Your SlideShare is downloading. ×
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Bab i ptk
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Bab i ptk

1,254

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
1,254
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
66
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2008 tentang standar kompetensi lulusan dan standar isi pendidikan agama islam dan bahasa arab di madrasah, mata pelajaran Fikih di SD negeri Sakti merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang mempelajari tentang fikih ibadah, terutama menyangkut pengenalan dan pemahaman tentang cara-cara pelaksanaan rukun Islam dan pembiasaannya dalam kehidupan sehari-hari, serta fikih muamalah yang menyangkut pengenalan dan pemahaman sederhana mengenai ketentuan tentang makanan dan minuman yang halal dan haram. Secara substansial mata pelajaran Fikih memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan dan menerapkan hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari sebagai perwujudan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan diri manusia itu sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya ataupun lingkungannya. Mata pelajaran Fikih di SD Negeri Sakti bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat: a. Mengetahui dan memahami cara-cara pelaksanaan hukum Islam baik yang menyangkut aspek ibadah maupun muamalah untuk dijadikan pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan sosial.
  • 2. 2 b. Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dan baik, sebagai perwujudan dari ketaatan dalam menjalankan ajaran agama Islam baik dalam hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan diri manusia itu sendiri, sesama manusia, dan makhluk lainnya maupun hubungan dengan lingkungannya. Islam menganjurkan tentang asas pendidikan yang pertama yang harus ditanamkan kepada anak sejak dini adalah keimanan, hal ini menjadi acuan tentang tujuan pokok dari pengajaran fiqih ini dalam konteks sosial yaitu, bagaimana memberikan pengetahuan kepada manusia agar dapat melaksanakan ibadah kepada Tuhannya dengan baik. Saat ini, dunia pendidikan sedang mengalami krisis, perubahan-perubahan yang cepat diluar pendidikan menjadi tantangan-tantangan yang harus di jawab oleh dunia pendidikan. Jika praktik-praktik pengajaran dan pendidikan di Indonesia tidak di rubah, bangsa Indonesia akan ketinggalan oleh Negara-negara lain. Upaya pembaharuan proses tersebut, terletak pada tanggung jawab guru, bagaimana pembelajaran yang disampaikan dapat difahami oleh anak didik secara benar. Dengan demikian, proses pembelajaran ditentukan sampai sejauh guru dapat menggunakan metode dan model pembelajaran dengan baik. Model pembelajaran itu banyak macamnya, setiap model pembelajaran sangat ditentukan oleh tujuan pembelajaran dan kemampuan guru dalam mengelola proses pengajaran.
  • 3. 3 Berdasarkan observasi, di SD Negeri Sakti diperoleh gambaran keadaan di sekolah kami masih banyak siswa beranggapan bahwa pelajaran fiqih merupakan pelajaran yang sulit ditambah bahan ajar tidak dimiliki siswa. Hal ini berdampak pada hasil belajar fiqih yang kurang memuaskan. Salah satu kesulitan dalam proses pembelajaran adalah siswa merasa kesulitan dan kurang memahami materi pelajaran. Hal ini disebabkan metode pembelajaran yang monoton sehingga siswa kurang tertarik dalam pelajaran fiqih dan banyak siswa merasa jenuh dan mengabaikan pelajaran fiqih. Sedangkan mata pelajaran fiqih mempunyai nilai yang strategis dan penting dalam mempersiapkan sumberdaya manusia yang unggul, handal dan baik sejak dini. Hasil observasi di lapangan, menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif belum banyak digunakan. Model pembelajaran kooperatif dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencintai pelajaran dan melalui metode tersebut siswa merasa lebih terdorong untuk belajar dan berfikir. Karena dengan meningkatnya aktivisas siswa dalam proses pembelajaran akan membuat pelajaran lebih bermakna dan mudah dipahami oleh siswa, karena disana ada keterlibatan siswa dalam membuat dan menyusun perencanaan proses belajar mengajar, adanya keterlibatan intelektual dan emosional siswa melalui dorongan dan semangat yang dimilikinya, serta adanya keikutsertakan siswa secara kreatif dalam memperhatikan dan mendengarkan apa yang disajikan guru (Slavin, 2008: 143 ). Penggunaan model pembelajaran kooperatif diharapkan dapat dimanfaatkan dan memungkinkan guru dapat mengelola kelas dengan lebih
  • 4. 4 efektif dan memudahkan siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang digunakan adalah model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan model mencari pasangan (Make A-Match) terhadap pelajaran fiqih materi mengenal ketentuan makanan dan minuman yang halal dan haram kelas V SD Negeri Sakti . Berdasarkan pemaparan di atas maka penelitian ini dilakukan dengan mengambil judul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fiqih Materi Mengenal Ketentuan Makanan dan Minuman Yang Halal dan Haram Melalui Metode Cooperative Make A Match B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi pemasalahan dalam penelitian ini adalah : Apakah melalui penggunaan metode mencari pasangan dapat meningkatkan hasil belajar Fiqih bagi siswa kelas V SD Negeri Sakti tentang mengenal ketentuan makanan dan minuman yang halal dan haram? C. Tujuan Penelitian Dari pemasalahan di atas, maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar Fiqih bagi siswa kelas V SD Negeri Sakti tentang mengenal ketentuan makanan dan minuman yang halal dan haram melalui metode mencari pasangan.
  • 5. 5 D. Manfaat Penelitian Penelitian ini hendaknya bermanfaat bagi semua pihak baik secara teoritis maupun secara praktis. a. Manfaat Teoritis Mendapatkan teori baru tentang peningkatan hasil belajar Fiqih bagi siswa kelas V SD Negeri Sakti melalui metode mencari pasangan. b. Manfaat Praktis 1. Manfaat bagi Siswa * Metode mencari pasangan untuk materi operasi hitung pecahan merupakan suatu upaya memanfaatkan secara maksimal penggunaan pendekatan pembelajaran pendidikan yang sesuai dengan karakteristik SD Negeri Sakti dalam mengenalkan konsep Fiqih. * Semakin berkembangnya minat dan motivasi siswa dalam pembelajaran Fiqih. 2. Manfaat bagi Guru * Metode Pembelajaran ini akan menjadi model alternative bagi para guru dalam melaksanakan tugas mengajarnya untuk menanamkan konsep operasi hitung pecahan pelajaran Fiqih. * Dengan adanya metode pembelajaran ini akan mempermudah guru dalam mengembangkan kompetensi yang dimiliki siswa baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik. * Metode ini juga berguna bagi pengembangan profesionalitas guru untuk meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar.
  • 6. 6 3. Manfaat bagi Sekolah * Penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pelajaran Fiqih. * Hasil penelitian ini dapat memperkaya wawasan dan memberi sumbangan bagi pengembangan ilmu Pendidikan.
  • 7. 7 BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Landasan Teoritis 1. Hasil Belajar pelajaran Fiqih a. Fiqih Secara bahasa, fiqih berarti faham, dalam arti pengertian atau pemahaman yang mendalam yang menghendaki pengarahan potensi akal. Para Ulama’ Usul Fiqih mendefinisikan fiqih sebagai pengetahuan hukum-hukum Islam (Syarak) yang bersifat amali (amalan) melalui dalil-dalinya yang terperinci. Sedangkan para ulama’ Fiqih mendefinisikan feqih sebagai sekumpulan hukum amaliah yang di syariatkan dalam Islam. Dengan demikian, pada definisi pertama terlihat bahwa seorang ahli fiqih bersifat aktif dalam memperoleh hukum-hukum itu sendiri, sedangkan pada definisi yang kedua seorang ahli fikih hanya memelihara atau menghafal hukum- hukum dari peristiwa yang ada. b. Belajar Fiqih Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar maka responya menjadi lebih baik dan sebaliknya bila tidak belajar responya menjadi menurun sedangkan menurut Gagne belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapasitas baru ( Dimyati, 2002-10). Sedangkan menurut
  • 8. 8 kamus umum bahasa Indonesia belajar diartikan berusaha ( berlatih dsb ) supaya mendapat suatu kepandaian ( Purwadarminta : 109 ). Belajar dalam penelitian ini diartikan segala usaha yang diberikan olh guru agar mendapat dan mampu menguasai apa yang telah diterimanya dalam hal ini adalah pelajaran Fiqih. c. Hasil Belajar Pelajaran Matematika Hasil belajar pelajaran Fiqih merupakan hasil yang dicapai berdasarkan materi dan kompetensi yang ada dalam kurikulum pembelajaran berupa angka dari hasil test ujian cawu atau ujian semester. Hasil test tersebut merupakan pencerminan dari hasil yang telah di capai oleh siswa selama pembelajaran dalam periode tertentu. 2. Metode Mencari Pasangan ( Make – a Macth ) a. Pengertian Metode Make-a Match Metode secara harfiah bearti “ cara “ dalam pemahaman umum metode diartikan suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Make – a Match atau mencari pasangan adalam metode pembelajaran yang cukup menyenangkan yang digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Namun demikian, materi baru pun tetap bisa diajarkan dengan stratgei ini dengan catatan peserta didik diberi tugas untuk mempelajari topic yang akan diajarkan terlebih dahulu, sehingga ketika masuk kelas mereka sudah memiliki bekal pengetahuan. Metode Make-a Match merupakan salah satu metode yang dikembangkan dari pendekatan kooperatif. Metode Pembelajaran kooperatif beranjak dari
  • 9. 9 pemikiran “ getting better together” yang menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasana yang kondusif kepada siswa untuk memperoleh,mengembangkan pengetahuan,sikap,nilai,serta ketrampilan- keterampilan sosial yangbermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat. Pada metode Make-a match siswa disuruh untuk mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin. Dalam metode pembelajaran ini siswa dan guru sama aktifnya. Guru di tuntut untuk menilai setiap tindakan siswa yang berkaitan dengan aspek afektif,kognitif dan psikomotorik. Sedangkan siswa dituntut pengetahuan dan rasa sosialnya terhadap guru. Siswa juga diberi hak untuk mencatat nilai untuk temannya yang sudah menjawab soal.sejingga memudahkan guru dalam menilai serta melatih kejujuran siswa. b. Langkah-langkah Metode Make – a Macth Adapun langkah-langkah pembelajaran dengan metode make- a Match yaitu  Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep/topic yang cocok berupa kartu soal dan kartu jawaban  Siswa yang mendapat kartu akan memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang  Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya ( kartu soal/kartu jawaban )
  • 10. 10  Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.  Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.  Kesimpulan  Penutup c. kelebihan dan kekurangan metode Pembelajaran make-a Macth Dalam setiap metode pembelajaran,pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Kelebihan dari metode pembelajaran Make-a Match adalah melatih siswa untuk ketelitian,kecermatan,dan letepatan serta kecepatan. dalam hal ini menggunakan prinsip cepat dan bisa/benar. Sedangkan kekurangannya adalah karena waktunya yang cepat maka siswa kurang berkosentrasi, dan bisa menimbulkan kericuhan/kegaduhan di kelas ketika siswa mencari pasangannya ( kartunya). Namun hal ini bisa diantisipasi atau dihindari dnegan kreativitas guru dengan menetapkan pasangan mana siswa harus pindah sehingga kericuhan bisa dikurangi. B. Kerangka Berfikir Pembelajaran konvensional yang selama ini diterapkan ternyata belum mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar bahkan siswa cenderung bosan dan tidak bersemangat dalam mengikuti proses belajar mengajar yang menyebabkan rendahnya perolehan nilai hasil belajar.
  • 11. 11 Penggunaan pembelajaran dengan metode mencari pasangan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok akan meningkatkan rasa toleransi siswa untuk saling membantu dalam mempelajari materi. Di duga dengan menggunakan metode mencari pasangan dapat meningkatkan hasil belajar bagi siswa kelas V SD Negeri Sakti tentang Mengenal ketentuan makanan dan minuman yang halal dan haram. Secara Skematis uraian digambarkan kerangka pemikirannya sebagai berikut: Gambar 1. Diagram alir kerangka pemikiran PTK KONDISI AWAL Diduga melalui metode investigasi kelompok dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Sakti semester I tahun ajaran 2013/2014 Menerapkan metode mencari pasangan GURU: Menggunakan metode konvensional SISWA : Nilai Pelajaran Fiqih rendah SIKLUS I: Penggunaan metode mencari pasangan SIKLUS II: Penggunaan metode mencari pasangan TINDAKAN KONDISI AKHIR
  • 12. 12 C. Hipotesis Tindakan. Berdasarkan kerangka pemikiran di atas maka yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah melalui metode mencari pasangan dapat meningkatkan hasil belajar Fiqih bagi siswa kelas V SD Negeri Sakti tentang Mengenal ketentuan makanan dan minuman yang halal dan haram.
  • 13. 13 BAB III METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas V pada SD Negeri Sakti Kabupaten Pidie. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan, mulai dari bulan Januari sampai dengan bulan Maret 2013. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada hari-hari efektif sesuai dengan jadwal jam pelajaran. Adapun pembagian waktu penelitian dapat diperinci seperti pada tabel 1. Tabel 1.Pembagian Waktu Penelitian N o Kegiatan Waktu Januari Februari Maret 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 Pengajuan proposal 2 Penyusunan rancangan 3 Pelaksanaan siklus I 4 Analisis hasil siklus I 5 Pelaksanaan siklus II 6 Analisis hasil siklus II 7 Penulisan hasil penelitian
  • 14. 14 B. Subyek Penelitian Subyek penelitiannya adalah siswa kelas V SD Negeri Sakti tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 32 siswa 18 laki-laki dan 14 perempuan. C. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa, sebagai subyek penelitian. Data yang dikumpulkan dari siswa meliputi data hasil tes tertulis dan guru kolaborator. Tes tertulis dilaksanakan pada setiap akhir siklus yang terdiri atas tentang mengenal ketentuan makanan dan minuman yang halal dan haram. Selain siswa sebagai sumber data, penulis juga menggunakan teman sejawat sesama guru kelas sebagai sumber data. D. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: 1. Silabus, yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian hasil belajar. 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RPP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar. 3. Lembar Kegiatan Siswa, lembar kegiatan ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil kegiatan belajar mengajar.
  • 15. 15 4. Tes tertulis , tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep belajar. 5. Lembar Observasi, merupakan lembar pengamatan aktivitas siswa dan juga aktivitas guru selama proses pembelajaran dilakukan. Validasi proses pembelajaran ini dilakukan dengan tekhnik triangulasi sumber dan trianggulasi metode. E. Analisa Data Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis dekskriptif, yang meliputi: 1. Analisis deskriptif komparatif hasil belajar dengan cara membandingkan hasil belajar pada siklus I dengan siklus II dan membandingkan hasil belajar dengan indikator pada siklus I dan siklus II dengan menggunakan rumus sebagai berikut : PHB = 𝑃 𝑄 x 100% Keterangan: PHB = Penilaian Hasil Belajar P = Skor yang diperoleh siswa Q = Skor maksimum Dengan kriteria: 0% < PHB < 65%, belum tuntas belajar PHB ≥ 65%, telah tuntas belajar. Secara individu seorang siswa dikatakan tuntas dalam belajar jika PHB siswa tersebut telah mencapai 65%. Selanjutnya persentase siswa yang telah tuntas dalam belajar secara klasikal dapat dirumuskan sebagai berikut:
  • 16. 16 PKK = 𝑋 𝑌 x 100% Keterangan: PKK = Persentase Ketuntasan Klasikal X = Jumlah siswa yang telah tuntas belajar Y = Jumlah siswa Kriteria ketuntasan belajar secara klasikal akan diperoleh jika didalam kelas tersebut terdapat 85% siswa telah mencapai nilai ≥ 65%. 2. Analisis deskriptif kualitatif hasil observasi dengan cara membandingkan hasil observasi dan refleksi pada siklus I dan siklus II. Data aktivitas siswa dan aktivitas guru menggunakan kriteria tingkat keaktifan siswa dan guru selama pembelajaran menurut Aqib (2009:270) adalah: Tabel 2. Kriteria aktivitas siswa dan guru No Skor Katagori penilaian 1. 5 ( 80% - 100% ) Sangat baik 2 4 ( 60% - 80% ) Baik 3 3 ( 40% - 60% ) Cukup 4 2 ( 20% - 40% ) Kurang 5 1 ( 10 – 20% ) Sangat Kurang Analisis data aktivitas siswa dan guru dianalis dengan menggunakan persentase, dengan menggunakan rumus: P=F/NX100% (Sudijono, 2005:43) Keterangan: P= persentase yang di cari F= Frekuensi aktivitas guru N= Jumlah aktivitas guru
  • 17. 17 F. Prosedur Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang ditandai dengan adanya siklus, adapun dalam penelitian ini terdiri atas 2 siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pada siklus pertama terdiri dari 2 kali tatap muka dan siklus kedua terdiri dari 2 kali tatap muka. Alokasi waktu untuk setiap tatap muka adalah 2 jam pelajaran. 1. Siklus I a. Perencanaan (planning), terdiri atas kegiatan:  Menyiapkan Silabus, RPP, dan Lembar Observasi  Menyiapkan kelompok belajar.  menyiapkan kartu pasangan jawaban/soal b. Pelaksanaan (acting), terdiri atas kegiatan;  pelaksanaan program pembelajaran sesuai dengan jadwal,  secara klasikal menjelaskan strategi dalam metode mencari pasangan,  proses pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran metode mencari pasangan,  Mengadakan observasi tentang proses pembelajaran,  mengadakan tes tertulis,  penilaian hasil tes tertulis. c. Pengamatan (observing), yaitu mengamati proses pembelajaran dan menilai hasil tes serta hasil praktek sehingga diketahui hasilnya,
  • 18. 18 d. Refleksi (reflecting), yaitu menyimpulkan pelaksanaan hasil tindakan pada siklus I sebagai refleksi pelaksanaan siklus II. 2. Siklus II a. Perencanaan (planning), terdiri atas kegiatan:  Menyiapkan Silabus, RPP, dan Lembar Observasi  Menyiapkan kelompok belajar.  Menyiapkan kartu pasangan jawaban/soal b. Pelaksanaan (acting), terdiri atas kegiatan;  pelaksanaan program pembelajaran sesuai dengan jadwal,  secara klasikal menjelaskan strategi dalam metode mencari pasangan,  proses pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran metode mencari pasangan,  Mengadakan observasi tentang proses pembelajaran,  mengadakan tes tertulis,  penilaian hasil tes tertulis. c. Pengamatan (observing), yaitu mengamati proses pembelajaran dan menilai hasil tes serta hasil praktek sehingga diketahui hasilnya, d. Refleksi (reflecting), yaitu menyimpulkan pelaksanaan hasil tindakan pada siklus I sebagai refleksi pelaksanaan siklus II.
  • 19. 19 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Kondisi Awal Kegiatan belajar mengajar dilakukan di kelas V SD Negeri Sakti dengan jumlah siswa sebanyak 32 orang 18 Laki-laki dan 14 perempuan. Pelaksanaan pembelajaran seperti biasanya siswa duduk dengan teratur di bangkunya masing- masing. Guru memberikan materi dan siswa membuka buku paket untuk mendengarkan materi yang diberikan oleh guru. Suasana belajar yang sepi dan diam yang terdengar hanya suara guru sedangkan siswa hanya diam menerima materi dari gurunya. Beberapa siswa sempat ribut dan berbicara tetapi guru langsung mendiamkannya. Beberapa siswa terlihat mengantuk dan kurang menyimak penyampaian guru. Berdasarkan hasil pengamatan nilai belajar pada pra siklus maka dapat di analisa sebagai berikut : Tabel 4.1 Rekap hasil test pra-siklus NO Hasil (Angka) Hasil(Huruf) Arti Lambang Jumlah Siswa Persen* ( % ) Keterangan 1 85-100 A Sangat baik - 0 Tuntas 2 75-84 B Baik - 0 Tuntas 3 65-74 C Cukup 8 25 Tuntas 4 55-64 D Kurang 11 34 Belum Tuntas 5 <54 E Sangat Kurang 13 40 Belum Tuntas Jumlah Total 32 100 % Sumber : Tabulasi data * Persen ( % ) = Jumlah Siswa X 100 Jumlah Total
  • 20. 20 Dari Table 4.1 di atas terlihat bahwa pada pra-siklus tidak ada siswa yang mendapat nilai A ( sangat baik ) dan nilai B ( baik ), 8 siswa ( 25%) yang mendapat nilai C ( cukup ), 11 siswa ( 34%) yang mendapat nilai D ( kurang ) dan 13 siswa ( 40%) yang mendapat nilai E ( sangat kurang ). Tabel 4.2 Rata-rata Hasil Tes Pra siklus No Keterangan Nilai 1 Nilai tertinggi 70 2 Nilai Terendah 50 3 Nilai Rata-rata 57 Nilai rata-rata pada pra siklus adalah sebesar 57 dengan nilai tertinggi 70 dan nilai terendah 50 . Nilai rata-rata pra siklus masih di bawah nilai KKM yaitu sebesar 65. B. Deskripsi Hasil Siklus I 1. Perencanaan Tindakan Perencanaan (planning), terdiri atas kegiatan: a. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP); Materi yang dipilih dalam penelitian ini adalah pecahan dengan kompetensi dasar menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah. Berdasarkan materi yang dipilih tersebut, kemudian disusun ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Masing-masing RPP diberikan alokasi waktu sebanyak 2 x 35 menit, artinya setiap RPP disampaikan dalam 1 kali tatap muka. Pada siklus I terjadi dua kali pertemuan atau dua kali tatap muka ( Lampiran 3 ).
  • 21. 21 b. Penyiapan skenario pembelajaran.  Penyiapan kartu berpasangan soal/jawaban  Penyiapan kelompok siswa 2. Pelaksanaan (acting), terdiri atas kegiatan; a.) Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan pada jam pembelajaran, b). Secara klasikal penulis sebagai guru menjelaskan strategi dalam metode mencari pasangan, c). Melaksanakan Proses pembelajaran dengan metode mencari pasangan, setiap siswa diberikan kartu soal dan jawaban. Guru meminta siswa saling mencari pasangan kartunya tersebut. siswa yang pertama menemukan akan mendapatkan poin. e). Mengadakan observasi tentang proses pembelajaran, Observasi dilaksanakan pada keseluruhan kegiatan tatap muka, dalam hal ini observasi dilakukan oleh 2 (dua) observer yaitu guru bidang studi dan guru kelas ( teman sejawat ) SD Negeri 7 Sigli. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui secara detail keaktifan, kerjasama, kecepatan dan ketepatan siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi dalam pembahasan. f) Mengadakan tes lisan pada akhir siklus I, g). Penilaian hasil tes lisan.
  • 22. 22 3. Pengamatan (observing) Tabel 4.3 Hasil Rekap Nilai Tes Siklus I No Hasil (Angka) Hasil ( Huruf) Arti Lambang Jumlah Siswa Persen* ( % ) Keterangan 1 85-100 A Sangat baik 9 28 Tuntas 2 75-84 B Baik 10 31 Tuntas 3 65-74 C Cukup 7 21 Tuntas 4 55-64 D Kurang 6 18 Belum Tuntas 5 <54 E Sangat Kurang - 0 Belum Tuntas Jumlah Total 32 100 % Sumber : Tabulasi data * Persen ( % ) = Jumlah Siswa X 100 Jumlah Total Tabel 4.4 Rata-rata Hasil Tes siklus I No Keterangan Nilai 1 Nilai tertinggi 85 2 Nilai Terendah 60 3 Nilai Rata-rata Kelas 71 Pada siklus I terjadi peningkatan perolehan nilai seperti tertera pada Tabel 4.3 di bawah ini, Terlihat perolehan nilai A ( sangat baik ) sebanyak 8 siswa ( 28%), nilai B ( baik ) sebanyak 10 siswa ( 35%), nilai C ( cukup ) sebanyak 6 siswa ( 21%), dan nilai D ( kurang ) sebanyak 4 siswa ( 14%).
  • 23. 23 a. Aktivitas Siswa dan Guru Berdasarkan hasil pengamatan dari observer. Aktivitas siswa dan guru pada siklus I dalam hal mengikuti pembelajaran sudah baik. Pada pertemuan pertama dan kedua terlihat siswa aktif mengikuti pembelajaran terutama dalam hal berinteraksi dengan siswa lain. Siswa saling mencari jawaban dan soal dari kartu yang dipegangnya. Pada siklus I siswa yang berhasil menemukan pasangannya sebanyak 8 siswa selebihnya belum menemukan pasangannya dikarenakan waktu telah habis. Persentase keaktifan siswa pada siklus I sebesar 60%. Sedangkan persentase aktivitas guru adalah sebesar 76 %. Tabel 3. Aktivitas Siswa dan Guru pada siklus I No Aspek Pengamatan Skor Pengamatan 1 Keaktifan dalam Bertanya 2 2 Keaktifan dalam menjawab 2 3 Memberikan tanggapan terhadap materi 2 4 Membantu siswa lain 4 5 Berpartisipasi dalam KBM 3 6 Berinteraksi dengan siswa lain 4 7 Ketepatan dan kecepatan dalam menemukan pasangan 2 8 Antusias dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar 4 9 Merespon terhadap penghargaan yang diberikan guru 4 Rata-rata Aktivitas Siswa ( % ) 60%
  • 24. 24 1 Menerapkan Langkah-langkah Pembelajaran 4 2 Menjelaskan Materi 4 3 Mengelola Kelas 4 4 Memotivasi siswa 4 5 Menberikan Kesempatan bagi siswa untuk Tanya jawab 3 6 Mengorganisir siswa 3 7 Membimbing Siswa 4 8 Memberi penghargaan bagi siswa/kelompok yang bagus 4 9 Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan 4 Rata-rata Aktivitas Guru ( % ) 76% b. Hasil Tes Kemampuan Siswa Hasil pengamatan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal latihan pada siklus I lebih meningkat dari pra siklus yaitu sebanyak 26 siswa ( 71% ) dari jumlah 32 siswa sudah tuntas dalam belajarnya. Perolehan hasil belajar siswa dapat dilihat dalam tabel berikut ini 4. Refleksi Berdasarkan hasil pengamatan , keberhasilan yang telah dicapai pada siklus I adalah sebagai berikut: a. Ketuntasan belajar siswa pada siklus I sudah mencapai 75% dengan nilai rata-rata kelas sebesar 68. Perolehan hasil belajar pada siklus I belum mencapai ketuntasan yang diharapkan yaitu sebanyak 85% siswa sudah tuntas.
  • 25. 25 a. Keaktifan siswa terlihat dalam kegiatan pembelajaran, terutama dalah hal keantusisme dalam mengikuti pembelajaran. Persentase keaktifan siswa pada siklus I adalah sebesar 60% atau termasuk kategori cukup. Sedangkan persentase aktivitas guru sebesar 76% atau sudah baik. Hal-hal yang harus diperbaiki atau ditingkatkan dari siklus I adalah  Guru bisa menerapkan kerja kelompok supaya semua soal dapat terjawab atau semua kartu mendapat pasangannya sehingga waktu untuk mencari pasangan kartu cukup tersedia  Guru juga bisa memberikan penghargaan bagi kelompok yang tepat dan cepat menemukan pasangannya.  Hasil kerja siswa tersebut bisa dipajangkan di depan kelas sehingga semau siswa dapat melihatnya. C. Deskripsi Hasil Siklus II 1. Perencanaan Tindakan Perencanaan (planning), terdiri atas kegiatan: a. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP); Materi yang dipilih dalam penelitian ini adalah pecahan dengan kompetensi dasar menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah. Berdasarkan materi yang dipilih tersebut, kemudian disusun ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Masing-masing RPP diberikan alokasi waktu sebanyak 2 x 35 menit, artinya setiap RPP disampaikan dalam 1 kali tatap muka. Pada siklus I terjadi dua kali pertemuan atau dua kali tatap muka ( Lampiran 3 ).
  • 26. 26 b. Penyiapan skenario pembelajaran.  penyiapan kelompok belajar dengan memperhatikan heterogenitas gender dan kemampuan akademik  Penyiapan kartu pasangan soal/jawaban 2. Pelaksanaan (acting), terdiri atas kegiatan; a.) Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan pada jam pembelajaran, b). Secara klasikal penulis sebagai guru menjelaskan strategi dalam metode mencari pasangan, c). Melaksanakan Proses pembelajaran dengan metode mencari pasangan, siswa secara berkelompok mencari pasangan setiap kartu dan menempelkan didepan kelas. kelompok yang terlebih dahulu menyelesaikan pencarian pasangan akan mendapat poin. e). Mengadakan observasi tentang proses pembelajaran, Observasi dilaksanakan pada keseluruhan kegiatan tatap muka, dalam hal ini observasi dilakukan oleh 2 (dua) observer yaitu guru bidang studi dan guru kelas ( teman sejawat ) SD Negeri 2 Sigli. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui secara detail keaktifan, kerjasama, kecepatan dan ketepatan siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi dalam pembahasan. f) Mengadakan tes lisan pada akhir siklus I, g). Penilaian hasil tes lisan.
  • 27. 27 3. Pengamatan (observing) Tabel 4.6 Rekap Hasil Nilai Tes Siklus II No Hasil (Angka) Hasil (Huruf) Arti Lambang Jumlah Siswa Persen* ( % ) Keterangan 1 85-100 A Sangat Baik 15 46 Tuntas 2 75-84 B Baik 12 37 Tuntas 3 65-74 C Cukup 5 15 Tuntas 4 55-64 D Kurang - 0 Belum Tuntas 5 <54 E Sangat Kurang - 0 Belum Tuntas Jumlah 32 100% Sumber : Tabulasi Data * Persen ( % ) = Jumlah Siswa X 100 Jumlah Total Dari tabel di atas memperlihatkan perolehan nilai hasil test siklus II, sebanyak 15 siswa ( 46% ) mendapatkan nilai A ( sangat baik ), 12 siswa ( 37%) mendapatkan nilai B ( baik ), dan 5 siswa ( 15% ) mendapatkan nilai C ( cukup) dan tidak ada siswa yang mendapatkan nilai D ( kurang ). Tabel 4.7 Rata-rata Hasil Tes siklus II No Keterangan Nilai 1 Nilai tertinggi 90 2 Nilai Terendah 70 3 Nilai Rata-rata 82 Rata-rata perolehan nilai pada siklus II ini adalah 82 dengan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 70.
  • 28. 28 a. Aktivitas Siswa dan Guru Berdasarkan hasil pengamatan dari observer. Aktivitas siswa dan guru pada siklus I dalam hal mengikuti pembelajaran sudah baik. Pada siklus II aktivitas siswa sudah lebih meningkat dari pra siklus. Terlihat selama proses pembelajaran siswa sangat antusias dan saling membantu untuk menjadi kelompok yang terbaik. Pemberian hadiah atau penghargaan bagi kelompok dengan penampilan yang baik menjadikan siswa bersemangat dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya. Persentase keaktifan siswa pada siklus II adalah sebesar 82 % atau sudah sangat baik. Sedangkan persentase aktivitas guru adalah sebesar 84% . Tabel 5. Aktivitas Siswa dan Guru Siklus II No Aspek Pengamatan Skor Pengamatan 1 Keaktifan dalam Bertanya 4 2 Keaktifan dalam menjawab 3 3 Memberikan tanggapan terhadap materi 3 4 Bekerjasama dalam kelompok 5 5 Melakukan tugas yang diberikan oleh guru 5 6 Ketepatan dan kecepatan dalam menyelesaikan tugas 5 7 Berinteraksi dengan siswa/kelompok lain 5 8 Antusias dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar 5 9 Merespon terhadap penghargaan yang diberikan guru 5 Rata-rata Aktivitas Siswa ( % ) 89%
  • 29. 29 1 Menerapkan Langkah-langkah Pembelajaran 4 2 Menjelaskan Materi 4 3 Mengelola Kelas 4 4 Memotivasi siswa 5 5 Menberikan Kesempatan bagi siswa untuk Tanya jawab 5 6 Mengorganisir siswa dalam kelompok 5 7 Membimbing Siswa 5 8 Memberi penghargaan bagi kelompok yang bagus 5 9 Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan 5 Rata-rata Aktivitas Guru ( % ) 93% b. Hasil Tes Kemampuan Siswa Hasil tes siswa pada siklus II lebih meningkat dari siklus I. Tabel dibawah ini memperlihatkan perolehan hasil belajar siswa pada siklus II dengan ketuntasan sudah mencapai 100% dan rata-rata kelas sebesar 84. 4. Refleksi Berdasarkan hasil pengamatan , keberhasilan yang telah dicapai pada siklus I adalah sebagai berikut:  Perolehan ketuntasan pada siklus II mencapai 100% dengan nilai rata-rata kelas sebesar 82. Pencapaian ini sudah seperti yang diharapkan yaitu lebih dari 85% siswa mampu memperoleh nilai di atas 65.  Aktivitas siswa pada siklus II pun lebih meningkat dari siklus I terutama dalam hal antusisme dalam mengikuti KBM, bekerjasama dengan
  • 30. 30 kelompoknya dan mengerjakan tugas yang diberikan dengan baik. Selain itu juga pada siklus II siswa sudah banyak yang tepat dan cepat mencocokkan pasangan kartu dengan persentase aktivitas siswa sebesar 89%.  Aktivitas guru pada siklus II pun semakin baik. Guru sudah lebih lancar mengelola kelas dan pembelajaran. terutama dalam menciptakan suasana pembelajaran yang dinamis, menyenangkan dan efektif. Persentase aktivitas guru adalah sebesar 93%. Pembahasan a. Hasil Belajar Siswa Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus I dan siklus II, telah terjadi peningkatan hasil belajar bagi siswa kelas VI SD Negeri Sakti dalam mempelajari mengenal ketentuan makanan dan minuman yang halal dan haram. Secara klasikal ketuntasan telah dicapai pada siklus II yaitu lebih dari 85% siswa mampu menjawab lebih dari 65% soal yang diberikan. Mulyana (2005:99) menyatakan. “Keberhasilan kelas dilihat dai jumlah peserta didik yang mampu menyelesaikan atau mencapai sekurang-kurangnya 85% dari jumlah peserta didik yang ada di kelas tersebut. Penggunaan metode mencari pasangan menjadikan pembelajaran matematika tidak membosankan bagi siswa dan juga tidak menegangkan karena diselingi dengan permainan dan persaingan yang menantang.
  • 31. 31 b. Proses Pembelajaran Selama proses pembelajaran berlangsung, khususnya pada akhir siklus II siswa terlihat sangat antusias mengikuti proses pembelajaran, terlihat dari hasil pengamatan keaktifan siswa pada siklus II lebih meningkat dari siklus I. Siswa sangat senang mengikuti kegiatan belajar mengajar secara berkelompok. Selama proses pembelajaran siswa terlihat saling membantu dan berdiskusi dengan teman baik dalam kelompoknya mau pun di luar kelompok. Peningkatan aktivitas siswa terlihat dari peningkatan persentase dari siklus I ke siklus II yaitu sebesar 81% menjadi 100%.
  • 32. 32 BAB V Simpulan dan Saran A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran dengan metode mencari pasangan dapat meningkatkan hasil belajar bagi siswa kelas V SD Negeri Sakti. Peningkatan tersebut terlihat dari perolehan Hasil belajar, ketuntasan belajar siswa dan juga keaktifan siswa dan aktivitas guru selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Ketuntasan belajar pada siklus I sebesar 81% rata-rata kelas 71 menjadi 100% rata-rata kelas 82 pada siklus II. Ketuntasan siswa secara klasikal tercapai pada siklus II yaitu lebih dari 85% siswa mampu memperoleh nilai lebih dari 65. Hasil yang diperoleh pada siklus I dan siklus II sangat berbeda dengan hasil belajar yang diperoleh pada pra siklus yaitu pencapaian ketuntasan sebesar 18% dengan rata-rata 57. Adapun hasil pengamatan pada proses belajar mengajar memperlihatkan keaktifan siswa pada siklus II lebih meningkat pada siklus I. Persentase keaktifan siswa pada siklus I sebesar 60% menjadi 89% pada siklus II. Aktivitas guru pun semakin meningkat dalam mengelola dan mengorganisir siswa yaitu sebesar 76% menjadi 93%.
  • 33. 33 B. Saran  Dalam menerapkan metode mencari pasangan guru sebaiknya mempersiapkan soal-soal yang mudah terlebih dahulu kemudian diikuti dengan soal yang lebih sulit secara bertahap.  Sebelum menerapkan model pembelajaran ini, disarankan guru untuk mempersiapkan bahan-bahan dan penunjang lainnya untuk kegiatan belajar mengajar ( KBM )  Di sarankan untuk menggunakan metode pembelajaran ini karena mampu meningkatkan hasil belajar siswa dan juga menjadikan siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran  Perlu adanya penelitian lanjutan karena penelitian ini hanya dilakukan di SD Negeri Sakti
  • 34. 34
  • 35. 1 DAFTAR PUSTAKA Aqib, Zainal. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung, Yrama Widya Maftuh, M. Dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya. Mulyasa,E. 2006. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Sudjana, N. 2001. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung, Sinar Baru Algesindo. Suryosubroto, B. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah . Jakarta, Penerbit Rineka Cipta Sudijono, Anas. 2005. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta, Raja Grafindo Persada. Yunanto, Sri Joko. 2004. Sumber Belajar Anak Cerdas. Jakarta, Grasindo Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek (Edisi Revisi VI). Jakarta : PT. Rineka Cipta. Clark, D. (1999). Learning Domains Or Blooms Taxonomy. Dahar, R. W. (1989). Teori-teori Belajar. Jakarta : Erlangga. Lie, A. (2002). Cooperative Learning, Mempratikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta : Gramedia Widiasmara Indonesia. Furqon. (1982). Pengantar penelitian Dalam Pendidikan. Yogyakarta. Mulyasa, E. (2003). Model Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA. Slavin, Robert E. (2008). Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media. Sudjana, N.(2008). Metode Statistik, Bandung: Tarsito Tim Pelatih Proyek PGSM, (1999). Penelitian Tindakan Kelas. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • 36. 2
  • 37. 3

×