CERPEN - Setengah Jendela (Itu...)

95
-1

Published on

Published in: Entertainment & Humor
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
95
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
3
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

CERPEN - Setengah Jendela (Itu...)

  1. 1. SETENGAH JENDELA (ITU..) by : Faridatuz Zuhroh Senja menyapa tanpa permisi. Semburat merah terselip manis di jendela yang setengah terbuka. Sepasang mata milik Karla sedang menatapnya penuh arti. Namun akhirnya dijatuhkannya pandangan itu ke desain yang belum juga selesai. Nampaknya suasana hatinya yang buruk itu sudah berhasil merusak pekerjaannya. Semua orang di kantor tempatnya bekerja sudah bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.Tapi Karla tidak. Belakangan ini Karla lebih memilih bekerja lembur di kantornya daripada pulang ke rumah. Lebih tepatnya Karla malas berada di rumah ayahnya bersama ibu tiri dan saudara tirinya. Karla sedang berjalan ke arah parkiran. Karla berpikir harus kemanakah ia saat rumah bukanlah tujuannya. Karla belum juga mendapatkan tujuan saat tiba-tiba ponselnya berdering. Nama dan foto ayahnya muncul di layar ponselnya. “Halo…” Karla terkejut karena ternyata bukan ayahnya yang berbicara di seberang teleponnya itu melainkan Gisel, saudara tirinya. Karla lebih terkejut lagi setelah Gisel mengatakan bahwa ayahnya kecelakaan dan baru saja masuk ke rumah sakit. Dengan terburu-buru Karla menjalankan mobilnya ke Rumah Sakit Umum Saras Husada. Banyaknya lampu merah membuatnya gusar di sepanjang perjalanan. Sampai akhirnya dengan mulus roda mobil Karla baru saja membelok ke arah parkiran rumah sakit. Setelah mendapatkan posisi parkir yang bagus, Karla bergegas keluar dari mobil. Tanpa ragu Karla mengambil seribu langkah tanpa menghiraukan beberapa petugas berseragam putih yang mencoba menegurnya. “Ayah,” panggil Karla begitu tangannya menjangkau pintu yang dibukanya dengan cepat. Dilihatnya sang ayah terbaring di ranjang pasien itu dan Gisel sedang duduk di kursi yang ditarik ke tepi ranjang pasien. “Karl..” ucap Gisel lirih tapi Karla tak mengindahkannya. Karla terus terpaku dengan sosok ayah yang terbaring dan belum juga membuka matanya. “Ayah koma, Karl” lanjut Gisel. Menyadari bahwa Karla terus memperhatikan ayahnya, Gisel pun keluar sebentar memberi waktu lebih untuk Karla dengan ayahnya. “Ayah, ayah baik-baik saja kan?” kata Karla sambil menyapu pandangan ke semua bagian tubuh ayahnya. Suara Karla terdengar berat karena bercampur dengan isak tangis yang berusaha ditahannya. “Ayah harus kuat dan sehat. Bukankah ayah selalu bilang agar Karla jadi anak yang kuat? Seharusnya ayah juga!” Ia terus menggumam semua yang ayahnya pernah katakan padanya. “Ayah juga selalu melarang Karla menangis apapun kondisinya. Kalau ayah ingin menguji Karla bukan begini caranya,ayah..” Digenggamnya tangan sang ayah dengan segenap rasa sayangnya. Dari luar ruangan, sepasang mata Gisel menangkap pemandangan mengharukan itu penuh perhatian. Karla terbangun dari tidurnya. Jarum jam tepat menunjukkan pukul 10 malam saat sepasang mata Karla meliriknya. Dilihatnya ibu tirinya dan Gisel juga sudah tertidur di sofa ruangan itu sementara dirinya tadi tertidur di ranjang pengunjung. Siapa yang mengangkatnya ke atas ranjang? Siapa yang memberinya selimut? Ia tak habis pikir lalu bergegas memberi selimutnya kepada ibu dan adik tirinya itu.
  2. 2. Tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan masuk dari sederet nomor asing. Diangkatnya dengan percaya diri walaupun nyawanya belum sempurna sadar dari tidurnya. “Halo… ah, Ibu Santi?” Mendengar nama itu membuatnya spontan membuka bulat-bulat matanya. Karla tersadar akan desain yang diminta klien atasannya yang tadi sore ditinggalkannya. “Maaf belum selesai bu… iya baru desain pertama,yang kedua belum… oh,baik…baik besok saya kirimkan desain yang kedua… terimakasih.” Mendadak Karla kehilangan rasa kantuknya, akhirnya ia mememilih keluar mencari angin segar, lalu mencoba memulai kembali desain yang tadi ditinggalkannya begitu saja. Diluar dugaan ternyata kali ini inspirasinya mengalir cepat karena sedikit demi sedikit. Akhirnya dalam waktu satu jam desain yang digarapnya pun selesai sesuai dengan yang diharapkannya. Setelah merasa cukup menikmati dinginnya udara luar itu, Karla bergegas kembali ke ruang pasien tempat ayahnya dirawat. Namun tak sengaja sepasang matanya menangkap sosok Gisel sedang duduk di kursi seperti posisi Karla sore tadi. Gisel sedang menggenggam tangan ayahnya. Samar-samar pun terdengar suara Gisel mengatakan sesuatu kepada ayahnya walaupun sudah jelas ayahnya tak akan mendengarnya. Karena sangat penasaran, Karla berdiri mematung di depan ruangan dengan pintu sedikit terbuka untuk mendengar kata-kata Gisel. “Dia sangat menyayangi ayah. Apapun pasti akan dilakukannya agar ayah menoleh ke arahnya.” Karla berdecak sebal karena mengira yang sedang dibicarakan Gisel adalah ibunya sendiri. “Gisel tahu ayah juga sangat menyayanginya walaupun ayah berusaha tak menunjukkannya. Tapi ayah tahu sendiri kan hanya ayah yang dimiliki Karla sejak ibunya meninggal. Ayah tak bisa memaksanya menerima kehadiran Gisel dan ibu.” Karla terperanjat. Yang sedang dibicarakan saudara tirinya itu bukanlah ibunya. Tapi Karla. “Gisel sudah pernah merasakan betapa sakitnya kehilangan ayah di masa lalu. Tapi sekarang ayah Karla adalah ayah Gisel juga jadi Gisel senang..” Gisel menarik napasnya dalam. “Karena ayah masih di sini, jangan buat Karla merasa kehilangan ayah seperti Gisel dulu.” Gisel membenamkan wajahnya di tepi ranjang. Sementara di luar ruangan itu Karla sedang menahan isakan harunya. Jemarinya bergerak menutup rapat pintu itu walaupun badannya masih berdiri tegak di sana. Refleks jemarinya mengepal lalu ditepuk-tepuknya dadanya keras. Sesak! Setelah mendapatkan kembali kekuatannya, Karla memutuskan masuk ke dalam. Tepat saat ia membuka pintu, sepasang matanya bertemu pandang dengan mata Gisel. Tapi sepersekian detik kemudian Gisel menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya yang baru saja menangis. “Bodoh” kata Karla sambil berjalan menghampiri Gisel. Gisel sedikit terkejut mendengar ucapan Karla. “Siapa yang menyuruhmu melakukan itu?” Gisel terperanjat tak mengerti apa yang dikatakan Karla padanya. Akhirnya Gisel mengangkat kepalanya menatap Karla yang sudah setengah meter di hadapannya. Kemudian dirasakannya Karla sedang memeluknya. “Jangan menangis. Ayah tak suka anaknya menangis.” Namun justru yang terjadi adalah mereka saling menangis haru dalam pelukan hangat.

×