Analisis Berita yang Melanggar Kode Etik Jurnalistik

20,133 views

Published on

Analisis Berita yang Melanggar Kode Etik Jurnalistik

5 Comments
9 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
20,133
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
6
Actions
Shares
0
Downloads
367
Comments
5
Likes
9
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Analisis Berita yang Melanggar Kode Etik Jurnalistik

  1. 1. PAPER MENGANALISIS BERITA YANG MELANGGAR KODE ETIK JURNALISTIK Paper ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum dan Komunikasi Dosen Pembimbing Drs. Kamsul Hasan, SH, MH Disusun oleh: Fitri Sinta Handayani 2012 13 0081 FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI INSTITUT ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK JAKARTA 2013
  2. 2. KATA PENGANTAR Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan YME, atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehinga saya dapat menyelesaikan tugas Mata Kuliah Hukum dan Komunikasi. Saya menyadari bahwa dalam pembuatan tugas ini banyak mendapatkan bantuan, ilmu pengetahuan serta informasi yang sangat bermanfaat dari berbagai pihak. Dengan segala keterbatasan yang saya miliki, saya menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karenanya kritik dan saran untuk kesempurnaan paper ini akan saya terima dengan lapang dada dan rasa hormat. Akhir kata semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk tambahan ilmu pengetahuan bagi kita. Jakarta, Oktober 2013
  3. 3. PENDAHULUAN Walaupun pers dituntut harus selalu tunduk dan taat kepada Kode Etik Jurnalistik, pers ternyata bukanlah malaikat yang tanpa kesalahan. Data yang ada menunjukkan bahwa pada suatu saat pers ada kalanya melakukan kesalahan atau kekhilafan sehingga melanggar Kode Etik Jurnalistik. Berbagai faktor dapat menyebabkan hal itu terjadi. Peristiwa tersebut dapat terjadi antara lain karena faktor-faktor sebagai berikut: Faktor Ketidaksengajaan: 1. Tingkat profesionalisme masih belum memadai, antara lain meliputi: - Tingkat upaya menghindari ketidaktelitian belum memadai terbatas. - Tidak melakukan pengecekan ulang. - Tidak memakai akal sehat. - Kemampuan meramu berita kurang memadai. - Kemalasan mencari bahan tulisan atau perbandingan. - Pemakaian data lama (out of date) yang tidak diperbarui. - Pemilihan atau pemakian kata yang kurang tepat. 2. Tekanan deadline sehingga tanpa sadar terjadi kelalaian. 3. Pengetahuan dan pemahaman terhadap Kode Etik Jurnalistik memang masih terbatas. Faktor Kesengajaan: 1. Memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang Kode Etik Jurnalistik, tetapi sejak awal sudah ada niat yang tidak baik. 2. Tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai tentang Kode Etik Jurnalistik dan sejak awal sudah memiliki niat yang kurang baik 3. Karena persaingan pers sangat ketat, ingin mengalahkan para mitra atau pesaing sesama pers secara tidak wajar dan tidak sepatutnya sehingga sengaja membuat berita yang tidak sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik.
  4. 4. 4. Pers hanya dipakai sebagai topeng atau kamuflase untuk perbuatan kriminalitas sehingga sebenarnya sudah berada di luar ruang lingkup karya jurnalistik. Jika pelanggaran terhadap Kode Etik Jurnalistik karena faktor ketidaksengajaan, termasuk dalam pelanggaran kategori 2, artinya masih dimungkinkan adanya ruang yang bersifat toleransi. Tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang sempurna. Sehebat-hebatnya satu media pers, bukan tidak mungkin suatu saat secara tidak sengaja atau tidak sadar melanggar Kode Etik Jurnalistik. Dalam kasus seperti ini, biasanya setelah ditunjukkan kekeliruan atau kesalahannya, pers yang bersangkutan segera memperbaiki diri dan melaksanakan Kode Etik Jurnalistik dengan benar, bahkan kalau perlu dengan kesatria meminta maaf. Memang, pers yang baik bukanlah pers yang tidak pernah tersandung masalah pelanggaran Kode Etik Jurnalistik. Tetapi, pers yang setelah melakukan pelanggaran itu segera menyadarinya dan tidak mengulangi lagi serta kalau perlu meminta maaf kepada khalayak. Sebaliknya, pelanggaran Kode Etik Jurnalistik yang disengaja dan termasuk dalam pelanggaran kategori 1 merupakan pelanggaran yang berat. Sebagian pelanggarnya bahkan tidak segera mengakui pelanggaran yang telah dibuatnya setelah diberitahu atau diperingatkan tentang kekeliruannya. Berbagai macam argumentasi yang tidak relevan sering mereka kemukakan. Hanya setelah mendapat ancaman sanksi yang lebih keras lagi, sang pelanggar dengan tepaksa mau mengikuti aturan yang berlaku.
  5. 5. Berikut ini contoh kasus pelanggaran kode etik jurnalistik yang pernah terjadi di media Online. Polisi Biadab ! Perintahkan Perkosa, Bunuh, dan Bakar Siswi SMK Written by platmerah. Posted in Hukum & Kriminal Published on October 25, 2013 with No Comments Platmerahonline.com | Yogyakarta – Anggota Opsnal Intel Polsek Kalasan, Sleman, Yogyakarta Brigadir Hardani (53), dijatuhi hukuman atau divonis seumur hidup atas kasus perkosaan dan pembunuhan yang menimpa Ria Puspita Ristanti (17) oleh Pengadilan Negeri(PN) Sleman, Yogyakarta, Kamis(24/10). Vonis dijatuhkan oleh hakim pengadilan negeri (PN) Sleman diketuai Riyadi Sunindyo Florentinus yang menyatakan terdakwa terbukti bersalah dan meyakinkan berperan sebagai otak alias dalang perbuatan pidana yang menimpa siswi kelas XI SMK YPKK Maguwoharjo, Sleman itu. Hardani terbukti secara meyakinkan telah memerintah sebanyak enam pelaku lain untuk menghilangkan nyawa korban kemudian membakar mayat korban. Atas perbuatannya, Hardani dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, dan pasal 181 jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 tentang mengubur, menyembunyikan, membawa lari mayat. “Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan persetubuhan dengan korban dalam kondisi tidak berdaya, dan menganjurkan pembunuhan berencana,” tegas hakim Riyadi dalam persidangan dengan agenda vonis di PN Sleman, Yogyakarta, seperti dikutip Merdeka.com, Kamis(24/10). Dalam amar putusannya itu, hakim Riyadi membeberkan beberapa pertimbangan yang memberatkan, di antaranya perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat. Selain itu perbuatan terdakwa sudah tergolong dalam perbuatan sadis dan tidak berperikemanusiaan.
  6. 6. “Selain itu sebagai polisi, terdakwa seharusnya melindungi masyarakat, sedangkan unsur meringankan, menurut hakim, tidak diketemukan,”urainya. Menanggapi vonis tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) maupun pengacara alias penasihat hukum terdakwa menyatakan pikir-pikir. Sidang yang dihadiri ratusan warga tempat asal korban yakni Dusun Medelan, Desa Umbulmartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Kedua orang tua korban yang juga turut menyaksikan jalannya peradilan tampak kecewa mendengar vonis majelis hakim PN Sleman. Saat Hardani dibawa keluar dari ruang sidang, keluarga melampiaskan emosinya karena merasa jengkel dengan terdakwa langsung berteriak dan berusaha memukul terdakwa. Upaya menyerang terdakwa tersebut tidak berhasil setelah terdakwa dijaga ketat oleh aparat keamanan. Usai sidang, dengan diwarnai sedikit kericuhan namun tidak berlanjut, terdakwa langsung dimasukkan ke dalam mobil tahanan LP Wirogunan untuk dikembalikan ke dalam sel lembaga pemasyarakatan yang berada di jantung Kota Yogyakarta itu. “Harusnya Hardani langsung dijatuhi hukuman mati sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU),” tegas ayah korban Setyo Hidayat (46) kepada wartawan usai sidang. Pada saat bersamaan, juga digelar sidang atas tiga terdakwa lain dalam kasus yang sama. Pasangan ayah-anak, Khairil Anwar dan Yonas Revolusi Anwar (18) yang berperan sebagai eksekutor, divonis hukuman seumur hidup. Sementara, satu terdakwa lain yaitu Edi Nur Cahyo alias Kuntet dijatuhi hukuman selama 10 tahun penjara. (*) Sumber: http://platmerahonline.com/polisi-biadab-perintahkan-perkosa-bunuh-dan-bakar-siswi-smk/
  7. 7. ANALISIS BERITA Seperti yang sudah dijelaskan bahwa pers seharusnya tunduk dan patuh kepada Kode Etik Jurnalistik. Namun masih banyak pelanggaran KEJ yang dilakukan pers, salah satu pers yang melakukan pelanggaran adalah platmerahonline.com. Dari berita yang dimuat tanggal 25 Oktober 2013 dengan judul, Polisi Biadab ! Perintahkan Perkosa, Bunuh, dan Bakar Siswi SMK. Ditemukan hal-hal yang menyangkut pelanggaran KEJ. Pelanggaran ditemukan dalam konten berita tersebut. Di sana di jelaskan bahwa salah satu Anggota Opsnal Intel Polsek Kalasan, Sleman, Yogyakarta telah melakukan perkosaan dan pembunuhan terhadap remaja berusia 17 tahun. Namun pada isi berita yang dimuat itu Plat Merah telah melanggar UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers pasal 5, pasal tersebut berbunyi “ Wartawan Indonesia tidak menebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan”. Identitas yang dimaksud adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain unutk melacaknya, seperti nama lengkap, foto, alamat tinggal, nama anggota keluarga, ataupun nama sekolah. Jelas sekali konten berita tersebut melanggar KEJ, karena berita tersebut tidak menyamarkan nama asli tersangka dan korban perkosaan dan pembunuhan. (“Anggota Opsnal Intel Polsek Kalasan, Sleman, Yogyakarta Brigadir Hardani (53), dijatuhi hukuman atau divonis seumur hidup atas kasus perkosaan dan pembunuhan yang menimpa Ria Puspita Ristanti (17) oleh Pengadilan Negeri(PN) Sleman, Yogyakarta, Kamis(24/10)”.). Berita itupun menyebutkan nama sekolah korban tersebut (“…………..meyakinkan berperan sebagai otak alias dalang perbuatan pidana yang menimpa siswi kelas XI SMK YPKK Maguwoharjo, Sleman itu”.). Di sana juga menyebutkan tempat tinggal atau asal korban (“Sidang yang dihadiri ratusan warga tempat asal korban yakni Dusun Medelan, Desa Umbulmartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Yogyakarta.”). Berita tersebut juga menebut nama orangtua korban (“Harusnya Hardani langsung dijatuhi hukuman mati sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU),” tegas ayah korban Setyo Hidayat (46) kepada wartawan usai sidang.”). Itulah sebagian isi berita yang melanggar KEJ dalam hal tidak menyamarkan identitas pelaku kejahatan dan tidak melindungi identitas korban asusila.
  8. 8. KESIMPULAN Masih banyak pers yang masih belum tunduk pada Kode Etik Jurnalistik. Seperti kasus yang dibahas tadi masih ada pers yang tidak melindungi identitas korban kesusilaan. Platmerahonline.com tidak menyamarkan nama tersangka pemerkosaan dan pembunuhan. Tidak melindungi identitas korban asusila dalam bentuk nama lengkap, nama orangtua, alamat tinggal, sampai nama sekolah korban. Semua identitas tersebut memudahkan khalayak luas untuk melacak korban asusila dan pembunuhan tersebut.
  9. 9. SARAN Karena masih banyaknya pelanggaran yang dilakukan pers maka kita sebagai masyarakat sepatutnya ikut peran serta sesuai perintah UU No.40 Tahun 1999 tentang Peran Serta Masyarakat pasal 17 yang berbunyi “(1) Masyarakat dapat melakukan kegiatan untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan menjamin hak memperoleh informasi yang diperlukan. (2) Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa : a. Memantau dan melaporkan analisis mengenai pelanggaran hukum, dan kekeliruan teknis pemberitaan yang dilakukan oleh pers; b. menyampaikan usulan dan saran kepada Dewan Pers dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas pers nasional.” Jika ada pers yang melanggar KEJ bisa melaporkan kepada dewan pers melalui website ataupun dengan cara melalui sms (ketik DEWANPERS kirim ke 3030). Dan saran untuk Dewan Pers, agar Dewan Pers menjalankan Fungsi Dewan Pers sebagaimana tertulis di Pasal 15 ayat (3) Undang-Undang Pers, terutama dalam poin Menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik, Memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers. Saran untuk pengelola media, bahwa mereka sebagai pers yang tugasnya memberikan informasi kepada masyarakat sebagaimana dijelaskan dalam UU Pers pasal 1 ayat (1). Maka pengelola media harus memahami betul hak dan kewajiban mereka sebagai pers. Untuk bagian editor atau pihak yang mempunyai tugas untuk mengoreksi berita yang akan di publish harus benar-benar jeli agar isi berita yang akan dimuat tidak melanggar KEJ. Untuk menjadikan Pers kita terhindar dari kesalahan-kesalahan bukan hanya tugas dewan pers saja atau pengelola media saja, tapi kita semua, mulai dari Dewan Pers, Pengelola Media sampai Masyarakat punya peran serta. Marilah kita bersama-sama menjalankan peran dan tugas kita masing-masing unuk kemajuan pers yang lebih baik.

×