Presentasi Mojokerto
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Presentasi Mojokerto

on

  • 8,487 views

 

Statistics

Views

Total Views
8,487
Views on SlideShare
8,442
Embed Views
45

Actions

Likes
3
Downloads
397
Comments
0

2 Embeds 45

http://www.slideshare.net 23
http://th3d4rts.blogspot.com 22

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Presentasi Mojokerto Presentasi Mojokerto Presentation Transcript

  • STRATEGI KONSELING Mochamad Nursalim Disampaikan dalam Pendidikan dan Pelatihan guru BK/ BP SMP/SMA/ MA Negeri/Swasta kota Mojokerto tanggal 16 Agustus 2005
  • P ROSES KONSELING Tutup Kasus Mempersiapkan interview Klien Penilaian tingkah laku klien Implementasi Strategi Pembentukan Tujuan Monitor tingkah laku klien Proses Pengiriman Pembinaan Hubungan Pembahasan Masalah
  • WAWANCARA DALAM KONSELING
    • YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM WAWANCARA
    • Menyampaikan tujuan konseling pada klien
    • Menciptakan susana yang aman sehingga klien tidak merasa terancam
    • Mampu mengajukan pertanyaan terbuka
    • Membantu klien untuk menemukan masalahnya sendiri
    • Mampu mengatasi ketika klien diam, menangis atau bertindak agresi
    • Memanfaatkan waktu dengan optimal
    • Mampu mencatat dengan cepat dan tepat
  • FAKTOR YANG MENENTUKAN EFEKTIFITAS DALAM WAWANCARA
    • YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM WAWANCARA
    • Kepribadian konselor
      • Mempunyai minat terhadap orang lain
      • Mampu mengendalikan diri, emosi dan prasangka
    • Ketrampilan konselor
      • Mampu berkomunikasi secara efektif
      • Daya observasi tajam
      • Terbuka dengan pendapat orang lain
      • Empati yang tinggi
      • Mampu mengidentifikasi masalah psikologi-sosial-budaya
    • Kualitas interaksi antara konselor dan klien
    • Faktor situasional
  • Unsur-unsur pokok yang menunjang konseling
    • Kondisi-kondisi Eksternal
      • a. Penataan fisik
      • b. Procxemics
      • c. Privacy
    • Kondisi-kondisi Internal
      • a. Rapport
      • b. Empathy
      • c. Genuineness
      • d. Attentiveness (penuh perhatian)
  • KETERAMPILAN YANG DIBUTUHKAN KONSELOR Menumbuhkan rasa aman dan tidak takut untuk mengekspresikan diri –emosinya Mengekspresikan/menyatakan secara verbal apa yang dirasakan siswa dengan kata yang lebih tepat Merefleksi perasaan Membantu menumbuhkan perasaan positif terhadap diri, kesadaran diri,penerimaan diri dan konsep dirinya Menempatkan diri dalam pikiran dan perasaan siswa ,seolah-olah mampu merasakan emosi yang dialaminya dengan cara mengkomunikasikan pemahaman atas perasaan siswa. Memberikan empati Untuk mendorong kepercayaan,penyingkapan diri dan eksplorasi siswa Kemampuan verbal dan non verbal dalam berkomunikasi tanpa melakukan penilaian atau evaluasi. Mendengarkan aktif Menghindari adanya perbedaan persepsi antara siswa dan konselor. Menanyakan kembali kepada siswa atas apa yang dikemukakan. Memperjelas Untuk menimbulkan diskusi lebih lanjut, memeperoleh informasi,menstimulasi pikiran,meningkatkan kejelasan ,menimbulkan eksplorasi diri lebihlanjut Menanyakan dengan pertanyaan terbuka, memberi kesempatan anggota untuk melakukan eksplorasi tentang ”apa” dan '”bagaimana” suatu perilaku terjadi Bertanya Tujuan dan Hasil yang Diharapkan Deskripsi Ketrampilan
  • Untuk memberikan beberapa alternatif jalan keluar atas masalah yang dihadapi Memberikan nasehat berupa masukan atau jalan keluar. Menasehati Untuk mendorong eks-plorasi diri yang lebih mendalam; memberikan prespektif baru untuk per-kembangan dan pemaham-an perilaku seseorang. Memberikan penjelasan terhadap berbagai perilaku,perasaan dan pikiran siswa. Meng-interpretasi Untuk menghindari perpecahan dan memberikan arah pada sisi konseling; untuk memberikan kesinambungan dan makna. Merangkum elemen penting selama interaksi/sesi konseling Meringkas Meningkatkan pemahaman siswa atas hal-hal yang terkait dengan masalah yang dihadapi (kaitan psikis dan gangguan fisik) Memberikan informasi berbagai hal yang diperlukan siswa. Menerangkan Untuk mengetahui apakah konselor mengerti dengan benar pernyataan siswa untuk memberikan dukungan dan klarifikasi. Menyatakan dengan kalimat yang berbeda apa yang telah dikemukakan siswa dengan maksud untuk menjelaskan. Menyatakan kembali Tujuan dan Hasil yang Diharapkan Deskripsi Ketrampilan
  • Implementasi Strategi
    • Butuh waktu lebih lama
    • Suatu perubahan terjadi
    • Suatu keputusan dibuat
    • Suatu pengetahuan diperoleh
    • Faktor yang mempengaruhi:
    • Kecepatan klien belajar
    • Kedalaman dan kompleksitas masalah
    • Pemilihan strategi
  • Strategi Konseling
    • Sering juga disebut teknik konseling
    • Yaitu suatu rencana yang bersifat prosedural untuk membantu klien
  • Komponen Strategi Strategi Rasional Praktek/ latihan Contoh Pekerjaan Rumah
    • a. Rasional
    • Rasional strategi terdiri dari alasan dari prosedur dan suatu tinjauan singkat ( overview) dari komponen-komponennya.
    • b. Memberi Contoh
    • K onselor memberikan demonstrasi/ memperagakan dari tingkah laku yang diinginkan.
    • Secara ringkas hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memberi contoh adalah sebagai berikut.
    • Beritahu klien tentang hal apa yang perlu diperhatikan sebelum diberi contoh
    • Pilih contoh yang banyak kesamaannya dengan klien.
    • Sajikan dalam urutan skenario yang dapat mengurangi kecemasan klien.
    • Minta klien untuk merangkum apa yang telah ia lihat setelah selesai pemberian contoh.
    • c. Praktek / Latihan
    • Biasanya latihan praktek ini mengikuti suatu urutan yang telah disusun. Konselor dapat menggunakan 3 kriteria yang diajukan oleh Lazarus untuk menentukan keberhasilan latihan: 1) Klien mampu melakukan respon tanpa perasaan cemas, 2) Sikap/ perilaku klien secara umum mendukung kata-katanya, 3) Kata-kata/ tindakan klien tampak wajar dan masuk akal.
    • Setelah beberapa latihan dinyatakan berhasil, konselor hendaknya mendorong klien berlatih sendiri. Setelah praktek/ latihan perlu adanya umpan balik dari konselor.
    • d. Pekerjaan rumah
    • Pekerjaan rumah hendaknya sederhana dan bertahap. Tugas-tugas pekerjaan rumah hendaknya dimulai dengan rasional untuk pekerjaan rumah. Di samping itu, pekerjaan rumah berisi 6 komponen yaitu: apa yang dikerjakan klien, kapan tingkah laku tersebut harus terjadi, di mana tingkah laku tersebut terjadi, bagaimana mencatat tingkah laku tersebut dan yang terakhir
  • Macam Strategi konseling
    • Tought stopping, Cognitive restructuring , Systematic Desensitization , Modeling, Asertif Training , Self Management , Pengambilan Keputusan, Relaksasi , Empty Chair , Role Play, Role Rehearsal , Exagrasi , Hypnotherapy, Shaping , Behavior Contrac, Cover reinforcement , Extinction, Satiation (penggelontoran), Menggunakan Humor, Konfrontasi, Verbal Shock, Permision (pemberian kesempatan), Proteksi, Eksplanasi, Ilustrasi, Interpretasi , Kristalisasi, Menciptakan hubungan baru , Mempertajam pemahaman diri, Memberi nasihat , Melaksanakan rencana, Sosiodrama, Self modeling, Imitasi, Home assignment, Biblotherapy , Diskusi, Simulasi , Gaming, Paradoctial intention , self control dll.
  • Strategi Tought Stopping
    • Untuk membantu menghilangkan gambaran diri yang negatif.
    • Untuk klien yang terikat oleh pikiran-pikiran negatif yang selalu diulang
    • Langkah-langkah TS
    • 1. Rasional
    • Pertama konselor akan menerangkan dasar pemikiran. konselor harus menunjukkan bagaimana pikiran klien yang mengganggu (gagal) dengan cara apa klien dapat keluar dari masalah itu tanpa diganggu oleh pikiran-pikiran itu.
    • 2. Berhenti Berpikir / Thought Stopping yang diarahkan oleh konselor (Overt Interuption Conselour)
    • Pada tahap ini konselor yang bertanggung jawab untuk mengintrupsi pikiran. intrupsi ini terbuka (Overt), yaitu dengan mengucap kata”Stop” yang keras, dapat pula disertai dengan tepukan tangan, mengetuk meja ataupun dengan siulan.
    • Awal mula klien diperintahkan untuk menyatakan semua pikiran-pikirannya secara keras. Kata-kata (verbalisasi) tersebut memungkinkan konselor untuk menentukan pernyataan yang mana, yang tepat untuk dihentikan, seperti contoh berikut:
    • Konselor meminta klien untuk duduk bersandar (relax) dan membicarakan semua pikiran ini masuk ke dalam benak (alam pikiran.
    • Konselor meminta klien untuk mengungkapkan dengan kata-kata secara keras tentang pikiran-pikiran tersebut . jika mincul …..” Kapanpun anda mulai berfikir apa saja sampaikan pada saya “
    • Pada Saat Klien Mengungkapkan Pikiran-Pikiran Yang Menyalahkan Diri (Self –Defeating) , Konselor Mengintrupsi Dengan Keras Kata “ Stop” , Dan Dapat Disertai Tepuk Tangan , Siulan, atau Menepuk Meja.
    • Konselor menunjukkan bagaimana interupsi yang tidak terduga tadi adalah efektif dalam menghilangkan pikiran-pikiran negatif.
    • 3.Berhenti berpikir / TS yang diarahkan oleh klien (Overt intruption Client)
    • Setelah klien belajar untuk mengontrol pikiran negatifnya sebagai respon dari interupsi konselor tadi, maka klien menerima tanggung jawab untuk mengintrupsinya sendiri. Pertama klien mengarahkan diri sendiri seperti yang telah diarahkan oleh konselor tadi. Tahap ni berlangsung seperti berikut :
    • Klien dengan sengaja membangkitkan pikiran-pikiran nya tentang apapun dan membicarakan segala macam pikiran ini masuk kedalam alam pikirannya.
    • Konselor meminta klien untuk mengatakan “stop” dengan keras kapanpun bila klien menemukan pikiran-pikiran yang negatif …”kali ini anda dapat mengarahkan diri anda sendiri, apabila muncul pikiran-pikiran yang negatif tadi interupsilah sendiri dengan kata “stop” yang keras”…..
    • 4. Berhenti berpikir / TS yang diarahkan oleh klien (Covert Intruption )
    • Pada bebrapa kasus, rasanya tidak praktis dan bijaksana bagi klien untuk mengintrupsi diri secara terbuka. Bayangkan saja apabila klien berada di tempat-tempat umum, dibus tiba-tiba berteriak “stop” !. oleh sebab itu pada tahap berikut ini sama juga seperti tahap sebelumnya ini :
    • Klien membiarkan pikiran-pikiran nya masuk ke dalam alam pikirannya
    • Ketika klien akan mengintrupsi dengan kata-kata “stop” cukup dalam hati saja (covert).
    • 5. Pergantian dari pikiran asertif, positif / netral
    • Pada dasarnya klien diajarkan untuk mengganti pikiran-pikiran kerespon asertif setelah di intrupsi. Respon ini mungkin dapat kontadiksi dengan isi dari pikiran negatifnya. (catatan : sperti coping thought pada restructuring kognitif).
    • Konselor dapat memberikan contoh yang dapat mengganti setelah menghentikan pikiran yang negatif (self-defeating). Selanjutnya konselor meminta klien untuk mempraktekkan dengan suara yang keras. “…..setelah anda memberi tanda “stop” kepada diri anda sendiri, gantilah pikiranmu dengan sesuatu yang positif (lihat contoh coping thought)kemudian anda nanti memikirkan tentang hal itu dan dapat dilakukan dari waktu ke waktu dengan suara yang keras.
    • Berikutnya klien diminta untuk mempraktekkan pergantian ini setelah klien mengintrupsi diri secara terbuak (overt intruption)
    • setelah itu klien melatihnya dengan cara tertutup (covert intruption )
    • Klien di dorong terus agar berlatih mengganti pikiran asertif, positif/ netral sampai beberapa kali. Setiap kali pikiran yang diganti harus berbeda-beda sehingga pengulangan-pengulangan terhadap satu pikiran tidak muncul.
    • 6. Pekerjaan Rumah dan tindak lanjut
    • PR ini diperlukan agar klien terus berlatih, dan dapat menguatkan kontrol klien dalam menghentikan pikiran yang negatif (self-defeating) jika sewaktu-waktu muncul.
  • Strategi Cognitive Restructuring
    • membantu klien belajar mengenal dan menghentikan pikiran-pikiran negatif / yang merusak diri, tetapi juga mengganti pikiran-pikiran tersebut dengan pikiran yang positif.
    • Banyak klien yang tidak bertindak sesuai dengan apa yang diinginkannya karena takut akan konsekuensi dari tindakan tersebut. Biasanya ketakutan-ketakutan seperti : “saya mungkin ditolak”, saya mungkin melakukan kesalahan”, atau mungkin ada seseorang yang tidak membenarkan tindakan-tindakan saya, dan sebagainya. Sering kali ketakutan-ketakutan ini sangat tidak rasional ,dan tidak logis.
    • Tahapan CR:
    • Rational: tujuan dan tinjauan singkat prosedur .
    • Dalam Restructuring Cognitive, rasional digunakan untuk memperkuat keyakinan klien bahwa "pernyataan diri" dapat mempengaruhi prilaku, dan khususnya pernyataan-pernyataan diri negatif atau pikiran-pikiran menyalahkan diri dapat menyebabkan tekanan emosional. Setelah rasional diberikan, klien diminta persetujuannya (contracting) untuk bersedia mencoba melakukan strategi ini atau tidak. Klien tidak boleh dipaksa untuk menerima keyakinan konselor.
    • Identitifikasi pikiran klien dalam situasi problem .
    • Setelah klien menerima rasional yang diberikan, langkah berikutnya adalah melakukan suatu analisis terhadap pikiran-pikiran klien dalam situasi yang mengandung tekanan atau situasi yang menimbulkan kecemasan.
    • Pengenalan dan Latihan coping thought .
    • Pada tahap ini, terjadi perpindahan fokus dari pikiran-pikiran klien yang merusak diri menuju ke bentuk pikiran lain yang tidak kompatibel dengan pikiran yang merusak diri. Pikiran-pikiran yang tidak kompatibel ini disebut sebagai pikiran yang menanggulangi (coping thought = ct) atau pernyataan yang menanggulangi (coping statement= cs), atau intruksi diri menanggulangi (coping self-intruction= csi). Semuanya dikembangkan untuk klien. Pengenalan dan pelatihan cs tersebut
    • Pindah dari pikiran-pikiran negatif ke coping thoughts .
    • Setelah klien mengidentifikasi pikiran-pikiran negatif dan mempraktekkan cs alternatif, konselor selanjutnya melatih klien untuk pindah dari pikiran-pikiran negatif ke cs. Terdapat dua kegiatan dalam prosedur ini, yaitu: (1) pemberian contoh peralihan pikiran oleh konselor, dan (2) latihan peralihan pikiran oleh klien.
    • Pengenalan dan latihan penguat positif .
    • Bagian terakhir dari Cognitive Restructuring berisikan kegiatan mengajar klien tentang cara-cara memberikan penguatan bagi dirinya sendiri untuk setiap keberhasilan yang dicapainya. Ini dapat dilakukan dengan cara konselor memodelkan dan klien mempraktekkan pernyataan-pernyataan diri yang positif. Maksud dari pernyataan diri positif ini adalah untuk membantu klien menghargai setiap keberhasilanya. Meskipun konselor dapat memberikan penguatan sosial dalam wawancara, klien tak selalu dapat tergantung pada dorongan dari seseorang ketika ia dihadapkan pada situasi yang sulit. Untuk mempermudah klien, konselor dapat menjelaskan maksud dan memberikan contoh tentang pernyataan diri positif; kemudian meminta klien untuk mempraktekkannya.
    • Tugas rumah dan Tindak lanjut .
    • Tugas rumah ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada klien untuk mempraktekkan ketrampilan yang diperoleh dalam menggunakan cs dalam situasi yang sebenarnya.
  • Strategi Systematic Desensitization
    • Prosedur ini didasarkan pada suatu asumsi bahwa kemampuan stimuli khusus yang menimbulkan kecemasan dapat dikurangi atau diperlemah jika terjadi suatu respon antagonistik (yang berlawanan) terhadap kecemasan (Wolpe dalam Blackham, 1981). Jika seseorang dapat belajar memberi respon asertif atau respon rileks terhadap stimuli dan situasi yang selalu muncul, kecemasan dapat dihambat atau dikurangi.
    • Langkah-langkah Systematic Desensitization:
    • Melatih klien untuk relaks . Langkah pertama kali dalam prosedur SD adalah membantu klien untuk relaks dengan menggunakan prosedur-prosedur relaksasi, misalnya prosedur relaksasi yang dikembangkan oleh Johnson (1978). Tujuan utama dari latihan relaksasi ini adalah untuk membantu klien menurunkan getaran-getaran fisiologis dan untuk menimbulkan suatu perasaan yang positif dan netral. Dalam prosedur ini seringkali diinginkan untuk menetapkan derajat relaksasi yang telah dicapai oleh klien dengan meminta mereka untuk menunjukkannya pada suatu skala relaksasi dengan rentangan dari 1 sampai dengan 10. Skala 1 menunjukkan keadaan relaks yang lengkap (klien bisa tertidur), dan skala 10 menunjukkan masih adanya kecemasan yang kuat (Blackham, 1984). Jika telah berhasil mempraktekkan latihan relaksasi dengan konselor, ia selanjutnya didorong mempraktekkan di rumah.
    • Mengkonstruksikan hirarkhi kecemasan . Langkah kedua dalam SD adalah mengkontruksikan suatu hirarkhi kecemasan. Hirarkhi berisikan suatu urutan atau serangkaian situasi ( scene ) yang menimbulkan kecemasan secara bertingkat. Ini dilakukan dengan cara meminta klien untuk menspesifikasi situasi-situasi yang menimbulkan derajat kecemasan yang berbeda. Klien diminta untuk menilai setiap situasi pada suatu skala yang merentang dari 1(sedikit atau tak ada kecemasan) hingga 10 (kecemasan kuat). Biasanya, 10 sampai dengan 50 dimasukkan dalam hirarkhi, tapi jumlah tersebut tergantung pada kompleksitas masalah klien. Lebih dari itu, setiap item hirarkhi harus didefinisikan dalam arti yang sangat spesifik atau konkrit.
    • Imaginasi dan visualisasi . Jika hirarkhi kecemasan telah dikontruksikan dan klien dapat mencapai suatu keadaan relaksasi otot yang mendalam dan konsisten, desensitization dimulai. Klien dibantu untuk relaks dan diminta untuk menunjukkan jarinya jika ia telah mencapai suatu derajat relaksasi yang diinginkan. Jika klien telah menunjukkan jarinya, item pertama dari hirarkhi ditunjukkan. Klien memvisualisasikan adegan hirarkhi pertama tersebut selama lima sampai dengan sepuluh detik dan kemudian diminta untuk menghentikan imaginasi. Perhatiannya dengan segera diarahkan kepada perasaan rilaks yang dialaminya. Untuk mempertinggi perasaan relaks tersebut klien diminta untuk memvisualisasikan adegan kendali yaitu suatu adegan yang telah diidentifikasi sebelumnya yang diketahui dapat menimbulkan perasaan aman dan senang pada klien.
    • Jika klien telah mampu memvisualisasi item pertama dan tidak mengalami perasaan cemas, item kedua dalam hirarkhi disajikan dalam cara yang sama, begitu seterusnya setiap item disajikan hingga setiap situasi dapat divisualisasikan dengan perasaan yang relaks. Jika klien mengalami kecemasan ketika item disajikan, ia diinstruksikan untuk menghentikan imegeri. Klien didorong untuk relaks, dan ketika relaksasi yang memadai telah dicapai, item disajikan kembali.
  • Strategi Modeling
    • Strategi modeling adalah suatu strategi dalam konseling yang menggunakan proses belajar melalui pengamatan terhadap model dan perubahan perilaku yang terjadi karena peniruan. Menurut Nelson (1995) Strategi modeling merupakan strategi pengubahan perilaku melalui pengamatan perilaku model. Salah satu jenis strategi modeling adalah modeling partisipan. Dibawah ini akan diuraikan modeling partisipan.
    • Modeling partisipan terdiri dari demonstrasi model, praktik terbimbing, dan pengalaman-pengalaman yang berhasil (Bandura, 1976). Modeling partisipan berasumsi bahwa penampilan seseorang yang berhasil merupakan cara yang efektif menghasilkan perubahan.
    • Modeling partisipan juga dapat digunakan untuk mengurangi perasaan dan perilaku menghindar pada diri seseorang yang dikaitkan dengan aktivitas atau situasi yang mengkhawatirkan (Bandura, dkk, 1969, 1975, 1974, 1977). Misalnya tukang cat yang merasa takut jatuh dari tempat tinggi (acrophobia). Modeling partisipan ini juga dapat digunakan untuk mengatasi phobia sekolah, takut bertanya, tidak tahu cara memulai pembicaraan, kurang komunikasi sosial, kurang asertif, kurang mampu mengasuh anak, dan kekurangan kebugaran fisik.
    • Ada 4 komponen dasar modeling partisipan yaitu rational, modeling, partisipasi terbimbing, dan pengalaman yang berhasil. Di bawah ini akan diuraikan keempat komponen tersebut.
    • Rasional
    • Berikut ini adalah contoh rasional modeling partisipan yang dapat diberikan oleh konselor kepada klien:
    • “ Prosedur ini digunakan untuk membantu anda untuk mengatasi ketakutan atau perilaku baru. Ada tiga hal utama yang akan kita lakukan yaitu ; pertama, anda akan melihat beberapa orang mendemonstrasikan. . . . . . . . . . Kedua, anda akan mempraktekkan kemampuan tersebut dengan bimbingan saya selama wawancara konseling ini berlangsung. Ketiga, kami akan mengatur bagi anda untuk melakukan kemampuan tersebut di luar wawancara konseling yang memungkinkan anda memperoleh keberhasilan. Jenis praktek ini akan membantu anda menampilkan apa yang anda rasa sulit anda lakukan. Apakah anda mau mencobanya sekarang?”.
    • Modeling
    • Komponen modeling dari modeling partisipan terdiri dari 5 bagian:
    • Perilaku sasaran, jika kompleks, terbagi dalam serangkaian bagian tugas .
    • Serangkaian kemampuan yang disusun dalam suatu hirarkhi.
    • Para model diseleksi.
    • Intruksi diberikan kepada klien sebelum demonstrasi model.
    • Model mendemonstrasikan masing-masing subtask secara berturut-turut dengan pengulangan yang perlu.
    • Demonstrasi model
    • Dalam modeling partisipan, seorang model mendemonstrasikan satu bagian kemampuan sekaligus. Sering kali diperlukan demonstrasi yang diulang atas tanggapan yang sama. Demonstrasi ganda dapat diatur dengan memiliki model single yang mengulang-ulang demonstrasi atau dengan memiliki beberapa model yang mendemonstrasikan aktivitas atau tanggapan yang sama. Model-model ganda memberikan keanekaragaman cara aktivitas yang ditampilkan dan mampu dipercaya pada gagasan bahwa akibat-akibat yang merugikan tidak akan terjadi.
    • Partisipasi Terbimbing
    • Setelah demonstrasi perilaku atau aktivitas, klien diberi kesempatan dan bimbingan yang perlu untuk menampilkan perilaku yang dimodelkan. Partisipasi terbimbing atau penampilan adalah salah satu komponen pembelajaran yang paling penting untuk mengatasi situasi yang menakutkan, dan untuk memperoleh perilaku yang baru. Partisipasi klien dalam sesi modeling harus disusun dalam suatu sistem yang tidak mengancam. Partisipasi ini ditujukan untuk “pengangkatan kemampuan baru dan keyakinan, dari pada membuka kekurangan” (Bandura, 1976).
    • Partisipasi terbimbing terdiri atas 5 langkah berikut.
    • Praktek klien atas tanggapan atau aktivitas dengan bantuan konselor
    • Umpan balik konselor
    • Pengunaan berbagai bantuan induksi bagi usaha-usaha praktek awal.
    • Penghilangan bantuan induksi
    • Praktek klien yang diarahkan pada diri
    • Pengalaman Sukses atau penguatan
    • Komponen terakhir dari prosedur modeling partisipan adalah pengalaman-pengalaman keberhasilan (penguatan). Klien pasti mengalami keberhasilan dalam menggunakan apa yang mereka pelajari. Bandura (1976) menyatakan bahwa perubahan-perubahan psikologis “ tak mungkin berjalan efektif jika klien tidak mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman berhasil ditata dengan menyesuaikan program tranfer pelatihan bagi masing-masing klien.
    • Self- Monitoring
    • Self-monitoring adalah suatu proses dimana klien mengamati dan mencatat hal-hal tentang diri mereka dan interaksi mereka dengan situasi lingkungan
    • Strategi Self-Management :
    • Self-management adalah suatu proses dimana klien mengarahkan perubahan tingkah laku mereka sendiri, dengan menggunakan satu strategi atau kombinasi strategi. Klien harus aktif menggerakkan variabel enternal, eksternal untuk melakukan perubahan yang diinginkan. Walaupun konselor yang mendorong dan melatih prosedur ini, klienlah yang mengontrol pelaksanaan strategi ini.
    • Ada tiga macam strategi self-management yaitu : self-monitoring, stimulus-control dan self-reward. Self-monitoring adalah upaya klien untuk mengamati diri sendiri, mencatat sendiri tingkah laku tertentu (pikiran,perasaan dan tindakan) tentang dirinya dan interaksinya dengan peristiwa lingkungan. Stimulus Control adalah merancang sebelumnya antesedent atau isyarat pedoman / petunjuk untuk menambah atau mengurangi tingkah laku. Self Reward adalah pemberian hadiah pada diri sendiri, setelah tercapainya tujuan yang diinginkan.
  • langkah-langkah self-monitoring a. Memilih target respon yang akan dimonitor : jenis respon kekuatan / valensi respon jumlah respon Discrimination of respon observation Berisi tujuan dan overview (gambaran singkat) Prosedur strategi Rasional
  • a. Saat mencatat / timing mencatat mencatat sebelum kemunculan perilaku digunakan untuk mengurangi respon. Mencatat sesudah kemunculan perilaku digunakan untuk menambah respon mencatat dengan segera mencatat ketika tidak ada respon-respon lain yang menganggu pencatatan / perencanaan b. Metode mencatat : menghitung frekuensi, mengukur lamanya, mencatat terus menerus / kontinu, waktunya acak / sembarang / sampling c. Alat mencatat : Portable seperti tusuk gigi, kerikil, Accessible seperti tanda-tanda , bintang Mencatat respon
  • Ketepatan intepretasi data Pemahaman tentang hasil evaluasi diri dan dorongan diri Analisa data Memberitahukan kepada orang-orang untuk mendapatkan dukungan lingkungan Display of data Membuat peta atau grafik dari jumlah perolehan keseharian yang tercatat Membuat peta suatu respon
  • Apa yang dapat kamu lakukan ? Bagaimana perasaanmu tentang hasil ? Co = Sangat tak memuaskan 10 = Sangat memuaskan Bagaimana situasi Berakhir ? Apa yang kamu pikirkan ? Apa yang kamu kerjakan ? Situasi Tgl / Waktu
  • Beri nilai tingkat efektivitas penanganan anda terhadap situasi tersebut. sedikit agak efektif sangat efektif amat sangat efektif Beri nilai tingkat intensitas dari kecemasan: sedikit intens agak intens sangat intens amat sangat intens Catat bagaimana respon anda - apa yang kamu lakukan Catat pikiranmu atau hal-hal yang kamu katakan pada dirimu ketika hal ini terjadi Catat pemicu kecemasan Menggambarkan situasi terjadinya kecemasan Mencatat hari dan waktu peristiwa Petunjuk mencatat Ketrampilan dalam mengatasi situasi Tingkat pemunculan Faktor- faktor perilaku Dialog internal Peristi wa Exter nal Frekuensi respon kecemasan Tanggal / waktu
    • Stimulus Control
    • Stimulus control adalah penyusunan / perencanaan kondisi-kondisi lingkungan yang telah ditentukan sebelumnya, yang membuat terlaksananya / dilakukannya tingkah laku tertentu. Kondisi lingkungan berfungsi sebagai tanda / anteseden dari suatu respon tertentu. Dengan kata lain anteseden merupakan suatu stimulus untuk suatu respon tertentu.
    • Contoh : Kebanyakan dari kita secara otomatis akan memperlambat, meletakkan kaki kita pada rem dan menghentikan kendaraan bila kita melihat lampu merah (traffic light). Lampu merah merupakan stimulus yang telah mengontrol kita menghentikan mobil.
    • Tingkah laku problem terjadi karena ketidak sesuaian stimulus control.
    • Contoh : Dalam kasus kegemukan (obesitas). Respon makan orang kegemukan banyak berhubungan dengan petunjuk lingkungan (stimulus) :
    • Meja makan -----------  makan
    • Berjalan kedapur --------  makan
    • Nonton T.V ----------  makan
    • Berjalan ke kulkas ------  makan
    • Berhenti di rumah makan --------  makan
    • Dalam kasus ini tujuan utama dari strategi stimulus control adalah ----  mengurangi jumlah petunjuk / tanda / syarat yang berhubungan dengan suatu yang tidak diinginkan dan secara simulton menambah syarat / petunjuk antisiden yang dihubungkan dengan respon yang diinginkan.
    • Contoh :
    • A. Stimulus control untuk mengurangi perilaku problem : mengurangi berat badan ( makan berlebihan ).
    • Beri tanda pada satu piring untuk makan semua jenis makan dan camilan
    • Jangan makan ketika membaca
    • Membeli makanan yang tidak berlemak
    • Susun kembali almari makan dan kulkas supaya makanan kecil tidak mudah diambil
    • Simpan makanan di tempat tertutup
    • Atur makanan dipiring dan letakkan didapur, jangan di meja makan
    • Pakai piring / mangkok yang lebih kecil agar makanan tampak lebih banyak
    • B. Stimulus control untuk menambah jumlah perilaku . Menambah pikiran positif tentang kemampuan dalam matematika.
    • 1. Buat sedikitnya 1 (satu) isyarat sebagai anteseden untuk pikiran positif.
    • Misal : meletakkan pita / plester diatas arlojinya
    • 2. Membuat daftar beberapa pikiran positif tentang matematika. Tiap pikiran positif dapat ditulis pada sebuah kertas yang dapat dibawa klien
    • Suruh klien membaca / memikirkan pikiran positif pada kartu / kertas tersebut setiap saat ia melihat arlojinya. Suruh dia mencari kesempataan untuk melihat arlojinya sesering mungkin dan selanjutnya mengkonsentrasikan pada satu pikiran positif ini
    • Ketika klien sampai dengan suatu saat dimana secara otomatis memikirkan pikiran positif setelah melihat arlojinya buat syarat lain misal : melihat tanda O pada buku matematika, setiap saat ia membaca buku matematika dan melihat tanda O ia dapat menggunakan isyarat ini untuk berkonsentrasi pada pikiran positif lainnya.
    • Ia dapat memperhatikan stimulus –control lebih banyak dengan menggunakan tanda / isyarat lain. Misal : menaruh daftar pikiran positif pada cermin , pintu kamar mandi – kamar tidur dan sebagainya.
    • Self – Reward
    • Self – reward digunakan untuk memperkuat atau menambah respon yang diinginkan. Self reward berfungsi memepercepat target tingkah laku.
    • Ada 4 komponen yanag merupakan bagian integral dari prosedur self reward yang efektif.
    • Pemilihan hadiah yang memadai yaitu; hadiah bersifat mendidik, gunakan hadiah yang terjangkau, gunakan beberapa hadiah, gunakan bermacam jenis (verbal, material, mutakhir, pontensial dsb), tukar hadiah bila tidak cocok.
    • Pengadaan hadiah; klien sendiri yang menentukan kelayakan respon yang ditargetkan. Tentukan sendiri seberapa banyak yang akan dilakukan dalam hubungan dengan hadiah yang telah dipilih.
    • Pengaturan waktu Self – Reward, hadiah harus dilakukan sesudahnya, bukan sebelum tingkah laku, hadiah harus disegerakan, hadiah harus mengikuti perubahan, bukan janji-janji
    • Rencana untuk mempertahankan pengubahan diri, cari bantuan orang lain untuk sharing atau menyalurkan hadiah, tinjauan data dengan konselor
  • Sekian, dan Terima Kasih