Your SlideShare is downloading. ×
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Nabi dan dogma
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Nabi dan dogma

775

Published on

Published in: Spiritual
3 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
775
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
55
Comments
3
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Francis PURWANTO SCJ
  • 2. Status questionesApakah fungsi kenabian dilanjutkan dalam komunitas Gereja? Dalam fungsi yang mana?Isi warta kenabian: samakah dengan PL? Apa yang baru dalam Gereja?Dogma, apakah mengalami proses perkembangan?Bagaimana menempatkan fungsi kenabian dalam proses perkembangan dogma?
  • 3. PlanKonteks kenabian Kenabian dan Gereja Yesus KristusSejarah Perkembangan DogmaRefleksi
  • 4. Konteks Kenabian
  • 5. Kenabian PLNãbî : Dijiwai oleh Roh Allah (2Raj 2; 1 Sam 10: 6; Hosea 9:7) Kharisma – Pewahyuan (Amos 3:7; Yer 23:18) Penyambung lidah Allah.
  • 6. Identitas NabiPathos Allah: karunia kepekaan bagi Allah yang amat berbelarasa terhadap nasib umatNya Sehati, seperasaan dengan Allah Menjadi saksi pengalaman Allah (Amos 3:1) Menyatakan kehendak Allah bagi umatNya (Mik 3:8) Keselarasan, kesesuaian, keserasian antara kehendak Allah dan Nabi
  • 7. Pewartaan Ia berbicara: diilhami, disapa oleh Allah (Yer 26:12.14-15) Ilham tergantung pada Allah (Yer 42 – Nabi menunggu selama 10 hari) Desakan Allah begitu kuat (Yes 8:11; 37:1) Sabda (Yer 1: 9-10) Dalam diri (Hos 1:2; 3:1) Tindakan nabi (Yer 16: 1-21)
  • 8. YesusIa menyatakan tanda-tanda (Mat 16:28)Semangat Nabi (Luk 11:52)Orang mengakui Yesus sebagai nabi (Mat 16:14; Luk 7:16; Yoh 4:19)Yesus dengan otoritas yang berbeda dari nabi: « Amen, Amen, aku berkata … »
  • 9. Perjanjian BaruOrang-orang yang menjadi bagian dari kelompok yang merasa terpanggil (Kis 13, 1-3 [untuk misi], 1 Kor 11:5 [fungsi dalam Liturgi]Peran kenabian: nubuat (1 Kor 15:51; 1 Tes 4:16) Moral ( Gal f:21; 1 Tes 4:2-6)
  • 10. Dinamika pelayan Gereja PerdanaKebutuhan jemaat  pelayan (teologi pelayanan)Paulus : Rasul, Kelompok 12, Nabi, Guru, Diakon, Diakon Perempuan, Pelayan, Episkopos, LeitourgosLukas: Rasul, Kelompok 12, Episkopos, Presbyteros, Penginjil, Nabi, Guru, Diakon, Pelayan.Kolose / Efesus: Rasul, Pengajar, Gembala, Nabi, Penginjil.Surat Pastoral: Rasul, Kelompok 12, Episkopos, Presbyteros, Diaokonos, Diakon (P), Guru, Bapa, Pengajar, Penginjil.
  • 11. 180-260: munculnya klerus kristiani: proses sacerdotalisasi – Liturgi – model Levitikus PLUskup – Imam – DiakonPendasaran teologi bagi fungsi ini: Cyprianus (Surat 1) model imamat PL menjadi acuanUskup: pemimpin dan sentral dalam komunitasImam mulai memimpin Ekaristi: Cyprianus (250) – Surat 5,2.Fungsi pengajaran pelan-pelan dikonsentrasikan (diserap) kepada para pelayan disekitar Liturgi khususnya Uskup, kemudian para imam (V).Fungsi kenabian  pewarta: Uskup, imam.
  • 12. Yesus Kristus - Tradisi (tradere, paradidonai – transmettre):1. Tindakan dengan mana Allah memberikan PuteraNya kepada dunia dan Putra memberikan diriNya (sengsara-wafat-bangkit), diterima oleh Gereja (Pentakosta) dan diteruskan oleh Gereja kepada dunia.2. Pewarisan Injil dalam hidup Gereja Adapun supaya Injil senantiasa terpelihara secara utuh dan hidup dalam Gereja, para Rasul meninggalkan Uskup-uskup sebagai pengganti mereka, yang “mereka serahi kedudukan mereka untuk mengajar” (DV 7) Injil tersebut, pertama-tama mereka wartakan, kemudian, melalui kehendak Allah, mereka meneruskan dalam kitab-kitab suci untuk menjadi dasar dan pedoman iman kita (Irenius Lyon, CH, III, 1,1
  • 13. 3. Tradisi yang hidup berciri kreatif * Tradisi (Karya penyelamatan dalam diri YK) diteruskan: memorial yang lalu – sekarang ini – masa depan * Peristiwa YK Kristus – Ekaristi – dalam Gereja yang hidup. * Unsur Gereja yang Hidup (now), Gereja Yesus Kristus (lampau), Gereja eskatologis * 1 Kor 11:23: Tradisi – ketegangan hidup y-n-t
  • 14. Kenabian di dalam GerejaKristus : kepenuhan WahyuKepenuhan: Sengsara – Wafat – KebangkitanWarta keselamatan bagi seluruh umat manusiaPara Rasul menjadi penerus warta keselamatanGereja meneruskan: Pewartaan - Liturgi - Cara HidupPertama-tama tugas seluruh anggota Gereja  Uskup, Imam.Fungsi Nabi  pewartaan ttg YK  Uskup, Imam
  • 15. Fungsi Kenabian1. Penerusan warta Keselamatan Yesus Kristus2. Menjaga kemurnian - menafsirkan di dalam Gereja3. Gereja yang hidup – Gereja Yesus Kristus a. Kehidupan Gereja: ruang – waktu b. Masalah-masalah kehidupan c. Masalah ajaran (Ajaran yang benar) d. Kesetiaan - kreativitas
  • 16. SejarahPerkembangan Dogma
  • 17. Locus theologicus ajaran imanGereja berkembang: jumlah umat, teritorial; umat dengan latar belakang, ekonomi, pendidikan dan ilmu yang maju.Gereja yang semakin establish: beriman akan YK dalam masyarakat baru?Latar belakang agama/keyakinan sebelum kristiani: Yunani, Gnose, Yahudi.Identitas Gereja yang baru berkembang Identitas Yesus Kristus dalam hubungan dengan Allah Identitas Gereja dalam kaitan dengan Yesus Kristus Identitas Gereja dalam kaitan dengan keselamatan.
  • 18. Zaman baru vs kesetiaan imanKomunitas (budaya, sosial, ekonomi, religiositas) mengandung persoalan-persoalan yang original yang berpotensi menimbulkan krisis: Kis 15 – Sunat Kematian para saksi mata kebangkitan Marcion (Canon KS) Identitas Yesus – (Maria) – Gereja (Konsili-konsili) Lapsis (Gereja Karthago) Rahmat dan kebebasan (Agustinus vs Pelagius)
  • 19. Jawaban Gereja (setia – kreatif)Setia kepada ajaran Yesus Kristus (dengan kontradiksinya)  Keselamatan Allah, Kabar Gembira  Salib – Kematian – Kebangkitan  Gereja sebagai penerus karya Yesus dalam Roh KudusMenemukan jawaban baru menjawab tantangan jaman.  Tradisi sunat (pembebasan Mesir, Perjanjian Musa)  Tradisi baptis (Rom 6).  4 Injil diterima (diterima oleh komunitas, dalam Liturgi, pedoman ajaran)  Menerima ketegangan: Yang Ilahi vs Yang manusiawi  Penerimaan kerahiman Allah (Gereja yang elite orang kudus vs pendosa)  Rahmat diterima vs usaha manusia diperlukan.
  • 20. Jawaban Gereja=dogma?Dalam dunia maya: kecenderungan memperluas cakupan dogma: (Silakan cek di google dalam bahasa Indonesia)Benarkah semua jawaban Gereja merupakan ajaran pokok = dogma?Bahasa Indonesia: beberapa buku karangan Cl. Groenen, Tom Jacobs.Bernard Sesboüé, (éd.), Histoire des Dogmes,
  • 21. Belajar dari Sejarah GerejaIrenius Lyon: canon dari kebenaran (CH, III, 3.1; 4.1)Eusebeus Cesarea: doktrin kristiani (Hist. Ecc II, 2.6), keputusan-keputusan synode (konsili).Yohanes Krisostomus: dogma kristiani vs dogma filsafat (Hom. VI, 2)Vincentius de Lérins (Commonitarium – 434): melawan ajaran heresi  id teneamus, quod ubique, quod semper, quod ab omnibus creditum est. Heresi: melawan ajaran kristiani yang benar Skisma: memisahkan diri dari kesatuan Gereja yang benar
  • 22. Vincentius de Lérins Teksnya hilang selama abad pertengahan Ditemukan kembali XVI dan dicetak ulang 35 x dan diterjemahkan dalam 22 bahasaBernardus Clairvaux: menyerahkan putusan dogma kepada paus (Ep. 189,5)Thomas Aquino: mempergunakan 9 x konsep dogma tapi dalam arti yang bervareasi.
  • 23. Perkembangan kata dogmaPatristik: Kerygma, doktrin, credo para rasul, pengakuan iman. Melawan heresi: canon kebenaran (1 Tim 6:5; 2 Tim 2:18 Ireneus Lyon: Regula fidei (kebenaran iman) (CH I, 9,4) Kumpulan ajaran untuk calon baptisAbad Pertengahan: veritas catholica – keseluruhan kebenaran kristiani yang diterima-dijaga-teruskan oleh Gereja Fides Fides catholica Veritas divina et catholica
  • 24. Thomas Aquino: articulus fidei Kebenaran yang langsung diwahyukan dan formal Kebenaran fundamental yang menjadi dasar iman dan hidup Bagian dari Credo
  • 25. Trente: anathema sit  tidak semua ajaran = dogma  1753 C.3: Si quis dixerit, Missae sacrificium tantum esse laudis et gratiarum actionis, aut nudam commemorationem sacrificii in cruce peravti, non autem propiatorium: vel soli prodesse sumenti; neque pro vivis et defunctis, pro peccatis, peenis, satisfactionibus et aliis necessitatibus offerri deber: anathema sit  Jika seseorang mengatakan bahwa korban misa hanyalah korban persembahan dan syukur atau hanya peringatan kurban yang dilaksanakan di salib, tapi bukan korban sebenarnya; atau barang siapa mengatakan bahwa ekaristi hanya berguna bagi mereka yang menerima Kristus dan tidak dapat dipersembahkan bagi orang yang sudah meninggal atau yang masih hidup, juga untuk penghapusan dosa, untuk pemulihan dan untuk keperluan lain: anathema sit
  • 26. Gregorius XVI 1835: magisterium merupakan lembaga yang bertanggungjawab melaksanakan tugas pengajaran dengan atoritas (DH 2739)Pius IX 1863: Tuas libenter: pertama kali kata dogma: semua yang diwahyukan dan diajarkan demikian oleh Gereja, yang harus dipercayaan sebagai iman ilahi (DH 2875) Dogma: kosa kata teknis untuk doktrin Gereja yang wajib dipercayai karena ditetapkan secara definitif Dogma: perjumpaan antara iman Gereja dan otoritas gereja
  • 27. Vatikan I (isi dogma)  Porro fide devina et catholica ea omnia credenda sunt, quae in verbo Dei scripto vel tradito continentur et ab Ecclesia sive solemni iudicio sive ordinario et universali magisterio tamquam divinitus revelata credenda proponuntur (DH 3011)  Perlu ditambahkan apa yang harus dipercayai sebagai iman yang ilahi dan katolik yakni seluruh isi KS, yang tertulis atau diteruskan oleh Tradisi dan yang Gereja minta untuk dipercayai sebagai yang diwahyukan secara ilahi, baik melalui kuasa mengajar luar biasa atau kuasa mengajar biasa dan universal  … docemus et divinitus revelatum dogma esse definimus (DH 3074)  Kami mengajarkan bahwa sebuah dogma yang diwahyukan oleh Allah …
  • 28. Vatikan II: Konsili: Pastoral – ekumenis – bukan untuk menghukum dengan dogma tertentu LG 25: kuasa mengajar uskup dan uskup Roma DV 2-5: kaitan antara Wahyu – Iman – Tradisi GS 62: proses historisitas dari rumusan dogmatik DV 24: penafsiran KS, dogma bagaikan jiwa teologi DV 10: Magisterium: service Sabda Allah UR 11: Hirarki kebenaran
  • 29. rangkumanDogma (XVIII): keputusan definitif magisterium dalam hal ajaran iman yang berkaitan dengan pewahyuan, yang harus diimani oleh semua.DoktrinKhasanah imanArticulus fideiAjaran iman
  • 30. Contoh Dogma1854 – Pius IX Bulla Ineffabilis Deus: Conceptio Immaculata Mariae (sejak saat pertama dikandungnya, diri Maria bebas dari dosa asal)1870 – Pius IX Pastor aeternus: De Romani Pontificis infallibili magisterio (Kuasa mengajar kebal salah dari Pontife Roma)1950 – Pius XII Kons. Apostolik Munificentissimus Deus: Maria diangkat dalam kemuliaan surgawi.
  • 31. Tingkatan Ajaran (global)1. Dogma definitif: Maria diangkat kesurga  dituntut persetujuan iman, wajib percaya2. Doktrin definitif: hanya tanggapan terhadap Wahyu disebut iman  penerimaan teguh; menerima dan memegang teguh3. Doktrin tidak definitif tapi otoritatif: ajaran Humanae Vitae  akal budi memadukan satu ajaran.4. Peringatan arif dan penerapan doktrin: sikap Vatikan II tentang ekumenisme  ketaatan suara hati
  • 32. Catatan tambahanDoktrin Ajaran yang berwibawa Perlu dihindari: dokrin bukan sekedar deskripsi harafiah atas realitas; doktrin tidak mengklaim sebagai fakta yang bisa diverifikasi Norma bagi orang kristiani; kebenaran yang menyelamatkan. Lindbeck: doktrin menyediakan aneka parameter untuk ungkapan teologis yang memadai dan benar, bercorak regulatif. Alister McGrath: doktrin adalah ajaran otoritagif komunal yang dianggap hakiki bagi jati diri umat kristiani.
  • 33. Catatan tambahanContoh Doktrin: Credo, kasanah iman, ajaran konsili …Tugas Gereja: menjaga kemurnian, keutuhan, meneruskan kepada semua bangsa Magisterium cathedrae pastoralis (uskup) – magisterium cathedrae magistralis (sarjana teologi) Tugas Magisterium  Mewartakan (secara otentik)  Menjaga , menafsirkan dan menjernihkan (setia –kreatif)  Mendefinisikan secara tepat
  • 34. Refleksi
  • 35. Dogma Arti luas: Kebenaran Allah bagi manusia yg diwahyukan secara definitif dalam diri YK dan diwartakan dan dinyatakan secara otentik oleh Gereja. Arti sempit (XVIII): sebuah doktrin yang dinyatakan oleh Gereja secara definitif dan perlu ditaati oleh semua orang kristiani sebagai sebuah kebenaran yang diwahyukan Allah. Mereka yang menolak kebenaran tersebut dikategorikan heresi dan dihukum Gereja. Nb. Kebenaran-kebenaran fundamental (Credo) tidak pernah didefinisikan seperti dogma modern, tetapi memiliki kekuatan mengikat seluruh Gereja.
  • 36. Dogma: kebenaran – historisitas – kebebasan – iman -ungkapan bahasa manusiaDasar teologis: Allah yang mengkomunikasikan dirinya (Yesus Kristus) secara historis, bertubuh dan kongkrit, eskatologis dan definitif. Ungkapan pewahyuan tersebut adalah definitif, mengatasi segala sesuatu, terbuka terhadap keterbatasan manusiawi.
  • 37. Definisi ajaran mengandaikan Menyangkut salah satu aspek ajaran iman Pada masa tertentu Berkaitan dengan pandangan-pandangan yang kontroversial Berkaitan dengan keselamatan umat Allah Terkait dengan Tradisi dan KSGereja sebagai locus teologicus Persoalan kongkrit dalam Gereja Penegasan bersama Kesetiaan kepada Injil Yesus Kristus dan menjawab tantangan baru
  • 38. Ajaran yang didefinisikan KS sebagai patokan tertinggi Magisterium sebagai pelayan KS bukan diatas KS Menjaga keutuhan khasanah iman Infallibilitas in credendo Umat Allah Didefinisikan dengan syarat-syarat yang sangat detail dan strict. Mempergunakan medium: bahasa manusia. Demi keselamatan umat Allah.
  • 39. KesimpulanFungsi kenabian dilanjutkan dalam fungsi Uskup pengajar otentik (imam ambil bagian), juga teologi.Magisterium cathedrae pastoralis (uskup) – magisterium cathedrae magistralis (sarjana teologi)Tujuannya: keselamatan umat Allah (LG 1)Berbagai macam cara: magisterium biasa dan magisterium luar biasa [konsili ekumenis dan ex cathedra]Perkembangan doktrinal dan perkembangan pemahaman ajaran iman.
  • 40. Bahan bacaan Bevans, S.B., Teologi dalam perspektif Global, Maumere: Ledalero, 2010. Congar, Y., Ministère et Commuion ecclésiale, Paris: Cerf, 1971. Chiron, J.-F., « Une barrière éternelle. L’autorité de l’Eglise dans la définition du dogme au XIX siècle », in RSR 94 (2006), 29-52. Darmawijaya, St., Tindak Kenabian, Yogyakarta: Kanisius,1991. Fransen, P., (éd.), Autority in the Church, Louvain: Peeters, 1983. Geffré, C., Croire et interpréter, Paris: Cerf, 2001. Gire, P., « Le dogme comme langage normatif », in RSR 94 (2006), 15-28. Groenen, C., Mariologi. Teologi & Devosi, Yogyakarta: Kanisius, 1991. Kasper, W., Dogme et Evangile, Brugge: Casterman, 1967. Kasper, W., « Dogme/Dévelopement du dogme », in Eicher, P. (éd.), Dictionnaire de Théologie, Paris: Cerf, 1988, 119-128. Kim, A., « Les énonces dogmatiques dans le contexte interculturel », in RSR 94 (2006), 77-97. Meunier, B., La Naissance des dogmes chrétiens, Paris: L’Atelier, 2000. Michael, M. (éd.), La théologie à l’épreuve de la vérité, Paris: Cerf, 1984. Osborne, K.B., Priesthood. A History of Ordined Ministry in the Roman Catholic Church, Oregon: Wipf and Stock Pub, 1989. Purwanto, F., L’ecclésiologie dans l’œuvre de Gustave Thils, Louvain-la-Neuve, 2006 Rahner, K., « Dogma », in Rahner, K. (éd.), Sacramentum Mundi, I, Banglore: Theological Pub. In India, 1975, 95-111. Sesboüé, B., Le magistère à l’épreuve, Paris: DDB, 2001.

×