemukan seperti ini sebagai rahmat dan berkembang aga­ma-aga­ma: Islam, Kristen, Ka­ anugerah Allah adalah kekayaan, aset yang tolik, Hindu, Buddha, Khong­hucu, dan ber­ba­ amat berharga, yang harus dikelola dalam gai agama lainnya. tanggung jawab dan ketaatan kepada Allah. Sebenarnya realitas ke­majemukan agama Kemajemukan sebagai suatu realitas ba­gi masyarakat Indoneisia bu­kanlah hal empiric yang tak terbantahkan, harus di­ yang baru. Dalam kese­harian mereka, warga sadari, dihargai, dan diberi ruang se­hingga masyarakat ber­gaul dan bekerja sama dengan ke semua unsur memiliki ke­terjalinan umat dari berbagai latar belakang agama, satu sama lain yang pada gi­lirannya dapat tanpa mesti menghadapi persoalan yang memberi kontribusi bagi penguatan sebuah signifikan. Dalam dokumen per­undangan, Indonesia yang solid di masa depan. Di­ acapkali muncul nama-nama agama: Islam, sadari, artinya bahwa kemajemukan itu Kris­ten, Katolik, Hindu, dan Buddha sehingga benar-benar direfleksikan oleh setiap war­ seolah mengesankan hanya kelima agama itu ga bangsa pada aras apa pun, dalam ber­ yang diakui secara resmi oleh pemerintah. interaksi, dalam membuat kebijakan, dan Kesalahan tafsir ini agaknya di­inspirasi dalam proses pengambilan keputusan. Di­ oleh Penetapan Presiden RI nomor I/1965 har­gai, artinya diapresiasi, tidak dilecehkan, tentang Pencegahan Pe­nyalahgunaan dan/ tidak didiskriminasi, ada hak dan ke­wa­ atau Penodaan Agama tanggal 27 Januari jiban yang sama. Diberi ruang, artinya 1965. Pada Penjelasan Pasal I Penpres men­­dapat tempat, didengar aspirasinya, tersebut disebutkan bahwa “agama-agama dan diperhitungkan keberadaanya. Kon­ yang dipeluk oleh penduduk Indonesia: flik-konflik yang terjadi dalam kehidupan Islam,Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan masyarakat kita dalam beberapa tahun Khong Hu Cu (Conficius). Itu ti­dak berarti terakhir ini, dalam batas-batas tertentu, bahwa agama-agama lain, misalnya Yahudi, harus diakui oleh karena kemajemukan Zarazutrian, Sinto, dan Taoisme dilarang di dan pluralitas bukan saja tidak disadari, Indonesia. Mereka mendapat jaminan penuh te­tapi terlebih karena tidak dihargai dan se­perti yang diberikan oleh Pasal 29 ayat 2, tidak diberi ruang. Kondisi-kondisi seperti dan mereka dibiarkan adanya, asal tidak itu dimanfaatkan secara politis, diboncengi melanggar ketentuan-ketentuan yang terdapat faktor-faktor ekonomis se­hingga konflik dalam peraturan ini atau perundangan terus membara dan hampir tak pernah lain”. Penyebutan ten­tang nama-nama aga­ ber­akhir. ma tersebut tidak harus difahami dalam Kita patut berbangga pada the founding kon­teks legi­timasi, tapi suatu pernyataan/ fathers, yang benar-benar menyadari realitas infor­matoris tentang agama-agama yang di­ kemajemukan se­bagai bagian integral dari peluk oleh penduduk Indonesia. Oleh karena kedirian Indonesia. Adanya kesadaran tentang itu, pandangan seolah-olah ha­nya ada 5 agama yang resmi diakui oleh pemerintah, tidak benar, apalagi pe­merintah tidak dalam Penulis adalah teolog, menulis tesis S2 Tentang Gerakan kapasitas meng­akui keabsahan eksistensi Pembaruan Muhammadiyah, anggota BSNP sesuatu agama. Vol. VII/No. 3/September 2012 11
    • Di lingkungan kekristenan, pluralitas agama merata. Faktor-faktor eksternal acapkali jugatelah cukup lama disadari, sebab itu para teolog tidak mendukung pengembangan pola pikirmendorong pe­ngembangan sikap dan wawasan inklusif, antara lain kerukunan antarumatinklu­sif agar umat/warga gereja mampu mem­ beragama yang belum matang di berbagaiberi apresiasi terhadap pluralisme agama. daerah, pemberitaan/penayangan di mediaWawasan inklusif adalah suatu pola pikir non- ce­tak/elektronik yang isinya secara tidakdiskriminatif, yang mem­berikan kerangka di langsung cenderung mendiskreditkan sesuatumana semua golongan dapat hidup bersama, agama, publikasi serta khotbah-khotbah yangbekerja bersama untuk membangun masa de­pan dalam keterbatasan per­sepsi dapat menyulutbersama yang lebih baik, dengan tetap berpijak sentimen antarumat beragama. Problematikapada visi teologis yang diyakini setiap orang. ini perlu diatasi dengan terus-menerus mem­Dengan demikian, pemikiran inklusif adalah berikan pemahaman tentang wawasan inklusifpemikiran yang mengakomodasi, memberi di kalangan pimpinan gereja dan warga gerejatempat, menghargai kelompok lain, dan sebab dari berbagai latar belakang profesi/pendidikanitu jauh dari sikap yang menafikan ke­lompok ter­masuk program pengadaan publikasi,lain atau sikap membenarkan pandangan sendiri ceramah, dan pendidikan keagamaan bagisecara fanatic, sambil berupaya menghabisi warga gereja. Selain itu, iklim yang kondusif dikelompok lain. masyarakat perlu terus-me­nerus diupayakan, Dalam berhadapan dengan pluralitas aga­ dengan secara sungguh-sungguh menjadikanma, pola pikir inklusif ini telah lama di­kem­ Pancasila sebagai referensi dan basis utamabangkan para teolog. Raimundo Pannikar mi­ dalam membangun rumah besar Indonesia.salnya menyatakan bahwa dalam konteks Agama-agama di Indonesia memiliki dasardunia sekarang ini orang dapat menemukan teologis masing-masing sebagai rujukannilai-nilai yang po­sitif dan benar bahkan me­ utama dalam mengembangkan pluralitas.nyangkut tatanan yang paling tinggi, di luar Pengembangan sikap tersebut pada gilirannyatra­disi agamanya sendiri. Pannikar yang memberikan kontribusi signifikan dalamamat meberi tekanan pada makna dialog me­ memelihara soliditas NKRI.nyatakan bahwa melalui dialog pengalaman-pengalaman pertikular me­ngenai kebenaran Empat Pilardapat diperluas dan diperdalam sehingga me­ Upaya untuk memperteguh NKRI terusnyingkap pengalaman-pengalaman baru me­ dilakukan dari waktu ke waktu oleh berbagaingenai kebenaran. Dalam dialog, hubungan an­ pihak karena menyadari betapa pentingnyataragama bukanlah hubungan asimilasi atau sebuah Indonesia yang utuh, satu, solid dalamsubstitusi melainkan hubungan yang saling kemajemukannya.menyuburkan. Alan Race menunjuk pada be­ Adalah Taufik Kiemas - Ketua MPR yangbe­rapa ayat dalam Alkitab yang memberi da­ sejak tahun 2010 mengintroduksi gagasansar sikap in­klusif antara lain: Setiap orang dari “Empat Pilar” untuk menjadi dasar dalambangsa manapun yang takut akan Dia dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Empatyang mengamalkan kebenaran berkenan ke­ Pilar itu adalah: Pan­casila, Undang-Undangpa­da-Nya (Kis. 10:35). Se­mentara itu Dr. D.C. Dasar Negara Republik Indonesia TahunMul­der mendorong gereja-gereja untuk belajar 1945, Ne­gara Kesatuan Republik Indonesiadari orang lain, karena Tuhan Allah bukan ti­ dan Bhineka Tunggal Ika. Menurut Tau­fikdak menyatakan diri kepada semua bangsa Kiemas, Empat Pilar ini akan mampu men­(Kis: 14:7); Tuhan bergumul dengan semua jawab persoalan-persoalan multidimensi yangma­nu­sia, maka semua bangsa mencari Tuhan dihadapi oleh bangsa Indonesia ditengah(Kis. 17:27). peraturan global. Pengembangan sikap inklusif sa­ma sekali Empat Pilar dengan demikian harus men­tidak berarti dan tidak bo­leh memperlemah jadi roh dan nafas dalam hidup kita membangsaiman dan atau mengingkari nilai ekslusif dan dan menegara. Empat Pilar tidak boleh jatuhspesifik yang ada dalam setiap agama, tetapi menjadi mitos, jargon, slogan tetapi mestijustru harus memperteguh keyakinan dan iman diinternalisasi me­lalui bidang pendidikan,seseorang terhadap agama yang dianutnya. hukum, politik serta bidang-bidang lainnyaPengembangan sikap inklusif di kalangan umat sehingga spirit Empat Pilar itu benar-benarKristen di­lakukan secara terarah, terancam, men­jadi benang merah dalam kehidupan se­ber­kesinambungan, dan mencakup seluruh tiap warga bangsa.lapisan umat. Dalam konteks ini problem Dengan cara itu kita berharap akan tetapdan kendala yang dihadapi adalah keragaman eksis di pentas sejarah se­buah Indonesiadenominasi, keragaman latar belakang majemuk yang teguh, solid, berkeadaban,pendidikan, persepsi teologis yang tidak sama, menghargai HAM, yang memiliki kontribusipola pembinaan warga gereja yang belum bagi dunia in­ternasional. l 12 Vol. VII/No. 3/September 2012
    • Berita BSNP* UNPK TETAP DIADAKAN DUA KALI SETAHUN U jian Nasional Pendidikan Kesetaraan atau UNPK tahun 2012 tahap pertama dilaksanakan tanggal 9-12 Juli 2012 untuk fungsi dan tugas masing-masing pe­nyelenggara Pusat, Penyelenggara Provinsi, Penyelenggara Kabupaten/Kota, dan satuan pendidikan dalam program Paket C dan tanggal 16-18 Juli 2012 pelaksanaaan UNPK. Hal ini dimaksudkan untuk program Paket A/Ula dan Pa­ket B/Wustha. supaya masing-masing penyelenggara lebih Sedangkan UNPK tahap ke­dua dilaksanakan fokus dan tidak sa­ling melepaskan tanggung pada tanggal 8-11 Okto­ber 2012 untuk Paket jawab dalam pelaksanaan UNPK. C dan tanggal 15-17 Oktober 2012 untuk Paket Akurasi pendataan peserta UNPK perlu A/Ula dan pa­­ket B/Wustha. Penyelenggaraan diperhatikan karena hal ini memiliki implikasi UNPK ditetapkan melalui Peraturan Menteri penganggaran dan administrasi. Selain itu, Pen­didikan dan Kebudayaan Nomor 35 Tahun juga perlu diantisipasi jika terjadi emergency di 2012 dan Peraturan Badan Standar Nasional lapangan, seperti soal kurang, LJUN rusak atau Pendidikan Nomor 0018/P/BSNP/VI/2012 ten­ kurang dan lainnya. Oleh sebab itu diperlukan tang Prosedur Operasi Standar Ujian Na­sional koordinasi yang lebih baik untuk hal-hal yang Pendidikan Kesetaraan. memerlukan penanganan segera. Untuk menyiapkan pelaksanaan UNPK,­ Secara umum tidak banyak perubahan BSNP bersama Badan Penelitian dan Pengem­ pelaksanaan UNPK tahun 2012 dibandingKartono (berdiri, memegangmikropon) Ketua Penyelenggara UNPK Provinsi Jawa Tengah menyampaikan pertanyaan kepada Ketua BSNP terkait dengan waktu pelaksanaan UNPK 2012. bangan Kementerian Pendidikan dan Kebuda­ dengan tahun 2011. Salah satu perubahan yaan, mengadakan rapat koor­dinasi pada adalah prosedur pendaftaran bagi peserta tanggal 15-16 Juni 2012 di Ja­karta. Rapat terse­ UNPK di luar negeri. Sesuai dengan POS but dihadiri oleh ketua penyelenggara dan UNPK, penyelenggara Program Paket A, Paket bendahara UNPK tingkat provinsi, kepala kan­ B, dan Paket C, mendaftarkan peserta UNPK tor Kementerian Agama, anggota BSNP dan ke Atase Pendidikan atau Konsulat Jenderal Pus­pendik. pada Kantor Perwakilan RI setempat. Jika tidak M. Aman Wirakartakusumah Ketua BSNP, ada Atase Pendidikan atau Konsulat Jenderal, dalam sambutannya mengatakan bah­wa maka pendaftaran dilakukan lang­sung ke tujuan rapat koordinasi adalah untuk menya­ Penyelenggara Pusat dalam hal ini Puspendik makan persepsi dan langkah dalam pelak­ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di sanaan UNPK. “Tujuan rapat koordinasi ini Jakarta. adalah untuk menyamakan persepsi dan lang­kah semua pihak yang terlibat dalam Jadwal Ujian penye­lenggaraan UNPK tahun 2012. Dengan Sesuai dengan POS UNPK, ujian di­lak­ demikian diharapkan pelaksanaan UNPK sanakan tanggal 9-12 Juli 2012 untuk program tahun ini akan semakin baik dibanding tahun paket C dan tanggal 16-18 Juli 2012 untuk sebelumnya”, ucap Aman. program paket A/Ula dan paket B/Wustha. Melalui rapat koordinasi ini juga, tam­bah Namun, untuk provinsi tertentu, karena sebab * Bambang Aman, perlu dirumuskan secara jelas peran, dan alasan yang valid, ujian program paket C Suryadi Vol. VII/No. 3/September 2012 13
    • Berita BSNPdilaksanakan bersamaan dengan waktu ujian Sementara itu, hasil rapat koordinasiprogram paket A/Ula dan paket B/Wustha. antara BSNP, Balitbang, Dirjen DIKTI, dan Dirjen “Ada tiga provinsi yang waktu pe­lak­sanaan Pendidikan Dasar pada tanggal 22 Juni 2012ujian program paket C disamakan dengan menetapkan pengumuman hasil UNPK yangprogram paket A/Ula dan paket B/Wustha,yaitu semula ditetapkan tanggal 4 Agustus 2012provinsi Papua, Sulawesi Tenggara, dan dimajukan ke tanggal 28 Agustus 2012.DKI”, ucap Candra dalam rapat pleno BSNP ”Pengajuan tanggal pengumuman ini(26/6/2012). untuk memberi kesempatan kepada lulusan Adapun jadwal pelaksanaan UNPK secara program Paket C untuk mengikuti ujianlengkap adalah sebagai berikut. ma­suk perguruan tinggi”, ucap M. Aman Tanggal Program Hari Jam Mata Ujian Periode I Periode II 13.00 – 15.00 Pendidikan Kewarganegaraan Senin 9 Juli 2012 8 Oktober 2012 15.30 – 17.30 Bahasa Indonesia 13.00 – 15.00 SosiologiPaket C Selasa 10 Juli 2012 9 Oktober 2012 15.30 – 17.30 GeografiIPS 13.00 – 15.00 Bahasa Inggris Rabu 11 Juli 2012 10 Okober 2012 15.30 – 17.30 Ekonomi Kamis 12 Juli 2012 11 Okober 2012 13.00 – 15.00 Matematika 13.00 – 15.00 Pendidikan Kewarganegaraan Senin 9 Juli 2012 8 Oktober 2012 15.30 – 17.30 Bahasa Indonesia 13.00 – 15.00 BiologiPaket C Selasa 10 Juli 2012 9 Oktober 2012 15.30 – 17.30 KimiaIPA 13.00 – 15.00 Bahasa Inggris Rabu 11 Juli 2012 10 Okober 2012 15.30 – 17.30 Fisika Kamis 12 Juli 2012 11 Okober 2012 13.00 – 15.00 Matematika 13.00 – 15.00 Pendidikan Kewarganegaraan Senin 9 Juli 2012 8 Oktober 2012Paket C 15.30 – 17.30 Bahasa IndonesiaKejuruan 13.00 – 15.00 Bahasa Inggris Selasa 10 Juli 2012 9 Oktober 2012 15.30 – 17.30 Matematika 13.00 – 15.00 Pendidikan Kewarganegaraan Senin 16 Juli 2012 15 Oktober 2012 15.30 – 17.30 Bahasa Indonesia 13.00 – 15.00 Ilmu Pengetahuan SosialPaket B/ Selasa 17 Juli 2012 16 Oktober 2012 15.30 – 17.30 MatematikaWustha 13.00 – 15.00 Bahasa Inggris Rabu 18 Juli 2012 17 Oktober 2012 15.30 – 17.30 Ilmu Pengetahuan Alam 13.00 – 15.00 Pendidikan Kewarganegaraan Senin 16 Juli 2012 15 Oktober 2012 15.30 – 17.30 Bahasa IndonesiaPaket A/ 13.00 – 15.00 Ilmu Pengetahuan SosialUla Selasa 17 Juli 2012 16 Oktober 2012 15.30 – 17.30 Ilmu Pengetahuan Alam Rabu 18 Juli 2012 17 Oktober 2012 13.00 – 15.00 Matematika Waktu pelaksanaan UNPK di luar negeri Wirakartakusumah seraya menambahkanditentukan oleh penyelenggara UNPK se­ BSNP akan mengirim surat edaran ke Ke­palatempat dan ditetapkan oleh Penye­lenggara Dinas Pendidikan Provinsi mengenai per­Pusat. ubahan tanggal pengumuman ini. l UJI COBA INSTRUMEN PEMANTAUAN STANDAR Buku Teks PelajaranF okus kegiatan BSNP tahun 2012 adalah pemantauan implementasi/pelaksanaanStandar Nasional Pendidikan pada jen­jang prasarana, pendidik dan te­na­ga kependidikan, pengelolaan, buku teks pelajaran, dan pen­ didikan nonformal. Sampai akhir Juni 2012,Pendidikan Dasar dan Pendidikan Me­nengah. tim ahli dari masing-masing standar telahAda delapan standar yang di­pan­­tau, yaitu me­lakukan uji coba instrumen pe­man­tauan.standar penilaian, proses, bia­ya, sarana dan Kegiatan uji coba dilaksanakan di delapan 14 Vol. VII/No. 3/September 2012
    • Berita BSNP provinsi untuk setiap standar dan di setiap dengan tanya jawab/dialog. Berdasarkan provinsi me­libatkan 40 responden yang masukan dan saran dari responden uji coba,tim berasal dari berbagai unsur, diantaranya dinas ahli akan me­nyempurnakan instrument pen­didikan provinsi, kantor kementeritan aga­ tersebut pada tahapan kegiatan berikutnya. ma, dinas pendidikan kabupaten/kota, ke­pa­la Farid Anfasa Moeloek, anggota BSNP sekolah, dan guru. yang melakukan uji coba instrumen di Ban­ten Edy Tri Baskoro, anggota BSNP dan koor­­ menyampaikan bahwa secara umum acara dinator kegiatan pemantauan standar sarana berjalan lancar, kondusif, kehadiran pe­serta dan prasarana mengatakan tujuan uji coba ini tinggi, dan partisipasi dari dinas bagus. adalah untuk mendapatkan ma­sukan dan saran Sementara Bambang Suryadi yang juga dari responden terhadap instrumen pemantauan mengikuti acara tersebut mengatakan bahwa dari aspek konten/isi, keterbacaan dan kejelasan berdasarkan masukan dari responden, dapat bahasa, waktu yang diperlukan untuk mengisi diketahui bahwa instrumen untuk dinas pen­ Responden uji coba instrumen pemantauan standar sarana dan prasaranamengisi instrumen di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Banten instrumen, dan format instrumen. didikan dan kemenag, meskipun dari segi Lebih lanjut Edy Tri Baskoro me­nam­bah­ jumlah halaman dan pertanyaan lebih sedikit kan karena ada delapan tim standar yang turun dibandingkan dengan instrumen untuk kepala ke lapangan untuk melakukan uji coba, maka sekolah, ternyata mereka lebih sulit mengisi. Hal perlu dilakukan sinkronisasi, harmonisasi, ini disebabkan: (a) responden tidak membawa dan koordinasi, tidak hanya antar tim standar data yang diperlukan seperti yang tertulis di tetapi juga dengan pihak dinas pendidikan dalam surat pengantar BSNP, dan (b) respoden provinsi/kabupaten/kota yang menjadi tempat tidak berani menerka atau me­nebak data pelaksanaan kegiatan. faktual, seperti tahun, jumlah dana/anggaran Proses selama di lapangan, anggota BSNP dll. Mayoritas responden mengaku menerima atau tim ahli menjelaskan tentang Stan­­dar surat undangan ter­lambat dan tugas dari pim­ Nasional Pendidikan, kegiatan pe­­­mantauan pinan (atasan) juga mendadak sehingga ti­dak standar, dan instrument, ke­mu­dian dilanjutkan sempat mem­bawa data-data pendukung. l DPRD KABUPATEN SINJAI Mengadukan masalah SKHUN SD ke BSNP S ebanyak sebelas orang anggota DPRD dan seorang dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan berdialog Provinsi. Namun belum ada jalan ke­luar yang diharapkan. Oleh sebab itu ang­gota dewan berinisiatif untuk berdialog de­ngan BSNP dengan anggota BSNP di Jakarta (29/5/2012) mengingat murid-murid yang sekarang duduk untuk mencari solusi tentang masalah Surat di bangku SMP akan mengikuti ujian sekolah. Keterangah Hasil Ujian Nasional (SKHUN) SD Pihak sekolah tidak memperbolehkan tahun 2009/2010 yang belum didistribusikan murid-murid mengikuti ujian sekolah jika tidak kepada peserta didik. ada SKHUN. Mengingat ini bukan kesalahan Menurut ketua rombongan, masalah ini murid, maka kita berharap jangan sampai sudah lama disampaikan ke Dinas Pen­di­dikan merugikan peserta didik. Vol. VII/No. 3/September 2012 15
    • Berita BSNP Menanggapi masalah tersebut, Ketua Setelah melalui dialog dan perbincanganBSNP M. Aman Wirakartakusumah menga­ yang cukup lama, akhirnya disepakati bahwatakan sebenarnya bukan wewenang BSNP peserta didik yang sekarang duduk di bangkuuntuk mengurusi SKHUN. BSNP ha­nya SMP dan akan mengikuti ulangan sekolah,menyelenggarakan ujian nasional, se­dangkan perlu diberikan hak mereka untuk mengikuti Anggota DPRD Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan saat berdialog dengan BSNP tentang masalah SKHUN SD.SKHUN menjadi wewenang Balit­bang dan ulangan sekolah. Sehubungan dengan halDinas Pendikan Provinsi. ini, Balitbang atau Direktorat Pembinaan SMP Namun demikian, tambah Aman, karena Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akanpermasalahan sudah disampaikan ke BSNP mengirim surat ke Kepala Dinas Pendidikanmaka harus dicari jalan keluar yang terbaik. Pada Provinsi Sulawesi Selatan dan Kabupatenprinsipnya, jangan sampai peserta didik dirugikan Sinjai. Pada waktu yang bersamaan, masalahkarena kesalahan yang dilakukan pihak lain. SKHUN juga akan diselesaikan. l IKAPI BERKOMITKEN HASILKAN BUKU TEKS PELAJARAN BERMUTUI katan Penerbit Indonesia (IKAPI) mem­be­ rikan komitmen dan siap mendukung kebi­jakan pemerintah untuk mengadakan buku Elektronik (BSE), proses penilaian buku, dan perkembangan buku teks pelajaran. IKAPI juga menyadari adanya buku-bukuteks pelajaran yang bermutu bagi murid-mu­ teks pelajaran yang beredar di seko­lah ataurid sekolah di seluruh Indonesia. Komitmen masyarakat, ada yang masih belum me­menuhiinin dilatarbelakangi oleh ke­prihatinan IKAPI standar mutu buku teks pela­jaran sebagaimanaterhadap fakta banyaknya buku-buku teks yang ditetapkan BSNP. Jum­lah penerbit yangpelajaran yang beredar di sekolah dan toko begitu banyak men­jadi kendala tersendiri bagibuku yang belum lolos dari standar mutu. IKAPI untuk mengatasi masalah ini. Komitmen tersebut disampaikan oleh “Jumlah penerbit di Indonesia sangatLucya Andam Dewi Ketua IKAPI dalam acara banyak, ada yang masuk anggota IKAPI dandialog dengan anggota BSNP di Jakarta ada yang tidak, sehingga kami (IKAPI) kesu­(5/6/2012). Turut hadir dalam acara ini ada­ litan untuk mengambil tindakan terhadaplah­ jajaran pengurus IKAPI, diantaranya Hus­ pelanggaran kode etik penerbitan seperti ini”,ni Syawie,Nova Rasdiana, dan Bambang ungkap Lucya.Trimansyah. IKAPI, menurut Lucya, juga menya­ “Melalui forum dialog ini, IKAPI mem­ yang­kan pembajakan buku yang terjadi dibe­­rikan komitmen penuh terhadap kebi­­ Indonesia. Oleh sebab itu IKAPI memiliki timjakan pemerintah untuk menyediakan buku penanggulangan pembajakan buku. Ang­teks pelajaran yang bermutu. Sebab IKAPI gota IKAPI tidak menerbitkan buku denganme­­miliki impian buku teks pelajaran yang melanggar hak cipta.digunakan di sekolah adalah buku teks pela­ Weinata Sairin anggota BSNP sekaligusjaran yang berkualitas”, ucap Lucya seraya koordinator tim buku teks pelajaran juga me­me­nambahkan melalui forum ini, IKAPI juga nyayangkan adanya buku teks pelajaran yangmemerlukan informasi tentang Buku Sekolah memberikan pesan-pesan yang tidak mendidik. 16 Vol. VII/No. 3/September 2012
    • Berita BSNP Pengurus IKAPI, Bambang Trimansyah (kiri), Lucya Andam Dewi(kedua dari kiri), dan NovaRasdiana (tengah) berpose bersama anggota BSNP setelah berdialogseputar buku teks pelajaran Sebagai contoh adalah buku ce­rita tentang yang bermutu. Bang Maman yang beredar di Jakarta atau buku Menurut EdyTri Baskoro semangat BSNP yang berbicara tentang ideologi komunis yang dan IKAPI sama, yaitu mengadakan buku-buku beredar di Sukabumi. Weinata berharap IKAPI yang berkualitas. “Alat yang paling baik untuk dapat memberikan kontribusi langsung dalam mengontrol kualitas buku adalah memberikan menangani masalah-masalah seperti ini. kekuatan kepada sekolah untuk memilih Menurut Farid Afansa Moe­loek buku sa­ngat buku yang berkualitas. Sekolah ti­dak boleh penting dalam proses pendidikan. Oleh sebab tergoda dengan buku yang tidak berkualitas itu diharapkan ada undang-undang tentang karena harganya murah”, ungkap Edy sambil perbukuan na­sional.“Saya berharap IKAPI dapat menambahkan semestinya yang memilih buku mem­berikan kontribusi dalam penerbitan di sekolah adalah Dewan Guru. un­dang-undang ini. IKAPI juga diharapkan Sementara Djemari Mardapi mengu­sul­ dapat berpastisipasi dalam menyeleksi buku kan IKAPI diharapkan dapat memberikan daf­ teks pelajaran untuk menghasilkan buku tar buku-buku sastra (novel) untuk dinilai yang bermutu”, ungkap Moeloek sambil meng­ dan direkomendasikan ke sekolah. Hal ini usulkan perlu dibentuk komite buku nasional dimaksudkan untuk meningkatkan ke­mam­ yang bertugas menghasilkan buku pelajaran puan bahasa Indonesia peserta didik. l Vol. VII/No. 3/September 2012 17
    • Lensa BSNPDari kiri ke kanan, Khairil Anwar NotodiputroKepala Balitbang, Suyanto Dirjen PendidikanDasar, dan Syawal Gultom Kepala BadanPengembangan Sumber Daya ManusiaPendidikan dan Penjaminan Mutu PendidikanKementerian Pendidikan dan Kebudayaan,dalam acara rapat koordinasi persiapanpenyelenggaraan Ujian Nasional di BSNP. Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Prof Khalidi berbaju biru Melaporkan pelaksanaan Ujian Nasional di Sulawesi Selatan di ruang sidang BSNP.Peserta Ujian Nasional SMP memanfaatkanwaktu untuk belajar bersama sesaat sebelummemasuki ruang ujian. Mereka berkomitmenuntuk mengikuti ujian dengan penuhkejujuran Sekolah turut memberikan motivasi dan semangat kepada peserta Ujian Nasional dengan memasang spanduk di dalam lingkungan sekolah. 18 Vol. VII/No. 3/September 2012
    • Lensa BSNP Peserta Ujian Nasional SD berbaris dengan tertib sebelum memasuki ruang ujian,dipimpin oleh ketua kelas. Disiplin, tertib, dan taat peraturan merupakan kunci kesuksesan.Peserta Ujian Nasional SD mendengarkantata tertib ujian yang dibacakan olehpengawas ruang sebelum ujian dimulai. Anak-anak SD Inpres Wuroba membawa papan tulis dan kursi setelah mengikuti ujian nasional sekolah dasar di SD Inpres Walelagama, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Selasa (8/5/12). Kursi dan papan tulis tersebut untuk menambah inventaris sekolah mereka. Selama pelaksanaan ujian nasional, peserta dari lima sekolah dasar digabung di satu tempat untuk memudahkan pengawasan. (Sumber: Kompas, Rabu, 9 Mei 2012).Sebanyak 51 siswa kelas VI SD Negeri Pakis 3 Kecamatan Panti,Kabupaten Jember, Jawa Timur, melaksanakan ujian nasional dipelataran rumah warga dan pelataran sekolah karena gedungsekolah mereka rusak diterjang angin puting beliung.(Sumber: Kompas, Rabu, 9 Mei 2012). Vol. VII/No. 3/September 2012 19
    • Lensa BSNP Peserta Ujian Nasional di MTs Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Islam (YAKETUNIS) Jogjakarta mengerjakan soal UN. Peserta UN mengeluhkan tidak adanya soal UN yang dicetak dengan huruf Braille, sehingga soal dibacakan oleh guru.Febri Hendri dari ICW (tengah) berdialog dengananggota BSNP tentang dugaan terjadinyakecurangan Ujian Nasional SMP di Tangerang Peserta review instrumen pemantauan standar sarana dan prasarana menelaah dan mengkaji draf instrumen pemantauan di BSNP sebelum dilakukan uji coba di delapan wilayah atau provinsiKetua BSNP M. Aman Wirakartakusumah (tengah) dananggota BSNP berpose bersama dalam rangka Ulangtahun ke-68 Farid Anfasa Moeloek (ketiga dari kanan)di kantor BSNP.