Artikel Oleh Yusdeka
CCCC ---- DDDD
Dikompilasi oleh FIW
2
Kata Pengantar
Tulisan berikut ini merupakan buah karya dari Ustadz Yusdeka, penulis
produktif dari milis “Dzikrullah” (...
3
Daftar Isi
Artikel 1 : Cahaya Diatas Cahaya ........................................................................5
A....
4
6. Istilah-Istilah dan Praktek-Praktek Tadzkiyatunnafs
(Penyucian Diri) Yang Boleh Jadi Rancu .............................
5
Artikel 1 :
Cahaya Diatas Cahaya1
A. Pembahasan
Al Hadits
“Ittaquu firasatal mukmin, fa innahu yandhuru binurillah.”
“Pe...
6
• Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan
• Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manus...
7
Disebutkan dalam Al Qur’an :
Tuhan ada, namun keberadaan-Nya tidak bisa ditangkap oleh
penglihatan dan pikiran manusia. ...
8
. . . anda memahaminya secara nyata dalam jiwa anda,
bukan dalam pikiran anda.
Allah Yang Maha Hidup selalu merespons ap...
9
1. Duduklah dengan penuh taqwa dan percaya serta mewakilkan
(menggantungkan) segala hidupnya kepada Allah saja.
2. Hadir...
10
Jiwa anda bukan badan ini, yang terikat oleh putaran bumi dan orbit
matahari, sehingga terjadi waktu akan datang dan ma...
11
Artikel 2 :
Cobaan dari Allah ?2
A. Pembahasan
Di antara kita mungkin sudah ada yang pernah mengetahui bunyi sebuah
aya...
12
menurut Allah. Pemahaman ini sebaiknya juga harus membekas dalam jiwa
kita, yakni saat kita mengalami hal hal yang nega...
13
Allah kembali menegaskan dalam ayat berikutnya bahwa Aku ini (Allah)
tidak membebani (kalau kamu merasa terbebani) kamu...
14
yang notabene diajari oleh Allah dalam ayat itu juga merupakan sebuah
penegasan bahwa memang kondisi seperti itulah seb...
15
• Kalau kita sudah 'on track' tapi mendapat musibah, itu namanya
ujian, jika kita sabar menjalani insyaa Allah kita nai...
16
• Kalau dijalani dengan benar, maka perjalanan hidupnya sesuai de-
ngan petunjuk yang dicontohkan oleh para pencerahnya...
17
fungsi dari anggota tubuh kita sesuai dengan fungsinya.
Dan untuk merasakan kehadiran jawaban Allah itu
hanya dengan ha...
18
Surat Al ’Ankabut (29 : 2 – 3)
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) menga-
takan : "Kami telah ber...
19
iman dan takwa.
6. Tanggapan - Cobaan dari Allah (6/15)8
Apabila kita perhatikan banyak ayat Al-Qur'an menyinggung tent...
20
yang tersebut akan bisa meletakan posisi secara tepat. Oleh karenanya,
sangatlah penting untuk merenungkan cobaan dari ...
21
kembalikan dengan berucap ”Innalillahi wa Inna ilaihi rojiun”.
8. Tanggapan - Cobaan dari Allah (8/15)11
Cobaan atau Pi...
22
Bersyukurlah hamba-Nya yang beriman,
karena bisa merasakan doa dengan penuh
kesadaran, sehingga muluslah pilihan/co-
ba...
23
9. Tanggapan - Cobaan dari Allah (9/15)12
Jika perspektif kita sebagai manusia tentang "kejadian" bisa bermacam-
macam ...
24
demikianlah hal itu ditetapkan Allah dan yang diciptakan-Nya sudah
demikian sempurna karena demikianlah sifat-
Nya, mes...
25
SAW, siapa yang bertanggung jawab pada amal yang telah kita lakukan"
pertanyaan itu begitu nyata. Kalau kita mengikuti ...
26
sangat terang benderang, tapi kita diuji dengan akal kita dengan seribu
kesok-pintaran dan seribu definisi, sehingga na...
27
13. Tanggapan - Cobaan dari Allah (13/15)16
Tidak ada cobaan, yang ada hanya
Ketetapan Allah Yang Maha Besar dan Maha B...
28
aksesatan perbuatan kita adalah Al Quran dan Sunnah dan bukan yang
lainnya.
Persoalan yang muncul kemudian adalah, di m...
29
"Sudahkah kita merujuk kepadanya ?”, sebagaimana yang telah Allah
firmankan dalam Surat Yunus Ayat 35 :
Yunus (10 : 35)...
30
seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami
menyerahkan diri.’"
Dari 2 Ayat tersebut Allah tidak membeda...
31
6. Yang dinamakan hukuman, sebenarnya tidak ada. Kesalahan dan kebe-
naran pada hakekatnya adalah pilihan kita sendiri....
32
15. Suatu ketetapan dapat saja nampak buruk di mata manusia, tetapi
sesungguhnya banyak rahasia dan hikmah di dalamnya....
33
Artikel 3 :
Dalamnya Dalam19
"Maukah kamu menerima Allah sebagai TuhanMu ?
Kujawab dengan ta'zim: "Mau..."
Berdirilah d...
34
”Ya Allah...”
”Ya Allah...”
”Ya Allah...”
”Sujudkan pikiranmu ke Allah... sambil memanggil Allah... ”
Kusujudkan pikira...
35
”Ya Allah...”
”Ya Allah...”
”Ya Allah...”
Semua ku serahkan kepada Allah.
”Ya Allah.”
Semua kusujudkan ke Allah
”Ya All...
36
Lalu akupun bergegas memperbaharui syahadatku:
”Asyhadu an la ilaha illallah, wa asyhaduanna muhammadan rasulullah
Deng...
37
Artikel 4 :
Di Atas Segalanya . . . 20
Laa ilaaha illallaah . . , tiada Tuhan selain Allah . . .
Tapi ternyata . . .
La...
38
Aku terhadap waktu . . .
Aku terhadap bayangan masa lalu.
Aku terhadap mimpi masa depan.
Aku terhadap lamunan syurga da...
39
Singgahlah untuk memanggil Allah, Sang ADA.
Singgahlah untuk terharu.
Singgahlah untuk terhenyak.
Singgahlah untuk terp...
40
Artikel 5 :
Dia Yang Bersembunyi...21
Dulu aku YANG INGIN shalat,
makanya aku shalatnya ingin buru-buru.
Karena sa’at s...
41
mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Al Kahfi
110)
Shalat, puasa, Zakat, Haji adalah alat terb...
42
Artikel 6 :
Drama Manusia22
Allah menggelar drama kehidupan di muka bumi.
Sejak diciptakan sampai datangnya kematian.
S...
43
Dan mengeluarkan dari kegelapan juga karena RUHNYA,
Ya, Allah menciptakan segala
Yang ada di bumi untuk kita
Karena kit...
44
Artikel 7 :
Dari Diam dan Hening24
A. Pembahasan
1. Objek Vakog
Ketika disuruh DIAM, saya hanya ikut. Saya tidak mengaj...
45
Makanya :
. . . apapun objek pikir kita di dunia ini yang berhubungan dengan
fungsi otak dan panca indera kita, disebut...
46
oleh objek itu. Padahal ruhani kita sifatnya sangatlah ekpansif. Secara
ruhani kita selalu ingin bergerak dan meluas se...
47
Namun dalam kesederhanaan inilah seluruh problematika kita umat
manusia ini berawal. Bahwa :
. . . hampir-hampir saja k...
48
• diri yang merdeka,
• diri yang bebas tak terbatas,
• diri yang seluas alam semesta,
diri yang dalam Bahasa Arab diseb...
49
• istilah menjadi bayi, dan
• istilah menutup howo songo.
Belum lagi kalau ditambah dengan istilah-istilah yang berasal...
50
yang sangat ekstrim antara kita dengan seorang bayi. Di mana otak
seorang bayi masih benar-benar bersih dari beragam ob...
51
Walau sang bayi tidak berpikir apapun, tetapi kecerdasannya bisa
terlihat dengan jelas. Semangatnya tidak pernah kendor...
52
c. Mati Sebelum Mati
Adakalanya kita seperti ingin memraktekkan cara mati sebelum
mati. Tapi dengan cara seperti kita i...
53
• gambar tertentu.
Mungkin suasana yang didapatkan dengan cara seperti ini yang
disebut orang sebagai memasuki keadaan ...
54
• pikiran terpusat pada lathaif-lathaif,
• ucapan monoton laa ilaha illallah,
• Allah-Allah,
• tulisan Allah dalam Baha...
55
liar itu, biasanya pikiran si salik sudah tidak bekerja lagi selain
hanya berkonsentrasi kepada lathaif-lathaifnya, kep...
56
Nah, dalam dunia tarekat umumnya . . .
Suasana KARAM atau EKSTASI inilah yang lebih disukai dari
pada melaksanakan shal...
57
menyakiti diri itu dilakukan dengan cara jamaahnya memukul-
mukulkan :
• besi,
• rantai, atau bahkan
• pedang
ke tubuh ...
58
menyembuhkan berbagai penyakit jamaahnya dengan hanya
berbekal sedikit olah VAKOG dan do’a-do’a.
d. Falun Gong dan Reik...
59
Tapi hakekatnya ya masih di situ-situ juga. Berada di tataran VAKOG.
Karena memang seperti itulah sifat dari dimensi ol...
60
intonasi perkataan kita, ekspresi kita, dan aktifitas yang kita lakukan.
Pokoknya asyik gitu. Dan tentu saja ada kegemb...
61
Ketiadaan Allah ini disebabkan karena dengan konsep olah VAKOG itu,
seluas dan selapang apapun pikiran dan hati yang ki...
62
Selama ini yang membuat kita TIDAK bisa khusyu di
dalam shalat, khan karena kita tidak bisa
MENYADARI dan MERASAKAN keh...
63
An Nisaa 142
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan
membalas tipuan mereka. Dan apabila mere...
64
Karena memang sudah puluhan tahun kita di doktrin dengan keras
bahwa kita hanya bisa bertemu Allah nanti di akhirat. Ba...
65
10. Menyadari dan Merasakan Kehadiran Allah oleh Rasulullah
Muhammad SAW
Keadaan Rasulullah Muhammad SAW, sebenarnya sa...
66
3) Tentang masa lalu dan masa yang akan datang.
c. Bahkan Beliau juga bisa bercerita tentang para sahabat yang sedang
s...
67
Allah kok”. Saat Abu Bakar Ra. bisa “duduk” pula dalam posisi keyakinan
seperti yang dimiliki oleh Rasulullah, maka seg...
68
yang memerintahkannya. Tidak ada sedikitpun pengakuan dan kesom-
bongan Beliau terhadap diri Beliau sendiri.
Saat Belia...
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Yusdeka   reformatted c-d - ok !
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Yusdeka reformatted c-d - ok !

405

Published on

Tulisan berikut ini merupakan buah karya dari Ustadz Yusdeka, penulis produktif dari milis “Dzikrullah” (https://groups.yahoo.com/group/dzikrullah) dan blog “Sikap Murid Dalam Berketuhanan Sedang Belajar Mendekat Kepada Dzat Yang Maha Dekat” (yusdeka.wordpress.com). Untuk keperluan pribadi, kami mengkompilasi tulisan-tulisan tersebut, baik berdasarkan abjad huruf pertama dari judul tulisan, maupun berdasarkan topik tertentu. Berikut ini adalah kumpulan tulisan dengan huruf pertama berhuruf “C” dan “D”.

Published in: Self Improvement
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
405
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
13
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Yusdeka reformatted c-d - ok !

  1. 1. Artikel Oleh Yusdeka CCCC ---- DDDD Dikompilasi oleh FIW
  2. 2. 2 Kata Pengantar Tulisan berikut ini merupakan buah karya dari Ustadz Yusdeka, penulis produktif dari milis “Dzikrullah” (https://groups.yahoo.com/group/dzikrullah) dan blog “Sikap Murid Dalam Berketuhanan Sedang Belajar Mendekat Kepada Dzat Yang Maha Dekat” (yusdeka.wordpress.com). Untuk keperluan pribadi, kami mengkompilasi tulisan-tulisan tersebut, baik berdasarkan abjad huruf pertama dari judul tulisan, maupun berdasarkan topik tertentu. Berikut ini adalah kumpulan tulisan dengan huruf pertama berhuruf “C” dan “D”. Dalam pengkompilasian ini, kami berusaha untuk tidak menambah dengan kata-kata kami sendiri. Yang kami lakukan adalah pengurangan dan penyuntingan tampilan. Tujuan pengkompilasian ini tak lain adalah agar memudahkan kami untuk membaca dan memahami tulisan-tulisan tersebut. Hal ini disebabkan karena kebodohan kami untuk dapat memahami tulisan yang Ustadz Yusdeka tulis. Untuk itu kami merasa perlu untuk menstrukturkan dan mensistematisasikannya. Selain itu, kami menambahkan dengan uraian kesimpulan atas apa yang menjadi materi pembahasan Ustadz Yusdeka. Tulisan dari Ustadz Yusdeka demikian canggihnya, tidak heran jika disadari apa yang Ustadz Yusdeka tulis pada hakekatnya adalah tulisan yang langsung digerakkan oleh Allah SWT sendiri, sehingga kami terkadang menggap- menggap dalam membaca. Bahkan setelah selesai membaca, kami terkadang bertanya-tanya, apa yang telah kami baca tadi, mengingat kebodohan kami dalam hal yang ditulis tersebut. Setelah pengkompilasian ini tercapai kami berpendapat alangkah sayangnya jika tulisan dari Ustadz Yusdeka yang sudah dikompilasi tersebut hanya untuk kami konsumsi sendiri. Untuk itu, dalam format PDF, kami menaruhnya di internet. Semoga dengan demikian semakin banyak pihak yang dapat turut menikmati, dan harapan kami, dapat menemani Ustadz Yusdeka untuk camping di pinggir surga. (FIW)
  3. 3. 3 Daftar Isi Artikel 1 : Cahaya Diatas Cahaya ........................................................................5 A. Pembahasan.....................................................................................5 B. Kesimpulan.....................................................................................10 Artikel 2 : Cobaan dari Allah ? ..........................................................................11 A. Pembahasan...................................................................................11 1. Tanggapan - Cobaan dari Allah (1/15)....................................... 14 2. Tanggapan - Cobaan dari Allah (2/15)....................................... 15 3. Tanggapan - Cobaan dari Allah (3/15)....................................... 16 4. Tanggapan - Cobaan dari Allah (4/15)....................................... 17 5. Tanggapan - Cobaan dari Allah (5/15)....................................... 17 6. Tanggapan - Cobaan dari Allah (6/15)....................................... 19 7. Tanggapan - Cobaan dari Allah (7/15)....................................... 20 8. Tanggapan - Cobaan dari Allah (8/15)....................................... 21 9. Tanggapan - Cobaan dari Allah (9/15)....................................... 23 10. Tanggapan - Cobaan dari Allah (10/15)..................................... 23 11. Tanggapan - Cobaan dari Allah (11/15)..................................... 24 12. Tanggapan - Cobaan dari Allah : Kebenaran (12/15)................. 25 13. Tanggapan - Cobaan dari Allah (13/15)..................................... 27 14. Tanggapan - Cobaan dari Allah : Kebenaran (14/15)................. 27 15. Tanggapan - Cobaan dari Allah : Kebenaran (15/15)................. 28 B. Kesimpulan.....................................................................................30 Artikel 3 : Dalamnya Dalam..............................................................................33 Artikel 4 : Di Atas Segalanya . . . .......................................................................37 Artikel 5 : Dia Yang Bersembunyi......................................................................40 Artikel 6 : Drama Manusia................................................................................42 Artikel 7 : Dari Diam dan Hening ......................................................................44 A. Pembahasan...................................................................................44 1. Objek Vakog ............................................................................. 44 2. Pergerakan Ruhani ................................................................... 45 3. Pikiran dan Proses Berpikir....................................................... 46 4. Peran Nabi-Nabi, Rasul-Rasul, serta Wali-Wali Allah................. 47 5. Tadzkiyatunnafs (Penyucian Diri).............................................. 48
  4. 4. 4 6. Istilah-Istilah dan Praktek-Praktek Tadzkiyatunnafs (Penyucian Diri) Yang Boleh Jadi Rancu .................................... 48 7. Lalu Apa Salahnya Dengan Hal-Hal Yang Seperti di Atas Itu?........................................................................................... 58 8. Kesombongan........................................................................... 59 9. Menyadari dan Merasakan Kehadiran Allah ............................. 61 10. Menyadari dan Merasakan Kehadiran Allah oleh Rasulullah Muhammad SAW .................................................... 65 11. Kepatuhan Total Rasulullah Muhammad SAW.......................... 68 B. Kesimpulan.....................................................................................72 Artikel 8 : Deteksi Dini Neraka Atau Siksa.........................................................75 A. Pembahasan...................................................................................75 B. Kesimpulan.....................................................................................78 Artikel 9 : Dihalangi Allah... ..............................................................................79 A. Pembahasan...................................................................................79 1. Entengnya Menyebut Nama Allah ............................................ 79 2. Pelajaran Yang Bisa Dipetik....................................................... 81 B. Kesimpulan.....................................................................................86
  5. 5. 5 Artikel 1 : Cahaya Diatas Cahaya1 A. Pembahasan Al Hadits “Ittaquu firasatal mukmin, fa innahu yandhuru binurillah.” “Percayalah dengan Firasat orang beriman, karena Ia melihat dengan Cahaya Allah.” An Nur (24 : 35) “Alloohu nuurussamawati wal ardl(i), matsalu nuurihi kamisy-kaatin fiihaa mish-baah(un), al-mish-baahu fii zujaajah(tin), az-zujaajatu kan-nahaa kaw-kabun dur-riy-yuy yuuqod(e), yuuqodu min syajarotim mubaarokah(tin), zay-tuunatil laa syar-qiiyatiw walaa ghor-biiyah(tin), yakaa-du zay-tuhaa yudliiii(-u), walaw lam tam-sas-hu naar(un), nuurun ^alaa nuur(iy), yah-dillaahu linuurihi may yasyaaaa(-u), wayadl-ribulloohul am-tsaala lin-naas(i), walloohu bikulli syay-in ^aliim(un).” “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bin- tang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyak- nya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), 1 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/3066
  6. 6. 6 • Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan • Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan • Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” Inilah dasar pengajaran spiritual yang sesungguhnya, digambarkan sebagai Cahaya Tuhan yang menyinari jiwa manusia. Spiritual bukan kajian ilmiah di Universitas atau Pondok Pesantren (Ma'hat) sebagaimana biasanya kita kenal. Dalam hal ini, Allah menjelaskan : . . . proses pengajaran dan bimbingan-Nya melalui perumpamaan Myskat. Yang di dalamnya terletak sebuah pelita yang tertutup kaca. Cahaya-Nya terkumpul dalam cerukan dinding yang berlubang, merupakan perumpamaan dada manusia yang dipenuhi Cahaya Allah. Dengan Cahaya itulah manusia mampu menangkap dengan jelas bimbingan Allah dalam setiap langkah kehidupannya. Cahaya ini tidak dapat diperoleh dari : • Mendengarkan pengajian, dan • Mengumpulkan data ilmu pengetahuan yang tercatat dalam kitab-kitab. Itu hanya petunjuk awal untuk memahami bagaimana orang bersikap dan belajar menerima bimbingan Allah secara ruhani. Kitab Suci Al Qur’an merupakan "Peta Ruhani" dan petunjuk bagi pejalan menuju Tuhan. Yang di dalamnya dijelaskan mengenai pengajaran yang dapat diterima secara langsung dalam jiwa manusia. Sikap ini dikenal de-ngan istilah ihsan, yaitu menyadari Tuhan melihat sikap dan tindak tanduk hati manusia. Tuhan tidak hanya terbatas mengamati perilaku kita dan hanya berdiam diri. Akan tetapi Tuhan Yang Maha Hidup memberikan pengajaran kepada jiwa manusia yang percaya dan yakin atas keberadaan Tuhan.
  7. 7. 7 Disebutkan dalam Al Qur’an : Tuhan ada, namun keberadaan-Nya tidak bisa ditangkap oleh penglihatan dan pikiran manusia. Ia ada sangat dekat dengan jiwa manusia, sehingga apa yang dibisikkan dalam hatinya terdengar dengan jelas, karena Ia Maha Mendengar. Tidak hanya sampai di sini penjelasan mengenai Tuhan, dengan tegas Al Qur’an mengatakan bahwa : Tuhan akan merespons setiap do'a bagi yang berdo'a. Inilah yang dinamakan sikap ihsan atas keberadaan dan kegiatan Tuhan terhadap manusia. Maka dengan demikian, pemahaman atas Tuhan dengan segala keadaan-Nya disimpulkan dalam bentuk sikap yang sederhana beri- kut ini : 1. Duduklah dalam keadaan bersih lahir maupun bathin, tinggalkan kegiatan lahir yang berasal dari nafsu. 2. Aktifkan ruhani anda, karena Tuhan tidak bisa dijangkau oleh pikiran dan penglihatan kita. Setiap manusia pasti memiliki jiwa, dengan jiwa inilah manusia dapat berkomunikasi dengan Allah. Dan kepada jiwa manusia, Allah menuntun kegiatan Ruhani menuju pengetahuan-Nya berupa ilham. Pengetahuan ruhani dapat anda rasakan secara langsung tanpa hijab. Anda akan merasakan setiap tuntunan itu mengarah kepada kebaikan dan kebahagiaan sejati. Lihatlah hasilnya dalam Al Qur’an yang menjelaskan mengenai pengalaman pengajaran spiritual dalam diri anda. Anda akan diajak berada dalam keadaannya, bukan dalam pengetahuan berupa pikiran anda. Anda akan berada (being experience) yang tidak bisa diungkapkan dalam kata dan artikulasi. Sebagaimana anda merasakan berada dalam keadaan rasa cinta yang sejati. Allah berkata bahwa jika kita menyebut nama-Nya di dalam jiwa dengan merendahkan diri dan penuh hormat. Maka akan diturunkan rasa tenang mengalir dalam jiwa anda. Jika anda mengalami keadaan ini, berarti :
  8. 8. 8 . . . anda memahaminya secara nyata dalam jiwa anda, bukan dalam pikiran anda. Allah Yang Maha Hidup selalu merespons apa yang kita lakukan di hadapan- Nya. Ji-ka kita hadir Allah juga hadir, jika kita ber-kata Allahpun berkata dalam bahasanya yang dipahami oleh Jiwa. Lakukan seperti di bawah ini. Allah berfirman : Ath Thalaq (65 : 2-3) “. . . barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” Pernahkan anda merasakan apabila ada kesulitan kemudian berdoa dan bertawakkal kepada Allah, kemudian langsung anda rasakan jawabannya dan mendapatkan jalan keluar ? Bahkan mendapatkan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Jika semakin buntu (tidak ada jalan ke luar) apa yang anda lakukan ketika melakukan komunikasi kepada Yang Maha mengetahui segala urusan. Sudahkah anda menundukkan jiwa anda kemudian berserah total dan memahami apa yang diturunkan ke dalam jiwa anda ? Sebab Allah memberikan jawaban dalam setiap doa langsung ke dalam hati orang beriman. Jika tidak ada jawaban, pasti ada yang salah dalam hal ini. Karena tidak mungkin Allah mengingkari janji (laa tukhliful mi'aad). Untuk itu, perlu dilakukan pemahaman lebih dalam persoalan kepercayaan kita kepada Allah, terutama bagaimana menangkap signal atau getaran yang dapat dipahami. Mungkinkah orang biasa seperti kita bisa menerima petunjuk Allah, seperti apakah keadaan yang akan kita rasakan ?
  9. 9. 9 1. Duduklah dengan penuh taqwa dan percaya serta mewakilkan (menggantungkan) segala hidupnya kepada Allah saja. 2. Hadirlah di hadapan-Nya dengan tunduk dan hormat, hilangkan keraguan dalam hati. 3. Sebutlah Nama Allah dengan penuh harap, sehingga terasa hening dalam jiwa anda. 4. Rasakan keheningan yang diturunkan dalam hati anda, semakin lama akan terasa bening dan menenangkan. 5. Tundukkan jiwa anda semakin dalam, biarkan lintasan pikiran yang sesekali muncul menggangu. Jangan perdulikan, tetapkan jiwa anda mengamati keheningan jiwa anda. 6. Dan berusahalah tetap menyebut Nama Allah sampai pada tahapan anda mampu membedakan : a. pikiran, b. emosi, c. perasaan, dan d. ilham, yang datang sangat cepat dan jelas. 7. Biasanya muncul petunjuk pada saat pikiran anda tidak terlibat, nafsu dan emosi kita tersapih. Petunjuk datang bukan hasil rekayasa dan hayalan atau rangkaian peristiwa dalam memori dalam otak. Ia menelusup sangat cepat dan jelas, dan rasanya seperti sudah berada pada keadaan yang akan terjadi. Anda diberi kepahaman langsung ke dalam jiwa anda, cirinya tidak ada keraguan. Sebab ia datang berupa keadaan seperti yang akan terjadi sebelum terjadi. Mengapa demikian ? Karena anda berada pada orbit jiwa yang tidak terikat oleh ruang dan waktu Anda telah terlepas dari ikatan tubuh yang memilki arah dan jarak.
  10. 10. 10 Jiwa anda bukan badan ini, yang terikat oleh putaran bumi dan orbit matahari, sehingga terjadi waktu akan datang dan masa lampau. Beradalah dalam jiwa anda dan mendekatlah kepada Allah, anda akan merasakan petunjuk semakin jelas. B. Kesimpulan 1. “Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki.” (24 : 35). Dada manusia sesungguhnya dipenuhi Cahaya Allah. Dengan Cahaya itulah manusia mampu menangkap dengan jelas bimbingan Allah dalam setiap langkah kehidupannya. 2. Cahaya ini tidak dapat diperoleh dari : a. Mendengarkan pengajian, dan b. Mengumpulkan data ilmu pengetahuan yang tercatat dalam kitab- kitab. Cahaya diperoleh langsung dari-Nya. Hal ini karena Tuhan akan meres- pons setiap do'a bagi yang berdo'a. 3. Petunjuk datang dengan cara menelusup sangat cepat dan jelas, dan rasanya seperti sudah berada pada keadaan yang akan terjadi. Akan diperoleh kepahaman langsung ke dalam jiwa, yang cirinya tidak ada keraguan. Sebab ia datang berupa keadaan seperti yang akan terjadi se- belum terjadi.
  11. 11. 11 Artikel 2 : Cobaan dari Allah ?2 A. Pembahasan Di antara kita mungkin sudah ada yang pernah mengetahui bunyi sebuah ayat Al Quran sbb: Al Baqarah (2 : 155) "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit keta- kutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan- lah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." Sementara ada ayat yang menyatakan : Al Baqarah (2 : 286) "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesang- gupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): 1. ’Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. 2. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. 3. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. 4. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. 5. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir’." Saya melihat ada sebuah hal yang menarik yang dapat kita petik dari dua ayat Allah tersebut. Dalam ayat yang pertama Allah menyatakan apapun yang kita alami dalam artian negatif (cobaan), itu semua adalah sedikit 2 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2166
  12. 12. 12 menurut Allah. Pemahaman ini sebaiknya juga harus membekas dalam jiwa kita, yakni saat kita mengalami hal hal yang negatif seperti yang disebutkan Allah itu, itu semua kadarnya masih sedikit. Artinya Allah ingin mengajari kita lewat ayat itu, bahwa : . . . apapun yang kamu terima wahai manusia berupa cobaan dalam : 1. bentuk ketakutan (emosi). 2. kelaparan (fisik). 3. kekurangan harta (ekonomi). 4. jiwa (psikis), dan 5. buah-buahan (kebutuhan sekunder), itu semua seharusnya kamu anggap sebagai sesuatu yang sedikit (tidak ada arti sama sekali). Jangan sampai itu semua mempengaruhi penghambaanmu kepada Allah. Jadikanlah itu sebagai sarana untuk lebih mendekatkan dirimu kepada Allah, karena semua itu akan menjadikan kamu akan terus giat berusaha dengan segenap akal dan pikiran yang dialiri oleh Allah untuk memakmur- kan bumi Allah ini. Jadi dengan pandangan seperti ini akan melahirkan kesabaran. Jadi : . . . kesabaran itu tidak hanya sebuah pernyataan ketidakmampuan, tapi sebuah sikap yang jelas bahwa apapun cobaan yang diberikan oleh Allah pastilah ukurannya sedikit dan pastilah punya manfaat untuk memacu diri manusia untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya. Untuk orang yang seperti ini Allah memberitakan bahwa mereka akan mendapatkan kegembiraan (dalam ayat di atas diberi kabar gembira). Ya bagaimana mereka tidak gembira, mereka punya keyakinan bahwa cobaan yang diberikan oleh Allah ini hanya sedikit dibandingkan nikmat yang diberikan oleh Allah, dan cobaan ini juga bermanfaat bagi mereka untuk menjadikan diri mereka lebih giat lagi dalam memberikan seluruh potensi diri mereka sebagai kalifah di muka bumi Allah ini.
  13. 13. 13 Allah kembali menegaskan dalam ayat berikutnya bahwa Aku ini (Allah) tidak membebani (kalau kamu merasa terbebani) kamu kecuali sesuai dengan kesanggupanmu. Jadi Allah sudah antisipasi : . . . kalau ada seseorang merasa dirinya dibebani oleh masalah-masalah apapun, itu semua harus disadari adalah sesuai dengan kesanggupan dirinya, tidak lebih. Ibaratnya seorang anak TK tidak mungkinlah dibebani hal hal yang dipelajari oleh anak anak SMP. Kesadaran ini akan melahirkan sebuah sikap keikhlas- an menerima apapun yang sudah terjadi yang sudah diberikan oleh Allah. Allah menggarisbawahi : . . . apabila kesadaran ini ada dalam dada manusia maka kebahagiaanlah yang akan diterimanya, sedangkan bila tidak ada kesadaran seperti ini maka kesengsaraan (siksa) yang dirasakannya. Jadi terserah manusia itu sendiri sebenarnya mau pilih kesadaran yang mana. Dan saat ia memilih (sebenarnya dipilihkan oleh Allah) kesadaran yang pertama maka secara otomatis ia akan mengucapkan seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut yakni : 1. "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. 2. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. 3. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. 4. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. 5. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." Jadi permohonan (do'a) itu memang lahir dari sebuah kesadaran sebe- lumnya, bukan hanya sebuah permintaan tanpa ada kesadaran. Dalam do'a
  14. 14. 14 yang notabene diajari oleh Allah dalam ayat itu juga merupakan sebuah penegasan bahwa memang kondisi seperti itulah sebenarnya Allah membe- rikan jawaban atas do'a kita. Artinya gini : 1. Allah tidak menghukum kita jika kita lupa atau tersalah (tidak sengaja melakukan kesalahan). 2. Allah tidak membebani kita dengan beban yang berat. 3. Allah tidak memikulkan kita sesuatu yang tak sanggup kita pikul. 4. Allah memaafkan kita jika kita minta maaf Allah mengampuni kita jika kita minta ampun. 5. Allah merahmati kita. 6. Allah menolong kita Namun jawaban itu tidak berupa suara maupun huruf, jawaban itu masuk ke dalam kesadaran kita berupa perubahan dalam dada kita yang terkadang tak mampu kita mengutarakannya. Sekarang mampukah kita membaca jawaban Allah itu ? Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga ada manfaatnya sebagai bekal kita dalam mengarungi perjalanan kita menuju Allah. 1. Tanggapan - Cobaan dari Allah (1/15)3 Hidup pada dasarnya adalah cobaan : • Baik dalam pengertian positif : ujian sebagai syarat "naik kelas", • Ataupun dalam pengertian negatif : sebagai hukuman sebagai konse- kuensi atas satu kesalahan) sebagai proses pembelajaran untuk men- capai kematangan/kedewasaan. Tapi pada dasarnya ujian dan hukuman bukan melulu masalah persepsi/ kesadaran, tapi tetap dibedakan secara faktual. Untuk membedakannya ya kita lihat track record sebelumnya : 3 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2173
  15. 15. 15 • Kalau kita sudah 'on track' tapi mendapat musibah, itu namanya ujian, jika kita sabar menjalani insyaa Allah kita naik kelas/derajat (mendapat rahmat/rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka. • Tapi jika hidup kita penuh penyimpangan (tidak proporsional) dan berlumuran dosa maka jika kita mendapat musibah, itu namanya hukuman. Kalau kita ikhlas menjalani/menyadari kesalahan kita mudah-mudahan kita bisa menjalani musibah dengan lebih tawakal dan setelah musibah berlalu, kita bisa memulai hidup baru (setelah kesulitan timbul kemudahan). Kebanyakan manusia "gampang mengeluh" jika tertimpa musibah, ka- rena : . . . cenderung bersikap "take for granted" terhadap kenikmatan. Kita bisa bersikap Ikhlas/tawakal jika bisa melihat kelebihan di balik kekurangan, dan melihat kekurangan di balik kelebihan, kemudahan setelah kesulitan dan kesulitan setelah kemudahan. 2. Tanggapan - Cobaan dari Allah (2/15)4 Hidup menurut saya adalah perjalanan. Kalau dikatakan ujian, maka hal ini seakan-akan berarti dari awal kehidupan ia sudah pasti dikatakan baik, tinggal; manusia; diuji untuk menjadi baik lagi dan akhirnya men- jadi manusia terbaik. Kalaupun toch nggak lulus atau naik kelas, tetap saja manusia masih dikatakan baik. Walaupun dalam tingkatan te- rendah. Kalau hidup adalah "perjalanan". Jelas, ada petunjuk melalui para pen- cerahnya (nabinya) sebagai suri tauladan. Dalam perjalanan hidupnya : 4 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2179
  16. 16. 16 • Kalau dijalani dengan benar, maka perjalanan hidupnya sesuai de- ngan petunjuk yang dicontohkan oleh para pencerahnya yang tentu saja sesuai dengan zamannya. Hingga ia akan selamat sampai tujuan. • Seandainya dalam perjalanan dalam hidupnya melenceng dari tun- tunan/ petunjuk maka, tidak akan sampai ke tempat tujuan dan celakalah manusia. Jadi sepertinya : . . . yang dinamakan hukuman, ya nggak ada. Kesalahan dan kebenaran khan pilihan kita sendiri. Dan tidak mungkin Allah menghukum mahkluk ciptaaanya, karena Allah Maha Kasih (salah satu sifatnya). Tapi, ada nggak ya sifat Allah maha menghukum ? Yang betul menurut saya, . . . yang menghukum ya kita sendiri; karena hasil perbuatan dan perjalanan kita yang salah. Tidak sesuai dengan tuntunan dan ajaran. 3. Tanggapan - Cobaan dari Allah (3/15)5 Bila kita sudah mampu merasakan jawaban Allah itu, artinya kita ngeh, tahu, paham, ada sesuatu yang mengalir melewati dada kita, di saat kita memohon kepada Pencipta kita, apapun itu. Sebenarnya saat itu kita tengah didudukkan-Nya dalam sebuah pengajaran yang hakiki. Ayat-ayat Allah di muka bumi ini sudah dihamparkannya kepada kita, manusia yang mau mengambil pelajaran dari itu semua, tinggal : . . . kita sejauh mana mau mengoptimalkan seluruh potensi yang ada pada diri kita dan tahu juga sarana apa yang kita pakai untuk mengambil pelajaran itu. Kita tidak bisa mengharapkan telinga kita untuk melihat, tidak dapat memaksakan mata kita untuk mendengar, jadi harus menyesuaikan 5 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2185
  17. 17. 17 fungsi dari anggota tubuh kita sesuai dengan fungsinya. Dan untuk merasakan kehadiran jawaban Allah itu hanya dengan hati (jiwa), sarana yang paling sempurna dalam bentuk syariat adalah sholat, dan sholat yang diharapkan adalah sholat yang dikhusyu’kan oleh Allah. 4. Tanggapan - Cobaan dari Allah (4/15)6 • Ingin rasanya anggota tubuh kita dapat sesuai dengan fungsinya se- hingga tidak ada keragu-raguan dalam menerima petunjuk-Nya yang sesungguhnya sangat nyata dalam kehidupan kita ini seperti ayat- ayat Allah yang telah dihamparkan di muka bumi ini untuk kita. • Ingin rasanya meluruskan fungsi tubuh ini, sehingga saya dapat melihat jalan yang lurus yang tidak ada keragu-raguan di dalamnya. • Apakah hati saya yang masih diliputi keragu-raguan, sehingga petunjuk yang nyata di sekitar kita itu ragu untuk dijalankan ? • Apakah salah jika saya takut menempuh jalan yang tidak lurus ? • Apakah salah jika saya takut salah membaca petunjuk-Nya ? • Wajarkah saya jika diliputi keraguan seperti itu ? Alangkah indahnya jika mata ini dapat menikmati indahnya cahaya dan telinga ini menikmati alunan ayat-ayat-Nya, sehingga hati yang takut berubah menjadi gembira dalam menapaki jalan yang lurus, jalan yang tiada keraguan di dalamnya. 5. Tanggapan - Cobaan dari Allah (5/15)7 Melalui "cobaan dari Allah" sebenarnya un- tuk mengetahui tentang bukti keimanan se- seorang, hal diabadikan dalam Al Qur'an : 6 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2189 7 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2193
  18. 18. 18 Surat Al ’Ankabut (29 : 2 – 3) "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) menga- takan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi ? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahu orang-orang yang dusta.” Jadi dengan demikian, ujian sebagai bentuk peningkatan kualitas ke- imanan seseorang atau suatu pembuktian atas pernyataannya tentang IMAN. Apabila kita memaknainya dan mampu menerimanya bentuk ujian tersebut dapat melahirkan kompetensi dalam upaya selalu me- ningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Akan menjadi berbahaya, jika bentuk cobaan dari Allah SWT ditanggapi dengan bersu'udzon kepada Allah SWT. Karena mustahil Allah memberikan sesuatu kepada umatnya tanpa maksud yang pasti memberikan yang lebih bernilai. Apa yang harus dilakukan dalam menghadapinya, adalah menerima dengan keikhlasan dibarengi ikhtiar secara terus menerus, sehingga mampu mengatasinya. Bukankah kedudukan nilai derajat dalam pandangan Allah kriteria yang harus dimiliki antara lain : • kualitas iman, • berhijrah, • berjihad dengan harta dan jiwa. Sehingga dengan demikian, . . . cobaan dari Allah harus diterjemahkan sebagai bentuk pendidikan agar setiap kita senantiasa ingat kepada-Nya dalam kondisi apapun. Karena dengan senantiasa ingat (dzikrulloh) setiap saat akan melahirkan pribadi-pribadi yang waspada agar terhindar dari larangan-larangan-Nya. Akhirnya, marilah kita memaknai cobaan dari Allah sebagai bentuk kasih sayang terhadap umat manusia dalam meningkatkan bentuk kualitas
  19. 19. 19 iman dan takwa. 6. Tanggapan - Cobaan dari Allah (6/15)8 Apabila kita perhatikan banyak ayat Al-Qur'an menyinggung tentang cobaan, biasanya berkaitan dengan masalah harta dan jiwa. Sebagaimana Allah SWT informasikan, artinya : Al Anbiyaa’ (21 : 35). "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar- benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." Melalui tadabur ayat tersebut di atas, setidak-tidak Allah SWT mencoba memberikan arahan kepada manusia sekaligus pembuktian keimanan seseorang (Al ’Ankabuut 29 : 2-3). Sikap seharusnya, mungkin : . . . cobaan/ujian dari Allah SWT harus dihadapi dengan sepenuh hati dalam posisi qona'ah. Kita sepakat Allah SWT memberikan sesuatu ujian pasti sesuai dengan kemampuan makhluk-Nya. Karena mustahil Allah SWT memberikan bentuk ujian dan cobaan kepada manusia melebihi kemampuannya. Inilah konsep Islam yang disebut kompetensi dan profesionalisme. Janji Allah SWT ujian yang menyangkut dengan harta dan jiwa juga diinfor- masikan pada ayat lain seperti : At Taghaabin (64 : 15) "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar." Perenungan penegasan Allah SWT dimaksud sangatlah penting agar setiap manusia/makhluknya mencoba untuk memahami hakekatnya penciptaannya, sehingga dengan memahaminya, berbagai cobaan/ujian 8 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2214
  20. 20. 20 yang tersebut akan bisa meletakan posisi secara tepat. Oleh karenanya, sangatlah penting untuk merenungkan cobaan dari Allah SWT seha- rusnya direspon dan diposisikan secara benar, sehingga setiap hamba Allah akan mampu melaksanakan tugas dan fungsinya dalam Pengab- dian kepada-Nya (Adz Dzariyaat - 51 : 569 ). Tentunya pengabdian yang sesuai syari'at harus berdasarkan kualitas iman, kualitas ikhlas dan bertitiba kepada Rasululloh SAW, sehingga mampu meraih pengabdian pada titik kualitas takwa. Mudah-mudahan sedikit renungan tentang cobaan dari Allah SWT memberikan pencerahan yang mampu peru- bahan terhadap perilaku hidup, insya Allah. 7. Tanggapan - Cobaan dari Allah (7/15)10 Jalan Kembali Kata cobaan sebenarnya hanya istilah yang dipakai orang yang senan- tiasa berkutat dalam dinamika kehidupan. Susah senang itu hanya rasa atau hasil dari Tungku Perapian yang ada di dalam dada. Sebenarnya cobaan adalah merupakan fasilitas dari Allah agar kita bisa menemukan jalan kembali. Selama kita masih belum bisa menemukan jalan kembali maka kita akan tetap terendam dalam tungku di dada. Dan akibatnya adalah, Allah tidak bisa menyematkan predikat Nafs yang Muthmainah. Kalau sudah seperti ini maka kita tidak akan bisa ridha untuk bertemu dengan Tuhan dan Tuhan pun tak akan ridha sama kita. Nafsul Muthmainah adalah Diri yang tenang, yang tidak terpengaruh oleh badai kehidupan. Apabila mendapat kesenangan maka terus dikembalikan dengan ber- ucap ”Alhamdulillah”. Dan apabila mendapat kesusahan ya tetap di- 9 Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. 10 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2215
  21. 21. 21 kembalikan dengan berucap ”Innalillahi wa Inna ilaihi rojiun”. 8. Tanggapan - Cobaan dari Allah (8/15)11 Cobaan atau Pilihan ? Pada saat kita bersaksi pada-Nya dan menjadi ultimate, maka segala permintaan (doa) kita dikabulkan. Tetapi manakala terkabul kita akan dihadapkan pada pilihan/cobaan, akankah kita tetap bersaksi pada-Nya atau kesaksian kita luntur bersamaan de- ngan belenggu-belenggu permintaan kita yang di kabulkan-Nya. Kita berdoa agar diberikan rezeki oleh-Nya, tetapi mampu- kah kita melepas rezeki itu seperti nabi Muhammad yang tidak memiliki apa-apa pada saat dipanggil oleh-Nya. Mampukah kita tetap bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah setelah mendapatkan rezeki dari-Nya ? Pada saat kita memohon diberikan anak yang sholeh, mampukah kita tetap bersaksi pada-Nya pada saat anak kita dipanggil oleh agama untuk berjuang ? Setelah kita berdoa, maka datanglah sunnatullah dengan berbagai macam lukisan-Nya. Bagi hamba-Nya yang beriman tentu doanya dilakukan dengan penuh kesadaran. Sedangkan yang tidak beriman doanya tidak dilakukan dengan penuh kesadaran, seperti binatang ternak yang penuh dengan belenggu, sehingga tidak merasakan apa-apa. Maka : . . . pilihlah doa yang menjadikan kita akan tetap seterusnya bersaksi pada-Nya. 11 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2217
  22. 22. 22 Bersyukurlah hamba-Nya yang beriman, karena bisa merasakan doa dengan penuh kesadaran, sehingga muluslah pilihan/co- baan menuju pintu-pintu surga-Nya, karena orang beriman akan memohon ampun pa- da-Nya (mengucap astaghfirullah) pada saat salah ucap dalam doa, sehingga Allah mengampuninya. Sedangkan binatang ternak akan cuek bebek pada saat salah ucap dalam berdoa, sehingga sunnatullah yang berlaku. Hamba-Nya yang beriman mengetahui berbagai pilihan/cobaan yang akan dilaluinya, tetapi dia akan memilih jalan yang lurus, jalan yang sanggup untuk dipikul dan dilaluinya menuju surga. Sedangkan binatang ternak akan memilih jalan mana saja, karena : • hatinya sudah terbelenggu, • matanya buta. Dan • telinganya tuli. Pada akhirnya : . . . amal sholehlah yang akan menolong dan membimbing hamba-Nya yang beriman dari berbagai pilihan/cobaan, . . . karena kebajikan yang dilakukannya akan membuat ringan dirinya terhindar dari pilihan/cobaan yang banyak mudharatnya. Beriman saja tidak cukup bagi kita untuk terhindar dari api neraka karena begitu banyak pilihan/cobaan yang ada. Oleh karena itu : • Berbuat amal sholehlah yang banyak, dan • Saling tolong-menolong, serta • Nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, agar kita tidak merugi menyicipi panasnya api neraka, sehingga kita akan selalu diingatkan dan dinasehati agar tidak menuju pilihan/cobaan yang tidak sanggup kita memikulnya karena banyaknya mudharat di jalan itu.
  23. 23. 23 9. Tanggapan - Cobaan dari Allah (9/15)12 Jika perspektif kita sebagai manusia tentang "kejadian" bisa bermacam- macam (ada yang menyebut dengan cobaan dan ada yang menyebut dengan kejadian saja), • Kalau menggunakan kata cobaan berkonotasi negatif, dan • Jika menggunakan kata "kejadian" cenderung netral karena sesung- guhnya manusia tidak pernah merugi, maka apakah sesungguhnya terminologi ini juga bisa disampaikan da- lam bentuk kalimat yang berlainan seperti "salah dan benar itu se- sunguhnya tidak ada, karena tergantung perspektif pelaku atau setiap orang yang memandangnya". Kenyataan ini bisa kita lihat di lingkungan kita masing-masing atau negara kita atau bahkan agama kita (islam). Bahkan perspektif tentang Al Qur’an sebagai Kitab Suci dan Nabi Akhir Zaman di negara kita hampir (atau telah) membuat perpecahan di antara umat Islam. 10. Tanggapan - Cobaan dari Allah (10/15)13 Tidak ada Cobaan yang ada Hanya Ketetapan Dia Sang Pencipta yang telah menuntaskan penciptaan-Nya. Manusia makluk dan semuanya sudah ditempatkan menurut kadar-Nya. Manusia tampak sedang berjalan pada gelombang waktu dan ruang. Namun Dia Sang Pencipta bebas dalam ikatan waktu dan ruang. Dunia nampak memberikan pilihan dan cobaan terhadap makhluk. Namun sesung- guhnya jalan itu hanya satu. Cobaan dari-Nya berupa jalan ketakwaan dan jalan kesesatan membuat kita kabur di mana "shiratal mustaqim itu", oleh karenanya kita memohonkannya setiap hari tanpa lelah. Se- betulnya jalan itu sangat terang benderang, tapi kita diuji dengan akal kita dengan seribu kesokpintaran dan seribu definisi, sehingga nampak seperti ribuan pilihan. Semua nampak kebetulan namun sesungguhnya 12 http:// groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2219 13 http:// groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2221
  24. 24. 24 demikianlah hal itu ditetapkan Allah dan yang diciptakan-Nya sudah demikian sempurna karena demikianlah sifat- Nya, meskipun ketetapan itu nampak buruk di mata manusia sesungguhnya banyak rahasia dan hikmah di dalamnya. Ambil wudlu, sholat, temuilah Dia dalam sedih dan senang, rasakan belaiannya dan penjelasan tentang semua ini. 11. Tanggapan - Cobaan dari Allah (11/15)14 Masalah nabi akhir zaman memang banyak di permasalahkan apalagi dengan dalil adanya Imam Mahdi. Ada kalangan berpendapat bahwa Nabi Muhammad adalah nabi akhir pada zamannya, menurut mereka nabi ada pada setiap zaman maka banyak dari mereka yang mengaku Nabi. Saya pernah berguru pada seseorang yang berpendapat seperti itu, hingga secara implisit dia mengaku nabi pengganti pak Soekarno, yang dianggap juga sebagai nabi. Melalui beliau saya ketahui bahwa keyakinan ini banyak diyakini oleh banyak orang, sehingga banyak orang yamg tertipu dengan dalil Al Mahdi sebagai seseorang yang ditungggu- tunggu, untuk mencerahkan zaman yang sudah rusak ini. Saya juga pernah berguru pada orang yang mengaku satria piningit, mitos dari jawa yang mirip dengan Al Mahdi. Dari berbagai pengalaman awalnya mereka mengajarkan hal yang baik bahkan ilmu yang tinggi seperti ma'rifat, dengan bahasa yang sangat tinggi dan menarik, sehingga banyak orang terpedaya, demikian juga saya. Untungnya Allah memberikan hidayah, sehingga hati saya lurus- kan kembali ke jalan yang lurus. Orang yang terpedaya itu bukanlah orang-orang bodoh, mereka pintar dan terpelajar tapi tipu daya dan bisikan syetan itu begitu nyata, sehingga menutup hati dan akal me- reka. Satu hal dari banyak hal yang membuat saya berpaling dari mereka adalah perkataan teman saya, "Bagaimana saat kita nanti mati, apakah kita tetap dalam Islam dan menjadi pengikut Nabi Muhammad 14 http:// groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2222
  25. 25. 25 SAW, siapa yang bertanggung jawab pada amal yang telah kita lakukan" pertanyaan itu begitu nyata. Kalau kita mengikuti ajaran-ajaran baru, dari orang yang mengaku Nabi, Wali, Al Mahdi, dan lainnya dan meng- ikuti ajaran yang kadang menyimpang dari syariat islam (contoh ajarah Ahmadiah, dll) apakah kita tetap sebagai muslim ? Apakah kita tetap sebagai Hamba Allah ? Apakah kita tetap sebagai umat Nabi Muham- mad Saw, padahal kita menyimpang dari syariat yang sesungguhnya. Pertanyaan ini juga berlaku untuk kalangan yang kadang menganggap remeh ajaran syariat karena mereka merasa telah memiliki ilmu yang lebih tinggi seperti : tarikat, hakikat, makrifat. Banyak dari mereka yang tidak menjalankan syariat. Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya syetan dan dajjal yang berbentuk manusia. 12. Tanggapan - Cobaan dari Allah : Kebenaran (12/15)15 Mungkin, kalau tidak salah tafsir (bila salah, mohon diluruskan), yang membuat resah, selain apa yang dikemukakan (yaitu kebenaran versi Islam dengan nabi-nabi selain Nabi Muhammad SAW vs. versi Islam dengan nabi Muhammad SAW; atau tarikat, makrifat, hakikat tanpa syariat vs. plus syariat), juga terutama adalah klaim-klaim kebenaran yang menjerumuskan pada pertentangan sesama umat walaupun sama- sama mengklaim sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW dan berkitab sama yaitu Al-Qur'an! Merasa sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW yang paling benar, sedangkan yang lain salah semua. Bahkan lebih parah lagi, yang lain kafir! Ah, rasanya pertentangan seperti ini dari sejak dahulu sampai kini tidak pernah ada habisnya! Bahkan seringkali umat pada masjid yang samapun saling menghujat! Saya sangat setuju dengan apa yang dikemukakan : "tidak ada cobaan yang ada hanya ketetapan". Bahwa "sebetulnya jalan (kebenaran) itu 15 http:// groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2223
  26. 26. 26 sangat terang benderang, tapi kita diuji dengan akal kita dengan seribu kesok-pintaran dan seribu definisi, sehingga nampak seperti ribuan pilihan". Saya kira, Pak Deka pun sering mengulas tentang hal itu. Bahwa definisi kebenaran, seringkali dikaburkan oleh hawa nafsu - ini yang menjadi- kannya relatif ! Karena ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan indi- vidu atau golongan. Menurut saya, ego kebenaran itu seperti permukaan sebuah lautan, pe- nuh gejolak, penuh kemarahan. Ketika mendapatkan benturan karang, tidak pernah diam, tidak pernah tenang, selalu ingin mengalahkan ! Penuh pertentangan, karena selalu terjebak pada ide 'aku' - milikku vs. Kamu - milikmu. Sedangkan kebenaran yang hakiki adalah bagaikan ke dalaman sebuah lautan : tenang, diam, hening, menyatu ! Mencintai, menyayangi dan menghargai bukan lagi berdasarkan definisi aku, milikku, jalanku vs. Kamu, milikmu, jalanmu, tetapi didasari oleh kesadaran bahwa kita semua berasal dan kembali kepada yang Satu ! Karena memang hanya ada satu jalan, menuju satu tujuan, hawa nafsu kitalah yang menjadikannya terlihat seolah-olah ada beribu-ribu jalan! Saya pribadi sangat setuju dengan saran Pak Deka, bahwa : . . . untuk memahami kebenaran, sebaiknya rajin-rajin menengok ke dada kita sendiri : • Apakah saat kita bicara tentang suatu kebenaran, dada kita bagaikan permukaan sebuah lautan, yang menerjang-nerjang saat mendapatkan sebuah karang, • Ataukah bagaikan ke dalaman sebuah lautan, yang membawa kita pada ketenangan, keheningan, dan kebersahajaan ! Karena seringkali saat kita menyandarkan kebenaran atas kebenaran 'KATANYA', yang terjadi justru adalah sebuah klaim kebenaran yang diselimuti kemarahan dan beragam prasangka subyektif !
  27. 27. 27 13. Tanggapan - Cobaan dari Allah (13/15)16 Tidak ada cobaan, yang ada hanya Ketetapan Allah Yang Maha Besar dan Maha Benar. Dialah yang telah memberikan jalan kebenaran ambilan jalan itu, jangan kita ingkar pasti cahaya kehidupan pasti bersinar ya ketetapan Allah pasti berdasar. Contohnya sholat, jika dijalankan dengan benar akan mampu mencegah yang mungkar. Maka sholatlah sebagaimana Rosulul- lah sholat. Jika kita umat yang benar karena sholat, bukan semata ge- rakan-gerakan yang teratur, tetapi ibadah sholat merupakan dimensi dzikir : • Dzikir sebagai bukti wujud iman kepada Yang Maha Benar, • Sholat ketetapan yang berdampak pada pembentukan karakter. Oleh karenanya : . . . sholat yang khusyu’ melahirkan pendekar yang : •••• mampu menjalankan pengabdian, •••• mencegah bentuk yang mungkar, . . . maka bai'at lewat syahadah setiap kita sholat harus dipegang secara tegar, sehingga dapat melahirkan perubahan yang akbar paling tidak pada setiap pribadi-pribadi yang berjiwa besar, sehingga cobaan yang menimpa menjadi obat penyegar, bukan racun menjadi manusia pelacur. 14. Tanggapan - Cobaan dari Allah : Kebenaran (14/15)17 Saya jadi teringat sebuah hadits (Insya Allah termasuk hadits yang sha- hih) bahwasanya Rosululloh pernah bersabda: "Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku." Jadi, secara eks- plisit/jelas/terang bahwa pedoman atau standar kebenaran atau ketid- 16 http:// groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2224 17 http:// groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2225
  28. 28. 28 aksesatan perbuatan kita adalah Al Quran dan Sunnah dan bukan yang lainnya. Persoalan yang muncul kemudian adalah, di mana seseorang kemudian mengambil sebagian ayat/hadits atau penggalan ayat/hadits untuk dijadikan hujjah kebenaran atas perbuatannya, tanpa mau terlebih da- hulu melihat sisi lain dari pandangan orang yang dianggap bersebe- rangan tadi, karena bisa jadi orang yang dianggap berseberangan tadi juga melakukan hal yang sama dengan dia yaitu hanya mengambil se- bagian ayat/hadits yang lain. Maka, untuk mencegah hal itu terjadi pertama-tama yang musti dila- kukan (menurut saya) adalah bagaimana memaknai/memahami kese- luruhan nafas/jiwa/spirit dari Al Quran dan Al Hadits itu sendiri, sekali lagi 'secara keseluruhan' lho. Insya Allah, kalau kita bisa melakukan itu maka kita akan bisa mela- kukan hal yang pernah dilakukan para imam mahzab seperti imam Ha- nafi, Syafi'i, Maliki dan yang lainnya di mana meski mereka memper- kenalkan/menjalankan mahzab mereka, tetap saja mereka tidak saling mengklaim kebeneran mutlak milik mereka sendiri. 15. Tanggapan - Cobaan dari Allah : Kebenaran (15/15)18 Kebenaran kalau hanya berdasarkan dari asumsi dan opini manusia, maka akan sangat berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Karena setiap diri manusia mempunyai cara pandang yang berbeda beda. Untuk itu sebenarnya sebagai muslim kita harus mengembalikan dan merujuk kebenaran berdasarkan Petunjuk Allah yang telah dibe- rikan kepada manusia melalui wahyu yang diterima oleh Nabi Muham- mad SAW yaitu Al Qur'an. Saya yakin sepenuh hati apabila kita merujuk kepada Al - Qur'an, pasti tidak ada kebenaran yang sifatnya relatif, te- tapi kebenaran yang sifatnya pasti, karena datang dari Allah yang menciptakan kebenaran itu sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah : 18 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2226
  29. 29. 29 "Sudahkah kita merujuk kepadanya ?”, sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam Surat Yunus Ayat 35 : Yunus (10 : 35) ”Katakanlah : ’Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran ?’ Katakanlah : ’Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran’. Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk ? Mengapa kamu (berbuat demikian) ? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan ?” Kebenaran dalam hal apapun sudah PASTI ADA JAWABNYA DI AL- QUR'AN, namun karena keterbatasan kita untuk memahami Ayat - Ayat Allah, maka kadangkala kita BELUM menemukan jawabnya, karena BELUM TAHU sudah tentu kita harus selalu mempelajari petunjuk ter- sebut, sampai benar-benar tahu. Kalau sudah tahu tentang kebenaran tiap sesuatu, terutama yang berkaitan dengan Ketentuan Hukum Allah, maka hati kita akan tenteram. Sebagai contoh kedudukan Nabi-Nabi dapat kita pahami berdasarkan Surat Al Baqarah Ayat 136 dan Surat Ali Imran Ayat 84 : Al Baqarah (2 : 136) ”Katakanlah (hai orang-orang mukmin) : ’Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi- nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya’”. Ali Imran (3 : 84) ”Katakanlah : ’Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan
  30. 30. 30 seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.’" Dari 2 Ayat tersebut Allah tidak membeda-bedakan para Nabi, oleh karena itu sebagai orang yang beriman kepada Allah tentu kita harus mengimani semua Nabi, sebagaimana Firman Allah tersebut di atas. B. Kesimpulan 1. Allah menyatakan apapun yang kita alami dalam artian negatif (coba- an), itu semua adalah sedikit menurut Allah. Jangan sampai itu semua mempengaruhi penghambaan kepada Allah. Kita sehrusnya bergembira, karena cobaan yang diberikan oleh Allah ini hanya sedikit dibandingkan nikmat yang diberikan oleh Allah, dan cobaan ini juga bermanfaat bagi kita untuk menjadikan diri kita lebih giat lagi dalam memberikan seluruh potensi diri mereka sebagai kalifah di muka bumi Allah ini. 2. Allah tidak akan memberikan cobaan kecuali sesuai dengan kesang- gupan kita. 3. Apabila kesadaran ini ada dalam dada manusia maka kebahagiaanlah yang akan diterimanya, sedangkan bila tidak ada kesadaran seperti ini maka kesengsaraan (siksa) yang dirasakannya. 4. Permohonan (do'a) itu seharusnya lahir dari sebuah kesadaran sebe- lumnya, bukan hanya sebuah permintaan tanpa ada kesadaran. Ja- waban itu tidak berupa suara maupun huruf, Jawaban do’a itu masuk ke dalam kesadaran kita berupa perubahan dalam dada kita, yang terka- dang tak mampu kita mengutarakannya. Sekarang mampukah kita membaca jawaban Allah itu ? 5. Dalam memahami ’cobaan’, coba lihat track record sebelumnya : • Kalau kita sudah 'on track' tapi mendapat musibah, itu namanya ujian. • jika hidup kita penuh penyimpangan (tidak proporsional) dan berlu- muran dosa maka jika kita mendapat musibah, itu namanya hu- kuman.
  31. 31. 31 6. Yang dinamakan hukuman, sebenarnya tidak ada. Kesalahan dan kebe- naran pada hakekatnya adalah pilihan kita sendiri. Jadi, yang meng- hukum diri kita adalah kita sendiri, karena hasil perbuatan dan perjalanan kita yang salah. Tidak sesuai dengan tuntunan dan ajaran. 7. Ayat-ayat Allah sebenarnya sudah terhampar di muka bumi, tinggal sejauh mana kita mau mengoptimalkan seluruh potensi yang ada pada diri kita dan tahu juga sarana apa yang kita pakai untuk mengambil pelajaran itu. 8. Untuk merasakan jawaban Allah hanyalah dengan hati (jiwa), dalam bentuk sholat yang dikhusyu’kan oleh Allah. 9. Ujian sebagai bentuk peningkatan kualitas keimanan seseorang atau suatu pembuktian atas pernyataannya tentang IMAN. 10. Cobaan dari Allah harus diterjemahkan sebagai bentuk pendidikan agar setiap kita senantiasa ingat kepada-Nya dalam kondisi apapun. Karena dengan senantiasa ingat (dzikrulloh) setiap saat akan melahirkan priba- di-pribadi yang waspada agar terhindar dari larangan-larangan-Nya. 11. Cobaan/ujian dari Allah SWT harus dihadapi dengan sepenuh hati dalam posisi qona'ah. 12. Cobaan adalah merupakan fasilitas dari Allah agar kita bisa menemukan jalan kembali. Selama kita masih belum bisa menemukan jalan kembali maka kita akan tetap terendam dalam tungku di dada. Dan akibatnya adalah, Allah tidak bisa menyematkan predikat Nafs yang Muthmainah. 13. Beriman saja tidak cukup bagi kita untuk terhindar dari api neraka karena begitu banyak pilihan/cobaan yang ada. Namun, kita diingatkan dan dinasehati agar tidak menuju pilihan/cobaan yang tidak sanggup kita memikulnya karena banyaknya mudharat di jalan itu. 14. Cobaan dari-Nya berupa jalan ketakwaan dan jalan kesesatan membuat kita kabur di mana "shiratal mustaqim itu", oleh karenanya kita memo- honkannya setiap hari tanpa lelah.
  32. 32. 32 15. Suatu ketetapan dapat saja nampak buruk di mata manusia, tetapi sesungguhnya banyak rahasia dan hikmah di dalamnya. Untuk itu, ambil wudlu, sholat, temuilah Dia dalam sedih dan senang, rasakan belaian- nya dan penjelasan tentang semua ini. 16. Untuk memahami kebenaran, sebaiknya rajin-rajin menengok ke dada kita sendiri. 17. Sholat yang khusyu’ akan melahirkan pendekar yang mampu menja- lankan pengabdian mencegah bentuk yang mungkar, sehingga bai'at lewat syahadah setiap kita sholat harus dipegang secara tegar. Hal ini akan dapat melahirkan perubahan yang akbar paling tidak pada setiap pribadi-pribadi yang berjiwa besar, sehingga cobaan yang menimpa menjadi obat penyegar, bukan racun menjadi manusia pelacur. 18. Pedoman atau standar kebenaran atau ketidaksesatan perbuatan kita adalah Al Quran dan Sunnah dan bukan yang lainnya. Kita harus mengembalikan dan merujuk kebenaran berdasarkan Petunjuk Allah yang telah diberikan kepada manusia melalui wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW yaitu Al Qur'an. Untuk itu pertama-tama yang musti dilakukan adalah bagaimana memaknai/memahami keseluruhan nafas/jiwa/spirit dari Al Quran dan Al Hadits itu sendiri.
  33. 33. 33 Artikel 3 : Dalamnya Dalam19 "Maukah kamu menerima Allah sebagai TuhanMu ? Kujawab dengan ta'zim: "Mau..." Berdirilah dengan rileks Katakanlah kepada dirimu : "Aku menerima Allah sebagai Tuhanku..." Kutepuk lembut dadaku dan berkata: "Aku menerima Allah sebagai Tuhanku..." "Aku menerima Allah sebagai Tuhanku..." "Aku menerima Allah sebagai Tuhanku..." Kurasakan ada aliran daya yang sangat dahsyat menerima kesediaanku itu. Kerongkonganku rasa tercekat... Mata terasa cair... Dadaku mulai bergelombang... Kemudian Pak Haji berkata: ”Katakan kepada Allah : ’Ya Allah..., aku menerima Allah sebagai Tuhanku’.” Kukatakan dengan penuh semangat: "Ya Allah..., aku menerima Allah sebagai Tuhanku..." "Ya Allah..., aku menerima Allah sebagai Tuhanku..." "Ya Allah..., aku menerima Allah sebagai Tuhanku..." Suaraku mulai parau... Ada yang ingin meloncat ke luar dari dalam dadaku yang membuatku terpekik. "Ya Allah..., aku menerima Allah sebagai Tuhanku..." "Ya Allah..., aku menerima Allah sebagai Tuhanku..." "Ya Allah..., aku menerima Allah sebagai Tuhanku..." ”Sekarang tundukkan kepalamu kepada Allah, sambil memanggil Allah...” Kutundukkan kepalaku... 19 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/3090
  34. 34. 34 ”Ya Allah...” ”Ya Allah...” ”Ya Allah...” ”Sujudkan pikiranmu ke Allah... sambil memanggil Allah... ” Kusujudkan pikiranku ke Allah... ”Ya Allah... ” ”Ya Allah... ” ”Ya Allah... ” ”Sujudkan dadamu ke Allah... sambil memanggil Allah... ” Kusujudkan dadaku ke Allah... ”Ya Allah... ” ”Ya Allah... ” ”Ya Allah... ” ”Sujudkan jantungmu ke Allah... sambil memanggil Allah.” Kusujudkan jantungku ke Allah... ”Ya Allah... ” ”Ya Allah... ” ”Ya Allah... ” ”Sujudkan hatimu ke Allah... sambil memanggil Allah... ” Kusujudkan hatiku ke Allah... ”Ya Allah... ” ”Ya Allah... ” ”Ya Allah... ” ”Sujudkan darahmu, ginjalmu, ke Allah... sambil memanggil Allah... ” Kusujudkan darahku dan ginjalku ke Allah... ”Ya Allah... ” ”Ya Allah... ” ”Ya Allah... ” ”Sujudkan seluruh tubuhmu ke Allah... sambil memanggil Allah... ” Kusujudkan seluruh tubuhku ke Allah...
  35. 35. 35 ”Ya Allah...” ”Ya Allah...” ”Ya Allah...” Semua ku serahkan kepada Allah. ”Ya Allah.” Semua kusujudkan ke Allah ”Ya Allah.” Kurasakan saat itu bahwa ternyata aku tidak bisa membuat diriku.. ”Ya Allah.” Semuanya adalah dari Allah, milik Allah, dan kembali ke Allah ”Ya Allah.” Sekarang aku seperti seorang yang kalah perang. Aku tersungkur, tersujud, takluk, dan menyerah. Tiba-tiba aku merasakan rasa sujud yang sedang sujud kepada Allah. ”Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah.” Ada tali hubungan dengan Allah. Aku dipahamkan tentang arti sujud yang sebenarnya. Aku dipahamkan tentang arti menerima Allah yang sebenarnya. Aku dipahamkan tentang arti ikhlas yang sebenarnya. Tiba-tiba semua proses seperti terhenti. Ada rasa selesai dalam proses itu. Akupun duduk. Buat sesaat aku dipahamkan bahwa beginilah cara Allah: • Mengambil rasa keakuanku. • Menghilangkan rasa aku paling pintar, aku paling hebat, aku paling kaya, aku paling. Rasa-rasa yang selama ini telah menjadi hijabku dengan Allah.
  36. 36. 36 Lalu akupun bergegas memperbaharui syahadatku: ”Asyhadu an la ilaha illallah, wa asyhaduanna muhammadan rasulullah Dengan sukacita yang pekat akupun bersiap untuk langkah berikutnya.
  37. 37. 37 Artikel 4 : Di Atas Segalanya . . . 20 Laa ilaaha illallaah . . , tiada Tuhan selain Allah . . . Tapi ternyata . . . Laa ilaaha illallaah bukan hanya sekedar bacaan. Laa ilaaha illallaah bukan hanya sekedar komat kamit. Laa ilaaha illallaah bukan hanya sekedar mengulang kata. Laa ilaaha illallaah bukan hanya sekedar 33-an, 100-an, 1000-an ucapan. Ternyata . . . Laa ilaaha illallaah adalah positioning aku terhadap segala sesuatu. Positioning Aku terhadap mataku . . . Aku terhadap penglihatanku. Aku terhadap warna dan warni. Aku terhadap bentuk dan rupa. Aku terhadap telingaku . . . Aku terhadap pendengaranku. Aku terhadap suara-suara. Aku terhadap nada dan irama. Aku terhadap hatiku . . . Aku terhadap suka dan cita. Aku terhadap sedih dan duka. Aku terhapap marah, iri, dan dengki. Aku terhadap otakku . . . Aku terhadap file pikiranku. Aku terhadap kata dan kalimat. Aku terhadap katanya-katanya. 20 http://yusdeka.wordpress.com/2009/09/06/diatas-segalanya/
  38. 38. 38 Aku terhadap waktu . . . Aku terhadap bayangan masa lalu. Aku terhadap mimpi masa depan. Aku terhadap lamunan syurga dan neraka. Aku terhadap milikku . . . Aku terhadap hartaku. Aku terhadap keluargaku. Aku terhadap jabatanku. Laa . . , bukan semua itu. Laa ilaha . . , bukan semua itu yang kupentingkan. Laa ilaha . . , bukan kepada semua itu aku binding. Laa ilaha . . , bukan semua itu yang bisa meng-cover-ku. DERR . . . Akupun terhenyak . . . Aku ternyata duduk di atas semua itu. Aku terpisah dari semua itu. DERR . . . Lalu akupun terpana . . . Karena ada Sang ADA. DERR . . . Akupun tercekam.. Karena ada Wujud Sang ADA. Lalu . . . Kukabarkan kepada semua sahabatku bahwa ada Sang ADA Kuajak semua sahabatku untuk singgah mendekati Sang ADA Illa Allah . . , di atas semua itu ada Sang ADA. Illa Allah . . , di atas semua itu hanya ada Allah. Wahai sahabatku . . , di sini ada Allah. Singgahlah wahai sahabatku . . , di sini ada Allah. Singgahlah sejenak untuk menghadap Allah, Sang ADA.
  39. 39. 39 Singgahlah untuk memanggil Allah, Sang ADA. Singgahlah untuk terharu. Singgahlah untuk terhenyak. Singgahlah untuk terpana. Singgahlah untuk tercekam. Singgahlah untuk menjerit. Singgahlah untuk tercemplung . . . Singgahlah . . . Allah . . , Allah . . , Allah . . , Allaaaaaaaah . . . Ya Allah . . , Ya Allah . . , Ya Allaaaaaah . . . Laa ilaha illallah . . . Dan dari posisi inilah islam itu sebenarnya dimulai..
  40. 40. 40 Artikel 5 : Dia Yang Bersembunyi...21 Dulu aku YANG INGIN shalat, makanya aku shalatnya ingin buru-buru. Karena sa’at shalat itu ada segudang INGATAN lain yang sedang liar menuntunku. Sekarang aku MENUNGGU DIPERSILAHKAN shalat oleh Allahku, ..., lalu LAA SYARIKALAHU..., Allahku pun mencopot INGATANKU kepada yang lain selain-Nya. Makanya aku sekarang bisa shalat lama sekali dalam tuma’ninah (diam). Hayya ‘alashshalah..., SILAHKAN shalat wahai hamba-Ku, dan Allahku pun lalu MENUNTUNKU dalam shalat itu. Warka’uu.., wasjuduu.., SILAHKAN rukuk dan sujud wahai hamba-Ku, dan Allahku pun menundukkan tubuhku. Wa’buduu.., SILAHKAN menyembah-Ku wahai hamba-Ku, dan Allahku pun menyungkurkanku. Waqtarib.., SILAHKAN mendekat... wahai Hamba-Ku, dan Allahku pun merengkuhku. Hayya ‘alal falah.., SILAHKAN berbahagia wahai hamba-Ku, lalu Allahku pun membuatku menggigil dalam rembesan kesukacitaan. Tapi... Saat aku ALFA untuk BERAMAL SHALEH pagi hari ini, maka shalatkupun langsung hambar. Seakan Allahku menolakku, “Kau bawa amal shaleh apa hari ini untuk berani datang menghadap kepada-Ku ?” Lalu akupun bergegas keluar rumah untuk bisa menjadikan tanganku bermanfaat bagi orang lain. Ternyata... “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh (menjadi PRODUKTIF) dan janganlah ia 21 http://yusdeka.wordpress.com/2010/10/12/dia-yang-bersembunyi/
  41. 41. 41 mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Al Kahfi 110) Shalat, puasa, Zakat, Haji adalah alat terbaik untuk melatih kita agar TIDAK menyekutukan ALLAH. Amal Shaleh adalah berbagai CARA dan AKTIFITAS untuk menjadikan DIRI KITA BERMANFAAT bagi orang lain. Tangan kita, lidah kita, menjadi produktif untuk orang lain. Jadi untuk bisa berjumpa Allah. Jangan Syirik, dan jadilah bermanfaat bagi orang lain. Kalau tidak berbekal DUA-DUANYA, maka kita tidak akan pernah jumpa dengan Allah DI DUNIA INI. Shalat (Ibadah) hanya membawa kita ke GARIS START. Sedang Amal Shaleh adalah perlombaan demi perlombaan kebajikan untuk menjadikan keberadaan kita bermanfaat bagi orang lain. Dan itu tidak terbatas. Duhai... Ya Allah..., ternyata Engkau bersembunyi dalam Al-Quran-Mu... Ya Allah..., andaikan dalam memakrifatkan diriku kepada-Mu kali ini terdapat kekurangan dan kesalahan, maafkanlah aku ya Allah...
  42. 42. 42 Artikel 6 : Drama Manusia22 Allah menggelar drama kehidupan di muka bumi. Sejak diciptakan sampai datangnya kematian. Semua makhluk yang hidup di bumi berasal dari tanah. Dan akan kembali ke tanah. Berasal dari tiada kembali tiada. Berasal dari Allah kembali ke Allah. Manusia hanyalah sepercik cahaya tanda keberadaan Sang Pencipta. Yang menyala sekejap, Dalam kegelapan abadi alam semesta Ia menjadi "ADA" ketika RUH ILAHIYAH bersemayam dalam dirinya, Memancarkan cahaya kemuliaan, Kemudian menjadi "TIADA" lagi, Ketika RUH ILAHIYAH meninggalkan dirinya, Menjadi seonggok daging... Saripati tanah tiada guna....! Kita menjadi ada karena RUHNYA. Kita menjadi tiada juga karena RUHNYA. Malaikat bersujud kepada Adam karena RUHNYA. Adam menjadi mulia karena RUHNYA Allah menerima tobat Adam juga karena RUHNYA, Allah memuliakan keturunan Adam karena RUHNYA. Dan menyediakan segala kebutuhan mereka karena RUHNYA. Allah membimbing kita ke sorga karena RUHNYA, Melindungi kita dari jalan sesatpun karena RUHNYA, Allah mengajari kita dekat denganNya karena RUHNYA Menyayangi kita agar tidak menderita juga karena RUHNYA Allah menerangi hidup kita dengan cahaya karena RUHNYA, 22 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/3045
  43. 43. 43 Dan mengeluarkan dari kegelapan juga karena RUHNYA, Ya, Allah menciptakan segala Yang ada di bumi untuk kita Karena kita adalah sebagian dari RUHNYA Maka, kemana lagi kita akan berpaling ??? Kecuali kepada DIA Zat Yang Maha Kuasa Yang telah menciptakan kita Dari KeberadaanNya Sendiri.... "Kemudian Dia menyempurnakan Penciptaannya dan meniupkan kepadanya RUHNYA dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tapi sedikit sekali kamu yang bersyukur."23 23 As-Sajadah (32 : 9).
  44. 44. 44 Artikel 7 : Dari Diam dan Hening24 A. Pembahasan 1. Objek Vakog Ketika disuruh DIAM, saya hanya ikut. Saya tidak mengajukan tanya kenapa. Berbilang hari berlalu. Lalu semua simpul hubungan-hubungan pemikiran-pun menjadi nyata. Diam dan hening, adalah sebuah keadaan di mana pergerakan RUHANI kita sudah tidak dihambat dan dihentikan lagi oleh berbagai file pikiran, sebut saja objek pikir atau objek saja, yang tersimpan di dalam memori kita yang telah kita kumpulkan selama hidup kita. Berbagai objek itu dalam ilmu NLP sering disebut dengan istilah keren sebagai objek VAKOG (Visual, Auditory, Kinestetik, Olfactory, Gusta- tory), atau dalam bahasa kampung kita disebut sebagai objek yang bisa dikenali dengan mudah oleh panca indera kita. Sebenarnya objek yang tertangkap oleh panca indera kita itu netral saja sifatnya. Apakah objek itu hanya bisa dikenali dengan memakai salah satu alat indera kita saja, atau ia bisa pula dikenali dengan memakai alat indera kita yang lain, itu tidak jadi masalah. Tetap saja informasi yang masuk ke dalam setiap indera kita itu hanya akan berubah menjadi kode sinyal listrik arus sangat lemah dibagian-bagian tertentu di dalam otak kita. Jadi semua objek yang tertangkap oleh alat indera kita sebe- narnya hanya tipuan dan sesuatu yang tidak nyata di dalam otak kita. 24 http://yusdeka.wordpress.com/2012/11/20/dari-diam-dan-hening-1/ sampai http://yusdeka.wordpress.com/2012/11/29/dari-diam-dan-hening-11/
  45. 45. 45 Makanya : . . . apapun objek pikir kita di dunia ini yang berhubungan dengan fungsi otak dan panca indera kita, disebut juga sebagai permainan. Ya. . . , Allah di dalam Al Qur’an menegaskan bahwa . . . Dunia ini hanyalah alam permainan dan senda gurau belaka. Permainan fungsi dari berbagai tetes enzim dan unsur kimiawi yang terjadi di dalam otak kita. Hanya saja objek-objek permainan itu kemudian kita beri nama-nama untuk memudahkan kita dalam mengkomunikasikannya dengan orang lain. Nama-nama itulah nantinya yang akan menjadi landasan berpikir kita dalam berasosiasi terhadap sebuah objek di hadapan orang lain. Misalnya saat kita saling berkata-kata tentang jeruk nipis, maka sebenarnya di dalam otak kita tidak ada itu yang namanya gambar jeruk nipis. Yang ada adalah sekumpulan kode kode listrik sangat lemah, dari barbagai bagian otak kita, bersatu membentuk sebuah asosiasi yang lengkap tentang jeruk nipis. Mulai dari bentuknya, warnanya, rasanya, baunya, dan sebagainya. Akhirnya ketika kita menyebut kata jeruk nipis, ada atau tidak ada objeknya, tetap saja air liur kita akan ke luar, dan wajah kita akan merengut seperti orang yang sedang merasakan asamnya jeruk nipis. Khan seperti main-main saja itu. 2. Pergerakan Ruhani Nah. . . , selama ini kebanyakan kita, . . . sejak dari bangun tidur sampai dengan tidur kembali, bahkan ketika tidurpun, pergerakan ruhani kita selalu terhambat atau dihalangi oleh berbagai objek permainan dan senda gurau yang sudah tersimpan di dalam memori kita. Semakin kita memberikan perhatian lebih kepada sebuah objek ter- tentu, maka gerak ruhani kita juga akan semakin ditahan dan dihambat
  46. 46. 46 oleh objek itu. Padahal ruhani kita sifatnya sangatlah ekpansif. Secara ruhani kita selalu ingin bergerak dan meluas secara tak terbatas. Karena gerak ruhani kita itu tertahan, maka pastilah rasanya sangat sempit, sakit, dan tidak nyaman, hatta ketika tidur sekalipun, sehingga tidak jarang setelah kita tersiksa terus menerus dikala sadar, kita juga sering mendapatkan mimpi buruk dan menakutkan di dalam tidur kita. Dan itu menyiksa sekali. 3. Pikiran dan Proses Berpikir Sedikit tentang pikiran dan proses berpikir. Sebenarnya di sini hanya ada dua entiti saja yang saling berinteraksi, yaitu : • Saya (kita) sebagai subjek, dan • Sesuatu yang lain sebagai objek. Kita dan objek itu saling terhubung oleh sebuah “perhatian” yang se- dang kita berikan. Sebuah pikiran adalah sebentuk objek yang sedang menjadi pusat perhatian kita. Objek itu biasanya sesuatu yang dengan mudah bisa kita kenali melalui VAKOG atau alat indera kita, yang kesemuanya bisa kita sebut sebagai objek pikir saja. Jadi yang disebut sebagai pikiran itu adalah objek pikir yang sedang kita ambil perhatikan lebih terhadapnya. Di sini : • Ada kita yang terlibat, • Ada objek pikir sebagai pusat perhatian kita, dan • Ada pula perhatian lebih yang kita berikan terhadap objek pikir itu dibandingkan dengan objek pikir lainnya. Ketika kita sedang memberikan perhatian lebih kepada sebuah objek pikir, maka kita disebut sebagai orang yang sedang berpikir. Sebaliknya, kalau kita sedang tidak memberikan perhatian apa-apa kepada sebuah objek, maka kita juga dikatakan sedang tidak berpikir. Itu saja kok. Sederhana ‘khan?
  47. 47. 47 Namun dalam kesederhanaan inilah seluruh problematika kita umat manusia ini berawal. Bahwa : . . . hampir-hampir saja kita semua tidak bisa lagi menerobos hambatan dan halangan dari berbagai macam objek pikir yang sedang menahan pergerakan ruhani kita menuju ketidakterbatasan. Tanda-tandanya adalah : . . . kita seperti telah berubah menjadi objek pikir kita sendiri. Kita menyangka dan merasa bahwa diri kita adalah objek pikir kita sendiri. Kita terhalang dan tersiksa, hampir di setiap saat dalam hidup kita. Bah- kan di dalam beribadah sekalipun halangan dan siksaan itu terjadi, se- hingga : . . . ibadah kitapun nyaris seperti tidak berasa dan hanya berdampak minimum kalau tidak mau dikatakan tidak bermanfaat sama sekali. 4. Peran Nabi-Nabi, Rasul-Rasul, serta Wali-Wali Allah Dan dari kesederhanaan ini pulalah peran penting Nabi-nabi, Rasul- Rasul, serta wali-wali Allah yang diutus oleh Allah bermula. Yaitu : . . . untuk memberikan contoh kepada kita, seluruh umat manusia ini, agar kita bisa pula dengan mudah dan sederhana menerobos segala hambatan dan halangan dari berbagai objek pikir yang silih berganti datang dan pergi menyergap kita. Cara yang dicontohkan Beliau itupun pastilah sangat sederhana pula. Sebab tidak mungkinlah suatu permasalahan yang sebenarnya sangat sederhana saja, harus diselesaikan dengan sebuah solusi dan metoda- metoda yang rumit. Tidaklah, sehingga : . . . diharapkan pada akhirnya kita bisa kembali dengan mudah menjadi :
  48. 48. 48 • diri yang merdeka, • diri yang bebas tak terbatas, • diri yang seluas alam semesta, diri yang dalam Bahasa Arab disebut sebagai diri yang Muthmainnah. Diri yang sedang dipanggil oleh Allah untuk menghadap kepada- Nya secara sukarela dan diredhai. 5. Tadzkiyatunnafs (Penyucian Diri) Untuk bisa menjadi diri yang Muthmainnah ini, tidak ada cara lain kecuali hanya dengan cara Tadzkiyatunnafs (Penyucian Diri) . . . . . . seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah, sahabat Beliau, dan wali- wali Allah di setiap zaman sebagai pelanjut tradisi penyucian diri dari Beliau. Dan itu pastilah mudah, praktis, menyeluruh, sederhana, dan tentu saja dengan hasil yang maksimal. Kalau tidak, pastilah ada kerancuan di dalamnya. Dia pasti : • telah tercampur aduk dengan berbagai tradisi penyucian diri ala berbagai olah VAKOG, atau bisa pula • ala tradisi olah Penyiksaan Diri lainnya, yang tentu saja caranya sulit, partial, dan hasilnya juga tidak maksimal. Cuma ada sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik : • Siapakah yang berpikir? • Siapakah kita? Silahkan dijawab sendiri . . . 6. Istilah-Istilah dan Praktek-Praktek Tadzkiyatunnafs (Penyucian Diri) Yang Boleh Jadi Rancu Selama ini kita dibuat rancu tentang : • istilah mengosongkan pikiran,
  49. 49. 49 • istilah menjadi bayi, dan • istilah menutup howo songo. Belum lagi kalau ditambah dengan istilah-istilah yang berasal dari dunia NLP, Hipnotherapy, Psikologi. Dunia tasawuf atau suffiyah dengan berbagai tarekatnya cukup pula menjadi sebuah konsep yang misterius yang berada di atas sebuah menara gading spiritualitas yang sepertinya tidak akan bisa didapatkan oleh sembarangan orang, kecuali dengan bantuan seseorang yang katanya haruslah bermaqam Waliyyam Mursyida yang Kamil Mukammil. Misalnya, ketika kita baru mengenal sebuah metoda meditasi, di mana dalam salah satu metodanya kita diajarkan untuk mengosongkan pikiran, menutup howo songo, maka kitapun diharuskan untuk menjauhi suatu objek pikir, agar objek pikir itu tidak membelenggu dan menawan kita. Katanya ini adalah proses Zero Mind. Proses mengosongkan pikiran. a. Mengosongkan Pikiran Karena namanya mengosongkan pikiran, makanya tidak heran kalau ada pemrakteknya yang kemudian tidak mau menikah sampai tuanya, karena dia menganggap bahwa istri atau suaminya itu kelak akan membelenggu dirinya. Dia menghindar dari pernikahan, sehingga akibatnya di dalam memori pikirannya tidak ada file tentang seluk beluk pernikahan dengan segala permasalahannya. Ya, otaknya kosong. Ada pula yang menghindar dari kekayaan dan punya harta benda, menghindar dari keramaian untuk selamanya. Mereka biasanya ingin hidup di tempat yang sunyi dan menyepi ke puncak gunung, seperti yang dilakukan oleh pemraktek posisi kependetaan, atau pemangku posisi orang suci ala kepercayaan tertentu. b. Menjadi Bayi Adapula istilah lain, yaitu bersih dan suci seperti halnya keadaan seorang bayi. Akan tetapi kita dihadapkan pada perbedaan keadaan
  50. 50. 50 yang sangat ekstrim antara kita dengan seorang bayi. Di mana otak seorang bayi masih benar-benar bersih dari beragam objek fikir VAKOG, sementara otak kita sudah terbentuk selama puluhan tahun dengan berbagai objek fikir VAKOG. Bagaimana caranya agar kita bisa membersihkan memori kita dari semua objek VAKOG itu? Ini tentu sulit sekali kalau kita hanya mengandalkan olah VAKOG saja. Akan tetapi, sebenarnya ada yang bisa kita contoh dari seorang bayi, yaitu kebeningan dan kebersihan rohaninya. Kalau keadaan rohani seperti ini bisa kita contoh, maka tentu saja keadaannya akan menjadi lain. Namun yang membuat kita risau selama ini adalah bahwa kita tidak tahu bagaimana caranya untuk meraih posisi kebeningan rohani seorang bayi itu !? Khan ini yang menjadi masalah kita selama ini. Kita rindu untuk bisa kembali merasakan dan mereguk indahnya kehidupan seorang bayi. Seorang yang tidak punya rasa takut, khawatir, dan sedih sedikitpun, sehingga kehidupan seorang bayi adalah kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan, kedamaian, kesejahteraan. Hidup yang aman dan sentosa. Hidup dengan semua fasilitas makanan, minuman, pakaian, dan rumah yang terbaik dan terindah dari orang tuanya. Hidup di mana semua orang ingin mencubitnya dengan gemas. Senyum dan pandangan matanya menggetarkan rohani semua orang, sehingga semua orang yang melihatnyapun dialiri oleh rasa senang yang melimpah ruah. Tangisnya menyentuh rohani semua orang, sehingga siapapun yang mendengar tangisnya itu akan tergopoh-gopoh ingin mengusir apa-apa yang membuatnya menangis. Kata-kata dan kalimat-kalimat pertama yang diucapkannya sangat ditunggu-tunggu. Walaupun kata dan kalimatnya itu masih terbata-bata. Saat dia berkata “Mamah, ibu, umi,” mata ibunya akan segera saja berlinang dengan air mata sambil memeluk dan menciumnya dengan lembut. Ketika dia panggil “Papah, abi, bapak,” bapaknya akan bergetar penuh haru dan bangga. Ketika dia panggil, “Nenek, kakek,” sang kakek dan neneknya akan terkekeh penuh rasa bahagia.
  51. 51. 51 Walau sang bayi tidak berpikir apapun, tetapi kecerdasannya bisa terlihat dengan jelas. Semangatnya tidak pernah kendor untuk merangkak, berlari, melihat, membaca, memegang, memukul, menghancurkan, membentuk, menyusun, dan menemukan hal-hal yang baru dalam hidupnya. Semua aktifitas itu dilakukannya dalam kondisi sadar penuh. Kondisi yang sangat berbeda dengan kondisi seseorang yang sedang dalam stage hipnotis. Di mana saat seseorang berada dalam stage hipnotis itu, dia hanya akan merespon dan patuh kepada apapun yang dikatakan oleh orang yang menghipnotisnya. Kalau berbicara tentang hipnotis ini, saya jadi ingat dengan Cecar Millan, seorang Dog Whisperer yang terkenal dengan kata “SSSST” nya, yang sering muncul di Nat Geo Wild Channel. Kombinasi antara kata “SSSST” dan pemberian reward, serta punishment terhadap seekor anjing dan juga beberapa arahan kepada pemiliknya, dia bisa mengubah karakter, sifat, dan perilaku seekor anjing yang pada awal sangat kasar, galak, pemarah, dan suka berkelahi, menjadi seekor anjing yang manis, patuh, menyenangkan, jinak, dan mudah bersosialisasi dengan anjing-anjing lainnya. Ternyata anjingpun bisa dihipnosa untuk bisa berubah. Jadi melalui sebuah pertanyaan nakal berikut, siapa yang bisa menjawabnya? “Kalau hanya mengandalkan hipnotis untuk mengubah karakter seseorang, lalu apa bedanya kita dengan binatang ternak ?” Nah, kitapun ternyata ingin pula untuk tidak berpikir seperti bayi itu. Sementara itu, otak kita sudah penuh dengan berbagai pola pikiran yang masuk melalui alat indera kita selama bertahun-tahun. Inilah yang sulit. Sulit yang membawa kerisauan, sehingga pada puncak kerisauan kita, dengan mudah kita akan mencoba melakukan proses penyiksaan diri yang memang pernah dilakukan orang di berbagai zaman.
  52. 52. 52 c. Mati Sebelum Mati Adakalanya kita seperti ingin memraktekkan cara mati sebelum mati. Tapi dengan cara seperti kita ingin benar-benar mati. Misal- nya, kita bisa saja melakukan aktivitas-aktivitas yang sebenarnya akan merusak syaraf-syaraf otak yang sudah terbentuk itu dengan cara menahan nafas untuk mengurangi suplai oksigen ke dalam otak kita. Atau kita bisa melakukan metoda penyiksaan diri lainnya seperti bertapa di tempat sunyi, bermeditasi di bawah air terjun, dan dengan pemakaian obat-obatan penyebab halusinasi lainnya seperti yang banyak dilakukan orang-orang di pedalaman rimba Amazon Brazil. Tujuannya satu, yaitu agar kita bisa untuk beberapa saat melepaskan diri kita dari penjara pikiran yang membelenggu kita selama ini. 1) Penahanan Nafas Salah satu cara mengurangi suplai oksigen ke dalam otak kita adalah dengan jalan penahanan nafas kita selama waktu tertentu. Semakin lama kita bisa menahan nafas, biasanya kita akan lebih cepat “kehilangan” kesadaran kita. Sampai pada sua- tu saat keadaan kita menjadi seperti orang yang sedang tercekik. Kita gelagapan. Kalaulah kita bisa tenang dan tidak panik saat itu, kita ke luarkan nafas kita dengan perlahan, maka akan te- rasa seperti ada letupan kecil, “TASSS”, di dalam otak kita. Saat itu kita seakan-akan memasuki alam yang semakin lama semakin luas, dan juga hening. Orang yang sudah pernah mengalami keadaan ini biasanya akan melakukannya kembali berulang-ulang dan berlama-lama. Untuk bisa melakukannya kembali dengan mudah, kita butuh semacam jangkar berupa : • ucapan, atau • bentuk perpaduan tertentu jari-jari kedua tangan kita seperti dalam ilmu ninja, atau • sikap tubuh tertentu, atau bisa pula
  53. 53. 53 • gambar tertentu. Mungkin suasana yang didapatkan dengan cara seperti ini yang disebut orang sebagai memasuki keadaan Somnambulisme, entahlah. 2) Proses Suluk Di dalam tarekat-tarekat tasawuf tertentu, ilmu dan praktek menghentikan pikiran ini juga sangat beragam sekali. Salah satunya adalah proses suluk, di mana seorang salik harus ber- diam diri di dalam sebuah ruangan yang gelap karena pintu ruangannya tidak pernah dibuka. Setiap salik harus berdiam diri di dalam kelambu yang diberi kasur tipis untuk beberapa lama, biasanya sebulan penuh selama bulan Ramadhan. Salik hanya diwajibkan berdzikir sepanjang hari, sepanjang ma- lam, di dalam kelambu itu. Bahkan makan dan minumpun harus di dalam kelambu. Salik boleh ke luar kelambu hanya di saat shalat berjamaah dan di saat mandi. Selebihnya salik diwajibkan melakukan dzikir yang jumlahnya puluhan ribu kali. Selama dzikir salik diwajibkan mengarahkan kesadarannya kepada satu objek pikir tertentu saja berupa lathaif (cakra dalam praktek meditasi Hindu dan Budha) yang jumlahnya sangat beragam, ada yang tujuh, ada yang lima, ada yang tiga. Umumnya tujuh, sehingga disebut sebagai Lathaif Tujuh. Ketika berdzikir itu, di samping si salik mengucapkan kalimat-kalimat tertentu, seperti : laa ilaha illallah, Allah-Allah dan sebagainya, bisa juga ditambah dengan si salik berusaha menghujamkan gambar huruf Allah dalam Bahasa Arab ke dalam lathaif utama, yaitu lathaif qalb yang berada di bawah susu kiri. Kombinasi antara : • makan yang kurang gizi (karena biasanya hanya nasi putih, sayur nangka, dan ikan teri), • ditambah dengan ruangan yang gelap,
  54. 54. 54 • pikiran terpusat pada lathaif-lathaif, • ucapan monoton laa ilaha illallah, • Allah-Allah, • tulisan Allah dalam Bahasa Arab, • kecapean, • kelelahan, • ngantuk, • emosi ingin melepaskan diri dari jebakan tubuh dan pikiran, maka pada suatu ketika pastilah muncul juga keadaan seperti Somnambulisme di atas. Tapi bedanya, di dalam tarekat ini hampir . . . . . . selalu diawali dengan tangisan histeris yang sangat hebat, gerakan meronta yang liar, dan ucapan-ucapan yang tidak terkontrol. Keadaan seperti ini bisa saja sebentar dan bisa pula berhari-hari lamanya. Kalau sampai di sini dihentikan dzikirnya, dan si salik ke luar dari tempat suluknya kembali ke tengah masyarakat, biasanya si salik akan berperilaku aneh. Misalnya tertawa sendiri, lalu menangis, lalu tertawa lagi dan bahkan mungkin berbicara sendiri berkepanjangan. Mirip orang sakit jiwa. Atau bisa juga si salik seperti bisa berhubungan dengan berbagai makluk halus, yang sebenarnya hanyalah fenomena getaran biasa saja. Tapi walau-pun getaran biasa, namun tetap ada saja interferensinya dengan dunia jin, karena jin sendiri adalah sebentuk getaran pula. Nah, untuk inilah sebenarnya fungsi guru mursyid (kalau me- mang harus ada) di tarekat tertentu dibutuhkan, yaitu untuk menjaga agar si salik mau meneruskan proses suluknya sampai selesai. Sebab sesudah tangisan histeris, bergetar, dan meronta
  55. 55. 55 liar itu, biasanya pikiran si salik sudah tidak bekerja lagi selain hanya berkonsentrasi kepada lathaif-lathaifnya, kepada huruf Allah, dan ucapan dzikirnya. Akibatnya . . . Pada suatu saat, sepersekian detik pikiran itu benar-benar seperti berhenti dan terlepas dari diri si salik. • Dia seperti ke luar dari dirinya. • Dia seperti terlepas dari jeratan hatinya. • Dia seperti meluncur ke dalam alam-alam yang di sana semua serba mungkin. Katanya proses seperti ini adalah sebuah perjalanan astral. Fenomena Out of Body Experience (OBE). Saat itu : • Ada yang sampai merasakan sedang meniti titian rambut dibelah tujuh, • Ada yang seperti sedang berbaris di Padang Mahsyar, dan sebagainya. Pokoknya apa-apa yang ada di dalam memori si salik ke luar semuanya saat itu. Bukankah semua yang dialaminya itu : . . . sebenarnya hanyalah gerombolan memori VACOG . . . . . . si salik yang selama ini tersembunyi, bermunculan ke luar dari tempat persembunyiannya. Dan memang begitu kok. Pada tahapan yang lebih lanjut, biasanya si salik bertemu ber- macam-macam fenomena, termasuk fenomena seperti mema- suki alam yang tenang, damai, luas tak terbatas. Biasanya pada kondisi seperti ini si salik disebut sedang “KARAM, EKSTASI”, dan dia dianggap terbebas dari syariat. Makanya kalau si salik KA- RAM saat shalatnya, dan biasanya dia terjatuh, shalat-nya diang- gap shalat yang hakiki. Dia tidak diwajibkan untuk menyem- purnakan shalatnya saat dia selesai dari karamnya. Biasanya karam seperti ini berlangsung selama 30 menit sampai satu jam.
  56. 56. 56 Nah, dalam dunia tarekat umumnya . . . Suasana KARAM atau EKSTASI inilah yang lebih disukai dari pada melaksanakan shalat atau syariat-syariat lainnya. Suasana yang mirip KARAM ini juga bisa didapatkan si salik de- ngan cara melakukan gerak berputar seperti gasing secara kon- stan dalam jangka waktu tertentu yang diiringi dengan suara- suara dzikir atau musik monoton yang tertentu pula. Efeknya hampir sama dengan hasil berbagai metoda di atas. 3) Pembangkitkan Emosi Sedih dan Marah Adapula di dalam praktek sebuah aliran mainstream Islam, sua- sana yang tenang dan damai itu didapatkan oleh pemrakteknya setelah terlebih dahulu kumpulan jamaahnya melakukan sebuah proses : . . . membangkitkan emosi sedih dan marah para jamaah yang hadir. Jadi masih dalam tatanan olah VAKOG juga. Emosi sedih dan amarah jamaah itu dibangkitkan dengan cara mengingat-ingat penderitaan cucu Nabi, terutama Husein Radhiallahuanhu, kemudian diikuti dengan proses mengingat-ingat kemuliaan Imam Ali RA dibandingkan dengan Sahabat Nabi yang lain seperti : Abu Bakar RA, Umar Ibnul Khattab RA, dan Usman Bin Affan RA, bahkan juga dibandingkan dengan Aisyah RA (istri Nabi Muhammad SAW). Bahkan pada taraf tertentu mereka sampai pada taraf : . . . melaknat para Sahabat dan Istri Nabi itu. Adakalanya jamaah melakukan proses menyakiti diri sendiri seperti memukul-mukul kepala dan dada dengan tangan, sambil mengucapkan kata-kata berirama monoton yang frekuensinya makin lama makin tinggi. Bahkan di negara Islam Iran, proses
  57. 57. 57 menyakiti diri itu dilakukan dengan cara jamaahnya memukul- mukulkan : • besi, • rantai, atau bahkan • pedang ke tubuh dan kepala mereka, sampai tubuh mereka bercucuran darah. Itu bisa pula ditambah dengan adanya sekelompok jama- ah yang membawa duplikat seperti potongan kepala manusia yang sedang berdarah-darah. Katanya itu adalah duplikat dari kepala Imam Husein RA yang dijadikan bola dan ditendang oleh lawan-lawan politik Imam Husein saat terjadinya peristiwa Karbala yang berdarah-darah. Pada puncak emosi sedih dan marah itu, banyak jamaahnya yang menangis, terharu, dan merasa satu di dalam penderitaan Imam Husein RA. Setelah semua emosi itu ke luar dan tersa- lurkan, maka . . . Jamaah pun akan merasakan rasa tenang, damai dan bahagia, sehingga untuk masa-masa berikutnya, Jamaah yang ingin mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan melalui proses pelepasan emosi, akan berulangkali datang ke tempat yang menyelenggarakan acara-acara seperti itu. 4) Pembangkitkan Emosi Sampai Menangis Pada tingkat yang lebih ringan, biasanya pengajian-pengajian yang di dalamnya sang ustadz bisa membangkitkan emosi jama- ahnya sampai mereka bisa menangis, akan banyak dikunjungi oleh jamaahnya, walau mereka mungkin berasal dari tempat yang jauh. Apalagi kalau ustadznya, seperti sim salabim, bisa
  58. 58. 58 menyembuhkan berbagai penyakit jamaahnya dengan hanya berbekal sedikit olah VAKOG dan do’a-do’a. d. Falun Gong dan Reiki Falun Gong dan Reiki, dengan gerakan-gerakan, simbol-simbol, dan cara-cara olah nafasnya yang tertentu, juga bisa disejajarkan dengan semua metoda yang sudah diterangkan di atas. Bedanya nanti hanyalah dalam hal olah objek pikir dan olah aktifitas fisiknya saja. Tapi semuanya berada dalam sebuah tatanan yang sama yaitu pada tatanan olah VAKOG, yang pada zaman modern sekarang mengeru- cut pada ilmu-ilmu dan praktek-praktek yang dikembang oleh peng- olah VAKOG dari dunia barat yang menumbuhsuburkan HYPNO- TISME, NLP, dan OLAH VIBRASI atau ENERGI GETARAN QUANTUM yang memang sedang sangat disenangi oleh banyak orang di Indo- nesia saat ini, bahkan beberapa ustadz pun ada yang sangat meng- gandrunginya. Sungguh luar biasa sekali kalau kita bisa memanfaatkan dan mema- nipulasi VAKOG atau alat indera kita sesuai dengan sifatnya masing- masing. 7. Lalu Apa Salahnya Dengan Hal-Hal Yang Seperti di Atas Itu? Lha. . . , ya. . . , nggak ada yang salah kok! Malah yang didapatkan dalam olah VAKOG itu sudah sangat sesuai dengan hukum-hukum yang dibuat oleh Allah untuk tatanan VAKOG manusia, yang ujung-ujungnya bermuara pada otak kita. Semakin tekun kita berlatih olah VAKOG itu, maka hasilnyapun akan semakin bagus pula yang kita dapatkan. Bahkan para pengolah VAKOG itu terlihat jauh lebih baik dari yang tidak mengolahnya sama sekali. Bukankah itu bagus? Yap. . . , sangat bagus, tapi bagusnya baru SEPERTIGA. Ha . . . ?? Ya. . . , dan dalam yang sepertiga itupun akan selalu ada yang lebih hebat dari yang hebat sebelumnya. Bak kata pepatah, di atas gunung masih ada gunung, di atas awan masih ada awan. Selalu ada yang lebih hebat dan yang lebih lemah. Banyak sekali varian yang bisa tercipta.
  59. 59. 59 Tapi hakekatnya ya masih di situ-situ juga. Berada di tataran VAKOG. Karena memang seperti itulah sifat dari dimensi olah VAKOG itu. Walau pada para pengamal beberapa tarekat tertentu bagusnya lebih dari sepertiga, karena mereka bisa terlihat sangat dekat dengan Allah. Bahkan mereka bisa berdzikir sebanyak denyutan jantung berdenyut. Namun nuansa olah VAKOG nya tetap saja sangat kentara, dan itupun sangat bersinggungan sekali dengan olah CAKRA dalam agama Hindu dan Budha. Tentu saja sulit dan rumitnya itu lho yang tidak terban- tahkan. 8. Kesombongan Akibatnya dan Hasilnya Apa? Hasil yang didapatpun sebenarnya tidak banyak. Diakui atau tidak diakui, hasilnya adalah dalam sebentuk pengakuan kita, sebungkah kebanggaan kita terhadap apa-apa yang telah kita capai. Kita bangga atas apa-apa yang bisa kita lakukan dan kita wujudkan. Kita menjadi begitu sumringah dan berbinar dengan diri kita dan segala kemampuannya. Kita akan bercerita dengan pas sekali terhadap keadaan diri kita. Terhadap metoda kita, terhadap kelompok kita, terhadap buah pikiran kita. Gue banget gitu lho, kata kita dengan penuh ekspresi membesarkan diri kita sendiri. Tanpa kita sadari, kita menjadi TAKABBUR. Merasa AKBAR. Dan apa-apa yang kita dapatkan itulah yang akan menjadi KEBENARAN bagi kita. Kitapun bisa bisa ke mana-mana bercerita panjang lebar tentang ke- banggaan dan kebenaran kita itu. Kita bisa berlama-lama, berhari-hari, berbulan-bulan lamanya asyik bercerita tentang kebanggaan diri dan kebenaran kita itu. Aku bisa ini dan itu, aku lebih baik lho darimu, aku ini benar lho. Inilah pengakuan yang tak terucap dari bibir kita. Tapi itu kelihatan sekali dengan pas melalui mimik muka kita, sinar mata kita,
  60. 60. 60 intonasi perkataan kita, ekspresi kita, dan aktifitas yang kita lakukan. Pokoknya asyik gitu. Dan tentu saja ada kegembiraan dan kebahagiaan kita di dalamnya. But. . . , tetap saja : . . . semua kebahagiaan itu masih berada pada tatanan otak kita, . . . olah VAKOG. Kebahagiaan yang menipu kata Al Allah di dalam Al Qur’an. Dan juga ternyata, bentuk pengakuan dan kebanggaan kita terhadap diri kita sendiri inilah sebenarnya yang telah menjadi panghalang (hijab) terkuat kita ketika kita ingin menghadap kepada Allah. Sebab Allah sudah menyatakan dengan tegas bahwa pengakuan, kebanggaan, dan kesombongan, TAKABBUR itu adalah “selendang” milik-Nya. Keang- kuhan adalah Sarung Allah. Makanya Allah menyatakan bahwa hanya Dialah Yang AKBAR. Yang Takabbur. Bukan kita . . . Hadits Qudsi “Kesombongan adalah selendang-Ku, keangkuhan adalah sarung-Ku, oleh karena itu barang siapa yang mengambilnya dari-Ku, maka Aku akan mencampakkannya ke neraka.” Sungguh keras sekali teguran Allah kepada kita agar kita tidak coba- coba memakai selendang dan sarung Allah berupa Kesombongan dan Keangkuhan dalam bentuk apapun. Makanya kalau kita memakai se- lendang dan sarung Allah itu, segera saja kita akan dicemplungkan Allah ke dalam neraka yang kalau di dunia ini adalah siksaan hebat yang berada di dalam dada kita sendiri. Sungguh, siapa yang tersiksa di dunia ini, maka dia akan tersiksa pula di akhirat kelak. Barang siapa yang buta hatinya di dunia ini maka di akhirat kelak hatinya juga akan buta. Yang lebih menimbulkan nestapa kita adalah, kalau kita pakai selendang dan sarung Allah itu, kita TAKABBUR, maka Allah menjadi TIADA di hadapan kita. Coba bayangkan, nggak ada Allah! Akibatnya kita akan merasa sangat bebas melakukan apa saja untuk memuaskan dahaga diri kita yang tak pernah habis.
  61. 61. 61 Ketiadaan Allah ini disebabkan karena dengan konsep olah VAKOG itu, seluas dan selapang apapun pikiran dan hati yang kita rasakan, sehening apapun keadaan yang kita dapatkan, tetap saja yang ada adalah kita sendiri. Diri kita yang luas, hati kita yang tenang, pikiran kita yang hening, sehingga kemudian muncullah keadaan di mana kita seperti menjadi Dia. Dia seperti menjadi kita. Aku adalah Dia, Dia adalah aku. Fir’aun dulu menyatakannya dengan lebih tegas lagi : “Aku adalah Tuhan.” Kalau di zaman kita sekarang ini pernyataan keakuan kita itu kita ucapkan dengan kebanggan yang lebih renyah: “Aquuu, aqiuuu.” Sebaliknya : . . . kalau kita bersedia menanggalkan dan menyerahkan selendang dan sarung Allah itu dengan santun kepada-Nya, dan kita biarkan Allah sendiri memakai selendang-Nya dan sarung-Nya itu di hadapan kita, maka segera saja kita yang akan menjadi TIADA. Pasti. Jika Allah ada, maka pastilah kita tiada. Sebaliknya, jika kita ada, maka pastilah Allah jadi tiada. Ah. . . , ungkapan apa pula ini? Lho . . . jangan bingung dulu. Ini bukan sebuah ungkapan yang rumit untuk dipahami kok. Sederhana sekali sebenarnya. 9. Menyadari dan Merasakan Kehadiran Allah Mari kita pahami kalimat-kalimat itu melalui sebuah contoh berikut ini. Yaitu tentang sebuah aktifitas yang secara rutin dilakukan oleh kita, umat Islam, yaitu shalat.
  62. 62. 62 Selama ini yang membuat kita TIDAK bisa khusyu di dalam shalat, khan karena kita tidak bisa MENYADARI dan MERASAKAN kehadiran Allah di hadapan kita (IHSAN). Kita selama shalat nyaris tidak menyadari dan merasakan ADA Allah di hadapan kita. Yang ada saat kita shalat itu adalah : . . . diri kita sendiri yang sedang berkelana menjelajahi berbagai objek pikir, yang entah kenapa, dengan tiba-tiba telah berdatangan silih berganti ke hadapan kita. Karena kita tidak mampu menyadari dan merasakan ada Allah di hadap- an kita, maka kitapun secara otomatis akan sangat sedikit sekali meng- ingat-Nya. Walaupun kita sedang mengucapkan takbiratul ihram di da- lam shalat, “Allahu Akbar, Allah Maha Besar”, akan tetapi ucapan kita itu seperti ucapan seorang artis yang tengah berpura-pura menjadi orang yang sedang terpesona kepada kebesaran sesuatu. Padahal saat berucap Allahu Akbar itu, sebenarnya saat itu tidak ada sedikitpun ketakutan kita dan kekaguman kita, kepada kemahabesaran Allah. Tidak ada. Astagfirullah. Ya, . . . kebanyakan kita shalat nya seperti seorang artis yang sedang berakting di hadapan orang banyak. Jika penontonnya banyak, atau paling tidak ada beberapa orang, maka akting kitapun akan menjadi semakin mantap dan ‘khusyu’. Akan tetapi begitu tidak ada penontonnya, maka kitapun inginnya buru-buru meninggalkan panggung sandiwara. Al Qur’an menyatakan bahwa shalat yang seperti ini adalah shalat se- orang munafik. Shalat yang pas sekali pura-puranya. Seperti aksi pang- gung seorang artis.
  63. 63. 63 An Nisaa 142 Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka MENGINGAT ALLAH (note by Yusdeka : menyadari dan merasakan Allah) kecuali sedikit sekali. Belum lagi contoh-contoh lainnya, seperti betapa banyak di antara kita umat Islam ini yang dengan tenang bisa melakukan : • korupsi, • mencuri, • maling, • memalak, • selingkuh, • berzina, • memperkosa, dan • berbagai perilaku jahat lainnya, hanya karena kita tidak bisa menyadari dan merasakan ADA Allah di depan kita. Di mana perilaku-perilaku jahat itu tidak hanya dilakukan oleh orang biasa, tetapi juga banyak dilakukan oleh orang-orang yang katanya terhormat di DPR, di dunia Pemerintahan, bahkan di dunia Pendidikan. Dan tiba-tiba saja di negara kita telah bermunculan kaum ngamukan. Di mana emosi anak bangsa kita dengan sangat mudah tersulut walau dengan alasan yang sangat-sangat sepele sekali, apalagi dengan alasan yang lebih besar. Itu semua kita lakukan karena . . . Kita selalu saja berpikiran bahwa kita hanya bisa bertemu Allah di akhirat kelak. Di dunia? Nggak mungkinlah kita bisa berjumpa Allah. Itulah sebab ketika dikatakan bahwa Ada Allah di depan kita, dengan cengar-cengir dan cengengesan kita malah memperlihatkan ekspresi ketidakpercayaan kita. Tidak ada rasa takut kita sedikitpun kepada-Nya.
  64. 64. 64 Karena memang sudah puluhan tahun kita di doktrin dengan keras bahwa kita hanya bisa bertemu Allah nanti di akhirat. Bahkan saat dikatakan ada Malaikat-Malaikat Allah yang mencatat semua perilaku kita, tidak sedikitpun menimbulkan rasa sungkan kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan tercela di atas. Malah kita jauh lebih takut kepada jin, iblis, pocong, daripada takut kepada Allah. Kita bisa merinding habis, gemetar, dan bahkan pingsan ketika dikata- kan ada jin di samping kita. Karena banyak cerita yang sampai kepada kita bahwa ada jin, iblis pocong, setan ada di sekitar kita, maka kita bisa bercerita dengan seru dan penuh ekspresi tentang jin, syetan, dedimit, dan makhluk halus lainnya dibandingkan dengan ketika kita bercerita tentang Allah. Makanya ketika kita bercerita tentang jin, syetan, dan makhluk halus lainnya itu, seluruh sistem syaraf kita seperti ikut terlibat dan berbicara. Mimik wajah kita, perasaan takut kita, adrenalin yang mengalir di dalam darah kita, seperti bersatu padu membentuk karakter kita. Karakter takut Jin. Kalau kita sudah pernah pula merasakan dan bereksperimen dengan berbagai seluk beluk ilmu getaran atau vibrasi, baik itu : • getaran alam, • getaran pribadi, • getaran hawa nafsu, yang kesemuanya itu sangat mudah berinteraksi dengan getaran jin, dan getaran mahluk halus lainnya, apalagi kalau kita bisa mengolah vibrasi-vibrasi itu menjadi berbagai ilmu yang luar biasa dan nyaris tak masuk akal, maka kitapun akan bisa bercerita tentang semua itu dengan sangat ekspresif dan meledak-ledak. Bahasa yang ke luar dari mulut kita saat bercerita itu seperti berasal dan muncul dari jaringan nerve kita yang paling dalam. Sangat ekspresif sekali. Lalu Bagaimana dengan Rasulullah Muhammad SAW?
  65. 65. 65 10. Menyadari dan Merasakan Kehadiran Allah oleh Rasulullah Muhammad SAW Keadaan Rasulullah Muhammad SAW, sebenarnya sama dengan keada- an di atas. EKSPRESIF sekali. Saat Beliau berbicara dengan para Sahabat Beliau, maka bicara Beliau itu sangat-sangat ekspresif. Apa-apa yang Beliau Bicarakan itu seperti NYATA dan ADA di hadapan Beliau. Tapi yang Beliau bicarakan itu sangat berbeda dengan topik pembicaraan ala olah VAKOG seperti yang telah dibahas di atas. Yang beliau sampaikan adalah Sebuah Keagungan. Ya. . . , . . . Beliau selalu berbicara tentang Keagungan Allah. Bingkai pembicaraan Beliau adalah segala sesuatu tentang Allah. Saat Beliau berbicara tentang Allah, jelas sekali Beliau tidak asal ber- bicara. Allah yang sedang Beliau bicarakan itu benar-benar ADA tepat di hadapan Beliau, sehingga : a. Beliau bisa berbicara dengan PAS : 1) Tentang Dzat Allah, 2) Tentang Af’al Allah, 3) Tentang Sifat-Sifat dan Nama-Nama Allah. Pas sekali apa-apa yang Beliau bicarakan itu dengan kenyataan Allah : 1) Mata Beliau dengan pas berbicara, 2) Seluruh sel-sel nerve Beliau berbicara, 3) Perasaan Beliau berbicara, 4) Ekspresi Beliau berbicara, sehingga para sahabatpun semakin yakin bahwa Beliau adalah utusan Allah. b. Beliau juga bisa bercerita dengan sangat PAS : 1) Tentang kehidupan dan kematian, 2) Tentang syurga dan neraka,
  66. 66. 66 3) Tentang masa lalu dan masa yang akan datang. c. Bahkan Beliau juga bisa bercerita tentang para sahabat yang sedang shalat di belakang Beliau : 1) Mana di antara mereka yang khusyu, dan 2) Mana yang tidak khusyu. Karena semua keadaan itu sudah ada di hadapan Beliau, sehingga Beliau hanya tinggal menyampaikan dan menjabarkannya ke dalam bahasa yang dipahami oleh sahabat-sahabat Beliau. Karena Ada Allah di hadapan Beliau, maka Beliaupun tidak pernah merasa takut, khawatir, dan sedih lagi terhadap berbagai peristiwa dan keadaan, apapun, yang datang dan pergi menjambangi hidup dan kehidupan Beliau. Apa-apa, Beliau selalu berkata: • ”Jangan takut. . . , ADA Allah; • jangan khawatir. . . , Ada Allah; • jangan sedih. . . , Ada Allah.” Kita sangat kenal dengan kisah-kisah saat Rasulullah ingin dibunuh oleh kaum Kafir Quraisy. Rumah Beliau sudah dikepung. Tapi karena di de- pan Beliau Ada Allah : • Yang Maha Menjaga (Al Muqit), • Yang Maha Memberi Keamanan (Al Mu’min), • Yang Maha Melindung (Al Waliy), maka Beliaupun tenang-tenang saja. Dengan santai malah Beliau bisa ke luar rumah yang sedang terkepung itu meninggalkan para penge- pungnya yang terheran-heran penuh ketidakpercayaan. Bagaimana bisa Muhammad lolos dari pengepungan mereka yang sangat ketat dan kuat. Di dalam Gua Tsur pun begitu. Saat Abu Bakar Ra, khawatir kalau- kalau orang-orang kafir Quraisy menemukan Rasulullah dan Abu Bakar yang sedang bersembunyi di dalam Gua itu dari pengejaran mereka, Beliau juga hanya berkata kepada Abu Bakar Ra. : “Jangan takutlah, Ada
  67. 67. 67 Allah kok”. Saat Abu Bakar Ra. bisa “duduk” pula dalam posisi keyakinan seperti yang dimiliki oleh Rasulullah, maka segala rasa takut dan kha- watir Abu Bakar Ra pun menguap dengan seketika. Kapanpun Beliau berbicara, pastilah yang Beliau bicarakan itu tentang Allah, tentang Kehebatan Allah. a. Saat hujan turun, Beliau sangat merasakan sekali bahwa Allah sebenarnya sedang berbicara kepada semua makhluk-Nya: “Bu- kankah Aku yang menurunkan hujan yang dengannya semua kehi- dupan bisa tumbuh dan berkembang ? Bahkan Beliaupun paham kapan saatnya hujan itu menjadi sebentuk siksaan dan peringatan keras kepada seluruh umat manusia yang sudah tidak lagi bisa me- nyadari dan merasakan Ada Allah di hadapan mereka. b. Saat Beliau ragu-ragu untuk memerangi paman, saudara, sepupu, dan teman-teman dekat Beliau, manusiawi sekali sebenarnya keraguan Beliau itu, Beliau menyerahkan keraguan Beliau itu kepa- da Allah yang selalu ada dan nyata di hadapan Beliau. Lalu Allah me- nurunkan ayat bahwa bukan engkau yang melempar saat engkau melempar itu, tapi Allah yang melempar, bukan engkau yang memanah saat engkau memanah itu, tapi Allah yang memanah. Akhirnya Beliaupun, tanpa beban apa-apa lagi, berperang dengan saudara-saudara sekampung Beliau. Perang saudara. Duar . . . Sebenarnya keadaan yang Beliau perlihatkan juga ada sebuah kesom- bongan, sebuah keangkuhan. Sebuah keadaan yang tidak pernah takut, khawatir, dan sedih terhadap peristiwa dan kejadian apapun. Tapi yang Beliau sombongkan adalah. . . Yang Beliau sombong-sombongkan, Yang selalu Beliau sebut-sebut dan gadang-gadangkan adalah Allah, bukan diri Beliau sendiri. Apa-apa Allah, apa-apa dari Allah. Kalau Beliau melarang sesuatu, Beliau pasti mengatakan bahwa itu karena Allah yang melarangnya. Ketika Beliau memerintahkan sesuatu, Beliau mengatakan bahwa itu Allah
  68. 68. 68 yang memerintahkannya. Tidak ada sedikitpun pengakuan dan kesom- bongan Beliau terhadap diri Beliau sendiri. Saat Beliau melakukan sesuatu, Beliau mengatakan bahwa itu Beliau lakukan hanya karena dorongan Allah, “Bismillah. . . ,” bukan karena dorongan hawa nafsu Beliau sendiri. Inilah makna FANA yang sesungguhnya. 11. Kepatuhan Total Rasulullah Muhammad SAW Selama ini FANA ini sering kita maknai seperti orang dalam keadaan mati, KARAM, Ekstasi. Orang baru bisa dianggap fana kalau dia sudah tidak ingat apa-apa lagi, termasuk tidak ingat kepada dirinya sendiri. Orang fana menurut konsep seperti ini tidak bisa melakukan apa-apa. Akan tetapi kefanaan Rasulullah justru membuat Beliau sibuk dan aktif sekali membangun peradaban umat manusia. Hasilnya banyak. Fana Beliau adalah dalam bentuk kepatuhan total Beliau terhadap Kehendak Allah. Beliau menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan larang-larang Allah. Untuk semua itu, Beliau tidak pernah berpikir tentang kenapa. Beliau hanya “sami’na wa atha’na, saya dengar dan saya patuhi ya Allah”, kata Beliau. Kepatuhan total Beliau seperti inilah yang kemudian melahirkan syariat Islam. Syariat yang bukan dalam bentuk hafalan. Tapi syariat dalam bentuk budi pekerti dan akhlak yang membentuk peradaban terindah pada zaman yang sangat gelap dan angkara murka saat itu.

×