Studi smart card rfid 2009
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Studi smart card rfid 2009

on

  • 1,128 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,128
Slideshare-icon Views on SlideShare
1,128
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
39
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Studi smart card rfid 2009 Studi smart card rfid 2009 Document Transcript

    • DepkominfoDepkominfoLAPORAN AKHIRSTUDI POTENSI PENGEMBANGAN INDUSTRI TIK NASIONALDALAM MENDUKUNG PENERAPAN SMART CARD DAN RFIDTAHUN 2009DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKABADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SDMPUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN APLIKASI TELEMATIKA
    • iKATA PENGANTARDengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, telah mendorongpemanfaatan teknologi pendukung seperti smart card untuk dapat diintegrasikan dalampenerapan luas di kehidupan sehari-hari.Dalam prakteknya, penerapan smart card dan teknologi derivatifnya memiliki nilai yangsangat startegis menyangkut identifikasi dan nilai suatu transaksi. Dengan manfaat atasfungsi yang dimiliki oleh smart card beserta aplikasinya maka perlu dilakukanpengkajian atas potensi pengembangan industri TIK Nasional dalam mendukungpenerapan smart card dan RFID.Studi ini merupakan upaya mengidentifikasi kondisi dan permasalahan di Indonesiasaat ini, dalam pengembangan industry TIK Nasional untuk implementasi smart carddan RFID. Hal ini menjadi isu penting bagi studi ini karena merupakan bagian dariroadmap IT yang dikeluarkan Dirjen Aptel Depkominfo.Yang diharapkan adalah, adanya suatu gambaran potensi pengembangan industri TIKNasional dalam mendukung penerapan smart card dan RFID di Indonesia. Dengandemikian maka kerangka kerja yang disusun akan menjadi acuan atau pedoman bagipengambil kebijakan.Jakarta, Maret 2009.Tim Peneliti:Drs. Akmam Amir, MKomDr. Moedjiono, M.Sc.Tim PT. Sewun Indo KonsultanTim Staf Puslitbang Aptel Balitbang SDM DepkominfoJakarta, November 2009Kapuslitbang Aptel, SKDIAkmam Amir
    • iiDAFTAR ISIDaftar Isi ………………………………………………………………………….... iiDaftar Gambar ……………………………………………………………………. ivDaftar Tabel ………………………………………………………………………. vBab 1 Pendahuluan ……………………………………………………………… 11.1 Latar Belakang ……………………………………………………… 11.2 Perumusan Masalah ………………………………………………. 51.3 Maksud dan Tujuan Penelitian …………………………………… 61.4 Kegunaan Penelitian ………………………………………………. 71.5 Manfaat Penelitian …………………………………………………. 71.6 Ruang Lingkup Pekerjaan ………………………………………… 8Bab 2 Tinjauan Permasalahan ………………………………………………… 112.1 Latar Belakang …………………………………………………….. 112.2 Perkembangan Pemanfaatan Smart Card ……………………… 122.2.1 Pemakaian Smart Card di Beberapa Negara …………… 122.2.2 Pemanfaatan Smart Card di Beberapa Negara Asia dan Eropa132.2.3 Pengalaman Negara Maju dalam Pengembangan Smart Card 162.2.4 Layanan Teknologi Paling Berpengaruh di Dunia Tahun 2008 272.3 Menuju Masyarakat Informasi Indonesia (E-Indonesia) ……….. 372.3.1 Permasalahan Umum yang Dihadapi …………………… 382.3.2 Indikator Teknologi Informasi …………………………….. 402.3.3 Isu Moral dan Undang-Undang ………………………….. 412.3.4 Isu Strategis Nasional …………………………………….. 422.3.4.1 Lingkungan Masyarakat Perkotaan Besar …….. 442.3.4.2 Lingkungan Pedesaan …………………………… 46Bab 3 Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan …………………………………… 493.1 Kerangka Pemikiran ………………………………………………. 493.2 Metodologi ………………………………………………………….. 523.2.1 Tahap Persiapan ………………………………………….. 523.2.2 Tahap Pengumpulan Data dan Informasi ………………. 533.2.3 Tahap Analisa dan Pengolahan Data …………………… 573.2.4 Tahap Penyelesaian Laporan Akhir Studi ………………. 57Bab 4 Rencana Pelaksanaan Kegiatan ………………………………………. 594.1 Tahap Persiapan …………………………………………………… 594.2 Studi Literatur ………………………………………………………. 594.3 Pengumpulan Data Primer ……………………………………….. 594.4 Survei Lapangan …………………………………………………… 604.5 Tahap Analisis ……………………………………………………… 604.6 Rumusan Konsep Kebijakan Baru Sebagai Usulan atauRekomendasi dari Hasil Kajian ………………………………….. 61Bab 5 Alokasi dan Organisasi Tenaga Ahli ………………………………….. 62Bab 6 Hasil Penelitian ………………………………………………………….. 686.1 Kuisioner ……………………………………………………………. 686.1.1 Kategori Responden ………………………………………. 70
    • iii6.1.2 Responden dan Instrumen ………………………………. 716.2 Hasil Wawancara ………………………………………………….. 796.3 Focus Group Discussion …………………………………………. 97Bab 7 Kesimpulan dan Saran …………………………………………………. 103Referensi ………………………………………………………………………… 106Lampiran A Daftar Pertanyaan FGD dan Kuisioner ………………………… 108Lampiran B Dokumentasi Foto FGD I Jakarta ………………………………. 115Lampiran C Dokumentasi Foto FGD II Jakarta ……………………………… 116Lampiran D Foto dan Gambar Smart Card ………………………………….. 117
    • ivDAFTAR GAMBARGambar 2.23 Isu Strategis Nasional …………………………………………………… 43Gambar 2.24 Alur Konsep E-Indonesia ……………………………………………….. 44Gambar E.1 Smart Card dalam Bidang Kesehatan ……………………………….. 117Gambar E.2 Smart Card Reader ……………………………………………………. 117Gambar E.3 Smart Card dalam Bidang Perbankan ………………………………… 118Gambar E.4 Smart Card dalam Bidang Telekomunikasi …………………………… 118Gambar E.5 Smart Card Hotel Lock ………………………………………………….. 119Gambar E.6 Smart Card untuk pengisian BBM ……………………………………… 120Gambar E.7 Access Conrol berbasis Smart Card …………………………………… 120Gambar E.8 Smart untuk alumni ……………………………………………………… 121Gambar E.9 Smart Card untuk Kartu Kredit …………………………………………. 121Gambar E.10Contactless Smart Card ………………………………………………… 122Gambar E.11Kombinasi Contact dan Contactless Smart Card ……………………. 122
    • vDAFTAR TABELTabel Daftar Negara Pengguna Smart Card …………………………………. 12Tabel Permasalahan di Sisi Demand dalam Pemanfaatan TIK ……………. 48
    • 1Bab 1 Pendahuluan1.1 Latar BelakangChip adalah kartu elektronik atau yang lazim disebut smart card (kartupintar), dimana pada hakekatnya merupakan aplikasi teknologi yangmenerapkan langsung keunggulan yang dimiliki oleh chip semikonduktoryang berisi ribuan – bahkan jutaan divais elektronik dalam skala sangatkecil, dalam hal kecilnya ukuran dan kepadatan data yang dimilikinya.Dalam penerapan pada aspek kehidupan di masyarakat,pengembangan smart card itu sendiri maupun aplikasinya mempunyaiprospek dan tingkat kebutuhan yang sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat daripenggunaan smart card (SIM card) seperti yang digunakan dalam telefongenggam.Dengan tren pemanfaatan smart card ini secara lebih luas di dunia,maka dirasakan adanya kebutuhan untuk melakukan kajian mengenaipenerapannya di Indonesia, baik dari aspek teknis maupun dari kebijakanyang seharusnya ditempuh oleh pemerintah maupun regulasi yang perludikeluarkan. Melalui kajian terhadap potensi pengembangan industri TIKNasional dalam mendorong penerapan smart card dan RFID ini, diharapkanakan diperoleh arahan serta strategi untuk menelurkan kebijakan yang akanmengangkat topik-topik penting untuk menjadi penggerak bangkitnyaperekonomian dari sektor TIK ini.Implementasi smart card yang perlu diperhatikan adalah seberapabesar keuntungan, baik keuntungan materi maupun non-materi (benefit),yang ditimbulkan terhadap pengguna maupun terhadap sistem.RFID (radio frequency identification) sebagai sebuah bentukpenyederhanaan fitur chip dari contactless smart card, memiliki peluang
    • 2untuk diterapkan secara lebih luas dan berbagai sektor, perlu dikembangkandan didorong pembangkitan industrinya.Dalam institusi pemerintahan penggunaan smart card sebagai kartumulti fungsi sangat menarik untuk diimplementasikan. Di Inggris, penerapansmart card sebagai kartu identitas telah melibatkan kerja sama dengankepolisian (Surat Ijin Mengemudi), imigrasi (Paspor), Pemerintah Daerah(KTP). Pemanfaatan smart card untuk e-government sudah marak diberbagai negara dan sudah mulai merambah ke Indonesia.Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) sendiri sudahserius memperhatikan hal ini. Beberapa penelitian telah dikembangkan,diantaranya penelitian mengenai kerangka kerja penerapan smart card padabulan Desember tahun lalu. Seminar ini bertujuan untuk memberikankerangka kerja bagi pemerintah dalam menghasilkan kebijakan dan panduanmengenai pemanfaatan Smart Card di Indonesia. Dengan seminar ini,diharapkan dapat terbentuk penguatan sistem pemerintahan maupunpengelolaan kehidupan masyarakat yang lebih baik lagi. Penerapan SmartCard juga dirasakan akan sejalan dengan pembangunan sistempemerintahan berbasis elektronik (e-government) untuk menujupemerintahan yang baik (good governance).Pemanfaatan smart card untuk kepentingan e-government ataukepentingan publik (selain industri telefon seluler) yang sudah marak sejakawal tahun 2000-an di berbagai negara di dunia mulai berkembang padabeberapa tahun belakangan ini di Indonesia. Untuk mengantisipasi iniDepartemen Komunikasi dan Informatika sejak beberapa tahun terakhirmulai memasukkan smart card ke dalam bagian dari program yang menjadiperhatian. Mulai dari pencanangan persiapan kebijakan mengenai smart cardyang dituangkan ke dalam Roadmap, rangkaian kegiatan yang berkaitandengan pengkajian mengenai kebijakan alat pembayaran menggunakankartu (APMK), sampai dengan serangkaian studi mengenai aspek kebijakan
    • 3penerapan smart card telah dilakukan di lembaga ini. Dari hasil studi awalmengenai smart card yang telah dilakukan oleh Pusat Penelitian danPengembangan Aplikasi Telematika, Sarana Komunikasi dan DiseminasiInformasi, Badan Penelitian dan Pengembangan SDM dari Departemen inipada tahun 2008, maupun beberapa contoh yang sudah kita ketahui sudahmulai berjalan seperti Kartu PNS Elektronika oleh BKN, e-Toll yangdiselenggarakan oleh PT.Jasa Marga bekerjasama dengan Bank Mandiri. Jikaselama ini aspek industri smart card di Indonesia masih didominasi oleh SIMcard yang digunakan pada telefon seluler, maka dengan munculnya berbagaiaplikasi baru untuk layanan publik seperti ini akan semakin mendorongpenerapan smart card pada area yang lebih luas lagi. Belum lagi ditambahdengan potensi pemanfaatan smart card pada dunia perbankan yang mulaisecara tegas mensyaratkan penggunaan smart card pada kartu kredit.Semakin kondusifnya iklim pengembangan dan penerapan teknologiinformasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia semakin membuat majunyapemanfaatan berbagai teknologi yang ada, tidak hanya terbatas smart cardmelainkan juga salah satu keluarga smart card yang lain yaitu RFID (radiofrequency identification). Dengan populasi Indonesia yang besar dan masihdalam tahap pengembangan area implementasi, maka potensi pasarIndonesia sangat menarik bagi pelaku usaha.Pemahaman atas teknologi, proses dan model bisnis, resiko yangdihadapi serta tata kelola pengoperasian dan pemanfaatan smart cardsangat diperlukan untuk dapat menyusun suatu kerangka kebijakan yangtepat. Hal ini untuk membantu pihak Departemen Komunikasi danInformatika dalam menyusun kebijakan agar dapat melindungi danmengakomodasi kepentingan para stakeholder. Terlebih jika dikaitkandengan harapan untuk dapat memberikan dorongan terhadap bangkitnyaindustri dalam negeri TIK yang terkait.
    • 4Kebutuhan terhadap studi yang dilakukan ini cukup mendesak jikadikaitkan dengan semakin berkembangnya infrastruktur maupunsumberdaya yang dimiliki oleh Indonesia, dan kenyataan bahwa Indonesiasegera akan menghadapi kondisi pasar global yang menghendaki kita dapatmasuk ke dalamnya tidak semata-mata sebagai obyek. Juga hal inidisebabkan oleh semakin cepatnya perkembangan teknologi danpemanfaatan smart card dalam kehidupan masyarakat dimana resiko yangdihadapi dalam pemanfaatan smart card meningkat secara signifikan, yangmana hal ini harus diantisipasi. Resiko yang timbul tidak saja disebabkanoleh faktor manusia, tetapi juga pada model bisnis dan teknologi yangberpotensi menimbulkan kerugian bagi pengguna smart card. Yang pentingjuga bagi implementasi smart card adalah seberapa besar keuntungan, baikkeuntungan materi maupun non-materi (benefit), yang ditimbulkanterhadap pengguna maupun terhadap sistem.1.2 Perumusan MasalahStudi potensi pengembangan industri TIK nasional dalammendukung penerapan smart card dan RFID bertujuan untuk memberikanmenjamin dan melindungi para stakeholder agar terhindar dari resiko yangdikhawatirkan akan timbul sekaligus mendorong dan meningkatkanpendayagunaan smart card dalam kehidupan masyarakat.Karenanya, hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat meletakkanfondasi dan panduan yang dapat diberikan oleh pemerintah bagiimplementasi smart card yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagibangsa Indonesia sendiri, yang dihasilkan melalui sebuah proses yangmelibatkan berbagai pihak yang terkait dengan teknologi informasi dankomunikasi (TIK) pada umumnya maupun para pelaku yang terkait eratdengan aplikasi smart card itu sendiri.
    • 5Kegiatan ini memiliki arti yang sangat strategis terutama memberikansuatu kajian ilmiah sebagai landasan bagi pemerintah dalam menyusunkebijakan dibidang pendorongan industri dalam rangka pemanfaatan smartcard.Dipahami juga bahwa dari hasil studi ini berupa peta potensi danpeluang bisnis, maupun identifikasi permasalahan industri TIK nasional akandapat dimanfaatkan bagi pengembangan kebijakan yang kondusif dalammendukung tumbuhnya iklim industri TIK yang sehat.Dari uraian singkat di atas dapat dirumuskan beberapa pertanyaanpenelitian sebagai berikut:1. Bagaimana peta penggunaan dan potensinya, serta peta industrinasional yang terkait erat dalam penerapan smart card di Indonesia2. Bagaimana mengidentifikasi proyeksi penerapan smart card bagikepentingan publik dalam skala besar yang menjadi momentumterhadap potensi dan peluang bisnis industri TIK nasional yang terkaitdengan smart card dan RFID3. Bagaimana mengidentifikasi permasalahan terhadap perkembanganindustri TIK Nasional, serta kebutuhan terhadap kebijakan pemerintahdalam mendukung tumbuhnya iklim industri TIK Nasional yang sehat4. Bagaimana menyusun rujukan bagi pengembangan kebijakanpemerintah dalam penerapan smart card berdasarkan pengalamannegara-negara lain1.3 Maksud dan Tujuan PenelitianMaksud dari kegiatan ini adalah melakukan pengkajian atas potensidan peluang bisnis penerapan smart card dan RFID di Indonesia, agar dapat
    • 6dimanfaatkan secara optimal untuk membangun kebijakan pemerintah yangtepat untuk mendorong industri dalam negeri.Tujuan dari Kegiatan ini adalah : “Mendapatkan pemahaman yangkomprehensif tentang potensi dukungan terhadap pengembangan industriTIK Nasional dalam penerapan smart card dan RFID di Indonesia”.Kegunaan dari kegiatan ini adalah :1. Terpetakannya potensi dan peluang bisnis TIK berkaitan denganpenerapan smart card dan RFID2. Teridentifikasikannya proyeksi penerapan smart card bagi kepentinganpublik dalam skala besar yang menjadi momentum terhadap potensidan peluang bisnis industri TIK nasional yang terkait dengan smartcard dan RFID3. Teridentifikasinya permasalahan terhadap perkembangan industri TIKNasional.4. Teridentifikasinya kebutuhan terhadap kebijakan pemerintah dalammendukung tumbuhnya iklim industri TIK Nasional yang sehat.1.4 Kegunaan PenelitianKegunaan dari kegiatan ini adalah :1. Terpetakannya potensi dan peluang bisnis TIK berkaitan denganpenerapan smart card dan RFID2. Teridentifikasikannya proyeksi penerapan smart card bagi kepentinganpublik dalam skala besar yang menjadi momentum terhadap potensidan peluang bisnis industri TIK nasional yang terkait dengan smartcard dan RFID
    • 73. Teridentifikasinya permasalahan terhadap perkembangan industri TIKNasional.4. Teridentifikasinya kebutuhan terhadap kebijakan pemerintah dalammendukung tumbuhnya iklim industri TIK Nasional yang sehat.1.5 Manfaat PenelitianManfaat nyata bagi Departemen Komunikasi dan Informatika dalam bentuk :1. Memahami potensi dan peluang bisnis TIK berkaitan denganpenerapan smart card dan RFID.2. Mengkaji proyeksi penerapan smart card bagi kepentingan publikdalam skala besar yang menjadi momentum terhadap potensi danpeluang bisnis industri TIK nasional yang terkait dengan smart carddan RFID3. Menganalisis dampak ekonomi, sosial dan moral implementasiteknologi smart card dan RFID terhadap struktur industri teknologiinfomasi dan telekomunikasi yang kini sudah ada.4. Memberikan rekomendasi kebijakan dalam pemanfaatan teknologismart card dan RFID.1.6 Ruang Lingkup PekerjaanRencana kegiatan atas studi / kajian mendalam mengenai potensipengembangan industri teknologi informasi dan komunikasi dalammendukung implementasi teknologi smart card dan RFID berdasarkanLingkup Pekerjaan yang tertera pada Kerangka Acuan Kerja (KAK), adalah :1. Menyusun survey secara komprehensif dengan mengembangkan daftarpertanyaan tertulis untuk didistribusikan kepada masyarakat sasaransurvei, agar diketahui tingkat penyerapan dan pemahaman teknologi
    • 8informasi dan kondisi ekonomi masyarakat dalammengimplementasikan teknologi smart card dan RFID2. Melaksanakan penelitian di lapangan dan wawancara mendalamterhadap sasaran penelitian yang kompeten dan terkait dalam bidangteknologi informasi dan komunikasi3. Melakukan kajian mendalam secara ekonomi, sosial dan moral sertateknologi terhadap pengembangan industri dalam mendukungimplementasi teknologi smart card dan RFID.4. Melaksanakan kompilasi hasil penelitian dan menyajikan dalam bentukdan format yang mudah dipahami5. Melaksanakan kajian penerapan teknologi smart card dan RFID dariberbagai sudut pandang, serta komparasi dengan penerapan dilihatdari sudut pandang kajian dari tim konsultan.Output dari kegiatan ini akan diserahkan pada DepartemenKomunikasi dan Informatika dalam bentuk laporan akhir studi potensiindustry teknologi informasi dan komunikasi dalam mendukungimplementasi teknologi smart card dan RFID dan diharapkan berisi tentang :a. Terungkapnya potensi industri nasional yang terkait erat dalampenerapan smart card di Indonesiab. Terungkapnya proyeksi penerapan smart card bagi kepentinganpublik dalam skala besar yang menjadi momentum terhadappotensi dan peluang bisnis industri TIK nasional yang terkaitdengan smart card dan RFIDc. Rekomendasi strategi dan langkah lanjutan untuk penyusunankebijakan pemerintah dalam penerapan smart card berdasarkanpengalaman negara-negara lain
    • 9Berdasarkan pada lingkup pekerjaan dan output kegiatan yang akandiserahkan, maka studi ini akan berisi :a. Hasil survei mengenai tingkat adopsi teknologi smart card danRFID di masyarakatb. Hasil Survei mengenai kondisi ekonomi masyarakat terhadapimplementasi teknologi smart card dan RFIDc. Hasil analisis mengenai potensi peningkatan ekonomimasyarakat akibat implementasi teknologi smart card dan RFIDd. Hasil analisis mengenai dampak implementasi teknologi smartcard dan RFID bagi industri teknologi dan informasi.e. Hasil kajian secara ekonomi, sosial dan moral serta teknologidalam mengimplementasikan teknologi smart card dan RFID.f. Laporan hasil survei, analisis dan kajian teori dalam kaitannyadengan potensi dan implementasi teknologi smart card danRFID.
    • 10Bab 2 Tinjauan PermasalahanDengan tren pemanfaatan smart card secara lebih luas di dunia, makadirasakan adanya kebutuhan untuk melakukan kajian mengenaipenerapannya di Indonesia, baik dari aspek teknis maupun dari kebijakanyang seharusnya ditempuh oleh pemerintah maupun regulasi yang perludikeluarkan. Melalui kajian terhadap potensi pengembangan industri TIKNasional dalam mendorong penerapan smart card dan RFID ini, diharapkanakan diperoleh arahan serta strategi untuk menelurkan kebijakan yang akanmengangkat topik-topik penting untuk menjadi penggerak bangkitnyaperekonomian dari sektor TIK ini.Pemerintah harus bijaksana dan tepat untuk mengim-plementasikanteknologi smart card dan RFID yang mengarah pada konvergensi agarmembawa dampak yang positif bagi kesejahteraan seluruh lapisanmasyarakat, baik penyelenggara bisnis informasi dan pengguna jasa bisnisinformasi maupun pengembangan industri TIK Nasional.2.1 Latar BelakangSeorang teknokrat terkenal di negeri ini pernah berasumsi bahwasebagian besar bangsa Indonesia di masa mendatang akan hidup bukan darikemampuan otot melainkan dari isi otak / pengetahuan yang dimilikinya(knowledge based society) sebagai sebuah visi utamanya. Visi ini tentunyaharus didukung oleh sinergi yang sempurna antara pengambil kebijakan,penyedia jasa dan pengguna jasa telematika. Persaingan sehat antarpenyedia jasa, arah dan kebijakan yang tepat, serta potensi pemakai jasayang demikian besar, secara umum akan membawa tren pertumbuhanekonomi yang lebih baik lagi.
    • 112.2 Perkembangan Pemanfaatan Smart Card2.2.1 Pemakaian Smart Card Di Beberapa NegaraPemanfaatan smart card telah dilakukan di beberapa negera. Meskipunpenggunaannya masih terbatas untuk e-government namun dengan implementasitersebut maka manfaatnya sudah dapat dirasakan. Beberapa negara bahkan sudahmenerapkan smart card pada tahun 1990-an. Dengan demikian sesungguhnya smartcard sudah dapat diimplementasikan dengan lebih baik. Berdasarkan sumber dari CardTech 2001, diperoleh data sebagai berikut:Table Daftar Negara Pengguna Smart CardN e g a r a D e s k r i p s i P r o j e c t V o l u m e s L a u n c h i n gJerman Health care 70 juta 1993Belgia Health care 10 juta 1997Spanyol TASS benefit card & PKI 2 juta 1997Republik Czech Medi health & benefit card 30.000 1997Perancis Sesam-Vitale health care 40 juta 1998Slovenia ZZZS health insurance card 2 juta 1998Rusia Regional health & benefit card 3 juta 1998Polandia Health card 500.000 1998Argentina Driver’s license 2 juta 1998El Savador Driver’s license NA 1998India Driver’s license 720.000 1998Finlandia FINEID for online authentication 6.000 1999United Kingdom Southampton multi function city card 25.000 1999Kanada Health card 9.000 1999Brazil Government employee id 30.000 2000USA Department of defense id 4 juta 2000China Health card 10.000 2000Brunei National id card 300.000 2000Taiwan Health card 24 juta 2001Malaysia Government multi purpose card 2 juta 2001Afrika Selatan National id card 30 juta 2001
    • 122.2.2 Pemanfaatan Smart Card Di Beberapa Negara Asia dan EropaTeknologi informasi dan komunikasi berkembang semakin pesat didorong olehInternet Protocol (IP), berbagai aplikasi baru dan beragam layanan multimedia. Salahsatu bidang yang berkembang adalah pemanfaatan kartu sebagai salah satu mediayang memiliki beragam fungsi. Dengan kemampuan multifungsi seperti ini, sejakperiode 2000-an perkembangan pemanfaatan smart card di berbagai negara tampaksemakin pesat. Jika kita mengacu kepada Asia Pacific Smart Card Association yangmerupakan organisasi yang aktif menghimpun aktifitas smart card di kawasan ini, makakita dapat mengetahui kondisi terkini dari pemanfaatan smart card.Paparan Greg Pote, Chairman dari Asia Pacific Smart Card Association yangberjudul “The Future of Smart Card” dalam GBDe Summit di Jepang, 9 Nopember2007, memuat beberapa perkembangan terkini. Di dalam paparan tersebut disebutkanbahwa smart card sekarang telah diterima di sektor publik seperti kartu identitasnasional di beberapa negara Asia. Malaysia, Brunei, Hongkong, Macau,China, Thailandtelah meluncurkan program kartu identitas nasionalya, sementara negara-negara lainseperti Korea Selatan, India, Indonesia, Filipina maupun yang lainnya juga telah mulaimerencanakan untuk menerapkannya. Tujuan utama dari pemanfaatan smart card dinegara-negara ini adalah untuk mengelola identitas nasional, dimana beberapa negaramenambahkan aplikasi e-government lainnya. Hal itu dapat dilihat misalnya dariMalaysia yang telah memiliki 7 aplikasi pada kartu identitas nasionalnya.Sementara itu, untuk negara-negara Eropa, diungkapkan bahwa Belgia, Italia,Spanyol, dan Estonia telah melakukan langkah-langkah implementasi smart cardsebagai kartu identitas nasional mereka. Inggris dan Perancis berada dalam tahapanperencanaan skema nasional kartu identitas nasionalnya. Tidak hanya itu saja, banyaknegara sudah menerbitkan kartuID/paspor berdasarkan standar ICAO.Selain negara Eropa, negara-negara teluk seperti Oman, Qatar, Kuwait danlainnya sudah merencanakan untuk penerapan smart card, dan juga melakukanpenelitian untuk penerapan tersebut. Dalam pemanfaatannya ke depan, DewanKerjasama Teluk (Gulf Co-Operation Council) telah mengusulkan interoperabilitas dariaplikasi smart card tersebut. Selain itu, Maroko juga akan menerbitkan kartu identitas
    • 13nasional berbasis smart card nirkontak yang pertama kalinya. Program kartu identitasnasional yang direncanakan oleh negara-negara di kawasan ini sebagian besarmemasukkan biometrik sebagai alat otentikasinya.Dalam paparan yang sama, selain pemanfaatan smart card untuk kartu identitasnasional, juga disebutkan mengenai pemanfaatannya untuk kartu kesehatan danpengaman sosial, yang disadari bahwa aplikasi ini merupakan aplikasi nasional utamasetelah kartu identitas. Upaya yang besar berkaitan dengan ini adalah program kartupengaman sosial di China yang pilot project nya dimulai di Shanghai yang kemudiandiikuti oleh kota-kota lain. Taiwan juga telah menerbitkan 24 juta kartu asuransikesehatan.Beberapa negara Eropa telah juga mencanangkan program pemanfaatan smartcard di dalam area ini. Misalnya Jerman telah menerbitkan 80 juta kartu, Perancis telahmenerbitkan 50 juta kartu penduduk ditambah dengan setengah juta kartu profesionalkesehatan. Belgia menerbitkan kartu identitas sosial sebanyak 10 juta kartu. Austriamenerbitkan kartu elektronik asuransi sosial sebanyak 8 juta. Slovenia menerbitkan 2juta kartu asuransi kesehatan dan 70 ribu kartu profesional. Selain negara-negaratersebut, Inggris, Finlandia, Italia, Ceko juga mencanangkan pilot project mereka.ResearchInChina melaporkan prediksi pasar kartu IC, fokus pada enam kunciglobal pemasok IC chip, dan hampir 50 pabrik di Cina dari IC kartu chip, kartu kemasanIC hingga perangkat kartu .Secara umum kiriman kartu SIM telah mencapai 2,6 miliar kartu pada 2007,meningkat 27% pada tahun-tahun; keseluruhan persentase 3G kartu SIM adalah 14%.Menurut Aliansi SIM, skala pasar kartu SIM akan mencapai 3 miliar pada akhir 2008,mengingat banyak permintaan dari operator selular di negara-negara berkembang.Misalnya, China Mobile, operator telekomunikasi global terbesar, telah memerintahkanlebih dari 280 juta kartu di kuartal pertama tahun 2007, naik 60% dibandingkan periodeyang sama tahun 2006. Selain itu, pengapalan kartu telepon selular yang 650 juta diCina pada tahun 2007. India juga dinikmati pasar yang dramatis pertumbuhan, denganponsel kartu kiriman telah meningkat menjadi 194 juta kartu pada tahun 2007 dari 123juta kartu pada tahun 2006, meningkat 58% pada tahun-tahun, Amerika Latin, Afrikadan Timur Tengah juga meraih pasar yang besar pertumbuhan pada tahun 2007.
    • 14Dari angka di atas, dapat dilihat bahwa total kiriman kartu IC menyimpanpertumbuhan; sementara rasio kiriman CPU kartu yang terus meningkat dengan baik,namun terjadi penurunan kiriman kartu memori. Pertumbuhan kiriman kartu memori ditahun 2006 dan 2007 terutama dikaitkan dengan generasi kedua proyek KTP danproyek kartu bis di Cina, sekitar 300 juta KTP dan 30 juta kartu bis yang dikeluarkanberturut-turut selama periode tersebut. Menurut Eurosmart, bagian pengapalan CPU,kartu akan mencapai sekitar 4,205 miliar pada akhir 2008.Menurut Asosiasi Industri Perdagangan Informasi Cina, kiriman kartu IC di Cinaadalah 1,08 miliar kartu di tahun 2005, meningkat 91,8% pada tahun-tahun, dan nilaipengiriman meningkat 11,1% menjadi RMB 5,607 miliar. Di 2006, pengiriman kartu itu1,676 miliar, meningkat 55,2% pada tahun-tahun, dan nilai pengiriman meningkat32,4% ke RMB 7,426 miliar. Pengiriman kartu mencapai 1,993 miliar pada 2007, naik19% dibandingkan 2006; dan kiriman adalah nilai RMB 8,165 miliar, hanya meningkat9%, yang terutama disebabkan oleh harga terjatuh, terutama drop harga dramatis kartuSIM.Berdasarkan informasi dari Dinas Perindustrian Perdagangan Cina InformasiAssociation, dengan metode waktu seri dan dengan mempertimbangkan faktor-faktorseperti generasi kedua proyek KTP dan EMV transfer dari proyek kartu bank serta 2008Olympic Game, ResearchInChina diperkirakan kiriman kartu IC di Cina akan mencapai2,02 miliar kartu pada akhir 2008, dan pengiriman nilai RMB akan mencapai 9,21 miliar.Pada tahun 2007, Infieon memiliki kinerja terbaik dalam penjualan global IC kartu chipPasar, diikuti oleh NXP, Samsung, Atmel, Renesas dan ST Microelectronics, merekasemua bersama-sama memiliki 92,1% pasar saham IC kartu chip global.Selama 2007-2008, pengembangan pasar kartu IC Cina adalah fitur canggihseperti aplikasi di sektor tradisional serta terus aplikasi baru. Selain itu, aplikasi sistemtelah memasuki update baru periode (seperti CPU kartu asuransi sosial dan non-kartukontak CPU).2.2.3 Pengalaman Negara Maju Dalam Pengembangan Smart CardMenurut Sub-komite tentang Kebijakan Pengadaan dan Teknologi DewanPerwakilan Rakyat AS Sejak tahun 1998, telah meluncurkan beberapa proyek smart
    • 15card yang mampu memberikan banyak manfaat nyata maupun intangible, seperti carayang lebih baik dalam mengotentikasi kartu identitas, meningkatkan keamanan atasbangunan sistem, melindungi sistem dan data komputer, dan melakukan transaksikeuangan dan non keuangan yang lebih akurat dan efisien. Untuk beberapa agenfederal, manfaat menggunakan teknologi smart card baru saja dikenal, dan banyaklembaga masih dalam tahap proyek-proyek perencanaan atau mengevaluasi manfaatini sebelum melanjutkan dengan teknologi inisiatif skala besar. Meski demikian, hasildari beberapa proyek smart card yang sedang berlangsung menunjukkan bahwateknologi tersebut menawarkan kepada agen-agen federal berbagai manfaat.Menurut informasi yang diperoleh dari GSA (General Services Administration),OMB (Office of Management and Budget) , dan lembaga federal lainnya telahmelakukan perencanaan, pengujian, operasi, atau menyelesaikan puluhan proyeksmart card. Proyek-proyek bervariasi luas dalam ukuran dan kompleksitas teknis, mulaidari skala kecil, proyek percontohan terbatas-lamanya untuk skala besar, lembagapusat berinisiatif menyediakan berbagai layanan.Banyak dari proyek-proyek yang berskala kecil, melibatkan hanya 100 kartu danditujukan untuk menampilkan nilai menggunakan smart card untuk identifikasi atauuntuk menyimpan uang atau informasi nilai pribadi lainnya. Namun, lebih dari 2 tahunterakhir, proyek jauh lebih besar telah dimulai untuk memberikan dukungan teknologicanggih untuk memverifikasi identitas orang mengakses sistem komputer. Sampai saatini, yang terbesar adalah program smart card yang akan dilaksanakan di pemerintahfederal adalah Common Access Card (CAC) program untuk Departemen Pertahanan(DOD), yang dimaksudkan untuk digunakan bagi identifikasi oleh sekitar 4 juta personilmiliter dan sipil. Hasil dari proyek tersebut menunjukkan bahwa smart card menawarkanbanyak keuntungan, seperti proses pengolahan yang mengurangi waktu sangatsignifikan yang diperlukan personil militer untuk deploying, pelacakan catatan imunisasianak-anak, dan memverifikasi identitas individu mengakses sistem komputer.Meskipun teknologi ini menawarkan keuntungan, meluncurkan proyek-smart carddalam skala besar atau kecil telah menjadi tantangan tersendiri bagi negara federal.Menurut pejabat bersangkutan, berbagai manfaat smart card, hanya dapat dicapai jika
    • 16kunci pengelolaan dan teknisnya dipahami dan dikuasai. Tantangan utamapelaksanaan nya adalah sebagai berikut :a. Pertama adalah mempertahankan komitmen pada level eksekutif. Tanpa dukunganlevel eksekutif dan kejelasan arah, organisasi yang memulai smart card besar-besaran bisa jadi akan menghadapi perlawanan dan keprihatinan yang mengarah kepenundaan atau pembatalan. DOD menyatakan bahwa pejabat yang secara formalmendapat mandat diminta untuk melanjutkan program CAC.b. Kedua. mengenali sumber persyaratan. Menerapkan sistem smart card memakanbiaya yang mahal. Ekstensif upgrade mungkin diperlukan untuk seorang agen dariinfrastruktur teknis, seperti memasang pembaca smart card pada setiap sistemkomputer baru atau mengembangkan sistem back-end untuk memproses danmenyimpan data yang terkait dengan identitas masing-masing kartu. Jikainfrastruktur kunci publik (PKI) yang dilaksanakan sehubungan dengan smart card,biaya tambahan mungkin akan timbul untuk mengubah aplikasi perangkat lunak,sehingga mereka bisa bekerja dengan smart card dan PKI. Namun demikian, untukmemperoleh manfaat yang signifikan, seperti meningkatkan keamanan atasbangunan sistem, pengamanan data dan sistem komputer, dan melakukan transaksikeuangan dan nonfinancial lebih akurat dan efisien, biaya ini mungkin dibenarkan.c. Ketiga, Integrasi keamanan praktis secara fisik dan logis antar organisasi.Kemampuan sistem smart card pada keamanan fisik dan logis berarti tingkat yangbelum pernah terjadi sebelumnya mungkin diperlukan kerjasama antara internalorganisasi yang sebelumnya belum pernah bekerjasama, seperti fisik keamananorganisasi dan teknologi informasi (TI) organisasi. Lebih jauh, sebuah smart cardakan memerlukan banyak perubahan dalam proses yang ada untuk credentialingindividu, verifikasi mandat mereka saat disajikan di pintu masuk gedung, danmengakses serta menggunakan sistem komputer.d. Keempat, Pencapaian interoperabilitas antara system smart card. Sebagai lembagayang mempertimbangkan mengadopsi smart card dan rencana implementasispesifik, akan sangat penting untuk memastikan implementasi yang konsisten diseluruh instansi pemerintah. Mengembangkan standar untuk memastikan bahwa
    • 17smart card, pembaca kartu, dan teknologi yang terkait seperti biometrics dapatinteroperate ke seluruh pemerintah akan penting untuk mewujudkan manfaat yangdapat dicapai oleh investasi dalam teknologi.e. Kelima, Menjaga keamanan sistem smart card dan privasi informasi pribadi.Meskipun kekhawatiran tentang keamanan adalah kunci driver untuk adopsiteknologi smart card di pemerintah federal, keamanan sistem smart card sendiritidak foolproof dan harus dibenahi ketika lembaga terkait merencanakan penerapansistem smart card. Selain itu, melindungi kerahasiaan informasi pribadi harusdiperhatikan data yang ada pada smart card.Tantangan ini terjadi dalam adopsi teknologi smart card di tahun-tahunsebelumnya, namun di masa mendatang, tantangan ini terbukti tidak terlalu sulit, bukanhanya karena peningkatan manajemen perhatian untuk pengamanan federal saranadan sistem informasi, tetapi juga karena kemajuan teknis telah meningkatkankemampuan dan mengurangi biaya sistem smart card. Efektifitas GSA dalammeningkatkan teknologi smart card pada pemerintah federal telah dilakukan. Badantersebut telah memberikan kontribusi yang signifikan untuk membuatnya lebih mudahuntuk agen-agen federal komersial dalam memperoleh produk smart card olehkontraktor pelaksana berdasarkan standar teknis yang dikembangkan dalam kolaborasidengan Badan dari Standarisasi dan Teknologi (NIST) dan vendor smart card. Lebihjauh lagi, ia telah mengambil tindakan untuk mengatur manajer smart card federal danberbagi informasi tentang teknologi. Sedangkan kegiatan tersebut telah membantuGSA, belum diambil langkah-langkah penting lainnya untuk meningkatkan inisiatif smartcard dan strategi deployment. Misalnya, efektifitas GSA dalam menunjukkan nilai dankesiapan teknologi smart card ke badan dan pejabat lainnya itu terbatas karenamasalah pelaksanaan internal sendiri sistem smart card dan berkoordinasi dengankebijakan smart card. Lebih jauh lagi, badan ini tidak dipelihara dengan panduanadministratif atau pelaksanaan strategi up-to-date. Ia juga tidak memiliki standar yangditetapkan untuk penggunaan smart card sebagai komponen dari proses keamanangedung federal. Akhirnya, GSA belum mengembangkan sebuah kerangka untukmengevaluasi implementasi smart card untuk membantu mengurangi risiko dan biaya
    • 18lembaga. Sedangkan GSA secara sepihak dapat mengambil beberapa tindakan untukmempromosikan adopsi smart card, berbagi tanggung jawab untuk pemerintah denganpetunjuk Kantor Manajemen dan Anggaran (OMB) dan NIST. OMB memiliki undang-undang tanggung jawab untuk mengembangkan dan mengawasi kebijakan, prinsip-prinsip, standar, dan pedoman yang digunakan oleh badan untuk menjamin keamanandan sistem informasi federal, tetapi tidak mengeluarkan kebijakan atau petunjuk khususmenangani smart card sejak designating GSA memimpin untuk mempromosikanteknologi pada tahun 1996. NIST terus memiliki tanggung jawab untuk melakukankoordinasi yang pengembangan standar teknis yang diperlukan oleh GSA dari kontraksmart card pemerintah. Untuk lebih meningkatkan keamanan personil federal,bangunan, dan sistem informasi, akan dibuat rekomendasi ke NIST, GSA, dan OMBuntuk mengambil tindakan yang bertujuan untuk lebih mendukung upaya untuk agenmengaparkan interoperable-smart card berbasis identifikasi sistem. Tertulis padakonsep ini laporan dari Sekretaris Perdagangan dan DODs Deputy Chief InformationOfficer. Komentar lisan yang diterima dari pejabat OMB Kantor Informasi dan PeraturanNegeri, termasuk Kebijakan Informasi dan Teknologi Kepala Cabang; dari KomisarisImigrasi dan Naturalisasi Layanan; dari GSAs Associate Administrator untuk KantorKebijakan Pemerintah Pusat, dan dari pejabat yang mewakili Penerbangan Federal,Administrasi maritim, yang Administrasi Keamanan Transportasi, dan Chief InformationOfficer Departemen Perhubungan. Semua Komentar pejabat badan yang umumnyasepakat dengan temuan dan rekomendasi Subcommittee on Technology andProcurement Policy.Tujuan Sub-komite tentang Kebijakan Pengadaan dan Teknologi adalah untukmenilai (1) sejauh mana agen federal mengadopsi teknologi smart card dan menyadarimanfaat yang terkait, (2) sejauh mana tantangan untuk menggunakan smart card dalamlembaga federal dan (3) efektivitas GSA dalam mempromosikan adopsi teknologi smartcard di dalam pemerintah federal. Untuk menilai mana smart card adopsi oleh agen-agen federal dan mengidentifikasi manfaat dan tantangan yang terkait, akan diperiksadokumentasi proyek smart card , perkiraan biaya, dan lain-lain dari studi GSA; OMB;Assosiasi Gubernur wilayah Barat (WGA), yang bertanggung jawab untuk proyek smart
    • 19card yang didanai sebagian oleh Departemen Pertanian dan Pelayanan Kesehatan danManusia; Department of Justices Imigrasi dan Layanan Naturalisasi; DOD, dan dariDepartemen Interior, Transportasi, Treasury, dan Veterans Affairs (VA). Juga diadakandiskusi dengan pejabat penting dari organisasi-organisasi ini tentang manfaat dantantangan proyek. Diskusi juga dilakukan dengan perwakilan Smart Card Alliance,sebuah asosiasi vendor teknologi smart card, tentang manfaat dan tantangan teknologi.Selain itu, dibahas publik tentang tersedia bahan dan laporan teknologi smart cardmembahas masalah-masalah dan masalah-masalah utama dengan perwakilan dariorganisasi.Kesuksesan Adopsi smart cardKeunggulan adopsi smart card diidentifikasi oleh pejabat badan dapat tercapaijika kunci pengelolaan dan teknis tantangan yang dipahami dan bertemu. Meskipun adatantangan diperlambat adopsi teknologi smart card di tahun-tahun sebelumnya, merekamungkin sedikit sulit di masa yang akan datang, bukan hanya meningkat karenakekhawatiran tentang manajemen keamanan federal sarana dan sistem informasi,tetapi juga karena kemajuan teknis telah meningkatkan kemampuan dan mengurangibiaya sistem smart card. Tantangan utama termasuk pelaksanaan diantaranya:a. Mempertahankan tingkat komitmen eksekutif;b. Mengenali kebutuhan sumber daya;c. Koordinasi beragam, lintas-kebutuhan organisasi dan transformasi organisasikeamanan praktis;d. Mencapai interoperabilitas antara sistem smart card dane. Menjaga keamanan dan privasi.Mempertahankan tingkat komitmen eksekutifHampir semua pejabat yang diwawancarai menunjukkan bahwa menjagakomitmen level executive sangat penting untuk menerapkan sistem smart card efektif.Menurut para pejabat, baik di dalam dan di badan sipil DOD, pejabat Wakil SekretarisPertahanan untuk menerapkan seragam, Common akses kartu identifikasi dalam DODadalah penting untuk mendapatkan sebuah proyek besar sebagai sebagai CAC inisiatif
    • 20yang diluncurkan dan funded. Wakil Sekretaris juga diberikan peran dan tanggungjawab kepada militer layanan dan badan-badan dan membentuk batas waktu untukmenentukan smart card persyaratan. DOD bahwa tanpa pejabat eksekutif seperti leveldukungan dan jelas arah, smart card yang mungkin akan ada inisiatif dihadapiorganisasi perlawanan dan biaya akan ada kekhawatiran bahwa signifikanmenyebabkan penundaan atau pembatalan. Transportasi dan treasury pejabat jugamenunjukkan bahwa dukungan berkelanjutan highlevel penting untuk meluncurkansmart card dalam inisiatif organisasi mereka dan bahwa tanpa dukungan ini, dana yangbegitu inisiatif mungkin tidak akan telah tersedia. Sebaliknya, lainnya federal smart cardproyek percontohan telah dibatalkan karena kurangnya eksekutif tingkat dukungan.Pejabat di VA menunjukkan bahwa mereka percontohan VA Express proyek smartcard, kartu yang dikeluarkan untuk veteran untuk digunakan dalam VA mendaftar dirumah sakit, tidak akan mungkin akan diperluas untuk skala penuh pelaksanaan,sebagian besar karena eksekutif-tingkat prioritas telah berubah, dan dukungan yangbesar-besaran smart card proyek belum berkelanjutan.Mengenali kebutuhan sumber dayaBiaya implementasi Kartu smart dapat menjadi tinggi, terutama jika prasaranasignifikan yang diperlukan modifikasi atau teknologi lainnya, seperti biometrics dan PKI,yang dilaksanakan secara erat dengan kartu. Namun, dalam sisi manfaat lebih baikotentikasi personil, meningkatkan keamanan selama akses ke bangunan, pengamanankomputer sistem dan data, dan melakukan transaksi keuangan dan nonfinancial lebihakurat dan efisien, biaya ini mungkin dapat diterima. Kunci pelaksanaan kegiatan yangdapat mengelola kontraktor dan pemasok kartu termasuk mahal, pengembangan sistemdan antarmuka yang ada dengan personil atau credentialing sistem, peralatan daninstalasi sistem mendistribusikan kartu, dan pelatihan personil untuk mengeluarkan danmenggunakan smart card. Sebagai Hasilnya, badan pejabat menyatakan bahwamendapatkan sumber daya yang memadai penting untuk melaksanakan utamapemerintah sistem smart card. Menurut pejabat DOD program, departemen akanmembelanjakan lebih dari $ 1 miliar untuk smart card dan kemampuan PKI pada tahun2005. Selain dengan biaya yang disebutkan di atas, militer dan pertahanan badan dana
    • 21yang diperlukan untuk pembelian lebih dari 2,5 juta pembaca kartu dan middlewareuntuk membuat mereka bekerja dengan komputer yang ada aplikasi, cenderung biayamelebihi $ 93 juta pada 2003. Militer dan badan pertahanan juga diharapkan untukmenyediakan dana untuk mengaktifkan aplikasi ke interoperate dengan sertifikat PKIdimuat pada kartu. DOD disediakan sekitar $ 712 juta untuk mengeluarkan sertifikatuntuk kartu sebagai bagian dari PKI program tetapi tidak ada tambahan dana yangdisediakan untuk mengaktifkan aplikasi.Koordinasi beragam, lintas-kebutuhan organisasi dan transformasi organisasikeamanan praktisHampir semua pejabat federal yang diwawancarai tercatat bahwa keamananyang sudah ada dan prosedur bervariasi, secara signifikan di seluruh organisasi padasetiap lembaga mereka, dan terdapat perubahan setiap proses dan mereka mencobauntuk mengintegrasikan seluruh badan tersebut walau merupakan tantangan berat.Masing-masing biro dan divisi sering kuat tentang pemesanan yang mendukung inisiatifsmart card karena kemungkinan akan mengakibatkan perubahan besar. Proses yangada untuk credentialing individu, mereka memverifikasi credentials bila disajikan di pintumasuk gedung, dan mengakses dengan menggunakan komputer sistem. Pejabat DODmenyatakan bahwa sudah sulit untuk mengambil keuntungan dari multiapplication CACdengan kemampuan yang sangat ini untuk alasan. Kartu ini adalah terutama digunakanuntuk mengakses logis-untuk membantu mengotentikasi kartu mengakses sistem danjaringan serta untuk tanda tangan digital untuk transaksi elektronik menggunakan PKI.DOD hanya baru-baru ini telah mulai untuk mempertimbangkan cara menggunakanCAC di seluruh departemen. Beberapa fasilitas DOD yang saat ini menggunakan kartuuntuk tujuan ini. pejabat DOD mengatakan ia telah sulit untuk meyakinkan personil yangbertanggung jawab untuk keamanan fisik militer ke fasilitas membuat proses baru untuksmart card dan biometrics dan untuk membuat perubahan signifikan untuk sistem yangada badge.Di samping kesenjangan antara keamanan fisik dan logis organisasi nomor yangsama sekali terpisah dari sistem yang ada dan bertentangan juga menambahkandengan tantangan untuk mendirikan suatu agen smart card sistem. Satu Treasury
    • 22resmi, misalnya, mencatat bahwa inisiatif department, seperti rencana proyek smartcard, memerlukan dukungan dari 14 biro jasa berbeda. Setiap entitas memiliki sistemyang berbeda dan proses untuk mengontrol akses ke bangunan, otomatis, sistem dantransaksi elektronik. Perjanjian tidak selalu dapat dicapai pada satu proses bisnis kealamat ini di antara persyaratan keamanan beragam entitas.Mencapai interoperabilitas antara sistem smart cardInteroperabilitas adalah pertimbangan utama dalam deployment smart card. Nilaismart card meningkat jika dapat digunakan dengan beberapa sistem di instansi yangberbeda, dan GSA telah melaporkan bahwa hampir semua lembaga setujuInteroperabilitas di beberapa tempat yang sangat penting bagi tingkat adopsi smart cardyang meluas di seluruh pemerintah. Namun, mencapai Interoperabilitas menjadi sulitkarena produk smart card dan sistem yang dikembangkan terakhir umumnyabertentangan tetapi pada tingkat sangat elementer.Dengan berbagai produk yang tersedia dari berbagai vendor, belum adakejelasan pilihan untuk interoperabilitas standar. GSA mempertimbangkan pencapaianinteroperabilitas seluruh sistem ke kartu menjadi salah satu prioritas utama dalampengembangan dan kontrak KTP Elektronik. Dengan demikian, GSA merancangkontrak untuk keperluan awardees untuk bekerja dengan GSA dan NIST17 pemerintahuntuk mengembangkan spesifikasi Interoperabilitas. Spesifikasi, karena saat ini berdiri,mencakup model arsitektur, spesifikasi interface, conformance persyaratan pengujian,dan data model. Aspek utama, spesifikasi bahwa alamat aspek operasi smart card yangtidak tercakup oleh komersial standar. Secara khusus, spesifikasi mendefinisikanseragam menetapkan Tanggapan dari perintah dan pesan untuk smart card untukdigunakan dalam berkomunikasi dengan pembaca kartu. Vendor dapat memenuhispesifikasi oleh menulis perangkat lunak untuk kartu mereka yang menterjemahkanmereka yang unik dan perintah Tanggapan format standar kepada pemerintah. Sepertispesifikasi sebelumnya belum tersedia.Menurut pejabat NIST, versi pertama dari spesifikasi Interoperabilitas, selesaipada bulan Agustus 2000, tidak termasuk mencukupi untuk detail membentukinteroperabilitas antara vendor beda produk smart card.
    • 23Para pejabat mengatakan bahwa ini terjadi karena wakil-wakil dari NIST, yangkontraktor, dan agen-agen federal lainnya hanya memiliki waktu yang sangat terbatasuntuk mengembangkan versi pertama. Versi 2,18 dirilis pada bulan Juni 2002, adalahpenting perbaikan, memberikan definisi yang lebih banyak rincian, misalnya seberapasmart card harus bertukar informasi dengan perangkat lunak aplikasi dan pembacakartu. Spesifikasi yang direvisi juga mendukung DODs CAC data model di sampingCommon data model yang dikembangkan untuk asli spesifikasi. Namun, diperlukanwaktu beberapa saat sebelum produk smart card yang memenuhi persyaratan dari 2versi yang tersedia, karena kontraktor dan vendor (di bawah kontrak Akses Smartcommon ID) akan mengupdate atau merancang ulang produk mereka untuk memenuhipeningkatan spesifikasi. Selanjutnya, potensi Interoperabilitas masalah bagi merekayang mungkin timbul lembaga yang dibeli dan dikirim kartu smart produk berdasarkanspesifikasi asli.Menjaga keamanan dan privasiMelalui pembaca kartu yang mengendalikan aliran data dari dan ke smart kartu.Serangan terpasang pada salah satu kartu pembaca atau apapun yang melekat padakomputasi sistem pengamanan yang bisa kompromi yang tujuan menerapkan sistemsmart card. Smart card yang digunakan untuk mendukung beberapa aplikasi dapatmemperkenalkan tambahan risiko ke sistem. Misalnya, jika tidak memadai perawatandiambil dalam merancang dan tes setiap aplikasi perangkat lunak, loading aplikasi baruke kartu yang ada bisa kompromi dengan keamanan dari aplikasi lain sudah tersimpanpada kartu. Secara umum, menjamin keamanan yang multiapplication kartu dapat lebihsulit karena harus menentukan aplikasi yang berjalan di dalam smart cardmultiapplication pada suatu waktu. Jika aplikasi yang berjalan pada waktu yang tidaksah, maka dapat memperoleh akses yang tidak sah ke data yang ditujukan hanya untukaplikasi lainnya. Seperti halnya sistem informasi, maka ancaman ke sistem smart cardharus dianalisa secara menyeluruh dan langkah-langkah yang memadai untukdikembangkan pada potensi kerentanan. 1998 telah laporan keamanan manajemenefektif praktek-praktek yang digunakan oleh organisasi publik dan swasta serta laporanberbasis pendekatan risiko keamanan diidentifikasi kunci prinsip-prinsip yang dapat
    • 24digunakan untuk membangun sebuah kerangka kerja untuk pengelolaan efektif programkeamanan informasi.Selain itu, National Security Agen menempatkan biometrics termasuk dalamsmart card langkah-langkah yang dapat diambil untuk membantu melindungi informasidalam smart card sistem, seperti encrypting semua kunci pribadi yang disimpan dalamsmart card dan mendefinisikan sebuah sistem keamanan dengan kebijakan penggunasebelum proses sertifikasi akses ke sistem yang diberikan. Selain keamanan,melindungi privasi informasi pribadikarena tumbuhnya kekhawatiran yang harusdibenahi dalam hal informasi pribadi pada smart card.Setelah di tempat-smart card berbasis sistem yang didesain untuk mengontrolakses ke fasilitas dan sistem dapat juga digunakan untuk melacak sehari-hari kegiatanindividu, potensi mengorbankan privasi mereka. Selanjutnya, smart-card sistemberbasis dapat digunakan untuk menggabungkan informasi sensitif mengenaiperorangan untuk keperluan selain itu gerak awal kumpulan informasi yang privasi bisadikompromi.Sementara individu yang terlibat dalam proyek ini memiliki beberapa masalah,yang lain bisa jadi memerlukan lebih banyak informasi tentang jaminan yang disimpanpada smart card dan bagaimana pemerintah akan menggunakan dan berbagi data.GSA, NIST, dan agen pejabat lain-lain menunjukkan bahwa masalah-masalahkeamanan dan privasi cukup menantang, karena kebijakan governmentwide belumdidirikan secara luas menggunakan teknologi belum terjadi. Smart card sebagai proyekberkembang dan lebih sering digunakan, terutama oleh masyarakat, badan semakincenderung membutuhkan bimbingan kebijakan untuk memastikan konsisten dan tepatpelaksanaan.2.2.4 Layanan Teknologi Paling Berpengaruh di Dunia Tahun 2006Pada tahun 2006, perkembangan dan kemajuan teknologi bukan sajasangat pesat, namun ada beberapa teknologi yang diperkirakan akan sangatberpengaruh dalam kehidupan manusia, baik dalam kegiatan pribadimaupun dunia bisnis. Hal itu, bisa jadi karena teknologi tersebut membawa
    • 25perubahan yang sangat signifikan dan luas, dalam arti memberikan banyakkemudahan dan pengalaman baru, dan sekaligus mendorong semakinbanyak orang untuk menggunakannya, dan tentu meningkatkan nilaibisnisnya.Teknologi-teknologi ini diperkirakan akan memberikan manfaatoptimal dibandingkan teknologi atau solusi sebelumnya, sehinggamenempatkan titik keunggulannya menjadi pilihan banyak orang untukmenggunakannya. Namun, keunggulan teknologi ini, pada saat yang sama,dipadukan dengan intensitas promosi dan komunikasi, serta dukunganlainnya, yang semakin mendorong optimalisasi perannya sebagai solusi yanglebih baik, efisien dan efektif, serta memberikan berbagai pengalaman baruyang menarik.a. Deep Web Search, adalah teknologi yang secara berani masuk ke areadimana tidak ada mesin pencari ( search engine ) yang sebelumnya masukke area itu. Ini merupakan suatu fenomena baru dalam dunia Internet masakini. Dikenal sebagai invisible web, deep web merupakan carapenyimpanan web pages yang sangat cepat, yang biasanya dihasilkan olehsitus-situs web berbasis database , sehingga meskipun tak terlihat padamesin pencari tradisional, namun dapat disediakan untuk para penggunaweb. Jaringan yang digunakan untuk menelusuri web tersebut tidak dapatmenjangkau sebagian besar halaman web yang dibuat secara on-the-fly olehsitus-situs dinamik, seperti e-Commerce, news dan situs konten utamalainnya. Namun, dengan Deep Web Search, bukan saja penyimpanan,melainkan pencariannya pun dapat dengan dilakukan. Menurut kajian BrightPlanet, deep web diperkirakan memiliki hingga 550 kali lebih banyak darisurface web yang selama ini diakses melalui berbagai mesin pencaritradisional dan lebih dari 200,000 situs web berbasis database yangdipengaruhi oleh hal tersebut. Chris Sherman, associate editor of SearchEngine Watch , mengatakan bahwa jumlah halaman berkualitas yang ada dideep web sekitar 3-4 kali lebih banyak dari halaman yang diakses melalui
    • 26mesin pencari, misalnya Google. Meskipun angka pastinya masihdiperdebatkan, namun jumlah halaman di deep web jauh lebih besar darisurface web , dan pertumbuhannya dinilai sangat cepat. Meskipun mesin-mesin pencari, seperti Google, AltaVista dan FAST saat ini mengklaim telahmeng-indeks halaman web, namun mereka hanya meng-indeks sebagiankecil saja. Mesin pencari tradisional, yang menggunakan spiders dancrawlers, dirancang untuk meng-indeks halaman-halaman HTML yangsederhana, yang memiliki incoming links dari halaman lain di situs web.Tetapi, situs-situs web modern, yang mengoperasikan berbagai databaseuntuk menghasilkan halaman sambil jalan ( on-the-fly ), sesungguhnya?jauh lebih canggih? bagi mesin pencari untuk meng-indeks halaman webmereka. Karena hanya mengindeks sebagian saja, maka mereka tidak dapatmenyediakan situs-situs yang canggih, misalnya eBay, Library of Congressdan iMDB ( the Internet Movie Database ), yang banyak dibutuhkan olehpara pengguna. Selain itu, kualitas informasi yang terdapat di deep webbiasanya sangat tinggi (terutama jika dibandingkan dengan surface web ),karena deep web berisi situs-situs utama yang sangatotoritatif, yang tersedia diInternet (diolah dari MajalahEbizzAsia, 2005-2006).Google telah meng-indeks sekitar 8miliar halaman web, tetapi jumlahitu baru sebagian kecil dari puncakgunung es yang besar. Masihbanyak halaman web yangtersembunyi di balik firewallskorporat atau dalam database yangmenanti untuk diindeks. Jumlahnyaluar biasa, yang sering jugadianggap sebagai dark Web , yakniFAKTA-FAKTA DEEP WEB SEARCH400-550 kali lebih besar dari surfaceWeb terabyte informasi vs. 19 terabyteinformasi. 550 miliar dokumen vs. 1-2 miliardokumen. Saat ini ada ebih dari 200,000 situsdeep Web. Situs Deep Web menerima 50%lebih banyak trafik bulanandibandingkan rata-rata situs surfaceweb .Pertumbuhan informasi baru palingbesar di Internet Memiliki konten yang lebih dalam (deeper ) dan fokus ( narrower )dibandingkan situs-situs surface web. Kualitasnya 1.000% ? 2.000% lebihtinggi dibandingkan surface Web . Kontennya sesuai dengan setiapkebutuhan, pasar dan domaininformasi. 95% dari Deep Web merupakaninformasi yang dapat diakses publik
    • 27bisa jadi 550 kali lebih besar dari World Wide Web (WWW) yang kita ketahuisekarang ini. Tidak seperti Internet publik, halaman-halaman web ini tidakdapat diambil dengan menggunakan Web crawler biasa. Melainkan harusterlebih dahulu disediakan di database yang sangat besar milik mesin pencaridan membutuhkan teknologi pengambilan yang khusus. Dalam kaitan itulah,Deep Web search mampu memberikan jawaban terhadap suatu pertanyaanlangsung secara lebih baik dari ratusan link, karena kebanyakan dariberbagai sumber yang berkualitas dapat di- online -kan. Ke depan, DeepWeb Search ini akan semakin banyak dibutuhkan, sehingga trenpeningkatannya pun akan luar biasa dan semakin banyak pula halaman-halaman web yang berupa sumber informasi otoritatif yang dapat diperolehdan dimanfaatkan oleh pengguna yang membutuhkan. Solusi Deep Weblainnya disediakan oleh LexiBot, BrightPlanet (lexibot.com), IntelliSeek(invisibleweb.com), dan Copernic (copernic.com).b. AJAX (Asynchronous Javasript dan XML) adalah teknik pembuatan web( Software tools ) yang dapat digunakan untuk menciptakan berbagaiaplikasi web interaktif (berbasis browser ) di PC. Teknologi web baruini berhasil memadukan keunggulan dari pendekatan screen danberbasis halaman. Teknologi ini berhasil mengoptimalkan berbagaikeunggulan, yang merupakan kombinasi dari: HTML (atau XHTML) dan CSS untuk tampilkan informasi. Document Object Model yang dikembangkan melalui JavaScriptuntuk secara dinamik menampilkan dan berinteraksi denganinformasi yang ditampilkan. XMLHttpRequest akan mempertukarkan data secara tidakberaturan (a synchronously ) dengan web server. (Bisamenggunakan XML, bisa juga preformatted HTML, plain text,JSON dan EBML). Seperti DHTML, LAMP, atau SPA, Ajax bukanlah suatu teknologi,melainkan istilah yang mengacu pada penggunaan sekelompok
    • 28teknologi secara bersama-sama. Saat ini, turunan AJAX sudahtersedia, yakni AFLAX.Google Suggest dan Google Maps merupakan dua contoh suatupendekatan baru terhadap berbagai aplikasi web, yang dikenal sebagaiAJAX atau Asynchronous JavaScript + XML. Ini peningkatan yangmendasar dari apa yang mungkin dilakukan di Web. Browser-browseryang mendukung AJAX :- Apple Safari 1.2 dan di atasnya- Konqueror- Microsoft Internet Explorer 4.0 dan di atasnya- Mozilla/Mozilla Firefox 1.0 dan di atasnya- Netscape 7.1 dan di atasnya- Opera 7.6 dan di atasnya- Firefox- Safari- OperaUmumnya, aplikasi Web menghendaki suatu halaman web yang barudikirimkan ke seorang pengguna sesuai dengan tahap-tahappermintaannya, namun biasanya hal itu selalu lambat. Tetapi, denganAjax memungkinkan suatu data baru masuk dan sekaligusmemperbarui konten-konten halaman web sambil jalan ( on-the-fly ).Ini merupakan sumber-sumber tersembunyi yang ada di A9 search(Amazon), layanan Gmail (Google), pemeringkatan film/ movie ratings(Netflix), dan Flickr photo website (Yahoo). Google menginvestasikanbanyak dana untuk mengembangkan pendekatan Ajax . Semua produkutama Google, yang telah diperkenalkan tahun lalu, seperti Orkut,Gmail, versi beta terbaru Google Groups, Google Suggest, dan GoogleMaps, merupakan aplikasi-aplikasi Ajax. Ini semakin membuktikanbahwa bukan saja unggul secara teknis, tetapi praktis untukdigunakan di berbagai aplikasi real-time , mulai dari yang sederhana,
    • 29seperti fungsi tunggal pada Google Suggest hingga yang rumit dancanggih, Google Maps.c. Hybrid Cell Phone, adalah telepon seluler (ponsel) yangberkemampuan Wi-Fi, yang sekaligus mampu memanfaatkan duasistem komunikasi, yakni seluler atau bergerak dan jaringan Wi-Fi.Perkembangan ponsel dual-mode ini akan semakin meningkat danmenarik banyak orang untuk menggunakannya. Karena, dengansemakin matang teknologinya, para pengguna akan memperolehpeluang untuk berkomunikasi secara tanpa batas dan lebih ekonomis.Ketika di rumah, dengan ponsel yang sama, Anda dapat terhubung kejaringan Wi-Fi rumah atau nantinya layanan telepon VoIP pita-lebar.Ketika keluar rumah dan masuk ke mobil, maka sepanjang perjalanantetap dapat berkomunikasi mengandalkan jaringan bergerak(GSM/CDMA). Begitu sampai di kantor, ponsel akan secara otomatismasuk ke jaringan Wi-Fi LAN atau VoIP kantor. Bukan saja komunikasitidak terputus, meskipun Anda berpindah-pindah dari satu jaringan kejaringan lainnya, komunikasi juga semakin mudah dan ekonomis.Munculnya teknologi voice over WiFi (VoWiFi) dan ponsel dual-modeini diperkirakan akan mendorong banyak orang untukmenggunakannya di tahun-tahun mendatang, termasuk di Indonesia .Ponsel berlayanan hybrid juga akan menyediakan kecepatan surfingWeb di smartphone Anda. Hal ini dperkirakan akan menggantikanpenggunaan PC, karena kemampuan smartphone kini bahkan melebihiPC. Konvergensi fixed-line/wireless ini diperkirakan akan mendorongtak kurang dari 100 juta pengguna yang menginginkan ponsel hybriddalam 5 tahun ke depan (ABI Research). Perkembangan ponsel dual-mode ini akan melibatkan raksasa telekomunikasi dunia, seperti BritishTelecom dan Korea Telecom, yang diperkirakan akan menyediakan
    • 30layanan dual-mode nya akhir 2005. Keuntungan menggunakan ponseldual-mode ini adalah tak terbatas dan ekonomis.d. VoIP (Voice over Internet Protocol)e. Mobile TV, merupakan perpaduan antara telepon bergerak dan siaranTV, sehingga memungkinkan pengguna menonton acara TV diperangkat bergerak, misalnya PDA phone atau smartphone Anda.Keduanya, baik ponsel maupun TV, merupakan dua teknologi yangsangat berpengaruh dalam kehidupan umat manusia di era elektronikdigital dewasa ini. Ke depan keduanya akan menyatu danmenyediakan layanan TV bergerak, yang diperkirakan akan sangatdiminati banyak orang. Selain negara-negara Eropa dan Amerika, diAsia, Jepang dan Korea, merupakan dua negara yang akan segerameluncurkan Mobile TV ini. Sementara Samsung dan Nokia, telah pulamenyediakan beragam handset untuk keperluan itu, dan masih banyaklagi perusahaan yang akan meluncurkan ponsel berkemampuan MobileTV. Jika layanannya dikemas dengan menarik dan diberi harga yangtepat, maka tahun 2009 mendatang diperkirakan akan ada sekitar 270juta pelanggan mobile TV ini. Saat ini, setidaknya berkembang duastandar yang bakal banyak dianut, yakni DVB-H ( Digital VideoBroadcasting for Handhelds ) dan DMB ( Digital Mobile Broadcast ).DVB-H telah diujicoba di Berlin; Helsinki, Finland; Oxford, Inggris; danPittsburgh, serta sejumlah negara Eropa lainnya. Sedang DMBmerupakan standar yang dianut Korea Selatan. Sementara, Qualcommyang dikenal sebagi pembuat handset nirkabel dan chip ,mengembangkan teknologi MediaFlo, yang mencakup jaringan end-to-end menggunakan transmitter dan receiver nirkabel baru. Denganbegitu operator mobile dapat menyediakan 15-20 kanal TV sekualitaspenyiaran. Perkembangan ini akan mendapatkan momentum sejalandengan berkembangnya layanan 3G atau W-CDMA secara luas dan
    • 31didukung tersedianya ponsel 3G yang berkemampuan lebih besardalam multimedia, termasuk mobile TV. Namun, perlu juga kesiapankalangan operator dalam penyediaan kapasitas sebagai antisipasiterjadinya ledakan permintaan pengguna. Layanan mobile televisiondan digital video content akan segera diperkenalkan oleh operator diseluruh dunia. Saat ini, baik ponsel berkemampuan multimedia ataumobile TV sudah tersedia, sedang layanan TV merupakan sesuatuyang sudah tersedia dan sangat digemari. Jadi, dengan adanya mobileTV, pemirsa TV tak lagi dibatasi oleh tempat, melainkan dapatmenontonnya di mana dan kapan saja, dalam diam maupun bergerak.Layanan ini diperkirakan akan semakin mendorong kerjasama antarapara operator dengan penyedia konten digital, yang jenisnya bisasangat beragam, dari yang pendek hingga panjang, termasuktayangan iklan. Perkembangannya boleh dibilang sangat pesat, dariyang kurang dari satu juta di seluruh dunia saat ini, akan meningkatmenjadi 250 juta tahun 2010 mendatang ( ABI Research ). Nilaibisnisnya pun akan meningkat drastis dari sekitar US$200 juta saat iniakan menjadi US$27 miliar hingga akhir dekade ini. Hanya saja,penghasilannya akan lebih menyebar, karena akan lebih banyak orangatau perusahaan yang terlibat. Meski potensinya sangat besar, namunselain ketersediaan dukungan kapasitas dan aneka ragam layanan,masalah harga dan kemasan harus juga menjadi perhatian sungguh-sungguh. Kalau harganya terlalu tinggi dan kemasannya kurangmenarik, mobile TV tak akan berkembang cepat. Perkiraan yang adasaat ini, layanan tersebut dapat diperoleh dengan harga sekitar US$10atau sekitar Rp. 100 ribu per bulan. Bagi operator, pilihanpenyampaian layanannya bisa mengandalkan jaringan yang ada, yangtelah ditingkatkan menjadi layanan 3G, WCDMA atau menggunakan
    • 32teknologi broadcasting, seperti DVB-H, DMB dan MediaFLO (forwardlink only).f. DRM (Digital Rights Management) setidaknya telah memunculkanpertarungan yang tampaknya akan berdampak besar terhadapberbagai model bisnis musik online dunia. Pembeli musik online ,misalnya, semakin menuntut fleksibilitas yang semakin besar untukmemainkan musiknya di berbagai perangkat portabel kesukaannya.Meski penggunaan DRM tak hanya terfokus pada musik, melainkanjuga mencakup berbagai konten digital lainnya, termasuk korporat,yang memang harus dilindungi hak-hak kepemilikannya, sehinggaketika dikomersialkan, juga berarti terkait dengan hak-hakpendistribusian dan penggunaannya. Teknologi media digital jugamembuka peluang untuk mendistribusikan konten secara online , tidaklagi mengandalkan medium fisik, seperti halnya CD maupun DVD. Kini,Anda menjumpai berbagai pilihan konten digital, baik musik maupunfilm melalui Internet, misalnya melalui situs web iTunes, Napster 2.0,RealNetworks, Rhapsody, MusicMatch, Soundbuzz dan berbagai situslainnya. Namun, digitalisasi konten ini tak urung membuatnya sepertipisau bermata dua. Di balik kemudahan, muncul peluang penggandaandan pendistribusian konten secara ilegal. Pengalaman ini mendorongmunculnya Digital Rights Management (DRM). Teknologi itu, kini,sudah digunakan secara luas, baik oleh penyedia musik online yangmenjalankan model bisnis pay-per-download maupun berbasislangganan, termasuk kalangan korporat. Teknologi DRM lain yang jugabersifat proprietary adalah Helix yang dirilis RealNetworks. Teknologiini sudah terkemas dalam software Real Player yang sudah digunakanjutaan PC di seluruh dunia. Belakangan, Real Networksmengintegrasikan teknologi ini dengan teknologi DRM yangdikembangkan oleh Open Mobile Alliance, yaitu OMA DRM 2.0. Dengan
    • 33begitu, pilihan perangkat portabel yang memungkinkan untukmenikmati konten digital yang dikemas dalam Helix pun semakin luas,menjangkau perangkat mobile lainnya, seperti ponsel maupun PDA.DRM juga sangat potensial digunakan sebagai solusi korporat. Sektorjasa keuangan, manufaktur teknologi-tinggi dan pemerintahandiharapkan akan menjadi pengguna solusi DRM korporat. DRM ini akanmemfasilitasi penghantaran dokumen-dokumen penting, misalnyadaftar harga, dokumen SDM atau engineering blueprints secara aman,baik di dalam atau di luar firewall.g. E-PASSPORT merupakan revolusi dalam penanganan paspor yang adaselama ini dan menggantikannya dengan paspor elektronik, salahsatunya dengan menggunakan RFID tag (Radio FrequencyIdentification). Dengan RFID bukan saja prosesnya menjadi lebihcepat, karena semua data personal yang dibutuhkan pada suatupaspor telah tersedia di paspor dalam bentuk data digital, juga padasaat yang sama meningkatkan aspek keamanan, karena tak mudahdipalsukan. Disamping itu, penerapan e-passport ini harus juga,nantinya, terdukung dengan data mereka-mereka yang seringbepergian menggunakan pesawat terbang yang menurut ICAOberjumlah sekitar satu miliar orang. Data itu diperkirakan baru selesaidihimpun pada tahun 2015 mendatang. Dengan begitu, nantinya, datatersebut akan dapat diakses oleh semua bandara internasional dimana saja, sehingga penerapan e-passport akan semakin efektif.Penggunaan E-Passport akan juga terkait dengan digitalisasi sistemyang lebih luas, antara lain paperless ticketing dan pengelolaanberbasis elektronik di bandara dan sistem bisnis perjalanan danpenerbangan dunia. Perkembangan e-passport dan paperless ticketingini akan merevolusi penanganan bandara, karena ia juga menyangkut
    • 34tersedianya perangkat dan sistem pengenal dan keamanan bandarasebagai konksuensi perubahan itu.2.3 Menuju Masyarakat Informasi Indonesia (E-Indonesia)Indonesia, sebagai negara kepulauan, memiliki sekitar 17.000 pulau(6000 pulau berpenduduk) yang tersebar dalam area geografis 2000 x 5000kilometer persegi. Saat ini, meskipun telah didukung oleh satelit Palapasebagai back bone utama dalam jaringan telekomunikasi, sekitar 47.000desa belum terjangkau layanan telekomunikasi. Investasi di sektortelekomunikasi di Indonesia berkisar pada Rp. 50 trilyun / tahun di manaindustri dan jasa domestik hanya berkontribusi sebesar 2%. PemakaianInternet di Indonesia masih sangat kecil (sekitar 3 % populasi), danpengembangan aplikasi serta konten dalam Bahasa Indonesia masih sangatterbatas. Di bidang pengembangan software, Indonesia masih berada ditingkat sangat awal, dan cenderung menjadi konsumen daripada produsen.Teknologi informasi dan komunikasi, TIK, seperti diyakini oleh semakinbanyak pihak, menjadi sebuah faktor penting bagi kemajuan bangsa di eraglobal ini. Selain menjadi faktor produksi dan ekonomi, TIK juga berperansebagai “enabler” dalam perubahan kemasyarakatan di berbagai aspek,seperti dalam pengembangan kehidupan politik yang lebih demokratis,pengembangan budaya dan pendidikan, dan peningkatan kapasitasgovernance di berbagai sektor pembangunan.Tetapi, meskipun masih dalam posisi terlambat dan tertinggal,perkembangan dan pemanfaatan TIK di tingkat internasional juga belummencapai fase yang matang dan final. Banyak aspek dari TIK masih tengahdijajagi, digali dan dan dikembangkan, dengan berbagai keberhasilanmaupun kegagalan. Pengalaman dari berbagai bangsa-bangsa lain dalamimplementasi kebijakan TIK harus menjadi sumber pembelajaran bagibangsa Indonesia untuk menghindari kesalahan-kesalahan, dan untuk
    • 35menemukan cara-cara baru yang lebih baik (diolah dari makalah Menristekberjudul Menuju Masyarakat Informasi Indonesia : Peluang dan Tantangan,tahun 2006)2.3.1 Permasalahan Umum yang dihadapiIndustri telematika (ada yang menyebut Infocom) atau industri bidangTIK adalah industri infrastuktur sebagai pilar pembangunan ekonomi suatubangsa seperti layaknya peran infrastruktur lainnya dimasa lampau sampaisekarang dan yang akan datang seperti sarana transportasi darat-laut-udarabeserta pelabuhannya, listrik, air, dan kebutuhan primer lainnya. Dengankemajuan aplikasi telematika termasuk Internet dan kecanggihan jaringanpita lebar (broadband), maka telah dimulai revolusi ekonomi dunia yangketiga dengan perubahan sistem produksi danpengiriman-penyampaian(delivery), seperti terjadinya revolusi ekonomi pertama dan kedua denganditemukannya mesin uap dan pembangunan besar-besaran jalan raya sertakereta api. Pertanyaan yang harus dijawab:adalah bagaimana Indonesiadapat membangun 40 juta sampai 50 juta akses telekomunikasi yangseyogyanya merata ke semua rumah tangga di Indonesia, sebagaimanapernah termuat dalam dokumen Sasaran Jangka Panjang SektorTelekomunikasi Repelita VII-X beberapa tahun yang lalu sebagai sasaranuntuk akhir Repelita IX (2014) atau awal Repelita X.Manusia Indonesia melalui infrastruktur telematika akan bisamengakses informasi apapun yang ada didunia, dengan mudah, cepat danmurah (anytime, anywhere, any content) setara dengan penduduk negaramaju. Prasarana telematika yang memadai dapat menunjang kemampuanSDM bangsa Indonesia menjadi manusia yang produktif berpendidikan danberwawasan tinggi dengan skala international, sejajar dengan kemampuanSDM bangsa lain didunia. Hingga dewasa ini majoritas penduduk Indonesiabelum bisa mengakses dan memanfaatkan informasi (content) yang cukup
    • 36canggih dengan harga yang terjangkau/ sesuai daya beli masyarakatIndonesia. Ini dapat menjadi kendala besar dalam usaha kita agarproduktifitas (manusia) Indonesia menjadi lebih tinggi melalui infrastrukturtelematika.Menyadari pentingnya infrastruktur telematika (infocom) bagiperkembangan ekonomi,sosial dan keamanan negara, sebaiknya parapengambil keputusan di tingkat supra-struktur politik dan di tingkat birokrasidi Indonesia menunjukkan kepemimpinan yang sungguh-sungguh denganmemikirkan dan merancang kebijakan-kebijakan yang kondusif bagitumbuhnya industri telematika yang sehat. Yang menjadi persoalan adalah,bagaimana menarik investasi dibidang telematika khususnya jaringantelematika melalui kebijakan dan regulasi telematika yang sesuai, termasukmodel licensing yang bagaimana yang sesuai serta kondusif, kebijakan tarifbaik retail maupun interkoneksi yang memadai, dan lain sebagainya. Halyang mendasar adalah usaha menemu kenali bagaimana teknologi danlayanan telematika dapat berfungsi sebagai “enabler” pembangunanIndonesia dan perangkat apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai sasaranpembangunan (ekonomi) Indonesia dan mencapai tujuan kita dalam sektortelematika. Seluruh usaha harus dilaksanakan secara terkoordinasi dankonsisten.2.3.2 Indikator Teknologi InformasiTelematika adalah bagian tak terpisahkan dari Teknologi Informasidan Komunikasi. Telematika yang dimaksudkan mencakup semua teknologikomputer, teknologi komunikasi, dan teknologi perkantoran yang terkaitserta aplikasinya yang fungsi utamanya adalah untuk menyimpan,mengambil, mengolah dan menyebarkan informasi dalam berbagai bentuktermasuk suara, video, teks dan data. Termasuk juga di dalamnya alat-alatelektronik, konsumer elektronik, perangkat keras dan perangkat lunak
    • 37komputasi, disain dan produksi yang berkaitan dengan komputer. Indikatorteknologi informasi yang dikembangkan ini mencakup adalah :• Telekomunikasi dan informatika (Telematika) di Indonesia.• TIK dalam proyek pembangunan sektor iptek pemerintah.• Investasi industri teknologi informasi dan komunikasi.• Perdagangan luar negeri komoditi Teknologi Informasi danKomunikasi• Paten dan Hak Cipta Teknologi Informasi dan Komunikasi.• SDM pendidikan tinggi negeri bidang teknologi informasi dankomunikasiPemilihan indikator teknologi informasi yang dikembangkan ini merupakanindikator yang memberikan peran besar dalam arah perkembanganTeknologi Informasi dan Komunikasi di Indonesia (Edi, Dina, Muh danSaifullah, 2005).2.3.3 Isu Moral dan Undang-UndangTerdapat kebimbangan masyarakat tentang Internet yang berpuncakpada beberapa bahan kontroversi di dalamnya. Sama seperti halnya sebuahkomunitas, Internet juga mempunyai tata tertib tertentu, yang dikenaldengan nama Nettiquette.Pelanggaran hak cipta, pornografi, pencurian identitas, dan ucapanbenci (Hate speech), adalah menjadi hal biasa dan sulit dijaga, karenaNettiquette hanyalah sekadar etika bergaul di internet yang tidak memilikisangsi hukum (wikipedia, 2007).Hingga tahun 2007, Indonesia masih belum memiliki Cyberlaw,padahal draft akademis RUU Cyberlaw sudah dibahas sejak tahun 2000 olehDitjen Postel dan Deperindag. UU yang masih ada kaitannya denganteknologi informasi dan telekomunikasi adalah UU Telekomunikasi tahun
    • 381999 (UU No. 36 tahun 1999) dan UU No.32 tahun 2002. Rancangan UUKeterbukaan Informasi Publik diharapkan menjadi UU yang dapat lebihmendukung penegakan hukum di area publik dunia maya.Contoh dampak negatif TIK yang cukup dasyat terjadi di negara-negara barat, yaitu adanya kehilangan nyawa bagi pengguna internet.Sehingga oleh sebagian orang, internet menjadi tumpuan kesalahan ataukambing hitam yang mengakibatkan kematian manusia. Brandon Vedasmeninggal dunia akibat pemakaian narkotik yang melampaui batas denganteman-teman chatting IRCnya. Shawn Woolley bunuh diri karena ketagihandengan permainan online, Everquest. Brandes ditikam bunuh, dan dimakanoleh Armin Meiwes setelah menjawab iklan dalam internet.Berkaitan dengan isu moral tersebut, adanya dampak negatifpemanfaatan TIK di tanah air yang mungkin terjadi, pengembangan danpemanfaatan TIK menghadapi tantangan untuk permasalahan geo-sosio-kultural yang cukup kompleks. Penyelesaian tidak dapat datang tiba-tiba danhanya dari segelintir rakyat Indonesia, melainkan segenap komponenbangsa, mulai dari pengguna jasa TIK, penyelenggara jasa TIK dan parapembuat kebijakan/aturan serta para pihak yang terkait di dalamnya harussecara sadar berperan serta membangun benteng pertahanan melalui aturanyang jelas dan tepat, penegakan hukum yang tegas dan iman yang bersih.2.3.4 Isu Strategis NasionalPemerintah bangsa Indonesia berkeinginan untuk mempercepatpembangunan nasional. Salah satu usulan yang dikemukakan oleh ForumICT 4 Perguruan Tinggi (UI, ITB, UGM, ITS) adalah teknologi Informasi danKomunikasi (TIK) untuk percepatan Pembangunan Nasional. Karena TIKtercantum dalam tujuan nasional Indonesia, yakni :
    • 391. Terciptanya suatu masyarakat yang adil, makmur, sejahtera,aman dan bersatu dalam naungan NKRI2. Era informasi atau pasca informasi, terwujud melaluipembangunan masyarakat berpengetahuan (knowledge basedsociety)3. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menjadi tulangpunggung pencapaian tata nilai dan tata kelola masyarakatberpengetahuan tersebut.Berkaitan dengan isu strategis bangsa (lihat gambar bawah), makaterbentuklah sasaran strategis bangsa Indonesia, yaitu :1. Pengelolalan pemerintahan yang baik (Good GovernmentGovernance)2. Peningkatan pertumbuhan ekonomi3. Mengubah pola pikir dan budaya masyarakat agar lebihberorientasi pada masyarakat yang berpengetahuan (knowledgebased society)Gambar 2.23 : “Isu Strategis Nasional”
    • 40Pemerintah wajib berperan serta untuk mendayagunakan fungsi strategi E-Indonesia, karena di sini pemerintah memiliki kunci peranan yang sangatkrusial. Tujuannya tidak lain adalah tata kelola pemerintahan secara lebihefisien dan efektif. Fungsi strategi E-Indonesia adalah :• Pemerintah sebagai agent of change• Pemerintah berperan sebagai initiator, bukan hanya sebagaifasilitator• Lembaga kepresidenan menjadi suprastruktur yang mensinergikanseluruh simpul informasiAlur kerangka strategi E-Indonesia terlihat pada gambar berikut.Diharapakan tata kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang baik(IT Governance) serta didukung oleh Penyelenggaraan Pemerintahan (e-tranformation melalui e-Government), Ekonomi TIK (e-conomics driven dannational competetiveness) dan Pendidikan (e-tranformation menujuknowledge based society), maka TIK sebagai penghela ekonomi yangmuaranya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia (Timpakar ICT 4PT, 2006).
    • 41ObservasiPemantauanKeputusanEksplisitUmpan BalikPengalamanSebelumnyaInformasiBaruTradisiBudayaAnalisisSintesisUmpan BalikKendali danPengarahanImplisitTindakanUmpanmajuUmpanmajuInteraksidenganLingkunganKendali danPengarahanImplisitInteraksidenganLingkunganFaktaKondisiInformasiLuarUmpanmajuPresiden RI Lembaga/InstitusiLembaga/InstitusiObservasi Orientasi Keputusan TindakanKeputusanImplisitKarakterBawaanGambar 2.24 : “Alur Konsep E-lndonesia”(Sumber : Presentasi Forum ICT 4PT, 2006)2.3.4.1 Lingkungan Masyarakat Perkotaan BesarBagaimana TIK dapat membuat makna tempat-tempat/lokasi-lokasimenjadi berbeda? Ini paling mudah terlihat dalam konteks perusahaan-peruahaan bisnis dan upaya-upaya mereka untuk beroperasi. Meskipunbiaya telekomunikasi sebagai faktor penentu nilai ekonomik dari lokasimerupakan konsep baru, biaya transportasi telah lama menjadi bagiansentral dalam analisis ekonomik terhadap lokasi kegiatan bisnis. Upayauntuk mengatasi persoalan jarak dalam pergerakan/perpindahan barang-barang telah menghasilkan formula sederhana (yaitu, berat x jarak) daribiaya transportasi total.Peluang bisnis, industri dan tenaga kerja banyak tumbuh di wilayahperkotaan karena infrastruktur TIK sudah cukup memadai, sehingga jikajarak telah ‟dimusnahkan‟, TIK telah membuat “aliran-aliran” menjadi lebihpenting. Khususnya, ketika jejaring telah tercipta dan berkembang, siapa
    • 42saja dapat menjadi simpul di dalam jejaring tersebut. Tetapi yang menjadipersoalan adalah kepada siapa-siapa saja seseorang terhubungkan dalamjejaring itu. Ini berarti bahwa dalam pemanfaatan TIK, konfigurasi koneksi-koneksi lebih merupakan permasalahan, bukan jarak.Sekarang, ketika infrastruktur TIK tersedia diwilayah perkotaan, siapapun dapat dihubungkan kemana pun. Bagi orang-orang lokal perkotaan ,menjadi penting untuk memiliki hubungan-hubungan ke jejaring global yangterdiri atas organisasi-organisasi dan perusahaan-perusahaan besar (yangnotabene selalu berada di wilayah kota) di mana informasi, perdagangandan keputusan terpusatkan. Hubungan ke jejaring global ini tidak lagimemerlukan kedekatan fisik. Tetapi ini memerlukan hubungan-hubungandan penggunaan hubungan-hubungan ini untuk bertukar informasi.Hubungan-hubungan ini mencakup jejaring-jejaring personal yang dikelolaindividu-individu dan jejaring-jejaring bisnis dari perusahaan-perusahaankompetitif yang beraliansi dengan para pensuplai (supplier) dan organisasi-organisasi sumber pengetahuan yang lain. Biaya yang muncul dari keadaanunconnected adalah biaya operasi yang menjadi lebih tinggi, yang biasanyadalam bentuk penalti waktu. Waktu sering merupakan variabel yang pentingdikontrol oleh seseorang atau suatu perusahaan. Untuk mengembangkanhubungan-hubungan ke jejaring global, simpul-simpul lokal memerlukanpengetahuan know-how dan keterampilan, lingkungan sosio-kultural daninfrastruktur kelembagaan yang adaptif, dan tradisi-tradisi entrepreneurial.Meskipun efek telekomunikasi meruntuhkan jarak, efek ini tidakseragam bagi daerah-daerah yang berbeda atau organisasi-organisasi dalamdaerah. Kunci untuk memahami signifikansi telekomunikasi adalah untukmelihatnya dalam konteks jejaring komputer. Inovasi jejaring komputeryang mendefinisikan ulang basis keuntungan kompetitif tidak dapatdilepaskan dari organisasi-organisasi yang didalamnya jejaring tersebutembeded. Meskipun jejaring komputer dapat atau tidak menggabungkan
    • 43bagian-bagian dari infrastruktur telekomunikasi publik, setiap jejaringkomputer pada esensinya private and proprietary. Adakah teknologi bagiyang tidak terkoneksikan ? Area perdesaan dan pinggiran menghadapitantangan spesial (Kusmayanto K, 2006).2.3.4.2 Lingkungan PedesaanTerdapat dua pandangan tentang efek TIK bagi area perdesaan. Yangpertama memandang penting akses yang lebih besar yang diberikan melaluiteknologi bergerak, dan peningkatan kapabilitas komunikasi. Pandanganyang lain berfokus pada “rural penalty,” yang dikaitkan dengan tiga faktor:(1) rapat populasi yang rendah, (2) jarak komunitas perdesaan dari pusatperkotaan, dan (3) spesialisasi ekonomik di sektor yang bukan intensif-pengetahuan atau intensif-informasi. Meskipun TIK dapat mengurangi faktorjarak, akses berbasis Internet kurang menguntungkan bagi pengguna dilokasi yang terpencil di perdesaan, karena harus menggunakan tarif jarak-jauh. Faktor yang ketiga merupakan hambatan terbesar.Kota-kota kecil non-metropolitan bahkan wilayah pedesaan cenderungbergantung pada kegiatan-kegiatan seperti: pertanian, pertambangan,manufaktur, administrasi pemerintahan, dan layanan-layanan. Faktorlokasi/jarak mempengaruhi daya saing dari perusahaan-perusahaan diperdesaan, yang jauh dari sumber informasi dan sumber teknologi.Bagaimana suatu perusahaan kecil menjalankan bisnisnya menentukan tipesarana komunikasi yang digunakannya sehari-hari. Sekurangnya terdapattiga jenis perusahaan kecil:1. perusahaan dengan pelanggan/klien yang tersebar;2. perusahaan kecil yang menjadi antarmuka perusahaan besar;3. perusahaan kecil dengan pangsa pasar lokal; dan4. perusahaan kecil dengan pangsa pasar internasional.
    • 44Masing-masing memiliki kebutuhan telekomunikasi yang berbeda. Diantara ke empat jenis itu, perusahaan kecil dengan pangsa pasarinternasional merupakan yang (secara potensial) paling diuntungkan olehlayanan TIK.Di area perdesaan maupun perkotaan, para pengguna TIK cenderungmemiliki tingkat pendapatan dan pendidikan yang lebih tinggi dari padabukan pengguna. TIK cenderung terjangkau bagi mereka yang menjadibagian dari organisasi-organisasi besar. Meskipun non-nodalitas dariteknologi mobile mengurangi arti penting infrastruktur fisis, tetapi interaksisosial tidak dapat didukung hanya dengan TIK. Bahkan, sejumlah surveimenunjukkan bahwa telekomunikasi telah meningkatkan perjalanan fisis,bukan mengurangi. Jadi, meskipun banyak kegiatan dapat dilaksanakan dilokasi pelosok dengan lebih menguntungkan, jauhnya area-area perdesaandari perkotaan tetap akan menjadi masalah. Meskipun faktor upah-tenagakerja yang rendah membawa desentralisasi bisnis ke perdesaan, ini perludiseimbangkan dengan aspek-aspek lain, seperti tingkat pengetahuan untukpengembangan layanan kesehatan dan pendidikan (Kusmayanto K, 2006).Sektor Bisnis Sektor PublikArea PerkotaanPengembangan hubungan-hubunganke jejaring global;Pengembangan lingkungan dankelembagaan yang adaptif dan tradisientrepreneurialPengembangan layanan yang cost-effective,fleksibel, aman, automated, terpadu danterandalkan;Pengembangan kegiatan yang intensif-informasi disektor publikArea PerdesaanPengembangan kegiatan-kegiatanyang intensif-informasi;Pemanfaatan faktor-faktor lokasional;Pengembangan hubungan-hubunganke bisnis internasionalPengembangan kegiatan-kegiatan yang intensif-informasi;Pengembangan yang bersumber pada faktorendogen lokal (sosio-kultural); Pemanfaatanfaktor-faktor lokasional;Tabel Permasalahan di Sisi Demand dalam Pemanfaatan TIK
    • 45
    • 46Bab 3 Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan3.1 Kerangka Pemikiran“Studi Potensi Pengembangan Industri TIK Nasional dalam mendukungpenerapan smart card dan RFID” ini merupakan studi yang bersifatdescriptive analysis yang akan menganalisis tentang potensi pengembanganindustri teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia dalam mendukungpenerapan smart card dan RFID. Studi ini diawali dengan studi perpustakaansebagai teknik pengumpulan data awal bagi kesiapan pembuatan researchdesign (rancangan penelitian). Untuk itu, kegiatan diskusi pra penelitianantar peneliti akan dilakukan sebagai langkah awal dalam menyusun suaturancangan penelitian. Sementara studi perpustakaan lewat sejumlah bukuyang diperoleh dari perpustakaan maupun lewat pencarian data di mediaInternet, artikel ilmiah, studi kasus di beberapa negara serta indikatorteknologi informasi akan terus dilakukan baik pada tahap sebelum penulisanrancangan penelitian, tahap saat penulisan rancangan penelitian, maupuntahap saat sesudah penelitian lapangan ke beberapa daerah selesaidilakukan.Setelah penajaman naskah rancangan penelitian untuk persiapanmelakukan penelitian di daerah-daerah lapangan selesai dilakukan, timpenelitian akan menyusun instrumen penelitian, berupa sejumlahpertanyaan yang tersusun secara sistematis dalam bentuk indepth interviewquestions maupun qestionnaire. Instrumen penelitian yang dipakai sebagaialat ukur dalam penelitian akan diperbanyak (digandakan) sesuai dengankebutuhannya untuk kemudian dibawa ke daerah-daerah lapangan. Lembar-lembar pertanyaan (baik indepth interview questions maupun qestionnaire)yang telah digandakan itu kemudian disebarkan ke sejumlahresponden/nara sumber di daerah penelitian sesuai dengan kebutuhan.Sementara itu, pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) di daerah-daerah
    • 47penelitian dengan arah diskusi mengacu pada indepth interview questionsyang telah disusun, akan menjadi penekanan terpenting selama di lapangan.FGD ini penting untuk menggali lebih jauh atas permasalahan yangditeliti ataupun dikemukakan dalam forum ini. Uraian atas penjelsanmasalah bisa berkembang di dalam forum ini, sehingga informasi yangdiperoleh tim peneliti akan bisa lebih kaya, komprehensif dan akurat.Untuk melaksanakan kegiatan studi potensi pengembangan industriTIK nasional dalam mendukung smart card dan RFID, tim konsultan akanmenggunakan skema umum alur kegiatan sebagai berikut :
    • 48Laporan SementaraPengolahan DataLapangan (Quesioner &FGD)Presentasi Laporan AwalSeminarLaporan AkhirDiskusi Pra PenelitianStudi PustakaPenyusunanLaporan AwalPenyusunan InstrumenPenelitianRancanganPenelitianSkema Umum Alur Kegiatan StudiBerdasar skema tersebut, ditambah berbagai masukan yang harusdiperhatikan serta ketetapan output hasil studi dari kegiatan ini, maka dapatdiperoleh kerangka pemikiran dalam bentuk bagan alur diatas.
    • 493.2 MetodologiStudi ini dilaksanakan melalui metodologi yang secara umum dapatdikategorikan yaitu Studi Literatur, Pendekatan Kuantitatif dan PendekatanKualitatif.Mengacu metodologi tersebut, maka dijabarkan secara umum terdapat4 tahapan yang akan dilaksanakan oleh tim konsultan, yaitu:1. Tahap Persiapan2. Tahap Pengumpulan Data dan Informasi3. Tahap Analisis dan Pengolahan Data dan Informasi4. Tahap Penyelesaian Laporan Akhir StudiPenjelasan dari masing-masin tahapan adalah sebagai berikut :3.2.1 Tahap PersiapanPada tahapan ini, peneliti akan mempersiapkan segala sesuatu yangdiperlukan dalam menjalankan kegiatan studi, diantaranya adalahketersediaan data dan informasi, lembar daftar pertanyaan danpengumpulan data, alokasi tenaga ahli, koordinasi dan penyusunan laporanpendahuluan.Kegiatan yang termasuk dalam tahap ini adalah :a. Laporan PendahuluanLaporan ini berisi mengenai rencana kerja mulai dari awal kegiatanhingga kegiatan berakhir berikut daftar pertanyaan survei. Isi darilaporan tersebut akan dibahas dan disajikan pada Presentasi Awal,agar tim dari Departemen Komunikasi dan Informatika dapatmengetahui secara komprehensif tentang pelaksanaan kegiatan studiini.
    • 50b. Presentasi AwalPresentasi awal dimaksudkan untuk1. Memperkenalkan tim pelaksana Studi Potensi PengembanganIndustri TIK Nasional dalam mendukung penerapan Smart Carddan RFID kepada pejabat Departemen Komunikasi danInformatika dan untuk mengetahui tim dari Pemerintah yangakan terlibat didalamnya2. Mendiskusikan dan mempresentasikan isi dari LaporanPendahuluan3. Mendiskusikan penetuan rencana pertemuan berikutnyaKunci utama pada Presentasi Awal ini adalah agar semua pihak yakindan memahami kegiatan yang akan dilakukan tim pelaksana studi dantanggung jawabnya agar tercapai keberhasilan penyelesaian kegiatan ini.3.2.2 Tahap Pengumpulan Data dan InformasiPada tahapan ini, tim pelaksana studi akan melakukan pengumpulandata dan informasi yang terkait dan mengacu pada ruang lingkup pekerjaanyang telah didefinisikan, dengan melihat pada koridor yang ditetapkan olehDETIKNAS.Pengumpulan data dan Informasi dilaksanakan dengan cara StudiPustaka dan Pengumpulan Informasi pada daerah penelitian berdasar daftarpertanyaan, dan yang dijabarkan sebagai berikut :a. Metode Studi PustakaMetode studi yang diterapkan adalah :
    • 511. Studi Perpustakaan sebagai persiapan pelaksanaan seminarresearch design dan persiapan penelitian lapangan, mencakuphal :- Pembacaan literatur dengan teknik pengumpulan data,diperoleh melalui buku-buku yang diterbitkan di dalam danluar negeri, media cetak, dan penjelajahan melalui internet- Mendengarkan informasi yang disiarkan melalui mediaelektronik2. Pendekatan analisis kualitatif dan kuantitatif, mencakup hal :i. Pelaksanaan penyebaran daftar pertanyaan sebagailangkah awal menggali sumber informasi secara langsungdari berbagai responden yang menyelenggarakan jasabisnis informasi dan responden yang menggunakan jasabisnis informasiii. Pelaksanaan wawancara mendalam (indepth interview).Teknik wawancara mendalam ini sebagai langkah lanjutanyang lebih akurat dan mendalam tentang pandangan darisejumlah responden, karena dengan teknik ini dapat digalilebih jauh lagi tentang “apa”, “mengapa”, dan“bagaimana” pendapat responden dalam menjelaskan satupertanyaan yang diajukan.
    • 52b. Daerah Penelitian StudiStudi dilakukan pada daerah penelitian yang dipilih di Indonesiayaitu :1. Bandung2. Batam3. SurabayaKetiga kota diatas merupakan pusat bisnis informasi dantelekomunikasi, sehingga bisa diperoleh „benang merah‟ antarapersepsi responden di daerah-daerah dengan persepsi responden dipusat. Hal ini sekaligus dapat dipakai untuk mengetahui ada tidaknyakesinambungan antara persepsi pusat dan persepsi daerah ataspermasalahan yang diteliti, terutama menyangkut implementasikebijakan teknologi komunikasi dan informasi.Penentuan daerah penelitian ditetapkan secara proporsionaldengan mempertimbangkan potensi industri TIK nasional.c. Pengumpulan Data Primer dan SekunderAkan digunakan penyebaran angket untuk memperoleh dataprimer dan pengumpulan hasil laporan lainnya yang mempunyaiketerkaitan baik langsung maupun tidak langsung serta diskusi denganberbagai para sumber.a. Data Primero Teknik pengumpulan data primer yang digunakan adalah denganmengirimkan kuesioner kepada responden terpiliho Survei dalam rangka pengumpulan data dalam bentukquestioner dengan informasi responden sebagai berikut:Industri - 5 Industri Dalam NegeriPemerintah - 5 Instansi Pemerintah
    • 53Perbankan - 5 Bank yang telah memanfaatkanSmart CardTelekomunikasi - 5 Operator TelekomunikasiKesehatan - 5 Rumah SakitImigrasi - 5 OrangTransportasi - 5 OrangUmum - 5 Orango Asumsi-asumsi yang digunakan adalah :Jumlah potensi pengguna smart cardLama masa pemanfaatan dan pengembangan sistemKemampuan industri dalam negeriKebijakan yang mendukung pertumbuhan industri dalamnegeriPeta potensi pemanfaatan smart cardFitur yang dapat dilayani dalam rangka pemanfaatan smartcardb. Data sekundero Data yang dikumpulkan antara lain:Buku maupun publikasi mengenai teknologi danpemanfaatan smart cardData stakeholder dan pengguna smart cardLaporan mengenai pemanfaatan smart card dari negara laino Lembaga/instansi sumberdata diantaranya:Departemen Komunikasi dan InformatikaDepartemen PerindustrianDepartemen lain yang terkaitBank IndonesiaInternet
    • 543.2.3 Tahap Analisa dan Pengolahan DataBerdasar pada tahapan sebelumnya, maka tim pelaksana studi akanmelakukan analisa dan pengolahan data yang nantinya akan dituangkandalam Laporan Sementara. Laporan ini berisi draft hasil studi dan kajianberdasarkan data survei di lapangan, kajian literatur, analisis data,kesimpulan dan rekomendasi yang akan diusulkan pada seminar / uji sahih.Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini adalah :a. Prediksi Pertumbuhan nilai ekonomi atas implementasi teknologismart card dan RFIDb. Prediksi mengenai konsekuensi bisnis atas kelangsungan bisnisTIK konvensional terhadap implementasi teknologi smart card danRFIDc. Mengkaji tingkat kelayakan industri teknologi smart card dan RFIDdibanding dengan derajat penyerapan teknologid. Mengkaji tingkat adopsi masyarakat terhadap penggunaanteknologi smart card dan RFID3.2.4 Tahap Penyelesaian Laporan Akhir StudiPada tahapan ini, tim pelaksana studi akan menyusun laporan akhiryang merupakan penyempurnaan dari draft Laporan Sementara setelahdilakukan pembahasan bersama pejabat, pakar dan tim terkait, agardiperoleh masukan dan evaluasi melalui kegiatan seminar / uji sahih.Laporan akhir tersebut akan berisi hal-hal sebagai berikut :1. Pendahuluan2. Kerangka Pemikiran dan Metodologi Studi3. Tinjauan Teknologi Telekomunikasi, Multimedia danInformatika saat ini
    • 554. Analisis Potensi dan Permintaan Layanan / Jasa TIK yangmenerapkan smart card dan RFID5. Analisis Implementasi Teknologi smart card dan RFID danMigrasi Teknologi6. Regulasi, Kebijakan dan Standarisasi7. Hasil Kajian dan Rekomendasi8. Kesimpulan dan SaranLampiran-LampiranHasil surveiHasil diskusi dan wawancaraPrediksi
    • 56Bab 4 Rencana Pelaksanaan KegiatanJangka waktu pelaksanaan pekerjaan penyusunan Studi PotensiPengembangan Industri TIK Nasional dalam mendukung PenerapanSmart Card dan RFID adalah selama 4 (empat) bulan terhitung sejaktanggal pelaksanaan penandatanganan perjanjian kerja.4.1. Tahap PersiapanTujuan : Mempersiapkan seluruh sarana danprasarana yang diperlukan dalamrangka pelaksanaan kegiatanKeluaran : Laporan Pendahuluan (inceptionReport)Waktu : 2 (dua) MingguTempat : Jakarta4.2. Studi literaturTujuan : Mengkaji secara lebih mendalammengenai teknologi, danpengalaman negara lain dalampengembangan dan pemanfaatansmart card maupun pengembangankebijakan yang mendukungKeluaran : Laporan AntaraWaktu : 2 (dua) mingguTempat : Jakarta4.3. Pengumpulan Data PrimerJenis Data : Data hasil angketSumber Data : Kuestioner yang dikirimkan kepadastakeholder terpilih untuk masing-masing bidangSubstansi : Mengumpulkan informasi mengenaiteknologi, metode dan pengalamanresponden dalam pengembangan danpemanfaatan smart cardWaktu : 3 (tiga) minggu
    • 57Tempat : Jakarta4.4. Survei LapanganTujuan : Untuk menggali secara lebih mendalammengenai pengalaman dan harapanresponden dalam memanfaatkanteknologi smart cardKeluaran : Laporan AntaraTeknik :  Wawancara mendalamResponden : Satu responden untuk setiapstakeholder6 respondenSampel dipilih dari pengguna smartcard terbesar untuk masing-masingbidangMateri : TeknologiProyeksi pengembangan danpemanfaatan smart card ke depanmaupun yang sedang disiapkanPermasalahan terkait dengan dukunganperkembangan industriWaktu : 3 (tiga) mingguTempat : Jakarta4.5. Tahap AnalisisTujuan : Melakukan analisa atas hasilpengumpulan data primer dan sekunderuntuk selanjutnya dapat ditarik suatukesimpulan sebagai bahan penyusunanlaporan akhirKeluaran : Draft Laporan AkhirMetode Analisis :  SWOT Analisis Statistik Analisis Kebijakan DllWaktu : 3 (tiga) mingguTempat : Jakarta4.6. Rumusan konsep kebijakan baru sebagai usulan ataurekomendasi dari hasil kajian
    • 58Tujuan : Melakukan pembahasan atas rumusanrekomendasi yang akan dikeluarkanbagi pengembangan industri TIKnasional dalam mendukung penerapansmart cardKeluaran : Draft rekomendasi pada laporan akhirMetode :  Diskusi intensifWaktu : 6 (tiga) mingguTempat : JakartaPelaksana : Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukungdengan koordinasi oleh tim leader.LangkahKegiatan:  Melakukan diskusi intensif.semua tahapan kegiatan di atas, disajikan dalam tabel rencana pelaksanaankegiatan di bawah ini.NOTAHAPANKEGIATANBULAN KE 1 BULAN KE 2 BULAN KE 3 BULAN KE 4MINGGU KE MINGGU KE MINGGU KE MINGGU KE1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 41 TAHAP PERSIAPAN2 STUDI LITERATUR3 PENGUMPULAN DATA4 SURVEI LAPANGAN5 TAHAP ANALISIS6 RUMUSAN KONSEP7 PENYUSUNAN DANPEMBAHASANLAPORAN AKHIR
    • 59Bab 5 Alokasi dan Organisasi Tenaga AhliPemanfaatan Tenaga Kerja (man-months) pada Setiap Sektor KegiatanNo. Kegiatan Tenaga Kerja Rincian1. Research techniques,designs andinstruments/ResearchTeam:a. diskusi tim tentangpenajaman Research Design(diskusi pra penelitian)Ketua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiTenaga Ahli Kebijakan Publik1 x 1bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 blnb.penyusunan dan penulisanRDKetua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiTenaga Ahli Kebijakan PublikSekretaris1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 blnc.diskusi dan penulisan daftarpertanyaan untuk wawancaramendalam (indepth interview)Ketua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiTenaga Ahli Kebijakan Publik1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 blnd. Pemetaan dan penentuanpara narasumber di daerah-daerah penelitianKetua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiTenaga Ahli Kebijakan Publik1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 blne. penyusunan instrumentpenelitianKetua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiTenaga Ahli Kebijakan Publik1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 blnf. penggandaan bahan materi Sekretaris 1 x 2 bln2. Workshop on ResearchDesign/Research Teama. presentasi laporan awalTimKetua Tim 1 x 1 blnb. Tanya jawab substansipenelitianKetua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiTenaga Ahli Kebijakan Publik1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 blnc. penyusunan & penulisantranskrip workshopSekretarisTenaga Data Prosesing1 x 1 bln1 x 1 bln3. Fine tuning of ResearchDesign/ExpatriateResearchera. diskusi tim atas masukanworkshop untuk perbaikan RDKetua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiTenaga Ahli Kebijakan Publik1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 blnb. perbaikan penulisan RD Ketua Tim/ TA Teknik Informatika 1 x 1 bln
    • 60Tenaga Ahli Teknik Elektronika 1 x 1 blnc. pernyempurnaan daftarpertanyaan untuk kelapanganTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiTenaga Ahli Kebijakan Publik1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln4. Field ResearcherMethodology/ResearchTeamKetua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiTenaga Ahli Kebijakan Publik1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 blna. menghubungi danmemastikan para narasumberdi daerahSekretaris 1 x 1 blnb. pengiriman suratpemberitahuan waktupenelitian lapanganSekretaris 1 x 1 bln5. Travels to Cities/ResearchTeam &Field AsisstantsKetua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiLocal Asisstant1 x 9 hr1 x 9 hr1 x 9 hr1 x 9 hr1 x 9 hra. pemesanan dan pembeliantiket pesawatSekretaris (booking dari Jakarta) 1 x 1 blnb. pemesanan hotel Sekretaris (booking dari Jakarta) 1 x 1 blnc. kontak para narasumber(sebelum &sesudah tiba didaerah)Tenaga Ahli TI 1 x 1 bln6. FGD &Questionnaires/ResearchTeama. Wawancara mendalamdengan para narasumberKetua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli Ekonomi1 paket x 3 lokasib. Forum Group Discussion(FGD)Ketua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiTenaga Ahli Kebijakan Publik1 paket x 3 lokasi7. Field DataProcessing/Research Team& Local Expertsa. penulisan transkrip hasilwawancara di daerahlapanganTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiTenaga Ahli Kebijakan PublikLocal expert1 paket x 3 lokasib. pengolahan dan penulisandata lapanganKetua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli Kebijakan PublikTenaga Data Prosesing1 paket x 3 lokasic. penyusunan laporan awal Ketua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiTenaga Ahli Kebijakan Publik1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 blnd. presentasi hasil survey Ketua Tim/ TA Teknik Informatika 1 paket
    • 61Tenaga Ahli Teknik Elektronika8. Workshop/FGD/panelDiscussiona. penyusunan laporanseminarKetua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiTenaga Ahli Kebijakan Publik1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln9. First Draft ofResearch/Reseacrh Teama. Diskusi tim atas masukandari workshopKetua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiTenaga Ahli Kebijakan Publik1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 blnb. penyusunan laporansementaraKetua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiTenaga Ahli Kebijakan Publik1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln10. Fine Tune of FirstDraft/Research Teama. penyusunan danpenyempurnaan laporan akhirpenulisanKetua Tim/ TA Teknik InformatikaTenaga Ahli Manajemen InformatikaTenaga Ahli Teknik ElektronikaTenaga Ahli EkonomiTenaga Ahli Kebijakan Publik1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 bln1 x 1 blnb. editing tulisan penelitian Ketua Tim/ TA Teknik InformatikaSekretaris1 x 1 bln1 x 1 bln11. Printing of Final ResearchPaper/ Research Team1 paketa. Pembuatan Cover Designdan Layout bukuSekretarisTenaga Data Prosesing1 paketb. Penulisan Kata Pengantar Ketua Tim/ TA Teknik Informatika 1 paketc. Penggandaan Sekretaris 1 paket12. Submission of ResearchResultsSekretaris 100 eksStruktur Organisasi Pengelolaan dalam Pelaksanaan Pekerjaan
    • 62Ketua TimAhli TeknikElektronikaAhli KebijakanPublikAhli ManajemenInformatikaAhli TeknikInformatikaAhli EkonomiSekretarisKeterangan:1. Ketua Tim / Tenaga Ahli Teknik Informatika (S2)a. Memanajemen pelaksanaan proyek dan mengkoordinir seluruhTim pelaksana, baik tenaga ahli inti dan tenaga pendukungb. Memiliki kemampuan dalam memimpin Tim, memimpin rapat-rapat, mempresentasikan laporan pekerjaan.c. Berlatar belakang pendidikan teknik informatika dan memilikipengalaman kerja ketua tim dan memiliki bidang keahlianbidang teknik informatika serta manajemen proyek2. Tenaga Ahli Teknik Elektronika (S2)a. Memiliki kemampuan dan keahlian dalam bidang ICTdiantaranya bidang elektronika, teknik komputer, dan sistemenkripsib. Memiliki kemampuan mengkaji teknologi informasi, khususnyadalam aplikasi smart card dalam perangkat elektronika3. Tenaga Ahli Kebijakan Publik (S2)a. Menganalisa dan mengkaji dampak penerapan Smart Card darisisi kebijakan publik.
    • 63b. Memberikan arahan tentang kebijakan penerapan Smart Card dimasyarakat (publik).4. Tenaga Ahli Manajemen Informatika (S2)a. Memiliki kemampuan dan keahlian dalam bidang ICTdiantaranya bidang aplikasi telematika, komputer, serta aspekpenerapan smart cardb. Mengkaji teknologi informasi, dan aspek penerapan smart carddi berbagai fungsi5. Tenaga Ahli Teknik Informatika (S1)a. Memiliki kemampuan dan keahlian dalam bidang ICTdiantaranya bidang aplikasi telematika, komputer, sertakriptografi sebagai salah satu aspek penerapan smart cardb. Mengkaji teknologi informasi, keamanan informasi dankomunikasi, kriptografic. Mengkaji kelayakan penerapan smart card dalam perangkatteknologi informasi dan komunikasi yang digunakan lembagapemerintahan6. Tenaga Ahli Ekonomi (S1)a. Mengumpulkan data-data terkait kondisi dan potensi ekonominasional dan daerah.b. Menganalisa dan mengkaji klasifikasi dari kondisi dan potensiekonomi nasional dan daerahc. Mengkaji aspek bisnis yang terkait dengan pemanfaatan smartcard
    • 647. Sekretaris (D3)a. Memiliki kemampuan dalam keahlian dalam kerja Tim untukmembantu peneliti dalam penelitianb. Memiliki kemampuan dan keahlian dalam bidang manajemen8. Operator Komputer (D3)a. Memiliki kemampuan dalam mengoperasikan komputer untukmembantu kegiatan penelitian.b. Memiliki kemampuan dalam mengerjakan perangkat Komputerdan yang berhubungan dengan jaringan komputer.
    • 65Bab 6 Hasil Penelitian6.1 KuisionerData yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data dari responden yangtelah dikumpulkan melalui kuisioner. Kuisioner disebarluaskan dengan caramengunjungi rekan/relasi/kerabat/sahabat/partisipan dari kalanganmasyarakat umum, mahasiswa/relajar, usahawan/praktisi bidang teknologiinformasi, akademisi dan aparat pemerintahan, demikian pula yangmenghadiri FGD, diundang dalam suatu forum khusus pada suatu tempattertentu yang ditunjuk. Periode penyebarluasan informasi dan FGD padabulan Juni-Juli 2009.Pada studi ini akan dianalisis mengenai potensi pengembangan industry TIKnasional dalam mendukung penerapan smart card dan RFID. Untuk studiini,digunakan informasi dari survey yang dilakukan terhadap responden ditiga kota besar di Indonesia, yaitu Bandung, Surabaya, dan Batam. Adapunketiga kota tersebut dipilih dengan pertimbangan dapat mewakili kota - kotayang potensial untuk penggunaan smart card, mengingat pada ketiga kotatersebut penggunaan alat – alat berbasis teknologi sudah cukup memadai.Untuk menjamin keterwakilan dari berbagai komponen masyarakat yangpotensial sebagai pengguna smart card, maka penyebaran angket dilakukankepada 8 kategori responden, dengan penjabaran pada bagian 6.1.1.mengingat bahwa karakteristik responden pada masing – masing kategori,dalam tingkatan pekerjaan yang sama, tidak terlalu berbeda dalam halpenggunaan atau pengetahuan teknologi, smart card, maka secara umumdibagikan 5 kuesioner pada tiap kategori responden, walaupun ada beberapakategori yang jumlahnya tidak sama; sehingga total ada 117 kuesioner yangdidistribusikan.Berdasarkan serangkaian pertanyaan pada angket, dapat dibuat profileresponden, menggunakan analisis statistika deskriptif; dalam bentuk
    • 66diagram maupun tabel, sehingga dapat diketahui latar belakang dan kondisimasyarakat yang diduga potensial sebagai pengguna smart card.Untuk analisis lanjutan, digunakan metode analisis regresi logistic. Analisisini bertujuan untuk melihat faktor – faktor apa saja yang mempengaruhipenilaian masyarakat akan kemampuan pemerintah untuk mengembangkanpenerapan smart card di Indonesia. Untuk mencapai tujuan ini dibentukvariable baru yang berasal dari poin – poin pertanyaan pada angket;dengan metode Two Step Cluster Analysis (TSC). Sebagai variable respons,adalah opini kemampuan pemerintah untuk mengembangkan teknologismart card (dibentuk dari pertanyaan C16, C17, dan C18); dan faktor –faktor yang berkaitan adalah: potensi masyarakat (dibentuk dari pertanyaanB.e, B.f, C.3, C.11, dan C.12); mutu (pertanyaan C.7), biaya (pertanyaanC.8), dan opini akan kebijakan pemerintah (C.9, C.13, C.15, C.21). Untuklebih jelasnya perhatikan bagan berikut:ItemPertanyaanB.e, B.f, C.3,C.11, C.12C.9, C.15,C.21C.7 = MutuC.8 = BiayaC.16, C.17,C.18Potensi MasyOpiniKebijakanTSCTSCOpiniKebijakanTSCAnalisisRegresiLogistikDengan serangkaian metode analisis di atas, dapat diperoleh informasifaktor – faktor apa saja yang mendukung pemerintah untuk menerapkanteknologi smart card, dan juga bagaimana kondisi atau potensi masyarakatIndonesia terhadap penggunaan teknologi ini, sehingga dapat diambillangkah – langkah yang tepat guna dalam menyikapinya.
    • 676.1.1 Kategori RespondenPenyebaran dilakukan kepada 8 kategori dari 40 responden pada setiapdaerah survey dengan rincian sebagai berikut:- kalangan industri TIK(5 lembar),- pemerintah (5 lembar),- perbankan (5 lembar),- telekomunikasi (5 lembar)- kesehatan (5 lembar)- Imigrasi (5 lembar)- Transportasi (5 lembar)- Umum (5 lembar)6.1.2 Responden dan InstrumenDari 117 quisioner yang telah disebarkan ke responden di kota Bandung,Batam dan Surabaya, terdapat 20 quisioner yang tidak memenuhi criteria,sehingga untuk tahap selanjutnya digunakan 97 quisioner. Berikut hasilpengolahannya:1. Demografi RespondenA. Usia RespodenDari data quisioner, dapat diketahui bahwa responden yangberpotensial sebagai pengguna smart card berusia:< 25 tahun sebanyak 14 responden (14%)25-40 tahun sebanyak 51 responden (53%)40-55 tahun sebanyak 30 responden (31%)> 55 tahun sebanyak 2 responden (2%)
    • 68Sehingga responden yang paling berpotensi sebagai penggunasmart card adalah responden yang berusia antara 25-40 tahun. Lebihjelasnya dapat di lihat pada diagram berikut:B. Pendidikan RespondenLatar belakang pendidikan responden mempengaruhi potensidalam penggunaan smart card, berikut adalah pendidikan terakhir dariresponden:SMU/SMK/STM sebanyak 13 responden (13%)DIII/Politeknik sebanyak 18 responden (19%)S1 sebanyak 53 responden (55%)S2 sebanyak 11 responden (11%)S3 sebanyak 2 responden (2%)Sehingga dapat dikatakan bahwa konsumen yang palingberpotensial sebagai pengguna smart card adalah responden yangberpendidikan terakhir S1. Berikut gambar diagramnya:
    • 69C. Pekerjaan RespondenPekerjaan responden juga dapat mempengaruhi potensi dalampenggunaan smart card, sebagai berikut:Pegawai negeri sebanyak 28 responden (30 %)Pegawai swasta sebanyak 45 responden (47%)Milter tidak adaWiraswasta sebanyak 10 responden (11%)Konsultan sebanyak 3 responden (3%)Dan lainnya sebanyak 9 responden (3%)Dari gambar di bawah ini, responden yang paling berpotensialadalalah responden yang bekerja sebagai pegawai swasta.
    • 70D. Penghasilan respondenResponden yang berpotensial ssebagai pengguna smart cardberpenghasilan sebesar:< 1,5 juta sebanyak 10 orang (10%)1.5-3 juta sebanyak 32 responden (33%)3-5 juta sebanyak 25 responden (26%)5-8 juta sebanyak 15 responden (16%)> 8 juta sebanyak 14 responden (10%)Sehingga responden yang paling berpotensial adalah respondenyang berpenghsilan sebesar 1.5-3 juta rupiah
    • 71E. Smart card dapat digunakan diberbagai bidang, responden yangberpotensial sebagai pengguna smart card menggunakannya antaralain pada bidang:Telekomunikasi sebanyak 80 respondenPerbankan sebanyak 79 respondenPendidikan sebanyak 14 respondenPerkantoran sebanyak 15 respondenKesehatan sebanyak 10 respondenTransportasi debanyak 16 respondenImigrasi sebanyak 4 respondenJadi, smart card paling banyak digunakan oleh konsumen padabidang telekomunikasi.
    • 72F. Responden penggunakan smart card, telah menggunakan smart cardselama:< 1 tahun sebanyak 4 responden (4%)1-3 tahun sebanyak 19 responden(21%)3-5 tahun sebanyak 29 responden(31%)5-10 tahun sebanyak 24 responden(26%)> 10 tahun sebanyak 17 responden (18%)Sehingga, dikatakan, sebagian besar responden telah menggunakansmart card selama 3-5 tahun
    • 732. Kategori responden- Dari hasil quisioner diketahui bahwa responden yang tidak pernahmenggunakan layanan yang menggunakan teknologi smartcard danRFID sebanyak 6 orang (6%), yang dalam jarang menggunakansebanyak 37 orang (39%), yang sering menggunakan sebanyak 46respenden (49%) dan yang menggunakan setiap hari sebanyak 6orang(6%). Sehingga dapat dikatakan sebagian besar responden sudahsering menggunakan layanan yang menggunakan yang menggunakanteknologi smart card dan RFID.- Dari beberapa jasa layanan yang sudah menggunakan atau akan digantimenggunakan smart card, para responden memilih:a. E-toll jasa marga sebanyak 31 respondenb.Kartu kredit perbankan sebanyak 64 respondenc. Kartu pegawai negeri sipil sebanyak 6 respondend.Flezz (BCA) sebanyak 25 respondene. KTP sebanyak 26 respondenf.Dan lain-lainnya sebanyak 5 responden.
    • 74Jadi di simpulkan bahwa, sebagian besar responden sudahmenggunakan smart card sebagai kartu kredit perbankan. Diagram dibawah ini menggambarkan jumlah responden yang menggunakan jasalayanan yang sudah menngunakan atau akan diganti menggunakansmart card.- Ada banyak jasa layanan yang menggunakan smart card, yang disukaioleh responden antara lain:a. Telekomunikasi sebanyak 74 respondenb.Kesehatan sebanyak 5 respondenc. Perkantoran sebanyak 7 respondend.Perbankan sebanyak 48 respondene. Pendidikan sebanyak 3 respondenf.Transportasi sebanyak 4 respondeng.Imigrasi sebanyak 2 respondenSehingga dapat dikatakan layanan jasa yang menggunakan smartcard yang paling disukai oleh responden adalah telekomunikasi. Untuklebih jelasnya dapat di lihat pada diagram berikut:
    • 75- Dilihat dari segi manfaatnya, responden memanfaatkan layanan yangmenggunakan teknologi smart card dan RFID sebagai:a. Telekomunikasi sebanyak 74 respondenb.Kesehatan sebanyak 1 respondenc. Perkantoran sebanyak 4 respondend.Perbankan sebanyak 43 respondene. Pendidikan sebanyak 2 respondenf.Transportasi sebanyak 1 respondeng.Imigrasi sebanyak 4 respondenSehingga dapat dikatakan sebagian besar responden memanfaatkanlayanan yang menggunakan teknologi smart card dan RFID sebagai alattelekomuniksi. Berikut bentuk diagramnya:
    • 76Dari ulasan di atas terlihat bahwa potensi penggunaan smart card dan RFIDdipengaruhi oleh berbagai hal.6.2 Hasil WawancaraPelaksanaan pengumpulan data dengan wawancara dilakukan di tiga daerahyang sama dengan tujuan untuk mengurangi bias data yang diperolehantara data kuesioner dengan data wawancara. Wawancara dilakukanterhadap unsur pemerintah, pengusaha maupun akademisi. Hasil wawancarayang diperoleh adalah sebagai berikut :a. Wawancara dengan Walikota Surabaya c.q Badan Komunikasi danInformatika Bambang DH.1. Dilingkungan perkantoran pemerintah di Kota Surabaya, smart cardbelum dimanfaatkan. Kartu yang ada baru sebatas berfungsisebagai kartu pegawai atau tanda pengenal karyawan biasa.Padahal banyak hal yang dapat diperoleh apabila kartu karyawantersebut dijadikan sebagai kartu multi fungsi dengan sentuhanteknologi informasi. Misalnya, disamping sebagai tanda pengenalkaryawan juga sekaligus dapat difungsikan sebagai kartu absensi,alat pembayaran, berobat kerumah sakit, dan kepentingan-kepentingan lain yang sifatnya mendesak.
    • 772. Smart card memungkinkan pengintegrasian data dan informasidalam satu kartu tunggal, yang dimiliki karyawan sehinggamemudahkan untuk mengurus berbagai kepentingan terkait denganurusan kedinasan maupun pribadinya. Saat ini, semua kartudisamping tidak terintegrasi dalam satu data kepemilikan, jugaberbeda disetiap daerah, sehingga secara nasional sistem informasimasih belum terpadu.3. Regulasi, infrastruktur dan SDM dilingkungan pemerintahan, masihbelum mendukung, sehingga menjadi kendala dalam penerapansmart card di instansi pemerintah.4. Implementasi penggunaan dan pemanfaatan smart card padainstansi pemerintah belum terwujud sampai saat ini, karena faktor-faktor keterbatasan dana, minimnya penguasaan TI, dan belumtersosialisasinya secara intens program smart card dilingkungankantor pemerintah.5. Penerapan smart card di instansi pemerintah perlu terusdiupayakan, tentunya dengan dukungan political will para pimpinandaerah, karena sifat efisien dan efektif dari penggunaan smart cardbagi kepentingan karyawan maupun instansi, seperti mendukungpeningkatan produktivitas kerja.6. Penerapan dan pemanfaatan smart card dilingkungan instansipemerintah memang masih dirasa mahal dalam sisi biaya, namundemikian dapat disiasati melalui kerjasama dengan pihak swastaatau pihak-pihak terkait yang concern terhadap teknologipenerapan smart card di instansi pemerintah.7. Smart card dapat mengintegrasikan berbagai data dan informasimelalui jejaring antar instansi, yang sekaligus juga
    • 78mengintegrasikan berbagai ID Card pegawai (kartu pegawai, kartuaskes, kartu koperasi, identitas karyawan, kartu poliklinik, dll)menjadi satu smart card. Disinilah peluang bagi industri TIKnasional untuk mengembangkan produk-produk software sebagaipendukung teknologi smart card dan RFID.b. Wawancara dengan Wakil Ketua Kadin Kota Surabaya, M Alyas1. Sebelum melangkah jauh kedepan, tentang pengembanganpenggunaan dan pemanfaatannya, sebaiknya smart card dan RFIDdisosialisasikan secara luas keberbagai kalangan, baik pemerintah,swasta, maupun perguruan tinggi, terutama mengenaikeberadaannya, manfaat, sisi baik buruknya, sehingga publikbenar-benar mengenal dan memahaminya. Yang berkembang dimasyarakat selama ini adalah bahwa smart card seolah-olah hanyadimanfaatkan dan diperuntukkan untuk kalangan menengah keatas.Bisa dimaklumi karena smart card identik dengan ATM, credit card,kartu flazz, yang banyak berhubungan dengan dunia per-bankan,juga smart card lain yang berlaku di keimigrasian, bandara, danjalan tol. Tidak hanya masyarakat kalangan bawah yang awamterhadap smart card, kenyataannya juga banyak top manajerkurang mengenal apa yang dimaksud smart card dan RFID.2. Pada tataran kebijakan, dukungan dari pemerintah memainkanperan yang cukup penting. Dari sisi regulasi misalnya, perlu adaaturan tentang penggunaan smart card sebagai alat transaksi yangmeliputi aspek teknis smart card maupun aspek hukumnya, sepertiyang telah dilakukan di beberapa negara. Regulasi dibidang smartcard dan RFID, sebaiknya disesuaikan disektor apa smart cardtersebut akan diimplementasikan (perbankan, perkantoran,akademisi, bisnis, dll). Kalau menyangkut berbagai sektor
    • 79sekaligus, sebaiknya regulasi tentang smart card diatur melaluikoordinasi antara instansi terkait yang membidanginya.3. Dalam dunia industri, tentunya diharapkan pemerintah akan dapatmemenuhi kebutuhan smart card secara mandiri melalui tahapan-tahapan yang terukur dan konkrit. Sebuah sistem informasi yangdirancang dengan baik, sepatutnya memiliki fleksibilitas dalammengadopsi teknologi informasi dan komunikasi yang baru. Smartcard dan RFID apabila diimplementasikan pada sistem yang sesuaidan didukung oleh komitmen yang tinggi, dapat memberikankontribusi yang positip bagi produktivitas kerja.4. Dengan pengembangan teknologi smart card dan RFID yang terusdisempurnakan, bukan tidak mungkin smart card dapatdimanfaatkan pada berbagai bidang di masyarakat, misalnyatransportasi, perkantoran, kependudukan/ kewarganegaraan,pendidikan, energi, keimigrasian, bisnis, dll5. Kegunaan dan manfaat smart card dalam mendukung pelaksanaansistem informasi perusahaan teraplikasi dalam bentukmempermudah pelaporan transaksi yang berhubungan ataudilakukan dengan menggunakan smart cardc. Wawancara dengan Dosen Fakultas Ilmu Komputer Institut TeknologiSepuluh November Surabaya1. Disektor perekonomian tingkat nasional, smart card dan RFID dapatmenjadi media untuk memudahkan transaksi bisnis dengan adanyasentralisasi data. Masyarakat sebagai pelaku ekonomi dapat lebihmudah untuk melakukan transaksi seperti pembelian, peminjamanmodal ke bank, dan lainnya. Sektor perbankan akan juga lebihmudah untuk melayani segala jenis transaksi karena masyarakat
    • 80memiliki data tunggal dan sudah terpusat. Begitu juga bagipemerintah dalam memonitor kegiatan bisnis akan menjadi mudahjika semua transaksi memiliki data rekanan yang mudah dan cepatuntuk diakses.2. Perusahaan/instansi yang menerapkan smart card dan RFID tidakhanya dapat memantau kehadiran atau kinerja dari karyawannya.Akan tetapi perusahaan/instansi juga bisa memantau pola hidupkaryawan, sehingga dapat membuat keputusan untuk lebihmenyejahterakan pegawai, sekaligus kemajuan perusahaan.3. Dampak sosial dari penerapan smart card dan RFID adalahterjadinya kesenjangan dikalangan masyarakat dan pelaku bisnistingkat kecil yang belum mampu memanfaatkan teknologi smartcard. Hal ini bisa terjadi apabila smart card hanya diterapkan dancenderung dimanfaatkan untuk mempermudah proses bisnisditingkat menengah keatas. Sementara dampak moraldaripenerapan smart card adalah semakin tingginya tingkatkepercayaan antara perusahaan /instansi-karyawan, penjual-pembeli, pemerintah-masyarakat. Hal ini terjadi karena dengansentralisasi data, maka banyak hal dapat dilakukan secaratransparan dan akuntabel. Sedangkan dampak hukumnya, akanbanyak muncul kejahatan baru dalam bentuk cyber crime4. Dalam pengembangan dan implementasi smart card dan RFID,pemerintah perlu mengatur standarisasi bentuk data dan jugateknologi yang memiliki sistem keamanan yang handal5. Industri TIK sudah mampu untuk menerapkan ataumengembangkan teknologi smart card, indikatornya telah banyakindustri yang bergerak di bidang produk software dan hardware
    • 81sebagai cikal bakal pembuatan smart card. Di Batam sendiri, belumbanyak industri TIK yang bergerak dibidang produk software danhardware, kalaupun ada baru sebatas penyedia software untukbisnis dan masih jarang yang mengkombinasikan dengan teknologihardware untuk mendukung smart card.6. Di Batam, sebagian besar masyarakat belum menyadari pentingnyasmart card dan RFID sebagai media untuk mengakses data tunggaldan terpusat. Hal ini dapat dilihat pada proses pembuatan SIAKyang masih terhambat, baik dari sisi kesiapan petugas dipemerintahan maupun masyarakatnya itu sendiri. Sedangkankesiapan dan potensi SDM di Batam untuk mendukungpengembangan dan implementasi smart card sebetulnya sudahcukup baik7. Bidang-bidang yang efektif untuk implementasi smart card danRFID meliputi : perbankan, pemerintahan, pendidikan, hukum,asuransi, rumah sakit, perjalanan dan wisata8. Smart card dalam bidang telekomunikasi seharusnya dapat untukmenjadi perantara atau standar yang sama bagi banyaknyapenyedia layanan telekomunikasi. Kedepan, pemakaian smart carddi perbankan sebaiknya telah mencakup data identitas nasabahyang terpusat dan terintegrasi dalam satu kartu, disamping untuklebih memudahkan nasabah bertransaksi juga mengefektifkan sertamengefisienkan pihak perbankan. Sementara untuk pemakaiansmart card kedepan dibidang imigrasi diperlukan sentralisasi data,ditingkat nasional (maupun internasional khusus imigrasi),demikian pula di bidang kesehatan, transportasi, dan perkantoran,sehingga satu kartu memiliki multi fungsi sekaligus untukmendukung berbagai kepentingan pengguna dan instansi.
    • 829. Supaya implementasi smart card dan RFID menjadi efisien,pemerintah perlu membuat standarisasi data dan menyiapkaninfrastruktur untuk penyimpanan data yang aman. Sedangkanuntuk pengemabangan smart card dan RFID kedaerah, cukupdiserahkan kemasing-masing daerah melalui kerjasama antarapihak-pihak terkait di daerah, seperti pemda, swasta, perguruantinggi, dan penyedia infrastruktur telekomunikasi.10. Smart card dapat digunakan dalam berbagai sistem informasi yangmendukung proses penyelenggaraan, baik disektor perkantoran,bisnis, pendidikan, dan lainnya. Di lingkungan perguruan tinggi,misalnya, smart card dapat dimanfaatkan dalam sistem identifikasimahasiswa/dosen/pegawai untuk memanfaatkan fasilitas yangdisediakan oleh perguruan tinggi.11. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam memajukanpenggunaan dan pemanfaatan smart card adalah potensi sumberdaya yang ada dilingkungan perguruan tinggi. Potensi sumber dayatersebut dapat dilibatkan dalam bentuk kerjasama yang salingmenguntungkan sehingga perguruan tinggi dapat menjadipenggerak sekaligus sosialisasi pengembangan dan penggunaanteknologi smart card dan RFID.d. Wawancara dengan Dinas Komunikasi dan Informatika PemerintahPropinsi Jawa Barat, Kabid Telematika – H Asep FK.1. Dilingkungan perkantoran pemerintah di Kota Bandung, smart cardbelum dimanfaatkan. Kartu yang ada baru sebatas berfungsisebagai kartu pegawai atau tanda pengenal karyawan biasa.Namun demikian sudah berkembang wacana dan ada rencana kedepan Pemerintah Propinsi Jawa Barat akan menerapkan kartupenduduk sebagai kartu identitas baebasis teknologi smart card.
    • 83Adapun kartu karyawan pada tahap awal akan digunakan sebagaikartu pengenal karyawan sekaligus berfungsi sebagai kartu absensi.2. Perlu adanya peraturan kebijakan yang jelas dari pemerintah yangmengatur tata cara dan prosedur penggunaan smart card/ RFID.3. Dampak soasialnya akan merubah perilaku masyarakat dalampemahaman teknologi dan mengaplikasikannya dalam kegiatansehari-hari.e. Wawancara dengan Kepala Cabang PT. Bank Mandiri (Persero) TbkBandung, Adi Setyanto1. Di Lingkungan Bank Mandiri Smart Card sudah digunakan sejak 10tahun lalu dalam bentuk kartu ATM dan kartu kredit. Produkterbarunya adalah hasil kerja sama dengan Pertamina bagipelanggan BBM.2. Smart card memberikan kemudahan dan kecepatan. Dampakkehadirannya cukup bagus terhadap perekonomian nasional,diantaranya mempercepat transaksi dari berbagai sektor, sekaligusmengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat.3. Dampak bagi perusahaan cukup bagus, yaitu mengurangi resikokejahatan transaksi keuangan melalui teknologi sebelumnya,karena smart card sulit untuk digandakan.4. Dampak sosial yang buruk diantaranya merangsang orang untukberperilaku konsumtif. Boros, gengsi dan sombong mendoronguntuk melakukan kecurangan apabila pengguna tidak dapatmemenuhi kewajibannya.
    • 845. Pemerintah perlu mengatur kebijakan untuk melindungi konsumen,bukan membuat aturan yang merugikan konsumen. Industrinasional sudah siap mendukung, kesiapan SDM harus dipaksakanuntuk mengikuti penggunaannya, karena hal itu sudah menjadituntutan kemajuan teknologi dan peradaban.6. Dampak terhadap budaya tidak ada masalah asalkan semua fihaksecara arif dan bijaksana meyikapinya.7. Perlunyasosialisasi secara terus menerus8. Regulasi implementasi paling efektif adalah di bidang jasaperbankan, keuangan ritail, tranportasi umum yang bersifat masalserta bisnis asuransi.9. Regulasi smart card di bidang telekomunikasi sudah lebih baiknamun perlu ditopang dengan aturan yang kelas dan tegasimplementasinya. Di bidang perbankan perlu inovasi produk-produkbaru dalam peningkatan pelayanan nasabah.10. Perlu peningkatan kualitas SDM serta menyiapkan sarana danprasarana untuk produk baru.11. Implementasi yang efisien adalah menggabungkan beberapa fungsiseperti KTP dengan NPWP, sehingga menjadi multi guna.f. Wawancara dengan Researcher PT Telkom R&D Center – TechnicalCeompliance Laboratory - Bandung, M. Sovan Hadibowo1. Smart card dan RFID sudah menjadi penggerak ekonomi Indonesiasejak tahun 1990 an dengan SIM card Telkomsel. Tahun 1995 Kartutelepon chip. RFID juga banya digunakan pada industri retail.
    • 852. Smart card menawarkan keunggulan dibanding magnetic tape,diantaranya :a. Peningkatan securityb. Peningkatan kapasitas penyimpanan datac. Peningkatan nilai fungsionald. Peningkatan regulasiKelemahannya terletak pada kebutuhan investasi yang jauh lebihbesar.3. Bagian yang perlu diatur pemerintah adalah dalam pengembangandan implentasi adalah diluar sektor publik, pemerintah tidak perlumelakukan pengaturan secara khusus selain penerapan hal yangsama sebagaimana selama ini sudah berjalan. Khusus sektor publikpemerintah harus menjamin security, kompatibilitasinteroperabilitas dan lain-lain.4. Industri TIK Nasional dalam konteks pengembangan aplikasiperangkat lunaknya dirasakan sudah siap.5. Banyaknya pendidikan di Indonesia memungkinkan kesiapan SDMIndonesia dalam implementasi smart card.6. Tidak ada kendala budaya terhadap penggunaan smart card,karena sudah cukup akrab dengan penggunaan SIM card di HandPhone.7. Hambatan penerapan teknologi yang mungkin addalah :a. Ketersediaan sistem perangkat keras yang masih importb. Kemampuan SDM dalam pemeliharaan sistem perangkat keras.
    • 868. Pandangan para pakar terhadap transaksi elektronik sangatlahmenjanjikan mengingat kemampuannya menembus batas-batasgeografis, namun demikian beberapa hal terkait keamanan sistemharuslah mendapatkan perhatian yang cukup karena indonesiacukup dikenal sebagai negara dengan kasus fraud kartu kredit yangcukup tinggi. Namun apabila transasksi elektronik melibatkan smartcard, dirasakan aspek security dengan sendirinya akantersolusikan.g. Wawancara dengan Walikota Batam c.q Badan Komunikasi danInformatika Adnan HS.1. Dilingkungan perkantoran pemerintah di Kota Batam, smart cardbelum dimanfaatkan. Kartu yang ada baru sebatas berfungsisebagai kartu pegawai atau tanda pengenal karyawan biasa.Padahal banyak hal yang dapat diperoleh apabila kartu karyawantersebut dijadikan sebagai kartu multi fungsi dengan sentuhanteknologi informasi. Misalnya, disamping sebagai tanda pengenalkaryawan juga sekaligus dapat difungsikan sebagai kartu absensi,alat pembayaran, berobat kerumah sakit, dan kepentingan-kepentingan lain yang sifatnya mendesak.2. Smart card memungkinkan pengintegrasian data dan informasidalam satu kartu tunggal, yang dimiliki karyawan sehinggamemudahkan untuk mengurus berbagai kepentingan terkait denganurusan kedinasan maupun pribadinya. Saat ini, semua kartudisamping tidak terintegrasi dalam satu data kepemilikan, jugaberbeda disetiap daerah, sehingga secara nasional sistem informasimasih belum terpadu.
    • 873. Regulasi, infrastruktur dan SDM dilingkungan pemerintahan, masihbelum mendukung, sehingga menjadi kendala dalam penerapansmart card di instansi pemerintah.4. Implementasi penggunaan dan pemanfaatan smart card padainstansi pemerintah belum terwujud sampai saat ini, karena faktor-faktor keterbatasan dana, minimnya penguasaan TI, dan belumtersosialisasinya secara intens program smart card dilingkungankantor pemerintah.5. Penerapan smart card di instansi pemerintah perlu terusdiupayakan, tentunya dengan dukungan political will para pimpinandaerah, karena sifat efisien dan efektif dari penggunaan smart cardbagi kepentingan karyawan maupun instansi, seperti mendukungpeningkatan produktivitas kerja.6. Penerapan dan pemanfaatan smart card dilingkungan instansipemerintah memang masih dirasa mahal dalam sisi biaya, namundemikian dapat disiasati melalui kerjasama dengan pihak swastaatau pihak-pihak terkait yang concern terhadap teknologipenerapan smart card di instansi pemerintah.7. Smart card dapat mengintegrasikan berbagai data dan informasimelalui jejaring antar instansi, yang sekaligus jugamengintegrasikan berbagai ID Card pegawai (kartu pegawai, kartuaskes, kartu koperasi, identitas karyawan, kartu poliklinik, dll)menjadi satu smart card. Disinilah peluang bagi industri TIKnasional untuk mengembangkan produk-produk software sebagaipendukung teknologi smart card dan RFID.h. Wawancara dengan Direktur Eksekutif Kadin Kota Batam, AchyarNasution
    • 881. Sebelum melangkah jauh kedepan, tentang pengembanganpenggunaan dan pemanfaatannya, sebaiknya smart card dan RFIDdisosialisasikan secara luas keberbagai kalangan, baik pemerintah,swasta, maupun perguruan tinggi, terutama mengenaikeberadaannya, manfaat, sisi baik buruknya, sehingga publikbenar-benar mengenal dan memahaminya. Yang berkembang dimasyarakat selama ini adalah bahwa smart card seolah-olah hanyadimanfaatkan dan diperuntukkan untuk kalangan menengah keatas.Bisa dimaklumi karena smart card identik dengan ATM, credit card,kartu flazz, yang banyak berhubungan dengan dunia per-bankan,juga smart card lain yang berlaku di keimigrasian, bandara, danjalan tol. Tidak hanya masyarakat kalangan bawah yang awamterhadap smart card, kenyataannya juga banyak top manajerkurang mengenal apa yang dimaksud smart card dan RFID.2. Pada tataran kebijakan, dukungan dari pemerintah memainkanperan yang cukup penting. Dari sisi regulasi misalnya, perlu adaaturan tentang penggunaan smart card sebagai alat transaksi yangmeliputi aspek teknis smart card maupun aspek hukumnya, sepertiyang telah dilakukan di beberapa negara. Regulasi dibidang smartcard dan RFID, sebaiknya disesuaikan disektor apa smart cardtersebut akan diimplementasikan (perbankan, perkantoran,akademisi, bisnis, dll). Kalau menyangkut berbagai sektorsekaligus, sebaiknya regulasi tentang smart card diatur melaluikoordinasi antara instansi terkait yang membidanginya.3. Dalam dunia industri, tentunya diharapkan pemerintah akan dapatmemenuhi kebutuhan smart card secara mandiri melalui tahapan-tahapan yang terukur dan konkrit. Sebuah sistem informasi yangdirancang dengan baik, sepatutnya memiliki fleksibilitas dalam
    • 89mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi yang baru. Smartcard dan RFID apabila diimplementasikan pada sistem yang sesuaidan didukung oleh komitmen yang tinggi, dapat memberikankontribusi yang positip bagi produktivitas kerja.4. Dengan pengembangan teknologi smart card dan RFID yang terusdisempurnakan, bukan tidak mungkin smart card dapatdimanfaatkan pada berbagai bidang di masyarakat, misalnyatransportasi, perkantoran, kependudukan/ kewarganegaraan,pendidikan, energi, keimigrasian, bisnis, dll5. Kegunaan dan manfaat smart card dalam mendukung pelaksanaansistem informasi perusahaan teraplikasi dalam bentukmempermudah pelaporan transaksi yang berhubungan ataudilakukan dengan menggunakan smart cardi. Wawancara dengan Dekan Fakultas Ilmu Komputer UniversitasInternational Batam, Ronny Yuwono.1. Disektor perekonomian tingkat nasional, smart card dan RFID dapatmenjadi media untuk memudahkan transaksi bisnis dengan adanyasentralisasi data. Masyarakat sebagai pelaku ekonomi dapat lebihmudah untuk melakukan transaksi seperti pembelian, peminjamanmodal ke bank, dan lainnya. Sektor perbankan akan juga lebihmudah untuk melayani segala jenis transaksi karena masyarakatmemiliki data tunggal dan sudah terpusat. Begitu juga bagipemerintah dalam memonitor kegiatan bisnis akan menjadi mudahjika semua transaksi memiliki data rekanan yang mudah dan cepatuntuk diakses.2. Perusahaan/instansi yang menerapkan smart card dan RFID tidakhanya dapat memantau kehadiran atau kinerja dari karyawannya.
    • 90Akan tetapi perusahaan/instansi juga bisa memantau pola hidupkaryawan, sehingga dapat membuat keputusan untuk lebihmenyejahterakan pegawai, sekaligus kemajuan perusahaan.3. Dampak sosial dari penerapan smart card dan RFID adalahterjadinya kesenjangan dikalangan masyarakat dan pelaku bisnistingkat kecil yang belum mampu memanfaatkan teknologi smartcard. Hal ini bisa terjadi apabila smart card hanya diterapkan dancenderung dimanfaatkan untuk mempermudah proses bisnisditingkat menengah keatas. Sementara dampak moraldaripenerapan smart card adalah semakin tingginya tingkatkepercayaan antara perusahaan / instansi-karyawan, penjual-pembeli, pemerintah-masyarakat. Hal ini terjadi karena dengansentralisasi data, maka banyak hal dapat dilakukan secaratransparan dan akuntabel. Sedangkan dampak hukumnya, akanbanyak muncul kejahatan baru dalam bentuk cyber crime4. Dalam pengembangan dan implementasi smart card dan RFID,pemerintah perlu mengatur standarisasi bentuk data dan jugateknologi yang memiliki sistem keamanan yang handal5. Industri TIK sudah mampu untuk menerapkan ataumengembangkan teknologi smart card, indikatornya telah banyakindustri yang bergerak di bidang produk software dan hardwaresebagai cikal bakal pembuatan smart card. Di Batam sendiri, belumbanyak industri TIK yang bergerak dibidang produk software danhardware, kalaupun ada baru sebatas penyedia software untukbisnis dan masih jarang yang mengkombinasikan dengan teknologihardware untuk mendukung smart card.
    • 916. Di Batam, sebagian besar masyarakat belum menyadari pentingnyasmart card dan RFID sebagai media untuk mengakses data tunggaldan terpusat. Hal ini dapat dilihat pada proses pembuatan SIAKyang masih terhambat, baik dari sisi kesiapan petugas dipemerintahan maupun masyarakatnya itu sendiri. Sedangkankesiapan dan potensi SDM di Batam untuk mendukungpengembangan dan implementasi smart card sebetulnya sudahcukup baik7. Bidang-bidang yang efektif untuk implementasi smart card danRFID meliputi : perbankan, pemerintahan, pendidikan, hukum,asuransi, rumah sakit, perjalanan dan wisata8. Smart card dalam bidang telekomunikasi seharusnya dapat untukmenjadi perantara atau standar yang sama bagi banyaknyapenyedia layanan telekomunikasi. Kedepan, pemakaian smart carddi perbankan sebaiknya telah mencakup data identitas nasabahyang terpusat dan terintegrasi dalam satu kartu, disamping untuklebih memudahkan nasabah bertransaksi juga mengefektifkan sertamengefisienkan pihak perbankan. Sementara untuk pemakaiansmart card kedepan dibidang imigrasi diperlukan sentralisasi data,ditingkat nasional (maupun internasional khusus imigrasi),demikian pula di bidang kesehatan, transportasi, dan perkantoran,sehingga satu kartu memiliki multi fungsi sekaligus untukmendukung berbagai kepentingan pengguna dan instansi.9. Supaya implementasi smart card dan RFID menjadi efisien,pemerintah perlu membuat standarisasi data dan menyiapkaninfrastruktur untuk penyimpanan data yang aman. Sedangkanuntuk pengemabangan smart card dan RFID kedaerah, cukupdiserahkan kemasing-masing daerah melalui kerjasama antara
    • 92pihak-pihak terkait di daerah, seperti pemda, swasta, perguruantinggi, dan penyedia infrastruktur telekomunikasi.10. Smart card dapat digunakan dalam berbagai sistem informasi yangmendukung proses penyelenggaraan, baik disektor perkantoran,bisnis, pendidikan, dan lainnya. Di lingkungan perguruan tinggi,misalnya, smart card dapat dimanfaatkan dalam sistem identifikasimahasiswa / dosen / pegawai untuk memanfaatkan fasilitas yangdisediakan oleh perguruan tinggi.11. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam memajukanpenggunaan dan pemanfaatan smart card adalah potensi sumberdaya yang ada dilingkungan perguruan tinggi. Potensi sumber dayatersebut dapat dilibatkan dalam bentuk kerjasama yang salingmenguntungkan sehingga perguruan tinggi dapat menjadipenggerak sekaligus sosialisasi pengembangan dan penggunaanteknologi smart card dan RFID.6.3 Focus Group Discussion (FGD)FGD dilaksanakan di satu kota yang telah ditentukan, yaitu Jakartasebanyak dua kali. Hasil FGD yang merupakan diskusi dan penambanganinformasi data dari para ahli/pakar terkait Teknologi Informasi danKomunikasi telah dirangkum dalam sub bab berikut.FGD I yang dilaksanakan dihadiri oleh :- Bapak Akmam Amir dari Balitbang Aptel Depkominfo beserta bapakFauzi dan ibu Nuraini Hutabarat.- Bapak Ferry dari Bank Mandiri bersama seorang Staf
    • 93- Bapak Datin Malau bersama Bapak Masduki dari Departemen DalamNegeri- Bapak serta ibu utusan dari PT Jasa Marga- Bapak Fairus beserta lima orang staf dari PT Data Aksara Matra- Bapak Dwi Handoko dari BPPTFGD II yang dilaksanakan dihadiri oleh :- Bapak Akmam Amir dari Balitbang Aptel Depkominfo beserta ibuNuraini Hutabarat.- Bapak Evan dan Bapak Budi dari Bank BCA- Bapak Warsito bersama Staf dari Departemen Perindustrian- Bapak dan Ibu dari Depkominfo- Bapak Kris dari Badan Standarisasi Nasional- Bapak Dwidharma dari BPPT- Bapak Sarinanto dari BPPTHasil diskusi :Kebijakan pemerintah terhadap smart card, pertama telah mendorongtumbuhnya industri telekomunikasi dan informasi data. Mendorong produkdalam negeri (khususnya di industri telekomunikasi seperti wimax)kemudian memberikan prioritas dalam industri kreatif tertentu. Industrisoftware dan konten lebih diprioritaskan.Hingga saat ini indonesia belum memiliki industri seluler nasional,sementara ini masih hanya sebatas merakit. Harapannya adalah bagaimanamenumbuhkan industri chip. Hal ini akan dituangkan ke dalam road mapDepartemen Perindustrian. Untuk smart card kelihatan ada harapanpertumbuhan dalam negeri hingga lima tahun mendatang. Namun tahun iniada perusahaan Jerman yang ingin menerapkan smart card. Tetapi
    • 94kelihatannya (dilihat dari insentif pajak yang diurus), perusahaan ini hanyamenjual jasa saja (hanya injeksi databasenya saja).Oleh karena itu perlu melihat pohon industri (melihat hulu-hilirnya smartcard ini). Untuk pemain smart card local sudah ada industri yang siapmendorong techno park. Masalahnya bagaimana mengupayakan agar suatuindustri dapat nyaman berkegiatan di techno park tersebut. Dengan adanyatechno park yang bagus, nanti kalangan industri dapat diwadahi. Saat inisedang disusun peraturan menteri sebagai trigger untuk menarik potensiindustri (termasuk industri smart card). Salah satunya Puspitek, bisadimanfaatkan untuk hal tersebut. Sekarang ini ada INTI techno parkBandung, Batam techno park. Namun masih dalam proses sedang dibahaslebih lanjut model bisnisnya, model insentifnya dan lain-lain.Di luar negeri, smart card banyak contoh sukses di bidang transportasi,tetapi di Indonesia infrastrukturnya masih belum tertata sehingga untuk saatini hanya di bidang non transportasi. BCA telah membantu pada transaksicash, Pos dan Telekomunikasi telah membantu mendorong untuk cardreadernya, RFID pernah dibangun di stasiun serpong namun masih terlalubanyak kendala budaya di masyarakat.Bagaimana sebaiknya sumber pembiayaan pembangunan infrastruktur TIKdi indonesia?. Hingga saat ini terdapat dua hal pembiayaan yang telahdidorong oleh DeTIKNas yaitu Opex dan Capex. Diharapkan pemerintahtidak menyediakan infrastruktur TIK sendiri, melainkan mendorongdikembangkannya infrastruktur oleh pihak swasta. DeTIKNas mendorongOpex. Dalam pengembangan yang membutuhkan waktu tahunan, DeTIKNasmendorong pendanaan multiyears.Departemen Perindustrian sampai saat ini selalu berpayung padapembelanjaan, sehingga sulit berkembang. Selama ini sudah ada industriyang masuk ke dalam industri namun belum terintegrasikan. Segala
    • 95sumberdaya hendaknya dapat diarahkan untuk bersama-sama membangunindustri nasional.Direncanakan ada disain chip Indonesia dan sistem operasi Indonesia, sertakeamanan (kriptografi) nya dengan disain Indonesia. Untuk menggabungkanantara bisnis dan pemerintah, kelihatannya agak sulit karena masing-masingpunya kepentingan sendiri (yang belum tentu bisa disinkronkan). Contoh diJembrana adalah bukan menggabungkan secara langsung dari sisielektronikya, tapi menggabungkan secara fisik. Sebetulnya ingin agarIndonesia memiliki Policy Handbook dimana seperti Amerika memilikiHandbook. Ini yang dapat diacu oleh pemerintah dalam deployment aplikasiTIK termasuk smart card. Untuk frekuensi contactless smart card,hendaknya mengacu pada peraturan yang sudah diatur oleh pemerintah.Kendala yang dialami.Smart card sudah dikembangkan sejak tiga atau empat tahun yang lalu.Pura menggunakan contactless, sedangkan BCA menggunakan contact –contactless. Sekarang terbatas sekali vendor yang mampu menyediakanteknologi seperti itu. Menurut pengalaman, membuat kartunya mudah (asalada chipnya). Yang sulit adalah mengembangkan pemanfaatannya, yangmengoptimalkan pemanfaatan fitur yang memang menjadi keunggulan darismart card. Masalah lain yang dialami adalah Sosialisasi. Faktor yangpenting adalah edukasi (mengenai teknologi atau penerapan smart card).Yang terlihat adalah pemerintah cenderung terlambat, dimana biasanyaswasta bergerak dahulu barulah pemerintah ikut berperan.Yang paling penting adalah blue-print dari pemerintah, khususnya dalampemetaan dalam kurun waktu 5 tahun ke depan misalnya berkaitan denganpengembangan dan penerapan smart card. Dengan adanya ketegasan blueprint maka pihak perbankan akan dapat menyesuaikannya. Salah satu yangperlu dijadikan contoh adalah PT KAI, sudah engage dengan 5 bank, untuk
    • 96mengakomodasi smart card dari 5 bank. Dengan demikian semua bankdapat berkontribusi di kereta api. Yang diharapkan adalah adanya pelaku-pelaku seperti itu, untuk mendorong dunia usaha. Oleh sebab itu diperlukanadanya standardisasi. Dimana semua negara umumnya mengacu pada satustandar yang sudah baku. Dengan adanya standar, maka industri akantinggal mengikuti.Kompetensi apa saja yang diperlukan untuk dikuasai oleh bangsa Indonesia,dan kompetensi apa yang perlu penggalangan kekuatan untuk dikuasai olehbangsa Indonesia?Membuat kartu dikatakan mudah, tapi sebetulnya di dunia hanya adasegelintir produsen chip. Dan membangun manufaktur chip membutuhkaninvestasi yang luar biasa besar. Untuk itu apakah sebaiknya manufaktur chipdilupakan saja, dan memfokuskan diri pada disain chip, dan sistem operasi.Di Malaysia sudah mengambil langkah seperti itu, yaitu fokus pada disainchip dan sistem operasi, sedangkan keamanannya masih belum. Dandiantara orang yang mendisain chip untuk smart card Malaysia, ada orang-orang Indonesia yang bekerja di sana.Dari Departemen Perindustrian, Konsorsium pemerintah sudah tergabungdalam DeTIKNas. Ini bisa dimanfaatkan untuk mewadahi gerakan untukmendorong industri bersama-sama.Terkait masalah standardisasi, BSN : Tidak mempunyai standar nasional,sehingga pengembang smart card membuat sendiri-sendiri, sehingga tidakefektif. Untuk ICT, ada 2 Pantek SNI di Kominfo dan Deperin yang bisadikembangkan untuk menambahkan standar smart card.
    • 97Bab 7 Kesimpulan dan SaranDari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan dandisarankan sebagai berikut :1. Pihak industri TIK Indonesia khususnya yang terkait dengan smartcard sudah mulai memiliki pengalaman dalam penerapan smart carddalam skala tertentu dan dalam fungsi yang terbatas2. Untuk mengembangkan potensi pemanfaatan smart card secaramultifungsi dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, perlupengembangan model penerapan yang memiliki skala luas sertamemberikan manfaat kepada masyarakat secara lebih luas.3. Data di lapangan mengungkapkan bahwa potensi terbesar penggunasmart card adalah pegawai swasta dalam usia produktif 25 tahunhingga 40 tahun dan dengan penghasilan antara 1,5 juta hingga 5juta. Masyarakat pengguna tersebut sekitar 70 % telah menggunakansmart card dalam bidang Telekomunikasi dan Perbankan, namununtuk bidang Pendidikan, Perkantoran, Kesehatan dan Transportasimasing-masing hanya sekitar 15 %, padahal mayoritas mereka(sekitar 75%) adalah alumni perguruan tinggi.
    • 984. Dengan kondisi terbatasnya industri manufaktur TIK di Indonesiamaupun industri penunjangnya, maka sebetulnya potensi terbesarberkembangnya industri nasional adalah dalam bidang pemanfaatansmart card sebagaimana juga yang menjadi penggerak bagipemanfaatan smart card di negara maju yang banyak bermula darisektor transportasi.5. Peran pemerintah dalam memberikan dukungan yang diharapkanadalah dengan memberikan blue-print terhadap penerapan danpemanfaatan smart card maupun RFID secara nasional yangdilengkapi dengan model bisnis yang memberikan kesempatan yanglebih besar bagi tumbuhnya industri TIK dalam negeri.6. Untuk mewujudkan upaya itu, pemerintah juga diharapkanmenyiapkan kebijakan yang terkait dengan standardisasi penerapansmart card maupun RFID. Dengan adanya standar yang jelas, akanmemberikan kepastian dan kemudahan bagi berbagai pihak termasukperbankan untuk memberikan dukungan bagi penerapan smart cardtersebut.7. Perlu juga dirumuskan roadmap penerapan dan pemanfaatan smartcard yang dikaitkan dengan berbagai rencana berskala luas,pengembangan teknologi, serta pola dukungan terhadap industri yangingin dikembangkan. Dengan adanya roadmap ini, maka diharapkanberbagai pihak yang ingin berpartisipasi dalam penerapan smart carddapat mengacu ke satu peta jalan (roadmap) yang sama sehinggasegala sumberdaya dapat dikonvergensikan.7. Dengan hal mendasar/fundamental tersebut, masalah berikut adalahbagaimana menggalang dan mewadahi industri nasional untuk majudengan memanfaatkan beberapa momentum regulasi TIK yangmendorong bangkitnya industri nasional seperti penerapan wimax,penyediaan set top box untuk migrasi TV analog ke TV digital, maupun
    • 99proyek nasional terkait smart card, maka dipandang perlu mengangkatperan area yang diposisikan sebagai techno park seperti PusatPenelitian Ilmu Pengetahuan Serpong, sebagai sentra sekaligus wadahinteraksi teknologi dan bisnis. Sehingga topik berikut yang perludisiapkan adalah bagaimana membangun mekanisme terbaik untukmewujudkan pendukungan industri TIK yang bermanfaat bagiperekonomian Indonesia.
    • 100ReferensiFlor, Alexander G., “ICT and Poverty: The Indisputable Link”, Paperfor Third Asia Development Forum on Regional EconomicCooperation in Asia and The Pacific, Asian Development Bank,Bangkok, 2001.International Communication Union, http://www.itu.int diaksespada tanggal 26 September 2007Kim, Yun–Hwan, “Financing Information Technology Diffusion inLow–income Asian Developing Countries”, ADB Report, 2004.Papageorgiou, “Technology Adoption, Human Capital, and GrowthTheory”, Louisiana State University, Baton Rouge, LA 70803,2000.Quibria, M.G., and Ted Tschang, “Information and CommunicationTechnology and Poverty: An Asian Perspective”, ADB InstituteWorking Paper Series No.12, 2001.The Economist Intelligent Unit, “The 2004 E-Readinesss Rankings: AWhite Paper from the Economist Intelligent Unit”, 2004The Fed, “U.S. Consumers and Electronic Banking 1995–2003”,Federal Reserve Bulletin Winter 2004UNCTAD, “Information and Communication Technology DevelopmentIndices”, UNCTAD-UN, New York, 2003United Nations Information and Communication Technologies TaskForce, “Measuring ICT: the Global Status of ICT Indicators,Partnership on Measuring ICT for Development, Geneva”, July2005
    • 101Laporan Studi Penyusunan Kebijakan Pemerintah MengenaiKerangka Kerja (Frame Work) Penerapan Kartu Pintar (SmartCard) di Indonesia.Electronic Government, Progress in Promoting Adoption of SmartCard Technology, Subcommittee on Technology and ProcurementPolicy, House of Representatives, United States GeneralAccounting OfficeChina IC Card and Smart Card Industry Report, ResearchInChina2007-2008.
    • 102Lampiran A : Daftar Pertanyaan FGD dan KuisionerPERTANYAAN FGD1. Apakah dampak kehadiran smart card terhadap perekonomian nasional Indonesia?2. Apakah dampak kehadiran smart card terhadap perusahaan yang menggunakanteknologi sebelumnya (magnetic-stripe)?3. Bagaimana implementasi smart card terkait dengan dampak sosial, moral danhukum di Indonesia?4. Pada bagian manakah yang perlu diatur oleh pemerintah dalam pengembangan danimplementasi smart card?5. Sejauh mana kesiapan industry TIK Nasional dalam mendukung penerapan smartcard?6. Bagaimana kesiapan SDM Indonesia menghadapi implementasi smart card?7. Bagaimana budaya Indonesia menghadapi implementasi smart card?8. Apa hambatan-hambatan dalam penerapan teknologi smart card?9. Bagaimana pandangan para Pakar tentang transaksi elektronik?10. Bidang apa saja yang efektif untuk implementasi smart card?11. Bagaimana pandangan ke depan pemakaian smart card dalam telekomunikasi?12. Bagaimana pandangan ke depan pemakaian smart card dalam perbankan?13. Bagaimana pandangan ke depan pemakaian smart card dalam imigrasi?14. Bagaimana pandangan ke depan pemakaian smart card dalam perkantoran?15. Bagaimana pandangan ke depan pemakaian smart card dalam kesehatan?16. Bagaimana pandangan ke depan pemakaian smart card dalam transportasi?17. Bagaimana kesiapan infrastruktur teknologi smart card?18. Bagaimana dampak negative implementasi smart card?19. Bagaimana implementasi smart card yang efisien?20. Bagaimana kesiapan pemerintah dalam menangani proyek besar industry smart cardterkait dengan transfer teknologi yang memakan cukup waktu?
    • 103DEMOGRAPHIC PROFILEa. Berapa usia anda saat ini ?a) < 25 tahun b) 25 – 40 tahun c) 40 – 55 tahun d) > 55 tahunb. Pendidikan terakhir :a) SMU/SMK/STM b) DIII/Politeknik c) S1 d) S2 e) S3f) Lainnya ..........c. Pekerjaan saat ini :a) Pegawai negeri b) Pegawai Swasta c) Militer d) Wiraswastae) Konsultan f) Lainnya ............d. Penghasilan dalam sebulan :a) < 1,5 juta b) 1,5–3 juta c) 3–5 juta d) 5–8 juta e) > 8 jutae. Jika anda pernah menggunakan smart card (kartu pintar), di bidang apa saja (silahkancheck list)?a) Telekomunikasi (SIM CARD atau yang lain) b) Perbankan (dompet elektronik atau yang lain) c) Pendidikan (kartu multiguna mahasiswa) d) Perkantoran (kartu elektronik pegawai) e) Kesehatan (smart card kesehatan) f) Transportasi (alat pembayaran elektronik) g) Imigrasi (smart card WNI) f. Sudah berapa lama anda menggunakan smart card :a)< 1tahun b) 1-3 tahun c) 3-5 tahun d) 5-10tahun e)>10 tahun
    • 104DAFTAR PERTANYAAN UMUM1. Apakah anda pernah menggunakan layanan yang menggunakan teknologi smartcard dan RFID?a) Tidak pernah b) Jarang c) Sering d) Setiap hari2. Manakah di antara layanan di bawah ini yang sudah menggunakan atau akandiganti menjadi smart card ? (boleh pilih lebih dari satu)a) e-Toll Jasa Margab) Kartu kredit perbankanc) Kartu Pegawai Negeri Sipild) Flezz (BCA)e) KTPf) Lainnya, sebutkan .....3. Berapa lama anda setiap hari menggunakan layanan yang menggunakanteknologi smart card dan RFID?a) Tidak pernah b) Jarang c) Sering d) Setiap Jame) Lebih dari sekali setiap jam4. Sudah berapa lama anda menggunakan (dalam bulan / tahun) pemakaian layananyang menggunakan teknologi smart card dan RFID untuk masing-masing :a) Telekomunikasi : ...............bulan/tahun *b) Kesehatan : ............ bulan/tahun *c) Perkantoran : .............. bulan/tahun *d) Perbankan : ....................bulan/tahun *e) Pendidikan : ..................bulan/tahun *f) Transportasi : ............. bulan/tahun *g) Imigrasi : .............. bulan/tahun *5. Jenis layanan yang paling disukai :a) Telekomunikasib) Kesehatanc) Perkantorand) Perbankane) Pendidikanf) Transportasig) Imigrasi6. Jenis layanan yang menggunakan teknologi smart card dan RFID yang palingsering dimanfaatkan :
    • 105a) Telekomunikasib) Kesehatanc) Perkantorand) Perbankane) Pendidikanf) Transportasig) Imigrasi7. Menurut pendapat anda tentang mutu layanan jasa-jasa yang menggunakanteknologi smart card dan RFID:a) Telekomunikasi : a) Sangat baik b) Baik c) Sedangd) Kurang e) Sangat Kurangb) Kesehatan :a) Sangat baik b) Baik c) Sedangd) Kurang e) Sangat Kurangc) Perkantoran :a) Sangat baik b) Baik c) Sedangd) Kurang e) Sangat Kurangd) Perbankan : a) Sangat baik b) Baik c) Sedangd) Kurang e) Sangat Kurange) Pendidikan : a) Sangat baik b) Baik c) Sedangd) Kurang e) Sangat Kurangf) Transportasi : a) Sangat baik b) Baik c) Sedangd) Kurang e) Sangat Kurangg) Imigrasi :a) Sangat baik b) Baik c) Sedangd) Kurang e) Sangat Kurang8. Menurut pendapat anda tentang biaya layanan jasa-jasa yang menggunakanteknologi smart card dan RFID :a) Telekomunikasi :a) Sangat murah b) Murah c) Sedangd) Mahal e) Sangat Mahalb) Kesehatan :a) Sangat murah b) Murah c) Sedangd) Mahal e) Sangat Mahalc) Perkantoran : a) Sangat murah b) Murah c) Sedang
    • 106d) Mahal e) Sangat Mahald) Perbankan : a) Sangat murah b) Murah c) Sedangd) Mahal e) Sangat Mahale) Pendidikan : a) Sangat murah b) Murah c) Sedangd) Mahal e) Sangat Mahalf) Transportasi :a) Sangat murah b) Murah c) Sedangd) Mahal e) Sangat Mahalg) Imigrasia) Sangat murah b) Murah c) Sedangd) Mahal e) Sangat Mahal9. Bagaimana menurut anda tentang kebijakan regulasi sektor Teknologi Informasidan Komunikasi saat ini ?a) Sangat menguntungkan b) Menguntungkanc) Tidak berpengaruh d) Merugikane) Sangat merugikan10. Bagaimana sebaiknya menurut pendapat anda mengenai sumber pembiayaanpembangunan infrastruktur TIK di Indonesia ?a) Dana kas sendiri (negara) b) Pinjaman Dalam Negeric) Pinjaman Luar Negeri d) Gabungan berbagai pihake) Swadaya MasyarakatAlasan / Penjelasan : .......................................................11. Bagaimana menurut pendapat anda tentang dampak pemanfaatan teknologi smartcard dan RFID bagi struktur Industri TIK saat ini di Indonesia ?a) Sangat menguntungkan b) Menguntungkanc) Tidak berpengaruh d) Merugikane) Sangat merugikan12. Bagaimana menurut pendapat anda tentang dampak pemanfaatan teknologi smartcard dan RFID bagi tingkat pelayanan pemerintah terhadap masyarakat Indonesia?a) Sangat menguntungkan b) Menguntungkanc) Tidak berpengaruh d) Merugikane) Sangat merugikan13. Bagimana menurut anda tentang kemampuan bangsa Indonesia untukmengembangkan aplikasi layanan smart card dan RFID ?
    • 107a) Sangat baik b) Baik c) Sedang d) Kurang e) Sangat Kurang14. Bagaimana menurut anda tentang penerapan teknologi smart card dan RFID dinegara tetangga kita, seperti Malaysia dan Singapura ?a) Sangat baik b) Baik c) Sedang d) Kurang e) Sangat Kurang15. Bagaimana sikap anda mengenai ketertinggalan bangsa kita pada bidangTelematika dari bangsa lain ?a) Harus melebihi b) Harus sejajar c) Biasa sajad) Terserah pemerintah e) Acuh tak acuh e) Tidak tahuAlasan / Penjelasan : ..........................................................................16. Bagaimana pendapat anda jika proyek besar pemerintah untuk menerapkan smartcard dalam skala luas di Indonesia melibatkan industri dalam negeria) Setujub) Biasa sajac) Tidak setuju17. Bagaimana jika proyek besar pemerintah dalam penerapan smart card yangditangani oleh industri dalam negeri memerlukan waktu yang lebih lambatdibandingkan dengan jika dipasrahkan kepada industri luar negeri, karenamemerlukan masa transfer teknologia) Sangat tidak setujub) Tidak setujuc) Biasa sajad) Setujue) Sangat setuju18. Apakah anda setuju jika pemerintah perlu memberikan dukungan insentif dalampenerapan smart card dalam skala luas, dengan memberikan kesempatan uji cobapengembangan dengan dukungan pendanaan multi yearsa) Setujub) Biasa sajac) Tidak setuju19. Dukungan seperti apa yang menurut anda efektif untuk mendorong bangkitnyaindustri smart card Indonesiaa) Pemberian jaminan pasar bagi teknologi yang akan dikembangkanb) Pemberian insentif pendanaan litbangc) Uji coba pengembangan dengan didukung oleh konsorsiumpengembangan aplikasi, dalam suatu kurun waktu tertentu
    • 108d) Lainnya, sebutkan ...............20. Penerapan smart card dalam skala luas seperti penerapan KTP elektronik sebaiknyadilakukan melalui tender terbuka,a) Dengan pemenang tunggalb) Dengan pembagian zona wilayah, dimana keseragaman daninteroperabilitas sistem dijaga oleh spesifikasi teknisc) Dengan sistem konsorsiumd) Dengan cara lainnya, sebutkan ............21. Apakah Indonesia perlu membangun industri pembuatan chip untuk smart card didalam negeri ?a) Sangat perlub) Perluc) Biasa sajad) Tidak perlue) Sangat tidak perlu22. Apakah ada saran lainnya berkaitan dengan pengembangan potensi industri TIK(teknologi informasi dan komunikasi) dalam negeri untuk mendukung penerapansmart card di Indonesia ?Jelaskan....................................................................................................................................................................................................................
    • 109Lampiran B: Dokumentasi Foto FGD I Jakarta
    • 110Lampiran C: Dokumentasi Foto FGD II Jakarta
    • 111Lampiran D : Foto dan Gambar Smart CardGambar E.1 : Smart Card dalam Bidang KesehatanGambar E.2 : Smart Card reader
    • 112Gambar E.3 : Smart Card dalam Bidang PerbankanGambar E.4 : Smart Card dalam Bidang Telekomunikasi
    • 113Gambar E.5 : Smart Card Hotel Lock
    • 114Gambar E.6 : Smart Card untuk pengisian BBMGambar E.7 : Access Control berbasis Smart Card
    • 115Gambar E.8 : Smart Card untuk AlumniGambar E.8 : Smart Card untuk Kartu Kredit
    • 116Gambar E.6 : Contactless Smart CardGambar E.7 : Kombinasi Contact dan Contactless Smart Card