• Like
  • Save
Guru yang baik
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Guru yang baik

on

  • 375 views

mari kita merenung sejenak, apakah kita termasuk guru yang sudah baik?

mari kita merenung sejenak, apakah kita termasuk guru yang sudah baik?

Statistics

Views

Total Views
375
Views on SlideShare
375
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
0
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via

Usage Rights

CC Attribution License

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Guru yang baik Guru yang baik Document Transcript

    • GURU YANG BAIKKetika ada yang menyebut saya sebagai guru yang baik, saya merasa senang sekali,walaupun saya sendiri tidak pernah langsung mendengarnya. Ternyata banyak pulaorang yang merasa senang jika disebut yang baik, seperti misalnya jika disebutorang tua yang baik, anak yang baik, bapak polisi yang baik, ibu dokter yangbaik dan lain sebagainya.Masalahnya sekarang adalah ungkapan kata yang baik itu sebenarnya baik buatsiapa? Guru yang baik dalam pandangan siswa, belum tentu baik bagi para orangtuanya. Baik bagi orang tua, belum tentu baik bagi kepala sekolah. Demikianseterusnya yang baik bagi kepala sekolah belum tentu baik pula bagi rekan-rekanguru dan bapak ibu pengawas, dan sebagainya. Kiranya benarlah kata orang bijak,bahwa tidak ada yang baik di dunia ini dalam arti yang sesungguhnya.Kalau selanjutnya masih dipakai kata yang baik, khususnya pada guru yangbaik mungkin itu berarti baik bagi dunia pendidikan dan pengajaran pada umumnyadan lebih khusus lagi mungkin bagi penyampaian pelajaran kepada anak-anak kita.Sebagai seorang guru yang selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anak,seyogyanya kita mengawalinya dengan:1. Pengakuan yang tulus, bahwa anak-anak itu pada dasarnya seorang manusia juga,yang memiliki segala sesuatu seperti kita, misalnya keinginan, cita-cita,pendapat, perasaan, pemikiran dan lain sebagainya. Atas dasar itu kita tidakmungkin bisa menganggap anak-anak itu sebagai sebuah wadah kosong yang siapuntuk diisi atau dijejali ilmu sesuka kita. Malah sebaliknya kita bisa mengajakmereka ikut memikirkan misalnya bagaimana menangguulangi beban pelajaran yangdemikian banyak atau memilih bagian pelajaran mana yang ingin didahulukan dansebagainya.2. Sebagai seorang guru kita juga harus selalu ingat, bahwa kita ini banyak yangmengawasi atau memperhatikan. Siswa memperhatikan guru dari ujung kakisampai ujung rambut. Sedikit saja ada kelainan atau kebiasaan yang tak lazim,pasti diketahuinya dan tidak jarang juga dijadikan bahan tertawaan ataupanggilan, sebutan bagi guru itu sendiri. Orang tua juga memperhatikan gurudengan cermat. Seringkali malah dijadikan contoh yang baik, maupun yang tidak.Rekan guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, yayasan juga turut mengawasi guru,walaupun umumnya terfokus pada bidang pekerjaan guru.3. Walau demikian kita tidak perlu salah tingkah atau kaku, yang penting kitaharus selalu correct dalam setiap kata dan perbuatan. Dan jangan lupa kitajuga punya nama korp Guru. Di sana yang berbuat, guru di sini juga ikut malu,demikian juga sebaliknya. Juga perlu diingat, bukankah anak-anak lebih menurutpada apa yang kita perbuat daripada yang kita katakan?4. Menguasai bahan pengajaran mutlak perlu. Apa jadinya jika pengetahuan kitasetengah-setengah? Yang jelas pengetahuan anak jadi samar-samar, pikirannya jadikacau. Yang fatal akan tumbuh dalam dirinya sifat negatif. Mereka tidak akanlagi menyukai pelajaran untuk selamanya. Menguasai bahan pengajaran, tidakberarti harus hafal di luar kepala. Tetapi lebih pada tujuan yang harus dicapaibaik secara umum terlebih lagi secara khusus. Dan untuk lebih memotivasi anak-anak, selain mereka harus tahu tujuan, juga keterkaitan bahan tersebut dengankeseharian hidup mereka atau dengan kehidupan mereka kelak. Penyajian secarasistematik dalam urutan yang benar, pemberian rangkuman, apalagi jikadisampaikan dengan metode yang tepat, akan lebih meyakinkan hasilnya.5. Istilah pengajaran diganti pembelajaran, karena pada pengajaran lebih terasakeaktifan guru daripada keaktifan belajar siswa. Kita harus yakin bahwa belajarhanya mungkin bila ada aktifitas belajar. Adalah tugas kita semua guru dan orangtua mencari dan memikirkan bagaimana mengaktifkan mereka belajar. Bagaimanacaranya agar mereka mau belajar, karena memang ingin belajar dan bukan karenapaksaan atau mengharapkan sesuatu? Anak sudah mau membaca buku kesehatan, itumemang bagus. Akan lebih bagus lagi jika mereka mau memahaminya dengan
    • membicarakan atau mendiskusikannya, tetapi yang paling baik lagi, jika merekamau melaksanakannya. Bukankah begitu?Sekarang bagaimana? Sulitkah? Sebenarnya tergantung pada diri kita sendiri. Kitasendiri jugalah yang menentukan syarat-syarat bagi kita agar dapat disebut guruyang baik. Dan sekali lagi semuanya tergantung dari seberapa besar kecintaankita terhadap anak-anak pada khususnya?Semoga kita layak disebut guru yang baik....