Pornografi dan Ketimpangan Gender dalam Pemanfaatan Internet                                  Oleh: Firdaus Cahyadi       ...
video mesum Ariel-Luna Maya-Cut Tari, lewat internet pun sulit dibendung, meskipun Youtubesecara cepat telah memblokir vid...
Pornografi dan Pengguna Internet yang Bias GenderHebohnya kasus video mesum mirip Ariel-Luna Maya-Cut Tari tak bisa dilepa...
internet, paling tidak di Indonesia.Celakanya, sebagaian besar pengguna internet laki-laki gemar memelototi gambar mesum d...
Sementara bila ditinjau dari jenjang pendidikan, menurut data dari ipteknet, tingkat Sarjanaadalah pengguna terbanyak (43%...
Pekalongan, Jawa Tengah.Pemanfaatan internet oleh perempuan diharapkan mampu menekan dijadikannya perempuansebagai objek p...
Karena media mainstream fokus pada tuntutan ganti rugi fisik, maka persoalan tersebut yanglebih cepat ditangani, meskipun ...
KesimpulanPersolan pornografi di dunia maya tidak bisa ditangani hanya dengan pendekatan-pendekatan yang represif berupa k...
7. http://teknologi.vivanews.com/news/read/80621-netter_asal_malta_rajin_kunjungi_situs_porno8. http://knowledgeaboutsex.b...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Pornografi dan ketimpangan gender dalam pemanfaatan internet full paper konferensi ui

515 views
434 views

Published on

Makalah ini pernah saya presentasikan dalam konferensi hukum dan penghukuman di Universitas Indonesia pada tahun 2010.

Btw, bila kawan-kawan membutuhkan narasumber untuk kelas menulis di media atau advokasi media dapat menghubungi saya di firdaus_c(at)yahoo.com atau firdaus.cahyadi(at)gmail.com

Published in: Technology
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
515
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
12
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pornografi dan ketimpangan gender dalam pemanfaatan internet full paper konferensi ui

  1. 1. Pornografi dan Ketimpangan Gender dalam Pemanfaatan Internet Oleh: Firdaus Cahyadi Staff Kampnye isu Keadilan Informasi-Yayasan SatuduniaAkhir-akhir ini kita dikejutkan oleh beredarnya video mesum di internet yang diperankan olehorang-orang yang mirip artis di negeri ini. Video mesum itu diperankan oleh orang-orangyang mirip penyanyi Ariel, bintang sinetron Luna Maya dan Cut Tari. Dan penyebaran videomesum nyaris bersamaan waktunya.Hanya sekali klik, para pengguna internet di Indonesia bahkan juga seluruh dunia dapatmenyaksikan video mesum tersebut. Ini tentu saja sebuah aib, bukan saja bagi artis yangbersangkutan, namun juga bagi komunitas para pengguna internet di Indonesia.Maraknya pornografi di internet sejatinya tidak bisa dilepaskan dari ketimpangan genderdalam pemanfaatan teknologi tersebut. Dominasi laki-laki dalam pemanfaatan internetmendorong naiknya permintaan konten-konten pornografi yang mengeksploitasi tubuhperempuan.Beberapa penelitian menyebutkan bahwa situs-situs yang menampilkan konten pornografipada umumnya didominasi oleh pengunjung laki-laki. Dalam konteks Indonesia, menurutsalah satu surveyor internet Pery Umar Farouk, seperti ditulis oleh salah satu portal beritanasional mengungkapkan bahwa Indonesia terus mengalami peningkatan sebagaipengakses situs porno internet.Celakanya upaya memberantas pornografi di internet tidak pernah menyentuh persoalanketimpangan gender dalam pemanfaatan internet ini. Kebijakan untuk mendorong tumbuhnyainternet sehat dengan menampilkan konten-konten bermutu memang pantas diapresiasi.Namun itu saja tidak cukup bila ketimpangan gender dalam pemanfaatan internet ini tidakdikoreksi. ***Pornografi di Dunia Maya dan Respon PemerintahPrahara di dunia maya terbesar tahun ini di Indonesia adalah penyebaran video porno artismirip Ariel-Luna Maya-Cut Tari. Perkembangan internet telah membuat video yang semulamenjadi konsumsi pribadi itu pun menyebar secara luas ke publik.Hanya sekali klik, para pengguna internet di Indonesia bahkan juga seluruh dunia dapatmenyaksikan video mesum tersebut. Ini tentu saja sebuah aib, bukan saja bagi artis yangbersangkutan, namun juga bagi komunitas para pengguna internet di Indonesia. Peredaran
  2. 2. video mesum Ariel-Luna Maya-Cut Tari, lewat internet pun sulit dibendung, meskipun Youtubesecara cepat telah memblokir video tersebut.Kasus itu pun membuat berang Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).Racangan Peraturan Menteri (RPM) konten internet yang sempat mandeg (berhenti) pundihidupkan kembali dengan nama yang berbeda. RPM baru yang bocor ke publik itu bernama“TATA CARA PENANGANAN PELAPORAN ATAU PENGADUAN KONTEN INTERNET”.Pro-kontra pun kembali mengemuka menyusul bocornya RPM tersebut. Masyarakat sipilpengguna internet mengecam RPM tersebut. Pasalnya, isi dari RPM tersebut berpotensibukan saja menjaring konten pornografi namun juga konten-konten yang berisi kritik sosialdari masyarakat sipil. Pasalnya, yang dimaksud konten illegal dalam RPM tersebut mengacupada Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik(ITE). Dalam UU ITE itu terdapat pasal karet mengenai pencemaran nama baik.Isu pornografi pula yang membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan pemblokiran kontenpornografi di internet pada tahun 2010 ini. Meskipun pemblokiran itu juga menuai protes,karena website yang tidak mengandung konten pornografi pun ikut diblokir.Persoalan pornografi sebenarnya bukan hanya persoalan Indonesia. Hampir negara diseluruh dunia juga mengalami problem yang sama di dunia maya. Berbagai cara telahdilakukan oleh beberapa negara untuk mengatasinya, terutama dalam rangka melindungianak-anak dari bahaya konten pornografi. Dan Indonesia adalah salah satu negara yangmencoba mengatasi problem tersebut.Namun melihat beberapa respon kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah terhadappornografi yang justru menuai protes dari masyarakat, memunculkan hipotesis, tentu adayang dilupakan dalam kebijakan melawan pornografi di Indonesia ini. Hal apakah yangdilupakan?
  3. 3. Pornografi dan Pengguna Internet yang Bias GenderHebohnya kasus video mesum mirip Ariel-Luna Maya-Cut Tari tak bisa dilepaskan daripemeran video mesumnya itu sendiri. Jika pemeran video mesum itu tidak mirip artis Ariel-Luna Maya-Cut Tari, mungkin kasus itu tidak seheboh sekarang. Selain tentu sajapemberitaan-pemberitaan dari media infotaiment yang secara tidak sadar mengarahkankesadaran masayarakat bahwa berita video mesum itu lebih penting daripada berita skandalBank Century, kasus pengemplangan pajak dan lumpur Lapindo.Namun bila kita telisik lebih dalam lagi, nampaknya media infotaiment lebih fokus menyorotke arah orang yang mirip artis perempuan. Dalam hal ini Luna Maya daripada Ariel. Bahkanada sebuah portal infotaiment yang sampai menurunkan berita mengenai keterkaitan LunaMaya dengan tempat-tempat yang melayani tatto. Pasalnya, dalam video mesum itu,pemeran perempuan yang mirip Luna Maya memiliki tatto di salah satu bagian tubuhnya.Seakan-akan Luna Maya yang harus membuktikan bahwa pemeran di video mesum itu diaatau orang lain. Lantas bagaimana dengan pihak laki-lakinya? Kenapa hal yang sama tidakditujukan kepada Ariel? Bahkan perkembangan terakhir, memaksa artis Cut Tari dan LunaMaya untuk minta maaf ke publik. Sementara, hingga makalah ini ditulis, belum adapermintaan maaf dari Ariel.Bias gender. Itu mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan itu semua. Bias genderyang terjadi di dunia nyata ternyata berimbas ke dunia maya. Di dunia maya perempuancenderung menjadi objek pornografi. Untuk membuktikan bahwa perempuan menjadi objekpornografi di internet tidaklah sulit. Tinggal ketik di google kemudian masukan katamahasiswi, maka yang muncul adalah dominasi gambar-gambar sexy, bahkan ada gambaryang menggambarkan hubungan mesum. Sementara bila yang kita ketik adalah katamahasiswa maka dominasi gambar-gambar yang muncul adalah aksi demonstrasi, bukangambar sexy atau yang menampilkan hubungan mesum.Pertanyaannya kemudian tentu saja adalah, kenapa itu semua bisa terjadi? Jika mengacupada hukum permintaan dan penawaran, maka dijadikan perempuan sebagai objekpornografi di internet itu disebabkan oleh banyaknya permintaan akan hal itu. Danmeningkatnya permintaan itu tidak bisa dilepaskan dari dominasi laki-laki dalam penggunaan
  4. 4. internet, paling tidak di Indonesia.Celakanya, sebagaian besar pengguna internet laki-laki gemar memelototi gambar mesum didunia maya. Seperti ditulis oleh portal berita vivanews, yang menyebutkan bahwa surveyyang pernah dilakukan Kinsey Instute, AS menyimpulkan, 97 persen pria mengaku pernahmengakses situs porno.Data dari alexa.com, seperti yang ditulis oleh vivanews menyebutkan bahwa situs pornoYouPorn.com sebagai situs internet ke-48 yang paling banyak dikunjungi, didominasi priaberusia antara 18 hingga 34 yang tidak memiliki anak, dan juga lulusan universitas. Yangperlu digarisbawahi disini adalah dominasi laki-laki dalam mengunjungi situs porno tersebut.Pornografi dan Pengguna Internet di IndonesiaSeperti ditulis oleh Antara bahwa Indonesia masuk kedalam negara terbesar dalammengakses situs porno. "Indonesia sampai saat ini paling besar mengakses situs porno,"kata Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring seperti ditulis Antara (4/11/2009).Hal itu diperkuat oleh salah satu surveyor internet Pery Umar Farouk. Seperti ditulis olehsalah satu portal berita nasional, ia mengungkapkan bahwa Indonesia terus mengalamipeningkatan sebagai pengakses situs porno internet. Menurutnya, masyarakat Indonesiaberada pada urutan ke-4 di dunia yang gemar membuka situs pornografi pada 2010 ini.Internet sebagai sebuah teknologi seharusnya bisa diakses oleh siapa saja tanpamembedakan jenis kelamin atau gender. Tapi kenyataannya, di negeri ini, internet menjadisangat maskulin, bias laki-laki. Data dari indikator telematika tahun 2005 yang ditulis diwww.iptek.net menyebutkan bahwa secara gender di Indonesia lebih banyak penggunainternet adalah pria (75.86%) daripada wanita (24.14%).Dominasi laki-laki sebagai pengguna internet nampaknya tidak berubah. Hal itu nampak puladari pengguna facebook di Indonesia yang masih didominasi oleh laki-laki. “Sekitar 59 persenpengguna facebook di Indonesia adalah laki-laki,” ujar Yanuar Nugroho, “Ini bagian darisebuah realitas ketercerabutan,”
  5. 5. Sementara bila ditinjau dari jenjang pendidikan, menurut data dari ipteknet, tingkat Sarjanaadalah pengguna terbanyak (43%) selanjutnya tingkat SLTA (41%). Berdasarkan profesimenunjukkan bahwa mahasiswa yang paling banyak menggunakan internet (39%). Artinya,pengguna internet di Indonesia didominasi oleh laki-laki muda. Jika dikaitkan bahwasebagaian besar yang diekploitasi dalam pornografi di dunia maya adalah tubuh perempuan,maka ini menjawab pertanyaan mengapa Indonesia termasuk kedalam negara yang palingtinggi mengakses pornografi di internet.Apa yang bisa disimpulkan dari tulisan di atas? Maraknya pornografi di internet, paling tidakdi Indonesia, tak bisa dilepaskan dari dominasi penggunaan internet oleh laki-laki. Untukmencegahnya selain perlu disosialisasikan internet sehat juga perlu dibongkar strukturdominasi laki-laki dalam penggunaan internet di Indonesia. Jika penggunaan internet masihbias gender atau didominasi oleh laki-laki, akan sulit untuk mencegah maraknya pornografi diinternet. Kebijakan-kebijakan mencegah pornografi di dunia maya pun seharusnya tidakhanya mengedapankan cara-cara yang represif seperti pemblokiran namun harus menyentuhketimpangan gender dalam penggunaan internet di Indonesia.Perempuan, Dari Objek Pornografi ke Pelaku Gerakan Sosial DigitalBeberapa kelompok masyarakat sipil ternyata telah memiliki inisiatif untuk mengatasipersoalan ketimpangan gender dalam pemanfaatan internet di Indonesia. Adalah kelompokSuara Ibu Peduli telah melakukan berbagai pelatihan internet di komunitas perempuanmelalui kelompok ibu-ibu PKK. Gerakan internet untuk perempuan juga mulai menggeliat dibeberapa daerah seperti di Sumatera Selatan, melalui jaringan ibu-ibu PKK dan juga di
  6. 6. Pekalongan, Jawa Tengah.Pemanfaatan internet oleh perempuan diharapkan mampu menekan dijadikannya perempuansebagai objek pornografi di internet. Tentu saja, pada akhirnya akan berujung padameningkatnya konten positif di internet. Bukan hanya itu, pemanfaatan internet olehperempuan juga mampu mendinamisasi gerakan sosial digital di Indonesia.Adalah Prita Mulyasari, seorang perempuan, yang menjadi icon gerakan sosial digital diIndonesia. Ia adalah korban pertama dari pasal karet pencemaran nama baik di UndangUndang (UU) Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).Banjirnya dukungan terhadap Prita Mulsyasari saat melawan Rumah Sakit OMNIInternasional mendorong para calon presiden pada pemilu 2009 ikut peduli. Bahkan lebih darisekedar itu, kasus Prita Mulyasari juga membuka mata publik dan pengambil kebijakan dinegeri ini akan bahayanya pasal karet pencemaran nama baik di UU ITE. Bahkan kasus Pritatelah mendorong pemerintah untuk melakukan revisi terhadap UU ITE.Kenapa pemanfaatan internet oleh perempuan berpotensi mendinamisasi gerakan sosialdigital? Hal itu disebabkan karena perempuan seringkali menjadi korban dari kebijakan-kebijkan pembangunan dan berbagai kasus yang terjadi di masyarakat. Denganmemanfaatkan internet kepentingan-kepentingan perempuan lebih tersuarakan.Media massa konvensional seringkali melupakan kepentingan-kepentingan perempuandalam meliput sebuah kasus, akibatnya selain kepentingan perempuan terlupakan juga kasustersebut tidak bisa dilihat secara utuh.Dalam kasus semburan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur misalnya. Dalamkasus itu media massa lebih fokus pada tuntutan ganti rugi aset-aset fisik (rumah dan tanah)yang tenggelam oleh lumpur dibandingkan persoalan-persoalan sosial lainya dari korbanlumpur. Tuntutan ganti rugi yang kemudian dibelokan menjadi sekedar jual beli aset rata-ratadisuarakan oleh korban lumpur dari laki-laki, sementara persoalan sosial lainnya yang lebihbersentuhan dengan kepentingan perempuan nyaris tak tersuarakan di media mainstream.
  7. 7. Karena media mainstream fokus pada tuntutan ganti rugi fisik, maka persoalan tersebut yanglebih cepat ditangani, meskipun juga sering berlarut-larut. Namun persoalan sosial sepertiperempuan-perempuan korban lumpur yang terpaksa menjadi pekerja seks komersialmenjadi tidak diperhatikan oleh pemerintah.Diabaikan persoalan-persoalan sosial di luar ganti rugi aset fisik lebih banyak merugikankorban lumpur dari kalangan perempuan. Salah satu persoalan sosial lainnya yang dilupakandalam kasus Lapindo adalah akses kesehatan bagi perempuan korban lumpur. Adalah MbokJumik, perempuan korban lumpur Lapindo, yang sebelum meninggal dunia harus dirawatdengan obat-obatan tradisional di pengunsian karena tidak mampu membayar biaya berobatdi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo.Persoalan-persoalan yang menyangkut kepentingan perempuan korban lumpur jarangmendapatkan ruang yang memadai di media massa mainstream. Akibatnya publik memahamibahwa persoalan lumpur Lapindo hanyalah sebatas persoalan ganti rugi aset fisik beruparumah dan tanah. Sementara persoalan hak atas kesehatan dan hak sosial lainnya dianggaptidak penting. Kebijakan negara pun lpada akhirnya lebih fokus kepada persoalan jual beliaset korban lumpur persoalan pelanggaran hak-hak kesehatan dan sosial korban lumpur.Pemanfaatan internet oleh perempuan dapat membongkar itu semua. Perempuan dapatmemposting tuntutan-tuntutan berdasarkan kepentingannya. Dengan keterlibatan perempuanitu selain membawa dampak positif bagi kelompok perempuan itu sendiri juga mencerdaskanpublik, karena publik dapat melihat sebuah kasus secara lebih utuh.Namun, kertelibatan perempuan dalam gerakan sosial digital bukanlah tanpa hambatan.Pasal karet pencemaran nama baik dalam UU ITE menjadi penghambat utamanya. Meskipunsaat ini revisi dari UU ITE telah masuk Prolegnas, nampaknya belum ada kelompokmasyarakat sipil yang mengawal proses revisi itu. Akibatnya, bukan tidak mungkin justrupasal karet pencemaran nama baik bukan menjadi pasal yang akan direvisi.
  8. 8. KesimpulanPersolan pornografi di dunia maya tidak bisa ditangani hanya dengan pendekatan-pendekatan yang represif berupa kebijakan pemblokiran website. Persoalan pornografi didunia maya harus pula melihat ketimpangan gender dalam penggunaan internet di Indonesia.Pengguna internet laki-laki cenderung untuk mengunjungi konten-konten pornografi diinternet dibandingkan pengguna internet perempuan. Banyaknya pengguna internet darikalangan laki-laki pada akhirnya menyebabkan naiknya permintaan akan konten-kontenpornografi di internet. Seiring dengan meningkatnya permintaan konten-konten pornografioleh pengguna internet laki-laki, meningkat pula kecenderungan perempuan menjadi objekdari konten-konten pornografi di internet.Kelompok-kelompok masyarakat sipil telah bergerak mengatasi ketimpangan gender dalampemanfaatan internet di Indonesia. Pemanfaatan internet oleh perempuan diyakini selaindapat meningkatkan produk konten positif di internet juga mampu mendinamisasi gerakansosial digital. Upaya itu harus didukung oleh pemerintah secara sungguh-sungguh. Salahsatu bentuk dukungan itu adalah menyingkirkan hambatan kebijakan yang membuatperempuan tidak bebas mengekspresikan pendapat dan kepentingannya di dunia maya.Revisi pasal karet pencemaran nama baik di UU ITE, yang telah menjadikan perempuansebagai tumbal pertamanya, adalah salah satu wujud dari dukungan itu.Bahan Bacaan 1. Hak Asasi Manusia Pilar Utama Kebijakan Konten di Indonesia , Kertas Posisi Yayasan Satudunia tentang Kebijakan Konten Yayasan Satudunia, Satudunia, 2010 2. Di Tengah Kegelapan, Kami Nyalakan Lentera, Kertas Posisi Yayasan Satudunia tentang ICT di Indonesia, Satudunia, 2010 3. http://web.bisnis.com/sektor-riil/telematika/1id179371.html 4. http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=5&ch=inti 5. http://www.antaranews.com/berita/1257335727/menkominfo-indonesia-pengakses-situs-porno- terbesar-dunia 6. http://kosmo.vivanews.com/news/read/22231-suami_kecanduan_situs_porno__1
  9. 9. 7. http://teknologi.vivanews.com/news/read/80621-netter_asal_malta_rajin_kunjungi_situs_porno8. http://knowledgeaboutsex.blogspot.com/2009/04/70-persen-oramg-kantoran-buka- situs.html9. http://www.satuportal.net/content/ketika-pemanfaatan-internet-didominasi-laki-laki10. http://www.satuportal.net/content/internet-pornogafi-dan-gerakan-sosial

×