• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Eb Model Pemberdayaan B
 

Eb Model Pemberdayaan B

on

  • 6,052 views

 

Statistics

Views

Total Views
6,052
Views on SlideShare
5,966
Embed Views
86

Actions

Likes
1
Downloads
636
Comments
1

1 Embed 86

http://adjisoedarmo.com 86

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

11 of 1 previous next

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Eb Model Pemberdayaan B Eb Model Pemberdayaan B Document Transcript

    • PEMBERDAYAAN TERNAK LOKAL MODEL ALTERNATIF REKOMENDASI Soedito Adjisoedarmo (2010)
    • Tantangan Pertanyaan awal yang membutuhkan jawaban adalah - Berapa jumlah bibit yang akan dihasilkan untuk digunakan sendiri dan yang akan dijual di pasar lokal dan atau di luar daerah (desa, kecamatan, kabupaten, propinsi atau negara) ? Adjisoedarmo (1997)
    • Pertanyaan tersebut tidak mudah untuk dapat dijawab. Pertama, disebabkan karena harus diketahui lebih dahulu potensi wilayah atau daya tampung wilayah untuk dapat menyediakan pakan (hijauan dan konsentrat) yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan reproduksi dan produksi ternak yang dipelihara
    • Kedua , disebabkan karena harus dapat menaksir berapa jumlah bibit dan non bibit yang dapat dihasilkan per tahun atau dalam periode tertentu.
    • Ketiga , sudah siapkah SDM yang ada di wilayah pemberdayaan domba-kambing, berpartisipasi aktif dalam pelaksanakan pembibitan (usaha yang membutuhkan jangka waktu menengah sampai panjang, 7-25 tahun).
    • Keempat , kegagalan atau gangguan proses reproduksi pada doma/kambing dapat menyebabkan penaksiran yang salah atau target yang ditetapkan tidak akan dapat dicapai.
    • Kelima, tersediakah atau dapatkah para penyandang dana / Iptek diyakinkan untuk bersedia menjadi pelopor pembangunan untuk wilayah Pemberdayaan Domba /K ambing .
    • TANTANGAN DAPAT DIRINGKAS 1 P enyediaan bibit unggul. 2 Pengkondisian tanah untuk mempertahankan/peningkatan kesuburan dan produktivitasnya. 3 Peningkatan produktivitas hijauan pakan ternak dan konsentrat. 4 Peningkatan efisiensi reproduksi dan produksi ternak. 5 Peningkatan kualitas SDM (di ting k at bawah, menengan dan atas). 6 Peningkatan kinerja lembaga kemasyarakatanpeternakan. 7 Peningkatan dukungan dana pembangunan daripemerintah.
    • Peluang Mengisi kesenjangan antara komsumsi dan produksi daging. Mengisi kebutuhan ternak untuk pemenuhan kegiatan keagamaan (haji, kurban, kekah , hari raya, perkawinan. Memenuhi permintaan ekspor (ke timur tengah dan asean).
    • 1 KEKUATAN DAN KELEMAHAN KEBERHASILAN PEMBANGUNAN KEBERHASILAN INPUT PROSES OUT OUTCOME MEMENUHI KEBUTUHAN SIKOLOGIK DAN FISIK MANUSIA KESABARAN KEJUJURAN BEKERJA SAMA Mendaya gunakan SistemBio-sosio-ekonomi KEBERHASILAN KERJA SAMA ANTARA BIROKRAT- PAKAR- PELAKSANA- DANA AKHLAK AKAL AMAL AWAK
    • ACUAN DASAR DOMBA KAMBING COCOK UNTUK GOLONGAN PETANI KECIL DENGAN LAHAN PERTANIAN TERBATAS, SUMBER PENGHASILAN KELUARGA PERKEMBANGAN / PERTUMBUHAN  1,9%  POPULASI 
      • ACUAN DASAR
      • TEKNOLOGI PEMELIHARAAN MASIH RENDAH DG INDIKATOR
      • UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT BELUM DILAKASANAKAN SECARA OPTIMAL
      • KUANTITAS DAN KUALITAS PAKAN KURANG DIPERHATIKAN
      • PEMELIHARAAN TRADISIONAL (MODAL ?)
      • DOMBA DIKURUNG
      • DIKANDANGKAN + DIGEMBALAKAN
      • HANYA DIKANDANG MALAM HARI
      • DIGEMBALAKAN BERPINDAH-PINDAH
      • KANDANG LEMPRAKAN DAN PANGGUNG
      • KEREMAN TIDAK MENONJOL
      • SKALA KECIL
      • GADUHAN DAN MILIK SENDIRI
      • PELUANG PENGEMBANGAN
      • FAKTOR PEMBANTAS  FAKTOR YANG PERLU DICERMATI
      • DAYA DUKUNG WILAYAH
      • PREFERENSI MASYARAKAT
      • KONDISI DAERAH ( LOCAL SPECIFICACY )
      • DIVERSIFIKASI USAHA
      • POLA PENGEMBANGAN
      • PILIHAN PENGEMBANGAN
      • INTENSIFIKASI USAHA TERNAK KELUARGA DENGAN PEMBINAAN KELOMPOK TANI TERNAK YANG ADA
      • EKSTENSIFIKASI USAHA DENGAN PEMBENTUKAN USAHA DENGAN POLA KEMITRAAN, PEMBERDAYAAN, PENDAMPINGAN
      • PENGEMBANGAN PERUSAHAAN, INDUSTRI PETERNAKAN
      • PEMBENTUKAN UNIT PEMBIBITAN TINGKAT DESA ( VBC )
      • PILIHAN YANG DIREKOMEDASIKAN
      • 1. DIKEMBANGAKAN DI DAERAH LAHAN KERING (POTENSIAL)
      • UTAMAKAN DI DAERAH DENGAN DUKUNGAN HPT YANG MENCUKUPI
      • DAS DENGAN KEMIR I NGAN TERTENTU, RUMPUT MASIH TUMBUH DENGAN BAIK ( BRACHIARIA SP)
      • DAERAH USAHA TANI DENGAN CURAH HUJAN 200-600 mm/th
      • DARI PERMUKAAN LAUT  1600 M DI ATAS PEMUKAAN LAUT (REMBANG – TEMANGGUNG)
      • KEGIATAN PENDUKUNG
      • PERLATIHAN
      • PEMYULUHAN DENGAN RANCANGAN YANG TEPAT DAN BERHASIL GUNA
      • PENERAPAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA YANG TELAH TERUJI (SELEKSI DI TINGKAT KELOLOMPOK)
      • PENINGKATAN PENGGUNAKAN TEKNIK INFORMASI DAN KOMUNIKASI
      • KELEMBAGAAN KELOMPOK YANG DINAMIS
      • KEGIATAN PENELITIAN
      • PENELITIAN TEKNOLOGI PRODUKSI
      • PERBAIKAN MUTU BIBIT (SELEKSI, BREEDING DAN IMPORTASI)
      • PERBAIKAN KUALITAS PAKAN
      • PERBAIKAN MANAJEMEN PEMELIHARAN
      • REPRODUKSI DAN PRODUKSI TEPAT WAKTU
      • KESEHATAN TERNAK
      • KEUNGGULAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA
      • INTRODUKSI TEKNOLOGI MAJU DAN MUTAKHIR (REPRDODUKSI DAN TEPAT GUNA )
      • PENGEMBANGAN DSS ( KNOWLEDGE BASED DECISION SUPPORT SYSTEM )
      • KONCERVASI HPT DAN LAHAN
      • INTEGRASI TANAMAN PANGAN DAN PETERNAKAN DK (11 model)
      • PENELITIAN TEKNOLOGI EKONOMI
      • SKALA USAHA
      • BENTUK USAHA
      • SISTEM PERKREDITAN
      • SISTEM PEMASARAN
      • SISTEM GADUHAN DAN ATAU BAGI HASIL
      • PEMANFAATAN LAHAN SECARA EKONOMIS
      • PREDIKSI EKSPORT
    • Pengkajian Lingkungan Eksternal
      • Perumusan Misi
      • Pengkajian
      • penugasan
      • Perumusan Misi
      Perumusan Visi (Wawasan)
    •  
    • CERMATI BUDIDAYA DOMBA DAN KAMBING YANG SUDAH DILAKSANAKAN OLEH PETERNAKAN DI WILAYAH KAJIAN CERMATI ELEMEN ATAU KOMPONEN SISTEM BIO-SOSIO-EKONOMI DAN INTERAKSINYA DENGAN TANAMAN PANGAN PERTAHANKAN YANG SUDAH BAIK PERBAIKI YANG DAPAT DIPERBAIKI KERJAKAN IDENTIFIKASI POTENSI SUMBERDAYA
      • TRADISIONAL + KESEHATAN TERNAK
      • TRADISIONAL + KECUKUPAN PAKAN
      • TRADISIONAL + BIBIT DIPILIH
      • TRADISIONAL + PERKAWINAN TEPAT WAKTU
      • TRADISIONAL + HILANGKAN INBREEDING
      • TRADISIONAL + PENAMBAHAN INDUK (  10)
      • TRADISIONAL + SELEKSI UNTUK KEMBAR
      • TRADISIONAL + SELEKSI UNTUK TUNGGAL
      • TRADISIONAL + KELOMPOK TERNAK
      • TRADISIONAL + PERLATIHAN/PENYULUHAN
      • TRADISIONAL + LAKU
      • TRADISIONAL + TAMBAHAN MODAL
      • TRADISIONAL + KECUKUPAN HPT
      • TRADISIONAL + IPTEKS + YG DIBUTUHKAN
      PILIHAN ?
    • TRADISIONAL  EKSTENSIF TRADISIONAL  SEMI INTENSIF TRADISIONAL  INTENSIF
    • Usahatani tradisional ( Pastoral System ) Usahatani menengah- semi komersial ( semi intensif –mixed system ) Usahatani yang berbasis dan berorientasi pasar ( Industrial system ) (Soedjasmiran, 1997) USAHA PETERNAKAN RAKYAT DAN PERUSAHAN PETERNAKAN .
    • PENGUMPULAN DATA STUDI PUSTAKA DATA SEKUNDER SURVAI PENGETAHUAN LOKAL PENELITIAN CURAH PENDAPAT OTORITAS INSTRUMEN BLANGKO ALAT UKUR KUESIONER KAMERA INTERVIEW INDENTIFIKASI POTENSI SUMBERDAYA (SOEDITO ADJISOEDARMO)* *DOSEN FAPET UNSOED PURWOKERT0 TLP 35780 METODOLOGI
    • POTENSI SUMBERDAYA YG TERIDENTIFIKASI SDM SDA PENGALAMAN PENDIDIKAN KETRAMPILAN PEKERJAAN UMUR/STATUS KELAUTAN PERAIRAN LAHAN KEHUTANAN PERKEBUNAN PERTANIAN PETERNAKAN PERIKANAN INFORMASI ANALISIS DATA DATA YG DIBUTUHKAN PENGUMPULAN DATA PERTAMBANGAN /ENERGI DESKRIPTIV TABULASI KUALITATIV KUANTITATIV
    • PRODUK PASAR PROGRAM DIKEMBANG KAN TIDAK POTENSI SUMBERDAYA YG TERIDENTIFIKASI SDM SDA PENGALAMAN PENDIDIKAN KETRAMPILAN PEKERJAAN UMUR/STATUS KELAUTAN PERAIRAN LAHAN KEHUTANAN PERKEBUNAN PERTANIAN PETERNAKAN PERIKANAN INFORMASI PERTAMBANGAN /ENERGI
    •  
    • IPSD PETUGAS (ANDA) SD MACAM LOKASI JUMLAH PENANGANAN PENGALAMAN PENDIDIKAN KETRAMPILAN DANA/WAKTU INDENTIFIKASI POTENSI SUMBERDAYA (IPSD) STUDI PUSTAKA SURVAI PENDAPAT PETANI PERCOBAAN LAPANG CURAH PENDAPAT PERCOBAAN DI STASIUN UJI KEGIATAN PENGETAHUAN SETEMPAT
    • IPSD PETUGAS (ANDA) SUMBER DAYA KEGIATAN PRODUKSI IDENTIFIKASI POTENSI SUMBERDAYA TIDAK DAPAT DIKEMBANGKAN DAPAT DIKEMBANGKAN ALAT BANTU ANALISIS DATA SEKUNDER MELAKSA NAKAN SURVAI TEST LABORATORIUM PENGAMATAN LANGSUNG KE LOKASI PERCOBAAN DI LAPANG
    • IPSD PETUGAS (ANDA) SUMBER DAYA KEGIATAN HASIL LOKASI JENIS JUMLAH PENANGANAN SDM PRODUKSI
      • LUAS
      • SEMPIT
      • DALAM
      • DANGKAL
      • D TINGGI
      • D RENDAH
      • KELAUTAN
      • PERAIRAN
      • KEHUTANAN
      • TANAMAN PANGAN
      • HORTIKULTURA
      • PERKEBUNAN
      • PETERNAKAN
      • PERTAMBANGAN
      IDENTIFIKASI POTENSI SUMBERDAYA
      • SEDIKIT
      • BANYAK
      • MELIMPAH
      • TIDAK
      • DIKTEHUI
      • BELUM
      • SUDAH
      • BELUM
      • TERSEDIA
      • TERLATIH
      • T ASING
      TIDAK DAPAT DIKEMBANGKAN DAPAT DIKEMBANGKAN
      • KELAUTAN
      • PERAIRAN
      • KEHUTANAN
      • TANAMAN PANGAN
      • HORTIKULTURA
      • PERKEBUNAN
      • PETERNAKAN
      • PERTAMBANGAN
      • DAN GALIAN
      JENIS PRODUKSI 3,1 JUTA km2 4,5 JUTA ton/th PRODUKSI 46% POTENSI WILAYAH KOPI KARET KELAPA KELAPA SAWIT COKLAT TEH TEMBAKU PANILI LADA CENGKEH A BURAS A RAS SAPI KERBAU DOMBA KAMBING BABI KUDA KELINCI PUYUH ITIK KALKUN ANGSA BURUNG UNTA MENJANGAN PASIR PASIR BESI P KUARSA KAPUR B KALI B GUNUNG MARMER EMAS TIMAH BESI NIKEL BAUKSIT
      • KELAUTAN
      • PERAIRAN
      • KEHUTANAN
      • TANAMAN PANGAN
      • HORTIKULTURA
      • PERKEBUNAN
      • PETERNAKAN
      • PERTAMBANGAN
      JENIS PRODUKSI IKAN DARAT IKAN LAUT UDANG, MOLUSKA IKAN PAUS ANJING LAUT MUTIARA, LOKAN, SPONS TUMBUHAN AQUATIC MUJAHIR NILA TAWES KARPER LELE UDANG GERAMEH JATI MIRANTI EBONI MAHONI BESI KAMPAR CENDANA ALBASIA LAMTORO WARU GLIRICIDAE CEMARA ENAU RANDU ROTAN PADI JAGUNG KETELA KC TANAH KEDELAI KOBIS KENTANG SAWI TOMAT KC PANJANG PETAI TERONG KETIMUN B MERAH B PUTIH PISANG PEPAYA JAMBU RAMBUTAN SIRKAYA APEL ANGGUR SALAK BELIMBING LENGKENG MELON SEMANGKA WALUH KEDONDONG ATPOKAT
    • IDENTIFIKASI POTENSI SUMBERDAYA DAN KEMUNGKINAN PENGEMBANGAN PROSES PERENCANANAAN PERENCANAAN DARI BAWAH MERUPAKAN KEGIATAN YANG SANGAT PENTING KELOMPOK MASYARAKAT PERLU DIBERI KESEMPATAN MENGEKPRESIKAN ASPIRASINYA DAN IKUT MERASA BERTANGGUNG JAWAB DALAM MEMANFAAT KAN POTENSI SUMBERDAYA YANG ADA DI WILAYAH NYA PENDAPAT DAN USUL DARI KELOMPOK MASYARAKAT DIPERLUKAN AGAR RAKYAT MERASA MEMILIKI PERENCANAAN DIMULAI DENGAN IDENTIFIKASI MASALAH DAN POTENSI SUMBERDAYA UNTUK KELOMPOK MASYARAKAT DIIKUTI DENGAN PENETAPAN KEMUNGKINAN PENGEMBANGAN KEMUNGKINAN PENGEMBANGAN ADALAH KEMUNGKINAN UNTUK MENDAYA-GUNAKAN SUMBERDAYA YANG POTENSIAL UNTUK KEPERLUAN PEMBANGUNAN
    • Model perhitungan kapasitas peningkatan populasi ternak ruminansia   PMSL = a LG + b PR + c R (1)     PM SL = potensi maksimum (dalam satuan ternak = ST) BERDASAR SUMBERDAYA LAHAN (Soewardi, 1988)
    • Berdasarkan sumberdaya lahan yaitu L ahan G arapan (LG ), P adang R umput (PR ) d a n Rawa (R). Pada hakekatnya PMSL adalah daya dukung maksimum Kabupaten dan Propinsi untuk ternak ruminansia berdasarkan sumberdaya lahan sebagai proksi potensi pakan, kebutuhan tenaga kerja ternak d a n pupuk.
    • LG = Lahan garapan tammman pangan (ha).   a = koefisien yang dihitung sebagai nisbah populasi ternak ruminansia (ST) dengan luas lahan garapan (ha). Nilai a dalam perhitungan ini adalah nilai a untuk Propinsi Jawa Timur yaitu (0,8 ST/Ha ) Penggunaan Jawa Timur sebagai propinsi baku berdasar pada pertimbangan bahwa popul a si ternak ruminansia yang sangat padat di Propinsi tersebut belum pernah diberitakan telah menimbulkan kerusakan­ lahan maupun penurunan kualitas ternak.
    • PR = Luas padang rumput, baik padang rumput alam maupun padang alang‑alang. Padang rumput kultivar tidak diperhitungkan karena luasnya yang tidak berarti.   b = koefisien yang dihitung sebagai daya tampung padang rumput.   0,5 ST/Ha padang rumput alam, dan 1,0 ST/Ha padang alang‑alang  
    •   R = Luas rawa, baik rawa air tawar maupun rawa pasang surut c = Koefisien yang dihitung sebagai daya tampung rawa :   2,0 ST/Ha air tawar,dan 1,2 ST/Ha rawa pasang surut.  
    • PMKK = a KK ........................................ (2)   PMKK = potensi maksimum (ST) berdasarkan K epala K eluarga petani. KK = Tepala Keluarga petani, termasuk buruh tani. a = Koefisien yang dihitung berdasarkan jumlah ST yang dapat dipelihara oleb suatu keluarga petani tanpa harus menyewa tenaga kerja dari luar keluarga. Dalam perhitungan nilai ini a = 3 ST/KK.  
    • KPPTR (SL) = PMSL - POPRIL (3)   KPPTR (SL) = kapasitas peningkatan popul a si ternak ruminansia (ST) berdasarkan sumberdaya lahan. PMSL = a LG + b PR + c R (sama dengan Pers. 1) PORRIL = populasi riil ternak ruminansia (ST) pada tahun tertentu.
    • KPPTR (KK) = PM KK – POPRIT (4)   KPPTR (KK) = kapasitas peningkptan populasi ternak ruminansia (ST) berdasarkan kepala keluarga(KK) petani.   KPPTR efektif = KPPTR (SL) jika KPPTR (SL) = KPPTR (KK) ................ (5)   KPPTR Efektif = KPPTR (KK) jika : KPPTR (SL) = KPPTR (KK) ............. (6)  
      • Secara keseluruhan propinsi Jawa Tengah mempunyai kapasitas yang besar untuk menampung tambahan populasi ternak Kambing dan Domba yaitu sebesar dua juta ekor . Kapasitas tersebut sangat bervariasi antar Kabupaten.
      •  
      • Pemasaran akan merupakan pembatas yang kritis, diikuti oleh pakan, dan terahkir tenaga pemelihara.
      •  
      • Untuk usaha yang prospektif adalah
      • pembibitan,
      • penggemukan, dan
      • peternakan tradisional di daerah minus.
      • (Soewardi, 1988)
    • POKOK-POKOK PIKIRAN ASPEK KEBIJAKAN UMUM DAN OPERASIONAL ( Soedjasmiran, 1997. Seminar Kajian Kebijaksanaan Pembangunan Peternakan. Cisarua –Bogor , 24 Maret 1997 ) Pengertian Pembangunan peternakan bermakna: pengembangan usaha tani peternakan untuk mengahasilkan produk yang diperlukan pasar. Bentuk usahatani, pelaksana dan peranan masing-masing usahatani peternakan berbentuk sebagai usaha peternakan rakyat dan perusahan peternakan .
    • (1). Peternakan rakyat : usahatani dengan skala usaha yang dapat dikelola oleh petani ternak dengan tenaga kerja di lingkungan keluarganya – usaha keluarga . • Sapi potong (95%) 2.976.000 RTP • Sapi perah (98%) 98.000 • Kerbau (100%) 489.000 • Kambing (100%) 397 000 • Domba (100%) 184.000 Babi (80%) 633.000 • Kuda (90%) 73.000 • Ayam Buras (100%) 430.000 • Ayam Ras (75%) 39.000 • Itik (100%) 285.000   (Sensus Pertanian, 1993)  
    • (2) Perusahaan Peternakan • Sapi potong : Feedlotters dan Ranchers , • Sapi perah : Perusahaan susu (daerah sekitar kota) • Perusahaan babi di beberapa wilayah (a.l. pulau Bulan) • Perusahaan ayam ras : pedaging , petelur, pembibit.          
    • Untuk optimalisasi potensi serta dalam rangka pelaksanaan kebijaksanaan (budidaya seyogyanya ditangan peternak kecil), maka dikembangkan pola kemitraan usaha antara peternak kecil <~> peternak besar / perusahaan peternakan. Usahatani peternakan rakyat umumnya merupakan bagian dari usahatani tanaman pangan, bermaksud mengelola suberdaya yang dimiliki untuk memaksimumkan penerimaan atau meminimumkan resiko.   Berbagai penelitian dan observasi empiris mengungkapkan bahwa pada perubahan / dinamika sistem usahatani terjadi pula perubahan pangsa penggunaan sumberdaya dasar peternakan ; lahan, tenaga kerja dan modal.  
    • (3). Sistem usaha peternakan dalam pembangunan , penggunaan sumberdaya dasar –lahan, tenaga kerja dan modal - dapat dikelompokkan sebaga berikut.   1.      Usahatani tradisional ( Pastoral System ) ·         Sangat mengandalkan lahan sebagai basis produksi ( lebih land base ) ·         Dengan sedikit tenaga kerja (keluarga) ·         Modal minimal.  
    •   2.      Usahatani menengah- semi komersial ( semi intensif –mixed system ) ·         Lebih bersifat intensif ·         Tenaga kerja terampil (keluarga, kadang- kadang + tenaga kerja upahan) ·         Pemanfaatan modal yang lebih kompetetif.  
    • 3.      Usahatani yang berbasis dan berorientasi pasar ( Industrial system ) ·         Sangant mengandalkan kekuatan modal untuk memanfaatkan lahan yang sangat terbatas ·         Tenaga kerja profesional ·         Mengharaplan keuntungan maksimal    
    •  
      • POKOK PIKIRAN DAN SARAN‑SARAN
      •  
      • Sudah saatnya Pemerintah segera menangani ternak Domba dan Kambing dengan program yang mantap, dengan strategi peningkatan populasi, peningkatan kemampuan produski (berat lahir, pertambahan berat badan harian, survival rate , berat sapih yang tinggi, kelahiran ganda, dan lain‑lain), dan penggunaan tanah secara efisien.
      • Untuk menaikkan sumbangan ternak kecil dalam menyediakan daging, ternak yang telah dimiliki oleh peternak perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin.
      • Oleh karena itu penyuluhan yang didasari contoh‑contoh hasil penelitian perlu dikembangkan.
      • Untuk memperoleh hasil yang optimal ternak perlu lebih dahulu diusahakan agar selalu sehat .
      • Oleh karena itu untuk pengembangan ternak domba dan kambing pencegahan dan pembrantasan penyakit (khususnya cacing) harus tidak diabaikan.
      • Untuk menuju pengembangan usaha ternak kecil, pengetahuan mengenai perlunya cara pelaksanaan tata laksana budidaya secara berimbang yang
      • meliputi :
      • pemuliabiakan,
      • tata ransum,
      • tatalaksana reproduksi dan produksi, segera harus bisa disampaikan kepada petani peternak, kelompok peternak terpilih (binaan)
      • Untuk peningkatan kemampuan berproduksi domba dan kambing lokal perlu disediakan bibit unggul yang cukup jumlahnya.
      • Penyediaan bibit dilakukan oleh badan yang telah ditentukan termasuk Fakultas Peternakan.
      • Pusat pembibitan hendaknya diadakan di tiap Kabupaten padat domba/kambing (terpadat) untuk setiap propinsi dengan memanfaatkan tenaga yang ada di Perguruan Tinggi.
      •  
      •  
      • Penelitian yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi khususnya Fakultas Peternakan, perlu dibantu sepenuhnya, khususnya dalam menunjang, penyusunan pola usaha ternak kecil (PUTK) atau program peningkatan produksi.
      • Penggunaan pejantan (bangsa) import harus didukung de ngan dasar produktivitas yang tinggi (SR X BS/Bj.).Betina yang digunakan sudah dipilih.
      • Grading ap yang dijalankan harus diikuti seleksi ( direct­ pedigree selection ) sehinga produksi masa da tang akan di pastikan lebih tinggi dari masa kini.
      • Pemanfaitan tanah &quot;bebas&quot; untuk ditanami hijauan pakan ternak perlu diperhatikan. Kalau perlu pagar hidup diusahakan dari tanaman hijuan pakan ternak.
      • Kemampuan produksi domba dan kambing lokal sebenarnya tidak amat rendah. Rendahnya ptoduksi disebabkan karena zoo teknik belum dikuasai sepenuhnya oleh peternak. Potensi produksi domba/kambing cukup tinggi, mengingat dapat beranak sepanjang tahun, sedang jumlah anak bisa diusahkan lebih dari satu.
    • 11. Berat lahir, pertambahan berat badan harian, dan survival rate domba/kambing lokal perlu segera dinaikkan, diharapkan dapat ikut mengisi kekuranglan daging.  
      • Sistim kandang kotak ADJI (yang sebenarnya sudah tak asing bagi petani di daerah kereman) bisa diharapkan mendukung usaha ternak kecil dengan menurunkan angka kematian cempe dan pengembangnya memungkinkan untuk daerah padat penduduk.
      •  
      • Pengembangan ruminansia kecil akan merangsang petani menyediakan hijauan pakan ternak (seperti daerah Tegal dan Boyolali).
      • Usaha bersama ( polyvalent ) antara sapi potong dan domba/ kambing dengan usaha tani lainnya akan menaikkan keuntung an petani.
      • Perlu dikembangkan pola pengembangan peternakan lewat pe ternak tercatat/ terpilih.
      • Domba/kambing sebagai penghasil pupuk merupakan penunjang pertanian yang tak perlu diragukan lagi peranannya.
      • Untuk daerah minus fungsi kambing sudah terbukti bisa menghilangkan, setidak‑tidaknya menanggulangi M.C.P.atau merupakan penolong yang tanpa pamrih.
      •  
      • Kondisi di desa khususnya kemajuan di bidang peternakan akan menjadi perangsang pengembangan ruminansia kecil apabila ditangani dengan cermat
      • Perhatian Dinas yang kurang sunguh‑sungguh terhdap domba dan kambing menyebabkan perkembangan ternak tersebut berjalan tanpa meninggalkan bekas data yang bermanfaat kepada dinas.
      • Domba/Kambing unggul lokal bisa dikembangkan sementara Pemerintah belum bisa mencukupi bibit unggul.
      • Usaha ruminansia kecil bisa merupakan usaha yang menguntungkan namun untuk bisa menghidupi peternak syarat‑syarat yang harus dipenuhi masih belum bisa disediakan oleh peternak. Hal ini mengingat BC rationya masih rendah .
      • Perlu dihilangkan pengertian bahwa domba dan kambing merupakan ternak perusak tanah dan penghalang penghijauan. Oleh karena itu perlu ditanamkan pengertian bahwa domba dan kambing merupakan teman petani mengingat berbagai. manfaatnya.
      • Berikan kesempatan dan juga pembiayaan secara kontinyu kepada Perguruan Tinggi (khususnya Fakultas Peternakan untuk meneliti, meengamati perkembangan ruminansia kecil (domba/kambing). Dengan demikian dapat ikut menempatkan peranan ruminansia kecil pada tempat yang layak pada pembangunan pertanian khususnya pembangunan sub sektor peternakan
      • Perlu diadakan penelitian lentang usaha ternak kecil(domba dan kambing ) sehingga didapatkan standard atau formula ransum yang dapat dipergunakan untuk mendapatkan hasil yang optimal.
      • Perlu disahakan berbagai cara untuk dapat menaikkan angka B/C ratio yang tinggi .
      •  
    • MEMANTAPKAN KEBERADAAN, KINERJA DAN KEMANDIRIAN DINAS PETERNAKAN UNTUK MENDUKUNG KEBERHASILAN OTONOMI DAERAH OLEH H. SOEDITO ADJISOEDARMO FAKULTAS PETERNAKAN UNSOED LOKA KARYA DALAM RANGKA MENYONGSONG PELAKSANAAN UU NOMOR 22 TAHUN 1999 SEMARANG 31 JULI 2000
      • MASALAH DAN ATU TANTANGAN YANG ADA DAN PERLU DIPECAHKAN DALAM UPAYA MENGOPTIMASIKAN TATA RUANG DAN STRATIFIKASI PENGGUNAAN TANAH UNTUK MENCAPAI PRODUKSI YANG OPTIMAL
      • Bagaimana menangani secara tepat peternakan sebagai suatu sistembio- sosio-ekonomi ( peternakan adalah bagian dari kehidupan ).
      • Bagaimana cara mengetahui kegagalan dan keberhaslan yang disebabkan karena kemampuan pembina, pelaksana, dan atau peternakdalam mengoptimasikan proses produksi untuk mengahasitkan keluaran yang optimal.
      • 3. Bagaimana meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses produksi dan reproduksi peternakan di bawah faktor lingkungan yang berbeda.
      • Bagaimana meningkatkan ketrampilan dan penguasaan iptek pada petemak dengan latar belakang pendidikan dan budaya yang berbeda.
      • Bagaimana meningkatan jumlah pemilikan ternak dan permodalan di tingkat peternak kelompok di bawah luasan lahan yg terbatas.
      • Bagaimana peternak dapat mempertahankan dan atau meningkatkan kesuburan dan produktivitas lahan HPT dan pertaniannya.
      • 7. Bagaimana cara menyakinkan peternak dan melatihnya untuk menghasilkan daging yang berkualitas, dari sapi pedaging, domba dan kambing.
      • Bagaimana cara memanfaatkan pengalaman peternak dan kesukaan petemak untuk pengembangan peternakan komoditi unggulan
      • 9. Bagaimana mengusahakan Aneka Usaha Tani yang berkelanjutan berbasis sumberdaya lokal.
      • 10. Bagaimana mengembakan koperasi peternakan yang mampu sebagai pembantu mengadaan dana, iptek dan mendukung kemitraan usaha.
      • 11. Bagalmana menaksir keuntungan (Rp./ peningkatan kesejahteraan) petemak yang berasal dart usaha peternakannya.
    • YANG KITA INGINKAN /BUTUHKAN Pembangunan peternakan dalam rangka menghadapi persaingan global berupaya mewujudkan masyarakat yang sehat dan produktif serta kreatif melalui pembangunan peternakan tangguh berbasis sumberdaya lokal Sumberdaya daya ternak lokal diandalkan sebagai tiang utama kebijakan operasional pembangunan peternakan dengan makanan tersusun dari bahan lokal Dapat dikatakan bahwa memantapkan keberadaan, kinerja dan kemandirian Dinas Peternakan akan memperkuat rantai pakan ternak yang selanjutnya akan memperkuat rantai pangan manusia
    • Kewenangan dalam 5 (lima) bidang yang meliputi 20 (urusan) yang dimiliki Dinas Peternakan dalam era otonomi daerah, harus digunakan untuk mendukung peningkatan kinierja dinas, sehingga apapun yang dilakukan dalam rangka menindaklanjuti aspirasi masyarakat, kegiatan tersebut dapat memenuhi syarat sebagai berikut. Reasonable (ada dasar hukumnya/ pembenarannya) Applicable (tersedia teknologinya) Aceptable (diterima masyarakat) Possible (mungkin dilakukan ) Produceable (ada output dan outcome) Marketable, (dapt dipasarkan) Profitable (menguntungkan) Sustainable (berkelanjutan)
      • DALAM MENGKAJI , PENGINDENTIFIKASI DAN MERUMUSKAN, PERLU DIPERTIMBANGAN KEWENANGAN YANG MENYANGKUT
      • STRATIFIKASI MENGGUNAAN TAHAN
      • TATA GUNA LAHAN DAN AIR
      • PEMBENTUKAN EXTENTION DAN BREEDING FARM
      • PEMBENTUKAN DESA BINAAN
      • PEMETAAN POTENSI WILAYAH TERNAK
      • PEMBINAAN DAN PENGAWASAN BIBIT
        • PENANGAN PASCA PANEN
        • PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
        • (BERBASIS KOMPUTER) PRODUKDI TERNAK
        • ( E-COMMERCE )
        • PERLU DICERMATI APAKAH SEMUA URUSAN DALAM BIDANG KEWENANGAN SUDAH
        • MENDUKUNG
        • PENYELAMATAN POPULASI TERNAK DAN PENINGKATAN KUALITAS DALAM RANGKA PENGOPTIMASIAN MANFAAT TERNAK UNTUK PENINGKATAN KESEJATERAAN RAKYAT DAN PENINGKATAN TARAF HIDUP
        • KEWENANGAN DINAS TK II MENGAPLIKASIKAN
        • HASIL PENELITIAN BERSAMA BERGURUAN TINGGI SETEMPAT
    • ASPIRASI MASYARAKAT YANG DIHARAPKAN ADALAH BERASAL DARI MASYARAKAT YANG SEHAT ROHANI DAN JASMANI OLEH KARENA ITU DENGAN KEWENANGAN YANG DIPEROLEH, DINAS PETERNAKAN HARUS MAMPU MENYIKAPI ASPIRASI MASYARAKAT DENGAN CARA MENYELAMATKAN POPULASI TERNAK DAN MENINGKATKAN KUALITASNYA DEMI MENJAMIN TERCAPAINYA MASYARAKAT YANG SEHAT ROHANI DAN JASMANI DENGAN TINGKAT KESEJAHTERAAN DAN TARAF HIDUP YANG TINGGI DENGAN KATA LAIN MEMANTAPKAN KEBERADAAN KINERJA DAN KEMANDIRIAN DINAS PETERNAKAN DAPAT DIKATAKAN AKAN MENYELAMATKAN POPULASI TERNAK DAN MENINGKATKAN KUALITASNYA DEMI MENJAMIN TERCAPAINYA MASYARAKAT YANG SEHAT ROHANI DAN JASMANI DENGAN TINGKAT KESEJAHTERAAN DAN TARAF HIDUP YANG TINGGI DITAMPUNG DAN DITINDAK LANJUTI OLEH DPR ? DIAJUKAN OLEH SIAPA? DIJARING OLEH DINAS ?
    • OLEH KARENA ITU DENGAN KEWENANGAN YANG DIPEROLEH, DINAS PETERNAKAN HARUS MAMPU MENYIKAPI ASPIRASI MASYARAKAT DENGAN CARA MENYELAMATKAN POPULASI TERNAK DAN MENINGKATKAN KUALITASNYA DEMI MENJAMIN TERCAPAINYA MASYARAKAT YANG SEHAT ROHANI DAN JASMANI DENGAN TINGKAT KESEJAHTERAAN DAN TARAF HIDUP YANG TINGGI DENGAN KATA LAIN MEMANTAPKAN KEBERADAAN KINERJA DAN KEMANDIRIAN DINAS PETERNAKAN DAPAT DIKATAKAN AKAN MENYELAMATKAN POPULASI TERNAK DAN MENINGKATKAN KUALITASNYA DEMI MENJAMIN TERCAPAINYA MASYARAKAT YANG SEHAT ROHANI DAN JASMANI DENGAN TINGKAT KESEJAHTERAAN DAN TARAF HIDUP YANG TINGGI
    • OLEH KARENA ITU DENGAN KEWENANGAN YANG DIPEROLEH, DINAS PETERNAKAN HARUS MAMPU MENYIKAPI ASPIRASI MASYARAKAT DENGAN CARA MENYELAMATKAN POPULASI TERNAK DAN MENINGKATKAN KUALITASNYA DEMI MENJAMIN TERCAPAINYA MASYARAKAT YANG SEHAT ROHANI DAN JASMANI DENGAN TINGKAT KESEJAHTERAAN DAN TARAF HIDUP YANG TINGGI
    • People Technolgy Task/ Procedure Organization structure Birokrat Pakar Pelaksana Tradisional Tepat guna Mutakhir Otonomi Kewenangan Dipangkas ? Digemukkan ? Dimantapkan ? PENYELA MATAN POPU LASI DAN PE NINGKATAN KUALITAS MENCERMATI PERUBAHAN KOMPENSASI PADA KOMPONEN ORGANISASI APABILA SATU KOMPONEN BERUBAH
    • RUMAH TANGGA PETANI P A S A R TERNAK SWINE DUCK CHICKENS CATTLE BUFFALO GEESE CROPS Rice, Veg etables Peas Mung-Beans Off Farm: On Farm: Field borders FEED BEDDING MULCH FOOD RITUAL LABOR feed LABOR fertility FUEL
        • FEED
      Lowland rice system in Asia, permanent cropping cropping, high integration of crop and anim als (animal confined) Manure Power Transport FOOD FERTILITY MENGOPTIMASIKAN PERANAN/KEDUDUKAN TERNAK DALAM SISTEM/ INTEGRASI PERTANIAN DAN PETERNAKAN RAKYAT
    • MENGOPTIMASIKAN PERANAN/KEDUDUKAN TERNAK DALAM SISTEM PERTANIAN DAN PETERNAKAN RAKYAT
      • Di samping menanam tanaman pangan, sebagian besar pertanian juga memelihara ternak.
      • Hampir di semua negara berkembang 85%. atau lebih ruminansia (kerbau, sapi, kambing, domba) dan juga kuda berada di pertanian /peternakan rakyat.
      (A Bellagio Conference, 1978. Integrated Crop and Animal Production. The Rockerfeller Foundation, 1980)
      • Ternak memegang peranan ekonomik dan non-ekonomic dalam system pertanian/peternakan rakyat ( small-farm-system ).
      • Pendapatan dapat dipero-leh dari, kotoran/pupuk, tenaga kerja, pengangkutan, transportasi, investasi, bahan bakar, by product /limbah, kulit, susu, telur, dan daging. Pendapatan dari peternakan dapat sangat membantu/ berarti, tetapi masing sering dilupakan atau tidak mendapat perhatian yang wajar.
      (A Bellagio Conference, 1978. Integrated Crop and Animal Production. The Rockerfeller Foundation, 1980)
    • 3. Ternak dalam suatu kelompok budaya/masyarakat tertentu juga dapat merupakan suatu tali penghubung persaudaraan. Ternak merupakan sumber dentitas dan prestise atau status sosial sese orang /keluarga. Ternak juga dapat sebagai teman yang paling setia. 4. Integrasi antara tanaman pangan dan usaha peternakan dapat meningkatkan total produktivitas sumber daya pertanian/peternakan rakyat dan meningkatkan kesejah-teraan.
    • 5. Kurang lebih 60 % protein dapat dicerna dan 64 % nitrogen dan protein dapat dicerna yang dihasil-kan, hanya mempunyai nilai nutrisi rendah kalau bahan tersebut tidak dilewatkan ternak. 6. Integrasi ternak dan tanaman pangan akan menjamin kelanggengan dan stabilitas produksi di dalam hampir semua ekosistem 7. Ternak akan meningkatkan efisiensi sistem pertanian apabila ternak dapat meningkatkan kegunaan sumber daya dalam sistem, yang berupa tenaga, material, dan modal.
    •  
    • SMALL RUMINANT LOAN‑IN KIND PROJECT IN CENTRAL JAVA PROVINCE   S. Adjisoedarmo   Animal Husbandry Faculty, Jenderal Soedirman University. Purwokerto, Central Java, Indonesia   SUMMARY An effort to improve on the number of owners and the production performance of existing goats and sheep stock has been undertaken from 1978/1980 to 1987/1988 under the Provincial Development Programme (PDP) supported by USAID by using a PDPs Small Ruminant Credit Project. The target areas covered 145 villages in 40 sub‑districts of 7 PDP districts of Central Java (Demak, Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Blora and Grobogan).
    • The farget groups were the rural poor, who are called poor but potentially productive (MPP). Each financial year (FY) a ininitnum of 300 farmers in groups became part of the target groups of this project. Based on the results of the 1984 technical evaluation, a new loan‑in‑kind project was designed in the FY 1984/1985 replacing the axisting small ruminant credit system.
      • It started with an improved system and packages which consisted of
        • provision of training in management,
        • health care and
        • recording for the group leader, animals (goats or sheep),
        • reproduction calendar,
        • recording forms,
        • grassand legumefodder seeds,
        • animal medicine and reporting forms .
    • The target farmers were organized in groups, each group consisted of 10 farmers, including a leader of the group. Each farmer received two females, goats or sheep (according to their own preferences) and in addition to that the group leader received also a good quality buck or ram . Each recipient had to repay four lambs or kids of 8 months old in a period of three years. The process of conceptual designing, planning, implementation, monitoring and evaluation of this project are discussed briefly in this paper.
      •   Based on the experiences, evaluation and suriey it could be concluded that the small ruminant loan‑in‑kind project could be used as a means of
      • introducing an improved and appropriate technology (especially artificial insemination for goats),
      • increasing the farmer's income,
      • improving the production performance of the eximing goats and sheep in the rural areas, and
      • improving the farmer's group dynamics.
      •  
    • IMPLEMENTATION PROCESS   As soon as the budget was released and accepted by the project leader, the, project leader informed the Provincial Animal Husbandry Services to assist in the implementation of the activities especially the training of the groups. In turn the.AHS asked the Livestock Adviser to allocate his time to assist in the training in each district which usually involved 12‑15 group leaders in each sub‑district
      • The training was usually given over two days. The materials given in this training consisted of :
      •  
      • general management of small ruminants,
      • which discussed about housing, health care, reproduction and production cycle
      •   2) mating system and exercises using the reproduction calendar
      • 3) ruminant nutrition
      • 4) grass planting
      • 5) recording exercises using previous FY's animals
      • 6) selection
      • 7) marketing
      • 8) group activities, meetings, cooperative activities with extension services staff.
      •  
    • After all group leaders were trained the project leader assisted by the District AHS started preparing for the provision of the pens and the animals. For the provision of the animals the Livestock Adviser and Provincial AHS made a guideline booklet about the technical requirements which had to be followed by all, the project leader and District AHS. According to this guideline animals might be refused by the programmed and or be replaced over time.  
    • RESULTS AND DISCUSSION   . As the small ruminant loan-in‑kind scheme is the most popular project preferred by the target group in all PDP districts it provides a good experience for sectoral agencies and sub‑district offices’ staff in planning and implementing of specific projects. As planning and responsibility for implementation of these projects have moved to lower levels, there has also been a loss of oversight at the higher levels in supervision for specific locations and target groups.
    • The technical evaluation in 1984 gave evidence that the small ruminant loan‑in‑kind could support the income in terms of Rp 21,900 to Rp 47,450 per year. The repayment of the first, second, third and fourth year projects were 45%, 33%, 35% and 44%, respectively. The reproduction and production performances of the goats and sheep at the level of recipient, group and village, sub‑district and district are presented in Tables 1, 2, and 3.
    • Table 1. Best performance at the level of recipients (respondent no. 67 and 179, District of Demak)   Respondent number 67 179 fat tailed sheep PE goat 1. Number of animals (females) 2 2 2. Period of analysis (month) 60 36 3. Lamb/kid production 29 11 4. Number of lambing/kidding 16 6 5. Females given birth 5 2 6. Lambing/kidding frequency 3.2 (16/5) 3.0 (6/2) 7. Lamb/ewe 5.8 5.5 8. Lamb/ewe/lambing 1.8 1.8 9. Offspring/year/female 0.96 1.8 10. Lamb/kid mortality 5 (17%) 0 11. Adult mortality 1 (3.6%) 0 12. Offspring sold 10 9 13. Income Rp 109.000 Rp 139.000 14. Number kept for replacement 15 1  
    •   Period of 60 36 24 12 Study (months) Breed 1 2 1 1 1   1. Lamb/ewe/lambing (1.4) (1.4) (1.3) (1.5) (1.3) 2. Lambing freq/ewe (2.1) (1.5) (2.0) (1.6) (1.2) 3. Lamb/ewe/year (0.5) (0.3) (0.7) (0.9) (1.4) 4. Lamb mortality (0.2) (0.3) (0.2) (0.2) (0.1) 5. Ewe mortality (0.03) (0.14) (0.07) (0.02) (0.03)   1 = goat; 2 = sheep; ( ) =average Table 2. Reproduction and production performance of the goat and sheep at the level of sample village
    •   Item Sub‑District District PATI I II III IV V Start ‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑ August 1984 ‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑   Reported 2‑85 3‑95 5‑85 8‑85 3‑95   Period (mo) 6 7 9 12 7 N of R 93 140 125 53 120 531 • of MG/MS 9 14 12 5 12 52 • of FG/FS 186 280 250 106 240 1062 • of lambing 105 79 143 66 100 493 • of kid/lamb 137 106 227 81 106 690 Table 3. Reproduction and production performance of goat and sheep at the District level
    •   Item Sub‑District District PATI I II III IV V Start ‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑ August 1984 ‑‑‑‑‑‑‑ Death rate (%): Kid/lamb 20 7 19 14 2 2‑20 Female 7 0 0 3 7 3‑ 7 Male 22 0 0 3 7 7‑22 Type of birth (%): Single 70 67 41 88 49 41‑88 Twin 30 33 59 12 36 12‑59 Triplet 0 0 0 0 15 0‑15 Kid/lamb/ ewe 1.3 1.3 1.6 1.2 1.7 1.2‑1.6 Kid/lamb/ ewe/year 2.6 2.6 2.1 1.2 2.9 1.2‑2.9 N=number; R=recipient; M=male; F=female; G=goat; S=sheep
      • The utilization of money from selling goats and sheep was for:
      • buying food, (27%)
      • school fees, (19%)
      • cloths, (13%)
      • health care, (12%)
      • housing, (18%)
      • attending/organizing party, (03%)
      • buying large animals, (01%)
      • saving and fertilizer. (04%)
    • Using the guidelines from the Province, improved implementation occurred in every sub‑district, which was demonstrated by an increase of lamb production and lower mortality rates. As the form for reporting was distributed(ed at the lower level, the, group; the sustainability of the project could be monitored continuously. To encourage the activities of the groups a special meeting, which was called &quot;Pesta Patok&quot;, was held every three months accompanied by the gathering of the animals for each group In all PDP Districts, sub‑districts and villages.
      • Based on the results of both the evaluations and the survey it could be concluded that the small ruminant loan‑in‑kind project could be used as a means of :
      •  
      • introducing an improved and appropriate technology,
      • increasing the farmer's income,
      • improving the production performance of the, existing goats and sheep in the rural areas, and
      • improving the farmers' group dynamics.
    • After 10 years of implementation of the small ruminant loan‑in‑kind project, the housing' for goats and sheep is becoming a need oft he farmers. The lambing and kidding intervals can be further shortened to arrive at 3 times in two years. The most import . ant outcome was that this project can suppress the mortality to as low as 5 % instead of the common 10‑30 %. The farmers themselves are convinced that lambs or kids born from twins provide good opportunity to become a genetically prolific ewe or ram/buck compared to the single born lamb/kid.
    •  
    •  
    • Socio‑Economics   Indonesia has a policy of poverty alleviation through the introduction of sheep and goats to poor farmers. Several studies have shown the benefits of this, but few have compared small ruminants to other options for poverty alleviation, such as growing cash crops.   The economic viability of new technologies should always be assessed before they are recommended to farmers. At the very least this should involve estimating the costs of the new technology and estimating the benefits it will give to farmers.
    •   Several participants felt that sometimes socio‑economic research consists solely of studies, which have no practical benefit. Socio‑economic studies must therefore be carefully planned and the results must be applicable. For small farmers, it was recognized that non‑monetary benefits are often as important as monetary benefits, and these must be considered in socio‑economic and other studies.   Specific information is needed on market demand, quality and handling of products required, and the potential of the international market for sheep and goats.  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
      • KESIMPULAN ( Adjisoedarmo dkk., 1996 )
      •  
      •   Metode seleksi yang digunakan selama empat tahun dapat membantu untuk
      •  
      • memilih induk yang enam kali berturut-turut selalu beranak kembar,
      • mendapat Induk baru basil turunan terbaik yang juga beranak kembar;
      • penggunaan indeks seleksi memungkinkan memilih induk yang selalu beranak kembar dan jumlah berat cempe sapihan umur 100 hari per induk (JBCSI) di atas 20 kg;
      • penekanan angka kematian memungkinkan memperbanyak jumlah calon pengganti;
      • penggunaan tata pakan yang sesuai memungkinkan pemunculan kemampuan genetik yang optimal;
      • perkawinan yang diatur dengan menggunakan kalender reproduksi ( Adjisoedarmo dan Amsar, 1983 ) berhasil memperpendek selang beranak;
      • efisiensi reproduksi dan produksi masih memungkinkan untuk ditingkat dengan seleksi; dan
      • seleksi selama empat tahun belum cukup untuk menghasilkan bibit unggul yang teruji.
      •  
    • SISTEM PERBIBITAN TERNAK NASIONAL RUANG LINGKUP TERNAK RUMINANSIA KECIL DITINJAU DARI ASPEK MUTU GENETIS, BUDIDAYA, STANDAR DAN PENGAWASAN MUTU            Oleh : Soedito Adjisoedarmo             DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PETERNAKAN LABORATORIUM PEMULIAAN TERNAK   PURWOKERTO   24 MARET 1997    
    • Hasil yang telah dicapai menunjukkan bahwa seleksi dalam trah dapat meningkatkan mutu genetik; dengan tolok ukur produksi cempe per tahun, telah dilaporkan peningkatan 1,75 ekor cempe per 100 ekor induk yang dikawinkan. Pemenuhan kebutuhan bibit, di tingkat peternak telah diterapkan kuantitatif genetik (Dalton dan Hight, 1972)
      • Praktek yang dilakukan untuk jangka pendek adalah
      • Simple Recording System , berdasar dari hasil pencatatan kemampun reproduksi adan produksi maka kemudian dilakukan,
      • Culling Barren Ewes ,
      • Buying Better Stock , dan atau
      • Change Breeds .
      • Dalam jangka panjang maka kegiatan yang direncanakan adalah a) Define Desire Traits ,
      • b) Buy Better Ram , dan selanjutnya melaksanakan
      • c) Large-Scale Breeding Schemes.
    • Pada Large-Scale Breeding Schemes , beberapa peternak (dapat mencapai 30) bergabung sehingga dapat memilih ribuan induk dengan performans tinggi (175%). Induk tersebut dijadikan kelompok inti (Gambar 2) untuk menghasilkan pejantan, bibit unggul genetik, yang dibutuhkan . Pejantantan unggul digunakan dengan imbangan per pejantan mengawini 40-50 ekor induk .
    •  
      • Dapat diringkas tantangan yang dihadapai dalam pengembanan sistem perbibitan nasional adalah sebaai berikut.
      •  
      • Penyediaan bibit unggul.
      • Pengkondisian tanah untuk mempertahankan/peningkatakn kesuburan dan produktivitasnya.
      • Peningkatan produktivitas hijauan pakan ternak dan konsentrat.
      • Peningkatan efisiensi reproduksi dan produksi ternak.
      • Peningkatan kualitas SDM (di tingat bawah, menengan dan atas).
      • Peningkatan kinerja lembaga kemasyarakatan peternakan.
      • Peningkatan dukungan dana pembangunan dari pemerintah
      • Langkah yang ditempuh di wilayah sumber bibit meliputi,
      •  
      • pemurnian bibit (ternak lokal maupun impor) dengan menetapkan jenis bibit tertentu di suatu lokasi tertentu;
      • impor bibit unggul;
      • persilangan grading up;
      • inseminasi buatan;
      • progeny test;
      • embryo transfer;
      • random sample test.
      Di Wilayah sumber bibit
      • Langkah yang ditempuh di wilayah produksi atau pengembangan dilakukan melaluii:
      • penyebaran bibit ternak lokal;
      • persilangan atau terminal cross;
      • inseminasi buatan.
      Di wilayah produksi atau pengembangan
      • Pendekatan
      • Pendekatan pola operasional perbibitan didasarkan pada, peternakan adalah suatu sistem bio-sosio-ekonomik. Sistem tesebut akan berhasil apabila semuta faktor yang telibat di dalamnya dapat ditangani dengan benar. Faktor tersebut adalah
      • kebutuhan bibit unggul genetik (khusus trah/rumpun lokal) ruminansia kecil,
      • ketrampilan peternak,
      • budaya setempat,
      • penyediaan, kuantitas dan kualitas pakan,
      • tatalaksana ( pakan, kesehatan, reproduksi,
      • produksi, pemuliaan dan pemasaran), dan
      • 6) pemasaran.
      • Pendekatan yang lain adalah bahwa peternakan merupakan
        • pendukung upaya swasembada protein,
        • preferensi masyarakat terhadap ruminansia kecil,
        • potensi ruminansia kecil sebagai penghasil daging, kulit , pupuk, dan susu ,
      •    d) potensi daerah dalam penyediaan hijauan pakan ternak dan pakan tambahan (konsentrat),
      • e) peternakan sebagai sumber pertumbuhan baru (khususnya di kawasan andalan dan Kapet),
      • f) pendukung upaya pengentasan kemiskinan (khususnya di desa IDT, daerah transmigrasi).
    •  
    •  
    •   Pengembangan Peternakan untuk Meningkatakan Ekonomi Rakyat dalam Era GLobal MENGOPTIMASIKAN PETERNAKAN SEBAGAI SISTEM BIO-SOSIO-EKONOMI UNTUK MEMBANGUN PETERNAKAN YANG SEJAHTERA OLEH H. SOEDITO ADJISOEDARMO HUT FAKULTAS PETERNAKAN UNSOED 10 FEBRUARI 2002 4
      • STRATEGI YANG DIGUNAKAN
      • meningkatkan populasi,
      • meningkatkan nilai tengah populasi dan
      • stratifikasi penggunaan tanah ( ekstensifikasi, intensifikasi, rehabilitasi dan diversifikasi baik horizontal maupun vertikal ).
      9 PENGEMBANGAN PETERNAKAN
      • TAKTIK YANG DIGUNAKAN
      • perbaikan manajemen dan
      • peningkatan mutu genetik ( seleksi dan sistem perkawinan).
      • Kalau dirinci
      • penyediaan pakan kecukupan kualitas dan kuantitas,
      • pencegahan penyakit dan pemberantasan penyakit hewan,
      • penggunaan bibit unggul,
      • melaksanakan progam pencatatan reproduksi dan produksi,
      10
      • TAKTIK YANG DIGUNAKAN
      • e) menggunakan metode selek s i yang tepat,
      • f) menggunakan sistem perkawinan yang tepat,
      • menggunakan bioteknologi reproduksi yang sesuai,
      • menggunakan bioteknologi molekuler yang susai,
      • menggunakan keunggulan kompetitif dan komperatif,
      • mencari jaminan pangsa pasar ,
      11
      • TAKTIK YANG DIGUNAKAN
      • k ) mencari jaminan market share yang berkelanjutaan,
      • l ) memiliki organisasi yang dinamis,
      • mengoptimasikan manfaat teknologi informasi,
      • mencari dukungan lembaga keuangan,
      • mencari dukungan dan kerja sama lembaga pendidikan tinggi , khususnya lembaga penelitian dan pengabdian kepada masarakat, serta dinas teknis yang terkait , dan
      12
      • TAKTIK YANG DIGUNAKAN
      • berusaha selalu memuaskan pelanggan (pengguna produk peternakan), q ) pengembangan kawasan agribisnis berbasis peternakan , dan
      • pengembangan kawasan agribisnis berbasis peternakan.
      13
    • 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 be ra na k (2 yr) (2 yr) (2 yr) (2 yr) (2.5 yr) (2.5 yr) (2.5 yr) (2.5 yr) (2,5 yr) (3 yr) (3 yr) (3 yr) (2,5 yr) (3,0 yr) (3,5 yr) (3,5 yr) (2,5 yr) (3,0 yr) (3,5 yr) (4,0 yr) (2,5 yr) (3,0 yr) (3,5 yr) (4,0 yr) (3,0 yr) (3,5 yr) (4,0 yr) (4,5 yr) 80 cempe 1993 I II III IV V VI Disisihkan/afkir Disisihkan/afkir Disisihkan/afkir Bibit unggul belum teruji SELECTION PROCESS 1994 1995 1996 TAHUN ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes ewes 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 Rams Rams Rams Rams Rams Rams Rams
    • PROPINSI PADAT TERNAK KERBAU KUDA SAPI PERAH SAPI POTONG ITIK DOMBA KAMBING A PEDAGING BABI A BURAS
    • Mengatur perkawinan, Menguji kebuntingan Menaksir waktu beranak Mengatur pemacekan setelah beranak Mengatur penyapihan
    • Blangko Pencatatan jumlah cempe per kelahiran, di tingkat kelompok betina Jantan Dijual mati Kelahiran tunggal Kelahiran Kembar dua Kelahiran Kembar tiga Kelahiran Kembar empat 1 Januari 2001 Tanggal beranak I 30 Juli 2001 Tanggal beranak II 14
    •  
    •  
    •  
    • KELOMPOK PETERNAK DOMBA BINAAN PASCA PENELITIAN HIBAH INDUK BERANAK KEMBAR PASIR – PURWOKERTO 1967
    • Kelompok binaan (Adjisoedarmo dkk, 1997)
    • Kelompok Peternak Domba Bukatedja Purbalingga Binaan Purnomo dkk
      • PENUTUP
      • UNTUK MENGOPTIMALISASIKAN PETERNAKAN SEBAGAI SISTEM BIO-SOSIO-EKONOMI DIPERLUKAN LANGKAH-LANGKAH SBB
      • CERMATI APA YANG TELAH DICAPAI OLEH
      • MASYARAKAT PETERNAK
      • CERMATI KOMPONEN SISTEM BIO-SOSIOEKONOMI
      • CERMATI STRATEGI DAN TAKTIK YANG TERSEDIA
      • CERMATI PENYEBARAN POPULASI
      • CERMATI PREFERENSI PETERNAK
      • CERMATI EXISTING DAN EQUIRED KNOWLEDGE
      • PETERNAK
      • CERMATI KAWASAN KHUSUS DAN AGROPOLITAN
      • CERMATI KEMAJUAN IPTEK
      • OPTIMASIKAN KOMPONEN SISTEM DG PRIOTRITAS
        • SELAMATKAN POPULASI YANG TELAH
        • DIHASILKAN PETERNAK
        • DEKATKAN PELAYANAN TEKNIS : KAWIN TEPAT
        • WAKTU, PENCATATAN, KECUKUPAN PAKAN,
        • DAN PENCEGAHAN SERTA PENGOBATAN
        • AMANKAN JALUR PEMASARAN TERNAK
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •