Zuraida titi-22-27
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Zuraida titi-22-27

on

  • 1,100 views

Artikel pada Agroscientiae edisi April 2012

Artikel pada Agroscientiae edisi April 2012

Statistics

Views

Total Views
1,100
Views on SlideShare
1,100
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
10
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Zuraida titi-22-27 Zuraida titi-22-27 Document Transcript

  • Zuraida T. Mariana, Fakhrur Razie, dan M. Septiana POPULASI BAKTERI PENGOKSIDASI BESI DAN SULFUR AKIBAT PENGGENANGAN DAN PENGERINGAN PADATANAH SULFAT MASAM DI KALIMANTAN SELATAN POPULATION THE BACTERIA INVOLVED IN OXIDIZE IRON AND SULPHUR IS AFFECTED BY FLOODING AND DRAININGIN ACID SULPHATE SOIL OF SOUTH KALIMANTAN Zuraida Titin Mariana, Fakhrur Razie, dan Meldia Septiana Jurusan Tanah Fakultas Pertanian UNLAM Jl. Jend. A. Yani Km.36 PO Box 1028 Banjarbaru 70714 ABSTRACTAgricultural of development in tidal land of South Kalimantan specially in acid sulfhate soil for the growingfeedduring the time only paying attention aspect of soil hidrologi and chemistry. While biological aspect notyet been studied exhaustively, thoughh change of soil chemistry very determining by the oxidizing sulphurand iron bacteria from acid sulphate soil. Therefore, the aim of theresearch was to study the bacteriainvolved in oxidize S and Fe (Thiobacillus sp dan Thiobacillus ferrooxidans) in acid sulphate soils aftertreatment flooding and draining on water quality.Result showed that average of population of Thiobacillus sp 14 14dan Thiobacillus ferrooxidans bacteria after treatment flooding and draining was 1,50 x 10 - 2,50 x 10 6 7cell/soil grams and 8,33 x 10 - 2,00 x 10 cell/soil grams. Population of Thiobacillus sp. and Thiobacillusferrooxidans bacteria highest seen at the same treatment that is flooding during 2 hour at 25 cm abovesurface of soil and draining during 22 hours slowly every day during 1 month. Drainage at acid sulfate soilcauses population of the bacteria involved in oxidize iron and sulphuric increased.Key words: Acid sulphate soils, flooding, drainage, Thiobacillus sp, Thiobacillus ferrooxidans. ABSTRAKPengembangan pertanian di lahan pasang surut di Kalimantan Selatan khususnya tanah sulfat masam untukusaha pertanian tanaman pangan selama ini hanya memperhatikan aspek hidrologi dan kimia tanahnya .Sedangkan aspek biologi belum dikaji secara mendalam, padahal perubahan kimia (kemasaman tanah)sangat di tentukan sekali oleh aktivitas bakteri pengoksidasi pirit yang ada pada tanah sulfat masam. Olehkarena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keberadaan bakteri pengoksidasi besi dan sulfur(Thiobacillus sp dan Thiobacillus ferrooxidans)pada tanah sulfat masam setelah perlakukan penggenangandan pengeringan pada kualitas air tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata populasi bakteri 14 14Thiobacillus sp. setelah perlakuan penggenangan dan pengeringan berkisar antara 1,50 x 10 - 2,50 x 10 6 7sel/gr tanah dan rata-rata populasi bakteri T. ferrooxidans berkisar antara 8,33 x 10 - 2,00 x 10 sel/grtanah.Populasi bakteri Thiobacillus sp.dan T. ferrooxidans tertinggi terlihat pada perlakuan yang sama yaitupenggenangan selama 2 jam pada 25 cm di atas permukaan tanah dan pengeringan (drainase) selama 22jam secara perlahan-lahan setiap hari selama 1 bulan. Pengeringan (drainase) pada tanah sulfat masammenyebabkan populasi bakteri pengoksidasi besi dan sulfur meningkat.Kata kunci: Tanah sulfat masam, penggenangan, pengeringan, Thiobacillus sp, Thiobacillus ferrooxidans.PENDAHULUAN pertanian. Pada lahan sulfat masam ini, terbentuk tanah sulfat masam yang merupakan tanah liat Lahan sulfat masam menempati wilayah rawa rawa dan seringkali memilikilapisan gambut tipis <pasang surut air asin/payau yang terbentuk dari 20 cm; memiliki lapisan pirit yang belum teroksidasiendapan marin yang secara khas dicirikan oleh (bahansulfidik) atau sudah teroksidasi (horisonkandungan mineral besi-sulfida berukuran sangat sulfurik) pada kedalaman 0-50 cm(Subagyo, 2006).halus (beberapa mikron), yang disebut pirit. Senyawa pirit tidak akan berbahaya bagiKandungan pirit di tanah rawa pasang surut tanaman bila dalam suasana anaerob, tetapi dalamumumnya rendah, yakni hanya sekitar 0-5%, namun kondisi aerob pirit akan segera dirubah menjadiwalaupun kadarnya rendah, temyata di kemudian H2SO4 dan Fe(OH)3 yang menyebabkanhari menjadi permasalahan utama yang berat, atau kemasaman yang sangat tinggi sehingga piritsangat sulit diatasi, apabila tanah rawa dibuka untuk merupakan sumber kemasaman tanah apabila telah22 Agroscientiae ISSN 0854-2333
  • Populasi Bakteri Pengoksidasi Besi dan Sulfur……mengalami oksidasi. Menurunnya permukaan air mendalam terhadap perubahan populasi bakteritanah akibat pembuatan saluran drainase primer- tersebut bila tanah mengalami oksidasi dan reduksi,sekunder-tersier menyebabkan oksigen masuk ke sementara pada tanah sulfat masam di lahandalam pori tanah dan akan mengoksidasi pirit pasang surut selalu mengalami proses tersebut 3+membentuk asam sulfat, ion hidrogen dan Fe . akibat pasang surut air laut. Oleh karena itu,Apabila oksidasi pirit berlangsung cepat maka akan penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keberadaanterbentuk mineral jarosit berupa bercak-bercak bakteri pengoksidasi besi dan sulfur (Thiobacillus spkaratan berwarna kuning jerami (Dent, 1986; Hicks dan Thiobacillus ferrooxidans)pada tanah sulfatet al, 1999). masam setelah perlakukan penggenangan dan Oksidasi senyawa pirit dibantu oleh bakteri pengeringan pada kualitas air tertentu.Thiobacillus ferrooxidans dan Thiobacillusthiooxidans yang merupakan jasad aerobik dan METODE PENELITIANautotrof(Dent, 1986; Konsten dan Sarwani, 1992;Hakim et al , 1986).Kondisi optimum untuk oksidasi Lokasi dan Waktu Penelitianpirit sama dengan kondisi optimum untuk oksidasi Penelitian ini merupakan percobaan rumah kacabesi oleh bakteri Thiobacillus ferrooxidansyaitu dan laboratorium Jurusan Tanah Fakultas Pertaniankonsentrasi oksigen > 0,01 mole fraksi (1 %), o o Unlam Banjarbaru, untuk mengisolasi dantemperatur 5-55 C (optimal 30 C), pH 1,5-5,0 menentukan populasi bakteri pengoksidasi besi dan(optimal 3,3). Kemasaman tanah (pH) yang cocok sulfur pada tanah sulfat masam setelah perlakuanuntuk habitat Thiobacillus ferrooxidans adalah 1,5- o penggenangan dan pengeringan secara kontinyu3,5, dengan suhu optimal 30-35 C (Mensvoort and dengan intensitas tertentu pada masing-masingDent, 1998), namu bakteriThiobacillus ferrooxidans kolom tanah. Penelitian ini dilaksanakan bulanmampu hidup pada pH 2 – 6 dan mampu Januari s/d Juni 2005.mengoksidasi Fe (II) menjadi Fe (III) danmengoksidasi senyawa-senyawa belerang tereduksi Bahan dan Alatserta memanfaatkan oksidasi ini sebagai sumberenerginya, sedangkan bakteri Thibacillus Sampel tanah diambil dari daerah pasang dithiooxidans hidup pada lingkungan pH 2 – 5 Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Kuala, o(Schelegel, 1994). Propinsi Kalimantan Selatan (GPS : 03 0129.8" LS o Berdasarkan penelitian Nurseha (2000) telah dan 114 4121.1"BT) pada satu titik lokasi yangditemukan bakteri yang mampu mengoksidasi besi sudah dianggap seragam keberadaan lapisan pirit.ferro menjadi besi ferri dalam waktu lebih cepat Sampel tanah yang diambil kemudian dimasukkandibanding secara kimia/abiotik pada ekosistem air ke dalam tabung percobaan (pipa PVC berdiameterhitam di lahan gambut Kalimantan Tengah. 3 inci dan panjang 70 cm) setinggi 30 cm dari dasarPenelitian Mariana, et a l(2007) menunjukkan tabung. Lalu pipa PVC berdiameter 3 inci yangbahwa dari 28 contoh-contoh tanah pasang surut di berisi tanah tersebut dimasukkan ke dalam pipaKalimantan Selatan, diperoleh ada 26 isolat bakteri PVC berdiameter 4 inci (ambar 1), kemudianThiobacillussp. yang menunjukkan adanya dilakukan penggenangan dan pengeringan sesuaipertumbuhan dimana umur tumbuhnya rata-rata dengan perlakuan (tinggi penggenangan dan waktukurang dari sepuluh hari. Pertumbuhan bakteri penggenangan) pada kualitas air tertentu(pH 7,28Thiobacillus baik pada tanah teroksidasi dan dan daya hantar listrik 1,7 mmhos/cm).tereduksi yang diisolasi dari lokasi Kolam Kiri Metode PenelitianBarambai dan Pinang Habang (Mandastana)Kabupaten Barito Kuala menunjukkan pertumbuhan Rancangan yang digunakan adalah Rancanganyang lebih cepat dibandingkan dari lokasi pasang Acak Lengkap (RAL) faktorial 2 faktor. Masing-surut lain. Disamping itu juga, telah dilakukan masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan. Dua faktorpengukuran aktivitas bakteri tersebut dalam yang diteliti adalah penggenangan dan pengeringanmenghasilkan sulfatPengembangan pertanian di berdasarkan ketinggian air pasang dan surut sertalahan pasang surut di Kalimantan Selatan lamanya saat pasang terjadi, dengan perlakuankhususnya tanah sulfat masam untuk usaha sebagai berikut :pertanian tanaman pangan selama ini hanya 1. Tinggi penggenanganmemperhatikan aspek hidrologi dan kimia tanahnya G1 = tinggi air 25 cm di atas permukaan tanah. Sedangkan aspek biologi belum dikaji secara G2 = tinggi air 0 cm (tepat di atas permukaanmendalam, padahal perubahan kimia (kemasaman tanah)tanah) sangat di tentukan sekali oleh aktivitas G3 = tinggi air 15 cm di bawah permukaanbakteri pengoksidasi pirit yang ada pada tanah sulfat tanahmasam.Isolat yang ditemukan dari hasil penelitian 2. Waktu penggenanganMariana, Z.T., et al (2007) belum dikaji secara W1 = tergenang terus menerus selama 1 bulanAgroscientiae Volume 19 Nomor 1 April 2012 23
  • Zuraida T. Mariana, Fakhrur Razie, dan M. Septiana W2 = 2 jam tergenang, 22 jam dikeringkan HASIL DAN PEMBAHASAN pelan-pelan setiap hari selama 1 bulan Hasil isolasi bakteri pada semua perlakuan W3 = 4 jam tergenang, 20 jam dikeringkan penggenangan dan pengeringan tanah sulfat pelan-pelan setiap hari selama 1 bulan masam menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri Thiobacillus sp. yang juga ditunjukkan dengan Setelah perlakuan berakhir dilakukan analisa perubahan warna media dari bening menjadi putihkeberadaan bakteri pengoksidasi sulfur dan besi keruh (Gambar 2a)disebabkan terbentuknya asamdengan melakukan isolasi pada medium : (a) 0 sulfat dan endapan sulfur (S ), sesuai denganMedium thiosulfat agar untuk mengetahui penelitian Untung (1999). Hal ini diperkuat dengankeberadaan bakteri Thiobacillus sp. dan (b) Medium hasil penelitian Nurseha (2000)yang jugapadat dengan garam ferro untuk mengetahui menyatakan bahwa akibat pertumbuhan bakterikeberadaan bakteri Thiobacillus ferrooxidans. Thiobacillus sp. menunjukkan warna putihPerhitungan jumlah populasi bakteri pengoksidasi keruh.Menurut Untung (1999), reaksi terbentuknyabesi dan sulfur menggunakan metode mikroskopis asam sulfat dan endapan sulfur pada media tiosulfatlangsung dengan pengukuran hemasitometer. untuk menumbuhkan isolat Thiobacillus sp. adalah :Keberadaan populasi bakteri pengoksidasi besi dansulfur setelah perlakuan penggenangan danpengeringan dianalisa secara dekriptif dengan 5Na2S2O3 + H2O + 4O2  5 Na2SO4 + H2SO4 + 4Smenggunakan diagram batang. (a) (b) Gambar 2. Pertumbuhan bakteri (a) Thiobacillus sp. (b) Thiobacillus ferrooxidans Figure 2. Growth of bacteria (a) Thiobacillus sp. (b) Thiobacillus ferrooxidans Perubahan warna media kuning kehijauan menjadi kuning kecoklatan (warna karat) menunjukkan keberadaan bakteri pengoksidasi besi Thiobacillus ferrooxidans (Gambar 2b) dalam 2+ mengoksidasi besi ferro (Fe ) menjadi besi ferri 3+ (Fe ). Dalam proses oksidasi pirit pada tanah sulfat Gambar 1. Penampang tabung percobaan masam sangat ditentukan oleh adanya bakteri yang Pigure 1. Longitudinal section of experiment tube bisa mengoksidasi besi dan sulfur di dalam tanah. Reaksi oksidasi yang melibatkan bakteri dapat Ket. Gambar : dijelaskan sebagai berikut : a : Diameter tabung (3 inci) berisi tanah yang 2+ digenangi air FeS2  Fe + S2 (reaksi kimia murni) b : Diameter tabung (4 inci) yang diisi air 2+ 3+ c : Tinggi penggenangan 25 cm di atas Fe  Fe + e (dipengaruhi bakteri permukaan tanah Thiobacillus ferrooxidans) d : Tinggi penggenangan 0 cm tepat dipermukaan tanah 3+ 2+ Fe + FeS2  Fe + S2 + e (reaksi kimia e : Tinggi penggenangan 15 cm di bawah permukaan tanah murni) f : Lubang pengatur tinggi penggenangan 2- + g : Lubang pembuangan air S2 + 8 H2O  2 SO4 + 16 H (dipengaruhi bakteri Thiobacillus thiooxidans).24 Agroscientiae ISSN 0854-2333
  • Populasi Bakteri Pengoksidasi Besi dan Sulfur…… Berdasarkan analisa pendahuluan sampel tanah dan rata-rata populasi bakteri Thiobacillus 6 7(tabel 1.) menunjukkan bahwa tanah di lokasi ferrooxidans berkisar antara 8,33 x 10 - 2,00 x 10pasang surut tipe B Kecamatan Barambai sel/gr tanah (gambar 3 dan 4). Pengaruh perlakuanKabupaten Barito Kuala Propinsi Kalimantan penggenangan 25 cm di atas permukaan tanahSelatan tergolong sangat masam dengan pH 3,66. selama 2 jam tergenang dengan 22 hari dikeringkanLingkungan seperti ini merupakan habitat bakteri (drainase) setiap hari (G1W2) dan penggenanganpengoksidasi pirit(Schelegel, 1994). Bakteri selama 4 jam dengan 20 hari dikeringkan setiap haripengoksidasi pirit adalah organisme yang hidup selama satu bulan (G1W3) menunjukkan populasidalam media yang relatif bersifat masam. Thiobacillus sp.dan T. ferrooxidans lebih tinggiOrganisme ini telah berevolusi agar mampu dibandingkan penggenangan 25 cm di atasmengeksploitasi lingkungan-lingkungan asam yang permukaan tanah selama 1 (satu) bulan (G1W1).terjadi secara alami, sehingga memberikan potensi Hal ini menunjukkan bahwa ketika tanah dalamuntuk perkembangan dan pertumbuhan selnya. keadaan reduksi kemudian mengalami oksidasiTipe lingkungan asam ini biasanya berasosiasi melalui drainasetanah maka populasi bakteridengan deposit-deposit pirit FeS2 atau S. pengoksidasi besi dan sulfur menjadi bertambah. Namun penggenangan tepat di atas permukaanTabel 1. Sifat kimia dan biologi tanah tanah sulfat tanah (G2) dan 15 cm di bawah permukaan tanah masamdi Kalimantan Selatan (G3) dengan 4 jam tergenang dengan 20 hariTable 1. Chemical and biological characteristics dikeringkan (W3) setiap hari selama satu bulan tidak inacid sulphate soil of South Kalimantan . menunjukkan pertambahan populasi Thiobacillus sp.Hal ini menunjukkan bahwa tanah yangsudah Sifat Tanah Nilai mengalami oksidasi (penggenangan tepat di atas pH 3,66 permukaan tanah (G2) dan 15 cm di bawah 2- SO4 terlarut (ppm) 1337,55 permukaan tanah (G3)), walaupun tiap hari 14 Thiobacillus sp. (sel/gr tanah) 2,5 x 10 digenangi seperti kondisi semula dan dikeringkan 7 T. ferrooxidans (sel/gr tanah) 1 x 10 secara perlahan-lahan setiap hari (oksidasi kembali) maka tidak menyebabkan pertambahan populasi Rata-rata populasi bakteri Thiobacillus sp. Thiobacillus sp.setelah perlakuan penggenangan dan drainase 14 14berkisar antara 1,50 x 10 - 2,50 x 10 sel/gr tanah 003 dinyatakan dalam x 1014 Populasi (sel/gr tanah) 002 002 001 001 000 G1W1 G1W2 G1W3 G2W1 G2W2 G2W3 G3W1 G3W2 G3W3 Perlakuan Penggenangan dan PengeringanGambar 3. Populasi bakteri Thiobacillus sp. setelah perlakuan penggenangan dan pengeringan pada tanah sulfat masam.Figure 3. Population of Thiobacillus sp. bacteria after treatment flooding and draining in acid sulphate soils.Agroscientiae Volume 19 Nomor 1 April 2012 25
  • Zuraida T. Mariana, Fakhrur Razie, dan M. Septiana 002 dinyatakan dalam x 107 Populasi (sel/gr tanah) 002 001 001 000 G1W1 G1W2 G1W3 G2W1 G2W2 G2W3 G3W1 G3W2 G3W3 Perlakuan Penggenangan dan PengeringanGambar 4. Populasi bakteriThiobacillusferrooxidanssetelah perlakuan penggenangan dan pengeringan pada tanah sulfat masam.Figure 4. Population of Thiobacillus ferrooxidans bacteria after treatment flooding and draining in acid sulphate soils. Populasi bakteri Thiobacillus sp. lebih tinggi energinya.daripada populasi bakteriThiobacillus ferrooxidans Sumber belerang dalam tanah sulfat masampada semua perlakuan penggenangan dan berasal dari pirit (FeS2). Selama proses pelapukan,pengeringan (Gambar 3 dan 4). Populasi bakteri S-dalam pirit dioksidasi menjadi bentuk S-SO4.Thiobacillus sp.dan Thiobacillus ferrooxidans Dalam bentuk S-anorganik inilah, belerangtertinggi terlihat pada perlakuan yang sama, yaitu diasimilasi oleh bakteri Thiobacillus sp yangpenggenangan selama 2 jam pada 25 cm di atas selanjutnya diinkoporasikan dalam jaringanpermukaan tanah dan pengeringan selama 22 jam tubuhnya (biomassa) yang dikenal dengan prosessecara perlahan-lahan (G1W2).Hal ini diduga immobilisasi. Selanjutnya ketika S-organik masukdengan pengeringan tanah menyebabkan bakteri ke dalam tanah akan terurai kembali melalui prosestersebut dapat mengambil oksigen yang masuk ke mineralisasi dan menjadi sumber utama S bagidalam tanah lebih banyak dibandingkan perlakuan pertumbuhan tanaman dan bakteri Thiobacillus spyang lain sehingga populasinya bertambah. itu kembali .Kehadiran oksigen di dalam tanah adalah penting Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwabagi kehidupan mikroba. Oksigen tidak saja pada semua perlakuan baik pada tanah yangdiperlukan untuk respirasi, tetapi juga penting untuk mengalami oksidasi ataupun reduksi (tergenangkelangsungan reaksi oksidasi kimia dan atau biologi terus menerus selama 1 bulan pengamatan) masihdi dalam tanah sehingga akan mempengaruhi terdapat populasi bakteri Thiobacillus sp danterhadap pertumbuhan mikroba. Dampak adanya Thiobacillus ferrooxidans. Hal ini menunjukkanoksigen yang terlarut dalam air tanah tersebut bahwa kedua bakteri ini mampu hidup danmengakibatkan pirit yang ada dalam tanah berkembang pada kondisi oksigen yang rendah. 3+teroksidasi sehingga menghasilkan besi ferri (Fe ) Menurut Pronk et al (1990), bakteri Thiobacillus 2-dan sulfat (SO4 ). ferrooxidans merupakan bakteri gram negatif, Di samping itu, bakteri Thiobacillus sp.dan aerobik dan khemolitoautotrof obligat. Namun jikaThiobacillus ferrooxidans bersifat khemooautotrof kita lihat berdasarkan atas dasar reaksiyaitu organisme yang memperoleh energi dari mikroorganisme terhadap oksigen (adanyaoksidasi senyawa anorganik dan menggunakan CO2 pengeringan tanah), maka dapat diduga bahwasebagai sumber utama karbon (Nordstrom, 1982; kedua bakteri tersebut bersifat mikroaerofilMansur Mashum, et al. 2003; Handayanto dan (organisme aerob obligat yang berkembang baikHairiah, 2007). Thiobacillus ferrooxidans mampu pada kandungan oksigen yang rendah).Wako et al. 2+ 3+mengoksidasi Fe menjadi Fe dan mengoksidasi (1984) dan Jaynes et al. (1984) dalam Mensvoortsenyawa-senyawa sulfur tereduksi serta and Dent (1998) menyebutkan bahwa kondisimemanfaatkan oksidasi ini sebagai sumber optimum untuk oksidasi pirit sama dengan kondisi26 Agroscientiae ISSN 0854-2333
  • Populasi Bakteri Pengoksidasi Besi dan Sulfur……optimum untuk oksidasi besi oleh Thiobacillus Mansur Mashum, Joedoro Soedarsono, dan Lolitaferrooxidans yaitu konsentrasi oksigen > 0,01 mole Endang Susilowati. 2003. Biologi Tanah.fraksi (1 %). Pada tanah yang mengalami reduksi CPIU Pasca IAEUP Bagpro Peningkatan(tergenang terus menerus selama 1 bulan Kualitas Sumberdaya Manusia Direktoratpengamatan) tetapi konsentrasi oksigennya masih Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemenlebih dari 1%maka masih ditemukan adanya Pendidikan Nasional. Jakarta.populasi kedua bakteri tersebut.Bila tanah digenangi Mensvoort MEF van and Dent DL. 1998. Aciddifusi gas ke dalam massa tanah terputus,namun Sulphate Soils. In. Lal R, Blum WH, Valintinemasih ditemukan adanya lapisan oksidasi pada C, and Stewart BA.(Ed). Method fortanah tergenang(0,5 – 10mm) tergantung jumlah Assesessment of soil Degradation. Florida.oksigen yang larut pada tanah tergenang. Nordstrom, D. K. 1982. Aqueous pyrite oxidationSIMPULAN and the Consequent Formation of Secondary1. Rata-rata populasi bakteri Thiobacillus sp. Iron Minerals. InAcid Sulfate Weathering. setelah perlakuan penggenangan dan drainase SSSA Special Publication Number 10. (pengeringan secara perlahan-lahan) berkisar Published by the Soil Science Society of 14 14 antara 1,50 x 10 - 2,50 x 10 sel/gr tanah dan America. Madison, Wisconsin. rata-rata populasi bakteri Thiobacillus 6 Nurseha. 2000. Isolasi dan uji aktivitas bakteri ferrooxidans berkisar antara 8,33 x 10 - 2,00 x 7 asidofil pengoksidasi besi dan sulfur dari 10 sel/gr tanah. ekosisten Air Hitam. Program Studi Ilmu2. Populasi bakteri Thiobacillus sp.dan Thiobacillus Tanah. Progran Pasca Sarjana Institute ferrooxidans tertinggi terdapat pada perlakuan Pertanian Bogor. Bogor. yang sama yaitu penggenangan selama 2 jam pada 25 cm di atas permukaan tanah dan Pronk J.T., R. Meulenberg, W. Hazeu, P. Bos and pengeringan selama 22 jam secara perlahan- J.G. Kuenen. 1990. Oxidation of reduced lahan selama 1 bulan (G1W2). inorganic sulphur compounds by acidophilic3. Tanah sulfat masam yang mengalami thiobacilli. FEMS Microbiology Reviews 75. pengeringan (drainase) menyebabkan populasi Netherlands. bakteri pengoksidasi besi dan sulfur meningkat. Schlegel, H.G and Karin Schmidt. 1994.DAFTAR PUSTAKA Mikrobiologi Umum. Terjemahan Prof. Dr. R.M. Tedjo Baskoro. Gajah Mada University Press.Dent, D. 1986. Acid Sulphate Soils : A Baseline for Yogyakarta. Research and Development. Wageningan Subagyo H. 2006. Klasifikasi dan PenyebaranHakim. N., M. Yusuf Nyakpa, A.M. Lubis, Sutopo Lahan Rawa. Dalam Karakteristik dan Ghani Nugroho, M. Amin Diha, Go Ban Hong, Pengelolaan Lahan Rawa. Balai Besar H.H. Bailey. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Penerbit Universitas Lampung. Lahan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. DepartemenHandayanto E and K, Hairiah. 2007. Biologi Tanah: Pertanian. Bogor. Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Pustaka Adipura. Yogyakarta. Untung, S.R. 1999. Isolating Thiobacillus ferrooxidans from the Cikotok Gold Mine forHicks W.S., G.M. Bowman and R.W. Fitzpatrick. leaching purposes. Indon. Min. J. 5(2) : 54-60 1999. East Trinity acid sulfate soils Part 1 : Enviromental hazards. Technical Report 14/99. CSIRO Land and Water. Queensland.Konsten, C.J.M. and M. Sarwani. 1992. Actual and potential acidity and related chemical characteristics of acid sulphate soils in Pulau Petak, Kalimantan. In Workshop on Acid Sulphate Soil in the Humid Tropic. Bogor. Indonesia.Mariana, Z.T., F. Razie, M. Septiana. 2007. Aktivitas bakteri asidofil pengoksidasi besi dan sulfur pada lahan pasang surut Kalimantan Selatan. Jurnal Agritek 15 (4)Agroscientiae Volume 19 Nomor 1 April 2012 27