Madrasah

  • 396 views
Uploaded on

keagamaan

keagamaan

More in: Social Media
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
396
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
2
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. BAB I PENDAHULUAN Sebagai akibat dari perbedaan faham yang terdapat dalam aliran-aliran teologi islam mengenai kekuatan akal, fungsi wahyu dan kebebasan serta kekuasaan manusia ataskehendak dan perbuatnnya, terdapat pula perbedaan faham tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Bagi aliran yang berpendapat bahwa akal mempunyai daya besar dan manusia bebas dan berkuasa atas kehendak dan perbuatannya, kekuasaan dan kehendak Tuhan pada hakekatnya tidak lagi bersifat mutlak semutlak-mutlaknya. Bagi aliran yang berpendapat sebaliknya, kekuasaan dan kehendak Tuhan tetap bersifat mutlak. Dengan demikian bagi kaum Asy‟ariah, Tuhan berkuasa dan berkehendak mutlak, sedang bagi kaum mu‟tzilah, kekuasaan dan kehendak Tuhan tidak lagi mempunyai sifat mutlak semutlak-mutlaknya. Dalam menjelaskan kemutlakan kekuasaan dan kehendak Tuhan ini, Al-Asy‟arimenulis dalam AlIbanah bahwa Tuhan tidak tunduk kepada siapapun, Tuhan tidak ada suatu zat lain yang dapat membuat hukum dan dapat menentukan apa yang boleh dibuat Tuhan. Al-Ghazali juga mengeluarkan pendapat yang sama. Tuhan dapat berbauat apa saja yang dikehendaki-Nya, dapat memberikan hukum menurut kehendaknya, dapat menyiksa orang yang berbuat baik jika itu dikehendaki-Nya dan dapat memberi upah kepada orang kafir jika yang demikian dikehendaki-Nya. Sedangkan kaum Mu‟tazilah berpendapat bahwa kekuasaan Tuhan sebenarnya tidak bersifat mutlak lagi. Sebagai terkandung dalam uraian Nadir, kekuasaan Tuhan yang dibatasi oleh kebebasan yang menurut faham Mu‟tazilah telah diberikan kepada manusia dalam menentukan kemauan dan perbuatan. BAB II PEMBAHASAN A. Kekuasaan dan Kehendak Tuhan Di dalam teologi Islam, terdapat dua macam pandangan mengenai kekuasaan dan kehendak Tuhan.Aliran teologi yang memberikan kedudukan yang tinggi kepada akal dan berpegang pada kebebasan manusia didalam berbuat dan berkehendak, berpendapat bahwa kekuasaan Tuhan tidak mutlak, tetapi dibatasi oleh sunnah-Nya sendiri. Sunnah Tuhan tidak pernah berubah seperti sunnah api adalah membakar dan tidak pernah berubah menjadi tidak membakar. Jika terdapat sesuatu yang tak terbakar oleh api asbertos, bukan berarti api kehilangan sunahnya untuk membakar, tetapi asbestos itulah yang mempunyai unsur yang tak terbakar oleh api. Segala sesuatu yang ada didunia ini masing-masing mempunyai sunahnya sendiri-sendiri.[1] Aliran yang mengakui kebebasan manusia dan mengakui ketidakmutlakan kekuasaan dan kehendak Tuhan, biasa disebut kaum Qadariyah mereka yang mengakui adanya free will dan free act bagi manusia. Adapun aliran yang tidak mengakui adanya kebebasan manusia dalam berbuat dan berkehendak biasa disebut dengan kaum Jabariyah mereka yang menyebut manusia sebagai umat fatalisme atau predesination.
  • 2. Mu‟tazila merupakan salah satu contoh dari golongan pertama. Mereka berpendapat bahwa kekuasaan Tuhan dan kehendak-Nya tidak mutlak lagi, tetapi ia harus melaksanakan kewajiban-kewajiban yang timbul dan peraturan yang dibuat-Nya.Diantara kewajibankewajiban yang harus dilaksanakan Tuhan ialah memberi pahala bagi orang yang maenjalankan perintah-Nya dan menyiksa orang yang melanggarnya. Semua kewajiban Tuhan bisa dirangkum dalam satu kewajiban, yaitu Tuhan wajib berbuat baik atau dalam istilah Mu‟tazilah bisa disebut dengan Al-salah wa Al-aslah ( berbuat baik dan terbaik ). Al-Juwaini tidak sependapat dengan Mu‟tazilah, bahwa Tuhan mempunyai kewajibankewajiban. Baginya, tak ada kewajiban bagi Tuhan. Tuhan sebagai zat yang tertinggi dan Maha Berkuasa, tak satupun yang mengikuti-Nya untuk memenuhi kewajiban-kewajiban. Lain halnya dengan pendapat Al-Asy‟ari. Baginya, Tuhan tidak mempunyai kewajiban apaapa terhadap makhluk-Nya. Maka Ia tidak wajib memasukkan orang yang berbuat baik kedalam surga atau memasukkan orang yang berbuat jahat kedalam neraka. Bahkan Tuhan boleh memasukkan orang yang berbuat baik kedalam neraka dan memasukkan orang yang berbuat jahaat kedalam surga, menurut kehendak dan sesuai kehendaknya ynag mutlak. Namun demikian Tuhan tidak berdusta akan berita-Nya, lanju Al-Asy‟ari. Dari ungkapan ini, bisa dimengerti bahwa Tuahan bagi Al-Asy‟ari mempunyai kekuasaan dan kehendak mutlak, tak dibatasi oleh apapun. Jika Tuhan tidak pernah memasukkan orang kafir kesurga, itu berarti Tuhan tdak berkuasa untuk memasukkanya kedalam surga, sebab memasukkan orang kafir kedalam surga sama dengan Tuhan berdusta, sedangkan dusta merupakan sifat mustahil bagi Tuhan sebagaimana bodoh juga merupakan sifat mustahil bagi-Nya. Agaknya, Al-Asy‟ari benar-benar menghindari adanya kewajiban-kewajiban bagi Tuhan, sebab adanya kewajiban akan berarti adanya batasan bagi kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Pemakaian kata mustahil tidak akan berakibat pada pengurangan terhadap kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Bagi Al-Juwaini, walaupun Ia menghindari adanya kewajiban bagi Tuhan, namun pendapatnya tentang Tuhan pasti memenuhi janji dan melaksanakan ancaman-Nya terselip pengertian bahwa Tuhan harus melaksanakan janji dan ancaman-Nya, walaupun sekali tempo Tuhan membatalkan ancaman dan memberi pengampunan bagi orang yang bersalah. Pendapat seperti ini sama dengan pendapat Maturidiyah Bukhara. Seperti yang dijelaskan oleh Al-Badzwi, bahwa Tuhan tidak mungkin melanggar janji-Nya untuk memberi upah kepada orang berbuat baik, tetapi sebaliknya, bukan tdak ungkin Tuhan membatalkan ancaman untuk memberi hukuman kepada orang yang berbuat jahat. Oleh karena itu, nasib orang yang berdosa besar ditentukan oleh kehendak mutlak Tuhan. Jika Tuhan berkehendak untuk memberi ampun kepada orang yang berdosa besar, Tuhan akan memasukkannya bukan kedalam neraka, tetapi kedalam surga. Dan jika Ia berkehendak untuk memberi hukuman kepadanya, Tuhan akan memasukkannya kedalam neraka untuk selama-lamanya. Bukan
  • 3. tidak mungkin Tuhan ampun kepada seseorang, tapi dalam pada itu, tidak memberi ampun kepada orang lain, sungguhpun dosanya sama.[2] Dari uraian diatas, bisa diketahui bahwa bagi Maturidiyah Bukhara dan Al-Juwaini, kekuasaan dan kehendak Tuhan tidak benar-benar mutlak, sebagaimana pendapat Al-Asy‟ari, mereka berusaha mempertahankan keadilan, kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan. Akan tetapi, karena adanya kekuasaan dan kehendak utlak Tuhan bertentangan dengan aham keadilan Tuhan, maka membawa kesimpulan bahwa kekuasaan dan kehendak Tuhan tidak mutlak lagi, sebab dibatasi oleh keadilan-Nya. B. 1. Keadilan Tuhan Keadilan secara leksikal berarti sama dan menyamakan. Dan menurut pandangan umum, keadilan yaitu menjaga hak-hak orang lain. Keadilan merupakan lawan kezaliman yang berarti merampas hak-hak orang lain. Atas dasar ini, definisi keadilan ialah memberikan hak kepada yang berhak mene-rimanya. Maka itu, pertama kita harus mempunyai gambaran adanya pihak yang mempunyai hak sehingga dapat dikatakan bahwa menjaga haknya merupakankeadilandanmerampashaknyaadalahkezaliman. MaknakeadilanTuhanmenurutbeberapagolongan : Muta‟zilah Soal keadilan mereka tinjau dari sudut pandangan manusia, bagi mereka sebagai yang diterangkan olehAbd al-Jabbar, keadilan erat kaitannya dengan hak dan keadilan diartikan memberikan orang akanhaknya . Kata-kata “TuhanAdil” mengandung arti bahwa segala perbuatan-Nya adalah baik, bahwa ia tidak dapat berbuat yang buruk dan bahwa ia tidak dapat mengabaikan kewajiban – kewajiban –Nya terhadap manusia. Oleh karena itu Tuhan tidak boleh bersifat Zalim dalam member hukuman, tidak dapat menghukum anak orang musyrik lantaran dosa orang tuanya dan mesti member upah kepada orang-orang yang patuh pada-Nya dan memberikan hukuman kepada orang-orang yang menentang perintahNya.Selanjutnya keadilan juga mengadukan arti berbuat semestinya serta seusai dengan kepentingan manusia.Dan member upah atau hukuman kepada manusia sejajar dengan corak perbuatannya.[3] 2. Asy‟ariyah Kaum Asy‟ariyah mereka menolak faham Mu‟tazilah bahwa Tuhan mempunyai tujuan dalam perbuatan-perbuatannya. Bagi mereka perbuatan-perbuatan Tuhan tidak mempunyai tujuan perbuatan dalam arti sebab dalam mendorong Tuhan untuk berbuat sesuatu betul mereka akui bahwa perbuatan Tuhan menimbulkan kebaikan dan keuntungan itu tidaklah mendorong bagi Tuhan untuk berbuat. Tuhan berbuat semata-mata karena kekuasaan dan kehendak mutlaknya bukan karena kepentingan manusia atau tujuan lain. Dengan demikian keadilan Tuhan mempunyai arti bahwaTuhan mempunyai kekuasaan mutlak terhadap makhluknya dan berbuat sekehendak hati-Nya. 3. Maturidiyah Faham Maturidiyah ini ada dua golongan pertama golongan maturidiyah Bukhoro yang kedua golongan Maturidiyah di Samarkand. Golongan maturidiyah Bukhoro mempunyai sikap yang sama dengan kaum Asy‟ariyah. Menurut Al-Badzawi tidak ada tujuan yang
  • 4. mendorong Tuhan untuk menciptakan kosmos ini. Tuhan berbuat sekehendak hati-Nya. Dengan kata lain al-Bazdawi berpendapat bahwa alam tidak diciptakan Tuhan untuk kepentingan manusia. Bagi kaum Mu‟tazilah dan kaum maturidiyah kelopak Samarkand persoalan persoalan tersebut tidaklah timbul, karena bagi mereka perbuatan manusia bukanlah perbuatan Tuhan tetap ia dalah perbuatan manusia itu sendiri. Jadi, manusia dihukum atas perbuatan yang dikehendakinya sendiri dan yang dilakukan bukan dengan paksaan, akan tetapi dengan kebebasan yang diberikanTuhan kepadanya. Bagi kaum Maturidiyah kelompak Bukhra, karena sefaham dengan kaum Asy‟ariyah BAB III KESIMPULAN Aliran yang mengakui kebebasan manusia dan mengakui ketidakmutlakan kekuasaan dan kehendak Tuhan, biasa disebut kaum Qadariyah mereka yang mengakui adanya free will dan free act bagi manusia. Adapun aliran yang tidak mengakui adanya kebebasan manusia dalam berbuat dan berkehendak biasa disebut dengan kaum Jabariyah mereka yang menyebut manusia sebagai umat fatalisme atau predesination.Keadilan Tuhan menurut :  Mu‟tazilah Kata-kata “Tuhan Adil” mengandung arti bahwa segala perbuatan-Nya adalah baik, bahwa ia tidak dapat berbuat yang buruk dan bahwa ia tidak dapat mengabaikan kewajiban-kewajibanNya terhadap manusia.  Asy‟ariyah Bagi mereka perbuatan-perbuatan Tuhan tidak mempunyai tujuan perbuatan dalam arti sebab dalam mendorong Tuhan untuk berbuat sesuatu betul mereka akui bahwa perbuatan Tuhan menimbulkan kebaikan dan keuntungan itu tidaklah mendorong bagi Tuhan untuk berbuat.  Maturidiyah Faham Maturidiyahini ada dua golongan pertama golongan maturidiyah Bukhoro yang kedua golongan Maturidiyah di Samarkand, dan masing-masing memiliki perbedaan pendapat tentang Keadilan Tuhan. Daftar Pustaka Kiswati, Isuroya. 2002. PeletakDasarTeologiRasionaldalam Islam, Jakarta: Al-Juwaini kehendak-mutlak-tuhan-dan-keadilan. Diaksesdari http:// technurlogy.wordpress.com, PadaTanggal (24 November 2011).
  • 5. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di masa ini banyak sekali di kalangan masyarakat yang kurang memahami secara mendalam tentang sifat-sifat Tuhan. Karena Islam adalah agama yang luas dan banyak aliranaliran di dalamnya, sehingga perlu banyak panjelasan yang detail tentang sifat-sifat Tuhan. Suatu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah untuk mengetahui tentang Tuhannya. Di dalam agama Islam banyak berbagai aliran-aliran seperti Asy‟ariah, Mu‟tazilah, Maturidiah. Dan aliran ini dalam menafsiri Al-Qur‟an berbeda-beda, oleh karena itu timbulah berbagai macam perbedaan pendapat di antara aliran-liran ini. Melalui makalah ini, kami akan mencoba menjelaskan tentang berbagai macam pendapat aliran-aliran tentang sifat-sifat Tuhan. Yang tujuanya tak lain adalah unutk menambah wawasan pembaca tentang sifat-sifat Tuhan menurut berbargai airan-aliran yang ada dalam agama Islam. Sehingga kita dapat mengetahuidengan benar dan detail tentang sifat-sifat Tuhan, karena sebagai orang Islam sangatlah penting untuk mengetahui hal ini. Harapan perumus makalah ini agar pembaca dapat memahami betul tentang ajaran Islam, terutama dalam mengetahui sifat-sifat Tuhan. Dengan demikian imannya kepada Tuhan akan lebih mantap dan tidak di ragukan lagi. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah: 1. Bagimana memahami Kekuasaan dan Kehendak mutlak Tuhan? 2. Bagaimana pendapat aliran-aliran dalam Islam tentang sifat-sifat Tuhan? 3. Bagaimana pandangan aliran-aliran dalam Islam mengenai anthropomorphisme? 4. Bagaimana pendapat aliran-aliran dalam Islam tentang melihat Tuhan? 5. Bagaimana pandangan aliran-aliran dalam Islam tentang sabda Tuhan? 1.3 Tujuan Berdasarkan masalah di atas, maka ditulisnya makalah ini adalah unutk: 1. Mengetahui Kekuasaan dan Kehendak mutlak Tuhan 2. Mengetahui pendapat aliran-aliran dalam Islam tentang sifat-sifat Tuhan 3. Mengetahui pandangan aliran-aliran dalam Islam mengenai anthropomorphisme 4. Mengetahui aliran-aliran dalam Islam tentang melihat Tuhan 5. Mengetahui aliarn-aliran dalam Islam tentang sabda Tuhan BAB II PEMBAHASAN 2.1 Kekuasaan dan Kehendak Mutlak Tuhan Sebagai akibat dari perbedaan paham yang terdapat dalam aliran-aliran teologi Islam mengenal soal kekuatan akal,fungsi wahyu dan kebebasan serta kekuasaan manusia atas kehendak dan perbuatannya, terdapat pula peerbedaan paham tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Bagi aliran yang berpendapat bahwa akal mempunyai daya besar dan manusia bebas serta berkuasa atas kehendak dan perbuatannya, kekuasaan dan kehendak
  • 6. Tuhan pada hakikatnya tidak lagi bersifat mutlak semutlak-mutlaknya. Bagi aliran yang berpendapat sebaliknya, kekuasaan dan kehendak Tuhan tetap bersifat mutlak. Dengan demikian bagi kaum Asy‟ariyah, Tuhan berkuasa dan berkehendak mutlak, sedangkan bagi kaum Mu‟tazilah, kekuasaan dan kehendak Tuhan tidak lagi mempunyai sifat mutlak semutlak-mutlaknya. Dalam menjelaskan kemutlakan kekuasaan dan kehendak Tuhan ini, al-Asy‟ari menulis dalam Al-Ibanah bahwa Tuhan tidak tunduk kepada siapa pun. Di atas Tuhan tidak ada suatu zat lain yang dapat membuat hokum dan dapat menentukan apa yang boleh dibuat dan apa yang tidak boleh dibuat Tuhan. Tuhan bersifat absolute dalam kehendak dan kekuasan-Nya. Al-Ghozali mengeluarkan pendapat, bahwasana Tuhan dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, dapat memberikan hokum menurut kehendak-Nya, dapat menyiksa orang yang berbuat baik jika itu dikehendaki-Nya dan dapat member upah kepada orang kafir jika yang demikian dikehendaki-Nya. Kemutlakan kekuasaan dan kehendak Tuhan yang digambarkan di atas dapat pula dilihat dari paham kaum Asy‟ariyah, bahwa Tuhan dapat meletakkan beban yang tak terpikul pada diri manusia. Dan dari keterangan al-Asy‟ari sendiri, bahwa sekiranya Tuhan mewahyukan bahwa berdusta adalah baik, maka berdusta pastilah baik bukan buruk. Bagi kaum Asy‟ariyah, Tuhan memang tidak terikat kepada apapun, tidak terikat kepada janjijanji, kepada norma-norma keadilan dan sebagainya. Berlainan dengan paham kaum Asy;ariyah ini, kaum Mu‟tazilah berpendapat bahwa kekuasan Tuhan sebenarnya tidak bersifat mutlak lagi. Kekuasaan mutlak Tuhan telah dibatasi oleh kebebasan yang menurut paham Mu‟tazilah telah diberikan kepada manusia dalam menentukan kemauan dan perbuatan. Tuuhan tidak bisa lagi berbuat sekehendak-Nya, Tuhan telah terikat pada norma-norma keadilan yang kalau dilanggar membuat Tuhan bersifat tidak adil bahkan zalim. Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan dibatasi lagi oleh kewajiban-kewajiban Tuhan terhadap manusia yang menurut paham Mu‟tazilah memang ada. Kekuasaan mutlak itu dibatasi pula oleh hokum alam yang tidak mengalami perubahan. Adapun menurut kaum Maturidiah golongan Bukhara, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak. Menurut al-Bazdawi, Tuhan memang berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya dan menentukan segala-galanya menurut kehendak-Nya, tidak ada yang menentang atau memaksa Tuhan dan tidak ada larangan-larangan terhadap Tuhan. Maturidiah golongan Samarknd tidaklah sekeras golongan Bukhara dalam mempertahankan kemutlakan kekuasaan Tuhan, tetapi tidak pula memberikan batasan sebanyak batasan yang diberikan Mu‟tazilah bagi kekuasaan mutlak Tuhan. Batasan-batasa yang diberikan oleh golonga Samarkand ialah: a) Kemerdekaan dalam kemauan dan perbuatan yang menurut pendapat mereka, ada pada manusia b) Keadaan Tuhan menjatuhkan hukuman bukan sewenang-wenang, teteapi berdasarkan atas kenerdekaan manusia dalam mempergunakan daya yang diciptakan Tuhan dalam dirinya untuk berbuat baik atau jahat c) Keadaan-keadaan hukuman Tuhan pasti terjadi Oleh karena itu, tidak perlu ditegaskan bahwa yang menetukan batasan-batasan itu bukanlah zat selain dari Tuhan, karena di atas Tuhan tidak ada suatu zat pun yang lebih berkuasa. Tuhan di atas segala-galanya. Batasan-batasan itu ditentukan oleh tuhan sendiri dan dengan kemauan-Nya sendiri pula. 2.2 Sifat-Sifat Tuhan pada Umumnya
  • 7. Persoalan lain yang menjadi perdebatan di antara aliran-aliran kalam adalah masalah sifat-sifat Tuhan. Tia-tiap aliran mengaku bahwa pahamnya dapat menyucikan dan memelihara keesaan Allah. Perdebatan antara aliran kalam tentang sifat-sifat Allah tidak terbatas pada persoalan apakah Allah memiliki sifat atau tidak, tetapi juga pada persoalan-persoalan cabang sifat-sifat Allah, seperti anthropomorphisme, melihat Tuhan, dan sabda Tuhan. A. Aliran Mu’tazilah Pertentangan paham antara kaum Mu‟tazilah dengan kaum Asy‟ariyah dalam masalah ini berkisar sekitar persoalan apakah Tuhan mempunyai sifat atau tidak. Jika Tuhan mempunyai sifat-sifat itu, pastilah kekal seperti halnya dengan zat Tuhan. Dan selanjutnya jika sifat-sifat itu kekal, maka yang bersifat kekal bukanlah satu, tetapi banyak. Tegasnya, kekalnya sifat-sifat akan membawa kepada paham yang banyak kekal (ta‟addud alqudama‟ atau multiplicity of eternals). Dan ini selanjutnya membawa pula kepada pada paham syirik atau politheisme. Suatu hal yang tidak dapat diterima dalam teologi. Kaum Mu‟tazilah mencoba menyelasaikan persoalan ini dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Definisi mereka tentang Tuhan, sebagaimana dijelaskan oleh al-Asy‟ari, bersifat negative. Tuhan tidak mempunyai pengetahuan, tidak mempunyai kekuasaan, tidak mempunyai hajat dan sebagainya. Ini tidak berarti bahwa Tuhan bagi mereka tidak mengetahui, berkuasa dan sebagainya tetapi mengetahui, berkuasa dan sebagainya, bukanlah sifat dalam arti kata sebenarnya. Arti “Tuhan mengetahui” kata Abu alHuzail, ialah Tuhan mengetahui dengan perantara pengetahuan dan pengetahuan itu adalah Tuhan itu sendiri. Dengan demikian, pengetahuan Tuhan, sebagaimana dijelaskan oleh Abu al-Huzail, adalah Tuhan sendiri, yaitu zat atau esensi Tuhan. Arti “Tuhan mengetahui dengan esensi-Nya” kata al-Jubba‟i, ialah untuk mengetahui, Tuhan tidak berhajat kepada suatu sifat dalam bentuk pengetahuan atau keadan mengetahui. Abu Hasyim, sebaliknya berpendapat, bahwa arti “Tuhan mengetahui melalui esensi-Na”, ialah Tuhan mempunyai keadaan mengetahui. Tetapi sesungguhnya terdapat perbedaan paham antara pemuka-pemuka Mu‟tazilah tersebut, mereka sepakat mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. B. Aliran Asy’ariyah Kaum Asy‟ariyah membawa penyelesaian yang berlawanan dengan paham Mu‟tazilah di atas. Mereka dengan tegas mengatakan bahwa Tuaha mempunyai sifat. Menurut al-Asy‟ari sendiri, tidak dapat diingkari bahwa Tuhan mempunyai sifat, karena perbuatan-perbuatan-Nya, di samping menyatakan bahwa Tuhan mengetahui, menghendaki, berkuasa dan sebagainya juga mengatakan bahwa Ia mempunyai pengetahuan, kemauan dan daya. Dan menurut al-Baghdadi, terdapat consensus di kalangan kaum Asy‟ariyah bahwa daya, pengetahuan, hayat, sifat ini kata al-Ghozali, tidaklah sama bahkan lain dari esensi Tuhan, tetapi berwujud dalam esensi itu sendiri. Uraian-uraian ini juga membawa paham banyak yang kekal dan untuk mengatasinya, kaum Asy‟ariyah mengaatakan bahwa sifat-sifat itu bukanlah Tuhan, tetapi tidak juga lain dari Tuhan. Karena sifat-sifat tidak lain dari Tuhan, adanya sifat-sifat tidak membawa kepada paham banyak kekal. Kelihatanya paham kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhanlah yang mendorong kaum Asy‟ariah memilih penyelesaian di atas. ”Sifat” mengandung arti tetap dan kekal, sedangkan “keadaan” mengandung arti berubah. Selenjutnya sifat mengandung arti kuat, sedangkan keadaan mengandung arti lemah. Oleh karena itu, mengatakan Tuhan tidak mempunyai sifat, tetapi hanya mempunyai keadan, tidaklah segaris dengan konsep kekuasaan dan kehendak
  • 8. mutlak Tuhan. Untuk mempertahankan kakuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, Tuhan harus mempunyai sifat sifat yang kekal. C. Aliran Maturidiyah Kaum Maturidiah golongan Bukhara, karena juga mempertahankan kekuasan mutlak Tuhan, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat. Persoalan banyak yang kekal, mereka selesaikan dengan mengatakan bahwa sifat-sifat Tuhan kekal melalui kekekalan yang terdapat dalam esensi Tuhan dan bukan melalui kekekalan sifat-sifat itu sendiri; juga dengan mengatakan bersama-sama sifat-Nya kekal, tetapi sifat-sifat itu sendiri tidaklah kekal. Aliran Maturidiyah Bukhara berbea dengan Asy‟ariyah. Sebagaimana aliran lain, Maturidiah Bukhara juga berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat-sifat jasmani. Ayat-ayat Al-Qur‟an yang menggambarkan Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmaniharuslah diberi takwil. Menurut al-Bazdawi, ayat yang menggambarkan Tuhan mempunhyai dua mata dan dua tangan, bukanlah Tuhan mempunyai anggota badan. Golongan Samarkand dalam hal ini kelihatannya tidak sepaham dengan Mu‟tazilah karena al-Maturidi mengatakan bahwa sifat bukanlah Tuhan tetapi juga tidak lain dari Tuhan. Maturidiah Samarkand sependapat dengan Mu‟tazilah dalam mengahadapi ayat-ayat yang member gambaran Tuhan bersifat dengan mengahadapi jasmani ini. Al-Maturidi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tangan, muka, dan kaki adalah kekuasaan Tuhan. D. Aliran Syi’ah Rafidhah Sebagian besar tokoh Syi‟ah Rafidhah menolak bahwa Allah senantiasa bersifat tahu. Mereka menilai bahwa pengetahuan itu bersifat baru, tidak qadim. Sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa Allah tidak tahu terhadap sesuatu sebelum kemunculannya. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa Allah tidak bersifat tahu terhadap sesuatu sebelum Ia menghendakinya. Tatkala Ia menghendaki sesuatu, Ia pun bersifat tahu. Jika Dia tidak menghendaki, Dia tidak bersifat tahu. Makna Allah berkehendak menurut mereka adalah bahwa Allah mengeluarkan gerakan. Ketika gerakan itu muncul, Ia bersifat tahu terhadap sesuatu itu. Mereka berpendapat pula bahwa Allah tidak bersifat tahu terhadap sesuatu yang tidak ada. Mayoritas tokoh rafidhah menyifati Tuhannya dengan perubahan. Mereka berangapan bahwa Tuhan mengalami banyak perubahan. Sebagian mereka mengatakan bahwa Allah terkadang memerintah sesuatu lalu mengubahnya. Terkadang pula Ia menghendaki melakukan sesuatu lalu mengurungkannya karena ada perubahan pada diri-Nya. Perubahan ini bukan dalam arti naskh, tetapi dalam arti bahwa pada waktu yang pertama Ia tidak tahu apa yang bakal terjadi pada waktu yang kedua. E. Anthropomorphisme Karena Tuhan tidak bersifat immateri, tidaklah dapat dikatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat-sifat jasmani. Kaum Mu‟tazilah yang berpegang pada kekuatan akal, menganut paham ini. Tuhan, kata „Abd al-Jabbar, tidak dapat mempunyai badan materi dan oleh karena itu tidak mempunyai sifat-sifat jasmani. Ayat-ayat Al-Qur‟an yang menggambarkan bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani harus diberi interpretasi lain. Dengan demikian, kata al-„arsy, tahta keajaan, diberi interpretasi kekuasaan, al-„ain, mata, diartikan pengetahuan, al-wajh, muka, ialah esensi, dan al-yad, tangan, adalah kekuasaan. Kaum Asy‟ariyah juga tidak menerima anthromorphisme dalam arti bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani yang sama dengan sifat-sifat jasmani manusia. Sesungguhnya walaupun demikian, mereka tetap mengatakan bahwa Tuhan disebut dalam Al-Qur‟an
  • 9. mempunyai mata, muka, tangan, dan sebagainya. Akan tetapi muka, tanga, mata dan sebagainya itu tidak sama dengan yang ada pada manusia. Meraka berpendapat bahwa katakata ini tidak boleh diberi interpretasi lain. Seperti kata al-Asy‟ari, Tuhan mempunyai dua tangan, tetapi itu tidak boleh diartikan rahmat atau kekuasaan Tuhan. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Tuhan hidup dengan hayat, tetapi hayat yang tidak sama dengan hayat manusia, dan mepunyai dua tangan, tetapi tangan yang tidak sama dengan tangan manusia. Tentu timbul pertanyaan, jika tidak sama dengan yang ada pada manusia, maka bagaimana sifat tangan, mata, muka, dan sebagainya itu? Jawab al-Asy‟ari: “Tuhan mempunyai mata dan tangan, yang tidak dapat diberikan gambaran atau definisi.” Argument kaum Asy‟ariyah dalam hal ini agaknya adalah sebagai berikut. Manusia adalah lemah dan akalnya tidak sanggup memberikan interpretasi jauh tentang sifat-sifat jasmani Tuhan yang tersebut dalam Al-Qur‟an sedemikian rupa, sehingga meniadakan sifasifat tersebut. Tetapi sebaliknya, sesungguhnya akal manusia lemah, akal tidak dapat menerima bahwa Tuhan mempunyai anggota badan seperti yang disebut oleh kaum anthroporphisme. Oleh karena itu, Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani seperti yang disebut dalam Al-Qur‟an tetapi dengan tidak diketahui bagaimana bentuknya. Al-Qur‟an mengatakan bahwa Tuhan mempunyai tangan dan manusia harus menerima itu. Kalau manusia tidak dapat mengetahuinya, itu adalah karena Tuhan yang Maha Kuasa dan dapat mempunyai bahkan juga menciptakan hal-hal yang tidak diselami akal manusia yang lemah. Kaum Maturidiah, golongan Bukhara dalam hal ini tidak sepaham denan kaum Asy‟ariyah. Tangan Tuhan menurut al-Bazdawi adalah sifat dan bukan anggota badan Tuhan, yaitu sifat sama dengan sifat-sifat lain seperti pengetahuan, daya dan kemauan. Golongan Samarkand, sebagai biasanya dalam hal-hal lain, mengambil posisi Mu‟tazilah. Al-Maturidi mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan tangan, muka, mata, dan kaki adalah kekuasaan Tuhan. Tuhan tidak mempunyai badan, yang sesungguh yang tidak sama dengan badan jasmani, karena badan manusia tersusun dari substansi dan accident (jawhar dan „ard). Manusia berhajat pada anggota badan karena tanpa anggota badan, manusia menjadi lemah; adapun Tuhan, tanpa anggota badan, Ia tetap Maha Kuasa. 2.3 Persoalan Melihat Tuhan di Akhirat Logika mengatakan bahwa Tuhan, karena bersifat immateri, tidak dapat dilihat dengan mata kepala. Dan inilah pendapat kaum Mu‟tazilah. Sebagai argument, Abd alJabbar, mengatakan bahwa Tuhan tidak mengambil tempat dan dengan demikian tidak dapat dilihat, karena yang dapat dilihat hanyalah yang mengambil tempat. Dan juga kalau Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala, tuhan akan dapat dilihat sekarang dalam alam ini juga. Dan tidak ada orang yang melihat Tuhan di alam ini. Kaum Asy‟ariyah sebaliknya, berpendapat bahwa Tuhan akan dapat dilihat oleh manusia dengan mata kepala di akhirat nanti. Paham ini sejajar dengan pendapat mereka bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat tajassum atau anthropomorphis. Sesungguhnya sifat-sifat itu tidak sama dengan sifat jasmani manusia yang ada dalam alam materi ini. Tuhan berkuasa mutlak dan dapat mengadakan apa saja. Sebalikmya, akal manusia lemah dan tidak selamanya sanggup memahami perbuatan dan ciptaan Tuhan. Sesungguhnya itu pun bertentangan dengan pendapat akal manusia, dapat dibuat dan diciptakan Tuhan. Melihat Tuhan yang bersifat immateri dengan mata kepala, dengan demikian tidaklah mustahil manusia akan dapat melihat Tuhan. Argument yang dikemukakan oleh al-Asy‟ari untuk memperkuat pendapat di atas adalah yang tidak dapat dilihat hanyalah yang tidak mempunyai wujud, yang mempunyai wujud pasti dapat dilihat. Tuhan berwujud dan oleh karena itu dapat dilihat. Tuhan melihat apa yang ada dan dengan emikian melihat diri-Nya juga; kalau Tuhan melihat diri-Nya, ia akan dapat membuat manusia bias melihat Tuhan.
  • 10. Al-Baghdadi mengemukakan argument lain. Manusia dapat melihat accidents (ala‟arad), karena manusia dapat membedakan antara putih dan hitam dan antara bersatu dan bercerai. Maut juga dapat dilihat, yaitu dengan melihat orang mati. Kalau a‟rad dapat dilihat, Tuhan juga dapat dilihat. Kaum Maturidiah dengan kedua golongannya sepaham dalam hal ini dengan kaum Asy‟ariyah. Al-Maturidi juga berpendapat bahwa Tuhan dapat dilihat karena Ia mempunyai wujud. Menurut al-Bazdawi, Tuhan dapat dilihat, juga tidak mempunyai bentuk, tidak mengambil tempat dan tidak terbatas. Baik kaum Mu‟tazilah, apalagi kaum Asy‟ariyah tidak hanya memakai dalil akal, tetapi juga dalil-dalil Al-Qur‟an untuk mempertahankan pendirian masing-masing. 2.4 Sabda Tuhan Mengenai sabda Tuhan atau kalam Allah atau tegasnya Al-Qur‟an, persoalannya dalam teologi ialah: kalau sabda merupakan sifat, sabda pasti kekal, tetapi sebaliknya sabda adalah tersusun dan oleh karena itu pasyi diciptakan dan tidak bisa kekal. Kaum Mu‟tazilah menyelesaikan persoalan ini dengan mengatakan bahwa sabda bukanlah sifat tetapi perbuata Tuhan. Dengan demikian Al-Qur‟an bukanlah bersifat kekal tetapi bersifat baru dan diciptakan Tuhan. Argument mereka, Al-Qur‟an tersusun dari bagianbagian berupa ayat dan surat, ayat yang satu mendahului yang lain dan surat yang satu mendahului yang lain pula. Adanya pada sesuatu, sifat terdahulu dan sifat datang kemudian membuat sesuatu itu tidak bisa bersifat qadim, yaitu tidak bermula, karena yang tidak bermula tidak didahului oleh apapu. Kaum Asy‟ariyah berpegang teguh bahwa sabda adalah sifat, dan sebagai sifat Tuhan pastilah kekal. Untuk mengatasi persoalan bahwa yang tersusun tidak bisa bersifat kekal (qadim), mereka memberi definisi lain tentang sabda. Sabda bagi mereka adalah arti atau makna abstrak dan tidak tersusun. Sabda bukanlah apa yang tersusun dari huruf dan suara. Sabda yang tersusun disebut sabda hanya dalam arti kiasan. Sabda yang sebenarnya ialah apa yang terletak di balik yang tersusun itu. Sabda yang tersusun dari huruf dan kata-kata bukanlah sabda Tuhan. Sabda dalam abstrak inilah yang dapat bersifat kekal dan dapat menjadi sifat Tuhan. Dan yang dimaksud dengan Al-Qur'an bukanlah apa yang tersusun dari huruf-huruf, katakata dan surat-surat, tetapi arti atau maknaa abstrak itu. Dalam arti inilah Al-Qur‟an menjadi sabda Tuhan dan bersifat kekal. Dalam arti huruf ,kata, ayat dan surat yang ditulis atau dibaca, Al-Qur‟an bersifat baru serta diciptakan. Dan bukanlah sabda Tuhan. Kaum Maturidiah dngan kedua golongannya sependapat dengan kaum Asy‟ariyah, bahwa sabda Tuhan atau Al-Qur‟an adalah kekal. Kata al-Maturidi, Al-Qur‟an adalah sifat kekal dari Tuhan, satu, tidak terbagi, tidak bahasa Arab, tetapi diucapkan manusiadalam ekspresi berlainan. Menurut al-Bazdawi, apa yang tersusun dan disebut Al-Qur‟an bukanlah sabda Tuhan, tetapi merupakan tanda dari sabda Tuhan. Ia disebut sabda Tuhan dalam arti kiasan. BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan Semua aliran teologi dalam Islam, baik Asy‟ariah, Maturidiah, Mu‟tazilah atau Syi‟ah Rafidhah sama-sama mempergunakan akal dalam menyelesaikan persoalan-persoalan teolog
  • 11. yang timbul di kalangan umat Islam. Perbedaan yang terdapat antara aliran-aliran itu adalah perbedaan dalam derajat kekuatan yang diberikan kepada akal. Kalau Mu‟tazilah berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang kuat, sedangkan Asy‟ariah berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang lemah. Semua aliran juga berpegang pada wahyu. Dalam hal ini perbedaan yang terdapat antara aliran-aliran itu hanyalah perbedaan dalam interpetasi mengenai teks ayat-ayat AlQur‟an dan Hadist. Perbedaan dalam interpretsi inilah yang sebenarnya menimbulkan airanaliran yang berlainan itu. Teolog-teolog yang yang berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang kuat memberi interpretasi yang liberal tentang teks ayat-ayat Al-Qur‟an dan Hadist. Dengan demikian timbulah teolog liberal seperti yang terdapat pada Mu‟tazilah. Teolog-teolog yang berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang lemah memberikan interpretasi harfi dari teks Al-Qur‟an dan Hadist. Sikap demikian menimbulkan teolog tradisional sebagaimana yang ada dalam Asy‟ariah. 3.2 Saran Dengan adanya makalah ini, kita dapat mengetahui bagaimana masalah sifat-sifat Tuhan, anthropomorphisme, melihat Tuhan, sabda Tuhan dan masalah kekuasaan serta kehendak mutlak Tuhan menurut berbagai aliran-aliran yang ada dalam agama Islam dengan berbagai hujjah atau pendapat dari masing-masing aliran. Akan tetapi, karena setiap manusia memiliki keterbatasan dan kekurangan yang begitu banyak maka kami mengharap kritik dan saran dari semua pihak yang berkenan untuk memberikan kritikan dan saran demi kebaikan makalah ini. Sebab jalan kesempurnaan adalah dengan saling mengisi antara yang satu dengan yang lain. Seperti halnya makalah ini dengan berbagai kritik, saran dan masukan maka makalah ini akan menuju kejalan kebaikan dan kesempurnaan.
  • 12. Keberadaan Allah Al-Qur`an menginformasikan kepada kita tentang kebenaran sifat-sifat Allah, “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur, Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (al-Baqarah: 255) “Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (ath-Thalaaq: 12) Akan tetapi, banyak orang yang tidak menerima keberadaan Allah swt. seperti yang telah dijelaskan dalam ayat-ayat tersebut. Mereka tidak memahami kekuasaan dan kebesaran-Nya yang abadi. Mereka memercayai kebohongan bahwa merekalah yang mengatur diri mereka sendiri dan berpikir bahwa Allah berada di suatu tempat yang jauh di alam semesta dan jarang mencampuri “perkara keduniaan”. Pemahaman terbatas orang-orang ini disebutkan dalam Al-Qur`an,“Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya, Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahakuasa.” (al-Hajj: 74) Memahami kekuasaan Allah swt. dengan baik merupakan ikatan awal dalam rantai keimanan. Sesungguhnya, seorang mukmin akan meninggalkan pandangan masyarakat yang menyimpang tentang kekuasaan Allah swt. dan menolak keyakinan sesat dengan mengatakan, “Dan bahwasanya Orang yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah.” (al-Jin: 4) Kaum muslimin memercayai Allah swt. sesuai dengan penjelasan Al-Qur`an. Mereka melihat tanda-tanda keberadaan Allah pada dunia nyata dan alam gaib, kemudian mulai memercayai keagungan seni dan kekuasaan Allah. Akan tetapi, jika umat berpaling dari Allah serta gagal bertafakur kepada Allah dan ciptaanNya, mereka akan mudah terpengaruh oleh keyakinan-keyakinan yang menyesatkan pada saat ditimpa kesusahan. Allah menyebutnya sebagai bahaya yang potensial, dalam surah Ali Imran: 154, mengenai umat yang menyerah dalam berperang, “... sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah....” Seorang muslim seharusnya tidak melakukan kesalahan seperti itu. Karena itu, dia harus membebaskan hatinya dari segala sesuatu yang dapat memunculkan sangkaan jahiliah dan menerima keimanan yang nyata dengan segenap jiwa sebagaimana penjelasan dalam Al-Qur`a
  • 13. Taqwa kepada Allah Sesuai Kesanggupan Bertaqwa kepada Allah adalah awal dari segalanya. Semakin tebal ketaqwaan seseorang kepada Allah, semakin tinggi kemampuannya merasakan kehadiran Allah. Al-Qur`an memberikan contoh beberapa rasul yang dapat kita bandingkan dengan diri kita sehingga paham bahwa kita dapat meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt.. Allah swt. menginginkan manusia agar bertaqwa dengan sebenar-benarnya. Berbagai cara untuk menunjukkan penghormatan kepada Yang Mahakuasa dapat dilakukan, sebagai contoh: berjalan di jalan Allah, melakukan perbuatan baik, mengikuti contoh-contoh yang diberikan para rasul, menaati serta memperhatikan ajaran-ajaran Allah, dan sebagainya. “Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (at-Taghaabun: 16) “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102) Takdir Tidak ada satu pun di alam ini yang terjadi secara kebetulan, sebagaimana tertuang dalam AlQur`an, “... Allah mengatur urusan (makhluk-Nya)….” (ar-Ra’d: 2) Dalam ayat lain dikatakan, “… dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)....” (al-An’aam: 59) Dialah Allah Yang menciptakan dan mengatur semua peristiwa, bagaimana mereka berawal dan berakhir. Dia pulalah yang menentukan setiap gerakan bintangbintang di jagat raya, kondisi setiap yang hidup di bumi, cara hidup seseorang, apa yang akan dikatakannya, apa yang akan dihadapinya, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur`an, “Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (al-Qamar: 49) “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidakpula) dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadiid: 22) Kaum mukminin seharusnya menyadari kenyataan yang agung ini. Sebagai konsekuensinya, sudah seharusnya mereka tidak berbuat kebodohan seperti orang-orang yang menolak kenyataan dalam hidupnya. Dengan memahami bahwa hidup itu hanya ”mengikuti takdir”, mereka tidak akan pernah kecewa atau merasa takut terhadap apa pun. Mereka menjadi yakin dan tenang seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. yang bersabda kepada sahabatnya, “Janganlah kamu berdukacita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (at-Taubah: 40) ketika sahabatnya itu merasa khawatir ditemukan para pemuja berhala yang bermaksud membunuh mereka ketika bersembunyi di dalam gua. Iman kepada Allah
  • 14. Karena Allah adalah pembuat keputusan, setiap kejadian merupakan anugerah bagi makhlukNya: segala sesuatu telah direncanakan untuk kebaikan agama dan untuk kehidupan orang yang beriman di akhirat kelak. Kaum mukminin dapat merujuk pada pengalaman mereka untuk melihat bahwa ada sesuatu yang bermanfaat bagi diri mereka pada akhir sebuah kejadian. Untuk alasan tersebut, kita harus selalu memercayai Allah. Dialah Yang Maha Esa dan Maha Melindungi. Seorang mukmin harus bersikap sebagaimana yang Allah inginkan: memenuhi tanggung jawabnya kemudian berserah diri pada Allah dengan hasilnya. Ayat berikut mengungkapkan misteri ini, yang tidak diketahui oleh orang-orang yang ingkar. “... Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya, Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya, Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (ath-Thalaaq: 2-3) “Katakanlah, „Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.’” (at-Taubah: 51) Apa yang seharusnya seorang muslim katakan kepada orang-orang yang ingkar kepada Allah swt., juga tercantum dalam Al-Qur`an, “Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang bertawakal itu berserah diri.” (Ibrahim: 12) Dalam ayat lain dikatakan, “Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu'min bertawakal.” (Ali Imran: 160)