Makalah pi (dampak perdagangan bebas)

28,247 views

Published on

0 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
28,247
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
6
Actions
Shares
0
Downloads
422
Comments
0
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah pi (dampak perdagangan bebas)

  1. 1. Dampak Perdagangan Bebas (Globalisasi) Terhadap Ekonomi Politik Indonesia Serta AntisipasinyaJuly 30, 2012Written by Alrisa Ayu Candra Sari – Mahasiswa AdministrasiNegara FISIP Universitas JemberBAB I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang Era globalisasi dewasa ini menjadi kenyataan yangharus dihadapi oleh setiap negara, tidak terkecuali Indonesia.Proses interaksi dan saling pengaruh-mempengaruhi, bahkanpergesekan kepentingan antar bangsa terjadi dengan sangat cepatdan menyangkut masalah yang semakin kompleks. Batas-batasteritorial negara pun sekarang tidak lagi menjadi pembatas bagikepentingan masing-masing negara. Di bidang ekonomi dan politikterjadi persaingan seperti perdagangan bebas yang semakin ketat,sehingga semakin mempersulit posisi negara-negara miskin.Sebagai anggota masyarakat dunia, Indonesia pasti tidak dapatdan tidak akan mengasingkan diri dari pergaulan internasionalitu, terutama dalam perdagangan bebas. Andaikata terasingkanpun, tentunya Indonesia tidak akan mampu memenuhi segalakebutuhannya sendiri. Yang artinya, bahwa di dalam hubunganinternasional itu ada suatu hubungan serta ketergantunganantara satu negara dengan negara yang lainnya.Berkaitan dengan hal tersebut, tentunya memberikan tekananglobal tersendiri bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia
  2. 2. khususnya. Yang mana akan memberikan efek ataupun dampakpositif maupun negatif. Dan dari dampak-dampak tersebutdiperlukan suatu antisipasi agar keadaan ekonomi politikIndonesia mengalami stabilitas serta tidak mengalamikemunduran yang lebih jauh. Maka dari itu, penulis akanmembahas dan mengkaji dampak-dampak perdagangan bebasterhadap bidang ekonomi politik serta bagaimana caramengantisipasinya, dimana cara atau upaya antisipasi tersebutada yang sudah terealisasi untuk diterapkan dan ada juga yagbelum, di dalam makalah yang berjudul “Dampak PerdaganganBebas terhadap Ekonomi Politik Indonesia serta Antisipasinya”.1.2. Rumusan MasalahAdapun karena terdapat ketentuan yang membatasi penulisanmakalah ini dan adanya keterbatasan waktu, maka penulismemfokuskan permasalahan makalah ini hanya pada:1.2.1. Apa sajakah dampak-dampak perdagangan bebas terhadapbidang ekonomi politik Indonesia?1.2.2. Bagaimana upaya Indonesia dalam mengantisipasi dampak-dampak perdagangan bebas terhadap bidang ekonomi politik itusendiri?1.3. Tujuan Penulisan1.3.1. Untuk mengetahui dan memahami apa saja dampak-dampak akibat adanya perdagangan bebas terhadap bidangekonomi politik di Indonesia.1.3.2. Mengetahui bagaimana upaya yang ditempuh Indonesiadalam mengantisipasi dampak-dampak euforia perdagangan bebas
  3. 3. agar tidak sampai mengganggu stabilitas ekonomi politikIndonesia.1.4. Manfaat Penulisan1.4.1. Dapat mengetahui dan memahami apa saja dampak-dampak terhadap bidang ekonomi politik akibat adanyaperdagangan bebas di Indonesia.1.4.2. Memberikan pengetahuan dan pengalaman pada pembaca,tentang upaya apa saja yang ditempuh Indonesia, baik itu yangsudah terealisasi untuk diterapkan maupun belum dalammengatasi dampak-dampak dari perdagangan bebas di bidangekonomi politik agar tidak sampai mengganggu stabilitasnasional, sehingga dapat untuk perbaikan Indonesia ke depan.BAB II. TINJAUAN PUSTAKA2.1. GlobalisasiPerbincangan tentang globalisasi mulai ramai dibicarakan sekitartahun 1980-an. Kataglobalize dan globalism diperkenalkan olehsebuah buku kecil yang terbit pada tahun 1944, sementarakata globalization masuk ke dalam kamus untuk pertama kalinyapada tahun 1961 (Reiser dan Davies. 1944:212, 219; Webster.1961; Ikbar. 2006). Banyak definisi dari globalisasi ini, salahsatunya menurut Martin Khor (dalam Ikbar, 2006: 205)mengatakan, “Globalisasi adalah apa yang oleh kita dari DuniaKetiga selama beberapa abad dikenal dengan kolonialisasi.” [1]Dari definisi tersebut ada yang melihat globalisasi sebagai sebuahproyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa . Dari sudutpandang ini, globalisasi tidak lain adalah kolonialisasi ataukapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara
  4. 4. yang kuat dan kaya pasti akan mengendalikan ekonomi duniadan negara-negara berkembang dan tertinggal makin tidakberdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab globalisasicenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia.2.2. Perdagangan BebasPerdagangan bebas adalah sebuah konsep ekonomi yangmengacu kepadaHarmonized Commodity Description andCoding System (HS) dengan ketentuan dari World CustomsOrganization yang berpusat di Brussels , Belgium . penjualanproduk antar negara tanpa pajak ekspor-impor atau hambatanperdagangan lainnya.Perdagangan bebas dapat juga didefinisikan sebagai tidak adanyahambatan buatan (hambatan yang diterapkan pemerintah) dalamperdagangan antar individual-individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda.[2]2.3. Ekonomi PolitikDalam penggunaannya secara tradisional, istilah ekonomi politikdipakai sebagai sinonim atau nama lain dari istilah ilmu ekonomi.Fokus dari studi ekonomi politik adalah fenomena-fenomenaekonomi secara umum, yang bergulir serta dikaji menjadi lebihspesifik , yaitu menyoroti interaksi antara faktor-faktor ekonomidan faktor-faktor politik. Namun, dalam perkembangan yangberikutnya, istilah ekonomi politik selalu mengacu pada adanyainteraksi antara aspek ekonomi dan aspek politik.[3]Adanyakelemahan instrumental ini menyebabkan banyak kalanganilmuwan dari kedua belah pihak-berusaha untuk mempertemukantitik temunya, sehingga para ilmuwan ini berusaha untukmencoba mengkaji hal ini dengan menggunakan pendekatan-
  5. 5. pendekatan dalam ekonomi politik.[4] Dalam upayamemaksimalkan studi mengenai ekonomi politik, juga tidak bolehterlepas dari sistem ekonomi di negara yang bersangkutan. Terkaitdengan hal tersebut, setidaknya dalam berbagai jenis yang ada,terdapat dua sistem ekonomi besar dunia yang dibagi menjadi duakategori pokok, yakni sistem ekonomi yang berorentasi pasar(ekonomi liberal ) dengan sistem ekonomi terencana atau yanglebih dikenal sebagai sistem ekonomi terpusat (sosialis ).BAB III. PEMBAHASAN3.1. Perdagangan Bebas sebagai Dampak GlobalisasiDi zaman yang serba modern seperti saat ini, perdagangan bebastelah menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Hampirseluruh negara di dunia telah dipengaruhi oleh sistem ekonomiperdagangan bebas, atau yang dikenal dengan free trade ini. Perlukita ketahui bahwa globalisasi ini merupakan sebuah sistem yangberani menembus ruas dunia sehingga menghilangkan batas-batas negara. Namun, perlu dicatat pula bahwa globalisasi tidakakan pernah ada jika negara itu benar-benar tidak ada.Dalam globalisasi sebenarnya peran negara yang paling utamaadalah sebagai „alat pengukur‟, yang bisa menyebabkan seseorangtahu globalisasi tengah berperan jika dia tidak sedangberhubungan dengan temannya yang berada di negara lain ataubisa juga jika dia tidak sedang menggunakan produk dari negaralain. Maka dari itu, negara mempunyai peran besar yaitu sebagaipengukur keberadaan sistem globalisasi ini. Di samping itu, perannegara adalah menjalankan sedikit urusan yang tidak bisadikerjakan sendiri oleh individu, yaitu memaksimalkankesejahteraan individu seperti dengan pembentukan sistemhukum, jaminan keamanan nasional, dan pembuatan uang.
  6. 6. Pertumbuhan perdagangan dunia pun meningkat secara drastis.Akselerasi trend ini yang diharapkan terjadi oleh kaum liberalseiring dengan semakin meningkatnya teknologi informasi dantelekomunikasi. Dengan semakin terintegrasinya perdagangandunia, maka hubungan perekonomian negara-negara akansemakin interdependen. Akan tetapi proyeksi ini menyimpanbeberapa permasalahan terutama dengan semakinberkembangnya praktek neomerkantilisme oleh Amerika Serikat,hegemoni dunia yang sedang menuruni puncak popularitasekonomi akibat krisis finansial global yang belum lama inimelanda.3.2. Perdagangan Bebas di IndonesiaWacana perdagangan bebas sebagai jalan menuju kesejahteraanmasih terus diperdebatkan khususnya di Indonesia. Di mediamassa masih sering termuat berbagai retorika politisi maupunpemain industri dalam negeri yang meneriakkan pentingnyaproteksionisme. Kemudian meskipun telah banyak literatur ilmuekonomi yang menunjukkan secara meyakinkan bahwaperdagangan bebas membawa lebih banyak manfaat bagi banyakorang dari pada sebaliknya, namun tampaknya hal itu saja belumcukup untuk membimbing pembuatan kebijakan publik yang lebihcenderung tunduk pada kekuatan lobi pro proteksi. Meskidemikian, sebagian dari pengambil kebijakan Indonesia(pemerintah) percaya pada manfaat perdagangan bebas juga,terbukti dari tarik-ulur yang kadangkala muncul di media massakita. Perhitungan ekonomi politik pastilah penyebab tarik-menarikini. Harus diakui pembuatan kebijakan memang perluperencanaan dan perhitungan yang matang.Seiring dengan munculnya perdagangan bebas itu, nasionalismedan proteksionisme menjadi lebih terlihat. Apalagi Indonesia juga
  7. 7. akan memasuki era perdagangan bebas wilayah ASEANatau ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada tahun 2015.[5] Jadi, isunasionalisme dalam konteks perdagangan pun semakin penting.Hal ini bertujuan agar produk Indonesia bisa menjadi tuan rumahdi negeri sendiri. Memang kesepakatan Indonesia dalam perjanjianorganisasi perdagangan bebas yang biasa disebut World TradeOrganization (WTO) masih menuai kontroversi. Karena sebagiankalangan menilai Indonesia belum layak turut serta dalamperdagangan bebas. Namun, karena Indonesia terlanjurmenyetujui perjanjian WTO, maka mau tidak mau Indonesia harusmenyiapkan diri menyongsong perdagangan bebas. Inilah hargayang harus dibayar akibat menganut sistem ekonomi terbuka.Meskipun dalam prakteknya justru produk-produk asing terutamaproduk Cina yang membanjiri pasar Indonesia.Era globalisasi yang telah dimulai bukan saja berpengaruh padahubungan luar negeri bangsa ini, namun lebih dari itu, asumsidasar perekonomian nasional juga sebenarnya telah semakinbergeser. Indonesia yang memiliki basis perekonomian kerakyatan,tentunya mengalami tantangan terhadap paham ekonomi liberalyang berasaskan kompetisi bebas dan bersifat individu maupunkelompok. Era perdagangan bebas yang menjadi salah satusenjata dari ekonomi liberal, saat ini telah ada di depan mata, danIndonesia menjadi salah satu negara yang meratifikasinya.Harapan kita sekarang hanyalah adanya kesiapan dankemampuan secara mental, sistem sosial budaya, politik, sertaekonomi bangsa kita dalam menghadapi ancaman globalisme-kapitalistik ini. Sehingga tidak memudahkan pengintegrasianperekonomian Negara Indonesia ke dalam genggaman parapemodal negara-negara kaya.[6]
  8. 8. 3.3. Dampak Perdagangan Bebas terhadap Ekonomi PolitikIndonesiaDengan adanya perdagangan bebas, perusahaan-perusahaantransnasional dan pasar modal dunia membebaskan bisnis darikekuasaan politik tanpa distorsi oleh intervensi negara.Dikonklusikan bahwa aktivitas bisnis yang primer dan kekuasaanpolitik tidak mempunyai peran lain kecuali perlindungan sistemterhadap perdagangan bebas dunia. Akibatnya, peran negarasebagai alat untuk mensejahterakan rakyat semakin tereduksioleh kekuatan pasar yang tidak mempunyai agenda sosial danusaha pengentasan kemiskinan. Kondisi ini berimplikasi terhadaprelasi sosial yang selalu diukur dari pendekatan dan solusi pasar,serta prinsip ekonomi pasar yang juga dijadikan tolok ukur untukmengevaluasi berbagai kebijakan, yang selanjutnya akanmelahirkan arogansi kekuatan kapital dan negara berperansebagai „tukang stempel‟ bagi mereka. Yang mana dalam hal iniakumulasi modal menjadi prasyarat isi material kelembagaannegara.Selain itu dengan adanya perjanjian-perjanjian dengan organisasiperdagangan versi WTO dapat menyebabkan adanya hambatannontarif yang sangat merugikan, dimana hal ini sengajadiciptakan seperti yang terjadi saat ini. Kebijakan nontarif imporini memaksa penghapusan satu-satunya bentuk proteksi yangtersisa oleh negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesiaterhadap penetrasi pasar dalam negeri oleh kekuatan-kekuatanimperialis. Tetapi negara-negara imperialis dapat membatasipenetrasi terhadap pasar dalam negeri mereka terhadap ekspordari negara-negara dunia ketiga melalui penerapan serangkaianhambatan-hambatan nontarif yang kokoh.
  9. 9. Sedangkan pada negara dunia ketiga atau Indonesia, denganadanya hambatan nontarif sudah tentu akan menyebabkanbanjirnya barang impor karena mudahnya barang luar negerimasuk ke pasar dalam negeri serta adanya peralihan impor dariyang tadinya ilegal menjadi legal. Maka dengan ini agendapemberdayaan ekonomi rakyat akan semakin terpuruk akibatdesakan kuat dari komoditas-komoditas asing yang notabene telahmengekspansi secara simultan, dan benturan antarapemberdayaan ekonomi rakyat dengan pasar bebas pun tidakdapat terelakkan. Yang semua ini menyebabkan semakinbanyaknya angka pengangguran dan akhirnya melumpuhkanperekonomian nasional. Sebenarnya dibalik semua ini adakepentingan dari negara-negara maju, yaitu agenda penaklukankembali pasar dalam negeri negara-negara dunia ketiga. Yangmana inilah tujuan mendasar dibalik tekanan kekuatan negara-negara imperialis terhadap pasar bebas.Di lain sisi dampak positif yang dapat diambil dari liberalisasiperdagangan versi WTO ini tidak mempunyai peran signifikandalam usaha peningkatan sumber daya yang ada maupun produkyang akan dihasilkan. Selain itu dengan adanya perdaganganbebas hanya akan lebih dinikmati oleh segelintir orang ataukelompok tertentu saja yang mempunyai kekuatan kapital kuatdan sebagian besar lainnya lebih dirugikan. Karena merekadijadikan tidak produktif dan hanya dijadikan sebagai konsumenyang baik saja.[7]3.4. Upaya Antisipasi Indonesia dalam MenghadapiPerdagangan BebasMelihat dampak yang lebih banyak merugikan tersebut, kiranyaperlu dilakukan antisipasi yang cepat dan menyeluruh. Dalammengantisi dampak-dampak perdagangan bebas yang cenderung
  10. 10. kurang menguntungkan bagi Indonesia tersebut, ada beberapaupaya yang telah ditempuh maupun belum ditempuh olehpemerintah. Beberapa bentuk upaya antisipasi yang belummaupun sudah ditempuh Indonesia antara lain: 1. Memberikan pendidikan kepada masyarakat untuk lebih mencintai produk dalam negeri dengan terus meningkatkan mutu produk- produk dalam negeri agar lebih berkualitas. Misalnya dengan menggiatkan program Aku Cinta Produk Indonesia (ACI ). [8] 2. Melakukan negosiasi ulang kesepakatan perdagangan bebas itu atau minimal menundanya, terutama untuk sektor-sektor yang belum siap. 3. Melakukan seleksi produk untuk melindungi industri nasional. 4. Mencabut pungutan retribusi yang memberatkan dunia usaha di daerah, agar industri lokal menjadi lebih kompetitif. 5. Pengetatan pemeriksaan barang masuk di pelabuhan harus dilakukan juga, karena negara lain juga melakukan hal yang sama. 6. Memberikan kemudahan dalam bentuk pendanaan, dengan cara kredit usaha dengan bunga yang rendah. 7. Mengaktifkan rambu-rambu nontarif, seperti pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI), ketentuan label, dan sejumlah peraturan lainnya terkait dengan pengamanan pasar dalam negeri.[9]
  11. 11. 8. Memperbaiki berbagai kebijakan ekonomi untuk menghadapi perdagangan bebas.Tetapi secara jangka panjang langkah-langkah tersebut tidak bisadigunakan secara permanen. Sebagai bagian dari masyarakatdunia, bangsa ini tidak bisa mengelak dari kebijaksanaan globaltersebut. Masyarakat industri harus berjuang dengan keras untukmemenangkan persaingan global yang semakin mengancamtersebut, maka di sini dibutuhkan suatu kejelian. Oleh karena itu,negara dunia ketiga harus saling membahu dalam menciptakantata dunia yang adil dengan menggalang seluruh kekuatan yangtersedia, baik dalam bentuk kebijakan maupun koalisi untukpenyusunan skenario ekonomi dunia yang adil agar eksploitasitidak kembali terjadi.BAB IV. PENUTUP4.1. KesimpulanDari pembahasan dalam bab sebelumnya, dapatlah ditarik suatukesimpulan seperti di bawah ini:4.1.1. Dampak positif yang ditimbulkan akibat adanyaperdagangan bebas di Indonesia terhadap bidang ekonomi politik,seperti memperluas pasar dan menambah keuntungan sertaadanya transfer teknologi, ternyata tidak dirasakan secarasignifikan oleh segala kalangan. Justru yang dirasakanadalah pertama peran negara sebagai alat untuk mensejahterakanrakyat semakin tereduksi oleh kekuatan pasar yang tidakmempunyai agenda sosial dan usaha pengentasankemiskinan. Kedua, Adanya hambatan nontarif yangmenyebabkan tingginya tingkat pengangguran, kemiskinan,ketidakseimbangan, dan lumpuhnya perekonomian nasional.
  12. 12. 4.1.2. Beberapa upaya yang telah maupun belum terealisasiditempuh oleh pemerintah Indonesia dalam mengatasi dampak-dampak dari perdagangan bebas di bidang ekonomi politik, antaralain yang paling mendasar dan pokok ialah dengan memperbaikikebijakan ekonomi politik Indonesia terkait dengan perdaganganbebas, menanamkan pendidikan cinta produk dalam negeri sejakdini, serta meningkatkan kualitas produk-produk di dalam negeri.4.2. SaranSaran dari penulis yang mungkin dapat memberikan sedikitmasukan ialah:4.2.1. Pemerintah perlu memperhitungkan kembali sistemekonomi Indonesia yang Bebas Aktif, serta harus bisa bertindaktegas dan berpedoman pada falsafah Bangsa Indonesia yaituPancasila dalam setiap mengambil kebijakan.4.2.2. Kemudian upaya antisipasi yang belum terealisasi tersebuthendaknya segera dilaksanakan apabila dirasa dapat menstabikanekonomi politik Indonesia.4.2.3. Serta sebaiknya pengalaman dalam sejarah perkembanganbangsa Indonesia yang telah lalu dijadikan guru yang terbaik.DAF TAR PUSTAKAIkbar, Yanuar. 2006. EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL- KONSEPDAN TEORI (JILID 1). Bandung: PT Refika Aditama.Ikbar, Yanuar. 2007. EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL 2-IMPLEMENTASI KONSEP DAN TEORI . Bandung: PT RefikaAditama.
  13. 13. Indiahono, Dwiyanto. 2006. REFORMASI “BIROKRASI AMPLOP”:MUNGKINKAH?. Yogyakarta: Gava Media.Jemadu, Aleksius. 2008. Politik Global dalam Teori danPraktik. Yogyakarta: Graha Ilmu.Rachbini, Didick J. 2002. Ekonomi Politik: Paradigma dan TeoriPilihan Publik.Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia.Staniland, Martin. Apakah Ekonomi Politik Itu? Sebuah Studi TeoriSosial dan Kelatarbelakangan. Terjemahan. 2003. Jakarta:Rajawali.Sukirno, Sadono. 2006. Makroekonomi Teori Pengantar. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.Wibawa, Samodra. 2005. Reformasi Administrasi. Yogyakarta:Gaya Media.Arsip Berita. 2010. Pemerintah Pantau Dampak BurukACFTA.http://arsipberita.com/ show/pemerintah-pantau-dampak-buruk-acfta-56035.html [27 desember 2010].Benyamin, Maria. 2010. Hambatan nontarif perludioptimalkan. http://www.bsn.go.id/news_detail.php?news_id=2481 [28 DEsember 2010].Fajribudi. 2010. Pengaruh Global China, ACFTA, & PosisiIndonesia.http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2010/05/12/pengaruh-global-china-acfta-posisi-indonesia/ [27 Desember2010].Prayitno, Edy. 2007. “ANALISIS KONDISI EKONOMI POLITIKINDONESIA TAHUN 1945 –2007″.http://tulisan2.blog.dada.net/post/688123/ANALISIS
  14. 14. +KONDISI+EKONOMI + POLITIK+INDONESIA+TAHUN+1945+-+2007 [28 Desember 2010].Widodo, Slamet. 2008. Pertumbuhan Ekonomi dan PembangunanPolitik.http://learning-of.slametwidodo.com/2008/02/01/pertumbuhan-ekonomi-dan-pembangunan-politik/ [27 Desember 2010].http://arsipberita.com/show/pasar-bebas-gagal-atasi-kemiskinan-dunia-10520.html [27 Desember 2010].http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2010/05/12/pengaruh-global-china-acfta-posisi-indonesia/ [27 Desember 2010].http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_ekonomi_politik[26 Desember 2010].http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas [26 Desember2010].http://www.bsn.go.id/news_detail.php?news_id=2481[29 Desember 2010]

×