Your SlideShare is downloading. ×
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswa

19,842

Published on

Published in: Education, Business, Technology
0 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
19,842
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
414
Comments
0
Likes
5
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju usia dewasa. Pada masa remaja individu mulai mengalami perubahan dalam sikap dan perilakunya sejajar dengan tingkat pertumbuhan fisiknya. Remaja sangat mudah dipengaruhi oleh faktor yang ada diluar dirinya seperti keluarga, lingkungan, pergaulan,teman sebaya dan teman sekolah. Menurut Papalia dan Old (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Masa remaja merupakan masa peralihan yang sulit dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Menurut Erikson (dalam Hall dan Lindzey, 1993) masa dimana seseorang akan mulai mempertanyakan tentang identitas dirinya, remaja merasa sebagai seseorang yang unik seseorang dengan perubahan-perubahan yang baru dialaminya. Setiap individu pada umumnya memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD) pada umur 6 tahun dan selama di SD, Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak pernah tinggal kelas, maka pada umur 18 tahun seseorang mulai memasuki dunia mahasiswa (Gunarsa & Gunarsa, 2001). Monks dkk (2002) mengatakan bahwa masa remaja secara global berlangsung antara umur 12- 21 tahun, dengan pembagian 12-15 tahun: masa remaja awal , 15-18 tahun: masa remaja pertengahan, 18-21 tahun: masa remaja akhir. Umur 18-21 tahun oleh para ahli psikologi perkembangan masih digolongkan pada remaja atau lebih tepatnya lagi bagi remaja lanjut, pada usia-usia ini mereka masih pada tahapan peralihan dari dunia remaja ke dunia dewasa (Gunarsa & Gunarsa, 2001)
  • 2. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Masa remaja merupakan salah satu periode dari proses perkembangan manusia. Peristiwa-peristiwa yang dialami pada masa ini dirasakan lebih kompleks dibandingkan dengan tahap perkembangan sebelumya. Untuk memahaminya perlu dimengerti masalah yang berhubungan dengan keadaan remaja, dan dari kenyataan- kenyataan itu akan dapat kita prediksi kehidupan remaja dimasa-masa selanjutnya. Masalah yang dihadapi remaja adalah masalah yang muncul dalam dirinya atau hubungannya dengan orang lain misalnya: kenakalan remaja, homoseksualitas, kemerosotan moral, penyalahgunaan narkotika, termasuk adanya kecemasan- kecemasan melakukan onani atau masturbasi. Masalah yang timbul begitu memprihatinkan baik keluarga, masyarakat, maupun pemerintah. Masalah yang dihadapi remaja ini disebabkan oleh kurangnya informasi yang cukup. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut (http://umah belajarpsikologi.com/index.php/fungsi-dasar-psikologi/). Masa perkuliahan sangat jauh berbeda dengan masa-masa sekolah dahulu yang terkesan lebih formal, baik dari segi peraturan, kedisplinan serta sistem belajar- mengajarnya. Dunia perkuliahan adalah dunia di mana hampir semua kegiatan dilakukan dan diputuskan sendiri, oleh karena itu kemandirian dalam diri individu dibutuhkan di sini, terlebih mahasiswa baru yang diyakini membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk beradaptasi dengan lingkungan baru yang dimasukinya. Sebaliknya bagi mereka yang tidak siap dengan lingkungan baru ini akan merasa asing. Hal ini dimungkinkan karena ia biasa bergantung pada keadaan dari luar dirinya sendiri atau orang lain. Keterasingan ini lambat laun juga mempengaruhi
  • 3. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com kehidupannya baik di hari ini ataupun hari esok, walaupun pada awalnya hanya mengalami konflik ringan terutama yang berhubungan dengan sosialisasi. Salah satu masalah yang dapat dialami oleh remaja adalah rasa kesepian/keterasingan/keterpisahan yang makin dalam bila remaja tidak dapat involve (memiliki keterlibatan emosional) dalam keluarga atau kelompok sosial yang ada. Akibatnya kebutuhan akan kehangatan cinta dapat berkembang secara primitif, instinktif, biologis, berupa dorongan seksual yang membabi buta. Hal ini juga terkait dengan adanya konsep diri yang merupakan kata kunci dari kebermaknaan eksistensi manusia khususnya pada remaja. Merupakan pengenalan (penemuan) atas aspek- aspek di dalam diri yang menjangkau aspek spritual (kehidupan batin yang bereleasii dengan alam, manusia lain dan Tuhan. Yang memberikan ketenangan, rasa keutuhan-kepenuhan yang relatif menetap (http://www.pintusingapura.org/forumpintu/profile.php?mode=viewprofile&u=14&si d=bd1a5d66c22100d0f9dbfefd8360d19d, 18 feb 2006 9:18 pm) Alienasi sebagai salah satu konsep turunan dari konsep proses sosial telah lama menjadi perhatian para pengamat sosial. Sebagai fenomena yang dijauhi masyarakat dan juga oleh para korban alienasi itu sendiri. Fenomena alienasi biasa dilekatkan pada aktifitas kejahatan, alkoholisme, prasangka nasional, keresehan buruh, kenakalan anak dan rasnya, serta penyakit psikis. Manisfestasi dari alienasi memiliki perbedaan di masing-masing kelompok sosial, hal itu dikarenakan tergantung pada tingkat kesenjangan antara situasi sosial; pada kelompok-kelompok tersebut dan harapan-harapan mereka untuk mengatasinya. Berikut sebagian kutipan yang di dapat mengenai gejala alienasi yang dihadapi oleh sebagian remaja : Selama masa remaja saya mengalami keterasingan sosial di sekolah karena saya senang menggunakan sebagian waktu saya untuk membaca buku-buku di perpustakaan dan tidak tertarik, kepada lawan jenis, pesta, dansa, film, perhiasan, maupun kosmetika. Saya beranggapan bahwa merokok merupakan
  • 4. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com kebiasaan vulgar dan kemubaziran. Meskipun kenyataan di masyarakat mengharuskan seseorang untuk minum-minum di dalam pesta dengan tujuan agar diterima secara sosial, dan kedua orang tua saya berpendapat bahwa pengumbaran diri sekedarnya dengan anggur tidak dapat di pisahkan dari “kenikmatan hidup” namun saya belum pernah menyentuh minuman keras. Saya hampir tidak mempunyai teman selama delapan tahun di sekolah lanjutan pertama dan atas, karena saya hanya berbagi sedikit kegetiran dengan anak laki-laki dan perempuan sebaya saya (Maulana). (http: //media.isnet.org/islam/Jamilah/index.html) Seperti cerita yang sudah klise Rita (18 tahun, bukan nama aslinya) mengatakan, kesibukan kedua orang tuanya membuat dia selalu kesepian di rumah. Di tempat lain remaja bernama Abadi (22 tahun) ia lari ke pil ectasy karena orang tuanya memaksa kehendaknya untuk menjadi seorang dokter. (http://apakabar/clarknet/new, Mon.Maret.27 1995-06:33:00 EST) Banyaknya permasalahan yang melilit pada diri seorang remaja telah mendorong sebagian dari mereka menjadi sangat rentan terhadap dampak negatif dari kehidupan modern, misalnya mendambakan suatu kebebasan yang mendorong mereka lari dari rumah dan mulai mencoba-coba menikmati obat-obatan terlarang dan narkotika, perilaku seks bebas, serta tawuran. Data yang dikemukakan oleh Noviansyah (dalam http://www.pelajarislam .or.id/piipub03.htm,2002) menyebutkan bahwa antara tahun 1995-1999 terjadi sejumlah 933 kasus di mana terbanyak terjadi di wilayah Polda Metro Jaya sejumlah 810 kasus, sedangkan untuk kasus di luar pulau jawa paling banyak terjadi wilayah Polda Sumsel sebanyak 253 kasus, di mana kesemuanya itu dengan tingkat radikalisme yang sudah menjurus ke arah krimininalitas. Hasil survey Lentera-Sahaja PKBI Yogyakarta (Embrio, 10 September 2000) memperlihatkan perilaku seksual remaja mencangkup kegiatan berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, necking, petting, berhungan dengan pasangan tetap maupun dengan banyak orang, sedangkan kasus kehamilan yang tidak dikendaki pada tahun 1998/1999 sebanyak 113 kasus. Selain itu terdapat penelitian lain yang telah mengungkapkan banwa di Indonesia terdapat dua juta pecandu narkotika dan obat-obatan terlarang, di mana menurut Nasution (dalam http://www. Kompas -
  • 5. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com cetak?0102/05/iptek/maha10,2001) sembilan puluh persen dari pecandu itu adalah generasi muda dan 25 ribu diantaranya merupakan mahasiswa. Perilaku remaja yang berkaitan dengan penyalahgunaan narkotika, seks bebas, tawuran, kebiasaan memprotes dengan keras,menjadi kaum hippies, dan kenakalan lainnya, serta menjadi orang yang mempunyai gangguan psikologis menurut Bernanrd (1971) adalah merupakan perilaku remaja yang menyimpang. Hurlock (1999) menyebutkan perilaku tersebut sebagai sindrom alienasi yang merupakn perilaku sosial dengan karakteristik menutup diri, menyendiri, menggangu orang lain, berlaku seperti bos, tidak bisa diajak bekerja sama, dan tidak bijaksana. Dampaknya remaja yang mengalami alienasi menurut Hurlock (1999) akan merasa tidak nyaman dengan standar kelompok secara fisik yang menyebakan remaja menarik diri, sedangkan disisi lain secara kepribadian remaja yang bersangkutan akan memiliki kepribadian yang egois, keras kepala, pemarah, dan gelisah. Sebagai suatu turunan dari konsep proses sosial, maka alienasi dianggap merupakan hasil dari proses sosial, maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses sosial yang berbeda di berbagai masyarakat pada akhirnya akan menghasilkan berbagai macam alienasi, Fromm (1974) menyebutkan ada beberapa bentuk alienasi dalam artian filosofis, yaitu alienasi diri (dari dirinya sendiri ), alienasi dari orang lain, serta alienasi dari lingkungannya. Alienasi diri oleh Fromm (1955) didefinisikan sebagai bentuk pengalaman ketika orang mengalami dirinya sendiri sebagai orang asing dimana ia tidak menganggap dirinya sebagai pusat dari dunia, dan sebagai pelaku dari perbuatan-perbuatan seseorang. Alienasi ini menyangkut hubungan manusia dengan pekerjaannya, dengan benda yang dikonsumsinya, dengan negara, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri. Schachtel (1977) berpendapat bahwa alienasi terhadap diri sendiri merupakan awal dari semua bentuk alienasi, di mana alienasi dari diri selalu sejalan dengan
  • 6. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com alienasi dari orang-orang lain serta alienasi dari dunia di sekitarnya, sehingga orang yang teralienasi cenderung untuk menarik diri dari lingkungannya terutama yang berkaitan dengan aktiivitas yang berhubungan dengan orang lain. Perilaku ini didukung oleh suatu perasaan subyektif yang sinis atau negatif dalam diri seorang individu tentang diri beserta peran-perannya untuk memperoleh dalam berhubungan sosial. Keterasingan atau alienasi (alienation) ditandai dengan ciri meningkatnya rasa kesepian, hasrat hidup yang menurun, hasrat untuk meraih sesuatu namun sulit untuk meraihnya. Proses alienasi adalah suatu kenyataan bahwa manusia tidak menghayati dirinya sendiri sebagai seseorang yang aktif, melainkan sesuatu yang bergantung pada keadaan dari luar diri sendiri dalam (Said, 1998). Saat ini alienasi juga mempengaruhi kehidupan remaja. Remaja banyak mengalami konflik terutama yang berhubungan dengan sosialisasi, hubungan dengan orang tua sudah mulai renggang, harapan orang tua dengan cita-cita sering bertentangan sehingga banyak remaja yang mencari kompensasi lain untuk memecahkan masalahnya tersebut. Remaja menjadi asing dengan dirinya dan masih mencari identitas dirinya sehingga banyak melakukan penyimpangan perilaku. Berbagai masalah yang diahadapi oleh para mahasiswa terkadang sulit diatasi secara mandiri. Dukungan dan saran-saran dari orang tua akan sulit dilakukan mengingat keterbatasan biaya maupun waktu sehingga mahasiswa tersebut harus mampu mengatasi permasalahan yang muncul dengan menyesuiakan diri dan menjalin hubungan dengan orang lain di sekitar lingkungan yang baru. Pada remaja yang memiliki konsep diri yang rendah atau negatif akan menjadikan sulit untuk menerima diri dengan apa adanya dalam (Jersild, 1999) tidak yakin terhadap dirinya sendiri, dan menyangka orang lain tidak menyukai dirinya (Hurlock, 1999), peka terhadap kritik, responsif terhadap pujian, serta pesismis (
  • 7. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Brooks & Emmet dalam Rakhmat, 1996). Adanya anggapan bahwa orang lain tidak mengakui keberadaanya, sensitif terhadap kritik, dan pesimis terhadap hidup yang dijalankan. Maka pada remaja akan muncul keengganan untuk melakukan hubungan dengan orang lain disekitarnya (asosial). Di sisi lain keinginannya untuk mencari identitas diri dan rasa ingin tahu yang tinggi pada diri seseorang remaja menyebabkan remaja berusaha mencoba sesuatu yang baru baginya. Terjadinya konflik batin antara norma masyarakat dan keinginan yang tertanam dalam dirinya menimbulkan kecemasan, ketegangan, dan kebimbangan. Masa ini menjadi masa transisi dan akan menjadi suatu developmental challenges yang ditandai dengan adanya kecendrungan untuk berprilaku menyimpang (maladaptive response). Dalam kondisi tertentu perilaku menyimpang akan berlangsung lama dan berkembang menjadi perilaku mengganggu ( Ekowarni, 1993). Dalam menjalin dengan orang lain, diperlukan suatu kemampuan komunikasi dan keberanian untuk memulainya. Hal-hal tersebut tidak terlepas dari gambaran mental diri individu yang bersangkutan yang disebut konsep diri. Konsep diri merupakan suatu pandangan tentang diri yang sebenarnya. Konsep diri ini sangat penting karena hal yang dipikirkan seseorang tentang dirinya menentukan tindakan dan hubungan dengan orang lain. Konsep diri positif biasanya menambah kemampuan individu untuk mengasihi dan dikasihi. Individu dapat bergaul dengan orang lain dengan sikap terbuka dan jujur. Individu juga merasa bahagia dan puas dengan dirinya. Bila timbul permasalahan dapat segera mengatur stratregi untuk mengatasinya. Konsep diri pada dasarnya merupakan pengertian dan harapan seseorang mengenai cara seseorang itu memandang dirinya, diri yang dicita-citakan dan dirinya dalam realita sesungguhnya baik secara fisik maupun psikologik (Hurlock, 1978) konsep diri memegang peranan penting dalam bentuk apapun. Bentuk atau kualitas
  • 8. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com interaksi dapat berubah, karena konsep diri bersifat tidak stabil, dapat berubah sesuai dengan pengalaman hidup seseorang. Melalui konsep diri individu dapat memperoleh gambaran tentang dirinya secara utuh, tahu dan mengerti yang akan dijalaninya dan diinginkannya sehingga akan berusaha untuk mewujudkannya. Merurut Fofel dan Melson (1988) terdapat signifikansi yang tinggi antara alienasi dengan status sosial remaja yang rendah kerena adanya tuntunan keluarga yang belum semuanya terpenuhi , sehingga mengakibatkan remaja menjadi frustasi dan akhirnya menarik diri. Berdasarkan hal tersebut, tidaklah berlebihan bila Bronfenbrener & Keniston ( dalam Thornberg, 1982) mengartikan alienasi sebagai perasaan hilang dari hubungan yang diinginkan sebelum yang menyebabkan perasaan ditolak oleh dunia luar, dan karena perasaan inilah individu merasa kecil dan melakukan perilaku yang menyimpang. Perilaku ini sebenarnya tidak akan menyimpang seandainya individu yang bersangkutan menganggap wajar perasaan yang dialaminya sewaktu memasuki suatu lingkungan yang baru. Dikatakan menyimpang bila perilakunya sudah luar batas-batas kewajaran, sehingga orang lain mengganggap aneh keadannya. Hepner (1973) menyatakan bahwa alienasi dapat dikategorikan sebagai salah satu gaya hidup yang dicirikan sebagai sindrom sikap, serta perasaan pesimistis, sinisme, dan ketidakpercayaan terhadap suatu pandangan bahwa orang lain tidak peduli, manipulatif dan secara emosional terpisah dari dirinya. Keadaan seperti ini membuat orang kehilangan jati dirinya, sehingga pada akhirnya akan membuat seseorang mengalami kebingungan dengan keadaan dirinya yang pada umumnya terjadi ketika individu memasuki usia remaja. Menurut Mubarok (2000) alienasi diri ditandai dengan beberapa gangguan kejiwaan atau kesehatan mental yang diantaranya dapat berupa kecemasan, kesepian, kebosanan, perilaku menyimpang, dan psikosis.
  • 9. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Tentunya untuk menghindari kecendrungan alienasi diri, langkah antisipasi yang perlu yang perlu dilakukan tidak dapat terlepas dari suatu proses sosial yang harus dilakukan oleh individu yang bersangkutan. Menurut hemat peneliti langkah yang disekitarnya dapat dilakukan adalah dengan menjalani hidup berdasarkan pada nilai-nilai kehidupan religiusitas dan pembentukan konsep diri yang positif. Hal tersebut didasarkan pada beberapa pendapat seperti tertulis sebelumnya, bahwa kehidupan yang didasarkan pada nilai-nilai reliusitas diantaranya akan menjadikan individu memiliki kepercayaan diri, optimis, dan ketenangan kalbu yang menjadikan individu tersebut untuk selanjutnya diharapkan akan lebih tahan dalam mengahadapi cobaan hidup dan tidak putus asa, sehingga hidupnya menjadi bermakna. Kaitannya dengan konsep diri, ditengarai bahwa alienasi diri berhubungan dengan konsep diri seorang individu, hal tersebut didasarkan pada pendapat Gergen (1970) yang berpendapat bahwa individu yang teralienasi salah satunya dikarenakan oleh perilaku yang tidak konsisten dengan konsep dirinya, sehingga muncul kecendrungan untuk berprilaku yang melanggar aspirasi-aspirasi identiatas dirinya. B.Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara konsep diri dengan kemungkinan terjadinya alienasi diri pada Mahasiswa. Diharapkan dengan diketahuinya hasil yang dicapai dalam penelitian ini, mampu untuk memberikan sumbangan saran berkaitan dengan hasil dari penelitian ini kepada pihak-pihak yang berkepentingan, terutama yang berkaitan dengan kehidupan remaja, khususnya yang berstatus mahasiswa, misalnya pihak keluarga, maupun lembaga pendidikan.
  • 10. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com C. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Jika penelitian ini terbukti maka diharapkan dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu psikologi, yaitu psikologi sosial, dan psikologi kepribadian, khususnya pada aspek konsep diri dan alienasi. 2. Manfaat Praktis a. Bagi remaja akhir yang khususnya berstatus mahasiswa, hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan sejauh mana konsep diri yang terbentuk dan apa kaitannya dengan alienasi yang dialami oleh remaja b. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan pada umumnya pada bidang psikologi sosial, serta psikologi kepribadian D. Orisinalitas Penelitian Topik yang diangkat dari penelitian ini terutama mengenai alienasi pada remaja telah banyak di lakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya di antaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Syahroza (2004) dengan judul Hubungan antara kemandirian dengan alienasi pada remaja yang berstatus mahasiswa. Subjek dalam penelitian ini adalah melibatkan 100 mahasiswa jurusan teknik Geologi fakultas teknologi Mineral UPN “Veteran “ Yogyakarta angkatan 2002-2003 dengan usia 18- 22 tahun. Alienasi pada penelitian ini di ungkap dengan skala alienasi yang merupakan modifikasi sendiri oleh peneliti dengan mengacu pada aspek-aspek alienasi dari Dean (Pratomo, 1994). Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara kemandirian dengan alienasi. Perbedaan mendasar antara penelitian penulis dengan penelitian sebelumya terletak pada tujuan penelitian, tujuan penelitian penulis adalah untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan alienasi pada remaja akhir yang berstatus mahasiswa.
  • 11. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Sedangkan penelitian sebelumnya bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kemandirian dengan alienasi pada remaja yang berstatus mahasiswa. Penelitian lainnya adalah tentang hubungan antara konsep diri dengan kesepian pada mahasiswa baru di Universiatas Islam Indonesia Sari (1999). Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa baru angkatan tahun 2003/2004 baik laki-laki maupun perempuan. Penelitian ini menggunakan variabel tergantungnya, sama dengan penelitian sebelumnya. Pada penelitian sebelumnya peneliti menggunakan skala konsep diri yang merupakan modifikasi dari skala konsep diri Khairiyah (1998) dengan mengacu pada teori yang disusun oleh Berzonsky (1981), yang mengacu pada empat aspek yaitu; aspek fisik, aspek psikis, aspek sosial, dan aspek moral. Kesimpulan yang diperoleh dari data yang sebelumnya adalah ada hubungan negatif antara konsep diri dengan kesepian pada mahasiswa baru. Penelitian lainnya adalah yang dilakukan oleh Effendi (2004) tentang hubungan antara konsep diri dan kemampuan verbal dengan prestasi belajar pada siswa kelas lima sekolah dasar muhammadiyah sukonandi yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami hubungan antara konsep diri dengan kemampuan verbal dengan prestasi belajar sedangkan tujuan yang kedua adalah memahami perbedaan konsep diri dan kemampuan verbal siswa laki-laki dengan siswa perempuan. Subjek penelitian adalah siswa kelas lima sekolah dasar muhammdiyah di kotamadya yogyakarta. Dua sekolah merupakan dari 8 sekolah yang termasuk kategori baik (A) yang menjadi populasi penelitian adalah SD muhammdiyah sukonandi dan SD muhammadiyah karangkajen. Sampel penelitian berjumlah 79 anak terdiri dari 42 siswa laki-laki dan 37 siswa perempuan yang memiliki umur dari 9 s/d 13 tahun. Data konsep diri dikumpulkan dengan menggunakan teknik angket yang terdiri dari 32 pertanyaan. Sementara data kemampuan verbal siswa dikumpulkan dengan
  • 12. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com menggunakn Tes Verbal WISC. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dan kemampuan verbal dengan prestasi belajar (2) tidak ada perbedaan antara konsep diri antara siswa laki-laki dengan siswa perempuan (3) tidak ada perbedaan kemampuan verbal antara siswa laki-laki dengan siswa perempuan. Perbedaan mendasar dengan penelitian sebelumnya adalah terletak pada variabel bebas, yaitu penelitian sebelumnya mengukur mengenai kemampuan verbal dengan prestasi belajar, sedangkan variabel bebas peneliti adalah mengenai alienasi remaja yang berstatus mahasiswa. Berdasarkan penelitian yang akan saya lakukan, maka saya akan memberitahukan, bahwa penelitian ini sangat-sangat benar dan belum ada yang pernah menggunakannya. Merupakan karya tulis saya sendiri dan bukan karya tulis orang lain, sebagian maupun keseluruhan kecuali dalam bentuk kutipan yang sudah disebutkan sumbernya. Keaslian penelitian ini berdasarkan dengan: 1.Keaslian topik Topik yang akan saya teliti adalah untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan alienasi pada remaja akhir yang berstatus mahasiwa. 2. Keaslian teori Teori yang digunakan dalam penelitian ini banyak bersumber pada teori yang di ungkapkan oleh Roger mengenai aspek-aspek konsep diri, begitu pula yang dikemukakan oleh Nashori mengenai aspek-aspek konsep diri yang terdiri dari tiga aspek. Teori Burn mengenai unsur-unsur yang mempengaruhi pembentukan konsep diri. Begitu pula teori yang dikemukakan oleh Katz & Kahn mengenai aspek-aspek alienasi, teori Fromm mengenai ciri-ciri orang modern teralienasi.
  • 13. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 3. Keaslian alat ukur Alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian ini, mengacu pada metode Likert yang telah dimodifikasi menjadi 4 alernatif jawaban. Skala alienasi menggunakan aspek-aspek alienasi dari Dean (Purnomo, 1995). Sedangkan alat ukur yang digunakan untuk mengungkap konsep diri adalah dengan menggunakan teori Berzonsky (1981). 4. Keaslian subjek penelitian Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan subjek remaja akhir yang berusia antara 18-22 tahun yang berstatus mahasiswa.
  • 14. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Alienasi 1.Pengertian Alienasi Menurut Purnomo (2002), pengertian alienasi berkembang sejalan dengan fenomena yang menyertainya. Pada awal kemunculannya pengertian alienasi lebih bermakna teologis filsafat, akan tetapi kemudian berkembang ke arah pengertian yang lebih praktis. Laju perkembangan pengertian alienasi sampai saat ini masih terus berlangsung, sehingga tidak mengherankan bila pemahamannya tidak dapat diseragamkan dan berada di setiap disiplin ilmu. Pada umumnya, dalam ilmu-ilmu sosial khusunya, alienasi diartikan sebagai bentuk dari suatu keterasingan. Alienasi dalam ilmu sosial sering digunakan untuk menggambarkan perasaan keterasingan individu terhadap masyarakat, alam, orang lain, maupun dirinya sendiri (Johson, 1986). Alienasi dalam filsafat sering disamakan dengan reifikasi tindakan (hasil tindakan) dalam transformasi kekayaan manusia, tindakan yang berhubungan dengan kekayaan atau benda-benda di luar manusia yang mengatur hidupnya, dan sering pula diartikan sebagai alienasi diri yang merupakan suatu proses dan hasil di mana diri (Tuhan atau manusia) melalui dirinya sendiri (melalui tindakannya) menjadi asing atau aneh terhadap dirinya sendiri (Edwards, 1967). Istilah alienasi itu sendiri menurut Gajo Petrovic (dalam Edwards, 1967) mempunyai modifikasi pengertian yang di dorong oleh etimologi dan forologi kata. Bardasarkan hal tersebut, maka Linchtheim (1965) mencoba menjelaskan istilah alienasi ini sebagai istilah yang berasal dari kata Yunani, ekenosen-dalam-injil bahasa Latin disebut exinanivit-yang membimbing langsung penggunaan istilah entausserung pada Hegel, di mana istilah entausserung ini dapat di terjemahkan
  • 15. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com secara bebas sebagai self alienation, jika seandainya Hegel menggunakan istilah tersebut dalam pengertian teologi-kristologi. Menurut pengertian tersebut, alienasi diperlukan sebagai penandaan “hilang dari ada” (loose of being) atau “pengasingan” (estangement). Untuk itu Triandis (1980) memberikan batasan untuk memahami konsep alienasi diri. Pertama, bahwa seorang individu dapat dikatakan teralienasi, bila berada di irama dan gerak masyarakatnya dan oleh karena itu tidak memperoleh kepuasan hidup dalam kondisi tersebut. Kedua, sebagai implikasinya seorang individu tersebut akan merasa senang bila masyarakatnya berubah, atau apabila dirinya yang harus berubah, maka arahnya adalah untuk semakin confrom dengan harapan dari kalangan mayoritas. Sementara itu menurut Bail dalam Akhmad, dkk (1992) alienasi sebenarnya berasal dari kata latin, alienare yang berarti “memisahkan” (to separate), “memindahkan “ (to remote), atau “menjauhkan” (to ake away). Alienasi dengan kata lain secara lebih sederhana dapat merupakan penunjukkan pada kondisi pemisahan atau pengasingan. Pada mulanya dan tetap dipertahankan sampai sekarang, alienasi banyak digunakan dalam bahasa hukum yang menunjukkan pada “menunai” (trade), “meniadakan” (transfering), “menjual” (to sold), dan mewariskan kekayaan pribadi seseorang kepada orang lain. Lambat laun alienasi dalam perkembangannya memiliki dan meliputi pengertian yang berbeda dalam filsafat, ilmu pengetahuan, dan dalam kehidupan sehari-hari. Alienasi dalam kehidupan sehari-hari sering kali berarti menolak atau menjauh dari kawan-kawan atau kelompoknya. Sementara dalam teori sosial politik, sosiologi dan psikologi, alienasi biasanya digunakan untuk menunjuk pada perasaan” keterasingan”, individu itu sendiri. Manusia teralienasi dari orang lain atau dari berbagai macam struktur sosial ketika keberadaan kriterianya untuk mengevaluasi dirinya sendiri berbeda dengan
  • 16. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com kriteria yang digunakan orang lain dalam mengevaluasi diri mereka. Alienasi pada manusia berarti, terpisahnya aspek-aspek atau elemen-elemen tersebut pada diri menejemen dari aspek-aspek atau elemen-elemen diri yang lain. Konsep alienasi dalam kajian psikologis banyak mengacu pada pendapat Fromm yang mendefinisikan alienasi sebagai suatu cara berada yang menjadikan seorang individu merasa sebagai sesuatu yang asing, dan segala tindakannya melainkan tindakan dan konsekwensi-konsekwensinya tersebut justru yang telah menjadi tuan yang harus dipatuhi dan harus dipuja (Fromm, 1977). Secara jelas Fromm dalam rumusannya telah memodifikasikan konsepsi alienasi Marx dengan mengubah konsep mode of production menjadi mode of experience, atau dalam bahasa sederhananya telah mengubah konsep alienasi dari modus berproduksi menjadi modus berada (dalam Meszaos, 1970). Selain itu, Fromm (1977) juga berpendapat bahwa secara historis kata alienasi digunakan untuk menunjuk orang yang sakit pikiran atau gila, alienasi adalah kata-kata lama yang menyebut psikotik, karena dalam bahasa Inggris kata “alienist” itu sendiri hingga saat ini digunakan sebagai sebutan bagi dokter yang merawat orang-orang gila. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa pengertian alienasi berkembang sejalan dengan fenomena yang menyertainya. Pada awal kemunculannya pengertian alienasi lebih bermakna teologis filsafati, akan tetapi kemudian berkembang ke arah pengertian yang lebih praktis. Laju perkembangan pengertian alienasi sampai saat ini masih berkembang ke arah pengertian yang lebih praktis. Laju perkembangan pengertian alienasi sampai saai ini masih terus berlangsung, sehingga tidak mengherankan bila pemahamannya tidak dapat diseragamkan dan berbeda di setiap disiplin ilmu, pada umumnya dalam ilmu-ilmu sosial, khususnya psikologi alienasi diartikan sebagai bentuk dari suatu keterasingan.
  • 17. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Banyak anggapan yang mengatakan bahwa kita sekarang ini tinggal di suatu jaman alienasi. Alienasi atau keterasingan diungkapkan di dalam hampir semua aspek kehidupan. Dalam bidang dan juga teori politik, salah satu pengertian mengenai alienasi yang paling sering digunakan adalah yang dibuat oleh Karl Marx pada tahun 1814. Marx merasa bahwa tenaga kerja manusia dalam suatu sistem kapitalis dapat mengasingkan individu dari dirinya sendiri (Gergen, 1970). Individu yang teralienasi adalah salah satunya dikarenakan oleh perilaku yang tidak konsisten dengan konsep dirinya, sehingga muncul kecendrungan untuk berprilaku yang melanggar aspirasi-aspirasi identitas dirinya (Gergen, 1970). Alienasi merupakan suatu perilaku yang dialami oleh seorang individu yang digerakkan oleh nafsu akan kekuasaan, uang, dan kehormatan tanpa menyadari dan menghayati arti kebebasan yang dimiliki oleh seseorang individu. Hal tersebut akan menjadikan individu yang bersangkutan mengalami kecendrungan untuk menjadi budak dari salah satu ambisinya yang diproyeksikan pada tujuan-tujuan di luar dirinya. Selain itu alienasi juga dapat dipahami sebagai suatu kesadaran tidak sempurna (sakit ingatan) yang disebabkan oleh prilaku yang bukan mencerminkan dirinya, di mana individu tersebut berprilaku berdasarkan ilusi yang dialaminya, sehingga individu tersebut mengalami kehilangan jati diri (Purnomo, 2002). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa alienasi merupakan suatu perilaku yang dialami oleh seorang individu yang digerakkan oleh nafsu akan kekuasaan, uang, dan kehormatan tanpa menyadari dan menghayati arti keterbatasan yang dimiliki oleh seorang individu. Hal tersebut akan menjadikan individu yang bersangkutan mengalami kecendrungan untuk menjadi salah satu ambisi yang diproyeksikan pada tujuan di luar dirinya. Selain itu alienasi juga dapat dipahami sebagai suatu kesadaran tidak sempurna (sakit ingatan) yang disebabkan
  • 18. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com oleh perilaku yang mencerminkan dirinya, di mana individu tersebut berprilaku berdasarkan ilusi yang dialaminya, sehingga individu tersebut kehilangan jati dirinya. Sesuai dengan daftar istilah Filasat, alienasi merupakan proses konkretisasi hakikat batin manusia yang kemudian menjadi barang mati, dan menceraikan manusia yang satu dari manusia yang lainnya (Lavine, 2003). Di dalam kamus Psikologi sendiri di jelaskan bahwa alienasi merupakan bentuk kesalahan pengenalan suatu situasi atau orang yang sudah dikenal (Sitanggang, 1994). Alienasi telah di jelaskan dalam berbagai pengertian tetapi yang sering digunakan adalah mengacu pada faktor internal dalam diri individu yaitu adanya rasa ketidak berartian yang hakiki terhadap peranan sosial yan telah ditetapkan kepada mereka. Jika ikatan individu untuk berorganiasi adalah salah satu faktor di luar dirinya yaitu adanya hukuman dan penghargaan, maka individu bisa merasakan telah diasingkan dari pekerjaan dan sekaligus dari lingkungan masyarakat disekitarnya. Bagaimanapun juga alienasi mempunyai konsep awal yang di mulai lebih dulu malalui agama dan filasafat dibandingkan tulisan-tulisan dari Marx. Hal ini sudah ada sejak jaman dulu dengan banyak pengertian dan telah menjadi sejarah panjang tersendiri, semua ini menyertakan juga beberapa gagasan yang menjelaskan suatu kerenggangan yang tidak diinginkan oleh individu baik dari Tuhannya, alamnya, lingkungan masyarakatnya, pekerjaannya, ataupun dari dirinya sendiri (Katz & Kahn, 1965). Berdasarkan beberapa definisi dan pemahaman tentang alienasi diri seperti yang telah terurai di atas, maka dapat disimpulkan bahwa alienasi diri sebenarnya merupakan salah satu bentuk alternatif pilihan dari berbagai macam karakter orientasi sosial individu dalam usahanya dalam memenuhi esensi, hakekatnya dan martabat kemanusiannya. Pilihan-pilihan tersebut sebenarnya disadari maupun tidak sangat merugikan bagi diri seorang individu yang bersangkutan, karena akan
  • 19. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com memunculkan dampak ketidakberdayaan, ketiadaan norma, dan isolasi sosial, yang mana dampaknya menurut Hepner (1973) akan menjadikan individu yang bersangkutan cendrung untuk menjadi pribadi yang egoistik, pesimis, penuh kebencian, pencemas, dan rasa ketidakberdayaan yang tinggi. Jadi berdasarkan uraian di atas alienasi adalah suatu kesadaran tidak sempurna (sakit ingatan) yang disebabkan oleh perilaku yang mencerminkan dirinya, di mana individu tersebut berprilaku berdasarkan ilusi yang dialaminya, sehingga individu tersebut kehilangan jati dirinya. 2. Bentuk dan Sumber Alienasi Menurut Marx (Lavine, 2003) dalam naskah 1844, alienasi manusia memiliki empat bentuk utama : a. Manusia diasingkan dari produk hasil pekerjaanya, para buruh dalam kapitalisme industrialis diasingkan dari produksinya. b. Manusia diasingkan dari kegiatan produksi, sistem kapitalis mengasingkan manusia dan aktivitasnya. c. Manusia diasingkan dari sifat sosialnya sendiri, masyarakat mengasingkan buruh dari kualitas penting manusia. d. Manusia diasingkan dari rekan-rekannya, alienasi adalah “pemisahan manusia dari manusia “. Gergen (1970) mengemukakan bahwa sumber-sumber alienasi dapat terjadi dalam tiga tahapan, di mana sumber-sumber yang dikemukakannya tersebut lebih mengarah pada penyebab yang berasal dari dalam diri individu (internal), diantaranya yaitu : a. Individu dapat teralienasi dikarenakan perilakunya yang tidak konsisten dengan konsep dirinya.
  • 20. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com b. Alienasi dapat muncul pada situasi ketika perilaku seorang individu melanggar aspirasi-aspirasi identitas dirinya. c. Alienasi yang terjadi pada seorang individu dapat diketahui ketika perilaku seorang individu tersebut tidak terdapat hubungan dengan cara individu yang bersangkutan dalam memandang dirinya. 3. Aspek-aspek Alienasi Dalam suatu riset tentang alienasi, disebutkan pula oleh Seeman (Katz & Kahn, 1965) bahwa alienasi memiliki beberapa aspek, sebagai berikut : a. A sense of powerlessness (perasaan tidak berdaya), yaitu suatu perasaan bahwa kejadian dari akibat yang terjadi pada seorang individu dikontrol serta ditentukan oleh kekuasaan ekternal di luar dirinya, bukan karena kekuatan atau dari individu itu sendiri. b. A sense of meaninglessness (perasaan tidak berarti), yaitu suatu perasaan bahwa terjadinya suatu kejadian tidak dapat dipahami, sehingga muncul anggapan bahwa segala sesuatu yang terjadi di masa yang akan datang akan sulit untuk ditebak. c. A sense of normlessness (perasaan tidak ada norma), yaitu suatu perasaan bahwa tujuan-tujuan yang tidak diakui secara sosial diperlukan untuk mencapai maksud-maksud yang diakui secara sosial sehingga muncul anggapan bahwa seorang individu tidak harus terikat pada nilai-nilai dan moralitas standar yang berlaku di lingkungan sosialnya. d. Social isolation (perasaan terisolasi secara sosial), yaitu suatu perasaan kesendirian, penolakan dan terpisah dari nilai-nilai kelompok atau hubungan antar anggota kelompok sehingga tidak menutup kemungkinan karena perasaan seperti menjadikan individu yang bersangkutan menarik diri dari kehidupan sosialnya.
  • 21. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com e. Self-estrangement (perasaan keterasingan diri), yaitu perasaan yang muncul pada diri seorang individu bahwa segala aktivitas yang telah dilakukannya tidaklah menguntungkan dirinya, sehingga memunculkan perasaan bahwa segala perilaku yang dilakukan individu tersebut semata-mata bukan keinginannya sendiri. Kemudian Katz & Kahn (1965) meringkas enam aspek alienasi menjadi lima aspek, yang diantaranya adalah: sense of powerlessness (perasaan tidak berdaya), sense of meaninglessness (perasaan tidak berarti), sense of normlessness (perasaan tidak adanya norma), isolation (perasasaan terisolasi), self-estrangement (perasaan keterasingan diri). Selanjutnya Dean (Pratomo, 1994) membagi aspek-aspek alienasi menjadi tiga aspek, dimana ketiga aspek tersebut didasarkan pada aspek-aspek alienasi yang telah dikembangkan oleh Seeman serta Katz & Kahn. Dean kemudian melakukan penggabungan aspek-aspek tersebut menjadi: a) ketidakberdayaan (powerlessness), dimana aspek ini merupakan penggabungan dari aspek powerlessness dan meaninglessness, b) ketidakbernormaan (normlessness), c) isolasi sosial (social isolation), dimana aspek ketidakbernormaan dan isolasi sosial merupakan penggabungan dari aspek isolation dan self-estrangement. Ada beberapa sikap yang menjadikan orang modern teralienasi. Menurut Fromm (Rosyadi, 2000) ada beberapa aspek spesifik dari sosial kontemporer yang erat kaitannya dengan fenomena alienasi, yakni: a. Otoritas anonim-konformitas, akan terlaksana bila melalui prinsip konformitas yakni sebuah tindakan atau aktivitas yang kesemuanya berdasar pada faktor-faktor di luar pribadi-pribadi yang merdeka. b. Prinsip nonfrustasi kurangnya pengendalian hasrat pada akhirnya menjadikan lumpuh dan hancurnya jati diri.
  • 22. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com c. Asosiasi bebas dan berbicara bebas, telah banyak dilihat bahwa perkembangan manusia modern telah banyak didominasi psikologi yang dikembangkan Freud dengan asosiasi bebas. d. Akal budi, kesadaran, dan agama. Masyarakat sekarang mampu mengembangkan pikiran-pikiran untuk mampu mempertahankan hidup secara biologis. e. Kerja, makna sebuah kerja sesungguhnya membentuk dan mengubah alam di luar manusia. Berdasarkan uraian di atas dengan demikian maka kesempatan kali ini peniliti memakai aspek-aspek yang dikembangkan oleh Dean (dalam Robinson & Shaver, 1973) di mana aspek tersebut meliputi ketidakberdayaan, ketiaadaan norma, dan isolasi sosial. 4. Faktor Yang Mempengaruhi Alienasi Purnomo (2002) mengatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang sekiranya berpengaruh terhadap kecendrungan terjadinya alienasi pada diri seorang individu, diantaranya adalah : a. Reliugitas Berdasrkan uraian sebelumnya dapat dipahami bahwa alienasi merupakan suatu gangguan kesehatan mental yang dialami oleh seseorang, di mana menurut Mubarok (2000) hal tersebut diantaranya ditandai oleh perilaku menyimpang dan psikosomatis. Berdasarkan hal tersebut maka tingkat religiusitas berpengaruh terhadap kecendrungan munculnya alienasi diri. Pendapat peneliti tersebut didasarkan pada hasil penelitian Paloutzian (1996) yang telah membuktikan adanya korelasi antara tingkat religiusitas dengan kesehatan mental di mana diantaranya tingginya tingkat religiusitas dapat membebaskan seseorang dari gejala alienasi.
  • 23. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com b. Konsep diri Kedudukan konsep diri sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kecendrungan terjadinya alienasi diri didasarkan pada pendapat alienasi menurut Fromm (1995) yang berpendapat bahwa alienasi merupakan kondisi ketika seseorang mengalami dirinya sendiri sebagai orang asing, di mana ia tidak menganggap dirinya sebagai pusat dari dunia dan sebagai pelaku dari perbuatan- perbuatannya. Kondisi seperti itu menurut peneliti berhubungan dengan konsep diri yang melingkupi seorang individu, di mana hal tersebut di dasarkan pada pendapat Burn (1993) yang mendefinisikan konsep diri sebagai kesan terhadap diri sendiri secara keseluruhan yang mencangkup tentang pendapat akan dirinya sendiri, pendapatnya tentang gambaran dirinya di mata orang lain dan pendapat tentang hal-hal yang diperolehnya. c. Usia Usia merupakan faktor yang diperkirakan turut mempengaruhi terjadinya alienasi diri pada seorang individu karena semakin dewasa usia seorang individu akan berpengaruh pada kematangan mentalnya. Semakin dewasa usia seseorang individu akan menjadikan semakin matangnya orientasi dan konsep hidupnya, sehingga relatif telah mampu memaknai dirinya karena telah dapat menemukan jati dirinya secara hakiki. Hal tersebut didorong oleh pendapat Hurlock (1999), menurutnya remaja lebih ada kecendrungan terkena alienasi diri, hal itu dikarenakan pada umumnya remaja merasa tidak nyaman dengan standar kelompok secara fisik, sehingga remaja menarik diri dan biasanya kepribadian yang melingkupinya adalah kepribadian yang egois, keras kepala, pemurung, dan gelisah yang disebabkan karena belum daitemukannya jati dirinya, sehingga kurang dapat untuk memaknai hidupnya dengan baik.
  • 24. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com d. Tingkat pendidikan Hal tersebut berkaitan dengan konsep tentang alienasi diri seperti telah diuraikan di bagian lain, di mana kecendrungan terjadinya alienasi diri pada seorang individu memiliki hubungan dengan status sosial yang melingkupinya. Tingkat pendidikan adalah merupakan salah satu faktor penentu status sosial yang akan mempengaruhi pada kepuasan seseorang, bahkan jenjang pendidikan diasumsikan sebagai kriteria status sosial tersendiri, misalnya seseorang yang telah duduk di Perguruan Tinggi memiliki status lebih sebagai seorang mahasiswa yang diharapakan sebagai generasi penerus bangsa dengan kemampuan lebih sebagai kaum intelektual muda yang diantaranya adalah memiliki kemampuan ilmiah, obyektif, rasional, inovatif, dan berpredikat sebagai agent of change, dan memiliki kepribadian yang seimbang. Bila ternyata hal tersebut tidak sesuai dengan harapan yang ada, maka menurut Helmi dan Ramdhani (1992) dapat memunculkan dampak negatif yang berupa perasaan tidak puas terhadap dirinya, sehingga tidak menutup kemungkinan individu yang bersangkutan terjebak dalam perilaku negatif, seperti menjadi Pecandu Obat terlarang dan narkotika. Sebagai suatu konsep, batasan alienasi berbeda-beda antar peneliti tergantung pada aspek perilaku mana yang hendak ditekankan, kendati demikian seperti hal yang tersebut di atas selalu muncul dalam setiap pembahasan mengenai alienasi. Tentunya hal itu berhubungan dengan pendefinisian alienasi dalam kontek manifestasinya, maka konteks dari bentuk sebenarnya dari kondisi alienasi yang sering terjadi. Manifestasi itu sendiri ternyata berbeda-beda dari kelompok sosial yang satu dengan kelompok yang lainnya tergantung pada tingkat kesenjangan antara situasi sosial pada kelompok-kelompok tersebut dan harapan mereka untuk mengatasinya.
  • 25. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Berdasarkan uraian di atas, maka faktor-faktor yang mempengaruhi alienasi adalah religiutas, konsep diri, usia dan tingkat pendidikan. B. Konsep Diri 1. Pengertian Konsep Diri Manusia dilahirkan ke muka bumi pada awalnya tanpa dibekali pengetahuan tentang dirinya, tidak memiliki harapan, dan tidak memiliki penilaian akan dirinya. Maksudnya adalah bahwa manusia sebagai individu tidak sadar akan dirinya yang merupakan bagian tak terpisahkan dari lingkungan (Caplan dalam Calhaoun & Acocella, 1995). Semakin beranjak dewasa, manusiapun akan menyadari dengan sendirinya tentang keberadaan dirinya dan mulai mencari-cari yang pada akhirnya menemukan konsep akan dirinya, kesadaran akan konsep diri pada manusia tumbuh dengan pesat semenjak seorang individu mulai menggunakan bahasa sebagai sebuah alat komunikasinya. Hal itu dikarenakan dengan kemampuannya memahami perkataan orang lain, maka individu telah mendapatkan informasi yang lebih dari cukup untuk memahami dirinya, dan mulailah konsep diri itu terwujud baik yang positif dan negatif. Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Bee (1981), di mana dikatakan bahwa konsep diri berkembang ketika anak berkemampuan untuk mengobservasi fungsi dirinya seperti apa yang dilihatnya pada orang lain. Burn (1993) mendefinisikan konsep diri ini sebagai kesan terhadap diri sendiri secara keseluruhan, di mana hal tersebut mencangkup tentang pendapat akan dirinya sendiri, pendapatnya tentang gambaran dirinya di mata orang lain, dan pendapatnya tentang hal-hal yang diperolehnya. Sementara itu Hurlock (1979) berpendapat bahwa konsep diri merupakan gambaran seseorang mengenai diri
  • 26. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com sendiri yang merupakan gabungan dari keyakinan fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi, dan prestasi yang dicapai oleh diri seorang. Lain halnya dengan pendapat Rakhmat (1996), menurutnya konsep diri tidak hanya merupakan gambaran deskriptif semata, akan tetapi juga merupakan penilaian seorang individu mengenai dirinya sendiri, sehingga konsep diri merupakan sesuatu yang diperkirakan dan dirasakan oleh seorang individu. Menurut Rakhmat (1996) terhadap dua komponen dari konsep diri yang sekiranya dapat dikemukakan, yaitu komponen kognitif (self image) dan komponen self afektif (self esteem). Komponen kognitif (self image) adalah merupakan pengetahuan individu yang mencangkup pengetahuan “who am I” yang mana itu akan memberikan gambaran tentang dirinya hal ini disebut sebagai suatu pencitraan diri. Adapun komponen efektif adalah merupakan penilaian individu terhadap dirinya sendiri yang akan membentuk bagaimana penerimaan akan diri dan harga diri individu yang bersangkutan. Dari beberapa uraian tentang definisi konsep diri seperti tersebut, dapat dipahami bahwa konsep diri merupakan sesuatu yang dirasakan dan dipikirkan oleh seorang individu yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Hubungan dengan penentu perilaku, konsep diri menurut Pudjijogjanti (1993) terdiri dari 3 peranan penting yaitu; pertama, peranan konsep diri berkaitan dengan usaha dari seorang individu untuk mempertahankan keselarasan batinya. Hal tersebut didasarkan pada sifat dasar individu yang cenderung untuk selalu mempertahankan keseimbangan dalam kehidupan batinnya, sehingga bila timbul pikiran, perasaan, dan persepsi yang tidak seimbang maupun berlawanan, maka akan terbentuk iklim psikologis tidak menyenangkan yang mendorong individu untuk mengubah perilakunya. Ke dua setiap individu akan memberikan penafsiran yang berbeda terhadap sesuatu yang dihadapinya, di mana ini berkaitan dengan keseluruhan sikap dan pandangan individu terhadap diri dan hal itu berpengaruh
  • 27. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com besar terhadap pengalamannya. Ke tiga konsep diri merupakan penentu pengharapan individu, sehingga dapat dikatakan bahwa pengharapan adalah inti dari konsep diri. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Mc Candless (1970), di mana menurutnya konsep diri merupakan seperangkat harapan dan penilaian perilaku yang menunjuk pada harapan tersebut, sehingga bila sikap dan pandangan individu terhadap kemampuan dirinya bersifat negatif, maka sebenarnya hal tersebut akan menyebabkan individu tidak memiliki motivasi yang tinggi. Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan pengertian konsep diri remaja dalam penelitian ini adalah gambaran remaja mengenai diri sendiri berdasarkan pengalaman yang diperoleh dari lingkungannya. Fitts dkk (Wijayaningsih, 2000) mengemukakan aspek-aspek konsep diri meliputi; Pertama konsep diri fisik. Konsep diri fisik berarti pandangan, pikiran, perasaan dan penilaian remaja terhadap fisiknya sendiri. Kedua, konsep diri pribadi. Konsep diri pribadi berarti pandangan pikiran, perasaan, dan penilaian remaja terhadap pribadinya sendiri. Ketiga, konsep diri sosial. Konsep diri sosial berarti pandangan, pikiran perasaan dan penilaian remaja terhadap kecendrungan sosial yang ada pada dirinya sendiri. Keempat, konsep diri moral etik. Konsep diri moral etik berarti pandangan, pikiran, perasaan, dan penilaian remaja terhadap moralitas diri sendiri. Konsep diri moral etik berkaitan dengan nilai dan prinsip yang memberi arti arah bagi kehidupan remaja. Kelima, konsep diri keluarga. Konsep diri keluarga berarti pandangan, pikiran, perasaan, dan penilaian remaja terhadap keluarganya sendiri. Konsep diri keluarga berkaitan dengan keberadaan remaja dalam keluarga. Keenam, konsep diri akademik. Konsep diri akademik berarti pandangan, pikiran, perasaan dan penilaian remaja terhadap kemampuan akademisnya sendiri.
  • 28. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Burn (1979) berdasarkan tinjauannya secara umum mengemukakan bahwa perkembangan konsep diri dipengaruhi oleh 5 faktor : 1. Citra Fisik (body image), merupakan evaluasi terhadap diri sendiri secara fisik 2. Bahasa, merupakan kemampuan melakukan konseptualisasi dan verbalisasi mengenai diri sendiri dan orang lain. 3. Umpan balik dari lingkungan yang diinterpretasikan sebagai pandangan orang lain yang berarti dan dekat (significant others) bagi seseorang terhadap caranya dalam berhubungan dengan norma dan nilai masyarakat yang bermacam-macam. 4. Identifikasi dengan peran jenis yang sesuai dengan strereotip masyarakat. 5. Cara pengasuhan anak (pola asuh dari orang tua) dan perlakuan serta komunikasi orangtua setiap saat yang dapat membentuk kebiasaan dan pola perilaku anak. Ciri-ciri khusus dari tiap individu merupakan hasil dari proses yang diterima dan diolah dalam situasi seperti yang daitemukan oleh Burn. Sebagai contoh, misal tentang penerimaan diri, bagaimana terbentuknya penerimaan diri seseorang tidak dapat dilepaskan dari citra fisik, umpan balik, dari lingkungan, identifikasi peran jenis dan pola asuh orangtua. Penerimaan diri adalah salah satu komponen dalam kepribadian yang ikut membentuk konsep diri. Jelasnya aspek-aspek khusus secara bersama-sama atau sendiri-sendiri akan mempengaruhi pembentukan konsep diri. Coopersmith (1967) mencoba meneliti hubungan antara salah satu dimensi dari konsep diri yaitu self esteem dengan beberapa aspek kepribadian. Hasilnya, seseorang dapat diterima dengan baik oleh lingkungan apabila perilakunya tidak menyimpang dari aturan-aturan, norma-norma dan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam masyarakat, maka ia dapat menjadi panutan. Hal tersebut akan ikut menentukan konsep diri individu yang bersangkutan. Makin taat seseorang
  • 29. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com menjalankan apa yang telah digariskan oleh lingkungan, maka makin tinggi penerimaan lingkungan hidupnya, hal tersebut akan mendorong terbentuknya konsep diri yang tinggi. 2. Aspek-Aspek Konsep Diri Berzonsky (1981) hanya mengemukakan 4 aspek konsep diri, yaitu : 1. Aspek fisik, meliputi penilaian individu terhadap segala sesuatu yang dimilikinya, seperti tubuh, pakaian, dan benda yang dimilikinya. 2. Aspek psikis, meliputi pikiran, perasaan, dan sikap yang dimiliki individu terhadap dirinya sendirinya. 3. Aspek sosial, meliputi peran individu dalam lingkup peran sosialnya dan penilain individu terhadap peran tersebut. 4. Aspek moral, merupakan nilai dan prinsip yang memberikan arti dan arah dalam hidup individu. Dari keempat aspek diatas diketahui bahwa konsep diri adalah persepsi individu tentang dirinya baik fisik, psikis, sosial maupun moral yang diakui individu sebagai cirri dirinya. 3. Perkembangan Konsep Diri Apabila seseorang mengenal identitas dirinya maka hal tersebut tidak hanya sebatas pada pengenalan nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan dan pekerjaan, tetapi juga mengenal konsep dirinya. Pengalaman-pengalaman hidup yang dilewati individu pada tahap-tahap perkembangan akan membentuk cara pandang individu terhadap dirinya dan lingkungannya. Pengalaman positif bagi individu akan membentuk konsep diri yang positif sebaliknya pengalaman yang buruk akan membentuk konsep diri yang negatif.
  • 30. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Konsep diri terbagi menjadi dua bagian, yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif. Burn (dalam Apriana, 2002) berpendapat bahwa kebanyakan orang jika dimintai untuk menggambarkan diri mereka maka mereka akan membuat perbedaan antara “siapa diri mereka” dan “ingin menjadi apa mereka”. Pendapat yang lain dari Grinder (1978) mengemukakan bahwa persepsi individu terhadap dirinya dibentuk selama hidupnya ketika individu mendapatkan hadiah dan hukuman dari orang-orang yang ada disekitarnya. Semua yang dialami akan diproses, sehingga terbentuk suatu keyakinan dan penyesuaian mengenai dirinya sendiri. Pengalaman hidup yang dilewati individu akan membentuk cara pandang individu terhadap diri dan lingkungannya. Pengalaman yang positif akan membentuk konsep diri yang positif sebaliknya pengalaman yang negatif akan membentuk konsep diri yang negatif. C.Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Alienasi Pada Mahasiswa Ketidaksiapan mental dan ketidakmampuan untuk memahami dan memaknai dirinya sebagai makhluk individu maupun sosial. Kegamangan terhadap arus budaya modern akan membawa perubahan-perubahan psikososial yang ditandai dengan perubahan nilai-nilai kehidupan. Perubahan tersebut dapat berupa pola hidup sosial yang cenderung bergeser ke arah masyarakat individual matrealistik dan sekuler, pola hidup sederhana dan produktif cenderung berubah ke arah pola hidup mewah dan konsumtif, struktur keluarga cenderung ke arah nuclear family dan single parent family, hubungan kekeluargaan cendrung rapuh dan longgar, nilai-nilai agama dan tradisi yang dianut masyarakat berubah menjadi masyarakat yang sekuler dan serba membolehkan (permissive society), masyarakat cenderung hidup bersama di luar nikah dan meragukan lembaga perkawinan hubungan interpersonal dalam keluarga dan masyarakat terganggu akibat ambisi dan materi (Hawari, 1997).
  • 31. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Berger & Luckmann (1992) berpendapat bahwa fenomena tersebut terjadi seiring dengan meluasnya rasionalisasi masyarakat modern dengan cara-cara produksi kapitalis yang mendorong berkembangnya proses differensiasi yang disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk dan pembagian kerja. Gejala itu dirasakan oleh semua kalangan baik anak, remaja, maupun orang dewasa. Remaja merupakan kalangan yang paling rentan terkena dampak negatif dari budaya modern, mengingat masa remaja dipandang sebagai masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Terlebih pada remaja akhir yang berstatus mahasiswa. Seperti yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya, diketahui bahwa pengguna obat-obatan terlarang dan narkotika mayoritas adalah mahasiswa. Fenomena tersebut tidak dapat dipisahkan dari banyaknya persoalan yang melingkupi kehidupan mereka salah satunya adalah harapan yang begitu besar kepada mereka, terutama dari lingkungan sekitarnya misalnya keluarga. Bila harapan tersebut tidak dapat terpenuhi, maka tidak menutup kemungkinan mereka akan merasa tidak berdaya, tidak bermakna, dan merasa disisihkan dari dunia sekitarnya. Dalam ilmu sosial, khususnya psikologi gejala tersebut disebut dengan istilah teralienasi. Pada diri remaja alienasi menurut Hurlock (1979) dapat diartikan dari beberapa ciri yang disebutnya sebagai sindrom alienasi, yaitu: 1. Menyendiri Maksudnya adalah remaja yang demikian memiliki kecendrungan untuk menarik diri dari lingkungannya dan tidak memiliki gairah untuk beraktifitas apapun apabila dirasa lingkungannya menolak dirinya. Dalam dirinya tidak ada gairah untuk melakukan sesuatu yang berguna, sehingga waktunya hanya dihabiskan untuk melamun atau hanya bersantai saja tanpa melakukan apapun.
  • 32. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 2. Ketidaktertarikan Sosial Maksudnya adalah remaja yang mengalami kondisi seperti ini hanya berkonsentasi pada ketertarikan dan kesenangan sendiri tanpa peduli pada orang lain di sekitarnya. Remaja demikian cenderung menjadi egois, tidak mau bergaul dengan orang lain. Hal tersebut dikarenakan budaya tidak peduli sudah mewarnai dirinya, sehingga remaja demikian tidak akan membantu orang lain kalau tidak mendatangkan keuntungan bagi dirinya. 3. Ketidakefektifan Sosial Ketidakefektifan sosial ini ditandai dengan perilaku remaja yang selalu menjadi biang keributan dengan melawan penguasa, membunuh hukum, dan peraturan. Remaja selalu tidak merasa puas dengan keadannya, sehingga remaja dianggap sebagai provokator kekacauan-kekacauan yang terjadi. Sindrom alienasi seperti tersebut di atas bila tidak segera dapat teridentifikasi dengan dini, menurut Mubarok (2000) mengakibatkan gangguan kejiwaan yang diantaranya dapat berupa : 1. Kecemasan Perasaan cemas ini bersumber dari hilangnya makna hidup (the meaning of live) sehingga individu yang bersangkutan tidak memiliki hidup. Segala sesuatu yang dilakukan adalah mengikuti trend, mengikuti tuntunan sosial kendati tindakan tersebut mungkin tidak sesuai dengan norma atau prinsip yang ada, sehingga hidupnya hanya mengikuti kemauan orang lain dan kepuasan sesaat yang dikejarnya, dan sewaktu mengalami kegagalan individu seperti ini akan merasa malu dan kecewa. Perasaan seperti ini pada akhirnya akan menciptakan suatu ketidak seimbangan dalam dirinya, sehingga pada akhirnya hidupnya senantiasa dilanda oleh kegelisahan dan kecemasan yang berkepanjangan.
  • 33. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 2. Kesepian Gangguan ini bersumber dari hubungan antar manusia (personal) di kalangan masyarakat modern yang tidak lagi tulus dan hangat. Kepribadian hipokrit telah mendarah daging, sehingga segala sesuatu yang diucapkan dan dilakukan adalah kebohongan semata. Dampaknya individu yang demikian akan merasa tidak memiliki apapun dan siapapun, sehingga dirinya akan merasa sepi di tengah keramaian 3. Kebosanan Dikarenakan karena hidup sudah tidak bermakna, hubungan dengan orang lain telah hambar dan konsentarsi selalu menggangu jiwanya, maka dampaknya menimbulkan perasaan bosan. Bosan kepada kepura-puraan, bosan kepada kepalsuan, namun tidak tahu langkah apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebosanan tersebut. 4. Perilaku Menyimpang Kecemasan, kesepian, dan kebosanan yang diderita berkepanjangan akan menjadikan seorang individu tidak tahu persis dengan apa yang harus dilakukan untuk masa depannya memutuskan sesuatu dan jalan mana yang harus di tempuh dengan keadaan jiwa yang kosong dan rapuh seperti tersebut dapat menjadikan seorang idividu tidak mampu berfikir secara jernih dan jangka panjang, selain itu juga meyebabkan kecendrungan memuaskan motif pada perilaku yang tidak terpuji, karena perilaku itu dianggapnya mampu menghibur dirinya. Manusia dalam tingkat gangguan kejiwaan seperti ini mudah sekali diajak atau dipengaruhi untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan, meskipun perbuatan tersebut menyimpang dari norma-norma moral, misalnya terjerumusnya dalam penggunaan obat-obatan terlarang dan narkotika, seks bebas, tawuran, merampok, bahkan membunuh.
  • 34. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 5. Psikosomatik Psikosomatik adalah gangguan fisik yang disebabkan oleh faktor-faktor kejiwaan dan sosial. Psikosomatik dapat disebut sebagai penyakit gabungan antara fisik dan mental. Penderita psikosomatik biasanya mengeluh merasa tidak enak badan, jantungnya berdeba-debar, merasa lemah, tidak dapat berkonsentrsi dengan baik. Wujud psikosomatik dapat dalam bentuk sindrom, trauma, stress, ketergantungan kepada obat penenang, alkohol, narkotika, dan berperilaku menyimpang. Dari uraian tentang gangguan kejiwaan yang dapat muncul sebagai dampak dari terjadinya alienasi diri pada seorang individu sungguh sangat mengerikan, terlebih bila hal tersebut sampai terjadi pada remaja yang berstatus mahasiswa. Tentunya dapat dibayangkan seandainya mahasiswa sebagai kaum intelektual muda, generasi penerus bangsa, agent of change, dan memiliki status sosial yang terhormat sampai terkena sindrom alienasi diri dapat dipastikan bangsa indonesia dapat terhambat dan akan hancur. D. Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ” ada hubungan negatif antara konsep diri dengan alienasi diri, dimana semakin positif konsep diri, maka akan semakin berkurang kemungkinan seorang terkena alienasi diri” sebaliknya jika semakin negatif konsep diri, maka akan semakin tinggi kemungkinan seorang terkena alienasi diri.
  • 35. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel-variabel Penelitian Variabel-variabel penelitian ini adalah sebagai berikut: Variabel bebas : Konsep diri Variabel tergantung : Alienasi B. Definisi Operasional Variabel Penelitian Definisi operasional variabel penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Konsep diri Konsep diri adalah gambaran seseorang mengenai diri sendiri yang merupakan gabungan dari keyakinan fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi, dan prestasi yang dicapai oleh diri seorang Hurlock (1979). Konsep diri diungkap dengan menggunakan skala konsep diri yang melibatkan aspek-aspek fisik, psikis, sosial, dan moral. Semakin tinggi total skor yang diperoleh maka semakin tinggi pula konsep diri individu, sebaliknya semakin rendah total skor yang diperoleh maka makin rendah pula konsep diri individu tersebut. 2. Alienasi Alienasi adalah suatu kesadaran tidak sempurna (sakit ingatan) yang disebabkan oleh prilaku yang bukan mencerminkan dirinya, di mana individu tersebut berprilaku berdasarkan ilusi yang dialaminya, sehingga individu tersebut mengalami kehilangan jati diri (Purnomo, 2002). Alienasi diukur dengan skala alienasi dengan aspek-aspek yang meliputi : perasaan tidak berdaya, ketiadaan norma, dan isolasi sosial. Total skor yang diperoleh skala alienasi menunjukkan semakin tinggi total skor yang diperoleh maka semakin tinggi pula alienasi diri individu, sebaliknya
  • 36. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com semakin rendah total skor yang diperoleh maka semakin rendah pula alienasi diri individu tersebut. C. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Islam Indonesia Yogyakarta fakultas Psikologi dan Ekonomi baik laki-laki maupun perempuan yang masih aktif berstatus mahasiswa. Adapun karakteristik subjek penelitian adalah pria dan wanita dalam rentang usia 18-23 tahun. Subjek penelitian sebanyak 100 orang. D. Metode pengumpulan Data Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala konsep diri dan skala alienasi dengan menggunakan angket. Angket adalah daftar yang berisi pertanyaan atau peryataan yang diberikan pada subjek untuk mengungkapkan kondisi yang ada pada diri subjek yang ingin diketahui (Hadi, 1983). Penggunaan metode skala dalam suatu penelitian didasarkan pada beberapa asumsi, yaitu: a. subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya. b. apa yang dinyatakan oleh subjek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercayai. c. interpretasi subjek terhadap peryataan yang disajikan kepadanya, adalah sama dengan apa yang dimaksud oleh peneliti. Alat ukur yang yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri dari : 1. Skala Konsep diri Skala konsep diri terdiri dari 50 aaitem yang terdiri dari 25 aaitem yang bersifat favorable dan 25 aaitem yang bersifay unfavorable.
  • 37. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Penulis menyusun penelitian ini menggunakan skala konsep diri yang merupakan modifikasi dari skala konsep diri Famella (1999). Konsep diri ada dua yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif. Dalam skala ini Famella mengacu pada teori yang disusun oleh Berzonsky (1981), yang berdasarkan pada 4 aspek yaitu: a. Aspek fisik, meliputi penilaian individu terhadap segala sesuatu yang dimilikinya, seperti tubuh, pakaian, dan benda yang dimilikinya. b. Aspek psikis, meliputi pikiran, perasaan dan sikap yang dimiliki individu terhadap dirinya sendiri. c. Aspek sosial, meliputi peran individu dalam lingkup sosialnya dan penilaian individu terhadap peran tersebut. d. Aspek moral, merupakan nilai dan prinsip yang memberi arti dan arah dalam hidup individu. Skala dalam penelitian ini menggunakan metode Likert yang telah dimodifikasi menjadi 4 alternatif jawaban yaitu : Sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), sangat tidak sesuai (STS), yang disajikan dalam kalimat favourable dengan penampilan bergerak dari 4 sampai 1, untuk kalimat unfavourable dengan penampilan bergerak dari 1 sampai 4. Adapun pendistribusian aitemnya dapat dilihat di tabel 1. Tabel 1 Distribusi Butir Skala konsep diri sebelum uji coba Aspek Aitem Aitem Jumlah Favourable unfavourable aitem Fisik 1,9,17,25,33,41 2,10,18,26,34,42 12 Psikis 7,15,23,31,39,47 8,16,24,32,40,48,50,52 14 Sosial 3,11,19,27,35,43 4,12,20,28,36,44 12 Moral 5,13,21,29,37,45,49,51 6,14,22,30,38,46 14 Jumlah 26 26 52
  • 38. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 2. Skala Alienasi Skala alienasi terdiri dari 53 aaitem yang terdiri dari 23 aaitem yang bersifat favourable dan 30 aitem yang bersifat unfavourable. Skala alienasi yang digunakan dalam penelitian ini mengadopsi dengan melalui Proses Modifikasi dan Penambahan jumlah Pertanyaan dari alienation scale yang disusun oleh Dean (dalam Robinson dan Shaver, 1973). Skala alienasi ini merupakan modifikasi dari skala alienasi Purnomo (1994) yang dikembangkan oleh Dean (dalam Robinsin dan Shaver, 1973) berdasarkan pada lima aspek alienasi dari Seeman (dalam Mizruchi, 1967), dimana kemudian dilakukan penggabungan kelima aspek tersebut menjadi tiga aspek yaitu; a) ketidakberdayaan, b) ketiadaan norma, c) isolasi sosial, dimana konsep ketiadaan norma dan isolasi sosial merupakan gabungan dari aspek isolasi dan keterasingan diri. Skala dalam penelitian ini menggunakan metode Likert yang telah dimodifikasi menjadi 4 alternatif jawaban yaitu : Sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), sangat tidak sesuai (STS), yang disajikan dalam kalimat favourable dengan penampilan bergerak dari 4 sampai 1, untuk kalimat unfavourable dengan penampilan bergerak dari 1 sampai 4. Adapun pendistribusian aitemnya dapat dilihat di tabel 2. Tabel 2 Distribusi Butir Skala alienasi diri sebelum uji coba Aspek Aitem Aitem Jumlah Favourable unfavourable aitem Ketidakberdayaan 6,11,12,15,16,1 2,23,24,27,29,32,34,37,38,4 22 9,21,30,53 2,43,45,50 Ketiadaan norma 4,9,14,17,18,41 26,28,35,40,46,48,51 13 Isolasi sosial 1,3,7,22,25,36, 5,8,10,13,20,31,33,44,49,52 18 39,47 Jumlah 23 30 53
  • 39. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com E. Validitas dan Reabilitas 1. Validitas skala Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dalam melaksanakan fungsi ukurnya suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut, sedangkan tes yang menghasilkan data yang tak relevan dengan tujuan pengukuran dikatan sebagi tes yang memiliki validitas rendah. Suatu alat ukur yang valid, tidak sekedar mmapu mengungkapkan data dengan tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut (Azwar, 2003). Seleksi terhadap aaitem-aaitem yang digunakan dalam penelitian dilakukan dengan cara menghitung koefisien korelasi antara skor pada aaitem yang bersangkutan dengan skor total skala dengan melihat indeks daya beda aaitem dapat ditentukan aitem-aitem yang gugur dan aitem-aitem yang layak digunakan dalam tehnik yang digunakan adalah korelasi moment atau product moment dari pearson. Seleksi aaitem menggunakn uji validitas dan teknik konsistensi internal, yaitu mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total. Tehnik untuk mengujinya menggunakan teknik korelasi part whole untuk menghindari diperolehnya taksiran yang terlalu tinggi. Perhitungan validitas skala dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan komputer dengan program statistik (SPSS) edisi Sutrisno Hadi, MA (2000). 2. Reliabilitas skala Reliabilitas merupakan terjemahan dari kata reliability yang merupakan asal kata dari rely dan ability walaupun reliabilitas memiliki nama lain seperti kepercayaan, keajegan, konsistensi, dan sebagainya namun ide pokok yang
  • 40. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya (Azwar, 1992) Hasil pengukuran dapat dipercaya hasilnya apabila beberapa kali pelaksanaan pengukurannya terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama berarti tetap adanya toleransi terhadap perbedaan kecil diantara hasil beberapa kali pengukuran. Bila perbedaan itu sangat besar dari waktu ke waktu, maka hasil pengukuran tersebut tidak dapat dipercaya dan dikatakan sebagai tidak reliabel (Azwar, 1997). Reliabel alat pengumpul data dapat di lihat dari koefisien reliabilitasnya. Pengujian koefisien reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi alpha yang dikembangkan oleh Cronbach. Pengujian kerilibilitas dalam penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan SPSS edisi Sutrisno Hadi.MA F. Metode Analisis Data Metode yang digunakan adalah metode statistik. Teknik analisis data yang digunakan adalah product moment dari pearson yaitu untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan alienasi pada mahasiswa.
  • 41. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

×