Studi fixed wireless 2005

722 views
636 views

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
722
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
20
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Studi fixed wireless 2005

  1. 1. LAPORAN AKHIR(FINAL REPORT)STUDI TENTANG PENINGKATAN PERANFIXED WIRELESS DALAM RANGKA MENGATASIPERMINTAAN JARINGAN TELEPON TETAPPUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGANPOS DAN TELEKOMUNIKASIBADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SDMDEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKAJAKARTA2005
  2. 2. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap1BAB IPENDAHULUANA. LATAR BELAKANGPertumbuhan ekonomi dan sosial masyarakat yangsemakin baik telah meningkatkan kesejahteraan, gaya hidupdan selanjutnya berpengaruh pada tingginya permintaan danminat masyarakat terhadap jasa telepon tetap (Public ServiceTelephone Network/PSTN). Keterbatasan dana penyediajaringan telekomunikasi untuk investasi pembangunantelepon dan biaya pemeliharaan yang semakin tinggi telahberakibat pada lambatnya proses pembangunan jaringantelekomunikasi, khususnya pada Permintaan SambunganBaru (PSB) belum dapat direalisasikan secara penuh olehPT. Telkom, PT. Indosat dan PT Bakrie Telecom karenabiaya pemeliharaan dan investasi yang besar.Perkembangan teknologi informasi saat ini sudahberkembang sampai pada layanan jasa telekomunikasi suaradan data yang berbasis pada akses telepon tanpa kabeldengan teknologi Code Division Multiple Access (CDMA).Hasil dari studi ITU telah merekomendasikan bahwadampak pertumbuhan layanan telekomunikasi sebesar 1 %dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar3 %. Oleh karena itu pengembangan jaringan dan jasatelekomunikasi merupakan prioritas, baik pada wilayah yangtingkat mobilitas pemanfaatan telekomunikasi sangat tinggiseperti pada kota-kota besar, maupun pada daerah yangmasih terbatas pembangunan jaringan tetap seperti padadaerah Kawasan Timur Indonesia (KTI). Untuk investasiteknologi komunikasi dan informasi (ICT) setelah dihitungberada antara 0,3 dan 0,8 % dari pertumbuhan GDP perkapita antara periode 1995-2001Pada saat ini penduduk Indonesia diperkirakansebanyak 210 juta orang, sedangkan sarana telepon tetapyang tersedia pada tahun 2004 baru mencapai 8 juta sst.Apabila setiap satu sambungan telepon dimanfaatkan oleh 5orang, maka jumlah penduduk yang mendapatkan aksestelepon tetap baru mencapai 40 juta orang, sedangkanjumlah pelanggan telepon seluler pada tahun 2004mencapai + 18 juta pelanggan, dan pelanggan fixed wirelessbaru mencapai 1,3 juta pelanggan, sehingga jumlah seluruhpenduduk Indonesia yang mendapatkan akses telepon tetap,
  3. 3. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap2telepon seluler, dan fixed wireless berjumlah 59,3 jutapelanggan, dengan demikian terdapat 150,7 juta pendudukyang belum terjangkau oleh fasilitas telepon tetap maupuntelepon seluler dan disamping itu, teledensitastelekomunikasi Indonesia masih sangat rendah yaitu baruberkisar 3 % per 100 penduduk yaitu 3 sst untuk 100 orangpenduduk.Disisi lain pembangunan infrastruktur jaringan kabeluntuk telepon tetap memerlukan biaya dan waktu lama.Berdasarkan data di lapangan bahwa 1 sst memerlukanbiaya kurang lebih sebesar 1.000 US$ dan memerlukanwaktu membangun dan menjual selama 1,5 tahun.Sedangkan untuk pembangunan dengan infrastrukturwireless memerlukan biaya kurang lebih 300 US$ dan dapatdinikmati + 1.000 orang dan investasi cepat kembaliFixed Wireless, merupakan alternatif dan peluang bagipenyelenggaraan jasa pada jaringan telekomunikasi yangterjangkau dan memberi kemudahan akses karena dapatdibawa dan dimanfaatkan pada suatu area tertentu. Jaringankabel, terutama serat optik tetap merupakan tulang punggungtelepon, digunakan sebagai pengembangan teknologijaringan tanpa kabel untuk telepon tetap (fixed wireless)karena sudah diakui mutunya.Saat ini, teknologi telepon tanpa kabel (wireless) mulaidisukai masyarakat sebagai alternatif kelangkaan dankesulitan pembangunan telepon kabel (wireline). Untukmengatasinya fixed wireless merupakan salah satu solusiyang diharapkan dapat mengeliminasi permintaan dankeluhan masyarakat.Dipastikan pemanfaatan perkembangan teknologiCDMA 2000-1X akan mendukung pelayanan fixed wirelessyang dikembangkan oleh beberapa operator. Dengandemikian, peran fixed wireless dalam rangka mengatasipermintaan jaringan telepon tetap akan menjadikan prioritasyang harus terus dikembangkan, karena banyak nilai-nilaiefisiensi dan efektivitasnya.
  4. 4. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap3B. IDENTIFIKASI PERMASALAHANDari latar belakang diatas, dapat diidentifikasi beberapapoint permasalahan yang menjadi fokus studi sebagai berikut:1. Keunggulan dan peran fixed wireless khususnya dalammengatasi permintaan jaringan telepon tetap;2. Permasalahan dan kendala yang dihadapi dalammenyelenggarakan maupun mengakses layanan fixedwireless;3. Peluang perkembangan peran fixed wireless di masamendatang;4. Strategi untuk meningkatkan peran fixed wireless dalamrangka mengatasi permintaan jaringan telepon tetap.C. MAKSUD DAN TUJUANMaksud studi adalah memberikan gambaran peningkatanperan atau pemanfaatan fixed wireless untuk mengatasipermintaan jaringan telepon tetap.Tujuan studi adalah membuat konsep kebijakan tentangpeningkatan peran fixed wireless untuk mengatasipermintaan jaringan telepon tetap.D. RUANG LINGKUPRuang lingkup ini membatasi pada :1. Inventarisasi peraturan perundangan yang berkaitandengan fixed wireless;2. Inventarisasi penyelenggaraan fixed wireless;3. Inventarisasi jenis layanan fixed wireless;4. Inventarisasi teknologi fixed wireless;5. Inventarisasi jaringan jangkauan fixed wireless;6. Inventarisasi pertumbuhan pengguna layanan fixedwireless;7. Inventarisasi permasalahan dalam penyelenggaraanfixed wireless;8. Analisis dan evaluasi penyelenggaraan fixed wireless.
  5. 5. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap4E. HASIL YANG DIHARAPKANHasil yang diharapkan dari studi adalah tersusunnyasuatu rekomendasi bagi pengambil keputusan dalampenetapan kebijakan peningkatan peran fixed wirelesssehingga dapat mengatasi permintaan jaringan telepon tetap.F. METODE PENDEKATANMetode pendekatan yang digunakan dalam studi ini adalah :1. Studi kepustakaan untuk mendapatkan informasimengenai peningkatan peran fixed wireless dalammengatasi permintaan jaringan telepon tetap;2. Survei lapangan untuk mengetahui permasalahan yangdihadapi melalui observasi dan wawancara.G. PENGERTIAN JUDULJudul studi adalah peningkatan peran fixed wirelessdalam mengatasi permintaan jaringan telepon tetap. Untukmenghindarkan salah pengertian, maka berbagai istilahdalam judul ini diartikan sebagai berikut :1. Peningkatan peran fixed wireless adalah tujuan atausasaran yang hendak dicapai pada penyelenggaraanfixed wireless;2. Permintaan jaringan telepon tetap adalah tingkatpermintaan masyarakat terhadap jaringan telepontetap.
  6. 6. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap5BAB IIGAMBARAN PENYELENGGARAAN FIXED WIRELESSA. UMUMBab ini akan menjelaskan tentang regulasi fixedwireless dan perkembangan penyelenggaraan fixed wirelessyang meliputi layanan fixed wireless, teknologi yangdigunakan maupun cakupan dari masing-masing layanan.B. REGULASIRegulasi telekomunikasi merupakan kebijakan yangditetapkan oleh pemerintah selaku regulator untukmenciptakan sistem pertelekomunikasian yang kondusif, yangdijadikan pedoman bagi pelanggan/pengguna, operator,industri (vendor) dan regulator dalam penyelenggaraantelekomunikasi. Hal ini tidak terlepas pula untuk pengaturanjaringan dan jasa telekomunikasi yang telah ditetapkanpemerintah melalui Undang-undang No. 36 Tahun 1999tentang Telekomunikasi, Peraturan Pemerintah No 52 Tahun2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi, PeraturanPemerintah No 53 Tahun 2000 tentang PenggunaanSpektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit, KeputusanMenteri (KM) Nomor 20 Tahun 2001 tentangPenyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi, KM No. 21Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi,KM No. 35 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan JaringanTetap Lokal dengan Mobilitas Terbatas, KM No. 17 tahun2002 tentang Penyelenggaraan Fixed Wireless denganmenggunakan frekuensi 800 MHz, KM No. 29 Tahun 2004tentang Perubahan atas KM No 20 Tahun 2001 tentangPenyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi, KM No. 30Tahun 2004 tentang Perubahan atas KM No 21 Tahun 2001tentang Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi,Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentangTelekomunikasi sebagai payung penyelenggaraantelekomunikasi di Indonesia antara lain mengatur beberapahal, yaitu mengatur tentang tujuan, pembinaan,penyelenggara, penyelenggaraan, larangan praktekmonopoli, perizinan, perangkat telekomunikasi dan spektrumfrekuensi radio dan orbit satelit dan pengamanan
  7. 7. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap6telekomunikasi. Mengenai penyelenggaraan telekomunikasi,hal ini meliputi penyelenggaraan jaringan telekomunikasi,penyelenggaraan jasa telekomunikasi dan penyelenggaraantelekomunikasi untuk keperluan khusus. Adapunpenyelenggaraan jaringan telekomunikasi adalah kegiatanpenyediaan dan/atau pelayanan jaringan telekomunikasi yangmemungkinkan terselenggaranya jaringan telekomunikasidan dapat dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara, BadanUsaha Milik Daerah, Badan Usaha Swasta dan Koperasi.Penyelenggaraan jaringan telekomunikasi menurut PPNo 52 Tahun 2000 tentang penyelenggaraan telekomunikasiterdiri dari penyelenggara jaringan tetap dan bergerak.Penyelenggara jaringan tetap dibedakan dalampenyelenggara jaringan tetap lokal, sambungan langsungjarak jauh, sambungan internasional dan tertutup; sedangkanpenyelenggaraan jaringan bergerak dibedakan dalampenyelenggaraan jaringan bergerak terrestrial, seluler dansatelit.Penyelenggaraan jaringan tetap adalah kegiatanpenyelenggaraan jaringan untuk layanan telekomunikasitetap yang dimaksudkan bagi terselenggaranyatelekomunikasi publik dan sirkit sewa. Dalam PP tersebut,diatur pula bahwa penyelenggara jaringan tetap lokal ataupenyelenggara jaringan bergerak seluler atau penyelenggarajaringan bergerak satelit harus menyelenggarakan jasateleponi dasar.Spektrum frekuensi radio dan orbit satelit merupakansumber daya terbatas yang penting guna mendukungpenyelenggaraan telekomunikasi, sehingga perlu dikelola dandiatur pembinaannya guna memperoleh manfaat yangoptimal dengan memperhatikan kaidah hukum nasionalmaupun internasional. Pengawasan dan pengendalianpenggunaan spektrum frekuensi radio dan orbit satelitdilakukan Pemerintah yang ketentuannya diatur denganPeraturan Pemerintah No 53 Tahun 2000 tentangPenggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit.Di dalam PP tersebut, dinyatakan antara lain bahwaspektrum frekuensi radio adalah kumpulan pita frekuensiradio, sedangkan alokasi frekuensi radio adalahpencantuman pita frekuensi tertentu dalam tabel alokasifrekuensi untuk penggunaan oleh satu atau lebih dinaskomunikasi radio teresterial atau dinas komunikasi radio
  8. 8. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap7ruang angkasa atau dinas radio astronomi berdasarkanpersyaratan tertentu Istilah alokasi ini juga berlaku untukpembagian lebih lanjut pita frekuensi tersebut diatas untuksetiap jenis dinasnya.Perencanaan penggunaan spektrum frekuensi radioharus diperhatikan hal-hal sebagai berikut seperti pada pasal4 yaitu mencegah terjadinya saling mengganggu, efisien danekonomis, perkembangan teknologi, kebutuhan spektrumfrekuensi radio di masa depan dan/atau mendahulukankepentingan pertahanan keamanan negara, keselamatan danpenanggulangan keadaan marabahaya (Safety and Distress),pencarian dan pertolongan (Search and Rescue/SAR),kesejahteraan masyarakat dan kepentingan umum. Padapasal 6, dinyatakan bahwa perencanaan penggunaanspektrum frekuensi radio meliputi perencanaan penggunaanpita frekuensi radio (band plan) dan kanal frekuensi radio(channeling plan).Dalam penyelenggaraan jaringan tetap lokaldimungkinkan digunakannya teknologi tanpa kabel (nirkabel)mobilitas terbatas sebagai akses pelanggan dan sebagaipedoman penyelenggaraan jaringan tersebut, ditetapkandengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 35Tahun 2004. Secara umum, penyelenggara jaringan tetaplokal tanpa kabel yang dimaksud dalam keputusan ini adalahpenyelenggara jaringan tetap local yang antara lain namuntidak terbatas pada penggunaan teknologi wireless CDMA(Code Division Multiple Access), sedangkan mobilitasterbatas adalah mobilitas jaringan akses pelanggan tetaploKal tanpa kabel yang dibatasi pada satu daerah operasitertentu.Penyelenggaraan jaringan tetap local tanpa kabeldengan mobilitas terbatas merupakan bagian daripenyelenggaraan jaringan tetap lokal dan diselenggarakanoleh penyelenggara jaringan tetap lokal yang telahmendapatkan izin dari Menteri. Sedangkan di pasal 3 KMtersebut, dijelaskan bahwa wilayah layanan penyelenggaraanjaringan tetap local tanpa kabel dengan mobilitas terbatasdibatasi maksimum pada satu kode area layanan jaringantetap local dan wilayah kode area tersebut sama denganwilayah penomoran jaringan tetap lokal yang berlakuberdasarkan rencana dasar teknis sesuai ketentuan yangberlaku.
  9. 9. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap8Untuk mendukung penyelenggaraan fixed wirelessdalam rangka memenuhi kebutuhan pembangunantelekomunikasi khususnya jasa telepon dasar, telahditetapkan penggunaan spektrum frekuensi radio 800 MHzyang diatur dalam KM No 17 tahun 2002. KM ini antara lainmenetapkan bahwa spektrum frekuensi radio 825-835 MHzsebagai alokasi frekuensi radio untuk penyelenggaraan fixedwireless dan setiap penyelenggara jaringan tetap lokal yangtelah diberi izin hanya diberikan alokasi frekuensi radiosebesar 2 X 5 MHz, untuk wilayah Jabotabek dan Jawa Baratdiberikan alokasi frekuensi radio sebesar 2 X 10 MHz.C. PERKEMBANGAN PENYELENGGARAAN FIXEDWIRELESSPenyelenggaraan jaringan tetap lokal tanpa kabel (fixedwireless) sesuai KM 35 Tahun 2004 adalah penyelenggarajaringan tetap local yang antara lain namun tidak terbataspada penggunaan teknologi wireless CDMA (Code DivisionMultiple Access) dengan mobilitas yang dibatasi pada satudaerah operasi tertentu.Beberapa operator di Indonesia yangmenyelenggarakan jaringan tetap lokal tanpa kabel saat iniadalah PT. Telkom dengan merk dagang Telkom flexi, PTBakri dengan merk dagang Esia dan PT Indosat dengan merkdagang Starone , dan tidak menutup kemungkinan akanmuncul operator baru atau operator lama yangmenyelenggarakan jaringan tetap lokal tanpa kabel. Ketigaoperator diatas menggunakan teknologi yang sama dalammenggelar layanannya yaitu CDMA. PT. Telkom dan PT.Indosat menggunakan 2 alokasi frekuensi yaitu masing-masing di frekuensi 800 MHz dan 1900 MHz, sedangkan PT.Bakrie Telecom menggunakan alokasi frekuensi 800 MHz.CDMA adalah teknologi akses jamak dimana masing-masing user menggunakan kode yang unik dalammengakses kanal yang terdapat dalam sistim. Pada CDMA,sinyal informasi pada transmitter dicoding dan disebardengan bandwidth sebesar 1,25 MHz (spread spectrum),kemudian pada sisi repeater dilakukan decoding sehinggadidapatkan sinyal informasi yang dibutuhkan. Layanan fixedwireless access (FWA) berbasis CDMA sebagai telepon
  10. 10. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap9bergerak terbatas dalam satu area code, dimungkinkankarena memiliki fitur limited mobility. Para pakar teknologitelepon seluler sepakat bahwa kecanggihan CDMA jauhmelebihi GSM yang sekarang ini banyak dipergunakan olehoperator telepon seluler di Indonesia.Para pelaku bisnis telepon seluler memperkirakanbahwa FWA akan mendapat sambutan positif masyarakatmengingat tarifnya akan jauh berada dibawah GSM karenabiaya investasinya semakin murah.Beberapa keunggulan CDMA-2000 (1x) jikadibandingkan dengan GSM antara lain :1. Sebagai teknologi militer CDMA sangat tahan terhadapganggunan cuaca dan interferensi, karenanya noiseCDMA sangat rendah sehingga menghasilkan kualitassuara yang sangat baik;2. CDMA tidak dapat digandakan (dikloning) karena setiappelanggan diberikan kode yang berbeda (unik). Kode-kode ini sangat sulit dilacak karena bersifat acak;3. Daya pancarnya yang sangat rendah (1/100 GSM)memungkinkan hand phone CDMA irit dalammengkonsumsi baterai, sehingga dapat beroperasilebih lama untuk bicara maupun standby;4. Kapasitas pelanggan per BTS CDMA dapat mencapai6000 (10 kali GSM). Hal ini disebabkan CDMA lebih iritdalam pemakaian frekuensi. Semua BTS CDMAberoperasi pada frekuensi yang sama, sehingga tidakmemerlukan perhitungan yang rumit dalam menyusunkonfigurasinya. Besarnya kapasitas per BTSnyamembuat biaya investasi yang dikeluarkan sangatrendah;5. CDMA-2000(1X) dapat mengirim data dengankecepatan hingga 144 Kbps, sementara GSM 9,6 Kbps.Sehingga dapat mendukung layanan SMS, MMS, MainGame dan down load data melalui internet.PT Telkom dengan produk TELKOMFlexi saat inimemiliki cakupan wilayah (coverage) yaitu Batam, Denpasar,Makassar, Balikpapan, Surabaya (dibagi flexi area : Sidoarjo,Surabaya Kota, Gresik), Jakarta (dibagi flexi area : Jakarta,Tangerang, Bekasi, Depok), Medan (dibagi flexi area :Medan, Lubukpakam, Binjai, Belawan) dan Bandung. PT.Bakrie Telecom dengan produk Esia saat ini memilikicakupan di 3 propinsi yakni DKI Jakarta, Jawa Barat danBanten, sehingga daerah cakupan meliputi Jakarta, Depok,
  11. 11. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap10Tangerang, Bekasi, Bandung, Serang, Cilegon, Bogor,Purwakarta, Subang, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis,Indramayu, Majalengka dan Sumedang. PT. Indosat denganproduk Star one saat ini mencakup wilayah Jakarta dansekitarnya.D. PERKEMBANGAN PENYELENGGARAAN FIXEDWIRELESS DI NEGARA LAINPerkembangan penyelenggaraan fixed wireless sudahcukup pesat di negara lain terutama yang menggunakanteknologi CDMA termasuk di Asia seperti di China, India,Malaysia, Pakistan, Saudi Arabia, Vietnam dan Kambojaserta di Eropa seperti Argentina, Brazil, Colombia, Algeria.Sedangkan penyelenggaraan layanan fixed wireless di Cinaada yang menggunakan teknologi selain CDMA yaitu IPAS(modifikasi dari PHS).Dibawah ini adalah daftar negara yangmenyelenggarakan layanan Fixed Wireless Access denganmenggunakan teknologi CDMA :Algeria (Algerie Telecom ) menggunakan frekuensi 1900MHz;Argentina (Telecom Argentina & Cotecal) menggunakanfrekuensi 450 MHz;Azerbaijan (Aztrank) menggunakan frekuensi 450 MHzdan 800 MHz;Bermuda (Bermuda Digital Comm) menggunakanfrekuensi 800 MHz;Brazil (Telebrasilia, TELEMIG, Tmais Telecom, Vesper)menggunakan frekuensi 800 MHz dan 1900 MHz;Cambodia (Cambodia Shinawatra Co Ltd) menggunakanfrekuensi 450 MHz;China (China Telecom) menggunakan frekuensi 450MHz;Colombia (EPM-Bogota) menggunakan frekuensi 1900MHz;Congo (AfriTel) menggunakan frekuensi 1900 MHz;Dominican (TRICOM) menggunakan frekuensi 1900 MHz;Egypt (Arento, Egypt Telecom) menggunakan frekuensi800 MHz;India (BSNL, MTNL, Tata) menggunakan frekuensi 800MHz;Malaysia (TM) menggunakan frekuensi 800 MHz;
  12. 12. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap11Pakistan (Telecard, PTCL) menggunakan frekuensi 450MHz dan 1900 MHz;Poland (OSP Polpager, TPSA) menggunakan frekuensi800 MHz dan 850 MHzRusia (Ecophone, Electrosvyaz, Kodotel etc)menggunakan frekuensi 800 MHz;Saudi Arabia (STC) menggunakan frekuensi 450 MHz;Ukraina (ITC, Telesystem) menggunakan frekuensi 800MHz dan 850 MHz;Vietnam (S Telecom, Vietnam Power Telecom)menggunakan frekuensi 450 MHz dan 800 MHzDll
  13. 13. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap12BAB IIIMETODOLOGI PENELITIANA. SIFAT PENELITIANSifat penelitian yang digunakan pada studi adalahdeskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif.B. METODA PENELITIANDi dalam studi ini dilakukan pendekatan yangmencakup identifikasi sebagai berikut :1. Identifikasi kebijakan dan peraturan tentang fixed wirelessdan jaringan telekomunikasiIdentifikasi ini akan melakukan penelusuran terhadapkonsideran-konsideran yang tertuang didalam undang-undang, peraturan pemerintah, Keputusan Menteri, danKeputusan Dirjen yang berkaitan denganpenyelenggaraan fixed wireless dan jaringantelekomunikasi.2. Identifikasi penyelenggaraan fixed wirelessIdentifikasi ini akan melakukan penelusuran terhadappermasalahan-permasalahan yang berkaitan denganpenyelenggaraan fixed wireless.Metode penelitian yang digunakan dalam studi adalahobservasi/pengamatan, wawancara terhadap nara sumberdan penyebaran kuesioner kepada masyarakat.C. POPULASI DAN SAMPELPopulasi responden kuesioner adalah masyarakatpengguna di 13 lokasi survey yaitu Medan, Bandung,Yogyakarta, Palembang, Pontianak, Palangkaraya, Surabaya,Samarinda, Denpasar, Semarang, Mataram, Makasar danPadang.Sampel kuesioner adalah 30 responden di 13 lokasi survey
  14. 14. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap13D. TEKNIK PENGUMPULAN DATAPengumpulan data studi ini terdiri dari data primer dandata sekunder, yaitu:1. Pengumpulan data sekunderPengumpulan data sekunder dilakukan melaluistudi kepustakaan dan literatur lainnya seperti internetdsb.2. Pengumpulan data primerPengumpulan data primer dilakukan melalui surveylapangan dengan memberikan kuesioner dan wawancarakepada pihak-pihak terkait di lokasi survey.Kuesioner/wawancara diberikan kepada Ditjen Postelselaku regulator bidang telekomunikasi, dan kepada 3operator yang menyelenggarakan fixed wireless yaitu PT.Telkom tbk., PT. Indosat, dan PT. Bakrie Telecom.Sedangkan penyebaran kuesioner ke masyarakatsebagai Teknik sampling yang digunakan dalammenentukan responden adalah simpe random samplingE. TEKNIK PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS DATAUntuk pengolahan data dengan menginventarisirseluruh data yang terkumpul dari hasil penyebaran kuesionermaupun wawancara kepada Ditjen Postel selaku regulator,dan operator . Sedangkan terhadap data hasil penyebarankuesioner kepada masyarakat pengguna dilakukanperhitungan tabulasi.Dalam menganalisis data –data yang terkumpul, studi inimenggunakan metode analisis SWOT (Strengthness,Weakness, Opportunities, Threatment). Konsep dasarpendekatan SWOT ini yaitu terlebih dahulu mengenalkekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman dalampenyelenggaraan fixed wireless dalam rangka mengatasipermintaan jaringan telepon tetap sehingga dapat diketahuimasalah yang dihadapi, bagaimana mencapainya sertatindakan yang perlu dilakukan untuk memaksimalkankekuatan dan merebut peluang yang ada serta mengatasikelemahan dan ancaman yang dihadapi.
  15. 15. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap14Analisa SWOT ini melihat permasalahan dalampenyelenggaraan fixed wireless, dimana dengan mengetahuifaktor eksternal seperti peluang dan ancaman maupun faKtorinternal seperti kekuatan dan kelemahan sehinggadiharapkan dapat memberikan solusi pemecahan masalahyang dihadapi serta peluang dan kekuatan sehingga dapatmeningkatkan peran fixed wireless dalam rangka mengatasipermintaan jaringan telepon tetap.Selanjutnya analisis SWOT menggunakan MatrikFaktor Strategi Internal (IFAS) dan Matrik Faktor StrategiEksternal (EFAS), yaitu :1. Matrik IFASTabel. 3.1. Teori Matrik Faktor Strategi Internal (IFAS)NO FAKTOR-FAKTORBOBOT RATING SKOR KETERANGANSTRATEGISINTERNAL(1) (2) (3) (4)=(2)*(3) (5)KEKUATAN123KELEMAHAN123TOTALKriteria dan angka penilaian :Kriteria bobot : Kriteria Rating :Paling Penting = 1 Sangat Baik = 4Penting = 0,66 – 0,99 Cukup Baik = 3Cukup Penting = 0.33 – 0.66 Baik = 2Kurang Penting = 0.01 – 0.33 Tidak Baik = 1Tidak penting = 0.00a. Kolom 1, menyusun 5 (lima) atau 10 (sepuluh)Kekuatan dan Kelemahan
  16. 16. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap15b. Kolom 2, memberikan bobot masing-masing faktor,mulai dari 1,0 (Paling penting) sampai dengan 0,0(Tidak penting), berdasarkan pengaruh faktor-faktortersebut terhadap posisi strategis, dengan 5 skalabobot.c. Kolom 3, memberikan nilai rating untuk masing-masingfaktor-faktor dengan memberikan skala mulai dari 4(outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkanpengaruh faktor tersebut terhadap kondisi yang ada,sebagai berikut :Pemberian nilai rating untuk faktor kekuatan bersifatpositif (membandingkan dengan faktor strategis lainmenunjukan besar/kecilnya kekuatan, sehingga dapatdiberi rating mulai + 1 sampai dengan + 4)Pemberian nilai untuk faktor kelemahan kebalikan darinilai rating kekuatan yaitu jika kelemahannya di bawahrata-rata pembanding nilainya adalah 4, tetapi jikakelemahannya rata-rata pembandingnya diberi nilai 1.Kolom 4, hasil berupa skor pembobotan yaitu dariperkalian kolom 2 (bobot) dengan 3 (rating),menunjukan nilai skor yang bervariasi mulai dari 4,0(outstanding) sampai dengan 0,0 (poor).Jumlahkan skor pembobotan pada kolom 4, untukmendapatkan total skor pembobotan yang menunjukanadanya reaksi terhadap faktor-faktor strategis internal.(lihat Tabel 3.1).2. Matrik EFASTabel. 3.2. Teori Matrik Faktor Strategi Eksternal(EFAS)NO FAKTOR-FAKTORBOBOT RATING SKOR KETERANGANSTRATEGISEKSTERNAL(1) (2) (3) (4)=(2)*(3) (5)PELUANG :123ANCAMAN :12
  17. 17. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap163TOTALKriteria dan angka penilaian :Kriteria bobot : Kriteria Rating :Paling Penting = 1 Sangat Baik = 4Penting = 0,66 – 0,99 Cukup Baik = 3Cukup Penting = 0.33 – 0.66 Baik = 2Kurang Penting = 0.01 – 0.33 Tidak Baik = 1Tidak Penting = 0.00a. Kolom 1, menyusun Peluang dan Ancamanb. Kolom 2, memberikan bobot masing-masing faktor,mulai dari 1,0 (Paling penting) sampai dengan 0,0(tidak penting), yang mana faktor-faktor tersebutdapat memberikan dampak terdapat faktor stategis,dengan 5 skala bobot.Kolom 3, memberikan nilai rating untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai 4(outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkanpengaruh faktor tersebut terhadap kondisi yang ada,sebagai berikut:Pemberian nilai rating untuk faktor Peluang bersifatpositif (peluang yang semakin besar diberi rating + 4,tetapi jika peluangnya kecil di beri rating + 1).Pemberian nilai pada rating untuk faktor Ancamankebalikan dari nilai Peluang yaitu jika ancamannyasemakin sangat besar ratingnya adalah 1 dan jikaancamannya kecil/sedikit ratingnya 4.c. Kolom 4, hasil berupa skor pembobotan yaitu dariperkalian kolom 2 (bobot) dengan kolom 3 (rating),menujukan nilai skor yang bervariasi mulai dari 4,0(outstanding) sampai dengan 0,0 (poor).d. Jumlahkan skor pembobotan pada kolom 4, untukmendapatkan total skor pembobotan yangmenunjukan adanya reaksi terhadap faktor-faktorstrategis eksternal.(lihat table I.2.)3. Matriks penggabungan EFAS + IFASMemindahkan hasil pada matrik EFAS dan IFAS kedalam matriks penggabungan, dengan tujuan melihatpada hasil sub total EFAS dan sub total IFAS, biladijumlahkan dan dibandingkan akan memberikan suatualternatife bahwa analisis/dialogis ini benar denganpermasalahan yang terjadi. (lihat table I.3.).
  18. 18. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap17a) Bila S+O (A+C) > W+T (B+D) Menunjukan faktorstrategis Kekuatan dan Peluang mendukungtercapainya jalan ke luar dari pokok permasalahanyang ada, untuk mendapatkan rekomendasi yangdiharapkan;b) Bila S+O (A+C) <W+T (B+D) Menunjukan bahwapokok permasalahan adalah kenyataan sebenarnyaterjadi, yang memiliki kelemahan yang besardisamping tantangan/ancaman yang dihadapi sangatbesar. Sehingga tindak lanjutnya adalah mencarialternative lain untuk memperkuat variablepengamatan/strategi lainya.Tabel. 3.3. Teori Gabungan EFAS dan IFASSTRENGTH (KEKUATAN) SKOR WEAKNESS (KELEMAHAN) SKORS (A) W (B)SUB TOTAL (A) SUB TOTAL (B)OPPORTUNITY (PELUANG) SKOR THREAT (ANCAMAN) SKORO (C) T (D)SUB TOTAL (C) SUB TOTAL (D)TOTAL S + O ATAU (A) + (C) TOTAL W + T ATAU (B) + (D)Kriteria dan angka penilaian :Kriteria bobot : Kriteria Rating :Paling Penting = 1 Sangat Baik = 4Penting = 0,66 – 0,99 Baik = 3Cukup Penting = 0.33 – 0.66 Cukup Baik = 2Kurang Penting = 0.01 – 0.33 Tidak Baik = 1Tidak penting = 0.00F. POLA PIKIRPola pikir menggambarkan beberapa hal yaitu kondisisaat ini yang meliputi regulasi dan penyelenggaraan fixedwireless terdiri dari pengguna, teknologi, jenis layanan dan
  19. 19. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap18cakupan layanan. Disamping itu, terdapat subjek studi terdiridari pemerintah, operator dan masyarakat, obyek terdiri darilayanan, teknologi, frekuensi dan demand, serta metode studiyaitu analisis SWOT. Dalam pelaksanaan studi, juga harusmengacu pada instrumental input yaitu Undang-undang No.36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi beserta turunannyadan utamanya KM No 35 Tahun 2004 tentangPenyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa MobilitasTerbatas, sedangkan faktor lingkungan yang mempengaruhiantara lain perkembangan teknologi, era globalisasi maupunfrekuensi sehingga outcome studi adalah ketersediaanjaringan fixed wireless yang berkualitas dengan tarifterjangkau (Pola pikir selengkapnya seperti pada lampiran 1).G. ALUR PIKIRPenggambaran alur pikir untuk memperlihatkankerangka berpikir dalam penyelesaian studi. Hal ini meliputikebijakan peningkatan peran fixed wireless terdiri dariregulasi, pengguna, teknologi, cakupan dan layanan fixedwireless, serta strategi dan langkah-langkah dalam rangkapeningkatan peran fixed wireless. (Alur Pikir selengkapnyaseperti pada lampiran 2).
  20. 20. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap19BAB IVHASIL PENGUMPULAN DATADalam mengumpulkan data-data baik primer maupunsekunder sebagai bahan analisa dan evaluasi, dilakukanpenyebaran kuesioner maupun wawancara kepada 3 (tiga) pihakstakeholder berkaitan dengan penyelenggaraan fixed wireless yakniDitjen Postel selaku regulator/pembuat kebijakan di bidangtelekomunikasi, operator fixed wireless yaitu PT. Telkom tbk., PT.Indosat tbk., dan PT. Bakrie Telecom serta penyebaran kuesionerkepada masyarakat di 13 (tiga belas) lokasi survey yaitu Medan,Bandung, Yogyakarta, Palembang, Pontianak, Palangkaraya,Surabaya, Samarinda, Denpasar, Semarang, Mataram, Makasardan Padang. Selain itu dilakukan pula pengumpulan data sekunderdari literature seperti internet, materi ceramah ilmiah, maupun studi-studi yang terkait penyelenggaraan fixed wireless.A. DATA PRIMER1. REGULATORData-data dari regulator diperoleh denganmelakukan tanya jawab kepada narasumber maupunmenyebarkan kuesioner ke Ditjen Postel sebagairegulator di bidang telekomunikasi. Materi tanya jawabyang diajukan maupun kuesioner meliputi hal-hal terkaitpenyelenggaraan fixed wireless di Indonesia antara lainkondisi industri telekomunikasi, tingkat teledensitasIndonesia, pertumbuhan fixed wireline dan wireless,posisi fixed wireless, keunggulan utama teknologi fixedwireless maupun terkait dengan pelaksanaan KM 35Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Jaringan TetapLokal dengan Mobilitas Terbatas. Hal lain yang pentingdiketahui antara lain regulasi terkait alokasi frekuensifixed wireless, perbedaan antara fixed wireless danseluler dari sisi pentarifan kepelanggan, penomoran,interkoneksi serta batasan roaming maupunpermasalahan pertelekomunikasian di Indonesiakhususnya dalam pengembangan fixed wireless sertastrategi dalam mengatasi permasalahan (jawabankuesioner regulator selengkapnya di lampiran 3).
  21. 21. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap202. OPERATORPengumpulan data operasional pada operatorfixed wireless dilakukan melalui penyebaran kuesioneratau wawancara. Kuesioner dikirimkan ke 3 (tiga)operator fixed wireless yaitu PT. Telkom tbk, PT.Indosat tbk, PT. Bakrie Telecom dan semuaperusahaan tersebut mengembalikan dan mengisijawaban kuesioner dengan lengkap. Hasilpengumpulan data tersebut memperlihatkan kondisioperasional operator fixed wireless di Indonesiaberdasarkan masukan-masukan antara lain meliputipengaturan bidang telekomunikasi yang masih perludiatur terkait bidang Frekuensi, Interkoneksi maupunlaw enforcement terhadap pelaksanaan pengaturanfixed wireless.. Disamping itu, terdapat pula masukanoperator tentang pembatasan pemberian izinpenyelenggaraan fixed wireless bagi penyelenggarajaringan tetap lokal, pertumbuhan pelanggan fixedwireline dan strategi pengembangan fixed wireless,pengaruh otonomi daerah terhadap pengembanganlayanan fixed wireless, komposisi pengembanganlayanan antara fixed wireline dan fixed wireless,perbandingan komponen perangkat yang digunakan,kendala dalam mengembangkan fixed wirelesstermasuk terkait alokasi frekuensi, teknologi fixedwireless, perkiraan pertumbuhan fixed wireless, responinvestor terhadap pengembangan fixed wirelessmaupun saran dan keinginan operator terhadappengembangan telekomunikasi di Indonesia (jawabankuesioner operator selengkapnya di lampiran 4).3. MASYARAKAT PENGGUNAUntuk mengetahui persepsi masyarakatpengguna maupun kendala yang dihadapi dalammengakses layanan fixed wireless, selain kepadaregulator dan operator, kuesioner disebarkan pulakepada masyarakat sebagai pengguna atau targetpengguna layanan fixed wireless di 13 (tiga belas)lokasi survey yaitu Medan, Bandung, Yogyakarta,Palembang, Pontianak, Palangkaraya, Surabaya,Samarinda, Denpasar, Semarang, Mataram, Makasar
  22. 22. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap21dan Padang dengan masing-masing lokasi sejumlah 30(tiga puluh) responden.Adapun hasil pengumpulan data kepadamasyarakat tersebut memperlihatkan bahwa secaraumum identitas responden adalah laki-laki denganstatus kawin, kebanyakan berumur 21-30 tahun dan 31-40 tahun dengan tingkat pendidikan rata-rata Sarjana(S1) dan Diploma, pekerjaan mayoritas karyawanswasta dan PNS/TNI/Polri. Tingkat penghasilanresponden mayoritas rata-rata Rp 1000.001-Rp1.500.000 dan diatas Rp 1.500.000 dengan tingkatpengeluaran biaya telekomunikasi sebagian besardibawah Rp 100.000.Persepsi pengguna terhadap layanan fixedwireless secara umum cukup baik, karena mayoritas disemua kota mengetahui layanan fixed wireless danperbedaannya dengan jenis layanan telekomunikasilainnya. Masyarakat di beberapa kota yaitu Bandung,Palembang, Palangkaraya, Surabaya, Samarinda,Denpasar Makasar dan Padang sebagian besar ataulebih dari 50%telah atau pernah menggunakan layananfixed wireless baik TELKOMFlexi, Esia dan Staronedengan komposisi sebagian besar masyarakatmenggunakan TelkomFlexi. Hal ini dapat disebabkanbelum terselenggaranya layanan Esia dan Starone dilokasi survey.Pendapat masyarakat terhadap penggunaanFixed wireless secara umum terkait tarif yang lebihmurah, namun di beberapa kota seperti Bandung,Denpasar dan Semarang terdapat faktor lain yangmempengaruhi penggunaan fixed wireless yaitu mudahdidapat. Fitur layanan fixed wireless yang paling seringdigunakan adalah untuk menerima dan melakukanpanggilan (berkomunikasi), diikuti layanan SMS. Fixedwireless yang diselenggarakan operator dirasakansebagian masyarakat di kota Bandung, Yogyakarta,Palembang, Pontianak, Surabaya, Samarinda,Denpasar, Semarang, Mataram dan Makasar sudahcukup memenuhi keinginan pengguna. Hal ini didukungopini mayoritas masyarakat yang berpendapat bahwatarif fixed wireless cukup murah dan murah, sertakecepatan panggilan yang termasuk kategori cepat.Kegiatan penggunaan fixed wireless olehsebagian masyarakat untuk kepentingan keluarga,pekerjaan dan bisnis. Sedangkan kendala yang dialamimasyarakat dalam mengakses layanan fixed wireless
  23. 23. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap22adalah sebagian besar berpendapat suara kurangjernih dan sinyal sering terputus, sehingga dapatdikatakan bahwa hal penting dalam penyelenggaraanfixed wireless adalah harga/tarif yang terjangkau sertakualitas layanan. Di sisi lain, sebagian besarmasyarakat di lokasi survey berminat menggunakanlayanan fixed wireless walaupun di lokasinya sudahdapat mengakses layanan telepon tetap dan seluler(rekapitulasi kuesioner masyarakat selengkapnya dilampiran 5).B. DATA SEKUNDERDikeluarkannya kebijakan pemerintah yang mengaturtentang Fixed Wireless dimuat dalam Keputusan MenteriPerhubungan Nomor : KM. 35 Tahun 2004 tentangPenyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel denganMobilitas Terbatasyang antara lain mengatur hal-hal tentangpengertian penyelenggaraan jaringan tetap lokal tanpa kabel,pengertian mobilitas terbatas, batas wilayah layananpenyelenggaraan jaringan tetap lokal tanpa kabel denganmobilitas terbatas, kewajiban penyelenggara jaringan tetaplokal tanpa kabel dengan mobilitas terbatas, jenis tarif jasatelepon dasar yang menggunakan jaringan tetap lokal tanpakabel dengan mobilitas terbatas, struktur tarif jasa, sertawaktu pengevaluasian Keputusan Menteri ini. Peraturanlainnya yang telah dikeluarkan Menteri Komunikasi danInformatika No : 05/PM.Kominfo/5/2005 tanggal 17 Mei 2005mengatur antara lain tentang penambahan tiga jenis frekuensibeserta indeks biaya pendudukan frekuensi (ib) dan indeksbiaya pemancaran daya (ip) serta pembedaannya.Perbandingan tarif flexi dan GSM cukup signifikan,antara lain diperlihatkan dengan tarif bicara ke teleponrumah/CDMA dari Flexy Trendy PraBayar Rp 260, sedangkandari GSM versi murah Rp 1.000-1.300,-. Diperoleh pula opinipakar telekomunikasi antara lain bahwa fixed wireless cocokdiaplikasikan di pedesaan dan daerah yang belum mendapatakses telekomunikasi karena teknologi fixed wireless sudahmaju dengan investasi lebih rendah dan cepat terlaksanasehingga untuk Indonesia dapat dijadikan solusi untuk jangkawaktu menengah.Berdasarkan data dari literatur lainnya, kelambananpertumbuhan TelkomFlexi antara lain disebabkan masyarakatlebih membutuhkan telepon meja daripada HP CDMA. PT.Telkom tbk. sebagai salah satu operator fixed wireless
  24. 24. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap23mencoba menghadirkan inovasi baru akses internet dariTelkomflexi bekerjasama dengan PT. Pyramid Indosolution,berupa layanan FlexiDataNet yang ditujukan untuk pelangganFlexiClassy yang ingin akses internet nyaman dari mana sajadengan jangkauan lebih luas. Data terakhir menunjukkanoperator PT. Telkom (Flexi) memiliki sekitar 2,4 jutapelanggan dengan 800.000 pelanggan di Jakarta, Jawa Baratdan Banten; PT. Indosat (starone) sekitar 120.000 pelanggandan PT. Bakrie Telecom (Esia dan Ratelindo) sekitar 220 ribupelanggan.Sebagai gambaran lebih lanjut, negara-negara yangtelah menggunakan teknologi FWA-CDMA diantaranyaArgentina pada frekuensi 450 MHz, Brazil pada 800 dan 1900MHz, Colombia 1900 MHz, India dan Malaysia masing-masing 800 MHz dan Pakistan padafrekuensi 450 dan 1900MHz. Di lain sisi, prospek industri telekomunikasi globalberkembang pesat sejalan perkembangan kemajuanteknologi telekomunikasi dan informatika meliputipertumbuhan pelanggan fixed phone, mobile phone,pengguna internet dan pengguna pita lebar (broadband).ITU selaku badan khusus PBB bidang telekomunikasitelah mengalokasikan pita frekuensi GSM 900 yaitu 890-915MHz untuk uplink (Mobile station ke BTS) dan 935-960 MHzuntuk downlink (BTS ke Mobile Station). Selain GSM 900,Indonesia juga menggunakan pita frekuensi 1800-nya untuksistem seluler GSM dikenal dengan sistem DCS 1800 atauGSM 1800. Spektrum frekuensi yang tersedia untuk sistemtelekomunikasi bergerak seluler dengan sistem GSM 900 dan1800 seluruhnya adalah 95 MHz. Di Indonesia, operator yangmenyelenggarakan jasa layanan komunikasi bergerak selulertersebut terdiri atas 4 operator, sehingga rata-rata alokasispektrum di Indonesia per operator adalah 23.75 MHz.(Data sekunder selengkapnya di lampiran 6)C. ANALISIS AWALPertumbuhan ekonomi dan sosial masyarakat saat inimempengaruhi tingginya minat masyarakat terhadap PSTN.Keterbatasan dana penyedia jaringan telekomunikasimaupun kendala lainnya berakibat lambatnya prosespembangunan jaringan telekomunikasi, khususnya padaPermintaan Sambungan Baru (PSB). Fixed Wirelessmerupakan alternatif kelangkaan dan kesulitanpembangunan telepon kabel (wireline). Pemanfaatanperkembangan teknologi CDMA 2000-1X akan mendukung
  25. 25. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap24pelayanan fixed wireless sehingga peran fixed wirelessdalam rangka mengatasi permintaan jaringan telepon tetapharus terus ditingkatkan.Berdasarkan hasil pengumpulan data primer maupun datasekunder sementara dilakukan analisis awal tentang hakekatpeluang dan kendala yang dihadapi dalam penyelenggaraanfixed wireless sebagai berikut :1. Peluanga. Penggunaan teknologi informasi berbasis low costseperti fixed wireless access dapat diresponsdengan baik oleh operator maupun masyarakatsehingga hal ini memberikan pertumbuhan danpeluang pada peningkatan teledensitas Indonesiayang masih mendekati 4% dan pemenuhan aksesinformasi bagi masyarakat;b. Perkembangan teknologi CDMA-2000-1xmerupakan pilihan optimal dalam mendukungpenyelenggaraan fixed wireless ditinjau dari sisikapabilitas dan efisiensi investasi maupun biayaoperasional karena dapat melakukan komunikasidata dengan kecepatan tinggi hingga 153 kbps danmemberikan berbagai macam layanan Value addedservice yang ”advanced” ;c. Dari hasil penyebaran kuesioner sementara kemasyarakat, dapat dilihat bahwa minat masyarakatterhadap layanan fixed wireless ini cukup tinggiwalaupun telah memiliki layanan telepon tetapmaupun seluler yaitu sebesar 77.7% yang antaralain disebabkan karena tarif fixed wireless dinilailebih terjangkau. Hal ini dapat menjadi peluang bagioperator maupun pemerintah untukmenyelenggarakan fixed wireless dan mengaturkebijakannya dalam rangka peningkatan teledesitastelepon secara keseluruhan.2. Kendalaa. Pertumbuhan fixed wireless yang lebih cepat darifixed wireline dapat membahayakan bagipertumbuhan fixed wireline yang ditunjukkandengan keengganan operator untukmengembangkan layanan fixed wireline;b. Sebagian operator berpendapat bahwa pengaturantentang telekomunikasi yang perlu diatur utamanyamenyangkut tentang alokasi frekuensi FWA di 1900MHz, BHP frekuensi, interkoneksi, maupun law
  26. 26. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap25enforcement/sanksi bagi pelanggaran ketentuanlimited mobility;c. Alokasi pita frekuensi yang diberikan untuk aplikasifixed wireless dan seluler terlalu banyak, yangsebenarnya bisa dilakukan pada satu frekuensiyang sama oleh operator yang sama sehinggaberpotensi menimbulkan kendala untuk cadanganspektrum bagi teknologi wireless yang lebihcanggih di masa yang akan datang;d. Adapun kendala yang dihadapi operator fixedwireless antara lain mengenai keterbatasanterminal/pesawat telepon fixed wireless maupunharganya yang masih mahal, kesulitan dalampembebasan lahan dan izin pendirian tower sertakesulitan mendapatkan interkoneksi dari operatordominan;
  27. 27. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap26BAB VANALISA DAN EVALUASIA. UMUMSetelah dilakukan pengumpulan dan pengolahan databaik primer maupun sekunder, selanjutnya dilakukan analisadan evaluasi terhadap data tersebut. Prosentase pengembaliankuesioner sebagai berikut :Tabel 5.1 Prosentase Pengembalian KuesionerNo Responden Jumlah Tingkat pengembalian Keterangan1 Regulator (Ditjen Postel) 1 100%2 Operator 3 100%3 Masyarakat 390 100%B. ANALISA FAKTOR INTERNALAnalisis faktor internal penyelenggaraan fixed wirelessdipengaruhi oleh beberapa hal diperlihatkan pada matriksSWOT (IFAS) berikut :Tabel 5.2 Matriks SWOT (IFAS)Faktor-faktor strategi internal Bobot RatingBobot xratingKeteranganKekuatan :1. Investasi Fixed Wireless 0.10 2 0.20 murah2. Tarif Fixed Wireless 0.15 3 0.45 murah3. Infrastruktur jaringan Fixedwireless0.10 2 0.20 Lebih cepat dan fleksibel4. Fitur baru/value addedservice fixed wireless0.05 1 0.05 Layanan data/internet,SMS dan lainnyaKelemahan :1. Regulasi tentang fixedwireless0.20 1 0.20 -2. Kualitas layanan danjaringan FW0.15 2 0.30 masih belum sempurna3. Perhitungan BHP frekuensi 0.05 3 0.15 -4. Pengaturan Interkoneksi 0.05 3 0.155. Terminal telepon FW 0.15 2 0.30 Terbatas dan mahalTotal 1 2
  28. 28. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap27Kriteria dari angka penilaian :Kriteria bobot : Kriteria ratingPaling penting = 1 Sangat Baik = 4Penting = 0.66 – 0.99 Baik = 3Cukup penting = 0.33 – 0.65 Cukup Baik = 2Kurang penting = 0.01 – 0.32 Tidak Baik = 1Tidak penting = 0Berdasarkan tabel 5.2 diatas terlihat bahwa variabel kekuatandengan bobot tertinggi adalah tarif fixed wireless dengan skor 0.45,sedangkan untuk variabel kelemahan dengan bobot tertinggi adalahaspek kualitas layanan dan jaringan fixed wireless dan terminaltelepon fixed wireless dengan skor sebesar 0.30.Masing-masing variabel kekuatan dan kelemahan sebagaifaktor internal yang mempengaruhi penyelenggaraan fixed wirelessdianalisa dan dievaluasi sebagai berikut :1. Kekuatan (strength) :Dalam penyelenggaraan layanan fixed wireless,dapat diidentifikasi beberapa kekuatan yang dapat menjadidaya tarik penyelenggaraan layanan ini, namun setelahmelalui hasil pengumpulan data yang diperoleh baik primermaupun sekunder , maka variabel kekuatan yang dianalisalebih lanjut meliputi investasi, tarif, infrastruktur jaringan,dan fitur baru/value added service fixed wireless sebagaiberikut :a. Investasi Fixed WirelessVariabel investasi dalam penyelenggaraan fixedwireless diberi bobot 0,10 dan rating 2 denganpertimbangan bahwa investasi yang dibutuhkan untukpenggelaran jauh lebih murah dari pada seluler maupunfixed wireline dan hal ini cukup mempengaruhi operatoruntuk lebih memprioritaskan pengembangan fixedwireless dibandingkan dengan fixed wireline. Secarateknis, dapat dijelaskan bahwa kapasitas pelanggansetiap BTS CDMA dapat mencapai 6000 (10 kali darisistem GSM) yang antara lain disebabkan pemakaianfrekuensi CDMA lebih irit. Semua BTS pada CDMAberoperasi pada frekuensi yang sama sehingga tidakmemerlukan perhitungan yang rumit dalam menyusunkonfigurasi. Besarnya kapasitas per BTS membuatinvestasi yang dikeluarkan operator sangat rendah.
  29. 29. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap28b. Tarif Fixed WirelessTarif fixed wireless merupakan faktor terpentingyang menjadi daya tarik bagi masyarakat khususnyadalam mengakses layanan fixed wireless, sehinggauntuk variabel tarif diberi bobot 0,15 dan rating 3 karenadinilai sangat berpengaruh bagi peningkatan jumlahpelanggan operator fixed wireless. Hal ini didukungdengan persepsi masyarakat yang menunjukkan bahwasebagian besar masyarakat berpendapat tarif fixedwireless murah antara lain di beberapa kota yaituSamarinda, Semarang, Mataram, Padang, Yogya danPalangkaraya. Sedangkan sebagian besar masyarakatdi kota Bandung, Denpasar, Makasar dan Padangmenganggap tarif fixed wireless cukup murah. Namun,dengan karakteristik fixed wireless yang hampir samadengan seluler, didukung kemampuan roaming yangbisa ”diakali” dengan layanan (multinomor seperti”FlexiCombo”), menjadikan layanan tarif fixed wirelesssebagai kompetisi serius pasar seluler. Apalagi dengantarif lokal yang jauh lebih murah dari pasar seluler.c. Infrastruktur jaringan fixed wirelessPembangunan infrastruktur jaringan fixed wirelessoleh operator memerlukan waktu yang lebih cepatdalam menggelar jaringannya dibandingkan denganpenggelaran jaringan tetap kabel (fixed wireline). Selainitu, proses pembangunannya lebih fleksibel karenatidak memerlukan izin galian dari Pemda yakni cukupmemasang BTS pada menara yang telah dibangunsebelumnya untuk kebutuhan infrastruktur wireline. Haltersebut mengindikasikan bahwa variabel infrastrukturmenjadi faktor yang cukup penting dalammempengaruhi operator mengembangkan danmemperluas jangkauan /coverage fixed wirelesssehingga diberikan bobot 0,10 dengan rating 2.d. Fitur baru/value added service fixed wirelessDalam pengaplikasiannya, layanan tambahan(Value Added Service) pada fixed wireless lebih banyakdapat dikembangkan seperti layanan data/internet, smsdan aplikasi content lainnya serta dengan teknologifixed wireless CDMA-2000(1X), data yang terkirimberkecepatan hingga 144 Kbps dapat melampauisementara GSM 9,6 Kbps sehingga dapat mendukunglayanan SMS, MMS, Main Game dan down load datamelalui internet. Namun demikian, bagi sebagian besar
  30. 30. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap29masyarakat di kota survey, layanan fixed wireless yangpaling sering digunakan adalah untuk berkomunikasidan SMS, sedangkan layanan lainnya seperti untukmendapatkan informasi masih jarang digunakan. Untukitu, variable value added service/fitur baru fixed wirelessmenjadi faktor yang kurang penting dalampenyelenggaraan fixed wireless sehingga diberikanbobot 0,05 dan rating 1.2. Kelemahan (Weakness) :Dalam penyelenggaraan layanan fixed wireless,dapat diidentifikasi beberapa kelemahan yang dapatmenjadi kendala pembangunan dan pengembanganlayanan ini baik dari segi regulasi maupun penyelenggara,namun setelah melalui hasil pengumpulan data yangdiperoleh baik primer maupun sekunder, maka variabelkelemahan yang dianalisa lebih lanjut meliputi regulasi,kualitas layanan dan jaringan, perhitungan BHP Frekuensi,pengaturan interkoneksi, dan keterbatasan terminal teleponfixed wireless sebagai berikut :a. Regulasi tentang fixed wireless.Beberapa point menyangkut regulasi fixed wirelessmerupakan faktor yang penting dalam pengaturanpenyelenggaraan fixed wireless karena dalam persepsioperator masih ada beberapa hal yang harus diatur,sehingga menjadikan variabel regulasi sebagai faktorterpenting dan termasuk kelemahan dengan diberibobot 0,2 dan rating 1. Terkait kebijakan alokasifrekuensi yang diberikan, sebagian operator masihmemandang alokasi ini tidak equal treatment dimanapengalokasian frekuensi tersebut masih disamakankepada setiap operator. Alokasi frekuensi yangdiberikan kepada PT. Telkom dan PT. Indosat masing-masing 5 MHz sudah cukup efektif untukpenyelenggaraan fixed wireless yang sudahmenjangkau wilayah layanan yang luas namun untukPT. Bakrie Telecom yang cakupan wilayahnya lebihsempit mendapat alokasi frekuensi sebesar 10 MHz,sehingga perlu dilakukan penataan ulang alokasifrekuensi agar pemanfaatannya lebih optimal.Disamping itu, cakupan wilayah layanan dan wilayahtertentu mengakibatkan beberapa operatormengembangkan layanan di beberapa wilayahpenomoran jaringan tetap lokal serta belum adanya
  31. 31. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap30ketegasan sanksi atas pelanggaran ketentuan limitedmobility yang diatur dalam regulasi .b. Kualitas layanan dan jaringan fixed wirelessVariabel kualitas layanan dan jaringan fixedwireless diberi bobot 0.15 dan rating 2 yangmengindikasikan bahwa variabel ini merupakan faktoryang cukup penting bagi masyarakat dalam mengakseslayanan telekomunikasi. Kualitas layanan dan jaringanyang masih belum sempurna sebagai kelemahan ataukendala yang paling utama dalam mengakses layananfixed wireless bagi sebagian besar masyarakatpengguna di semua lokasi survey. Hal ini dipengaruhiantara lain ketersediaan alokasi bandwidth frekuensiyang terbatas sehingga operator mengalami kesulitandalam meningkatkan kapasitas layanan dan masihsering terjadi blankspot sehingga sinyal sering terputus-putus dan suara kurang jernih.c. Perhitungan BHP frekuensiPerhitungan BHP frekuensi yang dikenakan kepadaoperator belum disesuaikan dengan lebarpita/bandwidth frekuensi yang digunakan sesuaikebutuhan dan kemampuan operator dalam menggelarlayanan telekomunikasi termasuk layanan fixedwireless. Hal ini menjadi salah satu kelemahan yangkurang berpengaruh terhadap penyelenggaraan fixedwireless, sehingga variabel ini diberi bobot 0,05 danrating 3.d. Pengaturan interkoneksiVariabel pengaturan interkoneksi merupakan salahsatu kelemahan yang cukup berpengaruh dalampenyelenggaraan layanan fixed wireless dan diberibobot 0,05 dan rating 3. Permasalahan interkoneksiantar operator dapat menjadi hambatan bagiketerhubungan antar pelanggan satu penyelenggaradengan penyelenggara lainnya bila tidak dapatdiselesaikan dengan baik. Disamping itu, masihterdapat pengaturan Interkoneksi tidak equal treatmentdan cenderung privillage yang terlihat dari ImplementasiSender Keeps All (SKA) dimana Bakrie Telecom dapatmelakukan panggilan ke PSTN tanpa ada konsekuensibiaya interkoneksi.
  32. 32. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap31e. Terminal telepon FWKondisi pesawat telepon/terminal fixed wirelessCDMA yang saat ini belum tersedia banyak dan masihtergolong mahal dibandingkan dengan pesawattelepon/terminal seluler menjadikan entry barrier dansalah satu kendala bagi calon pelanggan untukmengakses layanan fixed wireless. Oleh karena itu,variabel terminal telepon fixed wireless merupakankendala penting yang harus diantisipasi operatormaupun vendor telekomunikasi agar dapat mendukungperkembangan fixed wireless, dan variabel ini diberibobot 0.15 rating 2.C. ANALISA FAKTOR EKSTERNALAnalisis faktor eksternal dalam penyelenggaraan fixedwireless dipengaruhi oleh beberapa hal yang diperlihatkan padamatriks SWOT (EFAS) berikut :Tabel 5.3 Matrik SWOT (EFAS)Faktor-faktor strategi eksternal Bobot RatingBobot xratingKeteranganPeluang :1. Demand layanantelekomunikasi0.15 3 0.45 Tinggi2. Respons investor fixedwireless0.10 2 0.20 Positif3. Pemanfaatan teknologibaru BWA, WiFi, WiMax dipita frekuensi0.10 2 0.20 -4. Pertumbuhan ekonomi 0.05 1 0.05 -Ancaman :1. Pemborosan izin pitafrekuensi0.15 2 0.30 -2. Kecendrunganpenggelaran fixed wirelessdi kota-kota besar0.10 3 0.30 Terjadi ketimpanganantara desa dan kota3. Kebijakan otonomi daerah 0.10 3 0.30 -4. Penggunaan perangkatutama dan pendukungfixed wireless0.10 3 0.30 -5. Pembebasan lahan untuktower dan antena0.15 2 0.30 -Total 1 2,4
  33. 33. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap32Kriteria dari angka penilaian :PeluangKriteria bobot : Kriteria ratingPaling penting = 1Sangat Baik = 4Penting = 0.66 – 0.99 Baik = 3Cukup penting = 0.33 – 0.65 Cukup Baik = 2Kurang penting = 0.01 – 0.32 Tidak Baik = 1Tidak penting = 0Tabel 5.3 diatas memperlihatkan bahwa variabel peluangyang memiliki bobot tertinggi adalah demand layanantelekomunikasi dengan skor 0.45, kemudian untuk variabelancaman memiliki bobot yang sama besar yakni pemborosan izinpita frekuensi, kecenderungan penggelaran fixed wireless di kota-kota besar, kebijakan otonomi daerah, penggunaan perangkatutama dan pendukung fixed wireless sebesar 0.30.Masing-masing variabel peluang dan ancaman sebagai faktoreksternal yang mempengaruhi penyelenggaraan fixed wirelessdianalisa dan dievaluasi sebagai berikut :1. Peluang (Opportunities)Melihat perkembangan teknologi maupun minatmasyarakat yang cukup tinggi terhadap layanan fixedwireless, maka hal itu dapat menjadi peluang yang dapatdimanfaatkan dalam pembangunan dan pengembanganlayanan ini, namun setelah melalui hasil pengumpulan databaik primer maupun sekunder, maka dintentukan variabelpeluang yang dianalisa lebih lanjut meliputi demand layanantelekomunikasi, respon investor, pemanfaatan teknologi barudan pertumbuhan ekonomi sebagai berikut :a. Demand layanan telekomunikasiVariabel demand/permintaan layanan telekomunikasidiberi bobot 0,15 dan rating 3, karena merupakan faktorterpenting dalam penyelenggaraan fixed wireless dimanahal ini dapat menjadi peluang bagi operator untuk terusmembangun dan mengembangkan layanan fixed wirelessutamanya di daerah yang belum mendapat akses layanantelekomunikasi. Tingkat permintaan masyarakat terhadaplayanan telekomunikasi khususnya layanan fixed wirelessyang sangat tinggi membutuhkan teknologi yang murahserta pembangunan yang relatif lebih cepat. Hal ini
  34. 34. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap33diperlihatkan dengan tingginya minat masyarakatterhadap layanan fixed wireless di semua lokasi surveywalaupun sebagian besar masyarakat telah dapatmengakses layanan telepon tetap dan seluler sertadiindikasikan pula dari demand masyarakat terhadaplayanan fixed wireline dan fixed wireless yang terusmengalami peningkatan.b. Respon investor fixed wirelessSikap dan respon investor yang sangat antusias danbersifat positif atas pengembangan layanan fixed wirelessmenjadi peluang yang cukup penting dalampengembangan layanan fixed wireless, sehingga variabelini diberikan bobot 0,10 dan rating 2. Investor menjadikanpembangunan dan penggelaran fixed wireless ini sebagaipilar bisnis yang tepat untuk meneruskan pertumbuhanbisnis telepon tetap karena tingginya biaya investasiuntuk pembangunan fixed wireline dan terbatasnyapengembangan layanan.c. Pemanfaatan teknologi baruPerkembangan teknologi fixed wireless telahmemunculkan alternatif lain dalam pengaplikasianlayanan fixed wireless seperti pemanfaatan teknologibaru broadband wireless access (BWA), WiFi dan WiMax,disejumlah pita frekuensi seperti 2,4 Ghz, 3,3 Ghz, 5,8Ghz, 10,5 Ghz dsb. Hal ini merupakan variabel yangsedikit berpengaruh dan dapat menjadi peluang bagipengembangan penyelenggaraan layanan fixed wireless,sehingga diberi bobot 0,10 dan rating 2.d. Pertumbuhan ekonomiPada dasarnya pertumbuhan industri telekomunikasibukan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi akantetapi dapat juga mendorong pertumbuhan ekonomi dankondisi ini hanya terjadi di negara berkembang sepertiIndonesia. Hal ini dapat menjadi peluang bagipenyelenggaraan layanan fixed wireless untuk ikutmeningkatkan pertumbuhan industri telekomunikasisekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi secaranasional. Untuk itu, variabel pertumbuhan ekonomi diberibobot 0,05 dan rating 1 karena pengaruhnya kurangsignifikan terhadap penyelenggaraan fixed wireless.
  35. 35. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap342. Tantangan (Threat)Dalam penyelenggaraan layanan fixed wireless, dapatdiidentifikasi beberapa tantangan yang dapat menjadiancaman pembangunan dan pengembangan layanan ini dimasa mendatang, namun setelah melalui hasil pengumpulandata yang diperoleh baik primer maupun sekunder, makaditentukan variabel tantangan yang dianalisa lebih lanjutmeliputi pita frekuensi, kecenderungan penggelaran fixedwireless di kota-kota besar, kebijakan otonomi daerah,penggunaan perangkat fixed wireless dan pembebasan lahansebagai berikut :a. Pemborosan izin pita frekuensi.Variabel pemborosan izin pita frekuensi merupakanancaman yang kurang berpengaruh terhadapperngembangan penyelenggaraan layanan fixedwireless, sehingga diberikan bobot 0,15 dan rating 2.Terlalu banyaknya pita frekuensi yang diberikan untukaplikasi fixed wireless maupun seluler dapatberpengaruh pada banyaknya pita frekuensi yangdigunakan dan broadband microwave link yangdiperlukan. Sebagai catatan dari perspektif regulatorbahwa mungkin Indonesia merupakan salah satunegara di dunia yang termasuk boros dalammemberikan izin pita frekuensi baik untuk menggelarlayanan seluler maupun fixed wireless.b. Kecenderungan penggelaran fixed wireless di kota-kotabesarPenyelenggara/operator fixed wireless saat inikebanyakan dan cenderung menggelar jaringan fixedwireless di kota-kota besar atau daerah yang bersifatkomersil dikarenakan antara lain jumlah penduduk yangsangat besar, minat masyarakat terhadap jasatelekomunikasi utamanya layanan fixed wireless cukuptinggi, serta pertumbuhan ekonomi yang didukungpendapatan per kapita masyarakat perkotaan cukuptinggi. Oleh karena itu, variabel kecenderunganpenggelaran fixed wireless di kota besar dan daerahkomersil oleh operator termasuk variabel ancamanyang cukup berpengaruh dalam penyelenggaraan fixedwireless, sehingga diberi bobot 0,10 dan rating 3.
  36. 36. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap35c. Kebijakan Otonomi daerahVariabel kebijakan otonomi daerah termasuk faktoreksternal yang dapat menjadi ancaman dalampengembangan layanan fixed wireless, sehingga diberibobot 0,10 dan rating 3. Dengan diterapkannya UU No22 Tahun 1999 yang diperbaharui dengan UU No 32Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU No 25Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antaraPemerintah Pusat dan Daerah maka di sebagiandaerah terdapat kecenderungan Pemerintah Daerahingin meningkatkan pendapatan daerahnya denganmembuat peraturan daerah yang juga mengatur bidangtelekomunikasi. Selain itu, beberapa perda ada yangmenimbulkan biaya tambahan dalam penggelaranlayanan seperti retribusi tower, IMB maupun perizinanlainnya sehingga menimbulkan biaya dalam menggelarlayanan fixed wireless. Beberapa daerah yangmenggandeng investor untuk menjadi mitra bisnislayanan fixed wireless di daerah tersebut terkadangtidak berjalan dengan baik sehingga menyebabkantertundanya/lambatnya penyediaan layanan fixedwireless di daerah tersebut.d. Penggunaan perangkat utama dan pendukung fixedwirelessPembangunan dan pengembangan layanan fixedwireless sudah sepatutnya didukung denganketersediaan perangkat utama dan pendukung yangmemadai bagi operator. Mengingat teknologi yangdigunakan layanan fixed wireless relatif masih baru,maka penggunaan perangkat utama sepertisentral/MSC, dan jaringan radio (BSC, BTS, Antenna)sebagian besar menggunakan produk dari luar negeriseperti pada salah satu operator dimana komposisiperangkat utama sekitar 70% sedangkan perangkatpendukung seperti Power Supply, Tower dan ACmenggunakan produk dalam negeri dengan komposisiperangkat pendukung ini sekitar 30%. Hal inimengindikasikan ancaman yang cukup penting dalampenyelenggaraan layanan fixed wireless, sehinggadiberikan bobot 0,10 dan rating 3.
  37. 37. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap36e. Pembebasan lahan untuk tower dan antenaVariabel pembebasan lahan untuk tower danantena merupakan salah satu faktor eksternal yangdapat menjadi ancaman dalam pembangunan fixedwireless, sehingga diberi bobot 0,15 dan rating 2.Dalam menyelenggarakan jaringan fixed wireless dibeberapa daerah baik untuk pembangunan BTS danperangkat antenna terkadang masih mengalamikendala yaitu dalam melakukan pembebasan lahan(site acquisition/SITAC) untuk penempatan perangkattersebut karena masih belum dapat diterimasepenuhnya oleh warga sekitar.Untuk menganalisa lebih lanjut dalam menghasilkan strategipengembangan fixed wireless, dibuat matriks IFAS dan EFASselengkapnya sebagai berikut :Tabel 5.4 Analisis SWOT (EFAS + IFAS)Strength (Kekuatan) Skor Weakness (Kelemahan) SkorS (A): W (B) :1. Investasi 0.20 1. Regulasi tentang fixed wireless 0.202. Tarif 0.45 2. Kualitas layanan dan jaringan 0.303. Infrastrukturjaringan0.20 3. Perhitungan BHP frekuensi 0.154. Fitur baru/valueadded service0.05 4. Pengaturan Interkoneksi 0.155. Terminal telepon 0.30Subtotal (A) 0.90 1.10Opportunity (Peluang):Skor Threat (ancaman) SkorO (C) T (D)1. Demand layanantelekomunikasi0.45 1. Pemborosan izin pita frekuensi 0.302. Respons investor 0.20 2. Kecendrungan penggelaran FWdi kota-kota besar0.303. Pemanfaatanteknologi baru0.20 3. Kebijakan otonomi daerah 0.304. Pertumbuhanekonomi0.05 4. Penggunaan perangkat utamadan pendukung0.305. Pembebasan lahan 0.30Subtotal © 0.90 Subtotal (D) 1.50Total S + O atau (A) +(C)1.80 Total W + T atau (B) + (D) 2.60
  38. 38. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap37D. STRATEGI YANG DITERAPKANDari hasil analisis SWOT IFAS dan EFAS, maka dapatdiciptakan beberapa strategi yang diharapkan lebih mampumemberikan peningkatan peran fixed wireless dalam mengatasipermintaan jaringan telepon tetap, dapat dilihat pada diagrammatriks SWOT sebagai berikut :Tabel 5.5 Diagram Matriks SWOTIFASEFASStrength (S) atau kekuatan(Faktor-faktor)Investasi fixed wirelessTarif fixed wirelessInfrastruktur jaringan fixedwirelessFitur baru/value addedservice fixed wirelessWeakness (W) ataukelemahan(Faktor-Faktor)Regulasi tentang fixedwirelessKualitas layanan danjaringan fixed wirelessPerhitungan BHP frekuensiPengaturan InterkoneksiTerminal telepon FWOpportunities (O) ataupeluang(Faktor-faktor)Demand layanantelekomunikasiRespons investor fixedwirelessPemanfaatan teknologi baruPertumbuhan ekonomiSTRATEGI (SO) ATAUKEKUATAN DAN PELUANG(ciptaan strategi)Pemanfaatan teknologiuntuk meningkatkankualitas dan jangkauanPengembanganinfrastruktur untukmemenuhi demandSTRATEGI (WO) ATAUKELEMAHAN DANPELUANG(ciptaan strategi)Penetapan regulasi yangmengatur alokasibandwidth frekuensi, lawenforcement, InterkoneksiPengadaan terminaltelepon dengan hargaterjangkauThreats (T) atau ancaman(Faktor-faktor)Pemborosan izin pitafrekuensiKecendrungan penggelaranfixed wireless di kota besarKebijakan otonomi daerahPenggunaan perangkatutama dan pendukung fixedwirelessPembebasan lahan untuktower dan antennaSTRATEGI (ST) ATAUKEKUATAN DAN ANCAMAN(ciptaan strategi)Penetapan kebijakanotonomi daerah yangtidak kontra produktifKerjasama operatordalam penempatanalokasi frekuensi;STRATEGI (WT) ATAUKELEMAHAN DANANCAMAN(ciptaan strategi)Penciptaan regulasiyang adil dantransparanPemilihan teknologiyang tepat guna.1. Strategi Kekuatan dan peluang (SO) :Strategi yang dapat digunakan untuk memaksimalkanfaktor kekuatan (Strengths) yang ada dan memanfaatkanpeluang (Opportunities) dalam rangka peningkatan peranfixed wireless antara lain dengan :Pemanfaatan kemajuan teknologi telekomunikasi daninformatika dalam upaya untuk meningkatkan kualitaslayanan dan memperluas daerah/jangkauan
  39. 39. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap38layanan/coverage dengan kualitas prima untukmemenuhi harapan stake holder;Penciptaan fitur-fitur baru layanan fixed wireless yangberkualitas dengan tarif terjangkau bagi masyarakat;Pembangunan dan pengembangan infrastruktur fixedwireless untuk memenuhi demand dan minatmasyarakat terhadap layanan telekomunikasi melaluikerjasama dengan investor asing dan dalam negeriserta dengan Pemerintah Daerah;Mengadakan joint-venture dengan investor dalammelakukan pembangunan infrastruktur fixed wirelessmaupun menggelar bisnis layanan fitur baru/valueadded service fixed wireless.2. Strategi Kelemahan dan peluang (WO) :Strategi yang dapat digunakan untuk mengatasifaktor kelemahan atau kendala (Weakness) danmemanfaatkan peluang (Opportunities) dalam rangkapeningkatan peran fixed wireless antara lain dengan :Penetapan regulasi tentang alokasi bandwidthfrekuensi yang jelas sesuai dengan lebar pitafrekuensi yang digunakan operator dan kemampuanmembangun operator tersebut mengingatketerbatasan sumber daya frekuensi;Penetapan law enforcement terhadap pelanggaranketentuan limited mobility dan interkoneksi yangequal threatment;Memperbanyak/memproduksi terminal telepon fixedwireless dengan harga terjangkau agar tidak menjadientry barrier bagi pelanggan;Memperluas cakupan jaringan fixed wireless keseluruh daerah agar dapat memenuhi demand danminat masyarakat terhadap layanan telekomunikasiumumnya dan fixed wireless khususnya;Meningkatkan kualitas layanan fixed wireless denganmeminimalkan tingkat gangguan pada telepon fixedwireless an.3. Strategi kekuatan dan ancaman (ST) :Strategi yang dapat digunakan untuk memaksimalkanfaktor kekuatan atau keunggulan (Strength) danmengantisipasi ancaman (Threats) dalam rangkapeningkatan peran fixed wireless antara lain dengan :Penetapan kebijakan otonomi daerah yang tidakkontradiktif dan mendukung pengembanganpenyelenggaraan fixed wireless;
  40. 40. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap39Melaksanakan kerjasama antar operator dalampenempatan alokasi frekuensi fixed wireless agarsumber daya frekuensi radio yang digunakan lebihefisien dan optimal;Melakukan merger diantara perusahaantelekomunikasi;Secara bertahap mengurangi ketergantunganpenggunaan perangkat telekomunikasi dari luarnegeri dan mengoptimalkan industri telekomunikasidalam negeri untuk memproduksi perangkat maupuninfrastruktur fixed wireless.4. Strategi kelemahan dan ancaman (WT) :Strategi yang dapat digunakan untuk mengatasikelemahan atau kendala (Weakness) dan mengantisipasiancaman (Threats) dalam rangka peningkatan peranfixed wireless antara lain dengan :Penetapan regulasi yang adil, transparan dan tidakdiskriminatif khususnya tentang pemberian alokasipita frekuensi yang lebih efisien dan optimal;Melaksanakan sosialisasi secara terus menerustentang manfaat maupun keunggulan layanan fixedwireless kepada seluruh masyarakat termasuk dipedesaan maupun wilayah yang sulit mendapatakses layanan telekomunikasi;Perlu adanya kejelasan dan ketegasan peraturanyang mengatur kewenangan pusat dan daerah.Pemilihan teknologi yang tepat guna sesuai kondisibangsa Indonesia sehingga menghasilkan kualitasmaupun cakupan layanan fixed wireless yang lebihluas.E. ANALISA DATA SEKUNDER1. RegulasiKeputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM. 35Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Jaringan TetapLokal Tanpa Kabel dengan Mobilitas Terbatas belumsepenuhnya mendukung penyelenggaraan jaringan telepontetap Lokal Tanpa Kabel dengan Mobilitas Terbatas. Dalamkeputusan tersebut terdapat hal yang dapat menimbulkankesalahan penafsiran bagi operator didalampengimplementasiaannya yaitu pada ketentuan umum BabI pasal 1 dijelaskan bahwa mobilitas terbatas dibatasi pada
  41. 41. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap40suatu daerah opersi tertentu, hal ini dapat diartikan daerahoperasi tertentu tersebut dapat terdiri dari beberapa kodearea jaringan tetap lokal, sehingga tidak sejalan denganpengaturan wilayah layanan yang dibatasi maksimum padasatu kode area layanan jaringan tetap lokal sebagaimanapada Bab II pasal 3. Disamping itu dinyatakan pula padaBab V ketentuan Penutup pasal 17 bahwa Keputusan iniakan dievaluasi dalam waktu 6 (enam) bulan sejakdiberlakukan pada kenyataannya belum dilakukan evaluasi.2. PenyelenggaraanJumlah pelanggan dalam penyelenggaraan untukmasing-masing operator di wilayah Jakarta, Jawa Barat danBanten pada bulan Mei 2005 adalah PT. Telkom 800 ribu(operasi 2003), PT. Indosat 120 ribu (operasi 2004) danPT. Bakrie Telecom 220 ribu (operasi 1995). Dari jumlahpelanggan tersebut telihat keseriusan operator dalammenyelenggarakan layanannya. Dikaitkan dengan alokasifrekuensi yang diberikan terlihat bahwa pemberian alokasifrekuensi tersebut tidak equal treatment dimanapenyelenggara yang tidak menunjukkan keseriusannyadalam penyelenggaraan mendapat alokasi frekuensi yanglebih besar.3. Prospek fixed wirelessDari data yang diperoleh pada ceramah ilmiahPeran Fixed wireless sebagai solusi mengatasi untukmengatasi keterbatasan jaringan telepon tetap diperolehmasukan bahwa fixed wireless merupakan teknologi yangtepat untuk solusi jangka pendek dan jangka menengah,cocok diaplikasikan di daerah untuk kota kecil dan pinggirankota serta dapat menjangkau daerah terpencil danterisolasi. Dengan demikian cocok digunakan dalampembangunan USO yang sedang dilaksanakan pemerintah.
  42. 42. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap41BAB VIPENUTUPA. KESIMPULANGuna mengatasi permintaan jaringan telepon tetap,Pemerintah sebagai regulator berkewajiban meningkatkanperan fixed wireless sebagai salah satu solusi yang diharapkandapat mengantisipasi permintaan jaringan telepon tetap yangterus meningkat. Dalam rangka peningkatan peran tersebut,dilakukan studi strategis sebagai masukan kebijakan yangdapat menggambarkan strategi peningkatan peran fixedwireless dan dari hasil kajian yang telah dilakukan, dapatdisimpulkan beberapa hal sebagai berikut :1. Kekuatan yang paling menonjol dari penyelenggaran fixedwireless adalah dari segi tarif yang dirasakan sebagianmasyarakat cukup murah dan sangat murah terutamadibandingkan dengan tarif layanan seluler;2. Kelemahan atau kendala yang paling berpengaruhterhadap penyelenggaraan fixed wireless ini adalah kualitaslayanan dan jaringan yang masih belum sempurna karenasinyal masih sering terputus-putus dan suara yang tidakjernih jika berada di wilayah blankspot;3. Peluang bagi layanan fixed wireless di masa mendatangcukup besar yang diperlihatkan dari demand layanantelekomunikasi yang meningkat seiring denganpertumbuhan penduduk dan kondisi ekonomi. Hal inididukung pula dengan tingginya minat masyarakat terhadaplayanan fixed wireless di beberapa daerah walaupun didaerah tersebut sudah terdapat layanan telepon tetap danseluler;4. Beberapa hal yang dapat menjadi ancaman dalampenyelenggaraan fixed wireless yakni kecenderunganoperator menggelar layanan fixed wireless di kota-kotabesar dan kebijakan otonomi di beberapa daerahmerupakan hal lain yang dapat menjadi ancamanpenyelenggaraan fixed wireless.5. Strategi yang dapat diterapkan untuk mengatasipermasalahan maupun memanfaatkan peluang antara laindengan meninjau kembali regulasi penyelenggaraanjaringan tetap lokal tanpa kabel dengan mobilitas terbatas,alokasi sumber daya frekuensi kepada operator, pemilihanteknologi fixed wireless yang tepat guna sesuai kondisibangsa Indonesia sehingga menghasilkan kualitas maupuncakupan layanan yang lebih luas dengan tarif terjangkau.
  43. 43. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap426. Pada KM. 35 Tahun 2004 tentang PenyelenggaraanJaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel dengan MobilitasTerbatas belum sepenuhnya mendukung penyelenggaraanjaringan telepon tetap Lokal Tanpa Kabel dengan MobilitasTerbatas oleh karena itu perlu ditegaskan kembali maksuddari mobilitas terbatas sehingga sesuai dengan wilayahlayanan. Selain itu perlu dilakukan evaluasi sesuai denganamanat dari keputusan menteri tersebut.7. Alokasi frekuensi yang diberikan kepada operator perludisesuaikan dengan perkembangan pelanggan dankeseriusan operator dalam menyelenggarakan layanannya.8. Prospek Fixed wireless sebagai solusi mengatasi untukmengatasi keterbatasan jaringan telepon tetap yaitu bahwafixed wireless merupakan teknologi yang tepat untuk solusijangka pendek dan jangka menengah, cocok diaplikasikandi daerah untuk kota kecil dan pinggiran kota serta dapatmenjangkau daerah terpencil dan terisolasi. Dengandemikian cocok digunakan dalam pembangunan USO yangsedang dilaksanakan pemerintah.B. SARAN1. REGULATOR :a. Pmerintah disarankan melakukan evaluasi terhadapKM.35 tahun 2004 dengan menegaskan kembalimaksud dari mobilitas terbatas sehingga sesuai denganwilayah layanan, Sanksi atas pelanggaran membukafasilitas (roaming) dan sanksi pencabutanseluruh/sebagian bandwidth alokasi frekuensi bagioperator yang telah mendapatkan ijin alokasi namuntidak memanfaatkan dengan baik. . Selain itu perludilakukan evaluasi secara menyeluruh sesuai denganamanat dari keputusan menteri tersebut.b. Dengan diterapkannya UU No 22 Tahun 1999 yangdiperbaharui dengan UU No 32 Tahun 2004 tentangPemerintah Daerah dan UU No 25 Tahun 1999 tentangPerimbangan Keuangan antara Pemerntah Pusat danDaerah maka beberapa pemerintah daerah inginmeningkatkan pendapatan daerahnya denganmembuat peraturan daerah yang juga mengatur bidangtelekomunikasi dan beberapa perda ada yangmenimbulkan biaya tambahan seperti retribusi tower,IMB maupun perizinan lainnya sehingga menimbulkan
  44. 44. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap43biaya dalam menggelar layanan fixed wireless sehinggapemerintah disarankan meninjau kembali peraturan-peraturan daerah yang dapat menghambatpengembangan penyelenggaraan fixed wireless;c. Alokasi frekuensi yang diberikan kepada operator PT.Telkom dan PT. Indosat sebesar masing-masing 5 MHzsudah cukup efektif untuk penyelenggaraan fixedwireless sudah dapat menjangkau wilayah layananyang luas namun untuk PT. Bakrie Telecom yangcakupan wilayahnya lebih sempit mendapat alokasifrekuensi sebesar 10 MHz, sehingga perlu dilakukanpenataan ulang alokasi frekuensi. Sehingga pemerintahdisarankan perlu melakukan penataan ulang frekuensiradio dengan memperhatikan perkembangan teknologitermasuk pertumbuhan pelanggan dan keseriusanoperator dalam menyediakan layanannya.d. Fixed wireless merupakan teknologi yang tepat untuksolusi jangka pendek dan jangka menengah, cocokdiaplikasikan di daerah untuk kota kecil dan pinggirankota serta dapat menjangkau daerah terpencil danterisolasi. Dengan demikian cocok digunakan dalampembangunan USO yang sedang dilaksanakanpemerintah. Oleh karena itu pemerintah disarankanuntuk mengkaji lebih lanjut penggunaan teknologi fixedwireless dalam pembangunan USO.2. OPERATORa. Operator fixed wireless cenderung menggelar jaringanfixed wireless di kota-kota besar atau daerah yangbersifat komersil dikarenakan antara lain jumlahpenduduk yang sangat besar, minat masyarakatterhadap jasa telekomunikasi tinggi, sehinggadisarankan operator mengembangkan layanan fixedwirelessnya tidak hanya di daerah perkotaan tetapi jugauntuk kota kecil dan pinggiran kota sehinggameningkatkan teledensitas telepon secara keseluruhan;b. Dengan semakin banyaknya teknologi baru yangbermunculan, operator disarankan melakukanpemilihan teknologi yang tepat dalam menggelarlayanan fixed wireless disesuaikan dengan kondisigeografis, penyebaran penduduk, daya beli dan minat
  45. 45. Laporan AkhirStudi tentang Peningkatan Peran Fixed Wireless dalam rangkaMengatasi Permintaan Jaringan Telepon Tetap44masyarakat agar dapat meningkatkan kualitas layanandan jaringan fixed wireless dan mengikuti trendperkembangan teknologi fixed wireless.c. Beberapa daerah yang menggandeng investor untukmenjadi mitra/investor bisnis fixed wireless di daerahtersebut terkadang tidak berjalan dengan baik sehinggamenyebabkan tertundanya/lambatnya penyediaanlayanan fixed wireless di daerah tersebut sehinggaoperator disarankan melakukan dan meningkatkankerjasama dengan pemerintah daerah, outlet-outletexternal maupun pihak lainnya dalam rangka sosialisasidan pembelajaran maupun penyediaan layanan fixedwireless kepada masyarakat.

×