Presentasi Pekerjaan Beton Revisi

21,332 views
21,138 views

Published on

Published in: Business, Real Estate
6 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
21,332
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
17
Actions
Shares
0
Downloads
54,508
Comments
6
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Presentasi Pekerjaan Beton Revisi

  1. 1. PRESENTASIPEKERJAAN BETON LINGKUP PEKERJAAN dan PELAKSANAAN Disampaikan Oleh : Ir. M. Afianto
  2. 52. PEKERJAAN BETON <ul><li>LINGKUP PEKERJAAN </li></ul><ul><li>PEKERJAAN BETON TERDIRI DARI : </li></ul><ul><li>Beton Tak Bertulang </li></ul><ul><li>Beton Bertulang </li></ul><ul><li>Beton Pratekan </li></ul><ul><li>Bagian Beton Dari Struktur Komposit </li></ul><ul><li>Yang sesuai dengan spesifikasi, garis dan ketinggian kemiringan dan ukuran yang tercantum dalam GAMBAR atau sebagaimana diarahkan oleh Direksi. </li></ul>
  3. 53. Jenis semen yang sesuai MgO, C3A rendah bebas kapur K2O dan Na2O rendah Tahan cuaca dan bahan-bahan kimia Tahan terhadap kerusakan FAS kecil; Perawatan yang sesuai; Beton homogen padat; kekuatan tinggi; Aggregate tahan rusak Permukaan tekstur baik Proporsi terkontrol Material terkontrol Kontrol kualitas Beton Ideal Tahan Lama Jenis semen yang sesuai FAS kecil ; Perawatan yang baik ; Aggregate tahan alkali; Menggunakan bahan polimer2 pada campuran;Udara yang terikat Pengawasan & Perawatan Terkontrol Penanganan Terkontrol Kekuatan Ekonomi Pasata berkualitas baik; FAS kecil; Kandungan semen optimal; Aggregate segar bergradasi dan digetarkan kandungan Udara rendah Banyak Aggregate berukuran Maksimum; bergradasi efisien; minimum;Operasi otomatrisasi optimal; Campuran dan udara terkuat KEBUTUHAN PRINSIPIL BETON YANG BAIK
  4. 54. PENYIMPANAN DAN PENGAMANAN BAHAN BETON <ul><li>Perlu diperhatikan dengan seksama, sebab kesalahan yang dilakukan dan cara penempatan dan penyimpanan dapat menyebabkan hasil pekerjaan beton yang kurang baik dan kualitas menurun. </li></ul><ul><li>Hal-hal yang dihindari : </li></ul><ul><li>Pengotoran oleh bahan-bahan lain. </li></ul><ul><li>Bercampur dengan bahan-bahan aggregate dengan kualitas gradasi lain. </li></ul><ul><li>Terjadi pemisahan butir-butir besar dan kecil </li></ul>
  5. 55. <ul><ul><li>Semen (PC) harus terlindungi dari pengaruh air dan kelembaman yang berlebihan agar sifai-sifat hidrasitas semen hanya terjadi seluruhnya pada waktu spesi beton sudah berada dalam acuan, karena itu : </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Penyiapan semen harus menggunakan gudang yang tahan cuaca, kedap air mempunyai lantai kayu yang dinaiikan di atas tanah/ lantai beton serta ditutup lembaran plastik. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Sepanjang waktu tumpukan kantong semen diselubungi lembar plastik. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Penumpukan diatur agar dapat menjamin semen yang diterima lebih dahulu selalu digunakan yang pertama kali ( menurut urutan ). </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Semen yang rusak oleh kelembaban harus dibuang dan dipindahkan ( dijauhkan ) dari tempat pekerjaan . </li></ul></ul></ul>
  6. 56. <ul><li>Semen dari berbagai jenis harus disimpan sedemikian rupa agar tidak tercampur untuk mencegah semen dari jenis yang satu tertukar dengan yang lain. </li></ul><ul><li>Semen yang disimpan lama dan atau mutunya diragukan harus diuji dulu mutunya apakah masih memenuhi syarat untuk digunakan. </li></ul>
  7. 57. <ul><li>Pengawasan aggregate harus dilakukan secara ketat oleh teknisi laboraturium untuk beton struktural dengan K lebih besar K-255 sejak dari pengambilan, pendatangan, penimbunan sampai pemakaiannya ( gradasi, kebersihan, kekerasan dan sebagainya ) </li></ul>
  8. 59. <ul><li>BAJA TULANGAN UNTUK BETON HARUS MEMPERHATIKAN HAL-HAL BERIKUT: </li></ul><ul><ul><li>PENGANGKUTAN KETEMPAT KERJA DALAM IKATAN, DIBERI LABEL DENGAN LABEL…….. UNTUK MENUNJUKKAN UKURAN BATANG, PANJANG DAN INFORMASI LAIN BERKAITAN DENGAN TENDER PADA DIAGRAM TULANGAN. </li></ul></ul><ul><ul><li>PENYIAPAN DENGAN TIDAK MENYENTUH TANAH DAN HINDARI PENIMBUNAN DALAM WAKTU YANG LAMA DIUDARA TERBUKA UNTUK MENCEGAH DISTORSI, PENGOTORAN, KOROSI DAN KERUSAKAN. </li></ul></ul>
  9. 61. PENAKARAN BAHAN BETON <ul><li>Bahan beton ditakar berdasarkan berat. </li></ul><ul><li>Aggregat halus diukur secara terpisah berdasarkan berat. </li></ul><ul><li>Ukuran setiap penakaran tidak akan melebihi kapasitas kecepatanalat pencampur. </li></ul><ul><li>Sebelum penakaran, aggregate harus dijenuhkan dan dipertahankan dalam kondisi berkala timbunan aggregate dengan air. </li></ul>
  10. 62. <ul><li>Pada waktu penakaran, maka penyimpanan aggregate harus telah dilakukan paling tidak 12 jam sebelumnya untuk menjamin drainase yang memadai dari timbunan. </li></ul><ul><li>Ketelitian penimbangan yang dianjurkan : </li></ul><ul><li>Semen 1 % Semen 1 % </li></ul><ul><li>Aggregate 2 % Aggreagte 2 % </li></ul><ul><li>Air 1 % Air 1 % </li></ul><ul><li>Additive 3 % Additive 5 % </li></ul>
  11. 63. CARA PENAKARAN <ul><li>KERETA DORONG DAN TIMBANGAN BIASA </li></ul><ul><li>TIMBANGAN BERAT SECARA NORMAL </li></ul><ul><li>TIMBANGAN OTOMATIS ( LEBIH CEPAT DAN TELITI ) </li></ul><ul><li>SKALA DAN TIMBANGAN YANG BERBEDA UNTUK SETIAP UKURAN BUTIR. </li></ul><ul><li>< 500 m3 </li></ul><ul><li>500 – 5000 m3 </li></ul><ul><li>5000 – 50000 m3 </li></ul><ul><li>> 70000 m3 </li></ul>Peralatan Penimbangan Jumlah Takaran
  12. 64. PENCAMPURAN <ul><li>Harus dicampur dengan mesin yang dioperasikan secara mekanis. </li></ul><ul><li>Ukuran dan jenis harus disetujui Direksi Teknik untuk menjamin suatu distribusi bahan-bahan yang merata di seluruh masa tersebut. </li></ul><ul><li>Mesin pencampur harus dilengkapi dengan penampung air yang memadai dengan alat ukur untuk menjamin pengendalian jumlah air secara akurat. </li></ul>
  13. 65. URUTAN PENCAMPURAN <ul><li>Ide urutan pencampuran didasarkan atas pertimbangan kesulitan di lapangan termasuk waktu yang terbatas. </li></ul><ul><li>“ Sandwich” dengan pengertian material yang mahal ( semen ) dibungkus dengan aggregate agar terjamin merata. </li></ul><ul><li>Aggregate kasar dimasukkan duluan, kemudian semen, aggregate halus lalu air. </li></ul>
  14. 69. WAKTU PENCAMPURAN <ul><li>Waktu pencampuran diukur dari saat air mulai dimasukkan ke dalam </li></ul><ul><li>bahan-bahan campuran kering. </li></ul><ul><li>Air dimasukkan sebelum ¼ waktu pencampuran berlalu. </li></ul><ul><li>Mesin kapasitan ¾ m3 atau kurang 1,5 menit mesin lebih besar ditingkatkan 15 detik untuk setiap penambahan 0,5 m3. </li></ul>
  15. 70. PERSIAPAN PEKERJAAN BETON <ul><li>SEMUA ALAT-ALAT PENGADUK DAN PENGANGKUT HARUS DIBERSIHKAN DARI KOTORAN-KOTORAN. </li></ul><ul><li>CETAKAN-CETAKAN DAN PASANGAN-PASANGAN DINDING YANG BERLUBANG DENGAN BETON HARUS DIBASAHI DENGAN AIR SAMPAI JENUH. </li></ul><ul><li>TULANGAN HARUS TERPASANG BAIK SESUAI DENGAN GAMBAR KERJA. </li></ul>
  16. 71. PERSIAPAN TEMPAT KERJA <ul><li>BIDANG-BIDANG BETON LAMA YANG AKAN DILEKATKAN DENGAN BETON BARU ATAU BIDANG-BIDANG AKHIR PADA JOIN PELAKSANAAN HARUS : </li></ul><ul><ul><li>CUKUP DIKASARKAN DULU. </li></ul></ul><ul><ul><li>DIBERSIHKAN DARI SEGALA KOTORAN DAN BENDA-BENDA LEPAS LALU DIBASAHI AIR. </li></ul></ul><ul><li>AIR HARUS DIBUANG DARI SEMUA RUANG-RUANG YANG AKAN DIISI BETON KECUALI APABILA MENURUT PERSETUJUAN DIREKSI TEKNIK TIDAK PERLU DILAKUKAN. </li></ul>
  17. 74. <ul><li>STRUKTUR-STRUKSTUR YANG HARUS DIGANTI DENGAN PEKERJAAN BETON BARU DIBONGKAR, DISINGKIRKAN KEMUDIAN TEMPAT TERSEBUT DIBERSIHKAN. </li></ul><ul><li>TEMPAT UNTUK PENGECORAN SEPERTI TELAPAK, PONDASI DAN DAERAH GALIAN HARUS DIJAGA AGAR KERING TIDAK MENGANDUNG LUMPUR, PUING-PUING ATAU BAKAR-BAKAR LAINNYA. </li></ul><ul><li>SEMUA ACUAN TULANGAN (KURSI) ATAU BENDA LAIN SEPERTI PIPA-PIPA ATAU SALURAN YANG DIMASUKKAN DALAM BETON HARUS DITEMPATKAN TEPAT DIIKAT DENGAN KUAT SERTA DITUNJANG TERHADAP PERGESERAN AKIBAT PENGECORAN. </li></ul><ul><li>PEMERIKSAAN AKHIR TEMPAT KEJA HARUS DILAKUKAN OLEH PENGAWAS (INSPEKTOR) DENGAN MENGGUNAKAN FORMULIR PEMERIKSAAN. </li></ul>
  18. 76. PENCAMPURAN <ul><li>Pencampuran beton pada semua mutu beton kecuali mutu beton B-0 harus dilakukan dengan mesin pengaduk. </li></ul><ul><li>Ketentuan adukan beton harus diawasi terus menerus oleh pengawas dengan jalan memeriksa : </li></ul><ul><ul><li>Slump setiap campuran yang baru. </li></ul></ul><ul><ul><li>Slump dijadikan indikator apakah air pencampur adalah tepat atau perlu dikoreksi sesuai dengan faktor air semen yang diinginkan. </li></ul></ul>
  19. 77. Campuran /Adukan Yang Ditolak (Dibuang) <ul><li>TIDAK MEMENUHI SYARAT MESTINYA TERLALU ENCER KARENA KESALAHAN DALAM MEMBERIKAN JUMLAH AIR PENCAMPURAN. </li></ul><ul><li>CAMPURAN SUDAH MENGERAS. </li></ul><ul><li>CAMPURAN TERSEBUT DENGAN BAHAN-BAHAN ASING. </li></ul>
  20. 78. PENGANGKUTAN <ul><li>BETON DIANGKUT MELALUI BEBERAPA CARA, DENGAN : </li></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>KERETA DORONG </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>KERETA PENUANG (DUMPERS) </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>CORONG </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>CONVEYOR </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>POMPA </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>CRANE </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>ELEVATOR FORVER </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>RAIL CAR (U/TEROWONGAN) </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>CABLE WAYS </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>DSB </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><li>ADA 3 MACAM GERAKAN PADA PROSES PENGANKUTAN : </li></ul><ul><ul><ul><ul><li>DARI MESIN PENGADUK SAMPAI LOKASI. </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>DI LOKASI SENDIRI. </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>PADA BAGIAN YANG DICOR SECARA VERTIKAL DAN HORIZONTAL. </li></ul></ul></ul></ul>
  21. 79. PROBLEM-PROBLEM YANG TIMBUL AKIBAT GERAKAN PADA PENGANGKUTAN <ul><li>SEGREGASI </li></ul><ul><li>PENGURANGAN SLUMP </li></ul><ul><li>BERKURANGNYA AIR KARENA PENGUAPAN DAN KEBOCORAN </li></ul><ul><li>PEMADATAN AKIBAT PENGANGKUTAN </li></ul><ul><li>PENANGGUHAN TERLALU LAMA. </li></ul>
  22. 81. PETUNJUK-PETUNJUK YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA PROSES PENGANGKUTAN/ PEMINDAHAN <ul><li>Harus dicegah terjadinya pemisahan dan kehilangan bahan-bahan. </li></ul><ul><li>Harus lancar, agar tidak terjadi perbedaan waktu yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan yang akan di cor. </li></ul><ul><li>Pemindahan dengan talang miring hanya dapat dilakukan setelah ada persetujuan pengawas, pengawas dalam hal ini harus mempertimbangkan dulu alasan dari pelaksana mengenai urus bukan kemiringan dan panjang talang. </li></ul>
  23. 82. PETUNJUK-PETUNJUK YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA PROSES PENGANGKUTAN/ PEMINDAHAN <ul><li>BETON PADA UMUMNYA HARUS DICOR : </li></ul><ul><ul><li>DALAM WAKTU 1 JAM SETELAH PENGADUKAN DENGAN AIR DIMULAI, JANGKA WAKTU INI HARUS DIPERHATIKAN APABILA DIPERLUKAN WAKTU PENGANKUTAN YANG PANJANG. </li></ul></ul><ul><ul><li>DAPAT DIPERPANJANG SAMPAI 2 JAM, APABILA BETON DIGERAKKAN KONTINYU SECARA MEKANIS. </li></ul></ul><ul><ul><li>BILA DIPERLUKAN WAKTU YANG LEBIH PANJANG LAGI HARUS MEMAKAI BAHAN-BAHAN PENGHAMBAT PENGIKATAN BERUPA BAHAN-BAHAN PEMBANTU (ADMIXTURE). </li></ul></ul>
  24. 83. ACUAN DAN PERANCAH (SCAFFOLDING) <ul><li>Perancah </li></ul><ul><li>Perancah harus direncanakan dan dibangun untuk mendukung beban yang diperlukan dengan syarat : </li></ul><ul><ul><li>Dapat mendukung beban tanpa lenturan atau deformasi yang berarti. </li></ul></ul><ul><ul><li>Dibagun diatas telapak atau pondasi yang memadai dengan perhitungan yang disetujui oleh Direksi Teknik. </li></ul></ul><ul><li>Perancah direncanakan/ dipasang dengan memberi kesempatan terjadi kelendutan sesuai toleransi struktur beton yang diijinkan dalam spesifikasi. </li></ul><ul><li>Bahan-bahan perancah harus sesuai spesifikasi AASHTO, bisa diperlukan oleh direksi Teknik harus dilakukan pengujian atau menyerahkan sertifikat. </li></ul>
  25. 84. ACUAN <ul><li>Acuan tanah yang disetuji Direksi Teknik, harus dibentuk galian, sisi dan dasar harus dipotong dengan tangan menurut ukuran yang diperlukan. </li></ul><ul><li>Acuan kayu atau baja, sambungan yang kedap terhadap adukan, cukup kaku untuk mempertahankan posisi yang diperlukan selama pengecoran, pemadatan dan perawatan. </li></ul>
  26. 85. BENTUK ACUAN <ul><li>Harus dipasang dan dipertahankan benar-benar menurut garis-garis yang ditunjukkan hingga beton cukup mengeras. </li></ul><ul><li>Bila bentuk tampak kurang memuaskan dalam segala hal, baik sebelum atau selama pengecoran beton, maka harus diperbaiki bentuk acuan. </li></ul>
  27. 86. PENUANGAN, PENGECORAN DAN PEMADATAN <ul><li>Penting diperhatikan untuk mencegah timbulnya segregasi yaitu pemisahan aggregate kasar dan halus. </li></ul><ul><li>Penuangan, pemindahan beton dari mixer ke tempat pengangkutan beton atau ke tempat dimanan beton siap diangkat. </li></ul><ul><li>Pengecoran, pemindahan beton ketempat dimana beton dicor ke dalam acuan (bekisting) </li></ul>
  28. 88. PEMADATAN <ul><li>Pemadatan atau penggetaran adalah menghilangkan ruang udara dari dalam spesi beton hingga kepadatan tercapai, dengan demikian beton mempunyai : </li></ul><ul><ul><li>Kekuatan yang tinggi </li></ul></ul><ul><ul><li>Shrinkage rendah </li></ul></ul><ul><ul><li>Menambah kekedapan air </li></ul></ul>
  29. 89. PENUANGAN TIAP LAPIS <ul><li>CAMPURAN DITUANGKAN DALAM LAPISAN-LAPISAN YANG SERAGAM. </li></ul><ul><li>HINDARI PENUANGAN DALAM TUMPUKAN YANG BESAR ATAU MIRING UNTUK MENCEGAH PEMISAHAN (SEGREGASI). </li></ul><ul><li>PADA KOLOM DAN DINDING SEBAIKNYA TIAP LAPISAN TIDAK LEBIH DARI 45 CM BILA LEBIH TEBAL, MAKA UDARA AKAN TERJEBAK DAN TIDAK DAPAT KELUAR WALAUPUN MEMAKAI PENGGETAR. </li></ul><ul><li>TIAP LAPISAN HARUS DIPADATKAN TERLEBIH DALU SEBELUM DITUANGI LAGI DENGAN LAPISAN BARU. </li></ul>
  30. 90. PENUANGAN PADA KOLOM <ul><li>Hindari jarak jatuh yang tinggi. </li></ul><ul><li>Tuang beton secepat mungkin sesuai kapasitas. </li></ul><ul><li>Pada pengecoran kolom, dibatasi lapisan setinggi 30 cm untuk bisa dipadatkan dengan baik. </li></ul><ul><li>Hindari “ sambungan dingin “ (cold joint) </li></ul>
  31. 91. PEMADATAN <ul><li>Pemadatan adalah upaya mengeluarkan udara sebanyak mungkin dari beton segar. </li></ul><ul><li>Jumlah udara yang terjebak tergantung pada workability. </li></ul><ul><li>Beton dengan slump 75 mm bisa mengandung udara 5 %, sedangkan slump 25 mm mengandung udara sampai 20 %, itu sebabnya beton dengan slump rendah memerlukan usaha pemadatan yang lebih tinggi dari pada slump tinggi. </li></ul>
  32. 93. RONGGA UDARA VS KEKUATAN <ul><li>RONGGA UDARA TIDAK DIKEHENDAKI KARENA MENGURANGI KEKUATAN. </li></ul><ul><li>UNTUK SETIAP 1 % UDARA KEKUATAN AKAN MENURUN 5 S/D 6 % SEHINGGA BETON DENGAN RONGGA UDARA 3 %, KEKUATANNYA MELEMAH 15 – 20 %. </li></ul><ul><li>BETON DENGAN PEMADATAN YANG BAIK VS JELEK </li></ul><ul><li>Jelek : </li></ul><ul><li>Lemah </li></ul><ul><li>Ketahanan lemah </li></ul><ul><li>Porous dan bersarang tawan (honey combed) </li></ul><ul><li>Tidak berguna </li></ul><ul><li>Baik : </li></ul><ul><li>Padat </li></ul><ul><li>Kuat </li></ul><ul><li>Mempunyai ketahanan tinggi </li></ul>
  33. 94. <ul><li>CARA PEMADATAN ANTARA LAIN DENGAN : </li></ul><ul><li>Cara Rojokan </li></ul><ul><li>Jarum Penggetar </li></ul><ul><li>Meja Penggetar (dipabrik-pabrik) </li></ul><ul><li>Vibrator Acuan (dinding) </li></ul><ul><li>Penggetar Permukaan (untuk Plat) </li></ul><ul><li>HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN PADA PENGECORAN: </li></ul><ul><li>Dekat dengan tujuan terakhir untuk mencegah pemisahan bahan-bahan akibat pemisahan adukan dalam cetakan. </li></ul><ul><li>Pekerjaan pengecoran harus dilanjutkan tanpa berhenti sampai mencapai join pelaksanaan yang ditetapkan. </li></ul>
  34. 95. PEMADATAN DENGAN ALAT-ALAT PENGGETAR HARUS DIPERHATIKAN HAL-HAL YANG BERIKUT: <ul><li>Jarum penggerak harus dimasukkan tegak lurus permukaan (vertikal) dalam hal khusus boleh miring 45 derajat. </li></ul><ul><li>Selama penggetaran jarum tidak boleh digerakkan ke arah horizontal karena dapat terjadi segregasi. </li></ul><ul><li>Harus dijaga agar jarum tidak mengenai: </li></ul><ul><ul><li>Cetakan </li></ul></ul><ul><ul><li>Bagian beton yang sudah mengeras </li></ul></ul><ul><ul><li>Tulangan baja </li></ul></ul>
  35. 96. <ul><li>Lapisan yang digetarkan tidak boleh lebih dari 30 cm atau 50 cm, jadi bagian konstruksi yang tebal harus selapis demi selapis. </li></ul><ul><li>Penggetaran dihentikan bila adukan (campuran) beton nampak mengkilap sekitar jarum (air semen mulai memisah aggregate  yaitu kita-kira 30 detik. </li></ul><ul><li>Penarikan jarum tidak boleh terlalu cepat agar rongga dapat diisi penuh oleh adukan beton. </li></ul><ul><li>Jarak antara pemasukan jarum sedemikian rupa agar daerah-daerah pengaruh saling menutup. </li></ul>
  36. 98. PERAWATAN <ul><li>TUJUAN : </li></ul><ul><li>Mencegah pengeringan yang bisa menyebabkan kehilangan air yang dibutuhkan untuk proses pengerasan beton atau berkurangnya kebutuhan air selama proses hidrasi semen </li></ul><ul><li>LAMA PERAWATAN : </li></ul><ul><ul><li>Terutama pada awal (umur awal) sampai beton berumur 14 hari (minimum moist curing) </li></ul></ul><ul><ul><li>Jenis semen dengan type I, II dan V paling sedikit dicuring 21 hari lamanya sampai dengan 28 hari. </li></ul></ul>
  37. 100. <ul><li>MOIST CURING MEMPERTAHANKAN KELEMBABAN DI LAKSANAKAN DENGAN : </li></ul><ul><ul><li>Menggenangi permukaan beton </li></ul></ul><ul><ul><li>Menutupi permukaan beton dengan karung goni yang dibasahi air </li></ul></ul><ul><ul><li>Menutup dengan tanah atau pasir </li></ul></ul><ul><ul><li>Menyirami beton secara kontinyu </li></ul></ul><ul><li>CARA LAIN : </li></ul><ul><ul><li>Perawatan dengan menutup dengan lapisan tipis (C uring dengan S ealing Membrane ) </li></ul></ul><ul><ul><li>Steam Curing (perawatan dengan uap bertekanan tinggi) </li></ul></ul><ul><ul><li>Dengan bahan Curing Agent </li></ul></ul><ul><ul><li>Mempercepat dicapainya kekuatan dengan memberi panas dan kelengasan </li></ul></ul>
  38. 101. PENGENDALIAN MUTU DI LAPANGAN <ul><li>PENGUJIAN UNTUK WORKABILITY DENGAN SLUMP </li></ul><ul><li>PENGUJIAN KUAT TEKAN, TIDAK KURANG DARI SATU BENDA UJI UNTUK KUAT TEKAN SETIAP 20 M3 BETON ATAU BAGIAN BETON YANG DICOR. </li></ul><ul><li>PENGUJIAN DILAKUKAN UNTUK 3 HARI, 7 HARI DAN 28 HARI </li></ul>
  39. 103. PENGUKURAN/PEMBAYARAN <ul><li>BETON DIUKUR MENURUT JUMLAH METER KUBIK YANG DIGUNAKAN DAN DITERIMA DALAM PEKERJAAN SESUAI DENGAN UKURAN YANG DITUNJUKKAN PADA GAMBAR. </li></ul><ul><li>TIDAK ADA PENGUKURAN TAMBAHAN ATAU KELONGGORAN AKAN DIBUAT UNTUK: </li></ul><ul><ul><li>ACUAN </li></ul></ul><ul><ul><li>PEMOMPAAN </li></ul></ul><ul><ul><li>PENYEMPURNAAN PERMUKAAN </li></ul></ul><ul><ul><li>PERAWATAN </li></ul></ul><ul><ul><li>PENGOLAHAN </li></ul></ul><ul><ul><li>PENDIRIAN PIPA LUBANG SALURAN AIR. </li></ul></ul><ul><li>BETON DIBAYAR MENURUT : </li></ul><ul><ul><li>BETON STRUKTUR (BETON BERTULANG) K300 – 400 ATAU K125 – 225 </li></ul></ul><ul><ul><li>TAK BERTULANG K125 ATAU B0 </li></ul></ul><ul><li>SATUAN PEMBAYARAN METER KUBIK </li></ul>
  40. 104. ????
  41. 107. ILUSTRASI PENGECORAN BETON PADA TOWER
  42. 113. ARAH ANGIN ?
  43. 115. … ..SELESAI…….. <ul><li>..TERIMA KASIH.. </li></ul>

×