Strategi Pembangunan Daya Saing Industri Dalam Negeri Menghadapai ACFTA

1,898 views
1,813 views

Published on

disampaikan dalam seminar:Strategi Pembangunan Daya Saing Industri Dalam Negeri Menghadapai ASEAN_-China Free Trade (ACFTA), Selasa 23 Maret 2010 di Auditorium Universitas Gunadarma Kampus D, Gedung 4 jalan Margonda Raya no 100, Pondok Cina Depok

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,898
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
108
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Strategi Pembangunan Daya Saing Industri Dalam Negeri Menghadapai ACFTA

  1. 1. OLEH, FRANCISCUS WELIRANG Disampaikan dalam Acara, SEMINAR : STRATEGI PEMBANGUNAN DAYA SAING INDUSTRI DALAM NEGERI MENGHADAPI ASEAN – CHINA FREE TRADE AGREEMENT (ACFTA) Selasa, 23 Maret 2010 Jam 09.00 – 12.00 wib Auditorium Universitas Gunadarma Kampus D gedung 4 Lt. 6 Jl. Jl. Margonda Raya No. 100 Pondok Cina, Depok 16424 STRATEGI PEMBANGUNAN DAYA SAING INDUSTRI DALAM NEGERI MENGHADAPI ACFTA 1
  2. 2. Sekiranya ada komentar dan pertanyaan tentang presentasi ini dapat disampaikan di forum Fransiscuswelirang.com dan akan ditanggapi langsung oleh Fransiscus Welirang sendiri Fransiscuswelirang.com
  3. 3. DAFTAR ISI 2 <ul><li>MEMAHAMI ACFTA </li></ul><ul><ul><li>1.1. ISU-ISU STRATEGIS DAN INTEGRASI EKONOMI ASEAN – DUNIA </li></ul></ul><ul><ul><li>1.2. SEKTOR INTEGRASI PRIORITAS DALAM ACFTA </li></ul></ul><ul><ul><li>1.3. MATRIKS KESEPAKATAN, LANDASAN REGULASI DAN TUJUAN ACFTA </li></ul></ul><ul><ul><li>1.4. KONDISI SEKARANG </li></ul></ul><ul><li>TANTANGAN INDUSTRI DI INDONESIA DALAM MENGHADAPI ACFTA </li></ul><ul><li>2.1. MANFAAT ACFTA BAGI INDONESIA DAN CHINA </li></ul><ul><li>2.1. DAYA SAING INFRASTRUKTUR BISNIS INDONESIA </li></ul><ul><li>2.3. FAKTOR KOMPETITIF BISNIS INDONESIA DAN CHINA </li></ul><ul><li>2.4. FAKTOR PENGHAMBAT BISNIS INDONESIA DAN CHINA </li></ul><ul><li>2.5. TANTANGAN KESIAPAN INDONESIA DALAM ACFTA </li></ul><ul><li>SOLUSI DAN STRATEGI INDONESIA UNTUK ACFTA </li></ul><ul><li>3.1. SOLUSI IMPLEMENTASI ACFTA </li></ul><ul><li>3.2. 22 KLASTER DEMOGRAFI DI CHINA </li></ul><ul><li>3.3. MAKSIMALKAN PELUANG AGRI-PRODUK INDONESIA DI CHINA </li></ul><ul><li>3.4. 3(TIGA) KELOMPOK SEGMEN KONSUMEN TERBAIK DI ASIA PASIFIK </li></ul><ul><li>3.5. MANFAATKAN INDUSTRI KREATIF INDONESIA UNTUK MASUK KE ACFTA </li></ul><ul><li>3.6. AGENDA PENINGKATAN DAYA SAING </li></ul>
  4. 4. 3 PILLARS OF ASEAN COMMUNITY, 11 PRIORITY INTEGRATION SECTORS (2003) ASEAN CHARTER, AEC BLUEPRINT (2007) ASEAN CHARTER EIF (2005) NEW PIS : TRADE LOGISTIC (2008) ASEAN ECONOM I C ROAD INDUSTRIAL JOINT VENTURA SCHEME (1983) ENHANCED PREFERENTIAL TRADE ARRANGEMENT (1987) CEPT SCHEME FOR AFTA (1992) ASEAN FRAMEWORK AGREEMENT ON SERVICE (1995) ASEAN VISION (1997) ASEAN INVESMENT AREA (1998) ATIGA, ACIA (2009) INTEGRASI EKONOMI ASEAN & DUNIA PASAR TUNGGAL & BASIS PRODUKSI REGIONAL KAWASAN YANG MEMILIKI DAYA SAING TINGGI PEMBANGUNAN EKONOMI DIKAWASAN YANG MERATA KEBANGKITAN EKONOMI CHINA DAN INDIA ECONOMY OF SCLAE ASEAN : PASAR DGN 583,65 JUTA, 80% DIBAWAH 40 THN,TOTAL GDP $1,506 M (2008 ) DIFERENSIASI PENCA PAIAN PEMBANGUNAN, EKONOMI DAN FAKTOR UNGGULAN DARI MASING-MASING ANGGOTA ASEAN DINAMIKA WACANA & AKSI FTA GLOBAL MENISCAYAKAN KEBUTUHAN KAWASAN BERDAYA SAING & BERDAYA TARIK TINGGI INTEGRASI KAWASAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1. MEMAHAMI ACFTA 1.1. ISU-ISU STRATEGIS DAN INTEGRASI EKONOMI ASEAN - DUNIA Isu-isu Strategis 3 INDUSTRIAL PROJECT PLAN (1976) PREFERENTIAL TRADE ARRANGEMENT (1977) INDUSTRIAL COMPLEMENTATION SCHEME (1981) 10 11 12 13 14
  5. 5. 1. MEMAHAMI ACFTA 1.2. SEKTOR INTEGRASI PRIORITAS DALAM ACFTA SEKTOR BARANG PRIORITAS TEXTILES & APPARELS RUBBER BASED PRODUCTS FISHERIES WOOD BASED PRODUCTS AGRO BASED PRODUCTS AUTOMOTIVE ELECTRONIC BIDANG INDUSTRI BIDANG JASA 2 3 4 5 1 7 6 SEKTOR JASA PRIORITAS TOURISM HEALTHCARE E-ASEAN AIR TRAVEL LOGISTIC SERVICES 5 1 2 3 4 4
  6. 6. AC - FTA <ul><li>RESOLUSI POTENSI PROBLEM MAKRO&SEKTORAL INDONESIA DALAM AC-FTA : </li></ul><ul><li>Membuat rezim kebijakan memperbesar frekuensi, volume dan iklim ekspor yang kuat serta sehat. </li></ul><ul><li>Renegosiasi penundaan pos tarif 0% pada produk-produk yang berdaya saing lemah. </li></ul><ul><li>Reformasi&Reformulasi Regulasi, Birokrasi, infrastrusktur. </li></ul><ul><li>Penyediaan Stimulus&Insentif bagi industri (hulu-hilir) dan UMKM dalam negeri. </li></ul><ul><li>Memperketat pengawasan arus masuk barang impor ilegal agar tidak terjadi ledakan impor. </li></ul><ul><li>Memperketat pemberlakuan standarisasi produk dan perlindungan konsumen. </li></ul>ASEAN 4: KAMBOJA, LAOS, MYANMAR, VIETNAM ASEAN 6 : SINGAPURA, THAILAND, FILIPINA, MALAYSIA, BRUNEI DARUSALAM, INDONESIA Liberalisasi penuh 2015 Liberalisasi penuh 201 0 PROBLEM OUTPUT <ul><li>TUJUAN AC-FTA : </li></ul><ul><li>Memperkuat&meningkatkan kerjasama ekonomi, perdagangan, dan investasi antara negara-negara anggota. </li></ul><ul><li>Meliberalisasi secara progresif dan meningkatkan perdagangan barang dan jasa serta menciptakan suatu sistem yang transparan dan untuk mempermudah investasi. </li></ul><ul><li>Menggali bidang-bidang kerjasama yang baru & mengembangkan kebijaksanaan yang tepat dalam rangka kerjasama ekonomi antara negara-negara anggota. </li></ul><ul><li>Memfasilitasi integrasi ekonomi yang lebih efektif dari para anggota ASEAN 4 (Cambodia, Laos, Myanmar, &Vietnam) dan menjembatani kesenjangan pembangunan ekonomi diantara negara-negara anggota. </li></ul>1 2 3 4 5 6 7 8 3 4 5 6 7 2 1 1. MEMAHAMI ACFTA 1.3. MATRIKS KESEPAKATAN, LANDASAN REGULASI DAN TUJUAN ACFTA 5 Keppres No.48 Thn 2004 Tentang Pengesahan Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation between the ASEAN and China Kep menkeu No. 355/KMK.01/2004 Tentang Penetapan Tarif Bea Masuk atas Impor Barang dalam rangka Early Harvest Package A C-FTA Permenkeu No. 57/PMK.010/2005 Tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka Normal Track A C-FTA Permenkeu No. 21/PMK.010/2006 Tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka Normal Track A C-FTA Permenkeu No. 04/PMK.011/2007 Tentang Perpanjangan Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka Normal Track A C-FTA Permenkeu No. 53/PMK.010/2007 Tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka A C-FTA Permenkeu No. 235/PMK.011/2008 Tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka A C-FTA LANDASAN REGULASI TENTANG AC-FTA ASEAN-CHINA COMPREHENSIVE ECONOMIC COOPERATION (2001) FRAMEWORK AGREEMENT ON COMPREHENSIVE ECONOMIC COOPERATION THE ASEAN AND CHINA (2002) PROTOKOL PERUBAHAN PERTAMA FRAMEWORK AGREEMENT AC-FTA (2003) PROTOKOL PERUBAHAN KEDUA FRAMEWORK AGREEMENT AC-FTA (2006) INDONESIA MERATIFIKASI FRAMEWORK AGREEMENT AC-FTA (2004) TRADE IN GOODS AGREEMENT & DISPUTE SETTLEMENT MECHANISM AGREEMENT (2004 : AC-FTA RESMI DILUNCURKAN) PERSETUJUAN INVESTASI AC-FTA (2009) PERSETUJUAN JASA AC-FTA (2007) ALUR KESEPAKATAN AC-FTA
  7. 7. 1. MEMAHAMI ACFTA 1.4. KONDISI SEKARANG Sumber : E. Gumbira Said <ul><li>DALAM ACFTA TERDAPAT 1.516 POS TARIF </li></ul><ul><li>SEKTOR MANUFAKTUR YANG TINGKAT BEA </li></ul><ul><li>MASUKNYA BERUBAH DARI 5% MENJADI 0 % PADA </li></ul><ul><li>1 JANUARI 2010 YANG MENEKAN KINERJA DALAM </li></ul><ul><li>NEGERI </li></ul><ul><li>PEMERINTAH INDONESIA MENGUSULKAN </li></ul><ul><li>MODIFIKASI KOMITMEN PADA 228 POS TARIF (146 </li></ul><ul><li>POS TARIF MASUK 0% DAN 60 POS TARIF </li></ul><ul><li>DIUSULKAN MENJADI 0-5% TAHUN 2018) </li></ul>6
  8. 8. 2. TANTANGAN INDUSTRI DI INDONESIA DALAM MENGHADAPI ACFTA 2.1. MANFAAT ACFTA BAGI INDONESIA DAN CHINA Sumber : E. Gumbira Said 7 <ul><li>MEMPERLUAS PASAR PRODUK KE </li></ul><ul><li>ASEAN TANPA HAMBATAN BEA MASUK </li></ul><ul><li>MENGURANGI KELEBIHAN </li></ul><ul><li>PERSEDIAAN AKIBAT KEGAIRAHAN </li></ul><ul><li>BERPRODUKSI DAN TIDAK MAMPU </li></ul><ul><li>MENAHAN PRODUKSI </li></ul><ul><li>MENINGKATKAN MARGIN </li></ul><ul><li>KEUNTUNGAN (YANG BIASANYA </li></ul><ul><li>CUKUP TIPIS) </li></ul><ul><li>HARGA BARANG DAN PRODUK </li></ul><ul><li>MENJADI LEBIH MURAH </li></ul><ul><li>PILIHAN RAGAM KONSUMSI MENJADI </li></ul><ul><li>BANYAK </li></ul><ul><li>PELUANG UNTUK MENDORONG </li></ul><ul><li>PRODUKSI BARANG KOMPLEMENTER </li></ul><ul><li>YANG TIDAK MAMPU DIHASILKAN </li></ul><ul><li>OLEH CHINA </li></ul><ul><li>PELUANG EKSPOR KOMODITAS DAN </li></ul><ul><li>PRODUK SPESIFIK INDONESIA </li></ul><ul><li>BERPOTENSI MENINGKAT (KELAPA </li></ul><ul><li>SAWIT, KARET, KAKAO, KOPI DLL) </li></ul>CHINA INDONESIA
  9. 9. 2.2. DAYA SAING INFRASTRUKTUR BISNIS INDONESIA RENDAHNYA INFRASTRUKTUR BISNIS SARANA FISIK DAN KOLABORASI DENGAN SELURUH STAKEHOLDER DALAM INDUSTRI BELUM MENUNJUKKAN PERBAIKAN 2. TANTANGAN INDUSTRI DI INDONESIA DALAM MENGHADAPI ACFTA Kualitas infrastruktur pelabuhan 98 Kepercayaan layanan polisi 98 Keseluruhan kualitas infrastruktur 95 Independensi hukum 90 Kualitas pasokan listrik 87 Kecanggihan pasar keuangan 83 Kualitas infrastruktur telepon/fax 81 Kolaborasi riset universitas-industri 78 Efisiensi kerangka Undang-undang 75 Kualitas infrastruktur transportasi udara 70 Pengembangan infrastruktur rel kereta 63 Kualitas sekolah negeri 42 Urutan Negara Dari 177negara Tanda panah menunjukan perubahan Urutan dalam 5 tahun terakhir Sumber : Human Development Report 2007/2008, UNDP 8
  10. 10. 2. TANTANGAN INDUSTRI DI INDONESIA DALAM MENGHADAPI ACFTA 2.3. FAKTOR KOMPETITIF BISNIS INDONESIA DAN CHINA Sumber : E. Gumbira Said 9 29 29 46 8 45 32 61 42 32 81 79 2 29 38 26 70 70 84 52 82 50 69 41 75 61 88 16 40 40 39 <ul><li>FAKTOR DASAR </li></ul><ul><li>- INSTITUSI PEMERINTAHAN </li></ul><ul><li>- INFRASTRUKTUR </li></ul><ul><li>- STABILITAS MAKRO EKONOMI </li></ul><ul><li>- KESEHATAN DAN PENDIDIKAN </li></ul><ul><li>FAKTOR EFFISIENSI </li></ul><ul><li>- PENDIDIKAN TINGGI DAN PELATIHAN </li></ul><ul><li>- EFISSIENSI PASAR BARANG DAN JASA </li></ul><ul><li>- EFFISIENSI PASAR TENAGA KERJA </li></ul><ul><li>- SISTEM PASAR FINANCIAL </li></ul><ul><li>- KESIAPAN TEKHNOLOGI </li></ul><ul><li>- UKURAN PASAR </li></ul><ul><li>FAKTOR INOVASI DAN PEMANTAPAN </li></ul><ul><li>- PEMANTAPAN BISNIS </li></ul><ul><li>- INOVASI </li></ul>RRC INA FAKTOR
  11. 11. 2. TANTANGAN INDUSTRI DI INDONESIA DALAM MENGHADAPI ACFTA 2.4. FAKTOR PENGHAMBAT BISNIS INDONESIA DAN CHINA Sumber : E. Gumbira Said 10 16.8% 11.1% 9.6% 8.5% 8.5% 7.4% 7.8% 7.1% 5.8% - - 7.8% 23.2% - 9% 14.8% 8.7% - 6.8% 6.1% 5.2% 7.1% <ul><li>AKSES FINANCIAL </li></ul><ul><li>EFISIENSI BIROKRASI PEMERINTAH </li></ul><ul><li>ATURAN PAJAK </li></ul><ul><li>INSTABILITAS KEBIJAKAN </li></ul><ul><li>KEKURANGAN INFRASTRUKTUR </li></ul><ul><li>KORUPSI </li></ul><ul><li>KEKURANGAN SDM AHLI </li></ul><ul><li>TARIF PAJAK </li></ul><ul><li>INFLASI </li></ul><ul><li>REGULASI TUKAR RUPIAH </li></ul><ul><li>PERATURAN TENAGA KERJA </li></ul>RRC INA FAKTOR
  12. 12. 2. TANTANGAN INDUSTRI DI INDONESIA DALAM MENGHADAPI ACFTA 2.5. TANTANGAN KESIAPAN INDONESIA DALAM ACFTA Sumber : E. Gumbira Said <ul><li>PERJANJIAN SANGAT DITENTUKAN OLEH PEMERINTAH  PERANAN ASOSIASI INDUSTRI ATAU PETANI KURANG </li></ul><ul><li>INDONESIA LEMAH DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR YANG BAIK </li></ul><ul><li>SISTEM PERBANKAN KURANG AKOMODATIF TERHADAP INVESTASI (SUKU BUNGA MODAL TERLALU TINGGI) </li></ul><ul><li>BIROKRASI DAN PERPAJAKAN DI INDONESIA RUMIT , SEHINGGA BIAYA IMPOR DARI INDONESIA 10% LEBIH TINGGI DARI SINGAPURA DAN MALAYSIA </li></ul><ul><li>BUNGA KREDIT MASIH DIPATOK SANGAT TINGGI (> 13% DIBANDING CINA YANG 4%) </li></ul><ul><li>HARGA TARIF DAFTAR LISTRIK LEBIH TINGGI DARI CHINA DAN KOMPETITOR LAINNYA </li></ul><ul><li>PENERAPAN SNI UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING NASIONAL TERBATAS OLEH KARENA INFRASTRUKTUR PENGUJIAN, SEHINGGA BELUM EFEKTIF </li></ul>11
  13. 13. 3. SOLUSI DAN STRATEGI INDONESIA UNTUK ACFTA 3.1. SOLUSI IMPLEMENTASI ACFTA Sumber : Pratopo, 2010 <ul><li>PEMERINTAH SEGERA MEREFORMASI LEMBAGA-LEMBAGA PEMERINTAHAN UNTUK MEMPERBAIKI PELAYANAN PUBLIK SERTA MENGHILANGKAN PUNGUTAN LIAR YANG MEMBUAT EKONOMI BIAYA TINGGI </li></ul><ul><li>MEMPERCEPAT PERBAIKAN INFRASTRUKTUR JALAN, IRIGRASI, PELABUHAN, LISTRIK, KOMUNIKASI DLL YANG SUDAH MENJADI PROGRAM KABINET INDONESIA BERSATU II </li></ul><ul><li>MENUMBUH KEMBANGKAN SEKTOR RIIL DENGAN MEMBERIKAN INSENTIF DAN KEMUDAHAN PENDANAAN </li></ul><ul><li>MENGKAMPANYEKAN KECINTAAN PADA PRODUK DALAM NEGERI </li></ul>12
  14. 14. 3. SOLUSI DAN STRATEGI INDONESIA UNTUK ACFTA 3.2. 22 KLASTER DEMOGRAFI DI CHINA COAST WEST 31 M POP 4.2% GDP 11.0% PROJ. GROTH CHANGCHUN-HARBIN 22 M POP 3.6% GDP 9,3% PROJ. GROTH LIAO CENTRAL SOUTH 22 M POP 4,3% GDP 7,6% PROJ. GROTH SHANDONG BYLAND 49 M POP 9.0% GDP 10,3% PROJ. GROTH SHANDONG BYLAND 49 M POP 9.0% GDP 10,3% PROJ. GROTH SHANGHAI & CENTRAL BEDA KLUSTER BEDA KONSUMEN 62% pelanggan TV di Shanghai memilih TV Lokal sedangkan 95% di Central memilih TV Nasional, Masy. Shanghai yakin dengan Masa Depan, cenderung merk china & menabung sedangkan masy. Central sebaliknya NANJING 24 M POP 4.8% GDP 11.0% PROJ. GROTH SHANGHAI 35 M POP 10.8% GDP 8.7% PROJ. GROTH SHANGHAI CENTRAL CENDERUNG DENGAN MERK TERKENAL DIBANDING DENGAN RATA-RATA NASIONAL CHINA +6% -10% HANGZHOU & HEFEI PASAR YANG STABIL, PASAR YANG TUMBUH BERKEMBANG Saat ini pasar di Hangzhou 3 x lebih besar dibandingkan pasar di Hefei tetapi tahun 2015 populasi kelas menengah di Hefei akan melonjak tinggi HANGZHOU 32 M POP 6.7% GDP 10.5% PROJ. GROTH SHENZHEN & GUANGZHOU KEMACETAN, MENGIKUTI JAMAN Masyarakat di Shenzhen mayoritas anak muda, berbahasa Mandarin, pekerja migran, minum di Bar sedang di Guangzhou mayoritas orang tua, berbahasa Canton dan lebih suka ke restaurant bersama keluarga KENAIKAN PERMINTAAN MOBIL / TAHUN 2008 - 2015 14% 36% EXPORT % OF OUTPUT 14% 36% HANGZHOU HEFEI EXPORT % OF OUTPUT SHENZHEN GUANGZHOU SHENZHEN 16 M POP 4.3% GDP 7.5% PROJ. GROTH GUANGZHOU 30 M POP 6.6% GDP 7.4% PROJ. GROTH NANNING 16 M POP 1.8% GDP 11.2% PROJ. GROTH KUNMING 10 M POP 1.1% GDP 8.7% PROJ. GROTH CHANGZHUTAN 16 M POP 2.2% GDP 11.3% PROJ. GROTH NANCHANG 12 M POP 1.7% GDP 12.9% PROJ. GROTH HEFEI 23 M POP 2.8% GDP 13.3% PROJ. GROTH YANGTZE MID/LOWER 32 M POP 4.0% GDP 12.1% PROJ. GROTH CHONGQING 11 M POP 1.8% GDP 9.9% PROJ. GROTH CHENGDU 27 M POP 3.2% GDP 13.0% PROJ. GROTH Sumber : Harvard Business Review, March 2010 CENTRAL 31 M POP 3.8% GDP 13.1% PROJ. GROTH TAIYUAN 12 M POP 1.4% GDP 10.4% PROJ. GROTH GUANGZHOU 15 M POP 1.9% GDP 12.8% PROJ. GROTH HUHEHAOTE 6 M POP 1.3% GDP 9.9% PROJ. GROTH Menunjukan kepercayaan konsumen tentang Masa Depan dibandingkan dengan rata-rata Nasional 13
  15. 15. 3. SOLUSI DAN STRATEGI INDONESIA UNTUK ACFTA 3.3. MAKSIMALKAN PELUANG AGRI-PRODUK INDONESIA DI CHINA CHINA = BIG CONSUMER MARKET DENGAN 1.3 MILYAR PENDUDUK DAN GDP SEBESAR USD 7.800 <ul><li>KOMODITAS DAN PRODUK POTENSIAL UNTUK DIGENJOT EKSPORNYA KE RRC  KELAPA SAWIT, KARET ALAM, KAKAO, REMPAH-REMPAH, TANAMAN OBAT DLL </li></ul><ul><li>BUAH-BUAHAN TROPIKA EKSOTIK (MANGGA, NENAS, PISANG, DURIAN, MANGGIS, RAMBUTAN, PEPAYA) </li></ul><ul><li>SAYURAN TROPIKA KHUSUS (KACANG PANJANG, NANGKA, LABU SIAM, KANGKUNG DLL) </li></ul><ul><li>IKAN TANGKAP : KERAPU, HIU, PARI, TUNA, OKTOPUS, TERI DLL </li></ul><ul><li>UDANG (TANGKAP DAN BUDIDAYA) </li></ul><ul><li>RUMPUT LAUT </li></ul><ul><li>MAKANAN OLAHAN KHAS INDONESIA </li></ul>Sumber : E. Gumbira Said 14
  16. 16. 3. SOLUSI DAN STRATEGI INDONESIA UNTUK ACFTA 0.0 1.4 0.4 0.8 0.2 0.6 1.0 1.2 US$ GDP per capita 40000 -5000 5000 35000 30000 25000 20000 15000 0 10000 Japan 53% of GDP Taiwan [4.1% of GDP] Australia [5% of GDP] Hongkong [2.2% of GDP] PROFIL USIA KEMAKMURAN DAN UKURAN DI ASIA Sth Korea [6% of GDP] CHINA [16% of GDP] India [7% of GDP] Singapore[1.2% of GDP] Vietnam[0.4% of GDP] INDONESIA[1.7% of GDP] Pilipina[1.1% of GDP] Malaysia[1.2% of GDP] Thailand[172% of GDP] MENUA & MAKMUR (pensiun tapi nyaman) USIA MENENGAH (usia menengah, pendapatan sedang, sarang kosong) KEMAKMURAN BERTAMBAH DAN LEBIH MUDA Sumber : Asian Demographics Ltd RASIO ORANG DIATAS 40 TAHUN DIBANDING DIBAWAH 40 3.4. 3(TIGA) KELOMPOK SEGMEN KONSUMEN TERBAIK DI ASIA PASIFIK 15
  17. 17. 3. SOLUSI DAN STRATEGI INDONESIA UNTUK ACFTA 3.5. MANFAATKAN INDUSTRI KREATIF INDONESIA UNTUK MASUK KE ACFTA <ul><li>14 SEKTOR EKONOMI KREATIF </li></ul><ul><li>- HANDYCRAFT - LANDSCAPE </li></ul><ul><li>- DESIGN - PERFORMANCE TEATER, CONCERT DLL </li></ul><ul><li>- MUSIK - ADVERTISING </li></ul><ul><li>- FILM - PRINTING MEDIA </li></ul><ul><li>- R & D - CONTENT INDUSTRY (VIDEO GAME, KOMIK) </li></ul><ul><li>- ART / SENI - DLL </li></ul><ul><li>FAKTOR PENDUKUNG EKONOMI KREATIF  INTELECTUAL PROPERTY RIGHT SEMAKIN DIHARGAI MAHAL </li></ul>Sumber : E. Gumbira Said 16
  18. 18. 3.6. AGENDA PENINGKATKAN DAYA SAING <ul><li>TERUS MENINGKATKAN KINERJA MAKRO EKONOMI, POLITIK, </li></ul><ul><li>LEGAL DAN SOSIAL </li></ul><ul><li>- LEGAL SYSTEM REFORM </li></ul><ul><li>- INSTITUTIONAL AND POLICY STABILITY </li></ul><ul><li>- PENYEDERHANAAN BIROKRASI PEMERINTAH </li></ul><ul><li>- SOCIAL SAFETY NET </li></ul><ul><li>- KOORDINASI STRUKTUR ANTARA PEMERINTAH DAN PENGUSAHA DALAM </li></ul><ul><li>PERUMUSAN KEBIJAKAN </li></ul><ul><li>MENINGKATKAN ATMOSFER BISNIS YANG KONDUSIF </li></ul><ul><li>- INFRASTRUKTUR </li></ul><ul><li>- SKILL </li></ul><ul><li>- SPECIAL ECONOMIC ZONE </li></ul><ul><li>- FAST TRACK ORGANIZATIONS </li></ul>3. SOLUSI DAN STRATEGI INDONESIA UNTUK ACFTA <ul><li>GO FOR QUALITY, DESIGN FOR HIGHER VALUE TO COMPETE </li></ul><ul><li>WITH LOW COST PRODUCT AT STANDARD DESIGN </li></ul><ul><li>GO FOR BRANDING / MEMBANGUN MERK </li></ul>17
  19. 19. TERIMA KASIH 18

×