Mlm Menurut Islam

6,647 views

Published on

Bisnis multilevel marketing adalah sebuah bisnis modern yang merupakan terobosan terbaik dalam sistem ekonomi yang mampu mewujudkan teori ekonomi yang paling tua yaitu modal sekecil kecilnya akan memperoleh untung sebesar-besarnya. PT Melia Nature Indonesia hadir dengan konsep yang revolusioner di s...

1 Comment
3 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
6,647
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
205
Actions
Shares
0
Downloads
233
Comments
1
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Mlm Menurut Islam

  1. 1. PERTEMUAN KE 15<br />E-COMMERCE DAN MULTI LEVEL MARKETING MENURUT SYARIAT ISLAM<br />
  2. 2. Secara bahasa, electronic berarti ilmu elektronika, alat-alat elektronik, atau semua hal yang berhubungan dengan dunia elektronika dan teknologi. Sedangkan commerce berarti perdagangan atau perniagaan.<br />Association for Electronic Commerce mendefinisikan e-commerce sebagai mekanisme bisnis secara elektronis atau on line. <br />Commerce Net, sebuah konsorsium industri memberikan definisi yang lebih lengkap yaitu penggunaan jaringan komputer sebagai sarana penciptaan relasi bisnis sehingga terjadi proses pembelian dan penjualan jasa/pertukaran dan distribusi informasi antara dua pihak di dalam satu perusahaan dengan menggunakan internet.<br />Mawardi; kegiatan bisnis yang menyangkut konsumen (consumers), manufaktur (manufactures), service providers dan pedagang perantara (intermediaries) dengan menggunakan jaringan komputer (computer networks) yaitu internet.<br />Onno W. Purbo: satu set dinamis teknologi, aplikasi, dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan, konsumen, komunitas tertentu melalui transaksi elektronik dan perdagangan barang, pelayanan, dan informasi yang dilakukan secara elektronik<br />Bisnis online yang menggunakan media elektronik yang keseluruhan baik pemasaran, pemesanan, pengiriman, serta transaksi jual beli kesemuanya dilakukan dalam ruang maya yaitu melalui internet.<br />D<br />E<br />F<br />I<br />N<br />I<br />S<br />I<br />
  3. 3. Karakteristik Bisnis Online<br />Terjadinya transaksi antara dua belah pihak; <br />Adanya pertukaran barang, jasa, atau informasi; <br />Internet merupakan media utama dalam proses atau mekanisme akad tersebut.<br />
  4. 4.
  5. 5. Di dalam proses bisnis ini, ada empat aliran entitas yang harus dikelola dengan baik, yaitu :<br />Aliran Produk (Flow of goods);<br />Aliran Informasi (Flow of information);<br />Aliran Uang (Flow of money);<br />Aliran Dokumen (Flow of documents).<br />Fasilitas e-commerce yang ada harus dapat mensinkronisasikan keempat aliran tersebut sehingga proses transaksi dapat dilakukan secara efisien, efektif dan terkontrol dengan baik.<br />
  6. 6. Keuntungan Bisnis Di Internet<br /><ul><li>Memudahkan komunikasi intern dan ekstern,
  7. 7. Globalisasi bisnis dan keunggulan kompetitif
  8. 8. Mengurangi biaya komunikasi dan mendapat feedback,
  9. 9. Memperluas jaringan kerja sama, marketing, dan sales,
  10. 10. Memudahkan pencarian informasi yang cepat dan murah,
  11. 11. Dapat mempelajari perilaku visitor
  12. 12. Menambah image atau performance perusahaan dan
  13. 13. Website adalah showroom termurah dan paling praktis</li></li></ul><li>Secara sederhana, proses e-commerce dapat dilakukan dengan cara konsumen berkunjung ke website merchant untuk melihat memilih produk yang diinginkan. Lalu, konsumen setuju untuk membeli di merchant dan memberi instruksi pembelian online ke merchant.<br /><ul><li>Setelah itu, prinsip pembayarannya tidak jauh berbeda dengan dunia nyata, hanya saja semua metode yang ditawarkan menggunakan teknologi canggih.
  14. 14. Cara pembayaran yang digunakan antara lain melalui transfer ATM (automatic teller macine), pembayaran tanpa perantara, pembayaran dengan pihak ketiga (kartu kredit/cek), micropayment (uang receh), electronic money (e-money) atau Anonymous digital cash</li></li></ul><li>E-Commerce Perspektif Fiqh<br />Menurut pendapat jumhur ulama, rukun jual beli ada tiga, yaitu pertama orang yang bertransaksi (penjual dan pembeli), dengan syarat berakal dan dapat membedakan. Kedua, sighat (ijab dan qabul), ijab menunjukkan keinginan melakukan transaksi dan qabul menunjukkan atas kerelaannya menerima ijab. Dan ketiga barang sebagai obyek transaksi, dengan syarat bersih barangnya, dapat dimanfaatkan, milik orang yang melakukan akad, mampu menyerahkannya, mengetahui, dan barang yang diakadkan ada di tangan. <br />Ada pengecualian untuk transaksi as-salam(transaksi jual beli atas sesuatu yang diketahui dan masih berada dalam tanggungan dengan kriteria-kriteria tertentu dan diserahkan kemudian dengan pembayaran harga segera/tunai atau dihukumkan sama dengan segera/tunai)<br />
  15. 15. Menurut pendapat kebanyakan ahli fiqh transaksi as-salam boleh dilaksanakan sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah atas dasar:<br />1. Di dalam transaksi as-salam terdapat unsur yang sejalan dengan upaya merealisasikan <br /> kemaslahatan perekonomian (mashlahah aliqtishadiyyah).<br />2.Transaksi as-salam merupakan rukhsah (suatu dispensasi atau sesuatu yang meringankan) bagi manusia.<br />3. Transaksi as-salam memberikan kemudahan<br /> kepada manusia.<br />
  16. 16. LARANGAN ISLAM DALAM PERDAGANGAN Secara Garis Besar Dibagi Atas Tiga Kategori<br />Melingkupi zat atau barang yang terlarang untuk diperdagangkan. <br />Melingkupi semua usaha atau obyek dagang yang terlarang.<br />Meliputi cara-cara dagang atau jual beli yang terlarang<br />
  17. 17. Fiqh memandang bahwa transaksi bisnis di dunia maya diperbolehkan karena mashlahah. Mashlahah adalah mengambil manfaat dan menolak kemudaratan dalam rangka memelihara tujuan syara’<br />Bila e-commerce dipandang seperti layaknya perdagangan dalam Islam, maka dapat dianalogikan:<br />Pertama, penjualnya adalah merchant (Internet Service Provider atau ISP), sedangkan pembelinya akrab dipanggil customer.<br />Kedua, obyek adalah barang dan jasa yang ditawarkan (adanya pemesanan seperti as-salam) dengan berbagai informasi, profile, mencantumkan harga, terlihat gambar barang, serta resminya perusahaan. <br />Ketiga, Sighat (ijab-qabul) dilakukan dengan payment gateway yaitu system/software pendukung (otoritas dan monitor) bagi acquirer, serta berguna untuk service online.<br />
  18. 18. KOMPARASI TRANSAKSI E-COMMERCE DAN BA’I AS-SALAM<br /><ul><li>Pelaksanaan transaksi bisnis e-commerce, sekilas hampir serupa dengan transaksi as-salam dalam hal pembayaran dan penyerahan komoditi yang dijadikan sebagai obyek transaksi.
  19. 19. Berdasarkan nilai-nilai yang ada dalam perdagangan secara Islam, khususnya dianalogikan dengan prinsip transaksi as-salam, transaksi e-commerce melalui internet dapat dibolehkan menurut Islam, kecuali pada komoditi yang tidak dibenarkan untuk diperdagangkan secara Islam.
  20. 20. Dalam permasalahan e-commerce, fiqh memandang bahwa transaksi bisnis di dunia maya diperbolehkan karena mashlahah. Mashlahah adalah mengambil manfaat dan menolak kemudaratan dalam rangka memelihara tujuan syara’</li></li></ul><li>
  21. 21. Bisnis online sama seperti bisnis offline. Ada yang halal ada yang haram, ada yang legal ada yang ilegal. Hukum dasar bisnis online sama seperti akad jual beli dan akad as-salam, yaitu dibolehkan<br /> Keharaman Bisnis Online Karena Beberapa Sebab :<br />Sistemnya haram, seperti money gambling. Judi itu haram baik di darat maupun di udara (online)<br />Barang/jasa yang menjadi objek transaksi adalah barang yang diharamkan, seperti narkoba, video porno, online sex, pelanggaran hak cipta, situs-situs yang bisa membawa pengunjung ke dalam perzinaan.<br />Karena melanggar perjanjian (TOS) atau mengandung unsur penipuan.<br />Tidak membawa kemanfaatan tapi justru mengakibatkan kemudharatan.<br />
  22. 22. Hukum Asal Mu’amalah Adalah Al-ibaahah (Boleh) Selama Tidak Ada Dalil Yang Melarangnya<br />Sebagai pijakan dalam berbisnis online, kita harus memperhatikan hal-hal di bawah ini :<br /><ul><li>Transaksi online diperbolehkan menurut Islam selama tidak mengandung unsur-unsur yang dapat merusaknya seperti riba, kezhaliman, penipuan, kecurangan dan yang sejenisnya serta memenuhi rukun-rukun dan syarat-syarat didalam jual belinya.Rukun-rukun jual beli menurut jumhur ulama :Ada penjual, Ada pembeli, Ijab Kabul,Barang yang diakadkan. (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz V hal 3309)</li></ul>Syarat-syarat sah jual beli itu adalah :<br />Syarat-syarat pelaku akad : bagi pelaku akad disyaratkan, berakal dan memiliki kemampuan memilih. Jadi orang gila, orang mabuk, dan anak kecil (yang belum bisa membedakan) tidak bisa dinyatakan sah.<br />Syarat-syarat barang yang diakadkan :Suci (halal dan baik), Bermanfaat, Milik orang yang melakukan akad.<br />Mampu diserahkan oleh pelaku akad.<br />Mengetahui status barang (kualitas, kuantitas, jenis dan lain-lain)<br />Barang tersebut dapat diterima oleh pihak yang melakukan akad. (Fiqih Sunnah juz III hal 123) <br />
  23. 23. Menurut K.H. Abdulah Gymnastiar, Alat Ukur Keuntungan Dalam Berbisnis Atau Bekerja Itu Ada Lima:<br />Pertama, keuntungan amal shaleh.<br />Kedua, keuntungan membangun nama baik.<br />Ketiga, keuntungan menambah ilmu,<br /> pengalaman dan wawasan.<br />Keempat, keuntungan membangun tali<br /> silaturahmi atau relasi yang baik.<br />Kelima, keuntungan yang tidak sekadar<br /> mendapatkan manfaat bagi diri sendiri,<br /> melainkan bagi banyak orang dan<br /> memuaskan orang lain. <br />
  24. 24. MLM dalam literatur Fiqh Islam masuk dalam pembahasan Fiqh Muamalah atau bab Buyu' (Perdagangan) <br /><ul><li>MLM adalah menjual/memasarkan langsung suatu produk baik berupa barang atau jasa kepada konsumen. Sehingga biaya distribusi barang sangat minim atau sampai ke titik nol.
  25. 25. MLM juga menghilangkan biaya promosi karena distribusi dan promosi ditangani langsung oleh distributor dengan sistem berjenjang (pelevelan).</li></li></ul><li>Dalam MLM ada unsur jasa, artinya seorang distributor menjualkan barang yang bukan miliknya dan ia mendapatkan upah dari prosentasi harga barang dan jika dapat menjual sesuai target dia mendapat bonus yang ditetapkan perusahaan. Dalam MLM banyak sekali macamnya dan setiap perusahaan memiliki spesifikasi tersendiri.<br />
  26. 26. PANDUAN BAGI UMAT ISLAM YANG AKAN TERLIBAT DALAM BIDANG MLM <br />Pada dasarnya sistem MLM adalah muamalah atau buyu’. Prinsip dasar keduanya boleh (mubah) selagi tidak ada unsur: <br /><ul><li> Riba’;
  27. 27. Ghoror (penipuan);
  28. 28. Dhoror (merugikan atau</li></ul> mendholimi fihak lain); <br /><ul><li> Jahalah (tidak transparan).</li></li></ul><li>2. Ciri khas sistem MLM terdapat pada jaringannya, sehingga perlu diperhatikan segala sesuatu menyangkut jaringan tersebut: <br />a)Transparansi penentuan biaya untuk menjadi anggota dan alokasinya dapat dipertanggungjawabkan. Penetapan biaya pendaftaran anggota yang tinggi tanpa memperoleh kompensasi yang diperoleh anggota baru sesuai atau yang mendekati biaya tersebut adalah celah dimana perusahaan MLM mengambil sesuatu tanpa hak.<br />
  29. 29. b) Transparansi peningkatan anggota pada setiap jenjang (level) dan kesempatan untuk berhasil pada setiap orang. Peningkatan posisi bagi setiap orang dalam profesi memang terdapat disetiap usaha. Sehingga peningkatan level dalam sistem MLM adalah suatu hal yang dibolehkan selagi dilakukan secara transparan, tidak menzhalimi fihak yang ada di bawah, setingkat maupun di atas.<br />c) Hak dan kesempatan yang diperoleh sesuai dengan prestasi kerja anggota. Seorang anggota atau distributor biasanya mendapatkan untung dari penjualan yang dilakukan dirinya dan dilakukan down line-nya. Perolehan untung dari penjualan langsung yang dilakukan dirinya adalah sesuatu yang biasa dalam jual beli, adapun perolehan prosentase keuntungan diperolehnya disebabkan usaha down line-nya adalah sesuatu yang dibolehkan sesuai perjanjian yang disepakati bersama dan tidak terjadi kedholiman.<br />
  30. 30. Dr. Muhammad Abdurrob AnnidzomLembaga Tinggi Fatwa Departemen Waqafdan Urusan Agama, Dubai<br /><ul><li>Usaha Network Marketing (MLM/sejenis): menuruthukum Islam termasuk Bab Jiallah. PenjelasanJiallah : Jiallah adalah pemberian komisi sesuaidengan akad / perjanjian.
  31. 31. Barang siapa yang bertransaksi sesuai dengan akad Jiallah secara mutlak atau dibatasi dengan syarat-syarat sesuai dengan hasil jerih payahnya / usahanya, transaksi tersebut diatas adalah dibolehkan selagi dalam transaksi tidak ada yang membatalkan. Dan Selagi produknya bukan barang yang diharamkan menurut Hukum Islam atau Undang-Undang.</li></li></ul><li>TRANSAKSI <br />BISNIS SYARIAH :<br />Hubunganantarperoranganatauparapihak yang menyangkutharta, baikperikatanataujualbeli, yang sesuaidengantataaturhukum Islam<br />
  32. 32. <ul><li>Asas-asastransaksibisnissyariah : alatukursahatautidaknyasuatutransaksi.
  33. 33. Bilasuatuaktifitasbisnisberdiridiatasasas-asastersebut, makadikatakansebagaibisnis yang sahdanhalal.
  34. 34. Sedangkan, bilatidakdemikian, makadikatakansebagaibisnisfasid (cacathukum) danharam(DR. IjaSuntana, M.Ag, PakarPolitikEkonomi Islam)</li></li></ul><li>ASAS-ASAS TRANSAKSI SYARIAH<br />Tabaddul al Manafi( ManfaatBersama); setiapbentuktransaksiekonomiharusmemberikakeuntunganbersamabagiparapihak yang terlibat.<br />Al-Tada’wul (Pemerataan); Keuntungantidakhanyadirasakansegelintirorang, melainkanterdistribusikansecarameratadiantaraparapihak yang terlibat, baikuplinemaupundownline)<br />
  35. 35. 3. An Taradhin(SukaSamaSuka); setiapbentukaktifitasbisnis, baikantarindividuatauantarpihak, harusberdasarkankerelaanmasing-masingdalammenerima tau menyerahkankekayaan yang dijadikanobjektransasksi.<br />4.‘Adamul Gharar(Bebastipudaya); aktifitasbisnisharusmemilikiobjek yang jelasdankasatmata, bukatransaksitanpaobjekataumemperjualbelikanalattukar.<br />5. Faktubuh(Ketercatatan) ; suatutransaksibisnisharusmemilikidokumen yang jelasdan valid.<br />

×