Jingga untuk matahari part 2

16,252 views
15,937 views

Published on

Published in: Technology, Sports
0 Comments
6 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
16,252
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
371
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
6
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Jingga untuk matahari part 2

  1. 1. Jingga Untuk Matahari part 2Dia berdiri di ambang jendela, sambil memandang ke arah lapangan sekolah. Tatapannyamemang mengarah kepada anak-anak yang sedang bermain futsal di lapangan. Namun jelasfokus pikirannya bukanlah ke sana.Ia melepas pandangan dari arah lapangan lalu mengambil handphone dari saku celanasekolah. Ia mencari nomor kontak seseorang lalu menekan tombol „call‟.Telepon diangkat. “Kenapa, Ga?” terdengar jelas suara seorang perempuan dari seberangtelepon.“Git, gue udah gak bisa tinggal diem lagi. Gue bakalan kembali lagi ke hadapan Tari danmelanjutkan rencana awal gue.” Ucapnya dingin.“Lo jangan nekat deh! Lo mau gue dihabisin sama „the siccors‟ di sekolahan? Kak Aringgak bakal tinggal diem!”“Ari itu urusan gue.. Nanti kita bicarain lagi di rumah lo. Gue nelfon biar lo tau dulu.”“Tapi, Ga..” belum sempat Anggita menjawab, telfon sudah diputus. “Angga lo jangangila deh!” decaknya kesal, namun dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar.***Suasana di ruangan kelas Ari tampak tenang. Tidak ada tanda-tanda keributan atau huru-hara yang biasanya dipelopori oleh sang pentolan sekolah itu. Bu Sam, wali kelas Ari sibukmenulis di papan tulis untuk di salin oleh para siswa.Tiba-tiba Oji menyenggol Ari yang duduk di sampingnya.“Bos, garing banget ini mah! Kelas sepi kayak kuburan, mana pas siang bolong tengahhari gini lagi..” bisiknya pelan. Ari yang di ajak ngobrol malah diem aja dan tersenyum geli.“Gini nih si bos! Nggak bisa diajak kompromi.. Lima menit lagi kayak gini gue bisamasuk UGD!” sewotnya. Ia merobek bagian belakang bukunya dengan hati-hati agar tidakterdengar Bu Sam. Perlahan di remasnya sobekan kertas itu sampai berbentuk bola tak beraturan.Tak lama kertas itu di lempar ke arah depan dan dengan sukses berhasil mendarat mengenaikepala Ridho. Ridho yang sudah tau asal lemparan itu langsung berbalik sambil menatap sebelkepada Oji.Oji cengar-cengir kuda lalu memberi isyara pada Ridho agar menunggu aksi cecungukAri itu selanjutnya. Oji lalu mencolek bahu Rani yang duduk di depannya, sambil memasangtampang memelas (kayak nggak dikasih makan 3 bulan), ia menunjuk ke arah kertas manilakepunyaan Rani.“Kalo nggak dipake buat gue donk!”Rani yang tahu bakalan ada kejadian gila yang selanjutnya akan terjadi langsungmemberi kertas manila yang sudah tinggal setengah bagian dari bentuk utuhnya.“Spidolnya sekalian!”
  2. 2. Kemudian tangan Oji bergerak cepat menulis sesuatu di kertas manila. Ari yangpenasaran, melirik sekilas lalu tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala. Ridho yang sudahdari tadi balik badan menunggu aksi Oji, mengerutkan kening heran.Tak lama kemudian, Oji mengangkat tinggi-tinggi kertas manila di tangannya. Layaknyaorang demo di depan gedung MPR/DPR Senayan. Ridho tersenyum lebar tanpa suara, laludengan wajah tak berdosa ia mengangkat tangan dan memanggil Bu Sam.“Bu, Oji ingin mempersembahkan sesuatu tuh buat ibu!” ujar Ridho dengan nada sokserius, seolah ia sedang melaporkan isi dari perjanjian Linggar Jati. Bu Sam segera balik badandan menatap Oji dan Ridho bergantian. Murid-murid lain langsung melepaskan pandangan daribuku catatan masing-masing. Kini semua mata penghuni kelas tertuju pada Oji dengan rautpenuh minat.“Ada apa Oji?” sahut Bu Sam tegas. Kertas yang tadinya diangkat-angkat oleh Oji kinisudah disembunyikan saat Ridho angkat suara tadi.“Ji, mana? Tunjukin donk.. Nggak gentle banget sih! Kalo mau nyatain perasaan itu tuhharus berani.. Itu baru namanya cowok sejati!” seru Ridho yang masih sok serius.“Ayo, Ji! Tunjukin, man kalo kejantanan lo nggak GALAU!” sambar Ical yang langsungmembuat tawa satu kelas meledak.“Sudah, tenang semua!” Bu Sam setengah berteriak. “Kertas apa itu di tangan kamu Oji?Coba angkat!” pertintah Bu Sam.Oji dengan perlahan mengangkat kertas manila tersebut. Ridho yang sudah terlebihdahulu tau isi dari tulisan tangan Oji itu menahan tawanya yang hampir pecah. Saat kertas itusudah diangkat, muka Bu Sam memerah seakan baru makan 5 kg cabe rawit tanpa minum dalamtempo waktu 1 menit. Tawa seisi kelas pun meledak tak terkontrol. Ari yang duduk di sebelahOji pun tak ayal tersenyum geli.Tulisan Oji yang jauh dari kesan indah (malah bisa dikategorikan abstrak) itu, jelasmembuat Bu Sam geram. „I LOVE YOU MY LOVELY BU SAM! MESKIPUN DIRIMUTELAH ADA YANG MEMILIKI, NAMUN HATIKU AKAN SLALU JADI MILIKMU..MESKIPUN DIRIMU KERAP MENGHUKUMKU, TAK ADA CELAH DENDAM DIHATIINI PADA MU! I LOVE YOU TRULY, DEEPLY!‟. Itulah isi dari tulisan Oji yang tiap-tiaphurufnya ditulis besar-besar sampe orang yang bener-bener belum belajar membaca tiba-tiba bisalangsung melek aksara.“Hahhahhaha.. Oji, norak lu akh! Hari gini masih nyatain cinta pake cara gituan?? Ini tuhudah jamannya teknologi man.. Orang-orang mah udah pada pake handphone, I-phone, atauIpad, eh elu bawa2 kertas manila gitu! Norak lu bro!” ejek Eki heboh.“Wah,, parah lo, Ki! Itu kan cara Oji buat nyatain cinta.. Yah suka2 dia lah, mau pakespanduk, pake baliho, atau pake papan reklame juga urusan dia! Ngapa jadi lu yang ribet!”belaRidho dengan sama gilanya. Yah iya lah gila... Orang jaman kuda masih makan batu aja tau kalonyatain cinta tuh nggak pernah pake papan reklame.!“Tapi tetep aja nggak boleh donk! Pake cara yang romantis dikit kek gitu!”“Cara yang romantis emang gimana, Ki?” tanya Ical sok bego. Tidak peduli dengantatapan bengis dari Bu Sam yang dari tadi mencoba menenangkan kelas dengan memukul-mukulpenggaris yang panjangnya 1 meter.“Yahhh,, candle light dinner kek, jalan kek, nonton,, bawa bunga, coklat, atau apalahgitu!”“Kagak mungkin lah bisa! Oji mah mana ada modal.. Makan siang aja tadi kudu gueyang bayarin!” kali ini Ridho malah ngejek Oji. Oji yang dihina malah senyam-senyum bego
  3. 3. tanpa merasa tersindir. Karena sebenarnya inilah yang diinginkan Oji. Kelas jadi heboh, bu Samnggak jadi ngajar, and keboringan berhenti melanda.“Diam semuanya!” bentak Bu sam kesal. “Ojiiiiiiiiiiiiiiii!!! Tidak bisa apa kamu tidakberulah sehari saja? Kamu juga Ridho ikut-ikutan!” bentak Bu Sam marah. Tatapan matanya punmenajam dan beralih ke Ari yang jelas-jelas hari ini sedang absen dari kegiatan usil-usilan alaOji.“Kok ibu ngeliat saya?” tanya Ari polos. Ia dari tadi memang hanya menonton sajakeisengan Oji dan yang lainnya. Tanpa ikut berpartisipasi.“Saya tau ini ide kamu! Siapa lagi yang suka menghasut si Oji buat berulah kalau bukankamu!?”“Yeee.. ibu mah su-udzon aja sama saya.. Ibu kangen yah karana saya hari ini absen darikegiatan nge gangguin ibu?”kata Ari dengan wajah tanpa dosa.“Kamu ini memang.........” belum sempat Bu sam melanjutkan omelannya bel istirahatsudah berbunyi panjang. “ Hah,, sudahlah! Pelajaran hari ini sampai di sini saja. Tugas kaliandari buku Paket halaman 20 sampai 35. Dikumpul besok!” Kata Bu sam masih dengan wajahBete.“Yah, ibu nggak ngira-ngira nih ngasih tugas..!” ujar Oji protes.“Itu hukuman! Karna kalian hari ini mengganggu kegiatan mengajar saya.” Kata Bu Samdan langsung keluar kelas. Oji yang adalah sumber dari segala kekacauan tadi harus rela jadiobjek timpukan anak-anak satu kelas. Gimana enggak, gara-gara ulah Oji anak-anak satu kelasharus rela bergadang nanti malam buat ngerjain tugas dari Bu sam, kalau nggak mau dapathukuman lagi besok.Ada yang berbeda dengan Ari. Mungkin anak-anak yang lain tidak ada yang menyadari.Namun tentu saja berbeda dengan Oji dan Ridho. Berteman dan dekat dengan Ari hampir lebihdari 2 tahun, membuat mereka mulai bisa memahami dan membaca sifat raja sekolah yangmisterius itu. Ari tidak lagi sering membuat ulah di sekolah. Bahkan dapat dikatakan frekuensikenakalan Ari di sekolah menurun drastis. Seperti hari ini pun. Ari menolak untuk membuatkacau pelajaran Bu Sam. Padahal biasanya, tanpa diminta pun Ari sendiri lah yang dengan ikhlasmenjadi pelopor dari sejumlah kekacauan di sekolah.Mungkin saja perubahan Ari ini karna ia sudah bisa sedikit tersenyum lega saat ini. Iasudah bisa bertemu lagi dengan ibu dan saudara kembarnya, setelah sekian tahun tidak bertemu.Ridho dan Oji pun tau bahwa Ari hanya akan berulah jika ia sedang dalam keadaan stress darirumah, kesepian dan down. Membuat kekacauan di sekolah adalah bentuk dari pelampiasanemosi Ari tang sering tidak terkontrol. Namun, jika mood nya sedang sangat baik, Ari bisaberubah jadi siswa baik yang taat aturan.Dan saat ini Ari sepertinya sedang dalam mood yang baik. Entah karena ia sudah bisabertemu lagi dengan ibunya dan Ata, atau karena sosok cewek yang sekarang pun sudah tak lagilari saat didatanginya. Oji dan Ridho pun tau bahwa setelah sekian lama berteman dengan Ari,Tari lah satu-satunya perempuan yang bisa mempengaruhi emosi Ari. Dan saat ini pun, sikapTari pada Ari mulai berubah. Tari memang belum jelas-jelas menerima Ari. Namun, sikapnyasudah mulai menunjukkan bahwa ia tak lagi menghindari Tari seperti sebelum-sebelumnya.Tapi, apapun itu Oji dan Ridho senang dengan perubahan positif pada diri Ari. Biarbagaimanapun, pentolan sekolah itu perlu orang-orang dekat yang akan selalu bisa mendukungdan menyayanginya.***
  4. 4. Bel pulang SMA Airlangga berbunyi panjang. Murid-murid yang udah dari tadi ngebetpengen pulang langsung menampakkan raut wajah sumringah bin bahagia. Tari dan Fio cepat-cepat mengemas buku-buku mereka. Ujian dadakan yang tadi dikasih Pak Lukas, gurumatematika cukup menguras pikiran dan tenaga.Sesampainya di depan lapangan basket sekolah, Tari berhenti tiba-tiba. Fio yang bingungjadi ikutan berhenti juga.“Kenapa, Tar?”Tari tidak menjawab. Ia hanya diam sambil menunjuk ke arah pintu gerbang sekolah. Disana sudah ada Ari cs, yang sudah pasti terdiri dari Ari, Ridho dan Oji.“Ohh,, Kak Ari ya? LO nggak mau ketemu dia?”“Bukan gitu. Tadi pas istirahat yang pertama gue diajakin ke kantin, dia bilang bakalnganterin gue pulang. “ jawab Tari sambil terus memandang ke arah gerbang sekolah, tepatnyake arah 3 cowok yang kayaknya lagi asyik ketawa-ketiwi itu.“Kalo gitu, kita nungguin aja sampe Kak Ari pulang dulu. Kita bisa nunggu di kantin ataudi kelas. Soalnya gue yakin, kalo lu lewat dia pasti langsung nyegat.”“Bukan gitu juga!”“So?”“Gue justru bingung. Tadi kan Kak Ari bilang gitu pas istirahat pertama. Abis itu dia gakngomong lagi atau sms setelah itu. Kalo ntar dia lupa dan tau2 gue nungguin dia ngajak gue, kannggak banget!”“WHAT?? Lo nggak lagi demam kan Tar? Atau jangan2 ini gara2 Pak Lukas ngasihujian dadakan yah?” ujar Fio heran sambil megang kening Tari dengan heboh.“Aduh... Fio lo apa-apaan sih? Gue nggak kenapa-napa akh! Gue normal-normal aja..Lagian tadi gue udah sempat bilang „iya‟..” jawab Tari sambil melepaskan tangan Fio yangmenempel di keningnya.“Itu Kak Ari lho, Tar! KAK ARI!” ujar Fio meyakinkan Tari bahwa yang sedang merekaperdebatkan untuk nganterin Tari adalah „Ari‟. Biang onar di sekolah, yang beberapa kali sudahbuat Tari nangis, yang selama ini selalu dijauhin Tari, yang selama ini selalu buat hari-hari Taridi SMU Airlangga jadi ribet. Dan bukannya Kim Bum atau Joo Won artis Korea idola Tari.“Ya udahlah lah. Yuk! Panas banget nih..” kata Tari sambil menarik tangan Fio yangmasih bengong.Oji yang melihat Tari dan Fio berjalan mendekati gerbang sekolah langsung menyenggollengan Ari.“Tari tuh, Bos!”Ari pun menoleh ke belakang dan mendapati Tari yang kini sudah berjarak kurang 2meter dari tempat dia berdiri.“Jadi gue anter pulang kan?” tanya Ari. Tari hanya mengangguk dan menjawab „iya, KakAri‟ dengan suara pelan.“Fi, Tari pulangnya bareng gue. Lo sendiri nggak pa-pa kan?”“ Iya Ka. Nggak apa-apa.” Kata Fio nurut. Ya iya lah. Siapa Fio, ampe berani bilang„tidak‟ pada seorang Ari yang notabene adalah penguasa sekolah.“Gue duluan yah, Fi..” ujar Tari yang tambah membuat bengong Fio. “Saya duluanKak..” ujarnya lagi pada Ridho dan Oji. Tari pun kemudian mengikuti Ari yang sudah berjalanduluan menuju tempat parkiran motor.Begitu Tari duduk di boncengan motor Ari, Ari langsung melajukan motor nya keluardari area sekolah. Namun, baru sekitar 3 meter dari gerbang, segerombolan anak-anak SMA
  5. 5. dengan seragam yang berbeda berjalan menuju SMU Airlangga. Ari sudah pasti langsungmengenal seragam sekolah milik SMU Brawijaya itu. Anak-anak Brawijaya sudah siap denganalat tempur mereka masing-masing. Ada yang megang pentungan, ada yang bawa balok kayu,ada yang bawa tumpukan batu, dan banyak lagi. Pokoknya semua yang dibutuhkan untukkegiatan tawuran. Ari dengan sigap langsung memutar arah motornya kembali ke sekolah. Tariyang duduk di belakang memucat dan langsung menundukkan kepala takut kena batu nyasar.Anak-anak yang tadinya santai pulang dari sekolah, tiba-tiba berlarian panik. Ada yanglangsung cabut dengan kendaraan masing-masing ke arah yang berlawanan dari anak-anakBrawijaya, ada yang ngumpet di balik semak-semak (yang ini nggak kreatif banget!), namunlebih banyak yang kembali masuk ke gedung sekolah karena dirasa lebih aman.Ari memarkir kembali motornya di tempat semula. Ridho yang sudah tau ada anak-anakBrawijaya di luar langsung menghampiri Ari.“Oji mana?” tanya Ari.“Lagi nyiapin anak-anak untuk turun..”“Oke..” kata Ari yang tetap tenang. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, Fio dan Nyomanyang tampaknya masuk lagi ke gedung sekolah karna ada gejala-gejala bakal terjadi tawuranberjalan menemui Tari.“Fio, gue titip Tari. Tunggu di kelas sampe gue balik lagi dan jangan kemana-mana!” ujarAri tegas. “Kayaknya tuh anak udah kangen mau show off di depan gue..” katanya lagi dengansuara pelan, namun bisa di dengar oleh Ridho, Nyoman, Fio, dan Tari tentunya. Dan kata „tuhanak‟ udah pasti adalah Angga.Setelah itu, Ari dan Ridho setengah berlari bergabung dengan murid-murid lain yangsudah dipimpin oleh Oji. Murid-murid yang kira-kira berjumlah hampir 50 orang itu sebagianbesar adalah anak-anak kelas dua. Mereka-mereka yang mengaku dirinya adalah „pahlawansekolah‟ dan siap untuk di skors atau dapat surat peringatan dari sekolah setelah perang usai. Dansiap juga untuk memar-memar, luka, bahkan masuk rumah sakit gara-gara semangat patriotismeyang disalah artikan.Anak-anak Airlangga yang sudah dibekali strategi oleh Oji langsung tumpah ruahmenyambut kedatangan musuh mereka. Oji pun langsung bergabung dengan teman-temannyayang lain. Ridho masih berdiri di samping Ari yang juga masih diam tak jauh dari gerbangsekolah.“Kayaknya dia nggak ada, Ri. Gue Cuma liat Bram temen deketnya dia.” Kata Ridhoyang seolah mengerti maksud Ari masih saja berdiri diam di dekat gerbang sambil menataptajam ke segala arah. Namun, Angga memang tidak tampak di sana. Hanya ada Bram yangtampaknya mengarahkan teman-temannya.Tiba-tiba, sebuah batu terarah dan hampir mengenai Ari. Untung saja Ari cepatmengelak. Lemparan batu itu menghantam keras dinding pos satpam sekolah. Bram dengandengan senyum sinisnya menatap mengejek ke arah Ari. Oji yang melihat hal itu langsung sajamelayangkan bogem mentah pada anak buah Angga itu. Bram yang tidak siap langsung limbungdan hampir terjatuh ke jalan.Tak lama sirine mobil petugas satpol PP mengejutkan para prajurit perang itu. Oji yangtadinya masih ingin melanjutkan acara tinju2annya dengan Bram langsung membatalkan niatnyaitu dan menyuruh teman-temannya untuk bubar dan kembali ke sekolah. Sedangkan anak-anakBrawijaya memilih untuk bubar ke arah yang tidak terarah sambil berusaha menghindari petugas.***
  6. 6. “Oji lagi di ruang BP. Lagi nerima petuah dan amanat dari Bu Sam” kata Ridho yang saatitu datang menyusul Ari ke kelas Tari.“Lo kok nggak ikutan?”“Gue permisi ke kamar mandi tadi. Gue bilang kalo nggak di kasih gue bakal ngeluarindi ruang BP.” Jawab Ridho santai dan membuat Tari, Nyoman dan Fio ternganga lebar. Beranibanget ngomong gitu ke Bu Sam yang galak.“Gue donk yang lagi untung! Pak Rahardi lagi nggak masuk. Jadi gue nggak harussilaturahmi dulu ke kantor kepsek”.“Lu mah emang selalu lebih beruntung dari kita berdua!” ujar Ridho.“Oh ya, Lo bawa mobil kan? Anterin Fio ama Nyoman gih! Gue takutnya masih adaanak-anak Brawijaya yang berkeliaran di deket sekolah.“Tari nggak sekalian juga?” tanya Ridho bego. Ari pun menatap Ridho tajam karna jadikembali ingat peristiwa Ridho nganter Tari pulang beberapa waktu lalu. Yang berakhir pada Tarinangis di pelukan Ridho. “Becanda man!” kata Ridho kemudian sebelum tatapan mata Aribertambah tajam lagi.Ridho mengeluarkan handphone dari saku seragam sekolahnya. Di kontaknya nomor Oji.“Ji, gue duluan ya! Dapet tugas dari Ari.” Kata Ridho yang me-loudspeaker handphonenya.“Wah parah lo, Dho! Ngebiarin temen susah sendiri. Temen macem apa lo?” kata Ojingambek.“Bukan gitu Ji. Gue disuruh Ari buat nganterin temen-temennya si Tari pulang. Kududijagain ampe nyampe pintu rumah kata Ari. ““Lo nggak peduli lagi ama gue?” tanya Oji LEBAY.“Gue sih sayang dan cinta ama lu, Ji. Tapi, sory2 aja nih yee, tapi gue juga masih cukupnormal untuk milih nganterin cewek-cewek tulen ketimbang harus dihukum bareng yang jadi-jadian kayak elo!”Ari yang mendengar tertawa geli, begitu juga Tari. Sedangkan Nyoman dan Fiomenunduk salting. Tiba-tiba terdengar suara Bu Sam yang membentak Oji karna nelfon waktudia lagi ceramah.“Ini Ridho Bu.” Kata Oji pada Bu Sam. “ Dho, Bu Sam nanya lo dimana. Katanya kekamar mandi aja kok lama. Kangen kayaknya!” Kata Oji lagi yang membuat Ridho dan yang laintertawa.“Bilang ke Bu Sam gue pergi tak lama. Dan gue titip peluk kecup!” ujar Ridho gombal.“Udah dulu deh, Dho. Bu Sam udah pelototin gue kayak serigala mau makan anak ular!Salam buat si bos.. Bilang gue merasa di khianati. Bye” Telepon ditutup.“Emang serigala makan anak ular?” tanya Ridho goblok. Pertanyaannya dijawab Aridengan sebuah toyoran di kepala Ridho.***Ridho sudah jalan duluan nganterin Fio dan Nyoman. Ari pun melajukan motornyamelewati gerbang sekolah. Satpam tentu saja nggak bisa nge halangin. Kalo anak-anak yang lainmungkin bisa. Tapi lain cerita kalo Ari.Ari menghentikan motornya tiba-tiba tak jauh dari gerbang. Ia mengeluarkan handphonedan mengetik beberapa huruf. SMS. Tari yang duduk diboncengan Ari memperbaiki caraduduknya agar rok nya tidak terangkat terlalu pendek. Tidak sengaja, mata Tari menangkapbayangan seseorang. Sekarang bayangan itu tampak jelas.
  7. 7. Angga berdiri di balik salah satu pohon besar dengan masih menggunakan seragamsekolah. Ia tersenyum ke Arah Tari. Tari terkesiap. Raut wajahnya menegang. Tari kemudianmelihat Ari yang duduk di depannya. Ari tampak masih serius dengan handphonenya. Tarisedikit lega. Paling tidak, Angga tidak harus mendatangi Ari dan membuat keributan.Ari yang sudah selesai dengan handphonenya mengambil posisi untuk kembali melajukanmotor. Tak diduga oleh Tari, Ari tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menarik tangan kiri Taridan dibimbing untuk melingkari pinggang Ari. Hal itu pun berlaku juga untuk tangan kanan. Tariterkesiap.“Gue tau apa yang lagi lo cemasin. Jangan nge liat dia atau mikirin dia lagi. Apalagi kalolagi ada di deket gue. ““Apa?” tanya Tari gugup.“Angga kan?” Setelah mengucapkan kata „Angga‟ motor Ari langsung melaju kencangmeninggalkan area sekolah.Angga yang masih berdiri di tempat ia melihat Tari membuka handphone nya yang tadiberdering.„Dia punya gue sekarang. Lo udah lama kehilangan tempat dan tugas lo sebagaipelindung TARI!’Angga tersenyum getir dan sinis. “Lo emang se-jeli yang gue kira.. “***Jalanan yang tidak terlalu macet, membuat Ari dengan leluasa melaju membelah jalanan.Namun, hal itu tidak menjadi perhatian cewek yang saat ini sedang duduk di belakangnya.Pikiran Tari berkecamuk memikirkan kemunculan Angga tadi. Kenapa Angga kembali? Apa diayang merencanakan tawuran tadi? Bukankah Angga sudah mengalah untuk mundur sebagaipelindung Tari demi keamanan Anggita di sekolah?Kenapa Angga muncul lagi saat Ari kini mulai berubah? Tidak dapat dipungkiri, Anggaadalah sosok yang dulunya punya arti penting untuk tari. Sosok yang menghibur dia saat diamenangis karna Ari. Sosok yang membantu menghilangkan kepenatan dan kejenuhan karnakeisengan Ari di sekolah. Sosok yang jadi pelindungnya sebelum „Ata‟ ciptaan Ari muncul.Namun saat ini Tari merasa ada yang berbeda.Tanpa disadari Tari dan entah sejak kapanAri mulai menjadi magnet yang siap menarik Tari. Dan entah mengapa pula Tari mulai ikutdalam gelombang magnet itu. Kutub yang sejenis kini malah perlahan berubah dan saling tarikmenarik.Lamunan Tari terus berlanjut hingga tanpa Tari sadari motor Ari sudah berhenti danmereka sudah berada di depan rumah Tari. Tari tersadar dan segera turun dari boncengan motorAri.“Makasih, Kak udah nganterin saya pulang,”“Lo nggak apa-apa kan tadi?”Tari menggeleng pelan. Ia lalu berbalik dan melangkah masuk. Namun masih 3 langkahia bergerak, Ari sudah turun saja dari motornya. Ia menarik tangan Tari lembut dan merengkuhtubuh Tari hingga tak ada jarak lagi di antara mereka. Ari menyandarkan kepala cewek yang adadalam pelukannya itu di dada, lalu berbisik lirih di telinga Tari.“Jingga, jangan lari lagi dari gue ataupun berniat untuk lari dari gue. Karna kalo sampehal itu terjadi, topeng gue sekalipun mungkin nggak akan bisa nyelamatin gue lagi.” Suara itubergetar. Sama bergetarnya dengan hati cewek yang sedang terpana karna kata-katanya barusan.Ari pun melepaskan pelukannya perlahan. Ia mengangkat dagu Tari yang masihmenundukkan kepalanya.
  8. 8. “Lo istirahat aja. Besok pagi gue jemput berangkat sekolah.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Ari mengacak-ngacak rambut Tari lembut. Ia lalu berbalik, menaiki motornya danmelaju meninggalkan Tari yang masih belum hilang bengongnya. Dan entah kenapa, saat ini Taribisa merasakan jantungnya berdegup kencang.***

×